P. 1
an Strategi Dan Metode Pengajaran Sejarah

an Strategi Dan Metode Pengajaran Sejarah

|Views: 465|Likes:
Published by Yenni Prisca

More info:

Published by: Yenni Prisca on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

PEMBAHASAN Pertama-tama akan dijelaskan dua pengertian pokok yang terkandung dalam judul dari makalah ini

, yaitu pengertian dan peranan dari strategi dan metode. Kata strategi mengacu pada konsep perencanaan atau pengelolaan suatu kompleks kegiatan menjadi pola umum bertindak untuk mencapai tujuan tertentu. Rumusan makana strategi tersebut bisa dihubungkan dengan pemakaian kata tersebut dengan hubungan mengajar. Seorang ahli pendidikan, Raka Joni, mengartikannya “pola umum perbuatan guru murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Istilah lain yang sering digunakan adalah model-model mengajar. Secara lebih tegas, kata strategi bisa dirumuskan sebagai beberapa alternatif model cara-cara menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang merupakan pola-pola umum kegiatan yang harus diikuti guru dan murid. Polapola umum kegiatan ini ditempuh untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan sebelumnya. Metode diartikan sebagai teknik atau cara yang merupakan perangkat sarana untuk menunjang pelaksanaan strategi mengajar. Jadi strategi dan metode dalam kegiatan pembelajaran, memiliki hubungan yang saling berkait. Apabila strategi mengacu pada pola-pola umum atau model kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru murid, maka metode menunjukkan pada cara-cara khusus bagaimana model mengajar itu bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan yang diharapkan, karena suatu strategi dalam pelaksanaannya perlu ditunjang oleh berbagai metode, dan berbagai metode perlu digunakan untuk menyokong pelaksanaan strategi mengajar. Untuk memperjelas pernyataan diatas, bisa diambil contoh penggunaan strategi mengajar sejarah yang disebut strategi atau model ‘tematis’. Apabila seorang guru mengambil model ini, ia akan menekankan pembahasan topik-topik tertentu dalam kelasnya. Disini pola umum kegiatan belajar mengajarnya tidak diorganisasikan atas dasar urutan perkembangan peristiwa sejarahnya, tapi pada tema-tema menarik dalam sejarah. Dalam pelaksanaan pembahasan topik-topik itu guru akan menentukan satu atau lebih metode. Ia misalnya bisa mulai dengan metode ceramah singkat, kemudia di ikuti dengan metode diskusi, dan akhirnya ditutup dengan metode pelaksanaan tugas-tugas. Hal kedua yang perlu mendapat perhatian adalah pengertian yang terkandung dalam kata pengembangan dalam judul makalah ini. Ini berkaitan 2

dan guna rekreatif dan instruktif. Masingmasing guru harus berusaha mengembangkan sendiri cara-cara melaksanakan proses belajar mengajarnya atas dasar tujuan yang hendak dicapai. guna inspiratif. maka kita dapat menemukan makna edukatif dalam sejarah. 1988: 49-50). yaitu pada strategi yang baik. seorang guru tidak hanya meniru atau mengaplikasikan strategi yang sudah ada. Kegunaan dari pengajaran sejarah Walaupun sebagian dari kalangan awam mempertanyakan tentang adanya kegunaan sejarah. dan kondisikondisi yang dimiliki. Sejarah yang memberikan perhatian pada masa lampau tidak dapat dipisahkan dari kemasakinian. 3 . Hal ini tersirat dari kata-kata Croce bahwa “all history is contemporary history”.1. Sementara itu guna instruktif merupakan kegunaan sejarah untuk menunjang bidang-bidang ketrampilan tertentu. yaitu: guna edukatif. khususnya yang berkaitan dengan semangat untuk mewujudkan identitas sebagai suatu bangsa dan pembangunan bangsa. dapat disimpulkan bahwa apabila kita dapat memproyeksikan masa lampau ke masa kini. Dari pernyataan-pernyataan di atas. Sejarah memiliki guna inspiratif karena sejarah dapat memberikan inspirasi kepada kita tentang gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masa kini. yang kemudian dikembangkan oleh Carr bahwa sejarah adalah “unending dialogue between the present and the past” (Widja. yang secara singkat dirumuskan oleh Bacon: “histories make man wise”. para ahli telah menyatakan bahwa sejarah itu memiliki kegunaan.dengan prinsip yang ingin ditekankan. Sejarah memiliki guna rekreatif karena dengan membaca tulisan sejarah kita seakan-akan melakukan “perlawatan sejarah” karena menerobos batas waktu dan tempat menuju zaman masa lampau untuk “mengikuti” peristiwa yang terjadi. Secara garis besar setidaknya terdapat tiga kegunaan sejarah. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam mengajar perlu menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. 2. karena semangat dan tujuan untuk mempelajari sejarah ialah nilai kemasakiniannya. Sejarah memiliki guna edukatif karena sejarah dapat memberikan kearifan bagi yang mempelajarinya.

profesionalisme guru sejarah dan lain sebagainya. dan 4) learning to live together (pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis). Oleh karena itu. Namun demikian. 4 . sepanjang seluruh eksponen dan komponen bangsa masih menginginkan eksistensi sebuah bangsa dan negaranya. tidak mengherankan apabila sejarah perlu diberikan kepada seluruh siswa di sekolah (dari SD sampai SMA) dalam bentuk mata pelajaran. upaya-upaya peningkatan kualitas pembelajaran sejarah sampai kapan pun masih menemukan signifikansinya.Dalam hubungannya dengan guna edukatif dan inspiratif dari sejarah. Kedudukannya yang penting dan strategis dalam pembangunan watak bangsa merupakan fungsi yang tidak bisa digantikan oleh mata pelajaran lainnya. Permasalahan dalam pembelajaran sejarah Beberapa pakar pendidikan sejarah maupun sejarawan memberikan pendapat tentang fenomena pembelajaran sejarah yang terjadi di Indonesia diantaranya masalah model pembelajaran sejarah. kurikulum sejarah. guru harus selalu meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah. dengan memperhatikan empat pilar pembelajaran sebagaimana telah dideklarasikan oleh Unesco (1988). dapat dikemukakan bahwa sejarah memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendidikan pada umumnya dan pendidikan karakter bangsa pada khususnya. Dari pewarisan nilai-nilai itulah akan menumbuhkan kesadaran sejarah. tujuan pembelajaran sejarah itu tidak sepenuhnya dapat tercapai yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain berkaitan dengan proses pembelajarannya. masalah materi dan buku ajar atau buku teks.2. 3)learning to be (pembelajaran untuk membangun jati diri. 2. Atas dasar nilai guna yang dimilikinya. yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan watak bangsa (nation character building). Sehubungan dengan hal itu. Dalam hal ini guru menduduki posisi yang penting dan strategis dalam peningkatan kualitas pembelajaran sejarah. yaitu:1)learning to know (pembelajaran untuk tahu) 2)learning to do (pembelajaran untuk berbuat). Melalui sejarah dapat dilakukan pewarisan nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi masa kini.

proses yang menggambarkan posisi peserta didik dalam belajar dan asessmen hasil belajar. pembelajaran sejarah cenderung hanya memanfaatkan fakta sejarah sebagai materi utama. Selain komponen tersebut. Sistem pembelajaran sejarah yang dikembangkan sebenarnya tidak lepas dari pengaruh budaya yang telah mengakar. seperti. bahwa strategi pedagogis sejarah Indonesia sangat lemah. Model pembelajaran yang bersifat satu arah dimana guru menjadi sumber pengetahuan utama dalam kegiatan pembelajaran menjadi sangat sulit untuk diubah.Yang pertama adalah masalah model pembelajaran sejarah. tidak menarik. Pendidikan sejarah di sekolah masih berkutat pada pendekatan chronicle dan cenderung menuntut anak agar menghafal suatu peristiwa (Abdullah dalam Alfian. Pembelajaran sejarah saat ini mengakibatkan peran siswa sebagai pelaku sejarah pada zamannya menjadi terabaikan. dan tidak memberi kesempatan kepada anak didik untuk belajar menggali makna dari sebuah peristiwa sejarah. 2007:2). Secara umum dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah rencana tertulis dan dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan guna mengembangkan potensi peserta didik menjadi berkualitas. kurikulum sebagai suatu rencana tertulis dapat pula berisikan sumber belajar dan peralatan belajar dan evaluasi kurikulum atau program. Mulai dari jenjang SD hingga SMA. konten dan organisasi konten. Dalam sebuah kurikulum termuat berbagai komponen. Tidak aneh bila pendidikan sejarah terasa kering. Dengan kata lain. pembelajaran sejarah jauh dari harapan untuk memungkinkan anak melihat relevansinya dengan kehidupan masa kini dan masa depan. 5 . Pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya atau lingkungan sosialnya tidak dijadikan bahan pelajaran di kelas. Taufik Abdullah memberi penilaian. sehingga menempatkan siswa sebagai peserta pembelajaran sejarah yang pasif. karena kurikulum adalah salah satu komponen yang menjadi acuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. kekurangcermatan pemilihan strategi mengajar akan berakibat fatal bagi pencapaian tujuan pengajaran itu sendiri Kedua adalah masalah kurikulum sejarah. Menurut Hamid Hasan dalam Alfian (2007) bahwa kenyataan yang ada sekarang. Siswa tidak dibiasakan untuk mengartikan suatu peristiwa guna memahami dinamika suatu perubahan. tujuan.

Hampir seluruh penulis buku hanya membaca dokumen kurikulum secara harfiah dan 6 . Setelah itu kemudian muncul berbagai buku ajar lainya yang ditulis oleh berbagai pihak. Hampir seluruh buku ajar. masalah yang tak kalah pentingnya adalah masalah materi dan buku ajar/buku teks sejarah. Selain masalah kurikulum yang selalu mengalami perubahan.Sejak Indonesia merdeka. 1994 dan 2004. Demikian seterusnya terjadi beberapa perubahan kurikulum menjadi kurikulum 1984. Sejarah dijadikan alat untuk membangun paradigma berfikir masyarakat mengenai perjalanan sejarah bangsa dengan mengagung-agungkan rezim yang mempunyai kekuasaan. kurikulum sejarah juga mengalami penyempurnaan. Saat buku ajar yang dipakai sebagai bahan ajar sejarah adalah karangan Sanusi Pane yang berjudul Sejarah Indonesia (4 Jilid) yang ditulis atas permintaan pihak Jepang pada tahun 19431944. Akan tetapi materi-materi yang diberikan dalam kurikulum yang sering mendapat kritik dari masyarakat maupun para pemerhati sejarah baik dari pemilihannya. telah terjadi beberapa kali perubahan kurikulum dan mata pelajaran sejarah berada didalamnya. Kurikulum 1986 yang berlaku pada awal masa Orde Baru kemudian mengalami pergantian menjadi kurikulum 1975. Sistem pembelajaran yang diterapkan tidak mengarahkan siswa untuk berfikir kritis mengenai suatu peristiwa sejarah. yang kemudian dicetak ulang pada tahun 1946 dan 1950. tujuan pendidikan nasional diarahkan untuk mendukung maksud tersebut. sehingga siswa seakan-akan dibohongi oleh pelajaran tentang masa lalu. artinya kurikulum yang digunakan tidak lepas dari adanya kepentingan-kepentinagn dari rezim yang berkuasa. Tentu saja kurikulum sekolahan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Ketika Orde Baru bermaksud menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Masalah buku ajar ini sudah ada sejak sistem pendidikan nasional mulai diterapkan di Indonesia tahun 1946. baik yang diterbitkan oleh swasta maupun pemerintah sebenarnya kurang layak untuk dijadikan referensi. terutama oleh guru. Kurikulum yang dipakai arahannya kurang jelas dan sangat berbau politis. Pada tahun 1957 Anwar Sanusi menulis buku sejarah Indonesia untuk sekolah menengah (3 Jilid). teori pengembangannya dan implementasinya yang seringkali digunakan untuk mendukung kekuasaan.

guru mengajarkan sejarah dengan ceramah mengulangi apa isi yang ada dalam buku.tidak mampu memahami jiwa kurikulum dengan baik. Di pundaknya siswa menggantungkan harapan terhadap pelajaran yang diajarkannya. Selain itu. guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkanya serta senantiasa mengembangkanya dalam arti meningkatkan kemampuannya 7 . dan tertinggal sangat jauh dalam referensi mutahkir penulisan (Purwanto. historiografi. Hal yang terakhir itu juga berkaitan dengan adanya kenyataan bahwa institusi resmi yang menjadi tempat pendidikan tambahan bagi guru sejarah itu hanya berkutat pada substansi historis dan metode pengajaran sejarah yang tertinggal jauh. Suka atau tidak sukanya siswa terhadap suatu pelajaran bergantung pada bagaimana guru mengajar. Selain itu. perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. guru sejarah menjadi sasaran untuk menaikkan nilai siswa agar siswa yang bersangkutan dapat naik kelas. dan mata pelajaran sejarah sekedar sebagai pelengkap. Guru yang kompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. sehingga tidak jarang tugas mengajar sejarah diberikan kepada guru yang bukan profesinya. 2. Guru sebagai demonstrator Melalui perannya sebagai demonstrator atau pengajar. 2006:268).1.3. Peranan guru sejarah dalam usaha perbaikan pengajaran sejarah Guru adalah komponen penting dalam pendidikan. Sementara itu terlalu banyak sekolah yang memposisikan guru sejarah sebagi orang buangan. Akibatnya. Bahkan banyak kasus ditemukan. sampai saat ini masih berkembang kesan dari para guru. Sebagian besar penulis buku juga tidak paham sejarah sebagi ilmu. pemegang kebijakan di sekolah bahwa pelajaran sejarah dalam mengajarkannya tidak begitu penting memperhatikan masalah keprofesian. Berikut peranan guru yang dianggap paling dominan : 2. sebagian besar guru juga tidak mengikuti perkembangan hasil penelitian dan penerbitan mutakhir sejarah Indonesia. Masalah profesionalisme guru sejarah juga masih dipertanyakan.3.

Juga hendaknya seorang guru mampu dan terampil dalam merumuskan dan memahami kurikulum. dan merangsang siswa untuk belajar. Maksudnya agar apa yang disampaikanya itu betul-betul dimiliki oleh siswa. Sebagai manajer. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori-teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantunganya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatanya sendiri. memahami. guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan.dalam ilmu yang dimiliki karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa. Sebagai manajer lingkungan.3. serta menguasai ilmu pengetahuan.2. 2. memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memeragakan apa yang diajarkanya secara didaktis. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. seorang guru juga memiliki kewajiban untuk membantu perkembangan siswa untuk dapat menerima. dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dalam memberikan informasi kepada kelas. guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social dalam kelasnya. 8 . Ini berarti bahwa guru harus terus menerus belajar. Sebagai pengajar. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang. Guru sebagai pengelola kelas Dalam perannya sebagai pengelola kelas.

guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok siswa yang pandai. Informasi yang diperoleh merupakan feedback terhadap proses belajar mengajar. metode.3. buku teks. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan menggunakan penilaian. kurang atau cukup baik dikelasnya jika dibandingkan dengan teman-temanya. dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. baik yang berupa nara sumber. Sebagai fasiltator. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Guru sebagai mediator dan fasilitator Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.2.3. Guru tidak hanya cukup memiliki pengetahuan tentang media pendidikan. dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa.3. Guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai siswa dari waktu ke waktu. sedang. Guru harus dapat memilih media yang sesuai dengan tujuan. Guru sebagai evaluator Guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. materi. guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar. Guru juga dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. tetapi juga harus memiliki ketrampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media itu dengan baik. kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum. evaluasi.4. 9 . Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran disekolah. majalah ataupun surat kabar. 2. Jadi jelaslah bahwa guru hendaknya mampu dan terampil dalam melaksanakan penilaian karena dengan evaluasi guru dapat mengetahui prestasi siswa setelah melaksanakan proses belajar mengajar.

2) hubungan dengan India dan pengaruhnya.Jadi dalam kasus pengembangan pembelajaran sejarah. Contohnya dalam pembelajaran sejarah di SMA yang memakai urutan kronologis dalam sub pokok bahasannya: 1) jaman prasejarah Indonesia. tapi yang dipentingkan adalah studi yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek kehidupan manusia yang memang benar-benar menarik perhatian murid.1. 2. Maka berikut ini adalah beberapa strategi yang bisa digunakan dalam pengajaran sejarah. Sehingga guru sejarah seharusnya memiliki profesionalisme. strategi pengajaran merupakan alternatif model cara-cara menyelenggarakan proses belajar mengajar yang menggunakan pola-pola umum kegiatan yang harus diikuti siswa.4. Tentu saja unsur kronologi tetap tidak bisa diabaikan. Maka dari itu untuk strategi ini perlu dipilih temetema tertentu yang diperkirakan bisa menarik minat siswa. 4) Hubungan dengan Eropa dan Kolonialisme. 5) perang kemerdekaan dst. serta kemampuan untuk menciptakan strategi serta metode baru agar dapat mengembangkan dan melakukan perbaikan terhadap pembelajaran sejarah. 2.4. Pada dasarnya model ini mengajarkan sejarah itu sebagai suatu perkembangan atas dasar urutan tahun terjadinya peristiwa sejarah itu. 3) masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. pengetahuan dan referensi yang luas. Model “Tematis” Disini tekanan strategi pengajaran adalah pada penanaman atau pengembangan pengertian yang mendalam untuk periode-periode tertentu dalam pembelajaran sejarah. 2. Model “Garis Besar Kronologis” Model ini adalah yang paling sering dipakai dalam pengajaran sejarah. Kemudian tema10 .4 Strategi yang bisa digunakan dalam pengajaran sejarah Seperti yang telah dijelaskan diatas. guru sejarah pun memiliki kontribusi yang sangat besar karena guru adalah ujung tombak dalam sistem pendidikan.2. Keunggulan dari strategi pembelajaran ini adalah bahwa model ini sejalan dengan esensi pokok inti dari sejarah yaitu evolusi atau proses berkelanjutan yang mana dapat berguna bagi siswa dapat merasakan suatu dinamika dalam pembelajaran sejarah.

kemudian manusia membangun bangunan sederhana dengan atap miring dan hanya satu tembok batu. Kalau salah satu tema sudah dipilih maka kemudian ditelusuri garis pertumbuhannya. Maka dari itu. pengobatan dan lain-lain. demikiran seterusnya hingga terbentuk gedung pencakar langit seperti sekarang. dengan cara ini pembelajaran sejarah diharapkan bisa lebih menarik. kemudian mulai berkembang rumah dua dinding. Tetapi berbeda dengan model garis besar kronologis yang menekankan perkembangan keseluruhan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Namun. diskusi dan lain-lain. Pelaksanaan pembahasan tema-tema yang penting itu. 2. dari sejumlah peristiwa sejarah. Sebagai contoh misalnya bisa dipilih salah satu dari tema berikut ini:sekolah. Dengan menggunakan model dan kegiatan seperti ini pasti membuat tugas guru menjadi lebih berat karena untuk tercapainya kegiatan tersebut guru harus menyiapkan fasilitas belajar yang lebih banyak.4. disamping dengan kegiatan biasa didalam kelas melalui metode cermah.tema ini ditinjau dari berbagai sudut dengan bantuan berbagai buku sumber dan berbagai alat bantu mengajar. alat transportasi. tapi seharusnya diartikan sebagai pertumbuhan dari suatu aspek kehidupan manusia. rumah. Model “Garis Perkembangan Khusus” Pada dasarnya strategi ini hampir mirip dengan model garis besar kronologis seperti diuraikan diatas. 11 .3. Dalam tema mengenai rumah misalnya. maka model garis perkembangan khusus ini terutama hanya menelusuri aspek khusus yang menarik saja dari kehidupan manusia tersebut. terutama karena menyangkut tema-tema yang lebih sesuai dengan minat siswa. hanya dipilih tema-tema yang dianggap relevan dan menelusuri pertumbuhannya atas dasar perkembangan kronologisnya. karena model ini juga menekankan urutan perkembangan kronologis dari suatu peristiwa sejarah. juga bisa diwujudkan dengan menggunakan kegiatan khusus seperti kegiatan proyek. Ide dasar dari model ini adalah bahwa suatu perkembangan itu hendaknya tidak diartikan sekedar sebagai peralihan dari satu periode ke periode berikutnya sematamata. kita bisa melihat pertumbuhannya dari bentuk rumah permulaan yang merupakan gua batu. dimana siswa mengorganisir diri untuk menyusun sejarah yang menyangkut tema tertentu. rumah dengan tiang-tiang sederhana yang kemudian lantainya diangkat menjadi panggung.

Salah satu metode pembelajaran sejarah yang cocok untuk menjadikan siswa aktif dan guru sebagai fasilitatornya adalah kontruktivisme. sebenarnya merupakan gabungan antara penekanan pada unsur kronologis dan penekanan pada unsur tematis. Sebagai contoh misalnya. 2007:104). Kontruktivisme adalah bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Untuk itu guru bisa mengajak murid pertama-tama mempelajari bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama berjuang bersama melawan penjajah. topik dan kemampuan siswa. untuk kemudian menelusuri balik ke belakang/ masa lampau yang merupakan latar belakang dari perkembangan kontemporer tersebut. Hal ini sama bisa pula dilaksanakan oleh guru bersama-sama siswanya untuk mempelajari sejarah yang menyangkut aspek-aspek kehidupan masyarakat lainnya. apabila kita membicarakan masalah toleransi dalam kehidupan beragama sekarang ini kita bisa menelusuri akar-akar dari gejala ini pada perkembangan sejarah sebelumnya. inquiry. perkembangan jaman pengaruh India bahkan sampai ke jaman prasejarah untuk mencari contoh-contoh dari berlakunya gejala toleransi di kalangan bangsa kita.4. Sebaliknya model regresif ini memakai titik tolak situasi jaman sekarang. yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (Anggara. kemudian guru bisa membawa siswanya ke jaman-jaman yang lebih lama seperti perkembangan agama islam.Jadi model garis pertumbuhan khusus dalam pengajaran sejarah. Pembelajaran sejarah kontruktivisme berkaitan dengan pembelajaran yang berhubungan dengan masalah-masalah yang 12 . 2.4. Model “regresif” Model regresif ini adalah kebalikan dari model pertama (model garis besar kronologis) yang memulai pengajaran sejarah dari perkembnagan awal terus sampai perkembangan sekarang (kontemporer). dan cooperatif learning. para tokoh berbagai aliran keagamaan juga bahu membahu membangkitkan jiwa nasionalisme.5 Metode yang bisa digunakan dalam pengajaran sejarah Metode mengajar adalah bagian dari strategi pengajaran yang merupakan langkah-langkah taktis yang perlu diambil guru dalam menunjang strategi yang hendak dikembangkan di mana harus dikaitkan dengan tujuan. 2.

sejarah memang hanya digunakan sebagai latar. agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. guru tidak hanya menggunakan metode ceramah saja. Penggunaan kedua metode tersebut saling melengkapi dalam kegiatan pembelajaran. menguji hipotesis. Sedangkan pembelajaran dengan metode ceramah adalah suatu teknik pengajaran yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik presentasi bicara oleh guru pada suatu pelajaran. Penggunaan model pembelajaran cooperatif learning menempatkan guru sebagai fasilitator. mampu bekerjasama dengan orang lain. Dalam karya fiksi. merumuskan hipotesis. aktivitas KBM ditekankan pada guru. dan solusi yang tentunya bisa menyentuh emosi si pembaca sehingga membetuk ingatan emosional. Ingatan emosional yang diperoleh siswa melalui pembacaan karya fiksi akan bisa menggugah mereka mempelajari lebih lanjut sejarah yang dijadikan latar dalam karya fiksi. Namun. Ada pula unsur-unsur drama.Dan metode yang bisa digunakan antara lain adalah: Metode inquiry adalah sebuah model proses pengajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses-proses kegiatan pembelajaran. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Romo Mangunwijaya adalah contoh yang bisa disebut. konflik. director-motivator dan evaluator bagi siswa dalam upaya membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berfikir kritis. dimana siswa dihadapkan pada situasi dan mereka mulai bertanya-tanya tentang hal tersebut dengan langkah-langkah kegiatan pembelajarannya adalah memperkenalkan masalah. namun juga bisa menggunakan metode inquiry. 13 .dihadapi oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. dan mampu berinteraksi sosial dengan masyarakat. menganalisis data dan membuat kesimpulan. Metode dengan manfaatkan penggunaan media sastra. Peran siswa dalam metode ceramah yang penting adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok-pokok yang disampaikan oleh guru. ada unsur-unsur estetis di dalamnya yang bisa membuat pembaca menghadirkan dunia imajinasi di kepalanya sendiri. begitu pula dalam penggunaan metode inquiry di dalamnya masih perlu penggunaan ceramah walaupun penggunaannya tidak mendominasi misalkan saja dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa. Banyak karya fiksi berlatar sejarah di negeri ini yang dapat digunakan sebagai sarana membangkitkan minat siswa pada studi sejarah. pengumpulan data.

tujuan pembelajaran sejarah. kita justru tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. semua karyakaryanya sempat dilarang keras beredar. Seorang guru harus bisa menciptakan suatu strategi dan metode dalam hal mengajar sejarah agar siswa yang diajarnya merasa tertarik dan senang untuk mempelajari sejarah. pendidikan dan pembinaan guru perlu ditingkatkan untuk menghasilkan guru yang bermutu dan dalam jumlah yang memadai. kompetensi-kompetensi apa yang dapat dikembangkan 14 . begitu pula dengan Gadis Pantai yang menjadi bacaan wajib siswa setingkat SMP di Australia. Sehingga sebagai seorang calon guru kita harus bisa mengubah imej sejarah yang dianggap hanya studi perenungan dan kurang berguna tersebut. guru sejarah harus memilki pemahaman tentang hakikat pembelajaran sejarah. mereka yang habis membaca Burung-burung Manyar karya Romo Mangun atau Di Tepi Kali Bekasi karya Pramoedya Ananta Toer akan tergerak mempelajari lagi sejarah revolusi fisik. Dalam kaitannya dengan penggunaan karya sastra pengarang Indonesia sebagai sarana pembelajaran. Maka dari itu secara profesional. bany. Dan yang kedua adalah karena banyak orang yang belum mengerti mengenai pentingnya dan tujuan dari pembelajaran sejarah. sebagai ilmu sejarah harus senantiasa mendasarkan dirinya pada fakta-fakta. Di Malaysia sudah sejak lama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer menjadi bacaan wajib siswa setingkat SMP. yang sangat menekankan pada unsur produktivitas keuntungan baik secara ekonomis maupun tujuan matrealistis nyata lainnya. Jadi. Yang pertama adalah bahwa di dalam abad teknologi modern sekarang ini.Misalkan. sementara ia tak boleh menutup diri dari metode pembelajaran yang lebih mudah diterima dan lebih digemari siswa sehingga mereka tak mengalami “amnesia sejarah” PENUTUP Dua hal pokok yang sering dijadikan dasar bagi keragu-raguan akan arti penting dari pelajaran sejarah di sekolah. serta perlu ditingkatkan pengembangan karir dan kesejahteraannya termasuk pemberian penghargaan bagi guru yang berprestasi. Selain itu. Sementara itu. di negeri si pengarang. banyak orang yang mempertanyakan keuntungan dari belajar sejarah yang dianggap hanya studi perenungan.

sebelum nantinya guru dapat menentukan metode atau pendekatan yang digunakan.. Louis. 1988.Jakarta : Debdikbud Widja. I Gede. 1979. Gottschalk. Semarang: Satya Wacana. 15 . Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah dalam Perspektif Pendidikan. Sejarah Demi Masa Kini. nilai-nilai apa yang dibutuhkan dan dapat dikembangkan dalam pembelajaran sejarah. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Widja. 1989. Notosusanto. Understanding Histori (Mengerti Sejarah). Dasar . 1975. Jakarta: UI press.Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Nugroho.dalam pembelajaran sejarah. G.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->