P. 1
Akuntan Muda - Agt Sep 2011

Akuntan Muda - Agt Sep 2011

|Views: 72|Likes:
Published by akuntanmuda
Akuntan Muda edisi Agustus-September 2011 ini berisi artikel:

1) Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Sistem Teknologi Informasi
2) Persediaan (bagian 1)
3) (Belajar IFRS) Aset Finansial: Investasi pada Sekuritas Utang
4) (Yuk Bikin Paper!) #2 Mencari Literatur – Bagian 2
Akuntan Muda edisi Agustus-September 2011 ini berisi artikel:

1) Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Sistem Teknologi Informasi
2) Persediaan (bagian 1)
3) (Belajar IFRS) Aset Finansial: Investasi pada Sekuritas Utang
4) (Yuk Bikin Paper!) #2 Mencari Literatur – Bagian 2

More info:

Published by: akuntanmuda on Sep 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2011

pdf

text

original

Pengantar

Ternyata adalah tidak mudah untuk terbit setiap bulan secara rutin. Ini terutama terjadi ketika penulisnya hanya ada 4 orang dengan kesibukan yang begitu luar biasa. Oh, oke... alasan ini sudah lebay. Presiden yang punya tanggung jawab begitu besar saja sempat menulis lagu koq. Masa kami dengan tanggung jawab yang tak seberapa ini nggak sempat nulis buat Akuntan Muda? Namun demikian, berhubung masih dalam suasana lebaran, kami berharap teman-teman mau memaafkan keterlambatan edisi kali ini beserta penggabungannya (AgustusSeptember). Selain itu, kami berharap teman-teman mau memberi saran dan/atau pertanyaan baik mengenai akuntansi maupun Akuntan Muda itu sendiri. Kami tunggu. :D

arie rahayu

Penasihat Prof. Dr. Zaki Baridwan, MSc.; Prof. Dr. Suwardjono, MSc. Redaksi: Arie Rahayu, Arif Perdana, Hesty Wulandari, Yeni Januarsi Blog: E-mail: http://akuntanmuda.wordpress.com/ akuntanmuda@yahoo.com atau akuntan.muda@gmail.com

Foto diambil dari website Microsoft Office: http://office.microsoft.com/en-us/

Akuntan Muda

Halaman 1

1 Pengantar 2 Daftar Isi 3 Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Sistem Teknologi Informasi 6 Persediaan (Bagian 1) 10 (Belajar IFRS) Aset Finansial: Investasi pada Sekuritas Utang 17 (Yuk Bikin Paper!) Mencari Literatur – bagian 2

Akuntan Muda

Halaman 2

Sejarah beberapa

peradaban teknologi

manusia yang

mencatat sangat

maupun

berkelompok.

Organisasi-

organisasi bisnis dan pemerintahan juga terpengaruh dengan perkembangan yang pesat di bidang teknologi informasi. Teknologi informasi sesungguhnya

berpengaruh bagi perkembangan kehidupan manusia modern antaranya penemuan mesin cetak, mesin tenun, mesin uap, kereta api, mobil, peswat terbang, listrik, televisi, dan yang paling mutakhir adalah penemuan micro-prosesor pertama yang menjadi cikal bakal komputer masa kini dan penopang utama majunya peradaban

hanyalah berupa alat-alat mekanis dan digital yang diciptakan oleh manusia. Komponen perangkat lunak dan perangkat keras merupakan dua penyusun utama dari teknologi informasi. Teknologi informasi tidak akan memiliki manfaat yang maksimal jika hanya diciptakan tetapi tidak

teknologi informasi masa kini. Teknologi informasi berkembang sedemikian pesatnya sejak awal tahun 1980-an, mulai dari komputer personal pertama yang

digunakan. Oleh karena itu diperlukan interaktifitas informasi, manusia dalam teknologi proses

diproduksi secara masa oleh IBM hingga saat ini kita mengenal notebook yang dapat dengan mudah kita bawa kemanapun. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi informasi telah merubah cara manusia modern berperilaku, baik secara personal

tidak

hanya

dalam

pembuatannya tetapi juga dalam proses pemanfaatannya hingga pada pengembangannya secara berkelanjutan. Menjelang tahun 1990-an kebutuhan organisasi akan otomasi proses-proses Halaman 3

Akuntan Muda

bisnis semakin meningkat. Perkembangan jumlah penduduk yang semakin pesat, kompetisi antar organisasi mengakibatkan masing-masing organisasi berupaya

Sistem informasi tidak dapat berdiri tanpa adanya teknologi informasi, demikian pula, teknologi informasi tidak akan dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa

menyediakan pelayanan yang efektif dan efisien kepada pelanggannya. Aktivitas manual dalam proses bisnis tentunya menjadi kendala tersendiri dalam

adanya suatu sistem yang mengintegrasikan teknologi informasi dengan penggunanya sehingga sesuai dengan kebutuhan dan proses bisnis yang berjalan. Dengan

persaingan yang semakin meningkat.Oleh karena teknologi itu diperlukan bantuan dari

demikian istilah sistem informasi dan teknologi informasi memiliki wilayah

informasi bisnis

untuk seperti

mengelola akuntansi,

cakupan yang berbeda, sehingga tidak dapat disamakan satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian tujuan dari kedua kajian ini sama yaitu untuk kebutuhan organisasi. Konsep ini juga dipaparkan oleh IEEE Computing Curricula 2005 seperti yang digambarkan dalam Gambar 1 berikut. Gambar 1 menunjukkan ada kesamaan tujuan dari sistem informasi dan teknologi informasi, tiga istilah ini dapat saling dipertukarkan, meskipun memiliki lingkup bahasan yang berbeda-beda. Namun

proses-proses

managemen persediaan, penggajian, dsb. Ini semua bertujuan untuk memudahkan organisasi dalam memberikan pelayanan dan pengambilan keputusan bisnis. Dengan demikian teknologi informasi telah menjadi bagian penting dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Dalam kondisi inilah sistem informasi sebagai suatu disiplin ilmu sangat diperlukan untuk

mengelola interaktivitas antara teknologi informasi dengan lingkungan sosial dan individu-individu yang menggunakannya. Dengan kata lain, sistem antara informasi teknologi baik

demikian Sistem Teknologi Informasi (STI) merujuk pada bahasan yang lebih luas dibandingkan dengan Sistem Informasi (SI) dan Teknologi Informasi (TI).

merupakan informasi

jembatan dengan

lingkungannya,

secara individu maupun organisasi.

Akuntan Muda

Halaman 4

Gambar 1 Komponen-Komponen Ilmu Teknik, Komputasi, Teknik Informatika dan Sistem Informasi

Sumber : IEEE Computing Curricula 2005 Keterangan : TL = Teknik Listrik TK = Teknik Komputer IK = Ilmu Komputer SI = Sistem Informasi RPL = Rekayasa Perangkat Lunak TI = Teknologi Informasi

(Oleh: Arif Perdana)

Akuntan Muda

Halaman 5

Tidak semua perusahaan bergerak dibidang jasa. Beberapa perusahaan memilih untuk menjalankan usahanya dibidang perdagangan dan pabrikan. Jika perusahaan jasa memiliki aktivitas utama berupa memperjualbelikan sesuatu yang tidak berbentuk tapi bisa dirasakan, perusahaan pabrikan memproduksi barang, maka perusahaan dagang memiliki alur bisnis membeli barang (yang berbentuk) untuk dijual kembali. Aktivitas bisnis perusahaan dagang dan perusahaan pabrikan ini menimbulkan kepentingan untuk memperhatikan satu aktiva khusus yaitu persediaan. Mengapa persediaan? Karena tanpa adanya persediaan, maka perusahaan dagang tidak bisa melakukan proses jual beli dan perusahaan pabrikan tidak bisa berproduksi.

Apa Itu Persediaan?
Secara sederhana kita bisa mengartikan sebagai persediaan yang

sesuatu

sengaja dibeli, ditumpuk atau disimpan agar bisa diambil, untuk tertentu. dipergunakan jangka waktu Contoh

sederhana dari persediaan ini bisa dilihat disekitar kita. Di rumah, ibu-ibu biasanya membeli beras untuk sebulan pemakaian. Beras yang dibeli untuk kebutuhan satu bulan itu

Akuntan Muda

Halaman 6

disebut persediaan beras. Jika ibu membeli beras hanya sebanyak keperluan hari itu saja tanpa ada sisa untuk keesokan harinya maka beras yang dibeli tidak termasuk dalam kategori persediaan. Sedangkan dalam istilah akuntansi, persediaan berarti barang-barang yang sengaja dibeli untuk dijual kembali (pada perusahaan dagang) atau untuk diproduksi kembali (pada perusahaan pabrikan). Persediaan pada perusahaan dagang jelas berupa barang dagang yang akan dijual oleh perusahaan itu sendiri; baik itu kebutuhan sehari-hari pada minimarket atau bahkan alat elektronik pada toko elektronik. Sedangkan yang menjadi persediaan pada perusahaan pabrikan bisa berupa 3 komponen; bahan mentah (bahan baku untuk produksi barang) seperti terigu pada pabrik roti, barang dalam proses (yang sudah mengalami tahap pembuatan tapi belum selesai), seperti batu bata yang sudah dicetak tapi belum dibakar dengan sempurna pada pabrik batu bata dan barang jadi.

Apakah Semua Barang yang Sudah Dibeli Bisa Langsung Dianggap Persediaan?
Dalam proses pembelian barang dikenal dua istilah yang merupakan syarat jual beli, yaitu FOB shipping point dan destination point. Kedua istilah ini menggarisbawahi kapan barang yang dibeli bisa diakui sebagai hak milik pembeli. Pada syarat jual beli FOB shipping point, tanggung jawab penjual terhadap barang yang ia jual akan selesai di tempat penjualan berlangsung (biasanya toko atau gudang penjual), sehingga segala urusan dan biaya yang melekat setelahnya menjadi urusan pembeli. Oleh karena itu, setelah proses pembelian selesai di tempat penjual, barang yang dibeli sudah bisa diakui sebagai milik perusahaan dan nilainya sudah bisa dicantumkan dalam neraca. Namun jika dalam proses jual beli barang tersebut menggunakan persyaratan FOB destination point, proses jual beli baru akan selesai setelah barang sampai di gudang atau di tangan pembeli, sehingga segala tanggung jawab atas barang tersebut menjadi tanggung jawab si penjual. Jadi, jika barang ini masih berada dalam perjalanan perusahaan belum bisa mengakuinya sebagai barang milik perusahaan. Beberapa dari kita tentu saja sering belanja di supermarket. Anggaplah dalam kunjungan ke supermarket kali ini kita membeli dua jenis barang; yaitu barang kebutuhan sehari-hari dan

Akuntan Muda

Halaman 7

barang elektronik berupa kulkas. Setelah dibayar dikasir, barang kebutuhan sehari-hari langsung dibawa pulang sedangkan kulkas diantar oleh petugas supermarket ke rumah sebagai bentuk layanan dari mereka. Jika dalam perjalanan pulang kita harus berhenti membeli bensin untuk kendaraan atau membayar orang untuk mengangkat barang atau ada yang rusak pada barang kebutuhan sehari-hari yang kita beli seperti telur yang pecah atau kemasan yang rusak pada barang lain, maka itu akan menjadi urusan pembeli bukan lagi urusan penjual karena barang sudah berpindah kepemilikannya setelah transaksi tadi selesai dikasir. Proses pembelian barang kebutuhan sehari-hari tadi merupakan contoh dari FOB shipping point. Untuk kulkas yang dibeli, segala biaya yang dikeluarkan oleh toko, baik itu gaji sopir, uang bensin hingga penggantian terhadap barang jika terjadi kecelakaan dijalan menjadi tanggung jawab penjual. Proses pembelian kulkas tadi hingga ia sampai di rumah kita merupakan contoh dari FOB destination point. Untuk lebih jelasnya, ilustrasi dari kedua syarat jual beli barang ini bisa dilihat pada tabel berikut

Tabel 1. FOB Shipping Point VS Destination Point Syarat Jual Beli Tempat terjadinya penyerahan barang Yang menanggung biaya (ongkos angkut, asuransi, dll) atas barang yang dibeli Status kepemilikan jika barang Milik pembeli masih dalam perjalanan Milik penjual Pembeli Penjual FOB Shipping Point Di gudang/ toko penjual FOB Destination Point Di gudang atau toko pembeli

Apakah Semua Barang Yang Berada Di Gudang Bisa Diakui Sebagai Persediaan?
Sebagian perusahaan dagang tidak membeli semua barang yang mereka jual. Sebagian pemasok mengijinkan perusahaan untuk menyimpan barang mereka di gudang tanpa harus Akuntan Muda Halaman 8

membelinya dan untuk setiap barang yang terjual perusahaan mendapatkan komisi. Meskipun berada di gudang perusahaan, sebagian pendapat mengatakan bahwa barang-barang tersebut belum bisa diakui sebagai bagian dari persediaan karena secara kepemilikan ia bukan hak milik perusahaan, sedangkan sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa barang-barang tersebut bisa diakui sebagai persediaan sampai barang tersebut terjual kepada pembeli karena pada dasarnya yang terjadi pada barang ini adalah penahanan hak milik dari pemasok ke penjual hingga barang tersebut terjual.

Bagaimana Persediaan Dicatat?
Ada dua cara pencatatan yang bisa diipergunakan untuk mengetahui berapa banyak persediaan yang tersedia di gudang atau toko pada setiap akhir periode, yaitu metode perpetual dan metode fisik. Pada metode perpetual, pencatatan atas persediaan dilakukan setiap kali persediaan terjual sehingga informasi persediaan selalu tersedia kapan saja ia dibutuhkan. Metode pencatatan ini biasanya digunakan pada perusahaan dagang dengan skala menengah ke atas dengan jumlah persediaan yang beragam. Sebagai contoh, jika kita ingin membeli buku ke toko buku gramedia, kita bisa melihat berapa banyak stok buku yang ingin kita beli di komputer informasi yang disediakan khusus bagi pengunjung. Setiap kali satu buku dibeli, maka secara otomatis jumlah persediaannya akan langsung diperbaharui oleh komputer. Sedangkan pada metode fisik, pencatatan biasanya akan dilakukan secara berkala, dan dihitung langsung pada saat itu juga untuk mengetahui berapa jumlah persediaan yang tersisa. Metode ini biasanya digunakan oleh perusahaan dagang dengan skala kecil yang menjual barang-barang yang tidak terlalubanyak jenisnya sehingga jika menggunakan pencatatan otomatis akan menimbulkan ongkos yang besar.

Dirangkum dari berbagai sumber.

(Oleh: Hesty Wulandari)

Akuntan Muda

Halaman 9

BELAJAR IFRS

Aset Finansial: Investasi pada Sekuritas Utang
Pendahuluan
Banyak yang dana perusahaan menggunakan (kas) yang dalam

dimilikinya

bentuk investasi pada sekuritas. Investasi

pada sekuritas dibagai menjadi dua yaitu pada sekuritas utang

(misalnya obligasi) dan pada sekutitas ekuitas (misalnya saham).

Tujuan perusahaan menginvestasikan dana pada sekuritas beraneka ragam. Ada yang tujuan investasinya untuk mendapatkan tingkat return yang tinggi, ada juga yang bertujuan untuk mengamankan operasi tertentu, atau untuk mengamankan pengaturan pembiayaan dengan perusahaan lain. Sebagai contoh, Coca cola Company dan Pepsi Co dapat melakukan kontrol terhadap bottler company berdasarkan pengaruh signifikan yang dimilikinya melalui investasi di

Akuntan Muda

Halaman 10

bottler. Pembahasan kita kali ini difokuskan pada investasi dalan sekuritas utang (Kieso et al. 2011). Pengelompokkan investasi pada sekuritas memiliki dasar yang berbeda antara pandangan menurut IASB dan US GAAP. Jika mengacu pada PSAK 50: Akuntansi Investasi Efek Tertentu,1 investasi dalam sekuritas utang perlu dibedakan berdasarkan jenis sekuritasnya dan niat dari perusahaan terkait dengan investasi tersebut. Niat di sini maksudnya adalah apakah investasi diniatkan (dimaksudkan) untuk dimiliki dalam jangka panjang. Apakah hanya untuk dibeli lalu dijual kembali ataukah dibeli tetapi akan dijual kembali dalam waktu yang tidak pasti? Pengkategorian niat ini sangat penting karena niat berinvestasi akan mempengaruhi klasiifikasi dari investasi.

Pengkategorian Investasi dalam Sekuritas Utang berdasar PSAK 50: Investasi Akuntansi Investasi Efek Tertentu
Berdasar PSAK 50: Akuntansi Investasi Efek Tertentu, paragraf 07 menyatakan bahwa perusahaan harus mengklasifikasi investasi pada sekuritas ekuitas ke salah satu kelompok berikut: held-to-maturity, trading, atau available-for-sale securities dan harus mengkaji kembali kelayakan dari klasifikasi tersebut pada setiap tanggal pelaporan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah batasan pembeda kategori held-to-maturity (selanjutnya disebut HTM), trading securities (selanjutnya disebut TS), atau dalam available-for-sale securities (selanjutnya disebut AFS). Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pendahuluan, untuk mengklasifikasi apakah suatu transaksi termasuk dalam kategori HTM, TS ataukah AFS maka harus dilihat terlebih dahulu niat perusahaan dalam memiliki investasi tersebut. Jika perusahaan berniat ingin memiliki investasi untuk jangka panjang dan sampai dengan jatuh tempo maka akan dikategori sebagai HTM. Jika perusahaan ingin memiliki investasi tapi dengan tujuan untuk dijual kembali dalam waktu dekat dan telah ditentukan waktunya untuk memperoleh laba dari perbedaan harga, maka akan

1

Pengelompokkan Iinvestasi pada sekuritas berdasar PSAK 50 sama dengan pengelompokkan berdasar US GAAP.

Akuntan Muda

Halaman 11

diklasifikasi ke dalam TS. Namun, jika tujuannya adalah ingin berinvestasi kemudian berniat akan dijual kembali tapi dalam jangka waktu yang tidak pasti, dan perusahaan tidak mengklasifikasikannya sebagai dimiliki hingga jatuh tempo maka dapat diklasifikasi ke dalam AFS. Karena niat untuk memegang investasi ini sangat menentukan pengkategorian investasi maka niat perusahaan dalam memegang investasi harus ditetapkan terlebih dahulu. Jika sudah mengetahui investasi akan dikategorikan ke dalam kelompok yang mana maka hal selanjutnya yang diperhatikan adalah bagaimana menentukan penilaian untuk setiap kategori sekuritas. Berdasar PSAK 50, penlaian untuk masing-masing kategori adalah menggunakan :

Kategori HTM TS AFS

Penilaian (valuation) Biaya perolehan setelah diamortisasi premi atau diskon (selanjutnya disebut amortized cost) Nilai wajar Nilai wajar (selanjutnya disebut fair value)

Bagaimana Akuntansi untuk Investasi Dalam Sekuritas Utang?
IASB membagi aset finansial dalam 2 kategori pengukuran yaitu berdasarkan amortized cost dan fair value tergantung dari kondisi yang ada.2 Hal ini disebabkan ada dua pendapat berbeda. Pertama, beberapa pengguna laporan keuangan memilih menggunakan satu pengukuran yaitu dengan fair value untuk semua jenis aset finansial dengan pertimbangan bahwa fair value merupakan pengukuran yang lebih relevan dibandingkan pengukuran lainnya dalam menilai pengaruh adanya kejadian-kejadian ekonomik terhadap aliran kas masa depan dari aset. Namun, tidak semua berpendapat demikian. Pengguna laporan keuangan yang berpendapat bahwa tidak selamanya investasi yang dimiliki itu untuk dijual tetapi dimiliki memang untuk mendapatkan penghasilan dari aliran kas masuk selama umur investasinya. Dalam kondisi

2

Seperti dijelaskan sebelumnya, pengklasifikasian investasi pada efek tertentu berbeda antara IASB dengan US GAAP atau standar akuntansi keuangan di Indonesia.

Akuntan Muda

Halaman 12

sepeti ini, maka penilaian dengan menggunakan dasar kos (merujuk pada amortized cost) akan dapat menyediakan informasi yang lebih relevan untuk memprediksi aliran kas masa depan. Oleh karena itu, pembahasan akuntansi dalam investasi utang akan dibagi dalam dua kelompok: 1. Akuntansi untuk investasi utang – amortized cost, dan 2. Akuntansi untuk investasi utang – fair value.

untuk Akuntansi untuk Investasi Utang – Amortized Cost
Perusahaan menilai berdasar amortized cost jika tujuannya memiliki aset keuangan adalah untuk mengumpulkan cash flow yang berasal dari perjanjian. Untuk menentukan nilai amortisasian adalah dengan mengurangkan nilai awal pengakuan investasi dikurangi repayment +/- diskon atau premium dikurangi impairment. Contohnya PT. Abdi membeli obligasi dari PT. Rahayu maka PT. Abdi akan memperoleh aliran kas masuk sesuai dengan kontrak perjanjian selama umur obligasi dan akan diberikan pelunasan pada saat jatuh tempo.

Akuntansi untuk Investasi Utang – Fair Value untuk Value
Pada pengukuran awal, perusahaan yang melaporkan investasinya pada fair value dapat mencatat pada amortized cost. Namun ketika akan dilaporkan pada tanggal pelaporan maka perusahaan harus melakukan penyesuaian dari amortized cost ke fair value dan jika terdapat unrealized gain atau unrealized loss akan dilaporkan sebagai bagian dari net income. Untuk mendapatkan gambaran atas akuntansi untuk investasi utang dengan menggunakan amortized cost, bisa disimak contoh berikut (contoh ini diadopsi dari Kieso et al. [2011]): Robinson Company membeli obligasi 8% bernilai $100.000 dari Evermaster Corporation pada tanggal 1 Januari 2011 dengan diskon dan membayar sebesar $92.278. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada tanggal 1 Januari 2016 dengan yield 10% dan bunga dibayar setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari. Jurnal yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2011 adalah:

Akuntan Muda

Halaman 13

1 Januari 2011

Debt Investment Cash

$92.278 $92.278

Setelah diakui maka selanjutnya perusahaan harus mengamortisasi diskon (atau premium) dengan menggunakan metode bunga efektif. Untuk menggambarkan perhitungan dengan menggunakan metode suku bunga efektif maka dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Date 1/1/11 7/1/11 1/1/12 7/1/12 1/1/13 7/1/13 1/1/14 7/1/14 1/1/15 7/1/15 1/1/16 Cash received $4.000a 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 $40.000 Interest revenue $4614b 4645 4677 4711 4746 4783 4823 4864 4907 4952 $47.722 Bond discount amortization $ 614 645 677 711 746 783 823 864 907 952 $7,722 Carrying amount of bonds $92.278 92.892 93.537 94.214 94.925 95.671 97.277 98.141 99.048 100.000

Keterangan: A = $4000 = $100.000 x 0,08 x 6/12 B= $4614 = $92.278 x 0,10 x 6/12 C = $614 = $4.614 - $4.000 D = $92.892 = $92.278 + $614

Penerimaan bunga tengah tahun pertama akan dicatat oleh Robinson pada tangal 1 Juli 2011 dengan membuat jurnal sebagai berikut: 1 Juli 2011 Cash Debt Investment Interest Revenue $4.000 614 $4.614

Sedangkan accrue interest dan amortisasi diskon pada tanggal 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: 31 Desember 2011 Interest Receivable Debt Investments Interest Revenue $4000 645 $4.645

Akuntan Muda

Halaman 14

Untuk mendapatkan gambaran atas akuntansi untuk investasi utang dengan menggunakan fair value, kita dapat melihat pada contoh yang sama dengan contoh sebelumnya hanya saja investasi tersebut dianggap dibeli dengan menggunakan pendekatan fair value (contoh ini di adopsi dari Kieso et al, IFRS Edition [2011]). Jurnal yang dibuat oleh Robinson akan sama dengan contoh sebelumnya pada kasus amortized cost. Jurnal-jurnal yang dibuat adalah:

1 Januari 2011

Debt Investment Cash

$92.278 $92.278

1 Juli 2011

Cash Debt Investment Interest Revenue

$4.000 614 $4.614

31 Des 2011

Interest Receivable Debt Investments Interest Revenue

$4.000 645 $4.645

Untuk mengaplikasi pendekatan fair value, Robinson menentukan bahwa fair value dari investasi utang sebesar $95.000 pada tanggal 31 Desember 2011. Sehingga jika dibandingkan dengan nilai terbawa (carrying amount) obligasi pada tanggal 31 Desember 2011 yaitu sebesar $93.537 maka unrealized gain (loss) adalah:

Fair value tanggal 31 Desember 2011 Amortized cost tanggal 31 Desember 2011 Unrealized gain (loss)

$95.000 93.537 $1.1463

Akuntan Muda

Halaman 15

Jurnal yang dibuat untuk mencatat penyesuaian dari investasi utang ke fair value pada tanggal 31 Desember 2011 adalah:

Securities Fair Value Adjustment $ 1.463 Unrealized Holding Gain or Loss – Income

$1.463

Menurut Kieso et al. (2011), penggunaan rekening securities fair value adjustment daripada debt investment ini memungkinkan entitas untuk mempertahankan catatan pada biaya diamortisasi dalam rekening. Hal ini dimungkinkan karena jika menggunakan akun debt investment maka akun debt investment ini nilainya akan berfluktuasi (bisa naik atau turun).3

REFERENSI 1. Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009. Salemba Empat. Jakarta 2. Kieso, Weygandt, dan Warfield. 2011. Intermediate Accounting: IFRS Edition, Volume 2. Wiley. New York 3. Kieso, Weygandt, dan Warfield. 2011. Intermediate Accounting. 14th Edition. Wiley. NewYork

Misalkan dari contoh awal nilai debt investmen adalah $92.278, jika pada saat melakukan adjustment menggunakan akun debt investment makan nilai total debt investment akan menjadi $92.278 +$1.468. jika dimisalkan akun debt invest emn berada disebelah kredit, maka jumlahnya juga akan berbeda. Halini akan menyebabkan akun amortized cost menjadi tidak dapat dipertahankan.

3

Akuntan Muda

Halaman 16

Yuk, Bikin Paper!
#2 Mencari Literatur (bagian 2)
Oke, setelah sebelumnya kita berkenalan dengan paper teranyar, paper klasik, dan paper seminal maka kali ini kita akan berkenalan dengan paper mengenai model, paper review literatur, dan paper jurnal top (top journal).

Paper Penyusun atau Pengembang Model
“...the choice of the appropriate (econometric) technique for mitigating an issue requires an underlying theory.” (Holthausen dan Watts 2001, p.4)

Kesalahan umum peneliti pemula seperti saya adalah tidak mempelajari model yang digunakan dari paper awal penyusun dan/atau pengembangan modelnya. Umumnya, kita hanya mengacu pada suatu paper riset empiris tertentu dan mengambil modelnya dari paper tersebut. Ini merupakan pendekatan yang keliru karena suatu model yang digunakan dalam suatu penelitian biasanya dibangun berdasar konteks tertentu. Sementara, konteks penelitian lain mungkin akan berbeda dengan konteks penelitian kita. Oleh karenanya, kita harus mempelajari paper penyusun/pengembang model untuk mengetahui konteks awal beserta asumsi, teori, dan argumentasi yang digunakan. Dengan demikian, kita dapat mengetahui apakah suatu model dapat langsung diadopsi ke dalam penelitian kita ataukah ada beberapa hal yang perlu disesuaikan terlebih dahulu. Beberapa contoh paper mengenai model antara lain:

Akuntan Muda

Halaman 17

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Penulis (Penyusun dan/atau Pengembang) Model Jennifer J. Jones Patricia M. Dechow, Richard G. Sloan, Amy P. Sweeney James A. Ohlson S.P. Kothari Sugata Roychowdhury

Tahun 1991 1995 1995 2005 2006

Model Manipulasi laba/akrual Pengembangan model manipulasi laba/akrual Value relevance Pengembangan model manipulasi laba/akrual Manipulasi aktivitas real

Misalnya, penyusunan Model Ohlson yang banyak digunakan oleh penelitian value relevance itu ditulis oleh James A. Ohlson dalam artikel ‘Earnings, Book Values, and Dividends in Equity Valuation.’4 Paper Ohlson (1991, p. 663) memuat asumsi yang mendasari Model Ohlson yaitu:
First, as is standard in neoclassical models of security valuation, the present value of expected dividends (PVED) determines the market value. The underlying probabilistic framework implies an “objective beliefs” setting. To keep matters simple, risk neutrality applies so that the discount fator equals the risk-free rate. Second, regular owners’ equity accounting applies: accounting data and dividends satisfy the clean surplus relation, and dividends reduce book value without affecting current earnings. Third, a linear model frames the stochastic time-series behavior of abnormal earnings. As already noted, this variable is defined as current earnings minus the risk-free rate times the beginning of period book value, that is, earnings minus a charge for the use of capital.

Oke, kita ambil contoh kasus di sini. Asumsi kedua, clean surplus relation, merupakan asumsi yang populer dalam penelitian value relevance. Asumsi ini mensyaratkan semua pos selain dividen untuk masuk ke neraca melalui laba rugi atau, dengan kata lain, tidak ada pos selain dividen yang dapat langsung masuk ke neraca. Masalahnya, kebanyakan konteks penelitian tidak memenuhi asumsi ini. Ada beberapa pos yang dapat langsung masuk ke neraca tanpa melalui laba rugi, antara lain: unrealized gains and losses on securities held for sale, foreign currency translation gains and losses gains and losses on derivative assets and liabilities
4

Ohlson, J. A. 1995. Earnings, Book Values, and Dividends in Equity Valuation. Contemporary Accounting Research 11 (2): 661-687.

Akuntan Muda

Halaman 18

Lalu bagaimana? Model Ohlson mengasumsikan clean surplus, namun pada kenyataannya asumsi ini tidak terpenuhi. Dengan demikian, apakah Model Ohlson ini masih dapat kita gunakan? Ya, masih bisa karena menurut penelitian empiris Hand dan Landsman tahun 2000 sebagaimana dimuat dalam penelitian Barth et al. (2001) menyebutkan bahwa dampak pos ‘dirty surplus’ tidak signifikan sehingga dapat diabaikan. Ketika kita membaca paper penyusun/pengembangan model, cerita penelitian itu sendiri menjadi lengkap dan mudah dimengerti. Ia tidak lagi membingungkan seperti saat kita hanya ‘mencontek’ model berdasar aplikasinya di penelitian orang lain.

Paper Review Literatur
Paper review literatur adalah paper yang merangkum, menggambarkan, dan terkadang mengkritisi penelitian-penelitian yang ada dalam suatu topik tertentu. Paper ini menjelaskan temuan-temuan penting, metodologi penelitian, dan perkembangan suatu topik. Beberapa contoh paper review literatur antara lain: No. 1) 2) 3) 4) Paper Barth et al. (2001) Healy dan Wahlen (1999) Leuz dan Wysocki (2008) S.P. Kothari (2001) Topik Value relevance Manipulasi laba Konsekuensi ekonomik dan pengungkapan Pasar modal

Ada beberapa manfaat membaca paper review literatur, antara lain: 1) Kita bisa memperoleh pengetahuan terstruktur dan komprehensif dengan membaca hanya ‘1’ paper. Paper review literatur bagi suatu topik penelitian memiliki peran yang mirip dengan buku teks bagi suatu kuliah. Berikut adalah penjelasan deskriptif mengenai tipe penelitian value relevance yang dapat kita peroleh bila kita membaca paper Holthausen dan Watts (2001, hal. 5-6):
Untuk memfasilitasi analisis, kami mengklasifikasi studi value-relevance ke dalam 3 kategori.

a) Studi asosiasi relatif membandingkan asosiasi antara harga saham (atau perubahannya)
dan ukuran bottom-line alternatif. Contoh, studi mungkin menguji apakah asosiasi suatu angka laba, dihitung berdasar standar yang diusulkan, memiliki asosiasi lebih tinggi

Akuntan Muda

Halaman 19

dengan harga saham atau perubahannya (dalam jangka panjang) daripada angka laba yang dihitung berdasar GAAP yang berlaku (e.g. Dhaliwal et al. 1999). Studi lain membandingkan asosiasi antara laba GAAP asing dengan GAAP Amerika (e.g. Harris et al. 1994). Studi tipe ini biasanya menguji perbedaan R dengan menggunakan beragam angka akuntansi bottom-line. Angka akuntansi dengan R yang lebih besar dianggap lebih value-relevant.
2 2

b) Studi asosiasi inkremental menginvestigasi apakah suatu angka akuntansi bermanfaat
dalam menjelaskan harga atau return saham jika ada variabel lain tertentu. Angka akuntansi umumnya disebut value-relevant bila koefisien regresi estimasiannya berbeda secara signifikan dari nol. Contohnya, Venkatachalam (1996) menguji asosiasi inkremental dari nilai wajar derivatif managemen risiko dalam regresi terhadap nilai pasar ekuitas dari pos-pos neraca. Sebagian studi asosiasi inkremental membuat asumsi tambahan mengenai hubungan angka akuntansi dan input model penilaian (valuation model) untuk memprediksi nilai koefisien dan/atau untuk menilai perbedaan dalam eror berbagai model penilaian dengan angka akuntansi sebagai variabel input. Contohnya, Venkathachalam (1996) juga menguji apakah koefisien nilai wajar derivatif berbeda secara signifikan antara satu dengan lainnya. Perbedaan antara nilai estimasian dan prediksian sering diinterpretasi sebagai bukti eror pengukuran dalam angka akuntansi.

c) Studi kandungan informasi marginal menginvestigasi apakah suatu angka akuntansi
tertentu menambah kebergunaan set informasi yang tersedia bagi investor. Studi ini umumnya menggunakan studi peristiwa (event studies) untuk menentukan apakah penyampaian suatu angka akuntansi (kondisional terhadap informasi lain yang juga disampaikan) terasosiasi dengan perubahaan harga. Reaksi harga saham dianggap sebagai bukti value relevance dalam studi ini. Sebagai contoh, Amir et al. (1993) menguji kandungan informasi marginal rekonsiliasi Form 20-F untuk angka laba GAAP asing dan Amerika dengan meregres return abnormal 5-hari pengumuman dengan perbedaan dan perubahaan dalam perbedaan angka laba asing dan Amerika.

2) Kita bisa mengetahui hal-hal yang telah dilakukan oleh penelitian dalam topik terkait beserta kelemahan dan kelebihannya. Misalnya, Holthausen dan Watts (2001) mengkritisi kurangnya teori deskriptif dalam penelitian value relevance secara umum. Padahal, teori Akuntan Muda Halaman 20

deskriptif sangat penting agar penelitian value relevance dapat berguna bagi penyusunan standar. Coba kita lihat penjelasan awal studi Holthausen dan Watts (2001, hal.4) berikut:
Evaluasi kami berkonsentrasi pada akuntansi, penyusunan standar, dan teori penilaian (valuation) yang mendasari inferensi penyusunan standar dari literatur value relevance. Alasannya karena inferensi tersebut dapat bermanfaat bagi penyusunan standar hanya jika teori yang mendasarinya cukup deskriptif (dalam artian mampu menjelaskan dan memprediksi aspek akuntansi, penyusunan standar, dan penilaian). Tanpa teori deskriptif untuk menginterpretasi asosiasi empiris maka asosiasi yang ditemukan dalam literatur value relevance memiliki sedikit sekali implikasi bagi penyusunan standar, asosiasi itu hanya asosiasi, tidak memiliki makna lebih. Sebagai contoh, pikirkan inferensi penyusunan standar berdasar teori yang mengasumsikan penyusun standar menganggap asosiasi yang ‘tinggi’ dengan nilai saham merupakan atribut angka laba ‘yang disenangi.’ Inferensi tersebut tidak akan berguna bila bukti menunjukkan bahwa penyusun standar tidak menganggap asosiasi dengan nilai saham sebagai atribut yang penting. Asersi sederhana oleh peneliti bahwa penyusun standar seharusnya menganggap bahwa atribut tersebut diinginkan/diharapkan tidaklah memadai bagi sebuah penelitian ilmiah. Para peneliti tersebut harus menspesifikasi sasaran/objective penyusunan standar dan bagaimana penggunaan kriteria asosiasi empiris terkait dapat membantu penyusun standar mencapai sasarannya. Bila sasaran terkait dan kriteria asosiasinya tidak menjelaskan atau memprediksi tindakan penyusun standar maka merupakan kewajiban peneliti untuk menjelaskan (i) mengapa penyusun standar tidak berusaha mencapai sasaran tersebut dan (ii) mengapa pengusahaan pencapaian sasaran tersebut merupakan hal yang relevan dan layak.

Berdasar penjelasan Holthausen dan Watts (2001) tersebut, dengan asumsi kita menerima argumennya, kita dapat membuat catatan berikut untuk kepentingan penelitian kita: Penelitian value relevance sering tidak memiliki teori yang cukup deskriptif. Apakah penelitian kita sudah memiliki teori yang cukup deskriptif? Bila belum, pikirkan. Bila sudah, jawab pertanyaan berikutnya. Apa standar atau aspeknya yang sedang kita evaluasi melalui penelitian kita? Bagaimana kriteria asosiasi yang kita gunakan akan bermanfaat bagi evaluasi tersebut? dan lainnya. 3) Kita bisa mengetahui penjelasan penggunaan suatu konteks dalam penelitian.

Akuntan Muda

Halaman 21

Kita sering bingung tanpa petunjuk dalam menentukan aspek-aspek penelitian. Katakanlah kita tidak tahu model harga atau model return kah yang harus digunakan dalam konteks penelitian kita. Paper review literatur biasanya dapat membantu kita dalam hal ini. Berikut contoh penjelasan Barth et al. (2001, hal. 95) mengenai penggunaan nilai saham dalam penelitian value relevance.
Kunci perbedaan antara studi value relevance yang menguji tingkat harga dengan yang menguji perubahan harga (return) adalah uji tingkat harga berusaha menjawab isu ‘nilai/angka apa yang terrefleksi dalam nilai perusahaan.’ Sementara uji return berusaha menjawab isu ‘aspek apa yang terefleksi dalam perubahaan nilai dalam suatu periode tertentu.’ Jadi, jika pertanyaan penelitian anda bertujuan menentukan apakah penyajian informasi akuntansi itu tepat waktu (timely) maka pengujian return merupakan desain penelitian yang sesuai.

Penjelasan Barth et al. (2001) ini memberi tahu kita untuk menggunakan pengujian return saham bila kita meneliti aspek ketepatwaktuan (timeliness).

Paper Jurnal Top
Di negara maju seperti Amerika, jurnal diperingkat berdasar pengaruhnya pada ilmu pengetahuan. Misalnya saja, makin sering artikelnya dikutip maka makin tinggi peringkat jurnal terkait. Ada 4 jurnal top untuk akuntansi, khususnya akuntansi keuangan, di Amerika yaitu: 1) Journal of Accounting and Economics, 2) The Accounting Review, 3) Journal of Accounting Research, dan 4) Contemporary Accounting Research. Khusus mahasiswa yang mengambil topik akuntansi keuangan, ada baiknya bila ‘selalu’ menggunakan artikel jurnal top sebagai referensi. ‘Selalu’ di sini dalam artian anda juga perlu membaca artikel yang tidak berasal dari jurnal top terutama untuk referensi penelitian teranyar yang biasanya masih berupa working paper dan/atau artikel penelitian Indonesia untuk konteks penelitian anda. Nah, mengapa mahasiswa sangat dianjurkan untuk mengacu pada artikel jurnal top? Sebagai peneliti pemula, kita biasanya tidak memiliki dasar yang cukup mapan untuk melakukan Akuntan Muda Halaman 22

penelitian yang baik atau, dengan kata lain, tidak memiliki standar tinggi. Bila anda mengacu pada dan, oleh karenanya, mempelajari artikel jurnal top maka secara anda akan terekspose pada penelitian berkualitas secara terus-menerus. Ini akan membuat anda, secara tidak sadar, memiliki standar penelitian yang relatif baik. Di sisi lain, keunggulan artikel jurnal top akan sangat memudahkan dan membantu anda dalam melakukan penelitian anda sendiri. Beberapa aspek standar penelitian yang berkualitas dijelaskan di poin-poin berikut
a) Bahasanya lugas, tidak berbelit-belit. Hal ini memudahkan kita memahami apa yang

disampaikan oleh artikel terkait.
b) Argumen yang kuat. Penelitian ilmiah harus didasarkan pada argumen yang kuat. Artikel

jurnal top selalu menggunakan hasil penelitian yang dapat diandalkan untuk menjadi dasar argumennya. Argumen mereka tidak ‘datang dari langit’.
c) Penjelasan yang komprehensif. Artikel jurnal top selalu memiliki penjelasan yang lengkap.

Entah apakah itu latar belakang suatu masalah, perkembangan terkini, sampai dengan mengapa mereka mengubah konstan suatu model tertentu. Kita selalu bisa menemukan penjelasan ‘mengapa’ dari tiap aspek dalam penelitiannya.
d) Logikanya runut. Hal yang menyenangkan dari artikel jurnal top adalah logikanya runut.

Penjelasannya disampaikan secara berurutan sehingga kita mudah mengerti. Alur logikanya tidak pernah loncat-loncat ataupun maju-mundur.
e) Lengkapnya detail-detail yang diperlukan. Semua detail yang diperlukan dan penting akan

selalu dapat anda temukan dengan mudah. Anda bisa menemukan cara menghitung atau definisi operasional suatu variabel akan anda temukan sampai ke identifikasi terkait dalam suatu database. Misal, aset adalah pos Compustat #XXX – Compustat #XXY. (Note: Compustat adalah nama database.)
f)

Hasil penelitiannya penting dan memiliki kontribusi khusus.

Oke, semua ini adalah jenis referensi literatur yang kita perlukan untuk meneliti. Selamat melengkapi literatur Anda.

(arie rahayu)

Akuntan Muda

Halaman 23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->