P. 1
Pegadaian Dalam Perspektif Islam

Pegadaian Dalam Perspektif Islam

5.0

|Views: 597|Likes:
Published by Merza Rizkiarta

More info:

Published by: Merza Rizkiarta on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2014

pdf

text

original

TUGAS TAKE HOME MATA KULIAH EKONOMI SYARIAH

Disusun Oleh : Nofridy Widya Eswaratika H0809088 Agribisnis B

PRODI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

“secara konsep pegadaian syari’ah terfokus pada mekanisme kepengelolaannya yang sesuai dengan kaedah fiqih. Pendahuluan Bank Muamalat Indonesia (BMI) kian gencar meningkat aliansi dan kerjasama dengan para mitra usahanya. Transaksi yang dimaksud adalah peminjaman sejumlah dana dengan jaminan barang yang sesuai dengan nilai uang yang dipinjam.39 A. (Buletin KOMPAS. . sebab dengan konsep bunga yang diterapkan dalam pegadaian konvensional dapat dikatagorikan sebagai riba dan hal ini dilarang oleh Islam. Adapun latar belakang munculnya sistem syari’ah secara umum tidak terlepas dari mekanisme sistem konvensional yang menggunakan konsep bunga. Pada dasarnya konsep pegadaian syari’ah yang dimaksud dapat dilihat dari dua aspek. Edisi 29/IX/2003). dan seperti yang pernah dipraktekan oleh Rasulullah SAW”. sedangkan dalam sistem syari’ah yang dikembangkan bukanlah sistem tambahan (bunga). 2003: 64). kebutuhan produktif. Pegadaian syari’ah sebagai suatu solusi yang muncul di tengah kegelisahan masyarakat terhadap praktek-praktek penipuan yang berkedok jasa. kebutuhan konsumtif Kedua. Kerja sama ini mencakup tambahan pembiayaan modal kerja tiga Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) yang telah beroperasi dan pendirian 13 Cabang Layanan Gadai Syariah (Majalah Modal. salah satunya dengan memantapkan kerjasama pembiayaan gadai syariah (rahn) dengan Perum pegadaian. mencoba tampil dengan kepercayaan penuh dan patut untuk mendapatkan kepercayaan. Secara umum ciri dari pegadaian adalah transaksi dari pemilik dana (modal) dengan pemilik barang. yang ditanda tangani awal september lalu. dan juga dilatarbelakangi atas berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga yang berorientasi pada penawaran jasa ini.com pada hari Sabtu tanggal 24 September 2011 pukul 10.PEGADAIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM Diambil dari http://ekisonline. Pertama.

baik seluruhnya maupun sebagiannya”. Ulama Mazhab Maliki mendefinisikan rahn sebagai harta yang bersifat mengikat. 1999: 76). “menjadikan sesuatu (barang) sebagai jaminan terhadap hak (piutang) yang mungkin dijadikan sebagai pembayar hak (piutang) tersebut. 1983: 50). Sedangkan ulama Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali mendefinisikan rahn dalam arti akad. yaitu perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan utang. Dalam buku lain juga didefinisikan bahwa rahn adalah menahan sesuatu dengan hak yang memungkinkan pengambilan manfaat darinya atau menjadikan sesuatu yang bernilai ekonomis pada pandangan syari’ah sebagai kepercayaan atas hutang yang memungkinkan pengambilan hutang secara keseluruhan atau sebagian dari barang itu . Tinjauan Umum Pegadaian dalam Perspektif Islam 1. Ulama Mazhab Hanafi mendefinisikan rahn dengan.B. Oleh sebab itu. Sedangkan menurut istilah berarti menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pendangan syara’ sebagai tanggungan utang. “berlangsung” dan “menahan”. hak kreditur terhadap barang jaminan hanya apabila debitur tidak melunasi utangnya (Sjahdeini. Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama fiqh. Kata rahn menurut bahasa berarti “tetap”. Perjanjian gadai dalam Islam disebut rahn. Rahn di tangan murtahin (pemberi utang kreditur) hanya berfungsi sebagai jaminan utang dari rahin (orang yang berutang debitur). dengan adanya tanggungan utang itu seluruh atau sebagaian utang dapat diterima (Basyir. yaitu “menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan pembayar utang apabila orang yang berutang tidak bisa membayar utangnya itu”. Pengertian Gadai (rahn) Ar-Rahn merupakan perjanjian penyerahan barang untuk menjadi agunan dari fasilitas pembayaran yang diberikan. Barang jaminan itu baru dapat dijual/dihargai apabila dalam waktu yang disetujui oleh kedua belah pihak utang tidak dapat dilunasi oleh debitur.

Dengan demikian. 1997: 60) dalam kitabnya Fathul Wahhab mendefinisikan rahn sebagai berikut: “Menjadikan barang yang bersifat harta sebagai kepercayaan dari suatu utang yang dapat dibayarkan dari harga benda itu bila utang tidak dibayar”.” Lebih lanjut Imam Taqiyyuddin mengatakan bahwa barang-barang yang dapat dijadikan jaminan utang adalah semua barang yang dapat dijual-belikan.(Tim Pengembangan Perbankan Syari’ah Institut Bankir Indonesia. Selanjutnya Imam Taqiyyuddin Abu-Bakar Al-Husaini dalam kitabnya Kifayatul Ahyar Fii Halli Ghayati Al-Ikhtisar berpendapat bahwa definisi rahn adalah: “Akad/perjanjian utang-piutang dengan menjadikan harta sebagai kepercayaan/penguat utang dan yang memberi pinjaman berhak menjual barang yang digadaikan itu pada saat ia menuntut haknya. . Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan hutang atau gadai. Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa rahn merupakan suatu akad utang-piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan. Ar-Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Sedangkan menurut Imam Abu Zakaria Al-Anshori (Syafi’i dalam Chuzaimah. hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil uang. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Menurut ta’rif yang lain dalam bukunya Muhammad Syafi’i Antonio (1999: 213) dikemukakan sebagai berikut: “menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimannya. 2001: 73). artinya semua barang yang dapat dijual itu dapat digadaikan. pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.

Gadai untuk menanggung semua hutang. Kalau orang yang berhutang mengembalikan sebagian hutangnya. Boleh menggadaian barang milik serikat untuk tanggungan hutang seseorang asal mendapat izin dari serikat. al-Baqarah: 283) b. Dalil dari as-Sunnah Rasulullah pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi untuk ditukar dengan gandum. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya. as-Sunnah. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. dan Ijma” (Sabiq. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Juga boleh menggadaikan barang pinjaman. Dalil dari al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 283 yang berbunyi sebagai berikut: “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Rasulullah kemudian menjawab: ”bohong! sesungguhnya aku orang yang jujur di atas bumi ini dan di langit. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (Qs. Lalu orang Yahudi berkata: “Sungguh Muhammad ingin membawa lari hartaku”. Akan tetapi. ia tidak boleh mengambil barang yang digadaikan sebelum melunasi semua hutangnya. 2. Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). 1978: 197-198). sebab barang itu sudah menjadi hak sementara (Rifa’i. a. 1996: 139). Dasar Hukum Gadai Gadai hukumnya jaiz (boleh) menurut al-Kitab. Jika kamu berikan amanat kepadaku .

Berdasarkan al-Qur’an dan Hadist diatas menunjukan bahwa transaksi atau perjanjian gadai dibenarkan dalam Islam bahkan Nabi pernah melakukannya. 2003: 41).pasti aku tunaikan Pergilah kalian dengan baju besiku menemuinya. Bukhari). Ijma’ dan Qiyas Ulama’ Pada dasarnya para ulama’ telah bersepakat bahwa gadai itu boleh. c. Namun demikian perlu dilakukan pengkajian yang lebih mendalam dengan melakukan Ijtihad. Para Ulama’ tidak pernah mempertentangkan kebolehannya demikian pula landasan hukumnya. Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa gadai disyari’atkan pada waktu tidak bepergian maupun pada waktu bepergian. Bagaimanakah perbandingan konsep pegadaian syari’ah dengan pegadaian konvensional ditinjau dari aspek hukumnya? (Muhammad dan hadi.R.” (H. .

2513 dan Muslim no. Sebab prakteknya justru sekedar pembungaan uang atau hutang yang nyata-nyata diharamkan di dalam semua agama. Rasul ditanya bolehkah kambingnya diperah. Praktik gadai syariah ini sangat strategis mengingat citra pegadaian memang telah berubah sejak enam-tujuh tahun terakhir ini. 1603) Dahulu ada orang menggadaikan kambingnya.” (Hr. Gadai secara hukumnya dibolehkan asalkan tidak terkandung unsur-unsur ribawi. 2329.Pendapat Gadai adalah menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan oleh berpiutang . bahkan dibolehkan juga buat kita untuk mengambil keuntungan dari barang yang digadaikan. Apabila ada ternak digadaikan. Dari kedua hadits di atas. punggungnya boleh dinaiki (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya… Kepada orang yang naik ia harus mengeluarkan biaya perawatannya”. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang. Sehingga hukumnya haram. Berarti. Nabi mengizinkan. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. Bukhari no. “Sesungguhnya. sekadar untuk menutup biaya pemeliharaan. barang yang dititipkan pada si piutang dapat diambil kembali dalam jangka waktu tertentu. Al-Bukhari no. Hal ini dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian. Pegadaian kini bukan lagi dipandang tempatnya masyarakat kalangan bawah mencari dana saat anaknya . bisa kita simpulkan bahwa Rasullulah mengizinkan kita melakukan praktek gadai. Bahkan beberapa kali Rasulullah SAW mengadaikan harta bendanya. (HR Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i. kitab ar-Rahn). dan beliau menggadaikan baju besinya. Namun pegadaian yang sering kita saksikan di negeri kita ini banyak yang melanggar aturan syariah.

Saya setuju dengan artikel tersebut karena konsep pegadaian syari’ah adalah peminjaman sejumlah dana dengan jaminan barang yang sesuai dengan nilai uang yang dipinjam sehingga konsep yang dikembangkan bukanlah sistem tambahan (bunga) atau riba yang diharamkan oleh syariat islam. Dan selama pokok pinjaman itu belum dikembalikan. Perbedaan utama antara gadai syariah dengan gadai yang haram adalah dalam hal pengenaan bunga. Dalam perkembangannya. . Misalnya seseorang menggadaikan mobilnya dan mendapat uang pinjaman 50 juta. pihak yang memberi pinjaman akan lebih mudah mengeluarkan uang pinjaman.sakit atau butuh biaya sekolah. bunganya tetap terus berkembang. Pegadaian syariah bebas dari bunga. di mana dengan digadaikannya mobil itu. Dan biaya seperti itu wajar terjadi. Sebab harga mobil itu sudah pasti lebih mahal dari jumlah pinjaman yang diberikan. Bukankah ketika kita memarkir mobil di sebuah mal. Beda gadai ini dengan pinjaman uang biasa adalah pada masalah jaminan. maka dia berkewajiban untuk membayar biaya penitipan mobil itu. melainkan biaya penitipan barang. Pegadaian kini juga tempat para pengusaha mencari dana segar untuk kelancaran bisnisnya. gadai yang sesuai syariah ternyata memilki potensi pasar yang besar sehingga di negeri kita pun sekarang sudah mulai banyak pegadaian yang menggunakan sistem syariah. yang ada adalah biaya penitipan barang. Ketika seseorang menggadaikan mobilnya. Biaya penitipan itulah yang jadi keuntungan bagi pihak yang memberi pinjaman hutang. tidak ada pembungaan uang pinjaman. Boleh jadi ke depannya jumlah hutangnya sudah membengkak menjadi 100 juta. kita diwajibkan untuk membayar ongkos parkir untuk tiap jamnya? Maka ketika seseorang menggadaikan mobil. dia pun pada hakikatnya harus membayar biaya penitipan mobil itu. Dalam gadai secara syariah. Ini adalah hutang yang harus dibayarkan pokok dan bunganya. atau dikenal dengan nama Pegadaian Syariah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->