P. 1
Askep Lansia Dengan Masalah Psikososial Menarik Diri

Askep Lansia Dengan Masalah Psikososial Menarik Diri

|Views: 714|Likes:
Published by Rudi Madridista

More info:

Published by: Rudi Madridista on Oct 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain. Menurut Setiawan (1973), timbulnya perhatian pada orang-orang usia lanjut dikarenakan adanya sifat-sifat atau faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kehidupan pada usia lanjut. Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang dialami oleh individu yang berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Menurut Laksamana (1983:77), perubahan yang terjadi pada lansia dapat disebut sebagai perubahan `senesens` dan perubahan ’senilitas’. Perubahan `senesens’ adalah perubahanperubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut. Perubalian ’senilitas’ adalah perubahan¬-perubahan patologik permanent dan disertai dengan makin memburuknya kondisi badan pada usia lanjut. Sementara itu, perubahan yang dihadapi lansia pada amumnya adalah pada bidang klinik, kesehatan jiwa dan problema bidang sosio ekonomi. Oleh karma itu lansia adalah kelompok dengan resiko tinggi terhadap problema fisik dan mental. Proses menua pada manusia merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Seinakin baik pelayanan kesehatan sebuah bangsa makin tinggi pula harapan hidup masyarakatnya dan padan gilirannya makin tinggi pula jumlah penduduknya yang berusia lanjut. Demikian pula di Indonesia. Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lansia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif. Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Lansia sebagai tahap

1

Banyak faktor yang menyebabkan seorang mengalami gangguan mental seperti menarik diri. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia.akhir dari siklus kehidupan manusia. Faktorfaktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. sering diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: • Penurunan kondisi fisik • Penurunan fungsi dan potensi seksual • Perubahan aspek psikososial • Perubahan yang berkaitan dengan pekcrjaan • Perubahan dalam peran sosial di masyarakat 2 .

Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima. Pengertian Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga .ASPEK PSIKOSOSIAL PADA LANJUT USIA A. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan.dicintai. dan juga dapat mencederai 3 . Penyebab Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri. 1998). gangguan hubungan sosial.dihormati oleh orang lain. 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam(Towsend. merasa gagal mencapai keinginan. 2. interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat.1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes. Konsep Dasar 1. percaya diri kurang. sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomen kehidupan. pikiran dan prestasi atau kegagalan. Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito. Dari segi kehidupan sosial cultural. merendahkan martabat. hilang kepercayaan diri. yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya. yang ditandai dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri. yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri. rasa bersalah terhadap diri sendiri.2006).serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.

2. Faktor Presifitasi Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung. Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri. putus asa terhadap hubungan dengan orang lain. 3. 1. Model kognitif menyatakan bahwa defresi.1998:352) 3.Komunikasi kurang atau tidak ada. Teori ini menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi. . merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and sundeen. afek tumpul. menghindar dari orang lain. 4. Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. ekspresi. Faktor genetik. 4 . tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan. dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.diri (Carpenito. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri. ragu takut salah. merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang. Tanda dan Gejala . . Teori kehilangan objek.L.J. menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap sesuatu 5. dan masa depan seseorang. 1995).Apatis. 5. dunia seseorang.Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang lain. merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti. 4. tidak percaya orang lain. Teori organisasi kepribadian.

Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. 5. . . 7. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. iri hati. 4. dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi. Karakteristik Perilaku • Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya. • Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. 8. Curiga terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain.. . dan berhati-hati.Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ideide pikiran.Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. • Kemunduran secara fisik. artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan. 2. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima. Tergantung (dependen) terjadi bila seseorang gagal mengambangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses. 6. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda cembru.Tidak ada kontak mata. klien lebih sering menunduk. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseoramg menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. 7. 3. Rentang Respon 1. perasaan dalam hubungan sosial. Perasaan induvidu ditandai dengan humor yang kurang. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. 6. 5 .

Belum membudaya dam melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan lanjut usia. Makin melemahnya nilai kekerabatan. Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan. b. Berlangsungnya proses menjadi tua. • Banyak tidur siang. Pohon Masalah C. Lahirnya kelompok masyarakat industri. d. melakukan gerakan berulang). Mundurnya keadaan fisik yang menyebabkan penuaan peran 6 . c. yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. • Immobilisasai. • Kurang bergairah. • Mondar-mandir (sikap mematung. Permasalahan Khusus Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998). e. Permasalahan Umum a. yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan lanjut usia. dihargai dan dan dihormati. • Tidak memperdulikan lingkungan. mental maupun sosial. • Keinginan seksual menurun. Permasalahan Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan Lanjut Usia. yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi. berbagai permasalahan khusus yang berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut: a. • Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama. antara lain sebagai berikut: 1. lugas dan efisien. berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk kelurga kecil. sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan. • Kegiatan menurun. B. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia dan masih terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia.• Tidur berlebihan. 2.

Di samping itu terjadi pergeseran nilai budaya tradisional. terlantar dan cacat. c. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan seperti dampak lingkungan. akibat produktivitas dan kegiatan Lanjut Usia menurun. sehingga diperlukan bantuan dari berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai penghasilan cukup. menyebabkan mereka tidak dapat mengisi lowongan kerja yang ada. dimana norma yang dianut bahwa orang tua merupakan bagian dari kehidupan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan kepada suatu ikatan kekerabatan yang kuat. Berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial psikologis mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. polusi dan urbanisasiyang dapat mengganggu kesehatan fisik lanjut usia. dan terpaksa menganggur. sehingga Lanjut Usia kurang dihargai dan dihormati serta mereka tersisih dari kehidupan masyarakat dan bisa menjadi terlantar.sosialnya dan dapat menjadikan mereka lebih tergantung kepada pihak lain. b. f. Di pihak lain. Banyaknya lanjut usia yang miskin. Rendahnya produktivitas kerja lanjut usia dibandingkan dengan tenaga kerja muda dan tingkat pendidikan serta ketrampilan yang rendah. Terkosentrasinya dan penyebaran pembangunan yang belum merata menimbulkan ketimpangan antara penduduk lanjut usia di kota dan di desa. Hal ini akan memperburuk integrasi sosial para lanjut usia dengan masyrakatlingkungannya. sehingga seseorang anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orang tuanya. 7 . dimana orang tua dihormati serta dihargai. Dengan demikian. sulit untuk mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa ini secara terus-menerus dari generasi ke generasi selanjutnya. e. sehingga dapat terjadi kesenjangan antara-generasi tua dan muda. d. dapat terjadi sebagian generasi muda beranggapan bahwa para lanjut usia tidak perlu lagi aktif dalam urusan hidup sehari-hari.

umur . jenis kelamin . No Rumah klien dan alamat klien.dituduh KKN. pengaruh orang terdekat. dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. Pernapasan . • Keluhan Utama Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada . perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan . • Aspek Psikososial 1. suhu.menolak interaksi dengan orang lain.ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL:MENARIK DIRI A. proses interaksi dalam keluarga.harapan orang tua yang tidak realistis . BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien. Pengkajian • Identitas Klien Meliputi nama klien . • Faktor predisposisi Kehilangan. Genogram yang menggambarkan tiga generasi 8 . • Kultural Latar belakang etnis. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi .PHK. tangggal MRS . tingkah laku mengusahakan kesehatan (sistem rujukan penyakit). agama. • Orang-orang terdekat Status perkawinan. TB. faktor-faktor kultural yang dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respons terhadap rasa sakit. tekanan dari kelompok sebaya. Nadi. perpisahan . kebiasaan pasien di dalam tugas-tugas keluarga dan fungsi-fungsinya. tangggal pengkajian.kegagalan /frustasi berulang. berdiam diri dikamar . nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan dan keperawatan. • Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD. dependen. tidak melakukan kegiatan sehari – hari . perubahan struktur sosial. kecelakaan dicerai suami .putus sekolah . status perkawinan. informan. kepercayaan mengenai perawatan dan pengobatan.

sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan c) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit . e) Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri . 1. Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. b) Identitas diri Ketidakpastian memandang diri . gangguan hubungan sosial . menggunakan dan membersihkan WC. 4. proses menua . Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi 9 . kelempok yang diikuti dalam masyarakat. kenyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual) • Status Mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata . 3. kurang dapat memulai pembicaraan . rasa bersalah terhadap diri sendiri . klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain . • Kebutuhan persiapan pulang. 3. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosialdengan orang lain terdekat dalam kehidupan. Klien mampu BAB dan BAK. mengungkapkan ketakutan. merendahkan martabat . putus sekolah. Konsep diri a) Citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. mencederai diri. mengungkapkan keputus asaan. Menolak penjelasan perubahan tubuh . d) Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan 2. dan kurang percaya diri. Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang .2. membersikan dan merapikan pakaian. persepsi negatip tentang tubuh. PHK.

• Intoleransi aktifitas. 4.therapy okopasional. Diagnosa Keperawatan 1.4. dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah 5. ketidakseimbangan tingkah laku adaptif dan kemampuan memecahkan masalah. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan sistem saraf. ii. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional/maturasional. keyakinan kesehatan. 10 . Psikomotor. kehilangan memori. Ketidakpatuhan berhubungan dengan sistem penghargaan pasien.nilai spiritual. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur . pengaruh kultural. Harga diri rendah berhubungan dengan merasakan/mengantisipasi kegagalan pada peristiwa-peristiwa kehidupan. Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT. • Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain ( lebih sering menggunakan koping menarik diri) • Aspek Medik i. 3. TAK . dan rehabilitas. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. B. • Kekerasan resiko tinggi. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen. 1995) Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut : • Isolasi sosial : menarik diri • Gangguan konsep diri: harga diri rendah • Resiko perubahan sensori persepsi • Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain • Gangguan komunikasi verbal. 2. kurang komunikasi verbal.

Dorong pengungkapan perasaan. Berikan informasi dan penyerahan ke sumber-sumber komunitas. Kaji munculnya kemampuan koping positif. menerima apa yang dikatakannya. pelayanan dan konseling. Rasionalnya: respon individu dapat bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari. b.C. Dorong pasien untuk berbicara mengenai apa yang terjadi saat ini dan apa yang telah terjadi untuk mengantisipasi perasaan tidak tertolong dan ansietas. Intervensi Diagnosa 2: a. b. c. Persepsi yang menyimpang dari situasi mungkin dapat memperbesar perasaan. Intervensi keperawatan 1. mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi tegangan dan memelihara rasa kontrol individu. Intervensi Diagnosa 1: a. Rasionalnya: memberi kesempatan untuk mengidentifikasi kesalahan konsep dan mulai melihat pilihan-pilihan. meningkatkan orientasi realita. Rasionalnya: membantu pasien/orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi/gaya hidup. Pahami rasa takut/ansietas Rasionalnya: perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya. 11 . Rasionalnya: memungkinkan pasien untuk berhubungan dengan grup yang diminati dengan cara yang membantu dan perlengkapan pendukung. Perbaiki kesalahan konsep yang mungkin dimiliki pasien Rasionalnya: membantu mengidentifikasi dan membenarkan persepsi realita dan memungkinkan dimulainya usaha pemecahan masalah. 3. Intervensi diagnosa 3: a. Bantu pasien dengan menjelaskan hal-hal yang diharapkan dan hal-hal tersebut mungkin di perlukan untuk dilepaskan atau dirubah. misalnya penggunaan teknik relaksasi keinginan untuk mengekspresikan perasaan. Rasionalnya: jika individu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan dimasa lampau. Kaji tingkat realita bahaya bagi pasien dan tingkat ansietas. c. b. 2.

Kepercayaan akan meningkatkan persepsi pasien tentang situasi dan partisipasi dalam regimen keperawatan. 4.Rasionalnya: menyediakan petunjuk untuk membantu pasien dalam mengembangkan kemampuan koping dan memperbaiki ekuilibrium. spiritual dan kesehatan. Rasionalnya: memberikan wawasan mengenai pemikiran/faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu. Pasien mampu melakukan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas ke tingkat yang dapat diatasi. 12 . Evaluasi 1. Tentukan kepercayaan kultural. 4. Pasien mampu mengidentifikasi adanya kekuatan dan pandangan diri sebagai orang yang mampu mengatasi masalahnya. 2. Pasien mampu menunjukkan kewaspadaan dari koping pribadi/kemampuan memecahkan maslah. Kaji sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. 3. b. Intervensi diagnosa 4: a. D. Rasionalnya: adanya keluarga/orang terdekat yang memperhatikan/peduli dapat membantu pasien dalam proses penyembuhan. Pasien dapat menunjukkan pengetahuan yang akurat akan penyakit dan pemahaman regimen pengobatan.

Kesimpulan Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga . 5. Menggantikan kepuasan-kepuasan yang hilang.PENUTUP A.dicintai. Menghindari sikap menarik diri sebagai lansia. B. dan perumahan serta memberikan gizi yang baik dan obat-obatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa mempercepat proses penuaa. baik dari keluarga. Mengingat kondisi psikososial lansia yang tidak berbeda di antara lokasi pemukiman. Saran 1. Untuk meningkatkan aktifitas fisik dan perilaku kesehatan. 4.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain. maka lansia dapat tinggal di mana saja asalkan tetap mendapatkan perhatian atau dukungan.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima. Mengembangkan hubungan yang bermakna. Dapat dibentuk wadah tempat lansia bersosialisasi bersama peer groupnya.dihormati oleh orang lain. Mengembangkan perspektif yang lebih jelas mengenai hidup lansia. 2. kesehatan. transportasi. 3. masyarakat maupun pemerintah.serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya. hendaknya difasilitasi dengan memberi kesejahteraan berupa dukungan moril dan sprituil kepada kelompok lansia berupa perbaikan ekonomi. 6. 13 .

Doenges.Daftar Pustaka Setiabudhi. Tony dan Hardywinoto. dkk. Jakarta: EGC. Rencana Asuhan Keperawatan. 1919. 14 . E. Marilyon. Jakarta. 2005. Gramedia Pustaka Utama. Panduan Gerontologi: Tinjauan dari Berbagai Aspek.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->