P. 1
Makalah_Menjadi Manusia Yang Baik

Makalah_Menjadi Manusia Yang Baik

|Views: 79|Likes:

More info:

Published by: Indayana Febriani Indri on Sep 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2011

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Sepanjang sejarah peradaban, kajian tentang manusia menduduki ranking tertinggi dari sekian kajian yang

ada. Selain objeknya unik, kajian itu dapat menghasilkan berbagai persepsi dan konsepsi yang berbeda. Fenomena seperti itu dapat dipahami, sebab keberadaan manusia di dunia bukan sekedar ada dan berada, tetapi lebih penting lagi dapat mengada. Manusia berperan sebagai obyek dan subyek sejarah, bahkan mampu mengubahnya. Kehidupannya dinamis dan secara kualitatif berevolusi untuk mencapai kesempurnaan. Didunia ini, benda-benda materiil dibagi dalam empat kelompok, yaitu: padat (jamad), tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Secara materiil keempat-empatnya dikuasai oleh hal-hal yang bersifat materi dan hukum-hukum materi. Namun masing-masing memiliki perbedaan yang bukan kemateriilannya, tetapi karena hal-hal yang bersifat immaterial. Selain benda jamad semua benda mempunyai jiwa. Tumbuh-tumbuhan dapat dilihat gejala jiwanya dari segi pertumbuhannya. Pada hewan/binatang, selain dari pertumbuhannya juga dilihat dari aktivitas gerak yang aktif dalam memenuhi kebutuhannya. Namun aktivitas tersebut sifatnya hanya instintif dan monoton. Sementara manusia selain memiliki semua hal yang dimiliki oleh bendabenda tersebut diatas, mereka masih dilengkapi dengan akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Dengan demikian manusia terdiri dari jasmani (materil), jiwa (rohani). Jasmani adalah unsur yang dapat dilihat dan disentuh oleh panca Indera, sedangkan rohani merupakan unsur yang tidak dilihat dan disentuh panca indera. Jasmani adalah bagian manusia yang melakukan gerakan fisik seperti : bernafas, makan, minum, berjalan dll. Sedangkan rohani melakukan aktifitas berfikir, yang mendorong manusia membedakan yang baik dan yang buruk. Dalam kenyataannya terjadi perbedaan dalam taraf kehidupannya. Hal ini disebabkan ada perbedaan dalam kekuatan fisik, kecerdasan, akal, pendidikan, dan juga usahanya. Namun demikian perbedaan yang ada menjadikan mereka itu saling membantu,

38

tolong menolong dalam hal kebaikan. Itu sebabnya manusia disebut dengan makhluk sempurna. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia). Sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Manusia sejak semula ada dalam kebersamaan. Senantiasa berhubungan dengan manusia-manusia yang lain dalam wadah keluarga, persahabatan, lingkungan kerja dan bentuk-bentuk relasi sosial lainnya. Dan sebagai partisipan kebersamaan manusia juga mendapat pengaruh dari lingkungannya juga sebaliknya dapat mempengaruhi dan memberi corak kepada lingkungan sekitarnya. Dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia tidak mungkin dapat melepaskan hubungannya dengan sesama manusia. Sebagai contoh manusia dalam memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, kita memerlukan orang lain yang menyiapkan makanan dan pakaian itu untuk kita dengan cara menukar (barter) membeli dan sebagainya. Mungkin dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, kita memerlukan orang yang lebih ahli untuk mengajar kita, karena tidak mungkin suatu keahlian datang dengan sendirinya tanpa kita belajar dari orang lain. Manusia sebagai makhluk Zone Politicon tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain hubungan ini akan selalu saling terkait tidak mungkin dapat dipisahkan dari berbagai kebutuhan hidup manusia. Jadi kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus hidup bermasyarakat. Oleh sebab itulah maka manusia dikatakan sebagai makhluk sosial yang idealnya harus selalu berbuat baik. Atas dasar uraian di atas, maka di dalam makalah ini akan dibahas tentang “Menjadi Manusia yang Baik” dalam ruang lingkup etika.

38

BAB II PEMBAHASAN Tujuan manusia diterangkan oleh Poespoprodjo (1986), dalam bukunya Filsafat Moral bahwa tujuan manusia adalah melakukan perbuatan baik. Hal ini sejalan dengan pernyataan Aristoteles bahwa semua aktivitas manusia menuju lebih baik sedangkan yang “baik” dirumuskan sebagai sesuatu menjadi arah semua hal, sesuatu yang dikejar dan sesuatu yang dituju. Definisi tujuan adalah sesuatu yang untuknya dilakukan suatu pekerjaan. Manusia akan merasa hampa bila keinginan, harapan, hasrat dan selera tidak terpenuhi dan terpuaskan. Objek tersebut yang menjadi tujuan. Setiap tujuan adalah baik, tetapi manusia tidak boleh hanya mengejar tujuan semu, melainkan harus tujuan yang tertinggi, yakni sesuatu memberi arti bagi kehidupan manusia. Seseorang yang telah mencapai/terpenuhi keinginannya dengan sesuatu yang baik disebut kebahagiaan. Kebahagiaan yang sempurna dapat dicapai, yang menurut Poespoprodjo (1986), dengan jalan mengambil postulat dalam filsafat moral

38

tentang eksistensi Tuhan dan keabadian jiwa, yakni bahwa kebahagian sempurna adalah keinginan kodrat manusia yang sangat mungkin untuk dicapai. Alasan yang dikemukan, masih dalam pandangan Poespoprodjo (1986), bahwa manusia mempunyai keinginan pada kebahagiaan sempurna, ini adalah keinginan yang terbit dari kodrat kemanusiaan yang ditanamkan oleh Tuhan, dan dia tidak bermaksud pada suatu keinginan kodrat untuk kegagalan, dan pemenuhan atas kebahagiaan itulah tujuan akhir manusia. Segala potensi manusia adalah sebagai alat untuk melakukan aktivitasaktivitas dan mencapai tujuan hidupnya. Manusia selain memiliki semua hal yang dimiliki oleh benda-benda tersebut diatas, mereka masih dilengkapi dengan akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Keberadaan akal bagi manusia adalah karunia dri Allah SWT yang penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan dari sang pemberinya. Tentang akal ini, Descrates bahkan menyatakan Go gito ergo sum, yang artinya saya berfikir maka saya ada. Dengan adanya akal ini maka manusia memilki keistimewaan dibanginkan dengan makhluk yang lain. Kesitimewaan tersebut antara lain teleh dikemukakan oleh Driyarkara sebagaimana disebutkan dalam bukunya Filsafat Manusia sebagai berikut: 1. Karena akalnya ia mempunyai keinsyafan dan kesadaran, yakni kesadaran akan adanya dan keberadaannya berbeda dengan makhkuk lain, dimana ia bisa membedakan yang baik dan yang buruk, yang manfaat dan yang mafsadah, yang indah dan yang tak indah; 2. Ia menyadari keberadaannya dialam ini dan menghadapinya sehingga ia dapat berbuat untuk dirinya dan alam, bahkan dapat merusak dan mempengaruhinya; 3. Ia bisa berdiri sebagai subjek, dengan pendirian, sikap yang terumuskan dan dimengerti olehnya, ia bisa menganalisa pendiriannya dan mengubahubahnya. Terhadap selain dirinya, ia bisa melihatnya sebagai sesuatu yang obyektif real. Sikap obyektivitas, dimana ia melihat realitas diluar dirinya sebagai realitas tersendiri;

38

4. Kemampuan mengubah dan mengambil sikap menunjukkan adanya kemerdekaan dan pengertian, bahwa yang diganti itu tidak lebih baik jadi harus diubah. Bisa mengganti berarti bisa memilih dan tidak terikat dengan suatu cara tertentu. 5. Manusia memiliki menyadari dunia moral, sehingga ia dapat mengatur nafsunya dan menyadari kewajiban hidupnya. Ia akan merasa bersalah jika tidak dapat memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya. 6. Ia adalah makhluk yang memiliki kesadaran waktu, karenanya ia insaf akan adanya masa depan dan bersiap menghadapinya. Ia juga sadar akan masa lampaunya dan masa lalu umat manusia seluruhnya. Ketidakpuasan pada masa sekarang akan membuat manusia berjuang mencapai citacitanya dimasa depan. Dengan menyadari akan adanya waktu akan memberi kesadaran akan kefana’annya. Dari ketujuh criteria, A. Hanafi (1979) menambahkan satu lagi dalam bukunya Filsafat Islam, yakni: 1. Ia dapat menampung segala peristiwa yang telah dialami. Peristiwaperistiwa kejiwaan terdapat koordinasi dan keserasian yang mengesankan adanya satu kekuatan yang menguasai dan mengaturnya. Manusia gembira dan sedih, cinta dan benci, meniadakan dan menetapan, menganalisa dan mengatur pikiran. Hal-hal tersebut keluar dari pribadi yang satu dari kekuatan yang dapat menggabungkan antar peristiwa-peristiwa yang berlawanan. 2. Jiwa manusia berasal dari alam ketuhanan, maka ia dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan Tuhan melalui wahyu, mimpi ataupun cara yang lain. Manusia terdiri dari jasad dan roh, yang membentuk senyawa sehingga terwujud proses dan mekanisme hidup. Proses alamiah terwujudnya manusia dimulai dari bertemunya sperma dan ovum dalam rahim sebagai fase pembuahan yang meningkat menjadi zygot, berlanjut menjadi embrio dan akhirnya menjadi bayi. Pada fase dalam rahim inilah roh dimasukkan kedalam tubuh embrio (bakal bayi).

38

Keberadaan manusia didunia ini tidak dengan sendirinya, ia diciptakan oleh Allah, dan keberadaannya di dunia inipun dilengkapi dengan segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Oleh Karena itu manusia membutuhkan Dzat yang menciptakannya, yaitu Allah SWT. Dengan demikian kedudukannya adalah sebagai makhluk dengan segala ketentuannya. Dalam Al-Qur’an manusia menempati kedudukan yang istimewa dalam alam semesta ini untuk menguasainya atau mengusahakan kebutuhannya, manusia dianugrahi oleh Allah Kesempurnaan sebagai khalifah dimuka bumi. Dengan itu manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dan beribadah kepada Allah SWT. Karena kebutuhan hidup itu harus diusahakan, maka berbagai sarana dan prasarana yang mengacu kepada terpenuhinya kebutuhan itu harus diusahakan pula. Kelengkapan akal pada manusia membedakan dirinya dengan makhluk yang lain, meskipun dalam fase hidupnya sangat mirip dengan hewan. Itu sebebnya manusia disebut sebagai “hewan yang berfikir” dengan akal manusia menentukan jalan hidupnya, perilaku dan kreativitas yang selaras antara jasmani dan rohani, fisik-psikis, materi-immateri, termasuk juga keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, anggota masyarakat maupun sebagai pribadi. Itu sebabnya keberadaan manusia berstatusadalah sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, mahkluk sosial dan makhluk posesif. Selain akal, tujuan adalah hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kesadaran akan keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Allah, maka semua potensi diri dan fasilitas di dunia ini dipergunakan sebagai sarana mencapai tujuan hidupnya yang hakiki yaitu mengharapkan ridha Allah atas segala amal perbuatannya baik saat mendapatkan karunia/kenikmatan maupun saat mendapat musibah. Alasan yang bisa dikemukan, masih dalam pandangan Poespoprodjo (1986), bahwa manusia memiliki keinginan pada kebahagian sempurna, ini adalah keinginan yang terbit dari kodrat kemanusiaan yang ditanamkan oleh Tuhan, dan Dia tidak bermaksud pada suatu keinginan kodrat untuk kegagalan, dan pemenuhan atas kebahagiaan itulah tujuan akhir manusia.

38

Segala potensi manusia adalah sebagai alat untuk melakukan aktivitasaktivitas dan mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup tersebut mestinya disertai dengan program yang terinci sehingga akan tepat pada sasaran tujuan. Program hidup manusia ini tidak didasarkan atas kehendak manusia sendiri, tetapi kehendak atas penciptaannya, yang dalam islam program itu adalah syari’ah yang menerangkan tentang haq dan yang batil, tentang yang menjadi kewajiban dan larangan dalam kehidupan manusia.

A. Pengertian Manusia 1. Menurut Al-Qur’an
Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia berkembamg dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungannya, ia berkecenderungan beragama. Itulah antara lain hakikat wujud manusia yang lain ialah bahwa manusia itu adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok. Dalam Alqur'an ada 3 kata yang digunakan untuk menunjukan arti manusia, yaitu 1. insan / ins / annas 2. basyar 3. bani adam / dzurriyat adam Sedangkan yang paling banyak di jelaskan dalam alquran adalah Basyar dan insane. Kata Basyar yang berarti penampakan sesuatu dengan baik yang indah menunjukan manusia dari sudut lahiriyahnya (fisik) serta persamaanya dengan manusia seluruhnya, seperti firman Allah dalam surat Al-Anbiya : 34-35 "kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhamad) maka apabila kamu mati apakah mereka akan kekal ? tiap - tiap yang berjiwa akan mati. kami akan menguji kamu dengan

38

kebaikan dan keburukan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kami kamu dikembalikan " Kata insan digunakan untuk menunjuk manusia dengan segala totalitasnya, fisik psikis, jasmani dan rohani. Di dalam diri manusia terdapat tiga kemampuan yang sangat potensial untuk membentuk struktur kerohaniahan, yaitu nafsu, akal dan rasa. Nafsu merupakan tenaga potensial yang berupa dorongan untuk berbuat kreatif dan dinamis yang yang dapat berkembang kepada dua arah, yaitu kebaikan dan kejahatan. Sebagaimana Firman Allah dalam surat as-Syam 8 : "maka allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) esesatan dan ketakwaan" Akal sebagai potensi intelegensi berfungsi sebagai filter yang menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah yang didorong oleh nafsu akal akan membawa manusia untuk memahami, meneliti dan menghayati alam dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuandan kesejahteraan. "akan tetapi Orang Orang yang lalim itu mengikuti hawanafsunya tanpa ilmu pengetahuan " (Qs Arrum : 29 ). Sedangkan rasa merupakan potensi yang mengarah kepada nilai nilai etika, estetika dan agama. "Sesungguhnya orang yang mengatakan : tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka beristiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka" (Qs Al Ahqaf : 13) Ketiga potensi Dasar diatas membentuk Struktur kerohaniahan yang berada Di dalam diri manusia yang kemudian akan membentuk manusia sebagai insan. Konsep basyar dan insan merupakan konsep islam tentang manusia sebagai individu. Sedangkan dalam Hubungan social Alqur’an memberikan istilah Annas yang merupakan jamak dari kata insane dan perwujudan kualitas keinsanian manusia ini tidak terlepas dari konteks sosialnya dengan lingkungan.

2. Menurut agama Kristen
Tema tentang manusia dan kemanusiaan telah ditempatkan oleh agamaagama sebagai tema sentral disamping ajaran tentang Allah dalam dogmatika

38

masing-masing. Demikian halnya agama Kristen, hal ini nampak dalam permulaan kitab pertama dari Alkitab PL yakni kitab Kejadian yang menempatkan kisah mengenai penciptaan (termasuk didalamnya kisah penciptaan manusia). Fenomena yang kedua yang menunjuk pada tema manusia dan kemanusiaan sebagai tema yang sentral adalah awal dari kitab-kitab PB yakni keempat Injil yang menekankan mengenai kisah penyelamatan manusia atau kisah pemanusiaan manusia. Dengan kata lain: PL diawali oleh kisah penciptaan manusia dan PB diawali oleh kisah penyelamatan (pemanusiaan) manusia. Kitab Kejadian yang memuat kisah Penciptaan menekankan bagaimana Allah menempatkan manusia sebagai ciptaanNya yang khusus. Manusia disebut sebagai imago Dei, gambar Allah yang mewakili Allah di dunia (khalifatullah filard), dengan kata lain keberadaan manusia menunjuk bahwa Allah itu ada. Kenyataan diatas menunjuk pula bahwa manusia menjadi begitu sangat penting dan berarti dalam wilayah iman Kristen. Pertanyaan yang muncul, manusia bagaimanakah yang dibahasakan dalam iman Kristen? Baik PL maupun PB, manusia dibicarakan (dibahasakan) dalam makna relasional yakni dalam hubungannya yang utuh dan benar dengan Allah, dengan sesamanya manusia, dengan alam sekitarnya (lingkungan hidup) dan dengan dirinya sendiri. 1. Hubungan yang utuh dan benar dengan Allah: Manusia dibahasakan sebagai salah satu ciptaan dalam relasinya dengan Allah yang adalah satu-satunya Sang Pencipta. Inilah identitas dan eksistensi yang utuh dan benar pada waktu penciptaan. Dalam relasi yang demikian, manusia menikmati hidup yang penuh harmoni, keseimbangan, kebebasan dan damai sejahtera serta kasih. Ini yang dikenal dengan suasana surgawi "taman Eden". Namun eksistensi dan identitas yang demikian ini telah dirusakkan oleh manusia itu sendiri dengan keinginannya untuk menjadikan dirinya sebagai Pencipta, sebagai yang berkuasa atas dirinya dan atas yang lain, sebagai yang superior dalam hubungannya dengan sesama dan dengan lingkungannya sendiri. Relasi yang utuh telah dipatahkan oleh manusia ketika manusia tidak lagi membutuhkan Sang

38

Penciptanya. Manusia telah menjadi pencipta bagi dirinya sendiri, ia berkuasa atas dirinya dan yang lain. Tindakan dan sikap sebagai penguasa atas yang lain inilah mengakibatkan rusaknya identitas atau dapat dikatakan krisis identitas. C.S Song menyebut krisis ini sebagai "dehumanisasi" manusia: manusia tidak lagi menjadi manusia sebagaimana citra dan fitrahnya sebagai ciptaan, sebagai imago Dei, gambar Alah tetapi bukan Allah, melainkan manusia ingin menjadi "big Boss" dari yang lain, ingin menindas yang lain: Adam menuduh Hawa sebagai sumber dosa (pelanggaran) yang juga berarti manusia secara tidak bertanggungjawab telah menjadikan sesamanya objek kepuasan dirinya. Dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak membutuhkan Allah, Pencipta karena manusia mengira ia mampu untuk menjadi pencipta bagi dirinya sendiri. 2. Dehumanisasi manusia yang bermuara pada rusaknya hubungan relasional yang utuh dan benar dengan Allah ini mengakibatkan pula rusaknya hubungan yang utuh dan benar dengan sesamanya manusia. Keseimbangan dan kesetaraan antarmanusia yang menjadi warna yang paling jelas dalam relasi manusia dengan sesamanya di "Taman Eden" telah rusak oleh keinginan manusia untuk menjadi superior dari yang lain. Sifat-sifat semacam ini melahirkan suatu kehidupan yang berorientasi pada supremasi diri, golongan (suku, agama dan ras) dan melihat manusia atau kelompok yang lain lebih rendah. Manusia Kain (dalam kisah Kain dan Habel) tidak mampu menerima kelebihan sesamanya (Habel), ia merasa berada pada subordinasi Habel oleh sebab itu ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hak kemanusiaan saudaranya untuk hidup, ia lalu membunuh Habel. Kehidupan yang berdasar pada ketidakseimbangan inilah yang melahirkan kebencian, permusuhan bahkan pembunuhan manusia oleh manusia. Dengan kata lain dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak menghargai manusia dan kemanusiaan sebagai karya cipta Allah yang mulia.

38

3. Akibat lain dari dehumanisasi manusia adalah rusaknya hubungan manusia dengan alam lingkungan sekitar: "manusia tidak lagi bersahabat dengan alam" dan sebaliknya. Mulai saat itu manusia mempergunakan (menyalahgunakan) alam untuk kepuasaan dirinya. Alam dikorbankan demi untuk memenuhi kepuasan kebutuhan manusia, alam dieksploitasi dan dijadikan objek kehidupan luxurius. Dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak menghargai ciptaan Allah lainnya. dengan demikian pula manusia menjadi "big boss" atas ciptaan lainnya secara tidak bertanggungjawab, akhirnya ia terasing dengan lingkungan dimana ia berada. 4. Dehumanisasi manusia mengakibatkan pula keterasingan diri manusia itu sendiri, menjadikan manusia asing terhadap dirinya sendiri. Dalam kitab kejadian dikisahkan bagaimana manusia setelah didapati melanggar tatanan surgawi, manusia malu dan telanjang (kej. 3: 7) ini pertanda bahwa ketika manusia menjadi asing dihadapan Allah melalui tindakan dehumanisasinya, maka manusia menjadi asing bagi dirinya sendiri.

B. Pengertian Baik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “baik” adalah elok; patut; teratur; berguna. Sedangkan “baik” menurut etika adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, merugikan, atau menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah "buruk". Konsep Subjektifitas dan Relatifitas dalam baik dan buruk adalah serupa seperti konsep Subjektifitas dan Relatifitas dalam benar dan salah. Hanya dalam konsep Objektifitas memiliki perbedaan, secara objektif ukuran baik dan buruk adalah sama yakni mengarah kepada tujuan akhir, meskipun tujuan setiap individu atau golongan berbeda-beda, tetapi tujuan akhir dari semuanya itu sama, yaitu bahwa semuanya ingin baik atau bahagia. Tujuan dari masing-masing individu walaupun berbeda-beda semuanya akan bermuara pada satu tujuan yang dalam ilmu etika disebut "kebaikan tertinggi", yang dengan istilah latinnya disebut Summum Bonum atau bahasa

38

arabnya Al-Khair al-Kully. Kebaikan tertinggi ini bisa juga disebut kebahagiaan yang universal atau universal happiness. Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik dan benar, jika tingkah laku tersebut menuju kesempuranan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang konkrit. Manusia menentukan tingkah lakunya untuk tujuan dan memilih jalan yang ditempuh. Pertama kali yang timbul dalam jiwa adalah tujuan itu, dalam pelaksanaanya yang pertama diperlukan adalah jalan-jalan itu. Jalan yang ditempuh mendapatkan nilai dari tujuan akhir. Untuk setiap manusia, hanya terdapat satu tujuan akhir. Seluruh manusia mempunyai sifat serupa dalam usaha hidupnya, yaitu menuntut kesempurnaan. Kita diminata oleh islam untuk bergaul dengan baik. Terutama terhadap pihak-pihak yang berikut ini, harus kita berikan priorotas untuk kita pergauli dengan baik yaitu: 1. Kedua orang tua, ibu dan bapak kita masing-masing. 2. Orang-orang yang menjadi karib kerabat kita. 3. Anak-anak yatim. 4. Orang-orng miskin. 5. Tetangga yang dekat maupun yang jauh dengan kita, baik dilihat dari segi tempat, hubungan keluarga maupun dilihat dari segi muslim dan bukan muslim. 6. Orang-orang yang menjadi teman sejawat kita. 7. Ibnu sabil yaitu, para musafir yang kahabisan bekal yang kepergiannya tidak untuk maksiat. 8. Hamba Sahaya. Semuanya itu difirmankan oleh Allah dalam surat Annisa’ ayat 36 yang artinya: “sembahlah Allah, jangan kamu sekutukan Dia dengan sesuatu. Berbuat Berbaiklah kepada kedua orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman

38

sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada mereka yang sombong dan membagga-banggakan diri. Bergaul yang baik dengan sesama manusia dapat dibagi menjadi tiga tingkat: Tingkat pertama: Ialah tingkat yang paling rendah yaitu kita bergaul dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuta susah kepada orang lain dan tidak mengganggu mereka. Misalnya Pada waktu siang hari selagi orang lian tengah istirahat tidur siang atau tengah asik belajar, kita tidak membunyikan TV atau Radio keraskeras, contah yang lian adalah tidak membuang sampah sembarang sehingga mengganggu tetangga dan lain sebagainya. Jadi menurut cara bergaul tingkat rendah ini, kita bergaul secara positif sebab kita tidak berbuat ini dan itu yang dapat menyusahkan orang lain. Cara bergaul tingkat rendah inilah yang oleh Rasulullah disabdakan: yang artinya “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Tingkat kedua: Ialah bergaul yang lebih tinggi dari pada bergaul tingkat pertama. Bergaul yang baik dengan orang lain menurut tingkat kedua ini kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara aktif, dengan kita berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar hanya “tidak menggangu orang lain”, tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain. Cara bergaul begini, terkandung dalam sabda Rasul: “makhluk itu seluruhnya adalah keluarga Allah. Diantara mereka itu yang paling dicintai oleh Allah ialah yang peling bermanfaat kepada keluarga Allah.” Lebih jauh Rasulullah menerangkan: “tahukah kamu, apa yang menjadi hak tetangga? Bila tetangga minta tolong tolonglah ia. Bila ia ingin hutang kepadamu, hutangilah dia. Bila ia memerlukan sesuatu, berikan sesuatu kepadanya. Bila ia jatuh sakit, jenguklah ia. Bila ia meninggal dunia antarkanlah jazahnya. Bila memperolah sesuatu yang menggembirakan, ucapkanlah selamat kepadanya. Bila ia mendapat sesuatu musibah, tunjukkanlah rasa simpati kepadanya. Janganlah kamu mendirikan bangunan yang tinggi yang menutupi udara tetangga itu kecuali kalau sudah

38

mendapat ijin. Bila kamu membeli buah-buahan hadakkan sebagian kepadanya, bila tidak masukkanlah kerumah pelan-pelan dan jangan sampai anak-anakmu membawa keluar buah-buahan itu supaya tidak membikin jengker anak tetanggamu. Janganlah kamu sakiti hati tetangga dengan bau masakan didapur, kecuali kalau kamu berikan sebagian kepadanya. Tahukan kamu, apa yang menjadi hak tetangga? Demi zat yang mengusai jiwaku tidak akan bisa menyadari hak tetangga kecuali orang yang dirahmati oleh Allah”. Tingkat ketiga: Cara bergaul yang baik yang ketiga ini adalah cara bergaul yang terbaik dan tertinggi. Boleh dikatakan cara bergaul yang ketiga inilah yang banyak dikerjakan oleh para Nabi dan orang-orang mukmin yang telah tinggi tingkatan kemukminannya. Menurut cara bergaul yang ketiga ini, kita tidak hanya sekedar “tidak mengganggu orang lain dan tidak hanya sekedar memberi manfaaat kepada orang lain” seperti pada cara bergaul menurut tingkat pertama dan kedua, melainkan lebih dari itu kita sudah berbuat ketingkat yang lebih sempurna lagi, yaitu kita menahan diri dengan sabar terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan kita, bahkan kita balas perbuatan yang tidak baik itu dengan kebaikan. Sabda Rasulullah : “jika kamu ingin melebihi tingkat mereka yang tergolong shiddiqun (orang-orang yang benar) sambunglah hubungan persaudaraan dengan mereka yang memutuskan hubungan persaudaraan itu, berilah mereka yang menahan pemberian dan maafkanlah mereka yang berbuat dzalim kepadamu”. Memang sebagian orang kurang begitu memperhatikan pergaulannya dengan orang lain dan tidak ambil perduli terhadapt masyarakat sekitarnya. Bersikap masa bodoh dengan tidak senang bergaul dengan orang, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifat-sifat angkuh dan angker, terutama kepada orang-orang yang tingkatan yang lebih rendah. Tidak ada keramahan, tidak ada kedermawanan, tidak ada sikap tawadhu. Semua bentuk-bentuk tingkah laku yang sifatnya asosial, tentu sangat keliru dan sangat tidak bijaksana. Sampaipun andaikata yang bertingkahlaku yang demikian orang islam yang banyak ibadahnya kepada Allah dan mengerjakan

38

amal-amal seperti shalat, puasa, dan lain-lain, juga tidak dapat dibenarkan dan semua amal ibadahnya yang banyak itu mungkin akan menjadi sesuatu yang percuma. Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: ya Rasulallah si pulanah (seorang banyak mengerjakan shalat, puasa, sedekah akan tetapi dia selalu menyakiti hati tetangganya dengan mulutnya, bagaimana dengan si pulanah yang demikian ini? Beliau menjawab dia masuk neraka. Hadist ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak dibenarkan orang yang banyak ibadah tetapi sikapnya asosial kepada masyarakat sekitar, sanksi orang yang demikian adalah neraka. Dan tentunya lebih tidak dapat dibenarkan lagi, kalau ibadahpun tidak dikerjakan, ditambah lagi sikap hidupnya juga asosial kepada masyarakat sekitar. Alangkah bijaksana kalau kita semua mampu menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang taat dan banyak beribadah kepadanya, tetapi selain itu sekaligus juga kita mampu menjadikan menjadikan diri kita sebagai makhluk sosial yang baik atau masyarakat yang baik, karena demikianlah ajaran agama kita agama islam. Jadi kita adalah orang islam yang mempunyai banyak sahabat dan pandai membawakan diri ditengah-tengah masyarakat, sebab Rasulullah bersabda: “siapa yang ingin umur yang panjang dan mendapat rizki yang lapang hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan hendaklah ia mengadakan silaturrahmi. Beberapa sikap atau tingkah laku yang bisa kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang baik adalah: 1. Saling Tolong Menolong Tolong-menolong tersebut terbatas kepada hal-hal yang bersifat positif saja, tidak pada yang negatif. Misalnya kita tidak boleh menolong si penjahat untuk memudahkan ia melakukan kejahatannya. Demikian pula kita tidak boleh menolong orang lain menunjukkan tempat yang di dalamnya terdapat kemaksiatan. Karena menolong yang demikian sama artinya dengan kita menjerumuskan orang lain, bahkan menjerumuskan diri sendiri. Tolong-menolong akan lebih diperlukan lagi dalam hidup bertetangga, baik tetangga di tempat kita tinggal, di kantor, di tempat bermain, dan sebagainya. Dalam hidup bertetangga misalnya kita memerlukan pertolongan orang lain ketika

38

di rumah kita terdapat musibah kebakaran, kematian dan sebagainya. Alangkah sedihnya manakala kita mendapat musibah sementâra tetangga kita malah menertawakannya atau malah sengaja menambah beban. Ini semua memerlukan pertolongan orang lain. Pertolongan itu baru akan tercipta manakala kita juga mau menolong orang lain. Karena itu kita tidak hanya mengharapkan pertolongan orang lain saja, melainkan kita juga harus mau menolongnya. Untuk itu, maka perlu saling menolong. Dengan cara seperti itu, maka berbagai kesulitan yang dialami oleh sesama manusia akan dapat diatasi. Dapat kita lihat ayat Al-Qur’an berikut: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi inereka (yang diolok-olok,) lebih baik dan mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolokolokkan) wanita yang lain (karena) boleh Jadi wanita (yang diolok-olokkan,) lebih baik dan wanita (yang mengolok-olokkan,) dan Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan julukan-Julukan yang buruk’. (Q.S. 49: 11). Pada terjemahan ayat di atas terdapat larangan saling mengolok-olokkan, karena hal itu dapat merenggangkan hubungan di antara sesama manusia, dan akhirnya juga mempersulit dirinya masing-masing. Orang yang mengolok-olok tidak selamanya dalam kejayaan, demikian pula orang yang diolok-olok pun tidak pula selamanya hidup susah. Suatu saat bisa saja keadaannya berbalik. Jika ini terjadi, maka yang mengolok-olok tadi akan merasa malu dan kesulitan meminta bantuan kepada orang yang pernah diolok-olok. Mengolok-olok itu biasa dilakukan dengan kata-kata, karena kata-kata memang amat mudah diucapkan, dan seringkali menjadi sumber pertengkaran dan permusuhan. Larangan tersebut dimaksudkan agar manusia justru mengembangkan sikap saling mengormati. Dalam hal ini terdapat aturan-aturan yang harus dilakukan, yaitu seorang siswa hormat kepada tetangganya, seorang penduduk suatu tanah air, hormat pada tanah ainya, dan sebagai suatu bangsa hormat pada bangsanya, dan sebagai penganut agama, hormat pada agamanya, demikian seterusnya. Hormat kepada guru, karena dialah yang mengajar seseorang membaca, menulis, memberikan ilmu

38

pengetahuan, mendidik jiwa, melatib otak, menunjuki kepada kebaikan dan kebahagiaan. Adapun hormat kepada kedua orang tua, karena keduanya memelihara jasad seseorang, merawat badan, memberi makan, membiayai pendidikan, memberikan tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya. Sedangkan hormat kepada sahabat atau teman, karena teman tempat seseorang mengadukan masalahnya, dimintai pendapatnya, meminta pengakuannya, dan menolongnya di kala dalam kesusahan. Demikian pula hormat kepada tetangga karena tetanggalah orang yang terdekat dengan kita di mana kita berada. Tetanggalah yang pertama kali memberikan pertolongan terhadap kesulitan yang kita jumpai. Seseorang juga harus hormat kepada tanah airnya, karena tanah airnya itulah yang memberikan kepadanya tempat untuk tumbuh dan berkembang. Demikian pula hormat kepada bangsa, karena bangsa itulah yang telah ikut memberikan pengorbanan bagi keselamatannya. Seseorang hormat kepada agamanya karena agama itulah yang telah menunjukkan kcpadanya tentang cara hidup yang baik dan bermoral guna mencapai tujuan hidupnya bahagia dunia dan akhirat. Inilah makna atau arti hidup yang hakiki, yaitu hidup dalam suasana saling menghormati dengan sesamanya dan dengan berbagai unsur lainnya yang telah ikut serta memberikan bantuan terhadap pencapaian kebutuhan hidupnya dalam arti yang seluas-luasnya. Tanpa mengembangkan masing. sikap saling menghormati, maka yang terjadi adalah ketegangan-ketegangan dan konflik yang dapat membahayakan dirinya masing-

2. Saling Menasehati Saling menasihati sebenarnya termasuk bagian dan saling menolong. Menasehati Namun saling menasihati sifatnya lebih khusus kepada saling tolongmenolong kepada hal-hal yang lebih bersifat pemikiran dan gagasan-gagasan guna memecahkan berbagai kesulitan yang dihadapi. firman Allah berikut:

38

Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran “ Terjemahan ayat di atas dapat kita melihat bahwa seseorang siapa pun dia, akan merugi, kecuali apabila ia mempercayai adanya Tuhan (beriman), beramal salih, dan saling menasihati. Padangan Islam mengenai arti hidup, sangat berlainan dengan pandangan orang-orang yang berpandangan kebendaan semata-mata (materialistis). Menurut ajaran Islam yang bersumber pada Al Quran dan Hadis, bahwa pandangan Islam mengenai arti bidup itu datang untuk menenteramkan pikiran manusia, dan menuntun hidup secara hakiki, hidup jasmani dan hidup rohani. Sekaligus memberi jawaban, bahwa hidup secara jasmani tidak lebih sebagai sarana, sedangkan hidup secara rohani adalah sebagai arah yang dituju. Dengan demikian tujuan hidup manusia menurut Islam adalah mengarahkan diri untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat, jasmani dan rohani, yang dalam pelaksanaannya, materi sebagai alat, sedangkan rohani sebagai pengarah. Bila tujuan hidup manusia hanya semata-mata materi, atau dunia, maka membimbing anak tidak terlalu penting ditujukan kepada pendidikan moral. Karena bila harta dunia telah kita capai, apakah gunanya kepentingan moral dan etika ? Moral dan etika hanyalah sekedar basa-basi saja. Yang penting adalah kecerdasan dan intelektual serta kesenangan duniawi dan kemasyuran. Setelah tujuan tersebut kita capai, orang lain pasti menaruh hormat dan menundukkan kepala kepada kita. Tetapi bila tujuan hidup kita baik dunia maupun akhirat demi keridhaan Allah, maka membimbing anak merupakan suatu hal yang teramat penting, dan tentu saja pendidikan anak kita tujukan terhadap titik tumpu dan tujuan yang

38

diridhoi Allah, yakni agar menjadi manusia yang taqwa dan selamat sejahtera dunia akhirat. Dengan demikian, maka bimbingan mestinya sinkron, antara dua tujuan, yaitu dunia dan akhirat, karena sabda Rasulullah SAW. Artinya: “Bukan orang yang balk yang meninggalkan dunianya, karena meneari akhirat dan bukan orang yang baik yang meninggalkan akhirat karena dunianya. Artinya Orang yang baik ialah yang mengumpulkan (menggabungkan) dunia dan akhirat. Sebaik baik alat penghubung yang dapat menyampaikan kamu ke akhirat ialah dunia. Dan janganlah kamu merepotkan orang lain. (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir). Dengan demikian, kalau seseorang mempunyai anak dengan tujuan sekedar pelampiasan nafsu biologis saja, maka apakah bedanya dengan bangsa binatang? Orang yang baik selalu memperhitungkan laku perbuatannya di dalarn membimbing anaknya. Apakah Ia telah mengikuti garis lurus ataukah menyimpang dan jalan yang benar. Karena anak adalah suatu proyek dan sebagian hidup kita. Jelaslah sudah bahwa tujuan hidup kita ialah lahirnya manusiamanusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Untuk mencapai tujuan ini, maka bimbingan kepada manusia, sejak kanak-kanak merupakan syarat mutlak bagi suatu keluarga. Beban ini tidak bisa tawar-menawar lagi, karena merupakan sebagian dan hidup dan merupakan sebagian dan bukti ketaqwaannya kepada Allah SWT. Dalam hal ini, ia berarti telah melaksanakan fungsinya, yaitu beribadah kepada Allah SWT, dalam arti yang seluas-luasnya, sesuai dengan firrnan Allah SWT: Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan fin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S. 51 . 56). Dengan melihat uraian atas, Anda telah memahami tujuan hidup manusia yang dalam pencapaian tujuan tersebut ternyata pendidikan memegang peranan amat penting, terutama pendidikan yang berkaitan dengan moral, etika, dan budi

38

pekerti yang luhur. Masalah berikutnya adalah bagaimana langkah-langkah atau cara-cara yang harus ditempuh dalam mewujudkan tujuan tersebut melalui pendidikan. Untuk mencapai kebutuhan hidup, manusia mau tidak mau ia harus menjalin hubungam dengan orang lain yaitu melakukan kerjasama, tolongmenolong, saling menghormati dan menasihati. Hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang sudah diatur dalam agama seperti adab kesipanan atau akhlakul karimah dengan tetangga, guru, orang tua,: teman dan sebagainya. Dengan cara demikian, manusia akan mencapai arti dan hakekat idupnya berupa kebahagtaan yang hakiki, lahiriah dan batiniah Dengan itu kemudian manusia dapat dengan tenang melaksanakan tujuan hidupnya yaitu melakukan penmgabdian kepada Allah. 3. Memelihara Kelestarian Alam Sekitarnya Alam dan isinya diciptakn Allah untuk kepentingan manusia Allah maha adil lagi maha bijaksana. Sebelum menciptakan manusia Ia telah menciptakan langit dan bumi lengkap dengan isinya untuk kepentingan manusia. Selain itu Allah telah pula melengkapi manusia dengan akal. Dengan akal manusia dapat memanfaatkan alam lingkungannya dan untuk kesejahteraan hidupnya. Dengan demikian manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak. Di negara kita yang subur ini Allah telah menganugerahkan berbagai jenis tumbuhan dan binatang yang dapat kita manfaatkan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk tumbuhan dapat kita ambil obat-obatan, rumah,dan makanan sehari-hari dan sebagainya. Allah menyediakan kekayaan yang tidak terdapat di daerah lain, semua di serahkan kepada manusia. Allah sudah memberikan akal kepada manusia. Mampu dan maukah manusia menggunakan akalnya ? jawabnya ada pada manusia itu sendiri “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan”.

38

Allah telah menurunkan nikmatnya begitu banyak tidak mungkin manusia dapat menghitungnya. Oleh karena itu manusia wajib bersyukur kepada-Nya dengan cara menjaganya agar kelestariannya tetap terjaga. Jika salah satu bagian terganggu maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Manusia dapat memanfaatkan alam sekitarnya untuk kebutuhan hidupnya dengan tanpa merusaknya agar Allah tetap lestari. Jika kita syukuri maka akan limpahkan nikmat Allah kepada kita. 4. Ketulusan Menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai, karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri. 5. Kerendahan Hati Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder. 6. Kesetiaan Sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya.Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

7. Orang yang bersikap positif

38

Selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb. 8. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain. 9. Orang yang bertanggung jawab Akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan, bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya. 10. Rasa percaya diri Memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik. 11. Kebesaran jiwa Dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan. 12. Orang-orang yang “Easy Going” menganggap hidup ini ringan.

38

Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya. 13. Empati Adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain. C. ETIKA KEWAJIBAN DAN ETIKA KEUTAMAAN Dalam penilaian etis pada taraf populer dapat dibedakan dua macam pendekatan. Kita bisa terutama memandang perbuatan dan mengatakan bahwa perbuatan itu baik atau buruk, adil atau tidak adil, jujur atau tidak jujur. Kita bisa mengatakan, misalnya, bahwa penjelasan yang diberikan oleh seseorang adalah cerita bohong saja. Di sini kita seolah-olah “mengukur” suatu perbuatan dengan norma atau prinsip moral. Di samping itu ada cara penilaian etis lain lagi yang tidak begitu memandang perbuatan, melainkan justru keadaan pelaku itu sendiri. Di sini kita menunjuk bukan kepada prinsip atau norma, melainkan kepada sifat watak atau akhlak yang dimiliki orang itu atau justru tidak memilikinya. Dua pendekatan moral yang sudah ditemukan dalam hidup sehari-hari ini dalam tradisi pemikiran filsafat moral tampak sebagai dua tipe teori etika yang berbeda: etika kewajiban dan etika keutamaan. Etika kewajiban mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-aturan moral yang berlaku di antaranya. Jika terjadi konflik antara dua pronsip moral yang tidak dapat dipenuhi sekaligus, etika ini mencoba menentukan yang mana harus diberi prioritas. Etika kewajiban menilai benar salahnya kelakuan kita dengan berpegang pada norma dan prinsip moral saja. Etika keutamaan mempunyai orientasi yang lain. Etika ini tidak begitu menyoroti perbuatan satu demi satu, apakah sesuai atau tidak dengan norma moral, tapi lebih memfokuskan manusia itu sendiri. Etika ini mempelajari

38

keutamaan (virtue), artinya sifat watak yang dimiliki manusia. Etika keutamaan mengarahkan fokus perhatiannya pada being manusia, sedangkan etika kewajiban menekankan doing manusia. Ditinjau dari segi sejarah filsafat moral, maka etika keutamaan adalah tipe teori etika yang tertua. Pada awal sejarah filsafat di Yunani Sokrates, Plato dan Aristoteles telah meletakkan dasar bagi etika ini dan berabad-abad lamanya etika keutamaan dikembangkan terus. Etika kewajiban dalam bentuk murni baru tampil di zaman modern dan agak cepat mengesampingkan etika keutamaan. Etika keutamaan terutama mulai ditinggalkan sejak tumbuhnya dua tradisi pemikiran moral yang sebetulnya cukup berbeda, masing-masing dipelopori oleh filsuf Inggris David Hume (1711-1776) dan filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804). Khususnya filsuf terakhir ini memberi tekanan besar pada kewajiban. Sebagai akibatnya, pemikiran moral sejak kira-kira dua abad didominasi oleh etika kewajiban. Kalau kita membandingkan, misalnya, edisi pertama (1963) dan edisi kedua (1973) dari buku William K. Frankena berjudul Ethic yang banyak dipakai sebagai buku pegangan untuk mata kuliah filsafat moral di perguruan tinggi, maka salah satu hal yang mencolok mata adalah bahwa perhatian pengarang untuk etika keutamaan dalam edisi ke-2 itu jauh lebih besar. Dipengaruhi oleh tendensi filsafat moral pada waktu itu, ternyata ia menyesuaikan pemikirannya antara tahun 1963 dan 1973 itu. Moralitas selalu berkaitan dengan prinsip serta aturan dab serentak juga dengan kualitas manusia itu sendiri, dengan sifat-sifat wataknya. Etika kewajiban membutuhkan etika keutamaan dan sebaliknya, etika keutamaan membutuhkan etika kewajiban. Di bidang moral, usaha untuk mengikuti prinsip dan aturan tertentu kurang efisien, kalau tidak disertai suatu sikap tetap manusia untuk hidup menurut prinsip dan aturan moral itu. Akan sangat tidak praktis, jika seorang guru, umpamanya, dalam menjalankan tugasnya sepanjang hari harus mengukur perbuatannya dengan prinsip-prinsip moral. Jauh lebih efisien, jika tingkah lakunya diarahkan oleh keutamaan yang melekat pada batinnya, seperti misalnya kesetiaan dan ketekunan kerja. Hanya dalam keadaan yang agak eksepsional, seperti misalnya dilema moral, kita mendasarkan kelakuan kita secara eksplisit

38

atas suatu prinsip moral. Jika tim guru, umpamanya, mempertimbangkan untuk mengeluarkan seorang murid dari sekolah, mereka menghadapi suatu dilema moral. Di sisi lain etika keutamaan membutuhkan juga etika kewajiban. Etika keutamaan saja adalah buta, jika tidak dipimpin oleh norma atau prinsip. Benci sebagai salah satu sifat watak mudah membawa orang ke perbuatan seperti membunuh atau merugikan orang lain. Keadilan sebagai sifat watak membawa kita ke suatu keadaan di mana kita memperlakukan orang lain secara adil dengan membayar gaji yang pantas umpamanya kepada karyawan. Prinsip moral dan keutamaan moral tidak terlepas satu sama lain. Maka ada filsuf seperti T.L. Beauchamp yang berusaha menyusun dua daftar pararel yang memuat prinsipprinsip moral dan keutamaan-keutamaan moral yang sesuai dengannya. Prinsip moral keadilan, misalnya, sebagai kewajiban yang harus ditaati sesuai dengan keutamaan keadilan. Kini perlunya etika keutamaan diakui oleh hampir semua filsuf yang berkecimpung di bidang etika. Tapi umumnya timbul kesan bahwa dalam pembahasan kedua jenis etika ini belum tercapai keseimbangan yang memuaskan. D. KEUTAMAAN DAN WATAK MORAL Keutamaan adalah disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Kemurahan hati, misalnya merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang membagi harta bendanya dengan orang lain yang membutuhkan. Mari kita memandang lebih rinci beberapa unsur dalam penjelasan tadi. • Keutamaan adalah suatu disposisi, artinya suatu kecenderungan tetap. Itu tidak berarti bahwa keutamaan tidak bisa hilang, tapi hal itu tidak mudah terjadi. Keutamaan adalah sifat watak yang ditandai stabilitas. Keutamaan adalah sifat baik yang mendarah daging pada seseorang, tapi bukan sembarangan sifat baik adalah keutamaan juga. • Keutamaan berkaitan dengan kehendak. Keutamaan adalah disposisi yang membuat kehendak tetap cenderung ke arah yang tertentu. Kerendahan hati,

38

misalnya, menempatkan kemauan saya ke arah yang tertentu (yaitu tidak menonjolkan diri) dalam semua situasi yang saya hadapi. • Keutamaan diperoleh melalui jalan membiasakan diri dan karena itu merupakan hasil latihan. Keutamaan tidak dimiliki manusia sejak lahir. Pada masa anak seorang manusia belum berkeutamaan. Ini sesuai dengan data-data psikologi perkembangan yang memperlihatkan bahwa pada awal mula seorang anak belum mempunyai kesadaran moral (bandingkan J. Piaget dan L. Kohlberg). Di sini boleh ditambah lagi bahwa proses perolehan keutamaan itu disertai suatu upaya korektif, artinya, keutamaan diperoleh dengan mengoreksi suatu sifat awal yang tidak baik. Proses memperoleh keutamaan berlangsung “melawan arus”, dengan mengatasi kesulitan yang dialami dalam keadaan biasa. Dari uraian tadi menjadi jelas bahwa keutamaan sebagai sifat watak moral perlu dibedakan dari sifat watak non-moral. Dengan yang terakhir ini dimaksudkan sifat watak yang dimiliki manusia secara alamiah atau sejak dilahirkan. • Keutamaan perlu dibedakan juga dari ketrampilan. Memang seperti halnya dengan keutamaan, ketrampilanpun diperoleh melalui latihan, lagi pula berciri korektif. Seperti sifat watak non-moral membantu memperoleh keutamaan, demikian pula bakat alamiah mempermudah membentuk ketrampilan. Kita bisa menyebut setidak-tidaknya empat macam perbedaan.

1)

Keterampilan hanya memungkinkan orang untuk melakukan jenis perbuatan tertentu, sedangkan keutamaan tidak terbatas pada satu jenis perbuatan saja. Tapi orang yang memiliki keberanian, kemurahan hati, kesabaran atau keutamaan apa saja tidak pernah terarah kepada jenis perbuatan tertentu saja.

2)

Baik keterampilan maupun keutamaan berciri korektif keduanya membantu untuk mengatasi suatu kesulitan awal. Tapi di sini ada perbedaan juga. Dalam hal ketrampilan, kesulitan itu bersifat teknis. Jika sudah diperoleh ketangkasan, kesulitan teknis itu teratasi. Dengan memperoleh keberanian, kehendak kita mempunyai kesanggupan mengatasi ketakutan itu.

38

3)

Perbedaan berikut berhubungan erat dengan yang tadi. Karena sifatnya teknis, ketrampilan dapat diperoleh dengan setelah ada bakat tertentu membaca buku pentunjuk, mengikuti kursus, dan melatih diri. Tidak mudah mengatakan bagaimana persisnya cara memperoleh keutamaan, tapi pasti tidak bisa dengan hanya membaca buku instruksi atau mengikuti kursus saja.

4)

Suatu perbedaan terakhir sudah disebut oleh Aristoteles (384-322 SM) dan Thomas Aquinas (1225-1274). Perbedaan ini berkaitan dengan membuat kesalahan. Jika orang yang mempunyai ketrampilan, membuat kesalahan, ia tidak akan kehilangan ketrampilannya. Sedangkan jika tanpa disadari ia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan orang lain, dengan itu dia belum kehilangan kualitasnya sebagai orang yang berkeutamaan.

 Semuanya yang dikatakan tentang keutamaan ini berlaku juga untuk
lawannya. Dalam bahasa Inggris keutamaan disebut virtue (Latin: virtus) dan untuk lawannya digunakan istilah vice (Latin: vitium). Untuk yang terakhir ini dalam bahasa Indonesia bisa kita gunakan kata ”keburukan”. Sebagai lawan keutamaan, keburukanpun adakag disposisi watak yang diperoleh seseorang dan memungkinkan dia betingkah laku secara moral. Suatu perbedaan ialah bahwa keburukan tidak diperoleh dengan “melawan arus”, sebaliknya, keburukan terbentyk dengan mengikuti arus spontan. Kekiriran adalah lawan kemurahan hati. Dengan demikian dapat disebut keburukan untuk setiap keutamaan yang ada. Dalam analisis tentang keutamaan yang baru saja diadakan, sudah disebut cukup banyak contoh konkret mengenai keutamaan. Aristoteles sudah membuat studi sangat rinci tentang keutamaan dengan cara demikian. Sebagian dari keutamaan-keutamaan itu begitu erat kaitannya dengan hakikat manusia, sehingga akan menandai manusia di segala zaman. Tapi ada keutamaan tertentu yang bagi kita orang modern dirasa kurang relevan lagi seperti misalnya persahabatan yang oleh Aristoteles dibicarakan dengan panjang lebar. Keutamaan lain akan kita

38

berikan bobot lebih besar. Keutamaan lain lagi akan kita tambah, karena belum muncul dalam cakrawala pandangan moral Aristoteles. Masalah yang sekarang perlu diseli sebentar menyangkut keutamaan pokok. Apakah ada keutamaan dalam arti bahwa keutamaan itu tidak bisa diasalkan dari keutamaan lain, sedangkan semua keutamaan lain bisa diasalkan dari keutamaan pokok itu? Menurut W.K. Frankena, ada dua keutamaan pokok, yaitu kebaikan hati (benevolence) dan keadilan. Dalam hal ini ia mengikuti pandangan filsuf Jerman Artur Schopenhauer (1788-1860). Menurut pandangan yang mempunyai tradisi sudah lama ada empat keutamaan pokok: kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan. Tradisi ini sudah berakar kuat sejak Plato dan Aristoteles. Dalam abad pertengahan tradisi ini dilanjutkan antara lain oleh Thomas Aquinas, tapi ia menambah tiga keutamaan lagi yang disebut keutamaan teologis: iman kepercayaan, pengharapan, dan cinta kasih. Dalam Kristen tercipta tradisi untuk membedakan tujuh keutamaan pokok: empat yang bersifat manusiawi dan tiga bersifat teologis. Menurut Aristoteles kebijaksanaan tidak merupakan keutamaan moral, melainkan keutamaan intelektual. Artinya, kebijaksanaan sebagai keutamaan tidak menyempurnakan kehendak, melainkan intelek manusia. Menurut pandangan modern, semua keutamaan bersifat moral. Kebijaksanaan tidak sama dengan kecerdasan atau IQ yang tinggi. E. KEUTAMAAN DAN ETHOS Keutamaan membuat manusia menjadi baik secara pribadi. Orang yang berkeutamaan itu sendiri adalah baik, bukan anak-anaknya, orang tua atau orang lain lagi, kecuali bila mereka sendiri memiliki keutamaan juga. “Ethos” adalah salah satu kata Yunani kuno yang masuk ke dalam bahasa modern persis dalam bentuk seperti dipakai oleh bahasa aslinya dulu dan karena itu sebaiknya juga menurut ejaan aslinya. Dalam bahasa-bahasa modern, “ethos” menunjukkan ciri-ciri, pandangan, nilai yang menandai suatu kelompok. Dalam Concise Oxford Dictionary (1974) Ethos disifatkan sebagai characteristic spirit of community, people or system,”Suasana khas yang menandai suatu kelompok bangsa atau sistem.” Dalam arti ini sering kita dengar tentang ethos kerja, ethos profesi dan sebagainya.

38

Ethos dalam arti ini adalah nilai-nilai luhur dan sifat-sifat baik yang terkandung dalam profesi medis. Ethos profesi ini bisa ditelusuri sampai ke sumpah Hipokrates di zaman Yunani Kuno (Abad ke-5 S.M.). ethos dengan tradisi begitu panjang itu terungkap dalam sumpah dokter yang diucapkan setiap dokter baru di saat mulai mengemban tugasnya sebagai tenaga medis. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ethos suatu profesi sebagian besar tercermin dalam kode etik untuk profesi bersangkutan (Profesi pengacara, wartawan, dan banyak lagi). Tapi ethos profesi kedokteran dimilikinya sebagai dokter. Tidak bisa disangkal, ethos profesi medis ini tidak bisa dicocokkan dengan cukup banyak sifat dan sikap yang barangkali dapat diterima dalam ethos profesi lain. F. ORANG KUDUS DAN PAHLAWAN Teori-teori etika biasanya membedakan tiga kategori perbuatan. Pertama, ada perbuatan yang merupakan kewajiban begitu saja dan harus dilakukan. Kedua, ada perbuatan yang dilarang secara moral dan tidak boleh dilakukan. Ketiga, ada perbuatan yang dapat diizinkan dari sudut moral, dalam arti tidak dilarang dan tidak diwajibkan,. Ada tiga macam situasi di mana seseorang dapat disebut kudus atau pahlawan dalam arti eklusif etis. Situasi pertama dan kedua dapat dicantumkan dalam tiga kategori perbuatan moral yang disebut tadi. Tapi dalam situasi ketiga berlangsung perbuatan-perbuatan moral yang terletak di luar kategorisasi itu dan karena itu bagi maksud kita situasi ketiga itu paling penting. 1. Kita menyebut seseorang kudus, jika ia melakukan kewajiban dalam keadaan di mana kebanyakan orang tidak akan melakukan kewajiban mereka. Paralelisme antara orang kudus dan pahlawan ini hanya mengenal 2 perbedaan. a. Yang ditentang oleh orang kudus dan pahlawan adalah 2 hal yang berbeda. b. Orang kudus menjalankan pertentangan itu selama periode waktu yang cukup panjang

38

2.

Kita menyebut juga seseorang kudus, jika ia melakukan kewajibannya dalam keadaan di mana kebanyakan orang tidak akan melakukannya. Dengan kata lain, ia melakukan kewajibannya karena keutamaan.

3.

Tetapi kita menyebut juga seseorang kudus atau pahlawan jika ia melakukan lebih dari pada yang diwajibkan. Di sini kita berjumpa dengan orang kudus atau pahlawan dalam arti istimewa. Sebelumnya kita memandang orang kudus dan pahlawan kecil, di sini kita melihat orang kudus dan pahlawan yang sungguh-sungguh besar.

BAB III

38

PENUTUP Perkembangan sejarah filsafat etika yang menunjukkan suatu perbuatan dibagi atas dua: etika keutamaan (akhlak adalah perbuatan tentang tingkah laku manusia yang didasarkan pada pertimbangan akal) dan etika kewajiban (akal yang menentukan akhlak dan perilaku manusia tentang wajib atau tidak dilakukan. Proses memperoleh keutamaan berlangsung melawan arus dengan mengatasi kesulitan yang dialami dalam keadaan biasa. Menjadi manusia yang baik merupakan tujuan hidup yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap umat manusia. Caranya adalah dengan bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Berbuat baiklah kamu jika kamu ingin orang lain berbuat baik terhadapmu. Semoga makalah ini dapat bermanfaat sehingga dapat menjadi masukan bagi kita sebagai umat manusia agar senantiasa berbuat baik terhadap sesama, tanpa memandang suku, agama, dan keturunan.

DAFTAR PUSTAKA

38

De Vos, 1987, Pengantar Etika (Terjemahan : Soejono Soemargono), Penerbit PT Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta. Zubair, Achmad Charris, 1987, Kuliah Etika, Penerbit Rajawali Press, Jakarta. http://www.oaseonline.org/artikel/ati-manusia.htm. Diakses 19 Agustus 2011 http://ramaalessandro2.multiply.com/journal/item/1. Diakses 19 Agustus 2011 http://www.kemalstamboel.com/blog-manajemen/menjadi-sebaik-baik manusia.html. Diakses 10 Agustus 2011 http://panabuletin.wordpress.com/2009/05/17/183/ . Diakses 02 Agustus 2011 Bertens, K, 2004, Etika, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Syukur, Amin, 2010, Studi Akhlak, Walisongo Press. Semarang. Bastaman, Djumhana, H, 1995, Integrasi Psikologi dengan Islam, Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.

38

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->