Sejarah Pancasila – Kata “Pancasila” terdiri atas dua kata dari bahasa sansekerta yaitu palica yang artinya

lima dan sila artinya asas atau prinsip. Jadi pancasila dalam arti keseluruhan adalah 5 prinsip atau asas, dan kelima prinsip tersebut telah menjadi rumusan dan pedoman kehidupan dalam berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga Indonesia. Maka dari itu kita sebagai warga Negara Indonesia sangatlah penting mempelajari sejarah perumusan pancasila sebagai dasar ideology Negara Indonesia tercinta ini. Dalam perjalanan sejarah, pancasila mempunyai sejarah yang sangat panjang tentang terbentuknya perumusanperumusan pancasila dalam ketatanegaraan Indonesia. Menurut wikipedia, dalam upaya merumuskan pancaila sebagai dasar Negara yang resmi, terdapat usulan-usulan pribadi yang dikemukakan dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yaitu : • Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945. Yamin merumuskan lima dasar sebagai berikut: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dia menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya meragukan pidato Yamin tersebut. • Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sukarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya:
Pesan Sponsor

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa dokumen penetapannya ialah : • Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) – tanggal 22 Juni 1945 • Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar – tanggal 18 Agustus 1945 • Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat – tanggal 27 Desember 1949 • Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara – tanggal 15 Agustus 1950 • Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959) Hari Kesaksian Pancasila Pada tanggal 30 September 1965, adalah awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI). Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Hari itu, enam Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September[

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan kewajiban asasi setiap manusia. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. . Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. agama. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. dan keadilan sosial. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.[G30S-PKI] ] dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. 3. 10. 4. Mengakui persamaan derajat. jenis kelamin. tak tergantikan. warna kulit dan sebagainya. keturunan. Sila kedua 1. 2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Butir-Butir Pengamalan Pancasila Ketetapan MPR no. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. kepercayaan. kedudukan sosial. adalah sakti. 2. 2. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain. kesatuan. 5. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. 4. 3. 4. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 45 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mampu menempatkan persatuan. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. 5. 8. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. tanpa membeda-bedakan suku. 6. 7. Pancasila. 9. 3. 6. Sila Pertama 1. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. Berani membela kebenaran dan keadilan. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain. perdamaian abadi. Sila ketiga 1. Tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. persamaan hak. memperingati bahwa dasar Indonesia. 5. 7.

Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. Suka bekerja keras. hak. 8. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 9. Mengembangkan perbuatan yang luhur. 6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain. 4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. 7. dan kewajiban yang sama. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. . 5. 9. 7. Sila keempat 1. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Sila kelima 1. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri. 10. Sebagai warga negara dan warga masyarakat. Menghormati hak orang lain. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar 7.6. 3. 4. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. 2. 6. 11. 10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan. 8. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. 3. menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Bhinneka Tunggal Ika. 2. 5.

Namun dibalik itu semua ternyata pancasila memang mempunyai sejarah yang panjang tentang perumusan-perumusan terbentuknya pancasila.sikap mental. Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Konstitusi RIS. Versi Berbeda. Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.Peri Kerakyatan 5. saat ini asal usul dan kapan di keluarkan/disampaikannnya Pancasila masih dijadikan kajian yang menimbulkan banyak sekali penafsiran dan konflik yang belum selesai hingga saat ini. Rumusan Pidato Baik dalam kerangka uraian pidato maupun dalam presentasi lisan Muh Yamin mengemukakan lima calon dasar negara yaitu: 1. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Muh Yamin. Rumusan I: Muh.Peri ke-Tuhanan 4. dalam perjalanan ketata negaraan Indonesia. Usulan tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI oleh Muh Yamin berbeda dengan rumusan kata-kata dan sistematikanya dengan yang dipresentasikan secara lisan.Pancasila Sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959).Peri Kebangsaan 2. yaitu: 1.budaya dan karakteristik bangsa. dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.Kesejahteraan Rakyat Selain usulan lisan Muh Yamin tercatat menyampaikan usulan tertulis mengenai rancangan dasar negara.Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Sukarno. Hasil PPKI. UUD Sementara. yang merupakan perwujudan dari jiwa bangsa. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila. Hasil BPUPKI.Kebangsaan Persatuan Indonesia . Dari beberapa sumber. Piagam Jakarta. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang telah atau pernah muncul. Muh. Yamin Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 beberapa anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan rancangan “blue print” Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Namun walaupun pancasila saat ini telah dihayati sebagai filsafat hidup bangsa dan dasar negara. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia.Peri Kemanusiaan 3.

Trisila.ke-Tuhanan Rumusan Ekasila 1.Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5.-atau demokrasi 4.Internasionalisme.Kesejahteraan sosial 5. Pada 22 Juni 1945 panitia kecil tersebut mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI dalam rapat informal. Usul ini disampaikan pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Oleh karena itu rumusan Sukarno di atas disebut dengan Pancasila.-atau peri-kemanusiaan 3.keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rumusan II: Ir.Socio-demokratie 3. dan satu prinsip.Mufakat. Sukarno pula. Usul Sukarno sebenarnya tidak hanya satu melainkan tiga buah usulan calon dasar negara yaitu lima prinsip. Soekarno Selain Muh Yamin.Kebangsaan Indonesia 2.ke-Tuhanan yang berkebudayaan Rumusan Trisila 1. beberapa anggota BPUPKI juga menyampaikan usul dasar negara.Gotong-Royong Rumusan III: Piagam Jakarta Usulan-usulan blue print Negara Indonesia telah dikemukakan anggota-anggota BPUPKI pada sesi pertama yang berakhir tanggal 1 Juni 1945. Rapat tersebut memutuskan membentuk suatu panitia kecil berbeda (kemudian .Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 4. Rumusan Pancasila 1. tiga prinsip. dan Ekasila.3.Socio-nationalisme 2. Selama reses antara 2 Juni – 9 Juli 1945. delapan orang anggota BPUPKI ditunjuk sebagai panitia kecil yang bertugas untuk menampung dan menyelaraskan usul-usul anggota BPUPKI yang telah masuk.lah yang mengemukakan dan menggunakan istilah “Pancasila” (secara harfiah berarti lima dasar) pada rumusannya ini atas saran seorang ahli bahasa (Muh Yamin) yang duduk di sebelah Sukarno. diantaranya adalah Ir Sukarno[1].

Serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia .3] kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan[. persatuan Indonesia. Dokumen ini pula yang disebut Piagam Jakarta (Jakarta Charter) oleh Mr. Rumusan ini merupakan rumusan pertama sebagai hasil kesepakatan para “Pendiri Bangsa”. [A.] serta [B] dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adapun rumusan rancangan dasar negara terdapat di akhir paragraf keempat dari dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (paragraf 1-3 berisi rancangan pernyataan kemerdekaan/proklamasi/ declaration of independence).2] persatuan Indonesia.dikenal dengan sebutan “Panitia Sembilan”) yang bertugas untuk menyelaraskan mengenai hubungan Negara dan Agama. Dalam menentukan hubungan negara dan agama anggota BPUPKI terbelah antara golongan Islam yang menghendaki bentuk teokrasi Islam dengan golongan Kebangsaan yang menghendaki bentuk negara sekuler dimana negara sama sekali tidak diperbolehkan bergerak di bidang agama. “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan [A] dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab 3.Persatuan Indonesia 4. menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.1] kemanusiaan yang adil dan beradab. [A.” Alternatif pembacaan Alternatif pembacaan rumusan kalimat rancangan dasar negara pada Piagam Jakarta dimaksudkan untuk memperjelas persetujuan kedua golongan dalam BPUPKI sebagaimana terekam dalam dokumen itu dengan menjadikan anak kalimat terakhir dalam paragraf keempat tersebut menjadi sub-sub anak kalimat. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. menurut dasar. Muh Yamin. dan [A.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. Persetujuan di antara dua golongan yang dilakukan oleh Panitia Sembilan tercantum dalam sebuah dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar”.

dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (baca Piagam Jakarta) dibahas kembali secara resmi dalam rapat pleno tanggal 10 dan 14 Juli 1945.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1.Kemanusiaan yang adil dan beradab 3.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. yang merupakan rumusan resmi pertama.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2.Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab 3.Persatuan Indonesia 4.Persatuan Indonesia 4. Dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” tersebut dipecah dan diperluas menjadi dua buah dokumen berbeda yaitu Declaration of Independence (berasal dari paragraf 1-3 yang diperluas menjadi 12 paragraf) dan Pembukaan (berasal dari paragraf 4 tanpa perluasan sedikitpun). Rumusan yang diterima oleh rapat pleno BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 hanya sedikit berbeda dengan rumusan Piagam Jakarta yaitu dengan menghilangkan kata “serta” dalam sub anak kalimat terakhir.Dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rumusan V: PPKI Menyerahnya Kekaisaran Jepang yang mendadak dan diikuti dengan Proklamasi Kemerdekaan . persatuan Indonesia. dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5.Rumusan populer Versi populer rumusan rancangan Pancasila menurut Piagam Jakarta yang beredar di masyarakat adalah: 1. Rumusan rancangan dasar negara hasil sidang BPUPKI. dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rumusan IV: BPUPKI Pada sesi kedua persidangan BPUPKI yang berlangsung pada 10-17 Juli 1945. jarang dikenal oleh masyarakat luas.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan. menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Untuk menjaga integrasi bangsa yang baru diproklamasikan. Maramis. menemui Sukarno menyatakan keberatan dengan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk ikut disahkan menjadi bagian dasar negara. 3. Mr.ke-Tuhanan Yang Maha Esa 2. dan Kalimantan). Maluku.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5.Indonesia yang diumumkan sendiri oleh Bangsa Indonesia (lebih awal dari kesepakatan semula dengan Tentara Angkatan Darat XVI Jepang) menimbulkan situasi darurat yang harus segera diselesaikan. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan Yang Maha Esa. dan Ki Bagus Hadikusumo. UUD inilah yang nantinya dikenal dengan UUD 1945. wakil-wakil dari Indonesia daerah Kaigun (Papua. Rumusan dasar negara yang terdapat dalam paragraf keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar ini merupakan rumusan resmi kedua dan nantinya akan dipakai oleh bangsa Indonesia hingga kini. keberatan dengan usul penghapusan itu. diantaranya A. Pagi harinya tanggal 18 Agustus 1945 usul penghilangan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dikemukakan dalam rapat pleno PPKI. kemanusiaan yang adil dan beradab. Semula. Sulawesi.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. wakil golongan Islam.Persatuan Indonesia 4. Mr. Akhirnya pada akhir 1949 Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta (RI Yogyakarta) terpaksa menerima bentuk negara federal yang disodorkan pemerintah kolonial Belanda dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) dan hanya menjadi sebuah negara bagian saja. Sukarno segera menghubungi Hatta dan berdua menemui wakil-wakil golongan Islam. Kasman Singodimedjo. Nusa Tenggara.Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. A.Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sore hari tanggal 17 Agustus 1945. Selain itu dalam rapat pleno terdapat usulan untuk menghilangkan frasa “menurut dasar” dari Ki Bagus Hadikusumo.. Setelah diadakan konsultasi mendalam akhirnya mereka menyetujui penggantian rumusan “Ketuhanan. diantaranya Teuku Moh Hasan. . Rumusan VI: Konstitusi RIS Pendudukan wilayah Indonesia oleh NICA menjadikan wilayah Republik Indonesia semakin kecil dan terdesak. dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sebuah “emergency exit” yang hanya bersifat sementara dan demi keutuhan Indonesia.

kerakyatan 5.perikemanusiaan.Walaupun UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 tetap berlaku bagi RI Yogyakarta. Dalam Konstitusi RIS rumusan dasar negara terdapat dalam Mukaddimah (pembukaan) paragraf ketiga. Setelah melalui beberapa pertemuan yang intensif RI Yogyakarta dan RIS. Rumusan kalimat “…. dan NST. Konstitusi RIS disetujui pada 14 Desember 1949 oleh enam belas negara bagian dan satuan kenegaraan yang tergabung dalam RIS.dan keadilan sosial Rumusan VII: UUD Sementara Segera setelah RIS berdiri. Perubahan tersebut dilakukan dengan menerbitkan UU RIS No 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (LN RIS Tahun 1950 No 56. menyetujui pembentukan negara kesatuan dan mengadakan perubahan Konstitusi RIS menjadi UUD Sementara. kebangsaan. Hanya dalam hitungan bulan negara bagian RIS membubarkan diri dan bergabung dengan negara bagian RI Yogyakarta. …” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. kerakyatan dan keadilan sosial.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. 4. NIT. . kerakyatan dan keadilan sosial. berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa. negara itu mulai menempuh jalan kehancuran. sebagai kuasa dari NIT dan NST. namun RIS sendiri mempunyai sebuah Konstitusi Federal (Konstitusi RIS) sebagai hasil permufakatan seluruh negara bagian dari RIS. Pada Mei 1950 hanya ada tiga negara bagian yang tetap eksis yaitu RI Yogyakarta. berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.kebangsaan. Rumusan kalimat “….ke-Tuhanan Yang Maha Esa. kebangsaan. perikemanusiaan. 2. TLN RIS No 37) yang disahkan tanggal 15 Agustus 1950. Rumusan dasar negara kesatuan ini terdapat dalam paragraf keempat dari Mukaddimah (pembukaan) UUD Sementara Tahun 1950.ke-Tuhanan Yang Maha Esa. 3. perikemanusiaan.

kerakyatan 5. Persatuan Indonesia.Kemanusiaan yang adil dan beradab. mengambil langkah mengeluarkan Dekrit Kepala Negara yang salah satu isinya menetapkan berlakunya kembali UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 menjadi UUD Negara Indonesia menggantikan UUD Sementara. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945 maka rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD kembali menjadi rumusan resmi yang digunakan. 3. XX/MPRS/1966 tentang . Rumusan ini terdapat dalam lampiran Ketetapan MPRS No. 4.” Rumusan dengan penomoran (utuh) 1. dan 2.Tap MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No.Ketuhanan Yang Maha Esa.dan keadilan sosial Rumusan VIII: UUD 1945 Kegagalan Konstituante untuk menyusun sebuah UUD yang akan menggantikan UUD Sementara yang disahkan 15 Agustus 1950 menimbulkan bahaya bagi keutuhan negara. dalam berbagai produk ketetapannya.Tap MPR No III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundangundangan.Persatuan Indonesia 4. MPR pernah membuat rumusan yang agak sedikit berbeda. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sukarno.perikemanusiaan. diantaranya: 1.2. 3. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara. yang pernah menjadi lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat antara tahun 1960-2004. dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Rumusan IX: Versi Berbeda Selain mengutip secara utuh rumusan dalam UUD 1945.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 5. Rumusan kalimat “… dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa.kebangsaan.Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk itulah pada 5 Juli 1959 Presiden Indonesia saat itu. Rumusan ini pula yang diterima oleh MPR.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. wilayahnya meliputi bagian timur provinsi Sumut (sekarang) “Pancasila sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara” (Pasal 1 Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 jo Ketetapan MPR No. Hatta.^ Sidang Sesi I BPUPKI tidak hanya membahas mengenai calon dasar negara namun juga membahas hal yang lain.^ Negara Indonesia Timur. wilayahnya meliputi Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. I/MPR/2003 jo Pasal I Aturan Tambahan UUD 1945). Tercatat dua anggota Moh. Drs.Persatuan Indonesia 4.Persatuan Indonesia 4. Rumusan ini pada dasarnya sama dengan rumusan dalam UUD 1945. mendapat kesempatan berpidato yang agak panjang.Kemanusiaan yang adil dan beradab. Rumusan ini pula yang terdapat dalam lampiran Tap MPR No II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) Rumusan 1. 3. hanya saja menghilangkan kata “dan” serta frasa “serta dengan mewujudkan suatu” pada sub anak kalimat terakhir. .Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 5.Keadilan sosial. 2.^ Negara Sumatra Timur.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan seluruh kepulauan Maluku 3. Rumusan Pancasila versi populer inilah yang dikenal secara umum dan diajarkan secara luas di dunia pendidikan sebagai rumusan dasar negara.Ketuhanan Yang Maha Esa.Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. Mr.Kemanusiaan yang adil dan beradab. Rumusan X: Versi Populer Rumusan terakhir yang akan dikemukakan adalah rumusan yang beredar dan diterima secara luas oleh masyarakat. 2.Ketuhanan Yang Maha Esa. 3. Catatan Kaki 1. Rumusan 1. dan Supomo. Hatta berpidato mengenai perekonomian Indonesia sedangkan Supomo yang kelak menjadi arsitek UUD berbicara mengenai corak Negara Integralistik 2. Kepulauan Nusa Tenggara.

wikipedia.Undang Undang Dasar 1945 2.http://id.org/wiki/Rumusan-rumusan_Pancasila#Rumusan_I:_Muh.2C_Mr . (1992) Risalah Sidang BPUPKI-PPKI 29 Mei 1945-19 Agustus 1945. Edisi kedua.Saafroedin Bahar (ed).Referensi 1. Jakarta: SetNeg RI 6. Jakarta: Universitas Terbuka 7.Tim Fakultas Filsafat UGM (2005) Pendidikan Pancasila.Berbagai Ketetapan MPRS dan MPR RI 5. Edisi 2.Konstitusi RIS (1949) 3._Yamin.UUD Sementara (1950) 4.

f ¯f%½ ¯ ff°%DD ¯ °ff @f°   ¯¾f°f¯f  #   f¾f½ °–ff° @f°f°f°–.ff¾f  . f°ff f–f° –ff f–f°f°– f½ ¾¾f–fff -@  f°-@    f¯ f f½f½  ¯f°f°–° °¾€–fff f° ¾ f–ff¾f f-@ f° -@ ¯ ° ©½ ¯ °f°° –ff ¾ff° f°¯ °–f ff°½  ff°°¾¾¯ °©f  DD ¯ °ff   9  ff° ¾  ff° °–f°¯ °  f°DD-@f° °f°–9  ff° °¾¾ ¯ °ff ½ ° ° ¾f f¯ °©f D° f°– D° f°–f¾f ¯ °ff%- @f°- @--%f°– ¾ff°f°––f–¾¾ ¯¾f° f¾f° –ff  ¾ff°°  f½f ff¯½ff–f€ ¯½f f.ff¾f ½  ¯f°¾ff°  f°–¾ff°  fff° f°  f f°¾¾f  #  ¯¾f° °–f°½ °¯f°%%    @f°f°f°–. Jff½°DDf°– ¾ff° 99½f f–¾¾ f½ f f––fff  °f¯°¾ ° ¯ ¯½°f¾ f°¾¾ f%°¾¾%¾ f–ff¾½ ¯€fff° ¾ ° –ff f–f° f ff¯°¾¾¯¾f° f¾f° –ff  f½f ff¯ .f ¯f%½ ¯ ff°%½ff–f€ –f °¾¾ ¾ ©½f f ¾ ¯   °f¯ f¾° –ff f–f° f°¾ff° ° –fff°f°– –f °– ff¯   ¯¾f°f¯f  #   f¾f½ °–ff° @f°f°f°–.ff¾f ½  ¯f°¾ff°  f°–¾ff°  fff° f°  f f°¾¾f #  ¯¾f° °–f°½ °¯f°%%    @f°f°f°–.ff¾f   ½  ¯f°¾ff°    f°–¾ff°    fff°  f° f f°¾¾f  ¯¾f°I DD ¯ °ff   – f¾  f   ° –ff¯f¯ ° ¯½©ff° f°nf° f°f ff¯°–f° f°° –ff f–f°¯ ¯  ff°  f° –f °– °–f°° –ff f–f°–fff   9f f.

ff¾f    ¯f°¾ff°f°–f  f° f f   9 ¾ff°° ° ¾f  f° fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯½ ¯¾ffff°$½ ff°   f °–f°¯ © f°¾f f f°¾¾f f–¾ ff° ° ¾f   ¯¾f°O I ¾  f   f°¯ °–½¾ nff¯¾f° ff¯DD .9-OI$.9½ °f¯ ¯ f¯¾f°f°–f–f ¾   f ¯¾f°°  f½f ff¯f¯½f°  f½f°.ff¾f  ¯f°¾ff°f°–f  f° f f  9 ¾ff°° ° ¾f  f° fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯ ½ ¯¾ffff°$½ ff°¾ f °–f°¯ © f°¾f f f°¾¾f f–¾ ff ° ° ¾f #  ¯¾f° °–f°½ °¯f°%%    f°f°f°–.9$ °f°–9 ¯f°9 °–fff° f°9 °–f¯ff°9f°nf¾f %f½f¾ f9f°nff¾f% f°9 ° f½f° °f°–9 ° –f¾f°9f°nf¾f¾ f–ff¾f- –ff  f°   @f½.f© ¾9 ¯¾ffff°ff  ½ ° ° ¾f- $. ½  ¯f°¾ff°    f°–¾ff°    fff°  f° f f°¾¾f  ¯¾f°I DD   –f–ff°°¾f° °¯ °¾°¾ fDDf°–ff°¯ °––f°f°DD ¯ °ff f°– ¾ff°–¾¾¯ °¯ f° fff f– f°° –ff D°f½f f 9 ¾ °° ° ¾f¾ff f° ¯ °–f¯ f°–f¯ °– ff°  ½ff- –ff f°–¾ff¾f¾°f¯ ° f½f° f°f ¯ fDDf°– ¾ff° 99½f f –¾¾¯ °©f DD- –ff° ° ¾f¯ °––f°f°DD ¯ °ff    °–f°½ ¯ ff° ¯ fDD¯ff¯¾f°9f°nf¾ff°–  f½f ff¯9 ¯ ff° DD ¯ f¯ °©f ¯¾f° ¾¯f°– –°ff° ¯¾f°°½ff°–  ¯f .9  f°–½ °f¯ °©f  ¯ f–f °––° –ff¾ f–f½ °© ¯ff° fff°fff°fff°    ff¯  f–f½   f½f°°f  f°ff°f    @f½.9- OO$.9$ °f°–¯ ¯ f°@ffDf°9 ff°9 ° f°– ° f°–f°   ¯¾f°f¯f  #  °–f°  f¾f ½f f  f°f°f°–.9-$.9$ °f°– .9$ °f°–9 °nf f°  f½f°.

.9$ °f°–9 ¯f° 9 °–fff° f°9 °–f¯ff°9f°nf¾f%f½f¾ f9f°nff¾f%  ¯¾f°    f°f°f°–.9-$.ff¾f    ¯f°¾ff°f°–f  f° f f   9 ¾ff°° ° ¾f   fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯½ ¯¾ffff°$½ ff°   f f°¾¾f   ¯¾f°O I ¾9½   ¯¾f° ff°–ff°  ¯ff°f ff¯¾f°f°–  f f°  ¯f¾ nfff¾  ¯f¾fff ¯¾f°9f°nf¾f ¾½½ °ff°–  °f¾ nff¯¯ f° f©ff° ¾ nfff¾  °f½ °  f°¾ f–f¯¾f° f¾f° –ff ¯¾f°°½f f f¾f°f¾f¯f °–f°¯¾f° ff¯DD f°f¾f©f¯ °–f°–f°ff# f°#¾ f€f¾f#¾ f °–f° ¯ © f°¾f#½f f¾ f°ff¯f f   ¯¾f°°½ff°–  f½f ff¯f¯½f°@f½. ¯f° ¯9 ¯ °– °f¯ @  ¯ ½ ° ° ¾f f°@ffDf° 9 ff°9 ° f°–f° ½ ° ° ¾f   ¯¾f°    f°f°f°–.ff¾f    ¯f°¾ff°f°–f  f° f f   9 ¾ff°° ° ¾f   fff°f°– ½¯½° ¯f ©f¾f°ff° ff¯½ ¯¾ffff°½ ff°   f f°¾¾f f–¾ ff° ° ¾f   .

9-OI$. ¯ ° f½f  ¾ ¯½ff° ½ ff°–f–f½f°©f°– ff ½ f¯ °– °f½  °¯f°° ° ¾f ¾ f°–f°½¯f°– f¯ °©f f¾ DD  nff¯ °– °fnf- –ff° –f¾  - –ff° ° ¾f@¯ ff°f¯ ½f ¾ f°½f ½f¾ f°f  ½ff° -¾f@ °––ff  f°¾  ½ff°. ff ¾  f°½¯ .fff°f    f°– ¾ 9D9 ff°f¯ ¯ ff¾¯ °– °fnf° f¾f° –ff°f¯°©–f ¯ ¯ ff¾ff°–f° @ nff ff°––f.9-  $.9$©  f½f°.f  - –ff¯ff@¯ ff°f¯ ½ f–f°¯½°¾¯%¾ ff°–% #9f°nf¾f¾ f–f¯f°f ¯f¾  ff¯9 ¯ ff°D° f°– D° f°–f¾ff ff f¾f ° –ff f- –ff ¾ff° ½ ° ° ¾ff¾ f¾f°ff°¾ nff°¾¾ ° ff¯   ½f° ° –ff#%9f¾f  f½f°.9$©9f¾ff°@f¯ ff°DD%   .

 €  °¾   D° f°–D° f°–f¾f  °¾¾%%  DD ¯ °ff%%   f–f  f½f°. %f¯° .%%9 °  f°9f°nf¾f  ¾ fff D° ¾f¾@  f  ½ $$ ½ f –$$¯¾f° ¯¾f°%9f°nf¾f¯¾f°% %.9  ff€ ° ff% % %%¾ff f°– 9D9 99.9 f°.  –¾¾  ¾  f fff  - –  @¯ff¾¾f€fD.

%.  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful