P. 1
metode_penelitian_sastra

metode_penelitian_sastra

|Views: 2,092|Likes:
Published by mspeakers

More info:

Published by: mspeakers on Sep 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik
  • 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian
  • 2.1 Penelitian dan Ilmu
  • 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan
  • 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian
  • 2.4 Penggolongan Penelitian
  • 2.5 Metode Kualitatif
  • 2.6 Metode Deskriptif
  • 3.1 Sastra sebagai Sistem
  • 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian
  • 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra
  • 3.4.1. Pengertian Pendekatan
  • 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif
  • 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik
  • 3.4.2.4 Pendekatan Objektif
  • 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan
  • 4.2 Teori Formalisme
  • 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik
  • 4.4 Semiotik
  • 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan
  • 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif
  • 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia
  • 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial
  • 4.5.5 Metode Dialektik
  • 4.6 Naratologi
  • 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya
  • 4.6.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya
  • 4.6.2.1 Vladimir Propp
  • 4.6.2.3 Tzvetan Todorov
  • 4.6.2.4 Greimas
  • 5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian
  • 5.1.1 Latar Belakang Masalah
  • 5.1.2 Identifikasi Masalah
  • 5.1.3 Tujuan Penelitian
  • 5.1.4 Landasan Teori
  • 5.1.5 Metodologi
  • 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian
  • 5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis
  • 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode
  • DAFTAR PUSTAKA

METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

5........3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.2.......4 Greimas …………………………………………….....2..1.2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ... 83 5.6..... 5........6.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5....2.... ..........4 Landasan Teori …………………………………………… 5....1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ...........2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah... 5....3 Tujuan Penelitian ………………………………………….......... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .1.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.1...4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.1......6.1.......2 Identifikasi Masalah ………………………………………....5 Metodologi ………………………………………………… 5....... 5........4.

Selain itu. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. i . Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. hakikat. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. sastra dalam penelitian ilmiah. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. relevansi metode dan penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.

. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Agustus 2007 Penyusun ii . Dengan demikian. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.

1 Pengertian. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metode. Teknik berasal dari kata teknikos. 3. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. yang berarti alat. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. sedangkan hodos berarti jalan. melalui. atau seni menggunakan alat. mengikuti.BAB I PENDAHULUAN 1. Metodologi berasal dari methodos dan logos. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Dalam pengertian yang lebih luas. metode. Hakikat Metodologi. strategi untuk memahami realitas. cara. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . sesudah. arah. metode dianggap sebagai cara-cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. 2. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah.

artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. (2) sadar teoritik. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. dan kerangka pemikiran penelitian. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. 2 . Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. dan (3) sadar teknis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. perumusan masalah. 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula.

Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. eksplanasi dan interpretasi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. sampling. termasuk ilmu humaniora. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah.Dengan prosedur kerja yang baik. dan akhirnya menarik kesimpulan. menyusun proposal. 3 . induksi dan deduksi. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. membangun konsep dan model. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Klasifikasi. komparasi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. sama dengan teori. Sebagai alat. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. misalnya. merumuskan hipotesis dan permasalahan. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. deskripsi. mengadakan pengujian teori. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. menganalisis data. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. kuantitatif dan kualitatif. bukanlah karena perbedaan metode. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut.

dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. teknik bersifat paling kongkret. Sebagai alat. statistik. Sebagai instrumen penelitian. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. struktural. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Dengan demikian. dokumen. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. misalnya: wawancara. rekaman. dan sebagainya. jelas berbeda. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. melalui cara: 1. bahkan juga dengan teori. tetapi dasar dan cara pemahamannya. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . kuesieoner.Berbeda dengan metode. Metode sering disebutkan sebagai teknik. teknik kartu data. teknik dapat dideteksi secara inderawi. komparasi. teknik berhubungan dengan data primer. Artinya. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. angket. Metode deskripsi.

luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. 2. Tetapi sebelumnya. dan teknik. 5 . memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma.Pada pembicaraan yang berbeda. struktur disebut sebagai metode. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. metode. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. metode dapat menjadi teori. 3. teori. metodologi. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. d. 9 . Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.menerus.

kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. atau pencarian kembali atas suatu objek. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Hubungannya dengan ilmu. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. ilmu dapat hidup.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Sebagai akibatnya. dan kecerdasan yang memadai. kecermatan. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. 10 . Jadi. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu.

yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. sistematis. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Oleh karena itu pula. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. 1985: 9-15). yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah.berkembang. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Pertama. Kedua. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. practicial objective. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. scientific objective. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Dalam menghadapi masalah. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Oleh karena itu. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. terutama yang berkaitan 11 . kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata.

Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Urutan umum dari proses 12 . nalar. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. yaitu penelitian sastra. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dan sesuai dengan objeknya. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. teori-teori.dengan pemanfaatan teori dan metode. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem).

dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. fakta. emosional. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. manusia mencari tahu dan mencari makna. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. penelaahan informasi. Di samping itu. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. dan penyajian kesimpulan. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. dan spiritual. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. analisis data. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Di samping masalah yang dihadapi.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Oleh karena itu. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . pengumpulan data. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. social. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus.

Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. melakukan kegiatan penemuan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. intuasi. otoritas. kemudian melakukan proses penemuan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. atau memperkaya teori yang sudah ada. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. dan menafsirkan apa yang diamati. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. atau penelitian. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. atau pendapat umum. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. 14 . menggambarkan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. penyelidikan. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan).

Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Oleh karena itu. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Pertama. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Kedua. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Dalam hal ini. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.

2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. pengajuan hipotesis.berhubungan). pengembangan instrumen. Penelitian akan menghasilkan teori. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. serta membantu dalam menginterpretasi data. Teori dapat membantu merumuskan problem. penyusunan design. pengumpulan dan analisis data.

nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. (3) menggunakan prinsip analisis. 3. (7) menganalisis dan 17 . ilmu-ilmu humaniora. (4) merumuskan hipotesis. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. terorganisir. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. yaitu: 1. 2. komunikasi. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (5) mengumpulkan data. dan menyimpulkan. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (6) mengolah data.ilmiah. Dalam penelitian ilmiah. menganalisis. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Dalam kerja penelitian. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. menginterpretasi. (2) bebas prasangka. (3) mengadakan studi pustaka. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah.

produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. 18 . (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (9) menarik kesimpulan. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya.menginterpretasi. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan.

realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. didukung data empiris 19 . menghasilkan pengetahuan yang: a. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. d. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. sistematis 2.2. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.

2. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. 1885. dan Whitney. Ratna. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Charters. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. (bandingkan Nazir. dan Muhadjir. 2004. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. yaitu : 1. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Berdasarkan desain metodologinya. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1.2.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.

6. Macam-macam 21 . Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. content analysis. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 3. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 2. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 5. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami.

yaitu sebagai studi kultural. surat kabar. lukisan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. gambar. buku harian. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. 22 . film. Immanuel kant. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. fotografi. dan majalah. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. 2. buku teks. 2. Sejalan dengan uraian di atas. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. 2004: 47-49). Dalam ilmu sosial. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. biografi. grafik. Dalam ilmu sastra. sesuai dengan hakikat objek.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. laporan.

Menurut Whitney (dalam Nazir. suatu set kondisi. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. 4. sikap-sikap.3. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. suatu objek. 2. gambaran atau lukisan secara sistematis.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. 5. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. pandangan-pandangan. Adakalanya peneliti 23 . Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. penelitian bersifat alamiah. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian.

standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. kriteria umum: 1. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. masalah yang dirumuskan harus patut. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Metode ini dinamakan juga studi status .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey).

jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1.5. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. sifat penelitian adalah ex post facto. variabel dilihat sebagaimana adanya. B. kriteria khusus 1. 3. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2.

mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4.3. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. membuat tabulasi serta analisis (statistik). metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5.

sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. kelompok. lembaga. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. subjek penelitian dapat saja individu. 27 . Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. Dalam studi komparatif ini. maupun masyarakat. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Riffaterre. Plark. keberadaannya tidak merupakan keharusan.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Eliis. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Eagelton. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. 29 . Lotman. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. dan keagamaan. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. dan Teeuw. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. ekonomi. Menurutnya.

Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. 30 . Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. yaitu berupa bahasa. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sebagai satu sistem. Melalui sistem sastralah. secondary modelling system. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. di antaranya dari sisi bahan.

Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dalam hal ini. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. kerja yang objektif. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. dari pembaca saja. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. 3. Dengan demikian. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Dengan demikian. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. yaitu pembacanya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi.

pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri.perspektif. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Dalam hal ini. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. 32 . generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Namun. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. sejumlah peralatan diperlukan. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik.

Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Tanpa paradigma. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah.3. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. unsur dalam diri sendiri 2. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. pola. Bagi ilmuwan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. 2004: 21). unsur luar berupa lingkungan fisik 3. model. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan.

Dalam penelitian sastra. imajinasi. Selanjutnya. Di pihak lain. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Contohnya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. maka teori pun juga beraneka ragam. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah.yang relatif sama. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. 34 . Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Jadi. sebagai cara pandang. bahkan khayalan. dan sebagainya. tersistem. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Di satu pihak. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif.

Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. periode. mengkondisikan ilmuwan sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. teori. metode. Keempat faktor tersebut adalah: 1. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. khususnya sastra. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. penelitian adalah penilaian. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. faktor ontologis. keseluruhan proses penelitian. dan teknik. Paradigma dengan demikian mendahului. dalam ilmu humaniora. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. faktor metodologis. faktor aksiologis. faktor epistemologis. 35 . objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. teknik dan proses selanjutnya. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. termasuk metode. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. secara kualitatif. Pada gilirannya. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre.

demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. psikologis dan ilmu pengetahuan. psikologis. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. aliran. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Puisi. drama bersajak. Perbedaannya.generasi. latar tempat dan waktu. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. termasuk tokoh-tokoh. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. dan drama. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. dan berbagai paham yang lain. Dengan kalimat lain. novel psikologis. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. puisi. 36 . gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Keseluruhan unsur. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Novel sejarah. kecuali referensi estetisnya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. novel. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya.

yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis.1. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. 2004: 5355). menganalisis. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. dan menyajikan data.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. pendekatan berasal dari kata appropio. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. 3. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.4. approach. 37 . Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Lebih lanjut.4 Pendekatan Sastra 3. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. yaitu metode dan teknik. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan.

seperti pendekatan sosiologi sastra. intrinsik dan ekstrinsik. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. mitopoik. 38 . Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. pendekatan objektif. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. (3) pendekatan pragmatik. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. 3. dan (4) pendekatan objektif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. metode. Dalam hubungan inilah. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. mimetik.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. dasarnya. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. dan tekniknya.4. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. pragmatik. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Artinya. (2) pendekatan mimesis. teori. ekspresif. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.dan sebagainya.

nasionalisme. Secara metodis. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. pikiran-pikiran. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. feminisme. pikiran dan perasaan. ucapan. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. dan 39 . dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan.3. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. komunisme. (3) produk pandangan dunia pengarang. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. dan hasil-hasil karyanya.2.4. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. persepsi. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi.

dan sebagainya Luxemberg. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. 40 . 3. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). sesuai tujuan. dan (4) membicarakan secara menyeluruh.4. (2) memetakan sejumlah pikiran. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. pikiran. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.2. bentuk-bentuk kemasyarakatan. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. 1989:15). perasaan. persepsi. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. dan ideologi pengarang. 1958:8). pengalaman hidup. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. pengalaman. Melalui pandangan ini. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan.

Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Menurutnya. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Segers (2000. tetapi penekanannya berbeda. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. suatu produk akhir. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Secara terminologis. suatu proses. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Tiruan. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Menurut Baxter. suatu copy. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . menyiratkan sesuatu yang statis.

Oleh karena itu. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Secara metodis. 42 . misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Melalui penjabaran di atas. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. sesuai tujuan. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan.. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. dsb. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama.

2. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Pembaca dalam 43 . Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. menafsirkan. Menurutnya.3. dan memahami karya sastra. menikmati. Dalam uraiannya. Menurutnya.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. pembacalah yang menilai. (2) penerapan praktis estetika resepsi.4. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.

(2) horison harapan. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (3) nilai estetik. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . (4) semangat zaman. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Dalam hal ini. dan (7) sejarah umum. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika.

Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Dengan kondisi tersebut. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya.informasi. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Teori menuntut 45 . Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya.

Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Fungsi sosial sastra 46 . Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. satirik. diidealkan.

dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. literary repertoire. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. pembaca. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . rol. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Konsep dialektika respon estetik (Iser. dan interaksinya. historis. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan literary strategies Implied reader merupakan model. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Konsekuansinya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. 1987: 20 dan 54). Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial.

langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. politis. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. termasuk biografi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. 3. sosiologis. seperti aspekhistoris. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Oleh karena itulah. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. 48 .2. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan.4. antarhubungan. Dengan demikian. dan totalitas. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.

dan sarana cerita (pusat pengisahan. Adapun terhadap prosa. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. 49 . Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma.). gaya bahasa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. fakta cerita (tokoh. konflik. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Secara metodologis. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. alur.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. dan latar). dll. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik.

50 . unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya.Pada analisis prosa.

1999: 1-9. 1995: 4-12. 1978: 17-18. 1984: 120139). mekanisme sendiri. Selain itu. dan Teeuw. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. apabila suatu bagian dihilangkan.BAB IV STRUKTURALISME 4. melainkan rusak sama sekali. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Faruk: 1994: 17-18. terlepas dari 51 . tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Artinya. melainkan kualitatif. Faruk.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Hawkes.

Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. transformatif. Formalisme di Rusia. sesuatu yang berstruktur. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. mengembangkan. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. antarhubungan merupakan energi. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Artinya. Sebagai kualitas totalitas. Aliran Kritik Baru di Amerika. dan self-regulatif. Dengan kata lain. sesuatu yang utuh.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. motivator terjadinya gejala baru. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Karena itu. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. otonom. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. mekanisme yang baru. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti.

53 . Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. plot. Karya tidak dapat diisolasi. Namun demikian. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Analisis terhadap penokohan. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.sebagai sistem komunikasi. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. misalnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Sejalan dengan uraian di atas. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Dengan kata lain. Di pihak lain. suatu masyarakat. seperti kejadian. latar. dan sebagainya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme.

Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Metode yang digunakan metode formal.4. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. dan sebagainya. asosiasi. Meskipun demikian. sosiologi. yaitu: 1. dan psikologi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Dengan jalan demikian. oposisi. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. reaksi terhadap studi biografis 2. 1985: 128-13. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. puitika. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah.

Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. Oleh karena itulah. fakta semiotik.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. masyarakat yang menghasilkannya. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. Pradopo 2002: 46. dan (3) sebagai teori. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Menurutnya.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. dan Ratna. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. dan pembaca sebagai penerima. terdiri atas tanda. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. (2) sebagai metode. dan nilai-nilai. Muhadjir. 55 . Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. 1985: 185-192. karya sastra adalah proses komunikasi. 2003: 88-96. 4. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. struktur. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. 2002: 304).) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. melahirkan strukturalisme.

Unsurunsur prosa. dialog. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. dan gaya bahasa. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. sudut pandang. tujuan analisis di lain pihak. latar atau setting. peristiwa atau kejadian. Artinya. dan gaya bahasa. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. rima atau persajakan. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. puisi. nada. diksi atau pilihan kata. peristiwa. ritme atau irama. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . alur. Prosa. dan enjambemen. penokohan. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. imajinasi. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. simbol. stilistika. alur.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. penokohan. misalnya mengarah pada tema. latar. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Unsur-unsur puisi. di antaranya tema. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global.

Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Dalam hubungan ini.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. dan pendengar. karya sastra. yaitu pencerita. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). 57 . Jadi. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. tidak semau-maunya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya.

yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. pengertian tanda ada dua prinsip. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. 1993: 183-189). indeks. dan simbol. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. yaitu persamaan dan sebab akibat.4. Dalam lapangan semiotik. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Stout (dalam Makaryk.4 Semiotik Secara padat Dolezel. latar belakang sejarah pertumbuhannya. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Ada tiga jenis tanda yang pokok. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. arti bahasa dalam 58 . Menurutnya. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. yang merupakan bentuk tanda. antara penanda dan petanda. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yaitu ikon. aliran semiotik.

perasaan. suasana. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Dalam kaya sastra. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. daya liris.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. intensitas. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Jadi. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. arti tambahan (konotasi). yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Dalam sistem semiotik. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Berhubungan dengan hal ini. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa.

diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. dan (3) pragmatik semiotik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. terdapat (1) sintaksis semiotika. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. termasuk sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Sejalan dengan paham triadik peircean. Dilihat dari segi cara kerjanya. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Menurut pandangan intertektualitas. (2) semantik semiotik. atau yang lain. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik.

b. legisigns. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. ikon. 2. type. 2004: 102) di antara ikon. sinsigns. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. b. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. dan interpretant. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. b. 61 . hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. c. denotatum. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. Di antara representamen. simbol. interpretant. c. argument. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. c. yaitu apa yang diacu: a. dicent signs. referent). qualisigns. representamen. tokens. rheme. Menurut Aart van Zoet (Ratna. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas.1. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. object (designatum. ground. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. yang paling sering diulas adalah object. object.

(c) pembaca (pragmatik).5. 1993: 95-99. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. yaitu (a) pengarang (ekspresif). sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. yang terpenting adalah ikon. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. Teks sastra kaya dengan ikon. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Alasannya. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu.indeks. dan simbol. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. (b) semestaan (mimetik). dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. dan (d) objektif (otonom). Kellner dalam makaryk. dan Faruk. Sebagai strukturalisme. Karena itu. 1993: 340-341. 62 . termasuk karya sastra. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. di lain pihak. 4. sebagai struktur.

Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Menurut Marxis. Oleh karena itu. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Untuk melakukan transformasi atas alam. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. yaitu melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

4. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. melainkan kelas sosial. Karena itu. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Karya-karya kultural yang besar. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.

Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. pendidikan. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Dalam pengertian strukturalisme genetik. kelompok etnis. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. ras. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . dan sebagainya. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Karena itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. seperti kelompok profesi. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar.

terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Todorov. 4. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . dan sebagainya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.5. bersifat mimetik. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. seperti strukturalisme. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Dengan demikian. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Hanya beberapa di antaranya. Namun. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Greimas. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Dalam pandangan strukturalisme genetik.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan.

Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. menurut strukturalisme genetik. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik.semantik pula. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Struktur yang demikian. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis.

yang juga berstruktur. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. 4. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Namun. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Menurut paham tersebut.5.

Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Dengan demikian. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. perkataan. logos berarti ilmu. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. sebagaimana hubungan antara subjek.6.6 Naratologi 4. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna.dialektik. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. subjek secara linguistik. seperti model sintaksis. 4. bukan 72 . Narratio berarti cerita. predikat. kisah. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. demikian juga dengan wacana dan teks. dan objek penderita. atau sebaliknya. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. hikayat.

dan ekonomi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. dan wacana. bukan pengarang. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. diceritakan oleh narator. Revolusi. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. melainkan melalui bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. misalnya. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. politik. restorasi. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. semboyan. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Setiap orang. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. dengan pertimbangan 73 .person. sastra. bukan pengarang. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Pada pahan pascastruktural. tetapi juga melalui kata-kata. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. analisis naratif merupakan bagian ideologi. akrab dengan cerita Jaka Tarub. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia.

Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. dan gaya bahasa.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. 74 . suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. Hampir keseluruhan genre sastra. Tanpa cerita. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. yaitu dunia fiksional. Dalam pembicaraan mengenai naratif. tokoh-tokoh. tema. dan teks. Dilihat dari media yang tersedia. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Dalam karya sastra. kebudayaan pun tidak ada. latar. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. sudut pandang. pembaca. paling luas. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Tanpa plot. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. baik sebagai penulis. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. cerita sebagai tulang punggung karya. novel juga merupakan objek yang paling memadai. wacana. Di pihak lain. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya.

Percy Lubbock (teknik naratif).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). catatan harian. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). fabula. lelucon. Secara historis. Para pelopornya. modus. mitos. 1993: 110. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Tzvetan Todorov (historie dan discours). Mieke Bal (fabula. narration). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Para pelopornya. Gerald 75 . text). story. Claude Bremond (struktur dan fungsi). dan sebagainya. yaitu: 1. epik. juga roman. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Shlomith Rimmon-Kenan (story. Henry James (tokoh dan cerita). periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). dan suara). termasuk feminis dan psikoanalisis. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. biografi.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). durasi. text. gongeng. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. cerpen. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. puisi naratif. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. frequensi. Forster (tokoh bundar dan datar). interdisipliner.

Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Oleh karena itu. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya.6. Todorov. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Hayden White (wacana sejarah). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Artinya. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Jonathan Culler (kompetensi sastra).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Propp 76 . pastiche).Prince (struktur narratee). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi.2. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. LeviStrauss. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). unit terkecil yang membentuk tema. Menurutnya. Marry Louise Pratt (tindak kata). Jacques Derrida (dekonstruksi).6. yaitu Propp. 4. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.

Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. persona bertindak sebagai variabel. (2) donor. perbuatan. Bremond. dan Todorov. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. (4) putri dan ayahnya.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). dan (7) pahlawan palsu. (6) pahlawan. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. yaitu: pelaku. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Dengan kalimat lain. Menurutnya. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (3) penolong. Di sini. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. yaitu: (1) penjahat. (5) orang yang menyuruh. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. 77 . Motif dibedakan menjadi tiga macam.

seperti laki-laki perempuan. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain.4. Dengan kalimat lain. baik secara bulat maupun fragmentasi. mitos adalah naratif itu sendiri.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Di satu pihak. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Pendekatan antropologi sastra. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. melalui struktural. 78 . dan incest. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Menurutnya.6. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. dilakukan terhadap mitos Oedipus. khususnya konsep-konsep oposisi biner. misalnya. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.2. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. dan harus direkonstruksi melaluinya. tabu. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dan sebagainya. bumi langit.

2. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. dan sebaliknya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. yaitu (1) aspek sintaksis. dan latar. Oleh karena itulah. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . secara berdampingan. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Menurutnya. 4. komunikasi. yaitu: kehendak. dan sebagainya. dan partisipasi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. berkaitan dengan makna dan lambang. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. meneliti tema. tokoh. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. dan (4) aspek verbal. sebagai hubungan makna dan perlambangan. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis.6. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. gaya bahasa. (2) aspek semantik. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana.

Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Apel adalah sebagai objek. John dan Paul juga merupakan pengirim. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans.6. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Greimas (dalam Abdullah. yaitu tata bahasa naratif universal. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama.antarhubungan adalah kausalitas. 80 . Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. yaitu dongeng.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Yang ada hanyalah subjek. 4. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. tetapi diperluas pada mitos. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). acteurs merupakan kategori umum. baik sebagai pengirim maupun penerima. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. kritik fenomenologis. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. dll.2. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Tidak ada subjek di balik wacana. Mary sebagai penerima. seperti: psikologi sastra. sosiologi sastra. sastra sebagai proyeksi. 1999: 11-13. studi biografi. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi.

artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan plot. yaitu subjek dengan objek. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. dan struktur yang bersifat pemutusan. pelaku. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Actans merupakan struktur dalam. dan ilmu sosial lainnya. tek. Sebaliknya. Cerita adalah bahan 81 . dan penolong dengan penentang. Oleh karena itu. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. religi.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . sebagai model kedua.kasar. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. 82 . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model pertama. perangkat peristiwa. seperti ringkasan cerita atau sinopsis.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

1. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. dan fungsional. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. Karenanya. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. dan (c) peletak dasar 86 .dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. untuk memisahkan kemenduaan.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. (2) kemenduaan arti (ambiguity). 5. sistematis.

Menurut Nazir (1985: 134-135). ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. serta dana. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. 87 . (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. pikiran. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. (3) masalah harus merupakan hal penting. (4) masalah harus dapat duji. waktu. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti.

maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. Berhubungan dengan penelitian sastra.1. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. dan totalitas di dalamnya. hubungan antarunsur. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Dengan demikian. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore).Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. 88 . topik penelitian atau judul penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. mengembangkan (develop atau extention). masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra.

disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. misalnya. 89 . lingkup masalah. sistematis.1. 5. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. 2001:2).4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan).Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Secara ideal. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. berjumlah tertentu. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo.

Dalam strukturalisme. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. misalnya. dan totalitasnya. sebagai akumulasi konsep. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Dalam kerangka strukturalisme. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain.Dengan demikian. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. teori tidak harus dipahami secara kaku. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. baik sebagai teori maupun metode. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Sebagai suatu cara pemahaman. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Teori adalah alat. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Dalam uraian landasan teori. khususnya analisis fiksi. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. antarhubungan. diperlukan penerimaan positif.

Sebaliknya. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .1. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Atau dengan kalimat lain. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu.mengarah kepada keteraturan. 5. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.

padu. dsb. ciri. sistematik. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. hubungan simetris 92 . dan pengolahan data secara tepat dan memadai. (2) kategori harus lengkap. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. (3) kategori harus bebas dan terpisah. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Penentuan data berdasarkan perilaku. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. Dengan kata lain. demi pemahaman identitas data penelitian. dan hubungan antarunsur. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Sejalan dengan uraian di atas. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian.(pendekatan) linguistik. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. pemilihan.

Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . Sejalan dengan uraian di atas. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. dan faktor kebetulan. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. 3. 2. hubungan saling mempengaruhi. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya.

Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. dan pengolahan data secara sistematis. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. pemilahan.penelitiannya. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemilahan.

serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. 5. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya.dan tujuan penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra).

Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Idealnya. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan.

waktu pelaksanaan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. dana yang tersedia. ciri. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. pengembangan penelitian sejenis. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat.. . Latar Belakang . kepahlawanan dan petualangan.. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. dsb. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian.. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. keinginan. referensi yang memadai. Merujuk pada potensi teks tersebut. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.1. keberanian..

termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tampak 98 .fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. berpikir logis. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. 2. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Namun demikian. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.

alur. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. 99 . latar) 3. dan penelusuran tema dan amanat. 4. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. keterjalinan antarunsur cerita. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. struktur cerita yang terbentuk. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya.

Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Cermati contoh berikut: 1. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah.Berdasarkan upaya tersebut. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. misalnya 100 . 5. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Dalam hal ini .

Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. menempatkan teks secara otonom. Oleh karena itu. antar hubungan. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. alur. 101 . antara struktur naratif karya sastra dan naratornya.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Struktur dinamik. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Penjabarannya menjadi. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Paham struktural objektif. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik.

dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 .(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. dll. tempat. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. sosial). pengolahan data. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. pemilihan data. padu. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dan menyeluruh. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. dan analisis data. identifikasi masalah. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. Dengan demikian. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja.

4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan fungsional. kajian struktural genetik c. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . 5. teoretis. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan metodologis. teori.tingkat kepekaan literer. kajian struktural naratif d. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. pada langkah penyusunan Landasan Teori. sistematis. dan metode kajian. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural objektif b. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian.

seteliti. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Berdasarkan contoh di atas. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. identifikasi masalah. kurang memadai. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Uraian landasan teori tampak 104 . Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. dan tujuan penelitian tertentu. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. semendetail. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. 2003:112). Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural.

Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. 5. Kelemahan lain.

dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. Dengan demikian.1. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). sifat. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. sifat. 1980: 139). menganalisis. mengklasifikasikan . dan menginterpretasikan data (Winarno. unsurunsur karya. menyusun. 106 . dan amanat dapat terungkap secara tepat. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. tema. fakta. fenomena. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. sejumlah data. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. keterjalinan unsur. Mengacu kepada definisi metode deskriptif.

semendetail. dan latar. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. plot/alur. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Dalam hal ini. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. penyusun UP tersebut cukup 107 . seteliti. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel.b. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (2) struktur cerita. dan (4) tema dan amanat. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. b dan c. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1.

Kekuarang yang dimaksud adalah: a. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Namun demikian. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. plot/alur. Misalnya saja.

tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. b. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. tempat. d. surrise. seperti pengeplotan. Demikian pula pada pembicaraan latar. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. suspense. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. dan sosial? c. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. jumlah. kepadatan. Pada unsur-unsur cerita lainnya. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . kesatupaduan) sebagai instrumen. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis.

Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Adapun dalam penentuan amanat. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. Dengan demikian.

1989.). Toward an Aesthetic of reseption. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Irena R. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Pengantar Sosiologi Sastra. Hans Robert. Minneapolis: University of Minnesotta Press. “Strukturalisme-Genetik. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1999. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. dkk. 1987. Makaryk. W. 2001. Jakarta: Gramedia. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. New York: The Norton Library. (ed. Wlfgang.H. S.W. Pengantar Ilmu Sastra. Jan van.) 1993.” Makalah. Abrams. Luxemburg. The Act of Reading. M. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition.” Makalah.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Imran T. Chamamah. 1983. Jauss. “Sastra Lisan. 1999. Norton & Company Inc. 1994. Iser. ed.

Metode Penelitian. Segers. Makalah. ------------------------------. 1987. Noeng. 1999. Jakarta: Gramedia Wuradji. 1985. A. Selangor: Sain Baru Sdn. 1984. Wellek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan Teknik. Todorov. 2002. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Penelitian Sastra: Teori. Metode Penelitian Linguistik. Yogyakarta: Gama Media Propp. Rachmat Djoko. Rien T. 2001. Jakarta: Pustaka Jaya T. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. V. Tzvetan. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. 1993. Tata Sastra. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Metode.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 19. Nyoman Kutha. Metodologi penelitian Kualitatif.Muhadjir. Jakarta: Djambatan. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Fatimah Djajasudarma. Moh. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Zaimar. Rene & Austin Warren. 1995. 2000. Sastra dan Ilmu sastra.S. Teori Pengkajian Fiksi. “Strukturalisme”. Morfologi Cerita Rakyat. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Pradopo. dkk. Burhan. “Pengantar Penelitian. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 2002. Diterjemahkan oleh Okke K. Bandung: Eresco. 1985.Bhd. 2004. ed.). Kritik Sastra Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Suminto A. Sayuti.

114 .

115 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->