METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

..... 83 5..2 Identifikasi Masalah ……………………………………….........1..1.1.......... 5.........3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5......... 5.. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .1...2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.....4 Landasan Teori …………………………………………… 5.... 5......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5......2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.2...2..1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .. .....6......6...5 Metodologi ………………………………………………… 5......2...3 Tujuan Penelitian …………………………………………..... 5.....1..5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ..4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.6.......4...4 Greimas ……………………………………………...

Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. i . upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sastra dalam penelitian ilmiah. hakikat. Selain itu. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. relevansi metode dan penelitian.

teori.. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Dengan demikian. Agustus 2007 Penyusun ii . penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.

langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. yang berarti alat. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. metode. Metode. melalui. mengikuti. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . atau seni menggunakan alat. metode dianggap sebagai cara-cara. Dalam pengertian yang lebih luas. Metodologi berasal dari methodos dan logos.BAB I PENDAHULUAN 1. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. sesudah. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. 2. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. strategi untuk memahami realitas. sedangkan hodos berarti jalan. cara. Teknik berasal dari kata teknikos. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. 3. Hakikat Metodologi. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. arah. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah.1 Pengertian.

Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. 1. dan (3) sadar teknis. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. (2) sadar teoritik. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. perumusan masalah. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. 2 .

Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. menganalisis data. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. menyusun proposal. termasuk ilmu humaniora. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. mengadakan pengujian teori.Dengan prosedur kerja yang baik. bukanlah karena perbedaan metode. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. sampling. membangun konsep dan model. Klasifikasi. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. dan akhirnya menarik kesimpulan. induksi dan deduksi. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. 3 . metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. sama dengan teori. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Sebagai alat. misalnya. kuantitatif dan kualitatif. deskripsi. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. eksplanasi dan interpretasi. komparasi.

Metode sering disebutkan sebagai teknik. teknik bersifat paling kongkret. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Dengan demikian. bahkan juga dengan teori. Sebagai instrumen penelitian. jelas berbeda. kuesieoner. Artinya. misalnya: wawancara. melalui cara: 1. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Sebagai alat. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. dokumen. struktural. angket. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. dan sebagainya. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun.Berbeda dengan metode. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . teknik kartu data. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. teknik berhubungan dengan data primer. rekaman. statistik. Metode deskripsi. tetapi dasar dan cara pemahamannya. komparasi.

Tetapi sebelumnya. dan teknik. teori. 2. Jadi. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. metode. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. metodologi.Pada pembicaraan yang berbeda. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. 5 . luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. 3. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. metode dapat menjadi teori. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur disebut sebagai metode. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. d. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. 9 . Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.menerus. yaitu sintesis itu sendiri.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.

Hubungannya dengan ilmu. kecermatan. ilmu dapat hidup. Jadi. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. atau pencarian kembali atas suatu objek. 10 .BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. dan kecerdasan yang memadai. Sebagai akibatnya. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian.

yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Pertama. Oleh karena itu pula. 1985: 9-15). terutama yang berkaitan 11 . Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. scientific objective. Oleh karena itu.berkembang.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Kedua. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. practicial objective. Dalam menghadapi masalah. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. sistematis. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata.

kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. teori-teori. nalar. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem).dengan pemanfaatan teori dan metode. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. yaitu penelitian sastra. dan sesuai dengan objeknya. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Urutan umum dari proses 12 . Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini.

Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. manusia mencari tahu dan mencari makna. analisis data. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Di samping masalah yang dihadapi. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. penelaahan informasi. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. emosional. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Oleh karena itu. pengumpulan data. fakta. Di samping itu. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. dan spiritual. dan penyajian kesimpulan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. social. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya.

kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. menggambarkan. atau pendapat umum. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. penyelidikan. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. melakukan kegiatan penemuan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. kemudian melakukan proses penemuan. intuasi. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. dan menafsirkan apa yang diamati. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. otoritas. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. 14 . Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). atau memperkaya teori yang sudah ada. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. atau penelitian.

memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Oleh karena itu. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Pertama. Dalam hal ini. Kedua. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri.

pengembangan instrumen. penyusunan design. Teori dapat membantu merumuskan problem. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. pengumpulan dan analisis data. serta membantu dalam menginterpretasi data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Penelitian akan menghasilkan teori. pengajuan hipotesis. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2.berhubungan). yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.

ilmu-ilmu humaniora. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. 3. yaitu: 1. (5) mengumpulkan data. Dalam penelitian ilmiah. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. (2) bebas prasangka. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. menganalisis. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. Dalam kerja penelitian. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. (3) menggunakan prinsip analisis. komunikasi. 2. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (3) mengadakan studi pustaka. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (7) menganalisis dan 17 . menginterpretasi. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (4) merumuskan hipotesis. dan menyimpulkan. (6) mengolah data. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis.ilmiah. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. terorganisir.

18 . dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (9) menarik kesimpulan. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Demikian pula. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya.menginterpretasi. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.

(2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. menghasilkan pengetahuan yang: a.2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. didukung data empiris 19 . realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. sistematis 2. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. d. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.

Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. yaitu : 1. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. 1885. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2. 2004. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Ratna. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). dan Whitney. dan Muhadjir.2. Charters. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. (bandingkan Nazir.

4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 2. Macam-macam 21 . Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. ethnography merupakan pendekatan penelitian. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 6. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 5. 3. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. content analysis. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions).membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau.

2. 22 . lukisan. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. film. sesuai dengan hakikat objek. yaitu sebagai studi kultural. fotografi. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Dalam ilmu sosial. buku teks. gambar. surat kabar. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. 2. grafik. Immanuel kant. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. 2004: 47-49).5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. buku harian. Sejalan dengan uraian di atas. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. biografi. laporan. Dalam ilmu sastra. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. dan majalah.

serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. penelitian bersifat alamiah. gambaran atau lukisan secara sistematis. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. 5. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. suatu set kondisi. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. pandangan-pandangan. 4. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 2. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Menurut Whitney (dalam Nazir. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. Adakalanya peneliti 23 .3. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. sikap-sikap. suatu objek.

Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. kriteria umum: 1. Metode ini dinamakan juga studi status . Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. masalah yang dirumuskan harus patut. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 .

kriteria khusus 1. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. 3. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. B. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel.5. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. sifat penelitian adalah ex post facto. variabel dilihat sebagaimana adanya. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2.

3. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. membuat tabulasi serta analisis (statistik). merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji.

Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. maupun masyarakat. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. kelompok. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. subjek penelitian dapat saja individu. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. lembaga. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. 27 . Dalam studi komparatif ini.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Lotman. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. dan Teeuw.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Riffaterre. ekonomi. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Eagelton.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. 29 . Sastra mengandung sifat umum dan khusus. dan keagamaan. Eliis. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Menurutnya. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Plark.

yaitu berupa bahasa. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. secondary modelling system. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Sebagai satu sistem.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. 30 . Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Melalui sistem sastralah. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. di antaranya dari sisi bahan. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat.

Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Dengan demikian. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. 3. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dalam hal ini. yaitu pembacanya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. kerja yang objektif. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. dari pembaca saja. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dengan demikian.

Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Namun. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik.perspektif. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Dalam hal ini. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. sejumlah peralatan diperlukan. 32 .

3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. sebagai berikut: 1. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian.3. Tanpa paradigma. Bagi ilmuwan. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. pola. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. model. 2004: 21).

Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Di satu pihak. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Selanjutnya.yang relatif sama. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. 34 . bahkan khayalan. imajinasi. Jadi. Di pihak lain. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. maka teori pun juga beraneka ragam. dan sebagainya. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. tersistem. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai cara pandang. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Dalam penelitian sastra. Contohnya.

faktor aksiologis. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. dan teknik. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. faktor metodologis. teori. periode. metode. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. mengkondisikan ilmuwan sastra. dalam ilmu humaniora. Pada gilirannya. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. termasuk metode. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. faktor epistemologis. penelitian adalah penilaian. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. secara kualitatif. Keempat faktor tersebut adalah: 1. Paradigma dengan demikian mendahului. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor ontologis. khususnya sastra. 35 . termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. teknik dan proses selanjutnya. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. keseluruhan proses penelitian.

aliran. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. psikologis dan ilmu pengetahuan. dan berbagai paham yang lain. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. kecuali referensi estetisnya. dan drama. Puisi. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. latar tempat dan waktu. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. drama bersajak. Novel sejarah. psikologis. Perbedaannya. 36 . Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Keseluruhan unsur. Dengan kalimat lain. novel psikologis. termasuk tokoh-tokoh. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. novel. puisi.generasi.

1. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. menganalisis. 3.4. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. dan menyajikan data. Lebih lanjut.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran.4 Pendekatan Sastra 3. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. yaitu metode dan teknik. 37 . approach. pendekatan berasal dari kata appropio. 2004: 5355). maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis.

Dalam hubungan inilah. seperti pendekatan sosiologi sastra.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. metode. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. teori. dan (4) pendekatan objektif.dan sebagainya. intrinsik dan ekstrinsik. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. (3) pendekatan pragmatik.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. (2) pendekatan mimesis. dan tekniknya. mitopoik. ekspresif. pendekatan objektif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. dasarnya. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. pragmatik. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. 3.4. 38 . pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. mimetik. Artinya.

dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. dan 39 . langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. komunisme. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. feminisme. ucapan.2. nasionalisme.3. pikiran dan perasaan. Secara metodis. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. persepsi.4. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran-pikiran. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan hasil-hasil karyanya. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang.

1958:8). secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. pikiran. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.4.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. bentuk-bentuk kemasyarakatan. dan ideologi pengarang. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). pengalaman. persepsi. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. perasaan. pengalaman hidup. dan sebagainya Luxemberg. (2) memetakan sejumlah pikiran. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. Melalui pandangan ini. 1989:15). 3. 40 . Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. sesuai tujuan. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak.2. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya.

metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. suatu copy. Menurut Baxter. suatu produk akhir. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurutnya. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Segers (2000. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Secara terminologis. Tiruan. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. tetapi penekanannya berbeda. suatu proses. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis.

misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. dsb..tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Secara metodis. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. 42 . sesuai tujuan. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Melalui penjabaran di atas. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Oleh karena itu.

maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. menikmati. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. dan memahami karya sastra.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca.2. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. pembacalah yang menilai. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.4. Pembaca dalam 43 . dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Menurutnya. Dalam uraiannya.3. menafsirkan. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.

(3) nilai estetik. dan (7) sejarah umum. (5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Dalam hal ini. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. (2) horison harapan. (4) semangat zaman. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 .

Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori menuntut 45 . Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Perihal semangat zaman.informasi. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Dengan kondisi tersebut.

Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Fungsi sosial sastra 46 . diidealkan. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. satirik. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu.

Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. literary repertoire. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. dan interaksinya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. historis. 1987: 20 dan 54). dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Konsekuansinya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. dan literary strategies Implied reader merupakan model. rol. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. pembaca. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks.

langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Oleh karena itulah.2. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. 3. antarhubungan. termasuk biografi. 48 . pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.4. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. dan totalitas. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Dengan demikian.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. sosiologis. politis. seperti aspekhistoris.

Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. gaya bahasa. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Adapun terhadap prosa. fakta cerita (tokoh. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. dan latar). 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. 49 . Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Secara metodologis. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. konflik. alur. dll. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi).). sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya.

50 .Pada analisis prosa. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. 1995: 4-12. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. terlepas dari 51 . Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Selain itu. 1999: 1-9. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. mekanisme sendiri. 1984: 120139). Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. Artinya.BAB IV STRUKTURALISME 4. Faruk. 1978: 17-18. melainkan rusak sama sekali. dan Teeuw. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Faruk: 1994: 17-18. apabila suatu bagian dihilangkan. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. melainkan kualitatif. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Hawkes.

mekanisme yang baru. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Formalisme di Rusia. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Aliran Kritik Baru di Amerika. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. motivator terjadinya gejala baru. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. dan self-regulatif. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Artinya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Sebagai kualitas totalitas. mengembangkan. otonom. Karena itu. transformatif. antarhubungan merupakan energi. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. sesuatu yang utuh. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . sesuatu yang berstruktur. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Dengan kata lain.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar.

Di pihak lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Sejalan dengan uraian di atas. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Dengan kata lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. latar. misalnya. dan sebagainya. Namun demikian. seperti kejadian. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Analisis terhadap penokohan. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. 53 . suatu masyarakat. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. plot. Karya tidak dapat diisolasi.sebagai sistem komunikasi.

Metode yang digunakan metode formal. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. dan sebagainya. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. oposisi. 1985: 128-13. yaitu: 1. sosiologi. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . reaksi terhadap studi biografis 2. asosiasi. dan psikologi. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor.4.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Dengan jalan demikian. puitika. Sebagai teori modern mengenai sastra. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Meskipun demikian.

dan (3) sebagai teori. Oleh karena itulah. 55 . 2003: 88-96. struktur. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. dan nilai-nilai.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Pradopo 2002: 46. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. (2) sebagai metode. karya sastra adalah proses komunikasi. fakta semiotik. terdiri atas tanda. Muhadjir. melahirkan strukturalisme. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. dan pembaca sebagai penerima. dan Ratna. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Menurutnya. masyarakat yang menghasilkannya. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. 1985: 185-192. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. 2002: 304). 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna.

yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. sudut pandang. Unsur-unsur puisi. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. rima atau persajakan. penokohan. latar atau setting. puisi. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Unsurunsur prosa. diksi atau pilihan kata. imajinasi. Artinya. nada. stilistika. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. ritme atau irama. latar. Prosa. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. simbol. dan gaya bahasa. peristiwa atau kejadian. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. alur. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. puisi. peristiwa. alur. misalnya mengarah pada tema. penokohan. dan enjambemen. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. dialog. tujuan analisis di lain pihak. di antaranya tema. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . dan gaya bahasa.

melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. tidak semau-maunya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. yaitu pencerita. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Dalam hubungan ini. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. karya sastra. 57 . Jadi. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. dan pendengar.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art.

dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda.4. 1993: 183-189). yaitu ikon. dan simbol. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. indeks. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Dalam lapangan semiotik. antara penanda dan petanda. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Stout (dalam Makaryk. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Menurutnya. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Ada tiga jenis tanda yang pokok. pengertian tanda ada dua prinsip. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. yaitu persamaan dan sebab akibat. latar belakang sejarah pertumbuhannya. aliran semiotik. yang merupakan bentuk tanda. arti bahasa dalam 58 .4 Semiotik Secara padat Dolezel. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat.

Dalam sistem semiotik. Dalam kaya sastra. Jadi. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. intensitas. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Berhubungan dengan hal ini. perasaan. daya liris. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. arti tambahan (konotasi). sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. suasana. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .

Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Sejalan dengan paham triadik peircean. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. (2) semantik semiotik. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. termasuk sastra. atau yang lain. dan (3) pragmatik semiotik. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. terdapat (1) sintaksis semiotika. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Menurut pandangan intertektualitas. Dilihat dari segi cara kerjanya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra.

hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. c. ikon. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. 2004: 102) di antara ikon. b. yaitu apa yang diacu: a. object (designatum. yang paling sering diulas adalah object. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. denotatum. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. interpretant. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. simbol. object. argument. representamen. 61 . dicent signs. qualisigns. type. tokens. ground. Menurut Aart van Zoet (Ratna. Di antara representamen. dan interpretant. c. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. rheme. b. sinsigns. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. b. 2. legisigns. c. referent).1.

Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. di lain pihak. 4. yaitu (a) pengarang (ekspresif). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Alasannya. Kellner dalam makaryk. dan simbol. 1993: 95-99. Teks sastra kaya dengan ikon. sebagai struktur. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. 62 . Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk.5. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. (c) pembaca (pragmatik). 1993: 340-341. (b) semestaan (mimetik). Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Sebagai strukturalisme. Karena itu. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. dan (d) objektif (otonom). yang terpenting adalah ikon. termasuk karya sastra. dan Faruk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini.indeks.

terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Untuk melakukan transformasi atas alam. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Menurut Marxis. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. yaitu melakukan transformasi atas alam. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Oleh karena itu.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karena itu.5. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. melainkan kelas sosial. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. 4. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Karya-karya kultural yang besar. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.

karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. seperti kelompok profesi. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pendidikan. Karena itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. kelompok etnis. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Karena itu. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. ras. dan sebagainya.

Greimas. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. 4.5.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Dengan demikian. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Namun. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. dan sebagainya. seperti strukturalisme. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Dalam pandangan strukturalisme genetik.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. bersifat mimetik. Todorov. Hanya beberapa di antaranya.

Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. menurut strukturalisme genetik. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.semantik pula. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Struktur yang demikian. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya.

karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . 4. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. yang juga berstruktur. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Menurut paham tersebut.5. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Namun.

2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. seperti model sintaksis. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. hikayat. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). subjek secara linguistik.6 Naratologi 4. sebagaimana hubungan antara subjek. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu.6. logos berarti ilmu. 4. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. perkataan. kisah. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.dialektik. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. bukan 72 . Dengan demikian. Narratio berarti cerita. predikat. dan objek penderita. demikian juga dengan wacana dan teks. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. atau sebaliknya.

sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. sastra. dan wacana. bukan pengarang. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. melainkan melalui bahasa. restorasi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. diceritakan oleh narator. Setiap orang.person. semboyan. dan ekonomi. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Revolusi. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Pada pahan pascastruktural. misalnya. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). bukan pengarang. dengan pertimbangan 73 . tetapi juga melalui kata-kata. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. akrab dengan cerita Jaka Tarub. politik.

Hampir keseluruhan genre sastra. Tanpa cerita. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. 74 . Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. yaitu dunia fiksional. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. Tanpa plot. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. tokoh-tokoh. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. novel juga merupakan objek yang paling memadai. Dalam pembicaraan mengenai naratif. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Dilihat dari media yang tersedia. dan teks. pembaca. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Di pihak lain. tema. baik sebagai penulis. dan gaya bahasa. latar. Dalam karya sastra. paling luas. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. cerita sebagai tulang punggung karya. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. wacana. sudut pandang. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. kebudayaan pun tidak ada. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber.

Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). juga roman. text). modus. frequensi. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. termasuk feminis dan psikoanalisis.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Tzvetan Todorov (historie dan discours). mitos. dan suara). epik. puisi naratif. Shlomith Rimmon-Kenan (story. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. catatan harian. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Secara historis. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Para pelopornya. biografi. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). Forster (tokoh bundar dan datar). text. dan sebagainya. Henry James (tokoh dan cerita). fabula. gongeng. Percy Lubbock (teknik naratif).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. interdisipliner. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. yaitu: 1. durasi. cerpen. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Mieke Bal (fabula. 1993: 110. Para pelopornya. lelucon. story. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). narration). Gerald 75 .

penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Artinya. LeviStrauss. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). pastiche). yaitu Propp. Oleh karena itu. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jonathan Culler (kompetensi sastra). 4. Propp 76 . Todorov. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. unit terkecil yang membentuk tema. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Jacques Derrida (dekonstruksi).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah.Prince (struktur narratee). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Hayden White (wacana sejarah).6.2. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Menurutnya.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Seymoeur Chatman (struktur naratif). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6. Marry Louise Pratt (tindak kata). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.

Di sini. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. 77 . yaitu: pelaku. (4) putri dan ayahnya. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Motif dibedakan menjadi tiga macam. (3) penolong. Menurutnya. dan Todorov. persona bertindak sebagai variabel. (5) orang yang menyuruh. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (2) donor. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dan (7) pahlawan palsu. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (6) pahlawan. Dengan kalimat lain. Bremond. yaitu: (1) penjahat. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). perbuatan. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis.

2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Menurutnya. Di satu pihak. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. melalui struktural. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.2. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis.6. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. mitos adalah naratif itu sendiri. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. misalnya. dan sebagainya. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.4. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. dan harus direkonstruksi melaluinya. 78 . baik secara bulat maupun fragmentasi. seperti laki-laki perempuan. dilakukan terhadap mitos Oedipus. tabu. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. dan incest. bumi langit. Dengan kalimat lain. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Pendekatan antropologi sastra.

meneliti tema. dan (4) aspek verbal. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. 4. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . gaya bahasa. komunikasi. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.6. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. (2) aspek semantik.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. yaitu (1) aspek sintaksis. Menurutnya. secara berdampingan. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. dan latar. tokoh.2. yaitu: kehendak. dan partisipasi. berkaitan dengan makna dan lambang. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. dan sebaliknya. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Oleh karena itulah. dan sebagainya.

4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. 80 . Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. dll. Tidak ada subjek di balik wacana. kritik fenomenologis. 4. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. sosiologi sastra. seperti: psikologi sastra. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. baik sebagai pengirim maupun penerima. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. acteurs merupakan kategori umum. sastra sebagai proyeksi. Apel adalah sebagai objek. Greimas (dalam Abdullah. yaitu tata bahasa naratif universal.antarhubungan adalah kausalitas. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi.2. 1999: 11-13. Mary sebagai penerima. John dan Paul juga merupakan pengirim. studi biografi. tetapi diperluas pada mitos. yaitu dongeng. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Yang ada hanyalah subjek. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif.6.

kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Actans merupakan struktur dalam. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan ilmu sosial lainnya. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Sebaliknya.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. pelaku. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. tek. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan struktur yang bersifat pemutusan. dan plot. religi. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. yaitu subjek dengan objek. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Oleh karena itu. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. dan penolong dengan penentang. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Cerita adalah bahan 81 . maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. sedangkan acteurs merupakan struktur luar.

kasar. perangkat peristiwa. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model kedua. sebagai model pertama. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. 82 .

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan fungsional. Karenanya. sistematis. (2) kemenduaan arti (ambiguity).2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. untuk memisahkan kemenduaan. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. dan (c) peletak dasar 86 .dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis.1. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. 5. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena.

Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. (4) masalah harus dapat duji. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Menurut Nazir (1985: 134-135). hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. 87 . (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Ciri kedua yang menyangkut fisible. pikiran. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). waktu. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. serta dana. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.

Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. dan totalitas di dalamnya. topik penelitian atau judul penelitian. 88 . Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Dengan demikian. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. mengembangkan (develop atau extention).3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Berhubungan dengan penelitian sastra. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. rumusan hendaklah jelas dan padat 3.1. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. hubungan antarunsur. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.

di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. sistematis. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. 2001:2). 5. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan).Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. misalnya. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. berjumlah tertentu. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Secara ideal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 89 . jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). lingkup masalah.1.

dan totalitasnya. Dalam strukturalisme. teori tidak harus dipahami secara kaku. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Sebagai suatu cara pemahaman. khususnya analisis fiksi. antarhubungan. Teori adalah alat. Penerimaan yang dimaksud 90 . Dalam uraian landasan teori. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. misalnya. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Dalam kerangka strukturalisme. diperlukan penerimaan positif. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. sebagai akumulasi konsep. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis.Dengan demikian. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. baik sebagai teori maupun metode.

dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data..mengarah kepada keteraturan. Sebaliknya. 5. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.1. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Atau dengan kalimat lain. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.

Penentuan data berdasarkan perilaku. demi pemahaman identitas data penelitian.(pendekatan) linguistik. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. hubungan simetris 92 . dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Sejalan dengan uraian di atas. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. pemilihan. dan hubungan antarunsur. padu. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Dengan kata lain. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dsb. sistematik. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. (2) kategori harus lengkap. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. ciri.

(2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Sejalan dengan uraian di atas. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. dan faktor kebetulan. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. hubungan saling mempengaruhi. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. 2. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. 3. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional.

pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. pemilahan. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. pemilahan. dan pengolahan data secara sistematis. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1.penelitiannya. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan.

peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. 5.dan tujuan penelitian.

pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Idealnya. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah.

dana yang tersedia. dsb. pengembangan penelitian sejenis. . Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. kepahlawanan dan petualangan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. ciri.. keberanian. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. waktu pelaksanaan. keinginan.1. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Merujuk pada potensi teks tersebut. Latar Belakang .masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian... referensi yang memadai. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.

Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. tampak 98 .fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. 2. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Namun demikian. berpikir logis. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.

alur. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. struktur cerita yang terbentuk. dan penelusuran tema dan amanat. 99 . menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. 4. latar) 3. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. keterjalinan antarunsur cerita. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah.

1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. 5. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Cermati contoh berikut: 1. misalnya 100 . penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. Dalam hal ini . seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah.Berdasarkan upaya tersebut. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail.

alur. antar hubungan. Paham struktural objektif. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks secara otonom. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). 101 .menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Oleh karena itu. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktur dinamik. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Penjabarannya menjadi.

tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. pengolahan data. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dan analisis data. sosial). dan menyeluruh. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. pemilihan data. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. dll. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. identifikasi masalah. tempat. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Dengan demikian. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. padu.

teoretis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan fungsional. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. dan metode kajian. kajian struktural naratif d. 5. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural genetik c.tingkat kepekaan literer.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan metodologis. kajian struktural objektif b. sistematis. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. teori. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya.

dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. identifikasi masalah. dan tujuan penelitian tertentu. 2003:112). 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. seteliti.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Uraian landasan teori tampak 104 . semendetail. Berdasarkan contoh di atas. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. kurang memadai. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian.

penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. 5. Kelemahan lain. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.

fenomena. keterjalinan unsur.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. unsurunsur karya. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). menganalisis. sifat. sifat. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. Mengacu kepada definisi metode deskriptif.1. dan menginterpretasikan data (Winarno. mengklasifikasikan . dan amanat dapat terungkap secara tepat. tema. 1980: 139). contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). 106 . menyusun. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. sejumlah data. Dengan demikian. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. fakta.

dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. semendetail. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. Dalam hal ini. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. (2) struktur cerita. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. b dan c.b. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. seteliti. dan (4) tema dan amanat. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. dan latar.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. penyusun UP tersebut cukup 107 . plot/alur.

Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . Namun demikian. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. plot/alur. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Misalnya saja.

mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. tempat. surrise. jumlah. kesatupaduan) sebagai instrumen. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . dan sosial? c. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Pada unsur-unsur cerita lainnya. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. suspense. d. Demikian pula pada pembicaraan latar. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. kepadatan. seperti pengeplotan. b. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis.

Adapun dalam penentuan amanat. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. New York: The Norton Library. Toward an Aesthetic of reseption. Jan van. 1999. 1999.) 1993. dkk. Pengantar Sosiologi Sastra. Luxemburg. Hans Robert. Imran T. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. M. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. 2001. 1994. Makaryk.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1989. Jakarta: Gramedia. 1987. Wlfgang. 1983. Minneapolis: University of Minnesotta Press.). “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. (ed. Irena R. Norton & Company Inc. S.H. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. “Strukturalisme-Genetik.” Makalah. W. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Pengantar Ilmu Sastra. Chamamah. Iser. The Act of Reading. Abrams. “Sastra Lisan. Jauss. ed.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.W.

Sayuti. V. Diterjemahkan oleh Okke K. 2002. Rien T. Sastra dan Ilmu sastra. Wellek. ed.Muhadjir. 2001. 1995.Bhd. Metode Penelitian. Metode. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Rachmat Djoko. A. “Strukturalisme”. 2004. dkk. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Jakarta: Pustaka Jaya T. Nyoman Kutha. dan Teknik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Pradopo. 1999. Jakarta: Djambatan. Rene & Austin Warren. 1985. Penelitian Sastra: Teori. Fatimah Djajasudarma. 1987. 1985. Burhan. 2000. Zaimar. Tata Sastra. Selangor: Sain Baru Sdn. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Segers. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.). Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. “Pengantar Penelitian. Kritik Sastra Indonesia Modern. Morfologi Cerita Rakyat.S. Bandung: Eresco. 2002. Evaluasi Teks Sastra. Jakarta: Gramedia Wuradji. Todorov. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Diterjemahkan oleh Suminto A. Metodologi penelitian Kualitatif. Teori Pengkajian Fiksi. 19. Moh. ------------------------------. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 1993. Metode Penelitian Linguistik. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Noeng. 1984. Yogyakarta: Gama Media Propp. Tzvetan. Teori Kesusastraan. Makalah.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful