P. 1
Contoh kasus

Contoh kasus

|Views: 684|Likes:
Published by Albian Misuari

More info:

Published by: Albian Misuari on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

Contoh kasus Iwan pegawai swasta berusia 34 tahun ini sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit

yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin. Iwan juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas. Dia bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes, namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal. Pria itu tentunya tidak percaya hal tersebut, karena sebenarnya dia merasa ada yang salah memang dengan dirinya. Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Iwan disarankan untuk datang ke bagian psikiatri/jiwa karena mungkin ada problem psikis yang melatari keluhannya. Dia pun sempat kesal karena saran itu, dia berkata “Memangnya saya gila Dok?!”. Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Iwan memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun. TINJAUAN TEORITIS A. B. Pengertian

Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Selain itu gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom medis.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan. B. Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah: • Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ. • Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis. • Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu. • Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat. • Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform: • Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.

1. Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi a. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. b. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan: Ó Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi) Ó Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan) Ó Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan). Ó Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).

f. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri a. Salah satu (1)atau (2) 1. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan. atau temuan laboratorium. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional. pekerjaan. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. C. Pereokupasi dengan ketakutan menderita. atau gangguan somatoform lain. 2. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman. gangguan obsesif-kompulsif. e. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura). obat. hilangnya nafsu makan. atau fungsi penting lain. b. eksaserbasi atau bertahannnya nyeri. atau temuan laboratonium. gangguan depresif berat. d. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi a. d. atau alkohol) 2. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh a. tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi. medikasi. e. obat. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit. b. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura). kemarahan. tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh). atau alkohol) Ó Jika terdapat kondisi medis umum. atau ide bahwa ia menderita. gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera. b. c. ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa). Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya. d. atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia. b. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan. c. kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat. suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala¬gejala tubuh. pekerjaan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh. kecemasan. keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit. cemas perpisahan. medikasi. Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis a. c. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. atau fungsi penting lainnya. tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera. keluhan gastrointestinal atau saluran kemih) B. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum. pemeriksaan fisik. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis. pekerjaan. dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura). 5. 4. atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood. pekerjaan. f. atau fungsi penting lain. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain. pekerjaan. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan A. Salah satu (1)atau (2): Ó Setelah penelitian yang diperlukan. e. atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural. pemeriksaan fisik. atau oleh efek langsung suatu zat. atau fungsi penting . Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual. 3.c. Setelah pemeriksaan yang tepat. setelah penelitian yang diperlukan. gangguan panik. c. d. dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain. Gejala atau defisit tidak dapat.

atau gangguan psikotik). 1983). 2007) 1. ANALISIS Berdasarkan hasil analisis bahwa subjek sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. . Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi. Biasanya bermula sebelum usia 30-an dan telah berlangsung beberapa tahun. cara berpikir yang terdiostorsi yang membuat orang tersebut salah mengartikan perubahan kecil dalam sensasi tubuh sebagai tanda dari bencana yang akan terjadi (Salkovskis7 Clark. Pada hipokandrias. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal (perasaan sakit. Synder & Perkins. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. persendian. 1992. namun yang paling sering dijumpai di klinik adalah yang dinamakan gangguan somatisasi dan gangguan hipokondrik. Cororve&Gleaves. terbakar. Keuntungan primer. punggung. Ganguan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang bermacam-macam dan hampir mengenai semua sistem tubuh. orang terganggu oleh pikiran-pikiran yang obsesif dan menimbulkan kecemasan mengenai kesehatan mereka. badannya terasa tidak enak.lainnya. Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh. simtom histerikal memiliki fungsi : Memberikan orang tersebut keuntungan primer dan keuntungan sekunder. kesemutan. kembung. Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan. 3. Gangguan Somatisasi. Teori ini juga berspekulasi bahwa hipokondriasis dan gangguan panic yang sering kali terjadi secara bersamaan. disfungsi seksual. Keluhan ini biasanya sudah berlangsung lama dan biasanya keluhannya berulang-ulang namun berganti-ganti tempat. (Andri Suryadi. Dalam kasus-kasus seperti itu. tulang belakang. mual dan muntah) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal. dapat memiliki penyebab yang sama. simtom dari gangguan hipokondrias dan gangguan dismorfik tubuh dihubungkan dengan gangguan obsesif kompulsif (Barsky dkk. baal dan pedih. namun hasilnya negatif. dada atau nyeri saat berhubungan badan. kembung. Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid. gangguan tidur. F. Dia mengeluh merasa pegal-pegal. Pergi dari satu dokter ke dokter lain dapat merupakan suatu bentuk dari perilaku kompulsif yang diperkuat oleh hilangnya kecemasan yang dialami secara temporer saat mereka diyakinkan kembali oleh dokternya bahwa kekuatan mereka tidak terbukti. Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi. yang didapat adalah memungkinkan individu untuk mempertahankan konflik internal direpresi. punggung. Pasien biasanya tidak mau menerima pendapat dokter bahwa mungkin ada dasar psikologis yang mendasari gejalanya. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura) C. terbakar. D. Teori Kognitif Teori kognitif berspekulasi bahwa hipokondrias dapat mewakili sebuah tipe dari strategi self-handicapping. gangguan mood. D. dada atau nyeri saat berhubungan badan. perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin. bertahak. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal (perasaan sakit. “simtom” merupakan symbol dari.. bahwa Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor shopping). E. 2. gangguan kecemasan. Namun pikiran-pikiran yang menggangu kembali muncul. dan memberikan orang tersebut “pemecahan sebagian” untuk konflik yang mendasarinya. misalnya nyeri kepala. mual dan muntah) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal. Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor shopping). misalnya nyeri kepala. Kerangka Teori Gangguan somatoform dibagi menjadi beberapa sub. suatu cara menyalahkan kinerja yang rendah pada kesehatan yang buruk (Smith. Teori Belajar Dalam pandangan teori belajar. persendian. Orang tersebut sadar akan simtom fisik yang muncul namun bukan konflik yang diwakilinya. 2001). Perbedaan antara kedua gangguan itu terletak pada apakah interpretasi yang salah dari tanda-tanda tubuh membawa sebuah persepsi tentang ancaman yang akan segera terwujud dan lalu menyebabkan terjadinya kecemasan yang berputar cepat ataukah tentang ancaman dengan kisaran yang lebih panjang dalam bentruk proses penyakit yang mendasarinya. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. namun hasilnya negatif. tulang belakang. hal ini menurut Andri Suryadi (2007). kesemutan. baal dan pedih. bertahak. 1993). Teori Psikodinamika Menurut teori psikodinamika. mendorong mereka melakukan konsultasi ayng berulang. Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh.

seperti gangguan disosiatif. Berkaitan dengan hal ini. Neale.. lebih sering mengalami sensasi fisik.. Menurut teori Psikodinamika . pola maladaptif akan diperkuat dikarenakan oleh perhatian yang diterima. individu dengan somatization disorder memiliki kadar cortisol yang tinggi. 1998 dalam Davidson. teori psikodinamika dan teori belajar. Perbedaan dalam pengalaman belajar dapat menjelaskan bahwa “mengapa secara histories gangguan konversi lebih seringdilaporkan oleh wanita daripada pria. perhatian yang meningkat. Kring. Freud meyakini bahwa ego berfungsi untuk mengontrol impuls seksual dan agresif yang mengancam atau tidak dapat diterima yang timbul dari id melalui mekanisme pertahanan diri seperti represi. Ketika fungsi normal sekali terganggu. Teori Psikoanalisis dari Conversion Disorder Pada Studies in Hysteria (1895/1982). Breuer dan freud menyebutkan bahwa conversion disorder disebabkan ketika seseorang mengalami peristiwa yang menimbulkan peningkatan emosi yang besar. ETIOLOGI Etiologi dari Somatization Disorder Diketahui bahwa individu yang mengalami somatization disorder biasanya lebih sensitive pada sensasi fisik. Kemungkinan lainnya adalah bahwa mereka memiliki sensasi fisik yang lebih kuat dari pada orang lain (Rief&Auer dalam Davidson. Kring. dan terbebas dari tanggungjawab. 2004). Neale. dan disfungsi yang terjadi adalah manifestasi dari kecemasan yang tidak realistis terhadap sistem tubuh. Teori Psikodinamika Freud mengembangkan teori pikiran yang mengancam atau yang tidak disadari.Rief et al. daam Davidson. Teori Belajar Teori psikodinamika dan teori belajar bahwa simtom-simtom dalam gangguan konversi dapat mengatasi kecemasan. Teori Kognitif Penjelasan kognitif lain berfungsi pada peran dari pikiran yang terdistorsi.. Gejala khusus . Barangkali rasa tegang yang ekstrim pada otot perut mengakibatkan rasa pusing atau ingin muntah. 2004). yaitu Primer yaitu hilangnya kecemasan yang mendasar yang diperoleh dari berkembangnya simtom-simtom neurotic.Teori modern yang membahas gangguan somatoform. Sedangkansekunder yaitu keuntungan sampingan yang dihubungkan dengan gangguan neurotis atau lainnya. Control seperti ini menghambat timbulnya kecemasan yang akan terjadi bila orang tersebut menjadi sadar akan adanya impuls-impuls itu. Teoritikus psikodinamika mencari penyebab kecemasan dalam konflik-konflik yang tidak disadari. atau menginterpretasikannya secara berlebihan (Kirmayer et al. Pandangan behavioral dari somatization disorder menyatakan bahwa berbagai rasa sakit dan nyeri. seperti ekspresi simpati. yang merupakan indikasi bahwa mereka sedang stress (Rief et al. ketika tingkat kecemasan tinggi.1994. 2004). simtom histerikal memiliki fungsi yaitu membrikan orang tersebut keuntunga primer dan sekundar. Kring. namun afeknya tidak dapat diekspresikan dan ingatan tentang peristiwa tersebut dihilangkan dari kesadaran. Neale. Belajar berfokus pada hal-hal yang secara langsung menguatkan simtom dan peran sekundernya dalam membantu individu menghindari atau melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman atau membangkitkan kecemasan. ketidaknyamanan.

seperti yang kita ketahui. Misalnya kelumpuhan. ketika tingkat kemunculan conversion disorder tinggi di Perancis dan Austria.Hysterically blind person dapat berkata bahwa ia tidak dapat melihat dan secara bersamaan dapat dipengaruhi oleh stimulus visual. Teori Behavioral dari Conversion Disorder Pandangan behavioral yang dikemukakan Ullman&Krasner (dalam Davidson. 2004). Kedua. diagnosis mengenai hysteria . Sedangkan untuk pertanyaan (2) Ullman dan Krasner mengspesifikasikan dua kondisi yang dapat meningkatkan kecenderungan ketidakmampuan motorik dan sensorik dapat ditiru. Neale. 1984 dalam Davidson. dan kebutaan. individu harus memiliki pengalaman dengan peran yang akan diadopsi. analgesias. Berkurangnya gangguan ini dapat disebabkan oleh semakin luwesnya norma seksual dan semakin berkembangnya ilmu psikologi dan kedokteran pada abad ke 20. dapat pula dimunculkan pada orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis. Cara mereka menunjukkan bahwa mereka dapat melihat tergantung pada sejauh mana tingkat kebutaannya. perilaku seksual yang di repress dapat berkontribusi pada meningktnya prevalensi gangguan ini. Mereka mengalami hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan mengenai konsep medis dan psikologis. permainan dari peran tersebut harus diberikan reward. Neale. Namun pandangan behavioral ini tidak sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti literatur. 2004). Selain itu peran faktor sosial dan budaya juga menunjukkan bahwa conversion disorder lebih sering dialami oleh mereka yang berada di daerah pedesaan atau berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah (Binzer et al. Menurut pandangan mereka. diakibatkan oleh Electra complex yang tidak terselesaikan.1996. Individu tersebut dapat memiliki masalah fisik yang serupa atau mengobservasi gejala tersebut pada orang lain. dimana individu mengadopsi simtom untuk mencapai suatu tujuan. Beberapa hipotesis yang menjelaskan bahwa gangguan ini mulai berkurang adalah misalnya terapis yang ahli dalam bidang psikoanalisis menyebutkan bahwa dalam paruh kedua abad 19. Faktor Sosial dan Budaya pada Conversion Disorder Salah satu bukti bahwa faktor social dan budaya berperan dalam conversion disorder ditunjukkan dari semakin berkurangnya gangguan ini dalam beberapa abad terakhir. yang lebih toleran terhadap kecemasan akibat disfungsi yang tidak berkaitan dengan hal fisiologis daripada sebelumnya. Individu akan menampilkan ketidakampuan hanya jika perilaku itu diharapkan dapat mengurangi stress atau untuk memperoleh konsekuensi positif yang lain. Ford&Regan. Kring. verbal reports dan tingkah laku dapat terpisah satu sama lain secara tidak sadar. akan bereaksi. individu dengan conversion disorder berusaha untuk berperilaku sesuai dengan pandangan mereka mengenai bagaimana seseorang dengan penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik.Folks. Berdasarkan pandangan psikodinamik dari Sackheim dan koleganya. Seseorang dapat mengadopsi pola perilaku yang sesuai dengan gejala klasik conversion. Freud juga berhipotesis bahwa conversion disorder pada wanita terjadi pada awal kehidupan. menyebutkan bahwa gangguan konversi mirip dengan malingering. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan : (1) Apakah seseorang mampu berbuat demikian? (2) Dalam kondisi seperti apa perilaku tersebut sering muncul ? Berdasarkan bukti-bukti yang ada. maka jawaban untuk pertanyaan (1) adalah ya.conversion disebutkan dapat berhubungan seba-akibat dengan peristiwa traumatis yang memunculkan gejala tersebut.. Pertama. Kring. Sementara itu.

penelitian tidak mendukung hal ini. 2004). Pada analisa kasus.Visser&Bouman. Akan tetapi semakin banyak pengobatan yang dibutuhkan. Faktor Biologis pada Conversion Disorder Meskipun faktor genetic diperkirakan menjadi faktor penting dalam perkembangan conversion disorder.. seperti Inggris. Bach. Neale. Dalam pendekatan yang lebih umum mengenai somatization disorder. pendekatan cognitive-behavioral terbukti efektif dalam mengurangi hypochondriasis (e. Penelitian menujukkan bahwa penderita hypochondriasis memperlihatkan bias kognitif dalam melihat ancaman ketika berkaitan dengan isu kesehatan (Smeets et al. dalam Davidson. Salkovskis&Warwick. Neale. Kring. gejala conversion lebih sering muncul pada bagian kiri tubuh dibandingkan dengan bagian kanan (Binzer et al. dalam beberapa penelitian. 2004 ). bukanlah ide yang baik untuk meyakinkan mereka yang mengalami gangguan ini bahwa gejala conversion yang mereka alami berhubungan dengan faktor psikologis. 2001 dalam Davidson.. 1986.g. bagi orang yang “sakit” sekian lama maka akan tumbuh kebiasaan akan ketergantungan untuk menghindari tantangan hidup sehari-hari daripada menghadapi tantangan tersebut sebagai orang dewasa. dalam Davidson. Akan tetapi. beragam teknik yang dimaksudkan agar mereka menghilangkan gejala-gejala dari gangguan tersebut. Neale. Neale. 2000. Pengetahuan klinis lebih menyajikan pendekatan yang lembut dan suportif dengan memberikan reward bagi kemajuan dalam proses pengobatan meeka (Simon dalam Davidson. TERAPI Case report dan spekulasi klinis saat ini menjadi sumber informasi penting dalam membantu orang-orang yang mengalami gangguan ini. Kring. dan lebih umum pada negara yang belum berkembang. Kring. Sementara itu. dalam Davidson. dalam Davidson. mempertahankan hubungan dengan mereka terlepas dari apakah mereka mengeluh tentang penyakitnya atau tidak (Monson&Smith dalam Davidson. 2004).. Para terapis behaviorist lebih menyarankan pada mereka yang mengalami gangguan somatoform. Hal ini merupakan penemuan menarik karena fungsi bagian kiri tubuh dikontrol oleh hemisfer kanan otak. 2004). 2001. Terapi untuk Hypochondriasis Secara umum. Cognitivebehavioral therapy dapat bertujuan untuk mengubah pemikiran pesimistis. pengobatan juga hendaknya dikaitkan dengan strategi yang mengalihkan penderita gangguan ini dari gejala-gejala tubuh dan meyakinkan mereka untuk mencari kepastian medis bahwa mereka tidak sakit (e. Neale. berdasarkan penelitian yang lebih besar diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang dapat diobservasi dari frekuensi gejala pada bagian kanan versus bagian kiri otak (Roelofs et al. Neale.berkurang pada masyarakat industrialis. Neale. Rodriguez&Fernandez.Warwick&Salkovskis. Selain itu. seperti Libya (Pu et al. Kring.g. 2004). 2004). tetapi perlu diminimalisir penggunaan tes-tes diagnosis dan obat-obatan. Kring. Kring.. Terapi untuk Somatization Disorder Para ahli kognitif dan behavioral meyakini bahwa tingginya tingkat kecemasan yang diasosiasikan dengan somatization disorder dipicu oleh situasi khusus. Kring.dalam Davidson. 2004). Neale. Hemisfer kanan otak juga diperkirakan lebih berperan dibandingkan hemisfer kiri berkaitan dengan emosi negatif. dokter hendaknya tidak meremehkan validitas dari keluhan fisik. Kring. Feranandez. 2004). 1992. Terapi untuk Pain Disorder .

Erlangga . problem psikis yang gerogoti fisik. terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai penampilan fisiknya dan cara meyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas. membantu orang tersebut belajar dalam menangani stress atau kecemasan dengan cara yang lebih adaptif. 2003. Psikologi Abnormal Jilid I. Dalam restrukturisasi kognitif.com/ Andri Suryadi. tetapi mengajari penderita bagaimana caranya menghadapi stress. 2007. http://sedanghidup. dan bukan menutupinya melalui penggunaan rias wajah dan pakaian. Terapis behavioral dapat bekerja secara lebih langsung dengan si penderita gangguan somatoform.Pengobatan yang efektif cenderung memiliki hal-hal berikut: Memvalidasikan bahwa rasa nyeri itu adalah nyata dan bukan hanya ada dalam pikiran penderita. Engelberta Pardamean. 2008. Gangguan Identitas Gender. Gangguan psikomatik. Gangguan Jiwa : Siapa yang Waras. REFERENSI Ahead. Gangguan Somatoform.maitreya. Teknik kognitif-behavioral paling sering pemaparan terhadap pencegahan respond an restrukturisasi kognitif. http://aryaverdiramadhani.or. dan meningkatkan kontrol diri. www. terutamafluoxetine(Prozac) dalam menangani beberapa tipe gangguan somatoform. Jakarta. 2008. Secara sengaja memunculkankerusakan yang dipersepsikan di depan umum.com/2008/06/vj33vi2008-gangguan-identitasgender. terlepas dari keterbatasan fisik atau ketidaknyamanan yang penderita rasakan. mendorong untuk mengerjakan aktivitas yang lebih baik.blogspot.id/forums Arya Verdi. Dkk. SpKJ. Penanganan Gangguan Somatoform secara umum Pendekatan behavioral untuk menangani gangguan konversi dan somtoform lainnya menekankan pada menghilangkan sumber dari reinforcement sekunder (keuntungan sekunder) yang dapat dihubungkan dalam keluhan-keluhan fisik. Symposium sehari kesehatan jiwa dalam rangka menyambut hari kesehatan jiwa sedunia. Relaxation training Memberi reward kepada mereka yang berperilaku tidak seperti orang yang mengalami rasa nyeri Secara umum disarankan untuk mengubah fokus perhatian dari apa yang tidak dapat dilakukan oleh penderita akibat rasa nyeri yang dialaminya. Ikatan Dokter Indonesia Jeffrey S. 2007.html dr.blogspot. Penggunaan antidepresan.

. .07843847/07 085:3 1. 0.7170:0380.7.32070.3 4-.3 :39: 203:-.3.9.3.3:39:2033/.3 /03. 907.5:39:$42./.-07...3/3.3 :.9.2 -0-07.8.3.203/::3.. 2070.3 2070.9 3/:897.2 503/0.9...2 -07:-:3.5:39:!.33/..3  .88202507.3 -.9.2.3 .5.3-.3 20/8 -.3.5.43/7..3 49. /0 ..941472  -07.7/ -.3 ././843 0.3. .0 73    %#! .3 203::.3 50309..:.2 50702-.3 /.0 -0.3:.3 $02039.3.8:/..39: 47.3 503/079./843 0.3 0- -08.3. 907-:9 01091 /.  '8807 4:2.3:.8...3-.7..3 .9:  /. 207020..3749.3. . 4391 /..47.9 -079::..3  2025079.0 73     .8388.39.9.3:. /5077.: 5.91  .02.2.3 /03. 5034-..2.4789 0- 203..3 203.3 909.9.3847/07 ./.88 0   .3 90780-:9 80-.3.47.3:.3.39./.: 9/. 50309.3 .3 /.8.8:8  -:.8/.7.43.3488 /.0 73    %07.7 2070. 2..3 50302:../ 1.75.850393/./..2.9  80.3 503. .3850:..3 9:  5034-.3.3 .7.8 /.3 909.3 0- :2:2 5.88 .7 /09. ..7 /.3 /2.89.2 203:7.:.7. /.. 30.3 028107 7 -07.3.2.9.9474485.3 0- :2:2 20303.30907.3  0.943847/07 !. 907. #4041809 .... -. 47..5 9.84391/.93203. !:09.9.3 .9.7. :.7.7 .07843 .  028107 .3 203..30.88 $0.43.2.3 ....9.. /.8.2 574808 5034-.2 .3 38 0- 203.3...3 200.3 /.3 .: 40 89:.... ./843  0..439.80705479/..3 /03. 203.3 842.3 /03.2 ...3 5.3 -./. ./843 0.3..3 203..9.3. $.9. 43843 $29/.0 73    %07.947 50393 /.0 -0. 02.7.5  -07/.3/03.2. 842.9 0   $.7.390780-:9  %07.. 933.9.3-0:2-0702-..3 0248 30./. .3 5. 47.3:.3 /03. 93.3.5 507: /232..3 .2 .3 $2009809.. 2070.0  73     !.43.07843/847/07 50309..3 203.88  /.8.3 503/0.3 47. :39: 20..3 7 9:-: /43974 40 028107 .:39:203.9.3.70.3 203.7 .3 3  !.3 207:5.90 .0 73    .5:39:54.3 5082898  $0.3 /-:9:.3 1.078:8-.9:-:/. /.3 2070.8.320.... 2030: 9039. .309..7. 0.0 73   439.. .... /..    07.3 202-07. 9/.703.943 /847/07  /4907 03/.3 3 -.3 /-.87 503:3..2 202-. .3 49.-.0  73     !0309.3 /:5 80.9 4-. .2. 03/.38:080.7 0:. /5077.3/0  #4/7:0 073.9 0. 5027./.-07:7.3 18  909.3 8.3 2070./843  0./.2 20. /.4.3  -.3 0- -07507.2 . 1:38 -./8:2-0731472. :2:2  503/0.3.3 8:54791 /03.3 805079-./.9.5..3.943 /847/07 /5.3 02-:9 /.8 /.3 908 908 /.07843 0- 8073 2:3.79. 9/. 2070. 90705..39/.3 -..848.3 842./9.8.43/7. 503/079.3 7 9:-:/-.3 54.5 802. 0.3 ./843 0. 9/..43.3.  . $243 /./.3 -.3 30709.7.947 0309.5.3. 54.3.3./843 0.47.39:2-:0-.8  805079 378  /.5 /. 203..7 .3 897.3 -0.3 .: -.3 /0.9.3 203.705..3 /03...3 :-:3.93.39:3.2 ./843 0.. 8.8 :8:8  .9 /4-807.58 -0..3/3.3 70.3.3 . 507-0/. 20..5.3/0     /..9.43/7.4.2.2 903 .947 58448  !0309.

5.39/05708.3842.3.2203.: 0.7.7..5.3  907:9. /.3:39:203:-.. 3. 909.3.3.3 .3 .9.9/.30--..3..3-07507...9.941472   ##$ 0.3 5..3 897088 . /.3-:.. 803.3.950.3 2070.8.3 842.3 .3  .0.0-.:2:2/8..5 503.0203980:3/07 0:39:3.3503/079.7 503/079.2070.3.5897088 203/4743:39:20307.5..3 708543/ .. /.3.7.3.  #0./.7...58 203.3.97.39: 47.7./   .2.3 0.20. /.3.3.3. /03.343974/7 90705.3 0.203.9.3.2 57..-.9 2070... 203.8.3../.7./.3 43..3.7.9..9 /:-:3.58-0.80.1:40930 !74.38:3/03.8...3..39/.27.02.3 18  %07.307:8.3 0:.8 4391  907..2 203.9-007.3 /.8 4391  $0.$.:9/.3 90780-:9 -0../.-.318 .3:.37..2.8/.3/03.47. 2002. 307 9: .3 842941472 .301091.23..3 -:.3 907.3.5.941472  202-.8.3 -.3.9.:2:2 !03/0.5.3 8:2-07 /.32033.:09/.7/05.:..30-.9.7..5.3 .14:8507.7../. 202:3.3... /.:.2 0:.8.8 995.3  !03.3 5.3:.9.3 503/079.3 80:3/07  .7703147.33.:.03/07:3202..7..8.3.3 -:9 .3:2:2 /.3 .3 /5078058.8.2.7..3 183.8.8  !03:3..8 0.3:.94147280.9.078 /.80507947.3 70897:9:78.33 02-0770. .. 503.3203:9:53.-07:9 02.3 .7.47.2 70897:9:78.7 /. :39: 203.3:.70907-.3:./.. :39: 2030.3-0-07.591  %03 4391 -0. 2030.5...3 /.3203.3 03 .94397.5.:503:3.3//05././. .9.3/.. /.3 8073 502.5203.25.3/.307. 7.3 -0.9.38503/079./..8.3 907/89478 20303. 307 $0.340503/079.47.!034-.3..3.3..39.3$42. /.

.

3/:5 -48549 .42.80/.

/   .970.35842. 47 /.30744918  2.9 574-02588.3:. 3/7$:7.

803/07 995.147:28 7.3/0399.3:.'07/   .

.

07/7.2.7..3 -48549 ./..42.

 .

.

.3:.  .3./../ .20.9.3 $5   .!..  .3 /0399..349073/4308.7 080. 7.3.80/:3.9.79.7/.203.3:.3.8 03/07 92 /7 30-079. . 01170$    !844-3472.3$42.27.3.9.941472 $2548:280.2-:9.7080.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->