METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.....2 Levi’Strauss ………………………………………… 4......1.1...4 Landasan Teori …………………………………………… 5.2 Identifikasi Masalah ……………………………………….1..6.5 Metodologi ………………………………………………… 5.. 5.....1... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .. 83 5.4 Greimas …………………………………………….2....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .... .......6.2................3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.......1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5....1........... 5...4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5............4........2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.. 5.... 5....6.....3 Tujuan Penelitian ………………………………………….3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5....2..

Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. Selain itu. relevansi metode dan penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. i . menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. hakikat. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. sastra dalam penelitian ilmiah.

teori. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Agustus 2007 Penyusun ii . Dengan demikian. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra..Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini.

metode dianggap sebagai cara-cara. cara. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. metode. 3. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. melalui. yang berarti alat. mengikuti. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. arah. atau seni menggunakan alat. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Teknik berasal dari kata teknikos. sedangkan hodos berarti jalan. yaitu filsafat ilmu mengenai metode.1 Pengertian. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Metode. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1.BAB I PENDAHULUAN 1. sesudah. 2. Dalam pengertian yang lebih luas. Hakikat Metodologi. Metodologi berasal dari methodos dan logos. strategi untuk memahami realitas.

Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. 2 .2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 1. perumusan masalah. dan (3) sadar teknis. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. dan kerangka pemikiran penelitian. (2) sadar teoritik.

melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. misalnya. eksplanasi dan interpretasi. menyusun proposal. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. bukanlah karena perbedaan metode. termasuk ilmu humaniora. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. induksi dan deduksi. Klasifikasi. sama dengan teori. deskripsi. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah.Dengan prosedur kerja yang baik. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. 3 . kuantitatif dan kualitatif. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. mengadakan pengujian teori. membangun konsep dan model. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Sebagai alat. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sampling. menganalisis data. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. komparasi. dan akhirnya menarik kesimpulan. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya.

dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. melalui cara: 1. Artinya. dokumen. dan sebagainya. kuesieoner. Metode sering disebutkan sebagai teknik. rekaman. teknik bersifat paling kongkret. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Sebagai instrumen penelitian. angket. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. statistik. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. jelas berbeda. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Metode deskripsi. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Dengan demikian. struktural. bahkan juga dengan teori. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. teknik kartu data. misalnya: wawancara. Sebagai alat. tetapi dasar dan cara pemahamannya.Berbeda dengan metode. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. teknik berhubungan dengan data primer. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. komparasi.

sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 3. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. metode dapat menjadi teori. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 5 .Pada pembicaraan yang berbeda. Jadi. 2. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur disebut sebagai metode. metode. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. dan teknik. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. teori. metodologi. Tetapi sebelumnya.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. 9 . Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.menerus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. d.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.

kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. 10 . yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. kecermatan. Jadi. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Sebagai akibatnya. Hubungannya dengan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. ilmu dapat hidup. atau pencarian kembali atas suatu objek. dan kecerdasan yang memadai.

Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. sistematis. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah.berkembang. Oleh karena itu. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Pertama. terutama yang berkaitan 11 . Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu pula. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. practicial objective. 1985: 9-15). dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. scientific objective. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Kedua.

dengan pemanfaatan teori dan metode. teori-teori. Urutan umum dari proses 12 . yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. dan sesuai dengan objeknya. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. yaitu penelitian sastra. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. nalar. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.

Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Oleh karena itu. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. dan spiritual. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Di samping masalah yang dihadapi. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. pengumpulan data. social. Di samping itu. dan penyajian kesimpulan. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. analisis data. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. manusia mencari tahu dan mencari makna. emosional. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. penelaahan informasi. fakta.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah.

atau pendapat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. kemudian melakukan proses penemuan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. dan menafsirkan apa yang diamati. intuasi. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. otoritas. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. penyelidikan. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. melakukan kegiatan penemuan. atau penelitian. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. menggambarkan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. atau memperkaya teori yang sudah ada. 14 . penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi.

Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Kedua.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Pertama. Dalam hal ini. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Oleh karena itu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi.

Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . pengajuan hipotesis. penyusunan design.berhubungan). sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Penelitian akan menghasilkan teori. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. pengembangan instrumen. serta membantu dalam menginterpretasi data. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Teori dapat membantu merumuskan problem. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengumpulan dan analisis data.

2. dan menyimpulkan. (7) menganalisis dan 17 . ilmu-ilmu humaniora. (6) mengolah data. yaitu: 1. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. menganalisis. dituntut langkah-langkah berturut-turut.ilmiah. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. 3. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. menginterpretasi. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (4) merumuskan hipotesis. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (3) mengadakan studi pustaka. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. terorganisir. komunikasi. Dalam kerja penelitian. (5) mengumpulkan data. (3) menggunakan prinsip analisis. (2) bebas prasangka. Dalam penelitian ilmiah.

Demikian pula. 18 . (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (9) menarik kesimpulan.menginterpretasi. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi.

validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. menghasilkan pengetahuan yang: a.2. sistematis 2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. d. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. didukung data empiris 19 . analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.

Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Ratna. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Charters. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. dan Muhadjir. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. yaitu : 1. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. (bandingkan Nazir. 1885.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. dan Whitney. Berdasarkan desain metodologinya. 2. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2004.2.

Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 3. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. ethnography merupakan pendekatan penelitian.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Macam-macam 21 . 4. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. 2. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. content analysis. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 6. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 5. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau.

lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. surat kabar. dan majalah. yaitu sebagai studi kultural. Dalam ilmu sosial. 22 . grafik.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. buku harian. 2. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Dalam ilmu sastra. lukisan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. film. buku teks. laporan. 2. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . sesuai dengan hakikat objek. biografi. 2004: 47-49). gambar. Sejalan dengan uraian di atas. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. fotografi. Immanuel kant. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai.

Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. 2. Adakalanya peneliti 23 . faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. 4.3. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. pandangan-pandangan.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Menurut Whitney (dalam Nazir. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. gambaran atau lukisan secara sistematis. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. suatu objek. penelitian bersifat alamiah. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. sikap-sikap. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. 5. suatu set kondisi.

Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode ini dinamakan juga studi status . masalah yang dirumuskan harus patut. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). kriteria umum: 1. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena.

3. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. kriteria khusus 1. sifat penelitian adalah ex post facto. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. B. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel.5. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. variabel dilihat sebagaimana adanya. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.

3. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. membuat tabulasi serta analisis (statistik).

lembaga. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Dalam studi komparatif ini. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. subjek penelitian dapat saja individu. maupun masyarakat.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. kelompok. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. 27 . yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Lotman. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Eagelton. ekonomi. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Eliis. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. dan Teeuw. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Menurutnya. Riffaterre. dan keagamaan. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. 29 . Plark.

Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. di antaranya dari sisi bahan.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Melalui sistem sastralah. secondary modelling system. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. 30 . Sebagai satu sistem. yaitu berupa bahasa.

Dalam hal ini. dari pembaca saja. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Dengan demikian.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dengan demikian. 3. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. yaitu pembacanya. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . kerja yang objektif. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.

Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik.perspektif. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. 32 . Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Namun. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. sejumlah peralatan diperlukan. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Dalam hal ini. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur.

2004: 21).3. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. pola. Bagi ilmuwan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. Tanpa paradigma.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. model. unsur dalam diri sendiri 2. unsur luar berupa lingkungan fisik 3.

Di satu pihak. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. sebagai cara pandang. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di pihak lain. maka teori pun juga beraneka ragam. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. dan sebagainya. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. imajinasi. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Contohnya.yang relatif sama. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. bahkan khayalan. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Jadi. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Dalam penelitian sastra. tersistem. Selanjutnya. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. 34 .

jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. Keempat faktor tersebut adalah: 1. mengkondisikan ilmuwan sastra. Pada gilirannya. faktor metodologis. teori. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. Paradigma dengan demikian mendahului. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. penelitian adalah penilaian. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. secara kualitatif. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. 35 . metode. dan teknik.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. faktor ontologis. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. dalam ilmu humaniora. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. termasuk metode. periode. faktor epistemologis. faktor aksiologis. khususnya sastra. teknik dan proses selanjutnya. keseluruhan proses penelitian.

bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. puisi. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. psikologis. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. kecuali referensi estetisnya. dan drama. novel psikologis. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Puisi. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. dan berbagai paham yang lain. psikologis dan ilmu pengetahuan. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Keseluruhan unsur. Perbedaannya. drama bersajak.generasi. latar tempat dan waktu. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. 36 . subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. aliran. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Novel sejarah. Dengan kalimat lain. termasuk tokoh-tokoh. novel. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma.

Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. pendekatan berasal dari kata appropio. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. yaitu metode dan teknik.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. dan menyajikan data. Lebih lanjut. approach. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. menganalisis. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. 2004: 5355). maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. 3.4 Pendekatan Sastra 3. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.1. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. 37 .4.

Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Dalam hubungan inilah. pendekatan objektif. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. pragmatik. dan (4) pendekatan objektif. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. ekspresif. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. (3) pendekatan pragmatik.4. seperti pendekatan sosiologi sastra. (2) pendekatan mimesis. mitopoik.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. teori. dasarnya. Artinya. 38 . pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. mimetik. dan tekniknya. metode.dan sebagainya. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. 3.

Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. dan 39 .2. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. nasionalisme. Secara metodis. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia.3. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. pikiran dan perasaan. persepsi. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. komunisme. feminisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. ucapan. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi.4. pikiran-pikiran. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. dan hasil-hasil karyanya.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran.

dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. sesuai tujuan. pengalaman hidup. (2) memetakan sejumlah pikiran. perasaan. bentuk-bentuk kemasyarakatan.2. 1989:15). Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. dan sebagainya Luxemberg.4. pikiran. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. 40 . dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. 3. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. Melalui pandangan ini. dan ideologi pengarang. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. pengalaman. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. 1958:8). dan (4) membicarakan secara menyeluruh. persepsi. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya.

suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Secara terminologis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Tiruan. suatu proses. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Menurut Baxter. tetapi penekanannya berbeda. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. suatu produk akhir. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Segers (2000. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. suatu copy. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Menurutnya. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. menyiratkan sesuatu yang statis.

dsb. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Oleh karena itu. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Melalui penjabaran di atas. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. 42 . (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. sesuai tujuan. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. Secara metodis..

Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. pembacalah yang menilai. Menurutnya.4. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.2. (2) penerapan praktis estetika resepsi. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. dan memahami karya sastra. Menurutnya. menikmati. menafsirkan. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Pembaca dalam 43 . mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.3. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Dalam uraiannya. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca.

Dalam hal ini. (2) horison harapan. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (3) nilai estetik. dan (7) sejarah umum. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (5) rangkaian sastra. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. (4) semangat zaman.

Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.informasi. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Dengan kondisi tersebut. Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Teori menuntut 45 . Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut.

berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. diidealkan. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Fungsi sosial sastra 46 . satirik. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu.

Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. literary repertoire. 1987: 20 dan 54). historis.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Konsekuansinya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Konsep dialektika respon estetik (Iser. rol. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. dan interaksinya. pembaca.

dan totalitas. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. sosiologis. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. politis. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.4. 3. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. termasuk biografi. Oleh karena itulah. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Dengan demikian. antarhubungan. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. 48 .2.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. seperti aspekhistoris. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.

gaya bahasa. fakta cerita (tokoh. dll. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi.). sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. 49 . mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan latar). Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Secara metodologis. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Adapun terhadap prosa. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. alur.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. konflik. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur.

tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.Pada analisis prosa. 50 . Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.

keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Faruk. Artinya.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. melainkan rusak sama sekali. 1984: 120139). bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Hawkes. 1999: 1-9. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. terlepas dari 51 . Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. melainkan kualitatif. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. dan Faruk: 1994: 17-18. mekanisme sendiri. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya.BAB IV STRUKTURALISME 4. Selain itu. dan Teeuw. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. apabila suatu bagian dihilangkan. 1995: 4-12. 1978: 17-18.

strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Sebagai kualitas totalitas. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. motivator terjadinya gejala baru. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Dengan kata lain. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Aliran Kritik Baru di Amerika. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. transformatif. sesuatu yang utuh. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. antarhubungan merupakan energi. mengembangkan. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. sesuatu yang berstruktur. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Formalisme di Rusia. Artinya. otonom. mekanisme yang baru. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Karena itu. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. dan self-regulatif.

sebagai sistem komunikasi. plot. 53 . Sejalan dengan uraian di atas. seperti kejadian. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. latar. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Dengan kata lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. misalnya. suatu masyarakat. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Di pihak lain. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Karya tidak dapat diisolasi. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. dan sebagainya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian. Analisis terhadap penokohan.

4. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. asosiasi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Metode yang digunakan metode formal. oposisi. sosiologi.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Meskipun demikian. dan psikologi. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. dan sebagainya. yaitu: 1. Sebagai teori modern mengenai sastra. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. 1985: 128-13. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. reaksi terhadap studi biografis 2. puitika. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. Dengan jalan demikian. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan.

dan nilai-nilai.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Menurutnya. 2002: 304). terdiri atas tanda. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. dan (3) sebagai teori. (2) sebagai metode. 4. Oleh karena itulah. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. struktur.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. melahirkan strukturalisme. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Muhadjir. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan pembaca sebagai penerima. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. masyarakat yang menghasilkannya. 2003: 88-96. dan Ratna. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. karya sastra adalah proses komunikasi. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Pradopo 2002: 46. fakta semiotik. 55 . 1985: 185-192.

stilistika. nada. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. Unsurunsur prosa. peristiwa atau kejadian. alur. dan gaya bahasa. misalnya mengarah pada tema. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . penokohan. peristiwa. latar. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. rima atau persajakan. sudut pandang. latar atau setting. dialog. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. di antaranya tema. Artinya. Unsur-unsur puisi. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. simbol. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. dan gaya bahasa. tujuan analisis di lain pihak. penokohan. dan enjambemen. Prosa. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. puisi. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. alur. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. diksi atau pilihan kata. imajinasi. ritme atau irama.

yaitu pencerita. dan pendengar. Dalam hubungan ini. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. tidak semau-maunya. Jadi. karya sastra. 57 . dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art.

dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. yaitu ikon. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). yaitu persamaan dan sebab akibat. Stout (dalam Makaryk. latar belakang sejarah pertumbuhannya. antara penanda dan petanda. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. arti bahasa dalam 58 . yang merupakan bentuk tanda. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama.4 Semiotik Secara padat Dolezel. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Menurutnya. indeks. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. 1993: 183-189). Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Dalam lapangan semiotik.4. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. aliran semiotik. pengertian tanda ada dua prinsip. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. dan simbol. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Ada tiga jenis tanda yang pokok.

Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Berhubungan dengan hal ini. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Jadi. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. daya liris. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Dalam kaya sastra. perasaan. suasana.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). intensitas. Dalam sistem semiotik. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. arti tambahan (konotasi). arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri.

yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. terdapat (1) sintaksis semiotika. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Dilihat dari segi cara kerjanya. (2) semantik semiotik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. termasuk sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Menurut pandangan intertektualitas. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. dan (3) pragmatik semiotik. Sejalan dengan paham triadik peircean. atau yang lain. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima.

qualisigns. sinsigns. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. denotatum. referent). tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. c. dicent signs. 2004: 102) di antara ikon. b. representamen. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. tokens. b. Di antara representamen. object. object (designatum. ground. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. b. ikon. c. rheme. interpretant. dan interpretant. simbol. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. type. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. 2. argument. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks.1. yaitu apa yang diacu: a. Menurut Aart van Zoet (Ratna. legisigns. 61 . terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. yang paling sering diulas adalah object. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. c.

1993: 340-341. yang terpenting adalah ikon. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Karena itu. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. yaitu (a) pengarang (ekspresif). 1993: 95-99. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. (c) pembaca (pragmatik). Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. (b) semestaan (mimetik). dan simbol. Kellner dalam makaryk.5. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. di lain pihak. Alasannya. Sebagai strukturalisme. dan Faruk. sebagai struktur. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. 4. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). termasuk karya sastra.indeks. 62 . maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. dan (d) objektif (otonom). Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Teks sastra kaya dengan ikon. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain.

Menurut Marxis. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Untuk melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Oleh karena itu. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. yaitu melakukan transformasi atas alam. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

5. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Karya-karya kultural yang besar. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. 4.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. melainkan kelas sosial. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karena itu.

Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Karena itu. ras. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. kelompok etnis. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . dan sebagainya. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Dalam pengertian strukturalisme genetik.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. pendidikan. seperti kelompok profesi.

ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . dan sebagainya. bersifat mimetik. Hanya beberapa di antaranya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Greimas. 4. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Todorov. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Namun. seperti strukturalisme.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti.5. Dengan demikian. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Dalam pandangan strukturalisme genetik.

yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme.semantik pula. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. menurut strukturalisme genetik. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Struktur yang demikian. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.

Namun.5. Menurut paham tersebut. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. yang juga berstruktur. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. 4. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula.

subjek secara linguistik. seperti model sintaksis. sebagaimana hubungan antara subjek. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya.dialektik. bukan 72 . Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Narratio berarti cerita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. perkataan. kisah. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. logos berarti ilmu. Dengan demikian. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.6 Naratologi 4. demikian juga dengan wacana dan teks. hikayat. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. predikat. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. 4. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. atau sebaliknya. dan objek penderita.6.

semboyan. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. tetapi juga melalui kata-kata. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa.person. akrab dengan cerita Jaka Tarub. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. melainkan melalui bahasa. dan ekonomi. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. dengan pertimbangan 73 . dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). dan wacana. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. restorasi. sastra. diceritakan oleh narator. misalnya. bukan pengarang. bukan pengarang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Setiap orang. analisis naratif merupakan bagian ideologi. politik. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Pada pahan pascastruktural. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Revolusi.

yaitu dunia fiksional. Dalam pembicaraan mengenai naratif. tema. cerita sebagai tulang punggung karya. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. baik sebagai penulis. wacana. tokoh-tokoh. Tanpa cerita. 74 . Tanpa plot. dan teks. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. sudut pandang. Hampir keseluruhan genre sastra. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. paling luas. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Dalam karya sastra. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. novel juga merupakan objek yang paling memadai. latar. Dilihat dari media yang tersedia. kebudayaan pun tidak ada. dan gaya bahasa. pembaca. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Di pihak lain.

Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. text. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Henry James (tokoh dan cerita). story. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). fabula. Gerald 75 . mitos. frequensi. gongeng. dan sebagainya. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Shlomith Rimmon-Kenan (story. modus. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. 1993: 110. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Mieke Bal (fabula. puisi naratif. Secara historis.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). text). termasuk feminis dan psikoanalisis. Forster (tokoh bundar dan datar). Claude Bremond (struktur dan fungsi). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. narration). juga roman. Percy Lubbock (teknik naratif). epik. Tzvetan Todorov (historie dan discours). lelucon. Para pelopornya. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. cerpen. Para pelopornya. dan suara). dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. biografi. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). catatan harian. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. durasi. yaitu: 1. interdisipliner.

Hayden White (wacana sejarah). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. pastiche). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Menurutnya.Prince (struktur narratee). Propp 76 . Jonathan Culler (kompetensi sastra).2. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). yaitu Propp. 4.6. LeviStrauss. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Jacques Derrida (dekonstruksi). Oleh karena itu. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Todorov. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.6. Artinya. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). unit terkecil yang membentuk tema. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Seymoeur Chatman (struktur naratif). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Marry Louise Pratt (tindak kata).

dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. (5) orang yang menyuruh. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. (3) penolong. (6) pahlawan. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Bremond. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. dan Todorov. Menurutnya. yaitu: (1) penjahat. Di sini. 77 .memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (4) putri dan ayahnya. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. yaitu: pelaku. Dengan kalimat lain. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (2) donor. dan (7) pahlawan palsu. perbuatan. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Motif dibedakan menjadi tiga macam. persona bertindak sebagai variabel.

Pendekatan antropologi sastra. tabu. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. dan harus direkonstruksi melaluinya.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. bumi langit. dilakukan terhadap mitos Oedipus.6. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. seperti laki-laki perempuan.2. Dengan kalimat lain. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. dan sebagainya. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. melalui struktural. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. khususnya konsep-konsep oposisi biner. baik secara bulat maupun fragmentasi. Di satu pihak. 78 . Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. mitos adalah naratif itu sendiri. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis.4. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Menurutnya. dan incest. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. misalnya.

Dalam menganalisis tokoh-tokoh.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. dan (4) aspek verbal. berkaitan dengan makna dan lambang. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. gaya bahasa. yaitu (1) aspek sintaksis. yaitu: kehendak. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . dan latar. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis.6. meneliti tema. komunikasi. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Oleh karena itulah. tokoh. dan partisipasi.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. secara berdampingan. dan sebaliknya.2. 4. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. dan sebagainya. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. (2) aspek semantik. Menurutnya.

4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. baik sebagai pengirim maupun penerima. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. 4. sastra sebagai proyeksi. John dan Paul juga merupakan pengirim. Mary sebagai penerima. 80 . John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. studi biografi.antarhubungan adalah kausalitas.2. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. acteurs merupakan kategori umum. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. seperti: psikologi sastra. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. kritik fenomenologis. yaitu dongeng. sosiologi sastra. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif.6. Yang ada hanyalah subjek. dll. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Greimas (dalam Abdullah. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Apel adalah sebagai objek. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Tidak ada subjek di balik wacana. 1999: 11-13. yaitu tata bahasa naratif universal. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia).

Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. dan struktur yang bersifat pemutusan. religi. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Sebaliknya. dan penolong dengan penentang. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. yaitu subjek dengan objek. struktur yang bersifat penyelenggaraan. tek. dan plot. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Oleh karena itu. Actans merupakan struktur dalam. dan ilmu sosial lainnya. Cerita adalah bahan 81 . artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. pelaku.

seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya.kasar. sebagai model pertama. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . 82 . sebagai model kedua. perangkat peristiwa. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. dan (c) peletak dasar 86 .1. dan fungsional. Karenanya. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. untuk memisahkan kemenduaan.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. (2) kemenduaan arti (ambiguity). (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. 5. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. sistematis.

untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (3) masalah harus merupakan hal penting. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. 87 . serta dana. Menurut Nazir (1985: 134-135). (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. waktu. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (4) masalah harus dapat duji. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. pikiran. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai.

rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Dengan demikian.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. dan totalitas di dalamnya. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. 88 . Berhubungan dengan penelitian sastra.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. topik penelitian atau judul penelitian.1. hubungan antarunsur. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. mengembangkan (develop atau extention). rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.

misalnya. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 5. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. lingkup masalah. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. sistematis.1. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. berjumlah tertentu. 89 .4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan).Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Secara ideal. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. 2001:2).

circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. misalnya. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Teori adalah alat. Dalam strukturalisme. Dalam kerangka strukturalisme. khususnya analisis fiksi. diperlukan penerimaan positif. Dalam uraian landasan teori. baik sebagai teori maupun metode. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. teori tidak harus dipahami secara kaku.Dengan demikian. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Sebagai suatu cara pemahaman. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. dan totalitasnya. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. sebagai akumulasi konsep. antarhubungan.

. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Atau dengan kalimat lain. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. 5. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Sebaliknya.1. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.mengarah kepada keteraturan. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.

dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. dan hubungan antarunsur. Penentuan data berdasarkan perilaku. pemilihan. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu.(pendekatan) linguistik. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. sistematik. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Dengan kata lain. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. (2) kategori harus lengkap. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. hubungan simetris 92 . padu. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Sejalan dengan uraian di atas. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. dsb. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. ciri. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. demi pemahaman identitas data penelitian.

Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. 2. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. hubungan saling mempengaruhi. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Sejalan dengan uraian di atas. 3.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. dan faktor kebetulan. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian.

dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . pemilahan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1.penelitiannya. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara sistematis. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemilahan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2.

Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 .2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.dan tujuan penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. 5. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan.

dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 .yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Idealnya. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah.

Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. kepahlawanan dan petualangan. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. dsb. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. referensi yang memadai. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. keinginan. dana yang tersedia. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 ... Latar Belakang . fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. waktu pelaksanaan. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.. Merujuk pada potensi teks tersebut.. keberanian. pengembangan penelitian sejenis.1. .masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. ciri.

Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Namun demikian. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. 2. tampak 98 . Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. berpikir logis.

Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. struktur cerita yang terbentuk. 99 . 4. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. keterjalinan antarunsur cerita. latar) 3. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. dan penelusuran tema dan amanat. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. alur. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah.

Berdasarkan upaya tersebut. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Cermati contoh berikut: 1. Dalam hal ini . misalnya 100 . 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik.

Oleh karena itu. alur. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Paham struktural objektif. Penjabarannya menjadi. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Struktur dinamik.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. 101 . misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. menempatkan teks secara otonom. antar hubungan. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis.

(4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dan analisis data. pemilihan data. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. padu. pengolahan data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . Dengan demikian. dll.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. sosial). identifikasi masalah. dan menyeluruh. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. tempat. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita.

kajian struktural objektif b. teori. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. teoretis. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. sistematis. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. kajian struktural naratif d. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan fungsional. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. 5. kajian struktural genetik c. dan metodologis. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan metode kajian. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian.tingkat kepekaan literer. pada langkah penyusunan Landasan Teori.

Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Uraian landasan teori tampak 104 . seteliti. 2003:112). identifikasi masalah. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan tujuan penelitian tertentu. kurang memadai. Berdasarkan contoh di atas. semendetail. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.identifikasi masalah dan tujuan penelitian.

Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Kelemahan lain. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.

sifat. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. Dengan demikian. mengklasifikasikan . keterjalinan unsur. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. fenomena. 106 . dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). tema. fakta. Mengacu kepada definisi metode deskriptif.1. sifat. dan amanat dapat terungkap secara tepat. menyusun. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). unsurunsur karya. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. menganalisis. sejumlah data. dan menginterpretasikan data (Winarno. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. 1980: 139).

(b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. penyusun UP tersebut cukup 107 . semendetail. plot/alur. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. (2) struktur cerita. dan latar. dan (4) tema dan amanat. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. seteliti. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.b. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Dalam hal ini. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. b dan c.

penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Misalnya saja. Namun demikian.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. plot/alur. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.

d. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. jumlah. Pada unsur-unsur cerita lainnya. dan sosial? c. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. tempat. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. b. surrise. kepadatan. seperti pengeplotan. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. suspense. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. kesatupaduan) sebagai instrumen. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. Demikian pula pada pembicaraan latar. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Adapun dalam penentuan amanat. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian.

” Makalah. Makaryk. Iser. M. 1989. Jakarta: Gramedia. New York: The Norton Library.) 1993. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Norton & Company Inc. Wlfgang. dkk. W. Abrams. Pengantar Ilmu Sastra. The Act of Reading.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. 1994. ed. Minneapolis: University of Minnesotta Press. 1983. Hans Robert. Irena R. Toward an Aesthetic of reseption. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . “Strukturalisme-Genetik. (ed.” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1999. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra. Jan van. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.W. Imran T. “Sastra Lisan. Luxemburg. 1987. Chamamah.). 1999. Jauss. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. 2001. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. S.H.

Muhadjir.Bhd. dkk. Sastra dan Ilmu sastra. V. Segers. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teori Pengkajian Fiksi. 19. 1984. 1985. 1993. Rien T. Morfologi Cerita Rakyat.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.). 2002. Penelitian Sastra: Teori. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Suminto A. A. Teori Kesusastraan. Metode. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Pradopo. Nyoman Kutha. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. ------------------------------. Fatimah Djajasudarma. Sayuti. Moh. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. “Pengantar Penelitian. Jakarta: Djambatan. Rene & Austin Warren. 1987. ed. Evaluasi Teks Sastra. Todorov. Kritik Sastra Indonesia Modern. Selangor: Sain Baru Sdn. 2004. Rachmat Djoko. 1999. 2000. Diterjemahkan oleh Okke K. dan Teknik. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Metode Penelitian.S. “Strukturalisme”. Noeng. Jakarta: Pustaka Jaya T. Wellek. Burhan. 2001. Jakarta: Gramedia Wuradji. Yogyakarta: Gama Media Propp. Metode Penelitian Linguistik. Makalah. Tzvetan. Metodologi penelitian Kualitatif. 1995. Bandung: Eresco. 2002. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 1985. Zaimar.

114 .

115 .