P. 1
Korean Wave di Indonesia: Budaya Pop, Internet, dan Fanatisme Remaja

Korean Wave di Indonesia: Budaya Pop, Internet, dan Fanatisme Remaja

|Views: 5,412|Likes:
Published by Aulia Nastiti

More info:

Published by: Aulia Nastiti on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2015

pdf

text

original

“KOREAN WAVE” DI INDONESIA : ANTARA BUDAYA POP, INTERNET, DAN FANATISME PADA REMAJA

Studi Kasus terhadap Situs Asian Fans Club di Indonesia dalam Perspektif Komunikasi Antarbudaya Aulia Dwi Nastiti - 0906561452

Program Studi Komunikasi Media Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Desember 2010

Pendahuluan
Jika orang-orang yang lahir pada tahun 1970-an atau 1980-an ditanya mengenai serial drama, film atau musik dari negara Asia mana yang populer di Indonesia pada era generasinya, mungkin mereka akan menjawab Jepang, Cina, dan Hongkong, tanpa menyebut Korea di dalamnya. Ilustrasi ini disimpulkan berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Kawakimi dan Fisher (1994) mengenai industri music Asia yang menempatkan Jepang, Cina, dan Indonesia sebagai negara-negara yang musiknya remarkable. Tak hanya musik, film-film Asia yang beredar pada akhir 1980-an sampai pertengahan 1990-an didominasi oleh Jepang dan Hongkong, yang memang menjadi kiblat perfilman Asia. Korea? Tak pernah disebut dan diperhitungkan, bahkan di tahun 1994 film Korea tak menjadi tuan rumah di bioskop sendiri karena 80% industri film bioskop Korea diisi oleh film-film Hollywood (Ryo0, 2008). Akan tetapi, lain halnya jika pertanyaan yang sama ditanyakan pada pemuda sekarang, atau generasi kelahiran 1990-an. Korea pasti akan keluar menjadi salah satu jawaban mereka. Generasi muda sekarang akan dengan mudah menyebut judul film, musik, atau drama Korea. Terlepas dari apakah ia pernah mengkonsumsi film, music, atau drama, fakta bahwa hampir sebagian besar generasi muda di Indonesia dapat mengenali keberadaan produk budaya Korea menunjukkan suatu realitas, yaitu : Budaya Korea telah berkembang begitu pesatnya, hingga sukses menjangkau popularitas di mancanegara. Maraknya produk-produk budaya Korea di luar negeri sebenarnya berawal dari pada tahun 1994 ketika Kim Young-sam, presiden Korea Selatan yang kala itu menjabat, mendeklarasikan globalisasi sebagai visi nasional dan sasaran strategi pembangunan. Rencana ini kemudian dimanifestasikan oleh Menteri Budaya Korea waktu itu, Shin Nak-yun, dengan menetapkan abad 21 sebagai ‘century of culture’. Berbagai upaya dan pembenahan dilakukan untuk mewujudkan globalisasi budaya Korea, mulai dari preservasi dan modernisasi warisan budaya tradisional Korea agar lebih dapat diterima publik mancanegara, melatih tenaga professional dalam bidang seni dan budaya, memperluas fasilitas kultural di wilayah lokal, membangun pusat budaya yang luar negeri, sampai membangun jaringan komputer dan internet di seluruh pelosok negeri untuk menunjang persebaran informasi budaya (Shim, 2006). Upaya integratif pemerintah Korea tersebut mulai mendatangkan hasil nyata dalam lima tahun. Budaya Korea mulai terekspansi ke mancanegara. Pada tahun 1999, dalam konteks krisis ekonomi yang melanda, 2 | “K orean Wa ve” di Indones ia : S ebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

drama Korea menjadi marak diimpor negara-negara Asia Tenggara karena merupakan satu-satunya pilihan yang paling ekonomis jika dibandingkan drama Jepang yang lebih mahal 4 kali lipat dan Hongkong yang bisa lebih mahal 10 kali lipat (Shim, 2006). Seiring berjalannya waktu, budaya Korea tidak hanya marak dikonsumsi di Asia Tenggara, tetapi juga beranjak ke Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Amerika Latin, yang terbukti dengan adanya fans club di sana. Dalam 10-15 tahun terakhir, budaya Korea berkembang begitu pesatnya hingga meluas dan diterima publik dunia, sampai menghasilkan sebuah fenomena demam budaya Korea di tingkat global, yang diistilahkan sebagai ‘hallyu’. “Hallyu” atau "Korean Wave" adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia, atau secara singkat mengacu pada globalisasi budaya Korea (Shim, 2006). Fenomena ini diikuti dengan banyaknya perhatian terhadap produk Korea Selatan, seperti misalnya masakan, barang elektronik, musik dan film. Di Indonesia saat ini, fenomena gelombang Korea melanda generasi muda Indonesia yang umumnya menyenangi drama dan musik Korea. Di Indonesia sendiri, hallyu diawali oleh serial drama. Berbagai stasiun televisi Indonesia mulai menayangkan drama produksi Korea Selatan setelah salah satu stasiun televisi Indonesia sukses menayangkan drama Endless Love, atau yang berjudul resmi Autumn in My Heart di Korea, pada tahun 2002. Romantisme dan kisah tragis menyedihkan senantiasa mewarnai drama ini, menarik emosi penonton untuk hanyut meresapi alur cerita, sehingga Endless Love sukses memikat perhatian para pecinta drama Indonesia, yang sebagian besar adalah para perempuan. Selain orisinalitas cerita, drama ini juga diperankan oleh aktor dan aktris yang rupawan dengan kemampuan akting yang baik sehingga sukses menjadi titik balik bagi meluasnya budaya pop Korea di Indonesia. Kesuksesan drama Endless Love yang memiliki genre drama melankolis ini, diikuti dengan kesuksesan drama-drama melankolis Korea lainnya, antara lain Winter Sonata dan Memories in Bali. Setelah drama melankolis, muncul drama komedi romantis yang juga sangat digandrungi oleh pemirsa Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Full House, My Sassy Girl dan Princess Hours. Selain drama melankolis dan komedi romantis, genre drama Korea dengan latar belakang sejarah juga mencetak rating tinggi di Indonesia. Drama yang termasuk dalam genre ini antara lain Dae Jang Geum dan Queen Seon Deok. Setelah pemirsa jatuh hati pada drama Korea yang satu, televisi menyajikan drama yang lain, yang membuat khalayak semakin gandrung. Karena menariknya backsound yang digunakan dalam drama, khalayak mulai menaruh perhatian pada music-musik Korea. Hal itu pada akhirnya meluas kepada konten budaya lain, yaitu musik. Musik dari Korea ini dikenal dengan nama K-Pop. Mereka mengusung genre musik dance pop, yaitu musik pop barat dikombinasikan dengan kemampuan menari dan wajah yang menawan. Lirik lagu pun di-mix antara bahasa Korea dan bahasa Inggris di part tertentu. Hal ini membuat grup-grup musik K-Pop benar3 | “K orean Wa ve” di Indones ia : S ebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

benar digemari di pasaran Indonesia. Grup musik Korea yang digandrungi anak-anak muda Indonesia antara lain Super Junior, SNSD, dan Shinee. Terkait dengan Shinee, pada awal Oktober lalu saat diadakan Pekan Budaya Indonesia-Korea, grup Shinee turut diundang mengadakan konser di Jakarta. Sejumlah 2500 tiket yang disediakan terjual habis, sementara terdapat 15.000 permintaan tiket (Kompas, 12 Oktober 2010). Hal ini menunjukkan betapa budaya Korea telah begitu melekat di hati para penggemar mancanegara. Pada dasarnya, globalisasi budaya Korea tersebut tak bisa dilepaskan dari peran media. Media membawa nilai-nilai budaya Korea ke luar negeri dan menjadi salah satu penunjang utama berhasilnya gerakan hallyu atau globalisasi budaya Korea di dunia internasional. Media yang banyak berperan dalam persebaran nilainilai budaya Korea pada mulanya adalah televisi, yang menayangkan drama-drama Korea. Kesuksesan televisi memediasi masuknya budaya Korea ke Indonesia ini tak dipungkiri menimbulkan efek domino ke musik dan film. Jenis media yang mengantarkan produk-produk budaya Korea ke tangan khalayak Indonesia itu pun semakin beragam, yaitu VCD, DVD, dan yang paling fenomenal, tentu saja, internet. Internet bahkan bisa disebut sebagai media yang paling berpengaruh dalam globalisasi budaya Korea karena tak banyak film dan musik Korea mendapatkan tempat di media mainstream internasional. Hal ini pun berlaku di Indonesia. Meskipun salah satu stasiun televisi Indonesia masih konsisten menayangkan drama-drama Korea yang booming, televisi Indonesia jarang menampilkan musik, film, atau program TV produksi Korea. Tentu saja hal ini terkait dengan kendala regulasi media nasional mengenai porsi konten asing di televisi dalam negeri. Oleh karena itu, saluran persebaran lain yang paling efektif adalah melalui internet, di mana kontennya dapat dengan bebas dan mudah diakses oleh semua orang di seluruh dunia. Dahsyatnya kekuatan internet dalam penyebaran “Korean Wave” ini terlihat dari ramainya arus informasi mengenai budaya Korea di internet. Situs jejaring sosial Twitter mencatat bahwa sepanjang 2010, Super Junior, grup boyband ternama asal Korea, menempati posisi trending topic kedua dalam hal musik. Super Junior hanya dikalahkan oleh Justin Bieber, penyanyi remaja Amerika yang disebut sebagai raja twitter (Twitter.com, Desember 2010). Di situs YouTube, setiap kali penyanyi Korea merilis teaser dan music video (MV) di YouTube, dalam beberapa hari saja dapat ditonton oleh lebih dari 1 juta orang dan bahkan seringkali menjadi video top favorite, most popular, atau most discussed (YouTube.com, 2010). Sedangkan dramadrama Korea menjadi drama yang paling banyak dibajak dan dijual dalam bentuk kepingan DVD. Belum lagi program-program TV seperti reality show Korea pun banyak digemari oleh masyarakat dunia dan memiliki banyak international fans. Padahal acara-acara tersebut tidak ditayangkan di stasiun televisi terrestrial, kecuali TV kabel dan satelit. Lalu bagaimana para international fans ini mengerti tayangan yang mereka konsumsi? Jawabannya sekali lagi adalah melalui internet. Di internet, terdapat kelompok-kelompok yang 4 | “K orean Wa ve” di Indones ia : Sebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

sukarela men-translate acara-acara TV Korea ke dalam bahasa Inggris dan meng-upload video tersebut agar dapat di-download oleh para penggemar acara TV Korea di seluruh dunia (Soompi.com). Hal tersebut menunjukkan bukti bagaimana kuatnya peran internet dalam penyebaran budaya Korea. Di Indonesia sendiri, gegap gempita “Korean Wave” juga lebih bergaung di media internet dibandingkan media tradisional seperti televisi, radio, dan majalah. Arus informasi utama mengenai musik, film, ataupun drama-drama Korea berasal dari internet. Hal yang menarik di Indonesia berkaitan dengan media dan “Korean Wave” ini adalah banyaknya situs-situs berbasis blog di Indonesia yang menjadi sumber informasi berita tentang budaya popular Korea. Tercatat ada sekitar puluhan situs dan blog di Indonesia yang rutin memuat informasi dan berita mengenai dunia hiburan Korea. Di antara situs-situs tersebut, yang paling aktif meng-update berita dan memiliki pengunjung paling banyak adalah situs Asian Fans Club

(asianfansclub.wordpress.com). Yang lebih menarik, situs tersebut kebanyakan bersifat non-komersial dan independen karena aktivitas menulis author di dalamnya bersifat voluntary. Animo masyarakat Indonesia yang begitu besar terhadap budaya Korea dan menjamurnya komunitas virtual para penggemar budaya Korea tersebut menarik untuk dikaji dalam perspektif komunikasi antar budaya (KAB) karena globalisasi budaya Korea melalui media tersebut memunculkan implikasi pada tingkat pengetahuan dan praktik komunikasi antarbudaya para remaja Indonesia, khususnya terhadap budaya Korea. Yang perlu ditinjau secara kritis di sini adalah bagaimana pemahaman kultural tersebut terbentuk? Bagaimana arus informasi budaya Korea mempengaruhi pergeseran pola komunikasi antar budaya para remaja di Indonesia? Bagaimana globalisasi budaya Korea tersebut akhirnya turut berperan dalam proses pendefinisian identitas personal dan komunal mereka? Meskipun globalisasi budaya pada dasarnya bukan orientasi pembahasan dalam kajian KAB, tetapi tak terelakkan lagi, globalisasi merupakan konteks sosio-kultural di mana seluruh proses KAB berlangsung. Terlebih lagi, dalam era konvergensi media dan kehadiran information society seperti sekarang ini, media, khususnya internet, menjadi bagian tak terpisahkan ketika kita mengkaji globalisasi. Melalui media, globalisasi terjadi dan secara tak langsung media merupakan tempat di mana KAB tersebut diwujudkan, terutama KAB lintas negara seperti dalam kasus Indonesia-Korea ini. Oleh karena itulah, kajian ini akan didasarkan pada perspektif KAB karena jika kita kembalikan pada orientasi dasarnya, kajian KAB semestinya berorientasi pada pengembangan kesadaran sebagai masyarakat multikultural dalam konteks global.

5 | “K orean Wa ve” di Indones ia : Sebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

Kerangka Pemikiran
Budaya Definisi budaya dikemukakan oleh Gudykunst dan Kim (2003), dengan mengabstraksi definisi Keesing (1974), sebagai sebuah rujukan yang selalu kita gunakan dalam berinteraksi. Sementara itu, Ting Too-Mey (1999) merujuk pada D’Andrade (1984) merumuskan budaya sebagai sebuah kerangka rujukan yang kompleks yang terdiri dari berbagai pola-pola tradisi, kepercayaan, nilai, norma, simbol, dan makna, yang ditularkan dalam berbagai tataran masyarakat melalui proses interaksi dan sosialisasi dalam anggota kelompok sosial tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak menyadari kehadiran budaya sebagai pola dalam keseharian kita, tetapi perilaku kita merefleksikan bahwa seolah-seolah ada kesepakatan umum terhadap pola tersebut. Oleh karena itulah, Ting Too-Mey (1999) menyebut budaya sebagai enigma karena memilki dimensi konkret dan abstrak. Berbagai elemen tersebut terdapat dalam diri manusia dan dapat diasosiasikan dengan gunung es. Komponen-komponen abstrak yang tak terlihat secara kasat mata, seperti nilai, norma, kepercayaan, tradisi, makna, dan kebutuhan universal menempati lapisan dasar gunung es tersebut karena mendominasi sebagian besar budaya manusia. Sedangkan lapisan atas yang besarnya hanya sebagian kecil merupakan perwujudan konkret yang berupa artifak-artifak budaya seperti benda, fashion, musik, gambar, juga simbolsimbol verbal dan nonverbal lainnya. Berangkat dari definisi budaya sebagai kerangka rujukan perilaku manusia dalam berinteraksi, Ting Too-Mey (1999) kemudian mengidentifikasikan lima fungsi budaya: (1) identity meaning function, yang berarti bahwa budaya berfungsi sebagai atribut dan penanda yang menunjukkan identitas kita melalui adanya kepercayaan, nilai, dan norma-norma budaya, (2) group inclusion function, yaitu budaya sebagai pemenuhan kebutuhan untuk berafiliasi dengan suatu kelompok dan membentuk perasaan menjadi bagian dalam kelompok tersebut (sense of belonging), (3) intergroup boundary regulation function, di mana budaya dalam in-group kita membentuk kecenderungan bersikap dalam interaksi dengan kelompok budaya lain (out-group), (4) ecological adaptation function, budaya mengajarkan proses adaptasi dalam interaksi antar individu, kelompok budaya, dan dalam lingkungan luas, (5) cultural communication function, di mana budaya mempengaruhi cara berkomunikasi, dan komunikasi pun mempengaruhi budaya kita.

6 | “K orean Wa ve” di Indones ia : S ebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

Globalisasi dan Budaya Populer Berdasarkan pandangan Steger (2003), globalisasi merujuk pada serangkaian proses sosial-multidimensional yang mengkreasikan, menggandakan, menekankan dan mengintesifikasi pertukaran dan ketergantungan sosial di seluruh dunia. Di tengah pertukaran dan saling ketergantungan tersebut, globalisasi menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat dunia untuk memperluas hubungan antara masyarakat yang saling berjauhan. Seperti yang dikemukakan Steger, globalisasi merupakan proses yang multidimensional, yang artinya ketergantungan yang berimplikasi pada intensifikasi hubungan masyarakat dunia tersebut berlangsung di seluruh lini kehidupan manusia. Globalisasi berlangsung dalam bidang ekonomi, dengan meluasnya perdagangan internasional dan pasar bebas, di bidang politik dengan maraknya forum kerjasama regional dan internasional, di bidang sosial dengan meningkatnya relasi antara masyarakat dunia dan menjadikan penduduk dunia seperti penduduk dalam satu global village (McLuhan, 1962). Dalam bidang komunikasi, globalisasi berimplikasi pergerakan arus informasi yang semakin bebas, luas, cepat, dan tak terbatas karena globalisasi menjadikan informasi seakan tak mengenal batas jarak, ruang, dan waktu. Bidang budaya pun tak lepas dari implikasi globalisasi. Dengan adanya globalisasi, masyarakat semakin ketergantungan dengan produk-produk komunikasi dan informasi seperti film, musik, acara televisi, berita, buku, dan lain-lainnya. Masuknya berbagai produk komunikasi ini tak pelak sekaligus memperkenalkan norma dan nilai-nilai budaya pihak pengekspor produk tersebut sehingga secara tak langsung negara pengimpor akan memperoleh pengetahuan tentang budaya negara asal (McPhail, 2002). Globalisasi dalam budaya dan komunikasi ini selanjutnya menghasilkan apa yang disebut sebagai budaya populer. Secara umum budaya populer (budaya pop) sering diartikan sebagai budaya yang diketahui dan diikuti banyak orang, yang pembentukannya berdasarkan kemauan masyarakat untuk diminati oleh masyarakat itu sendiri, dan biasanya sifatnya temporer (Holliday, Hyde, & Kullman, 2004). Dalam pandangan John Fiske (1989), agar menjadi budaya populer, sebuah komoditas budaya haruslah dapat melahirkan ketertarikan pada banyak orang karena budaya pop bukanlah sekedar barang konsumsi, melainkan sebuah budaya. Sebagai sebuah budaya, seberapa besar pun budaya itu terindustrialisasi, ia tidak pernah bisa hanya didefinisikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, tetapi di dalamnya terdapat proses aktif membentuk dan menyebarluaskan makna bagi kepuasan masyarakat di dalam sebuah sistem sosial. Holliday, Hyde dan Kullman (2004) mengungkapkan empat karakteristik budaya populer : (1) diproduksi oleh industri budaya, (2) cenderung berlawanan dengan folk culture (warisan budaya tradisional yang sifatnya berorientasi ritual dan non-komersial), (3) keberadaannya diterima di mana-mana, dan (4) memenuhi fungsi sosial. Budaya populer memainkan peranan besar dalam mempengaruhi pemikiran kita dan mempengaruhi 7 | “K orean Wa ve” di Indones ia : Sebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

bagaimana kita memahami orang atau kelompok lain karena ia merupakan budaya yang jamak diterima. Selain itu, budaya pop menjadi subjek penting menjelaskan hubungan seluruh dunia karena melalui budaya pop, kita memahami dinamika budaya dan bangsa lain. Dalam kaitannya dengan globalisasi dalam budaya, sekali lagi media atau komunikasi melalui media memainkan peran fundamental karena melalui medialah budaya populer tersebut diperkenalkan ke seluruh masyarakat global, disenangi dan diterima secara luas, dan akhirnya diakui sebagai budaya populer. Komunikasi Antar Budaya Secara general, komunikasi antarbudaya merujuk pada proses pertukaran makna melalui simbol-simbol di antara orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda (Gudykunst & Kim, 2003; Ting Too-Mey, 1999). Definisi ini pada dasarnya merujuk pada komunikasi antar budaya yang dilakukan secara interpersonal atau antara dua orang yang berasal dari dua kelompok budaya yang berbeda. Adanya proses pertukaran makna juga menunjukkan bahwa komunikasi tersebut bersifat dua arah atau adanya makna yang dikomunikasikan secara timbal balik. Namunn, dalam konteks masyarakat global seperti sekarang ini, dengan globalisasi yang semakin luas dan ekspansi informasi yang semakin intens, intercultural communication juga dapat berlangsung dalam tataran komunikasi massa mengingat betapa sebuah massa pasti bersifat multikultural. Komunikas antar budaya dalam tataran massa ini biasanya berlangsung melalui media atau disebut dengan mediated intercultural communication. Dalam konteks ini, KAB didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang yang terpengaruh oleh kelompok budaya yang berbeda menegosiasikan makna. Dalam KAB, perbedaan budaya di antara dua pihak yang berkomunikasi berimplikasi pada adanya perbedaan sistem simbol dan bagaimana mereka memaknai simbol tersebut dan cara interpretasi makna yang berbeda sangat memungkinkan terjadinya mispersepsi dan miskomunikasi sehingga komunikasi menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, Ting Too-Mey (1999) memandang bahwa komunikasi interkultural yang efektif haruslah dengan memperhatikan identitas pihak yang berkomunikasi. Dalam komunikasi antarbudaya, terdapat lima asumsi pokok yang penting untuk diperhatikan (Ting Too-Mey, 1999), yaitu: 1. Dalam komunikasi antar budaya terdapat berbagai perbedaan dengan tingkat tertentu antara dua anggota kelompok yang berinteraksi 2. Komunikasi antar budaya melibatkan proses encoding-decoding simbol-simbol verbal dan nonverbal dalam waktu yang bersamaan 3. Komunikasi antar budaya berpotensi besar menemui perselisihan makna (well-meaning clashes) karena adanya perbedaan budaya 8 | “K orean Wa ve” di Indones ia : Sebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

4. Komunikasi antar budaya selalu bersifat kontekstual dan tidak terjadi dalam ruang vakum, artinya komunikasi antar budaya selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional yang ada 5. Komunikasi antar budaya selalu terjadi dalam sistem yang melekat pada konteks interaksi tersebut yang bersifat dependen dan saling mempengaruhi Komunikasi Antar Budaya merupakan sebuah proses yang berlangsung kompleks, dalam konteks sosial. Oleh karena itu, ia tak berdiri di ruang vakum, tetapi dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Gudykunst dan Kim (2003) merumuskan beberapa faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antar budaya, yaitu pengaruh budaya, pengaruh sosiobudaya, pengaruh psikobudaya, dan pengaruh lingkungan. Dalam kajian ini, faktor yang dipandang memiliki pengaruh dalam proses komunikasi antarbudaya Korea-Indonesia adalah pengaruh budaya dan pengaruh sosiobudaya. Pengaruh Budaya Pengaruh budaya terhadap komunikasi bersifat dialektik, resiprokal dan saling mempengaruhi. Kajian pengaruh budaya dalam komunikasi antarbudaya dapat dilakukan melalui dua pendekatan, pertama memahami pengaruh budaya terhadap perilaku komunikasi seseorang dari dari sudut pandang orang tersebut, dan kedua, dengan cara membandingkannya dengan budaya lain. Perbedaan budaya haruslah dipahami dalam berbagai dimensi, antara lain dimensi individualisme-kolektivisme, dimensi variasi

kebudayaan Hofstede, orientasi nilai Kluckhohn Strodbecks, serta dimensi pola variabel Parson (lebih jauh lihat Gudykunst & Kim, 2003). Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, kajian kali ini dibatasi pada dimensi individualis-kolektivis. Perbedaan dimensi kebudayaan individualis-kolektivis dikaji dalam level analisis kelompok kultural yaitu, kelompok budaya individualis memiliki kecenderungan untuk bersifat universal dalam standarisasi dan penilaian berbagai hal sesuai dengan objeknya (objektif). Sedangkan kebudayaan kolektivis cenderung memiliki preferensi penilaian yang lebih baik bagi anggota in-group-nya (subjektif). Kebudayaan kolektivis menekankan tujuan, kebutuhan, dan pandangan in-group terhadap anggotanya serta memprioritaskan norma sosial in-group itu dibanding kepentingan anggotanya. Sedangkan kebudayaan individual, menempatkan nilai-nilai in-group setara dengan nilai-nilai dan kepercayaan individu. Pengaruh Sosiobudaya Istilah sosiobudaya (sosiocultural) dapat diartikan sebagai kajian budaya berdasarkan aspek-aspek sosial yang berlaku di masyarakat, khususnya institusi dan kelompok sosial. Dalam kajian sosiokultural, asumsi yang 9 | “K orean Wa ve” di Indones ia : S ebuah K ajian Komunikas i An tarbuda ya

berlaku adalah budaya dan kondisi sosial mempengaruhi proses komunikasi kita dengan orang lain (terutama komunikasi antar budaya). Pengaruh sosiobudaya dalam komunikasi antar budaya terlihat dari keanggotaan dalam kelompok sosial, identitas sosial dan peran sosial. Kelompok sosial merupakan sekumpulan individu yang saling berbagi pengalaman dan identitas sosial (simbol) dan keanggotaan dalam kelompok sosial mengacu pada keterikatan seorang individu dalam kelompoknya tersebut. Macam-macam kelompok sosial yaitu: (1) kelompok anggota dan kelompok acuan (membership-reference group) dan (2) Kelompok dalam dan kelompok luar (ingroups-outgroups), selain itu terdapat klasifikasi lain yaitu mayoritas dan minoritas. Identitas sosial merupakan aspek penting yang mempengaruhi pembentukan konsep diri (self concept), dipelajari dari keanggotaan seorang individu dalam sebuah kelompok dan sekaligus mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain. Identitas sosial dipelajari melalui sosialisasi (primer dan sekunder). Tujuh identitas utama yang dimiliki individu (Gudykunst & Kim, 2003) yaitu: (1) Identitas Budaya, meliputi budaya individualis atau kolektivis, (2) Identitas Etnis, yang memicu labelling dan stereotyping, (3) Identitas Gender, meliputi feminin, maskulin, undifferentiated, dan androgynous, (4) Identitas Berdasarkan Keterbatasan, (5) Identitas Usia, kepribadian dan konsep diri seseorang berdasarkan usianya, (6) Identitas Kelas Sosial, berdasarkan pendapatan, pendidikan, pekerjaan, (7) Identitas Peran, meliputi degree of personalness, degree of formality, dan degree of hirearchy. Sedangkan menurut Ting Too-Mey (1999), dalam setiap diri individu terdapat delapan domain identitas yang terklasifikasikan dalam dua tipe, yaitu primary identities dan situational identites. Primary identities merupakan identitas yang sifatnya tetap dan mencakup empat domain identitas, yaitu (1) cultural identity yang berasal dari afiliasi dengan kelompok kultural tertentu; (2) ethnic identity identitas yang diperoleh dari asal-usul nenek moyang dan mengacu pada etnis; (3) gender identity yang menunjukkan image ‘laki-laki’ dan ‘perempuan’; dan (4) personal identity, identitas unik yang hanya dimiliki diri kita. Sedangkan situational identites didefinisikan sebagai identitas yang sifatnya berubah-ubah sesuai konteks dan situasi di mana interaksi tersebut berlangsung. Empat domain identitas yang termasuk dalam situational identity antara lain, (1) role identity, identitas berdasarkan peran yang kita jalankan dalam suatu interaksi; (2) relational identity,identitas yang kita miliki dari ikatan keluarga dan hubungan pertemanan; (3) facework identity, identitas yang berupa image kita dalam interaksi, dan (4) symbolic interaction identity atau identitas yang kita peroleh dari simbol verbal dan nonverbal ketika berkomunikasi.

10 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Studi Kasus
Tentang Asian Fans Club Asian Fans Club (asianfansclub.wordpress.com) adalah blog Indonesia yang berisi tentang berita-berita dunia hiburan Korea, (juga sedikit Jepang dan Taiwan) yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 2009 oleh seorang remaja perempuan bernama Santi Ela Sari. Karena merupakan situs berbasis blog, kebanyakan berita-berita Asian Fans Club merupakan hasil translasi dari situs-situs hiburan Korea resmi seperti newsen.com, nate.com, atau allkpop.com. Posting berita ke dalam situs ini juga bersifat independen dan sukarela dari para kontributor berita yang bertugas mencari berita, menerjemahkannya, dan menampilkannya di situs Asian Fans Club. Seiring perkembangannya, saat ini Asian Fans Club telah memiliki 10 orang kontributor yang betugas menulis berita secara rutin setiap harinya (asianfansclub.wordpress.com, 2010). Berdasarkan data statistik dari situs pagerank Alexa, Asian Fans Club adalah situs Korean Entertainment terbesar di Indonesia. Dari segi karakteristik demografis, pengunjung Asian Fans Club hampir seluruhnya berasal dari Indonesia, sebagian besar merupakan wanita berusia di bawah 25 tahun dengan akses dari internet rumah maupun sekolah (alexa.com, 2010). Jika dilihat dari pengunjung yang berdiskusi atau berkomentar di berita-berita Asian Fans Club, terlihat bahwa penggemarnya merupakan fans dari grup music Korea atau penggemar drama-drama Korea. Selain itu para pengunjung Asian Fans Club kebanyakan juga merupakan salah satu anggota komunitas virtual penggemar grup musik tertentu (fansite). Jika dilihat dari statistik jumlah pengunjung, sampai pada 3 Juni 2011, Asian Fans Club telah dikunjungi sebanyak 42.811.744 pengunjung. Hal ini berarti Asian Fans Club dikunjungi oleh rata-rata 58.646 orang setiap harinya. Jumlah posting dari Juni 2009 sampai Juni 2011 mencapai 16.974 post dengan grafik jumlah post yang terus meningkat setiap bulannya. Pada bulan Juni 2009 tercatat berita yang di post sejumlah 49 berita dalam satu bulan. Setahun kemudian di bulan Juni 2010 jumlah post meningkat pesat menjadi 629 dalam satu bulan dan terus melonjak hingga 1524 post dalam bulan Mei 2011 (asianfansclub.wordpress.com). Intensitas informasi yang terus meningkat ini menghantarkan Asian Fans Club sukses menjadi Top 3 Wordpress Blog of the Day in the World (bersama CBS New York dan TechCrunch.com) disepanjang Agustus-Desember 2010 (botd.wordpress.com, Desember 2010). 11 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Dari segi substansial, situs Asian Fans Club memiliki konsep seperti majalah entertainment online yang menyajikan berita ringan mengenai segala hal yang berhubungan dengan dunia hiburan Korea. Tidak hanya menyajikan tentang drama yang baru tayang dan booming di Korea, lagu terbaru yang dirilis penyanyi Korea, atau film bagus yang diproduksi, situs ini justru lebih banyak menyajikan berita mengenai para artis Korea tersebut. Apa yang dilakukan sang artis, apa yang diucapkan sang artis, sampai gosip dan berita mengenai kehidupan personal artis seperti tipe ideal pasangan, keluarga, dan hal-hal fisik seperti apakah artis tersebut operasi plastik, dan hal-hal trivial lainnya, merupakan hal-hal yang biasanya menjadi berita favorit para penggemar yang terlihat dari jumlah komentar yang ditulis di bawah berita tersebut. Karena tingginya minat dan ketertarikan pada artis Korea dan segala produk budayanya, para penggemar budaya pop Korea ini secara tak langsung akan mempelajari budaya-budaya Korea lainnya, seperti bahasa percakapan yang sederhana (seperti terima kasih, halo, dan lain-lain), makanan-makanan khas Korea, baju tradisional Korea, acara kebudayaan di Korea. Hal ini terbukti dalam berita-berita yang ditulis dan komentar-komentar yang ditinggalkan pengunjung di situs ini selalu terdapat kata-kata dalam bahasa Korea, seperti annyeonghaseo (halo), mianhae (maaf), kamsahamnida (terima kasih), oppa (panggilan dari seorang perempuan untuk lelaki yang lebih tua), unnie (panggilan dari seorang perempuan untuk perempuan yang lebih tua), dan saranghae (aku cinta kamu). Tidak hanya dari segi bahasa yang digunakan, substansi berita dan komentar yang ditulis di situs ini juga menunjukkan fanatisme yang terbentuk dalam diri para penggemar ini., seperti terlihat dalam gambar berikut :

12 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Data-data dan angka di atas bukanlah sesuatu yang bisa dianggap terjadi secara taken for granted dan cukup dianggap sebagai sebuah situs yang fenomenal secara sambil lalu. Data dan angka tersebut menunjukkan fakta bahwa budaya pop Korea hadir dan begitu diterima di kalangan remaja Indonesia, khususnya perempuan. Ketertarikan terhadap budaya pop Korea yang begitu besar telah menjadikan para penggemarnya tidak hanya menikmati produk-produk budaya Korea, seperti lagu, film, dan drama, tetapi juga menginginkan informasi lengkap seputar kegiatan artis dan segala macam aspek kehidupan artis tersebut. Hal tersebut juga menunjukkan fenomena nyata bahwa budaya pop Korea telah menciptakan suatu komunitas tertentu bagi para penggemarnya. Lebih jauh lagi, dalam kelompok-kelompok tersebut telah terbangun sebuah apresiasi bagi segala hal yang berbau dengan Korea, atau dalam bahasa populer disebut sebagai fanatisme. Dengan kata lain, budaya pop Korean telah menciptakan fanatisme dalam diri remaja wanita Indonesia. Berdasarkan gambaran umum masalah ”Korean Wave” yang telah disajikan pada bab pendahuluan dan ilustrasi mengenai dampak ”Koran Wave” yang terepresentasi dalam fenomena situs Asian Fans Club di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan salah satu contoh efek yang diakibatkan oleh komunikasi antar budaya melalui media (mediated intercultural communication) di tingkat global. Efek yang terbentuk di sini adalah fanatisme dalam diri fans Indonesia, yang secara khusus terdiri dari remaja wanita. Dua komponen budaya yang menjadi esensi kajian antar budaya di sini adalah budaya Korea dan budaya Indonesia, khususnya kelompok penggemar budaya Korea yang sebagian besar meliputi wanita dengan usia remaja (di bawah 25 tahun). Budaya Korea diwakili oleh budaya populer Korea seperti lagu, drama dan film, sedangkan budaya Indonesia direpresentasikan oleh kelompok penggemar budaya pop Korea tersebut, yang dalam kasus ini difokuskan pada kelompok penggemar di situs Asian Fans Club, yang sebagian besar merupakan remaja wanita berkebangsaan Indonesia. Oleh karena itu dalam kajian kali ini, level analisis yang digunakan adalah level kelompok atau intergrup, antara kelompok budaya populer Korea dan kelompok penggemar budaya pop tersebut di Indoensia. Satu elemen fundamental lainnya yang harus dipertimbangkan dalam kajian ini adalah elemen media, yang dalam kasus ini berupa internet. Untuk menguraikan permasalahan yang sebenarnya terjadi dalam fanatisme remaja Indonesia terhadap budaya pop Korea tersebut, analisis terhadap kasus ini didasarkan pada berbagai konsep dalam perspektif komunikasi antarbudaya. Fanatisme sebagai Efek Globalisasi Budaya Populer Korea Berdasarkan ilustrasi sebelumnya, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam kasus situs Asian Fans Club tersebut terdapat suatu interaksi antara budaya Korea dengan budaya Indonesia. Budaya Korea masuk ke 13 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

dalam budaya Indonesia. Budaya Korea tersebut secara umum diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, khususnya kelompok budaya wanita dengan usia remaja. Interaksi tersebut menimbulkan efek yaitu terbentuknya kelompok budaya baru yang dalam kajian ini dimaksudkan sebagai kelompok budaya penggemar. Kelompok budaya penggemar ini terbentuk melalui interaksi antara budaya Korea dan media yang mengantarkannya dan cenderung membentuk fanatisme dalam diri mereka. Fanatisme inilah yang mendorong kelompok budaya penggemar mempertahankan nilai-nilai budaya Korea tetap hadir dan diterima di Indonesia melalui situs Asian Fans Club tersebut. Budaya Korea pada dasarnya berbeda dengan budaya Indonesia. Kedua budaya tersebut memiliki warisan kultural dan tradisi yang berbeda, kerangka rujukan yang berbeda. Kesamaan antara keduanya adalah di tataran nilai universal sebagai sebuah bangsa Asia, yang dalam konsep dikotomi budaya individualistikkolektivistik sama-sama sebagai kelompok budaya kolektivistik. Namun, lebih daripada itu, budaya Korea menjadi begitu diterima di Indonesia karena budaya Korea disebarluaskan dalam kemasan budaya pop. Budaya Korea, yang pada dasarnya terdiri dari nilai-nilai tradisional yang cukup kompleks dan beorientasi ritual, agar lebih diterima oleh publik dunia dikemas menjadi sebuah budaya yang diketahui dan diikuti banyak orang, yang pembentukannya berdasarkan kemauan masyarakat untuk diminati oleh masyarakat itu sendiri, dan biasanya sifatnya temporer atau disebut dengan budaya popular (Holliday, dkk, 2004). Sesuai dengan pandangan John Fiske (1989), budaya Korea tersebut menjadi popular karena menyisipkan nilai-nilai budaya universal untuk melahirkan ketertarikan pada banyak orang. Pembentukan budaya popular Korea mencakup proses aktif membentuk dan menyebarluaskan makna bagi kepuasan masyarakat di dalam sebuah sistem sosial. Kepuasan ini diwujudkan dengan mengemas budaya Korea sesuai selera masyarakat. Dalam hal musik, music Korea dikemas dalam genre musik dance pop, yaitu musik pop barat dikombinasikan dengan kemampuan menari dan penampilan fisik yang menawan sehingga dapat menarik hati para penggemar, khususnya wanita. Dalam hal film dan drama, hal yang khas dari Korea ialah menampilkan cerita dengan alur yang dramatis, biasanya mengusung tokoh utama wanita yang berpendirian dan berkemauan keras, dibalut dengan romantisme yang indah tanpa harus menonjolkan sisi erotis sehingga sukses membuat emosi penonton terhanyut dalam cerita. Selain itu, orisinalitas cerita dipadukan dengan penampilan fisik aktor dan aktris yang menawan. Budaya pop Korea yang berkembang di Indonesia ini pun menunjukkan empat karakteristik budaya pop yang dikemukakan oleh Holliday, dkk (2005), yaitu: diproduksi oleh industri budaya di Korea, cenderung berlawanan dengan folk culture Korea yang berupa warisan budaya tradisional yang cenderung kompleks dan sifatnya berorientasi ritual dan non-komersial, keberadaan budaya pop Korea diterima di mana-mana, 14 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

tidak hanya Indonesia tetapi juga sebagian besar Asia bahkan mulai berakjak ke Amerika dan Eropa, dan memenuhi fungsi sosial sebagai pemuas kebutuhan emosional masyarakat akan sebuah hiburan. Budaya populer Korea ini selanjutnya mempengaruhi pemikiran kelompok-kelompok penggemar di Indonesia dan mempengaruhi bagaimana mereka memahami orang atau budaya pop Korea itu sendriri karena budaya pop Korea pada dasarnya merupakan budaya yang jamak diterima. Melalui budaya pop Korea tersebut, kelompok penggemar memahami dinamika budaya dan bangsa Korea sehingga melahirkan suatu budaya baru dalam kelompok penggemar tersebut yang berwujud fanatisme sebagai hasil interaksi dengan budaya pop Korea. Sesuai dengan konsep budaya sebagai kerangka rujukan dalam berperilaku (Gudykunst & Kim, 2003; Ting Too-mey, 1999), budaya pop Korea memiliki kerangka rujukan budaya populer, yaitu sebuah budaya yang timbul sebagai respon atas tuntutan ekspansi ke luar. Sehingga dalam hal ini, budaya pop Korea bukanlah sebuah kerangka rujukan asli yang berasal dari warisan budaya leluhur Korea yang sifatnya asli dan tradisional, melainkan budaya yang diciptakan sesuai dengan arah selera pasar (market-driven). Hal ini disadari mengingat konteks berlangsungnya budaya populer ini adalah dalam konteks globalisasi. Oleh karena berlangsung dalam konteks globalisasi, budaya populer Korea ini selanjutnya meluas ke kelompok budaya lain yang ada di wilayah luar negeri, yaitu Indonesia, melalui penggunaan media, yang dalam hal ini adalah media internet. Di Indonesia sendiri, kelompok-kelompok budaya yang ada telah memiliki suatu kerangka rujukan tersendiri. Namun, setelah terjadinya kontak kebudayaan yang mengacu pada masuknya budaya Korea ke Indonesia, budaya populer Korea ini cukup diterima. Penerimaan sebuah budaya oleh kelompok budaya lain terindikasi dari bertambahnya tingkat pengetahuan suatu kelompok budaya terhadap nilai-nilai budaya luar dan diadopsinya sejumlah nilai-nilai budaya luar tersebut untuk digunakan sebagai kerangka rujukan dalam kelompok budayanya. Dalam konsepsi budaya sebagai enigma (Ting Too-Mey, 1999), budaya populer yang dibawa oleh Korea ini berada dalam dimensi konkret yang terwujud dalam artifak-artifak budaya seperti lagu, drama, film, musik, program televisi, makanan, dan bahasa. Sedangkan dimensi abstraknya, yang berupa nilai, norma, kepercayaan, tradisi, makna, terkandung secara tidak langsung dalam artifak budaya tersebut. Dalam kaitannya dengan fanatisme yang terbentuk dalam situs Asian Fans Club, penerimaan budaya pop Korea oleh kelompok penggemar di Indonesia dapat dikatakan masih berada dalam dimensi konkret, yaitu penerimaan terhadap musik, film, drama, dan artis-artis Korea. Tentu saja, internalisasi nilai-nilai budaya ketika mengkonsukmsi artifak kebudayaan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan, tetapi dapat terlihat bahwa fanatisme yang terbentuk dalam diri kelompok penggemar, yang tercermin dari situs Asian Fans Club, memiliki keterbatasan efek dalam dimensi abstrak. Budaya pop Korea di Indonesia masih terwujud dalam 15 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

penerimaan terhadap musik, film, dan dramanya, ataupun penggunaan bahasanya secara sederhana, tetapi belum sampai pada pelaksanaan tradisi atau kepercayaan yang sesuai budaya Korea. Merujuk pada konsepsi lima fungsi budaya Ting Too-Mey (1999), dalam kasus situs Asian Fans Club ini dapat diidentifikasi adanya tiga fungsi budaya pop Korea yang yang berkembang di dalamnya, yaitu (1) identity meaning function, yang berarti bahwa budaya pop Korea berfungsi sebagai atribut dan penanda yang menunjukkan identitas kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club melalui adanya penerimaan dan kesenangan yang sama terhadap budaya pop Korea, (2) group inclusion function, yaitu situs Asian Fans Club menjadi media pemenuhan kebutuhan informasi tentang budaya pop Korea dan sarana untuk berafiliasi dengan penggemar lainnya menjadi suatu kelompok khusus yang mengadopsi budaya pop Korea sebagai kerangka rujukan dan membentuk perasaan menjadi bagian dalam kelompok tersebut (sense of belonging), tercermin dari kalimat dan bahasa yang digunakan para penggemar tersebut yang menunjukkan adanya perasaan dekat dengan para artis Korea, (3) cultural communication function, di mana budaya pop Korea berpengaruh pada cara berkomunikasi kelompok penggemar di situs Asian Fans Club tersebut yaitu dnegan menggunakan bahasa Korea dan komunikasi tersebut pun mempengaruhi budaya kelompok penggemar tersebut melalui penguatan nilai-nilai budaya Korea dalam diri mereka. Seperti telah disebutkans secara singkat sebelumnya, fanatisme kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club ini berakar dari adanya globalisasi budaya pop Korea, atau “Korean Wave”. Sesuai dengan pandangan Steger (2003) yang menyebutkan globalisasi merupakan proses yang multidimensional, kasus “Korean Wave” di Indonesia merupakan perwujudan globalisasi sebagai dalam dimensi komunikasi dan budaya. Globalisasi dalam dimensi komunikasi dalam kasus ini terjadi karena adanya proses mengkreasikan, menggandakan, menekankan dan mengintesifikasi pertukaran dan ketergantungan informasi mengenai dunia hiburan Korea di Indonesia, tempat yang notabene berjarak jauh dari Korea. Globalisasi dalam komunikasi ini terwujud melalui media, yang dalam hal ini adalah internet. Internet dalam menjadi krusial karena proses kreasi dan intensifikasi informasi budaya tersebut berlangsung melalui internet mengingat pergerakan arus informasi di internet yang sangat bebas, luas, cepat, dan tak terbatas karena dalam internet informasi tak mengenal batas jarak, ruang, dan waktu. Dalam situs Asian Fans Club, informasi yang diperoleh bukanlah dari sumber asli atau dari artis-artis Korea secara langsung, melainkan berita dari situs lain yang lebih besar kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ternyata berita-berita tersebut sangat diminati oleh kelompok-kelompok penggemar budaya Korea di Indonesia, jauh lebih digemari daripada berita yang berasal dari situs-situs berita luar negeri yang berbahasa Inggris.

16 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Di sini artinya terdapat suatu proses kreasi, penggandaan, dan intensifikasi pertukaran dan ketergantungan informasi mengenai dunia hiburan Korea. Ketergantungan kelompok-kelompok penggemar budaya Korea terhadap produk-produk komunikasi dan informasi seperti film, musik, acara televisi dari Korea ini diakomodasi oleh hadirnya situs Asian Fans Club yang dalam konteks ini berperan sebagai media. Informasiinformasi yang dibawa situs Asian Fans Club pada dasarnya turut memperkenalkan norma dan nilai-nilai budaya Korea, yang ditampilkan melalui fim, musik, drama, program TV dan bahkan kegiatan para artis-artis Korea yang turut menjadi komoditas berita tersebut. Hal ini mengakibatkan kelompok-kelompok penggemar di situs Asian Fans Club memperoleh pengetahuan yang semakin besar tentang budaya Korea. Tingkat pengetahuan yang semakin besar pada budaya Korea ini pada akhirnya menjadikan kelompok penggemar tersebut mengadopsi budaya Korea sebagai kerangka rujukan mereka atau dengan kata lain, sebagai media, situs Asian Fans Club ini sukses mengintensifikasi internalisasi nilai-nilai budaya Korea ke dalam diri masyarakat Indonesia, khususnya kelompok penggemar budaya Korea. Dalam proses ini dapat terlihat adanya dialektika antara budaya dan media, sesuatu yang sebenarnya telah menjadi tema perdebatan yang cukup abadi (McLuhan, 1964), yaitu budaya yang mengakibatkan adanya media atau media yang membentuk budaya. Dalam kasus Asian Fans Club, situs ini muncul karena adanya kebutuhan dari kelompok-kelompok penggemar untuk selalu memperoleh informasi terbaru mengenai budaya pop Korea dan artis-artis yang digemarinya. Artinya dalam hal ini, adanya kebutuhan atau budayalah yang mendasari berkembangnya media atau situs Asian Fans Club tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagai sebuah media, situs Asian Fans Club juga mengintensifikasi pertukaran makna dalam kerangka budaya Korea sehingga meningkatkan tingkat pengetahuan terhadap budaya Korea yang selanjutnya meluas kepada dan berujung pada penguatan nilai-nilai budaya Korea dalam diri anggota kelompok penggemar tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa media atau situs Asian Fans Club lah yang turut membentuk kerangkan rujukan budaya baru atau budaya popular Korea bagi kelompok-kelompok penggemar ini (media membentuk budaya). Dengan demikian dapat diketahui bahwa interaksi antara budaya pop Korea dalam diri kelompok penggemar Indonesia dengan situs Asian Fans Club (media) ini bersifat resiprokal atau timbal balik. Budaya pop Korea telah memunculkan media atau situs Asian Fans Club dan situs Asian Fans Club menguatkan nilai budaya tersebut sehingga semakin luas dan intensif yang selanjutnya berkembang dan berkencenderungan menjadi sebuah fanatisme. Fanatisme sebagai Efek Komunikasi Antar Budaya Secara general, komunikasi antarbudaya merujuk pada proses pertukaran makna melalui simbol-simbol di antara orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda (Gudykunst & Kim, 2003; Ting Too-Mey, 1999). 17 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Definisi ini pada dasarnya merupakan definisi yang terbatas karena pada akhirnya mengantarkan komunikasi antar budaya pada kecenderungan sebagai komunikasi interpersonal antara dua orang dari kelompok budaya yang berbeda dan sifatnya harus interaktif atau dua arah. Definisi ini kurang relevan jika dikaitkan dengan mediated intercultural communication atau komunikasi antar budaya yang berlangsung melalui media, seperti halnya proses globalisasi budaya populer melalui media internet, karena tidak selamanya KAB tersebut berlangsung bersifat interpersonal dan interaktif. Terlebih lagi, dalam kajian KAB yang berlangsung dalam media terdapat dua level analisis, yang pertama adalah analisis dalam taratan komunikasi antar budaya dan yang kedua tataran komunikasi massa. Oleh karena itu, dalam mediated intercultural communication, komunikasi antar budaya didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang yang terpengaruh oleh kelompok budaya yang berbeda menegosiasikan makna. Dengan merujuk pada definisi ini, fanatisme terhadap budaya pop Korea yang tercipta di situs Asian Fans Club dapat dipandang sebagai efek dari sebuah proses komunikasi antar budaya. Dalam hal ini komunikasi antar budaya yang terjadi bersumber dari budaya pop Korea kepada negara-negara lain di Asia yang tertuang dalam konsep globalisasi budaya Korea (hallyu). Di Indonesia, subjek yang menjadi receiver atau penerima makna-makna yang disampaikan budaya pop Korea tersebut sebagaian besar adalah kelompok wanita dengan usia remaja. Kelompok penerima budaya Korea ini semakin intens menerima pesan-pesan budaya yang dibawa oleh produk-produk budaya pop Korea seperti musik, film, dan drama, dan akhirnya menjadikan mereka sebagai penggemar. Oleh karena sifatnya yang global, KAB budaya pop Korea kepada kelompokkelompok penggemarnya di negara lain diasumsikan sebagai komunikasi antar budaya satu arah dari Korea ke Indonesia dengan menimbulkan efek yang satu arah pula, yaitu tercipatanya fanatisme dalam diri kelompok-kelompok penggemarnya. Komunikasi antar budaya yang terjadi dari budaya pop Korea ke Indonesia ini menimbulkan efek dalam tataran kognitif yaitu semakin tingginya tingkat pengetahuan kelompok penggemar di Indonesia terhadap budaya Korea, di tataran afektif yaitu munculnya perasaan senang, mengagumi, dan bahkan bisa sampai pada taraf membutuhkan budaya pop Korea tersebut, serta di tataran behavioral yaitu memunculkan pola-pola perilaku yang merujuk pada budaya pop Korea tersebut. Terkait dengan situs Asian Fans Club, fanatisme yang tercipta dalam situs tersebut mengindikasikan efek budaya pop Korea yang telah sampai pada tataran perilaku. Dengan adanya komunikasi dari budaya pop Korea ke Indonesia, kelompok penggemar di Indonesia mulai terpengaruh secara bertahap. Adanya situs Asian Fans Club menjadikan kelompok penggemar ini dapat mengetahui segala hal yang berhubungan dengan dunia hiburan Korea, kemudian Asian Fans Club memfasilitasi kebutuhan akan kesenangan dalam menikmati budaya pop Korea ini, selanjutnya komunikasi antar budaya yang terus intens dilakukan melalui 18 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

situs Asian Fans Club menjadikan kelompok penggemar di Indonesia mengembangkan pola perilaku komunikasi tertentu, seperti penggunaan bahasa Korea, interaksi yang intens antar sesama penggemar, penyebarluasan budaya pop Korea pada orang lain baik yang telah menjadi penggemar maupun belum, sampai pada tata cara komunikasi yang merujuk pada budaya Korea seperti panggilan unnie atau oppa. Dalam KAB, perbedaan budaya di antara dua pihak yang berkomunikasi berimplikasi pada adanya perbedaan sistem simbol dan bagaimana mereka memaknai simbol tersebut dan cara interpretasi makna yang berbeda sangat memungkinkan terjadinya mispersepsi dan miskomunikasi sehingga komunikasi menjadi tidak efektif. Namun, berdasarkan fakta yang ada, komunikasi antar budaya yang dilakukan oleh budaya pop Korea ke Indonesia dapat dipandang sebagai KAB yang cenderung efektif. Efektivitas tersebut ditunjukkan oleh besarnya pengaruh budaya pop Korea terhadap publik Indonesia, yaitu dengan munculnya kelompok penggemar yang diterima secara luas dan bahakan mengadopsi nilai-nilai budaya Korea tertentu sebagai referensi mereka, serta efek yang paling penting, yaitu adanya upaya difusi dan preservasi terhadap budaya pop Korea. Menariknya, upaya tersebut tidak dilakukan oleh pihak sumber atau dalam hal ini dari pihak Korea, tetapi oleh pihak receiver atau kelompok-kelompok penggemar ini. Upaya tersebut dilakukan secara sadar, voluntary, dan tanpa orientasi komersial karena yang menjadi tujuan adalah mengkomunikasikan budaya pop Korea tersebut sehingga dapat diterima secara luas oleh publik Indonesia. Situs Asian Fans Club merupakan salah satu bukti nyata efektivitas KAB yang dilakukan budaya Korea yang sukses membentuk fanatisme fans budaya pop Korea di Indonesia. Efektivitas tersebut menunjukkan bagaimana budaya pop Korea justru disebarkan dan dilestarikan oleh kelompok penggemar di Indonesia (peer-to-peer). Komunikasi Antar Budaya merupakan sebuah proses yang berlangsung kompleks, dalam konteks sosial. Oleh karena itu, ia tak berdiri di ruang vakum, tetapi dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Begitu pula dalam KAB antara Korea-Indonesia ini. Dengan merujuk pada faktor-faktor pengaruh yang disimpulkan oleh Gudykunst dan Kim (2003), dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya Korea-Indonesia adalah pengaruh budaya dan pengaruh sosiobudaya. Pengaruh Budaya Pengaruh budaya yang terdapat dalam komunikasi antara budaya pop Korea dengan kelompok penggemar di Indonesia ini mengacu pada dimensi kebudayaan individualisme-kolektivisme. Efektivitas KAB yang dilakukan budaya pop Korea ke Indonesia dapat terjadi karena adanya pengaruh persamaan budaya antara Indonesia dan Korea. Budaya pop Korea dapat diterima dengan luas oleh penggemar di Indonesia karena Indonesia dan Korea latar belakangnya sama-sama berada dalam dimensi budaya kolektivis. Latar belakang budaya yang sama membentuk semacam cultural proximity atau kedekatan secara kultural antara Indonesia 19 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

dan Korea. Karena sama-sama berada dalam dimensi kolektivis, konten budaya pop Korea lebih merepresentasikan dengan nilai-nilai budaya lokal Indonesia. Cerita-cerita yang terdapat dalam drama Korea dapat menggambarkan secara nyata karakteristik masyarakat Asia secara umum. Penampilan fisik para artisartis Korea ini juga dekat dengan kultur Indonesia. Hal ini terkait dengan karakteristik kebudayaan kolektivis cenderung memiliki preferensi penilaian yang lebih baik bagi anggota in-group-nya (subjektif). Kebudayaan kolektivis juga menekankan tujuan, kebutuhan, dan pandangan in-group terhadap anggotanya serta memprioritaskan norma sosial in-group itu dibanding kepentingan anggotanya. Hal ini terlihat dari fanatisme yang ada pada situs Asian Fans Club. Konten yang terdapat dalam situs tersebut berupaya menekankan pada tujuan dan kebutuhan in-group atau para penggemar budaya pop Korea dengan menybarluaskan budaya pop Korea tersebut. Dimensi kolektivis itu juga terwujud dalam konformitas pandangan yang akhirnya membentuk preferensi pada budaya pop Korea dibandingkan budaya-budaya pop Barat. Preferensi ini ditanamkan oleh situs Asian Fans Club melalui pandangan-pandangan yang tertuang dalam komentarkomentar penggemar budaya pop Korea. Pengaruh Sosiobudaya Dari segi sosiobudaya, dapat kita asumsikan bahwa terjadinya efektivitas komunikasi antar budaya KoreaIndonesia ini tidak dapt dilepaskan dari faktor budaya dalam kondisi sosial yang berlaku di masyarakat (faktor sosiokultural). Pengaruh ini dapat dilihat dari dua hal, yatu kelompok sosial dan identitas sosial. Dalam kajian KAB, kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club dapat dipandang sebagai kelompok sosial, yaitu sekumpulan individu yang saling berbagi pengalaman dan mempertukarkan makna dalam simbol yang berupa artifak budaya pop Korea seperti film, drama, dan musik Korea. Keanggotaan yang berawal dari persamaan nila-nilai dan perasaan terhadap simbol yang sama ini akhirnya membentuk keterikatan dan identitas sosial dalam kelompok tersebut. Berdasarkan klasfikasi kelompok sosial, dapat dilihat bahwa bagi kelompok penggemar di Indonesia yang terdapat dalam situs Asian Fans Club, budaya pop Korea merupakan kelompok budaya rujukan (reference group) atau kelompok yang digunakan sebagai standar penilaian maupun acuan bagi pembentukan sikap, dengan kerangka rujukannya adalah konten yang terdapat dalam budaya pop tersebut. Selain itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi ingroup-outgroup, hubungan antara kelompok budaya pop Korea dengan kelompok penggemar di Indonesia adalah hubungan in-group, yaitu kelompok di mana seseorang mengasosiasikan diri dan anggota-anggotanya bersedia memperjuangkan kepentingan kelompok tanpa meminta balasan yang setimpal. Hal ini ditunjukkan oleh para kontributor situs Asian Fans Club yang mendirikan, menyebarluaskan, dan menjaga “Korea Wave” ini tanpa diminta karena mereka menganggap bahwa budaya pop Korea telah menjadi in-group mereka.

20 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Konsep identitas sosial juga merupakan aspek penting yang tak boleh luput ketika kita menganalisis fenomena fanatisme dalam komunikasi antar budaya Indonesia-Korea ini. Berdasarkan konsep tujuh identitas sosial Gudykunst & Kim (2003) dan delapan domain identitas Ting Too-Mey (1999), kita dapat mengkaji hubungan antara identitas sosial yang melekat pada kelompok penggemar di situs Asian Fans Club dan identitas sosial budaya pop Korea : 1. Identitas Budaya atau cultural identity, meliputi budaya individualis atau kolektivis. Dalam hal kedua budaya sama-sama menunjukkan identitas kultural sebagai budaya kolektivis. Kolektivisme budaya ini tertuang dari konten budaya pop Korea yang biasanya menekankan pada hubungan percintaan, ikatan keluarga yang kuat, dan pentingnya ikatan persahabatan. Konten tersebut menunjukkan cultural proximity dengan kelompok penggemar di Indonesia yang semakin memperbesar efek budaya pop Korea. 2. Identitas Gender atau gender identity yang menunjukkan image ‘laki-laki’ dan ‘perempuan’, meliputi feminin, maskulin, undifferentiated, dan androgynous. Identitas gender yang yang terbetuk pada budaya pop Korea ini cenderung memiliki image feminine. Hal ini terlihat dari drama Korea yang kebanyakan mengangkat tokoh wanita, penampilan fisik tokoh pria yang menawan dan memiliki image penyayang wanita, juga dari lagu-lagu Korea yang cenderung mengangkat tema romantis. Begitu pula dengan identitas gender kelompok penggemarnya. 3. Identitas relasional atau relational identity yaitu identitas yang kita miliki dari ikatan keluarga dan hubungan pertemanan. Dalam kasus ini, identitas relasional dimiliki oleh kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club. Identitas relasional ini terbentuk karena adanya efek yang ditimbulkan oleh persebaran budaya pop Korea. Identitas relasional yang terbentuk dalam pada kelompok penggemar ini terwujud dalam ikatan di antara mereka berdasarkan kesamaan ketertarikan terhadap budaya pop Korea. 4. Identitas pencitraan atau facework identity berupa image atau pencitraan yang timbul dalam interaksi, di mana citra budaya pop Korea di mata para anggota kelompok penggemarnya adalah budaya yang menarik dan representatif dengan kehidupan mereka. Citra budaya pop Korea sebagai suatu budaya yang menarik ini turut dibentuk dan disebarkan oleh kelompok penggemarnya sendiri, seperti kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club ini.

21 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Penutup
Berdasarkan uraian konseptual dan hasil analisis yang dilakukan, penulis merumuskan beberapa kesimpulan terkait dengan efek globalisasi budaya pop Korea pada kelompok penggemar di situs Asian Fans Club dalam perspektif komunikasi antar budaya. Beberapa kesimpulan yang diperoleh antara lain, 1. Meluasnya budaya Korea di Indonesia disebabkan oleh adanya globalisasi budaya pop Korea (hallyu). Dalam globalisasi budaya Korea, media memainkan peran penting yang sangat penting karena medialah yang membawa nilai-nilai budaya Korea ke dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, media yang berperan besar adalah internet dengan bermunculannya kelompok-kelompok penggemar budaya pop Korea, di mana yang terbesar adalah situs Asian Fans Club. 2. Fanatisme yang terbentuk dalam situs Asian Fans Club merupakan efek yang ditimbulkan oleh komunikasi antar budaya dari budaya pop Korea kepada para penggemarnya di Indonesia. Efek meluasnya budaya pop Korea di Indonesia terbagi dalam tiga tataran, yaitu tataran kognitif, afektif, dan perilaku. Efek budaya pop Korea pada kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club diawali dari meningkatnya pemahaman kultural terhadap budaya pop Korea yang dibawa melalui media internet atau situs Asian Fans Club itu sendiri, kemudian menumbuhkan ketertarikan terhadap budaya pop Korea, dan beranjak pada pola perilaku komunikasi yang berujung pada upaya difusi dan preservasi budaya pop Korea oleh kelompok penggemar itu sendiri. 3. Dalam perspektif komunikasi antar budaya, komunikasi antara budaya pop Korea dengan kelompok penggemar di Indonesia merupakan komunikasi yang efektif karena berhasil menanamkan nilai-nilai budaya Korea dalam diri anggota kelompok penggemar dalam situs Asian Fans Club. Efektivitas komunikasi antar budaya antara budaya pop Korea dengan kelompok penggemar ini dipengaruhi oleh faktor budaya, yaitu adanya cultural proximity, dan faktor sosiobudaya, yaitu keterkaitan identitas sosial antara dua kelompok.

22 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

Daftar Referensi
Alexa Website Information. (2010, 27 Desember). http://www.alexa.com/siteinfo/asianfansclub.wordpress.com# Cho, Chul Ho. (2010). “Korean Wave in Malaysia and Changes of the Korea-Malaysia Relations”, Malaysian Journal of Media Studies Vol. 12(1) : 1–14. EyeIndonesia.com. (2010). “Waspada! Hallyu Mengguncang Dunia!”. http://www.eyeindonesia.co.cc/2010/01/ waspada-hallyu-korean-wave-mengguncang.html Gudykunst, William B and Young-yun Kim. (2003). Communicating with Strangers : An Approach to Intercultural Communication. Fourth Edition. Boston : McGraw Hill. Huang, Xiaowei. (2009). “Korean Wave — The Popular Culture, Comes as Both Cultural and Economic Imperialism in the East Asia”, Journal of Asian Social Science Vol.8 (5) : 123-130. Kim, Do-Goan. (1998). TV, Culture, and Audience in Korea : A Reception Study of Korean Drama. Texas City : Graduate Faculty of Texas Tech University. Kluver, Randy. (2002). “Globalization, Informatization, and Intercultural Communication”, Communication Journal Vol. 3 (3) American

Martin, Judith N and Thomas K. Nakayama. (2004). Intercultural Communication in Contexts. Boston: McGraw Hill. Rakhmat, Jalaludin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda Karya. Shim, Doobo. (2006). ”Hibridity and The Rise of Korean Popular Culture in Asia”, Media, Culture, and Society Vol. 28 (1) : 25-44. London : SAGE Publication. Steger, Manfred B. (2003). GLOBALIZATION: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press Inc. Sung, Sang-yeon. (2008, 4 Februari). “The High Tide of the Korean Wave III: Why do Asian fans prefer Korean pop culture?” The Korea Herald. Ting Too-Mey, Stella. (1999). Communicating Across Culture. New York: The Guildford Press. Yasumoto, Seiko . (2006). ”The Impact of the Korean Wave on Japan : A Case Study of The Influence of TransBorder Electronic Communication And The Trans-National Programming Industry”, Paper presented on 16th Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia in Wollongong 26 - 29 June 2006.

23 | “ K o r e a n W a v e ” d i I n d o n e s i a : S e b u a h K a j i a n K o m u n i k a s i A n t a r b u d a y a

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->