Sejarah Pancasila – Kata “Pancasila” terdiri atas dua kata dari bahasa sansekerta yaitu palica yang artinya

lima dan sila artinya asas atau prinsip. Jadi pancasila dalam arti keseluruhan adalah 5 prinsip atau asas, dan kelima prinsip tersebut telah menjadi rumusan dan pedoman kehidupan dalam berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga Indonesia. Maka dari itu kita sebagai warga Negara Indonesia sangatlah penting mempelajari sejarah perumusan pancasila sebagai dasar ideology Negara Indonesia tercinta ini. Dalam perjalanan sejarah, pancasila mempunyai sejarah yang sangat panjang tentang terbentuknya perumusanperumusan pancasila dalam ketatanegaraan Indonesia. Menurut wikipedia, dalam upaya merumuskan pancaila sebagai dasar Negara yang resmi, terdapat usulan-usulan pribadi yang dikemukakan dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yaitu : • Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945. Yamin merumuskan lima dasar sebagai berikut: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dia menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya meragukan pidato Yamin tersebut. • Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sukarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya:
Pesan Sponsor

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa dokumen penetapannya ialah : • Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) – tanggal 22 Juni 1945 • Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar – tanggal 18 Agustus 1945 • Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat – tanggal 27 Desember 1949 • Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara – tanggal 15 Agustus 1950 • Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959) Hari Kesaksian Pancasila Pada tanggal 30 September 1965, adalah awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI). Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Hari itu, enam Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September[

Sila ketiga 1. serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Butir-Butir Pengamalan Pancasila Ketetapan MPR no. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. 4. 5. memperingati bahwa dasar Indonesia. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. 7. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. 8. . 5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 4. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. perdamaian abadi. 3. 2. 10. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. Mengakui persamaan derajat. kedudukan sosial. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sila kedua 1. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 45 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 9. 4. Berani membela kebenaran dan keadilan. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. warna kulit dan sebagainya. 2. 3. sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. dan kewajiban asasi setiap manusia. 2. Mampu menempatkan persatuan. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. adalah sakti. Sila Pertama 1. 5. jenis kelamin. kepercayaan. agama. Tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. 3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 7. keturunan. tak tergantikan. 6. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. dan keadilan sosial. persamaan hak. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain. kesatuan. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain. Pancasila. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 6. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. tanpa membeda-bedakan suku. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.[G30S-PKI] ] dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

7. 6. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 10. 2. Suka bekerja keras. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar 7. 5. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan. 8. 4. Sila kelima 1. Bhinneka Tunggal Ika. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain. 3. 2.6. Menghormati hak orang lain. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri. yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. 3. 8. hak. menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. 9. 9. 11. dan kewajiban yang sama. Sila keempat 1. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. 5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Mengembangkan perbuatan yang luhur. . 7. 4. Sebagai warga negara dan warga masyarakat. 10. 6. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Muh Yamin.budaya dan karakteristik bangsa. Rumusan Pidato Baik dalam kerangka uraian pidato maupun dalam presentasi lisan Muh Yamin mengemukakan lima calon dasar negara yaitu: 1. UUD Sementara. Hasil PPKI. Yamin Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 beberapa anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan rancangan “blue print” Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr.Kesejahteraan Rakyat Selain usulan lisan Muh Yamin tercatat menyampaikan usulan tertulis mengenai rancangan dasar negara.Peri Kemanusiaan 3.Kebangsaan Persatuan Indonesia . Rumusan I: Muh. saat ini asal usul dan kapan di keluarkan/disampaikannnya Pancasila masih dijadikan kajian yang menimbulkan banyak sekali penafsiran dan konflik yang belum selesai hingga saat ini. Konstitusi RIS. dalam perjalanan ketata negaraan Indonesia.sikap mental. yang merupakan perwujudan dari jiwa bangsa. Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama.Peri Kebangsaan 2. Hasil BPUPKI. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. dan Versi populer yang berkembang di masyarakat. Sukarno. Dari beberapa sumber.Peri ke-Tuhanan 4. Piagam Jakarta. Muh.Pancasila Sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final.Peri Kerakyatan 5. UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959). Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI. yaitu: 1. Namun walaupun pancasila saat ini telah dihayati sebagai filsafat hidup bangsa dan dasar negara. Usulan tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI oleh Muh Yamin berbeda dengan rumusan kata-kata dan sistematikanya dengan yang dipresentasikan secara lisan. Versi Berbeda. Namun dibalik itu semua ternyata pancasila memang mempunyai sejarah yang panjang tentang perumusan-perumusan terbentuknya pancasila. setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang telah atau pernah muncul.

Pada 22 Juni 1945 panitia kecil tersebut mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI dalam rapat informal. Trisila. Oleh karena itu rumusan Sukarno di atas disebut dengan Pancasila. beberapa anggota BPUPKI juga menyampaikan usul dasar negara.3.Gotong-Royong Rumusan III: Piagam Jakarta Usulan-usulan blue print Negara Indonesia telah dikemukakan anggota-anggota BPUPKI pada sesi pertama yang berakhir tanggal 1 Juni 1945.keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rumusan II: Ir.Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5.-atau peri-kemanusiaan 3.ke-Tuhanan yang berkebudayaan Rumusan Trisila 1.ke-Tuhanan Rumusan Ekasila 1. Sukarno pula.Kebangsaan Indonesia 2.-atau demokrasi 4. Usul Sukarno sebenarnya tidak hanya satu melainkan tiga buah usulan calon dasar negara yaitu lima prinsip. Usul ini disampaikan pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila.lah yang mengemukakan dan menggunakan istilah “Pancasila” (secara harfiah berarti lima dasar) pada rumusannya ini atas saran seorang ahli bahasa (Muh Yamin) yang duduk di sebelah Sukarno. diantaranya adalah Ir Sukarno[1]. Soekarno Selain Muh Yamin. Rapat tersebut memutuskan membentuk suatu panitia kecil berbeda (kemudian . dan satu prinsip. Selama reses antara 2 Juni – 9 Juli 1945. delapan orang anggota BPUPKI ditunjuk sebagai panitia kecil yang bertugas untuk menampung dan menyelaraskan usul-usul anggota BPUPKI yang telah masuk. Rumusan Pancasila 1.Internasionalisme. dan Ekasila. tiga prinsip.Kesejahteraan sosial 5.Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 4.Socio-demokratie 3.Mufakat.Socio-nationalisme 2.

Muh Yamin.Serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia .Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. Rumusan ini merupakan rumusan pertama sebagai hasil kesepakatan para “Pendiri Bangsa”. persatuan Indonesia. dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.dikenal dengan sebutan “Panitia Sembilan”) yang bertugas untuk menyelaraskan mengenai hubungan Negara dan Agama. “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan [A] dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. menurut dasar. [A.2] persatuan Indonesia. [A.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1.] serta [B] dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dokumen ini pula yang disebut Piagam Jakarta (Jakarta Charter) oleh Mr.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan.” Alternatif pembacaan Alternatif pembacaan rumusan kalimat rancangan dasar negara pada Piagam Jakarta dimaksudkan untuk memperjelas persetujuan kedua golongan dalam BPUPKI sebagaimana terekam dalam dokumen itu dengan menjadikan anak kalimat terakhir dalam paragraf keempat tersebut menjadi sub-sub anak kalimat. Persetujuan di antara dua golongan yang dilakukan oleh Panitia Sembilan tercantum dalam sebuah dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar”.3] kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan[. Adapun rumusan rancangan dasar negara terdapat di akhir paragraf keempat dari dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (paragraf 1-3 berisi rancangan pernyataan kemerdekaan/proklamasi/ declaration of independence). Dalam menentukan hubungan negara dan agama anggota BPUPKI terbelah antara golongan Islam yang menghendaki bentuk teokrasi Islam dengan golongan Kebangsaan yang menghendaki bentuk negara sekuler dimana negara sama sekali tidak diperbolehkan bergerak di bidang agama.Persatuan Indonesia 4. dan [A.1] kemanusiaan yang adil dan beradab.

dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (baca Piagam Jakarta) dibahas kembali secara resmi dalam rapat pleno tanggal 10 dan 14 Juli 1945.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. jarang dikenal oleh masyarakat luas. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan.Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Rumusan rancangan dasar negara hasil sidang BPUPKI.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. yang merupakan rumusan resmi pertama. menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. persatuan Indonesia.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rumusan IV: BPUPKI Pada sesi kedua persidangan BPUPKI yang berlangsung pada 10-17 Juli 1945. dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” tersebut dipecah dan diperluas menjadi dua buah dokumen berbeda yaitu Declaration of Independence (berasal dari paragraf 1-3 yang diperluas menjadi 12 paragraf) dan Pembukaan (berasal dari paragraf 4 tanpa perluasan sedikitpun).Persatuan Indonesia 4.Dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rumusan V: PPKI Menyerahnya Kekaisaran Jepang yang mendadak dan diikuti dengan Proklamasi Kemerdekaan .Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5.Rumusan populer Versi populer rumusan rancangan Pancasila menurut Piagam Jakarta yang beredar di masyarakat adalah: 1.Persatuan Indonesia 4. dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Rumusan yang diterima oleh rapat pleno BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 hanya sedikit berbeda dengan rumusan Piagam Jakarta yaitu dengan menghilangkan kata “serta” dalam sub anak kalimat terakhir.

dan Kalimantan). wakil golongan Islam.Indonesia yang diumumkan sendiri oleh Bangsa Indonesia (lebih awal dari kesepakatan semula dengan Tentara Angkatan Darat XVI Jepang) menimbulkan situasi darurat yang harus segera diselesaikan. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan Yang Maha Esa. kemanusiaan yang adil dan beradab. Maluku. Setelah diadakan konsultasi mendalam akhirnya mereka menyetujui penggantian rumusan “Ketuhanan. A.Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sore hari tanggal 17 Agustus 1945. dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sebuah “emergency exit” yang hanya bersifat sementara dan demi keutuhan Indonesia. 3..Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pagi harinya tanggal 18 Agustus 1945 usul penghilangan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dikemukakan dalam rapat pleno PPKI.Persatuan Indonesia 4. menemui Sukarno menyatakan keberatan dengan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk ikut disahkan menjadi bagian dasar negara. Semula. diantaranya A. Sulawesi. Kasman Singodimedjo. UUD inilah yang nantinya dikenal dengan UUD 1945. dan Ki Bagus Hadikusumo. Rumusan VI: Konstitusi RIS Pendudukan wilayah Indonesia oleh NICA menjadikan wilayah Republik Indonesia semakin kecil dan terdesak.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sukarno segera menghubungi Hatta dan berdua menemui wakil-wakil golongan Islam. diantaranya Teuku Moh Hasan. Mr. Nusa Tenggara. wakil-wakil dari Indonesia daerah Kaigun (Papua. .” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. Mr. Untuk menjaga integrasi bangsa yang baru diproklamasikan. Akhirnya pada akhir 1949 Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta (RI Yogyakarta) terpaksa menerima bentuk negara federal yang disodorkan pemerintah kolonial Belanda dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) dan hanya menjadi sebuah negara bagian saja. Maramis.ke-Tuhanan Yang Maha Esa 2. keberatan dengan usul penghapusan itu. Rumusan dasar negara yang terdapat dalam paragraf keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar ini merupakan rumusan resmi kedua dan nantinya akan dipakai oleh bangsa Indonesia hingga kini. Selain itu dalam rapat pleno terdapat usulan untuk menghilangkan frasa “menurut dasar” dari Ki Bagus Hadikusumo.

Walaupun UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 tetap berlaku bagi RI Yogyakarta. TLN RIS No 37) yang disahkan tanggal 15 Agustus 1950.ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Dalam Konstitusi RIS rumusan dasar negara terdapat dalam Mukaddimah (pembukaan) paragraf ketiga. …” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. Rumusan kalimat “…. berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. Perubahan tersebut dilakukan dengan menerbitkan UU RIS No 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (LN RIS Tahun 1950 No 56. 3. Rumusan dasar negara kesatuan ini terdapat dalam paragraf keempat dari Mukaddimah (pembukaan) UUD Sementara Tahun 1950.perikemanusiaan. kebangsaan. . Setelah melalui beberapa pertemuan yang intensif RI Yogyakarta dan RIS. negara itu mulai menempuh jalan kehancuran. kebangsaan.ke-Tuhanan Yang Maha Esa. kerakyatan dan keadilan sosial. Pada Mei 1950 hanya ada tiga negara bagian yang tetap eksis yaitu RI Yogyakarta.kebangsaan. sebagai kuasa dari NIT dan NST. 2. Konstitusi RIS disetujui pada 14 Desember 1949 oleh enam belas negara bagian dan satuan kenegaraan yang tergabung dalam RIS. namun RIS sendiri mempunyai sebuah Konstitusi Federal (Konstitusi RIS) sebagai hasil permufakatan seluruh negara bagian dari RIS. Rumusan kalimat “…. menyetujui pembentukan negara kesatuan dan mengadakan perubahan Konstitusi RIS menjadi UUD Sementara. kerakyatan dan keadilan sosial. perikemanusiaan. Hanya dalam hitungan bulan negara bagian RIS membubarkan diri dan bergabung dengan negara bagian RI Yogyakarta.kerakyatan 5. 4. berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa. perikemanusiaan. NIT.dan keadilan sosial Rumusan VII: UUD Sementara Segera setelah RIS berdiri. dan NST.

Rumusan ini terdapat dalam lampiran Ketetapan MPRS No. dan 2. mengambil langkah mengeluarkan Dekrit Kepala Negara yang salah satu isinya menetapkan berlakunya kembali UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 menjadi UUD Negara Indonesia menggantikan UUD Sementara. yang pernah menjadi lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat antara tahun 1960-2004. Persatuan Indonesia. 4. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945 maka rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD kembali menjadi rumusan resmi yang digunakan.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 5. 3. Untuk itulah pada 5 Juli 1959 Presiden Indonesia saat itu.2.perikemanusiaan.Persatuan Indonesia 4. MPR pernah membuat rumusan yang agak sedikit berbeda. Kemanusiaan yang adil dan beradab.Tap MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan IX: Versi Berbeda Selain mengutip secara utuh rumusan dalam UUD 1945. XX/MPRS/1966 tentang . diantaranya: 1. Sukarno.Tap MPR No III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundangundangan. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. Rumusan ini pula yang diterima oleh MPR.Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.kebangsaan.Kemanusiaan yang adil dan beradab.kerakyatan 5.Ketuhanan Yang Maha Esa.dan keadilan sosial Rumusan VIII: UUD 1945 Kegagalan Konstituante untuk menyusun sebuah UUD yang akan menggantikan UUD Sementara yang disahkan 15 Agustus 1950 menimbulkan bahaya bagi keutuhan negara. 3. dalam berbagai produk ketetapannya. 2.

2.Keadilan sosial.^ Negara Indonesia Timur. Rumusan X: Versi Populer Rumusan terakhir yang akan dikemukakan adalah rumusan yang beredar dan diterima secara luas oleh masyarakat. Kepulauan Nusa Tenggara. I/MPR/2003 jo Pasal I Aturan Tambahan UUD 1945). hanya saja menghilangkan kata “dan” serta frasa “serta dengan mewujudkan suatu” pada sub anak kalimat terakhir.Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. wilayahnya meliputi Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya.Persatuan Indonesia 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 5.Persatuan Indonesia 4. Drs.^ Negara Sumatra Timur.Ketuhanan Yang Maha Esa. Hatta berpidato mengenai perekonomian Indonesia sedangkan Supomo yang kelak menjadi arsitek UUD berbicara mengenai corak Negara Integralistik 2. . Mr. Catatan Kaki 1. Rumusan ini pula yang terdapat dalam lampiran Tap MPR No II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) Rumusan 1. Hatta. Tercatat dua anggota Moh. Rumusan 1.^ Sidang Sesi I BPUPKI tidak hanya membahas mengenai calon dasar negara namun juga membahas hal yang lain. dan seluruh kepulauan Maluku 3. 3. Rumusan Pancasila versi populer inilah yang dikenal secara umum dan diajarkan secara luas di dunia pendidikan sebagai rumusan dasar negara.Kemanusiaan yang adil dan beradab. mendapat kesempatan berpidato yang agak panjang.Ketuhanan Yang Maha Esa.Kemanusiaan yang adil dan beradab.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. wilayahnya meliputi bagian timur provinsi Sumut (sekarang) “Pancasila sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara” (Pasal 1 Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 jo Ketetapan MPR No. dan Supomo. 2.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. Rumusan ini pada dasarnya sama dengan rumusan dalam UUD 1945. 3.

(1992) Risalah Sidang BPUPKI-PPKI 29 Mei 1945-19 Agustus 1945. Jakarta: SetNeg RI 6. Edisi 2.http://id.wikipedia.Berbagai Ketetapan MPRS dan MPR RI 5.UUD Sementara (1950) 4.org/wiki/Rumusan-rumusan_Pancasila#Rumusan_I:_Muh.Konstitusi RIS (1949) 3._Yamin.Referensi 1.2C_Mr . Jakarta: Universitas Terbuka 7. Edisi kedua.Undang Undang Dasar 1945 2.Tim Fakultas Filsafat UGM (2005) Pendidikan Pancasila.Saafroedin Bahar (ed).

f ¯f%½ ¯ ff°%DD ¯ °ff @f°   ¯¾f°f¯f  #   f¾f½ °–ff° @f°f°f°–.ff¾f ½  ¯f°¾ff°  f°–¾ff°  fff° f°  f f°¾¾f #  ¯¾f° °–f°½ °¯f°%%    @f°f°f°–. f°ff f–f° –ff f–f°f°– f½ ¾¾f–fff -@  f°-@    f¯ f f½f½  ¯f°f°–° °¾€–fff f° ¾ f–ff¾f f-@ f° -@ ¯ ° ©½ ¯ °f°° –ff ¾ff° f°¯ °–f ff°½  ff°°¾¾¯ °©f  DD ¯ °ff   9  ff° ¾  ff° °–f°¯ °  f°DD-@f° °f°–9  ff° °¾¾ ¯ °ff ½ ° ° ¾f f¯ °©f D° f°– D° f°–f¾f ¯ °ff%- @f°- @--%f°– ¾ff°f°––f–¾¾ ¯¾f° f¾f° –ff  ¾ff°°  f½f ff¯½ff–f€ ¯½f f.ff¾f   ½  ¯f°¾ff°    f°–¾ff°    fff°  f° f f°¾¾f  ¯¾f°I DD ¯ °ff   – f¾  f   ° –ff¯f¯ ° ¯½©ff° f°nf° f°f ff¯°–f° f°° –ff f–f°¯ ¯  ff°  f° –f °– °–f°° –ff f–f°–fff   9f f.ff¾f  . Jff½°DDf°– ¾ff° 99½f f–¾¾ f½ f f––fff  °f¯°¾ ° ¯ ¯½°f¾ f°¾¾ f%°¾¾%¾ f–ff¾½ ¯€fff° ¾ ° –ff f–f° f ff¯°¾¾¯¾f° f¾f° –ff  f½f ff¯ .ff¾f ½  ¯f°¾ff°  f°–¾ff°  fff° f°  f f°¾¾f  #  ¯¾f° °–f°½ °¯f°%%    @f°f°f°–.f ¯f%½ ¯ ff°%½ff–f€ –f °¾¾ ¾ ©½f f ¾ ¯   °f¯ f¾° –ff f–f° f°¾ff° ° –fff°f°– –f °– ff¯   ¯¾f°f¯f  #   f¾f½ °–ff° @f°f°f°–.

9- OO$.9$ °f°–¯ ¯ f°@ffDf°9 ff°9 ° f°– ° f°–f°   ¯¾f°f¯f  #  °–f°  f¾f ½f f  f°f°f°–.9½ °f¯ ¯ f¯¾f°f°–f–f ¾   f ¯¾f°°  f½f ff¯f¯½f°  f½f°.9-OI$.9-$.9$ °f°–9 °nf f°  f½f°.f© ¾9 ¯¾ffff°ff  ½ ° ° ¾f- $.9$ °f°–9 ¯f°9 °–fff° f°9 °–f¯ff°9f°nf¾f %f½f¾ f9f°nff¾f% f°9 ° f½f° °f°–9 ° –f¾f°9f°nf¾f¾ f–ff¾f- –ff  f°   @f½. ½  ¯f°¾ff°    f°–¾ff°    fff°  f° f f°¾¾f  ¯¾f°I DD   –f–ff°°¾f° °¯ °¾°¾ fDDf°–ff°¯ °––f°f°DD ¯ °ff f°– ¾ff°–¾¾¯ °¯ f° fff f– f°° –ff D°f½f f 9 ¾ °° ° ¾f¾ff f° ¯ °–f¯ f°–f¯ °– ff°  ½ff- –ff f°–¾ff¾f¾°f¯ ° f½f° f°f ¯ fDDf°– ¾ff° 99½f f –¾¾¯ °©f DD- –ff° ° ¾f¯ °––f°f°DD ¯ °ff    °–f°½ ¯ ff° ¯ fDD¯ff¯¾f°9f°nf¾ff°–  f½f ff¯9 ¯ ff° DD ¯ f¯ °©f ¯¾f° ¾¯f°– –°ff° ¯¾f°°½ff°–  ¯f .9$ °f°– .9  f°–½ °f¯ °©f  ¯ f–f °––° –ff¾ f–f½ °© ¯ff° fff°fff°fff°    ff¯  f–f½   f½f°°f  f°ff°f    @f½.ff¾f    ¯f°¾ff°f°–f  f° f f   9 ¾ff°° ° ¾f  f° fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯½ ¯¾ffff°$½ ff°   f °–f°¯ © f°¾f f f°¾¾f f–¾ ff° ° ¾f   ¯¾f°O I ¾  f   f°¯ °–½¾ nff¯¾f° ff¯DD .ff¾f  ¯f°¾ff°f°–f  f° f f  9 ¾ff°° ° ¾f  f° fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯ ½ ¯¾ffff°$½ ff°¾ f °–f°¯ © f°¾f f f°¾¾f f–¾ ff ° ° ¾f #  ¯¾f° °–f°½ °¯f°%%    f°f°f°–.

¯f° ¯9 ¯ °– °f¯ @  ¯ ½ ° ° ¾f f°@ffDf° 9 ff°9 ° f°–f° ½ ° ° ¾f   ¯¾f°    f°f°f°–..9-$.9$ °f°–9 ¯f° 9 °–fff° f°9 °–f¯ff°9f°nf¾f%f½f¾ f9f°nff¾f%  ¯¾f°    f°f°f°–.ff¾f    ¯f°¾ff°f°–f  f° f f   9 ¾ff°° ° ¾f   fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯½ ¯¾ffff°$½ ff°   f f°¾¾f   ¯¾f°O I ¾9½   ¯¾f° ff°–ff°  ¯ff°f ff¯¾f°f°–  f f°  ¯f¾ nfff¾  ¯f¾fff ¯¾f°9f°nf¾f ¾½½ °ff°–  °f¾ nff¯¯ f° f©ff° ¾ nfff¾  °f½ °  f°¾ f–f¯¾f° f¾f° –ff ¯¾f°°½f f f¾f°f¾f¯f °–f°¯¾f° ff¯DD f°f¾f©f¯ °–f°–f°ff# f°#¾ f€f¾f#¾ f °–f° ¯ © f°¾f#½f f¾ f°ff¯f f   ¯¾f°°½ff°–  f½f ff¯f¯½f°@f½.ff¾f    ¯f°¾ff°f°–f  f° f f   9 ¾ff°° ° ¾f   fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯½ ¯¾ffff°½ ff°   f f°¾¾f f–¾ ff° ° ¾f   .

9$©  f½f°. ¯ ° f½f  ¾ ¯½ff° ½ ff°–f–f½f°©f°– ff ½ f¯ °– °f½  °¯f°° ° ¾f ¾ f°–f°½¯f°– f¯ °©f f¾ DD  nff¯ °– °fnf- –ff° –f¾  - –ff° ° ¾f@¯ ff°f¯ ½f ¾ f°½f ½f¾ f°f  ½ff° -¾f@ °––ff  f°¾  ½ff°.f  - –ff¯ff@¯ ff°f¯ ½ f–f°¯½°¾¯%¾ ff°–% #9f°nf¾f¾ f–f¯f°f ¯f¾  ff¯9 ¯ ff°D° f°– D° f°–f¾ff ff f¾f ° –ff f- –ff ¾ff° ½ ° ° ¾ff¾ f¾f°ff°¾ nff°¾¾ ° ff¯   ½f° ° –ff#%9f¾f  f½f°.9$©9f¾ff°@f¯ ff°DD%   . ff ¾  f°½¯ .9-OI$.9-  $.fff°f    f°– ¾ 9D9 ff°f¯ ¯ ff¾¯ °– °fnf° f¾f° –ff°f¯°©–f ¯ ¯ ff¾ff°–f° @ nff ff°––f.

9  ff€ ° ff% % %%¾ff f°– 9D9 99.%%9 °  f°9f°nf¾f  ¾ fff D° ¾f¾@  f  ½ $$ ½ f –$$¯¾f° ¯¾f°%9f°nf¾f¯¾f°% %. €  °¾   D° f°–D° f°–f¾f  °¾¾%%  DD ¯ °ff%%   f–f  f½f°.  –¾¾  ¾  f fff  - –  @¯ff¾¾f€fD.9 f°. %f¯° .

%.  .