P. 1
makalah cerpen

makalah cerpen

|Views: 577|Likes:
Published by Dewi Rasdiana

More info:

Published by: Dewi Rasdiana on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2014

pdf

text

original

Wednesday, January 18, 2006 Kota Kelamin

Cerpen Mariana Amiruddin Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur. Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami. Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang. Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya. Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah. Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari. Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berendarenda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari. Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan bendabenda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia. Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tibatiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi. Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.

*** Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding. Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri. Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku. Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor. Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap. Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin. Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini? Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megapmegap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata. Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu. Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu. Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku. Di sini! Kaukah itu? Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang. Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia

ketika aku keluar dari ruang rapat. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?" "Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Ia menggigit seluruh tubuhku. Auto Suryatama. sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak. "Maaf. menunggu Susan memutuskan hubungan. kasih sayangku . Kini kami bersenggama di tengah kota. lebih tepat: nomornya berbeda. Sayang. Tak hanya bertemu. karena sepanjang dua malam kita bersama-sama. Bukunya antara lain Perempuan Menolak Tabu.mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. telepon di mejaku berdering. Kini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan dan Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. "Aku baru saja menerima sebuah undangan. "Ahai. Maafkan aku. "Sorry. Dudi!" sambung Susan. Jadi." sambutku automatically. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. kenapa kamu diam saja?" "Oh. mau membicarakan pekerjaan…" "Oke. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus. "Dudi. ya!" Gagang telepon masih di telinga. jadi konsentrasiku bercabang. seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…" "Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Magister Humaniora Kajian Wanita Universitas Indonesia. dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Ternyata aku telah banyak berdusta. Aku mengerti sekarang." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. Tak ada siapa-siapa di depanku. Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu. Tapi." Aku terkesiap mendengarnya. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. tapi tentu salah tempat. aku telepon ke kantor. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. "Cintamu. siapakah ini?" "Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Rembes ke dalam hati. Hp-mu tidak aktif. Bukan tidak aktif. yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Hebat!" "Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar. Saat kubuka sampul plastiknya. Bingkai Cerpen Kurnia Effendi UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga." "Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap. *** untuk Hudan Hidayat yang ’takkan pernah sembuh’ Jakarta. bukan membisikkan. aku tadi berdusta. Aku akan meneleponmu lagi nanti. Beyond Feminist dan novel berjudul Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai". kelamin pun punya hati. After office hour. Bahkan setelah hubungan telepon terputus. Seperti anak anjing. percayalah. 1 September 2005 Tentang Pengarang Mariana Amiruddin. Susan. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu. "Selamat siang dengan Dudi.

tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Jadi. Ada toko kue langganan sebenarnya. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar. yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu. kuangankan si anggun Susan. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Nanti malam. bagaimana sih?! Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. agar tidak terlampau mencurigakan. Dengan demikian. Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri. Waktu itu dia mengeluh. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana. Dengan cara itu. yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah. karena malam ini sepupunya akan datang. Kulihat sepintas. isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud." Seraya mengelus pipiku. Apa namanya tadi? Bingkai! Aku turun dari mobil. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali. dengan rambut dibiarkan terurai. sehingga mudah mendapatkan tempat. sebelum bercinta. Aha. Selintas kulihat. gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi. rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. aku ikut menemani. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang. Sepanjang sisa jalan pulang. karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan. Senyumku beralih rasa cemas. biar tidak suntuk di sana. selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincangbincang. bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. karena waktunya masih lama. bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. dan memenuhi pesanan Lanfang. tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan. bukan? Keringat mengembun di keningku. ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa. namanya juga tugas. lha kok dikongkon gawe resensi lukisan. "Aku iki isane nulis cerpen. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen. yok opo sih?!" Ya. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi. *** SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue. Padahal tak ada "polisi . seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu." Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman.kepadamu begitu jujur. tentu ingin juga "cuci mata" di sini. mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali. tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. Dan di tengah lingkaran para tamu. apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis. yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Tapi… astaga. Tapi tarikan pipiku berubah. sehingga waktu itu. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan. melenggang masuk dalam kerumunan. biaya penginapannya gratis.

Hanya Susan yang tahu nomor itu. ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas. menyurutkan lampu kamar hingga temaram. lalu masuk ke bawah selimutku." Tentu tidak akan larut malam. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang. lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud. pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. "Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu. Aku memarkir mobil ke carport. Langit mulai gelap. berdusta itu mendebarkan! . aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo. Pagar rumah sudah di depan mata. Mudah-mudahan. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Dia seorang pemilih yang baik. "Kamu harus menginap di Lor In." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya. Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen.tidur" di situ. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Sekitar tiga-empat hari. ya. Cantik. begitu tiba di Denpasar. Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini." "O. "Ya. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. no problem." Aku menelepon Lanfang dari kantor. nyaris tak berbeda dengan hotel lain. Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. kutelepon Lanfang seperlunya. "Tentu. karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Ke Lombok. Sebelum tertidur. Kok mendadak? Berapa hari?" "Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. akhir-akhir ini kamu begitu sibuk. ojo bengi-bengi mulihe. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. bisa minta tolong?" "Oke." Dipeluknya aku. Harum cendana memenuhi bath-tub. Dan seperti biasa. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca. "Cantik. Bagaimanapun. yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana." usulnya. Mmmuah!" Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Susan! "Hai. Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. *** AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai. Aku belum sempat membereskan kopor. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi. Kenapa?" "Besok aku tugas ke luar pulau. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku. Tetapi besok. Kamu perlu istirahat malam ini. Sampai besok. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. tak masalah." "Yo wis. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet. selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. "Terima kasih. Walaupun. tergantung bagaimana kondisi network di Lombok. Ke dekat urat nadinya. Kebetulan aku sudah di jalan raya." "Ya sudah. Tapi yang penting aku tahu. tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali.

di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. para undangan dan wartawan. teman-teman. Dia salah seorang sahabatku di kampung. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz." Suara Susan semakin sayup. sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru. kusaksikan pagi menggeliat lagi. Kita akan mulai acaranya…" Aku agak kikuk. "Pak Narto wafat!" . Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Silakan Susan bercerita untuk kita…" Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan. Kuhela napas haru. Ohoi. inilah dia si anak hilang. para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. Entah di belahan dunia mana dia kini berada." ujar master of ceremony. tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. menoleh ke arahku. 10 Desember 2005 Wednesday. Sementara di taman yang separuh gelap itu. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan.*** AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. Tak ada lagi ukiran nama kami. Ufuk timur perlahan benderang. 2005 Dendang Sepanjang Pematang Cerpen: M. Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Aku kaget mendengar suara Ayub. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Aku melihat matanya berbinar. Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang. Mereka memotret. Wajahnya tertegun. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Kudengar musik sayup gamelan Bali. sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya? Kemarin siang. Senyumnya merekah. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya? "Lanfang!" aku memanggil. "Baiklah. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Dan entah kenapa. karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. aku mencari degup jantung Lanfang. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Arman AZ Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku. *** Jakarta. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto. Ada beberapa bule yang hadir di sana. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau. kekasih yang kutunggu sudah tiba. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku. Sekian tahun silam. pohon randu. "Nama Bingkai kupilih karena…. di tengah raung mesin pabrik. namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang.anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. ponsel tuaku bergetar. aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Di luar sunyi. Sejenak mataku silau. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat. September 14. guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat. Lama sudah dia tak pulang. "Oke. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Senja baru saja lenyap.

dan derit pintu yang dikuak. sampai lupa aku. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Hidupnya kini makmur. dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. *** Sepanjang jalan menuju rumah duka. bahkan ke negeri orang. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Maryamah. "Jangankan mengalaminya. Darto. sekian jauh berjarak dengan kampung halaman. sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura. Ayub memanggil istrinya. Kutimang ponsel dengan gamang. Sudah jadi orang rupanya. anak pendiam dan alim itu. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan. langkah tergopoh. ke pulau seberang. campur sedih. Gemuk kau sekarang. Ayo masuk. Kisah teman-teman lama membuatku takjub. atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto. Dindingnya dari papan. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela. jadi tukang becak di kota. kami pun berpencar ke penjuru mata angin. Sudah lama kami tak bersua. Dia jadi bencong. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Ada tarup besar memayungi halaman. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. panen dua bulan lalu cukup lumayan. Sedap dipandang mata. Abas ditugasi mengurus koperasi. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Katanya. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Setelah hasil penjualan dibagi rata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. kuraih gagang gelas. Dia tak bisa datang melayat. Ruas-ruasnya sudah renggang. Dari bisik-bisik yang kudengar. waktu telah mengubah segalanya. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Namanya diubah jadi Marta. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. pangling aku. cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini." Aku tercekat. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu. Aku termangu menatap rumah duka itu. Man? Beli sawah. "Baru datang? Wah. gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya. Tawaran itu menohok batinku. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. membayangkannya saja aku tak sanggup. aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Ah. buang hajat. Tubuhnya kekar. waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan. Sambil menyulut rokok. kami beringsut keluar dari ruang tamu. Kami ingin merantau. *** Aku tertegun menatap rumah Ayub. dia ketiban bulan. "Man?!" Dia terperangah. Sekian lama di rantau. jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. yang paling pintar di kelas kami. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa. gigi putihnya berderet rapi. Terdengar sahutan. Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Lingkungannya kumuh. Tanaman hias memagari rumahnya. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ayub bilang. Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. Ah. Ah. kami kenang kawan-kawan lama. sebab culasnya melebihi ular. Lantas kuingat Abas. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat. "Kenapa tak pulang saja. Diam-diam kucermati sosoknya. Kata Ayub. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. meski sempat diserang hama wereng. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Kulitnya legam. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. makin banyak pelayat datang.jeritnya dari seberang sana. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. Ketika senyum atau bicara." Runtun kalimatnya. Mencari nasib yang lebih baik. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota. Ayub terpana mendengar ceritaku. Ngamen di gerbong-gerbong kereta." Menepis risau. tak pernah terbersit di benakku untuk pulang. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini. Detik itu juga. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi. kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Dari semua nama yang terpahat di batang randu. Kenangan kampung halaman begitu menyentak. Dan si Ahmad. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. . Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Aku tersenyum. Kami sudah biasa antre mandi. Ayub berkata. heran. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. kini jadi biduan orkes dangdut. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Makin tinggi matahari. Kursi-kursi plastik penuh terisi. lebih baik bunuh Abas duluan. Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Bertani.

hanya segelintir teman yang kutemui. Meski tak ada hubungan darah. Sejauh-jauh terbang. "Ya. bibirku terasa kelu. Dari huma beratap rumbia. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu. Ada yang menggoes sepeda. Setelah segar kami pulang. Entah siapa peniupnya. Aku ingat. Merasa tertangkap basah. lir ilir. apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa. Aku harus tahu diri. Tapi. Meninggalkan debu panjang di depan mataku. Memutari jalan kampung.Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini. Ayub mengajakku turun. kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu." suaraku gamang. Meski lebih jauh jaraknya. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Ayub menghardik mereka. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Sesampainya di sana. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Mendengarnya. Bintang bertaburan di langit lama. Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Bidikannya paling jitu di antara kami. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya.. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. entah kenapa. *** Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Aku harus pulang pagi ini. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam? *** Hari kedua di kampung. Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. . Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi. guraunya. Namun. "Semua teman kita pergi merantau. "Kampung kita sudah berubah. Tetua kampung meninggal satu-satu. kami merasa selayaknya saudara. Jadi TKI. Tandure wis semilir. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu. entah kenapa. dekat rimbunan pohon pisang. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir.." Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Tak ijo royo-royo. anak-anak muda kala itu. Aku terharu. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Wajah Ayub kaku. sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung. atau buruh sepertimu. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Tak sengguh temanten anyar. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Ayub mengajakku ke sawah. Kami pulang menjelang petang. Merantau jadi pilihan kami. Aku terpana.. Man. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Asal kau tahu. babu. Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. *** Izin cuti empat hari telah usai. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi. tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol. Batang-batang padi meliuk. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Aku enggan bertutur lebih banyak. Ngebut di jalan tanah berbatu. Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Di jalan. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan. wajah keduanya pucat dan merah padam." kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang. Lir ilir. Kami yang di rantau pasti dikabari. aku seperti orang asing di sini. Kami kembali melanjutkan langkah. Setelah memilih jadi manusia urban. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. tapi aku tak keberatan. Begitu juga jika ada yang meninggal. Menggelepar di semak-semak.. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu. warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Kami mengendap-endap. Aku serasa sedang berada di sorga.

Satu saat nanti.Tapi biarlah kutelan dalam hati saja. lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Namun sekedar menghibur diri. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan. Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Membeli sawah. Makan dari hasil keringat sendiri. Dengan motor tuanya. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. aku mau pulang. kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan...*** . jika ada uang. Hidup tenteram bersama anak istri. Persis ketika kami lewati pohon randu itu. Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang. cuma bisa tersenyum giris. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota.

Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku. Jangan surut. menikmati juga pujian itu. lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. Ia menatap putranya dari kursi rodanya. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini." . kalau begitu. "Baik. Ia mengangkat dagunya." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. kepada kamu. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan." "Tentu saja. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. Anda mengerti maksudku. anak muda?" Pengacara muda tertegun. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau." kata pengacara muda itu." Pengacara muda itu tersenyum. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Pengacara muda terkejut. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional. "Tidak apa. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Dan aku juga berani. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedunggedung bertingkat. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu. tidak terkejut. bagai suara alam." Pengacara muda itu tersenyum. mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. sembari mengangkat tangan. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar.Peradilan Rakyat Cerpen Putu Wijaya Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu. seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Pemburu Keadilan. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Aku juga pernah muda seperti kamu. namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya." Pengacara tua itu meringis." sambung pengacara tua menenangkan. Meskipun bukan bebas dari kritik. tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini. "Apa yang ingin kamu tentang. kau yang selalu berhasil dan sempurna. bukan sebagai putraku. "jangan membatasi dirimu sendiri. kalau perlu kurang ajar.

Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku. sudah ada kebangkitan baru. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Walhasil. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih." "Baik. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati. Begini. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil- . yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya. itu bukan istilahku. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Mulailah. bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebagai pembela. bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini. Aku mau berdialog. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya.Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku. "Ya aku menerimanya. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. Aku ingin berkata tidak kepada negara. "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. sebab aku seorang profesional. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Penjahat yang paling kejam. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. kesimpulanku. Kemudian ia melanjutkan. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. Di situ aku mulai berpikir. Pengacara muda itu terkejut. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia." "Terima kasih. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. negara sudah memainkan sandiwara. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. karena aku yang menjadi jaminannya. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu. Kenapa? Karena aku yakin. Sebentar saja. Dan itulah yang aku tentang." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. Berbicaralah sebebas-bebasnya." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. tetap kejahatan.

Namun." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan." Pengacara muda tertegun. Bukan karena materi perkara itu." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Demi memuliakan proses itulah. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain. "Seperti yang kamu katakan tadi.adilnya. malah kau terima baik." "Asal Anda jujur saja. mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. tawaran yang sama dari seorang penjahat. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting." "Perkaranya saja belum mulai. Sebab kebenaran sejati. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar." Pengacara muda itu tertawa kecil. Kalah-menang bukan masalah lagi. aku menerimanya sebagai klienku. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara." "Tapi kamu akan menang. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. Ia menatap. kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik." Pengacara tua termenung. "Karena aku akan membelanya. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum." . karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. tetapi karena soal-soal sampingan. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. bagaimana bisa tahu aku akan menang. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Kau tolak tawaran negara.

tanpa ancaman dan tanpa sogokan." "Kalau begitu. "Tak usah kamu ulangi lagi." Pengacara muda itu jadi amat terharu. Aku tidak takut. "Berarti ya!" "Ya." Pengacara muda itu ingin menjawab. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak. sebab aku sudah sangat rindu kepada dia. pulanglah anak muda."Aku jujur. Tak perlu kamu bimbang. Ketika yang muda hendak bicara lagi." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Ia minta tolong." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. Sudah jelas. seakanakan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. Tetapi orang tua itu . Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. ia mengangkat tangannya. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. bukan?" "Betul." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa. bukan karena kamu disogok. Biarkan aku bertemu dengan putraku. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak. pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam." "Betul. Keputusanmu sudah tepat. Kedua tangannya mengurut dada. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi." Pengacara tua itu terkejut. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu. bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. bukan karena takut. Lebih baik kamu pulang sekarang.

aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. air mata menetes di pipi pengacara besar itu." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu. . Sementara sekretaris jelitanya membacakan beritaberita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk. menyerbu dengan yel-yel dan posterposter raksasa. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. saya kira pertemuan harus diakhiri di sini.mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. "Maaf.." "Tapi." Pengacara tua itu menutupkan matanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Pengacara muda itu diculik. kemudian menyelimuti tubuhnya. Selamat malam. lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. anakku." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional. "Pulanglah sekarang. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. Hakimnya diburu-buru. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Beliau perlu banyak beristirahat. pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. Sekretarisnya yang jelita. Pak. Kalau tidak. kita akan menjadi bangsa yang lalai. aku rindu kepada putraku.. Mustofa Bisri Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional. Tetapi itu pun belum cukup. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya. Bukankah sudah aku ingatkan. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya. bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. tak mungkin dijamah lagi. lalu meloncat ke mancanegara. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. kalau berhadapan dengan sebuah perkara. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Rakyat pun marah." rintihnya dengan amat sedih. di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" *** Sang Primadona Cerpen A. "Katakan kepada ayahanda.

dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. ialah soal ibadah. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. masih lontang-lantung mencari pekerjaan." Ya. sangat menyayangiku. seperti sering aku lihat dalam film.kecukupan. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua. lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja. malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminarseminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. aku memenangkan lomba foto model. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil. "Ah. baik secara langsung atau melalui surat. jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Sebagai artis tenar. Tapi sungguh. Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. tak mengapa. boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. aku tak peduli. meski tidak memanjakanku. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Materi cukup. belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Yang terakhir ini. . aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.Tapi agar jelas. aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Yang masih selalu ibu ingatkan. menjadi host di tv-tv. Kuliahku pun tidak berlanjut. "Nduk. Tidak itu saja. Sementara banyak kawankawanku yang sudah lulus kuliah. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-. aku mengundang mereka dari kampung. Bahkan kini sedikitbanyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan. aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu. mulai SD sampai dengan SMA. salat jangan kamu abaikan!" "Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu. Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari." "Bila kamu mempunyai rezeki lebih." Memang sebagai perempuan yang belum bersuami. tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Bagaimana pun sibukmu. Kedua orang tuaku pun. ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Di sekolah. bila berjauhan. ibadah itu penting. agar tidak hilang. Tidak. bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu. diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah. Dia menyintaiku habis-habisan. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Hampir setiap hari. aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Soal kuliahku yang tidak berlanjut. aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi. Mula-mula memang aku perhatikan.

Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Ringkas cerita. Pendek kata. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan. terutama suamiku. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Begitulah. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. bukan hanya yang diselenggarakan kawankawan artis. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-. Suamiku pun tidak keberatan. meskipun agak surut. O ya. baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat. akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Kami. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. tentang kematian dan amal sebagai bekal. sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Dia seorang pengusaha yang sukses. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat. Tidak itu saja. Perangainya berubah sama sekali. kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu.memang merupakan hidayah Allah. Setelah itu. semua berjalan baik-baik saja. aku mengalah. aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Mula-mula. aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Sepertinya apa saja yang aku lakukan. Masih muda.Di antara mereka yang mengagumiku. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian. aku jadi sering merenung. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah. kini terasa sangat sinis dan kasar. anak keduaku. tampan. aku juga getol membaca buku-buku keagamaan. lahir. salah di mata suamiku. aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro . aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku. Sehingga. sopan. perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam. tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari. Dia yang dulu jarang keluar malam. Beberapa bulan setelah Ragil. aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. aku pun tak pernah lagi bertanya. dari sekadar sebagai artis. tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Untung. Setelah berbulan madu yang singkat. dan penuh perhatian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku. lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Masya Allah. hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga. Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Aku berhasil dipersuntingnya. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. di awal-awal perkawinan. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Bicaranya juga tidak seperti dulu. Selain pekerjaanku sebagai artis. aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. maupun ketika mengajak jamaah berdzikir. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. dengan sedikit menghemat. Bila dia berhalangan.

Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak. gugup. setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya.idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok. ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!*** Seharusnya Berjudul Celana Dalam Cerpen Etik Juwita Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja. dan bahkan politik. Sepertinya ia menyesal telah pulang. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan. aku menemukan lintingan rokok ganja. Bisa gawat bila ketahuan!" "Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Di kamar suamiku. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. perhatianku semakin minim terhadap anak-anak. Bu. Sundari mencoba mengingat-ingat. Memang. kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan. Kalau pun di rumah.konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya. demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Aku sempat berpikir. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis. aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Setelah aku musnahkan barang itu. tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya. apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa. sosial-kemasyarakatan." sahutnya khawatir. . tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Semula aku diam saja. "Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri. ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. Sundari terkesiap. "Ini ganja. Dan terus terang. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. tanpa sengaja. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini. Sundari tahu benar. tentu semakin terabaikan. Suatu hari. Bu?" "Apa itu?" tanyaku tak mengerti. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-. gara-gara suami. Aku sudah semakin jarang di rumah. Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Mula-mula dia seperti kaget. Aku bingung. Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi. "Ini barang berbahaya.sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan. Tapi seperti sudah aku duga. sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore.

Mam mulai menangis. meraung-raung. mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. segera diurungkannya. lalu menjemurnya di balkon. Sundari semakin salah tingkah. Tuan terlambat pulang. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri.. suaminya di dekat sepeda motor tetangga. belum sempat ia menuangkan deterjen. ketika persediaan makan mendekati habis. kontan Sundari jadi salah tingkah. Sepekan setelah kepergian Nyonya. Besoknya. mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya. ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K.. Esoknya. Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Hingga tibatiba. Gara-garanya. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. Rapi. Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. kamu punya majikan mau celai. Dulu." kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Tidak sopan. no Mam. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli. dua bulan lalu. Sundari mendekat.Tuan pergi ke China. Sundari tersipu. berpikir. "Cundali. Ia ingin mengatakan pada Nyonya." kata Sundari akhirnya. Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. Kamu punya kelja tidak ada. Tapi mencoba tenang. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. Sundari tetap tidak mengerti. Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. Tapi.. Menyembul dari pintu dapur. *** "Indonesia. Tangisnya semakin keras. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga. Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. Nyonya memang orang yang cemburuan. no. pikirnya. hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari. meringis. Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah. "Ya. "Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong. Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. Mendengar jawaban Sundari." "Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. suara majikannya terdengar dekat. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Wajahnya semakin kelihatan judes. Kamu dipulangkan. . mengamati setiap pernik di dalamnya. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. Padahal. "It’s your panty. ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok. "Cundaliiii!!" Sundari menoleh. menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya. Dag dig dug jantungnya berirama bingar. Sehari itu. Bahkan. Saat merapikannya. Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung. cuma mengangguk-angguk. My panty is big-big one. terlihat. Tapi. Tapi. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo. "Nnn. Padahal Sundari ingin menangis. tidak ada yang salah letak. berangkat dua jam sebelum Mam kembali. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama.

di sebelah kiri pintu masuk. .*** Hong Kong. "Majikanku cerai."Kok tahu?" katanya balik bertanya. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat. yang Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya. Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya. "Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!" Sundari tersenyum getir. begitu! posted by imponk | 1:36:00 PM << Home . tertawa ngakak. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah. teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. gadis di sebelahnya itu. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong. serta-merta Sundari merasa lelah. 24 April 2005 Catatan: ." katanya. mereknya Sexygirl?" "Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?" Sundari bengong.. Kamu?" "Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob. "Namanya majikan ya Mbak. Lalu Marni.My panty is big-big one = My panties are bigger than his one. Sundari tersenyum tanpa sadar.jisin: gila . Nanti aku ceritakan di dalam pesawat. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. haiya!" "Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?" "Haiya!!" "Kecil. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. Marni juga dipulangkan. Nyonya bilang.hai wo: o. .Sundari merasa akan kembali ke dunianya. nasib Marni." "Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari." Mengingat nasibnya. 13 September lalu. Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. salah bener ya maunya bener. menyambut senyumnya. Marni cuma mengangguk sambil melongo. bicara dengan membentak. Cerpen ini salah satu karya terbarunya. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat. "Jangan dibuang. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-. setelah empat tahun bekerja menjadi TKW di negeri itu. menangis sejadi-jadinya.. baru pulang dari Hongkong. Etik yang asal Blitar. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari. "Ceritanya singkat. karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas. biar Tuan tahu. "Haiya.Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni. juga nasib majikannya.

Pengertian Cerpen . (3) latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas. kritik dan sebagainya. Dalam cerita pendek terkandung unsur-unsur intrinsik yaitu :Pengertian Cerpen 1. Sudut pandang yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita. Tema suatu cerita mensegala persoalan. Latar terdiri atas latar tempat. yaitu pokok gagasan menjadi dasar pengembangan cerita pendek.Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. 4. Latar ini berguna untuk memperkuat tema. Penokohan dan perwatakan yaitu cerita pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya. yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para penikmatnya atau pembacanya.Dalam cerita pendek dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian. kasih sayang. Pengertian Cerpen Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan. dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk. yang penuh pertikaian. (2) tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang. Untuk menentukan panjang cerpen memang sulit untuk ukuran yang umum. gembira. yaitu memberikan keindahan bagi para penikmat atau para pembacanya. Yang jelas tidak ada cerpen yang panjang 100 halaman (Surana. dalam cerpen dikenal adanya unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur luar yang berpengaruh terhadap penciptaan suatu bentuk karya sastra. unsur ekstrinsik itu antara lain (1) latar belakang pengarang. yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca atau pendengar. diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai unsur karangan itu. dan membangun suasana cerita. ataupun pada latar. Bisa saja temanya itu dititipkan pada unsur penokohan. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan. 5. Fungsi sastra dalam hal ini cerpen dibagi dalam lima golongan yaitu : 1. Cerita pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut (1) alur lebih sederhana. yaitu memberikan rasa senang. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh. 3. alur. 5. Fungsi moralitas. baik itu berupa masalah kemanusiaan. yaitu mengarahkan dan mendidik para penikmat atau pembacanya karena nilainilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya. (4) tema dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan relatif sederhana.Pengertian Cerpen Cerita pendek adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Pesan bisa berupa harapan. cerpen selesai dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. Fungsi relegiusitas. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan dan mngandung kesan yang tidak mudah dilupakan. kekuasaan. nasehat. Untuk mengetahui tema suatu cerita. serta menghibur para penikmat atau pembacanya. 2004:431). Jika cerpennya lebih panjang mungkin sampai 1½ atau 2 jam. menuntun watak tokoh. 2. 1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. 3. 4. (2) keadaan sosial budaya ketika karya sastra itu diciptakan. Fungsi didaktif. kecemburuan dan sebagainya. . Selain unsur Intrinsik. waktu dan sosial. Seting atau latar yaitu tempat dan waktu terjadinya cerita. 2. 6. Fungsi rekreatif. Amanat. 1987:58). Tema. yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga para penikmat atau pembacanya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi dirinaya. Plot atau alur. yaitu rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama sehingga menggerakkan jalan cerita melalui perkenalan klimaks dan penyelesaian. Fungsi estetis.

akhir cerita merupakan sentakan yang membuat pembaca terkesan. teks cerita pendek sudah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya. Hal tersebut tentunya hanya menimbulkan kebosanan dan rasa apatis bagi pembacanya. Tokoh-tokoh yang hadir senantiasa bergerak secara fisik atau psikis hingga terlukis kehidupan yang sama dengan kehidupan sehari-hari. dan keramain kotanya. Kecenderungan cerita-cerita mutkhir adalah sentakan akhir yang membuat pembaca ternganga dan penasaran. Penggambaran suasana yang biasa-biasa dan sudah dikenal umum tidak akan menarik bagi pembaca. Akan tetapi. Paragraf pertama yang mengesankan Paragraf pertama merupakan kunci pembuka. 5. Fokus cerita Dalam cerita pendek. pembaca diharapkan dapat lebih mudah menangkap maksud dari setiap bagian cerita hingga tamat. Ringkasnya. Jika hendak melukiskan keadaan kota Jakarta dengan gedung-gedung yang tinggi. menarik napas panjang atau merenung dalam karena terharu tanpa harus menuliskan kata-kata sedih. 3. Menggerakkan tokoh (karakter) Dalam cerita selalu ada tokoh.Teknik menulis cerita pendek adalah sebagai berikut : Pengertian Cerpen 1. 6. 4. kesemerawutan lalu lintas. 2. Menggunakan kalimat efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang langsung memberikan kesan kepada pembacanya. penggambaran itu tidaklah menarik Karena penggambaran tersebut bukan merupakan hal yang baru.Selain menggunakan kalimat efektif pengarang juga dituntut untuk memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa agar cerita yang dibuatnya dapat mengalir dengan lancer dan tidak kering serta membosankan. paragraph pertama dapat langsung masuk pada pokok persoalan. Sentakan akhir Cerita harus diakhiri apabila persoalan sudah dianggap selesai. Menggali suasana Melukiskan suatu latar kadang-kadang memerlukan detail yang agak apik dan kreatif. Kunci semua itu ada pada sentakan akhir dalam paragraph penutup cerita itu. Cerita pendek merupakan karangan pendek. Senyum-senyum. Dengan menggunakan kalimat efektif. Yang jelas. bila melukiskan keadaan kota Jakarta dengan mengkaitkannya pada suasana hati tokoh ceritanya penggambaran itu lebih menyentuh pembacanya. segala bentuk harus berfokus pada satu persoalan pokok. dan bukannya melantur pada hal-hal yang klise apalagi bila kemudian terkesan menggurui. Pengertian Cerpen .

3..079.3 .7 3.503/0 80..3.3 ./7803.7 .3 -:.3.. ..079.-.3.1 5079.9:50784.9: ./.3  $03:2 803:2  203.503.079.. :2:2 9/.9.38:3 2./.8:.307503   !.7 .349..5 2.3 ....3 70.7.2. .. .8..79.37...8.2. .802:.8: 5./. /.: 39..3 .5 8008.8  /.3 05..5503:9:5.03/07:3.. .5 /.3 9/.2.2.390780-:9-:.83. 0738079.: 20703:3 /.3 /-:.9. 503/0 8:/.9 502-.079.3544   $039.3.. 3.33.3 203:3..5.39:9/.8:/ /. /.3 20207:. -.79. /03.7: .3207:5..9. ./03.3. .3 0/:3 0/:3 .3 /09.2032-:.3 48.33.7/.9.079.3  . 0:8.7.3 .7../.3./.7.3 .901091 .502-. 907:80/:5. .944 %44 944.. /.7.2.7.2-. /.. /..9: !03079..91  !03.80-. 207:5.3 .9 ./.2.7.7:8 /. 9073.3 202-:.8.-07:9!03079.8.380.80.780-.5.9. .39:0-203039:502-.7 -.703.7.5 5079.3. 503.202-48.-039:.7 079.8039.5./.  03.  0..  #3.  ./..2.079.9 01091 503.079.7 809.3 503/0  5.307503  .5..7.07 /.8:.3 8:. 9.. .. 90708. 502-.2 . 80/  :3.-07.9 01091  502-.3 /.93..9 01091 . 03/.3 . 20..3. .3..2-.3 :3.9 0- 2:/.3203:7: .3.:9.349.7.35.7.98-.3 49.3 08..3 .8 5../003/./.3.9 203. 502-:..8.079.9 .3..7. 203..1 5079.33.2-.    03.5 -.203.7.90780-:99039:3.503.503.7.3.7./.079.3 203.3 8:/.2..3-.  .3 . . 2:97 .39.3 ..25.3 :.-. 907..18. ./.9 502-.3.7 .2-.079. /.2..8..3.3./.3..907  .079.3.8.5..02:/..3   0307..-0707.7.3 93  080207. 502-.3 20308.  079.8  908 .3 .3 .9.5.3 !.3.7 /03..503/0.7:8 203:8.3 0.9944.3  /.39:7 5.5.%03203:8.38. /9:39:9 :39: 202 0.. .3909. 207:5. 8039. ./. -. /03.3. .7 .:..3944 .3 . 20:8.3 503.7   4:8.3 0.3. 544 50784.3.   03:3.7.:5883.8.3 07. 503/0 207:5.80.7...9:. .2.703. 50784..5.9..8.2. /.30/:5.30.3/../.3 8039.7:8-0714:85.9 $0.5.3 8:/...079.3 8:./03.2.3 .5.5 -.2.7 ..3 202-:.30-48..3 .390708.2.3 -.7: 9..7.38:3 202-07.3.7 .8.7.3 80 .3 203:3./.20:8.3 203. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->