RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006 - 2010

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
ISBN 978-979-3764-27-6

KATA PENGANTAR

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Rawan pangan dan gizi masih menjadi salah satu masalah besar bangsa ini. Masalah gizi berawal dari ketidakmampuan rumah tangga mengakses pangan, baik karena masalah ketersediaan di tingkat lokal, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan akan pangan dan gizi, serta perilaku masyarakat. Kekurangan gizi mikro seperti vitamin A, zat besi dan yodium menambah besar permasalahan gizi di Indonesia. Dengan demikian masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan dan langkah-langkah penanggulangannya juga harus dirumuskan dan dilaksanakan bersama. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menegaskan bahwa “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya”. Penyusunan Rencana Aksi Pangan dan Gizi ini, yang disusun ke dalam empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu : akses terhadap pangan yang didukung oleh ketersediaan dan daya beli; keamanan pangan; status gizi; dan pola hidup sehat, sebagai penjabaran pembangunan pangan dan gizi secara komprehensif. Rencana Aksi ini disusun sebagai panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, baik bagi institusi dan aparatur pemerintah, masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, dokumen ini perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi pangan dan gizi di setiap wilayah. Agar langkah-langkah yang telah dirumuskan ini tidak menjadi sebuah dokumen saja, maka rumusan rencana aksi pangan dan gizi perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata dalam pembangunan pangan dan gizi di setiap propinsi dan kabupaten/kota. Selanjutnya perlu dilakukan koordinasi, monitoring dan evaluasi secara periodik agar pelaksanaan rencana aksi dapat betul-betul diterapkan dan mencapai tujuan serta dapat membawa kemajuankemajuan yang dicapai. Untuk itu, marilah kita manfaatkan Rencana Aksi Pangan dan Gizi 2006-2010 ini untuk bersama-sama mengatasi masalah gizi di Indonesia agar kita dapat membangun generasi yang sehat, cerdas, dan mandiri. Akhir kata ucapan terima kasih disampaikan kepada wakil-wakil dari Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Pendidikan Nasional, pakar dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia dan Universitas Hasanudin, asosiasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Persatuan Gizi dan Pangan Indonesia serta berbagai lembaga swadaya masyarakat yang telah memberikan pemikiran dan kerja kerasnya dalam penyusunan dokumen ini. Jakarta, Juni 2007 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

H. Paskah Suze ta

i

DAFTAR SINGKATAN
AGB ASI BBLR BLT CPMB CDPB EYU FDA GAKY GKP HDPP HDR HPP IMT IPM IFPRI ISPA KEK KLB KMS KUB KVA LILA LSM MDGs MP-ASI PAUD PDB PPH RANPG RPJMN RPJPN RPJMD SDM SDKI SKIA SKPG SKRT SUVITAL Susenas TBC = = = = = = = = Anemia Gizi Besi Air Susu Ibu Bayi Berat Lahir Rendah Bantuan Langsung Tunai Cara Produksi Makanan Yang Baik Cara Distribusi Pangan Yang Baik Eksresi Yodium Urine Gangguan Akibat Kurang Yodium Gabah Kering Panen Harga Dasar Pembelian Pemerintah Harga Pembelian Pemerintah Indeks Massa Tubuh Indeks Pembangunan Manusia

= = = =

Food Drug Administration

=

Human Development Report

= = = = =

TGR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

=

Infeksi Saluran Pernapasan Atas Kurang Energi Kronik Kejadian Luar Biasa Kartu Menuju Sehat Kelompok Usaha Bersama Kurang Vitamin A Lingkar Lengan Atas Lembaga Swadaya Masyarakat

International Food Policy Research Institute

Makanan Pendamping Air Susu Ibu Pendidikan Anak Usia Dini Produk Domestik Bruto Pola Pangan Harapan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Sumberdaya Manusia Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survei Kesehatan Ibu dan Anak Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Survei Kesehatan Rumah Tangga Sumber Vitamin A Alami Survei Sosial Ekonomi Nasional Upaya Perbaikan Gizi Keluarga Wanita Usia Subur Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi

Millenium Development Goals

UPGK WUS WNPG

=

Tuberculosis Total Goiter Rate

ii

DAFTAR ISTILAH
Anemia BBLR Diversifikasi Pangan Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, 50 persen kejadian anemia disebabkan kekurangan zat besi Bayi Lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram Penganekaragaman Pangan atau Diversifikasi Pangan adalah upaya peningkatan konsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang. Gangguan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Indikator yang digunakan untuk mengukur gizi kurang pada anak adalah berdasarkan tinggi barat menurut umur (TB/U), berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), untuk dewasa berdasarkan IMT. Kelebihan berat badan dibandingkan tinggi badan, untuk dewasa diukur berdasarkan IMT. Pada anak diukur berdasarkan berat badan per tinggi badan dengan menggunakan referensi internasional z-score. Indeks Massa Tubuh, yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m2) Kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Besarnya energi dari pangan yang dikonsumsi penduduk yang dinyatakan dalam satuan kilo kalori (Kkal) jumlah makanan dan minuman yang dimakan atau diminum penduduk/seseorang dalam satuan gram per kapita per hari. Jumlah protein dari pangan, baik hewani maupun nabati, yang dikonsumsi , dinyatakan dalam satuan gram per kapita per hari. Meliputi kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro dulu disebut kurang kalori protein (KKP atau KEP). Sekarang KKP tidak dipakai lagi diganti dengan gizi kurang (z score BB/U <- 2 SD) dan gizi buruk (z score BB/U <-3 SD) jadi gizi kurang pasangan dari gizi buruk, tidak lagi disebut KKP atau KEP karena tidak semata-mata karena kurang kalori dan protein tetapi juga kekurang zat gizi mikro.

Gizi Kurang

Gizi Lebih

IMT Keamanan Pangan

Ketahanan Pangan

Konsumsi Energi Konsumsi Pangan Konsumsi Protein Kurang Gizi

iii

Angka Kecukupan Gizi Pangan Pangan Pokok Pola Konsumsi Pangan Susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi/dimakan seseorang atau kelompok orang penduduk dalam frekuensi dan jangka waktu tertentu. budaya. ekonomi. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. Sejumlah zat gizi/energi yang diperlukan oleh seseorang dalam suatu populasi untuk hidup sehat. diukur berdasarkan TB/U (tinggi badan menurut umur) Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. sebagai sarapan atau sebagai makanan pembuka atau penutup. selingan. Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan. Pola Pangan Harapan Susunan jumlah pangan menurut 9 kelompok pangan yang didasarkan pada kontribusi energi yang memenuhi kebutuhan gizi secara kuantitas. pengolahan dari atau pembuatan makanan dan minuman. agama dan cita rasa. bahan baku pangan.Gizi Seimbang Anjuran susunan makanan yang sesuai kebutuhan gizi seseorang/kelompok orang untuk hidup sehat. baik yang diolah maupun tidak diolah. berdasarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang. kualitas maupun keragaman dengan mempertimbangkan aspek sosial. diukur berdasarkan BB/U (berat badan menurut umur) Gangguan kekurangan vitamin A pada mata yang mengakibatkan kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi retina yang berakibat kebutaan Stunting Wasting Xerophthalmia iv . Pangan sumber karbohidrat yang sering dikonsumsi atau dikonsumsi secara teratur sebagai makanan utama. cerdas dan produktif.

PENGGUNA i ii iii v vi vii 1 1 2 3 4 4 5 6 9 13 15 17 17 21 26 34 43 51 51 54 54 56 58 61 77 78 II. TUJUAN PENYUSUNAN C. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN D. KEBIJAKAN E. PENDAHULUAN A.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR SINGKATAN DAFTAR ISTILAH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. STRATEGI V. RENCANA AKSI A. TUJUAN C. RUANG LINGKUP D. STATUS GIZI MASYARAKAT B. REVIEW STRATEGI PERBAIKAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG III. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI E. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI D. KEAMANAN PANGAN E. SASARAN D. MATRIK RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v . PROSES PENYUSUNAN E. LATAR BELAKANG B. ANALISA SITUASI PANGAN DAN GIZI A. ISU STRATEGIS B. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER SUMBER DAYA MANUSIA C. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIFITAS FISIK IV. KONSUMSI PANGAN C.

Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi 16. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin 17. 9. 6. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga 19. Data Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan 25. 2. 5. Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran Dan Aktual Tahun 1999-2005 11. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 – 2005 28.DAFTAR TABEL 1. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. Perkembangan Produksi Daging 14. Persentase Pelanggaran Produk Pangan 22. 8. 4. Jumlah Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat 24. 3. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah 20. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah 23. 7. Perkembangan Produksi Telur 15. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas 18. Temuan Formalin dalam Produk Pangan 26. Hasil pengujian produk pangan beredar 21. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Gizi Prevalensi Pendek/Stunting anak balita < -2SD Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003 Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat Konsumsi Pangan Sumber Protein Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Perkembangan Konsumsi Energi Dan Protein Menurut Wilayah Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH 8 18 19 22 22 23 24 25 26 26 27 27 28 28 30 33 35 36 37 37 38 38 39 39 40 40 42 10. Tahu dan Ikan di Enam Propinsi 27. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 50 vi . Persebaran Produksi Pangan Pokok Menurut Wilayah Pulau 12. Perkembangan Produksi Palawija Per Kapita 13.

8. 3.DAFTAR GAMBAR 1. 5. 7. 2. NSS-HKI 1999-2001) Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) 10 12 14 19 20 41 43 45 48 10. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) 49 vii . 6. 4.5 cm) Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 Prevalensi Gizi Lebih Pada Perempuan Dewasa (perdesaan. 9. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi Anak Balita Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi Prevalensi anemia pada anak balita (SKRT 2001) Proporsi WUS resiko KEK (LILA <23.

Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. Untuk menjaga agar individu tidak kekurangan gizi maka akses setiap individu terhadap pangan harus dijamin. 4th report on The World Nutrition Situation. ketersediaan pangan. rendahnya pendidikan. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Investasi gizi juga berperan penting untuk memutuskan lingkaran setan kemiskinan dan kurang gizi sebagai upaya peningkatan SDM. Dengan kata lain saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda. Masalah gizi kurang sering luput dari penglihatan atau pengamatan biasa dan seringkali tidak cepat ditanggulangi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. serta rendahnya umur harapan hidup. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh. dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah. Selain gizi kurang. secara bersamaan Indonesia juga mulai menghadapi masalah gizi lebih dengan kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. PENDAHULUAN A. yang berkaitan dengan tingkat pendapatan dan kemiskinan seseorang. Kemampuan mengakses pangan ini dipengaruhi oleh daya beli. dan (iii) kehilangan sumberdaya karena biaya kesehatan yang tinggi (World Bank. Selain itu. 2006). January 2000. 1990). budaya dan politik (Unicef. kesehatan yang prima. dan balita. LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. (ii) kehilangan kesempatan sekolah. padahal dapat memunculkan masalah besar. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. serta lambatnya pertumbuhan ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan pentingnya penanggulangan kekurangan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur sesuai siklus kehidupan (Januari. faktor sosialekonomi.BAB I. Investasi di sektor sosial menjadi sangat penting dalam peningkatan SDM karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara. . yaitu gizi kurang dan gizi lebih. 2000)1. Beberapa dampak buruk kurang gizi adalah: (i) rendahnya produktivitas kerja. Dalam sistem ketatanegaraan kita. upaya peningkatan SDM diatur dalam UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap individu berhak hidup RANPG 2006-2010 1 1 Nutrition throughout life cycle. dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. mental yang kuat. serta cerdas. Saat ini diperkirakan sekitar 50 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 100 juta jiwa mengalami beraneka masalah kekurangan gizi. Akses pangan setiap individu ini sangat tergantung pada ketersediaan pangan dan kemampuan untuk mengaksesnya secara kontinyu (spasial dan waktu). bayi.

yang dijabarkan dalam rencana strategis Departemen Pertanian. RANPG 2006-2010 2 . terutama pada sasaran-sasaran: (1) menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. pengaturan tentang pangan tertuang dalam Undang-undang No. dan pelayanan kesehatan adalah salah satu hak asasi manusia. Untuk menjabarkan kebijakan dan langkah terpadu di bidang pangan dan gizi serta dalam rangka mendukung pembangunan SDM berkualitas. Kecukupan pangan yang baik mendukung tercapainya status gizi yang baik sehingga akan memperlancar penerapan Program Wajib Belajar 9 Tahun sesuai dengan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. merata dan terjangkau”. World Food Summit 1996 dan Health for All in the Twenty-first Century 1998. TUJUAN PENYUSUNAN Tujuan Umum. (2) mencapai pendidikan dasar untuk semua. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. dan (4) meningkatkan kesehatan ibu pada tahun 2015. Komitmen global lain sebagai landasan pembangunan pangan dan gizi adalah: The Global Strategy for Health for All 1981. masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia.7 Tahun 1996 tentang Pangan. Memberikan panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi bagi institusi pemerintah. Sementara itu. (3) menurunkan angka kematian anak. Upaya-upaya untuk menjamin kecukupan pangan dan gizi serta kesempatan pendidikan tersebut akan mendukung komitmen pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). provinsi maupun kabupaten/kota. The World Summit for Children 1990. dan pendidikan juga ditempatkan sebagai prioritas utama dalam RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 -2009. baik pada tataran nasional. Pemenuhan hak atas pangan dicerminkan pada definisi ketahanan pangan yaitu : “kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. The Forty-eight World Health Assembly 1995. B. yang menyatakan juga bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat. baik jumlah maupun mutunya. perlu disusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010 (RANPG 2006-2010) sebagai kelanjutan dari Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) 2001-2005.sejahtera. Pada tingkat nasional. pembangunan pangan. Dengan demikian pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. kesehatan. Dengan demikian akan dapat dihasilkan generasi muda yang berkualitas. aman.

2. Kemudian pada Bab IV diuraikan isu strategis pembangunan pangan dan gizi dan tujuan yang akan dicapai melalui RANPG 2006-2010. khususnya yang terkait dengan empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu: akses terhadap pangan. kabupaten/kota serta pengguna lainnya sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing. setiap kegiatan akan dapat dijabarkan oleh pemerintah provinsi. strategi. dan (iv) mampu memantau dan mengevaluasi pembangunan pangan dan gizi. dan pola hidup sehat. program dan instansi penanggung jawab. (ii) mampu memilih intervensi yang tepat dan cost effective sesuai kebutuhan lokal. sasaran dan strategi penguatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi periode 2006-2010. Meningkatkan koordinasi penanganan masalah pangan dan gizi secara terpadu. Meningkatkan kemampuan menganalisis perkembangan situasi pangan dan gizi di setiap wilayah agar: (i) mampu menetapkan prioritas penanganan masalah pangan dan gizi. pada bab ini dijabarkan pula kebijakan. kegiatan pokok. provinsi. Rencana aksi ini mengacu pada RPJM 2004-2009. Selain itu. RANPG 2006-2010 3 . status gizi.Tujuan Khusus: 1. wilayah kabupaten/kota. yang diuraikan lebih lanjut pada Bab V dalam bentuk matriks rencana aksi yang mencakup kebijakan. keamanan pangan. Dengan demikian. serta dokumen-dokumen kebijakan pembangunan nasional lain di bidang pangan dan gizi2. (iii) mampu membangun dan memfungsikan lembaga pangan dan gizi. dan kualitas gizi yang seimbang di tingkat rumah tangga. yang tercermin pada tercukupinya kebutuhan pangan baik jumlah. keamanan. Dalam bab ini disajikan pula langkah-langkah untuk mengatasi tantangan baru sesuai dinamika yang terjadi pada tingkat nasional dan global. 3. Pada Bab III dijabarkan analisis situasi pangan dan gizi lima tahun lalu sebagai cerminan hasil pelaksanaan RANPG 2001-2005 dan sasaran yang belum sepenuhnya tercapai yang masih relevan untuk dilanjutkan dalam RANPG 2006-2010. indikator. Dokumen rencana aksi ini diawali dengan uraian mengenai peran pangan dan gizi sebagai investasi pembangunan yang disajikan pada Bab II. RUANG LINGKUP Rencana Aksi ini meliputi strategi dan langkah konkrit yang akan dilakukan dalam perbaikan pangan dan gizi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan status gizi masyarakat. C. komitmen pencapaian MDGs. Meningkatkan pemahaman pentingnya peran pembangunan pangan dan gizi sebagai investasi untuk mewujudkan SDM Indonesia berkualitas. Indikator yang terdapat dalam RANPG ini akan menjadi dasar bagi pemantauan dan evaluasi program serta perkembangan status pangan dan gizi baik pada tingkat rumah tangga. maupun nasional.

PROSES PENYUSUNAN Penyusunan RANPG diawali dengan pertemuan lintas sektor yang menyepakati empat pilar pembangunan pangan dan gizi hasil WHO-FAO Inter-country Workshop for Updating and Implementing Inter-sectoral Food and Nutrition Plans and Policies di Hyderabad. pelaku usaha dan pemangku kepentingan lain dari perguruan tinggi. strategi dan rencana aksi untuk masing-masing pilar. RANPG 2006-2010 4 . E. India tahun 2005 sebagai acuan. termasuk pemerintah dan masyarakat. Jabaran rencana aksi atas empat konsep pilar pembangunan pangan dan gizi tersebut kemudian dituangkan secara terpadu dalam RANPG 2006-2010. Dokumen RANPG disusun sebagai acuan pelaksanaan program ketahanan pangan dan perbaikan gizi bagi semua pihak. gizi dan kesehatan. LSM dan organisasi profesi. Proses penyusunan melibatkan konsultasi dengan para pakar. dibentuk Kelompok Kerja yang secara paralel melakukan analisis dan diskusi untuk menyusun kebijakan. PENGGUNA RANPG ini merupakan dokumen operasional yang secara terpadu menyatukan pembangunan pangan dan gizi dalam rangka mewujudkan SDM berkualitas sebagai modal sosial pembangunan bangsa dan negara. yang memiliki tanggung jawab melakukan upaya perbaikan pangan.D. Selanjutnya.

pendidikan dan kesehatan. Kualitas SDM Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain. dan Brunai 25. Ukuran kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). seperti Malaysia pada urutan ke-56. Pada tahun 2006 tingkat kemiskinan di Indonesia masih mencapai 17. gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak. sehingga secara RANPG 2006-2010 5 . dan Nusa Tenggara Barat. Peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas sumberdaya manusianya. meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi. dan berdampak buruk pada pertumbuhan sel-sel otak anak. b. Thailand 67. Persentase penduduk miskin juga menjadi faktor penting penentu IPM. Tingginya prevalensi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) akibat tingginya prevalensi Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil.8 persen yang berarti sekitar 40 juta jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan. antara lain: a. Anak bergizi buruk (pendek/stunted) mempunyai resiko kehilangan IQ 10-15 poin. IPM merupakan ukuran agregat yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi. sedangkan ukuran kesejahteraan masyarakat antara lain dapat dilihat pada tingkat kemiskinan dan status gizi masyarakat. Bali. Filipina 77.BAB II. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Pembangunan suatu bangsa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap warga negara. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A. Hal ini ditunjukkan oleh posisi IPM Indonesia yang berada pada urutan ke-108 dari 177 negara. Posisi IPM negara ASEAN lainnya lebih baik dibanding Indonesia. Implikasi dari masalah gizi pada kedua kelompok tersebut sangat luas. Salah satu akibat kemiskinan adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jumlah dan kualitas yang baik. lebih dari 10 persen penduduk di setiap provinsi mengalami rawan pangan. Hal ini berakibat pada kekurangan gizi. baik zat gizi makro maupun mikro. Singapura 22. kecuali di Provinsi Sumatera Barat. Kurang zat besi (anemia gizi besi) pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko kematian waktu melahirkan. Gangguan kurang yodium pada saat janin atau gagal dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. BBLR dapat meningkatkan angka kematian bayi dan balita. yang dapat diindikasikan dari status gizi anak balita dan wanita hamil. serta penurunan kecerdasan.

Selain itu. Di samping itu. c. meningkatkan resiko kebutaan. Dari uraian di atas tampak bahwa ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas.konsisten dapat mengurangi kecerdasan anak. Pertama. Selanjutnya sesuai Bank Dunia (2006). dan meningkatkan resiko kematian akibat infeksi.7 Tahun 1996. Bantuan dan subsidi pangan juga diberikan pada rumah tangga miskin yang tidak dapat menjangkau harga pangan yang terjadi di pasar. perbaikan gizi merupakan suatu investasi yang sangat menguntungkan. Hal penting yang juga dilakukan adalah upaya peningkatan pendapatan masyarakat. Meluasnya kekurangan gizi pada anak balita dan wanita hamil akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga maupun pemerintah untuk biaya kesehatan karena banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat kurang gizi. Indonesia akan sulit meningkatkan IPM. hal ini juga menyebabkan menurunnya produktivitas. Efisiensi sistem distribusi pangan terus ditingkatkan agar harga pangan terjangkau oleh masyarakat. Pada orang dewasa dapat menurunkan produktivitas sebesar 20-30 persen. perbaikan gizi memiliki keuntungan ekonomi RANPG 2006-2010 6 . serta peningkatan produksi pupuk dilakukan untuk mendukung produksi pangan dalam negeri. jalan produksi. Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi “kehilangan generasi” yang dapat mengganggu kelangsungan kepentingan bangsa dan negara. Berbagai program pemerintah untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan secara kontinyu melalui penghimpunan stok yang mencukupi masih terus dilakukan. d. Dalam jangka pendek. terutama petani dan masyarakat perdesaan yang tingkat kemiskinannnya tinggi sehingga daya beli dan kemampuan mereka untuk mengakses pangan semakin meningkat. pangan lokal juga terus dikembangkan mengingat beragamnya pola pangan dan wilayah kepulauan yang dimiliki Indonesia untuk membantu daerah-daerah rawan pangan dan daerah-daerah yang jauh dari jangkauan distribusi nasional. Setidaknya ada tiga alasan suatu negara perlu melakukan intervensi di bidang gizi. Investasi besar pada pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi. B. Pemerintah selalu menempatkan ketahanan pangan dalam program pembangunan. Kurang vitamin A pada anak balita dapat menurunkan daya tahan tubuh. INVESTASI PANGAN DAN GIZI DALAM PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA Kecukupan pangan dalam jumlah dan mutu yang baik di tingkat rumah tangga merupakan mandat untuk mewujudkan ketahanan pangan sesuai Undang-undang No.

jembatan dan transportasi. diketahui bahwa perbaikan gizi dapat dilakukan tanpa harus menunggu tercapainya tingkat perbaikan ekonomi tertentu. Konferensi para ekonom di Copenhagen tahun 2005 (Konsensus Copenhagen) menyatakan bahwa intervensi gizi menghasilkan keuntungan ekonomi tinggi dan merupakan salah satu yang terbaik dari 17 alternatif investasi pembangunan lainnya. Titik berat investasi adalah untuk membangun prasarana ekonomi seperti jalan. Investasi pembangunan ekonomi lebih diartikan sebagai penanaman modal untuk membangun industri barang dan jasa dalam rangka menciptakan lapangan kerja. intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada waktu itu jarang sekali para perencana pembangunan memasukkan perbaikan gizi. kedua. kesehatan dan pendidikan sebagai bagian suatu investasi ekonomi. dan pengurangan biaya pengobatan. dan secara agregat menyebabkan kehilangan PDB antara 2-3 persen. RANPG 2006-2010 7 . Sampai 1970-an banyak ahli ekonomi dan ahli perencanaan pembangunan. Zimbabwe yang memiliki PDB lebih rendah dari Namibia ternyata memiliki status gizi anak balita yang lebih baik. mengartikan investasi dalam arti sempit. Dari analisis hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. perbaikan gizi membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja. Konsensus ini menilai bahwa perbaikan gizi. berkisar antara 4 hingga 520 (Tabel 1). serta air bersih dan sanitasi.(economic returns) yang tinggi. termasuk Bank Dunia. Selama ini para ahli ekonomi berpendapat bahwa investasi ekonomi merupakan prasyarat utama untuk memperbaiki keadaan gizi masyarakat. penanggulangan malaria dan HIV. Pada kondisi gizi buruk. penurunan produktivitas perorangan diperkirakan lebih dari 10 persen dari potensi pendapatan seumur hidup. PDB per kapita negara ini relatif lebih rendah dibanding negara-negara Asia lainnya namun memiliki prevalensi balita gizi kurang paling rendah. Alderman dan Hoddinot (2004) dalam Bank Dunia (2006) mengungkapkan bahwa Rasio Manfaat-Biaya (benefit-cost ratio/BC-Ratio) berbagai program gizi. yodium. dan ketiga. Perkembangan iptek pada dasawarsa terakhir memungkinkan perbaikan gizi dengan lebih cepat tanpa harus menunggu perbaikan ekonomi. khususnya program suplementasi dan fortifikasi adalah sangat tinggi. khususnya intervensi melalui program suplementasi dan fortifikasi zat gizi mikro (memperbaiki kekurangan zat besi. vitamin A. Beberapa negara dengan PDB yang sama ternyata mempunyai angka prevalensi gizi-kurang pada anak balita yang berbeda-beda. Behman. dan seng) memiliki keuntungan ekonomi yang sama tingginya dengan investasi di bidang liberalisasi perdagangan. pengurangan hari sakit. Demikian halnya dengan Cina. Studi yang dilakukan IFPRI di 15 negara menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan sebesar 5 persen per tahun saja tanpa didukung perbaikan infrastruktur penunjang seperti akses air bersih dan program-program gizi ternyata tidak mampu membawa negara-negara tersebut untuk mengurangi setengah masalah gizi kurangnya pada tahun 2020. serta analisis ekonomi terhadap keuntungan investasi gizi.

1 1.0 16.01 Masyarakat Sebagai Bagian Dari Pelayanan Kesehatan Dasar 3.37 4. Pendidikan Gizi 0.9 2.99 176-200 84.04 8. PMT Pada Anak Balita 3. Promosi ASI di rumah sakit 5. Fortifikasi Besi Pada Gula 0. 2004 Indonesia. Fortifikasi Vitamin A Pada Gula 0. Pada 1992 Bank Dunia menyatakan bahwa perbaikan gizi merupakan suatu investasi pembangunan.6 32. Keterkaitan upaya perbaikan gizi dengan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB.65-4.10 14. 1976 Tidak Disebut. Suplementasi Iodium pada Wanita 10.10 0. 1987 Guatemala.3 5-67 9-16 28.Suntikan Iodium 0. Fortifikasi Besi Pada Garam 0.44 Hamil 13. 1986 India. Perubahan kebijakan pinjaman Bank Dunia dan perhatian PBB terhadap pembangunan perbaikan gizi dibuktikan dengan meningkatnya alokasi pinjaman Bank Tabel 1. yang menyatakan bahwa gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak. Alderman. Subsidi Pangan * 2. dan meletakkan fondasi untuk masa depan produktivitas anak.0 24. 2004 Manfaat Ekonomi Per 1 US$ Investasi (BC-Ratio) 0. Investasi di bidang ini menjadi salah satu prioritas Bank Dunia dalam pemberian pinjaman kepada negara berkembang. 1978 Zaire.4 Sumber: Soekirman dkk (2003). 2004 Indonesia. Iodisasi Garam 0. 1980 Tidak Disebut. melindungi kesehatannya. meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Programs and Prospective Development.7 Intervensi Pangan dan Gizi Di Masyarakat 1. Program Pelayanan Anak Terpadu Intervensi Zat Gizi Mikro 6. 1980 India. Fortifikasi Besi Pada Pangan Pokok (Terigu) Pemberian Makanan Tambahan 17. 1986 Italia. Kofi Annan. Direktorat Gizi dan Bank Dunia (Diolah dari berbagai sumber). 1977 Indonesia. 2004 Peru. * Behrman. Suplementasi Tablet Besi Pada Ibu 2. Iodinasi Air 0. Fortifikasi zat besi 16.04 9.21 7. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Pangan dan Gizi Biaya Per Unit Dan Lokasi Jenis Intervensi Biaya per Unit (US$/target) Negara & Tahun Kajian Indonesia. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. Program Intervensi Gizi Berbasis 8.Memasuki periode 1990-an keadaan ini mulai berubah.49 0.14 12. 1980 Guatemala. 1980 Indonesia.14 0.0 15-520 4 -50.46-0.68 11. Suplementasi Vitamin A pada balita 0. and Hoddinott (2004) dalam Bank Dunia (2006) RANPG 2006-2010 8 .80 15.

alokasi anggaran pembangunan untuk perbaikan gizi di Indonesia juga meningkat secara signifikan dari Rp 61 Milyar pada tahun 2000 menjadi Rp 179 Milyar pada tahun 2005. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI Kerangka Penyebab Masalah Pangan dan Gizi Terdapat dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada anak balita. sehingga perlu dipilih intervensi pemerintah yang benar-benar “costeffective”.Dunia untuk proyek-proyek perbaikan gizi di negara berkembang yang meningkat 18 kali lipat dari hanya US$ 50 juta pada 1980-an menjadi US$ 900 juta pada 1990-an. yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong. berdasarkan data dari berbagai sumber juga menyajikan informasi tentang unit cost dan costeffectiveness berbagai program gizi hasil studi di berbagai negara (Tabel 1). Faktor penyebab langsung yang kedua adalah infeksi yang RANPG 2006-2010 9 . Konsumsi pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. atau meningkat hampir tiga kali lipat dalam jangka waktu lima tahun. Data menunjukkan masih rendahnya persentase ibu yang memberikan ASI. Berbagai faktor penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya gizi kurang digambarkan dalam kerangka pikir UNICEF (1990) (Gambar 1). Meskipun peningkatan anggaran cukup tinggi namun jumlah tersebut dinilai masih belum memadai. Sejalan dengan itu. Ketersediaan pangan sepanjang waktu. yang pada tingkat makro ditunjukkan oleh tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang mencukupi. Makanan lengkap bergizi seimbang bagi bayi sampai usia enam bulan adalah air susu ibu (ASI). harus memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang. C. Oleh karena itu. Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan. Faktor penyebab langsung pertama adalah makanan yang dikonsumsi. Sebagai contoh. 1. Sementara Soekirman dkk (2003). dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. mencegah terjadinya infeksi juga dapat mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk. yang dilanjutkan dengan tambahan makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun. Bank Dunia (1996) merekomendasikan bentuk intervensi yang dianggap cost-effective untuk berbagai situasi. Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik sehingga berakibat pada gizi buruk. dan pada tingkat regional dan lokal ditunjukkan oleh tingkat produksi dan distribusi pangan. anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang infeksi. dan MP-ASI yang belum memenuhi gizi seimbang oleh karena berbagai sebab.

Sebaliknya. gizi kurang melemahkan daya tahan anak sehingga mudah sakit.Penyebab Langsung Penyebab Tidak Langsung lah berkaitan dengan tingginya prevalensi dan kejadian penyakit infeksi terutama diare. yaitu: (i) ketersediaan dan pola konsumsi pangan dalam rumah tangga. demam berdarah dan HIV/AIDS. (ii) pola pengasuhan anak. TBC. Kedua faktor penyebab langsung tersebut dapat ditimbulkan oleh tiga faktor penyebab tidak langsung. dan (iii) jangkauan dan mutu pelayanan RANPG 2006-2010 10 . ISPA. malaria. Kedua faktor penyebab langsung gizi kurang itu memerlukan perhatian dalam kebijakan ketahanan pangan dan program perbaikan gizi serta peningkatan kesehatan masyarakat. Infeksi ini dapat mengganggu penyerapan asupan gizi sehingga mendorong terjadinya gizi kurang dan gizi buruk.

Tingkat dan kualitas konsumsi makanan anggota rumah tangga miskin tidak memenuhi kecukupan gizi sesuai kebutuhan. Pola asuh. Masalah kurang gizi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mendorong proses pemiskinan melalui tiga cara. Namun demikian. pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan dipengaruhi oleh pendidikan. kurang gizi dapat menurunkan tingkat ekonomi keluarga karena meningkatnya pengeluaran untuk berobat. dapat berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat yang antara lain tercermin pada maraknya masalah gizi kurang dan gizi buruk di masyarakat. kurang gizi secara langsung menyebabkan hilangnya produktivitas karena kelemahan fisik. Ketiganya dapat berpengaruh pada kualitas konsumsi makanan anak dan frekuensi penyakit infeksi. Kedua. anggota rumah tangga. Keluarga miskin dicerminkan oleh profesi/mata pencaharian yang biasanya adalah buruh/pekerja kasar yang berpendidikan rendah sehingga tingkat pengetahuan pangan dan pola asuh keluarga juga kurang berkualitas. Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 2) . Apabila kondisi ketiganya kurang baik menyebabkan gizi kurang. Rendahnya kualitas konsumsi pangan dipengaruhi oleh kurangnya akses rumah tangga dan masyarakat terhadap pangan. Ketiga. pelayanan keluarga berencana. artinya kemiskinan akan menyebabkan kurang gizi dan individu yang kurang gizi akan berakibat atau melahirkan kemiskinan. pelayanan kesehatan. 2. termasuk anak balitanya menjadi lebih rentan terhadap infeksi sehingga sering menderita sakit. informasi. Keluarga miskin juga ditandai dengan tingkat kehamilan tinggi karena kurangnya pengetahuan tentang keluarga berencana dan adanya anggapan bahwa anak dapat menjadi tenaga kerja yang memberi tambahan pendapatan keluarga. serta kelembagaan sosial masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan. Pertama. kemiskinan dinilai memiliki peranan penting dan bersifat timbal balik.kesehatan masyarakat. RANPG 2006-2010 11 . politik dan sosial yang harus dapat menurunkan tingkat kemiskinan setiap rumah tangga untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan dan gizi serta memberikan akses kepada pendidikan dan pelayanan kesehatan. Upaya mengatasi masalah ini bertumpu pada pembangunan ekonomi. baik akses pangan karena masalah ketersediaan maupun tingkat pendapatan yang mempengaruhi daya beli rumah tangga terhadap pangan. Kemiskinan dan Masalah Gizi Dari berbagai faktor penyebab masalah gizi. Dengan asupan makanan yang tidak mencukupi. politik dan sosial. Ketidakstabilan ekonomi. kurang gizi secara tidak langsung menurunkan kemampuan fungsi kognitif dan berakibat pada rendahnya tingkat pendidikan. banyaknya anak justru mengakibatkan besarnya beban anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga miskin.

kemiskinan. Sebaliknya. produktivitas masyarakat miskin dapat ditingkatkan sebagai modal untuk memperbaiki ekonominya dan mengentaskan diri dari lingkaran kemiskinan. Perlu disadari bahwa investasi pembangunan di bidang gizi tidak mudah dan tidak cepat. (ii) tingginya pengeluaran untuk memelihara kesehatan karena sering sakit. Adanya hubungan kemiskinan dan kekurangan gizi sering diartikan bahwa upaya penanggulangan masalah kekurangan gizi hanya dapat dilaksanakan dengan efektif apabila keadaan ekonomi membaik dan kemiskinanan dapat dikurangi. kedua hal ini pun menyebabkan kemiskinan pada individu tersebut. Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi RANPG 2006-2010 12 . Pendapat ini tidak seluruhnya benar. Secara empirik sudah dibuktikan bahwa mencegah dan menanggulangi masalah gizi kurang tidak harus menunggu sampai masalah kemiskinan dituntaskan.kekurangan gizi . akan semakin berkurang jumlah rakyat miskin. Dengan diperbaiki gizinya.Keseluruhan faktor ini dapat menyebabkan kekurangan gizi pada setiap anggota rumah tangga miskin yang dapat berakibat pada: (i) menurunnya produktivitas individu karena kondisi fisik yang buruk serta tingkat kecerdasan dan pendidikan yang rendah. sebagaimana KEMISKINAN Gambar 2. Banyak cara memperbaiki gizi masyarakat dapat dilakukan justru pada saat masih miskin. Semakin banyak rakyat miskin yang diperbaiki gizinya.

Mereka mendapatkan pendidikan dan penyuluhan gizi seimbang. Pada tahun 2006. dan produktivitas. dan umumnya bekerja pada sektor pertanian atau berbasis pertanian. penyuluhan tentang pengasuhan bayi dan kebersihan. serta pelayanan kesehatan lainnya di Puskesmas. Secara terintegrasi intervensi gizi tersebut ditunjang dengan pelayanan kesehatan dasar seperti imunisasi.membangun gedung dan prasarana fisik. Dari jumlah penduduk miskin tersebut. Makanan Pendamping – Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk anak 6 . serta perkembangan penyakit dan status gizi anak dan ibu hamil yang dikenal sebagai Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Upaya tersebut dapat meningkatkan akses rumah tangga miskin kepada pangan yang bergizi seimbang. dan sarana kebersihan lingkungan. pendidikan terutama pendidikan perempuan. Dengan demikian. intervensi gizi untuk orang miskin akan mempunyai daya ungkit yang besar dalam meningkatkan kesehatan. dan seperlima dari kaum miskin tersebut adalah para buruh tani yang tidak mampu memproduksi bahan pangan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. dan layanan penimbangan berat badan bayi dan anak secara teratur setiap bulan di Posyandu. air bersih. Banyak intervensi gizi telah dilakukan dengan sasaran utama masyarakat miskin dan gizi kurang. D. Perbaikan gizi memerlukan konsistensi dan kesinambungan program dalam jangka pendek dan jangka panjang. Apabila dipadukan dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. dan penyediaan pangan ditingkat makro 13 RANPG 2006-2010 . sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya menyangkut soal produksi. pemeriksaan kehamilan. dilakukan pemantauan terus menerus terhadap situasi pangan masyarakat dan rumah tangga. tingkat kemiskinan penduduk di Indonesia sekitar 17. pertolongan persalinan. dan ibu hamil. (iii) konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi seimbang. Data tersebut tidak jauh berbeda dengan data di tingkat dunia. yaitu: (i) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh penduduk. yaitu setengah dari kelompok miskin ini adalah petani kecil. Kelompok miskin inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian dalam pembangunan di bidang ketahanan pangan dan perbaikan gizi. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI Sistem ketahanan pangan dan gizi secara komprehensif meliputi empat subsistem. Vitamin A untuk anak balita dan ibu nifas.8 persen atau sekitar 40 juta jiwa. Di samping itu juga mendapatkan suplemen berupa: zat besi untuk ibu hamil. termasuk pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Untuk mengantisipasi terjadinya fluktuasi ketahanan pangan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan kerawanan pangan. distribusi. sekitar 68 persen tinggal di pedesaan. (ii) distribusi pangan yang lancar dan merata.24 bulan. kecerdasan. Wanita Usia Subur (WUS). yang berdampak pada (iv) status gizi masyarakat (Gambar 3). dan makanan untuk ibu hamil yang kurus. terutama anak-anak.

(nasional dan regional). yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga. Konsep ketahanan pangan yang sempit meninjau sistem ketahanan pangan dari aspek masukan yaitu produksi dan penyediaan pangan. United Nation Development Programme (UNDP) sebagai lembaga PBB yang berkompeten memantau pelaksanaan MDGs telah menetapkan dua ukuran kelaparan. Konsep ketahanan pangan yang luas bertolak pada tujuan akhir dari ketahanan pangan yaitu tingkat kesejahteraan manusia. baik secara nasional maupun global. yaitu jumlah konsumsi energi (kalori) rata-rata anggota rumah tangga di bawah Gambar 3. namun dalam pelaksanaan sehari-hari masih sering ditekankan pada aspek makro yaitu ketersediaan pangan. Agar aspek mikro tidak terabaikan. terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin. maka dalam dokumen ini digunakan istilah ketahanan pangan dan gizi. Meskipun secara konseptual pengertian ketahanan pangan meliputi aspek mikro. tetapi menurunkan kemiskinan dan kelaparan sebagai indikator kesejahteraan masyarakat. tetapi juga menyangkut aspek mikro. Oleh karena itu. sasaran pertama Millenium Development Goals (MDGs) bukanlah tercapainya produksi atau penyediaan pangan. Seperti banyak diketahui. MDGs menggunakan pendekatan dampak bukan masukan. ketersediaan pangan yang melimpah melebihi kebutuhan pangan penduduk tidak menjamin bahwa seluruh penduduk terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi RANPG 2006-2010 14 .

Pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasi masalah gizi secara tuntas dan berkelanjutan. (iii) Pemberian makanan. asam folat. pangan dan gizi. penimbangan anak balita di Posyandu yang dicatat dalam KMS. dan (v) biofortifikasi. 2006). meliputi: (i) Bantuan Langsung Tunai (BLT) bersyarat bagi keluarga miskin. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pembangunan bidang ekonomi. Status gizi masyarakat yang baik ditunjukkan oleh keadaan tidak adanya masyarakat yang menderita kelaparan dan gizi kurang. kesehatan. (ii) Kredit mikro untuk pengusaha kecil dan menengah. analisis situasi ketahanan pangan harus dimulai dari evaluasi status gizi masyarakat diikuti dengan tingkat konsumsi. (iii) bantuan pangan kepada anak kurang gizi dari keluarga miskin. (iv) fortifikasi bahan pangan seperti fortifikasi garam dengan yodium. varietas singkong yang mengandung karoten dan sebagainya. persediaan dan produksi pangan. 1. Kebijakan yang meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan. Oleh karena itu. (ii) pemberian suplemen zat gizi mikro seperti tablet zat besi kepada ibu hamil.kebutuhan hidup sehat dan proporsi anak balita yang menderita gizi kurang. tidak menjamin masyarakat terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. suatu teknologi budidaya tanaman pangan yang dapat menemukan varietas padi yang mengandung kadar zat besi tinggi dengan nilai biologi tinggi pula. seng. Keadaan ini secara tidak langsung menggambarkan akses pangan dan pelayanan sosial yang merata dan cukup baik. bukan sebaliknya. TINJAUAN STRATEGI PERBAIKAN PANGAN DAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG TA JALAN Masalah gizi kurang maupun gizi lebih tidak dapat ditangani hanya dengan kebijakan dan program jangka pendek sektoral yang tidak terintegrasi. dan keluarga berencana yang saling terkait dan terintegrasi untuk meningkatkan status gizi masyarakat (World Bank. Sebaliknya. Cina dan Malaysia. E. seperti Thailand. produksi dan persediaan pangan yang melebihi kebutuhannya. khususnya pada waktu RANPG 2006-2010 15 . kapsul Vitamin A kepada anak balita dan ibu nifas. menunjukkan perlunya strategi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. pendidikan. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa MDGs lebih menekankan dampak daripada masukan. fortifikasi terigu dengan zat besi. Strategi Jangka Pendek Kebijakan yang mendorong ketersediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan gizi dan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang dilaksanakan 1970 sampai 1990-an. vitamin B1 dan B2.

darurat; (iv) Pemberian suplemen zat gizi mikro, khususnya zat besi, Vitamin A dan zat yodium; (v) Bantuan pangan langsung kepada keluarga miskin; dan (vi) Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan dengan harga subsidi, seperti beras untuk orang miskin (Raskin) dan MP-ASI untuk balita keluarga miskin. Kebijakan yang mendorong perubahan ke arah perilaku hidup sehat dan sadar gizi dilakukan melalui pendidikan gizi dan kesehatan. Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga khususnya kaum perempuan tentang gizi seimbang, termasuk pentingnya ASI eksklusif, MP-ASI yang baik dan benar; memantau berat badan bayi dan anak sampai usia 2 tahun; pengasuhan bayi dan anak yang baik dan benar: air bersih dan kebersihan diri serta lingkungan; dan pola hidup sehat lainnya seperti berolah raga, tidak merokok, makan sayur dan buah setiap hari. 2. Strategi Jangka Panjang

Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan kesehatan dasar termasuk keluarga berencana dan pemberantasan penyakit menular; (ii) Penyediaan air bersih dan sanitasi; (iii) Kebijakan pengaturan pemasaran susu formula; (iv) Kebijakan pertanian pangan untuk menjamin ketahanan pangan ditingkat keluarga dan perorangan, dengan persediaan dan akses pangan yang cukup, bergizi seimbang, dan aman, termasuk komoditi sayuran dan buah-buahan; (v) Kebijakan pengembangan industri pangan yang mendorong pemasaran produk industri pangan yang sehat dan menghambat pemasaran produk industri pangan yang tidak sehat; dan (vi) Memperbanyak fasilitas olah raga bagi masyarakat. Kebijakan yang mendorong terpenuhinya permintaan atau kebutuhan pangan dan gizi, seperti: (i) Pembangunan ekonomi yang meningkatkan pendapatan rakyat miskin; (ii) Pembangunan ekonomi dan sosial yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat miskin; (iii) Pembangunan yang menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran; (iv) Kebijakan fiskal dan harga pangan yang meningkatkan daya beli masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi seimbang; dan (v) Pengaturan pemasaran pangan yang tidak sehat dan tidak aman. Kebijakan yang mendorong perubahan perilaku yang mendorong hidup sehat dan gizi baik bagi anggota keluarga: (i) Meningkatkan kesetaraan gender; (ii) Mengurangi beban kerja wanita terutama pada waktu hamil; dan (iii) Meningkatkan pendidikan wanita baik pendidikan sekolah maupun di luar sekolah.

RANPG 2006-2010

16

BAB III. ANALISIS SITUASI PANGAN DAN GIZI

A.

STATUS GIZI MASYARAKAT

Salah satu tolok ukur status gizi seseorang adalah ukuran berat badan dan tinggi badan menurut umur. Tolok ukur ini juga dapat mencerminkan kondisi gizi masyarakat. Selain itu, keadaan gizi masyarakat juga dapat ditunjukkan oleh data Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), dan gangguan pertumbuhan. Uraian berikut menyajikan analisis masalah gizi sesuai siklus kehidupan, dimulai dari bayi, anak balita, anak usia sekolah hingga usia produktif.

1.

Gizi Bayi dan Balita

Kondisi gizi bayi dapat ditunjukkan dengan BBLR. Kejadian BBLR ini erat kaitannya dengan kondisi gizi kurang pada masa sebelum dan selama kehamilan dan berpengaruh pada angka kematian bayi. Indonesia belum mempunyai data BBLR yang diperoleh melalui survei nasional. Selama ini, angka BBLR merupakan estimasi yang sifatnya sangat kasar yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) serta dari berbagai studi. Hasil SDKI dan berbagai studi tersebut menunjukkan bahwa selama periode 1986-19993 proporsi BBLR berkisar antara 7–16 persen. Setiap tahun diperkirakan sebanyak 355-710 ribu dari lima juta bayi lahir dengan kondisi BBLR. Kondisi gizi balita secara umum mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi gizi kurang. Pada tahun 1978-1998, prevalensi gizi kurang balita menurun dari 46,3 persen menjadi 37,5 persen atau rata-rata 0,85 persen per tahun. Prevalensi ini terus menurun menjadi 28,0 persen pada tahun 2005. Masalah gizi kurang pada balita ditunjukkan oleh tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting < -2SD). Dari beberapa survei, prevalensi anak balita stunting sekitar 40 persen (Tabel 2). Tinggi badan rata-rata anak balita ini umumnya mendekati kondisi normal hanya sampai 5 - 6 bulan, setelah usia enam bulan rata-rata tinggi badan anak balita lebih rendah dari kondisi normal. Pada tahun 1995 prevalensi stunting pada anak laki-laki menurut survei SKIA adalah 46,5 persen. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi anak perempuan

RANPG 2006-2010

17

Tabel 2.

Prevalensi Pendek/Stunting Anak Balita < - 2SD dari Berbagai Jenis Survei Survei Stunting < - 2SD 41,4 44,5 45,9 43,8 36,3

Suvita (Survei Nasional Vit. A), Tahun 1992 (15 Provinsi) IBT (Indonesia Bagian Timur), Tahun 1991 (4 Provinsi) SKIA (Survei Kesehatan Ibu dan Anak),Tahun 1995 Nasional JPS (Jaring Pengaman Sosial) Survei masalah gizi di 7 Provinsi (Puslitbang gizi 2006)

sebesar 45,2 persen. Berdasarkan survey NSS prevalensi anak laki-laki dan perempuan baik di perdesaan dan perkotaan sebesar 45,6 persen. Pada tahun 1992, Indonesia telah dinyatakan bebas dari xeropthalmia, namun masih dijumpai 50 persen balita mempunyai serum retinol kurang dari 20 µg/100 ml, sebagai pertanda Kurang Vitamin A Sub-Klinik. Kejadian tersebut diduga diakibatkan kurang berhasilnya penyuluhan untuk mengkonsumsi sumber vitamin A alami (SUVITAL) dan rendahnya cakupan distribusi kapsul Vitamin A (< 80 persen). Pada tahun 2000, dilaporkan dari Nusa Tenggara Barat adanya kasus baru xerophthalmia. Hal serupa bisa terjadi di provinsi lain jika cakupan distribusi kapsul Vitamin A di wilayah tersebut kurang dari 80 persen. Berdasarkan SKRT 2001, prevalensi anemia anak balita masih cukup tinggi. Semakin muda usia bayi semakin tinggi prevalensinya; pada bayi kurang dari 6 bulan (61,3 persen), bayi 6-11 bulan (64,8 persen), dan anak usia 12-23 bulan (58 persen). Selanjutnya prevalensi menurun untuk anak usia 2 - 5 tahun (Gambar 4). 2. Gizi Anak Usia Sekolah

Gangguan pertumbuhan dari usia balita berlanjut pada saat anak masuk sekolah. Selama kurun waktu lima tahun terjadi peningkatan status gizi anak sekolah yang diukur dengan tinggi badan menurut umur (TB/U). Pada tahun 1994 jumlah anak sekolah yang pendek sekitar 40 persen dan turun menjadi 36,4 persen pada tahun 1999. Masalah gizi lain yang juga menjadi masalah pada usia sekolah adalah adanya gangguan pertumbuhan. Anak usia sekolah juga mengalami GAKY, walaupun prevalensinya telah menurun secara berarti. Pada tahun 1980, prevalensi GAKY pada anak usia sekolah yang diukur dengan pembesaran kelenjar gondok (Total Goiter Rate/TGR) adalah 30 persen. Angka ini menurun menjadi 27,9 persen pada tahun 1990,

RANPG 2006-2010

18

100,0 80,0 Persen 60,0 40,0 20,0 0,0 % Anemia

< 6 bln 61,3

6-11 bln 64,8

12-23 bln 58,0

24-35 bln 45,1

36-47 bln 38,6

48-59 bln 32,1

Gambar 4. Prevalensi Anemia pada Anak Balita (SKRT 2001) dan menjadi 11,1 persen pada tahun 2003. Walaupun prevalensi GAKY pada anak sekolah telah menurun, ternyata masih terdapat 14 kabupaten yang tergolong daerah endemik berat. Gambaran klasifikasi kabupaten menurut endemisitas GAKY dapat dilihat pada Tabel 3. Secara internasional, perhitungan proporsi penduduk yang menderita gondok sebagai indikator GAKY sudah tidak dianjurkan lagi karena secara statistik dianggap kurang sahih. Di samping itu, indikator tersebut baru timbul pada tingkat akhir sebagai akumulasi terjadinya kekurangan yodium untuk waktu lama sehingga dianggap terlambat jika dipakai sebagai dasar tindak pencegahan. Indikator GAKY yang dianjurkan WHO adalah (i) kadar yodium dalam urine (EYU= Eksresi Yodium Urine), yaitu proporsi EYU dibawah 100 µg/L harus kurang dari 50 persen dan proporsi EYU dibawah 50 µg/L harus kurang dari 20 persen; dan (ii) konsumsi garam beryodium oleh rumah tangga, yaitu 90 persen rumah tangga menggunakan garam mengandung cukup

Tabel 3. Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003
Klasifikasi kabupaten menurut TGR tahun 1998 Non Endemik Non Endemik Klasifikasi kab Endemik Ringan menurut TGR tahun 2003 Endemik Sedang Endemik Berat Total kabupaten Total Endemik RinganEndemik SedangEndemik Berat kabupaten

86 28 5 3 122

26 52 18 8 104 150 68 50

2 13 7 6 28

1 3 5 5 14

115 96 35 22 268

Tidak berubah Memburuk Membaik

Sumber: National IDD Survey 1998, and National IDD Evaluation Survey 2003

RANPG 2006-2010

19

Anak yang kekurangan yodium memiliki IQ 1015 poin lebih rendah dari anak sehat. Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi terjadinya GAKY pada masyarakat.8 persen di tahun 2005 (Susenas 2005). Kedua indikator tersebut sudah dapat dilihat pada tahap awal. Kekurangan yodium tingkat awal pada anak terbukti dapat menurunkan kecerdasan atau IQ.5 cm (LILA < 23. Selain KEK.5 cm menurun dari 24. Pada tahun 2003 median EYU anak sekolah di Indonesia adalah 22. sedangkan data proporsi EYU sudah mencapai 16. Berdasarkan hasil survei Puslitbang Gizi tahun 2006.5 persen di tahun 2002 menjadi 72.7 persen dari proporsi 100 µg/L.7 persen pada 2003.5 cm) cm) 50% 1999 40% 2000 2001 30% 2002 2003 20% 10% 0% 15-19 20-24 25-29 30-34 Umur (tahun) 35-39 40-44 45-49 Gambar 5. cakupan konsumsi garam beryodium secara nasional meningkat dari 68.5 cm).9 µg/L. Kedua masalah gizi ini juga terjadi di wilayah kumuh % WUS (LILA<23. Proporsi WUS Beresiko KEK (LILA < 23. kedua indikator itu dapat digunakan sebagai dasar tindak pencegahan sebelum timbul gondok atau akibat lain yang lebih parah seperti kerdil dan cacat mental. proporsi LILA < 23. Ukuran ini merupakan indikator yang menggambarkan resiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Oleh karena itu. Secara nasional. WUS dengan resiko KEK mempunyai resiko melahirkan bayi BBLR (Gambar 5). Pada umumnya WUS kelompok usia muda memiliki prevalensi KEK lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lebih tua.9 persen pada 1999 menjadi 16.yodium. yang dapat diukur dengan Lingkar Lengan Atas kurang dari 23.5 cm) 1999-2003 RANPG 2006-2010 20 . pada kelompok usia produktif juga terdapat masalah kegemukan (IMT>25) dan obesitas (IMT>27). saat tingkat kekurangan yodium masih ringan. Gizi Usia Produktif Masalah gizi kurang juga dapat terjadi pada kelompok usia produktif. 3.

Sumatera Barat. Semarang. selenium. Jawa Timur. Pada tahun 1999. Hasil survey NSS-HKI tahun 2001 di empat kota (Jakarta.perkotaan maupun perdesaan. dan vitamin B1 sampai kini belum diketahui. Jawa Tengah dan NTB (1997-1999). prevalensi kegemukan berkisar 10-21 persen. yang justru lebih besar daripada prevalensi kurus (11-14 persen).5 persen dan 40 persen. Masalah gizi mikro lain yang perlu mendapat perhatian adalah kurang seng (Zinc) pada ibu hamil. Aksesibilitas ini tercermin dari jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga. dan ibu hamil masing-masing sebesar 26. Sedangkan besarnya masalah kurang zat gizi mikro lainnya seperti asam folat. sedangkan konsumsi ubi RANPG 2006-2010 21 . Dengan demikian data konsumsi pangan secara riil dapat menunjukkan kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan dan menggambarkan tingkat kecukupan pangan dalam rumah tangga. Demikian juga. Makassar. menunjukkan prevalensi kurang seng pada bayi sekitar 6 sampai 39 persen. KONSUMSI PANGAN Tingkat dan Pola Konsumsi Pangan Persyaratan kecukupan untuk mencapai keberlanjutan konsumsi pangan adalah adanya aksesibilitas fisik dan ekonomi terhadap pangan. Penelitian skala kecil di Jawa Barat. vitamin C. Pada tahun 1999 tingkat konsumsi hampir semua jenis pangan menurun akibat krisis ekonomi yang berlangsung sejak 1997. Masalah gizi juga dapat ditunjukkan oleh prevalensi anemia. dan Sulawesi Selatan. Lampung. Konsumsi beras menurun sekitar 6 persen. WUS tidak kawin.9 persen. Pada masa pemulihan ekonomi (2002-2005). Sebuah penelitian di Nusa Tenggara Timur (1996) menunjukkan. kalsium. sekitar 71 persen wanita hamil menderita kurang seng. Survei nasional tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada WUS kawin. Nusa Tenggara Barat. Kekurangan seng (kandungan seng <7 mg/dl serum darah) dapat menyebabkan tingginya resiko komplikasi kehamilan dan bibir sumbing pada bayi yang dilahirkan. Perkembangan tingkat konsumsi pangan tersebut secara implisit juga merefleksikan tingkat pendapatan atau daya beli masyarakat terhadap pangan. konsumsi beras dan jagung menurun. Surabaya) menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan pada wanita usia produktif daerah kumuh perkotaan berkisar antara 18-25 persen. Jawa Tengah. di Jawa Tengah prevalensi kurang seng pada wanita hamil cukup tinggi yaitu antara 70 sampai 90 persen. Banten. B. di wilayah perdesaan provinsi Jawa Barat. sementara prevalensi kurus antara 10-14 persen. sedangkan konsumsi jagung dan ubi kayu sedikit meningkat. 1. 24.

Sedangkan konsumsi protein hewani dikurangi. Pada masa pemulihan ekonomi.5 105.3 16.1 1.5 116.5 0. terutama konsumsi buah dan sayuran yang mencapai lebih dari 20 persen.3 -14.5 1999 1. Dengan daya beli yang menurun.6 Laju 1996-1999 (%/th) -23.0 3.7 13.4 12. meskipun konsumsi daging ruminansia belum mencapai tingkat konsumsi sebelum krisis (Tabel 5).2 -31. telur.1 2002 1. 1999.3 Sumber : Susenas 1996.2 persen (Tabel 4). Sedangkan untuk pangan sumber vitamin/mineral telah meningkat di atas lima persen (Tabel 6). 2002. Konsumsi beras sebagian digantikan dengan jagung dan umbi-umbian.5 RANPG 2006-2010 22 .1 3.6 1. Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Beras 124. Kacangkacangan 18.0 3.3 1. terjadi penyesuaian strategi pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga. 2002.9 8. Tabel 4. pemenuhan pangan lebih mengutamakan konsep ’kenyang’ tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Konsumsi pangan protein tersebut kembali meningkat pada 20022005.0 4.0 6. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi ubi kayu yang mencapai 17.1999.2 Ubijalar 3. walaupun untuk minyak goreng masih bernilai negatif. Konsumsi Pangan Sumber Protein (Kg/kap/th) Daging Daging Tahun Telur Susu Ikan ruminansia unggas 1996 3.2 -6.5 114.6 5.3 -15.1 Jagung 3. vitamin dan mineral menurun pada masa krisis.4 3.5 17. masyarakat mengurangi jenis pangan yang harganya mahal dan mensubstitusinya dengan jenis pangan yang relatif murah. peningkatan konsumsi pangan sumber lemak relatif stagnan.9 3.5 Laju 2002-2005 (%/th) 5.3 -47.7 -2. Dengan demikian.7 3.9 9.1 1.3 9.9 13. 2005 (diolah) Konsumsi pangan sumber protein baik daging.9 Ubikayu 11.0 4.4 -8.8 15.jalar dan ubi kayu meningkat.9 7.4 18.0 0.4 -27.7 10.8 4.4 3.0 14.1 6.1 16.6 5.7 Sumber : Susenas 1996.8 8.0 2.8 4.8 14. Kondisi di atas menggambarkan bahwa pada masa krisis. susu maupun ikan menurun selama masa krisis. 2005 (diolah) Demikian pula pada konsumsi pangan sumber lemak.8 2005 1. Tabel 5.

6 18. 2002.7 3. meskipun tingkat konsumsinya masih tetap tinggi dibanding sumber pangan karbohidrat lainnya.1 2.1 0. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang lebih rendah dibanding dengan negara-negara tersebut diatas.Tabel 6.2 7.5 Sumber : Susenas 1996. Konsumsi pangan hewani. RANPG 2006-2010 23 .2 -2. dan buah-buahan meningkat. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) tahun 2004 menganjurkan konsumsi energi dan protein penduduk Indonesia masing-masing adalah 2000 kkal/kapita/hari dan 52 gram/kapita/hari. Perkembangan menarik lainnya adalah kecenderungan berubahnya pola konsumsi pangan pokok kelompok masyarakat berpendapatan rendah.5 40.7 47. konsumsi produk olahan terigu seperti mie instant dan aneka kue cenderung meningkat.5 50.0 8. Namun demikian.5 27.7 6.9 Buah 24.8 -1.2 kg/kapita/tahun. mie instan (Tabel 7). Saat ini. Konsumsi Energi dan Protein Tercukupinya kebutuhan pangan antara lain dapat diindikasikan dari pemenuhan kebutuhan energi dan protein. termasuk mie kering. Tingkat konsumsi ini lebih rendah dibanding Malaysia dan Filipina yang masing-masing mencapai 48 kg/kap/tahun dan 18 kg/kapita/tahun. mie basah.4 3. terutama di pedesaan.2 4.2 31. yang mengarah kepada beras dan bahan pangan berbasis tepung terigu.8 -39.0 Sumber Vit/Mineral Sayuran 67. 1999. 2005 (diolah) Upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah berdampak positif terhadap peningkatan konsumsi pangan masyarakat. konsumsi pangan hewani harus terus ditingkatkan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era globalisasi. sehingga arah perubahan pola konsumsi itu dapat menimbulkan ketergantungan pangan pada impor. Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Sumber Lemak Minyak Buah/biji goreng berminyak 7. Perkembangan menarik dalam konsumsi pangan sumber karbohidrat adalah kecenderungan menurunnya konsumsi beras dan tepung terigu yang merupakan pangan pokok.4 -4. Perubahan ini perlu diwaspadai karena gandum adalah komoditas impor dan belum diproduksi di Indonesia.3 8. 2. Pada saat ini konsumsi pangan hewani penduduk Indonesia baru mencapai 6.7 -24. sayuran.8 16.

000-149.T B.000-79.T B.T B.UK.999 80.T B.000-499.999 100.T B.T B.T B.J.UK.019 kkal /kapita/hari.999 300.999 100.T B.T B. T = terigu Secara agregat.000-199.T B.T. 2005 (diolah) Keterangan: B = Beras. RANPG 2006-2010 24 .J. Tingkat konsumsi protein pada masa krisis mengalami perkembangan yang sama namun setelah masa krisis sudah membaik dan bahkan pada tahun 2005 sudah melebihi tingkat sebelum krisis (Tabel 8).T B.UK B.000 2002 B.T B.T B.T B.T 2004 B.T B.T B.T B.J.T B.5 persen dari tingkat yang dianjurkan.000-99.T B.000-299. 2004.T B.T B.T.T B.T B. J = Jagung. Namun demikian setelah krisis berakhir.T B. Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Golongan pengeluaran (Rp/kap/bl) Kota+Desa < 60.T B.UJ B.999 100.T B.000 60.J.000 Kota < 60.T B. Susenas 2002.T B.000-499.T B.T.T B.T B. konsumsi energi masyarakat berangsur pulih.UK B.000-499.T B.T B.T Sumber .T B.000-149.999 300. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menurunkan tingkat konsumsi energi menjadi 1.999 150.999 200.T B.Tabel 7.T B.T B.T B.T B. sudah lebih tinggi dari yang dianjurkan. Hal ini mengakibatkan tingkat konsumsi energi rata-rata masyarakat secara nasional masih di bawah anjuran.T.T B. UK = Ubi Kayu.T B.J.000-99.999 >500.999 200.T B.J.999 >500.UK B.T B.999 200.T B.J.T B.T B.T B.T B.T B.T B.T B B.000-149.T B.999 300.T.999 >500.T B.T B.000-199.999 80.000 60.UK B.UK B.T B.T B.T B.T B.T B.T.T B.999 80.T 2003 B.T B.849 kkal /kapita/hari pada tahun 1999 atau hanya mencapai 92.000-299.T B.T B.UK B. meskipun pada masyarakat perkotaan tingkat konsumsinya belum membaik kembali.000-99.J.T B.000-299. konsumsi energi pada tahun 1996 mencapai 2.000-79.T B.999 150.T B.UK B.UK B. 2003.T B.T B.T B.T B.J B.000-79.T B.000-199.T B.T B.000 60.T B.T B.UK B.T B.J.T B.999 150.000 Desa < 60.T 2005 B.T B.T B.T B.

991 56.923 2.941 2. Upaya pemulihan ekonomi telah meningkatkan kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan dengan peningkatan skor PPH dari 66.000 Kkal/kapita/hari.23 Energi (Kal/kap/hari) Protein(Gram/kap/hari) 3.849 49. yang menggambarkan pencapaian ragam (diversifikasi) konsumsi pangan.Tabel 8. Uraian Kota Desa Kota+Desa 2 Kota Desa Kota+Desa * Data modul Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) Keterangan : Rekomendasi WNPG 2004 :AKE=2000 kkal/kap/hr dan AKP=52 g/kap/hr 1996 1. konsumsi kelompok pangan lain masih di bawah tingkat anjuran terutama umbi-umbian.0 53. Semakin besar skor PPH maka kualitas konsumsi pangan dinilai semakin baik.6 pada tahun 2002 (Tabel 9). Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein Menurut Wilayah No.986 55.4 2003* 1.3 48.011 1. 1. Sesuai kondisi ideal (PPH=100) konsumsi padipadian yang dianjurkan adalah sebesar 1.2 54. Kualitas konsumsi terus meningkat dan pada tahun 2005 mencapai 79.018 1. Kualitas konsumsi pangan (Tabel 9) merupakan perwujudan dari kuantitas dan keragaman konsumsi aktual (Tabel 10). konsumsi padi-padian aktual sudah lebih dari anjuran. Namun demikian.945 2.9 53. Sementara itu.879 1.3 pada tahun 1999 menjadi 72.951 2.5 1999 1.0 persen selama 4 tahun. Kualitas Konsumsi Pangan Untuk menganalisis perkembangan konsumsi pangan. selain diperlukan informasi tentang kuantitas konsumsi pangan perlu pula diketahui tingkat kualitasnya.9 53.986 56.7 54. baik pada masa krisis maupun saat ini.996 55.3 55.1 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 9. Kualitas atau mutu konsumsi pangan dilihat dengan menggunakan nilai/skor Pola Pangan Harapan (PPH).7 2002 1.983 2.2 48.7 54. Laju peningkatan skor PPH yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan konsumsi energi dan protein mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi pangan.018 1.019 55. dan masih cenderung meningkat. pangan hewani.7 54.802 1.7 2005 1.4 55. Nilai/skor mutu PPH ini dapat memberikan informasi mengenai pencapaian kuantitas dan kualitas konsumsi.3 55. serta sayur dan RANPG 2006-2010 25 .060 1. Kualitas konsumsi pangan yang dianggap sempurna diberikan pada angka kecukupan gizi dengan skor PPH mencapai 100.4 2004* 1.040 2.

Oleh karena itu produksi beras menjadi indikator yang sangat penting untuk diperhatikan pencapaiannya. tingkat PPH baru mencapai skor 79.9 2005 81.1 buah.1 77.6 2003* 1252 66 138 195 56 62 101 90 32 1992 77. Dengan pola kuantitas dan keragaman konsumsi seperti ini.6 Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) *Data Modul 2003* 81. Tabel 10.0 74. Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH Wilayah 1999 2002 Kota 68.3 72.5 2004* 1248 77 134 195 47 64 101 87 33 1986 76. Tingkat konsumsi minyak dan lemak serta gula sudah mendekati tingkat anjuran.1 Desa 64.3 2002 1253 70 117 205 52 62 96 78 53 1986 72.1 C.9 75.0 76.5 2004* 80.Tabel 9.5 Kota+Desa 66. 1. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN Ketersediaan Pangan per Wilayah Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Selama periode 2001-2005 ketersediaan padi yang berasal dari produksi dalam negeri mengalami peningkatan rata-rata sebesar RANPG 2006-2010 26 . Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran dan Aktual Tahun 1999-2005 (kkal/kapita/hari) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok Pangan Padi-padian Umbi-umbian Pangan hewani Minyak+Lemak Buah/biji berminyak Kacang2an Gula Sayur+buah Lain-lain TOTAL Skor PPH Sumber: Susenas(diolah) * Data modul Anjuran 1000 120 240 200 60 100 100 120 60 2000 100 Konsumsi Aktual 1999 1240 69 88 171 41 54 92 70 26 1851 66.5 80.0 77.4 72.6 79.9 2005 1241 73 139 199 51 67 99 93 35 1997 79.

sedangkan 24 persen dari daging ayam buras.3 139.5 89.151 Sumber: BPS Sementara itu produksi jagung dan komoditas pangan lainnya juga meningkat.614 Sulawesi 4.4 136.666 12.4 kg (Tabel 12). Persebaran Produksi Padi Menurut Wilayah Pulau (Ribu Ton GKG) 2001 2002 2003 2004 2005 Pulau/Tahun Jawa 28.3 8.438 5. Pulau Sumatera memiliki proporsi produksi padi sebesar 23 persen. (Tabel 11).137 54.7 persen.7 50. Ketersediaan Beras dan Palawija Per Kapita (kg) Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Beras 135.3 persen.602 5.358 3.5 137.9 Ubi Jalar 8.171 5.608 28. maka ketersediaan per kapita komoditas jagung.088 54. (Tabel 13). ubi kayu. maka tingkat produksi padi tersebut setara dengan ketersediaan beras per kapita sebesar 137 kg/tahun.8 8. 88 kg.169 3. Kalimantan 6 persen.675 Bali & Nusa Tenggara 2. RANPG 2006-2010 27 .7 80.764 Sumatera 11.074 3.9 Jagung 44. Dengan perkembangan produksi tersebut.983 5.461 51. Untuk daging unggas proporsi terbesar diperoleh dari ayam pedaging (broiler) yang mencapai 70 persen.5 87.657 3.0 Ubi Kayu 81.167 29.725 2.15 juta ton pada 2005.489 52. Pemenuhan kebutuhan konsumsi daging nasional sebesar 65 persen berasal dari daging unggas dan sebesar 19 persen daging sapi.46 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2001 menjadi 54.136 12.4 Bahan pangan sumber protein yang terutama adalah daging dan telur. Tabel 11 .4 136.287 11.7 persen per tahun.8 51. Dengan memperhitungkan jumlah penduduk.807 2.4 9.647 2.616 Kalimantan 3. Tabel 12. produksi jagung meningkat dengan ratarata pertumbuhan 7.301 Maluku & Papua 109 85 149 151 181 Indonesia 50. Produksi jagung mengalami peningkatan tertinggi dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya. serta Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5 persen.312 28.8 persen per tahun. dan 8.7 57. yaitu meningkat dari 50.1. ubi kayu 3. Sulawesi sebesar 10 persen. dan ubi jalar pada 2005 masing-masing mencapai 57 kg.4 8. Ditinjau dari penyebaran wilayahnya. produksi padi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan proporsi sebesar 55 persen.542 12. dan ubi jalar 1.636 29.696 2. Dalam kurun waktu tersebut.8 45.0 86.

6 417.1 850.68 1.7 44.17 68.24 57.7 280.09 275. Pada tahun 2003 produksi susu mencapai 553 ribu ton.30 536.0 71.64 48. Pemenuhan konsumsi susu saat ini masih mengandalkan dari pasokan susu impor.30 58.3 908. Tingkat produksi telur ini telah mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri.15 771.70 38.6 44. dan propinsi penghasil utama telur adalah Jawa Timur.57 296.78 1. Jawa Tengah.09 1.40 1.71 40.3 44.3 68.2 5.06 288.15 1.9 2003 484.2 489.149 ton pada 2005 (Tabel 14).6 1.30 173.71 164. 2006 Produksi telur yang pada tahun 2001 sebesar 850 ribu ton meningkat menjadi 1.56 2002 330.5 67.7 48. menurun menjadi 550 ribu ton pada 2004.0 4.10 22.1 287.6 973.148.9 2.4 510.64 177. Perkembangan Produksi Telur (ribu ton) Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Luar Jawa Indonesia Sumber : Deptan RANPG 2006-2010 2001 433.60 298.9 28 .871.769. Ketersediaan susu dari produksi dalam negeri masih terbatas.2 63.6 541.34 42.06 194.21 2.4 2005 607.9 432.4 5. Pangan hewani yang juga penting peranannya adalah susu.78 751.53 2004 447.49 1.2 25.14 88.6 26.38 846.29 42.12 1.8 1.13 66.86 80.020.52 48.64 63.78 160.107. dan 536 ribu ton pada 2005.0 37.36 2005 358.1 309.0 2.8 68.40 45.10 Sumber : Ditjen Peternakan.12 21.2 68. dan perkembangan produksinya pun cenderung menurun.60 301.10 21.560. produksi telur juga terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera.70 44.3 2002 476. Jawa Barat dan Sumatera Utara.817. Perkembangan Produksi Daging (ribu ton) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis Sapi Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik Jumlah 2001 338.60 47. Tabel 14.Tabel 13.70 1.3 71.10 50.42 48.2 324. Sebagaimana padi.20 779.8 341.69 43.5 78.85 2003 369.95 23.93 21.57 40.25 1.6 2004 596.

kecuali di provinsi Sumbar. mekanisme pasar dan distribusi pangan antar lokasi serta antar waktu dengan mengandalkan ’stok’ akan berpengaruh pada keseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi serta pada harga yang terjadi di pasar. Dengan demikian. Jawa Tengah. Bahkan di semua provinsi yang merupakan sentra produksi pangan seperti provinsi Jawa Timur. antarwaktu. dan tertinggi di DIY yaitu mencapai 20. Demikian pula. Kerawanan Pangan Ketersediaan pangan secara makro tidak sepenuhnya menjamin ketersediaan pada tingkat mikro. daya beli rumah tangga yang berkaitan dengan kemiskinan dan pendapatan rumah tangga. Masalah-masalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh terhadap harga. dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh kepada konsumsi dan kecukupan pangan dan gizi rumah tangga. Sedangkan penduduk sangat rawan pangan hanya mengkonsumsi energi kurang dari 70 persen dari kecukupan energi. Penduduk rawan pangan didefinisikan sebagai mereka yang rata-rata tingkat konsumsi energinya antara 71–89 persen dari norma kecukupan energi. meskipun komoditas pangan tersedia di pasar namun apabila harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau daya beli rumah tangga. dan antar-daerah mengakibatkan adanya masa-masa defisit dan lokasi-lokasi defisit pangan.2. Sumatera Selatan. Berdasarkan data SUSENAS yang tertuang dalam Nutrition Map of Indonesia tahun 2006. Faktor keseimbangan yang tereflekasi pada harga sangat berkaitan dengan daya beli rumah tangga terhadap pangan. jumlah penduduk rawan pangan terendah ada di propinsi Bali yaitu sebesar 4. Masalah produksi yang hanya terjadi di wilayah tertentu dan pada waktu-waktu tertentu mengakibatkan konsentrasi ketersediaan di sentra-sentra produksi dan pada masa-masa panen. jumlah anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang di daerah-daerah tersebut juga masih tinggi.8 persen. Dengan demikian. Bali dan NTB. Proporsi penduduk rawan pangan di semua provinsi masih diatas 10 persen. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan proporsi penduduk rawan pangannya cukup tinggi. maka rumah tangga tidak akan dapat mengakses pangan yang tersedia. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan kerawanan pangan.0 persen (Tabel 15). RANPG 2006-2010 29 . Pola konsumsi yang relatif sama antar-individu. Tingginya proporsi rumah tangga rawan pangan dan anak balita kurang gizi menunjukkan bahwa ketahanan pangan pada tingkat nasional atau wilayah tidak selalu berarti bahwa tingkat ketahanan pangan di rumah tangga dan individu juga terpenuhi. Banyaknya penduduk rawan pangan masih terjadi di semua propinsi dengan besaran yang berbeda.

7 14.8 20. pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk menjamin agar RANPG 2006-2010 30 . Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.185 227 98 161 113 335 17.684 690 144 295 565 614 119 299 342 225 210 1.0 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.1 17.5 6.1 11.3 10.2 4.6 11.162 305 621 290 1. Berkaitan dengan itu.3 16.8 15.8 13. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi No.9 13. 2006 3.404 6.089 621 6.8 18.9 16.5 15.224 5.Tabel 15.Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Jumlah Penduduk Rawan Pangan (Ribu Orang) (%) 295 1.2 11.9 19.8 7.2 12.4 10.182 221 919 122 1.9 17. Peningkatan Akses Terhadap Pangan Setiap rumah tangga memiliki kemampuan yang berbeda dalam mencukupi kebutuhan pangan secara kuantitas maupun kualitas untuk memenuhi kecukupan gizi.1 *) Tidak dilakukan survey total Sumber : Gizi dalam Angka (2005) dan Nutrition Map of Indonesia.1 13.8 11.2 13.0 19.5 18.1 12.6 16.

Pada saat di daerah-daerah tertentu terjadi lonjakan harga yang besar. RANPG 2006-2010 31 . Upaya atau kebijakan umum yang diterapkan adalah stabilisasi harga pangan pokok agar mekanisme pasar dan distribusi yang ada dapat menyediakan pangan pokok dengan harga yang terjangkau.rumah tangga dan individu memiliki akses terhadap pangan yang tersedia. Di tingkat konsumen selama 2000-2004. gabah hasil pembelian dari petani digunakan untuk operasional program Raskin dan sebagai cadangan beras pemerintah untuk menstabilkan harga pada tingkat konsumen. Salah satu instrumen kebijakan untuk stabilisasi harga adalah cadangan pangan yang dimiliki pemerintah. Perdagangan antar daerah dan antara pulau dapat mempertahankan stabilitas harga. harga eceran rata-rata bulanan untuk beras medium juga tidak mengalami gejolak yang berarti. 13 Tahun 2005. pemerintah menerapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk memberikan harga produsen yang mencukupi kepada petani agar petani tidak menerima harga lebih rendah dibanding biaya produksi. perkembangan harga beras di Jawa dan Bali cenderung stabil yang ditandai dengan koefisien variasi harga yang rendah. kecuali di daerah yang sulit dijangkau (terisolasi) atau yang komoditas produknya tidak memenuhi syarat pembelian. Pada sisi lainnya. Hasil penerapan insentif harga untuk petani tercermin pada perkembangan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang menunjukkan bahwa kebijakan HPP memberikan manfaat yang cukup kepada petani. i. maka prioritas utama pemerintah adalah untuk menjamin masyarakat agar dapat mengakses beras dalam jumlah yang mencukupi. Stabilitas Harga Pangan Stabilitas harga beras diukur berdasarkan perkembangan harga rata-rata dan koefisien variasinya dan dimonitor terus menerus. pemerintah menggunakan cadangan beras yang dimiliki untuk menstabilkan harga melalui kegiatan operasi pasar. Kebijakan lainnya adalah subsidi/bantuan pangan berupa beras untuk rumah tangga yang berpendapatan di bawah garis kemiskinan. Selama kurun tahun 2000 – 2004. Pada satu sisi. Kebijakan pengendalian harga memiliki dua sisi yang diatur dalam Inpres No. Mengingat beras adalah bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi. Perkembangan harga transaksi yang terjadi pada umumnya lebih tinggi daripada HPP.

24 juta ton pada tahun 2002. Melalui program ini pemerintah mendistribusikan beras dengan harga bersubsidi sehinga masyarakat miskin yang daya belinya sangat terbatas bisa mendapatkan bahan pangan pokok yaitu beras. diluncurkan sejak bulan Juli 1998. pada awalnya disebut Operasi Pasar Khusus (OPK). Namun demikian sebagai akibatnya beras dibagi kepada tiap keluarga miskin dalam jumlah kurang dari 20 kg. Jumlah penerima yang memang keluarga miskin “dianggap berhak” diperkirakan sebesar 84 persen.ii. Besarnya volume beras yang didistribusikan dalam program Raskin terus meningkat dari tahun ke tahun. Beras untuk rumah tangga miskin (Raskin). yaitu: (1) program Raskin telah mempersempit celah kemiskinan sekitar 20 persen. beras yang didistribusikan dalam program Raskin memang cukup besar. 2005). Besaran volume beras Raskin yang tidak mencukupi kebutuhan sesuai norma sebesar 20 kg/KK/bulan menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan di tingkat lapangan. Secara volume. Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Selain melalui mekanisme pasar dan bantuan pangan saat bencana. RANPG 2006-2010 32 . Pada tahun-tahun berikutnya volume distribusi beras Raskin relatif stabil pada kisaran 2. Terlepas dari adanya kelemahan dalam penentuan penerima manfaat. program Raskin dinilai telah memberikan kontribusi dalam mengurangi tingkat kemiskinan dengan beberapa alasan. Kendala pelaksanaan lainnya adalah adanya kesalahan sasaran. meningkat menjadi 1.0 juta ton. Kendala tersebut diselesaikan di tingkat masyarakat melalui musyawarah desa. Beberapa penyebabnya adalah rasa solidaritas sehingga harus dibagi merata ke seluruh penduduk. Ini berarti terdapat 16 persen distribusi Raskin yang tidak tepat sasaran.3 kg/KK/bulan. Pada tahun 2000 jumlahnya mencapai sebesar 1.35 juta ton. Survei evaluasi yang dilaksanakan oleh 35 perguruan tinggi pada tahun 2003 menemukan bahwa rata-rata penerimaan beras Raskin adalah 13. Sampai saat ini persentase keluarga miskin yang dapat dijangkau sekitar 65 persen (Tabel 16). namun ada pula yang disebabkan penyimpangan oleh para pelaksana. (3) memberikan stimulasi tidak langsung terhadap permintaan agregat karena adanya efek pengganda dari transfer pendapatan yang meningkatkan daya beli penerima Raskin (Tabor dan Sawit. pemerintah juga memiliki subsidi pangan dalam bentuk beras untuk rumah tangga miskin. dan 2. (2) tingkat konsumsi kalori keluarga miskin penerima Raskin lebih tinggi antara 17-50 kkal per hari dibandingkan mereka yang tidak memperoleh Raskin. Program ini diterapkan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kekuarangan pangan pada rumah tangga miskin yang pada masa krisis ekonomi paling menderita. namun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan sesuai norma sebanyak 20 kg per bulan dan seluruh rumah tangga miskin.48 juta ton pada tahun 2001.

serta peralatan masak.350. RANPG 2006-2010 33 .864 11.746.9 52.029.0 1.835.4 1.000 9.600 9.482.9 1.97 2001 15.94 2002 15. Mandat Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan untuk pengembangan cadangan pangan daerah (pemda dan masyarakat) sampai saat ini belum dikembangkan sehingga menyebabkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah pangan sebagian besar masih bertumpu pada pemerintah pusat.674.9 54.98 Sumber: Perum BULOG iii.790. Perlu dipikirkan penyediaan cadangan pangan siap konsumsi untuk keperluan darurat. Sampai saat ini cadangan pangan untuk keperluan tanggap darurat hanya berupa beras.45 73. masyarakat yang terkena dampak bencana akan dapat terpenuhi kebutuhan konsumsi pangan pokoknya.300.98 54. masyarakat mengalami kesulitan pula untuk mendapatkan bahan bakar.135.49 2003 15.333.316.349.000 8.9 2.66 81. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin Realisasi KK Miskin Rencana Distribusi Penyaluran Persen thd KK miskin Tahun Beras (Ribu Beras (Ribu (Ribu KK) Rencana Realisasi (ton) KK) (ton) KK) 2000 14. terutama pangan yang disukai masyarakat setempat.501.Tabel 16.5 2.6 2.135.061.8 2.992.14 2004 15.56 70.248 10. Untuk memenuhi kekurangan pangan akibat bencana. Gubernur dan Bupati/Walikota mempunyai kewenangan untuk meminta CBP secara langsung dengan batas maksimum masing-masing sebesar 200 ton dan 100 ton dalam setahun.2 64. Dalam kondisi darurat pada saat bencana.0 1.057.574.30 72.274 9.059.023.353.832. Untuk itu cadangan pangan yang siap digunakan oleh daerah dan cocok dengan pola konsumsi daerah sangat penting untuk dikembangkan.0 54.131 11.137 12.8 2.9 65. Cadangan Pangan Selain digunakan untuk operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga. Di tingkat yang lebih tinggi CBP juga digunakan untuk memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia dalam menyediakan cadangan beras dalam kerangka kerjasama ASEAN Emergency Rice Reserve. air bersih.6 2. Dengan adanya CBP dan kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah tersebut. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga digunakan untuk mengatasi kekurangan pangan yang terjadi sebagai akibat bencana alam.9 59.546.934. bantuan pangan dalam bentuk beras seringkali tidak dapat mengatasi kekurangan pangan secara cepat.4 1.793 8.030 8. Dengan demikian.6 1.707 11.782.98 2005 15.207.590.438 8.45 75.820.991.235.

kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. Untuk menjamin kualitas pangan. produsen dan konsumen). Selain itu penguatan produksi pangan juga didukung dengan penerapan berbagai praktek dan pengolahan pangan seperti: Cara Budidaya yang Baik. Cara Distribusi Pangan yang Baik. teknologi dan cara pengolahan. jenis dan batas maksimum penggunaan BTP (Bahan Tambahan Pangan). dan setiap tahunnya menyebabkan 3 juta kematian anak berusia dibawah 5 tahun. Berdasarkan data WHO (2000) diketahui penyakit karena pangan (foodborne disease) merupakan penyebab 70 persen dari sekitar 1. RANPG 2006-2010 34 . cara-cara pengujian dan batas maksimum cemaran mikroba. penyimpanan dan penanganan pangan. angka tersebut merupakan potensi sekaligus tantangan dalam menghasilkan pangan yang aman. peran produsen dalam mengaplikasikan berbagai teknologi dan prinsip-prinsip pengolahan pangan. dan Gizi Pangan. termasuk didalamnya pelabelan kemasan. Untuk menekan terjadinya penyakit karena pangan dilakukan pengawasan terhadap keamanan pangan antara lain dengan pengawasan produk pangan terdaftar dan pemeriksaan produk pangan beredar. merugikan. Cara Produksi Pangan Segar yang Baik. Dalam peraturan tersebut keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. dan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik. kimia dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi keamanan pangan. sangat penting.D. KEAMANAN PANGAN Isu tentang keamanan pangan merupakan masalah penting karena diperkirakan lebih dari 90 persen masalah kesehatan manusia terkait dengan makanan. membangun jejaring keamanan pangan baik dalam negeri maupun luar negeri serta penguatan peran sumber daya manusia (pengawas pangan. Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik. Dalam aspek legislasi. Cara Ritel Pangan yang Baik. beberapa tanggung jawab yang terkait dengan kegiatan keamanan pangan adalah penyiapan ketentuan tentang standar dan batasan keamanan pangan misal jenis dan cara penggunaan pestisida yang aman. Upaya lain adalah melalui penguatan kelembagaan. dan membahayakan kesehatan manusia. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan.7 tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No. Dengan jumlah pengolah pangan besar dan menengah sejumlah kurang lebih 5900 dan 1 (satu) juta industri kecil dan industri rumah tangga ditambah dengan importir dan distributor.5 milyar kejadian penyakit diare. Mutu. Hal ini sejalan dengan pembangunan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No.

Hasil penilaian sarana produksi pangan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik (B).4 89 15. tempat distribusi dan penjualan produk pangan merupakan bagian dari sistem rantai pangan yang dilalui produk pangan. Tabel 17. Pemeriksaan dilakukan baik untuk industri yang telah memiliki nomor pendaftaran MD (Makanan. Pemeriksaan sarana produksi pangan dilakukan secara rutin oleh tenaga pengawas pangan dalam rangka mengevaluasi penerapan higienitas dan sanitasi sarana produksi atau Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) serta penerapan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik.6 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Baik Jumlah 54 56 55 105 327 91 % 19.2 26.0 46 7.1 54.6 390 68. Seluruh sarana dan prasarana yang berada pada area tersebut serta perlakuan yang diterima oleh produk pangan berpeluang besar mempengaruhi keamanan pangan. Indikator ini secara tidak langsung juga dapat menggambarkan pengetahuan dan kesadaran produsen akan keamanan pangan.2 229 38. tempat distribusi dan penjualan produk pangan secara tidak langsung merupakan salah satu indikator keamanan pangan. cukup (C). dan kurang (D). pabrik. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas Jumlah Sampel 278 229 339 741 602 570 Hasil Pemeriksaan Cukup Kurang Jumlah % Jumlah % 184 66. Pengawasan Pangan sebelum Beredar Untuk menghasilkan produk pangan yang bermutu baik dari aspek kesehatan.0 RANPG 2006-2010 35 . 1.5 16. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri pangan menengah ke atas (telah mendapat nomor MD) selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 17.2 40 14.4 30 13.1 209 61.4 24. industri pangan seharusnya menerapkan prinsip-prinsip cara produksi pangan yang baik.4 143 62.7 75 22. mutu dan gizinya.1 236 58.Lahan pertanian. industri rumah tangga yang telah memiliki nomor pendaftaran SP/P-IRT (Sertifikat Penyuluhan/Produk-Industri Rumah Tangga) maupun industri rumah tangga yang tidak terdaftar.7 61 15. Oleh karena itu kondisi pabrik.3 16.

rusak. dan produk pangan yang bercampur dengan produk non pangan. 2004 dan 2005 adalah 45 persen. menjadi 16 persen. dalam satu sarana distribusi bisa melakukan beberapa jenis pelanggaran. 2001.0 1287 50. namun pada tahun 2005 terjadi penurunan lagi.4 3951 337 8. dan 45 persen.3 867 56.9 1536 157 10. tidak terdaftar.7 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB. kurangnya kesadaran dalam pengolahan lingkungan seperti pembuangan sampah. Faktor penyebab utama industri produk pangan dinilai kurang dalam penerapan CPMB adalah masih rendahnya penerapan higienitas perorangan. fasilitas pabrik dan kebersihan yang tidak memadai. dan sarana yang menjual produk yang TMS seperti penempatan produk pangan yang mengandung babi tidak terpisah dengan produk lain.9 1135 53. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan untuk persentase sarana produksi yang berpredikat baik dari tahun 2000 (19. 53 persen. TMS tanda khusus. dan 71 persen. yaitu berturut-turut dari tahun 2000. 2001.Dari Tabel 17 tersebut terlihat bahwa sebagian besar industri menegah ke atas berpredikat cukup dalam penerapan CPMB. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar sarana distribusi sudah menerapkan CPMB dan persentase sarana distribusi yang memenuhi syarat (MS) terus meningkat dari tahun ke tahun.6 1693 42. 2002.3 1649 52 3. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga Hasil Pemeriksaan Jumlah Baik Cukup Kurang Sampel Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1632 83 5.2 512 33.5 1921 48.1 810 49. 88 persen. 72 persen. Sarana distribusi pangan yang tidak memenuhi syarat (TMS) meliputi sarana yang menjual produk kedaluwarsa. RANPG 2006-2010 36 . 2002. 2004 dan 2005 adalah 80 persen.3 persen). 74 persen. Sekitar separuh dari industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB.4 persen) ke tahun 2004 (54.8 2555 101 4.4 1167 45.2 668 40. TMS label. 80 persen. yaitu berturut-turut dari tahun 2000.1 903 42.3 2104 66 3. Pada hasil pemeriksanaan sarana distribusi tersebut. serta peralatan dan suplai air bersih kurang memadai. 42 persen. 2003. 56 persen.5 929 56.6 739 45. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri rumah tangga selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 18 di bawah ini. 2003. Tabel 18. 56 persen. fasilitas produksi belum terbebas dari binatang serangga.

2004. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Sumber: BPOM.176 2005 23. Tabel 20.934 RANPG 2006-2010 37 . 2006 Jumlah Makanan Dalam Negeri 2539 2227 1768 2793 5377 Makanan Luar Negeri 765 1397 1735 1258 1843 2. 2003.289 1. dilakukan penilaian terhadap keamanan. 3. Dari data tersebut terlihat bahwa terdapat kecenderungan kenaikan jumlah produk pangan olahan dengan industri menengah–besar yang terdaftar dan diedarkan di Indonesia. Tabel 19.Dalam rangka pengawasan sebelum beredar. Pengawasan Produk Pangan Beredar Pemeriksaan (sampling dan pengujian) terhadap pangan yang beredar dilakukan secara berkala pada pangan yang terdaftar dengan nomor MD/ML dan SP/P-IRT. 94 persen. mutu dan gizi produk pangan dan bila sesuai dengan persyaratan yang ditentukan maka dikeluarkan nomor pendaftaran. 2006 Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa sebagian besar produk pangan yang beredar telah memenuhi syarat dengan persentase selama tahun 2001.542 1. Data produk pangan yang terdaftar selama tahun 2001–2005 berdasarkan pengelompokan jenis pangan dapat dilihat pada Tabel 19 di bawah ini. 2002. Hasil pengujian selama tahun 2001–2005 dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini. dan 2005 berturut-turut adalah 73 persen.564 3. 90 persen dan 86 persen. 92 persen. untuk memastikan kesesuaiannya dengan data dan informasi yang disetujui pada proses pendaftaran.258 2004 29.817 1.396 2003 19.372 3. Hasil pengujian produk pangan beredar 2001 Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Sumber: BPOM.399 2002 16.

61 79 5.82 15.95 RANPG 2006-2010 38 . antara lain menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang.65 811 57.97 2003 Jumlah Sampel % 20547 19289 93.20 170 12. Jumlah sampel TMS : .Pemanis buatan TMS .09 42.i.80 11.49 7. label.59 14.71 538 16.78 645 46.12 326 25. kadar dan penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak termasuk diizinkan maupun yang dilarang.22 1396 7.70 2005 Jumlah Sampel % 27306 23372 3934 844 216 282 307 445 225 1605 85.2005. Kriteria lain-lain meliputi bobot tuntas. Tabel 21.64 Sumber: BPOM.91 52 4.30 9.12 43.81 127 9.45 5.10 190 13. Tabel 22 menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah tahun 2002 . 2006 Ket: Jumlah sampel merupakan hasil penjumlahan A dan B.31 5. Dalam satu produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS. menggunakan bahan tambahan pangan melebihi batas maksimum yang diizinkan serta mengandung cemaran melebihi batas maksimum yang diizinkan. 2006 Jumlah Sampel 393 263 Jumlah Sampel 390 521 Jumlah Sampel 517 344 % 56. telah dilakukan pengawasan terhadap produk pangan jajanan anak sekolah.65 16.81 57.Boraks . Jumlah sampel yang memenuhi syarat B.55 338 10.62 475 37.05 39.52 106 8. Selama tahun 2002 – 2005. Persentase Pelanggaran Produk Pangan HASIL PEMERIKSAAN 2001 Jumlah Sample 5216 3817 1399 219 229 2002 Jumlah Sampel % 17938 16542 92.41 21.88 1258 6.Pewarna bukan untuk makanan .Lain-lain 73.76 2004 Jumlah Sampel % 32740 29564 3176 90.91 40. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah HASIL PEMERIKSAAN 2002 2003 % 2004 % 2005 % Jumlah Sampel Sampel Memenuhi Syarat 913 Sampel Tidak Memenuhi Syarat 714 Sumber: BPOM.13 82 6. Pada Tabel 21 terlihat persentase hasil pengawasan selama tahun 2001 – 2005.22 33 2.80 % Jumlah sampel A.Cemaran mikroba TMS . Produk Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) Terdapat beberapa parameter yang menentukan suatu produk pangan dikategorikan sebagai produk yang tidak memenuhi syarat. Selama periode 2002–2005.18 26.88 59.94 967 30.17 7.43 204 16.18 137 9.72 40. pelanggaran yang paling banyak ditemukan adalah produk pangan yang menggunakan pemanis buatan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Tabel 22.Pengawet TMS .19 60.Formalin .71 213 6.45 748 23.37 372 11.

Boraks. Rhodamin B dan Methanyl Yellow (Tabel 24). Rhodamin B. rhodamin-B. Tabel 23 berikut menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah yang tidak memenuhi syarat dari tahun 2002-2005: Tabel 23. Tabel 24. Produk Pangan Mengandung Bahan Berbahaya Dari hasil pemeriksaan selama kurun waktu tahun 2002 sampai dengan 2005. ditemukan pelanggaran penggunaan bahan berbahaya dalam produk pangan. dan Methanyl Yellow Total Sampel 19078 20547 32740 26990 Temuan Bahan Berbahaya **) Jumlah % 454 2 392 2 1718 5 935 3 Comment [AH1]: Apa catatan utk bintang ini? RANPG 2006-2010 39 . Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Jumlah Pelanggaran (TMS) pada Tahun 2002 2003 2004 2005 Pemanis buatan melebihi batas 282 154 402 122 persyaratan Pengawet melebihi batas 86 8 19 10 Pewarna yang dilarang (Rhodamin-B. 2006 **) Meliputi Formalin. Pemakaian bahan berbahaya ini dapat dikarenakan keterbatasan pengetahuan produsen perihal ketentuan larangan penggunaannya dalam produksi pangan ataupun kurangnya kepedulian terhadap masalah keamanan produk pangan yang dapat berakibat buruk terhadap kesehatan. penyalahgunaan pemanis buatan dan pangan tercemar mikroba melebihi batas maksimum. 2006 ii. Bahan berbahaya yang ditemukan terdapat dalam produk pangan meliputi bahan yang dilarang digunakan dalam produksi pangan seperti Formalin. penggunaan bahan berbahaya formalin.Dari hasil pemeriksaan terlihat bahwa kriteria tidak memenuhi syarat ditemukan karena pelanggaran penggunaan pengawet yang melebihi batas maksimum. Amaranth) 133 63 147 90 Formalin 139 9 1 7 Boraks 74 20 38 34 Cemaran mikroba Tidak 9 198 198 ada data Sumber: BPOM. Boraks. Methanyl yellow. Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan Tahun 2002 2003 2004 2005*) Sumber: BPOM. boraks. Dalam satu sampel produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS.

2006 *) Data sampai Bulan November 2005 Lebih jauh lagi pemeriksaan terhadap jenis pangan tertentu yang mengandung formalin dilakukan per 6 Januari 2006. Pemantauan dilakukan ter hadap produk mie basah. Jumlah Sampel 40 50 55 41 116 107 409 Memenuhi Syarat Sampel 38 48 36 41 91 99 353 % 95 96 65 100 78 93 Mengandung Formalin Sampel 2 2 19 0 25 8 56 % 5 4 35 0 61 7 14 RANPG 2006-2010 40 . dan Ikan di Enam Propinsi Pengambil Sampel BBPOM Makasar BPOM Jambi BBPOM Manado BBPOM Yogyakarta BBPOM Jakarta BBPOM Semarang Jumlah Sumber: BPOM. Tahu. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. Berbagai faktor yang menentukan diterima atau tidaknya pangan tersebut antara lain faktor keama nan (cemaran kimia. Tabel 26 berikut menunjukkan hasil pemantauan produk mie basah. Tabel 26. tahu dan ikan di 6 (enam) propinsi terhadap pemakaian formalin. tahu dan ikan di beberapa propinsi di Indonesia.Tabel 25 menunjukkan temuan formalin dalam produk pangan periode tahun 2002 sampai dengan 2005. cemaran mikroba. Temuan Formalin dalam Produk Pangan Total Temuan Produk Pangan yang Tahun Sampel Mengandung Formalin Jumlah % 2002 248 139 56 2003 2004 180 786 73 274 41 35 15 2005*) 1160 177 Sumber: BPOM. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sejak tahun 2002 formalin sudah ditemukan dalam produk pangan. 2006 Kondisi keamanan produk pangan juga dapat dilihat dari besarnya kasus penolakan pangan yang diekspor ke negara lain. produsen dan lain-lain. cemaran fisik). faktor pelabelan. faktor mutu. dan persentase produk pangan yang mengandung formalin sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 mengalami penurunan. Tabel 25.

dan kloramfenikol. pelabelan. mengandung racun. Amerika Serikat. Dari data yang dikeluarkan oleh FDA (2006) terlihat bahwa selama tahun 2005 sebagian besar pangan yang ditolak adalah hasil perikanan dengan alasan penolakan diantaranya kebersihan produk. Produk perikanan lebih banyak ditolak daripada produk lain. cemaran obat pakan. dan produsen yang tidak terdaftar. cemaran Salmonella.Gambar 6 menggambarkan alasan penolakan produk pangan dari Indonesia oleh Food and Drug Administration (FDA). 2006 Gambar 6 . Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA berdasarkan alasan penolakan (Pebruari 2005 . Produsen. cemaran histamin.Januari 2006) (N = 235) 23 212 Keamanan Pangan Pelabelan. Jumlah Kasus Penolakan Impor Pangan Indonesia Oleh FDA Besarnya kasus penolakan dengan alasan keamanan pangan menunjukkan masih rendahnya tingkat keamanan produk pangan. Hal ini karena produk perikanan tergolong pada kelompok pangan resiko tinggi dan merupakan komoditas ekspor utama bila dibandingkan dengan produk pangan lain. pengemasan atau distribusi yang baik. Total penolakan dari Februari 2005 – Januari 2006 adalah 235 kasus. RANPG 2006-2010 41 . cemaran nitrofuran. penggunaan pewarna yang tidak aman. yang mungkin bersumber pada bahan baku pangan yang digunakan tidak memenuhi syarat atau belum diterapkannya prinsip-prinsip penanganan. Sedangkan untuk jenis pangan olahan selain produk perikanan alasan penolakannya adalah kesalahan pelabelan. dll Sumber : Food Drug Administration. pengolahan.

Tabel 27 menunjukkan. dalam kurun waktu 5 tahun (2001-2005) jumlah KLB keracunan serta orang yang terpapar. pangan jasa boga (15.11 *) Case Fatality Rate (CFR): perbandingan antara jumlah yang meninggal dengan yang sakit dikalikan 100.09 persen tidak diketahui penyebabnya.2 persen). Kasus Keracunan Makanan Parameter utama yang paling mudah dilihat untuk menunjukan tingkat keamanan pangan di suatu negara adalah jumlah kasus keracunan yang terjadi akibat pangan. **) Incident Rate (IR) adalah angka kejadian per 100. Data yang diperoleh berdasarkan pelaporan yang diterima mencakup jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan. jumlah orang yang sakit.69 0.65 0. histamin.28 0.84 3. sakit.35 0. Selama 2 tahun terakhir nilai IR terbesar terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. sianida. penyebab KLB keracunan pangan yang dilaporkan pada tahun 2005 diketahui sebesar 5.2 persen). sedangkan pada tahun 2005 adalah pangan rumah tangga (42. dan E. Tingginya nilai IR di DI Yogyakarta kemungkinan disebabkan kesadaran yang baik dari petugas kesehatan setempat untuk melaporkan KLB keracunan pangan di daerahnya. serta tetradotoksin. RANPG 2006-2010 42 .7 persen). dan jumlah orang yang meninggal. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 . pangan jajanan (17. formalin. hal ini tidak mengindikasikan KLB keracunan pangan di DI Yogyakarta lebih buruk dibandingkan daerah lain.000 penduduk. methanol.54 1. Diduga masih banyak KLB keracunan pangan yang belum dilaporkan di Indonesia.37 4.2 persen). Namun. dan lain-lain (3. pangan jajanan (12.67 0.7 persen).iii.4 persen). pangan olahan (15. Sumber: BPOM. Sementara penyebab keracunan pangan kimia antara lain nitrit. 18. demikian pula dengan Case Fatality Rate (CFR) dan Incident Rate (IR). pangan jasa boga (21.coli patogen. dan meninggal akibat keracunan cenderung meningkat.3 persen). Tabel 27. 2006 Ditinjau dari etiologinya. pangan olahan (15.2 persen).2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 KLB 26 43 34 164 184 Terpapar 1965 6543 8651 22297 23864 Sakit 1183 3635 1843 7366 8949 Meninggal 16 10 12 51 49 CFR*) 1.48 persen suspect dan 76. Sumber pangan penyebab keracunan pangan untuk tahun 2004 adalah: pangan rumah tangga (53.55 IR**) 0. Penyebab keracunan pangan mikrobiologi yang sering timbul antara lain Staphylococcus aureus. Bacillus cereus.43 persen terkonfirmasi.9 persen).2 persen). serta tidak dilaporkan (3. Salmonella sp.

Penyakit kanker merupakan penyebab 6 persen kematian di Indonesia. prevalensi penyakit tidak menular menunjukkan kecenderungan peningkatan sebagai penyebab kematian.1 persen (1986) menjadi 26.1 12. pada kalangan penduduk umur 25 tahun keatas sebanyak 27 persen laki-laki dan 29 persen wanita menderita hipertensi.4 persen (2001). tetapi kemudian terus meningkat menjadi urutan ke 3 tahun 1986 dan penyebab kematian pertama pada tahun 1992.000 anggota rumah tangga tahun 1995. memperlihatkan peningkatan kegemukan (IMT e” 25) pada laki-laki dan perempuan.6 persen wanita mengalami kelebihan berat badan.7 5. 1995 dan 2001. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan. kematian yang disebabkan oleh penyakit degeneratif meningkat dari 15. dan stroke.7 8.E.5 9. 35 Laki ‐ laki   30 25 Persen 20 15 10 5 0 em a ip er ko le st er ol 28. 2005 H 2001 2004 Gambar 7.2 persen mengalami diabetes dan 1.8 Sumber : SKRT 2001.3 Perempuan  26.6 15. Demikian juga dengan hiperglikemia sebagai akibat asupan lemak yang tinggi serta hiperkolesterol.2 5. Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 RANPG 2006-2010 H em a ip er ko le st er ol an an Ke ge m uk Ke ge m uk ip er te ns i ip er te ns i H ip er gl ik H H ip er gl ik H 43 .7 12.3 persen mengalami penyakit jantung iskemik.3 persen laki-laki dan 4.2 8.9 12.4 persen (1980) menjadi 48. Penyakit kardiovasluler menjadi penyebab kematian ke 11 pada tahun 1972. Gambar 7. Prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi. 0.5 persen (2001).9 24 17. yaitu 83 per 1. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIVITAS FISIK Sebagai negara berkembang Indonesia banyak mengalami permasalahan pada penyakit menular. Penyakit kardiovaskuler meningkat dari 9.9 9. Pada tahun 2001.9 7.2 16. 1. Tetapi.

termasuk Indonesia. serta konsumsi tembakau. terutama kebiasaan makan yang tidak baik dan aktivitas fisik yang berkurang. kegemukan dan obesitas. termasuk Indonesia. hipertensi 66 persen. konsumsi buah dan sayur yang kurang. Misalnya konsumsi buah dan sayur yang rendah diperkirakan menyebabkan 31 persen panyakit jantung iskemik. Dengan demikian pola makan dan aktivitas fisik merupakan bagian dari penyebab utama penyakit tidak menular. serta serangan jantung dan stroke 40-60 persen. Semua faktor resiko ini merupakan penyebab timbulnya penyakit tidak menular (The World Health Report 2002). kardiovaskular. Peningkatan industrialisasi. rendahnya konsumsi buah dan sayur. Namun kejadian gizi lebih juga terjadi pada anak-anak dengan prevalensi yang lebih kecil. Di banyak negara. tetapi juga pada masyarakat miskin di perkotaan dan perdesaan serta pada laki-laki dan perempuan. kanker dan lain-lain menunjukkan adanya perubahan pola hidup. Di banyak negara. gula dan lemak. Meningkatnya kejadian gizi lebih tidak hanya terjadi pada penduduk dengan penghasilan yang cukup untuk membeli makanan. aktivitas fisik yang rendah. Merokok juga meningkatkan resiko terhadap serangaan penyakit-penyakit tidak menular ini. Selain itu. seperti diabetes. 1. Pola Makan yang Tidak Sehat Pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit. Data HKI menunjukkan bahwa prevalensi gizi lebih (IMT>25) pada perempuan di daerah perdesaan dari tahun 1991-2001 memperlihatkan kecenderungan meningkat pada semua kelompok umur dengan kecenderungan kegemukan terjadi pada usia setengah baya (Gambar 8). permasalahan gizi lebih terjadi secara bersamaan dengan kurang gizi dan gizi buruk pada populasi. meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan jumlah asupan lemak jenuh. bahkan keluarga yang sama. saries gigi dan osteoporosis. Pola makan yang tidak sehat antara lain meliputi makan secara berlebih. 11 persen stroke dan 19 persen kanker gastrointestinal (WHO 2005). RANPG 2006-2010 44 . sepertiga jenis kanker dapat dihindari dengan menerapkan pola hidup sehat. tingginya konsumi garam. kanker. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan makan yang sehat dan aktivitas fisik dapat menurunkan resiko perkembangan diabetes sebanyak 58 persen. hipertensi. yaitu makanan yang lebih kaya akan lemak dan energi sementara aktivitas fisik semakin berkurang. urbanisasi dan mekanisasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola makan.Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti kardiovaskular. hiperkolesterol. faktor resiko penyebab kesakitan dan kematian meliputi hipertensi.

Faktor lain yang ikut mendorong kegemukan dan obesitas antara lain adalah peningkatan restoran siap saji. diabetes dan obesitas. Buah dan sayur yang dikonsumsi dengan cukup dapat membantu mencegah penyakit kardiovaskular dan kanker. Menurut The World Health Report 2002. Pengaruh lingkungan seperti iklan dan promosi memberikan kontribusi bagi peningkatan konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi lemak dan karbohidrat.1 9 20. Jumlah konsumsi buah dan sayur yang cukup akan memberikan asupan yang cukup bagi serat ke dalam tubuh. meningkatkan konsumsi minuman bergula dan jus buah. RANPG 2006-2010 45 . Kurang Konsumsi Buah dan Sayur Buah dan sayur merupkan bagian penting dari pola makan yang sehat. asupan buah dan sayur yang masih rendah diperkirakan menjadi penyebab 31 persen penyakit jantung iskemik dan 11 persen stroke.44 45.39 40. Diseluruh dunia 2.50 1999 40 2000 2001 30 20 1 0 0 1 5.49 Gambar 8. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif juga beresiko mengalami kegemukan.29 30. Joint FAO/WHO Expert Consultation on diet.34 Umur ( t ahun) 35. NSS-HKI 1999-2001) Kebiasaan makan yang terkait dengan kegemukan dan obesitas antara lain adalah kebiasaan makan makanan ringan (snack) dan makan di restoran. i.24 25. nutrition and the prevention of chronic diseases merekomendasikan asupan minimum 400 gram buah dan sayur per hari (tidak termasuk kentang dan umbi-umbian yang mengandung pati) untuk pencegahan penyakit kronis seperti jantung. Prevalensi Gizi Lebih pada Perempuan Dewasa (Perdesaan.7 juta nyawa dapat diselamatkan setiap tahun jika konsumsi buah dan sayur dapat ditingkatkan. kanker. sekaligus sebagai upaya pencegahan kekurangan zat gizi mikro.

Konsumsi yang berlebih pada bahan makanan tersebut dapat meningkatkan resiko serangan penyakit hipertensi.1 persen (kelas I) dan 94. ii. Selain itu SNI mewajibkan iodisasi pada garam konsumsi guna meningkatkan kadar yodium.33 persen pada tahun 2004. Pada tahun 1999.91 persen per tahun. Pada tahun 2004 tingkat produksi sayur-sayuran mencapai 9. gula. Oleh karena itu peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kebiasaaan makan terkait dengan garam. Konsumsi garam oleh penduduk di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 5.3 juta ton tahun 2004 menjadi 15.61 persen dan 4. Penurunan pengeluaran untuk buah dan sayur menyebabkan penurunan rata-rata konsumsi buah dan sayur di Indonesia.54 persen per tahun. atau meningkat 3.73 persen. gula dan lemak perlu terus ditingkatkan. dan penyakit-penyakit kronis lainnya. dengan kadar minimal Kalium Iodat sebesar 30-80 mg/kg. dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 6.3 gram per kapita per hari.84 persen dan 4.1 juta ton dan menjadi 9. Upaya peningkatan kebiasaan konsumsi buah dan sayur sebagai salah satu gaya hidup sehat sebenarnya telah didukung dengan ketersediaan buah dan sayur yang cukup melimpah. Rendahnya konsumsi buah dan sayur ini berkontribusi pada rendahnya konsumsi serat yang baru mencapai rata-rata 10 gr/hari. Nutrition and the Prevention of Chronic Disease merekomendasikan penurunan asupan garam sebagai bagian kebiasaan makan yang sehat untuk mengurangi resiko serangan penyakit kronis tidak menular. angka ini turun pada tahun 2004 menjadi 221 gram per kapita per hari (Susenas 1999 dan 2004). Produksi sayur-sayuran dan buah-buahan menunjukkan pola yang meningkat.5 juta ton tahun 2006. dan lemak yang berlebihan Konsumsi garam. dan lemak yang berlebihan juga merupakan salah satu ciri dari kebiasaan makan yang tidak sehat. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) kadar Natrium klorida dalam garam minilan adalah 97.7 persen (kelas II). persentase pengeluaran untuk buah dan sayur pada tingkat rumah tangga cenderung mengalami penurunan.2 juta ton tahun 2006 atau mengalami peningkatan 0. Produski buah-buahan juga meningkat dari 14. gula. kardiovaskular. Pada tahun 2002. kemudian turun menjadi 2. 2000).Menurut data Susenas 2004. RANPG 2006-2010 46 . WHO Technical Report on Diet. diabetes. Namun upaya untuk mengurangi konsumsi garam. hingga saat ini belum menjadi kebijakan nasional karena adanya beberapa tantangan seperti upaya untuk mencapai konsumsi garam beryodium untuk semua (Universal Salt Iodization atau USI). jauh lebih rendah dari kecukupan sebesar 30 gr/hr ( Jahari AB.6 gram per kapita per hari. stroke. pengeluaran untuk sayur dan buah masing-masing 2. Konsumsi garam. konsumsi sayur dan buah sebesar 309 gram per kapita per hari.

juga dapat meningkatkan resiko berbagai jenis penyakit kronis. apabila konsumsi lemak. maka pemerintah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan cakupan konsumsi garam beryodium. Selain garam dan gula. 10-16 persen kanker payudara. Selain berfungsi untuk membantu mencegah obesitas. Secara keseluruhan terdapat 1. perubahan gaya hidup dengan meningkatnya konsumsi makanan siap saji dan lain-lain.Tingkat konsumsi garam beryodium yang cukup baru mencapai 72. maka perlu dipikirkan langkah strategis dalam penetapan kebijakan konsumi garam sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.81 persen pada tahun 2005 (Susenas 2005). garam dan gula tidak diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup. Konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi ikut berkontribusi pada meningkatnya kegemukan dan obesitas yang pada akhirnya meningkatkan kejadian diabetes. Dengan demikian. Salah satu jenis makanan yang mempunyai densitas energi tinggi adalah gula. Mengingat keberadaan dua masalah yang terjadi secara bersamaan (co-exist) yaitu GAKY yang menuntut peningkatan konsumsi garam beryodium.9 juta kematian yang disebabkan oleh rendahnya aktivitas fisik.6 gram per kapita per hari (tahun 1999) menjadi 24.4 gram per kapita per hari (tahun 2004). tidak terdapat pesan khusus untuk mengurangi konsumsi garam. Karena gangguan akibat kurang yodium (GAKY) masih menjadi masalah utama di Indonesia. 2. Makanan dan aktivitas fisik dapat mempengaruhi kesehatan baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. RANPG 2006-2010 47 . Salah satu pesan utama yang disampaikan dari 13 Pesan Umum Gizi Seimbang (PUGS). aktivitas fisik merupakan cara yang utama dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental individu. dan berkembangnya penyakit tidak menular yang merekomendasikan pengurangan konsumsi garam. Perubahan pola konsumsi kepada jenis makanan yang banyak mengandung lemak antara lain dipengaruhi oleh globalisasi sehingga jenis-jenis makanan berlemak makin mudah di dapat. Efek dari pola makan dan aktivitas fisik saling berinteraksi. adalah “gunakan hanya garam beryodium”. sebagaimana rekomendasi Laporan Teknis WHO tersebut di atas. kanker usus dan kanker rektal serta diabetes mellitus. Kurangnya Aktivitas Fisik Ketiadaan atau rendahnya aktivitas fisik dan pola konsumsi yang tidak seimbang diperkirakan secara global menyebabkan meningkatnya prevalensi kegemukan dan menyebabkan terjadinya 22 persen penyakit jantung iskemik. Data konsumsi rumah tangga menunjukkan konsumsi gula pasir di Indonesia meningkat dari rata-rata 22. terutama lemak jenuh. Resiko serangan penyakit akan lebih tinggi. konsumsi lemak yang berlebih. terutama dalam kaitannya dengan obesitas.

kesadaran dan motivasi yang kurang menyebabkan frekuensi untuk berolahraga sebagai salah satu bentuk aktivitas fisik juga semakin menurun.1% Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit. Selain itu. seperti menonton televisi. Kebiasaan berjalan kaki. Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) Pola hidup generasi dewasa muda saat ini mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan. .9% Sumber : Susenas. dan hanya 6 persen yang melakukan aktivitas fisik secara aktif (Gambar 9). 2005 Gambar 9.0% Tidak Aktif 9. total kumulatif 150 menit/mingggu Kurang Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit.Hasil SKRT tahun 2004 menunjukkan sebagian besar (lebih dari 84 persen) dari kelompok umur 15 tahun ke atas kurang aktif melakukan aktivitas fisik. film.1 persen bahkan tidak aktif. sebesar 9. misalnya digantikan dengan keberadaan alat transportasi dan fasilitas infrastruktur yang lebih baik. Berbagai macam hiburan. total kumulatif <150 menit/mingggu Kurang Aktif 84. Dengan ketiadaan fasilitas olahraga yang nyaman dan memadai ditambah dengan pengetahuan. Pertambahan penduduk menyebabkan makin berkurangnya ruang terbuka dan fasilitas umum serta fasilitas olahraga. infrastruktur dan gaya hidup. pertunjukkan dan lain sebagainya. RANPG 2006-2010 48 . terbatasnya fasilitas untuk aktivitas fisik di sekolah dan fasilitas umum menyebabkan makin berkurangnya aktivitas fisik yang dilakukan. Aktif 6. pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menuntut fisik untuk tidak aktif.

7 persen di tahun 2001 (Gambar 10). 40 35 30 Persen 25 20 15 10 5 0 1995 2001 2004 26.6 persen).7 34. Pada tahun 2004. lemak jenuh. Terdapat kurang lebih 4. menurunkan kadar vitamin C dari jaringan tubuh dan darah serta menurunkan tingkat vitamin D dalam tubuh. emfisia dan penyakit lainnya. namun mengkonsumsi lebih rendah lemak tak jenuh ganda. Angka ini meningkat dari 27. stroke. total lemak. dan asapnya mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang menyebabkan ketagihan serta gangguan kesehatan. baik perokok aktif maupuan pasif. kolesterol dan alkohol. merokok juga mempunyai dampak langsung terhadap status gizi. sekitar 34 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas merokok. diantaranya menurunkan kadar vitamin dan mineral dalam tubuh. Selain dampak terhadap kesehatan.44 Gambar 10. Sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola konsumsi antara perokok dan bukan perokok. Kebiasaan merokok Tembakau.3. penyakit jantung. Pola konsumsi perokok seperti ini meningkatkan efek buruk merokok seperti kanker dan serangan jantung. 60 di antaranya bersifat karsinogen yang dapat menyebabkan terjadinya kanker.7 persen). mempunyai resiko yang lebih besar terserang berbagai penyakit kanker. Vitamin E. Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyumbang utama dari kesakitan di antara penduduk termiskin di Indonesia.000 bahan kimia yang dikandung dalam sebatang rokok. dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan (36. rokok. Orang yang terpapar bahan kimia tersebut. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) RANPG 2006-2010 49 . serat.23 27. vitamin C. Tabel 28. dibanding perkotaan (31. dan beta karoten. Perokok mengkonsumsi lebih tinggi: energi.

28 37.04 41.10 27.47 33.87 29.8 persen) perokok yang berumur 10 tahun ke atas merokok di dalam rumah ketika bersama dengan anggota keluarga lainnya.27 29.5 persen (perdesaan) dan 5.75 39.36 34.53 39.41 40.21 36.88 39.77 Desa 23.09 36.62 28.30 39.64 34. proteksi terhadap paparan asap tembakau.05 31.35 24.76 32.23 27.38 Di Indonesia.29 29. Karena sebagian besar (91.32 33. RANPG 2006-2010 50 .20 41.48 38.62 39.81 40. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 Propinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Indonesia Kota 32.86 37.21 38.41 31. Pengeluaran untuk rokok. pengaturan kadar nikotin. Pada 2001.19 29.49 23.20 30.9 persen (perkotaan).98 37.29 27.1 persen dari pengeluaran bulanan untuk tembakau.32 25.07 35. Kelompok miskin adalah yang paling dirugikan karena penggunaan tembakau.02 26.53 33. penduduk termiskin menggunakan 9.39 32. yaitu pada saat mereka mungkin belum bisa memahami resiko merokok dan sifat nikotin yang sangat adiktif.02 31.26 41.76 38.91 32.44 32.50 34.60 32.30 32.72 Desa 36.83 35. penggunaan tembakau berkontribusi cukup besar pada beban kesehatan.14 34.60 30.22 37. pelarangan penjualan kepada anak-anak dan penyediaan kegiatan alternatif secara ekonomis bagi petani dan karyawan pabrik tembakau. pelarangan iklan dan promosi rokok. seharusnya bisa digunakan untuk mencukupi asupan gizi keluarga.17 31.02 31.64 37. Merokok bukan hanya berpengaruh pada biaya-biaya perawatan kesehatan.22 41. dibandingkan 7.44 31.20 41.14 31.Sekitar 77.44 36. edukasi. diperkirakan jumlah perokok pasif anak-anak adalah 43 juta orang Tabel 28. Belanja produk tembakau yang lebih banyak daripada pengeluaran untuk makanan mempunyai dampak yang sangat besar pada kesehatan dan gizi keluarga miskin.31 34.07 32.57 34.37 28.9 persen dari perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 19 tahun.36 29.75 30. dan separuh kematian terjadi dalam usia produktif ekonomi.74 36.5 persen pada kelompok kaya.93 Total 24. penindakan tegas perdagangan gelap.44 Propinsi Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Kota 25. namun juga menurunkan produktivitas kerja.17 28. Satu dari dua perokok jangka panjang.60 Total 35. meninggal karena kebiasaan tersebut. Beberapa langkah yang dianjurkan untuk dapat menurunkan permintaan terhadap rokok antara lainnya adalah penerapan harga dan pajak yang tinggi.42 39.78 34.95 40. pengaturan kemasan dan label.51 44.4 34.69 44.63 24.62 27.74 31.67 33.80 29.10 31.19 35.47 41. Persentase pengeluaran untuk tembakau pada kelompok penduduk miskin melebihi pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan yang hanya sebesar 2.62 39.90 38.53 32.08 25.23 34.

dan anak sampai usia 2 tahun menjadi penghambat upaya perbaikan gizi. ii. Masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin disebabkan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian terutama beras. (ii) gizi. 2. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. garam. khususnya oleh perempuan perkotaan dan pekerja. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi. kebiasaan merokok dan berkurangnya aktifitas fisik mengakibatkan gizi lebih merupakan salah satu penyebab penyakit degeneratif (tidak menular). ISU STRATEGIS Berdasarkan analisis situasi pangan dan gizi pada bab terdahulu diperoleh beberapa isu strategis yang masih perlu mendapatkan perhatian dan penanganan lebih lanjut dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. i. bayi. RENCANA AKSI A. Isu-isu strategis tersebut dapat dibagi ke dalam lima kelompok berkaitan dengan: (i) aksesibilitas terhadap pangan. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan mengenai masa paling kritis dalam peningkatan gizi (Window of Opportunity). Isu Strategis Berkaitan dengan Pangan adalah sebagai berikut: Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. Isu Strategis Berkaitan dengan Gizi adalah sebagai berikut: i. iii. rendahnya mutu layanan kesehatan dasar. dan kurangnya layanan reproduksi iv. rendah serat. ii.BAB IV. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. dan (v) kelembagaan. Meningkatnya masalah gizi lebih karena tingginya konsumsi makanan yang kaya karbohidrat. iii. kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat. lemak. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan berkurangnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. RANPG 2006-2010 51 . (iv) perilaku hidup sehat. (iii) keamanan pangan. yaitu ibu hamil. 1.

terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. 4. Berbagai infeksi dengan tingkat kejadian yang tinggi antara lain adalah demam berdarah dengue. serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Upaya untuk menekan dan menghindari penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi lebih sulit karena keterbatasan tenaga pengawas dan penegak hukum serta rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. ii. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang menyebabkan penurunan status gizi. Sebagai contoh. serta ketersediaan bahan-bahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. baik makro dan mikro. Isu Strategis Berkaitan dengan Pola Hidup Sehat adalah sebagai berikut: i. kesadaran produsen dan konsumen yang masih rendah. 3.v. terutama berkaitan dengan status air minum dan sanitasi lingkungan yang masih memprihatinkan. baik konsumen maupun industri pangan. iii. Isu Strategis Berkaitan dengan Keamanan Pangan adalah sebagai berikut: i. Belum berkembangnya alternatif produk bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau merupakan salah satu faktor masih banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan berbahaya dalam industri pangan. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. iv. Masih maraknya pengunaan bahan tambahan makanan berbahaya. Ketersediaan tenaga pengawas yang masih terbatas. Masih kurangnya upaya advokasi dan edukasi tentang pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan yang memerlukan dukungan dan komitmen serta kesepakatan sektor lain terutama dalam penyediaan sarana olahraga dan tempat-tempat terbuka untuk beraktivitas fisik serta upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat ii. Saat ini masalah gizi kurang. diare dan ISPA. terjadi secara bersamaan (co-exist) dengan kelebihan gizi dan penyakit kronis. upaya peningkatan konsumsi energi dapat berdampak pada peningkatan konsumsi lemak dan upaya peningkatan konsumsi yodium dapat RANPG 2006-2010 52 . namun belum ada strategi dan metode yang komprehensif dalam upaya penanggulangan gizi kurang. Kesadaran keamanan pangan baik pada produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan. yang pada saat yang sama juga menanggulangi masalah gizi lebih dan penyakit kronis.

sistem kepagawaian. Hal ini terkait antara lain dengan kebiasaan dan budaya. ii. kesadaran. Belum optimalnya upaya untuk mengurangi kebiasaan merokok. iv. sumber keuangan negara dan sumber kehidupan petani tembakau. maka upaya pemenuhan ketenagaan pangan dan gizi tidaklah mudah. Indikator pembangunan pangan dan gizi saat ini tersedia dan secara umum merupakan salah satu indikator yang datanya dapat diperoleh secara sistematis sampai tingkat daerah. Karena penyediaan tenaga di bidang pangan dan gizi memerlukan investasi yang cukup lama dan menyangkut pendidikan. iii. maka perlu suatu upaya untuk penanganan gizi yang terintegrasi dan memerlukan kepemimpinan yang kuat. Isu Strategis Berkaitan dengan Kelembagaan adalah sebagai berikut: i. ditunjukan dengan data produksi yang meningkat. RANPG 2006-2010 53 . iii. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan kebiasaan untuk mengkonsumsi sayur dan buah sebagai salah satu gaya hidup sehat. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi dikarenakan belum adanya pendampingan dan pemberdayaan masyarakat termasuk LSM dan swasta. 5. Padahal ketersediaan sayur dan buah cukup melimpah. terlihat dari kecenderungan meningkatnya prevalensi merokok pada penduduk serta meningkatnya prevalensi penyakit kronis akibat tembakau. Untuk itu perlu upaya yang ekstra dalam upaya peningkatan ketersediaan tenaga terampil di bidang pangan dan gizi. iv. Oleh karenanya pengembangan indikator ketahanan pangan dan gizi yang sensitif baik ditingkat lokal maupun nasional menjadi isu yang perlu ditangani dengan baik. Saat ini penanganan masalah gizi masih terpecah-pecah dalam berbagai sektor seperti kesehatan dan pertanian. namun Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 telah mengarahkan bahwa masalah gizi harus ditangani secara lintas sektor. Perlunya ditingkatkan penggunaan data-data ini sebagai indikator yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk intervensi yang sesuai dan tepat waktu dalam menilai ketahanan pangan dan gizi. Ketersediaan tenaga di bidang pangan dan gizi masih menjadi kendala.berakibat pada konsumsi garam yang berlebih karena pemberian yodium dilakukan melalui fortifikasi pada garam. Dengan tidak adanya satu lembaga tersendiri yang khusus menangani masalah gizi. dan profesi.

cerdas. serta mencegah terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan akibat kelebihan gizi. v. merata dan terjangkau. dan produktif melalui pemantapan ketahanan pangan dan gizi nasional dan daerah pada tahun 2010. iii. pada tahun 2010 sekurangkurangnya menjadi 50 persen dari prevalensi tahun 2005. terjangkau dan berkualitas serta cost-effective. dan kurang yodium. C. baik dalam jumlah maupun mutu gizinya. yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup. TUJUAN 1. Menurunkan prevalensi berbagai bentuk kekurangan gizi yaitu gizi kurang. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pelayanan gizi dan kesehatan secara merata. iv. Meningkatkan keamanan pangan beredar melalui peningkatan partisipasi produsen pangan dan pelaksanaan pengawasan yang efektif dan efisien. kurang zat besi. vi. aman. Meningkatkan akses keluarga terhadap informasi gizi dan kesehatan untuk membentuk perilaku sadar pangan dan gizi serta hidup sehat. Mendukung kebijakan dan upaya penanggulangan kemiskinan melalui pelayanan gizi khusus kepada masyarakat miskin sehingga diwujudkan perbaikan gizi masyarakat sebagai modal untuk mengurangi kemiskinan. 2. RANPG 2006-2010 54 . i. kurang vitamin A. SASARAN 1. sikap dan perilaku hidup sehat dengan kesadaran gizi yang tinggi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan dengan gizi seimbang yang diperlukan bagi kehidupan yang sehat. ii. Tujuan Umum Mewujudkan keadaan gizi masyarakat yang baik sebagai dasar untuk mencapai masyarakat yang sehat. Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan.B.

terutama protein hewani serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah. dan penyediaan protein perkapita minimal 57 gram/hari.5 cm). termasuk pangan yang difortifikasi. Menurunkan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan dalam konsumsi pangan dengan mengefektifkan sistem distribusi pangan dan meningkatkan kemudahan/kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan.24 bulan memperoleh Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP . Menurunnya prevalensi anemia pada ibu hamil dan Wanita Usia Subur. sayuran naik 4.ASI) yang tepat. pangan hewani naik 2 persen per tahun. Meningka tnya efektifitas surveilen dan intervensi pada WUS. 7. sehingga konsumsi beras turun sebesar 1 persen per tahun. umbi-umbian naik 1-2 persen per tahun. 6.200 kkal/hari. Meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan gizi pada masyarakat terutama kelompok rentan dengan sasaran sebagai berikut : i. buah-buahan naik 5 persen per tahun. iv. Meningkatkan konsumsi pangan perkapita untuk memenuhi kebutuhan zat gizi seimbang dengan kecukupan energi minimal 2. serta meningkatkan keragaman konsumsi pangan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) minimal 85. Meningkatnya persentase anak usia 6 . mutu dan higiene pangan yang dikonsumsi masyarakat dengan menekan pelanggaran terhadap ketentuan keamanan pangan sampai 90 persen dan meningkatkan penelitian untuk menemukan zat pengawet yang aman dan terjangkau masyarakat miskin.5 persen per tahun. 3. Meningkatkan keamanan.000 kkal/hari dan protein sebesar 52 gram/hari dan cukup zat gizi mikro. 4. yang ditunjukkan dengan peningkatan akses pelayanan gizi dan konsumsi pangan keluarga. Meningkatnya pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. ii. 5. ibu Hamil dan remaja putri yang beresiko Kurang Energi Kronis (LILA < 23. Mempertahankan ketersediaan energi perkapita minimal 2.2. Menurunkan prevalensi xerophthalmia. v. RANPG 2006-2010 55 . Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat dan perilaku sadar pangan dan gizi. iii.

Arah kebijakan: (a) meningkatkan daya beli dan mengurangi jumlah penduduk yang miskin. (c) meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional melalui penetapan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rencana tata ruang wilayah dan meningkatkan kualitas lingkungan serta sumberdaya lahan dan air. aman dan halal dikonsumsi dan bergizi seimbang.D. bayi sampai usia dua tahun tanpa mengabaikan kelompok usia lainnya. (b) memprioritaskan pada kelompok penentu masa depan anak. diantaranya melalui peningkatan dan penguatan program fortifikasi pangan dan program suplementasi zat gizi mikro khususnya zat besi dan vitamin A. (c) meningkatkan upaya preventif. ibu nifas dan menyusui. yaitu. termasuk kurang gizi mikro (kurang vitamin dan mineral). Arah kebijakan: (a) menjamin ketersediaan pangan. mengembangkan dan membangun. (b) meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan melalui pengembangan sarana dan prasarana distribusi dan menghilangkan hambatan distribusi pangan antar daerah. Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang. Peningkatan status gizi masyarakat. promotif dan pelayanan gizi dan kesehatan kepada masyarakat miskin dalam rangka mengurangi jumlah penderita gizi kurang. Peningkatan kemudahan dan kemampuan mengakses pangan. 1. ibu hamil dan calon ibu hamil/remaja putri. RANPG 2006-2010 . 4. dalam jumlah dan keragaman untuk mendukung konsumsi pangan sesuai kaidah kesehatan dan gizi seimbang. serta memfasilitasi peran serta masyarakat dalam pemenuhan pangan sebagai implementasi pemenuhan hak atas pangan. promotif dan pelayanan gizi dan 56 2. KEBIJAKAN Pemantapan ketahanan pangan. (b) mengembangkan kemampuan dalam pemupukan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat. (c) mengembangkan teknologi dan kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan untuk menjaga kualitas produk pangan dan mendorong peningkatan nilai tambah. 3. (b) mendorong. Arah kebijakan: (a) mengutamakan upaya preventif. dan (e) meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan pangan/pangan bersubsidi kepada masyarakat golongan miskin terutama anak-anak dan ibu hamil yang bergizi kurang. (d) meningkatkan dan memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan dalam rangka mengembangkan skema distribusi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu yang mengalami kerawanan pangan. (d) mengembangkan jaringan antar lembaga masyarakat untuk pemenuhan hak atas pangan dan gizi. terutama dari produksi dalam negeri. Arah kebijakan: (a) menjamin pemenuhan asupan pangan bagi setiap anggota rumah tangga dalam jumlah dan mutu yang memadai. (c) mengembangkan program perbaikan gizi yang cost effective.

(f) meningkatkan kapasitas dalam administrasi data dan informasi sehingga terbentuk data yang akurat. 6. program dan kegiatan antar sektor di pusat dan daerah. dan evaluasi program pangan dan gizi. Perbaikan pola hidup sehat. agama. Peningkatan mutu dan keamanan pangan. (d) meningkatkan kemampuan riset di bidang pangan dan gizi untuk menunjang upaya penyusunan kebijakan dan program. monitoring. tekanan darah tinggi. serta penyakit degeneratif lainnya. Arah kebijakan: (a) meningkatkan pengawasan keamanan pangan. (f) meningkatkan efektivitas fungsi koordinasi lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di pusat dan daerah. (e) meningkatkan profesionalisme tenaga gizi dari berbagai tingkatan melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur dan berkelanjutan dan memperbaiki distribusi penempatan tenaga gizi tersebut. dan (e) mengembangkan teknologi pengawet dan pewarna makanan yang aman dan memenuhi syarat kesehatan serta terjangkau oleh usaha kecil dan menengah produsen makanan dan jajanan. pendidikan. (c) meningkatkan fungsi dan kapasitas sektor-sektor terkait dalam pengembangan pola hidup sehat baik di Pusat maupun di daerah. berdasarkan bukti (evidence-based). (g) mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). dibidang pangan dan gizi sehingga terjamin adanya keterpaduan kebijakan. pertanian dan ketahanan pangan. perdagangan.kesehatan pada kelompok masyarakat dewasa dan usia lanjut dalam rangka mengurangi laju peningkatan (tren) prevalensi penyakit bukan infeksi yang terkait dengan gizi yaitu kegemukan. (c) meningkatkan kesadaran produsen. diabetes. (h) mengembangkan program pendidikan kecakapan hidup (Life Skills Education). serta pemerintahan daerah. Arah kebijakan: (a) mendukung akses edukasi dan pelayanan yang seluas-luasnya pada masyarakat dalam melaksanakan pola hidup sehat. khususnya dengan sektor kesehatan. importir. pengentasan kemiskinan. industri. surveilan gizi. (d) meningkatkan kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan. RANPG 2006-2010 57 . (e) memastikan adanya keterlibatan semua lapisan masyarakat secara aktif baik dalam program maupun kebijakan pelaksanaan program pola hidup sehat. (b) meningkatkan komitmen dan peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung program pola hidup sehat. (d) melibatkan secara optimal peran serta media dalam upaya sosialisasi program dan kebijakan program pola hidup sehat. dan kanker. 5. (b) melengkapi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang mutu dan keamanan pangan. distributor dan ritel terhadap keamanan pangan.

3. 3. dan vitamin A dalam rangka peningkatan kualitas SDM. dan bayi sampai usia 2 tahun dalam rangka memperkuat dasar pencapaian program pengembangan anak usia dini (PAUD) dalam menentukan masa depan kualitas SDM. STRATEGI Aksesibilitas Pangan: 1. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi yang bersifat lintas sektor. penyuluhan. Peningkatan kemampuan pemerintah setempat dan masyarakat dalam mengembangkan dan memanfaatkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi untuk deteksi dini kemungkinan terjadinya bencana kerawanan pangan. melalui berbagai pendidikan gizi. kelaparan dan gizi kurang. dan (b) pengembangan aspek kuliner dan daya terima konsumen. Status Gizi : 1. zat yodium. ibu menyusui. sehingga mendorong komitmen dan investasi di bidang pangan dan gizi dalam pembangunan nasional dan daerah. Peningkatan program pencegahan dan penanggulangan masalah kurang gizi mikro. 2. Peningkatan kegiatan dan sasaran ketahanan pangan tidak hanya pada aspek persediaan pangan di tingkat makro. 2. 4. Pengembangan program diversifikasi pangan ditingkatkan melalui pengkajian berbagai teknologi tepat guna dan terjangkau mengenai pengolahan pangan berbasis tepung. serta tindakan cepat yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah setempat.E. RANPG 2006-2010 58 . serta peningkatan pendapatan dan pendidikan umum. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. serta dampaknya pada status gizi. tetapi juga pada aspek akses pangan yang menjamin konsumsi pangan dengan gizi seimbang bagi keluarga dan perorangan. ibu hamil. informasi dan edukasi untuk mencegah gangguan. dan kampanye gizi untuk meningkatkan citra pangan lokal. untuk: (a) mempertahankan pola konsumsi pangan lokal yang didaerah dan kelompok masyarakat tertentu telah beragam terutama untuk makanan pokok. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi melalui komunikasi. melalui suplementasi dan fortifikasi vitamin dan mineral khususnya untuk zat besi.

4. 2. dalam rangka menumbuhkan dan menciptakan kesadaran seluruh lapisan masyarakat Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah melalui pola makan gizi seimbang dalam rangka pencegahan penyakit degeneratif Peningkatan promosi pola makan rendah lemak.4. peningkatan surveilen dan epidemiologi. peningkatan penyediaan sarana dan prasarana olah raga dan ruang terbuka. Pola Hidup Sehat : 1. imunisasi serta KIE. manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan peningkatan KIE. Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang disebabkan bukan karena pendapatan (“nonincome poverty”) dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. 2. kebijakan penurunan permintaan suplai rokok dalam rangka mencegah penyakit kronis. RANPG 2006-2010 59 . pemantauan dan penegakan hukum. Keamanan Pangan : 1. Peningkatan keamanan pangan melalui penguatan peraturan. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi melalui penyusunan regulasi yang mengatur tentang iklan-iklan makanan dan minuman untuk mengurangi kejadian timbulnya penyakit degeneratif di kalangan muda. 6. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok melalui regulasi penertiban iklan rokok. Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih melalui pemantauan secara berkala berat badan dan tinggi badan. Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada balita melalui pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. 5. perlindungan konsumen dalam rangka melindungi status kesehatan masyarakat. Meningkatkan aktivitas fisik masyarakat melalui peningkatan promosi. Peningkatan kesadaran tentang keamanan pangan dan gizi melalui upaya pencegahan dini dan penegakan hukum dalam rangka menjaga mutu mutu keamanan pangan. 3.

Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan program-program pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. 3. 4.Kelembagaan: 1. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. 5. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. serta di masyarakat. Revitalisasi SKPG untuk meningkatkan ketersediaan data pangan dan gizi di daerah Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan gizi melalui lembaga penelitian. 7. RANPG 2006-2010 60 . Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. 2. dan masyarakat. 6. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. perguruan tinggi.

Perum Bulog. dalam jumlah dan ragam yang memadai 1. Pengkajian dan pengembangan teknologi pengolahan pangan 3. Meningkatnya jenis dan ketersediaan pangan pokok yang aman dikonsumsi Ketahanan Pangan Deptan. MATRIKS RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006-2010 NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB I. dan mudah didistribusikan 5. Pemda 1. Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan.PU. Meningkatkan efektivitas layanan prasarana irigasi 6. Peningkatan produktivitas dan produksi pangan pokok 2. Pembelian gabah petani oleh pemerintah 61 . Peningkatan ketersediaan jenis pangan alternatif yang murah. Dep. Tercapainya jumlah dan mutu cadangan Ketahanan Pangan Deptan. Pemantapan Pangan Ketahanan Menjamin ketersediaan pangan. Revitalisasi penyuluhan dan peningkatan kemampuan kelembagaan petani 4. AKSESIBILITAS TERHADAP PANGAN 1. Meningkatkan kemudahan petani untuk mengakses sarana produksi bermutu 2. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih Pemantapan Pangan Ketahanan Mengembangkan kapasitas cadangan pangan 1. terutama dari produksi dalam negeri. Pemda 1.BAB V. Ketersediaan pangan pokok yang memenuhi kebutuhan 2. tidak mudah rusak. aman.

Pengembangan sarana dan prasarana untuk pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat INDIKATOR pangan pemerintah dan masyarakat yang aman 2. DPR BPN. Menurunnya jumlah daerah dan penduduk rawan pangan PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Pemantapan Pangan Ketahanan Penyediaan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rangka menjamin kapasitas produksi yang dapat mencukupi kebutuhan pangan pokok 1. Menurunnya konversi produktif tingkat lahan Ketahanan Pangan Deptan. Terbitnya peraturan perundangan yang menetapkan lahan pertanian abadi untuk produksi pangan 2. Pengendalian alih fungsi lahan pertanian produktif 1. Pengembangan sarana dan prasarana distribusi 2. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. Kualitas sarana dan prasarana distribusi pangan yang meningkat 2. Penyusunan regulasi penetapan lahan pertanian abadi 2. Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan 1. Pengurangan hambatan distribusi pangan antar daerah 1. Semakin pendeknya rantai distribusi pangan Pengembangan Agribisnis Deptan 62 . Mengembangkan cadangan pangan nonberas siap konsumsi 4. KEBIJAKAN STRATEGI pemerintah dan masyarakat serta kemampuan pengelolaannya KEGIATAN 2. Mendorong terbentuknya cadangan pangan daerah dan masyarakat 3.NO ISU STRATEGIS terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi.

Tingginya pemahaman masyarakat akan pentingnya konsumsi Program Peningkatan Ketahanan Pangan Perum Bulog. Pemda. Peningkatan nilai tambah produk pangan PROGRAM Pengembangan Agribisnis PENANGGUNG JAWAB Deptan Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan serta memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan Deptan. Dep.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan STRATEGI Pengembangan teknologi serta kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan KEGIATAN 1. kios beras. Dep. Revitalisasi kelembagaan ekonomi perdesaan untuk menunjang distribusi pangan 2. 1. Depdag Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan/subsidi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu Distribusi beras bersubsidi bagi rakyat miskin (Raskin) yang lebih efisien dan efektif Operasi Pasar dalam rangka stabilisasi harga pangan Bantuan pangan untuk kondisi darurat/bencana. Perbaikan fasilitas distribusi pangan di perdesaan seperti pasar. Revitalisasi kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan 2. Distribusi pangan bersubsidi yang efisien dan tepat sasaran 2. Sosialisasi keragaman bahan pangan yang berkualitas dan bergizi Deptan. Depkes 63 . Sosial. Meningkatnya kualitas produk pangan 2. 3. Inovasi teknologi pengolahan dan pemasaran pangan 1. INDIKATOR 1. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang Mempertahankan pola konsumsi pangan lokal dan kelompok masyarakat 1. Perdagangan. Harga pangan stabil dan terjangkau Distribusi bantuan pangan tepat sasaran dan tepat waktu 1.

NO ISU STRATEGIS terutama beras. Imunisasi) 3. KEBIJAKAN STRATEGI tertentu yang telah beragam terutama untuk makanan pokok KEGIATAN seimbang 2. Pengembangan Pos Gizi 1. ibu menyusui. Meningkatnya jumlah posyandu yang aktif 2. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. Terlaksananya mekanisme insentif untuk kader Posyandu 4. PENINGKATAN STATUS GIZI MASYARAKAT 1. Peningkatan pelayanan antenatal di 64 . dan bayi sampai usia 2 tahun 1. Depdiknas Depdagri Deptan Deprin Depdag Meneg PP PKK Pemda 6. Meningkatnya penggunaan eksklusif ASI Upaya Kesehatan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Pendidikan anak usia dini Depkes. Tersedianya data capaian kegiatan (SKDN. BGM. Tetap terjaganya keragaman konsumsi pangan yang seimbang PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Meningkatnya jumlah petugas puskesmas dan kader posyandu yang dilatih 5. Pemantauan pertumbuhan 4. ibu hamil. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. II. Peningkatan pemahaman pentingnya pangan yang beragam Pengembangan aspek kuliner dan daya terima pangan lokal INDIKATOR pangan yang beragam 2. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita yang erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan rendahnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif. Memberikan penyuluhan ASI eksklusif untuk bayi 06 bulan 3. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Revitalisasi Posyandu dan revitalisasi Puskesmas 2.

Jumlah kasus gizi buruk yang berhasil ditangani 9. Pemberian kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus 8. Promosi dan pemantauan 65 . calon pengantin dan tenaga kerja wanita 6. Meningkatnya konsumsi tablet besi dan ketepatan konsumsi 2. Pemberian tablet kepada ibu hamil besi 1. Tercapainya pemberian kapsul Vit. program dan masalah 1. Meningkatnya konsumsi beryodium garam Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak Depkes Deptan Deprin Depdagri 6. Menurunnya prevalensi xeropthalmia (X1b < 0. balita. Pemasaran sosial sumber vitamin A 2.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR Puskesmas PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. busui melalui RT/RW secara berkala. balita dan wanita usia subur (WUS) 5. Pendataan data sasaran bayi.33%) 4. Menurunnya prevalensi anemia pada Ibu hamil. ibu nifas. Fortifikasi minyak sayur dengan vitamin A 4. Pemberian MP-ASI kepada balita gakin dengan resiko kekurangan gizi 7. Peningkatan konsumsi garam beryodium untuk semua (KGBS) 3. bumil. A bagi setiap semua bayi/anak 6-59 bulan 3. 5. Peningkatan pemberian suplementasi tablet besi pada remaja putri. Peningkatan pencegahan penanggulangan kurang gizi mikro.

Pendidikan gizi melalui kampanye.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN konsumsi beryodium 10. Peningkatan pendidikan dan penyetaraan gender guna meningkatkan kualitas perawatan kehamilan dan perawatan bayi dan anak 2. informasi dan edukasi 4. Meningkatnya cakupan rumah tangga dengan konsumsi garam beryodium cukup 5. 1. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan masih maraknya perilaku yang menghambat upaya perbaikan gizi. Meningkatnya pengetahuan dan konsumsi penduduk tentang pangan sumber Vitamin A 4. Menyebarkan informasi 1. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini 3. Meningkatnya persentase keluarga sadar gizi (kadarzi) 2. penyebaran komunikasi. Pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga 2. Penanganan buruk garam kasus gizi INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 11. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi. Terlaksananya pedoman tata laksana gizi buruk Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Depkes Meneg PP BKKBN Pemda PKK 66 . Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan 5. Pembentukan kelompok pendidik sebaya (peer educator) diantara remaja di sekolah dan luar sekolah 3. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat.

Pemberian suplemen zat gizi mikro. Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdagri 67 . Pramuka.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN melalui media cetak dan elektronik. karang taruna. Meningkatnya jumlah keluarga yang memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. 6. industri kecil. 7. 1. LSM. Meningkatnya jumlah kelompok yang dibentuk dan melakukan kegiatan diskusi tentang pangan dan gizi 8. Menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat miskin terutama penanganan gizi kurang 2. 1. dll) INDIKATOR 6. tempat umum lain 8. Menyebarkan informasi melalui kelompok pengajian. khususnya zat besi. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin 2. vitamin A dan yodium 3. Pemenuhan hak dasar masyarakat miskin atas layanan kesehatan dasaryang bermutu Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin. tempat kerja. Menyelenggarakan kegiatan peningkatan pendapatan keluarga (KUB. Berkurangnya kejadian gizi buruk pada keluarga miskin PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Menyebarkan informasi di sekolah. arisan. Belum optimalnya program penanganan gizi bagi penduduk miskin. dll. Tersedianya informasi tentang gizi di semua media untuk seluruh lapisan masyarakat 7. PKK.

Peningkatan promosi tentang pencegahan kegemukan dan obesitas Menurunkan kegemukan prevalensi Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdiknas 5. Meningkatnya kecenderungan gizi lebih. Bantuan langsung tunai bersyarat bagi penduduk miskin 5. Melaksanakan manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan penyakit degeneratif dan penyakit lainnya 3. Pelaksanakan pemantauan secara berkala BB dan TB 2.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN dengan harga subsidi seperi beras untuk orang miskin (Raskin) dan MPASI untuk balita keluarga miskin 4. masalah Pencegahan penanggulangan gizi lebih Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih 1. Perbaikan gizi masyarakat Pencegahan Depkes 68 . Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemgembangan pelayanan kesehatan dan gizi bagi masyarakat miskin INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 4. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko Menurunnya angka penyakit infeksi pada balita. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang berkaitan Peningkatan pengetahaun masyarakat tentang penyakit. lingkungan Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada 1.

Peningkatan surveilen dan epidemiologi dan penaggulangan wabah 3. Tercegahnya pemasukan bahan pangan impor yang tidak memenuhi syarat keamanan pangan 3. Peningkatan kesadaran keamanan pangan pada masyarakat produsen dan konsumen 1. kelangsungan dan perkembangan anak. kesadaran produsen dan konsumen Meningkatkan pengawasan keamanan pangan 1.NO ISU STRATEGIS dengan sanitasi. Peningkatan cakupan imunisasi 4. Meningkatkan efektivitas karantina pertanian 1. lingkungan. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan keamanan pangan 2. laboratorium pengawasan makanan. Peningkatan jumlah dan kompetensi petugas serta laboratorium pengawasan 1. Ketersediaan tenaga Peningkatan Mutu dan pengawas yang masih Keamanan Pangan terbatas. Badan POM Depdiknas Men-PAN 69 . merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. Memadainya jumlah pengawas. Pemahaman produsen terhadap CPMB Pengawasan dan keamanan pangan BPOM Deprin Deptan Depdagri Depdag 2. KEBIJAKAN sehat. MUTU DAN KEAMANAN PANGAN 1. Meningkatkan sosialisasi peraturan dan standar keamanan pangan 2. Kesadaran keamanan Peningkatan Mutu dan pangan baik pada Keamanan Pangan produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Peningkatan KIE tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit INDIKATOR PROGRAM dan Pemberantasan Penyakit PENANGGUNG JAWAB III. STRATEGI KEGIATAN 2. gizi keluarga dan perilaku hidup sehat balita.

Pelaksanaan penelitian untuk mencari alternatif produk bahan tambahan makanan BPOM LIPI IV. Melengkapi perangkat peraturan perundangundangan di bidang mutu dan keamanan pangan 2. serta ketersediaan bahanbahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. Tersusunnya standar keamanan dan mutu pangan 3. PERBAIKAN POLA HIDUP SEHAT 1. Rendahnya aktifitas fisik Perbaikan pola hidup Peningkatan aktivitas fisik 1. Masih maraknya Peningkatan Mutu dan pengunaan bahan Keamanan Pangan tambahan makanan berbahaya. dan tambahan fungsional pengolahan makanan yang aman 1. Peningkatan pengawasan keamanan pangan 1. KEGIATAN Peningkatan cakupan wilayah dan jenis produk pangan yang diawasi INDIKATOR jumlah produk pangan dan cakupan wilayah yang diawasi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. 1. Peningkatan promosi 1. Meningkatnya Promosi Depkes 70 . Peningkatan pengembangan dan penelitian bahan tambahan makanan yang aman.NO ISU STRATEGIS yang masih rendah. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. Penyediaan produk pengawet. KEBIJAKAN STRATEGI Meningkatkan perlindungan kepada konsumen 2. Menurunnya peredaran produk pangan TMS 2. Tersedia dan terjangkaunya pengawet dan pewarna makanan produsen makanan dan jajanan Tersedianya alternatisf bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau BPOM Deptan 4. Pengembangan teknologi pengolahan makanan 2. pewarna. Belum berkembangnya Peningkatan Mutu dan alternatif produk bahan Keamanan Pangan tambahan makanan yang aman dan terjangkau. Penetapan standard pangan yang aman dikonsumsi 3.

Meningkatnya konsumsi gula.NO ISU STRATEGIS yang berakibat pada meningkatnya penderita penyakit degeneratif KEBIJAKAN sehat. pola hidup Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah Peningkatan sosialisasi dan advokasi untuk konsumsi sayur dan buah. Pengembangan metode penyampaian pesan-pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang mudah dipahami oleh masyarakat. Meningkatnya frekuensi penayangan informasi tentang pola hidup sehat dan gizi seimbang di media masa. 2. INDIKATOR pemahaman masyarakt tentang manfaat aktifitas fisik 2. pencegahan penyakit degeneratif. pola hidup Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. garam. Masih rendahnya konsumsi sayur dan buah Perbaikan sehat. 1. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pesan-pesan PUGS 3. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi 71 . lemak Perbaikan sehat. KEGIATAN tentang aktivitas fisik 2. Peningkatan promosi tentang pengurangan konsumsi lemak. Meningkatnya sarana dan prasarana olahraga serta ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat PROGRAM Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Pembinaan dan Pemasyarakata n olahraga Peningkatan Sarana dan Prasarana olah raga Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat PENANGGUNG JAWAB Deptan Menpora BPOM Depdiknas Pemda 2. gula dan garam. Meningkatnya rata-rata konsumsi sayur dan buah per kapita per hari 1. Peningkatan promosi tentang manfaat aktifitas fisik untuk kesehatan. Deptan Depdiknas Depkes Depkes Depdiknas BPOM 3. Meningkatnya kesadaran tentang kebiasaan makan yang sehat 2. STRATEGI masyarakat.

Kebijakan Pangan dan Gizi terakomodasi secara jelas dalam dokumen perencanaan tingkat nasional dan daerah seperti RPJPRPJPD. Penegakan hukum dalam hal pelarangan merokok di tempat umum. 1. Meningkatnya jumlah Sekolah sehat PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 1. multi sektoral dan multi disiplin belum tertangani secara terpadu dan terkoordinasi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan programprogram pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR 4. RPJMPerbaikan Gizi Masyarakat Bappenas Bappeda Depkes Deptan Organisasi 72 . Peningkatan upaya regulasi dalam rangka menurunkan ketersediaan rokok di pasaran. PEMANTAPAN DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN 1. V. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok bagi kesehatan. Belum optimalnya pencegahan kebiasaan merokok Perbaikan sehat. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat 5. pola hidup Peningkatan promosi tentang bahaya merokok 4. Dilaksanakannya regulasi tentang pemasaran rokok 5. Masalah pangan dan gizi yang bersifat multi dimensi. 1. Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Depkes Menpora Depdag Pemda 6. Meningkatnya tempattempat umum yang dilarang merokok 1. Menurunnya pengeluaran rumah tangga untuk rokok 2. Advokasi pangan dan gizi pada para pengambil keputusan perencanaan di tingkat pemerintah dan parlemen.

Advokasi hasil analisis SKPG kepada pengambil keputusan (pejabat berwenang) 1. Sudah dimanfaatkannya informasi SKPG untuk pengambilan Ketahanan Pangan Perbaikan Gizi Masyarakat Perbaikan Gizi Masyarakat Depkes Deptan BKKBN Bulog Depdagri BPS 73 . Pengumpulan. keterampilan Tim SKPG dalam menanggulangi masalah pangan dan gizi 3.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR RPJMD dan RenstraRenstrada 2. Dimanfaatkannya sistem pelaporan dan informasi untuk penyusunan kebijakan 2. dan masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB profesi Menpan 2. Masih terbatasnya penggunaan data-data pangan dan gizi sebagai indikator untuk menilai ketahanan pangan dan gizi pada tingkat lokal yang sesuai dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan. swasta. Meningkatnya program dan pembiayaan pangan dan gizi 3. Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Revitalisasi SKPG 1. Semua kabupaten/kota sudah melaksanakan pemetaan. Terciptanya kerjasama sinergis antara lembaga pemerintah. pengolahan dan analisa data untuk pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) 3. Pengembangan dan analisis data pangan dan gizi 2.

NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR keputusan. Masih terbatasnya ketersediaan tenaga terampil di bidang Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan 1. perguruan tinggi dan Ketahanan Pangan Deptan Depdiknas 74 . Pengembangan sistem penanggulangan masalah kerawanana pangan melalui kerjasama pemerintah. Tersedianya peta rawan pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. perumusan kebijakan. Peningkatan kerjasama dengan lembaga nonpemerintah dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) 2. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi 1. Menggerakaan LSM dan swasta untuk berperan serta dalam penanggulangan masalah pangan dan gizi 3. perencanaan program dan evaluasi 4. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi Meningkatnya peran lembaga penelitian. Meningkatnya jumlah LSM dan swasta yang berperan serta dalam penanggulangan pangan dan gizi Ketahanan Pangan Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes 4. dan mastyarakat. swasta.

Penyusunan rencana kebutuhan tenaga pangan dan gizi 2. Gizi KEBIJAKAN STRATEGI gizi melalui lembaga penelitian. Peningkatan kerjasama institusi pendidikan. Tersedianya tenaga pangan dan gizi yang memadai Ketahanan Pangan Pendidikan Kedinasan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. 1. Pengembangan sertifikasi profesi 3. perguruan tinggi. INDIKATOR masyarakat dalam menghasilkan data yang dapat dipercaya. serta di masyarakat. lembaga penelitian dan pengelola program. Pengembangan profesi tenaga pangan dan gizi melalui kerja sama institusi pendidikan dengan organisasi profesi Jumlah tenaga pangan dan gizi yang dilatih Ketahanan Pangan Prndidikan Non Formal Pendidikan Kedinasan Deptan Depdiknas Depkes 75 . KEGIATAN 2. sarana dan dana) yang ada pada LSM dan swasta. PROGRAM Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat PENANGGUNG JAWAB Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi 1. Pengembangan kurikulum dan Pengembangan pendidikan tenaga gizi 2. dan masyarakat. Menggali potensi sumber daya (tenaga. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi.NO ISU STRATEGIS pangan dan gizi. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat.

KEGIATAN Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas. kualitas dan mobilitas Pengintegrasian faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektoral dan daerah INDIKATOR PROGRAM Keserasian Kebijakan Kependudukan PENANGGUNG JAWAB BKKBN 7. 76 .NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI Pengendalian pertambahan penduduk 6.

Direktorat Pangan dan Pertanian. 2006 77 .2000. Departemen Kesehatan. Statistik Pertanian 2005 (Agriculturel Statictisc 2005).DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (BPS). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. LIPI. 2006. 2006 Dewan Ketahanan Pangan. 2003. Soekirman dkk. World Bank. 2000. WHO. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Departemen Pertanian. A Framework to Monitor and Evaluate Implementation. Jakarta. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Nasional. 2004. 2005. Peraturan Pemerintah No. Bappenas. 2000. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005. Programs and Prospective Development. poverty and the global water crisis. 2006 UNDP. 2005 Gizi dalam Angka sampai dengan 2005. Jakarta. Human Development Report: Beyond scarcity: Power. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Sistem Pendidikan Nasional yang juga mengatur tentang "Wajib belajar 9 tahun". 2006 Government of Indonesia (GOI). 2004. RI-WHO. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. 2003. 2006. Bapenas dan Unicef. Depdiknas. Indonesia Progress Report on the Millenium Development Goal. Geneva. Physical Activity and Health. 2003. LIPI.2004. Repositioning Nutrition as Central to Development A Strategy for Large-Scale Action. UU No 20. 2000. 2006 Departemen Kesehatan. Laporan Indonesia untuk persiapan End Decade Goal 2000. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005 – 2009.7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004-2009 Profil Pangan dan Pertanian 2003 – 2006. Global Strategy on Diet. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.

Direktorat Pangan dan Pertanian. Ketua Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) 9. Depdiknas 5. Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) 6. ME 3. Departemen Pertanian 3. Destri Handayani. Departemen Kesehatan 2. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketua Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) 8. Bappenas 2. Bappenas : Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas : Kasubdit Gizi Masyarakat. 339/M. Ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Pusat 10. Badan POM Anggota : 1. Bappenas : 1. MS 78 . Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Kementerian PPN/ Bappenas 4. Ir. Ketua Persatuan Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) 7. Kepala Badan Ketahanan Pangan.PPN/12/2005 Tentang Pembentukan Tim Penyusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Tahun 2006-2010) Tim Pengarah Ketua : Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan. STP. Kasubdit Pangan. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Pungkas Bahjuri Ali. Ketua Komisi Perlindungan Anak Tim Teknis Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Direktur Kesehatan dan Gizi mAsyarakat.LAMPIRAN TIM PENYUSUN RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI TAHUN 2006-2010 (Berdasarkan Keputusan Nomor: KEP. Kementerian Bappenas Wakil Ketua : Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Ketua Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) 11.

Deptan 2. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Pusat Kewaspadaan Pangan.. Kabid Pemantauan Produksi Pangan. Kabag Perencanaan. Kasubdit Penilaian Pangan Khusus. Depkes 6.I. Deptan 6. BPOM 3. BPOM Anggota : 1. Direktorat Gizi Masyarakat. Kabid Standarisasi. Kasie Standarisasi. Staf Direktorat Standarisasi Produk Pangan. Direktorat Gizi Masyarakat. Puslitbang Gizi. Kabid Analisis Harga. Kasie Standarisasi. Deptan 5. BPOM 2. BPOM 5. Pusat Pengembangan Ketersediaan Pangan. Kelompok Keamanan Pangan Ketua : Direktur Standarisasi Produk Pangan. Anggraini. Depkes II. Kelompok Gizi Ketua : Direktur Gizi Masyarakat. Deptan 79 . Depkes 5. STP. Sekretariat Badan Ketahanan Pangan. Dian Proboyekti. Depkes 2. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Subdirt Gizi Mikro. Kasubdit Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan. Depkes 3. MPH. Deptan Anggota : 1. Abbas Basuni Jahari. DR. Pusat Standarisasi dan Akreditasi. Diretorat Gizi Masyarakat. Depkes 4. Subdit Kewaspadaan Gizi. Kasubdit Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan. Deptan 4. Badan POM Sekretaris : Kasubdit Standarisasi Pangan Khusus. staf Subdit Gizi Makro. Direktorat Gizi Masyarakat. Deptan 3. MSc. Kelompok Aksesibilitas Pangan Ketua : Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Departemen Kesehatan Sekretaris : Kasubdit Gizi Makro. Depkes Anggota : 1. Kabid Pola Pemberdayaan. Kasubdit Kewaspadaan Pangan. Puslitbang Gizi. Kabid Kerawanan dan Mutu Pangan. Pusat Pengembangan Distribusi Pangan. DR. BPOM 4. Pusat Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat. Deptan III. Imam Sumarno. Deptan Sekretaris : Kabid Konsumsi Pangan Lokal. Kabid Penganekaragaman Pangan.

24. 17. Depkes TIM PENYUNTING 1. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 8. 18. M. Kelompok Pola Hidup Sehat Ketua : Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Sekretaris : Kabid Pengembangan Pendidikan Keterampilan Hidup dan Kesehatan. 14. 27. Direktorat Pendidikan TK dan SD. Depdiknas 2. Depdiknas Anggota :1. 28. 22. Dipo Drajad Martianto Endah Murniningtyas Endang L. 2. Abbas Basuni Jahari Ali Muharam Andriyanto Arif Haryana Arum Atmawikarta Atmarita Darwin Karyadi Dhian P. 20. Ismoyowati. 4. Depdiknas 4. 29. Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 3. Achadi Entos Zaina Hardinsyah Ima Anggraini Inti Wikanestri 16. 12. Kabid Olahraga Kesiswaan.Kes. 9. 13. 26. 7. Kasubdit Kesehatan Olahraga. 10. Kasubdit Kesiswaan. SKM. Sihombing Yosi Diani Tresna 80 . 23. 15. Pusat Promosi Kesehatan.IV. 5. Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani. Kasubdit Kesiswaan. 21. 25. Depdiknas 5. 11. Kasubdit Kesiswaan. Irawati Susalit Kismanto Mewa Ariani Minarto Muhammad Zakky Nana Mulyana Nita Yulianis Razak Thaha Soekirman Subiyakto Pungkas Bahjuri Ali Noor Avianto Tety H. 6. Depdiknas 3. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga 6. 19.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful