P. 1
Asal Usul Doa Akhir Dan Awal Tahun Hijrah

Asal Usul Doa Akhir Dan Awal Tahun Hijrah

|Views: 695|Likes:
Published by ahms2005

More info:

Published by: ahms2005 on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2013

pdf

text

original

Doa Akhir dan Awal Tahun, sebuah tinjauan dari asal muasalnya

by Abah Abi on Friday, December 18, 2009 at 1:19am Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang di tengah umat Islam beradar teks doa yang sering diklaim sebagai doa awal dan akhir tahun. Ada beberapa versi sebenarnya, tetapi yang paling sering adalah dua teks berikut ini:

Teks Doa Akhir Tahun

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat da salam tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga da sahabat beliau. Yaa Alloa ya Tuhanku, apa yang aku perbuat sepanjang tahun ini berupa perbuatan-perbuatan yang Engau larang aku melakukannya, sedang aku belum bertaubat dari padanya, dan Engkaupun telah menyayangiku setelah Engkaupun kuasa untuk menyiksaku, kemudian Engkau menyeruku untuk bertobat dari padanya setelah aku bermaksiat kepada-Mu, maka ampunilah aku kerjaan di tahun ini, adalah berupa perbuatan yang Engkau ridlohi dan Engkau janjikan pahala atasnya. Dan aku memohon kepada-Mu wahai Tuhanku, wahai dzat Yang Maha Mulia, Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, agar Engau terima amalku ini, waha Dzat Yang Maha Mulia. Semoga rahmat dan salam Alloh tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau”

Teks Doa Awal Tahun

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad beserta keluarga dan shabat beliau. Yaa Alloh ya Tuhanku, Engkau adalah Dzat Yang Maha Kekal, dahulu dan awal, Hanya dengan anugerah dan kemurahan-Mu yang Agung telah datang tahun baru. Di tahun ini kami memohon pemeliharaan-Mu dari syetan, kekasihnya dan bala tentaranya, dan kami mohon pertolongan-Mu atas nafsu yang mengajak kepada kejelekan, dan kami mohon kesibukan dengan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada-Mu wahai Dzat Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada Junjungan

kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau

Bukan Hadits

Selama ini kami sudah berusaha mencari-cari rujukan doa awal dan akhir tahun itu di dalam kitab-kitab hadits nabawiyah, tapi sayangnya belum berhasil mendapatkannya.

Kami juga telah bertanya ke sana kemari tentang asal muasal lafadz doa yang populer di tiap awal tahun hijriyah. Tetapi bahkan para ustadz dan ustadzah yang seringkali mengajarkan lafadz doa ini, juga tidak bisa menunjukkan kitab literatur yang dijadikan rujukan.

Jadi sementara ini kami berkesimpulan bahwa teks doa itu memang bukan berdasarkan hadits nabi SAW, melainkan gubahan para ulama saja. Kalau dikatakan doa itu datang dari sabda Rasulullah SAW, tentu harusnya terdapat di dalam kitab-kitab hadits yang muktabar, baik di Shahihain, Kutubussittah atau tKutubut-tis'ah.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa membaca teks doa di atas merupakan sunnah Rasulullah SAW, jelas salah. Apalagi seringkali teks itu diembel-embeli dengan berbagai khasiat. Seolah-olah menjanjikan ini dan itu.

Misalnya untuk teks doa akhir tahun itu, iming-imingnya bila dibaca 3 kali pada akhir waktu Asar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan ulhijjah, dikatakan bahwa Syaitan akan putus asa dan mengatakan, " Kesusahan bagiku dan siasia lah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini dan Allah binasakan aku satu saat jua. Dengan sebab membaca doa ini, Allah ampunkan dosanya setahun."

Ini jelas sebuah kesalahan, karena siapa yang menjamin hal itu. Yang jelas bukan Rasulullah SAW yang mengatakannya. Kalau bukan Rasulullah SAW, adakah orang yang bisa kita terima jaminannya bahwa syetan putus asa?

Begitu juga iming-iming kepada yang membaca doa awal tahun, disebutkan bahwa bila teks doa itu dibaca 3 kali selepas maghrib pada malam satu Muharram, maka syetan pun akan putus asa juga seraya berkata, "Telah amanlah anak Adam ini daripada godaan pada tahun ini kerana Allah telah mewakilkan dua Malaikat memeliharanya daripada fitnah Syaitan."

Kalau keterangan seperti ini bukan datang dari Rasulullah SAW, maka kita tidak bisa membenarkannya. Sebab hanya berita ghaib dari beliau SAW saja yang boleh kita terima. Sedangkan dari selain beliau, tidak punya pengetahuan tentang hal yang ghaib secara benar dan terjamin validitasnya.

Doa Gubahan Ulama tanpa Klaim Sebagai Hadits Nabi

Lalu kalau kita sudah tahu bahwa lafadz ini bukan doa dari hadits nabawi, juga kita tidak membenarkan iming-iming dan janji atas khasiat doa ini, karena tidak bersumber dari diri nabi Muhammad SAW, apakah terlarang mengucapkannya di awal dan akhir tahun?

Kalau pertanyaannya seperti ini, tentu saja pada hakikatnya tidak ada larangan. Karena yang namanya doa itu ada dua macam. Pertama doa yang lafadznya berasal dari Al-Quran dan Sunnah. Ini adalah doa yang paling afdhal dan berpahala lebih besar.

Kedua, doa yang teksnya boleh kita karang sendiri. Doa seperti ini pada hakikatnya secara hukum tidak terlarang, sebab mungkin saja seseorang punya permintaan yang lebih spesifik kepada Allah SWT. Tidak ada satu pun nash yang melarang seseorang meminta sesuatu yang spesifik kepada Allah SWT. Maka untuk itu, kita boleh saja berdoa dan meminta sesuatu kepada Allah SWT dengan lafadz yang kita buat sendiri.

Dan kalau ada ulama yang membuat gubahan lafadz doa, tentu saja kita juga boleh menggunakan lafadz itu untuk berdoa. Asalkan kita tidak mengklaimnya sebagai doa ajaran dari Rasulullah SAW, atau tidak mengatakan sebagai doa yang bersifat baku di dalam agama.

Semoga kita dapat memandang sesuatu secara lebih objektif, kritis dan berhujjah, tanpa harus merusak keaslian agama.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc Eramuslim -----

Muzakarah Doa awal-akhir tahun
Assalamualaikum wr bth, Berikut adalah sedutan muzakarah (Thu Mar 29, 2001 11:39 pm ) berkenaan hukum doa awal-akhir tahun yang biasa diamalkan dimasjid2 di S'pura.

Akan ana usahakan untuk menterjemahkan istilah2 bahasa arab yg terdapat dalamnya bila ada masa insya Allah. Tumpuan sekarang adalah untuk mengumpulkan fawaid. Text warna biru adalah kata2 ana.

Yang benar dari Allah dan yang silap dari diri saya sendiri dan saya berlindung kepada Allah dari keburukan diri saya dan amalan saya yang buruk. " 2. Mengikut ilmu ana yang amat cetek dan terhad ini, ia tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan mana-mana sahabat, juga tabiin. Maka doa ini adalah satu ijtihad orangorang khalaf yang, kalau kita husnu zhan, adalah orang-orang yang soleh." Alhamdulillah, pertama sekali yang kita telah sepakati adalah amalan ini adalah amalan baru, ia tidak dilakukan oleh Rasulullah saw dan sahabat, juga tabien, walaupun sekali. Ia adalah ijtihad dan amalan khalaf yang merupakan orang2 soleh insya Allah. Dan setelah taqreer saya yang lepas, amalan atau ijtihad orang2 solihin selain para sahabat bukan hujjah. Tidak boleh menjadikan sesuatu perkara mandub atau wajib atau makruh dstr, dan ini juga telah disepakati, walillahil hamd. " Mengikut konsep ijtihad fi solahil 'amal yang tidak bertentangan dengan syara', jika ijtihadnya betul maka ia mendapat dua pahala. Jika salah maka satu pahala." Disinilah perkara penting yang perlu ditahqeeq. Kata2 diatas sebelum dibahaskan ada baiknya dicari sumbernya. Harap diberikan maraji'nya. Sejauh yang saya pelajari dalam usul fiqeh, majal ijtihad itu adalah pada hukum ahkam dari adillah syari'yyah. Para mujtahid melihat lafaz2 kitabullah atau sunnah lalu ijtihad dalam mengistinbatkan hukumnya yang berbentuk takleefy, dan kadang2 hukum wadhienya. Jika tidak ada nas barulah mereka menggunakan qiyas dengan pelbagai bentuknya... saya rasa maratib adillah ini maklum bagi kita. Selalu juga mereka menggunakan Qawaed fiqhiyyah untuk membantu mereka jika ada, walaupun qawaed itu tidak bebas dari apa yang dibuktikan dahulu oleh adillah syariah yg lain. Ada pula qawaed yang muttafaq a'laiha ada yang tidak, ada juga yang merupakan qawaed yang dikeluarkan dari jalan Istiqra', iaitu istiqra' furu' fiqhiyyah bukan dari adillah kitab atau sunnah. Contohnya qaedah "At Tabie' tabie." Ini bukan qaedah dari adillah tetapi qaedah istiqraiyyah. Dan qawaid istiqraiyyah juga kadangkala hujjah, dan kadang2 tidak, kadang2 muttafaq a'laiha adakalanya tidak. Dan ijtihad yang taam adalah yang melihat kepada maqasid syariyyah, masalih dan mafasid yang mana di'itibarkan oleh syari'. Adapun yang tidak ada sebutan dari Syari', iaitu Syari' tidak ada sebut i'tibar masalihnya atau tidak ia dinamakan masalih mursalah, dan ini juga sebuah dalil mukhtalaf fihi. Ini sebagai muraja'ah ringkas sahaja, supaya kita istihdhar kembali apa yang kita pelajari dahulu, supaya kita jelas akan sandaran kita dalam masail ilmiyyah. Dan jika setiap kali beristidlal dengan dalil lalu kita letakkannya dibawah bab2 ini akan lebih mudah pembahasannya, akan menjadi lebih lancar. Kita akan mengelakkan dari perkara2 yang tidak kita ingini, wajha sawaab akan lebih jelas dihadapan kita, insya Allah Ta'ala. Dan sejauh yang saya tahu, disinilah terletaknya pahala yang dijanjikan bagi mujtahid, dua pahala bagi yang betul, satu bagi yang silap dengan izin Allah. Adapun jika ada fahaman lain bahawa ia bermakna ijtihad fii solahil a'maal lalu ada ijtihad yang betul ada yang salah, wallahu a'lam, betulkan saya. " 3. Berdoa pada waktu-waktu khusus adalah satu ijtihad, seperti berdoanya Nabi Musa selepas sampai di kawasan Madyan (surah Qosas) ..." Jika anda katakan berdoa pada waktu2 khusus YANG DIKHUSUSKAN OLEH SYARA' adalah lebih tepat, tidak ada khilaf antara ulama, juga antara kita insya Allah bahawa inilah yang dinamakan satu ijtihad dalam berdoa, tetapi ijtihad yang 100 peratus betul. Dan ia sah dari semua lapisan ummah, solih atau tidak, mujtahid atau ammi dari generasi manapun. Namun kita tetap i'tiqadkan generasi awallah telah mendahului kita dalam ijtihad ini, dan telah melaksanakannya dengan sesempurnanya, dan tidak meninggalkan satupun darinya. Merekalah asSabiqun fil khairat. Adapun doa Nabi Musa itu, jika kita lihat ia termasuk dibawah satu pembahasan usul fiqeh " Hal Syaru'n man qablana syaru'n lana ? " Dan ini adalah satu dalil mukhtalaf fihi. Dan kita tahu kita tidak boleh beristidlal dalam mautin niza' untuk mahallu niza'. Ini membawa kepada daur. Ini pertama, keduanya, bagaimana boleh kita ta'adykan mahalnya iaitu apabila sampai ke kawasan Madyan kepada mahal lain yang KHUSUS, sedangkan ia asalnya bersifat khusus ? Jika kita lihat, apakah sunnah apabila kita tawajjuh kejurusan Madyan ( tawajjah tilqa madyana ) untuk berdoa : " asaa rabbi an yahdiyani sawaas sabeel " Kemudian setelah kita memberi minuman kepada orang ramai ( dua wanita? ) dan berteduh dibawah pokok kita disunnatkan berdoa : " Rabbi inii lima anzalta ilayya min khairin faqeer " Selepas kita tahqeeqkan perkara diatas ini, barulah boleh kita bahaskan apakah boleh setiap kali kita bertawajjuh ke Makkah contohnya kita berdoa seperti doa Nabi Musa as.tadi. Atau kita khaskan kota lain dengan doa ini dan kita anggapnya sunnah, jika tidak kita namakannya sunnah Nabi Musa as alal aqall. Atau setiap kali kita berteduh dibawah pokok di Mekah contohnya selepas memberi orang-ramai minum air zam2 kita doa " Rabbi inni lima ... " Contoh sekadar untuk taudheeh, harap beri perhatian. Sekali lagi saya ingatkan mahall niza'nya, pada kaifiyah, zaman, sebab yang khusus, bukan yang umum.

Kembali kepada masalah " Syaru'n man qablana syar'un lana ?" kalau tidak silap saya yang rajeeh adalah "laysa syara'n lana." Dan inilah pendapat jumhur, termasuk Imam Syafie'y yang berbeza dengan Hanafiy. Sebab itu terdapat dikitab " Tahkreej al-furuu' alal usul " oleh az-Zanjany as-Syafiey, beliau ada menyebutkan bahawa dari takhreej asal tadi, seorang apabila bernazar untuk menyembelih anaknya, yana'qid nazarnya pada mazhab Hanafy " tamasukkan biqadhiyyah al-Khaleel as." Adapun menurut jumhur tidak, "iz laa asla lahu fii syari'na." ( ms 416 ). Maka hendaklah kita beristidlal dengan syara' kita, Al-Kitab dan as-Sunnah. "...Atau sekurang-kurangnya ia tidak haram jika kita bersama-sama mereka yang berdoa, seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 28: "Dan sabarkanlah diri kamu dengan mereka yang memohon (berdoa) Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang kerana mengharapkan WajahNya...." Tidakkah berdoa awal akhir tahun berlaku pada waktu petang? Tidakkah khitab dalam ayat diatas untuk jama'? Dengan erti kata lain, perkumpulan manusia? " Sebelum kita katakan haram atau tidak, baik juga kita periksa sihhatu istidlal dengan ayat ini. Baik juga kita lihat i'raab " ma'a alladzina yadu'na rabbahum ... ". Apakah maudhi' i'rabnya ? Saya rasa yang zohir ia adalah dalam maudhi' sifat atau na'at bagi kaum itu ( mahzuf ). Dan sifat ini adalah mulazim bagi mausufnya, dimanapun mereka berada, iaitu sifat mereka terus menerus berdoa siang dan petang dengan ikhlas. Bermakna dhomir jama' tidak mengertikan kaifiah doa mereka, jika kita katakan demikian kita wajib juga katakan disemua maudhi' al-Quran, contohnya : " wa yu'tuunaz zakah ", tidak ada pula kita dengar mengeluarkan zakat atau sadaqah secara jamai', bahkan setiap orang dengan haul dan nisabnya sendiri. Ia hanya menunjukkan sifat mereka mengeluarkan zakat. Tahdeed kaifiah harus diambil dari dalil lain. Adapun kalimah' doa ' dalam al-Quran datang dengan berbagai makna antaranya :

1. 2. 3:

Doa ( ma'ruf ) Da'wah, menyeru, " da'awtu qaumi laylan wa naharan " [ Nuh ] , dan ini agak jauh sedikit. Ibadah

" wa annal masajida lillah falaa tadu' ma'a Allahi ahada " [ jin ], " wa lamma qaama a'bdullah yad'uhu ... " kata al-Qurthuby : " ay ya'buduhu " , Juga berdalilkan apa yang disebutkan kelmarin tentang doa dengan " Innal aladzinas takbaru a'n ibadaty "[ Ghafir ] yang ramai mufasirin menafsirkan dengan ibadah yang juga merangkumi doa. Dan ini banyak sekali dalam al-Quran. Dan zhohir ayat tersebut menunjukkan makna ini. Kerana yang ma'hud dari mereka adalah solat berjemaah pada Ghadati wal Asyyi, di masjid. Dan ini jelas masyru'. Walaubagaimanapun ada juga riwayat yang mengatakan ia adalah zikir, takbeer, tahleel, tahmid dll. Cuma yang penting mengtakhseeskan maknanya dengan doa dengan raf' aydi yang ingin difahamkan tidak ada mukhasisnya, dan idza tataraqa a'lad daleel ihtimal saqata bihi istidlal. Dari itu perlulah kepada daleel2 lain dan dibincangkan seterusnya dengan akademik. Sekian dahulu, mungkin disambung akan datang insya Allah. Wallahu a'lam Posted by Ustaz Murad at 4:53 AM

http://www.fawaaid.sg/2010/03/muzakarah-doa-awal-akhir-tahun.html

----

----

Adakah Doa Awal dan Akhir Tahun?
By: Ustadz Abu Mazaaya (islamiq.sg)

Salah satu amalan yang sangat masyhur di masyarakat dalam menyambut tahun baru hijriyah adalah bacaan doa berjamaah pada setiap awal dan akhir tahun Hijriah. Mereka berdalil dengan beberapa riwayat tentang fadilah membaca doa tersebut, antara lain sebagai berikut: “Barangsiapa membacanya syaitan akan berkata: Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia (pembaca doa berkenaan) merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).” Mengenai nas hadits tersebut, Jamaluddin Al-Qasimy menerangkan riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits shahih, dan tidak juga di dalam kitab-kitab hadits maudhu’ (palsu). (Islahul Masajid: 108). Maka ia nas di atas tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW. Kenyataannya, Rasulullah SAW, para shahabat dan para tabiin tidak pernah mengamalkan doa tersebut. Ini telah diakui oleh beberapa para ulama seperti Abu Syamah (seorang ulama Syafi’iyah wafat pada tahun 665H), Muhammad Jamaluddin AlQasimiy (Islahul Masajid:129), Muhammad Abdus Salam As-Shuqairy (AsSunan wal-Mubtadaa’at:167), dan Dr Bakr Abu Zaid (Tashihhud Doa:108), yang menegaskan bahwa “Doa awal dan akhir tahun” tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para shahabat, tabiin, atau tabi’ut tabiin. Di dalam hal ini kita haruslah berhati-hati, karena seseorang yang telah mengetahui bahwa derajat hadits itu palsu tetapi tetap meriwayatkannya sebagai hadits, maka ia akan termasuk dalam ancaman Rasulullah SAW: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tampat duduknya di Neraka” (HR Bukhari). Dalam hadits yang lain pula, Rasulullah SAWbersabda: “Barangsiapa yang meriwayatkan dariku sepotong hadits sedangkan dia tahu bahwa hadits itu palsu, maka dia adalah salah seorang pembohong” (HR Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya: I/62). Kemudian, ada sebahagian golongan pula yang berdalih bahwa doa tersebut sebenarnya adalah sebagian dari amalan para salafus shalih karena fadilah doa tersebut diterangkan dalam kitab “Majmu’ Syarif”, tetapi bukan di dalam bentuk hadits.

Perkara ini sangatlah menyesatkan dan berbahaya, karena di antara fadilah doa tersebut diriwayatkan bahwa akan diampuni dosa-dosanya setahun yang lalu dan konon syaitan akan berkata: “Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).” Ini semua adalah perkara-perkara gaib yang tidak boleh diimani kecuali daripada sumber wahyu yaitu Al-Qur’an atau Sunnah. Oleh karena, AlQur’an dan Sunnah tidak menyebutkan fadilah-fadilah tersebut, maka bagaimanakah boleh seseorang mengetahui bahwa syaitan berkata demikian dan sebagainya dan beriman dengannya? Kesimpulan: Rasulullah tidak pernah mengajarkan doa akhir tahun atau awal tahun. Yang diajarkan beliau adalah doa awal bulan hijriyah atau ketika melihat hilal. [taz/voa-islam.com] Baca artikel terkait: Doa Tanggal Satu Awal Bulan (Doa Melihat Hilal)
http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2009/12/17/2136/adakah-doa-awal-dan-akhirtahun/

---

Doa Awal dan Akhir Tahun?

Dec 26, '08 8:03 PM by Abu 'Ammar for everyone

Menjadi kelaziman sebahagian orang Islam, apabila berakhir bulan Zulhijjah yang memberi erti bermulanya tahun baru Hijrah, mereka melakukan satu upacara doa yang dikenali dengan „Doa Awal dan Akhir Tahun‟. Ia dibaca selepas waktu Asar, atau sebelum Maghrib pada hari terakhir bulan Zulhijjah. Lafaz doanya „disunatkan‟ dibaca sebanyak tiga kali. Dan dikatakan fadilat doa ini ialah apabila dibaca, maka syaitan akan berkata, “Kesusahan bagiku, dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini dan Allah binasakan aku satu saat jua”. Disebut juga, dengan membaca doa ini Allah akan mengampunkan dosanya setahun. Begitulah besarnya kelebihan yang disebut-sebut tentang doa awal dan akhir tahun ini. Tidak hairan, ramai yang mempercayainya dengan harapan memperoleh kelebihan itu. Sehingga di sesetengah sekolah, asrama, atau pejabat-pejabat, ia dibaca secara berkumpulan, dengan dipimpin oleh seorang ustaz selaku tekong dalam upacara doa tersebut dan di‟amin‟kan oleh jemaah. Jika diteliti doa awal dan akhir tahun tersebut, diakui bahawa lafaz Arabnya sangat elok, susunan kata-katanya menarik, dan maksud kandungan doa juga tidak bersalahan dengan manamana prinsip syarak. Tetapi, oleh sebab doa ini ditetapkan lafaz bacaannya, bilakah waktu dibaca, berapa kali bacaannya diulangi, dan apakah fadilatnya, maka upacara membaca doa ini adalah termasuk dalam bidaah. Kerana bacaan doa ini tidak pernah direkodkan dalam mana-mana

kitab hadis muktabar, tidak pernah dinukilkan amalannya di kalangan para sahabat, tabien dan para salaf, dan tidak disebut pun oleh imam-imam yang masyhur. Sedangkan kita tahu doa adalah ibadah. Dan dimaklumi bahawa ibadah bersifat tauqifiyyah iaitu mesti diambil asal dan kaifiatnya daripada syarak. Tetapi, dalam persoalan doa awal dan akhir tahun ini, tidak didapati sebarang asas pun daripada nas-nas syarak. Syeikh Bakr Abu Zaid -rahimahullah- menyebut satu kaedah dalam amalan doa, iaitu: Setiap orang yang mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan ibadah seperti doa dan zikir dalam bentuk yang ditetapkan dengan menganggap ia adalah satu sunnah, sedangkan ia bukan daripadanya, maka dia dihukum berdosa. Alasannya perbuatan ini adalah satu bentuk meninggalkan perkara yang disyariatkan, satu penambahan terhadap syarak, satu galakan terhadap amalan yang bukan daripada syarak, dan menyebabkan orang awam menyangka bahawa ia suatu yang masyruk. (Tashih Ad-Dua: 44) Apabila dikatakan bahawa ia bidaah, pasti ada suara membantah, “Sikit-sikit bidaah, apa salahnya berdoa?”. Ya, berdoa tidak salah. Ibadah doa boleh dilakukan pada bila-bila masa yang sesuai. Termasuklah berdoa pada tarikh 29 Zulhijjah. Yang salahnya ialah menetapkan bentuknya seolah-olah ia daripada syarak. Ditambah pula dengan fadilat palsu tentang kata-kata syaitan begitu dan begini, dan jaminan pengampunan dosa selama setahun. Ini semua perkara ghaib yang mesti diambil daripada nas-nas sahih. Ada juga mengatakan, “Perkara kecil seperti ini pun hendak diperbesar-besarkan?”. Jawapan kepada persoalan ini ialah kata-kata Imam al-Barbahari, “Dan awaslah kamu daripada perkaraperkara kecil yang diada-adakan, kerana bidaah-bidaah kecil akan berulang hingga ia menjadi besar”. Ibn Taimiyyah pula mengatakan, “Bidaah-bidaah pada permulaannya hanya sejengkal. Kemudian ia bercambah di kalangan pengikut-pengikut, hingga menjadi beberapa hasta, beberapa batu dan beberapa farsakh“. (Satu farsakhbersamaan 3 batu). Oleh itu, janganlah dipandang mudah terhadap perkara-perkara kecil yang menyalahi syariat, apatah lagi termasuk dalam bidaah. Dan yakinilah bahawa setiap amalan ibadah yang dilakukan, sedangkan ia bukan daripada agama, maka amalan itu ditolak oleh syarak. Wallahu A‟lam. Abu Umair, 28 Zulhijjah 1429 Sumber: catatan Abu Umair

http://jamaahbadar.multiply.com/journal/item/16/Doa_Awal_dan_Akhir_Tahun
----

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->