METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

..4 Landasan Teori …………………………………………… 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5. 5..........6..1. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .6............ 5.......1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ..2 Levi’Strauss ………………………………………… 4......1..2.3 Tujuan Penelitian …………………………………………....5 Metodologi ………………………………………………… 5...3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4...2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.. 5..1.............1..1.6. ......4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5..2 Identifikasi Masalah ………………………………………......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5......2................. 5..4 Greimas …………………………………………….2...5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ..... 83 5.4......

KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. i . upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. relevansi metode dan penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. sastra dalam penelitian ilmiah. Selain itu. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. hakikat. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme.

Agustus 2007 Penyusun ii . Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Dengan demikian. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. teori. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.

langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. 2. Dalam pengertian yang lebih luas. mengikuti. cara. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. sesudah. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. metode dianggap sebagai cara-cara. atau seni menggunakan alat. yang berarti alat.1 Pengertian. sedangkan hodos berarti jalan. strategi untuk memahami realitas. arah. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Metodologi berasal dari methodos dan logos. Hakikat Metodologi. metode. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Metode.BAB I PENDAHULUAN 1. Teknik berasal dari kata teknikos. melalui. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. 3. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 .

2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. dan (3) sadar teknis. perumusan masalah. 2 . Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. 1. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. (2) sadar teoritik. dan kerangka pemikiran penelitian.

bukanlah karena perbedaan metode. kuantitatif dan kualitatif. mengadakan pengujian teori. merumuskan hipotesis dan permasalahan. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. 3 . Klasifikasi. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. menyusun proposal.Dengan prosedur kerja yang baik. Sebagai alat. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. induksi dan deduksi. komparasi. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. termasuk ilmu humaniora. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. eksplanasi dan interpretasi. membangun konsep dan model. deskripsi. dan akhirnya menarik kesimpulan. sampling. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. misalnya. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. sama dengan teori. menganalisis data. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi.

Artinya. teknik dapat dideteksi secara inderawi. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. kuesieoner. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. dokumen. teknik kartu data. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. struktural. teknik bersifat paling kongkret. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Metode deskripsi. bahkan juga dengan teori. melalui cara: 1. Dengan demikian. komparasi. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Sebagai instrumen penelitian. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. dan sebagainya. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. angket. Sebagai alat. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. rekaman. jelas berbeda. teknik berhubungan dengan data primer. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. statistik. misalnya: wawancara.Berbeda dengan metode.

memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Jadi. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. 3. metode dapat menjadi teori. struktur disebut sebagai metode.Pada pembicaraan yang berbeda. 5 . Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. metode. 2. teori. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Tetapi sebelumnya. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. dan teknik. metodologi.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

9 . misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi.menerus. d. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri.

Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. ilmu dapat hidup. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya. Hubungannya dengan ilmu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. kecermatan. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. 10 . Jadi.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. atau pencarian kembali atas suatu objek. dan kecerdasan yang memadai.

berkembang. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Dalam menghadapi masalah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Oleh karena itu pula. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. 1985: 9-15). scientific objective. Pertama.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. sistematis. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. terutama yang berkaitan 11 . practicial objective. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Kedua. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Oleh karena itu.

Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. dan sesuai dengan objeknya. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Urutan umum dari proses 12 . Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. nalar. yaitu penelitian sastra. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. teori-teori. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.dengan pemanfaatan teori dan metode.

Oleh karena itu. Di samping itu. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Di samping masalah yang dihadapi. fakta. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. dan spiritual. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. emosional. manusia mencari tahu dan mencari makna. social. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. dan penyajian kesimpulan. pengumpulan data. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. penelaahan informasi. analisis data. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual.

orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). otoritas. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. menggambarkan. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. 14 . kemudian melakukan proses penemuan. melakukan kegiatan penemuan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. dan menafsirkan apa yang diamati. penyelidikan. atau penelitian. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. intuasi. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. atau memperkaya teori yang sudah ada. atau pendapat umum. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru.

penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Dalam hal ini. Kedua. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Oleh karena itu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Pertama. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya.

pengajuan hipotesis. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Teori dapat membantu merumuskan problem.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. penyusunan design.berhubungan). serta membantu dalam menginterpretasi data. Penelitian akan menghasilkan teori. pengumpulan dan analisis data. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. pengembangan instrumen. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 .

yaitu: 1. dan menyimpulkan. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. komunikasi. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. (3) menggunakan prinsip analisis. 2. Dalam kerja penelitian.ilmiah. Dalam penelitian ilmiah. 3. (3) mengadakan studi pustaka. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. ilmu-ilmu humaniora. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. menganalisis. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (4) merumuskan hipotesis. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. menginterpretasi. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. (2) bebas prasangka. (7) menganalisis dan 17 . nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. terorganisir. (6) mengolah data. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (5) mengumpulkan data. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis).

Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna.menginterpretasi. 18 . (9) menarik kesimpulan. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya.

valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. d. sistematis 2. didukung data empiris 19 . (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. menghasilkan pengetahuan yang: a.2. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.

yaitu : 1. Berdasarkan desain metodologinya. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Ratna.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. dan Muhadjir. Charters. 1885. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar.2. dan Whitney. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. 2004. (bandingkan Nazir. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis.

Macam-macam 21 . Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. content analysis.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. 4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 2. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. 6. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 5. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 3.

memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. yaitu sebagai studi kultural. 22 .5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. laporan. buku harian.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. film. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. 2004: 47-49). Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Sejalan dengan uraian di atas. 2. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . fotografi. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. buku teks. biografi. grafik. surat kabar. gambar. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. dan majalah. Immanuel kant. Dalam ilmu sastra. lukisan. Dalam ilmu sosial. sesuai dengan hakikat objek. 2. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan.

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. pandangan-pandangan. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat.3. sikap-sikap. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. suatu objek. gambaran atau lukisan secara sistematis. Adakalanya peneliti 23 . suatu set kondisi. 5. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. 4. penelitian bersifat alamiah. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. Menurut Whitney (dalam Nazir. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. 2.

Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. masalah yang dirumuskan harus patut. Metode ini dinamakan juga studi status . kriteria umum: 1. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.

karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. 3. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. variabel dilihat sebagaimana adanya. sifat penelitian adalah ex post facto. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. B. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.5. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . kriteria khusus 1. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan.

memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. membuat tabulasi serta analisis (statistik). dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6.3. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1.

sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. 27 . metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Dalam studi komparatif ini. kelompok. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. subjek penelitian dapat saja individu.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. maupun masyarakat. lembaga. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. dan Teeuw. ekonomi. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Eagelton. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Plark. Lotman. dan keagamaan. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. 29 . Riffaterre. Menurutnya.

upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. yaitu berupa bahasa. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Sebagai satu sistem. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. di antaranya dari sisi bahan. Melalui sistem sastralah. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. 30 . Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. secondary modelling system. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language).

Dalam hal ini. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. yaitu pembacanya. dari pembaca saja. Dengan demikian. kerja yang objektif. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. 3. Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.

di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. sejumlah peralatan diperlukan. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Namun. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Dalam hal ini.perspektif. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. 32 . bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum.

3. pola. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Tanpa paradigma. model. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. 2004: 21). jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Bagi ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2.

dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. 34 . pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. dan sebagainya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Di satu pihak. bahkan khayalan. Contohnya. Dalam penelitian sastra. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. imajinasi. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Di pihak lain. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai cara pandang. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Jadi. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif.yang relatif sama. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. tersistem. Selanjutnya. maka teori pun juga beraneka ragam. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu.

teori. metode. secara kualitatif.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Paradigma dengan demikian mendahului. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. termasuk metode. dalam ilmu humaniora. periode. Pada gilirannya. faktor metodologis. faktor epistemologis. dan teknik. faktor ontologis. teknik dan proses selanjutnya. khususnya sastra. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. penelitian adalah penilaian. faktor aksiologis. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. 35 . jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. Keempat faktor tersebut adalah: 1. keseluruhan proses penelitian. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. mengkondisikan ilmuwan sastra.

novel. 36 . gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Puisi. dan berbagai paham yang lain. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. dan drama. psikologis dan ilmu pengetahuan.generasi. psikologis. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. puisi. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. kecuali referensi estetisnya. latar tempat dan waktu. Keseluruhan unsur. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. Novel sejarah. aliran. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. novel psikologis. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Dengan kalimat lain. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. termasuk tokoh-tokoh. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. drama bersajak. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Perbedaannya.

Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. approach. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. pendekatan berasal dari kata appropio. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. dan menyajikan data. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. 37 . Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. 3. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Lebih lanjut. menganalisis. yaitu metode dan teknik.4 Pendekatan Sastra 3.1.4. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 2004: 5355).

3. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.4. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. dan (4) pendekatan objektif. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. (2) pendekatan mimesis. Artinya. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. mimetik. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. ekspresif. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. teori. pendekatan objektif. metode. Dalam hubungan inilah. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. seperti pendekatan sosiologi sastra.dan sebagainya.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. mitopoik. (3) pendekatan pragmatik. 38 . intrinsik dan ekstrinsik.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. dan tekniknya. pragmatik. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. dasarnya. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode.

persepsi.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. komunisme. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. dan hasil-hasil karyanya. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. feminisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. dan 39 .3. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Secara metodis.2. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. pikiran-pikiran. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. (3) produk pandangan dunia pengarang.4. ucapan. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. pikiran dan perasaan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. nasionalisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.

perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. Melalui pandangan ini. dan sebagainya Luxemberg. dan ideologi pengarang. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. dan (4) membicarakan secara menyeluruh.4.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. 1958:8). 40 . persepsi. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. pikiran. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. 3. pengalaman. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. pengalaman hidup. (2) memetakan sejumlah pikiran. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. 1989:15).2. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. bentuk-bentuk kemasyarakatan. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). perasaan. sesuai tujuan.

Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu proses. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Tiruan. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. suatu produk akhir. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. menyiratkan sesuatu yang statis. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 .1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu copy. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Menurut Baxter. tetapi penekanannya berbeda. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Segers (2000. Secara terminologis. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Menurutnya.

kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. 42 . Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dsb. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. sesuai tujuan. Melalui penjabaran di atas.. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Oleh karena itu. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Secara metodis. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis.

dan memahami karya sastra. menafsirkan. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. pembacalah yang menilai. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Menurutnya. Pembaca dalam 43 . Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca.2.3. menikmati. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Dalam uraiannya. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Menurutnya.4. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.

Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (4) semangat zaman. yaitu: (1) pengalaman pembaca. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Dalam hal ini. (5) rangkaian sastra. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. (3) nilai estetik. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (6) perspektif sinkronik dan diakronik.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . dan (7) sejarah umum. (2) horison harapan. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.

Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.informasi. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori menuntut 45 . Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Dengan kondisi tersebut.

Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. diidealkan. Fungsi sosial sastra 46 . yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. satirik.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik.

Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. pembaca. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. rol. historis. dan literary strategies Implied reader merupakan model. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. 1987: 20 dan 54). Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Konsekuansinya. literary repertoire. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. dan interaksinya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya.

Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. politis. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. seperti aspekhistoris. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Oleh karena itulah.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. 48 . Dengan demikian.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca.4. antarhubungan. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. termasuk biografi. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. dan totalitas.2. 3. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. sosiologis.

49 . Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). gaya bahasa. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. konflik. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. fakta cerita (tokoh. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. dll. alur. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. dan latar). Adapun terhadap prosa. Secara metodologis.).

Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 .Pada analisis prosa. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra.

BAB IV STRUKTURALISME 4. dan Teeuw. dan Faruk: 1994: 17-18. Artinya. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. terlepas dari 51 . Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. apabila suatu bagian dihilangkan. 1995: 4-12. Hawkes. Selain itu. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. 1984: 120139). 1978: 17-18. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. melainkan kualitatif.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. Faruk. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. melainkan rusak sama sekali. 1999: 1-9. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. mekanisme sendiri. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif.

strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Formalisme di Rusia. Aliran Kritik Baru di Amerika. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Artinya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. mekanisme yang baru. sesuatu yang berstruktur. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. mengembangkan. otonom. Karena itu. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. motivator terjadinya gejala baru. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. dan self-regulatif. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Sebagai kualitas totalitas. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. transformatif. sesuatu yang utuh. Dengan kata lain. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. antarhubungan merupakan energi.

prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Di pihak lain. Karya tidak dapat diisolasi. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. plot. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Dengan kata lain. Analisis terhadap penokohan. misalnya. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. dan sebagainya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Namun demikian. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. latar. seperti kejadian.sebagai sistem komunikasi. Sejalan dengan uraian di atas. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. 53 . suatu masyarakat.

dan psikologi. oposisi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Metode yang digunakan metode formal. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. yaitu: 1. sosiologi. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. 1985: 128-13. reaksi terhadap studi biografis 2.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Dengan jalan demikian. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. dan sebagainya. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. puitika. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. asosiasi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Meskipun demikian.4.

struktur. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. dan (3) sebagai teori. melahirkan strukturalisme. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. fakta semiotik. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. Pradopo 2002: 46. Oleh karena itulah. masyarakat yang menghasilkannya. 4. terdiri atas tanda. 55 . 2003: 88-96. Muhadjir. 2002: 304). tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. dan pembaca sebagai penerima. dan Ratna. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. 1985: 185-192. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. (2) sebagai metode. dan nilai-nilai. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Menurutnya.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. karya sastra adalah proses komunikasi.

peristiwa. nada. dan gaya bahasa.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. peristiwa atau kejadian. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Artinya. dialog. rima atau persajakan. ritme atau irama. stilistika. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. diksi atau pilihan kata. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. di antaranya tema. Unsurunsur prosa. tujuan analisis di lain pihak. latar. imajinasi. puisi. misalnya mengarah pada tema. alur. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dan enjambemen. Unsur-unsur puisi. latar atau setting. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. alur. puisi. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. dan gaya bahasa. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. simbol. Prosa. penokohan. penokohan. sudut pandang. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian.

karya sastra. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Jadi. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. tidak semau-maunya. Dalam hubungan ini. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). yaitu pencerita. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. 57 . dan pendengar.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak bertambah dalam penelitian pustaka.

latar belakang sejarah pertumbuhannya. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. arti bahasa dalam 58 . dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat.4 Semiotik Secara padat Dolezel. pengertian tanda ada dua prinsip. aliran semiotik. antara penanda dan petanda. Menurutnya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Stout (dalam Makaryk. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yaitu persamaan dan sebab akibat. dan simbol. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat.4. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. yaitu ikon. 1993: 183-189). Ada tiga jenis tanda yang pokok. Dalam lapangan semiotik. indeks. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). yang merupakan bentuk tanda. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai.

maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. perasaan. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Berhubungan dengan hal ini. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. arti tambahan (konotasi). Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. suasana. Dalam kaya sastra. intensitas. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). daya liris. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Jadi. Dalam sistem semiotik.

yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. (2) semantik semiotik. atau yang lain. Menurut pandangan intertektualitas. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. terdapat (1) sintaksis semiotika. Sejalan dengan paham triadik peircean. dan (3) pragmatik semiotik. termasuk sastra. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Dilihat dari segi cara kerjanya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik.

c. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. dan interpretant. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. 2. rheme.1. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. c. denotatum. representamen. b. ground. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. type. yaitu apa yang diacu: a. 2004: 102) di antara ikon. legisigns. referent). hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. ikon. qualisigns. tokens. yang paling sering diulas adalah object. sinsigns. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. argument. b. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. dicent signs. interpretant. b. 61 . object. object (designatum. c. Menurut Aart van Zoet (Ratna. simbol. Di antara representamen.

di lain pihak. (c) pembaca (pragmatik). Kellner dalam makaryk. sebagai struktur. Sebagai strukturalisme. dan (d) objektif (otonom). dan Faruk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi.5. yang terpenting adalah ikon. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. dan simbol. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. 1993: 340-341. Teks sastra kaya dengan ikon. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. 4. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 1993: 95-99.indeks. 62 . Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. (b) semestaan (mimetik). Karena itu. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. termasuk karya sastra. Alasannya.

marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Oleh karena itu. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Menurut Marxis. yaitu melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Untuk melakukan transformasi atas alam.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

melainkan kelas sosial.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. 4. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Karya-karya kultural yang besar. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif.5. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Karena itu.

karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. seperti kelompok profesi. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Karena itu.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. kelompok etnis. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. ras. Karena itu. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. dan sebagainya. pendidikan. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Dalam pengertian strukturalisme genetik.

Dengan demikian. 4. seperti strukturalisme. bersifat mimetik. dan sebagainya. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Namun. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Hanya beberapa di antaranya.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Greimas. Todorov.5. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Dalam pandangan strukturalisme genetik.

Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Struktur yang demikian. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. menurut strukturalisme genetik. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik.semantik pula. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan.

yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. yang juga berstruktur.5. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Namun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Menurut paham tersebut. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. 4. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.

Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. kisah. seperti model sintaksis. logos berarti ilmu. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. sebagaimana hubungan antara subjek. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator.6. Dengan demikian. atau sebaliknya. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman.dialektik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. hikayat. predikat. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Narratio berarti cerita. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. 4. demikian juga dengan wacana dan teks. subjek secara linguistik. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. perkataan. dan objek penderita. bukan 72 . Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.6 Naratologi 4.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin).

dan wacana. dengan pertimbangan 73 . Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. semboyan. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora).person. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. restorasi. Revolusi. analisis naratif merupakan bagian ideologi. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. sastra. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. bukan pengarang. diceritakan oleh narator. misalnya. bukan pengarang. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Setiap orang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. dan ekonomi. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Pada pahan pascastruktural. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. politik. tetapi juga melalui kata-kata. melainkan melalui bahasa.

Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. wacana. Tanpa cerita. dan teks. Hampir keseluruhan genre sastra. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. baik sebagai penulis.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. novel juga merupakan objek yang paling memadai. kebudayaan pun tidak ada. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. dan gaya bahasa. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Dalam pembicaraan mengenai naratif. yaitu dunia fiksional. Di pihak lain. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. pembaca. latar. cerita sebagai tulang punggung karya. Dalam karya sastra. sudut pandang. Tanpa plot. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Dilihat dari media yang tersedia. paling luas. tema. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. tokoh-tokoh. 74 .

epik. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Mieke Bal (fabula.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Gerald 75 . cerpen. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Henry James (tokoh dan cerita). narration). Para pelopornya. termasuk feminis dan psikoanalisis. yaitu: 1. biografi. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. text. Percy Lubbock (teknik naratif). modus. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). 1993: 110. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). interdisipliner. dan sebagainya. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Para pelopornya. mitos. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Shlomith Rimmon-Kenan (story. lelucon. durasi. gongeng.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. juga roman. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). fabula. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. text). dan suara). story. Claude Bremond (struktur dan fungsi). catatan harian. Secara historis. frequensi. puisi naratif. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Forster (tokoh bundar dan datar).

2. Artinya. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). pastiche). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). unit terkecil yang membentuk tema. Hayden White (wacana sejarah).Prince (struktur narratee). Oleh karena itu. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Menurutnya. Propp 76 . LeviStrauss. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Marry Louise Pratt (tindak kata). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. 4. Jacques Derrida (dekonstruksi). dan Jean Baudrillad (hiperealitas.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif.6. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Roland Barthes (Kernels dan satellits).6. yaitu Propp. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Todorov. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah.

Motif dibedakan menjadi tiga macam. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Di sini. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. 77 . (4) putri dan ayahnya. persona bertindak sebagai variabel. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. yaitu: (1) penjahat. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (2) donor. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. (3) penolong. Bremond. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (6) pahlawan. Dengan kalimat lain. yaitu: pelaku. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. (5) orang yang menyuruh. perbuatan. Menurutnya. dan (7) pahlawan palsu. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. dan Todorov. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294).

Di satu pihak. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dan incest. misalnya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis.6. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan.4. khususnya konsep-konsep oposisi biner. bumi langit. 78 . tabu. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. dilakukan terhadap mitos Oedipus. Pendekatan antropologi sastra. dan sebagainya.2. Dengan kalimat lain. dan harus direkonstruksi melaluinya. baik secara bulat maupun fragmentasi. Menurutnya. seperti laki-laki perempuan. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. mitos adalah naratif itu sendiri. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. melalui struktural.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya.

dan sebagainya. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. sebagai hubungan makna dan perlambangan. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. dan latar. yaitu: kehendak. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. meneliti tema. Menurutnya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Oleh karena itulah.6. gaya bahasa. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. berkaitan dengan makna dan lambang. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama.2. dan partisipasi. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . 4.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. secara berdampingan. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. tokoh. komunikasi. (2) aspek semantik. dan (4) aspek verbal. dan sebaliknya. yaitu (1) aspek sintaksis. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet.

Apel adalah sebagai objek. dll. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. yaitu tata bahasa naratif universal. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. yaitu dongeng. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. John dan Paul juga merupakan pengirim. seperti: psikologi sastra. Tidak ada subjek di balik wacana. Mary sebagai penerima. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. baik sebagai pengirim maupun penerima. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). 80 . John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. sastra sebagai proyeksi. Greimas (dalam Abdullah. Yang ada hanyalah subjek. 4. 1999: 11-13. tetapi diperluas pada mitos. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif.6. sosiologi sastra.antarhubungan adalah kausalitas. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. studi biografi. kritik fenomenologis. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. acteurs merupakan kategori umum.2.

yaitu struktur berdasarkan perjanjian. dan ilmu sosial lainnya. Cerita adalah bahan 81 . artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. dan penolong dengan penentang. struktur yang bersifat penyelenggaraan. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Actans merupakan struktur dalam. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. dan plot. dan struktur yang bersifat pemutusan. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. Sebaliknya. tek. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. yaitu subjek dengan objek. pelaku. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. religi. Oleh karena itu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku.

sebagai model kedua. sebagai model pertama. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . 82 . perangkat peristiwa. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya.kasar. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis.1. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. dan fungsional. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. (2) kemenduaan arti (ambiguity). (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. sistematis.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. untuk memisahkan kemenduaan. 5. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. dan (c) peletak dasar 86 . Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. Karenanya.

Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Menurut Nazir (1985: 134-135). Ciri kedua yang menyangkut fisible. waktu. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. 87 . Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. serta dana. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. pikiran. (4) masalah harus dapat duji. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. (3) masalah harus merupakan hal penting. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah.

88 . Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore).1. dan totalitas di dalamnya. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. mengembangkan (develop atau extention). topik penelitian atau judul penelitian. Dengan demikian. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. hubungan antarunsur. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Berhubungan dengan penelitian sastra. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.

Jika rumusan masalah yang dihasilkan. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). misalnya. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. 5. 2001:2). Secara ideal. 89 . lingkup masalah. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. sistematis. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal.1.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan).Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. berjumlah tertentu.

teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Dalam kerangka strukturalisme. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. misalnya. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. diperlukan penerimaan positif. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. dan totalitasnya. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. khususnya analisis fiksi. Dalam uraian landasan teori. sebagai akumulasi konsep. Dalam strukturalisme. Sebagai suatu cara pemahaman. teori tidak harus dipahami secara kaku.Dengan demikian. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. baik sebagai teori maupun metode. antarhubungan. Teori adalah alat.

dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.mengarah kepada keteraturan. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Atau dengan kalimat lain. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. 5.1. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Sebaliknya. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian..

pemilihan. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. padu. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. demi pemahaman identitas data penelitian.(pendekatan) linguistik. Penentuan data berdasarkan perilaku. ciri. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dsb. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Sejalan dengan uraian di atas. dan hubungan antarunsur. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Dengan kata lain. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. (2) kategori harus lengkap. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. sistematik. hubungan simetris 92 . maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan.

Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. 2. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. 3. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan saling mempengaruhi. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . dan faktor kebetulan. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Sejalan dengan uraian di atas.

penelitiannya. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. pemilahan. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara sistematis.

peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.dan tujuan penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. 5. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.

Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Idealnya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya.

masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. dsb. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. pengembangan penelitian sejenis... keinginan. ciri. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. waktu pelaksanaan. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.. .1. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. dana yang tersedia. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP.. keberanian. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Merujuk pada potensi teks tersebut. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Latar Belakang . Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .. referensi yang memadai. kepahlawanan dan petualangan.

Namun demikian. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. berpikir logis. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tampak 98 . jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. 2. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.

keterjalinan antarunsur cerita. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. latar) 3. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. dan penelusuran tema dan amanat. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. struktur cerita yang terbentuk. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. 99 . Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. alur. 4. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan.

Berdasarkan upaya tersebut. Dalam hal ini . Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. 5. Cermati contoh berikut: 1. misalnya 100 . mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1.

Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Penjabarannya menjadi. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. alur. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. 101 . misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktur dinamik. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Paham struktural objektif. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Oleh karena itu. menempatkan teks secara otonom. antar hubungan. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif).

dan analisis data. padu. pemilihan data. pengolahan data. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. sosial). identifikasi masalah. dan menyeluruh. Dengan demikian. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. tempat. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . dll. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema.

teori. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). kajian struktural genetik c. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. 5. kajian struktural objektif b. kajian struktural naratif d. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teoretis. dan fungsional.tingkat kepekaan literer. dan metodologis. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . sistematis. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan metode kajian.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a.

penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. 2003:112). dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. identifikasi masalah. Uraian landasan teori tampak 104 . semendetail. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Berdasarkan contoh di atas. kurang memadai. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. seteliti. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu.

5. Kelemahan lain. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.

1. 106 . menganalisis. sifat. fakta. dan menginterpretasikan data (Winarno. keterjalinan unsur. fenomena. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. menyusun. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. dan amanat dapat terungkap secara tepat. 1980: 139). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. sifat.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. mengklasifikasikan . Dengan demikian. unsurunsur karya. tema. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. sejumlah data. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel).

Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. dan (4) tema dan amanat. seteliti. (2) struktur cerita. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. b dan c. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. dan latar.b. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. penyusun UP tersebut cukup 107 . Dalam hal ini. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. plot/alur. semendetail. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya.

Misalnya saja.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Namun demikian. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. plot/alur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b.

atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. suspense. Pada unsur-unsur cerita lainnya. kepadatan. surrise. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 .menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. jumlah. d. b. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. Demikian pula pada pembicaraan latar. dan sosial? c. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. kesatupaduan) sebagai instrumen. seperti pengeplotan. tempat. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan.

Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Adapun dalam penentuan amanat. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 . Dengan demikian.

“Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar.W. Jan van. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Makaryk. W. Jauss. Norton & Company Inc. 1987. 1999. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. 1983. Pengantar Ilmu Sastra.) 1993. Hans Robert. 1994. “Sastra Lisan. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Wlfgang. Imran T.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 1989.).” Makalah. New York: The Norton Library. (ed.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. 2001. “Strukturalisme-Genetik. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Pengantar Sosiologi Sastra. M.” Makalah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. 1999. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Irena R. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.H. Iser. Jakarta: Gramedia. Chamamah. Toward an Aesthetic of reseption. The Act of Reading. Luxemburg. dkk. Abrams. S. ed. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.

Bandung: Eresco. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 1984. 2000. 1995. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Gama Media Propp. 2001. dan Teknik. 2002. Tzvetan. Segers.Muhadjir. 1987. ed. Diterjemahkan oleh Suminto A. Tata Sastra. 19.). Metode. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Jakarta: Pustaka Jaya T. ------------------------------.S. V.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Jakarta: Gramedia Wuradji. Penelitian Sastra: Teori. Yogyakarta: AdiCita Teeuw.Bhd. 1985. 1993. Rien T. Makalah. Nyoman Kutha. “Strukturalisme”. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Pradopo. Sastra dan Ilmu sastra. 1985. A. Moh. 2002. Noeng. Selangor: Sain Baru Sdn. “Pengantar Penelitian. dkk. Metodologi penelitian Kualitatif. 1999. Wellek. Fatimah Djajasudarma. Sayuti. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Teori Kesusastraan. Rachmat Djoko. Metode Penelitian Linguistik. Burhan. 2004. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Evaluasi Teks Sastra. Morfologi Cerita Rakyat. Kritik Sastra Indonesia Modern. Metode Penelitian. Todorov. Rene & Austin Warren. Diterjemahkan oleh Okke K. Zaimar. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Jakarta: Djambatan.

114 .

115 .