METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

..6.4 Greimas ……………………………………………. ...........1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ...........5 Metodologi ………………………………………………… 5...... 5...........6.2....1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4..1....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ... 5..4...4 Landasan Teori …………………………………………… 5.1..2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...1....2.1.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.. 5.. 5.........6...2........1.......3 Tujuan Penelitian …………………………………………......... 83 5....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah......3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5....2 Identifikasi Masalah ……………………………………….

hakikat. relevansi metode dan penelitian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Selain itu. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. sastra dalam penelitian ilmiah. i .

Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.. Dengan demikian. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. teori. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Agustus 2007 Penyusun ii . Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.

arah. strategi untuk memahami realitas. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. atau seni menggunakan alat.BAB I PENDAHULUAN 1. 2. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. 3. Metodologi berasal dari methodos dan logos. metode dianggap sebagai cara-cara. cara. yang berarti alat. metode. mengikuti. Metode. Hakikat Metodologi. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . sedangkan hodos berarti jalan. Teknik berasal dari kata teknikos. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Dalam pengertian yang lebih luas. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. sesudah. yaitu filsafat ilmu mengenai metode.1 Pengertian. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. melalui.

Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. 1. perumusan masalah. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. (2) sadar teoritik. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 2 . Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. dan kerangka pemikiran penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. dan (3) sadar teknis. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong.

Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. komparasi. Sebagai alat. deskripsi. sama dengan teori.Dengan prosedur kerja yang baik. termasuk ilmu humaniora. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. bukanlah karena perbedaan metode. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. misalnya. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. dan akhirnya menarik kesimpulan. membangun konsep dan model. induksi dan deduksi. Klasifikasi. merumuskan hipotesis dan permasalahan. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. menyusun proposal. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. 3 . metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. menganalisis data. sampling. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. mengadakan pengujian teori. eksplanasi dan interpretasi. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. kuantitatif dan kualitatif.

teknik kartu data. angket. dan sebagainya. jelas berbeda. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. statistik. bahkan juga dengan teori. Metode sering disebutkan sebagai teknik. dokumen. misalnya: wawancara. Sebagai instrumen penelitian. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan.Berbeda dengan metode. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. teknik dapat dideteksi secara inderawi. melalui cara: 1. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. teknik berhubungan dengan data primer. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. kuesieoner. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sebagai alat. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. tetapi dasar dan cara pemahamannya. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. teknik bersifat paling kongkret. struktural. rekaman. Metode deskripsi. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. komparasi. Artinya. Dengan demikian.

luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. metodologi. 2. 5 . struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Tetapi sebelumnya.Pada pembicaraan yang berbeda. teori. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. dan teknik. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Jadi. metode dapat menjadi teori. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. metode. struktur disebut sebagai metode. 3.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.menerus. 9 . Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. d. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.

BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. atau pencarian kembali atas suatu objek. 10 . yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. dan kecerdasan yang memadai. Hubungannya dengan ilmu. Jadi. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. ilmu dapat hidup. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. kecermatan. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya.

Kedua. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda.berkembang. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Dalam menghadapi masalah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Pertama. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. 1985: 9-15). penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. sistematis. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Oleh karena itu. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. scientific objective. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. terutama yang berkaitan 11 . Oleh karena itu pula. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. practicial objective.

dengan pemanfaatan teori dan metode. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. nalar.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. yaitu penelitian sastra. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. teori-teori. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. dan sesuai dengan objeknya. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Urutan umum dari proses 12 . Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti.

maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . analisis data. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Oleh karena itu. dan penyajian kesimpulan. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. social. emosional. manusia mencari tahu dan mencari makna. pengumpulan data. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. fakta. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Di samping itu. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. Di samping masalah yang dihadapi.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. penelaahan informasi. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. dan spiritual. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya.

Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. atau penelitian. 14 . menggambarkan. atau memperkaya teori yang sudah ada. atau pendapat umum. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. penyelidikan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. kemudian melakukan proses penemuan. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). melakukan kegiatan penemuan. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. intuasi. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. dan menafsirkan apa yang diamati. otoritas.

Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Dalam hal ini. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Oleh karena itu. Kedua. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Pertama.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore).

Penelitian akan menghasilkan teori. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.berhubungan). rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengajuan hipotesis. penyusunan design.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . pengembangan instrumen. pengumpulan dan analisis data. Teori dapat membantu merumuskan problem. serta membantu dalam menginterpretasi data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2.

dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (5) mengumpulkan data. Dalam kerja penelitian. Dalam penelitian ilmiah. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. (4) merumuskan hipotesis. menganalisis. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. 3. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. yaitu: 1. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. komunikasi. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (2) bebas prasangka. dan menyimpulkan. dituntut langkah-langkah berturut-turut. ilmu-ilmu humaniora. (3) menggunakan prinsip analisis. menginterpretasi. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (6) mengolah data. (7) menganalisis dan 17 .ilmiah. (3) mengadakan studi pustaka. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. 2. terorganisir. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok.

produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Demikian pula. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna.menginterpretasi. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. 18 . (9) menarik kesimpulan.

d. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. menghasilkan pengetahuan yang: a. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.2. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. didukung data empiris 19 . realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. sistematis 2.

1885. dan Muhadjir. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Charters. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. 2.2. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Ratna. (bandingkan Nazir. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. yaitu : 1. dan Whitney. 2004. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1.

peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 3. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). content analysis. Macam-macam 21 . 6. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 2. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 5.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. 4. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan.

grafik. yaitu sebagai studi kultural. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. laporan.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. 2. Dalam ilmu sastra. buku harian. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. film. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. Sejalan dengan uraian di atas. surat kabar. fotografi. 22 .5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. sesuai dengan hakikat objek. lukisan. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . biografi. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. 2. buku teks. Dalam ilmu sosial. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. dan majalah. Immanuel kant. gambar. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. 2004: 47-49).

Adakalanya peneliti 23 . 4.3. gambaran atau lukisan secara sistematis. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. Menurut Whitney (dalam Nazir. pandangan-pandangan. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. suatu objek. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 5. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. 2. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. penelitian bersifat alamiah. sikap-sikap. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. suatu set kondisi.

Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). masalah yang dirumuskan harus patut. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Metode ini dinamakan juga studi status . standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . kriteria umum: 1. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

B. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. sifat penelitian adalah ex post facto. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan.5. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. variabel dilihat sebagaimana adanya. kriteria khusus 1. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. 3.

1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8.3. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10.

Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga. subjek penelitian dapat saja individu. maupun masyarakat. Dalam studi komparatif ini. 27 . sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. kelompok. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Eliis. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Lotman. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Eagelton. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. dan Teeuw. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. ekonomi.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Menurutnya. dan keagamaan. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Plark. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. 29 . Riffaterre. Sastra mengandung sifat umum dan khusus.

Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. di antaranya dari sisi bahan.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. secondary modelling system. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Melalui sistem sastralah. Sebagai satu sistem. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. yaitu berupa bahasa. 30 . Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua.

yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Dengan demikian. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. kerja yang objektif. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. dari pembaca saja. 3. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. yaitu pembacanya. Dengan demikian. Dalam hal ini. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra.

Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. sejumlah peralatan diperlukan. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. 32 .perspektif. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Namun. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Dalam hal ini.

Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. pola. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Bagi ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. 2004: 21). Tanpa paradigma. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. model. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. unsur dalam diri sendiri 2. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek.3. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. sebagai berikut: 1.

Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. dan sebagainya. Dalam penelitian sastra. tersistem. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. bahkan khayalan. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. maka teori pun juga beraneka ragam. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. 34 . Di satu pihak. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. sebagai cara pandang.yang relatif sama. Selanjutnya. Jadi. Contohnya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. imajinasi. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Di pihak lain.

jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. Pada gilirannya. khususnya sastra. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. dalam ilmu humaniora. secara kualitatif. faktor aksiologis. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. mengkondisikan ilmuwan sastra. faktor metodologis. Keempat faktor tersebut adalah: 1. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. keseluruhan proses penelitian. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. dan teknik. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. 35 . bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Paradigma dengan demikian mendahului. faktor epistemologis. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. teknik dan proses selanjutnya.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. periode. penelitian adalah penilaian. metode. teori. faktor ontologis. termasuk metode. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu.

bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. kecuali referensi estetisnya. 36 . teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. aliran. psikologis dan ilmu pengetahuan. Perbedaannya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya.generasi. novel. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. psikologis. Keseluruhan unsur. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Novel sejarah. novel psikologis. Dengan kalimat lain. latar tempat dan waktu. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. termasuk tokoh-tokoh. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. dan drama. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Puisi. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. puisi. drama bersajak. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. dan berbagai paham yang lain.

37 . yaitu metode dan teknik. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis.4. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. menganalisis. Lebih lanjut.1. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. 2004: 5355). Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. approach. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. 3. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. dan menyajikan data. pendekatan berasal dari kata appropio.4 Pendekatan Sastra 3. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.

dasarnya. Dalam hubungan inilah.4. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. ekspresif. (2) pendekatan mimesis. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.dan sebagainya. mimetik. dan tekniknya. 38 . seperti pendekatan sosiologi sastra. Artinya. 3. pragmatik. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. metode. mitopoik. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. intrinsik dan ekstrinsik. pendekatan objektif. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. teori. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. dan (4) pendekatan objektif. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. (3) pendekatan pragmatik.

langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi.2. nasionalisme. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. dan hasil-hasil karyanya. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran dan perasaan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi.4. pikiran-pikiran. Secara metodis. komunisme. dan 39 . ucapan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. feminisme. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. persepsi.3. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. (3) produk pandangan dunia pengarang. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.

yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. bentuk-bentuk kemasyarakatan. persepsi. pengalaman. (2) memetakan sejumlah pikiran. dan ideologi pengarang. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. sesuai tujuan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.4. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. pengalaman hidup. 40 . 1989:15). dan sebagainya Luxemberg. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 1958:8). pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.2. pikiran. perasaan. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. 3. Melalui pandangan ini. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.

Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. suatu produk akhir. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Menurutnya. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Menurut Baxter.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyiratkan sesuatu yang statis. Tiruan.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu proses. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . tetapi penekanannya berbeda. Segers (2000. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Secara terminologis. suatu copy.

Oleh karena itu.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. sesuai tujuan. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita.. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. 42 . (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Secara metodis. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dsb. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Melalui penjabaran di atas. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal.

Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. (2) penerapan praktis estetika resepsi. menikmati.3. pembacalah yang menilai. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.4. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dalam uraiannya. Menurutnya. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. dan memahami karya sastra. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. menafsirkan. Pembaca dalam 43 .2. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Menurutnya.

dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. (4) semangat zaman. (3) nilai estetik. dan (7) sejarah umum. (2) horison harapan. (5) rangkaian sastra. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Dalam hal ini. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. yaitu: (1) pengalaman pembaca. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Baru dalam kaitannya dengan pembaca.

Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Perihal semangat zaman. Teori menuntut 45 . rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca.informasi. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Dengan kondisi tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya.

Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. diidealkan. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Fungsi sosial sastra 46 . Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. satirik.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya.

tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. pembaca. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . dan literary strategies Implied reader merupakan model. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. dan interaksinya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. 1987: 20 dan 54). historis. literary repertoire. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. rol. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Konsekuansinya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya.

Oleh karena itulah. Dengan demikian. antarhubungan.4. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. termasuk biografi. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. politis. 3.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. sosiologis. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. seperti aspekhistoris. 48 . Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.2. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. dan totalitas. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.

sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Adapun terhadap prosa. Secara metodologis. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. fakta cerita (tokoh.). analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. konflik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. dll. alur. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. 49 . Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. dan latar). Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). gaya bahasa.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.Pada analisis prosa. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 . Di dalam analisisnya.

BAB IV STRUKTURALISME 4. Selain itu. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. mekanisme sendiri. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. 1978: 17-18. dan Faruk: 1994: 17-18. Artinya. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. Faruk. melainkan kualitatif. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Hawkes. melainkan rusak sama sekali. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. 1984: 120139). 1995: 4-12. 1999: 1-9. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. dan Teeuw. apabila suatu bagian dihilangkan. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. terlepas dari 51 . untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.

Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Artinya. motivator terjadinya gejala baru. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. dan self-regulatif. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. mekanisme yang baru. antarhubungan merupakan energi. Karena itu. Formalisme di Rusia. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Dengan kata lain. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. sesuatu yang utuh. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Sebagai kualitas totalitas. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. otonom. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. mengembangkan. Aliran Kritik Baru di Amerika. transformatif. sesuatu yang berstruktur.

Analisis terhadap penokohan. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Karya tidak dapat diisolasi. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. suatu masyarakat. 53 . tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Namun demikian. Dengan kata lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. latar. seperti kejadian. dan sebagainya. Di pihak lain. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Sejalan dengan uraian di atas. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas.sebagai sistem komunikasi. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. misalnya. plot. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain.

Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. dan psikologi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Metode yang digunakan metode formal. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. puitika. 1985: 128-13. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. oposisi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. sosiologi.4. asosiasi. reaksi terhadap studi biografis 2. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. yaitu: 1. Meskipun demikian. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. dan sebagainya. Dengan jalan demikian.

melahirkan strukturalisme. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Muhadjir. dan (3) sebagai teori. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. (2) sebagai metode. 55 . dan Ratna. Menurutnya. karya sastra adalah proses komunikasi. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. fakta semiotik. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 2003: 88-96. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. terdiri atas tanda. masyarakat yang menghasilkannya.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Oleh karena itulah. 1985: 185-192.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. dan nilai-nilai. 4. Pradopo 2002: 46. struktur. dan pembaca sebagai penerima. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2002: 304). yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya.

Prosa. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. latar atau setting. puisi. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. penokohan. alur. stilistika. dan gaya bahasa. rima atau persajakan. nada. misalnya mengarah pada tema. Artinya. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. sudut pandang. peristiwa. dan gaya bahasa. latar. Unsurunsur prosa. penokohan. alur. simbol. dialog. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. ritme atau irama. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Unsur-unsur puisi. di antaranya tema. tujuan analisis di lain pihak. puisi. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. peristiwa atau kejadian. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. diksi atau pilihan kata. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . dan enjambemen. imajinasi.

melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dan pendengar.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. tidak semau-maunya. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). 57 . yaitu pencerita. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Dalam hubungan ini. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Jadi. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. karya sastra.

Menurutnya. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. dan simbol. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. pengertian tanda ada dua prinsip. yaitu ikon. antara penanda dan petanda. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Dalam lapangan semiotik. yaitu persamaan dan sebab akibat. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. yang merupakan bentuk tanda. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. 1993: 183-189).4. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. indeks.4 Semiotik Secara padat Dolezel. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Stout (dalam Makaryk. arti bahasa dalam 58 . Ada tiga jenis tanda yang pokok. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. aliran semiotik.

suasana. perasaan. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . daya liris. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. intensitas. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Berhubungan dengan hal ini. Dalam sistem semiotik. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. arti tambahan (konotasi). Dalam kaya sastra. Jadi. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya.

prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. terdapat (1) sintaksis semiotika. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Sejalan dengan paham triadik peircean. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. atau yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. (2) semantik semiotik. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Menurut pandangan intertektualitas. termasuk sastra. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. dan (3) pragmatik semiotik. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain.

terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. 2. b. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. sinsigns. 2004: 102) di antara ikon. ikon. Di antara representamen. c. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. object (designatum. tokens. yaitu apa yang diacu: a. denotatum. Menurut Aart van Zoet (Ratna. rheme. object. dan interpretant. b. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. 61 . b. legisigns. simbol. c. ground. argument.1. representamen. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. referent). tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. yang paling sering diulas adalah object. interpretant. qualisigns. type. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. dicent signs. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. c. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks.

Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. (c) pembaca (pragmatik). di lain pihak. Sebagai strukturalisme. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik.indeks. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Karena itu. (b) semestaan (mimetik). dan (d) objektif (otonom). dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). Teks sastra kaya dengan ikon. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. termasuk karya sastra. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur.5. Kellner dalam makaryk. dan Faruk. 4. yang terpenting adalah ikon. yaitu (a) pengarang (ekspresif). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. 1993: 95-99. Alasannya. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. 62 . dan simbol. sebagai struktur. 1993: 340-341.

Menurut Marxis. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Untuk melakukan transformasi atas alam. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. yaitu melakukan transformasi atas alam. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Oleh karena itu.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Karya-karya kultural yang besar. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor.5. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . 4. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. melainkan kelas sosial.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Karena itu. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.

dan sebagainya. pendidikan. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. seperti kelompok profesi. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. ras. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Karena itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. kelompok etnis. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu.

strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Todorov. Dalam pandangan strukturalisme genetik. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 .terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Dengan demikian. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. dan sebagainya. Greimas. bersifat mimetik. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Hanya beberapa di antaranya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. 4. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung.5. seperti strukturalisme. Namun.

Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia.semantik pula. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Struktur yang demikian. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. menurut strukturalisme genetik. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain.

5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. 4. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Namun.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra.5. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yang juga berstruktur. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Menurut paham tersebut. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.

logos berarti ilmu. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. seperti model sintaksis. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. 4.6 Naratologi 4. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. demikian juga dengan wacana dan teks. Narratio berarti cerita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Dengan demikian.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. hikayat. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. perkataan. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. subjek secara linguistik.dialektik. dan objek penderita. atau sebaliknya. predikat. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. bukan 72 .6. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. kisah. sebagaimana hubungan antara subjek.

person. Setiap orang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. dengan pertimbangan 73 . politik. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. dan ekonomi. Revolusi. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. analisis naratif merupakan bagian ideologi. tetapi juga melalui kata-kata. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. bukan pengarang. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. sastra. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. dan wacana. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. melainkan melalui bahasa. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. restorasi. Pada pahan pascastruktural. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. semboyan. bukan pengarang. misalnya. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. diceritakan oleh narator. akrab dengan cerita Jaka Tarub.

bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. dan gaya bahasa. dan teks. cerita sebagai tulang punggung karya. Di pihak lain. paling luas. pembaca. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Hampir keseluruhan genre sastra. Dalam pembicaraan mengenai naratif. kebudayaan pun tidak ada. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Dalam karya sastra. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Tanpa cerita. novel juga merupakan objek yang paling memadai. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. yaitu dunia fiksional. sudut pandang. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. 74 . tema. Tanpa plot. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. tokoh-tokoh. latar. wacana. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. baik sebagai penulis. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Dilihat dari media yang tersedia.

Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Tzvetan Todorov (historie dan discours). dan suara). catatan harian. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Percy Lubbock (teknik naratif). frequensi. biografi. durasi. gongeng. fabula. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Para pelopornya. cerpen.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. text). Shlomith Rimmon-Kenan (story. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). di antaranya: Gerard Gennet (urutan. puisi naratif. mitos. Forster (tokoh bundar dan datar). Henry James (tokoh dan cerita). Claude Bremond (struktur dan fungsi). Para pelopornya. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). 1993: 110. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. story. juga roman. text. termasuk feminis dan psikoanalisis. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). interdisipliner. modus. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Mieke Bal (fabula. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Gerald 75 .Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Secara historis. dan sebagainya. epik. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). yaitu: 1. narration). lelucon. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3.

Menurutnya. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Jonathan Culler (kompetensi sastra). LeviStrauss. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. pastiche).6. Artinya. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Hayden White (wacana sejarah).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Marry Louise Pratt (tindak kata). Seymoeur Chatman (struktur naratif). Oleh karena itu. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Roland Barthes (Kernels dan satellits). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Jacques Derrida (dekonstruksi). yaitu Propp. Propp 76 . dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.Prince (struktur narratee). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan).2. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.6. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). unit terkecil yang membentuk tema. Todorov. 4. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif.

memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (4) putri dan ayahnya. Menurutnya. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. perbuatan. Motif dibedakan menjadi tiga macam. (5) orang yang menyuruh. yaitu: (1) penjahat. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (2) donor. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Dengan kalimat lain. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Di sini. Bremond. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. 77 . (3) penolong. dan (7) pahlawan palsu. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. yaitu: pelaku. persona bertindak sebagai variabel. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. (6) pahlawan. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). dan Todorov.

khususnya konsep-konsep oposisi biner. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. 78 . Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos.6. Di satu pihak. dilakukan terhadap mitos Oedipus. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. melalui struktural. baik secara bulat maupun fragmentasi. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. bumi langit. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. tabu. dan incest. mitos adalah naratif itu sendiri.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita.4. dan harus direkonstruksi melaluinya. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Menurutnya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Dengan kalimat lain. seperti laki-laki perempuan. Pendekatan antropologi sastra.2. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. misalnya. dan sebagainya. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.

gaya bahasa. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. 4. dan latar. dan sebaliknya. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. dan partisipasi. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. meneliti tema. (2) aspek semantik.2. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. yaitu: kehendak. yaitu (1) aspek sintaksis. Oleh karena itulah. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. komunikasi. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. tokoh. dan (4) aspek verbal.6. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. Menurutnya. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. berkaitan dengan makna dan lambang. secara berdampingan. dan sebagainya. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut.

Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. sastra sebagai proyeksi. studi biografi.6. Mary sebagai penerima.2. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. 1999: 11-13. yaitu dongeng. acteurs merupakan kategori umum. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. yaitu tata bahasa naratif universal.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Greimas (dalam Abdullah. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). tetapi diperluas pada mitos. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. sosiologi sastra. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Apel adalah sebagai objek. baik sebagai pengirim maupun penerima. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. 80 . Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans.antarhubungan adalah kausalitas. 4. seperti: psikologi sastra. Tidak ada subjek di balik wacana. dll. Yang ada hanyalah subjek. kritik fenomenologis. John dan Paul juga merupakan pengirim.

Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. religi. dan struktur yang bersifat pemutusan. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Cerita adalah bahan 81 . Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan penolong dengan penentang. tek. dan plot. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. struktur yang bersifat penyelenggaraan. pelaku. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Actans merupakan struktur dalam. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. dan ilmu sosial lainnya. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Sebaliknya. yaitu subjek dengan objek. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Oleh karena itu. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima.

sebagai model kedua. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . perangkat peristiwa. sebagai model pertama. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. 82 .kasar. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

dan fungsional. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Karenanya. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. sistematis. untuk memisahkan kemenduaan. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. dan (c) peletak dasar 86 .1. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. 5. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena.

Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Menurut Nazir (1985: 134-135). hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. pikiran. (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. (4) masalah harus dapat duji. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. 87 . serta dana. waktu. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Ciri kedua yang menyangkut fisible. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan.

misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. hubungan antarunsur. mengembangkan (develop atau extention). masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Berhubungan dengan penelitian sastra.1. Dengan demikian. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. dan totalitas di dalamnya.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. 88 .3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. topik penelitian atau judul penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian.

dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. sistematis. berjumlah tertentu. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 2001:2).1.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). misalnya. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. lingkup masalah. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. 5. 89 . Sebaiknya dalam tujuan penelitian. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Secara ideal.

maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. sebagai akumulasi konsep. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Dalam strukturalisme. Penerimaan yang dimaksud 90 . baik sebagai teori maupun metode. dan totalitasnya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan.Dengan demikian. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. teori tidak harus dipahami secara kaku. Dalam kerangka strukturalisme. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. misalnya. Sebagai suatu cara pemahaman. khususnya analisis fiksi. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Dalam uraian landasan teori. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. diperlukan penerimaan positif. Teori adalah alat. antarhubungan. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya.

Sebaliknya.. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Atau dengan kalimat lain. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.mengarah kepada keteraturan. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. 5.1. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data.

hubungan simetris 92 . ciri. Penentuan data berdasarkan perilaku. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. demi pemahaman identitas data penelitian. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Dengan kata lain. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai.(pendekatan) linguistik. sistematik. dan hubungan antarunsur. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Sejalan dengan uraian di atas. (2) kategori harus lengkap. pemilihan. dsb. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. padu. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah.

maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. 3.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. dan faktor kebetulan. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. hubungan saling mempengaruhi. Sejalan dengan uraian di atas. 2. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik.

Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. pemilahan. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian.penelitiannya. dan pengolahan data secara sistematis. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. pemilahan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 .

Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan.dan tujuan penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). 5. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.

dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Idealnya. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas.

. dsb. dana yang tersedia. kepahlawanan dan petualangan. Merujuk pada potensi teks tersebut.. keberanian.. keinginan.1. referensi yang memadai. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 ..masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. ciri. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. pengembangan penelitian sejenis. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Latar Belakang . .. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. waktu pelaksanaan. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian.

kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. tampak 98 . jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. berpikir logis. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Namun demikian.

mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. struktur cerita yang terbentuk. alur. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. 99 . menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. dan penelusuran tema dan amanat. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. 4. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. keterjalinan antarunsur cerita. latar) 3. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis.

5.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1.Berdasarkan upaya tersebut. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Cermati contoh berikut: 1.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Dalam hal ini . Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. misalnya 100 .

menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. alur. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). menempatkan teks secara otonom. Paham struktural objektif. 101 . bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Penjabarannya menjadi. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. antar hubungan. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Struktur dinamik. Oleh karena itu.

tempat. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . identifikasi masalah. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. pengolahan data. padu. sosial). (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. dan menyeluruh. pemilihan data. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. Dengan demikian. dll. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dan analisis data. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita.

Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural genetik c. teoretis. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. dan metode kajian. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. 5. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural naratif d. dan fungsional.tingkat kepekaan literer. dan metodologis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). sistematis. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. kajian struktural objektif b.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teori.

Uraian landasan teori tampak 104 . 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. 2003:112). Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. identifikasi masalah. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Berdasarkan contoh di atas. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. dan tujuan penelitian tertentu. semendetail. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. kurang memadai. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. seteliti.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian.

penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. 5. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Kelemahan lain.

mengklasifikasikan . 106 .1. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. dan amanat dapat terungkap secara tepat. sejumlah data.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. menyusun. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. sifat. keterjalinan unsur. fenomena. tema. unsurunsur karya. fakta. Dengan demikian. menganalisis. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. dan menginterpretasikan data (Winarno. 1980: 139). Mengacu kepada definisi metode deskriptif. sifat.

plot/alur. semendetail. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. seteliti. (2) struktur cerita. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Dalam hal ini. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. b dan c.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. penyusun UP tersebut cukup 107 . dan latar. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. dan (4) tema dan amanat. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.b.

mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. plot/alur. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Namun demikian. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Misalnya saja. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah.

atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. dan sosial? c. surrise. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. kepadatan. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. seperti pengeplotan. b. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. tempat. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. kesatupaduan) sebagai instrumen. jumlah. Demikian pula pada pembicaraan latar. suspense. Pada unsur-unsur cerita lainnya. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. d. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat.

seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Adapun dalam penentuan amanat.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 . Dengan demikian.

” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.H. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Chamamah. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. New York: The Norton Library. M.” Makalah. Makaryk. 2001. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . The Act of Reading. 1983. (ed. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. “Sastra Lisan. 1987. W.W.” Makalah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Norton & Company Inc. Luxemburg.). Pengantar Sosiologi Sastra. Jan van. “Strukturalisme-Genetik. Hans Robert. 1999. 1999. Jauss. Iser. 1989. Irena R. 1994. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. dkk. Imran T. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Abrams. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Toward an Aesthetic of reseption.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Minneapolis: University of Minnesotta Press. S.) 1993. Wlfgang. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

Jakarta: Djambatan. 1993. Zaimar. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 1985. “Pengantar Penelitian. Rachmat Djoko. 1987. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Rene & Austin Warren. 2001. Tzvetan. Bandung: Eresco. 1984.S. Kritik Sastra Indonesia Modern. Teori Pengkajian Fiksi. Morfologi Cerita Rakyat. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. 2002.Bhd. 2004. “Strukturalisme”. Moh. dan Teknik. Diterjemahkan oleh Suminto A. Metodologi penelitian Kualitatif. Nyoman Kutha. Jakarta: Gramedia Wuradji. Pradopo. Todorov.Muhadjir. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Tata Sastra. ------------------------------. Fatimah Djajasudarma. 1999. dkk. Segers. ed. Yogyakarta: Gama Media Propp. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teori Kesusastraan. Metode Penelitian Linguistik.). Diterjemahkan oleh Okke K. Selangor: Sain Baru Sdn. Wellek. 2002. Sayuti. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 2000.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Rien T. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. V. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. 19. A. Noeng. Burhan. 1985. 1995. Evaluasi Teks Sastra. Penelitian Sastra: Teori. Jakarta: Pustaka Jaya T. Makalah. Metode Penelitian. Metode. Sastra dan Ilmu sastra.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful