RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006 - 2010

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
ISBN 978-979-3764-27-6

KATA PENGANTAR

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Rawan pangan dan gizi masih menjadi salah satu masalah besar bangsa ini. Masalah gizi berawal dari ketidakmampuan rumah tangga mengakses pangan, baik karena masalah ketersediaan di tingkat lokal, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan akan pangan dan gizi, serta perilaku masyarakat. Kekurangan gizi mikro seperti vitamin A, zat besi dan yodium menambah besar permasalahan gizi di Indonesia. Dengan demikian masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan dan langkah-langkah penanggulangannya juga harus dirumuskan dan dilaksanakan bersama. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menegaskan bahwa “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya”. Penyusunan Rencana Aksi Pangan dan Gizi ini, yang disusun ke dalam empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu : akses terhadap pangan yang didukung oleh ketersediaan dan daya beli; keamanan pangan; status gizi; dan pola hidup sehat, sebagai penjabaran pembangunan pangan dan gizi secara komprehensif. Rencana Aksi ini disusun sebagai panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, baik bagi institusi dan aparatur pemerintah, masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, dokumen ini perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi pangan dan gizi di setiap wilayah. Agar langkah-langkah yang telah dirumuskan ini tidak menjadi sebuah dokumen saja, maka rumusan rencana aksi pangan dan gizi perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata dalam pembangunan pangan dan gizi di setiap propinsi dan kabupaten/kota. Selanjutnya perlu dilakukan koordinasi, monitoring dan evaluasi secara periodik agar pelaksanaan rencana aksi dapat betul-betul diterapkan dan mencapai tujuan serta dapat membawa kemajuankemajuan yang dicapai. Untuk itu, marilah kita manfaatkan Rencana Aksi Pangan dan Gizi 2006-2010 ini untuk bersama-sama mengatasi masalah gizi di Indonesia agar kita dapat membangun generasi yang sehat, cerdas, dan mandiri. Akhir kata ucapan terima kasih disampaikan kepada wakil-wakil dari Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Pendidikan Nasional, pakar dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia dan Universitas Hasanudin, asosiasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Persatuan Gizi dan Pangan Indonesia serta berbagai lembaga swadaya masyarakat yang telah memberikan pemikiran dan kerja kerasnya dalam penyusunan dokumen ini. Jakarta, Juni 2007 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

H. Paskah Suze ta

i

DAFTAR SINGKATAN
AGB ASI BBLR BLT CPMB CDPB EYU FDA GAKY GKP HDPP HDR HPP IMT IPM IFPRI ISPA KEK KLB KMS KUB KVA LILA LSM MDGs MP-ASI PAUD PDB PPH RANPG RPJMN RPJPN RPJMD SDM SDKI SKIA SKPG SKRT SUVITAL Susenas TBC = = = = = = = = Anemia Gizi Besi Air Susu Ibu Bayi Berat Lahir Rendah Bantuan Langsung Tunai Cara Produksi Makanan Yang Baik Cara Distribusi Pangan Yang Baik Eksresi Yodium Urine Gangguan Akibat Kurang Yodium Gabah Kering Panen Harga Dasar Pembelian Pemerintah Harga Pembelian Pemerintah Indeks Massa Tubuh Indeks Pembangunan Manusia

= = = =

Food Drug Administration

=

Human Development Report

= = = = =

TGR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

=

Infeksi Saluran Pernapasan Atas Kurang Energi Kronik Kejadian Luar Biasa Kartu Menuju Sehat Kelompok Usaha Bersama Kurang Vitamin A Lingkar Lengan Atas Lembaga Swadaya Masyarakat

International Food Policy Research Institute

Makanan Pendamping Air Susu Ibu Pendidikan Anak Usia Dini Produk Domestik Bruto Pola Pangan Harapan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Sumberdaya Manusia Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survei Kesehatan Ibu dan Anak Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Survei Kesehatan Rumah Tangga Sumber Vitamin A Alami Survei Sosial Ekonomi Nasional Upaya Perbaikan Gizi Keluarga Wanita Usia Subur Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi

Millenium Development Goals

UPGK WUS WNPG

=

Tuberculosis Total Goiter Rate

ii

DAFTAR ISTILAH
Anemia BBLR Diversifikasi Pangan Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, 50 persen kejadian anemia disebabkan kekurangan zat besi Bayi Lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram Penganekaragaman Pangan atau Diversifikasi Pangan adalah upaya peningkatan konsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang. Gangguan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Indikator yang digunakan untuk mengukur gizi kurang pada anak adalah berdasarkan tinggi barat menurut umur (TB/U), berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), untuk dewasa berdasarkan IMT. Kelebihan berat badan dibandingkan tinggi badan, untuk dewasa diukur berdasarkan IMT. Pada anak diukur berdasarkan berat badan per tinggi badan dengan menggunakan referensi internasional z-score. Indeks Massa Tubuh, yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m2) Kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Besarnya energi dari pangan yang dikonsumsi penduduk yang dinyatakan dalam satuan kilo kalori (Kkal) jumlah makanan dan minuman yang dimakan atau diminum penduduk/seseorang dalam satuan gram per kapita per hari. Jumlah protein dari pangan, baik hewani maupun nabati, yang dikonsumsi , dinyatakan dalam satuan gram per kapita per hari. Meliputi kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro dulu disebut kurang kalori protein (KKP atau KEP). Sekarang KKP tidak dipakai lagi diganti dengan gizi kurang (z score BB/U <- 2 SD) dan gizi buruk (z score BB/U <-3 SD) jadi gizi kurang pasangan dari gizi buruk, tidak lagi disebut KKP atau KEP karena tidak semata-mata karena kurang kalori dan protein tetapi juga kekurang zat gizi mikro.

Gizi Kurang

Gizi Lebih

IMT Keamanan Pangan

Ketahanan Pangan

Konsumsi Energi Konsumsi Pangan Konsumsi Protein Kurang Gizi

iii

baik yang diolah maupun tidak diolah. Pangan sumber karbohidrat yang sering dikonsumsi atau dikonsumsi secara teratur sebagai makanan utama. bahan baku pangan. pengolahan dari atau pembuatan makanan dan minuman. budaya. yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan. agama dan cita rasa. berdasarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang. ekonomi. dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. Pola Pangan Harapan Susunan jumlah pangan menurut 9 kelompok pangan yang didasarkan pada kontribusi energi yang memenuhi kebutuhan gizi secara kuantitas. selingan. Sejumlah zat gizi/energi yang diperlukan oleh seseorang dalam suatu populasi untuk hidup sehat. Angka Kecukupan Gizi Pangan Pangan Pokok Pola Konsumsi Pangan Susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi/dimakan seseorang atau kelompok orang penduduk dalam frekuensi dan jangka waktu tertentu. cerdas dan produktif. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. diukur berdasarkan TB/U (tinggi badan menurut umur) Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. kualitas maupun keragaman dengan mempertimbangkan aspek sosial.Gizi Seimbang Anjuran susunan makanan yang sesuai kebutuhan gizi seseorang/kelompok orang untuk hidup sehat. Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. diukur berdasarkan BB/U (berat badan menurut umur) Gangguan kekurangan vitamin A pada mata yang mengakibatkan kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi retina yang berakibat kebutaan Stunting Wasting Xerophthalmia iv . sebagai sarapan atau sebagai makanan pembuka atau penutup.

KONSUMSI PANGAN C. PENDAHULUAN A. RENCANA AKSI A. TUJUAN PENYUSUNAN C. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A. KEBIJAKAN E. KEAMANAN PANGAN E. ANALISA SITUASI PANGAN DAN GIZI A. REVIEW STRATEGI PERBAIKAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG III. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI D. ISU STRATEGIS B. STATUS GIZI MASYARAKAT B. RUANG LINGKUP D. SASARAN D. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER SUMBER DAYA MANUSIA C. LATAR BELAKANG B. PROSES PENYUSUNAN E. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIFITAS FISIK IV. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN D. MATRIK RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v . TUJUAN C. PENGGUNA i ii iii v vi vii 1 1 2 3 4 4 5 6 9 13 15 17 17 21 26 34 43 51 51 54 54 56 58 61 77 78 II. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI E.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR SINGKATAN DAFTAR ISTILAH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. STRATEGI V.

Hasil pengujian produk pangan beredar 21. 6. Jumlah Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat 24. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi 16. Persentase Pelanggaran Produk Pangan 22. Data Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan 25. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas 18. 9.DAFTAR TABEL 1. 3. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 – 2005 28. Tahu dan Ikan di Enam Propinsi 27. Perkembangan Produksi Daging 14. 4. 2. 5. 8. Persebaran Produksi Pangan Pokok Menurut Wilayah Pulau 12. Temuan Formalin dalam Produk Pangan 26. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah 20. Perkembangan Produksi Palawija Per Kapita 13. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah 23. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Gizi Prevalensi Pendek/Stunting anak balita < -2SD Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003 Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat Konsumsi Pangan Sumber Protein Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Perkembangan Konsumsi Energi Dan Protein Menurut Wilayah Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH 8 18 19 22 22 23 24 25 26 26 27 27 28 28 30 33 35 36 37 37 38 38 39 39 40 40 42 10. 7. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 50 vi . Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran Dan Aktual Tahun 1999-2005 11. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin 17. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga 19. Perkembangan Produksi Telur 15.

NSS-HKI 1999-2001) Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) 10 12 14 19 20 41 43 45 48 10. 3. 2. 5.DAFTAR GAMBAR 1. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi Anak Balita Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi Prevalensi anemia pada anak balita (SKRT 2001) Proporsi WUS resiko KEK (LILA <23.5 cm) Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 Prevalensi Gizi Lebih Pada Perempuan Dewasa (perdesaan. 7. 4. 9. 8. 6. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) 49 vii .

Selain itu. serta lambatnya pertumbuhan ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan pentingnya penanggulangan kekurangan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur sesuai siklus kehidupan (Januari. ketersediaan pangan. 2006). serta rendahnya umur harapan hidup. Akses pangan setiap individu ini sangat tergantung pada ketersediaan pangan dan kemampuan untuk mengaksesnya secara kontinyu (spasial dan waktu). yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh. dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah. . 4th report on The World Nutrition Situation. Beberapa dampak buruk kurang gizi adalah: (i) rendahnya produktivitas kerja. Investasi di sektor sosial menjadi sangat penting dalam peningkatan SDM karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara. dan (iii) kehilangan sumberdaya karena biaya kesehatan yang tinggi (World Bank. mental yang kuat. (ii) kehilangan kesempatan sekolah. secara bersamaan Indonesia juga mulai menghadapi masalah gizi lebih dengan kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. serta cerdas. 2000)1. Dalam sistem ketatanegaraan kita. padahal dapat memunculkan masalah besar. Dengan kata lain saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda.BAB I. yang berkaitan dengan tingkat pendapatan dan kemiskinan seseorang. PENDAHULUAN A. budaya dan politik (Unicef. kesehatan yang prima. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Kemampuan mengakses pangan ini dipengaruhi oleh daya beli. Saat ini diperkirakan sekitar 50 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 100 juta jiwa mengalami beraneka masalah kekurangan gizi. bayi. Selain gizi kurang. dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Investasi gizi juga berperan penting untuk memutuskan lingkaran setan kemiskinan dan kurang gizi sebagai upaya peningkatan SDM. January 2000. faktor sosialekonomi. Masalah gizi kurang sering luput dari penglihatan atau pengamatan biasa dan seringkali tidak cepat ditanggulangi. upaya peningkatan SDM diatur dalam UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap individu berhak hidup RANPG 2006-2010 1 1 Nutrition throughout life cycle. rendahnya pendidikan. LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. dan balita. 1990). Untuk menjaga agar individu tidak kekurangan gizi maka akses setiap individu terhadap pangan harus dijamin. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik.

The World Summit for Children 1990. The Forty-eight World Health Assembly 1995. Pemenuhan hak atas pangan dicerminkan pada definisi ketahanan pangan yaitu : “kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. merata dan terjangkau”. perlu disusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010 (RANPG 2006-2010) sebagai kelanjutan dari Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) 2001-2005. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. dan pelayanan kesehatan adalah salah satu hak asasi manusia. aman. kesehatan. Upaya-upaya untuk menjamin kecukupan pangan dan gizi serta kesempatan pendidikan tersebut akan mendukung komitmen pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). pengaturan tentang pangan tertuang dalam Undang-undang No. yang menyatakan juga bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat. Dengan demikian pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Komitmen global lain sebagai landasan pembangunan pangan dan gizi adalah: The Global Strategy for Health for All 1981. B. Untuk menjabarkan kebijakan dan langkah terpadu di bidang pangan dan gizi serta dalam rangka mendukung pembangunan SDM berkualitas. World Food Summit 1996 dan Health for All in the Twenty-first Century 1998. dan (4) meningkatkan kesehatan ibu pada tahun 2015.7 Tahun 1996 tentang Pangan.sejahtera. Memberikan panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi bagi institusi pemerintah. (3) menurunkan angka kematian anak. (2) mencapai pendidikan dasar untuk semua. baik jumlah maupun mutunya. Dengan demikian akan dapat dihasilkan generasi muda yang berkualitas. provinsi maupun kabupaten/kota. Sementara itu. Pada tingkat nasional. masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. dan pendidikan juga ditempatkan sebagai prioritas utama dalam RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 -2009. terutama pada sasaran-sasaran: (1) menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. RANPG 2006-2010 2 . yang dijabarkan dalam rencana strategis Departemen Pertanian. baik pada tataran nasional. pembangunan pangan. TUJUAN PENYUSUNAN Tujuan Umum. Kecukupan pangan yang baik mendukung tercapainya status gizi yang baik sehingga akan memperlancar penerapan Program Wajib Belajar 9 Tahun sesuai dengan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Rencana aksi ini mengacu pada RPJM 2004-2009. setiap kegiatan akan dapat dijabarkan oleh pemerintah provinsi. Indikator yang terdapat dalam RANPG ini akan menjadi dasar bagi pemantauan dan evaluasi program serta perkembangan status pangan dan gizi baik pada tingkat rumah tangga. Kemudian pada Bab IV diuraikan isu strategis pembangunan pangan dan gizi dan tujuan yang akan dicapai melalui RANPG 2006-2010. serta dokumen-dokumen kebijakan pembangunan nasional lain di bidang pangan dan gizi2. khususnya yang terkait dengan empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu: akses terhadap pangan. sasaran dan strategi penguatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi periode 2006-2010. Selain itu. Dengan demikian. keamanan pangan. wilayah kabupaten/kota. Meningkatkan pemahaman pentingnya peran pembangunan pangan dan gizi sebagai investasi untuk mewujudkan SDM Indonesia berkualitas. provinsi. Meningkatkan koordinasi penanganan masalah pangan dan gizi secara terpadu. pada bab ini dijabarkan pula kebijakan. C. indikator. status gizi. maupun nasional. dan pola hidup sehat. kabupaten/kota serta pengguna lainnya sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing. 3. program dan instansi penanggung jawab. RANPG 2006-2010 3 . kegiatan pokok. keamanan. Dalam bab ini disajikan pula langkah-langkah untuk mengatasi tantangan baru sesuai dinamika yang terjadi pada tingkat nasional dan global. Meningkatkan kemampuan menganalisis perkembangan situasi pangan dan gizi di setiap wilayah agar: (i) mampu menetapkan prioritas penanganan masalah pangan dan gizi. (iii) mampu membangun dan memfungsikan lembaga pangan dan gizi. strategi. yang diuraikan lebih lanjut pada Bab V dalam bentuk matriks rencana aksi yang mencakup kebijakan. (ii) mampu memilih intervensi yang tepat dan cost effective sesuai kebutuhan lokal. 2.Tujuan Khusus: 1. Dokumen rencana aksi ini diawali dengan uraian mengenai peran pangan dan gizi sebagai investasi pembangunan yang disajikan pada Bab II. Pada Bab III dijabarkan analisis situasi pangan dan gizi lima tahun lalu sebagai cerminan hasil pelaksanaan RANPG 2001-2005 dan sasaran yang belum sepenuhnya tercapai yang masih relevan untuk dilanjutkan dalam RANPG 2006-2010. dan (iv) mampu memantau dan mengevaluasi pembangunan pangan dan gizi. dan kualitas gizi yang seimbang di tingkat rumah tangga. yang tercermin pada tercukupinya kebutuhan pangan baik jumlah. komitmen pencapaian MDGs. RUANG LINGKUP Rencana Aksi ini meliputi strategi dan langkah konkrit yang akan dilakukan dalam perbaikan pangan dan gizi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan status gizi masyarakat.

Proses penyusunan melibatkan konsultasi dengan para pakar. gizi dan kesehatan. RANPG 2006-2010 4 . strategi dan rencana aksi untuk masing-masing pilar.D. Selanjutnya. LSM dan organisasi profesi. Jabaran rencana aksi atas empat konsep pilar pembangunan pangan dan gizi tersebut kemudian dituangkan secara terpadu dalam RANPG 2006-2010. yang memiliki tanggung jawab melakukan upaya perbaikan pangan. India tahun 2005 sebagai acuan. termasuk pemerintah dan masyarakat. dibentuk Kelompok Kerja yang secara paralel melakukan analisis dan diskusi untuk menyusun kebijakan. E. Dokumen RANPG disusun sebagai acuan pelaksanaan program ketahanan pangan dan perbaikan gizi bagi semua pihak. PROSES PENYUSUNAN Penyusunan RANPG diawali dengan pertemuan lintas sektor yang menyepakati empat pilar pembangunan pangan dan gizi hasil WHO-FAO Inter-country Workshop for Updating and Implementing Inter-sectoral Food and Nutrition Plans and Policies di Hyderabad. pelaku usaha dan pemangku kepentingan lain dari perguruan tinggi. PENGGUNA RANPG ini merupakan dokumen operasional yang secara terpadu menyatukan pembangunan pangan dan gizi dalam rangka mewujudkan SDM berkualitas sebagai modal sosial pembangunan bangsa dan negara.

Implikasi dari masalah gizi pada kedua kelompok tersebut sangat luas. Kurang zat besi (anemia gizi besi) pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko kematian waktu melahirkan. Ukuran kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). yang dapat diindikasikan dari status gizi anak balita dan wanita hamil. Bali. sehingga secara RANPG 2006-2010 5 .BAB II. seperti Malaysia pada urutan ke-56. Singapura 22. Thailand 67. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Pembangunan suatu bangsa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap warga negara. meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi. pendidikan dan kesehatan. kecuali di Provinsi Sumatera Barat. Hal ini berakibat pada kekurangan gizi. sedangkan ukuran kesejahteraan masyarakat antara lain dapat dilihat pada tingkat kemiskinan dan status gizi masyarakat. antara lain: a. Hal ini ditunjukkan oleh posisi IPM Indonesia yang berada pada urutan ke-108 dari 177 negara. Pada tahun 2006 tingkat kemiskinan di Indonesia masih mencapai 17. Kualitas SDM Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain. BBLR dapat meningkatkan angka kematian bayi dan balita. Peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas sumberdaya manusianya. dan berdampak buruk pada pertumbuhan sel-sel otak anak. Gangguan kurang yodium pada saat janin atau gagal dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. Tingginya prevalensi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) akibat tingginya prevalensi Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. dan Nusa Tenggara Barat. dan Brunai 25. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A. IPM merupakan ukuran agregat yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi. b. gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak. baik zat gizi makro maupun mikro. Posisi IPM negara ASEAN lainnya lebih baik dibanding Indonesia. lebih dari 10 persen penduduk di setiap provinsi mengalami rawan pangan. Anak bergizi buruk (pendek/stunted) mempunyai resiko kehilangan IQ 10-15 poin.8 persen yang berarti sekitar 40 juta jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan. Filipina 77. Persentase penduduk miskin juga menjadi faktor penting penentu IPM. serta penurunan kecerdasan. Salah satu akibat kemiskinan adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jumlah dan kualitas yang baik.

meningkatkan resiko kebutaan. Hal penting yang juga dilakukan adalah upaya peningkatan pendapatan masyarakat. Selanjutnya sesuai Bank Dunia (2006). Efisiensi sistem distribusi pangan terus ditingkatkan agar harga pangan terjangkau oleh masyarakat. terutama petani dan masyarakat perdesaan yang tingkat kemiskinannnya tinggi sehingga daya beli dan kemampuan mereka untuk mengakses pangan semakin meningkat. Pemerintah selalu menempatkan ketahanan pangan dalam program pembangunan.konsisten dapat mengurangi kecerdasan anak. B. perbaikan gizi memiliki keuntungan ekonomi RANPG 2006-2010 6 . pangan lokal juga terus dikembangkan mengingat beragamnya pola pangan dan wilayah kepulauan yang dimiliki Indonesia untuk membantu daerah-daerah rawan pangan dan daerah-daerah yang jauh dari jangkauan distribusi nasional. Meluasnya kekurangan gizi pada anak balita dan wanita hamil akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga maupun pemerintah untuk biaya kesehatan karena banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat kurang gizi. Dalam jangka pendek. hal ini juga menyebabkan menurunnya produktivitas. Indonesia akan sulit meningkatkan IPM. Dari uraian di atas tampak bahwa ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas. Pada orang dewasa dapat menurunkan produktivitas sebesar 20-30 persen. Selain itu. Setidaknya ada tiga alasan suatu negara perlu melakukan intervensi di bidang gizi. Pertama.7 Tahun 1996. jalan produksi. Kurang vitamin A pada anak balita dapat menurunkan daya tahan tubuh. INVESTASI PANGAN DAN GIZI DALAM PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA Kecukupan pangan dalam jumlah dan mutu yang baik di tingkat rumah tangga merupakan mandat untuk mewujudkan ketahanan pangan sesuai Undang-undang No. d. Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi “kehilangan generasi” yang dapat mengganggu kelangsungan kepentingan bangsa dan negara. Investasi besar pada pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi. c. Berbagai program pemerintah untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan secara kontinyu melalui penghimpunan stok yang mencukupi masih terus dilakukan. Bantuan dan subsidi pangan juga diberikan pada rumah tangga miskin yang tidak dapat menjangkau harga pangan yang terjadi di pasar. dan meningkatkan resiko kematian akibat infeksi. perbaikan gizi merupakan suatu investasi yang sangat menguntungkan. serta peningkatan produksi pupuk dilakukan untuk mendukung produksi pangan dalam negeri. Di samping itu.

Behman. dan ketiga. khususnya intervensi melalui program suplementasi dan fortifikasi zat gizi mikro (memperbaiki kekurangan zat besi. serta analisis ekonomi terhadap keuntungan investasi gizi. yodium. dan pengurangan biaya pengobatan. penurunan produktivitas perorangan diperkirakan lebih dari 10 persen dari potensi pendapatan seumur hidup. jembatan dan transportasi. penanggulangan malaria dan HIV. Sampai 1970-an banyak ahli ekonomi dan ahli perencanaan pembangunan. intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi. pengurangan hari sakit. vitamin A. dan secara agregat menyebabkan kehilangan PDB antara 2-3 persen. PDB per kapita negara ini relatif lebih rendah dibanding negara-negara Asia lainnya namun memiliki prevalensi balita gizi kurang paling rendah. Demikian halnya dengan Cina. diketahui bahwa perbaikan gizi dapat dilakukan tanpa harus menunggu tercapainya tingkat perbaikan ekonomi tertentu. Konsensus ini menilai bahwa perbaikan gizi. Beberapa negara dengan PDB yang sama ternyata mempunyai angka prevalensi gizi-kurang pada anak balita yang berbeda-beda. mengartikan investasi dalam arti sempit. Pada kondisi gizi buruk. Zimbabwe yang memiliki PDB lebih rendah dari Namibia ternyata memiliki status gizi anak balita yang lebih baik. dan seng) memiliki keuntungan ekonomi yang sama tingginya dengan investasi di bidang liberalisasi perdagangan. Dari analisis hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. serta air bersih dan sanitasi. khususnya program suplementasi dan fortifikasi adalah sangat tinggi. Titik berat investasi adalah untuk membangun prasarana ekonomi seperti jalan. kedua.(economic returns) yang tinggi. Investasi pembangunan ekonomi lebih diartikan sebagai penanaman modal untuk membangun industri barang dan jasa dalam rangka menciptakan lapangan kerja. Konferensi para ekonom di Copenhagen tahun 2005 (Konsensus Copenhagen) menyatakan bahwa intervensi gizi menghasilkan keuntungan ekonomi tinggi dan merupakan salah satu yang terbaik dari 17 alternatif investasi pembangunan lainnya. Alderman dan Hoddinot (2004) dalam Bank Dunia (2006) mengungkapkan bahwa Rasio Manfaat-Biaya (benefit-cost ratio/BC-Ratio) berbagai program gizi. berkisar antara 4 hingga 520 (Tabel 1). Studi yang dilakukan IFPRI di 15 negara menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan sebesar 5 persen per tahun saja tanpa didukung perbaikan infrastruktur penunjang seperti akses air bersih dan program-program gizi ternyata tidak mampu membawa negara-negara tersebut untuk mengurangi setengah masalah gizi kurangnya pada tahun 2020. kesehatan dan pendidikan sebagai bagian suatu investasi ekonomi. termasuk Bank Dunia. Selama ini para ahli ekonomi berpendapat bahwa investasi ekonomi merupakan prasyarat utama untuk memperbaiki keadaan gizi masyarakat. Pada waktu itu jarang sekali para perencana pembangunan memasukkan perbaikan gizi. RANPG 2006-2010 7 . Perkembangan iptek pada dasawarsa terakhir memungkinkan perbaikan gizi dengan lebih cepat tanpa harus menunggu perbaikan ekonomi. perbaikan gizi membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja.

Keterkaitan upaya perbaikan gizi dengan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB. 1978 Zaire.Memasuki periode 1990-an keadaan ini mulai berubah. melindungi kesehatannya. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy.46-0.7 Intervensi Pangan dan Gizi Di Masyarakat 1. dan meletakkan fondasi untuk masa depan produktivitas anak.0 15-520 4 -50. 2004 Indonesia. 2004 Peru.10 14. and Hoddinott (2004) dalam Bank Dunia (2006) RANPG 2006-2010 8 .01 Masyarakat Sebagai Bagian Dari Pelayanan Kesehatan Dasar 3. Subsidi Pangan * 2. Suplementasi Tablet Besi Pada Ibu 2. Suplementasi Vitamin A pada balita 0.Suntikan Iodium 0.9 2. Fortifikasi Besi Pada Pangan Pokok (Terigu) Pemberian Makanan Tambahan 17.10 0.14 0. Perubahan kebijakan pinjaman Bank Dunia dan perhatian PBB terhadap pembangunan perbaikan gizi dibuktikan dengan meningkatnya alokasi pinjaman Bank Tabel 1.80 15.0 24.1 1.04 8. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Pangan dan Gizi Biaya Per Unit Dan Lokasi Jenis Intervensi Biaya per Unit (US$/target) Negara & Tahun Kajian Indonesia.0 16. Investasi di bidang ini menjadi salah satu prioritas Bank Dunia dalam pemberian pinjaman kepada negara berkembang. Program Pelayanan Anak Terpadu Intervensi Zat Gizi Mikro 6. Promosi ASI di rumah sakit 5. 2004 Indonesia. Fortifikasi Besi Pada Gula 0. Alderman.3 5-67 9-16 28. yang menyatakan bahwa gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak. 1987 Guatemala.37 4. PMT Pada Anak Balita 3. 2004 Manfaat Ekonomi Per 1 US$ Investasi (BC-Ratio) 0. Kofi Annan. Iodisasi Garam 0.49 0.68 11. 1986 India. Suplementasi Iodium pada Wanita 10. meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. 1976 Tidak Disebut. Iodinasi Air 0. Pada 1992 Bank Dunia menyatakan bahwa perbaikan gizi merupakan suatu investasi pembangunan. Fortifikasi Besi Pada Garam 0.44 Hamil 13. Pendidikan Gizi 0. 1986 Italia.6 32.04 9. Direktorat Gizi dan Bank Dunia (Diolah dari berbagai sumber).21 7. Programs and Prospective Development. 1980 India. Fortifikasi zat besi 16. 1980 Guatemala.65-4. Program Intervensi Gizi Berbasis 8.14 12. 1977 Indonesia. * Behrman. Fortifikasi Vitamin A Pada Gula 0. 1980 Tidak Disebut. 1980 Indonesia.4 Sumber: Soekirman dkk (2003).99 176-200 84.

harus memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang. 1. Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik sehingga berakibat pada gizi buruk. Berbagai faktor penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya gizi kurang digambarkan dalam kerangka pikir UNICEF (1990) (Gambar 1). atau meningkat hampir tiga kali lipat dalam jangka waktu lima tahun. sehingga perlu dipilih intervensi pemerintah yang benar-benar “costeffective”. Oleh karena itu. yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong. dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. yang dilanjutkan dengan tambahan makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun. Data menunjukkan masih rendahnya persentase ibu yang memberikan ASI. alokasi anggaran pembangunan untuk perbaikan gizi di Indonesia juga meningkat secara signifikan dari Rp 61 Milyar pada tahun 2000 menjadi Rp 179 Milyar pada tahun 2005. Sementara Soekirman dkk (2003). Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan. Sebagai contoh. Faktor penyebab langsung yang kedua adalah infeksi yang RANPG 2006-2010 9 . PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI Kerangka Penyebab Masalah Pangan dan Gizi Terdapat dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada anak balita. C. yang pada tingkat makro ditunjukkan oleh tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang mencukupi. Makanan lengkap bergizi seimbang bagi bayi sampai usia enam bulan adalah air susu ibu (ASI). mencegah terjadinya infeksi juga dapat mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk. Meskipun peningkatan anggaran cukup tinggi namun jumlah tersebut dinilai masih belum memadai. Ketersediaan pangan sepanjang waktu. berdasarkan data dari berbagai sumber juga menyajikan informasi tentang unit cost dan costeffectiveness berbagai program gizi hasil studi di berbagai negara (Tabel 1).Dunia untuk proyek-proyek perbaikan gizi di negara berkembang yang meningkat 18 kali lipat dari hanya US$ 50 juta pada 1980-an menjadi US$ 900 juta pada 1990-an. dan MP-ASI yang belum memenuhi gizi seimbang oleh karena berbagai sebab. Faktor penyebab langsung pertama adalah makanan yang dikonsumsi. Konsumsi pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang infeksi. Sejalan dengan itu. Bank Dunia (1996) merekomendasikan bentuk intervensi yang dianggap cost-effective untuk berbagai situasi. dan pada tingkat regional dan lokal ditunjukkan oleh tingkat produksi dan distribusi pangan.

yaitu: (i) ketersediaan dan pola konsumsi pangan dalam rumah tangga. Infeksi ini dapat mengganggu penyerapan asupan gizi sehingga mendorong terjadinya gizi kurang dan gizi buruk. Kedua faktor penyebab langsung tersebut dapat ditimbulkan oleh tiga faktor penyebab tidak langsung. gizi kurang melemahkan daya tahan anak sehingga mudah sakit.Penyebab Langsung Penyebab Tidak Langsung lah berkaitan dengan tingginya prevalensi dan kejadian penyakit infeksi terutama diare. Kedua faktor penyebab langsung gizi kurang itu memerlukan perhatian dalam kebijakan ketahanan pangan dan program perbaikan gizi serta peningkatan kesehatan masyarakat. (ii) pola pengasuhan anak. demam berdarah dan HIV/AIDS. Sebaliknya. dan (iii) jangkauan dan mutu pelayanan RANPG 2006-2010 10 . ISPA. malaria. TBC.

dapat berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat yang antara lain tercermin pada maraknya masalah gizi kurang dan gizi buruk di masyarakat. Dengan asupan makanan yang tidak mencukupi. baik akses pangan karena masalah ketersediaan maupun tingkat pendapatan yang mempengaruhi daya beli rumah tangga terhadap pangan. kemiskinan dinilai memiliki peranan penting dan bersifat timbal balik. serta kelembagaan sosial masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan. Kemiskinan dan Masalah Gizi Dari berbagai faktor penyebab masalah gizi. Namun demikian. artinya kemiskinan akan menyebabkan kurang gizi dan individu yang kurang gizi akan berakibat atau melahirkan kemiskinan. Apabila kondisi ketiganya kurang baik menyebabkan gizi kurang. 2. RANPG 2006-2010 11 . informasi. kurang gizi secara tidak langsung menurunkan kemampuan fungsi kognitif dan berakibat pada rendahnya tingkat pendidikan. Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 2) . banyaknya anak justru mengakibatkan besarnya beban anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga miskin. Ketiganya dapat berpengaruh pada kualitas konsumsi makanan anak dan frekuensi penyakit infeksi. termasuk anak balitanya menjadi lebih rentan terhadap infeksi sehingga sering menderita sakit. Pola asuh. pelayanan keluarga berencana. politik dan sosial yang harus dapat menurunkan tingkat kemiskinan setiap rumah tangga untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan dan gizi serta memberikan akses kepada pendidikan dan pelayanan kesehatan. Pertama. pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan dipengaruhi oleh pendidikan. Kedua. Masalah kurang gizi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mendorong proses pemiskinan melalui tiga cara. anggota rumah tangga. kurang gizi secara langsung menyebabkan hilangnya produktivitas karena kelemahan fisik. politik dan sosial. pelayanan kesehatan. Tingkat dan kualitas konsumsi makanan anggota rumah tangga miskin tidak memenuhi kecukupan gizi sesuai kebutuhan. Keluarga miskin juga ditandai dengan tingkat kehamilan tinggi karena kurangnya pengetahuan tentang keluarga berencana dan adanya anggapan bahwa anak dapat menjadi tenaga kerja yang memberi tambahan pendapatan keluarga. Keluarga miskin dicerminkan oleh profesi/mata pencaharian yang biasanya adalah buruh/pekerja kasar yang berpendidikan rendah sehingga tingkat pengetahuan pangan dan pola asuh keluarga juga kurang berkualitas. Ketidakstabilan ekonomi. Rendahnya kualitas konsumsi pangan dipengaruhi oleh kurangnya akses rumah tangga dan masyarakat terhadap pangan. Ketiga.kesehatan masyarakat. kurang gizi dapat menurunkan tingkat ekonomi keluarga karena meningkatnya pengeluaran untuk berobat. Upaya mengatasi masalah ini bertumpu pada pembangunan ekonomi.

Pendapat ini tidak seluruhnya benar. Secara empirik sudah dibuktikan bahwa mencegah dan menanggulangi masalah gizi kurang tidak harus menunggu sampai masalah kemiskinan dituntaskan. produktivitas masyarakat miskin dapat ditingkatkan sebagai modal untuk memperbaiki ekonominya dan mengentaskan diri dari lingkaran kemiskinan.kemiskinan. Perlu disadari bahwa investasi pembangunan di bidang gizi tidak mudah dan tidak cepat. Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi RANPG 2006-2010 12 . kedua hal ini pun menyebabkan kemiskinan pada individu tersebut. akan semakin berkurang jumlah rakyat miskin. Banyak cara memperbaiki gizi masyarakat dapat dilakukan justru pada saat masih miskin.Keseluruhan faktor ini dapat menyebabkan kekurangan gizi pada setiap anggota rumah tangga miskin yang dapat berakibat pada: (i) menurunnya produktivitas individu karena kondisi fisik yang buruk serta tingkat kecerdasan dan pendidikan yang rendah. Sebaliknya.kekurangan gizi . sebagaimana KEMISKINAN Gambar 2. Dengan diperbaiki gizinya. (ii) tingginya pengeluaran untuk memelihara kesehatan karena sering sakit. Adanya hubungan kemiskinan dan kekurangan gizi sering diartikan bahwa upaya penanggulangan masalah kekurangan gizi hanya dapat dilaksanakan dengan efektif apabila keadaan ekonomi membaik dan kemiskinanan dapat dikurangi. Semakin banyak rakyat miskin yang diperbaiki gizinya.

pendidikan terutama pendidikan perempuan. pemeriksaan kehamilan. distribusi. dan penyediaan pangan ditingkat makro 13 RANPG 2006-2010 . dan seperlima dari kaum miskin tersebut adalah para buruh tani yang tidak mampu memproduksi bahan pangan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. serta pelayanan kesehatan lainnya di Puskesmas. pertolongan persalinan. Banyak intervensi gizi telah dilakukan dengan sasaran utama masyarakat miskin dan gizi kurang. intervensi gizi untuk orang miskin akan mempunyai daya ungkit yang besar dalam meningkatkan kesehatan. Data tersebut tidak jauh berbeda dengan data di tingkat dunia. Di samping itu juga mendapatkan suplemen berupa: zat besi untuk ibu hamil. Secara terintegrasi intervensi gizi tersebut ditunjang dengan pelayanan kesehatan dasar seperti imunisasi. serta perkembangan penyakit dan status gizi anak dan ibu hamil yang dikenal sebagai Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Dari jumlah penduduk miskin tersebut. (iii) konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi seimbang. Makanan Pendamping – Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk anak 6 . dan makanan untuk ibu hamil yang kurus. yaitu: (i) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh penduduk.8 persen atau sekitar 40 juta jiwa. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI Sistem ketahanan pangan dan gizi secara komprehensif meliputi empat subsistem. dilakukan pemantauan terus menerus terhadap situasi pangan masyarakat dan rumah tangga. Apabila dipadukan dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. kecerdasan. Vitamin A untuk anak balita dan ibu nifas.24 bulan. dan layanan penimbangan berat badan bayi dan anak secara teratur setiap bulan di Posyandu. sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya menyangkut soal produksi. Upaya tersebut dapat meningkatkan akses rumah tangga miskin kepada pangan yang bergizi seimbang. Kelompok miskin inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian dalam pembangunan di bidang ketahanan pangan dan perbaikan gizi. yaitu setengah dari kelompok miskin ini adalah petani kecil. dan ibu hamil. Perbaikan gizi memerlukan konsistensi dan kesinambungan program dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian. D. terutama anak-anak. yang berdampak pada (iv) status gizi masyarakat (Gambar 3). dan umumnya bekerja pada sektor pertanian atau berbasis pertanian. Wanita Usia Subur (WUS). Pada tahun 2006. dan produktivitas. (ii) distribusi pangan yang lancar dan merata. sekitar 68 persen tinggal di pedesaan. tingkat kemiskinan penduduk di Indonesia sekitar 17. Mereka mendapatkan pendidikan dan penyuluhan gizi seimbang.membangun gedung dan prasarana fisik. penyuluhan tentang pengasuhan bayi dan kebersihan. Untuk mengantisipasi terjadinya fluktuasi ketahanan pangan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan kerawanan pangan. air bersih. termasuk pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. dan sarana kebersihan lingkungan.

Konsep ketahanan pangan yang luas bertolak pada tujuan akhir dari ketahanan pangan yaitu tingkat kesejahteraan manusia. tetapi juga menyangkut aspek mikro. Seperti banyak diketahui. MDGs menggunakan pendekatan dampak bukan masukan.(nasional dan regional). yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga. tetapi menurunkan kemiskinan dan kelaparan sebagai indikator kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu. Meskipun secara konseptual pengertian ketahanan pangan meliputi aspek mikro. ketersediaan pangan yang melimpah melebihi kebutuhan pangan penduduk tidak menjamin bahwa seluruh penduduk terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. sasaran pertama Millenium Development Goals (MDGs) bukanlah tercapainya produksi atau penyediaan pangan. Konsep ketahanan pangan yang sempit meninjau sistem ketahanan pangan dari aspek masukan yaitu produksi dan penyediaan pangan. yaitu jumlah konsumsi energi (kalori) rata-rata anggota rumah tangga di bawah Gambar 3. baik secara nasional maupun global. United Nation Development Programme (UNDP) sebagai lembaga PBB yang berkompeten memantau pelaksanaan MDGs telah menetapkan dua ukuran kelaparan. Agar aspek mikro tidak terabaikan. terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin. maka dalam dokumen ini digunakan istilah ketahanan pangan dan gizi. Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi RANPG 2006-2010 14 . namun dalam pelaksanaan sehari-hari masih sering ditekankan pada aspek makro yaitu ketersediaan pangan.

kesehatan. E. varietas singkong yang mengandung karoten dan sebagainya. Pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasi masalah gizi secara tuntas dan berkelanjutan. analisis situasi ketahanan pangan harus dimulai dari evaluasi status gizi masyarakat diikuti dengan tingkat konsumsi. Kebijakan yang meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan. (iii) Pemberian makanan. fortifikasi terigu dengan zat besi. (iv) fortifikasi bahan pangan seperti fortifikasi garam dengan yodium. pendidikan.kebutuhan hidup sehat dan proporsi anak balita yang menderita gizi kurang. Strategi Jangka Pendek Kebijakan yang mendorong ketersediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan gizi dan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang dilaksanakan 1970 sampai 1990-an. Cina dan Malaysia. pangan dan gizi. seperti Thailand. meliputi: (i) Bantuan Langsung Tunai (BLT) bersyarat bagi keluarga miskin. tidak menjamin masyarakat terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. (ii) Kredit mikro untuk pengusaha kecil dan menengah. bukan sebaliknya. (iii) bantuan pangan kepada anak kurang gizi dari keluarga miskin. khususnya pada waktu RANPG 2006-2010 15 . vitamin B1 dan B2. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa MDGs lebih menekankan dampak daripada masukan. 2006). asam folat. 1. dan (v) biofortifikasi. dan keluarga berencana yang saling terkait dan terintegrasi untuk meningkatkan status gizi masyarakat (World Bank. seng. kapsul Vitamin A kepada anak balita dan ibu nifas. Oleh karena itu. menunjukkan perlunya strategi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. produksi dan persediaan pangan yang melebihi kebutuhannya. (ii) pemberian suplemen zat gizi mikro seperti tablet zat besi kepada ibu hamil. suatu teknologi budidaya tanaman pangan yang dapat menemukan varietas padi yang mengandung kadar zat besi tinggi dengan nilai biologi tinggi pula. TINJAUAN STRATEGI PERBAIKAN PANGAN DAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG TA JALAN Masalah gizi kurang maupun gizi lebih tidak dapat ditangani hanya dengan kebijakan dan program jangka pendek sektoral yang tidak terintegrasi. penimbangan anak balita di Posyandu yang dicatat dalam KMS. Keadaan ini secara tidak langsung menggambarkan akses pangan dan pelayanan sosial yang merata dan cukup baik. persediaan dan produksi pangan. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pembangunan bidang ekonomi. Status gizi masyarakat yang baik ditunjukkan oleh keadaan tidak adanya masyarakat yang menderita kelaparan dan gizi kurang. Sebaliknya.

darurat; (iv) Pemberian suplemen zat gizi mikro, khususnya zat besi, Vitamin A dan zat yodium; (v) Bantuan pangan langsung kepada keluarga miskin; dan (vi) Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan dengan harga subsidi, seperti beras untuk orang miskin (Raskin) dan MP-ASI untuk balita keluarga miskin. Kebijakan yang mendorong perubahan ke arah perilaku hidup sehat dan sadar gizi dilakukan melalui pendidikan gizi dan kesehatan. Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga khususnya kaum perempuan tentang gizi seimbang, termasuk pentingnya ASI eksklusif, MP-ASI yang baik dan benar; memantau berat badan bayi dan anak sampai usia 2 tahun; pengasuhan bayi dan anak yang baik dan benar: air bersih dan kebersihan diri serta lingkungan; dan pola hidup sehat lainnya seperti berolah raga, tidak merokok, makan sayur dan buah setiap hari. 2. Strategi Jangka Panjang

Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan kesehatan dasar termasuk keluarga berencana dan pemberantasan penyakit menular; (ii) Penyediaan air bersih dan sanitasi; (iii) Kebijakan pengaturan pemasaran susu formula; (iv) Kebijakan pertanian pangan untuk menjamin ketahanan pangan ditingkat keluarga dan perorangan, dengan persediaan dan akses pangan yang cukup, bergizi seimbang, dan aman, termasuk komoditi sayuran dan buah-buahan; (v) Kebijakan pengembangan industri pangan yang mendorong pemasaran produk industri pangan yang sehat dan menghambat pemasaran produk industri pangan yang tidak sehat; dan (vi) Memperbanyak fasilitas olah raga bagi masyarakat. Kebijakan yang mendorong terpenuhinya permintaan atau kebutuhan pangan dan gizi, seperti: (i) Pembangunan ekonomi yang meningkatkan pendapatan rakyat miskin; (ii) Pembangunan ekonomi dan sosial yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat miskin; (iii) Pembangunan yang menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran; (iv) Kebijakan fiskal dan harga pangan yang meningkatkan daya beli masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi seimbang; dan (v) Pengaturan pemasaran pangan yang tidak sehat dan tidak aman. Kebijakan yang mendorong perubahan perilaku yang mendorong hidup sehat dan gizi baik bagi anggota keluarga: (i) Meningkatkan kesetaraan gender; (ii) Mengurangi beban kerja wanita terutama pada waktu hamil; dan (iii) Meningkatkan pendidikan wanita baik pendidikan sekolah maupun di luar sekolah.

RANPG 2006-2010

16

BAB III. ANALISIS SITUASI PANGAN DAN GIZI

A.

STATUS GIZI MASYARAKAT

Salah satu tolok ukur status gizi seseorang adalah ukuran berat badan dan tinggi badan menurut umur. Tolok ukur ini juga dapat mencerminkan kondisi gizi masyarakat. Selain itu, keadaan gizi masyarakat juga dapat ditunjukkan oleh data Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), dan gangguan pertumbuhan. Uraian berikut menyajikan analisis masalah gizi sesuai siklus kehidupan, dimulai dari bayi, anak balita, anak usia sekolah hingga usia produktif.

1.

Gizi Bayi dan Balita

Kondisi gizi bayi dapat ditunjukkan dengan BBLR. Kejadian BBLR ini erat kaitannya dengan kondisi gizi kurang pada masa sebelum dan selama kehamilan dan berpengaruh pada angka kematian bayi. Indonesia belum mempunyai data BBLR yang diperoleh melalui survei nasional. Selama ini, angka BBLR merupakan estimasi yang sifatnya sangat kasar yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) serta dari berbagai studi. Hasil SDKI dan berbagai studi tersebut menunjukkan bahwa selama periode 1986-19993 proporsi BBLR berkisar antara 7–16 persen. Setiap tahun diperkirakan sebanyak 355-710 ribu dari lima juta bayi lahir dengan kondisi BBLR. Kondisi gizi balita secara umum mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi gizi kurang. Pada tahun 1978-1998, prevalensi gizi kurang balita menurun dari 46,3 persen menjadi 37,5 persen atau rata-rata 0,85 persen per tahun. Prevalensi ini terus menurun menjadi 28,0 persen pada tahun 2005. Masalah gizi kurang pada balita ditunjukkan oleh tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting < -2SD). Dari beberapa survei, prevalensi anak balita stunting sekitar 40 persen (Tabel 2). Tinggi badan rata-rata anak balita ini umumnya mendekati kondisi normal hanya sampai 5 - 6 bulan, setelah usia enam bulan rata-rata tinggi badan anak balita lebih rendah dari kondisi normal. Pada tahun 1995 prevalensi stunting pada anak laki-laki menurut survei SKIA adalah 46,5 persen. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi anak perempuan

RANPG 2006-2010

17

Tabel 2.

Prevalensi Pendek/Stunting Anak Balita < - 2SD dari Berbagai Jenis Survei Survei Stunting < - 2SD 41,4 44,5 45,9 43,8 36,3

Suvita (Survei Nasional Vit. A), Tahun 1992 (15 Provinsi) IBT (Indonesia Bagian Timur), Tahun 1991 (4 Provinsi) SKIA (Survei Kesehatan Ibu dan Anak),Tahun 1995 Nasional JPS (Jaring Pengaman Sosial) Survei masalah gizi di 7 Provinsi (Puslitbang gizi 2006)

sebesar 45,2 persen. Berdasarkan survey NSS prevalensi anak laki-laki dan perempuan baik di perdesaan dan perkotaan sebesar 45,6 persen. Pada tahun 1992, Indonesia telah dinyatakan bebas dari xeropthalmia, namun masih dijumpai 50 persen balita mempunyai serum retinol kurang dari 20 µg/100 ml, sebagai pertanda Kurang Vitamin A Sub-Klinik. Kejadian tersebut diduga diakibatkan kurang berhasilnya penyuluhan untuk mengkonsumsi sumber vitamin A alami (SUVITAL) dan rendahnya cakupan distribusi kapsul Vitamin A (< 80 persen). Pada tahun 2000, dilaporkan dari Nusa Tenggara Barat adanya kasus baru xerophthalmia. Hal serupa bisa terjadi di provinsi lain jika cakupan distribusi kapsul Vitamin A di wilayah tersebut kurang dari 80 persen. Berdasarkan SKRT 2001, prevalensi anemia anak balita masih cukup tinggi. Semakin muda usia bayi semakin tinggi prevalensinya; pada bayi kurang dari 6 bulan (61,3 persen), bayi 6-11 bulan (64,8 persen), dan anak usia 12-23 bulan (58 persen). Selanjutnya prevalensi menurun untuk anak usia 2 - 5 tahun (Gambar 4). 2. Gizi Anak Usia Sekolah

Gangguan pertumbuhan dari usia balita berlanjut pada saat anak masuk sekolah. Selama kurun waktu lima tahun terjadi peningkatan status gizi anak sekolah yang diukur dengan tinggi badan menurut umur (TB/U). Pada tahun 1994 jumlah anak sekolah yang pendek sekitar 40 persen dan turun menjadi 36,4 persen pada tahun 1999. Masalah gizi lain yang juga menjadi masalah pada usia sekolah adalah adanya gangguan pertumbuhan. Anak usia sekolah juga mengalami GAKY, walaupun prevalensinya telah menurun secara berarti. Pada tahun 1980, prevalensi GAKY pada anak usia sekolah yang diukur dengan pembesaran kelenjar gondok (Total Goiter Rate/TGR) adalah 30 persen. Angka ini menurun menjadi 27,9 persen pada tahun 1990,

RANPG 2006-2010

18

100,0 80,0 Persen 60,0 40,0 20,0 0,0 % Anemia

< 6 bln 61,3

6-11 bln 64,8

12-23 bln 58,0

24-35 bln 45,1

36-47 bln 38,6

48-59 bln 32,1

Gambar 4. Prevalensi Anemia pada Anak Balita (SKRT 2001) dan menjadi 11,1 persen pada tahun 2003. Walaupun prevalensi GAKY pada anak sekolah telah menurun, ternyata masih terdapat 14 kabupaten yang tergolong daerah endemik berat. Gambaran klasifikasi kabupaten menurut endemisitas GAKY dapat dilihat pada Tabel 3. Secara internasional, perhitungan proporsi penduduk yang menderita gondok sebagai indikator GAKY sudah tidak dianjurkan lagi karena secara statistik dianggap kurang sahih. Di samping itu, indikator tersebut baru timbul pada tingkat akhir sebagai akumulasi terjadinya kekurangan yodium untuk waktu lama sehingga dianggap terlambat jika dipakai sebagai dasar tindak pencegahan. Indikator GAKY yang dianjurkan WHO adalah (i) kadar yodium dalam urine (EYU= Eksresi Yodium Urine), yaitu proporsi EYU dibawah 100 µg/L harus kurang dari 50 persen dan proporsi EYU dibawah 50 µg/L harus kurang dari 20 persen; dan (ii) konsumsi garam beryodium oleh rumah tangga, yaitu 90 persen rumah tangga menggunakan garam mengandung cukup

Tabel 3. Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003
Klasifikasi kabupaten menurut TGR tahun 1998 Non Endemik Non Endemik Klasifikasi kab Endemik Ringan menurut TGR tahun 2003 Endemik Sedang Endemik Berat Total kabupaten Total Endemik RinganEndemik SedangEndemik Berat kabupaten

86 28 5 3 122

26 52 18 8 104 150 68 50

2 13 7 6 28

1 3 5 5 14

115 96 35 22 268

Tidak berubah Memburuk Membaik

Sumber: National IDD Survey 1998, and National IDD Evaluation Survey 2003

RANPG 2006-2010

19

7 persen dari proporsi 100 µg/L.5 cm) 1999-2003 RANPG 2006-2010 20 .5 persen di tahun 2002 menjadi 72.9 µg/L. WUS dengan resiko KEK mempunyai resiko melahirkan bayi BBLR (Gambar 5). yang dapat diukur dengan Lingkar Lengan Atas kurang dari 23. Secara nasional. pada kelompok usia produktif juga terdapat masalah kegemukan (IMT>25) dan obesitas (IMT>27).7 persen pada 2003.5 cm (LILA < 23. saat tingkat kekurangan yodium masih ringan. Berdasarkan hasil survei Puslitbang Gizi tahun 2006. kedua indikator itu dapat digunakan sebagai dasar tindak pencegahan sebelum timbul gondok atau akibat lain yang lebih parah seperti kerdil dan cacat mental.5 cm). cakupan konsumsi garam beryodium secara nasional meningkat dari 68. Kedua indikator tersebut sudah dapat dilihat pada tahap awal.5 cm) cm) 50% 1999 40% 2000 2001 30% 2002 2003 20% 10% 0% 15-19 20-24 25-29 30-34 Umur (tahun) 35-39 40-44 45-49 Gambar 5.5 cm menurun dari 24. Kekurangan yodium tingkat awal pada anak terbukti dapat menurunkan kecerdasan atau IQ. Anak yang kekurangan yodium memiliki IQ 1015 poin lebih rendah dari anak sehat. Oleh karena itu.8 persen di tahun 2005 (Susenas 2005). Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi terjadinya GAKY pada masyarakat. Selain KEK. Kedua masalah gizi ini juga terjadi di wilayah kumuh % WUS (LILA<23. Pada tahun 2003 median EYU anak sekolah di Indonesia adalah 22.yodium. Proporsi WUS Beresiko KEK (LILA < 23. 3.9 persen pada 1999 menjadi 16. Pada umumnya WUS kelompok usia muda memiliki prevalensi KEK lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lebih tua. proporsi LILA < 23. sedangkan data proporsi EYU sudah mencapai 16. Ukuran ini merupakan indikator yang menggambarkan resiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Gizi Usia Produktif Masalah gizi kurang juga dapat terjadi pada kelompok usia produktif.

Penelitian skala kecil di Jawa Barat. KONSUMSI PANGAN Tingkat dan Pola Konsumsi Pangan Persyaratan kecukupan untuk mencapai keberlanjutan konsumsi pangan adalah adanya aksesibilitas fisik dan ekonomi terhadap pangan.9 persen. 24. Sedangkan besarnya masalah kurang zat gizi mikro lainnya seperti asam folat. sementara prevalensi kurus antara 10-14 persen. vitamin C. Perkembangan tingkat konsumsi pangan tersebut secara implisit juga merefleksikan tingkat pendapatan atau daya beli masyarakat terhadap pangan. prevalensi kegemukan berkisar 10-21 persen. kalsium. Demikian juga. Nusa Tenggara Barat. konsumsi beras dan jagung menurun. selenium. Jawa Tengah.5 persen dan 40 persen. Sebuah penelitian di Nusa Tenggara Timur (1996) menunjukkan. Dengan demikian data konsumsi pangan secara riil dapat menunjukkan kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan dan menggambarkan tingkat kecukupan pangan dalam rumah tangga. Masalah gizi mikro lain yang perlu mendapat perhatian adalah kurang seng (Zinc) pada ibu hamil. Banten. Sumatera Barat. Konsumsi beras menurun sekitar 6 persen. Masalah gizi juga dapat ditunjukkan oleh prevalensi anemia. B. yang justru lebih besar daripada prevalensi kurus (11-14 persen). sekitar 71 persen wanita hamil menderita kurang seng. Makassar. menunjukkan prevalensi kurang seng pada bayi sekitar 6 sampai 39 persen. Pada tahun 1999. Lampung.perkotaan maupun perdesaan. dan ibu hamil masing-masing sebesar 26. Survei nasional tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada WUS kawin. 1. Semarang. di Jawa Tengah prevalensi kurang seng pada wanita hamil cukup tinggi yaitu antara 70 sampai 90 persen. Kekurangan seng (kandungan seng <7 mg/dl serum darah) dapat menyebabkan tingginya resiko komplikasi kehamilan dan bibir sumbing pada bayi yang dilahirkan. Jawa Timur. Hasil survey NSS-HKI tahun 2001 di empat kota (Jakarta. Jawa Tengah dan NTB (1997-1999). Aksesibilitas ini tercermin dari jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga. sedangkan konsumsi jagung dan ubi kayu sedikit meningkat. WUS tidak kawin. Pada tahun 1999 tingkat konsumsi hampir semua jenis pangan menurun akibat krisis ekonomi yang berlangsung sejak 1997. dan Sulawesi Selatan. dan vitamin B1 sampai kini belum diketahui. Surabaya) menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan pada wanita usia produktif daerah kumuh perkotaan berkisar antara 18-25 persen. sedangkan konsumsi ubi RANPG 2006-2010 21 . di wilayah perdesaan provinsi Jawa Barat. Pada masa pemulihan ekonomi (2002-2005).

3 -15. Kondisi di atas menggambarkan bahwa pada masa krisis.3 -47. 1999.7 Sumber : Susenas 1996.9 7.4 -8.5 105.8 4. masyarakat mengurangi jenis pangan yang harganya mahal dan mensubstitusinya dengan jenis pangan yang relatif murah.4 3.9 13. terutama konsumsi buah dan sayuran yang mencapai lebih dari 20 persen. meskipun konsumsi daging ruminansia belum mencapai tingkat konsumsi sebelum krisis (Tabel 5). 2005 (diolah) Demikian pula pada konsumsi pangan sumber lemak. Konsumsi beras sebagian digantikan dengan jagung dan umbi-umbian.6 5.7 3.2 -31. 2002.4 18.0 4.1 Jagung 3. Dengan daya beli yang menurun.8 14.4 -27. vitamin dan mineral menurun pada masa krisis.8 2005 1.0 2. telur.8 15.9 3.9 Ubikayu 11.7 10. Tabel 5.3 Sumber : Susenas 1996.1999.7 -2. 2002. Sedangkan konsumsi protein hewani dikurangi. susu maupun ikan menurun selama masa krisis. Sedangkan untuk pangan sumber vitamin/mineral telah meningkat di atas lima persen (Tabel 6).1 6. walaupun untuk minyak goreng masih bernilai negatif.0 3.0 3.3 1.5 0. Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Beras 124.6 5.1 1. pemenuhan pangan lebih mengutamakan konsep ’kenyang’ tanpa memperhatikan kandungan gizinya.9 9.5 RANPG 2006-2010 22 .0 6.2 Ubijalar 3.7 13.0 0.4 3.5 17.8 8.9 8. Konsumsi pangan protein tersebut kembali meningkat pada 20022005. peningkatan konsumsi pangan sumber lemak relatif stagnan.6 Laju 1996-1999 (%/th) -23.jalar dan ubi kayu meningkat.5 116.5 Laju 2002-2005 (%/th) 5.3 9.1 16.8 4.5 114. Konsumsi Pangan Sumber Protein (Kg/kap/th) Daging Daging Tahun Telur Susu Ikan ruminansia unggas 1996 3.0 14.2 -6.2 persen (Tabel 4). Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi ubi kayu yang mencapai 17. Kacangkacangan 18.1 2002 1. 2005 (diolah) Konsumsi pangan sumber protein baik daging.6 1.3 16.4 12.0 4. Pada masa pemulihan ekonomi.3 -14.1 1. terjadi penyesuaian strategi pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga. Tabel 4.5 1999 1.1 3. Dengan demikian.

Hal ini erat kaitannya dengan tingkat pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang lebih rendah dibanding dengan negara-negara tersebut diatas.2 kg/kapita/tahun.Tabel 6. 2002. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) tahun 2004 menganjurkan konsumsi energi dan protein penduduk Indonesia masing-masing adalah 2000 kkal/kapita/hari dan 52 gram/kapita/hari.8 -39. Perkembangan menarik dalam konsumsi pangan sumber karbohidrat adalah kecenderungan menurunnya konsumsi beras dan tepung terigu yang merupakan pangan pokok. konsumsi pangan hewani harus terus ditingkatkan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era globalisasi.5 50. 2005 (diolah) Upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah berdampak positif terhadap peningkatan konsumsi pangan masyarakat.2 4.5 40. dan buah-buahan meningkat. Konsumsi pangan hewani. Tingkat konsumsi ini lebih rendah dibanding Malaysia dan Filipina yang masing-masing mencapai 48 kg/kap/tahun dan 18 kg/kapita/tahun. termasuk mie kering.4 3.0 Sumber Vit/Mineral Sayuran 67.7 6.0 8.3 8. Konsumsi Energi dan Protein Tercukupinya kebutuhan pangan antara lain dapat diindikasikan dari pemenuhan kebutuhan energi dan protein. Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Sumber Lemak Minyak Buah/biji goreng berminyak 7. 1999.8 16.6 18. RANPG 2006-2010 23 . sayuran. 2. Saat ini.2 7.7 -24. konsumsi produk olahan terigu seperti mie instant dan aneka kue cenderung meningkat. mie basah.1 2. meskipun tingkat konsumsinya masih tetap tinggi dibanding sumber pangan karbohidrat lainnya.1 0.2 -2.4 -4. Perkembangan menarik lainnya adalah kecenderungan berubahnya pola konsumsi pangan pokok kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Pada saat ini konsumsi pangan hewani penduduk Indonesia baru mencapai 6. Namun demikian.7 3. sehingga arah perubahan pola konsumsi itu dapat menimbulkan ketergantungan pangan pada impor.8 -1. Perubahan ini perlu diwaspadai karena gandum adalah komoditas impor dan belum diproduksi di Indonesia.7 47.9 Buah 24. mie instan (Tabel 7). yang mengarah kepada beras dan bahan pangan berbasis tepung terigu.2 31. terutama di pedesaan.5 Sumber : Susenas 1996.5 27.

999 100.000-79. 2005 (diolah) Keterangan: B = Beras.000 2002 B.000 60.019 kkal /kapita/hari. Tingkat konsumsi protein pada masa krisis mengalami perkembangan yang sama namun setelah masa krisis sudah membaik dan bahkan pada tahun 2005 sudah melebihi tingkat sebelum krisis (Tabel 8). Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menurunkan tingkat konsumsi energi menjadi 1.000-99.999 >500.T B.T B.999 150.T B.UJ B.T B.UK B. UK = Ubi Kayu.T B.UK B.000-499.T B.T B.999 100.T B.T B.T B.UK B.J.T B. Susenas 2002.UK B.UK B.T B.T B.T B.000 60.T B.J.999 >500.J.T B.000-149.T B.T B.5 persen dari tingkat yang dianjurkan.T B.T B.T B.T B.000-99.T.T B.T B.999 300.T B.UK B.T B.T B. sudah lebih tinggi dari yang dianjurkan.UK.T Sumber .UK B.T B.T B.000 60.000 Desa < 60.T B.T B.J. konsumsi energi pada tahun 1996 mencapai 2.999 100.T B.000-199.T B. konsumsi energi masyarakat berangsur pulih. Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Golongan pengeluaran (Rp/kap/bl) Kota+Desa < 60.T B.J.T B.T B.J.T B.T B. Hal ini mengakibatkan tingkat konsumsi energi rata-rata masyarakat secara nasional masih di bawah anjuran.T B.T B.T B. 2004.T B.T B.000-299.T B.T.UK.T 2004 B.T B.000-149.T B.999 150.T B.999 80.T B.999 >500.999 200.J.T B.T. J = Jagung.T B. 2003.000 Kota < 60.999 300.T B.T B.000-499.T B.999 300.000-99.T B B.999 200.T B.Tabel 7.999 80.000-299.T B.T B.T 2005 B.T B.T B.999 200.T B.000-499.T B.J B.T B. RANPG 2006-2010 24 .T B.000-79.T B.T B.000-299.T B.000-199.999 80.000-149.T.T B.UK B.999 150.UK B.T B. meskipun pada masyarakat perkotaan tingkat konsumsinya belum membaik kembali.J.849 kkal /kapita/hari pada tahun 1999 atau hanya mencapai 92.T B. T = terigu Secara agregat.T B.T B.T B.T.000-199.T B.T 2003 B.T B.J. Namun demikian setelah krisis berakhir.T B.T B.T B.T B.T.000-79.T B.T B.

018 1.945 2. Laju peningkatan skor PPH yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan konsumsi energi dan protein mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi pangan. yang menggambarkan pencapaian ragam (diversifikasi) konsumsi pangan. baik pada masa krisis maupun saat ini. Namun demikian.7 54.983 2. serta sayur dan RANPG 2006-2010 25 . konsumsi kelompok pangan lain masih di bawah tingkat anjuran terutama umbi-umbian.986 56.879 1. Semakin besar skor PPH maka kualitas konsumsi pangan dinilai semakin baik.991 56. Kualitas atau mutu konsumsi pangan dilihat dengan menggunakan nilai/skor Pola Pangan Harapan (PPH).5 1999 1. Kualitas Konsumsi Pangan Untuk menganalisis perkembangan konsumsi pangan.3 55.996 55. Uraian Kota Desa Kota+Desa 2 Kota Desa Kota+Desa * Data modul Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) Keterangan : Rekomendasi WNPG 2004 :AKE=2000 kkal/kap/hr dan AKP=52 g/kap/hr 1996 1.9 53.7 2002 1.2 48. Kualitas konsumsi terus meningkat dan pada tahun 2005 mencapai 79.9 53. Kualitas konsumsi pangan (Tabel 9) merupakan perwujudan dari kuantitas dan keragaman konsumsi aktual (Tabel 10).3 55.941 2.7 2005 1.802 1.951 2. pangan hewani.4 55. Nilai/skor mutu PPH ini dapat memberikan informasi mengenai pencapaian kuantitas dan kualitas konsumsi. konsumsi padi-padian aktual sudah lebih dari anjuran.Tabel 8.2 54. Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein Menurut Wilayah No.7 54.040 2. 1.7 54.019 55.849 49. selain diperlukan informasi tentang kuantitas konsumsi pangan perlu pula diketahui tingkat kualitasnya.3 48.1 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 9.3 pada tahun 1999 menjadi 72. dan masih cenderung meningkat. Upaya pemulihan ekonomi telah meningkatkan kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan dengan peningkatan skor PPH dari 66.23 Energi (Kal/kap/hari) Protein(Gram/kap/hari) 3.6 pada tahun 2002 (Tabel 9). Sementara itu.060 1.011 1.0 persen selama 4 tahun.018 1.000 Kkal/kapita/hari.923 2.986 55. Kualitas konsumsi pangan yang dianggap sempurna diberikan pada angka kecukupan gizi dengan skor PPH mencapai 100. Sesuai kondisi ideal (PPH=100) konsumsi padipadian yang dianjurkan adalah sebesar 1.4 2004* 1.0 53.4 2003* 1.

4 72.Tabel 9.1 buah. Selama periode 2001-2005 ketersediaan padi yang berasal dari produksi dalam negeri mengalami peningkatan rata-rata sebesar RANPG 2006-2010 26 .0 76.9 2005 81. Tabel 10.6 Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) *Data Modul 2003* 81.9 75. Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH Wilayah 1999 2002 Kota 68.6 79.9 2005 1241 73 139 199 51 67 99 93 35 1997 79. 1. tingkat PPH baru mencapai skor 79. Oleh karena itu produksi beras menjadi indikator yang sangat penting untuk diperhatikan pencapaiannya. Tingkat konsumsi minyak dan lemak serta gula sudah mendekati tingkat anjuran. Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran dan Aktual Tahun 1999-2005 (kkal/kapita/hari) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok Pangan Padi-padian Umbi-umbian Pangan hewani Minyak+Lemak Buah/biji berminyak Kacang2an Gula Sayur+buah Lain-lain TOTAL Skor PPH Sumber: Susenas(diolah) * Data modul Anjuran 1000 120 240 200 60 100 100 120 60 2000 100 Konsumsi Aktual 1999 1240 69 88 171 41 54 92 70 26 1851 66. Dengan pola kuantitas dan keragaman konsumsi seperti ini.3 72.1 Desa 64.1 77.5 2004* 1248 77 134 195 47 64 101 87 33 1986 76.5 80.5 Kota+Desa 66.0 77.6 2003* 1252 66 138 195 56 62 101 90 32 1992 77.1 C.0 74. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN Ketersediaan Pangan per Wilayah Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.5 2004* 80.3 2002 1253 70 117 205 52 62 96 78 53 1986 72.

4 kg (Tabel 12). produksi jagung meningkat dengan ratarata pertumbuhan 7. (Tabel 11).7 57.807 2. 88 kg.8 persen per tahun.4 136.358 3.167 29.137 54.1. Pemenuhan kebutuhan konsumsi daging nasional sebesar 65 persen berasal dari daging unggas dan sebesar 19 persen daging sapi.074 3.9 Ubi Jalar 8.461 51. Dengan memperhitungkan jumlah penduduk.088 54.489 52. RANPG 2006-2010 27 .675 Bali & Nusa Tenggara 2.3 persen.5 137. Produksi jagung mengalami peningkatan tertinggi dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya.287 11.312 28.4 8.666 12.438 5.636 29.614 Sulawesi 4. Tabel 12.647 2. dan 8.616 Kalimantan 3.9 Jagung 44.602 5.983 5.764 Sumatera 11. Sulawesi sebesar 10 persen. Tabel 11 .15 juta ton pada 2005.151 Sumber: BPS Sementara itu produksi jagung dan komoditas pangan lainnya juga meningkat.4 9. dan ubi jalar pada 2005 masing-masing mencapai 57 kg.4 136.7 persen per tahun. Kalimantan 6 persen.657 3. sedangkan 24 persen dari daging ayam buras.301 Maluku & Papua 109 85 149 151 181 Indonesia 50.46 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2001 menjadi 54.7 80.696 2. produksi padi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan proporsi sebesar 55 persen. dan ubi jalar 1.0 Ubi Kayu 81. serta Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5 persen. maka tingkat produksi padi tersebut setara dengan ketersediaan beras per kapita sebesar 137 kg/tahun.169 3. Persebaran Produksi Padi Menurut Wilayah Pulau (Ribu Ton GKG) 2001 2002 2003 2004 2005 Pulau/Tahun Jawa 28. Ketersediaan Beras dan Palawija Per Kapita (kg) Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Beras 135.725 2.5 89.8 8.0 86. Ditinjau dari penyebaran wilayahnya.136 12.8 51. Dengan perkembangan produksi tersebut. yaitu meningkat dari 50.5 87.7 persen. maka ketersediaan per kapita komoditas jagung. (Tabel 13). Pulau Sumatera memiliki proporsi produksi padi sebesar 23 persen.542 12.8 45.171 5. ubi kayu 3.4 Bahan pangan sumber protein yang terutama adalah daging dan telur. ubi kayu.3 8. Dalam kurun waktu tersebut. Untuk daging unggas proporsi terbesar diperoleh dari ayam pedaging (broiler) yang mencapai 70 persen.3 139.7 50.608 28.

9 432.6 26.2 324.56 2002 330.12 1.0 4. Perkembangan Produksi Telur (ribu ton) Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Luar Jawa Indonesia Sumber : Deptan RANPG 2006-2010 2001 433.15 1. menurun menjadi 550 ribu ton pada 2004.5 67.71 40.17 68. 2006 Produksi telur yang pada tahun 2001 sebesar 850 ribu ton meningkat menjadi 1.34 42.57 296.4 5.3 71.6 417.64 63.78 751.7 280.40 1.2 5.3 908. Jawa Barat dan Sumatera Utara.0 37.8 341.3 68. dan 536 ribu ton pada 2005.6 973.10 50.68 1.25 1.10 21.30 536.5 78.20 779.6 2004 596. Perkembangan Produksi Daging (ribu ton) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis Sapi Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik Jumlah 2001 338.817. Tingkat produksi telur ini telah mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri.1 309.3 44.95 23.70 1.15 771.60 301.107. dan propinsi penghasil utama telur adalah Jawa Timur.30 58.2 25. Sebagaimana padi.6 44.6 1.12 21.21 2.9 28 . Tabel 14.93 21.Tabel 13. produksi telur juga terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera.49 1.10 Sumber : Ditjen Peternakan.78 160.2 489.40 45.560.42 48.9 2.60 298.53 2004 447.9 2003 484.64 177.769.64 48.30 173.85 2003 369.71 164.14 88.0 71.06 288.06 194.2 63.36 2005 358.29 42.8 1.70 38.6 541.0 2. Ketersediaan susu dari produksi dalam negeri masih terbatas.149 ton pada 2005 (Tabel 14). dan perkembangan produksinya pun cenderung menurun.7 48.10 22.4 510.020. Pangan hewani yang juga penting peranannya adalah susu.871.57 40.13 66.7 44.3 2002 476.4 2005 607. Pada tahun 2003 produksi susu mencapai 553 ribu ton.70 44.148.60 47.78 1.8 68.2 68. Pemenuhan konsumsi susu saat ini masih mengandalkan dari pasokan susu impor.86 80. Jawa Tengah.09 275.24 57.1 850.52 48.1 287.69 43.09 1.38 846.

kecuali di provinsi Sumbar. dan antar-daerah mengakibatkan adanya masa-masa defisit dan lokasi-lokasi defisit pangan. Dengan demikian. dan tertinggi di DIY yaitu mencapai 20. maka rumah tangga tidak akan dapat mengakses pangan yang tersedia. Faktor keseimbangan yang tereflekasi pada harga sangat berkaitan dengan daya beli rumah tangga terhadap pangan. daya beli rumah tangga yang berkaitan dengan kemiskinan dan pendapatan rumah tangga. Berdasarkan data SUSENAS yang tertuang dalam Nutrition Map of Indonesia tahun 2006.8 persen. Masalah-masalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh terhadap harga. Banyaknya penduduk rawan pangan masih terjadi di semua propinsi dengan besaran yang berbeda. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan proporsi penduduk rawan pangannya cukup tinggi. Kerawanan Pangan Ketersediaan pangan secara makro tidak sepenuhnya menjamin ketersediaan pada tingkat mikro. Bali dan NTB. Proporsi penduduk rawan pangan di semua provinsi masih diatas 10 persen. meskipun komoditas pangan tersedia di pasar namun apabila harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau daya beli rumah tangga. jumlah anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang di daerah-daerah tersebut juga masih tinggi. Tingginya proporsi rumah tangga rawan pangan dan anak balita kurang gizi menunjukkan bahwa ketahanan pangan pada tingkat nasional atau wilayah tidak selalu berarti bahwa tingkat ketahanan pangan di rumah tangga dan individu juga terpenuhi. Sumatera Selatan. dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh kepada konsumsi dan kecukupan pangan dan gizi rumah tangga. Jawa Tengah.0 persen (Tabel 15). Pola konsumsi yang relatif sama antar-individu. Dengan demikian. Penduduk rawan pangan didefinisikan sebagai mereka yang rata-rata tingkat konsumsi energinya antara 71–89 persen dari norma kecukupan energi. Demikian pula. Sedangkan penduduk sangat rawan pangan hanya mengkonsumsi energi kurang dari 70 persen dari kecukupan energi. jumlah penduduk rawan pangan terendah ada di propinsi Bali yaitu sebesar 4. RANPG 2006-2010 29 . mekanisme pasar dan distribusi pangan antar lokasi serta antar waktu dengan mengandalkan ’stok’ akan berpengaruh pada keseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi serta pada harga yang terjadi di pasar. antarwaktu.2. Bahkan di semua provinsi yang merupakan sentra produksi pangan seperti provinsi Jawa Timur. Masalah produksi yang hanya terjadi di wilayah tertentu dan pada waktu-waktu tertentu mengakibatkan konsentrasi ketersediaan di sentra-sentra produksi dan pada masa-masa panen. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan kerawanan pangan.

4 10.8 11.185 227 98 161 113 335 17.8 18.3 16.0 19. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi No.2 13.8 7.2 11.3 10.1 13. pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk menjamin agar RANPG 2006-2010 30 .8 13.9 13.1 12.Tabel 15.5 6.684 690 144 295 565 614 119 299 342 225 210 1. Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.5 18.9 17.1 *) Tidak dilakukan survey total Sumber : Gizi dalam Angka (2005) dan Nutrition Map of Indonesia.1 11. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2006 3.2 12.0 7.8 20.089 621 6.6 16.9 19.404 6.7 14. Berkaitan dengan itu.9 16.1 17.162 305 621 290 1.224 5.2 4.Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Jumlah Penduduk Rawan Pangan (Ribu Orang) (%) 295 1. Peningkatan Akses Terhadap Pangan Setiap rumah tangga memiliki kemampuan yang berbeda dalam mencukupi kebutuhan pangan secara kuantitas maupun kualitas untuk memenuhi kecukupan gizi.5 15.182 221 919 122 1.6 11.8 15.

Kebijakan pengendalian harga memiliki dua sisi yang diatur dalam Inpres No. i. pemerintah menerapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk memberikan harga produsen yang mencukupi kepada petani agar petani tidak menerima harga lebih rendah dibanding biaya produksi. perkembangan harga beras di Jawa dan Bali cenderung stabil yang ditandai dengan koefisien variasi harga yang rendah. Mengingat beras adalah bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi. Upaya atau kebijakan umum yang diterapkan adalah stabilisasi harga pangan pokok agar mekanisme pasar dan distribusi yang ada dapat menyediakan pangan pokok dengan harga yang terjangkau. Hasil penerapan insentif harga untuk petani tercermin pada perkembangan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang menunjukkan bahwa kebijakan HPP memberikan manfaat yang cukup kepada petani. Perdagangan antar daerah dan antara pulau dapat mempertahankan stabilitas harga. Stabilitas Harga Pangan Stabilitas harga beras diukur berdasarkan perkembangan harga rata-rata dan koefisien variasinya dan dimonitor terus menerus. RANPG 2006-2010 31 . Pada sisi lainnya. kecuali di daerah yang sulit dijangkau (terisolasi) atau yang komoditas produknya tidak memenuhi syarat pembelian. maka prioritas utama pemerintah adalah untuk menjamin masyarakat agar dapat mengakses beras dalam jumlah yang mencukupi. 13 Tahun 2005. Perkembangan harga transaksi yang terjadi pada umumnya lebih tinggi daripada HPP. Salah satu instrumen kebijakan untuk stabilisasi harga adalah cadangan pangan yang dimiliki pemerintah. pemerintah menggunakan cadangan beras yang dimiliki untuk menstabilkan harga melalui kegiatan operasi pasar.rumah tangga dan individu memiliki akses terhadap pangan yang tersedia. Kebijakan lainnya adalah subsidi/bantuan pangan berupa beras untuk rumah tangga yang berpendapatan di bawah garis kemiskinan. harga eceran rata-rata bulanan untuk beras medium juga tidak mengalami gejolak yang berarti. Pada satu sisi. Pada saat di daerah-daerah tertentu terjadi lonjakan harga yang besar. Di tingkat konsumen selama 2000-2004. Selama kurun tahun 2000 – 2004. gabah hasil pembelian dari petani digunakan untuk operasional program Raskin dan sebagai cadangan beras pemerintah untuk menstabilkan harga pada tingkat konsumen.

beras yang didistribusikan dalam program Raskin memang cukup besar. pemerintah juga memiliki subsidi pangan dalam bentuk beras untuk rumah tangga miskin. program Raskin dinilai telah memberikan kontribusi dalam mengurangi tingkat kemiskinan dengan beberapa alasan. pada awalnya disebut Operasi Pasar Khusus (OPK). Survei evaluasi yang dilaksanakan oleh 35 perguruan tinggi pada tahun 2003 menemukan bahwa rata-rata penerimaan beras Raskin adalah 13. meningkat menjadi 1. Besarnya volume beras yang didistribusikan dalam program Raskin terus meningkat dari tahun ke tahun.3 kg/KK/bulan. Secara volume. Pada tahun-tahun berikutnya volume distribusi beras Raskin relatif stabil pada kisaran 2. yaitu: (1) program Raskin telah mempersempit celah kemiskinan sekitar 20 persen. Beberapa penyebabnya adalah rasa solidaritas sehingga harus dibagi merata ke seluruh penduduk. (2) tingkat konsumsi kalori keluarga miskin penerima Raskin lebih tinggi antara 17-50 kkal per hari dibandingkan mereka yang tidak memperoleh Raskin. Melalui program ini pemerintah mendistribusikan beras dengan harga bersubsidi sehinga masyarakat miskin yang daya belinya sangat terbatas bisa mendapatkan bahan pangan pokok yaitu beras. diluncurkan sejak bulan Juli 1998. Besaran volume beras Raskin yang tidak mencukupi kebutuhan sesuai norma sebesar 20 kg/KK/bulan menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan di tingkat lapangan. Sampai saat ini persentase keluarga miskin yang dapat dijangkau sekitar 65 persen (Tabel 16). dan 2. Beras untuk rumah tangga miskin (Raskin). 2005).48 juta ton pada tahun 2001. Terlepas dari adanya kelemahan dalam penentuan penerima manfaat. namun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan sesuai norma sebanyak 20 kg per bulan dan seluruh rumah tangga miskin.35 juta ton.24 juta ton pada tahun 2002. Jumlah penerima yang memang keluarga miskin “dianggap berhak” diperkirakan sebesar 84 persen. Namun demikian sebagai akibatnya beras dibagi kepada tiap keluarga miskin dalam jumlah kurang dari 20 kg.0 juta ton. Program ini diterapkan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kekuarangan pangan pada rumah tangga miskin yang pada masa krisis ekonomi paling menderita. Pada tahun 2000 jumlahnya mencapai sebesar 1. Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Selain melalui mekanisme pasar dan bantuan pangan saat bencana. Ini berarti terdapat 16 persen distribusi Raskin yang tidak tepat sasaran. Kendala tersebut diselesaikan di tingkat masyarakat melalui musyawarah desa. namun ada pula yang disebabkan penyimpangan oleh para pelaksana. (3) memberikan stimulasi tidak langsung terhadap permintaan agregat karena adanya efek pengganda dari transfer pendapatan yang meningkatkan daya beli penerima Raskin (Tabor dan Sawit. RANPG 2006-2010 32 . Kendala pelaksanaan lainnya adalah adanya kesalahan sasaran.ii.

45 73.94 2002 15.131 11.0 1.66 81. Untuk itu cadangan pangan yang siap digunakan oleh daerah dan cocok dengan pola konsumsi daerah sangat penting untuk dikembangkan. Mandat Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan untuk pengembangan cadangan pangan daerah (pemda dan masyarakat) sampai saat ini belum dikembangkan sehingga menyebabkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah pangan sebagian besar masih bertumpu pada pemerintah pusat.49 2003 15.992.793 8.353.030 8.274 9.9 59.135. Dengan demikian. serta peralatan masak. RANPG 2006-2010 33 . Perlu dipikirkan penyediaan cadangan pangan siap konsumsi untuk keperluan darurat. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin Realisasi KK Miskin Rencana Distribusi Penyaluran Persen thd KK miskin Tahun Beras (Ribu Beras (Ribu (Ribu KK) Rencana Realisasi (ton) KK) (ton) KK) 2000 14.8 2. masyarakat mengalami kesulitan pula untuk mendapatkan bahan bakar.333.000 9. masyarakat yang terkena dampak bencana akan dapat terpenuhi kebutuhan konsumsi pangan pokoknya.30 72.864 11.6 1. Sampai saat ini cadangan pangan untuk keperluan tanggap darurat hanya berupa beras.5 2.137 12.0 1.6 2.057.574. air bersih.56 70.207.98 Sumber: Perum BULOG iii.248 10.000 8.782.438 8.14 2004 15. bantuan pangan dalam bentuk beras seringkali tidak dapat mengatasi kekurangan pangan secara cepat.349.059.9 65.316.029.600 9.9 52.135.023. Untuk memenuhi kekurangan pangan akibat bencana.98 54. Di tingkat yang lebih tinggi CBP juga digunakan untuk memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia dalam menyediakan cadangan beras dalam kerangka kerjasama ASEAN Emergency Rice Reserve. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga digunakan untuk mengatasi kekurangan pangan yang terjadi sebagai akibat bencana alam.9 54.235.350.835.746.674.6 2.9 1.820.707 11.8 2.98 2005 15.Tabel 16.061.0 54. Cadangan Pangan Selain digunakan untuk operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga.482.934.501. Dalam kondisi darurat pada saat bencana. Dengan adanya CBP dan kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah tersebut.300.4 1.546. Gubernur dan Bupati/Walikota mempunyai kewenangan untuk meminta CBP secara langsung dengan batas maksimum masing-masing sebesar 200 ton dan 100 ton dalam setahun.790. terutama pangan yang disukai masyarakat setempat.832.590.991.4 1.97 2001 15.45 75.9 2.2 64.

7 tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No.5 milyar kejadian penyakit diare. peran produsen dalam mengaplikasikan berbagai teknologi dan prinsip-prinsip pengolahan pangan. merugikan. Berdasarkan data WHO (2000) diketahui penyakit karena pangan (foodborne disease) merupakan penyebab 70 persen dari sekitar 1. teknologi dan cara pengolahan. Upaya lain adalah melalui penguatan kelembagaan. dan setiap tahunnya menyebabkan 3 juta kematian anak berusia dibawah 5 tahun. sangat penting. jenis dan batas maksimum penggunaan BTP (Bahan Tambahan Pangan). membangun jejaring keamanan pangan baik dalam negeri maupun luar negeri serta penguatan peran sumber daya manusia (pengawas pangan. penyimpanan dan penanganan pangan.D. cara-cara pengujian dan batas maksimum cemaran mikroba. Hal ini sejalan dengan pembangunan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. kimia dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi keamanan pangan. Mutu. Dalam peraturan tersebut keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. dan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik. angka tersebut merupakan potensi sekaligus tantangan dalam menghasilkan pangan yang aman. Cara Produksi Pangan Segar yang Baik. Dalam aspek legislasi. dan Gizi Pangan. kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. termasuk didalamnya pelabelan kemasan. beberapa tanggung jawab yang terkait dengan kegiatan keamanan pangan adalah penyiapan ketentuan tentang standar dan batasan keamanan pangan misal jenis dan cara penggunaan pestisida yang aman. Cara Distribusi Pangan yang Baik. dan membahayakan kesehatan manusia. Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik. Cara Ritel Pangan yang Baik. Selain itu penguatan produksi pangan juga didukung dengan penerapan berbagai praktek dan pengolahan pangan seperti: Cara Budidaya yang Baik. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan. KEAMANAN PANGAN Isu tentang keamanan pangan merupakan masalah penting karena diperkirakan lebih dari 90 persen masalah kesehatan manusia terkait dengan makanan. RANPG 2006-2010 34 . Untuk menekan terjadinya penyakit karena pangan dilakukan pengawasan terhadap keamanan pangan antara lain dengan pengawasan produk pangan terdaftar dan pemeriksaan produk pangan beredar. produsen dan konsumen). Untuk menjamin kualitas pangan. Dengan jumlah pengolah pangan besar dan menengah sejumlah kurang lebih 5900 dan 1 (satu) juta industri kecil dan industri rumah tangga ditambah dengan importir dan distributor.

Seluruh sarana dan prasarana yang berada pada area tersebut serta perlakuan yang diterima oleh produk pangan berpeluang besar mempengaruhi keamanan pangan. Oleh karena itu kondisi pabrik.2 229 38. industri rumah tangga yang telah memiliki nomor pendaftaran SP/P-IRT (Sertifikat Penyuluhan/Produk-Industri Rumah Tangga) maupun industri rumah tangga yang tidak terdaftar. Tabel 17.7 75 22.7 61 15.3 16.4 30 13.1 54. tempat distribusi dan penjualan produk pangan secara tidak langsung merupakan salah satu indikator keamanan pangan. mutu dan gizinya. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas Jumlah Sampel 278 229 339 741 602 570 Hasil Pemeriksaan Cukup Kurang Jumlah % Jumlah % 184 66.2 26. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri pangan menengah ke atas (telah mendapat nomor MD) selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 17.4 24. industri pangan seharusnya menerapkan prinsip-prinsip cara produksi pangan yang baik.4 89 15. tempat distribusi dan penjualan produk pangan merupakan bagian dari sistem rantai pangan yang dilalui produk pangan.6 390 68. Pemeriksaan sarana produksi pangan dilakukan secara rutin oleh tenaga pengawas pangan dalam rangka mengevaluasi penerapan higienitas dan sanitasi sarana produksi atau Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) serta penerapan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik.Lahan pertanian. Pengawasan Pangan sebelum Beredar Untuk menghasilkan produk pangan yang bermutu baik dari aspek kesehatan.0 RANPG 2006-2010 35 .2 40 14.5 16.6 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Baik Jumlah 54 56 55 105 327 91 % 19. 1. cukup (C).1 236 58. pabrik. Indikator ini secara tidak langsung juga dapat menggambarkan pengetahuan dan kesadaran produsen akan keamanan pangan. Pemeriksaan dilakukan baik untuk industri yang telah memiliki nomor pendaftaran MD (Makanan. dan kurang (D). Hasil penilaian sarana produksi pangan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik (B).1 209 61.0 46 7.4 143 62.

dan produk pangan yang bercampur dengan produk non pangan.9 1135 53. Sekitar separuh dari industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB. 80 persen. TMS label.5 1921 48. kurangnya kesadaran dalam pengolahan lingkungan seperti pembuangan sampah. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga Hasil Pemeriksaan Jumlah Baik Cukup Kurang Sampel Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1632 83 5. dan sarana yang menjual produk yang TMS seperti penempatan produk pangan yang mengandung babi tidak terpisah dengan produk lain. 56 persen.4 persen) ke tahun 2004 (54.3 2104 66 3.2 512 33.4 3951 337 8. fasilitas pabrik dan kebersihan yang tidak memadai.6 739 45. 72 persen.2 668 40. 2003. 53 persen.4 1167 45. Faktor penyebab utama industri produk pangan dinilai kurang dalam penerapan CPMB adalah masih rendahnya penerapan higienitas perorangan. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan untuk persentase sarana produksi yang berpredikat baik dari tahun 2000 (19. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri rumah tangga selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 18 di bawah ini. 2004 dan 2005 adalah 80 persen.7 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB. dan 71 persen. dalam satu sarana distribusi bisa melakukan beberapa jenis pelanggaran. yaitu berturut-turut dari tahun 2000. 2002. rusak.3 867 56. RANPG 2006-2010 36 .9 1536 157 10. Tabel 18.0 1287 50. fasilitas produksi belum terbebas dari binatang serangga. 88 persen. TMS tanda khusus.5 929 56. 2004 dan 2005 adalah 45 persen.8 2555 101 4.Dari Tabel 17 tersebut terlihat bahwa sebagian besar industri menegah ke atas berpredikat cukup dalam penerapan CPMB. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar sarana distribusi sudah menerapkan CPMB dan persentase sarana distribusi yang memenuhi syarat (MS) terus meningkat dari tahun ke tahun. namun pada tahun 2005 terjadi penurunan lagi. 2003. 74 persen. 2001. 2001. dan 45 persen. Pada hasil pemeriksanaan sarana distribusi tersebut.6 1693 42. Sarana distribusi pangan yang tidak memenuhi syarat (TMS) meliputi sarana yang menjual produk kedaluwarsa. menjadi 16 persen. tidak terdaftar. yaitu berturut-turut dari tahun 2000.3 1649 52 3. 42 persen.1 810 49. 2002. serta peralatan dan suplai air bersih kurang memadai.1 903 42.3 persen). 56 persen.

542 1. Tabel 20.176 2005 23.396 2003 19.934 RANPG 2006-2010 37 . 3. 90 persen dan 86 persen. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Sumber: BPOM. 2002.289 1.372 3. Data produk pangan yang terdaftar selama tahun 2001–2005 berdasarkan pengelompokan jenis pangan dapat dilihat pada Tabel 19 di bawah ini. 92 persen.258 2004 29.817 1. untuk memastikan kesesuaiannya dengan data dan informasi yang disetujui pada proses pendaftaran. 2006 Jumlah Makanan Dalam Negeri 2539 2227 1768 2793 5377 Makanan Luar Negeri 765 1397 1735 1258 1843 2. dilakukan penilaian terhadap keamanan. 2003. dan 2005 berturut-turut adalah 73 persen. 94 persen.399 2002 16. 2004. mutu dan gizi produk pangan dan bila sesuai dengan persyaratan yang ditentukan maka dikeluarkan nomor pendaftaran. 2006 Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa sebagian besar produk pangan yang beredar telah memenuhi syarat dengan persentase selama tahun 2001. Hasil pengujian produk pangan beredar 2001 Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Sumber: BPOM.564 3.Dalam rangka pengawasan sebelum beredar. Tabel 19. Dari data tersebut terlihat bahwa terdapat kecenderungan kenaikan jumlah produk pangan olahan dengan industri menengah–besar yang terdaftar dan diedarkan di Indonesia. Hasil pengujian selama tahun 2001–2005 dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini. Pengawasan Produk Pangan Beredar Pemeriksaan (sampling dan pengujian) terhadap pangan yang beredar dilakukan secara berkala pada pangan yang terdaftar dengan nomor MD/ML dan SP/P-IRT.

Pada Tabel 21 terlihat persentase hasil pengawasan selama tahun 2001 – 2005.72 40. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah HASIL PEMERIKSAAN 2002 2003 % 2004 % 2005 % Jumlah Sampel Sampel Memenuhi Syarat 913 Sampel Tidak Memenuhi Syarat 714 Sumber: BPOM.Cemaran mikroba TMS . Produk Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) Terdapat beberapa parameter yang menentukan suatu produk pangan dikategorikan sebagai produk yang tidak memenuhi syarat.91 40.55 338 10.97 2003 Jumlah Sampel % 20547 19289 93.2005.17 7. Tabel 21.Boraks .12 326 25.70 2005 Jumlah Sampel % 27306 23372 3934 844 216 282 307 445 225 1605 85.61 79 5. menggunakan bahan tambahan pangan melebihi batas maksimum yang diizinkan serta mengandung cemaran melebihi batas maksimum yang diizinkan.76 2004 Jumlah Sampel % 32740 29564 3176 90.12 43. Persentase Pelanggaran Produk Pangan HASIL PEMERIKSAAN 2001 Jumlah Sample 5216 3817 1399 219 229 2002 Jumlah Sampel % 17938 16542 92.65 16. kadar dan penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak termasuk diizinkan maupun yang dilarang. telah dilakukan pengawasan terhadap produk pangan jajanan anak sekolah.45 5.81 57. Tabel 22.80 11.59 14.18 137 9.Pengawet TMS . Tabel 22 menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah tahun 2002 .i.41 21.43 204 16. 2006 Jumlah Sampel 393 263 Jumlah Sampel 390 521 Jumlah Sampel 517 344 % 56.19 60.65 811 57.Pewarna bukan untuk makanan .05 39.18 26.91 52 4. Dalam satu produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS.10 190 13.Pemanis buatan TMS .80 % Jumlah sampel A.62 475 37.37 372 11.88 59. antara lain menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang. 2006 Ket: Jumlah sampel merupakan hasil penjumlahan A dan B.71 213 6. pelanggaran yang paling banyak ditemukan adalah produk pangan yang menggunakan pemanis buatan yang tidak sesuai dengan ketentuan. label.81 127 9.71 538 16.22 33 2.78 645 46. Kriteria lain-lain meliputi bobot tuntas.09 42.31 5.49 7.22 1396 7.Lain-lain 73.82 15.94 967 30.88 1258 6. Selama tahun 2002 – 2005.13 82 6.30 9.95 RANPG 2006-2010 38 .52 106 8.Formalin . Jumlah sampel TMS : . Jumlah sampel yang memenuhi syarat B.45 748 23.64 Sumber: BPOM.20 170 12. Selama periode 2002–2005.

Boraks.Dari hasil pemeriksaan terlihat bahwa kriteria tidak memenuhi syarat ditemukan karena pelanggaran penggunaan pengawet yang melebihi batas maksimum. Amaranth) 133 63 147 90 Formalin 139 9 1 7 Boraks 74 20 38 34 Cemaran mikroba Tidak 9 198 198 ada data Sumber: BPOM. Tabel 24. Dalam satu sampel produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS. dan Methanyl Yellow Total Sampel 19078 20547 32740 26990 Temuan Bahan Berbahaya **) Jumlah % 454 2 392 2 1718 5 935 3 Comment [AH1]: Apa catatan utk bintang ini? RANPG 2006-2010 39 . Methanyl yellow. Rhodamin B. Boraks. Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan Tahun 2002 2003 2004 2005*) Sumber: BPOM. Pemakaian bahan berbahaya ini dapat dikarenakan keterbatasan pengetahuan produsen perihal ketentuan larangan penggunaannya dalam produksi pangan ataupun kurangnya kepedulian terhadap masalah keamanan produk pangan yang dapat berakibat buruk terhadap kesehatan. Rhodamin B dan Methanyl Yellow (Tabel 24). ditemukan pelanggaran penggunaan bahan berbahaya dalam produk pangan. 2006 ii. rhodamin-B. penyalahgunaan pemanis buatan dan pangan tercemar mikroba melebihi batas maksimum. Produk Pangan Mengandung Bahan Berbahaya Dari hasil pemeriksaan selama kurun waktu tahun 2002 sampai dengan 2005. boraks. 2006 **) Meliputi Formalin. Bahan berbahaya yang ditemukan terdapat dalam produk pangan meliputi bahan yang dilarang digunakan dalam produksi pangan seperti Formalin. penggunaan bahan berbahaya formalin. Tabel 23 berikut menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah yang tidak memenuhi syarat dari tahun 2002-2005: Tabel 23. Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Jumlah Pelanggaran (TMS) pada Tahun 2002 2003 2004 2005 Pemanis buatan melebihi batas 282 154 402 122 persyaratan Pengawet melebihi batas 86 8 19 10 Pewarna yang dilarang (Rhodamin-B.

dan Ikan di Enam Propinsi Pengambil Sampel BBPOM Makasar BPOM Jambi BBPOM Manado BBPOM Yogyakarta BBPOM Jakarta BBPOM Semarang Jumlah Sumber: BPOM. cemaran fisik). Berbagai faktor yang menentukan diterima atau tidaknya pangan tersebut antara lain faktor keama nan (cemaran kimia. faktor pelabelan. Tabel 26. produsen dan lain-lain. 2006 *) Data sampai Bulan November 2005 Lebih jauh lagi pemeriksaan terhadap jenis pangan tertentu yang mengandung formalin dilakukan per 6 Januari 2006. tahu dan ikan di 6 (enam) propinsi terhadap pemakaian formalin. Tabel 26 berikut menunjukkan hasil pemantauan produk mie basah. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. dan persentase produk pangan yang mengandung formalin sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 mengalami penurunan. Jumlah Sampel 40 50 55 41 116 107 409 Memenuhi Syarat Sampel 38 48 36 41 91 99 353 % 95 96 65 100 78 93 Mengandung Formalin Sampel 2 2 19 0 25 8 56 % 5 4 35 0 61 7 14 RANPG 2006-2010 40 . Tahu. Tabel 25. tahu dan ikan di beberapa propinsi di Indonesia. 2006 Kondisi keamanan produk pangan juga dapat dilihat dari besarnya kasus penolakan pangan yang diekspor ke negara lain. cemaran mikroba. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sejak tahun 2002 formalin sudah ditemukan dalam produk pangan. Temuan Formalin dalam Produk Pangan Total Temuan Produk Pangan yang Tahun Sampel Mengandung Formalin Jumlah % 2002 248 139 56 2003 2004 180 786 73 274 41 35 15 2005*) 1160 177 Sumber: BPOM. faktor mutu.Tabel 25 menunjukkan temuan formalin dalam produk pangan periode tahun 2002 sampai dengan 2005. Pemantauan dilakukan ter hadap produk mie basah.

pelabelan. Hal ini karena produk perikanan tergolong pada kelompok pangan resiko tinggi dan merupakan komoditas ekspor utama bila dibandingkan dengan produk pangan lain. Produsen. Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA berdasarkan alasan penolakan (Pebruari 2005 . 2006 Gambar 6 . pengolahan. cemaran Salmonella. Jumlah Kasus Penolakan Impor Pangan Indonesia Oleh FDA Besarnya kasus penolakan dengan alasan keamanan pangan menunjukkan masih rendahnya tingkat keamanan produk pangan. Amerika Serikat. cemaran nitrofuran. Total penolakan dari Februari 2005 – Januari 2006 adalah 235 kasus. cemaran histamin. dan kloramfenikol. yang mungkin bersumber pada bahan baku pangan yang digunakan tidak memenuhi syarat atau belum diterapkannya prinsip-prinsip penanganan. Dari data yang dikeluarkan oleh FDA (2006) terlihat bahwa selama tahun 2005 sebagian besar pangan yang ditolak adalah hasil perikanan dengan alasan penolakan diantaranya kebersihan produk. penggunaan pewarna yang tidak aman. dan produsen yang tidak terdaftar.Gambar 6 menggambarkan alasan penolakan produk pangan dari Indonesia oleh Food and Drug Administration (FDA). Produk perikanan lebih banyak ditolak daripada produk lain. RANPG 2006-2010 41 .Januari 2006) (N = 235) 23 212 Keamanan Pangan Pelabelan. dll Sumber : Food Drug Administration. pengemasan atau distribusi yang baik. Sedangkan untuk jenis pangan olahan selain produk perikanan alasan penolakannya adalah kesalahan pelabelan. cemaran obat pakan. mengandung racun.

pangan olahan (15. Tabel 27 menunjukkan. demikian pula dengan Case Fatality Rate (CFR) dan Incident Rate (IR). Selama 2 tahun terakhir nilai IR terbesar terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. sakit.7 persen).35 0.69 0. Namun. hal ini tidak mengindikasikan KLB keracunan pangan di DI Yogyakarta lebih buruk dibandingkan daerah lain. penyebab KLB keracunan pangan yang dilaporkan pada tahun 2005 diketahui sebesar 5.48 persen suspect dan 76. serta tetradotoksin. sianida. methanol. 2006 Ditinjau dari etiologinya. jumlah orang yang sakit.7 persen). dan E. dalam kurun waktu 5 tahun (2001-2005) jumlah KLB keracunan serta orang yang terpapar. Salmonella sp.3 persen). Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 .2 persen). dan meninggal akibat keracunan cenderung meningkat. sedangkan pada tahun 2005 adalah pangan rumah tangga (42.65 0. Sementara penyebab keracunan pangan kimia antara lain nitrit. RANPG 2006-2010 42 . histamin.2 persen). Bacillus cereus.67 0.000 penduduk. Tingginya nilai IR di DI Yogyakarta kemungkinan disebabkan kesadaran yang baik dari petugas kesehatan setempat untuk melaporkan KLB keracunan pangan di daerahnya. Sumber pangan penyebab keracunan pangan untuk tahun 2004 adalah: pangan rumah tangga (53. Kasus Keracunan Makanan Parameter utama yang paling mudah dilihat untuk menunjukan tingkat keamanan pangan di suatu negara adalah jumlah kasus keracunan yang terjadi akibat pangan.55 IR**) 0.2 persen). dan lain-lain (3. Diduga masih banyak KLB keracunan pangan yang belum dilaporkan di Indonesia.2 persen). **) Incident Rate (IR) adalah angka kejadian per 100. pangan jajanan (12. Penyebab keracunan pangan mikrobiologi yang sering timbul antara lain Staphylococcus aureus. pangan olahan (15.84 3. Data yang diperoleh berdasarkan pelaporan yang diterima mencakup jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan. pangan jasa boga (15.2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 KLB 26 43 34 164 184 Terpapar 1965 6543 8651 22297 23864 Sakit 1183 3635 1843 7366 8949 Meninggal 16 10 12 51 49 CFR*) 1. Tabel 27. formalin.43 persen terkonfirmasi. 18.37 4.2 persen). pangan jasa boga (21.28 0.coli patogen. pangan jajanan (17.54 1.09 persen tidak diketahui penyebabnya.9 persen).4 persen). serta tidak dilaporkan (3.iii. dan jumlah orang yang meninggal.11 *) Case Fatality Rate (CFR): perbandingan antara jumlah yang meninggal dengan yang sakit dikalikan 100. Sumber: BPOM.

7 5.2 persen mengalami diabetes dan 1.5 persen (2001). Penyakit kardiovasluler menjadi penyebab kematian ke 11 pada tahun 1972.3 persen mengalami penyakit jantung iskemik. 1995 dan 2001. 35 Laki ‐ laki   30 25 Persen 20 15 10 5 0 em a ip er ko le st er ol 28. pada kalangan penduduk umur 25 tahun keatas sebanyak 27 persen laki-laki dan 29 persen wanita menderita hipertensi.3 Perempuan  26.4 persen (1980) menjadi 48.2 8. Penyakit kanker merupakan penyebab 6 persen kematian di Indonesia. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan.9 7.1 12. Prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIVITAS FISIK Sebagai negara berkembang Indonesia banyak mengalami permasalahan pada penyakit menular.8 Sumber : SKRT 2001. tetapi kemudian terus meningkat menjadi urutan ke 3 tahun 1986 dan penyebab kematian pertama pada tahun 1992.3 persen laki-laki dan 4.9 9. kematian yang disebabkan oleh penyakit degeneratif meningkat dari 15.9 12.000 anggota rumah tangga tahun 1995.1 persen (1986) menjadi 26.7 8.2 16.7 12.E. yaitu 83 per 1.2 5. Tetapi. Penyakit kardiovaskuler meningkat dari 9. dan stroke. prevalensi penyakit tidak menular menunjukkan kecenderungan peningkatan sebagai penyebab kematian. Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 RANPG 2006-2010 H em a ip er ko le st er ol an an Ke ge m uk Ke ge m uk ip er te ns i ip er te ns i H ip er gl ik H H ip er gl ik H 43 . 1. 0.6 15.4 persen (2001). Pada tahun 2001. Gambar 7.9 24 17. 2005 H 2001 2004 Gambar 7. Demikian juga dengan hiperglikemia sebagai akibat asupan lemak yang tinggi serta hiperkolesterol.6 persen wanita mengalami kelebihan berat badan.5 9. memperlihatkan peningkatan kegemukan (IMT e” 25) pada laki-laki dan perempuan.

gula dan lemak. Semua faktor resiko ini merupakan penyebab timbulnya penyakit tidak menular (The World Health Report 2002). Pola Makan yang Tidak Sehat Pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit. Selain itu. kanker dan lain-lain menunjukkan adanya perubahan pola hidup. Data HKI menunjukkan bahwa prevalensi gizi lebih (IMT>25) pada perempuan di daerah perdesaan dari tahun 1991-2001 memperlihatkan kecenderungan meningkat pada semua kelompok umur dengan kecenderungan kegemukan terjadi pada usia setengah baya (Gambar 8). Dengan demikian pola makan dan aktivitas fisik merupakan bagian dari penyebab utama penyakit tidak menular. urbanisasi dan mekanisasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola makan. Merokok juga meningkatkan resiko terhadap serangaan penyakit-penyakit tidak menular ini. saries gigi dan osteoporosis. Peningkatan industrialisasi. Di banyak negara. konsumsi buah dan sayur yang kurang. hipertensi. tetapi juga pada masyarakat miskin di perkotaan dan perdesaan serta pada laki-laki dan perempuan. Pola makan yang tidak sehat antara lain meliputi makan secara berlebih. termasuk Indonesia. kardiovaskular. termasuk Indonesia.Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti kardiovaskular. hipertensi 66 persen. kanker. aktivitas fisik yang rendah. tingginya konsumi garam. seperti diabetes. permasalahan gizi lebih terjadi secara bersamaan dengan kurang gizi dan gizi buruk pada populasi. terutama kebiasaan makan yang tidak baik dan aktivitas fisik yang berkurang. serta serangan jantung dan stroke 40-60 persen. 1. Misalnya konsumsi buah dan sayur yang rendah diperkirakan menyebabkan 31 persen panyakit jantung iskemik. Di banyak negara. serta konsumsi tembakau. meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan jumlah asupan lemak jenuh. Namun kejadian gizi lebih juga terjadi pada anak-anak dengan prevalensi yang lebih kecil. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan makan yang sehat dan aktivitas fisik dapat menurunkan resiko perkembangan diabetes sebanyak 58 persen. faktor resiko penyebab kesakitan dan kematian meliputi hipertensi. RANPG 2006-2010 44 . rendahnya konsumsi buah dan sayur. sepertiga jenis kanker dapat dihindari dengan menerapkan pola hidup sehat. bahkan keluarga yang sama. yaitu makanan yang lebih kaya akan lemak dan energi sementara aktivitas fisik semakin berkurang. 11 persen stroke dan 19 persen kanker gastrointestinal (WHO 2005). kegemukan dan obesitas. Meningkatnya kejadian gizi lebih tidak hanya terjadi pada penduduk dengan penghasilan yang cukup untuk membeli makanan. hiperkolesterol.

24 25. Joint FAO/WHO Expert Consultation on diet. Menurut The World Health Report 2002. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif juga beresiko mengalami kegemukan. i. diabetes dan obesitas. Pengaruh lingkungan seperti iklan dan promosi memberikan kontribusi bagi peningkatan konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi lemak dan karbohidrat.7 juta nyawa dapat diselamatkan setiap tahun jika konsumsi buah dan sayur dapat ditingkatkan.34 Umur ( t ahun) 35.50 1999 40 2000 2001 30 20 1 0 0 1 5. meningkatkan konsumsi minuman bergula dan jus buah.49 Gambar 8. sekaligus sebagai upaya pencegahan kekurangan zat gizi mikro.1 9 20. Jumlah konsumsi buah dan sayur yang cukup akan memberikan asupan yang cukup bagi serat ke dalam tubuh. RANPG 2006-2010 45 . Kurang Konsumsi Buah dan Sayur Buah dan sayur merupkan bagian penting dari pola makan yang sehat. Prevalensi Gizi Lebih pada Perempuan Dewasa (Perdesaan. Diseluruh dunia 2.29 30. kanker. NSS-HKI 1999-2001) Kebiasaan makan yang terkait dengan kegemukan dan obesitas antara lain adalah kebiasaan makan makanan ringan (snack) dan makan di restoran.39 40. Buah dan sayur yang dikonsumsi dengan cukup dapat membantu mencegah penyakit kardiovaskular dan kanker. asupan buah dan sayur yang masih rendah diperkirakan menjadi penyebab 31 persen penyakit jantung iskemik dan 11 persen stroke.44 45. nutrition and the prevention of chronic diseases merekomendasikan asupan minimum 400 gram buah dan sayur per hari (tidak termasuk kentang dan umbi-umbian yang mengandung pati) untuk pencegahan penyakit kronis seperti jantung. Faktor lain yang ikut mendorong kegemukan dan obesitas antara lain adalah peningkatan restoran siap saji.

angka ini turun pada tahun 2004 menjadi 221 gram per kapita per hari (Susenas 1999 dan 2004). RANPG 2006-2010 46 . Selain itu SNI mewajibkan iodisasi pada garam konsumsi guna meningkatkan kadar yodium. stroke. gula. atau meningkat 3. Penurunan pengeluaran untuk buah dan sayur menyebabkan penurunan rata-rata konsumsi buah dan sayur di Indonesia. jauh lebih rendah dari kecukupan sebesar 30 gr/hr ( Jahari AB.33 persen pada tahun 2004. WHO Technical Report on Diet.3 gram per kapita per hari.73 persen.61 persen dan 4.7 persen (kelas II). Oleh karena itu peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kebiasaaan makan terkait dengan garam.54 persen per tahun. Upaya peningkatan kebiasaan konsumsi buah dan sayur sebagai salah satu gaya hidup sehat sebenarnya telah didukung dengan ketersediaan buah dan sayur yang cukup melimpah. pengeluaran untuk sayur dan buah masing-masing 2. hingga saat ini belum menjadi kebijakan nasional karena adanya beberapa tantangan seperti upaya untuk mencapai konsumsi garam beryodium untuk semua (Universal Salt Iodization atau USI). Namun upaya untuk mengurangi konsumsi garam. kemudian turun menjadi 2. kardiovaskular. 2000). dan lemak yang berlebihan juga merupakan salah satu ciri dari kebiasaan makan yang tidak sehat. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) kadar Natrium klorida dalam garam minilan adalah 97.Menurut data Susenas 2004. gula. dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 6.91 persen per tahun. Produksi sayur-sayuran dan buah-buahan menunjukkan pola yang meningkat. dengan kadar minimal Kalium Iodat sebesar 30-80 mg/kg. konsumsi sayur dan buah sebesar 309 gram per kapita per hari.5 juta ton tahun 2006. Pada tahun 1999. diabetes.2 juta ton tahun 2006 atau mengalami peningkatan 0. Pada tahun 2004 tingkat produksi sayur-sayuran mencapai 9. Rendahnya konsumsi buah dan sayur ini berkontribusi pada rendahnya konsumsi serat yang baru mencapai rata-rata 10 gr/hari. Nutrition and the Prevention of Chronic Disease merekomendasikan penurunan asupan garam sebagai bagian kebiasaan makan yang sehat untuk mengurangi resiko serangan penyakit kronis tidak menular.1 persen (kelas I) dan 94. persentase pengeluaran untuk buah dan sayur pada tingkat rumah tangga cenderung mengalami penurunan. dan penyakit-penyakit kronis lainnya. gula dan lemak perlu terus ditingkatkan. Konsumsi yang berlebih pada bahan makanan tersebut dapat meningkatkan resiko serangan penyakit hipertensi. dan lemak yang berlebihan Konsumsi garam.3 juta ton tahun 2004 menjadi 15.6 gram per kapita per hari. Pada tahun 2002. Produski buah-buahan juga meningkat dari 14. ii. Konsumsi garam oleh penduduk di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 5. Konsumsi garam.84 persen dan 4.1 juta ton dan menjadi 9.

9 juta kematian yang disebabkan oleh rendahnya aktivitas fisik. RANPG 2006-2010 47 . Mengingat keberadaan dua masalah yang terjadi secara bersamaan (co-exist) yaitu GAKY yang menuntut peningkatan konsumsi garam beryodium. terutama lemak jenuh. kanker usus dan kanker rektal serta diabetes mellitus. Karena gangguan akibat kurang yodium (GAKY) masih menjadi masalah utama di Indonesia. Makanan dan aktivitas fisik dapat mempengaruhi kesehatan baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri.81 persen pada tahun 2005 (Susenas 2005). Salah satu jenis makanan yang mempunyai densitas energi tinggi adalah gula. Data konsumsi rumah tangga menunjukkan konsumsi gula pasir di Indonesia meningkat dari rata-rata 22. Secara keseluruhan terdapat 1. Dengan demikian. Resiko serangan penyakit akan lebih tinggi. Efek dari pola makan dan aktivitas fisik saling berinteraksi. perubahan gaya hidup dengan meningkatnya konsumsi makanan siap saji dan lain-lain. 2. garam dan gula tidak diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup. apabila konsumsi lemak. maka pemerintah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan cakupan konsumsi garam beryodium. Selain garam dan gula. adalah “gunakan hanya garam beryodium”. terutama dalam kaitannya dengan obesitas. maka perlu dipikirkan langkah strategis dalam penetapan kebijakan konsumi garam sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.4 gram per kapita per hari (tahun 2004). Kurangnya Aktivitas Fisik Ketiadaan atau rendahnya aktivitas fisik dan pola konsumsi yang tidak seimbang diperkirakan secara global menyebabkan meningkatnya prevalensi kegemukan dan menyebabkan terjadinya 22 persen penyakit jantung iskemik. Salah satu pesan utama yang disampaikan dari 13 Pesan Umum Gizi Seimbang (PUGS). tidak terdapat pesan khusus untuk mengurangi konsumsi garam. juga dapat meningkatkan resiko berbagai jenis penyakit kronis. konsumsi lemak yang berlebih. Perubahan pola konsumsi kepada jenis makanan yang banyak mengandung lemak antara lain dipengaruhi oleh globalisasi sehingga jenis-jenis makanan berlemak makin mudah di dapat.Tingkat konsumsi garam beryodium yang cukup baru mencapai 72. aktivitas fisik merupakan cara yang utama dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental individu. Konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi ikut berkontribusi pada meningkatnya kegemukan dan obesitas yang pada akhirnya meningkatkan kejadian diabetes. 10-16 persen kanker payudara.6 gram per kapita per hari (tahun 1999) menjadi 24. sebagaimana rekomendasi Laporan Teknis WHO tersebut di atas. dan berkembangnya penyakit tidak menular yang merekomendasikan pengurangan konsumsi garam. Selain berfungsi untuk membantu mencegah obesitas.

infrastruktur dan gaya hidup. Kebiasaan berjalan kaki. Berbagai macam hiburan. Selain itu.1% Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit.Hasil SKRT tahun 2004 menunjukkan sebagian besar (lebih dari 84 persen) dari kelompok umur 15 tahun ke atas kurang aktif melakukan aktivitas fisik. Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) Pola hidup generasi dewasa muda saat ini mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan. 2005 Gambar 9. Pertambahan penduduk menyebabkan makin berkurangnya ruang terbuka dan fasilitas umum serta fasilitas olahraga. RANPG 2006-2010 48 . .1 persen bahkan tidak aktif. Aktif 6.0% Tidak Aktif 9.9% Sumber : Susenas. sebesar 9. film. dan hanya 6 persen yang melakukan aktivitas fisik secara aktif (Gambar 9). kesadaran dan motivasi yang kurang menyebabkan frekuensi untuk berolahraga sebagai salah satu bentuk aktivitas fisik juga semakin menurun. pertunjukkan dan lain sebagainya. pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menuntut fisik untuk tidak aktif. misalnya digantikan dengan keberadaan alat transportasi dan fasilitas infrastruktur yang lebih baik. terbatasnya fasilitas untuk aktivitas fisik di sekolah dan fasilitas umum menyebabkan makin berkurangnya aktivitas fisik yang dilakukan. total kumulatif 150 menit/mingggu Kurang Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit. total kumulatif <150 menit/mingggu Kurang Aktif 84. Dengan ketiadaan fasilitas olahraga yang nyaman dan memadai ditambah dengan pengetahuan. seperti menonton televisi.

Tabel 28. Pada tahun 2004. Sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola konsumsi antara perokok dan bukan perokok. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) RANPG 2006-2010 49 . dan asapnya mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang menyebabkan ketagihan serta gangguan kesehatan. penyakit jantung. mempunyai resiko yang lebih besar terserang berbagai penyakit kanker. dibanding perkotaan (31. 40 35 30 Persen 25 20 15 10 5 0 1995 2001 2004 26.3. 60 di antaranya bersifat karsinogen yang dapat menyebabkan terjadinya kanker.44 Gambar 10. Angka ini meningkat dari 27. rokok. Vitamin E. sekitar 34 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas merokok. Perokok mengkonsumsi lebih tinggi: energi. Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyumbang utama dari kesakitan di antara penduduk termiskin di Indonesia. kolesterol dan alkohol.23 27. dan beta karoten. Kebiasaan merokok Tembakau. dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan (36. Selain dampak terhadap kesehatan.7 persen di tahun 2001 (Gambar 10). serat. merokok juga mempunyai dampak langsung terhadap status gizi. namun mengkonsumsi lebih rendah lemak tak jenuh ganda. emfisia dan penyakit lainnya.7 persen).000 bahan kimia yang dikandung dalam sebatang rokok. lemak jenuh. stroke. menurunkan kadar vitamin C dari jaringan tubuh dan darah serta menurunkan tingkat vitamin D dalam tubuh. Pola konsumsi perokok seperti ini meningkatkan efek buruk merokok seperti kanker dan serangan jantung. diantaranya menurunkan kadar vitamin dan mineral dalam tubuh. Terdapat kurang lebih 4. baik perokok aktif maupuan pasif. vitamin C.7 34. Orang yang terpapar bahan kimia tersebut.6 persen). total lemak.

57 34.53 32.53 33.63 24. Beberapa langkah yang dianjurkan untuk dapat menurunkan permintaan terhadap rokok antara lainnya adalah penerapan harga dan pajak yang tinggi. meninggal karena kebiasaan tersebut.05 31.07 35. Pengeluaran untuk rokok. Persentase pengeluaran untuk tembakau pada kelompok penduduk miskin melebihi pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan yang hanya sebesar 2.37 28.07 32.17 31. RANPG 2006-2010 50 .10 31.20 30. penindakan tegas perdagangan gelap.02 31.29 29.60 Total 35.44 36. pelarangan iklan dan promosi rokok.95 40.Sekitar 77. diperkirakan jumlah perokok pasif anak-anak adalah 43 juta orang Tabel 28.64 37.86 37.76 32.90 38.77 Desa 23.49 23.69 44. pengaturan kemasan dan label.62 28.30 39.09 36. seharusnya bisa digunakan untuk mencukupi asupan gizi keluarga.04 41. Belanja produk tembakau yang lebih banyak daripada pengeluaran untuk makanan mempunyai dampak yang sangat besar pada kesehatan dan gizi keluarga miskin.47 33.26 41.81 40.91 32.67 33.27 29.02 31.75 39.78 34.23 27.5 persen (perdesaan) dan 5. penggunaan tembakau berkontribusi cukup besar pada beban kesehatan.22 41.28 37.32 33.88 39.9 persen dari perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 19 tahun.14 34. Karena sebagian besar (91.48 38.93 Total 24.74 36.20 41.36 34.83 35.30 32.76 38.20 41.23 34. yaitu pada saat mereka mungkin belum bisa memahami resiko merokok dan sifat nikotin yang sangat adiktif.41 31.62 39.50 34.21 36.44 Propinsi Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Kota 25. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 Propinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Indonesia Kota 32.32 25. penduduk termiskin menggunakan 9. Kelompok miskin adalah yang paling dirugikan karena penggunaan tembakau.5 persen pada kelompok kaya.62 27. namun juga menurunkan produktivitas kerja.22 37.08 25. Merokok bukan hanya berpengaruh pada biaya-biaya perawatan kesehatan.87 29. dibandingkan 7.60 30.44 31.47 41.80 29.35 24. pelarangan penjualan kepada anak-anak dan penyediaan kegiatan alternatif secara ekonomis bagi petani dan karyawan pabrik tembakau.72 Desa 36. pengaturan kadar nikotin. dan separuh kematian terjadi dalam usia produktif ekonomi.41 40.60 32.02 26.4 34.10 27. proteksi terhadap paparan asap tembakau.75 30.38 Di Indonesia.74 31.29 27. Satu dari dua perokok jangka panjang.14 31.8 persen) perokok yang berumur 10 tahun ke atas merokok di dalam rumah ketika bersama dengan anggota keluarga lainnya.51 44.21 38.19 35.31 34.98 37.36 29.62 39.44 32.64 34. edukasi.19 29.9 persen (perkotaan).1 persen dari pengeluaran bulanan untuk tembakau.42 39. Pada 2001.17 28.53 39.39 32.

Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi. Isu Strategis Berkaitan dengan Pangan adalah sebagai berikut: Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. iii. kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. iii. (ii) gizi. ii. kebiasaan merokok dan berkurangnya aktifitas fisik mengakibatkan gizi lebih merupakan salah satu penyebab penyakit degeneratif (tidak menular). (iv) perilaku hidup sehat. dan anak sampai usia 2 tahun menjadi penghambat upaya perbaikan gizi. garam. dan (v) kelembagaan. i. yaitu ibu hamil. rendah serat. lemak. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian terutama beras. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan mengenai masa paling kritis dalam peningkatan gizi (Window of Opportunity). 1. khususnya oleh perempuan perkotaan dan pekerja. ISU STRATEGIS Berdasarkan analisis situasi pangan dan gizi pada bab terdahulu diperoleh beberapa isu strategis yang masih perlu mendapatkan perhatian dan penanganan lebih lanjut dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Isu Strategis Berkaitan dengan Gizi adalah sebagai berikut: i. Meningkatnya masalah gizi lebih karena tingginya konsumsi makanan yang kaya karbohidrat.BAB IV. dan kurangnya layanan reproduksi iv. RENCANA AKSI A. ii. (iii) keamanan pangan. bayi. rendahnya mutu layanan kesehatan dasar. RANPG 2006-2010 51 . Masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin disebabkan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Isu-isu strategis tersebut dapat dibagi ke dalam lima kelompok berkaitan dengan: (i) aksesibilitas terhadap pangan. 2. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan berkurangnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.

baik konsumen maupun industri pangan. Masih kurangnya upaya advokasi dan edukasi tentang pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan yang memerlukan dukungan dan komitmen serta kesepakatan sektor lain terutama dalam penyediaan sarana olahraga dan tempat-tempat terbuka untuk beraktivitas fisik serta upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat ii. Belum berkembangnya alternatif produk bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau merupakan salah satu faktor masih banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan berbahaya dalam industri pangan. namun belum ada strategi dan metode yang komprehensif dalam upaya penanggulangan gizi kurang. kesadaran produsen dan konsumen yang masih rendah. ii. Upaya untuk menekan dan menghindari penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi lebih sulit karena keterbatasan tenaga pengawas dan penegak hukum serta rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Masih maraknya pengunaan bahan tambahan makanan berbahaya. terjadi secara bersamaan (co-exist) dengan kelebihan gizi dan penyakit kronis. iii. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. Kesadaran keamanan pangan baik pada produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan. upaya peningkatan konsumsi energi dapat berdampak pada peningkatan konsumsi lemak dan upaya peningkatan konsumsi yodium dapat RANPG 2006-2010 52 . Isu Strategis Berkaitan dengan Keamanan Pangan adalah sebagai berikut: i. diare dan ISPA. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. iv. serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Ketersediaan tenaga pengawas yang masih terbatas.v. baik makro dan mikro. serta ketersediaan bahan-bahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. 3. yang pada saat yang sama juga menanggulangi masalah gizi lebih dan penyakit kronis. Saat ini masalah gizi kurang. Berbagai infeksi dengan tingkat kejadian yang tinggi antara lain adalah demam berdarah dengue. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang menyebabkan penurunan status gizi. Sebagai contoh. Isu Strategis Berkaitan dengan Pola Hidup Sehat adalah sebagai berikut: i. 4. terutama berkaitan dengan status air minum dan sanitasi lingkungan yang masih memprihatinkan.

ditunjukan dengan data produksi yang meningkat. kesadaran. RANPG 2006-2010 53 . Isu Strategis Berkaitan dengan Kelembagaan adalah sebagai berikut: i. terlihat dari kecenderungan meningkatnya prevalensi merokok pada penduduk serta meningkatnya prevalensi penyakit kronis akibat tembakau. iv. maka upaya pemenuhan ketenagaan pangan dan gizi tidaklah mudah. iii. Indikator pembangunan pangan dan gizi saat ini tersedia dan secara umum merupakan salah satu indikator yang datanya dapat diperoleh secara sistematis sampai tingkat daerah. iv. sumber keuangan negara dan sumber kehidupan petani tembakau. 5. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan kebiasaan untuk mengkonsumsi sayur dan buah sebagai salah satu gaya hidup sehat. dan profesi.berakibat pada konsumsi garam yang berlebih karena pemberian yodium dilakukan melalui fortifikasi pada garam. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi dikarenakan belum adanya pendampingan dan pemberdayaan masyarakat termasuk LSM dan swasta. Oleh karenanya pengembangan indikator ketahanan pangan dan gizi yang sensitif baik ditingkat lokal maupun nasional menjadi isu yang perlu ditangani dengan baik. Dengan tidak adanya satu lembaga tersendiri yang khusus menangani masalah gizi. Karena penyediaan tenaga di bidang pangan dan gizi memerlukan investasi yang cukup lama dan menyangkut pendidikan. Hal ini terkait antara lain dengan kebiasaan dan budaya. maka perlu suatu upaya untuk penanganan gizi yang terintegrasi dan memerlukan kepemimpinan yang kuat. namun Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 telah mengarahkan bahwa masalah gizi harus ditangani secara lintas sektor. Saat ini penanganan masalah gizi masih terpecah-pecah dalam berbagai sektor seperti kesehatan dan pertanian. iii. Perlunya ditingkatkan penggunaan data-data ini sebagai indikator yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk intervensi yang sesuai dan tepat waktu dalam menilai ketahanan pangan dan gizi. Belum optimalnya upaya untuk mengurangi kebiasaan merokok. Padahal ketersediaan sayur dan buah cukup melimpah. ii. Untuk itu perlu upaya yang ekstra dalam upaya peningkatan ketersediaan tenaga terampil di bidang pangan dan gizi. Ketersediaan tenaga di bidang pangan dan gizi masih menjadi kendala. sistem kepagawaian.

Mendukung kebijakan dan upaya penanggulangan kemiskinan melalui pelayanan gizi khusus kepada masyarakat miskin sehingga diwujudkan perbaikan gizi masyarakat sebagai modal untuk mengurangi kemiskinan. merata dan terjangkau. Menurunkan prevalensi berbagai bentuk kekurangan gizi yaitu gizi kurang. serta mencegah terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan akibat kelebihan gizi. vi. Meningkatkan akses keluarga terhadap informasi gizi dan kesehatan untuk membentuk perilaku sadar pangan dan gizi serta hidup sehat. dan produktif melalui pemantapan ketahanan pangan dan gizi nasional dan daerah pada tahun 2010. aman. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pelayanan gizi dan kesehatan secara merata. pada tahun 2010 sekurangkurangnya menjadi 50 persen dari prevalensi tahun 2005. dan kurang yodium. Meningkatkan keamanan pangan beredar melalui peningkatan partisipasi produsen pangan dan pelaksanaan pengawasan yang efektif dan efisien. Tujuan Umum Mewujudkan keadaan gizi masyarakat yang baik sebagai dasar untuk mencapai masyarakat yang sehat. iii. ii.B. yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup. cerdas. RANPG 2006-2010 54 . TUJUAN 1. 2. SASARAN 1. i. terjangkau dan berkualitas serta cost-effective. C. kurang vitamin A. baik dalam jumlah maupun mutu gizinya. sikap dan perilaku hidup sehat dengan kesadaran gizi yang tinggi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat. kurang zat besi. v. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan dengan gizi seimbang yang diperlukan bagi kehidupan yang sehat. iv. Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan.

Menurunkan prevalensi xerophthalmia. Meningkatkan konsumsi pangan perkapita untuk memenuhi kebutuhan zat gizi seimbang dengan kecukupan energi minimal 2. 5.200 kkal/hari. pangan hewani naik 2 persen per tahun. 4. 3. serta meningkatkan keragaman konsumsi pangan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) minimal 85. Meningka tnya efektifitas surveilen dan intervensi pada WUS. Meningkatnya persentase anak usia 6 .ASI) yang tepat.2. dan penyediaan protein perkapita minimal 57 gram/hari.24 bulan memperoleh Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP . ibu Hamil dan remaja putri yang beresiko Kurang Energi Kronis (LILA < 23. ii. yang ditunjukkan dengan peningkatan akses pelayanan gizi dan konsumsi pangan keluarga. 6. sehingga konsumsi beras turun sebesar 1 persen per tahun. v. mutu dan higiene pangan yang dikonsumsi masyarakat dengan menekan pelanggaran terhadap ketentuan keamanan pangan sampai 90 persen dan meningkatkan penelitian untuk menemukan zat pengawet yang aman dan terjangkau masyarakat miskin. Mempertahankan ketersediaan energi perkapita minimal 2. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat dan perilaku sadar pangan dan gizi. iii.5 persen per tahun. Meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan gizi pada masyarakat terutama kelompok rentan dengan sasaran sebagai berikut : i. Menurunkan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan dalam konsumsi pangan dengan mengefektifkan sistem distribusi pangan dan meningkatkan kemudahan/kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan. terutama protein hewani serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah. Meningkatkan keamanan. sayuran naik 4.000 kkal/hari dan protein sebesar 52 gram/hari dan cukup zat gizi mikro. iv. Menurunnya prevalensi anemia pada ibu hamil dan Wanita Usia Subur. 7. buah-buahan naik 5 persen per tahun. RANPG 2006-2010 55 .5 cm). umbi-umbian naik 1-2 persen per tahun. Meningkatnya pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. termasuk pangan yang difortifikasi.

dan (e) meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan pangan/pangan bersubsidi kepada masyarakat golongan miskin terutama anak-anak dan ibu hamil yang bergizi kurang. Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang. 4. promotif dan pelayanan gizi dan 56 2. 1. (b) memprioritaskan pada kelompok penentu masa depan anak. aman dan halal dikonsumsi dan bergizi seimbang. (b) mengembangkan kemampuan dalam pemupukan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat. yaitu. ibu nifas dan menyusui. (d) meningkatkan dan memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan dalam rangka mengembangkan skema distribusi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu yang mengalami kerawanan pangan. (b) mendorong. Peningkatan status gizi masyarakat. serta memfasilitasi peran serta masyarakat dalam pemenuhan pangan sebagai implementasi pemenuhan hak atas pangan. mengembangkan dan membangun. (c) mengembangkan teknologi dan kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan untuk menjaga kualitas produk pangan dan mendorong peningkatan nilai tambah. termasuk kurang gizi mikro (kurang vitamin dan mineral). Peningkatan kemudahan dan kemampuan mengakses pangan. diantaranya melalui peningkatan dan penguatan program fortifikasi pangan dan program suplementasi zat gizi mikro khususnya zat besi dan vitamin A. (d) mengembangkan jaringan antar lembaga masyarakat untuk pemenuhan hak atas pangan dan gizi. Arah kebijakan: (a) mengutamakan upaya preventif. (c) mengembangkan program perbaikan gizi yang cost effective. ibu hamil dan calon ibu hamil/remaja putri. promotif dan pelayanan gizi dan kesehatan kepada masyarakat miskin dalam rangka mengurangi jumlah penderita gizi kurang. 3. bayi sampai usia dua tahun tanpa mengabaikan kelompok usia lainnya. KEBIJAKAN Pemantapan ketahanan pangan.D. Arah kebijakan: (a) meningkatkan daya beli dan mengurangi jumlah penduduk yang miskin. Arah kebijakan: (a) menjamin ketersediaan pangan. (c) meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional melalui penetapan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rencana tata ruang wilayah dan meningkatkan kualitas lingkungan serta sumberdaya lahan dan air. (c) meningkatkan upaya preventif. (b) meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan melalui pengembangan sarana dan prasarana distribusi dan menghilangkan hambatan distribusi pangan antar daerah. dalam jumlah dan keragaman untuk mendukung konsumsi pangan sesuai kaidah kesehatan dan gizi seimbang. RANPG 2006-2010 . terutama dari produksi dalam negeri. Arah kebijakan: (a) menjamin pemenuhan asupan pangan bagi setiap anggota rumah tangga dalam jumlah dan mutu yang memadai.

dibidang pangan dan gizi sehingga terjamin adanya keterpaduan kebijakan. Peningkatan mutu dan keamanan pangan. Perbaikan pola hidup sehat. (d) melibatkan secara optimal peran serta media dalam upaya sosialisasi program dan kebijakan program pola hidup sehat. dan kanker. (d) meningkatkan kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan. diabetes. distributor dan ritel terhadap keamanan pangan. pengentasan kemiskinan. khususnya dengan sektor kesehatan. program dan kegiatan antar sektor di pusat dan daerah. dan (e) mengembangkan teknologi pengawet dan pewarna makanan yang aman dan memenuhi syarat kesehatan serta terjangkau oleh usaha kecil dan menengah produsen makanan dan jajanan. berdasarkan bukti (evidence-based). (g) mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). pendidikan. 6. perdagangan. (f) meningkatkan efektivitas fungsi koordinasi lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di pusat dan daerah. serta pemerintahan daerah. pertanian dan ketahanan pangan. monitoring. surveilan gizi. (c) meningkatkan fungsi dan kapasitas sektor-sektor terkait dalam pengembangan pola hidup sehat baik di Pusat maupun di daerah. (b) meningkatkan komitmen dan peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung program pola hidup sehat. Arah kebijakan: (a) mendukung akses edukasi dan pelayanan yang seluas-luasnya pada masyarakat dalam melaksanakan pola hidup sehat.kesehatan pada kelompok masyarakat dewasa dan usia lanjut dalam rangka mengurangi laju peningkatan (tren) prevalensi penyakit bukan infeksi yang terkait dengan gizi yaitu kegemukan. importir. RANPG 2006-2010 57 . agama. serta penyakit degeneratif lainnya. (h) mengembangkan program pendidikan kecakapan hidup (Life Skills Education). (e) memastikan adanya keterlibatan semua lapisan masyarakat secara aktif baik dalam program maupun kebijakan pelaksanaan program pola hidup sehat. (d) meningkatkan kemampuan riset di bidang pangan dan gizi untuk menunjang upaya penyusunan kebijakan dan program. (e) meningkatkan profesionalisme tenaga gizi dari berbagai tingkatan melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur dan berkelanjutan dan memperbaiki distribusi penempatan tenaga gizi tersebut. (b) melengkapi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang mutu dan keamanan pangan. Arah kebijakan: (a) meningkatkan pengawasan keamanan pangan. (c) meningkatkan kesadaran produsen. (f) meningkatkan kapasitas dalam administrasi data dan informasi sehingga terbentuk data yang akurat. tekanan darah tinggi. industri. 5. dan evaluasi program pangan dan gizi.

serta dampaknya pada status gizi. penyuluhan. zat yodium. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi melalui komunikasi. dan bayi sampai usia 2 tahun dalam rangka memperkuat dasar pencapaian program pengembangan anak usia dini (PAUD) dalam menentukan masa depan kualitas SDM. 2. untuk: (a) mempertahankan pola konsumsi pangan lokal yang didaerah dan kelompok masyarakat tertentu telah beragam terutama untuk makanan pokok. serta peningkatan pendapatan dan pendidikan umum. ibu menyusui. Status Gizi : 1. RANPG 2006-2010 58 . dan kampanye gizi untuk meningkatkan citra pangan lokal. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. dan (b) pengembangan aspek kuliner dan daya terima konsumen. Peningkatan program pencegahan dan penanggulangan masalah kurang gizi mikro. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi yang bersifat lintas sektor. sehingga mendorong komitmen dan investasi di bidang pangan dan gizi dalam pembangunan nasional dan daerah. Pengembangan program diversifikasi pangan ditingkatkan melalui pengkajian berbagai teknologi tepat guna dan terjangkau mengenai pengolahan pangan berbasis tepung. 2. tetapi juga pada aspek akses pangan yang menjamin konsumsi pangan dengan gizi seimbang bagi keluarga dan perorangan. Peningkatan kegiatan dan sasaran ketahanan pangan tidak hanya pada aspek persediaan pangan di tingkat makro. dan vitamin A dalam rangka peningkatan kualitas SDM. melalui suplementasi dan fortifikasi vitamin dan mineral khususnya untuk zat besi. serta tindakan cepat yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah setempat. ibu hamil. Peningkatan kemampuan pemerintah setempat dan masyarakat dalam mengembangkan dan memanfaatkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi untuk deteksi dini kemungkinan terjadinya bencana kerawanan pangan. 3. 4. kelaparan dan gizi kurang. 3. informasi dan edukasi untuk mencegah gangguan.E. STRATEGI Aksesibilitas Pangan: 1. melalui berbagai pendidikan gizi.

Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih melalui pemantauan secara berkala berat badan dan tinggi badan. pemantauan dan penegakan hukum. 3. Keamanan Pangan : 1. peningkatan penyediaan sarana dan prasarana olah raga dan ruang terbuka. Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada balita melalui pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan peningkatan KIE. Meningkatkan aktivitas fisik masyarakat melalui peningkatan promosi. 2. 4. 2. imunisasi serta KIE. Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang disebabkan bukan karena pendapatan (“nonincome poverty”) dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. perlindungan konsumen dalam rangka melindungi status kesehatan masyarakat. Peningkatan kesadaran tentang keamanan pangan dan gizi melalui upaya pencegahan dini dan penegakan hukum dalam rangka menjaga mutu mutu keamanan pangan. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok melalui regulasi penertiban iklan rokok. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi melalui penyusunan regulasi yang mengatur tentang iklan-iklan makanan dan minuman untuk mengurangi kejadian timbulnya penyakit degeneratif di kalangan muda. dalam rangka menumbuhkan dan menciptakan kesadaran seluruh lapisan masyarakat Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah melalui pola makan gizi seimbang dalam rangka pencegahan penyakit degeneratif Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. RANPG 2006-2010 59 .4. 6. Pola Hidup Sehat : 1. 5. Peningkatan keamanan pangan melalui penguatan peraturan. kebijakan penurunan permintaan suplai rokok dalam rangka mencegah penyakit kronis. peningkatan surveilen dan epidemiologi.

perguruan tinggi. Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. 5.Kelembagaan: 1. Revitalisasi SKPG untuk meningkatkan ketersediaan data pangan dan gizi di daerah Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan gizi melalui lembaga penelitian. 2. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. 6. RANPG 2006-2010 60 . serta di masyarakat. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. 4. dan masyarakat. Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan program-program pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. 3. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. 7.

Meningkatkan kemudahan petani untuk mengakses sarana produksi bermutu 2. Pemda 1. dalam jumlah dan ragam yang memadai 1. Revitalisasi penyuluhan dan peningkatan kemampuan kelembagaan petani 4. terutama dari produksi dalam negeri. Ketersediaan pangan pokok yang memenuhi kebutuhan 2. AKSESIBILITAS TERHADAP PANGAN 1. Dep. Pengkajian dan pengembangan teknologi pengolahan pangan 3. Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. Peningkatan ketersediaan jenis pangan alternatif yang murah.PU. aman. tidak mudah rusak.BAB V. dan mudah didistribusikan 5. Meningkatnya jenis dan ketersediaan pangan pokok yang aman dikonsumsi Ketahanan Pangan Deptan. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih Pemantapan Pangan Ketahanan Mengembangkan kapasitas cadangan pangan 1. Meningkatkan efektivitas layanan prasarana irigasi 6. Pemda 1. MATRIKS RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006-2010 NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB I. Peningkatan produktivitas dan produksi pangan pokok 2. Perum Bulog. Pembelian gabah petani oleh pemerintah 61 . Pemantapan Pangan Ketahanan Menjamin ketersediaan pangan. Tercapainya jumlah dan mutu cadangan Ketahanan Pangan Deptan.

KEBIJAKAN STRATEGI pemerintah dan masyarakat serta kemampuan pengelolaannya KEGIATAN 2. Pengembangan sarana dan prasarana untuk pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat INDIKATOR pangan pemerintah dan masyarakat yang aman 2. Penyusunan regulasi penetapan lahan pertanian abadi 2. Pengendalian alih fungsi lahan pertanian produktif 1. Menurunnya jumlah daerah dan penduduk rawan pangan PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Pemantapan Pangan Ketahanan Penyediaan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rangka menjamin kapasitas produksi yang dapat mencukupi kebutuhan pangan pokok 1. Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan 1. Kualitas sarana dan prasarana distribusi pangan yang meningkat 2. DPR BPN. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. Terbitnya peraturan perundangan yang menetapkan lahan pertanian abadi untuk produksi pangan 2. Mengembangkan cadangan pangan nonberas siap konsumsi 4. Menurunnya konversi produktif tingkat lahan Ketahanan Pangan Deptan. Pengurangan hambatan distribusi pangan antar daerah 1. Semakin pendeknya rantai distribusi pangan Pengembangan Agribisnis Deptan 62 .NO ISU STRATEGIS terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi. Mendorong terbentuknya cadangan pangan daerah dan masyarakat 3. Pengembangan sarana dan prasarana distribusi 2.

1. 3. Depkes 63 . Sosial. Sosialisasi keragaman bahan pangan yang berkualitas dan bergizi Deptan. Revitalisasi kelembagaan ekonomi perdesaan untuk menunjang distribusi pangan 2. Inovasi teknologi pengolahan dan pemasaran pangan 1. Perbaikan fasilitas distribusi pangan di perdesaan seperti pasar.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan STRATEGI Pengembangan teknologi serta kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan KEGIATAN 1. Depdag Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan/subsidi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu Distribusi beras bersubsidi bagi rakyat miskin (Raskin) yang lebih efisien dan efektif Operasi Pasar dalam rangka stabilisasi harga pangan Bantuan pangan untuk kondisi darurat/bencana. Perdagangan. Pemda. Tingginya pemahaman masyarakat akan pentingnya konsumsi Program Peningkatan Ketahanan Pangan Perum Bulog. Dep. Harga pangan stabil dan terjangkau Distribusi bantuan pangan tepat sasaran dan tepat waktu 1. Distribusi pangan bersubsidi yang efisien dan tepat sasaran 2. Revitalisasi kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan 2. Dep. INDIKATOR 1. kios beras. Peningkatan nilai tambah produk pangan PROGRAM Pengembangan Agribisnis PENANGGUNG JAWAB Deptan Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan serta memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan Deptan. Meningkatnya kualitas produk pangan 2. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang Mempertahankan pola konsumsi pangan lokal dan kelompok masyarakat 1.

Meningkatnya penggunaan eksklusif ASI Upaya Kesehatan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Pendidikan anak usia dini Depkes. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. Meningkatnya jumlah petugas puskesmas dan kader posyandu yang dilatih 5. ibu hamil. KEBIJAKAN STRATEGI tertentu yang telah beragam terutama untuk makanan pokok KEGIATAN seimbang 2. PENINGKATAN STATUS GIZI MASYARAKAT 1. II. dan bayi sampai usia 2 tahun 1. Depdiknas Depdagri Deptan Deprin Depdag Meneg PP PKK Pemda 6. Tetap terjaganya keragaman konsumsi pangan yang seimbang PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. Revitalisasi Posyandu dan revitalisasi Puskesmas 2. Pemantauan pertumbuhan 4. Meningkatnya jumlah posyandu yang aktif 2.NO ISU STRATEGIS terutama beras. Terlaksananya mekanisme insentif untuk kader Posyandu 4. Peningkatan pemahaman pentingnya pangan yang beragam Pengembangan aspek kuliner dan daya terima pangan lokal INDIKATOR pangan yang beragam 2. Peningkatan pelayanan antenatal di 64 . ibu menyusui. Pengembangan Pos Gizi 1. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita yang erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan rendahnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif. Imunisasi) 3. BGM. Tersedianya data capaian kegiatan (SKDN. Memberikan penyuluhan ASI eksklusif untuk bayi 06 bulan 3.

busui melalui RT/RW secara berkala. Menurunnya prevalensi anemia pada Ibu hamil. balita. Menurunnya prevalensi xeropthalmia (X1b < 0. Pemberian MP-ASI kepada balita gakin dengan resiko kekurangan gizi 7. ibu nifas. Peningkatan konsumsi garam beryodium untuk semua (KGBS) 3. Meningkatnya konsumsi tablet besi dan ketepatan konsumsi 2. Meningkatnya konsumsi beryodium garam Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak Depkes Deptan Deprin Depdagri 6. Pemberian kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus 8.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR Puskesmas PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Pemasaran sosial sumber vitamin A 2. Pendataan data sasaran bayi. Pemberian tablet kepada ibu hamil besi 1. program dan masalah 1.33%) 4. balita dan wanita usia subur (WUS) 5. 5. Jumlah kasus gizi buruk yang berhasil ditangani 9. A bagi setiap semua bayi/anak 6-59 bulan 3. calon pengantin dan tenaga kerja wanita 6. bumil. Peningkatan pemberian suplementasi tablet besi pada remaja putri. Fortifikasi minyak sayur dengan vitamin A 4. Tercapainya pemberian kapsul Vit. Promosi dan pemantauan 65 . Peningkatan pencegahan penanggulangan kurang gizi mikro.

Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini 3. Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan 5. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi. Pembentukan kelompok pendidik sebaya (peer educator) diantara remaja di sekolah dan luar sekolah 3. Pendidikan gizi melalui kampanye. Meningkatnya pengetahuan dan konsumsi penduduk tentang pangan sumber Vitamin A 4. Terlaksananya pedoman tata laksana gizi buruk Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Depkes Meneg PP BKKBN Pemda PKK 66 . Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Meningkatnya cakupan rumah tangga dengan konsumsi garam beryodium cukup 5. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan masih maraknya perilaku yang menghambat upaya perbaikan gizi. Meningkatnya persentase keluarga sadar gizi (kadarzi) 2. Menyebarkan informasi 1. Pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga 2. informasi dan edukasi 4.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN konsumsi beryodium 10. penyebaran komunikasi. Penanganan buruk garam kasus gizi INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 11. Peningkatan pendidikan dan penyetaraan gender guna meningkatkan kualitas perawatan kehamilan dan perawatan bayi dan anak 2. 1.

tempat umum lain 8. Pramuka. Meningkatnya jumlah kelompok yang dibentuk dan melakukan kegiatan diskusi tentang pangan dan gizi 8. dll.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN melalui media cetak dan elektronik. PKK. 1. Tersedianya informasi tentang gizi di semua media untuk seluruh lapisan masyarakat 7. Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdagri 67 . tempat kerja. Belum optimalnya program penanganan gizi bagi penduduk miskin. karang taruna. 6. Meningkatnya jumlah keluarga yang memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. LSM. industri kecil. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin 2. arisan. Menyelenggarakan kegiatan peningkatan pendapatan keluarga (KUB. Pemenuhan hak dasar masyarakat miskin atas layanan kesehatan dasaryang bermutu Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin. dll) INDIKATOR 6. 7. Menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat miskin terutama penanganan gizi kurang 2. Pemberian suplemen zat gizi mikro. vitamin A dan yodium 3. 1. Menyebarkan informasi melalui kelompok pengajian. Berkurangnya kejadian gizi buruk pada keluarga miskin PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. khususnya zat besi. Menyebarkan informasi di sekolah.

Bantuan langsung tunai bersyarat bagi penduduk miskin 5. masalah Pencegahan penanggulangan gizi lebih Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih 1. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang berkaitan Peningkatan pengetahaun masyarakat tentang penyakit. Perbaikan gizi masyarakat Pencegahan Depkes 68 . lingkungan Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada 1. Meningkatnya kecenderungan gizi lebih. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemgembangan pelayanan kesehatan dan gizi bagi masyarakat miskin INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 4. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko Menurunnya angka penyakit infeksi pada balita. Peningkatan promosi tentang pencegahan kegemukan dan obesitas Menurunkan kegemukan prevalensi Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdiknas 5. Pelaksanakan pemantauan secara berkala BB dan TB 2. Melaksanakan manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan penyakit degeneratif dan penyakit lainnya 3.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN dengan harga subsidi seperi beras untuk orang miskin (Raskin) dan MPASI untuk balita keluarga miskin 4.

Peningkatan KIE tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit INDIKATOR PROGRAM dan Pemberantasan Penyakit PENANGGUNG JAWAB III. gizi keluarga dan perilaku hidup sehat balita. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. kesadaran produsen dan konsumen Meningkatkan pengawasan keamanan pangan 1. laboratorium pengawasan makanan. kelangsungan dan perkembangan anak. lingkungan. STRATEGI KEGIATAN 2. Badan POM Depdiknas Men-PAN 69 . Meningkatkan efektivitas karantina pertanian 1. Peningkatan jumlah dan kompetensi petugas serta laboratorium pengawasan 1. MUTU DAN KEAMANAN PANGAN 1. Meningkatkan sosialisasi peraturan dan standar keamanan pangan 2. Peningkatan kesadaran keamanan pangan pada masyarakat produsen dan konsumen 1. Peningkatan surveilen dan epidemiologi dan penaggulangan wabah 3. KEBIJAKAN sehat. Tercegahnya pemasukan bahan pangan impor yang tidak memenuhi syarat keamanan pangan 3. Kesadaran keamanan Peningkatan Mutu dan pangan baik pada Keamanan Pangan produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan.NO ISU STRATEGIS dengan sanitasi. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan keamanan pangan 2. Ketersediaan tenaga Peningkatan Mutu dan pengawas yang masih Keamanan Pangan terbatas. Peningkatan cakupan imunisasi 4. Pemahaman produsen terhadap CPMB Pengawasan dan keamanan pangan BPOM Deprin Deptan Depdagri Depdag 2. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Memadainya jumlah pengawas.

NO ISU STRATEGIS yang masih rendah. Penetapan standard pangan yang aman dikonsumsi 3. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. KEBIJAKAN STRATEGI Meningkatkan perlindungan kepada konsumen 2. Penyediaan produk pengawet. Pelaksanaan penelitian untuk mencari alternatif produk bahan tambahan makanan BPOM LIPI IV. Menurunnya peredaran produk pangan TMS 2. PERBAIKAN POLA HIDUP SEHAT 1. Peningkatan promosi 1. Tersusunnya standar keamanan dan mutu pangan 3. serta ketersediaan bahanbahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. Meningkatnya Promosi Depkes 70 . Melengkapi perangkat peraturan perundangundangan di bidang mutu dan keamanan pangan 2. Pengembangan teknologi pengolahan makanan 2. Peningkatan pengawasan keamanan pangan 1. Peningkatan pengembangan dan penelitian bahan tambahan makanan yang aman. pewarna. Rendahnya aktifitas fisik Perbaikan pola hidup Peningkatan aktivitas fisik 1. Tersedia dan terjangkaunya pengawet dan pewarna makanan produsen makanan dan jajanan Tersedianya alternatisf bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau BPOM Deptan 4. dan tambahan fungsional pengolahan makanan yang aman 1. Belum berkembangnya Peningkatan Mutu dan alternatif produk bahan Keamanan Pangan tambahan makanan yang aman dan terjangkau. KEGIATAN Peningkatan cakupan wilayah dan jenis produk pangan yang diawasi INDIKATOR jumlah produk pangan dan cakupan wilayah yang diawasi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Masih maraknya Peningkatan Mutu dan pengunaan bahan Keamanan Pangan tambahan makanan berbahaya. 1.

garam. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi 71 . INDIKATOR pemahaman masyarakt tentang manfaat aktifitas fisik 2. KEGIATAN tentang aktivitas fisik 2. pola hidup Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah Peningkatan sosialisasi dan advokasi untuk konsumsi sayur dan buah. gula dan garam. Peningkatan promosi tentang pengurangan konsumsi lemak. Masih rendahnya konsumsi sayur dan buah Perbaikan sehat. lemak Perbaikan sehat. Pengembangan metode penyampaian pesan-pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang mudah dipahami oleh masyarakat.NO ISU STRATEGIS yang berakibat pada meningkatnya penderita penyakit degeneratif KEBIJAKAN sehat. 2. STRATEGI masyarakat. 1. Meningkatnya rata-rata konsumsi sayur dan buah per kapita per hari 1. Meningkatnya sarana dan prasarana olahraga serta ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat PROGRAM Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Pembinaan dan Pemasyarakata n olahraga Peningkatan Sarana dan Prasarana olah raga Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat PENANGGUNG JAWAB Deptan Menpora BPOM Depdiknas Pemda 2. Deptan Depdiknas Depkes Depkes Depdiknas BPOM 3. pola hidup Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. pencegahan penyakit degeneratif. Meningkatnya konsumsi gula. Meningkatnya kesadaran tentang kebiasaan makan yang sehat 2. Peningkatan promosi tentang manfaat aktifitas fisik untuk kesehatan. Meningkatnya frekuensi penayangan informasi tentang pola hidup sehat dan gizi seimbang di media masa. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pesan-pesan PUGS 3.

PEMANTAPAN DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN 1. Masalah pangan dan gizi yang bersifat multi dimensi. pola hidup Peningkatan promosi tentang bahaya merokok 4. multi sektoral dan multi disiplin belum tertangani secara terpadu dan terkoordinasi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan programprogram pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. Advokasi pangan dan gizi pada para pengambil keputusan perencanaan di tingkat pemerintah dan parlemen. Menurunnya pengeluaran rumah tangga untuk rokok 2. V. Kebijakan Pangan dan Gizi terakomodasi secara jelas dalam dokumen perencanaan tingkat nasional dan daerah seperti RPJPRPJPD. Dilaksanakannya regulasi tentang pemasaran rokok 5. Meningkatnya jumlah Sekolah sehat PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 1. 1. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok bagi kesehatan. 1. Meningkatnya tempattempat umum yang dilarang merokok 1. Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Depkes Menpora Depdag Pemda 6. Belum optimalnya pencegahan kebiasaan merokok Perbaikan sehat. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat 5. RPJMPerbaikan Gizi Masyarakat Bappenas Bappeda Depkes Deptan Organisasi 72 . Peningkatan upaya regulasi dalam rangka menurunkan ketersediaan rokok di pasaran. Penegakan hukum dalam hal pelarangan merokok di tempat umum.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR 4.

Meningkatnya program dan pembiayaan pangan dan gizi 3.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR RPJMD dan RenstraRenstrada 2. Advokasi hasil analisis SKPG kepada pengambil keputusan (pejabat berwenang) 1. pengolahan dan analisa data untuk pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) 3. Pengembangan dan analisis data pangan dan gizi 2. Masih terbatasnya penggunaan data-data pangan dan gizi sebagai indikator untuk menilai ketahanan pangan dan gizi pada tingkat lokal yang sesuai dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan. Dimanfaatkannya sistem pelaporan dan informasi untuk penyusunan kebijakan 2. Terciptanya kerjasama sinergis antara lembaga pemerintah. swasta. Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Revitalisasi SKPG 1. Sudah dimanfaatkannya informasi SKPG untuk pengambilan Ketahanan Pangan Perbaikan Gizi Masyarakat Perbaikan Gizi Masyarakat Depkes Deptan BKKBN Bulog Depdagri BPS 73 . dan masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB profesi Menpan 2. Semua kabupaten/kota sudah melaksanakan pemetaan. Pengumpulan. keterampilan Tim SKPG dalam menanggulangi masalah pangan dan gizi 3.

Menggerakaan LSM dan swasta untuk berperan serta dalam penanggulangan masalah pangan dan gizi 3. Meningkatnya jumlah LSM dan swasta yang berperan serta dalam penanggulangan pangan dan gizi Ketahanan Pangan Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes 4. perguruan tinggi dan Ketahanan Pangan Deptan Depdiknas 74 .NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR keputusan. Tersedianya peta rawan pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi Meningkatnya peran lembaga penelitian. Masih terbatasnya ketersediaan tenaga terampil di bidang Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan 1. perumusan kebijakan. swasta. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi 1. Peningkatan kerjasama dengan lembaga nonpemerintah dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) 2. dan mastyarakat. perencanaan program dan evaluasi 4. Pengembangan sistem penanggulangan masalah kerawanana pangan melalui kerjasama pemerintah.

Pengembangan kurikulum dan Pengembangan pendidikan tenaga gizi 2. Pengembangan sertifikasi profesi 3. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. 1. Peningkatan kerjasama institusi pendidikan. perguruan tinggi. PROGRAM Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat PENANGGUNG JAWAB Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi 1. INDIKATOR masyarakat dalam menghasilkan data yang dapat dipercaya. dan masyarakat. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. Tersedianya tenaga pangan dan gizi yang memadai Ketahanan Pangan Pendidikan Kedinasan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. Menggali potensi sumber daya (tenaga. Penyusunan rencana kebutuhan tenaga pangan dan gizi 2. sarana dan dana) yang ada pada LSM dan swasta. Gizi KEBIJAKAN STRATEGI gizi melalui lembaga penelitian. lembaga penelitian dan pengelola program. serta di masyarakat.NO ISU STRATEGIS pangan dan gizi. Pengembangan profesi tenaga pangan dan gizi melalui kerja sama institusi pendidikan dengan organisasi profesi Jumlah tenaga pangan dan gizi yang dilatih Ketahanan Pangan Prndidikan Non Formal Pendidikan Kedinasan Deptan Depdiknas Depkes 75 . KEGIATAN 2.

KEGIATAN Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas. 76 . kualitas dan mobilitas Pengintegrasian faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektoral dan daerah INDIKATOR PROGRAM Keserasian Kebijakan Kependudukan PENANGGUNG JAWAB BKKBN 7.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI Pengendalian pertambahan penduduk 6.

Laporan Indonesia untuk persiapan End Decade Goal 2000.2000. Geneva. 2006 Departemen Kesehatan. UU No 20. Depdiknas. Peraturan Pemerintah No.2004.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (BPS). Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Programs and Prospective Development. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Nasional. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005. RI-WHO. Bapenas dan Unicef. Jakarta. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. LIPI. 2003. World Bank. Soekirman dkk. Statistik Pertanian 2005 (Agriculturel Statictisc 2005). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. Jakarta. 2000. WHO. 2000. Bappenas. 2006 77 . 2005. 2006 Government of Indonesia (GOI). 2005 Gizi dalam Angka sampai dengan 2005. Departemen Kesehatan. Sistem Pendidikan Nasional yang juga mengatur tentang "Wajib belajar 9 tahun". Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. 2006 UNDP. 2003. Global Strategy on Diet. Repositioning Nutrition as Central to Development A Strategy for Large-Scale Action. poverty and the global water crisis. 2004. 2000. 2006. A Framework to Monitor and Evaluate Implementation. 2004. Physical Activity and Health. 2006. 2006 Dewan Ketahanan Pangan. Direktorat Pangan dan Pertanian. 2003. Human Development Report: Beyond scarcity: Power. Departemen Pertanian. Indonesia Progress Report on the Millenium Development Goal. LIPI. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005 – 2009.7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004-2009 Profil Pangan dan Pertanian 2003 – 2006.

Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Pungkas Bahjuri Ali. Ketua Komisi Perlindungan Anak Tim Teknis Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Direktur Kesehatan dan Gizi mAsyarakat. Kementerian PPN/ Bappenas 4. Depdiknas 5. Ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Pusat 10. ME 3. Kasubdit Pangan. Direktorat Pangan dan Pertanian. Departemen Kesehatan 2. Ketua Persatuan Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) 7. 339/M. Bappenas : 1. MS 78 . Kepala Badan Ketahanan Pangan. Ir. Ketua Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) 9. Ketua Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) 8. Bappenas 2. Destri Handayani. Kementerian Bappenas Wakil Ketua : Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.PPN/12/2005 Tentang Pembentukan Tim Penyusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Tahun 2006-2010) Tim Pengarah Ketua : Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan. STP. Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Ketua Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) 11. Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) 6. Departemen Pertanian 3. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat.LAMPIRAN TIM PENYUSUN RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI TAHUN 2006-2010 (Berdasarkan Keputusan Nomor: KEP. Bappenas : Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas : Kasubdit Gizi Masyarakat. Badan POM Anggota : 1.

Kasubdit Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan. Subdirt Gizi Mikro. STP. Deptan 4. Direktorat Gizi Masyarakat. BPOM 2. Direktorat Gizi Masyarakat. Kabag Perencanaan. Deptan 5. Departemen Kesehatan Sekretaris : Kasubdit Gizi Makro. Puslitbang Gizi. Pusat Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat. DR. Sekretariat Badan Ketahanan Pangan. Direktorat Gizi Masyarakat. Kelompok Aksesibilitas Pangan Ketua : Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Kasie Standarisasi. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Diretorat Gizi Masyarakat. MSc. Kabid Analisis Harga. Dian Proboyekti. Pusat Pengembangan Ketersediaan Pangan. DR. Kasubdit Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan. Kelompok Gizi Ketua : Direktur Gizi Masyarakat. Deptan 2. Abbas Basuni Jahari. staf Subdit Gizi Makro. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Deptan 79 . Kabid Penganekaragaman Pangan. Deptan 3. Puslitbang Gizi. Deptan III. Depkes 2. Kasubdit Kewaspadaan Pangan. Kabid Standarisasi. Anggraini. Deptan Sekretaris : Kabid Konsumsi Pangan Lokal. Kasie Standarisasi. Deptan Anggota : 1. Depkes 3. Kasubdit Penilaian Pangan Khusus.I. BPOM 4. Kabid Pola Pemberdayaan. BPOM 5. Badan POM Sekretaris : Kasubdit Standarisasi Pangan Khusus. Depkes 4. Pusat Pengembangan Distribusi Pangan. Depkes Anggota : 1. BPOM 3. Depkes 6. Depkes II. Kabid Pemantauan Produksi Pangan. Pusat Standarisasi dan Akreditasi. Staf Direktorat Standarisasi Produk Pangan. MPH. Subdit Kewaspadaan Gizi. BPOM Anggota : 1. Kabid Kerawanan dan Mutu Pangan. Kelompok Keamanan Pangan Ketua : Direktur Standarisasi Produk Pangan. Deptan 6. Pusat Kewaspadaan Pangan. Imam Sumarno.. Depkes 5.

SKM. 12.Kes. Ismoyowati. 22. 7. 13. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 14. Depdiknas 2. Kasubdit Kesiswaan. Depkes TIM PENYUNTING 1. Depdiknas 5. Depdiknas 3. Irawati Susalit Kismanto Mewa Ariani Minarto Muhammad Zakky Nana Mulyana Nita Yulianis Razak Thaha Soekirman Subiyakto Pungkas Bahjuri Ali Noor Avianto Tety H. M. 18. 21. 11. 3. Depdiknas Anggota :1. Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 23. 17. 24. 20. 8. 27. Kasubdit Kesehatan Olahraga. 28. Sihombing Yosi Diani Tresna 80 . Abbas Basuni Jahari Ali Muharam Andriyanto Arif Haryana Arum Atmawikarta Atmarita Darwin Karyadi Dhian P. Kasubdit Kesiswaan. 6. Depdiknas 4. Kasubdit Kesiswaan. 15. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga 6. 19. 5. 2. 26. 4. 9. Achadi Entos Zaina Hardinsyah Ima Anggraini Inti Wikanestri 16. 10. 29. Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani. Pusat Promosi Kesehatan. Dipo Drajad Martianto Endah Murniningtyas Endang L. Direktorat Pendidikan TK dan SD. Kabid Olahraga Kesiswaan.IV. 25. Kelompok Pola Hidup Sehat Ketua : Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Sekretaris : Kabid Pengembangan Pendidikan Keterampilan Hidup dan Kesehatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful