metode_penelitian_sastra

METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

...2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.4 Greimas ……………………………………………...4 Landasan Teori …………………………………………… 5.....6...... 83 5..1.2...3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.6..... 5....5 Metodologi ………………………………………………… 5................ ....3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.....1.....6..1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ........1.....2... 5...3 Tujuan Penelitian …………………………………………...4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5... 5.......2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.....1.4..5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ..2 Identifikasi Masalah ……………………………………….....2... 5.....1. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .........1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5...

i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Selain itu. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. relevansi metode dan penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. hakikat. sastra dalam penelitian ilmiah. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai.

Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Agustus 2007 Penyusun ii .Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. teori. Dengan demikian. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.

melalui. yang berarti alat. arah. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. metode dianggap sebagai cara-cara. Metode. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. 3. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metodologi berasal dari methodos dan logos. Hakikat Metodologi. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. sedangkan hodos berarti jalan.BAB I PENDAHULUAN 1. strategi untuk memahami realitas. atau seni menggunakan alat. 2. Dalam pengertian yang lebih luas. mengikuti. sesudah. Teknik berasal dari kata teknikos. cara. metode. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi.1 Pengertian. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian.

Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. perumusan masalah. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. 1. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. (2) sadar teoritik. dan kerangka pemikiran penelitian. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. dan (3) sadar teknis. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. 2 .2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran.

Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. termasuk ilmu humaniora. dan akhirnya menarik kesimpulan. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. misalnya. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. membangun konsep dan model. kuantitatif dan kualitatif. sama dengan teori. Sebagai alat. merumuskan hipotesis dan permasalahan.Dengan prosedur kerja yang baik. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. menganalisis data. 3 . komparasi. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. menyusun proposal. eksplanasi dan interpretasi. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. deskripsi. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. mengadakan pengujian teori. Klasifikasi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. bukanlah karena perbedaan metode. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. sampling. induksi dan deduksi.

Sebagai instrumen penelitian. Dengan demikian. dan sebagainya. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. kuesieoner. rekaman. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. teknik kartu data. teknik dapat dideteksi secara inderawi. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Sebagai alat. Metode deskripsi. tetapi dasar dan cara pemahamannya. misalnya: wawancara. Artinya. jelas berbeda. struktural. melalui cara: 1. teknik bersifat paling kongkret. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . bahkan juga dengan teori. angket. statistik.Berbeda dengan metode. teknik berhubungan dengan data primer. Metode sering disebutkan sebagai teknik. komparasi. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. dokumen. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan.

metodologi. 2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. struktur disebut sebagai metode. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. metode. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. metode dapat menjadi teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Tetapi sebelumnya. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. teori. 5 . 3. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau.Pada pembicaraan yang berbeda. dan teknik. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Jadi.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

yaitu sintesis itu sendiri.menerus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. 9 . misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. d.

Jadi. Sebagai akibatnya. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. 10 . Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. atau pencarian kembali atas suatu objek. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. ilmu dapat hidup. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. kecermatan. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. dan kecerdasan yang memadai.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Hubungannya dengan ilmu. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2.

Pertama.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. scientific objective. Dalam menghadapi masalah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda.berkembang. Oleh karena itu pula. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Oleh karena itu. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. sistematis. Kedua. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. practicial objective. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. terutama yang berkaitan 11 . penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. 1985: 9-15). upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi.

inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. yaitu penelitian sastra. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. dan sesuai dengan objeknya.dengan pemanfaatan teori dan metode. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). teori-teori. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Urutan umum dari proses 12 . Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). nalar. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.

Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. dan spiritual. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. pengumpulan data. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Oleh karena itu. Di samping itu. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. manusia mencari tahu dan mencari makna. penelaahan informasi. social. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Di samping masalah yang dihadapi. dan penyajian kesimpulan. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. analisis data. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. emosional. fakta.

penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). dan menafsirkan apa yang diamati. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. penyelidikan. otoritas. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. atau memperkaya teori yang sudah ada. melakukan kegiatan penemuan. kemudian melakukan proses penemuan. 14 . menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. menggambarkan. atau pendapat umum. atau penelitian. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. intuasi. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi.

Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Oleh karena itu. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Dalam hal ini. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Pertama. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Kedua. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua.

rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. serta membantu dalam menginterpretasi data. pengembangan instrumen. Teori dapat membantu merumuskan problem. Penelitian akan menghasilkan teori. pengumpulan dan analisis data.berhubungan). yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. penyusunan design. pengajuan hipotesis. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian.

2. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Dalam kerja penelitian. komunikasi. (7) menganalisis dan 17 . (4) merumuskan hipotesis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok.ilmiah. terorganisir. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. 3. (6) mengolah data. (2) bebas prasangka. menginterpretasi. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (3) mengadakan studi pustaka. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. menganalisis. dan menyimpulkan. yaitu: 1. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. Dalam penelitian ilmiah. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (3) menggunakan prinsip analisis. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. dituntut langkah-langkah berturut-turut. ilmu-ilmu humaniora. (5) mengumpulkan data.

Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian.menginterpretasi. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. 18 . Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (9) menarik kesimpulan. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya.

3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. didukung data empiris 19 . sistematis 2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. menghasilkan pengetahuan yang: a. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.2. d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.

Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). dan Muhadjir. yaitu : 1. Berdasarkan desain metodologinya.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Charters. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis.2. Ratna. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. (bandingkan Nazir. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 2. 1885. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2004. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. dan Whitney. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak.

Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. content analysis. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Macam-macam 21 . Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 4. ethnography merupakan pendekatan penelitian. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 2. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. 3.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 6. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 5. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik.

sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. Sejalan dengan uraian di atas. buku harian. yaitu sebagai studi kultural. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. 2004: 47-49). 2. fotografi. surat kabar. Dalam ilmu sosial. gambar. biografi. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . buku teks. dan majalah. sesuai dengan hakikat objek. 22 . lukisan. Dalam ilmu sastra. 2.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. grafik. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. film. Immanuel kant. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. laporan.

serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. sikap-sikap. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Menurut Whitney (dalam Nazir. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. pandangan-pandangan. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. 2. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. gambaran atau lukisan secara sistematis. penelitian bersifat alamiah. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.3. 5. Adakalanya peneliti 23 .6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. 4. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. suatu objek. suatu set kondisi.

kriteria umum: 1. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Metode ini dinamakan juga studi status . Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. masalah yang dirumuskan harus patut. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

3. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. B. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. sifat penelitian adalah ex post facto. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. variabel dilihat sebagaimana adanya.5. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . kriteria khusus 1. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2.

menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. membuat tabulasi serta analisis (statistik). dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 .3. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8.

metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga. kelompok. Dalam studi komparatif ini. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. maupun masyarakat.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. 27 . subjek penelitian dapat saja individu. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. ekonomi. dan Teeuw. Menurutnya. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Eagelton. 29 . dan keagamaan. Eliis. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Riffaterre. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Lotman. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Plark. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.

yaitu berupa bahasa. secondary modelling system.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sebagai satu sistem. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Melalui sistem sastralah. 30 . Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. di antaranya dari sisi bahan. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan.

Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. yaitu pembacanya. 3. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. kerja yang objektif. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Dengan demikian. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. dari pembaca saja. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Dalam hal ini. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 .

seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. 32 . pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Dalam hal ini. Namun. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. sejumlah peralatan diperlukan. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah.perspektif. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur.

3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. 2004: 21). paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. pola. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .3. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. unsur dalam diri sendiri 2. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Tanpa paradigma. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Bagi ilmuwan. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. model. sebagai berikut: 1.

dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. 34 . penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah.yang relatif sama. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. dan sebagainya. tersistem. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Di satu pihak. Contohnya. Selanjutnya. maka teori pun juga beraneka ragam. bahkan khayalan. Di pihak lain. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Jadi. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. sebagai cara pandang. Dalam penelitian sastra. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. imajinasi.

faktor ontologis. dan teknik. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. khususnya sastra. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. faktor epistemologis. mengkondisikan ilmuwan sastra. faktor metodologis. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. dalam ilmu humaniora. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. keseluruhan proses penelitian. penelitian adalah penilaian. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Pada gilirannya. periode. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. Paradigma dengan demikian mendahului. faktor aksiologis. 35 . berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. termasuk metode. teori. Keempat faktor tersebut adalah: 1. metode. teknik dan proses selanjutnya. secara kualitatif.

Dengan kalimat lain. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. novel psikologis. aliran. puisi. Perbedaannya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. drama bersajak. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut.generasi. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Puisi. dan drama. dan berbagai paham yang lain. novel. kecuali referensi estetisnya. Keseluruhan unsur. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. 36 . psikologis dan ilmu pengetahuan. psikologis. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. termasuk tokoh-tokoh. latar tempat dan waktu. Novel sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya.

4 Pendekatan Sastra 3.1.4. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. menganalisis. 2004: 5355). maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Lebih lanjut. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. 3. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. dan menyajikan data. approach. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. 37 . yaitu metode dan teknik. pendekatan berasal dari kata appropio. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.

dan tekniknya. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. teori. mimetik. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. (3) pendekatan pragmatik. Dalam hubungan inilah. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu.4. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. (2) pendekatan mimesis. metode. Artinya. 38 . Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. mitopoik. 3. dasarnya. pendekatan objektif. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme.dan sebagainya. seperti pendekatan sosiologi sastra. dan (4) pendekatan objektif. intrinsik dan ekstrinsik. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. ekspresif. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. pragmatik.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori.

Secara metodis. nasionalisme.2. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. persepsi. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan.3. dan hasil-hasil karyanya.4. ucapan. feminisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran dan perasaan. pikiran-pikiran. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan 39 . dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. (3) produk pandangan dunia pengarang. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. komunisme. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya.

dan (4) membicarakan secara menyeluruh. 3. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. 40 . (2) memetakan sejumlah pikiran. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. bentuk-bentuk kemasyarakatan. 1989:15). dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. pengalaman hidup. Melalui pandangan ini. dan sebagainya Luxemberg. perasaan. dan ideologi pengarang. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya.4. pengalaman. pikiran. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. sesuai tujuan. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. persepsi. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak.2. 1958:8).

1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. suatu produk akhir. Menurutnya. Segers (2000. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . tetapi penekanannya berbeda. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan".Sehubungan dengan pendekatan mimesis. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. menyiratkan sesuatu yang statis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Secara terminologis. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Menurut Baxter. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. suatu proses. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu copy. Tiruan.

dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Secara metodis. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. 42 . dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi.. dsb. Oleh karena itu. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. sesuai tujuan. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. Melalui penjabaran di atas.

baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca.2.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pembaca dalam 43 . Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Menurutnya. dan memahami karya sastra. Dalam uraiannya. menikmati.3. pembacalah yang menilai. menafsirkan.4. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama.

dan (7) sejarah umum. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (4) semangat zaman. (2) horison harapan. (5) rangkaian sastra. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Baru dalam kaitannya dengan pembaca. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (3) nilai estetik. Dalam hal ini.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal.

Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Dengan kondisi tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Perihal semangat zaman. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori menuntut 45 .informasi. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.

diidealkan. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Fungsi sosial sastra 46 . Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. satirik. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru.

literary repertoire. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. dan literary strategies Implied reader merupakan model. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. 1987: 20 dan 54). Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. pembaca. dan interaksinya. rol. Konsep dialektika respon estetik (Iser. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsekuansinya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. historis. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.

antarhubungan. termasuk biografi. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.2. seperti aspekhistoris. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Oleh karena itulah. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. 3. politis. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. dan totalitas. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Dengan demikian.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams.4. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. 48 . Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. sosiologis. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.

Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Adapun terhadap prosa. fakta cerita (tokoh. alur. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Secara metodologis. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. dll. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan sarana cerita (pusat pengisahan. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. dan latar). Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema.). Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. gaya bahasa. konflik. 49 . Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. 50 .Pada analisis prosa.

Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. mekanisme sendiri. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. melainkan kualitatif. terlepas dari 51 . bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Selain itu. Artinya. 1999: 1-9. Hawkes. dan Faruk: 1994: 17-18. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Faruk. melainkan rusak sama sekali. 1978: 17-18. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. 1995: 4-12. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. 1984: 120139). Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. dan Teeuw. apabila suatu bagian dihilangkan.BAB IV STRUKTURALISME 4. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.

dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Formalisme di Rusia. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. sesuatu yang utuh. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Karena itu. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Dengan kata lain. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. antarhubungan merupakan energi. transformatif. motivator terjadinya gejala baru. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. sesuatu yang berstruktur. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Artinya. Sebagai kualitas totalitas. Aliran Kritik Baru di Amerika. dan self-regulatif. mengembangkan. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. otonom. mekanisme yang baru. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar.

dan sebagainya. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. seperti kejadian. Analisis terhadap penokohan. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Dengan kata lain. 53 . penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. misalnya. latar. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Sejalan dengan uraian di atas. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Di pihak lain. suatu masyarakat. plot. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Namun demikian.sebagai sistem komunikasi. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Karya tidak dapat diisolasi. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.

Metode yang digunakan metode formal.4. reaksi terhadap studi biografis 2. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. 1985: 128-13. puitika. dan psikologi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Dengan jalan demikian. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. oposisi.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Meskipun demikian. Sebagai teori modern mengenai sastra. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. dan sebagainya. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. sosiologi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . asosiasi. yaitu: 1.

tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. 55 . Oleh karena itulah. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. masyarakat yang menghasilkannya. karya sastra adalah proses komunikasi. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. dan nilai-nilai.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. Muhadjir. (2) sebagai metode. 2002: 304). Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 4. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. dan pembaca sebagai penerima. struktur. dan Ratna. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. melahirkan strukturalisme. terdiri atas tanda. 1985: 185-192. Pradopo 2002: 46. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan (3) sebagai teori. Menurutnya. fakta semiotik. 2003: 88-96.

alur. Unsurunsur prosa. dan enjambemen. peristiwa. Prosa. imajinasi. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. diksi atau pilihan kata. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. tujuan analisis di lain pihak. puisi. nada. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. misalnya mengarah pada tema. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. penokohan. alur. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. penokohan. Unsur-unsur puisi. peristiwa atau kejadian. latar. dan gaya bahasa. dialog. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . simbol. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. rima atau persajakan. di antaranya tema. latar atau setting. stilistika. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. ritme atau irama. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Artinya. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. sudut pandang.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. puisi. dan gaya bahasa.

tidak semau-maunya. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. 57 . dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Jadi. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). dan pendengar. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. yaitu pencerita. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. tidak bertambah dalam penelitian pustaka.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Dalam hubungan ini. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. karya sastra. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda.

antara penanda dan petanda. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Ada tiga jenis tanda yang pokok. aliran semiotik. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. yaitu persamaan dan sebab akibat. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Stout (dalam Makaryk. dan simbol. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Menurutnya.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). 1993: 183-189). arti bahasa dalam 58 . Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa.4. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yang merupakan bentuk tanda. Dalam lapangan semiotik. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. latar belakang sejarah pertumbuhannya. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. indeks. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. pengertian tanda ada dua prinsip. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. yaitu ikon.

sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. perasaan. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. intensitas. suasana. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Dalam kaya sastra. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Jadi. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Dalam sistem semiotik. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. arti tambahan (konotasi). daya liris. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Berhubungan dengan hal ini. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .

sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Menurut pandangan intertektualitas. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. terdapat (1) sintaksis semiotika. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. dan (3) pragmatik semiotik. (2) semantik semiotik. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Dilihat dari segi cara kerjanya. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. atau yang lain. Sejalan dengan paham triadik peircean. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . termasuk sastra. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain.

yaitu apa yang diacu: a. b. Menurut Aart van Zoet (Ratna. c. argument. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. legisigns. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. dan interpretant. qualisigns. c. interpretant. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. denotatum. simbol. type. c. ground. b. ikon. rheme. yang paling sering diulas adalah object. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. 61 . tokens. 2004: 102) di antara ikon. sinsigns. representamen. b.1. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. object. object (designatum. referent). tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. 2. dicent signs. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. Di antara representamen.

indeks. dan simbol. (c) pembaca (pragmatik). dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). Sebagai strukturalisme. Kellner dalam makaryk. 4. di lain pihak. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. yang terpenting adalah ikon. 1993: 95-99. 62 . maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. sebagai struktur. yaitu (a) pengarang (ekspresif). termasuk karya sastra. dan Faruk. (b) semestaan (mimetik). strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini.5. Alasannya. dan (d) objektif (otonom). sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. 1993: 340-341. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. Teks sastra kaya dengan ikon. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Karena itu.

Untuk melakukan transformasi atas alam. Menurut Marxis. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Oleh karena itu. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. yaitu melakukan transformasi atas alam. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Karena itu. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. melainkan kelas sosial. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. 4.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Karya-karya kultural yang besar.5. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.

karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. ras. pendidikan. Karena itu. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. kelompok etnis. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. dan sebagainya. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Karena itu. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. seperti kelompok profesi. Dalam pengertian strukturalisme genetik. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain.

4. Hanya beberapa di antaranya. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Greimas.5. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. dan sebagainya. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. bersifat mimetik. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Todorov. Dengan demikian. Namun. seperti strukturalisme. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Dalam pandangan strukturalisme genetik.

Struktur yang demikian. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. menurut strukturalisme genetik. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.semantik pula. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan.

Namun. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.5. yang juga berstruktur. 4. Menurut paham tersebut. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 .

kisah. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. perkataan. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. subjek secara linguistik. Dengan demikian. seperti model sintaksis. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. sebagaimana hubungan antara subjek. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. atau sebaliknya. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks.6. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya.6 Naratologi 4. hikayat. demikian juga dengan wacana dan teks.dialektik.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Narratio berarti cerita. predikat. 4. dan objek penderita. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. logos berarti ilmu. bukan 72 .

politik. Revolusi. melainkan melalui bahasa. dengan pertimbangan 73 . Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. tetapi juga melalui kata-kata. misalnya. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. dan wacana. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora).person. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. analisis naratif merupakan bagian ideologi. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. restorasi. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. bukan pengarang. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Setiap orang. diceritakan oleh narator. dan ekonomi. semboyan. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. bukan pengarang. sastra. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Pada pahan pascastruktural. akrab dengan cerita Jaka Tarub.

tokoh-tokoh. tema. Dalam pembicaraan mengenai naratif. paling luas. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. novel juga merupakan objek yang paling memadai. dan teks. latar. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Hampir keseluruhan genre sastra. sudut pandang. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. pembaca. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. dan gaya bahasa. kebudayaan pun tidak ada. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. cerita sebagai tulang punggung karya. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Dalam karya sastra. wacana. Di pihak lain. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. 74 . Tanpa cerita. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Dilihat dari media yang tersedia. yaitu dunia fiksional. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. baik sebagai penulis. Tanpa plot.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya.

lelucon. Forster (tokoh bundar dan datar). fabula. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. narration). text). puisi naratif. juga roman. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. frequensi. story. Mieke Bal (fabula. Para pelopornya. Gerald 75 . Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Henry James (tokoh dan cerita). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). interdisipliner. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. text. cerpen. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). gongeng. mitos. epik. biografi. Tzvetan Todorov (historie dan discours). catatan harian. Para pelopornya. termasuk feminis dan psikoanalisis. Percy Lubbock (teknik naratif). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. dan sebagainya. durasi. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Claude Bremond (struktur dan fungsi). dan suara). Shlomith Rimmon-Kenan (story. modus. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). Secara historis. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). 1993: 110. yaitu: 1.

Seymoeur Chatman (struktur naratif). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).2. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Jacques Derrida (dekonstruksi). Todorov.Prince (struktur narratee). Propp 76 . Roland Barthes (Kernels dan satellits). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). LeviStrauss. Jonathan Culler (kompetensi sastra). unit terkecil yang membentuk tema. pastiche). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Oleh karena itu. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Menurutnya. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Hayden White (wacana sejarah).6. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. dan Jean Baudrillad (hiperealitas.6. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). 4. yaitu Propp. Marry Louise Pratt (tindak kata). Artinya.

(4) putri dan ayahnya. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Menurutnya. (5) orang yang menyuruh. persona bertindak sebagai variabel. Bremond. perbuatan. (2) donor. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. (6) pahlawan. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. dan (7) pahlawan palsu. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). yaitu: pelaku. yaitu: (1) penjahat. Dengan kalimat lain.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. (3) penolong. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Motif dibedakan menjadi tiga macam. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. dan Todorov. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. 77 . tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Di sini.

Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Pendekatan antropologi sastra. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng.4. dilakukan terhadap mitos Oedipus. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Menurutnya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dan incest. dan harus direkonstruksi melaluinya. 78 . misalnya. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. melalui struktural. Di satu pihak.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. dan sebagainya.6. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya.2. mitos adalah naratif itu sendiri. tabu. Dengan kalimat lain. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. bumi langit. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. seperti laki-laki perempuan. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. baik secara bulat maupun fragmentasi.

Oleh karena itulah. tokoh. dan partisipasi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. 4. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. dan latar. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. komunikasi. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. secara berdampingan. yaitu: kehendak.6. meneliti tema. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. sebagai hubungan makna dan perlambangan. gaya bahasa. Menurutnya. (2) aspek semantik. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. berkaitan dengan makna dan lambang. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. dan sebaliknya. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. dan sebagainya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. dan (4) aspek verbal.2. yaitu (1) aspek sintaksis. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet.

manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs.antarhubungan adalah kausalitas. sastra sebagai proyeksi. acteurs merupakan kategori umum. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Greimas (dalam Abdullah.6. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. yaitu dongeng. Tidak ada subjek di balik wacana. seperti: psikologi sastra. yaitu tata bahasa naratif universal. John dan Paul juga merupakan pengirim.2. Yang ada hanyalah subjek. studi biografi. baik sebagai pengirim maupun penerima. Mary sebagai penerima. dll. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). 1999: 11-13. 80 .4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Apel adalah sebagai objek. kritik fenomenologis. sosiologi sastra. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). tetapi diperluas pada mitos. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. 4. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju.

dan plot. religi. dan penolong dengan penentang. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. tek. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Sebaliknya. pelaku. dan ilmu sosial lainnya. struktur yang bersifat penyelenggaraan. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Actans merupakan struktur dalam. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Oleh karena itu. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. Cerita adalah bahan 81 . Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. dan struktur yang bersifat pemutusan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. yaitu subjek dengan objek. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat.

sebagai model kedua. perangkat peristiwa. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa .kasar. 82 . sebagai model pertama. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. seperti ringkasan cerita atau sinopsis.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

5. Karenanya. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. dan (c) peletak dasar 86 .dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. (2) kemenduaan arti (ambiguity).2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. dan fungsional.1. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. sistematis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. untuk memisahkan kemenduaan. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis.

dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. pikiran.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. serta dana. Ciri kedua yang menyangkut fisible. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (4) masalah harus dapat duji. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. waktu. Menurut Nazir (1985: 134-135). (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. 87 .

rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. 88 . misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif.1.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. dan totalitas di dalamnya. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Berhubungan dengan penelitian sastra. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. mengembangkan (develop atau extention). tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). Dengan demikian. hubungan antarunsur. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. topik penelitian atau judul penelitian.

Sebaiknya dalam tujuan penelitian. berjumlah tertentu. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. lingkup masalah.1. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 89 . maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. misalnya. 5. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Secara ideal. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). 2001:2). sistematis. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal.

Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Dalam strukturalisme.Dengan demikian. sebagai akumulasi konsep. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Penerimaan yang dimaksud 90 . Dalam uraian landasan teori. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Sebagai suatu cara pemahaman. Dalam kerangka strukturalisme. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. dan totalitasnya. antarhubungan. baik sebagai teori maupun metode. misalnya. diperlukan penerimaan positif. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Teori adalah alat. khususnya analisis fiksi. teori tidak harus dipahami secara kaku. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian.

teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Sebaliknya. Atau dengan kalimat lain.mengarah kepada keteraturan. 5. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.1.. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.

hubungan simetris 92 . (3) kategori harus bebas dan terpisah. dsb. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. sistematik. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. padu. dan hubungan antarunsur. demi pemahaman identitas data penelitian. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Dengan kata lain. Sejalan dengan uraian di atas. pemilihan. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. (2) kategori harus lengkap. Penentuan data berdasarkan perilaku. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. ciri. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu.(pendekatan) linguistik.

hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. dan faktor kebetulan. hubungan saling mempengaruhi. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . 3. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. Sejalan dengan uraian di atas. 2.

Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. pemilahan. pemilahan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya.penelitiannya. dan pengolahan data secara sistematis. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.

2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. 5. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.dan tujuan penelitian.

Idealnya. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra.

apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya.. ciri. dsb. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP.. Latar Belakang . referensi yang memadai. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. keinginan.. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Merujuk pada potensi teks tersebut. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. kepahlawanan dan petualangan. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.1. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. keberanian. waktu pelaksanaan. dana yang tersedia. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. ... Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . pengembangan penelitian sejenis.

2. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tampak 98 . berpikir logis. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Namun demikian.

keterjalinan antarunsur cerita. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. dan penelusuran tema dan amanat. 4. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. 99 . alur. latar) 3. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. struktur cerita yang terbentuk. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah.

Berdasarkan upaya tersebut. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. 5. Dalam hal ini . seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Cermati contoh berikut: 1. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. misalnya 100 . penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.

Struktur dinamik. 101 . (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Paham struktural objektif. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. menempatkan teks secara otonom. Oleh karena itu. alur. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Penjabarannya menjadi. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. antar hubungan. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita.

sosial). pengolahan data. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dan menyeluruh. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. dan analisis data. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . dll. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. tempat. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. identifikasi masalah. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. Dengan demikian. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. pemilihan data. padu.

Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. pada langkah penyusunan Landasan Teori. dan metode kajian. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teoretis. teori. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. sistematis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas).4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan fungsional. kajian struktural objektif b. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 .tingkat kepekaan literer. dan metodologis. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural naratif d. 5. kajian struktural genetik c.

seteliti.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Uraian landasan teori tampak 104 . latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. identifikasi masalah. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. semendetail. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. kurang memadai. dan tujuan penelitian tertentu. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Berdasarkan contoh di atas. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:112). dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.

terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. 5. Kelemahan lain. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .

dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. menyusun. sifat. Dengan demikian. unsurunsur karya. sifat.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. fakta. tema. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. mengklasifikasikan .1. 1980: 139). dan menginterpretasikan data (Winarno. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). 106 . dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. menganalisis. fenomena. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. keterjalinan unsur. sejumlah data. dan amanat dapat terungkap secara tepat.

b. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. (2) struktur cerita.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. dan latar. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. penyusun UP tersebut cukup 107 . seteliti. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. dan (4) tema dan amanat. semendetail. Dalam hal ini. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. b dan c. plot/alur. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel.

dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. plot/alur. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Misalnya saja. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Namun demikian. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat.

jumlah. dan sosial? c. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. suspense. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. b. kesatupaduan) sebagai instrumen. Demikian pula pada pembicaraan latar. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. tempat. Pada unsur-unsur cerita lainnya.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . d. surrise. seperti pengeplotan. kepadatan. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat.

seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Adapun dalam penentuan amanat.

Dengan demikian.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 .

Pengantar Sosiologi Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. “Strukturalisme-Genetik.” Makalah. Irena R. “Sastra Lisan. Wlfgang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Makaryk. The Act of Reading.” Makalah. 1989.). 1999. Iser. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Jan van. 1987. Hans Robert. 1983. W.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Abrams.W. New York: The Norton Library. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. S. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Jauss. Chamamah. 1999. dkk. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.) 1993. Jakarta: Gramedia. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Luxemburg. Pengantar Ilmu Sastra. Norton & Company Inc. Imran T. 2001. (ed. 1994. Toward an Aesthetic of reseption. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . M.H. ed.

Nyoman Kutha. Moh. Makalah.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 2000. Teori Kesusastraan. Zaimar. dan Teknik. Diterjemahkan oleh Okke K. Burhan. “Pengantar Penelitian. 2004. Diterjemahkan oleh Suminto A. 2002. Rene & Austin Warren. 1987.Muhadjir.Bhd. Todorov. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Noeng. dkk. “Strukturalisme”.). 1993. 2002. 1999. 1985. Teori Pengkajian Fiksi. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Metode. A. 19. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. 1985. Rien T. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2001. Yogyakarta: Gama Media Propp. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Jakarta: Gramedia Wuradji. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna.S. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . V. Jakarta: Pustaka Jaya T. Kritik Sastra Indonesia Modern. Sastra dan Ilmu sastra. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Bandung: Eresco. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Selangor: Sain Baru Sdn. Pradopo. 1995. 1984. Metodologi penelitian Kualitatif. Wellek. Fatimah Djajasudarma. Morfologi Cerita Rakyat. ------------------------------. ed. Metode Penelitian. Penelitian Sastra: Teori. Rachmat Djoko. Sayuti. Segers. Tzvetan. Metode Penelitian Linguistik.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful