P. 1
Hidup Mulia Atau Mati Syahid - HOTD

Hidup Mulia Atau Mati Syahid - HOTD

4.0

|Views: 2,085|Likes:
Published by api-3725701
"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: "Orang-orang yang dianggap mati syahid yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau terpendam hidup-hidup karena kejatuhan bangunan". Kemudian beliau bersabda: "Seandainya manusia mengetahui...
"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: "Orang-orang yang dianggap mati syahid yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau terpendam hidup-hidup karena kejatuhan bangunan". Kemudian beliau bersabda: "Seandainya manusia mengetahui...

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Hadith of the Day

[HOTD] hidup mulia atau mati syahid
Maret 21st, 2007

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS. Ali ‘Imran, 3:169) Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Orang-orang yang dianggap mati syahid yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau terpendam hiduphidup karena kejatuhan bangunan”. Kemudian beliau bersabda: “Seandainya manusia mengetahui pahala Isya dan Subuh niscaya mereka mendatanginya meskipun merangkak. Dan seandainya manusia mengetahui pahala shaf pertama kemudian ia tidak mendapatkannya kecuali dengan niscaya mereka berundi.” Links: [memenuhi panggilan syuRga] http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=169174&kat_id=232&kat_id1= &kat_id2= [jihad-jihad yang faRdhu ain] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1022&bagian=0 [jihad apaan sih?] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/1511 [peRjuangan : hidup mulia atau mati syahid] http://www.raudhah.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article &sid=605&mode=thread&order=0&thold=0 [tanda-tanda husnul khatimah] http://jilbab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=556&Itemid= 29 [ciRi-ciRi syahid] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/3132 [apa hukum peRkataan fulan syahid ?] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1021&bagian=0 [hukum membeRi gelaR asy-syahid kepada seseORang] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/2079 [pandangan islam ttg bOm syahid di palestina] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/3913 [bOm syahid atau bOm bunuh diRi 1/2] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1678&bagian=0 [bagaimana hukumnya bunuh diRi….] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/3926 [bOm syahid atau bOm bunuh diRi 2/2] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1679&bagian=0 [tentang jihad, bOm syahid dan bOm maRRiOtt] http://orido.wordpress.com 1

Hadith of the Day http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/2349 [apakah adanya imam meRupakan syaRat jihad] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1680&bagian=0 [peRbedaan syahid dunia dengan syahid dunia akhiRat] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/21379 [hukum tentang aksi-aksi bOm bunuh diRi] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1702&bagian=0 [memandikan ORang yang mati syahid] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/3719 [iRaq: menOlak caci Rasulullah, seORang pemuda tewas ditembak pRajurit maRiniR as!!??] http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatakhbar&id=578 -perbanyakamalmenujusurgaintisaRi:  Mati syahid merupakan cita-cita tertinggi umat Islam. Salah satu jalan menuju mati syahid adalah berjuang di jalan Allah.  Menurut istilah, syahid artinya berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah.  Siapa yang berjuang membela harta miliknya, jiwanya, keluarganya, agamanya, dan meninggal dalam perjuangannya itu, maka ia meninggal fi sabilillah atau mati syahid  "Isy kariman au mut syahidan", hiduplah mulia atau mati syahid!. Kemuliaan hidup dan mati syahid hanya dapat digapai dengan satu jalan: berjuang di jalan Allah. (Sayid Qutb, Pejuang Islam dari Mesir)  Al-Quran dan Sunnah sangat banyak dan sering sekali menggunakan kata jihad dalam makna pertempuran.  6 keistimewaan yang mati syahid yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa'at bagi 70 orang kerabatnya  Barangsiapa yang mati di jalan Alloh, mati karena penyakit tho'un, mati disebabkan penyakit di perut, orang yang tenggelam, mempertahankan hartanya maka dia syahid.  Menentukan syahid bagi seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid, tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya.

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=169174&kat_id=232&kat_id1=&kat_id 2= Senin, 09 Agustus 2004

http://orido.wordpress.com

2

Hadith of the Day
Memenuhi Panggilan Syurga

Mati syahid merupakan cita-cita tertinggi umat Islam. Salah satu jalan menuju mati syahid adalah berjuang di jalan Allah. Seorang sahabat Rasulullah SAW, Khaisamah, suatu malam bermimpi melihat putranya bermain dan bersuka-ria di sebuah taman indah di dalam syurga. Anak kesayangannya yang gugur di medan Perang Badar itu pun melihat sang ayah seraya berkata, "Ayah! Ananda di sini sekarang. Rupanya janji Allah telah terlaksana dengan benar pada diri ananda. Mari Ayah, marilah ikuti ananda!". Saat bangun, Khaisamah tersentak. Hatinya gelisah. Kemudian ia datang menghadap Rasulullah SAW. Umat Islam saat itu tengah bersiap menghadapi serangan kaum kafir Quraisy di Bukit Uhud. Khaisamah memohon agar ia dimasukkan ke dalam daftar pasukan Islam untuk pergi berperang ke Bukit Uhud. "Ya Rasulullah! Aku telah tua, tulangku telah mulai rapuh, dan aku ingin sekali menjumpai Tuhanku," katanya memberi argumentasi. "Bawalah aku serta, ya Rasulullah, dan doakan agar aku pun mendapat syuhada sebagaimana anakku dan hidup bersamanya di syurga". Dengan rasa terharu, Rasulullah SAW mengangkatkan tangannya, mendoakan Khaisamah agar permohonannya yang tulus dan ikhlas itu terkabul. Maka, berperanglah Khaisamah yang telah tua renta itu dengan gagah berani hingga ia mencapai apa yang diinginkannya: mendapat syuhada atau mati syahid. Mati syahid merupakan cita-cita tertinggi umat Islam. Dalam cita-cita itu, terkandung tekad kuat untuk berjuang di jalan Allah, membela agama dan umat Islam, karena salah satu jalan menuju mati syahid adalah berjuang di jalan Allah. Secara harfiyah, syahid (jamak: syuhada) artinya hadir, datang, atau kesaksian. Hadir di tengah perjuangan fi sabilillah, datang memenuhi panggilan jihad dan dakwah, dan Allah dan para malaikatnya menyaksikan perjuangan dan kematian seorang pejuang yang dijamin masuk syurga tanpa hisab. Menurut istilah, syahid artinya berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang berjuang (dan mati) karena (mempertahankan) hartanya, darahnya, agamanya, dan keluarganya, maka ia mati syahid" (HR. Bukhari-Muslim). Hadis tersebut menjelaskan, siapa yang berjuang membela harta miliknya, jiwanya, keluarganya, agamanya, dan meninggal dalam perjuangannya itu, maka ia meninggal fi sabilillah atau mati syahid (QS. An-Nabaa': 3/I/1992:33). Allah SWT berfirman, Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah melampaui batas karena Allah sesungguhnya tidak menyukai orang-orang yang melampuai batas (QS. 2: 190). Sebaliknya, orang yang berjuang bukan karena Allah, tidak membela yang benar, dan tidak ikhlas, tapi karena popularitas, pujian, dan kedudukan, maka tidak tergolong syahid. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Seseorang yang berperang karena harta rampasan, ingin disebut-sebut (sebagai pahlawan), dan karena ingin melihat kedudukannya, maka siapa (di antara mereka) yang fi sabilillah?" Rasulullah SAW menjawab, "Siapa yang berjuang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dia berjuang di jalan Allah" (HR. Bukhari). Bahkan dalam dakwah sekalipun, jika

http://orido.wordpress.com

3

Hadith of the Day
terselip perasaan riya' (ingin dipuji) atau motivasi selain kepada Allah SWT, maka ia tidak termasuk berjuang fi sabilillah. Seseorang bisa saja mengaku berjihad dan berdakwah, namun dalam hatinya terselip niat selain pada Allah. Kalau ia meninggal dalam perjuangannya itu, maka menurut ahli fikih ia mati syahid secara lahiriah saja. Ada juga yang syahid akhirat saja, seperti orang yang terbunuh karena dianiaya bukan dalam peperangan atau tidak dalam keadaan berjuang di jalan Allah, juga yang mati tenggelam, terbakar, tergilas, dan sebagainya. Mati syahid dunia-akhirat adalah orang yang tewas dalam perjuangan atau peperangan membela Islam (An-Nabaa': 3/I/1992: 35). Mati syahid harus menjadi impian kaum Muslim. Pejuang Islam dari Mesir, Sayid Qutb, sempat mengucapkan katakata yang sangat populer hingga kini ketika ia berada di tiang gantungan rezim sekuler Mesir. Ia dihukum mati karena berjuang menegakkan syariat Islam. Katanya, "Isy kariman au mut syahidan", hiduplah mulia atau mati syahid!. Kemuliaan hidup dan mati syahid hanya dapat digapai dengan satu jalan: berjuang di jalan Allah. Mengamalkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan merupakan perjuangan di jalan Allah. Pola dasar kehidupan seorang Muslim adalah siap berjuang mengorbankan jiwa, raga, dan harta untuk melaksanaan ibadah dan membela kehormatan agama dan umat Islam. Tenaga, pikiran, dan harta yang dimiliki semuanya dipersembahkan untuk berbakti kepada Allah. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh (QS. 9: 111). Rasulullah SAW menjuluki orang yang berjuang dengan jiwa dan hartanya sebagai "manusia utama". Seorang sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih utama?" Rasul menjawab: "Orang mukmin yang jihad fi sabilillah dengan diri dan hartanya" (HR. Bukhari). Medan jihad bagi kaum Muslim sangat luas. Allah memberi kesempatan di berbagai bidang bagi kaum Muslim untuk berjuang fi sabilillah dan menggapai mati syahid. Modal perjuangannya adalah tenaga, pikiran, dan harta benda yang diamanahkan Allah kepada mereka. Jika tenaga, pikiran, dan harta hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, demi kepuasan diri sendiri saja, maka kita tidak hidup dalam kemuliaan dan jauh dari mati syahid. Na'udzubillah! Islam tidak cukup diimani, tapi juga harus diilmui (dipelajari dan dipahami), diamalkan, didakwahkan, dan dibela kemuliaan atau kehormatannya. Lalu, sudahkah kita berbuat sesuatu untuk membela kehormatan agama Allah? Sudah tertanamkah dalam diri kita cita-cita mati syahid dan berusaha menggapainya dengan berjuang di jalan Allah? Wallahu a'lam bish-shawab. ASM. Romli

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/1511 Konsultasi : Sosial Politik JIHAD Apaan Sih? Pertanyaan:

http://orido.wordpress.com

4

Hadith of the Day
assalamu'alaikum apakah arti jihad sebenarnya pada jaman Rosululloh dan para sahabat? perangkah? atau lainnya jazakalloh wassalamu'alaikum Niko Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Konotasi pertama yang terlintas di benak seseorang tentang makna jihad adalah perang atau pertempuran. Konotasi ini tidak salah, karena Al-Quran pun banyak menggunakan kata jihad dengan makna pertempuran. Demikian pula hadits-hadits Rasulullah SAW yang juga sering menggunakan kata jihad dengan makna pertempuran. Dan memang demikianlah makna yang sesungguhnya. Paling tidak di dalam kata jihad itu ada unsur perjuangan yang berat melawan musuh Allah demi menegakkan agama Allah. Meski semikian, bila jihad ingin dimaknai dengan pengertian yang lebih luas dari sekedar pertempuran, hal itu syah-syah saja. Asal hprinsip dan batasannya tetap jelas. Dan juga jangan sampai menafikan makna pertempuran itu sendiri. Kecenderungan untuk menafikan jihad dengan makna pertempuran ini nampak sering sekali dikumandangkan oleh mereka yang anti Islam. Sehingga meski mereka sering menggunakan kata jihad, tetapi selalu disusul dengan keterangan yang seolah-olah mengoreksi makna jihad sebagai pertempuran. Padahal Al-Quran dan As-Sunnah lebih banyak menggunakan kata jihad dengan makna pertempuran yang sebenarnya. Upaya memelesetkan makna jihad dari pertempuran menjadi hanya sekedar perjuangan atau malah lebih kecil lagi menjadi sekedar bermakna usaha adalah sebuah upaya yang dilakukan secara serentak oleh musuh-musuh Islam. Tujuan apalagi bila bukan menghilangkan semangat dan syariat pertempuran itu di hati umat Islam. Karena jihad dengan makna pertempuran itu dalam sejarah telah berhasil mematahkan kekuatan non Islam. Tidak ada yang lebih ditakuti oleh lawan-lawan Islam kecuali serbuan pasukan muslim dengan teriakan khas �Allahu Akbar�. Pertenpuran pisik ini telah berhasil mengantarkan Islam ke berbagai penjuru dunia. Tidak kurang dari dua imperium besar, Romawi dan Persia, harus tunduk dan bertekuk lutut di hadapan pasukan muslimin dengan jihad pertempuran ini. Pasukan Salib hasil kolaborasi para penguasa Eropa pun berhasil diusir pulang oleh kekuatan jihad muslimin. Spanyol bisa jatuh ke tangan muslimin tidak lain karena syariat pertempuran jihad pisik Islam. Dan jantung eropa jatuh ke tangan Islam oleh Muhammad Al-Fatih

http://orido.wordpress.com

5

Hadith of the Day
hasil dari jihad secara pisik. Dan jangan lupa, tentara Uni Sovyet kalah dan lari tunggang-langgang akibat jihad pisik mujahidin di Afghanistan. Hidup mulia atau mati syahid adalah semboyan yang tidak dimiliki agama manapun. Belum pernah sebuah agamapun dunia ini memiliki sebuah keyakian yang mampu menggerakkan seluruh lapisan penganutnya dan mampu mengalahkan semua peradaban kecuali agama Islam dengan syariat jihad pisiknya. Sejarah dunia mencatat bahwa pasukan muslimin selalu memenangkan pertempuran dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dari lawan-lawannya. Dan sejarah pun mencatat bahwa belum pernah kekuatan Islam runtuh dari panggung peradaban kecuali pasukan lawan berhasil memprovokasi muslimin agar tidak berjihad secara pisik. Snouck Hurgronye pun menasehati pemerintah Belanda bahwa kalau ingin menaklukkan Aceh, maka yang perlu dilakukan sebelumnya adalah menggembosi dulu syariat jihad dan mengganti maknanya dengan makna-makna yang lain selain pertempuran. Dengan itu maka muslimin Aceh akan meletakkan senjata dan meninggalkan pertempuran. Hal yang sama dilakukan pemerintah Inggris ketika kewalahan menghadapi gempuran mujahidin di India. Lalu mereka membuat program merusak makna Islam dan makna jihad dengan mendirikan gerakan Ahmadiyah di Lahore. Inti ajarannya yang paling utama apalagi kalau bukan merubah makna jihad dari pertempuran menjadi maknamakna lain yang bukan pertempuran. Lalu perlawanan muslimin India pun berhenti dengan sendirinya. Semua hal di atas perlu kita pahami dengan seksama. Bukan berati kita menafikan makna jihaddalam arti luas. Hanya saja warningsejak awal, bahwa kebebasan menafsirkan makna jihad dalam arti luas jangan sampai melupakan makna pertempurannya itu sendiri. Karena Al-Quran dan Sunnah sangat banyak dan sering sekali menggunakan kata jihad dalam makna pertempuran. Wallahu a`lam bis-shawab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

http://www.raudhah.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=60 5&mode=thread&order=0&thold=0 Kiriman: qurani pada Selasa, 28 Oktober, 2003 - 12:01 AM GMT PERJUANGAN : HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID Muqaddimah Pertentangan di antara kebenaran dan kebatilan sebenarnya adalah satu sunnah di dalam kehidupan manusia. Setiap saat dan masa pasti menaksikan wujudnya penentang-penentang kebenaran, sebagaimana setiap saat menyaksikan kewujudan gerakan atau firqah yang benar-benar itqan dengan usaha menegakkan kalimah Allah SWT.

http://orido.wordpress.com

6

Hadith of the Day
Sejarah membariskan pertentangan para ambiya’ musuh-musuh masing-masing pada situasi dan zaman yang berbeza, namun tujuan dan matlamatna tetap sama ; para ambiya’ dengan perjuangan mengajak manusia ke syurga dan para penentang kebatilan dengan perjuangan menjerumuskan pengikut ke neraka. Perbezaan pemikiran dan kehendak ini mewujudkan pertentangan. Asas pertentangan tidak banyak berbeza antara satu sama lain. Hakikat wujudnya persamaan di antara dalam setiap perjuangan ini sekalipun berbeza zaman dan masa dinyatakan secara tidak langsung di dalam Al-Quran dalam beberap tempat. Antaranya ialah ayat 36 surah AnNahl dan ayat 112 surah Al-An’am. Apabila pertentangan seperti ini berlaku, maka tidak dapat tidak wujudnya satu bentuk perjuangan untuk melaksanakan agenda masing-masing. Dan sebagai tenaga kepada cita-cita Islam, perjuangan yang akan kita bicarakan ialah perjuangan Islam iaitu perjuangan melaksanakan kebenaran di muka bumi ini dan memakmurkan bumi dengan hukum-hukum Allah. Ia disebut sebagai jihad. Dan jihad bukannya bererti keganasan. Contoh-contoh perjuangan yang dinukilkan di dalam Al-Quran Sebagaimana yang diakini oleh setiap yang bernama pejuang, pastinya rintangan dan halangan akan menjadi fitrah semulajadi di dalam perjuangan. Ada yang berjaya menempuhi rintangan dan mendapat kejayaan di muka bumi, namun kebanyakannya menempuhi syahid ataupun beroleh kegagalan namun pastinya ganjaran yang menunggu di hadapan Allah tidak terkira. Tidak kurang juga para pejuang yang akhirnya mati dalam keadaan perjuangan tidak berjaya namun perjuangan mereka terbukti diterima manusia selepas kematian mereka. Antara contoh perjuangan di dalam Al-Quran yang bagi saya sepatutnya dipelajari dan dihadam oleh para pejuang mutakhir ialah : 1. Perjuangan Nabi Nuh as : Kisah seorang nabi yang berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun namun yang menyahut seruannya hanyalah beberapa orang sahaja. Kemuncak ujian yang diterima ialah baginda ditolak oleh anak dan isterinya sendiri. – Surah Nuh. 2. Perjuangan Nabi Musa as : Seorang nabi yang cuba membebaskan kaumnya daripada kekangan perhambaan akibat penindasan Firaun dan kuncu-kuncunya. Pada peringkat permulaan, dakwah Nabi Musa ialah menyeru Firaun supaya mengakui ketuhaan Allah dan kebatilan dakwaan dirinya sebagai tuhan. Sekalipun Firaun menolak, Nabi Musa tetap diselamatkan oleh Allah apabila Firaun tenggelam di dalam lautan. Namun peringkat kedua dakwah Nabi Musa lebih mencabar apabila berdepan dengan kaumnya yang begitu degil akibat kongkongan perhambaan yang bgeitu lama. Nabi Musa akhirnya wafat dalam keadaan baginda dan kaumnya sesat di sebuah padang selama 40 tahun. Allah mentakdirkan kegemilangan Bani Israil ialah di tangan generasi yang lahir sesudahnya. Kisah Nabi Musa disebut oleh banyak tempat di dalam Al-Quran. 3. Kisah Ashabul Ukhdud : Al-Quran menyebut kisah ini secara tidak langsung di dalam Surah Al-Buruj bermula ayat yang ke-4. Namun ia diterangkan secara terperinci di dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Kisah seorang budak diberikan ‘biasiswa’ oleh raja yang zalim untuk mempelajari ilmu sihir namun dia dalam masa yang sama turut mempelajari ilmu tauhid dan aqidah ang sahih. Kemudiannya, dia meningkat dewasa sebagai penentang kepada raja yang zalim. Sekalipun akhirnya dia mati di tangan raja tersebut, perjuangannya diterima oleg

http://orido.wordpress.com

7

Hadith of the Day
rakyat jelata yang seterusnya beriman kepada Allah SWT. Di sinilah berlakunya perstiwa parit berapi. Sekadar menyebut beberapa contoh daripada puluhan malah ratusan contoh di dalam Al-Quran sudah cukup untuk menyedarkan kita bahawa lumrah perjuangan sejak zaman berzaman membuktikan bahawa tidak semestinya setiap perjuangan berakhir dengan kejayaan, malah kebanyakan darinya terpaksa mengharungi seribu satu dugaan dan rintangan dan ada kalanya berakhir dengan kematian. Namun, ganjaran yang sebenar tentunya menanti di sisi Allah SWT. Siapakah golongan pejuang yang sebenar? Berbicara soal perjuangan, tidak ada manusia yang boleh mendakwa dirinya sebagai sempurna. Sejarah mengajar kita bahawa ada kalanya mereka yang hebat berbicara soal perjuangan akhirnya lebih dahulu berpaling menikam jemaah. Ada yang lidahnya terlalu petah berkata-kata soal istiqomah dan sabar, namun akhirnya akibta sedikit kepentingan yang tidak ditunaikan, dia mengambil langkah menjilat semula ludahnya sendiri. Dalam soal ini, kita mahu berada di mana? Sesungguhnya masa depan sama sekali tidak dapat diramalkan, hanya doa dan tawakkal yang menjulang tinggi menjadi bekal untuk berhadapan dengan Allah SWT nanti. Dalam pada itu, terdapat beberapa ciri yang seharusnya ada pada seorang atau sekumpulan pejuang yang benar-benar mukhlis di dalam melaksanakan tanggungjawab. Antaranya sebagaimana yang disebut di dalam surah Al-Maidah, ayat 54 : 1. Menyintai dan dicintai Allah SWT. 2. Bersikap lemah lembut dan penyayang kepada kaum muslimin. 3. Bersikap tegas gagah dengan orang-orang kafir yang menjadi musuh perjuangan. 4. Bersungguh-sungguh berjihad di jalan Allah. 5. Tidak pernah gentar dengan segala caci maki orang lain. Penutup Coretan ini sebenarnya terlalu ringkas untuk membicarakan soal perjuangan secara ilmiah dan berfakta, namun ia sudah cukup untuk memberikan gambaran umum rupa bentuk perjuangan yang seharusnya didokongi oleh setiap yang bergelar srikandi atau mujahid. Semoga sinar kebangkitan Islam terus menerangi alam semesta, biarlah nadi berhenti berdenyut, nafas berhenti berhembus dan darah berhenti mengalir, namun perjuangan tetap diteruskan. Al-Faqiru Ilallah, Ahmad Fadhli bin Shaari. 3 Ogos 2003. www. ahmadfadhli.com

http://jilbab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=556&Itemid=29

http://orido.wordpress.com

8

Hadith of the Day

Tanda-tanda Husnul Khatimah Written by Ummu Raihanah Senin, 14 Agustus 2006 Setiap hamba Allah yang berjalan diatas manhajnya yang lurus yang berusaha meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya ajmain tentu sangat mengharapkan akhir kesudahan yang baik. Allah telah menetapkan tanda-tandanya dintara tanda-tanda husnul khatimah itu adalah: Pertama,mengucapkan kalimah syahadat ketika wafat Rasulullah bersabda :"barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan "La ilaaha illallah" maka ia dimasukkan kedalam surga" (HR. Hakim) kedua, ketika wafat dahinya berkeringat Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,"Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya" (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, AlHakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas'ud) ketiga, wafat pada malam jum'at Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah "Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum'at atau pada malam jum'at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur" (HR. Ahmad) keempat, mati syahid dalam medan perang Mengenai hal ini Allah berfirman: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman" (Ali Imraan:169-171)

http://orido.wordpress.com

9

Hadith of the Day
Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah bersabda: "Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa'at bagi 70 orang kerabatnya" (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) 2. Seorang sahabat Rasulullah berkata: "Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah dikuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah" (HR. an-Nasai) catatan: Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipu ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya"(HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi) kelima, mati dalam peperangan fisabilillah Ada dua hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: 1. Rasulullah bersabda:"Apa yang kalian katagorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian? mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa sja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda:Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya:Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah? beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid "(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi) 2. Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga" (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi)

http://orido.wordpress.com

10

Hadith of the Day
keenam , mati disebabkan penyakit kolera. Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut: 1. Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin MAlik berkata:"Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: "Karena terserang penyakit kolera" ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim" (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad) 2. Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;"Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid"(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)

kedelapan,mati karena tenggelam. kesembilan, mati karena tertimpa reruntuhan/tanah longsor. Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: "Para syuhada itu ada lima; orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan, dan syahid berperang dijalan Allah" (HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad) kesepuluh, perempuan yang meninggal karena melahirkan. Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya : "Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh" beliau bersabda:Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)" (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya.

http://orido.wordpress.com

11

Hadith of the Day
kesebelas, mati terbakar. keduabelas, mati karena penyakit busung perut. Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu': "Para syuhada ada 7: mati terbunuh dijalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid,mati tenggelam adalah syahid,karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid,karena terbakar adalah syahid, dan yang mati karena tertimpa reruntuhan(bangunan atau tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid" (HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu MAjah dan Ahmad) Ketigabelas, mati karena penyakit Tubercolosis (TBC). Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: "Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid"(HR.Thabrani) keempatbelas, mati karena mempertahankan harta dari perampok. Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut: 1. "Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid" (HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) 2. Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata: "Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku" beliau menjawab: 'jangan engkau berikan' Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka"(HR. Imam Muslim, an-Nasa'i dan Ahmad) 3. Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata : "ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tak mau berdzikir? beliau menjawab:

http://orido.wordpress.com

12

Hadith of the Day
Mintalah tolong orang disekitarmu dalam mengatasinya.Orang itu bertanya lagi : Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab:Serahkan dan minta tolonglah kepada penguasa.Ia bertanya: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? beliau bersabda: berkelahilah dalam membela hartamu hingga kau mati dan menjadi syahid atau mencegah hartamu dirampas" (HR. An-Nasa'i, dan Ahmad) kelima belas dan keenam belas, mati dalam membela agama dan jiwa. Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut: 1.""Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang matimempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid"(HR. Abu Daud, an-Nasa'i, at-tirmidzi, dan Ahmad) 2. "Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid" (HR. An-Nasa'i) ketujuhbelas, mati dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah. Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam : 1."Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)" (HR. Imam Muslim, an-Nasa'i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad) 2. "setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur" (HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad) kedelapan belas, orang yang meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: "Barangsiapa mengucapkan 'laa ilaaha illallah' dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa

http://orido.wordpress.com

13

Hadith of the Day
yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga" (HR. Ahmad) tammat walhamdulillahi rabbil alamiin. Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin. dikutip dari kitab "Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah " hal:52-55 M. Nashiruddin AlAlbani, Gema Insani Press, Jakarta,1999 Last Updated ( Kamis, 07 September 2006 )

http://jilbab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=556&Itemid=29 Konsultasi : Sosial Politik Ciri-ciri Syahid Pertanyaan: assalamu alaikum, saya ingin menanyakan beberapa hal: 1. bagaimana sebenarnya ciri-ciri orang yang mati syahid, apakah ada penjelasannya di quran ataupun hadis? 2. apakah orang yang berjihad di negeri orang termasuk mati syahid, misalnya di Palestina atau contoh kasus matinya Al Ghozi di Filipina? syukron... wassalam Abi Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d 1. Orang-orang yang termasuk golongan yang meninggal dalam keadaan syahid telah dijelaskan dalam Al-Quran dan hadis, antara lain: Alloh SWT berfirman : "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka , bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap

http://orido.wordpress.com

14

Hadith of the Day
mereka dan tidak mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman."(QS. Ali Imron 169-171 ) Dari Abu Hurairoh Ra, ia berkata Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: "Siapa yang kalian angga syahid di antara kalian? Mereka menjawab: "Wahai Rasulullah ! orang yang terbunuh di jalan Alloh itulah orang yang syahid" Beliau menjawab: "Kalau begitu, syuhada dari umatku sangat sedikit" Mereka balik bertanya: "Siapakah mereka itu. Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Barangsiapa yang terbunuh di jalan Alloh ia mati syahid, Barangsiapa yang mati di jalan Alloh ia mati syahid, barangsiap yang mati karena penyakit tho'un ia mati syahid, barangsiapa yang mati disebabkan penyakit di perut ia mati syahid dan orang yang tenggelam juga syahid" (HR. Muslim 6/51) Dari Abu Hurairoh Ra, Rasulullah SAW bersabda: "Syuhada itu ada lima: Orang yang terserang penyakit tho'un, penyakit di perut, orang yang tenggelam, orang yang mati tertimbun dan syahid di jalan Alloh" (HR. Bukhori 6/33-34 dan Muslim 7/51) Dari 'Ubadah bin Ash-Shomit Ra. Ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menjenguk Abdullah bin Rawahah, 'Ubadah berkata: Rasulullah SAW tidak menjauhi dari tempat tidurnya. Beliau bertanya: "Tahukah kamu siapa yang termasuk golongan syuhada dari umatku? Mereka menjawab: "Seorang muslim yang terbunuh adalah syahadah" Beliau bersabda: "Kalau demikian syuhuda dikalangan umatku sangatlah sedikit! Terbunuhnya seorang muslim adalah syahadah, terkena penyakit tho'un adalah syahadah dan wanita yang meninggal etika melahirkan adalah syahadah" (HR. Ahmad 4/201, Darimi 2/208) Dari Abdulloh bin Amr Ra, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka dia syahid" (HR. Bukhori 5/93 dan Muslim 1/87) 2. Berkaitan dengan mereka yang berjihad di jalan Allah dengan berjihad di negeri orang seperti di tanah Palestina, maka jika mereka meninggal insya Allah dalam keadaan syahid. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1021&bagian=0 Senin, 13 September 2004 08:33:11 WIB Kategori : Ahkam APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ? Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

http://orido.wordpress.com

15

Hadith of the Day

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Apa hukum perkataan, 'fulan Syahid ?'. Jawaban. Jawaban atas hal itu adalah bahwa seseorang dikatakan syahid itu dengan dua sisi yaitu : Pertama. Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti : Dikatakan bahwa setiap orang yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash, dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang. Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kedua. Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. "Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si fulan syahid, dan si fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid". Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa'id bin Manshur dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A'jafa' dari Umar. Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai isyarat akan hal itu. "Artinya : Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya...." [Bukhari : 2787] Dan sabda beliau. "Artinya : Demi Dzat diriku berada ditangan-Nya tidaklah seseorang terluka di jalan Allah kecuali datang dihari kiamat sedang lukanya mengalir darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk" [Hadits Riwayat Bukhari : 2803] Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid. Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka kepadanya. Raja' (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam

http://orido.wordpress.com

16

Hadith of the Day
jihad fi sabilillah. Ia dikubur dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk syuhada' yang lain, dimandikan, dikafani dan dishalati. Karena, kalau kita bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid konsekwensinya adalah kita bersaksi bahwa ia masuk surga. Mereka tidak bersaksi atas seseorang dengan surga kecuali dengan sifat atau seseorang yang disaksikan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa boleh kita bersaksi atas syahidnya seseorang yang umat sepakat memujinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah termasuk yang berpendapat seperti ini. Dengan ini, maka menjadi jelas bahwa kita tidak boleh bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid kecuali dengan nash atau kesepakatan. Akan tetapi bila dhahirnya baik maka kita berharap demikian sebagaimana keterangan diatas, dan cukuplah nasihat tentang ini, sedangkan ilmunya ada di sisi Sang Pencipta.
[Disalin dari buku Majmu' Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Aqidah, hal. 208-210 Pustaka Arafah]

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/2079 Konsultasi : Aqidah Hukum Memberi Gelar Asy-Syahid Kepada Seseorang Pertanyaan: Assalaamu'alaikum wr.wb Ustadz saya mohon bantuan, adakah hukum dasar yang memperbolehkan seseorang atau masyarakat memberikan gelas Asy Syahid kepada seseorang yang meninggal? Bukankah orang tersebut tidak tahu, bagaimana kondisinya setelah orang tersebut meninggal, apakah syahid atau sebaliknya ? Mohon penjelasan. Jazakallaahu khoiron katsir. Wassalaamu'alaikum wr.wb Akhwat Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Hukumnya kurang lebih sama ketika kita menyebut orang yang sudah wafat dengan sebuatan Almarhum yang maknanya adalah orang yang dirahmati atau dikasihi oleh Allah. Kalau mau jujur, apakah kita punya jaminan bahwa orang itu matinya husnul khatimah ? Aopakah dia termasuk orang diterima Allah dan calon penghuni surga ? Begitu juga dengan sebutan �Al-Maghfur lahu�, predikat ini sering kita dengar di

http://orido.wordpress.com

17

Hadith of the Day
tengah masyarakat. Daftar seubutan itu bisa diperanjang dengan sebutan �Rahimahullah�, sebuah sebutan yang sering kita lekatkan di belakang nama para ulama. Okelah kalau kita ingin mengatakan bahwa paling tidak secara zhahir yang kita lihat dan kita saksikan dari orang-orang yang yang dipanggil dengan sebutan �almarhum�, �Al-Maghur lahu�, �Rahimahullah� dan sejenisnya memang orangorang yang shalih dan baik. Mereka umumnya adalah orang alim, ulama atau tokohtokoh yang orang-orang menganggapnya sebagai orang baik. Maka panggilan �asy-syahid� pun bisa dijawab dengan argumen bahwa secara zhahirnya kita melihat mereka adalah orang yang mati di jalan Allah. Darah dan mayat mereka telah menjadi saksi atas perjuangan mereka. Hanya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit saja yang mengingkarinya. Sejarah telah berbicara dengan sangat polosnya, bahwa apa yang mereka alami adalah murni perjuangan Islam. Yang diperlukan adalah sokongan dan dukungan dari sesama muslim dan bukan hujatan atau caci maki. Kalau tokoh-tokoh yang mati syahid di jalan Allah dicaci maki dan dihujat, mengapa tokoh-tokoh kafir yang jelas-jelas memerangi Islam malah dijadikan teman dan sekutu. Lalu dimana rasa keadilan dan nurani seorang muslim melihat fenomena itu ? Atau benarkah memang di dalam hati kita masih ada hasad, iri, dengki dan noda hitam terhadap sesama muslim sehingga jasa orang yang telah berjuang itu seolah menjadi tidak ada ? Na`uzu billahi min zalika. Wallahu a`lam bis-shawab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1022&bagian=0 Selasa, 14 September 2004 22:08:58 WIB Kategori : Jihad Fii Sabilillah JIHAD-JIHAD YANG FARDHU 'AIN Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin "Artinya : Dari 'Aisyah, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah, akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah" [Dikeluarkan oleh alBukhari No. 2783 kitab al-Jihad wa as-siyar dan Muslim No. 1864 kitab al-Imaarah] Maknanya : Tidak ada hijrah dari Mekkah karena dia telah menjadi negeri Islam. [Keterangan dari Imam Nawawiy penulis kitab Riyadhush Shalihin -pent] Permasalahan jihad yang hukumnya fardhu 'ain merupakan permasalahan besar yang

http://orido.wordpress.com

18

Hadith of the Day
belum banyak diketahui oleh kaum muslimin. Sehingga banyak para da'i berfatwa dan menyerukan jihad yang hukumnya (dianggap) fardhu 'ain terhadap setiap pribadi tanpa dasar kaidah yang jelas, dan terkadang dibuat dalam rangka mewujudkan keinginankeinginan pribadi dan sekelompok orang tertentu saja. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, kami merasa perlu memuat suatu penjelasan singkat tentang hal tersebut dari seorang alim ulama yang telah dikenal ilmu dan kesholehannya, agar kita semua dapat beramal diatas ilmu, dan mudah-mudahan Allah memberi taufiq-Nya kepada kita untuk berjalan di jalan yang lurus. Syarah Hadits. Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah dengan sabdanya : " Tidak ada hijrah". Peniadaan ini bukan untuk keumumannya, maknanya hijrah tersebut tidak batal dengan penaklukan kota Mekkah, karena hijrah tersebut tidak akan hilang sampai hari kiamat sebagaimana telah ada dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Hijrah tidak terputus sampai taubat terputus, dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat" [Dikeluarkan oleh Abu Dawud No. 2479 kitab Al-Jihad dan Ahmad dalam Musnadnya 4/99 dan dia ada di Shahihil Jami' No. 7469] Akan tetapi yang dimaksud dengan tidak ada hijrah disini adalah tidak adanya hijrah dari Mekkah, sebagaimana dinyatakan oleh penulis (Imam Nawawi) diatas, karena setelah penaklukan kota Mekkah menjadi negeri Islam dan setelah itu tidak akan kembali menjadi negeri kafir, dengan dasar inilah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meniadakan hijrah setelah penaklukan Mekkah. Mekkah dahulu di bawah kekuasaan kaum musyrikin, mereka telah mengusir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam darinya, kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah dengan izin Rabbnya ke Madinah. Setelah delapan tahun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah, beliau kembali ke Mekkah dan menaklukannya sehingga kota Mekkah menjadi negeri iman dan Islam, dan dengan demikian tidak ada lagi hijrah dari sana. Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa Mekkah tidak akan kembali menjadi negeri kafir, tetapi tetap menjadi negeri Islam sampai datang hari kiamat atau sampai waktu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki. Kemudian sabda beliau : "Akan tetapi jihad dan niat" Bermakna : perintah setelah ini adalah jihad, yaitu penduduk Makkah keluar dari Makkah untuk berjihad. Dan "waniyyatun" bermakna : Niat yang baik untuk berjihad di jalan Allah, yaitu dengan cara berniat adalah jihadnya untuk meningkatkan kalimat Allah. Kemudian beliau bersabda : "Dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah". Bermakna : Jika waliyul amri (pemerintah) meminta kalian untuk pergi berjihad di

http://orido.wordpress.com

19

Hadith of the Day
jalan Allah, maka kalian wajib berangkat berjihad, dan hukum jihad pada saat itu adalah fardhu 'ain. Maka jangan seorangpun tidak memenuhinya, kecuali orang yang telah mendapat udzur Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan dalil firman-Nya. "Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu : 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" [At-Taubah : 38-39] Ini merupakan salah satu keadaan jihad yang diuhukumi fardhu a'in. Keadaan kedua : Jika musuh mengepung satu Negara, bermakna musuh datang menyerang Negara tersebut dan mengepungnya, maka jihad diwaktu itu menjadi fardhu 'ain. Dalam keadaan seperti ini setiap orang wajib berperang, termasuk para wanita dan orang tua yang mampu berjihad. Karena ini merupakan jihad membela diri (jihad difa') dan perang membela diri ini berbeda dengan perang menyerang mush (jihad tholab), sehingga dalam keadaan seperti ini seluruh orang berangkat untuk membela Negara mereka. Keadaan ketiga : Jika terjadi pertempuran, kedua belah pihak yang berperang saling berhadapan, barisan orang-orang kafir dengan barisan kaum muslimin, maka jihad pada waktu itu hukumnya fardhu 'ain dan tidak boleh seorangpun berpaling, sebagaimana firman Allah. "Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya" [Al-Anfaal : 15-16] Demikian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menggolongkan kabur dari medan pertempuran termasuk dosa besar yang tujuh.[1] Keadaan keempat : Jika seseorang dibutuhkan, contoh : tidak ada yang mengetahui penggunaan senjata kecuali hanya satu orang saja, dan orang-orang membutuhkan orang tersebut untuk menggunakan senjata baru, maka wajib atasnya untuk berjihad walaupun imam (waliyul amri) tidak memintanya berangkat dan kewajiban itu ada lantaran dia dibutuhkan. Maka dalam empat keadaan inilah jihad menjadi fardhu 'ain, dan yang selainnya adalah fardhu kifayah. Ahlul Ilmi menyatakan bahwa wajib atas kaum muslimin untuk menjadikan sebagian dari mereka berjihad setiap tahun sekali[2], berjihad memerangi musuh-musuh Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah, bukan karena sekedar membela Negara.

http://orido.wordpress.com

20

Hadith of the Day
Karena membela negara, semata-mata sebagai satu negara, itu bisa dilakukan orang mukmin dan kafir. Orang-orang kafir-pun membela negara mereka. Akan tetapi seorang muslim hanya membela agama Allah, sehingga dia membela negaranya bukan karena sekedar sebagai satu negara akan tetapi karena dia adalah negara Islam, lalu dia membelanya dalam rangka menjaga Islam. Oleh karena itu wajib atas kita pada keadaan yang kita hadapi sekarang ini, untuk mengingatkan seluruh orang bahwa seruan untuk memerdekakan negara dan yang serupa dengannya adalah seruan yang tidak pas, dan wajib bagi kita untuk mendidik manusia dengan pendidikan agama. Dan hendaklah dikatakan : Kita membela agama kita sebelum yang lainnya, karena Negara kita adalah negara agama dan negara Islam yang membutuhkan perlindungan dan pembelaan, maka kita harus membelanya dengan niat tersebut. Adapun membela dengan niat nasionalisme atau kesukuan maka ini terjadi pada orang mukmin dan kafir, dan perbuatan tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya pada hari kiamat, jika terbunuh dalam keadaan membela Negara dengan niat ini maka dia tidak mati syahid ; karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang seseorang yang berperang karena kebanggaan (gengsi) dan berperang karena keberanian saja dan berperang karena ingin memperlihatkan kehebatannya, mana yang dikatakan dijalan Allah lalu beliau berkata. "Artinya : Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi maka dialah yang berada di jalan Allah" [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2810 kitab al-Jihad wa as-Siyar dan Muslim No. 1904 kitab al-Imarah] Perhatikan syarat ini !! Jika kamu berperang karena negara, maka kamu dan orang kafir sama, akan tetapi berperanglah karena ingin menegakkan kalimat Allah yang dilaksanakan di negara kamu, karena negara kamu adalah negara Islam, maka pada keadaan seperti ini mungkin perang tersebut dapat dikatakan perang di jalan Allah. Telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda. "Artinya : Tidak ada luka yang terluka di jalan Allah dan Allah maha tahu siapa yang terluka di jalan Allah kecuali datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengeluarkan darah, warnanya warna darah tetapi wanginya wangi misk (minyak kasturi)" [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2803 kitab al-Jihad dan Muslim No. 1876 (105) kitab al-Imaarah] Perhatikan bagaiman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mensyaratkan mati syahid dengan berperang hanya dijalan Allah, maka wajib atas para penuntut ilmu menjelaskan permasalahan ini kepada umat. Wallahul Muwaffiq
[Diterjemahkan oleh Abu al-Abbas Kholid bin Syamhudi dari syarah beliau terhadap kitab Riyadush Shalihin 1/24-28, majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun V/1422H/2002M, hal. 9-11]

_________ Foote Note
[1]. Isyarat kepada hadits Abi Hurairah secara marfu' : "Artinya : Jauhilah tujuh dosa besar, mereka bertanya : Apakah itu wahai Rasulullaj ?. Beliau menjawab : Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan kebenaran, memakan uang riba, memakan harta

http://orido.wordpress.com

21

Hadith of the Day
anak yatim dan kabur dari medan pertempuran serta menuduh kaum mukminat yang telah menikah yang lalai dengan zinah" [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2766 kitab al-Washoya dan Muslim No. 89 kitab alIman] [2]. Yakni suatu negara Islam wajib berjihad -paling sedikit sekali dalam satu tahun- memerangi musuh untuk meningkatkan kalimat Allah, -red

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/3913 Konsultasi : Sosial Politik Pandangan Islam Ttg Bom Syahid Di Palestina Pertanyaan: Assalaamu'alaikum wr. wb. Ustadz yang dirahmati ALLAH SWT, ketika saya mencoba membandingkan antara aktivitas bom syahid di Palestina dengan beberapa tindakan perjuangan yang pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi SAW yang sering dijadikan argumen untuk membenarkan tindakan di Palestina (seperti ada salah seorang sahabat yang dilempar ke dalam benteng musuh untuk membuka pintu benteng dari dalam yang mengakibatkan kematiannya), terdapat perbedaan dalam masalah cara menemui kematian antara kedua kondisi di atas. Kalau kondisi di Palestina, sang pejuan itu sendiri yang 'menentukan' kematiannya dengan meledakkan dirinya, sementara kondisi sahabat Nabi SAW di atas menemui kematian akibat serangan para musuh Islam. Tolong Ustadz berikan penjelasan menurut tinjauan Islam atas hal ini. Jazakallah. Wassalamu'alaikum wr. wb. Abu Hanifah Jawaban: Assalamu �alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillahi Rabbil �Alamin, Washshalatu Wassalamu �Ala sayyidil Mursalin Wa �alaa �Aalihi Wa Ashabihi ajma�ien. Wa Ba�du Kami kutipkan pandangan para Ulama Besar Dunia tentang Legalitas Hukum Syari'at atas Operasi Syahadah di Bumi Palestina yang ditulis oleh seorang ulama kontemporer yaitu DR Yusuf Al-Qardhawi Banyak orang bertanya-tanya setelah pemboman terakhir yang terjadi di kota Al Quds, Tel Aviv dan Asqalan. Di mana orang-orang Yahudi terbunuh didalamnya karena operasi syahadah yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda HAMAS� Mereka bertanya tentang hukum operasi ini yang mereka namakan sebagai "Bom Bunuh Diri". Apakah ini termasuk jihad fisabilillah, atau salah satu bentuk teroris? Apakah para pemuda yang mengorbankan dirinya itu termasuk para syahid atau disebut orang yang bunuh diri, karena mereka membunuh dirinya sendiri dengan ulah sendiri pula? Apakah perbuatan mereka itu termasuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang telah dilarang oleh Al Qur'an dalam sebuah ayatnya yang artinya:"Dan janganlah kamu

http://orido.wordpress.com

22

Hadith of the Day
menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 195). Saya ingin katakan di sini bahwa operasi-operasi ini adalah termasuk cara yang paling jitu dalam jihad fisabilillah. Dan ia termasuk bentuk teror yang diisyaratkan dalam Al Qur'an dalam sebuah firman Allah Ta'ala yang artinya:"Dan persiapkanlah kekuatan apa yang bisa kamu kuasai dan menunggang kuda yang akan bisa membuat takut musuhmusuh Allah dan musuhmu." (QS. Al Anfal: 60). Penamaan operasi ini dengan nama "bunuh diri" adalah sangat keliru dan menyesatkan. Ia adalah operasi tumbal heroik yang bernuansa agamis, ia sangat jauh bila dikatakan sebagai usaha bunuh diri. Juga orang yang melakukannya sangat jauh bila dikatakan sebagai pelaku bunuh diri. Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah SWT. Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah. Para pemuda pembela tanah airnya, bumi Islam, pembela agama, kemuliaan dan umatnya, mereka itu bukanlah orang-orang yang bunuh diri. Mereka sangat jauh dari bunuh diri, mereka benar-benar orang syahid. Karena mereka persembahkan nyawanya dengan kerelaan hati di jalan Allah; selama niatnya ikhlas hanya kepada Allah saja; dan selama mereka terpaksa melakukan cara ini untuk menggetarkan musuh Allah Ta'ala, yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya dan bangga dengan kekuatannya yang didukung oleh kekuatan besar lainnya. Urusannya sama seperti apa yang dikatakan oleh penyair masa lampau yang mengatakan: Jika tidak ada tunggangan selain mata tombak Maka tidak ada jalan bagi yang terpaksa selain ditumpainya juga Mereka bukan orang-orang yang bunuh diri, bukan pula teroris, namun mereka melawan, perlawanan yang sah, melawan orang yang menduduki buminya. Mereka yang telah mengusirnya dan keluarganya, merampas hak-haknya dan menyita masa depannya. Musuh itu masih terus melakukan permusuhannya kepada mereka, sementara agama mereka memerintahkan untuk membela dirinya, dan melarangnya untuk mundur dari buminya, yang itu termasuk bumi Islam. Juga aktivitas para pahlawan itu bukan tergolong menjerumuskan diri ke dalam kehancuran, seperti apa yang dipandang oleh sebagian orang awam. Bahkan perbuatan mereka itu termasuk perbuatan yang terpuji dalam jihad, dan sah menurut syari'at Islam. Dimaksudkan untuk bisa mengalahkan musuh, membunuh anggota musuh, menancapkan rasa takut kepada mereka dan mendorong kaum muslimin untuk berani menghadapi musuh-musuhnya. Masyarakat Zionis adalah masyarakat militer, kaum lelaki dan wanitanya adalah prajurit dalam angkatan bersenjata, yang kapan saja bisa dipanggil segera. Jika seorang anak atau orang tua terbunuh dalam operasi ini, ia tidak bermaksud membunuhnya, namun masuk dalam kategori darurat perang. Dan segala yang darurat itu bisa membolehkan yang terlarang. Berikut ini akan saya sampaikan pendapat para

http://orido.wordpress.com

23

Hadith of the Day
ahli fiqh dalam masalah ini dan pendapat para mufasir mengenai firman Allah Ta'ala yang artinya:"Dan janganlah kamu jerumuskan dirimu ke jurang kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 195). PENDAPAT IMAM AL JASSHASH, DARI MADZHAB HANAFI Imam Al Jasshash, dari madzhab Hanafi, dalam kitabnya Ahkam Al Qur'an menyatakan bahwa tafsiran ayat 195 dalam surat Al Baqarah itu ada beberapa pandangan: Pertama: apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: diceritakan dari Abu Dawud, ia berkata: diceritakan dari Ahmad bin 'Amr bin Al Sarh, ia berkata: diceritakan dari Ibn Wahb dari Haiwah bin Syuraih dan Ibn Luhai'ah bin Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi Umar, bahwa ia berkata: Kami pernah menyerang kota Kostantinopel, dalam rombongan perang itu ada Abdurrahman bin Al Walid. Sedangkan orang-orang Romawi saling menyandarkan punggung-punggungnya ke tembok kota. Lalu ada seseorang yang di bawah menghampiri pihak musuh, "tunggu, tunggu�.! Laa Ilaaha Illallah! Ia mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehancuran!" kata beberapa orang. Kemudian Abu Ayyub berkomentar:"Ayat ini tak lain diturunkan kepada kami, kaum Anshar, ketika Allah SWT memberikan pertolongan kepada NabiNya dan memenangkan agama Islam, lalu kami berkata:"Ayo kita tegakkan harta kekayaan kita dan memperbanyaknya. Lalu turunlah ayat yang artinya:"Dan belanjakanlah pada jalan Allah, dan jangan menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 195). Maka arti menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu artinya adalah memperbanyak harta dan meninggalkan jihad." Abu Imran berkata:"Abu Ayyub masih saja berjihad di jalan Allah hingga dimakamkan di Kostantinopel." [i] Abu Ayyub menceritakan bahwa menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu adalah meninggalkan jihad fisabilillah, dan ayat yang menunjukkan hal itu sudah diturunkan. Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Ibn Abbas, Hudzaifah, Hasan Al Bashri, Qatadah, Mujahid dan Al Dhahak. Diriwayatkan dari Al Barra' ibn Azib dan Ubaidah Al Salmani: bahwa menjerumuskan ke dalam kebinasaan itu adalah pesimis dengan ampunan karena melakukan kemaksiatan. Kedua: Berlebih-lebihan dalam berinfaq sampai tidak bisa makan dan minum sampai akhirnya binasa. Ketiga: Menerobos perang langsung tanpa bermaksud menyerang musuh. Inilah yang diartikan oleh beberapa orang dalam riwayat di atas yang kemudian ditentang oleh Abu Ayyub sambil menyertakan sebab turunnya ayat tersebut. Ketiga pandangan itu bisa memenuhi arti yang dimaksud oleh ayat di atas karena ada kemungkinan-kemungkinan atas lafadznya. Atau bisa dikorelasikan antara keduanya tanpa harus ada kontradiksi didalamnya. Adapun tafsiran yang mengatakan bahwa maksudnya adalah seseorang dibawa di arena musuh, maka Muhammad bin Al Hasan pernah menyebutkan dalam Al Siyar Al Kabir: "kalaupun ada seseorang dibawa kepada seribu orang, ia sendiri tidak ada masalah, jika ia ingin selamat atau menyerang. Namun jika tidak ingin selamat dan tidak pula menyerang, maka saya tidak setuju karena ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan tanpa ada manfaat buat kaum muslimin. Sedangkan jika ia tidak mau selamat atau tidak mau menyerang, tapi ingin membuat kaum muslimin lebih berani dan melakukan seperti apa yang ia lakukan sampai mereka terbunuh dan bisa membunuh musuh, maka hal itu tidak apa-apa, insya Allah. Karena kalaupun ia ingin menyerang musuh dan tidak ingin selamat, maka saya melihatnya tidak apa-apa untuk dilemparkan kepada musuh. Begitu pula jika ia menyerang yang lainnya dalam kelompok tersebut, maka itupun tidak apa-apa. Dan saya mengharap perbuatannya itu dapat pahala. Yang tidak boleh itu adalah sebagai berikut: jika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbuatan itu tidak ada manfaatnya, walaupun ia tidak ingin selamat

http://orido.wordpress.com

24

Hadith of the Day
dan tidak mau menyerang. Namun jika perbuatan itu membuat takut musuh, maka hal itu tidak apa-apa karena cara ini adalah cara yang paling tepat dalam menyerang, dan juga sangat bermanfaat bagi kaum muslimin". Imam Al Jasshash berkata: Apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang pendapatpendapat itu adalah benar, dan tidak ada pendapat yang lain lagi. Maka tafsiran dalam riwayat Abu Ayyub yang mengatakan bahwa ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan, itu ditafsirkan dengan membawanya kepada pihak musuh, karena bagi mereka hal itu tidak ada manfaatnya. Jika memang begitu maka tidak boleh ia memusnahkan dirinya tanpa ada manfaat bagi agama dan bagi kaum muslimin. Namun jika dalam pemusnahan diri itu ada manfaat bagi agama, maka ini adalah kedudukan yang sangat mulia. Karena Allah SWT telah memuji para shahabat Nabi SAW yang melakukan hal itu dalam banyak firman-Nya. Diantaranya adalah: Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh." (QS. At Taubah: 111). "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS. Ali Imran: 169). "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah." (QS. Al Baqarah: 207). Dan beberapa ayat lagi yang menceritakan tentang pujian Allah terhadap orang mengorbankan jiwanya untuk Allah SWT. Imam Al Jasshash melanjutkan:"Oleh karena itu hukum amar ma'ruf nahi munkar harus berbentuk ketika ia menginginkan kemanfaatan bagi agama, lalu mengorbankan jiwanya sampai terbunuh, maka ia mendapatkan kedudukan syuhada yang paling tinggi. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS. Luqman: 17). Telah meriwayatkan Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:"Semulia-mulia syahid adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang berbicara dengan kalimat yang benar di hadapan penguasa tiran lalu ia terbunuh." [ii] Abu Sa'id Al Khudri meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda yang artinya: "Jihad yang paling mulia adalah berkata yang benar dihadapan penguasa tiran." [iii] Imam Al Jasshash di sini menyebutkan hadits Abu Hurairah yang artinya: "Sejelek-jelek orang adalah yang sangat kikir dan sangat penakut." [iv] Imam Al Jasshash menambahkan lagi:"Cara menanggulangi sifat penakut adalah dengan memunculkan dalam dirinya sifat berani yang akan membawa manfaat bagi agama walaupun ia tahu itu akan membawa malapetaka." Wallahu A'lam Bish Shawab. [v] PENDAPAT IMAM AL QURTHUBI, DARI MADZHAB MALIKI Imam al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: Ulama telah berbeda pendapat tentang masuknya seseorang dalam perang dan melawan musuh dengan sendirian. Maka Al Qasim bin Mukhirah dan Al Qasim bin Muhammad, termasuk ulama kami, berpendapat: Tidak apa-apa satu orang berhadapan dengan pasukan besar jika memang ada kekuatan dan niat ikhlas hanya kepada Allah saja. Jika tidak mempunyai kekuatan maka itu namanya kebinasaan." Pendapat lain: jika ada yang ingin mati syahid dan niatnya ikhlas, maka boleh dibawa. Karena tujuannya adalah salah satu dari musuhnya, dan hal itu sudah jelas dalam firman Allah Ta'ala yang artinya:"Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi

http://orido.wordpress.com

25

Hadith of the Day
mencari keridhaan Allah." (QS. Al Baqarah: 207). Ibn Khuwaiz Mindad berkomentar: Adapun satu orang dibawa melawan seratus orang atau sejumlah kekuatan pasukan perang, atau kelompok pencuri dan penjegal, maka ada dua kondisi: pertama, ia tahu dan kemungkinan besar terbunuh. Tapi ia selamat, maka itu yang terbaik. Kedua, begitu juga kalau ia tahu dan kemungkinan besar akan terbunuh, tetapi ia akan menyerang atau terluka, atau bisa memberikan pengaruh yang cukup berarti bagi kaum muslimin, maka itupun diperbolehkan juga. Sebab telah sampai kepadaku berita bahwa pasukan umat Islam tatkala bertemu dengan pasukan Persia, kuda-kuda kaum muslimin lari dari pasukan gajah. Lalu ada seseorang dari mereka sengaja membikin gajah dari tanah, agar kudanya bisa jinak tidak liar lagi saat melihat gajah. Esok harinya, kudanya sudah tidak liar lagi melihat gajah, lalu dihadapkan kepada gajah yang kemarin menghadangnya. Ada orang yang berkata:"Ia akan membunuhmu!", "Tidak apa-apa saya terbunuh asalkan kaum muslimin menaklukkan Persia!"jawabnya kemudian. Begitu juga pada peristiwa perang Yamamah, tatkala Bani Hudzaifah bertahan diri di kebun-kebun milik mereka, ada seseorang yang berkata kepada pasukan:"Taruh aku di dalam sebuah perisai dan lemparkan ke arah musuh!" Segerelah anggota pasukan muslimin melemparkannya ke dalam kebun, lalu bertarunglah ia sendirian sampai akhirnya bisa membuka pintu kebun. Imam Qurthubi melanjutkan ucapannya: Dari sisi ini, ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi SAW: "Ya Rasulullah, menurut baginda apakah yang aku dapatkan jika aku berjihad di jalan Allah dengan sabar dan mengharap ridha Allah?", "Kamu akan mendapatkan surga." jawab Nabi SAW. Lalu orang itu terjun menerobos pasukan musuh hingga terbunuh. [vi] Dalam shahih Muslim, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW menarik mundur tujuh orang Muhajirin dan dua orang dari Anshar. Ketika orang-orang Quraisy mendesaknya, beliau berkata:"Siapa yang berani menghadang mereka, ia akan mendapatkan surga?". Lalu seorang dari Anshar maju ke depan melawan mereka hingga ia terbunuh. Satu persatu mereka lakukan hal yang sama, sampai ketujuh-tujuhnya mati syahid semuanya. Kemudian Nabi SAW berkata:"Shahabatku belum melakukan peperangan yang sebenarnya!". Ucapan beliau itu ditujukan kepada para shahabat yang lari tidak menjaga beliau saat diserang oleh pasukan Quraisy. Wallallahu A'lam bish Shawab. Kemudian Imam Qurthubi menyebutkan ucapan Muhammad bin Al Hasan: Kalaupun satu orang dibawa berhadapan dengan seribu orang kaum musyrik sendirian, itu tidak mengapa jika memang ia ingin selamat atau menyerang musuh. Namun jika sebaliknya, hal itu dibenci (makruh), karena ia mempersilahkan dirinya untuk binasa tanpa memberikan manfaat buat kaum muslimin��. Dan seterusnya. [vii] PENDAPAT IMAM AR RAZI, DARI MADZHAB SYAFII Imam Ar Razi berkata dalam tafsirnya: yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala:"Janganlah kamu menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan" adalah janganlah kamu melakukan serangan kepada musuh dalam sebuah peperangan yang tidak menghasilkan manfaat apa-apa. Dan kamu tidak memiliki tebusan selain membunuh dirimu sendiri, kalau seperti itu maka tidak boleh. Yang diperbolehkan itu adalah jika sangat berhasrat sekali untuk menyerang, walaupun ia takut terbunuh. Sedangkan jika ia pesimis dengan penyerangan dan kemungkinan besar ia nanti terbunuh, maka ia tidak boleh melakukan hal itu. Pendapat ini disampaikan oleh Al Bara' bin Azib. Dinukil dari Abu Hurairah bahwa ia mengomentari ayat ini dengan ucapannya:"Ia adalah orang yang independen di antara dua kubu". Imam Ar Razi melanjutkan: di antara orang ada yang mengartikan salah, yaitu dengan mengatakan: pembunuhan semacam ini tidak haram dengan menggunakan beberapa dalil, diantaranya:

http://orido.wordpress.com

26

Hadith of the Day
Pertama: diriwayatkan bahwa ada seorang dari kaum Muhajirin dibawa berhadapan dengan musuh sendirian, kemudian orang-orang meneriakinya:"Ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan!". Lalu Abu Ayyub Al Anshari menjelaskan duduk perkaranya seperti yang disampaikan oleh Imam Al Jashash di atas. Kedua: Imam Syafii meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebutkan surga, kemudian ada seorang dari Anshar berkata:"Ya Rasulullah, bagaimana jika aku terbunuh karena kesabaran dan mengharap ridha Allah semata?", "Untukmu surga!"jawab Rasul. Kemudian lari menyerbu ke pasukan musuh hingga syahid dihadapan Rasulullah SAW. Juga ada seorang Anshar melemparkan baju besinya saat mendengar Rasulullah SAW menyebutkan surga tadi, lalu menyerang musuh sampai ia terbunuh. Ketiga: Diriwayatkan bahwa ada seorang dari Anshar yang tidak ikut perang Bani Muawiyah. Kemudian ia melihat burung bergerombol dekat dengan temannya yang meninggal. Lalu ada seseorang yang bersamanya segera berkata:"Saya akan maju melawan musuh agar membunuhku, dan aku akan ikut perang yang didalamnya temantemanku terbunuh!". Orang itupun melakukannya, kemudian cerita itu diceritakan kepada Nabi SAW yang kemudian ditanggapinya dengan positif. Keempat: Diriwayatkan ada suatu kaum sedang mengepung benteng, lalu ada seseorang berperang hingga meninggal. Dikatakan bahwa orang yang meninggal itu menjerumuskan dirinya sendiri kepada kebinasaan. Berita itu terdengar oleh Umar bin Khatab ra. Kemudian beliau mengomentarinya:"Mereka itu bohong. Bukankah Allah SWT sudah berfirman dalam Al Qur'an (yang Artinya):"Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah." Adapun orang yang mendukung tafsiran ini menjawab dalil-dalil di atas dengan mengatakan: kami hanya melarang hal itu jika tidak ada bentuk serangan (perlawanan) kepada musuh, tapi kalau serangan itu ada maka kami membolehkannya. [viii] PENDAPAT IBNU KATSIR DAN IMAM THABARI Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Al Bara' bin Azib Al Anshari:"Jika aku dibawa dihadapkan kepada musuh lalu mereka membunuhku, apakah aku masuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kebinasan?", "Tidak!"jawabnya, lalu melanjutkan:"Allah Ta'ala telah berfirman kepada Rasul-Nya (yang artinya):"Maka berperanglah di jalan Allah sebab tidak dibebani selain dirimu sendiri." Ayat "menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan" itu dalam bab nafakah, maksudnya tidak memberikan nafakah (infaq) dalam jihad. [ix] Imam Thabari meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dalam tafsirnya, dari Abu Ishaq Al Subay'i berkata: Aku bertanya kepada Al Bara' bin Azib (shahabat):"Wahai Abu Immarah, ada seseorang yang berhadapan dengan seribu musuh sendirian. Biasanya kondisi semacam ini, orang yang sendirian ini selalu kalah dan terbunuh. Apakah tindakan ini termasuk dalam kategori firman Allah Ta'la:"Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan"?, "Tidak, ia berperang sampai terbunuh. Karena Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya:"Maka berperanglah di jalan Allah, karena tidak dibebankan kecuali dirimu sendiri." (QS. An Nisa': 84). PENDAPAT IBNU TAIMIYAH Pendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab "Fatawa" nya tentang memerangi kaum Tatar. Berdasarkan dalil dari riwayat Imam Muslim dalam kitab "Shahih" nya dari Nabi SAW tentang kisah Ashhabul Ukhdud. Cerita itu mengkisahkan seorang bocah memerintahkan (kepada sanga raja) untuk membunuh dirinya, demi kemenangan agama (yang diyakininya) ketika meminta kepada algojoalgojo raja agar membaca: Bismillah Rabbi Ghulam (Dengan nama Allah, Tuhan boah ini) saat melemparkan panah ke arahnya. Ibn Taimiyah melanjutkan: Oleh karena itu

http://orido.wordpress.com

27

Hadith of the Day
para Imam yang empat memperbolehkan seorang muslim menyerbu sendirian dalam kubu pasukan musuh, walaupun kemungkinan besar mereka akan membunuhnya. Jika memang di situ ada kemaslahatan bagi kaum muslimin. Kami telah beberkan panjang lebar masalah ini dalam beberapa tema yang lain. [x] PENDAPAT IMAM ASY SYAUKANI Imam Asy Syaukani dalam tafsirnya "Fath Al Qadir" menjelaskan: yang benar dalam masalah ini adalah dengan memegang pada keumuman lafadz, bukan sebaliknya memegang teguh pada kasuistis (sebab turun ayat). Maka segala apa yang masuk dalam artian kebinasaan di dalam agama atau dunia, itu masuk dalam kategori ini. Termasuk dalam kategori ayat adalah masalah berikut: bila seseorang menyerbu dalam peperangan lalu dibawa berhadapan dengan pasukan besar, padahal ia yakin tidak bakal selamat dan tidak bisa mempengaruhi semangat perjuangan kaum muslimin. [xi] PENDAPAT PENULIS TAFSIR AL MANAR Di era modern ini, Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya "Al Manar" menyebutkan: termasuk dalam kategori larangan adalah ikut dalam peperangan namun tidak tahu (mengerti) strategi perang yang dipakai oleh musuh. Termasuk juga segala pertarungan yang tidak dibenarkan oleh syari'at, misalnya hanya ingin mengikuti nafsu belaka, bukan untuk menolong dan mendukung suatu kebenaran. [xii] Pemahaman ini menunjukkan bahwa pertarungan yang diperhitungkan dan dibenarkan oleh syari'at adalah yang bisa menakut-nakuti musuh Allah dan musuh kita bersama. Juga menginginkan kemenangan al haq bukan sekedar mengikuti hawa nafsu belaka. Maka hal ini tidak termasuk dalam menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. *** Saya (Qardhawi) yakin kebenaran itu sudah sangat jelas sekali, cahaya pagi itu sudah nampak bagi yang punya indera. Semua pendapat di atas membantah mereka yang mengaku-aku pintar, yang telah menuduh para pemuda yang beriman kepada Tuhannya kemudian bertambah yakin keimanannya itu. Mereka telah menjual dirinya untuk Allah, mereka dibunuh demi mempertaruhkan agama-Nya. Mereka menuduhnya telah membunuh diri dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Mereka itu, insya Allah, adalah para petinggi syahid di sisi Allah. Mereka adalah elemen hidup yang menggambarkan dinamika umat, keteguhannya untuk melawan, ia masih hidup bukan mati, masih kekal tidak punah. Seluruh apa yang kami minta di sini adalah: seluruh operasi itu dilakukan setelah menganalisa dan menimbangkan sisi positif dan negatifnya. Semua itu dilakukan melalui perencanaan yang matang sekali di bawah pengawasan kaum muslimin yang mumpuni . Kalau mereka melihat ada kebaikan, segera maju dan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah SWT berfirman yang artinya:"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Agung dan Maha Bijaksana." (QS. Al Anfal: 49). Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1678&bagian=0 Minggu, 27 Nopember 2005 08:22:39 WIB Kategori : Al-Irhab = Terorisme BOM SYAHID ATAU BOM BUNUH DIRI

http://orido.wordpress.com

28

Hadith of the Day
Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

Pengantar Sebagian orang menganggap aksi bom bunuh diri termasuk jihad fi sabilillah, dan pelakunya dikatakan sebagai orang yang syahid, bahkan banyak jama’ah dakwah yang menyeru anggotanya untuk berpartisipasi dan mendukungnya. Akan tetapi... di pihak lain, sebagian besar kaum muslimin bertanya-tanya : Benarkah aksi ini dikatakan sebagai bentuk jihad ? Apakah Islam membolehkan segala cara dalam semua ibadah termasuk cara-cara berjihad yang merupakan bagian dari ibadah? Realita menunjukkan bahwa cara-cara aksi bom bunuh diri tidak membuat jera orangorang kafir, bahkan orang kafir semakin membabi buta untuk mengintimidasi dan membantai kaum muslimin dimana-mana. Jika dari kalangan mereka mati satu atau sepuluh orang, maka mereka membalasnya dengan membantai lebih dari itu dengan cara-cara yang biadab. Lantas ... apa manfaat dan keuntungan dari aksi-aksi bom bunuh diri itu bagi kaum muslimin ? Untuk lebih memperjelas masalah ini, kami nukilkan fatwa ulama salafiyyin robbaniyyin tentang aksi bom bunuh diri. _________________________________________________________________________ Di dalam Syarah Riyadush Shalihin 1/165-166 setelah menyebutkan syarah hadits kisah Ashabul Ukhdud beliau menyebutkan faidah-faidh yang dapat diambil dari kisah ini diantaranya. Sesungguhnya seseorang boleh mengorbankan dirinya untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum, pemuda ini menunjukkan kepada raja yang menuhankan dirinya suatu hal yang bisa membunuhnya, yaitu dengan mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya … Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Karena ini adalah jihad fi sabilillah, seluruh umat beriman semuanya dalam keadaan pemuda ini tidak kehilangan apa-apa, karena dia mati, dan pasti dia akan mati cepat atau lambat” Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan bunuh diri, yaitu dengan membawa alat peledak dibawa ke tempat orang kafir, kemudian dia ledakkan ketika dia di antara orang-orang kafir, maka dia tergolong perbuatan bunuh diri –Semoga kita dilindungi Allah Jalla Jallaluhu darinya-. Barangsiapa yang bunuh diri maka dia kekal di neraka Jahannam selama-lamanya, sebagaimana datang dalam hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.” [Shahih Bukhari 5778 dan Shahih Muslim 109]

http://orido.wordpress.com

29

Hadith of the Day
Karena orang ini membunuh dirinya bukan untuk maslahat Islam ; karena jika dia membunuh dirinya dengan membunuh sepuluh, atau seratus, atau dua ratus orang kafir, maka Islam tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari perbuatannya, manusia tidak akan beriman. Berbeda dengan kisah pemuda ashabul ukhdud di atas. Dengan bom bunuh diri ini bisa jadi membuat musuh lebih congkak, sehingga mereka memberikan balasan kepada kaum muslimin yang lebih kejam dari itu. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap penduduk Palestina, jika ada seorang penduduk Palestina yang mati dengan bom bunuh diri, dan menewaskan 6 atau 7 orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi membalas dengan menewaskan 60 orang Palestina atau lebih dari itu, maka bom bunuh diri ini tidak memberikan manfaat bagi kaum muslimin, dan tidak juga bagi orang-orang yang diledakkan bom ini di barisan mereka. Karena inilah kami memandang bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang dari bunuh diri ini, kami memandang bahwa dia telah membunuh jiwa dengan tidak haq, dan perbuatannya ini membawa dia ke neraka –Semoga kita dilindungi Allah Jalla Jalaluhu darinya-, dan pelakunya tidaklah syahid, tetapi jika ada seseorang yang melakukan perbuatan ini karena mentakwil dengan menyangka bahwa perbuatan ini dibolehkan syari’at, maka kami mengharap semoga dia selamat dari dosa. Adapun dia tertulis sebagai orang yang syahid maka tidak, karena dia tidak menempuh jalan syahid yang benar, dan barangsiapa yang berijtihad dan keliru maka dia mendapat satu pahala”. Di dalam kaset Liqo’ Syarhy : 20 ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Pertanyaan. Fadhilatusy Syaikh ! Engkau telah mengetahui –semoga Allah Jalla Jalaluhu menjagamu- apa yang terjadi pada hari Rabu kemarin dari suatu peristiwa yang menewaskan dari 20 orang Yahudi di tangan salah seorang mujahidin Palestina, dia juga melukai sekitar 50 orang Yahudi. Seorang mujahidin ini meletekkan alat peledak di dalam tubuhnya, kemudian masuk di sebuah rombongan kendaraan mereka dan dia ledakkan, dia melakkan itu dengan sebab. Pertama : Dia tahu bahwa kalau dia tidak terbunuh sekarang hari itu maka besoknya akan dibunuh, karena orang-orang Yahudi membunuh para pemuda muslim di sana dengan berencana. Kedua : Para mujahidin ini melakukan hal itu karena membalas dendam terhadap orang-orang Yahudi yang telah membunuh orang-orang yang sholat di masjid Ibrahimy. Ketiga : Mereka mengetahui bahwa orang-orang Yahudi dan Nahsara membuat rancangan untuk menghilangkan ruh jihad yang ada di Palestina. Pertanyaan : Apakah perbuatan dia ini dianggap bunuh diri atau dianggap jihad? Apa nasihatmu dalam keadaan seperti ini, karena jika kami telah mengetahui bahwa perbuatan ini adalah perbuatan yang diharamkan maka semoga kami bisa menyampaikannya kepada saudara-saudara kami di sana, -Semoga Allah Jalla Jalaluhu memberikan taufiq kepadamu-?”

http://orido.wordpress.com

30

Hadith of the Day

Jawaban. Pemuda ini yang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, pertama kali yang dia bunuh adalah dirinya. Tidak diragukan lagi bahwa dialah yang menyebabkan pembunuhan dirinya. Hal seperti ini tidak dibolehkan kecuali jika dapat mendatangkan maslahat yang besar dan manfaat yang agung kepada Islam, maka hal itu dibolehkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- telah memberikan nash pada masalah ini, membuat permisalan untuk hal ini dengan kisah seorang pemuda, seorang pemuda mukmin yang berada di suatu umat yang dipimpin oleh seorang raja yang musyrik dan kafir. Raja yang kafir dan musyrik ini membunuh pemuda yang beriman ini, dia berupaya berulang kali, dia lemparkan pemuda itu dari atas gunung, dia lemparkan pemuda itu ke lautan, tetapi setiap upaya pembunuhan -itu gagal karena Allah Jalla Jalaluhu selalu menyelamatkan pemuda itu, maka heranlah raja musyrik itu. Suatu hari pemuda itu berkata kepada raja musyrik itu : “Apakah kamu ingin membunuhku ?” raja itu berkata : “Ya, tidaklah aku melakukan semua ini melainkan untuk membunuhmu”. Pemuda itu berkata : “Kumpulkan orang-orang di tanah lapang, kemudian ambillah satu panah dari tempat panahku, letakkanlah dia di busurnya, kemudian lepaskanlah kepadaku dan katakanlah: ”Dengan nama Allah Rabb pemuda ini”. Adalah penduduk raja ini jika menyebut mereka mengucapkan : Dengan nama raja, akan tetapi pemuda ini berkata kepada raja ini : Katakanlah : Dengan nama Allah Rabb pemuda ini. Maka raja ini mengumpulkan orang-orang di satu tempat yang luas, kemudian dia mengambil sebuah anak panah dari tempat panah pemuda itu, dia letakkan di busurnya seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini. Dia lepaskan anak panah itu sampai mengenai pemuda itu dan matilah dia. Melihat kejadian itu berteriaklah semua orang : “Tuhan adalah Tuhan pemuda ini, Tuhan adalah Tuhan pemuda ini”. Dan mereka ingkari penuhanan raja yang musyrik ini. Mereka berkata : “Raja ini telah melakukan segala cara yang memungkinkan untuk membunuh pemuda ini, ternyata dia tidak mampu membunuhnya. Ketika dia mengucapkan satu kalimat : Dengan menyebut Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini, dia bisa mati. Kalau demikian pengatur semua kejadian adalah Allah Jalla Jalaluhu, maka berimanlah semua manusia. Syaikhul Islam berkata : Perbuatan pemuda ini mendatangkan manfaat yang besar bagi Islam. Merupakan hal yang dimaklumi bahwa yang menyebabkan kematian terbunuhnya pemuda ini adalah dia sendiri, tetapi dengan kematiannya didapatkan manfaat yang besar ; suatu umat beriman semuanya. Jika bisa didapatkan manfaat seperti ini maka dibolehkan bagi seseorang menebus agamanya dengan jiwanya. Adapun sekedar membunuh sepuluh atau dua puluh tanpa ada faidah, dan tanpa mengubah apapun maka perbuatan ini perlu dilihat lagi, bahkan hukumnya adalah haram, bisa jadi orangorang Yahudi membalasnya dengan membunuh ratusan kaum muslimin. Kesimpulannya bahwa perkara-perkara seperti ini membutuhkan fiqih dan tadabbur, dan melihat akibatnya, membutuhkan tarjih (penguatan) maslahat yang lebih tinggi dan menangkal mafsadah yang lebih besar, kemudian sesudah itu dipertimbangkan

http://orido.wordpress.com

31

Hadith of the Day
setiap keadaan dengan kadarnya”
[Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20-21] [Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/3926 Konsultasi : Sosial Politik Bagaimana Hukumnya Bunuh Diri.... Pertanyaan: Assalamu'alaikum wr. wb. Saya mau tanya hukum bunuh diri yang tujuannya untuk membunuh orang kafir, misalnya dengan bom seperti yang sering terjadi di Palestina. Apakah termasuk syahid, mengingat kejamnya zionis terhadap orang Palestina. Mohon penjelasan. Wassalamu'alaikum wr. wb. Amin Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Pertanyaan senada pernah kami bahas disini dan untuk itu kami serahkan kepada Syeikh Dr. Yusuf Al-qaradhawi untuk menjawabnya. Berikut ini adalah kutipan dari pandangan beliau : Banyak orang bertanya-tanya setelah pemboman terakhir yang terjadi di kota Al Quds, Tel Aviv dan Asqalan. Di mana orang-orang Yahudi terbunuh didalamnya karena operasi syahadah yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda HAMAS� Mereka bertanya tentang hukum operasi ini yang mereka namakan sebagai "Bom Bunuh Diri". Apakah ini termasuk jihad fisabilillah, atau salah satu bentuk teroris? Apakah para pemuda yang mengorbankan dirinya itu termasuk para syahid atau disebut orang yang bunuh diri, karena mereka membunuh dirinya sendiri dengan ulah sendiri pula? Apakah perbuatan mereka itu termasuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang telah dilarang oleh Al Qur'an dalam sebuah ayatnya yang artinya:"Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 195). Kami ingin katakan di sini bahwa operasi-operasi ini adalah termasuk cara yang paling jitu dalam jihad fisabilillah. Dan ia termasuk bentuk teror yang diisyaratkan dalam Al

http://orido.wordpress.com

32

Hadith of the Day
Qur'an dalam sebuah firman Allah Ta'ala yang artinya: Dan persiapkanlah kekuatan apa yang bisa kamu kuasai dan menunggang kuda yang akan bisa membuat takut musuh-musuh Allah dan musuhmu." (QS. Al Anfal: 60). Penamaan operasi ini dengan nama bunuh diri adalah sangat keliru dan menyesatkan. Ia adalah operasi tumbal heroik yang bernuansa agamis, ia sangat jauh bila dikatakan sebagai usaha bunuh diri. Juga orang yang melakukannya sangat jauh bila dikatakan sebagai pelaku bunuh diri. Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah SWT. Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah. Para pemuda pembela tanah airnya, bumi Islam, pembela agama, kemuliaan dan umatnya, mereka itu bukanlah orang-orang yang bunuh diri. Mereka sangat jauh dari bunuh diri, mereka benar-benar orang syahid. Karena mereka persembahkan nyawanya dengan kerelaan hati di jalan Allah; selama niatnya ikhlas hanya kepada Allah saja; dan selama mereka terpaksa melakukan cara ini untuk menggetarkan musuh Allah Ta'ala, yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya dan bangga dengan kekuatannya yang didukung oleh kekuatan besar lainnya. Juga aktivitas para pahlawan itu bukan tergolong menjerumuskan diri ke dalam kehancuran, seperti apa yang dipandang oleh sebagian orang awam. Bahkan perbuatan mereka itu termasuk perbuatan yang terpuji dalam jihad, dan sah menurut syari'at Islam. Dimaksudkan untuk bisa mengalahkan musuh, membunuh anggota musuh, menancapkan rasa takut kepada mereka dan mendorong kaum muslimin untuk berani menghadapi musuh-musuhnya. Masyarakat Zionis adalah masyarakat militer, kaum lelaki dan wanitanya adalah prajurit dalam angkatan bersenjata, yang kapan saja bisa dipanggil segera. Jika seorang anak atau orang tua terbunuh dalam operasi ini, ia tidak bermaksud membunuhnya, namun masuk dalam kategori darurat perang. Dan segala yang darurat itu bisa membolehkan yang terlarang. Berikut ini akan kami sampaikan pendapat para ahli fiqh dalam masalah ini dan pendapat para mufasir mengenai firman Allah Ta'ala yang artinya:"Dan janganlah kamu jerumuskan dirimu ke jurang kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 195). PENDAPAT IMAM AL JASSHASH, DARI MADZHAB HANAFI

http://orido.wordpress.com

33

Hadith of the Day

Imam Al Jasshash, dari madzhab Hanafi, dalam kitabnya Ahkam Al Qur'an menyatakan bahwa tafsiran ayat 195 dalam surat Al Baqarah itu ada beberapa pandangan: Pertama: apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: diceritakan dari Abu Dawud, ia berkata: diceritakan dari Ahmad bin 'Amr bin Al Sarh, ia berkata: diceritakan dari Ibn Wahb dari Haiwah bin Syuraih dan Ibn Luhai'ah bin Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi Umar, bahwa ia berkata: Kami pernah menyerang kota Kostantinopel, dalam rombongan perang itu ada Abdurrahman bin Al Walid. Sedangkan orang-orang Romawi saling menyandarkan punggung-punggungnya ke tembok kota. Lalu ada seseorang yang di bawah menghampiri pihak musuh, "tunggu, tunggu�.! Laa Ilaaha Illallah! Ia mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehancuran!" kata beberapa orang. Kemudian Abu Ayyub berkomentar:"Ayat ini tak lain diturunkan kepada kami, kaum Anshar, ketika Allah SWT memberikan pertolongan kepada NabiNya dan memenangkan agama Islam, lalu kami berkata:"Ayo kita tegakkan harta kekayaan kita dan memperbanyaknya. Maka arti menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu artinya adalah memperbanyak harta dan meninggalkan jihad." Abu Imran berkata:"Abu Ayyub masih saja berjihad di jalan Allah hingga dimakamkan di Kostantinopel." Abu Ayyub menceritakan bahwa menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu adalah meninggalkan jihad fisabilillah, dan ayat yang menunjukkan hal itu sudah diturunkan. Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Ibn Abbas, Hudzaifah, Hasan Al Bashri, Qatadah, Mujahid dan Al Dhahak. Diriwayatkan dari Al Barra' ibn Azib dan Ubaidah Al Salmani: bahwa menjerumuskan ke dalam kebinasaan itu adalah pesimis dengan ampunan karena melakukan kemaksiatan. Kedua: Berlebih-lebihan dalam berinfaq sampai tidak bisa makan dan minum sampai akhirnya binasa. Ketiga: Menerobos perang langsung tanpa bermaksud menyerang musuh. Inilah yang diartikan oleh beberapa orang dalam riwayat di atas yang kemudian ditentang oleh Abu Ayyub sambil menyertakan sebab turunnya ayat tersebut. Ketiga pandangan itu bisa memenuhi arti yang dimaksud oleh ayat di atas karena ada kemungkinan-kemungkinan atas lafadznya. Atau bisa dikorelasikan antara keduanya tanpa harus ada kontradiksi didalamnya. Adapun tafsiran yang mengatakan bahwa maksudnya adalah seseorang dibawa di arena musuh, maka Muhammad bin Al Hasan pernah menyebutkan dalam Al Siyar Al Kabir: "kalaupun ada seseorang dibawa kepada seribu orang, ia sendiri tidak ada masalah, jika ia ingin selamat atau menyerang. Namun jika tidak ingin selamat dan tidak pula menyerang, maka kami tidak setuju karena ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan tanpa ada manfaat buat kaum muslimin. Sedangkan jika ia tidak mau selamat atau tidak mau menyerang, tapi ingin membuat kaum muslimin lebih berani dan melakukan seperti apa yang ia lakukan sampai mereka terbunuh dan bisa membunuh musuh, maka hal itu tidak apa-apa, insya Allah. Karena kalaupun ia ingin

http://orido.wordpress.com

34

Hadith of the Day
menyerang musuh dan tidak ingin selamat, maka kami melihatnya tidak apa-apa untuk dilemparkan kepada musuh. Begitu pula jika ia menyerang yang lainnya dalam kelompok tersebut, maka itupun tidak apa-apa. Dan kami mengharap perbuatannya itu dapat pahala. Yang tidak boleh itu adalah sebagai berikut: jika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbuatan itu tidak ada manfaatnya, walaupun ia tidak ingin selamat dan tidak mau menyerang. Namun jika perbuatan itu membuat takut musuh, maka hal itu tidak apa-apa karena cara ini adalah cara yang paling tepat dalam menyerang, dan juga sangat bermanfaat bagi kaum muslimin". Imam Al Jasshash berkata: Apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang pendapatpendapat itu adalah benar, dan tidak ada pendapat yang lain lagi. Maka tafsiran dalam riwayat Abu Ayyub yang mengatakan bahwa ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan, itu ditafsirkan dengan membawanya kepada pihak musuh, karena bagi mereka hal itu tidak ada manfaatnya. Jika memang begitu maka tidak boleh ia memusnahkan dirinya tanpa ada manfaat bagi agama dan bagi kaum muslimin. Namun jika dalam pemusnahan diri itu ada manfaat bagi agama, maka ini adalah kedudukan yang sangat mulia. Karena Allah SWT telah memuji para shahabat Nabi SAW yang melakukan hal itu dalam banyak firman-Nya. Diantaranya adalah: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh." (QS. At Taubah: 111). "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS. Ali Imran: 169). "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah." (QS. Al Baqarah: 207). Dan beberapa ayat lagi yang menceritakan tentang pujian Allah terhadap orang mengorbankan jiwanya untuk Allah SWT. Imam Al Jasshash melanjutkan:"Oleh karena itu hukum amar ma'ruf nahi munkar harus berbentuk ketika ia menginginkan kemanfaatan bagi agama, lalu mengorbankan jiwanya sampai terbunuh, maka ia mendapatkan kedudukan syuhada yang paling tinggi. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS. Luqman: 17). Telah meriwayatkan Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:"Semulia-mulia syahid adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang berbicara dengan kalimat yang benar di hadapan penguasa tiran lalu ia terbunuh." PENDAPAT IBNU KATSIR DAN IMAM THABARI Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Al Bara' bin Azib

http://orido.wordpress.com

35

Hadith of the Day
Al Anshari:"Jika aku dibawa dihadapkan kepada musuh lalu mereka membunuhku, apakah aku masuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kebinasan?", "Tidak!"jawabnya, lalu melanjutkan:"Allah Ta'ala telah berfirman kepada Rasul-Nya (yang artinya):"Maka berperanglah di jalan Allah sebab tidak dibebani selain dirimu sendiri." Ayat "menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan" itu dalam bab nafakah, maksudnya tidak memberikan nafakah (infaq) dalam jihad. [ix] Imam Thabari meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dalam tafsirnya, dari Abu Ishaq Al Subay'i berkata: Aku bertanya kepada Al Bara' bin Azib (shahabat):"Wahai Abu Immarah, ada seseorang yang berhadapan dengan seribu musuh sendirian. Biasanya kondisi semacam ini, orang yang sendirian ini selalu kalah dan terbunuh. Apakah tindakan ini termasuk dalam kategori firman Allah Ta'la:"Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan"?, "Tidak, ia berperang sampai terbunuh. Karena Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya:"Maka berperanglah di jalan Allah, karena tidak dibebankan kecuali dirimu sendiri." (QS. An Nisa': 84). PENDAPAT IBNU TAIMIYAH Pendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab "Fatawa" nya tentang memerangi kaum Tatar. Berdasarkan dalil dari riwayat Imam Muslim dalam kitab "Shahih" nya dari Nabi SAW tentang kisah Ashhabul Ukhdud. Cerita itu mengkisahkan seorang bocah memerintahkan (kepada sanga raja) untuk membunuh dirinya, demi kemenangan agama (yang diyakininya) ketika meminta kepada algojoalgojo raja agar membaca: Bismillah Rabbi Ghulam (Dengan nama Allah, Tuhan boah ini) saat melemparkan panah ke arahnya. Ibn Taimiyah melanjutkan: Oleh karena itu para Imam yang empat memperbolehkan seorang muslim menyerbu sendirian dalam kubu pasukan musuh, walaupun kemungkinan besar mereka akan membunuhnya. Jika memang di situ ada kemaslahatan bagi kaum muslimin. Kami telah beberkan panjang lebar masalah ini dalam beberapa tema yang lain. PENDAPAT IMAM ASY SYAUKANI Imam Asy Syaukani dalam tafsirnya "Fath Al Qadir" menjelaskan: yang benar dalam masalah ini adalah dengan memegang pada keumuman lafadz, bukan sebaliknya memegang teguh pada kasuistis (sebab turun ayat). Maka segala apa yang masuk dalam artian kebinasaan di dalam agama atau dunia, itu masuk dalam kategori ini. Termasuk dalam kategori ayat adalah masalah berikut: bila seseorang menyerbu dalam peperangan lalu dibawa berhadapan dengan pasukan besar, padahal ia yakin tidak bakal selamat dan tidak bisa mempengaruhi semangat perjuangan kaum muslimin. PENDAPAT PENULIS TAFSIR AL MANAR Di era modern ini, Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya "Al Manar" menyebutkan: termasuk dalam kategori larangan adalah ikut dalam peperangan namun tidak tahu (mengerti) strategi perang yang dipakai oleh musuh. Termasuk juga segala pertarungan yang tidak dibenarkan oleh syari'at, misalnya hanya ingin mengikuti nafsu belaka, bukan untuk menolong dan mendukung suatu kebenaran. Pemahaman ini menunjukkan bahwa pertarungan yang diperhitungkan dan dibenarkan

http://orido.wordpress.com

36

Hadith of the Day
oleh syari'at adalah yang bisa menakut-nakuti musuh Allah dan musuh kita bersama. Juga menginginkan kemenangan al haq bukan sekedar mengikuti hawa nafsu belaka. Maka hal ini tidak termasuk dalam menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Kami yakin kebenaran itu sudah sangat jelas sekali, cahaya pagi itu sudah nampak bagi yang punya indera. Semua pendapat di atas membantah mereka yang mengaku-aku pintar, yang telah menuduh para pemuda yang beriman kepada Tuhannya kemudian bertambah yakin keimanannya itu. Mereka telah menjual dirinya untuk Allah, mereka dibunuh demi mempertaruhkan agama-Nya. Mereka menuduhnya telah membunuh diri dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Mereka itu, insya Allah, adalah para petinggi syahid di sisi Allah. Mereka adalah elemen hidup yang menggambarkan dinamika umat, keteguhannya untuk melawan, ia masih hidup bukan mati, masih kekal tidak punah. Seluruh apa yang kami minta di sini adalah: seluruh operasi itu dilakukan setelah menganalisa dan menimbangkan sisi positif dan negatifnya. Semua itu dilakukan melalui perencanaan yang matang sekali di bawah pengawasan kaum muslimin yang mumpuni . Kalau mereka melihat ada kebaikan, segera maju dan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Agung dan Maha Bijaksana." (QS. Al Anfal: 49). Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1679&bagian=0 Senin, 28 Nopember 2005 09:15:10 WIB Kategori : Al-Irhab = Terorisme BOM SYAHID ATAU BOM BUNUH DIRI Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2 Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum syar’i bagi orang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, kemudian dia ledakkan di antara komunitas orang-orang kafir untuk menewaskan mereka ? Apakah benar jika dia berdalil dengan kisah seorang pemuda yang hendak dibunuh oleh raja yang musyrik ?” Jawaban Orang yang meletakkan bahan peledak dalam tubuhnya dengan tujuan untuk meledakkannya bersama dirinya di komunitas musuh, adalah orang yang membunuh

http://orido.wordpress.com

37

Hadith of the Day
dirinya. Dia akan diadzab karena membunuh dirinya di neraka Jahannam kekal di dalamnya, sebagaimana telah tsabit hal itu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman orang bunuh diri dengan sesuatu maka dia diadzab dengan sesuatu yang membunuhnya di neraka Jahannam”. Alangkah aneh mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti ini, padahal mereka membaca firman Allah Jalla Jalaluhu. “Artinya : Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu …”[An-Nisa : 29] Kemudian mereka melakukan perbuatan itu, apakah mereka memetik sesuatu ? apakah musuh kalah?! Ataukah musuh semakin keras kepada mereka yang melakukan bom bunuh diri ini, sebagaimana hal ini terlihat di negeri Yahudi, dimana perbuatan seperti ini tidak menambah mereka kecuali mereka semakin gigih dengan kebrutalan mereka, bahkan kami dapati pooling terakhir dimenangkan oleh kelompok kanan yang ingin menghabiskan orang-orang Arab. Akan tetapi barangsiapa yang melakukan hal ini dengan ijtihadnya menyangka bahwa ini adalah sarana pendekatan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menghukumnya ; karena dia seorang jahil yang mentakwil…. Adapun pendalilan dengan kisah pemuda ashabul ukhdud, maka kisah pemuda ini didapatkan darinya umat yang masuk Islam, tanpa menewaskan musuh, karena itu ketika raja mengumpulkan orang-orang, dan mengambil sebuah panah dari tempat panah pemuda seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Tuhan pemuda ini, (hingga terbunuhlah pemuda itu) maka orang-orang semuanya berteriak : Tuhan yang benar adalah Tuhan pemuda ini. Maka dengan kematian pemuda ini didapatkan keislaman sebuah umat yang besar. Seandainya hal seperti ini terjadi maka sungguh kami akan mengatakan bahwasanya di sana ada tempat untuk berdalil dengan kisah ini, dan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kisah ini agar kita mengambil ibrah darinya. Tetapi orang yang meledakkan diri-diri mereka jika membunuh sepuluh atau seratus musuh, maka hal itu tidak menambah musuh kecuali semakin marah kepada kaum muslimin dan semakin gigih dengan apa keyakinan mereka.
[Majalah Al-Furqon Kuwait, edisi 79, hal.18-19 dan Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20] [Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]

APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ? Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan.

http://orido.wordpress.com

38

Hadith of the Day
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Apa hukum perkataan, 'Fulan Syahid ?'. Jawaban. Jawaban atas hal itu adalah bahwa seseorang dikatakan syahid itu dengan dua sisi yaitu : Pertama. Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti : Dikatakan bahwa setiap orang yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash, dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang. Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kedua. Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu : Tidak Memvonis Syahid Kecuali Ada Wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. "Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si Fulan Syahid, dan si Fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid". Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa'id bin Manshur dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A'jafa' dari Umar. Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai isyarat akan hal itu. "Artinya : Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya...." [Hadits Riwayat Bukhari : 2787] Dan sabda beliau. "Artinya : Demi Dzat diriku berada ditangan-Nya tidaklah seseorang terluka di jalan Allah kecuali datang dihari kiamat sedang lukanya mengalir darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk" [Hadits Riwayat Bukhari : 2803] Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid. Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka kepadanya. Raja' (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam jihad fi sabilillah. Ia dikubur dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk

http://orido.wordpress.com

39

Hadith of the Day
syuhada' yang lain, dimandikan, dikafani dan dishalati. Karena, kalau kita bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid konsekwensinya adalah kita bersaksi bahwa ia masuk surga. Mereka tidak bersaksi atas seseorang dengan surga kecuali dengan sifat atau seseorang yang disaksikan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa boleh kita bersaksi atas syahidnya seseorang yang umat sepakat memujinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah termasuk yang berpendapat seperti ini. Dengan ini, maka menjadi jelas bahwa kita tidak boleh bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid kecuali dengan nash atau kesepakatan. Akan tetapi bila dhahirnya baik maka kita berharap demikian sebagaimana keterangan diatas, dan cukuplah nasihat tentang ini, sedangkan ilmunya ada di sisi Sang Pencipta.
[Disalin dari buku Majmu' Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Aqidah, hal. 208-210 Pustaka Arafah]

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/2349 Konsultasi : Sosial Politik Tentang Jihad, Bom Syahid dan Bom Marriott Pertanyaan: assalamu'alaikum... salam sejahtera ! ustadz, tolong jelaskan ! bagaimana jihad yang dimaksud didalam islam ? adakah pemboman di bali dan hotel di jakarta itu termasuk jihad? bagaimana pula dengan jihad bunuh diri seperti yang dilakukan orang palestina ? dan apakah memberantas kemaksiatan itu dengan cara mengebom atau menghancurkan tempat2 yang dianggap banyak kemaksiatan ? sebelumnya makasih atas jawaban ustadz !!! semoga Allah membalasnya dengan sebaik2 balasan!!! Farrah Dina Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Islam agama perdamaian. Islam selalu mengajak orang kepada perdamaian dan kerukunan. Islam tidak pernah mengizinkan seseorang untuk memerangi siapa pun yang tidak bersalah. Bahkan dalam konsep Islam, eksistensi sebuah agama diakui meski bukan untuk dibenarkan. Sehingga

http://orido.wordpress.com

40

Hadith of the Day
ide-ide untuk mengatakan bahwa semua agama adalah benar agar tidak terjadi bentrok sesama pemeluk agama, bukanlah ide yang bisa diterima dalam pandangan Islam. Karena konsep dasar Islam adalah mengakui eksistensi agama apapun serta menghormati para pemeluknya. Dan juga memberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Tetapi tanpa harus mengobral aqidah dengan mengatakan bahwa semua agama itu sama atau semua agama itu benar. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang mampu menghimpun semua pemeluk agama dalam sebuah masyarakat yang rukun, toleran dan hidup berdampingan dengan damai. Semua itu selama para pemeluk agama itu tidak melancarkan serangan dan permusuhan dengan umat Islam. Dakwah dan damai sebelum jihad pisik Namun dalam kondisi dimana umat Islam diperangi, maka Islam pun mengenal peperangan melawan kebatilan dengan melakukan kontak senjata. Dengan catatan bahwa peperangan dalam Islam adalah satu-satunya jenis peperangan yang paling beradab yang ada di muka bumi. Kalau pun harus terjadi kontak senjata melawan orang kafir, maka harus jelas dulu perjanjian dan syarat-syarat yang diajukan. Selain itu jauh sebelum perang diizinkan, harus ada dakwah kepada mereka terlebih dahulu, baik dengan lisan mapun tulisan. Sehingga tidak terjadi perang sebelum mereka tahu persis apa itu Islam dan tahu bahwa agam mereka itu salah. Kalau pun mereka mengangkat senjata, mereka lakukan bukan karena tidak tahu apa itu Islam, tapi karena gengsi dan takabbur saja, sementara dalam hati mereka tidak bisa menolak kebenaran Islam. Latar Belakang Perang Antar Agama Dalam periode dakwah opensif di paruh kedua masa dakwah di Madinah, Rasulullah SAW selalu mengirim utusan untuk berdialog memperkenalkan kepada para raja dan masyarakat dunia tentang Islam. Kepada mereka dijelaskan bahwa Islam adalah agama yang merupakan estafet dakwah para nabi dan agama sebelumnya. Dakwah Islam mengakui eksistensi agama-agama terdahulu dan menghormati para rasul yang datang sebelumnya serta membenarkan apa yang mereka bawa. " Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab dan batu ujian terhadap kitabkitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat , tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,"(QS. Al-Maidah : 48) Islam hanya mengajak dan menyampaikan amanah Bahkan sebenarnya dakwah Rasulullah SAW itu sendiri sudah diinformasikan kepada para pemeluk agama sebelumnya dalam kitab-kitab suci mereka. Nabi Isa as sendiri secara tegas sudah berpesan bahwa akan ada nabisetelahnya dengan ciri-ciri yang

http://orido.wordpress.com

41

Hadith of the Day
disebutkannya dsecara jelas. Sehingga bila suatu hari Nabi tersebut datang, beliau sudah pernah memberi informasi tentangnya agar tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menerimanya. " Dan ketika 'Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad ." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata.""(QS. Ash-shaff : 6) Bahkan Allah sendiri menegaskan bahwa para pemuka agama sebelum Rasulullah SAW itu pun sudah akrab dengan berita kedatangan nabi terakhir yaitu Muhammad. Ciri-ciri beliau banyak sekali disebutkan di dalam Taurat dan Injil. Sehingga Al-Quran menggambarkan bahwa mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak mereka sendiri. " Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui."(QS. Al-Baqarah : 146) " Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman ."(QS. Al-An`am : 20) Karena itu ketika Muhammad Rasulullah SAW pada tahun 610 M benar-benar datang dan telah diangkat menjadi nabi terakhir dengan misi menyampaikan dakwah dari Allah sebagai nabi penerus misi para nabi sebelumnya, tidak ada alasan lagi bagi para pemeluk agama lain itu untuk mengatakan 'tidak'. Semua info tentang Nabi terakhir dan agama terakhir itu tidak bisa dipungkiri lagi. Perang itu dimulai oleh non muslim Tapi alih-alih beriman dan menerima agama yang dibawanya, justru mereka melakukan konspirasi untuk membunuhnya. Sebenarnya ini bukan pertama kali para pemeluk agama lama itu berusaha membunuh seorang nabi, bahkan nabi-nabi mereka pun dahulu ingin mereka bunuh. " Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Qur'an yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur'an itu adalah yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orangorang yang beriman?""(QS. Al-Baqarah : 91) Dengan latar belakang sejarah seperti ini, maka bila mereka memerangi Islam bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Sejak dari mereka masih tinggal di Madinah dan melakukan pengkhiatan-pengkhianatan dan siatan akal busuk sehingga mereka diusir dari kota suci itu, lalu ancaman serbuan dari pihak Romawi kepada wilayah-wilayah Islam, maka wajarlah bila Islam mengangkat senjata mempertahankan diri dan menjaga kehormatan. Justru mengangkat senjata dalam kondisi diancam dan diperangi merupakan perintah fardhu dalam Islam. Allah SWT berfirman :

http://orido.wordpress.com

42

Hadith of the Day
" Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."(QS. Al-Baqarah : 190) Syarat Perang Namun sekali lagi perang dalam Islam harus jelas syarat dan kondisinya. Tidak asal bertemu dengan orang kafir lantas main bunuh dan main bom. Hanay mereka yang kafir dan memerangi agama Islam saja yang boleh diperangi. Allah berfirman : " Jika mereka merusak sumpah nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang janjinya, agar supaya mereka berhenti."(QS.At-Taubah : 12 ) Sedangkan orang kafir yang tidak memerangi Islam, tidak boleh dibunuh atau diperangi. Bahkan bila mereka berada dalam jaminan negara Islam, mereka harus dilindungi dan dijamin nyawa, harta benda dan keamanannya oleh pemerintah Islam. Orangkafir yang hidup di negeri kita harus mendapatkan perlindungan dari umat Islam. " ... Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya ..."(QS. An-Nisa : 89-90)

Perang hanya dibolehkan di wilayah konflik Sedangkan mereka yang jelas-jelas memusuhi dan berada di wilayah konflik (medan perang) dan memang sedang berlangsung peperangan antara umat Islam dengan mereka, maka hanya di wilayah itu sajalah boleh terjadi pertumpahan darah. Darah dan harta mereka menjadi halal bagi kaum muslimin di sana. Bagi umat Islam yang negerinya menjadi wilayah konflik dan medan perang terbuka, wajib bagi mereka merebut kembali tanah mereka dari tangan penjajah. Jihad dengan kontak senjata menjadi fardhu `ain bagi mereka. Sedangkan buat umat Islam yang tinggal di laur wilayah konflik, bila mereka memiliki kemapuan, bolehlah mereka datang ke wilayah konflik itu dan membantu saudara-saudara muslim mereka disana. Tapi tidak untuk melakukan pembunuhan di luar wilayah konflik, apalagi dengan pembunuhan membabi buta di tempat lainnya yang bukan merupakan wilayah konflik. Karena tidak semua orang kafir dapat digolongkan sebagai musuh yang halal darahnya. Palestina adalah wilayah konflik Buat kondisi kita saat ini, wilayah palestina yang direbut oleh Israil jelas merupakan tanah jihad. Dan pasukan israel beserta penduduk sipil mereka jelas merupakan musuh yang halal darahnya. Kapan pun dan bagaimana pun caranya, halal bagi umat Islam Palestina untuk membunuh mereka. Sebagaimana mereka merasa halal untuk membunuh bangsa Palestina kapan pun dan dengan cara apapun, termasuk dengan menginjak-injak resolusi PBB. Masuknya Israel dan mencaplok sebuah negeri yang

http://orido.wordpress.com

43

Hadith of the Day
berdaulat saja sudah merupakan aksi terorisme terbesar dalam sejarah. Lepas dari pertimbangan bahwa mereka punya masa lalu di negeri itu, tapi kedaulatan sebuah pemerintahan yang resmi dan syah tidak bisa dilanggar begitu saja. Bangsa yahudi sejak ribuan tahun yang lalu telah meninggalkan tanah moyang mereka dan bertebaran di muka bumi menjadi duri dalam daging umat manusia. Tanah itu ditempati oleh penguasa Islam sejak abad pertama Islam tumbuh dan tidak pernah lepas kecuali beberapa tahun ketika pasukan salib membuat makar. Lalu tiba-tiba di abad 20 yahudi itu datang bawa senjata dan membunuh siapa saja yang mereka dapati di tanah itu lalu menancapkan negara Israil. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang tidak mengutuk ulah yahudi itu kecuali boneka mereka (UK dan USA). Bahkan PBB pun mengecam tindakan itu dan menyebutnya sebagai penjajahan. Bom Syahid Adapun bom syahid yang dilancarkan oleh bangsa Palestina, maka sama saja dengan bambu runcing yang dibawa pemuda Indonesia melawan agresi tentara Belanda. Sama dengan rencong yang diacungkan Tengku Umar kepada tentara Belanda di Aceh. Sama dengan keris yang diacungkan Diponegoro di tanah Jawa. Sama dengan pasukan Fatahillaah yang menyongsong tentara potugis di pelabuhan Sunda Kelapa. Karena ketika seorang muslim masuk ke gelanggang perang, tujuan satu-satunya yang ingin dicapainya hanya mati syahid dengan cara apapun. Tindakan ini dibenarkan bila dilakukan di dalam wilayah konflik, bahkan didukung oleh semua ulama muslim. Sebaliknya, bila bom itu dipasang di sebuah negeri yang damai dengan alasan jihah dan sebagainyam, ketahuilah bahwa Islam tidak pernah membenarkan hal itu. Dan tidak ada umat yang bodoh melakukan hal itu. Kalau pun bom itu terjadi, maka yang paling mungkin melakukannnya adalah agen mossad yang banyak berkeliaran di negeri Islam. Dengan dana dan dukungan pemerintah AS, mereka dengan mudah mencari operator dari bangsa muslim untuk melakukan aksi bom itu. Dan dengan tekanantekana tertentu, mereka mampu menggiring opini para pejabat kemananan untuk mengarahkan tuduhan kepada umat Islam. Sebutlah nama JI yang kini selalu disebutsebut. Padahal nama JI sendiri tidak pernah ada sebelumnya, lalu direkayasa dan dibuat-buat dan dicarikan orang-orang yang sekiranya bisa dijadikan kambing hitam. Teknik seperti ini sebenarnya sudah kuno dan di era Soeharto pernah dilakukan melalui istilah komando jihad. Adalah Ali Murtopo yang saat itu mendirikan DI dan mengumpulkan para pemuda. Tujuannya untuk memojokkan Islam dan agar Islam identik dengan kekerasan dan gambaran yang absurd. Selain itu agar Islam itu identik dengan pemberontak sehingga ada legitimasi untuk menumpas semua umat Islam. Hari ini teknik kuno itu dilakukan lagi, sayangnya para penguasa dan penegak keamanan dengan mudahnya terkecoh dengan skenario yahudi itu. Sehingga yang dilakukan tidak lain hanya menangkapi operator di lapangan yang sudah diprogram untuk bernyanyi dan mengaku-ngaku sebgai JI. Padahal yang ditangkap cuma montir bajai yang tidak tahu apa-apa. Ini sebuah pentas lawak yang tidak lucu.

http://orido.wordpress.com

44

Hadith of the Day
Wallahu a`lam bishshowab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1680&bagian=0 Selasa, 29 Nopember 2005 07:30:09 WIB Kategori : Jihad Fii Sabilillah APAKAH ADANYA IMAM MERUPAKAN SYARAT JIHAD ? Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Pertanyaan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Betulkah syarat jihad adalah harus ada imam ? Dan apa syarat-syarat imamah (menjadi imam)? Jawaban Benar, termasuk syarat-syarat jihad adalah di bawah bendera seorang imam yang menyeru/mengajak kaum muslimin kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Adapun syarat-syarat imamah [1]. Ia adalah seorang muslim yang telah baligh [2]. Mengetahui Al-Kitab dan Sunnah [3]. Ia adalah orang Arab [4]. Ia adalah orang Quraisy, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Para imam itu dari Quraisy” Dan kita wajib membedakan antara pengertian jihad dengan pengertian membela negara (dari serangan orang kafir). Membela negara adalah suatu perkara, dan jihad yang meninggikan kalimat Allah merupakan perkara lain lagi. Membela negara tidak disyaratkan seperti syarat-syarat di atas. Jadi setiap individu bisa membela negerinya sesuai dengan kemampuannya. BOLEHKAH JIHAD KE AFGHANISTAN TANPA SEIZIN PENGUASA Pertanyaan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Bolehkah seorang muslim berjihad di Afghanistan tanpa seizing penguasa atau pemimpinnya ? Jawaban. Pintu jihad selalu terbuka. Akan tetapi jika jihad tidak teratur dan tanpa persetujuan pemerintah Islam maka akan berakibat bencana yang dahsyat serta akan menyebabkan kondisi yang buruk seperti kondisi di Palestina.

http://orido.wordpress.com

45

Hadith of the Day

[Disalin dari kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Al-Albani, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]

HUKUM BERJIHAD DENGAN LARANGAN DARI PEMIMPIN Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Bagaimana hukum berjihad saat sekarang dengan larangan dari pemimpin ? Jawaban Tidak ada jihad kecuali dengan izin pemimpin karena itu merupakan wewenangnya, jihad tanpa izinnya maka itu merupakan pembangkangan kepadanya. Jihad haruslah dengan pendapat dan izinnya, jika tidak bagaimana engkau berperang tapi engkau bukan dibawah panji dan bukan di bawah kepemimpinan pemimpin kaum musilmin? Pertanyaan. Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apa syarat-syarat jihad, dan apakah telah terpenuhi pada saat sekarang ? Jawaban Syarat-syarat jihad adalah ma’ruf ; kaum muslimin harus memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berjihad melawan orang kafir. Adapun jika tidak ada kemampuan dan kekuatan maka tidak ada jihad. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau ketika berada di Makkah sebelum hijrah tidak diperintahkan untuk berjihad karena mereka tidak mampu, begitu pula wajib berjihad di bawah panji Islam dan dengan perintah pemimpin karena ia adalah orang yang memberikan perintah, yang mengatur yang mengurusi dan yang mengawasi, hal itu merupakan wewenangnya dan bukan wewenang seseorang atau jama’ah mana saja yang pergi atau berperang tanpa izin dari pemimpin. Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Orang yang berjihad tanpa izin pemimpin kemudian ia terbunuh apakah ia syahid atau tidak ? Jawaban Ia tidak dizinkan dalam hal ini dan perbuatannya (berjihad) bukanlah perbuatan syar’I dan menurut pendapat saya ia tidaklah syahid
[Dari Pelajaran Syaikh Shalih Al-Fauzan dari Syarh Bulughul Maram kitab Al-Jihad] [Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]

http://orido.wordpress.com

46

Hadith of the Day
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/21379 Konsultasi : Ibadah Perbedaan Syahid dunia dengan Syahid dunia akhirat Pertanyaan: Assalamu'alaikum Pak ustad akhir akhir ini kan banyak peristiwa yang terjadi disekitar kita terutama gempa & Tsumani, serta penyerangan Israel ke LIbanon, yang ingin kami tanyakan bagaimana membedakan antara yang mendapatkan predikat syahid dunia dengan syahid dunia akhirat Syukreon katsir atas perhatiannya wassalamu'alaikum ahmad rizky Jawaban: Assalamu alaikum wr.wb. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Saudara Ahmad, istilah syahid disebutkan oleh Rasul saw. dalam sejumlah hadis di antaranya, “Orang yang mati syahid itu ada lima macam: orang yang meninggal dunia karena penyakit sampar, orang yang meninggal karena penyakit dalam perutnya, orang yang meninggal karena tenggelam, orang yang tertimpa bangunan, dan orang yang syahid ketika berperang di jalan Allah.” (Bukhari dan Muslim). “Orang yang dianggap syahid itu ada tujuh, selain yang meninggal karena perang di jalan Allah: yang terbunuh di jalan Allah; yang terkena penyakit sampar; yang tenggelam; yang mempunyai penyakit dada; yang sakit perut; yang terbakar; yang meninggal di bawah reruntuhan serta wanita yang meninggal karena melahirkan. Semuanya mati syahid.” (al-Bukhari). “Siapa yang terbunuh karena membela harta kekayaannya, maka ia adalah syahid; siapa yang terbunuh karena membela nyawanya maka ia syahid; siapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid; siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia mati syahid.” (Imam Ahmad). Berdasarkan hadis di atas, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berpendapat bahwa syahid terbagi dua: syahid dunia dan syahid akhirat. Syahid dunia adalah yang terbunuh dalam perang melawa orang kafir. Adapun syahid akhirat adalah syahid di luar perang di jalan Allah. Mereka mendapat pahala di akhirat seperti pahala orang yang syahid karena perang di jalan Allah. Perbedaannya, syahid dunia (orang yang mati karena berperang di jalan Allah) mereka tidak perlu dimandikan dan dishalatkan. Sementara, syahid akhirat tetap dimandikan dan dishalatkan.

http://orido.wordpress.com

47

Hadith of the Day
Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu alaikum wr.wb.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1702&bagian=0 Senin, 19 Desember 2005 13:24:52 WIB Kategori : Al-Irhab = Terorisme HUKUM TENTANG AKSI-AKSI BOM BUNUH DIRI Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Pertanyaan. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Sebagian jama’ah membenarkan adanya jihad perorangan dengan berdalil kepada perbuatan seorang sahabat yang bernama Abu Bashir, mereka melakukan bom syahid (saya katakan ; bom bunuh diri), bagaimana hukum perbuatan ini ? Jawaban Syaikh Al-Bani menjawabnya dengan sebuah pertanyaan. Berapa lama tindakan ini mereka lakukan ..?” Penanya menjawab : “empat tahun”. Maka Syaikh Al-Abani berkata : “Mereka untung atau rugi?”. Penanya berkata : “rugi”. Syaikh Al-Bani berkata : “ dari buahnya mereka dikenal” [Silsilah Huda wan Nur kaset no. 527] Penanya berkata : Berhubung dengan siasat perang modern, di dalamnya terdapat pasukan penyerang yang disebut komando, di sana terdapat pasukan musuh yang menyerang kaum muslimin, maka mereka membuat suatu kelompok bunuh diri (jibaku) meletakkan bom ke arah tank-tank musuh, sehingga banyak menewaskan mereka … apakah perbuatan ini dianggap bunuh diri ?” Jawaban. Ini tidak dianggap bunuh diri ; karena bunuh diri adalah jika seorang muslim membunuh dirinya untuk melepaskan diri dari kehidupan yang celaka …. Adapun gambaran di atas yang engkau tanyakan, maka tidak dikatakan bunuh diri bahkan ini adalah jihad fi sabilillah … hanya saja di sana ada catatan yang harus diperhatikan, yaitu hendaknya perbuatan ini bukan sekedar ide pribadi, tetapi harus dengan perintah komandan pasukan … jika komandan pasukan merasa perlu dengan tindakan ini, dia memandang bahwa unsur kerugian yang ditimbulkan lebih sedikit daripada keuntungan yang didapatkan, yaitu memusnahkan jumlah besar dari pasukan musyrik dan kafir,

http://orido.wordpress.com

48

Hadith of the Day
maka pendapat komandan pasukan ini harus ditaati karena komando di tangannya, walaupun ada yang tidak suka maka tetap wajib. Bunuh diri termasuk hal yang paling diharamkan dalam Islam, karena pelakunya tidaklah melakukannya kecuali karena marah kepada Rabbnya dan tidak ridho kepada ketentuan Allah Jalla Jalaluhu. Adapun yang tadi maka tidak termasuk bunuh diri, sebagaimana hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat, seorang dari mereka menyerang sekelompok orang kafir dengan pedangnya, dia tebaskan pedangnya kepada mereka hingga kematian menjemputnya, dia sabar karena dia tahu bahwa tempat akhirnya adalah surga. Maka berbeda sekali antara orang yang membunuh dirinya dengan cara jihad bunuh diri ini dan antara orang yang mengakhiri hidupnya yang sempit dengan membunuh dirinya, atau melakukannya dengan ijtihad pribadinya, maka yang ini termasuk hal yang melemparkan dirinya kepada kebinasaan”. [Silsilah Huda wan Nur kaset no. 134] Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman berkata : Sesudah menjelaskan keharaman aksi bom bunuh diri ini Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan mengatakan: Kemudian kita datang kepada beberapa gambaran dari aksi-aksi bunuh diri, yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan tujuan memancing kemarahan musuh. Walaupun perbuatan ini tidak memajukan atau memundurkan, tetapi dengan banyaknya aksi-aksi ini bisa jadi akan melemahkan musuh atau membuat takut mereka. Aksi-aksi bunuh diri ini berbeda dari pelaku yang satu dengan pelaku yang lainnya. Kadang-kadang orang yang melakukan aksi bom bunuh diri ini terpengaruh oleh orang-orang yang membenarkan perbuatan ini, maka dia melakukannya dengan niat berperang, berjihad dan membela suatu keyakinan. Jika yang dibela benar, dan dia melakukannya dengan landasan pendapat orang yang membolehkannya maka bisa jadi dia tidak dikatakan bunuh diri ; karena dia berudzur dengan apa yang dia dengar’. [Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 21 dengan perantaraan Salafiyyun wa Qadhiyatu Filisthin hal. 62] Penutup Pembahasan kita ini berhubungan dengan kejadian aksi bom bunuh diri di negerinegeri Islam yang tertindas dan dijajah oleh orang-orang kafir seperti Palestina, Afghanistan, Irak dan yang lainnya. [Salafiyyun wa Qadhiyatu Filisthin oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hal. 38] Adapun aksi bom bunuh diri di negeri-negeri kaum muslimin maka hukumnya adalah haram, karena akan menyebabkan melayangnya jiwa-jiwa yang tidak berdosa dari kaum muslimin. Allah Jalla Jalaluhu mengancam siapa saja yang membunuh jiwa seorang mukmin dengan ancaman yang sangat keras. “Artinya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” [An-Nisa : 93] Jika yang terbunuh adalah orang-orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari

http://orido.wordpress.com

49

Hadith of the Day
pemerintah muslim maka pelakunya mendapat ancaman dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang mendapat jaminan keamanan maka dia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga didapati dari 40 tahun perjalanan” [Shahih Bukhari 6/2533. Lihat majalah Buhuts Islamiyyah yang diterbitkan oleh Haiah Kibar Ulama edisi 56 hal. 357-362] Kami akhiri bahasan ini dengan Nasehat berharga dari Syaikh Al-Alamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Jika seorang mujahid mengikhlaskan niat kepada Allah Jalla Jalaluhu semata, maka tidak diragukan lagi bahwa dia akan diberi pahala yang layak baginya sesuai dengan niatnya, tetapi aksi bom bunuh diri ini bukanlah jihad yang diperintahkan Allah Jalla Jalaluhu. Karena jihad harus dipersiapkan, sebagaimana dalam firman Allah Jalla Jalaluhu. “Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggetarkan musuh Allah dan musuh kalian” [Al-Anfal : 60] Inilah jihad, yaitu diumumkan dan dipersiapkan, jihad inilah yang seorang muslim tidak diperkenankan ketinggalan. Adapun jihad yang berarti aksi perorangan –seperti bom bunuh diri-, .. maka itu bukanlah jhad..., karena inilah maka wajib atas kaum muslimin untuk kembali kepada agamanya, memahami syari’at Rabb mereka dengan pemahaman yang shahih, dan mengamalkan apa yang mereka fahami dari syari’at Allah Jalla Jalaluhu dan agamaNya dengan ikhlas dan benar, sehingga mereka bisa bersatu dibawah satu kalimat ; pada saat itulah orang-orang yang beriman bergembira dengna pertolongan Allah Tabaraka wa Ta’ala. [Dari kaset Taharri Fil fatwa dengan perantaraan Salafiyyun wa Qadhiyatu Filisthin hal. 66-67] Wallahu ‘alam
[Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/3719 Konsultasi : Ibadah Memandikan Orang Yang Mati Syahid Pertanyaan: Ass wr wb Saya pernah mendengar bahwa haram hukumnya memandikan orang yang mati syahid, tapi bagaimana caranya kita mengetahuinya? dan yang saya takutkan apabila ternyata

http://orido.wordpress.com

50

Hadith of the Day
orang tersebut tidak mati syahid dan tidak di manadikan karena pendapat kita salah apakah akan mengundang dosa. terimakasih Wasalam Andi Jawaban: Assalamu �alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillahi Rabbil �Alamin, Washshalatu Wassalamu �Ala sayyidil Mursalin Wa �alaa �Aalihi Wa Ashabihi ajma�ien. Wa Ba�du Mati syahid yang mensyaratkan tidak dimandikan jenazahnya adalah mati syahid yang secara pisik dari hasil sebuah jihad fi sabilillah. Dimana jihad itu memang merupakan pertempuran resmi antara Islam melawan kekuatan kafir yang membutuhkan pengorbanan nyawa mujahidin. Ada pun mati syahidnya wanita yang hamil, penyakit tho'un, disebabkan sakit di perut, tenggelam atau tertimbun, mempertahankan harta yang akan dirampok, atau sedang mengerjakan amal sholeh, meski disebut syahid namun bukanlah termasuk jenis syahid yang dimaksud. Sehingga mereka ini meski syahid tapi jenazah tetap wajib dimandikan, dikafani dan dishalatkan. Jadi mudah saja bagi kita untuk memilih mana yang harus langsung dikuburkan langsung begitu saja tanpa proses umumnya adalah mereka yang secara pisik memang syahid di medan perang yang syar�i. Seperti di Palestina, Afghanistan, Bosnia dan wilayah-wilayah konflik lainnya. Dimana oleh para ulama memang telah disepakati bahwa pertempuran berdarah itu adalah sebuah jihad fi sabilillah. Jadi bukanlah korban dari sekedar sebuah bentrok massa dengan petugas akibat urusan politis. Dan untuk itu kita menghukumi sesuai dengan kondisi realitas yang kita dapati, bahwa tentang apakah nilainya di mata Allah SWT itu sebagai syahidnya diterima atau tidak, itu hanya urusan yang bersangkutan dengan Allah SWT. Sedangkan kewajiban kita hanyalah dengan melihat kondisi pisiknya yang nampak. Bila memang seorang muslim mati di medan perang karena menegakkan kalimat Allah SWT, maka kita masukkan sebagai mati syahid dan insya Allah SWT memang demikian adanya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatakhbar&id=578

http://orido.wordpress.com

51

Hadith of the Day
IRAQ: Menolak Caci Rasulullah, Seorang Pemuda Tewas Ditembak Prajurit Marinir AS!!?? Senin, 12 Maret 07 Pasukan pendudukan Amerika, Ahad kemarin, membunuh seorang pemuda yang merupakan jemaah shalat Jami’ Dhaluea Lama, di Iraq setelah ia menolak instruksi pasukan pendudukan itu untuk mencaci-maki Rasul Penutup, Muhammad SAW. Seperti disebutkan oleh koresponden situs ‘Mufakkira el Islam’ yang berada di Tikrit, menukil dari Syaikh Muayyad al Jabburi, pasukan Marinir AS itu berdiri di dekat pintu masjid setelah shalat Zhuhur. Lalu mereka meminta seorang pemuda yang kebetulan keluar begitu selesai shalat dan membawa siwak untuk berhenti, lalu mendorongnya ke dinding masjid dan meletakkan siwaknya di hidungnya disertai gelak tawa dan ejekan para prajurit yang lain. Kemudian mereka menginjak kepalanya dan mencopot kopiah dari kepalanya, lalu memintanya agar mencaci-maki Muhammad SAW dengan lafazh yang kotor. Setiap pemuda itu menolak, salah seorang dari anggota pasukan AS itu menekan kepalanya dengan sepatu sembari berteriak sekeras-kerasnya di hadapan mukanya, meludahinya dan menendangnya dengan kaki mereka ke arah perut, dada dan kemaluannya.!!?? Syaikh al Jabburi menambahkan, “Setelah itu, para prajurit itu hendak meninggalkannya namun salah seorang dari mereka ngotot memaksanya mencaci-maki Muhammad SAW sebelum dilepaskan dan kembali menemui pemuda itu meminta ia mengatakan, ‘Muhammad …’ Lafazh itu amat kotor sekali, dan ditolak mentah-mentah oleh sang pemuda. Pemuda itu mendorong prajurit dengan dada dalam upaya hendak kabur, namun terlebih dulu prajurit itu menembakkan peluru ke arahnya yang tewas seketika di dekat dinding masjid, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.!! Syaikh al Jabburi menambahkan, dirinya kemudian menghubungi channel tv ‘al Arabiya’ melalui koresponden mereka di Tikrit, namun pihak televisi itu menolak datang ke kota itu dengan alasan medan masih berbahaya dan takut terhadap kelompok perlawanan Iraq. Syaikh al Jabburi menyiratkan, pemuda yang menjadi korban penembakan itu bernama ‘Isham Muhammad al Ahbabi, berusia 26 tahun, alumnus fakultas sastra, konsentrasi Bahasa Arab. Ia tinggal di kota itu. Imam masjid itu menjelaskan, pengurus masjid akan menyemayamkan jenazahnya tanpa dimandikan terlebih dahulu karena ia –insya Allah- gugur sebagai syahid.!! Berita serupa, dari Dhaluea, salah satu faksi kelompok perlawanan Iraq di kota itu memberikan instruksi kilat kepada para anggotanya untuk meluncurkan perang baru yang diberi nama ‘Tentara Muhammad’, dengan target pasukan pendududkan sebagai balasan atas tindak kriminal keji tersebut.!! (ismo/AH)

http://orido.wordpress.com

52

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->