P. 1
shOlawat - HOTD

shOlawat - HOTD

4.67

|Views: 1,547|Likes:
Published by api-3725701
lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan sholawat kepadamu?". beliau bersabda: "Maka ucapkanlah " "Wahai Allah, berikanlah berkah dan rahmat kepada Muhammad saw..
lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan sholawat kepadamu?". beliau bersabda: "Maka ucapkanlah " "Wahai Allah, berikanlah berkah dan rahmat kepada Muhammad saw..

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Hadith of the Day

[HOTD] shOlawat

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al Ahzab, 33 : 56)
Hadist riwayat Bukhari, dari Abdurrahman bin Abi Laila ra., ia berkata:

"Ka`b bin `Ujrah pernah bertemu denganku, lalu ia berkata: "Tidakkah aku memberikan hadiah kepadamu?, sesungguhnya Nabi saw. datang kepada kami, lalu kami bertanya: "Wahai Rasulullah, kami tahu bagaimana cara kami mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan sholawat kepadamu?". beliau bersabda: "Maka ucapkanlah " "Wahai Allah, berikanlah berkah dan rahmat kepada Muhammad saw. dan keluarga Muhammad saw. sebagaimana Engkau memberikan berkah dan rahmat kepada keluarga Ibrahim as., sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. Wahai Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad saw. dan keluarga Muhammad saw. sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada keluarga Ibrahim as., sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah" ". Links: [mengapa membaca shalawat ?] http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/6846 [pakai sayyidina dalam shalawat, bagaimana hukumnya?] http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/6411152408-pakai-sayyidina-dalamshalawat-bagaimana-hukumnya.htm?other [membaca shalawat tunjiat setiap malam juma't] http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9568 [tasawuf dan shalawat Nabi] http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=224 [taRekat tijaniyah] http://www.almanhaj.or.id/content/1404/slash/0 [shOlawat 2] http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/4065 [syahadat/shalawat Nabi] http://www.waspada.co.id/islam/artikel.php?article_id=46736 [mOdel shalawat yang dilaRang] http://alatsar.wordpress.com/2007/06/04/model-shalawat-yang-dilarang/ [keutamaan membaca shalawat untuk nabi] http://dida.vbaitullah.or.id/islam/buku/jalan-selamat/node37.html [hukum dan dalil-dalil shalawat] http://suryaningsih.wordpress.com/2007/05/21/hukum-dan-dalil-dalilshalawat/

http://orido.wordpress.com

1

Hadith of the Day [shalawat pada Nabi] http://www.dzikrullah.com/bpm_23_shalawat.htm [kenapa Rasulullah perlu didOakan/shalawat?] http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/4430a0d7.htm [sunnah-sunnah dalam adzan dan iqOmah] http://www.almanhaj.or.id/content/1488/slash/0 [cintaku padamu ya Rasulullah] http://www.eramuslim.com/atk/oim/4405718b.htm -perbanyakamalmenujusurga-

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/6846

Konsultasi : Aqidah Mengapa Membaca Shalawat ? Pertanyaan: Saya baru saja masuk Islam. Namun ada satu pertanyaan dari teman nasrani yang berkaitan dengan Shalawat Nabi. Pada saat sholat setiap muslim membaca sholawat. 1) Sholawat pada dasarnya mendoakan Nabi. Apakah ini berarti bahwa Nabi sendiri "belum" selamat, maka perlu didoakan oleh umatnya ? 2) Apabila Nabi Sholat, apakah beliau juga membaca Shalawat ? Sari Pratiwi Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Tidak selamanya orang yang didoakan itu pasti tidak selamat. Ini adalah pembalikan logika yang tidak tepat. Sebab doa itu bukan semata-mata disampaikan kepada orang yang celaka saja. Sebab doa adalah penghormatan kepada yang kita doakan. Selain itu doa itu memang akan berbalik kepada yang mendoakan juga. Dan sebenarnya shalawat itu pun tidak hanya berarti doa semata. Kata shalawat itu bisa berarti doa namun tidak selamanya bermakna doa. Dalam Al-

http://orido.wordpress.com

2

Hadith of the Day Quran ada disebutkan bahwa Allah SWT dan Malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Apakah Allah SWT berdoa ? Tentu tidak, kan. Dan perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW memang perintah yang tegas dan jelas. Dan tidak ada kaitannya dengan selamat atau tidaknya yang kita doakan. Sebab Allah SWT telah menjadikan Rasulullah SAW sebagai orang pertama yang akan membuka pintu surga. Selain itu beliau adalah orang yang ma�shum atas izin Allah, yaitu orang yang tidak punya dosa seumur hidupnya. Maka bershalawat kepadanya adalah kewajiban umat Islam, bukan karena beliau tidak selamat, melainkan ucapan ibadah dan berdampak kepada pahala kepada yang membacanya. Rasulullah SAW membaca shalawat juga untuk dirinya sendiri, karena beliau harus mengajarkan cara bershalawat, baik di dalam maupun di luar shalat. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/6411152408-pakai-sayyidina-dalam-shalawatbagaimana-hukumnya.htm?other

Pakai Sayyidina dalam Shalawat, Bagaimana Hukumnya?
Kamis, 13 Apr 06 13:54 WIB Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak ustadz, saya mau tanya tentang hukum membaca shalawat kepada nabi di saat kita sedang duduk tahiyat akhir. Apakah shalawat itu hukumnya wajib ataukah sunnah? Kemudian juga tentang penambahan kata 'sayyidina' dalam shalawat itu, boleh ditambahkan atau haram hukumnya. Penjelasan ustadz sangat saya harapkan Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Gatot Prasetyo kang_gatot at eramuslim.com

Jawaban
http://orido.wordpress.com 3

Hadith of the Day Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mazhab As-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan shalawat kepada keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi`iyah dan hukumnya wajib menurut Al-Hanabilah. Untuk itu kita bisa merujuk pada kitab-kitab fiqih, misalnyakitab Mughni AlMuhtaj jilid 1 halama 173, atau juga bisa dirunut ke kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 541. Sedangkan menurut Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, membaca shalawat kepada nabi pada tasyahhud akhir hukumnya sunnah. Demikian juga dengan shalawat kepada keluarga beliau. Keterangan ini juga bisa kita lihat pada kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 478 dan kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 319. Adapun lafaz shalawat kepada nabi dalam tasyahud akhir seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW adalah: ‫اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد‬ ‫كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد‬ Allahumma Shalli `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa shallaita `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Wa baarik `ala `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa barakta `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Innaka hamidun majid.(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad) Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana shalawat-Mu kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana barakah-Mu kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Agung. Masalah Penggunaan Lafaz 'Sayyidina' Di dalam kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 479, kitab Hasyiyah Al-Bajuri jilid 1 halaman 162 dan kitab Syarhu Al-Hadhramiyah halaman 253 disebutkan bahwa Al-Hanafiyah dan As-Syafi`iyah menyunnahkan penggunaan kata [sayyidina] saat mengucapkan shalawat kepada nabi SAW (shalawat Ibrahimiyah). Meski tidak ada di dalam hadits yang menyebutkan hal itu. Landasan yang mereka kemukakan adalah bahwa penambahan kabar atas apa yang sesungguhnya memang ada merupakan bagian dari suluk (adab) kepada Rasulullah SAW. Jadi lebih utama digunakan daripada ditinggalkan.

http://orido.wordpress.com

4

Hadith of the Day Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata,`Janganlah kamu memanggilku dengan sebuatan sayyidina di dalam shalat`, adalah hadits maudhu` (palsu) dan dusta. (lihat kitab Asna Al-Mathalib fi Ahaditsi Mukhtalaf Al-Marathib karya Al-Hut Al-Bairuti halaman 253). Adapun selain mereka, umumnya tidak membolehkan penambahan lafadz [sayyidina], khususnya di dalam shalat, sebab mereka berpedoman bahwa lafadz bacaan shalat itu harus sesuai dengan petunjuk hadits-hadits nabawi. Bila ada kata [sayyidina] di dalam hadits, harus diikuti. Namun bila tidak ada kata tersebut, tidak boleh ditambahi sendiri. Demikianlah, ternyata para ulama di masa lalu telah berbeda pendapat. Padahal dari segi kedalaman ilmu, nyaris hari ini tidak ada lagi sosok seperti mereka. Kalau pun kita tidak setuju dengan salah satu pendapat mereka, bukan berarti kita harus mencaci maki orang yang mengikuti pendapat itu sekarang ini. Sebab merekahanya mengikuti fatwa para ulama yang mereka yakini kebenarannya. Dan selama fatwa itu lahir dari ijtihad para ulama sekaliber fuqaha mazhab, kita tidak mungkin menghinanya begitu saja. Adab yang baik adalah kita menghargai dan mengormati hasil ijtihad itu. Dan tentunya juga menghargai mereka yang menggunakan fatwa itu di masa sekarang ini. Lagi pula, perbedaan ini bukan perbedaan dari segi aqidah yang merusak iman, melainkan hanya masalah kecil, atau hanya berupa cabangcabang agama. Tidak perlu kita sampai meneriakkan pendapat yang berbeda dengan pendapat kita sebagai tukang bid'ah. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat, Lc.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9568

Konsultasi : Aqidah Membaca Shalawat Tunjiat Setiap Malam Juma't Pertanyaan: assallamualikum warohmatullahi wabarokatuh pak ustad, saya mau bertanya, dimasjid dekat rumah saya kalau setiap malam jum'at sering diadakan shalawatan dengan membaca shalawat tunjiat ,yang ingin saya tanyakan apakah pada waktu rosulallah hidup,beliau juga sering mengerjakan hal serupa yang sering dilakukan ditempat saya.

http://orido.wordpress.com

5

Hadith of the Day Demikianlah dulu pertanyaan saya ini dan tak lupa saya ucapkan banyak2 terima kasih.zajakumullahikasiron alhamdulillahi robbilalamiin. Riva\'i Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d. Membaca shalawat adalah salah satu bentuk ibadah lisan yang disunnahkan untuk sering-sering dilakukan. Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah Subhanahu Wata`ala telah memerintahkan kepada umat Islam untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya . (QS. Al-Ahzab : 56) Selain di dalam shalat, shalawat kepada nabi dianjurkan untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu. Misalnya pada hari Jumat atau malam Jumat, pada pagi dan sore hari, saat masuk masjid dan keluar, di depan makam / kuburan Rasulullah SAW, ketika menjawab azan, ketika beroda atau sesudah berdoa, ketika melakukan ibadah sa�i antara Shafa dan marwah, dalam pertemuan suatu kaum dan setelah selesainya pertemuan itu, ketika mendengar disebut nama Rasulullah SAW, ketika jeda antara bacaan talbiyah, ketika mengusap hajar aswad, ketika bangun dari tidur, ketika khatam Al-Quran Al-Kariem, dalam kondisi tertekan, ketika meminta ampunan, ketika menyampaikan ilmu kepada manusia, ketika menyampaikan pelajaran, ketika memberikan peringatan, ketika khutbah nikah, serta semua event yang termasuk zikirullah. Sedangkan lafaz shalawat itu ada beraneka ragamnya. Namun yang paling utama adalah lafaz yang telah beliau ajarkan berikut ini : ����� �� ��� ���� , ���� �� ���� , ��� ���� ��� ������� , ���� �� ������� . ��� ���� ���� Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya sebagaimana Engkau menyampaikan shalawat kepada Ibarahim dan keluarganya. Sesunguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. (HR. Bukhari) Sedangkan lafaz shalawat lainnya dibolehkan untuk dibaca asalkan ada riwayat http://orido.wordpress.com 6

Hadith of the Day yang jelas dan shahih dari Rasulullah SAW. Selain itu lafaznya jangan sampai mengandung makna yang bertentangan dengan aqidah dan kedudukan Rasulullah SAW itu sendiri. Yang sering dipertentangkan adalah ketika melafazkan bacaan shalawat yang mengandung ungkapan bahwa shalawat itu adalah penyelamat dari semua bahaya dan halangan. �Shalatan Tunjina Min Jami`il Ahwali Wal Aafaaat�. Padahal yang menjadi penyelamat dari semua bahaya dan halangan hanyalah Allah Subhanahu Wata`ala saja. Bukan shalawat itu sendiri. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=224

TASAWUF DAN SHALAWAT NABI Selasa, 30 Mei 2006 - 12:22 PM, Penulis: Buletin Islam Al Ilmu, Jember Edisi 50/II/IV/1426 Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu 'alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu 'alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman :

(artinya): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barangsiapa http://orido.wordpress.com 7

Hadith of the Day bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’) Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam. Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya Shallallahu 'alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu 'alaihi wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu 'alaihi wassallam. Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam kepada umatnya, yaitu: “Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka. Beberapa Shalawat ala Sufi 1. Shalawat Nariyah Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya: ‫ب ْ و ئج و‬ َ ُ ِ ‫الل ُ ّ ص ّ َلَة كَامَِةً وسَّمْ َلمًا تآمًا عََى سيدِنَا مح ّدٍ الذِي تنْحَل ِهِ ال ُق ُ وتنْفَرج ِهِ ال ُرَ ُ و ُقضَى ِهِ الحَ َا‬ ْ ‫ل َّ ً َم ّ ُ ُ ب ْع َد َ َ ِ ُ ب ْك ب َت‬ َ ‫هم َل ص ً ل َ ل س‬ ‫ُ ُ ب ر ب َح ن ْ و ِ َي ْ ق ْ َم ُ ْه ْ ِ و ل ل و ْبه َ َ ّ َ ل َك‬ َ ‫تنَال ِهِ ال ّغَائِ ُ و ُسْ ُ الخَ َاتيْمِ و ُستَسْ َى الغ َام بِوَج ِهِ الكَريْمِ َعََى آِهِ َ صَح ِ ِ عدَد كَل معُْوْمٍ ل‬ “Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, http://orido.wordpress.com 8

Hadith of the Day diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.” Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?! Allah Ta'ala berfirman :

(artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188) Dan juga firman-Nya :

(artinya): "Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya." (Al-Isra: 56) Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48) Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , lalu mengatakan: َ ْ‫مَا َاءَ ا ُ َ شئ‬ ‫َو ِت‬ ‫ش ل‬

http://orido.wordpress.com

9

Hadith of the Day "Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda: ‫!أَجعَلتنِيْ ّ ن ّا ؟‬ ‫ِ ِد‬ ‫َ َْ ل‬ “Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: ‫“ مَا َاءَ الُ وحدَهُه‬Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i َْ َ ‫ش‬ dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228, Muhammad Jamil Zainu) Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta'ala. Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya. 2. Shalawat Al Faatih (Pembuka) Nash shalawat tersebut adalah: … ّ ُ ‫ُغْلِقَ لمَا ال َا ِح ُح ّ ٍ عَلَى صَ ّ الل‬ ‫ل هم‬ ‫ِ ف ت ِ م َمد‬ ‫أ‬

"Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….” Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah - secara dusta - : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu 'alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman) Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta'ala. Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :

http://orido.wordpress.com

10

Hadith of the Day (artinya): “Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122)

“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am:115) Demikian pula Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah “. (HR. Muslim) “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani) Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini. 3. Shalawat Sa'adah (Kebahagiaan) Nash adalah sebagai berikut: ‫ل ص ً د م ً ِ ِ مْ ل‬ ِ ‫… الل ُ ّ ص ّ عَل ُحمدٍ عددَ مَا فيْ عِلْمِ ا ِ َلَة َائِ َة بدَوَام ُلكِ ا‬ ِ َ َ ّ َ ‫هم َل َ م‬ “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”. Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288) Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut. 4. Shalawat Burdatul Bushiri http://orido.wordpress.com 11

Hadith of the Day Nashnya adalah sebagai berikut: ‫س ْ َم‬ ِ ‫يَا رب بِال ُصْطفَى بَّغ مَ َاصدنَا وَاغفِرْ لنَا َا مَضَى يَا وَا ِعَ الكَر‬ ‫ْ َ م‬ َ ِ ‫َ ّ ْم َ ل ْ ق‬ “Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.” Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia. Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya. Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits: ‫“ تَوَسّهُوا بِجَاهِي‬Bertawasullah dengan kedudukanku”, ‫ل‬ merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta'ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhlukNya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85) Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta'ala. Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih) Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar).

http://orido.wordpress.com

12

Hadith of the Day

5. Nash shalawat seorang sufi Libanon: ‫هم ل ل م َم َت َ ْ َ ه َ ِي َي ْ ِية‬ َ ّ ‫الل ُ ّ صَ ّ عََى ُح ّدٍ ح ّى تجعَل مِنْ ُ الَحد ّةَ الْق ّوم‬ "Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya)." Padahal Allah Ta'ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11) Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari). Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat Hadits Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu: ‫َنْ صَّى عَلي يَوْمَ الجم َةِ ثمَانيْن مَ ّ ً غَفرَ ا ُ َه ذ ُوْب ثمَانِيْ َ عَا ًا‬ ‫ْ ُ ُع َ ِ َ رة َ ل ل ُ ُن َ َ ن م‬ َّ ‫ل‬ ‫م‬ “Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.” Keterangan: Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215) Dikirim oleh Al Akh Hardi Ibnu Harun via Email

http://www.almanhaj.or.id/content/1404/slash/0 http://orido.wordpress.com 13

Hadith of the Day

Tarekat Tijaniyah
Kamis, 14 April 2005 08:12:54 WIB TAREKAT TIJANIYAH Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz Pertanyaan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Banyak orang di tengah-tengah kami yang menganut Tarekat Tijaniyah, sementara saya mendengar dalam acara Syaikh (nur 'ala ad-darb) bahwa tarekat ini bid'ah, tidak boleh diikuti. Tapi keluarga saya mempunyai wirid dari Syaikh Ahmad At-Tijani yaitu shalawat fatih, mereka mengatakan bahwa shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa benar shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam? Mereka juga mengatakan, bahwa orang yang membaca shalawat fatih lalu meninggalkannya, ia dianggap kafir. Kemudian mereka mengatakan, 'Jika engkau tidak mampu melaksanakannya lalu meninggalkannya, maka tidak apa-apa. Tapi jika engkau mampu namun meninggalkannya maka dianggap kafir.’Lalu saya katakan kepada kedua orang tua saya bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, namun mereka mengatakan, 'Engkau wahaby dan tukang mencela.' Kami mohon penjelasan. Jawaban: Tidak diragukan lagi bahwa Tarekat Tijaniyah adalah tarekat bid'ah. Kaum muslimin tidak boleh mengikuti tarekat-tarekat bid'ah, tidak Tarekat Tijaniyah, tidak pula yang lainnya, bahkan seharusnya berpegang teguh dengan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, karena Allah telah berfirman. "Artinya : Katakanlah, 'Jika. kamu (benar-benar) mentintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah meneasihi dan mengampuni dosa-dosamu' ." [Ali Imran: 31] Artinya, katakanlah kepada manusia wahai Muhammad, 'Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah pun telah berfirman. "Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). " [Al-A'raf : 3]. Dalam ayat lainnya disebutkan. http://orido.wordpress.com 14

Hadith of the Day

"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. " [Al-Hasyr : 7] Dalam ayat lainnya lagi disebutkan. "Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)." [AlAn'am : 153] As-Subul (jalan-jalan yang lain) di sini maksudnya adalah jalan-jalan yang baru yang berupa perbuatan bid'ah, memperturutkan hawa nafsu, keraguan dan kecenderungan yang diharamkan. Adapun jalan yang ditunjukkan oleh sunnah RasulNya , itulah jalan yang harus diikuti. Tarekat Tijaniyah, Syadziliyah, Qadariyah dan tarekat-tarekat lainnya yang diada-adakan oleh manusia, tidak boleh diikuti, kecuali yang sesuai dengan syari'at Allah. Yang sesuai itu boleh dilaksanakan karena sejalan dengan syari'at yang suci, bukan karena berasal dari tarekat si fulan atau lainnya, dan karena berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." [Al-Ahzab : 21]. Dan firmanNya. "Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." [At-Taubah: 100]. Serta sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak."[1] Dan sabda beliau. "Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak."[2] Serta sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum'at. "Artinya : Amma ba 'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, http://orido.wordpress.com 15

Hadith of the Day sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Saw, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat."[3] Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna. Shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Saw sebagaimana , yang mereka klaimkan, hanya saja shighah lafazhnya tidak seperti yang diriwayatkan dari Nabi Saw, sebab dalam shalawat fatih itu mereka mengucapkan (Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami, Muhammad sang pembuka apa-apa yang tertutup, penutup apa-apa yang terdahulu dan pembela kebenaran dengan kebenaran). Lafazh ini tidak pernah menjadi jawaban mengenai cara bershalawat kepada beliau ketika ditanyakan oleh para sahabat. Adapun yang disyari'atkan bagi umat Islam adalah bershalawat kepada beliau dengan ungkapan yang telah disyari'atkan dan telah diajarkan kepada mereka tanpa harus mengada-adakan yang baru. Di antaranya adalah sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Ka'b bin 'Ajrah , bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana kami bershalawat kepadamu?" beliau menjawab, "Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik. Dan limpahkanlah keber-kahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik.)" [4] Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Humaid AsSa'idi Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda. "Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, para isterinya dan keturunannya sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, para isterinya dan keturunannya, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik.)". [5] Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dari hadits Ibnu Mas'ud Al-Anshari Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda. "Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat kepada keluargaa Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada http://orido.wordpress.com 16

Hadith of the Day keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik di seluruh alam.)"[6] Hadits-hadtis ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna, telah menjelaskan tentang cara bershalawat kepada beliau yang beliau ridhai untuk umatnya dan telah beliau perintahkan. Adapun shalawat fatih, walaupun secara global maknanya benar, tapi tidak boleh diikuti karena tidak sama dengan yang telah diriwayatkan secara benar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menerangkan cara bershalawat kepada beliau yang diperintahkan. Lain dari itu, bahwa kalimat (pembuka apa-apa yang tertutup) mengandung pengertian global yang bisa ditafsiri oleh sebagian pengikut hawa nafsu dengan pengertian yang tidak benar. Wallahu waliyut taufiq. [Majalah Al-Buhuts, nomor 39, hal. 145-148, Syaikh Ibnu Baz] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq] _________
Foote Note [1]. Disepakati keshahihannya dari hadits Aisyah Ra, : Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam AlAqdhiyah (1718). [2]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718). [3]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah RA dalam Al-Jumu’ah (867). [4]. Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3369). Muslim dalam Ash-Shalah (407). [5]. Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3369). Muslim dalam Ash-Shalah (407). [6]. HR. Muslim dalam Ash-Shalah (407).

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/4065

Konsultasi : Masalah Umum Sholawat 2 Pertanyaan: Assalamu'alaykum Ustadz, dalam sebuah hadits diterangkan bahwa orang yang paling kikir ialah mereka yang apabila disebut nama Rasululloh ia dia tidak bersholawat pada http://orido.wordpress.com 17

Hadith of the Day Rasul. Pertanyaan saya : 1. Bagaimana cara bersholawatnya. apakah cukup dengan Allohumma sholli 'alaih wa 'ala alih atau ada cara lain? 2. Apakah setiap kita mendengar kata Muhammad yang konotasinya kepada Nabi Muhammad SAW, kita diharuskan mengucapkan Allohumma sholli 'alah wa 'ala alih? 3. Saya sering dengar ketika orang membaca ayat Innalloha wa malaikatahu yasholluna 'alan Nabiyy...dst mereka yang mendengar lantas menjawab Allohumma sholli 'alaih wa 'ala alih. Syar'i-kah? Abdulloh Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

1. Bentuk sholawat yang paling pendek adalah ucapan Shollallahu Alaihi Wasallam. atau juga Allohumma Sholli wa Sallam �Alaih. Sedangkan cara lain bershalawat berdasarkan hadis adalah shalawat sebagaimana dalam shalat dan doa setelah mendengarkan adzan. Dari Ka�ab bin Ajrah Ra ia berkata: �Rasulullah SAW keluar menemui kami, maka kami bertanya: �Kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lantas bagimanakan cara kami mengucapkan slawat kepadamu?� Beliau menjawab : �Ucapkanlah oleh kalian: Allahumma shalli �Alaa Muhammad wa �Alaa Aali Muhammad Kamaa Shallaita �Alaa Aali Ibraahiim Innaka Hamiidum Majiid. Allahumma Baarik �Alaa Muhammad wa �Alaa Aali Muhammad Kamaa baarakta �Alaa Aali Ibraahiim Innaka Hamiidum Majiid� (HR. Bukhari No. 3370 dan Muslim No. 406) Dari �Amr bin Al-Ash Ra ia mendengar Nabi SAW bersabda: �Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah sebagaimana ucapannya, kemudian bersalawtlah kepadaku, karena barangsiapa yang bersalawat kepadaku satu kali maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat, kemudian mohonkalah untukku al-wasilah karena ia merupakan sutau mazilah di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah dan aku mengarapkan akulah hamba tersebut. Maka barangsiapa yang memohonkan untukku al-wasilah maka ia berhak mendaptkan syafaat dariku� (HR. Muslim http://orido.wordpress.com 18

Hadith of the Day No. 384) 2. Sebenarnya hal tersebut bukan merupakan kewajiban. Hanya saja Nabi menggolongkan mereka yang tidak pernah mengucapkan shalawat ketika nama Nabi SAW disebutkan sebagai orang-orang yang paling kikir dan orang yang celaka. Dari Abu Dzar Ra ia berkata: �Suatu hari aku keluar lalu aku menemui Rasulullah SAW, belaiu bersabda: �Tidakah kalian ingin aku beritahu perihal manusia yang paling kikir?� Para sahabat menjawab: �Tentu wahai Rasulullah� Beliau bersabda: �Orang yang namaku disebut disisinya dan ia tidak bersalawat padaku, maka itulah manusia yang paling kikir� (HR. Ibnu Abi Ashim. Lihat Sahih At-Targhib wat-Tarhib II/301) Dari Abu Hurairoh Ra, Rasulullah SAW bersabda: �Celaka dan hinalah orang yang namaku disebu disisinya dan tidak bersalawat kepadaku. Celaka dan hinalah orang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian bulan itu berakhir sedangkan dosa-dosanya tidak diampuni. Celaka dan hinalah orang yang mendapatkan kedua orangtuanya telah berusia lanjut tapi keduanya tidak bisa memaskuakn orang tersebut ke surga (tidak berbakti)� (HR. At-Tirmidzy. Lihat Sahih At-Targhib wat-Tarhib II/300) 3. Ayat tersebut memang memerintahkan kita semua untuk bersalawat kepada Nabi SAW. Sebagaimana firman-Nya: �Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.� (QS. Al-Ahzab: 56) Wallahu a`lam bishshowab. Wassalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/3524

Konsultasi : Ibadah Salaman Sambil Bersholawat Setelah Sholat Wajib Pertanyaan: http://orido.wordpress.com 19

Hadith of the Day

Assalamu 'alaikum Wr. Wb Adakah tuntunannya setelah sholat wajib, berdo'a, dilanjutkan dengan salamsalaman sambil bersholawat. Wassalamu 'alaikum Wr.Wb. Khamaludin Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Bersalaman setelah shalat jamaah apalagi sambil membaca shalawat memang tidak ada tuntuanannya serta tidak ada keterangannya di dalam hadits nabawi. Namun apakah hukumnya menjadi terlarang dan bid�ah ? Dalam masalah ini kita bisa melihat perkataan para ulama dalam mendefinisikan makna bid�ah. Yaitu adanya mereka yang meluaskan batasan bid'ah itu mengatakan bahwa bid'ah adalah segala yang baru diada-adakan yang tidak ada dalam kitab dan sunnah. Baik dalam perkara ibadah ataupun adat. Namun tidak berarti semua bid�ah itu buruk, tapi �menurut pendapat iniada bid�ah yang baik, sunnah bahkan wajib hukumnya. Contoh bid'ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk memahami kitabullah dan sunnah rasulnya. Contoh bid'ah haram misalnya pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah, Murjiah dan Khawarij. Contoh bid'ah mandub (sunnah) misalnya mendirikan madrasah, membangun jembatan dan juga shalat tarawih berjamaah di satu masjid. Contoh bid'ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran. Sedangkan contoh bid'ah mubah misalnya bersalaman setelah shalat. Jadi meski memang tidak ada tuntunan atau perintah dari praktek shalat Rasulullah SAW, sehingga dikategorikan bid�ah, namun perbuatan bersalaman itu bukanlah termasuk bid�ah yang sesat dan dosa. Mereka memasukkan perbuatan itu sebagai bid�ah yang hukumnya mubah. Pendapat itu adalah pendapat kalangan ulama seperti Al-Imam Asy-Syafi'i dan pengikutnya seperti Al-'Izz ibn Abdis Salam, An-Nawawi, Abu Syaamah. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Dari kalangan m1 seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanabilah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. Meski demikian ada juga kalangan yang menganggap bahwa setiap bid�ah http://orido.wordpress.com 20

Hadith of the Day pastilah sesatnya. Tentu saja dalam masalah seperti ini akan selalu ada perbedaan persepsi dari sekian banyak para fuqaha. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=947

Membongkar Kedok Sufi : Tasawuf & Sholawat Nabi Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/142 Firqoh-Firqoh, 05 Juni 2005, 13:56:11 Shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi seorang muslim. Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam. Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu 'alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu 'alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman : ‫ِ ّ ا َّ و َلئِك َ ُ يصَّو َ عَلَى ال ّبِي َاأيهَا ال ِينَ َام ُوا صَّوا عَليْهِ وسَل ُوا تَسِْيمًا‬ ‫ل‬ ‫ل َ َ ّم‬ ‫ن ّ ي َ ّ ّذ ء َن‬ ‫إن ل َم َ َته ُ ل ن‬ (artinya): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’) Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam. Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya Shallallahu 'alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu 'alaihi

http://orido.wordpress.com

21

Hadith of the Day wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu 'alaihi wassallam. Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam kepada umatnya, yaitu: ‫الّه ّ ص ّ عَلَى ُحمدٍ َعَلَى آل ُح ّد كمَا صليْ َ عَلَى إبْرَاهيمَ َعَلَى آلِ إبْرَاهيْمَ إنكَ حمي ٌ مَجي ٌ ، الل ُم بَاركْ عََى‬ ‫ِ ِ ِ ّ َ ِ ْد ِ ْد ه ّ ِ ل‬ ‫ِ ِْ و‬ ‫ََ ت‬ َ ٍ ‫ِ م َم‬ ‫م َّ و‬ ‫ل م ّل‬ ‫ِ ِ ّ َ ِ ْد ِ ْد‬ ٌ ‫ُحمدٍ َعَلَى آل ُحمدٍ كمَا َاركْ َ عَلَى إبْ َاهيْمَ َعَلَى آل إبْرَاهيْمَ إنكَ حمي ٌ مَجي‬ ِ ‫ِر ِ و‬ ‫ِ م َّ َ ب َ ت‬ ‫م َّ و‬ “Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka. Beberapa Shalawat ala Sufi 1. Shalawat Nariyah Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya: ‫ب ْ و ئج و‬ َ ُ ِ ‫الل ُ ّ ص ّ َلَة كَامَِةً وسَّمْ َلمًا تآمًا عََى سيدِنَا مح ّدٍ الذِي تنْحَل ِهِ ال ُق ُ وتنْفَرج ِهِ ال ُرَ ُ و ُقضَى ِهِ الحَ َا‬ ْ ‫ل َّ ً َم ّ ُ ُ ب ْع َد َ َ ِ ُ ب ْك ب َت‬ َ ‫هم َل ص ً ل َ ل س‬ ‫ُ ُ ب ر ب َح ن ْ و ِ َي ْ ق ْ َم ُ ْه ْ ِ و ل ل و ْبه َ َ ّ َ ل َك‬ َ ‫تنَال ِهِ ال ّغَائِ ُ و ُسْ ُ الخَ َاتيْمِ و ُستَسْ َى الغ َام بِوَج ِهِ الكَريْمِ َعََى آِهِ َ صَح ِ ِ عدَد كَل معُْوْمٍ ل‬ “Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.” Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?! Allah Ta'ala berfirman : ‫ّ ي س ء إ َ ِل‬ ّ ‫ُل لَ أمْل ُ لنَفسِي نَف ًا ولَ ضَ ّا إ ّ َا َاءَ ا ُ وََلو كنْ ُ َعْلَ ُ الغيْب لَستكثَرْت ِنَ الخيْرِ ومَا مَسنِ َ ال ّو ُ ِنْ أنَا إ‬ َ َ ْ ‫ّ ْ ُ ت أ م ْ َ َ َْ ْ ُ م‬ ‫ر ِل م ش ل‬ َ ‫ْع‬ ْ ِ ‫ق ْ َ ِك‬ http://orido.wordpress.com 22

Hadith of the Day ‫ر َ ر ِ ٍ ي ْ ِن ن‬ َ ‫نَذِي ٌ وبَشِي ٌ لقَوْم ُؤم ُو‬ (artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188) Dan juga firman-Nya : ‫ضر َ ْك َ َ و ل‬ ً ‫ُل ادْ ُوا ال ِينَ َعمْ ُم ِن ُو ِهِ َل يمْل ُون كَشْفَ ال ّ ّ عن ُمْ ول تَحْ ِي‬ َ ‫ق ِ ع ّذ ز َ ت ْ م ْ د ن ف َ َ ِك‬ (artinya): "Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya." (Al-Isra: 56) Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48) Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , lalu mengatakan: َ ْ‫مَا َاءَ ا ُ َ شئ‬ ‫َو ِت‬ ‫ش ل‬ "Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda: ‫!أَجعَلتنِيْ ّ ن ّا ؟‬ ‫ِ ِد‬ ‫َ َْ ل‬ “Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: ُ َ‫“ مَا َاءَ ا ُ وحد‬Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i ‫َ َْه‬ ‫ش ل‬ dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228, Muhammad Jamil Zainu) Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta'ala. Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya. 2. Shalawat Al Faatih (Pembuka) Nash shalawat tersebut adalah: ‫هم ل ل م َم ت ِ أ ْ ق‬ َ ِ‫… الل ُ ّ صَ ّ عََى ُح ّدٍ الفَا ِحِ لمَا ُغل‬ "Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….” Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah - secara dusta - : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu 'alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman) http://orido.wordpress.com 23

Hadith of the Day

Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta'ala. Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya : ‫َم َ ْ ق م ل ق ل‬ ً ‫و َنْ أصدَ ُ ِنَ ا ّ ِي‬ ِ (artinya): “Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122) ‫و َذ ت ب َ ْن ُ مب َ ٌ ّ ِع ه و تق َ ّ ُ ْ ت َم ن‬ َ ‫َه َا كِ َا ٌ أنْزَل َاه ُ َارك فَاتب ُو ُ َا ّ ُوا لعَلكم ُرْح ُو‬ “Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am:115) Demikian pula Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah “. (HR. Muslim) “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani) Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini. 3. Shalawat Sa'adah (Kebahagiaan) Nash adalah sebagai berikut: ‫ل ص ً د م ً ِ ِ مْ ل‬ ِ ‫… الل ُ ّ ص ّ عَل ُحمدٍ عددَ مَا فيْ عِلْمِ ا ِ َلَة َائِ َة بدَوَام ُلكِ ا‬ ِ َ َ ّ َ ‫هم َل َ م‬ “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”. Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288) Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut. http://orido.wordpress.com 24

Hadith of the Day

4. Shalawat Burdatul Bushiri Nashnya adalah sebagai berikut: ‫س ْ َم‬ ِ ‫يَا رب بِال ُصْطفَى بَّغ مَ َاصدنَا وَاغفِرْ لنَا َا مَضَى يَا وَا ِعَ الكَر‬ ‫ْ َ م‬ َ ِ ‫َ ّ ْم َ ل ْ ق‬ “Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.” Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia. Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya. Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits: ‫“ تَوَ ُّوا بِجَا ِي‬Bertawasullah dengan kedudukanku”, ‫ه‬ ‫سل‬ merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta'ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhlukNya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85) Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta'ala. Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih) Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar). 5. Nash shalawat seorang sufi Libanon: http://orido.wordpress.com 25

Hadith of the Day ‫هم ل ل م َم َت َ ْ َ ه َ ِي َي ْ ِية‬ َ ّ ‫الل ُ ّ صَ ّ عََى ُح ّدٍ ح ّى تجعَل مِنْ ُ الَحد ّةَ الْق ّوم‬ "Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya)." Padahal Allah Ta'ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11) Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari). Wallahu A’lam Bish Shawab Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat Hadits Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu: ‫َنْ صَّى عَلي يَوْمَ الجم َةِ ثمَانيْن مَ ّ ً غَفرَ ا ُ َه ذ ُوْب ثمَانِيْ َ عَا ًا‬ ‫ْ ُ ُع َ ِ َ رة َ ل ل ُ ُن َ َ ن م‬ َّ ‫ل‬ ‫م‬ “Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.” Keterangan: Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215) (Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/1426, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli "Tasawuf & Sholawat Nabi". Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

http://www.waspada.co.id/islam/artikel.php?article_id=46736
29 Jun 04 00:15 WIB

Syahadat/Shalawat Nabi WASPADA Online Pertanyaan: Ustadz Syahrin Yth:

http://orido.wordpress.com

26

Hadith of the Day
Langsung aja nih, saya ada satu pertanyaan mengenai syahadat Nabi. Apakah sama syahadat Nabi dengan syahadat yang kita baca setiap hari sewaktu sholat? Demikian, semoga Ustadz dapat menjelaskannya kepada saya. Terima kasih. Wassalam, Faisal Jawaban: Jumhur ulama mengatakan bahwa syahadat dan shalawat Nabi sama saja dengan kita. Ini sejalan dengan peran dan fungsi beliau sebagai pemberi contoh. Namun secara khusus ada teori lain yang mengatakan sedikit berbeda. Syahadatnya bukan “asyhadu anna Muhammadarrasulullah” (saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah), melainkan “asyhadu anni rasulullah” (saya bersaksi bahwa saya adalah rasul Allah). Uraian mengenai hal ini dapat dilihat dalam buku Al-‘Iqna’. Begitu juga dengan shalawatnya, bukan “allahumma shalli ‘ala Muhammad” (Ya Allah berikanlah kesejahteraan kepada Nabi Muhammad), melainkan “allahumma shalli ‘alayya” (Ya Allah berikanlah kesejahteraan kepada saya). Uraian mengenai hal ini dapat dilihat dalam buku l’anatuth-thalibin. Demikian semoga jelas. Wa allahu a’lamu bi alShawab. (bps)

http://alatsar.wordpress.com/2007/06/04/model-shalawat-yang-dilarang/

Model Shalawat yang Dilarang
Juni 4th, 2007

Diantara sekian banyak sholawat yang kita kenal, kebanyakannya adalah mengandung kesesatan, bahkan mendekati kepada kesyirikan. Misalnya saja Sholawat Nariyah, Sholawat Burdatul Bushairi, dll. Maka saksikanlah wahai saudaraku, bagaimana ketidak sadaran kita telah menyeret kita kedalam kesesatan. Bait sholawat tersebut adalah sebagai berikut:

‫ي سَ ك م‬ ِ َ‫َا ر ّ ِالْمصْط َى بّغْ م َاصِ َ َا وَاغ ِر َ َا َا مضَى َا وَا ِع الْ َر‬ َ ‫ي َب ب ُ َف َل َق دن ْف ْ لن م‬
“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.” http://orido.wordpress.com 27

Hadith of the Day Shalawat seperti ini bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk bentuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam padahal beliau telah meninggal dunia. Hal ini termasuk tawasul yang dilarang, karena tidak seorangpun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan atau lainnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan/ dianjurkan niscaya Khalifah Umar akan melakukannya. Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits-hadits yang digunakan untuk menghalalkan tawasul serupa ini adalah merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu/Maudhu’). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85) Berikut hadits yang digunakan sebagai hujjah bagi mereka dalam hal tawasul,

ْ‫…إذَا َألَ ال َأسْألْ بِجَاهي‬ ِ َ ‫ف‬ َ‫س‬
Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah dengan jah (kemuliaan) ku… atau lafal lain:

‫.توَ َُوا بِ َاهيْ، َِ ّ جَاهيْ ِنْ َ الِ عَ ِيم‬ ‫ظ‬ ‫َ سل ج ِ ف إ ن ِ ع د‬
Bertawasullah dengan kemuliaanku, karena sesungguhnya kemuliaanku di sisi Allah adalah besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengomentari hadits tersebut dalam Qaidah Jalilah fii Tawasul wal Wasiilah: ،‫هذا الحديث كذب ليس في شئ من كتب المسلمين التي يعتمد عليها أهل الحديث، ول ذكره أحد من أهل العلم بالحديث‬ ‫.مع أن جاهه عند ال تعالى أعظم من جاه جميع النبياء والمرسلين‬ Hadits ini dusta, dan tidak ada (keberadaan) hadits ini sedikitpun di kitab-kitab yang dipegang oleh para ahli hadits. Hadits ini tidak pula disebutkan oleh seseorangpun dari ahli ilmu, demikian pula tentang kemuliaan beliau shalallahu alaihi wa salam di sisi Allah ta’ala lebih besar dibanding dengan seluruh nabi http://orido.wordpress.com 28

Hadith of the Day dan rasul Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta’ala. [Lihat Qaidah Jalilah fii Tawasul wal Wasilah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, (168). Lihat pula dalam Iqtidha’ Shirathal Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, (II/783)] al Muhadits Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah: ‫.هذا باطل ل أصل له في شئ من كتب الحديث البتة، وإنما يرويه بعض الجهال بالسنة‬ (Hadits) ini adalah batil dan tidak ada dasar baginya sedikitpun di kitab-kitab hadits. Hadits ini diriwayatkan oleh orang-orang yang jahil terhadap sunnah. [Lihat Tawasul ‘anwa’uhu wa ahkamuhu oleh al Muhadits Muhammad Nashiruddin al Albani, (127). Lihat pula Silsilah Ahadits adh Dha’ifah (22)]. Saudarku sekalian, jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat yang sering didendangkan sebagian kaum muslimin dinegeri ini atau bahkan diseluruh dunia. Lagi pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar). Yang kesemuanya itu adalah kesesatan maka tinggalkanlah.

http://dida.vbaitullah.or.id/islam/buku/jalan-selamat/node37.html

Keutamaan Membaca Shalawat Untuk Nabi
Allah ÓÈÍÇæç è ÊÙÇäé berfirman, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56) Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu 'Aliyah berkata, "Shalawat Allah adalah berupa pujianNya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do'a (untuk beliau)." Ibnu Abbas berkata, "Bershalawat artinya mendo'akan supaya diberkati."

http://orido.wordpress.com

29

Hadith of the Day Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menggambarkan kepada segenap hambaNya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasihNya di sisiNya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta." Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo'akan dan bershalawat untuk Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia. Bacaan shalawat untuk Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç è Óäå yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, "Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagai-mana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." (HR Al-Bukhari dan Muslim) Shalawat di atas, juga shalawat-shalawat lain yang ada di dalam kitab-kitab hadits dan fiqih yang terpercaya, tidak ada yang menyebutkan kata "sayyidina" (penghulu kita), yang hal itu ditambahkan oleh kebanyakan manusia. Memang benar, bahwa Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam adalah penghulu kita, "sayyiduna", tetapi berpegang teguh dengan sabda dan tuntunan Rasul adalah wajib. Dan, ibadah itu dilakukan berdasarkan keterangan nash syara', tidak berdasarkan akal. Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç è Óäå bersabda, "Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa'atku." (HR. Muslim) Do'a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do'a yang diajarkan beliau yaitu:

http://orido.wordpress.com

30

Hadith of the Day "Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan." (HR. Al-Bukhari) Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo'a, sangat dianjur-kan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : "Setiap do'a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam." (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan) Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç è Óäå bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku." (HR Ahmad, hadits shahih) Bershalawat untuk Nabi Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum'at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo'a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, "Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku... Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya."

http://suryaningsih.wordpress.com/2007/05/21/hukum-dan-dalil-dalil-shalawat/

Hukum dan Dalil-Dalil Shalawat
Arti Shalawat SHALAWAT bentuk jamak dari kata salla atau salat yang berarti: doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Arti bershalawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika shalawat itu datangnya dari Allah Swt. berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah Swt. memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya. Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt., serta mengharapkan pahala

http://orido.wordpress.com

31

Hadith of the Day dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw., bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan). shalawat adalah salah satu jalan Memperkuat Cahaya Batin Mungkin sudah sering atau pernah mendengar nasehat dari orang-orang tua kita bahwa kalau ada bahaya, kita disarankan salah satunya adalah untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Konon dengan mendoakan keselamatan kepada Nabi, Allah SWT akan mengutus para malaikat untuk ganti mendoakan keselamatan kepada orang itu. Dalam beberapa hadits Rasullullah SAW banyak kita temukan berbagai keterangan tentang afdholnya bershalawat. Diantaranya setiap doa itu terdindingi, sampai dibacakan shalawat atas Nabi. (HR. Ad - Dailami). Pada hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nasai dan Hakim, Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa membaca shalawat untukku sekali, maka Allah membalas shalawat untuknya sepuluh kali dan menanggalkan sepuluh kesalahan darinya dan meninggikannya sepuluh derajat . Yang berkaitan dengan urusan kekuatan batin, terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Najjar dan Jabir, Barangsiapa bershalawat kepadaku dalam satu hari seratus kali, maka Allah SWT memenuhi seratus hajatnya, tujuh puluh daripadanya untuk kepentingan akhiratnya dan tiga puluh lagi untuk kepentingan dunianya . Berdasarkan hadits-hadits itu, benarlah adanya jika orang-orang tua kita menyuruh anak-anaknya untuk memperbanyak shalawat kepada anak cucunya. Karena selain merupakan penghormatan kepada junjungannya juga memiliki dampak yang amat menguntungkan dunia dan akhirat ma-ap agak susah mencari referensi tentang shalawat nabi lain selain muhammad saw di bawah sempat saya dapat artikel tentang shalawat kepada nabi saw Di Balik Shalawat Nabi SAW M. Luqman Hakiem Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi SAW? Mengapa dalam praktik sufi,senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid wiridnya? Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang. Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar. Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut syari’at karena Allah SWT, memerintah kan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohon kan Shalawat dan Salam kepada Nabi. Dalam FirmanNya: “Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya senantiasa bershalawat kepada Nabi. http://orido.wordpress.com 32

Hadith of the Day Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya.” (QS. 33: 56) Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut : Suatu hari Rasulullah SAW, datang dengan wajah tampak berseri-seri, dan bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya.” Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.” (HR.an-Nasa’i) Sabda Rasulullah SAW: “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani).Sabda Nabi SAW, “Manusia yang paling uatama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya.” (HR. at-Tirmidzi) Sabdanya, “Paling bakhilnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia tidak mengucapkan shalawat bagiku.” (HR. at-Tirmidzi). “Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at” (HR. Abu Dawud). Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i) Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku melainkan Allah mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam kepadanya.” (HR. Abu Dawud). Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad SAW, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah, Kekasih Allah dan Cahaya Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa. Mengapa kita musti membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang? Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah SWT. Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau, adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah, melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW, adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendoakan, tanpa reserve. http://orido.wordpress.com 33

Hadith of the Day Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW. Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi, karena kandungan kebajikannya yang begitu par-exellent. Shalawat Nabi, menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke alam Samawat (alam ruhani), ketika nama Muhammad SAW disebutnya. Karena itu, mereka yang hendak menuju kepada Allah (wushul) peran Shalawat sebagai pendampingnya, karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna. Muhammad, sebagai nama dan predikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam Jiwa Muhammad SAW. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik Cinta itu, hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam. Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu, lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat, juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW. Oleh sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para malaikat-Nya.

http://www.dzikrullah.com/bpm_23_shalawat.htm Shalawat Pada Nabi

http://orido.wordpress.com

34

Hadith of the Day

Kaidah-kaidah ilmu Ushul digunakan untuk mengetahui keinginan atau maksud dari sebuah redaksi yang bagi orang awam sedikit membingungkan. Misalnya sebuah kata perintah (amr) atau larangan (Nahyu), akan bisa diterjemahkan maknanya apabila ada kata yang mendukung kata yang lainnya atau kata itu akan berubah arti dari arti sebenarnya jika dikaitkan keadaan subjek dan objek yang dibicarakan. Sebagai contoh, perintah (amar), yang artinya : Tuntunan melakukan pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya). Yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal ini adalah Allah dan yang lebih rendah kedudukannya adalah manusia (mukallaf). Jadi Amr ialah perintah Allah Swt yang harus dilakukan oleh ummat manusia yang mukallaf. Misalnya : wa aqiimush shalata …(QS. Al baqarah : 43). Dan dirikanlah shalat !! Amar itu mempunyai ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar pengambilan atau penetapan hukum. Ketentuan-ketentuan itu kemudian kita kenal dengan istilah kaidah. Amar mempunyai beberapa kaidah: 1. Kaidah pertama : Al ashlu fil amar lil wujub. Artinya : pada dasarnya amr itu menunjukkan wajib. Setiap amr atau perintah itu menunjukkan hukum wajib , kecuali ada petunjuk yang menunjukkan arti selain wajib. 2. Amr menunjukkan arti sunnah/ Nadb, seperti Firman Allah : Hendaklah kamu buat perjanjian (menebus diri ) dengan mereka (hamba sahaya ), jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka (QS. An Nur: 33) 3. Amr menunjukkan arti irsyad lil irsyad, atau petunjuk , seperti Firman Allah ; Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (hutang)untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah : 282) 4. Amr menunjukkan arti ibahah , mubah seperti firman Allah : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar (QS. Al Baqarah: 187) 5. Amr menunjukkan arti tahdid ( ancaman ) 6. Amr menunjuk pada arti ikram ( memuliakan ). 7. Amr menunjukkan pada arti taskhir ( penghinaan) , jadilah kamu kera yang hina (QS.Al Baqaarah: 65) 8. Amr menunjukkan pada ta'jiz (melemahkan) 9. Amr menunjukkan pada arti taswiyah ( mempersamakan ) 10. Amr menunjukkan pada arti doa , atau permohonan seperti Firman Allah :Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan kebaikan di akhirat serta

http://orido.wordpress.com

35

Hadith of the Day
peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201) Terakhir ada amr yang menunjukkan kepada arti iltimas, yaitu ajakan seperti kata-kata kepada kawan-kawan sebaya kerjakalah ~ misal : tolong ambilkan baju itu, datang dong kepesta ulang tahunku ….dll. Kembali kepada persoalan diskusi kita mengenai shalawat kepada Nabi, yang berarti memohon doa keselamatan, kesejahteraan dan rahmat untuk junjungan Nabi Muhammad Saw. Seperti Firman Allah : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al Ahzab: 56) Setelah kita mengetahui kaidah ushul fiqh diatas, bahwa setiap kata perintah belum tentu menentukan sebuah hukum wajib, bisa jadi kata perintah itu berarti memohon, mengajak, petunjuk, anjuran, mengharapkan, dll Mari kita kaji surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut terdapat kalimat bahwa Allah bershalawat kepada Nabi. Kemudian para malaikat, dan selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi. Arti shalawat adalah doa , memberi berkah, dan ibadat. Shalawat Allah kepada Muhammad, berarti Allah memberi berkah, penghargaan, dan menempatkan Rasulullah yang mulia disisi-Nya. Kemudian shalawat Malaikat kepada Muhammad : Adalah memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan kerasulan Muhammad, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam as. Dikarenakan Allah selalu memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, (kebesaran), maka ummat Muhammad hanya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng untuk beliau dan keluarganya, walaupun shalawat orang-orang mukmin tiada artinya bagi Muhammad karena beliau telah medapatkan curahan rahmat dan keberkatan itu langsung dari Allah selamanya. Sesungguhnya Allah bershalawat (memberi keselamatan, keberkatan, penghargaan, kebahagiaan) kepada Muhammad dan keluarganya…(QS. Al Ahzab 56) Perhatikan kata shalawat Allah kepada Muhammad pada ayat tersebut diatas, bagaimana menurut anda kalau kata shalawat diartikan berdoa, Apakah Allah akan berdoa untuk Muhammad ?? kepada siapa ?? Berkata Al Hulaimi dalam Asy syu'ab tegasnya, pengertian shallu alaihi ~ bershalawatlah kepadanya, ialah : ud'u rabbakum bish shalati alaihi.. mohonlah kamu kepada Tuhanmu supaya melimpahkan shalawat kepadanya . Penghormatan anda kepada presiden bukan berarti kehormatan presiden itu akan bertambah atau berkurang kalau anda tidak menghormatinya, karena kedudukan presiden itu adalah tempat yang paling terhormat di suatu negara. Sebagai rakyat seharusnyalah kita mengormati dan menghargai presiden sebagaimana Allah telah memuliakan orang yang diangkat derajatnya sebagai presiden. Sebab orang tersebut tidak akan menjadi presiden tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hargailah dan bersyukurlah kita telah memiliki presiden.

http://orido.wordpress.com

36

Hadith of the Day
Logika anda yang menyebutkan bahwa mana mungkin bahwa seorang rakyat yang menderita memerintahkan presiden untuk menaikkan pangkat dan gajinya sang panglima sementara diri kita yang menderita masih kekurangan. Setelah anda membaca uraian saya mengenai kaidah ushul, mari kita coba membandingkan makna kata perintah yang terdapat dalam Alqur'an, yang apabila membaca ayat tersebut tidak memahami kaidahnya maka artinya akan rancu. Misalnya kata perintah yang berbunyi : "Allahumma dammir man ada aka wa ada ad dien, Ya Allah hancurkan orang yang mengganggu Engkau dan yang mengganggu agamamu. Allahumma shayyiba naafi'a , Ya Allah turunkanlah hujan yang berguna (QS. Al Adzkar:81) Rabbana aatina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar (QS. Al Baqarah: 201)~ Ya Allah datangkan kepada kami kebaikan di dunia , dan kebaikan di akhirat Seperti apa yang telah diurai diatas, bahwa kata perintah atau Amr secara umum merupakan tuntutan melakukan suatu pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya) Akan tetapi kalau anda perhatikan bentuk yang di gunakan redaksi ayat dan hadist diatas menggunakan kata perintah, seperti kata dammir (hancurkan), shayyiba (turunkan hujan), atina fiddunya hasanah (datangkan kepada kami kebaikan )…… Kalau melihat kaidah ushul secara umum dalam kasus diatas, seharusnya yang lebih tinggi memerintahkan yang rendah derajatnya. Akan tetapi ayat diatas telah mengguna-kan kata perintah dari bawah keatas (dari hamba kepada Tuhan). Apakah hal ini akan diartikan memerintah Allah ?? Tentu tidak. Akan tetapi amar disini berarti doa. Kemudian bandingkan dengan kata shalawat yang juga artinya berdoa atau memberikan berkah. Apakah kita akan memberikan berkah kepada Rasulullah yang telah tercurahkan dari Allah swt ?? Apakah kita juga termasuk memerintahkan Allah untuk memberikan berkah kepada Rasulullah ?? Atau apakah Rasulullah butuh shalawat kita agar beliau mendapat Rahmat dari Allah. Padahal Rasulullah telah dijamin syurga oleh Allah. Apakah kita akan tetap menterjemahkan kata shalawat berarti doa untuk Nabi ?? Baiklah saya akan meneruskan pengertian shalawat dengan mengambil makna yang lain agar tampak jelas pengertian shalawat bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa ummatnya. Bersabda Nabi : Barang siapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah, Al Mirqah II :5 )

http://orido.wordpress.com

37

Hadith of the Day

Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan dimuka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampai-kan kepadaku ( sabda nabi) akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku. (HR. Ahmad, An Nasaiy & Ad Damrimy Syarah Al Hishn, Al Mirqah II:6) Barang siapa bershalawat untukku dipagi hari sepuluh kali dan dipetang hati sepuluh kali mendapatkan ia syafaatku pada hari kiyamat ( HR . At Thabrany Al Jami') Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari kiyamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat untukku ( HR At Thurmudzy ) Semakin terang bagi kita atas arti shalawat pada hadist diatas, bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa dari kita, akan tetapi justru Rasulullah yang akan memberikan pertolongan nanti dihari kiyamat apabila kita sering memberikan salam atau shalawat penghormatan kepada beliau. Dan Allah juga memberikan shalawat kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah. Hadist yang mengatakan bahwa : Barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah ) Hadist inilah yang menguatkan bahwa Allah bershalawat kepada siapa saja, bukan hanya kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Untuk lebih tegasnya kita perhatikan bacaan shalawat dalam tahiyyat shalat. at tahiyyatul mubarakatush shalawatu thoyyibatulillah, assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh, asssalamu'alaina wa'ala ibaadillahish shalihin. Terjemahan bebasnya: Salam hormat, keberkahan, shalawat yang terbaik untuk Allah, keselamatan atasmu wahai nabi serta rahmat dan keberkatan, juga salam hormat kepada para ahli ibadah yang shalih ….. Tahiyyat berarti penghormatan dan kita bershalawat kepada Allah yang berarti kita memuja Allah, kemudian menghormati Nabi dan yang terakhir menghormati orangorang yang shalih ….itulah arti shalawat, dimana kata itu bisa berarti berbeda jika penempatan kata tersebut berbeda. Seperti saya uraikan diatas tadi, kata perintah tidak harus berarti memerintah dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, akan tetapi kata perintah bisa berarti memohon, meminta pertolongan, anjuran, memberikan khabar (seperti iklan / promosi), menghina, meremehkan, penjelasan dll. Demikian uraian dari saya, mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk memahaminya. Dan saya menyarankan dan menghimbau kepada saudaraku yang sedang ghirah belajar agama berhati-hatilah dengan doktrin agama yang terkadang tidak menempatkan makna yang sebenarnya, sehingga tidak menguraikan secara objektif sesuai kata aslinya. bukan diterjemahkan menurut keinginan nafsu golongannya.

http://orido.wordpress.com

38

Hadith of the Day http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/4430a0d7.htm

Kenapa Rasulullah Perlu Didoakan/Shalawat?
Selasa, 4 Apr 06 10:36 WIB

Bismillahir Rahmaanir Rahiim, Assalamualaykum wr. wb. Ustadz yang dimuliakan Allah (amiin), Saya sering membaca pertanyaan dari orang non muslim (anehnya hanya orang Kristen) bahwa Rasulullah Muhammad SAW perlu didoakan oleh ummatnya karena beliau banyak dosanya, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan nabi karena harus didoakan, bukankah kalau nabi itu sudah pasti masuk surga? Sementara saya hanya bisa menjawab bahwa memang dalam Al-Qur'an kita diminta untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana Allah dan para Malaikat bersalawat kepada beliau, namun menurut hemat saya bersalawat itu bukannya mendoakan tapi menghormati (atau semacamnya) kalau itu diartikan sebagai doa, kenapa Allah Swt berdoa (kepada siapa?). Tolong Ustadz barangkali ada jawaban/pendapat ustadz. terima kasih. Wassalamualaykum Wr Wb F. Alaydrus Farid Alaydrus faridalaydrus at eramuslim.com

Jawaban
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dialog dan pertanyaan yang kritis seperti ini kalau kita mau ikuti, tentu tidak akan ada habisnya. Selalu akan muncul terus pertanyaan seperti ini, meski bila dijawab dengan tuntas belum tentu membuat penanya berubah pikiran.

http://orido.wordpress.com

39

Hadith of the Day Dan di antara pertanyaan model begini yang paling sering dilontarkan adalah masalah shalat kepada Nabi. Ini adalah pertanyaan klasik yang muncul dari mereka yang kurang punya pemahaman dalam bahasa Arab khususnya dan ilmu Al-Quran pada umumnya. Padahal di dalam ilmu tafsir, yang disebut dengan 'bershalawat' itu maknanya banyak, tidak terbatas kepada doa semata. Karena itu di dalam Al-Quran AlKarim kita menemukan adanya ayat yang menceritakan bahwa Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi SAW. Dan untuk itu umatnya pun diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau juga. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya .(QS. Al-Ahzab: 56). Dan apa maksud Allah SWT bershalawat kepada Nabi SAW? Apakah maknanya Allah berdoa kepada Nabi? Tentu saja bukan. Mana mungkin Allah berdoa kepada nabi ciptaan-Nya sendiri. Tentu salah besar bila bershalawat di dalam ayat ini dimaknai dengan Allah berdoa. Yang dimaksud dengan Allah SWT bershalawat kepada Nabi adalah bahwa Allah SWT memberinya rahmat. Dan rahmat itu adalah kasih sayang yang selalu mendampingi beliau. Sedangkan makna para malaikat bershalawat kepada nabi adalah memintakan ampunan. Meski pun yang dimintai ampunan sudah tidak punya dosa, lantaran para nabi adalah orang-orang yang makshum. Dan hal ini tidak perlu dipertanyakan, sebab Rasulullah SAW sendiri setiap hari meminta ampun kepada Allah SWT seratus kali. Ketika para shahabat menanyakannya, beliau hanya menjawab, "Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?" Sedangkan bila shalawat itu dari orang mukmin maka maknanya adalah doa supaya beliau diberi rahmat dan kasing sayang. Dan mendoakan seorang nabi tidak salah, karena salam yang kita sampaikan kepada orang yang bertemu dengan kita pun maknanya adalah doa. Kalimat Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh maknanya adalah ‘Semoga keselamatan terlimpah atasmu serta rahmat dan barkahnya.’. Buat orang Islam, saling mendoakan satu sama lain adalah hal yang biasa dan telah menjadi syiar agama. Termasuk memberi salam kepada Rasulullah SAW dan bershalawat kepadanya. Kalau kita mendoakan keselamatan dan kepada seseorang bukan berarti kita meyakjini bahwa dirinya ada dalam ketidak-selamatan. Doa keselamatan itu sama saja bila kita menyapa teman dengan mengatakan semoga Anda

http://orido.wordpress.com

40

Hadith of the Day sekeluarga dalam keadaan sehat wal afiat. Apakah bila kita menyapa demikian berarti teman kita itu sekeluarga sedang dirawat di rumah sakit? Tentu tidak, karena salam dan shalawat itu sifatnya syiar yang hidup di tengah sesama kita. Dan mendoakan keselamatan tidak berarti yang kita salami itu sedang sakit tidak bisa bangun. Maka pertanyaan yang agak konyol ini sesungguhnya tidak perlu memusingkan kita. Sebab yang bertanya kurang memahami hakikat salam dan shalawat di dalam pergaulan umat Islam. Jadi banyak hal yang kurang masuk di logika dirinya. Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.almanhaj.or.id/content/1488/slash/0

Sunnah-Sunnah Dalam Adzan Dan Iqomah
Minggu, 17 Juli 2005 07:52:24 WIB SUNNAH-SUNNAH DALAM ADZAN Oleh Syaikh Khalid al Husainan Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan adzan ada lima: seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. [1]. Sunnah Bagi Orang Yang Mendengar Adzan Untuk Menirukan Apa Yang Diucapkan Muadzin Kecuali Dalam lLfadz. "Hayya 'alash-shollaah, Hayya 'alash-shollaah" Maka ketika mendengar lafadz itu maka dijawab dengan lafad.

http://orido.wordpress.com

41

Hadith of the Day

"Laa hawla walaa quwwata illa billahi" “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah "[HR. AlBukhari dan Muslim no. 385.] Faedah Dari Sunnah Tersebut ‘Sesungguhnya (sunnah tersebut (yaitu menjawab adzan) akan menjadi sebab engkau masuk surga, seperti dalil yang tercantum dalam Shahih Muslim (no. 385. Pent) [2]. Setelah Muadzin Selesai Mengumandangnkan Adzan, Maka Yang Mendengarnya Mengucapkan [1] “Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya. Aku ridho kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama(ku) dan Muhammad sebagai Rasul” [HR. Muslim 1/240 no. 386] Faedah Dari Sunnah Tersebut Dosa-dosa akan diampuni sebagaimana apa yang terkandung dalam makna hadits itu sendiri. [3]. Membaca Shalawat Kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa salam setelah selesai menjawab adzan dari muadzin dan menyempurnakan shalawatnya dengan membaca shalawat Ibrahimiyyah dan tidak ada shalawat yang lebih lengkap dari shalawat tersebut. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Apabila kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang http://orido.wordpress.com 42

Hadith of the Day diucapkannya lalu bershalawatlah untukku karena sesungguhnya orang yang bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali" [HR. Muslim 1/288 no. 384)] Faedah Dari Sunnah Tersebut Sesungguhnya Allah bershalawat atas hambaNya 10 kali Makna bahwasanya Allah bershalawat atas hambaNya adalah Allah memuji hambaNya di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat Ibrahimiyah adalah : “Artinya : Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahamulia. Berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahamulia.” [HR. Bukhari dalam Fathul Baari 6/408, 4/118, 6/27; Muslim 2/16, Ibnu Majah no. 904 dan Ahmad 4/243-244 dan lain-lain dari Ka’ab bin Ujrah] [4]. Mengucapkan Doa Adzan Setelah Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Ã"Artinya :Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-Wasilah (derajat di Surga), dan alfadhilah kepada Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallm. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang Engkau janjikan.” [HR. Bukhary no. 614, Abu Dawud no. 529, At-Tirmidzi no. 211, an-Nasaa’I 2/2627. Ibnu Majah no. 722). adapun tambahan "Sesungguhnya Engkau Tidak pernah menyalahi janji" Ttidak boleh diamalkan karena sanadnya lemah. Lihat http://orido.wordpress.com 43

Hadith of the Day Irwa’ul Ghalil 1/260,261] Faedah Dari Doa Tersebut Barangsiapa yang mengucapkannya (doa tersebut) maka dia akan memperoleh syafa’at dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam [5]. Berdoa Untuk Dirinya Sendiri, Dan Meminta Karunia Allah Karena Allah Pasti Mengabulkan Permintaannya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam “Artinya : Ucapkanlah seperti apa yang mereka (para muadzdzin) ucapkan dan jika engkau telah selesai, mohonlah kepadaNya, niscaya permohonanmu akan diberikan.” [Lihat Shahihul Wabili Shayyib oleh Syaikh Salim bin Ied AlHilaly, hal: 183] Apabila sunnah-sunnah ketika mendengar adzan dikumpulkan, maka seorang muslim telah melaksanakannya sebanyak 25 sunnah. SUNNAH-SUNNAH DALAM IQAMAH Sunnah-sunnah saat iqamah sama dengan sunnah-sunnah pada adzan yaitu pada empat point yang pertama. Hal ini sesuai dengan Fatawa Lajnah ad Daimah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’. Apabila dijumlah secara keseluruhan terdapat 20 sunnah iqamah pada setiap shalat wajib. Faidah : Merupakan sunnah bagi yang mendengar iqomah untuk menirukan orang yang iqamah kecuali pada lafadz "Hayya 'alash-shollaah, Hayya 'alash-shollaah"

http://orido.wordpress.com

44

Hadith of the Day Ketika mendengar lafadz itu, dijawab dengan lafadz "Laa hawla walaa quwwata illa billahi" “Artinya : Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah" [HR. Muslim no. 385.] Kemudian ketika ucapan "Qod qoomatish shalah" Hendaknya menirukannya dan tidak boleh mengucapkan "Aqoomahaa Allahu wa adaamaha" Karena ucapan itu berdasarkan hadits yang dhaif" [Lajnah ad Daimah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’] [Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid AlHusainan, Penerjemah Zaki Rachmawan] _________ Foote Note [1]. Ada yang berpendapat, dibaca sesudah muadzdzin membaca syahadat. Lihat Ats-Tsamarul Musthaahb fii Fiqhis Sunnah wal Kitaab hal. 172-185 oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah

http://www.eramuslim.com/atk/oim/4405718b.htm

Cintaku padamu ya Rasulullah
10 Mar 06 11:31 WIB http://orido.wordpress.com 45

Hadith of the Day Oleh Vita Sarasi Rasanya tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak marah jika orang yang dicintainya dihina atau diolok-olok oleh orang lain. Bahkan kalau mampu, ia akan membalas. Jadi, saya pikir benar juga reaksi umat Islam di seluruh dunia dalam kasus karikatur yang diakui oleh pembuat dan penerbitnya sebagai sosok Nabi Muhammad saw. Betapa tidak, beliau adalah sosok yang (wajib) diagungkan dan dicintai lebih dari makhluk-Nya yang lain oleh setiap diri yang mengaku muslim. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ”Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, kalian tidaklah beriman, hingga kalian mencintai aku lebih dari orang tua dan anak kalian” (HR Imam Bukhari). Sahabat Umar ra juga pernah ditanya oleh Rasulullah saw: "Apakah kamu cinta kepada Rasulullah wahai Umar?" Beliau menjawab: "Betul wahai Rasulullah saw, tapi tidak melebihi kecintaan saya kepada diri saya sendiri." Rasulullah berkata: "Tidak, wahai Umar. Kalau kamu cinta kepada Rasulullah, kecintaan itu harus melebihi dari kecintaan kamu kepada diri kamu sendiri." Sejenak Umar diam, lalu berkata: "Saya mencintai engkau wahai Rasulullah lebih dari kecintaan saya pada diri saya sendiri." Rasulullah kemudian berkata: "Itulah makna kecintaan kepada Rasulullah wahai Umar" (Hadits). Jangankan umat muslim, salah seorang profesor yang saya kenal sebagai nonmuslim di Jerman ini sempat berkomentar sambil geleng-geleng kepala yang memperlihatkan rasa gusarnya: “Das ist wirklich eine schwere Beleidigung” (Itu benar-benar suatu penghinaan yang berat). Minggu lalu saya mengikuti sebuah forum diskusi Islam. Ternyata, rasa kesal dan marah kepada orang yang menghina Rasulullah saw itu merupakan manifestasi adab (kewajiban) seorang muslim untuk membenci dan memusuhi orang yang beliau benci. Sebaliknya, kita juga wajib mencintai sesuatu atau orang yang beliau cintai, misalnya para sahabat beliau. *** Kita perlu mengenal lebih jauh adab (kewajiban) apa saja bagi seorang muslim sebagai wujud rasa cinta yang mendalam kepada beliau. Mengapa? Supaya kita termasuk golongan yang benar-benar mengikuti beliau. Beliau bersabda “Kaum Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, sedangkan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah?” Beliau berkata “Yaitu yang berada di atas sebagaimana yang aku dan sahabatku lalui hari ini.” (HR Imam Bukhari, Imam Muslim). Cinta pada Rasulullah juga berarti menjadikan beliau panutan atau idola. Sejarah menunjukkan, ada tiga golongan manusia yang umumnya dijadikan http://orido.wordpress.com 46

Hadith of the Day panutan atau idola yaitu para raja/pemimpin atau tokoh masyarakat atau tokoh populer, lalu para filsuf atau pemikir, serta para nabi dan rasul. Di antara ketiganya, para nabi as. khususnya Nabi Muhammad saw jelas jauh lebih layak untuk dijadikan suri teladan (uswatun hasanah). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab 21). *** Namun menokohkan beliau bukan sekedar mengidolakan dan memajang kaligrafi namanya pada dinding rumah, tapi juga mencontoh, mengikuti jejak, dan meniru langkahnya, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Jika beliau mengucapkan basmallah sebelum berbuat sesuatu dan hamdallah setelah selesai mengerjakannya, maka kita ikuti langkahnya. Jika beliau menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, maka kita tiru jejaknya. Bahkan lebih dari itu, sunnah atau ajarannya kita hidupkan, syariat atau perintahnya kita syiarkan, dakwah atau seruannya kita teruskan, dan wasiat atau pesannya kita laksanakan. Tidaklah terhitung wasiat beliau, di antaranya menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, mengkonsumsi makanan yang halaalan thoyyiban (bukan sekedar bergizi, tapi bahan dan cara memperolehnya juga halal). Kita wajib mengimani apa-apa yang beliau kabarkan, baik tentang agama, urusan dunia, maupun perkara ghaib di dunia dan di akhirat. Misalnya, kita wajib percaya dan taat bahwa beliau telah menjalankan Isra’ dan Mi’raj dan membawa perintah shalat fardlu lima waktu. Kita juga percaya dan taat bahwa beliau pernah bercakap-cakap dengan bangsa jin. Beliau memerintahkan agar manusia tidak tersesat hingga minta bantuan jin karena termasuk perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Bahkan, kita juga wajib percaya dan taat bahwa Al-Qur’an itu bukan hasil karangan beliau tapi wahyu dari Allah SWT baik secara langsung dan melalui malaikat Jibril. Maukah Anda turut didoakan oleh malaikat? Maka muliakan dan agungkan nama beliau dengan mengucapkan shalawat (doa agar kesejahteraan dilimpahkan pada beliau) dan salam (doa agar beliau terhindar dari bahaya dan fitnah). Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku, maka malaikat juga mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak” (HR Imam Ibnu Majah dan Imam Thabrani). Oleh sebab itu, setiap doa akan lebih mungkin dikabulkan jika sebelumnya didahului membaca hamdallah (pujian untuk Allah SWT), serta shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Gelar Shalallaahu ‘alaihi wasallam di samping sebagai shalawat dan salam, juga untuk membedakan panggilan beliau dengan orang lain, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)” (QS. An Nuur: 63) http://orido.wordpress.com 47

Hadith of the Day *** Salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan kritis. Dia telah mendengar hadits berikut: Abdullah bin Abbas berkata ada seorang lelaki buta yang istrinya selalu mencela dan menjelek-jelekkan Rasulullah saw. Lelaki itu berusaha memperingatkan dan melarang istrinya agar tidak melakukan hal itu. Namun, ia tetap melakukannya. Pada suatu malam, istrinya kembali mencela dan menjelek-jelekkan Rasulullah saw. (Karena tidak tahan) lelaki itu mengambil kapak dan menghunjamkannya ke perut istrinya hingga mati. (Mendengar itu) Rasulullah saw bersabda: “Saksikanlah bahwa darah (perempuan itu) halal” (HR Imam Abu Dawud dan an-Nasa'i). Peserta diskusi itu bertanya, mengapa hadits itu kontradiksi dengan perintahnya agar berlaku lemah lembut, bersabar dan berlapang dada jika kita disakiti atau dizalimi oleh orang lain? Dengan bijak, pak ustadz menjawab bahwa hadits itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. At Taubah 61, “Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih”. Di satu sisi, tindakan lelaki buta dalam hadits itu adalah wujud kecintaannya pada Rasulullah yang melebihi cinta pada istrinya. Ia telah bersabar dan memberi peringatan berkali-kali sebelum akhirnya membunuh istrinya. Ini sama dengan polisi yang telah menembakkan pistol ke udara dan ke arah kaki penjahat yang berusaha melarikan diri sebelum akhirnya menembak tubuhnya jika ia bersikeras untuk lari. Lagipula lelaki buta itu hanya membunuh istrinya. Ibaratnya, jika hanya satu yang bersalah, janganlah yang serumah bersamanya dibom. Namun demikian sanksi hukuman mati ini tidak bisa diterapkan di negara yang tidak berdasarkan hukum Islam. Dalam kasus pemuatan karikatur tersebut, apa yang bisa dilaksanakan oleh negara-negara Islam adalah menyampaikan nota protes keras, memutuskan hubungan diplomatik, dan boikot produk dagang. Menurut kabar, boikot ini menimbulkan kerugian perdagangan yang sangat besar sebab dilakukan oleh negara-negara Islam di Timur Tengah yang kaya. *** Para peserta pengajian puas karena telah mendapat pencerahan alias ilmu. Memang benar sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang menapak jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayapnya karena ridha terhadap mereka yang menuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh makhluk Allah yang ada di langit dan yang ada di bumi, sampai ikan-ikan di dalam lautan juga memintakan ampunan buat mereka. Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang ahli ibadah adalah seumpama bulan pada saat purnama dibandingkan dengan bintang-bintang. Dan orang yang berilmu merupakan pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham kepada mereka, namun mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang http://orido.wordpress.com 48

Hadith of the Day mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Imam Abu Daud). Namun jangan salah arti. Ini bukan ilmu sembarang ilmu, tetapi ilmu yang dapat menambah iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Ilmu yang akan membuat kita bahagia di dunia dan di akhirat. Tidak lain tidak bukan yaitu ilmu agama Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad... Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang yang mencintai, sekaligus dicintai oleh Rasulullah saw dan mengumpulkan kita kelak bersamanya, bukan bersama 72 golongan lain dari umat Islam yang tersesat itu. Amin. Wallahu a`lam bishshowab. Frankfurt am Main, 1 Maret 2006 vitasarasi at yahoo dot com

http://orido.wordpress.com

49

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->