P. 1
Tokoh-Tokoh Falsafah Pendidikan Islam

Tokoh-Tokoh Falsafah Pendidikan Islam

|Views: 100|Likes:
Published by Fong Kai Hung

More info:

Published by: Fong Kai Hung on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2013

pdf

text

original

A. Pendidikan Islam Menurut Beberapa Tokoh Islam 1. Pendidikan Islam Menurut Ibnu Taimiyah a.

Beografi Singkat Ibnu Taimiyah

Nama lengkap Ibnu Taimiyah adalah Taqiyuddin Ahmad Bin Hambal Bin Abdul Alhalim Bin Abdillah Bin Al-Khadir Bin Muhammad Bin Alkhadr Bin Ali Bin Abdillah Taimiyah. Dilahirkan pada 10 Robi’ul Awwal 661 H bertepatan dengan 22 Januari 1263 M. wafat di Damaskus pada tanggal 20 Dzulhijjah 728 H bertepatan dengan 26 September 1328. Jadi beliau berumur sekitar 65 tahun. Dia merupakan putra dari Syihab Addin Abd-Al Halim Ibnu Abd Salam yang merupakan ulama besar yang mempunyai kedudukan tinggi di Masjid Agung Damaskus.1 Sebagian banyak ilmu yangbeliau dapatkan dari ayahnya sendiri serta dari beberapa guru beliau diantaranya: Ibnu Abuddayyim dan Ibnu Abi Yasir. Yang paling banyak dipelajari adalah Ilmu Hadist dan Fiqih terutama madzhab Hambali.
b. Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Pendidikan Islam

Pemikiran Ibnu Taimiyah tentang pendidikan islam berkisar pada beberapa hal yaitu falsafah pendidikan, tujuan pendidikan serta metode pengajaran.2 1) Falsafah Pendidikan Islam Falsafah pendidikan menurut beliau adalah ilmu yang bermanfaat merupakan asas bagi kehidupan yang cerdas dan unggul. Sementara memeprgunakan ilmu itu dapat menjamin kelestarian dan kelangsungan masyarakat, tanpa itu masyarakat akan terjerumus ke dalam kehidupan yang sesat. Jadi ilmu yang bermanfaat intinya adalah mengajak pada kehidupan yang benar yang diarahkan pada hubungan dengan Tuhan serta dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan makhluk serta memperteguh rasa kemanusian. 2) Tujuan Pendidikan Islam Tujuan pendidikan Islam yang harus dicapai menurut Ibnu Taimiyah meliputi tiga hal: a) Tujuan Individual
1 Nata Abudin, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, PT. Grafindo Persada, Jakarta, 2000. hal.137 2 Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Kencana, Jakarta, 2005. hal.85

1

Pribadi yang baik menurutnya adalah pribadi yang sempurnah kepribadiannya yaitu mereka yang lurus jalan pikiran serta jiwanya. Hal ini didasarkan bahwa Al Qalb (hati) merupakan alat utama untuk belajar. saling membantu. Pemikiran tersebut dimulai dari hati dan akan berakhir di hati. b) Tujuan Sosial Bahwa pendidikan Islam harus diarahakan pada terciptanya masyarakat yang baik dan sejalan dengan ketentuan alQur’an dan as Sunnah dimana manusia bisa hidup bersama dengan orang lain. Hal ini didasarkan bahwa Allah mengutus para Rasulnya untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. saling menasehati serta membantu mengatasi masalah orang lain dan lain sebagainya.Tujuan pendidikan harus diarahkan pada terbentuknya pribadi yang baik. 4) Kurikulum 2 . kuat jiwanya serta sanggup menajalankan perintah Alloh SWT. merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang ada pada al Qur’an dan as Sunnah. c) Tujuan Dakwah Islamiyah Tujuan pendidikan harus bisa mengarahkan Ummat agar siap dan mampu memikul tugas dakwah islamiyah keseluruh dunia. dan ketika Iradah (kehendaknya dalam melakukan sesuatu) bermula di dalam hati menuju kesemua anggota badan dan pada puncaknya penggunaan daya tersebut di dalam akal. Hati sendiri menurut beliau memiliki dua daya yaitu Daya Ilmiyah (daya berfikir) dan Daya Al-Iradiyah yaitu kecendrungan untuk mengamalkan apa yang dipikirkan. sehingga segenap manusia mau menerima dan mengikuti ajarannya. 3) Metode Pengajaran Menurut Ibnu Taimiyah secara garis besar metode pengajaran dapat dibagi dua hal yaitu Metode Ilmiyah dan Metode Iradiyah. Dengan demikian akal merupakan sifat yang terdapat pada hati yaitu pemikiran dan kemauan. yaitu seorang yang berfikir. Hatilah yang mengendalikan semua angota badan dan mengarahkan jalannya. bersih keyakinannya.

Beografi Singkat Ibnu Khaldun Nama lengkap Ibnu Kaldun adalah Abdurrahman Zaid Waliyuddin Bin Khaldun. nama kecilnya adalah Abdurrahman. lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan732 H. bahkan ilmu yang ada di perguruan tinggi juga beliau capai seperti filsafat.Pendidikan Islam Menurut Ibnu Kaldun3 a. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. ilmu tafsir dan hadist. Lebih jelasnya kurikulum seharusnya sejalan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pendidikan itu sendiri. bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M. 2.Secara umum menurut Ibnu Taimiyah. Fiqih madzhab Maliki. Berbagai macam disiplin ilmu agama telah beliau pelajari seperti ilmu bahasa Arab. b. kurikulum seharusnya mengarahkan peserta didik ke arah yang sesuai dengan tuntunan agama Islam. d) Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong untuk mengetahui perbuatan-perbuatan Allah. c) Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong manusia mengetahui secara mendalam (ma’rifat) terhadap kekuasaan Allah. fisika dan matematika dsb. Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan Islam 1) Falsafah Pendidikan Islam 3 Nata Abudin. Menurut beliau kurikulum secara ringkas memuat beberapa hal sebagaimana berikut ini: a) Kurukulum yang berhubungan dengan mengesakan Tuhan b) Kurikulum yang berhubungan dengan mengetahui secara mendalam terhadap ilmu-ilmu Allah. sedangkan Zaid adalah nama pangilan keluarga sedangkan waliyuddin merupakan kehormatan yang dianugrahkan oleh raja Mesir sewaktu beliau diangkat menjadi ketua pengadilan di Mesir. hal 153 3 .

namun lebih jauh dari pada itu semua yaitu seseorang harus mengamalkannya dalam akhlak sehari-hari serta memiliki kemampuan untuk bisa berkreasi dan bekerja demi kehidupannya. 4 . b) Anak didik ikut interaktif dalam pemecahan masalah dan pengetahuan yang bersifat umum tadi dengan bantuan pendidik.Pendidikan menurut Ibnu Khaldun intinya bukanlah suatu aktivitas yang sematamata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek. dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. pendidik hendaknya memberikan pengetahuan dan problem secara umumnya saja secara menyeluruh. menyerap. 3) Metode Pengajaran Metode pengajaran yang ditawarkan oleh Ibnu Khaldun melalui tiga langkah pokok: a) Didalam memberikan pengetahuan kepada anak didik. c) Pendidik menyampaikan pengetahuan secara detaial dan lebih terperinci serta menyeluruh agar anak didik mendapat pengetahuan yang lebih sempurnah. 2) Tujuan Pendidikan Islam Tujuan pendidikan islam menurut Ibnu Khaldun adalah meliputi ma hal: a) Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan.aspek pragmatis dalam kehidupan labih jelasnya pendidikan bukan harus dibatasi dalam hal belajar mengajar melainkan suatu proses dimana manusia secara sadar menangkap. b) Menyiapkan seseorang dari segi akhlak c) Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan dan sosial d) Menyiapkan seseorang dari segi pekerjaan e) Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran dan kesenian supaya bisa berkreasi Jadi tujuan pendidikan bukan hanya untuk mencapai ilmu pengetahaun saja.

Wonokoyo Probolinggo. dimana dalam penyampaian pembelajaran. 5 . Hadi Karya Agung. Pendidikan Islam Menurut Hasyim Asy’ari a.4 Beliau belajar agama dimulai dari ayahnya sendiri yaitu Kyai Asy’ari dan kakeknya yaitu Kyai Utsman.Maka dari keterangan itulah. 4) Kurikulum Kurikulum pada menurut Ibnu Khaldun adalah mencakup 4 hal diantaranya harus sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan. yaitu pengkombinasian pembelajaran al Qur’an dan bahasa Arab dengan kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan 3. Jakarta 1985. hal 234 5Ibi d. Yang terpenting menurut beliau adalah kurikulum dasar yakni berupa kurikulum campuran yang harus dipegang bagi anak-anak pada umumnya. tepatnya pada tanggal 24 Dzulhijjah 1287 H bertepatan tanggal 14 februari 1871 M. Kemudian kembali ke tanah air dengan mendirikan pondok pesantren Tebuireng Jombang pada tahun 1899 M. Pemikiran seperti itu diilhami oleh imam Ghoyali dimana beliau lebih menekankan 4 Yunus Muhammad. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia. bertumpu pada ilmu pengetahuan.5 b. Pemikiran Hasyim Asy’ari Tentang Pendidikan Islam 1) Falsafah Pendidikan Islam Pendidikan Islam intinya adalah niat dan amal serta yang lebih penting adalah harus didasari oleh etika dalam pendidikan. trenggilis Semarang Bangkalan Madura. Kemudian beliau merantau keberbagai macam pondok pesantren di Indonesia. pendidik bukanlah satu-satunya orang yang berperan aktif namun anak didik juga diikut sertakan dalam proses pembelajaran dan pemecahan masalahnya. makhlumat-maklumat (pembelajaran melalui kitab-kitab tradisional) serta memberikan tambahan berupa kegiatan-kegiatan penunjang. Beliau juga berguru ke Makkkah tentang ilmu hadist dan bahasa Arab kepada Syeh Ahmad Khattib dan Syeh Mahfud Attarmisi sekitar sembilan tahun. Siwalan panji kabupaten Sidoarjo. diantaranya Langitan Tuban. Ibnu khaldun menawarkan metode yang bersifat diskusi. Beografi Singkat Hasyim Asy’ari Hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa Nggedang Jombang Jawa Timur.

Hal ini beliau lakukan guna memformalkan pendidikan Islam yang akan diterima oleh peserta didik. Yang kedua. b) Sistem Madrasah. hal ini menafikan sistem pendidikan sebelumnya yang menggunakan Musholla ataupun Masjid sebagai lahan utama terbentuknya pembelajaran. Metode ini meskipun buhan hal baru nampaknya. peserta didik harus memiliki akhlak yang baik. 3) Metode Pengajaran Ada dua gagasan besar yang dicetuskan oleh Hasyim Asy’ari dalam segi metode pembelajaran di pesantren yang beliau didirkan. jadi metode mausyawarah dan diskusi yang ditawarkan beliau merupakan metode baru yang praktis untuk menunjang kreatifitas dan kritisitas peserta didik. Jadi selain mengamalkannya. diantaranya: a) Metode Musyawarah atau Diskusi. Sistem madrasah dilakukan di dalam kelas.hati demi lancarnya proses belajar mengajar. Lebih penting pula bahwa peserta didik harus memiliki etika dalam proses belajar mengajar baik terhadap guru. diantaranya pelajaran yang bisa memberikan perbaikan hati (batin) sehingga peserta didik dapat mudah menerima pelajaran serta dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kurikulum pendidikan Islam versi beliau meliputi beberapa hal. teman maupun kitab yang dipelajari. Dengan tidak mengesampingkan kebahagiaan dunia dan akhirat. 4) Kurikulum Meskipun tidak dengan jelas disebutkan bagaimana kurikulum yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari. Sehingga dalam hal ini Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa dalam belajar hati harus ditata untuk mencapai ridhonya Allah SWT. namun kurikulumnya nampak pada praktek dilapangan selama ini. 6 yakni pembelajaran yang mengarahkan pada terbentuknya akhlakul . 2) Tujuan Pendidikan Islam Tujuan pendidikan haruslah berorientasi pada pengamalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. namun bagi beliau ini merupakan gagasan yang cukup fenomenal mengingat selama ini metode pembelajaran pendidikan dilakukan melalui metode ceramah saja.

Jadi baik tidaknya anak didik tergantung lingkungan disekitarnya. baik hubungan dengan Allah maupun dengan sesamanya. Tujuan Pendidikan Islam Mengenai tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan Islam. Hal senada juga didukung pendapatnya Hasyim Asy’ari dimana pendidikan Islam harus berorientasi pada tercapainya Ridhonya Allah SWT. Dimana tujuan pendidikan Islam harus mampu membentuk pribadi yang lebih baik. Namun berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Ibnu Kaldun mengenai falsafah pendidikan Islam itu sendiri. terutama dalam proses belajar mengajar. seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah beliau lebih mengedepankan pendidikan Islam itu orientasinya kepada hubungan baik kepada Allah serta masyarakat sekitarnya. Jadi semua sepakat bahwasanya orientasi dan tujuan pendidikan Islam tidak hanya dikhususnya untuk memikirkan akhirat saja. Studi Komparatif Pemikiran Beberapa Tokoh Islam Terhadap Pendidikan Islam Kajian ini dimaksudkan guna menemukan persamaan dan perbedaan pemikiran ketiga tokoh di atas dalam hal pendidikan Islam dengan cara menganalisa melalui studi komparatif atau pembandingan pemikirannya. nampaknya ketiga tokoh tersebut boleh dikatakan sama pendapatnya atau sepakat. Falsafah Pendidikan Islam Falsafah pendidikan menurut ketiga tokoh diatas memiliki persamaan dan perbedaan satu sama lainnya. dimana beliau menganggap bahwasanya pendidikan itu tidak hanya akan diperoleh oleh peserta didik didalam kelas namun lebih jauh dari pada itu mereka akan dibentuk oleh kondisi masyarakat pada saat itu. 2. dengan tidak melupakan kewajibannya mencari kebahagiaan dunia dengan cara harus dibekali dengan ilmu. melainkan juga menyiapkan pribadi yang bisa bekerja dan berinteraksi dalam masyarakat 7 . 1.ilmu dunia atau keahlian-keahlian yang bisa dibuat untuk bekal hidup didunia.karimah. B.

Kurikulum Berkenaan dengan kurikulum. Berbeda dengan Ibnu Taimiyah. 8 . Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah ini juga didukung oleh Hasyim Asy’ari. dengan cara berfikir dan mengamalkannya. dengan kata lain. dimana murid diberi kesempatan seluasluasnya untuk mendiskusikan permaslahan yang ada. sebenarnya banyak persamaan satu sama lainya. beliau berusaha menggabungkan teori dan praktek dalam kurikulumnya sehingga terjadi keseimbangan antara teori pengetahuan dalam beragama dengan keilmuan praktek untuk memeprsiapkan kehidupan di dunia. Metode Pengajaran Masalah metode pengajaran. dengan demikian diharapkan peserta didik terlatih secara langsung baik pemikiran maupun pengetahuannya. dimana hati adalah pusat segalanya termasuk dalam proses belajar mengajar. Berbeda dengan Ibnu Khaldun. Ibnu Taimiyah maupun Hasyim Asy’ari menekankan adanya kurikulum yang mampu mendekatkan diri kepada Allah.3. 4. Hati merupakan senjata utama bagi peserta didik untuk mencapai ilmu yang bermanfaat yang sebagaimana diinginkan didalam tujuan itu sendiri. selain menekankan kurikulum yang bisa membawa peserta didik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Masalah praktek atau kegiatan-kegiatan non teoritik sebenarnya juga menjadi bahasan oleh Ibnu Taimiyah dan Hasim asy’ari. bukan masuk pada kurikulum pokok. beliau juga memasukkan kegiatan-kegitan non ilmu teoritik. beliau lebih menekankan pembentukan hati yang bersih untuk mencapai pembelajaran yang baik dan benar. Hati yang bersih akan lebih mudah mendapatkan ilmu serta dapat memanfaatkannya dengan baik dari pada mereka yang hatinya kotor karena maksiat kepada Allah SWT. Seperti halnya pemikiran Ibnu Khaldun dan Hasyim Asy’ari yang lebih menekankan metode pembelajarannya pada sistem diskusi. maka jalan satu satunya jalan untuk memudahkan langkah tersebut adalah hati. namun hanya sebatas ekstrakulikuler atau tambahan saja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->