P. 1
Kiat Mengajar Dengan Sukses

Kiat Mengajar Dengan Sukses

|Views: 679|Likes:
Published by Fajri Bungas

More info:

Published by: Fajri Bungas on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

1

MENGAJAR DENGAN SUKSES
(Menciptakan Suasana Riang Gembira di Kelas– Sebuah Pengkayaan Metode Pembelajaran)

Oleh: JOKO MURSITHO

I.

PENDAHULUAN

Ketika orang baru saja membicarakan tentang PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), maka Pramuka sejak kelahirannya dari negeri asalnya di Inggris tahun 1907 sudah menggunakan metode tersebut. Baden Powell dalam mendefinisikan pendidikan kepramukaan sebagai permainan yang menyenangkan di mana orang dewasa dan peserta didik pergi bersama sebagai kakak dan adik dengan membina kesehatan jasmani dan rohani (health), membina kebahagiaan (happiness) yang di dalamnya mengandung tiga unsur yakni hidup gembira, hidup damai, dan hidup penuh syukur. Di dalam setiap kegiatan pendidikan kepramukaan ada unsur tolong- menolong (helpfulness) karena manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, yang hanya bisa hidup normal apabila ada tolong-menolong di antara sesama. Unsur terakhir permaianan dalam kepramukaan adalah adanya produk yang dihasilkan baik berupa benda (handicraft) maupun perubahan perilaku (the ends is character). Untuk itulah seorang Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina Pramuka dituntut kecuali memberikan contoh perilaku sebagai warga negara yang baik, menguasai materi pembelajaran, juga dituntut untuk menguasai metode pembelajaran. Metode dan Teknik Latihan adalah komponen yang sangat penting dalam pendidikan dan pelatihan kepramukaan. Sebaik apapun materi latihan bila disajikan dengan tidak menarik, tidak tepat sasaran maka tidak akan mencapai hasil yang diharapkan. Saat ini, sangat banyak metode-metode pendidikan dan latihan yang belum dikuasai oleh para pelatih, sungguhpun Gerakan Pramuka harus tetap berbangga hati, karena kenyataan membuktikan bahwa penguasaan metode latihan Pelatih Pembina Pramuka jauh lebih banyak dan lebih variatif bila dibandingkan dengan metode yang dikuasai oleh guruguru sekolah atau dosen biasa.

1 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

2 Karena kepramukaan dilaksanakan di alam terbuka dan dengan mengikuti perkembangan dan kemajuan jaman maka sangat perlu bagi para pelatih untuk menguasai lebih banyak Metode Latihan Kepramukaan dengan cara: a. Improvisasi metode latihan konservatif b. Mempelajari metode latihan modern, termasuk alat komunikasi modern. c. Mempelajari Audio Visual Aids dan IT, termasuk internet, misalnya: pembuatan email dan pengoperasiannya, masuk dalam group atau mail list, membuat blog dan bahkan facebook dan sejenisnya. Pelatih hendaknya mampu memberikan hal-hal ini kepada para Pembina Pramuka sehingga “tidak akan pernah ketinggalan informasi”, tidak hanya menduga-duga, dan sekedar mendengar-dengar ceritera orang lain. Penguasaan pengoperasian IT penting untuk menangkal “keterjerumusan mental” generasi muda akibat gencarnya serangan informasi yang tidak mendidik. II.

BERDIRI DI DEPAN AUDIENS

Untuk berdiri di depan kelas, atau di depan publik seseorang harus memiliki persiapan yang matang, karena kesalahan pembicaraan, ketidak mampuan menguraikan materi pelajaran, dan kejanggalan penampilan akan menimbulkan kesan yang kurang menyenangkan, dan akan berakibat kegagalan penyampaian pesan, atau ketidaksuksesan penyampaian materi pelajaran. Ada tiga tahap yang harus dilakukan di dalam penyajian materi yakni persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap yang sangat menentukan adalah persiapan, karena satu jam penyajian bisa jadi waktu yang dibutuhkan untuk persiapan kita bisa mencapai satu minggu, atau setidak-tidaknya 2 jam sebelumnya untuk mempersiapkan diri bila kita sudah terbiasa menyajikan materi tersebut. Dapat disimpulkan bahwa waktu pelaksanaan penyajian materi dan waktu untuk mempersiapkannya lebih banyak waktu yang digunakan untuk mempersiapkan. a. Persiapan mental Sebelum berdiri di depan publik atau di depan kelas seseorang harus merasa bahwa dirinya “mampu” dan “cakap” untuk berdiri di depan kelas. 1) Untuk itu pendidik/penyaji materi harus mengetahui lebih dulu “siapa audiens-nya”. Mengetahui orang yang 2 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

3 akan mendengarkan sajian kita sangat penting, bagaikan seorang panglima perang, ia harus tahu kekuatan musuh yang akan dihadapinya. Oleh karena itu perlu diselidiki lebih dahulu pertama berapa jumlah peserta didik yang akan dihadapinya, kedua berapa usianya rata-rata, ketiga sejauhmana tingkat pemahamannya terhadap materi yang akan disajikan, keempat prediksi ketertarikannya terhadap materi yang akan disajikan. Penyaji materi akan sangat kesulitan apabila peserta didiknya campuran usianya dari anakanak sampai orang dewasa, jenjang pendidikannya sangat variatif. Apabila hal ini terjadi maka materi harus dikemas sedemikian menariknya, gunakan bantuan audio-visual yang cukup indah, gunakan bahasa yang dapat diterima di seluruh lapisan usia dan pendidikan, dan diselingi humor-humor yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Untuk yang demikian ini tidak mudah dilakukan. 2) Mengetahui keadaan tempat penyajian adalah langkah persiapan yang sangat penting. Apakah penyajian dilakukan di dalam ruangan atau di luar ruangan. Kalau di dalam ruangan apakah gedungnya ber AC atau tidak, kalau di luar ruangan tempatnya panas atau teduh. Apakah tempatnya longgar atau cukup sempit. Mengenal tempat di sini termasuk mengenal situasi lingkungannya, apakah tempat itu gaduh atau tidak, sunyi atau banyak orang lalu lalang. Aman atau tidak. Semuanya memerlukan strategi yang jitu sehingga ketika kita tiba di tempat tersebut tidak terkejut atau terkaget-kaget. 3) Mengetahui waktu penyajian. Waktu sangat mempengaruhi kondisi peserta didik. Jam-jam 12.00 sampai dengan jam 15.00 akan sangat berbeda kondisinya dengan 07.00 sampai jam 09.00 atau jam 19.00 sampai jam 20.30. Pada jam-jam siang dan pada jam-jam yang sudah terlewat malam penyajiannya akan lebih sulit. Oleh karena itu di sini diperlukan variasi metode, dan improvisasi penampilan yang lebih menarik, tetapi harus tetap berada dalam konteks. b. Persiapan penguasaan materi. Seorang penyaji akan lebih percaya diri bila menguasai materi yang akan disajikan. Tahu persis pokok-pokok bahasan yang akan disajikan, dan paham sampai kemana materi tersebut akan dikembangkan. Penyaji dapat mempersiapkan lebih dulu berbagai chart, alat peraga, 3 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

4 atau berbagai model tayangan untuk memperkuat penyajian. Namun demikian harus diingat bahwa penyaji tidak boleh tergantung pada chart atau tayangan-tayangan yang telah dipersiapkan. Penyaji harus sudah dapat mengantisipasi manakala alat bantunya tersebut tidak bisa digunakan di lapangan; misalnya saja ketika mempersiapkan dengan slide projector, atau OHP, atau film tiba-tiba listrik mati, maka bila penyaji tergantung pada bahan tayangan yang dipersiapkan maka ia akan gagal mempresentasikan pesan atau materi tersebut dengan baik. Pembuatan alat peraga hendaknya benarbenar menjadi alat bantu misalnya huruf-hurufnya jelas terbaca dari belakang, pergantian tayangannya tidak terlalu cepat, dsb. Alat bantu yang tidak terkondisikan dengan baik akan berubah fungsinya menjadi alat ganggu. c. Persiapan fisik dan penampilan. Orang yang belum pernah tampil di depan publik biasanya akan nerves atau gugup, oleh karena itu yang pertama kali dijaga adalah kesehatan, ketika tampil di depan publik harus dalam keadaan prima. Pakaian juga harus diperhatikan dengan yang baik, tidak terlalu mencolok, tetapi jangan sekali-kali lusuh. Wajah diupayakan senantiasa berseri, hutang dan masalah tetek-bengek di rumah tidak perlu dipikirkan lebih dahulu, tinggalkan jauhjauh. Upayakan hati mantap, dan besarkan hati kita bahwa “kita pasti mampu”. Pelaksanaan penyajian materi merupakan cerminan dari langkah persiapan. Manakala persiapannya baik maka dapat diprediksikan pelaksanaannya pun akan baik, dan akan membuahkan hasil yang baik. Seperti halnya seorang pemain sendratari di dalam penyajian agar menarik perhatian peserta didik juga digunakan wicara, wiraga, wirasa, dan wirama. Wicara. Alat utama untuk mendidik adalah suara. Sering seorang pendidik disebut juga “jual abab” (menjual perkataan), manakala pendidik hanya mengandalkan suaranya untuk menyampaikan materi atau nilai-nilai. Oleh karena itu suara harus dikemas sedemikian rupa sehingga ada dinamikanya, tidak monoton. Suara hendaknya cukup terdengar dengan baik, kadang keras untuk menekankan sesuatu yang penting, kadang lemah sekedar untuk menarik perhatian, agar peserta didik mendekatkan telinganya untuk dapat menangkap sajian dengan baik. Pengaturan intonasi hendaknya kadang naik, kadang kala datar, dan kadang-kadang menurun. Kata-kata disusun rapi cukup 4 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

5 ringkas, jelas, dan bermakna. Banyak penyaji yang gagal karena berbicara berputar-putar, bertele-tele, tanpa melihat kondisi peserta didik. Jangan berbicara terlalu cepat dalam mengajar. Hasil penelitian menunjukkan peserta didik itu mendengar orang berbicara tanpa berpikir 400 – 500 kata per menit. Kebiasaan guru mengajar adalah 100 – 200 kata per menit, tapi rata-rata orang hanya dapat mendengar pembicaraan dengan baik sekitar 50 – 100 kata per menit. Silahkan pilih! Wiraga. Dalam penyajian materi penyaji tidak boleh hanya sekedar mengandalkan berbicara melalui mulutnya tetapi juga berbicara dengan badannya (body language). Penyajian yang tidak disertai dengan wiraga akan terkesan kaku, impersonal, terdapat jarak antara pendidik dan peserta didik. Oleh karena itu pendidik harus memulai bagaimana cara mengolah “gaya” agar Nampak wajar, dekat dengan peserta didik, lugas dan tidak dibuat-buat. Wirasa. Menyayangi peserta didik adalah mutlak diperlukan bagi seorang pendidik. Untuk sampai pada tingkat wirasa pendidik harus belajar berbicara dengan hatinya, berbicara dengan “tulus”. Guru atau pendidik sering gagal mendidik muridnya karena ketika interaksi belajar-mengajar tengah berlangsung pendidik hanya sekedar menghabiskan jam pelajaran, atau yang lebih berbahaya lagi dibenak pendidik hanya terpikirkan “uang” atau “upah” kerja. Pendidik yang baik harus dapat mengerti dan sekaligus ikut merasakan kondisi peserta didik; oleh karena itu seorang pendidik yang sukses (yang baik) adalah dia yang sanggup mengenal masing-masing peserta didik dengan baik. Memang kadangkala seorang pendidik yang diminta hanya untuk menyampaikan materi selama 60 menit, sulit untuk melakukan ini, tetapi setidaknya dengan mengenal beberapa di antara mereka yang dianggap leader, atau yang berperilaku “agak aneh” adalah termasuk salah satu metode untuk mencairkan suasana. Wirama. Pendidik atau guru yang baik adalah mereka yang dapat mengorkestrasikan lingkungannya dengan baik, misalnya sewaktu pendidik tengah memberikan tugas disetelkan lagu instrumentalia yang lembut, dan sejuk. Sebaiknya guru juga dapat memberikan dapat mengatur udara di kelas, menata tempat duduk agar tidak terlalu rapat, menjaga suasana tempat belajar bersih, senantiasa mengupayakan kesejukan pada lingkungan belajar, misalnya dengan menata lukisan di dinding dengan baik, memberikan tanaman-tanaman yang enak dipandang sehingga suasana kelas atau lingkungan belajar menjadi nyaman.

5 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

6

III.

PENGUASAAN KELAS

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penyajian adalah: a. Menentukan posisi berdiri di depan audiens. Posisi berdiri hendaklah dapat dilihat oleh seluruh peserta belajar. Pilihlah tempat di tengah di bagian depan, upayakan jangan membelakangi lampu, sebab dengan membelakangi lampu maka wajah penyaji materi akan gelap, sehingga perubahan-perubahan ekspresi wajah kita selama penyajian tidak Nampak jelas. b. Mengatur kelas. Langkah ini sangat penting mengingat pembelajaran modern saat ini beda dengan jaman dulu di mana bangkunya besarbesar dan berat untuk dipindahkan, sehingga anak-anak dalam satu semester bisa saja duduk di tempat yang sama. Selain itu pembelajaran tidak pasti dilakukan di ruangan kadang kala dilakukan di luar ruangan oleh karena itu formasi duduk, atau berdiri, hendaknya diatur sedemikian rupa baik di ruangan maupun di luar ruangan dibuat nyaman, mudah bergerak, dan ada tempat untuk cukup untuk memperagakan sesuatu, simulasi, demonstrasi atau praktek langsung. Iniilah yang disebut dengan “kelas dinamis”. Susunan peserta didik dibuat setengan lingkaran, leter U, lingkaran, corak tim, work station, atau apapun tinggal disesuaikan dengan kebutuhannya. c. Membuka pelajaran. Ketika kita sudah berada di depan kelas atu di depan publik, maka tenanglah sejenak, sapulah wajah-wajah peserta belajar, pancarkan kewibawaan anda di situ, sapalah dengan hati melalui senyum yang tulus, dan wajah yang ramah. Kita seakan-akan menghipnotis peserta didik, dan adu kewibawaan, tetapi dengan cinta kasih. Sapaan wajah yang ramah ini lebih hebat pengaruhnya daripada anda mengucapkan salam, atau selamat pagi, tetapi wajah anda tidak bersahabat. Setelah kita merasa bahwa peserta belajar telah memperhatikan kita semua, setidaknya 90% dari mereka telah melihat kita, barulah sampaikan salam yang indah. Penyampaian pengantar materi. Upayakan ada “ice breaking”, atau pemecah kebekuan, boleh dilakukakan dengan ceritera, dengan lagu, atau dengan permaianan, tetapi harus cocok atau sesuai dengan materi yang akan disajikan. Materi pengantar ini sangat penting, apabila kita 6 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

7 bisa menarik minat peserta didik, maka kita telah mencapai sukses 50%. Tetapi bila dari sajian pengantar tersebut tidak menarik, maka kita akan lebih sulit mengendalikan perhatian peserta. Untuk itu perlu dilakukan bagaimana mencocokkan pembicaraan, gaya bahasa dan pokok-pokok sajian dengan keinginan dan keragaman peserta didik. d. Melaksanakan penyajian. Menguasai pentas, ruangan atau arena belajar (blocking). Bila penyaji materi hanya berdiri tegak dan tidak bergerak dari tempatnya bagaikan patung maka penyajian akan kurang menarik, lebih-lebih bila tidak ditunjang dengan kemampuan berbicara yang prima. Bergeraklah kearah peserta yang mengantuk, atau yang kurang memperhatikan sehingga perhatian mereka kembali lagi; kalau perlu beri pertanyaan tetapi jangan terkandung maksud untuk menjatuhkan mereka dan mempermalukan di depan publik. Strategi berbicara. Patrick Collins memberikan tips tentang bagaimana berbicara yang baik dalam penyajian materi: 1) Gunakan bahasa yang lebih sederhana. 2) Tahu arti apa yang anda kemukakan dan benar cara mengucapkan kata atau kalimat tersebut. 3) Jangan merahasiakan siapa sebenarnya anda, darimana asal anda, dan materi apa yang akan anda sajikan. 4) Jelaskan setiap singkatan-singkatan yang anda pakai, akronim setidaknya sekali terutama apabila itu anda pakai untuk pertama kalinya. 5) Gunakan contoh-contoh dan bayangan atau gambarangambaran sehingga peserta didik anda dapat menghubungkannya dengan materi yang disampaikan. 6) Yakinkan bahwa bahasa yang anda gunakan memberikan ekspresi atas materi yang anda sajikan (misalnya penghargaan, keceriaan, komitmen dan sebagainya). 7) Gunakan urutan-urutan dalam pembicaraan anda sehingga sistematis (misalnya: pertama….., kedua…., akhirnya…). 8) Tunjuk atau sebutkan setidaknya satu kali saja nama mereka, sikap, kemampuannya dan sebagainya dalam pembicaraan anda. 9) Olahlah penyajian anda sedimikan rupa sehingga peserta didik mudah untuk menebaknya.

7 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

8 10) Jika bahasa anda tidak sempurna, coba koreksi “ucapan” anda sendiri, jangan-jangan memang tidak jelas. e. Teknik menjawab pertanyaan. Biasanya setelah selesai penyajian dibuka pertanyaan, baik yang datang dari peserta atau pertanyaan yang datang dari penyaji sendiri. Bila ada pertanyaan dari peserta didik sebaiknya tidak langsung dijawab oleh penyaji materi tetapi ditawarkan kepada peserta didik lainnya untuk menjawab. Manfaatnya pertama untuk menjajagi sampai sejauh mana perserta dapat menangkap atau mengembangkan materi sajian yang telah disampaikan. Kedua bila kebetulan penyaji tidak tahu secara tepat jawaban apa soala tersebut, ia bisa menyimpulkan beberapa pendapat yang telah dijawab oleh peserta didiknya. f. Teknik menutup pelajaran. Menutup pelajaran tidak seperti pembawa acara pengantin dalam menutup acaranya yang hanya dengan mengucapkan terima kasih dan menyampaikan harapan-harapannya dengan kata semoga. Menutup pelajaran merupakan suatu mekanisme pembulatan dari sekian jam yang dilakukan dalam keseluruhan proses interaksi. Dalam proses ini pemateri harus dapat meyakinkan diri bahwa materi yang disampaikan terserap dengan baik. Caranya bisa bermacammacam misalnya: - dengan mendiskripsikan pokok-pokok pelajaran, dengan lebih menekankan hal-hal yang baru yang belum dikuasai oleh peserta didik; dan hal-hal penting yang wajib dikuasai peserta didik. - dengan menyampaikan ihtisar pelajaran. - dengan menyampaiakan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab peserta didik yang diatur urut dari sub bab pertama sampai ke sub bab yang terakhir. - Dengan meminta salah satu dari mereka untuk menceriterakan atau mereview kembali secara singkat. Yang lebih penting dalam menutup pelajaran adalah penyaji materi dapat memberikan kesan pelajaran yang disampaikan itu mudah dan menyenangkan. Selain itu penyaji materi dapat pula member motivasi kepada peserta didik untuk tetap belajar.

IV.

GAYA MENGAJAR

8 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

9

Penyaji Tradisional Banyak penyaji materi yang ketika masuk kelas dan kelasnya ramai, ia berdiri di depan sambil bersedakep, sambil diam saja dan menunggu sampai kelas tersebut tenang. Biasanya penyaji model ini apabila kelasnya tidak kunjung diam ia akan mengatakan “sudah selesai belum bicaranya?” “kalau belum selesai silahkan diteruskan dan nanti kalau kalian sudah selesai bicaranya, baru saya yang bicara, jadi gantian”. Seringkali diikuti menggererutu, “sejak tadi didiamkan kok tidak merasa”. Penyaji yang lebih galak biasanya ketika memulai membuka mata pelajaran ia berdiri tegak, kepala agak mendongat ke atas, pasang wajah yang agak seram, kadangkala tangannya mengepal dan dipukul-pukulkan ke telapak tangannya sendiri, sehingga sedikit bunyi “taq…taq…taq”. Peserta didik yang usia 7 sampai 14 tahun biasanya langsung ciut nyalinya dan duduk sedikit meringkuk. Model yang demikian ini sekarang jarang terjadi. Ada pula seorang penyaji materi yang begitu sampai di depan kelas atau ruangan pembelajaran langsung memberikan perintah, “Ambil kertas, tulis nama kalian di sudut kanan atas, dan jawab pertanyaan-pertanyaan saya, nomor 1…dan seterusnya”. Ketiga gaya mengajar seperti ini adalah gaya model “teacher centered”, di mana penyaji menjadi pusat perhatian. Penyaji bertindak sebagai gudangnya ilmu pengetahuan (store of knowledge); gaya penyajiannya adalah dominator. Gaya ini sangat tidak cocok apabila peserta didiknya adalah orang dewasa, atau orang yang menginjak usia dewasa. Gaya mengajar seperti ini lebih banyak ruginya daripada keuntungannya. Kerugian gaya mengajar seperti ini adalah: 1) Karena hubungan pendidik dan peserta didik tidak dekat, maka hal-hal yang tidak dipahami peserta didik tidak dapat ditangkap oleh pendidik selain lewat tes. 2) Hubungan yang tersekat akan menyebabkan kurang lancarnya atau terputusnya komunikasi. Hal ini sangat merugikan apabila pendidik akan meningkatkan atau mengeksplore kreativitas peserta didik. 3) Penanaman kedisiplinan yang kaku akan menimbulkan peserta didik menjadi kurang kreatif, serba takut 9 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

10 mengutarakan pendapat atau sebaliknya akan berakibat agresivitas peserta didik di luar jam pelajaran. Penyaji Demokratis Gaya yang lebih efektif adalah penyaji materi bertindak sebagai fasilitator, penyaji berupaya sebagai “teman” belajar atau pendukung orang yang belajar. Penyaji yang demokratis ia tidak menempatkan diri sebagai seorang dominator, tetapi seorang fasilitator. Ia tidak menempatkan peserta didik sebagai gelas kosong yang akan diisi ilmu pengetahuan, tetapi ia menempatkan peserta didik sebagaimana gelas yang telah berisi berbagai macam ramuan seperti gula, teh, dan sebagainya, sehingga pendidik hanya berfungsi untuk mengaduknya. Kedekatan emosional antara pendidik dan peserta didik adalah sangat penting lebih-lebih di dalam pendidikan karakter. Keuntungannya adalah 1) proses belajar berjalan secara interaktif dan demokratis, dan bukan komunikasi searah (one way communication), tetapi bisa komunikasi dua arah (double way communication) atau bahkan komunikasi beberapa arah (multi way communication); 2) peserta didik tidak akan segan-segan bertanya bila memang belum tahu benar; 3) peserta dapat atau berani mengoreksi kesalahan penyajian; 4) proses belajar dinamis dan menyenangkan, karena tidak ada unsur keterpaksaan.

10 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

11 V.

BERBAGAI METODE PEMBELAJARAN
Ancangan Menata Ruang Kelas

Menata ruangan adalah bagian dari strategi pembelajar-an, agar keseluruhan proses berjalan efektif dan efisien. Pertimbangan-pertimbangan yang dipergunakan untuk menata ruangan kelas antara lain: (a) Jumlah peserta didik. (b) Materi yang akan disajikan. (c) Metode penyajian yang akan dipilih. (d) Kemampuan pelatih/Pembina/guru/penyaji dalam mengelola kelas.
1. Huruf U Digunakan untuk berbagai penyajian materi. Keuntungannya peserta dapat melihat penuh media visual yang disajikan, dan dapat menulis bahan latihan dengan baik. Huruf U model A

Huruf U model B Setting huruf U model B, ini menguntungkan apabila dalam satu penyajian memerlukan suatu diskusi, walaupun pusat perhatian masih tetap pada sessioner yang berada di depan. 11 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

12

2.

Corak Tim Formasi pembelajaran Corak Tim ini mirip dengan Formasi U tipe B, bedanya pada formasi corak Tim pusat perhatian peserta didik berada pada masing-masing meja, tidak lagi berpusat pada penyaji yang ada di depan kelas. Formasi duduknya pun berbeda, semua berpusat pada meja atau pada tugas kelompoknya.

3.

Meja Konferensi Susunan ini mengurangi dominasinya pengajar/pelatih dan menambahkan pentingnya peran peserta didik.

12 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

13

Pemberi materi dapat berada diujung atau di tengahtengah. 4. Lingkaran

Pemberi materi berada di salah satu mata rantai lingkaran. Formasi lingkaran 2 digunakan apabila peserta didik diminta untuk menulis atau mengerjakan sesuatu agar tidak terganggu dengan pekerjaan teman di sekitarnya.

Dalam bekerjanya peserta semuanya menghadap keluar agar tidak terganggu dalam melaksanakan tugasnya. 5. Kelompok untuk kelompok

13 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

14 Diskusi ini memungkinkan untuk melaksanakan diskusi fish bowl atau mangkuk ikan. Susunan yang paling pokok adalah dua konsentrasi lingkaran kursi.

6.

Work Station. Susunan ini tepatnya untuk melakukan pemecahan masalah yang rumit, penelitian-penelitian atau pekerjaan laboratorium. Setiap peserta aktif menyanding lap-top atau komputernya, setelah selesai didemonstrasikan.

7.

Break-out grouping. Susunan ini bisa dilakukan manakala ruangan kelas cukup luas, atau di kebun yang semuanya rindang. Susunan tersebut mengandalkan pada keberhasilan diskusi masingmasing kelompok, yang ditugasi untuk menyelesaikan masalah khusus, yang nantinya disampaikan dalam diskusi kelas (pleno).

8.

Susunan Chevron.

14 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

15

Susunan kelas ini termasuk kelas tradisionil, gunanya agar dapat menjangkau peserta yang banyak, serta mengurangi jarak antara penyaji materi dan peerta didik. 9. Kelas tradisional.

Metode yang efektif untuk kelas tradisional ini adalah ceramah, tetapi akan lebih baik bila digunakan ceramah bervariasi. Kelas tradisionil akan efektif bila meja-mejanya mudah dipindahkan (moving class). 10. Auditorium. Auditorium ini adalah salah satu susunan yang sangat sulit bagi peserta didik untuk dapat belajar secara aktif. Paparan harus dibuat sedemikian rupa sehingga seluruh kelas dapat melihat dengan jelas.

15 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

16

Berbagai bentuk pengaturan kelas pada hakekatnya merupakan bagian dari seni mengajar, agar peserta didik tidak dijamu dengan menu yang selalu tetap. Kreativitas pendidik akan mendorong kreativitas peserta didik, sebaliknya sikap otoriter dan dominasi pendidik akan mengebiri kreativitas peserta didik.

VI. MENYIMAK BERBAGAI METODE PEMBELAJARAN
1. METODE CERAMAH Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisonal. Metode ini telah digunakan sejak jaman Romawi. Para pejabat yang akan mempengaruhi khlayak atau menyampaikan pesanpesan lewat ceramah dimulai dengan belajar dulu untuk memperkuat suaranya di tepi pantai, di gemuruhnya ombak lautan, kalau suaranya telah dapat menyaingi gemuruhnya ombak, maka ia dianggap sukses dalam berlatih mengatur suara. Sejak dahulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara pendidik dan peserta didik dalam interaksi edukatif. Metode ceramah adalah suatu metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan sacara lisan kepada sejumlah peserta didik yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham peserta didik. Syarat-syarat pengguna metode ceramah: 1) Ia menguasai secara dalam dan luas atas materi yang akan disajikan. 2) Ia haruslah seorang pembicara yang bersemangat. 3) Ia adalah orang yang memiliki kemampuan berbicara yang tinggi, setidaknya ia seorang pembicara yang baik, tidak membosankan, ia pandai melibatkan emosi pendengarnya sehingga dapat menguasai keadaan atau dapat mengelola kelas dengan baik. 16 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

17 4) Ia cukup berwibawa, dan memiliki sense oh humor. 5) Ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sebab kalau pendengarnya bosan, lebih-lebih mengantuk ia tetap saja melanjutkan bicaranya, maka apa yang disampaikan sebenarnya adalah kesia-siaan. Kelebihan Metode Ceramah 1) Guru mudah menguasai kelas. 2) Mudah dilaksanakan. 3) Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar. 4) Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar. Kekurangan Metode Ceramah 1) Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). 2) Mengandung unsur paksaan kepada peserta didik. Anak didik yang lebih tanggap dari sisi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. 3) Bila terlalu lama membosankan. 4) Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik. 5) Menyebabkan anak didik pasif. Hal-hal yang dihindari ketika berceramah. 1) Hindarilah hal-hal yang tidak disadari oleh penceramah tetapi mengganggu para pendengarnya, atau bahkan menjadi pusat perhatian pendengarnya. Para pendengar tidak memperhatikan materi yang disampaikan penceramah tetapi justru memperhatikan kesalahan-kesalahan atau hal-hal janggal yang dilakukan oleh penceramah. Misalnya penceramah sering mengucapkan eeng…..eeeng……dst. Sering memain-mainkan tongkat atau kayu penggaris atau apa-apa saja yang dipegangnya. Sering menaikkan celananya dsb. 2) Pandangan jangan hanya terpusat di satu arah. 3) Badan diam saja seperti patung ketika berceramah atau sebaliknya sikapnya seperti baling-baling ketika ceramah. 4) Suara terus-menerus lantang, atau terus-menerus perlahanlahan. 5) Sering melihat dandanannya sendiri, atau mengelus-elus rambutnya. Pada prinsipnya gerakan yang selalu diulang-ulang tidak baik. 2. METODE DISKUSI Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini sering disebut sebagai diskusi kelompok (group 17 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

18 discussion) dan resitasi bersama (socialized recitation). Metode diskusi ini sangat banyak jenisnya, dan nanti akan dikelompokkan. Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk: 1) Mendorong peserta didik berpikir kritis. 2) Mendorong peserta didik mengekspresikan pendapatnya secara bebas. 3) Mendorong peserta didik menyumbangkan buah pikirnya untuk memecahkan masalah bersama. 4) Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama. Kelebihan metode diskusi sebagai berikut: 1) Menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai cara. 2) Menyadarkan peserta didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik. 3) Membiasakan peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. Kelemahan metode diskusi sebagai berikut: 1) Perlu mendesain pembelajaran yang matang, persiapannya cukup lama. 2) Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang cukup besar. 3) Diskusi hanya baik dilakukan bahwa peserta didik memiliki pemahaman yang merata atas materi yang didiskusikan. 4) Informasi yang diperoleh peserta diskusi sangat terbatas. 5) Diskusi biasanya dikuasai oleh orang-orang yang suka dan pandai berbicara. 6) Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal. 7) Anak yang introvert biasanya agak tersisih dalam forum diskusi. 3. METODE DEMONSTRASI Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan sesuatu bisa berupa peristiwa, kejadian, barang, aturan, dan urutan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan materi yang sedang dibahas. Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk

18 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

19 memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja sesuatu yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Manfaat metode demonstrasi adalah: 1) Perhatian peserta didik dapat lebih terpusatkan. 2) Proses belajar peserta didik lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari. 3) Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri peserta didik. 4) Peserta didik dapat lebih aktif. Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut: 1) Membantu peserta didik memahami dengan jelas rangkaian proses atau mekanisme kerja sesuatu hal atau benda. 2) Memudahkan berbagai jenis penjelasan. 3) Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya. Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut: 1) Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan. 2) Tidak semua peristiwa atau benda dapat didemonstrasikan. 3) Kemampuan penyaji yang tidak menguasai materi dan seni mendemonstrasikan justru akan membuat semakin bingung peserta didik. 4. METODE EKSPERIMEN Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada peserta didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini anak didik diharapkan sepenuhnya terlibat merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel, dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata. Kelebihan Metode Eksperimen 1) Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku. 2) Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu sikap yang dituntut dari seorang ilmuwan. 3) Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil 19 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

20 percobaannya yang diharapkan kesejahteraan hidup manusia. dapat bermanfaat bagi

Kekurangan Metode Eksperimen 1) Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap peserta didik berkesempatan mengadakan eksperimen. 2) Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, peserta didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran; 3) Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi. 5. METODE PEMBERIAN TUGAS DAN RESITASI Pemberian tugas dengan arti pendidik/guru menyuruh anak didik misalnya membaca, tetapi dengan menambahkan tugas-tugas seperti mencari dan membaca buku-buku lain sebagai perbandingan, atau disuruh mengamati orang/masyarakatnya setelah membaca buku itu. Dengan demikian, pemberian tugas adalah suatu pekerjaan yang harus diselesaikan oleh anak didik tanpa terikat dengan tempat. Kelebihan Metode Pemberian Tugas dan Resitasi 1) Pengetahuan peserta didik yang diperoleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama. 2) Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri. Kekurangan Metode Pemberian Tugas dan Resitasi 1) Seringkali anak didik melakukan penipuan di mana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri. 2) Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan. 3) Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual. 6. METODE CURAH GAGASAN (BRAIN STORMING) Metode ini adalah suatu cara yang cepat untuk mengumpulkan suatu pendapat atau gagasan kelompok. Langkah Pelaksanaan: 1) Sebaiknya tempat duduk peserta diatur setengah lingkaran atau berbentuk lingkaran satu baris atau tidak bersap. 2) Pendidik menyampaikan masalah atau pertanyaan yang akan dijawab secara singkat. Usahakan pertanyaan yang dapat dijawab hanya satu sampai tiga kata. 20 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

21 3) Peserta secara berurutan menyampaikan pendapatnya, dan bagi yang belum punya jawaban mengucapkan “pass” atau “lewat”. 4) Semua jawaban ditulis dan dirangkum oleh salah seorang petugas atau salah satu di antara peserta. 5) Pertanyaan terus bergulir bisa berkali-kali sampai tidak ada jawaban lagi dari peserta. 6) Jawaban-jawaban tersebut dikategorikan kemudian dirumuskan. 7. METODE UNIT TEACHING Metode unit teaching merupakan metode mengajar yang memberikan kesempatan pada peserta didik secara aktif dan pendidik dapat mengenal dan menguasai belajar secara unit. Metode ini adalah berpusat pada bagaimana mendesain bahan pelajaran, sehingga satu, dua, tiga atau lebih pokok bahasan dapat disatukan menjadi satu unit pelajaran, sehingga dapat disampaikan dengan mandiri. Selanjutnya evaluasi untuk tiap unit pelajaran ini biasanya disebut tes formatif. Kelebihan metode unit teaching 1) Peserta didik dapat menggunakan sumber-sumber materi pelajaran secara luas. 2) Peserta didik dapat belajar keseluruhan sesuai bakat. 3) Suasana kelas lebih demokratis. Kelemahan metode unit teaching: 1) Dalam melaksanakan unit perlu keahlian dan ketekunan. 2) Perhatian pendidik harus lebih banyak dicurahkan pada bimbingan kerja peserta didik. 3) Perencanaan unit yang tidak mudah, memerlukan ahli yang betul-betul menguasai masalah karena semua masalah belum tentu dapat dijadikan unit.

8. METODE LATIHAN KETERAMPILAN (DRILL METHOD). Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar, dimana peserta didik diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mote/pernik-pernik. Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut: 21 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

22 1) Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alatalat. 2) Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya. 3) Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan. Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut: 1) Menghambat bakat dan inisiatif peserta didik karena peserta didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian. 2) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan. 3) Kadang-kadang latihan tyang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan. 4) Dapat menimbulkan verbalisme. 9. METODE KARYA WISATA. Metode karya wisata adalah dirancang terlebih dahulu oleh didik membuat laporan dan peserta didik yang lain serta kemudian dibukukan.

suatu metode mengajar yang pendidik dan diharapkan peserta didiskusikan bersama dengan didampingi oleh pendidik, yang

Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut: 1) Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran. 2) Membuat bahan yang dipelajari di ruangan menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat. 3) Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas peserta didik. Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut: 1) Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak. 2) Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang. 3) Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan. 4) Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik peserta didik di lapangan. 5) Biayanya cukup mahal. 22 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

23 6) Memerlukan tanggung jawab pendidik dan lembaganya atas kelancaran karyawisata dan keselamatan peserta didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh. Dalam proses belajar mengajar peserta didik perlu diajak ke luar ruangan pembelajaran, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataan misalnya untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya. Teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut: - Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya-jawab sehingga mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. - Mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran. Hal yang perlu diperhatikan dalam karya wisata: - Persiapan, di mana pendidik perlu menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian peserta didik dalam kelompok, serta mengirim utusan. - Dalam pelaksanaan karya wisata, pemimpin rombongan mengatur segala-sesuatunya dibantu petugas-petugas lain. Panitia dan peserta memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama. - Pemimpin rombongan mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggungjawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu. - Akhir karya wisata, peserta didik mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan atau paper, memuat kesimpulan yang diperoleh, menindaklanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti 23 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

24 membuat grafik, gambar, model-model, diagram, serta alat-alat lain dan sebagainya. 10. METODE MENGAJAR BEREGU ( TEAM TEACHING METHOD ). Metode mengajar beregu adalah suatu metode mengajar di mana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap peserta didik yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut. Langkah pelaksanaan: 1) Konsep atau desain pembelajaran dirundingkan bersama sebaik-baiknya. 2) Materi dibagi sedemikian rupa kepada tim penyaji. 3) Metode diatur sedemikian rupa sehingga ada variasi yang menyenangkan ketika proses belajar berlangsung. 4) Waktu, tempat, diatur dan dibagi dengan seksama. 5) Alat peraga dibuat secara variatif. 6) Evaluasi dilakukan dengan baik. 11. METODE MENGAJAR SESAMA TEMAN (PEER TEACHING METHOD). Metode mengajar sesama teman adalah suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri. Peran pendidik tidak bersifat formal, lebih banyak bersifat informal. Keunggulan metode ini adalah: - Peserta didik tidak segan-segan untuk bertanya, bahkan kalau pemateri salah sangat berani untuk mengkritik dan meluruskannya, dengan demikian proses pembelajaran sangat demokratis. - Peserta yang menyampaikan materi akan semakin matang dalam menguasai pelajaran. - Dengan metode tersebut dapat ditumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung-jawab. KeLemahan metode ini adalah: - Sering waktu yang tersedia tidak cukup. - Bila tidak ada yang berjiwa pemimpin dalam kelompok tersebut maka yang akan terjadi adalah bermain-main dan tidak serius. - Metode ini tidak dapat digunakan dalam kelas yang agak besar. 24 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

25 12. METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING METHOD). Metode ini adalah suatu metode mengajar yang mana peserta didiknya diberi soal-soal, lalu diminta pemecahannya. Metode ini sangat umum, strateginya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada hakekatnya metode ini adalah untuk mempertajam analisis peserta didik, kemampuan menghubungkan gejala yang satu dengan yang lain, membedakan yang satu dengan yang lain, dan sebagainya. - Metode ini dapat dilakukan secara klasikal artinya masalah yang dilontarkan oleh pendidik dipecahkan seluruh kelas. - Metode ini juga bisa dilakukan dengan secara kelompok. Satu masalah dipecahkan oleh masing-masing kelompok, dan nantinya baru didiskusikan bersama; atau masingmasing kelompok diberi masalah yang berbeda. - Metode ini dapat pula dilakukan secara individu yakni tiaptiap peserta didik diberi masalah yang berbeda untuk dipecahkan atau diberi masalah yang sama untuk nantinya dicocokkan jawaban mana yang paling tepat. 13. METODE PERANCANGAN (PROJECT METHOD) Metode ini adalah suatu metode mengajar dimana pendidik harus merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian. Kelebihan metode perancangan sebagai berikut: 1) Dapat merombak pola pikir peserta didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyuluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. 2) Melalui metode ini, peserta didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terpadu, praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Kekurangan metode perancangan sebagai berikut: 1) Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini. 2) Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari pendidik, sedangkan para pendidik belum disiapkan untuk ini. 3) Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan peserta didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumbersumber belajar yang diperlukan. 4) Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas. 25 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

26

14. METODE BAGIAN Adalah metode mengajar dengan menggunakan sebagiansebagian, misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya. Metode ini biasa disebut metode induktif, yakni mengajarkan dari yang khusus ke yang umum. Sebenarnya metode ini dapat digunakan untuk semua metode yang lain, karena metode ini hanya menyangkut sistematika urutan penyajian. Demikian pula sebaliknya metode deduktif atau sering disebut dengan metode global. 15. METODE GLOBAL (GANZE METHOD). Metode menggunakan sistematika penyajian materi dari yang umum (kerangka besar) ke yang khusus (menuju bagian-bagian atau unsur-unsur). Metode ini sangat baik bila kerangka materi yang disajikan sangat rumit, sehingga bila disajikan bagianbagiannya terlebih dahulu dikhawatirkan peserta didik tidak mengetahui kerangka besar dari materi yang disajikan. Pelaksanaan penggunaan metode mengajar global tersebut bisa dilakukan misalnya peserta didik disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian peserta didik meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisari dari materi tersebut.

16. METODE DISCOVERY. Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery tersebut:  Merupakan sarana untuk mengembangkan cara belajar peserta didik aktif,  Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan.  Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain.  Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri.

26 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

27  Dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan problem yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat. Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi:  metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif;  beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri;  mencari sendiri dan reflektif. Sedangkan langkah-langkah metode ini adalah:  identifikasi kebutuhan peserta didik,  seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari, seleksi bahan, dan problema serta tugas-tugas, membantu memperjelas problema yang akan dipelajari dan peranan masing-masing peserta didik,  mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan,  mencek pemahaman peserta didik terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas peserta didik, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penemuan,  membantu peserta didik dengan informasi, data, jika diperlukan oleh peserta didik,  memimpin analisis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses,  merangsang terjadinya interaksi antar peserta didik dengan peserta didik,  memuji dan membesarkan peserta didik yang bergiat dalam proses penemuan,  membantu peserta didik merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya. Kebaikan metode discovery:  Dianggap membantu peserta didik mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif peserta didik, andaikata peserta didik itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu,  Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer,  Strategi penemuan membangkitkan gairah pada peserta didik, misalnya peserta didik merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan, 27 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

28  metode ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri,  metode ini menyebabkan peserta didik mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus,  Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi peserta didik dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan peserta didik sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan,  Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada peserta didik dan pendidik berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya,  Membantu perkembangan peserta didik menuju skeptisisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak. Kelemahan metode discovery:  Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. (misalnya peserta didik yang lamban mungkin bingung dalam usanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau akn terjadi saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Peserta didik yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada peserta didik yang lain),  Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.  Strategi ini mungkin mengecewakan pendidik dan peserta didik yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional,  Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan,  dalam beberapa cabang ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada,  Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh pendidik. 17. METODE INQUIRY 28 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

29 Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif . Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun pendidik tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Pendidik berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala pendidik perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Pendidik berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi. Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Karena itu inquiry menuntut peserta didik berfikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis. Langkah-langkah dalam proses inquiry adalah: menyadarkan keingintahuan terhadap sesuatu, mempradugakan suatu jawaban, serta menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti. berikutnya adalah menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru. Strategi pelaksanaan inquiry adalah: (1) Pendidik memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. (2) Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami peserta didik. (3) Pendidik memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik. (4) Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya. (5) Peserta didik merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. 18. METODE KERJA LAPANGAN Metode kerja lapangan merupakan metode mengajar dengan mengajak peserta didik ke suatu tempat di luar sekolah yang bertujuan 29 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

30 tidak hanya sekedar observasi atau peninjauan saja, tetapi langsung terjun turut aktif ke lapangan kerja agar peserta didik dapat menghayati sendiri serta bekerja sendiri didalam pekerjaan yang ada dalam masyarakat. Kelebihan metode kerja lapangan. 1) Peserta didik mendapat kesempatan untuk langsung aktif bekerja di lapangan sehingga memperoleh pengalaman langsung dalam bekerja. 2) Peserta didik menemukan pengertian pemahaman dari pekerjaan itu mengenai kebaikan maupun kekurangannya. Kelemahan metode kerja lapangan. 1) Waktu terbatas tidak memungkinkan memperoleh pengalaman yang mendalam dan penguasaan pengetahuan yang terbatas. 2) Untuk kerja lapangan perlu biaya yang banyak. Tempat praktek yang jauh dari sekolah sehingga pendidik perlu meninjau dan mepersiapkan terlebih dahulu. 3) Tidak tersedianya trainer pendidik/pelatih yang ahli. 19. METODE SEMINAR Metode seminar adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh beberapa orang dalam suatu sidang yang berusaha membahas/mengupas masalah-masalah atau hal-hal tertentu dalam rangka mencari jalan pemecahannya atau mencari pedoman pelaksanaannya. Kelebihan metode seminar. 1) Peserta mendapatkan keterangan teoritis yang luas dan mendalam tentang masalah yang diseminarkan. 2) Peserta mendapatkan petunjuk-petunjuk praktis untuk melaksanakan tugasnya. 3) Peserta dibina untuk bersikap kritis dan berfikir secara ilmiah. 4) Terpupuknya kerja sama antar peserta. 5) Terhubungnya lembaga pendidikan dan masyarakat. Kelemahan Metode Seminar. 1) Memerlukan waktu yang lama. 2) Peserta menjadi kurang aktif. 3) Membutuhkan penataan ruang tersendiri. 20. METODE PERGANTIAN PANGKALAN (BASE METHOD). Metode sangat baik apabila materi yang akan disampaikan cukup banyak, dan akan disampaikan pada jumlah peserta yang kecil (satu kelompok saja). Metode pergantian pangkalan sangat baik di lakukan di alam terbuka. 30 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

31 Langkah pelaksanaan: 1) Siapkan materi pelajaran sesuai dengan jumlah kelompok yang akan dibentuk. Masing-masing materi disiapkan seorang tutor untuk mengampu materi yang akan dipresentasikan. 2) Bentuk kelompok sejumlah materi yang dipersiapkan (sebaiknya satu kelompok beranggotakan 5 orang dan paling banyak 15 orang. 3) Tempatkan masing-masing tutor untuk membuat pangkalan, misalnya tutor 1, ada di bawah pohon, tutor 2 ada di teras kelas, tutor 3 ada pinggir kolam halaman dan sebagainya. Namun masing-masing tutor haruslah berada di satu lokasi sehingga ketika peluit tanda pergantian peserta didik dapat mendengar, dan berganti ke tempat yang telah ditentukan. 4) Sesi 1, kelompok 1 mendapat pelajaran di pangkalan 1 oleh tutor 1, kelompok 2 ada di pangkalan 2, diasuh oleh tutor 2; kelompok 3 ada di pangkalan 3 diasuh oleh tutor 3. Dst. 5) Sesi 2, setelah ada aba-aba pergantian kelas, maka kelompok 1 berpindah ke pangkalan 2, kelompok 2 berpindah ke pangkalan 3, kelompok 3 berpindah ke pangkalan 1. 6) Sesi 3. Kelompok 1 pindah ke pangkalan 3, kelompok 2 pindah ke pangkalan 1, dan kelompok 3 pindah ke pangkalan 2. 7) Dengan demikian semua kelompok akan mendapatkan 3 sesi atau 3 pokok bahasan yang berbeda. 8) Evaluasi. Metode ini sangat menyenangkan, karena peserta didik tidak bosan berada di tempat yang dari itu ke itu, dan berada dalam asuhan pendidik yang sama. Karena jumlah pesertanya maka proses pembelajaran akan berjalan lebih efektif.

VII. BERBAGAI METODE HASIL PENGEMBANGAN
1. PICTURE AND PICTURE Metode ini sangat menarik dan cocok untuk anak-anak usia Siaga (7 – 10 tahun); usia Penggalang (11 – 15 tahun) dan usia Penegak (16 – 20 tahun). Langkah-langkah: 1) Pendidik menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Menyajikan materi sebagai pengantar. 3) Pendidik menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi. 4) Pendidik menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian. 5) memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. 31 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

32 6) Pendidik menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut. 7) Dari alasan/urutan gambar tersebut pendidik memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 8) Kesimpulan/rangkuman. 2. NUMBERED HEAD TOGETHER/KEPALA BERNOMOR KAGAN, 1992).

(SPENCER

Metode ini melatih setiap peserta dalam kelompok tersebut bertanggung-jawab atas apa yang didskusikannya dalam kelompok secara individu dan secara kelompok; serta melatih kerjasama yang baik. Langkah-langkah: 1) Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok diberi nomor. 2) Pendidik memberikan tugas dan masing-masing kelompok, dan mereka diminta mengerjakannya dalam kelompok. 3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya. 4) Pendidik memanggil salah satu nomor peserta didik, nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka (tentu saja atas dasar hasil diskusi di kelompoknya). 5) Pendidik meminta tanggapan dari teman yang lain, (dalam kelompok tersebut), kemudian pendidik menunjuk nomor yang lain (di luar kelompok tersebut) untuk melakukan sebagaimana langkah yang di atas. 6) Kesimpulan. 3. COOPERATIVE SCRIPT Skrip kooperatif: Metode belajar ini melatih peserta didik untuk bekerjasama, menghargai pendapat orang lain (pasangannya), belajar mendengarkan, dan belajar berbicara secara sistematis. Caranya mereka diminta bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari, yang satu berbicara, yang satu mendengarkan sambil mencatat hal penting dan mengoreksi pembicaraan setelah penjelasan selesai. Langkah-langkah: 1) Pendidik membagi peserta didik untuk berpasangan. 2) Pendidik membagikan wacana/materi kepada tiap peserta didik untuk dibaca dan kemudian mereka diminta untuk membuat ringkasan. 32 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

33 3) Pendidik dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. 4) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar: • Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap. • Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan meng-hubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5) Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti di atas. 6) Kesimpulan dilakukan oleh peserta didik bersama-sama dengan Pendidik. 7) Penutup. 4. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (MODIFIKASI NUMBER HEADS) Metode ini adalah pengembangan dari metode nomor 3, dengan persiapan yang lebih rumit. Metode ini memberikan latihan langkah kerja yang sistematis kepada peserta didik. Langkah-langkah: 1) Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2) Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik berdasarkan nomor terhadap tugas secara berangkai. 3) Misalnya: peserta didik nomor satu bertugas mencatat soal. Peserta didik nomor dua mengerjakan soal dan peserta didik nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya. 4) Jika perlu, pendidik bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Peserta didik disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa peserta didik yang bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka. 5) Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain. 6) Kesimpulan. 5. JIGSAW/MODEL TIM AHLI (ARONSON, BLANEY, STEPHEN, SIKES, AND SNAPP, 1978). Langkah-langkah: 1) Peserta didik dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim. 2) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. 33 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

34 3) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan. 4) Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka. 5) Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asalnya (kelompok semula) dan bergantian untuk mengajar teman dalam satu tim mereka, tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. 6) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7) Pendidik memberi evaluasi. 8) Penutup. 6. ARTIKULASI Metode ini mirip dengan cooperative script hanya saja dilakukan dalam kelompok, kemusian pasangan antara yang berceritera dengan yang mendengarkan diacak, dan pendidik masih intervensi atas hal-hal yang belum sempurna dilakukan. Langkah-langkah: 1) Pendidik menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Pendidik menyajikan materi sebagaimana biasa. 3) Untuk mengetahui daya serap peserta didik, bentuklah kelompok berpasangan dua orang – dua orang. 4) Menugaskan salah satu peserta didik dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari pendidik, sedangkan pasangannya mendengar sambil membuat catatancatatan kecil, kemudian berganti peran. 5) Begitu juga kelompok lainnya. 6) Selanjutnya pendidik menugaskan peserta didik secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian peserta didik sudah menyampaikan hasil wawancaranya. 7) Pendidik mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami peserta didik. 8) Kesimpulan/penutup. 7. MIND MAPPING. Metode ini cukup baik untuk merangsang kreativitas atau inovasi terhadap hal-hal yang didiskusikan. Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal peserta didik atau untuk menemukan alternatif jawaban. Langkah-langkah: 1) Pendidik menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Pendidik mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya diberikan 34 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

35 permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban (lebih dari satu jawaban). Membentuk kelompok yang anggotanya 2 sampai 3 orang. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan pendidik mencatat di papan serta mengelompokkannya sesuai kebutuhan pendidik. Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat kesimpulan atau pendidik memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan oleh pendidik.

3) 4) 5) 6)

8. MAKE – A MATCH (MENCARI PASANGAN). Metode ini dapat digunakan dalam pertemuan awal, atau untuk memperoleh teman baru. Pada prinsipnya cara ini sama saja dengan mencocokkan soal dan jawaban hanya saja soal dan jawabannya berada pada kartu yang terpisah. Langkah-langkah: 1) Pendidik menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu berisi jawaban. 2) Setiap peserta didik mendapat satu buah kartu. 3) Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 4) Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal - jawaban). 5) Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin/nilai/skor. 6) Setelah selesai satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 7) Demikian seterusnya. 8) Kesimpulan/penutup. 9. THINK PAIR AND SHARE (FRANK LYMAN, 1985). Metode ini memberikan latihan untuk memprediksikan secara logis halhal yang akan muncul atau alternatif-alternatif jawaban yang paling tepat. Langkah-langkah: 1) Pendidik menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai terlebih dahulu. 2) Peserta didik diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan pendidik.

35 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

36 3) Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masingmasing. 4) Pendidik memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya. 5) Berawal dari kegiatan tersebut, Pendidik mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik. 6) Pendidik memberi kesimpulan. 7) Penutup. 10. BERTUKAR PASANGAN. Metode ini mirip dengan the power of two, di mana hasil pemikiran dua orang, dan bergantian dua orang lainnya dari pasangan yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang lebih baik. Langkah-langkah: 1) Setiap peserta didik mendapat satu pasangan (pendidik bisa menunjuk pasangannya atau peserta didik memilih sendiri pasangannya). 2) Pendidik memberikan tugas dan peserta didik mengerjakan tugas dengan pasangannya. 3) Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain. 4) Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian pasangan yang baru di sinilah mereka saling menanyakan dan mencari kepastian jawaban mereka. 5) Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula. 11. SNOWBALL THROWING Metode ini merupakan suatu pembelajaran sambil bermain yang menyenangkan, dengan cara melempar kertas pertanyaan, dan yang memperoleh lemparan kertas menjawab pertanyaan tersebut, setelah mereka saling menguasai materi yang dijelaskan oleh ketua kelompoknya. Langkah-langkah: 1) Pendidik menyampaikan materi yang akan disajikan. 2) Pendidik membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masingmasing ketua kelompoknya saja, untuk diberi penjelasan tentang materi yang akan disajikan. 3) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masingmasing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh pendidik kepada temannya. 36 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

37 4) Masing-masing peserta didik kemudian diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompoknya. 5) Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta didik ke peserta didik yang lain selama ± 15 menit. 6) Setelah peserta didik dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7) Evaluasi. 8) Penutup. 12. TEBAK KATA Metode ini sangat baik utnuk selingan, karena dilakukan melalui permainan. Media yang digunakan:  Buat kartu ukuran 10 X 10 cm, dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.  Buat kartu ukuran 5 X 2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi atau diselipkan di telinga). Langkah-langkah: 1. Pendidik menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi pelajaran selama ± 45 menit. 2. Pendidik menyuruh peserta didik berdiri berpasangan di depan kelas. 3. Seorang peserta didik diberi kartu yang berukuran 10×10 cm yang nanti dibacakan kepada pasangannya. Seorang peserta didik yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5×2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga. 4. Sementara peserta didik membawa kartu 10×10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sedangkan pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10×10 cm. Jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga. 5. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya. 6. Dan seterusnya. CONTOH KARTU. 37 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

38 Perusahaan ini tanggung-jawabnya tidak terbatas. Dimiliki oleh 1 orang. Struktur organisasinya tidak resmi. Bila untung dimiliki, diambil sendiri. NAH … SIAPA … AKU ? JAWABNYA : PERUSAHAAN PERSEORANGAN

13. KELILING KELOMPOK. Metode ini mirip dengan brain storming, hanya saja kontribusi pendapat atau pandangan peserta bisa lebih panjang, luas, dan mendalam. Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lainnya. Caranya: 1) Pendidik menyampaikan topik materi berikut garis besarnya. 2) Salah satu peserta didik dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan. 3) Peserta didik berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya. 4) Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan sesuai arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan. 14. COURSE REVIEW HORAY Metode ini sama dengan tanya-jawab soal, hanya saja nomor soal yang akan dijawab oleh peserta didik telah mereka pilih lebih dahulu. Langkah-langkah: 1) Pendidik menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Pendidik mendemonstrasikan/menyajikan materi. 3) Memberikan kesempatan peserta didik tanya jawab. 4) Untuk menguji pemahaman, peserta didik disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan atau bisa juga menurut jumlah soal yang diberikan, bisa juga menurut jumlah peserta didik yang ada. Tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing peserta didik; namun demikian nomor yang ditulis harus ada batasan minimal dan maksimalnya sesuai dengan nomor pada jumlah soal yang akan dibacakan. 5) Pendidik membaca soal secara acak dan peserta didik menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan pendidik, dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salah diisi tanda silang (x). 6) Peserta didik yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya. 38 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

39 7) Nilai peserta didik dihitung dari jawaban benar atau jumlah horay yang diperoleh. 8) Penutup. 15. TRADING PLACE. Strategi ini memungkinkan peserta didik lebih saling mengenal, tukarmenukar pendapat mempertimbangkan gagasan, nilai, atau pemecahan berbagai masalah. Contoh: Sessioner melontarkan ”Masalah Pembinaan Gudep”. Masing-masing peserta diminta menulis di kertas apa masalahnya dan jika ada bagaimana solusinya. Kemudian mereka diminta berjalan satu-persatu berkeliling, dan nanti masalah dan solusinya dipertukarkan dengan teman yang lain. 16. WHO IS IN CLASS. Teknik ini untuk berburu teman sehobi/sepandangan. Contoh: Peserta diminta menulis warna kesukaan; kemudian bulan kelahiran, lamanya menjadi Mahasiswa/Guru/Pembina/Pelatih dst. Kemudian mereka diminta mencari teman yang memiliki kesamaan paling sedikit 3 kategori untuk menjadi teman kelompoknya. 17. PREDICTION. Cara ini sangat mengagumkan untuk saling kenal dan melalui prosesnya dapat menimbulkan kesan yang dalam. Caranya: Bentuk mereka dalam kelompok kecil. Dalam kelompok tersebut secara bergiliran seorang diminta ke tengah lingkaran, kemudian Tutor mengajukan pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Pertanyaan pertama misalkan: Musik apa yang anda sukai? – Ia tidak perlu menjawab tetapi teman lain yang harus menebak sehingga jawabannya tertebak. Peserta yang di depan cukup menyatakan ”tebakan temannya tersebut benar atau salah”. Ajukan pertanyaan lain misal: Berapa jam anda tidur malam, dst. Yang lain menebak. Ajukan pertanyaan lagi: Berapa saudara kandung anda, anda nomor berapa? Dst. Dalam permainan ini di tiap kelompok harus ada pendampingnya, agar dapat memberikan evaluasi. 18. TV COMMERCIAL. Strategi ini bila dalam kelompok tersebut sudah saling kenal. Satu kelompok dibuat tidak lebih dari 6 orang. Tiap kelompok supaya 39 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

40 mengiklankan pelajaran yang tertera dalam jadwal. Iklan hendaknya berupa slogan. Contoh untuk materi PRINSIP DASAR (PDK) DAN METODE KEPRAMUKAAN(MK): “Tanpa PDK dan MK pendidikan kepramukaan tiada artinya, karena semua kegiatan kepramukaan harus merupakan implementasi dari PDK”. Dalam iklan disebutkan pula hasil-hasil (produk) yang akan diperoleh bila PDK dan MK diterapkan dengan benar. 19. THE COMPANY YOU KEEP. Metode ini dapat digunakan untuk pembagian kelas atau kelompok, dapat juga digunakan utnuk saling kenal-mengenal. Caranya: Upayakan Ruang Kelas tidak ada kursi sehingga mereka bisa bergerak bebas. Mulailah dengan pertanyaan pertama misalnya: (1) Siapa lahir di bulan Januari sampai Juni supaya berada di kiri saya, sedangkan yang lahir di bulan Juli sampai Desember supaya berdiri di kanan saya. – Di sini akan terjadi 2 kelompok. Selanjutnya diajukan pertanyaan ke2, misalkan (2) Yang berjenis kelamin putera supaya memisahkan diri dengan yang puteri. – Akan diperoleh 4 kelompok. (3) Yang namanya dimulai dari A sampai M agar membentuk kelompok sendiri, memisahkan diri dari yang namanya N sampai Z. – Akan terbentuk 8 kelompok, dan sebagainya. Teruskan sampai mereka terbentuk kelompok yang sangat kecil. Setiap terbentuk kelompok baru mintalah mereka agar saling berjabat tangan. 20. TEAM GET AWAY/BUILDING MONUMENT. Metode ini dapat digunakan sebagai Ice Breaker, dan lebih jauh lagi dapat berfungsi untuk memberikan kerangka materi latihan yang akan disajikan melalui suatu permainan. Caranya: Berikan di tiap-tiap kelompok kartu, (Kertas warna dengan bentukbentuk atau tulisan tertentu) atau apapun yang relevan dengan materi yangakan disajikan, dengan jumlah yang cukup banyak. Langkah berikutnya mintakan mereka untuk menyusunnya,(bisa disesuaikan dengan makna/simbol materi pelajaran yang akan diberikan). Mintakan tiap-tiap kelompok untuk menjelaskan monumennya. 21. RECONNECTING LESSON. Metode ini dapat dipergunakan untuk mereview materi yang telah disajikan, atau untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta didik secara kualitatif. Caranya: Setelah waktu penyajian sudah akan habis maka berilah pertanyaan misalkan: (1) Apa yang masih anda ingat tentang pelajaran terakhir kita? (2) Sudahkah anda melakukan sesuatu atau terangsang untuk 40 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

41 melakukan sesuatu setelah selesai pelajaran tadi? (3) Apa yang ada dalam pikiran anda (kekhawatiran, kecemasan)bertalian dengan sesuatu yang ada dalam pelajaran tadi? (4) Bagaimana perasan anda hari ini? Jawaban bisa dibuat opsi, ditayangkan di layar, yang menyenangkan – Bisa saja jawabannya “Saya merasa seperti sebuah pisang busuk”. – Terakhir hubungkan dengan pelajaran yang akan segera dimulai.

22. THE GREAT WIND BLOWS. Metode ini merupakan strategi yang sangat segar dan membuat mereka bergerak serta tertawa. Caranya: Atur kursi secara melingkar. Tidak satupun kursi yang kosong. Satu kursi di tengah. Buatlah kriteria pada mereka (seperti permainan mangga, jeruk, apel). Tapi bisa dihubungkan dengan kemahiran misal S, G, T. Contoh: Penyaji materi menanyakan: Siapa di antara kakak-kakak yang menjadi Pembina Mahir Siaga? Silahkan tunjuk jari, dan tandailah di depan tempat berdiri kakak dengan kertas hijau yang telah disediakan. – Pembina Penggalang? Silahkan tunjuk jari dan tandailah di depan tempat berdiri kakak dengan kertas warna merah – Pembina Penegak dan Pandega? Silahkan tunjuk jari dan tandailah di depan tempat berdiri kakak dengan kertas warna kuning. Selanjutnya setelah saya katakan “Siaga” semua Pembina Siaga harus berpindah tempat menempati tempat Pembina Siaga lainnya, yang tidak mendapat tempat akan kami hukum. Demikian pula ketika saya mengatakan “Penggalang”, atau “Penegak”. Namun ketika saya sebutkan Siaga dan Penegak-Pandega, maka Pembina Siaga dan Penegak dan Pandega yang harus bergerak. Dan bila saya sebutkan semuanya, maka yang bergerak semuanya, tetapi tetap menempati sesuai dengan golongannya. Siapa yang tidak mendapat tempaty dihukum. --Sewaktu diucapkan Siaga, maka Pelatih menempati salah satu tempat Pembina Siaga, dengan demikian pasti ada satu orang yang tidak mendapat tempat dan dia akan terkena hukuman. Begitu seterusnya. Metode ini bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan setting latihan yang diperlukan. 23. SETTING CLASS GROUND RULES. Metode ini boleh sama caranya atau mirip dengan class question atau Question Student Have. Gunanya untuk mengumpulkan pendapat, gagasan, atau pemikiran yang disetujui kelompok secara cepat. Caranya: Setiap peserta diberi kertas Metaplan. Setiap orang diminta menulis 3 norma atau nilai yang penting dalam hidup. Kemudian diedarkan 41 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

42 dengan ketukan atau peluit ke arah kanan. Setiap peserta didik yang telah membaca kertas dari teman sebelah kirinya ia memberikan satu tanda garis pada yang kata atau pernyataa yang dianggap penting dan cocok, bila tidak dianggap penting tidak perlu ditulis. Demikianlah sampai 15 ketukan atau 20 ketukan tergantung jumlah peserta atau kebutuhan, maka akan terdapat nilai/norma yang paling banyak mendapat coretan. Nilai itulah yang merupakan nilai kesepakatan bersama. Bila nilai-nilai yang mendapat persetujuan tersebut mirip maka perlu dikelompokkan dan di sum-up, sehingga menjadi kesimpulan yang baik. 24. ASSESSMENT SEARCH/PENELITIAN UNTUK PENILAIAN Strategies ini (Untuk mengetahui minat atau kemampuan awal terhadap materi yang akan disajikan. Dilakukan dengan cara menggunakan salah satu metode yang sangat menarik dalam memberi tugas secara cepat dalam waktu yang bersamaan, belajar bekerjasama. Caranya: Buat 3 atau 4 pertanyaan yang menyangkut: (1) Pengetahuan mereka terhadap mata pelajaran tersebut. (2) Sikap mereka terhadap pelajaran tersebut. (3) Pengalaman mereka yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut. (3) Latar Belakang mereka. (4) Keinginan atau harapan mereka terhadap pelajaran tersebut. Ingat tidak boleh ada jawaban yang “open-ended”. Terakhir mintalah di tiap-tiap kelompok untuk mensummary/meringkas jawaban anggota kelompoknya. Selanjutnya mintakan mereka untuk membacakan hasilnya di kelas – dan cocokkan dengan materi pelajaran yang anda susun. 25. QUESTION STUDENT HAVE. Metode ini digunakan dalam suatu forum yang diprediksikan terlalu banyak pertanyaan. Dengan metode tersebut pertanyaan mana yang sebenarnya menjadi inti permasalahan kelas menjadi jelas. Caranya sama dengan Setting Class Ground Rules. 26. INSTANT ASSESSMENT. Metode ini sebenarnya mirip dengan tes tertulis, tetapi bentuknya seperti permainan. Manfaatnya pemateri cepat mengambil kesimpulan seberapa besar daya serap kelas/ responsi atau opini kelas dalam menerima materi yang telah disajikan. Caranya: Buatlah pertanyaan multiple choice dengan 3 opsi atau lima opsi. Pertanyaan ini menggembirakan, dan bukan seperti ujian, tetapi esensinya merupakan penilaian yang cepat. Pertanyaan tertutup dapat pula dengan true-false. Kemudian berilah peserta didik kartu atau lembar jawaban yang dapat berupa warna. Misalnya warna hijau untuk 42 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

43 jawaban a, warna kuning untuk jawaban b, warna merah untuk jawaban c. Bisa juga warna hijau tanda setuju, warna kuning tanda ragu-ragu, dan warna merah tanda menolak. Selanjutnya setelah dibacakan atau ditayangkan pertanyaan masing-masing peserta didik diminta menjawab dengan mengacungkan kertas Hijau, Kuning, atau Merah. Sessioner tinggal menghitung berapa jumlah jawaban peserta yang hijau, kuning, atau merah di tiap nomor. 27. ACTIVE KNOWLEDGE SHARING. Strategi ini dibangun untuk memunculkan keingintahuan, dan merangsang berpikir mereka terhadap materi yang ingin kita sajikan. Caranya hampir sama dengan Assessment Search, tetapi pertanyaannya berkisar pada bahan pelajaran, atau materi yang akan atau yang telah disajikan (misalkan definisi, konsep, event, informasi dan lain-lainnya). 28. ROTATING TRIO EXCHANGE. Strategi diskusi ini digunakan bila Sessioner ingin mengetahui responsi, pendapat, atau alur berpikir peserta didik. Caranya: Peserta dibagi menjadi kelompok diskusi tiga orang, tiga orang. Setelah diskusi sejenak kemudian mereka berganti partner, dengan cara misalnya saja semua anggota yang berada dipinggir paling kiri dari kelompok tiga tersebut pindah ke kiri pada kelompok berikutnya, sehingga kelompok diskusi tetap tiga-tiga. Bahan diskusi adalah sesuatu yang menghasilkan variasi opini, misalkan: “Bagaimana seandainya pakaian seragam Pramuka itu diganti, bagaimana sebaiknya”. Atau – Bagaimana bila perkaderan dalam Gerakan Pramuka tidak berjalan, bagaimana upaya kita? Dst. Cara ini bisa dikembangkan dengan Snow ball discussion strategic. 29. GO TO YOUR POST. Strategi diskusi ini sangat bermanfaat untuk menyampaikan beberapa pokok bahasan secara cepat, dan menggembirakan, karena peserta didik memilih sendiri topik-topik diskusi tersebut. Langkah-langkahnya: (1). Letakkan tanda-tanda di sekitar ruang kelas. Tanda-tanda ini merupakan preferensi misalkan: - topik-topik atau keterampilan, minat, peserta didik. – Pertanyaan tentang isi pelajaran. – Nilai-nilai yang berbeda misalnya: uang.., jabatan…, ketenaran…, keluarga. – Karakteristik gaya personal yang berbeda. Dst. (2). Mintalah kepada mereka untuk memilih pos diskusi. (3). Sebelum melaporkan hasil tanyakan kenapa mereka memilih tema tersebut/ salah satu mewakili atau dengan cara brain-storming, (4). Laporan hasil diskusi. 43 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

44 (5). Evaluasi singkat (6). Kesimpulan. 30. LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE. Strategi diskusi ini sangat menarik karena dapat menciptakan suasana belajar in-formal. Langkah-langkah: (1) Jelaskan bahwa latihan ini akan menyenangkan, bila mereka semakin serius terhadap materi pelajaran yang didiskusikan. (2) Bagilah mereka ke dalam kelompok-kelompok kecil. (3) Bagikan kepada mereka lembar penugasan untuk tiap-tiap kelompok yang berdeda. Contoh tugas: (a) Bagaimana Kwartir Nasional yang paling ideal (paling opresif) – atau yang tidak bisa dilakukan dalam praktek, tetapi bisa dibayangkan. (b) Ciptakan suatu diet yang sama sekali tidak ada nutrisi/gizinya. (c) Bentuklah suatu Gudep yang Pembinanya (Yanda – Bunda; pak Cik dan Bu Cik para Menteri dan Isteri Menteri; anggota Gudepnya adalah anak-anaknya sendiri, anak stafnya, anak pembantunya. Dst. (4) Hasil diskusi dipanelkan. – Apabila mereka benar-benar serius maka bisa terlahir sebuah inovasi, dan improvisasi sistem yang bermanfaat bagi pengembangan Gerakan Pramuka. 31. TRUE OR FALSE. Strategi diskusi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang merangsang merangsang peserta didik untuk terlibat langsung dalam materi yang kita sajikan. Langkah-langkahnya: (1) Buat daftar pertanyaan dalam kartu; separuh dari kartu-kartu tersebutbisa dianggap benar tetapi bisa juga dianggap salah, tinggal nanti bagaimana alasan atau darimana sudut pandang peserta didik atau tergantung dari tujuan materi tersebut. Contoh: 1. (a) Memberi uang pada pengemis adalah salah; (b) Memberi uang pada pengemis adalah perbuatan yang benar. 2. (a) Keuntungan menjadi Pembina Pramuka agar mudah berkenalan dengan orang-orang besar adalah benar. (b) Menjadi Pembina Pramuka agar mudah berkenalan dengan orang-orang besar adalah perbuatan yang salah. Dst. (2) Bagilah mereka ke dalam kelompok yang benar dan ke dalam kelompok yang salah. (3) Ketika waktu selesai mintalah kepada mereka untuk menyatakan opininya apakah statement tersebut menurut mereka benar atau menurut mereka salah. (4) Beri tanggapan balik. (5) Tunjukkan bahwa opini positif itu penting. Opini positif tidak mesti harus membenarkan pernyataan. 32. INQUIRING MINDS WANT TO KNOW. 44 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

45 Strategi ini merupakan jalan masuk untuk mendapatkan pemahaman tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap. Belajar pengetahuan kognitif meliputi mendapatkan informasi dan konsep; termasuk menganalisis dan menerapkan terhadap situasi baru. Belajar afektif melibatkan pengujian dan klarifikasi perasaan dan preferensi. Peserta didik dilibatkan dalam menilai diri sendiri dan hubungan personalnya terhadap materi pengajaran. Belajar seperti itu melalui proses pencarian. Proses pembelajaran dengan dibimbing secara interaktif, sehingga ditemukan berbagai strategi dalam menyajikan informasi. Strategi diskusi ini dimaksudkan untuk menggali Pikiran Keingintahuan. Langkahnya: Dimulai dengan peratanyaan sehari-hari yang mereka tahu – Misal: Apa manfaat menjadi anggota Pramuka; Apakah Kode Kehormatan itu; Untuk apa diperlukan Kode Kehormatan; Mengapa pendidikan kita kalah bobot dengan Malaysia dst. 33. LISTENING TEAM/ TIM PENDENGAR. Strategi ini digunakan untuk melatih peserta didik mengerti betul materi yang disajikan Pelatih, bahkan pesrta didik diharapkan sampai paham akan kelemahan dan kelebihan/manfaat materi yang disajikan tersebut, kemudian sekaligus melatih berdebat atau mempertahankan pendapatnya. Caranya: Sebelum Ceramah dimulai Tim dibentuk menjadi 4, yakni Tim 1 = Penanya, Tim 2 = Orang yang setuju; Tim 3 = Orang yang tidak setuju; Tim 4 = Pemberi Contoh yang mendemonstrasikan hal yang diceramahkan. Selesai ceramah, diskusi maut dan diakhiri dengan sajian Tim 4. 34. GUIDED NOTE TAKING/ CATATAN TERBIMBING. Strategi ini dilakukan sebagai upaya agar peserta mendengarkan ceramah dengan sungguh-sungguh dan sekaligus menangkap keseluruhan isi ceramah dan sekaligus terbimbing dalam membuat catatan. Caranya: Dimulai dengan memberikan blangko yang berisikan pokok-pokok sajian/ sub bab yang akan diceramahkan kepada seluruh peserta, sehingga sewaktu ceramah mereka tinggal mengisi materi yang penting dan contoh-contoh yang dianggap perlu. Ketika selesai penyajian, catatan sudah jadi dalam kondisi baik. Cara ini lebih baik daripada memberikan hand-out kepada peserta didik. 35. LECTURE BINGO/KULIAH BINGO. Cara ini hampir sama dengan Guide Note Taking, tapi dimainkan dengan kartu. Tiap sub pokok bahasan diberi warna berbeda. Tiap kartu berisi kisi-kisi 3 X 3. Namun dengan cara ini dikhawatirkan mereka lebih tertarik bermainnya daripada isi materinya. 45 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

46

36. SYNERGETIC TEACHING/ PENGAJARAN SINERGETIK. Strategi ini digunakan untuk membandingkan keberhasilan metode. Metode mana yang cocok untuk suatu kelas, selebihnya adalah untuk lebih mendalami materi yang telahdisajikan dengan cara membandingkan hasil. Caranya: Sessioner membagi peserta didik menjadi 2 bagian yang jumlah orangnya sama. Kelompok 1 berada di ruang lain membaca teks; Kelompok 2 diberikan ceramah. Kemudian prosesnya dibalik. Kelompok 1 diberi ceramah, kelompok dua diberi teks. Kemudian mereka dikumpulkan sepasang-sepasang dari kelompok 2 dan 1 tersebut untuk membuat rumusan, simpulan, atau yang lebih berat review materi pelajaran. 37. MEET THE GUEST/ JUMPA TAMU AHLI. Metode ini dilakukan dalam upaya melatih peserta didik untuk dapat membuat pertanyaan yang baik, sistematis, dan efektif. Selain itu juga dimaksudkan agar dapat mengexplore materi latihan, karena “Tamu (Sessioner)” yang diundang adalah orang yang benar-benar ahli. Langkahnya: Sebelum tamu ahli diundang peserta telah berdiskusi tentang topik yang akan dibahas. Kemudian disampaikan cara bertanya secara singkat seperti model jumpa pers. Selanjutnya tamu ahli masuk, menyampaikan Key-note speech, dilanjutkan dengan dialog model jumpa pers. Pasti asyiik. 38. ACTING OUT/METODE PERAN PESERTA. Strategi ini dilakukan jika materi yang akan disampaikan perlu penghayatan bukan hanya sekedar dipahami. Topik materi misalnya Musyawarah Cabang. Buat kartu warna-warni, dengan beraneka bentuk dan bagikan kartu tersebut kepada peserta untuk selanjutnya mereka menyusun prosedur Mucab. Bisa dilanjutkan dengan sosiodrama. 39. WHAT’S MY LINE/ APA GILIRAN SAYA. Pendekatan ini dilakukan untuk membantu memahami materi kognitif secara segar. Caranya: 1) Kelas dibagi menjadi 2 bagian atau lebih. 2) Tulislah potongan-potongan kertas. Misalnya: Aku adalah BP; Aku adalah Penegak Bantara; Aku adalah Sri Sultan HB; Aku adalah KH Dewantara; Aku adalah Sistem Among, dst. 3) Berikan separuh potongan kertas tsb pada kelompok 1, dan separuhnya pada kelompok 2, secara rahasia. 4) Masing-masing kelompok supaya memilih tamu misteri yang dapat memberikan orientasi pada “Peran yang dimainkan”. 5) Kemudian Tamu Misteri 1 menyebutkan kriteria tentang siapa dia. Misalnya aku telah meninggal sekarang. Jasaku besar 46 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

47 terhadap kepramukaan. (kelompok lain diminta menebak siapa dia..bila belum bisa dilanjutkan) Aku pernah di tahun 1907 mengadakan perkemahan di Brownsea Island….dst sampai tertebak siapa dia. Selanjutnya tamu misteri dari kelompok 2. -Asyiik kan?. 40. VIDEO CRITIC: Dilakukan dengan menayangkan suatu video, namun sebelumnya peserta diminta melihat beberapa faktor misalnya: 1) Realisme para aktor (apakah actor yang memerankan peran protagonis maupun antagonis kehidupan sehari-harinya memang begitu?) 2) Relevansi (hubungan isi tayangan video tersebut dengan materi yang sedang dipelajari). 3) Saat-saat yang tidak bisa dilupakan (tanggapan atau kesan masing-masing peserta atau kesan sebagian peserta). 4) Organisasi Isi (peserta diminta menyebutkan misalnya pengantar ceriteranya – pokok ceriteranya apa – dan kesimpulannya apa – kekurangan-kekurangannya dalam video tersebut apa bila ada yang berkenaan dengan topik atau materi pelajaran yang dipelajari). 5) Aplikabilitas/penerapan terhadap kegiatan (misalnya dalam Gerakan Pramuka). 41. ACTIVE DEBATE/PERDEBATAN AKTIF. Debat dapat dipakai sebagai alat pembelajaran yang bermanfaat. Langkah: 1) Buat kelas menjadi 2 kelompok. 2) Masing-masing dibagi lagi ke dalam Kelompok pertama adalah kelompok “pro”, kelompok 2 adalah kelompok “kontra”. Kalau kelasnya besar bagi menjadi 4, 6 atau 8 kelompok. Separuh “pro” separuhnya “kontra”. 3) Siapkan statement yang menimbulkan pro atau kontra. Misalnya: (a) Begitu pentingnya Gudep, sehingga bila gudep sudah berjalan dengan baik maka Kwartir Ranting sampai Kwartir Nasional tidak penting lagi. (b) Setiap andalan harus seorang Pelatih, sehingga Gerakan Pramuka berjalan on the track. (c) Kriteria andalan itu hanya dua pertama ia paham Pramuka, kedua dia punya akses untuk membesarkan Pramuka. Selain itu harus minggir. Dst. 4) Masing-masing kelompok berdiskusi. Buat posisi bersaf dan berhadap-hadapan antara kelompok pro dan kelompok kontra. Teknik bicara diatur perwakilan tetapi bergantian. 47 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

48 5) Setelah terjadi perdebatan kelompok semula. 6) Buat kesimpulan umum. gabungkan kembali ke dalam

42. TOWN MEETING/RAPAT KOTA. Format ini cocok untuk kelas besar, sehingga setiap anggota dapat ikut terlibat diskusi. Langkah: 1) Pilih topik materi pengajaran yang menarik, jelaskan seobjektif mungki. Sebelum penyajian sampaikan bahwa nanti akan ada pembicara berikunya dari peserta. 2) Dalam penyajian beri informasi sejelas mungkin, beri latar belakang masalahnya dari sudut pandang yang berbeda. 3) Kini giliran pembicara berikutnya “tunjuk yang dari wajahnya meyakinkan bahwa ia paham akan semua persoalan yang telah dikemukakan”, batasi waktunya 4) Pembicara kedua menunjuk pembicara berikutnya atas dasar tawaran yang bersedia mengacungkan tangan. – Dorong untuk berbicara singkat dan efektif. 5) Teruskan selagi pembicaraan tersebut masih berguna. 43. THREE STAGE FISH BOWL DECISION/DISKUSI 3 LANGKAH. Metode ini adalah format diskusi yang di dalamnya terdapat sebagaian peserta diskusi yang membentuk lingkaran mengelilingi peserta diskusi. Langkahnya sebagai berikut: 1) Buatlah 3 pertanyaan yang saling berkaitan. Misalnya saja materi Kiasan Dasar pertanyaannya: (a) Apakah kiasan dasar itu?; (b) Apa hubungan Kiasan Dasar dengan nama-nama Golongan dalam Gerakan Pramuka yakni: Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega?, (c) Apa ada hubungannya Kiasan Dasar dengan Pakaian Seragam dalam Gerakan Gerakan Pramuka, bagaimana hubungannya? 2) Buatlah 3 kelompok diskusi. Kelompok I berada di lingkaran paling dalam; kelompok dua di lingkaran kedua mengelilingi kelompok dua; Kelompok tiga berada di luar sendiri mengelilingi kelompok tiga. 3) Diskusi dimulai dari kelompok 1. Setelah selesai Kelompok 1. Kelompok 2 di suruh masuk ke arena diskusi dan memberi komentar, Kelompok 1 diminta keluar berada di posisi kelompok 2. Selanjutnya Komentar dari Kelompok 3, dengan cara serupa. Diteruskan dengan kesimpulan hasil diskusi. 44. EXPANDING PANEL/ MEMPERLUAS PANEL. Kegiatan ini merupakan cara terbaik untuk merangsang diskusi dan memberikan kesempatan bagi para peserta didik untuk saling mengenal, menjelaskan, dan mengklarifikasi berbagai isu. 48 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

49 Langkahnya: 1) Pilih persoalan yang sangat merangsang untuk didiskusikan. 2) Pilih 4 atau enam orang terbaik dari mereka untuk berdiskusi sebagai kelompok panel. 3) Sisanya dibagi menjadi 3 kelompok berada di luar lingkaran diskusi dibentuk seperti tapal kuda. Mulailah lemparkan persoalan yang menggigit tadi kepada kelompok Panel untuk didiskusikan. Moderator anda pegang sendiri. 4) Berilah kelompok luar yang terdiri dari 3 kelompok tersebut berkomentar setelah diskusi di dalam menjadi hangat. Kalau perlu provokasi mereka untuk kelompok pro dan kontra. 5) Akhirnya pisahkanlah kelompok panel tersebut masukkan ke dalam kelompok mereka untuk melanjutkan diskusi. 45. POINT-COUNTERPOINT. Diskusi ini merupakan teknik yang bagus untk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam untuk isue yang kompleks. Jalannya mirip debat tapi tidak formal. Langkah: 1) Pilih masalah yang memiliki dua sisi atau lebih. Misalnya Kelompok I siapa yang mendukung “Seragam Pramuka hendaknya berdeda warna dan tanda-tandanya untuk S, G, T, D, Pembina, Pelatih”. Kelompok II mendukung Seragam Pramuka berbeda setangan lehernya saja untuk masing-masing jenjang S, G, T, D, Pembina, Pelatih”, Kelompok III mempertahankan seragam yang masih ada sekarang tidak perlu berubah. Kelompok IV setangan lehernya saja yang berubah, tetapi diperlakukan untuk semua golongan. masing-masing. 2) Bagi kelas menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan bidangbidang tersebut, masing-masing kelompok harus punya alasan yang rasional. 3) Tiap kelompok harus mendukung bidangnya masing-masing nantinya dalam perdebatan. 4) Perdebatan bisa dimulai. 5) Simpulkan bahwa dari hasil argumennya masing-masing secara jujur sebenarnya mana dukungan anda yang sebenarnya, bisa dengan menambahkan alasan yang lain. 46. READING ALOUD/MEMBACA KERAS. Kegiatan ini untuk memfokuskan perhatian secara mental dan merangsang diskusi. Langkah: 1) Cari teks yang cukup menarik untuk dibaca yang tidak lebih dari 500 kata. (2) Perkenalkan teks tersebut kepada peserta didik, jelaskan poin-poinnya. 49 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

50 2) Bagi teks tersebut ke dalam alinea-alinea. Dan bagikan masingmasing alinea tersebut untuk dibaca oleh relawan peserta didik. 3) Suruh mereka membaca keras bagian-bagian yang berbeda. Ketika bacaan sedang berjalan hentikan di beberapa tempat untuk menentukan poin-poin mana yang telah dibaca oleh mereka secara bersamaan. 4) Minta beberapa dari mereka menjelaskan pointer yang dibaca oleh relawan 1, 2, dan 3 pada satu orang. 5) Begitu seterusnya. Di sinilah mereka belajar berkonsentrasi. 47. TRIAL BY JURY/PEMERIKSAAN OLEH PENGADILAN. Teknik ini adalah cara belajar berargumen. Mereka mensimulasikan peran Saksi, Jaksa, Pembela, Hakim dan Pegawai Pengadilan yang lain. Atau peran-peran yang ada di Kwartir. Contoh masalah misalnya SK Kwarnas yang tidak cocok lagi, misal tentang Gugus Depan; SKU; Struktur Lemdika; dst. Tiap peran bisa dimainkan oleh lebih dari 1 orang. Contoh lain misalnya perdebatan antar fraksi di DPR, dan lain sebagainya. 48. PERTANYAAN YANG SINGKAT/JITU (PROMPTING QUESTIONS). Seringkali dalam proses pembelajaran, peserta didik ketika mengajukan pertanyaan asal-asalan, dan sering sangat di luar konteks. Dalam metode ini peserta didik dipacu untuk menemukan atau merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang tajam yang dapat menjelaskan materi yang telah disampaikan. Langkah pelaksanaan: 1) Pendidik menyampaikan pokok-pokok materi, peserta diminta mendengarkan dengan seksama. Sampaikan bahwa keberhasilan peserta didik dalam metode ini bukan dalam hal menjawab pertanyaan, tetapi justru dalam hal mengajukan pertanyaan. 2) Setelah penyajian singkat selesai beri kesempatan peserta didik untuk membuat pertanyaan yang paling baik selama 2 atau 3 menit. 3) Peserta diminta mengajukan pertanyaan. 4) Simpulkan. 49. LEARNING STARTS WITH A QUESTION/MEMULAI DNG PERTANYAAN. Teknik belajar ini membuat peserta lebih aktif dan mereka dapat mencari pola tentang bahan ajar yang akan disampaikan. Langkah: 50 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

51 1) Bagikan hand-out materi. Atau selebaran yang memmiliki arti luas tetapi tidak detail. 2) Buat mereka berpasang-pasangan, suruh masing-masing menjelaskan dan membuat tanda tanya atas hal-hal yang tidak dimengerti sebanyak mungkin. 3) Ubah mereka menjadi kwartet, mungkin bagian-bagian yang tidak dimengerti akan terjawab di kelompok 4) Kembali ke diskusi kelas, dan jawab dengan singkat hal-hal yang tidak dimengerti oleh mereka, tetapi lebih baik jika ada di antara mereka yang telah paham untuk lebih dulu menjawabnya. 50. PLANTED QUESTIONS/ PERTANYAAN YANG TELAH DITANAMKAN. Teknik ini sebenanya pelatih memberikan informasi, yang nantinya dapat dipergunakan sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan sebelumnya. Langkah: 1) Susun pertanyaan secara berurutan dan tulislah tiap-tiap pertanyaan ke dalam satu kartu. 2) Berikan kartu-kartu tersebut kepada peserta sebelumnya yang peserta lain tidak boleh tahu. Berilah nomor pada kartu-kartu tersebut atau kode. Misalnya pertanyaan nomor 1, kodenya pelatih menggaruk kepala. Pertanyaan nomor 2 kodenya pelatih memegang hidung, dst. 3) Mulailah anda memberikan materi dan ketika tiba gilirannya, garuklah kepala anda, maka peserta yang harus bertanya pertanyaan nomor 1 akan bertanya yang peserta lain tidak tahu, pertanyaan itu akan tepat sekali pada sasaran dan selanjutnya anda menjelaskan kembali sampai anda pegang hidung, dst. Sampai selesai pemberian materi. 51. ROLE REVERSAL QUESTION/PERAN PEMUTARAN PERTANYAAN. Metode ini sangat menarik, seperti halnya metode dialog tetapi menariknya karena perubahan peran yang dimainkan dalam interaksi belajar atas. Langkah: 1) Mintalah mereka seluruh kelas untuk menjadi pelatih, dan anda sebagai sebagai peserta didik, buat kontrak dengan cara humor. 2) Mulailah anda bertanya misalnya – Sudikah kakak-kakak menjelaskan……; Mohon apa perbedaan ….. dan ……. Dst. Dengan memutar pertanyaan nanti akan muncul pertanyaan dari mereka dan ini sangat menarik, silahkan coba. 52. BELAJAR LEARNING. DENGAN BEKERJASAMA/COLLABORATIVE

51 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

52 Cara terbaik belajar dengan memberikan tugas belajar yang disesuaikan, dan diselesaikan oleh kelompok kecil. Memang ini tidak selalu efektif karena adanya peran yang kadangkala tidak seimbang. 53. INFORMATION SEARCH/MENCARI INFORMASI. Materi ini sama dengan Open book Examination (ujian buka buku). Gunanya untuk mengatasi materi yang membosankan. Langkah: 1) Bagilah hand-out atau materi pembelajaran, atau selebaran, atau diktat. 2) Susun pertanyaan-pertanyaan secara sistematis yang akan dilontarkan. (3) Minta mereka untuk menjawabnya; 3) Beri evaluasi atau rewards atas jababan tersebut sehingga terjadi persaingan. 4) Kembangkan pertanyaan sehingga terjadi pengembangan materi atas hand-out yang diberikan. 54. THE STUDY GROUP/KELOMPOK BELAJAR. Metode ini memberikan mereka tanggung-jawab yang besar atas materi yang diberikan. Langkah: 1) Berilah materi yang akan disampaikan dan suruhlah mereka nantinya membaca setelah terbentuk kelompok. 2) Bentuklah kelompok atau regu-regu belajar dan suruh mereka mencari ruangan yang enak dan tenang. 3) Berilah mereka rambu-rambu yang mencakup sistematika isi. 4) Pada waktu yang ditentukan mintakanlah kelompok tersebut presentasi. 55. CARD SORT/KARTU SELEKSI. Kegiatan ini adalah kolaborasi untuk menyampaikan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek. Kegiatan ini cocok bila peserta sudah lelah/kegiatan dalam jam-jam ngantuk. Langkah: 1) Buat materi yang akan disajikan digolong-golongkan, dan ditulis dalam kartu kecil-kecil, diberi nomor urut. Sebaiknya tiap golongan dibedakan warnanya. Jumlahnya upayakan sebanyak peserta, apabila kelebihan peserta, berikan saja kartu kosong – atau tuliskan judul lagu, yang mendapat kartu kosong semuanya suruh ke depan menyanyi atau menari nantinya. 2) Kocok kartu-kartu tersebut dan bagikan kepada seluruh peserta. 3) Berikan perintah yang memiliki satu warna agar bergabung, dan susunlah menjadi satu pointer-pointer pokok sajian, dan diminta mereka memahaminya. 4) Berikan giliran kepada mereka untk menyajikan boleh lewat perwakilan atau masing-masing menjelaskan sendiri-sendiri. 52 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

53 Tentu saja urut – anda tadi sudah membedakan warnanya jadi mudah. Misalnya warna hijau maju menyajikan, dan seterusnya. 5) Simpulkan. 56. LEARNING TOURNAMENT/BELAJAR MELALUI TURNAMEN. Teknik ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. Kegiatan ini menggabungkan antara pengajaran dan kompetisi. Langkah: 1) Susun materi dalam pertanyaan-pertanyaan. 2) Jelaskan singkat materi yang akan disajikan cukup 10 menit saja. 3) Bagi mereka ke dalam kelompok yang sama. 4) Beri pertanyaan kepada masing-masing kelompok – dan diberi skor untuk masing-masing jawaban yang dikemukakan oleh kelompok/ di sini perlu asisten pelatih. 5) Ulangi pertanyaan ke kelompok pertama dan seterusnya. 6) Bacakan hasil skor. 7) Simpulkan. 57. THE POWER OF TWO/GABUNGAN DUA KEKUATAN. Kegiatan ini merupakan penggabungan pemikiran 2 orang. Langkah: 1) Susun pertanyaan yang akan mereka jawab untuk masingmasing individu, misalnya 10 pertanyaan. 2) Masing-masing individu diminta menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut sendiri-sendiri. 3) Kemudian diminta mereka untuk berpasangan silahkan memilih pasangan sendiri-sendiri. 4) Mintakan pasangan tersebut untuk menjawab pertanyaan. 5) Panelkan hasil jawaban pasangan tersebut – pilih jawaban yang paling tepat. Cara lain: Dari kelompok dua tadi diminta untuk mendiskusikan menjadi kelompok 4 terus panelkan, atau diminta jadikan kelompok 8, atau sampai 16, 32 dan sebagainya – panelkan. Hasilnya pasti akan lebih baik, sehingga hanya ditemukan dua jawaban kelompok saja. 58. TEAM QUIZ. Kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan dan tanggung-jawab peserta melalui cara yang menyenangkan. Langkah: 1) Susun materi yang akan dipresentasikan menjadi 3 bagian. 2) Bentuk peserta menjadi 3 tim, tim A, tim B, tim C. 3) Jelaskan materi I secara singkat. 4) Tim A suruh membuat pertanyaan kepada tim B, dan setelah dijawab kemudian pertanyaan ditujukan kepada Tim C, atas materi I yang baru disajikan. 53 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

54 5) Pelatih menjelaskan materi II. 6) Tim B diminta buat pertanyaan ditujukan kepada tim C. dan ke tim A. (7) Jelaskan materi III. 7) Suruh Tim C buat pertanyaan untuk tim A dan tim B. 8) Simpulkan 59. GROUP-TO GROUP EXCHANGE/PERTUKARAN KELOMPOK Sudah dikenal dengan nama Meta-plan Country Fair. Langkah pelaksanaan: 1) Bagi peserta menjadi beberapa kelompok, satu kelompok maksimal 15 orang, paling sedikit 5 orang. 2) Berilah tiap-tiap kelompok satu pokok bahasan. Pokok bahasan tersebut boleh saling berkaitan, sehingga nantinya disajikan secara urut, tetapi boleh juga berlainan-lainan, atau tidak merupakan materi yang merupakan kesatuan. 3) Mintakan kepada masing-masing kelompok untuk mendiskusikan, dan kemudian merumuskan hasil diskusinya dan dituliskan di papan atau kertas lebar yang tersedia. 4) Setelah rumusan yang merupakan ponter-pointer dari hasil diskusi tersebut disetujui oleh kelompoknya, maka tunjuklah seseorang untuk mewakili kelompoknya sebagai juru bicara kelompok. 5) Mintakan kepada anggota kelompok untuk berpindah ke kelompok lain (bertamu ke kelompok lain), dan berdiskusi mengenai judul yang telah disiskusikan di kelompok tersebut, dengan catatat juru bicara kelompok ditinggal di kelompoknya karena ia yang akan memandu diskusi, serta menjelaskan hasil diskusi. 6) Dalam diskusi tersebut masing-masing tamu boleh member saran, usulan, kritik, dan bila usulan tersebut disetujui dalam kelompok tersebut, maka usulan tersebut dituliskan dan ditempelkan ke papan panel atau lembaran kertas yang telah tersedia tersebut. 7) Demikianlah selanjutnya setelah selesai diskusi kelompok tersebut harus pindah ke kelompok lain, sehingga semua topik dapat diselesaikan, dan didiskusikan dengan meriah. 8) Simpulkan: Penyimpulannya bisa dengan berbagai cara, bisa dipanelkan, bisa dirangkum oleh masing-masing pembicara, atau dirangkum oleh pendidiknya sendiri.

60. JIGSAW LEARNING/BELAJAR SECARA JIGSAW. Sama dengan group-to group exchange, hanya saja bahan yang diberikan kepada peserta dibuat berurutan dalam satu topik. Bila 54 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

55 dalam group to group exchange yang berputar anggota kelompoknya dalam jigsaw learning yang berputar adalah juru bicaranya atau konsulatnya. Langkahnya: 1) Sub topik 1 berikan kepada kelompok A, sub topik 2 kepada kelompok B, sub topik 3 pada kelompok C. 2) Masing-masing kelompok berdiskusi. 3) Pilih tiap-tiap kelompok 1 pembicara. 4) Masing-masing pembicara berbicara di depan kelompoknya masing-masing, apabila sudah dianggap tepat dan bagus baru diangkat menjadi konsulat. 5) Instruksikan Konsulat kelompok A memberikan pengajaran kepada kelompok B, Konsulat kelompok B menyampaikan di kelompok C, dan konsulat kelompok C menyampaikan di kelompok A. 6) Putar lagi Konsulat kelompok A menyampaikan di C, konsulat B menyampaikan di A, konsulat C menyampaikan di B. 7) Simpulkan. 61. EVERYONE IS A TEACHER HERE/SETIAP PESERTA DIDIK GURU JUGA. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk aktif, hanya saja kalau kelompoknya lebih dari 15 - 20 orang kurang efektif sebaiknya dibagi. Misalnya jumlah peserta 50 orang sebaiknya dibagi 3 atau 4. Perlu asisten pelatih sejumlah kelompok yang ada. Langkah: 1) Bahan diskusi sebaiknya adalah bahan yang rata-rata mereka sudah kenal atau sudah paham tinggal mengembangkan. 2) Bagi kelas besar tersebut menjadi kelas kecil. 3) Bagikan mereka kartu dan diminta untuk membuat pertanyaan tentang topik yang sedang dibahas di masing-masing kelompok. 4) Kocok pertanyaan-pertanyaan tersebut dan bagikan kembali kepada mereka secara acak. 5) Mintakan tiap orang untuk menjawab pertanyaan yang diterima, dan si pembuat pertanyaan akan menambah atau meluruskan jawaban. 62. PEER LESSONS/PENGAJARAN TEMAN SEBAYA MODIFIKASI. Langkah: 1) Bagilah kelas kedalam kelompok kecil sebanyak sub-pokok bahasan yang akan diberikan. 2) Berikan sub pokok bahasan tersebut kepada tiap-tiap kelompok – dianjurkan malam harinya, sehingga mereka bisa menyiapkan sebelum tidur sehingga pagi harinya masing-masing bisa presentasi dengan baik. 55 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

56 3) Berikan cara-cara presentasi yang baik – boleh dilakukan dengan “team Teaching. 4) Mintakan mereka presentasi sesuai urutan sub pokok bahasannya. 5) Hargailah usaha mereka. Simpulkan. 63. IN THE NEWS/ DALAM BERITA. Metode ini mirip dengan go to your post. Bedanya hanya materi yang diberikan adalah berita, artikel, editorial, atau kartun, sedangkan go to your post adalah materi pelajaran. Beda lainnya bila go to your post pembentukan kelompoknya berdasarkan spesialisasi keahlian, atau topik yang mereka sukai, kalau in the news kelompoknya ditetapkan. Langkah: 1) Mintalah setiap peserta didik membawa sebuah artikel, berita, editorial,atau kartun. 2) Tempelkan judul-judul artikel, berita di papan. 3) Bagi mereka ke dalam kelompok-kelompok kecil 3 atau 4 kelompok. 4) Mintakan kepada mereka masing-masing kelompok mendiskusikan artikel/berita yang ditempel dipapan. 5) Beri waktu masing-masing kelompok untuk mendiskusikannya. 6) Pilihlah perwakilan masing-masing kelompok untuk mempresentasikan. 64. POSTER SESSION/PELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN POSTER. Caranya sama dengan nomor 47, hanya ini berupa poster. Di sini yang penting adalah bagaimana tiap-tiap kelompok tersebut memberikan interpretasi terhadap sebuah fenomena yang tertera dalam poster tersebut, dan menarasikan dalam bentuk ceritera atau esai. 65. BELAJAR MANDIRI/INDEPENDENT LEARNING. Metode ini digunakan sebagai pengkayaan dari belajar kelas penuh, dan belajar kolaborasi. Belajar sendiri dengan mengembangkan kemampuan memfokuskan dan merefleksikan. Metode ini sangat baik apabila diikuti dengan metode pemetaan masalah (mind mapping), sehingga memudahkan cara belajar bagi dirinya sendiri. 66. IMAGINE/MENGKHAYAL. Melalui khayalan visual peserta didik dapat menciptakan ide-idenya sendiri. Khayalan itu efektif sebagai pendorong untuk belajar secara kolaboratif, yakni memadukan materi pelajaran yang satu dengan materi pelajaran yang lain.

56 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

57 Melalui mengkhayal ini nantinya peserta didik dapat meningkatkan khayalannya menuju suatu pembuktian sendiri atau berkelompok, yang muaranya dari pembuktian ini menjadi suatu penelitian ilmiah. Langkah pelaksanaan: 1) Peserta diberi topik yang akan disajikan. 2) Diminta mereka membayangkan isi topik itu, dengan menutup mata, disetelkan musik instrumental, lampu bila perlu dipadamkan. 3) Sampaikan kepada peserta untuk mengingat apa khayalannya tersebut, kemudian diminta untuk mendiskusikannya di kelompoknya. 4) Hasil akhir mereka diminta untuk menuliskan hasil khayalannya itu secara mandiri. Di awal sesi mereka bisa dilatih lebih dahulu untuk tidak membayangkan topik materi tetapi dilatih dahulu untuk membayangkan salah satu jabatan misalkan: “seandainya aku jadi walikota/ bankir/wartawan atau profesi apa saja yang dekat hubungannya dengan peserta didik”. Variasi lainnya misalnya mereka diminta untuk membayangkan suatu kegagalan “……”; kemudian diminta untuk membayangkan bagaimana mengatasinya. Variasi lainnya lagi misalkan peserta didik diminta untuk membayangkan kesuksesan hidup. Kemudian diminta untuk membayangkan bagaimana cara mempertahankan kesuksesan itu. 67. WRITING IN THE HERE AND NOW/MENULIS DI SINI DAN SEKARANG. Menulis membantu peserta didik untuk mengungkapkan atau merefleksikan kembali pengalaman-pengalaman yang telah dialami oleh mereka. Langkah pelaksanaan:  Pilihlah jenis pengalaman yang kita inginkan untuk ditulis oleh peserta didik. Misalnya saja: (*) Masalah baru atau isu baru yang sedang berkembang; (*) Masalah keluarga; (*) Hari pertama menjadi mahasiswa/Pramuka, dan seterusnya.  Kemudian kita informasikan pengalaman yang kita inginkan tersebut untuk ditulis oleh peserta didik secara reflektif.  Persiapkan pendahuluan atau pengantar yang jelas untuk ditulis, ciptakan suasana tenang, jangan sampai terganggu privasi mereka untuk menulis – usahakan pula agar tidak terjadi saling ganggu antar peserta didik, kalau perlu jarak tempat duduknya dijauhkan sedemikian rupa. 57 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

58  Usahakan cukup waktu untuk menulis.  Diskusikan hal-hal yang baru, sikap baru, atau ide baru yang dapat dilakukan oleh mereka di masa depan. Variasi metode ini bisa digabungkan dengan metode khayalan reflektif.

68. ACTION LEARNING/BELAJAR TINDAKAN. Metode ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami dari dekat kehidupan yang nyata, yang settingnya adalah penerapan topik yang didiskusikan. Metode ini baik sekali untuk penjelajahan, mengenal alam terbuka, sekaligus melakukan kegiatan sosial, atau melakukan perbuatan baik sepanjang jalan. Langkah pelaksanaan:  Berikan ceramah singkat yang nantinya akan berhubungan dengan topik materi yang nantinya akan dilakukan oleh peserta didik di lapangan.  Berikan topik yang nantinya akan dilaksanakan di lapangan. Kegiatan akan dilakukan per regu atau per kelompok.  Mintalah kepada masing-masing kelompok untuk membuat daftar barang-barang yang akan digunakan atau dipakai dalam perjalanan serta daftar pertanyaan-pertanyaan yang nantinya digunakan untuk mewawancarai informan, yang berkaitan dengan topik tersebut.  Satukan kembali kelompok-kelompok tersebut, diskusikan hasilhasil daftar barang yang akan digunakan dan daftar pertanyaan yang akan dipakai nantinya.  Tugasi mereka melakukan atau melaksanakan “action learning” atau belajar berbuat, dan beri batasan waktu, kapan selesainya. Tentukan kapan waktunya berkumpul kembali.  Setelah semua kelompok selesai melaksanakan kegiatan, dipersilahkan masing-masing kelompok untuk mempresentasikan pengalamannya. Kalau perlu diminta mereka untuk mendemonstrasikan bagaimana mereka mewawancari orang, atau mungkin bahkan mereka diminta untuk membuat sebuah sosio drama dari hasil pengalamannya. 69. LEARNING JOURNALS/BELAJAR JURNAL. Metode digunakan untuk membiasakan peserta didik menulis pengalaman-pengalamannya tentang belajar. Pada hakekatnya belajar yang baik tidak harus melalui seorang pengajar yang sangat baik. 58 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

59 Dalam pembuatan jurnal belajar mereka tidak perlu khawatir tentang tata bahasanya, penulisannya, dan sebagainya. Hal yang penting adalah untuk membiasakan mereka untuk menuliskan setiap saat pengalaman-pengalamannya. Langkah pelaksanaan:  Ajaklah mereka membuat jurnal tentang refleksi belajarnya setidaknya seminggu dua kali.  Mintakan kepada mereka untuk memfokuskan kepada: - Apa yang tidak jelas bagi mereka dan apa yang tidak mereka setujui. - Apa, bagaimana, bila, pengalaman belajar yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka. - Bagaimanakah pengalaman belajar tersebut dapat direfleksikan dalam hal-hal lain yang pernah dan akan ia baca serta yang ia lakukan. - Apa yang telah mereka amati dan pahami tentang diri mereka sendiri sejak mereka mulai mengamati (dengan membuat jurnal) pengalaman belajarnya sendiri. - Apa yang mereka simpulkan dari pengalaman belajarnya. - Apa yang mereka lakukan kemudian sebagai akibat dari pengalaman belajarnya. Berikutnya adalah kumpulkan pengalaman-pengalaman belajar mereka secara periodik, dan komentari jurnal-jurnal tersebut, sehingga peserta didik mendapatkan umpan balik dari belajar mereka. 70. LEARNING CONTRACT/KONTRAK BELAJAR. Kontrak belajar pada hakekatnya adalah membangun komitmen diri peserta didik masing-masing, untuk mengikuti proses belajar dengan baik, melalui janji pada dirinya, atau janji pada kelompok yang akan dicapai kelompoknya. Langkah pelaksanaan:  Sampaikan kepada peserta didik untuk memilih topik yang dia inginkan untuk dipelajari secara mandiri.  Semangati peserta didik untuk memikirkan secara hati-hati “belajarnya” melalui suatu perencanaan, Berikan waktu yang cukup untuk menelitinya kembali dan konsultasi dalam menyusun rencana tersebut.  Isi kontrak tersebut kurang lebih sebagai berikut: - Tujuan belajar yang ingin dicapai. - Pengetahuan, keterampilan, dan materi apa saja yang diinginkan peserta didik yang harus dikuasainya. - Aktivitas dan fasilitas belajar yang akan dimanfaatkan.

59 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

60  Mintalah kontrak yang ditulis peserta didik tersebut, berkumpullah dengan mereka dan diskusikanlah kotrak yang diajukan. Dalam kursus-kursus yang diselenggarakan untuk orang dewasa kontrak belajar ini sering digunakan untuk menentukan tata-tertib kursus. Aktivitas mana yang seharusnya dilakukan “Do’s” dan aktivitas mana yang seharusnya tidak dilakukan “don’t’s”.

VIII. BELAJAR AFEKTIF/ AFFECTIVE LEARNING.
Digunakan untuk menguji atau meningkatkan kesadaran peserta didik atas sikap-sikap, perasaan, nilai-nilai, dan meyakinkannya pada diri mereka akan nilai-nilai baru yang akan dicapainya. 71. SEEING HOW IT IS/ MELIHAT BAGAIMANA IA. Kadangkala ada sebuah topik yang mendorong tentang pemahaman tentang sensitivitas terhadap orang, kelompok, golongan, atau situasi yang tidak akrab dengan peserta didik. Oleh karena itu metode “Melihat Bagaimana Ia” ini merupakan cara yang baik untuk membuat aktivitas yang efektif, yang dapat merangsang seperti orang atau situasi yang tidak familier. Langkah pelaksanaan:  Pilihlah orang yang kita inginkan untuk dicontoh perbuatannya, misalkan seperti apa rasanya: Orang yang hidup pada jaman yang berbeda sejarah (orang yang hidup di jaman batu; kehidupan wanita yang dipingit; orang hidup menyembah berhala dsb.). Orang berada dalam golongan yang minoritas (menjadi orang aliran Ahmadiyah, menjadi orang yang sangat jujur ditengah-tengah para koruptor). Orang yang hidup ditengah-tengah budaya yang berbeda (Seorang pembantu rumah tangga yang tidak bisa berbahasa Arab di tengah-tengah masyarakat Arab). Orang yang banyak masalah (menjadi pemulung, pengemis, petani miskin, buruh pabrik, dan sebagainya).  Buatlah cara untuk mensimulasikan orang tersebut.

60 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

61  Bila perlu buatlah situasi yang normal menjadi tidak normal (misalnya sudah dipingit kebetulan sakit ayan, atau menderita penyakit kurap – sehingga bagaimana nanti ia merasakannya).  Tanyakan kepada peserta didik sesudah kejadian tersebut bagaimana ia merasakannya.  Ajaklah mereka untuk mengidentifikasikan tantangan orang yang menghadapi situasi yang sangat tidak familier tersebut. 72. BILLBOARD RANKING/PAPAN RANGKING. Banyak situasi belajar yang salah ketika nilai, ide, opini dan preferensi bertentangan dengan topik yang sedang dipelajari. Misalnya kita menjelaskan tentang bahayanya meminum minuman keras di tengahtengah orang yang berbudaya minum, atau minuman keras bagian dari budaya menghormati tamu. Apabila kita menjumpai situasi yang seperti ini aktivitas belajar yang baik adalah merangsang refleksi dan diskusi. Langkah pelaksanaan:  Kelompokkanlah peserta didik menjadi kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 6 peserta.  Berilah peserta didik daftar misalnya sebagai berikut: - Nilai yang mungkin mereka pertahankan (misalnya: 1. Loyalitas; 2. Kedisiplinan; 3. Kerukunan; 4. dst.). - Pendapat yang mungkin mereka ajukan (misalnya: 1. Kejahatan harus dicegah oleh seluruh rakyat; 2. Kemakmuran akan tercapai bila korupsi dihapuskan; 3. Kesejahteraan rakyat akan tercapai bila pemimpin memberikan contoh hidup sederhana; 4. dst). - Solusi alternatif (misalnya: menghemat energy dengan 1. Menggunakan panas sinar matahari; 2. Tidak bepergian dengan kendaraan bermotor apabila tidak sangat penting; 3. Menghemat listrik; dst). - Pilihan keputusan masyarakat atau pemerintah yang menjadi tantangan (misalnya: 1. Promosi rokok; 2. Legalisasi minuman keras; 3. Kebebasan siaran TV yang tidak mengandung pendidikan; 4. dst). - Atribut-atribut yang mereka senangi (misalnya: 1. cantik; 2. Luwes; 3. Terampil; 4. dst). - Pilihan yang mereka favoritkan (1. Break dance; 2. Karate; 3. Berkemah; 4. dst).  Berilah setiap kelompok kertas untuk menulis setiap pilihan dari anggotanya dalam lembaran yang terpisah.  Mintalah setiap kelompok untuk memilah-milah sehingga nilai, opini, tindakan, yang mereka pilih ada di paling atas dan sisanya diurutan belakangnya. 61 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

62  Buatlah “papan pengumuman” sehingga tiap kelompok dapat memamerkan urutan rangking pilihannya.  Bandingkan atau kontestasikan dengan rangking kelompok lainnya yang dipamerkan secara visual.  Usahakan adanya consensus seluruh kelas. Contoh lain misalnya tentang pesawat di ruang angkasa yang mendarat, kemudian peserta diminta untuk membuat rangking mana yang paling penting dan diurutkan. 73. WHAT? SO WHAT? NOW WHAT?/ APA.., LALU APA…, SEKARANG APA. Metode ini adalah suatu cara untuk merefleksikan apa yang telah dialaminya. Dalam metode tradisional pendidik biasanya hanya menggunakan pertanyaan kepada peserta didik. Dalam metode ini pendidik adalah “memungut hasil (term harvesting)” dari apa yang telah dialami peserta didik tersebut. Langkah pelaksanaan: 1) Pilih materi pembelajaran, dari video, atau perjalanan lapangan, perdebatan, hasil dari bermain peran, atau hasil khayalan (misalnya bila aku menjadi direktur Bank, dst). 2) Mintakan kepada peserta didik untuk membagi diri dari pengalaman yang mereka rasakan selama proses pembelajaran sebelumnya berlangsung. Pandulah mereka dengan: (a) apa yang telah mereka amati; (b) apa yang telah mereka lakukan; (c) apa yang telah mereka rasakan. 3) Kemudian mintakan kepada peserta didik untuk bertanya pada diri sendiri. (a) Apa keuntungan dari pengalaman yang telah mereka peroleh? (b) Apa yang telah mereka pelajari – pelajari kembali. (c) Apa implikasi dari aktivitas tersebut? (d) Bagaimana menyikapi pengalaman tersebut apabila hal itu benar-benar terjadi pada dirinya. 4) Terakhir mintakan kepada peserta didik. (a) Apa yang akan ia lakukan yang berbeda (tentu saja yang lebih baik) di masa yang akan datang. (b) Bagaimana mereka mengembangkan proses belajar tersebut (hasil pengalaman tersebut)? (c) langkah apa yang bisa diaplikasikan.

62 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

63 74. ACTIVE SELF ASSESSMENT/PENILAIAN DIRI AKTIF. Metode ini dapat digunakan untuk menilai peserta didik, atau sikap peserta didik melalui pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh pendidik. Dengan metode ini peserta didik dapat menilai dirinya sendiri secara aktif, tanpa adanya tekanan, bahkan bisa jadi tanpa disadarinya. Langkah pelaksanaan: 1) Pendidik lebih dulu membuat pernyataan-pernyataan. Pernyataan-pernyataan tersebut bisa saja diambilkan misalnya dari tes-tes psikologis; tes tentang kepekaan sosial; atau tes tentang kecerdasan emosional. Bisa juga tentang sikap kewarganegaraan yang baik/kurang baik/tidak baik; dan sebagainya. 2) Buatlah lima atau tiga jalur (jalur: 1. Sangat setuju, 2. Setuju. 3. Ragu-ragu. 3. Kurang setuju. 4. Menolak) yang nantinya akan ditempati untuk – tempat berdiri peserta didik ketika menentukan pilihan. Boleh juga dengan membagikan tiga kertas berwarna misalnya: hijau tanda setuju; kuning tanda biasa-biasa saja; merah tanda tidak setuju atau menentang). 3) Bacakan pernyataan tersebut satu-persatu. Ketika pernyataan tersebut dibacakan, diamati oleh salah seorang asisten yang mencatat masing-masing anak memilih jalur mana. 4) Bacakan pernyataan berikutnya, dan seterusnya sampai selesai. 5) Berilah skor terhadap masing-masing individu, dan kemudian bacakan hasilnya. 6) Sampaikan kepada peserta didik misalnya: skor sekian sampai sekian adalah anak yang memiliki sifat sangat sosial; skor sekian sampai sekian adalah bersifat individualis, dan skor sekian sampai sekian setengah-setengah. Semuanya tergantung pada pernyataan-pernytaan yang dibuat oleh pendidik. 75. ROLE MODELS/BEBERAPA MODEL PERAN. Metode ini sangat berbeda dengan sosio drama, atau role playing. Metode ini justru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendefinisikan karakteristik terhadap orang-orang yang ia kenal baik dari sejarah, ceritera film, atau kisah fiksi. Langkah pelaksanaan: 1) Kelompokkan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. 2) Pilihlah model-model yang dikenal oleh peserta didik dan mereka diminta untuk merepresentasikan subjek yang didiskusikan tersebut. Model yang dipilih misalnya: (1) Soekarno; (2) Soeharto; (3) Sri Sultan HB ke IX; (4) Yusuf Kala; B.J. Habibi; (5) Gus Dur; (6) Presiden sekarang. Bisa saja modelnya Duraimon, Nobita, dsb. 63 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

64 3) Mintakan mereka dalam kelompok tersebut untuk membuat daftar karakteristik dari ke-enam subjek tersebut (menurut versi mereka). Bisa saja per kelompok mengidentifikasikan satu atau dua subjek saja, tergantung situasi dan kondisi. 4) Kumpulkan kembali seluruh peserta, dan mintakan mereka membacakan hasilnya. 5) Simpulkan.

IX.

PENGEMBANGAN KECAKAPAN/SKILL DEVELOPMENT

Metode ini digunakan untuk melatih peserta didik suatu keterampilan baru secara efektif sehingga memperoleh umpan balik yang sempurna. 77. THE FIRING LINE/GARIS TEMBAK Metode ini baik untuk mengetes kesiapan peserta didik dalam menerima respon pertanyaan-pertanyaan. Langkah pelaksanaan: 1) Aturlah kursi mereka berhadap-hadapan, misalnya satu deret adalah kelompok A satu deret lainnya kelompok B. 2) Berikanlah kepada setiap anggota kelompok A sebuah kartu yang berisi tugas-tugas (kartu yang diterima masing-masing anggota kelompok A sama bunyinya). 3) Instruksikan kepada kelompok A untuk menyampaikan pertannyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tugas tersebut, dan kepada masing-masing anggota kelompok B diminta untuk menjawabnya. (Catatan: Sungguh pun tugasnya sama di sini pertanyaan masing-masing anggota kelompok A yang ditujukan kepada anggota kelompok B akan berbeda). 4) Berikanlah kartu yang lain kepada masing-masing anggota kelompok A, dan lakukan seperti langkah sebelumnya. 5) Setelah dipandang cukup baliklah settingnya. Masing-masing anggota kelompok B yang bertanya, dan masing-masing anggota kelompok A yang akan menjawab. Contoh-contoh tugas: - Apa yang kamu rasakan tentang karakter si ……dalam buku ….. (tentu saja buku tersebut sudah sama-sama diketahui dalam pelajaran sebelumnya). - Apa kegunaannya ada pilihan kepala daerah secara langsung, kenyataannya banyak konflik, beaya besar). - Apa kriteria seorang pemimpin Negara….. - Dst.

64 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

65 78. ACTIVE OBSERVATION AND FEEDBACK/ OBSERVASI DAN UMPANBALIK AKTIF Metode ini sangat baik untuk melatih peserta didik merespon langsung proses pembelajaran tetapi tidak mengganggu proses pembelajaran tersebut. Langkah pelaksanaan: 1) Mintakan kepada 2 sampai dengan 4 orang untuk bermain peran. Boleh mengambil peran di pengadilan misalnya peristiwa korupsi. Ada hakim, jaksa, terdakwa, dan seorang pembela. Atau kisah sejarah tentang Gajah Mada; tentang Cut Nyak Dien. Atau kisah tentang penemuan, seperti bagaimana Thomas Alva Edison menemukan bola listrik. Atau “conversation dalam Bahasa Inggris” tentang rencana wisata ke Bali. Kisah dalam permainan peran tersebut boleh yang sudah dikenal ataupun yang belum dikenal oleh peserta didik, yang penting “sang pemeran bisa melaksanakannya dengan baik”. 2) Mintakan respon secara langsung ketika peran tersebut sedang dimainkan, dengan catatan respon yang disampaikan tidak bersuara, tetapi menggunakan isyarat. Misalnya respon positif peserta didik melambaikan tangan kanannya, kalau respon negatif peserta didik menyilangkan kedua tangannya, atau mengepalkan tangan dengan menudingkan ibu jarinya ke bawah. 3) Pendidik mengamati dan mencatat respon-respon yang muncul dari peserta didik. 4) Simpulkan. Catatan: Apabila permainan peran sulit dilakukan, maka bisa menggunakan tayangan film, sehingga hamper sama dengan video critic, tetapi beda dalam hal cara merespon. 79. TRIPLE ROLE PLAYING/BERMAIN PERAN KLIPATAN TIGA. Metode ini adalah pengembangan dari sosiodrama, yakni dengan menampilkan 3 (Tiga) pemeran yang berbeda untuk suatu situasi yang sama. Langkah pelaksanaan: 1) Pertama pilih 4 (empat) pemain untuk melakukan scenario yang dibuat oleh pendidik. Contoh pokok ceriteranya: bisa tentang 3 orang mahasiswa yang memprotes dosen karena tidak diluluskan. – Bisa tiga orang pedagang kaki lima yang berebut tempat dagangan dan seorang Pol PP, dst. 2) Mintakan kepada mereka untuk mulai berperan. Misalnya dosen dan mahasiswa A yang protes. Setelah drama selesai diminta masuk. Peserta lainnya diminta menilai. 3) Kemudian peran dosen (dosennya tetap) dengan mahasiswa B. Peserta didik lainnya diminta member penilaian. 65 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

66 4) Kemudian peran dosen dan mahasiswa C. dan seterusnya. 5) Setelah ketiga babak tersebut dilakukan peserta didik diminta untuk mengkontraskan antara peran mahasiswa A, B, dan C; dengan melakukan teknik yang efektif – Dari mengkontraskan tersebut sebenarnya peserta didik dilatih untuk menilai situasi yang sama yang dilakukan oleh peran yang berbeda. Mengkontraskan permainan tersebut bukan dimaksudkan untuk memperbaiki peran yang sudah dimainkan. 80. ROTATING ROLES/BERMAIN BERGILIR Metode ini memberikan cara istimewa kepada peserta didik untuk bermain peran dalam situasi kehidupan yang nyata. Metode akan baik dilakukan bila anggotanya cukup sedikit sehingga hanya dibagi emnjadi 3 (tiga) kelompok saja. Langkah pelaksanaan: 1) Buat kelompok sebaiknya hanya 3 kelompok saja. Anggota kelompok paling banyak 7 orang, sehingga semuanya bisa berperan aktif. 2) Masing-masing kelompok diminta untuk membuat skenario tentang kehidupan yang nyata misalnya: (1) membantu pekerjaan ibu sebagai tukang cuci/apabila ada anggota kelompok yang ibunya seorang tukang cuci; (2) pengalaman pertama menyeterika baju wanita. (3) pengalaman menjadi guru kesenian. (4) pengalaman menjadi pemusik jalanan. (5) pengalaman mencari dana untuk masjid, (6) pengalaman berkemah di lereng gunung; (7) pengalaman membuat sabun cuci, (8) pengalaman pertama menjahit baju sendiri. dst. 3) Mintakan skenario yang telah dibuat tersebut untuk diperankan kepada kelompok lainnya, dengan diikuti seorang anggota kelompok perancang skenario. 4) Peserta diminta untuk melakukan aktivitas tersebut secara nyata, dan salah satu anggota kelompok pembuat skenario menjadi fasilitator sekaligus pengamat. Misalkan ada yang orang tuanya yang menjadi tukang cuci, maka sebaiknya yang dipilih sebagai pengamat adalah anak yang orang tuanya menjadi tukang cuci tersebut sehingga memperlancar jalannya permainan. 5) Permainan dimulai. Mereka keluar kelas untuk melakukan pengalaman secara nyata; dan waktu berkumpulnya ditentukan setelah 3 (tiga) atau 5 (lima) jam kemudian. 6) Penuturan hasil pengalaman. 7) Evaluasi. Catatan: bila waktunya sangat terbatas, maka judul dibuatkan oleh pendidik, sehingga mudah untuk dilaksanakan di kelas; walaupun skenarionya peserta didik sendiri yang membuat. 66 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

67 81. SILENT DEMONSTRATION/DEMONSTRASI BISU Cara ini sama dengan berbagai metode peran hanya saja dilakukan dengan tidak berkata-kata. Peserta didik dalam berdemonstrasi bisa menggunakan gambar, atau alat peraga lainnya, atau drama tanpa kata, dengan menggunakan bahasa isyarat (body language). 82. PRACTICE-REHEARSAL PAIRS/GLADI RESIK BERPASANGAN. Metode ini untuk memberikan pendalaman atau pemahaman atas materi yang telah diberikan oleh pendidik. Materi sebelumnya diberikan kepada masing-masing anak, dan mereka dibagi secara berpasangan. Pasangan tersebut diminta untuk mendramatisasikan materi yang telah diberikan. Orang pertama menjadi demonstrator dan orang kedua menjadi pengecek, dan kemudian dibalik. 83. I AM THE…../SAYA ADALAH…. Metode ini adalah bagian dari bermain pula. Peran yang dimainkan telah ditentukan oleh pendidik, dan ditulis dalam potongan kecil. Masing-masing anak diminta untuk memilih potongan kecil tersebut sepertui cara dalam kegiatan undian. Isi tugas dalam kertas kecil tersebut adalah peran yang harus dimainkan oleh masing-masing peserta. Contoh tugas-tugas yang harus diperankan: Saya adalah: (1) bupati; (2) komisaris perusahaan; (3) pedagang kaki lima; (4) peneliti; (5) wartawan; (6) pencari kerja, dst. Peserta yang telah mendapatkan peran boleh meminta peserta lainnya untuk membantu memperlancar, atau menghidupkan peran yang dimainkan, tetapi dia (penerima tugas) harus membuat skenarionya. 84. ADVISORY GROUP/KELOMPOK PENASIHAT. Metode ini merupakan suatu strategi untuk memperoleh umpan balik yang dapat berlangsung secara terus-menerus. Biasanya pendidik sering terlambat meminta umpan balik, sehingga ketika pelajaran sudah terlalu banyak pendidik terlambat membuat penilaian. Langkah pelaksanaan: 1) Ketika pendidik ingin memperoleh umpan balik, maka ia harus membuat kesepakatan dengan peserta didik kapan waktunya untuk dapat bertemu. 2) Siapkan para relawan untuk diberitahu lebih dahulu apa yang harus dilakukan dalam membantu proses. Relawan ini diminta untuk “menyeponsori bereaksi” ketika pendidik nanti menyampaikan pertanyaan-pertanyaan. 3) Setelah pendidik dan peserta didik bertemu maka pendidik memberikan pertanyaan-pertanyaan (yang berhubungan dengan unit pelajarannya/ atau boleh juga pertanyaan untuk semua mata 67 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

68 pelajaran dalam upaya bimbingan belajar, tergantung pada kebutuhannya) sebagai berikut: - Apa yang berguna bagimu/kalian? Apa yang tidak berguna? - Manakah yang tidak/kurang jelas bagimu? - Apa yang dapat membantu kalian/kamu agar dapat belajar lebih baik? - Apakah kalian/kamu sudah siap untuk pindah ke materi pelajaran yang baru? - Apakah materi yang saya sajikan bermanfaat nantinya bagi kehidupanmu? - Apa yang lebih kamu sukai dalam mata pelajaran kita selanjutnya? - Apakah atau bagian mana yang kurang kamu sukai? 85. TRAY EXERCISE (METODE TALAM KERJA) Metode ini adalah salah satu cara yang menurut pengalaman penulis paling baik untuk melatih kepemimpinan, keterampilan manajerial, sikap tanggungjawab, dan cara memecahkan masalah dengan cepat, secara kelompok. Langkah pelaksanaan: 1) Tentukan keterampilan apa yang menjadi sasaran praktik pembelajaran (misalnya lembaga bantuan hukum, lembaga sosial, kwartir Gerakan Pramuka, Pusdiklat, atau lembaga usaha, dst.). 2) Bagi peserta dalam kelompok-kelompok paling sedikit 5 orang paling banyak 10 orang. 3) Siapkan surat-surat yang nantinya akan diserahkan secara berurutan, dan sampaikan bahwa latihan ini hanya memakan waktu 2 jam, atau 3 jam tergantung kebutuhan. Jumlah surat paling sedikit 10 surat, usahakan sebaiknya jumlah surat 2 x lipat jumlah peserta. 4) Perintahkan masing-masing kelompok untuk berpencar membuat kantor, misalnya saja kantor Kwartir Daerah Gerakan Pramuka. 5) Sampaikan surat pertama yang isinya kira-kira struktur organisasi dan personalia lembaga tersebut. 6) Surat kedua kemudian disampaikan tentang program kerja lembaga tersebut selama 1 tahun atau 5 tahun. 7) Surat selanjutnya bisa tentang undangan seminar, workshop, atau permintaan untuk mengirim utusan, dan seterusnya. 8) Berikan juga surat-surat yang salah alamat, atau surat tagihan. 9) Berikan pula misalnya surat panggilan dari kepolisian kepada anggota kelompok untuk jadi saksi perkara. 10) Dst.

68 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

69 11) Evaluasi kegiatan tersebut mulai dari bagaimana mengagendakan surat-surat, menjawab surat-surat, pembagian kerjanya dsb.

X.

PENUTUP

Pendidik yang baik selalu tidak akan puas dengan hasilnya, oleh karena itu ia akan selalu mencari cara terbaik, bagi peserta didiknya dan cara yang pas bagi bakat yang dia miliki. Pendidik yang baik tidak pernah menceriterakan kesuksesannya dalam mendidik, tetapi dia selalu mencari kekurangan-kekurangan atas berbagai proses yang dia laluinya, dengan melihat, meniru bila perlu, dan mengembangkan cara yang dilakukan oleh pendidik lain yang ia anggap baik. Pendidik yang baik akan dirasakan sebagai telaga ilmu bagi orang lain, tetapi dia sendiri selalu merasa bahwa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. KEPUSTAKAAN 1. Collin. Patrick, 2009. Speak With Power and Confidence. Sterling. New York. London 2. DePorter. Bobbi., et.al. 2000, Quantum Teaching, Bandung: PT Mizan Pustaka. 3. Diknas.go.id. KTSP. /download/ktsp_sma/14.ppt. dossuwanda. wordpress. com). 4. Djamarah, Bahri, Syaiful. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000. 5. Drs. Ing. S. Ulihbukit Karo-Karo.1981. Metodologi Pengajaran. CV. Saudara. Salatiga. 6. Dryden. Gordon, & Vos Jeannette, Revolusi Cara Belajar (The Revolution of Learning). Penerbit Kaifa. 7. Martinis Yamin. 2003. Metode pembelajaran Yang Berhasil. Sasama Mitra Sukses Jakarta 8. Mel Silberman, Active Learning, Alyn and Bacon, Temple University, London, Boston, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore. 9. Parelius. Robert James., & Parelius. Ann Parker, 1987. The Sociology of Education, New Jersey: Prentice-Hall. 10. Roestiyah NK. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.

69 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

70 11. Rose. Colin., & Nicholl. Malcom.J., 2003, Accelerated Learning, for 21st Century, Jakarta: Penerbit Nuansa. 12. Sagala, H.Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta, 2006. 13. Sagala. Syaifil., 2007., Konsep dan Makna Pembelajaran, Bnadung: Penerbit Alfabeta. 14. Sennet. Frank., 2003, Guru Teladan Tahun Ini, Jakarta: Penerbit Erlangga. 15. Sudjana, Nana dan Ibrahim, Penelitian dan Penelitian Pendidikan. Sinar Baru, 1989. Bandung. 16. Usman, Uzer, Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda karya, 2000.

70 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

71

Cara Belajar Agar Tidak Mudah Lupa
(f) Penilaian diri/ Self Assesment. Refleksi akhir atas apa yang telah dipelajari, apa yang dibutuhkan, sampai di mana kecakapan saya. 96. Reconsidering/Pertimbangan Ulang: (Sudah Cukup Jelas). 97. Return To Your Investment/Kembali Kepada Investasimu: (Sudah Cukup Jelas). (Sudah Cukup Jelas). 98. Gallery of Learning/ Galery Belajar: (Sudah Cukup Jelas). 99. Physical Self Assessment/Penilaian Diri Secara Pisik: (Sudah Cukup Jelas). 100. Assessment Collage/Kertas Penilaian: (Sudah Cukup Jelas). (g) Perencanaan Masa Depan/Future Planning. Sebuah sukses dari belajar, apabila ia bisa merencanakan bagaimana langkah ke depannya dari hasil belajar tersebut. Inilah Strateginya. 101. Keep On Learning/Belajar Terus Menerus: (Sudah Cukup Jelas). 102. Bumper Stickers/Stiker-Stiker Raksasa: Sudah dikenal 103. I hereby Resolve/Dengan ini Saya Putuskan: (Sudah Cukup Jelas). 104. Follow Up Question/Pertanyaan Lanjutan: (Sudah Cukup Jelas). 105. Sticking To It/Bertahan Pada Apa Yang Telah Direncanakan: (Sudah Cukup Jelas). (h) Sentimen terakhir/Final Sentiment. Pengembangan rasa akrab pada teman atau benda yang ada di kelasnya, penghargaan dan ucapan selamat tinggal kawan, dapat membangun belajar aktif. Goodbye Scrabble: (Sudah Cukup Jelas). Connection/Koneksi: Sudah dikenal Class Photo/Foto Kelas: Sudah dikenal Final Exams/Ujian Akhir: Sudah dikenal (e) Strategi meninjau ulang/Reviewing Strategies: 88. Index Card Match/ Permainan Kartu Indeks: (Sudah Cukup Jelas). 89. Topical Review/ Meninjau Topik: Sudah dikenal 90. Giving Questions and Getting Answers: Sudah dikenal 91. Crossword Puzzle: Sudah dikenal 92. Leopardy Review/Tinjauan Berbahaya: (Sudah Cukup Jelas). 93. Colledge Bowl/Panci Ajaran: (Sudah Cukup Jelas). 94. Student Recap/Rangkuman Peserta Didik: (Sudah Cukup Jelas). 95. Hollywood Squares Review/ Peninjauan Tanah Lapang Holiwud: (Sudah Cukup Jelas).

-

-

-

-

106. 107. 108. 109.

71 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

72

72 Pelatih bagaikan riak air yang selalu mengalir mencari tempat yang terdalam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->