Wednesday, January 18, 2006 Kota Kelamin

Cerpen Mariana Amiruddin Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur. Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami. Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang. Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya. Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah. Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari. Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berendarenda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari. Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan bendabenda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia. Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tibatiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi. Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.

*** Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding. Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri. Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku. Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor. Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap. Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin. Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini? Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megapmegap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata. Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu. Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu. Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku. Di sini! Kaukah itu? Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang. Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia

Hebat!" "Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Bukunya antara lain Perempuan Menolak Tabu. Dudi!" sambung Susan. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu. bukan membisikkan." "Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. kelamin pun punya hati. Ternyata aku telah banyak berdusta. Sayang.mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. "Sorry. Susan. 1 September 2005 Tentang Pengarang Mariana Amiruddin. Bingkai Cerpen Kurnia Effendi UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga. tapi tentu salah tempat. siapakah ini?" "Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. telepon di mejaku berdering. yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket. aku tadi berdusta. "Dudi. mau membicarakan pekerjaan…" "Oke. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai". Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap. kenapa kamu diam saja?" "Oh. Seperti anak anjing. dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. Kini kami bersenggama di tengah kota. seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?" "Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Jadi. After office hour. lebih tepat: nomornya berbeda. "Aku baru saja menerima sebuah undangan. Saat kubuka sampul plastiknya. ketika aku keluar dari ruang rapat. "Selamat siang dengan Dudi. tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang. Ia menggigit seluruh tubuhku. Magister Humaniora Kajian Wanita Universitas Indonesia. Tak hanya bertemu. Aku mengerti sekarang. *** untuk Hudan Hidayat yang ’takkan pernah sembuh’ Jakarta." Aku terkesiap mendengarnya. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak. Maafkan aku. ya!" Gagang telepon masih di telinga. Aku akan meneleponmu lagi nanti. "Ahai. aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. aku telepon ke kantor. "Maaf. Tak ada siapa-siapa di depanku. percayalah. Auto Suryatama. Beyond Feminist dan novel berjudul Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat." sambutku automatically. Bukan tidak aktif. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…" "Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus. "Cintamu. Bahkan setelah hubungan telepon terputus. Rembes ke dalam hati. Hp-mu tidak aktif. jadi konsentrasiku bercabang. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. kasih sayangku . Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. karena sepanjang dua malam kita bersama-sama. Tapi. Kini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan dan Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan. menunggu Susan memutuskan hubungan. Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu.

Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. agar tidak terlampau mencurigakan. apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis. Tapi tarikan pipiku berubah. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincangbincang. yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. lha kok dikongkon gawe resensi lukisan. *** SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Sepanjang sisa jalan pulang. tentu ingin juga "cuci mata" di sini. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. kuangankan si anggun Susan. karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan. yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. sebelum bercinta. "Aku iki isane nulis cerpen. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah. seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. karena waktunya masih lama. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta. aku ikut menemani.kepadamu begitu jujur. Tapi… astaga. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah." Seraya mengelus pipiku. Ada toko kue langganan sebenarnya. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Kulihat sepintas. Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen. karena malam ini sepupunya akan datang. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana. Aha. Waktu itu dia mengeluh. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi. namanya juga tugas. Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri. Dengan cara itu. bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi. sehingga mudah mendapatkan tempat. gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. dengan rambut dibiarkan terurai. tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud. Apa namanya tadi? Bingkai! Aku turun dari mobil. Jadi. rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Dan di tengah lingkaran para tamu. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan. kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan. Dengan demikian." Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. bagaimana sih?! Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali. Senyumku beralih rasa cemas. tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan. aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang. Selintas kulihat. melenggang masuk dalam kerumunan. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu. yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi. Padahal tak ada "polisi . Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. sehingga waktu itu. bukan? Keringat mengembun di keningku. Nanti malam. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang. biaya penginapannya gratis. dan memenuhi pesanan Lanfang. yok opo sih?!" Ya. biar tidak suntuk di sana. ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa.

Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. menyurutkan lampu kamar hingga temaram. Dia seorang pemilih yang baik. lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Mudah-mudahan. Mmmuah!" Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. tak masalah. "Ya. Aku belum sempat membereskan kopor. "Cantik. Kenapa?" "Besok aku tugas ke luar pulau. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. tergantung bagaimana kondisi network di Lombok." Dipeluknya aku. Sampai besok. "Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu. aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. "Tentu. "Kamu harus menginap di Lor In. Tetapi besok. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku. Walaupun. Pagar rumah sudah di depan mata. lalu masuk ke bawah selimutku. pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata. Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini." Tentu tidak akan larut malam. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo. Langit mulai gelap." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya. kutelepon Lanfang seperlunya. Harum cendana memenuhi bath-tub. tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi.tidur" di situ. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang. *** AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai. Kamu perlu istirahat malam ini. Ke Lombok. aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud." "Ya sudah. begitu tiba di Denpasar. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet. karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Aku memarkir mobil ke carport. Kok mendadak? Berapa hari?" "Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting. Kebetulan aku sudah di jalan raya. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca. "Terima kasih. Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. akhir-akhir ini kamu begitu sibuk. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas. Hanya Susan yang tahu nomor itu." Aku menelepon Lanfang dari kantor. nyaris tak berbeda dengan hotel lain. ya. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. Cantik. Dan seperti biasa. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku." "O. Tapi yang penting aku tahu. ojo bengi-bengi mulihe." usulnya. bisa minta tolong?" "Oke. Ke dekat urat nadinya. Sebelum tertidur. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak." "Yo wis. Bagaimanapun. Sekitar tiga-empat hari. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. berdusta itu mendebarkan! . Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. no problem. Susan! "Hai. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan.

namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. Ada beberapa bule yang hadir di sana. Aku kaget mendengar suara Ayub. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh.*** AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. ponsel tuaku bergetar. September 14. inilah dia si anak hilang. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat. Silakan Susan bercerita untuk kita…" Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan. Kita akan mulai acaranya…" Aku agak kikuk. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang. Wajahnya tertegun. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Sementara di taman yang separuh gelap itu. Dan entah kenapa. guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat. Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. "Baiklah. sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya? Kemarin siang. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah." ujar master of ceremony. "Pak Narto wafat!" . Aku melihat matanya berbinar. Senyumnya merekah. Arman AZ Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto." Suara Susan semakin sayup. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Di luar sunyi. kekasih yang kutunggu sudah tiba. aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya? "Lanfang!" aku memanggil. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. pohon randu. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku. Dia salah seorang sahabatku di kampung. Tak ada lagi ukiran nama kami. Mereka memotret. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku.anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali. "Nama Bingkai kupilih karena…. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. aku mencari degup jantung Lanfang. Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. menoleh ke arahku. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau. Ohoi. di tengah raung mesin pabrik. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Lama sudah dia tak pulang. Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru. *** Jakarta. tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh. Senja baru saja lenyap. 2005 Dendang Sepanjang Pematang Cerpen: M. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Kudengar musik sayup gamelan Bali. Ufuk timur perlahan benderang. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. teman-teman. Sekian tahun silam. Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. "Oke. Kuhela napas haru. kusaksikan pagi menggeliat lagi. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Sejenak mataku silau. 10 Desember 2005 Wednesday. para undangan dan wartawan.

dia ketiban bulan. Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. kami beringsut keluar dari ruang tamu. Detik itu juga. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Dindingnya dari papan. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. pangling aku. Hidupnya kini makmur. Ah. kami pun berpencar ke penjuru mata angin. Tubuhnya kekar. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan. Diam-diam kucermati sosoknya. Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat. *** Aku tertegun menatap rumah Ayub. bahkan ke negeri orang. Ayub berkata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. Kata Ayub. Tawaran itu menohok batinku. Setelah hasil penjualan dibagi rata. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ayub bilang. sekian jauh berjarak dengan kampung halaman. meski sempat diserang hama wereng. yang paling pintar di kelas kami. dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Katanya. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. . anak pendiam dan alim itu. Lingkungannya kumuh. Ayo masuk. Kisah teman-teman lama membuatku takjub. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto. kini jadi biduan orkes dangdut. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Dari bisik-bisik yang kudengar. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. dan derit pintu yang dikuak." Aku tercekat. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Man? Beli sawah. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. tak pernah terbersit di benakku untuk pulang. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela. "Baru datang? Wah. Aku termangu menatap rumah duka itu. aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Kami sudah biasa antre mandi. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Namanya diubah jadi Marta. Sekian lama di rantau. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Sambil menyulut rokok. Abas ditugasi mengurus koperasi. jadi tukang becak di kota. Kulitnya legam. Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Ah. Gemuk kau sekarang. Aku tersenyum. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Kenangan kampung halaman begitu menyentak. Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Ketika senyum atau bicara. Kutimang ponsel dengan gamang. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu. Ruas-ruasnya sudah renggang." Menepis risau. langkah tergopoh.jeritnya dari seberang sana. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. makin banyak pelayat datang. Terdengar sahutan. atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng. panen dua bulan lalu cukup lumayan. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam." Runtun kalimatnya. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini. buang hajat. Sudah jadi orang rupanya. *** Sepanjang jalan menuju rumah duka. Tanaman hias memagari rumahnya. sebab culasnya melebihi ular. Ah. Kursi-kursi plastik penuh terisi. gigi putihnya berderet rapi. Sudah lama kami tak bersua. Ayub terpana mendengar ceritaku. campur sedih. waktu telah mengubah segalanya. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi. Dia tak bisa datang melayat. ke pulau seberang. Darto. jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Makin tinggi matahari. kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Mencari nasib yang lebih baik. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya. Ayub memanggil istrinya. Lantas kuingat Abas. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota. Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. sampai lupa aku. Bertani. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Dia jadi bencong. "Jangankan mengalaminya. lebih baik bunuh Abas duluan. Dari semua nama yang terpahat di batang randu. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. kuraih gagang gelas. membayangkannya saja aku tak sanggup. "Man?!" Dia terperangah. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Dan si Ahmad. heran. kami kenang kawan-kawan lama. Ada tarup besar memayungi halaman. sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura. cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. Sedap dipandang mata. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Kami ingin merantau. Maryamah. "Kenapa tak pulang saja.

Burung itu jatuh dari dahan pohon.. kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. babu. Merasa tertangkap basah. Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Kami kembali melanjutkan langkah. Ayub menghardik mereka.. Meski tak ada hubungan darah. "Kampung kita sudah berubah. Bidikannya paling jitu di antara kami. Kami pulang menjelang petang. *** Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Bintang bertaburan di langit lama. Tak sengguh temanten anyar. sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung. Merantau jadi pilihan kami. Aku terpana. Sesampainya di sana. Jadi TKI. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Aku harus tahu diri. Aku enggan bertutur lebih banyak. . warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran." Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Kami yang di rantau pasti dikabari. Setelah memilih jadi manusia urban. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu. lir ilir. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. wajah keduanya pucat dan merah padam. kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu. Setelah segar kami pulang. "Ya. Tandure wis semilir. Tapi.. Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi. tapi aku tak keberatan. aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini.. Entah siapa peniupnya. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. atau buruh sepertimu. Kami mengendap-endap. Aku terharu. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Ada yang menggoes sepeda. Meski lebih jauh jaraknya. Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Di jalan. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam? *** Hari kedua di kampung. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. anak-anak muda kala itu. entah kenapa. Menggelepar di semak-semak. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu. Meninggalkan debu panjang di depan mataku. apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa. Tak ijo royo-royo. Ngebut di jalan tanah berbatu. Dari huma beratap rumbia. Ayub mengajakku turun. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol. entah kenapa." suaraku gamang. hanya segelintir teman yang kutemui.Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Lir ilir. Memutari jalan kampung. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. dekat rimbunan pohon pisang. Man. *** Izin cuti empat hari telah usai. aku seperti orang asing di sini. kami merasa selayaknya saudara. bibirku terasa kelu. Sejauh-jauh terbang." kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ayub mengajakku ke sawah. Aku serasa sedang berada di sorga. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Batang-batang padi meliuk. "Semua teman kita pergi merantau. Namun. Tetua kampung meninggal satu-satu. Begitu juga jika ada yang meninggal. Aku ingat. guraunya. Aku harus pulang pagi ini. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi. Mendengarnya. Asal kau tahu. Wajah Ayub kaku.

Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. jika ada uang. Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Makan dari hasil keringat sendiri. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang. kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Namun sekedar menghibur diri. Persis ketika kami lewati pohon randu itu.Tapi biarlah kutelan dalam hati saja. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Hidup tenteram bersama anak istri. Bertani sambil beternak puyuh dan itik.. Membeli sawah. lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja.. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Satu saat nanti. aku mau pulang.*** . Dengan motor tuanya. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan. cuma bisa tersenyum giris.

"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku." Pengacara muda itu tersenyum. namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya." Pengacara tua itu meringis. "Baik. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu. karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedunggedung bertingkat. "Tidak apa. meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional. bagai suara alam. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar." . tidak terkejut. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu. "jangan membatasi dirimu sendiri. anak muda?" Pengacara muda tertegun. "Apa yang ingin kamu tentang. mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air. kalau begitu. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Ia menatap putranya dari kursi rodanya. Pengacara muda terkejut. Meskipun bukan bebas dari kritik. lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini." sambung pengacara tua menenangkan. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. kalau perlu kurang ajar. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih." kata pengacara muda itu. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan. Ia mengangkat dagunya. kepada kamu. menikmati juga pujian itu." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." Pengacara muda itu tersenyum. seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." "Tentu saja. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. kau yang selalu berhasil dan sempurna.Peradilan Rakyat Cerpen Putu Wijaya Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Pemburu Keadilan. bukan sebagai putraku. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu. Anda mengerti maksudku. Dan aku juga berani. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan. Jangan surut. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Aku juga pernah muda seperti kamu. sembari mengangkat tangan.

Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Sebagai pembela. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. Di situ aku mulai berpikir. Walhasil. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu. Mulailah. Dan itulah yang aku tentang." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil- . Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. sudah ada kebangkitan baru. bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun." "Baik. Kenapa? Karena aku yakin. "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. Berbicaralah sebebas-bebasnya." "Terima kasih.Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Aku ingin berkata tidak kepada negara. karena aku yang menjadi jaminannya. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih. kesimpulanku. Penjahat yang paling kejam. negara sudah memainkan sandiwara. sebab aku seorang profesional. tetap kejahatan. Aku mau berdialog. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Pengacara muda itu terkejut. "Ya aku menerimanya. Begini. Sebentar saja. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu. itu bukan istilahku. walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Tetapi aku tolak mentah-mentah." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan. tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer.

" "Asal Anda jujur saja. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain." Pengacara muda tertegun." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku." . kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian. Ia menatap. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum. aku menerimanya sebagai klienku. tawaran yang sama dari seorang penjahat. karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Sebab kebenaran sejati." Pengacara tua termenung." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Demi memuliakan proses itulah. mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Bukan karena materi perkara itu." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. tetapi karena soal-soal sampingan.adilnya." "Perkaranya saja belum mulai. malah kau terima baik. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya. bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. Namun. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan." Pengacara muda itu tertawa kecil." "Tapi kamu akan menang. tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. "Seperti yang kamu katakan tadi. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan. "Karena aku akan membelanya. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara. Kalah-menang bukan masalah lagi. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. bagaimana bisa tahu aku akan menang. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Berarti ya!" "Ya. tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Lebih baik kamu pulang sekarang. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak. Tak perlu kamu bimbang. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. bukan?" "Betul. Keputusanmu sudah tepat. tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. Kedua tangannya mengurut dada. bukan karena kamu disogok. Ia minta tolong. Aku tidak takut. bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar. Tetapi orang tua itu . bukan karena takut. sebab aku sudah sangat rindu kepada dia. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting." Pengacara muda itu ingin menjawab. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa." "Kalau begitu. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut."Aku jujur. juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan. Biarkan aku bertemu dengan putraku. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. "Tak usah kamu ulangi lagi." Pengacara tua itu terkejut." "Betul. bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak." Pengacara muda itu jadi amat terharu. Sudah jelas. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. seakanakan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Ketika yang muda hendak bicara lagi. pulanglah anak muda. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. ia mengangkat tangannya. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman.

anakku. Beliau perlu banyak beristirahat. Mustofa Bisri Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. lalu meloncat ke mancanegara. "Maaf. kemudian menyelimuti tubuhnya. kita akan menjadi bangsa yang lalai. Kalau tidak. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa.. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. kalau berhadapan dengan sebuah perkara. "Katakan kepada ayahanda. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. saya kira pertemuan harus diakhiri di sini. Pengacara muda itu diculik. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya. . Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. Rakyat pun marah. Tetapi itu pun belum cukup." rintihnya dengan amat sedih. tak mungkin dijamah lagi. pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.. Sekretarisnya yang jelita. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. aku rindu kepada putraku. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya. bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Selamat malam. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" *** Sang Primadona Cerpen A. "Pulanglah sekarang. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Hakimnya diburu-buru. Sementara sekretaris jelitanya membacakan beritaberita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk. lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. menyerbu dengan yel-yel dan posterposter raksasa." "Tapi. agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda." Pengacara tua itu menutupkan matanya. Bukankah sudah aku ingatkan." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Pak. air mata menetes di pipi pengacara besar itu. aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini. tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. bila berjauhan.kecukupan. Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Soal kuliahku yang tidak berlanjut. Tapi sungguh. Yang masih selalu ibu ingatkan. tak mengapa. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil. Yang terakhir ini. bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar. dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen. aku mengundang mereka dari kampung. Tidak itu saja. mulai SD sampai dengan SMA. seperti sering aku lihat dalam film. aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Kuliahku pun tidak berlanjut. meski tidak memanjakanku. Sementara banyak kawankawanku yang sudah lulus kuliah. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu. ibadah itu penting. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. ialah soal ibadah. sangat menyayangiku. kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. "Ah. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara. aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi. Hampir setiap hari. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. Bagaimana pun sibukmu. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal. lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja. boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku. Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua. Kedua orang tuaku pun. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa.Tapi agar jelas. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. aku tak peduli. Materi cukup." Memang sebagai perempuan yang belum bersuami. Mula-mula memang aku perhatikan. aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku. Tidak lagi bergantung kepada orang tua." Ya. Bahkan kini sedikitbanyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. menjadi host di tv-tv. Sebagai artis tenar. aku memenangkan lomba foto model. salat jangan kamu abaikan!" "Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu. bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu. Tidak. masih lontang-lantung mencari pekerjaan. malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminarseminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan. agar tidak hilang. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. belajar kan tidak harus di bangku kuliah. aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Dia menyintaiku habis-habisan. diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial. Di sekolah. baik secara langsung atau melalui surat. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah. . Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. "Nduk." "Bila kamu mempunyai rezeki lebih. ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang.

Dia seorang pengusaha yang sukses. terutama suamiku. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Masih muda. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku. tampan. di awal-awal perkawinan. Setelah itu. Untung.memang merupakan hidayah Allah. Perangainya berubah sama sekali. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Begitulah. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian. hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis. dan penuh perhatian. tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah. aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Ringkas cerita. Suamiku pun tidak keberatan. tentang kematian dan amal sebagai bekal. Pendek kata.Di antara mereka yang mengagumiku. aku dimintanya untuk mengisi pengajian. aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku. aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. aku pun tak pernah lagi bertanya. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. aku mengalah. kini terasa sangat sinis dan kasar. Aku berhasil dipersuntingnya. dari sekadar sebagai artis. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat. Setelah berbulan madu yang singkat. sopan. Tidak itu saja. anak keduaku. Bicaranya juga tidak seperti dulu. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Sepertinya apa saja yang aku lakukan. aku juga getol membaca buku-buku keagamaan. meskipun agak surut. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Sehingga. Bila dia berhalangan. Masya Allah. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan. O ya. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. maupun ketika mengajak jamaah berdzikir. Dia yang dulu jarang keluar malam. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. semua berjalan baik-baik saja. Kami. bukan hanya yang diselenggarakan kawankawan artis. aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. lahir. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro . Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga. sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari. lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. dengan sedikit menghemat. Beberapa bulan setelah Ragil. salah di mata suamiku. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Mula-mula.

gugup. sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore. demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. "Ini barang berbahaya. . Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan. Bisa gawat bila ketahuan!" "Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. gara-gara suami. Memang. ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. Aku sempat berpikir." sahutnya khawatir. "Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. Bu?" "Apa itu?" tanyaku tak mengerti. aku menemukan lintingan rokok ganja. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak. Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. tak akan lagi menyentuh barang haram itu. "Ini ganja. Kalau pun di rumah. apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis. sosial-kemasyarakatan. Aku bingung. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Semula aku diam saja. dan bahkan politik. Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi. perhatianku semakin minim terhadap anak-anak. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok. Mula-mula dia seperti kaget. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri. tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Sundari tahu benar. Setelah aku musnahkan barang itu. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku. tentu semakin terabaikan.idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini. ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!*** Seharusnya Berjudul Celana Dalam Cerpen Etik Juwita Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama. Suatu hari. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-. banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Di kamar suamiku. Sepertinya ia menyesal telah pulang. tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Sundari terkesiap. tanpa sengaja. sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-. jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya. apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa. Tapi seperti sudah aku duga. Sundari mencoba mengingat-ingat. Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Bu.sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya.konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Dan terus terang. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja.

Saat merapikannya. Padahal Sundari ingin menangis. suara majikannya terdengar dekat." kata Sundari akhirnya. belum sempat ia menuangkan deterjen. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. Dulu. *** "Indonesia. terlihat. Menyembul dari pintu dapur. tidak ada yang salah letak. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah. no. ketika persediaan makan mendekati habis. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. Sundari semakin salah tingkah. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar. isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli. Mendengar jawaban Sundari. Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Kamu dipulangkan. bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok. "Ya. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama. Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung. Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Mam mulai menangis. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya. Rapi. kamu punya majikan mau celai. lalu menjemurnya di balkon. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Dag dig dug jantungnya berirama bingar. meraung-raung. mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. Nyonya memang orang yang cemburuan. Tapi. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. cuma mengangguk-angguk. mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya. Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. "Nnn. dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari.Tuan pergi ke China. Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong. Sundari mendekat.. Sehari itu. no Mam. "Cundali. "Cundaliiii!!" Sundari menoleh. Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. Besoknya. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo. Tapi. Tidak sopan. hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari. Tapi mencoba tenang. Hingga tibatiba. segera diurungkannya. pikirnya. suaminya di dekat sepeda motor tetangga." kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Tangisnya semakin keras. My panty is big-big one.. Sundari tetap tidak mengerti. Kamu punya kelja tidak ada. Padahal. "Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. Sepekan setelah kepergian Nyonya." "Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. kontan Sundari jadi salah tingkah. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. mengamati setiap pernik di dalamnya. Sundari tersipu. Gara-garanya.. Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Esoknya. Tapi. ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. Bahkan. Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Tuan terlambat pulang. Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. "It’s your panty. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. berpikir. Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K. . dua bulan lalu. meringis. Wajahnya semakin kelihatan judes. Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. Ia ingin mengatakan pada Nyonya. berangkat dua jam sebelum Mam kembali.

menangis sejadi-jadinya. "Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!" Sundari tersenyum getir. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. Marni cuma mengangguk sambil melongo. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. menyambut senyumnya. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Etik yang asal Blitar. salah bener ya maunya bener. gadis di sebelahnya itu.jisin: gila . Cerpen ini salah satu karya terbarunya. Sundari tersenyum tanpa sadar. teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. nasib Marni. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-. "Ceritanya singkat. . serta-merta Sundari merasa lelah." katanya. "Majikanku cerai. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari.Sundari merasa akan kembali ke dunianya. Marni juga dipulangkan. bicara dengan membentak. Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. baru pulang dari Hongkong.Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis. tertawa ngakak. karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat." Mengingat nasibnya. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat. begitu! posted by imponk | 1:36:00 PM << Home ." "Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari. "Namanya majikan ya Mbak. Kamu?" "Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan tinggi.. "Jangan dibuang. Lalu Marni. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah. biar Tuan tahu. 24 April 2005 Catatan: . Nyonya bilang. . Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya. haiya!" "Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?" "Haiya!!" "Kecil. di sebelah kiri pintu masuk.*** Hong Kong.. 13 September lalu. yang Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya. juga nasib majikannya.hai wo: o. setelah empat tahun bekerja menjadi TKW di negeri itu."Kok tahu?" katanya balik bertanya. mereknya Sexygirl?" "Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?" Sundari bengong. "Haiya. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat. siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong.My panty is big-big one = My panties are bigger than his one.

menuntun watak tokoh. kekuasaan. 3. Sudut pandang yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita. ataupun pada latar. yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para penikmatnya atau pembacanya. dan membangun suasana cerita. 1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. yaitu memberikan keindahan bagi para penikmat atau para pembacanya. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh. kasih sayang. Tema suatu cerita mensegala persoalan. 4. dalam cerpen dikenal adanya unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur luar yang berpengaruh terhadap penciptaan suatu bentuk karya sastra. 1987:58). 5. gembira. 2004:431). Dalam cerita pendek terkandung unsur-unsur intrinsik yaitu :Pengertian Cerpen 1. yaitu rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama sehingga menggerakkan jalan cerita melalui perkenalan klimaks dan penyelesaian. alur. yang penuh pertikaian. Untuk mengetahui tema suatu cerita. Untuk menentukan panjang cerpen memang sulit untuk ukuran yang umum. Fungsi didaktif. Latar terdiri atas latar tempat. (2) keadaan sosial budaya ketika karya sastra itu diciptakan.Dalam cerita pendek dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan. yaitu memberikan rasa senang. Yang jelas tidak ada cerpen yang panjang 100 halaman (Surana. 2. Fungsi estetis. Penokohan dan perwatakan yaitu cerita pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya. yaitu mengarahkan dan mendidik para penikmat atau pembacanya karena nilainilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya. (3) latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas. . cerpen selesai dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. Fungsi sastra dalam hal ini cerpen dibagi dalam lima golongan yaitu : 1. Tema. serta menghibur para penikmat atau pembacanya. nasehat. (4) tema dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan relatif sederhana. waktu dan sosial. kecemburuan dan sebagainya.Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Seting atau latar yaitu tempat dan waktu terjadinya cerita. diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai unsur karangan itu. (2) tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang. Jika cerpennya lebih panjang mungkin sampai 1½ atau 2 jam.Pengertian Cerpen . dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk. Cerita pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut (1) alur lebih sederhana. Selain unsur Intrinsik. Plot atau alur.Pengertian Cerpen Cerita pendek adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Fungsi relegiusitas. 3. yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga para penikmat atau pembacanya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi dirinaya. Pesan bisa berupa harapan. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan dan mngandung kesan yang tidak mudah dilupakan. Pengertian Cerpen Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan. Bisa saja temanya itu dititipkan pada unsur penokohan. kritik dan sebagainya. yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca atau pendengar. Amanat. Latar ini berguna untuk memperkuat tema. 6. unsur ekstrinsik itu antara lain (1) latar belakang pengarang. Fungsi moralitas. 2. yaitu pokok gagasan menjadi dasar pengembangan cerita pendek. baik itu berupa masalah kemanusiaan. Fungsi rekreatif. 4. 5.

5. Hal tersebut tentunya hanya menimbulkan kebosanan dan rasa apatis bagi pembacanya. Paragraf pertama yang mengesankan Paragraf pertama merupakan kunci pembuka. Fokus cerita Dalam cerita pendek. akhir cerita merupakan sentakan yang membuat pembaca terkesan.Selain menggunakan kalimat efektif pengarang juga dituntut untuk memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa agar cerita yang dibuatnya dapat mengalir dengan lancer dan tidak kering serta membosankan. segala bentuk harus berfokus pada satu persoalan pokok. Senyum-senyum. Pengertian Cerpen . penggambaran itu tidaklah menarik Karena penggambaran tersebut bukan merupakan hal yang baru. 2. Akan tetapi. Sentakan akhir Cerita harus diakhiri apabila persoalan sudah dianggap selesai. dan bukannya melantur pada hal-hal yang klise apalagi bila kemudian terkesan menggurui. Yang jelas.Teknik menulis cerita pendek adalah sebagai berikut : Pengertian Cerpen 1. bila melukiskan keadaan kota Jakarta dengan mengkaitkannya pada suasana hati tokoh ceritanya penggambaran itu lebih menyentuh pembacanya. Menggunakan kalimat efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang langsung memberikan kesan kepada pembacanya. menarik napas panjang atau merenung dalam karena terharu tanpa harus menuliskan kata-kata sedih. Tokoh-tokoh yang hadir senantiasa bergerak secara fisik atau psikis hingga terlukis kehidupan yang sama dengan kehidupan sehari-hari. Cerita pendek merupakan karangan pendek. Jika hendak melukiskan keadaan kota Jakarta dengan gedung-gedung yang tinggi. Kecenderungan cerita-cerita mutkhir adalah sentakan akhir yang membuat pembaca ternganga dan penasaran. 3. teks cerita pendek sudah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya. Penggambaran suasana yang biasa-biasa dan sudah dikenal umum tidak akan menarik bagi pembaca. dan keramain kotanya. Kunci semua itu ada pada sentakan akhir dalam paragraph penutup cerita itu. Menggerakkan tokoh (karakter) Dalam cerita selalu ada tokoh. kesemerawutan lalu lintas. paragraph pertama dapat langsung masuk pada pokok persoalan. Menggali suasana Melukiskan suatu latar kadang-kadang memerlukan detail yang agak apik dan kreatif. 4. pembaca diharapkan dapat lebih mudah menangkap maksud dari setiap bagian cerita hingga tamat. Ringkasnya. Dengan menggunakan kalimat efektif. 6.

-0707.2-.3.079. 503/0 8:/..079./.3. 907:80/:5.503/0 80.33.3 0/:3 0/:3 .3.5.2.: 39.7.38:3 202-07.7 -. /03. . 544 50784.7. .079.3... .3909../003/...5. 90708.8..3  $03:2 803:2  203.3 .703.3.3 503/0  5.30..3. 9.203.3.502-.  03.7.7:8-0714:85.202-48.7:8 203:8.8.7: 9.3944 .9./.3 :.7....3.8:.3 .7.3 /-:. 80/  :3./03.-.2.7..7:8 /.39./.3 .. 502-.  079.3.5 /.7 /03.80-.3.3.33. /.80.8. /. .2032-:.2..18.9:50784. .079.2. .8. 503.8.7.503.. . /9:39:9 :39: 202 0.390708.7..:.3 . 502-.9 01091  502-.3 48. . .07 /.3 202-:.7   4:8.3 203.5.5.3.3 07./.7.3 /.39:7 5.9..3 93  080207.3. -.35.8  /.8:.3 503.2.33.703.7 .9.%03203:8.:9.98-.. .2-.944 %44 944.9 ..9 $0.8:/ /. /03..901091 .2-.5503:9:5.390780-:9-:. /.1 5079.079.7 .2.9: ...2 .7.8  908 .3 202-:.3 .3-.../.-07:9!03079. .3.3 .3 0.3 203.3/.8: 5.3203:7: .3..349...7..3 . 50784..39:9/.7 809.7.9 .3  /./7803.3.3 08. .2.349.02:/..93.7 079. 03/..39:0-203039:502-.3   0307.-039:.8.9: !03079. .9 502-./. 2:97 .3 -...8. 907./. /..5 -. 0738079.9 203.5 2..1 5079.7.3 8:.3. ..37. 0:8.2.7 .9.2.5..3 .  #3..307503   !.079.7 3.7..  ../.3 203:3.8.7.079.5./..3 !..9 0- 2:/. .2.802:.3 20308.3 203:3./.3 8:/.3 9/../.7.079.3 8:/.9944. .3544   $039..3...-07.3 .3 49.3 8039.9.3  .3 ..5.907  .-.5 5079.7.9.03/07:3.3.3 80 .7 .079..3 .2.3 .3 05..3 .9 01091 503.  0.7: ./03.5./.7 . 3.5.7 .3 .3207:5.3 -:.:5883.79.3.9. .503/0.30/:5.2-. .2./.5 -.380.3.    03..8039. 502-:.9 01091 .79. /. /.8 5.91  !03.307503  .9 502-. 8039.3. 207:5./.2.38.20:8. 207:5. -.3..8.3 70.079.....: 20703:3 /.7. /.   03:3.503.3 8:..90780-:99039:3. 9073.079.80. 203.8.503.079.25.5. 503/0 207:5.3 20207:.3 0.  .83.38:3 2. 20:8.5 8008.2. 20.7./.3.3 .30-48.7/.7.3 ...3 :3.. :2:2 9/.9:.3 /09.780-.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful