LAPORAN PENELITIAN PENELITIAN DASAR (LITSAR) UNPAD PENGGUNAAN LIMBAH KIAMBANG JENIS DUCKWEEDS DAN AZOLA DALAM PAKAN

DAN IMPLIKASINYA PADA IKAN NILEM

Oleh : Mochamad Untung Kurnia Agung A., S.Kel. Kiki Haetami, SPt., MP. Yuniar Mulyani, SP., MT.

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2007 Berdasarkan SPK No. 251.M /J06.14/LP/PL/2007 Tanggal 2 April 2007

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN NOPEMBER 2007

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR (LITSAR) UNPAD SUMBER DANA DIPA UNPAD TAHUN ANGGARAN 2007 1. a. Judul Penelitian b. Macam Penelitian c. Kategori Penelitian 2. Ketua Peneliti a. Nama Lengkap dan Gelar b. Jenis Kelamin c. Pangkat/Golongan/NIP. d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/Jurusan f. Pusat Penelitian Jumlah Tim Peneliti Lokasi Penelitian : Penggunaan Limbah Kiambang Jenis Duckweeds dan Azola dalam Pakan dan Implikasinya Pada Ikan Nilem. : Terapan : I : : : : : : Mochamad Untung Kurnia Agung A., S.Kel. Laki-laki Penata Muda/ III-a/132 317 128 Asisten Ahli Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan Lembaga Penelitian Unpad, Bandung.

3. 4.

: 3 Orang : - Lab. Fisiologi Hewan Air FPIK Unpad - Lab. Nutrisi Ikan FPIK Unpad, Jatinangor. - Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. : Tidak

5. 6. 7.

Bila Penelitian ini Merupakan Peningkatan Kerjasama Kelembagaan Lama Penelitian Biaya yang Diperlukan

: 8 (Delapan) Bulan : Rp 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) Jatinangor, 14 Nopember 2007 Ketua Pelaksana,

Mengetahui : Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad,

Prof. Dr. H. Bachrulhajat Koswara, Ir. S.Kel. NIP. 130 367 246

Mochamad Untung Kurnia Agung A., NIP. 132 317 128

Menyetujui: Ketua Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran,

Prof. Oekan S. Abdoellah, MA.Ph.D. NIP. 130 937 900 PENGGUNAAN LIMBAH KIAMBANG JENIS DUCKWEEDS DAN AZOLA DALAM PAKAN DAN IMPLIKASINYA PADA IKAN NILEM Oleh : M. Untung Kurnia A, Kiki Haetami, Yuniar Mulyani*) ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan kiambang jenis ducweeds dan azola dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan efisiensi pakan ikan nilem. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (4x4), dengan berbagai tingkat penggunaan kiambang (0, 10%, 20%, dan 30%). Ikan yang digunakan adalah benih nilem ukuran + 1 gram sebanyak 10 ekor untuk setiap perlakuan. Implikasi pada ikan nilem menunjukkan bahwa tingkat penggunaan tepung kiambang dalam pakan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan efisiensi pakan. Pertumbuhan mutlak (g) biomasa ikan selama 21 hari pengambilan data dengan pemberian pakan yang menggunakan kiambang 10%, 20%, 0% dan 30% berturut-turut sebesar 2,44%, 2,41%, 2,30%, dan 2,12%. Dengan demikian penggunaan tepung kiambang dalam pakan benih ikan nilem dapat digunakan sampai tingkat 30%.
Kata kunci : Kiambang, benih ikan nilem, pertumbuhan.

THE USED OF DUCKWEEDS AND AZOLLA ON FEED AND ITS IMPLICATED ON NILEM FISH By : M. Untung Kurnia A, Kiki Haetami, Yuniar Mulyani*) ABSTRACT The aim of this experiment was to examine “the used level duckweeds and azolla meal on growth and feed efficiency of nilem fish. The researh used Completelly

2. 20%. yang atas perkenannya penelitian ini dapat berlangsung melalui pembiayaan dana Penelitian Litsar Unpad tahun anggaran 2007. The Absolute Growth with used level 10%. 4. .41%. Finally the used level of duckweeds and azolla mix. yang telah memberikan kepercayaan untuk melakukan penelitian ini. 10%. Lab. Bapak Rektor Universitas Padjadjaran dan Bapak Ketua Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. respectively 2.12%. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. 0% and 30%. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah Swt. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak.meal. Judul laporan penelitian ini adalah “Penggunaan Limbah Kiambang Jenis Duckweeds Dan Azola Dalam Pakan Dan Implikasinya Pada Ikan Nilem”. penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Implicated on nilem fish was that level of duckweeds and azolla mix. and 30%). Meal (0. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. 2. 20%. yang telah memberikan izin penggunaan laboratorium.44%. Fisiologi Hewan Air FPIK Unpad dan Lab. Jatinangor. Bapak Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.30%. dan 2. laporan hasil penelitian ini dapat diselesaikan. Akhirnya penulis berharap laporan hasil penelitian ini bermanfaat bagi berbagai pihak yang memerlukannya. Industri Makanan Ternak. Pada kesempatan ini. Nilem seed. 3. karena atas Rahmat-Nya. 14 November 2007 Penulis. meal was not significant on growth and feed efficiency. Kepala Laboratorium Nutrisi Ikan. with used of levels duckweeds and azolla mix. growth. Each treatment was used 10 Nilem seeds size 1 g.Randomized Design (4x4). Key words : Duckweeds and azolla mix. meal can used 30% on feed. 2.

..… 4.. Ransum Perlakuan ..… .. 2......1........ I....3..……………………......... 11 11 11 Halaman i ii iii iv vi vii 1 1 3 4 4 5 6 7 8 8 8 11 . Alat dan Bahan .. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………......2... 3. IV... PENDAHULUAN ………………………………………………… 1.....3........ TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………............……………………………………........ II. Aspek Biologi Ikan Nilem …………………………......... 1..... 4........4........ Manfaat Penelitian …………………………………….1... 3..... DAFTAR ISI ………………………………………………………........... III..1.....DAFTAR ISI BAB LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN…………………… ABSTRAK DAN ABSTRACT………………………….. 2.. DAFTAR TABEL ………………………………………………… DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………….....4..... Deskripsi Duckweeds dan Azola .......... Metode Penelitian……………………………………………....………… KATA PENGANTAR ……………………………………………. 4. METODE PENELITIAN ……………………….... Latar Belakang ……………………………………………….......2.2... Daya Cerna dan Pertumbuhan Ikan ... 2................ Lokasi dan Lama Penelitian ... 2..... Identifikasi Masalah …………………………………………......... 4......................... Pakan Ikan Nilem …………………………………………….1............ Tujuan Penelitian ……………………………………………............2....

Pertumbuhan Ikan Nila Gift ……………………………………. 6........1.... KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………............ V........ VI......2...................5..... HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………………… 5..................4...... Saran …………………………………………………………...... Pengaruh Perlakuan terhadap Efisiensi Pakan .. DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………… LAMPIRAN ……………………………………………………….. 4.. Prosedur Penelitian ................ 5..... 6.. 11 12 14 14 16 22 22 22 23 25 ........2........... Kesimpulan …………………………………………………................1.......... Peubah yang Diamati ....6..........

... 2........ Halaman 10 10 14 16 19 ... Kandungan Energi dan Nutrien Bahan Pakan Penyusun Ransum ....... Pertumbuhan Mutlak Ikan Nilem selama Pemeliharaan ...DAFTAR TABEL No. Susunan Ransum Basal dan Ransum Perlakuan Lainnya .. 4............... Rataan Jumlah Pemberian Pakan Biomasa Ikan Nilem selama Pemeliharaan ………………………………………………………… Rataan Efisiensi Pemberian Pakan Benih Nilem ……………………...... 5. 1. 3..

DAFTAR LAMPIRAN No. Analisis Ragam Efisiensi Pemberian Pakan Ikan Nilem ……………. …. 4. 2. 3. 5. Halaman 24 25 26 27 28 . Personalia Peneliti …………………………………………………… Data Pertumbuhan Mutlak Biomassa Benih Ikan Nilem …………… Analisis Ragam Pertumbuhan Mutlak Ikan Nilem ………………. 1. Data Efisiensi Pemberian Pakan Biomassa Benih Ikan Nilem ……….

yaitu melalui berbagai terobosan untuk mempertinggi hasil perikanan. Gulma perairan tersebut apabila dikelola dengan baik berpotensi digunakan sebagai pakan. Misalnya di perairan wilayah Desa Sukasenang. Latar Belakang Penyediaan pangan merupakan masalah yang terus-menerus diupayakan pemecahannya untuk kesejahteraan manusia. Hijauan merupakan alternatif yang tepat sebagai bahan baku pencampur dalam pembuatan pellet karena mudah disediakan.I PENDAHULUAN 1.1. Diantara jenis kiambang yang berpotensi sebagai pakan adalah jenis duckweeds dan Azola. murah dan banyak jenisnya. sungai. Duckweeds dan Azola cukup potensial digunakan sebagai pakan karena banyak terdapat di perairan tenang. Garut banyak terdapat tanaman kiambang yang seringkali merupakan gulma di kolam/perairan tergenang seperti danau. Sumber protein utama yang sering digunakan pada pembuatan pellet adalah tepung ikan dan kedele. yang bersaing dengan pangan dan pakan ternak. dan pesawahan. Bayongbong.V). sangat responsif terhadap pellet buatan. Salah satu jenis ikan konsumsi yang berpeluang untuk dibudidayakan adalah ikan nilem (Osteochilus hasselti C. kolam. terutama yang berasal dari limbah pertanian dan gulma perairan. bahkan terhadap hijauan sekalipun. Kiambang adalah tumbuhan sejenis paku air yang terapung di kolam dan dapat menutupi permukaan badan perairan. salah satunya melalui pembangunan perikanan. Selain itu pertumbuhannya cepat karena dalam waktu 3-4 hari dapat memperbanyak diri . Ikan nilem termasuk ikan omnivora dan rakus.

(1999). 1979).36 g menghasilkan bobot akhir sebesar 34. Kandungan protein yang cukup tinggi dalam material tanaman dapat bermanfaat apabila disukai oleh ikan. . Sedangkan menurut Insan dkk. sehingga perlu diuji lebih lanjut tingkat kesukaannya pada ikan. efisiensi pakan dan pertumbuhan) Ikan Nilem (Osteochilus hasseltii). 2000).74 g). yang hasilnya sama dengan menggunakan pakan 100% pellet berenzim. Selanjutnya hasil penelitian pada ikan bawal air tawar. Selain itu kualitas pakan tergantung kepada jumlah ketersediaan zat-zat makanan yang digunakan oleh ikan. Kandungan protein duckweeds dan azola tergolong tinggi yaitu 20-30% dari berat kering (Setiatwan. kombinasi 80% azola segar dan 20% pellet berenzim dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari pada gurame dengan (bobot awal 10. Berdasarkan Latar belakang dan kerangka fikir tersebut azola dan dukweeds dapat digunakan sebagai pakan alternative pemanfaatan gulma perairan untuk ikan nilem. Namun tekstur yang lebih lunak dan komposisi protein yang tinggi tersebut belum dapat menggambarkan secara pasti nilai palatabilasnya dan nilai gizi yang sebenarnya. 1996). Hasil penelitian penggunaan azola 20% dapat mengurangi penggunaan bahan pakan komersial karena memberikan pertumbuhan terbaik pada nila merah (Mundriyanto. 2001 dan Singh 1979).37-11. penggunaan azola sampai tingkat 43% dapat menghasilkan pertumbuhan yang sama dengan pakan komersial (Haetami. yang antara lain ditunjukkan dari pertumbuhan.menjadi dua kali lipat dari berat segar (Singh. Duckweeds dan azola teksturnya lebih lunak dibandingkan jenis kiambang lainnya. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai Penggunaan Kiambang jenis Duckweeds dan azolla spp dan Implikasinya (tingkat kesukaan.

1.1. Aspek Biologi Ikan Nilem . II TINJAUAN PUSTAKA 2. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah : Sampai berapa jauh pengaruh tingkat penggunaan kiambang jenis duckweeds dan azolla spp.2. dalam campuran pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan nilem.

moncong tidak berlubang. Tubuh ikan nilem mirip dengan ikan mas. Pakan Ikan Nilem . nelem. namun kepalanya kecil. monto. lehat. palong. 1986. letak mata agak ke atas. bentuk mulut relatif lebar dengan mulut yang berkerut-kerut sebagai tanda pemakan jasad-jasad penempel. 1978). Nilem di berbagai daerah di Indonesia memiliki nama-nama yang berbeda seperti : mellem. palau. Sumatra. 1990).2. dan Sulawesi dahulu diperkirakan mula-mula didomestikasi (dijinakkan) di Jawa Barat. Nilem yang kini banyak tersebar di pulau Jawa. dan tinggi punggung hampir sama dengan tinggi batang ekor (Djajadiredja. muntu. dan pawas (Achjar. Ikan nilem memiliki dua pasang sungut peraba yang terdapat pada mulutnya. mangut. badan agak panjang dan pipih dengan sirip punggung yang relatif panjang.V. molem. Pusat-pusat pemijahan atau budidaya ikan sudah berhasil dilakukan oleh petani ikan antara lain terdapat di Kecamatan Tarogong Kabupaten Garut da Rancapaku (Soeseno. Djajadiredja. mramas.Klasifikasi ikan nilem menurut Djajadiredja (1990) adalah sebagai berikut : Subkelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Teleostei : Ostariophysi : Cyprinoidea : Cyprinoidea : Osteochilus : Osteochilus hasselti C. Kalimantan. Warna dari ikan nilem coklat atau hijau kemerahan dan merah (Murtidjo. 2. 1990). Badan ekor dikelilingi oleh 16-17 sisik. wader. 1980).

hal ini juga biasa dilakukan oleh para petani dalam memberi pakan pada ikan nilem yang terdiri dari hijauan segar dengan frekuaensi 3-5 kali sehari. dan pesawahan. Ususnya panjang. Para petani di Jawa Barat biasanya menyebut duckweeds dan azola adalah kiambang (kayambang). 1979). ikan nilem mempunyai usus yang panjang sehingga tergolong ikan yang cenderung herbivora. Pada bagian ini tidak lagi terjadi pencernaan. Deskrispsi Duckweeds dan Azola Duckweeds dan azola adalah sejenis tumbuhan paku air biasa ditemukan terapung di perairan tenang seperti danau. 2. Selama perkembangannya duckweeds dapat . Nilem dapat memanfaatkan pakan nabati 75-100%. kolam. dan menganggap sebagai gulma atau limbah pertanian. juga membantu osmoregulasi (Hoar. Potensi tumbuh cukup tinggi karena mudah beradaptasi terhadap berbagai jenis pakan dan bagian organ pencernaannya pada stadia benih sudah mulai lengkap. sungai. bagian akhir dari usus terjadi diferensiasi usus yang lebih lebar yang disebut rectum.Larva nilem yang masih kecil mula-mula memakan plankton kemudian ikan yang berukuran lebih besar kebiasaan makannya (feeding habit) bersifat penggerogot (grazer) untuk mendapatkan epiphyton dan periphyton (ganggang penempel) yang tumbuh di permukaan daun tanaman air.3. Duckweeds dan azola pada daerah pesawahan akan mengambang di atas permukaan air dan jika air berkurang akan menempel pada tanah yang lembab. fungsinya selain sebagai alat ekskresi. Ditinjau dari karakteristik saluran pencernaannya.

daya cerna komponen serat semakin baik. dkk.4. . permukaan daunnya lunak.5%. 1979). tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk pakan benih nilem.. lemak 3-3. fosfor 2-4. (1982). Duckweeds dan Azola mengandung protein kasar 24-30%. mudah berkembang dengan cepat. kalsium 0.4-1%. duckweeds dan azola dapat digunakan sebagai salah satu sumber protein nabati penyusun ransum ikan. Apabila diolah dalam bentuk pellet. karena mengandung protein yang cukup tinggi.7%. 2.menutupi permukaan air. dan hidup bersimbiosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi nitrogen dari udara (Akrimi. dan tidak mengandung senyawa beracun. sehingga jumlah konsumsi pakan relatif (% bobot tubuh/hari semakin kecil) (Vahl. Akan tetapi semakin besar ukuran ikan.3%. Azola adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung. Daya cerna dan Pertumbuhan Ikan Zat gizi pakan dan pertumbuhan ikan merupakan faktor pembatas dalam suatu model pertumbuhan. Duckweeds dan azola sebagai sumber protein alternatif sangat berpotensi karena mudah tersedia di perairan dan seringkali menjadi gulma karena dapat menutupi penetrasi cahaya matahari. pati 6. dkk. banyak terdapat di perairan tergenang. Ikan yang berbobot lebih kecil akan mengosongkan sejumlah pakan (% bobot tubuh per jam) dari dalam lambungnya lebih cepat dibanding ikan yang berbobot lebih besar. serat kasar 9. Tanaman ini banyak terdapat diperairan daerah Kecamatan Bayongbong Garut.5%. Kapasitas lambung dan laju pakan dalam saluran cerna merupakan variabel dari daya cerna. Menurut Cho. Duckweeds termasuk ordo Salviniales. 2001).1-12. Selama perkembangannya azola dapat tumbuh berlapis-lapis sehingga bisa menutupi permukaan air.

status fisiologi. sehingga dapat digunakan dalam penelitian daya cerna. frekuensi pemberian dua atau tiga kali sehari cukup menghasilkan konsumsi maksimum.Selain faktor ukuran ikan. (1989). jumlah konsumsi pakan. daya cerna dipengaruhi oleh komposisi pakan. . dan tata laksana pemberian pakan. Menurut Wang dkk.

3. .III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3. dalam campuran pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan nilem. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan kiambang jenis duckweeds dan azolla spp. dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan nilem.1. yaitu kiambang jenis duckweeds dan azola.2. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat penggunaan limbah perairan.

Fakultas Peternakan UNPAD 4. Azola dan duckweeds yang diperoleh dari petani ikan di Desa Sukasenang. dan susunan ransum basal dan ransum perlakuan lainnya disajikan pada Tabel 2.1. selang dan batu aerasi untuk suplai oksigen. Lokasi dan Lama Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ikan. Bahan yang akan digunakan adalah ikan nilem stadia pendederan kedua (ukuran). Kecamatan Bayongbong. 4.1V METODE PENELITIAN 4. Ransum Perlakuan Kandungan energi dan za-zat makanan bahan pakan penyusun ransum disajikan pada Tabel 1. Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK UNPAD. Tabel 1.2.3. mulai Bulan Mei sampai Juli 2007. Analisis zat-zat makanan dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Industri Makanan Ternak. timbangan untuk menghitung pakan dan ikan. blower. Alat dan Bahan Alat yang akan digunakan adalah akuarium sebanyak 16 buah. Garut. serta mesin penggiling dan pembuat pelet. Kandungan Energi dan Nutrien Bahan Pakan Penyusun Ransum .

24 82..22 SK 0.00 Abu 15..00 0.01 26.00 10.00 10..29 2.00 0.61 0.88 0.04 25..37 9..36 0. % …………………………… Tabel 2.00 48. B = 90% komersial+10% kiambang C = 80% komersial+20% kiambang.41 0.00 0.85 3.00 0..00 4.79 83.00 0...59 48.00 0.00 BK 91.00 0.00 PK 60..25 5....01 9.94 100.10 24.19 34..00 0..82 4.09 16.08 3..80 9.00 0..00 81. Kiambang Dedak padi Minyak ikan CMC Top mix Energi kkal/kg 3999 4000 3900 4165 6450 0.… kkal/kg Ket: A = 100% komersial.37 33..00 32.00 0.75 0..00 0.54 9.00 0.00 0.…….00 0.19 11.95 9.02 91.94 0.04 4..88 PK 9.38 0.58 14. Susunan Ransum Basal (A) dan Kandungan Gizi Ransum Perlakuan Bahan pakan Tep. D = 70% komersial+30% kiambang 4..64 12.4.Bahan pakan Tep..05 4.46 90.00 ………….32 1.12 83.70 0.35 0...12 Abu 2.84 9.60 SK 0.75 3.01 34.00 BK 13.99 0.08 11.00 0. Ikan Tep..50 5..06 27.15 0.07 13.89 6.00 30.54 40.00 LK 6.00 BETN 7.00 0.93 8.00 35.. Kedele Tep..12 2.96 9.00 0.00 0. Metode Penelitian ..69 BETN 1..23 10.58 4082 3807 3432 3780 Energi ….00 0.83 LK 1.14 5..00 0. % ……………………….26 34..16 23..00 0..00 5.00 83.00 1. Kedele Dedak padi Minyak ikan CMC Top mix Jumlah (RA) Ransum B Ransum C Ransum D Jumlah 15.00 100. Ikan Tep.……….58 1....60 5.25 16..00 1.00 0...45 27.77 40.00 1.

kemudian dicampurkan dengan tepung kedele. Pakan Komersial yang mengandung kiambang 30% . 2. Pelet disusun isoprotein sebesar 25%. Pembuatan pellet yang terdiri dari campuran duckweeds dan azola yang dikeringkan. Pakan komersial tanpa kiambang B. Konsumsi pakan (gram) . 4. dan minyak ikan. Pakan komersial yang mengandung kiambang 10% C. dedak padi. Pemeliharaan ikan : Ikan yang dipakai adalah benih nilem hasil pendederan kedua dengan ukuran sekitar 9-11 g/biomasa ikan. bungkil kedele. FPIK Unpad. tepung ikan dan minyak ikan.5. 4. Penelitian berlangsung di Laboratorium Fisiologi Hewan Air. Duckweeds dan azola terlebih dahulu dilayukan. Prosedur Penelitian 1.. Peubah yang diamati 1. Pakan komersial yang mengandung kiambang 20% D. Mengamati respon ikan terhadap duckweeds dan azola segar. dijemur dan digiling.6. 4. pengadaan azola dan duckweeds.Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (4X4). Tahap persiapan : penyiapan kolam. yaitu : A. 3. tepung ikan. penyiapan wadah percobaan. dedak.

1979) Konsumsi pakan (g) Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Nilai harapan dari εij = 0. H0 : Ro = R1 = R2 = R3. 4. Ragam dari εij = δ2. Konsumsi protein pakan (gram) = Kandungan Protein Pakan x Jumlah pemberian 3. 4. 1995). kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie. Model matematika: Yij = µ + αi + εij Keterangan: Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Rata-rata umum αI = Pengaruh perlakuan ke-i εij = Pengaruh komponen galat Asumsi: 1. atau paling sedikit ada sepasang Ri yang tidak sama. 2. 3. H1 : Ro R1 R2 R3. Pengaruh perlakuan bersifat tetap Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman Perlakuan (t) Galat (g) Total (T) dB t-1 t (r-1) tr–1 JK JKt JKg JKT KT KTt KTg Fhit KTt/KTg Ftabel Hipotesis yang diuji: 1. δ2). Pertambahan Bobot Mutlak (gram). Nilai εij menyebar normal dan bebas satu sama lain.. Jadi εij ~ NID (0.2. 2. Efisiensi Pakan = Pertumbuhan Mutlak (g) x 100% (Effendi. .

maka tolak H0 V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. maka terima H0 .1.Jika Fhitung > Ftabel .Jika Fhitung ≤ Ftabel .Kaidah keputusan: . Pertumbuhan Ikan Nilem .

49 2.32 1.55 2.04 2. dan D (pakan yang mengandung tepung kiambang).98 2.44 C 2. perlakuan A (pakan tanpa mengandung tepung kiambang campuran duckweed dan azola 30%).68 2.10 2.27 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa zat-zat makanan yang terkandung dalam kiambang dapat dimanfaatkan oleh ikan. D = 70% komersial+30% kiambang Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan individu ikan nilem cenderung meningkat.Hasil perhitungan pertumbuhan mutlak individu rata-rata berdasarkan pengukuran terhadap biomassa ikan nilem dari perlakuan tingkat penggunaan kiambang dalam pakan.41 D 2.68 2.16 2. kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan C (pakan yang mengandung tepung kiambang campuran duckweed dan azola 20%).12 Ket: A = 100% komersial. Menurut hasil analisis seperti yang tertera pada Tabel 1. kandungan protein kiambang adalah .35 2.12 2. dapat dilihat pada Tabel 3.26 2. Penggunaan tepung kiambang 10% dan 20% cenderung lebih baik dibanding pakan tanpa mengandung kiambang. Pertumbuhan mutlak tertinggi tercapai pada perlakuan B (pakan yang mengandung tepung kiambang campuran duckweed dan azola 10%). Tabel 3. B = 90% komersial+10% kiambang C = 80% komersial+20% kiambang.27 B 2.88 2. yang menunjukkan semua pakan perlakuan disukai oleh ikan.67 2. Hal ini menunjukkan pula pakan cukup menunjang untuk pemeliharaan tubuh (maintenance) dan selebihnya dipakai untuk pertumbuhan. Pertumbuhan Mutlak Ikan Nilem selama Pemeliharaan (gram) Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Perlakuan A 2.47 1.

penggunaan kiambang sampai tingkat 20% tidak menurunkan pertumbuhan. namun ikan yang digunakan cenderung bersifat herbivore dan telah mencapai stadia ‘ngaramo’ yang mampu mencerna serat kasar hingga 8% (Mudjiman.5%). Walaupun kandungan protein pakan yang mengandung kiambang lebih rendah dari kebutuhan ikan nilem. Duckweeds dan azola. penggunaan 20% kiambang kandungan serat kasar 5. 5. Pada Dalam penelitian ini walaupun kandungan serat kasar pakan cenderung meningkat dengan meningkatnya penggunaan kiambang. terjadi kecenderungan peningkatan pertumbuhan sampai tingkat penggunaan 10%. bahkan penggunaan kiambang 30% masih dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif. 1989). Duckweeds dan azola yang digunakan adalah hasil penjemuran dan penepungan yang sebelumnya tidak dilakukan pengolahan dengan pemanasan.64 %. 1992).14% dalam pakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tepung kiambang jenis duckweeds dan azola dapat digunakan dalam pembuatan pakan sampai tingkat 30%. Pengaruh Perlakuan terhadap Efisiensi Pemberian Pakan . Sedangkan menurut Tacon (1982). Duckweeds dan azola mengandung serat kasar yang cukup tinggi (9. benih ikan hanya mampu menolerir serat pakan sampai 4%.2.16. Hasil analisis keragaman yang tertera pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan. selain dapat dijadikan sumber protein pada pakan juga dapat menjadi sumber vitamin dan mineral yang diperlukan untuk memacu pertumbuhan ikan nilem. Kebutuhan protein pada pakan ikan nila gift menurut Sachwan (1996) adalah 25%. oleh karena itu tidak merusak kandungan vitamin dan mineral (Harris dan Karnas.

77 D 13. D = 70% komersial+30% kiambang Rataan jumlah pemberian pakan adalah pada seluruh perlakuan berkisar antara 11. Faktor pakan yang paling mempengaruhi jumlah konsumsi pakan adalah palatabilitas (tingkat kesukaan) pakan.42 11.16 gram. yang berarti seluruh pakan cenderung mendapatkan respon yang tidak jauh berbeda. Dianggap jumlah pakan yang diberikan seluruhnya dikonsumsi oleh ikan. Jumlah pakan yang dikonsumsi pada ikan dipengaruhi oleh jenis ikan. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 5% bobot biomassa dan setiap Minggu dilakukan penyesuaian jumlah pemberian pakan berdasarkan data bobot ikan yang ditimbang setiap minggu.70 11.93 12.02 11.68 11. dan jenis pakan.68 11.97 12. Rataan Jumlah Pemberian Pakan Biomasa Ikan Nilem Selama Penelitian (gram).01 11. B = 90% komersial+10% kiambang C = 80% komersial+20% kiambang.17 11. Rataan jumlah pemberian pakan selama penelitian pada masing-masing perlakuan dapat ditelaah pada Tabel 4 berikut ini. ukuran ikan.12 11. Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Perlakuan A 10.16 Ket: A = 100% komersial.21 11.13 11.64 12. kandungan energi pada pakan dan serat kasar.Jumlah Pemberian komulatif adalah banyaknya pakan yang diberikan pada setiap perlakuan pada setiap minggu penyesuaian selama tiga minggu penelitian.49 B 11. Tabel 4. Fenomena ini memberi arti bahwa diantara perlakuan penambahan kiambang dalam pakan buatan tidak menyebabkan penurunan jumlah konsumsi pakan secara nyata diantara setiap perlakuan. .49 gram sampai dengan 12.33 11.19 12.44 C 12.20 11.

pada penelitian ini penggunaan kiambang sampai 30% dengan kandungan serat kasar 5.03 (pakan A). Pada benih ikan nilem karena kebiasaan makannya yang cenderung herbivora. Pada Tabel 2 tertera bahwa kandungan energi berkisar antara 3432 kkal/kg (pakan C) sampai 4082 kkal/kg (pakan A). Cenderung lebih rendahnya konsumsi pakan pada pakan A. walaupun secara angka rataan jumlah pemberian pakan tidak jauh berbeda.76 gram (pakan . yaitu dari 4. 2. Sesuai dengan pendapat Wahju (1992) yang menyatakan bahwa kandungan energi ransum yang sama akan menghasilkan konsumsi ransum yang sama pula. batasan serat kasar untuk benih ikan omnivora adalah 4%. mungkin disebabkan oleh nilai energi bruto pakan yang paling tinggi. Sedangkan kandungan serat kasar meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan tepung kiambang. 1985). Kandungan protein menurun seiring dengan meningkatnya tingkat penggunaan atau tingkat penambahan tepung kiambang.Kandungan Gizi Ransum Perlakuan tertera pada Tabel 2. Konsumsi protein komulatif adalah banyaknya pakan yang diberikan dikalikan dengan kandungan protein ransum selama lima minggu penelitian.99 gram (pakan A). Kandungan protein pakan hasil analisis proksimat pada penelitian ini berkisar antara 23. Berdasarkan data rataan jumlah pemberian pakan (Tabel 3) dan kandungan protein pakan (Tabel 2).64%. maka rataan konsumsi protein selama penelitian pada masing-masing perlakuan adalah 2.69%.05% sampai 5. yaitu sebesar 16.25 (pakan D) sampai 26.69 % tidak menyebabkan palatabilitas dan tingkat konsumsi pakan tersebut menjadi rendah. sedangkan menurut Tacon (1982). Kandungan serat kasar dalam pakan untuk ikan pada umumnya adalah tidak boleh lebih dari 8 persen (Djajasewaka. Hal ini karena kandungan camuran tepung kiambang jenis duckweeds dan azola yang lebih rendah dari pakan basal (pakan A).

34 22.28 (pakan B). D = 70% komersial+30% kiambang Rataan efisiensi pemberian pakan berkisar antara 17.11 22.27 23. Imbangan efisiensi pakan ini diperoleh dengan cara membagi pertumbuhan mutlak dengan konsumsi pakan. B = 90% komersial+10% kiambang C = 80% komersial+20% kiambang.99gram).71 17.33 20.41 (pakan D) sampai dengan 21. .B). Pengaruh perlakuan terhadap efisiensi pemberian pakan diperjelas dengan analisis statistika yang daftar sidik ragamnya tercantum pada Lampiran 5. Dari nilai tersebut tampak bahwa konsumsi protein seluruh perlakuan mempunyai kisaran yang hampir sama (2.94 20.04 B 18.75 20.28 C 21.97 17.41 Ket: A = 100% komersial.42 D 17.14 17.83 gram (pakan D).76 – 2. 2.31 19. dan 2.54 21.83 16.98 20.81 21. Rataan Efisiensi Pemberian Pakan Benih Nilem Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Perlakuan A 20. Kualitas protein suatu bahan pakan dapat diketahui dengan cara menghitung nilai imbangan efisiensi pakan atau efisiensi pemberian pakan.81 17.94 gram (pakan C). dan hasilnya tercantum pada Tabel 5.77 17. Tabel 5.

Sedangkan penggunaan penggunaan tepung kiambang sebesar 10% pada perlakuan B mempunyai nilai efisiensi pemberian pakan yang cenderung lebih tinggi dibandingkan pakan tanpa menggunakan tepung kiambang. menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0. Walaupun demikian efisiensi pemberian pakan ransum perlakuan A sampai dengan B adalah relatif sama. C dan D. yaitu semakin tinggi kualitas dan konsumsi pakan akan menghasilkan efisiensi pemberian pakan yang semakin tinggi pula. Menurut Tacon (1982) serat kasar pada pakan benih ikan omnivora tidak boleh melebihi 4%. kualitas protein. sehingga .05). kandungan serta kasar pada pakan D (sebesar 5. Efisiensi pemberian pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: jumlah pemberian pakan.14 g) dibanding dengan perlakuan lainnya. Efisiensi pemberian pakan mempunyai hubungan yang nyata dengan kualitas dan jumlah pakan. Semakin rendah nilai efisiensi pemberian pakan maka Hal ini disebabkan semakin rendah pula kualitas protein dari ransum tersebut. konsumsi protein. karena akan menurunkan kualitas protein. namun penggunaan tepung kiambang sebesar 30% pada perlakuan D mempunyai efisiensi pemberian pakan yang cenderung lebih rendah. Walaupun diketahui bahwa antara perlakuan A. 1972).Berdasarkan hasil analisis sidik ragam tampak bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P<0. yang adaptif terhadap pakan nabati seperti halnya kiambang.05) terhadap efisiensi pemberian pakan.41%) disebabkan karena relatif lebih rendahnya pertumbuhan mutlak (12. B. Rendahnya nilai efisiensi pemberian pakan pada perlakuan D(17.69%) yang melebihi batas toleransi serat kasar untuk benih ikan. imbangan energi dan protein (Wahju. Hal ini disebabkan karena ikan nilem yang digunakan pada penelitian ini termasuk ikan herbivora.

99 gram (pakan A). dan 2. Pada penelitian ini kandungan serat kasar yang tinggi pada pakan D tidak menurunkan palatabilitas pakan. sehingga walaupun kandungan protein pakan D lebih rendah (23. sehingga kebutuhan protein untuk pertumbuhan terpenuhi (Wahju.pertumbuhan meningkat. Meningkatnya pakan yang dikonsumsi dengan kualitas yang baik. yaitu 2. . bahkan pada pakan D jumlah pakan yang diberikan cenderung paling tinggi (12. kandungan protein pakan yang dikonsumsi pada perlakuan D (2.16 garm).25%). 2.94 gram (pakan C). dan berdampak terhadap efisiensi pemberian pakan. 1972).83 gram) relatif sama dengan perlakuan lainnya.76 gram (pakan B). akan memberikan kesempatan pada tubuh ternak untuk meretensi zat-zat makanan yang lebih banyak. Adapun relatif rendahnya kualitas pakan pada perlakuan D disebabkan karena tingginya kandungan serat kasar yang menyebabkan rendahnya daya cerna.

menurunkan 6. Saran Kiambang dapat digunakan sebagai pakan alternatif untuk menunjang pertumbuhan yang tinggi pada ikan nilem pada tingkat penggunaan 10% dalam pakan.2.1. . Kesimpulan Kesimpulan dari hasil Penelitian ini adalah : (1) Kiambang dapat digunakan dalam pembuatan tepung kiambang untuk bahan baku formulasi pakan.VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. (2) Penggunaan tepung kiambang sampai dengan tingkat 30% tidak pertumbuhan dan efisiensi pemberian pakan pada ikan nilem.

I. A. Biology Perikanan.Y. Hoar. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. J. M.A. 1975. H. Hatimah. Fish Physiology Volume VIII. Cowey. Taufik. Methodological approaches research Centre. UGM. B. dan R..R. Yayasan Pustaka Nusantara. Academic Press. 1985. N. . R. Departemen Pertanian. 1997. Reksohadiprodjo dan A. Karmas. M. Evaluasi Gizi pada Pengolahan Bahan Pangan.E.W. Cambridge University Press. Brett. Aquarium studies on the selectivity of 16 aquatic plants as food by fingerling hybrids of the cross between Cytenopharyngodon idella and Cyprinus carpio. Dinas Perikanan Jawa Barat.. dan J.S.D. I. Pemberian azola sebagai Pakan Tambahan Ikan Nila Merah. Yayasan Bogor indonesia. 1979. Randall dan J. Bittner. Great Britain. Bandung. Proseding Seminar Perikanan Air Tawar 1993/1994. 1990. H. 1989. 1986. dan E. W. dan Heinemann. and Kilgen.J.R.S. Thillman. Hoar. Insan. C. Jogjakarta. Djajasewaka.. W. 1989. Second Edition.Groves 1979.DAFTAR PUSTAKA Akrimi. Randall.D. Buletin Teknik Pertanian. ITB.J. New York.D. Brett. Hlm 289-94. Nutrition on pond fishes.R. Inc. 6(2):16-20. Yasa Guna. Hal 93-105. Harris. PT. Terbitan Kedua. Pakan Ikan.W. 1999.E. Finfish Nutrition in Asia. S. 1996. dan T.S. Budidaya Air. Oldfield. Yogyakarta. Hartadi. Watanabe. Ottawa. The Ensminger Publishing. Sukamandi.B. Gadjah Mada University Press. Penggunaan azola sebagai pengganti pakan buatan dalam Usaha Pendederan Ikan Gurami. Jakarta. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar.. Feed and Nutrition. 1985. 1988. Hepher. Effendie. Duthu. dan I. Academic Press.. Brett (Eds) : Fish physiology Vol VIII. 265 hal. 154 hal. Cho. Statistik Perikanan Jawa Barat Tahun 1995/1996. Ensminger. D. D. Fish Biol. 7:203-208. J.. C. Jakarta.S. G. 2001. Co. Wahyudi. J. Physiological energetics dalam W.

Rice Rest. Rsmaedi.Mudjiman. Fakultas Singh. Makalah Ilmiah. K. Wang... S. Gol. Makanan Ikan. A. Binacipta. : III-a/Penata Muda/132 317 128 . Nutrient Requirements of Warm water Fishes and Shelfish. Los Banos. Vahl . 1984. Pengaruh Cara Pemberian Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Nila. Kel. dan O. B. J. 1979.. 83:73-79. 17:221-229.Q. Setiatwan 2001. Aquaculture.K. Hlm 245. Flichinger. H. 1996.A. Praseno. PERSONALIA PENELITI 1. 1975.J. Philippines. Liu and H. FAO of The United Nations. Nama lengkap dan gelar b. Tacon. O.Be. Jakarta. Universitas Padjadjaran. Peternakan. 1984. NRC 1993. Inst. Aquaculture. Penebar Swadaya. Untung Kurnia A. Int. Xu. Ketua Peneliti: a. 181 hal. Nutritional Academy of Sciences. Mundriyanto. pangkat dan NIP . An hypothesis on the control of feed intake in fish. 407-418. New York.P. The nutritional of feeding of farmed fish and shrimp. Jakarta. 1989. Penggunaan duckweeds pada Itik. H. Brazil. Y. Washington DC. 117 hal. : M. Flatt. S. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2(3) : 8-25.G. Sularto. Schneider. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. Use of Azolla in rice production in India. Daily food consumption and feeding rhythm of silver carp (Hypophthalmichthys molitrix) during fry to fingerling period.H. dan W. 1979. In Nitrogen and Rice. The University of Georgia Press. A. P. Lampiran 1. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Saanin. 1986.

SP. c. Waktu untuk Penelitian 2. Gol. pangkat dan NIP. Jabatan struktural e. Gol.c. Waktu untuk Penelitian : : : : : : : : : : : : : : Asisten Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan Universitas Padjadjaran Ilmu Kelautan dan Bioteknologi 12 jam/minggu Kiki Haetami. pangkat dan NIP . SPt. Bidang Keahlian h. MT. Nama lengkap dan gelar b. Anggota Peneliti I : a. Jabatan struktural e. Jabatan Fungsional d. Jabatan Fungsional d. Perguruan Tinggi g. Nama lengkap dan gelar b.. Bidang Keahlian h. Waktu untuk Penelitian Anggota Peneliti II: a. Jabatan struktural e. MP. : Yuniar Mulyani. III-d/Penata Tingkat I/132 086 627 Lektor Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan Universitas Padjadjaran Ilmu Nutrisi Ikan 12 jam/minggu 3. Perguruan Tinggi g. III-b/Penata Muda /132 317 991 : Asisten Ahli : : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan : Universitas Padjadjaran : Biologi : 8 jam/minggu . Bidang Keahlian h. Perguruan Tinggi g. Fakultas/Jurusan f. Jabatan Fungsional d. Fakultas/Jurusan f. Fakultas/Jurusan f. : c.