Makalah Toleransi dalam Islam

27/06/2010 — Dunia pesantren TOLERANSI DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN SUNNAH (Upaya Mewujudkan Tatanan Kehidupan yang Harmonis Ditengah Pluralisme) A. PENDAHULUAN Kemunduran dunia Islam yang masih terus berlangsung hingga saat ini, tidak dapat dipungkiri, telah berdampak negatif terhadap kondisi umat Islam secara internasional. Kaum muslim di berbagai belahan dunia terus menjadi bulan-bulanan para musuh Islam (baca: jaringan Zionis internasional dan Barat), tanpa mampu memberikan perlawanan yang berarti. Meski sejak paruh terakhir abad keduapuluh penetrasi secara fisik (militer) terhadap wilayah-wilayah Islam telah banyak menurun intensitasnya, namun tidak berarti umat Islam dapat bernapas lega. Ini dikarenakan para musuh Islam telah menyiapkan bentuk-bentuk penjajahan baru (new imperialism) yang efeknya tidak kalah mengerikan dari peperangan secara fisik. Hegemoni di bidang ekonomi, politik, budaya, dan pemikiran, yang terus dibangun oleh para penentang Islam tersebut, hanyalah sebagian, untuk sekedar menyebut contoh, dari bentuk-bentuk konspirasi mutakhir untuk tetap memposisikan kaum muslim sebagai pihak yang inferior.[1] Terutama dalam bidang pemikiran, umat Islam pada saat sekarang tengah berada di pusaran arus perang pemikiran (al-ghazwu al-fikriy) yang dahsyat. Jaringan global musuh-musuh Islam gencar melakukan upaya “pencucian otak” terhadap umat Islam dengan cara menyerang konsepkonsep/ajaran-ajaran Islam di satu sisi, dan pada saat bersamaan mendesakkan konsep-konsep pemikiran mereka. Targetnya adalah menjadikan umat Islam secara perlahan-lahan terjauh, atau setidak-tidaknya mengalami pendangkalan pemahaman, dari ajaran-ajaran agamanya. Salah satu aspek ajaran Islam yang pada saat ini banyak mendapat sorotan tajam adalah konsep tentang pluralisme dan toleransi. Kaum Zionis dan Barat gencar mengkampanyekan bahwa Islam adalah agama yang anti toleransi dan kemajemukan. Mereka juga berusaha keras merusak citra Islam dengan mengembangkan opini bahwa Islam dan umat Islam tidak menghargai kesetaraan hidup (equality of life) dan hak-hak asasi manusia. Upaya-upaya ini sangat membahayakan karena dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Guna mengantisipasi dampak negatif dari gelombang perang urat syaraf yang mencemaskan ini, tentunya sangat diperlukan usaha bersama segenap umat Islam untuk kembali berusaha menggali serta menghayati konsep Islam tentang toleransi yang kini sedang diusahakan untuk dikaburkan. Umat Islam, terutama generasi muda, harus diberikan pemahaman yang benar tentang konsepsi ini, sehingga ketidaktahuan atau keragu-raguan mereka tidak menjadi sasaran empuk propaganda keji Zionis dan Barat. Dalam kerangka inilah tulisan singkat ini dimaksudkan, atau, meminjam istilah Yusuf Qaradhawi, ia ditujukan untuk menjelaskan konsepsi yang sebenarnya (taudhîh al-haqâiq), menghilangkan keragu-raguan (izâlah al-syubuhât), serta meluruskan persepsi yang keliru (tashhîh al-afhâm).[2] Dalam tulisan yang sangat sederhana berikut ini, penulis berusaha mengelaborasi secara tematis konsep Islam tentang toleransi dan pluralisme. Diawali dengan penjelasan seputar definisi, kemudian dilanjutkan dengan upaya untuk membuktikan bahwa Islam menerima pluralisme sekaligus memberikan jalan keluar dalam mensikapinya, yaitu dengan prinsip toleransi (tasâmuh). Pada bagian akhir akan diuraikan secara komprehensif solusi dimaksud, sesuai dengan perspektif yang dimajukan al-Quran dan sunnah.

toleransi adalah quality of tolerating opinions. toleran. adat istiadat.[4] Kata toleransi sebenarnya bukanlah bahasa “asli” Indonesia. untuk dapat bertoleransi dengan baik.[11] Artinya. suka memaafkan). Kemajemukan ini lahir melalui proses-proses tertentu. etc. dan sebagainya. atau dikehendaki maupun tidak dikehendaki.[12] . Ia terkait erat dengan suatu realitas lain di alam yang merupakan penyebab langsung dari lahirnya toleransi.[3] Kata Definisi toleran sendiri Toleransi didefinisikan sebagai “bersifat dan atau bersikap Pluralisme menenggang Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata toleransi berarti sifat atau sikap (menghargai. kepercayaan. baik secara individual maupun komunal. maka kata tasâmuh memiliki keutamaan.[8] Makna ini selanjutnya berkembang menjadi sikap lapang dada/ terbuka (welcome) dalam menghadapi perbedaan yang bersumber dari kepribadian yang mulia. kata tolerance sendiri berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti “berusaha untuk tetap bertahan hidup. pandangan. pemikiran. tinggal.[7] atau sa’at al-shadr (lapang dada) dan tasâhul (ramah. Dengan demikian. Jika dicermati dengan seksama. kelakuan. membolehkan) pendirian (pendapat. membiarkan. yang definisinya juga tidak jauh berbeda dengan kata toleransi/toleran. dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.[6] Dengan keterpaksaan. istilah yang lazim dipergunakan sebagai padanan dari kata toleransi adalah ‫ سسسماحة‬atau ‫ . pemahaman tentang toleransi tidak dapat berdiri sendiri. beliefs. atau berinteraksi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai atau disenangi. manusia merupakan makhluk yang bermasyarakat. Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. customs. kebiasaan. bahasa Arab: ta’addudiyyah). Kehidupannya di atas dunia ini bersifat dependen. disadari atau tidak. kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris “plural” yang berarti banyak (antonim dari kata singular).[9] Dengan demikian. tetapi serapan dari bahasa Inggris “tolerance”. atau dengan kata lain tidak dapat hidup sendiri. 2. dalam arti eksistensinya. kepercayaan. karena melambangkan sikap yang bersumber pada kemuliaan diri (al-jûd wa al-karam) dan keikhlasan.تسسسامح‬Kata ini pada dasarnya berarti al-jûd (kemuliaan). Secara etimologis. tidak bisa lepas dari “campur tangan” pihak lain. agama. pada awalnya dalam makna tolerance terkandung sikap Secara sosiologis. yaitu kemajemukan (pluralisme. Al-Quran menyebut salah satu fase penciptaan manusia dengan ‘alaq yang selain dapat dipahami sebagai “keadaan berdempet pada dinding rahim” juga pada hakekatnya menggambarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan selalu bergantung pada pihak lain. maka pemahaman terhadap pluralisme terlebih dahulu mutlak diperlukan. masyarakat yang heterogen dalam satu aspek atau lebih.[5] Lebih lanjut menurut Abdul Malik Salman. tingkah laku. PEMBAHASAN 1. seperti dalam hal keturunan. Penerimaan Islam terhadap Pluralisme demikian. kata ini secara lebih spesifik ditujukan terhadap realitas masyarakat yang majemuk.B. different from one’s own. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.[10] Dalam perkembangannya. berbeda dengan kata tolerance yang mengandung nuansa keterpaksaan. Memahami toleransi an sich tidak akan ada artinya tanpa memahami realitas lain tersebut. behaviors. Adapun dalam bahasa Arab.

ideologi. Allah SWT kembali berfirman: 48 :‫)ولو شاء ال لجعلكم امة واحدة ولكن ليبلوكم فيما اتاكم فاستبقوا الخيرات )المائدة‬ “…Sekiranya Allah menghendaki. tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. maka semua manusia dapat saja dijadikan satu (seragam). sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…”[16] Bahkan. maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…”[17] Pada ayat diatas Allah SWT menyatakan bahwa jika Dia menghendaki. Masing-masing hidup dalam kelompok yang saling berkaitan. tentu saja tidak terlepas dari latar belakang. bahkan agama. sebab dan tujuan. niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Allah SWT sebenarnya banyak menyinggung masalah pluralisme dalam al-Quran. Hanya Allah yang benar-benar merupakan satu kesatuan yang mutlak (true unity). Dalam surat al-Rum (30): 22 misalnya. Sebagai contoh. Hukum-hukum ini diistilahkan al-Quran dengan sunnatullah. dunia yang dihuni manusia bukanlah dunia yang singular. dengan redaksi yang lebih mempertegas eksistensi pluralisme. Allah SWT menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai warna kulit dan bahasa. 22 :‫)ومن اياته خلق السموت والرض والختلف السنتكم والوانكم ان فى ذلك ليات للعالمين )الروم‬ “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulitmu. ‫يا ايها الناس ان ا خلقناكم من ذكر وانثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا‬ (13:‫)الحجرات‬ “Hai manusia. Akan tetapi hal tersebut tidak diinginkan-Nya. Sebaliknya.[18] Dengan memahami berbagai penjelasan diatas.Di sisi lain. seperti lingkungan. bangsa.[13]Muhammad Imarah menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah merupakan objek dari keanekaragaman. sama halnya dengan hukum-hukum alam lain yang diciptakan Allah SWT. Dari kutipan . maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya dalam kacamata Islam.[14] Jika dicermati. pluralisme di alam merupakan suatu kepastian/ keniscayaan . jika Allah SWT menghendaki kesatuan pendapat pada seluruh manusia. Allah SWT juga menyebutkan penciptaan manusia ke dalam suku-suku dan bangsa-bangsa. maka niscaya diciptakan-Nya manusia itu tanpa akal.seragam atau semacam. dimana tidak ada perubahan padanya (surat alAhzab (32): 62). Sebagai sebuah sunnatullah. seperti layaknya binatang atau benda-benda tak bernyawa lainnya yang tidak memiliki kemampuan menalar. kemajemukan yang melandasi setiap sendi kehidupan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui ”[15] Selanjutnya dalam surat al-Hujurat (49): 13. Allah menciptakannya penuh dengan keragaman dalam berbagai aspek. pemikiran. memilah. baik secara fisik. dan memilih. atau spesies yang hidup didalamnya. dalam surat alMaidah (5): 48. Kesan ketidakinginan ini tercermin dari penggunaan kata (harf) “‫لو‬ “ yang dalam ilmu kaedah bahasa Arab berarti “pengandaian yang mengandung makna kemustahilan”.

sebagai ciri khas masing-masing individu dan masyarakat. sesuatu yang baik biasanya selalu berada diantara dua posisi ekstrim. yaitu terciptanya iklim attasâbuq fî al-khairât (kompetisi dalam amal-amal kebaikan).atau dalam ungkapan khas al-Quran “ikhrâju al-nâs min al-dzulumât ila al-nûr”. dan kreatif. Contohnya. yaitu “keadaan saling mengenal”. Secara psikologis. Dengan demikian. akan menciptakan individu-individu. Sementara itu. kata al-wasat sendiri pada awalnya berarti segala yang baik sesuai dengan objeknya. sangat berpotensi melahirkan tarik ulur kepentingan yang bisa mengarah kepada hal-hal yang destruktif. Artinya. Demikian juga pada surat al-Hujurat (49). namun juga bagi alam secara keseluruhan. Allah SWT menambah lagi deretan hikmah yang akan didapatkan manusia dengan Pluralisme. tersebut mesti disikapi secara positif dan konstruktif sehingga tidak merugikan diri sendiri. umpamanya. sementara kedermawanan merupakan pertengahan antara sifat boros dan kikir. jika seseorang berada dalam situasi yang plural. selanjutnya masyarakat. yang termasuk salah satu surat yang pertama kali turun. 13 diterangkan bahwa dijadikannya manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah dalam rangka ta’âruf (saling mengenal). pada hakikatnya. Penggalan awal surat al-Mudassir. keberanian adalah sifat pertengahan antara ceroboh dan takut. akan timbul lompatan-lompatan kemajuan (taqaddum) dalam peradaban umat manusia itu sendiri. pada hakikatnya menghinggapi manusia dikarenakan ia terlahir pada situasi masyarakat yang singular dan tidak memiliki spirit kompetisi . namun ditekankan kepada dampak turunannya yang lebih besar. Menurut Quraish Shihab. yang aktif. telah memuat hukumhukum penting yang berkaitan dengan pemeliharaan keharmonisan dalam masyarakat. Allah SWT menyatakan bahwa kemajemukan merupakan salah satu tanda kebesaran dan manifestasi kemahakuasaan-Nya.Toleransi Ditengah Pluralisme dalam Tinjauan al-Quran dan Sunnah Suatu realitas yang sukar untuk dipungkiri bahwa pluralisme dalam masyarakat mesti sarat dengan “gesekan-gesekan”. [21] Dalam kaitannya dengan respon umat Islam terhadap pluralisme. Dalam surat al-Rum (30): 22 diatas. Kejumudan dalam kehidupan.[19] Tidak berhenti disitu. umpamanya. 3. Hasilnya. Ta’âruf atau interaksi sosial yang dijalin antar individu/ masyarakat. tidak saja bagi manusia.beberapa ayat diatas akan didapati kesan bahwa realitas tersebut sarat manfaat. dinamis. perbedaan-perbedaan. pada akhirnya. Dengan memahami hal diatas. Dinamika kehidupan yang seperti ini. maka ia akan terdorong untuk berkompetisi dengan orang lain. yaitu saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk kemudian saling bekerjasama dan mengambil manfaat (keuntungan). ta’âruf yang dimaksud tentu saja tidak berhenti pada makna kebahasaan saja. Akan tetapi. ia akan dihadapkan pada tantangan untuk menjadi lebih baik dari yang lain. Oleh karena itu. yang memang diturunkan untuk mendorong terwujudnya kemaslahatan manusia. al-Quran menggelari umat Islam sebagai “ummatan wasathan” (umat pertengahan/moderat). al-Quran juga memberikan .[20] Dalam kaitannya dengan kemajemukan ditengah masyarakat. tidaklah mengherankan jika al-Quran. sangat konsern dengan hukumhukum yang mengatur hubungan antar manusia. pluralisme membutuhkan aturan-aturan main yang jelas untuk menjamin terpeliharanya kemaslahatan masing-masing pihak. dalam ayat ketiga.

para sahabat. keseimbangan dalam hidup mendapatkan prioritasnya. kebajikan (al-birr). antara lain dapat ditelusuri dari penjelasannya tentang keadilan (al-‘adl atau al-qisth). jika keharmonisan dalam kemajemukan telah dirongrong oleh satu atau beberapa pihak. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. yang kemudian dikenal dengan istilah samâhah atau tasâmuh (toleransi). Solusi dimaksud adalah pertengahan antara sikap ta’ashub (fanatisme) dan liberal. Perbedaan suku. tidak seagama. Tujuannya. baik terhadap sesama mereka maupun terhadap pihak-pihak lain yang. Bahkan. Meskipun demikian. Sementara itu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Didalamnya terkandung sikap saling menghargai dan menghormati eksistensi masing-masing pihak. maka secara otomatis keberlangsungan toleransi akan turut terancam. hal tersebut tentu saja tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa al-Quran tidak menyinggung serta mengajarkan toleransi. namun justru peluang untuk saling bersinergi secara positif. Siapa yang menjadikan mereka sebagai kawan. انما ينهكم‬ ‫ال عن الذين قتلوكم فى الدين واخرجوكم من دياركم وظهروا على اخراجكم ان تولوخم ومن يتولهم فاولئك هم الظلمون‬ 9-8 :‫))الممتحنة‬ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Artinya. penamaan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini dengan “al-Islâm”. Hal ini berarti. kata tasâmuh atau samahâh sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam al-Quran. sikap seperti ini harus tetap dipelihara selama tidak ada pihak-pihak yang mencoba untuk merusak tatanan hidup yang ada tersebut. tidak sedikitpun merintangi kaum Anshar untuk menerima dengan baik saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Keanekaragaman tidak diposisikan sebagai ancaman. terutama. umpamanya. sebagaimana perbedaan bangsa juga tidak merintangi Salman al-Farisi untuk menjadi orang yang dekat . Ajaran al-Quran tentang hal ini. sebenarnya telah cukup menjadi bukti bahwa kedatangan Islam adalah untuk menghadirkan rahmat dan kedamaian bagi alam semesta. kedamaian tidak akan terwujud tanpa adanya suasana toleransi ditengah realitas kemajemukan yang tidak terhindarkan. tidak pernah menghalangi Bilal untuk menjadi muazin Rasul SAW dan kaum muslim. Diatas telah dijelaskan bahwa toleransi merupakan sikap terbuka dalam menghadapi perbedaan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ‫ل ينهكم ال عن الذين لم يقتلوكم فى الدين ولم يخرجوكم من دياركم ان تبروهم وتقسطوا اليهم ان ال يحب المقسطين.[23] Demikian juga perbedaan warna kulit dengan yang lain. meskipun pada saat bersamaan mereka juga tidak bisa dikatakan berkecukupan secara material. serta generasi-generasi muslim sesudahnya.solusi “jalan tengah”. agar umat Islam tetap terpelihara al-wasathiyah-nya. maka mereka itulah orang-orang yang zalim”[22] Sejarah telah mencatat dengan tinta emas sikap toleran yang pernah ditunjukkan Nabi Muhammad SAW. dibutuhkan sikap tegas dalam menghadapinya. Dalam kehidupan yang toleran. dan lain sebagainya. Ajaran Islam yang terpatri kuat di dada mereka telah melahirkan sikap lapang dada yang luar biasa dalam menerima perbedaan yang ada. Dalam kacamata Islam. Jika dicermati dengan seksama. perdamaian (al-shulh atau al-salâm).

“Suatu ketika lewat dihadapan kami orang-orang yang membawa jenazah seorang Yahudi. Cukup banyak bukti historis yang dapat dikemukakan untuk mendukung klaim keadilan. ”Apakah aku ini juga tidak seorang manusia? Jika kamu sekalian melihat orang sedang lewat membawa jenazah.” Dalam kesempatan lain. kemanusiaan. Imam al-Bukhari meriwayatkan: ‫عن انس رضى ال عنه ان النبى صلى ال عليه وسلم عاد يهوديا وعرض عليه السلم فاسلم فخرج وهو يقول الحمد ل الذى‬ 26](‫]انقذه من النار )رواه البخارى‬ “Dari Anas r. Tidak ada perbedaan antara Arab dengan yang lainnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: 25](‫]كلكم لدم و آدم من تراب ال ل فضل لعربى على اعجمى ال بالتقوى ) رواه احمد‬ “Kamu semua adalah keturunan Adam sedang Adam diciptakan dari debu. Keberadaan piagam ini telah menolak mentah-mentah tuduhan intoleransi yang dilontarkan para musuh Islam. Nabi SAW lalu berdiri dan kamipun segera mengikutinya. kecuali dengan ketakwaan” (HR. kasih sayang. maka berdirilah!” Tentang perlindungan terhadap orang-orang non-muslim yang dihidup di tengah-tengah komunitas umat Islam dan memiliki “kontrak” damai dengan kaum muslim. Nabi SAW menerima dengan baik keberadaan mereka ditengah-tengah masyarakat muslim dan tidak sedikitpun memaksa mereka untuk mengikuti ajaran Islam. yang lewat tadi adalah jenazah seorang Yahudi. Demikian juga halnya terhadap pihak-pihak yang berlainan agama. semua muslim mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya dengan sebaik-baiknya (baca: beramal salih). Nabi SAW lalu keluar seraya berkata. maka tidak akan mencium bau surga. bahasa.a: Suatu ketika Nabi SAW pernah menjenguk seorang Yahudi. Semua perlakuan ini berhulu kepada prinsip toleransi yang dipegang dengan teguh. Ahmad). Setelah itu kami berkata. Malah sebaliknya. tanpa harus teralienasi hanya karena perbedaan fisik. “Wahai Rasulullah. Rasulullah SAW tidak pernah mendiskreditkan eksistensi mereka atas dasar perbedaan akidah. :‫روى جابر بن عبد ال قال: مرت بنا جنازة فقام النبى صلى ال عليه وسلم وقمنافقلنا يارسول ال انها جنازة يهودى فقال‬ 27] (‫]اولست نفسا. Nabi SAW kemudian menawarkan kepadanya untuk masuk Islam dan orang Yahudi tersebut menerimanya.اذا رايتم الجنازة فقوموا )رواه البخارى‬ “Jabir bin Abdullah berkata. [24] Sebaliknya. padahal harumnya surga itu sudah dapat tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan” Pendeklarasian Piagam Madinah (Mîsâq al-Madînah)[29] pada hakekatnya adalah contoh lain yang fenomenal dari praktek toleransi Islam.dengan Rasulullah SAW. bukan sekedar lip service. Nabi SAW bersabda: 28](‫]من قتل معاهدا لم ير رائحة الجنة وان ريحها ليوجد مسيرة اربعين عاما )رواه البخارى‬ “Siapa yang membunuh orangkafir yang berada dalam perjanjian damai (dengan kaum muslim). atau suku bangsa. Piagam Madinah berisi penegasan tentang kesetaraan fungsi dan kedudukan serta persamaan hak dan .” Rasulullah kemudian menjawab. dan kebersamaan yang pernah ditunjukkan Rasulullah SAW dan generasi-generasi sesudahnya terhadap orang-orang yang tidak seagama. Sebagai contoh. “Segala puji bagi Allah yang telah menyelematkannya dari api neraka. Nabi SAW memberikan contoh bertoleransi kepada para sahabatnya melalui tindakan konkrit yang ia lakukan.

yaitu: [30] a. tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi. Umat Islam meyakini bahwa mereka tidak bertanggungjawab terhadap jalan hidup yang dipilih oleh umat-umat lain. sebaliknya pada ajaran-ajaran fundamental yang masing-masing saling terkait. prinsip tentang keadilan.kewajiban antara umat muslim dan umat-umat lain yang tinggal di Medinah.” [34] Apa yang disebutkan oleh Yusuf al-Qaradhawi diatas. Kewajiban mereka hanya berdakwah. Berlaku adillah. Satu hal yang agaknya dapat melengkapi dasar-dasar diatas adalah bahwa parameter yang . karena adil itu lebih dekat kepada takwa…. prinsip tentang kemuliaan manusia betapapun beragamnya kehidupan mereka. biarlah ia kafir…” [33] d. dan siapa yang ingin (kafir). Allah SWT berfirman: ‫:ول يجرمنكم شنان قوم على التعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى )المائدة‬ “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. spirit dari Piagam Madinah tetap dipelihara oleh para penguasa muslim dari generasi ke generasi. Kami angkut mereka di darat dan di lautanKami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”[31] b. Didalamnya secara eksplisit dinyatakan bahwa umat Yahudi dan yang lainnya adalah umat yang satu dengan kaum muslim. dalam kaitannya dengan pluralisme agama. Mereka akan diperlakukan adil dan dijamin hak-haknya selama tidak melakukan kejahatan dan pengkhianatan. Sebagai contoh. Dalam perkembangan selanjutnya. pada hakikatnya merupakan penegasan bahwa ajaran Islam tentang toleransi tidak dibangun diatas landasan yang rapuh. selama pihak lain berlaku sama. Allah berfirman: 99 :‫)ولو شاء ربك لمن من فى الرض كلهم جميعا افانت تكره الناس حتى يكونوا مؤمنين )يونس‬ “Dan jika Tuhanmu menghendaki. hendaklah ia beriman. Dengan undang-undang inilah Rasulullah SAW menata kehidupan masyarakat Madinah yang plural. Dasar Pemikiran dan Batasan Toleransi menurut al-Quran dan Sunnah Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa toleransi dalam Islam dibangun diatas beberapa landasan pokok. sementara pilihan antara iman atau tidak adalah urusan masing-masing pihak dengan Allah SWT. Keyakinan bahwa pluralisme sudah merupakan kehendak Allah SWT yang tidak akan mengalami perubahan. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya: 70 :‫)ولقد كرمنا بنى ادم وحملناهم فى البر والبحر ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على كثير ممن خلقنا تفضيل )السراء‬ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Allah SWT berfirman: 29 :‫)فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر )الكهف‬ “…maka siapa yang ingin beriman. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka seluruhnya menjadi orangorang yang beriman?” [32] c. (selengkapnya tentang bunyi pasal-pasal Piagam Madinah: lihat lampiran) 4.

Cet. Dalam hal terjadi pengkhianatan terhadap nilainilai toleransi. dalam konteks ini adalah tidak memerangi kaum muslim karena alasan agama. Islam memandangnya sebagai salah satu dari sunnatullah di alam ini. h. h. bukan parameter fisik atau keduniaan.digunakan Islam dalam menilai sesuatu adalah parameter keruhanian (ketakwaan). tentu saja bukan untuk dipertentangkan dan membawa kepada perpecahan. karena konspirasi keji semacam itu tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun. Bahkan.S 2:105. Edisi ke-2. Jilid ke-2. jika yang terjadi justru sebaliknya. —————————– [1] al-Quran sendiri berulang kali menyatakan adanya upaya-upaya jahat seperti ini (dalam terminologi al-Quran: makr) yang dilakukan secara sistematis dan simultan oleh kelompokkelompok yang membenci Islam. kasih sayang dan kemanusiaan yang semuanya merupakan pilar-pilar toleransi. Secara umum. telah mencerminkan pola hubungan yang proporsional dan berkeadilan tersebut. Banyak sekali ayat al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan referensi dalam menikmati hidup bertoleransi. Islam menekankannya pada prinsip keadilan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Artinya. Akan tetapi dengan mensikapi secara positif dan konstruktif. 3:118. atau berkonspirasi dengan pihak lain untuk mengusir umat Islam. umpamanya. Ke-1. 667 [3]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (selanjutnya ditulis Depdikbud RI). [2]Yusuf al-Qaradhawi. Hal ini terlihat pada kesan yang ditimbulkan oleh ayat dan hadis yang berbicara tentang kesetaran dan persamaan hak dan kewajiban secara umum. Fatâwâ Mu’âshirah. 1994. 1991. Tentang batasan toleransi. Akan tetapi. Lihat. Penyebutan secara berulang-ulang tersebut erat kaitannya dengan tujuan agar umat Islam senantiasa waspada dan mawas diri. ke-3. Keanekaragaman yang telah menjadi kehendak Allah tersebut. pluralisme justru akan membawa manfaat yang besar terhadap kemaslahatan kehidupan manusia. Manshurah: Dar al-Wafa’. diantaranya. Surat alMumtahanah: 8-9. umat Islam harus bersikap tegas dengan memerangi mereka. Hanya saja Islam menggarisbawahi bahwa toleransi hanya akan efektif jika masing-masing pihak tetap berjalan diatas relnya dan tidak merongrong eksistensi pihak lain. 1065 [4] Ibid. PENUTUP Dari paparan diatas dapat dilihat bahwa Islam bersikap sangat terbuka dengan kemajemukan. 2:109. tidak mengusir kaum muslim dari negeri-negeri mereka. Q. maka tidak berlaku toleransi. Jakarta: Balai Pustaka. al-Quran dan sunnah Nabi SAW menekankan pentingnya keadilan.[35] C. . maka Islam mengharuskan umat Islam bersikap tegas dengan memerangi pihak-pihak yang telah merusak harmoni ritme kehidupan tersebut. Toleransi dapat dikatakan sebagai jalan keluar yang dicetuskan Islam untuk mensikapi pluralisme. Cet. Kesan yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah bahwa toleransi dapat terus berjalan selama pihak luar berlaku adil terhadap umat Islam. 61:8.

Medinah al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd. Wawasan al-Quran.للختلف خلقهم‬Lih: Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi. 4. Cet. h. 108. 644 [16]Ibid. 114-115 [19]Kesan ini akan menjadi lebih jelas jika diamati firman Allah SWT dalam surat alZukhruf (43): 32. Contoh lain dari penggunaan kata law dalam arti seperti diatas adalah firman Allah dalam surat Hud (11). [14] Muhammad Imarah. 909 [6]Abdul Malik Salman. Cet. h. فان هذه الرؤية االسلمية تكون بهذا ” سنة ” من سسن ال سبحانه و تعالى فى الخلق‬ ‫والمخلوقات جميعا و اية من اليات‬ ‫التى ل تبديل لها ول تحويل‬ [15] Kementerian Urusan Agama Islam. al-Quran dan Terjemahnya. 2 [7]Jamaluddin Muhammad bin Mukram Ibn al-Mandzur. th. Mesir: Dar al-Nahdhah. [10] A. namun juga terhadap himpunan-himpunan makhluk lainnya. t. h. Bahkan. h. London: Oxford University Press. 1997..cit. 1997. S. Loc. Op. th. 777 [12]Muhammad Quraish Shihab. Mu’jam al-Mufradât li Alfâdz alQuran.) . Cet. Hornby. Edisi ke-2. ke-3. Dakwah. yaitu: ‫ . Lisân al-‘Arab. h. Cet. h. h.cit. h. 735 [11]Depdikbud RI. Op. Kementerian Urusan Agama Islam KSA. h. h. Ayat yang dimaksud adalah surat al-‘Alaq (96): 2. tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. 1997. 320. Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Quran. al-Ta’addudiyyah:: al-Ru’yat al-Islâmiyyah wa alTahaddiyyat al-Gharbiyyah. Surabaya: Pustaka Progresif. 657 [9]Abdul Malik Salman. binatang melata. Istilah ini tidak saja ditujukan kepada komunitas manusia. h. yaitu: 118 :‫)ولو شاء ربك لجغل الناس امة واحدة ول يزالون مختلفين )هود‬ “Jika Tuhanmu menghendaki. Beirut: Dar Shadir. al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini berpendapat bahwa di dalam ayat ini jelas terkandung sunnatullah kemajemukan. h. tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. Op. h. Dalam hal ini ia menyatakan: ‫واذا كانت الرؤية السلمية قد قصرت “الوحدة” التي ل تركب فيه ا ول تعدد لها …على الذات االلهية وحدها دون كل‬ ‫المخلوقات والمحدثات والموجودات فى كل ميادين الخلق المادية والحيوانية والنسانية والفكرية. Ke-14. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 345. S. katanya. تلك التى قامت جميعها على‬ ‫التعدد والتزوج والنركب والرتفاق. t. demi pluralisme itulah Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini ( Mishriyyah.cit. 168 [18] al-Husein bin Muhammad al-Raghib al-Asfahani. 1997. Wakaf.[5]A. seperti burung. ke-1. Jilid ke-9. dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia (selanjutnya ditulis Kementerian Urusan Agama Islam KSA). 1996. 249 [8] Ahmad Warson Munawwir. Jilid 7. 118. Kairo: The International Institute of Islamic Thought. Hornby. Op. Bandung: Mizan. al-Tasâmuh Tijâh al-Aqaliyyât ka Dharûratin li al-Nahdhah.cit. h. Cit. 1986.. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. 847 [17] Kementerian Urusan Agama Islam KSA. ke-23. Kamus al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap. Cet ke-1. Mesir: Dar al-Kutub al- . dan sebagainya (perhatikan firman Allah dalam surat al-An’am (6): 38). 1993. yaitu: 2 :‫)خلق النسان من علق )العلق‬ [13] al-Quran menyebut kelompok-kelompok spesies tersebut dengan “umat”.

istilah yang dipakai dalam menyebut Piagam Madinah adalah Shahîfah Madînah. Kementerian urusan Agama Islam KSA. 349-350 DAFTAR PUSTAKA Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi. 677-678 [31] Kementerian Urusan Agama Islam KSA. al-Tasâmuh Tijâh al-Aqaliyyât Kadharûrotin li al-Nahdhah. 314 [28] Ibid. h. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada tersebut ditujukan agar manusia dapat saling memanfaatkan. Kairo: Dar al-Taqwa li alTurast.cit. h. ke-14. sampai mencapai sisi kesucian rohani seperti kesucian ahl al-bait.‫اهم يقسمون رحمة ربك نحن قسمنا بينهم معيشتهم فى الحيوة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض درجات ليتخذ بعضهم بعضا سخريا‬ 32 :‫)ورحمة ربك خير مما يجمعون )الزخرف‬ “ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat.2.cit. Ke-1. 322 [33]Ibid. Dengan demikian mereka akan saling membutuhkan dan mengadakan interaksi satu sama lain. Jilid 2. [23] al-Quran mengabadikan sikap terpuji ini dalam surat al-Hasyr (58): 9 [24] Saking dekatnya dengan Nabi SAW. istilah yang sering muncul adalah mîtsâq (charter). Shahîh al-Bukhâri. h. dustûr (constitution). 411 [26]Muhammad bin Ismail bin Ibrahim. Op. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. 284 [25] Ahmad ibn Hanbal. Cet. Op.cit. Op. 1993. 1990. 798. Jilid-9 Abdul Malik Salman. h. h. 992 [21] Muhammad Quraish Shihab. 1993. Salman mendapatkan kehormatan tersebut antara lain dikarenakan kedudukan rohaniahnya yang sudah begitu tinggi. Cet. h. Salman bahkan sebut Nabi SAW sebagai “minnâ ahl al-bait” (termasuk ahl al-bait). Jilid 5. Op. h. Beirut: al-Maktab al-Islâmi. h. Musnad Ahmad ibn Hanbal. Jilid-4. t. 448 [34] Ibid. h. Mesir: Dar al-Kutub al-mishriyyah.cit. 1. [20] Ayat dimaksud adalah ayat ke. 2001. Cet.435 [32]Ibid. h. Op. 159 [35]Ismail bin Katsir. h. Jilid. agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain.cit. Kementerian Urusan Agama Islam KSA. 87 [30] Yusuf al-Qaradhawi. Op. 132 [29] Dalam tulisan-tulisan para sejarawan muslim generasi awal.cit. Ke-1. Beirut: Dar al-Jil. Bandung: Mizan. dan deklarasi. Jalaludin Rakhmat. th. 539 [27] Ibid. Kairo: . Lih: Akram Diya al-Umari. h.6 yang berbunyi: 6 :‫)ول تمنن تستكثر )المدثر‬ “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”.cit. Op. h. Tafsîr al-Quran al-‘Adzîm. Namun kemudian dalam literatur-literatur belakangan. h. h. 328 [22] Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Jilid. h. Al-Jâmi’ li Ahkâm alQuran. 2002 Renungan-Renungan Sufistik.

al-Ta’ashub wa al-Tasâmuh baina al-Masîhiyyah wa al-Islâm. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Cet. 1996. th. Kairo: Majlis al-A’la li alSyu’un al-Islamiyyah Akram Diya al-Umari. Hornby. Beirut: Dar al-Fikr. Ke-14. 1994. Kairo: Maktabah Wahbah. 1969. 2002 Renungan-Renungan Sufistik. Cet. Ke-1 Husnain Taufik Ibrahim. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kairo: Universitas Kairo A. Ke-1 Muhammad al-Ghazali. Wawasan al-Quran. Kitâb al-Muktamar al-Dauliy al-Khâmis li al-Falsafah alIslâmiyyah. dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia. Ke-3 Yusuf al-Qaradhawi. Beirut: Dar Shadir. Beirut: Muassasah al-Rayyan. Cet. 2001. t. al-Quran dan Terjemahnya. Kamus al-Munawwir Arab. 1977. Beirut: Dar al-Jil. Manshurah: Dar al-Wafa’. Madinan Society at the Time of the Prophet. Lisân al-‘Arab. Cet. Ke-23 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta: Lentera Hati. Tafsir al-Mishbah. Beirut: Dar Amwaj. International Islamic Publishing House. 1997. t. Ke1 ——-. Mesir: Dar al-nahdhah Muhammad Quraish Shihab. Kairo: al-Jami’ah al-Qahirah Ismail bin Katsir. Cet. 2000. 1987. Bandung: Mizan. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. Riyad. Dakwah. al-Ta’addudiyyah: al-Ru’yat al-Islâmiyyah wa al-Tahaddiyyat alGharbiyyah. Cet. al-Afghani. Kairo: Dar al-Tauzi’ wa al-Nasyr al-Islamiyyah. Surabaya: Pustaka Progresif. 1986. . Mu’jam Mufradât li Alfâdz al-Quran. Madinah al-Munawwarah:. Jilid-2. Edisi-2. al-Ta’addudiyyah al-Siyâsiyyah fî Dzilli al-Daulah al-Islâmiyyah. t. al-Islâm wa Ahl al-Dzimmah. 1998. 1997. Cet. 1995. al-‘Adl wa al-Tasâmuh al-Islâmiy. 1990. Ke-2 Al-Husein bin Muhammad a-Raghib al-Asfahani. Cet. al-Tasâmuh fi al-Islâm wa Atsaruhu fi Dar’I al-Ta’ashub wa alIrhâb. Cet. London: Oxford University Press. cet. Beirut: Dar al-Thali’ah.). Kairo: Dar al-Ma’arif al-Islamiy Jalaludin Rakhmat.Indonesia Terlengkap. Cet. al-Aqaliyyât al-Dîniyyah wa al-Hill al-Islâmiy. Cet. Ghairu al-Muslimîn fî al-Mujtama’ al-Islâmiy. Kairo: Muassasah al-Ahram Ahmad Warson Munawwir. 1993. 1997. Jilid-4 Jamal al-Banna. Ke-1 Ali Abu al-Makarim (Ed. Beirut: Muassasah al-Risalah. th. Ke-2 Muhammad al-Ahin bin Muhammad al-Mukhtar al-Syarqithi. 1995. Adhwâ’ al-Bayân fî Idhâh al-Quran bi al-Quran. Ke-1 In’am Mahmud Hamad. Ke-1 Kementerian Urusan Agama Islam. Jilid-8 Muhammad Imarah. S. t. th.IIIT Adib Ishaq. Ke-1 Ahmad al-Makhzanji. Jakarta: Balai Pustaka. al-Ta’addudiyyah fî Mujtama’ Islâmiy. th. Cet. edisi ke-2. Fatâwâ Mu’âshirah. Cet. dkk. Ke-1 ——-. Mujamma’ al-Malik Fahd Muhammad Abdul Qadir Abu Faris. Cet. Cet. 1993. Ke-14 Jamaluddin Muhammad bin Mukram Ibn al-Mandzur. 1991. Wakaf. Adhwâ’ ‘alâ al-Ta’ashub. 1994. Bandung: Mizan. Ke-1 ——-. 1997. Ke-3. al-Nidzâm al-Siyâsi wa al-Ikhwân al-Muslimûn fî Mishr: min al-Tasâmuh ilâ al-Muwâjahah. Ali Hasan al-Kharbuthali. Tafsîr al-Quran al-‘Adzîm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful