P. 1
Sejarah Kesenian Jaranan

Sejarah Kesenian Jaranan

|Views: 121|Likes:
Published by Maz Dick Keong

More info:

Published by: Maz Dick Keong on Sep 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2011

pdf

text

original

Sejarah Kesenian Jaranan

Seni jaranan itu mulai muncul sejak abad ke 10 Hijriah. Tepatnya pada tahun 1041. atau bersamaan dengan kerajaan Kahuripan dibagi menjadi 2 yaitu yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan sebelah Barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura. Raja Airlangga memiliki seorang putri yang bernama Dewi Sangga Langit. Dia adalah orang kediri yang sangat cantik. Pada waktu banyak sekali yang melamar, maka dia mengadakan sayembara. Pelamar-pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti. Mereka sama-sama memiliki kekuatan yang tinggi. Dewi Songgo Langit sebenarnya tidak mau menikah dan dia Ingin menjadi petapa saja. Prabu Airlangga memaksa Dewi Songgo Langit Untuk menikah. Akhirnya dia mau menikah dengan satu permintaan. Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa dia mau menjadi suaminya. Ada beberapa orang yang ingin melamar Dewi Songgo Langit. Diantaranya adalah Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar, kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar. Para pelamar bersama-sama mengikuti sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit. Mereka berangkat dari tempatnya masing-masing ke Kediri untuk melamar Dewi Songgo Langit. Dari beberapa pelamar itu mereka bertemu dijalan dan bertengkar dahulu sebelum mengikuti sayembara di kediri. Dalam peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono atau Pujangganom. Dalam peperangan itu Pujangganom menang dan Singo Ludoyo kalah. Pada saat kekalahan Singo Ludoyo itu rupanya singo Ludoyo memiliki janji dengan Pujangganom. Singa Ludoyo meminta jangan dibunuh. Pujangganom rupanya menyepakati kesepakatan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring temantenya dengan Dewi Sangga Langit ke Wengker. Iring-iringan temanten itu harus diiringi oleh jaran-jaran dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Pada jaman sekarang besi ini menjadi kenong. Dan bambu itu menjadi terompet dan jaranan. Dalam perjalanan mengiringi temantenya Dewi Songgo Langit dengan Pujangganom itu, Singo Ludoyo beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker, tetapi ternyata dia masih sampai di Gunung Liman. Dia marah-marah pada waktu itu sehingga dia mengobrak-abrik Gunung Liman itu dan sekarang tempat itu menjadi Simoroto. Akhirnya sebelum dia sampai ke tanah Wengker dia kembali lagi ke Kediri. Dia keluar digua Selomangklung. Sekarang nama tempat itu adalah selomangkleng. Karena Dewi Sonmggo Langit sudah diboyong ke Wengker oleh Puijangganom dan tidak mau menjadi raja di Kediri, maka kekuasaan Kahuripan diberikan kepada kedua adiknya yang bernama Lembu Amiluhut dan Lembu Amijaya. Setelah Sangga Langit diboyong oleh Pujangganom ke daerah Wengker Bantar Angin, Dewi Sangga Langit merubah nama tempat itu menjadi Ponorogo

Pada tahun-tahun itu kebijakan Sukarno tentang Nasakom sangat mempengaruhi keberadaan lembaga-lembaga yang ada di bawah. Pada kenyataanaya seniman jaranan yang ada di kediri adalah para pekerja kasar semua. Mereka sebagian besar adalah tukang becak dan tukang kayu. Sambil memurnikan upacara-upacara abangan dari sisa-sisa Islam (Geertz 1983). Kelompok itu memiliki basis kesenian sendiri-sendiri. Mereka juga masih melaksanakan praktik-praktik slametan seperti halnya dilakukan oleh orang-orang dahulu. Agama dan komunis ini. Dari ketiga lembaga kesenian yang ada. Seni jaranan ini diturunkan secara turun temurun hingga sekarang ini. Pada tahun 60an itu masing-masing kelompok jaranan berkontestasi dengan sehat. Sedangkan di Ponorogo Muncul Reog. semuanya memiliki kesenian sendiri-sendiri yang sesuai dengan misinya masing-masing. kelompok jaranan ini banyak digawangi oleh orang-orang yang berada di lembaga kesenian. Lekra. Alat musik yang dimainkan adalah berasal dari bambu dan besi. Pada tahun itu jaranan sudah ada dan kebetulan bernaung dibawah pengawasan Lekra. Jaranan pada saat itu sudah sangat digemari masyarakat. Dalam perkembanganya kesenian jaranan mengalami pasang surut. Geertz memberikan penjelasan tentang praktik abangan. Pada jaman sekarang besi ini menjadi kenong. Selain untuk tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan roh-roh leluhur keraton. dari tahun-ke tahun jaranan mulai berubah dari yang sifatnya tuntunan menjadi tontonan dan yang paling menarik adalah jaranan sebagai alat untuk menarik simpatisan dan untuk pengembangan pariwisata. Mereka masih menggunakan danyangan atau punden sebagai tenpat yang dikeramatkan. tapi pada saat itu mereka masih bisa berbagi ruang dan berkontestasi. Pada saat boyongan ke Wengker. Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit dan Pernikahanya dengan Klana Sewandono atau Pujangga Anom inilah masyarakat kediri membuat kesenian jaranan. Pada jaman kerajaan dahulu jaranan seringkali ditampilkan di keraton. Masayarakat abangan adalah suatu sekte politioreligius dimana kepoercayaan jawa asli melebur dengan Marxisme yang Nasionalistis ynag memungkinkan pemeluknya sekaligus mendukung kebijakan komunisdi Indonesia. . Jaranan Dan Representasi Abangan Jaranan pada jaman dahulu adalah selalu bersifat sakral. Dari nasionalisme. Bahkan dikediri pada saat itu sudah berdiri beberapa kelompok jaranan. Dalam praktek sehari-harinya para seniman jaranan adalah orang-orang abangan yang masih taat kepada leluhur. Cliford Geertz mengidentifikasi mereka dengan sebutan abangan. Mereka masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap rohroh nenek moyangnya.Jaranan muncul di kediri itu hanya untuk menggambarkan boyongnya dewi Songgo langit dari kediri menuju Wengker Bantar Angin. lesbumi dan LKN adalah lembaga kesenian yang ada di tingkat bawah. Pengarakan itu dilakukan dengan menerobos dari dalam tanah sambil berjoget. memiliki lembaga-lembaga sendiri. Hal ini disebabkan kondisi social masyarakat yang sudah berubah dalam memaknai dan mengambangkan jaranan. Jaranan pada tahun 1960-an menjadi alat politik PKI untuk menopang kekuasaanya dan menarik masa. Dua kesenian ini sebenarnya memiliki akar historis yang hampir sama. Walaupun mereka berasal dari lembaga kesenian yang berbeda. Ada sebagian dari mereka yang bekerja sebagai sebagai penjual makanan ringan disepanjang jalan Bandar yang membujur dari utara ke selatan. Mereka saling mendukung dan mengembangkan kreatifitasnya dalam berkesenian. Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Dewi Sangga Langit dan Klana Sewandana dikarak oleh Singo Barong.

Praksis paska 65 jaranan jarang sekali tampil di ruang public. Dua jaranan ini bisa eksis dan tidak terberangus pada tahun 65 karena mereka adalah kelompok kesenian yang berasal dari LKN. Terlebih pada orang-orang yang memang bergelut di lembaga PKI ataupun pernah terlibat. Mereka sama-sama berada di tanah. Mereka masih menganggap bahwa kesenian jaranan itu adalah kesenian milik PKI. Akibat dari pembersihan itu masyarakat abangan yang ada di Kediri pada saat itu sempat kocar-kacir. Pemainya hanya mengenakan celana kombor dan tanpa make up. Jaranan menjadi sebyuah idiom baru yang tampil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pembersihan ini dilakukan tas kerjasamama Negara dengan kaum agamawan. Para senimanseniman yang berada dibawah PKI yaitu Lekra dihabisi semua. Trauma itu ternyata tidak dirasakan oleh orang-orang yang berasal dar lekra saja. Bahkan patung-patung dan arca yang sekarang berada di museum Airlangga terlihat banyak yang hancur. Akhirnya kesenian jaranan dijauhi oleh masyarakat. Stigmatisasi yang dikembangkan oleh agamawan dan Negara rupanya telah meberangus nalar masyarakat. Keberadaan jaranan pada saat itu juga masih relative sedikit. Misalnya jaranan Sopongiro di Bandar dan jaranan Turnojoyo Pakelan. Mereka bisa saling tukar main antara satu dengan lainya. “Tanpa memiliki kartu ini. Baru pada tahun 1977 jaranan mulai menggeliat lagi. Seniman-seniman jaranan yang berasal dari LKN mungkin masih bisa berunjuk kebolehanya di ruang public. Termasuk didalamnya adalah jaranan.Jaranan pada saat itu masih tampil dengan polos sekali. Jaranan adalah representasi dari kaum abangan yang mencoba untuk memberikan eksistensi dirinya pada kesenian. Bagi yang tidak memiliki NIS biasanya mereka dikasih nomor aktif sebagai seniman. segala property yang berhubungan dengan tradisi orang abangan dimusnahkan. Dengan memberikan NIS ini pemerintah bisa mengontrol lebih jauh seniman yang terlibat dengan komunis. Berbeda dengan jaman jepang pada yang masih menggunakan goni sebagai pakaiannya. Seniman dari lesbumi dan LKN waktu itu juga agak ketakutan untuk tampil di public. seniman tidak boleh tampil di ruang publik” kata Mbah Ketang. dari kalangan agamawan. Mereka benar-benar mengalami trauma yang berkepanjangan. Negara yang mulai memberikan pengngontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967. penabuh dan penonton. Pada tahun 1965 terjadi peristiwa pembersihan dari kalangan agamawan kepada kelompok-kelompok abangan. Jaranan pada tahun . Pada tahun-tahun 60an jaranan bisa tampil vulgar di manapun dia berada. Kecuali jaranan yang bernaung di bawah komunis aman dari pembersihan ini. Para agamawan beranggapan bahwa jaranan itu mengundang setan. kesenian jaranan mulai lumpuh total. Masyarakat tidak mau dicap merah oleh pemerintah dan kaum agamawan sebagai pengikut PKI. Tidak ada batas antara pemain. Paska 65 masyarakat secara tidak langsung memberikan identifikasi negatif terhadap kesenian jaranan. Kondisi politik 65 ini telah membawa jaranan pada titik kemandekanya. Pasca terjadi peristiwa berdarah rtahun 1965 itu. Orang-orang yang terlibat sebagai anggota partai komunis dibunuh. Pasca peristiwa berdarah itu seluruh elemen masyarakat memberikan identifikasi yang negatif terhadap kesenian jaranan. Sehingga wajar jika pada saat itu para agamawan terlebih ansor menghabisi seniman-seniman yang berbau komunis di kediri. Sehingga kesenian jaranan pada paska 65 mundur. Danyangan dan beberapa punden banyak yang dirusak. Kebanyakan dari seniman yang ada dikediri pada waktu itu juga berhenti dari kesenian untuk semantara waktu. Setelah kejadian berdarah tahun 1965 itu jaranan yang dahulu adalah kesenian yang sangat dibangggakan masyarakat hilang seketika. Ini adalah akibat pertikaian politik 1965.

Pada saat berdirinya jaranan samboyo putro tahun 1977 itu. kalau sekarang hanya dilakukan oleh para gambuhnya saja. Pak Samboyo mendapatkan wahyu dari Pamenang agar mendirikan jaranan dan menguri-uri kesenian asli kediri ini. Paska tahun 1977 ini. musiknya. (Ketang) Atas wangsit yang berasal dari Pamenang itulah Samboyo berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan citra negative masyarakat terhadap kesenian jaranan. Selain itu Samboyo Putro Personelnya banyak yang melatih jaranan ke komunitas-komunitas kesenian jaranan lain di Kediri.. Kemudian pada tahun 1977 setelah berdirinya Samboyo Putro. Pada tahun 70an gerakan untuk merevitalisasi jaranan sudah mulai diupayakan. dan tarian serta musiknya. Kemudian dalam perjalananya mulai tahun 1977 sampai 1990 Samboyo Putro pernah tanggapan sebanyak 1674 kali. Dengan adanya jaminan dari fihak kepolisian inilah jaranan mulai berani bertengger di kediri bersaing dengan kesenian lainya. Inspirasi tentang dukun tiban itu dia dapatkan dari pamenang. Beberapa tahun setelah berdirinya Samboyo. Pak Samboyo berusaha keras. Para seniman jaranan mulai memodifikasi jaranan dari pakaian. Hingga kini masyarakat menyakini bahwa jaranan samboyo Putro itu memiliki jasa yang sangat besar untuk mengambalikan citra jaranan di kediri. jaranan juga memiliki strategi lain yaitu dengan cara menghaluskan tarianya. akhirnya berubah haluan. Penghalusan ini dilakukan oleh seniman jaranan karena pada saat-saat itu monitoring dari pewemerintah masih sangat kuat. dan danadananya serta tingkah lakunya harus lebih baik. Salah satu cara pak Samboyo pada saat itu adalah dengan cara mengadakan dukun tiban. Penghalusan dalam wilayah tarian. Pak samboyo mulai berafiliasi dengan pemerintah. langsung mendapatkan Juara 1 festifal jaranan sejawa Timur.sebeliumnya banyak berafiliasi dengan komunis akan tetapi pada tahun itu jaranan mulai menggandeng militer untuk dijadikan alat untuk melindungi dirinya. Untuk menghilangkan stigma itu seniman harus melakukan strategi itu untuk menjaga kesenian jaranan. dandanan dan musikpun sudah mulai dilakukan. sopan dan memiliki tata karama yang tinggi kepada masyarakat dan para penanggap. Samboyo Spirit Baru Jaranan Kepang Kediri Dalam rangka memperbaiki citra jaranan di muka masyarakat. Sifat itu harus diperankan oleh para seniman dalam berbagai waktu dan kesempatan. Selain strategi berselingkuh dengan militer. seniman jaranan mulai menghaluskan jaranan.pasca tahun 1977 inilah jaranan mulai bisa dipercayai sepenuhnya oleh masyarakat kediri sebagai kesenian yang bebas dari komunis. Dahulu sebelum ada pertunjukan jaranan seluruh personel jaranan pasti pergi ke pamenang terlebih dahulu. (Pardi dan Endah) Pada masa kejayaan Samboyo Putro pernah memperoleh beberapa prestasi yang gemilang. Pemain-pemain itu takut kalu suatu saat dia mengingkari janjinya dengan pamenang. masyarakat mulai memandang bahwa jaranan ini adalah kesenian yang berasal dari kediri. Perubahan ini disebabkkan lebih pada ketakutan pemain jika menjadi korban pamenang. Usaha ini lebih dimaksudkan untuk mengambalikan citra jaranan yang sudah buruk dimuka masyarakat. make up. Keberadaan kesenian ini harus tetap dilestarikan keberadaanya. jaranan mulai mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah. agamawan serta masyarakat untuk mendukung eksistensi jaranan di kediri. Jaranan Samboyo Putro ini didirikan oleh mantan polwil Kediri yang bernama pak Samboyo. Pandangan agamawan dan Negara serta masyarakat yang dahulu memandang jaranan sebagai kesenian yang jelek. Jaranan Samboyo itu dahulu mendapatkan wangsit dari Pamenang Joyoboyo. . Dalam berebagai pertunjukan jaranan pemain jaranan harus memiliki sifat yang arif.

Kalau pakemnya sudah habis ditampilkan baru boleh memberikan jaranan yang sudah dikombinasi. Persaingan antar seniman jaranan satu dengan yang lainya rupanya cukup tinggi. gong gumbeng. karena yang namanya jaranan itu harus ada yang ndadi kalau tidak ada yang ndadi itu namanya bukan jaranan. Pakem yang ada itu bagi 2 Komunitas ini harus selalu digunakan pada saatsaat pertunjukan. Berubahnya jaranan itu hanya pada peralatan yang dimainkan saja. (Pardi dan endah) Kreasi Baru dan Proyek Dinas Pariwisata Kediri Dalam pandangan Mbah Ketang. Misalnya dalam lagu-lagunya dicampur dengan samroh ataupun dicampur dengan dangdut. Para seniman tidak akan bisa makan apaapa kalau harga tanggapan itu anjlok. Akan keberatan dengan penjatuhan harga seperti ini. Seniman jaranan selalu memberikan tawaran kepada para penanggap untuk meimilih versi yang mana. Panggung ini dimaksudkan agar penabuh dapat leluasa dalam melihat gerakan pemain jaranan. jaranan wijoyo Putro 24 gerakan. dram dan keyboard. Berbagai kelompok jaranan yang memikliki bos. Hal ini dilakukan oleh Joyoboyo Putro untuk mengikuti permintaan pasar. Kesenian jaranan pakemanya menggunakan ketuk kenong. Pasca Samboyo bubar. Sanjoyo Putro 24 gerakan. Bagi Samboyo dan Wijaya meninggalkan yang pakem itu sangat menghilangkan naluri jaranan dan menghina tinggalan nenek moyang mereka. Perkembangan jaranan paska tahun 1977 meluncur pesat. Gerakan joget pada jaranan itu adalah pakem dan tidak bisa dirubah.Sebelum samboyo berdiri jaranan pakelan adalah jaranan yang sudah bisa berdiri dengan eksis di kediri. Joyoboyo 14 gerakan. Akan tetapi biasanya kelompok seniman jaranan itu memiliki 2 versi. Kalau yang modern biasanya ditambah dengan sinden. Kalau Cuma nari saja dan tidak ada ndadinya namanya adalah campur sari. Akan tetapi mereka memiliki pakem sendiri-sendiri dalam jogedanya. Ranggalawe juga memiliki paradiga yang sama dengan Joyoboyo Putro. Kemunculan jaranan kreasi baru ini tidak lepas dari apa yang dinginkan penonton ataupun yang diinginkan oleh zamanya. Jaranan di sini tidak ada yang berada di atas panggung seperti jaranan Safitri Putro. Kalau pada saat tanggapan mereka menyerahkan kepada penanggapnya memili yang mana. Para pemain jaranan pakelan itu rata-rata dahulu berasal dari LKN. Kalau pada saat gebyakan atau pada saat upacara nazar mereka selalu menggunakan yang pakem. Kedua jaranan ini beranggapan bahwa joged yang sekarang mereka gunakan itu adalah warisan dari leuhurnya. kesenian jaranan sudah mulai merebak hampir diseluruh desa yang ada di kota kediri memiliki jaranan masing-masing. Misalnya. Dia lebih mengembangkan kesenian pada proyek modifikasi tarianya. Jaranan dahulu untuk penabuhnya tidak ada panggungnya seperti sekararang. kendang dan terompet. ronggolawe malaah cumin sedikit antara 5-6 gerakan saja. Samboyo bubar pada tahun 1990an bersamaan dengan meninggalnya bapak Samboyo sebagai pimpinan jaranan itu. Pertama versi baru yaitu versi kolaborasi dengan kesenian modern. Akan tetapi mereka juga masih berkiblat dan memiliki karakter seperti jaranan Samboyo. mereka lebih berani untuk membanting harga. Bagi jaranan yang sifatnya paguyuban seperti halnya jaranan Wijaya Putra. Jaranan ini mencoba untuk mengawinkan antara kesenian tradisional dengan modern. Kalau Wijaya Putra dan Sanjaya Putra masih mempertahankan pakem yang ada pada jaranan. kepakeman jaranan akan senantiasa dipertahankan oleh Sanjaya Putra da Wjaya Putra. Yang kedua adalah versi jaranan pakem. Mulai tahun 1980an jaranan sudah mulai ada panggungnya untuk penabuh. Berbeda halnya dengan Jayoboyo Putra yang lebih suka berkreasi dengan model-model baru. Untuk masalah tarianya nanti disesuaikan dengan pakemnya kelompok masing-masing. Kalau jaranan Wijaya Putra itu memiliki 24 macam gerakan. Kalau jaranan Safitri Putro itu bukan jaranan namanya. . Seniman jaranan biasanya lebih suka bermain dengan jaranan pakem.

Kemudian diseminarkan dan disepakati bersama’. Kita sudah mulai merancang jaranan masing-masing misalnya yang pegon tidak memakai baju. Dinas pariwisata beranggapan. Proyek pemakeman jaranan ini direncanakan pada tahun 2008 nanti. Baik itu dari segi pakaianya. Kita memerlukan dokumentasi. Jaranan Kediri memiliki pakem sendiri-sendiri. Pada saat ini pemerintah kota kediri sedang mempelajari dan menggali kesenian jaranan yang khas Kediri. dinas pariwisata mengundang kelompok-kelompok jaranan untuk tampil Taman Wisata Selomankleng setiap Minggu. 800. Kita rencananya akan mengupas sejarah jaranan dari sungai Brantas. kalau tidak ada pakem sendiri jaranan ini nanti akan semakin jauh dari aslinya. Komunitas jaranan itu disuruh tampil untuk mengisi hiburan di Selomangleng secara bergiliran. Usaha kita adalah mengumpulkan para sesepuh untuk membincang bareng tentang kesenian jaranan. Sebelum pemakeman itu dilakukan dinas pariwisata akan menggali sejarah kota kediri teerlebih dahulu. Sebenarnya kita berfikir jauh kedepan untuk menjaga keberadaan jaranan pada tahuntahun yang akan datang. Dana pembakuan Jaranan ini akan dianggarkan pada RAPBD tahun depan. Mereka hanya mengembangkan tradisi lisan. dana dan lain sebagainya. Untuk pengembangan dan pembimbingan pada jaranan-jaranan yang ada Kediri.000 sampai 1000.Tarif tanggapan untuk jaranan Wijaya Putra itu berkisar antara 1500. Buku ini akan mengulas banyak tentang pakem jaranan khas kediri. ”Saya kasihan dengan jaranan-jaranan yang kecil-kecil itu.000 itu bisa diladeni. Mereka bersama timnya sudah mempersiapkan segalanya unruk membuat buku itu. Mereka sudah dikolaborasi dengan tari-tarian lain. Bagi kami jaranan itu yang penting adalah dimunculkan saja supaya keberadaanya tetap bisa lestari. Kita akan melihat perkembangan jaranan dari jaman Praislam. untuk yang jaranan door dan senterewe masih kami pikirkan bersama teman-teman seniman jaranan. Dinas Pariwisata sebenarnya hanya memfasilitasi mereka dan jangan sampai muncul bahwa ide pakemisasi ini adalah proyek Dinas Pariwisata. kata pak Guntur Dinas Pariwisata akan merumuskan secara bersama-sama dengan seniman jaranan kemudian menyepakatinya. “Kita tidak bisa sembarangan untuk menentukan semuanya itu. . Karena tidak ada buku petunjuk jaranan. Ujar Pak Guntur. Mereka akan bermusyawarah dengan para seniman dalam menetapkan kesenian jaranan.000 sampai 600. Karena saya kira jaranan yang kecil itu nanti tidak akan bisa hidup” kata pak gendut dari jaranan Wijaya Putra itu. Sedangkan kalau ada jaranan lain yang memiliki bos. jogednya maupun alat musik yang dimainkan. Data-data itu mereka dapatkan dari para sesepuh jaranan. Selama ini yang sudah dilakukan oleh dinas pariwisata Kediri untuk melakukan pakemisasi jaranan adalah dengan menggali data-data yang ada. Pada saaat jaranan tampil di taman mini sudah berbeda dengan jaranan yang ada disini. Rencana pemakeman ini akan melibatkan berbagai tokoh sesepuh seniman jaranan dan sejarawan. Program Dinas Pariwisata untuk tahun ini dan 1 tahun mendatang adalah mencari pakem jaranan terlebih dahulu. Sedangkan tradisi lisan itu akan senantiasa berubah setiap tahunya. Pada saat-saat tertentu Dinas pariwisata juga mengajak para seniman jaranan untuk tampil mengisi hiburan di Taman Mini Indonesia Indah. Proyek ini masih terhenti karena dana yang diajaukan untuk mengerjkakan ini belum turun dari pemerintahan kota Kediri.000 rupiah. Jaranan Dalam Proyek Pariwisata Pemerintah kota kediri dengan menggunakan organya DK3 (Dewan Kesenian Kota Kediri) beserta Dinas Pariwisata akan membuat semacam buku panduan untuk jaranan. Mereka juga mengupayakan agar pemakeman ini bisa benar-benar tidak meninggalkan tradisi yang ada pada kesenian di Kediri. pasti berani mengambil di bawahnya.

Pemerintah daerah itu haruslah pandai-pandai memasarkan kesenian daerah. Saya tidak memandang kualitas yang ada akan tetapi saya selalu memberikan contoh pada jaranan yang kecil supaya mengikuti jaranan yang sudah besar. Maksudnya mereka selalu mengiikuti kesenian mana yang populis dan digemari masyarakat. Pada saat festifal kemarin para juri kebingungan untuk menilai jaranan mana yang baik. Jadi tidak hanya kesenian yang sudah tenar saja yang kita suruh main. Sehingga kita tidak bisa melihat mana yang harus dinilai.Setiap jaranan memiliki pakem masing-masing dan tidak mau mereka diseragamkan antara kesenian jaranan yang satu dengan yang lainya. Seniman di Kediri ini seringkali pindah-pindah ruang. Karena mereka juga menganggap bahwa jarananya yang memiliki tarian paling bagus akan tetapi tidak menang dalam festifal. Saya pernh mengetes mereka untuk menunjukan tarianya di depan forum. Karena setiap jaranan memiliki karakter masing-masing. Setiap ada festifal jaranan saya mengumpulkan para seniman dan mengajak mereka supaya bisa menyeragamkan tarian jaranan. Misalnyua pada saat pertemuan saya dengan para seniman beberapa waktu yang lalu. Kalau dahulu ludruk ya seluruh seniman banyak yang di ludruk. Tapi mereka juga banyak yang protes tentang penilaian juri. Senterewe juga berbeda satu sama lainya. Kalau sekarang ludruk dilarang main mereka beramai-ramai pindah pada seniman jaranan . Menurut pak Guntur bahwa kesenian jaranan itu memang memiliki pakem masing-masing akan tetapi saya mencoba urntuk bisa masuk dengan pelan-pelan agar mereka bisa menerima saya. Dalam perbedaan itu mereka berdebat sengit dan saling menunjukan bahwa jarananya yang paling benar pakem. Saya meminta misalnya yang beraliran pegon maju. Juga bagi mereka-mereka yang belum punya nama harus kita angkat. Akhirnya siapa yang baik itu yang menang. Mereka antara pegon jaranan satu dengan yang lainya berbeda.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->