P. 1
HOTD aRti Mimpi

HOTD aRti Mimpi

4.5

|Views: 4,289|Likes:
Published by api-3725701
Hadist riwayat Bukhari ra., ia berkata:
\
Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda :"Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka..
Hadist riwayat Bukhari ra., ia berkata:
\
Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda :"Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka..

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Hadith of the Day

[HOTD] aRti mimpi Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (Doa nabi Yusuf a.s., QS. Yusuf, 12 : 101) Hadist riwayat Bukhari ra., ia berkata: Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda: “Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memmohon perlindungan (ta`wwudz kepada Allah) dari keburukaannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat)”. Links: [mimpi] http://www.percikan-iman.com/mapi/index.php?option=content&task=view&id=248 [sejauh mana kita bOleh mempercayai mimpi] http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/1999 [beRlebihan dalam mengangungkan guRu-guRu meReka dan beRhujjah dengan mimpimimpi] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1921&bagian=0 [peRbedaan antaRa Ramalan dan mimpi] http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/11992 [psikOlOgi mimpi] http://www.mail-archive.com/milis-muslim@yahoogroups.com/msg00229.html [ingin melihat Rosulullah lewat mimpi] http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/2322 [Mimpi Rasulullah S.A.W] http://mavourneen.wordpress.com/2007/01/15/mimpi-rasulullah-saw/ [mimpi kepada Rasullullah dan Nabi lainnya seRta mimpi haRi kiamat beRulang kali] http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/3596 [apakah Nabi melihat Allah?] http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=153&Ite mid=22 [apakah mimpi bisa dijadikan Referensi?] http://syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/3774 [mimpi melihat Nabi] http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/1737 [peRnah mimpi : sudah baligh atau belum ?] http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/4892 -perbanyakamalmenujusurga-

http://orido.wordpress.com

1

Hadith of the Day
Point Rangkuman: • Mimpi bisa jadi isyarat yang diberikan oleh Allah kepada hambanya berupa berita baik atau buruk dan mimpi ada yang memiliki makna dan ada pula yang berupa mimpi kosong sekadar permainan setan kepada manusia. • Mentakwilkan mimpi dibenarkan dalam ajaran Islam, namun kriteria seorang penakwil mimpi sangat jauh dari mudah • Manusia biasa sama sekali tidak dibenarkan bila mengaku mendapat perintah dari Allah melalui mimpi • Hujjah yang paling lemah adalah hujjah suatu kaum yang menyandarkan kepada mimpi-mimpi untuk melaksanakan atau meninggalkan suatu amalan --> harus dikembalikan kepada hukum-hukum syari’at yang ada • Suatu hukum tidak bisa diambil dari mimpi-mimpi sebelum dicocokkan terlebih dahulu dengan dalil, karena gambaran yang ada dalam mimpi kemungkinan tercampur dengan kebatilan • Bagi para nabi dan rasul, mimpi mereka umumnya adalah sarana wahyu dari Allah SWT • Bila salah seorang diantaramu mengalami mimpi buruk yang tidak disukainya, maka hendaknya meludah ke kiri tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukannya. • Bila seseorang bertemu dalam mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, maka memang benar itu adalah Rasulullah SAW dan bukan makhluk yang menyamar.

http://www.percikan-iman.com/mapi/index.php?option=content&task=view&id=248 Mimpi April 2006 Mimpi merupakan sebuah keadaan ketika manusia mengalami suatu kejadian yang memberikan gambaran kehidupan lain yang terkadang bisa memberikan makna dalam kehidupan sesungguhnya. Mimpi bisa jadi isyarat yang diberikan oleh Allah kepada hambanya berupa berita baik atau buruk dan mimpi ada yang memiliki makna dan ada pula yang berupa mimpi kosong sekadar permainan setan kepada manusia. Banyak ayat Al Quran dan riwayat Nabi yang bercerita tentang mimpi. Misalnya, dalam Surat Ash-Shaaffaat (37) ayat 102 yang mengisahkan mimpi Ibrahim ketika ia diharuskan menyembelih putranya, Ismail. Juga dalam Surat Al Fath (48) ayat 27 mengenai mimpi Rasulullah sebelum terjadinya Perjanjian Hudaibiyah. Tak hanya para nabi, para sahabat pun pernah mengalami mimpi yang pada akhirnya terbukti kebenarannya. Tak seperti mimpi nabi yang sangat terang dan tak perlu ditakwilkan lagi karena merupakan wahyu dari Allah, mimpi para sahabat ada yang perlu ditakwilkan –seperti mimpi Abu Bakar yang menaiki tangga bersama Rasulullah, tetapi mereka berselisih dua anak tangga. Dalam takwilnya, Abu Bakar menyatakan bahwa kematiannya akan datang dua tahun setelah Rasulullah, dan itu benar-benar terjadi— dan mimpi yang tidak perlu ditakwilkan –seperti mimpi Bilal yang melafazkan bacaan-bacaan azan. Ketika melaporkannya kepada Rasulullah saw., beliau mengatakan bahwa mimpinya adalah benar. Rasulullah saw. bersabda, “Jika masa

http://orido.wordpress.com

2

Hadith of the Day
semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian....” (Muttafaq ‘alaih). Ini berarti mimpi seorang mukmin memiliki pertimbangan 1/46 karena 45/46 diberikan pada nabi. Khalid al-Anbari dalam bukunya Kamus Tafsir Mimpi menyebutkan bahwa tanda mimpi yang benar adalah sebagai berikut. 1. Bersih dari mimpi kosong, bayangan-bayangan yang meresahkan dan menakutkan. 2. Dapat dipahami ketika terjaga. 3. Tidur dalam keadaan pikiran jernih, tidak disibukkan oleh persoalan apa pun. 4. Mimpi tersebut dapat ditakwilkan sesuai dengan apa yang ada di Lauh Mahfuzh. "Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi.’” (Q.S. Yusuf 12: 43) Ayat di atas merupakan salah satu contoh ayat yang menjelaskan mengenai sahnya mimpi seorang kafir, jika isi mimpinya berkaitan dengan orang mukmin. Ada juga mimpi yang dianugerahkan Allah kepada yang dikehendakinya agar ia mendapatkan hidayah. Ini berdasarkan riwayat al-Hakim mengenai keislaman seorang seorang sahabat, Khalid bin Sa’id bin ‘Ash. Keislaman ini terjadi setelah Khalid mengalami mimpi yang sangat menyeramkan. Dalam mimpinya, dia melihat seakanakan ayahnya hendak mendorongnya ke neraka, sementara Rasulullah saw. berusaha memegang pinggangnya agai ia tidak terjatuh. Juga atas dasar tafsiran Ibn Hasyirin ketika ia didatangi seseorang yang bermimpi jari-jari tangannya yang ketiga dan keempat buntung. Ia menakwilkan bahwa mimpi tersebut sebagai peringatan pada orang itu karena shalatnya bolong-bolong. Sepulangnya dari bertemu Ibn Hasyirin, ia pun bertobat. Seorang yang merasa telah mengalami mimpi yang benar, janganlah bertindak sembrono meminta sembarang orang untuk menakwilkan mimpi yang dialaminya. Janganlah ia menceritakannya kepada orang yang dengki dan dendam dan kepada orang yang jahil yang ucapannya tertolak tetapi ceritakanlah kepada orang yang berilmu, para ulama yang memiliki keutamaan, orang-orang yang dalam pemahaman terhadap dien Islam. Macam Mimpi Rasulullah saw. bersabda, “Mimpi itu ada tiga. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari setan, dan mimpi yang datang dari obsesi seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan maka hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya pada orang lain.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Rasulullah saw. bersabda, “Mimpi yang baik adalah dari Allah. Sedangkan mimpi yang menakutkan berasal dari setan. Barangsiapa mimpi yang tidak menyenangkan maka hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung diri kepada Allah dari setan, maka mimpi tersebut tidak akan membahayakannya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

http://orido.wordpress.com

3

Hadith of the Day
Bertolak dari hadis-hadis di atas, menurut Aam Amiruddin dalam bukunya Menelanjangi Strategi Jin, kita bisa membuat sejumlah kesimpulan. 1. Mimpi bisa terjadi karena suatu obsesi. Obsesi tersebut begitu kuat dalam memori kita sehingga muncul dalam mimpi. Misalnya, seorang pemuda yang terobsesi menikahi Dian Sastro, sangat mungkin dia bermimpi menikah atau bertemu dengannya. Ini adalah mimpi yang bersifat fitriah atau alamiah. 2. Bermimpi yang baik. Mimpi ini datangnya dari Allah, kita wajib mensyukurinya dan boleh menceritakannya pada orang lain sebagai wujud rasa syukur. 3. Mimpi buruk atau menakutkan. Mimpi ini datangnya dari setan. Kita wajib berlindung diri pada Allah, bahkan kalau memungkinkan meludah tiga kali ke sebelah kiri dan jangan menceritakannya pada orang lain –kecuali kalau ingin mengetahui takwil mimpi tersebut. Sebab kalau kita menceritakannya, setan akan merasa senang kalau gangguannya itu menjadi bahan pembicaraan manusia. Berhati-hatilah jika kita bermimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal, misalnya bertemu dengan ayah atau ibu kita yang sudah wafat, sebab dikhawatirkan setan menyerupainya. Jadi, kalau kita bermimpi bertemu dengan orang yang sudah wafat, sebaiknya bersegeralah berlindung kepada Allah. Tafsir Mimpi Bolehkah kita menakwilkan mimpi? Mari kita becermin pada sejarah. Nabi Yusuf a.s. pernah menakwilkan mimpi dua orang tahanan ketika ia dipenjara bersama mereka dan juga mimpi seorang Raja Mesir. Abu Bakar merupakan orang yang pandai menakwilkan mimpi, salah satunya dengan takwilnya dalam peristiwa di atas. Ini membuktikan bahwa menakwilkan mimpi dibenarkan dalam ajaran Islam, namun kriteria seorang penakwil mimpi sangat jauh dari mudah. Seorang penakwil mimpi haruslah orang yang jujur (shidiq), cerdas, cerdik, dan suci dari perbuatan keji. Ia harus mengerti tentang Kitab Allah dan sunah Rasulullah dan ia pun harus paham benar ilmu mentakwilkan mimpi. Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Imam al-Gazali yang menyatakan bahwa fungsi roh sebagai penangkap isyarat Ilahi bagaikan cermin. Dia bisa memantulkan cahaya. Orang yang sidiq merupakan cermin yang paling bersih dan paling bening di mana cahayanya tidak terdistorsi sama sekali. Jadi, dia bisa menangkap isyarat tersebut. Untuk menjadi seorang penafsir mimpi, ada beberapa etika yang harus diperhatikan, di antaranya adalah menggembirakan saudaranya ketika ia menceritakan mimpinya; tidak menyebarkan mimpi tersebut karena itu merupakan amanah; tidak menakwilkannya dengan tergesa-gesa; jika tidak memungkinkan dirinya menakwilkan mimpi tersebut, jangan ragu untuk melimpahkan kepada orang yang lebih tahu (berilmu) dan jangan merasa berat melakukannya; memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda, maksudnya tidak menakwilkan mimpi raja seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya; dan sebagainya. Sangat disayangkan, dewasa ini terlalu banyak orang yang secara sembarangan menakwikan mimpi. Di antara alasan keberanian mereka adalah adalah (1) lemahnya keimanan; (2) lalai dari kehidupan akhirat; (3) cinta kemayhuran; dan (4) kurangnya ilmu.

http://orido.wordpress.com

4

Hadith of the Day
Dari syarat-syarat yang dikemukakan di atas, tak heran jika ada sebagian masyarakat yang mengharamkan penafsiran mimpi karena dikhawatirkan akan terjebak pada kemusyrikan. Pun dalam buku-buku takwil mimpi, tidak disebutkan secara gamblang tafsiran tersebut. Dalam satu mimpi saja, seorang penakwil bisa megartikan mimpi tersebut menjadi beberapa arti dan tidak ada jaminan mana yang benar. Bahkan mereka pun menganalogikan mimpi tersebut sebagai ramalan cuaca. Kita bisa mengantisipasi cuaca, namun tidak pasti karena Allah yang menentukan. Wallahu a’lam Adab-adab Tidur Agar kita tetap berada dalam lindungan Allah swt., bahkan di saat tidur, perhatikanlah beberapa adab yang dinukil dari hadis-hadis yang tidak diragukan lagi kesahihannya. Adab-adab sebelum tidur tersebut adalah: 1. memadamkan lampu, mengunci pintu, mengikat gerabah (tempat air), dan menutup makanan 2. mematikan api (kompor) 3. wudlu. Wudlu tak hanya dilakukan ketika akan shalat, tetapi bisa dilakukan kapan saja. Bahkan, Rasulullah saw. selalu dalam keadaan suci dari hadas, alias selalu mempunyai wudlu. 4. shalat witir. Shalat witir adalah salat yang dilakukan antara ba’da Isya hingga menjelang subuh dengan jumlah rakaat yang ganjil misalnya satu, tiga, lima, bahkan tujuh rakaat. 5. membaca Al Quran. Adapun ayat yang dianjurkan di antaranya adalah Surat Al Baqarah ayat 285-286, Surat Al Ikhlas, Al Falaq, An-Nas, dan ayat-ayat kursi. 6. membersihkan kasur, berbaring ke arah kanan dan meletakkan tangan di bawah kepala, dan berdoa, "Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhanku, karena Engkaulah aku membaringkan tubuhku dan karena Engkau pulalah aku mengangkatnya. Apabila Engkau mencabut jiwaku, maka ampunilah ia dan apabila Engkau melepaskannya (menghidupkan) maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh." Sedangkan adab bangun tidur adalah sebagai berikut. 1. berdoa 2. istintsar (mengeluarkan air dari hidung) tiga kali 3. membasuh tangan tiga kali 4. membasuh wajah dan kedua tangan 5. berwudlu dan shalat Ada beberapa waktu tidur yang dibenci Rasulullah, yaitu: 1. antara Shalat Subuh dan terbitnya matahari 2. setelah Shalat Ashar 2. sebelum Shalat Isya Janganlah kita menjadikan alasan mabit untuk membalaskan dendam nafsu tidur. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk berkhalwat dengan Allah, mereka tidak tidur pada waktu-waktu tersebut. Karenanya, tidur pada waktu-waktu ini hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/1999

http://orido.wordpress.com

5

Hadith of the Day

Konsultasi : Aqidah Sejauh Mana Kita Boleh Mempercayai Mimpi Pertanyaan: assalamu'alaikum saat ini ana sedang dalam kebingungan beberapa hari yang lalu ana bermimpi, yang sebenernya ana gak percaya tentang mimpi itu, tapi ana jadi mikirin terus. hati ana jadi dag dig dug. dalam mimpi itu ana ketemu dengan seorang akhowat yang ana kenal lewat mirc. ana tidak pernah kletemu sebe;lumnya dengan akhowat itu di alam nyata. tapi disana ana ketemu dengannya (akhowat itu). dan ana deket banget sama dia didalam mimpi itu,ana banyak ana ngobrol banyak sama dia. dan sampai dia memberi tahu nama aslinya. yang sebenarnya yang ana tahu sebelumnya hanya nick name saja. ana tahu ciri fisiknya lewat mimpi itu. pertanyaanya: 1.apa ana boleh percaya dengan mimpi itu? 2.apa benar mimpi bisa menjadi pertanda sesuatu? Arrosyad Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Quran menerangkan bahwa sebagian mimpi itu memang ada yang bermakna dan memiliki nilai informasi. Meski tidak semua mimpi seperti itu. Mimpi yang memiliki makna dan bernilai informasi hanya bisa dibaca atau diterjemahkan oleh mereka yang memiliki ilmu tersebut. Diantara mereka yang secara pasti dan tegas diberi ilmu seperti itu adalah Nabi Yusuf as. Tercatat dalam Al-Quran Nabi Yusuf mengartikan mimpi. Yang pertama mimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Dan yang kedua adalah mimpi sang Raja. Allah SWT berfirman : �Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku , sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudarasaudaramu, maka mereka membuat makar mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya

http://orido.wordpress.com

6

Hadith of the Day
kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf : 4-6) �Raja berkata : "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka : "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi." Mereka menjawab : " adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu." Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku ." : "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan lainnya yang kering agar aku kembali kepada orangorang itu, agar mereka mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya , kecuali sedikit dari yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dan dimasa itu mereka memeras anggur."� (QS. Yusuf :43-49). Mimpi sebagai metode pemberian wahyu dan syariat Sebagian dari mimpi bahkan bisa merupakan wahyu dan pensyariatan suatu hukum. Namun itu terbatas pada para Nabi dan Rasul saja. Sedangkan manusia biasa sama sekali tidak dibenarkan bila mengaku mendapat perintah dari Allah melalui mimpi. Allah SWT memberi perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail as. �Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".� (QS. Ash-Shaaffaat : 012). Mimpi sebagai kabar gembira Rasulullah SAW pun pernah mendapat mimpi yang menggembirakan di saat-saat sulit. Yaitu mimpi bahwa beliau dan pasukannya bisa masuk kota Mekkah dan menjadi pemenang atas peperangan melawan seterus bebuyutan mereka, kafir Quraisy. �Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang

http://orido.wordpress.com

7

Hadith of the Day
tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .� (QS. Al-Fath : 27) Mimpi orang-orang shalih Orang-orang yang shalih bisa saja diberi informasi berita dari Allah akan peristiwa yang akan terjadi. Namun sifatnya sebagai isyarat saja dan bukan informasi yang detail. Lagi pula tidak dibenarkan mimpi mendapat perintah bentuk ibadah tertentu dari Allah, karena Islam ini sudah lengkap semenjak Rasulullah SAW wafat 1400 tahun yang lalu. Mimpi Anda Anda boleh saja percaya kepada mimpi itu sebagai salah satu bentuk kabar gembira. Tapi kami ingatkan bahwa mimpi orang-orang awam juga tidak lepas dari pengaruh syetan yang kerjanya suka menipu dan menghiasai perbuatan kotor seolah-olah baik. Waspadai mimpi itu karena Anda berkelanalan lewat chatting dengan seorang wanita non mahram. Bisa saja syetan seang sibuk meniupkan bisikannya ke hati Anda dan memancing Anda berbuat lebih jauh yang pada akhirnya melanggar batas-batas syar`i. Paling tidak, sekarang ini Anda jadi lumayan terganggu dengan sosok bayangan dalam mimpi itu. Tapi bukan berarti kami bersu`uzhan dengan mimpi Anda, kami sarankan Anda lebih waspada, jangan sampai mimpi itu mendorong Anda untuk bertindak terlalu jauh dan bertabrakan dengan batas syar`i. Wallahu a`lam bis-shawab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1921&bagian=0 Berlebihan Dalam Mengangungkan Guru-Guru Mereka Dan Berhujjah Dengan MimpiMimpi Minggu, 20 Agustus 2006 14:54:49 WIB Kategori : Bid'ah Dan Bahayanya CARA AHLUL BID’AH BERARGUMENTASI Peringkas Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2 [6]. Ada Diantara Mereka Yang Menetapkan Perkara-Perkara Syar’i Berdasarkan Takwil Yang Tidak Bisa Diterima Akal. Mereka mendakwakan (hasil penetapannya itu) bahwa itulah yang dimaksud dan yang diinginkan oleh syari’at. Sementara mereka tidak (memahami dalil-dalil syar’I) seperti

http://orido.wordpress.com

8

Hadith of the Day
yang dipahami oleh orang Arab. Mereka berkata: “Setiap apa yang terdapat dalam syari’at, baik menyangkut hal-hal yang harus dilakukan oleh manusia, masalah dikumpulkannya manusia dan membeberkannya amalan-amalan mereka (pada hari kiamat), serta perkara-perkara yang terkait dengan penyembahan (kepada Allah), maka itu adalah contoh-contoh urusan yang ghaib.” [7]. Berlebihan Dalam Mengangungkan Guru-Guru Mereka Mereka mendudukkan guru-guru mereka itu pada tempat yang tidak selayaknya. Kalau tidak karena berlebih-lebihan dalam beragama, berlebihan membela madzhab, dan berlebihan dalam mencintai pelaku bid’ah, tentu tidak akan ada pada pikiran seseorang untuk mengagungkan guru seperti itu. Akan tetapi Rasulullah telah bersabda. "Artinya : Sungguh kalian akan mengikuti jalannya orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta" [HR.Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669 dan yang lainnya dari hadist Abu Sa’id Al-Khudri] Jadi, mereka itu berlebih-lebihan (terhadap guru-guru mereka) seperti halnya orangorang Nasrani berlebih-lebihan terhadap ‘Isa bin Maryam, yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih Ibnu Maryam". Maka, Allah berfirman: "Artinya : Katakanlah (Wahai Muhammad), ”Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dengan cara yang tidak benar. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sejak dahulu telah sesat (sebelum kedatangan Muhammad) ; dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka pun tersesat dari jalan yang lurus" [Al-Ma’idah : 77] Rasulullah Bersabda: “Artinya : Janganlah kalian berlebih-lebihan (memuji)ku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan (memuji) ‘Isa Putera Maryam, tetapi katakanlah : (Aku ini) Hamba Allah dan Rasul-Nya". [HR. Bukhari no. 6830 dari Umar bin Al-Khathab] Barangsiapa memperhatikan orang-orang (yang melakukan tindakan seperti di atas) niscaya akan menemukan banyak perbuatan bid’ah yang mereka lakukan dalam cabang-cabang syari’at. Karena, memang, yang namanya Bid’ah bila telah masuk ke dalam perkara pokok (ushul), maka akan mudah masuk kedalam cabang-cabangnya (furu’). [8]. Berhujjah Dengan Mimpi-Mimpi Hujjah yang paling lemah adalah hujjah suatu kaum yang menyandarkan kepada mimpi-mimpi untuk melaksanakan atau meninggalkan suatu amalan. Mereka biasanya berkata, “Kami bermimpi bertemu dengan si fulan, -biasanya seseorang yang shalih-, lalu dia berkata kepada kami, ‘Tinggalkan amalan itu, dan lakukan amalan ini!” Sebagian yang lain berkata, “Aku bermimpi (berjumpa) Rasulullah di waktu tidur, lalu beliau berkata begini dan memerintahkan begitu,”kemudian mengamalkan atau meninggalkan suatu amalan berdasarkan mimpinya itu, berpaling dari batasan-batasan yang telah dibuat oleh syari’at.” Jelas itu suatu kesalahan. Karena, menurut syari’at, selain mimpi para nabi sama

http://orido.wordpress.com

9

Hadith of the Day
sekali tidak bisa diambil sebagai hukum. Mimpi-mimpi tersebut harus dikembalikan kepada hukum-hukum syari’at yang ada. Kalau cocok dengan hukum syari’at, maka mimpi tersebut boleh diamalkan, namun bila tidak cocok, maka wajib ditinggalkan dan dijauhi. Mimpi bisa kita jadikan sebagai kabar gembira atau peringatan saja ; tidak bisa dijadikan ketetapan hukum. Dan tidak bisa kita berkata, “Mimpi adalah satu bagian dari kenabian yang tidak boleh diabaikan. Bisa jadi yang mengabarkan dalam mimpi itu adalah Rasulullah, karena beliau bersabda: "Artinya : Barangsiapa melihatku di waktu tidur maka dia benar-benar telah melihatku, karena syetan tidak dapat menyerupaiku.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6993, Muslim no. 2266 dari Abu Hurairah. Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari no. 6994 dari Anas no. 6997 dan dari Abu Said Al-Khudri ; serta Muslim no. 2268 dari Jabir] Jadi pengabaran beliau pada saat tidur (mimpi) sama seperti pengabaran beliau pada saat terjaga. (Tidak bisa kita berkata seperti perkataan di atas), karena: [1]. Jika mimpi adalah salah satu bagian dari kenabian, maka mimpi tersebut bukan merupakan wahyu secara keseluruhan, melainkan hanya sebagiannya saja. Sedangkan satu bagian itu tidak bisa menduduki tempat secara keseluruhan dalam segala sisi, melainkan hanya mendudukinya pada beberapa sisi saja. Mimpi bisa dipakai sebagai bentuk kabar gembira (bisyarah) dan peringatan (nidzarah) saja, tidak menjangkau aspek hukum. [2]. Mimpi merupakan bagian dari kenabian di antara syaratnya adalah harus merupakan mimpi yang benar dari seorang yang shalih. Padahal terpenuhinya syaratsyarat tersebut jelas membutuhkan penelitian, sehingga bisa jadi terpenuhinya dan bisa pula tidak. [3]. Mimpi sendiri terbagi-bagi. Ada mimpi yang merupakan mimpi biasa yang datangnya dari syetan; ada yang merupakan khayalan; dan ada juga yang merupakan rekaman peristiwa yang terjadi sebelum tidur. Kapan kita bisa menentukan mimpi yang benar sehingga bisa diambil sebagai patokan hukum dan mana mimpi yang tidak benar untuk kita tinggalkan? Mimpi yang menggambarkan Rasulullah mengabarkan tentang suatu hukum pun perlu dilihat. Bila (di dalam mimpi orang tersebut) beliau mengabarkan tentang suatu hukum yang sesuai dengan syari’at, maka (pada hakekatnya) hukum yang dipegang adalah hukum yang telah ada (dalam syari’at) tersebut. Dan jika beliau mengabarkan tentang sesuatu yang menyelisihi (syari’at), maka itu mustahil. Karena setelah Rasulullah wafat, syari’at yang telah ditetapkan semasa hidupnya tidak akan manshukh (diganti dengan yang lainnya). Sebab agama Islam ini, meskipun Rasulullah telah wafat, ketetapan hukumnya tidak akan berubah dengan sebab mimpi seseorang. Karena hal itu suatu kebatilan menurut ijma’. Jadi barang siapa yang bermimpi (mendapati Rasulullah mengabarkan suatu hukum yang bertentangan dengan syari’at yang telah ada) itu, maka tidak boleh diamalkan. Dan pada saat tersebut kita katakana: Mimpi orang tersebut tidak benar. Karena kalau dia benar-benar (bermimpi) melihat Rasulullah, tentu beliau tidak akan mengabarkan sesuatu yang menyelisihi syari’at. Sekarang, mari kita bicarakan makna sabda Rasulullah

http://orido.wordpress.com

10

Hadith of the Day

“Artinya : Barangsiapa yang melihatku di waktu tidur, berarti ia telah melihatku.” Dalam hal ini ada dua penafsiran, yaitu. Pertama. Makna hadist tersebut (adalah): "Barangsiapa(bermimpi) melihatku sesuai bentuk di mana aku diciptakan maka ia telah melihatku; karena syetan tidak bisa menyerupaiku.” Karena beliau tidak mengatakan, “Barang siapa yang berpendapat bahwa dia melihatku (dalam mimpi), maka dia telah melihatku”, tetapi mengatakan, “Barangsiapa melihatku (dalam mimpi) maka dia telah melihatku”. Darimana orang yang berpendapat bahwa dirinya melihat Rasulullah itu memastikan kalau yang dia lihat dalam mimpinya itu betul-betul wujud beliau? Jika dia tetap (bersikeras) telah melihat beliau, padahal dia tidak bisa memastikan kalau yang dilihatnya itu adalah betul-betul wujud beliau, maka ini adalah sesuatu yang sulit untuk dipercaya. Kesimpulannya: Apa yang dilihat dalam mimpi seseorang bisa saja bukan Rasulullah, meskipun orang yang bermimpi meyakini bahwa itu adalah beliau. Kedua. Para ahli ta’bir mimpi berkata, “sesungguhnya syetan bisa mendatangi seseorang yang sedang tidur dalam bentuk tertentu, seperti dalam bentuk orang yang dikenal oleh yang bermimpi tersebut atau yang lainnya. Lalu (syetan) menunjukkannya kepada orang lain (sambil berkata): ‘Fulan ini adalah Nabi!’ Cara seperti itulah yang ditempuh syetan dalam menjalankan tipu dayanya terhadap orang yang bermimpi. Padahal, sosok Nabi mempunyai tanda-tanda tertentu. Kemudian, sosok yang ditunjukkan oleh syetan tersebut menyampaikan perintah atau larangan yang tidak sesuai dengan syari’at kepada orang (yang bermimpi). Orang yang bermimpi itu mengira kalau itu dari Rasulullah, padahal bukan, sehingga ucapan, perintah, atau larangan yang disampaikan dalam mimpi itu tidak boleh kita percaya.” Jadi, jelaslah sudah permasalahan ini. Yaitu, bahwa suatu hukum tidak bisa diambil dari mimpi-mimpi sebelum dicocokkan terlebih dahulu dengan dalil, karena gambaran yang ada dalam mimpi kemungkinan tercampur dengan kebatilan. Hanya orang-orang yang lemah hatinya sajalah yang berdalil dengan mimpi dalam masalah hukum-hukum (syar’i). Memang, bisa saja orang yang dilihat (dalam mimpi) itu datang dengan membawa pemberitahuan, kabar gembira, maupun peringatan secara khusus, akan tetapi para ahli ta’bir mimpi itu tidak menjadikannya sebagai pedoman dalam menentukan hukum dan membangun suatu kaidah. Memang sikap yang benar dalam menyikapi apa yang terlihat dalam mimpi adalah dengan selalu berpatokan dengan syari’at yang ada, wallahu a’lam. Barangsiapa yang memperhatikan cara ahli bid’ah dalam berdalil, niscaya dia akan mengetahui bahwa mereka itu tidak memiliki alasan yang mapan. Karena alasan-alasan mereka itu terus saja mengalir berubah-ubah, tidak akan pernah berhenti pada satu alas an tertentu. Dan berdasarkan alasan-alasan itulah, orang-orang yang menyimpang dan orang-orang kafir mendasarkan penyimpanmgan dan kekufurannya, serta

http://orido.wordpress.com

11

Hadith of the Day
menisbatkan ajarannya itu kepada syari’at. Barangsiapa yang tidak ingin terperosok ke dalam tindakan semacam itu, hendaknya mencari kejelasan jalan mana yang lurus baginya. Karena siapa yang berani meremehkan (hal ini), niscaya tangan-tangan hawa nafsu akan melemparkan kedalam berbagai kebinasaan yang tiada seorang pun dapat membebaskannya, kecuali bila Allah menghendaki lain. [Disalin dari “Kutaib Muhtashar Al-I’tisham, Peringkas Syaikh Alawi bin Abdul Qadir AsSaqqaf, Penulis Abu Ishaq Ibrahim bin Musa ASy-Syathibi, Edisi Indonesia Ringkasan AlI'tishom Imam Asy-Syathibi, Penerjemah Arif Syarifuddin, Penerbit Media Hidayah]

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/11992 Konsultasi : Aqidah Perbedaan Antara Ramalan Dan Mimpi Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb Apakah perbedaan antara ramalan dengan tabir mimpi ? Bukankah Nabi Yusuf a.s mengartikan mimpi seorang Raja, Ibunda Nabi Muhammad SAW pun juga pernah bermimpi pada saat kehamilan Beliau, dan masih banyak lagi tentang mimpi-mimpi yang diartikan. Apakah mengartikan mimpi itu bukan suatu ramalan ? Bagaimana dengan ramalan cuaca ? Wassalam Hasanah Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Istilah ramalan cuaca memang kurang tepat, sebab sama sekali tidak terjadi ramalan. Yang terjadi justru perhitungan matematis dan terukur secara pisik dan menggunakan ilmu dan teknologi. Istilah yang tepat adalah prakiraan cuaca, bukan ramalan. Sedangkan mimpi, hukumnya bisa beragam. Bagi para nabi dan rasul, mimpi mereka umumnya adalah sarana wahyu dari Allah SWT. Meski tidak selalu bisa dipastikan demikian. Bukankah dahulu ketika Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, beliau pun masih perlu melakukan konfirmasi kepada Allah SWT. Sebab beliau masih takut jangan-jangan mimpi itu hanya datang dari syetan. Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka

http://orido.wordpress.com

12

Hadith of the Day
fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis, Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. As-Shaaffaat : 102) Sebagian dari mimpi manusia pun bisa menjadi ilham atau petunjuk yang bersifat subjektif bagi dirinya atau orang lain. Misalnya seseorang melakukan shalat istikharah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT atas pilihan yang ada. Bisa saja Allah SWT memberikan petunjuk melalui mimpi-mimpi. Namun sama sekali tidak mungkin bila manusia biasa bermimpi yang materinya berupa aturan baku yang formal tentang syariat. Sebab yang berhak mendapatkan mimpi berupa syariat hanyalah para nabi dan rasul saja. Karena manusia yang dipilih Allah untuk menyampaikan syariat hanyalah nabi dan rasul. Bahkan ketika Umar bin AlKhattab bermimpi tentang azan untuk memanggil manusia untuk shalat, azan tidak lantas begitu saja disyahkan sebagai syariat sebelum Rasulullah SAW memastikannya dan meresmikannya. Dan sebagian mimpi lainnya tidak lebih dari bunga tidur, bahkan mungkin saja datang dari syetan. Misalnya mimpi buruk. Oleh Rasulullah SAW, bila seseorang mendapatkan mimpi buruk, hendaknya berta`awuz, membaca surat Al-Falaq dan An-Nas serta berlindung kepada Allah SWT. Sedangkan ramalan itu biasanya dilakukan oleh dukun, tukang tenung atau ahli sihir yang mendapat bisikan halus dari syetan atau jin. Sumbernya adalah informasi yang mereka curi dari langit lalu ditambahkan dengan kebohongan. kecuali syaitan yang mencuri-curi yang dapat didengar lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.(QS. Al-Hijr : 18) Mendatangi peramal tanpa mempercayainya sudah termasuk perbuatan musyrik, meski hanya main-main. Apalagi mempercayainya. Jelas lebih berat dosa syiriknya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.mail-archive.com/milis-muslim@yahoogroups.com/msg00229.html [MM ] Psikologi Mimpi-1 agussyafii Wed, 18 Oct 2006 01:07:12 -0700 Psikologi Mimpi-1 (Berwisata Dalam Mimpi)

http://orido.wordpress.com

13

Hadith of the Day

Bahwa setiap manusia pernah mengalami mimpi tidak seorangpun yang membantah, tetapi mimpi itu apa tidak pernah ada definisi yang secara empirik bisa dibuktikan kebenarannya. Analisis tentang mimpi bisa ilmiah, mistis, bisa juga sufistik. Pembicaraan tentang mimpi bukan saja dilakukan oleh dukun, peramal, orang tua, psikolog dan failasuf, tetapi Al Qur'an sebagai wahyupun membicarakannya. Mimpi Menurut al Qur'an Al Qur'an menyebut mimpi dalam dua term, yaitu ru'ya dan adghats ahlam). Term ru'ya disebut sebanyak duabelas kali, berhubungan dengan mimpi yang dialami oleh Nabi dan oleh orang biasa. Dalam surat Yusuf/12:4 (juga ayat 5 dan 100) misalnya dikisahkan bahwa Yusuf ketika masih kanak-akan bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan tunduk kepadanya. Ayat 43 surat yang sama mengisahkan bahwa Fir'aun bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus. Demikian juga Nabi Muhammad dalam surat al Fath/48:27 dikisahkan bermimpi memasuki Masjid Haram dengan aman, dan pada surat al Isra/17:60 dikisahkan Nabi bermimpi tentang perang Badar. Nabi Ibrahim juga menerima perintah menyembelih Isma'il melalui mimpi130 Dua orang pegawai Fir'aun yang dipenjara bersama Yusuf juga dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 36 bermimpi, yang satu kembali bekerja melayani raja, dan yang satu bermimpi membawa roti di atas kepala, tapi rotinya dimakan burung . Sedangkan term ahlam disebut Al-Qur'an sebanyak lima kali , dua kali term al hulum (dari halama yahlumu) dalam arti mimpi "pertama" 131 satu kali ahlam (dari haluma yahlumu hilm) disebut dalam arti fikiran-fikiran dan dua kali disebut adghas ahlam, dalam arti mimpi-mimpi kalut, yakni pada surat Yusuf/12:44 dan Q/21:5. Pada surat al Anbiya/21:5, disebutkan bahwa kaum musyrikin menilai ayat-ayat Qur'an itu tak lebih dari produk mimpi kalut () . Bawahan Fir'aun yang tidak sanggup menta`birkan mimpi Fir'aun, yaitu mimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, seperti yang dikisahkan surat Yusuf/12:44 juga memandang mimpi Fir'aun sebagai mimpi kalut Dari ayat-ayat tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa manusia dengan kapasitas dan kualitas nafs tertentu, baginya tidur lebih bersifat fisik, karena nafsnya masih bisa menerima stimulus dari luar dirinya dalam bentuk ilham atau wahyu seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika menerima perintah untuk menyembelih puteranya sebagai kurban, atau oleh Nabi Muhammad ketika diberi tahu lebih dahulu oleh Tuhan bahwa kaum muslimin akan berhasil menziarahi Makkah secara aman. Jadi, impian bisa merupakan isyarat dari apa yang telah, sedang atau akan terjadi, disebut (ru'ya al haqq) seperti yang dikisahkan surat al Fath/48:27 tersebut di atas. Yusuf seperti yang dikisahkan surat Yusuf/12: 4 ketika masih kanak-kanak bermimpi melihat sebelas bintang, bulan dan matahari tunduk kepadanya , suatu impian yang mengisyaratkan tentang perjalanan hidup dan nasib baiknya di belakang hari , satu hal yang dapat membuat saudara-saudaranya iri hati sehingga Nabi Ya'qub, ayah Yusuf seperti yang dikisahkan dalam lanjutan dari ayat itu (ayat 5) melarangnya untuk menceriterakan mimpinya itu kepada orang lain .Di belakang hari, menurut sebagian

http://orido.wordpress.com

14

Hadith of the Day
mufassir 40 tahun kemudian,133 impian itu, seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf ayat 100 menjadi kenyatan Mimpi yang benar tidak mesti dialami oleh orang mukmin. Fir`aun pun seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 43 pernah bermimpi melihat tujuh ekor sapi germuk dimakan tujuh ekor sapi kurus yang kemudian dita'wil oleh Yusuf seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 47-49 sebagai isyarat akan datangnya musim paceklik dan cara-cara mengantisipasinya, sebagaimana juga dua teman Yusuf di penjara bermimpi masing-masing memperoleh keberuntungan dan nasib buruk.134 Adapun orang yang jiwanya sedang gelisah, mimpi yang dialami dalam tidurnya lebih merupakan adghats ahlam , yakni mimpi kalut. Tentang mimpi, banyak sekali hadis Nabi yang membicarakannya. Menurut kebanyakan hadis, mimpi dibagi menjadi dua yaitu ru'ya dan al hulm. Yang pertama berasal dari Allah dan yang kedua berasal dari syaitan. Salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abi Qatadah misalnya berbunyi : artinya : Ru'ya itu datangnya dari Allah dan al hulm itu datangnya dari syaitan. Maka bila salah seorang diantaramu mengalami mimpi kalut yang tidak disukainya, maka hendaknya meludah ke kiri tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka sesungguhnya mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya (HR Muslim) Dalam hadis Abu Hurairah yang dihimpun oleh Muslim disebutkan pula tiga jenis ru'ya, yaitu (1) mimpi baik yang merupakan khabar gembira dari Allah ) (2) mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaitan dan mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya.135 Dalam hadis itu juga disebut bahwa mimpi seorang mukmin merupakan 1/46 bagian dari kenabian Jadi, dari keterangan Al-Qur'an dan hadis tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa manusia dengan kondisi tertentu, meski matanya tertidur, tetapi qalb tidak ikut tertidur. Salah satu bait pujian kepada Nabi Muhammad antara lain menyebutkan bahwa meski mata Rasul telah mengantuk tetapi hatinya tidak tertidur Wassalam, agussyafii http://mubarok-institute.blogspot.com

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/2322 Konsultasi : Masalah Umum Ingin Melihat Rosulullah Lewat Mimpi Pertanyaan:

http://orido.wordpress.com

15

Hadith of the Day
1. Apakah kita bisa memohon untuk melihat Rosulullah lewat mimpi ? 2. Apakah dalam mimpi melihat Rosulullah itu benar-benar sosok Rosulullah atau rekayasa syetan ? Erus Jawaban: Assalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh, Al-hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Ala Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa Aalihi Wa Ashhabihi Wa Man Tabi`ahu Bi Ihsanin Ilaa Yaumiddin, Wa Ba`d, 1.Kami belum mendapatkan hadis yang melarang permohonan doa seperti yang Anda tanyakan. Hanya saja pertanyaannya adalah untuk apa Anda meminta hal tersebut ? Karena mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW tidak menjamin bahwa orang tersebut adalah orang yang sholih. Sedangkan hadis yang menyatakan "Barangsiapa yang melihatku dalam mimpinya, maka aku telah mengharamkan baginya api neraka" merupakan hadis yang tidak jelas asal ushulnya, sehingga tidak bisa menjadi pegangan. 2. Jika yang terlihat dalam mimpi tersebut memiliki shifat-shifat seperti Rasulullah SAW sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis-hadis yang shohih, maka yang dilihat dalam mimpi tersebut memang benar-benar Rasulullah SAW, karena beliau bersabda: "Barang siapa yang melihatku dalam mimpinya maka ia telah melihatku, karena syetan tidak bisa berwujud seperti diriku" (HR Bukhori dan Muslim) Tetapi, jika kita tidak mengetahui bagaimana shifat-shifat Rasulullah SAW sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis-hadis yang shohih, maka apa yang kita lihat belum tentu merupakan sosok Rasulullah SAW. Karena bisa saja itu adalah syetan yang mengaku-aku sebagai Rasulullah SAW. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://mavourneen.wordpress.com/2007/01/15/mimpi-rasulullah-saw/ Mimpi Rasulullah S.A.W Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi- mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan……..”

http://orido.wordpress.com

16

Hadith of the Day
1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul maut dengan keadaan yang amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA. 2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA. 3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblisiblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah. 4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUKNUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu. 5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga dia merasa puas. 6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku. 7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya,sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang. 8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya. 9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya,maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut. Buat renungan bersama…

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/3596 Konsultasi : Masalah Umum

http://orido.wordpress.com

17

Hadith of the Day
Mimpi Kepada Rasullullah Dan Nabi Lainnya Serta Mimpi Hari Kiamat Berulang Kali Pertanyaan: assallammualaikum ustads, saya pernah mimpi rasullullah beberapa kali dan disaat saya mau bersalaman dengan beliau,maka beliau pertama tidak mau bersalaman dengan saya kemudian beliau mau, dan pada malam berikutnya saya bermimpi nabi Ibrahim As,kemudian nabi Sulaiman,dan hampir semua nabi pernah saya bermimpi serta penderitaan yang mereka alami saya pun ikut merasakannya didalam mimpi tersebut, apakh hikma semua mimpi ini ustadz.....? Wassallammualaikum Wr. Wb Ridwan Bin Ditan Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Mimpi yang dialami oleh seorang muslim bisa benar dan bisa tidak. Bisa menjadi petunjuk dan juga bisa penyesatan. Tapi yang jelas, tidak ada mimpi seorang muslim sepeninggal Rasulullah SAW yang boleh dijadikan dasar pijakan hukum syariah. Kalau dimasa Rasulullah SAW, barangkali ada satu dua mimpi para shahabat yang memberi isyarat untuk sebuah landasan ibadah. Dan apabila hal itu dibenarkan oleh Rasulullah SAW, maka bisa diamalkan. Misalnya dalam kasus mimpinya sebagian shahabat atas syariat azan. Saat itu umat Islam berbea pendapat tentang bagaimana cara memanggil orang shalat. Ada yang mengusulkan dengan menggunakan lonceng atau alat lainnya. Tapi sebagian umat Islam ada yang mimpi tentang azan. Ketika ditanyakana kepada Rasulullah SAW, beliau membenarkan. Maka jadilah azam sebagai bagian dari syariat Islam. Sedangkan sepeninggal beliau, tidak ada mimpi yang boleh dijadikan dasar ibadah dan syaraih. Karena whahyu telah terputus dan risalah telah sempurna. Sedangkan mimpi yang bisa jadi semacam petunjuk / ilham yang bersifat pribadi, maka hal itu bisa dibenarkan. Misalnya saat orang dalam keadaan bimbang atas sebuah pilihan, maka bila setelah shalat istikharah dia bermimpi dan mendapat semacam isyarat petunjuk yang ditafsirkan dari mimpinya itu, bolehlah dia melaksanakannya. Selama intinya tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah. Tapi kalau isi mimpi itu menyuruh mengerjakan bid�ah, kesesatan apalagi tindakan syirik, sudah bisa dipastikan bahwa syetanlah yang muncul di dalam mimpi itu, bukan hidayah dari Allah SWT. Khusus masalah pengakuan Anda mimpi bertemu dengan nabi dan juga siapapun yang mengaku bermimpi bertemu dengan nabi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

http://orido.wordpress.com

18

Hadith of the Day
Pertama, hanya para shahabat Rasulullah SAW yang bisa dipercaya bila berkata mimpi bertemu dengan nabi. Mengapa ? Karena selama hidup mereka memang telah kenal dengan sosok Rasulullah SAW. Sehingga bila sepeninggal Rasulullah SAW, mereka mimpi bertemu dengan beliau, bisa dipastikan tidak salah orang. Kedua, hanya mereka yang secara serius telah memperlajari sirah nabawiyah terutama dalam masalah kondisi pisik Rasulullah SAW yang berhak mengaku telah mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Inipun masih dalam tanda tanya. Benarkah sosok yang dilihatnya di dalam mimpi itu memang benar Rasulullah SAW. Bagaimana dengan kemungkinan salah orang. Karena meski sudah membaca berkali-kali riwayat tentang wujud pisik Rasulullah SAW, yang jelas mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Bagaimana dia bisa sampai pada kesimpulan bahwa yang dilihatnya memang benarbenar Rasulullah SAW ? Siapa yang memberi tahu bahwa sosok itu memang benar-benar Rasulullah SAW ? Ketiga, kalau pun bisa dipertanggung-jawabkan bahwa sosok itu memang benar Rasulullah SAW, tentu sama sekali tidak ada syariat baru yang disampaikannya. Kalau sekedar tersenyum, melambai atau hal-hal lain selain masalah tasyri`, barangkali masih bisa diterima. Asal prinsip dan intinya memang tidak bertentangan dengan apa yang kita dapat idari warisan beliau yaitu Al-Quran Al-Karim dan sunnah. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=153&Ite mid=22 Apakah Nabi Melihat Allah? Dikirim oleh Kontributor || Ahad, 02 Juli 2006 - Pukul: 07:05 WIB Sebelum menjawab judul di atas, alangkah baiknya menjawab pertanyaan berikut, "Mungkinkah Allah dapat dilihat dalam kehidupan dunia ini?" Jawabannya, "Mungkin." Mengapa? Sebab tidak mungkin Nabiyyullah Musa akan meminta kepada Allah permintaan untuk dapat melihatNya, bila hal itu suatu kemustahilan. Meskipun kemudian Allah menjawab, Musa tidak akan melihatNya (di dunia). Allah berfirman mengisahkan permintaan Musa tersebut dan jawabanNya, "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa,"Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Rabb berfirman,"Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu." Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata,"Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertamatama beriman" (QS Al A'raf : 143).

http://orido.wordpress.com

19

Hadith of the Day
Segi pendalilan ayat di atas tentang kemungkinan Allah dapat dilihat di dunia ini, antara lain ialah : Pertama. Mustahil bagi Musa -seorang Rasul Allah dan orang yang paling 'alim pada zamannya- meminta sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Kedua. Allah tidak mengingkari permintaan Musa (yaitu permintaan agar Allah menampakkan diri kepadanya). Allah hanya menjawab, ‫لنْ ترَا ِي‬ ‫َ َ ن‬ Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu Jawaban yang menunjukkan tentang kemungkinan Allah dapat dilihat, namun Musa tidak akan sanggup melihatNya. Allah tidak menjawab, "Saya tidak bisa dilihat". Bandingkan dengan pengingkaran Allah kepada Nabi Nuh ketika meminta sesuatu yang tidak semestinya, yaitu meminta agar anaknya yang kafir (tidak mau beriman kepada Nuh) diampuniNya. Pada kasus ini Allah mengingkari permintaan Nuh dengan berfirman, ‫ك ن ِن ج ل ن‬ َ ‫إ ّي أَع ُ َ أَن تَ ُو َ م َ الْ َاهِ ِي‬ ‫ِن ِظك‬ Sesungguhnaya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orangorang yang bodoh. (QS Hud : 46). Dan pengingkaran itu tidak dilakukan kepada Musa . Ketiga. Ternyata Allah menampakkan diri kepada gunung, meskipun gunung tersebut menjadi luluh lantak karenanya. Namun jelas bahwa, Allah menampakkan diri kepada gunung. Jika kepada benda-benda mati saja Allah memungkinkan menampakkan diri, apalagi jika kepada para RasulNya, makhluk-makhlukNya yang mulia. Hanya karena kelemahan manusialah, maka Allah tidak menampakkan diri kepada mereka. Tetapi bukan berarti hal itu tidak mungkin jika Allah menghendaki. Keempat. Dan alasan-alasan lain. Berkaitan dengan alasan di atas dapat dilihat keterangan Imam Ibnu Abi Al Izz dalam Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah halaman 197 dan halaman 191-192, 1)[1) Tahqiq Jama'ah Min Al Ulama, Takhrij Syeikh Al Albani, Cet. IX-1408 H/1988 M Al Maktab Al Islami] dan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim III/8-9. 2) [Tahqiq Khalil Ma'mun Syiha, Daar Al Ma'rifah] Sungguhpun demikian, para ulama tidak berselisih pendapat tentang tidak adanya seseorangpun di dunia yang melihat Allah dengan mata kepala sendiri, kecuali Nabi . Mereka memperselisihkannya. 3)[Lihat Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah halaman 196] Nabi melihat Allah?

http://orido.wordpress.com

20

Hadith of the Day
Jika ditanyakan, apakah mungkin Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau sendiri? Berdasarkan keterangan di muka, jawabannya,"Mungkin." Tetapi betulkah beliau melihat Allah saat bermi'raj? Tentang hal ini, telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat . Ada pendapat yang disandarkan kepada Ibnu Abbas , bahwa Nabi melihat Rabb dengan mata kepala sendiri. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid. Lihat Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah halaman 197) Sementara menurut Atha yang riwayatnya juga disandarkan kepada Ibnu Abbas , bahwa Nabi melihat Allah dengan mata hatinya. Di sisi lain A'isyah menentang keras bila dikatakan, bahwa Nabi melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. 4)[ Lihat Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah halaman 196, juga Zaadal Ma'ad III/33, Cet. III-1421 H/2000, tahqiq Syu'aib dan Abdul Qadir Al Arna'uth] Dalam hadits muttafaq alaih, dari Masruq, ketika bertanya kepada A'isyah , ia menjawab, ‫َب‬ َ ‫ُب َا َ ا ِ، لقَدْ ق ّ شعْرِي مِ ّا ُل َ. منْ حَ ّث َ أ ّ ُحَ ّدًا صلى ال عليه وسلم رَأَي رَ ّ ُ فَقَدْ كَذ‬ ‫به‬ ‫م ق ْت َ د َك َن م م‬ َ ‫س ْح ن ل َ َف‬ Subhanallah, sungguh-sungguh bulu kudukku meremang mendengar apa yang kamu katakan. Barangsiapa yang menceritakan kepadamu bahwa Muhammad melihat RabbNya, maka sesungguhnya ia dusta. (Riwayat gabungan dari Shahih Bukhari/Fathul Bari XIII/361 no. 7380 dan Muslim/Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma'mun Syiha III/13 no. 440. Lihat pula Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah dan catatan kaki Syeikh Al Albani t halaman 196) Ada riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas tentang firman Allah , ‫َ ر لت َ ن ك ِل ة ن س‬ ِ ‫وَمَا جَعلْنَا ال ّءْيَا اّ ِي أرَيْ َا َ إ ّ فِتْنَ ً لِل ّا‬ Dan Kami tidak menjadikan penglihatan (terhadap hal-hal) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS Al Isra' : 60). Ibnu Abbas berkata, "Yang dimaksudkan ialah penglihatan dengan mata kepala terhadap hal-hal yang telah ditunjukan oleh Allah pada malam isra'." (Shahih Bukhari/Fathul Bari VIII/398, hadits no. 4716) Ibnu Hajr t menjelaskan, riwayat Ibnu Abbas tersebut tidak secara tegas menerangkan apa yang dilihat oleh Nabi dengan mata kepala beliau. Selanjutnya Ibnu Hajar t menjelaskan lagi, dengan menukil riwayat dari Sa'id bin Manshur dari jalan Abu Malik, "Yang dimaksudkannya ialah segala apa yang diperlihatkan kepada Nabi dalam perjalanannya ke Baitul Maqdis." 5) [5) Lihat Fathul Bari VIII/398]. Riwayat ini tidak secara tegas menerangkan, bahwa Ibnu Abbas berpendapat, Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau. Pada sisi lain, riwayat yang menegaskan bahwa Ibnu Abbas berpendapat, Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau sendiri (terdapat pada riwayat Ibnu Khuzaimah),

http://orido.wordpress.com

21

Hadith of the Day
dinyatakan dha'if oleh Al 'Allamah Al Albani t .6)[6) Lihat catatan kaki Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah hal. 197] Yang justeru shahih ialah riwayat 'Atha' dari Ibnu Abbas c , bahwa Nabi melihat Allah dengan mata hatinya. 7)[7) Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi III/8, Tahqiq Khalil Ma'mun Syiha] Pendapat yang Kuat Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 8)[8) Lihat juz III/9-10 tahqiq Khalil Ma'mun Syiha] tampaknya cenderung memihak pada pendapat yang menyatakan, Nabi melihat Rabbnya dengan mata kepala beliau sendiri pada malam isra'. Beliau cenderung membenarkan riwayat Ibnu Abbas tentang Nabi melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. Sedangkan riwayat A'isyah , menurut beliau hanya ijtihad pribadi belaka, bukan berasal dari Nabi . Sementara Ibnu Abbas sebagai penerjemah ulung Al Qur'an, dianggapnya tidak mungkin berbicara tanpa ada sandaran riwayat dari Nabi . Tetapi pendapat Imam Nawawi di atas terbantahkan dengan beberapa keterangan sebelumnya. Ibnu Abi Al Izz, Ibnu Taimiyah maupun Ibnu Al Qayyim menguatkan pendapat, Nabi tidak melihat Rabbnya pada malam isra' dengan mata kepala. Ibnu Abi Al Izz menukil pernyataan Al Qadhi 'Iyadh, "Sejumlah jama'ah ulama berpendapat seperti pernyataan A'isyah , dan itulah yang masyhur dari Ibnu Mas'ud …" 9)[9) Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah hal. 196] Bahkan Imam Ibnu Al Qayim dalam Zaad Al Ma'ad 10)[10) Juz III/33] menukil cerita Utsman bin Sa'id Ad Darimi yang menyatakan adanya kesepakatan para sahabat, bahwa Nabi tidak melihat Allah. Pada kitab yang sama, Imam Ibnu Al Qayyim t juga menukil pernyataan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t, "Perkataan Ibnu Abbas , bahwa Nabi melihatNya." Begitu pula perkataannya, "Nabi melihatNya dengan mata hatinya", tidak bertentangan dengan ini (Nabi tidak melihatNya dengan mata kepala). Sebab memang ada riwayat yang shahih, bahwa Nabi bersabda, ‫رَأَي ُ رَ ّي تَ َارَ َ وَتعَاَي‬ ‫ْت ب ب ك َ ل‬ Aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta'ala (Hadits yang merupakan cuplikan dari hadits shahih yang panjang riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas, juga dari Mu'adz bin Jabal. 11)[11) Lihat Zaad Al Ma'ad, catatan kaki Syu'aib dan Abdul Qadir al-Arna'uth III/33-34] Tetapi hal itu terjadi di luar isra'. Yaitu pada suatu hari di Madinah, ketika beliau terlambat mengimami shalat subuh. Lalu beliau menceritakan kepada mereka, bahwa pada malam harinya beliau bermimpi melihat Allah . Dari sanalah Imam Ahmad kemudian mengatakan, "Ya, Nabi memang benar-benar pernah melihat Allah. Sebab mimpi para nabi pasti benar." Namun Imam Ahmad tidak pernah mengatakan, "Sesungguhnya Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau dalam keadaan bangun…" 12)[12) Lihat Zaad Al Ma'ad, Tahqiq Syu'aib dan Abdul Qadir Al Arna'uth III/33-34 dengan ringkas dan bahasa bebas]

http://orido.wordpress.com

22

Hadith of the Day
Artinya, bisa saja maksud Ibnu Abbas -jika riwayat itu benar-, bahwa Nabi melihat Allah dalam keadaan mimpi. Kesimpulan Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan, pendapat yang kuat, bahwasannya Nabi tidak melihat Rabbnya pada malam isra' dengan mata kepala beliau. Apalagi ternyata terdapat riwayat shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya, sesungguhnya Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah . Beliau menjawab, ‫نوْ ٌ أَ ّى أَ َا ُ؟‬ ‫ُ ر ن ره‬ Hanya cahaya. Bagaimana mungkin aku dapat melihat Allah?. 13)[13) Syarh Nawawi tahqiq Khalil Ma'mun Syiha III/15 no.442 dan juga no. 443] Jadi yang beliau lihat hanyalah cahaya yang menghalangi antara dirinya dengan Allah . Wallahu a'lam

http://syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/3774 Konsultasi : Nikah Apakah Mimpi Bisa Dijadikan Referensi? Pertanyaan: Assalamu'alaikum wr. wb Saya berdo'a semoga ustadz diberi kelapangan oleh Allah SWT dan mengampuni kita semua. Ustadz, Saya sekarang dalam keraguan besar tentang perkawinan saya, hingga untuk berhubungan dengan istri sangat takut karena saya sudah bertaubat dan ingat akan beratnya siksa yang menimpa. Sayapun berjanji tidak akan menggauli istri saya sampai saya mempunyai ketetapan hati tentang masalah ini tetapi masalah ini tidak saya beritahukan kepada istri. Ada beberapa perkataan saya kepada istri yang membuat saya ragu apakah itu thalaq atau bukan, beberapa ustadz ditempat saya mengatakan tidak jatuh thalaq karena tidak absolut (2 orang), ada juga yang mengatakan tidak jatuh kalau tidak dengan niat thalaq didalam hati (2 orang) tetapi seorang teman yang aktif di sebuah organisasi mengatakan kalau itu thalaq tetapi saya lihat dia tidak punya ilmu yang cukup dlm menjabarkan pendapatnya.

http://orido.wordpress.com

23

Hadith of the Day
Karena kejadiannya sudah lama sayapun tidak ingat 100% apa yang terbetik dalam hati saya waktu itu tetapi untuk beberapa perkataan rasanya besar kemungkinan tidak degan niat thalaq tapi kata-katanya menyerempet kesana dan bernada menggertak tetapi tidak menggunakan kata2 syarih yang sering dimuat disini (cerai, thalaq, firaq, dll). Walau begitu, saya masih ragu-ragu juga. Andai jatuh thalaq saya waktu itu tetapi sebenarnya saya tidaklah ingin benar-benar untuk menthalaqnya walaupun kondisi RT kami waktu itu sangat tidak enak sekali (karena kami tetap bersama setelah kejadian2 itu), apakah kebersamaan itu sudah bisa dianggap rujuk? (misalnya waktu saya menggaulinya karena saya merasa dia masih istri saya yang syah dan tidak merasa kami telah bercerai). Bila saya masih ragu, kemudian saya shalat Istikharah lalu saya bermimpi apakah mimpi itu bisa dijadikan pegangan untuk membuat suatu kesimpulan karena saya ragu2 (cerai atau tetap bersama, misalnya). Tapi saya takut sekali jika syaitan ikut andil dalam mimpi saya. Karena masalah ini menyangkut akhirat kami, sayapun sangat khawatir sekali. Saya pernah memuat pertanyaan tentang hal tsb disini tapi hati saya masih takut, terutama jika ingat akan hari kiamat atau waktu hisab amal-amal saya. Saya takut apa yang saya anggap halal ternyata disisi Allah suatu perbuatan hina. Toh, saya bersyukur dengan kejadian ini saya melihat dosa-dosa saya dan bertaubat kepada Allah swt. Semoga Allah SWT memberikan jalan yang terbaik buat akhirat dan dunia kami. Wassalam Hamba Allah Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d 1. Mencari Rujukan Dalam Masalah Nikah Masalah hukum syariah dan termasuk di dalamnya masalah hukum nikah, talaq dan ruju` haruslan ditentukan berdasarkan syariat Islam, bukan berdasarkan mimpi. Karena nikah, talaq dan rujuk itu adalah masalah hukum yang zahir, sehingga untuk memutuskannya haruslah digunakan cara-cara yang zhahir. Bila Anda tidak punya ilmu dalam masalah ini, maka kewajiban Anda adalah bertanya kepada ahlinya. Dalam hal ini Anda harus bedakan antara aktifis pengajian dengan ulama ahli syariah. Benar bahwa aktifis organisasi Islam itu sering bergelut dengan masalah keislaman, tapi tidak ada jaminan bahwa dia punya kafa�ah syar�iyah. Berapa banyak diantara aktifis ormas Islam yang sebenarnya tidak punya ilmu apa-apa tentang hukum Islam. Buta bahasa arab dan tidak mampu memahami kitab-kitab fiqih. Walhasil, jawabannya

http://orido.wordpress.com

24

Hadith of the Day
biasanya selalu ngambang, tidak pasti dan juga hanya perkiraan saja. Jadi yang harus Anda jadikan rujukan adalah ahli syariah yang menguasai detail dari hukum-hukum syariah. Bukan dari aktifis ormas Islam, apalagi dari mimpi Anda. Bahkan meski mimpi itu tidak dikotori oleh syetan sekalipun, tetap saja bukan sumber rujukan dalam masalah syariat. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,(QS. An-Nahl : 43) 2. Penjelasan Hukum Talak Anda Lafaz cerai itu ada dua macam. Pertama lafaz yang sharih (jelas/eksplisit) dan kedua lafaz yang majazi (tidak jelas/implisit). Lafaz yang sharir misalnya,�Aku ceraikan kamu�. Atau �Perinkahan kita sudah selesai� dan lainnya. Bila lafaz itu diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya, maka jatuhlah talaq satu. Bahkan meski itu dilakukan dengan main-main. Sedangkan lafaz tidak sharih adalah lafaz yang bisa bermakna ganda. Misalnya adalah apa yang anda sebutkan di atas. Lafaz ini baru bisa mengandung hukum bila disesuaikan dengan niatnya atau `urf (kebiasaan) yang umumnya disepakati di suatu masyarakat. Misalnya, kata-kata,�pulanglah ke rumah orang tuamu�. Apakah lafaz ini berarti thalaq atau bukan ?. Jawabannya tergantung niat atau kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Bila kebiasaannya lafaz itu yang digunakan untuk mencerai istri, maka jatuhlah thalak itu. Bila tidak, maka tidak. Begitu juga dengan niat, apakah ketika mengucapkan itu dia berniat menceraikan atau tidak ? Sedangkan talaq tiga itu tidak terjadi sebelum jatuhnya talak satu dan dua. Memang ada sebagian ulama yang mengatakan talaq tiga bisa dijatuhkan sekaligus, namun pendapat yang kuat mengatakan bahwa thalaq itu jatuhnya satu persatu. Bila sekali menthalaq istri, maka jatuhlah thalaq satu. Selama masa waktu tiga kali masa suci dari haidh. Bila selama itu terjadi rujuk yang bentuknya bisa dengan lafaz atau bisa juga dengan perbuatan langsung, maka ruju` telah terjadi dan masih tersisa dua thalaq untuk sampai ke tahalq tiga. Selama masa iddah itu, maka istri masih merupakan hak suami untuk merujuknya dan dia tidak boleh menerima lamaran dari orang lain apalagi menikah dengan orang lain. Namun bila masa iddah telah habis, bila ingin kembali harus dengan akad nikah baru lagi dengan lamaran dan mahar baru. Barulah bila sudah dua kali kejadian yang sama, jatuhlah thalaq dua. Ini adalah batas terakhir bisa rujuk. Bila menjatuhkan lagi thalaq, maka jatuhlah thalaq tiga yang dengan ini putuslah hubungan suami istri tanpa ada masa iddah atau masa rujuk.

http://orido.wordpress.com

25

Hadith of the Day
Bahkan untuk menikah dari baru pun sudah tidak boleh. Kecuali bila ada laki-laki lain yang menikahinya dengan nikah yang sah dan sesuai syariah, bukan sekedar menjadi muhallil saja. Bila suatu hari istri dicerai oleh suami barunya itu atau ditinggal mati, barulah boleh suami yang lama itu kembali menikahinya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/1737 Konsultasi : Masalah Umum Mimpi Melihat Nabi Pertanyaan: Assalamu'alaikum. Afwan Ustadz. ana mau nanya : 1. Apakah benar ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah itu tidak dapat diserupai? 2. Bagaimana kita menanggapi orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi (seperti AAGYM- dan ada salah satu Ustadz yang Kutbah dimasjid tempat ana tinggal itu juga mengaku bermimpi bertemu Nabi Muhammad tapi dia menyebutkan ciri-ciri nabi itu mempunyai jenggot yang lebat) apa benar mimpi orang itu? Syukron. Rustam Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d, Benar bahwa Rasulullah SAW itu tidak dapat diserupakan oleh makhluq seperti jin dan lainnya. Sehingga bila seseorang bertemu dalam mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, maka memang benar itu adalah Rasulullah SAW dan bukan makhluk yang menyamar. Namun perlu diketahui bahwa hanya ada dua orang yang bisa dibenarkan perkataannya bila mengaku bermimpi bertemu Rasulullah SAW.

http://orido.wordpress.com

26

Hadith of the Day
Pertama, para shahabat Rasulullah SAW, yaitu orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW walaupun hanya sekali saja dan dia dalam keadaan muslim saat bertemunya hingga matinya. Bila pengakuan itu datang dari para shahabat, maka 100 % hal itu bisa diterima, karena selain mereka memang mengenal persis sosok Rasulullah SAW , mereka juga adalah orang yang diridhai oleh Allah SWT. Kedua, orang yang telah mempelajari, mengkaji dan mendalami sirah nabawiyah dengan sumber-seumber yang shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah bahkan sampai detail-detail ciri pisik Nabi Muhammad SAW. Bila seseorang mengaku bermimpi bertemu Rasulullah SAW tapi bukan shahabat dan juga bukan orang memenuhi kriteria nomor dua di atas, maka bisa dikatakan bahwa apa yang dikatakannya itu tidak benar. Karena bisa saja dia menganggap bahwa orang dalam mimpinya itu sebagai Rasulullah SAW, padahal dia tidak pernah mengetahui seperti apa sosok Rasulullah SAW itu sendiri. Jadi dari mana dia bisa tahu bahwa itu adalah Rasulullah SAW ? Sebenarnya orang yang dilihat itu bukan Rasulullah SAW, tapi karena dia awam dengan sirah nabawiyah, maka dengan mudah terpedaya oleh perasaannya atau oleh syetan untuk mengatakan bahwa itu adalah Rasulullah SAW. Apalagi bila dalam cerita mimpinya itu dia bercakap-cakap dengan Rasulullah SAW, padahal dia tidak bisa bahasa Arab dan Rasulullah SAW hanya bisa bahasa Arab saja. Tentu saja semua itu menjadi sumber pertanyaan yang harus dijawab. Jadi ketidak-benaran pengakuan itu bisa ada pada dua titik. Pertama, pengakuan itu salah duga, karena dia menganggap orang dalam mimpinya itu Rasulullah SAW padahal bukan dan hal itu bisa dibuktikan setelah dibandingkan dengan ciri-ciri beliau dalam kitab-kitab sirah nabawiyah. Kedua, bisa saja orang tersebut memang tahu ciri-ciri Rasulullah SAW namun dia berbohong untuk kepentingan tertentu. Tapi yang paling pokok yang harus dipahami adalah bahwa mimpi itu bukan sarana untuk mendapatkan hukum syariat baru. Sehingga bila seseorang mengaku bermimpi bertemu Rasulullah SAW lalu bercerita bahwa Rasulullah SAW memerintahkan ini dan itu yang berkaitan dengan hukum syariat, jelas itu adalah dusta. Karena setelah beliau wafat, syariat Islam telah lengkap dan tidak ada lagi wahyu yang turun, termasuk �anggapan� bahwa Rasulullah SAW masih kembali ke dunia untuk meneruskan dakwahnya. Tapi bila pengakuan itu datang dari orang yang shalil, berilmu (minimal tentang sirah nabawiyah dan pernik-perniknya), dan isi mimpinya tidak mengandung hukum syariat, kita boleh percaya atas perkataannya. Asal sekali lagi apa yang diceritakan dalam mimpi itu tidak berkaitan dengan petunjuk syariat. Wallahu A`lam Bish-Showab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/4892 Konsultasi : Ibadah

http://orido.wordpress.com

27

Hadith of the Day

Pernah Mimpi : Sudah Baligh Atau Belum ? Pertanyaan: Assalamu'alikum Wr. Wb Pak Ustadz yang dimuliakan oleh Allah SWT, saya mau bertanya pak Ustadz..saya pernah melakukan Onani dibulan Ramadhan sewaktu SMP dulu. Pertanyaan saya adalah: 1. apakah saya sudah termasuk baligh atau belum pak Ustadz sewaktu smp dulu, sedangkan salah satunya ciri-ciri laki-laki yang sudah baligh yaitu mimpi (mimpi basah), padahal mimpi itu terjadi sewaktu saya sudah SMA. 2. Sewaktu bulan puasa, saya pernah juga melakukan onani pak Ustadz, tapi waktu itu saya belum tahu bahwa onani itu dapat membatalkan puasa seseorang.bagaimana cara membayarnya Pak Ustadz sedangkan saya lupa berapa yang harus saya bayarkan. Apakah setiap senin dan kamis boleh saya membayarnya? Kalau kelebihan jumlahnya bagaimana Pak Ustadz. 3. Pertanyaan yang lain yang tidak ada hubungannya dengan nomor 1 dan 2. selama ini saya niat puasa sunnat dengan menggunakan bahasa Indonesia biasa dan bukan bahasa arab. Saya nggak tahu niat dengan menggunakan bahasa arabnya, karena yang saya tahu Cuma niat puasa ramadhan saja. Apakah ada niat puasa sunnat itu dalam bahasa arab seperti puasa qadha, puasa senin dan kamis dll, karena saya tidak tahu niat puasanya dalam bahasa Arab, kalau memang ada saya mohon diberi tahu niat puasa sunnatnya itu. Terima kasih Pak Ustadz Assalamu'alikum Wr. Wb Hamzah Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d 1. Kapan Seseorang Menjadi Baligh ? Dalam hukum syariah, batasan seseorang dianggap sudah masuk baligh adalah bila telah bermimpi yang mengeluarkan mani, baik karena disengaja dengan melakukan hal-hal yang membuatnya terbawa mimpi, maupun oleh sebab-sebab yang diluar kesengajaan. Namun bila hanya sebatas mimpi misalnya melakukan percumbuan dengan wanita,

http://orido.wordpress.com

28

Hadith of the Day
namun tidak sampai keluar maninya, maka mimpi itu sendiri bukanlah ukuran atau batas ke-balihg-an seseorang. Karena yang menjadi batas adalah keluarnya mani itu snediri. Baik karena sebab mimpi maupun bukan. Dalam masalah pada usia berapakah seseorang itu baligh, tentu sangat relatif. Tergantung dari banyak faktor. Yang jelas bulan ukuran usia, karena bisa saja berbedabeda antara satu dan lain orang. 2. Puasa Melakukan Onani Onani diharamkan hukumnya oleh sebagian ulama dan sebagian yang lain membolekannya dengan catatan dan persyaratan. Dan beronani sehingga mengakibatkan keluarnya mani, akan membatalkan puasa seseorang. Karena itu wajib baginya untuk mengganti puasa dihari lain. Dan onani meski diharamkan oleh sebagian ulama, namun bukanlah zina yang diharamkan secara mutlak oleh Al-Quran dan sunnah. Beronani di siang hari bulan puasa membatalkan puasa. Cukup mengganti dengan berpuasa di hari lainnya. Tapi tidak sama dengan orang yang berhubungan seksual dengan istrinya di siang hari bulan puasa. Buat mereka, tidak cukup sekedar mengganti puasa di hari lain, teapi wajib membayar kaffarat, yaitu membebaskan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. Sebagian ulama mengatakan bahwa bila menyengaja berbuka puasa di siang hari di bulan ramadhan selain wajib mengganti maka wajib pula membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin. 3. Niat Puasa Dengan Bahasa Indonesia : Syahkah ? Pada dasarnya melafalkan niat bukanlah syarat atau rukun dalam ibadah. Karena sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan bahwa niat itu adanya di dalam hati. Bahkan lafaz saja tanpa kesadaran di dalam hati bukan dikatakan niat melainkan mengigau. Karena dia tidak tahu apa yang diucapkan atau tidak sadar makna yang dilafazkan. Sehingga bila di dalam hati Anda sudah ada keinginan atau ketetapan untuk melakukan puasa pada esok harinya, sudah cukuplah sebagai niat. Bahkan sebagian pendapat mengatakan bahwa niat untuk puasa Ramadhan boleh dilakukan sekaligus untuk 1 bulan lamanya. Namun bila Anda tidak bisa melafazkan niat dalam bahasa arab lalu menggunakan bahasa Indonesia, silahkan saja, karena yang penting adalah penyengajaan di dalam hati itu sendiri. Wallahu a`lam bishshowab. Wassalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

http://orido.wordpress.com

29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->