METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah....1.....6..5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ............4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5...... 5....1.... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .. 5..1.... 5.......2 Identifikasi Masalah ………………………………………. 5....2..1....3 Tujuan Penelitian …………………………………………..3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5...4..5 Metodologi ………………………………………………… 5.... ...3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4...2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.....6..2....1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.........2.......4 Greimas ……………………………………………...6.....4 Landasan Teori …………………………………………… 5..1.. 83 5....

sastra dalam penelitian ilmiah. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Selain itu. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. i . Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. hakikat. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. relevansi metode dan penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme.

Dengan demikian.. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Agustus 2007 Penyusun ii . penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. teori.

3. melalui. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. metode. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. cara. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . sedangkan hodos berarti jalan.1 Pengertian. strategi untuk memahami realitas. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Metode. Hakikat Metodologi. mengikuti. metode dianggap sebagai cara-cara. atau seni menggunakan alat. Metodologi berasal dari methodos dan logos. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. arah. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. Dalam pengertian yang lebih luas. sesudah.BAB I PENDAHULUAN 1. Teknik berasal dari kata teknikos. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. 2. yang berarti alat. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1.

artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. perumusan masalah. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. dan kerangka pemikiran penelitian. 1. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. 2 . Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. dan (3) sadar teknis. (2) sadar teoritik. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran.

sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. kuantitatif dan kualitatif. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Klasifikasi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. menganalisis data. eksplanasi dan interpretasi. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. dan akhirnya menarik kesimpulan. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. membangun konsep dan model. mengadakan pengujian teori. merumuskan hipotesis dan permasalahan. menyusun proposal. Sebagai alat. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik.Dengan prosedur kerja yang baik. komparasi. bukanlah karena perbedaan metode. sampling. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. termasuk ilmu humaniora. induksi dan deduksi. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. 3 . deskripsi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. misalnya. sama dengan teori. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode.

dokumen. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Sebagai instrumen penelitian. teknik kartu data. tetapi dasar dan cara pemahamannya. komparasi. Sebagai alat. teknik bersifat paling kongkret.Berbeda dengan metode. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. kuesieoner. struktural. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. Metode deskripsi. statistik. rekaman. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. melalui cara: 1. Artinya. Dengan demikian. jelas berbeda. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. teknik dapat dideteksi secara inderawi. dan sebagainya. bahkan juga dengan teori. angket. misalnya: wawancara. teknik berhubungan dengan data primer. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan.

teori. dan teknik. metodologi. struktur disebut sebagai metode. metode. 5 . Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Tetapi sebelumnya. metode dapat menjadi teori. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 3. Jadi. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. 2. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus.Pada pembicaraan yang berbeda. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. 9 .atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. d. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri.menerus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.

Hubungannya dengan ilmu. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. atau pencarian kembali atas suatu objek. Sebagai akibatnya. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. kecermatan. dan kecerdasan yang memadai. 10 . yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. ilmu dapat hidup. Jadi. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.

dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Kedua. terutama yang berkaitan 11 . Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah.berkembang. Oleh karena itu. 1985: 9-15). penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Pertama. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. scientific objective. Oleh karena itu pula. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. sistematis. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Dalam menghadapi masalah. practicial objective. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan.

kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Urutan umum dari proses 12 . Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. nalar. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. teori-teori. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. dan sesuai dengan objeknya. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). yaitu penelitian sastra. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu.dengan pemanfaatan teori dan metode.

Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Oleh karena itu. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. dan spiritual. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. pengumpulan data. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. dan penyajian kesimpulan. analisis data. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. social. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . fakta. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. emosional. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia mencari tahu dan mencari makna. penelaahan informasi. Di samping masalah yang dihadapi. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Di samping itu.

menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. menggambarkan. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). dan menafsirkan apa yang diamati. penyelidikan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. otoritas. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. atau penelitian. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. kemudian melakukan proses penemuan. 14 .penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. melakukan kegiatan penemuan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. atau memperkaya teori yang sudah ada. intuasi. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. atau pendapat umum. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum.

para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Dalam hal ini. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Kedua. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Pertama. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Oleh karena itu.

pengajuan hipotesis. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. serta membantu dalam menginterpretasi data. Penelitian akan menghasilkan teori. penyusunan design. pengembangan instrumen.berhubungan). Teori dapat membantu merumuskan problem. pengumpulan dan analisis data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.

2. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. dituntut langkah-langkah berturut-turut. komunikasi. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). menganalisis. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. (3) mengadakan studi pustaka. (7) menganalisis dan 17 . Dalam penelitian ilmiah. terorganisir. (6) mengolah data. (5) mengumpulkan data. (4) merumuskan hipotesis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. dan menyimpulkan. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada.ilmiah. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (3) menggunakan prinsip analisis. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. Dalam kerja penelitian. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. ilmu-ilmu humaniora. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. menginterpretasi. (2) bebas prasangka. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. 3. yaitu: 1.

dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. 18 . Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Demikian pula. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. (9) menarik kesimpulan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya.menginterpretasi.

2. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. didukung data empiris 19 . sistematis 2. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. menghasilkan pengetahuan yang: a.

yaitu : 1. Charters. Berdasarkan desain metodologinya. (bandingkan Nazir. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk 20 .4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.2. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. 2. Ratna. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. 1885. dan Whitney. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2004. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. dan Muhadjir.

Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. 2. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. 5. Macam-macam 21 . Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 6. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. content analysis.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. 3. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi.

film. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . lukisan. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. surat kabar. buku harian. yaitu sebagai studi kultural. dan majalah. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. gambar. Dalam ilmu sastra. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. 2. Dalam ilmu sosial.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. buku teks. Sejalan dengan uraian di atas. grafik. biografi. 22 . laporan.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. sesuai dengan hakikat objek. Immanuel kant. fotografi. 2. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. 2004: 47-49).

suatu set kondisi. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. pandangan-pandangan. sikap-sikap. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Adakalanya peneliti 23 . Menurut Whitney (dalam Nazir.3. gambaran atau lukisan secara sistematis. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. 2. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. 5. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 4. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. penelitian bersifat alamiah. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. suatu objek.

masalah yang dirumuskan harus patut. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode ini dinamakan juga studi status .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. kriteria umum: 1. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

B. 3. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. variabel dilihat sebagaimana adanya.5. kriteria khusus 1. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. sifat penelitian adalah ex post facto.

seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5.3. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. membuat tabulasi serta analisis (statistik). gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 .

Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. lembaga. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. subjek penelitian dapat saja individu. maupun masyarakat. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. 27 . Dalam studi komparatif ini. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. kelompok. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Eagelton. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. dan keagamaan. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Eliis. ekonomi. 29 . dan Teeuw. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Riffaterre. Menurutnya. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Plark. Lotman. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem.

upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. secondary modelling system. Melalui sistem sastralah. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). yaitu berupa bahasa. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. 30 . Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. di antaranya dari sisi bahan. Sebagai satu sistem.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi.

visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. yaitu pembacanya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. 3. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dengan demikian. Dalam hal ini. dari pembaca saja. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Dengan demikian. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. kerja yang objektif.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi.

Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah.perspektif. Namun. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. 32 . pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. sejumlah peralatan diperlukan. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Dalam hal ini.

unsur luar berupa lingkungan fisik 3. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. model.3. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Bagi ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2. 2004: 21). Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. pola. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Tanpa paradigma. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. sebagai berikut: 1.

34 . Di satu pihak. tersistem. dan sebagainya. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Selanjutnya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. Contohnya. maka teori pun juga beraneka ragam. Jadi. bahkan khayalan. imajinasi. sebagai cara pandang. Di pihak lain. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Dalam penelitian sastra. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas.yang relatif sama. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori.

termasuk metode. secara kualitatif. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. 35 . baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. Keempat faktor tersebut adalah: 1. Paradigma dengan demikian mendahului. faktor ontologis. faktor metodologis. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. teori. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. penelitian adalah penilaian. teknik dan proses selanjutnya. metode. periode. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. dalam ilmu humaniora. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. dan teknik. mengkondisikan ilmuwan sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. keseluruhan proses penelitian. Pada gilirannya. faktor aksiologis. faktor epistemologis. khususnya sastra. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan.

Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Keseluruhan unsur. puisi. Perbedaannya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah.generasi. dan berbagai paham yang lain. 36 . subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. Novel sejarah. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. latar tempat dan waktu. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. novel. kecuali referensi estetisnya. Puisi. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. dan drama. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. termasuk tokoh-tokoh. Dengan kalimat lain. aliran. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. novel psikologis. drama bersajak. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. psikologis dan ilmu pengetahuan. psikologis.

4. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Lebih lanjut. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 3. pendekatan berasal dari kata appropio. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. menganalisis. approach. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan.4 Pendekatan Sastra 3. dan menyajikan data. 2004: 5355).Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. yaitu metode dan teknik. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. 37 .1.

Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. pendekatan objektif. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. dan tekniknya. mitopoik. ekspresif. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. 38 . Pada pendekatan mendahului teori dan metode. pragmatik. mimetik. 3. (3) pendekatan pragmatik. (2) pendekatan mimesis. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. metode.dan sebagainya.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. teori. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. dasarnya. Artinya. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu.4. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. dan (4) pendekatan objektif. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. seperti pendekatan sosiologi sastra. Dalam hubungan inilah.

2.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. feminisme. pikiran-pikiran. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. dan hasil-hasil karyanya. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. dan 39 . Secara metodis. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. ucapan. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. komunisme. persepsi. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi.3. nasionalisme. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. pikiran dan perasaan.4.

bentuk-bentuk kemasyarakatan. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). dan ideologi pengarang. 3. pikiran. 1958:8). seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. pengalaman. (2) memetakan sejumlah pikiran. dan sebagainya Luxemberg. perasaan. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. persepsi. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. pengalaman hidup. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak.2.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.4. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. sesuai tujuan.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. Melalui pandangan ini. 1989:15). 40 .

Menurut Baxter. suatu copy. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Tiruan. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Menurutnya. menyiratkan sesuatu yang statis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu proses. Segers (2000. Secara terminologis. suatu produk akhir.Sehubungan dengan pendekatan mimesis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. tetapi penekanannya berbeda. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra.

langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. dsb. Melalui penjabaran di atas. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. 42 . (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. sesuai tujuan.. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Secara metodis. Oleh karena itu. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.

Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca.3. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. pembacalah yang menilai.2. Dalam uraiannya. dan memahami karya sastra. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. menafsirkan. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Menurutnya. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.4. menikmati. Pembaca dalam 43 . Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi.

(5) rangkaian sastra. (4) semangat zaman. (2) horison harapan. dan (7) sejarah umum. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (3) nilai estetik. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Dalam hal ini. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. yaitu: (1) pengalaman pembaca.

Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut.informasi. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman. Dengan kondisi tersebut. Teori menuntut 45 . teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.

Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. diidealkan. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. satirik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Fungsi sosial sastra 46 .bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam.

interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. 1987: 20 dan 54). Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. dan interaksinya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . literary repertoire. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. pembaca. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsekuansinya. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. rol. historis. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks.

langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. dan totalitas. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. politis. 3.4. Oleh karena itulah. termasuk biografi. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Dengan demikian. antarhubungan. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya.2. seperti aspekhistoris. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. sosiologis. 48 .4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi.

dan sarana cerita (pusat pengisahan. Adapun terhadap prosa. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. fakta cerita (tokoh. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. alur. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. dan latar). gaya bahasa. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dll. Secara metodologis. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema.). analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. konflik. 49 . sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain.

Di dalam analisisnya. 50 .Pada analisis prosa. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.

Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. dan Teeuw. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. melainkan kualitatif. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. melainkan rusak sama sekali. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Hawkes.BAB IV STRUKTURALISME 4. apabila suatu bagian dihilangkan. Selain itu. Artinya. 1999: 1-9. terlepas dari 51 . Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. mekanisme sendiri. 1978: 17-18. 1984: 120139). strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. 1995: 4-12.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. dan Faruk: 1994: 17-18. Faruk.

Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Artinya.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. transformatif. Sebagai kualitas totalitas. motivator terjadinya gejala baru. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. sesuatu yang utuh. Aliran Kritik Baru di Amerika. Dengan kata lain. mengembangkan. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. mekanisme yang baru. antarhubungan merupakan energi. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. sesuatu yang berstruktur. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. otonom. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Formalisme di Rusia. dan self-regulatif. Karena itu. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula.

Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. misalnya. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. dan sebagainya. Namun demikian. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. suatu masyarakat. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. latar.sebagai sistem komunikasi. Karya tidak dapat diisolasi. 53 . seperti kejadian. Analisis terhadap penokohan. plot. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Di pihak lain. Dengan kata lain. Sejalan dengan uraian di atas. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme.

4. puitika. sosiologi. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. oposisi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Sebagai teori modern mengenai sastra. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. Metode yang digunakan metode formal. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . 1985: 128-13. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. asosiasi. yaitu: 1. dan psikologi. reaksi terhadap studi biografis 2. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Dengan jalan demikian. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. dan sebagainya. Meskipun demikian.

4. Oleh karena itulah. terdiri atas tanda. dan (3) sebagai teori.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. (2) sebagai metode. dan pembaca sebagai penerima. karya sastra adalah proses komunikasi. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. fakta semiotik. Pradopo 2002: 46. struktur. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. 55 . Menurutnya. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Muhadjir. 1985: 185-192. 2002: 304). masyarakat yang menghasilkannya. dan nilai-nilai. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. melahirkan strukturalisme. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 2003: 88-96.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. dan Ratna.

simbol. dan enjambemen. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. diksi atau pilihan kata. ritme atau irama.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. imajinasi. penokohan. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. alur. peristiwa atau kejadian. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Unsurunsur prosa. Artinya. tujuan analisis di lain pihak. nada. puisi. penokohan. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. sudut pandang. alur. puisi. stilistika. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. dan gaya bahasa. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. di antaranya tema. dan gaya bahasa. latar atau setting. latar. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Unsur-unsur puisi. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. dialog. misalnya mengarah pada tema. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. rima atau persajakan. peristiwa. Prosa.

Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. 57 .sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. tidak semau-maunya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. dan pendengar. Dalam hubungan ini. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Jadi. yaitu pencerita. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. karya sastra.

antara penanda dan petanda. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). aliran semiotik. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. arti bahasa dalam 58 .4. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. yaitu persamaan dan sebab akibat. indeks. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. dan simbol. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. pengertian tanda ada dua prinsip. yaitu ikon. 1993: 183-189). Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. yang merupakan bentuk tanda. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Dalam lapangan semiotik.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Menurutnya. Ada tiga jenis tanda yang pokok. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Stout (dalam Makaryk.

yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. perasaan. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Berhubungan dengan hal ini. Dalam kaya sastra. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). arti tambahan (konotasi). intensitas. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. daya liris. Dalam sistem semiotik. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. suasana. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Jadi.

sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Sejalan dengan paham triadik peircean. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Menurut pandangan intertektualitas. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. dan (3) pragmatik semiotik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. termasuk sastra. terdapat (1) sintaksis semiotika. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Dilihat dari segi cara kerjanya. atau yang lain. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. (2) semantik semiotik.

2004: 102) di antara ikon. representamen. simbol. c. argument. tokens. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. object (designatum. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. type. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. c. sinsigns. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. denotatum.1. Menurut Aart van Zoet (Ratna. legisigns. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. 61 . berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. 2. ground. yang paling sering diulas adalah object. dicent signs. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. b. ikon. interpretant. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. c. yaitu apa yang diacu: a. Di antara representamen. qualisigns. referent). b. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. object. rheme. dan interpretant. b.

(c) pembaca (pragmatik). Karena itu.5. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur).indeks. Kellner dalam makaryk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. (b) semestaan (mimetik). Sebagai strukturalisme. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. sebagai struktur. dan simbol. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. di lain pihak. Alasannya. 1993: 340-341. dan Faruk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. 62 . 4. termasuk karya sastra. 1993: 95-99. Teks sastra kaya dengan ikon. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. yang terpenting adalah ikon. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. dan (d) objektif (otonom). Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek.

mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Oleh karena itu. Untuk melakukan transformasi atas alam. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Menurut Marxis. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. yaitu melakukan transformasi atas alam. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 .Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya-karya kultural yang besar. 4. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. melainkan kelas sosial. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.pengertian marxis yang sudah dikemukakan.

Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Karena itu. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Karena itu. ras. dan sebagainya. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. pendidikan. seperti kelompok profesi. kelompok etnis.

melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Namun. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Dengan demikian. Hanya beberapa di antaranya.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. 4. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. dan sebagainya. Greimas.5. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Dalam pandangan strukturalisme genetik. Todorov. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. seperti strukturalisme. bersifat mimetik.

Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Struktur yang demikian. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama.semantik pula. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. menurut strukturalisme genetik. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia.

5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. yang juga berstruktur. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. 4. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.5. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Namun.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Menurut paham tersebut. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.

perkataan. demikian juga dengan wacana dan teks. bukan 72 . Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. subjek secara linguistik. predikat. atau sebaliknya.6.6 Naratologi 4. logos berarti ilmu.dialektik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. seperti model sintaksis. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. 4. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). kisah. sebagaimana hubungan antara subjek. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Narratio berarti cerita. Dengan demikian. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. hikayat. dan objek penderita. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu.

naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. semboyan. restorasi. sastra. bukan pengarang. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Setiap orang. diceritakan oleh narator. tetapi juga melalui kata-kata. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. misalnya. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya.person. Revolusi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. bukan pengarang. melainkan melalui bahasa. dan ekonomi. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. politik. dan wacana. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Pada pahan pascastruktural. dengan pertimbangan 73 . akrab dengan cerita Jaka Tarub. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik.

Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Dalam karya sastra. Dilihat dari media yang tersedia. pembaca. wacana. paling luas. tema. dan gaya bahasa. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Tanpa cerita.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. novel juga merupakan objek yang paling memadai. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. baik sebagai penulis. yaitu dunia fiksional. Dalam pembicaraan mengenai naratif. Tanpa plot. tokoh-tokoh. Di pihak lain. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Hampir keseluruhan genre sastra. dan teks. cerita sebagai tulang punggung karya. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. latar. sudut pandang. 74 . suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. kebudayaan pun tidak ada. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua.

Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Tzvetan Todorov (historie dan discours). frequensi. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. cerpen. catatan harian. Henry James (tokoh dan cerita). Shlomith Rimmon-Kenan (story. story. fabula. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. biografi. juga roman. Para pelopornya. puisi naratif. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). text. lelucon. yaitu: 1. narration). Percy Lubbock (teknik naratif). epik. Mieke Bal (fabula. mitos. interdisipliner. 1993: 110. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Secara historis. modus. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). Claude Bremond (struktur dan fungsi). Gerald 75 . gongeng. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. text). dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). dan suara). Forster (tokoh bundar dan datar).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. dan sebagainya. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). durasi. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Para pelopornya. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. termasuk feminis dan psikoanalisis.

tetapi perbuatan dan peran-perannya sama.Prince (struktur narratee).6. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). pastiche). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Menurutnya. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Marry Louise Pratt (tindak kata). Todorov. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya.6. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Jacques Derrida (dekonstruksi). LeviStrauss.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Propp 76 . sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. yaitu Propp. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.2. unit terkecil yang membentuk tema. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Roland Barthes (Kernels dan satellits). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Hayden White (wacana sejarah). Oleh karena itu. Artinya. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. 4. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Seymoeur Chatman (struktur naratif).

tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Bremond. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Menurutnya. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Di sini. (4) putri dan ayahnya. (2) donor. perbuatan. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dan Todorov. (6) pahlawan. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. dan (7) pahlawan palsu. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. (3) penolong. Dengan kalimat lain. yaitu: pelaku. yaitu: (1) penjahat. 77 . dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah).memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (5) orang yang menyuruh. persona bertindak sebagai variabel.

tabu. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.2. dan incest. Pendekatan antropologi sastra. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. seperti laki-laki perempuan. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. khususnya konsep-konsep oposisi biner.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Menurutnya. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. dan sebagainya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. Dengan kalimat lain. dan harus direkonstruksi melaluinya. misalnya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. melalui struktural. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Di satu pihak. mitos adalah naratif itu sendiri.6. dilakukan terhadap mitos Oedipus. baik secara bulat maupun fragmentasi. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. 78 .4. bumi langit.

Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi.6. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang.2. secara berdampingan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . yaitu (1) aspek sintaksis. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. dan partisipasi. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. komunikasi. meneliti tema. Oleh karena itulah. yaitu: kehendak. dan sebaliknya. sebagai hubungan makna dan perlambangan. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. berkaitan dengan makna dan lambang.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Menurutnya. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. tokoh. gaya bahasa. dan latar. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. (2) aspek semantik. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. 4. dan sebagainya. dan (4) aspek verbal. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.

Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary.6. yaitu tata bahasa naratif universal. Yang ada hanyalah subjek.antarhubungan adalah kausalitas. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. 1999: 11-13. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). 4. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Mary sebagai penerima. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. dll.2. baik sebagai pengirim maupun penerima. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Greimas (dalam Abdullah. Apel adalah sebagai objek. yaitu dongeng. kritik fenomenologis. sastra sebagai proyeksi. sosiologi sastra. tetapi diperluas pada mitos. seperti: psikologi sastra. Tidak ada subjek di balik wacana. John dan Paul juga merupakan pengirim. 80 . menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. acteurs merupakan kategori umum. studi biografi. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku.

Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. tek. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Cerita adalah bahan 81 .Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. yaitu subjek dengan objek. Sebaliknya. dan penolong dengan penentang. Oleh karena itu. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. religi. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. dan plot. struktur yang bersifat penyelenggaraan. dan struktur yang bersifat pemutusan. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. pelaku. dan ilmu sosial lainnya. Actans merupakan struktur dalam. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . sebagai model pertama. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. 82 . perangkat peristiwa. sebagai model kedua.kasar.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

5. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. Karenanya.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. sistematis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. untuk memisahkan kemenduaan. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (c) peletak dasar 86 . (2) kemenduaan arti (ambiguity). dan fungsional.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya.1.

Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (4) masalah harus dapat duji. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Ciri kedua yang menyangkut fisible. serta dana. 87 .untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. waktu. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. (3) masalah harus merupakan hal penting. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. pikiran. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Menurut Nazir (1985: 134-135). hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.

tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. mengembangkan (develop atau extention). misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Dengan demikian.1. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. dan totalitas di dalamnya. hubungan antarunsur. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Berhubungan dengan penelitian sastra. 88 .3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). rumusan hendaklah jelas dan padat 3. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. topik penelitian atau judul penelitian. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4.

1. sistematis. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut).4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. 89 . di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. lingkup masalah. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. 2001:2). berjumlah tertentu. Secara ideal. 5. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Jika rumusan masalah yang dihasilkan.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. misalnya.

Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Sebagai suatu cara pemahaman. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Dalam strukturalisme. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. baik sebagai teori maupun metode. antarhubungan. dan totalitasnya. Dalam kerangka strukturalisme. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. teori tidak harus dipahami secara kaku. Dalam uraian landasan teori. Penerimaan yang dimaksud 90 . Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. diperlukan penerimaan positif. khususnya analisis fiksi. sebagai akumulasi konsep. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. misalnya. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Teori adalah alat. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal.Dengan demikian.

teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. 5.. Sebaliknya. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.mengarah kepada keteraturan. Atau dengan kalimat lain. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data.1. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.

Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Penentuan data berdasarkan perilaku. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. demi pemahaman identitas data penelitian. Sejalan dengan uraian di atas. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. (3) kategori harus bebas dan terpisah. sistematik.(pendekatan) linguistik. pemilihan. (2) kategori harus lengkap. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. padu. Dengan kata lain. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. ciri. dsb. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. hubungan simetris 92 . dan hubungan antarunsur. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah.

(2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. 3. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. dan faktor kebetulan. 2. hubungan saling mempengaruhi. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. Sejalan dengan uraian di atas. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian.

penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. dan pengolahan data secara sistematis. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3.penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1.

padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. 5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya.dan tujuan penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.

(3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Idealnya.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah.

pengembangan penelitian sejenis. referensi yang memadai. waktu pelaksanaan. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. keinginan. keberanian. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. kepahlawanan dan petualangan.. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat.. Merujuk pada potensi teks tersebut. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Latar Belakang . apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. ciri.. dsb. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. . dana yang tersedia.1. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.

tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tampak 98 . Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. berpikir logis. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Namun demikian. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3.

Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. 4. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. latar) 3. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. keterjalinan antarunsur cerita. alur. 99 . menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. dan penelusuran tema dan amanat. struktur cerita yang terbentuk. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif.

mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. misalnya 100 .Berdasarkan upaya tersebut.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Cermati contoh berikut: 1. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Dalam hal ini .

unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. menempatkan teks secara otonom. Struktur dinamik. Paham struktural objektif. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif).menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Oleh karena itu. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). antar hubungan. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. alur. Penjabarannya menjadi. 101 .

pemilihan data. dan analisis data. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. padu. dll. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. dan menyeluruh.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. identifikasi masalah. pengolahan data. tempat. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. Dengan demikian. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. sosial).

kajian struktural naratif d. kajian struktural genetik c. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural objektif b. dan fungsional. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 .tingkat kepekaan literer.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teori. sistematis. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teoretis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan metode kajian. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. 5. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. dan metodologis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian.

Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. kurang memadai. identifikasi masalah. Uraian landasan teori tampak 104 . Berdasarkan contoh di atas. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. dan tujuan penelitian tertentu. semendetail. 2003:112).identifikasi masalah dan tujuan penelitian.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. seteliti.

Kelemahan lain. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. 5.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.

Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. menganalisis. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. unsurunsur karya. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. sifat. dan menginterpretasikan data (Winarno. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. 106 . Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). sejumlah data. sifat. Dengan demikian. mengklasifikasikan . tema. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). fenomena. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. keterjalinan unsur.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. dan amanat dapat terungkap secara tepat. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel.1. fakta. 1980: 139). menyusun.

Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan latar. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. seteliti. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. semendetail. Dalam hal ini. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. plot/alur. b dan c. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural.b. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. dan (4) tema dan amanat. penyusun UP tersebut cukup 107 . (2) struktur cerita. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.

Namun demikian. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . plot/alur.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Misalnya saja. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini.

suspense. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. kepadatan. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. seperti pengeplotan. surrise. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Pada unsur-unsur cerita lainnya. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. jumlah. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. dan sosial? c. b. Demikian pula pada pembicaraan latar. tempat. kesatupaduan) sebagai instrumen. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. d.

Adapun dalam penentuan amanat. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. Dengan demikian. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud.

Irena R.” Makalah. New York: The Norton Library. Norton & Company Inc. Pengantar Sosiologi Sastra. Toward an Aesthetic of reseption. dkk. Minneapolis: University of Minnesotta Press. S.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar.W. 2001. Luxemburg. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. ed. 1999. W. (ed. Pengantar Ilmu Sastra. Imran T. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Makaryk.” Makalah. Jakarta: Gramedia. Chamamah. Jauss.). 1999. M. “Strukturalisme-Genetik. 1987. “Sastra Lisan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1983. Iser. Jan van.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 1989. Abrams. Wlfgang. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko.) 1993. The Act of Reading. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. 1994. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.H. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Hans Robert. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.

Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.Muhadjir. Bandung: Eresco. V. Tata Sastra. Sayuti. Metodologi penelitian Kualitatif. Teori Pengkajian Fiksi. Wellek. Metode. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. 1985. Burhan. Metode Penelitian Linguistik. Kritik Sastra Indonesia Modern. Rachmat Djoko.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Fatimah Djajasudarma. 1985. Rene & Austin Warren. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 .Bhd. dkk. Morfologi Cerita Rakyat. Noeng. Jakarta: Djambatan. Sastra dan Ilmu sastra. 2002. Tzvetan. 1995. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Pradopo. Selangor: Sain Baru Sdn. 2004. 2001. “Pengantar Penelitian. 2000. Metode Penelitian. “Strukturalisme”. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. A. Yogyakarta: Gama Media Propp. 1987. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Diterjemahkan oleh Suminto A. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002. Makalah. 1993.S. Jakarta: Pustaka Jaya T. Diterjemahkan oleh Okke K. Rien T.). Segers. 1999. ed. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Zaimar. ------------------------------. Moh. Jakarta: Gramedia Wuradji. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Penelitian Sastra: Teori. Todorov. 1984. Nyoman Kutha. 19. dan Teknik. Evaluasi Teks Sastra.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful