P. 1
Makalah Kebebasan Dan Tanggung Jawab

Makalah Kebebasan Dan Tanggung Jawab

|Views: 5,988|Likes:
Published by Eka Riyana

More info:

Published by: Eka Riyana on Sep 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang. Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar.1 Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. Hal tersebut ada, karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda, namun juga sering kali bertentangan.2 Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan

pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. J.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. Dalam konteks ini dapat diambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. Louis Leahy berpendapat bahwa “kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya kelakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak”.3 Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia, sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. Di antara masalah yang menjadi bahan perdebatan sengit dari sejak dahulu hingga sekarang adalah masalah kebebasan atau kemerdekaan menyalurkan kehendak dan kemauan. Dalam ini kebebasan tekait erat dengan aspek moralitas, banyak kalangan berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan yang akan dilakukannya sendiri,
1 2 3

Bdk. DR. Nico Syukur Dister OFM, Filsafat Kebebasan, Kanisius, Yogyakarta,1993, hal 5 Nusa Putra, Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, hal xviii Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal, hal 1.

sementara golongan yang lain menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kebebasannya secara proporsianal. Saat ini, banyak suara-suara miring yang diperdengarkan oleh para ahli dan masyarakat pada umumnya tentang persoalan moralitas anak bangsa yang diduga telah berjalan dan mengalir ke luar dari garis-garis humanitas yang sejati. Banyak kalangan yang mengkhawatirkan akan dan atau bahkan mungkin telah adanya dekadensi moral berkepanjangan yang tentu akan meniscayakan penurunan harkat dan martabat kemanusiaan. Kondisi kemanusiaan semacam ini dipertegas lagi dengan derasnya arus informasi dan komunikasi di era globalisasi saat ini yang mana setiap saat orang berhadapan dengan berbagai macam pandangan, ideologi dan gaya hidup yang sedemikian rupa yang dapat saja menggoncangkan kestabilan moralitas yang telah terbangun rapi selama ini. Bahkan kondisi ini tidak jarang pula akan menerpa sendi-sendi kehidupan keberagamaan sebagai bangunan dasar moralitas itu sendiri. Kondisi kehidupan manusia yang semakin plural seiring dengan konsekuensi logis arus komunikasi dan globalisasi yang mengubah cara pandang dan gaya hidup yang tentu berdampak pada akulturasi budaya, dapat pula terimplikasi dalam menentukan dan memilih nilai-nilai moral. Berbagai kebebasan dan kesempatan yang modernitas saat ini berikan menempatkan suatu rangkaian pilihan yang membingungkan dihadapan banyak masyarakat. Mobilitas modern telah mengoyak nilai-nilai moral yang telah ditanamkan dalam masyarakat. Aroma kebebasan pribadi merebak dan merasuk di udara. Mobilitas dan nilainilai modern yang dikomunikasikan melalui media massa memberikan tantangan-tantangan yang tidak terduga terhadap komunitas di mana-mana. Komunitas-komunitas ini harus berusaha memelihara pemahaman akan tanggung jawab pribadi ketika berhadapan dengan kebebasan yang luar biasa dan nilai-nilai moral yang berbeda. Sehingga salah satu

tantangan yang penting dalam menghadapi global saat ini adalah bagaimana menanamkan tanggung jawab dalam diri individu di tengah-tengah kebebasan-kebebasan yang luar biasa yang diberikan modernitas. 1.2. Dasar Berpikir. Kebebasan memang seperti bola panas yang digelindingkan. Barang siapa yang tidak siap menerimanya akan merasakan panas, mungkin bisa melukai, dan membahayakan. Butuh tangan dingin yang mampu mengolah bola panas, sehingga bisa menimbulkan decak kagum banyak orang. Disatu sisi kebebasan dapat menimbulkan decak kagum. Tetapi disisi

lain kebebasan juga bisa menimbulkan cemooh dan hinaan jika tidak bisa menanganinya. Kemampuan menangani kebebasan membutuhkan kesadaran atas sikap dan perilaku tanggung jawab. Seseorang perlu sikap dan perilaku tanggung jawab seketika dirinya

menerima hak istimewa berupa kebebasan, karena tidak ada kebebasan tanpa ada sikap tanggung jawab.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Kebebasan. a. Definisi/Pengertian Menurut Kamus Bahasa Indonesia arti dari kebebasan adalah “kemerdekaan atau keadaan bebas”.4 Dalam hal ini kebebasan berarti lepas sama sekali (tidak

terhalang, terganggu dan sebagainya, sehingga boleh bergerak berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa. Menurut teori filsafat pengertian kebebasan adalah “Kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Kebebasan lebih bermakna positif, dan ia ada sebagai konsekuensi dari adanya potensi manusia untuk dapat berpikir dan berkehendak. Sudah menjadi kodrat manusia untuk menjadi mahluk yang memiliki kebebasan, bebas untuk berpikir, berkehandak, dan berbuat”. Aristotoles sendiri mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal budi (homo rationale) yang memiliki tiga jiwa (anima), yakni: 1) Anima avegatitiva atau disebut roh vegetatif. Anima ini juga dimiliki tumbuhtumbuhan, dengan fungsi untuk makan, tumbuh dan berkembang biak. 2) Anima sensitiva, yakni jiwa untuk merasa, sehingga manusia punya naluri, nafsu, mampu mengamati, bergerak dan bertindak. 3) Anima intelektiva, yakni jiwa intelek. Jiwa ini tidak ada pada binatang dan tumbuh-tumbuhaan. Anima intelektiva memungkinkan manusia untuk berpikir, berkehendak dan punya kesadaran. Sedangkan pengertian kebebasan dalam Islam dapatlah dilihat dari dua perspektif yaitu perspektif teologi dan perspektif ushul figh, yaitu; Pengertian kebebasan dalam perspektif teologi berarti bahwa manusia bebas menentukan pilihan antara yang baik dan yang buruk dalam mengelola sumberdaya alam. Kebebasan untuk menentukan pilihan itu melekat pada diri manusia, karena manusia telah dianugerahi akal untuk memikirkan mana yang baik dan yang buruk,
4

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 2008, Hal 154

mana yang maslahah dan mafsadah mana yang manfaat dan mudharat. Karena kekebasan itu, maka adalah logis (wajar) bila manusia harus bertanggung jawab atas segala perilakunya di muka bumi ini atas pilihannya sendiri. Manusia dengan potensi akalnya mengetahi bahwa penebangan hutan secara liar akan menimbulkan dampak banjir dan longsor. Manusia juga tahu bahwa membuang limbah ke sungai yang airnya dibutuhkanmasyarakat untuk mencuci dan mandi adalah suatu perbuatan salah yang mengandung mafsadah dan mudharat. Melakukan suatu dosa adalah suatu kezaliman besar. Namun ia melakukannya juga, karena ia harus mempertangung jawabkan perbuatannya itu di hadapan Allah, karena perbuatan itu dilakukannya atas pilihan bebasnya. Seandainya manusia berkeyakinan bahwa ia melakukan perbuatan itu karena dikehendaki Allah secara jabari, maka tidak logis ia diminta pertanggung jawaban atas penyimpangan perilakunya. Dengan demikian, makna kebebasan dalam kacamata teologi Islam ialah manusia memiliki kebebasan dalam memilih. Adanya pemberikan reward and punisment merupakan suatu indikasi bahwa manusia itu bebas melakukan pilihan-pilihan. Semua keputusannya dalam melakukan pilihanpilihan tersebut akan ditunjukkan kepadanya pada hari kiamat nanti untuk dipertanggung jawabakan di mahkamah (pengadilan) ilahi. Allah berfirman : Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. 99 : 7-8) Hal ini berarti bahwa dalam pandangan Islam, manusia bebas untuk memilih, bebas untuk menentukan, karena pada akhirnya dia yang harus bertanggungjawab terhadap semua perbuatannya ; karena itulah maka ada reward atau punishment dari Allah SWT. Dengan demikian, makna kebebasan dalam konteks ini bukanlah

kebebasan sebagaimana dalam faham liberalisme yang tidak dikaitkan dengan masuliyah di akhirat. Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak, karena kekebasan seperti itu hanya akan mengarah kepada paradigma kapitalis mengenai laisssez faire dan kebebasan nilai (value free). Kebebasan dalam pengertian Islam adalah kekebasan yang terkendali (Al-Hurriyah Al-Muqayyadah).

Pengertian kebebasan dalam perspektif ushul fiqh berarti bahwa dalam muamalah, Islam membuka pintu seluas-luasnya di mana manusia bebas melakukan apa saja sepanjang tidak ada nash yang melarangnya. Aksioma ini didasarkan pada kaedah populer, ”Pada dasarnya dalam muamalah segala sesuatu dibolehkan sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya”. Jika kita terjemahkan arti kebebasan bertanggung jawab ini ke dalam dunia binsis, khususnya perusahaan, maka kita akan mendapatkan bahwa Islam benar benar memacu umatnya untuk melakukan inovasi apa saja, termasuk pengembangan teknologi dan diversifikasi produk. Disamping itu, apabila merujuk kepada pengertian kebebasan sebagaimana dikemukakan oleh Achmad Charis Zubair5 adalah “terjadinya apabila kemungkinankemungkinan untuk bertindak tidak di batasi oleh suatu paksaan dari atau keterikatan kepada orang lain”. Paham tersebut di sebut bebas negative, karena hanya dinyatakan bebas dari apa, tetapi tidak di tentukan bebas untuk apa. apabila : 1) Dapat menentukan sendiri tujuan-tujuan dan apa yang di lakukannya. 2) Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang ada baginya. 3) Tidak di paksa atau terikat untuk membuat sesuatu yang akan di pilihnya sendiri ataupun di cegah dari berbuat apa yang di pilih sendiri, oleh kehendak orang lain, negara atau kekuasaan apapun. Selain itu kebebasan meliputi segala macam perbuatan manusia, yaitu kegiatan yang di sadari, disengaja dan dilakukun demi suatu tujuan yang selanjutnya di sebut tindakan. Dilihat dari segi sifatnya kebebasan dapat di bagi tiga yaitu : 1) Kebebesan Jasmani. Yaitu kebebasan untuk mrnggerakkan dan Seseorang di sebut bebas

mempergunakan anggota badan yang kita miliki. 2) Kebebesan rohaniah. Yaitu kebebasan menghendaki sesuatu.Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berpikir,karena manusia dapat memikirkan apa saja. 3) Kebebasan moral. Dalam arti luas berarti tidak adanya macam-macam ancaman, tekanan, larangan dan desakan lain yang tidak sampai berupa
5

Dpchanurabone, Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani, Melalui <http://dpchanurabone.blogspot.com/2011/04/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati.html> [01/08/2011]

paksaan fisik. Sedangkan dalam arti sempit dikatakan bahwa kebebasan yaitu bebas berbuat apabila terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk berbuat. Paham adanya kebebasan pada manusia ini sejalan pula dengan isyarat al-Quran, sebagaimana yang tersirat dalam Surah Al Kahfi berikut ini : Q.S Al-Kahfi : 29 Artinya : “ katakanlah kebenaran datang dari tuhanmu, siapa yang mau percaya percayalah ia, siapa yang tidak mau janganlah ia percaya “. Q.S Fushilat 41;40 Artinya; “Buatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Ia maha melihat apa yang kamu perbuat.”

b. Bentuk Kebebasan Dengan semakin besarnya perhatian masyarakat Internasional terhadap kebebasan yang dapat dianologikan bahwa setiap orang tidak boleh dipaksa atau dituntut membuat satu pilihan tunggal seumur hidup atau dipaksa meninggalkan agama orang tua, pasangan, pemimpin agama, komunitas atau masyarakat. Dengan demikian bentuk kebebasan terbagi menjadi dua yaitu : 6 1) Kebebasan Internal. Hak menganut atau menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihan sendiri. Kebebasan itu disebut internal freedom (kebebasan internal) yang patut dihargai siapa pun. Tidak ada satu pihak pun yang bias membatasi kebebasan internal. Negara juga tidak dapat membatasi dan memaksakan. Kebebasan internal memberikan keleluasaan penuh setiap saat bagi individu untuk menggali atau mendalami keyakinan-keyakinan atau agama lain dan membuat pilihan pribadi untuk menganut, melepaskan, menjauhi atau menolak secara terbuka suatu agama atau keyakinan jika itu yang diinginkan. Negara tidak boleh membuat batasan-batasan apapun terhadap kebebasan internal dan karena itu negara tidak
6

Rafael Edy Bosko dan M. Rifai‟ Abduh 2010), Kebebasan Beragama atau berkeyakinan, Seberapa Jauh, Kanisius, Yogyakarta, Hal 438

boleh campur tangan terhadap pilihan atau keyakinan pribadi seseorang. Oleh karena itu kebebasan internal memberikan kepada setiap orang untuk berhak atas kebebasan berfikir, berkepercayaan dan beragama; hak ini mencakup kebebasan untuk setiap orang menganut, menetapkan, merpertahankan atau pindah agama atau kepercayaan. Setiap orang bebas berpikir (thought), bersikap sesuai hati nurani (conscience) dan menganut suatu agama (religion) atau keyakinan (belief) pilihannya sendiri. Kebebasan internal ini (freedom internal) bersifat mutlak dan tidak dapat dibatasi atau dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable). Termasuk dalam kebebasan ini adalah kebebasan mengembangkan pemikiran, pandangan dan tafsir mengenai agama atau keyakinan. Penafsiran adalah keniscayaan perkembangan agama akibat hasrat dan kemampuan bawaan manusia untuk mencari kebenaran. Perbedaan pendapat, penafsiran, dan macammacam aliran, agama dan keyakinan adalah kenyataan. Kebebasan internal memberi keluluasaan penuh setiap saat bagi setiap individu untuk menggali atau mendalami keyakinan-keyakinan atau agama lain dan membuat pilihan pribadi untuk menganut, melepaskan, menjauhi atau menolak secara terbuka suatu agama atau keyakinan jika itu diinginkan. Dengan demikian negara tidak boleh membuat batasan-batasan apapun terhadap kebebasan internal dan karena itu negara tidak boleh campur tangan terhadap pilihan agama atau keyakinan pribadi setiap individu. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kebebasan internal sangat melekat dengan kebebasan bagi seseorang untuk menganut agama sesuai dengan keyakinannya tanpa dibatasi oleh aturan maupun paksaan. Kebebasan internal (forum internum) yang menyangkut eksistensi spiritual yang melekat pada setiap individu adalah kebebasan yang dimiliki setiap orang untuk meyakini, berfikir, dan memilih agama atau keya- kinannya, juga kebebasan untuk mempraktekkan agama atau keyakinannya secara privat, sehingga kebebasan internal ini tidak dapat diintervensi oleh negara. Kebebasan beragama merupakan salah satu hak yang mendapatkan perhatian serius dari dunia internasional. Dalam pasal 2 Deklarasi Umum Hak Asasi

Manusia (DUHAM) dinyatakan secara jelas bahwa : setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam deklarasi ini tanpa perkecuali apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan, asal mula kebangsaan atau

kemasyarakatan, hal milik, kelahiran, ataupun kedudukan lain.. Begitu pula dalam ketentuan pasal 18 secara tegas menyebutkan : setiap orang berhak atas kemerdekaan berfikir, berkeyakinan, dan beragama; hak ini mencakup kebebasan untuk berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan pengajaran, peribadatan, pemujaan dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, dimuka umum atau secara pribadi. Dalam konteks DUHAM, kebebasan agama digolongkan sebgai kategori hak asasi dasar manusia, bersifat mutlak dan berada di dalam “forum internum” yang merupakan wujud dari inner freedom (freedom to be). Hak ini tergolong sebagai hak yang non derogable. Artinya, hak yang secara spesifik dinyatakan di dalam perjanjian hak asasi manusia sebagai hak yang tidak bisa ditangguhkan pemenuhannya oleh negara dalam situasi dan kondisi apapun, termasuk dalam keadaan bahaya, seperti perang sipil atau invansi militer. Hak yang non-derogable ini dipandang sebagai hak yang paling utama dari hak asasi manusia. Hak-hak ini harus dilaksanakan dan harus dihormati oleh negara pihak dalam keadaan apapun dan dalam situasi bagaimanapun. Akan tetapi kebebasan dalam bentuk kebebasan untuk mewujudkan, mengimplementasikan atau memanifestasikan agama atau

keyakinan seseorang, seperti tindakan berdakwah atau menyebarkan agama atau keyakinan dan mendirikan tempat ibadah digolongkan ke dalam

kebebasanberindak (freedom to act). Kebebasan beragama dalam bentuk ini diperbolehkanuntuk dibatasi dan bersifat bisa diatur atau ditangguhkan pelaksanaannya. Penundaan pelaksanaan, pembatasan atau pengaturan itu hanya boleh dilakukan berdasarkan undang-undang. Adapun alasan yang dibenarkan untuk melakukan penundaan pelaksanaan, pembatasan, atau pengaturan itu adalah semata-mata perlindungan atas lima hal, yaitu : public safety, public order, public health, public morals, dan protection of rights and freedom of others.

Dengan demikian tujuan utama tindakan penundaan pelaksanaan, pengaturan atau pembatasan itu adalah untuk menangkal ancaman terhadap keselamatan manusia atau hak milik mereka. Kebebasan beragama juga diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hakhak Sipil dan Politik., yang diatur melalui pasal 18 ayat (1, 2, 3, dan 4). Pada ayat (1) dinyatakan : “setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan agama. Hak ini meliputi hak untuk menganut atau memasuki suatu agama atau kepercayaan pilihannya sendiri, serta kebebasan untuk baik sendirian maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di hadapan umum maupun di tempat pribadi mewujudkan agama dan kepercayaannya dengan pemujaan, penataan, pengamalan dan pengajaran”. Pada ayat (2) : “Tiada seorangpun boleh dikenakan pemaksaan yang akan mengurangi, mengganggu kebebasannya untuk menganut atau memasuki suatu agama atau kepercayaan pilihannya sendiri”. Sesangkan ayat (3) mengatur : “Kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan hanya dapat dikenakan pembatasan sebagaimana diatur dengan undang-undang, dan perlu untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau kesusilaan umum atau hak asasi dan kebebasan orang lain”. Ayat (4) menyatakan : “Para negara peserta kovenan ini berjanji untuk dapat menghormati kebebasan orang tua (dimana dapat diterapkan) para wali yang sah untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan budi pekerti anak sesuai dengan keyakinan mereka sendiri”. Tahun 2005 Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) melalui UU No. 12 Tahun 2005 tentang pengesahan Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Kovenan ini menetapkan hak setiap orang atas kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama serta perlindungan atas hak-hak tersebut. Dengan demikian tidak ada alasan bagi negara untuk tidak menjamin kebebasan beragama dan memberikan perlindungan bagi para pemeluknya. Terkait dengan jaminan kebebasan beragama di Indonesia, UUD 1945 sudah cukup kuat menjamin setiap warga negara untuk memeluk agama dan beribadat

sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyatakan, “negara menjamin kemerdekaan tiap tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Jaminan tersebut juga dapat dilihat dari ketentuan pasal 28 E ayat (1) dan (2). Pada pasal (1) menyatakan : “bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya…”. Pada ayat (2) dinyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan…”. Jaminan kebebasan beragama ini diperkuat melalui UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 22 UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan ; (1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masingmasing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu; (2) negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaanya itu. Ada dua hal penting dalam ketentuan diatas, yaitu kebebasan beragama dan berkepercayaan sebagai hak, dan adanya kewajiban negara untuk menjamin terpenuhinya hak tersebut. Pemaknaan terhadap kebebasan beragama di Indonesia harus dimulai dari pengakuan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan beragama adalah bagian tak terpisahkan dari hak asasi manusia yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun. Kebebasan disini berarti bahwa keputusan beragama dan beribadah diletakkan pada tingkat individu. Dengan ungkapan lain, agama merupakan persoalan individu dan bukan persoalan negara. Negara cukup menjamin dan memfasilitasi agar warga negara dapat menjalankan agama dan peribadatannya dengan nyaman dan aman, bukan menetapkan mana ajaran agama atau bentuk peribadatan yang harus dan tidak harus dilakukan oleh warga negara. Negara sama sekali tidak berhak mengakui atau tidak mengakui suatu agama. Negara juga tidak berhak memutuskan mana agama resmi dan tidak resmi, tidak berhak menentukan mana agama induk dan mana agama sempalan. Negara pun tidak berhak mengklaim kebenaran agama dari kelompok mayoritas dan mengabaikan kelompok minoritas. Negara juga tidak memiliki hak untuk mendefinisikan apa itu agama. Penentuan agama atau bukan hendaknya diserahkan sepenuhnya kepada penganut agama bersangkutan. Berdasarkan dari yang tersirat di Pasal 70 UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM dan tersurat dalam

UU No. 12 Tahun 2005, Pasal 18 ayat (3) tentang pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, maka pemerintah dapat mengatur/membatasi kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan melalui Undang-Undang. Elemen-elemen yang dapat dimuat di dalam pengaturan tersebut antara lain : a) Restriction for The Protection of Public Safety (Pembatasan untuk Melindungi Masyarakat). Pembatasan kebebasan memanifestasikan agama di public dapat dilakukan pemerintah seperti pada musyawarah keagamaan, prosesi keagamaan, dan upacara kematian dalam rangka melindungi kebebasan individu-individu (hidup, integritas, atau kesehatan) atau kepemilikan. b) Restriction for the Protection of Public Order (Pembatasan untuk Melindungi Ketertiban Masyarakat). Pembatasan kebebasan memanifestasikan agama dengan maksud menjaga ketertiban umum, antara lain keharusan mendaftar badan hukum organisasi keagamaan masyarakat, mendapatkan ijin untuk melakukan rapat umum, mendirikan tempat ibadah yang diperuntukkan umum. Pembatasan kebebasan menjalankan agama bagi narapidana. c) Restriction for The Protection of Public Healthy (Pembatasan untuk Melindungi Kesehatan Masyarakat). Pembatasan dijinkan berkaitan dengan kesehatan publik dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada

pemerintah melakukan intervensi guna mencegah epidemik atau penyakit lainnya. Pemerintah diwajibkan melakukan vaksinasi, pemerintah dapat mewajibkan petani bekerja secara harian untuk menjadi anggota Askes guna mencegah penularan penyakit TBC. Bagaimana pemerintah harus bersikap seandainya ada ajaran agama tertentu yang melarang diadakan transfusi darah atau melarang penggunaan helm pelindung kepala. Contoh yang agak ekstrem adalah praktek mutilasi kelamin perempuan dalam adat istiadat tertentu di Afrika. d) Restriction for The Protection of Morals (Pembatasan untuk Melindungi Moral Masyarakat). Justifikasi kebebasan memanifestasikan agama atau kepercayaan yang terkait dengan moral dapat menimbulkan kontroversi.

Konsep moral merupakan turunan dari berbagai tradisi keagamaan, filasafat, dan sosial. Oleh karena itu pembatasan yang terkait dengan prinsip- prinsip moral tidak hanya diambil dari tradisi atau agama saja. Pembatasan dapat dilakukan oleh Undang-undang untuk tidak disembelih guna kelengkapan ritual tetentu. e) Restriction for the Protection of The (Fundamental) Rights and Freedom of Others. (Pembatasan untuk Melindungi Kebebasan Mendasar dan Kebebasan Orang Lain). 1) Proselytism (Penyebaran Agama). Dengan adanya hukuman terhadap tindakan proselytism, pemerintah dapat mencampuri kebebasan seseorang dalam memanifestasikan agama mereka melalui aktivitas-aktivitas misionaris dalam rangka melindungi agar kebebasan orang lain untuk tidak dikonversikan. 2) Pemerintah berkewajiban membatasi manifestasi dari agama atau kepercayaan yang membahayakan hak-hak fundamental dari orang lain, khususnya hak untuk hidup, kebebasan, integritas fisik dari kekerasan, pribadi, perkawinan, kepemilikan, kesehatan, pendidikan, persamaan, melarang perbudakan, kekejaman dan juga hak kaum minoritas. Contoh : Seseorang bebas memeluk dan mengikuti aliran, mazhab dan kecenderungan pemikiran yang berbeda-beda yang ada dalam agama yang sama. Selain seseorang bebas untuk memeluk Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan ribuan keyakinan lokal yang bertebaran di seluruh bumi Indonesia, yang bersangkutan juga bebas memeluk aliran-aliran dan mazhab yang bermacammacam dalam agama itu. Seorang yang memeluk Islam, dengan demikian, bebas pula memeluk aliran Sunni atau Syiah. Jika ia memeluk Sunni, ia juga bebas memeluk mazhab apapun dalam aliran Sunni, yakni Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. Seorang yang memeluk mazhab-mazhab itu pun bebas pula mengitui pendekatan teoritik dan penafsiran tertentu dalam mazhab yang sama. Demikian seterusnya. Begitu pula seseorang yang memeluk agama Kristen: ia bebas mengikuti denominasi apapun yang ada dalam agama itu, termasuk denominasi yang oleh kelompok lain dalam Kristen dianggap menyimpang dan sesat. Hal yang sama berlaku untuk agama-agama lain. Dalam setiap agama, selalu saja ada kelompok yang dianggap sesat. Itu kecenderungan yang berlaku umum di mana-mana. Dengan demikian, keragaman bukan saja terjadi antar agama, tetapi juga intra-agama. Meskipun agama Protestan memang hanya ada satu, tetapi di sana terdapat berbagai

macam sekte dan denominasi. Begitu pula hal yang sama terjadi dalam Islam. Memang Islam adalah agama yang satu, tetapi harus diakui dengan jujur di dalamnya terdapat banyak ragam aliran, mazhab, dan perspektif pemikiran. Oleh karena itu, kebebasan beragama berlaku baik antar-agama atau intraagama. Tugas negara bukanlah mencampuri perbedaan itu dan ikut menyeleksi mana keyakinan yang dianggap benar dan mana yang sesat.

2) Kebebasan Eksternal. Kebebasan ini didefinisikan sebagai kebebasan pribadi, baik secara individu ataupun dalam masyarakat bersama orang lain, didepan umum atau di ruang yang bersifat pribadi, untuk menyatakan kehendaknya ataupun keyakinannya dan ketaatan terhadap aturan-aturan. Kebebasan eksternal tentu bukan semata-mata urusan sangat pribadi seorang individu, melainkan bisa juga dilaksanakan di ruang yang bersifat pribadi atau didepan umum dan secara individu atau dalam masyarakat bersama orang lain. Dalam menetapkan kebebasan ekstenal sulit dilakukan suatu negara, karena ketiga pilar tersebut sering ditafsir secara berbeda-beda. Khususnya kepentingankepentingan negara (public order, public safety dan public health) yang disebut dalam persyaratan yang kedua sering sulit didefinisikan secara jelas. Oleh karena itu, keharusan (neccessity) yang disebut dalam pilar/persyaratan yang ketiga mengimplementasikan sifat relativitas. Artinya makna-maknanya bisa berubah sesuai keadaan dan negara. Kebebasan eksternal (forum externum) adalah kebebasan seseorang untuk mengekspresikan, mengomunikasikan, atau memanifestasikan eksistensi spiritual yang diyakininya itu kepada publik dan membela keyakinannya. Kebebasan eksternal (forum externum), yakni hak kondisional yang bisa menjadi subjek pembatasan karena bersinggungan dengan hak-hak asasi orang lain. Kebebasan eksternal ini dengan jelas terutama dapat disaksikan dalam dokumen KIHSP tahun 1966, yang sekaligus membedakannya dari DUHAM 1948. KIHSP tahun 1966, artikel 18 (3) berbunyi: “Kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan hukum, yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau moral masyarakat atau hak mendasar dan kebebasan orang lain.” Kebebasan internal

ini melandasi manifestasi keyakinan setiap individu dalam empat ranah eksternal yaitu lewat ajaran, pengamalan, peribadatan dan ketaatan terhadap kaidan-kaidah agama. Contoh : Pendirian tempat-tempat ibadah, penggunaan simbol-simbol keagamaan, publikasi keagamaan, pemakaian busana-busana keagamaan dan penutup kepala, ibadah puasa, makanan pantangan, pengajaran agama atau keyakinan, pembangunan hubungan komunikasi dengan sesama pemeluk agama, pemilihan pimpinan agama, ketaatan terhadap hari-hari libur, hari-hari suci dan upacara keagamaan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa kebebasan eksternal seringkali berkaitan dengan hak-hak asasi manusia dan kebebasankebebasan dasar lain baik hak sipil dan politik (misalnya kebebasan berekpresi, kebebasan berkumpul, kebebasan bersarikat), maupun hak ekonomi, sosial dan budaya (misalnya hak mendapat jaminan kesehatan, pendidikan dan hak mendapat pekerjaan). Dalam hal ini terdapat pembatasan pada kebebasan eksternal Berbeda dengan kebebasan internal, negara boleh memberlakukan

pembatasan-pembatasan tertentu terhadap kebebasan eksternal aturan-aturan yang ditetapkan tidak terpenuhi. Kebebasan eksternal berkenaan dengan suatu kasus yang terjadi, maka semua tindakan yang dilakukan suatu negara harus dinilai berdasarkan tiga pilar yang diantaranya : a) Harus diatur/ ditentukan oleh undang-undang. b) Harus sejalan dengan satu atau lebih dasar/ alasan kepentingan umum, khususnya keselamatan/ keamanan publik, tatanan/ tertib umum, kesehatan atau moralitas publik, atau hak-hak dan kebebasan fundamental orang lain. c) Merupakan suatu keharusan demi melindungi kepentingan-kepentingan umum yang disebut diatas. Tiga pilar persyaratan diatas merupakan alat uji untuk dibolehkannya pembatasan ini berlaku dalam semua situasi, bahkan ketika keadaan darurat sedang mengancam eksistensi suatu negara. Alat uji ini tidak boleh diterapkan sedemikian rupa sehingga menghancurkan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan seorang indivdu. Adalah negara yang harus menunjukkan bahwa setiap pembatasan yang dilakukan sejalan atau memenuhi tiga syarat tersebut.

Dalam kitab al-Mausu‟ah al-Islamiyah al-„Ammah, kebebasan didefenisikan sebagai kondisi keislaman dan keimanan yang membuat manusia mampu mengerjakan atau meninggalkan sesuatu sesuai kemauan dan pilihannya, dalam koridor sistem Islam, baik aqidah maupun moral. Dari pengertian ini terdapat dua bentuk kebebasan. 7 1) Kebebasan Internal (hurriyah dakhiliyah) yaitu kekuatan memilih antara dua hal yang berbeda dan bertentangan. Kebebasan jenis ini tergambar dalam : a) Kebebasan Berkehendak (Hurriyat Al-Iradah). b) Kebebasan Nurani (Hurriyat Al-Dhomir). c) Kebebasan Jiwa (Hurriyat Al-Nafs). d) Kebebasan Moral (Hurriyat Al-Adabiyah). 2) Kebebasan Eksternal (hurriyat kharijiyah). Bentuk kebebasan ini terbagi menjadi tiga yaitu : a) Al-tabi’iyah, yaitu kebebasan yang terpatri dalam fitrah manusia yang menjadikannya mampu melakukan sesuatu sesuai apa yang ia lihat. b) Al-siyasiyah, yaitu kebebasan yang telah di berikan oleh peraturan perundang-undangan. c) Al-diniyah, kemampuan atas keyakinan terhadap pelbagai mazhab keagamaan.

Sedangkan menurut pandangan dan bentuk pemikiran dari Isaiah Berlin yang merupakan seorang tokoh dan guru besar di Universitas Oxford, Inggris.8 Didalam bukunya Four Essays on Liberty, ia menjelaskan masalah kebebasan dengan menyatakan bahwa kebebasan itu ada dua macam, terdiri :

7

8

Ibnu Harun, Memaknai Kebebasan, Melalui <(http://herman1976.wordpress.com/2008/10/15/memaknaikebebasan/> [01/08/2011] Abdullah Haidar (2003), Kebebasan Seksual Dalam Islam, Jakarta; Pustaka Jahra, Hal 30

1) Kebebasan Negatif. Kebebasan negatif lebih ditekankan pada kebebasan dari segala tekanan (menekankan pada state of nature dan individu). Kata kuncinya adalah Freedom from lebih menekankan pada pentingnya keberadaan individu jadi sifatnya subjektifisme. Kebebasan ini terpusat pada tindakan yang lahir dari motif-motif internal dan bukan eksternal. Alternatif ini menuntut suatu doktrin tentang manusia sedemikian sehingga manusia mempunyai hakekat dasariah, atau diri, yang memungkinkan bertindak, dan bukan bertindak sesuai dengan dunia luar. Tokoh yang perlu dipehatikan dalam pendekatan kebebasan negatif adalah Immanuel Kant. Ia mengatakan bahwa ada kebebasan yang ia sebut sebagai kebebasan intelijibel yang tercapai karena fakta bahwa kehendak, yang tidak tergantung pada pengaruh semua dorongan indera, ditentukan oleh akal budi murni belaka. Sehingga tidak mengherankan apabila Kant mengatakan bahwa dalam mengidentifikasikan kebebasan bukanlah penghapusan keinginan namun daya tahan terhadapnya dan menguasainya. Kant mengatakan bahwa Aku ini bebas, karena aku berhak mengurus kepentinganku sendiri. Kebebasan itu adalah ketaatan, tapi ketaatan terhadap hukum yang kita tentukan sendiri dan tak ada orang yang dapat memperbudak dirinya sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa “Tak ada yang bisa memaksaku untuk bahagia dengan caranya sendiri”. Tokoh lain yang juga cukup besar pengaruhnya dalam mengemukakan kebebasan negatif ini adalah John Stuart Mill. Gagasan yang terkenalnya adalah individualitas, yang berarti pengembangan diri pribadi, dan hal ini lebih merupakan usaha untuk mengintegrasikan semua daya di dalam diri seseorang secara harmonis. Ia mengatakan bahwa setiap orang bebas untuk

mengembangkan daya-dayanya sesuai dengan kehendak dan keputusan atau penilaiannya sendiri. Namun dilain pihak Mill juga mengungkapkan ada beberapa ketentuan agar kebebasan individu itu tidak mengganggu kestabilan masyarakat yaitu pentingnya memberlakukan paksaan terhadap seseorang karena paksaan ini berguna untuk mencegah dia merusakkan atau merugikan orangorang lain. Dengan demikian Mill juga merasa yakin bahwa kebahagiaan umum

akan bertambah apabila setiap orang mengembangkan dirinya dengan cara seperti itu. Atau dengan kata lain jika individu merasa bebas maka masyarakat secara umum pun bebas pula. Dari uraian tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwasannya “Kebebasan negatif adalah suatu wilayah yang didalamnya terdapat seseorang dapat melakukan perbuatan yang hendak ia perbuat, dan orang lain tidak dapat melarang ataupun mencegah perbuatannya itu”. Contoh : Jika pada suatu perkara seseorang tidak dapat melakukan pekerjaan yang diinginkannya dikarenakan ada orang lain yang ikut campur dan mencegahnya, maka sebatas itulah orang tersebut kehilangan kebebasan. Dan kiranya campur tangan orang lain sebegitu luas, dan menjadikan kebebasan nya lebih kecil dari batasan minimal dapat dikatakan bahwa dari sisi individual, orang tersebut berada di bawah tekanan dan bahkan menjadi budak orang lain. Dengan demikian kebebasan dalam pengertian tersebut adalah; dia harus terhindar dari campur tangan orang lain. Karena itu tatkala semakin luas lingkup tidak adanya campur tangan orang lain, maka kebebasan pun semakin luas dan tidak terbatas. Para filsuf dan tokoh politik klasik inggris, tatkala mereka menggunakan kata kebebasan, yang mereka maksudkan adalah kebebasan sebagaimana contoh diatas. Sekalipun berbeda pendapat tentang luas lingkup kebebasan, namun mereka sepakat bahwa tidak mungkin kebebasan itu tidak terbatas, karena dalam bentuk semacam ini akan muncul suatu kondisi dimana setiap orang akan mencampuri dan mengganggu kehidupan orang lain. Kebebasan semacam ini juga akan menyebakan munculnya kekacauan dan keributan di tengah masyarakat. Sehingga pada akhirnya manusia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, bahkan yang paling minim sekalipun. Selain itu

kebebasan orang yang lemah akan menjadi hilang dan musnah dirampas oleh mereka yang kuat. Para filsuf tersebut menyadari bahwa berbagai tujuan dan aktifitas manusia tidaklah sama dan serupa. Dan mereka siap untuk mengesampingkan berbagai pandangan filsafati mereka yang saling berbeda, demi mempertahankan nilai-nilai yang lain selain kebebasan seperti keadilan, kebahagian, keamanan dan keseteraan. Mereka mengakui bahwa kesemuanya

itu memiliki nilai yang amat tinggi dan bahkan mereka siap untuk membatasi kebebasan mereka demi menjaga dan mempertahankan nilai-nilai tersebut. Berdasarkan prinsip tersebut, maka dalam upaya mewujudkan suatu kebebasan harus dilakukan pembatasan terhadap kebebasan itu sendiri. Dan jika tidak, maka manusia tidak mungkin dapat menciptakan suatu masayrakat yang benar-benar harmonis. Oleh karena itu para cendekiawan berpendirian bahwa undang-undang diperlukan dan harus diberlakukan demi membatasi ruang gerak dan kebebasan seseorang. Para cendekiawan, khususnya para penuntut kebebasan, seperti Locke dan Mill, berpendirian bahwa pada akhirnya minimal masih terdapat kebebasan yang sama sekali tidak dapat diganggu dan dicampuri orang lain. Karena jika manusia tidak diberi kebebasan yang minim itu, maka ia akan merasa terjepit dan tidak akan mampu mengembangkan berbagai potensi alamiahnya secara baik dan sempurna. Sekalipun mereka mendukung kebebasan individual, namun demi menjaga agar seseorang tidak sampai menguasai dan melakukan penekanan terhadap orang lain, mereka memaparkan suatu prinsip, “Kita harus menjaga cakupan dan wilayah kebebasan individual walaupun amat minim. Jika tidak, maka kita akan melecehkan kemanusiaan dan kita akan mengingkari substansi kemanusiaan itu sendiri.” Benar manusia tidak dapat bebas secara mutlah (absolut) dan terpaksa sebagian dari kebebasannya harus dikorbankan agar nilai-nilai yang lain dapat dijaga dan dipertahankan. Dan dalam hal ini patut diketahui secara jelas, apa yang dimaksud dengan minim itu ?, apa yang jika ditiadakan akan bertentangan dengan substansi kemanusiaan kita ?, apa standar dan tolak ukur dalam menentukan batasan cakupan dan wilayah kebebasan serta dalam menentukan tidak ada campur tangan dalam kebebasan manusia ?, apakah yang dimaksud dengan membela kebebasan adalah mencegah campur tangan orang lain ? Menurut Dworkin yang dimaksud dengan kebebasan negatif adalah tidak menghalangi apa yang orang lain ingin lakukan. Atau dengan kata lain kebebasan negatif itu adalah hadirnya pilihan, bukan tindakan. Sebagai contoh

Contoh : Seorang memakirkan mobilnya sehingga menghalangi anda untuk keluar dari rumah. Dalam konteks ini, tindakan orang tersebut telah melanggar kebebasan negatif anda, walaupun selama mobil itu menghalangi pintu anda tidak berniat ke luar rumah. Dari contoh tersebut kita dapat memahami contoh lainya yang termasuk kedalam kebebasan yang sesuai dengan kategori tersebut diatas. Misal dalam kaitannya dengan kebebasan untuk berbicara, berekpresi dan berkumpul dituntut untuk tidak ada pembatasan, baik dari pihak pemerintah maupun individu. Jadi, kebebasan negatif berpusat pada absennya campur tangan. Kebebasan dalam bentuk yang negatif seperti diurai diatas terdiri dari unsur „bebas untuk‟ melakukan semua hal yang bisa membuat seseorang menjadi „manusia yang bebas.‟ Hukum, moralitas atau nilai-nilai sosial yang mengatur tentang dilarangnya semua jenis intervensi yang dimaksudkan untuk membatasi hak atau kebebasan seseorang mengandung unsur kebebasan negatif. Aturanaturan tersebut melindungi hak seseorang untuk bebas dari semua bentuk intervensi yang dapat mengganggu kebebasannya. Contoh : Aturan hukum yang melarang intervensi negara yang bisa mengganggu kebebasan individu-individu didalam jurisdiksinya. Berdasarkan konsep kebebasan negatif ini, kebebasan setiap individu untuk menjadi atau melakukan apa yang mereka inginkan harus dilindungi dan dijamin oleh negara. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjamin hak tersebut melalui perundang-undangan. Selain itu, perlindungan hukum tersebut harus dibuktikan dengan tindakan nyata pemerintah berupa kebijakan-kebijakan negara yang ditujukan untuk menegakan hukum. Kebebasan dalam bentuknya yang negatif juga bisa dilihat dari Komentar Umum Komite HAM lainnya yang menyatakan bahwa negara-negara anggota harus menahan diri untuk melakukan pelanggaran terhadap hak-hak yang diatur didalam kovenan. Pembatasan-pembatasan dalam bentuk apapun oleh negara yang bisa mengakibatkan terganggunya hak asasi yang diakui oleh Kovenan tidak dibenarkan oleh hukum. Hal ini dikarenakan sifat dan ruang lingkup hak asasi manusia adalah universal, melintasi batas-batas norma-norma yang ada di masyarakat seperti tradisi, agama dan budaya. Oleh karena itu, negara-negara anggota harus memberikan kebebasan secara penuh kepada warga negaranya atau warga negara asing yang berdomisili di wilayah kedaulatannya untuk menikmati hak-hak fundamental dan hak-hak lainnya seperti yang diatur didalam instrumen internasional tentang hak asasi manusia.

2) Kebebasan Positif. Kebebasan positif secara garis besar adalah lebih mengarah pada apa yang bisa saya perbuat untuk orang lain atau orang banyak. Kata kuncinya adalah Freedom to dan lebih ditekankan pada masyarakat banyak yang tentunya relasi yang ada dalam masyarakat itu diatur melalui hukum. Menurut Thomas Aquinas dan St. Agustinus yang merupakan filusuf dari abad pertengahan mengatakan bahwa perbuatan yang bebas menuntut suatu konotasi normatif, sehingga kebebasan berarti berbuat apa yang harus diperbuat. Hal senada juga diungkapkan oleh Boutrouxyang mengatakan bahwa kebebasan yang sebesarbesarnya harus ditemukan dalam kehidupan moral (Lorens Bagus,1996,411). Penekanan dari kebebasan positif ini adalah diri pribadi saya bukan sesuatu yang saya dapat lepaskan dari hubungan saya dengan orang lain. Karenanya, ketika saya menginginkan untuk bebas dari ketergantungan status politik atau sosial, apa yang saya ingin adalah perubahan perlakuan terhadap saya dari mereka yang beropini dan bersifat mambantu menentukan gambaran tentang diri saya sendiri. Ada banyak tokoh yang mengungkapkan pemikirannya tentang kebebasan positif, namun tokoh yang perlu mendapat perhatian kita adalah Jeremy Bentham. Ia mengungkapkan bahwa alam menempatkan manusia dibawah dua kekausaan yang berdaulat, yakni rasa sakit dan kesenangan. Ia tidak hanya sibuk dengan ajaran bahwa semua orang digerakkan untuk bertindak karena ditarik oleh kesenangan dan karena mau menjauhi rasa sakit, namun juga berusaha menetapkan tolok ukur objektif untuk moralitas, untuk sifat moral tindak tanduk manusia.Ajaran yang terkenal dari Bentham adalah kesenangan yang paling besar adalah yang jumlahnya paling banyak (The greatest happiness of the geratest number). Hal lain yang ditekankan oleh Bentham adalah orang tidak boleh melakukan hal-hal atau tindakan yang melawannya, atau yang tidak membawanya ke tujuan tersebut (JS. Mill,1996,xii). Contoh : Apabila seseorang, misalnya, berusaha menetapkan dan memastikan kadar suatu kesenangan atau rasa sakit, haruslah ia memperhatikan faktor-faktor berikut : intensitasnya, lamanya, pasti atau tidak pastinya, jauh atau dekatnya

kesenangan atau rasa sakit itu untuk seseorang. Selain itu masih ada faktor subur dan murninya kesenangan untuk orang yang bersangkutan. Tindakan tertentu itu subur apabila cenderung menghasilkan rasa senang yang lebih lanjut. Murni, apabila tidak tercampur dengan perasaan atau rasa yang berlawanan dengannya. Bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita sebagai individu harus dengan sukarela menyerahkan sebagian kebebasan kita untuk mencapai suatu keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian, maka “Kebebasan positif adalah kebebasan yang bersifat partisipatif”. Contoh : Keyakinan kita terhadap belajar akan dapat meningkatkan kemampuan kita untuk lebih independen, tapi dalam prakteknya kita lebih suka menghabiskan waktu dengan ngobrol di warung. Singkatnya kebebasan positif kita akan meningkat ketika belajar. Bila dikatakan dalam kebebasan positik yang menjadi isu utama adalah kemampun untuk mengambil kesempatan yang pada gilirannya menjadikannya mampu untuk mengontrol hidupnya sendiri. Atau dengan kata lain kebebasan ini tidak hanya menuntut sikap diam tapi juga menuntut adanya kebebasan tindakan nyata yang pada gilirannya mendorong peningkatan idealita. Sehingga dalam keadaan tertentu kebebasan positif ini dapat berakibat pada pembatasan kebebasan negatif. Misal, hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, yang pada ujungnya dapat mengakibatkan pembatasan kebebasan negatif. Menurut Berlin dengan berkaca pada sejarah, kebebasan positif merupakan kebebasan yang paling sering disalahgunakan. Kejadian ini tidak terlepas dari hakikat kebebasan positif itu sendiri yang bisa multi tafsir. Penyalagunaan dilakukan atas nama kebebasan itu sendiri dengan dalih diperlukan sebagai upaya merealisasikan kebebasan yang lebih nyata. Dengan demikian menurut Isaah Berlin kebebasan positif “adalah kecendrungan seseorang untuk bebas mengambil dan menentukan suatu keputusan dan pilihan bagi dirinya sendiri”. Contoh : Saya lebih berhak untuk mengambil suatu keputusan bagi diri saya sendiri, dan saya bukanlah alat untuk menjalankan keinginan orang lain. Saya ingin menjadi subyek bukan obyek dari suatu perbuatan. Saya sendiri yang menentukan berbagai dalih dan argumen atas berbagai perbuatan serta

kepemilikan saya, dan berbagai faktor asing tidak berpengaruh pada diri saya. Saya menginginkan sesuatu yang berarti, bukan yang sia-sia dan tidak berarti. Saya ingin dapat mengambil keputusan bagi diri saya sendiri dan bukan orang lain yang menentukan keputusan bagi diri saya. Saya tidak ingin sama seperti benda mati tidak bernyawa, ataupun budak. Saya adalah makhluk yang berpikir dan memiliki kehendak, saya juga bertanggung jawab atas semua tindakan dan perbuatan saya. Sebatas apapun saya mampu meraih harapan dan cita-cita ini, maka sebatas itu pula saya merasa bebas dan medeka dan terlepas dari perbudakan. Akan tetapi apakah tidak mungkin pada saat yang sama saya adalah budak dari alam? Apakah tidak mungkin saya menjadi budak dan tawanan sebagai hawa nafsu saya sendiri? Apakah semua itu tidak dapat dianggap sebagai jenis dari perbudakan; sebagian adalah perbudakan politik dan undang-undang dan sebagian yang lain adalah perbudakan diri sisi moral dan maknawi? Apakah manusia, dalam rangka pembebasan dirinya dari perbudakan maknawiah (internal) atau alamiah (eksternal), mengenal dua jenis dirinya; diri yang menang dan mengalahkan serta diri yang kalah dan dikalahkan. Dan diri jiwa ini mengadakan perlawanan terhadap dirinya sendiri (nafsu) yang merupakan sumber munculnya berbagai reaksi yang tidak rasional, dan yang hanya mengejar kenikmatan yang hanya sesaat saja. Diri itulah yang dalam praktiknya menjadi komandan saja, yang dalam setiap detik senantiasa mengejar berbagai keinginan dan angan-angan. Dan diri itu harus berada di bawah aturan yang keras dan ketat, sehingga mampu mencapai derajat yang tinggi. Kita mengetahui bahwa memaksa dan mengharuskan manusia untuk berjalan pada suatu tujuan (misalnya saja menciptakan keadilan atau menjaga keselamatan umum) merupakan suatu perkara yang dapat dibenarkan. Jika

manusia mengetahui dengan jelas berbagai tujuan tersebut, maka mereka pun akan memilih dan berusaha untuk meraihnya. Akan tetapi dikarenakan mereka buta, bodoh, ataupun amoral, maka mereka lalai akan semua itu. Dari sini, dengan mudah dapat diketahui bahwa seseorang yang memaksa dan mengharuskan orang lain untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, itu artinya ia mengklaim bahwa ia lebih mengetahui kebutuhan sejati mereka melebihi orang yang ia paksa. Yakni dia menyatakan bahwa jika mereka

menggunakan akal mereka sebagaimana dia, maka pasti mereka akan mengetahui berbagai kepentingan mereka dan mereka tidak akan mengadakan perlawanan dan penentangan kepadanya. Pengertian kebebasan positif dimana pribadi seseorang merupakan majikan dan penguasa bagi dirinya sendiri, terbagi menjadi dua bagian, bagian diri yang tinggi dan penguasa di mana tali kendali, pilihan dan kehendak ada padanya serta bagian diri yang rendah yang terdiri dari berbagai kenikmatan dan nafsu indrawi yang harus ditentang dan tunduk di bawah perintah (bagian diri yang tinngi). Kenyataan ini membuktikan bahwa pengertian dan pendefinisian kebebasan secara langsung merupakan hasil dari berbagai pandangan berkenaan dengan esensi jiwa, pribadi dan manusia. Dan sekarang menjadi jelas mengapa

pendefinisian negatif (yakni kebebasan bagi manusia untuk melakukan apa saja yang ia inginkan) yang didukung oleh Mill, merupakan sebuah pendefinisian yang tidak tepat. Sesuai pendefinisian tersebut, jika ada seorang pemimpin dan penguasa yang zalim, yang dapat membuat masyarakat melupakan keinginan sejatinya, sehingga mereka menerima dan mematuhi bentuk kehidupan yang ditetapkan dan dipaksakan atas mereka, dan batin mereka mampu menyesuaikan diri dengan bentuk kehidupan tersebut, maka harus dikatakan bahwa pemimpin dan penguasa yang zalim itu telah berhasil membebaskan masyarakat ini. Tetapi situasi dan kondisi yang diciptakan oleh sang penguasa ini bertentangan dengan kebebasan politik. Montesquieu (seorang penulis dan ahli hukum asal Pranscis dengan ide dan gagasannya berupa The Spirit of the Laws, 1784, mengeksplorasi ide pemisahan kekuasaan dan menciptakan teori tentang skema pengawasan dan penyeimbangan dalam politik kekuasaan) dalam membahas kebebasan politik dan berbagai sikap liberal, mengatakan, “Kebebasan bukan berarti bahwa kita bebas berbuat sesuka hati, atapun kita melakukan perbuatan apa saja dengan dalih bahwa perbuatan tersebut dibenarkan oleh undang-undang. Dan kebebasan politik berarti kita memiliki kehendak dan pilihan untuk melakukan apa yang selayaknya kita lakukan”.

Pernyataan semacam ini kurang lebih juga diungkapkan oleh Kant (filsuf jerman yang dipandang sebagai pemikir yang paling berpengaruh di era 17241804) yang berpendapat,”Hak individu harus dibatasi demi kemashlahatan dan kepentingan individu itu sendiri, karena setiap makhluk yang berakal pasti akan setuju dengan sistem yang diterapkan atas berbagai perkara”. Semua para tokoh tersebut dan juga para tokho mazhab pemikiran yang lain, serta para tokoh komunisme akhir-akhir ini memiliki kesamaan pendapat pada poin : berbagai tujuan manusia yang alamiah, rasional dan sejati adalah sama, atapun harus disamakan. Kebebasan bukan berarti manusia bebas untuk Dan

melakukan berbagai perbuatan yang tidak rasional, sia-sia dan keliru.

pemaksaaan terhadap nafsu amminah agar berjalan di jalan yang benar, bukan merupakan suatu bentuk penekanan dan perbudakan, tetapi merupakan suatu kebebasan. Berlin meyakini kebebasan positif dan juga meyakini kekuasaan serta kepemimpinan orang yang berakal. Ia juga menyatakan pandangannya sebagai berikut : “ Seluruh masyarakat harus patuh pada kepemimpinan dan kekuasaan orang yang berakal (kaum intelektual). Dan tatkala masyarakat menerima mereka sebagai pemimpin, hal itu tidak bertentangan dengan kebebasan, tetapi justru merupakan syarat bagi kebebasan. Jika masyarakat bersedia tunduk dan menyerahkan diri kepada para cendekiawan, pada dasarnya mereka menyerah dan tunduk kepada akalnya, dan ini adalah kebebasan yang sejati; kebebasan yang diartikan dengan kebebasan dalam menentukan dan memilih sesuatu yang menyebabkan perkembangan dan kesempurnaan, dan bukan kebebasan yang diartikan sebagai kebebasan dalam menuruti berbagai tuntutan hawa nafsu. Sampai disini bentuk pandangan berlin sama dengan bentuk pandangan dan pemikiran para cendekiawan muslim. Perbedaannya ada pada bagian berikutnya; Kaum cendekiawan muslim mengatakan bahwa perbandingan antara

cendekiawan dengan wahyu adalah semacam perbandingan antara masyarakat awam dengan kaum cendekiawan, masyarakat awam tidak mengetahui hakikat berbagai perkara, namun para cendekiawan mampu mengetahui dengan jelas dan nyata hakikat berbagai perkara tersebut. Dalam beberapa perkara, masyarakat awam mengira bahwa pandangannya itu benar, namun ternyata mereka keliru.

Demikian pula, banyak hakikat yang tersembunyi dan tidak jelas bagi para cendekiawan namun bagi wahyu itu adalah perkara yang jelas dan nyata. Begitu juga jika dipandangan para cendekiawan dibandingkan dengan pandangan masyarakat awam, maka tampaknya pandangan mereka (para cendekiawan) benar, namun tatkala dibandingkan dengan wahyu ada kemungkinan mereka (para cendekiawan) keliru dalam menentukan. Dengan demikian, jika dalam filsafat dan kalam (teologi) berhasil dibuktikan bahwa ada Sang Pencipta yang menciptakan manusia, dan juga berhasil

dibuktikan bahwa para utusan Sang Pencipta menjelaskan kepada manusia tentang masalah penciptaan asal mula dan tempat kembali manusia, serta jalan yang harus ditempuh oleh manusia dalam upaya meraih kebahagiaan sejati tidak diragukan lagi bahwa mereka yang memiliki bentuk pandangan semacam berlin harus mengakui bahwa kebebasan itu harus ditafsirkan dan dijelaskan dengan perantaraan wahyu. Menurut Berlin Kebebasan negatif adalah sangat cocok seperti dalam kebiasaan umum dalam perkiraan politik itu sendiri. Kebebasan negatif berarti bahwa seseorang dikatakan “bebas” jika orang tersebut bukan subjek untuk dipaksa-paksa. Mereka “bebas jika mereka dapat membuat dan bersikap seperti apa yang mereka mau dan sesuai dengan apa yang mereka pilih. Negara memberikan kebebasan sepanjang hal ini tidak mengganggu apa yang telah diputuskan bersama. Dalam konsep ini negara akan memusatkan perhatiannya pada tujuan membentuk masyarakat yang sama rata dan sederajat, untuk mencapai tujuan yang lebih baik dan bermanfaat. Selanjutnya apabila melihat kebebasan positif yang diatur didalam Kovenan Hak Sipil dan Politik pasal 2 (3) bahwa setiap negara anggota; (a) Menjamin bahwa setiap orang yang hak-hak atau kebebasannya diakui dalam Kovenan ini dilanggar, harus memperoleh upaya pemulihan yang efektif, walaupun pelanggaran tersebut dilakukan oleh orang-orang yang bertindak dalam kapasitas resmi;

(b) Menjamin, bahwa setiap orang yang menuntut upaya pemulihan tersebut harus ditentukan hak-haknya itu oleh lembaga peradilan, administratif, atau legislatif yang berwenang, atau oleh lembaga berwenang lainnya yang diatur oleh sistem hukum negara tersebut, dan untuk

mengembangkan segala kemungkinan upaya penyelesaian peradilan; dan (c) Menjamin, bahwa lembaga yang berwenang tersebut harus melaksanakan penyelesaian hukum apabila dikabulkan. Pasal tersebut menjamin kebebasan yang positif karena mewajibkan negara anggota untuk menyediakan „perbaikan‟ bagi seseorang yang hak-haknya telah dilanggar. Pasal tersebut menjadi sumber yang mengatur tentang hak dan kewajiban negara untuk melindungi dan menjamin hak asasi manusia. Hal ini dikarenakan pasal tersebut memberikan seperangkat peraturan yang harus dilakukan oleh negara yang telah melanggar hak dan kebebasan warga negaranya. Artinya, semua kebebasan yang diatur didalam Kovenan tersebut mempunyai batasan dan akibat dari pelanggaran terhadap kebebasan tersebut. Pasal ini juga menyediakan ruang bagi individu-individu yang dilanggar hak dan kebebasannya untuk menuntut upaya pemulihan hukum dari pemerintah. Selanjutnya, pasal 7 juga mempunyai elemen kebebasan dalam bentuk yang positif karena pasal ini mewajibkan negara-negara anggota untuk mengambil langkah-langkah positif untuk menjamin bahwa individu atau kekuasaan lain tidak menjalankan praktik-praktik penyiksaan atau pelanggaran didalam wilayah kekuasannya. Pasal tersebut mengatur bahwa tidak seorang pun dapat dikenakan penyiksaan atau perlakuan atau hukuman lainnya yang keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat. Pada khususnya, tidak seorang pun dapat dijadikan obyek eksperimen medis atau ilmiah tanpa persetujuan dari individu tersebut. Pasal ini mengatur bahwa semua jenis perbuatan yang melanggar hak dan kebebasan dasar individu dilarang meskipun dengan maksud tertentu. Yang termasuk didalam maksud tertentu tersebut adalah „keperluan medis‟ seperti pengambilan organ untuk keperluan penelitian. Pasal ini secara jelas memberikan batasan-batasan tentang sebuah kebijakan negara yang tidak boleh dilakukan. Negara, didalam konteks ini bebas melakukan semua jenis

kebijakannya selama tidak melanggar hak dan kebebasan warga negaranya. Ketika kebijakan tersebut melanggar, maka negara berdasarkan aturan yang ada di pasal 2 (3) Kovenan berkewajiban untuk menyediakan seperangkat kebijakan lainnya untuk memulihkan pelanggaran tersebut. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui resolusi-resolusinya juga menekankan bahwa pemerintah dari negara-negara anggota PBB harus melindungi hak asasi manusia dan hak-hak fundamental lainnya. Selain itu, pemerintah juga harus mempromosikan hak-hak tersebut dan menjaga kewajiban negara melalui langkah-langkah hukum yang menjamin hak yang diatur di dalam instrumen-instrumen tentang hak asasi manusia. Himbauan dari Majelis Umum kepada negara-negara untuk „menjamin‟ hak yang diatur didalam instrumen internasional hak asasi manusia adalah sebuah sumber yang mengatur hak dan kewajiban negara. Resolusi ini harus dipahami tidak saja sebagai himbauan yang mewajibkan negara-negara melainkan juga harus dipahami sebagai pengejawantahan dari isiisi ketentuan dari Deklarasi Universal HAM. Oleh sebab itu, ada hubungan yang erat antara ketentuan hukum yang diatur didalam Kovenan dan Deklarasi. Hal ini dikarenakan, Komite HAM dan Majelis Umum sebagai dua badan yang berwenang memberikan penafsiran dan melaksanakan mempunyai pemahaman yang sama tentang kewajiban negara didalam melaksanakan hak asasi manusia. Oleh karena itu, ketentuan hukum dari instrumen internasional dan penafsiran dari badan-badan yang berwenang terdiri dari peraturan-peraturan yang menentukan seseorang untuk melakukan sesuatu hal atau menjadi seperti yang dia inginkan. Selain itu, instrumen tersebut mengatur perilaku negara berkenaan dengan pelaksanaan hak asasi manusia. Contohnya : Kewajiban negara untuk menyediakan proses hukum (peradilan yang bebas dan bantuan hukum secara cuma-cuma ketika seseorang tidak bisa menyediakan bantuan hukum tersebut).

Kebebasan dalam bentuknya yang positif menekankan „konsep kebebasan‟ sebagai sebuah „bentuk kebebasan yang menentukan‟ seseorang untuk bisa mengatur bentuk-bentuk kehidupan manusia yang diinginkannya. Contohnya : Sebuah produk perundang-undangan, kebijakan pemerintah, moralitas atau nilai-nilai yang mengatur tentang jenis-jenis tindakan yang bisa dilakukan oleh seseorang digolongkan sebagai sebuah sumber hukum yang berisi unsur kebebasan positif. Berlin mungkin adalah orang yang paling terkemuka dalam menganalisis kebebasan sejak perang dunia II, Dia membedakan kebebasan dalam dua konsep yang berbeda yang pertama adalah kebebasan negatif dan yang kedua adalah kebebasan positif. Kebebasan positif, bagi Berlin, melibatkan pendapat yang berbeda dari bermacam-macam sifat negatif dan perbadaan ini telah diperlihatkan dan dikembangkan dalam sejarah pemikiran politik. Berlin menganggap bahwa pandangan positef dalam kebebasan diambil dari bahwa kebebasan itu tidak dapat dicapai dengan maninggalkan individu sendiran untuk berhasil dalam kehidupannya. Agaknya hal ini memungkinkan individu untuk mencapai kepandaiannya dengan latihan

mengendalikan diri, Kebebasan positif bagi Berlin diperlukan untuk mengatasi rintangan bagi kebebasan itu sendiri, Karenanya konsep kebebasan positif ini dapat menyebabkan paradoks sebagaimana layaknya untuk mencapai paksaan bagi kevevasab yang diaplikasikan ubtuk individu oleh negara. Berdasarkan pernyataan Berlin mobel dari kebebasan positif mengasumsikan bahwa semua individu harus mengikuti jalan keluar dengan pemecahan rasional. Pendeknya, pendapat Berlin mengenai dua konsep kebebasan ini, kebebasan negatif dikatakan sebagai kebebasan dari segala bentuk paksaan dan kebebasan positif sebagai kebebasa untuk mengembangkan rasionalitas diri. Analisis Berlin tentang kebebasan mendpat pernyataan yang berlawanan dari Maccallum Jr. Dia menyatakan kebebasan itu dipahami sebagai satu konsep yang tunggal. Bagi MacCallum, ada variasi kebebasan antara variasi-variasi konsepsi khusus mengenai perwakilan, paksaan, dan apa yang dilakukan atau dikembangkan.

Dalam sistem kapitalis demokrat yang mengangkat suatu kelas baru manusia ke tahkta kekuasaan saat ini dan sepenuhnya dipercayai bahwa kepentingan semua orang akan terjamin secara otomatis apabila kepentingan pribadi para individu dalam berbagai bidang diperhatikan. Dalam sistem kapitalis tersebut terdapat empat bentuk kebebasan yaitu : 1) Kebebasan Politik. Dalam sistem kapitalis, seorang individu memiliki kebebasan politik dan pendapatnya dihormati. Dia dapat mengungkapkan pendapat-pendapatnya

mengenai kehidupan sosial dan sistem pemerintahan dan dapat mempengaruhi perundang-undangan. Dia memilih pemerintah untuk berkuasa melindungi kebebasannya. Sistem ini percaya bahwa sistem sosial dilaksanakan demi

keuntungan bangsa, dan organisasi pemerintahan berhubungan langsung dengan kehidupan setiap individu dalam masyarakat, dan banyak mempengaruhi kebahagiannya. Itulah sebabnya maka setiap individu secara wajar-nya memiliki hak bersuara dan berpartisipasi dalam pengaturan dan pembentukan

pemerintahan. Karena sistem sosial sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan kematian serta kebahagian dan penderitaan masyarakat, tentulah pemerintahan itu tidak dapat dibiarkan dalam genggaman tangan-tangan individu atau sesuatu kelompok, karena sulit untuk menemukan seorang individu yang integritas dan kebijaksanannya dapat diandalkan. Oleh karena itu maka perlulah semua penduduk memperoleh hak-hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pemilihan badan legislatif dan eksekutif, sehingga mereka dapat merasa sama bertanggung jawab atas semua undang-undang yang akan disusun. Inilah dasar-dasar prinsip pemilihan umum dan kedaulatan mayoritas. 2) Kebebasan Ekonomi. Dalam sistem kapitalis, setiap orang bebas memproduksi dan mengkonsumsi barang-barang dengan sesukanya. Penimbunan barang diperbolehkan. Tidak ada pembatasan dalam pembelanjaan uang. Setiap orang bebas menggunakan cara apapun untuk mendapatkan har ta benda serta menimbun kekayaan.

Para pendukung jenis ekonomi bebas ini mengatakan bahwa politik ekonomi didasarkan pada prinsip universal dan dilaksanakan dalam suatu cara yang alami, adalah jaminan yang terbaik bagi kemakmuran masyarakat. Sistem ini melindungi dari fluktuasi ekonomi. Kepentingan-kepentingan pribadi yang merupakan rangsangan utama bagi kegiatan ekonomi, memberikan perlindungan yang paling baik bagi kepentingan-kepentingan kolektif. Hanyalah persaiangan pada tingkat produsen dan pedagang, berdasarkan kebebasan ekonomi dan persamaan hak, yang dapat menjamin keadilan dalam berbagai bidang transaksi perdagangan. Hukum alamiah sistem ekonomi bebas secara otomatis mempertahankan harga pada tingkatnya yang normal dan meningkat, maka sesuai dengan hukum penawaran dan permintan, ketika penawaran bertambah, maka sebagai akibatnya harga akan turun. Kenaikan harga mengurangai permintaaan, sementara berkurangnya permintaan akan menurunkan harga. Dengan demikian di pasa bebas, keseimbangan antara harga dan barang dipertahankan secara alamiah. Kepentingan pribadi selalu memaksa orang untuk meningkatkan produksinya dan membuat barang-barang mereka lebih menarik dan lebih bersifat ekonomis sebelum memasukkannya ke pasar. Dari keterangan diatas jelaslah bahwa meskipun seorang individu hanya tertarik pada keuntungan-keuntungan pribadinya, kepentingan kolektif secara otomatis akan terlindungi. Dengan persaingan di pasar terbuka, harga dan upah ditentukan secara adil sehingga tak seorang pun dirugikan. Setiap penjual dan produsen akan selalu segan dan menaikkan harga barangnya, karena takut akan saingan dari rivalnya. 3) Kebebasan Berpikir. Orang bebas berpendapat atau mempercayai siapa saja. Mereka berhak tak terbatas untuk berpikir dan membentuk pendapat mereka tentang hal apapun. Mereka menganggap benar apa saja yang mereka anut, sebagai akibat nafsu kelakuannya. Pemerintah dianggap tidak berhak mengurangi kebebasan seseorang dalam hal ini dan oleh karena itu setiap orang dapat mengikuti, bahkan dapat mempropagandakan pendapat-pendapatnya dari setiap serangan. 4) Kebebasan Pribadi.

Manusia sebagai tuan dari kemauannya, bebas menempih cara hidup apapun, tanpa batasan atau hambatan. Asalkan kebebasan orang lain tidak

dipengaruhinya, dia boleh hidup sesukanya, meskipun cara hidupnya tidak disukai dari sisi pandangan hidup masyarakat. Karena batas terakhir kebebasan seseorang ialah kebebasan orang lain maka hanyalah hal-hal yang menghalangi kebebasan orang lain yang tidak dapat diterima. Bila ia tidak menghalangi kebebasan orang lain maka ia bebas membentuk kehidupan pribadi. Seorang individu hanya memperhatikan hal-hal yang menyangkut kepentingan

eksisensinya sekarang ini dan di masa mendatang, dan dengan dia bebas menempuh kehidupan sesuai dengan keinginannya. Dari sudut pandang kapitalis, kebebasan religius bukanlah suatu kebebasan berpikir, tetapi selama menyangkut perbuatan lahiriah, itu termasuk urusan kebebasan pribadi. Dari penjelasan tersebut dapat disebutkan bahwa teori

kapitalis didasarkan pada prinsip kepentingan masyarakat terkait secara tak terputuskan dengan kepentingan individu. Karena itu individu harus menjadi fondasi sistem sosial dan yang pantas berkuasa hanyalah pemerintah yang melindungi dan terus melayani kepentingan-kepentingan individu. Dari penjelasan mengenai bentuk kebebasan diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa bentuk kebebasan tersebut terbagi menjadi dua bagian penting seperti yang diurakan menurut Louis Leahy9 yang diantaranya adalah : 1) Kebebasan Politik. Kebebasan politik adalah suatu kebebasan yang dimiliki oleh bangsa atau rakyat dengan subyek kebebasan adalah bangsa dan rakyat itu sendiri. Kebebasan politik telah hidup mulai zaman yunani kuno yang selalu melalui tahap perkembangan. Tahap perkembangan pertama adalah tercapainya kebebasan politik rakyat dengan membatasi kekuasaan raja. Kebebasan yang kedua adalah kemerdekaan yang dicapai oleh negara-negara muda terhadap negara penjajah.

9

Setyono, Agus (2009), Kebebasan dalam filsafat Louis Leahy Dan Dalam Pemikiran Manusia Jawa, Telaah Filsafat Perbandingan. Melalui <http://agussetyonocm.multiply.com/journal/item/76> [02/08/2011]

Kebebasan pada zaman dahulu dipegang oleh kerajaan dimana kekausaan tertinggi dipegang oleh raja dimana rakyat merasa sedikit tersiksa dan terdiktator oleh perintah raja. Dengan munculnya The Bill of Rights mendorong munculnya demokrasi modern dimana perwakilan rakyat membatasi kekuasaan raja. Hal ini didasarkan pemikiran atas kesadaran bahwa yang berdaulat adalah rakyat bukanlah raja seperti yang terjadi dikerajaan Inggris. Perwujudan kebebasan politik tidak terbatas pada kedua negara yang bersangkutan tetapi mempunyai relevansi universal. Sesuai dengan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat dan hal ini diakui pertama kali oleh Inggris dan Perancis. Gagasan yang melatarbelakangi kebebasan politik dalam bentuk social bersifat etis. Kedaulatan harus tetap ditangan rakyat dan tidak boleh berada pada instansi lain. Itulah suatu tuntutan etis. Dengan demikian terdapat pembatasan kekuasaan Negara. Kebebasan politik diwujudkan dalam bentuk kemerdekaan. Ide dibalik proses dekonolialisme adalah bersifat etis. Perserikatan bangsa-bangsa

menyepakati sebuah deklarasi yang pada pokoknya mempunyai isi yang sama. Dimana hak semua warga negara dan bangsa yang dijajah untuk menentukan nasibnya sendiri.

2) Kebebasan Individual.

Subyek kebebasan individual adalah manusia

perorangan. Dimana kebebasan dapat dibedakan kedalam tiga bagian, yaitu : a) Fisik. Bebas berarti tiada paksaan atau rintangan dari luar. Bebas dalam artian fisik adalah tiada paksaan atau rintangan dari luar. Orang dalam artian bebas fisik jika ia bisa bergerak kemana saja ia mau tanpa hambatan apapun. Namun bukan berarti orang yang bergerak secara bebas dapat menjamin ia bebas secara sungguh-sungguh. Terkadang orang mensalah artikan kebebasan untuk pergi ketempat perjudian setiap hari. Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik.10 Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas
10

Setyono, Agus (2009), Kebebasan dalam filsafat Louis Leahy Dan Dalam Pemikiran Manusia Jawa, Telaah Filsafat Perbandingan. Melalui <http://agussetyonocm.multiply.com/journal/item/76> [02/08/2011]

jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Jangkauan itu terbatas. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. Misalnya dari lembaga atau orang lain. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang, bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri, namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik, namun ia merasa sungguh-sungguh bebas. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa, namun mereka tetap merasa bebas. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati.

b) Psikis. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. Yang mencirikhaskan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat, atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu, atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya, atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinan-kemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Manusia “bisa” berpikir sebelum bertindak. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting, namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri.

Berbeda dari kebebasan fisik, kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai, penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis, karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik, karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasanpembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatanperbuatan tertentu. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah. c) Normatif/ Moral. Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Contohnya : Suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik. Pikiran yang muncul saat itu adalah “saya mengambil dompet itu.” Dan memang kemudian saya mengambil dompet itu. Namun setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya, atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Saya mempunyai kebebasan psikologis. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya.

Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan, yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis, namun ia tidak bebas secara moral. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Ia dipaksa secara moral. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Dan sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Dan karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. a. Kewajiban Mengandaikan Kebebasan Dari apa yang telah terurai diatas mengenai pengertian kebebasan dan bentukbentuk kebebasan, maka dapat dipahami bahwa ketika kita mendengar kebebasan yang pertama-tama kita fikir adalah bahwa orang lain tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu untuk melawan kehendak kita. Atau bahwa kita bebas pulang dari fakultas karena kuliah tidak jadi diberikan, atau bahwa kita bebas pajak. Kita bebas apabila masyarakat tidak menghalang-halangi kita dari berbuat apa yang ingin kita lakukan sendiri. Tapi kata bebas masih mempunyai arti yang lebih mendasar, yaitu bahwa kita mampu untuk menentukan sendiri, berbeda dengan binatang, apa yang mau kita lakukan. Jadi bahwa kita dapat menentukan tindakan kita sendiri. Hanya karena kita mempunyai kemampuan itu, kebebasan yang kita terima dari masyarakat begitu kita hargai. Kalau kita dapat membedakan arti kata kebebasan tersebut, maka akan didapat bahwasannya; yang pertama, kebebasan yang kita terima dari orang lain, disini dapat disebut sebagai kebebasan sosial. Sedangkan kebebasan dalam arti kemampuan kita untuk menentukan tindakan kita sendiri dapat disebut kebebasan eksistensial.

1) Kebebasan Eksistensial. Kebebasan eksistensial pada hakikatnya terdiri dalam kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Sifatnya positif. Artinya, kebebasan itu tidak menekan segi bebas dari apa, melainkan bebas untuk apa. Kita sanggup untuk menentukan tindakan kita sendiri. Kebebasan itu mendapat wujudnya yang positif dalam tindakan kita yang disengaja. Tidak setiap kegiatan manusia merupakan tindakan. Dentuman jantung dan pernafasan bukanlah tindakan karena berjalan tanpa disengaja. Tindakan adalah kegiatan yang disengaja. Tindakan dilakukan dengan maksud dan tujuan tertentu, dengan kesadaran bahwa tergantung pada kitalah apakah kegiatan itu kita lakukan atau tidak. Hewan dapat saja berbuat ini dan itu, tetapi selalu didorong dan berdasarkan naluri, perangsang, kebiasaan-kebiasaan yang telah berdarah daging padanya. Berhadapan dengan sepotong tulang ayah anjing tidak akan berfikir dulu apa mau dimakan langsung atau lebih baik kalau ia mencari dua potong lagi supaya nantinya mempunyai tiga. Lain halnya manusia. Meskipun ia lapar akan daging ayam di meja, tetapi selalu berfikir dulu apakah tepat kalau daging itu dimakannya sekarang. Ia juga dapat menundanya atau malah berpuasa. Terhadap nalurinya sendiri manusia masih dapat mengambil sikapnya sendiri. Itu yang dimaksud dengan mengatakan bahwa manusia mampu untuk menentukan sikap dan tindakannya sendiri. Kebebasan Jasmani dan Rohani Apa yang persis ditentukan oleh manusia? Kebebasan bagi manusia pertamatama berarti, bahwa ia dapat menentukan apa yang mau dilakukannya secara fisik. Ia dapat menggerakan anggota tubuhnya sesuai kehendaknya, tentu dalam batasbatas kodratnya sebagai manusia. Jadi kemampuan untuk menggerakkan tubuhnya memang tak terbatas. Kebebsan manusia bukan sesuatu yang abstrak, melainkan konkret, sesuai dengan sifat kemanusiaanya. Meskipun ia menggerakkan

tangannya ke atas dan ke bawah dengan kecepatan tinggi, ia tetap tidak akan bisa terbang seperti burung. Dan berbeda dengan kerbau ia tidak mampu untuk menarik

bajak di sawah. Keterbatasan itu janganlah dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasan, melainkan sebagai wujud khas kebebasan sebagai manusia. Yang memang mengekan kebebasan kita adalah paksaan. Karena tubuh kita berada di bawah hukum-hukum alam, kebebasan untuk menggerakkan tubuh kita dapat dikurangi atau dihilangkan oleh kekuatan fisik yang lebih kuat. Itu yang kita sebut paksaan. Paksaan berarti bahwa orang lain memakai kekuatan fisik yang lebih besar daripada kekuatan kita untuk menaklukkan kita. Kita dicegah dari berbuat apa yang kita kehendaki, misalnya karena tangan kita diborgol, dan kita dapat juga dibawa ke tempat yang kita kehendaki. Paksaan berarti bahwa kejasmaniaan kita dipergunakan untuk membuat kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang tidak kita kehendaki. Adanya paksaan juga menunjukkan bahwa kebebasan fisik kita bukan sekedar jasmani saja, melainkan berakar dalam kehenda kita. Binatang juga menggerakkan tubuhnya sendiri. Yang membedakan kita dari binatang ialah bahwa binatang bergerak menurut dorongan-dorongan instingtualnya, sedangkan manusia sesuai dengan apa yang dikehendaki dalam fikirannya. Dengan kata lain, kebebasan jasmani bersumber pada kebebasan rohani. Kebebasan rohani adalah kemampuan kita untuk menentukan sendiri apa yang kita fikirikan, untuk menghendaki sesuatu, untuk bertindak secara terencana. Kebebasan rohani bersumber pada akal budi kita. Dalam roh kita bebas untuk menggembara. Maka manusia dapat selalu memasang tujuan baru, mencari jalan-jalan baru dan mempersoalkan yang lama secara kritis. Kebebasan rohani manusia adalah seluas jangkauan fikiran dan

bayangan manusia. Apakah kebebasan rohani dapat dilanggar oleh orang lain? Secara langsung hal itu tidak mungkin. menghendaki sesuatu. Orang tidak dapat dipaksa untuk memikirkan atau Batin kita adalah kerajaan kita. Kita barangkali dapat

ditekan, dibujuk atau diancam untuk melakukan sesuatu. Tetapi apa yang kita fikirkan sebenarnya tidak dapat diketahui. Kemunafikan adalah salah satu cara untuk menghindari dari tekanan. Begitu pula tidak mungkin kita dipaksa atau ditekan untuk mencintai seseorang atau untuk mempercayai sesuatu (itulah sebabnya paksaan dalam hal agama tidak masuk akal).

Tetapi secara tidak langsung kebebasan berfikir kita dapat dipengaruhi dari luar, bahkan dapat dikacaukan dan ditiadakan. Misalnya kalau informasi-informasi politik yang kita peroleh, semuanya dapat disaring secara sistematis demi kepentingan tertentu, kita akan mendapat gambaran yang kurang tepat tentang keadaan yang sebenarnya dan dengan demikian juga memberikan penilaian yang tidak tepat. Dengan demikian kita dapat dimanipulasi. Tetapi ada cara-cara yang lebih buruk. Orang yang secara emosional terganggu lama kelamaan tidak dapat berfikir dengan jelas. Tekanan psikis atau siksaan fisik dapat membuat kita tidak berdaya. Orang yang ditahan dalam isolasi dan tidak diizinkan tidur lama kelamaan kehilangan segala orientasi. Ia dapat sampai meragukan apakah “dua tambah dua” betul selalu empat. Sugesti, hipotesis dan berbagai obat bius dapat membuat kita kehilangan perasaan tentang realitas. Dengan semua cara ini

kekuasaan seseorang atas fikiran dan kehendaknya dapat diganggu atau bahkan dihancurkan. Antara kebebasan jasmani dan rohani terdapat hubungan yang erat. Dapat dikatakan bahwa tindakan adalah suatu kehendak yang menjelma dan menjadi nyata, dan kehendak adalah permulaan tindakan. Menghendaki gerakan tubuh berarti melaksanakannya. Misalnya satu-satunya cara untuk menghendaki mau menggerakkan tangan adalah menggerakannya. Tidak mungkin dikatakan bahwa ketika seorang mau merentangkan tangannya apabila tidak merentangkan tangannya, terkecuali tangannya diikat. Disini kita harus membedakan antara kehendak dan kemauan disatu fihak (maksud dua kata itu sama) dan keinginan di lain fihak. Keinginan termasuk laci yang sama dengan lamunan dan khayalan. Kita menginginkan banyak, tetapi suatu keinginan tidak berbotot. Kita ingin bekerja keras, ingin sukses, ingin menjadi kaya dan sebagainya, tetapi belum tentu kita mampu untuk berbuat sesuatu agar keinginan-keinginan itu betul-betul terlaksanan. Menginginkan menjadi orang

baik itu murah. Keinginan tidak mrwajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu dan oleh karena itu juga tidak sangat berbobot. Lain halnya dengan kemauan, apabila seseorang mau bekerja keras, tak ada jalan lain daripada memang bekerja dengan keras. Banyak orang ingin menjadi orang rajin, tetapi hanya sedikit yang betul-betul menghendakinya, karena hal itu akan berarti bahwa mereka harus

sungguh-sungguh mulai belajar. Kita ingin dapat terbang seperti burung elang, tetapi tidak mungkin hal itu sungguh-sungguh kita kehendaki, karena tidak mungkin kita menghendaki sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin kita menghendaki sesuatu yang secara fisik tidak mungkin. Kita dapat mencobanya tetapi apabila memang tidak mungkin, kita hanya dapat menginginkannya, tetapi tidak menghendakinya. Baru dalam tindakan kehendak menjadi nyata dalam arti sesungguhnya. Oleh karena itu dosa dalam fikiran jauh lebih lemah daripada dosa dalam tindakan, baru dalam tindakan kehendak jahat betul-betul terwujud. Makna Kebebasan Eksistensial Jadi kebebasan eksistensial adalah kemampuan manusia untuk menentukan tindakannya sendiri. Kemampuan itu bersumber pada kemampuan manusia untuk berfikir dan berkehendak dan terwujud dalam tindakan. Tetapi apa itu tindakan!. Tindakan itu bukan sesuatu diluar manusia. Tindakan bukan bagaikan sebatang tongkat yang dapat dipegang, tetapi sesudah dipakai terus diletakkan di pojok kamar. Tindakan adalah satu dengan dirinya sendiri. Maka kebebasan eksistensial tidak hanya berarti bahwa kita dapat menentukan tindakan kita, melainkan melalui tindakan kita dapat menentukan diri kita sendiri. Arti yang paling mendalam kebebasan yang kita rasakan ialah bahwa kita adalah mahkluk yang menentukan dirinya sendiri. Manusia bukan sekedar simpul reaksi-reaksi terhadap macam-macam perangsang, ia tidak ditentukan oleh segala kecondongan. Melainkan terhadap dan berhadapan dengan kecondongan dan perangsang itu manusia mengambil sikap dalam tindakan yang bebas, ia menentukan dirinya sendiri. Manusia tidak begitu saja dicetak oleh dunia luar di satu fihak dan dorongan-dorongannya dari dalam di lain fihak, melainkan ia membangun dirinya sendiri berhadapan baik dengan tantangan-tantangan dari luar maupun dari dalam. Makna kebebasan adalah tanda dan ungkapan martabat manusia. Karena

kebebasannya manusia adalah mahkluk yang otonom, yang menentukan diri sendiri, yang dapat mengambil sikapnya sendiri. Itulah sebabnya kebebasan berarti banyak bagi kita. Setiap pemaksaan kita rasakan sebagai sesuatu yang tidak hanya

buruk dan menyakitkan, melainkan juga menghina.

Dan memang demikian,

memaksakan sesuatu pada orang lain berarti mengabaikan martabatnya sebagai manusia yang sanggup untuk mengambil sikapnya sendiri. Maka kita merasa paling terhina kalau sesuatu dipaksanakan kepada kita dengan ancaman atau bujukan. Kalau diminta artinya kalau kebebasan kita dihormati, kita sering bersedia untuk memberikan dengan hati yang lapang tetapi kalau kita terpaksa kita merasa terhina dan tidak mau. Kebebasan adalah mahkota martabat kita sebagai manusia. 2) Kebebasan Sosial. Jadi hakikat kebebasan terletak dalam kemampuan kita untuk menentukan diri kita sendiri. Kebebasan itu disebut eksistensial karena merupakan sesuatu yang menyatu dengan manusia, artinya termasuk eksistensinya sebagai manusia. Kebebasan itu termasuk kemanusiaan kita. Sebagai manusia kita bebas. Karena kebebasan itu merupakan eksistensial kita dan kita biasanya tidak sadar bahwa kita memilikinya. Itulah mengapa kebebasan biasanya kita ahyati dalam hubungan dengan orang lain. Kebebasan dalam arti kemampuan untuk menentukan diri kita sendiri sedemikian kita andaikan hingga tidak banyak yang kita fikirkan. Yang menjadi keprihatinan kita adalah mengapa kebebasan kita terhadap usaha orang lain untuk menggerogotinya. Maka dalam bahasa kita sehari-hari kebebasan difahami

sebagai realitas negatif; keadaan dimana kemungkinan kita untuk menentukan tindakan kita sendiri tidak dibatasi oleh orang lain. (Jadi “negatif” bukan sebagai penilaian, melainkan dalam arti logika untuk menjelaskan apa itu kebebasan sosial, kita harus memakai kata tidak). Manusia itu bebas apabila kemungkinan-

kemungkinan nya untuk bertindak tidak dibatasi oleh orang lain. Karena kebebasan itu secara hakiki dihayati dalam hubungan dengan orang lain dan itulah yang dinamakan dengan kebebasan sosial. Memang tidak dapat disangkal bahwa bannyak orang mempunyai motivasi untuk mengurangi kebebasan kita, artinya untuk berkuasa atas kita. Berhadapan dengan ancaman itu kita menjadi sedemikian sadar akan nilai kemampuan untuk menentukan diri kita sendiri, sehingga keadaan dimana kita tidak berada di bawah

paksaan atau penentuan orang lain kita beri nama kebebasan. Jadi kebebasan sosial adalah keadaan di mana kemungkinan kita untuk bertindak tidak dibatasi dengan sengaja oleh orang lain. Kebebasan sosial manusia terdiri dari tiga macam yaitu : a) Kebebasan jasmani, apabila kita tidak di bawah paksaan. b) Kebebasan rohani, apabila kita bebas dari tekanan psikis. c) Kebebasan normatis, apabila kita bebas dari kewajiban dan larangan. Antara kebebasan jasmani dan rohani terdapat hubungan yang erat. Kebebasan jasmani bersumber pada kebebasan rohani dan sekaligus mengungkapkan dan menyatakannya. Bebas dalam arti jasmani dan rohani berarti kita dapat atau

sanggup untuk melakukan sesuatu. Sedangkan bebas dalam arti normatif tidak mengatakan sesuatu tentang kesanggupan kita, melainkan bahwa kita boleh melakukan sesuatu. Maka gangguan terhadap kebebasan jasmani dan rohani

langsung memasuki otonomi manusia terhadap dirinya sendiri karena membuat kita tidak sanggup melakukan sesuatu, sedangkan pembatasan kebebasan normatif membiarkan otonomi kita tetap utuh. Dengan demikian kita dapat memerincikan kebebasan sosial sebagai berikut; seseorang adalah bebas dalam arti sosial. Apabila ia tidak berada di bawah paksaan, tekanan atau kewajiban dan larangann dari fihak orang lain. b. Pembatasan Kebebasan Manusia itu sebagai mahkluk sosial. Itu berarti bahwa manusia harus hidup bersama dengan manusia-manusia lain dalam ruang dan waktu yang sama, dan dengan mempergunakan alam yang terbatas sebagai dasar untuk memenuhi kebutuhannya. Hal itu berarti bahwa kita disatu fihak saling membutuhkan dan dilain fihak bersaing satu sama lain. Dan oleh karena itu kelakuan harus kita sesuaikan dengan adanya orang lain. Bagaimanapun juga, kepentingan semua orang lain yang hidup dalam jangkauan tindakan kita perlu kita perhatikan. Kalaupun kita tidak mau menghiraukan mereka, kita terpaksa akan melakukannya kalau tidak mau terus menerus bertabrakan. Jadi pertanyaannya bukan apakah kebebsan sosial kita memang boleh dibatasi atau tidak.

Sebagai mahluk sosial yang hidup bersama dalam dunia yang terbatas, sudah jelas manusia harus menerima bahwa masyarakat membatasi kesewenangannya. Pertanyaan yang sebenarnya berbunyi sejauh mana, dan dengan cara mana, kebebasan kita boleh dibatasi? Jadi bahwa kebebasan sosial kita terbatas, sudah jelas dengan sendirinya yang perlu ialah agar pembatasan itu dapat dipertanggung jawabkan. Karena kalaupun kebebasan kita harus dibatasi, hal itu tidak berarti bahwa segala macam pembatasan dapat dibenarkan. Pada dasarnya ada dua alasan untuk membatasi kebebasan manusia. Alasan pertama ialah hak setiap manusia atas kebebasan yang sama. Keadilan menutut agar apa yang kita tuntut bagi kita sendiri, pada prinsipnya juga kita akui sebagai hak orang lain. Oleh karena itu hak seseorang atas kebebasannya menemukan batasnya pada hak sesama saya yang sama luasnya. Tidak masuk akal kalau di ruang kuliah seseorang mau menggunakan dua kuris, selama masih ada mahasiswa yang belum dapat duduk. Dengan demikian maka kebebasan seseorang tidak boleh sampai mengurangi kebebasan orang lain yang sama luasnya. Alasan yang kedua bagi pembatasan kebebasan adalah bahwa setiap orang bersama semua orang lain merupakan anggota masyarakat. Setiap individu

mempunyai eksistensi, hidup dan berkembang hanya karena pelayanan dan bantuan banyak orang lain, jadi berkat dukungan masyarakat. Maka masyarakat berhak untuk membatasi kesewenangan kita demi kepentingan bersama, baik dengan melarang kita mengambil tindakan-tindakan yang dinilai merugikan masyarakat, maupun dengan meletakkan kewajiban-kewajiban tertentu pada kita yang harus kita penuhi. Dengan

demikian masyarakat berhak untuk membatasi kebebasan kita sejauh itu perlu untuk menjamin hak-hak semua anggota dan demi kepentingan dan kemajuan masyarakat sebagai keseluruhan, menurut batas wewenang masing-masing. Pembatasan itu tidak boleh melebihi apa yang perlu untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Maka lembagalembaga masyarakat itu harus mempertanggung jawabkan pembatasan kebebasan anggota masyarakat. Masyarakat tidak boleh mengadakan pembatasan yang

sewenang-wenang. Suatu pembatasan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Justru agar pertanggung jawaban selalu dapat dituntut pembatasan kebebasan harus dilakukan secara terbuka dan terus terang, tak perlu ditutup tutupi. Masyarakat

dan berbagai lembaga di dalamnya dalam batas wewenang masing-masing memang berhak untuk membatasi kebebasan manusia dan oleh karena itu tidak perlu malu malu melakukannya. Mereka hendaknya dengan terbuka mengemukakan peraturan-

peraturan dan larangan-larangan yang memang meraka anggap perlu. Dengan demikian masyarakat yang bersangkutan seperlunya dapat menuntut pertanggung jawaban. Kalau aturan-aturan dan larangan-larangan itu perlu, hendaknya hal itu diperhatikan. Kalau perlunya itu tidak dapat dipertanggungjawabkan, peraturan-

peraturan itu bersifat sewenang-wenang dan harus dicabut. Jadi kebebasan dibatasi atas nama kebebasan yang sebenarnya. Yang buruk pada cara pembatasan

kebebasan ini ialah bahwa tidak dipertanggung jawabkan. Dengan argumen bahwa kebebasan yang sebenarnya tidak dibatasi, mereka yang membatasinya menghindar dari pertanggung jawaban. Jadi hendaknya dia memilih; membiarkan bebas atau tidak. Kalau tidak, katakan dengan terus terang dan berikan pertanggung jawabab. Kalau pertanggung jawaban itu masuk akal pembatasan akan kita terima. Tetapi kalau kita memang bebas, hendaknya bebas sungguhan, artinya kita bebas sekehendak kita. Bahwa kita harus mempertanggung jawabkan kebebasan kita secara moral terhadap kita sendiri adalah lain masalah. Tetapi dari fihak masyarakat kebebasan sosial kita berarti kita boleh menentukan sendiri apa yang kita kehendaki. Pembenaran pembatasan kebebasan dengan alasan kebebasan bertanggung jawab sebenarnya tidak lebih daripada pengakuan bahwa pembatasan yang dikehendaki tidak diberanikan dikemukakan dengan terus terang karena rupa rupanya tidak dapat dipertanggung jawabkan didepan umum. Jadi yang tidak bertanggung jawab adalah fihak yang mau membatasi kebebasan atas nama kebebasan yang bertanggung jawab itu. Dengan demikian maka dapat dipahami bahwasannya kebebasan manusia memang jelas boleh dan bahkan harus dibatasi tetapi pembatasan itu harus dikemukakan dengan terus terang dan dapat dipertanggung jawabkan. Adapun pembatasan-pembatasan yang dimaksud diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Pembatasan dari dalam. Segala keterbatasan yang dimiliki manusia secara fisik maupun secara psikis. 2) Pembatasan dari lingkungan. Kondisi-kondisi lingkungan tertentu yang

membuat berbagai keinginan dan tindakan manusia tidak mungkin dilakukan.

3) Pembatasan dari masyarakat. Setiap manusia memiliki kebebasannya masingmasing dan hal tersebut menjadi pembatas bagi kebebasan menusia yang lainnya.Kebebasan manusia tidak sama dengan kesewenangan. Kebebasan kita secara hakiki terbatas oleh kenyataan bahwa kita adalah anggota masyarakat. Keterbatasan itu dapat diperinci kedua arah: Pertama: Hak kita untuk bertindak menemukan batasnya dalam hak setiap orang lain atas kebebasan yang sama. Kedua: kita hanya dapat hidup karena kebutuhan kita terus menerus dipenuhi oleh orang lain, oleh masyarakat. Karena itu masyarakat berhak membatasi (secara terbuka) kesewenangan saya demi kepentingan bersama. c. Cara pembatasan kebebasan. Dengan cara apakah kebebasan kita dibatasi, maka pada prinsipnya ada tiga cara untuk membatasi kebebasan manusia yang diantaranya : 1) Melalui paksaan atau pemerkosaan fisik. 2) Melalui tekanan atau manipulasi psikis. 3) Melalui pewajiban dan larang. Cara pembatasan tersebut diatas dapat dicontohkan sebagai berikut; Apabila kita bertanya bagaimana kita dapat mencegah seseorang masuk kedalam kamar pribadi kita? Cara pertama adalah dengan mengunci kamar itu. Cara itu aman, siapapun tidak dapat masuk. Tidak perlu kita bedakan antara orang yang bertanggung jawab dan yang tidak. Anjing pun tidak akan bisa masuk. Cara kedua adalah kita dapat mengkondisikan seseorang sedemikian rupa, hingga begitu ia melihat pintu kamar kita, ia mulai bergetar ketakutan dan tidak sanggup untuk memegang pegangan pintu meskipun pintu sebenanya tidak apa-apa dan tidak terkunci. Cara itu juga dapat dipakai untuk anjing atau sapi; sapi misalnya mudah belajar merasa takut terhadap kawat sederhana yang bertenganan listrik rendah; kalau kemudian listrik dimatikan, sapi untuk waktu yang cukup lama tidak berani menyentuk kawat yang membatasi perumputannya itu.

Yang menarik ialah bahwa pembatasan fisik dan psikis tidak hanya berlaku bagi manusia melainkan juga bagi binatang. Inti cara itu adalah bahwa sikap fihak yang mau dirintangai agar jangan masuk tak perlu diperhitungkan. Pokoknya dia tak sanggup masuk, entah karena secara fisik tidak dapat, entah karena ada hambatan psikis yang kuat. Lain sifatnya cara ketiga, yaitu kita memasang tulisan pada pintu kamar; “dilarang masuk”. Pembatasan kebebasan ini tidak lagi efektif terhadap anjing dan sapi melainkan hanya terhadap manusia. Dan bukan terhadap sembarang orang, Orang lain

melainkan hanya terhadap orang yang mengerti bahasa Indonesia. “pak masuk”.

barangkali mengira itu nama penghuni dan justru masuk menanyakan sesuatu pada

Jadi ketiga cara diatas mengandaikan pengertian bahwa hanya mahluk hidup yang mempunyai pengertian yang memahaminya. Cara pembatasan tersebut diatas disebut normatif. Artinya kita diberi tahu tentang sebuah norma atau aturan kelakuan. Cara ini menghormati kekhasan manusia sebagai mahluk yang berakal budi. Pembatasan fisik dan psikis meniadakan kebebasan eksistensial. Orang tidak dapat masuk. Jadi kemauannya, rasa tanggung jawabnya, tidak memainkan peranan. Tettapi pembatasan normatif tetap menghormati kebebasan eksistensial manusia. Pembatasan itu berarti bahwa ia tidak boleh masuk. Dan itu berarti bahwa ia tetap dapat saja masuk apabila ia tidak mau memperhatikan pemberitahuan tersebut. Jadi pembatasan kebebasan sosial secara normatif tetap menghormati martabat manusia sebagai mahluk hidup yang dapat menentukan sendiri sikap dan tindakannya. Pertimbangan ini menunjukkan bahwa satu-satunya cara yang wajar untuk membatasi kebebasan adalah secara normatif, melalui pemberitahuan. Jadi yang harus dibatasi adalah kebebasan normatif, bukan kebebasan fisik dan rohani. Hanya dengan cara itu martabat manusia sebagai mahluk yang berakal budi, bebas (secara eksistensial) dan bertanggung jawab dihormati sepenuhnya. Pemaksaaan selalu merendahkan manusia karena martabatnya itu dianggap sepi dan ia direndahkan. Maka pembatasan kebebasan manusia memang perlu dan harus dilakukan secara normatif jadi dengan menetapkan peraturan dan cara pemberitahuan dan bukan dengan paksaan.

Akan tetapi, bagaimana kalau orang tidak mau tahu dan tidak bertanggung jawab? Jadi kalau ia tidak taat kepada peraturan tersebut. Kemungkinan tersebutlah yang melahirkan faham hukum. Hukum adalah sistem peraturan kelakuan bagi masyarakat yang bersifat normatif tetapi dengan ancaman tambahan bahwa siapa yang tidak menaatinya akan ditindak. Oleh karena itu masyarakat juga berhak untuk memastikan bahwa aturan yang dianggapnya penting bagaimanapun tidak dilanggar. Oleh kerena itu juga masyarakat juga berhak untuk seperlunya mengambil tindakan untuk menjamin bahwa aturan-aturan itu dihormati. Tindakan macam apa yang boleh diambil? Jawabannya ialah tindakan fisik! Jadi orang yang memang tidak mau tahu, boleh dipaksa untuk taat dan boleh seperlunya dikenai sangsi dalam bentuk hukuman. Jadi orang yang mengancam orang lain boleh ditangkap diborgol dan dijatuhi hukuman penjara. Semua tindakan itu mengurangi kebebasan fisiknya, sama halnya dengan kerbau yang diikat dikandangnya. Bahwa tindakan fisik yang sebetulnya tidak wajar diambil, adalah kesalahannya sendiri karena ia tidak menanggapi pembatasan normatif. Yang tidak dapat dibenarkan sebagai cara untuk membuat orang taat adalah manipulasi psikis. Manipulasi psikis secara moral selalu buruk dan harus dinilai jahat, karena merusak kepribadian orang dari dalam. Paksaan fisik hanya mengenai

kejasmaniahan manusia. Apa yang difikirkannya, sikap hatinya, jadi sumber daya penentuannya sendiri tidak tersentuh. Dalam arti ini betul bahwa dalam belenggu pun orang masih dapat tetap bebas. Tindakan fisik yang perlu tidak mau memperkosa otonomi seseorang terhadap dirinya sendiri, melainkan hanya mencegah agar ia jgangan merugikan orang lain. Sedangkan manipulasi psikis merusak manusia dari dalam. Maka tekanan psikis, menakut-nakuti, penggunaan berbagai obat bius, sugesti dan hipnose, penyiksaan dengan tujuan untuk memperlemah ketekadan batinnya tidak pernah dapat dibenarkan, melainkan selalu harus dikutuk sebagai kotor dan jahat. d. Alasan-alasan Yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil, yaitu suatu keadaan

bebas, yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri

sendiri. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh. Manusia masih harus berhadapan dengan berbagai hal yang tidak sempurna. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. Manusia masih harus

berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya, merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas.Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul, yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. Atas berbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Kita sendiri, sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain, bahwa kita adalah bebas. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. Namun

ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan, apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat, sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin, maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan, yaitu dengan argumen persetujuan umum, argumen psikologis dan argumen etis. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. 1) Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis, melainkan praktis, yaitu berdasarkan pengalaman. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas, walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu, karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan, baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. Perjuangan dalam berbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan, ia tidak akan menyadari kebebasannya. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas, maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Justru karena benturanbenturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk

pengalaman, serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. Dan hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. 2) Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. a) Kesadaran Langsung Akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu, atau bertindak dengan cara begini atau begitu, atau

bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Hal penting yang harus digarisbawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benarbenar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti benda-benda lain. Contohnya : Ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. Muncul pemikiran pada waktu itu, yaitu "mengambil dompet itu". Namun pada saat pikiran itu muncul, di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya, maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Setelah menimbang-nimbang, mahasiswa itu memutuskan: "Ya, saya akan mengambil dompet itu", atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak, ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktor-faktor eksternal. Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan. b) Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. Contohnya : Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Karena jika tidak ada kebebasan, maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Dan pengalaman itu mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. Artinya bahwa

orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintanganrintangan. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap “mengakui” akan adanya kebebasan. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia. Jadi pengertian kesulitan dalam konteks ini bukanlah dalam arti fisik, tetapi psikologis. Dengan kata lain kesulitan yang kami maksudkan di sini adalah kesulitan intern pada subyek jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. 3) Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia, dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidaksempurnaan manusiawi. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang

dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. Dengan kata lain, manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidaksempurnaan moral manusiawi. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidaksempurnaan moralnya, manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya, yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. 2.2. Tanggung Jawab a. Definisi/ Pengertian. Menurut Kamus Bahasa Indonesia arti dari tanggung jawab adalah “keadaan wajib dan menanggung segala sesuatunya”.11 Dalam hal ini tanggung jawab berarti keadaan yang mewajibkan seseorang yang apabila kalau terjadi sesuatu apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya. Dalam filsafat pengertian tanggung jawab adalah kemampuan manusia yang menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi. Perbuatan tidak bertanggung jawab, adalah perbuatan yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan juga. Menurut Anton Adi Wiyoto dijelaskan bahwa arti tanggung jawab adalah mengambil keputusan yang patut dan efektif.12 Patut berarti menetapkan pilihan ynag terbaik dalam batas-batas normal sosial dan harapan yang umum diberikan, untuk meningkatkan hubungan antar manusia yang positif, keselamatan, keberhasilan, dan kesejahteraan mereka sendiri, misalnya : menanggapi sapaan dengan senyuman. Sedangkan tanggapan yang efektif berarti tanggapan yang memampukan anak mencapai tujuan-tujuan yang hasil akhirnya adalah makin kuatnya harga diri mereka, misalnya : bila akan belajar kelompok harus mendapat izin dari orang tua.

11 12

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 2008, Hal 154

Sedangkan menurut Pam Schiller dan Tamera Bryan pengertian tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap situasi setiap hari, yang memerlukan beberapa jenis keputusan yang bersifat moral.13 Menurut Prof. Burhan Bungin (2006: 43), tanggung jawab merupakan restriksi (pembatasan) dari kebebasan yang dimilik oleh manusia, tanpa mengurangi kebebasan itu sendiri. Tidak ada yang membatasi kebebasan seseorang, kecuali kebebasan orang lain. Jika kita bebas berbuat, maka orang lain juga memiliki hak untuk bebas dari konsekuensi pelaksanaan kebebasan kita. Dengan demikian kebebasan manusia harus dikelola agar tidak terjadi kekacauan. Dan norma untuk mengelola kebebasan itu adalah tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sendiri merupakan implementasi kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Maka demi kebaikn bersama, maka pelaksanaan kebebasan manusia harus memperhatikan kelompok sosial di mana ia berada. Teori tanggung jawab sosial adalah respons terhadap kebuntuan liberalisme klasik di abad ke-20. Dalam laporan Hutchins Commision di tahun 1947, teori tanggung jawab sosialmenerima banyak kritik dari sistem mdia laissez-faire. Keritik ini menyatakan adanya kecenderungan monopoli pada media, bahwa masyarakat atau publik tidak kurang memperhatikan dan tidak berkepentingan dengan hak-hak atau kepentingan golongan di luar mereka, dan bahwa komersialisasi menghasilkan budaya rendah dan politik yang serakah. Teori tanggung jawab sosial menyatakan bahwa media harus meningkatkan standar secara mandiri, menyediakan materi mentah dan pedoman netral bagi warga negara untuk mengatur dirinya sendiri. Hal ini sangat penting bagi media, karena kemarahan publik akan memaksa pemerintah untuk menetapkan peraturan untuk mengatur media. Teori tanggung jawab sosial dirumuskan pada saat Amerika mengalami masa “kapitalisme akhir”. Sebleum PD II, organisasi-organisasi berita ternama di Amerika berada dalam dominasi media tycoon, seperti William Randolph Hearst, Robert R. McCormick dan Henry Luce. Para pemilik media yang sangat sukses ini mengatur surat kabar, layanan via kabel, stasiun radio, studio film, dan majalah. Mereka aktif secara politik dan menggunakan posisinya untuk mendukung calon presiden dan
13

Tamara Bryant. Pam Schiller. 2002. 6 Modal Dasar Bagi Anak. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo, Hal 131

mempengaruhi pemilu dan penerapan undang-undang. Pada saat yang sama, kekuatan pemerintahan federal meingkat secara drastis. Program New Deal Franklin D. Roosevelt membentuk program-program baru yang memperluas pengaruh

pemerintahan federal dan merubah sikap publik terhadap hubungan pemerintah dengan sektor swasta. Kebijakan anggaran yang liberal membuatnya dibenci oleh para tokoh media. Roosevelt mampu menggunakan oposisi mereka untuk mengarahkan simpati publik terhadap pemerintahannya. Teori tanggung jawab sosial dikembangkan setelah kematian Roosevelt, ketika para penerbit berpengaruh tidak populer di kalangan publik. Publik selalu curiga terhadap pers, bahkan ketika para pemimpin industri ini diganti dengan yang baru. Pers telah merumuskan “kode etika‟ selama berdekade (Masyarakat Editor Surat Kabar Amerika (ASNE) menerapkan “aturan jurnalisme” (The Canons of Journalism) di tahun 1923) dan televisi menjadi media paling populer pada saat itu. Untuk bisa memahami nilai penting teori tanggung jawab sosial, kita harus melihat pada konsep dasar yang membentuknya. Pada essay di tahun 1958, Sir Isaiah Berlin membedakan kebebasan negatif dan positif sebagai dua aliran dalam filosofi politik demokratis ua model yang membedakan John Locke dari Jean-Jacques Rousseau. Berlin menyatakan bahwa politik liberal menjalankan kompomi dalam hubungan keseharian, menempatkan kebebasan positif sebagai penyeimbang kebebasan negatif; “nilai-nilai utama dari politik liberal positif hak-hak, untuk

berpartisipasi dalam pemerintahan adalah sarana untuk menjaga nilai-nilai utama mereka, yaitu individualisme negatif kebebasan. Kebebasan positif adalah poros konseptual tempat berkembangnya tanggung jawab sosial. Implikasi hukum dari kebebasan positif dikembangkan oleh Zechariah Chafee dalam karya dua jilid nya Government and Mass Communciation (1947). Dalam penekenannya terhadap hak-hak dan kecurigaannya terhadap tindakan pemerintah, terlihat jelas hubungan antara Chafee dengan tradisi liberal. Teori

tanggung jawab sosial tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Ia menjelaskan bahwa wilayah hak-hak moral berbeda dengan wilayah hak-hak hukum. Teori ini secara filosofi radikal dan konservatis secara programnya.

b. Macam-Macam tanggung jawab. Manusia itu berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu : 1) Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri. Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah

kemanusiaan mengenai dirinya sendiri. Menurut sifat dasarnya manusia adalah mahluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi, maka manusia juga mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, anganangan sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal ini manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang disengaja maupun tidak. Contoh : Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar-sebentar ia melihat jalan, tetapi juga ia lengah, dan terperosk kesebuah lubang, kakinya terkilir. Ia menyesali dirinya sendiri akan kejadian itu. Ia harus beristirahat dirumah beberapa hari. Konsekuensi tinggal di rumah beberapa hari merupakan tanggung jawab sendiri akan kelengahannya. 2) Tanggung Jawab Terhadap Keluarga. Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami istri, ayah ibu dan anak-anak dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan dan kehidupan. Contoh : Seorang ibu telah dikarunia tiga anak, kemudian oleh sesuatu sebab suaminya meninggal dunia, karena ia tidak mempunyai pekerjaan/

tidak bekerja pada waktu suaminya masih hidup, maka demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia melacurkan diri. Ditinjau dari segi moral hal ini tidak bisa diterima karena melacurkan diri termasuk tindakan di kutuk, tetapi dari segi tanggung jawab ia termasuk orang yang dipuji, karena demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia rela berkorban menjadi manusia yang hina dan dikutuk. 3) Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat. Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Contoh : Hanafi terlalu congkak dan sombong, ia mengejek dan menghina pakaian pengantin adat minangkabau. Ia tidak memakai pakaian itu, bahkan penutup kepala yang dikeramatkan pun semula ditolak. Tetapi setelah ada ancaman dari pihak pengiring, terpaksa Hanafi mau memakainya juga. Didalam peralatan itu hampir pernikahan dibatalkan, karena timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan pihak kaum laki-laki. Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata pakaian mempelai yang masih sekarang dilazimkan dinegerinya, yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya cara anak komedi istambul. Jika ia dipaksa memakai secara itu sukalah urung sahaja, demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran didalam keluarga pihaknya sendiri akhirnya diterimalah bahwa ia memakai smoking, yaitu jas hitam, celana hita, dengan berompi dan berdasi putih. Tetapi waktu hendak menutup kepalanya sudah berselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian daster suluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalipun perempuan meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan seudah selesai bolehlah ia nanti memakai sekehendak hatinya nanti, karena lebih gila pula dari pada anak komidi, bila memakai daster saluk dengan baju smocking dan dasi. Setelah ibunya sendiri hilang sabarnya dan memukul mukul dada di muka anak yang terpelajar itulah baru Hanafi menurut kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan keringat akan badannya yang sudah tergadai. Untunglah ia menurutkan hal menutup kepala itu, karena sekalian pengantar dan pasuimandan (pengiring perumpuan) sudah berkata bahwa mereka tak sudi

menggiringkan mempelai “didong”. Akhirnya Hanafi tunduk pula dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Meskipun harus bersitegang dahulu. Sebagai pertanggung jawaban kecongkakan dan kesombongannya itu, Hanafi harus menerima rasa antipati dari masyarakat Minangkabau yang sangat ketat terhadap adat itu. 4) Tanggung Jawab Terhadap Bangsa. Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara. Contoh : Seorang guru yang terkenal sebagai seorang guru yang baik, terpaksa mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya. Perbuatan guru tersebut harus pula dipertanggung jawabkan kepada pemerintah, kalau perbuatan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan. 5) Tanggung Jawab Terhadap Tuhan. Tuhan menciptakan dengan manusia di bumi bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan, sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agam. Pelanggaran-pelanggaran dari hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan yang keras pun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan, sebab dengan mengabaikan perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawa yang seharusnya dilakukan manusia terhadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya manusia perlu pengorbanan. Contoh : Seorang biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai dengan hukum-hukum yang ada pada agamanya. Hal ini dilakukan agar ia dapat sepenuhnya mengabdikan diri kepada Tuhan demi rasa tanggung jawabnya. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini ia

rela berkorban tidak memenuhi kodrat manusia pada umumnya yang seharusnya meneruskan keturunannya, yang sebetulnya juga merupakan sebagian tanggung jawabnya sebagai mahluk Tuhan. 2.3. Hubungan Kebebasan Dan Tanggung Jawab Bertanggung jawab merupakan sikap moral yang dewasa. Dan tak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan, maka disinilah letak hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab. Sejalan dengan adanya kebebasan atau kesengajaan, orang akan bertanggung jawab atas tindakannya yang di sengaja dan berarti bahwa ia harus dapat mengatakan dengan jujur bahwa tindakannya itu sesuai dengan penerangan. Orang yang melakukan perbuatan tapi dalam keadaan tidur atau mabuk dan semacamnya tidak dapat di katakan sebagai perbuatan yang dapat di pertanggung jawabkan karena perbuatan tersebut tidak dilakukan berdasarkan akal sehatnya. Pembahasan mengenai hubungan kebebasan dan tanggung jawab sama halnya dengan uraian tersebut diatas. Namun kebebasan dari paksaan, tekanan dan larangan pada artinya sendiri belum bernilai positif, melainkan hanya merupakan kesempatan atau ruang bagi kita. Ruang itu perlu diisi, yang mengisinya adalah kita, dan pengisian itu disebut kebebasan eksistensial. Adanya kebebasan berarti bahwa masyarakat menyediakan ruang bagi kebebasan eksistensial kita. Jadi sekarang kitalah yang bertanggung jawab bagaimana mempergunakannya. Apakah ruang kebebasan itu bernilai atau tidak tergantung pada

bagaimana kita menentukan diri kita didalamnya. Kebebasan berarti bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas sikap dan tindakan kita dan bukan masyarakat. Kita tidak dapat lari dari tanggung jawab itu, kalaupun kita ikut-ikutan saja dan tidak berani untuk mengambil sikap sendiri, hal itu pun tanggung jawab kita. Dari hal tersebut, maka hubungan kebebasan dan tanggung jawab adalah a. Ruang Kebebasan harus diisi dengan sikap dan tindakan b. Kebebasan memungkinkan kita sendiri yang menentukan tindakan c. Tindakan yang diambil dalam kebebasan menjadi tanggungjawab kita Mempetanggung Jawabkan Kebebasan Kekebasan bukan tanggung jawab kita dalam arti bahwa apa yang kita putuskan tidak dapat kita lemparkan pada orang lain, melainkan keputusan itu

sendiri harus dipertanggung jawabkan. Bukan sembarang keputusan dapat disebut

bertanggung jawab. sikap dan tindakan-tindakan yang harus kita ambil tidak berdiri diruang kosong, melainkan harus kita pertanggung jawabkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang sebenarnya, terhadap tugas yang menjadi kewajiban kita dan terhadap orang lain. Sikap yang kita ambil secara bebas hanya memadai apabila sesuai dengan tanggung jawab obyektif itu. Jadi adanya kebebasan itu tidak berarti bahwa kita boleh memutuskan apa saja dengan seenaknya. Bahwa kita diberi kebebasan sosial oleh masyarakat berarti, bahwa kita dibebani tanggung jawab untuk mengisi ruang kebebasan itu secara bermakna. Kita dapat juga memutskan sesuatu secara tidak bertanggung jawab. Prinsip-prinsip moral dasar merupakan tolak ukur apakah kebebasan telah kita gunakan secara bertanggung jawab. Jadi kita berada di bawah kewajiban berat untuk mempergunakan kebebasan kita secara bertanggung jawab. Makin bertanggung Jawab Makin Bebas. Kadang-kadang orang menolak untuk bertanggung jawab dengan argumen, bahwa kalau ia harus menyesuaikan diri dengan suatu tanggung jawab atau kewajiban obyektif, maka ia tidak bebas lagi. Misalnya orang dihimbau agar ia dalam mempergunakan perpustakaan juga memperhatikan kepentingan mahasiswamahasiswa lain, misalnya dengan tidak memotong halaman-halaman tertentu dari buku ensiklopedi, lalu ia menjawab bahwa kewajiban itu ditolaknya karena kalau ia menerimanya, ia tidak lagi seratus persen bebas. Seakan-akan kebebasan eksistensial hanya terjamin dalam sikap sewenang-wenang. terhadap anggapan ini ? Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus menganalisis apa yang sebenarnya terjadi apabila seseorang menolak untuk bertanggung jawab dengan argumen bahwa dengan demikian ia akan kehilangan kebebasannya. Perlu diperhatikan bahwa yang dipersoalkan disini bukan suatu pandangan yang berbeda mengenai kewajiban. Dapat saja terjadi bahwa dua orang yang berbeda pendapat tentang apa yang wajib dilakukan. Misalnya kakak yang hidup diluar negeri berpendapat bahwa adiknya yang telah berkeluarga, wajib untuk menampung ibunya dalam rumah tangganya supaya ibunya itu tidak merasa sendirian (meskipun secara ekonomis ibu itu terjamin). Tetapi adiknya menolak dengan argumen bahwa kehadiran ibunya akan Apakah yang dapat dikatakan

membahayakan ketentraman dalam keluarganya dan bahwa ia berkewajiban untuk mendahulukan kepentingan keluarganya. Dalam kasus ini adik itu tidak menolak untuk bertanggung jawab, melainkan hanya mempunyai pandangan lain tentang apa yang merupakan kewajibannya. Yang perlu dibahas disini adalah apabila orang

memang tidak mau bertanggung jawab dengan argumen kebebasan. Untuk menganalisis argumentasi ini kita harus bertanya; apa artinya kebebasan kalau orang menolak untuk bertanggung jawab ? apa ia lantas lebih bebas ? Menolak untuk bertanggung jawab berarti; Tahu dan sadar tentang apa seharusnya dilakukannya, tetapi tidak melakukannya juga. Mengapa ia tidak mau, padahal ia menyadari tanggung jawabnya? Tentu karena melakukan tanggung jawab dirasakan sebagai terlalu berat. Ada banyak kemungkinan mengapa orang tidak mau bertanggung jawab; ia suka malas dan tidak bertanggung jawab adalah lebih ringan. Ada urusan lain yang lebih menarik, jadi ia acuh tak acuh. Ia takut suatu bahaya. Ada yang tidak setuju untuk melawan. Atau ia sedang sentimen, ia lagi tersinggung. Atau ia tidak dapat mengatasi hawa nafsu atau emosi. Orang yang tidak mau bertanggung jawab berada dalam situasi itu; disatu fihak, ia sadar akan tanggung jawabnya. Jadi ia sebenarnya tahu perbuatan apa yang paling bernilai baginya, yang paling pantas dan paling wajar. Tetapi karena ia malas, tak suka susah, takut, lemas, emosi, sentimen atau dikuasai hawa nafsu maka ia tidak kuat untuk melakukannya. Ia terlalu lemah untuk melakukan apa yang dilihatnya sendiri sebagai paling luhur dan penting. Ia bagaikan orang yang sebenarnya senang berdiri di puncak gunung, tetapi karena tak mau bangun pagi, tak tahan haus dan dignin dan terlalu loyo untuk memaksa diri, maka ia tidak jadi naik. Jadi menolak untuk bertanggung jawab tidak membuat kita menjadi lebih bebas, melainkan sebaliknya. Orang yang tidak bertanggung jawab adalah orang yang tidak kuat untuk melakukan apa yang dinilainya sendiri sebagai paling baik. Jadi ia kurang bebas untuk menentukan dirinya sendiri dan kebebasan eksistensialnya justru memudar. Secara lebih terperinci, penolakan untuk bertanggung jawab mempunyai dua akibat, Pertama persepsi atau wawasan semakin menyemput. Semuanya hanya dilihat dari kepentingan dan perasaan sendiri. Yang penting ialah agar ia tak perlu

susah, tak terganggu, aman. Orang yang iri hati, tersinggung atau dendam memang tertutup, mereka tidak dapat memperhatikan sesuatu di luar perasaan mereka sendiri. Mereka berputar sekeliling mereka sendiri yang menyebabkan diri mereka semakin sempit. Kedua, orang yang tak mau bertanggung jawab semakin lemah, semakin tidak bebas lagi untuk menentukan diri sendiri, sebagaimana kita lihat pada remaja akhir akhir ini. Ia semakin membiarkan diri ditentukan oleh dorongan irasional yang tidak dikuasainya, oleh perasaannya, emosinya, oleh sentimennya, oleh

kemalasannya, oleh perasaan takut. Ia tidak lagi sanggup untuk merealisasikan sesuatu yang dilihatnya sebagai bernilai, karena mengalah terhadap perasaanperasaan subrasionalnya. Ia semakin tidak kuat untuk melawan arus. Jadi ia semakin tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang bersedia bertanggung jawab semakin kuat dan bebas dan semakin meluas wawasannya. Ia tidak terhalang oleh segala macam perasaan dalam mengejar apa yang dinilainya sebagai penting. Ia kuat dan terlatih untuk mengatasi segala halangan dan kelemahan. Ia bagaikan pendaki gunung yang tangguh. Kesulitan dan pengorbanan apa pun tidak akan menghalanginya dari mencapai puncak gunung yang dicita-citakan. Memang, kemampuan utnuk berkorban demi suatu tujuan luhur membuat kita menjadi tangguh dan bebas. Orang yang bertanggung jawab dengan demikian adalah orang yang menguasai diri, yang tidak ditaklukan oleh perasaan-perasaan dan emosi-emosinya, yang sanggup untuk menuju tujuan yang disadarinya sebagai penting, meskipun hal itu berat. Jadi semakin kita bertekad untuk bertanggung jawabm semakin kita juga bebas. Orang yang tidak menjadi dirinya sendiri dengan mengelak dari tanggung jawabnya melainkan dengan mengakuinya dan dengan berusaha untuk

melaksanakannya. 2.4. Makna Kebebasan dan Tanggung Jawab Orang sering berkata “Kebebasan harus disertai tanggung jawab”. Seringkali orang itu berkata walaupun kita bebas, kita tidak boleh bebas-bebas semena-mena. Semacam ucapan-ucapan retorika yang keluar untuk para kaum muda yang dianggap terlalu bebas.

Untuk sementara marilah kita tinggalkan dulu pendapat yang demikian karena itu dapat membuat diri kita tidak akan maju-maju. Kita harus sadar bahwa kebebasan selalu disertai dengan batasan. Ada kebebasan pasti ada juga batasan. Ini terjadi karena kalau tidak ada batasan, tidak ada kebebasan, karena kita sama sekali tidak mengerti apa itu kebebasan kalau tidak pernah ada batasan. Seperti prinsip Yin dan Yang. Kita tidak akan mengenal gelap kalau tidak ada terang. Kita memerlukan batasan untuk bisa memandang kebebasan itu. Sebenarnya sebebas apapun bebasnya manusia, dia pasti memiliki batasan. Sejenak kita lupakan hukum aturan masyarakat, sejak dasar kebebasan kita telah diikat oleh yang namanya hukum alam. Hukum alam ini mengikat kebebasan kita, seperti halnya grafitasi. Grafitasi mengikat kita sehingga kita tak bebas terbang. Jika kita meloncat maka kita akan jatuh dan sakit. Ini adalah hukum mutlak. Alam membatasi pergerakan kita. Sama seperti alam, kebebasan kita akhirnya dibatasi oleh masyarakat juga. Ada hal yang bisa kita lakukan dan ada hal yang tidak bisa kita lakukan. Misalnya kita tidak bisa bernafas di dalam air, kita tidak bisa menumbuhkan tangan. Semua hal itu mustahil. Ini adalah batas dari kebebasan pertama kita. Pembatasan ini natural, karena mengatakan apa yang bisa kita lakukan dan apa yang tidak bisa kita lakukan. Pembatasan kedua dari kebebasan kita adalah etik. Artinya apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Misal, kita bisa saja membunuh teman kita. Kita tidak dihalangi secara alamiah untuk melakukan itu atau tidak melakukan itu. Kita punya kemampuan untuk melakukannya. Namun demikian kita tidak boleh melakukannya. Ini karena adanya pembatasan etis. Pembatasan ini bersifat tidak senatural pembatasan secara alamiah. Karena kita memilih perbuatan kita, maka ini menjadi subjek etika. Pembatasan ini berkaitan dengan konsekuensi, baik secara natural maupun artificial. Ketika melakukan perbuatan kita, maka kita akan mendapat konsekuensinya, misalnya membunuh. Secara natural kita memiliki kebebasan untuk itu. Namun demikian kita bisa mendapat akibat buruk dari hal itu. Akan mengakibatkan kita mendapat konsekuensinya, baik secara langsung seperti rasa bersalah. Ataupun secara artificial, seperti hukuman dari masyarakat.

Dalam arti inilah kebebasan harus memiliki tanggung jawab. Ini karena kebebasan orang lain dibatasi oleh kebebasan orang yang lainnya. Jika satu orang memanfaatkan kebebasannya maka dia akan mengurangi kadar kebebasan orang lain. Dan jika demikian orang lain juga berhak mengurangi kebebasannya sehingga kita saling mengatur kebebasan satu sama lain. Karena itulah ada aturan dalam kehidupan masyarakat agar kehidupan terkendali dengan baik.

BAB III KESIMPULAN

3.1. Kebebasan merupakan sebuah pengertian negatif jika diartikan sebagai tidak adanya suatu larangan, rintangan dan pencegahan apapun. Pengertian kebebasan adalah

bersifat umum, dan tatkala belum disandarkan pada pengertian yang lain, maka tidak akan menunjukkan tujuan dan hasil yang jelas. Dengan demikian, maka logika

kebebasan memberikan keterangan, kebebasan berbicara, kebebasan berpikir, kebebasan seksual, kebebasan untuk menentap dan berhijrah, kebebasan untuk bekerja dan lain sebagainya. Tidak ada filsuf pun didunia ini yang meyakini bahwa

kebebasan itu adalah berarti lepas kendali, tanpa aturan dan undang-undang. 3.2. Dalam filsafat pengertian tanggung jawab adalah kemampuan manusia yang menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi. Perbuatan tidak bertanggung jawab, adalah perbuatan yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan juga. Tanggung jawab menutut seseorang untuk berfikir sebelum melakukan hal-hal yang sedang di hadapi nya, karena seseorang dapat dituntut, di persalahkan, diperkarakan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 3.3. Kebebasan yang di dasarkan dengan tanggung jawab maka akan menjadi sesorang menjadi di terima di masyarakat. Sama seperti alam, kebebasan kita akhirnya dibatasi oleh masyarakat juga. Ada hal yang bisa kita lakukan dan ada hal yang tidak bisa kita lakukan. Misalnya kita tidak bisa bernafas di dalam air, kita tidak bisa menumbuhkan tangan. Semua hal itu mustahil. Ini adalah batas dari kebebasan pertama kita. Pembatasan ini natural, karena mengatakan apa yang bisa kita lakukan dan apa yang tidak bisa kita lakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Bdk. DR. Nico Syukur Dister OFM (1993), Filsafat Kebebasan. Kanisius.Yogyakarta. Bdk. Nusa Putra (1994), Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Bdk. Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta. Dpchanurabone, Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani, Melalui

<http://dpchanurabone.blogspot.com/2011/04/kebebasan-tanggung-jawab-danhati.html> [01/08/2011] Rafael Edy Bosko dan M. Rifai‟ Abduh (2010), Kebebasan Beragama atau berkeyakinan, Seberapa Jauh, Kanisius, Yogyakarta, Ibnu Harun, Memaknai Kebebasan, Melalui <http://herman1976.wordpress.com

/2008/10/15/memaknai-kebebasan/> [01/08/2011] Abdullah Haidar (2003), Kebebasan Seksual Dalam Islam, Jakarta; Pustaka Jahra,. Setyono, Agus (2009), Kebebasan dalam filsafat Louis Leahy Dan Dalam Pemikiran Manusia Jawa, Telaah Filsafat Perbandingan. Melalui <http://agussetyonocm. multiply.com/journal/item/76> [02/08/2011] Adiwiyato, Anton. 2001. Melatih Anak Bertanggung Jawab. Jakarta. Mitra Utama. Tamara Bryant. Pam Schiller. 2002. 6 Modal Dasar Bagi Anak. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->