PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain. Menurut Setiawan (1973), timbulnya perhatian pada orang-orang usia lanjut dikarenakan adanya sifat-sifat atau faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kehidupan pada usia lanjut. Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang dialami oleh individu yang berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Menurut Laksamana (1983:77), perubahan yang terjadi pada lansia dapat disebut sebagai perubahan `senesens` dan perubahan ’senilitas’. Perubahan `senesens’ adalah perubahanperubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut. Perubalian ’senilitas’ adalah perubahan¬-perubahan patologik permanent dan disertai dengan makin memburuknya kondisi badan pada usia lanjut. Sementara itu, perubahan yang dihadapi lansia pada amumnya adalah pada bidang klinik, kesehatan jiwa dan problema bidang sosio ekonomi. Oleh karma itu lansia adalah kelompok dengan resiko tinggi terhadap problema fisik dan mental. Proses menua pada manusia merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Seinakin baik pelayanan kesehatan sebuah bangsa makin tinggi pula harapan hidup masyarakatnya dan padan gilirannya makin tinggi pula jumlah penduduknya yang berusia lanjut. Demikian pula di Indonesia. Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lansia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif. Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Lansia sebagai tahap

1

akhir dari siklus kehidupan manusia. Faktorfaktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: • Penurunan kondisi fisik • Penurunan fungsi dan potensi seksual • Perubahan aspek psikososial • Perubahan yang berkaitan dengan pekcrjaan • Perubahan dalam peran sosial di masyarakat 2 . sering diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak faktor yang menyebabkan seorang mengalami gangguan mental seperti menarik diri. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia.

hilang kepercayaan diri. pikiran dan prestasi atau kegagalan.serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima. yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri. rasa bersalah terhadap diri sendiri. 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam(Towsend. Penyebab Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri. yang ditandai dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri.1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. dan juga dapat mencederai 3 . Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito. interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat. 1998). percaya diri kurang. tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes.2006). Dari segi kehidupan sosial cultural. yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya.dihormati oleh orang lain. merendahkan martabat.ASPEK PSIKOSOSIAL PADA LANJUT USIA A. gangguan hubungan sosial. merasa gagal mencapai keinginan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan.dicintai. Pengertian Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga . 2. Konsep Dasar 1. sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomen kehidupan.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.

tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan. ragu takut salah.Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang lain. dunia seseorang.1998:352) 3. menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap sesuatu 5.L. merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang. Teori ini menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi. Teori organisasi kepribadian. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri. . 4. ekspresi. 2. merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and sundeen. dan masa depan seseorang. menghindar dari orang lain. . tidak percaya orang lain.Komunikasi kurang atau tidak ada. Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. afek tumpul. merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti. 4 . 1995). Model kognitif menyatakan bahwa defresi. Faktor Presifitasi Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung. 4. Teori kehilangan objek. 3. Tanda dan Gejala .diri (Carpenito. 1. dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.Apatis. putus asa terhadap hubungan dengan orang lain.J. Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri. Faktor genetik. 5.

• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. Perasaan induvidu ditandai dengan humor yang kurang. 5. Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima. perasaan dalam hubungan sosial. 4. dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. 5 . dan berhati-hati. Rentang Respon 1. 6. 8. Tergantung (dependen) terjadi bila seseorang gagal mengambangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.Tidak ada kontak mata. • Kemunduran secara fisik.Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda cembru. . artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan. .Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. klien lebih sering menunduk. 6. 3. Curiga terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ideide pikiran. 2. 7. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. iri hati. Karakteristik Perilaku • Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseoramg menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. 7. . Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

Permasalahan Umum a. sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan. mental maupun sosial. Mundurnya keadaan fisik yang menyebabkan penuaan peran 6 . d. b. • Kegiatan menurun. yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. lugas dan efisien. Belum membudaya dam melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan lanjut usia. antara lain sebagai berikut: 1. Pohon Masalah C. Permasalahan Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan Lanjut Usia. Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia dan masih terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia. • Banyak tidur siang. Berlangsungnya proses menjadi tua. yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan lanjut usia. Lahirnya kelompok masyarakat industri. 2. • Keinginan seksual menurun. • Mondar-mandir (sikap mematung. Makin melemahnya nilai kekerabatan. Permasalahan Khusus Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998). • Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama. c. • Immobilisasai.• Tidur berlebihan. B. yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi. • Kurang bergairah. melakukan gerakan berulang). • Tidak memperdulikan lingkungan. berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk kelurga kecil. dihargai dan dan dihormati. e. berbagai permasalahan khusus yang berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut: a.

d. polusi dan urbanisasiyang dapat mengganggu kesehatan fisik lanjut usia. sehingga seseorang anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orang tuanya. Rendahnya produktivitas kerja lanjut usia dibandingkan dengan tenaga kerja muda dan tingkat pendidikan serta ketrampilan yang rendah. c. b. sehingga dapat terjadi kesenjangan antara-generasi tua dan muda. Terkosentrasinya dan penyebaran pembangunan yang belum merata menimbulkan ketimpangan antara penduduk lanjut usia di kota dan di desa. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan seperti dampak lingkungan.sosialnya dan dapat menjadikan mereka lebih tergantung kepada pihak lain. sulit untuk mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa ini secara terus-menerus dari generasi ke generasi selanjutnya. Dengan demikian. Di samping itu terjadi pergeseran nilai budaya tradisional. e. dan terpaksa menganggur. dimana norma yang dianut bahwa orang tua merupakan bagian dari kehidupan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan kepada suatu ikatan kekerabatan yang kuat. sehingga Lanjut Usia kurang dihargai dan dihormati serta mereka tersisih dari kehidupan masyarakat dan bisa menjadi terlantar. Di pihak lain. dimana orang tua dihormati serta dihargai. akibat produktivitas dan kegiatan Lanjut Usia menurun. Berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia. dapat terjadi sebagian generasi muda beranggapan bahwa para lanjut usia tidak perlu lagi aktif dalam urusan hidup sehari-hari. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial psikologis mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. Hal ini akan memperburuk integrasi sosial para lanjut usia dengan masyrakatlingkungannya. 7 . menyebabkan mereka tidak dapat mengisi lowongan kerja yang ada. f. sehingga diperlukan bantuan dari berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai penghasilan cukup. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik. terlantar dan cacat. Banyaknya lanjut usia yang miskin.

• Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD.harapan orang tua yang tidak realistis . proses interaksi dalam keluarga. BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien. kepercayaan mengenai perawatan dan pengobatan. tingkah laku mengusahakan kesehatan (sistem rujukan penyakit). Pengkajian • Identitas Klien Meliputi nama klien . • Keluhan Utama Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada . berdiam diri dikamar . informan. • Orang-orang terdekat Status perkawinan.ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL:MENARIK DIRI A. pengaruh orang terdekat.dituduh KKN. tangggal MRS . faktor-faktor kultural yang dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respons terhadap rasa sakit. nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan dan keperawatan.menolak interaksi dengan orang lain. tangggal pengkajian. Nadi. umur . kecelakaan dicerai suami . • Kultural Latar belakang etnis. perubahan struktur sosial. No Rumah klien dan alamat klien. tekanan dari kelompok sebaya. perpisahan .PHK. jenis kelamin . dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. Pernapasan . • Aspek Psikososial 1. dependen. • Faktor predisposisi Kehilangan. Genogram yang menggambarkan tiga generasi 8 .kegagalan /frustasi berulang. TB. agama. tidak melakukan kegiatan sehari – hari . Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi . perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan .putus sekolah . status perkawinan. kebiasaan pasien di dalam tugas-tugas keluarga dan fungsi-fungsinya. suhu.

membersikan dan merapikan pakaian. mengungkapkan keputus asaan. 3. d) Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. Klien mampu BAB dan BAK. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan 2. mengungkapkan ketakutan. merendahkan martabat . mencederai diri. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosialdengan orang lain terdekat dalam kehidupan. klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain . b) Identitas diri Ketidakpastian memandang diri .2. putus sekolah. Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang . 3. PHK. kurang dapat memulai pembicaraan . kelempok yang diikuti dalam masyarakat. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi 9 . gangguan hubungan sosial . kenyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual) • Status Mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata . 4. proses menua . sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan c) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit . persepsi negatip tentang tubuh. menggunakan dan membersihkan WC. dan kurang percaya diri. rasa bersalah terhadap diri sendiri . Konsep diri a) Citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. e) Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri . Menolak penjelasan perubahan tubuh . • Kebutuhan persiapan pulang. 1.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasional/maturasional. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen. TAK . Psikomotor. dan rehabilitas. 2. pengaruh kultural. 3.4. 1995) Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut : • Isolasi sosial : menarik diri • Gangguan konsep diri: harga diri rendah • Resiko perubahan sensori persepsi • Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain • Gangguan komunikasi verbal. dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah 5.therapy okopasional. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur . B. • Kekerasan resiko tinggi. • Intoleransi aktifitas. Ketidakpatuhan berhubungan dengan sistem penghargaan pasien. kurang komunikasi verbal. ketidakseimbangan tingkah laku adaptif dan kemampuan memecahkan masalah. ii.nilai spiritual. Harga diri rendah berhubungan dengan merasakan/mengantisipasi kegagalan pada peristiwa-peristiwa kehidupan. Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan sistem saraf. kehilangan memori. 4. • Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain ( lebih sering menggunakan koping menarik diri) • Aspek Medik i. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. 10 . keyakinan kesehatan. Diagnosa Keperawatan 1.

Kaji munculnya kemampuan koping positif. Dorong pengungkapan perasaan. Rasionalnya: jika individu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan dimasa lampau. 2. b. Rasionalnya: respon individu dapat bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari. 11 . misalnya penggunaan teknik relaksasi keinginan untuk mengekspresikan perasaan. c. Intervensi Diagnosa 1: a. Rasionalnya: memungkinkan pasien untuk berhubungan dengan grup yang diminati dengan cara yang membantu dan perlengkapan pendukung. b. pelayanan dan konseling. mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi tegangan dan memelihara rasa kontrol individu. Perbaiki kesalahan konsep yang mungkin dimiliki pasien Rasionalnya: membantu mengidentifikasi dan membenarkan persepsi realita dan memungkinkan dimulainya usaha pemecahan masalah. c. Intervensi Diagnosa 2: a. Intervensi diagnosa 3: a. menerima apa yang dikatakannya. Pahami rasa takut/ansietas Rasionalnya: perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya. Dorong pasien untuk berbicara mengenai apa yang terjadi saat ini dan apa yang telah terjadi untuk mengantisipasi perasaan tidak tertolong dan ansietas. 3. Kaji tingkat realita bahaya bagi pasien dan tingkat ansietas. Berikan informasi dan penyerahan ke sumber-sumber komunitas. Intervensi keperawatan 1. Rasionalnya: memberi kesempatan untuk mengidentifikasi kesalahan konsep dan mulai melihat pilihan-pilihan. Persepsi yang menyimpang dari situasi mungkin dapat memperbesar perasaan.C. meningkatkan orientasi realita. Bantu pasien dengan menjelaskan hal-hal yang diharapkan dan hal-hal tersebut mungkin di perlukan untuk dilepaskan atau dirubah. Rasionalnya: membantu pasien/orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi/gaya hidup. b.

12 . Pasien mampu mengidentifikasi adanya kekuatan dan pandangan diri sebagai orang yang mampu mengatasi masalahnya. Pasien mampu melakukan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas ke tingkat yang dapat diatasi. Rasionalnya: memberikan wawasan mengenai pemikiran/faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu. 4. 3. Intervensi diagnosa 4: a. Tentukan kepercayaan kultural. Pasien mampu menunjukkan kewaspadaan dari koping pribadi/kemampuan memecahkan maslah. spiritual dan kesehatan. 4. Evaluasi 1. D. Pasien dapat menunjukkan pengetahuan yang akurat akan penyakit dan pemahaman regimen pengobatan. Rasionalnya: adanya keluarga/orang terdekat yang memperhatikan/peduli dapat membantu pasien dalam proses penyembuhan. Kaji sistem pendukung yang tersedia bagi pasien.Rasionalnya: menyediakan petunjuk untuk membantu pasien dalam mengembangkan kemampuan koping dan memperbaiki ekuilibrium. Kepercayaan akan meningkatkan persepsi pasien tentang situasi dan partisipasi dalam regimen keperawatan. 2. b.

Mengingat kondisi psikososial lansia yang tidak berbeda di antara lokasi pemukiman. maka lansia dapat tinggal di mana saja asalkan tetap mendapatkan perhatian atau dukungan. hendaknya difasilitasi dengan memberi kesejahteraan berupa dukungan moril dan sprituil kepada kelompok lansia berupa perbaikan ekonomi.PENUTUP A.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima.dihormati oleh orang lain. kesehatan. 4. baik dari keluarga. 5. Menggantikan kepuasan-kepuasan yang hilang. Untuk meningkatkan aktifitas fisik dan perilaku kesehatan. 2. dan perumahan serta memberikan gizi yang baik dan obat-obatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa mempercepat proses penuaa. Kesimpulan Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga . B. Saran 1. masyarakat maupun pemerintah. transportasi. Mengembangkan perspektif yang lebih jelas mengenai hidup lansia.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain. 3. Menghindari sikap menarik diri sebagai lansia. 6. Dapat dibentuk wadah tempat lansia bersosialisasi bersama peer groupnya.dicintai.serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya. 13 . Mengembangkan hubungan yang bermakna.

Tony dan Hardywinoto. Gramedia Pustaka Utama. Marilyon. 2005. 14 . Doenges. Jakarta: EGC. Jakarta. Panduan Gerontologi: Tinjauan dari Berbagai Aspek. dkk.Daftar Pustaka Setiabudhi. 1919. Rencana Asuhan Keperawatan. E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful