P. 1
BAB I - V

BAB I - V

|Views: 896|Likes:
Published by Mansur Amriatul

More info:

Published by: Mansur Amriatul on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

1. Teori Belajar dan Pembelajaran

Menurut Arikunto dalam Syaiful Sagala (2009:166) ”belajar

diartikan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk

melakukan perubahan terhadap diri manusia, dengan maksud memperoleh

perubahan dalam dirinya baik berupa pengetahuan, keterampilan, ataupun

sikap”.

Belajar adalah “proses berfikir”. Belajar berfikir menekankan pada

proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi anatara

individu dan lingkungannya. Dalam pemebelajaran berfikir proses

pendidikan disekolah tidak hanya menekankan pada akumulasi

pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan

siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (Sanjaya, 2008).

Menurut peneliti belajar adalah proses perubahan pada individu

yang terjadi melalui pengalaman, bukan karena pertumbuhan atau

perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir.

“Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar

dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan

oleh peserta didik mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang

materi-materi pelajaran” (Syaiful Sagala, 2009:164).

Pembelajaran atau pengajaran menurut Dangeng adalah “upaya

untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam

9

10

pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan

metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan,

penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi

pembelajaran yang ada” (Hamzah B. Uno, 2008:83).

Jadi kalau disimpulkan dari kedua pendapat diatas, pembelajaran

merupakan proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru, dan

siswa yaitu saling bertukar informasi.

2. Pembelajaran Kooperatif

“Belajar kooperatif menunjuk kepada pada berbagai macam

metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok

kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi

pelajaran” (Slavin, 2005:4).

Menurut Deutsch dalam Slavin (2005:34) mengidentifikasikan tiga

struktur tujuan: kooperatif, dimana usaha-berorientasi-tujuan dari tiap

individu member kontribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain;

kompetitif, dimana usaha-berorientasi-tujuan dari tiap individu

mengahalagi pencapaian tujuan anggota lainnya; dan individualistik

dimana usaha-berorientasi-tujuan dari tiap individu tidak memiliki

konsekuensi apapun bagi pencapaian tujuan anggota lainnya.

Menurut Davidson dan Warsham dalam Isjoni (2010:27)

pembelajaran kooperatif adalah “kegiatan belajar mengajar secara

kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai

kepada pengalaman belajar yang berkelompok pengalaman individu

maupun pengalaman kelompok”.

11

Menurut Sanjaya (2008:240) Pembelajaran kooperatif adalah

rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok –

kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah

dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam pembelajaran kooperatif

yaitu : (1) adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok;

(3) adanya upaya belajar dalam setiap anggota kelompok; (4) adanya

tujuan yang harus dicapai.

Bertolak dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

belajar kooperatif merupakan suatu metode pembelajaran umum yang

menghimpun perbedaan pembelajaran di dalam kelompok-kelompok kecil

untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas dengan adanya

tanggung jawab individual untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Wina Sanjaya (2008 : 249), Beberapa keunggulan dari

penggunaan pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut :

1. Menambah kepercayaan dan kemampuan berfikir siswa, menemukan

2. informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.

3. Mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan

dengan kata – kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide –

ide orang lain.

4. Membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan

keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

5. Siswa lebih bertanggung jawab dalam belajar.

6. Meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial,

termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal

12

yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan

mengefektifkan waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.

7. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan

pemahamnnya sendiri, menerima umpan balik.

8. Meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berfikir.

Menurut sanjaya (2008:250), pembelajaran kooperatif memiliki

beberapa kelemahan, yaitu:

1. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. Kondisi seperti

ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran

dilakukan di luar kelas seperti di laboratorium, aula atau di tempat

yang terbuka.

2. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya

karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan

diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur hanya karena

bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila

dibandingkan dengan orang lain.

3. Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau

secara adil, bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan

tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif pembagian tugas rata,

setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah

didapatnya dalam kelompok sehingga ada pertanggung jawaban secara

individu.

13

3. Metode Pembelajaran Pair Checks

Metode pembelajaran pair checks (kelompok sebangku) merupakan

metode pembelajaran siswa berpasangan.

“Menurut Moody & Gifford dalam Slavin (2005:91)
menemukan bahwa sementara tidak ada perbedaan dalam
perolehan pencapaian dari kelompok-kelompok yang homogen
dan heterogen, pembagian siswa berpasangan menunjukkan
pencapaian yang jauh lebih besar dalam bidang ilmu
pengetahuan dari pada kelompok yang terdiri atas empat atau
lima orang, dan kelompok dengan jenis kelamin homogen

kinerjanya lebih baik dari pada kelompok campuran”.

Menurut Sanjaya, Wina : 2007 (online) yaitu pembelajaran pair

checks adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang berpasangan

(kelompok sebangku) yang bertujuan untuk mendalami atau melatih

materi yang telah dipelajarinya. salah satu keunggulan metode ini adalah

siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep / topik

dalam suasana yang menyenangkan, metode ini bisa digunakan dalam

semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia.

Jadi metode pembelajaran pair checks (kelompok sebangku)

merupakan salah satu metode pembelajaran siswa berpasangan. Model

pembelajaran ini bertujuan untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama,

dan kemampuan memberi nilai (Widodo, Rachmat. 2009) (online).

4. Langkah-Langkah Pembelajaran Pair Checks

Model pembelajaran pair checks ini cocok untuk menyampaikan

semua level materi, termasuk dalam pembelajaran IPA fisika pada pokok

bahasan besaran dan satuan. Sintaknya adalah: sajian informasi

kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural,

14

membimbing pelatihan-penerapan, pair checks siswa berkelompok

berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya

mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran,

penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

a. Sajian informasi kompetensi, guru menyampaikan inti materi dan

kompotensi yang harus dicapai

b. Guru mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan secara

prosedural

c. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2

orang)

d. Siswa diminta untuk menyimak dan berfikir tentang materi atau

permasalahan yang disampaikan oleh guru

e. Salah seorang kelompok menyajikan persoalan dan teman kelompok

lainya mengerjakannya

f. Pengecekan kebenaran jawaban, kelompok yang memberikan

persoalan kepada teman kelompok lainya tadi mengecek kebenaran

jawaban atas kelompok lainya

g. Bertukar peran, kelompok yang memberikan persoalan kepada

kelompok lainnya tadi, mendapatkan giliran untuk mengerjakan

persoalan yang diberikan oleh salah satu kelompok pasangan lainya

h. Penyimpulan, guru menyimpulkan apa yang menjadi hasil diskusi dari

semua pasangan kelompok tersebut

15

i. Evaluasi, guru memberikan evaluasi kepada semua kelompok

pasangan tersebut dengan memberikan post test

j. Refleksi, hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan kemudian

dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti untuk mengetahui

berhasil tidaknya tindakan yang dilakukan. Hasil analisis dari tahap ini

digunakan untuk mengambil kesimpulan apakah pembelajaran fisika

melalui pair checks sudah sesui dengan tujuan yang diinginkan atau

belum.

Sanjaya, Wina. 2007. Metode pembelajaran pair checks (online).

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Pair Checks

Adapun kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran

kooperatif tipe pair checks ini adalah sebagai berikut :

a) Kelebihan

1) Meningkatkan kemandirian siswa

2) Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran

karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.

3) Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat

4) Melatih kecepatan berpikir siswa

b) Kelemahan

1) Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir

sistematik

2) Lebih sedikit ide yang masuk

16

3) Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam

kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang

melapor dan dimonitor.

6. Hasil Belajar Fisika Siswa

Hasil belajar fisika merupakan “pekerjaan bertingkat dari

pengukuran dan penilaian yang berkaitan dengan: Pengukuran hasil belajar

fisika. Penilaian hasil belajar fisika. Penyimpulan hasil belajar fisika”

(Supriyadi, 2005:10)

Menurut Sudjana (2006) hasil belajar adalah “kemampuan–

kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman

belajarnya”. Selanjutnya beliau mengatakan faktor yang mempengaruhi

hasil belajar di pengaruhi oleh 2 faktor yakni faktor dari luar diri siswa

atau faktor lingkungan dan faktor yang datang dalam diri siswa terutama

kemampuan yang di milikinya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:

a. Faktor dalam diri siswa

Faktor intern adalah faktor yang ada pada diri siswa yakni : faktor

jasmani, bakat, konsentrasi, minat, dan alat indera.

b. Faktor luar diri siswa

Faktor ekstern adalah faktor yang berada di luar pelajar atau siswa

dalam hal ini berupa faktor: Guru, keluarga, teman sebaya,

masyarakat, sarana belajar dan lingkungan belajar.

17

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kinerja

(performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabilitas (kemampuan)

yang telah diperoleh siswa.

Dalam mengukur kemampuan seorang siswa maka para guru harus

memperhatikan ketiga ranah yakni :

a. Ranah kognitif

Ranah kognitif memiliki enam tahap mulai pengetahuan sampai

evaluasi yaitu :

1) Menghapal mencakup ingatan dan pengenalan.

2) Pemahaman mencakup interpretasi, pemberian contoh, klasifikasi,

meringkas, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan.

3) Aplikasi mencakup melakukan, implementasi.

4) Analisis mencakup membedakan, mengorganisasikan dan

memberikan atribut.

5) Mengevaluasi mencakup pengecekan, memberi kritik.

6) Mencipta mencangkup ,merencanakan,mereproduksi.

b. Ranah afektif

Ranah afektif dibagi menjadi lima tahap, yaitu:

1) Memperhatikan, taraf ini mengenai kepekaan siswa terhadap

fenomena-fenomena dan perangsang-perangsang tertentu, yaitu

menyangkut kesediaan siswa untuk memperhatikannya.

2) Merespons, Pada taraf ini siswa memiliki motivasi yang cukup

untuk merespon.

3) Menghayati nilai, siswa sudah menghayati nilai tertentu.

18

4) Mengorganisasikan, siswa menghadapi situasi yang mengandung

lebih dari satu nilai.

5) Memperhatikan nilai atau seperangkat nilai, siswa sudah dapat

digolongkan sebagai orang yang memegang nilai atau seperangkat

nilai tertentu.

c. Ranah psikomotorik, meliputi hal-hal:

Ranah psikomotorik, meliputi hal-hal:

1) Persepsi, langkahnya melakukan kegiatan yang bersifat motoris

ialah menyadari objek, sifat atau hubungan-hubungan melalui

indera.

2) Persiapan, kesiapan untuk melakukan suatu tindakan atau bereaksi

terhadap suatu kejadian menurut.

3) Respon terbimbing, pada tahap ini penekanan pada kemampuan-

kemampuan yang merupakan bagian dari keterampilan yang lebih

kompleks.

4) Respons mekanis, siswa sudah yakin akan kemampuannya dan

sedikit banyak terampil melakukan suatu perbuatan

5) Respons kompleks, taraf ini individu dapat melakukan perbuatan

motoris yang dianggap kompleks, karena pola gerakan yang

dituntut sudah kompleks.

Dalam belajar dihasilkan berbagai macam tingkah laku yang

berlainan seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi

dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlainan inilah yang disebut

kapabilitas sebagai hasil belajar. Perubahan dalam menunjukkan kinerja

19

(perilaku) berarti belajar menentukan semua keterampilan, pengetahuan dan

sikap yang juga didapat oleh setiap siswa dari proses belajarnya.

Tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran

fisika di sekolah dapat diukur dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil

tes, ini nantinya dapat digunakan untuk menilai hasil proses belajar

mengajar dalam jangka waktu tertentu. Pemberian tes dilakukan dengan

mengacu pada indikator dan keterampilan berpikir tertentu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->