METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

4 Greimas ……………………………………………..5 Metodologi ………………………………………………… 5.......6..2.2... .......... 83 5......1......1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah...1.........4..... 5........2 Identifikasi Masalah ………………………………………....2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .1..2.....4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5....4 Landasan Teori …………………………………………… 5...... 5.. 5....3 Tujuan Penelitian …………………………………………..1. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ..6. 5...6........3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5...1.................

i . relevansi metode dan penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Selain itu.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. hakikat. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. sastra dalam penelitian ilmiah.

penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. teori. Agustus 2007 Penyusun ii . Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Dengan demikian. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.

arah.1 Pengertian. sedangkan hodos berarti jalan. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. yang berarti alat. 3. Metodologi berasal dari methodos dan logos. strategi untuk memahami realitas. 2. Metode. yaitu filsafat ilmu mengenai metode.BAB I PENDAHULUAN 1. metode dianggap sebagai cara-cara. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Hakikat Metodologi. Teknik berasal dari kata teknikos. Dalam pengertian yang lebih luas. melalui. cara. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. sesudah. metode. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. mengikuti. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. atau seni menggunakan alat. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju.

dan (3) sadar teknis. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. dan kerangka pemikiran penelitian.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. perumusan masalah. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. 2 . 1. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. (2) sadar teoritik.

Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. menyusun proposal. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. 3 .Dengan prosedur kerja yang baik. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. kuantitatif dan kualitatif. mengadakan pengujian teori. sampling. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. deskripsi. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. membangun konsep dan model. dan akhirnya menarik kesimpulan. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. merumuskan hipotesis dan permasalahan. komparasi. eksplanasi dan interpretasi. misalnya. Sebagai alat. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. bukanlah karena perbedaan metode. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. termasuk ilmu humaniora. Klasifikasi. induksi dan deduksi. menganalisis data. sama dengan teori.

bahkan juga dengan teori.Berbeda dengan metode. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Sebagai instrumen penelitian. Artinya. Metode sering disebutkan sebagai teknik. jelas berbeda. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Sebagai alat. teknik bersifat paling kongkret. melalui cara: 1. kuesieoner. teknik kartu data. teknik berhubungan dengan data primer. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. rekaman. angket. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. dokumen. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. misalnya: wawancara. Dengan demikian. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Metode deskripsi. komparasi. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. statistik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. dan sebagainya. tetapi dasar dan cara pemahamannya. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. struktural. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. teknik dapat dideteksi secara inderawi.

5 . Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. 2. teori. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Jadi. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. metodologi. dan teknik. Tetapi sebelumnya. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. struktur disebut sebagai metode. metode dapat menjadi teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 3. metode.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. 9 . yaitu sintesis itu sendiri. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian.menerus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. d. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.

penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Hubungannya dengan ilmu. dan kecerdasan yang memadai. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. 10 . yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. kecermatan. Sebagai akibatnya. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Jadi. atau pencarian kembali atas suatu objek. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. ilmu dapat hidup. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti.

practicial objective. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Pertama. Kedua. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. 1985: 9-15). yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Oleh karena itu pula. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. sistematis. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. terutama yang berkaitan 11 .Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. scientific objective. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Dalam menghadapi masalah. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah.berkembang. Oleh karena itu.

kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. nalar. yaitu penelitian sastra. Urutan umum dari proses 12 . Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. dan sesuai dengan objeknya. teori-teori. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Kaitannya dengan kehidupan ilmu.dengan pemanfaatan teori dan metode. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.

manusia mencari tahu dan mencari makna. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. analisis data. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . dan penyajian kesimpulan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. emosional. Di samping masalah yang dihadapi. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. fakta. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Di samping itu. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. dan spiritual. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. penelaahan informasi. Oleh karena itu. social. pengumpulan data.

atau pendapat umum. melakukan kegiatan penemuan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. otoritas. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. kemudian melakukan proses penemuan. penyelidikan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. atau memperkaya teori yang sudah ada. atau penelitian. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. dan menafsirkan apa yang diamati. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. menggambarkan. 14 . intuasi. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian.

Pertama. Kedua. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Dalam hal ini. Oleh karena itu.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori.

pengembangan instrumen. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . Teori dapat membantu merumuskan problem. serta membantu dalam menginterpretasi data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengajuan hipotesis. penyusunan design. Penelitian akan menghasilkan teori.berhubungan). pengumpulan dan analisis data.

Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. yaitu: 1. menginterpretasi. Dalam kerja penelitian. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (6) mengolah data. Dalam penelitian ilmiah. (5) mengumpulkan data. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (4) merumuskan hipotesis. terorganisir. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. komunikasi. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. ilmu-ilmu humaniora.ilmiah. (3) mengadakan studi pustaka. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. menganalisis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (3) menggunakan prinsip analisis. dan menyimpulkan. 3. 2. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (7) menganalisis dan 17 . (2) bebas prasangka.

perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. 18 . (9) menarik kesimpulan. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya.menginterpretasi. Demikian pula.

(2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. sistematis 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. menghasilkan pengetahuan yang: a. d. didukung data empiris 19 . valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.

Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. 2004. Charters. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Berdasarkan desain metodologinya. (bandingkan Nazir. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. dan Whitney. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan.2. Ratna. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 2. yaitu : 1. 1885. dan Muhadjir.

Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Macam-macam 21 . penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. content analysis. 5. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. 3. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 2. 6. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau.

gambar. grafik. 2. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. lukisan. surat kabar. 22 . sesuai dengan hakikat objek.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. buku harian. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Sejalan dengan uraian di atas.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. dan majalah. biografi. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. yaitu sebagai studi kultural. fotografi. laporan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Dalam ilmu sastra. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Immanuel kant. 2004: 47-49). Dalam ilmu sosial. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. film. buku teks. 2. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber.

Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Menurut Whitney (dalam Nazir. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. penelitian bersifat alamiah. 4. Adakalanya peneliti 23 . desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. gambaran atau lukisan secara sistematis. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya.3. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. suatu objek. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. sikap-sikap. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. pandangan-pandangan. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 5. suatu set kondisi. 2.

Metode ini dinamakan juga studi status . Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. masalah yang dirumuskan harus patut.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . kriteria umum: 1. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2.

Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. B. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. variabel dilihat sebagaimana adanya. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. kriteria khusus 1. sifat penelitian adalah ex post facto. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. 3.5. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2.

3. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan.

subjek penelitian dapat saja individu. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. maupun masyarakat. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Dalam studi komparatif ini. lembaga. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. kelompok. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. 27 .

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

29 . Riffaterre. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Eagelton. dan Teeuw.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. dan keagamaan. ekonomi.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Plark. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Menurutnya. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Lotman. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem.

di antaranya dari sisi bahan. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. 30 . Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. yaitu berupa bahasa. secondary modelling system. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Sebagai satu sistem. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Melalui sistem sastralah. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya.

3. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. yaitu pembacanya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dalam hal ini. dari pembaca saja. Dengan demikian. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. kerja yang objektif.

perspektif. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. sejumlah peralatan diperlukan. 32 . membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Namun. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Dalam hal ini. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu.

ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. sebagai berikut: 1. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. 2004: 21). Tanpa paradigma. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. unsur dalam diri sendiri 2. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Bagi ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama.3. pola. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. model. unsur luar berupa lingkungan fisik 3.

penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. 34 . Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Contohnya. Dalam penelitian sastra.yang relatif sama. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. sebagai cara pandang. Di pihak lain. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Di satu pihak. imajinasi. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Selanjutnya. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. bahkan khayalan. Jadi. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. tersistem. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. dan sebagainya.

ke arah mana penelitian sastra diarahkan. termasuk metode.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. teori. mengkondisikan ilmuwan sastra. secara kualitatif. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. periode. faktor metodologis. Keempat faktor tersebut adalah: 1. faktor aksiologis. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. teknik dan proses selanjutnya. metode. 35 . Paradigma dengan demikian mendahului. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. faktor ontologis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. faktor epistemologis. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. khususnya sastra. dan teknik. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. keseluruhan proses penelitian. Pada gilirannya. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. dalam ilmu humaniora. penelitian adalah penilaian.

dan drama. Puisi. aliran. termasuk tokoh-tokoh. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Novel sejarah.generasi. Keseluruhan unsur. novel. drama bersajak. kecuali referensi estetisnya. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. psikologis dan ilmu pengetahuan. novel psikologis. puisi. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. latar tempat dan waktu. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Perbedaannya. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Dengan kalimat lain. 36 . psikologis. dan berbagai paham yang lain. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi.

sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. 37 . Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.4. approach. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. menganalisis. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran.4 Pendekatan Sastra 3. dan menyajikan data. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. yaitu metode dan teknik. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. pendekatan berasal dari kata appropio.1. 3. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 2004: 5355). Lebih lanjut. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.

pragmatik.dan sebagainya. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. metode. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. ekspresif. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. (3) pendekatan pragmatik. pendekatan objektif. teori. 38 . mitopoik. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. mimetik. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. seperti pendekatan sosiologi sastra. dasarnya.4. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Artinya. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. dan tekniknya. 3.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Dalam hubungan inilah.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. dan (4) pendekatan objektif. intrinsik dan ekstrinsik. (2) pendekatan mimesis. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.

Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. dan hasil-hasil karyanya. (3) produk pandangan dunia pengarang.3.2. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. nasionalisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. persepsi. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Secara metodis. ucapan.4. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. komunisme. dan 39 . feminisme. pikiran dan perasaan. pikiran-pikiran. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi.

pengalaman hidup.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. 1989:15).2. Melalui pandangan ini. sesuai tujuan. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. 3. 1958:8). dan (4) membicarakan secara menyeluruh. dan sebagainya Luxemberg. pikiran. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. bentuk-bentuk kemasyarakatan. persepsi. dan ideologi pengarang. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial.4. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. pengalaman. (2) memetakan sejumlah pikiran. 40 . (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. perasaan.

Segers (2000. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu produk akhir. tetapi penekanannya berbeda. suatu proses. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyiratkan sesuatu yang statis. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Menurut Baxter. Tiruan.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Secara terminologis. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Menurutnya. suatu copy. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita.

. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. sesuai tujuan. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. Melalui penjabaran di atas. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. dsb. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Secara metodis. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Oleh karena itu. 42 .

menikmati.2. menafsirkan. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.4.3. dan memahami karya sastra. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Pembaca dalam 43 . Dalam uraiannya. pembacalah yang menilai.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Menurutnya. Menurutnya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi.

karya sastra mendapat makna dan fungsinya. (5) rangkaian sastra. Dalam hal ini. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. yaitu: (1) pengalaman pembaca. (4) semangat zaman. dan (7) sejarah umum. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 .kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (2) horison harapan. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (3) nilai estetik. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss.

teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.informasi. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Perihal semangat zaman. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Dengan kondisi tersebut. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori menuntut 45 . Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.

Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. satirik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Fungsi sosial sastra 46 . diidealkan. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu.

1987: 20 dan 54). Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. pembaca. dan literary strategies Implied reader merupakan model. literary repertoire. Konsekuansinya. dan interaksinya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Konsep dialektika respon estetik (Iser. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. historis. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. rol. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya.

Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. sosiologis. termasuk biografi. seperti aspekhistoris. politis. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan.4. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan totalitas. antarhubungan. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams.2. Oleh karena itulah. Dengan demikian. 3. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. 48 .

Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Secara metodologis. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. gaya bahasa. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. dan sarana cerita (pusat pengisahan.). 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. dll. alur. Adapun terhadap prosa. 49 . Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. fakta cerita (tokoh. dan latar). konflik.

Di dalam analisisnya. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. 50 . Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.Pada analisis prosa.

untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Selain itu. melainkan kualitatif.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. dan Faruk: 1994: 17-18. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. melainkan rusak sama sekali. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Hawkes. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. 1984: 120139). Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. apabila suatu bagian dihilangkan. 1999: 1-9.BAB IV STRUKTURALISME 4. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Artinya. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. 1978: 17-18. 1995: 4-12. terlepas dari 51 . dan Teeuw. Faruk. mekanisme sendiri.

dan self-regulatif. mengembangkan. Karena itu. Aliran Kritik Baru di Amerika. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Artinya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. mekanisme yang baru. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. otonom. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. motivator terjadinya gejala baru. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Sebagai kualitas totalitas. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. sesuatu yang berstruktur. sesuatu yang utuh.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Formalisme di Rusia. transformatif. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. antarhubungan merupakan energi. Dengan kata lain.

misalnya. latar. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. seperti kejadian. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Sejalan dengan uraian di atas. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. dan sebagainya. Namun demikian. plot. Analisis terhadap penokohan.sebagai sistem komunikasi. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. 53 . perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. suatu masyarakat. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Dengan kata lain. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Karya tidak dapat diisolasi. Di pihak lain.

oposisi. yaitu: 1. dan sebagainya. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. asosiasi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. puitika. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur.4. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. Meskipun demikian. Dengan jalan demikian. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. sosiologi. Metode yang digunakan metode formal. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . reaksi terhadap studi biografis 2.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. 1985: 128-13. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. dan psikologi. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3.

4. dan (3) sebagai teori. dan nilai-nilai. 1985: 185-192. karya sastra adalah proses komunikasi. Pradopo 2002: 46. masyarakat yang menghasilkannya. Muhadjir. melahirkan strukturalisme. Oleh karena itulah. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 55 . karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2002: 304). struktur. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. dan pembaca sebagai penerima. terdiri atas tanda. fakta semiotik. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Menurutnya. (2) sebagai metode. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. 2003: 88-96. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. dan Ratna. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme.

latar atau setting. peristiwa. nada. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. dan gaya bahasa. Artinya. puisi. Unsur-unsur puisi. alur. puisi. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. diksi atau pilihan kata. Prosa. peristiwa atau kejadian. ritme atau irama.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. dan gaya bahasa. penokohan. sudut pandang. di antaranya tema. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. dialog. tujuan analisis di lain pihak. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. imajinasi. rima atau persajakan. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. latar. penokohan. simbol. dan enjambemen. Unsurunsur prosa. stilistika. misalnya mengarah pada tema. alur.

Dalam hubungan ini. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. tidak semau-maunya.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. 57 . karya sastra. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. yaitu pencerita. dan pendengar. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Jadi. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda.

Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai.4 Semiotik Secara padat Dolezel.4. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. aliran semiotik. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Menurutnya. yang merupakan bentuk tanda. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. pengertian tanda ada dua prinsip. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Stout (dalam Makaryk. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Ada tiga jenis tanda yang pokok. antara penanda dan petanda. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. yaitu ikon. 1993: 183-189). dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. yaitu persamaan dan sebab akibat. indeks. arti bahasa dalam 58 . Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. dan simbol. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Dalam lapangan semiotik.

Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. arti tambahan (konotasi). arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Jadi. intensitas. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. daya liris. suasana. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Berhubungan dengan hal ini. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Dalam kaya sastra. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Dalam sistem semiotik. perasaan. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning).

yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. atau yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. dan (3) pragmatik semiotik.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. terdapat (1) sintaksis semiotika. (2) semantik semiotik. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. termasuk sastra. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Menurut pandangan intertektualitas. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima.

legisigns. dicent signs. c. Di antara representamen. argument. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. object (designatum. referent). Menurut Aart van Zoet (Ratna.1. simbol. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. interpretant. c. tokens. qualisigns. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. 61 . denotatum. representamen. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. ikon. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. c. 2. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. 2004: 102) di antara ikon. dan interpretant. b. yaitu apa yang diacu: a. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. yang paling sering diulas adalah object. sinsigns. b. ground. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. b. type. rheme. object.

dan simbol. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik.5. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 1993: 340-341. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Sebagai strukturalisme. 4. dan Faruk. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. dan (d) objektif (otonom). sebagai struktur. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. Karena itu. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. termasuk karya sastra. 1993: 95-99. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. (c) pembaca (pragmatik). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Kellner dalam makaryk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. di lain pihak. yang terpenting adalah ikon. Alasannya. (b) semestaan (mimetik).indeks. 62 . Teks sastra kaya dengan ikon. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini.

Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Menurut Marxis. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Untuk melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. yaitu melakukan transformasi atas alam. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Oleh karena itu. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

melainkan kelas sosial. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karena itu. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Karya-karya kultural yang besar. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . 4. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.5. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas.

karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik. kelompok etnis. seperti kelompok profesi. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pendidikan. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. dan sebagainya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Karena itu. ras. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Karena itu.

melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. bersifat mimetik. 4. seperti strukturalisme. Dengan demikian. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Hanya beberapa di antaranya. Namun. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Todorov. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Greimas. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. dan sebagainya.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 .5.

Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. menurut strukturalisme genetik. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Struktur yang demikian.semantik pula. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 .

5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Menurut paham tersebut.5. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. 4. yang juga berstruktur. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Namun.

Narratio berarti cerita. logos berarti ilmu. hikayat. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya.6 Naratologi 4. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. subjek secara linguistik. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. bukan 72 . Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. seperti model sintaksis. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Dengan demikian.6. predikat. perkataan. demikian juga dengan wacana dan teks. kisah. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. 4. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. dan objek penderita. sebagaimana hubungan antara subjek.dialektik. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. atau sebaliknya.

maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). politik. Setiap orang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. dan wacana. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. bukan pengarang. dan ekonomi.person. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Pada pahan pascastruktural. diceritakan oleh narator. restorasi. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. semboyan. melainkan melalui bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. dengan pertimbangan 73 . bukan pengarang. akrab dengan cerita Jaka Tarub. sastra. Revolusi. misalnya.

Dalam karya sastra. sudut pandang. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. 74 . Tanpa cerita. latar. Dilihat dari media yang tersedia. paling luas. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. dan gaya bahasa. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. pembaca. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. wacana. dan teks. Di pihak lain. baik sebagai penulis. tokoh-tokoh. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. cerita sebagai tulang punggung karya. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Dalam pembicaraan mengenai naratif. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Tanpa plot. Hampir keseluruhan genre sastra. novel juga merupakan objek yang paling memadai. yaitu dunia fiksional. kebudayaan pun tidak ada. tema. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.

yaitu: 1. Shlomith Rimmon-Kenan (story. story. juga roman. Forster (tokoh bundar dan datar). catatan harian. Claude Bremond (struktur dan fungsi). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Percy Lubbock (teknik naratif). Gerald 75 . lelucon. Henry James (tokoh dan cerita). di antaranya: Gerard Gennet (urutan. narration). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. 1993: 110. durasi. mitos. interdisipliner. text. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). cerpen. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. dan suara). biografi. Para pelopornya. text). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. puisi naratif. modus. termasuk feminis dan psikoanalisis.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Para pelopornya. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). gongeng. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. frequensi. Mieke Bal (fabula. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). dan sebagainya. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). epik. fabula. Secara historis.

Oleh karena itu. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Todorov. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Roland Barthes (Kernels dan satellits). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. LeviStrauss. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah.2.6. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Jonathan Culler (kompetensi sastra).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Menurutnya. Artinya. 4.Prince (struktur narratee). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Hayden White (wacana sejarah). Propp 76 . dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. yaitu Propp. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. unit terkecil yang membentuk tema. Marry Louise Pratt (tindak kata). Seymoeur Chatman (struktur naratif).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. pastiche). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Jacques Derrida (dekonstruksi). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.

(5) orang yang menyuruh. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). dan (7) pahlawan palsu. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Menurutnya. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. yaitu: (1) penjahat. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (2) donor. (6) pahlawan. dan Todorov. perbuatan. Di sini. Bremond. (4) putri dan ayahnya. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Motif dibedakan menjadi tiga macam.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Dengan kalimat lain. 77 . persona bertindak sebagai variabel. (3) penolong. yaitu: pelaku. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian.

dan sebagainya. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. dilakukan terhadap mitos Oedipus. khususnya konsep-konsep oposisi biner. melalui struktural. bumi langit.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Dengan kalimat lain. tabu. dan incest. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. baik secara bulat maupun fragmentasi. 78 . sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Pendekatan antropologi sastra. misalnya. Di satu pihak. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.4. dan harus direkonstruksi melaluinya. seperti laki-laki perempuan. mitos adalah naratif itu sendiri. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng.2. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis.6. Menurutnya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu.

melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. gaya bahasa. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. dan sebaliknya. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. dan latar. secara berdampingan. sebagai hubungan makna dan perlambangan. (2) aspek semantik. meneliti tema. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Oleh karena itulah. yaitu (1) aspek sintaksis.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Menurutnya. dan sebagainya.6. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. komunikasi.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. yaitu: kehendak. berkaitan dengan makna dan lambang. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut.2. tokoh. dan partisipasi. 4. dan (4) aspek verbal.

Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. sastra sebagai proyeksi. seperti: psikologi sastra. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju.2. sosiologi sastra.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. 80 . acteurs merupakan kategori umum. Yang ada hanyalah subjek. studi biografi. 1999: 11-13. Greimas (dalam Abdullah. tetapi diperluas pada mitos. Tidak ada subjek di balik wacana. John dan Paul juga merupakan pengirim. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. baik sebagai pengirim maupun penerima. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. dll. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. yaitu tata bahasa naratif universal. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif.antarhubungan adalah kausalitas. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. Apel adalah sebagai objek. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Mary sebagai penerima. yaitu dongeng. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans.6. 4. kritik fenomenologis.

Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. pelaku. dan ilmu sosial lainnya. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Cerita adalah bahan 81 . yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan plot. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. tek. dan struktur yang bersifat pemutusan. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Oleh karena itu. Actans merupakan struktur dalam. Sebaliknya. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. yaitu subjek dengan objek. religi. dan penolong dengan penentang.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . sebagai model pertama. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. perangkat peristiwa.kasar. 82 . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model kedua.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

1. 5. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. dan fungsional. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. dan (c) peletak dasar 86 . untuk memisahkan kemenduaan.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Karenanya. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. sistematis. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. (2) kemenduaan arti (ambiguity).

dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (4) masalah harus dapat duji. waktu. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. serta dana. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. pikiran. 87 . Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (3) masalah harus merupakan hal penting. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Menurut Nazir (1985: 134-135).

tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. Dengan demikian. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. rumusan hendaklah jelas dan padat 3.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. mengembangkan (develop atau extention). 88 . maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). Berhubungan dengan penelitian sastra. hubungan antarunsur. dan totalitas di dalamnya. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. topik penelitian atau judul penelitian.1. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1.

disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. lingkup masalah. Secara ideal. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 5. 89 . rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. 2001:2). tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. sistematis. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. berjumlah tertentu.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis.1. Jika rumusan masalah yang dihasilkan.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). misalnya.

sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain.Dengan demikian. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Teori adalah alat. Dalam kerangka strukturalisme. misalnya. dan totalitasnya. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. baik sebagai teori maupun metode. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. khususnya analisis fiksi. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. antarhubungan. Penerimaan yang dimaksud 90 . sebagai akumulasi konsep. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. diperlukan penerimaan positif. Dalam strukturalisme. Sebagai suatu cara pemahaman. Dalam uraian landasan teori. teori tidak harus dipahami secara kaku. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan.

pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.mengarah kepada keteraturan.1. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Atau dengan kalimat lain.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. 5. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Sebaliknya.

ciri. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. pemilihan. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. (2) kategori harus lengkap. Sejalan dengan uraian di atas. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. hubungan simetris 92 .(pendekatan) linguistik. Penentuan data berdasarkan perilaku. dan hubungan antarunsur. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. demi pemahaman identitas data penelitian. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Dengan kata lain. padu. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. sistematik. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. dsb.

2.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. dan faktor kebetulan. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. 3. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Sejalan dengan uraian di atas. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. hubungan saling mempengaruhi.

(3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . pemilahan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3.penelitiannya. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara sistematis.

Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra).dan tujuan penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. 5. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.

proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Idealnya. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.

. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.. keinginan. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian.1. dsb. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Merujuk pada potensi teks tersebut.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.. pengembangan penelitian sejenis.. dana yang tersedia.. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. referensi yang memadai. ciri.. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. waktu pelaksanaan. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. kepahlawanan dan petualangan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Latar Belakang . Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. keberanian.

Namun demikian.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. tampak 98 . kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. berpikir logis. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.

latar) 3. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. 4. alur. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. dan penelusuran tema dan amanat.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. 99 . keterjalinan antarunsur cerita. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. struktur cerita yang terbentuk.

misalnya 100 . mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1.Berdasarkan upaya tersebut. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Dalam hal ini .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. 5. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Cermati contoh berikut: 1. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah.

Oleh karena itu. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Struktur dinamik. Penjabarannya menjadi. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Paham struktural objektif. 101 . alur. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. menempatkan teks secara otonom. antar hubungan.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita.

identifikasi masalah.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. pengolahan data. pemilihan data. sosial). tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. Dengan demikian. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. tempat. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. padu. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. dan analisis data. dll. dan menyeluruh.

dan fungsional. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . kajian struktural naratif d. kajian struktural objektif b. dan metodologis.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis.tingkat kepekaan literer. teori. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural genetik c. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. 5. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teoretis. sistematis. dan metode kajian. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas).

Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. kurang memadai. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. semendetail. dan tujuan penelitian tertentu. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Berdasarkan contoh di atas. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. seteliti. identifikasi masalah. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Uraian landasan teori tampak 104 . 2003:112). Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1.

terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. 5. Kelemahan lain. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.

dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. sifat.1. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. Dengan demikian. sejumlah data. sifat. tema. dan menginterpretasikan data (Winarno. unsurunsur karya. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. 106 . 1980: 139). dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural).1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. mengklasifikasikan . dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. fakta. menyusun. dan amanat dapat terungkap secara tepat. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. keterjalinan unsur. menganalisis.

(b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. plot/alur. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Dalam hal ini. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. seteliti. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.b. dan latar. penyusun UP tersebut cukup 107 . (2) struktur cerita. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. b dan c. dan (4) tema dan amanat. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. semendetail.

Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Namun demikian.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. plot/alur. Misalnya saja. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.

tempat. d.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. seperti pengeplotan. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. kesatupaduan) sebagai instrumen. b. kepadatan. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. jumlah. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. suspense. surrise. Demikian pula pada pembicaraan latar. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. Pada unsur-unsur cerita lainnya. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. dan sosial? c.

seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Adapun dalam penentuan amanat. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.

Dengan demikian. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

1987. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Minneapolis: University of Minnesotta Press. 2001. New York: The Norton Library.” Makalah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Makaryk. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. ed.” Makalah. “Strukturalisme-Genetik. Luxemburg. 1994. Chamamah. Abrams. Wlfgang.).) 1993. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Norton & Company Inc. dkk.W. (ed. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Hans Robert. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. S. “Sastra Lisan. 1999. Iser. Imran T. 1989. Irena R. Jakarta: Gramedia. 1999. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Pengantar Ilmu Sastra. Toward an Aesthetic of reseption. Jan van. M. The Act of Reading. Jauss.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1983.H. Pengantar Sosiologi Sastra. W.

Diterjemahkan oleh Okke K. 1985. Makalah. 1995. Penelitian Sastra: Teori. “Pengantar Penelitian. 19. 2002. Nyoman Kutha. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Rene & Austin Warren. Teori Pengkajian Fiksi. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Morfologi Cerita Rakyat. Segers.). Moh. Tata Sastra. Sastra dan Ilmu sastra. Rien T. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 1984. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.Bhd. ------------------------------. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Diterjemahkan oleh Suminto A. Burhan. Yogyakarta: Gama Media Propp. Noeng. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . ed. Kritik Sastra Indonesia Modern.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.S. 1999. Pradopo. “Strukturalisme”. Sayuti. Evaluasi Teks Sastra. Bandung: Eresco. Metode Penelitian Linguistik. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teori Kesusastraan. 1985. Todorov. V. 2001. Metode. Rachmat Djoko. Fatimah Djajasudarma. Wellek. 1987. Selangor: Sain Baru Sdn. Jakarta: Djambatan. dkk.Muhadjir. Zaimar. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Wuradji. Jakarta: Pustaka Jaya T. Metodologi penelitian Kualitatif. 2002. dan Teknik. 2000. 1993. Tzvetan. A. 2004.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful