P. 1
Perjalanan kepemimpinan

Perjalanan kepemimpinan

|Views: 790|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/04/2015

pdf

text

original

Sections

Perjalanan kepemimpinan NII hingga Generasi ke 3

Posted by abuqital1 under Rujukan NII
[6] Comments

2 Votes

berikut ini adalah tulisan yang dituliskan Imam
MUHAMAD BIN YUSUF THAHIRY

(MUHAMAD YUSUF THAHIRY)
TULISAN INI DISAMPAIKAN KEPADA SELURUH KAUM MUSLIMIN YANG INGIN MENGENAL ESTAPETA
KEPEMIMPINAN NII, SAYA (ABU QITAL) MENYADARI BAHWA DALAM TULISAN INI TERDAPAT FAKTA
MEMALUKAN MENGENAI PERPECAHAN NII, NAMUN SAYA MENYADARI BAGI SAYA LEBIH
MEMALUKAN LAGI JIKA HAL INI DISEMBUNYIKAN HINGGA AKHIR HAYAT, KARENA SEBURUK
BURUKNYA SESEORANG MENYIMPAN BANGKAI BANGKAI ITU PASTI AKAN TERCIUM.
APA JADINYA JIKA GENERASI HARI SELANJUTNA TIDAK MEMAHAMI TULISAN INI
SAYA BERHARAP DENGAN DITERBITKANYA TULISAN INI MEMBAWA NAFAS BARU BAGI
PERJUANGAN NII, DAN SELURUH KAUM MUSLIMIN DI SELURUH DUNIA.
JANGAN SEBUNYIKAN APA YANG TELAH ALLOH JELASAKAN
) نَونُعِللا مُهُنُعَلْيَوَ لُّا مُهُنُعَلْيَ كَئِلَوأُ بِاتَكِلْا يفِ سِانّللِ هُانّيّبَ امَ دِعْبَ نْمِ ىدَهُلْاوَ تِانَيّبَلْا نَمِ انَلْزَنْأَ امَ نَومُتُكْيَ نَيذِلّا نّإِ

١٥٩

(
159. Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan
(yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan
dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, (AL BAQARAH 159)
DAN BERAPA BANYAK ORANG-ORANG YANG MENYEBUNYIKAN KESALAHAN DALAM HATINYA
NAMUN MEMMPERLIHATKANYA SECARA TERANG TERANGAN DIHADAPAN ALLOH?
jika anda melihat banyak sekali tindakan setangah setengah yang dilakukan orang-orang terdahulu, maka Perbaikilah dan
jangan hanya banyak bicara, karena sesungguhnya apa-apa yang dialakukan secara setengah-setengah selalu di ulang oleh
generasi selanjutnya, dan semua yang setengah setengah selalu harus dilakukan untuk yang kedua kalinya
“sesunggunya hijrah itu adalah total dan bukan setangah-setangah”

JAWABAN TERHADAP TANGGAPAN
MENGENAI PENJELASAN & STATEMEN MUHAMMAD YUSUF THOHIRY
TENTANG ESTAPETA KEPEMIMPINAN NKA-NII 1996
ميحرلا نمحرلا لا مسب
هدهي نم ,انل امعا تائيس نمو انسفنا رورش نم لاب ذوعنو هرفغتسنو هنيعتسنو هدمحن ل دمحلا

,هل يداه لف للضي نمو هل لضم لف لا

ادمحم نا دهش أو هل كيرشل هدحو لالا هلال نا دهش أو

ء نيذلااهيأي .ادي دش لوق اولوقو لا اوقتا اونماء نيذلا اهيأي . هل وسرو هدبع
اميلست اوملسو هيلع اولص اونم ا ء نيذلا اهيأي ىبنلا ىلع نولصي هتكلمو لا نإ . نوملسم متنا و لإ نتومتلو هتاقت قح لا اوقتا اونما

Amma ba’du

Sebelum saya menguraikan jawaban terhadap tanggapan Sdr. Ridwan Al Washil terhadap tulisan saya bertajuk
Penjelasan & Statemen Muhammad Yusuf Thohiry Tentang Estapeta Kepemimpinan NII 1996, terlebih dulu saya
kemukakan kepada pembaca yang belum paham siapa sebenarnya yang menggunakan nama Ridwan Al Washil dalam hal
menanggapi tulisan saya tersebut. Dari itu saya jelaskan bahwa Ridwan Al Washil yang dimaksud tadi bukanlah Pak
Ridwan pelaku sejarah yang pernah ditugaskan oleh Pak Kastolani, yakni bukan yang namanya sering disebutkan dalam
beberapa buku yang sudah saya tulis berkaitan dengan sejarah Pak Kastolani.

Saya yakin seratus persen bahwa semua yang sudah mengenal Pak Ridwan yang sebenarnya, maka mereka tidak percaya
bila beliau yang menulis tanggapan yang dimaksud tadi. Jadi, yang menulis tanggapan terhadap Penjelasan & Statemen
saya tentang estapeta kepemimpinan NKA NII 1996 ialah seorang yang sudah akrab dalam hal tulis menulis. Diantaranya
dalam bentuk catatan-catatan berjudul Estapeta Kepemimpinan Negara Berjuang – Negara Islam Indonesia, yang
diedarkan kepada beberapa aparat dan ummat sebelum saya mengeluarkan Penjelasan & Statemen dari saya tanggal 27
September 2007.
Saya mengenal Pak Ridwan sejak awal tahun 1975, sejak itu saya sudah tahu bahwa beliau sering menjalankan tugas
penghubung. Dengan demikian tepat bila di belakang namanya ditambahkan Al Washil. Tetapi, apa maksud dari yang
menggunakan nama Ridwan Al Washil dalam menanggapi Penjelasan & Statemen tersebut tadi, sehingga tidak memakai
nama selain itu. Tentu penulisnya pula yang mengetahui maksudnya.

PENDAHULUAN

Evaluasi Berulang

Dalam menguraikan judul di atas, kita simak Firman Allah SWT yang bunyi-Nya:

Ï%©!$# t,n=y{ yìö7y™ ;Nºuq»yJy™ $]%$t7ÏÛ ( $¨B 3“ts? †Îû È,ù=yz Ç`»uH÷q§



9$# `ÏB ;Nâq»xÿs? ( ÆìÅ_ö‘$$sù uŽ|

Çt7ø9$# ö@yd 3“ts? `ÏB 9‘qäÜèù ÇÌÈ



§NèO ÆìÅ_ö‘$# uŽ|Çt7ø9$# Èû÷üs?§x. ó=Î=s)Ztƒ


y7ø‹s9Î) çŽ|Çt7ø9$#

$Y¥Å™%s{ uqèdur ׎Å¡ym ÇÍÈ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Robb yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu
cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.”—
( Qur’an, Al- Mulk:3-4)

Pengertian kedua ayat itu disimpulkan bahwa Allah S.W.T. mempersilahkan kita memperhatikan ciptaan-Nya
dengan berulang –ulang . Artinya, bahwa ciptaan Rabb yang pasti tidak terdapat kejanggalan, dipersilahkan kepada kita
memperhatikan dengan berkali-kali, maka apalagi terhadap hasil perbuatan manusia, sikap, ijtihad, pernyataan, dan
perundang-undangan, atau penguraian sejarah, yang dalam hal ini estapeta kepemimpinan Negara Islam Indonesia.
Terhadap perbuatan manusia, mungkin bisa dianggap cocok atau pas bila dikaji hanya satu kali, tetapi manakala dikaji
dengan berulang-ulang maka bisa saja terdapat ketidaksesuaian dengan yang sesungguhnya.
Manusia membuat undang- undang dianggap cocok dengan kondisi pada jaman itu dibuat. Tetapi, prediksi manusia
tidak sempurna sehingga yang dibuatnya itu tidak bisa diaplikasikan sesudah diuji dengan jaman bahkan selanjutnya
dipertentangkan. Begitu juga seseorang akan merasa benar dalam berijtihadnya, tetapi akan berbalik sesudah ijtihadnya
itu diuji dengan waktu lama sehingga memperoleh penemuan barunya dan menjadi beban moral baginya.
Sebelum menulis penjelasan dan statemen tentang estapeta kepemimpinan NII tahun 1996 tertanggal 27 September 2007,
ada seorang yang biasa saya menyebutnya “kiayi” beliau menyarankan supaya sejarah (maksudnya yang berkaitan dengan
estapeta kepemimpinan NII 1996) ditulis semuanya. Ya, tadinya direncanakan sedemikian, tetapi terbentur kondisi
waktu dan lainnya maka yang ditulis itu garis besarnya saja. Juga, mengingat pertimbangan situasi saat itu, sehingga
hanya sempat ditulis dalam bentuk kilasan sejarah secara singkat seperti halnya:
1.a. “ Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagaimana yang dikemukakan di Bekasi,
atau seperti tertera dalam Majalah KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca
sekarang ini”. Tapi, mungkin saja terungkapnya kekeliruan mengenai Nota Dinas, 25 Agustus 1996 hakekatnya
disebabkan penentuan nilai yang masih tersembunyi sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Roob
juga yang Maha Mengetahui sesungguhnya. (
halaman 32).

1.b. “Adapun penandatanganannya yaitu sesudah beberapa lama dari terbitnya Majalah UMMAT, terbitan 9
Desember 1996, atau sesudah terjadinya keguncangan di kalangan ummat serta aparat terhadap wawancara
AFW mengenai Pancasila” (
halaman 37).

1.c. ”Beberapa lama sesudah penandatanganan, diantara empat yang menyaksikannya ada yang
mengungkapnya bahwa untuk penandatanganan surat tersebut di atas didahului dengan tawar-menawar
mengenai jaminan….. Sehingga dari terungkapnya itu ada yang ragu mengenai sah atau tidaknya
penandatanganan lembaran pengangkatan aparat dalam MKT. No.4/1996.” (
halaman 38).
1.d. “ Dengan jawaban dari MYT itu rupanya tidak puas, sebab orang itu menyanggahnya dengan berkata,”
Perkataan itu beda nilainya dengan tanda tangan.”(
halaman38).
Di antara empat poin kalimat di atas, ada kalimat yang akhirannya diberikan titik titik. Sehingga sebelum dijelaskan
dengan lisan maka pembacanya tidak bisa menyimak tentang jaminan apa itu. Tadinya juga supaya ada yang bertanya
secara langsung sehingga saya menjawabnya. Dan dengan jawaban dari saya itu tentu menjadi sejarah yang ditulis oleh
orang lain, artinya bila saya belum sempat mungkin akan ada yang menulisnya. Tetapi, sesudah dipikir ulang, bagaimana
seandainya tidak ada yang menulisnya, sedangkan saya diantara saksi sejarah itu sudah meninggal dunia, sedangkan
pula sekalipun saya tidak menulisnya, namun di Akhirat tetap ada buktinya. Dan sebagai pelaku sejarah akan
dipertanggungjawabkan dari hal sejarah yang dijalaninya. Berdasarkan tanggung jawab tersebut itu serta adanya tuntutan
dari yang belum memahami sepenuhnya , maka dalam Pendahuluan jawaban ini akan dijelaskan yang tadinya belum
jelas.
Harus diketahui bahwa pada saat Abdul Fattah Wirananggapati tertangkap musuh, tahun 1991 banyak aparat masih
berada dalam penjara musuh, atau sudah ada yang berdomisili di luar Pulau Jawa. Mereka tidak menyaksikan apa yang
dilakukan para aparat di Jawa Barat. Sangat disayangkan terhadap yang melakukan tuduhan bahwa saya (Muhammad
Yusuf Thohiry) menerima washiat estapeta kepemimpinan tidak dimusyawarahkan dan saya tidak dibaiat. Maka,
bagaimana kelak di Akhirat ada rekaman “VCD”[1] membuktikan adanya para aparat NII memusyawarahkan tentang
washiat estapeta Kepemimpinan NII sampai dua malam berturut –turut, malam pertama didalam mobil Angkot dengan
berpindah- pindah lokasi karena situasi genting, malam kedua di dalam rumah hingga akhirnya MYT dibaiat ? Ingatlah !
Perjuangan bagi mujahidin NII adalah ibadah yaitu pengabdian kepada Allah SWT, kaitannya dengan Hisaban di Akhirat,
semua yang dinyatakan di dunia akan diperlihatkan di Akhirat. Sebab itu jika sengaja ada usaha pemanipulasian sejarah
maka sungguh akan dipinta pertanggungjawabannya.

Al Qur’an dan Hadist Shohih

Hukum yang tertinggi dalan Negara Islam Indonesia adalah Al-Qur’an dan Hadits Shahih[2]. Kedua pedoman itu
mengandung kebenaran mutlak, sedangkan undang-undang buatan manusia yang tidak boleh bertentangan dengan kedua
pedoman tersebut. Dengan demikian bila bagian dari bunyi undang-undang itu tidak bisa mengakomodir kondisi yang
terjadi sehingga tidak relevan untuk dijalankan bahkan menjadi pertentangan maka kembalikan kepada pegangan pokok
yaitu Qur’an dan Sunnah Rasul.
Tanpa berpijak pada kedua pedoman itu maka estapeta kepemimpinan NII itu akan putus. Contohnya:

“K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam –Plm.T.A.P.N.I. .Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan
tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan purbawisesa
penuh..”
“Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara Anggaota- Anggaota K.T., termasuk didalamnya
K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan
kedudukan Anggaota-Anggaota K.T.”

Undang-undang di atas itu mengakomodasi kondisi Imam berhalangan menunaikan tugasnya dalam arti Imam-nya masih
ada, dengan itu KUKT sebagai KPSI tidak bisa menjadi Imam, meski calon Imam itu tinggal satu yakni KUKT. Berbeda
dengan kondisi Imam berhalangan secara permanen seperti halnya Syahid, atau jatuh nilai dari keimamannya sedangkan
calon Imam-nya tinggal satu. Maka, jika hanya berpegang kepada bunyi undang –undang di atas itu saja tentu estapeta

keimaman tidak berjalan, sebab selama KUKT calon yang satu itu tidak dipilih oleh para AKT yang setarap dengan itu
maka tidak ada Imam NII. Sehingga sudah berapa banyak Mujahidin NII yang meninggal dunia tanpa Imam (?) Juga,
akan berapa puluh tahun lagi mujahidin NII mempersoalkan estapeta Imam (?)
Mungkin saja ada yang berkata, “Soal predikat Imam atau KUKT sebagai KPSI tidak masalah, yang penting adanya
pemimpin”. Betul hal itu, tetapi jika hanya berpegang pada bunyi undang-undang di atas tadi, maka untuk KUKT yang
purbawisesa penuh memimpin KPSI menjalankan tugas-tugas Imam juga harus terlebih dulu dipilih / dimusyawarahkan
diantara para AKT. atau yang setarap dengan AKT. Sedangkan bagi KUKT. Abdul Fattah Wirananggapati dalam
kenyataannya , baik itu sebelum maupun sesudah At-Tibyaan yang ditulisnya Tahun 1987 beliau tampil memimpin KPSI
tidak menggunakan mekanisme dipilih / dimusyawarahkan, melainkan secara otomatis tanpa dipilih diantara para
AKT .
Jadi, kalau mekanisme otomatis yang dilakukan oleh AFW disalahkan maka tidak ada pemimpin NII, karena yang
ada hanya KUKT yang tidak dipilih di antara para AKT.
Sangat ironis dan tidak dimengerti bila dengan alasan tidak dipilih lalu calon Imam yang tinggal satu yakni K.U.K.T.
tidak bisa otomatis menggantikan Imam, yang mana imamnya sudah berhalangan permanen (Syahid), sedangkan
kenyataannya KUKT Abdul Fattah Wirananggapati juga tidak dipilih oleh para AKT, tapi diakui purbawisesa penuh
memimpin KPSI menggantikan Imam, padahal itu juga otomatis yakni tidak dipilih.
Sebab itu supaya tidak bingung dalam hal estapeta kepemimpinan NII, yaitu bila dalam undang- undang estapeta
kepemimpinan yang dibuat oleh para pemimpin terdahulu itu tidak terdapat kata “otomatis”, karena berdasarkan kondisi
sewaktu dibuatnya, sehingga tidak bisa diaplikasikan dengan kondisi sekarang maka kembalikan kepada undang-undang
(hukum) tertinggi dalam Negara Islam Indonesia yaitu Qur’an dan Hadist Shohih. Yaitu:
1.Dalam Al-Qur’an didapat kaidah keterpaksaan atau kedaan darurat , berbuat semaksimal kemampuan(Q.S.64:16).
Keadaan terpaksa karena calon tinggal satu, sedangkan dalam undang -undangnya tidak disebutkan jika calon
tinggal satu maka yang satu itu langsung sebagai Imam, yang mana Imam sudah berhalangan permanen (Syahid).
2.Dalam Sunnah Rasulullah s.a.w. pada Perang Mu’tah, calon Panglima Perang yang sudah ditetapkan sebelumnya
maka secara otomatis menggantikan Panglima Perang yang gugur, seperti halnya Ja’far bin Abi Thalib dan
Abdullah bin Rawahah. Apabila yang dicalonkan sudah habis baru kemudian diadakan musyawarah. Banyak yang
paham bahwa keimaman merupakan refleksi solat berjamaah, bila imam terganggu dari sholatnya maka lbarisan
terdepan langsung otomatis menggantikan imam tanpa mengulangi takbirotul ihrom lagi. Jelas, yang maju
menggantikan imam itu tidak lagi disebut makmum, tetapi imam. Meskipun penggantinya itu tidak mengatakan
dirinya Imam, namun nyatanya maju memimpin sholat maka semua makmumnya mengerti bahwa yang sedang
memimpin sholat itu adalah Imam. Begitu juga bagi yang masbuk (datang belakangan) harus mengikuti jajaran
terdepan. Berbeda dengan sholat berjamaah yang baru akan dimulai maka tidak begitu otomatis seseorang menjadi
imam, melainkan harus melalui prosedur izin atau disetujui oleh yang akan mengikuti sholat berjamaah. Hal
demikianlah yang sudah dipraktekkan oleh AFW dan para mujahid NII yang mengakui adanya estapeta
kepemimpinan NII
Harus diresapkan ! Bahwa yang dimaksud dengan hukum yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia ini adalah Al-
Qur’an dan Hadist Shohih, hal itu mengandung arti bahwa kita jangan hanya berpegang pada bunyi dari pasal atau ayat
yang ada dalam undang-undang semata buatan manusia yang tidak selalu sempurna, dan senantiasa menghendaki
perobahan setelah diuji dalam pengaplikasiannya. Melainkan juga harus disertai dengan kaidah yang terdapat dalam
Qur’an dan Sunnah Rasul s.a.w. karena aplikasi dari kedua pedoman itulah yang selalu sesuai dengan segala kondisi.
Dengan dikembalikan kepada kaidah menurut Qur’an dan sunnah Rasululloh s.a.w., maka perjalanan estapeta
kepemimpina NII dalam darurat akan mudah berjalan, paling tidak akan memperkecil pertentangan, karena yang
menentang pasti akan ada sesuai dengan niat dan kepentingannya. Contohya: Pada Tahun 1985 sewaktu saya belum
menyatakan baiat kepada kepemimpinan AFW, saya pernah bertanya sepada seorang putera tokoh mujahid awal,
mengenai perihal AFW. Orang itu menjawabnya,” Ya, beliau itu Panglima Tertinggi ! Tetapi manakala AFW menulis
AT-TIBYAAN”, 1987 yang memuat lembaran”Ikrar Bersama”,1 Agustus 1962, sedang dalam hal itu tercantum nama
ayahnya, maka orang itu merubah perkataannya,”Ya, beliau (AFW) itu orang besar, tapi bukan pemimpin. Selain dari
contoh itu ada lagi yang asalnya berprinsip bahwa kepemimpinan yang benar itu ialah yang memiliki legalitas sesuai
dengan Qur’an dan Sunah Rasullullah s.a.w. serta perundangan undangan NII, tetapi sesudah MYT membatalkan

penyerahan kepemimpinan kepada AFW, maka konon orang itu berobah dari prinsip terdahulu dengan mengatakan bahwa
yang benar itu ialah yang muncul.

Masukkan yang Benar, Juga yang Salah

Pada Tahun 1987 di Jakarta saat sebelum pengangkatan para asisten serta K.W. untuk Jawa Barat, juga aparat
tingkat Kota Madya Bandung, terlebih dulu Abdul Fattah Wirananggapati memberikan pengarahan. Dalam hal itu
melontarkan pertanyaan kepada hadirin, “Jika dahulu SM Kartosoewirjo diangkat sebagai Imam oleh musyawarah maka
saya (AFW) sebagai estapetanya diangkat oleh siapa”? Setelah tidak ada yang menjawabnya maka MYT menjawabnya:
“Abu (AFW) diangkat oleh undang-undang.” Beliau menyahutnya, “Ya, benar”! Lalu melanjutkan pengarahannya.
Sesudah selesai kemudian memberikan waktu kepada yang akan bertanya atau mengajukan sesuatu. Saat itu ada yang
mengacungkan telunjuk untuk memberikan masukkannya, yang intinya bahwa Abu (AFW) harus langsung menyatakan
sebagai Imam. Berbeda dengan itu, saya malah memberi masukkan yang menyanggahnya, yaitu bahwa Abu bisa sebagai
Imam harus terlebih dulu mengangkat para Anggota Dewan Imamah, sesudah dipilih oleh Dewan Imamah baru
kemudian menjadi Imam. Pada waktu itu tidak ada yang menyalahkannya. Sehingga kemudian pada awal Tahun 1990
saya menulis buku “Ketaatan Terhadap Pemimpin”. Apa yang dikemukakan oleh saya pada Tahun 1987 di Jakarta itu
dimuat pada halaman 45 baris tiga dari bawah. Sesudah selesai buku tersebut diserahkan kepada AFW untuk dinilainya.
Saya menerima jawabannya secara langsung dari beliau dalam pertemuan di Bandung Selatan, beliau membenarkan
isinya dengan berkata, “ Saya harus mengangkat Dewan Imamah”. Namun, sekitar dua tahun sesudah AFW dipenjarakan
oleh musuh, dan setelah lama saya merenungkannya ternyata bahwa masukkan dari saya, harus terlebih dulu mengangkat
para AKT atau membentuk Dewan Imamah adalah salah. Sebab:
1.Kalau harus terlebih dulu mengangkat para AKT berarti calon Imam menjadi banyak, dengan demikian tidak
mesti AFW yang dipilih menjadi Imam. Bahkan bisa terjadi ada yang dibaiat pada hari Minggu menjadi warga
NII, kemudian hari Senin diangkat sebagai AKT , dan hari Selasa dipilih diantara para AKT sebagai Imam. Sebab,
dengan mekanisme pemilihan itu hasilnya ditentukan oleh suara terbanyak, sedangkan dalam memperoleh suara
mayoritas itu bisa terjadi adanya rekayasa politik, dalam arti meskipun personal AKT itu belum lama teruji dalam
kancah perjuangan maka bisa menjadi Imam, sehingga menimbulkan persoalan yang menjadi kendala bagi lajunya
perjuangan. Barangkali itu pula sebabnya AFW tidak segera mengangkat para AKT, melainkan para asisten.
2.Dari kenyataan yang terjadi bahwa Abdul Fattah Wirananggapati juga tampil sebagai KUKT yang dengan
purbawisesa penuh memimpin KPSI tidak terlebih dulu dipilih diantara para AKT, tetapi secara otomatis karena
yang setarap dengan AKT hanya tinggal satu, yakni KUKT.
3.Apabila harus terlebih dulu dipilih, sesuai dengan bunyi undang –undang, berarti AFW tidak berhak mengangkat
para AKT atau para Anggaota Dewan Imamah, akibatnya tidak akan terwujud Imam. Melainkan, yang ada hanya
‘Imam’ dalam teori yang berputar, yaitu tidak ada Imam karena tidak melalui proses dipilih oleh para AKT.,
dan tidak ada para AKT, karena tidak diangkat oleh KUKT yang dengan purbawisesa penuh, sedangkan
KUKT pun tidak akan bisa purbawisesa penuh karena tidak dipilih oleh para AKT..
Akhirnya, mekanisme
dipilih itu bisa terus dalam lingkaran berputar yang sama artinya dengan teori ; “Tidak terwujud ayam, bila tidak
melalui proses telur, dan tidak ada telur bila tidak ada ayam”.
Jelas sekali setelah direnungkan lebih jauh bahwa masukkan yang benar adalah masukkan yang diajukan oleh orang yang
pertama. Adapun yang kedua yaitu masukkan dari saya seperti yang dimuat dalam brosur “Ketaatan Terhadap
Pemimpin”, halaman 45 baris tiga dari bawah adalah masukkan yang salah, sebab itu brosur tersebut saya hentikan
peredarannya, digantikan dengan brosur “TABTAPENI” yang pertama, ditulis Tahun 1996.
Ada yang berkata;” Sebenarnya AFW itu Imam, hanya beliau tidak memposisikan diri sebagai Imam, mungkin karena
tawadhu-nya”. Ya, mungkin saja karena tawadhunya, tapi mungkin juga ditambah dengan banyaknya yang memberi
masukkan atau pendapat-pendapat yang terbelenggu oleh bunyi peraturan yang tidak sempurna, tidak bisa diaplikasikan
dalam kondisi yang berbeda dengan saat peraturan itu dibuat. Dengan terbelenggu sedemikian maka hanya mengikuti
bunyi peraturan semata dengan mengenyampingkan faktor darurat yang digariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul
s.a.w.. Sehingga bagi mereka tidak mengakui mekanisme otomatis dalam darurat yang meski calon pemimpin itu tinggal
satu. Padahal jelas sekali hukum tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Al-Qur’an dan Hadist Shohih, Artinya,

jika dengan bunyi Undang-undang tidak bisa dijalankan maka kembalikan kepada prinsip dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Rasul s.a.w..
Seseorang figur pemimpin bisa saja terpengaruh oleh pemikiran dari berbagai pihak dengan berbagai niat dan
kepentingan. Sebab itu tidak setiap orang yang memahami peraturan negara akan bersikap sesuai dengan peraturan yang
sudah dipahaminya, melainkan suatu waktu bisa berubah sikap sesuai dengan niat dan perubahan kepentingan yang
dihadapinya. Boleh saja menggunakan alasan bahwa dulu masih bodoh, tetapi hal itu harus bisa dimengerti sehingga
ilmiah.
Terhadap pihak yang sudah jelas sama sekali tidak mengakui Abdul Fattah Wirananggapati sebagai estapeta keimaman
pasca Imam Awal SM Kartosoewirjo adalah dimengerti bila bagi mereka sama sekali tidak menggunakan mekanisme
otomatis, baik itu untuk sebagai KUKT yang dengan purbawisesa penuh memimpin KPSI maupun otomatis sebagai
Imam. Berbeda dengan itu, maka sulit dimengerti terhadap yang mengakui bahwa AFW bisa sebagai KUKT yang
dengan purbawisesa penuh memimpin KPSI tanpa dipilih diantara para AKT sehingga bisa otomatis, tetapi tidak bisa
otomatis sebagai Imam, meski Imam Awal sudah Syahid, melainkan harus terlebih dulu mengangkat para AKT.
Pertanyaannya; Apa sebabnya untuk kedua hal itu terjadi perbedaan “bisa otomatis” dan “tidak bisa otomatis” padahal
peraturannya sama harus dipilih ? Maka, apakah mungkin juga disebabkan adanya perubahan niat dan kepentingan yang
berbeda ? Wallaahu Alaam.
Kalau AFW tidak bisa otomatis sebagai Imam, karena beliau hanya KUKT yang dengan purbawisesa penuh memimpin
KPSI mengatasnamakan Imam, hal itu mengandung arti bahwa diatas KUKT AFW masih eksis Imam, tetapi
berhalangan menunaikan tugasnya, padahal Imam Awal SM Kartosoewirjo sudah Syahid. Dengan itu tidak dimengerti
lagi , yakni Imam yang mana yang diatasnamakannya itu (?)
Adapun yang dimengerti, yaitu disebabkan Imam Awal telah Syahid, maka Abdul Fattah Wirananggapati adalah Imam
kedua. Berbeda lagi dengan seandainya Imam SM Kartosoewirjo masih ada maka AFW hanya sebagai KUKT yang
dengan purbawisesa penuh memimpin KPSI, menjalankan tugas-tugas Imam yang berhalangan tidak permanen, yakni
Imamnya masih hidup sehingga AFW itu bisa mengatasnamakan Imam. Dari itu, bahwa setiap pemikiran dari siapapun
keluarnya tidak bisa dijadikan rujukan jika tidak dimengerti, melainkan harus diluruskan.

Mengenai bahwa AFW secara otomatis sebagai Imam sudah diajukan kepada beliau pada tanggal 25 Agustus 1996
sewaktu pertemuan di Lembang. Jadi, bohong atau karena ketidaktahuannya, bila dikatakannya hal itu tidak diajukkan
kepada AFW sewaktu beliau masih hidup !

Pertama Kali yang Ditanyakan

Beberapa minggu sebelum AFW bebas dari penjara 1996, saya menemui Ummi Azizah atas pesannya, untuk
beberapa kepentingan yang berkaitan dengan akan dibebaskannya AFW. Dalam kesempatan itu saya berpesan kepadanya
agar disampaikan kepada Abu (AFW) supaya jangan sampai menandatangani kesetiaan terhadap Pancasila, sebab bila
bebas dengan syarat penandatangan mengenai pancasila maka akan menjadi masalah dalam kalangan ummat, karena
akan dianggap batal. Tidak lama itu saya berangkat ke luar Pulau Jawa. Sesudah sekian waktu berada di sana, mendengar
kabar bahwa AFW bebas 1 Agustus 1996, saya tidak segera kembali ke Jawa sebelum selesai mengetik brosur
TABTAPENI yang pertama, sehingga dengan itu saya terlambat menemui beliau. Setelah beberapa hari pulang dari luar
Jawa, kemudian menemui beberapa anggota Dewan Imamah serta menyerahkan brosur TABTAPENI kepada tiap yang
hadir serta menugaskan kepada seorang anggaota dewan untuk menyampai brosur tersebut kepada AFW untuk dibaca
oleh beliau.

Pokok yang dibicarakan dalam pertemuan itu adalah tentang bebasnya AFW. Kesimpulannya, yaitu harus
ditanyakan apakah beliau menandatangani mengenai Pancasila atau tidak ? Hal demikian sangat penting sebab bila
menandatangani tentang Pancasila maka dianggap batal harus “wudhu” lagi. Artinya, tidak bisa diposisikan kembali,
sedangkan sebagian dari anggaota dewan ada yang tahu bahwa saya (MYT) akan menyerahkan kembali kepemimpinan
kepada AFW. Sungguh benar hal itu, sebab saya pernah mengatakannya ketika pembentukan Dewan Imamah, 1994; “

Jika AFW kembali (dalam arti masih mulus, yakni tidak jatuh nilai) maka kepemimpinan akan dikembalikan lagi
kepadanya”.

Mungkin Mulus, Mungkin Tidak

Sewaktu AFW ditangkap musuh, muncul dalam pemikiran saya mungkin saja suatu saat akan kembali lagi dalam
arti mulus, yakni bakal bebas tanpa menandatangani Pancasila. Hal itu didasari tiga hal:
1.a. Nabi Ibrahim as. Ditangkap musuh, kemudian beristiqomah yaitu tetap menolak ideologi musuh, dengan itu
dibakar, tetapi diselamatkan oleh Allah SWT sehingga bebas, dan kembali memimpin ummat. Hal demikian
mungkin bisa saja terjadi kepada siapapun dengan versi yang berbeda.
1.b. Sekitar tahun 1985 saya mendengar cerita dari Sdr. Endik, seorang mantan tahanan politik yang pernah
mendekam enam tahun di Kebon Waru Bandung, beliau menceritakan bahwa Haji Ahmad Sobari dari Cianjur
dibebaskan dari tahanan Kebon Waru tanpa menandatangani kesetiaan terhadap Pancasila. Jelasnya cerita dari Sdr.
Endik yaitu pada suatu waktu semua tahanan politik diharuskan menandatangani pernyataan kesetiaan terhadap
Pancasila sebelum semuanya dibebaskan.Namun, Haji Ahmad Sobari menolak menandatanganinya. Semua yang
sudah menandatangani pernyataan tersebut menyangka segera akan dibebaskan dan mengira bahwa Haji Ahmad
Sobari yang karena tidak mau menandatangani pernyataan yang dikehendaki pihak lawan maka tidak akan
dibebaskan. Tetapi, kenyataannya malah sebaliknya, yakni terdengar berita bahwa Haji Ahmad Sobari dan
beberapa pengikutnya dari Cianjur akan segera dibebaskan. Dalam hal itu Sdr. Endik sempat berdialog dengan
Haji Ahmad Sobari, dan bertanya: “Kenapa bapak yang menolak Pancasila, tapi malah dibebaskan, sedangkan
semua yang sudah menandatangani pernyataan setia terhadap Pancasila belum juga dibebaskan ?” Dari pertanyaan
itu, Haji Ahmad Sobari menjawab, “Bapak juga tidak mengerti hal ini, hanya bapak memperoleh kabar katanya
ada seorang hartawan yang menyerahkan uang untuk menebus bapak beserta pengikut bapak untuk dibebaskan !”
Kemudian Sdr. Endik bertanya kembali,” Siapa orang itu ?” Haji Ahmad sobari berkata: ”Bapak juga tidak
mengetahui siapa orangnya, kalau bapak tahu orangnya tentu akan lebih baik bapak meminta uangnya guna dana
perjuangan !”
1.c. Pernah terjadi bahkan sering juga bahwa tahanan politik yang sempat melarikan diri sehingga bisa
memimpin kembali perjuangan yang tanpa terlebih dulu menandatangani pernyataan setia terhadap ideologi
musuh. Mengingat hal itu maka terlintas dalam benak saya bisa saja bila kemudian bagi AFW pun ditakdirkan
sempat meloloskan diri sehingga tidak sempat menandatangani pernyataan terhadap Pancasila.
Dengan ketiga hal di atas, maka sewaktu AFW ditangkap musuh tahun 1991, saya menganggap bahwa
kepemimpinan yang saya pegang akan dikembalikan kepada AFW, dalam arti saya mengembannya sementara beliau
berhalangan. Namun, dibalik itu terpikir juga mungkin saja tidak akan dikembalikan kepada AFW bilamana kemudian
terjadi sesuatu hal yang tidak sesuai dengan syarat menurut syariat untuk dikembalikan kepada beliau. Apalagi mengingat
yang sudah terjadi, banyak pimpinan perjuangan yang bila sudah masuk penjara musuh kemudian menyerah dengan
menyatakan setia terhadap ideologi pihak musuh sehingga tidak mulus dalam perjuangannya. Sedangkan sudah menjadi
prinsip bahwa terhadap pimpinan yang telah menandatangani tentang kesetiaan terhadap Pancasila secara terpaksa atau
tidak, maka harus “wudhu” lagi, yakni tidak bisa dijadikan Imam, hal itu mengingat pernyataan yang dikemukakan oleh
Imam Awal, SM Kartosoewirjo, ketika ada yang mewawancarainya, tentang siapa pelanjut kepemimpinan sesudah beliau.
Pada waktu itu beliau sudah membaca “Ikrar Bersama”, 1 Agustus 1962 yang isinya antara lain yaitu setia terhadap
Pancasila, dengan itu beliau berkata,”Mereka itu sudah batal”. Ditambahkan lagi olehnya,” Sekalipun dia itu anak saya
maka harus ‘wudhu’ lagi”.

Bukan Musyawarah Dewan

Pada tanggal 25 Agustus 1996, secara mendadak saya memperoleh kabar bahwa Abdul Fattah Wirananggapati
sudah ada di suatu tempat ingin bertemu dengan saya. Dengan kabar yang mendadak itu tidak sempat memberitahukan
kepada sebagian besar anggota Dewan Imamah, maka dengan itu yang bisa menemui beliau hanya Pak Kasid (almahum),
Ali Mahfudz, dan saya (MYT). Pertemuan dengan AFW waktu itu mendadak sehingga tidak sempat berkumpul dengan
para AKT sebagaimana biasanya. Sehingga pula yang bisa hadir pada ketika itu Ali Mahfudh, Almarhum Pak Kasid, dan
Muhammad Yusuf Thohiry. Jadi, pertemuan itu bukan agenda syuro para AKT membahas penyerahan Imam. Melainkan,
konsolidasi pertama dengan AFW setelah bebas, serta laporan kegiatan para aparat selama beliau dalam hukuman musuh,

1991-1996. Namun, dalam pertemuan itu AFW meminta supaya jabatan keimaman dari MYT diserahkan kepada beliau,
sehingga nantinya AFW akan menetapkan struktur Komandemen Tertinggi yang baru.
Dalam mensikapi permintaan AFW, saya tidak menunda waktu guna terlebih dulu menghadirkan para AKT
lainnya yang mayoritasnya tidak hadir. Sikap saya sedemikian dikarenakan pada saat itu hanya mengingat bahwa KSU
Sanusi Partawidjaja juga telah menyerahkan mandatnya kepada Imam SM Kartosoewirjo, pasti hal itu tidak melanggar
undang-undang. Dan yang paling penting ketika itu diketahui bahwa AFW bebas dari penjara hanya dengan dua sarat
yaitu jaminan keluarga dan uang satu juta rupiah, artinya tidak menandatangani mengenai Pancasila. Dengan keyakinan
itu saya merasa tidak membutuhkan pembahasan dari Dewan Imamah. Sebab, yang tidak akan disetujui oleh Dewan
Imamah yaitu jika AFW bebas dari penjara dengan menandatangani mengenai Pancasila, sebagaimana sudah dibahas dari
sebelumnya. Sesudah jabatan Imam diserahkan kepada AFW, dua AKT yang hadir sebagaimana tersebut di atas tadi
tidak ada yang protes. Kemudian AFW menghendaki penjelasan tentang personal para AKT. Yang sekiranya masih bisa
diangkat sebagai AKT baru. Dalam hal itu Muhammad Yusuf Thohiry, Ali Mahfudh dan Kasid (almarhum) masing-
masing memberikan masukkannya kepada AFW.
Jelas, bahwa kehadiran dua AKT, tiga dengan saya ketika itu bukan dalam forum syuro para AKT sebagaimana
mestinya, tetapi hanya menyaksikan MYT menyerahkan kepemimpinan. Bila penyerahan kepemimpinan sekedar dihadiri
atau disepakati oleh tiga orang, sedang mayoritas AKT tidak diikutsertakan maka hal demikian bukan hasil syoro AKT
sesungguhnya. Terbukti, sesudah terjadinya penyerahan kepemimpinan , 25 Agustus 1996, terdapat lontaran kekecewaan
dari AKT lain, ”Mengapa kita tidak diikutsertakan, apakah kita ini orang-orang muda”?
Seandainya masih saja ada yang berpandangan bahwa telah terjadi syuro dalam penyerahan Imam , maka hal itu adalah
hak seseorang dalam mengemukakannya. Namun, yang menjadi dasar hukum yaitu syuro atau tidak jika keputusannya
bertentangan dengan perundang undangan maka penyerahan itu tidak sah, sebab syuro pun harus berpedoman kepada
undang-undang yang sudah ada. Dasar politik pemerintah NII ditentukan oleh Dewan Imamah, hal itu tetap mengandung
arti bahwa bila tidak akan menggunakan peraturan (MKT. lama), maka Dewan Imamah harus terlebih dulu membuatkan
peraturan baru sebagai gantinya.

AFW Tidak Dibaiat

Sesudah AFW menerima penyerahan kepemimpinan dari MYT, 25 Agustus 1996, maka pada tanggal 28 September 1996
mengadakan pertemuan dengan para aparat yang sudah direncanakan untuk diangkat sebagai anggaota Dewan Imamah
yang baru. Sebelum pengangkatan, beliau terlebih dulu memberikan penjelasan sejarah, kemudian mengungkapkan nama
orang-orang yang akan diangkatnya serta menjelaskan posisinya masing-masing. Sesudah itu AFW membaiat semua
personal yang diangkatnya (ada rekamannya). Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa AFW dibaiat sebagai Imam, baik
itu pada tanggal 25 Agustus 1996 maupun tanggal 28 September 1996 maka saya ingin mengetahui siapa yang
membaiatnya atau menyaksikannya ? Di dunia ada rekamannya, apalagi di Akhirat ! Tegasnya, AFW tidak dibaiat
sebagai Imam, melainkan AFW yang membaiat para aparat yang diangkatnya. Saya (MYT) orang kedua sesudah beliau
pada waktu itu, menjalankan tugas harian, bersaksi sesudah penyerahan kepemimpinan kepada Abdul Fattah
Wirananggapati tidak ada pembaiatan beliau sebagai Imam.

Sesuatu yang Ditunggu-tunggu

Setelah pembaiatan para AKT yang baru, 28 September 1996, AFW memerintahkan untuk dibuatkan lembaran MKT.
No.4/1996, beliau mengatakan akan menandatanganinya. Akan tetapi, setelah lembaran tersebut diserahkan kepadanya,
seolah olah beliau menunda-nunda waktu untuk menandatanganinya. Disebabkan sudah lama lembaran itu ditunggu
belum juga ditandatangani, maka pada pertemuan di sebuah restoran di daerah Sumedang yang dihadiri beberapa
personal yang notabenenya sudah diangkat oleh AFW, saya menanyakannya dengan agak mendesak kepadanya supaya
segera menandatanganinya, namun tidak ada jawaban yang pasti tentang hal itu, melainkan yang keluar darinya yaitu
menunggu pecahnya ABRI.[3] Saat itu saya bertanya-tanya pada diri apa hubungannya antara penandatanganan
lembaran MKT. No.4/1996 dengan pecahnya ABRI (?) Apakah ada beban bagi beliau menandatanganinya bila ABRI
belum pecah (?) Walloohu Alaam. Dari jawaban yang sedemikian itu bisa dibayangkan, akan berapa lama menunggu
pecahnya ABRI, dan bagaimana bila ABRI belum pecah, sedangkan tidak ada yang tahu kapan tibanya ajal seseorang,
meski ketika itu AFW mengatakan bahwa beliau berdoa agar umurnya dipanjangkan sampai sembilan puluh tahun ?

Walaupun dari jawaban AFW tidak menunjukkan tanda untuk segera menandatangani lembaran MKT. No.4/1996, namun
disebabkan sudah dua bulan belum juga ditandatanganinya, maka saya terus bertanya pada diri apa sebabnya beliau belum
mau menandatanganinya, dan apa gerangan dibaliknya ? Adapun saya mendesaknya karena khawatir kalau-kalau
kemudian hari terjadi sesuatu pada diri Abdul Fattah Wirananggapati yang tidak diinginkan oleh semua aparat dan
ummat, sedangkan lembaran tersebut tadi belum ditandatanganinya. Sedangkan pula kepemimpinan sudah diserahkan
kepada beliau yang pada waktu itu dianggap sah.

Kekhawatiran MYT benar terbukti, dengan keterkejutan para aparat serta ummat, setelah membaca Majalah UMMAT,
terbitan 9 Desember, 1996 halaman 26 yang memuat wawancara Abdul Fatah Wirananggapati dalam hal Pancasila.
Diantara isinya yaitu, “ Waktu mau dibebaskan dari penjara, saya mesti bikin makalah. Lalu saya jelaskan bahwa butir-
butir Pancasila itu berasal dari Qur’an. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dan
seterusnya, jelas ada ayatnya dalam Qur’an. Tidak setiap orang yang ber-Pancasila itu Muslim, tapi tiap Muslim sudah
pasti ber-Pancasila”.

Setelah membaca referensi bahwa AFW sebelum dibebaskan dari penjara telah membikin makalah Pancasila, maka hati
saya digusarkan oleh dua persoalan:
Persoalan kesatu, ialah mengenai pengangkatan para AKT. tertanggal 28 September 1996 oleh AFW berarti sesudah
dirinya membuat makalah mengenai Pancasila – Sedangkan saya beserta para anggota Dewan Imamah yang terdahulu
(yang terangkat dalam MKT. No.1/1994) telah menilai bahwa terhadap pemimpin yang sudah mengakui ideologi
Pancasila, baik itu secara terpaksa maupun tidak, maka batal yaitu jatuh nilai dari NII-nya karena dianggap menyerah
kepada musuh. Dengan demikian berarti bahwa para anggota Dewan Imamah yang diangkat oleh AFW itu tidak
bernilaikan kebenaran hukum atau tidak sah, yakni tidak sesuai dengan syariah. Dalam kegusaran itu hati
bertanya:”Bagaimana estapeta kepemimpinan NII selanjutnya, dan bagaimana solusinya agar bisa mengantisipasinya”?
Pada waktu itu saya tidak menemukan solusi dalam hal kelangsungan estapeta kepemimpinan selain saya harus
mempersiapkan hujjah, yakni bahwa sewaktu kepemimpinan diserahkan dari MYT kepada AFW, maka posisi AFW
bukan sebagai pemimpin, tetapi sebagai ummat sehingga dibolehkan bertaqiyah. Namun, hujjah demikian masih
diragukan karena sekedar merupakan hujjah pembenaran terhadap penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW.
Sebab, sebelum diketahui bahwa AFW membikin makalah Pancasila, saya menilai posisi AFW bukan sebagai ummat,
melainkan sebagai pemimpin yang sedang berhalangan. Persoalan kesatu itu sementara waktu bisa teredam dengan
ditunjang oleh “emage” bahwa sebelum AFW wawancara dalam Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996 halaman 26,
beliau terlebih dulu sudah mengangkat para anggota Dewan Imamah. Kesimpulannya, supaya penyerahan kepemimpinan
dari MYT kepada AFW dinilai benar maka sebelum penyerahannya, posisi AFW harus dinyatakan sebagai ummat.
Persoalan kedua, Sesudah saya menetapkan penilaian terhadap posisi AFW sebagaimana diuraikan dalam persoalan
kesatu kemudian menghadapi persoalan kedua, yaitu lembaran MKT. No.4/1996 tentang pengangkatan para AKT tidak
ditandatangani oleh AFW sebelum terjadi wawancaranya dengan majalah tersebut tadi.
Banyak aparat maupun ummat yang tidak mengetahui dua persoalan yang sedang saya hadapi, mereka menyampaikan
usulan supaya saya segera mensikapi wawancara AFW, bahkan ada ummat yang menganggap bahwa Dewan Imamah
lambat menanganinya. Ummat itu tidak mengetahui kalau lembaran MKT. No.4/1996 belum ditandatangani oleh AFW
sehingga apa yang disebut Dewan Imamah itu tidak memiliki kekuatan hukum menangani kasus AFW dalam hal
wawancaranya. Namun, pada waktu itu saya menutupinya rapat-rapat, tidak diungkapkan kepada siapapun walau kepada
aparat, karena tidak berguna kecuali bila bisa bertemu langsung dengan AFW.

Diadakan Penyelidikan

Dalam berusaha menyembunyikan keraguan menangani kasus AFW, maka langkah pertama yang saya lakukan
yaitu mengutus tiga orang yang bakal dipercaya oleh AFW, mereka adalah Sdr.Tolhah, Pak Solahuddin, dan Amarullah
(Almarhum Pak Komar). Saya menugaskan masing-masing dari mereka mengunjungi kediaman AFW secara bergiliran
pada waktu yang berbeda tanggal dan harinya. Adapun tugas masing-masingnya adalah sama yaitu menanyakan,
”Apakah benar bahwa wawancara Abu (Abdul Fattah Wirananggapati) dalam Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember.
1996 itu bukan rekayasa wartawan, artinya apakah hal itu benar perkataan AFW ? Ketiga utusan tadi masing-masing
memperoleh jawaban yang sama dari AFW, yakni wawancara yang dimuat dalam majalah tersebut tadi adalah benar

perkataan beliau. Laporan-laporan dari ketiga orang yang sudah diutus itu diberitahukan pula isinya kepada sebagian
jajaran aparat yang kerap bertemu dengan saya sehingga mereka juga ikut menanyakan langsung kepada ketiga orang
yang sudah diutus tadi. Diantara yang menanyakan secara langsung yang saya tahu ialah Sdr. Kasid dan Ali Mahfudz.
Dalam menghadapi keguncangan ummat maka yang saya khawatirkan yaitu jika tandatangan Abdul Fattah
Wirananggapati yang telah ditunggu-tunggu, akan diketahui oleh ummat atau publik bahwa AFW tidak
menandatangani lembaran MKT.No.4/196, melainkan terburu oleh adanya pengakuan beliau terhadap Pancasila,
sehingga tensi guncang ummat akan lebih tinggi.
Banyak hal yang dikemukakan oleh Sdr. Tolhah dalam laporannya kepada MYT mengenai perkataan-perkataan
AFW yang bertendensi telah berkaborasi dengan pemerintah Pancasila. Menanggapi hal itu saya berkata di hadapan Sdr.
Tolhah, “Kalau begitu harus dikumpulkan semua pimpinan kelompok yang mengaku NII untuk mengangkat pemimpin,
biar saya jadi ummat saja !” Mendengar ucapan saya itu, Sdr. Tolhah segera berkata: “Jangan ! Mang Soma juga punya
banyak pasukan”. Tentu, yang diduga oleh Sdr. Tolhah bahwa ucapan saya itu hanya disebabkan adanya pengakuan AFW
terhadap Pancasila. Padahal penyebabnya ialah MKT. No.4/1996 tidak ditandatangani sehingga MYT merasa tidak
berkuasa bila menjalankan roda pemerintahan. Namun, niat saya untuk mengumpulkan para pimpinan kelompok NII itu
terhalang oleh beberapa hal:
1.a. Saya pesimis untuk bisa mengumpulkan para pemimpin kelompok yang mengaku NII dengan mengangkat
imamnya. Sebab, bila rencana saya mengumpulkan mereka dilaksanakan, sedangkan bilamana kemudian tidak
terjadi kesepakatan mengangkat Imam maka akan menimbulkan kebingungan kepada ummat. (Tentang pesimisme
dalam hal ini lebih jelasnya akan diuraikan pada halaman mendatang).
1.b. Ummat atau publik tidak mengetahui bahwa lembaran MKT.No.4/1996 tidak ditandatangani oleh Abdul
Fattah Wirananggapati sebelum terjadi wawancara beliau dalam Majalah UMMAT, halaman 26, terbitan 9
Desember 1996. Dengan tidak diketahui oleh publik itu sehingga saya sempat berniat mengupayakan supaya AFW
menandatanganinya dengan alasan bahwa beliau telah mengatakan akan menandatanganinya dan ada rekamannya.
1.c. Upaya saya yang disebutkan dalam poin kedua itu terlaksana, walau tadinya usaha itu merupakan spekulativ,
yakni, ragu bisa bertemu dengan AFW bila sambil mengajukan kepada beliau supaya menandatangani lembaran
yang saya maksudkan.
Merasa berspekulasi karena beberapa hal yaitu: a. Sewaktu AFW belum digoyang dengan kasus wawancaranya
mengenai Pancasila, beliau tidak bersedia menandatangani lembaran MKT. No.4/1996, dengan alasan menunggu
pecahnya ABRI, maka apalagi sesudah beliau mengetahui laporan bahwa ummat telah guncang dengan isi wawancara
beliau. b. Ragu bila AFW akan mengabulkan permintaan saya seandainya beliau mengetahui bahwa berkunjungnya tiga
orang yang mempersoalkan isi wawancara beliau karena diperintahkan oleh saya. c. Saya tidak yakin bisa bertemu dengan
AFW hanya dengan empat mata dalam hal penandatanganan MKT. yang dimaksud, melainkan tentu akan ada orang lain
yang mungkin saja tidak sependapat dengan saya, sehingga kekontrasan itu tidak membuahkan hasil. Tetapi, seandainya
tidak terlaksana maka pada waktu itu tidak terbayang bagi saya harus bagaimana menangani atau mensikapi kasus AFW
mengenai pengakuannya terhadap Pancasila, dan tidak terbayang pula kelanjutan estapeta kepemimpinan NII, serta tidak
tergambar bagaimana sikap ummat selanjutnya.

Kronologi Penandatanganan

Beberapa hari kemudian sesudah MYT memperoleh laporan dari ketiga utusan, saya berempat berkumpul
bersama Ali Mahfudz, Kasid (Almahum), dan Abu Bakar guna bertemu langsung dengan AFW bukan di kediamannya.
Dalam pertemuan itu beliau menegur saya dan yang lainnya; “Mengapa ketiga orang (sambil menyebutkan nama-
namanya) itu sampai datang kepada saya (AFW) ? ” Tentu, yang dimaksud oleh beliau mengapa tentang isi
wawancaranya dalam majalah UMMAT itu tidak ditangani saja oleh keempat orang yang berkumpul tadi, sehingga tidak
ada yang datang menanyakannya langsung kepada AFW. Sdr. Abu Bakar menjawab: ”Bahwa keadaan ummat sudah
goncang dengan isi wawancara Abu dalam Majalah UMMAT “. AFW menjawabnya:”Biarkan saja, mereka yang tidak
suka itu anak buah Adah Djaelani”. Sdr.Abu Bakar berkata pula:”Isi wawancara Abu itu sama nilainya dengan “Ikrar
Bersama”, 1 Agustus 1962 yang dilakukan oleh 32 orang terdahulu ”. AFW menyanggahnya: “Tidak sama, mereka
mencaci maki NII, sedangkan saya tidak, dan keadaan saya terpaksa”. Dijawab lagi oleh Sdr.Abu Bakar:”Mereka pun
terpaksa”. MYT berusaha menghentikan dialog tersebut jangan sampai memanas, karena bila AFW merasa dipojokkan

bisa diperkirakan bahwa penandatanganan lembaran MKT.No.4/1996 yang ditunggu tunggu akan jauh dari harapan bisa
terlaksana. Namun, yang terpenting dari dialog antara Sdr.Abu Bakar dengan AFW itu dapat disimpulkan bahwa AFW
mengakui tentang wawancaranya dalam majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996. Seandainya saat itu AFW tidak
mengakuinya maka saya akan memanggil tiga orang saksi yang sudah diutus berkunjung kepada beliau, yaitu Sdr. Tolhah,
Imadn dan Komar (yang waktu itu masih ada).
Dengan dihentikannya perdebatan antara Sdr. Abu Bakar dengan AFW oleh saya, maka Sdr. Abu Bakar
menyarankan dengan berkata,: “Pak Soma (MYT) harus membuat tulisan sebagai penjelasan kepada ummat supaya
ummat tidak guncang !” Dengan saran itu, saya menjawabnya: ”Nanti akan dimusyawarahkan” ! Hal itu disepakati oleh
AFW, karena maksudnya untuk menetralisir sehingga wawancara beliau tidak menjadi masalah dikalangan ummat.
Ketika itu tidak terbayang bisa atau tidaknya saya menentramkan ummat melalui tulisan. Sebab, yang saya pikirkan
ketika itu bagaimana caranya berbicara kepada AFW supaya beliau mendatangani lembaran MKT.No.4/1996 pada hari
itu juga, karena saya pikir jika hal itu tidak ditandatangani maka apa yang dinamakan Dewan Imamah hasil pengangkatan
dari Abdul Fattah Wirananggapati itu tidak akan berkuasa menangani kasus isi wawancara beliau dalam majalah
tersebut tadi di atas. Sedangkan pada waktu itu saya masih menilai bahwa penyerahan kepemimpinan dari MYT
kepada AFW adalah sah,
maka dengan itu MYT juga tidak memiliki wewenang apapun jika pengangkatannya sebagai
KSU.I (wakil Imam) tidak memiliki tanda tangan AFW dalam lembaran MKT.No.4/1996.
Ketika itu saya teringat kepada laporan dari Pak Solahuddin setelah kembali dari tugasnya menemui Abdul Fattah
Wirananggapati dalam penyelidikannya tentang wawancara AFW dalam Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996.
Yakni, sesudah Pak Solahuddin menjelaskan kepada beliau bahwa dengan isi wawancara Abu (AFW) dalam majalah itu,
maka keadaan ummat guncang. Dengan penjelasan sedemikian itu AFW malah menjawabnya bahwa soal itu kecil sambil
menunjukkan jarinya, serta mengatakan, “Bahwa benteng bapak (AFW) adalah Soma (MYT). Dari teringat laporan
tersebut itu saya tahu bahwa AFW membutuhkan dukungan MYT. Maka, setelah dialog antara Sdr.Abu Bakar dengan
AFW berhenti, kemudian saya memperoleh kesempatan dengan mengemukakan, ”Bahwa persoalan isi wawancara Abu
nanti kemudian akan dimusyawarahkan dulu. Adapun persoalan yang mendesak saat ini ialah Abu harus segera
menandatangani MKT. No.4/1996”[4], yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Mendengar pengajuan dari saya yang sebelumnya tidak dikabulkan dengan alasan menunggu pecahnya ABRI, tetapi
setelah terjadinya debat antara AFW dan Sdr. Abu Bakar pada pertemuan tadi, maka alasan menunggu pecahnya ABRI
itu berubah dengan beliau mengatakan, “Bila hal ini (lembaran MKT.No.4/1996) ditandatangani, kemungkinan saya
tidak bepergian, sedangkan saya membutuhkan keuangan.” Dengan jawaban dari AFW itu maka MYT bertanya
kepadanya, “Berapa kebutuhan di rumah Abu satu bulan ?” Lalu beliau menjawabnya: “Enam ratus ribu rupiah !”
Dengan itu MYT melirik kepada pemegang keuangan, Kasid (alm.), lalu kepada Ali Mahfudz yang duduk di sebelahnya,
untuk menjawab berapa akan menyanggupinya (karena jumlah Rp.600.000,- pada waktu itu dianggap besar dibandingkan
infak yang datangnya dari ummat). Disebabkan pihak keuangan tidak menjawab, maka Ali Mahfudz menawar dengan
empat ratus ribu rupiah, pihak keuangan setuju pula. Dengan ditawar Rp.400.000,- AFW tetap bertahan pada
keinginannya. Menghadapi hal sedemikian maka MY Thohiry ikut menawar pula dengan berkata:”Jika Abu menghendaki
Rp.600.000,- sedangkan dari pihak sini (maksudnya pihak yang menawar) hanya Rp.400.000,- maka bagaimana bila saya
mengambil jalan tengah yaitu lima ratus ribu rupiah per bulan ?” Tawaran dari MYT itu disetujui oleh beliau. Setelah hal
itu disetujui oleh kedua belah pihak, maka AFW mengodok sakunya, mengeluarkan dompet yang berisikan lembaran
MKT. No.4/1996 serta meminta pulpen yang cocok untuk tanda tangan. Kemudian salah seorang yang hadir mendadak
membelinya. Sesudah pulpen itu diserahkan lalu AFW menandatangani lembaran tersebut. Dari hal itu untuk sementara
hati saya lega, tetapi selanjutnya tetap menjadi beban moral karena menyembunyikan kronologi penandatanganan yang
terjadi sesudah wawancara AFW dalam pengakuannya terhadap Pancasila. Sebab, apabila selanjutnya saya menceritakan
estapeta kepemimpinan NII sedangkan hal demikian terus dirahasiakan maka menjadi kebohongan terhadap publik.

Tanggapan Terhadap Petikan Wawancara AFW

Sesudah kembali dari pertemuan dengan menghasilkan lembaran yang sudah ditandatangani oleh AFW, bagi saya
tetap tidak menemukan argumentasi yang bisa dijadikan dasar untuk membela AFW walau telah dipikirkan. Dari hal itu
beberapa hari kemudian, ketika mengetahui bahwa Sdr. Abu Bakar, Ali Mahfudz dan Kasid (Alm.) sedang berkumpul di
daerah pinggiran Bandung, maka saya memanggil mereka via pager[5] untuk datang ke kota. Kepada ketiganya itu
dikemukakan bahwa saya tidak bisa membuat tulisan yang bakal diterima oleh ummat untuk tidak menyalahkan
wawancara Abu (AFW), sebab saya tidak menemukan hujjah untuk membenarkannya. Setelah itu saya membacakan

catatan yang saya tulis tentang dasar / dalil yang membuat saya tidak bisa membela AFW agar tidak disalahkan.
Ketiganya sepakat dengan yang saya kemukakan, dan sepakat pula bahwa yang saya kemukakan itu harus segera
dimusyawarahkan oleh Dewan Imamah.
Beberapa hari kemudian dengan bermodalkan tandatangan dari Abdul Fattah Wirananggapati dalam lembaran
MKT. No.4/1996, maka MYT yang dalam lembaran itu dicantumkan sebagai KSU. I (wakil Imam, pelaksana harian)
selanjutnya mengadakan musyawarah Dewan Imamah untuk mensikapi isi wawancara Abdul Fattah Wirananggapati
dalam Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996. Kesimpulan dari keputusan musyawarahnya, yaitu Dewan Imamah
mengeluarkan tanggapannya sebagaimana di bawah ini:

Keputusan
memakjulkan
itu
ditandatangani
oleh MYT
tanggal 22
Desember
1996
kemudian pada
tanggal 26
Desember
1996 diadakan
pertemuan
kembali
dengan AFW
bersama MYT,
Ali Mahfudz,
Abu Bakar
dan Kasid
(alm),
kemudian surat
tersebut
disampaikan
langsung
kepada AFW.
Pada waktu itu
beliau tidak

membaca surat tersebut, melainkan dibawa pulang.
Beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa AFW mendatangi beberapa aparat tertentu meminta kembali lembaran
MKT. No.4/1996 yang asli yang sudah ditandatanganinya. Usahanya tidak berhasil. Mungkin saja Abdul Fattah
Wirananggapati menyesali penandatangannya, sebab Muhammad Yusuf Thohiry juga tidak akan bisa menandatangani
surat tanggapan atau pemberhentian Abdul Fattah Wirananggapati, tanpa terlebih dulu AFW menandatangani lembaran
MKT. No.4/1996. Saya mendengar dari seorang aparat (Sdr. Endin) bahwa AFW mengatakan, ”Soal diberhentikan dari
jabatan Imam tidak masalah, tetapi jangan dengan cara begini (maksudnya jangan dengan cara surat tanggapan Dewan
Imamah)” yang menjadi sejarah. Terhadap perkataan AFW itu Sdr. Endin bertanya dalam hatinya,[6] kalau bukan
dengan begini maka dengan apa ?
Sesudah itu saya mendengar pula kabar, AFW mengatakan kepada orang lain bahwa tanda tangan dalam
MKT.No.4/1996 itu karena dipaksa. Saya mengartikannya dipaksa oleh kondisi, yaitu yang tadinya diperkirakan oleh
beliau akan membelanya, tapi malah menjadi sebaliknya. Padahal bila AFW terus menjelaskan proses
penandatanganannya, maka akan terungkap bahwa tandatangan beliau itu sesudah terjadi wawancaranya mengenai
pengakuan terhadap Pancasila, sedangkan surat tanggapan atau pemakjulan beliau juga ditandatangani oleh Muhamad
Yusuf Thohiry yang didasari oleh tandatangan Abdul Fattah Wirananggapati sehingga sama salahnya. Artinya, bahwa

yang sudah salah kemudian diberhentikan oleh yang didasari dengan yang salah, maka kedua duanya juga salah,
sehingga surat tanggapan Dewan Imamah itu tidak benar. Seandainya hal sedemikian pada masa itu terungkap pada
tataran ummat dan aparat sehingga dipahami tidak sahnya MKT.No.4/1996, sedangkan pada waktu itu saya menganggap
penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW tidak ada masalah, maka pada waktu itu saya tidak bisa
membayangkan bagaimana sejarah selanjutnya. Namun, saya yakin juga bahwa AFW tidak akan menggugat secara
langsung kepada saya, sebab bila menggugatnya maka tentu akan mengembang kepada hal lainnya.

Bila Terungkap

Kesalahan yang berkaitan dengan estapeta kepemimpinan, bukanlah kesalahan bersifat pribadi, melainkan kesalahan yang
berhubungan dengan penentuan legalitas pemerintahan yang bernilaikan ibadah, sehingga meskipun ditutupi maka
akhirnya terungkap pula. Dan bila sudah terungkap maka tentu menjadi ganjalan sejarah. Benar sekali, pada beberapa
tahun pertama, saya berusaha menutupinya, karena belum ditemukan solusinya. Tetapi, meskipun saya menutupinya,
namun dari dua orang saksi menceritakannya kepada aparat lainnya. Kemudian aparat yang sudah mengetahuinya itu
menanyakannya pula kepada MYT, tentang bagaimana asal usul kejadian penandatanganan MKT.No.4/1996. Jika sudah
ditanyakan, maka saya harus menjawab dengan sebenarnya, artinya tidak bisa memanipulasikan sejarah, karena Allah
Subhanahu Wata’ala serta Malaikat juga menyaksikannya. Dengan demikian tidak bisa tidak, harus terungkap pula
kronologi (alur sejarah) penandatanganan lembaran MKT.No.4/1996. Dari itu dalam hal ini saya mengingatkan kepada
semua generasi sekarang maupun mendatang; Bila diantara kalian suatu saat ditakdirkan menjadi pemimpin negara, maka
harus siap dicatat dalam sejarah mengenai sikap-sikap kalian yang berkaitan dengan negara.

Dalam Perkataan, dan Guna Kesatuan

Saya menyadari benar bahwa dengan isi wawancara AFW dalam hal pengakuannya terhadap Pancasila maka
kepemimpinannya menjadi batal, dalam arti tidak lagi memiliki nilai kepemimpinan NII. Dalam hal itu saya bertanya
pada diri,” Kalau begitu apa yang menjadi dasar bagi saya mengharuskan AFW menandatangani MKT. No.4/1996, jika
dirinya bukan lagi pemimpin ? Jawaban ketika itu ialah bahwa sewaktu pengangkatan para AKT., beliau berkata: “Ya,
akan saya tandatangani”.
Dan hal itu ada rekamannya. Jadi, saya beranggapan ini kewajiban menagih janji yang harus
ditepati. Namun, saya sadar bahwa jawaban sedemikian hanya bisa berlaku bagi saya yang merasakan terpaksa harus
menjaga keutuhan ummat sebelum ditemukan solusi selain itu, tetapi tidak berlaku bila dikemukakan kepada ummat
secara umum, atau untuk diketahui pihak-pihak lain.
Sebagaimana yang sudah dikemukakan bahwa sebelum lembaran MKT.No.4/1996 ditandatangani, dan sesudah menerima
laporan dari Sdr Tolhah, tentang hasil dialognya dengan AFW yang disimpulkan bahwa Abu (Abdul Fattah
Wirananggapati) sudah berkaborasi dengan pihak pemerintah pancasilais, lalu saya berkata kepada Sdr.Tolhah,”Jika
begitu , maka harus dikumpulkan semua pimpinan kelompok yang mengakukannya dari NII untuk mengangkat Imam,
biar saya menjadi ummat (rakyat) saja”. Saya berkata demikian, karena pada waktu itu saya meyakini bahwa penyerahan
kepemimpinan dari MYT kepada AFW adalah sah, maka bila kemudian AFW jatuh nilai dari kepemimpinannya, sedang
MKT.No.4/1996 belum ditandatangani maka saya tidak bisa memproses kasus wawancara AFW dengan Majalah
UMMAT terbitan 9 Desember 1996 sehingga estapeta kepemimpinan NII terputus. Tetapi, untuk mengumpulkan semua
pimpinan kelompok mujahidin NII terhalang oleh pemikiran atau analisa, bahwa sebelum SM Kartosoewirjo diangkat
sebagai Imam Tahun 1948, sebelum diproklamirkan NII pada waktu itu terasa oleh ummat Islam Indonesia sangat
mendesak dibutuhkannya Imam, karena situasi revolusi fisik, dan seluruh kelompok mujahidin menyadari belum memiliki
lembaga pemerintahan atau negara yang berdasarkan kepada hukum Islam. Sehingga siapapun yang terangkat sebagai
Imam, asal dapat dibuktikan (idhar) dengan kenyataan memimpin revolusi maka dipercaya sehingga disepakati. Berbeda
dengan situasi pasca 1962, banyak dari tiap kelompok yang sudah mengaku NII, dan masing- masing sudah memiliki
pemimpinnya dengan berbagai latar belakang dan versinya. Dengan kondisi sedemikian yang didahulukan ialah saling
ketidakpercayaan atau kecurigaan dari satu pemimpin kelompok terhadap pimpinan kelompok lainnya. Apalagi sebagian
menghindar dari jalinan silaturahmi karena saling mencurigai, satu pimpinan kelompok bisa jadi tidak percaya tentang
kapasitas dan kualitas pimpinan kelompok lainnya. Sehingga dengan kondisi seperti itu bagi saya tidak terbayang untuk
segera terangkatnya Imam seperti yang terjadi pada tahun 1948, sehingga pula tidak membuahkan solusi. Melainkan,
mudharatnya lebih besar dari pada manfaatnya, yakni ummat yang tadinya tidak mengetahui persoalan MKT. No.4/1996
tidak ditandatangani sebelum terjadi kasus wawancara AFW dalam Majalah UMMAT, 9 Desember 1996 halaman 26
maka akan mengetahuinya dan menjadi bingung, merasa terputusnya estapeta kepemimpinan. Sebab, selama solusinya

belum ditemukan, dalam arti tidak ada Imam yang sah, maka selama itu pula merasa tidak memiliki pijakan dasar, yang
akibatnya merugikan keutuhan perjuangan.
MYT berkeyakinan bahwa selama ummat itu berniat ingin benar dan belum mengetahui berada pada jalur yang salah,
melainkan berbuat sesuai dengan ilmu yang diperolehnya, maka selama itu pula tidak dipersalahkan. Begitu juga dalam
hal estapeta kepemimpinan, ummat tidak mengetahui persoalan estapeta kepemimpinan yang sesungguhnya. Ummat
tidak tahu bahwa penandatangan MKT. No. 4/1996 terjadi sesudah wawancara AFW dalam hal pengakuannya terhadap
Pancasila, apalagi melalui tawar menawar jumlah uang jaminan baginya, sehingga MKT. tersebut hasil dibeli. Meskipun
ada yang mengetahuinya, yakni tiga orang aparat selain saya yang menyaksikan waktu penandatanganannya, namun pada
waktu saya masih mengira tidak bakal mengembang kepada yang lainnya. Dalam kondisi ummat tidak mengetahui ada
permasalahan besar, sedangkan saya belum memperoleh solusinya maka selama itu tetap tidak mengungkapkannya.
Sebab, selama dalam ketidaktahuan dan selama dalam niat yang benar, maka selama itu bagi ummat dan aparat tetap
memiliki nilai yang benar sesuai syariat.
Begitupun saya mengajukan supaya AFW menandatangani MKT. No.4/1996, meski terjadinya sesudah wawancara
beliau dalam Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember1996, karena mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya, jika
tidak ditandatangani sedangkan pada waktu itu saya masih beranggapan bahwa penyerahan keimaman dari MYT kepada
AFW, 25 Agustus 1996 adalah sah, maka bila lembaran MKT. tersebut tadi tidak ditandatanganinya, tentu tidak ada jalan
lain selain harus dikembalikan kepada musyawarah seluruh mujahidin NII, yang saya yakin sulit terjadi. Sebab, bilamana
bicara soal negara, tentu dalam hal musyawarahnya akan mengait kepada kapasitas pelaku musyawarah, sedangkan bila
bicara dalam hal kapasitas, maka masing-masing kelompok belum memperoleh kesamaan pendapat, yakni saling
mengklaim dan saling menuding. Berbeda dengan kondisi dengan tahun 1948, NII belum diproklamirkan maka semua
utusannya tidak mengatasnamakan Negara Islam Indonesia. Dari itu bagi saya berlaku pribahasa,” Bila tidak ada rotan,
akar pun jadi.” Artinya, selama belum menemukan kepemimpinan yang tepat berdasarkan ilmu atau sesuai dengan alur
sejarah yang sebenarnya maka mentaati yang ada daripada sama sekali tidak terpimpin.

Beban Moral, Sebelum Ada Solusi

Sesudah Abdul Fattah Wirananggapati dimakjulkan dari keimaman, baik itu oleh Dewan Imamah yang
ditandatangani oleh Muhammad Yusuf Thohiry, maupun oleh pengadilan yang ditandatangani oleh hakim serta
anggotanya, maka bagi yang tidak mengetahui atau tidak memahami kronologi penandatanganan MKT. No.4/1996 tidak
merasakan adanya ganjalan hukum tentang pemberhentian AFW serta penggantian pemimpin sesudahnya. Tentu, beda
dengan MYT, pelaku sejarah yang mengamati AFW secara langsung setelah beliau bebas dari penjara musuh (1996),
merasakan adanya ketidakcocokkan dengan tata-hukum. Yaitu, AFW dinyatakan bersalah dan diberhentikan oleh
Dewan Imamah
, karena isi wawancaranya, dan hal itu ditandatangani oleh MYT sedangkan tandatangan MYT juga
didasari oleh tandatangan AFW dalam lembaran MKT. No.4/1996 sesudah AFW-nya bersalah karena pengakuannya
terhadap Pancasila sehingga tandatangannya tidak memiliki nilai pemimpin NII, dengan itu tandatangan MYT pun tidak
memiliki nilai Wakil Imam NII, begitu pula tanda tangan hakim dan para anggotanya, yang menugaskan adalah MYT
yang didasari tandatangan AFW. Hal demikian berlanjut sampai terangkatnya Ali Mahfudz pun dalam MKT. N0.5/I/1997
ditandatangani oleh Muhammad Yusuf Thohiry yang dasar awalnya ditandatangani oleh Abdul Fattah Wirananggapati
yang terlebih dulu sudah mengakui serta membenarkan ideologi Pancasila.
Sebelum saya membatalkan penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, setiap kali saya menyampaikan
materi sejarah estapeta kepemimpinan sampai terangkatnya Ali Mahfudz, maka saya tidak pernah mengungkapkan
kronologis penandatanganan MKT. No.4/1996 yang ditandatanganinya sesudah wawancara AFW mengenai Pancasila
dalam Majalah UMMAT, halaman 26, terbitan 9 Desember 1996. Sebab, apabila hal itu dikemukakan maka diprediksikan
akan mengundang tanya-jawab yang ujungnya diketahui bahwa estapeta kepemimpinan tersebut itu tidak benar,
melainkan salah. Bila saya mengatakan,” Ya, salah”, tentu ada pertanyaan lanjut, ”Mengapa tidak barro dari yang salah
pindah kepada yang benar”? Jelas, saya tidak bisa menjawabnya, karena pada masa-masa itu saya belum menemukan
solusinya. Tentu, hal demikian membingungkan ummat sehingga timbul mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya.
Tetapi, pada sisi lain bagi saya terasa beban moral, karena ada bagian sejarah estapeta kepemimpinan yang masih
dipendam sehingga tidak objektiv dalam menjelaskan sejarahnya.

Sejarah kronologi penandatanganan MKT.No.4/1996 terus berulang dalam ingatan MYT karena telah menjadi beban
moral, yang kadang kala menimbulkan pertanyaan pada diri, “Sampai kapan saya tidak akan mengungkapkannya dan
bagaimana bila terburu tutup usia” ? Namun, saya yakin pada akhirnya sejarah itu akan terbuka dengan disertai solusinya
karena para penegak kebenaran akan terpelihara (Q.S.11:116 ), berarti kepemimpinan yang benar akan ada.
Meskipun dalam kegamangan, namun saya yakin pada akhirnya Allah SWT. akan memberikan jalan yang benar
(Q.S.84:6). Jadi, bila sementara waktu belum didapatkan solusinya, maka kesatuan ummat yang ada harus dipelihara
semaksimal kemampuan.
Sesuatu yang diperintahkan oleh Allah pasti ada jalannya. Contohnya,
Nabi Nuh a.s. diperintahkan membuat kapal (Q.S.11:37-38, S.23:27) di daratan jauh dari laut – Meskipun airnya belum
terlihat datang, namun Nabi Nuh tetap menjalankan tugas membuat kapal serta memelihara ummat yang ada membantu
menyelesaikan pembuatan kapal. Saya yakin bahwa menggalang Negara Islam Indonesia ini berdasarkan kebenaran
sesuai dengan perintah Allah (Qur’an dan Sunnah Nabi S.A.W.) maka pada akhirnya pasti ada jalan untuk memperoleh
solusi dari segala kesulitan, asalkan para penggalangnya benar-benar berniat mencapai keridhoan dari Allah SWT. –
Sehingga sekalipun belum memperoleh solusinya maka tetap memiliki nilai ibadah (pengabdian) kepada Allah. Karena itu
guna memelihara kesatuan ummat yang masih ada (tersisa), saya tidak mengemukakan bahwa penandatanganan MKT.
No.IV/1996 itu dilakukan sesudah berhari-hari dari diketahuinya bahwa AFW mengakui ideologi Pancasila.

Merubah Jawaban

Penjelasan yang diperoleh pada waktu Abdul Fattah Wirananggapati bebas dari penjara tanggal 2 Agustus 1996
hanya dengan sarat jaminan keluarga dan uang satu juta rupiah, sedangkan saya mengetahui adanya pembuatan makalah
mengenai Pancasila oleh AFW setelah membaca Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996, artinya
sesudah kepemimpinan NII diserahkan dari Muhammad Yusuf Thohiry kepada Abdul Fattah Wirananggapati.
Padahal beberapa hari sebelum kepemimpinan diserahkan dari MYT kepada AFW, ada yang bertanya kepada
saya ,”Apakah beliau bebas dari penjara dengan menandatangani Pancasila.” Menjawab pertanyaan tersebut, MYT
mengatakan,”Tidak ! Lalu orang yang telah bertanya itu berkata, ”Ya, kalau beliau menandatangani Pancasila, saya
menganggap beliau (AFW) sudah batal (maksudnya kepemimpinan tidak bisa dikembalikan kepada beliau). Kemudian
MYT membenarkan perkataannya.
Sunggguh ! dengan maksud membela lajunya estapeta kepemimpinan Ali Mahfudz waktu itu, maka saya terpaksa
“membanting setir”, yakni merubah jawaban dengan mengatakan bahwa sebelum kepemimpinan diserahkan dari MYT
kepada AFW maka posisi Abu (AFW) sebagai ummat sehingga boleh bertaqiyah, yakni dalam hal membuat makalah
mengenai Pancasila itu tidak dipermasalahkan. Tentu saja, apabila sebagai ummat, berarti bukan lagi sebagai KUKT,
yang dengan purbawisesa penuh. Dalam arti lain bukan lagi sebagai pemimpin yang berhak sedang berhalangan.
MYT merubah jawabannya, yakni yang pada mulanya mengatakan bahwa AFW tidak menandatangani mengenai
Pancasila, tapi kemudian sesudah AFW disidangkan, serta terangkatnya Ali Mahfudz menggantikan posisi beliau, maka
MYT merubah jawabannya menjadi “Dalam hal beliau (AFW) menandatangani mengenai Pancasila, hal itu tidak
dipermasalahkan”. Tentu, perobahan jawaban sedemikan tidak berdasarkan ilmu, tetapi sekedar rekayasa politik,
disebabkan MYT sudah menyerahkan kepemimpinannya kepada AFW, sedangkan sebelum itu AFW sudah membuat
makalah mengenai Pancasila yang tidak dijelaskan kepada MYT dan kepada Dewan Imamah pengangkatan Tahun 1994.
Sesudah AFW diadili, dan posisinya digantikan oleh Ali Mahfudz, banyak pihak yang menanggapinya melalui Sdr.
Tolhah[7] yang disampaikan kepada saya. Satu diantara berbagai tanggapan , yaitu, ”Bahwa pengadilan terhadap Abdul
Fattah Wirananggapati itu sama dengan lawakan (bodor), menjadi bahan tertawaan. Mereka mengetahui bahwa AFW
diadili karena beliau telah mengakui Pancasila, dan pengakuannya itu dalam makalah mengenai Pancasila, namun tidak
dipermasalahkan, bahkan kepemimpinan dari MYT diserahkan kembali kepadanya. Jelasnya, disebut lawakan oleh
mereka, karena ketika bebas dari penjara, 2 Agustus 1996 dengan membuat makalah mengenai Pancasila, AFW tidak
disalahkan bahkan diakui kembali sebagai panglima tertinggi, tetapi sesudah pembuatan makalah tersebut dikemukakan
dalam wawancaranya dengan wartawan dari Majalah UMMAT kemudian diadili dan disalahkan, sehingga dicopot dari
jabatannya. Padahal secara hukum baik itu sebelum diwawancarai maupun sesudahnya, bilamana mengakui ideologi
musuh maka batal dari nilai kemujahidannya.

Mendengar adanya tanggapan dari mereka bahwa pengadilan terhadap AFW itu seperti lawakan, saya diam alias
tidak mengomentarinya. Hanya dalam hati bertanya, “Bagaimana kalau mereka mengetahui pula bahwa lembaran
MKT.No.4/1996[8] ditandatangani oleh AFW sesudah beliau wawancara tentang pengakuannya terhadap ideologi
Pancasila, sedangkan mengadili AFW itu atas perintah saya/ disepakati Dewan Imamah yang otoritasnya didasari
tandatangan AFW dalam lembaran MKT. tersebut, maka bagaimana tanggapan mereka ?” Dalam hati juga saya berusaha
berpikir mengantisipasi tanggapan tentang “ pengadilan lawakan ”. Yaitu, saya harus “bersilat lidah” dengan
menyatakan,’ bahwa sewaktu AFW membuat makalah Pancasila, kapasitasnya sebagai ummat, sehingga tidak disalahkan
bila beliau bertaqiyah.
Robb yang Maha Mengetahui hati saya, bahwa sejak mengetahui pernyataan dari Abdul Fattah Wirananggapati
dalam Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996, bahwa beliau mau dibebaskan dari penjara terlebih dulu
bikin makalah Pancasila, maka sejak itu pula hati saya mulai risau, karena telah merekayasa jawaban yang saya sendiri
tidak yakin kebenarannya, yakni tidak ada kepastian seperti halnya:
1.a. Bila dijawab bahwa kapasitas AFW masih sebagai pemimpin yang berhak, hanya sedang berhalangan, maka
tidak dibenarkan sebab sudah batal dengan pembuatan makalah Pancasila, dengan demikian penyerahan
kepemimpinan dari MYT kepada AFW adalah salah.
1.b. Bila dijawab bahwa posisi AFW sebagai ummat, sehingga boleh bertaqiyah, maka keterangan sebagai
ummat itu bertolakbelakang dengan yang sebelumnya sebagaimana didapat Nota Dinas, mengenai penyerahan
kepemimpinan, 25 Agustus 1996, juga dalam MKT. No.1/1994.
Jadi, sebenarnya jawaban bahwa kapasitas AFW sebagai ummat hanya rekayasa akibat sesudah diketahui bahwa
AFW membuat makalah mengenai Pancasila. Yang saya rasakan bahwa jawaban “sebagai ummat” merupakan jawaban
spekulasi, yakni bukan aslinya sehingga tidak bisa mengantisipasi keraguan dalam menjelaskan sejarah estapeta
kepemimpinan. Sebab, baik itu sebagai pemimpin maupun sebagai ummat, bila sudah mengakui ideologi musuh maka
tidak bisa diserahi jabatan sebagai Imam.

Bukan Solusi

Beberapa bulan sesudah terpilihnya Ali Mahfudz menggantikan posisi AFW, saya berangkat ke luar Pulau Jawa, di
seberang sana saya fokus menyusun brosur TABTAPENII ke-2. Sesudah beberapa lama di sana lalu memperoleh kabar
bahwa Pak Ali Mahfudz merasakan tertekan karena adanya sebagian ummat yang tidak menyetujui terpilihnya beliau
sebagai Imam. Mereka berkampanye untuk tidak mengakui kepemimpinan Ali Mahfudz. Kabar seperti ini dari seorang
aparat yang menerima telepun dari Bekasi. Aparat itu juga berkata,” Pada saat orang- orang (RI) mengadakan kampanye
(pemilihan umum, tahun 1997), mereka juga mengadakan kampanye”. Lalu saya berkata pula:”Sungguh, terasa berat bagi
yang dipilih jadi Imam karena pasti menghadapi berbagai macam omongan. Kepada anta juga ada satu suara yang
memilih jadi Imam, tentu kalau banyak kamu yang jadi Imam.” Mendengar perkataan saya itu, lalu ia berkomentar
sambil tertawa kecil, ”Lamun ana dipilih jadi Imam, ana mah arek api-api gelo we ( Kalau saya dipilih menjadi Imam,
saya sih akan pura-pura gila saja)”.
Sesudah MYT tiba di Jawa, kemudian pergi bersilaturahmi dengan beberapa aparat yang dianggap perlu. Pertemuan
tersebut bukan pertemuan resmi Dewan Imamah, sebab dihadiri oleh sebagian bukan anggotanya, tapi hanya merupakan
silturahmi dengan bermaksud akan membagikan brosur TABTAPENII ke-2. Dalam keadaan sedang bincang-bincang satu
sama lain, datang pula Pak Ali Mahfudz yang terlihat seolah-olah tergesa-gesa ingin menghadap saya, beliau segera
berkata, “Saya sudah tidak sanggup menjadi Imam, karena banyaknya gejolak dari sebagian ummat yang tidak
menyetujui saya, maka dari itu saya menyerahkan”. Pernyataan beliau itu langsung saya tolak dengan berkata:”Jangan
menyerahkan ! Adapun adanya gejolak sebagian ummat karena tidak setuju terhadap kepemimpinan adalah biasa, sebab
siapapun yang jadi pemimpin maka akan ada saja pihak yang tidak menyetujuinya. Nanti juga gejolak itu akan hilang
dengan sendirinya, hal itu dimisalkan air selokan ditimpa batu sehingga bergelombang, tapi nantinya tenang kembali.”
Jawaban saya sedemikian itu sudah dipersiapkan dari sebelumnya, sebab begitu saya tiba di Jawa segera menerima kabar
bahwa Ali Mahfudz akan menyerahkan kepemimpinannya kepada saya.
MYT menolak penyerahan kepemimpinan dari Ali Mahfudz, sebab menerima penyerahan tersebut bukanlah satu
solusi untuk bisa menyatukan ummat apabila dianggap oleh sebagian mereka terdapat ganjalan hukum. Sehingga kepada
siapapun kepemimpinan diserahkan, maka tetap menjadi masalah yang menjelimet bagi yang memahaminya, sehingga

bagaikan api dalam sekam. Pada waktu itu saya menduga bahwa diantara sebagian ummat yang tidak menerima estapeta
kepemimpinan Ali Mahfudz ada yang disebabkan sudah mengetahui bahwa penandatanganan lembaran MKT. No.4/1996
sesudah terjadi wawancara AFW dalam Majalah UMMAT halaman 26 terbitan 9 Desember 1996 mengenai pengakuan
beliau terhadap Pancasila sehingga dianggap tidak sah. Saya menganalisa hal itu dari kabar bahwa diantara tokoh-
tokohnya menjalin komunikasi dengan AFW, sehingga ada yang mengatakan bahwa pengadilan terhadap beliau juga
tidak sah, bahkan konon ada yang mempersiapkan untuk menggugat pengadilan tersebut, namun saya tidak tahu dengan
pasti apa sebabnya rencana penggugatan itu tidak terlaksanakan, mungkin karena mempertimbangkan kondisi
keamanannya, tapi yang jelas dari kabar-kabar tersebut berarti mereka menganggap estapeta kepemimpinan Ali Mahfudz
dipermasalahkan legalitasnya.
Saya sudah mendengar dari Sdr. Tolhah bahwa AFW mengeluarkan isi hatinya dengan berkata,”Lamun bener-
bener maranehna konsekwen kunaon bapak dibere hak memilih jeung dipilih
( Kalau memang mereka { maksudnya
pihak yang sudah berseberangan dengan AFW } benar-benar konsekwen mengapa bapak diberi hak memilih dan dipilih )
”. Meskipun hanya satu kalimat yang disampaikan oleh Sdr. Tolhah kepada saya, namun saya menganalisa kalimat
tersebut banyak sayapnya, yakni tidak hanya itu tapi juga dalam hal tandatangan beliau dalam MKT. No.IV tidak sah.
Juga, saya mengalisa bila AFW kepada Sdr. Tolhah mengemukakan isi hatinya, maka apakah tidak mungkin bila hal itu
diungkapkan pula kepada kalangan yang sudah tidak mengakui kepemimpinan Ali Mahfudz.
Dari uraian tersebut di atas, diambil kesimpulannya, bahwa terhadap pertanyaan mengapa dulu ( tahun 1997) Pak Tohir
tidak mau menerima kepemimpinan ketika Ali Mahfudz akan menyerahkan kepadanya, maka jawabannya yaitu kepada
siapapun kepemimpinan tersebut diserahkannya, sungguh hal itu tidak bisa menyelesaikan masalah, sebab pihak yang
tidak mengakui kepemimpinan Ali Mahfudz sudah mengetahui bahwa estapeta kepemimpinan tersebut didasari oleh
MKT. No.4/1996 yang tandatangannya sesudah Abdul Fatah Wirananggapati mengakui ideologi Pancasila.

Tergantung Kepada Niat

Guna kejelasan sejarah, sesudah barro dari kepemimpinan Ali Mahfudz, saya penasaran ingin mengetahui
kronologi perkataan AFW yang menilai saya dan rekan-rekan pada masa itu tidak konsekwen. Oleh Tolhah dijelaskan
bahwa dulu ( sepuluh tahun yang lalu) AFW sering datang kepadanya, pernah juga tiga hari sekali. Jadi, yang diceritakan
oleh beliau tidak hanya dalam soal diberi hak milih dan dipilih, melainkan diawali dengan menceritakan tentang Sdr. Abu
Bakar menolak untuk memberikan surat yang sudah ditandatangani Pak Fattah (AFW). Mengenai hal itu kepada Sdr.
Tolhah beliau berkata,”Bapak ini dianggap batal, tapi tandatangannya dibutuhkan”. Kata Pak Fattah pula kalau bapak
(AFW) dianggap batal, tentu tandatangannya juga tidak berguna maka buat apa disimpan. Menurut Sdr.Tolhah bahwa Pak
Fattah meminta surat itu dikembalikan, karena Pak Fattah sudah dianggap batal. Pak Fattah mengatakan,”Kalau surat itu
jatuh ke tangan Thogut, tentu berbahaya buat bapak, sebab bagi Thogut itu tidak mau tahu sudah batal”.
Pada waktu yang lain, Sdr. Tolhah pernah kedatangan Pak Fattah bersamaan harinya dengan kedatangan Pak
Ali Mahfud dan Pak Kasid (Alm.). Saat itu AFW meminta kepada keduanya supaya lembaran MKT. No.4/1996
dikembalikan kepada beliau, tapi oleh keduanya ditolak permintaan tersebut. Kemudian AFW menegaskan kepada
keduanya,” Ditandatanganinya oleh yang sudah batal berarti tidak sah, daripada begitu sudah saja ditarik lagi !” Lalu
dijawab oleh Pak Kasid,” untuk dokumen negara !” Sesudah Ali Mahfud dan Kasid pulang, Pak AFW berkata kepada
Sdr. Tolhah,” Ongkoh bapak teh geus dianggap batal, tapi pake dibutuhkeun tandatanganna. Tah kitu kalakuan barudak
teh, ajeungan oge kabawa-bawa
( Kata mereka bapak sudah dianggap batal, tapi aneh tandatangannya dibutuhkan.
Begitulah kelakuan anak-anak , kiayi[9] juga terbawa-bawa )”. Waktu itu terbetik pula kalimat,”Ongkoh dipoyok, tapi
dibutuhkeun
(dicela, tapi dibutuhkan)”.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya sudah tahu bahwa AFW meminta kepada Pak Ali Mahfudz dan Pak Kasid
(Alm.), supaya lembaran MKT. yang sudah ditandatanganinya dikembalikan kepada beliau, tetapi dalam waktu-waktu itu
saya tidak mengetahui bahwa Pak Ali Mahfudz dan Pak Kasid memperoleh lontaran kalimat dari AFW sebagaimana yang
diutarakan oleh Sdr. Tolhah tadi di atas, yang saya tahu hanya permintaan dari AFW ditolak. Sdr. Tolhah pun tidak
pernah menyampaikan pernyataan AFW kepada siapapun sebelum saya menjelaskan kepadanya bahwa saya sudah barro.
Saya memahami semua itu, karena masing- masing tergantung kepada niatnya. Suka atau tidak, ini adalah sejarah yang
berkaitan dengan pengabdian kepada Allah Suhanahu wa ta’ala, tentu andaikan saya tidak menulisnya, maka tetap
Malaikat yang menulisnya dan di Akhirat dibuktikannya. Robb Yang Maha Mengetahui niat hati masing-masing kita.
Sebab itu, bahwa dalam beribadah kepada Allah SWT tidak ada istilah terlambat, masih mending terlambat daripada
terburu ajal tiba.

Tepat dengan Prediksi
S
ekitar Tahun 2002 pada suatu pertemuan resmi, saya mendengar Pak Kiayi, berkata,”Bagi saya bahwa ini
(kepemimpinan) bukan benar, tetapi lebih bagus, buktinya kata Pak Abu Bakar bahwa surat MKT. No.4/1996
ditandatanganinya dengan tawar- menawar jaminan uang.” Dalam hal itu saya beserta semua yang hadir pada waktu itu
tidak mengomentarinya. Hanya dalam hati saya membenarkan perkataan beliau. Dan betul, saya menyaksikan Sdr Abu
Bakar pernah mengungkap hal itu hadapan sebagian aparat yang hadir, tetapi ketika Pak Kiayi mengatakannya di
hadapan majlis, Sdr. Abu Bakar sedang tidak hadir.
Rupanya yang diketahui oleh Pak Kiayi ketika itu hanya semata tawar- menawar jaminan uang. Padahal ada lagi yang
lebih fatal dari itu ialah bahwa kejadian penandatangannya sesudah adanya pengakuan dari Abdul Fattah
Wirananggapati
terhadap Pancasila dalam wawancaranya pada Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember
1996, sehingga seandainya tidak melalui tawar menawar jaminan uang pun, maka tandatangan tersebut sudah tidak
mengandung nilai tandatangan dari seorang pemimpin NII. Sehingga pula semua tandatangan Muhammad Yusuf Thohiry
yang didasari tandatangan Abdul Fatah Wirananggapati sesudah pengakuannya terhadap Pancasila, tidak memiliki
kekuatan hukum yang benar, alias tidak sah.

Meskipun Pak Kiyai itu seorang yang dihormati dalam majlis, namun pernyataannya tidak berkembang kepada
ummat pada waktu itu, melainkan hanya tertahan pada para aparat yang menghadiri pertemuan. Mungkin karena
pernyataannya itu bukan dalam acara khusus menjelaskan sejarah estapeta kepemimpinan NII. Namun, dari pernyataan
beliau itu disimpulkan bahwa dengan terungkap adanya tawar menawar jaminan uang dalam hal penandatangan
MKT. No.4/1996 maka tepat dengan prediksi, yakni akan muncul penilaian bahwa estapeta kepemimpinan NII, 1996
itu
bukan benar. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
ö@è% bÎ) tb%x. öNä.ät!$t/#uä öNà2ät!$oYö/r&ur öNä3çRºuq÷zÎ)ur ö/ä3ã_ºurø—r&ur óOä3è?uϱtãur

Ž

îAºuqøBr&ur

$ydqßJçGøùutIø%$# ×ot

Ž

»pgÏBur tböqt±øƒrB $ydyŠ$|¡x. ß`Å3»|¡tBur !$ygtRöq|Êös? ¡=ymr


& Nà6ø‹s9Î) šÆÏiB «!$#

¾Ï&Î!qß™u‘ur 7Š$ygÅ_ur ’Îû ¾Ï&Î#‹Î7y™ (#qÝÁ/utIsù 4Ó®Lym

Ž

š†ÎAù’tƒ ª!$# ¾ÍnÍöDr’Î/ 3 ª!$#ur Ÿw “ωöku‰



tPöqs)ø9$# šúüÉ)Å¡»xÿø9$# ÇËÍÈ

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu
cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan
NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”—
( Q.S.9:24).

Nä3¯Ruqè=ö7oYs9ur &äóÓy´Î/ z`ÏiB Å$öqsƒø:$# Æíqàfø9$#ur <Èø)tRur z`ÏiB ÉAºuqøBF{$# ħàÿRF{$#ur
ÏNºtyJ¨W9$#ur 3 ÌÏe±o0ur šúïÎÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÎÈ





Ž

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”–
( Q.S.2:155).

#)

þqßJn=÷æ$#ur !$yJ¯Rr& öNà6ä9ºuqøBr& öNä.߉»s9÷rr&ur ×puZ÷GÏù cr

ž&ur ©!$# ÿ¼çny‰YÏã íô_r

& ÒOŠÏàtã

ÇËÑÈ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah
pahala yang besar.” (Q.S.8:28).

Pengevaluasian Perundang -undangan

Pada akhir Tahun 2006 ada permintaan kepada saya untuk memberikan materi sejarah, yang lama waktunya
berbeda dengan seperti yang biasa saya lakukan . Yakni, jika biasanya selesai atau tidak selesai dicukupkan dua atau tiga
jam, tapi kali ini tidak terikat dengan waktu, dalam arti bilamana tidak tamat dua jam maka dilanjutkan pada waktu
lainnya sehingga tamat. Sebelum melanjutkan kepada malam terakhir, yaitu sampai materi sejarah penyerahan
kepemimpinan dari MYT kepada AFW, maka dalam hati muncul pertanyaan,”Apa jabatan yang disandang AFW pada
saat MYT akan menyerahkan kepemimpinan kepada beliau ?” Pertanyaan tersebut muncul , karena saya ingat kepada
masa beberapa tahun sebelum Tahun 2006 ketika menerangkan estapeta kepemimpinan, ada yang bertanya,”Apa jabatan

AFW waktu itu”? Disebabkan saya tidak mempersiapkan jawabannya, maka pembicaraan saya lanjutkan (tidak
menjawab). Ummat yang telah bertanya itu menyadari bila saya tidak menjawabnya, karena memotong pembicaraan,
yakni bertanya bukan pada waktunya. Tapi, sampai materi selesai, pertanyaan dari ummat tadi tidak mencuat lagi hingga
saya pulang.
Sebagaimana sudah dikemukakan pada uraian telah lalu, yakni sesudah saya mengetahui bahwa AFW telah membuat
makalah mengenai Pancasila, maka saya “banting setir” merubah jawaban mengenai posisi AFW sebelum kepemimpinan
diserahkan kepadanya. Dengan perobahan jawaban yang spekulasi telah membuat hati risau, karena saya sendiri tidak
meyakini kebenarannya. Jadi, bahwa kebingungan karena ketidaksiapan saya dalam menjawab pertanyaan sebagaimana
yang dikemukakan tadi di atas, maka telah diprediksikan sebelum ada yang bertanya secara langsung kepada saya.
Kebingungan[10] itu disebabkan beberapa hal:
1.Dalam materi sejarah, saya sudah menjelaskan bahwa Wawancara AFW mengenai Pancasila dalam Majalah
UMMAT, terbitan 9 Desember 1996, ketika itu jabatan AFW sebagai Imam, karena itu beliau dipermasalahkan
sehingga jatuh nilai dari kepemimpinannya.
2.Adapun AFW telah membuat makalah mengenai Pancasila ketika akan dibebaskan dari penjara tahun 1996
posisinya sebagai ummat, maka tidak dipermasalahkan, sebagaimana jawaban saya terhadap AFW tahun 1997 di
Bekasi, yang disaksikan oleh Pak Zaenal Hatami, Sdr Dahln, dan Hasn.
3.Bila kapasitas AFW sebagai ummat maka beliau tidak berhak menerima kembali kepemimpinan NII tanpa terlebih
dulu adanya pengangkatan sebagai AKT.
4.Bila dijawab bahwa kapasitas AFW sebagai pemimpin yang berhak sedang berhalangan sebagaimana disebutkan
dalam MKT.No.1/1994, maka hal itu sudah jatuh nilai dengan pembuatan makalah mengenai Pancasila. Dan
sungguh salah menyerahkan kepemimpinan kepada yang sudah jatuh nilai, yakni menyerah kepada musuh,
sehingga Dewan Imamah yang diangkat oleh AFW 28 September 1996 pun tidak sah.
5.Bila dijawab bahwa terjadinya penyerahan kepemimpinan tanggal 25 Agustus 1996, karena AFW tidak terlebih
dulu menjelaskan bahwa beliau bebas dengan syarat membuat makalah mengenai Pancasila, maka berarti AFW
sudah melanggar Al-Qur’an surat 4 An-Nisa ayat 64, sehingga kembalinya kepemimpinan kepada beliau menjadi
ganjalan sejarah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, NII berdasarkan Al-Qur’an, maka benar atau
tidaknya kelangsungan estapeta kepemimpinan tidak hanya merujuk kepada peraturan buatan manusia, tetapi
harus berpegang kepada dasar pertama yaitu dari Al-Qur’an.
6.Disebabkan MYT tidak mengetahui bahwa AFW telah membuat makalah mengenai Pancasila, berarti ketika
kepemimpinan diserahkan kepada AFW, maka saya ( MYT) tidak tahu kapasitas AFW sebagai ummat. Dari hal
itu maka jawaban saya bahwa posisi AFW sebagai ummat hanya karena terpaksa sesudah terjadinya penyerahan
kepemimpinan atau karena terpaksa sesudah mengetahui bahwa AFW telah membuat makalah mengenai
Pancasila. Sehingga dari itu jawaban saya hanya merupakan rekayasa dari keterpepetan, bukanlah suatu keyakinan
berdasarkan ilmu.
7.Benar, niat saya guna menjaga kelangsungan nilai estapeta kepemimpinan NII, tetapi dalam hal itu bagi saya harus
jelas berdasarkan ilmu dalam menjawab pertanyaan sehingga bisa dipertanggungjawabkan, baik itu di dunia
maupun di Akhirat.
Mengingat pengalaman terdahulu itu maka sebelum menyampaikan materi tentang penyerahan kepemimpinan dari MYT
kepada AFW, saya terlebih dulu mengevaluasi sejarah tersebut yang barangkali dengan itu bisa memberikan jawaban
dengan tepat. Sesudah sekian hari diamati, terasa adanya ketidakpassan dengan undang-undang, hal demikian membuat
saya gelisah. Dalam kegelisahan itu saya datang ke Pak Kiyai. Kepadanya diceritakan bahwa saya merasakan adanya
kesalahan teknis dalam penyerahan kepemimpinan kepada AFW, mestinya beliau itu terlebih dulu diangkat sebagai AKT
( apalagi Pak Kiayi pada waktu itu berpendapat bahwa posisi AFW sebagai ummat), sebab tidak ada peraturannya bahwa
ummat bisa terangkat langsung menjadi Imam. Sedangkan dalam Kanun Asazy untuk wakil imam sementara saja diambil
dari anggota Dewan Imamah.
Saya berpesan kepada Pak Kiayi bahwa hal itu supaya dibahas oleh Dewan Imamah karena bagi saya pun pada waktu itu
masih dalam wacana, mungkin salah, mungkin juga benar. Saya katakan pula jika pada waktunya dibahas, maka saya siap
datang ( artinya, datang sebatas keperluan undangan membahasnya). MYT tidak akan datang langsung ke pertemuan

Dewan Imamah, melainkan berpesan kepada Pak Kiayi, karena sudah bukan lagi anggotanya, kecuali ada undangan
khusus. Saya katakan pula kepadanya bahwa jika penyerahan kepemimpinan kepada AFW menyalahi peraturan maka
menjadi beban berat bagi saya jika tidak menjelaskannya kepada ummat, sedangkan hal itu sudah ditulis dalam buku,
yakni bukan hanya dalam perkataan. Kemudian Pak Kiayi mengomentarinya,”Dengan tulisan efeknya lebih berat
daripada perkataan”. Dengan komentar beliau sedemikian itu maka mental saya semakin lebih tertekan. Dengan itu saya
sangat menekankan kepadanya, yakni jangan sampai saya membahas sendirian. Komentar dari Pak Kiayi, “Ya, kecuali
jika hal itu oleh Dewan Imamah dianggap angin. ”
Harus dipahami, saya (MYT) mengajukan bahwa permasalahan harus dibahas dan MYT dipanggil, berarti saya
menunggu keputusan untuk dimusyawarahkan bersama. Adapun saya menyampaikan melalui telepun kepada seorang
anggota dewan yang di luar kota, hal itu hanya merupakan aba-aba supaya diketahui, sehingga dipersiapkan pembahasan
atau musyawah khusus. Begitu juga saya menyampaikannya melalui Pak Kiayi sebagai pemberitahuan bahwa saya
menghadapi masalah lembaga dalam hal estapeta kepemimpinan yang harus segera dimusyawarahkan. Akan tetapi,
sesudah mereka berkumpul tidak ada jawaban untuk dimusyarahkan dengan memanggil MYT. Kalau memang akan
dimusyawarahkan tentu tidak akan keluar kalimat- kalimat yang dilontarkan secara langsung kepada saya dari seorang
anggota dewan ketika saya mendatanginya di Bandung Barat, seperti diantaranya: a. Meskipun kesalahan tidak
disengaja, tapi sudah lama. b. Sudah disiarkan dari Swedia. c. Tidak akan ada yang bertanya tentang jabatan AFW, nanti
juga ditelan masa, kecuali bagi yang ghillan, kalau yang sudah ghillan sih susah. Dari kalimat- kalimat itu saja diambil
kesimpulan tidak akan dimusyawahkan, karena orang yang mengeluarkan kalimat-kalimat sedemikian itu, sehari
sebelumnya telah ikutserta dalam pertemuan Dewan Imamah.
Sesudah Pak Kiayi memahami bahwa MYT ragu dalam hal estapeta kepemimpinan NII 1996, Pak Kiayi pun
berkata,” Bagi saya dari dulu juga ini bukan benar, tapi lebih bagus”. Dikemukakan pula olehnya,”Lebih bagusnya yaitu
ini jelas ada imamnya, sedangkan yang lain tidak jelas”. Kemudian beliau juga mengemukakan yang menjadi
alasannya,”Buktinya, saya mendengar dari almarhum Pak Kasid bahwa MKT. No.4/1996 ditandatanganinya melalui
dengan tawar-menawar jaminan uang”. Lalu beliau langsung menanyakan kepada MYT,”Bagaimana kejadiannya itu ?”
Kemudian MYT menjelaskannya sebagaimana yang telah dijelaskan pada halaman telah lalu Namun, MYT mengatakan
kepadanya,” Bahwa sebelum itu, yakni pada waktu pengangkatan para AKT, Pak Abdul Fattah sudah mengeluarkan
perkataan bahwa beliau akan mendatanganinya.” Pak Kiayi menjawabnya:”Perkataan itu beda dengan tandatangan !”
Dengan itu MYT pun tidak bisa menyanggahnya, bahkan dalam hati MYT berkata, betul sekali bahwa bila baru dalam
perkataan maka bukan merupakan bukti, karena perkataan itu tidak bisa nempel pada lembaran MKT. apapun.
Guna menyambung pembicaraan maka MYT mengatakan kepada beliau, “Yang saya tahu bahwa yang mengungkapkan
tentang jaminan uang itu bukan Almarhum Pak Kasid, tapi Pak Abu Bakar”. Jawab Pak Kiayi: Saya mendengarnya dari
Almarhum Pak Kasid”. Dengan jawabannya itu, MYT menganalisanya, mungkin Pak Kiayi lupa karena Sdr.Abu Bakar
mengungkapnya tidak khusus di depan Pak Kiayi, sedangkan Almarhum Pak Kasid mungkin khusus di hadapan Pak
Kiayi sehingga hanya itulah yang diingatnya.
Sesudah pulang dari kediaman Pak Kiayi, saya merenungkan alasan yang dikemukakan beliau, bahwa Pak Kiayi
komitmen kepada estapeta kepemimpinan NII, 1996 bukan karena benar, tetapi lebih bagus, jelas imamnya sedangkan
yang lain tidak jelas. Saya menafsirkannya bahwa komitmen Pak Kiayi itu karena terpaksa belum bisa lagi menentukan
yang benar. Adapun saya pada waktu itu juga terpaksa karena: a. Terpaksa karena belum menemukan solusinya. b.
Terpaksa guna menjaga kebingungan bagi umat agar tetap terpimpin, yang mana mereka tidak mengetahui bahwa hal itu
tidak benar. c. Terpaksa daripada sama sekali tidak memiliki pemimpin. Jadi, sama dalam keterpaksaannya seperti Pak
Kiayi, tapi beda dalam alasannya.
Soal lebih bagus karena imamnya jelas adalah relatip tergantung siapa yang menilainya. Sebab, bagi sebagian ada juga
yang merasakan imamnya jelas, ditambah lagi dengan kekekuatan ekonomi, keuangan, dan pasilitas serba lengkap, serta
sarana pendidikkannya yang boleh dikatakan bertaraf internasional, namun setelah diketahui tidak benar maka yang sudah
mengetahuinya itu melepaskan diri darinya, dan beralih kepada yang diketahui berdasarkan ilmu yang diperolehnya
adalah benar, karena keimaman itu barometernya bukan lebih bagus, melainkan ialah benar.
Tanggung jawab saya berbeda dengan Pak Kiayi, sebab MYT sebagai pelaku sejarah yang secara langsung dalam
hal estapeta kepemimpinan NII, sesudah AFW bebas dari penjara musuh Tahun 1996 maka penilaian “bukan benar” itu,
tentu pengevaluasiannya tidak terbatas pada adanya tawar menawar jaminan uang, tapi terus melaju kepada mata rantai
sebelumnya, yaitu apa mungkin disebabkan oleh adanya kesalahan dalam hal penyerahan kepemimpinan kepada AFW,

yaitu tidak sesuai dengan undang –undang sehingga tidak bisa menjawab dengan tepat tentang apa jabatan AFW ketika
sebelum penyerahan itu, atau mungkin karena ada faktor lain yang belum diketahui benang merahnya ?

Dianggap Angin

Meskipun saya yakin bahwa estapeta kepemimpinan dari MYT kepada AFW tidak benar, melainkan salah, namun
perhatian saya pada waktu itu masih berfokus pada perundang-undangan sehingga masih menunggu jawaban dari Dewan
Imamah, sebab belum barro (melepaskan diri) darinya. Sesudah lama menunggu, terdengar kabar bahwa seorang
anggotanya telah tiba di Jakarta, maka via telepun saya berharap supaya bisa bertemu dengannya setelah beliau mengikuti
musyawarah Dewan Imamah. Berselang hari sesudah itu saya yang harus mendatangainya , karena beliau ada yang
mengundang ceramah. Pertemuan tidak membuahkan hasil karena waktunya sempit sudah ditunggu oleh yang menjemput
untuk berceramah. Saya memahami hal itu, namun sesudah itu agak mengherankan mengapa beliau seolah-olah tidak
menganggap penting terhadap yang saya kemukakan kepadanya tentang sah atau tidaknya penyerahan kepemimpinan dari
MYT kepada AFW, sehingga tidak berkeinginan menjanjikan untuk bertemu kembali dengan sengaja menyediakan waktu
yang luang untuk berdialog. Padahal dalam urusan- urusan lain beliau bisa melakukannya sengaja datang ke Pulau Jawa.
Sesudah pulang dari sana kemudian saya menemui Pak Kiayi, menanyakan, “Adakah wacana yang sudah saya
kemukakan itu dibahas”? Jawab Pak Kiayi: “Tidak, melainkan ditutup, masing-masing mengatakan harus ditutup.” Lalu
Pak Kiayi melanjutkan keterangannya, “Bagi saya tetap mengajukkan supaya dibahas dan Pak Thohirnya dipanggil,
tetapi ada yang berkata, kalau begitu Pak Kiayi membela Pak Thohir.” Pak Kiayi menjawabnya,”Bukan membela, tetapi
supaya hal ini menjadi jelas.” Jadi, sungguh kebohongan belaka bagi yang mengatakan bahwa pembahasan ditunda
waktunya !
Buktinya, yang terjadi adalah pemagaran terhadap ummat, akibat buruk sangka (su’udhan), tuduhan ambisi
ingin kembali jadi Imam. Kemudian juga propokasi-propokasi bersifat pembunuhan karakter, yang sama sekali tidak ada
relevansinya dengan yang harus dibahas. Kalau benar ada keputusan pembahasan akan ditunda, pasti tidak ada propokasi
bahwa “Pak Thohir jangan didengar, karena sedang lemah iman, lagi ngelantur juga karena sudah jadi rakyat”. Ya, pasti
tidak akan dibahas, karena perkataannya jangan didengar. Bilamana sudah terjadi buruk sangka terhadap seseorang tentu
tidak bisa menanggapi sikap seseorang itu dengan kepala dingin, sehingga mencari-cari kesalahan pribadinya. Perhatikan
ayat di bawah ini:

$

pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# cÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ

Ž

ž

) ( Ÿwur

(#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtä†r



& óOà2߉tnr& br& Ÿ@à2ù’tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB

çnqßJçF÷dÌs3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò



>#§qs? ×LìÏm§‘ ÇÊËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka
itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”-
( Q.S.49:12).

Tanda UntukTidak Dibahas

Sesudah masalah besar yang saya ajukan sebagaimana yang sudah dikemukakan terdahulu itu dianggap angin, bahkan
ditanggapi dengan tuduhan negatip, yaitu dikait-kaitkan dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan
permasalahan yang seharusnya dibahas, maka saya membuat tulisan sebagai persiapan guna menjelaskan persoalan yang
sebenarnya terjadi serta mengkanter tanggapan-tanggapan miring terhadap pribadi saya. Sebab, saya berhak menjaga
kehormatan diri dalam pandangan ummat, baik itu masa sekarang maupun masa mendatang. Hal demikian dilakukan
setidaknya supaya keluarga atau keturunan saya mengetahui persoalan yang sesungguhnya, bila saya terburu tutup usia.

Saya mengetahui dari beberapa aparat yang bersilaturahmi serta menginformasikan hal-hal yang terjadi di lapangan,
yaitu adanya kalimat-kalimat yang memojokkan MYT di hadapan ummat. Bahkan dilontarkan kata ‘setan’ dihadapan para
aparat. Terhadap itu saya menganggap sebagai propokasi agar aparat dan ummat tidak mempercayai MYT. Dengan itu
saya semakin yakin bahwa pihak pusat tidak akan membahas persoalan serta tidak akan memanggil saya. Sebab, bila

pembahasan itu hanya ditunda dulu serta akan memanggil MYT, maka mengapa mendahulukan sikap apriori dalam
bentuk propokasi terhadap MYT sehingga berani secara terbuka dengan mengeluarkan kata ’ setan’. Sebab itu saya
menilai bahwa propokasi-propokasi sedemikan merupakan sikap apriori sebagai tanda tidak ada harapan pembahasan atau
musyawarah dengan memanggil MYT. Sebab, mungkinkah akan membahas persoalan dengan disertakan ‘setan’ ?
Mungkinkah persoalan akan ditanggapi secara jernih bila munculnya dari yang sudah dianggap ‘setan’ ?
Melalui tulisan ini, saya bertanya kepada yang merasa mengeluarkan kata ‘setan’; “ Pernahkah membaca sejarah,
bahwa di antara mereka yang memusuh Islam, mengeluarkan kata ‘setan’ terhadap salah seorang yang sudah menjadi
pengikut Nabi SAW ? Seumur hidup saya sampai saat ditulisnya uraian ini, belum pernah baik itu mendengar maupun
membaca sejarah bahwa ada seorang musuh Islam yang melontarkan kata ‘setan’ terhadap mujahid NII, baik itu yang
sebelum tahun 1962-an maupun yang sesudahnya.

Melalui tulian ini pula saya jelaskan kepada semua pembaca, benar saya lebih satu kali dipanggil, tapi hal itu sama
sekali tidak berkaitan dengan permasalahan yang saya ajukan untuk dibahas, melainkan dalam hal saya akan didudukkan
kembali sebagai Kepala Majlis Dalam Negeri. Saya tidak datang memenuhi panggilan, karena saya tidak siap duduk
kembali dalam Dewan Imamah. Artinya, dalam hal itu terjadi sebelum mencuatnya permasalah mengenai legalitas
penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW. Adapun sesudah saya mengajukan masalah supaya dibahas, maka
pemangilan dilakukan hanya dua kali, tetapi hal itu terjadinya sesudah saya barro dari kepemimpinan Ali Mahfudz. Jelas,
jika sudah barro saya wajib tidak datang, sebab bila saya memenuhi panggilan berarti saya tidak barro. Tegasnya, sebelum
saya barro yang ada bukanlah pemanggilan, melainkan provokasi- provokasi (pemagaran) terhadap saya.

Ditemukannya Benang Merah

Pada pertengahan Tahun 2007, ditengah-tengah pengevaluasian sejarah, tiba-tiba secara tidak sengaja saya
menemukan Majalah KIBLAT, No.14, terbitan Mei 2002, Pada halaman 50, didapat referensi yang menjelaskan bahwa
Abdul Fattah Wirananggapati dibebaskan bersyarat oleh Menkeh Utoyo Usman melalui pembuatan makalah mengenai
Pancasila, jaminan keluarga dan uang Rp 1.000.000. Kemudian pada halaman 51 disebutkan menurut AFW, “Tidak ada
format perjuangan NII dulu seperti yang sekarang, karena banyak mengaku sebagai Imam, “Maka untuk menjawabnya,
karena masing-masing mengaku NII, maka saya tegaskan, sejak tahun 1962, setelah pasukan menyerah semuanya, sudah
tidak ada lagi imam. Dan saya pun memutuskan kembali kepada Proklamasi 1945,” katanya.
Dari penemuan referensi
tersebut maka pengevaluasian terus berkembang kepada sebelum adanya penyerahan kepemimpinan NII dari MYT
kepada AFW, 25 Agustus 1996. Hal ini perlu saya ulangi, yakni begitu mendengar kabar bahwa AFW akan bebas dari
penjara musuh, 1996 maka pertama kali yang ditanyakan oleh saya dan sebagian aparat ialah,”Apakah Abu (AFW)
keluarnya itu menandatangani tentang Pancasila “? Tapi, waktu itu jawaban yang diterima yakni tidak. Adapun yang
dikemukakan yaitu hanya dengan jaminan uang satu juta rupiah dan jaminan keluarga. Sungguh, seandainya saya
mengetahui adanya keterbukaan bahwa AFW bebas bersyarat melalui pembuatan makalah Pancasila, yakin saya tidak
akan menyerahkan kembali kepemimpinan NII kepadanya, karena sebelumnya juga sudah ditanyakan, Apakah beliau
menandatangani mengenai Pancasila. Bila hal itu terjadi maka dinyatakan batal, karena hal itu sudah menjadi prinsip bagi
semua ummat, sesuai dengan yang dinyatakan oleh Imam Awal pada tahun 1962.
Pada Tahun 1997 Pak Zaenal Hatami di hadapan saya dan Abdul Fattah Wirananggapati beserta dua orang saksi
lainnya, beliau berkata, ”Bahwa AFW sebelum dibebaskan, beliau telah membuat makalah tentang Pancasila, seorang
tahanan politik tidak akan dibebaskan tanpa menandatangani mengenai Pancasila”. Perkataan Pak Zaenal Hatami itu tidak
disangkal oleh AFW, karena beliau pun sudah mengakui dalam wawancaranya dengan Majalah UMMAT, halaman 26,
terbitan 9 Desember 1996. Adapun yang menjadi bahan tafakkur bagi MYT, dari referensi tersebut di atas tadi, yaitu
pernyataan AFW bahwa“…sejak tahun 1962 setelah pasukan menyerah semuanya, sudah tidak ada lagi imam. Dan saya
pun memutuskan kembali kepada Proklamasi 1945,” katanya.
Pernyataan demikian dikemukakan oleh pribadi AFW,
yang sudah diberhentikan dari keimamannya, artinya tidak memiliki nilai hukum. Namun, hal demikian bagi saya (MYT)
menambah wawasan dalam mengevaluasi sejarah estapeta kepemimpinan NII 1996. Saya yang mengenal beliau dari
dekat sejak Tahun 1984 dan sering mendengarkan wejangannya, yang sangat kental dengan NII-nya, dan gigih berdakwah
menyampaikan misi NII, baik itu siang maupun malam, kepada siapapun terus menyampaikan perjuangan NII, artinya
tidak pilih- pilih, baik itu kaya atau miskin, baik itu hanya kepada seorang maupun banyak, dakwah menyampaikan NII
terus dilakukannya. Saya mendengar dari Sdr.Tolhah bahwa AFW pada Tahun 1989 pernah dibonceng dengan motor dari
Bandung sampai ke Surabaya hanya tiga kali beristirahat, tiap tiga jam satu kali istirahat, sedangkan sudah dalam usia tua.

Ada yang mengatakan, meskipun usia beliau sudah lanjut, tapi masih bersemangat berjalan kaki dengan cepat, kadang
kala mengalahkan orang yang masih muda. Pada waktu itu saya menilai AFW sungguh tangguh, tidak putus harapan
walau ajakannya sering ditolak, seolah–olah meskipun beliau hanya sendirian tetap dalam mengemban tugas mengajak
ummat Islam Indonesia menjadi warga NII.
Akan tetapi, pada pertengahan Tahun 2007 tatkala saya membaca pernyataan AFW dalam referensi tersebut tadi di
atas, hati saya tersentak dan bertanya pada diri, mengapa sikap beliau berbalik seratus delapan puluh derajat dari sebelum
beliau tertangkap musuh, 1996 ? Apakah penyebab utama dalam hal demikian ? Apakah karena beliau jatuh dari posisi
keimamannya ? Sungguh bukan karena itu ! Sebab, banyak mujahid level bawah pun diberhentikan dari jabatannya, tapi
mereka tidak sampai tega menyatakan kembali kepada Proklamasi 1945. Bahkan sebagai ummat pun banyak yang sudah
mengalami penyiksaan berat secara pisik dari pihak musuh, tapi tidak luntur dari NII. Lebih dari itu ada yang tangguh
tidak sampai menandatangani mengenai Pancasila. Contohnya, pada tahun 1994 di Banten terjadi penangkapan terhadap
para mujahid. Diantara 500 orang yang ditangkap oleh Pemerintah RI, ada seorang mujahid bernama Zaenuddin, tapi
bersikeras tidak mau menandatangani Pancasila walaupun sudah diintimidasi oleh pihak musuh. Bahkan ketika digebrak
oleh Komandan Koramil;”Apakah kamu tidak tahu aku ini ‘macan’ koramil !”, terhadap gebrakkan sedemikian itu maka
dijawabnya dengan keras:” Apakah kamu juga tidak tahu aku ini ‘macan’ NII !” Mujahid tersebut sebagai Jawara dan
nama jawaranya Ki Ipuh. Benar diluar penangkapan musuh pun sudah dibuktikan dengan tahan dari berbagai bentuk
pukulan. Tetapi, dengan ketangguhan memegang prinsipnya sedemikian itu sudah menepis anggapan bahwa setiap
tahanan politik tidak akan dibebaskan oleh Pemerintah RI, jika tidak terlebih dulu menandatangani mengenai Pancasila.
Buktinya, diantara lima ratus orang yang ditangkap oleh Kodim di Banten tahun 1994, ada satu mujahid yang bertahan
sampai bebas tidak menandatangani Pancasila. Ya, semua manusia dalam kekuasaan Allah SWT. Jika Allah berkehendak
sesuatu maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Mujahid yang tangguh tadi telah pulang Tahun 2002 menghadap Allah
Subhanahu wa ta’ala. Semoga dalam keridhan-Nya. Aaamin.
Dari kesemua itu saya merenung kembali kepada sejarah NII masa lampau, pada tahun 1953 yang dilakukan
seorang Komandan Kompi TII dari Batalyon Kalipaksi bernama Ali Murtado yang sudah desersi dari NII kemudian
diaktivkan kembali dalam NII[11], maka hal demikian mengakibatkan dirinya lebih daripada desersi, melainkan bekerja
sama dengan pihak RI, meruksak NII secara keseluruhan, yakni sampai ke tataran pusat, dikendalikan oleh pihak intelijen
RI . Kemudian pada Tahun 70-an banyak tokoh yang sudah Ikrar Bersama,1 Agustus 1962 (setia terhadap Pancasila),
mereka aktiv kembali tanpa terlebih dulu ada pengakuan dari kesalahannya, buktinya yaitu tidak menuruti perintah dari
Abdul Fattah Wirananggapati, yaitu tidak boleh mengikut- sertakan mereka yang telah berkhianat terhadap NII. Akhirnya,
mereka terjebak oleh Ali Murtopo dari BAKIN ( Badan Kordinasi Intelijen)[12], dan sebagian dari mereka melaporkan
kegiatan kawan-kawannya kepada musuh. Perhatikan referensi ini: “ Dalam kesadaran terpepet itulah saksi Ateng
Djaelani datang menemui Panglima Kodam IV Siliwangi, yang ketika itu dijabat Mayjen Himawan Sutanto. Segala yang
direncanakan rekan-rekannya tentang DI/TII, dilaporkan kepada Mayjen Hiwawan. Ketika itu juga Panglima
memerintahkan aparatnya untuk mengambil tindakan. Sedangkan saksi sendiri, yang ketika itu datang bersama rekannya
Zaenal Abidin, Kadar Solihat mengatakan kepada Mayjen Himawan bahwa mereka akan mempersiapkan operasi
“pertentangan”. Saksi dan Zaenal Abidin akan berusaha menghubungi rekan-rekannya dan mengajak mereka untuk
kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Salah seorang yang berhasil ditemui Ateng ketika itu adalah tertuduh Sukana
Fachruroji. Hal itu dibenarkan tetuduh di persidangan hari itu[13].
Dari kejadian masa lalu itu disimpulkan bahwa satu
kesalahan yang tidak dijelaskan, atau tidak melalui proses hukum (Q.S.4:64), tetapi aktif kembali maka berimbas
memunculkan kesalahan berikutnya.
Dari merenungkan sejarah tersebut di atas, ditemukanlah jawaban bahwa sikap Abdul Fattah Wirananggapati yang
berbalik seratus delapan puluh derajat itu disebabkan kesalahan beliau meminta kepemimpinan dikembalikan kepadanya
tanpa terlebih dulu menjelaskan adanya pembuatan makalah mengenai Pancasila, sebab ayat-ayat Al-Qur’an tentang
kewajiban menjelaskan kesalahan, tetap berlaku kepada seluruh mujahid, tanpa pandang bulu. Dari menyembunyikan
kesalahannya, hal itu berimbas kepada kesalahan berikutnya, yakni tidak mau menandatangani lembaran MKT.
No.4/1996 sehingga terburu adanya wawancaranya dalam Majalah UMMAT terbitan 9 Desember mengenai pengakuannya
terhadap Pancasila, sehingga pula MKT. tersebut ditandatangani dengan tawar menawar jaminan uang, artinya dibeli, dan
bertentangan dengan prinsip berjihad fisabilillah.
Sebelum penyerahan kepemimpinan, 25 Agustus 1996, MYT tidak mengetahui bahwa AFW membuat makalah
mengenai Pancasila. Akan tetapi, sejarah hanya bisa ditutupi sementara, maka pada akhirnya terbuka pula, karena

hakekatnya Rabb juga yang membukakannya sesudah Hamba-Nya berusaha semaksimal kemampuan mencari jalan
untuk berada dalam kepemimpinan sesuai dengan syariat yang ditetapkan oleh-Nya. Maka, pada pertengahan Tahun 2007
ditemukan referensi sebagai jalan pembukanya, sehingga diketahui bahwa ketidakmulusan estapeta kepemimpinan NII,
1996 akibat didahului adanya pelanggaran hukum, yakni tidak menjalankan Al Qur’an surat An Nisa ayat 64, itu
merupakan “benang merah” yang ditemukan setelah pengevaluasian sejarah. Dan sejarah itu sebagai bahan berfikir bagi
yang beriman (Q.S.7:176).

öqs9ur $oYø¤Ï© çm»uZ÷èsùts9

 $pkÍ5 ÿ¼çm¨ZÅ3»s9ur t$s#÷zr& †n<Î) ÇÚö‘F{$# yìt7¨?$#ur çm1uqyd 4
¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. É=ù=x6ø9$# bÎ) ö@ÏJøtrB Ïmø‹n=tã ô]ygù=tƒ ÷rr& çmò2çøIs? ]ygù=tƒ

Ž

4 y7Ï9º©Œ ã@sVtB

ÏQöqs)ø9$# šúïÏ%©!$# (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ 4 ÄÈÝÁø%$$sù }È|Ás)ø9$# öNßg¯=yès9 tbr㍩3xÿtFtƒ ÇÊÐÏÈ

“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung
kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu
menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar
mereka berfikir.

Sebelum mengetahui bahwa AFW bebas dengan sarat membuat makalah mengenai Pancasila, saya pernah merasa
kesal[14] terhadap beliau yang menunda-nunda penandatanganan lembaran MKT.No.4/1996 sehingga didahului oleh
kasus wawancaranya dalam Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996 tentang pengakuannya terhadap Pancasila.
Dalam kekesalan itu bertanya pada diri, “Ada rahasia apa dibalik beliau tidak mau segera menandatanganinya ?” Akan
tetapi sesudah meliwati masa lebih sepuluh tahun (1996-2007) kemudian baru diketahui jawabannya. Yaitu, adanya
ketidakjujuran dalam mengemukakan syarat beliau bebas dari penjara musuh, yang mana sudah kompromi dengan pihak
pemerintah pancasilais, sedangkan kemudiannya meminta pengembalian kepemimpinan. Sehingga seandainya
penandatanganan tidak ditunda-tunda pun, melainkan segera, yakni sebelum terbitnya Majalah UMMAT terbitan 9
Desember 1996, maka tetap saja tanda tangan AFW tidak bernilai sebagai tanda tangan seorang Imam NII, karena sudah
didahului oleh pembuatan makalah Pancasila yang dirahasiakan kepada MYT sebagai Imam atau kepada Dewan Imamah
yang dibentuk tahun 1994. Kesalahan dengan tidak menjalankan proses tobat merupakan pelanggaran syariat. Perhatikan
ayat-ayat di bawah ini:

$!

tBur $uZù=y™ö‘r& `ÏB @Aqß™§‘ žwÎ) tí$sÜã‹Ï9 ÂcøŒÎ*Î/ «!$# 4 öqs9ur öNßg¯Rr& ŒÎ) (#þqßJn=¤ß öNßg|¡àÿRr&
x8râä!$y_ (#rãxÿøótGó™



$$sù ©!$# txÿøótGó™



$#ur ÞOßgs9 ãAqß™§9$# (#r߉y`uqs9 ©!$# $\/#§qs? $VJŠÏm§‘
ÇÏÍÈ

“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka
ketika Menganiaya dirinya[313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan
ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”—
( Q.S.4:64).
[313] Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad s.a.w.

`

yJsù z>$s? .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÏHø>àß yxn=ô¹r&ur cÎ*sù ©!$# ÛUqçGtƒ Ïmø‹n=tã 3 ¨bÎ) ©!$# Ö‘qàÿxî îLìÏm§‘ ÇÌÒÈ

“Maka Barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri,
Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”-

( Q.S.5:39).

`

tBur z>$s? Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ ¼çm¯RÎ*sù ÛUqçGtƒ ’n<Î) «!$# $\/$tGtB ÇÐÊÈ

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah
dengan taubat yang sebenar-benarnya.”—
( Q.S.25:71).
Sesudah mengevaluasi sejarah serta mentafakuri referensinya, maka ditarik kesimpulan bahwa ketidakmulusan
estapeta kepemimpinan NII 1996
Sehingga terjadi polemik dalam perundang-undangan, atau jawaban yang tidak jelas dan membingungkan serta menjadi
ganjalan sejarah, semuanya itu akibat dari pembuatan makalah mengenai Pancasila oleh AFW, yang tidak dijelaskan
kepada Imam atau Dewan Imamah pengangkatan tahun 1994. Sebab, seandainya AFW menjelaskan bahwa bebasnya
AFW dari penjara musuh melalui pembuatan makalah mengenai Pancasila, maka kepemimpinan tidak akan diserahkan

kepadanya ! Sebagai buktinya ialah ketika isi makalah Pancasila itu dikemukakan oleh AFW dalam wawancaranya
dengan sebuah majalah, maka saya beserta para aparat pusat memakjulkan beliau dari kepemimpinannya. Dengan
ditemukan benang merahnya maka disimpulkan bahwa estapeta kepemimpinan NII, yang didasari penyerahan dari MYT
kepada AFW, 25 Agustus 1996 adalah salah. Sebab, didahului dua mata rantai kesalahan yaitu:

Pertama, AFW bebas dari penjara musuh, 1996 melalui pembuatan makalah mengenai Pancasila, sehingga memiliki nilai
kompromi / menyerah kepada musuh, Hal itu sama nilainya dengan Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962, yang mana dalam
At-Tibyaan sebagai desersi dan dinyatakan batal.

Kedua, AFW tidak menjelaskan kesalahannya, bahwa dirinya bebas bersyarat melalui pembuatan makalah mengenai
Pancasila. Sehingga melanggar syariat {perhatikan Q.S.4:64). Dengan demikian penyerahan keimaman dari MYT kepada
AFW, 25 Agustus 1996 adalah keliru. Sebab, pihak Dewan Imamah pengangkatan tahun 1994 sudah sepakat jika AFW
bebas dari penjara musuh dengan menandatangani mengenai Pancasila maka kapasitasnya sebagai pemimpin telah batal.
Dengan dua macam kesalahan tersebut di atas itu maka Dewan Imamah yang pengangkatannya tertera dalam
MKT. No.4/1996 tidak bernilaikan kebenaran, yakni tidak sah secara syariat karena bukan saja masa
penandatanganannya sesudah terjadi wawancara dalam Majalah tersebut tadi, sehingga merupakan tanda tangan dari
seorang yang sudah menyerah kepada musuh, tetapi juga karena diangkatnya oleh AFW yang sudah terlebih dulu
membikin makalah Pancasila. Perhatikan pernyataan beliau dalam wawancaranya: ” Waktu mau dibebaskan dari penjara,
saya mesti bikin makalah. Lalu saya jelaskan bahwa butir-butir Pancasila itu berasal dari Qur’an. Tidak setiap orang
yang ber-pancasila itu Muslim, tapi tiap Muslim sudah pasti ber- Pancasila. Jadi, katakanlah, ber-Pncasila itu berarti
melaksanakan sebagian dari ajaran Islam.”

Dari referensi itu diketahui bahwa pembuatan makalah pancasila itu dilakukan sebelum pengangkatan Dewan
Imamah 28 September 1996, dan isi makalah pancasila itu ditanggapi oleh Dewan Imamah sebagai pernyataan yang
melanggar Al-Qur’an Surat 17 Bani Isroil ayat 73, 74 dan 75. Serta bertentangan dengan Sapta Subaya, juga disamakan
dengan Ikrar Bersama 1 Agustus 1962, Yang akhirnya AFW juga dianggap batal[15]. Jadi, jelas bila AFW batal karena
mengemukakan isi makalah Pancasila dalam wawancaranya, sedangkan membikin makalah tersebut sebelum mengangkat
Dewan Imamah, maka pengangkatan Dewan tersebut juga tidak sah.
Sebelum ditemukan benang merahnya, saya kecewa dengan tidak ditandatangani MKT.No.4/1996 sehingga
penandatanganannya itu terjadi sesudah adanya kasus wawancara AFW mengenai Pancasila, serta melalui tawar-menawar
jaminan uang. Akan tetapi, sesudah saya menemukan benang merahnya juga solusinya, maka diketahui bahwa dua hal
tersebut di atas adalah imbas dari kesalahan AFW yakni membikin makalah Pancasila yang tidak dijelaskan kepada MYT
yang sedang memegang tampuk pimpinan, sehingga tidak melakukan proses tobat (rehabilitasi) dalam hal itu maka
berakibat kepada kesalahan selanjutnya.
Sebelum menemukan referensi dari Majalah KIBLAT No.14, halaman 51, terbitan Mei 2002, bahwa Abdul Fattah
Wirananggapati kembali kepada Proklamasi 1945, saya menilai bahwa ketidaksahan estapeta kepemimpinan 1996 yaitu
hanya karena adanya kesalahan teknis penyerahan kepemimpinan, yakni tidak pas dengan perundang undangan maka
yang dikemukakan pada waktu itu hanya penilaian dari segi undang-undang. Adapun setelah saya mentafakuri referensi
tersebut tadi maka diketahui bahwa penyebab yang lebih mendasar daripada perundang undangan yaitu adanya mata
rantai kesalahan pertama dan kedua sebelum terjadi penyerahan kepemimpinan, sehingga tidak mulus dalam
perjalanannya. Hanya saja dalam tulisan penjelasan estapeta kepemimpinan dan statemen saya tertanggal 27 September
2007 tidak sempat dijelaskan secara mendetail tentang kesalahan selain dari hal perundang- undangan, melainkan hanya
dengan dikemukakan beberapa kalimat sebagaimana yang sudah disebutkan pada uraian telah lalu. Supaya jelas perlu
diulangi yaitu:

1.a. “ Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagaimana yang dikemukakan di Bekasi,
atau seperti tertera dalam Majalah KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca
sekarang ini”. Tapi, mungkin saja terungkapnya kekeliruan mengenai Nota Dinas, 25 Agustus 1996 hakekatnya
disebabkan penentuan nilai yang masih tersembunyi sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Robb
juga yang Maha Mengetahui sesungguhnya.

2.b. “Adapun penandatanganannya yaitu sesudah beberapa lama dari terbitnya Majalah UMMAT, terbitan 9
Desember 1996, atau sesudah terjadinya keguncangan di kalangan ummat serta aparat terhadap wawancara
AFW mengenai Pancasila”
3.c. ”Beberapa lama sesudah penandatanganan, diantara empat yang menyaksikannya ada yang
mengungkapnya bahwa untuk penandatanganan surat tersebut di atas didahului dengan tawar-menawar
mengenai jaminan…. Sehingga dari terungkapnya itu ada yang ragu mengenai sah atau tidaknya
penandatanganan lembaran pengangkatan aparat dalam MKT. No.4/1996.
4.d. “ Dengan jawaban dari MYT itu rupanya tidak puas, sebab orang itu menyanggahnya dengan berkata,”
Perkataan itu beda nilainya dengan tanda tangan.”

Sebenarnya bagi yang ingin menempat Al Qur’an sebagai dasar perjuangan NII, sesuai dengan bunyi Kanun Asasi, maka
dengan membaca serta memperhatikan empat poin tersebut di atas, tentu menilai bahwa estapeta kepemimpinan pasca
kepemimpinan dari MYT kepada AFW, sungguh tidak benar. Sebab, baik itu kapasitas seseorang itu sebagai pemimpin
maupun ummat, namun jika sudah mengakui ideologi musuh, maka jatuh nilai dari kewargaan Negara Islam Indonesia,
kecuali bila sudah melalui proses“Ja uu ka ( menjalankan Qur’an S.4/64)”. Perhatikan, poin pertama (a) yang
menunjukkan tidak adanya proses Ja uu ka sehingga MYT tidak mengetahui keadaan AFW sudah bikin makalah
Pancasila.

Awal Barro

Sebelum saya menemukan mata rantai kesalahan AFW sebagaimana yang dikemukakan pada mata rantai pertama
dan kedua, yakni adanya hal-hal yang bertolakbelakang dengan Al-Qur’an maka belum ada kepastian untuk sepenuhnya
membatalkan penyerahan kepemimpinan kepada AFW (25 Agustus 1996), sehingga belum memastikan pula untuk barro,
meskipun telah diyakini berdasarkan ilmu bahwa penyerahan tersebut tidak cocok dengan perundang-undangan. Namun,
penafsiran bunyi undang-undang itu bisa dianggap kontroversi oleh sebagian ummat, karena tidak mustahil bila ada yang
menafsirkannya sesuai dengan niat dan kepentingannya, sehingga mempengaruhi ummat secara umum.
Berbeda dengan penilaian terhadap kesalahan yang dikemukakan dalam mata rantai pertama, yaitu melanggar Al-
Qur’an.S.47,Muhammad: 35, S.11,Hud: 113, S.16:91, S.9 At-Taubah:77. Begitu juga kesalahan dalam mata rantai
kedua
, melanggar Qur’an.S.4 An-Nisa:64, S.5 Al-Maidah:39, S.25 Asy-Syu’ara:71. Penilaian terhadap kedua mata rantai
kesalahan itu merujuk kepada Al-Qur’an sebagai dasar pertama sehingga menjadi back up bagi penafsiran undang
undang yang dianggap oleh sebagian orang kontroversi. Dengan rujukan dari Al-Qur’an itu saya (Muhammad Yusuf
Thohiry) bisa memastikan untuk membatalkan penyerahan kepemimpinan kepada Abdul Fattah Wirananggapati, dan
melepaskan diri (barro) dari estapetanya, serta kembali kepada kepemimpinan berdasarkan Maklumat Komandemen
Tertinggi No.1/1994.
Untuk melakukan barro tidak perlu musyawarah dengan siapapun apalagi dengan fihak yang menentang untuk
barro. Sebelum saya memastikan barro sudah terlebih dulu menyampaikan permasalan untuk dibahas dan saya siap
dipanggil, berarti sudah mengajak musyawarah. Begitu juga kepada sebagian anggota Dewan Imamah terdahulu yang
masih bisa dihubungi hal itu sudah disampaikan, tetapi sebagian besar dari mereka sudah tidak aktif, yakni tidak
melibatkan diri lagi dalam estapeta kepemimpinan NII 1996, atau putus komunikasi. Ada dua anggota Dewan Imamah
terdahulu yang masih bisa dihubungi, dan sepandangan dengan MYT menyalahkan penyerahan kepemimpinan dari MYT
kepada AFW, salah seorang darinya menyatakan kekecewaannya, karena penyerahan tersebut tidak dimusyawarah
dengan Dewan Imamah.

Meskipun sudah lama saya mengetahui ketidakmulusan estapeta kepemimpinan NII, tetapi belum mengetahui
solusinya, maka selama itu belum barro. Sebab, untuk barro itu harus terlebih dulu mengetahui kepemimpinan yang
salah dan mengetahui pula yang benar berdasarkan ilmu yang diyakini kebenarannya. Sebagai contoh, bagi saya pada
Tahun 1987 barro dari kepemimpinan terdahulu, karena setelah membaca referensi “Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 yang
isinya antara lain yaitu setiap yang mengakui Pancasila, dan bersamaan dengan itu saya mengetahui pula bahwa Abdul
Fattah Wirananggapati sebagai pemegang estapeta kepemimpinan yang benar.
Jelasnya, bahwa penemuan referensi sebagaimana yang dikemukakan dalam mata rantai pertama sehingga
ditemukan pula mata rantai kedua, merupakan pembuka jalan dalam memperoleh solusi guna lepas dari beban moral yang

dipendam lebih sepuluh tahun. Sehingga menjadi jawaban mengapa estapeta kepemimpinan NII, 1996 tidak mulus dalam
perjalanannya. Dengan ditemukannya dua mata rantai tersebut diatas tadi, saya berkewajiban membatalkan penyerahan
kepemimpinan dari Muhammad Yusuf Thohiry kepada Abdul Fattah Wirananggapati, serta barro dari estapetanya,
sehingga tidak ada kekhawatiran lagi bila harus menjelaskan seluruh sejarah yang berkenaan dengannya.
Jadi, bila ada yang bertanya, ”Mengapa MYT membatalkan penyerahan kepemimpinannya kepada AFW sesudah
lebih sepuluh tahun (1996-2007) ? Jawabannya, yaitu karena mengadakan muhasabah atau mengevaluasi berulang serta
memahami referensi (ilmu) nya pun pada tahun 2007.
Perhatikan ayat di bawah ini:

Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øs9 y7s9

Š

¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä

‘

. y7Í´¯»s9′ré& tb%x.

çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ

“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”—
(Q.S.17:36).

Jika sudah barro berarti sudah tidak mengakui adanya Dewan Imamah yang didasari MKT. No.4/1996. Sesudah
barro MYT harus menolak panggilan dari pihak kepemimpinan yang sudah dianggap tidak sah, sebab bila memenuhi
panggilannya berarti masih belum barro. Ada dua kali panggilan kepada MYT, hal itu sesudah lama saya mengevaluasi
sejarah kemudian mengambil sikap barro dari kepemimpinan Ali Mahfudz. Jelas, saya tidak memenuhi panggilannya,
karena saya sudah tidak mengakui kepemimpinan beliau. Tegasnya, sebelum saya mengambil sikap barro, tidak pernah
dipanggil oleh Dewan Imamah untuk pembahasan mengenai penyerahan kepemimpinan dari saya kepada AFW ,
melainkan yang ada hanya cercaan terhadap MYT dari oknum anggota Dewan dan para aparat yang terpengaruhnya. Jadi,
mungkin pemanggilan terhadap saya sesudah barro itu merupakan trik supaya ada “image” pada ummat bahwa saya
tidak datang memenuhi panggilan, atau ada maksud tertentu, walloohu’alaam. Sebab, semua telah memahami bahwa
yang sudah barro itu tidak memiliki kaitan tugas dengan kepemimpinan sebelumnya.

Menolak dengan Ilmu, Menerima dengan Ilmu

Sewaktu Imam Awal, SM Kartosoewirjo masih bergerilya, saya sudah bercita-cita akan menjadi pengikutnya.
Setelah beliau tertangkap musuh, 1962 maka photo Aceng Kurnia, Bu Dewi, dan Dodo Muhammad Darda dari surat
kabar saya simpan bertahun-tahun dimaksudkan supaya satu saat bisa bertemu dengan Pak Aceng Kurnia guna
menanyakan bagaimana kelanjutan perjuangan NII. Pada Tahun 1968 Dahlan Lukman dan Rusyad Nurdin mendirikan
suatu yayasan, saya ikut Training Center di Jawa Barat bagian timur selama seminggu, kemudian sering mendengarkan
wejangan dari Pak Adah Jaelani, bahkan dalam suatu acara pernah datang ke rumah beliau di Jakata. Pada waktu itu
pikiran saya masih picik, yakni beranggapan bahwa bila dari lisan seorang tokoh DI/TII pun tidak terbetik kalimat untuk
kembali melanjutkan perjuangan NII,[16] maka apalagi dari para anak buahnya. Dari itu saya menyangka sudah tidak ada
lagi yang melanjutkan perjuangan yang sudah diproklamirkan 7 Agustus 1949. Namun, bagi saya melanjutkan perjuangan
yang benar tidak terhalang oleh karena tidak ada orang lain yang melanjutkannya. Artinya, meskipun masih sendirian,
tetapi jika sudah yakin bahwa hal itu benar maka wajib berusaha melanjutkannya, sebab berpegang pada hadits, “Ibda bi
nnafsik
(mulailah dari dirimu).” Juga, tidak akan ada bilangan satu juta bila tidak dimulai dari satu.
Supaya dinilai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa saya sudah berusaha maksimal ingin melanjutkan perjuangan
yang benar, maka pada Tahun 1973 bertekad meninggalkan Jakarta untuk mengembara dengan tujuan barangkali bisa
bertemu dengan Aceng Kurnia sebagaimana yang dicita-citakan pada sejak tahun 1962 ketika masih duduk di bangku
sekolah. Sebelum bertemu dengan beliau, saya mengadakan pendekatan dengan kawan-kawan serta bicara yang mengarah
kepada perjuangan NII, walau pada waktu itu belum mengetahui adanya para mujahidin yang sedang memperjuangkan
NII. Jadi, sebelum bertemu dengan Aceng Kurnia serta para mujahid lainnya pun, saya sudah berusaha dalam rangka
melanjutkan perjuangan NII. Artinya, jika sudah yakin bahwa perjuangan itu benar maka tetap harus dijalankan walau
dimulai dari sendirian. Hal demikian sesuai dengan motto,”Sekalipun semilyar manusia masuk neraka, tetapi ada satu
orang yang tidak masuk, maka yang satu orang itu tidak menyesal.”
Sesuai dengan judul tadi, “Menolak dengan Ilmu, Menerima dengan Ilmu” maka saya mengambil sikap barro atas
dasar ilmu. Dengan itu sangat salah bila ada yang mengatakan, “Bahwa sikap Pak Tohir (MYT) dengan membuat

stetement itu karena kegagalan para aparat wilayah dalam membujuk Pak Tohir.” Dalam hal barro yang didasari oleh
ilmu, tidak bisa dirubah dengan bujukan dari siapapun serta dalam bentuk apapun. Dalam hal itu juga semua prasangka
terhadap MYT, saya serahkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Mengetahui terhadap hati saya.

Mendahulukan Al-Quran

Pada Tahun 1987.waktu itu saya belum memahami secara benar mengenai undang-undang estapeta kepemimpinan
NII, walau sudah tiga tahun sebelumnya sering mendengarkan AFW menjelaskan tentang estapeta kepemimpinan dalam
MKT.No11/1959, namun pada waktu itu belum begitu peduli terhadap undang undang tersebut, karena bisa ditafsirkan
oleh sebagian orang sesuai dengan niat dan kepentingannya, sehingga kontroversi. Maka, meskipun sudah tiga tahun
mengenal AFW, saya tidak barro dari kepemimpinan terdahulu. Sebab, baik itu Daud Beureh maupun Adah Djaelani
Tirtapradja adalah AKT (Anggota Komandemen Tertinggi), termasuk calon Imam sesuai dengan undang-undang.
Berbeda lagi dengan setelah disodorkan ayat-ayat Al Qur’an oleh AFW dalam AT-TIBYAAN (1987), tentang mereka yang
desersi dari NII dengan mengakui ideologi musuh, juga tentang mereka yang tidak datang kepada pemimpin, menjelaskan
kesalahan atau tidak mau merehabilitasi diri, maka dengan ayat-ayat Al Qur’an itu saya barro dari kepemimpinan yang
tidak sesuai dengan ayat Al Qur’an. Artinya, Al Qur’an itu yang dinomersatukan dari pada perundang undangan buatan
manusia.
Sehubungan dengan keadaan pada Tahun 1987 sebagaimana telah diuraikan di atas, maka berkaitan dengan
penyerahan kepemimpinan dari Muhammad Yusuf Thohirry kepada Abdul Fattah Wirananggapati pada tanggal 25
Agustus 1996, tentu bagi yang mempertahankannya boleh-boleh saja bersikukuh dengan mengatakan bahwa hal itu tidak
bertentangan dengan perundang undangan. Tetapi, saya mengingatkan bahwa hukum jang tertinggi dalam Negara Islam
Indonesia ini adalah Qur’an dan Hadits Shahih, jadi yang didahulukan ialah Al Qur’an dan Hadits Shahih dari pada
perundang undangan yang dibuat manusia. Dengan demikian meskipun ada yang berpendapat penyerahan kepemimpinan
tersebut tadi sesuai dengan perundang- undangan, maka tetap tidak benar alias salah, karena didahului pelanggaran
terhadap Al-Qur’an, seperti yang dikemukakan dalam AT-TIBYAAN. Negara Islam Indonesia bukanlah negara sekuler
yang hanya bertumpu pada perundang –undangan semata buatan manusia, melainkan semua perundang-undangannya
tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an.
Begitu juga masa penandatanganan MKT.No.4/1996 sesudah adanya pengakuan terhadap Pancasila (ideologi
musuh), serta melalui tawar menawar jaminan uang maka bertolak- belakang dengan Al-Qur’an. Dengan hal itu maka
pula semua tanda tangan Muhammad Yusuf Thohiry yang didasari oleh tanda tangan Abdul Fattah Wirananggapati pada
lembaran MKT. No.4/1996 adalah tidak benar, yakni salah. Sehingga segala keputusan yang merujuk kepada Maklumat
tersebut adalah salah.

Penelusuran Sejarah, Dokumentasi

Sesudah surat tanggapan terhadap wawancara AFW dalam Majalah UMMAT halaman 26 terbitan 9 Desember
1996 diberikan kepada beliau, maka sebagian besar aparat termasuk saya sudah merasa selesai menangani kasus tersebut
sehingga tidak banyak yang ingin membaca kembali lebaran majalah yang disebutkan tadi. Pada bulan- bulan tahun
pertama, mungkin masih ada yang menyimpannya baik itu yang aslinya maupun copynya. Meskipun ada yang sengaja
menyimpannya, tapi mungkin ada yang meminjamnya, yang akhirnya hilang seperti yang saya alami. Dan tatkala
dibutuhkan maka sulit diperolehnya.
Diperkirakan sejak tahun 2000-an sudah tidak ada aparat atau pun ummat yang menyimpan lembaran dokumen
tersebut. Hal demikian mungkin karena saling mengandalkan dalam hal menyimpannya, sehingga banyak ummat yang
baru masuk lembaga negara ini tidak pernah melihat copy lembaran Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember
1996. Tahun- tahun belakangan ini ada seorang ummat yang memintanya kepada saya guna diperlihatkan kepada seorang
ummat yang ingin mengetahuinya sebagai bukti guna meyakinkan kebenaran sejarah. Setelah dicari dan tidak ditemukan
dalam tumpukan buku, lalu saya tanyakan kepada beberapa aparat pusat waktu itu. Disebabkan tidak ada yang
memilikinya, maka saya tanyakan kepada banyak ummat, bukan hanya yang di Jawa, melainkan juga via telpun ke luar
Jawa barangkali saja masih ada yang menyimpannya, sebab sudah dicari ke banyak emper kaki lima sudah tidak
diperolehnya.

Alhamdulillah, kira-kira beberapa minggu sesudah itu ada seorang aparat yang memberikannya kepada saya.
Namun, pada waktu itu saya tidak merasa perlu membacanya kembali, melainkan hanya mengcopynya untuk diberikan

kepada ummat yang membutuhkannya itu. Adapun saya membacanya kembali ketika dalam keadaan menelusuri
perjalanan sejarah. Bisa dibayangkan seandainya dokumen tersebut terus tidak diperoleh maka tidak bisa mengadakan
penelusuran atau pengevaluasian sejarah secara sempurna, yang akibatnya para aparat dan ummat hanya bisa membaca
petikan wawancara seperti di bawah ini:

Bila hanya membaca bunyi petikan kalimat-kalimat itu di

atas tanpa mengetahui kata-kata atau kalimat sebelumnya,

maka terkesan bahwa pernyataan mengenai Pancasila itu

hanya terjadi ketika wawancara dengan Majalah UMMAT

terbitan 9 Desember 1996, yakni bukan terjadi sebelum

penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW.
Berbeda lagi dengan tek yang sesungguhnya, yakni hurup “b” pada kata “butir” yang pertama ditulisnya dengan hurup
kecil seperti di bawah ini:

“Waktu mau dibebaskan dari penjara, saya mesti bikin makalah. Lalu saya jelaskan bahwa butir-butir Pancasila itu
berasal dari Qur’an. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradap, dan seterusnya, jelas ada
ayatnya dalam Qur’an. Tidak setiap orang yang ber-Pancasila itu Muslim, tapi tiap Muslim sudah pasti ber-Pancasila”.

Dari bunyi kalimat itu di atas, diketahui bahwa AFW menjelaskan isi makalah Pancasila yang dibikin sebelum
bebas dari penjara musuh tanggal 2 Agustus 1996. Tegasnya, bahwa sebelum beliau menerima kepemimpinan dari MYT
tanggal. 25 Agustus 1996, maka AFW sudah terlebih dulu menyerah kepada musuh dengan bikin makalah Pancasila,
sehingga para anggota Dewan Imamah yang diangkatnya tanggal. 28 September 1996 pun oleh yang sudah mengakui
ideologi musuh, sehingga pula menjadi ganjalan hukum. Tegasnya, Jika AFW sudah batal maka Dewan Imamah yang
diangkatnya pun tidak sah. Sebab, jelas bahwa AFW batal (jatuh nilainya dari perjuangan NII) bukan diawali dari
wawancaranya dengan Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996, tetapi sejak membuat makalah Pancasila. Disebabkan
dari awalnya sudah salah, yakni diawali dengan bikin makalah Pancasila yang tidak dijelaskan ( tidak menjalankan Q.S.
4:64) maka selanjutnya juga salah, seperti halnya penandatanganan lembaran MKT.No.4/1996 menyalahi waktunya,
yakni sesudah diketahui beliau bikin makalah Pancasila, serta yang prosesnya juga dengan tawar-menawar jaminan
uang. Suka atau tidak suka, ini fakta sejarah !
Tanggapan terhadap petikan wawancara Abdul Fattah Wirananggapati bukan diketik oleh saya, tapi ditandatangani
oleh saya, dan sesudah terlebih dulu dimusyawarahkan bersama para AKT yang diangkat oleh AFW. Hanya seingat saya
pada saat bermusyawarah sama sekali tidak ada yang mengangkat persoalan AFW telah bikin makalah Pancasila. Dan
tidak pula ada yang mengangkat mengenai AFW tidak jaa uu ka (Q.S.4:64). Seingat saya hal demikian disebabkan dua
hal:
1.a. Semua yang hadir hanya terfokuskan kepada ungkapan yang dimulai dari “Butir- butir Pancasila itu
berasal
dari Qur’an” dan seterusnya, tanpa memperhatikan kata-kata sebelumnya, karena kata “Butir” yang
pertama ditulis dengan hurup besar ( B), letak pada awal kalimat. Padahal jika aslinya dengan hurup kecil maka
didepannya harus ditambahi tiga titik seperti begini “… butir- butir “ , sehingga pembaca mengetahui bahwa
sebelumnya kata-kata itu terdapat pula kata-kata lain yang berkaitan dengan kata-kata atau kalimat sesudahnya.
1.b. Tidak semua yang hadir memiliki copy-an lembaran Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember
1996. Artinya, meskipun sudah membacanya, namun hanya sepintas sehingga fokusnya hanya kepada kata- kata “
butir- butir Pancasila berasal dari Qur’an dan seterusnya, tanpa memperhatikan bagaimana bunyi kalimat sebelum
kata-kata “butir-butir Pancasila”.
Akibat dari dua hal tersebut itu mereka dan saya mengira bahwa isi petikan wawancara yang disebutkan dalam
surat tanggapannya itu terpisah dari makalah Pancasila. Sehingga mengira pula bahwa kata-kata “Butir -butir Pancasila”
dan seterusnya itu dikemukakan oleh AFW hanya ketika dalam wawancaranya dengan Majalah UMMAT. Padahal hal itu
adalah isi dari makalah Pancasila yang dibikin sebelum AFW menerima penyerahan kepemimpinan dari MYT, hanya
sebelumnya itu tidak dijelaskan, baik itu kepada MYT maupun kepada anggota-anggota Dewan Imamah yang diangkat
dalam Maklumat No,1/1994. Dari uraikan ini tentu ada pertanyaan, “Mengapa hal ini tidak terungkap dari dulu ?
Jawabannya yaitu:
Pertama, Bahwa pengevaluasian atau penelusuran sejarah estapeta kepemimpinan NII 1996 dilakukan sesudah diketahui
adanya kerancuan dalam penterapan undang- undang terhadap estapeta kepemimpinan pasca penyerahan kepemimpinan
dari MYT kepada AFW. Dalam kalimat lain, bahwa penelusurannya terjadi sesudah lebih dari sepuluh tahun dari
diperbincangkannya wawancara AFW dalam Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996.

Kedua, Lebaran Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996, baik itu yang aslinya maupun copynya sudah
terlupakan, dalam arti seolah olah tidak dibutuhkan lagi oleh banyak aparat atau ummat, mereka merasa cukup membaca
dari tek isi petikan yang tertera dalam lembaran surat tanggapan Dewan Imamah yang dikeluarkan tanggal 22 Desember
1996. Hal itu menyebabkan tidak ada animo bagi mereka untuk membaca kembali lembaran majalah yang dimaksud tadi.
Apalagi tidak diketahui oleh mereka dimana keberadaannya. Sehingga surat tanggapan dari Dewan Imamah pun tidak
terkoreksi oleh mereka termasuk oleh saya pada masa lebih sepuluh tahun itu.
Alhamdulillah, Robb Yang Maha Mengetahui segala yang akan terjadi, sehingga pada tahun-tahun mendekati masa
pengevaluasian sejarah estapeta kepemimpinan NII 1996, saya sudah memperolehnya. Perhatikan kembali QS : Al-Mulk
3-4 yang bunyinya:

Ï%©!$# t,n=y{ yìö7y™ ;Nºuq»yJy™ $]%$t7ÏÛ ( $¨B 3“ts? †Îû È,ù=yz Ç`»uH÷q§



9$# `ÏB ;Nâq»xÿs? ( ÆìÅ_ö‘$$sù uŽ|

Çt7ø9$# ö@yd 3“ts? `ÏB 9‘qäÜèù ÇÌÈ



§NèO ÆìÅ_ö‘$# uŽ|Çt7ø9$# Èû÷üs?§x. ó=Î=s)Ztƒ


y7ø‹s9Î) çŽ|Çt7ø9$#

$Y¥Å™%s{ uqèdur ׎Å¡ym ÇÍÈ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Robb yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu
cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.”—
( Qur’an, Al- Mulk:3-4)
Dari ayat itu diambil arti bahwa jika terhadap apa apa yang diciptakan oleh Allah SWT, kita dipersilahkan
memperhatikan secara berulang, maka apalagi terhadap langkah perbuatan manusia. Perintah dari ayat itu, tidak ditujukan
kepada hanya seseorang, tetapi kepada kita semua . Jadi, tentu kelalaian menyimpan dokumentasi, atau ketidakmauan
memperhatikan kembali bunyinya, serta terlambat mengevaluasinya adalah kelalaian bersama. Dengan demikian
walaupun surat tersebut tadi di atas bukan diketik oleh saya, namun sudah terlebih dulu dibahas bersama secara resmi,
kemudian ditandatanganinya oleh saya maka kesalahan tidak terletak pada seseorang. Dari itu saya sudah mengakui
bersalah.
Lebih sepuluh tahun yang liwat, saya sudah membaca Majalah UMMAT yang dimaksudkan tadi sehingga saya
mengetahui bahwa AFW membuat makalah Pancasila, tetapi selama itu saya tidak kontrol sehingga tidak tahu bagaimana
bunyi isi makalah Pancasila itu. Namun, sesudah membaca kembali majalah tersebut tadi dengan memperhatikan bunyi
lengkap kalimat yang dijelaskan oleh AFW dalam wawancaranya, maka saya tercengan ketika mengetahui perkataan
beliau “… butir-butir Pancasila itu berasal dari Qur’an. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab, dan seterusnya, jelas ada ayatnya dalam Qur’an. Tidak setiap orang yang ber-Pancasila itu Muslim, tapi tiap
Muslim sudah pasti ber-Pancasila. Jadi, katakanlah, ber-Pancasila itu berarti melaksanakan sebagian dari ajaran Islam.
” ,
itu adalah bagian dari isi makalah Pancasila yang dibuat AFW sebagai salah satu sarat bebas dari penjara tahun 1996.
Sebab. Sebelum kata-kata “butir-butir” didahului oleh kalimat “Waktu mau dibebaskan dari Penjara, saya mesti bikin
makalah. Lalu saya jelaskan bahwa butir-butir Pancasila itu berasal dari Qur’an. Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradap, dan seterusnya, jelas ada ayatnya dalam Qur’an. Tidak setiap orang yang ber-
Pancasila itu Muslim, tapi tiap tiap Muslim sudah pasti ber-Pancasila.”

Lebih sepuluh tahun saya menanggung beban moral, karena tiga hal yaitu:
1.Tandatangan Abdul Fattah Wirananggapati dalam MKT. No.IV/1996 dilakukan sesudah beberapa hari dibacanya
wawancara AFW dalam Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996 mengenai pengakuannya terhadap Pancasila.
Juga, penandatanganannya itu melalui tawar-menawar jaminan uang.
2.Tandatangan saya (Muhammad Yusuf Thohiry) dalam surat Tanggapan Dewan Imamah tanggal 22 Desember
1996 sebagai Wakil Imam berdasarkan tandatangan AFW dalam MKT. No. IV/1996. Artinya, jika AFW
dinyatakan batal, karena pengakuan terhadap Pancasila dalam petikan wawancaranya dengan Majalah UMMAT
terbitan 9 Desember 1996 berarti tandatangannya juga tidak sah, sehingga tandatangan Muhammad Yusuf Thohiry
sebagai Waki Imam pun tidak sah.
3.Guna mengadakan pembenaran terhadap kedua poin tersebut di atas, saya berargumentasi bahwa sebelum AFW
wawancara dengan Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996, maka ketika selesai melantik para AKT yang
diangkatnya, beliau mengatakan akan menandatangani (MKT.No.IV/1996). Namun, argumentasi demikian itu
tidak membuat saya percaya diri bila kemukakan guna membela estapeta kepemimpinan NII 1996. Terbukti

sesudah lebih sepuluh tahun berlanjut, saya tidak bisa berkutik ketika didebat oleh Pak Kiayi bahwa perkataan itu
beda dengan tandatangan.
Alhamdulillah, setelah didebat oleh Pak Kiayi bahwa perkataan itu beda dengan tandatangan, dan beliau meminta
saya supaya menjelaskan kronologinya, serta menuliskan semuanya, maka akhirnya menelusuri jalannya sejarah yang
akhirnya pula membaca kembali dokumentasi atau referensi Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996.
Ternyata penyebab semua kesalahan adalah diawali dengan AFW sebelum menerima penyerahan kepemimpinan dari
MYT, bahwa AFW sudah bikin makalah Pancasila sebagai salah satu sarat bebas dari penjara, yang inti isinya baru
dikemukakan dalam wawancara dengan majalah tersebut. Bikin makalah Pancasila dengan tidak menjelaskannya,
melainkan meminta kembali kepemimpinan diserahkan kepadanya, hal itu merupakan kesalahan paling dasar, melanggar
Qur’an S.4:64. Dengan mengetahui hal itu maka lenyaplah beban moral pada diri saya yang menyelimuti selama lebih
sepuluh tahun dari hal proses penandatanganan MKT.No.IV/1996. Karena, seandainya Abdul Fattah Wirananggapati
menadatanganinya sebelum wawancaranya dengan Majalah UMMAT tadi pun, maka MKT. tersebut tetap tidak sah,
karena pernyataan AFW “…bahwa butir-butir Pancasila itu berasal dari Qur’an….”dan seterusnya, bukanlah sekedar
jawaban dalam wawancaranya, melainkan juga sebagian dari isi makalah Pancasila yang dibikin oleh AFW sebelum
dirinya mengangkat para AKT yang tertuang dalam MKT. No.IV/1996. Jika dengan hal itu AFW batal, sebagaimana
orang yang menandatangani Ikrar Bersama 1 Agustus 1959, maka para AKT yang diangkatnya, beserta MKT. yang
ditandatanganinya juga tidak sah.
Setelah membaca kembali serta memperhatikan isi wawancara AFW tersebut tadi dengan membandingkannya dengan
yang ada pada surat Tanggapan Petikan Wawancara Abdul Fattah Wirananggapati, maka saya menyadari bahwa adanya
kesalahan dalam cara pengetikan kalimatnya, atau kelalaian dalam pengecekan dari semua yang ikut membahasnya,
sedangkan yang paling sering dibaca oleh ummat atau publik ialah surat tanggapan tersebut, adapun lembaran referensi
lengkap Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996, kebanyakan yang tidak pernah membacanya, sehingga
muncul kesan atau pandangan bahwa batalnya AFW itu dimulai dari wawancaranya dengan Majalah UMMAT tesebut.
Padahal pandangan tersebut itu bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi, yang benar yaitu bahwa sebelum
Abdul Fattah Wirananggapati mengangkat para AKT yang tertuang dalam MKT. No.IV/1996, maka beliau sudah terlebih
dulu batal. Sehingga MKT. tersebut itu pun tidak sah.
Dari itu kepada semua pihak yang sudah membaca Petikan Wawancara yang disebutkan tadi di atas, baik itu yang
melalui brosur/ buku atau media elektronik lainnya, maka saya Muhammad Yusuf Thohiry mohon diketahui atas
kesalahan pengetikannya tersebut itu. Satu kekeliruan memandang persoalan yang jika tidak diakuinya, maka berarti
membikin kesalahan terus berlanjut. Sebab itu saya tidak peduli terhadap macam-macam perkataan orang lain atas sikap
saya ini. Perjuangan Negara Islam Indonesia berkaitan dengan kehidupan di Akhirat kelak. Jadi, yang penting bagi saya
bahwa Malaikat sudah mencatatnya, yakni saya sudah menjelaskannya.

Keringkasan, Solusi, Harga Mati
Keringkasan

Sebelum tanggal 25 Agustus 1996, yakni sebelum MYT menyerahkan kepemimpinannya kepada AFW, waktu itu
saya tidak mengetahui bahwa AFW sudah membuat makalah Pancasila. Akan tetapi, sesudah penyerahan kepemimpinan
yang kemudiannya disusul dengan pengangkatan para anggota Dewan Imamah tanggal 28 September 1996 dan sebelum
MKT. No.4/1996 ditandatangani, baru kemudian diketahui bahwa AFW sudah terlebih dulu membuat makalah Pancasila,
yang dikemukakan dalam wawancaranya dengan Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996. Sesudah
diadakan penyelidikan dan diketahui bahwa hal itu benar- benar perkataan beliau, maka pihak Dewan Imamah yang sudah
diangkat oleh AFW itu menanggapinya dan menyatakannya bersalah dengan didasari beberapa ayat Quran, serta hadist,
juga AT-TIBYAAN, dan Ikrar Bersama, 1962. kemudian oleh Dewan Imamah beliau itu dimakjulkan dari jabatannya.
Dengan sikap dari Dewan Imamah itu, maka AFW mengatakan, ”Bahwa salah atau benar itu bukan ditentukan oleh
Dewan Imamah, tetapi oleh pengadilan. Menghadapi pernyataan AFW tersebut, Maka MYT bermusyawarah dengan para
aparat terkait dan menetapkan dibentuk pengadilan khusus mengadili AFW. Yang akhirnya dalam pengadilan beliau
dinyatakan bersalah, dan diberhentikan dari jabatannya. Disebabkan beliau mengakui kesalahannya, maka diangkat

sebagai penasihat Imam. Lalu beliau juga diberikan hak memilih dan dipilih sebagai Imam. Dalam pemilihan itu AFW
memperoleh satu suara. Dalam pemilihan itu terangkatlah Ali Mahfudz sebagai penggantinya.
Bagi sebagian aparat atau ummat bahwa dengan diberhentikannya AFW dan digantikannya oleh Ali Mahfudz,
secara lahir persoalan terlihat solah-olah sudah beres tidak ada ganjalan hukum. Hal demikian berbeda dengan yang
dirasakan oleh MYT. Yakni, sejak saya membaca isi wawancara AFW dalam Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9
Desember 1996, saya terpaksa “banting stir” dengan mengemukakan hujjah baru yang spekulativ bahwa sewaktu AFW
membikin makalah Pancasila maka kapasitasnya sebagai ummat sehingga boleh bertaqiyah. Sebab, bila disebutkan bahwa
posisinya sebagai pemimpin yang sedang berhalangan, maka akan dianggap batal. Dan apabila AFW dianggap batal,
maka kepemimpinan Ali Mahfudz sebagai estapetanya juga tidak sah. Jadi, selama saya masih mengakui kepemimpinan
Ali Mahfudz maka mau tidak mau saya harus mengatakan,” Bahwa ketika MYT menyerahkan kepemimpinan kepada
AFW, kapasitas AFW itu sebagai ummat, sehingga boleh bertaqiyah karena bukan pemimpin”. Namun, hal demikian
tidak meyakinkan, sebab berbenturan dengan:
1.Tektual yang ada dalam Nota Dinas dan MKT.No.1/1994 di situ tidak disebutkan sebagai ummat, melainkan
pemimpin yang berhak sedang berhalangan.
2.Dari posisi pemimpin yang sedang berhalangan, kemudian menjadi ummat, karena membuat makalah Pancasila
tentu harus ada proses jaa uuka (Q.S.4:64). Jika tidak jaa uu ka, maka tetap batal, dan bukan ummat, karena sudah
menyeberang ke pihak musuh.
3.Undang – undang, sebab tidak ada peraturannya bila ummat diserahi jabatan sebagai Imam sedangkan para AKT
masih banyak. Seandainya untuk hal itu ada yang berdalih bahwa dalam Kanun Azasy Pasal 12 disebutkan;

“Imam Negara Islam Indonesia ialah orang Indonesia asli yang beragama Islam Imam dan tha’at kepada Allah
dan Rasul-Nya.”
, maka pertanyaannya,” Apakah bisa dipredikatkan bertakwa bagi seorang ummat yang bikin
makalah Pancasila, tanpa Jaa uuka sehingga melanggar Q.S.4:64 ? Untuk wakil Imam saja diambil dari anggota
Dewan Imamah, (Lihat Kanun Asazy pasal 13) maka bagaimana logikanya bila seorang ummat yang menyerah
kepada musuh lalu diserahi jabatan sebagai Imam ?
4.Tanggapan terhadap petikan wawancara Abdul Fattah Wirananggapati sebagaimana tertera didalamnya bahwa
beliau dinyatakan batal dan tidak dibernarkan bertaqiyah.
Padahal selama sepuluh tahun, sejak diadilinya AFW, saya sudah tidak lagi memperhatikan isi wawancaranya dalam
lembaran Majalah UMMAT halaman 20, terbitan 9 Desember 1996 yang bunyinya: ”Waktu mau dibebaskan dari
penjara, saya mesti bikin makalah. Lalu saya jelaskan bahwa butir-butir Pancasila itu berasal dari Qur’an. Ketuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dan seterusnya, jelas ada ayatnya dalam Qur’an. Tidak setiap
orang yang ber-Berpancasila itu Muslim, tapi tiap Muslim sudah pasti ber-Pancasila.”
Dengan memperhatikan bunyi
kalimat sebelum kata –kata “…butir-butir Pancasila…” maka dipahami bahwa bersalahnya Abdul Fattah
Wirananggapati, atau tidak dibenarkannya bertaqiyah itu sewaktu bikin makalah Pancasila. Dengan demikian bagi yang
mengatakan[17] bahwa ketika MYT menyerahkan kepemimpinannya kepada AFW, maka posisi AFW itu sebagai ummat
adalah merupakan “banting setir” guna pembenaran supaya AFW beserta Dewan Imamah yang diangkatnya ( 28
September 1996) tidak dianggap batal.

Sepuluh tahun lamanya baik itu dengan tulisan maupun dengan lisan saya mencoba mempertahankan legalitas Ali
Mahfudz sebagai Imam dengan hujjah bahwa tatkala AFW membuat makalah Pancasila, posisi AFW itu sebagai ummat.
Tetapi, dengan keempat poin yang diuraikan tadi itu di atas maka hujjah sebagai ummat itu tidak bisa terus
dipertahankan. Bila hal demikian terus dipertahankan maka akan membingungkan karena tidak berdasarkan ilmu,
melainkan karena dipaksakan supaya jangan menganggap bahwa AFW sudah batal sebelum diserahkan kembali
kepemimpinan kepadanya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan ditemukannya beberapa referensi yang
berkaitan desersinya beberapa tokoh NII maka dipahami bahwa satu kesalahan yang tidak dijelaskan ( tidak sesuai dengan
Q.S.4:64) ) darinya bisa mendatangkan kesalahan lain. Sehingga kepada para pengikutnya juga tidak sadar dalam salah,
membuat- buat hujjah dengan terus banting setir, bulak belok tidak berkepastian. Contohnya, satu saat tatkala dikatakan
bahwa AFW itu telah batal, maka dijawab bahwa beliau boleh bertaqiyah, karena posisinya sebagai ummat. Tetapi,
tatkala membentur kepada undang-undang maka berbeda lagi jawabannya, yakni posisi beliau adalah pemimpin yang
berhak sedang berhalangan karena tertulis dalam MKT. No.1/1994. Jadi, mana yang benar ? Apabila jawaban yang kedua

itulah yang benar, maka konsisten bahwa AFW membikin makalah Pancasila itu tidak dibenarkan bertaqiyah, sehingga
batal. Bila beliau sudah batal maka Dewan Imamah yang diangkatnya (28 September1996) juga tidak sah ! Sebab itu,
saya barro darinya. Dan sesudah barro itu saya baru bisa mengatakan:”Bahwa ketika MYT menyerahkan
kepemimpinannya kepada AFW maka posisi AFW sebagai pemimpin yang berhak sedang berhalangan, tapi AFW tidak
menjelaskan kepada MYT atau kepada Dewan Imamah yang diangkat dalam MKT.No.1/1994 bahwasanya beliau sudah
bikin makalah Pancasila yang menyebabkan batal dari NII-nya. Dengan demikian sebenarnya ketika itu kapasitas AFW
bukan sebagai pemimpin dan bukan pula sebagai ummat, karena sudah batal, yakni menyerah kepada musuh, sebab batal
dari pemimpin menjadi ummat pun harus terlebih dulu menjalankan Jaa uu ka (Q.S.4:64), sedangkan AFW tidak
melakukan hal itu, sehingga mengkibatkan terjadi kekeliruan bagi MYT menyerahkan kepemimpinan kepada AFW.

Solusi

Pada pertengahan tahun 2007 dalam pengevaluasian sejarah, dengan tidak sengaja saya menemukan Majalah
KIBLAT, No.12, terbitan 2 Mei 2002, pada halaman 20 yang memuat pernyataan AFW ; “Dan saya pun memutuskan
kembali kepada Proklamasi 1945”…”.

Dari mentafakuri peryataan AFW itu, saya teringat kepada sebagian para tokoh yang sudah melakukan “Ikrar
Bersama”, 1 Agustus 1962 yang diantaranya bunyinya: “ Setia terhadap ideologi Pancasila, Undang Undang Dasar 1945,
dan kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Namun, sebagian mereka tatkala akan aktip kembali tidak terlebih dulu menjelaskan
tentang persoalan isi Ikrar Bersama 1Agustus 1962 tersebut tadi, melainkan memunculkan istilah “Hudaibiyah”[18]
Sehingga seolah-olah menyembunyikan kesalahan. Akhirnya, setelah merasa terpepet atau kandas dalam perjuangannya,
maka diantara mereka ada yang mengulangi lagi kesalahannya dengan datang menemui pihak musuh, dan mengatakan
akan berusaha menghubungi rekan-rekannya dan mengajak mereka untuk kembali kepangkuan Ibu Petiwi.
Dari mentafakuri hal tersebut itu, saya teringat juga kepada AT- TIBYAAN yang menekankan bahwa mereka yang
sudah mengakui Pancasila dengan tidak menjelaskan kesalahannya, hal itu melanggar Qur’an surat An Nisa:64 sehingga
hal demikian merupakan pelanggaran hukum. Sedangkan dalam pengevaluasian sejarah itu diketahui bahwa sebelum
adanya penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, maka AFW sendiri pun tidak menjelaskan kepada MYT
bahwa beliau telah membuat makalah Pancasila. Dengan tidak menjelaskan kesalahannya itu maka AFW pun melanggar
Qur’an S.4:64 sehingga dari kesalahan itu mengakibatkan kesalahan berikutnya.
Sesudah mengevaluasi sejarah secara berulang maka diketahui bahwa yang menjadi pangkal tidak mulusnya
estapeta kepemimpinan NII 1996 bukan hanya disebabkan bahwa MKT. no.4/1996 ditandatanganinya sesudah wawancara
AFW mengenai pengakuannya terhadap Pancasila, juga dengan tawar menawar jumlah jaminan uang, melainkan
ketidakmulusannya itu disebabkan dari awalnya, yakni didahului oleh pelanggaran terhadap Al-Qur’an S.4:64.
AFW tidak menjelaskan kesalahannya (membuat makalah Pancasila) sebelum beliau meminta jabatan Imam
dikembalikan kepadanya, sehingga MYT pun menyerahkannya. Akan tetapi, sesudah mengevaluasi sejarah bahwa
sebelum penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW telah terjadi pelanggaran terhadap Al-Qur’an surat An Nisa
ayat 64, maka saya (MYT) wajib membatalkan penyerahan kepemimpinan tersebut, dan sebagai konsekwensinya maka
saya kembali kepada struktur kepemimpinan dalam MKT. No.1/1994. Dan hal itu bukan saja sebagai solusi guna
kelangsungan estapeta kepemimpinan Negara Islam Indonesia, Proklamasi 7 Agustus 1949. tetapi yang paling mendasar
ialah menterapkan Firman Allah SWT. yang bunyi-Nya:

$

yJ¯RÎ) èpt/öqG9$# n?tã

‘

«!$# šúïÏ%©#Ï9 tbqè=yJ÷ètƒ uäþq¡9$# 7′s#»ygpg¿2 ¢OèO cqç/qçGt
š

ƒ `ÏB 5=Ìs
ƒ%

y7Í´¯»s9′ré’sù Ü>qçGtƒ ª!$# öNÍkön=tã 3 šc%x.ur ª!$# $¸JŠÎ=tã

Ž

$\KŠÅ6ym ÇÊÐÈ

“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran
kejahilan[277], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya;
dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”-
Q.S. 4:17) .

[277] Maksudnya Ialah: 1. orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat
kecuali jika dipikirkan lebih dahulu. 2. orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak. 3. orang yang
melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.
Sebelum saya menyerahkan kepemimpinan kepada AFW tanggal 25 Agustus 1996, waktu itu saya beserta para
anggota Dewan Imamah yang terangkat dalam MKT. No.I/1994 tidak mengetahui bahwa AFW sudah membuat makalah

Pancasila. Tetapi, diketahui sesudah beliau wawancara yang dimuat dalam Majalah UMMAT, halaman 26 terbitan 9
Desember 1996. Dengan adanya hal itu membuat diri saya gamang, dalam keraguan menghadapi kasus wawancara
AFW, karena saya telah mengambil langkah spekulativ yaitu dengan menyatakan bahwa kapasitas AFW ketika itu
sebagai ummat hingga dibenarkan bertaqiyah, supaya para AKT. yang diangkat tanggal 28 September 1996 oleh Abdul
Fatah Wirananggapati tidak dianggap batal. Ternyata hal demikian tidak tepat, sehingga pernyataan spekulativ itu menjadi
beban moral seperti yang sudah dijelaskan dalam uraian terdahulu. Walaupun demikian, saya belum juga menemukan
solusi yang meyakinkan sehingga sepuluh tahun lamanya. Berbeda lagi dengan sesudah diketahui “benang merahnya”,
yaitu bahwa AFW tidak menjelaskan kesalahannya, yakni tidak menjalankan jaa uuka (Q.S.4:64), sehingga dipastikan
bahwa kapasitas AFW ketika itu adalah pemimpin yang sedang berhalangan hanya tidak diketahui bahwa beliau sudah
batal. Maka, sesuai dengan Qur’an surat An Nisa ayat 17 tadi di atas saya harus segera mengambil sikap. Artinya, jika
sudah menyadari dalam kesalahan (berspekulasi) maka harus segera menghentikannya, yaitu dengan membatalkan
penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, dan sebagai tanggung jawab saya maka saya kembali kepada posisi
sesuai dengan MKT. No.I/1994. Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya:

¢

OèO ¨bÎ) š/u‘ šúïÏ%©#Ï9 (#qè=ÏJtã uäþq¡9$# 7′s#»ygpg¿2 §NèO (#qç/$s? .`ÏB ω÷èt/ y7Ï9ºsŒ (#þqßsn=ô¹r&ur ¨bÎ)
y7/u‘ .`ÏB $ydω÷èt/ Öqàÿtós9 îLìÏm§ ÇÊÊÒÈ
‘

‘

Kemudian, Sesungguhnya Robb-mu (mengampuni) bagi orang-orang
yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya),
Sesungguhnya Robb-mu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”-(Q.16:119

.(

Allah SWT akan memberikan ampunan dari kesalahan yang karena ketidaktahuan, tetapi dengan syarat adanya
taubat. Bisa disebut taubat jika menghentikan kesalahan sesudah diketahuinya, dan kembali mengadakan perbaikan.
Artinya, tidak disebut memperbaiki jika tidak mengenyahkan perbuatan yang sudah salah. Dari itu saya membatalkan
penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW sebagai menghentikan kesalahan, kemudian saya kembali kepada
posisi dalam strutur kepemimpinan MKT. No.1/ 1994 sebagai perbaikan. Resapkan, bahwa mengharapkan ampun dari
Allah SWT tidak cukup hanya dengan mengakui adanya kesalahan, melainkan harus siap menghadapi segala resiko atau
pengorbanan akibat berhenti dari melanjutkan kesalahan, sehingga siap mengadakan perbaikan. Tawak-kaltu wa hua
Rab
-bul’arsyilazhiim.

Harga Mati

Harus diingat bahwa dalam hal kesalahan membuat redaksi sebuah maklumat, atau surat –surat keputusan maka
tentu solusinya ialah direvisi. Begitu juga adanya perubahan undang-undang dari yang semula, bisa dikembalikan lagi
dengan dekrit Imam. Apalagi hanya kesalahan dalam bentuk pengetikan yang tidak terkontrol. Hal demikian bukan
kesalahan yang fatal, sebab bisa diralat. Berbeda dengan mengikuti perintah musuh, yakni membuat makalah Pancasila,
hal itu merupakan pengakuan terhadap ideolog musuh yang jelas berlawanan dengan hukum yang tertinggi dalam Negara
Islam Indonesia, sehingga merupakan kesalahan yang paling mendasar dan fatal. Perhatikan Manifest Politik Negara
Islam Indonesia nomer V/7, yang dikeluarkan 7 Agustus 1952. Pada Bab VIII yang dalam hal Pancasila dinyatakan
antara lain bunyinya:

Adapun sendi dan dasar daripada Republik Indonesia, seperti jang sering didengung-dengungkan oleh “pemimpin-
pemimpinnja”, terutama “Presiden-nja “ialah: Pantjasila”. Satu tjampuran (alliage) daripada (1) Sintoisme Djepang,
(2) Sjirik Indonesia – animisme, dengan persembahan kepada Blorong, Dewi Sri, Dewi (Ibu) Pertiwi, d.l.l. Dewa
tjiptaan, tiada bedanja dengan persembahan kepada Dewa-Dewa Wisnu, Brahma d.l.l. ; atau “kedjawen” (heidendom),
sebuah model persembahan berhala, jang berlaku di Djawa-Tengah, (3) Hakko Itjiu, alias theori penipuan ”kema’muran
Asia Timur Raya” buatan Djepang , semasa zaman pendudukan, dan (4) Nasionalisme Indonesia djahil, jang agak
kemerah-merahan itu.

Dengan kupasan singkat diatas, — tidak mengikuti susunan dan aliran fikiran Sukarno dan kawan-kawannja (ma`af)
maka mudahlah kita dapat mengerti dan memfahami sedalam-dalamnja:
Apakah gerangan sebabnja, maka “Tuhan” ala Pantjasila itu tidak mempunyai wudjud, sifat, perbuatan d.l.l. jang tentu-
tentu baik jang “wadjib” jang “hak” maupun jang “mustahil”, “Tuhan” jang tidak ber”amar’ (memerintah) dan tidak
pula ber”nahi” (melarang); “Tuhan” jang tidak menurunkan “Nabi”-nja, atau “ utusan”-nja dan “wahju”-nja;
“tuhan” neutraal (bebas) –kah ? Jang boleh dibajangkan dan ditafsirkan oleh tiap-tiap manusia, menurut kehendak,
fikiran dan perasaannja masing-masing, walaupun oleh Manusia jang sesat, jang anti –tuhan sekalipun (seperti
komunis); ”tuhan” jang didalam ‘ilmu”kedjawen”– disebut dengan istilah ”alam suwung wangwung” (tiada sesuatu
alias kosong) ? Wal-hasil, “tuhan” ini adalah “tuhan palsu”, “tuhan” buatan manusia, “tuhan” tjiptaan Sukarno.
Lebih-lebih lagi, tampak bohong dan palsunja ‘tuhan” ala Panjasila itu, dan chijanatnja pentjipta dan pembuatnja
(Sukarno) beserta pengikut-pengikutnja, dimana “tuhan” pantjasila itu “dipersamakan”(atau didudukan sedjadjar)
dengan Tuhan dalam faham dan kejakinan Islam: Alloh Subhanahu wa Ta’ala !
Subhana–Llah ! Maha- Sutji –lah Allah ! Maha Sutji daripada tiap- tiap terkaan dan rabaan, bandingan dan buatan,
fikiran dan hitungan manusia jang manapun djuga ! Kalau diantara “pemimpin” Islam dikalangan R.I. Djakarta masih
djuga ada jang berpendapat, bahwa “tuhan” ala pantjasila itu “sama” dengan Allah didalam Al-Qur’an, maka faham
dan pendapat, kejakinan dan kepertjajaan jang serupa itu teranglah salah, sesat dan keliru semata-mata. Hendaklah
“pemimpin” Islam jang “musjrik dan memusjrikkan” itu – walaupun dengan tidak sengadja, hanja karena bodoh dan
tolol (ma’af !) belaka – segera insaf, sadar dan taubat kepada ALLah !
Sajang ! Ibadah jang dilakukan se’umur hidupnja hanjalah dihadapan dan diperuntukkan kepada “tuhan bajangan”
belaka !

Sungguh jelas bahwa pengakuan terhadap ideologi Pancasila merupakan kesalahan paling mendasar, sehingga batal
dari NII-nya adalah harga mati, sebab jika sudah membenarkan Pancasila, maka bukan lagi sebagai mujahid NII. Begitu
juga tidak menjelaskan kesalahan adalah melanggar Qur’an surat An-Nisa ayat 64 adalah kesalahan mendasar, sebab bila
tidak tobat berarti tetap masih batal. Hal demikian pun harga mati. Dari itu dalam PENJELASAN & STATEMEN
Muhammad Yusuf Thohiry tertanggal 27 September 2007, halaman 32 disebutkan “ Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu
keadaan sebenarnya sebagaimana yang dikemukakan ZH ketika di Bekasi, atau seperti tertera dalam majalah KIBLAT
tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca sekarang ini”.Tapi, mungkin saja terungkapnya
kekeliruan mengenai Nota Dinas 25 Agustus 1996 hakekatnya disebabkan penentuan nilai yang masih tersembunyi
sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Robb juga yang Maha Mengetahui sesungguhnya.”

Jadi, ditarik kesimpulannya, yakni bahwa penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, baik itu disebut tidak
sesuai maupun sesuai dengan MKT.No.11/1959, tetapi jika hal itu sudah didahului oleh AFW dengan membuat makalah
Pancasila, maka penyerahan kepemimpinan tersebut jelas batal. Dan itu harga mati !
Demikianlah sejarah estapeta kepemimpinan Negara Islam Indonesia 1996 yang sebagiannya baru diterangkan dalam
pendahuluan ini.

——————————–

KESIMPULAN – KESIMPULAN JAWABAN

ميحرلا نمحرلا لا مسب

Uraian pendahuluan yang sudah dikemukan tadi di tadi merupakan sebagian jawaban dari saya terhadap
tanggapan dari yang mengakukan namanya Ridwan Al Washil[19] terhadap Penjelasan dan Statemen Muhammad Yusuf
Thohiry Tentang Estapeta Kepemimpinan NKA-NII Tahun 1996. Hanya, jawaban tersebut dalam format sejarah yang
mengikuti alur waktu kejadiannya. Adapun yang akan dikemukakan selanjutnya yaitu beberapa jawaban dalam format
yang terperinci guna memperjelas apa yang sudah dituturkan dalam pendahuluan, atau untuk menjawab beberapa hal yang
belum didapat dalam uraian pendahuluan. Seperti berikut di bawah ini:
1.Sesudah MYT memastikan diri barro maka mendatangi Pak Zaenal Hatami. Pertama kali yang saya tanyakan
kepada beliau,”Apakah Pak Zaenal masih ingat bahwa setelah Pak Fattah (AFW) tertangkap (1991) bapak datang
ke Bandung, mengadakan pertemuan di dalam mobil angkot ?” Jawab beliau:”Ya.” Ditambah lagi olehnya; Tiga
hari sesudah Pak Fattah tertangkap, datang Tarmiji ke sini memberitahukan bahwa Pak Fattah tertangkap, dan
bapak harus segera pergi ke Bandung bermusyawarah. Sebelum MYT bertanya tentang hasil musyawarahnya, Pak
Zaenal mengatakan, ”Musyawarah itu diadakan di dalam angkot, tapi tidak selesai maka saya pulang dulu ke
Jakarta. Malam selanjutnya diadakan kembali musyawarah mengangkat Pak Soma (MYT) sebagai pengganti Pak
Fattah dan membaiatnya.” Sebelum saya menceritakan mengenai kekeliruan dalam hal penyerahan kembali
kepemimpinan kepada AFW, rupanya beliau sudah mengetahuinya dari Abu Shofa. Kepada Pak Zaenal Hatami
saya menjelaskan posisi Imam SM Kartosoewirjo sewaktu berhalangan dan kepemimpinannya dipegang oleh
Sanusi Partawidjaja berbeda dengan posisi AFW sewaktu ditangkap musuh, 1991. Jadi, ditinjau diri undang-
undang, maka penyerahan kembali kepada AFW itu tidak tepat dengan undang-undang. Dalam kesempatan itu
saya menceritakan pula kepada Pak Zaenal Hatami tentang perkataan beliau ketika di Bekasi Tahun 1997,”
Bahwa AFW telah membuat makalah mengenai Pancasila, setiap tahanan politik tidak akan dibebaskan tanpa
menandatangani mengenai kesetiaan terhadap Pancasila.” Dan banyak yang saya kemukakan kepada beliau,
begitu pula banyak yang dikemukakan oleh beliau kepada saya. Singkatnya dari pembicaraan dengan Pak Zaenal
Hatami, tidak menyanggah apa yang dikemukakan oleh saya.
Akhirnya, saya mengatakan kepada beliau,”Bapak ini sekarang sudah lanjut usia, sedangkan saya memerlukan bapak
sebagai saksi sejarah.” Pak Zaenal Hatami mengomentarinya,”Ya, benar dan banyak teman yang seusia saya sudah
meninggal dunia.” Kemudian MYT bertanya kepada beliau, ”Adakah bapak bersedia menjadi saksi secara tertulis
mengenai musyawarah pengangkatan saya sebagai pengganti Pak Fattah sebagaimana yang tadi dikatakan oleh bapak ?”
Jawab beliau:”Ya, bersedia.” Kemudian beliau mengingat-ingat nama-nama yang ikut bermusyawarah Tahun 1991 itu.
Beliau mengatakan,” Ingat terhadap wajah semuanya, tapi hampir ada yang lupa namanya.” Kemudian beliau
menyebutkan satu per satu namanya, dan meminta saya untuk mengoreksinya, jika ada yang salah. Selanjutnya beliau
menyuruh MYT datang kembali seminggu kemudian sesudah hari itu agar beliau leluasa membuat redaksinya.
Seminggu sesudah itu saya datang kembali mengambil surat kesaksian dari beliau sesuai dengan janjinya. Surat kesaksian
tersebut tertanggal, 1 Juli 2007. Pada waktu itu Pak Zaenal Hatami tidak menolak sikap yang dilakukan MYT. Jadi, jika

pada pertemuan tahunan beliau menangis tersedu- sedu menyesali sikap saya, tentu hal itu hanya karena sesudah adanya
propokasi yang menyudutkan MYT, sehingga beliau memperoleh informasi dari sebelah pihak. Jelas sekali guna bisa
memojokkan MYT, maka pada pertemuan yang biasanya tidak diundang, tapi pada pertemuan 2007 itu banyak yang
diundang, guna memagar MYT dengan informasi sebelah pihak. Bagi saya tidak heran bila ada seseorang yang berubah
sikap karena terpengaruhi oleh provokasi dari pihak yang menyudutkan saya, atau karena faktor lain yang
mempengaruhinya, sebab pernah terjadi seorang panglima tertinggi pun bisa berobah sikap, dengan memutarbalikkan
fakta sejarah guna memojokkan lawannya. Hanya dalam jawaban ini saya mengingatkan kepada semua mujahid
NII,”Tidak ada artinya membuat provokasi agar orang lain tersudutkan, sebab bila di dunia tidak ada rekamannya maka di
Akhirat semuanya akan diperlihatkan dan dipertanggungjawabkan dari semua yang sudah diucapkan.
Semenjak saya mengetahui adanya Al-Qur’an yang memerintahkan jangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu yang tidak kamu
ketahui (Q.S.17:36), maka saya tidak pernah taqlid buta terhadap seseorang tokoh atau figur. Artinya, tidak seluruh yang
dikemukakan oleh seseorang figur itu harus dijadikan barometer untuk diikuti tanpa berdasarkan ilmu. Contohnya, pada
Tahun 1967 saya sering menerima kuliah dari para tokoh bertaraf nasional, seperti halnya Muhammad Roem, Kasman
Singodimedjo, Burhanuddin Harahap, Prawoto Mangkusasmito, Saleh Suaidi, Syafrudin Prawiranegara, Muhammad
Natsir dan banyak lagi yang lainnya, setelah mereka bebas dari tahanan politik pada jaman Sukarno. Banyak manfaatnya
yang saya ambil dari para tokoh itu. Tetapi tidak setiap perkataan atau sikap mereka dijadikan rujukan, melainkan
barometernya ialah ilmu yang saya nilai tidak bertentangan dengan AL-Qur’an dan Sunnah Nabi s.a.w.. Saya pernah
mengagumi Muhammad Natsir, karena mendengar ucapan-ucapannya yang memberi semangat kepada saya, sehingga
pada Tahun 1967 tatkala beliau berangkat ke Mesir, saya bersama K.H. Ahmad Azhari dan dua teman bangku kuliah,
Munir dan Rodji ikut mengantar ke Pelabuhan Udara Kemayoran. Hal itu karena simpati saya terhadap beliau, namun
demikian tidak semua sikap dan jejak atau kalimat yang dilontarkannya itu dijadikan pedoman tanpa saringan ilmu.
Begitu juga saya mengikuti jejak perjuangan SM Kartosoewirjo hal itu bukan karena figur beliau, tetapi berdasarkan
ilmu, yakni perjuangan yang dilakukan beliau sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabis.s.a.w.
Soekarno dan Suharto pun, keduanya menjadi orang besar, karena pada keduanya itu ada keunggulan yang harus diakui
serta diambil contoh, baik itu yang dalam bentuk perbuatan maupun dalam perkataan, yakni yang baiknya diambil dan
yang salahnya dienyahkan. Sesuai dengan ayat yang bunyinya:
tûïÏ%©!$# tbqãèÏJtFó¡o„ tAöqs)ø9$# tbqãèÎ6Fusù ÿ¼çmuZ|¡ômr
‹

& 4 y7Í´¯»s9′ré& tûïÏ%©!$# ãNßg1yyd ª!$#

‰

( y7Í´¯»s9′ré&ur öNèd (#qä9′ré& É=»t7ø9F{$# ÇÊÑÈ

“Mereka yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. mereka Itulah orang-
orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
(Q.S.39:18).
[1311] Maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang
diikutinya ialah ajaran-ajaran yang sesuai dengan Al Quran karena ia adalah yang paling baik.
Saya sudah mengikuti kepemimpinan Abdul Fattah Wirananggapati sejak Tahun 1987 bukan karena figurnya, tetapi sebab
beliau pemegang estapeta kepemimpinan NII pasca SM Kartosoewirjo berdasarkan ilmu yang didapati. Saya mentaati
beliau sesuai dengan baiat. Akan tetapi, manakala beliau bersikap tidak sesuai dengan syariat maka sikapnya itu wajib
ditolak. Negarawan sekaliber apapun orang menamakannya, tetap saja sebagai manusia tidak sempurna. Bisa saja yang
tadinya memiliki pengaruh karena sebagai pemimpin, tatkala jatuh dari posisinya, maka berbalik arah sehingga yang
tadinya mempertahankan Proklamasi NII, 7 Agustus 1949 menjadi kembali kepada Proklamasi 1945. Apakah itu sikap
dari negarawan yang harus diteladani ? Jelas tidak! Sebaliknya dari itu, yang harus dicontoh ialah Khalid bin Walid,
jendral yang termashur dengan berkali-kali memimpin perang di berbagai daerah, dikenal sebagai ahli strategi perang.
Namun, tatkala kedudukannya diturunkan menjadi prajurit, beliau tidak kebakaran jenggot. Begitulah berjihad yang
diniati ibadah, sehingga tidak membuat agitasi atau propokasi terhadap ummat guna membela kedudukannya. Beliau juga
tidak kembali kepada pemeritah Thogut.
Sebagai mujahid Negara Islam Indonesia, yang hukum tertingginya ialah Al-Qur’an dan Hadits Shohih, maka harus
menolak berdasarkan ilmu, dan menerima juga berdasarkan ilmu (perhatikan Q.S.17:36). Dari itu semangat juangnya
tidak akan luntur dengan disebutkan adanya linangan airmata dari siapapun, sebab rujukannya ialah Al-Qur’an dan
Hadits Shohih, dan bukan melihat seorang tokoh yang menangis tersedu- sedu !
1.Sebelum saya menulis penjelasan dan statemen yang tertanggal 27 September 2007, jauh beberapa bulan
sebelumnya saya sudah mengajak anda (penulis tanggapan), baik itu via telepun maupun pesan kepada yang sering

berhubungan dengan anda di Bekasi untuk datang ke Jawa. Tentu, saya mengharap bertemu dengan anda itu agar
saya bisa bertukar pikiran. Namun, sesudah anda tiba di Jakarta yang hari berikutnya tiba di daerah asal
berdomisili anda, saya yang mendatangi anda. Pada waktu itu pertemuan dengan anda buntu, karena waktu anda
sempit tapi anda tidak menjanjikan waktu lain untuk bisa berdikusi dengan saya, padahal anda tahu bahwa
persoalan yang saya hadapi adalah persoalan yang krusial. Ketika itu saya tidak melihat tanda bahwa anda
berkeinginan melanjutkan bertukar pikiran atau dialog dengan saya dalam hal persoalan yang saya kemukakan
kepada anda. Hal demikian dari kesimpulan beberapa kalimat yang anda lontarkan ketika itu di antaranya:
1) Sudah lama, dulu tidak dipermasalahkan.
2) Estapeta kepemimpinan ini sudah disebarkan dari Swedia.
3) Nanti Uwa[20] dianggap tidak berkompetensi.
4) Tidak akan ada yang bertanya tentang itu, nanti juga ditelan masa kecuali orang yang gillan. Susah sih kalau yang
sudah gillan.
Penjelasannya yaitu:
1.Saya mengemukakan bahwa telah terjadi kesalahan dalam berijtihad. Adapun komentar anda, “Sudah lama” .
Maknanya, disebabkan sudah lama {sepuluh tahun), maka tidak usah dibahas, atau dimusyawarahkan. Sedangkan
bagi saya, bila kesalahan dibiarkan maka akan bertambah lama dari sebelumnya, mungkin menjadi puluhan tahun
sehingga kita terburu tutup usia, sehingga pula mewariskan kepada anak cucu / generasi mendatang.
1.Anda mengatakan, “Ini (estapeta kepemimpinan) sudah disebarkan dari Swedia”. Artinya, bahwa kesalahan jika
sudah menyebar tidak boleh diralat, sehingga tidak perlu dimusyawarahkan. Padahal yang dituju oleh mujahidin
NII adalah Mardhotillah, sedangkan syaratnya adalah berada dalam jalan yang benar, dan ukuran benar itu
bukanlah karena sudah disebarkan dari Swedia. Melainkan, jika sesuai dengan Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
1.Ketika saya mengharapkan masalah supaya dibahas / dimusyawarahkan, anda mengatakan,”Nanti Uwa dianggap
tidak berkompetensi”. Padahal bagi saya dan tentu bagi semua yang berjihad lilaahi Ta’ala lebih baik dianggap
bodoh daripada membiarkan kesalahan terus berlanjut. Penilaian apapun dari manusia di dunia hanya sementara
dibanding menghadapi hisaban di Akhirat yang abadi. Apapun yang terjadi pada diri akhirnya ke lobang kubur
juga.
1.Ketika saya bertanya kepada anda;”Bagaimana jika nanti (suatu saat) ada yang bertanya tentang apa jabatan AFW
( ketika MYT menyerahkan kepemimpinan kepada AFW) ?” Anda menjawab; ”Tidak akan ada yang bertanya
tentang itu, nanti juga ditelan masa kecuali orang yang gillan. Susah sih kalau yang sudah gillan”! Kalau
memang anda bersedia bertukar pikiran dengan saya, tentu anda tidak akan berkata demikian, sebab jawaban anda
itu mengekpresikan anda Su’udhon terhadap orang yang bertanya. Allah Yang Maha Mengetahui bahwa
pertanyaan seperti itu pernah mengganjal pikiran saya, sebab pernah ada yang bertanya kepada saya, dan ketika itu
saya tidak bisa menjawabnya. Bagi saya hal itu tidak mau terulang lagi, sebab bagi pelaku sejarah harus ada
kepastian dalam menjawab. Juga, saya yakin bahwa yang bertanya kepada saya tentang hal itu ingin kejelasan dan
bukan gillan. Sebelum barro dari estapeta kepemimpinan pasca penyerahan dari MYT kepada AFW, saya benar-
benar gamang untuk menjawab pertanyaan seperti yang disebutkan tadi di atas. Keraguan dalam hal itu berkaitan
dengan kasus AFW sudah terlebih dulu membikin makalah Pancasila. Seandainya AFW tidak membikin makalah
Pancasila, saya tidak binggung menjawabnya. Namun demikian, sesudah barro maka saya bisa dengan pasti
menjawabnya. Yaitu, sewaktu kepemimpinan dari MYT diserahkan kepada AFW, maka kapasitas AFW sebagai
pemimpin yang sedang berhalangan, hanya ketika itu tidak diketahui bahwa beliau sudah membuat makalah
Pancasila sehingga tidak diketahui batalnya ! Sesudah MYT mengetahui serta menemukan solusinya maka saya
barro dari estapeta kepemimpinan pasca penyerahan tersebut tadi.
1.Ketika anda ditanya:”Bagaimana kalau hal ini ditulis ? Anda menjawab; ”Silahkan paling juga nanti ada
tanggapan seperti yang pernah dilakukan terhadap tulisan Sonhaji Badrujaman, sehingga menjadi wawasan bagi
ummat ”! Jawaban anda itu sama dengan menyetujui bahwa saya menuliskan permasalahan tanpa terlebih dulu
didiskusikan dengan anda dan yang lainnya, melainkan anda sudah siap berpolemik menghadapi tulisan saya.
Tapi, mengapa anda menuding saya tidak terlebih dulu mendiskusikan atau memusyawarahkan persoalan yang
sedang saya hadapi ?

Sudah saya perhitungkan bahwa anda adalah orang yang paling depan dalam menghadapi sikap saya. Dari itu takala anda
membatalkan niat akan datang ke tempat saya, maka saya yang datang ke tempat anda. Dengan itu berarti saya yang ingin
berdiskusi dengan anda ! Tatkala anda datang ke Jawa, sempat berceramah di beberapa tempat, tetapi kenapa tidak bisa
menyempatkan waktu khusus untuk mendiskusikan persoalan yang anda katakan sebagai persoalan besar ? Sesudah saya
pulang dari tempat anda, kemudian saya menemui Pak Kiayi. Lalu saya memperoleh informasi darinya bahwa
permasalahan yang saya ajukan supaya dibahas ternyata ditutup dan harus dirahasiakan. Adapun Pak kiayi tetap
mengajukan supaya dibahas dan orangnya dipanggil supaya menjelaskan. Usulan dari kiayi itu ditolak dengan
perkataan,”Kalau begitu Pak Kiayi membela Pak Tohir “ ! Lalu Pak Kiayi menjawab; ”Bukan membela, tapi supaya
persoalannya jelas”! Informasi dari kiayi itu sungguh relevan dengan apa yang anda katakan, yang mana anda pun hadir
dalam pertemuan bersama Pak Kiayi. Tegasnya, kebohongan belaka bagi yang mengatakan bahwa pembahasan ditunda
dan saya akan dipanggil ! Sebab, kalau ditunda maka tidak akan ada kalimat, “Bahwa Pak Thohir sedang lemah iman,
lagi ngelantur, jangan didengar. Padahal sebelum saya mengambil sikap barro, saya mengharapkan dipanggil jika masalah
yang diajukan itu akan dibahas. Tetapi, jika dipanggilnya sesudah saya barro, maka pemanggilan itu sungguh terlambat !
Alias sia-sia ! Sebab, jika saya sudah barro, maka atasan anda tidak berhak memanggil saya, dan saya pun berhak tidak
memenuhi panggilan atasan anda. Soal siapa yang terlebih dulu tidak mau berdiskusi perhatikan ayat yang bunyinya:

¼ *

çny‰YÏãur ßxÏ?$xÿtB É=ø‹tóø9$# Ÿw !$ygßJn=÷ètƒ žwÎ) uqèd 4 ÞOn=÷ètƒur $tB †Îû Îhy9ø9$#

Ž

Ìóst7ø9$#ur 4



$tBur äÝà)ó¡n@ `ÏB >ps%u‘ur wÎ) $ygßJn=÷ètƒ

ž

Ÿwur 7p¬6ym ’Îû ÏM»yJè=àß ÇÚö‘F{$# Ÿwur 5=ôÛu‘ Ÿwur C§Î/$tƒ
žwÎ) ’Îû 5=»tGÏ. &ûüÎ7•B ÇÎÒÈ

“Dan di sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui
apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur tentu diketahui-Nya juga. Tidak sebutir – biji
pun yang tersembunyi dalam gelap gulita di bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, yang tidak tertulis
dalam kitab Lauhul mahfuzh.” – (Q.S.6:59).

1.Semenjak dulu sudah saya rasakan, kerap kali adanya tuduhan terhadap kelompok atau pihak yang tidak disukai
dengan menuduhnya sebagai orang orang yang dibuntuti intellijen, dan pihak yang menuduhnya pun dituduh pula
oleh pihak yang dituduh itu sebagai pihak yang telah disusupi intelijen. Padahal setelah diamati bahwa tuduhan
koloni kelima terhadap pihak lain itu sekedar karena ketakutan kalau- kalau ada ummat yang terpengaruh oleh
kelompok lain lalu belot dari kelompoknya. Jelasnya, bahwa menuduh seseorang sebagai koloni kelima dengan
tidak ada bukti, merupakan benteng agar para pengikut dari pihak yang menuduh itu tidak berbelot dari
kepemimpinannya. Sehingga tidak disadarinya bahwa tuduhan koloni kelima tanpa bukti merupakan fitnah. Ada
lagi figur pimpinan yang ketakutan anak buahnya berbelot darinya, sehingga mengemukakan hal-hal yang tidak
menyentuh pada persoalan dalam perbedaan persepsi. Sungguh, kebiasaan buruk dari beberapa pendahulu itu kini
harus ditinggalkan !
Pada awal Tahun 1990-an sewaktu saya berada di luar Pulau Jawa pernah mengatakan, bahwa di antara kelompok
mujahidin NII telah terjadi saling mencurigai, karena diantara mereka belum kenal mengenal secara dekat, melainkan
sudah didahului dengan kecurigaan, yakni dengan anggapan bahwa kelompok selainnya itu telah disusupi intelijen. Pihak
yang menuduh merasa bersih karena didalamnya sudah terjalin saling kenal mengenal, tetapi oleh kelompok lain tetap
dituduh tidak bersih karena kelompok lain itu tidak mengenalnya secara dekat. Jadi, terjadinya saling mencurigai itu
karena tidak adanya jalinan silaturahmi diantara pimpinan kelompok. Suatu waktu saya terpeleset dengan berkata, bahwa
kelompok anu disusupi intelijen. Seorang yang telah mendengarkan perkataan saya terdahulu itu, langsung mengingatkan
saya jangan begitu, mungkin hal itu karena kita tidak mengenal mereka, dan mereka juga menuduh kita karena tidak
mengenal kita. Dengan teguran darinya maka saya menerimanya.
Namun, sungguh ironis bahwa yang dahulu pernah mengingatkan saya, kemudian menuduh kepada pihak lain sebagai
koloni kelima, sedang sudah sekian lama mengenal bahkan sering duduk bersama dengan mereka, dan tidak ada bukti
sebagai koloni kelima, melainkan hanya karena perbedaan pemikiran. Apakah sanggup bertanggungjawab di Hadirat
Rabb, bila menuduh seseorang atau kelompok sebagai Koloni Kelima yang harus diwaspadai sedang tidak ada buktinya ?
Perhatikan ayat ayat mengenai tercelanya bagi suka berkata dengan prasangka. Padahal dalam penilaian Allah SWT,
mungkin yang dituduh itu akan lebih baik daripada yang menuduh. Perhatikan ayat yang bunyinya:

$

pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„



×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #Zöyz

Ž  öNåk÷]ÏiB

Ÿwur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3tƒ #Zöyz

Ž  £`åk÷]ÏiB ( Ÿwur (#ÿrâ“ÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& Ÿwur (#râ“t/$uZs?
É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôœew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y‰÷èt/ Ç`»yJƒM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGtƒ y7Í´¯»s9′ré’sù ãNèd
tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi
yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya,
boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil
dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan ialah sebutan:”Hai orang fasik !” , sesudah
iman[1410. Dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” –
( Q. S.49 Al-
Hujurat:11).
[1409] Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin
seperti satu tubuh.
[1410] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang
sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
Dari ayat itu silahkan merenungkan sebutan “Fasik” dengan istilah “Koloni Kelima” atau “ Intelijen musuh.
1.Penilaian bahwa estapeta kepemimpinan yang didasari MKT. No.IV/1996 adalah kesatuan ummat yang kokoh itu
hanya penilaian dari pihak yang bersikukuh berusaha mempertahankannya. Sebaliknya dari itu bagi yang sudah
memahami bahwa Dewan Imamah yang tertera dalam MKT. tersebut tadi itu diangkatnya oleh AFW yang terlebih
dulu membuat makalah Pancasila, maka dirasakan cepat atau lambat pada akhirnya tidak bisa dipertahankan oleh
mujahid yang benar benar konsisten kepada dasar hukum Negara Islam Indonesia. Bila beberapa tahun yang lalu
estapeta kepemimpinan tersebut tadi masih bisa dipertahankan, hal itu karena beberapa tahun pula lembaran
dokumen wawancara AFW dalam Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996, halaman 26 telah menghilang
sehingga banyak ummat yang menyangka bahwa batalnya AFW itu sesudah beliau wawancara dengan Majalah
tersebut. Padahal sebenarnya batalnya itu sebelum AFW mengangkat Dewan Imamah sehingga Dewan Imamah
yang tertera dalam MKT. No.4/1996 itu pun tidak sah. Hal demikian sebagaimana dikatakan oleh AFW kepada
Pak Kasid (alm) dan Pak Ali Mahfudz ketika beliau meminta lembaran yang ditandatanganinya itu dikembalikan;

“Ditandatanganinya oleh yang sudah batal berarti tidak sah, daripada begitu sudah saja ditarik lagi, buat apa
disimpan”[21].
Mari kita perhatikan pernyataan AFW yang dimuat dalam Majalah UMMAT tadi;”Waktu mau
dibebaskan dari penjara, saya mesti bikin makalah. Lalu saya jelaskan bahwa butir-butir Pancasila itu berasal
dari Qur’an. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dan seterusnya, jelas ada
ayatnya dalam Qur’an. Tidak setiap orang yang ber-Pancasila itu Muslim, tapi tiap Muslim sudah pasti ber-
Pancasila”.

Semua ummat Negara Islam Indonesia menyatakan bahwa dengan pernyataan AFW sedemikian itu, membuat AFW batal
dari NII-nya, berarti Dewan Imamah yang diangkat sesudah AFW bebas dari penjara (1996) itu pun tidak sah. Sudah
sekian tahun lamanya saya mempertahankan legalitas kepemimpinan Ali Mahfudz, dengan cara menyatakan baik itu
dengan lisan atau tulisan bahwa posisi AFW ketika membuat makalah Pancasila sebagai ummat sehingga boleh
bertaqiyah. Tetapi, pertahanan seperti itu akhirnya ambruk. Sebab, dari seorang pemimpin (AFW) bila kemudian
menjadi ummat karena kesalahannya maka harus terlebih dulu melakukan jaa uu ka (Q.S.4:64), jika tidak demikian bukan
ummat NII. Bisa saja ada yang menyerang saya (MYT) dengan retorika penulisan yang dibubuhi oleh ayat-ayat Qur’an
dan Hadits, sebab RI (kaum pancasilais) pun bisa menggunakan beberapa ayat Qur’an dan Hadist dalam perjuangan
mereka guna menyerang NII. Akan tetapi, harus diingat bahwa garis pemisah antara NII dengan RI yaitu bahwa hukum
yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Qur’an dan Hadist Shohih, sedangkan RI berdasarkan Pancasila.
Dari itu eksistensi kepemimpinan yang didasari pengangkatan oleh yang sudah bikin makalah Pancasila maka tidak bisa
dipertahankan legalitasnya dengan retorika dalam bentuk apapun.
1.MYT pernah tidak sejalan dengan mereka yang pada waktu itu disebut kelompok F T R[22], karena pada waktu
itu saya menganggap mereka memaksakan kehendak yakni harus kembali kepada sistem komandemen dengan
membatalkan MKT. No.7 b. Akan tetapi, waktu itu saya belum begitu dekat dengan mereka dibanding kedekatan
dengan sahabat-sahabat terdahulu, sehingga belum merasakan benarnya sikap atau pemikiran dari mereka itu lebih
benar daripada saya. Adapun kemudian sesudah saya menjalani aktivitas dalam koridor MKT. No.7b, maka

dirasakan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga tidak efektiv, dan dirasakan pula bertentangan dengan
semangat perlawanan dalam gerilya terhadap musuh. Dengan hal itu saya menyadari bahwa pandangan dari
mereka yang menginginkan kembali kepada sistem komandemen itulah yang benar. Lebih meyakinkan dari itu
sesudah lama saya terjun mengamati aktivitas mereka secara nyata di lapangan dengan menggunakan sistem
komandemen, serta mentabayunkan semua yang telah terjadi maka hilang perasaan negativ terhadap mereka. Hal
demikian sesuai dengan pepatah dari Lembah Nil ”Zur gibban tazdad hubban”, yang maksudnya berkunjunglah
kepada yang sudah lama tidak diketahui, niscaya dengan itu akan menambah kecintaan.
Sewaktu mereka masih menamakan FTR, mereka masih mengakui kepemimpinan Ali Mahfudz sebagai Imam.
Dengan demikian mereka sungguh terkejut, ketika mendengar kabar bahwa saya membatalkan penyerahan kepemimpinan
dari MYT kepada AFW. Dari hal itu mereka segera meminta penjelasan dari saya tentang dasar hukumnya, sehingga
terjadi dialog yang panjang. Pada awalnya mereka tidak sependapat dengan saya, mereka mengemukakan beberapa
argumentasi. Meskipun mereka waktu itu belum sepandangan dengan saya, serta sangat keberatan dengan sikap saya,
namun terus penasaran serta tidak bersikap apriori, melainkan terus mengkaji ulang terhadap apa-apa yang sudah
dijelaskan kepada mereka, sehingga pertemuan bukan sekali, melainkan berkali-kali.
Sesuatu yang meyakinkan mereka sehingga membenarkan sikap saya. Yaitu, setelah mereka paham bahwa sebelum saya
menyerahkan kepemimpinan kepada Abdul Fattah Wirananggapati tanggal 25 Agustus 1996, saya tidak mengetahui
bahwa AFW sudah membuat makalah Pancasila, tetapi diketahui setelah membaca Majalah UMMAT, tebitan 9 Desember
1996 pada halaman 26. Juga proses penandatanganan lembaran MKT. No.IV/ 1996 sesudah berhari-hari dari
terungkapnya wawancara AFW mengenai Pancasila dalam majalah tersebut. Dari sejarah itu mereka mengambil
kesimpulan, yaitu bahwa Dewan Imamah yang terangkat tanggal 28 September 1996 juga tidak sah, karena diangkatnya
oleh AFW yang terlebih dulu membikin makalah Pancasila. Sehingga semua produk undang- undang yang didasari MKT.
No IV/1996 tidak sah. Mereka memahami bahwa pengakuan terhadap Pancasila merupakan kesalahan yang paling
mendasar, yakni bila mengakui Pancasila berarti bukan NII, melainkan RI.
Saya wajib menerima mereka yang ingin berbaiat menyatakan kesetiaan kepada saya. Perhatikan ayat yang bunyinya:

$

pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqçRqä. u‘$|ÁRr& «!$# $yJx. tA$s% Ó|¤ŠÏã ßûøó$# zNtƒótB

 z`¿ÎiƒÍ‘#uqysù=Ï9
ô`tB ü“Í‘$|ÁRr& ’n<Î) «!$# ( tA$s% tbq•ƒÍ‘#uqptø:$# ß`øtwU â‘$|ÁRr& «!$# ( MuZtB$t«sù ×pxÿͬ!$©Û .`ÏiB û_Í_t/
Ÿ@ƒÏäÂuóŽ Î) Ntxÿx.ur ×pxÿͬ!$©Û ( $tRô‰


ƒr’sù tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä 4’n?tã öNÏdÍir߉tã (#qßst7ô¹r’sù tûïÌÎg»sß



ÇÊÍÈ

“ Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata
kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan
agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan
dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. “
– (Q.S. 61:14).

Dengan ayat itu jelas sebagai pemimpin, saya harus menerima mereka yang menyatakan setia, dan saya tidak perlu
menunggu pihak yang tidak menyukai sikap saya. Sebab, dari ayat tersebut di atas diambil arti bahwa yang menentang
kepemimpinan akan selalu ada sesuai dengan wawasan yang dimilikinya, bahkan menentang sesuai dengan niat dan
kepentingannya.
1.
1.Sesudah saya bersilaturrahmi dan melihat langsung perjalanan mereka yang tidak menggunakan MKT.
No.7b maka jalannya perjuangan pas sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam hal itu saya bertanya
kepada mereka, ”Mengapa FTR dalam pernyataannya seolah –olah memaksakan kehendak, dengan
mengultimatum Dewan Imamah, jika tidak kembali kepada MKT. No.11/1959, yakni tidak kembali kepada
sistem komandemen, maka kami akan mengorganisir diri. Pertanyaan saya itu dijawabnya,” Sebab sudah
diprediksikan bahwa MKT.No.7b itu tidak laku jual ! Terhadap jawaban sedemikian saya
membenarkannya, sebab saya pun sebelum barro dari kepemimpinan Ali Mahfudz, merasakan hal
demikian, yakni ketika mendatangi kelompok lain, saya pernah disindir dengan pertanyaan, “Sudah sampai
dimana mimpi itu ?” Setelah lama berbicang –bincang maka saya dapat menyimpulkan bahwa yang

menggunakan MKT. 7 b telah dinilai oleh pihak lain itu sedang dibawah pemerintahan dalam mimpi.
Banyak juga yang menyindir sedang memakai baju kegedean yang semestinya tidak patut dipakai.
Dalam hal apa yang tertera dalam MKT. No.7 b Saya pernah menjawab, dengan mengatakan bahwa itu merupakan
konsep atau persiapan bilamana kemudian defakto. Jawaban demikian dianggap tidak masuk akal karena bila sekedar
konsep persiapan, maka tidak perlu dijadikan undang- undang, sebab jika sudah menjadi undang-undang maka jabatan-
jabatan yang dicantumkan dalam MKT.No.7b yang jumlahnya ribuan itu harus diisi, sedangkan ummat (rakyat)nya saja
belum sebanyak jumlah jabatan yang dicantumkan dalam undang tersebut. Lazimnya pemerintahan maka jumlah
rakyatlah yang sangat lebih banyak daripada para pejabat. Apalagi ketika disebutkan adanya Direktorat Jenderal Radio,
Televisi dan Film, Direktorat Pariwisata, Direktorat Jenderal Angkatan Perang Amerika, dan sebagainya, maka ada yang
berkata , “Pemancar radio dan televisinya juga engga ada”. Saya tidak bisa menolak disebut memakai baju kegedean, bila
dalam keadaan yang boleh dikatakan ngumpet- ngumpet tapi sudah ada Dirjen Angkatan Perang Amerika. Bahkan ada
yang mengatakan sebagai “Kaburo maktan (Q.61:3). Dan saya tidak bisa membantahnya.
Untuk menjabat sebagian dari Dirjen-Dirjen yang dicantumkan dalam MKT. No7b di atas tadi, membutuhkan
pengalaman dan keahlian bahkan harus melalui pendidikan bertahun-tahun. Dengan itu bisa direnungkan seandainya tiba-
tiba terjadi revolusi pisik, lalu musuh menyerah apakah mesti semua jabatan dipegang oleh yang bukan ahlinya,
sedangkan sebelum itu Dirjen yang tidak berpengalaman atau tidak berpendidikan sudah mengisi jabatan sebagaimana
dalam MKT. tersebut di atas tadi ?
Kesimpulannya, bahwa mereka (FTR, waktu itu ) memaksakan supaya kembali kepada sistem komandemen, karena
MKT. No. 7b tidak sesuai dengan situasi dan kondisi negara berjuang, sehingga tidak laku jual terhadap para mujahid
yang sudah lama memahami makna fi waktil harbi. Sebab, pada jaman Imam Awal yang sudah memiliki pasukan
bersenjata berjumlah dua puluh ribu di Jawa Barat menggunakan sistem Komandemen. Jepang pun bisa menguasai
Indonesia, tidak mendahulukan Dirjen-Dirjen dijabat oleh bangsa Jepang, melainkan kekuatan Komandemen militer yang
didahulukan.
1.Boleh- boleh saja kalau ada orang yang menganggap saya sebagai rakyat. Akan tetapi, saya sebagai diantara
pelaku sejarah dan mengevaluasi sejarah maka berhak menyatakan atau menilai ada kesalahan dalam sejarah.
Juga, berhak menyatakan kembali kepada yang benar. AL Qur’an mensitir bahwa kewajiban seseorang mengambil
sikap dengan ilmu tidak dibatasi oleh jabatannya. Selain dari itu bahwa seseorang ditentukan mengenai jabatannya
tidak terlepas dari sistem atau perundang undangan yang diakui olehnya. Sebelum saya membatalkan penyerahan
kepemimpinan dari MYT kepada AFW, sudah terlebih dulu barro sebagaimana anda dengar langsung dari saya
via telepun, setelah anda mendengarnya dari orang lain. Juga, bagi yang sudah mengetahui bahwa Dewan Imamah
yang tertera dalam MKT. No. IV/1996 itu diangkat oleh AFW yang sudah membuat makalah Pancasila, tentu bisa
menilai yakni bila AFW-nya dianggap batal dari NII maka Dewan Imamah hasil pengangkatannya juga tidak sah,
jabatan-jabatan serta undang- undang produk darinya juga tidak sah. Pertanyaannya: ” Dari undang-undang yang
mana anda menilai saya sebagai rakyat ?” Justru, tidak mengerti kalau saya terus disebut sebagai pejabat tinggi
(Wakil Imam) NII, sedangkan surat pengangkatannya (MKT.No.IV/1996 ditandatangani oleh yang sudah bikin
makalah Pancasila.
Hukum Tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Qur’an dan Hadits Shohih. Adapun Republik Indonesia dasarnya
Pancasila, maka sangat ironis apabila pejabat NII diangkat oleh yang sudah bikin makalah Pancasila. Silahkan baca
kembali dengan seksama lembaran Majalah UMMAT halaman 26, terbitan 9 Desember 1996, yang dilampirkan pada akhir
buku jawaban ini.
1.Hakim diluar koridor legalitas. Artinya, jika Dewan Imamah-nya atau MKT. No. IV/1996 tidak sah, maka hakim
yang diangkat berdasarkan itu juga tidak sah. Dengan tidak sahnya itu maka tidak sah pula dalam keputusannya.
Dan saya sudah barro maka berhak bersikap sesuai dengan yang saya yakini. Artinya, bahwa saya membatalkan
penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW tidak boleh menunggu hakim produk pengangkatan yang
didasari oleh MKT. tersebut tadi. Atau dalam arti lain saya tidak harus menunggu siapapun yang tidak mau
kembali kepada struktur kepemimpinan dalam MKT. No.I/ 1994.
1.Kembali kepada strutur kepemimpinan sesuai dengan MKT. No I/1994 bukan bermaksud memecah belah jamaah,
tetapi hal itu justru guna kembali memperkokoh persatuan, sebab bersatunya NII bila terlepas dari nilai kompromi

dengan ideologi musuh sehingga memiliki dasar hukum yang kuat sehingga pula optimis. Karena, jika suatu
kepemimpinan tanpa didasari hujah yang kuat, maka cepat atau lambat akhirnya akan bubar.
Disebabkan anda menuduh saya memecah belah ummat, maka saya ulas kembali mengenai penyebab sepuluh tahun lebih
tidak mengemukakan sejarah proses penandatanganan MKT. No.IV/1996. Yakni, sejak saya tahu dari Majalah UMMAT
terbitan 9 Desember 1996 halaman 26 bahwa AFW tatkala akan bebas dari penjara ( 2 Agustus 1996) telah bikin makalah
Pancasila, sejak itu saya banting stir secara spekulasi mengeluarkan argumentasi bahwa posisi AFW ketika itu sebagai
ummat sehingga boleh bertaqiyah, sebab jika tidak demikian maka para AKT/Dewan Imamah yang diangkat oleh AFW
tanggal 28 September 1996 dianggap tidak sah. Tetapi, masih ada ganjalan hukum, yaitu AFW tidak menandatangani
MKT. No.IV/ 1996. Melainkan, hal itu ditandatanganinya sesudah berhari-hari dari terungkapnya wawancara AFW dalam
majalah tersebut tadi. Bagi ummat yang belum mengetahui kronologi penandatanganannya, tidak merasakan bahwa
Dewan Imamah beserta MKT. No.IV/1996 itu tidak sah. Berbeda lagi dengan ummat yang sudah mengetahuinya
langsung dari AFW, mereka menyimpulkan bahwa estapeta kepemimpinan yang didasari MKT. tersebut itu jelas tidak
sah, sebab itu mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali Mahfudz. Jadi, pecah- belahnya ummat itu sejak sebagian
ummat yang sudah mengetahui AFW menandatangani MKT.No. IV/1996 itu dipaksakan atau direkayasa, yakni tidak
sesuai dengan yang semestinya. Mereka yang sudah mengetahui hal itu umumnya sudah harga mati tidak mengakui
kepemimpinan Ali Mahfudz. Dari itu guna menjaga kesatuan ummat yang belum mengetahui proses penandatanganan
MKT. No.IV/1996, maka setiap kali saya menguraikan sejarah estapeta kepemimpinan NII, saya tidak pernah
mengungkapkannya, serta menghindari supaya tidak ada yang bertanya tentang hal itu. Akan tetapi, sesudah lebih dari
sepuluh tahun lamanya, hal demikian tidak terelakkan lagi ketika pak Kiayi bertanya tentang proses penandatanganan
MKT. tersebut itu. Apabila sudah ada yang bertanya maka terlepas dari sudah ditemukan solusinya ataupun belum maka
harus dijelaskan.
Pertanyaan Pak Kiayi itu dimulai dari ungkapannya;”Dari dulu buat ana kepemimpinan ini bukan benar, tetapi lebih
bagus. Bagusnya karena ini jelas imamnya sedangkan yang lain tidak”. Lalu beliau berkata lagi: “Buktinya bukan benar
karena MKT. No.IV/1996 ditandatanganinya melalui tawar menawar jaminan uang”. Kemudian saya menjawabnya,
bahwa selesai pelantikan (membaiat) para AKT (28 September 1996) Pak Fattah berkata; “ Akan ditandatangani, untuk
sejarah”. Hal itu ada rekamannya. Terhadap dalih yang saya kemukakan kepadanya, Pak Kiayi menyalahkannya, dengan
berkata;” Perkataan itu beda dengan tanda tangan”. Saya diam tidak bisa menyanggahnya, bahkan dalam hati berkata,
betul juga karena perkataan itu tidak bisa nempel pada kertas, sehingga tidak merupakan hitam di atas putih. Adapun
terhadap ungkapan “bukan benar, tetapi lebih bagus”, saya tidak sependapat, sebab yang dicari itu bukan lebih bagus,
tetapi yang benar, artinya jika tidak benar, maka salah. Namun, ketika itu di hadapan Kiayi tidak dikeluarkan, melainkan
hanya dalam hati, sebab ketika itu belum menemukan solusinya mana yang benar. Melihat saya diam tidak bisa menjawab
lagi, lalu Pak Kiayi mendesak bertanya, “Bagaimana kejadiannya itu ? (Kronologi penandatanganan MKT. No.IV/1996
sudah dijelaskan pada uraian pendahuluan ) Sejak itu saya menjelaskan sejarah proses terjadinya penandatangan MKT.
No.IV/1996 setelah ada yang menanyakannya. Apabila kepada Pak Kiayi saya sudah menjelaskannya, maka kepada
siapapun saya harus bisa mengungkapkannya.
Anda menuding saya memecah belah persatuan ummat. Padahal selama sepuluh tahun lebih dalam arti sebelum
menemukan solusinya serta tidak ada yang menanyakannya, saya berusaha tidak menjelaskan sejarah proses
penandatanganan MKT. No.IV/ 1996, hal itu guna menjaga kesatuan ummat. Buktinya, sesudah saya barro dan kembali
kepada struktur kepemimpinan dalam MKT. No.I/1994 kemudian menjelaskan sejarah proses penandatanganan MKT.
No.IV/1996, banyak ummat yang berasal dari kelompok lain, atau yang belum pernah bincang-bincang dengan AFW
mereka berkata;” Seandainya tahu dari dulu begitu sejarahnya, tentu tidak bergabung. Ya, karena selama itu mereka tidak
tahu bahwa sebelum AFW mengangkat para AKT/ Dewan Imamah (28 September 1996) sudah terlebih dulu bikin
makalah Pancasila. Dan selama itu juga mereka belum membaca referensi lembaran Majalah UMMAT, halaman 26
terbitan 9 Desember 1996 yang sesungguhnya. Mereka mengira bahwa batalnya AFW itu sejak wawancaranya dengan
Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996 — Mereka belum mengetahui bahwa penandatanganan MKT.N0.IV/1996
ditandatanganinya sesudah berhari dari terungkapnya wawancara AFW dengan majalah tersebut.
Sebelum saya membaca AT-TIBYAAN (1987) yang memuat Ikrar Bersama, 1962, tentang setia terhadap Pancasila dan
sebagainya, saya mengakui kepemimpinan yang terangkat dalam musyawarah tahun 1978. Akan tetapi, setelah
mengetahui bahwa yang diangkatnya itu tercantum namanya dalam ikrar tersebut, serta saya memperoleh solusinya maka
barro darinya. Dengan adanya AT-TIBYAAN yang mengungkap Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962, ummat terpecah, yakni

terjadi pro dan kontra, karena ada saja yang terlanjur komitmen kepada kepemimpinan berdasarkan figuritas atau
perasaan. Dari itu pertanyaannya, “Apakah terhadap AFW penulis AT TIBYAAN (1987) itu, anda juga menuding pemecah
belah ummat ?” Jawabannya bagi anda tentu,”Tidak”! Bahkan menjawabnya, “Bahwa dengan brosur At- Tibyaan itu kita
mengetahui kejelasan sejarah, sehingga tidak terbohongi oleh pelaku sejarah yang telah mengakui Pancasila tanpa
menjelaskannya.
Apapun penilaian anda terhadap saya, maka saya menjalankan Qur’an surat 4:135 dan Surat 61: 2-3 sebagaimana
bunyinya di bawah ini:

$ *

pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà ¬! öqs9ur #’n?tã öNä3Å¡àÿRr&
Írr& Èûøïy‰Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ



$†‹ÏYxî ÷rr& #ZÉ)sù ª!$$sù 4’n

Ž

<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Ÿxsù (#qãèÎ7Fs?
#“uqolù;$# br& (#qä9ω÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZÎ6yz

Ž

ÇÊÌÎÈ

“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena
Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah
lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan
jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui
segala apa yang kamu kerjakan.”

[361] Maksudnya: orang yang tergugat atau yang terdakwa.

$

pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä zNÏ9 šcqä9qà)s? $tB Ÿw tbqè=yèøÿs? ÇËÈ uã9Ÿ

Ž

2 $ºFø)tB y‰YÏã «!$# br&

(#qä9qà)s? $tB Ÿw šcqè=yèøÿs? ÇÌÈ

“ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Tahun 1987 saya barro dari kepemimpinan hasil musyawarah tahun 1978, karena sesudah membaca referensi bahwa yang
diangkatnya adalah yang namanya tercantum dalam Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 mengenai setia terhadap Pancasila,
serta saya menemukan solusinya. Sehingga, baik itu dengan tulisan maupun dengan perkataan, saya menganggap bahwa
estapeta kepemimpinan tersebut tidak sah. Dengan demikian saya harus bersikap sama pula, yakni terhadap pihak
manapun atau siapapun termasuk AFW yang sudah bikin makalah Pancasila, maka setelah saya menemukan solusinya
saya pun barro dari kepemimpinan yang didasari pengangkatan darinya. Karena, jika tidak demikian berarti tidak
menjalankan kedua ayat tersebut tadi.
Saya membatalkan penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, serta saya kembali kepada kepemimpinan dalam
struktur sesuai dengan MKT. N0.I/1994 sebagai solusi guna perbaikan serta kembali kepada kesatuan ummat yang
terlepas dari nilai kompromi / menyerah kepada musuh. Adapun terhadap yang menilainya sebagai pemecah belah
ummat, hal itu sesuai dengan niat dan kepentingannya. Sebab, terhadap AFW sesudah menulis AT TIBYAAN (1987) pada
awalnya pun dituduh demikian. Jadi, bahwa letak persoalannya siap atau tidaknya menghadapi sejarah berulang sama
dengan tahun 1987. Yakni, jika tahun 1987 terungkapnya referensi Ikrar Bersama, tentang 32 orang eks pimpinan DI/TII
yang menyatakan setia terhadap Pancasila, dan salah seorang diantaranya diangkat sebagai Imam tahun 1978, maka
sembilan tahun sesudah tahun 1987 terungkap pula referensi bahwa sebelum AFW mengangkat para AKT/ Dewan
Imamah (28 September 1996) terlebih dulu beliau bikin makalah Pancasila, sehingga sama nilainya dengan
kepemimpinan yang terangkat pada tahun 1978. Mujahid NII harus adil dalam menilai.
AFW pernah mengatakan bahwa Adah Djaelani Tirtapradja itu pun seorang AKT (Anggota Komandemen Tertinggi), tapi
batal karena sudah desersi /menyerahkan diri kepada musuh, kemudian ikut dalam Ikrar Bersama,1 Agustus 1962. Dari
perkataan AFW bisa disimpulkan, bahwa sekalipun pengangkatan kepemimpinan sesuai dengan undang- undang atau
MKT. No.11/1959, tetapi jika yang diangkatnya itu diketahui sudah mengakui ideologi Pancasila maka pengangkatannya
itu batal (tidak sah).
Setiap undang-undang bisa dirobah sesuai dengan kebutuhhannya, tetapi bila pembuatan undang-undang itu didasari oleh
nilai yang batal, maka produk undang undang itu pun tidak sah. Dari itu bagi yang memahami tentang nilai kesalahan
yang paling mendasar seperti halnya AFW bikin makalah Pancasila sebelum bebas dari penjara (1996), maka tidak
terkecoh oleh retorika dalam penuturan perundang- undangan. Artinya, tidak peduli apakah AFW akan disebut sebagai

Imam atau sebagai KUKT yang dengan Purbawisesa Penuh memimpin KPSI, maka penyerahan kepemimpinan dari MYT
kepada AFW itu tetap salah.
10. Terhadap pandangan bahwa para pengikut Ali bin Abi Tholib, hanya mengakui Ali bin Abi Tholib yang berhak
menerima amanat sebagai Khalifah Pertama, tetapi beliau tetap mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman
sebagai Khalifah sehingga Ali bin Abi Tholib tidak terpengaruh oleh hasutan para pengikutnya. Maka, dalam mencermati
tentang Ali bin Abi Tholib mengakui Khalifah Abu Bakar, harus dipahami bahwa sebelum Abu Bakar diangkat sebagai
Kahlifah yang pertama, jelas beliau tidak pernah mengakui ideologi Musyrikin (musuh). Begitu juga Umar bin Khattab
dan Ustman bin Affan, sehingga kepemimpinan mereka tidak batal.
Para pemimpin Banu Umayyah tidak pernah mengakui ideologi musuh. Bahkan ekspansi menundukkan wilayah-wilayah
yang dikuasai oleh musuh. Sehingga para ulama tidak menumbangkan kekuasaan mereka sekalipun para ulama itu banyak
yang kena cambuk bahkan masuk penjara. Coba renungkan, adakah seorang bisa memimpin perang sehingga
menundukkan musuh, sementara dirinya juga sudah menyerah mengakui ideologi musuh ? Tepat dengan yang dikatakan
oleh Imam Awal SM Kartosoewirjo terhadap yang sudah melakukan Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 dalam hal setia
terhadap Pancasila, mereka sudah batal.
Sebelum membaca Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996, halaman 26, lebih tiga bulan lebih lamanya saya tidak
risau dengan kepemimpinan AFW sesudah penyerahan dari MYT kepadanya, karena selama itu saya tidak tahu bahwa
AFW sudah terlebih dulu bikin makalah Pancasila. Bebeda dengan sesudah mengetahuinya, ditambah lagi dengan
keguncangan ummat yang menanyakan siapa pengganti AFW, karena mereka menganggap AFW sudah batal. Bahkan
keterangan dari Pak Zaenal Hatami kepada saya, bahwa setelah banyak yang membaca majalah tadi, sering berdering
telepun dari berbagai pihak ke rumah beliau membicarakan isi pernyataan AFW mengenai Pancasila. Kata Pak Zaenal
Hatami keadaan waktu itu seperti dulag ( bunyi bedug) lebaran. Beliau menceritakan bahwa sebelum kejadian
wawancara AFW mengenai Pancasila, banyak yang sudah membaca brosur TABTAPENII (yang pertama ditulis tahun
1996) karena telah diperbanyak di Jakarta oleh seseorang dan dijualnya Rp.15.000,- per buku. Sehingga banyak yang
tadinya tidak mengakui kepemimpinan AFW, tapi setelah itu lalu mengakuinya. Akan tetapi, sesedah mereka membaca
Majalah UMMAT tentang AFW mengakui Pancasila, maka mereka menganggap AFW juga batal. Akibat dari itu maka
timbul perbincangan dari berbagai kelompok. Karena itu Pak Zaenal Hatami mengatakan seperti dulag lebaran.
Hanya sepuluh tahun lamanya (1997-2007) saya bisa mempertahankan eksistensi kepemimpinan Ali Mahfudz, dengan
dalih bahwa ketika AFW bikin makalah Pancasila beliau boleh bertaqiyah, juga ummat tidak tahu bahwa proses
penandatanganan MKT. No.IV/1996 sesudah wawancara AFW yang menghebohkan, apalagi melalui tawar menawar
jaminan uang. Namun, apa daya sesudah berlangsung sepuluh tahun, Pak Kiayi menanyakan proses penandatangan MKT.
No.IV/1996, lalu saya menjelaskannya, sehingga beliau menyuruh menuliskannya. Meskipun belum sempat ditulis,
namun jika sejarah itu sudah diungkap kepada Pak Kiayi, apalagi kiayi itu berpendapat, bahwa kepemimpinan ini bukan
benar, tapi lebih bagus, maka beban moral bagi saya bertambah lebih berat daripada sebelumnya. Hal demikian
mendorong saya mengevaluasi sejarah agar ditemukan benang merahnya sehingga ditemukan pula solusinya. Dalam
Muhasabatunnafsi, secara tidak sengaja saya menemukan Majalah KIBLAT No.14, terbitan Mei 2002. Setelah membaca
pada halaman 50-51 serta mentafakurinya maka disimpulkan bahwa ketika bikin makalah Pancasila AFW tidak
dibenarkan bertaqiyah, sebab tidak jaa uuka, tidak sebagaimana dalam Qur’an S.4:64. Dengan tidak menjalankan ayat
Qur’an tersebut itu, maka kapasitas AFW ketika bikin makalah Pancasila bukan pemimpin, bukan pula ummat NII, maka
lumrah bila penandatanganan MKT. No. IV/1996 tidak sesuai dengan semestinya.
Sejarah akhirnya tidak bisa ditutupi. Jika Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 yang dilakukan oleh 32 orang eks para
komandan DI/TII diungkapkan oleh AFW dalam AT TIBYAAN tahun 1987, begitu pula AFW bikin makalah Pancasila
tatkala mau bebas dari penjara tahun 1996 yang pada mulanya ditutupi, tapi akhirnya diungkapkan pula oleh AFW
dalam wawancaranya dengan wartawan Majalah UMMAT, yang diterbitkan 9 Desember 1996, disusul oleh Majalah
KIBLAT No.14 terbitan Mei 2002. Ini adalah fakta sejarah bahwa sebelum AFW menerima penyerahan kepemimpinan
dari MYT maka AFW tidak jaa uuka, sehingga kemungkinan berkaitan dengan itu pula akhirnya AFW kembali kepada
Proklamasi 1945. Ya, pernah AFW mengakui bersalah di hadapan pengadilan, tetapi sesudah mengangkat para AKT. ,
sehingga pengadaan pengadilannya juga didasari oleh tandatangan AFW dalam lembaran MKT. No. IV/1996 sesudah
AFW-nya bikin makalah Pancasila. Sehingga sesudah pengangkatan Ali Mahfudz menggantikan AFW, beberapa hari
kemudian saya tidak berkutik ketika mendengar ucapan sebagai pengadilan lawakan, bodor dsb. Banyak pihak yang
sudah mengetahui dari Majalah UMMAT tadi bahwa AFW bikin makalah Pancasila sebelum bebas dari penjara. 2

Agustus 1996, artinya bila AFW bersalah, maka pengadilannya juga tidak sah. Mereka mengetahui bahwa pengangkatan
Dewan Imamah yang terangkat 28 September 1996 (yang didalamnya terdapat Kepala Majlis Kehakiman) diangkat oleh
AFW sesudah beliau bikin makalah Pancasila.
Jadi, sebenarnya bahwa pecahnya kesatuan umat , terjadi sesudah pengadilan terhadap AFW tahun 1997, sehingga
sebagian ummat dan aparat telah menjadi oposisi terhadap kepemimpinan Ali Mahfudz. Sejak tahun 1997 saya
mendengar bahwa seorang tokohnya yang mengakukan dirinya sebagai pihak oposisi itu mengatakan, bahwa yang kami
tentang itu pemerintahannya bukan NII-nya. Dari fakta sejarah disimpulkan bahwa yang menjadi pangkalnya persoalan
estapeta kepemimpinan NII 1996 itu, yakni setelah diketahui bahwa AFW telah bikin makalah Pancasila (ideologi musuh
NII), dan AFW tidak menjelaskannya kepada MYT. Dengan tidak menjelaskannya itu berarti tidak jaa uuka, sehingga
melanggar Qur’an S.4:64. Disebabkan didasari oleh yang sudah salah, maka selanjutnya salah. Dengan demikian sikap
saya terhadap estapeta kepemimpinan yang didasari oleh pengakuan terhadap ideologi Pancasila tidak bisa disamakan
dengan sikap Ali bin Abi Thalib terhadap Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan yang mana
kepemimpinan mereka bersih dari dasar nilai pengakuan terhadap ideologi musuh. Dalam membatalkan penyerahan
kepemimpinan dari MYT kepada AFW, saya tidak terhasut oleh pihak manapun walau selama sepuluh tahun merasakan
beban moral karena memendam kejanggalan hukum yang dimaksudkan menjaga stabilitas kesatuan ummat yang tersisa,
atau yang baru masuk dan belum pernah langsung berkomunikasi dengan AFW.
Persoalan yang akan membuat ummat berpecah belah, boleh dipendam selama belum menemukan solusinya. Akan tetapi,
jika sudah ditemukan solusinya maka harus dikemukakan. Jadi, bila terhadap sikap saya dengan membatalkan
penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, serta kembali kepada kepemimpinan berdasarkan MKT.No.I/1994
ada yang menganggapnya sebagai pemecah belah ummat, maka sebaliknya dari itu saya menganggap sebagai solusi guna
lepas dari nilai pengakuan terhadap ideologi musuh. Sebab, bukanlah persatuan yang dimaksud oleh Negara Islam
Indonesia jika kepemimpinannya dimulai oleh yang bikin makalah Pancasila !
Apabila terhadap estapeta kepemimpinan dari terangkatnya Adah Djaelani Tirtapradja, tahun 1978 dianggap tidak sah
sehingga dianggap bukan kesatuan NII karena beliau diketahui termasuk yang ikut Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962
menerima Pancasila, maka pertanyaannya; “Faktor apa bila terhadap estapeta kepemimpinan 1996 masih dianggap
sebagai persatuan NII, sedangkan AFW juga sebelum melantik para aparatnya, 28 September 1996 sama sudah terlebih
dulu menerima ideologi Pancasila dengan bikin makalahnya ? Hanya Robb Yang Maha Mengetahui faktor sebenarnya.
11. Benar, Dewan Imamah yang terangkat dalam MKT. No.I/1994 akan menyepakati penyerahan kepemimpinan dari
MYT kepada AFW, jika benar AFW bebas dari penjara tahun 1996 tidak dengan menandatangani mengenai Pancasila.
Jadi, seandainya waktu itu AFW menjelaskan bahwa beliau sudah bikin makalah Pancasila, tentu rencana penyerahan
kepemimpinan tersebut tidak akan dilakukan. Sungguh, terngiang- ngiang dalam ingatan saya, yaitu ketika saya
mengatakan di depan Dewan Imamah waktu itu, bahwa kepemimpinan akan diserahkan kepada Abu (AFW), maka
seorang anggotanya yaitu Pak Endin berkata:”Harus ditanyakan dulu apakah beliau (AFW) menandatangani mengenai
Pancasila”. Jadi, bahwa penyerahan kepemimpinan kepada AFW akan disepakati dengan sarat jika AFW tidak
menandatangani mengenai Pancasila. Dari itu diutuslah Pak Kasid untuk menemui AFW untuk menanyakan hal itu
sambil menyampaikan beberapa dokumen untuk diketahui olehnya. Jawaban yang diperoleh, yakni bebas dari penjara
dengan sarat jaminan keluarga dan uang satu juta rupiah.
Jadi, sekalipun anda telah berkali-kali mengatakan bahwa penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW itu
kesepakatan Dewan Imamah, maka hal itu tidak bisa digunakan mempertahankan legalitasnya. Sebab, kesepakatan itu
dengan sarat bila AFW tidak menandatangani mengenai Pancasila, sedangkan kenyataannya beliau sudah bikin makalah
Pancasila yang tidak dijelaskan sebelumnya. Kemudian Dewan Imamah yang terangkat tanggal 28 September 1996 pun
tidak bisa pula dipertahankan legalitasnya, karena diangkatnya oleh AFW sesudah beliau bikin makalah Pancasila, serta
MKT. No.IV/1996 ditandatanganinya setelah beberapa hari keluarnya Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996
tentang wawancara AFW bikin makalah Pancasila. AFW dianggap sudah batal (bersalah) maka tandatangannya juga tidak
sah. Menurut saksi Sdr.Tolhah bahwa AFW pernah mengatakan hal sedemikian kepada Pak Kasid (almarhum) dan
kepada Pak Ali Mahfudz ketika AFW meminta kepada keduanya supaya lembaran MKT. yang ditandatanganinya itu
dikembalikan kepadanya. Setelah permintaannya ditolak, AFW berkata, “Buat apa itu disimpan, kan sayanya sudah
dianggap batal, berarti itu juga tidak sah !”
Beberapa tahun sebelum saya barro, ada yang menanyakan kepada saya tentang kemana loyalitasnya Sdr. Tolhah ? Saya
menjawabnya; “Tidak tahu, tapi yang jelas dia sudah tidak loyal kepada kepemimpinan Ali Mahfudz !” Waktu itu saya

belum tahu dengan pasti penyebabnya tidak loyal. Namun, sesudah sepuluh tahun lamanya baru diketahui penyebabnya,
yaitu karena sudah mengetahui bahwa AFW dianggap batal dengan bikin makalah Pancasila, maka MKT. NoIV/1996
yang ditandatanganinya juga tidak sah.
Sejak surat tanggapan Dewan Imamah tertanggal 22 Desember 1996 tentang wawancara AFW dengan Majalah UMMAT
terbitan 9 Desember 1996, halaman 26 diberikan kepada AFW, beberapa hari sesudahnya saya mengetahui bahwa AFW
telah mendatangi kediaman Pak Kasid juga kediaman Pak Ali Mahfudz untuk meminta kembali lembaran MKT. No.
IV/1996 yang aslinya. Adapun permintaan dari AFW kepada Pak Kasid dan Ali Mahfudz secara bersamaan di kediaman
Sdr Tolhah, saya tahunya sesudah lebih sepuluh tahun lamanya dari Sdr. Tolhah. Artinya, baik itu Pak kasid maupun Pak
Ali Mahfudz tidak menceritakan kepada saya bahwa AFW meminta MKT. tersebut tadi dikembalikan kepadanya, karena
AFW-nya dianggap batal maka MKT. yang ditandatanganinya juga tidak sah. Sehingga lebih sepuluh tahun saya telah
salah menduga terhadap maksud AFW meminta lembaran MKT. No.IV/1996 dikembalikan kepadanya. Satu kenyataan
sejarah yang tadinya tidak terungkap, tapi setelah diadakan pengevaluasian maka terungkap pula.
12. Saya bersama kawan-kawan pada tahun tujuh puluhan belum menyadari berada dalam kepemimpinan yang tidak
sesuai dengan konstitusi, karena waktu itu belum memahami sejarah sebagian para tokoh NII dan belum memahami
perundang-undangannya. Akan tetapi, sesudah saya membaca At-Tibyaan tahun 1987, lalu saya mengetahui adanya
sebagian tokoh NII yang ikut Ikrar Bersama setia terhadap Pancasila. Sesudah mengetahui hal itu maka saya beserta
kawan-kawan barro dari kepemimpinan yang figurnya terlibat dengan Ikrar Bersama setia terhadap Pancasila. Dengan
demikian bisakah sikap saya dan kawan- kawan tadi disebut sebagai memecah jamaah (?) Al Jamaatu ahlul haqqi wa in
qollu
( Jamaah itu ialah pemegang kebenaran sekalipun jumlahnya sedikit ). Bisakah disebut kepemimpinan NII yang
benar jika sudah diawali dengan pengakuannya terhadap Pancasila (?)
Sewaktu saya sedang berada di luar Pulau Jawa pernah berkata kepada seseorang: “Bahwa penyebab utama saya
melepaskan diri dari estapeta kepemimpinan Adah Djaelani Tirtapradja ialah sesudah saya membaca Ikrar Bersama, 1
Agustus 1962
setia terhadap Pancasila yang dimuat dalam AT-TIBYAAN. Lalu orang itu menyahutnya dengan
mengatakan, ”Ya, Pak Hadi juga begitu !” Kemudian saya mengatakan lagi; “ Tetapi, apabila diantara tokoh yang pernah
ikut Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 itu ada yang melakukan jaa uuka (Q.S.4:64) maka bisa diangkat jadi Imam.”
Mendengar ucapan saya itu ia berkata;”Ari keur ana mah, eungke heula ari kudu dipimpin ku anu geus milu Ikrar
Bersama
mah ( Bagi saya sih, nanti dulu kalau harus dipimpin oleh orang sudah ikut Ikar Bersama). Saya tidak tahu
apakah orang yang mengatakan hal itu masih ingat terhadap perkataannya.
13. Saya tidak pernah menerima panggilan via telpon. Benar saya sudah menitipkan perkara pada seseorang yang pada
waktu itu saya angggap sebagai anggota Dewan Imamah, dan saya tidak hadir karena saya sudah bukan anggota Dewan
Imamah waktu itu. Saya mengatakan kepadanya jika persoalan ini akan dibahas, maka saya akan hadir bila diundang.
Tetapi, setelah beberapa minggu ditunggu belum ada berita akan dibahas. Dan ketika ditanyakan, lalu dijawabnya belum
sampai pada jadwal pertemuan (yang pada waktu itu diadakan sebulan sekali). Namun, ketika terjadi pertemuan dan
diusulkan supaya dibahas serta orangnya yakni saya harus dipanggil supaya jelas maka kenyataannya bahwa persoalan
yang disampaikan melalui Pak Kiayi itu ditutup, sedangkan kemudian dalam kalangan ummat disebarkan berbagai
propokasi antara lain bahwa saya ambisi kepemimpinan, jangan didengar karena dia rakyat, sedang lemah iman dan
lainnya. Bahkan yang paling ekstrim yaitu lontaran kata ‘setan’ dari seorang yang disebut anggota Dewan Imamah di
hadapan aparat wilayah dan lainnya. Bila sudah ada provokasi dengan sebutan ‘setan’ maka diragukan bahwa
pembahasan bisa dilakukan dengan jernih. Dengan adanya provokasi yang dibiarkan itu, saya menilai bahwa mereka
tidak mau membahas perkara dengan memanggil saya. Dengan demikian hanya satu jalan bagi saya yaitu harus
menjelaskan dengan tulisan.
14. Harus saya menjelaskan, bahwa sebelum terjadi masalah, yakni sebelum saya mengajukan permasalahan yang harus
dibahas, betul saya pernah dipanggil beberapa kali, tapi hal itu bukan dari adanya masalah mengenai posisi AFW ketika
MYT menyerahkan kepemimpinan kepadanya, melainkan pemanggilan itu dengan maksud bahwa saya akan diangkat
kembali sebagai Kepala Majlis Dalam Negeri, atau lainnya asalkan didudukan sebagai anggota Dewan Imamah waktu itu.
Bahkan akhirnya tanpa terlebih dulu menanyakan kesanggupan saya, telah dibuatkan SK pengangkatan sebagai Kepala
Majlis Dalam Negeri. Kemudian saat surat tersebut disodorkan maka langsung saya menolaknya. Lalu SK tersebut
dibawa pulang kembali oleh utusan. Saya sudah tahu bahwa pemanggilan terhadap saya karena akan didudukkan kembali
dalam strutur yang waktu itu masih dianggap Dewan Imamah. Saya tidak sanggup lagi menjadi anggotanya disebabkan
beberapa hal yang tidak sejalan dengan saya sedangkan sudah diperhitungkan oleh saya tidak bisa mensejalankannya.

Jadi, beberapa kali pemanggilan untuk menjadi anggota Dewan waktu itu tidak berkaitan dengan perkara yang sudah
diajukan oleh saya untuk dibahas.
15. Saya menerima panggilan pertama dalam kaitannya dengan masalah yang sudah diajukan, hal itu sesudah terjadi
gejolak di kalangan ummat, dan saya sudah barro, yakni tidak mengakui lagi Dewan Imamah yang tertuang dalam MKT.
No.IV/1996, dan saya menyatakan kembali kepada struktur dalam MKT. No.I/1994. Kepada utusan yang datang, saya
mengatakan;”Sekarang saya sudah barro”. Disebabkan saya diangkat oleh yang tidak sah, maka pengangkatan saya
sebagai KSU (wakil Imam atau lainnya pun) tidak sah. Dengan tidak sahnya itu maka saya kembali tetap pada posisi
sesuai dengan struktur kepemimpinan sebelum penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW. Jelas, saya menolak
panggilan pertama itu dengan mengatakan saya sudah barro, sebab bila saya datang maka berarti saya belum barro. Guna
menjaga nilai barro saya tidak mentaatinya. Adapun panggilan kedua yaitu disampaikan dengan surat yang
ditandatangani oleh Ali Mahfud, ditulisnya Imam. Dalam hati saya berkata; Aneh terhadap yang sudah diketahui barro
masih juga dipanggil dengan surat resmi, apakah ini mungkin trik spekulasi. Disebabkan ketika itu saya tidak bertemu
dengan utusan pembawa surat, maka untuk jawabannya saya berikan melalui telpun langsung kepada utusannya bahwa
saya tidak akan datang karena sudah barro.
16. Ya, betul bahwa saya pernah berkata di hadapan orang-orang muda, yaitu apabila estapeta kepemimpinan NII sudah
benar-benar habis (dalam arti tidak ditemukan solusi mana lagi kepemimpinan yang menjalur kepada perundang-
undangan, maka harus kembali kepada suasana musyawarah tahun 1948. Saya mengatakan hal itu sewaktu belum
memperoleh solusi atau jalan untuk membatalkan penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW serta kembali
kepada struktur kepemimpinan dalam MKT. No.I/1994. Ketika saya menemui anda di Pdl. untuk berdiskusi, saya belum
menemukan solusinya. Begitu juga ketika anda menelpun saya agar saya merevisi Nota Dinas, saya masih mencari solusi
dalam menghadapi persoalan waktu itu.
1.17. Dalam MKT. No.III/1995 tertanggal 19 Maret 1995 M. , perihal susunan aparat serta tugas dan kewajibannya,
masih tertera undang-undang yang bunyinya:

“ KPSI dipimpin langsung oleh Imam Panglima Tertinggi ANII, jika karena satu dan lain hal ia berhalangan
menunaikan tugasnya maka ditunjuk dan diangkatnya seorang Panglima Perang selaku penggantinya dengan
purbawisesa penuh.”
“Calon Pengganti Panglima Perang Pusat diambil dari dan di antara Anggota-anggota Komandemen Tinggi (KT)
termasuk di antaranya KSU, KUKT, Ketua-Ketua Majelis atau dari dan diantara para Panglima Perang yang
kedudukannya dianggap setara dengan kedudukan Anggota KT.”

Dengan demikian bunyi undang-undang tentang penggantian kepemimpinan pusat yang esensinya sesuai dengan yang ada
dalam MKT. No.XI/1959 masih tetap berlaku. Meskipun dalam undang-undang itu ditambah dengan Ketua-Ketua
Majelis
, hal itu tidak merobah esensi penggantian kepemimpinan pusat dari yang asalnya , sebab Ketua Majelis itu setaraf
dengan AKT. Semua tahu bahwa bahwa yang diperbincangkan dalam Penjelasan $ Statemen Muhammad Yusuf Thohiry,
yang dalam hal penggantian kepemimpinan adalah konteknya dengan kepemimpinan pusat. Jadi, tidak benar bahwa
dengan perubahan dari Sapta Palagan menjadi Sad Palagan, lalu penggantian kepemimpinan pusat yang esensinya sesuai
dengan MKT.N0.XI/ 1959 tidak berlaku. Sebab, kalau tidak berlaku buat apa dicantumkan dalam MKT.No.III/1995 ?
Boleh-boleh saja seandainya ada yang berusaha mengalihkan perhatian dari persoalan kesalahan paling mendasar, bahwa
sebelum AFW meminta kepemimpinan (25Agustus1996) dikembalikan kepadanya tidak menjelaskan dirinya sudah
terlebih dulu bikin makalah Pancasila. Tapi, harus diingat sudah menjadi fakta sejarah yang tertulis, bahwa Pengangkatan
para A.K.T. tanggal 28 September 1996, hal itu dilakukan oleh yang sudah mengakui ideologi Pancasila, begitupun
penandatandatangan MKT. No.IV/1996 dilakukan sesudah diketahui dari wawancaranya dengan Majalah UMMAT
terbitan 9 Desember 1996 bahwa AFW bikin makalah Pancasila. Artinya, jika AFW batal maka pengangkatan para AKT-
nya, serta MKT. No.IV/1996 juga tidak sah. Dengan fakta sejarah tersebut maka akan sia-sia bagi yang berusaha
mengalihkan perhatian dari sejarah yang sudah demikian tertulis itu.
Beberapa tahun sebelum saya barro dari kepemimpinan Ali Mahfudz, saya pernah berkata kepada beliau:” Bila
mereka[23] menuliskan sejarah perjalanan kepemimpinan kita, maka sulit bagi kita menghadapinya, karena mereka sudah
mengetahui masalah ( penandatanganan MKT. No.IV/1996) ini langsung dari Pak Fatah.” Kemudian beberapa tahun
saya mendengar adanya usulan dari ummat supaya saya menuliskan sejarah estapeta kepemimpinan, tapi saya tidak
menanggapinya. Justru ketika di hadapan Pak Ali Mahfudz saya menyarankan kepada pihak sekretariat agar jangan

menuliskan sejarah estapeta kepemimpinan (pasca AFW digantikan oleh Ali Mahfudz ). Karena bila dituliskan semuanya
maka akan diketahui adanya keganjalan hukum. Sehingga kita komitmen kepada kepemimpinan ini hanya didasari lebih
bagus dari yang lain, sedangkan dalam perundang-undangan tidak dikenal lebih bagus. Hal itu diiyahkan oleh keduanya.
Saya mengatakan begitu, karena sekitar tahun 2001-2002 dalam satu pertemuan resmi mendengar Pak Kiayi
berkata,”Bahwa (kepemimpinan) ini bukan benar tapi lebih bagus, buktinya kata Pak Abu Bakar tandatangan MKT-nya
melalui tawar-menawar jaminan uang !” Baru hanya diketahui melalui tawar- menawar jaminan uang sudah dianggap
tidak benar, maka apalagi bila diketahui bahwa terjadinya penandatanganan MKT. No.IV/1996 itu sesudah diketahui dari
Majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996, AFW telah mengakui ideologi Pancasila.
Pada waktu saya menyarankan jangan menuliskan (estapeta kepemimpinan pasca penyerahan dari MYT kepada AFW,
karena belum menemukan solusinya. Namun, ketika Pak Kiayi menanyakan bagaimana proses AFW menandatangani
MKT tersebut tadi di atas, maka mau tidak mau saya mesti menerangkannya, walau saat itu belum ditemukan solusinya.
Mengungkapkan suatu kesalahan, sedangkan solusinya belum ditemukan maka akan menjadi masalah dalam kalangan
ummat. Namun, akan menjadi beban di Akhirat kelak, bila ada yang sudah bertanya, tetapi saya tidak menjelaskannya.
Saya tidak bisa membantah perkataan Pak Kiayi; Bahwa perkataan itu beda dengan tandatangan. Sejak itu saya menyadari
bahwa ijtihad saya mengajukan kepada AFW menandatangani MKT.No.IV/1996 sesudah diketahui bahwa beliau
mengakui ideologi Pancasila adalah salah, tidak bisa dipertahankan untuk bisa disebut benar. Sejak itu pula saya mencari
solusinya. Sehingga saya setuju dengan anjuran Pak Kiayi bahwa sejarah kejadiannya harus dituliskan semuanya. Sebab,
jika tidak demikian berarti saya terus membiarkan hal yang salah yang didapati pada buku atau brosur yang sudah terlebih
dulu ditulis oleh saya.
18. Ya, istilah APNKA-NII dalam jabatan Imam adalah salah karena tidak ada dalam PDB. Dan saya berterimakasih atas
koreksi dari anda. Dalam hal ini perlu saya jelaskan bahwa kesalahan itu akibat terliwatkan dalam pengkoreksian ketikan,
sebab pada halaman lain ada yang tidak dengan istilah seperti itu. Kalau hal ini tidak diakui salah dan tidak diperbaiki
maka menjadi kesalahan yang mendalam.
19. Dewan Imamah yang terangkat dalam MKT. No.I/1994 bisa menyepakti penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada
AFW dengan sarat jika AFW tidak terlebih dulu menandatangani mengenai Pancasila. Sedangkan MYT tidak mengetahui
bahwa AFW telah bikin makalah Pancasila karena AFW tidak menjelaskannya. Dengan demikian kesepakatan itu bisa
dibatalkan. Sesudah saya pulang dari luar Pulau Jawa, saya berkumpul dengan sebagian dari para anggota Dewan
Imamah, ketika itu saya mengatakan bahwa kepemimpinan akan diserahkan kepada Abu (AFW). Lalu salah seorang
anggota (Kepala Majlis Kehakiman, yang tertuang dalam MKT. No.I/1994 ) langsung berkata; “Tanyakan dulu apakah
beliau sudah menandatangani mengenai Pancasila atau tidak ?” Maksudnya, jika AFW bebas dari penjara dengan
menandatangani pengakuan terhadap Pancasila, maka MYT jangan menyerahkan kepemimpinan kepadanya.
Sebelum saya berangkat ke luar Pulau Jawa saya sudah terlebih dulu mengetahui bahwa AFW akan segera bebas bulan
Agustus. Hal itu dibahas pada pertemuan di Leuwi Gajah; tentang bagaimana jika terjadi sesuatu seperti yang menimpa
kepada Pak Danu Muhammad Hasan. Sesudah mendengar kabar bahwa AFW akan bebas, maka melalui seseorang saya
dipinta untuk bertemu dengan Ummi Azizah. Dalam pertemuan dengannya, saya diberi kabar bahwa AFW akan bebas
bulan Agustus. Lalu saya katakan kepadanya; Supaya disampaikan kepada Abu (AFW) jangan sampai menandatangani
mengenai Pancasila, sebab jika Abu menandatangani Pancasila, maka akan menjadi masalah. Ketika itu Ummi Azizah
menjawab; “ Tidak menandatanganinya, tapi Abu akan bebas dengan sarat jaminan keluarga dan uang satu juta rupiah”.
Pokok yang dibicarakan olehnya ketika itu Ummi Azizah meminjam uang satu juta rupiah, tapi secara pribadi guna segera
menyelesaikan bangunan rumahnya, katanya bila Abu bebas maka rumah itu sudah selesai. Waktu itu saya percaya
dengan apa yang dikatakan oleh Ummi Azizah bahwa AFW akan bebas dari penjara hanya dengan sarat jaminan
keluarga dan uang satu juta rupiah, sehingga tidak dengan sarat menandatangani tentang Pancasila. Sebab itu sewaktu
saya berada di luar Pulau Jawa, saat ada seorang[24] yang bertanya kepada saya: ”Apakah Abu (AFW) itu
menandatangani mengenai Pancasila ?” Saya menjawab, “ “Tidak !” Lalu orang itu berkata, “Ya, kalau menandatangani
Pancasila, maka ia batal !
Walaupun saya sudah percaya kepada Ummi Azizah, namun karena ketika dalam pertemuan Dewan Imamah
diharuskan supaya terlebih dulu langsung ditanyakan kepada AFW, apakah beliau menandatangani mengenai Pancasila,
maka dalam hal itu diutuslah Pak Kasid mendatangani AFW sambil menyerahkan brosur TABTAPENII yang pertama,
tahun 1996, serta beberapa dokumen lainnya. Setelah dua kali Pak Kasid mengunjunginya, maka jawaban yang saya
terima bahwa bebas dari penjara hanya dengan sarat jaminan keluarga dan uang satu juta rupiah. Jelas, bahwa Dewan

Imamah yang tertuang dalam MKT. No.I/1994 itu bisa menyepakati kepemimpinan dikembalikan kepada AFW, jika
beliau tidak terlebih dulu menandatangani mengenai Pancasila. Dengan itu, jika saya membatalkan penyerahan
kepemimpinan tersebut, maka tidak harus menunggu persetujuan dari anggota Dewan Imamah, tertuang dalam
MKT.No.I/1994, yang sebagiannya sudah tidak mau aktip atau tidak bisa dihubungi lagi, dan sebagiannya tetap bertahan
dalam koridor MKT. No.IV/1996 yang ditandatangani oleh Abdul Fattah Wirananggapati yang sudah terlebih dulu bikin
makalah Pancasila. Saya tidak perduli seandainya ada pertanyaan ; “Apa kata masyarakat dunia ?”. Akan tetapi,
memperhatikan Firman Allah SWT yang berbunyi:
öqs9 $uZø9t“Rr& #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# 4’n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr



&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd‰|ÁtF•B ô`ÏiB ÏpuŠô±yz «!

$# 4 šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ÎôØtR Ĩ$¨Z=Ï9



Ž

óOßg¯=yès9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ

“kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah
belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya
mereka berfikir.” –
(Q.S. 59:21).
Perumpamaan yang disebutkan pada ayat itu bisa diambil makna, bahwa jika gunung menjadi berantakan karena takut
kepada Allah disebabkan khawatir tidak bisa menjalankan kandungan Qur’an, maka hal itu berarti bahwa bagi pribadi
mukmin dalam konsisten terhadap Qur’an harus bersedia menghadapi segala risikonya, baik itu secara pisik maupun
mental, atau sebagaimana bunyi dalam baiat nomor tiga.
Gunung bisa tunduk seandainya diamanahi Qur’an, dan berantakan karena saking takutnya kepada Allah. Dari
perumpamaan itu, silahkan mujahid NII berpikir – Bahwa hukum yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah
Qur’an dan Hadits Shohih. Adapun Pancasila adalah dasar hukum RI. Artinya, berlawanan dengan NII. Pertanyaannya
yaitu;
1.“Apakah mesti lebih takut terhadap padangan dari masyarakat internasional daripada takut kepada Allah sehingga
bertahan dalam koridor MKT.No.IV/1996 yang ditandatanganinya oleh yang sudah mengakui ideologi Pancasila ?
1.Apakah kaum intelektual dunia tidak memahami bahwa perobahan politik bisa terjadi pada suatu negara ?
1.Apakah para ulama dunia bisa mengerti apabila hukum yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah
Qur’an dan Hadits Shohih, sedangkan surat Maklumat kepemimpinannya ditandatangani oleh yang sudah terlebih
dulu menyerah kepada musuhnya dengan bikin makalah Pancasila ? Dan apakah mereka tidak akan menyebutnya
sebagai “Kabu maqtan ‘indal laahi an ta quulu maa laa taf’aluun.” -( Q.S.61:3) ?
Hidup dan matinya bagi mujahid NII hanyalah untuk Allah SWT (Q.S.6:162). Dengan demikian kitalah yang harus
memberi penjelasan atau meluruskan kembali kepada masyarakat dunia dengan segala risikonya. Dunia hanya jalan untuk
ke Ahirat, maka saya tidak peduli terhadap perkataan,”Nanti kompetensi Uwa (MYT) jatuh. Sebab, buat apa disebut
pinter oleh sebagian manusia di dunia, dengan membiarkan langkah kekeliru terus berlanjut. Pertanggungjawaban utama
kita hanya kepada Allah, selainnya adalah yang kedua. Perhatikan ayat-ayat ini: 80:33-37

#

sŒÎ*sù ÏNuä!%y` èp¨z!$¢Á9$# ÇÌÌÈ tPöqtƒ ”Ïÿtƒ âäöpRùQ$# ô`ÏB Ïm‹Åzr


& ÇÌÍÈ ¾ÏmÏiBé&ur Ïm‹Î/r&ur ÇÌÎÈ

¾ÏmÏFt7Ås»|¹ur ÏmŠÏ^t/ur ÇÌÏÈ Èe@ä3Ï9 <›ÍöD

$# öNåk÷]ÏiB 7‹Í´tBöqtƒ ×bù’x© ÏmŠÏZøóムÇÌÐÈ

“ Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),[33] pada hari ketika manusia lari dari
saudaranya,[34] dari ibu dan bapaknya,[35, dari istri dan anak-anaknya[36]. Setiap orang dari mereka pada hari itu
mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya [37].
(Q.S.80:33-37).
Dari Firman Allah itu, jelas bahwa orang-orang yang kita cintai pun tidak akan kita perdulikan, maka apalagi, hegemoni
atau sebutan berkompetensi dan lainnya. Yang akan dihadapi hanya Robb semata. Gunung bisa belah berantakan saking
takutnya kepada Allah, masa iya mujahid NII dalam mengembalikan kemurnian NII dengan meninggalkan MKT.
N0.IV/1996, tapi masih takut dengan keterlanjuran diketahui oleh masyarakat dunia ? Segala yang ada di Dunia akan
sirna (Q.S.55:26). Semua manusia akan bertanggung jawab kepada Robb-nya (Q.S.84:6). Dengan itu sebagai hamba-Nya
tidak bisa membiarkan kesalahan terus berlanjut menimpa generasi selanjutnya.
20. Benar, KPSI bisa juga dipimpin oleh selain Imam dengan purwabisesa penuh sesuai dengan MKT. No.XI/1959, tetapi
jika Imam masih ada, yakni tidak berhalangan permanen. Sedangkan untuk AFW memimpin KPSI, Imam SM
Kartosoewirjo sudah Syahid tidak akan kembali lagi. Karena itu, AFW otomatis jadi Imam, sebagai calon yang tinggal
satu.

21. Tanggal 28 September 1996 bukan AFW dibaiat sebagai Imam, melainkan AFW membaiat para aparat yang baru
diangkat olehnya.
22. Istilah sebagai Imam sudah diajukan oleh saya kepada AFW setelah beliau bebas dari penjara 1996, ketika saya
menjelaskan tentang brosur TABTAPENII, 1996 yang telah diberikan kepadanya. Hal itu juga diajukan oleh Pak Ali
Mahfud dalam pertemuan tanggal 25 Agustus 1996. Jadi, tidak benar jika hal itu tidak diajukan sewaktu AFW masih
hidup !
23. MKT. No.XI/1959 mengatur mekanisme pergantian pimpinan daerah perang, tetapi didalamnya juga mengatur
pengantian Imam (Panglima Tertinggi) selama belum terbentuk Majlis Syuro.
24. Setelah berulang mengevaluasi sejarah estapeta kepemimpinan, maka yang paling saya yakini menjadi dasar utama
dalam menerima estapeta kepemimpinan adalah washiat dari AFW sebelum beliau tertangkap musuh 1991, sebab AFW
dalam keadaan bebas dalam menilai atau memilih secara langsung memilih para aparatnya. Juga setelah beliau tertangkap
maka tiga hari sesudah peristiwa penangkapan tersebut, washiat dari beliau itu lalu dimusyawarahkan setelah disepakati
maka saya dibaiat.
25. Imam dibaiat di hadapan Majlis Syuro, Kanun Asazy pasal 14. Sedangkan AFW diangkat oleh undang-undang, hal itu
pernah diungkapkan oleh beliau, saat akan mengangkat para asistennya pada tahun 1997 di Jakarta.
1.26. Jelas, saya mengatakan bahwa legalitas kepemimpinan Negara Islam Indonesia di berbagai lapangan
kepemimpinan harus mengacu pada Kanun Azasy. Menjalankan MKT. No.XI/1959 dalam hal pengangkatan
Imam, berarti menjalankan Kanun Azasy Bab XI, Pasal 34 dalam Cara Berputarnya Roda Pemerintah. Poin 1
berbunyi:” Pada umumnya Roda Pemerintahan NII berjalan menurut dasar yang ditetapkan dalam Kanun Azasy,
dan sesuai dengan pasal 3 dari Kanun Azasy. Sementara belum ada Parlemen (Majlis Syuro), segala undang-
undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk Maklumat-maklumat yang ditandatangani oleh
Imam”.
Dalam Kanun Azasy Bab. IV Pasal 12 ayat 2 berbunyi: “Imam dipilih oleh Majlis Syuro dengan suara
paling sedikit 2/3 daripada seluruh anggota’. Dan dalam Bab II Pasal 4 ayat 1 berbunyi: “Majlis Syuro terdiri atas
wakil-wakil rakyat ditambah dengan utusan golongan-golongan menurut ditetapkan dengan undang-undang”.

Disebabkan Majlis Syuro yang dimaksud oleh Kanun Azasy itu belum ada, maka pengangkatan itu berjalan
menurut maklumat yang ditetapkan oleh Imam, seperti halnya dalam MKT. No.XI/ 1959. Hal demikian sesuai
dengan Kanun Azasy Bab XV Pasal 34 dalam hal cara Berputarnya Roda Pemerintahan. Jadi, harus dikoreksi
kembali pihak mana yang sebenarnya membuat gagasan untuk meninggalkan Kanun Azasy dalam masalah
pengangkatan Imam ?
27.Apalagi dengan kanun Azasy
, untuk wakil Imam sementara saja harus dari anggota Dewan Imamah. Logikanya apalagi untuk sebagai Imam. Harus
diambil dari yang bertaqwa kepada Allah SWT, artinya tidak dari yang sudah bikin makalah Pancasila seperti yang
diungkap dalam Majalah UMMAT terbitan 9 Desember 1996 pada halaman 26.
28.Saya tidak pernah mengatakan Kanun Azasy tidak berlaku, melainkan tidak setiap pasal dalam Kanun Azasy bisa
diberlakukan dalam masa darurat, sebab itu sebagai penggantinya ialah MKT.-MKT. yang sudah ditandatangani oleh
Imam.
29.Betul, Imam yang berhalangan bisa kembali kepada kedudukan semula, jika kejadiannya seperti pada jaman Sanusi
Partawidjaja, yakni Imam SM Kartosoewirjo masih memiliki nilai Imam. Berbeda dengan AFW, keluar dari penjara
dengan persyaratan bikin makalah Pancasila ! Berdasarkan kepada Sunnah dalam Islam seorang pemimpin tidak
dibenarkan bertaqiah, melainkan harus bersedia mati Syahid. Sebab itu dalam Penjelasan & Statemen saya pada halaman
32 dikemukakan, “ Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagaimana yang dikemukakan di Bekasi,
atau seperti tertera dalam Majalah KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca sekarang
ini”.
Tingkat para Komandan Batalion saja (dalam Ikrar Bersama,1 Agustus 1962), dinyatakan batal oleh Imam Awal,
maka apalagi tingkat Panglima.
30.Soal ketulusan hati seseorang hanya Alloh SWT yang mengetahui sesungguhnya. Tapi yang jelas, sulit terjadi dialog
ilmiah bila didahului dengan buruk sangka. Jauh dari sebelum saya mengeluarkan Penjelasan & Statemen, terlebih dulu
sengaja mendatangi anda untuk berdiskusi. Disebabkan hal itu buntu, maka saat itu saya mengatakan kepada anda:
”Bagaimana kalau hal ini saya tulis ?” Anda menjawabnya:”Silahkan, paling juga nanti akan ada tanggapannya, seperti

halnya terhadap Sonhaji Badrujaman !”. Namun, kenyataannya malah bertolakbelakang dengan itu, yakni sebelum saya
mengeluarkan tulisan, maka anda yang sudah terlebih dulu mengeluarkan tanggapan melalui tulisan antara lain
bunyinya:“Menggugat ini dan meminta agar mekanisme dikembalikan pada mekanisme otomatis secara organisatoris
mungkin malu, makanya menggunakan manuver lain, membatalkan terangkatnya AFW sebagai Imam karena
dianggapnya bukan AKT seperti tertuang dalam Maklumat Negara No.I (17 Desember 1994) padahal AFW tetap KUKT
dan tak pernah diturunkan jabatannya. Apakah ini …. bermaksud meminta agar jabatan wakil Imam otomatis jadi Imam,
dan karena melalui mekanisme pemungutan suara ternyata tak terpilih, kemudian ??? “
Kalimat-kalimat yang anda tulis itu mengandung makna su’uddhon (buruk sangka). Padahal seandainya pihak anda tidak
menolak perkataan Pak Kiayi untuk membahas masalah yang diajukan dengan memanggil MYT, secara resmi/ tertib
sesuai prosedur, maka tentu dalam forum resmi tingkat atas itu akan saya jelaskan bahwa jabatan wakil Imam itu tidak
sah, karena ditandatanganinya oleh AFW yang sudah terlebih dulu mengakui ideologi Pancasila. Sehingga baik itu
mekanisme otomatis maupun mekanisme pemungutan suara, maka tetap saja tidak sah. Sebab, para AKT yang
memilihnya juga diangkat oleh yang terlebih dulu bikin makalah Pancasila. Jika AFW batal maka semua yang
diangkatnya juga tidak sah. Saya sudah berhitung mana yang harus dikemukakan pada forum tingkat atas dan mana pula
yang harus dikemukakan pada tingkat bawah. Jadi, akar masalah yang sebenarnya yaitu sesudah diketahui bahwa AFW
bikin makalah Pancasila.
31.Jika Imam berhalangan sampai waktu yang ditentukan, bukan gugur di medan perang, maka K.U.K.T. bisa menjadi
KPSI, tetapi tidak bisa menjadi Imam. Kalau Imam tidak lagi berhalangan bisa kembali memegang KPSI seperti halnya
yang terjadi pada jaman Sanusi Partawidjaja. Bila berhalangan bisa ditentukan berarti masih ada Imam, maka K.U.K.T.
tidak bisa otomatis sebagai Imam. Adapun dalam hal KUKT AFW, Imam SM Kartosoewirjo telah tiada, maka KUKT
otomatis jadi Imam. Bilamana tidak menjadi Imam maka berarti tidak ada Imam, berarti pula tidak ada estapeta Imam
NII. Hal itu bisa dibuktikan dengan simulasi ini:
1.Calon Imam tinggal satu yaitu K.U.K.T. sehingga dia otomatis memimpin KPSI dengan Purbawisesa Penuh, tetapi
dia tidak bisa jadi Imam dengan alasan tidak terlebih dulu mengangkat para A.K.T. yang memilih Imam,
sedangkan Imam Awal sudah Syahid. Pertanyaannya;” Siapa Imam, sedangkan KPSI itu dipimpin oleh Imam ?
Jadi, Imam yang mana yang memimpin KPSI ? Apakah dibenarkan tidak ada Imam sampai sekian puluh tahun ?
1.Para A.K.T. atau yang setaraf dengannya tinggal satu, yaitu K.U.K.T., sehingga tidak bisa bermusyawarah dengan
yang setaraf dengan A.K.T. sehingga pula tanpa dipilih lagi K.U.K.T. memimpin KPSI dengan Purbawisesa
Penuh, sedangkan dalam peraturannya sama harus dipilih atau dimusyawarahkan diantara para A.K.T. atau yang
setaraf dengannya ? Ada faktor apa, bisa otomatis memimpin KPSI, tetapi tidak bisa otomatis sebagai Imam,
sedangkan Imam Awal, SM Kartosoewijo telah Syahid ? Apakah ketika itu khawatir disebut ada dua Imam dalam
waktu yang sama (?) Padahal semua orang pasti mengerti bahwa yang dimaksud otomatis dalam hal itu ialah
menggantikan Imam Awal dalam arti pasca Tahun 1962 yang tidak bisa kembali lagi. Jadi, bukan karena terjebak
dengan kenyataan, tetapi menerima kenyataan.
Makanya sejak semula saya mengatakan bahwa undang-undang yang dibuat manusia itu belum tentu sempurna, dalam
arti belum tentu tepat bila diuji dengan kondisi mendatang yang tidak diprediksikan ketika undang-undang itu dibuat.
Sebab itu apabila sesuatu yang tidak tertera secara tektual seperti dalam hal kata “otomatis”, maka kembalikan kepada
dasar hukum tertinggi dalam NII yaitu Al-Qur’an dan Hadits Shohih, seperti kepada hukum dalam sholat berjamaah.
Yakni, jika Imam tidak bisa melanjutkan sholatnya, maka otomatis tampillah makmum dari barisan terdepan
menggantikannya, meskipun telah berjalan beberapa rakaat maka tidak harus takbiratul ihrom lagi. Makmum tahu bahwa
yang sedang memimpin sholat itu adalah Imam sholat. Begitu juga orang yang memimpin KPSI itu ialah Imam NII,
karena Imam awal SM Kartosoewirjo sudah Syahid (berhalangan permanen).
Para mujahid NII paham bahwa keimaman merupakan refleksi dari sholat berjamaah, maka tidak akan mempersulit diri
dengan mengotak-atik undang-undang buatan manusia yang tidak sempurna, melainkan semua berpedoman pada “Fa in
tanaaza’tum fi syai-in farud-duuhu ilal-loohi war-rosuuli ( Apabila kamu berselisih dalam sesuatu masalah maka
kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya).
Jadi, bila dalam undang-undang buatan manusia tidak didapatkan kata”
Otomatis”, karena manusia itu tidak bisa memprediksikan dengan sempurna kejadian masa mendatang, maka
kembalikan kepada dasar hukum tertinggi dalam Negara Islam Indonesia, Yakni Al Qur’an dan Hadits Shohih, seperti
halnya pergantian Imam dalam sholat berjamaah.

32.Jika Imam masih ada maka itu kudeta. Tetapi, bila Imam sudah tidak ada maka itu menggantikan Imam sesuai dengan
peraturan / hukum. Atau bilamana eksistensinya kemudian tidak sesuai dengan hukum, seperti halnya kemudian diketahui
sudah mengakui ideologi musuh, maka hal itu pun bukan kudeta, tetapi perbaikan, atau beralih kepada yang dimengerti
sesuai dengan ilmu yang didapati, atau juga barro dari yang dianggap salah, dan beralih kepada yang sudah diketahui
benar. Lihat kisah Nabi Ibrohim a.s. (Q.S.6:75-78).
33.Yang memimpin pasukan adalah yang memimpin KPSI menurut aturan MKT. No.XI/1959, untuk itu harus dipilih
diantara para AKT atau yang setaraf dengannya. Tetapi, kenyataannya KUKT otomatis memimpin KPSI, hal itu karena
calon pengganti pimpinan KPSI tinggal satu sebagaimana diungkapkan oleh AFW; “Dengan siapa saya bermusyawarah
karena tidak ada yang lain. Jadi, sungguh salah jika memimpin perang dalam wilayah pertama (KPSI) tidak harus
musyawarah seandainya para AKT atau yang setaraf dengannya lebih dari satu.
34.Memimpin pasukan harus ada legalitas Imam, artinya ada perintah Imam. Jadi, Imam itu mutlak harus ada. Untuk
Indonesia ini kenyataannya baru Imam. Khilafah harus bertanggungjawab untuk sedunia, maka musyawarahnya juga
harus oleh tingkat dunia, yakni oleh negara-negara Islam yang merdeka di dunia.
35.Yang menjadi dasar pegangan utama bagi saya sebagai pemegang estapeta kepemimpinan yaitu penunjukkan langsung
dari Abdul Fattah Wirananggapati yaitu seminggu sebelum beliau tertangkap musuh 1991, sehingga tiga hari kemudian
para aparat berkumpul dan setelah memperoleh kejelasan dari saksi selain saya yaitu Tarmij ketika dirinya bertanya
kepada AFW, “ Jika bapak tertangkap musuh maka siapa penggantinya ? Dijawab oleh beliau: “Soma harus tampil
menggantikannya”. Tiga hari sesudah AFW tertangkap lalu washiat itu dimusyawarahkan. Pada waktu itu ada seorang
yang dengan keras tidak setuju akan diangkatnya saya, dengan itu saya pun mempersilahkan kepada yang lainnya untuk
tampil namun hingga larut malam tidak juga ada yang siap sehingga acara itu tertunda sampai malam berikutnya. Pada
malam berikutnya pun masih ada seorang yang tidak setuju terhadap MYT. Bahkan sikapnya lebih keras dari sebelumnya,
sehingga tegang dari pada malam sebelumnya. Pertemuan malam kedua itu diselenggarakan tidak di Angkot lagi,
sehingga ada kesempatan bangkit berdiri dua orang yang pro dan kontra berhadapan hampir terjadi adu fisik, yang
satunya itu tetap menginginkan Pak Zaenal Hatami untuk tampil maka saya pun seperti malam sebelumnya
mempersilahkan kepada beliau, tetapi beliau juga tidak bersedia, lalu beliau menawarkannya kepada Sdr. L I Fatahillah.
untuk tampil. Namun, Sdr. Fatahillah juga tidak siap dengan mengemukakan alasan tertentu.
Setelah tidak ada yang siap sedangkan malam hampir larut dan saya pun diam tidak banyak kata, maka Sdr. Umar. yang
duduk di samping saya berkata (hampir berbisik) kepada saya, “Tampil saja”. Saya diam tidak menjawabnya. Mungkin
dianggap sudah kandas karena tidak ada yang siap tampil dan saya pun diam maka tiba- tiba seorang yang tadinya
sangat bersikeras menolak saya untuk ditampilkan, lalu berkata kepada saya, “ Ya, kalau memang Pak Soma yang
memperoleh washiat dari Abu ( AFW), maka Pak Soma harus siap tampil”. Saya pun tidak menjawabnya. Malam sudah
semakin larut masih saja tidak ada yang tampil, akhirnya semua menyatakan bahwa Pak Soma ( saya) harus tampil
memimpin kelanjutan perjuangan, dan Pak Soma harus dibaiat. Berdasarkan wasyiat dan melihat semuanya sepakat
bahwa sayalah yang harus tampil, maka tidak ada jalan lagi selain saya harus siap dibaiat memimpin perjuangan Negara
Islam Indonesia. Kesiapan MYT karena berdasarkan tanggung jawab kepada Allah SWT, dan sesudah tidak ada yang
lainnya yang siap, meski dalam musyawarah itu saya sudah mempersilahkan kepada yang lain. Jadi, sungguh salah bagi
yang berkata bahwa wasyiat dari AFW kepada saya tidak musyawarahkan !
Semua yang terlibat dalam musyawah tersebut di atas, bagaimanapun adalah para pelaku sejarah yang telah berjasa,
yakni dalam situasi genting. Walaupun dalam keadaan dicari-cari oleh pihak musuh, namun tetap bergerak bertanggung
jawab guna kelangsungan estapeta perjuangan NII sehingga defakto kembali. Mereka akan dikenang oleh generasi
mendatang yang memahami nilai sejarah, sebab sejarah itu berkaitan dengan masa mendatang. Maka, sungguh salah bila
membicarakan masa sekarang kemudian menghapus sejarah masa lalu dengan maksud tertentu. Ingat, bahwa perjuangan
Negara Islam Indonesia ini adalah pengabdian kepada Allah SWT, maka tidak bisa menghapuskan sejarahnya. Jadi,
meskipun di dunia tidak sempat dividikan, namun di Akhirat akan dibuktikan.
36. Anda menganggap bahwa tampilnya saya menggantikan AFW tahun 1991 tidak sesuai dengan perundang-
undangan. Ketahuilah ketika itu belum terangkat para AKT atau belum terbentuk Dewan Imamah. Pada waktu itu
keadaannya sangat darurat. Jumlahnya ummat sangat minim. Saat itu tidak ada yang bersedia tampil selain saya. Para
aparat yang hadir dalam musyawarah tahun 1991 itu sudah mengetahui amanat Imam Awal pada pertemuan dengan para
Panglima / Prajurit (mudjahid), tahun 1959. Satu diantaranya yaitu:

“Djika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan Panglima, dan jang tinggal hanja Pradjurit petit sadja,
maka Pradjurit petiti harus sanggup tampil djadi Imam.”

Keadaan pada tahun 1991 sama keadaannya dengan yang disebutkan dalam amanat Imam tersebut. Kami yang terlibat
dalam sejarah tersebut merasa bahagia bisa merealisasikan amanat dari AFW tahun 1991 dalam situasi dan kodisi yang
sama halnya dengan seperti yang diamanatkan oleh Imam Awal dalam pertemuan dengan Para Panglima/Prajurit tahun
1959, sekalipun ada yang menyepelekannya.
Tiga hari sesudah AFW ditangkap musuh, anda sudah tidak berdomisili di Jawa Barat, sehingga tidak menyaksikan
kondisi ummat dan aparat yang ada di Jawa Barat ketika itu. Situasi dan kondisi waktu itu sangat gawat. Walaupun
demikian, namun mengingat baiat nomor tiga, Alhamdulillah bisa berkumpul sekalipun dalam angkot dengan cara
berpindah-pindah tempat.
Allah Suhanahu wa ta’ala dan Malaikatnya menyaksikan bahwa Tahun 1987 di Jakarta, saya ditunjuk sebagai asisten
bidang inventarisasi dokumen. Beberapa aparat yang menyaksikannya memahami bahwa dengan ditunjuknya saya itu
berarti tanggungjawab saya melebihi dari sebelumnya. Sebab itu ketika saya diberi amanat oleh AFW seminggu sebelum
beliau tertangkap, maka saya tidak bisa menolaknya, apalagi ketika itu AFW dalam pengejaran musuh. Adapun dalam
tulisan, anda menanggapi jabatan saya itu dengan kata-kata “menamakan diri asisten” maka hal itu hak anda. Hanya, yang
saya pahami bahwa AFW berkata kepada saya:” Jika Abu tertangkap, maka Soma harus tampil memimpin
menggantikan Abu” – Dilontarkannya kalimat itu, karena tahun 1987 beliau sudah menunjuk saya sebagai asisten bidang
invetarisasi. Dalam situasi dan kondisi sangat darurat. – Belum terbentuk Dewan Imamah – AFW tidak bisa bertemu
dengan aparat yang sudah diangkat pada tahun 1987, kecuali hanya dengan saya. Jika disamakan dengan sholat, maka
makmum yang terdepan adalah saya, maka bila Imam berhalangan, saya bertanggung jawab menggantikannya. Karena itu
saya memahami bahwa AFW mewasiatkan estapeta kepemimpinan kepada saya. Dalam Al Qur’an disebutkan: ”Fat taqul
laaha mastatha’tum…”
(Q.S.64:16) Dan bertakwalah kamu kepada Allah sepenuh kemampuan…”). Dari itu para ulama
ahli fikih sepakat dengan kaidah usul:”Sesuatu yang tidak dapat dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan
keseluruhannya.
Artinya, bila tidak bisa menjalankan undang-undang dengan sempurna menurut bunyinya, maka
lakukanlah apa yang bisa dilakukan dengan semaksimal kemampuan. Hal demikian direalisasikan oleh Imam Awal
dengan amanatnya pada tahun 1959: ”Djika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan Panglima, dan
jang tertinggal hanja Pradjurit petit sadja, maka Pradjurit petiti harus sanggup tampil djadi Imam.”

37. Betul, sekalipun Majlis Syuro belum ada, tetapi kekuasaannya diambil alih oleh Dewan Imamah (Sesuai dengan
semangat Kanun Azasy Bab 1 pasal 3 ayat 2). Tetapi, jika angggotanya tinggal satu, maka tidak bisa bermusyawarah.
Musyawarah dengan siapa (perhatikan rekaman pernyataan dari AFW, tanggal 28 September 1996) ?
38. Jika menjadi Panglima Perang Pusat itu berati Imam karena tidak ada yang memegang jabatan lebih tinggi dari itu
selain Imam. Kecuali seandainya Imam SM Kartosoewirjo berhalangan menunaikan tugasnya tapi masih ada ( tidak
Syahid), maka KUKT AFW hanya sebagai KPSI dan bukan Imam, karena mungkin Imam yang berhalangan tadi akan
datang kembali.
39. Pada Tanggal 28 September 1996 adalah pengangkatan para aparat, bukan pembaiatan mengangkat Imam ( silahkan
dengar rekamannya). AFW pada waktu itu tidak dibaiat sebagai Imam. Pada waktu itu tidak ada yang membaiat AFW
sebagai Imam.
40. Saya mendengar AFW mengatakan bahwa beliau sebagai Imam pada tanggal 25 Agustus 1996, setelah saya dan Ali
Mahfudh memberi masukkan kepadanya bahwa AFW adalah Imam . Jadi, pernyataan sebagai Imam bukan hanya pada
tanggal 28 September 1996, tetapi sebelumnya sudah menyatakan sebagai Imam. Jelas, bahwa saya mengajukan sebutan
bahwa AFW sebagai Imam adalah sewaktu beliau masih ada (hidup). Betul, bahwa merangkap jabatan tidak
menghilangkan jabatan sebelumnya. Tapi, khusus untuk AFW secara formal dalam MKT. No.1/1994 tidak tertera KPSI
merangkap KUKT.dalam maklumat itu pun tidak tertera jabatan KUKT. Kecuali ada lagi pengangkatan KUKT baru,
sehingga menjadi anggota Dewan Imamah, sehingga pula sesuai dengan perundang –undangan bahwa calon Imam
diambil dari Anggota Dewan Imamah.
41. Dalam MKT. No.I/1994, yang tertera yaitu pemimpin yang berhak sedang berhalangan, tetapi yang menjadi masalah
yaitu tatkala AFW akan bebas dari penjara 2 Agustus 1996 sudah bikin makalah Pancasila, sehingga batal, sehingga pula
penyerahan kepemimpinan kepada beliau pun tidak sah. Pembuatan makalah Pancasila merupakan kesalahan paling
mendasar daripada kesalahan membuat peraturan atau tek Nota Dinas. Jadi, walaupun redaksi suatu keputusan atau

peraturan-peraturan dianggap benar, namun jika diawali oleh hal yang batal maka semua esensi keputusan/ peraturan pun
tidak sah. Semua mujahidin NII paham bahwa setiap keputusan atau peraturan bisa saja salah. Karena itu, ada kalimat ;
Bila kemudian hari peraturan ini dianggap salah, maka peraturan ini akan diperbaiki. Beda lagi dengan diawali oleh bikin
makalah Pancasila yang dianggap batal, maka bukan direvisi, tetapi harus ditinggalkan. Sebab, jika dasar awalnya sudah
salah maka seterusnya juga salah.
42. Anda mengatakan bahwa istilah Nota Dinas majhul, tidak terdapat dalam perundang-undangan NII, juga isinya tidak
PD.. Artinya, bahwa Nota Dinas penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW 25 Agustus 1996 itu tidak benar,
baik itu secara esensi maupun secara redaksinya. Dari itu saya dikatakan oleh anda tidak PD memimpin. Mungkin anda
mengatakan begitu karena didalam redaksinya disebutkan bahwa AFW sebagai Imam, sedangkan pandangan anda bahwa
saya yang sebagai Imam. Tetapi, pandangan dari yang mengetik (pihak sekretariat) surat tersebut, mungkin karena
beberapa hari sebelum surat itu dibuatkan maka kepemimpinan dari MYT kepada AFW sudah terlebih dulu diserahkan
sehingga dengan demikian AFW disebut sebagai Imam.
Harus ditambahkan lebih tidak PD lagi bagi saya sebelum barro dari kepemimpinan Ali Mahfudz bila harus menjelaskan
sejarah estapeta kepemimpinan NII 1996 secara keseluruhan – Yang ternyata sebelum AFW mengangkat aparatnya
tanggal 28 September sudah terlebih dulu bikin makalah Pancasila ketika akan bebas dari penjara 2 Agustus 1996.
Ditambah lagi penandatanganan MKT. No.IV/`1996 dilakukan sesudah beberapa hari dibacanya referensi dalam Majalah
UMMAT terbitan 9 Desember 1996, serta melalui tawar-menawar jaminan uang. Sehingga semua itu telah menjadi beban
moral bagi saya sepuluh tahun lamanya.
Pada saat-saatnya banyak aparat dan ummat yang mulai tidak mengakui kepemimpinan Ali Mahfudz, saya pernah
mendengar langsung dari Pak Ali Mahfudz bahwa ada pihak yang akan menggugat pengadilan terhadap AFW karena
dianggapnya tidak sah. Saya tahu bahwa yang akan menggugat hal itu adalah diantara mereka yang sering berhubungan
dengan AFW, sehingga mereka tahu proses penandatangan lembaran MKT. No.IV/1996 dari AFW. Dan saya mendengar
kabar bahwa AFW mengatakan kepada mereka bahwa tandatangan itu dipaksa.
Perkiraan saya bahwa mereka tidak jadi menggugat, mungkin karena kondisi keamanannya. Padahal seandainya hal itu
terjadi maka saya tidak PD dalam mempertahankan legalitas kepemimpinan Ali Mahfudz, sebab akan terungkap oleh
mereka serta diketahui oleh semua ummat atau publik dari berbagai kubu bahwa tanda tangan Abdul Fattah
Wirananggapati dalam lembaran MKT. No.IV/1996 ditandatanganinya sesudah diketahui bahwa AFW mengakui ideologi
Pancasila, serta melalui proses tawar-menawar jumlah jaminan uang. Sedangkan tandatangan Muhammad Yusuf Thohiry
sebagai KSU I, wakil Imam adalah berdasarkan adanya tandatangan AFW dalam lembaran MKT. tersebut tadi. Begitu
juga hakim yang mengadili AFW atas perintah dari MYT, sedangkan MYT bisa memerintahkan hal itu karena sesudah
adanya tandatangan AFW dalam lembaran MKT. No.IV/1996. Sehingga jika AFW dinyatakan bersalah oleh pengadilan
maka MKT. No.IV/1996 juga salah, yakni tidak sah. Sehingga pula jika AFW diberhentikan dari jabatannya, maka berarti
Dewan Imamah yang telah diangkatnya juga bubar. Sebab itu, saya tidak berkutik ketika ada yang berkata bahwa
pengadilan terhadap AFW itu sebagai lawakan, bahan tertawaan. Saya tidak PD bila membantahnya.
43. Sebelum saya mengeluarkan PENJELASAN & STATEMEN, tanggal 27 September 2007, jauh sebelum itu anda
menganjurkan kepada saya via telpun, agar Nota Dinas 25 Agustus 1996 direvisi. Ketika itu saya mengatakan sedang
bingung mencari solusinya. Dan saya akan menuliskannya. Ketika itu pula anda menjawabnya,”Silahkan !” Bagi saya
direvisi atau tidak tetap saja salah, yakni tidak sah, karena AFW yang menerima penyerahan kepemimpinannya terlebih
dulu menerima ideologi Pancasila, sehingga dinyatakan batal. Dari itu dalam PENJELASAN& STATEMEN, saya
mengemukakan, “ Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagaimana yang dikemukakan di Bekasi,
atau seperti tertera dalam Majalah KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca sekarang
ini. Tapi, mungkin saja terungkapnya kekeliruan mengenai Nota Dinas, 25 Agustus 1996 hakekatnya disebabkan
penentuan nilai yang masih tersembunyi sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Robb juga yang Maha
Mengetahuisesungguhnya.”
Artinya, tidak akan terjadi penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, dan tidak
ada pula Nota Dinas yang anda maksudkan tadi.
44. Dalam menanggapi Penjelasan & Statemen Muhammad Yusuf Thohiry, anda tidak menanggapi esensi permasalahan
yang menjadi prinsip paling mendasar, yakni bunyi kalimat yang berkaitan dengan AFW bebas dari penjara dengan
membuat makalah Pancasila, justru mengaburkan dengan hal-hal yang tidak bersifat esensial dari permasalahan politik.
Buktinya, satu pun dari esensi tulisan dibawah tidak ada yang anda tanggapi, yaitu:

1.a. “ Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagaimana yang dikemukakan di Bekasi,
atau seperti tertera dalam Majalah KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca
sekarang ini”. Tapi, mungkin saja terungkapnya kekeliruan mengenai Nota Dinas, 25 Agustus 1996 hakekatnya
disebabkan penentuan nilai yang masih tersembunyi sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Roob
juga yang Maha Mengetahui sesungguhnya. (
halaman 32).

1.b. “Adapun penandatanganannya yaitu sesudah beberapa lama dari terbitnya Majalah UMMAT, terbitan 9
Desember 1996, atau sesudah terjadinya keguncangan di kalangan ummat serta aparat terhadap wawancara
AFW mengenai Pancasila” (
halaman 37).

1.c. ”Beberapa lama sesudah penandatanganan, diantara empat yang menyaksikannya ada yang
mengungkapnya bahwa untuk penandatanganan surat tersebut di atas didahului dengan tawar-menawar
mengenai jaminan….. Sehingga dari terungkapnya itu ada yang ragu mengenai sah atau tidaknya
penandatanganan lembaran pengangkatan aparat dalam MKT. No.4/1996.” (
halaman 38).
1.d. “ Dengan jawaban dari MYT itu rupanya tidak puas, sebab orang itu menyanggahnya dengan berkata,”
Perkataan itu beda nilainya dengan tanda tangan.”(
halaman38).
Saya yakin bahwa orang yang memiliki kompetensi selevel anda, mengerti makna penjelasan secara diplomasi setelah
membaca kalimat-kalimat di atas, baik itu yang sebelumnya maupun yang sesudahnya. Sehingga bisa menafsirkan
semuanya. Yakni:
1.Sebelum MYT menyerahkan kepemimpinannya kepada AFW, kabar yang diperoleh bahwa AFW bebas dari
penjara hanya dengan dua sarat yaitu dengan jaminan keluarga dan uang satu juta rupiah. Tetapi, nyatanya dalam
Majalah KIBLAT terbitan 14 Mei 2002 disebutkan juga dengan sarat membuat makalah Pancasila. Artinya,
sebelum terjadi penyerahan kepemimpinan, 25 Agustus 1996 telah terjadi kebohongan, yakni tidak jaa uuka
(Q.S.4:64) sehingga dalam penyerahan kepemimpinan tersebut didapat penentuan nilai hukum yang tersembunyi,
yakni AFW sudah terlebih dulu batal . Sehingga pula sesudah hal itu diketahui maka terjadilah ketidakmulusan
estapeta kepemimpinan NII 1996.
1.Penandatanganan MKT.No.IV/1996 dilakukan sesudah beberapa hari dari diketahui dari Majalah UMMAT,
terbitan 9 Desember 1996 bahwa AFW mengakui ideologi Pancasila. Jika AFW dianggap batal atau jatuh nilai
dari NII , maka MKT. yang ditandatanganinya juga tidak sah. Sejarah mencatat AFW bebas dari penjara 2
Agustus 1996. Penyerahan kepemimpinan kepadanya 25 Agustus 1996. Pengangkatan para AKT/Dewan Imamah
tanggal 28 September 1996. Majalah UMMAT yang memuat wawancara AFW tadi, terbit 9 Desember 1996.
1.Penandatanganan MKT.No.IV/1996 selain dilakukan sesudah beberapa hari dari keluarnya Majalah UMMAT,
terbitan 9 Desember 1996 tentang wawancaranya dalam mengakui ideologi Pancasila, juga jaminan…. Sekalipun
sesudah kata “jaminan” itu dibubuhi titik titik, namun bagi ummat yang selalu ingin mengetahui kebenaran
sejarah, maka bertanya kepada yang sudah tahu ;”Jaminan apa itu ?” Akhinya diketahui , yaitu jaminan uang.
Sehingga diketahui pula bahwa estapeta kepemimpinan didasari hal itu, maka tidak benar. Dan berarti salah.
1.Ada yang tidak puas dengan jawaban dari MYT; ”Bahwa ketika AFW selesai melantik para AKT tanggal 28
September 1996 telah mengatakan bahwa MKT. No. IV/1996 akan ditandatangani. Hal itu ada rekamannya. Dari
jawaban MYT itu bisa diartikan bahwa saya sudah berusaha mempertahankan eksistensi kepemimpinan Ali
Mahfudz atau sahnya MKT. No.IV/1996 dengan argumentasi bahwa AFW telah berkata;”Akan
menandatanganninya. Tetapi, sesudah sepuluh tahun lamanya, maka pertahanan argumentasi tersebut ambruk,
ketika didebat bahwa perkataan itu beda dengan tandatangan. Artinya, tetap tandatangan dalam MKT.No.IV/1996
itu mengandung nilai komersil sehingga bukan benar. Mujahid yang berkepemimpinan diberdasarkan ilmu
(Q.S.17:36), maka bisa menilai mana persoalan yang paling mendasar yang mengakibatkan batalnya estapeta
kepemimpinan NII 1996, yaitu akibat dari AFW tidak menjelaskan bahwa beliau sudah bikin makalah Pancasila
sebelum MYT menyerahkan kepemimpinannya kepadanya. Sehingga pengangkatan para AKT yang tertuang
dalam MKT No.IV/1996 tidak sah. Hukum yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Al Qur’an dan
Hadits Shohih, sedangkan Pancasila dasar negara RI. Jadi, jika MKT. No.IV/1996 ditandatanganinya oleh AFW

yang sudah terlebih dulu diketahui bikin makalah Pancasila, maka jelas bertolakbelakan dengan Kanun Asazy
pasal 2 sehingga ilegal.
Semua sudah memahami bahwa tiap undang-undang bisa saja menghendaki perubahan sesuai dengan situasi dan
kondisi, sehingga pada kemudian hari bisa direvisi kembali, selama tidak bertentangan dengan prisip paling mendasar,
yaitu dengan hukum tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Al Qur’an dan Hadits Shohih. Adapun
MKT.No.IV/1996 adalah ilegal, dalam arti tidak sah. dengan demikian solusinya yaitu kembali kepada struktur
kepemimpinan yang tertuang dalam MKT.No.I/1994. Sebab, bukan dalam ruang lingkup NII lagi apabila masih mengakui
MKT yang ditandatangani oleh orang yang telah mengakui ideologi Pancasila, seperti yang diketahui dalam referensi
Majalah UMMAT pada halaman 26, terbitan 9 Desember 1996.
————————————

Tambahan Jawaban Diluar Tanggapan

1.Sementara ada yang berkata; Bahwa kesalahan ( dalam penyerahan kepemimpinan ) pada masa lalu, tidak perlu
diungkit untuk dikembalikan kepada yang sebelumnya. Hal itu disamakannya dengan kesalahan dalam cara
melakukan sholat wajib pada masa lalu, yakni bahwa sholat yang caranya salah pada masa lalu tidak usah dikutik
dan diulangi kembali pada masa sekarang, Yang penting sekarang dan masa mendatang sholatnya harus benar.
Terhadap perkataan sedemikian itu saya menjawabnya, yaitu:
1.Bahwa Sholat itu kitabam maukuuta (Q.S.4:103), yakni waktunya sudah ditentukan. Jangankan lagi yang sudah
diliwati dengan waktu sepuluh tahun, untuk sholat pada waktu subuh saja tidak bisa diulangi pada waktu maghrib.
1.Bahwa sahnya sholat, pertama yaitu bila sudah terlebih dulu memeluk Diinul Islam. Bagi yang sudah mengakui
Islam bisa memperbaiki sholatnya pada masa sekarang dan masa mendatang. Maknanya, bilamana seseorang itu
yang asalnya sudah mengakui Islam, tetapi kemudian menyatakan pengakuannya kepada agama yang
bertolakbelakang dengan Islam, namun masih saja melakukan sholat maka tidak sah sholatnya, baik itu sekarang
maupun masa mendatang. Jadi, kalau mau sah sholatnya, maka harus terlebih dulu menyatakan kembali kepada
Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
1.Hukum yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Al Qur’an dan Hadits Shohih (Kanun Azasy pasal 2).
Hal itu bertolakbelakang dengan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Maknanya, bilamana seseorang
yang asalnya sebagai pemimpin NII, tapi kemudian mengakui ideologi Pancasila berarti keluar dari NII, dan
bukan lagi pemimpin NII, bukan pula warga NII. Dengan demikian jika yang sudah terlebih dulu mengakui
Pancasila itu, lalu kemudiannya mengangkat para AKT/ Dewan Imamah , maka pengangkatan tersebut tidak sah.
Begitu juga tandatangan pengangkatannya dalam MKT. No.IV/1996 tidak sah, karena tidak logis bila MKT. NII,
tetapi ditandatangani oleh yang sudah terlebih dulu mengakui Pancasila (Perhatikan kembali Manifes Politik
Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1952, Bab VII tentang Pancasila). Jadi, selama berpegang pada MKT.
No.IV/1996, maka tidak ada perbaikan dalam NII, karena bila didasarinya dengan yang tidak sah maka produk
selanjutnya juga tidak sah. Jadi, untuk bisa mengadakan perbaikan dalam NII, maka solusinya yaitu menanggalkan
MKT. No.IV/1996 dan kembali kepada struktur kepemimpinan dalam MKT. No.I/1994 yang tidak mengandung
nilai Pancasila, sehingga benar-benar dalam koridor konstitusi Negara Islam Indonesia.
1.Terakhir ini ada yang mengatakan;”Bahwa bikin makalah Pancasila itu adalah kesalahan AFW pada masa lalu,
yang sebelum penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW, kita tidak mengetahuinya. Maka, mudah-
mudahhan Allah mengampuninya, sehingga tidak harus menanggalkan MKT.No.IV/1996, sehingga tidak perlu
kembali kepada kepemimpinan sebelumnya.
Jawaban dari saya:
Bahwa adanya maghfiroh (ampunan) dari Allah mesti didahului dengan bertobat. Adapun saratnya bertobat ialah
sesudah mengakui kesalahan kemudian mengadakan perbaikan sehingga tidak meneruskan perbuatan yang sudah
diketahuinya salah. Uraiannya sebagai berikut, yaitu perhatikan bunyi ayat-ayat ini:

¢

OèO ¨bÎ) š/u‘ šúïÏ%©#Ï9 (#qè=ÏJtã uäþq¡9$# 7′s#»ygpg¿2 §NèO (#qç/$s? .`ÏB ω÷èt/ y7Ï9ºsŒ (#þqßsn=ô¹r&ur
¨bÎ) y7/u‘ .`ÏB $ydω÷èt/ Ö‘qàÿtós9 îLìÏm§‘ ÇÊÊÒÈ

“Terhadap mereka yang berbuat kesalahan karena kebodohan (ketidaktahuannya) nya, lalu ia bertaubat serta
memperbaiki diri tingkah lakunya, maka setelah itu, sungguh- sungguh Robb-mu Maha Pengampun dan Penyayang.”-
(Q.S. 16:119 )

žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qç/$s? (#qßsn=ô¹r&ur (#qãZ¨t/ur šÍ´¯»s9′ré’sù ÛUqè?r

 

& öNÍkön=tæ 4

Ž

$tRr&ur Ü>#§qG9$#

ÞOÏm§

Š 9$# ÇÊÏÉÈ

“Kecuali orang-orang yang telah taubat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan [kembali] keterangan-keterangan
[Robb]. Aku terima taubatnya. Dan Aku adalah Penerima tobat [dan] Maha Penyayang.”- (Q.S.2:160 ).”

Pengertian memperbaiki kesalahan, artinya meninggalkan kesalahan yang tadinya tidak diketahuinya, dan
menggantikannya dengan yang benar, tetapi jika masih berpegang atau merujuk kepada yang sudah salah, maka dianggap
tidak bertaubat, sehingga tidak memperoleh ampunan dari Allah. Berkenaan dengan estapeta kepemimpinan Negara
Islam Indonesia, maka adakah disebut perbaikan jika masih menggunakan MKT. yang ditandatanganinya oleh yang sudah
bikin makalah Pancasila ? Berkaitan dengan hal itu pula perhatikan lagi ayat yang bunyinya:
žwÎ) `tB zOn=sß ¢OèO tA£‰t/ $KZó¡ãm y‰÷èt/ &äþqß™ ’ÎoTÎ*sù Ö‘qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇÊÊÈ

“Lain halnya dengan orang yang zalim, kecuali bila digantinya kezaliman itu dengan kebaikan, (Aku, mengampuninya),
karena sesungguhnya Aku Maha Pengampun dan Penyayang.”- (Q.S. 27:11 ).

Hukum yang tertinggi dalam Negara Islam Indonesia adalah Qur’an dan Hadits Shohih. Adapun Pancasila dasar Negara
Republik Indonesia, maka dengan memperhatikan ayat di atas, bisakah disebut sebagai mengganti kezaliman /kesalahan
dengan kebaikan, jika dalam lingkup Negara Islam Indonesia, tetapi masih menggunakan MKT. No.IV/1996 yang sudah
menjadi fakta sejarah bahwa ditandatanganinya oleh yang sudah terlebih dulu mengakui ideologi Pancasila ?
Kesimpulannya: Yaitu, disebabkan sebelum kepemimpinan dari MYT diserahkan kepada AFW, tidak diketahui oleh
MYT atau Dewan Imamah yang tertuang dalam MKT. No.I/1994, bahwa AFW sudah terlebih dulu menyerah kepada
musuh dengan bikin makalah Pancasila, maka sesudah kesalahan itu diketahui benang merahnya, maka diadakanlah
perbaikan sesuai dengan ayat-ayat (Q.S.16:119, S.27:11, S.2:160 ) tadi, dengan cara membatalkan penyerahan
kepemimpinan tersebut. Sehingga penggunaan MKT.No.IV/1996 diganti dengan MKT.No.I/1994.

Hasbunal-laahu wa ni’mal wakil. Ni’mal maulaa wani’mannashiir.

$

tBur !$uZøŠn=t㠞wÎ) à÷»n=t7ø9$# ÚúüÎ7ßJø9$# ÇÊÐÈ

“Dan kewajiban Kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.
Mardhotillah, 30 Agustus 2008
TTD
Muhammad Yusuf Thohiry

-
[1] Catatan Malaikat
[2] lihat Kanun Asazy pasal 2
[3] Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sebelum diganti menjadi TNI
[4] Pada awalnya saya berusaha agar tidak ada yang tahu bahwa lembaran MKT.No.4/1996 tidak ditandatangani sebelum
terjadi wawancara AFW mengenai pengakuan beliau terhadap Pancasila.Tetapi, disebabkan saat itu adalah kesempatan
terakhir bagi saya untuk mengajukannya kepada beliau, maka pengajuan tentang tandatangan itu disaksikankan juga oleh
Sdr. Abu Bakar. Ali Mahfudz, dan Kasid. Namun, dalam hal itu saya tidak tahu apa yang terdapat dalam pemikiran
ketiganya sehingga mereka menyetujui pengajuan penandatanganan sesudah terjadi wawancara AFW, apakah itu karena
pemikiran mereka sama dengan saya karena keterpaksaan atau karena ada pemikiran lain. Walloohu’alaam
[5] alat komunikasi waktu itu

[6] Disebutkan bertanya dalam hatinya, karena MYT tidak tahu apakah pertanyaan Sdr. Endin disampaikan langsung
kepada AFW atau tidak
[7] Sdr. Tolhah, seorang yang kerap berhubungan dengan berbagai figur pimpinan kelompok mujahid/ummat, meskipun
setahu saya waktu itu beliau tidak memiliki jabatan yang formal, hal itu pernah dikemukakan olehnya kepada saya
[8] MKT.No.4/1996 isinya mengenai pengangkatan para AKT, atau para anggota Dewan Imamah
[9] oleh nara sumber tidak disebutkan namanya
[10] Kebingungan saya dalam menjawab sebagaimana yang sudah dikemukakan, berjalan lebih sepuluh tahun, yakni
sebelum barro dari struktur kepemimpinan yang didasari penyerahan kepemimpinan dari MYT kepada AFW. Adapun
sesudah barro maka saya bisa menjawabnya dengan tegas serta tidak beban moral.
[11] Lihat, TANTANGAN DAN JAWABAN, oleh MatiaMadjiah, cet.4,hal. 101,Jakarta,Balai Pustaka
[12] Pledoi Mia Rasyid dalam pengadilan RI tahun 1982
[13] Berita Harian Gala 18 Maret 1982
[14] Kesal saya itu pernah disampaikan di hadapan AFW dengan kata-kata’meni hararese (sangat sulit)” bagi Abu
(AFW) untuk menandatanganinya

[15] Lihat Tanggapan Petikan Wawancara Abdul Fattah Wirananggapati
[16] Disebabkan yang saya tahu waktu itu beberapa tokoh DI/TII aktif dalam organisasi yang dilegalisir oleh pemerintah
RI
[17] termasuk saya sewaktu belum barro dari kepemimpinan yang didasari penyerahan dari MYT kepada AFW
[18] Hudaibiyah, ialah suatu daerah tempat terjadinya perdamaian atau perjanjian antara pihak Muslimin dari Madinah
dengan pihak Musyrikin Quraiys dari Makkah, sehingga perjanjian tersebut itu dinamakan “Perjanjian Hudaibiyah”
[19] Ridwan Al Washil bukan nama sebenarnya dari penulis tanggapan terhadap Penjelasan dan Statemen Muhammad
Yusuf Thohiry Tentang Estapeta Kepemimpinan NKA- NII Tahun 1996
[20] Panggilan akrab kepada saya dari beliau
[21] Saya baru mengetahui perkataan AFW demikian, sesudah lebih sepuluh tahun. Padahal dulu saya sudah menanyakan
kepada yang dipintakannya, tentang apa alasannya AFW meminta lembaran MKT. yang ditandatanganinya dikembalikan
kepadanya
[22] F .T.R. kepanjangan dari Forum Taushiyah Rakyat, mereka adalah kelompok yang menuntut kembali kepada
MKT.No.11/1959, yakni kembali kepada sistem komandemen, sesuai dengan negara dalam masa perang
[23] pihak yang berada diluar kepemimpinan Ali Mahfudz
[24] Saya tidak mengemukakan nama orangnya disini, khawatir ia sudah lupa, kecuali bila satu saat saya bisa bertemu
kembali dengannya.

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

6 Tanggapan ke “Perjalanan kepemimpinan NII hingga Generasi ke 3”

1.

ada Berkata:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->