P. 1
LAPORAN PENGAMATAN EKOSISTEM

LAPORAN PENGAMATAN EKOSISTEM

|Views: 2,328|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: khoirunnisa ratno atmo sukarso on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2015

pdf

text

original

I.

LANDASAN TEORI
 Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang

bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan". Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata surya. Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut

dengan hukum toleransi. Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu. Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai sumber makanannya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir, mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.  KOMPONEN – KOMPONEN PEMBENTUK EKOSISTEM

Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah:

Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu
1.

:

Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan

unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2.

Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme.

Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3.

Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan

air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.

4.

Cahaya

matahari.

Intensitas

dan

kualitas

cahaya

memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5.

Tanah dan

batu. Beberapa

karakteristik

tanah yang

meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
6.

Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama

dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

Biotik
Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan : fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu

Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

Pengurai / dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisasisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu :
1. 2.

aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang

penerima elektron atau oksidan
3.

teroksidasi juga sebagai penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.

Ketergantungan
Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.

Antar komponen biotik

Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui :
1.

Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi

melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat yang trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan Hewan tumbuhan biasa disebut konsumen primer.

pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang.[2]
2.

Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan

yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya.

Antar komponen biotik dan abiotik
Ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti
1.

:

siklus karbon siklus air siklus nitrogen siklus sulfur ini berfungsi untuk mencegah suatu bentuk materi

2.
3. 4.

Siklus

menumpuk pada suatu tempat. Ulah manusia telah membuat suatu

sistem yang awalnya siklik menjadi nonsiklik, manusia cenderung mengganggu keseimbangan lingkungan.  pH

pH adalah tingakat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki mempunyai pH antara 0 hingga 7, sedangkan air laut dan cairan pemutih mempunyai sifat basa (yang juga di sebut sebagai alkaline) dengan nilai pH 7 – 14. Air murni adalah netral atau mempunyai nilai pH 7. Biasanya jika pH tanah semakin tinggi maka unsur hara akan semakin sulit diserap tanaman, demikian juga sebaliknya jika terlalu rendah akar juga akan kesulitan menyerap makanannya yang berada dalam tanah. Akar tanaman akan mudah menyerap unsur hara atau pupuk yang kita berikan jika pH dalam tanah sedang-sedang saja (cenderung netral). Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0. Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.

II. TUJUAN

 Dalam praktikum kali ini kita berusaha mencoba mengamati ekosistem yang berada di sekitar halaman belakang SMKN 1 Cilegon tepatnya di Belakang ruang otomotif di bagian selokan.  Dalam praktikum kali ini kami juga mengukur Tingkat pH yang ada di dalam tanah dengan alat ukur yang bernama kertas lakmus (pH Indikator). Sebenarnya untuk mengukur pH dalam tanah lebih menggunakan pH digital, namun di karenakan alat yang terbatas kami menggunakan pH indicator biasa yang margin kesalahannya lebih besar.
 Dalam praktikum ini kami mencari semua tanama liar yang ada

di sekitar tempat praktikum (Belakang ruang otomotif Smkn 1 Cilegon) untuk menganalisis dan mengetahui jenis dari tanaman yang kita ambil untuk sample, selain itu kami juga kami mengambil sample makhluk hidup yaitu semut.

III.

ALAT DAN BAHAN
 pH Lakmus / Ph Indikator  Alat tulis ( Buku, Pulpen )  Lokasi pengamatan (di Belakang Ruang Otomotif

“SMKN 1 Cilegon”)  Cmera HP

IV.

LANGKAH KERJA ( ISI )
1. Siapkan alat yang diperlukan untuk pengmatan, kemudian

datang ke lokasi pengamatan

2.

Tentukan lokasi yang tepat untuk melakukan pengamatan

ekosistem tanaman liar (kali ini kami memilih tempat di halaman belakang tepatnya di belakang ruang otomotif SMKN 1 CIlegon). 3. 4. Setelah itu amati rumput liar yang ingin di jadikan sample. Setelah di rasa cocok, cabut rumput liar untuk di jadikan

sample dan di dokumentasikan. 5. Dokumentasikan rumput-rumput yang telah kita cabut

untuk dokumentasi. 6. Setelah itu jika rumput yang akan kita amati sudah di rasa

cukup, hitung berapa jumlah rumput tersebut untuk pem buatan laporan. 7. Gunakan kertas lakmus (pH) untuk dapat mengetahui

tingkat keasaman air, karena tidak adanya pH meter digital, kami di sini menggunakan kertas lakmus untuk mengetahui berapa tingkat keasaman tanah. 8. Setelah tingkat keasaman tanah di ketahui, cocokan pada

tempat kertas lakmus (pengukur pH) berapakah tingkat ke asaman yang ada di dalam tanah. 9. 10. Buat laporan untuk mengabadikan kegiatan ini. Selesai.

V. HASIL PENGAMATAN
N O 1 2 3 4 5 6 7 Nama Tumbuhan Meniran Rumput Gajah Tumbuhan Urangaring Tumbuhan Mikania Cacing Tanah Ulat Bulu Siput Nama Latin Phyllanthus urinaria L Pennisetum purpureum Eclipta alba L Mikania micrantha Lumbricus Pheretima
Euproctis similis Limnaea sp

Jumlah populasi 5 7 11 6 2 1 5

PH 6-6,5

Dari hasil pengamatan ekosistem yang dilakukan di belakang kelas otomotif kami menemukan 6 spesies rumput dari pengamatan yang dilakukan di daerah dengan luas 1x0,5 m yang kondisinya tanah yang basah, tidak terkena sinar matahari namun kondisinya terang. Spesies rumput yang kami temukan antara lain Meniran (Phyllanthus urinaria L.), Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), Urang-aring (Eclipta alba L), Dan kami juga telah mengecek ukuran Ph air tersebut berkisar antara 6-6,5. Kami juga telah menyimpulkan tanaman rumput yang tumbuh didaerah ini merupakan rumput yang tahan akan daerah tanah yang basah / lembab dengan sedikit cahaya matahari. Berikut merupakan tabel hasil pengamatan yang kami lakukan:

KONDISI EKOSISTEM

1. Suruhan ( Peperomia pellucida (L.) H.B.K )
Klasifikasi Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies Manfaat : : : : : : : : : Plantae (Tumbuhan) Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Spermatophyta (Menghasilkan biji) Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Magnoliidae Piperales Piperaceae (suku sirih-sirihan) Peperomia : Peperomia pellucida (L.) H.B.K

: Dapat mengobati kolestrol, Diabetes , Asam Urat, juga bisa utuk kebugaran , obat gatal – gatal karena

keputihan, obat luka , dan obat rematik. Cara mengolah • :

Kolestrol , Diabetes dan Asam Urat ambil 2 genggam suruhan cuci berulang - ulang sampai bersih, kemudian rebus dengan 3 gelas air sampai mendidih, kecilkan apinya 2-4 menit. saring, minum airnya saat hangat (malam hari).

Kebugaran Caranya segenggam suruhan di blender dengan segelas air. Kemudian diminum pada pagi dan malam hari secara teratur sampai terasa khasiatnya.

Keputihan ambil tanaman suruhan sebanyak segenggam, cuci bersih, tumbuk halus (blender), oleskann pada bagian yang gatal. Bilas dengan air hingga bersih.

Luka luar bersihkan luka, kemudian ambil tanaman ini , bersihkan, tumbuk halus (blender), tempelkan di luka. luka akan terasa sangat dingin, lakukan selama 3 hari sampai luka mengering.

Rematik Caranya segenggam tunbuhan Ini Akar, Daun, Batang dan bunga di Godok dengan api kecil sampai mendidih kemudian airnya di minum.

2. Teki (Cyperus rotundus L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Cyperales : Cyperaceae : Cyperus : Cyperus rotundus L.

Sub Kelas : Commelinidae

Kandungan kimia Mengandung 0,45 - 1 % minyak atsiri, bobot jenis 0,98929 - 0,9907, indeks bias 1,5127, memutar bidang polarisasi ke kanan +11,7 hingga +16,1 nilai penyabunan setelah asetilasi 16,5 sampai 98%. Di perdagangan dikenal dengan nama Cyperiol oil atau Oil of cyperiol atau Oil of Cyperus. Minyak atsiri yang berasal dari Cina mengandung siperen, paskolenon, sedangkan yang berasal dari Jepang mengandung siperol, siperen (siperene I dan siperene II), a-siperone, siperotundon dan siperulon, disamping itu ditemukan pula alkaloid dan flavonoid, triterpen. a-Siperon merupakan senyawa seskuiterpen keton, dan kadarnya dalam minyak atsiri sekitar 3554%. Minyak atsiri yang dikandung dalam umbi ini dilaporkan memiliki potensi sebagai antibiotik terhadap kuman Staphyllococcus aureus. Kandungan yang lain berupa karbohidrat, seperti d-glukosa (41,7%), dfruktosa (9,3%) dan gula tak mereduksi (4%). Efek biologik Minyak atsiri dapat berefek estrogenik lemah pada tikus. Pada pemberian 0,2 ml setiap 6 jam dapat menimbulkan keratinisasi sel-sel epitel vagina 48 jam kemudian. Pada takaran 0,3 ml dapt ditemukan endapan sel darah putih di antara sel-sel yang terkeratinisasi; hal ini dimungkinkan karena akibat adanya stimulasi minyak atsiri (kemungkinan disebabkan dari cyperene I). Secara umum kandungan minyak atsiri cyperus rotundus mempunyai efek estrogenik; hal tersebut yang memung-kinkan digunakannya pada keadaan menstruasi yang tak teratur. Ekstrak cair 5% dapat mengurangi kontaktilitas "uterus terisolir" kucing dan anjing (baik yang hamil maupun yang tidak hamil). Efek ekstrak etanol yang diberikan dengan takaran 100 mg/kg BB secara intra peritoneal dapat menghambat timbulnya pembengkakan yang

disebabkan karena carragenin atau formaldehida. Efek tersebut lebih nyata bila dibandingkan dengan 5-10 mg/kg hidrokortison (8 kali lebih kuat). Ekstrak 20% etanol secara sub kutan dapat berefek menghilangkan rasa sakit dan menurunkan panas badan (efek analgetikum dan antipiretikum), disamping itu juga berefek mengurangi aktivitas pasif mencit mati dan juga berefek sebagai anti emetikum. Ekstrak etanol herba dapat memberikan efek menurunkan tekanan darah 0,5-1 jam anjing teranestesi pada takaran 20 mg/kg. Efek penurun tekanan darah tersebut dapat pula disebabkan dari ekstrak air yang mengandung alkaloid, flavonoid dan senyawa fenolik. Minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan Staphyllococcus aureus secara in vitro yang disebabkan karena komponen minyak atsiri siperen I dan siperen II. Toksisitas LD50 ekstrak etanol herba pada mencit secara intra peritoneal adalah 1500 mg/kg. Kegunaan di masyarakat Pada umumnya yang digunakan sebagai bahan obat adalah bagian umbi yang telah dibersihkan dari serabut yang melekat. Dalam keadaan segar, umbi dimemarkan dan dibubuhkan ke dalam minuman sebagai obat busung air, kencing batu. Air rebusan umbi umumnya digunakan sebagai pengatur haid, menyembuhkan keputihan. Juga bersifat sebagai penenang, antispasmodik, melunakkan feses dan mempercepat pembekuan darah pada luka baru. Oleh masyarakat Indian umbi segar digunakan sebagai pilis perangsang ASI, sementara di Vietnam dipakai untuk menghentikan perdarahan rahim. Umbi yang dramu bersama daun Centella asiatica (pegagan) dan umbi Imperata cylindrica (alang-alang) digunakan sebagai diuretikum kuat (untuk melancarkan buang air kecil). Tepung umbi sering digunakan oleh masyarakat Tripoli sebagai bedak dingin dengan aroma yang khas menyegarkan (sedikit berbau mentol, dan karena baunya yang khas, juga sering digunakan sebagai pencuci mulut), ternyata bau tersebut juga berefek sebagai pengusir serangga dan nyamuk, hingga sering dipakai sebagai bedak anti nyamuk. Untuk pemakaian luar, umbi digiling menjadi bubuk, lalu ditaburkan ke tempat sakit atau dijadikan salep, ataupun juga diiris tipis-tipis dan ditempelkan ke tempat yang sakit. Untuk mengatasi busung, kembung atau bengkak bisa dipakai 3 jari rimpang teki yang telah dicuci bersih dan digiling halus, kemudian diseduh

dengan setengah gelas air panas, biarkan agak mendingin, setelah kira-kira suhunya suam-suam kuku airnya diambil, lalu diminum, boleh diberi gula batu atau bersama dengan madu. Sehari 3 kali atau lebih bila suka. Umbi yang telah direbus berasa manis, sering dipipihkan untuk dibuat emping, setelah digoreng dikenal dengan sebutan "emping teki".

Distribusi Di Jawa pada elevasi 0 - 1000 m dpl. Daerah terbuka tempat pembuangan, tepi jalan, merupakan gulma pertanian yang potensial.

Keanekaragaman Keanekaragaman morfologi sempit. Sifat khas Warna epikelet merah saga, dan percabangan rimpang membentuk geragih (stolon), umbi coklat-hitam, bagian dalam putih, rasa pahit.

3. Bandotan ( Ageratum conyzoides L. )
Klasifikasi Kingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Asterales : Asteraceae : Ageratum : Ageratum conyzoides L.

Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babadotan (Sd.); wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau kambing.

Pemerian Botanis
Terna berbau keras, berbatang tegak atau berbaring, berakar pada bagian yang menyentuh tanah, batang gilig dan berambut jarang, sering bercabang-cabang, dengan satu atau banyak kuntum bunga majemuk yang terletak di ujung, tinggi hingga 120 cm. Daun-daun bertangkai, 0,5–5 cm, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah. Helaian daun bundar telur hingga menyerupai belah ketupat, 2–10 × 0,5–5 cm; dengan pangkal agak-agak seperti jantung, membulat atau meruncing; dan ujung tumpul atau meruncing; bertepi beringgit atau bergerigi; kedua permukaannya berambut panjang, dengan kelenjar di sisi bawah.[1][2] Bunga-bunga dengan kelamin yang sama berkumpul dalam bongkol rata-atas, yang selanjutnya (3 bongkol atau lebih) terkumpul dalam malai rata terminal. Bongkol 6–8 mm panjangnya, berisi 60–70 individu bunga, di ujung tangkai yang berambut, dengan 2–3 lingkaran daun pembalut yang lonjong seperti sudip yang meruncing. Mahkota dengan tabung sempit, putih atau ungu. Buah kurung (achenium) bersegi-5, panjang lk. 2 mm; berambut sisik 5, putih.

Penyebaran Dan Ekologi
Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar.[2] Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat.

Manfaat
Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Menurut Heyne, daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum. Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina.

Tumbuhan Mikania (Mikania micrantha)
Klasifikasi:

Kingdom Division Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

: Plantae (Tumbuhan) : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Asterales : Asteraceae : Mikania : Mikania micrantha

Mikania adalah terbagi sekitar 450 spesies dalam keluarga Asteraceae.
Diambil dari nama botani Ceko Johann Christian Mikan. Mikania jenia Mikania Micrantha adalah gulma di daerah tropis. Tumbuhan ini tumbuh sangat cepat (sekitar 80 mm dalam 24 jam untuk tanaman yang masih muda) dan mencakup tanaman lainnya.

4. SEMUT
Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia Filum: Artropoda Kelas: Insekta Ordo: Hymenopt era Upaordo: Apokrita Superfam Vespoidea ili: Famili: Formicida e
Latreille, 1809

Sub-keluarga Aenictogitoninae Agroecomyrmecinae Amblyoponinae (termasuk "Apomyrminae") Aneuretinae Cerapachyinae Dolichoderinae Ecitoninae (termasuk "Dorylinae" dan "Aenictinae") Ectatomminae Formicinae Heteroponerinae

Leptanillinae Leptanilloidinae Myrmeciinae (termasuk "Nothomyrmeciinae") Myrmicinae Paraponerinae Ponerinae Proceratiinae Pseudomyrmecinae

Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan. Semut telah menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi. Hanya di beberapa tempat seperti di Islandia,Greenland dan Hawaii, mereka tidak menguasai daerah tesebut.[1][2] Di saat jumlah mereka bertambah, mereka dapat membnetuk sekitar 15 20% jumlah biomassa hewan-hewan besar.[3] Rayap, terkadang disebut semut putih, tidak memiliki hubungan yang erat dengan semut, walaupun mereka memiliki struktur sosial yang sama. Semut beludru, walaupun menyerupai semut besar, tapi mereka merupakan tawon betina yang tidak bersayap. Meskipun ukuran tubuhnya yang relatif sangat kecil, semut adalah hewan terkuat kedua didunia. Semut jantan mampu menopang beban dengan berat lima puluh kali dari berat badannya sendiri, dapat dibandingkan dengan gajah yang hanya mampu menopang beban dengan berat dua kali dari berat badannya sendiri. Posisi pertama

adalah Kumbang Badak dengan kemampuan menopang beban dengan berat 850 kali dari berat badannya sendiri.

VI.

KESIMPULAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->