P. 1
Materi ISBD 5

Materi ISBD 5

|Views: 3,537|Likes:
Published by RolandPnjsorkes

More info:

Published by: RolandPnjsorkes on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

SILABUS MATA KULIAH : ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR ( ISBDD

)
NAMA MATA KULIAH : ILMU SOSIAL BUADAY DASAR SKS : 3 , KELOMPOK : MBB

Kompetensi dasar : Pokok No Bahasan I Pengantar ISBD Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Sub. Pokok Bahasan/Sub stansi Kajian A. Hakikat dan ruang lingkup ISBD B. ISBD sebagai MBB dan Pendidikan Umum C. ISBD sbg alternative pemecahan masalah social budaya A. Hakikat manusia sebagai makhluk budaya B. Apresiasi terhadap kemanusian dan kebudayaan C. Etika dan estetika berbudaya D. Memanusiakan manusia melalui pemahaman konsepkonsep dasar manusia E. Problematika kebudayaan A. Hakikat manusia sebagai individu dan makhluk sosial B. Fungsi dan peran manusia sebagai individu dan makhluk social C. Dinamika interaksi social D. dilemma antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat A. Hakikat peradaban B. Manusia sebagai makhluk beradab dan masyarakat adab C. Evolusi budaya dan wujud peradaban dalam kehidupan social budaya D. Dinamika peradaban global E. Problematika peradaban pada kehidupan manusia A. Hakikat keragaman dan kesetaraan manusia B. Kemajemukan dalam dinamika sosial dan budaya C. Keragaman dan kesetaraan sbg kekayaan sosial budaya bangsa D. Problematika keragaman dan kesetaraan serta solusinya dalam kehidupan masyrakat dan Negara A. Hakikat, fungsi, dan perwujudan nilai, moral dan hukum dalam kehidupan manusia, masyrakat dan negara B. Keadilan ketertiban dan kesejahteraan sebagai wujud

II

III

Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial

IV

Manusia dan Peradaban

V

Manusia, Keragaman, dan Kesetaraan

VI

Manusia, Nilai, Moral dan Hukum

VII

Manusia, Sains: Teknologi dan Seni

VIII Manusia dan Lingkungan

masyarakat yang bermoral dan mentaati hokum C. Problematika nilai, moral dan hukum dalam masyrakat dan Negara A. Hakikat dan makna sains, teknologi & seni bagi manusia B. Dampak penyalahgunaan IPTEKS pada kehidupan social dan kebudayaan C. Problematika pemanfaatan IPTEKS di Indonesia A. Hakikat dan makna lingkungan bagi manusia B. Kualitas penduduk dan lingkungan tyerhadap kesejahteraan manusia C. Problematika lingkungan social budaya yang dihadapi masyarakat D. Isu-isu penting tentang persoalan lintas budaya dan Bangsa

BAB I . PENGANTAR ISBD A. Hakekat dan Runga Lingkup ISBD Ada dua Sumber Ilmu Pengetahuan Agama Bersumber dari Allah SWT Diturunkan kep Manusia melalui Rasul Allah yg diabadikan dlm kitab SUMBER ILMU as suci seperti : 1. Zabur pd Nabi DAUD as 2. Taurat (Thorah) Pd Nabi Musa 3. Injil pd Nabi Isa al-masih as 4. Al-Quranul karim, pd Nabi Muhammad Swt Filsafat (Philosophia ) hasil kajian manusia Pemikiran ttg masy, Paradaban Manusia

Natural Sciences (Ilmu 2 Alamiah ) Kimia, Biologi,
dll

Matematika,Fisika, Astronomi,Geologi, Astronomi , Botani, Social Sciences ( Ilmu 2

Sosial ) FILSAFAT Politik, Sejarah,

Sosiologi, Ekonomi, Antropologi,

Geografi,

psikologi, Pendidikan dll Humanities ( Ilmu 2

Budaya ) agama, ilmu, bhs,

Cinta kasih, budaya, kesenian, Kesusastraan, dll

MBB: Mata Kuliah berkehidupan bermasyarakat

Astronomi

IAD - Fisika - Kimia –

Geologi meteorologi – Biologi

MBB ISD –Studi Manusiamasyarakat ( Sosiologi, antropologi ) - Studi lembaga 2 sosial ( Ekonomi & Politik ) IBD - Seni ( Sastra, musik, seni berpidato ) rupa, Seni tari, dan - Sejarah

HAKEKAT DAN RUANG LINGKUP MBB-ISBD Program studi General Education di Amerika telah dikolaborasi para ahli pendi, di Indonesia menjadi sebuah studi atau mata kuliah MKDU (istilah dulu). Kelompok mata kuliah pertama memaut mata kuliah pendidikan Pancasila, pendidikan agama dan pendidikan kewiraan nasional, kelompok kedua memuat mata kuliah ISBD, IBD dan IAD. Kedua kelompok tersebut kini menjadi MPK dan MBB. Kelompok mata kuliah di atas berusaha membekali mhswa berupa kemampuan dasar ttg pemahaman, pemaknaan dan pengamalan nilai2 dasar kemanusiaan baik sbg pribadi, sbg warga Negara Indonesia, anggota keluarga, warga masy dan sbg bagian dari alam ciptaan Tuhan. Tujuannya memberikan landasan berfikir, bersikap dan bertindak agar lulusan perguruan tinggi menjadi manusia yg memiliki kepribadian yg utuh yaitu pribadi yg beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat rohani dan jasmani, cerdas, trampil, mandiri, memiliki jati diri, serta memiliki rasa tanggung jawab kemanusiaan dan kebangsaan. Untuk mencapai tujuan tersebut disusunlah kurikulum inti yg memuat nilainilai dasar . VISI, MISI DAN TUJUAN MBB-ISBD VISI ISBD

Berkembangnya mhsis sbg manusia terpelajar yg kritis, peka dan arif dlm memahami keragaman dan kesederajatan manusia yg dilandasi nilai2 estetika, etika dan moral dlm kehidupan bermasy MISI ISBD Memberikan landasan dan wawasan yg luas serta menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif pada mhsis utk memahami keragaman dan kesederajatan manusia dlm kehidupan bermasya selaku individu dan mahluk social yg beradab serta bertanggung jawab terhadap sumber daya dan lingkungannya. TUJUAN ISBD -->Mengembangkan kesadaran mhsis menguasai pgthuan ttg keanekaragaman dan kesederajatan manusia sbg individu dan mahluk social dlm kehidupan masyarakat -->Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dlm memahami keragaman dan kesederajatan manusia dg landasan nilai estetika, etika dan moral dlm kehidupan bermasyarakat -->Memberikan landasan pgthuan dan wawasan yg luas serta keyakinan kpd mhsis sbg bekal bagi hidup bermasya, selaku individu danmahluk social yg beradab dlm mempraktikan pgthuan akademik dan keahliannya. Ruang lingkup Kajian ISBD : a.Berbagai aspek kehidupan mengungkapkan masalah kemanusiaan dan budaya yg dpt didekati dg menggunakan pgthuan bud (the humanities) baik dr segi keahlian didlm pgthuan budaya, maupun gabungan berbagai disiplin dlm pgthuan budaya b. Hakekat manusia yg satu atau universal, ttp beragam perwujudannya dlm kebud setiap zaman dan tempat. Didlm menghadapi ling alam, social, dan bud, manusia. Manusia sbg posisi sentral dlm pengkajian, sbg subjek, juga sbg objek pengkajian. Bgmana hub Man dg alam, sesama man, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bgmana pula hub man dg Tuhan yg menjadi tema sentral dlm ISBD

B. KONSEP GENERAL EDUCATION Nursyid Syumaatmadja (2002 :107 ) Bhw Pend umum mempersiapkan generasi muda terlibat dlm kehidupan umum sehari2 dlm klpok mereka, yg merupakan unsur kesatuan budaya, behub dg seluruh kehdpan yg memenuhi kepuasan dlm keluarga, pekerjaan, sbg warga Negara, selaku umat yg terpadu serta penuh dg makna Kehidupan. Maka pend Umum mempersiapkan peserta didik, terutama

generasi muda utk menjadi man yg sesungguhnya, yg manusiawi, mengenal diri sendiri, man lain di sekelilingnya, sadar akan kehidupan yg luas dg sgl masalah dan kondisinya yg menjadi hak dan kwjban tiap org utk memberdayakannya sbg agt keluarga, masy, warga Negara dan dunia, dan akhirnya umat manusia sbg ciptaan Tuhan Maha Pencipta. Dalam kehidupan masya modern ketergantungan hidup terhadap produk teknologi terutama teknologi informasi. Kemajuan iptek di era globalisasi (kehidupan tanpa tapal batas), menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan spesialisasi. Hal ini berpengaruh pada pola fikir, pola hidup dan perilaku. Teknologi disatu sisi membantu aktivitas hidup masya, di sisi lain menjadikan sikap mental masya malas, karena dibuai berbagai kemudahan. Kehidupan di zaman modern seolah-olah tidak akan dpt bertahan hidup tanpa bantuan produk teknologi.. hal ini memaksa kehidupan menjadi konsumtif. Pada saatnya akan menggusur nilai2 kemanusiaan yaitu kemandirian dlm mengatasi persoalan hidupnya. Nilai2 kemandirian sangat dibutuhkan karena di dalamnya ada unsur kreatifitas dan efisiensi. Situasi yg dilematis, perkembangan kehidupan modern biaya hidup menjadi tinggi, namun tidak mengikuti perkembangan jauh ketinggalan, ini merupakan problematika kehidupan modern. Untuk mengantisipasi dampak negative kemajuan iptek dan lajunya arus globalisasi yang cepat, perlu menyadari untuk segera membekali peserta didik dengan kemampuan dasar diantaranya nilai2 kemandirian. Secara filosofis kemampuan tersebut berupa kemampuan dalam memahami, memaknai dan mengamalkan nilai-nilai esensial yang ada pada dirinya baik sebagai individu, anggota keluarga, anggota masya, warga Negara maupun sebagai bagian dari alam. Abad 20 di Amerika dan Eropa, hasil analisis mereka berkesimpulan bahwa system pendidikan modern telah menghasilkan para saintis dan teknokrat yg handal tapi tdk melahirkan para lulusan yg memiliki integritas kepribadian.
Menurut Phenix (dlm Nursyid S, 2002:109 ) Bhw makna-makana esensial yg melekat dlm khdpan masy dan budaya man meliputi enam pola, yaitu : Simbolik, empirik, estetik, sinoetik, etik, dan sinoptik. PPKn

- Simbolik meliputi : Bhs, Matematika, termasuk juga isyarat2, upacara2, tanda2 kebesaran, dsb, - Empirik mencakup ilmu kealaman, hayati, kemanusiaan. Mka empiric mngbgkan kemampuan teoritis, konseptual, analitis, geralisasi berdsrkan fakta2, dan kenyataan yg bias diamati. - Estetik, meliputi bbgai seni spti : musik, karya seni, kesenian, sastra, dll. Estetik berkenaan dg keindahan &kehalusan, keunikan. - Sinoetik, berkenaan dg perasaan, kesan, penghayatan, dan kesadaran yg mendalam. Kdlman makna ini termasuk

empati, simpati, dsb. - Etik. Berkenaan dg aspek2 moral, akhlak, perilaku yg luhur, tgjwb, dsb. - Sinoptik. Berkenaan dg pengertian2 yg terpadu dan mendalam sprtiagama, filsafat, pgth sejarah yg menurut nalar masa lampau, dan hal23 yg bernuansa spiritual. Jadi ISBD sbg bagian General Education Merupakan Ilmu Basic Humanities berasal kt laitin Humanus arti Manusia, berbudaya, dan halus (refined) .dg mempelajari IBD ssorg menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. BAB II MANUSIA SEBAGAI MAHLUK BUDAYA A. HAKEKAT MANUSIA DAN BUDAYA 1. Pengertian Manusia Secara bhs manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yg berakal budi (mampu menguasai makhluk lain) Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam hubungannya dg lingk, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dpt dikatakan, setiap org berasal dari satu lingk, baik lingk vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh karena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bhw setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) utk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan utk hidup. Utk dpt hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat utk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan. Oleh karena itu lingk mempunyai pengaruh besar terhadap manusia itu sendiri, hal ini dpt dilihat pd gbr siklus hubungan manusia dg lingkungan sebagai berikut:

Siklus Hubungan Manusia Gbr di atas menggambarkan bhw lingk dan manusia atau manusia dan lingk mrpkan hal yg tak terpisahkan sbg ekosistem, yg dpt dibedakan mejadi: -Lingku alam yg befungsi sbg SDA - Lingku manusia yg berfungsi sbg SDM - Lingku buatan yg berfungsi sbg sumber daya buatan

B. Pengertian Budaya
Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yg berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sbg singkatan kata kebudayaan, yg berasal dari Bhs Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yg berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dlm Bhs Belanda di istilahkan dg kata culturur . Dlm bhs Inggris culture . Sedangkan dlm bhs Latin dari kata colera . Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dlm arti culture, yaitu sbg segala daya dan aktivitas manusia utk mengolah dan mengubah alam. Definisi budaya dlm pandangan ahli antropologi sangat berbeda dg pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli 2 antropologi merumuskan definisi budaya sebagai berikut: E.B. Taylor: 1871 berpendapat bhw budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan Reiff Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yg merupakan kebiasaan yg dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Adapun Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bhw budaya adalah: Semua rancangan hidup yg tercipta secara historis, baik yg eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yg ada pada suatu waktu, sbg pedoman yg potensial untuk perilaku manusia Lain halnya dg Prof. Dr. Koentjaraningrat: 1979 yg mengatikan budaya dg: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dlm rangka kehidupan masya yg dijadikan milik diri manusia dg belajar. Berdasarkan definisi para ahli trsbt dpt dinyatakan bhw unsur belajar mrpkan hal terpenting dlm tindakan manusia yg berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dlm rangka kehidupan bermasya yg tak perlu dibiasakan dg belajar . Dari kerangka tsbt diatas tampak jelas b enang merah yg menghubungkan antara pendi dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui proses belajar yg merupakan kegiatan inti dlm dunia pendidikan. Selain itu trdpat tiga wujud kebudayaan yaitu : 1. wujud Pikiran, ide-ide, gasan2, norma2, peraturan,dan sbgainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dlm pikiran masing2 aggta masya di tempat kebudayaan itu hidup; 2. Aktifitas kelakuan berpola manusia dlm masya. Sistem sosial terdiri atas aktifitas2 manusia yg saling berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dg yg lain setiap saat dan selalu mengikuti pola2 tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret; Pikiran ------ Aktivitas berpola- ---Wujud fisik 3. Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.

BUDAYA SEBAGAI SISTEM GAGASAN Budaya sbg sistem gagasan yg sifatnya abstrak, tak dpt diraba atau di foto, karena berada di dlm alam pikiran atau perkataan ssorang. Terkecuali bila gagasan itu dituliskan dlm karangan buku. Budaya sbg sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dlm bersikap dan berperilaku. Seperti apa yg dikatakan Kluckhohn dan Kelly bhw “Budaya berupa rancangan hidup” maka budaya terdahulu itu merupakan gagasan prima yg kita warisi melalui proses belajar dan menjadi sikap prilaku manusia berikutnya yg kita sebut sebagai nilai budaya.

Jadi, nilai budaya adalah “gagasan” yang menjadi sumber sikap dan tingkah laku manusia dlm kehidupan sosial budaya. Nilai budaya dpt kita lihat, kita rasakan dlm sistem kemasyarakatan atau sistem kekerabatan yg diwujudkan dlm bentuk adat istiadat. Hal ini akan lebih nyata kita lihat dlm hub antara manusia sbg individu lainnya maupun dg kelompok dan lingkungannya.

PERWUJUDAN KEBUDAYAAN

JJ. Hogman dlm bukunya “The World of Man” membagi budaya dlm tiga wujud yaitu: ideas, activities, dan artifacts. Sedangkan Koencaraningrat, dlm buku “Pengantar Antropologi” menggolongkan wujud budaya menjadi: a. Sbg suatu kompleks dari ide2, gagasan, nilai2, norma2, peraturan dan sebagainya. b.Sbg suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dlm masya c. Sbg benda2 hasil karya manusia. Berdasarkan penggolongan wujud budaya di atas kita dpt mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: Budaya yg bersifat abstrak dan budaya yg bersifat konkret.

Budaya yang Bersifat Abstrak
Budaya yg bersifat abstrak ini letaknya ada di dlm alam pikiran manusia, misalnya terwujud dlm ide, gagasan, nilai2, norma2, peraturan2, dan cita2. Jadi budaya yg bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yg menjadi cita2 atau harapan bagi manusia sesuai dg ukuran yg telah menjadi kesepakatan.

Budaya yang Bersifat konkret
Wujud budaya yg bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dlm masy yg dpt diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koentjaraningrat menyebutkan sifat budaya dg sistem sosial dan fisik, yg terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi.

a. Perilaku

Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dlm situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dlm masya hrs mengikuti pola-pola perilaku ( pattern of behavior ) masyarakatnya. b. Bahasa Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yg dibunyikan dg suara (vokal) dan ditangkap dg telinga

(auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dlm memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini adalah pemakaian bhs. Bhs berfungsi sbg alat berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan ada. c. Materi Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi. Unsur-unsur materi dlm budaya dpt diklasifikasikan dari yg kecil hingga ke yg besar adalah sebagai berikut:

1.

Items, adalah unsur yg paling kecil dlm budaya.

2. Trait, mrpkan gabungan dr bbrpa unsur terkecil 3. Kompleks budaya, gabungan dari bbrapa items dan trait

4. Aktivitas budaya, merupakan gabungan dari kompleks budaya.

bbrpa

Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan unsur2 budaya menyeluruh ( culture universal ). Terjadinya unsur2 budaya tersebut dpt melalui discovery (penemuan atau usaha yg disengaja untuk menemukan hal2 baru).

ISI (SUBSTANSI) UTAMA BUDAYA
Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yg terpenting adalah sistem pgthuan, nilai, dan pandangan hidup. 1. Sistem Pengetahuan Para ahli menyadari bhw masing2 suku bangsa di dunia memiliki sistem pgthuan tentang: Alam sekitar, Alam flora dan fauna, Zat-zat,Manusia, Sifat2 dan tingkah laku sesama manusia, Ruang dan waktu. Unsur2 dlm pgthuan inilah yg sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan di seluruh dunia. 2. Nilai Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia utk menghubungkan sesuatu dg sesuatu yg lain untuk dijadikan pertimbangan dlm mengambil keputusan. Keputusan nilai dpt menentukan sstu berguna atau tdk berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius atau sekuler, sehubungan dg cipta, rasa dan karsa manusia. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama). Prof. Dr. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga bagian yaitu:

- Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna bagi manusia. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas

- Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi rohani manusia.
3. Pandangan Hidup Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yg dianut oleh suatu masya dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai2 yg dimiliki oleh bgs itu sendiri, yg diyakini kebenarannya, dan

mewujudkannya.

menimb ulkan

tekad

pd

bgs

itu

utk

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA Dari penjelasan di atas jelaslah bhw manusia sbg makhluk yg paling sempurna bila dibanding dg makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab utk mengelola bumi. Karena manusia diciptakan utk menjadi khalifah, sebagaimana dijelaskan pd surat Al-Baqarah: 30 Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Oleh karena itu manusia hrs menguasai segala sesuatu yg berhubungan dg kekhalifahannya disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki. Masalah moral adalah yg terpenting, karena sebagaimana Syauqi Bey katakan:

‫إنما المم الخلق مابقيت فإنهمو ذهبت أخلقهم ذهبوا‬ ّ
Artinya: “Kekalnya suatu bangsa ialah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu” .

Akhlak dlm syair di atas menjadi penyebab punahnya suatu bgs, dikarenakan jika akhlak suatu bgs sudah terabaikan, maka peradaban dan budaya bgs tsbut akan hancur dg sendirinya. Oleh karena itu utk menjadi manusia yg berbudaya, harus memiliki ilmu pgthuan, tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta akhlak yg tinggi (tata nilai budaya) sbg suatu kesinambungan yang saling bersinergi, sebagaimana dilukiskan dalam bagan berikut:

Hommes mengemukakan bhw, informasi IPTEK yg bersumber dari sesuatu masya lain tak dpt lepas dari landasan budaya masya yg membentuk informasi tsbut. Karenanya di tiap informasi IPTEK selalu terkandung isyarat2 budaya masya asalnya. Selanjutnya dikemukakan juga bhw, karena perbedaan2 tata nilai budaya dari masya pengguna dan masya asal teknologinya, isyarat2 tsbut dpt diartikan lain oleh masya penerimanya. Disinilah peran manusia sbg makhluk yg diberi kelebihan dlm segala hal, utk dpt memanfaatkan segala fasilitas yg disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Shgg dg alam tsbut manusia dpt membentuk suatu kebudayaan yg bermartabat dan bernilai tinggi. Namun perlu digarisbawahi bhw setiap kebudayaan akan bernilai tatkala manusia sebagai masyarakat mampu melaksanakan norma-norma yang ada sesuai dengan tata aturan agama. B. Apresiasi Terhadap kemanusiaan dan kebudayaan Budaya Indonesia adalah milik kemanusiaan, dan TIDAK BOLEH ada pihak yg boleh mengklaim sbg hanya miliknya.

Sbg Bgs Indo, maka anda boleh bahkan dianjurkan untuk:

menikmati dan meningkatkan apresiasi trhdap kebud Indo dg segala keragaman dan kekayaan yg ada di dalamnya. memperluas cakrawala inovasi anda utk memperkaya khazanah budaya bgs dan dunia secara kreatif. meningkatkan kesejahteraan pembinaan bud nasional Indo sbg dicerminkan dalam bud dan tradisi daerah Indonesia.

Situs ini dimaksudkan utk mendaftarkan secara on-line berbagai artifak dari tradisi masya kepulauan Indonesia yg dg memiliki kesadaran akan keberagaman buda dlm satu kesatuan yg utuh dlm Wawasan Nusantara. Situs ini terbuka bagi setiap warga Indo yg terbeban akan pelestarian budaya bgs, penikmat karya seni tradisi bgs, dan mencintai negeri dg segala aspek yg ada di dalamnya. Tidak ada klaim apapun atas semua karya seni budaya yg ada dlm daftar artifak yg termuat di dlm situs ini kecuali bhw semuanya adalah milik Bgs Indo oleh tradisi masya yg ada hingga hari ini dlm bentuk warisan bgs secara

turun-temurun. Segala berkas dan aspek ygterkandung di dlmnya adalah tetap milik kontributor dan IACI tdk berhak utk meng-klaim dg alasan apapun. Artifak budaya yg dirujuk juga tetap merupakan milik seluruh bgs Indo dan tdk ada klaim akan kepemilikan atau hak guna atau apapun secara legal selain bhw data ditampilkan utk menunjukkan identitas bgs secara seutuhnya. Pengelola situs dan IACI hanyalah penyedia tempat online untuk mendaftarkan berbagai kekayaan budaya Indonesia dan tidak bertanggungjawab atas segala penyalahgunaan data yang ada oleh pihak ketiga baik secara moral maupun secara legal terkecuali aspek apa yg sdg diperjuangkan yakni Nusantara Cultural Heritage State License. Fungsi IACI hanyalah sbg administrasi on-line, manajemen, dan pemeliharaan web belaka. Dalam tugas-tugas ini, IACI terbuka untuk bekerja dg semua pihak yg memiliki visi yg sama utk Indonesia. Pelestarian dan apresiasi kebud Indo adalah tggung jwb seluruh masya Indo dan paten atau bentuk kepemilikan apapun bagi mereka yg secara tradisi dan akar buda bukan merupakan bagian dari negeri kesatuan Indo adalah hal

non-etis dan tdk terpuji, eksploitatif terhadap kemanusiaan dan tradisi sosialnya, dan oleh karenanya berpotensi merusak tatanan kehidupan persatuan Indo di mana kebhinekaan adalah salah satu aspek pentingnya. Pesona Indo tersusun atas keberagaman pesona keindahan elemen2 sosial yg terbentuk dari kebud dan pola hidup masya Indo semenjak dulu kala dari Sabang sampai Merauke. Kesatuan Indo merupakan Wawasan Nusantara yg hrs menjadi landasan pengayom bagi keberagaman tersebut, sekaligus mendapatkan keuntungan baik moral maupun material dari pesona tersebut. Kemerdekaan Indonesia merupakan kemerdekaan berkreasi atas budaya tersebut di mana kemerdekaan berkreasi tersebut selayaknya mampu menjadi pendorong kukuhnya rasa kesatuan dan cinta tanah air yang setinggi-tingginya lintas generasi, lintas minat dan preferensi. Bahwa keberagaman adalah bahasa persatuan Indonesia. Dan kemajuan implementatif sains teknologi telah mendorong banyak perubahan paradigma di berbagai bidang yang semestinya mampu memperkaya

cara pandang Indonesia terhadap negerinya, bangsanya, dan pesona keberagaman tersebut. Ketika ekonomi global telah mendorong globalisasi yang menyentuh sisi kultural dan inovasi telah menjadi hal yang luar biasa penting dalam semua lini prosesnya, maka dirasa perlu untuk menyiapkan keberagaman budaya tradisional bangsa ini dalam menghadapinya. Kearifan lokal semestinya diperhatikan dan dilestarikan sedemikian sehingga memberikan nilai guna yang kuat di berbagai sektor kehidupan sekaligus menguatkan semangat kebersamaan berbangsa di tengah ekonomi global yang bukan tak mungkin merongrong kesatuan melalui rongrongan terhadap aspek yang kaya yang berbeda-beda tersebut. Saat yang berbahagia adalah ketika bangsa Indonesia mampu mengakuisisi sains dan teknologi dan dengan landasan kecintaan pada tanah air menjanjikan kebahagiaan, kesejahteraan, kecerdasan, dan kesehatan bagi seluruh elemennya. Dengan semangat dan keinginan yang kuat untuk memperkuat ketahanan bud nusantara sbg elemen

penting dalam inspirasi ke-Indonesia-an inilah situs ini disediakan secara terbuka bagi sebanyak mungkin kalangan masyarakat.

Guru,

sejatinya adalah hamba kemanusiaan. Mereka menjadi pelayan, abdi pendidikan. Mereka menjadi agen kebudayaan yang memberikan ruang penyadaran sehingga mampu membuka mata dan nurani terhadap kesejatian diri, harga diri, harkat, dan martabat bangsanya. Sebagai hamba kemanusiaan, dengan sendirinya guru sangat akrab dengan kehidupan anak-anak bangsa yang masih butuh sentuhan kearifan, kejujuran, kesabaran, dan

ketulusan nurani. Karena tugasnya bersentuhan langsung dengan kehidupan sebuah generasi, guru tak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga diharapkan terampil menyajikannya kepada siswa didik secara menarik sekaligus menyenangkan. Selain itu, guru juga dituntut memiliki integritas kepribadian yang baik sehingga tak gampang tergoda melakukan tindakan tercela yang akan meruntuhkan citra dan kredibilitasnya. Hal ini sangat beralasan, sebab tugas guru tak hanya sebagai pentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur baku kepada siswa didiknya.

Pergeseran Nilai

Seiring derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan, beban yang mesti dipikul guru jelas semakin berat. Modernisasi yang membawa imbas terjadinya pergeseran tata nilai menjadi persoalan krusial bagi guru. Guru mesti dihadapkan pada persoalan serius ketika nilai-nilai kemanusiaan mulai dimarginalkan, nilai-nilai moral dan agama semakin terbonsai, nilai kesalehan hidup (baik individu maupun sosial) makin terabaikan. Dalam pandangan Erich Fromm, era modernisasi yang mengibarkan bendera peradaban teknologi, bukan perjuangan manusia mencapai kebebasan dan kebahagiaan, melainkan merupakan masa di mana manusia telah terhenti menjadi manusia. Manusia telah berubah menjadi mesin yang tidak berpikir dan berperasaan sehingga gampang kehilangan kontrol terhadap sistem yang telah dibangun bersama. Meminjam

bahasa Max Weber, masyarakat tak ubahnya seperti ”kandang besi” yang memasung dan membelenggu kehidupan manusia modern. Iklim dan atmosfer kehidupan modern semacam itu, disadari atau tidak, juga memiliki andil yang cukup besar terhadap munculnya generasi ”robot” yang kehilangan kepekaan etika, estetika, dan religi. Mereka telah menjadi generasi instan yang kehilangan apresiasi terhadap nilai kejujuran, kesabaran, dan ketelatenan. Untuk mencapai harapan dan keinginan, mereka tak segan-segan mencari jalan pintas dan suka menerabas. Yang lebih mencemaskan, para pelajar masa kini dinilai juga mulai kehilangan sikap hormat dan respek terhadap gurunya. Hubungan guru dan murid telah kehilangan kedalaman komunikasi yang intens dan harmonis. Akibatnya, guru seringkali tak berdaya dalam menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif; efektif, menarik, dan menyenangkan. Dalam kondisi demikian, diperlukan sinergi antara guru, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan elemen pendidikan yang lain Di tengah situasi peradaban yang makin rumit dan kompleks, stakeholder pendidikan perlu memiliki kesamaan visi dalam upaya membebaskan generasi masa depan negeri ini dari belenggu peradaban yang makin abai terhadap nilai-nilai luhur baku. Orang tua perlu mengembalikan fungsi keluarga sebagai basis penanaman nilai moral, budaya, dan agama. Kesibukan memburu gebyar materi jangan sampai menjadi penghalang untuk dekat dengan anak-anak. Demikian juga halnya

dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Mereka perlu mengembalikan fungsinya sebagai kekuatan kontrol terhadap berbagai perilaku menyimpang yang rentan dilakukan oleh anak-anak. Sebagai hamba kemanusiaan, guru juga perlu mengembalikan ”khittah”-nya sebagai sosok yang benar-benar bisa ”digugu dan ditiru” sehingga tetap sanggup menjalankan perannya sebagai agen kebudayaan yang memberikan ruang penyadaran terhadap nilai-nilai kesejatian diri.

C. Etika dan estetika Berbudaya Secara historis perkembangan zaman boleh saja mengalami perubahan yang dahsyatmun, peran kesenian tidak akan pernah berubah dalam tatanan kehidupan manusia. Sebab, melalui media kesenian, makna harkat menjadi citra manusia berbudaya semakin jelas dan nyata. Bagi manusia Indonesia telanjur memiliki meteri sebagai bangsa yang berbudaya. Semua itu dikarenakan kekayaan dari keragaman kesenian daerah dari Sabang sampai Merauke yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Namun, dalam sekejap, pandangan terhadap bangsa kita menjadi ”aneh” di mata dunia. Apalagi dengan mencuatnya berbagai peristiwa kerusuhan, dan terjadinya pelanggaran HAM yang menonjol makin memojokkan nilai-nilai kemanusiaan dalam potret kepribadian bangsa. Padahal, secara substansial bangsa kita dikenal sangat ramah, sopan, santun dan sangat menghargai perbedaan sebagai aset kekayaan dalam dinamika hidup keseharian. Transparansi potret perilaku ini adalah cermin yang tak bisa disangkal. Bahkan, relung kehidupan terhadap nilai-nilai etika, moral dan

budaya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun, kenyataannya kini semuanya telah tercerabut dan ”nyaris” terlupakan. Barangkali ada benarnya, dalam potret kehidupan bangsa yang amburadul ini, kita masih memiliki wadah BKKNI (Badan Koordinasi Kebudayaan Nasional Indonesia) yang mengubah haluan dalam transformasi sosial, menjadi BKKI (Badan Kerja sama Kesenian Indonesia) pada Februari lalu. Barangkali dengan baju dan bendera baru ini, H. Soeparmo yang terpilih sebagai ”bidannya” dapat membawa reformasi struktural dan sekaligus dapat memobilisasi aktivitas kesenian sebagaimana kebutuhan bangsa kita. Sebab, salah satu tugas dalam peran berkesenian adalah membawa kemerdekaan dan kebebasan kreativitas bagi umat manusia sebagai dasar utama.

Tulang Punggung Suatu dimensi baru, jika dalam pola kebijakan untuk meraih citra sebagai manusia Indonesia dapat diwujudkan. Untuk hal tersebut, kebijakan menjadi bagian yang substansial sifatnya. Bukan memberi penekanan pada konsep keorganisasian, sebagai bendera baru dalam praktik kebebasan. Melainkan, bercermin pada kebutuhan manusia terhadap kebenaran, dan nilai-nilai keadilan. Sehingga, kesenian dapat menjadi tulang punggung mempererat kehidupan yang lebih tenang, teduh dan harmonis. Dalam koridor menjalin kesatuan dan persatuan

bangsa, dan mengangkat citra kehidupan manusia Indonesia di mata dunia, perlu adanya upaya yang tangguh dan kokoh. Sebab, tanpa upaya tersebut niscaya kita hanya mengenang masa silam dan mengubur masa depan dari lahirnya sebuah peradaban. Dalam hal ini kita sebagai bangsa yang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, tentu tidak akan rela. Namun demikian, gradasi budaya itu menukik tajam, dan dapat dirasakan sejak jatuhnya rezim Soeharto. Meskipun, pada rezim kekuasaan Orde Baru bukan berarti tidak ada sama sekali pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan, justru karena terselubung dengan rapi maka ”borok” kemerosotan moral itu tidak begitu tampak. Tetapi, kini semuanya menjadi serba terbuka dan menganga. Siapa pun punya hak dan kewajiban untuk menjadi ”pelaku” reformasi, tidak sekadar jadi penonton. Itu sebabnya, tidaklah salah jika dalam memperbaiki kondisi bangsa, kita juga proaktif dalam menyikapinya. Tak dapat disangkal, jika kesenian merupakan kebutuhan dasar manusia secara kodrati dan unsur pokok dalam pembangunan manusia Indonesia. Tanpa kesenian, manusia akan menjadi kehilangan jati diri dan akal sehat. Sebab, kebutuhan manusia itu bukan hanya melangsungkan hajat hidup semata, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai etika dan estetika. Untuk wujudkan manusia dewasa yang sadar akan arti pentingnya manusia berbudaya, obat penawar itu barangkali adalah kesenian. Unsur penciptaan manusia sebagai proses adalah konteks budaya. Dalam hal ini, apa yang diimpikan Konosuke Matsushita dalam bukunya Pikiran Tentang Manusia menjadi dasar pijakan kita, jika ingin menjadi manusia seutuhnya. Sebab, pada dasarnya manusia membawa kebahagiaan dan mengajarkan pergaulan yang baik dan jika perlu memaafkan sesamanya.

Karena, dari sinilah dapat berkembang kesenian, kesusastraan, musik dan nilai-nilai moral. Sehingga, pikiran manusia menjadi cerah dan jiwanya menjadi kaya. Bertalian dengan konteks itu, Soeparmo dalam ceramahnya di depan pengurus daerah juga mengatakan hal yang sama. Artinya, jika manusia sudah tidak mampu menjalankan tugas kreativitasnya, maka manusia itu menjadi mandek dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Kondisi Semrawut Carut marut kehidupan saat ini, semakin tumpang tindih. Persoalan bangsa menjadi bara api yang sulit untuk dipadamkan. Kondisi sosial yang tidak lagi bersahabat, menjadikan manusia makin kehilangan jati dirinya. Bahkan berbagai ramalan menatap masa depan bangsa, hanya berisi pesimistis dan sinis. Jika kearifan yang dimiliki manusia semakin sempit dan terbatas, barangkali kegelisahan sebagai anak bangsa semakin beralasan. Potret sosial yang kini menjadi skenario massal masih menjadi tekanan dalam konteks berpolitik. Akibatnya, pertarungan yang tidak pernah akan menyelesaikan masalah terus berjalan tanpa ada ”rem” nya. Dan itu dapat kita lihat secara kasat mata, pertunjukan ”dagelan” yang hanya untuk memuaskan nafsu kekuasaan dan ingin menunjukkan kekuatan dalam menggalang massa. Padahal, tugas sebagai manusia yang berbudaya senantiasa mengulurkan cinta kasih, perdamaian dan menjaga harmoni kehidupan. Tetapi, kenyataannya sikap dan perilaku dalam potret masa kini, nilai-nilai etika, norma-norma sosial, dan hukum moral menjadi ”haram” untuk dijadikan landasan berpikir yang sehat. Bahkan, upaya untuk berani membohongi diri sendiri, adalah ciri-ciri lenturnya nilai-nilai budaya. Dimensi sosial semacam ini, Indonesia di mata dunia

semakin menjadi bahan lelucon. Apalagi yang harus dijadikan komoditi bangsa dari berbagai aspek kehidupan. Bicara soal ekonomi, bangsa Indonesia sudah menggadaikan diri nasibnya pada IMF. Soal politik, dianggap ”ludrukan” karena hanya sekadar entertainment. Dan lebih mengerikan lagi, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di daerah-daerah membuat bingkai kemanusiaan semakin tidak memiliki harga diri. Dan masih banyak persoalan seputar kita yang semakin semrawut dan kehilangan konteks dalam pijakan untuk membangun manusia seutuhnya. Jalan pintas melalui kesenian, barangkali masih bisa menjadi ”mediasi” silahturahmi di mata dunia. Karena dalam pendekatan kesenian, estika, etika, dan hukum moral merupakan ekspresi yang tidak pernah bicara soal kalah menang. Melainkan, dalam korelasi budaya pintu melalui kesenian masih bisa dijadikan komoditi yang bisa dijadikan akses kepercayaan. Apalagi dengan diberikannya kebebasan terhadap otonomi daerah, melalui undang-undang No.22/1999 harus dipandang sebagai suatu masa pencerahan dalam pembangunan manusia seutuhnya. Karena dengan otoritas yang ada, daerah dapat membangun wilayahnya dan pengembangan terhadap kesenian tidak lagi dijadikan ”proyek” yang sentralistik di pusat, Jakarta. Kebebasan akan hal ini, harus dijadikan peluang untuk membangun potensi yang ada. Karena itu makna pembangunan, jangan hanya dilihat dari sukses dan tidaknya sarana jalan tol, pasar swalayan, mal-mal atau bahkan tempat-tempat hiburan yang kini sedang ”menggoda” mata budaya. Padahal ada hal yang lebih penting dari pesan Eric From dalam bukunya Manusia Bagi Dirinya bahwa,

”Ketidakharmonisan eksistensi, manusia menimbulkan kebutuhan yang jauh melebihi kebutuhan asli kebinatangannya. Kebutuhankebutuhan ini menimbulkan dorongan yang memaksa untuk memperbaiki sebuah kesatuan dan keseimbangan antara dirinya dan bagian alam.” Jika demikian masalahnya, masihkah kita men-dewakan pembangunan dlm arti yg harafiah sbg lingkup keberadaan man. Sebab masih ada yang lebih substansial, pembangunan man seutuhnya lewat kesenian adalah cermin bagi kepribadian bgs. Ironis, selama ini kita hanya terlena dlm memikirkan nasib bgs dari sisi pembangunan perut semata. Akibatnya, dari waktu ke waktu, kita hanya bisa merenungi peradaban baru yg membawa bgs ini semakin bodoh.

etika dan estetika yang berbudaya dalam pendidikan
PENDIDIKAN merupakan sebuah indikator penting untuk mengukur kemajuan sebuah bangsa. Jika sebuah bgs ingin ditempatkan pd pergaulan dunia dlm tataran yg bermartabat dan modern, maka yg pertama2 hrs dilakukan adalah mengembangkan pend yg memiliki relevansi dan daya saing bagi seluruh anak bgs. Mengapa demikian? Karena pend mrpkan gerbang utk memahami dunia sekaligus gerbang utk menguasai pola pikir dan kultur spesifik di dlm pergaulan global. Dlm perspektif politik pend, srg filosofi Yunani abad pertengahan mengatakan bhw penaklukan dunia ditentukan oleh seberapa jauh pend suatu bgs dpt dicapai dan seberapa maju bangsa2 bersangkutan menguasai ilmu pgthuan. ini berarti sbg simbol kemajuan peradaban bgs, penguasaan ilmu pgthuan menjadi sangat penting bahkan menjadian sebuah pra-

kondisi imperatif bagi keunggulan sebuah bgs. Dlm bhs budaya, Geertz bahkan menganggap penguasaan ilmu pgthuan sbg bentuk ekspresi kemajuan berpikir dan berperilaku sebuah bangsa. Sbg bagian tidak terpisah dari sistem kehid masy, pembangunan pendi sekaligus juga menjadi indikator penting dari proses pemba karakter bgs. Karena itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus merupakan upaya mengagungkan martabat dan perilaku bgs,secara menyeluruh. Kemajuan2 pend yg dicapai mencerminkan bagaimana bgs trsb menghargai dan melindungi martabatnya di antara pergaulan masy dunia. Dg demikian, tidak berlebihan pula jika cara berpolitik dan sopan-santun di dlm pergaulan antarbangsa sangat dipengaruhi tingkat pendi yg dimiliki dan berhasil dicapai shgg secara umum berpengaruh di dlm seluruh aspek kehid masy bgs bersangkutan. Bahkan, taraf pendidikan yg dimiliki suatu bgs dpt memberikan gbran bagaimana sebuah Bgs itu berkarakter dan berprilaku. Tingkat pendi masya dan terutama para pemegang kekuasaan secara semantik mempengaruhi bagaimana para penguasa memandang dan bersikap dalam mghdpi setiap persoalan yg muncul. Inilah yg disebut di dlm politik pendi sbg bagian perilaku santun yg menjadi kontrol penting etika kebijakan dlm pertarungan kepentingan politik yg terus mengalami dinamika. Memartabatkan pendi tidak berarti menempatkan nilai etis pendi di atas tata nilai lainnya di dlm pergaulan sosial, politik, ekonomi bahkan budaya. Memartabatkan pendi berarti memberikan nilai rasa estetis kolektif maupun individual pd sisi perilaku dan etika pergaulan yang lebih bermartabat.

Ini berarti bhw di dlm konteks mengembangkan hubungan2 antarindividu maupun kolektif penting menempatkan pendi yg mengandung nilai etis dan estetika secara benar dan berbudaya. Sebut saja Prancis, Jerman, Jepang atau Cina yang menempatkan diri pada jajaran penting pergaulan dunia karena menjadikan pendi sbg bagian etis dlm pembangunan bgsanya dan menjadi ukuran penting dlm membangun relasi2 global dlm konteks kepentingan yang luas. Secara umum, nilai etis pendidikan yang menjadi dasar penting pergaulan dunia yang tebih bermartabat tersebut pada gifirannya mengandung unsur-unsur nilai yang menempatkan bangsa bersangkutan sebagai bagian pergaulan dunia yang disegani bahkan seringkali dijadikan sebagai 'ikon' kemajuan bangsa-bangsa di dunia. Meskipun demikian, tidak dipungkiri pula bahwa dominasi politik di dalam menentukan prioritas pembangunan nasional yang bersifat monologis seringkali menjadi sangat menentukan arah pengembangan dan karakter pendidikan yang direncanakan. Dan pada gilirannya menentukan arah pendidikannya berdasarkan kepentingan-kepentingan politis praktis. Demikian juga dengan Bangsa Indonesia yang sedang berjuang menjadi bagian pergaulan bangsa-bangsa yang lebih global. Dalam konteks ini, berbagai upaya telah dilakukan terutama di dalam memperkuat karakter bangsa melalui pembangunan pendidikan nasional. Pengentasan kemiskinan dan wajib belajar sembilan tahun merupakan salah satu upaya penting dalam mengangkat martabat bangsa ini di mata internasional.

Keterbelakangan yang telah menghimpit Bangsa Indonesia selama berabad-abad telah menjadi pengalaman 'buruk' kita. Dengan demikian kita harus memacu pembangunan pendidikan yang lebih bermartabat. Karena hanya inilah cara kita agar dapat menjembatani dan menyatukan perbedaan karakter dan budaya bangsa yang sangat majemuk. Inilah cara kita membangun kembali citra kita yang berkarakter kuat sebagai bagian peradaban dunia yang memiliki nilai-nilai adiluhung sebagaimana termanifestasi di dalam lambang Negara Republik Indonesia. Dari sisi politik, pendidikan merupakan jembatan menuju masyarakat demokratis yang meleburkan berbagai perbedaan kepentingan. Realitas ini dapat dilihat dari leburnya perbedaan kasta, derajat budaya atau perbedaan kepentingan politik ke dalam nilai-nilai komunikasi yang bersifat monologis nasionalistik. Untuk itu, pendidikan merupakan satu-satunya jalur yang dianggap mampu menjembatani perbedaanperbedaan kultural di dalam keanekaragaman etnis dan budaya bangsa Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia lebih mampu memahami dirinya dan sekaligus merekatkan perbedaan-perbedaan dalam upaya mempertahankan kesatuan bangsa Indonesia yang memiki kompleksitas kepentingan, nilai budaya, dan karakter masyarakat yang beragam. Di samping itu, pendidikan juga harus mampu membangun identitas kultural bangsa yang lebih kuat sehingga dapat menempatkan bangsa ini sebagai bagian penting pergaulan dunia yang lebih luas. Di dalam konteks yang lebih global, nilai-nilai yang dibangun secara holistik akan merasuk ke dalam tata nilai dan pergaulan dunia yang lebih berkarakter. Untuk itu, di dalam kerangka memperkuat posisi tawar bangsa,

maka perlu dukungan dari seluruh komponen bangsa termasuk di dalamnya adalah dukungan politik di dalam pembangunan pendidikan nasional yang lebih luas. Penghargaan bidang pendidikan di dalam pergaulan global harus dimulai dari penghargaan yang diberikan oleh bangsa Indonesia sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa dan mau menghargai dirinya sendiri dan nilai-nilai komunikatif yang terkandung di dalam perilaku budayanya. Inilah satu satunya cara untuk memperkuat posisi tawar kita di dalam pergaulan global. Semoga apa yang kita citacitakan dalam membangun pendidikan anak-anak bangsa ini dapat menempatkan kita pada tingkat pergaulan yang lebih bermartabat, berharkat, dan berkarakter.

D. Memanusiakan Manusia Melalui Pemahaman Konsep-konsep Dasar manusia

KONSEP DASAR MANUSIA

Tujuan : Agar mhswa mampu memahami konsep2 dasar manusia sbg mahluk budaya serta pemahaman konsep tsbut dijadikan dasar pgthuan dlm mempertimbangkan dan mensikapi berbagai problematika budaya yg berkembang dlm masyarakat. Manusia sebagai mahluk budaya ; -->berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan

dan bertanggung jawab. ->mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya Manusia tidak semata-mata hanya mahluk biologik saja tetapi juga dia sebagai : -> mahluk sosial -> mahluk ekonomi --> mahluk politik --> mahluk budaya -->mahluk psikologi MANUSIA HIDUP DINAMIS, BERKEMBANG (AKIBAT BERINTERAKSI), SEHINGGA KEBUDAYAAN MAKIN KOMPLEKS PERMASLAHANNYA. Kebudayaan diciptakan manusia dg tujuan utk memenuhi kebutuhan manusia dlm rangka mempertahankan hidupnya serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya, Dalam proses perkembangannya terjadi penyimpangan dari tujuan penciptaan kebudayaan (yaitu kesejahteraan) Yang terjadi malah menjadi masalah kebudayaan yaitu ; Segala sistem / tata nilai sikap mental pola berfikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi warga masyarakat secara keseluruhan. MASALAH TATA NILAI DAPAT MENIMBULKAN KRISIS-KRISIS KEMASYARAKATAN ANTARA LAIN “DEHUMANISASI” (pengurangan arti nilai kemanusiaan) PENYIMPANGAN MASALAH BUDAYA :

Segala sistem / tata nilai sikap mental, pola berfikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi warga masyarakat secara keseluruhan HAL INI MENIMBULKAN KRISIS KEMASYARAKATAN / DEHUMANISASI YAITU : PENGURANGAN ARTI KEMANUSIAAN SESEORANG Dehumanisasi terjadi sebagai akibat perubahan sikap manusia sebagai dampak dari penyimpangan tujuan pengembangan kebudayaaan Untuk mengantisipasi itu maka; Manusia harus dikenalkan pada pengetahuan KEBUDAYAAN DAN FILSAFAT, melalui filsafat manusia memahami tentang etika, estetika dan logika. Melalui kajian pengetahuan budaya ; Kita ingin menciptakan atau penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani sebagai usaha memanusiakan diri dalam alam lingkungannya baik fisik maupun mental. Manusia memanusiakan dirinya dan lingkungannya artinya manusia membudayakan alam, memanusiakan hidup dan menyempurnakan hubungan insani. Mengkaji pengetahuan kebudayaan agar kita bisa mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran. Dengan mengkaji pengetahuan kebudayaan (humanities) kita akan menjadikan homo humanus yaitu manusia yang berpribadi manusiawi, berbudaya, dan halus Kebudayaan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-

objekmateri dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. KEBUDAYAAN (KONTJORONINGRAT) ; keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. dengan hasil budaya manusia, maka terjadilah pola kehidupan, pola kehidupan inilah yang menyebabkan hidup bersama dan dengan pola kehidupan ini dapat mempengaruhi cara berfikir dan gerak sosial. Melalui kebudayaan manusia mampu menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab untuk kebahagiaan dan kesempurnaan kehidupan. Dengan memfungsikan akal budinya, pengetahuan kebudayaan bisa mempertimbangkan, menyikapi problem budayanya. Wujud kebudayaan :
1.

Pikiran (Idea,gagasan) konsep pikiran manusia yang menjadi sistem budaya yang jadi adat istiadat 2. Activity, yaitu kompleks aktivitas yang saling berinteraksi yang kemudian jadi sistem sosial, pola aktivitas di tata oleh gagasan, pikiran-pikiran 3. Benda budaya sebagai hasil aktivitas Unsur-Unsur Budaya : 1. Bahasa 2. Sistem Teknologi 3. Mata Pencaharian 4. Organisasi sosial 5. Sistem pengetahuan

6. Religi 7. Kesenian Wujud a.d.1. disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya. Disebut sistem budaya karena gagasan dan pikiran tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas melainkan saling berkaitan berdasarkan asas-asas yang erat hubungannya, sehingga menjadi sistem gagasan dan pikiran yang relatif mantap dan kontinyu. Wujud ad.2. Kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial tdk lepas dari sistem budaya adapun bentuknya pola-pola aktivitas tersebut ditentukan atau ditata oleh gagasangagasan dan pikiran-pikiran yang ada dalam kepala manusia. Karena saling berinteraksi antar manusia, maka pola aktivitas dapat pula menimbulkan gagasan, konsep dan pikiran baru serta tidak mustahil dapat diterima dan mendapat tempat dalam sistem budaya dari manusia yang berinteraksi tersebut. Wujud. Ad. 3. Wujud sebagai benda. Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.

Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret biasa juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda yang diam sampai pada benda yang bergerak. Manusia adalah mahluk budaya KEBUDAYAAN (Koentjaraningrat), ; keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hasil pengembangan akal pikiran manusia Untuk mencapai kesempurnaan hidup Hasil budaya ; terjadi pola kehidupan Pola kehidupan inilah yang menyebabkan hidup bersama Dengan pola kehidupan dapat mempengaruhi cara berfikir dan gerak sosial. Melalui kebudayaan manusia mampu menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab untuk kebahagiaan dan kesempurnaan kehidupan. Dengan mengkaji pengetahuan kebudayan ( HUMANITIES) kita menjadikan HOMOHUMANUS (manusia yang berpribadi manusiawi, berbudaya, halus) DALAM PERKEMBANGANNYA TIMBUL PENYIMPANGAN DARI TUJUAN PENCIPTAAN KEBUDAYAAN (KESEJAHTERAAN HIDUP) YANG TERJADI MASALAH HIDUP (MASALAH KEBUDAYAAN) MASALAH KEBUDAYAAN :

Segala sistem/tata nilai sikap mental, pola fikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi warga masyarakat secara keseluruhan. Masalah tata nilai dapat menimbulkan krisis-krisis kemasyarakatan (dehumanisasi) / pengurangan arti kemanusiaan. Dehumanisasi terjadi akibat : perubahan sikap manusia sebagai akibat penyimpangan tujuan pengembangan kebudayaan Antisipasinya ; Mengenal pengetahuan kebudayaan (humanities) dan filsafat. Dengan filsafat manusia memahami tentang etika, estetika dan logika. Kajian pengetahuan budaya ; INGIN MENCIPTAKAN ATAU PENERTIBAN DAN PENGOLAHAN NILAI-NILAI INSANI SEBAGAI USAHA MEMANUSIAKAN DIRI DALAM ALAM LINGKUNGANNYA BAIK FISIK MAUPUN MENTAL. Manusia memanusiakan dirinya dan lingkungannya ARTINYA; MANUSIA MEMBUDAYAKAN ALAM, MEMANUSIAKAN HIDUP DAN MENYEMPURNAKAN HUBUNGAN INSANI E. PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN

Kebudayaan, dalam berbagai bentuknya, merupakan kristalisasi dari cara berpikir suatu masyarakat. Dan, cara berpikir suatu masyarakrat merupakan akumulasi dari noktah-noktah pengalaman sejarah yang dilaluinya, yang terus menerus mengalami perubahan dan sarat dengan proses evaluasi. Setiap proses sejarah kebudayaan senantiasa menyisakan debu-debu anomali disamping produk unggulan yang menjadi ciri dari suatu pase kebudayaan tertentu yang nantinya menjadi identitas dari suatu pase peradaban tertentu. Dalam konteks itulah, setiap masyarakat bangsa dengan kebudayaannya akan senantiasa berhadapan dengan problematikanya masing-masing.

Problematika budaya dalam masyarakat Sunda, seperti halnya masyarakat Indonesia pada umumnya, adalah adanya indikasi proses pengasingan atau peminggiran (marginalisasi) kebudayaan dan tradisi lokal oleh masyarakat etniknya sendiri. Hal ini lebih terasa terjadi di perkotaan, dan secara perlahan namun pasti hal yang sama terjadi di pelosok dan pedesaan. B.Indo

B

Proses marginalisasi bahkan hilang dan matinya sebuah kebudayaan memang merupakan hal yang lumrah terjadi, akan tetapi bila kita melihat percepatan proses yang terjadi di Indonesia, khususnya yang dialami kebudayaan Sunda, terjadi dalam waktu yang relatif cepat dan terjadi secara bersamaan dalam berbagai seginya. Akhirnya, kini tradisi dan kebudayaan tradisional Sunda hanya tinggal sebagai tontonan dan

“kalangenan”, serta sebagai bukti historis masa lalu etnik Sunda. Dalam dimensi ekonomis, tradisi dan kebudayaan tradisonal kini hanya sebagai asset wisata. Entitas kebudayaan, dengan segala aspeknya, sebagai indikasi dari keberadaan suatu bangsa (etnis) tidak bisa begitu saja dinafikan dan dianggap sepele. Karena, kebudayaan dan tradisi merupakan soko-guru dan sumber referensial bagi kepribadian masyarakat bangsa atau etnik tersebut. Etnik Sunda, sebagaimana etnik dan bangsa lainnya di dunia, mengalami sejarah pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu unsur dari entitas kebudayaan adalah sistem pengetahuan, yang secara langsung membentuk cara pandang masyarakat tersebut terhadap diri, dan dunianya. Cara pandang ini sekaligus menjadi suatu sistem keyakinan tentang “kebenaran sejati”. Suatu paradigma yang menentukan cara berpikir, bertindak dan berkreasi.

Sistem pengetahuan dan keyakinan, sebagai suatu sistem paradigma, selalu mengalami perubahan secara bertahap dan bersifat sinergis. Perubahan yang selalu sarat dengan proses evaluasi sesuai dengan tuntutan

perkembangan dan tantangannya. Persoalannya adalah bagaimana prosesi perubahan itu terjadi? Dan bagaimana peran sistem pengetahuan awal (budaya dan tradisi lokal) berperan dalam prosesi perubahan itu; Dan bagaimana posisi budaya baru dalam prosesi perubahan itu. Bila kita menggunakan teorema C.A. van Peursen tentang pase-pase perkembangan budaya yang mempetakan perubahan kebudayaan suatu bangsa, ia membagi pase perkembangan budaya itu dalam tiga babak (hingga budaya modern tentunya). Yaitu, pase mitis, ontologis dan fungsional. Van Peursen mempetakan perkembangan budaya tersebut berdasar pada pola relasi manusia (S, Subjek) dengan dirinya dan dengan lingkungannya (O, Objek). Pola relasi terbuka, tertutup dan partisipatif. Seperti halnya masyarakat bangsa lainnya di muka bumi, masyarakat etnik Sunda pun mengalami perubahan dengan tahapan yang kurang lebih sama. Kebudayaan Sunda, bila melihat catatan sejaran kebudayaan yang kita miliki dan terima, dibangun di atas paradigma mitis yang cukup kaya dan juga sangat mengakar. Hal ini, seperti dijelaskan van Peursen, ditandai oleh tidak adanya garis pemisah yang jelas dan tegas antara manusia dan dunia, antara subjek dan objek. Masyarakat Sunda, sebagai individu, masih merupakan sebuah lingkaran yang terbuka, belum memiliki “eksistensi” yang bulat. Masyarakat Sunda masih diresapi oleh kekuatan lingkungan sosial dan alam raya.

Terdapat persoalan mendasar berkenaan dengan term “eksistensi manusia” yang digunakan dalam teorema van Peursen ini. Karena, disadari atau tidak van Peursen pun pada akhirnya termakan oleh asumsi modern tentang apa yang dimaksud dengan “individu yang bulat”, eksistensi. Yaitu individu “dewasa” yang telah memiliki kesadaran penuh untuk mandiri dan terlepas dari kungkungan dan tekanan sosial dan alam raya dalam menentukan identitas dirinya. Sementara dalam tata pikir “tradisional” pada umunya, yang disebut sebagai individu yang bulat adalah justru ketika ia berada dalam relasi yang lengkap dengan masyarakat, alam raya, kekuatan-kekuatan supra natural dan atau Tuhan. Hal ini bisa kita lihat dalam prinsip, “papat kalima pancer”. Manusia yang telah samapai pada tingkat kesempurnaan adalah manusia yang telah membangun relasi antara dirinya, alam raya serta kekuatankekuatan supra natural dan atau Tuhan. Hal ini dapat kita lihat dalam mitos-mitos tentang perjalanan prosesi perjalanan hidup manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup. Hal ini dapat dilihat dalam mitos Lutung Kasarung, mitos Mundinglaya Di Kusumah, mitos Sangkuriang dan lain sebagainya. Prinsip ini didasarkan pada asumsi tentang mikro dan makro kosmos. Pengembaraan dalam makro-kosmos tak jarang disikapi sebagai pengembaraan dalam diri (mikrokosmos), penguasaan alam (makro kosmos) senantiasa diawali dengan penguasaan diri (mikro-kosmos). Diri (mikro-kosmos) selalu

menjadi awal perjalanan dan sekaligus akhir perjalanan, itulah yang disebut dengan menemukan diri sendiri. Begitu juga, perjalanan dalam diri, selalu dimanipestasikan dalam bentuk perjalanan di alam raya (makrokosmos). Ketika budaya Sunda berinteraksi dengan kebudayaan dan sistem keyakinan (agama) lain dari luar: Hindu, Budha, dan Islam; budaya Sunda mengambil peran dinamis dalam proses pertemuan sistem nilai itu. Secara khusus dalam proses pertemuannya dengan Hindu dan Budha. Akan tetapi ketika terjadi pertemuan dengan sistem nilai Islam dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama (dibandingkan dengan prosesi pertemuan dengan sistem nilai Hindu dan Budha), karena tiba-tiba harus pula berhadapan dengan tekanan dari penaklukan Mataram dan kolonialisme Barat, tata pikir pikir modern dan gerakan pemurnian Islam, prosesi budaya itu mengalami kemacetan. Hambatan yang dialami dalam interaksi budaya Sunda-Islam sangat terasa ketika terjadi gerakan pemurnian Islam yang dicikan oleh kecenderungan proteksi yang radikal terhadap adanya internalisasi budaya lokal terhadap pemikiran (tafsir) keagamaan. Kecenderungan tekstual dari pemurnian Islam seolah-olah menutup seluruh kesempatan bagi terjadinya dialog pemikiran Islam dan sistem nilai lokal (budaya Sunda). Persoalanpersoalan tersebut hampir menghabiskan seluruh konsentrasi masyarakat Sunda terhadap proyek-proyek budaya, sehingga mengalami kemacetan yang cukup berarti.

Secara kultural, dalam proses awal pertemuan sistem nilai budaya Sunda dan sistem nilai Islam yang dilakukan oleh para penyebar Islam awal (para Wali), relatif berhasil. Hal ini dikarenakan para wali memberikan apresiasi positif terhadap keberadaan budaya lokal sunda, bahkan dijadikan modal dasar bagi prosesi pertemuan kultural tersebut, baik dalam aspek sistem nilai keyakinan maupun aspek budayanya. Dalam analisa teorema strategi kebudayaan van Perseun, dapat dilihat bahwa proses peralihan dari relasi budaya mitik ke realasi ontologis yang dipelopori oleh para penyebar Islam awal yang dinakhodai oleh Sunan Gunung Jati. Sistematika efistem filsafat (Islam) dalam genre metafisika-sufistik, secara sistemtik telah mampu menjembatani pertemuan sistem pengetahuan dan efistem Sunda dengan sistem pengetahuan dan efistem Islam, walau pun belum bisa dikatakan telah selesai. Pase awal ini baru berhasil membangun dasar-dasar efistem yang mempertemukan kedua sistem pengetahuan tersebut: sistem pengetahuan Sunda-Islam. Suatu sistem pengetahuan yang apabila dilihat dalam tatapikir keagamaan secara radikal, dilihat sebagai suatu sistem pengetahuan sinkretis yang berbau “bid’ah”. Ketika masyarakt Sunda sedang serius menggarap mega proyek filosofis yang harus disebut belum selesai ini, tiba-tiba masyarakat Sunda harus banting setir menghadapi tekanan hegemoni budaya Mataram di Tatar Sunda yang dicirikan oleh upaya peralihan pusat budaya

ke timur, Mataram. Mereka “dipaksa” untuk menggunakan tatapi pikir mitis dan ontologis ala Mataram (Jawa)-Islam yang dibangun oleh delapan wali penyebar Islam lainnya. Paradigma yang “mengikis habis” fondasi efistem budaya Sunda termasuk fondasi efistem budaya Sunda-Islam yang dibangun oleh penyebar Islam di tatar Sunda, khususnya di wilayah Priangan. Bagaimana tidak disebut “dikikis habis” bila bahasa sebagai salah satu ciri paling mendasar dari suatu bangsa (etnik) mengalami goncangan luar biasa. Keberhasilan projek efistem yang dibangun oleh para perintis dan para ulama serta budayawan Sunda dan Sunda-Islam mengalami titik nadir kematiannya. Peralihan arah angin ini membuat kebuadayaan Sunda berdiri tertatih-tatih ketika berhadapan dengan perubahan dan tekanan yang demikian keras. Berkenaan dengan hegemoni dan peralihan pusat budaya ini, Mikihiro Moriyama, mencatat “Bukan hanya ranah kesenian, tepi juga administrasi pemetintahan, gaya hidup, dan bahasa yang terkena dampaknya:

PPselama hampir dua ratus tahun kesusastraan Sunda berkembang menurut etika Jawa. Contoh yang paling jernih adalah bentuk sajak yang dalam wilayah

penuturan bahasaSunda disebut dangding, yang diadaptasi dari tembang macapat”. Yang terakhir ini, dapat kita temukan dalam kesenian Cianjuran yang kini menjadi bagian integral dari kebudayaan masyarakat Sunda, bukan hanya kebudayaan masyarakat Cianjur. Sulit dipastikan, apakah kelahiran seni tradisi Cianjuran harus disikapi sebagai keberhasilan budayawan Sunda untuk terus eksis dan berkreasi, atau malah sebagai gambaran paling jelas dari hilangnya soko guru kebudayaan Sunda di rumahnya sendiri. Fenomena yang tentunya sangat debatable. Pada kondisi ini, budaya Sunda mengalami proses marginalisasi bahkan alienasi oleh bangsa (masyarakat)-nya sendiri, terutama oleh sejumlah bangsawan (priyayi) yang nota bene orang Sunda. Suatu kondisi seperti yang digambarkan dalam legenda Dalem Boncel, yaitu anak yang melupakan dan tidak mengakui keberadaan ibunya (asal-usul primordialnya, sistem nilai dan budaya Sunda ).

MANUSIA DAN PARADABAN
A.PENGERTIAN
Paradaban merupakan suatu istilah yg digunakan utk menyebutkan bagian-

BAB. IV

bagian atau unsur kebudayaan yg dianggap halus, indah, dan maju. Mis : Perkembangan kesenian, IPTEK, dan Kepandaian manusia. Konsep paradaban adalah perkembangan kebudayaan yg telah mencapai tingkat tertentu yg tercermin dlm tingkat: Intelektual, keindahan, teknologi, spiritual yg terlihat pd masy. Kebudayaan merupakan kelanjutan yg bertahap ke arah yg semakin kompleks, dimana unsure-unsur kebudayaan teringrasi menjadi satu system budaya dan memiliki keterkaitan antara ketujuh unsure kebudayaan universal, yaitu: system bahasa, teknologi, peralatan, system mata pencaharian, organisasi, social, dan Religi. Maka Peradaban dapat dikatakan Perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang dicirikan oleh taraf : Intelektual, Kesenian, keindahan, teknologi, dan spiritual tertentu yang diperoleh manusia factor pendukungnya. Taraf kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu tercermin pada pendukungnya yang dikatakan sebagai

beradap atau mencapai peradaban yang tinggi. Prof.Dr.Koentjaraningrat (1990 : 1382 ) dalam Nursyid (1996: 67) mengatakan: Disamping istilah “ Kebudayaan” ada pula istilah “ Peradaban”. Hal yg terakhir adalah sama dg istilah Inggris Civilization, yg biasanya dipakai utk menyebutkan bagian2 dan unsur 2 dari kebudayaan yg halus, Indah dan maju, seperti misalnya: Kesenian, Ilmu Pength, adat sopan santun pergaulan, Kepandaian menulis, Organisasi kenegaraan, dsb. Istilah “ Peradaban” sering juga dipakai utk menyebutkan suatu kebudayaan yg mempunyai system teknologi, Ilmu Pength, Seni bangunan, Seni rupa, dan system kenegaraan, dan masy kota yg maju dan kompleks

Jadi : Paredaban merupakan tahap tertentu dari kebudayaan masy tertentu pula, yg telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat Intelektual, Ilmu Pgth, teknologi, dan seni, religi yg telah maju. Evolusi --- Revolusi Suatu masy yg tlh mencapai tahap peradaban tertentu, berarti tlh mengalami evolusi kebudayaan yg lama dan bermakna sampai pd tahap tertentu yg diakui tingkat Iptek dan unsur 2 budaya lainnya. Dg demikian, masy tsb dpt dikatakn tlh mengalami proses perubahan social yg berarti, shg taraf kehidupannya makin kompleks. B. HAKEKAT HIDUP MANUSIA Man dlm kehidupan memiliki tiga fungsi: 1. Sbg mahluk Tuhan

Berarti memiliki kewajiban utk mengabdi pd Tuhan 2. Sbg mahluk Individu Berarti man hrs memenuhi sgl kebutuhan pribadinya. 3. Sbg mahluk Sosial – budaya Berarti man hrs hidup berdampingan dg org lain dlm kehidupan yg selaras , seimbang, serasi, dan saling membantu. Juga man akan hidup bersama dg man lain yg akan melahirkan suatu bentuk kebudayaan. Kr kebud itu sendiri diperoleh man dari proses belajar pd lingkungan, juga hasil pengamatan langsung,Kebudayaan dpt diterima dg tiga bentuk: a. Melalui pengalaman hidup saat menghadapi lingkungan,(Ling Fisik, Ling Sosbud ) b. Melalui pengalaman hidup sbg mahluk social, c. Melalui komunikasi simbolis (benda, tubuh, gerak tubuh, peristiwa, dll ) Karena kebud berbeda 2 , namun pd dasarnya memiliki hakekat yg sama, yaitu :

Terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia b. Sudah ada sejak lahirnya generasi dan tetap ada setelah matinya suatu generasi. c. Diperlukan man yg diwujudkan lewat tingkah laku, d. Berisi aturan yg berisi kewajiban, tindakan yg diterima atau tdk, larangan dan pantangan. Zaman Purba 1500 – 600 SM V. Gordyn Chillde, ahli arkeolog. Berdasarkan bukti arkeologis, peradaban pertama2 muncul di daerah Mesopotania sekitar 8000 – 4000 SM, diikuti oleh daerah Masir 5000 – 3000 SM, Lembah Indus di India 2600 – 2400 SM, di Cina Utara 2500 – 300 SM,
a.

C. PERADABAN DAN PERUBAHAN SOSIAL Perubahan social mrpkan gejala yg melekat di setiap masy. Perubahan yg terjadi akan menimbulkan Ketidak sesuaian antara unsur 2 sosial yg ada dlm masy, shg menghasilkan suatu pola

kehidupan yg tdk sesuai fungsi bagi masy ybs. Wilbert Moore memandang perub sos sbg “perub struktur social, pola perilaku, dan interaksi social” Gillin dan Gillin mengatakan: Perub 2 sosial utk suatu variasi dari cara hidup yg lebih diterima yg disebabkan kondisi geografis, kebudayaan materiil, kompetisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi, atau perubahan baru dlm masy tsb. Selo Soemardjan, Perub sos adlh perub yg terjadi pd lembaga kemasyarakatan didlm suatu masy yg mempengaruhi system social, termasuk didlmnya nilai 2 , sikap 2 , dan pola perilaku di antara kelompok dlm masy. 2. teori dan Bentuk Perubahan Sosial a. Teori sebab-Akibat ( Causation Problem )

Bbrpa factor dikemukakan oleh pr ahli utk menerangkan sbab2 perub sos yg terjadi. Bbrp pendakatan: 1) Analisis Dialektis Perub yg terjadi pd suatu bagian system masy dan membawa pula perub pd yg lain, sering menimbulkan akibat 2 yg tdk diharapkan sebelumnya bahkan sampai menimbulkan komplek. Komplek ini dpt mendorong terjadinya perub social yg lebih lanjut, meluas dan mendalam. 2) Teori Tunggal Mengenai Perubahan Sosial

Teori tunggal menerangkan sebab2 perub social, atau pola kebud dg menunjukkan kepada satu factor penyebab. b. Teori Proses atau Arah Perubahan Sosial Kebanyakan teori2 mengenai arah perubahan social

mempunyai kecendrungan yg bersifat kumulatif atau evolusiner, walupun berbeda namun pd dasarnya sama, mempunyai asumsi bhw sejarah man ditandai adanya gejala pertumbuhan. 1) Teori Evolusi Unilinier ( Gr Lurus-Tunggal ) Bhw man dan masy mengalami perkembangan sesuai dg tahapan tertentu, semula dr bentuk sederhana kemudian yg kompleks sampai pd tahap yg sempurna. Pelopor teori ini: August Comte dan Herbart Spenser. Teori gr lurus ini menggambarkan arah perubahan yg mungkin saja akurat, apabila ditetapkan pd jangka waktu yg relatif lebih pendek dan bagi tipe gejala2 sosial tertentu, dari suatu system tertentu.

2) Teori Multilinear Teori ini menggambarkan suatu metodologi didasari pd suatu asumsi yg menyetakan : Bhw perubahan social atau kebudayaan didapatkan gejala keteraturan yg nyata dan signifikan. Teori ini tdk mengenal hukum atau skema apriori, lebih memperhatikan tradisi dlm kebudayaan dan dr berbagai daerah menyeluruh meliputi bagian2 tertentu. D. Teori-teori Mengenai Pembangunan, Keterbelakangan, dan Ketergantungan 1. Teori Depedensi ( Ketergantungan ) Pd umumnya memberikan gambaran melalui analisis dialektesis yaitu suatu analisis yg menganggap bhw gejala2 sosial yg dpt diamati

sehari2 pasti mempunyai penyebab tertentu. Teori ini menjadi titik tolak penyesuaian ekonomi terkebelakang pd system dunia, sdemikian rupa shg menyebabkan terjadinya penyerahan sumber penhasilan daerah ke pusat yg mengakibatkan perekonomian daerah menjadi terkebelakang. Sejarah Teori-teori Sosial menurut : Moore a. Evolusi rektilinier yg sgt sederhana b.Evaluasi melalui tahap-tahap, c. Evolusi yg terjadi dg tahap kelajuan yg tdk serasi, d.Evolusi bercabang yg mewujudkan perubahan, e. Evolusi menurut siklus2 tertentu dg kemunduran jangka pendek, f. Siklus2 yg tdk mempunyai kecendrungan, g. Pertemuan logistis yg digambarkan oleh populasi,

h.Pertumbuhan logistis terbalik yg tergantung dan angka motivasi, i. Pertumbuhan eksponarisial yg tergambar memulai tanda2, j. Primitivisme PPKN Kls B - Sore Bentuk2 perub social menurut : Soerjono Seokanto:
1.Perub yg terjadi secara lambat dan secara cepat. a.Perub scr lambat disebut Evolusi. Perub terjadi dg sendirinya tanpa suatu rencana atau suatu kehendak tertentu. Hal ini seperti usaha masy untuk menyesuaikan dg keperluan, keadaan, dan kondisi2 baru. b.Perub secar cepat disebut: Revolusi. Perub yg terjadi direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu. Perub2 yg pengaruhnya kecil dan yg besar a. Perub yg pengaruhnya kecil yaitu perub unsur2 struktur social yg tdk membawa

pengaruh langsung atau berarti bagi masy, b. Perub yg pengaruhnya besar seperti proses industrialisasi pd masy agrgraris. 2.Perub yg dikehendaki dan yg tdk diinginkan. a. Perub yg dikehendaki bila seseorang mendpt kepercayaan sbg pemimpin, b.Perub social yg tak dkehendaki, mrpkan perub yg terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung dri jangkauan pengawasan masy dan dpt menyebabkan timbulnya akibat yg tdk diinginkan. Penyebab Perubahan Prof.Dr. Soerjono Soekanto adanya factor intern dan ekstern yg menyebabkan perub social dlm masy, yaitu: a.Faktor intern

1) Bertambah dan berkurangnya penduduk 2) Adanya penemuan2 baru yg meliputi berbagai proses, spt: (a) Discopery. Penemuan unsur kebud Baru, (b) Inventin, pengembangan discovery, (c) Inovasi, proses pembaharuan. 3) Konflik dlm masy 4) Pemberontakan dlm tubuh masy, sprt: Revolusi Indonesia 17-08-1945 mengubah struktur pemerintahan colonial menjadi pemerintah Nasional dan berbagai struktur yg mengikutinya. b. Faktor Ekstern 1) Faktor alam yg ada disekitar masy 2) Pengaruh kebud lain melalui kontak kebud antar dua masy/lebih E. Modernisasi 1. Konsep Modernisasi

Menurut Cyril Edwin Black, modernisasi merupakan rangkaian perubahan cara hidup man yg kompleks dan saling berhubungan, mrpkan bagian pengalaman yg universal dan yg dlm banyak kesempatan merupakan harapan bagi kesejahteraan manusia.

BAB. V MANUSIA, KERAGAMAN, DAN KESEDERAJATAN

A. MAKNA KERAGAMAN DAN KESEAAN 1. Makna Keragaman

Keragaman berasal dr kt “ragam” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), artinya 1) tingkah laku, 2) macam, jenis, 3) lagu: musik, langgam, 4) warna, corak,

ragi; 5) ling) laras (rata bahasa), shg keragaman berarti perihal beragamragam; berjenis-jenis; perihal ragam; hal jenis. Jadi keragaman adlh : suatu kondisi dlm masy di mana terdpt perbadaan-perbedaan dlm berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras, agama, dan keyakinan, ideology, adat, kesopanan, serta situasi ekonomi. 2. Makna Kesederajatan Kesederajatan berasal dr kt “sederajat” , menurut KBBI, artinya sama tingkat ( pangkat, kedudukan). Maka sederajat dimaksud, adlh; suatu kondisi di mana dlm perbedaan dan keragaman yg ada manusia tetap memiliki satu kedudukan yg sama dan satu tingkat hierarki.

B. UNSUR-UNSUR KERAGAMAN DLM MASYARAKAT

1. Suku Bangsa dan Ras

SK-Bgs menempatai Wil Indo dari Sabang – Merauke, sgt beragam. Sdgkan perbedaan RAS krn adanya Pengelompokan besar manusia yg memiliki cirri-ciri biologis lahiraih yg sama, sprt: rambut, warna kulit, ukuran2 tubuh, mata, ukuran kepala, dll.

Pembagian RAS di Indonesia
M o g o l o i d M e l a y u

N O

RAS

Wilayah

M u d a S u l a w i s i

12

Mogoloi Batak dan Toraja d Melayu Tua W Austrol NTT uj oid u d T uj /f u n g P o si si T g kt K e

4

p e nt
3

2. A g a m a d a n k e y a ki n a n
A g a m a m

e n g a n d u n g ar ti: ik at a n y g hr s di p e g a n g d a n di

p at u hi m a n u si a. Ik at a n di m a k s u d b er a s al dr s u at

u k e k u at a n y g le bi h ti n g gi d ar i m a n u si a s b g k

e k u at a n g ai b y g ta k d pt di ta n g k a p d g p a n c a in

dr a. N a m u n m e m p u n y ai p e n g ar u h y g b e s ar s e

k al i
te rh dp ke hi d m an se ha ri( H ar un N as ot io n:

1 0 )

A g a k s ul it

m e n d ef e ni si tt g a g a m a, n a m u n s e c ar a u m u m m

e m ili ki ci rr ici ri u m u m y g h a m pi r s a m a. M e n ur ut

R o b er t H. T h o ul e ss , fa kt a m e n uj u k k a n b h w a g

b er p u s at p a d a T u h a n at a u d e w ad e w a s b g u

k ur a n y g m e n e nt u k a n y g ta k b ol e h di a b ai k a n

( P si k ol o gi A g ; 1 4 ) F u n g si A g a m a dl m m a sy :

a . B b . B c . B d . B
e .

B f . B g . B h .

i.

j.

k .

l.

m .
n .

o .

p .

q .

r .

s .

t.

u .

v .

w . 4 . T a t a K r a m a

x.

A r t i n y a ” a d a t s o p a n s a n t u n , b a s a -

b a s i ” ,
y.

m a k a t a t a k a r m a , y a i t u : s e g

a l a t i n d a k a n
z.

p e r il a k u , a d a t i s t i a

d a t , t e g u r s a p a , u c a p d a n
aa.

c a k a p s e s

u a i k a i d a h a t a u n o r m a t e r t e n t u .
bb .

T

a t a k a r m a d i b e n t u k d a n d i k e m b a n g k a

n o l e h
cc.

m a s y d a n t e r d i r i d a r i a t u r a n

2 y g k a l a u
dd .

d i p a t u h i d i h a r a p k a n a k

a n t e r c i p t a i n t e r a k s i
ee.

s o c i a l y g t e

r t i b d a n e f e k t i f d i d l m m a s y y b s . f f .

g g . I n d o n e s i a t e r d i r i d a r i s u k u b

a n g s a y g m a s i n g 2
hh .

m e m il i k i a d a p t t e

r s e n d i r i

i i .
j j.

a.

b.

c.

d.
e.

f.

M a s y

i n d o m r p k a n m a s y y g m a j e m u k d g b e

r m a c a m t i n g k a t , p a n g k a t , d a n s t r a

t a s o c i a l y g h i e r a r k i s . g. h.

i.

j.

k. l.

m.

n.

o.

p.

q.

r.

s.

t.

u.

v.

w.

x.

y. z.

aa.

bb.

cc.

dd.

ee.

ff.

gg.

hh.

ii.
jj.

kk.

ll.

mm.

nn.

oo .

pp .

qq.

rr.

ss .

tt.

uu .

vv .

ww.

xx.

yy.

zz . aa a.
bbb.

cc

dd d.

eee.

fff .

gg g. hh h.

iii.

jjj.

kk k.

lll .

m m m.

nnn.

ooo.

pp p.

qqq.

rrr.

sss.

ttt .

uuu.

vv v.

ww w.

xxx.

yy y.

zz z.

aa aa .

bb bb .
cccc.

dddd .

eeee.

ffff.

a . K
b.

n

t e g r a s i b g s a d l; h L a n d a s a n b a g i t e g a

k n y a s u a h N e g a r a m o d e r n . K e u t u h a n w

il a y a h n e g e r a a m a t d it e n t u k a n o l e h k e

m a m p u a n p a r a p e m i m p i n d a n m a s y w a r g

a N e g a r a m e m e li h a r a k o m it m e n k e b e r s a

m a a n s b g s u a t u b g s . N K R I c . K
d.

a m a . K

ri s e k o n o m i s e ri n g m e n g a k i b a t k a n l a h

ir n y a k ri s i s y g l a i n ( p o li ti k , p e m e ri n t a

h a n , h u k u m , d a n s o c i a l ) e . f . K g . e r

u p a k a n p e r p e c a h a n e li t e d i ti n g k a t n a

s i o n a l, s h g m e n y u li t k a n l a h ir n y a k e b ij

a k a n h . t u h d l m m e n g a t a s i k ri s i s e k o

n o m i, k ri s i s p o li ti k j u g a d p t d il i h a t d r a

b s e n n y a k e p e m i m p i n a n p o li ti k y g m a m p

u m e m b a n g u n s o li d a ri t a s s o c i a l u t k s e

c a r a s o li d m e n g h a d a p i k ri s i s e k o n o m i.

D p t m e n y e b a b k a n k e p e m i m p i n a n n a s i

o n a l s e m a k i n t d k e f e k ti f, m a k a k e m a m p

u a n p e m e ri n t a h a n d l m m e m b e ri k a n p e l

a y a n a n p u b li c a k a n m a k i n m e r o s o t. i . K

j.

ri s i s s o c i a l d i m u l a i d a ri a d a n y a d i

s h a r m o n i d a n b e r m u a r a p d m e l e t u s n y

a k o n fl i k k e k e r a s a n d i a n t r a k e l o m p o

k
2

m a s y a r a k a t
k.

S u k u , R a s , A g a m a / ( S

A R A ). l. m . D n . i s e b a b k a n p u p u s n y a k e

y a k i n a n m r k a t a s m a k n a p e l a k s a n a a n

t u g a s d a n t a n g g u n g j w b s b g s b h a y a n g

k a ri N e g a r a , n il a i g a ji m e r o s o t k r n k ri s

i s e k o n o m i. o . p . I
q.

n t e r v e n s i i n t e r

n a s i o n a l y g b e r t u j u a n m e m e c a h b e l a

h , s e r a y a m e n g a m b il k e u n t u n g a n d a ri p

e r p e c a h a n it u m e l a l u i d o m i n a s i p e n g

a r u h n y a t e r h a d a p k e b ij a k n p o li ti k d a n

e k o n o m i n e g a r a
2

b a r u p a s c a d i s i n t e

g r a s i. I n t e r v e n s i it u b e r g e r a k d a ri y g

p a li n g l u n a k h i n g g a b e r u p a p r o v o k a s

i t e r h a d a p k e l o m p o k
2

y g b e r k o n fl i k .

r.

s .

t.

u .

v .

w .

x .

y .

z .

a a .
b b .

B

c c . M
d d .
e e .

A
f f.

g g

h h .

ii .

jj .

k k .

l l .

m m .

n n .

o o .

p p .

q q .
r r.

s s .

tt .

u u .

v v .

w w .

x x .

y y .

z z .

a a a .

b b b .

c c c .

d d d .

e e e .

f f f.

g g

h h h .

i i i .
jj j.

k k k .

ll l.

m m m .

n n n .

o o o .

p p p .

q q q .

r r r .

s s s .

t t t .

u u u . v v v .

w w w .

x

y y y .

z z z .

a a a a .

b b b b .

c c c

d d d d .

e e e e .

f f f f .

g g g g .

h

i i i i .

j j j j . k k k k . l l l l . 2
m m

n n n n .

o o o o .

p p p p .

q q q q .

r

s s s s .

tt tt .

u u u u .

v v v v .

w w w w

x x x x .

y y y y .

z z z z .

a a a a a .

b b

c c c c c .

d d d d d .

e e e e e .

f f f f f

g g g g g .

h h h h h .

i i i i i .

j j j j j

k k k k k .

l l l l l .

m m m m m .

n n n n

o o o o o .

p p p p p .
q q q q q .

r r r r r .

s s s s s .

tt tt t.

u u u u u .

v v v v v .

w

x x x x x .

y y y y y .

z z z z z .

a a a a a a

b b b b b b .

c c c c c c .

d d d d d d .
e e e

f f f f f f.

a . A b . A c. d . e . 3 f .

g.

h .

i .

j .

k .

l.

m .

n.

o .

p . a . K u a li t a s P ri m e r, k u a li t a s d a s a r y

g t a n p a it u q . o b j e k t d k d p t m e n j a d i a

d a ( k e s e l u r u h a n
r.

b e n d a n y a t a , p a n j

a n g , b e s a r, b e r a t ) s . b . K u a li t a s s e k

u n d e r, y a it u k u a li t a s y g d p t t. d it a n g k a

p o l e h p a n c a i n d e r a s e p rt i: w a r n a , u .

r a s a , b a u , d s b . K u a li t a s i n i t e r p e n

g a r u h
v.

o l e h ti n g k a t s u b j e k ti v it a s s i p

e n il a i. w .
x.

P e r b e d a a n m e n d a s a r a n t a r

a k u a li t a s p ri m e r y . d a n s e k u n d e r b u k

a n p d b e r s a t u ti d a k n y a z. k u a li t a s t s b

p d o b j e k , m e l a i n k a n p d
aa.

k e n i s c y a a n

n y a . H a d ir n y a k u a li t a s p ri m e r
bb.

m e r u p a

k a n k e p a s ti a n / k e n i s c a y a a n , c c . s e

d a n g k a n k u a li t a s s e k u n d e r m r p k a n b a

g i a n d d . e k s i s t e n s i, tt p k e h a d ir a n n y

a s g t t e r g a n t u n g e e . s u b j e k p e n il a i.

f f . g g . 4
h h.

ii . N il a i s g t e r a t d g k e

g i a t a n m a n u s i a m e n il a i. jj . M e n il a i b e

r a rt i : M e n i m b a n g , y a it u k e g i a t a n k k .

m a n u s i a m e n g h u b u n g k a n s e s u a t u d g

s e s u a t u ll . y g l a i n , y g s e l a n j u t n y a

d i a m b il s u a t u m m . k e p u t u s a n . n n . K

e p u t u s a n n il a i d p t d i n y a t a k a n : b e r g

u n a a t a u
oo.

t d k b e r g u n a , b e n a r a t a u t d

k b e n a r, b a i k a t a u p p . b u r u k , m a n u s i

a w i a t a u t d k m a n u s i a w i,
qq.

r e li g i u s a t a

u t d k r e li g i u s . P e n i a l a i rr . d i h u b u n

g k a n d g u n s u r 2 y g a d a p d m a n u s i a ,
ss.

s e

p e rt i J a s m a n i, c i p t a , k a r s a , r a s a , d a

n tt . k e y a k i n a n . u u . v v . B il a s e s u a t u

d i p a n d a n g : a . B b . B c . I d . B e . R

f . g . M a k a n i l a i i t u m e m i l i k i p o l

a r i t a s d a n h i e r a r k i , y a i t u : a . N

b . N c . d . B i l a a d a n i l a i p o s i t

i f , a d a j u g a n i l a i n e g a t i f , s e

p e r t i b i l a a d a y g b a i k , p a s t i

a d a j u g a y g b u r u k , d e m i k i a n j u

g a p e m a h a m a n b h w n i l a i i t u a d a

h i e r a r k i n y a , b u k a n b e r a r t i a d

a k l a s i f i k a s i , m e l a i n k a n a d a u

r u t a n t i n g k a t k e p e n t i n g a n , s h g

a d a n i l a i y g l e b i h d i u t a m a k a n

d r p d n i l a i l a i n n y a . M i s : n i l a

i r e l i g i l e b i h p e n t i n g d r p d n i

l a i k e i n d a h a n . e . f . N i c h o l a s R e

s c h e r ( 1 9 6 9 : 1 4 1 9 ) g . A d a 6 k l

a s i f i k a s i n i l a i , y a i t u k l a s i f i k a

s i y g d i d a s a r k a n a t a s :
a .

P b . O c

K d . T e . H 1)

2)

(a)

(b)

Nila i yg ber ore nta si pd prof essi ona l--(c)

has ilny a nam a bai k prof esi, (d) Nila i yg ber ore nta si pd ban gsa --(e) has ilny a nila i patr

ioti sme , (f) -Nil ai yg ber ore nta si pd mas y--(g) has ilny a kea dila n soc ial. (h) (b) Nila i yg ber ore

nta si pd kem anu sia an, (i) yait u nila i uni ver sal. (j)

(k)

(l)

(m) (n)

a . N b . t d k , b e r k a i t

a n d g i n d r a m a n u s i a , c . N d . N e .

N f .
g .

h .

a . N b . N c . N d. il ai k er o

h a ni a n di b e d a k a n 4 m a c a m : 1)

2)

3)

4)

5) 6)

7)

8)

a . N b . N

c . N d .
e .

f .

g .

h .

i .

j .

k .

l.

m .

n . o . 5 p .

q .

r.

s

t .

u . v .

a . M b . D

c . d . F e .

f.

g .

h .

i.

j. k . L l. A m . n .

K a l s if i k a s i P e n g e rt i a n N il a i o . p . N

A Potensi Menyempurkan g manusia a k pt g P d O bj e k K a p a si ta s k e y a ki n a nM e m

Dlm diri

Sgt pent ing

u a s k a n h a sr at 1 A st ra ti c M o n g ol oi d C hi n a A g a

k Pt g P d O bj e k M e n y e b a b k a n m a n te rt ar ik 3 Kata 2 benda

Utk menilai

Kondis i Jiwa

Pent ing

K e y a ki n a n y g di g e n er al is ir P e m bi m bi n g m e n

Abstrak Landas Utk bertingkah an atau laku motiva si

Sst yg abstra k

Ptg

y el e k si tu j at a u p er il a k u Dl m h at i/j i w a S gt pt g 6 G

a g a s a n k o n s e p M e m a n d a n g ss t y g p e nt in g

dl m hi d u pI d e m a n u si a S gt pt g 4 7 Serang 5 kaian sikap

-menggerakan perilaku atau perbuatan -Menolak perbuatan -menggerakan/ Menyebabkan pertimbangan -Jadi standar/prinsip

Sikap Sgt manusi ptg a

8

Serang kaian sikap

Sikap Sgt manusi ptg a

9

Sesdua tu

Berguna bagi jasmani/rohani

Sesuat ptg u (abstra k
Objek Agak ptg

K u al it a s B er h u b d g a pr e si a si /n il ai O bj e k

Objek

Berhub dg apresiasi/nilai

A g a k pt g1
0 11.

Problematika Pembinaan Nilai Moral Dlm kehidupoam modern sbg dampak kemajuan IPTEK, menghasilkan berbagai perubahan dan kesempatan, ttp mengandung berbagai resiko akibat kompleksitas kehidupan yg ditimbulkannya. Salah satu kesulitan yg ditimbulkan adlah munculnya” nilai2 modern” yg tdk jelas dan membingungkan anak( individu). Keluarga sbg bagian masy terpengaruh oleh tuntutan kemajuan yg terjadi. Nilai moral dibangun dlm kehidupan Keluarga.Dalam keluarga terjadi perubahan2 yg dramatis.

Louis Rath (1977: 12), berdasarkan data terbaru, dua dari lima ibu bekerja di luar rumah, estimasi terakhir menyebutkan bhw dua dari lima ibu mrpkan keluarga yg brokem home (dlm konteks ini dimaksudkan salah satu diantara org tua tsb meninggal, bercerai, pisah atau salah satu diantara mereka dipenjara)

B. Keadilan, Ketertiban, dan Kesejahteraan sebagai wujud masyarakat yang bermoral dan mentaati hukum.

C. Problematika Nilai, Moral dan Hukum Dalam Masyarakat dan Negara.

BAB. VII MANUSIA, SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI Sains merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memperhatikan objek (Otologi), cara (episteinologi) dan kegunaaninya (aksiologi). Berangkat dari tiga kerangka tersebut, dengan memanfaatkan kemampuan akal untuk memahami fenomena alam semesta (keseluruhan ciptaan atau mahluk Allah) sebagai objek pemahaman yang pada akhirnya hasil pemahaman tersebuti dipergunakan untuk memberikan nilai manfaat sebesarbesamya bagi kemanusiaan. Pengertian Teknologi Beberapa pengertian teknologi telah diberikan atara lain oleh David L. GOETCH : people tools, resources ,to solve problems or to extend their capabilities. Sehinga teknologi dapat dipahami sebagai "upaya" untuk mendapatkan suatu "produk" yang dilakukan oleh manusta dengan memanfaatkart peralatan (tools), proses dan sumberdaya (resources). Pengertian yang lain, telah diberikan oleh Arnold Pacey "The application os scientific and other knowledge to practical task by ordered systems. that involve people and organizations, living things and machines".

Dari definisi ini nampak, bahwa teknologi tetap terkait pada pihak-pihak yang terlibat dalain perencanaannya, karena itulah teknologi tidak bebas organisasi, tidak bebas budaya dan sosial, ekonomi dan politik. Definisi teknologi yang lain diberikan oleh Rias Van Wyk "Technology is a "set of means" created by people to facilitate human endeavor". Dari definisi tersebut, ada bebempa esiensi yang terkandung yaitu : 1 Teknologi terkait dengan ide atau pikiran yang tidak akan pernah berakhir, keberadaan teknotogi bersama dengan keberadaan budaya umat manusia. 2 Teknologi merupakan kreasi dari manusia, sehingga tidak alami dan bersifat artificial 3 Teknologi merupakan himpunan dari pikiran (set of means), sehingga teknologi dapat dibatasi atau bersifat universal, tergantung dari sudtit pandang analisis 4.Teknologi bertujuan untuk memfasilitasi human endeavor (ikhtiar manusia). Sehingga tekno logi harus mampu merungkatkan performansi (kinreja) kemampuan manusia. Dari definisi di atas, ada 3 (tiga) entitas Yang terkandung dalam teknologi yaitu, Skill (Keterampilan), Algorithnia (Logika berfikir) dan hardware (Perangkat Keras).Dalam pandangan Management of

Technology, Teknologi dapat digambarkan dalam beragam cara 1. Teknologi sebagai makna uiituk memenuhi suatu maksud di dalamnya terkandung apa saja yang dibutuhkan untuk merubah (mengkonversikan) sumberdaya (resources) ke suatu produk atau jasa. 2. Teknologi tidak ubahriya sebagai pengetahuan, sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan (objective). 3. Technologi adalah suatu tubuh dari ilmu pengetahuan dan rekayasa (Engineering) yang dapat diaplikasikan pada perancangan produk dan atau proses atau pada penelitian untuk mendapatkan pengetahuan baru.

B. Keadilan, Ketertiban, dan Kesejahteraan sebagai wujud masyarakat yang bermoral dan mentaati hokum. C. Problematika Nilai, Moral dan Hukum Dalam Masyarakat dan Negara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->