P. 1
Amanah - HOTD

Amanah - HOTD

|Views: 892|Likes:
Published by api-3725701
"Apabila amanat itu disia-siakan maka nantikanlah kiamat." Ia
\

\
berkata: "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau bersabda: "Apabila perkara (urusan)
\

\
diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat."
"Apabila amanat itu disia-siakan maka nantikanlah kiamat." Ia
\

\
berkata: "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau bersabda: "Apabila perkara (urusan)
\

\
diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat."

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

HOTD – amanah Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan

(juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al Anfaal, 8 : 27) Hadist riwayat Bukhori, dari Abu Hurairah ra., ia berkata: "Ketika Rasulullah saw. Di suatu majlis sedang berbicara dengan suatu kaum, datanglah seorang kampung dan berkata: "Kapankan kiamat itu?" Rasulullah terus berbicara, lalu sebagian kaum berkata:"Beliau mendengar apa yang dikatakan olehnya, namun beliau benci terhadap apa yang dikatakan itu." Dan sebagian dari mereka berkata: "Namun beliau tidak mendengarnya. "Sampai sampai ketika beliau selesai berbicara maka beliau bersabda: "Dimanakah gerangan orang yang bertanya tentang kiamat?" Ia berkata: "Hai saya wahai Rasulullah" Beliau bersabda: "Apabila amanat itu disia-siakan maka nantikanlah kiamat." Ia berkata: "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau bersabda: "Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat." Links: [amanah] http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=268 [lenyapnya amanat] http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=528&bagian=0 [pemimpin yang amanah] http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1157&PHP SESSID=7823a...%3Fref%3Dhikayee.net [pejabat yang sedeRhana] http://eramuslim.com/atk/oim/43c20d8d.htm [menyampaikan kebaikan dan melaksanakan amanat] http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2004&bagian=0 [lidah adalah amanat]

http://www.mail-archive.com/milis@opja.or.id/msg01633.html [ujian untuk menjadi lebih mulia] http://eramuslim.com/atk/oim/4405bf65.htm [teRapi amanah] http://www.mailarchive.com/tamanbintang@yahoogroups.com/msg00541.html [nabi zulkifli amanah, penyabaR] http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/KisahRasul/ 20041012145643/Article/pp_index_html [amanah berkaRya] http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=370 [ketika amanah dianggap ghanimah] http://forumjumat.multiply.com/journal/item/33 [bingung tentang amanah] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/5568 [pesan untuk pendidik anak] http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=172 -perbanyakamalmenjusurga-

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=268 Artikel Buletin An-Nur : Amanah Kamis, 13 Mei 04 Kalau orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk mashlahat dan kebahagiaan manusia. Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam Islam adalah diwajibkannya sifat amanah, yang ini merupakan perbendaharaan agama Islam, kekayaan yang sangat mendasar dan bahkan agama itu merupakan amanah.

Ada tiga kata sepadan yang semuanya dibentuk dari huruf alif, mim dan nun, ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu aman, amanah dan iman dan makna ketiganya hampir serupa yaitu menunjukkan kepada ketenangan atau tuma’ninah. Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut dan ini juga berarti ketenangan, kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta amal perbuatan, yang didalamnya terdapat pula ketenangan. Oleh karena itu Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan mukmin karena hanya orang mukmin saja yang dapat memelihara amanat Allah, menunaikan serta memegangnya dengan erat, sebagaimana difirmankan oleh Allah, artinya, Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (QS. 23:8) Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari amanah memilki arti tumbuhnya sikap untuk memelihara dan menjaga apa saja yang menjadi perjanjian atau tanggungan manusia berupa benda nyata atau yang bersifat maknawi. Hal ini seperti yang ditunjukkan di dalam sabda nabi saw, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya.” Maka amanah memiliki makna yang sangat luas yang mencakup seluruh hubungan muamalah dan hak-hak pihak lain yang harus ditunaikan Maka secara garis besar amanah terbagi menjadi tiga bagian:

Amanah dalam Menunaikan Hak-hak Allah Azza wa Jalla. Yaitu dengan menauhidkan-Nya, mengesakan-Nya di dalam beribadah, mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah. Ini merupakan amanah yang terbesar, yang setiap hamba wajib melaksanakannya pertama kali sebelum amanah-amanah yang lain. Dan darinya akan muncul seluruh bentuk amanah yang lain.

Amanah dalam Nikmat yang Diberikan Allah. Seperti nikmat pendengaran, penglihatan, pemeliharaan, harta dan anak-anak. Juga amanah badan dan segala isinya, kepala dan kemampuan otaknya untuk berfikir. Maka setiap mukallaf wajib menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai fungsinya yang Allah ciptakan dan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah. Apabila anggota badan, kesehatan, harta dan seluruh nikmat yang kita terima digunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka berarti kita telah merealisasikan amanah serta menunaikan sesuai tuntutannya.

Dan sebagai balasannya maka Allah akan menjaga dan memelihara orang yang berbuat demikian dan juga menjaga nikmat tersebut. Nabi saw bersabda, artinya, “Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka dia akan kau dapati dihadapanmu.” Seorang salaf berkata, “Barang siapa bertakwa kepada Allah maka dia telah menjaga dirinya sendiri, dan barang siapa menyia-nyiakan ketakwaan kepada-Nya maka berarti dia menyia-nyiakan dirinya sendiri, sedangkan Allah tidak pernah membutuhkannya.” Oleh karenanya siapa saja yang menunaikan amanah dalam menjaga batasan-batasan Allah serta memelihara hak-hak Nya, baik yang berkaitan dengan dirinya atau apa yang diberikan oleh Allah berupa nikmat, harta dan sebagainya maka Allah akan menjaganya untuk kebaikan agama dan dunianya. Sebab balasan itu sesuai dengan amal usaha seseorang sebagaimana firman Allah swt, Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. 2:40) Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. 47:7)

Amanah dalam Menunaikan Hak Sesama Manusia Seperti titipan, harta, rahasia, aib dan kehormatan dan lain sebagainya. Al Qur’an telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam banyak ayat, yang sekaligus menganjurkan kepada kita untuk memelihara dan menjaganya. Diantaranya adalah firman Allah, artinya, Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, Juga firman Allah yang menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang berhak mendapatkan surga Firdaus Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (QS. 23:8) Berkaitan dengan amanah ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit , bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. Allah swt berfirman, Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu

dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72) Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, dimana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya. Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konskwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa. Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya serta menunaikan hak-haknya maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa. Maka dalam lanjutan ayat Allah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menunaikan amanah tersebut, yaitu munafik, musyrik dan mukmin. “Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:73) Orang musyrik menyia-nyiakan amanah secara lahir dan batin, orang munafik menyia-nyiakan amanah secara batin meskipun secara lahirnya terlihat menunaikan amanah sedangkan orang mukmin menjaga amanah Allah secara lahir dan batin. Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kengganan langit, bumi dan gunung, yang berbeda dengan keengganan iblis ketika diperintahkan sujud terhada Adam as. Perbedaanya adalah bahwa keengganan langit, bumi dan gunung adalah timbul dari kelemahan dan ketidakmampuan sedangkan keengganan iblis karena menolak dan takabbur (sombong). Hal yang kedua adalah bahwa yang disampaikan kepada langit,bumi dan gunung adalah tawaran yang disitu ada pilihan sedangkan yang disampaikan kepada iblis adalah perintah wajib yang harus, tidak ada pilihan lain selain patuh. Beberapa Pelajaran Seputar Amanah

Amanah adalah akhlak yang bersifat utuh, tidak bisa hanya dilaksanakan sebagiannya saja. Maka orang yang amanah terhadap yang sedikit dan

berkhianat terhadap yang banyak dia adalah khianah. Orang yang amanah dalam satu kondisi lalu berkhianat dalam kondisi yang lain maka berarti tidak amanah. Amanah adalah akhlak dan ciri keimanan. Dengan pendidikan keimanan dia akan menjadi baik dan bersih yaitu dengan menumbuhkan rasa kedekatan Allah, yang tak satupun tersembunyi di hadapan Allah, serta takut ketika ditanya di hadapan Allah. Orang yang amanah hanya ketika ada orang lain berarti dia belum merealisasikan amanah. Amanah adalah bekal paling besar dan paling baik yang dimiliki seseorang, jika seseorang terpercaya di dalam amanahnya maka itu merupakan kekayaan di dunia sebelum nanti di akhirat. Amanah adalah kekuatan, dalam pengaruh dan kekuasaan, kemuliaan dan kecukupan, bahkan merupakan kekuatan jiwa sehingga tidak lemah dan tunduk terhadap hawa nafsu dan segala yang membawa kepada kebinasaan. Lawan amanah adalah khianah yaitu meninggalkan dan menyembunyikan yang hak dan yang seharusya disampaikan. Dan ini merupakan karakter utama orang munafik sebagaimana di dalam hadits yang masyhur, Nabi saw bersabda, artinya, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, “Jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.”

Macam-macam Khianat Allah swt berfirman, artinya, Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. 8:27) Berdasar ayat ini, khianat ada tiga macam:

Khianat terhadap hak-hak Allah swt, yang paling besar adalah kufur dan syirik kemudian setelah itu disusul dengan fusuq (kefasikan) dan ‘ishyan (kemaksiatan).Tauhid,shalat, puasa, ikhlas,zakat, ruku’,sujud,mandi janabah adalah contoh amanat seorang hamba di hadapan Allah swt, yang harus ditunaikan dengan benar dan tidak boleh dikhianati. Khianat terhadap hak-hak Rasul saw, yaitu dengan meremehkan sunnahsunnah dan pengajarannya, ghuluw (berlebihan) di dalam mengagungkan beliau, meninggalkan sunnah dan melakukan bid’ah atau membuat halhal baru di dalam agama padahal tidak pernah diajarkan oleh beliau saw. Khianat terhadap hak-hak sesama manusia, seperti khianat di dalam harta, kehormatan atau nasihat terhadap mereka. Amanah terhadap sesama manusia amat banyak, diantaranya adalah amanat anak,orang tua, kerabat,suami-istri, tetangga,amanah dalam jual beli, berbicara, pekerjaan, ilmu, nasihat, dan lain sebagainya.

Semoga Allah menolong kita semua untuk dapat melaksanakan amanah kehidupan ini, amin. Wallahu a’lam bish shawab. Sumber: ”Al-Amanah, mafhumuha,shuwaruha,tsamaratuha.” Asma’ binti Rasyid ar- Ruwaisyid.

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=528&bagian=0 Rabu, 24 Maret 2004 09:51:10 WIB Kategori : Hadits LENYAPNYA AMANAT [1] Oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MUKADIMAH Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya. Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang nampak.

________________________________ LENYAPNYA AMANAT Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : 'Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kedatangan hari kiamat.' Abu Hurairah bertanya, Bagaimana menyia-nyiakannya itu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab. Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari kiamat". [Shahih Bukhari, kitab Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11: 333]. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana amanat itu dihilangkan dari hati manusia, hingga tinggal bekas-bekasnya saja. Hudzaifah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, katanya : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan kepadaku dua buah hadits, yang satu telah saya ketahui dan yang satu masih saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami bahwa amanat itu diturunkan di lubuk hati manusia, lalu mereka mengetahuinya dari Al-Qur'an, kemudian mereka ketahui dari As-Sunnah. Dan beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan hilangnya amanat itu, sabdanya : "Artinya :Seseorang tidur, lantas amanat dicabut dari hatinya hingga tinggal bekasnya seperti bekas titik-titik yang berwarna. Lalu ia tidur lagi, kemudian amanat itu dicabut lagi hingga tinggal bekasnya seperti bekas yang terdapat pada telapak tangan karena digunakan bekerja, seperti bara api yang engkau gelincirkan di kakimu, lantas melepuh tetapi tidak berisi apa-apa. Kemudian mereka melakukan jual beli atau transaksi-transaksi, tetapi hampir tidak ada lagi orang yang menunaikan amanat. Maka orang-orangpun berkata. 'Sesungguhnya di kalangan Bani Fulan terdapat orang kepercayaan (yang dapat

dipercaya)'. Dan ada pula yang mengatakan kepada seseorang. 'Alangkah pandainya, alangkah cerdasnya, alangkah tabahnya', padahal dalam hatinya tidak ada iman sama sekali meskipun hanya seberat biji sawi. Sungguh akan datang padaku suatu zaman dan aku tidak memperdulikan lagi siapa di antara kamu yang aku ba'iat. Jika ia seorang muslim, hendaklah dikembalikan kepada Islam yang sebenarnya ; dan jika ia seorang Nasrani maka ia akan dikembalikan kepadaku oleh orang-orang yang mengusahakannya. Adapun pada hari ini maka aku tidak memba'iat kecuali kepada si Fulan dan si Fulan". [Shahih Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11:333, dan Kitab Al-Fitan, Bab Idza Baqiya Fi Khutsalatin Min An-Nasi 13:38] Dalam hadits ini dijelaskan bahwa amanat akan dihapuskan dari hati sehingga manusia menjadi penghianat setelah sebelumnya manjadi orang yang dapat dipercaya. Hal ini terjadi pada orang yang telah hilang perasaan takutnya kepada Allah, lemah imannya, dan biasa bergaul dengan orang-orang yang suka berbuat khianat sehingga ia sendiri menjadi penghianat, seorang teman itu akan mengikuti yang ditemani. Diantara gambaran hilangnya amanat itu ialah diserahkannya urusan orang banyak seperti urusan kepemimpinan, ke khalifahan, jabatan, peradilan, dan sebagainya kepada orang-orang yang bukan ahlinya yang tidak mampu melaksanakan dan memeliharanya dengan baik. Sebab menyerahkan urusan tersebut kepada yang bukan ahlinya berarti menyia-nyiakan hak orang banyak, mengabaikan kemaslahatan mereka, menimbulkan sakit hati, dan dapat menyulut fitnah di antara mereka. [Qabasat Min hadyi Ar-Rasul Al-A'zham Saw Fi Al-Aqa'id, halaman 66 karya Ali Asy-Syarbaji. cetakan pertama 1398H, terbitan Darul Qalam, Damsyiq] Apabila orang yang memegang urusan orang banyak ini menyia-nyiakan amanat, maka orang lain akan mengikuti saja segala kebijaksanaannya. Dengan demikian mereka akan sama saja dengannya dalam mengabaikan amanat, maka

kemaslahatan (kebaikan) pemimpin atau penguasa merupakan kebaikan bagi rakyat, dan keburukannya merupakan keburukan bagi rakyat. Selanjutnya, menyerahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya merupakan bukti nyata yang menunjukkan tidak adanya kepedulian manusia terhadap Din (agama) mereka, sehingga mereka menyerahkan urusan mereka kepada orang yang tidak memperhatikan Din-nya. Hal ini terjadi apabila kejahilan telah merajalela dan ilmu (tentang Ad-Din) sudah hilang. Karena itulah Imam Bukhari menyebutkan hadits Abu Hurairah terdahulu itu dalam kitab Al-Ilm sebagai isyarat terhadap hal ini. Ibnu Hajar berkata. "Kesesuaian matan (masalah akan lenyapnya amanat) ini dengan ilmu hingga ditempatkan dalam kitab Al-Ilm ialah bahwa menyandarkan urusan kepada yang bukan ahlinya itu hanya terjadi ketika kebodohan telah merajalela dan ilmu ( tentang Ad-Din) telah hilang. Dan ini termasuk salah satu pertanda telah dekatnya hari kiamat". [Qabasat Min Hadyi Ar-Rasul Al-A'zham Saw Fi Al-'Aqaid, hal. 66 oleh Ali Asy-Syarbaji, cet. pertama, 1398H, terbitan Darul Qalam, Damsyiq]. Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa kelak akan datang tahun-tahun yang penuh tipu daya dan keadaan mejadi terbalik. Yaitu orang yang benar didustakan dan orang yang suka berdusta dibenarkan, orang yang dipercaya berkhianat, dan pengkhianat diberi amanat, sebagaimana akan dibicarakan haditsnya dalam pembahasan mengenai "Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah dimuliakannya orang-orang yang rendah dan hina (dari segi Ad-Din dan ahlaknya)". [Disalin dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat terbitan Pustaka Mantiq, hal. 99-101.Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.]

_________
Foote Note [1] Amanat merupakan kebalikan dari khianat. Kata amanat ini disebutkan dalam Al-Qur'an. "Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengembankan amanat kepada langit, bumi, dan gununggunung, namun semuanya tidak bersedia, karena takut menghianatinya, lalu amanat itu diterima oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi sangat bodoh". [Al-Ahzab : 72]

http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1157&PHP SESSID=7823a...%3Fref%3Dhikayee.net

Pemimpin Yang Amanah 23-4-2007 Oleh : AHMAD NURCHOLISH Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda: “Apabila amanat telah disia-siakan maka tunggulah saatnya.” Ditanya orang: “Bagaimana sia-sianya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat [kehancurannya].” (HR. Bukhari). Alkisah, Abdullah Rasulullah saw. Tetapi ketika amirul mukmin Umar bin Khaththab menderita sakit, dan membentuk satu komisi yang diketahui oleh Abdurrahman bin Auf untuk mencari Khalifah pengganti beliau, Abdullah bin Umar justru hanya diizinkan untuk menjadi pendengar saja saat komisi bersidang. Seseorang mengusulkan agar anaknya itu turut dicalonkan pula untuk menggantikan Umar. Tetapi Umar menolak dengan keras. Bagi Umar, meski Abdullah, anaknya, tekun dan khusuk dalam beribadah, belum tentu ia akan sanggup memegang amanat pemerintahan. Bahkan, Umar malah memanggil dan menasehati anaknya, Abdullah, agar selama hidupnya dia jangan menuntut amanah yang tidak bisa dipikulnya itu. bin Umar terkenal sangat tekun dalam beribadah. Kekhusukannya diakui oleh sahabat-sahabat serupa benar dengan salatnya

Abdullah bin Umar pun tahu diri, sehingga bertahun-tahun kemudian, setelah terjadi perang saudara di antara Ali dengan Mu’awiyah, karena Mu’awiyah hendak merebut hak kepemimpinan itu, Umar tak memihak salah satu pihak. Tampaknya, Umar sangat memahami betul hadis di atas. Hadits yang terdapat dalam Shahih Imam Bukhari ini menjadi petunjuk bagaimana seorang muslim harus memberikan jabatan, kedudukan kepada mereka yang betul-betul memiliki keahlian tentang itu, juga dapat dipertanggungjawabkan keamanahannya. Ibnu Taimiyah pun dalam kitabnya As-Siatusy-Syariyah mengatakan bahwa wajiblah atas penguasa menyerahkan suatu tugas dari tugas-tugas kaum muslimin kepada orang yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan itu. Dengan dasar itu, Hamka (1983:123 – 124) menekankan bahwa menjadi tanggungjawab bagi imam kaum muslimin meletakkan suatu amanat pada ahlinya, yang sesuai dengan kesanggupan dan bakatnya. Bahkan, merujuk pada hadis di atas, Hamka juga melarang seorang pemimpin hanya mementingkan keluarga atau golongan, sedang mereka itu tidak ahli di bidangnya. Sebab itu adalah khianat kepada Allah dan Rasul serta orang yang beriman. Bagi Hamka, menyia-nyiakan amanat adalah khianat. Mengkhianati amanat adalah salah satu karakter orang munafik. Menerima satu amanat untuk menghianatinya adalah satu penipuan. Kata-kata amanat satu rumpun dengan kata aman. Kalau tiap orang memegang amanatnya dengan benar akan amanlah negeri dan bangsa ini. Kata amanat juga bersaudara dengan iman. Iman kita pahami sebagai kepercayaan dan amanat ialah bagaimana melancarkan iman itu. Dan simpulan amanat ialah amanat Allah kepada insan manusia, agar mengikuti kebenaran yang dibawa oleh para Rasul. Dalam konteks manusia sebagai khalifah (wakil/deputi) Allah, mulanya amanat itu pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun semuanya menolak karena merasa berat memikulnya.

Maka tampillah insan (manusia) ini ke muka untuk memikul amanat itu. Sayangnya, manusia selalu abai, khianat, tidak bertanggungjawab dan tidak berterimakasih (QS. Al-Ahzab/33:72). Oleh sebab itu, karena setiap kita adalah pemimpin (paling tidak pemimpin bagi keluarga, organisasi, atau diri sendiri), maka merefleksikan kembali hadis di atas merupakan langkah awal untuk merealisasikan keamanahan kita sebagai pemimpin. Wallahua’lam.[]

http://eramuslim.com/atk/oim/43c20d8d.htm

Pejabat yang Sederhana
12 Jan 06 10:16 WIB Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa' Kini, di manakah Presiden baru Iran tinggal? Tetap di rumahnya yang jelek (dinding luarnya masih bata, belum ditembok) di kawasan Tehran timur. Petugas keamanan terpaksa membuat posko keamanan di ujung jalan, mendata semua tetangga termasuk sanak famili mereka, sehingga orang-orang yang keluar masuk jalan kecil itu bisa dimonitor. Terakhir, mau tahu apa isi press release pertama Presiden Iran yang baru terpilih itu? Isinya: Semua pihak dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan semua kantor dilarang memasang foto presiden! Itulah sepenggal cerita yang saya baca di sebuah milis, kiriman seorang warga Indonesia yang tinggal di Iran, tentang kesederhanaan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Membaca milis itu, saya jadi teringat dengan kisah-kisah kesederhanaan para pemimpin Islam di masa lalu. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib misalnya, saat beliau memegang tampuk pemerintahan kaum Muslimin di Kufah, kaum Muslim hidup berkecukupan karena pajak dan harta rampasan dari negara-negara yang berhasil ditaklukan melimpah ke negerinya. Umat Islam tidak kekurangan makanan dan berpakaian serba indah. Namun sang pemimpin Ali bin Abi Thalib tetap mengenakan pakaian tua yang sudah lusuh dan penuh tambalan. Ketika ditanya mengapa beliau berpakaian seperti itu, Ali bin Abi Thalib menjawab,"Dengan pakaian seperti ini hati merasa takut dan pikiran merasa

sederhana. Sesungguhnya, dunia ini dan akhirat nanti saling bermusuhan dan arah jalannya berbeda. Barang siapa mencintai dunia, akan membenci akhirat dan menjadi musuhnya. Keadaan ini ibarat Timur dan Barat. Apabila seseorang berjalan mendekati yang satu, maka ia akan menjauh dari yang lainnya..." Perkataan Amirul Mukminin ini mengisyaratkan, bahwa beliau sangat berhatihati menggunakan harta negara. Meski sebagai pemimpin bisa saja beliau membelanjakan harta negara itu untuk keperluan dirinya, namun kesederhanaan hidup beliau mencegahnya melakukan hal itu. Mengingat kisah-kisah semacam ini, membuat saya tersenyum getir. Bukan karena saya kasihan sama Ahmadinejad yang tembok rumahnya saja belum diplester bahkan sepatunya saja sudah agak 'bulukan'. Tapi karena saya teringat dengan kiprah para pejabat di negara saya sendiri yang malah jadi kaya begitu memegang jabatan. Jabatan bukan lagi dianggap sebagai amanah rakyat tapi dijadikan alat untuk menguras harta negara bahkan harta yang seharusnya menjadi hak rakyat. Saya tidak yakin, kalau pada saat ini ada pejabat negara di negeri ini yang rumahnya belum diplester seperti rumah Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau mengenakan sepatu yang sudah 'kusam' seperti sepatunya Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau berpakaian sesederhana Ali bin Abi Thalib. Yang sering kita lihat justru para pejabat yang meributkan kenaikan tunjangan jabatan, kenaikan gaji, saat pemerintah baru saja menaikkan BBM yang membuat rakyat miskin menjerit. Saya kadang berfikir, tidak punya rasa empatikah pejabat negara ini atas penderitaan rakyatnya? Tidakkah mereka membaca koran yang setiap hari memuat berita anak-anak yang menderita gizi buruk, busung lapar, bahkan anak-anak yang bunuh diri karena malu hanya karena tidak mampu beli seragam pramuka dan tidak mampu membayar uang sekolah? Saya cuma bisa mengelus dada tiap kali membaca atau menyaksikan berita-berita semacam itu di media massa. Sedemikian parahnyakah kemiskinan yang menimpa bangsa saya? Sementara para pejabatnya begitu mudahnya mendapatkan uang negara dengan dalih studi banding ke luar negeri, uang tunjangan jabatan, kenaikan gaji dan sebagainya.... Menyedihkan memang. Tugas menjadi pejabat negara memang berat tapi haruskah dihargai dalam bentuk materi yang berlebihan? Bukankah seorang pengemban amanah rakyat justru harus rela berkorban dan memilih sensitifitas yang lebih tinggi atas kesulitan masyarakat di sekitarnya? Rasanya akan terlalu panjang pertanyaan yang akan dilontarkan jika kita melihat ketimpangan semacam ini. Namun, bisa jadi semua itu karena sebagian pejabat kita enggan untuk hidup sederhana dan kurang bisa merasakan kesulitan rakyat. Kelebihan harta sudah mengubah gaya hidup dan membuat mereka lupa akan idealisme serta cita-cita mulia sebagai pengayom rakyat. Melihat kondisi semacam ini, benarlah apa sabda Baginda Nabi Muhammad Saw, "Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini padamu." (HR Bukhari dan Muslim)

Ya, kemewahan dan gemerlapnya dunia kadang membuat manusia lupa bahwa masih banyak orang yang hidupnya termarjinalkan karena kesulitan ekonomi yang melilit. Padahal Allah swt dalam surat At-Takasur mengingatkan bahwa "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur," dan di akhir surat itu Allah Swt berfirman,"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)." Dalam suratnya yang lain, Allah mengingatkan..".. Makan dan minumlah tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS 7: 31) Islam selalu menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Karena kesederhanaan bisa menghapus jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Alangkah indahnya, jika para pejabat kita juga mau memberi contoh untuk hidup sederhana, apalagi mereka digaji dari uang rakyat. Dalam konteks sekarang ini, mungkin mereka bisa mencontoh kesederhanaan Ahmadinejad, Presiden Iran itu. Wallahualam.*** (rubina_zalfa@yahoo.com)

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2004&bagian=0

Kamis, 21 Desember 2006 06:28:58 WIB Kategori : Adab Dan Perilaku MENYAMPAIKAN KEBAIKAN DAN MELAKSANAKAN AMANAT Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian karyawan dan pekerja tidak memberikan porsi yang cukup pada pekerjaan mereka. Di antara mereka ada yang sudah setahun bahkan lebih, tidak pernah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta sering terlambat bekerja dengan

mengatakan, "Saya telah diizinkan oleh atasan, jadi tidak apa-apa." Untuk orang yang semacam itu, apakah ia berdosa selama ia masih tetap begitu? Kami mohon fatwanya. Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan. Jawaban Pertama, yang disyari'atkan atas setiap muslim dan muslimah adalah menyampaikan apa-apa yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala mendengar kebaikan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. "Artinya : Allah mengelokkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu disampaikannya sebagaimana yang ia dengar."[1] Dalam sabdanya yang lain disebutkan, "Artinya : Sampaikanlah apa yang berasal dariku ivalaupun hanya satu ayat."[2] Apabila beliau menasehati dan mengingatkan manusia, beliau selalu berpesan, "Artinya : Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Sebab, banyak yang menyampaikan lebih sadar daripada yang hanya mendengar."[3] Karena itu, saya wasiatkan kepada anda semua untuk menyampaikan kebaikan yang anda dengar berdasarkan ilmu dan kemantapan. Sebab, setiap yang mendengar suatu ilmu dan menguasainya, hendaknya menyampaikannya kepada keluarganya, saudara-saudaranya dan teman-temannya selama ia melihat adanya kebaikan dengan tetap memelihara kemurnian materinya dan tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak dikuasainya, sehingga dengan begitu ia termasuk orang-orang yang saling berwasiat dengan kebenaran dan termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan.

Kemudian tentang para karyawan yang tidak melaksanakan tugas mereka atau tidak saling menasehati dalam hal tersebut, anda semua telah mendengar, bahwa di antara karakter keimanan adalah melaksanakan amanat dan memeliharanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala "Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya " [An-Nisa': 58] Amanat merupakan karakter keimanan yang paling utama, sementara khianat merupakan karakter kemunafikan, hal ini sebagaimana dinyatakan Allah saat menyebutkan sifat-sifat kaum mukminin, "Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya." [Al-Mu'minun: 8, Al-Ma'arij: 32] Kemudian dalam ayat lainnya disebutkan, "Artinya : Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." [Al-Anfal : 27] Karena itu, seorang karyawan wajib melaksanakan amanat dengan jujur dan ikhlas serta memelihara waktu dengan baik sehingga terbebas dari beban tanggung jawab, dan dengan begitu pencahariannya menjadi baik dan diridhai Allah. Di samping itu, berarti ia loyal terhadap negaranya dalam hal ini, atau terhadap perusahaan atau lembaga tempatnya bekerja. Itulah yang wajib atas seorang karyawan, yaitu hendaknya ia bertakwa kepada Allah dan melaksanakan amanat dengan sungguh-sungguh dan loyal, yang dengan begitu ia mengharapkan pahala dari Allah dan takut terhadap siksaNya. Hal ini sebagai pengamalan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

"Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yangberhak menerimanya." [An-Nisa' : 58] Di antara karakter kaum munafikin adalah mengkhianati amanat, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. "Artinya : Tanda orang-orang munafik ada tiga; Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat."[4] Seorang muslim tidak boleh menyerupai orang munafik, bahkan harus menjauhi sifat-sifatnya, tetap memelihara amanat dan melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh serta memelihara waktu dengan baik sekalipun ada toleransi dari atasannya, dan walaupun tidak diperintahkan oleh atasannya. Hendaknya ia tidak mengabaikan tugas atau menyepelekannya, bahkan sebaliknya, ia bersungguh-sungguh sehingga lebih baik daripada atasannya dalam melaksanakan tugas dan loyalitasnya terhadap amanat, lalu menjadi teladan yang baik bagi karyawan lainnya. [Majalah Al-Buhuts At-lslamiyyah, edisi 31, hal. 115-116, Syaikh Ibnu Baz] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerbit Darul Haq] __________
Foote Note [1]. Hadits Riwayat. At-Tirmidzi dalam Al-Ilm (2657), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (232). [2]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Ahadits Al-Anbiya (3461). [3]. Hadits Riwayat AI-Bukhari dalam Al-'Ilm(67), Muslim dalam Al-Qasamah (1679). [4]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam al-Iman (33), Muslim dalam al-Iman(59).

http://www.mail-archive.com/milis@opja.or.id/msg01633.html

Indra Jaya Sun, 11 Dec 2005 15:31:02 -0800

Lidah adalah amanat
Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orangorang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. "Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan katakata yang benar." (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam". (HR Bukhari-Muslim).Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya. Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butirbutir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena

lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya. Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya. Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat. Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas. Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak. Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan. Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. "Aduuuh ini

pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!" Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. "Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?" Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga. Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluhkesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di manamana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga dikeluhkan. Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikankebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita? Ada orang pakai cincin segera berkomentar, "Oh, itu sih mirip cincin saya." Ada orang beli mobil baru, "Nah, ini seperti yang di garasi saya itu." Ada kucing berbulu tebal melompat, "Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana." Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri. Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus layak

berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang. Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar. "Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat." (QS Al-Hujurat:12). Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk,yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca AlQuran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat. Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orangorang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius. Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan.

Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja! Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya. Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin. Wallahu a'lam bish shawab.

http://eramuslim.com/atk/oim/4405bf65.htm

Ujian Untuk Menjadi Lebih Mulia Oleh Hayati Rahmah Kata orang, hidup ini layaknya roda kehidupan. Kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Ada pula yang bilang hidup ini seperti ombak di pantai. Kadang tenang, namun tak jarang pula menghantarkan gelombang yang begitu kencang. Apa pun perumpamaan manusia terhadap kehidupan ini, intinya adalah hidup ini takkan setenang air di dalam kolam. Akan ada goncangangoncangan, hambatan-hambatan, dan ujian-ujian yang bermacam-macam bentuknya. Terkadang manusia seringkali merasa tidak mampu untuk menghadapi cobaancobaan hidup. Bahkan banyak pula yang tak menyadari bahwa semua nikmat dan semua ujian itu hanya berasal dari satu sumber. Semua itu berasal dari pemilik seluruh jiwa-jiwa manusia dan penguasa seluruh hati-hati manusia, yaitu Allah, Sang Maha Kuasa. Parahnya, ada juga yang menyesali diri sendiri, menganggap nasib diri terlalu sial, sehingga tak pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidup.

Mungkin anda pernah dengar cerita sebuah cangkir cantik yang dipajang di sebuah etalase toko. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang sama sekali tidak dihiraukan orang. Kemudian seorang pengrajin mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di dalam perapian. Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan. Tak sampai di situ, ia harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi, setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. * Mungkin kita sebagai manusia, seringkali berpikir seperti tanah liat tadi. Ujianujian yang mendatangi di setiap detik kehidupan selalu ditanggapi dengan ketidaksabaran, keluh kesah, dan ketidakikhlasan. Tak jarang mungkin di antara kita merasa terlalu dibebani dengan amanah-amanah, merasa hanya diri sendiri yang diberi ujian, sedang orang lain bisa bersenang-senang, dan ada juga yang justru berhenti dan tidak mau lagi berbuat karena merasa terlalu lelah, fatigue, dan kecewa. Belum lagi kondisi lingkungan, keluarga, dan temanteman yang seringkali cuek, tidak perduli, dan sibuk dengan urusan masingmasing. Tapi cobalah kita lihat kisah si gelas cantik tadi. Lihatlah, betapa setelah semua proses berlalu, seonggok tanah liat telah menjadi sebuah gelas cantik. Betapa indahnya perubahan itu. Saat ini anda mungkin sedang diuji berbagai macam masalah, mulai dari masalah di keluarga, orang tua, teman-teman, tempat kerja, bahkan amanah dakwah sekalipun, tapi percayalah bahwa Allah sedang membentuk anda. Bisa jadi anda tidak menyukai bentukan itu, tapi anda harus sabar. Bukankah selalu ada kemudahan setelah kesusahan? Ingat, awan tak selamanya mendung, sekali waktu ia akan cerah berawan menaungi langit. Bahkan angin topan pun tak selamanya meniupkan angin kencangnya, pada waktunya ia akan tenang dan reda kembali. Dulu, seorang teman pernah bilang, kalau merasa diri sedang mendapatkan ujian yang begitu berat, berbaik sangkalah kepada diri sendiri dan kepada Allah. Ingat bahwa Allah selalu menurut persangkaan hamba-Nya. Anggap saja saat diuji dengan berbagai masalah, anda sedang dalam masa ujian layaknya anak sekolah. Untuk bisa naik tingkat, harus ada ujian untuk menguji kesiapan. Makin tinggi tingkat, makin tinggi pula level kerumitan ujian yang diberikan. Percayalah, kalau anda berhasil menghadapi ujian ini, anda akan berhasil naik tingkat di mata Allah, menjadi mukmin sejati. Allah tidak akan memberikan suatu ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Kalau Allah saja yakin kita mampu, masa kita sendiri tidak yakin dengan kemampuan diri? Buat saudara-saudaraku yang saat ini sedang diuji oleh Allah, apapun bentuk ujian itu, bergembiralah dan bersabarlah. Bergembira karena ujian berarti

Allah masih peduli dan sayang kepada kita, untuk itu ia memberikan ujian agar kita lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mulia. Allah ingin kita menjadi lebih baik di hadapan-Nya. Setelah itu, bersabarlah karena sesungguhnya kesabaran akan membuahkan ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan sungguh Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Bersabarlah, karena Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang beriman, justru manusia lah yang seringkali meninggalkan sang penciptanya. Apakah yang diperoleh orang-orang yang telah kehilangan Allah dari dalam dirinya? Dan apakah yang harus dicari oleh orang-orang yang telah menemukan Allah di dalam dirinya? Sungguh antara yang pertama dan kedua tidak akan pernah sama. Orang kedua akan mendapatkan segalanya, dan orang pertama akan kehilangan segalanya. ** Wallahualam *kisah disadur dari buku “Kekuatan Cinta” **disadur dari buku “La Tahzan!”

http://www.mailarchive.com/tamanbintang@yahoogroups.com/msg00541.html

Terapi Amanah
agussyafii Wed, 16 Aug 2006 02:13:14 -0700 Dalam Bahasa Arab, kalimat amanah dapat diartikan sebagai titipan, kewajiban, ketenangan, kepercayaan, kejujuran, dan kesetiaan. Dalam al Qur'an amanah disebut dalam beberapa konteks, pertama: sebagai tanggung jawab pengelolaan (Q/33:72), sebagai hutang atau janji yang harus ditunaikan (Q/2:283), sebagai tanggung jawab keadilan pemegang kekuasaan (Q/4:58), sebagai kesetiaan kepada tugas yang diemban (Q/8:27), sebagai karakter pribadi yang penuh kejujuran dan tanggungjawab (Q/23:8). Dalam hadis pernikahan, amanah disebut dalam kontek komitmen suci dalam kontrak perjanjian. Kata dasar amanah mempunyai pertalian dengan kata iman dan aman. Dari pengertian bahasa dan dari pemahaman tematik al Qur'an dan

hadis, amanah dapat difahami sebagai sikap mental yang didalamnya terkandung unsur kepatuhan kepada hukum, tanggung jawab kepada tugas, kesetiaan kepada komitmen, keteguhan dalam memegang janji, kesucian dalam tekad dan kejujuran kepada diri sendiri. Sikap mental amanah harus berdiri diatas pondasi keimanan, dan dengan itu akan tumbuh rasa aman, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi orang lain. Budaya amanah adalah perilaku yang bersendikan kepatuhan kepada moralitas agama, kepada moralitas hukum, tanggung jawab vertikal dan horizontal dan kejujuran kepada diri sendiri, serta kesadaran atas implikasi dari suatu keputusan. Kebudayaan adalah nilai-nilai, norma dan konsep yang dimiliki masyarakat, yang dijadikan sebagai acuan mereka dalam berkehidupan sehari-hari, menyangkut ekonomi, politik, sosial dan budaya dari suatu masyarakat. Kebudayaan ada yang dianut oleh entitas sosial yang sempit tetapi ada juga kebudayaan yang dianut oleh suatu bangsa dan ada yang dianut oleh masyarakat international. Sifat amanah harus ada dalam memori setiap warga, sehingga tak pernah terlintas fikiran buruk, fikiran menyimpang dari semestinya. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, etnik, bahasa dan budaya yang kemudian menyatukan diri dalam ikatan kebangsaan dengan tetap menghormati kebudayaan masing-masing, disebut Binneka Tunggal Ika. Dalam perjalanan sejarahnya, komitmen Binneka Tunggal Ika tidak selalu dihormati. Pada masa Orde Baru misalnya kecenderungan Pemerintah untuk menyeragamkan kebudayaan bangsa telah meruntuhkan fungsi keragaman budaya sebagai kekuatan persatuan. Akibatnya ketika orde baru tumbang, keragaman budaya yang semula menjadi pemersatu berubah menjadi ancaman disintegrasi. Ketika bangsa mengalami krisis kepemimpinan nasional, ketika infrastruktur kebudayaan yang konvensional tidak lagi efektif digunakan, ketika semua teori tidak lagi relefan untuk menganalisis persoalan, ketika kebuntuan melanda hampir seluruh saluran pemecahan masalah, diperlukan satu langkah terobosan yang menyentuh simpulsimpul yang tepat. Masyarakat Indonesia, betapapun adalah masyarakat yang religious. Telah teruji berkali-kali, setiap kali bangsa berada di tubir kehancuran, kesadaran beragama menyeruak ke atas dengan berbagai simbolnya. Zaman keterbukaan memberi peluang kepada seluruh lapisan masyarakat mengemukakan ekpressi pemikirannya. Situasi ini memberi peluang sifat religiousitas masyarakat untuk bertemu dalam titik kesamaan dengan tetap menghargai perbedaan. Karakteristik amanah adalah satu diantara sedikit hal yang bisa mempersatukan kiblat bangsa, karena amanah bersifat universal. Oleh karena itu membangun

kembali keluarga besar bangsa Indonesia dengan membudayakan amanah merupakan gagasan yang sangat relevan.

Proses pembudayaan suatu nilai lazimnya membutuhkan waktu yang panjang dan proses yang alami, tetapi dalam keadaan dimana masyarakat dalam keadaan bingung dan membutuhkan alternatif, pembudayaan suatu nilai dapat dilakukan dengan metode Gerakan. Wassalam, agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com

http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/KisahRasul/ 20041012145643/Article/pp_index_html

Nabi Zulkifli amanah, penyabar
Oleh Idris Musa idris@hmetro.com.my NABI seterusnya, Zulkifli, anak Nabi Ayub. Nama sebenarnya Basyar, tetapi diberi gelaran Zulkifli kerana beliau seorang saja yang tampil untuk menyatakan kesanggupan melaksanakan amanah raja di negerinya. Zulkifli bermaksud sanggup menjalankan amanah raja. Menurut cerita, raja di negeri itu sudah lanjut usia dan ingin mengundurkan diri daripada menjadi pemerintah, tetapi beliau tidak mempunyai anak. Justeru, raja itu berkata di khalayak ramai: “Wahai rakyatku! Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada waktu malam. Selain itu, sentiasa bersabar ketika menghadapi urusan, maka akan aku serahkan kerajaan ini kepadanya.” Tiada seorang pun menyahut tawaran raja itu. Sekali lagi raja berkata: “Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada malamnya serta sanggup bersabar?”

Sejurus itu, sahut seorang pemuda bernama Basyar dengan suara yang lantang: “Aku sanggup.” Dengan keberanian dan kesanggupan Basyar melaksanakan amanah itu beliau diberi gelaran Zulkifli. Beliau adalah nabi yang cukup sabar seperti firman Allah, bermaksud: “Ismail, Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan Kami beri rahmat kepada semua kerana mereka orang yang suka bersabar.” Kemudian Zulkifli menggantikan raja yang sudah tua itu. Pada waktu siang beliau berpuasa, tetapi tidak pernah melupakan urusan pemerintahan, malah melayani rakyatnya dengan baik. Pada waktu malam, beliau memanfaatkannya dengan beribadah kepada Allah. Satu hari, syaitan yang menyerupai manusia datang kepadanya ketika beliau tidur. Kedatangan tetamu (syaitan) itu kononnya untuk menyelesaikan urusan dengan raja (Zulkifli), tetapi tujuan sebenar mahu menggoda. Kedatangannya disambut wakil Zulkifli kerana waktu itu beliau mahu tidur. Tetapi tetamu itu tidak mahu disambut wakilnya, lalu didesak supaya terus dapat berjumpa dengan beliau. Disebabkan tetamu itu tidak mahu beredar, malah meminta urusannya diselesaikan segera, Zulkifli keluar menemuinya. Selesai urusan itu, tetamu berkenaan terus beredar. Zulkifli baru menyedari tetamu itu adalah syaitan yang mahu menggodanya. Walaupun mengetahui tetamu itu syaitan, beliau tidak marah, malah tetap bersabar. Satu hari berlaku pula peperangan di negeri itu membabitkan orang yang derhaka kepada Allah. Raja Zulkifli memerintahkan rakyatnya supaya menghadapi tentangan orang derhaka itu, tetapi dibantah. Rakyatnya berkata: “Wahai raja, kami takut berperang kerana kami masih mahu hidup. Jika kamu minta kepada Allah untuk menjamin hidup kami, baru kami mahu berperang.” Mendengar perkataan rakyatnya itu, Zulkifli berdoa: “Ya Allah, aku menyampaikan risalah Tuhan kepada mereka, menyuruh mereka berperang, tetapi mereka mempunyai permintaan. Sesungguhnya Allah mengetahui permintaan mereka.” Tidak lama selepas itu, Allah menurunkan wahyu: “Wahai Zulkifli, Aku (Allah) telah mengetahui permintaan mereka dan Aku mendengar doamu. Semuanya Aku akan kabulkan.” Nabi Zulkifli digolongkan dalam al-Quran sebagai orang yang sabar dan soleh.

Firman Allah bermaksud: “Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Zulkifli. Semuanya orang yang paling baik.” Zulkifli yang dinyatakan melalui al-Quran itu bukannya Kifli seperti dinyatakan dalam sebuah hadis (hasan) yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmizi, iaitu: “Kifli yang berasal dari kalangan Bani Israel tidak menjaga diri daripada dosa. Ada seorang wanita muda datang kepadanya, lalu Kifli memberi wang 60 dinar kepadanya dengan maksud wanita itu setuju disetubuhi. Setelah Kifli siap melakukan persetubuhan itu selayak seorang suami ke atas isteri, tiba-tiba wanita itu gementar dan menangis. Kifli bertanya kepada wanita itu: “Kenapa kamu menangis? Apakah kamu tidak mahu? Wanita itu menjawab: “Tidak, tetapi perbuatan seperti itu aku belum pernah lakukan dan aku mahu lakukannya kerana ada keperluan yang mendesak.” Kifli berkata: “Jadi, baru kali ini kamu melakukan perbuatan seperti itu. Sebelum ini kamu belum pernah melakukannya.” Kemudian Kifli melepaskan wanita itu dan berkata: “Pergilah kamu dan bawalah dinar yang telah aku berikan kepadamu. Kemudian Rasulullah bersabda:, “Demi Allah, Kifli tidak melakukan maksiat terhadap Allah selamanya. Selepas itu Kifli meninggal dunia pada waktu malam dan di pintunya tertulis, Allah memberikan keampunan kepada Kifli.” Mengikut teori pada sanad hadis itu, Kifli yang diceritakan dalam hadis berkenaan bukan Zulkifli kerana ia menyebut perkataan Kifli saja, dengan tidak mengaitkan perkataan lain yang merujuk pada Zulkifli. Nabi Zulkifli mempunyai rakyat yang ramai dan berusia lanjut hingga negerinya padat dan menghadapi masalah bekalan makanan. Selepas itu, rakyatnya yang panjang usia meminta Nabi Zulkifli supaya ditentukan ajal. Zulkifli meninggal dunia pada usia 75 tahun. Beliau seorang nabi dan raja terkenal dengan sikap sabar dan tidak marah. Beliau juga mematuhi janji dan segala amanah yang diserahkan raja terdahulu hingga dapat memimpin kaumnya dengan baik.

©The New Straits Times Press (M) Berhad

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=370

Artikel Buletin An-Nur : Amanah Berkarya Rabu, 15 Maret 06 Pembicaraan kita mengenai tema ini dilatarbelakangi banyaknya manusia yang telah mengabaikan tugas di dalam bekerja. Semoga Allah subhanahu wata’ala mendatangkan manfaat melalui tulisan ini kepada penulis, karyawan, dan pembaca budiman. Di dalam tema ini dibahas tentang cara menunaikan tugas dengan benar, sehingga tepat waktu, produktif, dan menghasilkan pekerjaan yang memuaskan (efisien dan efektif). Introspeksilah, bagaimana kondisi diri kita yang sebenarnya dalam hal ini? Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa telah terjadi taqshir (keteledoran) di dalam bertugas/berkarya. Hal ini juga terjadi pada orang-orang yang menyangka bahwa diri mereka tidak melakukan hal demikian (lalai dalam bertugas). Perhatikan, terdapat sebagian karyawan yang datang terlambat beberapa jam, namun pulang lebih awal. Waktu yang tersisa (di tempat kerja) dihabiskan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, atau ngobrol dengan teman-temannya, sehingga tugas yang diamanahkan kepadanya terabaikan. Sebagian karyawan ada yang selalu mencari-cari alasan kepada atasannya agar diberi izin keluar. Terdapat juga sebagian karyawan yang lain hanya karena melihat atasannya keluar, dia pun ikut keluar dan meninggalkan pekerjaannya. Sungguh masih banyak contoh-contoh negatif lainnya yang menyebabkan tugas sebagai satu amanah telah diabaikan. Intropeksilah apakah contoh perilaku di atas dibenarkan, dan apakah hal itu sebagai bentuk berkhidmat pada ummat ini? Dan apakah hal ini sudah termasuk menunaikan amanah?! Tidak diragukan lagi, bahwa orang yang bersikap obyektif tentu akan menjawab, “Tidak!”. Kalau begitu, apakah penyebab dan jalan ke luar dari problem ini? Berikut ini beberapa penyebab terjadinya permasalahan di atas, yaitu: 1. Lemahnya perasaan takut kepada Allah subhanahu wata’ala dan lemahnya sikap muraqabatullah (merasa selalu diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala). 2. Terjadinya krisis keteladanan, baik dari pihak atasan maupun sesama karyawan. 3. Jarang menerapkan prinsip penghargaan dan sanksi secara tepat.

Adapun solusi untuk mengatasi sebab terjadinya permasalahan di atas adalah sebagai berikut:

Menanamkan keimanan yang kuat kepada Allah subhanahu wata’ala dan menumbuhkan sikap muraqabatullah pada diri para karyawan, baik ketika sendiri ataupun di tengah keramaian, serta menumbuhkan jiwa takut kepada Allah subhanahu wata’ala dalam setiap tindakan dan ucapan dan dalam setiap keadaan dan kondisi, baik dilihat orang lain ataupun tidak, sebab Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui yang rahasia maupun yang nyata dan Allah subhanahu wata’ala akan memberikan balasan kepada setiap manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, "Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk besok." (QS. AlHasyr: 18). Al-Mushthofa shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada" (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih”) Dengan kekuatan iman seperti ini, maka kebaikan seseorang akan bertambah dan amanah akan dia tunaikan, serta penyimpangan dan kemungkaran akan lenyap ataupun berkurang. Inilah yang kita ketahui dari sikap salah seorang salaf, dia berkata, "Jika Umar tidak melihatku, maka sesungguhnya Rabb Umar itu pasti melihatku". Demikianlah seharusnya kita bersikap dalam setiap waktu.

Hendaklah para pemimpin dan atasan memberikan keteladanan yang baik kepada bawahan dengan menjaga jam kerja tepat waktu, menyempurnakan pekerjaan lebih awal, berupaya dengan sungguhsungguh untuk perkembangan dan perbaikan. Sebab keteladanan dalam bentuk kerja nyata lebih berpengaruh dibandingkan dengan nasihat dalam bentuk ungkapan kata. Di antara contoh tentang hal ini adalah kisah Perjanjian Hudaibiyah, yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah selesai menulis perjanjian tersebut, beliau berkata kepada para shahabatnya, ”Berdirilah kalian, menyembelihlah dan cukurlah rambut kalian. Namun tiada seorang pun yang berdiri, hingga beliau mengucapkannya sampai tiga kali, namun tetap saja para shahabat belum melaksanakannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, kemudian beliau ceritakan hal itu kepadanya, lalu Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada beliau , "Wahai Nabi

Allah apakah anda menginginkan hal itu (dilakukan oleh mereka)? Keluarlah anda, kemudian janganlah berbicara apa pun kepada mereka, hingga anda menyembelih unta, lalu anda panggil tukang cukur untuk mencukur anda. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan tidak berbicara apa-apa kepada mereka lalu melakukan semua (saran Ummu Salamah) tersebut. Maka tatkala mereka melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat langsung berdiri dan menyembelih binatang ternak mereka, lalu sebagian mereka mencukur sebagian lainnya, sehingga hampir saja ada sebagian yang terbunuh oleh sebagian yang lainnya.” Ingatlah bahwa ucapan yang menyelisihi perbuatan akan memberikan dampak negatif. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala menging-kari hal tersebut dalam banyak ayat dan mencela pelakunya, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kalian mengucapkan apa-apa yang tidak kalian perbuat." (QS. Ash-Shaf: 2-3) Juga Dalam firman-Nya, artinya, "Mengapa kamu suruh orang lain (menger-jakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir." (QS. Al-Baqarah: 44)

Menerapkan prinsip keadilan di antara sesama manusia, serta memberikan hak setiap orang sesuai dengan haknya tanpa memandang siapa orangnya, karena keadilan itu dituntut untuk diterapkan kepada siapa saja, baik musuh maupun kawan, orang dekat maupun orang jauh. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. AnNahl: 90)

Menerapkan prinsip penghargaan dan sanksi kepada semua pihak, baik kepada orang kecil maupun kepada orang besar. Dengan menerapkan prinsip penghargaan itu, maka akan memotivasi pelakunya untuk lebih giat bekerja dan saling berlomba dalam hal itu. Dan dengan menerapkan prinsip sanksi itu, maka akan mencegah orang yang lalai dari kelalaiannya serta menjadi pelajaran bagi orang lain. Dan bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan sesuatu itu sia-sia. Dia menyediakan surga bagi hamba-hamba-Nya yang baik, dan Dia menyediakan neraka bagi hamba-hamba-Nya yang lalai dan kufur.

Dengan menegakkan prinsip sanksi itu, maka akan mencegah seseorang dari kelalaian yang belum tercegah oleh keimanannya sendiri. "Sesungguhnya Allah mencegah dengan seorang sulthan (pemimpin) sesuatu yang belum dicegah oleh Al-Qur`an," (Atsar ini dari Utsman radhiyallahu ‘anhu)

Syaikh Al'Utsaimin rahimahullah ditanya tentang masalah ini, yaitu tentang jam kerja karyawan/pegawai yang telah menjadi ketetapan resmi dari suatu instansi pemerintah (suatu perusahaan), lalu ada sebagian karyawan yang datang ke tempat kerja terlambat setengah jam atau 1 jam, dan sebagian lagi ada yang pulang lebih awal setengah jam atau 1 jam! Maka dijawab oleh beliau, "Secara lahir pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena upah itu sebanding dengan pekerjaan orang yang diupah, sebagaimana juga karyawan itu tidak akan rela haknya (gajinya) dikurangi oleh instansi pemerintah (perusahaan), maka janganlah dia mengu-rangi hak instansi pemerintah (perusahaan) tersebut. Oleh sebab itu seorang pegawai/karyawan tidak dibenarkan datang dan pulang di luar batas jam kerja resmi.” Sebagian lagi beralasan, memang di tempat kerja itu pada dasarnya ada pekerjaan tapi hanya sedikit. Jadi pada prinsipnya anda terikat dengan waktu kerja bukan dengan pekerjaan, seakan dikatakan pada anda, “Gaji anda sekian, anda harus hadir untuk bekerja dari jam sekian hingga jam sekian, baik ada pekerjaan ataupun tidak. Jadi selama gaji itu terikat dengan waktu kerja, maka anda harus memenuhi target jam kerja.” Sebagai kesimpulannya, maka saya nasehatkan: Ingatlah bahwa pekerjaan itu adalah amanah sebagaimana halnya shalat dan zakat, maka laksanakanlah pekerjaan tersebut dengan benar. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, ”Maka hendaklah yang dipercayai itu (yang diberi amanah) menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya.” (QS. AlBaqarah: 283), dalam ayat lain Dia juga telah berfirman, artinya, "Hai orangorang yang beriman tepatilah janjimu." (QS. al-Maidah: 1). Allah subhanahu wata’ala akan menanyakan tentang amanah tersebut nanti di hari Kiamat kelak, sebagaimana firman-Nya, "Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya". (QS. Ash-Shaaffat:24). Juga firman-Nya, artinya, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah:7-8). Sedangkan umat yang lain (non Islam) melakukan pekerjaan itu hanya

bermodalkan semangat nasionalisme, golongan (etnis), dan karena motivasi yang lainnya, lalu mereka memperoleh keuntungan hanya di dunia ini saja. Sedangkan kita, kaum muslimin, apabila bekerja dengan "baik", maka Allah subhanahu wata’ala sudah menyediakan bagi kita kebaikan untuk di dunia ini dan pahala untuk akhirat nanti. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Karena itu Allah memberikan pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran:148) (Isnain Azhar, Lc) Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1426.

http://forumjumat.multiply.com/journal/item/33

Ketika ‘Amanah’ dianggap ‘Ghanimah’.
(Refleksi dua tahun sunami) Oleh: Israk Ahmadsyah, M.Ec· Berat mata memandang, berat lagi untuk memikulnya. Bagitulah gambaran terhadap korban sunami yang sampai hari ini masih tinggal di kemah-kemah. Dua tahun telah berlalu, namun mereka masih belum tersentuh dengan baik. Fakta masih menunjukkan bahwa 70.000 korban sunami masih tinggal di barak. Membuat kita bertanya, apakah negeri ini tidak ada pemimpinnya? Atau apakah negeri ini tidak memiliki dana untuk membangun kembali? Ternyata bukan itu jawabannya, dan bukan itu pula persoalannya. Pemda dan BRR adalah lembaga utama yang diamanahkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ternyata, ada permasalahan yang sangat krusial yang dihadapi pemimpin Aceh (mereka-mereka yang memegang amanah) saat ini. Permasalahan itu adalah ketika amanah ternyata dikhianati. Amanah yang saat ini dipegang dalam bentuk jabatan baik dari pemerintah, negara donatur dan dari masyarakat ternyata lebih disikapi sebagai ‘ghanimah’. Padahal antara amanah dan ghanimah itu cukup berbeda. Amanah wajib dipertanggungjawabkan baik kepada masyarakat maupun kepada Allah SWT, manakala ghanimah itu adalah hasil rampasan perang yang bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Kenyataan pada saat ini, baik itu dana BRR, dana APBD, juga segala bantuan baik dari dalam maupun luar negeri seakan-akan diartikan dan diperlakukan sebagaimana harta rampasan perang. Negeri ini akan terus hancur jika para pemimpin dan masyarakatnya mengabaikan nilai-nilai amanah. Mari kita ambil pelajaran berharga dari hadis Rasulullah SAW. Abu Hurairah berkata: “Ketika Nabi SAW di dalam suatu majlis ilmu, maka datang seorang `arab badwi bertanya: "Kapankah hari kiamat?". Rasulullah SAW meneruskan ucapannya. Ada yang mengatakan "Baginda dengar (apa yang ditanya) tetapi baginda tidak suka apa yang ditanya". Sementara yang lain pula berkata "Bahkan baginda tidak mendengar". Apabila telah selesai ucapannya, baginda bertanya: "Manakah orang yang bertanya". Jawab (badui tersebut): "Saya di sini wahai Rasulullah". Baginda bersabda: "Apabila pupus nilai amanah maka tunggulah kiamat". Bertanya badwi tersebut: "Bagaimanakah hilang amanah itu ya Rasulullah". Sabda baginda: "Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Ternyata gambaran Rasulullah 1400 tahun yang lalu sangat sesuai menggambarkan tentang kehancuran Aceh saat ini baik sebelum ataupun sesudah sunami. Melalui sunami, Allah SWT telah banyak memberikan pelajaran yang cukup besar kepada kita. Sunami telah menghentikan kemaksiatan pembunuhan pada saat sebagian manusia (baik dari TNI & POLRI, GAM dan OTK) dengan tanpa alasan syar’i menghilangkan nyawa manusia lainnya. Seakan-akan ajaran dari baginda Rasulullah SAW untuk tidak membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat tidak pernah tersampaikan. Membunuh satu orang saja tanpa alasan syar’i, maka sama seperti membunuh seluruh manusia yang ada di dunia. Satu persatu menjadi korban, mulai dari masyarakat yang tidak terlibat dalam pergolakan ini, keluarga GAM, keluarga aparatur pemerintah, keluarga TNI&POLRI, hingga ulama dan para intelektual menjadi sasaran pembunuhan. Sayangnya, ulama yang tertinggal (yang saat itu menduduki jabatan pada lembaga seperti MPU) tidak mampu bersuara sehingga kita benarbenar kehilangan figur tauladan pewaris Nabi. Nyawa adalah milik dan amanah dari Allah kepada kita dimana kita tidak bisa sesuka hati untuk menghilangkannya. Tidak cukup dengan pembunuhan, berbagai penyelewenganpenyelewenganpun terjadi sebelum sunami, seperti pembelian helikopter yang

nilai markupnya sama dengan harga helikopter itu sendiri, pembelian pesawat seulawah yang kini hilang seakan-akan juga telah diterjang sunami, korupsi jamaah para legislatif dan eksekutif, baik ditingkat propinsi maupun kotamadya sehingga mengantarkan sebagiannya ke penjara, konstruksi terminal kedah yang belum sempat diresmikan sudah hancur, terbongkarnya korupsi para bupati dan masih banyak lagi. Yang cukup parah adalah menularnya virus korup di hampir seluruh lapisan jabatan hingga di tingkat pedesaan sekalipun. Bahkan gejala virus ini saat itu mulai memasuki area lembaga pendidikan. Sudah sepantasnya, bahwa kita menyadari dan mengkaji kembali betapa penghancuran terhadap nilai-nilai amanah telah membawa malapetaka yang berlanjutan. Paska sunami, Allah SWT meninggalkan kepada kita rumahnya (Mesjid) sebagai lambang untuk mengembalikan nilai-nilai amanah. Pesan Allah SWT itu cukup jelas, bahwa Aceh adalah bumi syuhada dan hanya akan maju jika dibangun dengan nilai-nilai mesjid. Mesjid adalah rumah Allah sebagai tempat menyatukan hati-hati yang penuh dengan permusuhan karena merekamereka yang hadir untuk bersujud kepadaNya memiliki harapan yang sama, mencari keridhaanNya. Mesjid menjadi tempat persaudaraan abadi, tidak ada kepentingan pribadi atau partai di sana. Mesjid tempat mensucikan jiwa-jiwa pragmatisma, yaitu jiwa opportunistic yang saat ini dipenuhi dengan ‘hubbud dunya’. Keutamaan mesjid sebenarnya bukan pada bangunannya, tapi lebih kepada bagaimana kita memakmurkannya dengan menunaikan amanah baginda Rasulullah SAW yaitu menegakkan shalat secara berjamaah. Kecintaan kita akan shalat berjamaah ini pula memberikan indikasi awal bahwa kita ingin menunaikan amanah Allah dan Rasulnya. Selanjutnya membawa nilai-nilai amanah ini pada berbagai aktivitas kehidupan kita. Ironisnya, ini pula yang tidak digandrungi lagi oleh masyarakat Aceh saat ini. Panggilan azan, bagaikan suara ayam di pagi hari yang tidak memiliki arti apa-apa. Lagi-lagi, sayang seribu sayang. Kita ternyata tidak mampu menangkap pesan (bayan) Allah SWT terhadap peninggalan Mesjid ini. Kenyataannya, paska sunami, berbagai jenis pengkhianatan terhadap amanah kembali kita pertontonkan kepada Allah SWT. Seakan kita ingin mengundang sunami jilid berikutnya. Rekonstruksi dan rehabilitasi nilai-nilai amanah tidak menjadi agenda utama. Tapi lebih kepada pembangunan fisik. Pembangunan fisik itupun yang seyogianya ditujukan untuk korban sunami seakan tanpa memakai skala prioritas. Sarana rumah, jalan, listrik, air, kesehatan adalah hal-hal esensial yang masih banyak terabaikan. Ini terbukti dari kenyataan bahwa masih puluhan ribu korban sunami yang tinggal di barak huntara. Sementara rumah yang sudah dibangunpun belum terlepas dengan segala permasalahan. Pembangunan rumah yang asalasalan masih berlaku (Serambi Indonesia, 17 Desember 2006). Dua tahun mengharap penuh pada satu rumah, ternyata rumah yang telah jadi tidak layak

huni. Tragis!. Sedih dan pilu bagi mereka. Namun sayangnya, nilai keprihatinan tidak lagi menghinggapi para developer. Rumah bantuan asingpun ikut dikorupsi seperti yang terjadi pada rumah-rumah bantuan Turki yang di sub-kontrakkan. Pembangunan jalan pun tak lepas dari sekedar ‘cilet-cilet’ meskipun menghabiskan dana yang tidak sedikit. Anehnya, hukumpun seakan mati, tak mampu menindak mereka-mereka yang melakukan penyelewengan. Penyelenggarakan hukum seakan ikut melengkapkan budaya tidak amanah atas tugas yang diemban. Ketidakamanahan ini semakin sempurna saat ada korban sunami yang bisa mendapatkan 10 rumah bantuan. Ketidakadilan juga cukup nyata. Pegawai BRR diberikan gaji dan tunjangan sehingga puluhan juta perbulannya, belum lagi ‘breakfast, lunch, dinner’ yang wah, biaya rapat di hotel mewah. Pemda juga ikut serta menikmatinya. Manakala korban sunami yang menjadi target bantuan sebenarnya bahkan hanya mendapatkan dana jadup Rp.90.000/bulan. Kalau didolarkan, korban sunami hanya mendapatkan kurang dari $9.00. Artinya sehari mereka mendapatkan $0.30 (30 sen), atau sama dengan harga membayar sekali masuk ke toilet di Amerika. Tragisnya lagi, budaya tidak amanah menghinggapi para pendidik. Banyak dosen yang meninggalkan kampus demi mengejar ‘extra dolar’, sehingga mahasiswa sulit untuk bertemu. Terkadang mereka yang bersatus izin belajar juga ikut bekerja pada berbagai NGO. Sebagiannya malah memegang dua jabatan sekaligus. Semua ini telah membenarkan persepsi di atas bahwa amanah tak lagi dipandang sebagai nilai yang suci yang harus dipertanggungjawabkan nantinya di hadapan Allah. Layaknya ghanimah, dana yang ada telah dianggap sebagai sumber kekayaan. Prilaku opportunist ‘meu nyoe koen jinoe, pajan lom’, terus dijalankan. Rasanya ingin mengeluh, “Duhai negeri musibah, kapankah engkau melahirkan pejabat shalih yang amanah dan mementingkan rakyat di atas kepentingan pribadinya?”. Satu pelajaran yang harus kita sadari, jika amanah telah dihilangkan, maka tunggulah malapetaka. Wallahu ‘a’lam. · Penulis adalah dosen pada Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry dan juga Mahasiswa paska sarjana Human Resource Management pada Business School, University of Birmingham – United Kingdom

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/5568 Konsultasi : Masalah Umum

Bingung Tentang Amanah Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb Ustadz yang dirahmati Allah SWT,saya seorang mahasiswa yang sekarang mendapat amanah sebagai ketua rohis di kampus saya.Tapi saya merasa tidak sanggup dan tidak sesuai dengan amanah itu,karena pribadi saya masih jauh dari baik.Saya juga belum terbiasa mengurusi organisasi sehingga organisasi yang sekarang diamanahkan kepada saya itu sering saya tinggalkan.Mungkin mereka-mereka yang memilih saya sebagai ketua,hanya melihat saya dari luarnya saja.Mereka tidak mengetahui bagaimana keadaan saya sebenarnya.Padahal masih ada orang yang pantas mengemban amanah itu.Bukankan ada hadis yang menyebutkan bahwa jika amanah diberikan kepada orang yang tidak sesuai dengan bidangnya maka akan terjadi kerusakan.Saya mohon pendapat bapak bagaimana seharusnya yang saya lakukan,apakah lebih baik saya mundur dari amanah itu dan memberikannya kepada orang yang lebih sesuai mengembannya? Dede Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Jauh sebelum Anda diberi amanah, maka Anda memang tidak dibenarkan untuk meminta-minta jabatan dengna tujuan ambisi pribadi. Sebab dalam Islam, jabatan itu memang tidak boleh diminta. Dan kepada orang yang memintaminta jabatan, sebaiknya malah tidak perlu diberikan. Namun hal itu tidak mutlak, sebab bila Anda yakin sekali bahwa Anda punya skill dan kemampuan tertentu yang jelas-jelas tidak dimiliki orang lain, juga Anda yakin dan sadar bahwa tanpa adanya peran Anda, program itu tidak akan berjalan, bukan karena sombong, maka tidak salah kalau Anda mengajukan diri. Hal itu seperti yang dahulu dilakukan oleh nabi Yusuf AS yang terkesan �meminta� jabatan kepada raja untuk menjadi bendaharawan negara mengurusi ekonomi. Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara ; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS.Yusuf : 55)

Nabi Yusuf memang seorang yang hafizh (menjaga amanah) dan alim (perpengetahuan). Artinya dari sisi moral dan pemikiran, beliau adalah sosok yang tepat untuk memegang amanah itu. Maka tidak ada salahnya bagi beliau untuk menawarkan diri demi menyelamatkan negara dan bangsa dari bencara kelaparan. Saat itu tak seorang pun yang menyatakan mampu mengatasi masalah, sehingga tak seorang pun protes atas tawaran Nabi Yusuf as itu. Maka secara bulat mereka mengakui kemampuan beliau dan menerima beliau memegang amanat itu. Yang tidak boleh adalah bila Anda berambisi untuk memegang jabatan tertentu, bukan karena Anda yakin dengan kemampuan Anda, juga bukan karena Anda punya stabilitas moral yang mantap. Lalu Anda dengan menggebu mengincar posisi itu. Namun bila Anda tidak yakin dengan kemampuan Anda lalu Anda dipaksa-paksa untuk memegang amanat itu, maka mintalah waktu beberapa saat untuk berpikir. Katakanlah kepada para pemilih Anda bahwa bukannya Anda menolak tugas dan beban dari jamaah, namun izinkanlah Anda melalukan evaluasi awal dan hitung-hitungan pribadi sebelumnya. Intinya Anda bertanya pada diri sendiri dan juga kepada shahabat dan senior Anda tentang pandangan mereka terhadap kemampuan Anda. Tidak lupa pula untuk melakukan shalat istikharah minta petunjuk dari Allah SWT. Bila Anda tidak terlalu yakin dengan amanah itu, maka katakan sejujurnya kepada para pemilih Anda bahwa Anda tidak mampu, tidak siap dan tidak berani menanggung resiko tanggung-jawab dan amanah itu. Setelah Anda kini terpilih, maka sebenarnya tidak pada tempatnya lagi untuk berhenti begitu saja. Sebab Anda sudah menyatakan kesediaan sejak awal

meski sempat ragu-ragu. Maksud kami, sebenarnya bila sejak awal Anda sudah ragu, maka janganlah mengambil resiko dengan menerima jabatan itu. Tapi karena Anda sudah setuju, maka janganlah baru berbalik, sebab hal itu malah akan memberikan kesan bahwa Anda main-main dan tidak serius. Ketika Anda menyatakan mundur bukan karena ada masalah syar�i yang timbul, melainkan lebih kepada masalah perasaan semata, maka menurut hemat kami Anda kurang bijak untuk mundur. Sebaiknya Anda diskusikan saja kepada teman-teman Anda atau senior Anda bila Anda memang menghadapi masalah yang berat. Syuro adalah salah satu solusi tepat untuk mengatasi masalah bagi seorang pemegang amanah. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=172 Artikel Buletin An-Nur : Pesan Untuk Pendidik Anak Rabu, 07 April 04 Sesungguhnya nikmat (yang diberikan) Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak terhitung dan diantara nikmat-nikmat yang sangat agung dan mulia adalah nikmat anak. Allah Ta'ala berfirman: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." (Al-Kahfi: 46) Nikmat yang sangat agung ini adalah merupakan satu amanah dan tanggung jawab bagi kedua orang tua dan akan ditanya tentang nikmat tersebut pada hari Kiamat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian (akan) ditanya tentang kepemimpinannya: Seorang imam adalah pemimpin dan dia (akan) ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia (akan) di tanya tentang kepemimpinannya." (Muttafaq 'Alaih). Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka."

Ibnul Qayyim radhiyallah 'anhu berkata: "Barangsiapa menelantarkan pendidikan anaknya dan meninggalkan apa yang bermanfaat buat mereka, maka dia telah merusak masa depan anak; kebanyakan anak tidak bermoral hanya karena bapak mereka tidak peduli terhadap pendidikan mereka , sehingga para bapak tidak dapat mengambil manfaat dari anak, dan anak (pun) tidak akan memberikan manfaat kepada bapaknya ketika telah besar." Kepada seluruh ayah, ibu dan pendidik (kami berikan) pesan dan nasehat yang singkat semoga Allah memberikan manfaat dengannya:

Landasan utama dalam pendi-dikan anak-anak adalah menanamkan nilai 'ubudiyah (peribadahan) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hati mereka, serta memelihara dan menjaganya dalam diri mereka. Diantara nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita adalah bahwa seorang anak dilahirkan diatas agama islam, agama fithrah. Maka hal itu tidaklah membutuhkan kecuali menjaga dan memeliharanya serta senantiasa membantu mereka agar tidak menyimpang dan tersesat. Ayah dan ibu dianggap beriba-dah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika mendidik, berinfak, menjaga, mengawasi, dan mengajari (anakanaknya) bahkan sampai ketika membahagiakan me-reka dan bersenda gurau dengan mereka, apabila ayah dan ibu meng-harapkan yang demikian itu, maka mereka akan mendapat pahala. Memberikan nafkah kepada anak-anak adalah merupakan ibadah sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infaqkan kepada hamba sahaya, satu dinar yang engkau sedekahkan kepa-da orang miskin dan satu dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu." (HR. Muslim). Harus mengikhlaskan (niat) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam mendidik anak, jika seorang pendidik menginginkan dunia maka keikhlasannya telah rusak. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan mendidik anak adalah mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala . Do'a adalah ibadah. Para nabi dan rasul telah berdo'a untuk anak-anak dan isteri-isteri mereka: "Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami." (Al-Furqan: 74) Dan ketika Ibrahim berkata: "Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini negeri yang aman serta jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala." (Ibrahim: 35) Berapa banyak do'a-do'a dapat meringkaskan lamanya perjalanan

tarbiyah? Pilihlah waktu-waktu dikabul-kannya do'a dan jauhilah penghalang-penghalangnya, rendahkanlah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohonlah dihadapanNya agar Allah memberikan petunjuk kepada keturunanmu dan menjauhkan setan darinya.

Wajib bagi Anda mencari harta yang halal dan menjauhi yang syubhat (samar) serta janganlah (sampai) engkau terjatuh dalam keharaman. Sesungguhnya telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: "Setiap jasad yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya." Ayah dan ibu jangan mengira bahwa harta yang haram itu ada dalam riba, mencuri dan uang suap semata. Bahkan sampai ada dalam menyianyiakan waktu bekerja, dan mema-sukkan harta yang haram tanpa ada timbal baliknya. Maka kebanyakan para pegawai, pengajar dan pekerja meremehkan pekerjaan mereka dan terlambat dari waktu kerja beberapa detik. Demikian pula memakan harta manusia dengan bathil dan merampas hak-hak mereka. Pilihlah harta yang halal walaupun sedikit (jumlahnya) sesungguhnya di dalamnya ada berkah yang besar.

Teladan yang baik adalah merupakan (sarana) tarbiyah yang sangat penting. Maka bagaimana (mungkin) anakmu bersemangat melaksanakan shalat sedangkan dia melihatmu menyia-nyiakan shalat? Dan bagaimana (mungkin) anakmu men-jauhkan diri dari lagu-lagu dan lawakan sedangkan dia melihat kedua orang tuanya senantiasa mendengarkannya?! Sabar adalah hal yang telah dilupakan oleh sebagian orang tua. Sabar adalah merupakan sebab-sebab terpenting dalam keberhasilan tarbiyah. Maka Anda wajib bersabar, atas teriakan anak yang masih kecil dan jangan marah, bersabarlah ketika dia sakit dan berharap pahala dari Allah, saat menasehatinya dan jangan bosan, saat Anda menunggu anak agar dia keluar bersama Anda untuk shalat, dan saat engkau duduk di masjid setelah sholat ashar agar anak Anda menghafal (Al-Qur'an) bersama Anda. Dan bergembiralah sesungguhnya Anda ada dalam jalan jihad. Shalat, adalah kewajiban yang sangat agung dan inti yang kedua dari kewajiban agama didiklah anak Anda agar tahu tentang pentingnya dan agungnya kedudukan sholat. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad: "Perintahkanlah anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan) shalat pada usia 10 tahun." Wahai ayah janganlah Anda menjadi bodoh, yang mampu menyayangi

anaknya dari dinginnya (hawa) pada musim dingin tapi tidak mampu membangunkan anaknya untuk mengerjakan shalat. Bahkan jadilah Anda diantara orang-orang yang berakal dan sayangilah anakmu dari api neraka jahannam wal 'Iyadzu billah, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Barangsiapa mengerjakan shalat Fajar secara berjamaah maka dia ada dalam perlindungan Allah." (HR. Ibnu Majah).

Haruslah menjaga hak milik yang khusus dan bagian-bagian pribadi di antara anak-anak, serta bersikaplah adil terhadap mereka dalam pergaulan dan pemberian serta perhatian dalam pendidikan mereka. Tumbuhkanlah dalam diri anak-anak Anda pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala , mencintaiNya dan mentauhid-kanNya, dan peringatkanlah mereka tentang kesalahan aqidah yang engkau lihat serta peringatkanlah mereka dari terjatuh kedalamnya. perintahkan yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar serta doronglah mereka untuk melakukan hal tersebut, sesungguhnya hal itu menjadi penye-bab tetapnya mereka di atas agama. Kita berada dalam satu zaman yang didalamnya telah tersebar fitnah dari segala sisi. Maka jadilah Anda sebagai orang yang membela nasib anak-anakmu. Hendaklah engkau mempunyai nasehat yang baik dalam memilihkan teman-teman mereka karena sesungguhnya seorang tergantung sahabatnya dan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang laki-laki diatas agama teman dekatnya maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat kepada siapa dia berteman dekat." (HR. AtTirmidzi, Abu Daud dan Ahmad). Waspadalah jangan sampai Anda mengajak mereka ke tempat-tempat yang hanya membuang-buang waktu saja atau tempat-tempat yang didalamnya ada kemungkaran-kemungkaran. Jadilah Anda sebagai ayah, sahabat dan teman bagi mereka. Tumbuhkanlah sifat kejantanan dalam diri anak laki-lakimu dan serta sifat malu dan kesucian dalam diri anak perempuan-mu, dan tauladan ( dalam hal) pakaian, nasehat dan persamaan serta janganlah Anda meremehkan keluar-nya anak-anak.

Semoga Allah mengumpulkan kita, mereka dan orang tua kita di Surga 'Adn. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi kita Muham-mad, keluaraganya, dan para saha-batnya semua. (Diterjemahkan oleh: Ummu Abdillah bintu Hasyim As-Salafiyah) Sumber buletin dakwah dengan judul: "Washaya Litarbiyatil Abna'" terbitan Daar-Al-Qasim, Riyadh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->