Agama Islam memiliki aturan–aturan sebagai tuntunan hidup kita baik dalam berhubungan sosial dengan manusia (hablu

minannas) (hablu minawallah) dan tuntunan itu kita kenal dengan hukum islam atau syariat islam atau hukum Allah SWT. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai sumber-sumber syariat islam, terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi dari hukum dan hukum islam atau syariat islam. Hukum artinya menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya. Menurut ulama usul fikih, hukum adalah tuntunan Allah SWT (Alquran dan hadist) yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf (orang yang sudah balig dan berakal sehat), baik berupa tuntutan, pemilihan, atau menjadikan sesuatu sebagai syarat, penghalang, sah, batal, rukhsah( kemudahan ) atau azimah. Sedangkan menurut ulama fikih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh syariat (Alquran dan hadist) berupa al-wujub, al-almandub, al-hurmah, al- karahah, dan al-ibahah. Perbuatan yang dituntut tersebut disebut wajib, sunah (mandub), haram, makruh, dan mubah. Ulama usul fikih membagi hukum islam menjadi dua bagian, yaitu hukum taklifiy dan hukum wadh‟iy dan penjelasannya sebagai berikut : 1. Hukum Taklifiy Adalah tuntunan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Hukum taklifiy dibagi menjadi lima macam, yaitu a. Al-ijab, yaitu tuntutan secara pasti dari syariat untuk dilaksanakan dan dilarang ditinggalkan, karena orang yang meninggalkannya dikenai hukuman b. An-nadh, yaitu tuntutan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, tetapi tuntutan itu tidak secara pasti. Jika tuntutan itu dikerjakan maka pelakunya mendapatkan pahala, tetapi jika tidak dikerjakan tidak hukuman (dosa) c. Al-ibahah, yaitu firman Allah yang mengandung pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya d. Al-karahah, yaitu tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan, tetapi tuntutan itu diungkapkan melalui untaian kata yang tidak pasti sehingga kalau dikerjakan pelakunya tidak dikenai hukuman e. Al-tahrim, yaitu tuntutan untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti sehingga tuntutan untuk meninggalkan perbuatan itu wajib, dan jika dikerjakan pelakunya mendapatkan hukuman (berdosa). Menurut ulama fikih pebuatan mukallaf itu jika ditinjau dari syariat islam dibagi menjadi lima macam, yaitu : a. Fardu (wajib), yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya mendapatkan pahala, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya mendapatkan hukuman (berdosa) perbuatan wajib ditinjau dari segi orang melakukannya dibagi menjadi dua, yaitu:

Fardu ain, yaitu perbuatan wajib yang harus dikerjakan oleh setiap mukallaf, seperti shalat lima waktu Fardu kifayah, yaitu perbuatan wajib yang harus dikerjakan oleh salah seorang anggota masyarakat, dan jika telah dikerjakan oleh salah seorang anggota masyarakat, maka gugur kewajiban anggota masyarakat lainnya, seperti memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah muslim b. sunnah (mandub), yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya mendapatkan pahala, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya tidak mendapatkan hukuman (dosa) perbuatan sunnah dibagi menjadi dua, yaitu: Sunnah ain, yaitu perbuatan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh setiap individu, seperti shalat sunnah rawatib Sunnah kifayah, yaitu perbuatan sunnah yang dianjurkan dikerjakan oleh salah seorang atau beberapa orang dari golongan masyarakat, seperti memberi salam, mendoakan muslim atau muslimat c. Haram, yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya berdosa dan akan dihukum, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya mendapatkan pahala, seperti: bezina, mencuri, membunuh d. Makruh, yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya tidak berdosa, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya mendapat pahala, seperti: meninggalkan shalat Dhuha e. Mubah, yaitu perbuatan yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, seperti: memilih warna pakaian penutup auratnya. 1. Hukum Wa‟iy Adalah perintah Allah SWT, yang mengandung pengertian, bahwa terjadinya sesuatu merupakan sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu (hukum). Ulama usul fikih berpendapat bahwa hukum waid‟iy itu terdiri dari tiga macam, yaitu: a. Sebab, yaitu sifat yang nyata dan dapat diukur yang dijelaskan dalam nas (Alquran dan hadist), bahwa keberadaannya menjadi sebab tidak adanya hukum. Seperti: tergelincirnya matahari menjadi sebab wajibnya shalat zhuhur, jika

hal ini karena keterbatasan manusia dalam ilmu pengetahuan yang diberikan Allah SWT mengenai kehidupan dunia dan kecenderungan untuk menyimpang. “ Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selamanya.1. Penghalang (mani). dan ra‟yu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. jika syarat tidak ada maka hukum pun tidak ada.matahari belum tergelincir maka shalat zhuhur belum wajib dilakukan b. Sumber-Sumber Ajaran Islam Primer 1. Alqur‟an .sunnah (hadist). Pada umumnya para ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum islam adalah Alquran dan hadist. Dengan demikian sumber hukum islam ialah segala sesuatu yang dijadikan dasar. Seperti: genap satu tahun (haul) adalah syarat wajibnya harta perniagaan. yaitu sesuatu yang keberadaannya menyebabkan tidak adanya hukum atau tidak adanya sebab hukum. yakni terdiri dari tiga sumber. Pembahasan mengenai karakteristik masing-masing sumber ajaran islam tersebut adalah sebagai berikut: 1. acuan.” Dan disamping itu pula para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum islam. setelah Alquran dan hadist. Melalui penjelasan singkat mengenai pengertian hukum islam atau syariat islam tadi barulah kita mengerti pengertian hukum islam. Seperti: najis yang ada di badan atau pakaian orang yang sedang melaksanakan shalat menyebabkan shalatnya tidak sah atau menghalangi sahnya shalat. atau pedoman syariat islam. yaitu sesuatu yang berada diluar hukum syara‟. Syarat. Sumber-sumber ajaran islam ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sumber ajaran islam yang primer (Alquran dan hadist) dan sumber ajaran islam sekunder (ijtihad). Sumber ajaran islam dirumuskan dengan jelas oleh Rasulullah SAW. sedangkan hukum Allah SWT adalah peraturan yang lengkap dan sempurna serta sejalan dengan fitrah manusia. as. 1992:1). Seluruh hukum produk manusia adalah bersifat subjektif. Yang dimaksud sebagai sumber hukum islam adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata (Sudarsono. selama kalian berpegang pada keduanya. serta menguntungkan penguasa pada saat pembuatan hukum tersebut. Dalam sabdanya Rasulullah SAW bersabda. yaitu kitabullah (Alquran). jika tidak haul maka tidak wajib zakat perniagaan c. yaitu Kitab Allah dan sunnahku. Ketiga sumber ajaran ini merupakan satu rangkaian kesatuan dengan urutan yang tidak boleh dibalik. tetapi keberadaan hukum syara‟ tergantung padanya.

Hukum ini tercermin dalam konsep Ihsan. yaitu semua bentuk perbuatan sebagai manifestasi dari kepercayaan ajaran tauhid Janji dan ancaman. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syara/syariat. Khuluqiah. Sedangkan secara terminologi (syariat).Secara etimologi Alquran berasal dari kata qara‟a. yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal manusia dalam kehidupan. diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf. Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum. Hukum Hukum . baik sebagai makhluk individual atau makhluk sosial. yaitu kepercayaan ke-esaann Allah SWT dan semua kepercayaan yang berhubungan dengan-Nya Ibadah. yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah SWT. Ilmu Ushuluddin. Hukum ini tercermin dalam Rukun Iman. antara manusia dengan sesama manusia. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fikih. Muhammad shallallaahu „alaihi wasallam. yaqra‟u. yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia dengan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid. Dan menurut para ulama klasik. Alquran adalah Kalamulllah yang diturunkan pada rasulullah dengan bahasa arab. merupakan mukjizat dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah Pokok-pokok kandungan dalam Alquran antara lain: Tauhid. serta manusia dengan lingkungan sekitar. atau Ilmu Kalam. seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiaran syariat Allah SWT maupun kisah orang-orang saleh ataupun kisah orang yang mengingkari kebenaran Alquran agar dapat dijadikan pembelajaran. sebagai berikut: Hukum I‟tiqadiah. Alquran adalah Kalam Allah ta‟ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya. Amaliah. atau qur‟anan yang berarti mengumpulkan (al-jam‟u) dan menghimpun (al-dlammu). qiraa‟atan. yaitu janji pahala bagi orang yang percaya dan mau mengamalkan isi Alquran dan ancaman siksa bagi orang yang mengingkari Kisah umat terdahulu.

perkataan. jinayat (pidana). Hadist Sunnah menurut syar‟i adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah SAW baik perbuatan. yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. yaitu: Sunnah qauliyah. Termasuk ke dalam hukum muamalat adalah sebagai berikut: Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum Hukum munakahat (pernikahan). 1.2. dauliyah (antarbangsa). faraid (waris). misalnya salat. dan haji muamalat. yaitu penetapan dan pengakuan Rasulullah terhadap pernyataan ataupun perbuatan orang lain .Sedangkan khusus hukum syara dapat dibagi menjadi dua kelompok. yaitu semua perbuatan Rasulullah Sunnah taqririyah. jihad (peperangan). hudud (hukuman). tata Negara/kepemerintahan makanan dan penyembelihan. zakat. Sunnah dibagi menjadi empat macam. yakni: Hukum ibadah. yaitu semua perkataan Rasulullah Sunnah fi‟liyah. puasa. jual-beli dan perjanjian. yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT. Sunnah berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat Alquran yang kurang jelas atau sebagai penentu hukum yang tidak terdapat dalam Alquran. dan penetapan pengakuan. aqdiyah (pengadilan).

atau sependapat. yaitu menurut bahasa artinya sepakat. apalagi sampai memukul karena sama-sama menyakiti hati orang tua. Sumber-Sumber Ajaran Islam Sekunder 2. setuju.1. yaitu  Ijma‟. Hasil dari Ijma‟ adalah fatwa. yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat. menurut aturan syarak. Ijtihad dapat dilakukan apabila ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di dalam Alquran maupun hadist.Sunnah hammiyah.  Mushalat Murshalah. Dengan kata lain Qiyas dapat diartikan pula sebagai suatu upaya untuk membandingkan suatu perkara dengan perkara lain yang mempunyai pokok masalah atau sebab akibat yang sama. Sedangkan ijtihad sendiri berarti mencurahkan segala kemampuan berfikir untuk mengeluarkan hukum syar‟i dari dalil-dalil syara. kita dilarang mengadakan jual beli yang barangnya belum ada saat terjadi akad. yaitu berarti mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya.  Istihsan. Akan tetapi menurut Istihsan. syarak memberikan rukhsah (kemudahan atau keringanan) bahwa jual beli diperbolehkan dengan system pembayaran di awal. Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW sesudah beliau wafat pada suatu masa. yaitu sesuatu yang telah direncanakan akan dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan 2. Hasil dari ijtihad merupakan sumber hukum ketiga setelah Alquran dan hadist. tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah. Contohnya. yaitu menurut bahasa berarti kesejahteraan umum. maka dapat dilakukan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu pada Alquran dan hadist. sedangkan barangnya dikirim kemudian. yaitu Alquran dan hadist. Adapun menurut istilah adalah perkara-perkara yang . Ijtihad Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang berarti mencurahkan tenaga dan pikiran atau bekerja semaksimal mungkin. Contohnya adalah pada surat Al isra ayat 23 dikatakan bahwa perkataan „ah‟.  Qiyas. yaitu suatu proses perpindahan dari suatu Qiyas kepada Qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemudharatan atau dapat diartikan pula menetapkan hukum suatu perkara yang menurut logika dapat dibenarkan. Macam-macam ijtidah yang dikenal dalam syariat islam. atau „hus‟ kepada orang tua tidak diperbolehkan karena dianggap meremehkan atau menghina. „cis‟.

yaitu menurut bahasa berarti menutup jalan. Larangan seperti ini untuk menjaga agar jangan sampai orang tersebut minum banyak hingga mabuk bahkan menjadi kebiasaan. Contohnya adalah adanya larangan meminum minuman keras walaupun hanya seteguk. padahal minum seteguk tidak memabukan. yaitu berupa perbuatan yang dilakukan terus-menerus (adat). Contohnya. Di saat seperti ini. baik berupa perkataan maupun perbuatan.  Urf.perlu dilakukan demi kemaslahatan manusia. Si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya tanpa mengadakan ijab kabul karena harga telah dimaklumi bersama antara penjual dan pembeli. Contohnya. sedangkan menurut istilah adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat.  Istishab. Akan tetapi.  Sududz Dzariah. seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu atau belum. ia harus berpegang atau yakin kepada keadaan sebelum berwudhu sehingga ia harus berwudhu kembali karena shalat tidak sah bila tidak berwudhu. yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan di masa lalu hingga ada dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut. . dalam Al Quran maupun Hadist tidak terdapat dalil yang memerintahkan untuk membukukan ayat-ayat Al Quran. hal ini dilakukan oleh umat Islam demi kemaslahatan umat. Contohnya adalah dalam hal jual beli.

      Home PROFIL o Program & Services  Core Program  Unit Pelaksana o Legalitas o Sejarah o Visi dan Misi o Struktur Organisasi o Laporan Keuangan o Shelter Iqro o JEJARING DD o Donasi & Bantuan BUKU TAMU DATA HONG KONG o Sejarah o Data & Fakta o Bea Cukai o Objek Wisata & Taman Terbuka o Hotel & Penginapan o Transportasi  Tram  Taksi  MTR  Bus  Ferry o Panduan BMI  Bekerja di Hong Kong  Panduan BMI/PRT  Imigrasi & Kependudukan AGENDA o Program Ramadhan DDHK 2011 o Jadwal Puasa 2011 HK ISLAM DI HONG KONG o Sejarah Islam o Masjid o Organisasi Islam .

S. 75:17-18. quranan). Yang pertama dan kedua asalnya langsung dari Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw. dan Ijtihad.    Halal Food Sekolah Islam Jadwal Waktu Shalat GALERI o Redaksi DDHK News o Rekomendasi o Kirim Tulisan DOWNLOAD o PANDUAN ZAKAT o KALENDER 2011/1432 o PANDUAN PUASA RAMADHAN o KUMPULAN DOA o KUMPULAN DZIKIR o Kumpulan Hadits o Jadwal Shalat HP (1) o Jadwal Shalat HP (2) o Buku La Tahzan o Hadits Arba‟in Nawawi o Jadwal Shalat HK o Buku Panduan Hong Kong QURAN ONLINE KABAR JAWA o o o Depan > Inilah Islam > Sumber Ajaran Islam Sumber Ajaran Islam SUMBER ajaran Islam (Hukum Islam. Sedangkan yang ketiga merupakan hasil pemikiran umat Islam. 1. sebagaimana firman Allah dalam Q. As-Sunnah. Quran artinya “bacaan” (qoroa. yakni Al-Quran. yakni para ulama mujtahid (yang berijtihad). dengan tetap mengacu kepada Al-Quran dan AsSunnah. Syariat Islam) itu ada tiga. Al-Quran Secara harfiyah. . yaqrou.

Al-Quran adalah kumpulan wahyu atau firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. dan budi pekerti. ketika Nabi Muhammad berkhalwat di Gua Hira tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M yang dikenal sebagai “Malam Qadar” (Lailatul Qadr). Ayat-ayat yang turun di Makkah disebut “Ayat-Ayat Makiyah” dengan ciri khas: ayatnya pendek-pendek.236 ayat. Secara definitif dapat dikatakan. Ayat-ayatnya disebut Ayat Makiyah.“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan „membacanya‟. yakni bisa diamati dan dilihat langsung oleh indera penglihatan atau lainnya.S. Al-‟Alaq:1-5. Allah SWT memberikan mukjizat Al-Quran yang kekal abadi sepanjang zaman sehingga dapat disaksikan oleh semua umat manusia dari semua zaman dan tempat sampai akhir nanti[1]. . 1. Mukjizat para nabi terdahulu lebih bersifat inderawi. berisi ajaran tentang keimanan. 35:31).S. Kepada Nabi Muhammad Saw.S. “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Quran itulah yang benar.437 kalimat. Al-Quran tersusun dalam 114 surat dengan 6. bahkan terbesar pula dibandingkan mukjizat para nabi sebelumnya. Al-Quran merupakan salah satu Kitabullah atau Kitab-Kitab Allah. ancaman dan pahala. ketika Nabi Saw tengah menunaikan ibadah haji Wada di Arafah (9 Dzulhijjah 10 H/Maret 632 M). yakni selama 12 tahun 13 hari. “Tidak mungkin Al-Quran ini dibuat oleh selain Allah. yakni wahyu-wahyu yang diterima para Nabi/Rasul Allah. ayat-ayatnya disebut Ayat Madaniyah. Tidak ada keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam” (Q. AlQuran diturunkan Allah dalam dua periode: 1. membenarkan kitab-kitab sebelumnya…” (Q. ditujukan kepada umat manusia (diawali kalimat “Ya Ayuhan Naas”. dan 325. 5:3. Akan tetapi ia membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang ditetapkannya.345 huruf[2]. 2. Periode Madinah. Di Madinah pula ayat terakhir turun. serta sejarah bangsa-bangsa terdahulu. Jika Kami telah selesai membacakannya. yakni Q. Wahai Manusia). ditujukan kepada kaum beriman (diawali dengan “Ya Ayuhal Ladzina Amanu”.S. Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. Ayat-ayat yang turun di Madinah disebut “Ayat-Ayat Madaniyah”. Periode Makkah. Al-Quran membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan sebelumnya. 74. dengan ciri khas: umumnya panjang-panjang. untuk menampilkan rasa takjub terhadap kaumnya. keimanan. dan berisi hal-hal yang berhubungan dengan tauhid. Ayat pertama turun adalah Q. maka ikutilah „bacaan‟ itu”. 10:37). peribadahan.

“Jika kamu masih ragu-ragu tentang kebenaran apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad). . Al-Quran dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi atau pembukuan yang dilakukan para sahabat. “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk mengadakan yang serupa dengan Al-Quran ini. biarpun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Q. Itulah sebabnya Allah sendiri yang menjamin keaslian Al-Quran sejak pertamakali diturunkan. silakan kamu membuat satu surat saja yang sama dengannya (al-Quran). dan berisi ajaran tentang hukum-hukum. baik dengan pancaindera maupun mata hati. perang. kemasyarakatan. serta hukum antaragama dan lain-lain. Salah satu indikasi keaslian al-Quran adalah tidak adanya “Quran tandingan” karena manusia yang paling cerdas sekaligus paling membenci al-Quran pun tidak akan sanggup membuatnya. Al-Quran sudah menunjukkan bahwa ia rahmat dan bimbingan bagi manusia. Jika kamu tidak sanggup membuatnya dan sekali-kali kamu tidak akan sanggup. takutilah api neraka yang kayu bakarnya manusia dan bantu yang disediakan bagi orang-orang kafir (yang menentang kebenaran al-Quran)” (Q. tanpa sedikit pun perubahan. Panggilah saksi-saksi (pemuka dan para ahli) kamu (untuk membantumu) selain Allah. ayat. mengenal dirinya. 2:23-24). niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya. Karenanya.S.Wahai Orang-Orang Beriman). hukum internasional. 15:9). bahkan huruf. baik dalam jumlah surat. Hingga kini isinya masih dalam teks asli. Allah SWT sendiri menantangnya. kenegaraan. lalu pada masa Khalifah Utsman bin Affan dibentuk panitia ad hoc penyusunan mushaf Al-Quran yang diketuai Zaid. itu pula yang diterima dan dicatat para sahabat Nabi Saw. Membaca adalah jalan untuk memperoleh ilmu. 17:88). Mengikuti tuntunan dan tuntutan Al-Quran berarti mengikuti kehendak-Nya. Dari ayat pertama itu saja. Makanya. Ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra‟ (bacalah!) yang mengindikasikan kewajiban pertama manusia adalah membaca. Al-Quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini benar-benar merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life) manusia.S. juga mengenal Tuhannya. juga pembentukan kebudayaan termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk “menaklukkan” alam. sekiranya kamu benar (bisa melakukan hal itu). mushaf Al-Quran yang sekarang disebut pula Mushhaf Utsmany. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q. Dengan ilmu itu manusia bisa mengenal baik dan buruk menurut Allah SWT. Melalui Al-Quranlah Allah SWT menyatakan kehendak-Nya. hingga kini apa yang ada dalam Al-Quran. Tidak tercampur di dalamnya ucapan Nabi Muhammad Saw atau perkataan para sahabat. Rahasia alam akan tersingkap denan membaca. Pertama kali dilakukan oleh shabat Zaid bin Tsabit pada masa Khalifah Abu Bakar.S.

Disebut “menganiaya diri sendiri” karena dengan mengabaikan ajaran Allah ia sesat dalam hidupnya.S. membaca. menelaah. Ia menolak untuk mengikuti aturan yang sudah jelas akan menyelamatkannya dunia-akhirat.S. sehingga tercipta ketentraman. golongan zhalimu linafsih adalah orang yang mengabaikan Al-Quran sebagai pedoman dalam hidupnya. Dewan Penerjemah Al-Quran Depag RI (Al-Quran dan Terjemahannya. Depag RI) memaknai ketiga golongan tersebut sebagai berikut: golongan pertama adalah “orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya”. apalagi jika mengamalkannya. Yasin:38). Golongan muqtashid (pertengahan). tentang ruang hampa di angkasa luar (Q. Ar-Rahman:7). 35:29).S. dan revolusi planet bumi (Q. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (Q.Allah SWT mewahyukan Al-Quran tidak lain agar menjadi pedoman bagi hidup umat manusia. 2. mendorong manusia melakukan penelitian untuk menyibak tabir alam (Q. golongan kedua adalah “orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan. manusia akan menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar. mulai soal keimanan atau akidah hingga fenomena alam. Golongan saabiqun bil-khairi (cepat berbuat kebajikan). AlAn‟am:125). 17:36).S.S. menaklukkan angkasa luar (Q. dan kebahagiaan hidup.S. AdzDzariyat:47.S. Golongan sabiqun bil-khair adalah mereka yang cepat mengamalkan Al-Quran begitu mereka baca dan pahami. . Membacanya saja sudah berpahala.S. pemuaian alam semesta atau expanding universe (Q. dunia dan akhirat. Al-Anbiya: 104. Golongan zhalimu linafsih (menganiaya diri sendiri). serta mendakwahkannya (Q. mengabarkan prediksi ilmiah tentang rahim ibu (Q. 55:33). 3. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Quran tentang terbaginya umat Islam kedalam tiga golongan dalam menyikapi Al-Quran (Q. 10:101). “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian harta dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diamdiam dan terang-terangan.S. Dapat dikatakan. Faathir [35]:32). 1. gaya berat atau gravitasi (Q. menghayati. Kewajiban manusia untuk mengimani. AlQuran mengajari manusia bersikap ilmiah atau berdasarkan ilmu (Q.S. Para sahabat bahkan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (fastabiqul khairat) sebagai pengamalan ajaran Al-Quran (Islam). Isi Al-Quran meliputi segala hal. An-Naml:88) dan sebagainya[3]. Dengan pedoman itu.S. tentang geologi. Al-‟Ashr:1-3). keharmonisan. dan golongan “pertengahan” adalah mereka yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya. bahkan kata Nabi Saw satu huruf mengandung 10 pahala. Az-Zumar:6). Persis sebagaimana dicontohkan Nabi Saw dan para sahabat. Jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah SWT atau mengaku Muslim. dan mengamalkan ajaran Al-Quran secara keseluruhan. gerak rotasi.

doa iftitah. Secara harfiyah (etimologis). . dan penetapan Nabi Muhammad Saw. Karenanya. Al-Um. Penetapan (taqrir) adalah persetujuan atau diamnya Nabi Saw terhadap perkataan dan perilaku sahabat. hingga bacaan tahiyat dan salam. di antaranya Imam Malik di Madinah dengan kitabnya Al-Mutwaththa. “Kutinggalkan untuk kaliam dua perkara. 4:65). 2.R. dan As-Sunnah. Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan sabda Nabi Muhammad Saw. 59:7).S.Sedangkan golongan muqtashid dapat dikatakan parsial dalam pengamalan Al-Quran. “Demi Tuhanmu. As-Sunnah As-Sunnah disebut juga Al-Hadits. Sunnah berarti adat-istiadat (traditions). bacaan Al-Fatihah. Mereka tentu termasuk orang yang merugi karena Allah memerintahkan agar kita berislam secara totalitas (kaffah). Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang memberikan contoh langsung bagaimana shalat itu dijalankan. hak dan batil. seluruh Hadits waktu itu hanya berada dalam ingatan atau hapalan para sahabat. Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan berbicara tentang ruku‟ dan sujud. sujud. yakni Kitabullah (Quran) dan Sunnah Rasul-Nya”. perbuatan. selama kalian berpegang kepada keduanya. Imam Abu Hanifah menulis Al-Fqhi. gerakan ruku. Sebagai contoh. Kodifikasi Hadits Rasulullah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (100 H/718 M). lalu mereka tidak merasa berat hati terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuh hati” (Q. Secara maknawi (terminologis). Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup. lalu disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur (136 H/174 M). Mereka mencampuradukkan antara ibadah dan maksiat. Sunnah adalah segala perkataan. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. ia melarang para sahabatnya menuliskan apa yang dikatakannya. “Apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah” (Q. mulai takbiratul ihram (bacaan “Allahu Akbar” sebagai pembuka shalat).S. serta Imam Syafi‟i menulis Ikhtilaful Hadits. mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. “Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku” (H. Para ulama waktu itu mulai menyusun kitab Hadits. ajaran Al-Quran dan ajaran di luar Al-Quran. Sunnah merupakan “juru tafsir” sekaligus “juklak” (petunjuk pelaksanaan) Al-Quran. Abu Daud). Kebijakan itu dilakukan agar ucapan-ucapannya tidak bercampur-baur dengan wahyu (Al-Quran).

Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40. Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak 600. Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu Majah. bekerja semaksimal mungkin. Ulama Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam Bukhari (194 H/256 M) dengan kitabnya Shahih Bukhari dan Imam Muslim (206 H/261 M) dengan kitabnya Shahih Muslim. Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi. memeras pikiran. “Bagaimana memutuskan perkara yang dibawa orang kepada Anda?” “Hamba akan memutuskan menurut Kitabullah (Al-Quran.” “Segala puji bagi Allah yang telah menyebabkan utusan Rasulnya menyenangkan hati Rasulullah!” .” “Dan jika di dalam Kitabullah Anda tidak menemukan sesuatu mengenai soal itu?” “Jika begitu.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Ia adalah “semangat rasionalitas Islam” dalam rangka hidup dan kehidupan modern yang kian kompleks permasalahannya.” “Dan jika Anda tidak menemukan sesuatu mengenai hal itu dalam Sunnah Rasulullah?” “Hamba akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (Ijtihadu bi ra‟yi) tanpa bimbang sedikit pun. Banyak masalah baru yang muncul dan tidak pernah ada semasa hayat Nabi Muhammad Saw. Imam Muslim mengumpulkan 300. Ijtihad Ijtihad berasal dari kata ijtahada. Secara terminologis. Ijtihad merupakan dinamika Islam untuk menjawab tantangan zaman. hamba akan memutuskannya menurut Sunnah Rasulillah. Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam AlQuran dan As-Sunnah. Pelakunya disebut Mujtahid. Kedudukan Ijtihad sebagai sumber hukum atau ajaran Islam ketiga setelah Al-Quran dan AsSunnah.000 Hadits. Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi dan Syu‟bul Imam. Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa‟i yang menuangkan koleksi haditsnya dalam Kitab Nasa‟i. Ijtihad diperlukan untuk merealisasikan ajaran Islam dalam segala situasi dan kondisi. berusaha keras.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Imam Abu Daud dalam Sunan Abu Daud. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan utama umat Islam hingga kini. artinya mencurahkan tenaga. dan Imam Daruquthni dalam Sunan Daruquthni. 3. diindikasikan oleh sebuah Hadits (Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud) yang berisi dialog atau tanya jawab antara Nabi Muhammad Saw dan Mu‟adz bin Jabal yang diangkat sebagai Gubernur Yaman.

Imam Malik (714 H/798 M). Pekerjaan Muttabi‟ disebut Ittiba‟. maka dapat dikatakan bahwa Ijtihad adalah “sarana ilmiah” untuk menetapkan hukum sebuah perkara yang tidak secara tegas ditetapkan Al-Quran dan As-Sunnah. semua umat Islam berhak melakukan Ijtihad. di bawahnya adalah Muttabi‟ dan Muqallid. lalu memilih mana yang dianggap paling benar. Lazimnya. Para ulama Madzhab yang terkenal dan terbanyak pengikutnya di antara ulama-ulama lain. Mujtahid adalah para ulama yang integritas keilmuan dan akhlaknya diakui umat Islam. Maka gunakanlah keduanya dan tinjaulah sesuatu dan rahmat Allah akan selalu membimbing kamu ke jalan yang lurus!”[4] Dari kedua keterangan di atas. “Ya Rasulallah! Anda sakit. Muttabi‟ artinya mengikuti fatwa atau ijma‟ secara kritis. Bagaimana kami jadinya?” “Kamu punya Al-Quran!” “Ya Rasulallah! Tetapi walaupun dengan Kitab yang membawa penerangan dan petunjuk tidak menyesatkan itu di hadapan kami. menimbang-nimbang. Pekerjaan demikian tercela dalam ajaran Islam karena Islam mengajarkan penggunaan potensi akal seoptimal mungkin. Dalam hal penggunaan potensi akal dalam kehidupan beragama. yakni berusaha memikirkan. dan membandingkannya dengan fatwa lain. Hasil Ijtihad mereka dikenal sebagai fatwa. . sejarah Islam. Muqallid artinya mengikuti sebuah fatwa apa adanya sebagai hal yang wajib ditaati atau diikuti. Ketika itu terjadi dialog antara seorang sahabat dengan Nabi Muhammad Saw. petunjuk. Ya Rasulallah. Jika Ijtihad dilakukan secara bersama-sama atau kolektif. maka hasilnya disebut Ijma‟ atau kesepakatan. dan jika Anda telah pergi dari kami. dan ajaran. Mujtahid merupakan tingkatan tertinggi. dengan tidak menggunakan pertimbangan rasio dan tidak berusaha mengetahui sumber fatwa itu dikeluarkan. sering kami harus meminta nasihat. apa yang harus kami lakukan dan apa yang harus dilakukan orang-orang sesudah kami?” “Allah telah memberikan kesadaran kepada setiap manusia sebagai alat setiap orang dan akal sebagai petunjuk. sepanjang ia menguasai Al-Quran. Imam Syafi‟i (767 H/854 M). setelah Anda pergi peristiwa-peristiwa baru mungkin timbul yang tidak dapat timbul selama hidup Anda. Anda mungkin akan wafat. As-Sunnah. juga berakhlak baik dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. siapakah yang akan menjadi petunjuk kami?” “Berbuatlah seperti aku berbuat dan seperti aku katakan!” “Tetapi Rasulullah. siapa yang berhak melakukan Ijtihad? Pada dasarnya. Kalau demikian. yakni Imam Abu Hanifah (699 H/767 M). Pekerjaan Muqallid disebut Taklid. Persoalannya sekarang.Hadits tersebut diperkuat sebuah fragmen peristiwa yang terjadi saat-saat Nabi Muhammad Saw menghadapi akhir hayatnya.

dan Imam Ahmad bin Hambal (780 H/855 M) yang dikenal dengan Madzahibul Arba‟ah (Aliran Empat).S. dan jangan kepada Ats-Tsauri! Ambillah dari sumber mana mereka itu mengambil!” (Ahmad bin Hambal). khotib. menggaji muadzin. diri. Ijma‟. C. Maka koreksilah pendapatku. Janganlah kamu taklid kepadaku (La Tuqalliduni)!” “Jangan kamu taklid kepadaku (La Tuqallid ni)! Jangan pula kepada Malik. membukukan dan mencetak Al-Quran dan AlHadits. “Aku ini hanyalah seorang manusia yang mungkin salah dan mungkin benar. Misalnya soal riba (pembayaran berlebih atas utang atau pinjaman yang disyaratkan pemberi pinjaman). yakni Qiyas. A. dan guru agama. melarang umat Islam bertaklid buta kepada mereka: “Tidak halal bagi seseorang berpendapat dengan pendapat kami sehingga ia mengetahui darimana sumber pendapat kami itu” (Abu Hanifah). Kalau pinjaman itu konsumtif. imam. Mashalih Mursalah. Mashalih Mursalah adalah melakukan hal-hal yang tidak melanggar hukum. Kaidah Ushul Fiqih menyatakan. Istinbath. arak (khamr) diharamkan karena memabukkan (Q. Misalnya. 2:219) dan riba diharamkan karena mengandung unsur penganiayaan (Q. B. “Hukum itu berputar menurut „illah-nya”. benda dan hal lain pun jika ternyata memabukkan atau mengandung unsur penganiayaan menjadi haram juga. akal. tetapi untuk modal usaha atau memperbesar modal perusahaan yang telah berjalan. dan Istihsan[6]. maka apa yang sahih dari Nabi itulah yang lebih patut kamu ikuti. dan keturunan. 2:275). tidak dianjurkan Quran dan Sunnah. dan segala yang tidak sesuai dengan Quran dan Sunnah. tetapi sangat diperlukan untuk memelihara kelestarian dan keselamatan agama. Maka. Segala yang sesuai dengan Quran dan Sunnah. “Apa yang telah kukatakan padahal bertentangan dengan perkataan Nabi. Bunga pinjaman bank secara istinbath dibolehkan karena pinjaman yang diberikan bersifar pinjaman-produktif. Tidak ada ilat penganiayaan dalam bunga pinjaman itu karena pinjaman yang diberikan adalah bukan pinjaman-konsumtif. yakni memperbandingkan atau mempersamakan hukum suatu perkara dengan perkara lain berdasarkan persamaan „illah (sebab yang mendasari ketetapan hukum). jangan kepada Syafi‟i. Istinbath Istinbath yaitu menghukumi suatu perkara setelah mempertimbangkan permasalahannya. yakni untuk .[5] Ada sejumlah metode dalam pelaksanaan Ijtihad. secara Qiyas. serta mengadakan perayaan peringatan Hari-Hari Besar Islam. tinggalkanlah!” (Imam Malik). Mashalih Mursalah.S. Misalnya. harta. ambillah. Qiyas Qiyas artinya mengukur atau mempersamakan.

. E. Sebagai sumber Ajaran Islam juga disebut sumber pertama atau Asas Pertama Syara'. meliputi:       Ijma‟ Qauli. tanpa penjelasan batal-tidaknya puasa orang tersebut. yaitu kesepakatan yang tidak diucapkan namun tercermin dalam kesamaan sikap dan pengamalan. Ulama tertentu mengetapkan hukum atas suatu perkara dan ulama lain tidak membantahnya. Ijma‟ Sukuti. D. ada pula pendapat yang tetap mengharamkan bunga pinjaman-produktif karena tetap mengandung unsur penganiayaan –bank tidak mau tahu apakah usaha seseorang itu untung atau rugi.n Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman (Saba' QS 34:28). menanami tanah wakaf yang diwakafkan untuk pendirian masjid sambil menunggu biaya pembangunan. Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah diturunkan ke dunia Dalam upaya memahami isi Al Quran dari waktu ke waktu telah berkembang tafsiran tentang isi-isi Al-Qur'an namun tidak ada yang saling bertentangan.mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. yakni “menyetujui dengan cara mendiamkan”. yaitu para ulama berijtihad bersama-sama atau sendiri-sendiri tentang suatu masalah lalu memutuskan hukum yang sama. ditetapkan batal wudhunya. maka haram hukumnya bunga yang ada dalam pinjaman itu. Istihsan Istihsan adalah penetapan hukum dengan penyimpangan dari hukum umum kepada hukum khusus untuk mencapai kemanfaatan. Misalnya. Ijma’ Ijma‟ adalah kesepakatan para ulama tentang suatu perkara. Namun demikian. Ijma‟ „Amali. Contoh lain adalah lupa makan dan minum selagi berpuasa. Hadits menyebutkan. Hasilnya dijual dan disediakan untuk biaya pembangunan masjid. Namun orang yang berwudhu lalu lupa atau tanpa sengaja mengeluarkan angin. orang yang berbuat demikian dianjurkan meneruskan puasanya.

Sebagai sumber Ajaran Islam juga disebut sumber pertama atau Asas Pertama Syara'. Selain berisi hukum dan aturan. Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah diturunkan ke dunia Dalam upaya memahami isi Al Quran dari waktu ke waktu telah berkembang tafsiran tentang isiisi Al-Qur'an namun tidak ada yang saling bertentangan. Jika keadaan darurat itu berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syariat yang berlaku. Dengan demikian perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup beribadahnya kepada Allah itu dapat disederhanakan dalam dua kategori. demikian pula dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini. Maka oleh sebagian penganut Islam. Terkait dengan susunan tertib Syariat.Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman (Saba' QS 34:28). maka umat Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. sejak kerasulan Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman. dan keadaan tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah QS 5:101 yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah. kecuali dalam keadaan darurat. yaitu apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara' dan perkara yang masuk dalam kategori Furu' Syara'. Kedudukannya sebagai Pokok Syari'at Islam di mana Al Quran itu Asas Pertama Syara' dan Al Hadits itu Asas Kedua Syara'. Sifatnya. maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang memungkinkan umat Islam tidak mentaati Syariat Islam. ialah keadaan yang terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin. Al'quran surat Al Ahzab ayat 36 mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatu perkara. pada dasarnya mengikat umat Islam seluruh dunia di manapun berada. Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya. Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini.  Asas Syara' Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadits. .

 Furu' Syara' Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al'quran dan Al Hadist. Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat menerima sebagai peraturan / perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya. Kedudukannya sebagai cabang Syariat Islam. .