Menata Bank dengan Good Corporate Governance (BEI NEWS Edisi 19 Tahun V, Maret-April 2004

)

Belakangan ini mulai ada kesadaran di kalangan perbankan menerapkan GCG. Apa yang harus disiapkan agar pelaksanaan GCG berjalan mulus? Bagaimana peran direksi dan dewan komisaris? Bagaimana pula paradigma baru pengawasan perbankan? Benarkah GCG efektif menata industri perbankan? Tim BEINEWS Ketika industri perbankan dibelit banyak masalah, barulah dirasakan pentingnya menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance atau CGC). Padahal, sebelumnya, prinsip GCG yang meliputi keterbukaan, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran terkesan sebagai pajangan belaka. Tapi, harus diingat, tidak mudah menerapkan prinsip tersebut. Sebab, perlu komitmen yang sungguh-sungguh antara pemegang saham dan pengelola bank. Kenapa belakangan ini, GCG dianggap begitu penting, terutama bagi perbankan? Karena, GCG diharapkan dapat memperbaiki citra perbankan yang sempat terpuruk beberapa waktu lalu. Hal itu mengingat dalam GCG terkandung lima prinsip yang dianggap positif bagi pengelolaan sebuah perusahaan. Satu, prinsip keterbukaan atau transparansi, misalnya, bank mesti membeberkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat dibandingkan. Informasi tersebut juga harus mudah diakses stakeholders sesuai dengan haknya. Dua, prinsip akuntabilitas, berarti, bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari setiap komponen organisasi selaras dengan visi, misi, sasaran usaha, dan strategi perusahaan. Setiap komponen organisasi mempunyai kompetensi sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Mereka harus dapat memahami perannya dalam pelaksanaan GCG. Selain itu, bank harus memastikan ada tidaknya check and balance dalam pengelolaan bank. Bank harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajarannya berdasarkan ukuran yang disepakati secara konsisten sesuai dengan nilai perusahaaan (corporate values), sasaran usaha, dan strategi bank, serta memiliki reward and punishment system. Tiga, prinsip tanggung jawab (responsibility). Artinya, bank harus memegang prinsip prudential banking practices. Prinsip tersebut harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tetap terjaga kelangsungan usahanya. Bank pun harus mampu bertindak sebagai good corporate citizen (perusahaan yang baik).

Eddie M. ukuran keberhasilan internal auditor bukan dari jumlah temuan. Pengelola bank tidak boleh terpengaruh oleh kepentingan sepihak. Bank harus memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran (equal treatment). lanjut Eddie. Gunadi. Kedua. Bank harus mampu menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholders. Dalam sistem pengawasan internal. ”Seyogianya. prinsip kewajaran. prinsip independensi. dan governance processes--yang menunjukkan. Ia harus bisa menghindari segala bentuk benturan kepentingan (conflict of interest). Namun. menurut Eddie. Risiko yang dimaksud di sini salah satunya adalah praktik suap dan korupsi yang merugikan perusahaan. melainkan dari ukuran sejauh mana internal auditor dapat membantu rekan sekerjanya mengatasi permasalahan yang timbul.Empat. dan governance processes. menjelaskan ada beberapa bentuk implementasi GCG. Sedangkan. melalui pelaksanaan GCG. Lima. jelas Eddie. fungsi kontrol dan pengawasan pada akhirnya akan membantu menangani masalah risiko. Chairman Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). ujar Eddie. sistem pengawasan internal (internal control system). pengelolaan risiko (risk management). Dimasukkannya assurance dan consulting. antara lain. Dengan demikian. Tanpa mengurangi makna konsep pengawasan tradisional. pemeriksaan dan konsultasi (assurance and consulting). paradigma baru pengawasan internal mengacu pada dua hal pokok. consulting services merupakan nilai tambah. menunjukkan makin meluasnya praktik yang menjadi lingkup pengawasan internal. kontrol. dan etika bisnis yang dituangkan dalam pedoman perilaku perusahaan (corporate code of conduct). kontrol. Sementara. fokus utama pengawasan internal adalah menemukan kesalahan manajemen sebanyak mungkin karena keberhasilan ”pemeriksaan” hanya dilihat dari aspek kuantitas temuan pihak internal auditor.” kata Eddie. bank juga perlu memberikan kesempatan kepada stakeholders untuk memberikan masukan bagi kepentingan bank sendiri serta memiliki akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan. Dalam konsep pengawasan tradisional. Konsep assurance services lebih luas daripada istilah ”pemeriksaan” sebagaimana konsep pengawasan tradisional. Pertama. efektivitas pengelolaan risiko melalui risk based auditing. Termasuk dalam hal ini adalah aspek pengelolaan risiko. best practices telah memunculkan paradigma baru berupa pengawasan internal yang sangat berbeda dengan konsep pengawasan tradisional. praktik GCG dapat dijadikan alat untuk mengidentifikasi dan mengantisipasi potensi kerugian yang kemungkinan menimpa perusahaan sebagai akibat praktik suap dan korupsi. . internal auditor dapat lebih meningkatkan pelayanannya kepada organisasi secara menyeluruh.

Bila sebuah bank hendak menerapkan GCG. lanjut Antonius. komunitas di lingkungan perusahaan beroperasi. perusahaan harus menghindari dewan komisaris yang anggotanya memiliki kemampuan dan pengalaman seragam. sehingga dapat tercipta suatu tim dengan kombinasi kemampuan dan pengalaman kolektif yang solid. Salah satunya. lanjut Antonius. independen. Hal lain yang mesti diperhatikan. dan pelanggan dalam proses pengambilan keputusan-keputusan dalam dewan. harus seobjektif mungkin. serta bagaimana proses seleksi. Setiap perusahaan yang mampu menerapkan prinsip GCG secara benar memang ”harusnya” mempunyai tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap segala kegiatan usaha yang dijalankannya. karyawan. Proses seleksi komisaris independen pun. tandas Antonius. lanjut Antonius. tapi ada satu semangat yang sama untuk menghindari adanya satu orang individu dalam dewan komisaris yang memiliki kekuasaan mutlak. Demikian menurut F. Dengan kata lain. peran. sehingga tidak mendorong terjadinya diskusi yang cukup dalam dan luas dalam mengaji dan mengevaluasi opsiopsi strategis perusahaan. langkah pertama dan utama adalah adanya dewan komisaris yang berperan aktif. terutama terhadap pemegang saham pengendali. Mulai dari penentuan profil kompetensi . ”Walaupun struktur dewan komisaris di setiap negara berbeda. dan konstruktif. kepentingan pemegang saham minoritas. nama besar. dan proses yang memadai agar hal tersebut dapat terwujud. Dengan struktur tersebut. dewan komisaris diharapkan dapat tetap independen terhadap kepentingan suatu kelompok tertentu. Untuk itu. terang Antonius. Dewan komisaris sebaiknya terdiri atas individu-individu dengan beragam pengalaman dan latar belakang. Antonius Alijoyo dari FCGI. Karena. Pada saat ini. dan independen. Masih menurut Antonius. kombinasi kemampuan dan pengalaman dewan komisaris harus bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan strategis dan kontekstual perusahaan.Yang diungkapkan Eddie adalah harapan setiap insan perbankan. GCG merupakan bentuk pengaturan internal dalam bank (self regulation). formal. dan iktikad baik saja tidak cukup untuk membangun dewan komisaris berkelas dunia. dibutuhkan struktur. kemauan. Mereka dipilih berdasarkan proses ketat. kemampuan dan pengalaman anggota dewan. Setidaknya mencakup komposisi. Misalnya. dengan cara pengimbangan melalui keberadaan komisaris independen. mereka harus mendasarkan pada nurani dan kemandirian. Bila perlu dengan rentang usia yang berbeda-beda. diharapkan dapat tetap berpegang pada kepentingan perusahaan secara keseluruhan dan mempertimbangkan kepentingan semua stakeholder. sistem. dan penilaian kinerja mereka. Komisaris independen.” tukas Antonius.

mereka tidak sekadar hadir dalam rapat dewan komisaris. Yang jelas. Misalnya. sebagian perusahaan memiliki komisaris independen yang masih dipertanyakan kriteria dan semangat independensinya. Di lain pihak. ”Sekarang. anggota direksi. Misalnya. Sulitkah membangun dewan komisaris berkelas dunia? Menurut Antonius. kecuali gaji atau fee yang diterimanya dari perusahaan dan bukan mantan direktur atau komisaris perusahaan di periode sebelumnya. ujar Antonius lebih jauh. Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ) sudah mensyaratkan keberadaan komisaris independen dan komite audit bagi semua perusahaan publik. lakukanlah sesegera mungkin agar tidak tertinggal jauh dari pelaku bisnis global . Siapa pun yang akhirnya terpilih sebagai komisaris independen. untuk balas budi atau balas jasa semata. Misalnya.dan pengalaman mereka sampai dengan proses wawancara dan evaluasinya. Komisaris independen tidak boleh memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan. Bahkan. Sebaliknya. mereka tidak boleh terlalu lama menjabat sebagai komisaris independen. Atau. masih banyak perusahaan yang sekadar memenuhi kepatuhan minimal. Ini berarti. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Nomor 117/2002 sudah mensyaratkan hal yang sama untuk BUMN. Bila memang ingin menjadi bagian dari pelaku bisnis dunia. Ditambah lagi. tidak boleh terlibat dalam proses seleksi. presiden komisaris perusahaan harus terlibat aktif dalam proses seleksi ini. harus memiliki komitmen dan waktu dalam menjalankan peran mereka. Dalam praktiknya. terutama direktur utama. melalui FCGI untuk rujukan praktik terbaik penerapan manajemen risiko dan komite audit serta melalui Indonesian Society of Independent Commissioners (ISICOM) untuk praktik terbaik fungsi dan peran komisaris independen. jawabannya tergantung perusahaan yang bersangkutan. melalui kunjungan kerja ke beberapa lokasi pabrik dan pasar atau pendalaman mengenai beberapa operasi penting perusahaan yang bersifat krusial. sebagian perusahaan benar-benar sudah berusaha memenuhi ketentuan tersebut dengan memilih komisaris independen sesuai dengan kriteria dan semangat independensi yang diharapkan. Selain itu.“ kata Antonius. maksimum satu periode masa kerja saja. kembali kepada diri kita sendiri. masih kata Antonius. Di samping itu. lebih parah lagi. “Harus dihindari pemilihan profil yang tidak berdasarkan kompetensi dan pengalaman atau profil yang sekadar mendasarkan nama besar individu tertentu untuk tujuan publisitas belaka. kita harus mulai menerapkan kaidah-kaidah kelas dunia. Bila memang kita ingin menggunakan kesempatan penerapan GCG ini sebagai lompatan transformasi organisasi perusahaan kita. Rujukan-rujukan tentang praktik-praktik terbaik sudah tersedia luas. tetapi juga harus selalu melengkapi diri dengan kajian dan analisis isu-isu yang relevan dengan perusahaan.

Sebab. ialah yang bisa menjadikan perusahaan tetap eksis. kompetitif. pembangunan corporate culture yang sesuai dengan prinsip GCG. pemerintah dan otoritas terkait harus mampu menjamin dan membuktikan bahwa penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara serius. misi. . penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance atau GCG) secara serius dan efektif merupakan tuntutan yang makin tidak dapat ditawar lagi. dan corporate values yang sesuai dengan prinsip GCG. persoalan GCG adalah persoalan tanggung jawab perusahaan kepada stakeholders. bank dapat menempuh empat tahapan. Penetapan visi. untuk berkembang dan maju. dengan ketulusan dan konsistensi tinggi saja. Untuk tujuan penerapan GCG itu. pada dasarnya. Selain itu. stakeholders boleh berharap akan interpretasi yang sama atas fenomenafenomena yang sejenis. sesungguhnya.” saran Antonius. penyusunan corporate governance structure. stakeholders bisa menilai jati diri bank yang bersangkutan. untuk terciptanya kondisi yang mendukung implementasi GCG yang efektif. Dengan demikian. penetapan sasaran public disclosures yang sesuai dengan prinsip GCG. dan tumbuh menjadi salah satu perusahaan kelas dunia. Membangun dewan komisaris berkelas dunia itu tidak perlu menunggu sampai perusahaan kita benar-benar berkelas dunia.lainnya. Lewat infrastruktur itu. bank perlu menerapkan standar akuntasi dan standar audit yang sama dengan standar yang berlaku umum serta melibatkan auditor eksternal dalam proses audit. Sebab. Tujuannya supaya diperoleh ukuran yang sama dengan ukuran yang berlaku di tempat lain. sebagai subjek GCG. pelaksanaan GCG oleh perbankan dapat dilakukan melalui lima tindakan. Untuk pembentukan corporate governance structure. misi. yakni penetapan visi. Apa saja yang perlu diperhatikan agar praktis menerapkan GCG? Dalam Pedoman GCG Perbankan Indonesia dinyatakan. Di sisi lain. dan corporate values merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Agar sistematis dan kontinu. Benar yang dikatakan Antonius. salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan otoritas terkait adalah penerbitan peraturan perundang-undangan yang memungkinkan dilaksanakannya GCG secara efektif. serta penyempurnaan kebijakan-kebijakan bank agar dapat memenuhi prinsip GCG. Karena. sangat mungkin sebuah perusahaan memiliki komisaris berkelas dunia. iklim yang kondusif perlu diciptakan dan perlu terus-menerus dipelihara. Agar Praktis Menerapkan GCG BAGI bank.

independency. nilai-nilai (values). merumuskan code of conduct yang memuat pedoman perilaku yang wajar bagi pimpinan dan karyawan bank. accountability. merumuskan kebijakan risk management. resposibility. juga harus memuat tekad untuk melaksanakan GCG serta memuat pedoman pokok penerapan prinsip GCG yang terdiri atas transparrency. Karena GCG adalah cerminan tanggung jawab bank kepada stakeholder-nya. audit. maka sasaransasaran public disclosures serta penyempurnaan berbagai kebijakan bank perlu dilakukan. dan norma-norma (norms) yang disepakati serta dilaksanakan secara konsisten dengan contoh konkret dari pimpinan bank.Satu. Organisasi yang ada di dalamnya juga harus mencerminkan adanya risk management. Serangkaian diskusi yang intensif dan panjang serta program-program komunikasi sosial diperlukan untuk pembentukan budaya perusahaan ini. Dua. dan fairness. kebijakan corporate governance yang dirumuskan. . Empat. selain memuat visi dan misi bank. Tujuannya adalah agar masyarakat menerima informasi-informasi yang seharusnya mereka peroleh untuk bekal pengambilan keputusan yang intinya adalah keputusan untuk percaya atau tidak percaya kepada bank yang bersangkutan. Selain itu diperlukan adanya human resources policy yang jelas serta corporate plan yang menggambarkan arah jangka panjang yang jelas Sementara itu. dan compliance. internal control. merumuskan tata tertib kerja dewan komisaris dan direksi yang memuat hak dan kewajiban serta akuntabilitas dewan komisaris dan direksi serta masing-masing para anggotanya. dan compliance. corporate culture dibentuk melalui penetapan prinsip dasar (guiding principles). Tiga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful