P. 1
Konsep Bimbingan Konseling

Konsep Bimbingan Konseling

|Views: 963|Likes:
Published by Novita Ulmi
Konsep Bimbingan Konseling (Bimbingan dan Konseling) A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yan g mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, m engatur, atau mengemudikan). Sedangkan menurut W.S. Winkel (1981) mengemukakan b ahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding: “ showing a way” (menunjukkan jalan )
Konsep Bimbingan Konseling (Bimbingan dan Konseling) A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yan g mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, m engatur, atau mengemudikan). Sedangkan menurut W.S. Winkel (1981) mengemukakan b ahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding: “ showing a way” (menunjukkan jalan )

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Novita Ulmi on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2013

pdf

text

original

Konsep Bimbingan Konseling (Bimbingan dan Konseling) A.

Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yan g mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, m engatur, atau mengemudikan). Sedangkan menurut W.S. Winkel (1981) mengemukakan b ahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding: “ showing a way” (menunjukkan jalan ), leading (memimpin), conducting (menuntun), giving instructions (memberikan pe tunjuk), regulating (mengatur), governing (mengarahkan) dan giving advice (membe rikan nasehat). Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbin gan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Hal ini tentu saja tidak s esuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini, dimana pada saat ini klien lah y ang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengam bilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambi lnya. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan, di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I. Djumhur dan Moh. Surya, 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses ba ntuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk mela kukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat. Peters dan Shertzer (Sofyan S. Willis, 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : t he process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. United States Office of Education (Arifin, 2003) memberikan rumusan bimbingan se bagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepa da peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problem a yang dihadapinya, misalnya problema kependidikan, jabatan, kesehatan, sosial d an pribadi. Dalam pelaksanaannya, bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar p eserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Jones et.al. (Sofyan S. Willis, 2004) mengemukakan : “guidance is the help given b y one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. Djumhur dan Moh. Surya, (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses p emberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecah kan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirin ya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kem ampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisas ikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam me ncapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat . Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemuk akan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayana n bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandi ri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bim bingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiata n pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Dari beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberik an pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah , bahwa : Bimbingan pada hakekatnya merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada indivi du atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis

. Tercapainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tuj uan yang ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan deng an konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbi ngan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Sel ama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya), kemudian sejak Kur ikulum 1994 hingga sekarang berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Akhir -akhir ini para ahli mulai meluncurkan wacana sebutan Profesi Konseling, meski s ecara formal istilah ini belum digunakan. Sejalan dengan dinamika kehidupan, kebutuhan akan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada lingkungan persekolahan, saat ini sedang dikembangkan pula pelayanan bimbingan dan konseling dalam setting yang lebih luas, seperti dalam k eluarga, bisnis dan masyarakat luas lainnya, yang kesemuanya itu membawa konsekw ensi tersendiri bagi Untuk kepentingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem p endidikan nasional. B. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih dit emukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinistherapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. Padahal kenyataan di sekolah jumlah pes erta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau d ua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%) . Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tid ak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbingan dan kons eling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sek olah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling s ebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik, sepert i peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu sebenarnya dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaik an oleh guru pembimbing/konselor. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan atau pre ventif. Dalam hal ini, Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan landasan-landasan f ilosofis dari orientasi baru bimbingan dan konseling, yaitu : Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan p eserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi un tuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiaw i dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup meng embangkan diri dan potensinya.

Profesional, yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesi onal atas dasar filosofis, teoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan ber bagi teknik bimbingan dan konseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konsel ing yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bimbingan da n konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pen cegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan lebi h dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pesert a didik yang bermasalah saja. C. Visi, Misi dan Tujuan Bimbingan dan Konseling Visi bimbingan dan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang memba hagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkemba ngan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri da n bahagia. Berdasarkan visi tersebut terdapat tiga misi yang diemban bimbingan d an konseling, yaitu : Misi pendidikan; mendidik peserta didik melalui pengembangan perilaku efektif-no rmatif dalam kehidupan keseharian dan yang terkait masa depan. Misi pengembangan; memfasilitasi perkembangan individu di dalam satuan pendidika n formal ke arah perkembangan optimal melalui strategi upaya pengembangan lingku ngan belajar dan lingkungan lainnya serta kondisi tertentu sesuai dengan dinamik a perkembangan masyarakat. Misi pengentasan masalah; membantu dan memfasilitasi pengentasan masalah individ u mengacu kepada kehidupan sehari-hari yang efektif. Dalam berbagai literatur tentang bimbingan dan konseling, para ahli mengemukakan tentang tujuan bimbingan dan konseling yang beragam, tetapi pada intinya akan m enerucut pada tujuan yang sama yaitu tercapainya perkembangan para peserta didik /klien secara optimal dan tercapainya penyesuaian diri.. D. Bidang Bimbingan dan Konseling Secara formal, terdapat empat bidang yang menjadi ruang lingkup garapan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks pesekolahan saat ini, yaitu : Bidang pelayanan kehidupan pribadi; membantu individu menilai kecakapan, minat, bakat, dan karakteristik kepribadian diri sendiri untuk mengembangkan diri secar a realistik. Bidang pelayanan kehidupan sosial; membantu individu menilai dan mencari alterna tif hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya atau dengan lingk ungan sosial yang lebih luas. Bidang pelayanan kegiatan belajar; membantu individu dalam kegiatan dalam rangka mengikuti jenjang dan jalur pendidikan tertentu dan/atau dalam rangka menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu. Bidang pelayanaan perencanaan dan pengembangan karier; membantu individu dalam m encari dan menetapkan pilihan serta mengambil keputusan berkenaan dengan karier tertentu, baik karier di masa depan maupun karier yang sedang dijalaninya. Sebagaimana telah disinggung di atas, tentang perluasan kawasan bimbingan dan ko nseling yang mencakup kehidupan yang lebih luas. Saat ini sedang dikembangkan du a bidang baru yaitu bidang pelayanan kehidupan berkeluarga untuk membantu indivi du dalam mencari dan menetapkan serta mengambil keputusan berkenaan dengan renca na perkawinan dan/atau kehidupan berkeluarga yang dijalaninya dan bidang pelayan an kehidupan keberagamaan untuk membantu individu dalam memantapkan diri berkena an denganperilaku keberagmaan menurut agama yang dianutnya.

E. Fungsi Bimbingan dan Konseling Fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling . yaitu: Pemahaman; fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan pemahaman pihak-piha k tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi pemah aman diri dan dan lingkungan peserta didik. Pencegahan; fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan tercegahnya atau te rhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat p roses perkembangannya. Pengentasan; fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan terentaskannya ata u teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan te rhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta di dik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan dalam bentuk berbagai jenis layanan dan kegiat an pendukung bimbingan dan konseling. Sejalan dengan orientasi baru Bimbingan dan Konseling, maka dalam prakteknya, la yanan bimbingan dan konseling seyogyanya lebih mengedepankan fungsi-fungsi pemah aman, pencegahan dan pengembangan.Berjalannya fungsi-fungsi tersebut merupakan i ndikator keberhasilan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. F. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan, sasaran layanan, jenis l ayanan dan kegiatan pendukung, serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan b imbingan dan konseling. Prinsip-prinsip tersebut adalah : Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a) melayani semua indivi du tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial; (b) mempe rhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam lay anan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu; (a) me nyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian peng aruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masyarakat sekitar, (b) timbulnya ma salah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial, ekonomi dan budaya. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan in dividu, sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pen didikan dan pengembangan diri peserta didik; (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkunga n; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya ta hap perkembangan individu; (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu d iadakan penilaian hasil layanan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan; (a) diar ahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri; (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas k emauan diri sendiri; (c) permaslahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesio nal yang relevan dengan permasalahan individu; (d) perlu adanya kerja sama denga n personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewena

ngan dengan permasalahan individu; dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konsel ing melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian lay anan. G. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain di muati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, juga dituntut un tuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan mem perlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan, sedangka n pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan, se rta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling i tu sendiri. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai j iwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila as as-asas ini tidak dijalankan dengan baik, maka penyelenggaraan bimbingan dan kon seling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Asas- asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. Asas Kerahasiaan Asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (kl ien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh d an tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing (konselor) b erkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga keraha siaanya benar-benar terjamin, 2. Asas Kesukarelaan Asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengiku ti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (kons elor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. 3. Asas Keterbukaan Asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/ke giatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dar i luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor) berkew ajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klie n) mau terbuka, guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. 4. Asas Kegiatan Asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan da pat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembi mbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. 5. Asas Kemandirian Asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling; yaitu peserta di dik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri d an lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. 6. Asas Kekinian Asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni p

ermasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Kondisi ma sa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. 7. Asas Kedinamisan Asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/k lien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke wa ktu. 8. Asas Keterpaduan Asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling , baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbaga i pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan har us dilaksanakan sebaik-baiknya. 9. Asas Kenormatifan Asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningk atkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. 10. Asas Keahlian Asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselngg arakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layan an dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-bena r ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bim bingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. 11. Asas Alih Tangan Kasus Asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Gu ru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-gu ru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing (konselor), d apat mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. 12. Asas Tut Wuri Handayani Asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan ketela danan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luas nya kepada peserta didik (klien) untuk maju. H. Jenis-Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Jenis-jenis layanan pada dasarnya merupakan operasionalisasi dari konsep bimbing an dan konseling dalam rangka memenuhi berbagai asas, prinsip, fungsi dan tujuan bimbingan dan konseling. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat in i terdapat tujuh jenis layanan. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin be rkembang, baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Para ahli bimbinga n di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu lay anan konsultasi dan layanan mediasi. Namun, kedua jenis layanan ini belum dijadi kan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan di sekolah.Untuk lebih jela snya, di bawah ini akan diuraikan ketujuh jenis layanan bimbingan dan konseling

yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. a. Layanan Orientasi Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. b. Layanan Informasi Layanan informasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan mem ahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendid ikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapa t mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial , belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. La yanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. c. Layanan Pembelajaran Layanan pembelajaran merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembang kan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau pe nguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berb agai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. d. Layanan Penempatan dan Penyaluran Layanan penempatan dan penyaluran merupakan layanan yang memungkinan peserta did ik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusa n/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan t ujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap po tensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. e. Layanan Konseling Perorangan Layanan konseling perorangan merupakan layanan yang memungkinan peserta didik me ndapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan per masalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling pe rorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. f. Layanan Bimbingan Kelompok Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta d idik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemam puan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui di namika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan mem bahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melal ui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan p engembangan g. Layanan Konseling Kelompok Layanan Konseling kelompok merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (mas ing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengenta san permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok,. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. I. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemuka

kan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini, terda pat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, yaitu: a. Aplikasi Instrumentasi Data Aplikasi instrumentasi data adalah kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterang an tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainny a, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun n on tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikny a dan memahami karakteristik lingkungan. Fungsi kegiatan ini adalah pemahaman b. Himpunan Data Himpunan data adalah kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarak an secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup . Kegiaran ini memiliki fungsi pemahaman. c. Konferensi Kasus Konferensi kasus adalah kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan , kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konfe rensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memili ki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.Kegi atan konferensi kasus memiliki fungsi pemahaman dan pengentasan. d. Kunjungan Rumah Kunjungan rumah merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan r umah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk m emperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Kegiatan kunjungan rumah memiliki fungsi pemaha man dan pengentasan. e. Alih Tangan Kasus Alih tangan kasus merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebi h tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penan ganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajara n atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dap at memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang diha dapinya melalui pihak yang lebih kompeten. Fungsi kegiatan ini adalah pengentasa n. H. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, se perti landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor y ang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaks ana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah ban gunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat d an tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling it u sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara umum terda

pat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konselin g, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial-budaya, dan la ndasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. Selanjutnya, di bawah ini akan d ideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konsel ing yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.Land asan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha men cari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dap at dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Dari berbagai al iran filsafat yang ada, para penulis Barat .(Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentan g hakikat manusia sebagai berikut : - Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu unt uk meningkatkan perkembangan dirinya. - Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia b erusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. - Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. - Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berar ti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengo ntrol keburukan. - Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji sec ara mendalam. - Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwuj ud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. - Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. - Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pili han-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu dan akan menja di apa manusia itu. - Manusia pada hakikatnya positif, yang pada setiap saat dan dalam suasana apapu n, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan unt uk melakukan sesuatu. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseli ng diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakuk an kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. 2. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi kons elor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepen tingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai ol eh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkunga n, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian. a. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperi laku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimili ki oleh individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisn ya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, me mperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya moti f-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individ u (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi b

entuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tuj uan. b. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempe ngaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahi r dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti s truktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kep ribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikemba ngkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dima na individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-be da. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang at au bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), no rmal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimiliki nya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan bera da dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan. c. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantarany a meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral d an sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan seb agai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya doronga n biologis dan kultural dalam perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentan g dorongan seksual; (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; ( 4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tent ang perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier; (7) T eori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8) Teori dari Havighurst tent ang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewa sa. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkemb angan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan indivi du itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkunga n. d. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia b elajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengemban gkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguas aan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tand a-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/keter ampilan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik beru pa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa t eori belajar yang bisa dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme; (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi; dan ( 3) Teori Belajar Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif k onstruktivisme. e. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang keprib

adian secara bulat dan komprehensif.. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang di lakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemu kan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari stu di yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian ya ng dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organis asi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caran ya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pen gertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003 ) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang be rsifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari d alam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimb angan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga da pat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didu kung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik , tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berp engaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersa ngkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribad ian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Fre ud, Teori Analitik dari Carl Gustav Jung, Teori Sosial Psikologis dari Adler, Fr omm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, Teori Medan dari Kurt L ewin, Teori Psikologi Individual dari Allport, Teori Stimulus-Respons dari Thron dike, Hull, Watson, Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara it u, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang men cakup : - Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tid aknya dalam memegang pendirian atau pendapat. - Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi ter hadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. - Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen. - Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa. - Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci t angan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. - Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpers onal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunik asi dengan orang lain. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan m engembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat m emahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perila ku individu yang dilayaninya (klien). Selain itu, seorang konselor juga harus da pat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan se genap potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbaga i teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadi an klien, konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kep ribadian kliennya. Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai la ndasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasa i dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi be lajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. 3. Landasan Sosial-Budaya

Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupaka n produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah didi dik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntu tan sosial-budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosi al-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial-b udaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyeb abkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, ma ka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhir nya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor den gan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan buda ya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber h ambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar bu daya, yaitu : (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non-verbal; (c) stereotipe; ( d) kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Kurangnya penguasaan bahasa yang di gunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Ba hasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda, dan bahkan mun gkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang un sur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak t ahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi so sial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) m engetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbinga n dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan be rbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan la ndasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangs a yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi plural istik. 4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki das ar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Pengetahuan ten tang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan mengguna kan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan pe nelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan, layanan bimbingan dan konseling tela h menekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan dan pengolahan lingkunga n secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno, 2003). Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Beberapa di siplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling, seperti : psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evalua si, biologi, filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu huku m dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk ke pentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori ma

upun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selai n dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan melalui berbaga i bentuk penelitian. Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis ko mputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bim bingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak m emanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pen didikan. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknol ogi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan me lalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counsel ing”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menun tut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno, 2 003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mamp u mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik berd asarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan peneli tian. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, Prayit no (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasa n paedagogis, landasan religius dan landasan yuridis-formal.. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga seg i, yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merup akan salah satu bentuk kegiatan pendidikan; (b) pendidikan sebagai inti proses b imbingan dan konseling; dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan laya nan bimbingan dan konseling. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan; (b) sikap yang mendorong perk embangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-ka idah agama; dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secar a optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Ditegaskan pula oleh Moh. Surya (2 006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu peng etahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat ya ng ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan k ebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini sedang berkemba ng kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bers umber dari Undang-Undang Dasar, Undang – Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan M enteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyeleng garaan bimbingan dan konseling di Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->