Wednesday, January 18, 2006 Kota Kelamin

Cerpen Mariana Amiruddin Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur. Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami. Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang. Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya. Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah. Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari. Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berendarenda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari. Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan bendabenda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia. Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tibatiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi. Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.

*** Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding. Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri. Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku. Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor. Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap. Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin. Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini? Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megapmegap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata. Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu. Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu. Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku. Di sini! Kaukah itu? Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang. Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia

" Aku terkesiap mendengarnya. "Sorry. Bukan tidak aktif. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…" "Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. ketika aku keluar dari ruang rapat. Bukunya antara lain Perempuan Menolak Tabu. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. tapi tentu salah tempat. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Ternyata aku telah banyak berdusta.mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. karena sepanjang dua malam kita bersama-sama. Bingkai Cerpen Kurnia Effendi UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga. After office hour. Ia menggigit seluruh tubuhku. aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. ya!" Gagang telepon masih di telinga. lebih tepat: nomornya berbeda. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. "Cintamu. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?" "Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu. seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. "Maaf." sambutku automatically. aku tadi berdusta. kenapa kamu diam saja?" "Oh. mau membicarakan pekerjaan…" "Oke. Auto Suryatama. kelamin pun punya hati. Saat kubuka sampul plastiknya. Hp-mu tidak aktif." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. Dudi!" sambung Susan. Kini kami bersenggama di tengah kota. aku telepon ke kantor. Rembes ke dalam hati. jadi konsentrasiku bercabang. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu. telepon di mejaku berdering. "Dudi. Tapi. Kini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan dan Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap. Hebat!" "Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar. bukan membisikkan. Susan. Tak ada siapa-siapa di depanku. "Ahai. menunggu Susan memutuskan hubungan. 1 September 2005 Tentang Pengarang Mariana Amiruddin. Sayang. Tak hanya bertemu. Seperti anak anjing. Aku mengerti sekarang. dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. kasih sayangku . Beyond Feminist dan novel berjudul Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat. "Selamat siang dengan Dudi. Maafkan aku. yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket. Jadi. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus. *** untuk Hudan Hidayat yang ’takkan pernah sembuh’ Jakarta. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai". tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Aku akan meneleponmu lagi nanti. "Aku baru saja menerima sebuah undangan. Magister Humaniora Kajian Wanita Universitas Indonesia. siapakah ini?" "Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. Bahkan setelah hubungan telepon terputus. sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak. percayalah." "Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf.

Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah. Dan di tengah lingkaran para tamu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang. tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan. aku ikut menemani. karena malam ini sepupunya akan datang. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis. tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. bagaimana sih?! Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery." Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang. rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. "Aku iki isane nulis cerpen. kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan. sehingga mudah mendapatkan tempat. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana. Aha. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Padahal tak ada "polisi . agar tidak terlampau mencurigakan. tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud. karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan. apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan. kuangankan si anggun Susan. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincangbincang. biar tidak suntuk di sana. Selintas kulihat. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali. Jadi. di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti." Seraya mengelus pipiku. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Ada toko kue langganan sebenarnya. bukan? Keringat mengembun di keningku. Sepanjang sisa jalan pulang. ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa. Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Tapi… astaga. tentu ingin juga "cuci mata" di sini. yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan. Dengan cara itu. *** SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar. Waktu itu dia mengeluh. yok opo sih?!" Ya. melenggang masuk dalam kerumunan. tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta. bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi. sehingga waktu itu. lha kok dikongkon gawe resensi lukisan.kepadamu begitu jujur. gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. Nanti malam. selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi. Tapi tarikan pipiku berubah. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen. biaya penginapannya gratis. Dengan demikian. yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. karena waktunya masih lama. Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi. bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. Apa namanya tadi? Bingkai! Aku turun dari mobil. mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali. dengan rambut dibiarkan terurai. dan memenuhi pesanan Lanfang. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah. Kulihat sepintas. isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. namanya juga tugas. Senyumku beralih rasa cemas. sebelum bercinta. Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri.

Aku memarkir mobil ke carport. Dia seorang pemilih yang baik. pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. berdusta itu mendebarkan! . Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting. karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo. Sebelum tertidur. Sampai besok. aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud." "O. begitu tiba di Denpasar. ojo bengi-bengi mulihe. "Kamu harus menginap di Lor In. Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. *** AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai. "Ya. "Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu. no problem. Susan! "Hai. Ke dekat urat nadinya. lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Kamu perlu istirahat malam ini. nyaris tak berbeda dengan hotel lain." Aku menelepon Lanfang dari kantor. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Kok mendadak? Berapa hari?" "Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Bagaimanapun. tak masalah. Walaupun. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. Ke Lombok. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas. Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. "Cantik." "Yo wis. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku. lalu masuk ke bawah selimutku. Tetapi besok. Kebetulan aku sudah di jalan raya. Harum cendana memenuhi bath-tub. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. ya. akhir-akhir ini kamu begitu sibuk. Sekitar tiga-empat hari. "Tentu. Mmmuah!" Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Tapi yang penting aku tahu. Dan seperti biasa. tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku. Langit mulai gelap.tidur" di situ." usulnya. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang. selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain." "Ya sudah. menyurutkan lampu kamar hingga temaram. bisa minta tolong?" "Oke. Aku belum sempat membereskan kopor. kutelepon Lanfang seperlunya. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. "Terima kasih." Dipeluknya aku. aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Pagar rumah sudah di depan mata. tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata." Tentu tidak akan larut malam. Mudah-mudahan. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca. Cantik. Kenapa?" "Besok aku tugas ke luar pulau. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet. tergantung bagaimana kondisi network di Lombok. Hanya Susan yang tahu nomor itu.

Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang. 2005 Dendang Sepanjang Pematang Cerpen: M. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru. Lama sudah dia tak pulang. Ufuk timur perlahan benderang. Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. aku mencari degup jantung Lanfang." ujar master of ceremony. Aku melihat matanya berbinar. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya? "Lanfang!" aku memanggil. di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. "Oke. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. ponsel tuaku bergetar. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. menoleh ke arahku. Kita akan mulai acaranya…" Aku agak kikuk. "Nama Bingkai kupilih karena…. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. kekasih yang kutunggu sudah tiba. karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Kudengar musik sayup gamelan Bali. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Tak ada lagi ukiran nama kami. Sejenak mataku silau. para undangan dan wartawan. Wajahnya tertegun. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Aku kaget mendengar suara Ayub. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Silakan Susan bercerita untuk kita…" Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan. kusaksikan pagi menggeliat lagi. Dan entah kenapa. "Pak Narto wafat!" . Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat. sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya? Kemarin siang. Ada beberapa bule yang hadir di sana. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Senja baru saja lenyap. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang. Ohoi." Suara Susan semakin sayup. Sementara di taman yang separuh gelap itu. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku. teman-teman. inilah dia si anak hilang. menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau. para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat. Di luar sunyi. 10 Desember 2005 Wednesday. *** Jakarta. di tengah raung mesin pabrik. "Baiklah.*** AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. pohon randu. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku. Dia salah seorang sahabatku di kampung. Senyumnya merekah. Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Mereka memotret. tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali. sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-. Sekian tahun silam. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Kuhela napas haru. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Arman AZ Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. September 14.

Dindingnya dari papan. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar.jeritnya dari seberang sana. aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah." Runtun kalimatnya. Kata Ayub. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. kami beringsut keluar dari ruang tamu. pangling aku. meski sempat diserang hama wereng. makin banyak pelayat datang. Dia tak bisa datang melayat. jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Katanya. Sedap dipandang mata. Bertani. langkah tergopoh. Maryamah. Man? Beli sawah. Aku termangu menatap rumah duka itu. Ketika senyum atau bicara. Dia jadi bencong. dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu. gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya. Tawaran itu menohok batinku. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. lebih baik bunuh Abas duluan. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. kuraih gagang gelas. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Hidupnya kini makmur." Menepis risau. Abas ditugasi mengurus koperasi. Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. ke pulau seberang. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Detik itu juga. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi. "Jangankan mengalaminya. jadi tukang becak di kota. atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng. Ah. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. "Man?!" Dia terperangah. Ayub berkata. Urat-urat lengannya menyembul keluar. dia ketiban bulan. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Lantas kuingat Abas. sampai lupa aku. Namanya diubah jadi Marta." Aku tercekat. . buang hajat. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Diam-diam kucermati sosoknya. Ada tarup besar memayungi halaman. kini jadi biduan orkes dangdut. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Kursi-kursi plastik penuh terisi. anak pendiam dan alim itu. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. membayangkannya saja aku tak sanggup. Di depan rumah ada bale-bale bambu. sebab culasnya melebihi ular. campur sedih. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota. Kami sudah biasa antre mandi. waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan. bahkan ke negeri orang. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa. Setelah hasil penjualan dibagi rata. Sudah jadi orang rupanya. Makin tinggi matahari. Sambil menyulut rokok. Tubuhnya kekar. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Darto. cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. tak pernah terbersit di benakku untuk pulang. *** Aku tertegun menatap rumah Ayub. Ayub bilang. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan. gigi putihnya berderet rapi. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Ruas-ruasnya sudah renggang. *** Sepanjang jalan menuju rumah duka. Terdengar sahutan. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Gemuk kau sekarang. "Baru datang? Wah. sekian jauh berjarak dengan kampung halaman. Aku tersenyum. Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Ayub memanggil istrinya. Kami ingin merantau. kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Kisah teman-teman lama membuatku takjub. Dan si Ahmad. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. kami pun berpencar ke penjuru mata angin. yang paling pintar di kelas kami. Kutimang ponsel dengan gamang. Sudah lama kami tak bersua. "Kenapa tak pulang saja. Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Mencari nasib yang lebih baik. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. heran. Sekian lama di rantau. Lingkungannya kumuh. waktu telah mengubah segalanya. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini. dan derit pintu yang dikuak. Kenangan kampung halaman begitu menyentak. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Tanaman hias memagari rumahnya. Ayo masuk. Kulitnya legam. Dari semua nama yang terpahat di batang randu. Dari bisik-bisik yang kudengar. panen dua bulan lalu cukup lumayan. Ayub terpana mendengar ceritaku. sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura. Ah. kami kenang kawan-kawan lama. Ah.

Meski lebih jauh jaraknya. Aku harus tahu diri. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Tandure wis semilir. kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Wajah Ayub kaku. Aku enggan bertutur lebih banyak. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan. hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Bintang bertaburan di langit lama. Begitu juga jika ada yang meninggal. Sejauh-jauh terbang. Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi. aku seperti orang asing di sini. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Kami kembali melanjutkan langkah.. Aku terpana. Tak ijo royo-royo. Kami yang di rantau pasti dikabari. Man. wajah keduanya pucat dan merah padam. Ayub menghardik mereka. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Jadi TKI. bibirku terasa kelu.. Sesampainya di sana. Tetua kampung meninggal satu-satu. Ayub mengajakku ke sawah. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Aku harus pulang pagi ini. Dari huma beratap rumbia. *** Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. "Semua teman kita pergi merantau. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi. tapi aku tak keberatan. aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. Aku serasa sedang berada di sorga. aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini. atau buruh sepertimu. . Kami mengendap-endap. Aku ingat. hanya segelintir teman yang kutemui. tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Bidikannya paling jitu di antara kami. apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Mendengarnya. "Ya. Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Merasa tertangkap basah. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu. "Kampung kita sudah berubah. anak-anak muda kala itu. Ngebut di jalan tanah berbatu. kami merasa selayaknya saudara. entah kenapa. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini." suaraku gamang. Kami pulang menjelang petang. Meninggalkan debu panjang di depan mataku. *** Izin cuti empat hari telah usai. Namun. warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol. kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Memutari jalan kampung. Merantau jadi pilihan kami. Setelah segar kami pulang. lir ilir. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam? *** Hari kedua di kampung. Tapi. Entah siapa peniupnya. sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung. Aku jauh tertinggal di belakangnya." kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Ayub mengajakku turun. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Ada yang menggoes sepeda. guraunya.. dekat rimbunan pohon pisang. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti." Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Di jalan. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu.Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Lir ilir. Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana. Asal kau tahu. babu. entah kenapa.. Setelah memilih jadi manusia urban. Batang-batang padi meliuk. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Aku terharu. Meski tak ada hubungan darah. Tak sengguh temanten anyar. Menggelepar di semak-semak. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang.

.Tapi biarlah kutelan dalam hati saja. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Persis ketika kami lewati pohon randu itu. Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Namun sekedar menghibur diri. kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Makan dari hasil keringat sendiri. Satu saat nanti.. jika ada uang. Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku.*** . Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Membeli sawah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. aku mau pulang. Hidup tenteram bersama anak istri. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang. Dengan motor tuanya. lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. cuma bisa tersenyum giris.

" Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu." .Peradilan Rakyat Cerpen Putu Wijaya Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu." Pengacara tua itu meringis. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional. kalau begitu. kalau perlu kurang ajar. mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu." sambung pengacara tua menenangkan. Jangan surut. Aku juga pernah muda seperti kamu. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan. mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air. meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih. namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedunggedung bertingkat. Ia mengangkat dagunya. bagai suara alam." "Tentu saja." Pengacara muda itu tersenyum. sembari mengangkat tangan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Dan aku juga berani. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. kepada kamu. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Meskipun bukan bebas dari kritik." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu. "Apa yang ingin kamu tentang. seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. tidak terkejut. menikmati juga pujian itu. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini. "jangan membatasi dirimu sendiri. Anda mengerti maksudku. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Pengacara muda terkejut. kau yang selalu berhasil dan sempurna. tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. bukan sebagai putraku. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. "Baik. Ia menatap putranya dari kursi rodanya. Pemburu Keadilan. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. "Tidak apa. anak muda?" Pengacara muda tertegun." kata pengacara muda itu." Pengacara muda itu tersenyum. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.

aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Begini. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku." "Terima kasih. walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. Pengacara muda itu terkejut. Kemudian ia melanjutkan. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. kesimpulanku. Di situ aku mulai berpikir. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil- . Aku mau berdialog. karena aku yang menjadi jaminannya. tetap kejahatan. Berbicaralah sebebas-bebasnya. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih.Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Mulailah. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. negara sudah memainkan sandiwara. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. Sebentar saja. itu bukan istilahku. bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu. yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. sebab aku seorang profesional. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Dan itulah yang aku tentang. Walhasil. Penjahat yang paling kejam. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Tetapi aku tolak mentah-mentah. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Aku ingin berkata tidak kepada negara. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. Kenapa? Karena aku yakin. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. Sebagai pembela. "Ya aku menerimanya. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya." "Baik. sudah ada kebangkitan baru.

"Seperti yang kamu katakan tadi. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional." Pengacara muda itu tertawa kecil. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. aku menerimanya sebagai klienku. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian. "Karena aku akan membelanya." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara." Pengacara muda tertegun. kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang. tetapi karena soal-soal sampingan." "Perkaranya saja belum mulai. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kau tolak tawaran negara. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini. Kalah-menang bukan masalah lagi." Pengacara tua termenung. Ia menatap. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya. Sebab kebenaran sejati. tawaran yang sama dari seorang penjahat. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain." . Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.adilnya." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan." "Asal Anda jujur saja. Namun. malah kau terima baik. mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng. bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai." "Tapi kamu akan menang. bagaimana bisa tahu aku akan menang. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. Bukan karena materi perkara itu. Demi memuliakan proses itulah. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan.

" "Kalau begitu. bukan karena takut. tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. Aku tidak takut. Ia minta tolong. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya." Pengacara tua itu terkejut. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak. bukan?" "Betul. Sudah jelas. Tak perlu kamu bimbang. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak." "Betul. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional. juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu."Aku jujur." Pengacara muda itu jadi amat terharu. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. "Berarti ya!" "Ya. Tetapi orang tua itu . Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. seakanakan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Keputusanmu sudah tepat. tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. sebab aku sudah sangat rindu kepada dia. ia mengangkat tangannya. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu." Pengacara muda itu ingin menjawab. "Tak usah kamu ulangi lagi." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan. pulanglah anak muda. Kedua tangannya mengurut dada." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa. Ketika yang muda hendak bicara lagi. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. bukan karena kamu disogok. bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut. pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan.

"Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra... Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. kalau berhadapan dengan sebuah perkara. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. tak mungkin dijamah lagi. lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. anakku. Rakyat pun marah. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. menyerbu dengan yel-yel dan posterposter raksasa. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Mustofa Bisri Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. "Maaf. kemudian menyelimuti tubuhnya. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Kalau tidak. Selamat malam. lalu meloncat ke mancanegara. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. air mata menetes di pipi pengacara besar itu. . kita akan menjadi bangsa yang lalai. di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" *** Sang Primadona Cerpen A. Bukankah sudah aku ingatkan. saya kira pertemuan harus diakhiri di sini. Hakimnya diburu-buru. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa." rintihnya dengan amat sedih. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya. agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik. pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Beliau perlu banyak beristirahat. Sementara sekretaris jelitanya membacakan beritaberita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk. "Katakan kepada ayahanda. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya." Pengacara tua itu menutupkan matanya. Pengacara muda itu diculik." "Tapi. Pak. Sekretarisnya yang jelita. aku rindu kepada putraku. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional. Tetapi itu pun belum cukup. "Pulanglah sekarang. aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat.

kecukupan. boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. belajar kan tidak harus di bangku kuliah. "Nduk. Tapi sungguh. Yang terakhir ini. baik secara langsung atau melalui surat. aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan. Kuliahku pun tidak berlanjut. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. meski tidak memanjakanku." Ya. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja. biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal. . Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah. Bahkan kini sedikitbanyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara. aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku. Dia menyintaiku habis-habisan. aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. tak mengapa. ialah soal ibadah. aku memenangkan lomba foto model. Sementara banyak kawankawanku yang sudah lulus kuliah. salat jangan kamu abaikan!" "Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu. masih lontang-lantung mencari pekerjaan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-. seperti sering aku lihat dalam film." Memang sebagai perempuan yang belum bersuami. kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Kedua orang tuaku pun. jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang. diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial. Di sekolah. Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu. Yang masih selalu ibu ingatkan. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Bagaimana pun sibukmu. bila berjauhan. tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku. bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu. ibadah itu penting. Hampir setiap hari. aku tak peduli. bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar. Soal kuliahku yang tidak berlanjut. Tidak. malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminarseminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan.Tapi agar jelas. aku mengundang mereka dari kampung. Sebagai artis tenar. Mula-mula memang aku perhatikan. agar tidak hilang. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. mulai SD sampai dengan SMA. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga." "Bila kamu mempunyai rezeki lebih. Materi cukup. Tidak itu saja. menjadi host di tv-tv. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen. "Ah. Ia tidak sekadar mengidolakanku. aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. sangat menyayangiku.

Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat. aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Sepertinya apa saja yang aku lakukan. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Dia yang dulu jarang keluar malam. lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. O ya. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga. Aku berhasil dipersuntingnya. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka. anak keduaku. dan penuh perhatian. Pendek kata. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Kami. Begitulah. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masya Allah. Bila dia berhalangan. Sehingga. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan.memang merupakan hidayah Allah. Beberapa bulan setelah Ragil. bukan hanya yang diselenggarakan kawankawan artis. tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. di awal-awal perkawinan. hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian. aku mengalah. Selain pekerjaanku sebagai artis. tentang kematian dan amal sebagai bekal. aku pun tak pernah lagi bertanya. Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Untung. Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-.Di antara mereka yang mengagumiku. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Mula-mula. aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. maupun ketika mengajak jamaah berdzikir. lahir. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. dari sekadar sebagai artis. Bicaranya juga tidak seperti dulu. Masih muda. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat. meskipun agak surut. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. tampan. aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Suamiku pun tidak keberatan. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. aku jadi sering merenung. kini terasa sangat sinis dan kasar. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan. sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. terutama suamiku. aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Setelah itu. Perangainya berubah sama sekali. kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. aku dimintanya untuk mengisi pengajian. salah di mata suamiku. aku juga getol membaca buku-buku keagamaan. semua berjalan baik-baik saja. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tidak itu saja. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku. Ringkas cerita. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Setelah berbulan madu yang singkat. sopan. aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro . Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam. dengan sedikit menghemat. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah.

Kalau pun di rumah. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan. tentu semakin terabaikan. "Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya. "Ini barang berbahaya. Memang. Bisa gawat bila ketahuan!" "Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Bu. "Ini ganja. apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Sundari mencoba mengingat-ingat. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. Aku bingung. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini. gara-gara suami. Aku sudah semakin jarang di rumah. perhatianku semakin minim terhadap anak-anak. dan bahkan politik. Setelah aku musnahkan barang itu.idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak. Bu?" "Apa itu?" tanyaku tak mengerti. Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. sosial-kemasyarakatan. tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya. kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan. ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!*** Seharusnya Berjudul Celana Dalam Cerpen Etik Juwita Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama. banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. aku menemukan lintingan rokok ganja. Tapi seperti sudah aku duga. Mula-mula dia seperti kaget. Suatu hari. sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri. tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis. aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sundari tahu benar. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Dan terus terang. Aku sempat berpikir. Ini sudah keterlaluan. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-. . Sepertinya ia menyesal telah pulang. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja." sahutnya khawatir. sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa. tanpa sengaja. sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore. gugup. jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Sundari terkesiap. Semula aku diam saja.sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan. Di kamar suamiku. apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya.konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis.

Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung. Kamu punya kelja tidak ada. Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. *** "Indonesia.. Hingga tibatiba. Gara-garanya. Mendengar jawaban Sundari. Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong. Wajahnya semakin kelihatan judes. Tidak sopan. Tapi. Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. My panty is big-big one.." kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar. Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo. pikirnya. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli.Tuan pergi ke China. Tapi. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. suara majikannya terdengar dekat. cuma mengangguk-angguk. lalu menjemurnya di balkon. bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. Padahal Sundari ingin menangis. Sundari tetap tidak mengerti. ketika persediaan makan mendekati habis. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. kamu punya majikan mau celai. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. segera diurungkannya. dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. dua bulan lalu. Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Mam mulai menangis. berangkat dua jam sebelum Mam kembali. isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. kontan Sundari jadi salah tingkah.. "Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. meraung-raung. Sundari mendekat. Dag dig dug jantungnya berirama bingar. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Tapi mencoba tenang. Sundari semakin salah tingkah. belum sempat ia menuangkan deterjen. Dulu. . ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Sehari itu. mengamati setiap pernik di dalamnya. Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K. "Nnn. Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah. tidak ada yang salah letak. berpikir. suaminya di dekat sepeda motor tetangga. Padahal. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Sundari tersipu. Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. Sepekan setelah kepergian Nyonya. Menyembul dari pintu dapur. "Ya. Esoknya. Rapi. Tapi. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. Saat merapikannya. Tuan terlambat pulang. Bahkan." "Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga. mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya. Nyonya memang orang yang cemburuan. "Cundali. Ia ingin mengatakan pada Nyonya. Kamu dipulangkan. mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. no Mam. ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. terlihat. meringis." kata Sundari akhirnya. "It’s your panty. menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya. Besoknya. Tangisnya semakin keras. no. "Cundaliiii!!" Sundari menoleh. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu.

Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. Marni juga dipulangkan.jisin: gila . siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. "Majikanku cerai."Kok tahu?" katanya balik bertanya. Marni cuma mengangguk sambil melongo. setelah empat tahun bekerja menjadi TKW di negeri itu. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat. menyambut senyumnya. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. . Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya.. salah bener ya maunya bener. Kamu?" "Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob. juga nasib majikannya. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari." katanya. Cerpen ini salah satu karya terbarunya. Sundari tersenyum tanpa sadar. Lalu Marni.hai wo: o.*** Hong Kong. "Ceritanya singkat. baru pulang dari Hongkong. karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas. serta-merta Sundari merasa lelah. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong. biar Tuan tahu. haiya!" "Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?" "Haiya!!" "Kecil. 24 April 2005 Catatan: .Sundari merasa akan kembali ke dunianya. yang Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya. Etik yang asal Blitar. Nyonya bilang. gadis di sebelahnya itu. 13 September lalu. bicara dengan membentak. begitu! posted by imponk | 1:36:00 PM << Home . "Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!" Sundari tersenyum getir. di sebelah kiri pintu masuk.. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat." "Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-. tertawa ngakak. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. "Haiya.Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis.My panty is big-big one = My panties are bigger than his one. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni. "Namanya majikan ya Mbak. "Jangan dibuang. mereknya Sexygirl?" "Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?" Sundari bengong. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan tinggi. . menangis sejadi-jadinya. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. nasib Marni. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah." Mengingat nasibnya.

(4) tema dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan relatif sederhana. yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para penikmatnya atau pembacanya. Latar terdiri atas latar tempat. Sudut pandang yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita. Cerita pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut (1) alur lebih sederhana. 2. nasehat. ataupun pada latar.Dalam cerita pendek dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh. Selain unsur Intrinsik. Penokohan dan perwatakan yaitu cerita pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya. Jika cerpennya lebih panjang mungkin sampai 1½ atau 2 jam. serta menghibur para penikmat atau pembacanya. yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga para penikmat atau pembacanya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi dirinaya. (3) latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas. Dalam cerita pendek terkandung unsur-unsur intrinsik yaitu :Pengertian Cerpen 1. (2) keadaan sosial budaya ketika karya sastra itu diciptakan. unsur ekstrinsik itu antara lain (1) latar belakang pengarang. menuntun watak tokoh. diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai unsur karangan itu. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan. Bisa saja temanya itu dititipkan pada unsur penokohan. Fungsi rekreatif. Yang jelas tidak ada cerpen yang panjang 100 halaman (Surana. cerpen selesai dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. Seting atau latar yaitu tempat dan waktu terjadinya cerita. dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk. yang penuh pertikaian. kritik dan sebagainya. baik itu berupa masalah kemanusiaan. 3. 5. 5. yaitu pokok gagasan menjadi dasar pengembangan cerita pendek. (2) tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang. Latar ini berguna untuk memperkuat tema. Amanat. kasih sayang. Untuk mengetahui tema suatu cerita. yaitu memberikan rasa senang. alur. 1987:58). Untuk menentukan panjang cerpen memang sulit untuk ukuran yang umum. Plot atau alur. gembira. 4. Fungsi relegiusitas. kecemburuan dan sebagainya. waktu dan sosial. Pesan bisa berupa harapan. yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca atau pendengar. dalam cerpen dikenal adanya unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur luar yang berpengaruh terhadap penciptaan suatu bentuk karya sastra. Tema. 2004:431).Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Fungsi moralitas. Fungsi sastra dalam hal ini cerpen dibagi dalam lima golongan yaitu : 1. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan dan mngandung kesan yang tidak mudah dilupakan. 4. yaitu rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama sehingga menggerakkan jalan cerita melalui perkenalan klimaks dan penyelesaian. yaitu mengarahkan dan mendidik para penikmat atau pembacanya karena nilainilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya. yaitu memberikan keindahan bagi para penikmat atau para pembacanya. 2. Fungsi estetis. Pengertian Cerpen Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan. kekuasaan. Fungsi didaktif. dan membangun suasana cerita. . Tema suatu cerita mensegala persoalan. 6. 3.Pengertian Cerpen .Pengertian Cerpen Cerita pendek adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. 1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

teks cerita pendek sudah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya. Sentakan akhir Cerita harus diakhiri apabila persoalan sudah dianggap selesai. pembaca diharapkan dapat lebih mudah menangkap maksud dari setiap bagian cerita hingga tamat. dan keramain kotanya. dan bukannya melantur pada hal-hal yang klise apalagi bila kemudian terkesan menggurui. paragraph pertama dapat langsung masuk pada pokok persoalan. 5. 2. Penggambaran suasana yang biasa-biasa dan sudah dikenal umum tidak akan menarik bagi pembaca. Jika hendak melukiskan keadaan kota Jakarta dengan gedung-gedung yang tinggi. bila melukiskan keadaan kota Jakarta dengan mengkaitkannya pada suasana hati tokoh ceritanya penggambaran itu lebih menyentuh pembacanya. 6. Senyum-senyum. Kecenderungan cerita-cerita mutkhir adalah sentakan akhir yang membuat pembaca ternganga dan penasaran.Selain menggunakan kalimat efektif pengarang juga dituntut untuk memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa agar cerita yang dibuatnya dapat mengalir dengan lancer dan tidak kering serta membosankan. Cerita pendek merupakan karangan pendek. 3. Fokus cerita Dalam cerita pendek. Tokoh-tokoh yang hadir senantiasa bergerak secara fisik atau psikis hingga terlukis kehidupan yang sama dengan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi. akhir cerita merupakan sentakan yang membuat pembaca terkesan. 4. Kunci semua itu ada pada sentakan akhir dalam paragraph penutup cerita itu. Hal tersebut tentunya hanya menimbulkan kebosanan dan rasa apatis bagi pembacanya. Yang jelas. Pengertian Cerpen . segala bentuk harus berfokus pada satu persoalan pokok. Dengan menggunakan kalimat efektif.Teknik menulis cerita pendek adalah sebagai berikut : Pengertian Cerpen 1. menarik napas panjang atau merenung dalam karena terharu tanpa harus menuliskan kata-kata sedih. Menggali suasana Melukiskan suatu latar kadang-kadang memerlukan detail yang agak apik dan kreatif. Menggunakan kalimat efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang langsung memberikan kesan kepada pembacanya. Ringkasnya. kesemerawutan lalu lintas. Paragraf pertama yang mengesankan Paragraf pertama merupakan kunci pembuka. Menggerakkan tokoh (karakter) Dalam cerita selalu ada tokoh. penggambaran itu tidaklah menarik Karena penggambaran tersebut bukan merupakan hal yang baru.

307503  .39.5 -.7/.3..18.. /03..079.2.9: ../.. /.7.7.7:8 /. -..3.502-.30/:5.079..8. 0:8.079.3. .9: !03079.8..3 ./.5.. ...-039:.1 5079. .7 -.9:..5 -.8  908 .2-.98-.8  /.7 .5.3 /09.079.3.%03203:8.901091 .9.  079.39:9/.3 8:/.3 80 .7..079.503/0.3. 503/0 8:/.9 502-.3 ./7803.3.2.3 202-:.8.25.3 ..3203:7: .3 8:.2 .7.3..7   4:8. 20:8.3 :.079.5. /./...-07:9!03079.7 809. 03/. 8039.5 8008.3 503/0  5.7..93.2-.3 -:. 502-. .3 07. . 3.7 ..2.  0...3.2.7 .3 08. 90708.7 . /9:39:9 :39: 202 0./03.3544   $039. 503/0 207:5.33.5.5 2.8.3 203./.9 0- 2:/.38.7:8-0714:85..3207:5.7.:..7.5.703.9. .../.03/07:3. 907.2.3 .3../.3. 503..8:/ /.3. .7..2.3.7: .9. .3 .3 :3.. .  #3.2.-.2.8.3.907  .80..7.8./.. .3.8.3/. 502-.-07.3 9/.37. :2:2 9/.3  /.8039.503.7.   03:3.9.3 48.079.2-.9 01091  502-.349./.  03.2. 2:97 .3-.3 .3 8:.3.079.5 /.202-48.3 8039.1 5079.380.079.3.3 203:3.  .7 .8 5. 0738079. 203. 544 50784..9 $0. /.7.9 01091 503../..7.8..3.7..3 05.3   0307.35./..33.3.079. .  ...9:50784.390780-:9-:.9944.9 .: 20703:3 /.8.8: 5...3 20308.7 /03.079. .5.5.38:3 202-07.7.3 /.7.83..2.3944 .3 !.203.3./. .3 503.7.9 01091 .8:.944 %44 944./.802:.3.7.3 70..3 .3.2-..38:3 2...3 0/:3 0/:3 .80-./03. 907:80/:5.079. ./003/.39:7 5.80.79..3 49.5 5079.-.3 202-:.5.. 9.3 20207:.7 3.307503   !..30. 80/  :3.503.9 203.3.9.503.3 93  080207.3 8:/.39:0-203039:502-.7.5503:9:5.8.3  ..3 . /.3 -. .3 0.9.2.-0707. /.3 ./. /03.7:8 203:8.349.3 .:9..703.: 39.79.9 502-.3 203:3.8:.:5883. /.20:8.3. 207:5./.07 /.3 ..2032-:.5.7 079.3909.30-48.90780-:99039:3...7.02:/.2. 50784.. .7 .3 .9...7..91  !03.2.3 . 9073.3 . . 20.3 203.7: 9. /.503/0 80.780-.33.3 /-:.9 .3 .    03. .3./.3  $03:2 803:2  203.390708. 502-:..2.3 . 207:5. -.3 0.5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful