Wednesday, January 18, 2006 Kota Kelamin

Cerpen Mariana Amiruddin Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur. Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami. Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang. Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya. Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah. Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari. Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berendarenda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari. Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan bendabenda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia. Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tibatiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi. Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.

*** Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding. Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri. Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku. Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor. Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap. Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin. Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini? Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megapmegap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata. Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu. Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu. Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku. Di sini! Kaukah itu? Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang. Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia

Tak ada siapa-siapa di depanku. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Aku mengerti sekarang. Seperti anak anjing. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?" "Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Magister Humaniora Kajian Wanita Universitas Indonesia. lebih tepat: nomornya berbeda. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai". Beyond Feminist dan novel berjudul Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat. "Sorry. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. tapi tentu salah tempat. bukan membisikkan." "Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak. kenapa kamu diam saja?" "Oh. Bahkan setelah hubungan telepon terputus. "Aku baru saja menerima sebuah undangan. Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu. Kini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan dan Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan. Hp-mu tidak aktif. Saat kubuka sampul plastiknya. yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket. Jadi. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. "Ahai. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. Rembes ke dalam hati. "Cintamu. Tak hanya bertemu. "Maaf. Kini kami bersenggama di tengah kota. seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. mau membicarakan pekerjaan…" "Oke. jadi konsentrasiku bercabang. Susan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus.mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. Maafkan aku. dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. kelamin pun punya hati. Bukunya antara lain Perempuan Menolak Tabu. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. 1 September 2005 Tentang Pengarang Mariana Amiruddin. After office hour. percayalah. Bukan tidak aktif. Bingkai Cerpen Kurnia Effendi UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga. karena sepanjang dua malam kita bersama-sama. ketika aku keluar dari ruang rapat." sambutku automatically. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap. telepon di mejaku berdering. kasih sayangku . "Dudi. Auto Suryatama. ya!" Gagang telepon masih di telinga. Sayang. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…" "Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. aku telepon ke kantor. Tapi. Dudi!" sambung Susan. Hebat!" "Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar. tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang. aku tadi berdusta. "Selamat siang dengan Dudi. Aku akan meneleponmu lagi nanti. Ia menggigit seluruh tubuhku. aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Ternyata aku telah banyak berdusta. *** untuk Hudan Hidayat yang ’takkan pernah sembuh’ Jakarta." Aku terkesiap mendengarnya. menunggu Susan memutuskan hubungan. siapakah ini?" "Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu.

Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri. isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. sehingga waktu itu. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. Dengan cara itu. Dengan demikian. yok opo sih?!" Ya. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali. agar tidak terlampau mencurigakan. di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. aku ikut menemani. "Aku iki isane nulis cerpen. karena malam ini sepupunya akan datang. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan. rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Apa namanya tadi? Bingkai! Aku turun dari mobil. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah. Senyumku beralih rasa cemas. Kulihat sepintas. Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan. ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa. tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar. biaya penginapannya gratis. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen. kuangankan si anggun Susan.kepadamu begitu jujur. yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya." Seraya mengelus pipiku. bukan? Keringat mengembun di keningku. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan. dengan rambut dibiarkan terurai. sebelum bercinta. seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. melenggang masuk dalam kerumunan. Ada toko kue langganan sebenarnya. Sepanjang sisa jalan pulang. Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. namanya juga tugas. yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta." Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Waktu itu dia mengeluh. mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan. Selintas kulihat. biar tidak suntuk di sana. apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis. Tapi tarikan pipiku berubah. Tapi… astaga. Jadi. selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi. dan memenuhi pesanan Lanfang. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu. *** SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue. sehingga mudah mendapatkan tempat. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang. Dan di tengah lingkaran para tamu. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi. Aha. gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi. bagaimana sih?! Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang. karena waktunya masih lama. Padahal tak ada "polisi . yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincangbincang. tentu ingin juga "cuci mata" di sini. Nanti malam. lha kok dikongkon gawe resensi lukisan.

Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Harum cendana memenuhi bath-tub. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. tergantung bagaimana kondisi network di Lombok. pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. Kenapa?" "Besok aku tugas ke luar pulau. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Dia seorang pemilih yang baik. "Cantik. ojo bengi-bengi mulihe. ya. "Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu." Aku menelepon Lanfang dari kantor. Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting. tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata. Sekitar tiga-empat hari. berdusta itu mendebarkan! . Langit mulai gelap. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Tetapi besok. akhir-akhir ini kamu begitu sibuk. Pagar rumah sudah di depan mata. begitu tiba di Denpasar. Walaupun. "Tentu. Kamu perlu istirahat malam ini. Cantik. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Dan seperti biasa. Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. Aku belum sempat membereskan kopor. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Tapi yang penting aku tahu. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya." usulnya. tak masalah. Hanya Susan yang tahu nomor itu. Susan! "Hai. Mmmuah!" Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya." Dipeluknya aku. selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. lalu masuk ke bawah selimutku. yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. "Ya. "Terima kasih. Kok mendadak? Berapa hari?" "Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo." "Yo wis. "Kamu harus menginap di Lor In." "Ya sudah. *** AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai. kutelepon Lanfang seperlunya. nyaris tak berbeda dengan hotel lain." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas. menyurutkan lampu kamar hingga temaram. lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku.tidur" di situ. tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. no problem." "O. Kebetulan aku sudah di jalan raya. Mudah-mudahan. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud. Sampai besok. Bagaimanapun. bisa minta tolong?" "Oke. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi." Tentu tidak akan larut malam. Ke dekat urat nadinya. Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. Sebelum tertidur. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca. Ke Lombok. Aku memarkir mobil ke carport.

inilah dia si anak hilang. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang. Sekian tahun silam. Di luar sunyi. aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Ufuk timur perlahan benderang. sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Mereka memotret. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto. para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. 10 Desember 2005 Wednesday." Suara Susan semakin sayup. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Ada beberapa bule yang hadir di sana. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Dan entah kenapa. Dia salah seorang sahabatku di kampung. Senyumnya merekah. Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. "Baiklah. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang. Aku melihat matanya berbinar. Kita akan mulai acaranya…" Aku agak kikuk. Wajahnya tertegun. karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. "Pak Narto wafat!" . Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Sejenak mataku silau. Arman AZ Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. menoleh ke arahku. di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku. sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya? Kemarin siang. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku. "Oke. teman-teman. kekasih yang kutunggu sudah tiba. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. para undangan dan wartawan. Senja baru saja lenyap. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. 2005 Dendang Sepanjang Pematang Cerpen: M. kusaksikan pagi menggeliat lagi.*** AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. *** Jakarta. September 14. "Nama Bingkai kupilih karena…. namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. pohon randu. Ohoi. Aku kaget mendengar suara Ayub. guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya? "Lanfang!" aku memanggil. Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Tak ada lagi ukiran nama kami. menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Sementara di taman yang separuh gelap itu. aku mencari degup jantung Lanfang. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Lama sudah dia tak pulang." ujar master of ceremony.anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat. di tengah raung mesin pabrik. Kuhela napas haru. Silakan Susan bercerita untuk kita…" Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan. tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh. Kudengar musik sayup gamelan Bali. ponsel tuaku bergetar.

Ayo masuk. dan derit pintu yang dikuak. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. "Jangankan mengalaminya. Diam-diam kucermati sosoknya. Kami sudah biasa antre mandi. Darto. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota. . Dari bisik-bisik yang kudengar. Ruas-ruasnya sudah renggang. kuraih gagang gelas. Kami ingin merantau. sebab culasnya melebihi ular. Aku termangu menatap rumah duka itu. kini jadi biduan orkes dangdut. yang paling pintar di kelas kami. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura. campur sedih." Menepis risau. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Kata Ayub. Tawaran itu menohok batinku. heran. Abas ditugasi mengurus koperasi. Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Terdengar sahutan. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Bertani. sekian jauh berjarak dengan kampung halaman. buang hajat. Kenangan kampung halaman begitu menyentak. kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Kutimang ponsel dengan gamang. makin banyak pelayat datang. Tanaman hias memagari rumahnya. Katanya. Ayub bilang. Maryamah. Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Ada tarup besar memayungi halaman. Sudah jadi orang rupanya. tak pernah terbersit di benakku untuk pulang. ke pulau seberang. waktu telah mengubah segalanya. Namanya diubah jadi Marta. jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan. kami kenang kawan-kawan lama. Setelah hasil penjualan dibagi rata. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. Man? Beli sawah. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Ayub memanggil istrinya. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. pangling aku. dia ketiban bulan. atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng. Sudah lama kami tak bersua. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi. Lingkungannya kumuh. Lantas kuingat Abas. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Dari semua nama yang terpahat di batang randu. "Kenapa tak pulang saja. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela. jadi tukang becak di kota. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan." Aku tercekat. bahkan ke negeri orang. Dia tak bisa datang melayat. Gemuk kau sekarang. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan. Ah. anak pendiam dan alim itu. Kisah teman-teman lama membuatku takjub. langkah tergopoh. Tubuhnya kekar. *** Aku tertegun menatap rumah Ayub. Ayub terpana mendengar ceritaku. aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Dindingnya dari papan. Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Sedap dipandang mata. Hidupnya kini makmur. sampai lupa aku. Ah. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto. gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya. Makin tinggi matahari. kami beringsut keluar dari ruang tamu. *** Sepanjang jalan menuju rumah duka. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Ah. Mencari nasib yang lebih baik. Di depan rumah ada bale-bale bambu. kami pun berpencar ke penjuru mata angin.jeritnya dari seberang sana. Aku tersenyum. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Detik itu juga. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Kursi-kursi plastik penuh terisi. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu. Dan si Ahmad. meski sempat diserang hama wereng. Sekian lama di rantau. Ketika senyum atau bicara. Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua." Runtun kalimatnya. lebih baik bunuh Abas duluan. "Man?!" Dia terperangah. panen dua bulan lalu cukup lumayan. "Baru datang? Wah. gigi putihnya berderet rapi. Sambil menyulut rokok. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Ayub berkata. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Kulitnya legam. membayangkannya saja aku tak sanggup. Dia jadi bencong. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang.

Meski tak ada hubungan darah. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Dari huma beratap rumbia. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan." Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Kami pulang menjelang petang. Ngebut di jalan tanah berbatu. guraunya. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. dekat rimbunan pohon pisang. aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini. "Kampung kita sudah berubah. Sejauh-jauh terbang. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Batang-batang padi meliuk. Ada yang menggoes sepeda. babu. wajah keduanya pucat dan merah padam. Aku serasa sedang berada di sorga. Aku harus pulang pagi ini. "Semua teman kita pergi merantau. *** Izin cuti empat hari telah usai. "Ya. warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Jadi TKI.. Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Bidikannya paling jitu di antara kami. hanya segelintir teman yang kutemui. Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu. tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Kami kembali melanjutkan langkah. Tandure wis semilir. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam? *** Hari kedua di kampung. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Bintang bertaburan di langit lama. Lir ilir. Menggelepar di semak-semak." kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang. Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Tetua kampung meninggal satu-satu. Kami yang di rantau pasti dikabari. sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Mendengarnya." suaraku gamang. Tapi. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Meninggalkan debu panjang di depan mataku. entah kenapa. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu. .. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Namun. lir ilir. Aku enggan bertutur lebih banyak. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. aku seperti orang asing di sini. Kami mengendap-endap. Sesampainya di sana. Tak sengguh temanten anyar.. Meski lebih jauh jaraknya. Asal kau tahu. Ayub mengajakku ke sawah. Ayub menghardik mereka. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Memutari jalan kampung. anak-anak muda kala itu. kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati.Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan. Setelah memilih jadi manusia urban. atau buruh sepertimu. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. *** Harum bunga kopi merayap dibawa angin. entah kenapa. Di jalan. apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa. tapi aku tak keberatan. Tak ijo royo-royo. Merasa tertangkap basah. Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti.. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu. Merantau jadi pilihan kami. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Man. Entah siapa peniupnya. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Aku ingat. Aku terharu. Begitu juga jika ada yang meninggal. Wajah Ayub kaku. Aku terpana. Ayub mengajakku turun. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Setelah segar kami pulang. bibirku terasa kelu. Aku harus tahu diri. kami merasa selayaknya saudara. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan.

jika ada uang. aku mau pulang. Membeli sawah.Tapi biarlah kutelan dalam hati saja. Makan dari hasil keringat sendiri. Dengan motor tuanya. Namun sekedar menghibur diri. cuma bisa tersenyum giris. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan. Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan.*** . Persis ketika kami lewati pohon randu itu.. Hidup tenteram bersama anak istri.. lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang. Satu saat nanti. kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana.

Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. "Tidak apa. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedunggedung bertingkat. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. "jangan membatasi dirimu sendiri." kata pengacara muda itu. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. Pengacara muda terkejut. kalau begitu. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku. namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Pemburu Keadilan. "Baik. "Apa yang ingin kamu tentang. "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini. tidak terkejut. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. kau yang selalu berhasil dan sempurna. Jangan surut. seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu. Ia mengangkat dagunya." Pengacara muda itu tersenyum." sambung pengacara tua menenangkan." "Tentu saja. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih. Anda mengerti maksudku. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan. mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu." . mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air. tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini. kalau perlu kurang ajar. karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini." Pengacara tua itu meringis. Dan aku juga berani. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. menikmati juga pujian itu. bagai suara alam. Aku juga pernah muda seperti kamu. Ia menatap putranya dari kursi rodanya. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." Pengacara muda itu tersenyum." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu. bukan sebagai putraku. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. kepada kamu." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional. Meskipun bukan bebas dari kritik. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya.Peradilan Rakyat Cerpen Putu Wijaya Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. anak muda?" Pengacara muda tertegun. meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. sembari mengangkat tangan.

aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil- . "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Di situ aku mulai berpikir. Berbicaralah sebebas-bebasnya. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. negara sudah memainkan sandiwara." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih. "Ya aku menerimanya. yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Kemudian ia melanjutkan. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. kesimpulanku. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. Aku mau berdialog. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak.Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Aku ingin berkata tidak kepada negara. Mulailah. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. tetap kejahatan. Sebagai pembela. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku. Pengacara muda itu terkejut. itu bukan istilahku. bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini." "Terima kasih. Walhasil. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Begini. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. Penjahat yang paling kejam. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu. Dan itulah yang aku tentang. Sebentar saja. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. sebab aku seorang profesional. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati. tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Kenapa? Karena aku yakin. sudah ada kebangkitan baru. karena aku yang menjadi jaminannya. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang." "Baik." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak.

" Pengacara tua termenung. kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan. bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. Namun." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku." . mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng." Pengacara muda tertegun. Sebab kebenaran sejati." "Perkaranya saja belum mulai. tawaran yang sama dari seorang penjahat. "Karena aku akan membelanya. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. bagaimana bisa tahu aku akan menang. tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. Ia menatap. "Seperti yang kamu katakan tadi. Kau tolak tawaran negara. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti." "Asal Anda jujur saja. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya. aku menerimanya sebagai klienku. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini." "Tapi kamu akan menang. malah kau terima baik. tetapi karena soal-soal sampingan. karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Bukan karena materi perkara itu. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian." Pengacara muda itu tertawa kecil." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara.adilnya. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Kalah-menang bukan masalah lagi. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan. Demi memuliakan proses itulah.

sebab aku sudah sangat rindu kepada dia. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu. Ia minta tolong. Lebih baik kamu pulang sekarang. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. Tetapi orang tua itu . Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan. bukan?" "Betul. juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu. tanpa ancaman dan tanpa sogokan." Pengacara tua itu terkejut. Kedua tangannya mengurut dada." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa. Sudah jelas. "Berarti ya!" "Ya. pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam." "Kalau begitu." Pengacara muda itu jadi amat terharu. pulanglah anak muda. "Tak usah kamu ulangi lagi. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak. Aku tidak takut. Ketika yang muda hendak bicara lagi." "Betul. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. seakanakan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. bukan karena kamu disogok. bukan karena takut. ia mengangkat tangannya. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak. Keputusanmu sudah tepat. bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. Tak perlu kamu bimbang." Pengacara muda itu ingin menjawab. Biarkan aku bertemu dengan putraku." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya."Aku jujur. bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak.

" "Tapi. . air mata menetes di pipi pengacara besar itu. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Sekretarisnya yang jelita." rintihnya dengan amat sedih. bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional. Sementara sekretaris jelitanya membacakan beritaberita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. Hakimnya diburu-buru." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan." Pengacara tua itu menutupkan matanya. lalu meloncat ke mancanegara. Beliau perlu banyak beristirahat. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Kalau tidak. kalau berhadapan dengan sebuah perkara. tak mungkin dijamah lagi. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Rakyat pun marah. Pak. kemudian menyelimuti tubuhnya." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.. "Pulanglah sekarang. Selamat malam. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. aku rindu kepada putraku. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya. kita akan menjadi bangsa yang lalai. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Bukankah sudah aku ingatkan. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya. "Katakan kepada ayahanda. agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik. Mustofa Bisri Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. Pengacara muda itu diculik.mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. anakku. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. menyerbu dengan yel-yel dan posterposter raksasa.. "Maaf. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" *** Sang Primadona Cerpen A. saya kira pertemuan harus diakhiri di sini. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya.

kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. ialah soal ibadah. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Sebagai artis tenar. ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal. menjadi host di tv-tv. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan." Ya. Bahkan kini sedikitbanyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar. ibadah itu penting. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku. agar tidak hilang. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. masih lontang-lantung mencari pekerjaan." "Bila kamu mempunyai rezeki lebih. aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku. belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Tapi sungguh. kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-. boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini. aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan.Tapi agar jelas. aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. tak mengapa. tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial. mulai SD sampai dengan SMA. Soal kuliahku yang tidak berlanjut. Tidak. Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua. bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Mula-mula memang aku perhatikan. Hampir setiap hari. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kuliahku pun tidak berlanjut. Sementara banyak kawankawanku yang sudah lulus kuliah. Tidak lagi bergantung kepada orang tua." Memang sebagai perempuan yang belum bersuami. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. meski tidak memanjakanku. sangat menyayangiku. lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang. . salat jangan kamu abaikan!" "Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu. Tidak itu saja. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah. Di sekolah. aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Yang terakhir ini. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Yang masih selalu ibu ingatkan. bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu. jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. Dia menyintaiku habis-habisan. aku mengundang mereka dari kampung. Kedua orang tuaku pun. "Ah. baik secara langsung atau melalui surat. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri.kecukupan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. aku memenangkan lomba foto model. malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminarseminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. aku tak peduli. bila berjauhan. Materi cukup. dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Bagaimana pun sibukmu. seperti sering aku lihat dalam film. "Nduk. Ia tidak sekadar mengidolakanku.

Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam. dan penuh perhatian. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Bila dia berhalangan. sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. di awal-awal perkawinan. tentang kematian dan amal sebagai bekal. dari sekadar sebagai artis. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. dengan sedikit menghemat. Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Bicaranya juga tidak seperti dulu. anak keduaku. maupun ketika mengajak jamaah berdzikir. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. sopan. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat. aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro . Ringkas cerita. akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. aku dimintanya untuk mengisi pengajian. semua berjalan baik-baik saja. tampan. hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. aku mengalah. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Sehingga. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah. Setelah itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian. Begitulah. bukan hanya yang diselenggarakan kawankawan artis. kini terasa sangat sinis dan kasar. perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Untung. tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. aku jadi sering merenung. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. terutama suamiku. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tidak itu saja. Kami. Masya Allah. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Selain pekerjaanku sebagai artis. aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari. Masih muda.Di antara mereka yang mengagumiku. lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. lahir. aku juga getol membaca buku-buku keagamaan. Pendek kata. Perangainya berubah sama sekali. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan. aku pun tak pernah lagi bertanya. Mula-mula. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku. aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. meskipun agak surut. Aku berhasil dipersuntingnya. aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. Sepertinya apa saja yang aku lakukan. kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. O ya. tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini.memang merupakan hidayah Allah. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. salah di mata suamiku. aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku. Dia yang dulu jarang keluar malam. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Beberapa bulan setelah Ragil. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Setelah berbulan madu yang singkat. Dia seorang pengusaha yang sukses. Suamiku pun tidak keberatan.

Sundari mencoba mengingat-ingat. Bu. tentu semakin terabaikan. aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. . Dan terus terang. Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Aku sempat berpikir. Bisa gawat bila ketahuan!" "Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. tak akan lagi menyentuh barang haram itu. apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-. perhatianku semakin minim terhadap anak-anak. tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya. Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini. apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. tanpa sengaja. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan. tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Sepertinya ia menyesal telah pulang. Aku sudah semakin jarang di rumah. "Ini barang berbahaya. sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri. Suatu hari. sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. "Ini ganja. Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. Semula aku diam saja. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak. aku menemukan lintingan rokok ganja. gara-gara suami. ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis. gugup. "Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. sosial-kemasyarakatan. Setelah aku musnahkan barang itu. Sundari terkesiap. setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku bingung. Memang. Mula-mula dia seperti kaget. kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan. sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore." sahutnya khawatir.idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Ini sudah keterlaluan.konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!*** Seharusnya Berjudul Celana Dalam Cerpen Etik Juwita Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama. dan bahkan politik. Kalau pun di rumah. sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa. demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Di kamar suamiku. Bu?" "Apa itu?" tanyaku tak mengerti. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Tapi seperti sudah aku duga. Sundari tahu benar.sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan. aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati.

My panty is big-big one. Padahal. belum sempat ia menuangkan deterjen. Sundari mendekat.Tuan pergi ke China. segera diurungkannya. *** "Indonesia. suaminya di dekat sepeda motor tetangga. Tapi. Sepekan setelah kepergian Nyonya. Gara-garanya. Tapi. Besoknya. Nyonya memang orang yang cemburuan. Ia ingin mengatakan pada Nyonya. Kamu dipulangkan. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. "Cundali. kamu punya majikan mau celai.. Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. Dulu. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo. Kamu punya kelja tidak ada. "Ya. no Mam. dua bulan lalu. hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari. Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Tangisnya semakin keras." "Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. Sundari tetap tidak mengerti. bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K. Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. Menyembul dari pintu dapur. dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Sehari itu. Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. Wajahnya semakin kelihatan judes. Sundari semakin salah tingkah. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Mam mulai menangis. Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. cuma mengangguk-angguk. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. kontan Sundari jadi salah tingkah. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga.. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. Esoknya. Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya. berangkat dua jam sebelum Mam kembali. . berpikir. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari." kata Sundari akhirnya. menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya. Mendengar jawaban Sundari. pikirnya. no. Sundari tersipu. "Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. Saat merapikannya. terlihat. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah. Padahal Sundari ingin menangis. suara majikannya terdengar dekat. Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong. ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok. "Nnn. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli. tidak ada yang salah letak. meringis. "It’s your panty. Tapi mencoba tenang. "Cundaliiii!!" Sundari menoleh. Tuan terlambat pulang. Tidak sopan. Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Tapi. ketika persediaan makan mendekati habis. Dag dig dug jantungnya berirama bingar.. Bahkan. Hingga tibatiba. Rapi. meraung-raung. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama. Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. lalu menjemurnya di balkon. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar. mengamati setiap pernik di dalamnya." kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya.

"Haiya. setelah empat tahun bekerja menjadi TKW di negeri itu.My panty is big-big one = My panties are bigger than his one. haiya!" "Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?" "Haiya!!" "Kecil.Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis. Cerpen ini salah satu karya terbarunya. Marni juga dipulangkan.hai wo: o. Lalu Marni. baru pulang dari Hongkong. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong. yang Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya.Sundari merasa akan kembali ke dunianya. . Nyonya bilang. mereknya Sexygirl?" "Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?" Sundari bengong. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-. Marni cuma mengangguk sambil melongo. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat. tertawa ngakak. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari. teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah. "Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!" Sundari tersenyum getir. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan tinggi. "Majikanku cerai. Sundari tersenyum tanpa sadar. 24 April 2005 Catatan: . di sebelah kiri pintu masuk. ." Mengingat nasibnya. juga nasib majikannya. Etik yang asal Blitar. menangis sejadi-jadinya."Kok tahu?" katanya balik bertanya. siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. menyambut senyumnya.jisin: gila . Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat. gadis di sebelahnya itu. nasib Marni.." "Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari. salah bener ya maunya bener. Kamu?" "Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob. bicara dengan membentak. Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. "Jangan dibuang.. serta-merta Sundari merasa lelah. 13 September lalu. karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.*** Hong Kong." katanya. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat. biar Tuan tahu. begitu! posted by imponk | 1:36:00 PM << Home . "Ceritanya singkat. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni. "Namanya majikan ya Mbak.

dalam cerpen dikenal adanya unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur luar yang berpengaruh terhadap penciptaan suatu bentuk karya sastra. Fungsi didaktif. cerpen selesai dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. alur. (3) latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas. Plot atau alur. yaitu memberikan rasa senang. Latar ini berguna untuk memperkuat tema. yang penuh pertikaian. Penokohan dan perwatakan yaitu cerita pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya. (4) tema dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan relatif sederhana.Pengertian Cerpen . Tema suatu cerita mensegala persoalan. . Dalam cerita pendek terkandung unsur-unsur intrinsik yaitu :Pengertian Cerpen 1. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh. Fungsi estetis. dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk. menuntun watak tokoh. yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga para penikmat atau pembacanya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi dirinaya. 5. yaitu mengarahkan dan mendidik para penikmat atau pembacanya karena nilainilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya. kritik dan sebagainya. Sudut pandang yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita. unsur ekstrinsik itu antara lain (1) latar belakang pengarang. yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca atau pendengar. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan dan mngandung kesan yang tidak mudah dilupakan. 5.Dalam cerita pendek dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian. Fungsi rekreatif.Pengertian Cerpen Cerita pendek adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. yaitu memberikan keindahan bagi para penikmat atau para pembacanya. kekuasaan. (2) keadaan sosial budaya ketika karya sastra itu diciptakan. kasih sayang. Jika cerpennya lebih panjang mungkin sampai 1½ atau 2 jam. 1987:58).Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. 4. diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai unsur karangan itu. Yang jelas tidak ada cerpen yang panjang 100 halaman (Surana. Selain unsur Intrinsik. 2004:431). waktu dan sosial. Seting atau latar yaitu tempat dan waktu terjadinya cerita. Pesan bisa berupa harapan. kecemburuan dan sebagainya. serta menghibur para penikmat atau pembacanya. 2. Latar terdiri atas latar tempat. 3. nasehat. Fungsi moralitas. dan membangun suasana cerita. Untuk menentukan panjang cerpen memang sulit untuk ukuran yang umum. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan. ataupun pada latar. Untuk mengetahui tema suatu cerita. Fungsi sastra dalam hal ini cerpen dibagi dalam lima golongan yaitu : 1. 4. (2) tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang. Amanat. yaitu pokok gagasan menjadi dasar pengembangan cerita pendek. 3. Tema. 1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. 6. Pengertian Cerpen Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan. yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para penikmatnya atau pembacanya. gembira. Bisa saja temanya itu dititipkan pada unsur penokohan. Fungsi relegiusitas. 2. baik itu berupa masalah kemanusiaan. yaitu rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama sehingga menggerakkan jalan cerita melalui perkenalan klimaks dan penyelesaian. Cerita pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut (1) alur lebih sederhana.

Tokoh-tokoh yang hadir senantiasa bergerak secara fisik atau psikis hingga terlukis kehidupan yang sama dengan kehidupan sehari-hari. bila melukiskan keadaan kota Jakarta dengan mengkaitkannya pada suasana hati tokoh ceritanya penggambaran itu lebih menyentuh pembacanya. Ringkasnya. Yang jelas. Jika hendak melukiskan keadaan kota Jakarta dengan gedung-gedung yang tinggi. Menggali suasana Melukiskan suatu latar kadang-kadang memerlukan detail yang agak apik dan kreatif. kesemerawutan lalu lintas. Kunci semua itu ada pada sentakan akhir dalam paragraph penutup cerita itu. Menggunakan kalimat efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang langsung memberikan kesan kepada pembacanya. akhir cerita merupakan sentakan yang membuat pembaca terkesan. 6. paragraph pertama dapat langsung masuk pada pokok persoalan. Cerita pendek merupakan karangan pendek. 4. Penggambaran suasana yang biasa-biasa dan sudah dikenal umum tidak akan menarik bagi pembaca. Pengertian Cerpen . pembaca diharapkan dapat lebih mudah menangkap maksud dari setiap bagian cerita hingga tamat. dan bukannya melantur pada hal-hal yang klise apalagi bila kemudian terkesan menggurui. penggambaran itu tidaklah menarik Karena penggambaran tersebut bukan merupakan hal yang baru. Fokus cerita Dalam cerita pendek. 3. dan keramain kotanya. Paragraf pertama yang mengesankan Paragraf pertama merupakan kunci pembuka. menarik napas panjang atau merenung dalam karena terharu tanpa harus menuliskan kata-kata sedih. teks cerita pendek sudah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya. Akan tetapi. 5. Senyum-senyum. segala bentuk harus berfokus pada satu persoalan pokok.Selain menggunakan kalimat efektif pengarang juga dituntut untuk memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa agar cerita yang dibuatnya dapat mengalir dengan lancer dan tidak kering serta membosankan. Sentakan akhir Cerita harus diakhiri apabila persoalan sudah dianggap selesai. Hal tersebut tentunya hanya menimbulkan kebosanan dan rasa apatis bagi pembacanya.Teknik menulis cerita pendek adalah sebagai berikut : Pengertian Cerpen 1. Kecenderungan cerita-cerita mutkhir adalah sentakan akhir yang membuat pembaca ternganga dan penasaran. 2. Menggerakkan tokoh (karakter) Dalam cerita selalu ada tokoh. Dengan menggunakan kalimat efektif.

3 .9.3.3.    03./.3 20308.079.503.98-..  0. /9:39:9 :39: 202 0.7 079... .9 $0...7.3   0307./.380..9 .7 .5.3.503.7. 503/0 8:/.3. 203.9: !03079.3  /.%03203:8.:.2-.7./003/.307503   !.5 2.3 .35.3.90780-:99039:3.8. 503/0 207:5.3944 . . .079. .7. 502-.39:9/.2. .8  /.8.349. /.38:3 202-07.3 503/0  5.38.2.3544   $039.5.3 .. ./.9.5 -.79.2.18.079.3 0/:3 0/:3 .8 5..3  .503/0.8:. . -.3.7.3909.8..3 /.8.3 .39./.390708.3 203...3.3 ...5.7.3 93  080207.8:./.3.9944. .7:8-0714:85.7.780-. .1 5079.3 :..944 %44 944.7.202-48.079. 3. .3 !.9 .5.9:50784.. . .2-.33.703..9 502-. /.: 20703:3 /.3 70.703.079.3 /09.83./7803.3.3 .80.9 01091  502-..3-.. 50784.-07:9!03079.3 .30/:5.3 8:.3 /-:.-0707.79.502-.  .. 207:5. :2:2 9/.7. 907:80/:5.3.3 ..30-48./. 907. 8039.7.7/.2.8.3.3 .5 /.3 20207:. /. /.2.079. 0:8..2.7 . 0738079.8.5503:9:5.:5883.39:7 5.38:3 2.39:0-203039:502-.7 3.:9.3 49..  .8..9:..: 39..  03.3.7..2.7 .349.3.37.33..9 0- 2:/.3 503.7:8 /.7. 90708.3 202-:.3.3 . 544 50784.3 .5. .5.7 /03./.907  . /03.3.9.9. 502-.. 502-:.3 8:/..7:8 203:8../. /03.7 ./.03/07:3.30. ./...7 -.-039:.9.8:/ /.3 -:./.5 8008.9 01091 503.7... 207:5. /..02:/.503/0 80.8  908 . . /.3.3  $03:2 803:2  203..3 . 9073. .3 .079.25./..3 08..3 8:.3.3 .3207:5./...2.80.7 809.203.7 .-07./.3.91  !03.33.3 203:3.3 0. .1 5079.3 8:/.3.7   4:8.5 5079.9 203.7.5.802:..9.3 48.3 203:3.3 07./03.  079.2 .7./.901091 .2032-:..3 . -.307503  .. 503.7: .5... 03/...503.079. 9.3 8039.3 203.2.079.079.7: 9.3 80 .8.390780-:9-:.3 -.3 0..93.3 .80-.7..-.3.9.5.3 :3.7. 2:97 .3. 80/  :3.5.3 202-:...9 502-.079.-.2..  #3.2.3 05.07 /.079.3/...2.3 9/. /..2-..3203:7: .9: .7.20:8.7.8.2-.   03:3.. 20:8./03.7.5 -.8: 5.. .3.8039.7 ..2.3. 20.8.9 01091 .2.3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful