P. 1
Air Kehidupan Buku 2

Air Kehidupan Buku 2

4.67

|Views: 837|Likes:
Published by api-3734449
Ada apa dengan agama? Pertanyaan ini menjadi tema pemikiran dalam jurnal Air Kehidupan tahun 2002.
\
Ada apa dengan agama? Pertanyaan ini menjadi tema pemikiran dalam jurnal Air Kehidupan tahun 2002.
\

More info:

Published by: api-3734449 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Air Kehidupan

Buku Kedua

Dipersembahkan kepada jiwa-jiwa yang haus akan air kehidupan…

Air Kehidupan Buku Kedua
2 Air Kehidupan – Buku Kedua © 2002, 2003 oleh Daniel V. Kaunang, HCI Dilindungi Undang-undang Rilis perdana format elektronik, Juli 2003 This work is licensed under the Creative Commons NonCommercial-ShareAlike License. To view a copy of this license, visit http://creativecommons.org/licenses/nc-sa/1.0 or send a letter to Creative Commons, 559 Nathan Abbott Way, Stanford, California 94305, USA. Saran, masukan dan kritik silakan layangkan ke alamat e-mail saya: danielvk@theronworks.com Untuk informasi seputar Air Kehidupan, silakan mengunjungi situs webnya di alamat: http://airkehidupan.theronworks.com

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
3

Kata Pengantar
Ada apa dengan agama? Pertanyaan ini menjadi tema pemikiran yang saya tuangkan dalam jurnal Air Kehidupan sepanjang tahun 2002, terutama melihat semakin maraknya aksi teror maupun kekerasan yang bermotif keagamaan. Agama yang diharapkan mampu memberikan solusi bagi problematika kemanusiaan kerap kali justru menjadi sumber problematika bagi kemanusiaan itu sendiri. Menilik dari situ, dapatkah dipersalahkan jika banyak orang yang semakin menjauhi bahkan meninggalkan agama, merangkul sekuler humanisme, seperti yang dijabarkan oleh Karl Marx, Voltaire, dan tokoh-tokoh sosialis lainnya? Harus diakui, sebagian agama tidak suka dipertanyakan. Bagi sebagian pemeluk agama, doktrin maupun ‘kitab suci’nya merupakan kebenaran mutlak. Tidak bisa diganggu gugat. Tapi sadar atau tidak itu merupakan pandangan lama yang diwariskan ketika manusia secara geografis masih hidup terisolasi dari kelompok manusia di daerah lainnya. Ketika dunia tidak lagi begitu luas, dapat dijangkau dalam hitungan jam, umat manusia yang semakin meng-global membutuhkan paradigma religius yang mampu mengedepankan persatuan, toleransi, dan kebersamaan. Pemisah-misahan dan pengkotakkotakan yang dilakukan agama-agama (sebagai warisan budaya masa lalu) hanya akan membuat bertambahnya orang yang menjauhi agamanya. Setidaknya hal pokok diataslah yang dicermati dan diulas dalam jurnal Air Kehidupan kali ini. Keprihatinan terhadap kehidupan beragama kita perlu ditindak lanjuti dengan upaya-upaya positif mengikis kristalisasi agama-agama institusi sehingga pada akhirnya agama mampu kembali bergerak secara dinamis mengejar ketertinggalannya dari perkembangan kehidupan manusia yang semakin kompleks dan modern. Semoga apa yang dituangkan disini dapat sedikitnya menggugah pemikiran kita masingmasing serta memberi manfaat bagi berkembangnya nilai-nilai kehidupan yang dilandaskan oleh persatuan, toleransi, dan kebersamaan. Salam kasih, Daniel V. Kaunang 21 Juni 2003

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
4

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................................................... 3 Lima Langkah Menuju Damai ............................................................................................ 5 Agama dan Persaudaraan, Sebuah Renungan..................................................................... 6 Masyarakat dalam Belenggu “Institusionalized Ignorance”............................................... 8 Mencermati Perkembangan Dialog Islam - Kristen.......................................................... 11 Mengikis Radikalisme dalam Islam.................................................................................. 13 Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam ....................................................................... 15 Masa Depan Agama-agama di Indonesia ......................................................................... 21 Budi S. Tanuwibowo .................................................................................................... 22 Mudji Sutrisno .............................................................................................................. 23 Ulil Abshar-Abdalla...................................................................................................... 23 (Antisipasi) Masa Depan Agama-agama di Indonesia...................................................... 25 Pendahuluan.................................................................................................................. 25 Menyelamatkan Masa Depan Agama ........................................................................... 26 Ayat Tidak (Selalu) Berlaku Selamanya....................................................................... 27 Penutup ......................................................................................................................... 28 Let it Flow......................................................................................................................... 29 Seni Menata Hati dalam Bergaul ...................................................................................... 30 Kaidah Hidup (The Golden Rule)..................................................................................... 34 Enam tingkat interpretasi dan pemahamannya ............................................................. 34 Golden Rule dari masa ke masa.................................................................................... 35 Asal Usul Konsep Trinitas ................................................................................................ 37 Asal Usul Sunat................................................................................................................. 40 Two Pots ........................................................................................................................... 43 Asal Usul Astrologi........................................................................................................... 44 Apakah itu Astrologi? ................................................................................................... 44 Sejak kapan Astrologi berkembang? ............................................................................ 44 Mengapa manusia suka membuat ramalan2 seperti astrologi tersebut? ....................... 45 Pandangan Anda?.......................................................................................................... 45 "SUATU WAKTU" .......................................................................................................... 47 Ghosts of Our Past ............................................................................................................ 48 CATATAN ....................................................................................................................... 55 Tentang Jurnal Air Kehidupan.......................................................................................... 56

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
5

Lima Langkah Menuju Damai
Perdamaian dapat diraih ketika kita sebagai manusia: 1. Mau mengakui bahwa sebagian dari kepercayaan lama kita tentang Tuhan dan tentang hidup sudah tidak berfungsi. Selama orang berpandangan bahwa kepercayaan yang dianut adalah paling benar, tidak akan terwujud perdamaian yang sesungguhnya. 2. Menjelajahi berbagai kemungkinan akan pemahaman baru terhadap hal-hal yang tidak kita pahami mengenai Tuhan maupun kehidupan, pemahaman yang dapat memberikan pembaharuan. 3. Berkeinginan untuk mengedepankan pemahaman2 baru akan Tuhan dan kehidupan yang dapat mengembangkan gaya hidup yang lebih baik di dunia. 4. Berani menguji pemahaman-pemahaman baru tersebut apakah sejalan dengan hati nurani, kemudian mengadopsinya untuk memperluas agama kita. 5. Mengekspresikan hidup kita sebagai perwujudan akan keyakinan yang ideal daripada sebagai bentuk penyangkalan diri. Disadur dari “The Five Steps To Peace” oleh Neale Donald Walsch.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
6

Agama dan Persaudaraan, Sebuah Renungan
Bagaimana menciptakan persaudaraan antar umat beragama secara konkrit. Kedamaian beragama –persaudaraan- tidak akan dapat tercapai kecuali jika semua agama mau untuk secara keseluruhan melepaskan dari segala bentuk otoritas keagamaan dan sepenuhnya menyerahkan seluruh kedaulatan rohani. Hanya Tuhan-lah Roh yang berkuasa. Jelasnya, kita tidak akan dapat memiliki kebebasan beragama kecuali bila kita menyerahkan SELURUH otoritas agama kepada Tuhan sendiri. Persaudaraan, kerajaan surga di dalam hati setiap laki-laki dan perempuan, akan menciptakan kesatuan agama jika, dan hanya jika orang2 beragama terbebas dari segala bentuk paham otoriter dan kekuasaan (agama) yang eklesiastikal. Istilah “otoritas yang eklesiastikal” asalnya dari bahasa Yunani kuno; “ecclesia”, kelompok orang bebas dari Athena yang mengembangkan arti religius menentang otoritas sipil. Persaudaraan beragama mungkin dicapai ketika seluruh saudara dan saudari menolak semua otoritas dari agama selain dari Tuhan sendiri. Ketika kita kehilangan pandangan dari realitas akan otoritas Tuhan semata atas hal-hal spiritual, masing-masing label agama akan mulai berusaha menonjolkan superioritasnya. Hasilnya, terjadi pertikaian, saling tuduh, bahkan “perang” antara umat beragama, yang sama sekali jauh dari yang dinamakan “persaudaraan”. Ini terbukti dari berbagai “perang suci”, perpecahan-perpecahan, kepunahan dalam berbagai gerakan agama. Bagaimanapun kita sudah harus menyadari bahwa kepercayaan/agama adalah antara kita sebagai individu dan Tuhan, tidak untuk dipaksakan atas orang lain, atau bahkan dijadikan yang tertinggi. Sebagai garis pedoman, kita dapat berbagi pandangan maupun pengalaman kerohanian kepada orang lain, tapi tidak untuk memaksakan terhadap orang lain, untuk menunjukkan superioritas, atau mencemarkan/menjatuhkan pandangan keagamaan orang lain. Melakukan hal2 seperti itu berarti merampas otoritas orang lain yang bukan menjadi hak atau klaim kita. Persaudaraan yang sejati hanya dapat muncul dari kesadaran akan otoritas tunggal Tuhan dalam segala hal kerohanian. Sejarah telah mencatat bahwa umat manusia telah berulang kali mengambil alih kuasa otoritas Tuhan. Contoh yang cukup menyolok, tidak hanya raja-raja, paus, imam, ulama, orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai nabi, dan sebagainya, telah bersalah karena merampas otoritas Tuhan untuk diri mereka masing-masing. Kita semua merampas otoritas Tuhan ketika kita meninggikan diri sebagai golongan superior, spesial, kaum terpilih, atau diangkat dalam cara tertentu yang mendudukkan diri kita diatas orang

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
7 lain, sebagai otoritas pribadi bagi orang-orang lain yang lebih bodoh. Dengan menilik pandangan seperti itu, apakah kita benar2 dapat dikatakan mengasihi orang jika kita menganggap derajat diri orang/kelompok/golongan lainnya lebih rendah atau inferior dan menganggap diri atau kepercayaannya sebagai yang paling benar ?? Intinya, apa yang ingin saya kemukakan adalah: 1. Kebebasan beragama bagi individu tidak dapat terwujud sepanjang otoritas kekuasaan ditempatkan/diambil alih pada/oleh agama. Teks/kitab yang dianggap suci dan sempurna dijadikan pegangan sebagai sumber kebenaran absolut. Pada tatanan sosial-agama yang menganut pola pikir demikian, hal-hal apapun yang tidak sesuai atau tidak disebutkan dalam teks suci sangat berpeluang ditindas dalam arti diberi cap kafir, sesat, golongan penghuni neraka, dsb. Tidak jarang penggolongan seperti itu membuahkan kebencian, kekerasan, penindasan spiritual. Salah satu dari sekian banyak contoh nyata: pada kelompok masyarakat beragama tertentu, ada perasaan terancam dalam diri mereka sehingga merasa wajib memerangi orang-orang dalam agamanya, kelompok-kelompok bahkan agama lain yang tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan basis doktrin kepercayaan agamanya. 2. Persaudaraan umat manusia tidak dapat terwujud selama masing-masing kelompok beragama merasa diri/kelompok/agama/doktrin-nya sebagai yang paling benar, paling tinggi, paling sempurna. Pertikaian, saling merasa terancam, eksklusivisme dan pengkotak-kotakan/diskriminasi, kebuntuan dalam dialog yang hanya berujung debat kusir dan saling menjatuhkan kepercayaan orang lain, semua itu dan banyak masalah lainnya akan terus berlangsung selama masingmasing mengesampingkan rasionalitas akal budi, mengeraskan hatinya, serta mempertahankan egotisme keagamaannya. Kedua hal diatas hanya dapat dicapai jika masing-masing individu, kelompok, institusi agama BERANI dengan KESADARAN penuh menyerahkan segala kekuasaan dan otoritas yang diambil alih oleh agama/kelompok kembali kepada Tuhan SEMATA. Menyerahkan seluruh bentuk kepemimpinan kembali kepada Tuhan. Hanya Tuhan-lah Maha Benar. Dialah Kebenaran Absolut. Bukan doktrin dan tradisi agama, bukan buku suci, bukan kelompok-kelompok.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
8

Masyarakat Ignorance”

dalam

Belenggu

“Institusionalized

Akhir-akhir ini kelompok dengan truth claim kian tampak dan bermunculan ke permukaan. Mereka mengedepankan pandangan yang eksklusif dengan kebenarannya sendiri dan meniadakan kebenaran kelompok lain. Dalam melakukan hal itu, mereka tidak jarang melakukan kekerasan dan represi, yang berakibat kian mahalnya hidup ketenangan, kedamaian, dan rasa aman dalam kehidupan. Pembiaran atau pengabsahan terhadap pola-pola represif tersebut akan menjungkirbalikkan realitas kebenaran yang hakiki. Masyarakat akan terperangkap dalam kepalsuan pengetahuan yang oleh Arkoun (2002: 285) disebut instutisionalized ignorance; kebodohan yang melembaga. Mereka akan digiring kepada semacam aksioma bahwa kebenaran itu hanya milik kelompok tertentu yang tidak boleh dipertanyakan kembali tentang hakikatnya. Karena itu, model pembodohan tersebut perlu dijadikan agenda pertama untuk dicarikan solusinya yang tepat. Tanpa suatu sentuhan yang serius untuk membongkar persoalan yang satu ini, penyelesaian terhadap persoalan-persoalan lain tidak akan pernah memberikan arti signifikan bagi pencerahan kehidupan bangsa secara keseluruhan. Sebab selama proses pembodohan terus berlangsung, masyarakat tidak akan pernah mengalami pendewasaan dalam kehidupan mereka, serta sulit untuk mengentaskan diri mereka dari beragam persoalan yang menghadangnya. *** Terjadinya instutisionalized ignorance tersebur terkait dengan pola kebijakan politik, sosial, dan agama yang membatasi ruang bagi berkembangnya kritisisme dalam masyarakat. Hal ini -menurut Arkoun dalam The Unthought in Contemporary Islamic Thought (2002: 11 -12) -bermula dari munculnya dominasi kekuasaan yang dimiliki kelompok-kelompok tertentu, mulai dari politisi, akademisi sampai kaum agamawan, yang membentuk logosphere, suatu bidang mental linguistik yang menentukan apa yang dapat dipikirkan (thinkable), dan apa yang tidak dapat dipikirkan (unthought) dalam kehidupan ini. Dalam rangka itu, sejumlah ide, nilai, eksplanasi, horizon suatu makna dan semacamnya dibuang, atau ditolak sehingga suara-suara dan bakat-bakat yang kreatif diabaikan atau harus dipinggirkan, serta tidak boleh ditoleh. Sedangkan pemikiran yang mendukung pandangan mereka dikembangkan dan diapresiasi. Pada saat yang sama, ide-ide hegemonik disebarkan dan dijadikan satu-satunya kebenaran yang tidak boleh dilawan, atau dibantah. Konstruk kehidupan dipolakan dalam suatu kerangka pemahaman ketat yang tidak memberikan ruang sedikit pun untuk terjadinya dialog yang kreatif. Pemikiran tersebut hanya dapat memuat satu pilihan, yaitu harus diterima, dan tidak boleh diperbincangkan atau diperdebatkan.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
9 Kondisi seperti itu membuat masyarakat dipaksa untuk menerima akal hegemonik tersebut sebagai sesuatu yang given. Pada gilirannya, jika hal tersebut berlanjut terus, maka masyarakat -sadar atau tidak sadar -akan menganggap hal tersebut sebagai semacam suatu ajaran yang harus dijalani, dituruti, dan tidak boleh dipertanyakan lagi dari berbagai dimensinya, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pembungkaman tersebut akan melahirkan suatu masyarakat yang tidak mampu melihat kehidupan -politik, pemahaman agama, dan pengetahuan -secara rasional dan kritis. Mereka tidak terbiasa lagi untuk memilah antara kebenaran Tuhan yang absolut dengan pemahaman manusia yang nisbi, sehingga pada gilirannya masyarakat tidak pernah memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran alternatif yang kreatif. Justru mereka hanya dihadapkan kepada pola pandang yang dikotomis: benarsalah, haq-bid`ah, legal-subversif, dan sebagainya. Segala sesuatu yang sesuai dan sejalan dengan mainstream pandangan adalah benar, haq, dan legal. Sedangkan pandangan yang berbeda diyakini sesat, salah, dan subversif. Pembentukan pola pandang tersebut akan memiliki hegemoni yang sangat represif ketika politik berkolaborasi dengan agama, baik dalam bentuk agama dijadikan alat legitimasi politik, atau dan sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini, pemahaman agama akan memetamorfosis menjadi agama itu sendiri yang diletakkan dalam kerangka kebenaran yang absolut, universal, dan final. Demikian pula, politik atau kekuasaan dikembangkan sebagai bagian inherent dari ajaran agama yang bernilai sama dengan ajaran agama yang legalitasnya tidak boleh diganggu gugat. Kondisi tersebut tentunya akan menciptakan kehidupan yang jauh dari sentuhan rasionalitas dan wawasan yang transformatif. Agama yang pada dasarnya bersifat rasional, dinamis, dan kritis berkembang menjadi keberagamaan yang beku. Pada tataran ini, kebodohan yang melembaga itu benar-benar menjadi fenomena kehidupan masyarakat. *** Represi dan klaim kebenaran sepihak yang seakan-akan mendapat legitimasi saat ini merupakan suatu proses pembodohan yang sangat jelas terhadap masyarakat. Melalui pola semacam itu, masyarakat telah dipaksa untuk menerima pandangan yang hegemonik sebagai suatu kebenaran. Dengan demikian, mereka tidak akan mampu lagi membedakan antara kebenaran yang hakiki dan kebenaran yang palsu. Masyarakat tidak akan pernah memiliki nalar kritis yang dapat memilah antara kebenaran absolut dan kebenaran yang nisbi, atau antara nilai-nilai universal dan aplikasi dari nilai tersebut. Karena itu, tugas kita semua untuk mendekonstruksi nalar-nalar hegemonik semacam itu sehingga seluruh masyarakat (bukan hanya sebagian kecil) dapat menyikapi segala persoalan kehidupan sebagai sesuatu yang terpikirkan, dan memahaminya sesuai dengan kaidah kehidupan itu sendiri. Hal ini akan mengarahkan masyarakat untuk memahami realitas dan persoalan kehidupan melalui pola pandang yang logis, penuh kedewasaan, dan dapat dipertanggung-jawabkan secara moral, dan teologis. Mereka tidak dikungkung

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
10 lagi oleh tangan-tangan represif yang akan membuat mereka terjerembab dalam krisis yang tak kunjung henti. Maka, sebuah pendidikan yang transformatif menjadi keniscayaan untuk dikembangkan yang dapat dinikmati dan melibatkan seluruh masyarakat. Pendidikan tidak dapat lagi dijadikan alat untuk pembenaran bagi hegemonic reason semata. Justru yang lebih penting adalah memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan kritisisme terhadap segala pandangan dan pemikiran, dan sekaligus dapat memunculkan pemikiran dan pandangan-pandangan alternatif. Pada sisi itu pula, pengembangan civil society yang kokoh menjadi kondisi yang tidak dapat ditawar-tawar kembali. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai universal agamaagama perlu dikembangkan ke dalam suatu rumusan konkret, dan inklusif sehingga dapat diusung ke ruang publik dan menjadi milik bersama bangsa. Misi universal agama sebagai pembebas manusia dari segala belenggu ketidakberdayaan hendaknya menjadi landasan kukuh dari masyarakat sipil tersebut. Dengan demikian masyarakat tidak akan menjadi alat kepentingan dan obyek penderita yang hanya memiliki kewajiban menerima semata, serta tidak berhak dalam memberikan tawaran konstruktif sebagaimana pula tidak memiliki daya untuk menolak segala represi yang membelenggu mereka. Absennya civil society dan tidak adanya pendidikan yang transformatif akan membuat kasus-kasus serupa akan bermunculan terus dalam kehidupan bangsa. Jika itu yang terjadi, bangsa ini tidak akan pernah menyelesaikan krisis yang melilitnya. Bangsa ini mungkin hanya akan hidup dalam mimpi yang tidak pernah tahu dan mengalami secara nyata arti kehidupan yang sejahtera, dan damai. Abd A`la, staf Pengajar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sumber: Jaringan Islam Liberal

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
11

Mencermati Perkembangan Dialog Islam - Kristen
Jika mengamati dialog-dialog yg terjadi dari dulu hingga sekarang, pemahaman lintas agama di kalangan awam yg diharapkan masih sangat sedikit. Justru yg lebih sering mencuat/menonjol adalah pertengkaran, saling mau menang sendiri, saling menunjukkan arogansi agama masing2, hingga dialog mengalami kebuntuan, terjadi saling memaki, saling menyalahkan, saling mencela agama orang lain, bahkan ada yg saling mengancam, yang tidak membuahkan manfaat apapun selain memupuk kebencian thd orang yg tidak sealiran dg kepercayaannya. Dialog yg berjalan sama sekali tdk menunjukkan kedewasaan berpikir dan berwawasan luas, melainkan menunjukkan tembok2 kebebalan yang saling erbenturan satu sama lain, tanpa ada yg mau introspeksi diri, bahwa imannya telah terkristalisasi oleh doktrin2 jaman kuno yang dianggap, dijunjung, dan diagungkan sebagai YANG PALING BENAR. Melihat berlangsungnya debat kusir yg sering terjadi saya dan rekan2 lainnya merasa cukup prihatin. Tapi kita tidak boleh diam terus menerus menyaksikan orang-orang yang merasa dirinya/kelompoknya/agamanya paling benar tsb saling adu jotos dan berusaha menjatuhkan agama yg dianggap musuhnya. Sudah saatnya orang2 yg sadar, siapapun Anda, agar juga ikut gencar menyuarakan kasih, perdamaian dan pembaruan, sebagaimana terus dikumandangkan oleh para pemuka2 agama yg tercerahkan seperti A. Gymnastiar, Eka Dharmaputera, Mudji Sutrisno, Ulil A.-Abdalla, dll, melawan konservatisme sempit yang ingin selalu membuat sekat2 antar agama antar kelompok dan menyulut kebencian serta melestarikan kebodohan iman dengan menempatkan otoritas agama diatas umatnya. Janganlah Anda mundur krn dihina, dicap yang tidak2 oleh segelintir orang konservatif/fundamentalis literalistik yg takut akan kebenaran. Apapun agama Anda, marilah kita membuka diri dan berdialog secara cerdas, dewasa dan dilandasi cinta kasih. Kebenaran dan cinta kasih akan membebaskan diri kita dari sekat2 yang saling memisahkan antara agama, membuahkan kesadaran yang mempersatukan, bahwa kita semua adalah umat manusia yg satu, yang hidup dibawah sinar matahari yang sama, tidur dibawah sinar rembulan yang sama, menghirup udara yang sama, dan diciptakan oleh Tuhan yang sama. Saya juga setuju dan mendukung apabila dalam berbagai dialog dimoderatori sehingga memiliki arah yg jelas. Tidak lagi berujung ke debat kusir ngotot-ngototan, saling menyalahkan, dan mau menang sendiri.. tipikal anak kecil yg bertengkar, maunya menang sendiri, hanya yg ini dilakukan oleh orang dewasa dan ini bahayanya (sepintar apapun dia) jika orang dewasa memiliki pola pikir spt anak kecil yg hanya mau menang sendiri, tidak bisa introspeksi, maunya orang lain yg salah, dirinya benar. Sudah saatnya kita mengembangkan dialog2 yg mencari persamaan2, mengikis perbedaan2, saling mencerdaskan yang semakin membuka wawasan kita baik intelektual maupun spiritual sehingga pada akhirnya akan dicapai pencerahan bagi setiap individu, suatu kesadaran bahwa kita semua pada hakikatnya adalah satu saudara.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
12 Semoga di tahun2 mendatang dialog Islam-Kristen dpt berkembang ke arah yg lebih baik. Selamat merayakan Natal utk umat kristiani dan Happy New Year 2003. Salam. Daniel V. Kaunang

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
13

Mengikis Radikalisme dalam Islam
“Mata ganti mata hanya meninggalkan dunia menjadi buta.” - Mahatma Gandhi Saya tidak bisa tidak ikut memikirkan peristiwa2 lalu yg telah -kalau boleh saya dramatisir- mencapai titik kulminasinya melalui rencana agresi AS ke Iraq. Kita di Indonesia sudah tidak bisa menutup mata lagi terhadap radikalisme dalam Islam. Mungkin ketika WTC dibom tahun 1993 oleh kelompok Islam radikal, orang Indonesia tidak ada yang peduli. Ketika WTC luluh lantak tahun 2001, masih ada sebagian orang Indonesia yg sempat mensyukuri kehancurannya, “Mampus lu Amerika!”. Bahkan ketika Legian dibom sehingga menewaskan 200-an orang, sebagian orang Indonesia masih bisa bilang, “Itu pasti kerjaannya Amerika!”, seperti dilansir diberbagai media. Sejak kejadian 11 September silam, Amerika merasa pongah. Tidak sedikit warga Amerika yang terseret arus patriotisme dan kebencian yang berbalik ikut membenci warga muslim. Begitu pula yg terjadi di Australia setelah terjadi pemboman di Bali. Kemarahan sebagian warga Australia menjadi sentimen yg ditujukan pd warga muslim (yang bukan bagian dari kelompok radikalis) yg tinggal disana. Dalam sebuah milis awam di Amerika yang saya ikuti, banyak diantara warga Amerika yang bertanya2, “Mengapa Amerika? Mengapa Islam begitu membenci Amerika?”. Mereka tdk memahami krn Islam di Amerika tidak seperti Islam di Timur Tengah/Arab. Setelah mereka mempelajari sejarah Islam, dan membaca AlQuran, sebagian dari mereka merinding. Mereka menemukan didalam doktrin Islam terdapat ajaran2 yang membenarkan pembunuhan thd manusia, ajaran balas dendam, ajaran memusuhi nonmuslim, dan ajaran berperang. Namun sebagian tetap memandang positif dan dapat menemukan permata-permata yang terkandung dalam ajaran Islam. Di samping itu Karen Armstrong dengan lugas dapat memaparkan latar belakang dan konteksnya secara objektif, serta menjelaskan kaitannya mengapa bisa sampai terjadi apa yang telah terjadi pada 11 September lalu (baca Ghosts of Our Past). Benih2 kebencian yang ditanam dalam orang2 Islam radikal, telah berbuah busuk, dan baunya mencemari Islam secara keseluruhan! Akan tetapi, kebusukan itu juga mampu menyadarkan orang2 yang sebelumnya terus memberi angin kepada kelompok2 radikal yang selalu melakukan kekerasan dengan dalih atas nama Allah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendukung perubahan paradigma menuju Islam yang sejati dan kontekstual terhadap jaman modern, diantaranya a.l.: 1. Menunjukkan makna jihad yg sejati yaitu berjuang di jalan Tuhan (perjuangan menguasai diri dan menyatukan diri dg Sang Ilahi). 2. Tanpa bermaksud pesimistis, mungkin kemauan untuk mengkoreksi doktrin kekerasan yg tertanam dlm AlQuran rasanya masih sulit untuk generasi sekarang. Jadi yg perlu dilakukan adl membantu menonjolkan ajaran2 yang mendukung

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
14 persaudaraan antar umat beragama dan kesetaraan derajat diantara laki-laki dan perempuan. 3. Tegas menentang segala bentuk kekerasan yang dilakukan kelompok2 radikal. 4. Mempersempit ruang gerak dan komunikasi kelompok2 radikal, disamping memperluas ruang silaturahmi dan dialog antar agama. Saya tetap yakin dan berpengharapan bahwa di Indonesia dapat terjadi kebangkitan Islam yang sesungguhnya dimana mainstream moslem dapat menemukan makna damai, toleransi dan kebersamaan yang sejati dalam Islam.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
15

Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam
Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

Dari Kompas, 18 November 2002 SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah "organisme" yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai "patung" indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah. Saya melihat, kecenderungan untuk "me-monumen-kan" Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini. Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi "paket" yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri. Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal. Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah. Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak. Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya. Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
16 decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya. Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai "masyarakat" atau "umat" yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam. Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki nonIslam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini. Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilainilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama. Menurut saya, tidak ada yang disebut "hukum Tuhan" dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari'ah, atau tujuan umum syariat Islam. Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri. *** BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah). Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
17 Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara nilai-nilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara "yang universal" dengan "yang partikular". Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. "Islam"-nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi. Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat contoh di Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju perbaikan dan penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung. Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha menuju perbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya, adalah milik orang Islam juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya manusia, dan karena itu milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam. Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak golongan lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri; yang harus di-"lawan" adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan tertentu. Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah "nilai generis" yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran "Islam" bisa ada dalam filsafat Marxisme. Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat Islam hanyalah "baju" dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok adalah nilai yang tersembunyi di baliknya. Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan "baju" yang dipakai, sementara mereka lupa, inti "memakai baju" adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
18 berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar. Ada periode di mana umat beragama menganggap, "baju" bersifat mutlak dan segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi, pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini. *** MUSUH semua agama adalah "ketidakadilan". Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan. Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung kembali perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek masalah yang menurut saya amat bersifat furu'iyyah. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan. Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi. Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk kepada "hukum Tuhan" (sekali lagi: saya tidak percaya adanya "hukum Tuhan"; kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal), tetapi harus merujuk kepada hukumhukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya. Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa'alihi bil 'ilmi, wa man aradal akhirata fa 'alihi bil 'ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia "nanti", juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga terus berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah Tuhan, dengan demikian, juga ikut berkembang. Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat Islam, hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
19 Pandangan bahwa syariat adalah suatu "paket lengkap" yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan. Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana. Saya tidak bisa menerima "kemalasan" semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan. Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia. Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang disangga semua bangsa. Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara "kami" dengan "mereka", antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara "Barat" dan "Islam"; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu. Pemisah antara "kami" dan "mereka" sebagai akar pokok dogmatisme, mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana, dalam lingkungan yang disebut "kami" itu, tetapi juga bisa di lingkungan "mereka". Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas dari yang semata-mata tertera di antara lembaranlembaran Quran. Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam setiap lembaran "Kitab Suci" atau "Kitab-Tak-Suci", lembaran-lembaran pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum sempat terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun. Kebenaran Tuhan, dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran Tuhan lebih besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir yang dihasilkan umat Islam sepanjang sejarah. Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah "proses" yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah "lembaga agama" yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina 'indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, "Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yangtak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar)."

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
20 Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya. Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2:148); berlombalah-lombalah dalam menghayati jalan religiusitas itu. Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri. Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini. Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia. Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri. [] Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Sumber: Jaringan Islam Liberal

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
21

Masa Depan Agama-agama di Indonesia
Berikut ini catatan yang dirangkum dari seminar bertajuk “Masa Depan Agama-agama di Indonesia” yang diselenggarakan di Jakarta 23 November 2002, dengan para pembicara sbb.: - Ir. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia - Pandit Herman S. Hendra, Pemimpin Buddha Terravadha - Romo F.X. Mudji Sutrisno, penulis dan dosen STF Driyarkara - Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (menggantikan KH. Abdurrahman Wahid yang berhalangan hadir) - Pdt. E. Gerrit Singgih, Ph.D., penulis dan direktur Program Pasca Sarjana Teologi - Gede M.N. Natih, Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (Tidak hadir) - Moderator, Pdt. Martin L. Sinaga Pengantar oleh Pdt. Eka Dharmaputera, Ph.D. Menilik berbagai kejadian akhir-akhir ini khususnya terorisme yang terkait dengan pandangan keagamaan radikal, tak pelak masyarakat dunia mulai menyoroti pada eksistensi agama. Agama, mau tidak mau, telah menjadi salah satu pemicu berbagai persoalan yang menindas kemanusiaan melalui berbagai gerakan radikal. Sementara di lain pihak, agama justru seperti tidak berdaya atau berdiam diri menghadapi berbagai krisis dunia. Pdt Eka dalam pengantarnya berpendapat, bahwa benturan-benturan persoalan sebenarnya bukan pada antara agama-agama, namun lebih disebabkan benturan2 kepentingan dan pandangan antara kelompok-kelompok agama. Antara kelompok yang mengutamakan pluralitas dengan kelompok yang mengutamakan uniformitas. Antara kelompok yang pro kekerasan dengan kelompok yang anti kekerasan, dsb. Sementara berbagai dialog antar agama telah dilakukan, namun yang terjadi kebanyakan adalah dialog yang tidak kunjung usai, karena ada pihak-pihak yang berkeras mempertahankan ego, ideologi dan pahamnya masing-masing. Dialog antar agama yang berkembang menjadi debat kusir antar ideologi, dimana masing-masing kelompok merasa dirinya sebagai yang “paling benar”. Akhirnya, dialog agama justru membuat sekatsekat yang memisahkan antara masing-masing kelompok beragama. Lebih jauh lagi, di dalam seminar tersebut para pembicara berhasil mengidentifikasi beberapa persoalan pokok keagamaan, diantaranya adalah: 1. Agama tidak lagi ada untuk kesejahteraan manusia, namun lebih banyak manusia dikorbankan semata-mata demi kejayaan agama. Disini terlihat banyaknya kelompok-kelompok (religius) yang memandang agama atau Tuhan jauh lebih penting daripada manusia itu sendiri. Agama menjadi institusi yang menempatkan diri dan mengambil alih kekuasaan dari Tuhan atas manusia.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
22 2. Eksklusivisme agama dalam berbagai kelompok-kelompok keagamaan. Dimana “agamamu bukan agamaku, dan agamaku bukan agamamu”, “Untuk kalangan sendiri”, “terutama yang seiman”, dsb menjadi patokan pembatas dan penyekat antara umat-umat beragama. 3. ‘Kelumpuhan’ agama disatu sisi menumbuh-kembangkan sikap-sikap dan pemikiran radikal (fundamentalisme) dalam menghadapi dunia yang sekuler dan materialistik yang dianggap mengancam eksistensi agama itu sendiri. Hal tersebut telah menimbulkan sikap-sikap yang menonjolkan kesombongan agama, intoleran, fanatisme, dan bahkan membenarkan beragam tindak kekerasan. 4. Pandangan keagamaan yang dipelajari secara keliru, telah menimbulkan ratusan hingga ribuan tafsiran, interpretasi atas teks suci agama. Berbagai masalah yang terjadi dalam konteks keagamaan menimbulkan pertanyaan, apakah masih ada masa depan bagi agama-agama, khususnya di Indonesia dan di dunia pada umumnya ? Dari berbagai buah pemikiran yang dikemukakan oleh para pembicara, disepakati bahwa harapan bagi masa depan agama-agama akan terbuka jika agama mampu dan mau merekonstruksi, memperbaharui pandangan2, dogma2, dan agama secara keseluruhan yang sudah terbukti tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang majemuk dan plural. Lebih jelasnya dijabarkan oleh masing-masing pakar pembicara sbb: Budi S. Tanuwibowo 1. Beliau menyorot agresivitas agama dalam menghadapi sekularisme dan materialisme. 2. Masalah agama adalah memandang agama jauh lebih penting daripada manusia, menimbulkan egotisme agama. 3. Apakah agama masih punya masa depan? Tergantung pada kesadaran kita sendiri. Sudah saatnya kita berubah, merubah pandangan2 keagamaan yang egotis, merasa diri/agama paling benar. Merubah pelajaran agama yang keliru yang menyebabkan sekat-sekat antar umat beragama. Herman S. Hendra. 1. Mutu agama terdeteksi dari sikap orang/masyarakat beragama itu sendiri. 2. Agama harus menjadi penjaga moral dan spiritual manusia, menebar ajaran dengan kesejukan, bukan dengan nada-nada perang, serta agama seharusnya menjauhi/tidak terlibat dalam kancah politik bernegara. 3. Untuk memecahkan masalah korupsi yang merusak moral, agar digalakkan kotbah yang mengharamkan korupsi. 4. Kotbah dan ajaran-ajaran yang memberantas kekerasan. Tanpa kekerasan agama membawa rahmat bagi setiap manusia dan alam semesta. Agama yang humanis. 5. Reinterpretasi ajaran-ajaran agama dan rekonstruksi institusi agama.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
23 6. Menghentikan bisnis berkedok agama yang mengeksploitasi simbol-simbol keagamaan untuk kemakmuran diri atau kelompok. 7. Mengajarkan etika global untuk mengurangi terkotak-kotaknya umat beragama. Mudji Sutrisno 1. Potensi kekerasan agama terletak pada 3 hal yaitu klaim pembenaran diri/doktrin agama, klaim keselamatan hanya ada pada agamanya, dan mengatasnamakan kuasa atas orang lain atau menempatkan agama sebagai kuasa tertinggi. 2. Harus diajarkan inklusivisme agama yang mengakui keberagaman agama-agama. Mengembangkan toleransi antar umat beragama. 3. Memberi terjemahan nyata dalam tindakan, saling silaturahmi, saling menyejahterakan dalam kepedulian pada sesama yang paling miskin dan menjadi korban kekerasan ego-ego kita sendiri. 4. Di tingkat kebangsaan, Romo Mudji menyebutkan bagaimana dimasa depan negara dan bangsa ini bisa hidup dari keragaman kulturalnya. Pertama yaitu universalitas yang mengabstrasikan tradisi-tradisi perbedaan kultur yang ada seperti prinsip-prinsip universal Pancasila. Kedua mengembangkan ideologi nilainilai ideal universal secara baru tanpa menghiraukan multikultur yang ada. Ulil Abshar-Abdalla 1. Masalah yang terjadi pada Islam maupun agama lain adalah kecenderungan eksklusivisme, “agamaku bukan agamamu, dmk juga sebaliknya”. 2. Jawaban terletak pada bagaimana kita bisa memiliki sistem atau aturan kehidupan yang mendudukkan manusia sebagai mahluk bermartabat. 3. Penciptaan demokrasi dengan agama sebagai pondasi individu. Bagaimana agama bisa menyiapkan batu bata/bahan mentah untuk manusia hidup didalam sistem demokrasi. 4. Juga disinggung bagaimana agama mengelola jemaatnya bukan sebagai jemaat yang tertutup tetapi saling mengenal dan memahami satu sama lain antar agama. 5. Kemudian bagaimana agama dapat menyiapkan individu-individu yang dapat hidup di alam pluralisme. 6. Sudah saatnya paham “agamamu bukan agamaku” diperbarui. Lebih jelasnya, cara pandang keberagamaan masyarakat yang eksklusivis perlu diperbarui. 7. Intensifkan hubungan antara orang-orang beragama yang toleran, dan mempersempit ruang pergaulan antara orang-orang yang intoleran. E.G. Singgih, Ph.D. 1. Masalah dalam kekristenan adalah, orang kristen sulit menerima orang beragama lain. Masalah utama terletak pada penafsiran “ayat emas” Matius 28:18-20 yang telah menjadi dasar kegiatan kekristenan, yaitu perkabaran Injil. Hal ini telah membuat orang beragama lain yang merasa terancam melakukan hal-hal yang anarkis, sehingga sering terjadi perusakan, pembakaran gereja di berbagai pelosok

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
24 daerah. Bahkan pelarangan2 atau penyulitan ijin mendirikan gereja masih terjadi hingga sekarang akibat rasa terancam dari masyarakat agama lain. 2. Terkait dengan hal tersebut, pendidikan kristen yang menempatkan agama sebagai kewajiban. Di berbagai sekolah kristen, pelajaran agama kristen menjadi mata pelajaran wajib yang harus diikuti siswanya. 3. Pemecahannya, perlu dilakukan reinterpretasi pemahaman yang baru yang dapat mengakomodir seluruh golongan masyarakat beragama. 4. Agama juga harus dilepaskan dari kewajiban mengabarkan injil (atau populer disebut kristenisasi), dan dikembalikan sebagai kebebasan hati nurani. Walaupun dalam paparannya menunjuk kepada Kristen, namun tidak terlepas pada agama2 lain. Moderator Pdt. Martin di akhir acara menyimpulkan bahwa agama tidak bisa berdiam diri lagi, agama harus mengambil sikap dalam menghadapi krisis. Agama harus tegas dalam menyikapi perilaku kekerasan yang dilakukan mengatasnamakan agama maupun Tuhan. Mengembangkan dan memperluas komunikasi dan pemahaman antar agama sehingga gap-gap yang terjadi dapat diperkecil. Kekuatan kita adalah “bhinneka tunggal ika”, bukan nasionalisme. Pada akhirnya seminar ditutup dengan kata-kata yang cukup membekas, “being religious is multi religions.”

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
25

(Antisipasi) Masa Depan Agama-agama di Indonesia
Pendahuluan Berbicara tentang masa depan agama-agama di Indonesia, tentu tidak bisa atau tidak mungkin dilepaskan dari 3 (tiga) hal, yaitu: (i) persoalan atau permasalahan besar yang kini sedang kita hadapi sebagai bangsa, (ii) wacana atau visi kebangsaan kita ke depan, terutama yang berkaitan dengan masalah sosial keagamaan dan kemajemukan bangsa, serta (iii) kemampuan agama-agama itu sendiri dalam menjawab berbagai tantangan dan persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang ada saat ini, maupun di masa depan. Sering – dan mungkin kita sudah bosan – mendengar kata “Indonesia sedang menghadapi krisis multi dimensi”. Kebosanan itu bisa dipahami, karena kata-kata itu, selama ini, terkesan hanya dibicarakan dan dibahas saja, sementara pada realitanya belum nyata terlihat adanya perbaikan signifikan. Perekonomian kita belum pulih benar, sementara pengangguran tidak semakin berkurang. Korupsi di setiap lapis kehidupan masyarakat terus saja berlangsung, sementara yang selalu dijadikan kambing hitam adalah masa lalu. Keutuhan bangsa masih saja terancam, dan pertikaian antar berbagai kelompok di tanah air tidak juga kunjung terselesaikan. Mengenai HAM, jangankan kita bisa menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran HAM di masa lalu, untuk menjaga agar jangan sampai ada pelanggaran HAM baru pun belum bisa dilakukan. Kemerosotan moral pada berbagai lapisan umur, marak terjadi di mana-mana. Anak-anak dan orang dewasa makin banyak yang menjadi pecandu narkoba. Pelajar dan bahkan mahasiswa makin suka tawuran. Kejahatan seks semakin marak tanpa mengenal usia. Keluarga yang pecah berantakan, menjadi cerita biasa sehari-hari. Di sini, masyarakat benar-benar menyaksikan sesuatu yang kontras an sangat ironis terjadi sehari-hari, tanpa agama bisa berbuat banyak. Yang lebih ironis, ketika usia bangsa kita semakin dewasa, proses membangsa kita justru mengalami kemunduran. Pertikaian-pertikaian kecil antar pribadi, mudah disulut menjadi pertikaian besar, bila dikaitkan dengan primordialisme. Nalar manusia menjadi kacau, tidak lagi mudah membedakan mana benar dan mana salah. Hanya karena kesamaan warna kulit, agama dan hal primordial lain, kita bisa membenarkan dan bahkan membela mati-matian pihak yang seharusnya secara objektif tidak bisa kita benarkan. Kesadaran dan tekad awal untuk hidup bersama sebagai bangsa yang majemuk, seolah terlupakan. Mencermati carut-marut keadaan, kita kemudian cenderung lepas tangan dan saling menyalahkan. Pada kondisi ini, maka pihak yang terlemahlah yang kemudian sering menjadi tersangka. Sementara para pimpinan, termasuk tokoh agama, seolah bebas dari beban dosa. Bahkan dengan wajah tanpa dosa kita sering menyaksikan munculnya pernyataan-pernyataan normatif, yang cuma berhenti pada sikap menyesalkan, tanpa pernah secara sungguh-sungguh berusaha mencari sebab ke dalam diri sendiri. Padahal,

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
26 kalau kita mau jujur, langsung atau tidak, krisis moral yang sedang dialami bangsa kita, tidak bisa dilepaskan dari kegagalan sistem pendidikan kita, termasuk pendidikan agama. Pada sisi ini, bila agama-agama tidak mampu menjawab persoalan bangsa untuk keluar dari krisis multidimensi yang sejujurnya bersumber pada krisis moral, maka bisa diduga masa depan agama-agama di Indonesia – dan dunia – akan makin kehilangan ruh, dalam arti ada namun tiada menambah arti, dan jika tiada pun, tidak akan mengurangi arti. Menyelamatkan Masa Depan Agama Di depan kita telah membaca 3 (tiga) hal pokok yang menjadi tantangan utama bagi eksistensi dan atau masa depan agama-agama. Bagaimana agama-agama bisa membantu mengatasi pokok permasalahan tersebut ? Adakah jawabnya ? Kalau ada, apakah bisa dilakukan ? Bila bisa dilakukan, apakah mudah dilaksanakan ? Pertanyaan lanjutan, kalau memang bisa, apalagi mudah, lantas kapan semua itu harus dilakukan ? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya kita mencoba memilah dan mengurai berbagai permasalahan yang terlihat rumit tersebut, agar menjadi lebih sederhana, tanpa bermaksud menyederhanakan, apalagi menyepelekan. Tak usah terlalu berumit-rumit. Kita semua tentu setuju bahwa garis besar pokok permasalahan di atas menyangkut 4 (empat) hal, yaitu : (i) manusia sebagai pribadi, (ii) manusia sebagai bagian keluarga, (iii) manusia sebagai warga masyarakat, bangsa atau kemanusiaan, dan (iv) interaksi manusia sebagai umat beragama, terlepas agama apapun yang dipeluknya. Untuk mengatasi hal pertama dan kedua : permasalahan pribadi manusia dan keluarga, agama seharusnya mampu mengatasinya dengan baik, kalau mau mengembalikan hakikat agama untuk kebaikan manusia, dan bukan sebaliknya, manusia untuk agama. Semua agama mengajarkan kepada kita bagaimana membina hubungan vertikal dengan Sang Khalik dan horizontal antar sesama. Sering, saking asyiknya, kita sering memberikan tekanan terlalu besar pada hubungan vertikal, dan melupakan bahwa hubungan horizontal pun tidak kalah pentingnya. Bahkan dalam agama Khonghucu sangat ditekankan bahwa hakikat agama adalah untuk memanusiakan manusia, agar ia bisa kembali ke Watak Sejatinya yang pada dasarnya baik, sehingga bisa kembali ke Jalan Suci Tian (Tuhan). Bila setiap agama, dalam hal ini tokoh-tokohnya, mau berendah hati dan saling berbagi, melupakan perbedaan dan menggali persamaan, niscaya akan muncul sederetan nilai-nilai universal, yang bisa kita gunakan bersama untuk kepentingan umat manusia, dalam kaitannya sebagai makhluk pribadi, keluarga dan sosial. Apa yang kita kenal sebagai Pendidikan Budi Pekerti atau ‘Character Building’, sebenarnya merupakan jalan keluar yang paling tepat. Di sinilah, agama-agama, sebenarnya bisa berperan banyak untuk menyumbangkan nilai-nilai universalnya, tanpa perlu bernafsu mencantumkan atributnya.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
27 Untuk mengatasi hal ketiga, yang menyangkut masyarakat, bangsa dan kemanusiaan, di samping apa yang sudah disampaikan di atas, ada hal lain yang lebih penting dan menjadi persyaratan utama, yaitu : perlunya kesadaran bahwa manusia, apalagi bangsa Indonesia, sudah ditakdirkan terlahir berbeda-beda, majemuk. Dan karena kita percaya bahwa semuanya adalah makhluk ciptaan Tuhan, tentunya harus muncul kesadaran pula bahwa perbedaan tersebut terjadi karena kemauan Tuhan sendiri, termasuk perbedaan-perbedaan dalam hal lain, misal : agama. Berangkat dari kesadaran sederhana ini, maka sudah seharusnya para tokoh-tokoh agama secara sadar mau menjadi pelopor untuk tidak menyakiti satu sama lain. Tak usah mengukur baju orang lain dengan ukuran badan kita sendiri. Tak usah sibut ikut mencampuri urusan orang lain, namun uruslah umatnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Dalam bahasa Khonghucu dikatakan, “Janganlah melakukan pada orang lain, apa yang diri sendiri tiada inginkan”, namun sudah seharusnya kita menyadari bahwa, “Di empat penjuru lautan, semuanya saudara”. Oleh karenanya kita wajib, “Menggunakan pengetahuan Kitab, untuk memupuk persahabatan” dan “Bila diri sendiri ingin tegak, maka bantulah agar orang lain pun tegak”. Lebih lanjut Nabi Kong Zi menekankan bahwa seorang Jun Zi atau orang beriman dan berbudi luhur, tetap bisa rukun meski berbeda. Sedangkan Xiao Ren, meski sama tak bisa rukun. Hal keempat, sedikit lebih kompleks, karena umumnya orang cenderung mempunyai semangat membuta untuk membela kelompoknya sendiri, tanpa melihat permasalahan secara objektif. Mengenai hal ini sudah disadari sendiri oleh Nabi Kong Zi, bahwa di dalam mengasihi dan membenci, orang biasanya menyebelah atau berpihak. Oleh karena itu, mengingat interaksi antarmanusia di masa depan akan semakin intens dan tanpa batas, jelas agama-agama tidak akan mampu mengatasinya sendiri. Di sini sungguh diperlukan aturan hukum yang tegas dan adil. Dengan demikian bila ada permasalahan, maka akan dapat dilihat dan diatasi dengan lebih jernih, tanpa mengkait-kaitkan dengan hal-hal lain yang bersifat primordial, termasuk agama di dalamnya. Ayat Tidak (Selalu) Berlaku Selamanya Dalam hidupnya, Nabi Kong Zi berkali-kali menekankan perlunya Keberanian untuk melakukan introspeksi diri. Berani mengakui kekeliruan dan ketikdakmengertian, dan kemudian berani pula memperbaikinya. Dengan rendah hati dikatakan, “Bila mengerti, katakanlah mengerti. Bila tidak mengerti, katakanlah tidak mengerti. Itu yang dinamai mengerti. Setiap jalan bertiga, niscaya ada yang bisa kujadikan guru. Kuambil yang baik, dan bila kujumpai yang kurang baik, aku periksa diriku sendiri”. Sikap rendah hati seperti ini, yang tentunya juga dimiliki para Nabi dan para Suci yang lain, kiranya perlu kita contoh dengan sungguh-sungguh, sehingga dengan demikian niscaya umat pun akan meneladani pula, karena hakikatnya, “Kebajikan pemimpin laksana angin, dan Kebajikan rakyat jelata laksana rumput. Kemana angin bertiup, kesana rumput merebah”. Kiranya perlu pula kita dalami, bahwa setiap ayat dalam Kitab Suci, ada asal-usul atau latar belakangnya. Tanpa ada pemahaman yang cukup mendalam mengenai kapan dan dalam kaitan apa sebuah ayat diturunkan, bisa berbahaya. Apalagi bila diingat tidak semua ayat berlaku selamanya. Dalam bahasa awam ada yang bersifat umum dan khusus. Dengan berbekal pemahaman ini, ke depan tokoh-tohok agama dituntut untuk menggali

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
28 kembali makna terdalam setiap ayat, sehingga substansinya benar-benar mampu menjawab tantangan yang dihadapi manusia dari jaman ke jaman. Diingatkan oleh Nabi Kong Zi, “Bila diberi tahu tentang satu sudut, berusahalah mencari ketiga sudut yang lain. Bila suatu hari dapat memperbarui diri, perbaharuilah terus tiap hari, dan jagalah agar baharu selama-lamanya. Sesungguhnya hanya orang yang paling bodoh dan paling bijaksana saja yang tak mungkin berubah. Negeri Zhou, biarpun negeri tua, Firman itu tetap dipelihara, sehingga senantiasa baharu. Jadilah rakyat Tian yang baharu”. Penutup Akhirnya kita sampai pada tahap kesimpulan bahwa masa depan agama-agama sangatlah tergantung pada kemampuan agama-agama tersebut dalam mengatasi setiap problema masyarakat. Bisakah agama-agama mengatasinya ? Bisa, dan tidak akan menjadi terlalu sulit bila semuanya mau membuka diri, saling memberi, tidak saling menyalahkan dan merendahkan. Sibuklah berbenah diri, tanpa perlu bersibuk-ria mengagung-agungkan diri sambil merendahkan orang lain. Lantas kapan bisa dimulai ? Jawabnya saat kita semua sudah sampai pada puncak pembinaan diri, dan timbul kesadaran betapa setelah belajar dengan tekun dan benar, dan kita semua benar-benar telah sampai pada inti ajaran agama, ternyata berujung atau sampai kepada SATU Kebenaran Sejati, yang tiada berbeda. Semoga Kebajikan selalu memperoleh tetangga. Sungguh hanya oleh Kebajikan Tian berkenan, Shanzai. *) Disampaikan oleh Ks. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum MATAKIN, Sabtu, 23 November 2002

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
29

Let it Flow
Even love itself must not be imprisoned in one's own heart. It must flow through you so that it goes out to all. So it is with every emotion it must flow in and out of you like the air you breathe. It is easy to breathe "good" out, when you breathe "good" in. But how do you breathe "good" out, when you breathe "bad" in? (Katsugen undo, Richard S. Omura)

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
30

Seni Menata Hati dalam Bergaul
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah. 1. Aku Bukan Ancaman Bagimu Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tagannya." (HR. Bukhari) a. Hindari penghinaan Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam. b. Hindari ikut campur urusan pribadi Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan. c. Hindari memotong pembicaraan Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yag arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbaik pada waktu yang tepat. d. Hindari membandingkan Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penampilan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina. e. Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan. f. Hindari merusak kebahagiannya

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
31 Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tauh persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut. g. Jangan mengungkit masa lalu Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama dengan mengajak bermusuhan. hi. Jangan mengambil haknya Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan menimbulkan rasa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain. i. Hati-hati dengan kemarahan Bila anda marah, maka waspadalah karena kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkan kata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucapan dirasakan berlebihan. j. Jangan menertawakannya Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati. k. Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita. 2. Aku menyenangkan bagimu a. Wajah yang selalu cerah ceria Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah bersabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud). b. Senyum tulus Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
32 sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan. Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang yang busuk hati. c. Kata-kata yang santun dan lembut Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan. d. Senang menyapa dan mengucapkan salam Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah dilepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah. e. Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian. f. Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan Rasulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah. g. Senangkan perasaannya Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do’akan. Hal ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk berterima kasih. h. Penampilan yang menyenangkan Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah. i. Maafkan kesalahannya Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan mengangkat citra kita dihatinya. 3. Aku Bermanfaat Bagimu

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
33 Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Allah lainnya. a. Rajin bersilaturahmi Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang. b. Saling berkirim hadiah Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus. c. Tolong dengan apapun Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, waktu atau setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh kesahnya. d. Apabila tidak mampu, maka do’akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah. e. Sumbangan ilmu dan pengalaman Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain. Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka, kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan terasa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah Swt. KH. Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
34

Kaidah Hidup (The Golden Rule)
Oleh: Daniel Tanggal: 9/23/02 Enam tingkat interpretasi dan pemahamannya "Lakukan kepada orang lain seperti kamu ingin orang lain lakukan kepadamu." adalah kaidah hidup utama yang diajarkan oleh banyak guru dan filosofer. Pada aplikasinya, kaidah emas ini memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda pada manusia, bahkan tidak jarang diterapkan secara negatif. Nathaniel, salah seorang murid Yesus pernah menanyakan hal ini ketika berkumpul bersama murid-murid dan pengikut lainnya. Yesus menjelaskan bahwa kaidah hidup itu merupakan kaidah ideal yang seyogyanya diterapkan secara positif, dan bukan untuk disalahartikan/disalahgunakan untuk membenarkan kepentingan2 sendiri. Lebih jauh, Yesus merincikan pemahaman dan interpretasi atas kaidah itu kedalam 6 tingkatan, yang saya coba jabarkan kembali secara sederhana sebagai berikut : 1. Tingkat kedagingan. Pemahaman orang di tingkat daging lebih mengarah kepada egoisme dan diterapkan semata-mata utk kepentingan/kepuasan diri sendiri, sehingga aplikasinya kadang cenderung negatif. Contohnya, kejahatan pemerkosaan thd wanita, anak; pemaksaan kehendak. 2. Tingkat perasaan. Sedikit diatas daging, pada tingkat ini yang bersangkutan menginterpretasi kaidah hidup mulai menggunakan perasaan simpati dan belas kasih. Contoh, seseorang berbuat baik kpd orang lain agar orang lain itu berbuat baik kpdnya. Atau secara pasifnya, seseorang tidak mengganggu orang lain dg harapan orang lain juga tidak mengganggu dirinya. 3. Tingkat akal pikiran. Sedikit diatas perasaan, disini orang mulai menggunakan pertimbangan akal budi dan kecerdasan pengalaman dlm memahami dan menerapkan kaidah hidup secara positif. 4. Tingkat cinta kasih persaudaraan. Orang yg sampai pd tingkat ini mencerminkan kasih sayang yg tulus dan tidak mementingkan diri sendiri terhadap orang lain. Dia tidak berbuat baik semata2 agar orang lain berbuat baik kpdnya, tetapi dia berbuat baik krn didasarkan pd kesadaran bhw orang lain adalah sama seperti dirinya, anak Tuhan. Disini tingkat kesadaran akan "the fatherhood of God and brotherhood of man" mulai terbentuk, memasuki "kerajaan surga", atau bisa juga dikatakan, telah "lahir kembali oleh roh". 5. Tingkat moral. Ketika pemahaman seseorang telah mencapai pengetahuan/wawasan sejati akan kebenaran dan kesalahan, dia selalu menempatkan dirinya sebagai orang ketiga dalam memperlakukan orang lain itu. Dia akan menggunakan empati dan

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
35 reevaluasi diri (bercermin diri) sehingga setiap harinya semakin dapat memperlakukan orang lain dengan lebih baik lagi. 6. Tingkat spiritual. Akhirnya, tingkat interpretasi yang paling ideal, tingkat dimana Tuhan menjadi "mata" bagi penglihatannya, menjadi "telinga" bagi pendengarannya, dan menjadi "mulut" atas perkataannya. Artinya, orang ybs melihat kaidah hidup itu dari pandangan Tuhan, disini tercapai kesejajaran dg kehendak Tuhan, karena, "dia memperlakukan semua orang sebagaimana dia ketahui Tuhan memperlakukan mereka". Pada akhir penjelasannya, Yesus mengajak kembali untuk "memperlakukan semua orang sebagaimana yang kamu tahu aku akan memperlakukan mereka dalam situasi serupa." Golden Rule dari masa ke masa Yahudi What is hateful to you, do not do to your neighbor; that is the entire Torah; the rest is commentary; go learn it. Babylonian Talmud, Shabbat 31a, as cited in Glatzer, 1969, p. 197. Hindu Do not to others what ye do not wish Done to yourself... --This is the whole Dharma, heed it well. The Mahabarata, cited in Das, 1955, p. 398. Zoroastrianisme Human nature is good only when it does not do unto another whatever is not good for its own self. Dadistan-i-Dinik, 94:5; in Müller, chapter 94, vol 18, 1882, p. 269. Buddha Hurt not others in ways that you yourself would find hurtful. Udanavargu, 5:18, Tibetan Dhammapada, 1983. Jainisme In happiness and suffering, in joy and grief, regard all creatures as you would regard your own self.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
36 Yoga-Sastra, cited in Bull, 1969, p. 92. Kong Hu Cu Do not do to others what you do not want done to yourself. Confucius, Analects, 15:23, 6:28; Mahabharara, 5:1517, in Confucius, The Analects, 1992. Kristen/Katholik Do unto others as you would have them do unto you. Jesus, Bible, Luke 6:13 Islam No one of you is a believer until you desire for another that which you desire for yourself. The Sunnah (from the Hadith), publ. 1975. Sikh Be not estranged from another for, in every heart, Pervades the Lord. Sri Guru Granth Sahib, in Singh (trans.) 1963, p. 250. Bahá'í Ascribe not to any soul that which thou wouldst not have ascribed to thee, and say not that which thou doest not. This is my command unto thee, do thou observe it. Bahá'u'lláh, The Hidden Words, Arabic 29 * Bahá'u'lláh, The Kitab-i-Iqan, p 177 Semoga uraian diatas dapat menjadi berkat dan manfaat bagi kita bersama. =Bahan= Buku Urantia
Management and the Wisdom of Love: Uncovering Virtue in Organizations. Marcic, Dorothy. San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1997

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
37

Asal Usul Konsep Trinitas
=Pengantar= Ada kerancuan dalam pemahaman sebagian besar orang terhadap konsep trinitas dan tritunggal seperti misalnya yang terkandung di dalam ajaran Hindu ataupun Kristen. Banyak diantara pemeluk agama Kristen sendiri tidak memahami secara keseluruhan realitas Trinitas, ditambah dengan kesalahan persepsi oleh para penganut kepercayaan monoteistik seperti Islam dan Yahudi, yang mencampuradukkan konsep trinitas dengan politeisme. Tampaknya sangat perlu diketahui lebih dahulu darimana dan sejak kapan timbulnya konsep Trinitas berkembang. Para teologian yang menelusuri sejarah trinitas menemukan adanya konsep ini dalam filosofi ajaran Yunani. Kemudian sekitar abad 2 Masehi Theophillus mencetuskan kata 'triad' atau tritunggal. Para teologian menyimpulkan bahwa konsep trinitas dalam kristen mulai terbentuk ketika terjadi rekonsiliasi antara ajaran Kristen dengan Yunani. Wacana kali ini merupakan langkah awal yang mencoba membawa kita lebih jauh lagi menelusuri asal usul adanya konsep trinitas ini. Jika kita telah memiliki pemahaman dasar mengenai asal usul trinitas, saya akan coba membahas lebih dalam lagi ke hakikat trinitas yang jauh lebih kompleks. Salam hangat, Daniel V. Kaunang Penulis, Jurnal Air Kehidupan Asal Usul Konsep Trinitas Sebelum manusia mulai dapat memahami realitas trinitas dalam kehidupan, konsep ini ditanamkan dan diajarkan melalui wahyu-wahyu. Namun ajaran ini bukanlah diturunkan tanpa kendala, terutama dikarenakan tingkat persepsi dan kapasitas pemahaman manusia yang belum dapat menerima. Wahyu pertama yang mengarah kepada pemahaman Trinitas dibuat oleh para staf Caligastia, sekitar 1/2 juta tahun yang lalu. Konsep Trinitas ini hilang sama sekali dalam kurun waktu pemberontakan Lucifer. Trinitas, untuk kedua kalinya dibawakan oleh Adam dan Hawa selama kehidupannya di taman eden pertama dan kedua. Ajaran ini tidak seluruhnya hilang bersamaan dengan runtuhnya taman eden, bahkan dalam masa turunnya Melchizedek sekitar 35 ribu tahun sesudahnya. Trinitas bertahan dalam konsep Trinitas kaum Sethite di Mesopotamia, Mesir dan khususnya di India, dimana Agni sebagai Dewa Api berkepala tiga.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
38 Kemudian yang ketiga kali, Trinitas dibawakan oleh Imam Agung Melchizedek (yang mengurapi Abraham). Doktrin Trinitas ini dilambangkan dengan 3 buah lingkaran konsentris pada plat dada yang dikenakan oleh Imam Agung ini. Namun, sangat sulit mengajarkan Bapa Universal, Anak Eternal dan Roh Infinit pada masyarakat bedouin Palestina. Kebanyakan muridnya menyangka bahwa Trinitas terdiri dari tiga Yang Tertinggi dari Norlatiadek, sebagian memahami sebagai Penguasa Sistem, Bapa konstelasi, dan Pencipta semesta lokal. Lebih sedikit lagi yang menangkap ide yang diasosiasikan dengan Bapa, Putera dan Roh. Melalui aktivitas para misionaris Salem, ajaran2 Melchizedek tentang Trinitas pelanpelan tersebar ke sebagian besar wilayah Eurasia dan Afrika bagian utara. Pada masa sesudah Melchizedek, membedakan antara tritunggal dan trinitas menjadi semakin sulit ketika kedua konsep telah berbaur dan menyatu. Di kalangan Hindu konsep trinitarian ini mengambil asal sebagai Keberadaan, Kecerdasan, dan Kebahagiaan. Kemudian berkembang menjadi Brahma, Siva, dan Vishnu; Trimurti. Penggambaran Trinitas di India pada awalnya dibawakan oleh para imam Sethite, konsep selanjutnya diimpor oleh misionaris Salem dan dikembangkan oleh para intelektual penduduk asli India melalui penggabungan doktrin trinitas dengan konsep evolusioner tritunggal. Agama Buddha mengembangkan dua doktrin yang pada dasarnya bersifat trinitas. Yang pertama adalah Guru(Buddha), Hukum(Dhamma), dan Persaudaraan(Sangha); Tiratana, dibawakan oleh Siddharta Gautama. Ide selanjutnya berkembang diantara pengikut2 Buddha di wilayah utara, merangkul pemahaman Raja Tertinggi, Roh Kudus, dan Penjelmaan Juruselamat. Konsep2 yang terkandung dalam Hindu dan Buddha benar2 merupakan dalil trinitas, yaitu, suatu pemahaman akan manifestasi kelipatan tiga dari Tuhan yang monoteistik. Konsep trinitas yang sejati tidak hanya sekedar kelompok tiga tuhan yang berbeda. Bangsa Ibrani mengetahui tentang Trinitas dari tradisi2 Kenite jaman Melchizedek, namun semangat monoteistik mereka akan satu Tuhan memudarkan seluruh ajaran2 tentang trinitas, hingga pada masa munculnya Yesus, doktrin Elohim ini telah dihapus dari teologi Yahudi. Pemikiran Yahudi tidak lagi mau merekonsiliasikan konsep trinitarian dengan kepercayaan monoteistik pada Satu Raja, Tuhan bangsa Israel. Islam mengalami pergolakan yg sama. Dlm sejarahnya Muhammad lebih banyak dihadapkan pd politeisme yg dianut suku Quraisy. Pada awalnya Muhammad dianggap menerima dewi2 al Latta al Uzza, dan al Manat sbg anak2 perempuan Allah. Namun kemudian Surat 53:19-26 membuat suku Quraisy marah, dan terjadilah konflik berkepanjangan. Dari konflik tsb akhirnya tercetuslah bbrp ayat spt "Katakan: Dialah Tuhan, Satu-satunya Tuhan Tempat berlindung selamanya, tidak beranak atau diperanakkan dan tidak ada yg menyamai-Nya", "untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku."

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
39 Dus menjadi sangat sulit bagi timbulnya gerakan monoteisme untuk dapat mentoleransi trinitarianisme terutama ketika mereka sedang dihadapkan dengan politeisme. Gagasan trinitas paling dapat digapai oleh agama2 yang memiliki tradisi monoteistik yang kuat bersama dengan doktrin yg elastis/dinamis. Dua agama monoteis terbesar, Yahudi dan Islam, terbentur pada kesulitan membedakan antara menyembah 3 tuhan (politeisme) dan trinitarianisme, menyembah satu Tuhan yang ada dalam 3 manifestasi ilahi dan personalitas. Demikianlah sedikit penjabaran sejarah diturunkan dan berkembangnya konsep Trinitas di bumi, sebelum konsep ini diperkenalkan oleh Paulus menjadi doktrin kepercayaan Kristen hingga sekarang. Untuk merangkum uraian kali ini, setidaknya diketahui bahwa konsep trinitas sudah diajarkan sejak puluhan ribu tahun yang lalu oleh Melchizedek, dan menjadi akar dari ajaran2 keagamaan yang berkembang ke penjuru dunia, seperti Sumeria, Hindu, dsb. =Kosakata= Caligastia Adalah Putera Lanonandek sekunder yang menjalani tugas sebagai “Planetary Prince” di bumi sampai masanya bergabung pada pemberontakan Lucifer sekitar 200 ribu tahun yang lalu. Elohim Konsep tentang Tuhan three-in-one dari peradaban Sumerian-Chaldean di daerah Kish dan Ur. Ajaran ini awalnya ditemukan dalam tradisi2 jaman Adam dan Melchizedek, dan ketika dibawa ke Mesir, Trinitas ini disembah dengan nama Elohim, atau secara kesatuan: Eloah. Konsep ini sempat menjadi bagian dari teologi Yahudi ketika mereka dikuasai kerajaan Babylon. Melchizedek Golongan Putera Mikhael yang bertugas sebagai utusan serbabisa, umumnya bertugas dalam situasi darurat di seluruh alam semesta. Posisinya tinggi, karena hanya setingkat di bawah Gabriel. Salah satu diantaranya pernah menjelma di bumi (Machiventa Melchizedek) dan bekerjasama dengan Ibrahim/Abraham, yang mana ajarannya menjadi cikal-bakal semua ajaran agama bumi saat ini. Norlatiadek Norlatiadek adalah konstelasi dimana planet bumi berada. =Bahan bacaan= Urantia Book - Paper 104 – Growth of The Trinity Concept o 1. Urantian Trinity Concepts - P.1143

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
40

Asal Usul Sunat
Tanggal: 9/17/02 Sunat, kadangkala menjadi kontroversi bagi orang awam maupun orangtua yang baru memiliki anak. Apakah sunat itu diperlukan atau diharuskan sebagaimana tradisi warisan nenek moyang? Apakah anak laki-laki saya harus disunat? Bukankah sunat diwajibkan oleh agama-agama tertentu? Untuk membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita telusuri dari sejarah awal berkembangnya budaya sunat ini. Tradisi sunat, sudah berkembang sejak jauh sebelum yang dapat dicatat oleh sejarah. Tradisi sunat berasal dari jaman primitif yang dipraktekkan dalam suku tertentu terhadap anak-anak yang menginjak dewasa. Hal ini adalah sebagai upacara inisiasi pubertas, dimana seorang anak disunat dan diberi tato lambang sukunya. Inisiasi ini dilakukan untuk menanamkan keteguhan pada anak, dan menunjukkan kehidupan sebenarnya yang akan dihadapi. Upacara inisiasi pendewasaan ini kemudian mencapai perkembangannya dengan munculnya kontes fisik dan permainan ketangkasan. Namun ide sunat terus berkembang menjadi ritual keagamaan sebagai salah satu bentuk pengorbanan. Dalam artikel "Asal Usul Puasa dalam Agama" dan "Ritual" (oleh Nugroho Widi), dijelaskan mengenai sejarah kultus pemujaan roh dan praktek-praktek yang dilakukan. Salah satunya adalah upacara sunat yang dipraktekkan oleh penduduk Salem (walaupun tidak pernah diharuskan oleh Melchizedek). Abraham pada masa itu menentang ritual ini, namun akhirnya mensahkan ritual tersebut sebagai ratifikasi terhadap perjanjian Salem. Sejarah mengenai Abraham hingga keterkaitannya dengan ritual sunat dapat dibaca secara lebih jelas di Buku Urantia hal. 1014-1021. Sunat, pada jaman Abraham dan setelahnya, menjadi simbol ikatan perjanjian antara manusia dengan Tuhan, dimana Tuhan setuju untuk melakukan apa saja, manusia hanya perlu setuju untuk percaya kepada janji-janji Tuhan dan mengikuti segala perintahNya. Dari sini timbullah kepercayaan bahwa keselamatan dapat dicapai melalui pengorbanan dan sesajian. Dalam hal ini sunat yang dilakukan Abraham adalah dengan memotong kulit luar yang membungkus penis hingga sebatas kepala penis. Kemudian di lain masa, Musa dalam catatan sejarah melarang ritual sunat, namun setelah kematiannya, penerusnya Joshua kembali mempraktekkan ritual tersebut. Ritual sunat ini terus diturunkan dari generasi ke generasi, namun ajaran Kristen (Santo Paulus) pada masa awal berdirinya melarang praktek sunat ini dilakukan. Dalam perkembangannya hingga sekarang, tujuan sunat selain sebagai wujud pengorbanan telah dimodifikasi menjadi satu alasan higienis. Dan ini masih berlaku hingga sekarang dalam berbagai tradisi agama.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
41 Di Amerika tradisi sunat pada anak laki-laki sebagian tetap terpelihara dengan alasan untuk menekan praktek masturbasi pada remaja (Paige, 1978). Sunat tidak terbatas dilakukan pada laki-laki saja namun juga dilakukan pada perempuan. Pada jaman sekarang, praktek sunat terhadap perempuan masih banyak ditemui di berbagai daerah di Afrika, Mesir, dan bagian selatan Arab (Teluk Persia). Sunat perempuan juga dilakukan sebagai tradisi di Malaysia dan Indonesia. Dari sisi medis, penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sunat sebenarnya tidak diperlukan, kecuali pada kasus tertentu apabila terjadi kelainan, misalnya pada pertumbuhannya kulit yang menyelubungi penis mengecil, sehingga menimbulkan rasa sakit. Dalam tahun 1949, Douglas Gairdner dalam makalah studinya (Fate of Foreskin, study of circumcission) menyebutkan bahwa penyunatan secara medis tidak perlu dan tidak bermanfaat, serta menimbulkan kontra-indikasi yang mengakibatkan komplikasi bahkan kematian, baik praktek sunat pada bayi, perempuan maupun laki-laki remaja. Kembali lagi kepada alasan penyunatan yaitu masalah kebersihan penis, dari makalah Gairdner dapat disimpulkan bahwa alasan tersebut tidak dapat dijadikan alasan medis, karena menyangkut kebersihan alat vital, anak perlu diajarkan sejak dini untuk membersihkan alat vitalnya secara teratur, sebagaimana diajarkan untuk rajin membersihkan bagian belakang telinganya. Kesimpulan ini diperkuat kembali pada tahun 1971, setelah Noel Preston menyajikan studinya tahun 1970, American Academy of Pediatrics (AAP) secara resmi menyatakan bahwa tidak ada indikasi medis yang valid yang mengharuskan seorang anak laki-laki disunat dalam periode neo-natal. Dari uraian diatas, dapat diambil intisarinya sebagai berikut: 1. Perkembangan tradisi sunat: - Pertama kali sebagai upacara inisiasi anak yang menginjak dewasa - Berkembang menjadi upacara keagamaan/ritual pengorbanan/penyiksaan - Berkembang menjadi simbol ikatan janji manusia dengan Tuhan - Pada tradisi tertentu, sunat juga dilakukan terhadap wanita - Ditemukan alasan psikis, yaitu higiene/kebersihan, mencegah masturbasi, dan lainnya. - Berkembang hingga sekarang sebagai warisan tradisi. 2. Penelitian medis tidak membuktikan adanya manfaat sunat. Alasan untuk kebersihan sama sekali tidak dapat dijadikan alasan medis. Sebaliknya dapat menimbulkan resiko kesehatan. Pada kasus tertentu sunat perlu dilakukan pada orang yang mengalami penyempitan pada pertumbuhan kulit penis. Mudah-mudahan dari sedikit yang dapat saya sampaikan diatas dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi pembaca sehingga dapat memahami lebih dalam perlu-tidaknya sunat dilakukan pada anak maupun orang dewasa di jaman modern.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
42 =Bahan Bacaan= Urantia Book - Paper 70 - The Evolution Of Human Government o 7. Primitive Clubs And Secret Societies - P.790 - Paper 89 - Sin, Sacrifice, And Atonement o 8. Redemption And Covenants - P.982 - Paper 92 - The Later Evolution Of Religion o 1. The Evolutionary Nature Of Religion - P.1003 - Paper 93 - Machiventa Melchizedek o 6. Melchizedek's Covenant With Abraham - P.1020 Gairdner DA. The fate of the foreskin. BMJ 1949;2:1433-1437 Preston EN. Wither the foreskin? A consideration of routine neonatal circumcision. JAMA 1970;213:1853-1858 Paige, Karen Eriksen. The ritual of circumcision. Human Nature, pp 40-48, May 1978 www.noharmm.org Hamid Rushwan, Female Circumcision, World Health Organization, Sept 1995

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
43

Two Pots
Author Unknown A water bearer in India had two large pots, each hung on the ends of a pole which he carried across his neck. One of the pots had a crack in it, while the other pot was perfect and always delivered a full portion of water. At the end of the long walk from the stream to the house, the cracked pot arrived only half full. For a full two years this went on daily, with the bearer delivering only one and a half pots full of water to his house. Of course, the perfect pot was proud of its accomplishments, perfect for which it was made. But the poor cracked pot was ashamed of its own imperfection, and miserable that it was able to accomplish only half of what it had been made to do. After 2 years of what it perceived to be a bitter failure, it spoke to the water bearer one day by the stream. I am ashamed of myself, and I want to apologize to you. I have been able to deliver only half my load because this crack in my side causes water to leak out all the way back to your house. Because of my flaws, you have to do all of this work, and you don't get full value from your efforts, " the pot said. The bearer said to the pot, "Did you notice that there were flowers only on your side of the path, but not on the other pot's side? That's because I have always known about your flaw, and I planted flower seeds on your side of the path, and every day while we walk back, you've watered them. For two years I have been able to pick these beautiful flowers to decorate the table. Without you being just the way you are, there would not be this beauty to grace the house. Moral: Each of us has our own unique flaws. We're all cracked pots. But it's the cracks and flaws we each have that make our lives together so very interesting and rewarding. You've just got to take each person for what they are, and look for the good in them. Blessed are the flexible, for they shall not be bent out of shape. Remember to appreciate all the different people in your life!

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
44

Asal Usul Astrologi
Membahas sejarah dan asal usul perkembangan astrologi, dan relevansinya dengan realitas kehidupan. Tanggal: 9/17/02 Masa depan, siapa yg tidak tertarik utk mengetahui masa depan? paling tidak, apa yg akan terjadi pada diri sendiri. Dan kalau kita membuka majalah-majalah, tabloid, situssitus komunitas di internet, bahkan dalam fasilitas sms, ada satu hal yang tidak pernah hilang hingga kini: ramalan Astrologi atau horoskop. Mengapa begitu banyak diantara kita yg masih terpaku pada metode ramalan yang telah dipraktekkan sejak ribuan tahun? Apa itu Astrologi? Sejak kapan Astrologi berkembang? Pertanyaan2 seperti ini akan kita coba bahas bersama. Sebagai tambahan/pelengkap, kita juga akan mengetahui scr ringkas apa kata Yesus mengenai Astrologi. Apakah itu Astrologi? Astrologi awalnya adalah ilmu yang mempelajari pergerakan dan posisi bulan, matahari dan bintang2 yang dipercayai berpengaruh pada kehidupan manusia. Dengan mempelajari pergerakan benda2 angkasa tersebut orang dapat mengetahui karakter seseorang, dan meramalkan masa depan seseorang. Seorang astrolog membuat peta yang disebut horoskop, yang berisi posisi-posisi benda2 ruang angkasa pada waktu tertentu, misalnya pada tanggal kelahiran seseorang. Horoskop digambarkan kedalam bentuk lingkaran yang menunjukkan orbit bumi terhadap matahari selama 1 tahun. Perputaran ini dibagi kedalam 12 bagian yang disebut Zodiak (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagittarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Kemudian setiap planet termasuk bulan dan matahari mewakili sifat dasar manusia, sedangkan zodiak mencerminkan karakteristik seseorang. Dari pemetaan tersebut seseorang yang lahir pada pertengahan bulan Mei memiliki bintang Gemini. Horoskop juga dibagi lagi kedalam 12 bagian waktu perputaran bumi selama 24 jam. Tiap bagian mencakup aspek tertentu dari kehidupan seseorang seperti jodoh, pekerjaan, kesehatan, dan lain sebagainya. Sejak kapan Astrologi berkembang? Apabila ditelusuri ternyata astrologi berkembang di berbagai peradaban manusia di dunia sejak lama. Awalnya masyarakat menemukan bahwa matahari berpengaruh terhadap perubahan musim dan panen ladang. Dari penemuan tersebut, manusia mengembangkan sistem kepercayaan bahwa planet-planet maupun bintang2 memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Bentuk astrologi yang pertama dan tertua dikembangkan di Babylonia sekitar 3000 tahun SM. Masyarakat di Cina diketahui mulai mempraktekkan astrologi sejak 2000 tahun SM.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
45 Beberapa bentuk lainnya ditemukan pada peradaban kuno di India dan Amerika (suku Maya). Pada 500 tahun SM, astrologi telah tersebar ke Yunani yang kemudian tersebar ke dataran Eropa. Astrologi menjadi sistem kepercayaan yang mendunia, walaupun dikecam oleh Gereja Abad Pertengahan. Efek positifnya, astrologi kemudian melahirkan ilmu perbintangan yang disebut Astronomi, namun astrologi tetap menjadi salah satu bagian sains hingga pada abad 16 pamor astrologi turun akibat astronomer seperti Galileo dan Copernicus mempublikasikan penemuan-penemuan astronomi yang revolusioner. Sejak itu astrologi tidak lagi dipandang sebagai sains, dan ilmuwan mulai memusatkan perhatiannya pada ilmu astronomi. Mengapa manusia suka membuat ramalan2 seperti astrologi tersebut? Dorongan ini alamiah dan terjadi karena manusia pada dasarnya didiami oleh Roh Tuhan. Pada mahluk hidup yg tidak didiami oleh roh (misalnya binatang) hanya dapat mengetahui masa kini dan masa lalu. Tetapi manusia karena didiami Roh memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan masa depan, sehingga dikatakan manusia memiliki 'insight'. Lalu mengapa astrologi terus bertahan sebagai bagian dari "pegangan hidup" orang banyak? Kembali lagi kepada sifat dasar manusia yang memiliki keingintahuan yang besar, termasuk ingin tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari. Forecasting, disamping mitologi, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah umat manusia. Astrologi begitu kuat daya tariknya, pada jaman Romawi-pun, Caesar berulangkali menghancurkan para ahli ramal, namun tetap saja astrologi dpt bangkit kembali. Saya tuliskan "pegangan hidup", karena astrologi pada jamannya merupakan bagian yg tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Contohnya pada pernikahan, seseorang yg memiliki latar budaya Tionghoa, atau lainnya mungkin akan segera mengenal adanya budaya menghitung tanggalan/hari baik untuk menikah. Kemudian kedua pasangan akan dihitung tingkat keberuntungan dan sialnya berdasarkan tanggal lahir mereka. Banyak sekali aplikasi astrologi pada kehidupan kita, bahkan di jaman modern ini, astrologi masih dilestarikan. Pandangan Yesus tentang Astrologi. Dalam diskusi dan tanya jawab bersama murid-muridnya, Yesus pernah membahas pertanyaan Andreas (Andrew) mengenai tahayul dan ilmu sihir. Dikatakan bahwa arah pergerakan dan jalur bintang-bintang di angkasa sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada kehidupan manusia di bumi. Astrologi adalah kesalahan tahayul besar yang tidak memiliki tempat di dalam injil kerajaan surga. Sedangkan astronomi adalah ilmu sains yang tepat untuk terus dikembangkan oleh umat manusia. Mengenai pandangan Yesus mengenai ilmu sihir dan jenis2 tahayul lainnya lebih jauh akan kita bahas dikemudian hari. Pandangan Anda? Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari kita, khususnya di Indonesia kehidupannya masih belum terlepas dari hal-hal seperti horoskop/ramalan/hong-shui dan

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
46 berbagai macam tahayul. Bahkan institusi2 agama tidak dapat menolak kecanduan umatnya terhadap ramalan. Ironi ini bisa dijelaskan karena pada agama2 tertentu justru berkembang dari nubuatan2 manusia tentang masa depan (misalnya konsep akhir jaman yang dikembangkan dalam agama Islam dan Kristen). Horoskop, salah satunya, telah dan masih terus menjadi gaya hidup banyak orang modern, yang kepribadiannya dibentuk, dan masa depannya tergantung pada pengamatan atas pergerakan bulan dan bintang. Lalu bagaimana dengan pandangan Anda pribadi? Mungkin Anda juga punya pengalaman-pengalaman tertentu mengenai hal ini yang dapat melengkapi pembahasan topik kita kali ini? Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikitnya menggugah semangat kita untuk mencoba mengupas kebenaran dibalik fenomena ramal-meramal ini. Salam hangat, Daniel V. Kaunang =Bahan= - Astrology, Doris A. Hebel, National Advisory Board, National Council for Geocosmic Research. - Urantia Book, Part 4 The Life of Jesus, Paper 150, Third Preaching Tour. - Webster College Dictionary

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
47

"SUATU WAKTU"
Suatu waktu Suatu tempat Aku ingin dapat berkumpul bersama saudara-saudari lainnya Dimana kita dapat bersama berdoa dan menyembah Tuhan dengan berbagai cara yang mengangkat jiwa Dimana kata-kata yang mendorong harapan selalu diucapkan Dimana tidak ada orang yang menunjuk kepadaku dan berkata "Kamu orang berdosa dan telah jatuh dihadapan kemuliaan Tuhan" Dimana aku tidak perlu menjaga perkataan dan pemikiranku karena tidak terdapat didalam buku suci Dimana orang tidak lagi saling menempatkan dirinya maupun orang lain pada kotakkotak aliran, agama, suku, kebudayaan, kebangsaan, umur, gender, dsb Dimana kita semua telah memiliki keterbukaan hati, pikiran serta ketulusan jiwa, lepas dari ikatan-ikatan iri, dusta, dendam, amarah dan prasangka Dimana setiap agama ada dan kita dapat saling berbagi pengalaman dan pertanyaan tidak hanya ttg agama-agama tetapi semua kebudayaan didalamnya Dimana kita dapat belajar dari pengalaman2 indah kebudayaan orang lain yang tidak kita dapatkan Dimana kita dapat berbagi filosofi, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, pelayanan komunitas, membangun kehidupan rumahtangga, dan lain-lain yang dapat meningkatkan hati dan jiwa. Aku ingin berada disana Suatu waktu Suatu tempat Words inspired from Cynthia McCarthy Daniel V. Kaunang

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
48

Ghosts of Our Past
=Pengantar= Menyambung pembahasan kita mengenai "kesadaran spiritual" menuju ke era persaudaraan umat manusia dan kesulitannya karena banyak agama mengklaim masing2 paling benar, berikut ini saya sajikan artikel yang cukup terkait dan sangat menarik yang berupaya mengupas akar penyebab terorisme (khususnya akhir2 ini) secara detail dan komprehensif. Karen secara khusus menyorot perlunya dikembangkan mentalitas "one world" ditahun-tahun mendatang sebagai solusi yang akan membawa perdamaian pada dunia. Selama orang-orang masih terkotak-kotak dan berpegang teguh pada egotisme, egoisme, ketidakpedulian dan prasangka, maka kesadaran bahwa seluruh umat manusia secara spiritual adalah satu saudara akan menjadi seperti apa yang Sdr. Kasarung tulis, HANYA MIMPI YANG SULIT TERWUJUD. Sebagai renungan dan referensi: Brotherhood is impossible on a world whose inhabitants are so primitive that they fail to recognize the folly of unmitigated selfishness. There must occur an exchange of national and racial literature. Each race must become familiar with the thought of all races; each nation must know the feelings of all nations. Ignorance breeds suspicion, and suspicion is incompatible with the essential attitude of sympathy and love. [UB P.597 - §5] Salam damai, Daniel V. Kaunang Penulis, Moderator AirKehidupan =Artikel= Ghosts of Our Past To win the war on terrorism, we first need to understand its roots By Karen Armstrong, January 2002 About a hundred years ago, almost every leading Muslim intellectual was in love with the West, which at that time meant Europe. America was still an unknown quantity. Politicians and journalists in India, Egypt, and Iran wanted their countries to be just like Britain or France; philosophers, poets, and even some of the ulama (religious scholars) tried to find ways of reforming Islam according to the democratic model of the West. They called for a nation state, for representational government, for the disestablishment of religion, and for constitutional rights. Some even claimed that the Europeans were better Muslims than their own fellow countrymen since the Koran teaches that the resources of a society must be shared as fairly as possible, and in the European nations there was beginning to be a more equitable sharing of wealth.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
49 'We cannot understand the present crisis without taking into account the painful process of modernization.' So what happened in the intervening years to transform all of that admiration and respect into the hatred that incited the acts of terror that we witnessed on September 11? It is not only terrorists who feel this anger and resentment, although they do so to an extreme degree. Throughout the Muslim world there is widespread bitterness against America, even among pragmatic and well-educated businessmen and professionals, who may sincerely deplore the recent atrocities, condemn them as evil, and feel sympathy with the victims, but who still resent the way the Western powers have behaved in their countries. This atmosphere is highly conducive to extremism, especially now that potential terrorists have seen the catastrophe that it is possible to inflict using only the simplest of weapons. Even if President Bush and our allies succeed in eliminating Osama bin Laden and his network, hundreds more terrorists will rise up to take their place unless we in the West address the root cause of this hatred. This task must be an essential part of the war against terrorism. We cannot understand the present crisis without taking into account the painful process of modernization. In the 16th century, the countries of Western Europe and, later, the American colonies embarked on what historians have called "the Great Western Transformation." Until then, all the great societies were based upon a surplus of agriculture and so were economically vulnerable; they soon found that they had grown beyond their limited resources. The new Western societies, though, were based upon technology and the constant reinvestment of capital. They found that they could reproduce their resources indefinitely, and so could afford to experiment with new ideas and products. In Western cultures today, when a new kind of computer is invented, all the old office equipment is thrown out. In the old agrarian societies, any project that required such frequent change of the basic infrastructure was likely to be shelved. Originality was not encouraged; instead people h! ad to concentrate on preserving what had been achieved. So while the Great Western Transformation was exciting and gave the people of the West more freedom, it demanded fundamental change at very level: social, political, intellectual, and religious. Not surprisingly, the period of transition was traumatic and violent. As the early modern states became more centralized and efficient, draconian measures were often required to weld hitherto disparate kingdoms together. Some minority groups, such as the Catholics in England and the Jews in Spain, were persecuted or deported. There were acts of genocide, terrible wars of religion, the exploitation of workers in factories, the despoliation of the countryside, and anomie and spiritual malaise in the newly industrialized mega-cities. Successful modern societies found, by trial and error, that they had to be democratic. The reasons were many. In order to preserve the momentum of the continually expanding economy, more people had to be involved- even in a humble capacity as printers, clerks, or factory workers. To do these jobs, they needed to be educated, and once they became

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
50 educated, they began to demand political rights. In order to draw upon all of a society's resources, modern countries also found they had to bring outgroups, such as the Jews and women, into the mainstream. Countries like those in Eastern Europe that did not become secular, tolerant, and democratic fell behind. But those that did fulfill these norms, including Britain and France, became so powerful that no agrarian, traditional society, such as those of the Islamic countries, could stand against them. Today we are witnessing similar upheaval in developing countries, including those in the Islamic world, that are making their own painful journey to modernity. In the Middle East, we see constant political turmoil. There have been revolutions, such as the 1952 coup of the Free Officers in Egypt and the Islamic Revolution in Iran in 1979. Autocratic rulers predominate in this region because the modernizing process is not yet sufficiently advanced to provide the conditions for a fully developed democracy. 'By the 15th century, Islam was the greatest world power-not dissimilar to the United States today.' In the West, we have completed the modernizing process and have forgotten what we had to go through, so we do not always understand the difficulty of this transition. We tend to imagine that we have always been in the van of progress, and we see the Islamic countries as inherently backward. We have imagined that they are held back by their religion, and do not realize that what we are actually seeing is an imperfectly modernized society. The Muslim world has had an especially problematic experience with modernity because its people have had to modernize so rapidly, in 50 years instead of the 300 years that it took the Western world. Nevertheless, this in itself would not have been an insuperable obstacle. Japan, for example, has created its own highly successful version of modernity. But Japan had one huge advantage over most of the Islamic countries: It had never been colonized. In the Muslim world, modernity did not bring freedom and independence; it came in a context of political subjection. Modern society is of its very nature progressive, and by the 19th century the new economies of Western Europe needed a constantly expanding market for the goods that funded their cultural enterprises. Once the home countries were saturated, new markets were sought abroad. In 1798, Napoleon defeated the Mamelukes, Egypt's military rulers, in the Battle of the Pyramids near Cairo. Between 1830 and 1915, the European powers also occupied Algeria, Aden, Tunisia, the Sudan, Libya, and Morocco-all Muslim countries. These new colonies provided raw materials for export, which were fed into European industry. In return, they received cheap manufactured goods, which naturally destroyed local industry. This new impotence was extremely disturbing for the Muslim countries. Until this point, Islam had been a religion of success. Within a hundred years of the death of the Prophet Muhammad in 632, the Muslims ruled an empire that stretched from the Himalayas to the

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
51 Pyrenees. By the 15th century, Islam was the greatest world power-not dissimilar to the United States today. When Europeans began to explore the rest of the globe at the beginning of the Great Western Transformation, they found an Islamic presence almost everywhere they went: in the Middle East, India, Persia, Southeast Asia, China, and Japan. In the 16th century, when Europe was in the early stages of its rise to power, the Ottoman Empire [which ruled Turkey, the Middle East, and North Africa] was probably the most powerful state in the world. But once the great powers of Europe had reformed their military, economic, and political structures according to the modern norm, the Islamic countries could put u! p no effective resistance. Muslims would not be human if they did not resent being subjugated this way. The colonial powers treated the natives with contempt, and it was not long before Muslims discovered that their new rulers despised their religious traditions. True, the Europeans brought many improvements to their colonies, such as modern medicine, education, and technology, but these were sometimes a mixed blessing. Thus, the Suez Canal, initiated by the French consul Ferdinand de Lesseps, was a disaster for Egypt, which had to provide all the money, labor, and materials as well as donate 200 square miles of Egyptian territory gratis, and yet the shares of the Canal Company were all held by Europeans. The immense outlay helped to bankrupt Egypt, and this gave Britain a pretext to set up a military occupation there in 1882. Railways were installed in the colonies, but they rarely benefited the local people. Instead they were designed to further the colonialists' own projects. And the missionary schools often taught the children to despise their own culture, with the result that many felt they belonged neither to the West nor to the Islamic world. One of the most scarring effects of colonialism is the rift that still exists between those who have had a Western education and those who have not and remain perforce stuck in the premodern ethos. To this day, the Westernized elites of these countries and the more traditional classes simply cannot understand one another. After World War II, Britain and France became secondary powers and the United States became the leader of the Western world. Even though the Islamic countries were no longer colonies but were nominally independent, America still controlled their destinies. During the Cold War, the United States sought allies in the region b! y supporting unsavory governments and unpopular leaders, largely to protect its oil interests. For example, in 1953, after Shah Muhammad Reza Pahlavi had been deposed and forced to leave Iran, he was put back on the throne in a coup engineered by British Intelligence and the CIA. The United States continued to support the Shah, even though he denied Iranians human rights that most Americans take for granted. 'We in the First World must develop a "one world" mentality in the coming years.' Saddam Hussein, who became the president of Iraq in 1979, was also a protégé of the United States, which literally allowed him to get away with murder, most notably the chemical attack against the Kurdish population.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
52 It was only after the invasion in 1990 of Kuwait, a critical oil-oducing state, that Hussein incurred the enmity of America and its allies. Many Muslims resent the way America has continued to support unpopular rulers, such as President Hosni Mubarak of Egypt and the Saudi royal family. Indeed, Osama bin Laden was himself a protégé of the West, which was happy to support and fund his fighters in the struggle for Afghanistan against Soviet Russia. Too often, the Western powers have not considered the long-term consequences of their actions. After the Soviets had pulled out of Afghanistan, for example, no help was forthcoming for the devastated country, whose ensuing chaos made it possible for the Taliban to come to power. When the United States supports autocratic rulers, its proud assertion of democratic values has at best a hollow ring. What America seemed to be saying to Muslims was: "Yes, we have freedom and democracy, but you have to live under tyrannical governments." The creation of the state of Israel, the chief ally of the United States in the Middle East, has become a symbol of Muslim impotence before the Western powers, which seemed to feel no qualm about the hundreds of thousands of Palestinians who lost their homeland and either went into exile or lived under Israeli occupation. Rightly or wrongly, America's strong support for Israel is seen as proof that as far as the United States is concerned, Muslims are of no importance. In their frustration, many have turned to Islam. The secularist and nationalist ideologies, which many Muslims had imported from the West, seemed to have failed them, and by the late 1960s Muslims throughout the Islamic world had begun to develop what we call fundamentalist movements. Fundamentalism is a complex phenomenon and is by no means confined to the Islamic world. During the 20th century, most major religions developed this type of militant piety. Fundamentalism represents a rebellion against the secularist ethos of modernity. Wherever a Western- style society has established itself, a fundamentalist movement has developed alongside it. Fundamentalism is, therefore, a part of the modern scene. Although fundamentalists often claim that they are returning to a golden age of the past, these movements could have taken root in no time other than our own. Fundamentalists believe that they are under threat. Every fundamentalist movement-in Judaism, Christianity, and Islam-is convinced that modern, secular society is trying to wipe out the true faith and religious values. Fundamentalists believe that they are fighting for survival, and when people feel their backs are to the wall, they often lash out violently. This is especially the case when there is conflict in the region. The vast majority of fundamentalists do not take part in acts of violence, of course. But those who do utterly distort the faith that they purport to defend. In their fear and anxiety about the encroachments of the secular world, fundamentalists-be they Jewish, Christian, or Muslim-tend to downplay the compassionate teachings of their scripture and overemphasize the more belligerent passages. In so doing, they often fall into moral nihilism, as is the case of the suicide bomber or hijacker. To kill even one person in the

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
53 name of God is blasphemy; to massacre thousands of innocent men, women, and children is an obscene perversion of religion itself. Osama bin Laden subscribes roughly to the fundamentalist vision of the Egyptian ideologue Sayyid Qutb, who was executed by President Nasser in 1966. Qutb developed his militant ideology in the concentration camps in which he, and thousands of other members of the Muslim Brotherhood, were imprisoned by Nasser. After 15 years of torture in these prisons, Qutb became convinced that secularism was a great evil and that it was a Muslim's first duty to overthrow rulers such as Nasser, who paid only lip service to Islam. Bin Laden's first target was the government of Saudi Arabia; he has also vowed to overthrow the secularist governments of Egypt and Jordan and the Shiite Republic of Iran. Fundamentalism, in every faith, always begins as an intra-religious movement; it is directed at first against one's own countrymen or co-religionists. Only at a later stage do fundamentalists take on a foreign enemy, whom they feel to lie behind the ills of their own people. Thus in 1998 bin Laden issued his fatwa against the United States. But bin Laden holds no official position in the Islamic world; he simply is not entitled to issue such a fatwa, and has, like other fundamentalists, completely distorted the essential teachings of his faith. The Koran insists that the only just war is one of self-defense, but the terrorists would claim that it is America which is the aggressor. They would point out that during the past year, hundreds of Palestinians have died in the conflict with Israel, America's ally; that Britain and America are still bombing Iraq; and that thousands of Iraqi civilians, many of them children, have died as a result of the American-led sanctions. None of this, of course, excuses the September atrocities. These were evil actions, and it is essential that all those implicated in any way be brought to justice. But what can we do to prevent a repetition of this tragedy? As the towers of the World Trade Center crumbled, our world changed forever, and that means that we can never see things in the same way again. These events were an "apocalypse," a "revelation"- words that literally mean an "unveiling." They laid bare a reality that we had not seen clearly before. Part of that reality was Muslim rage, but the catastrophe showed us something else as well. In Britain, until September 11, the main news story was the problem of asylum seekers. Every night, more than 90 refugees from the developing world make desperate attempts to get into Britain. There is now a strong armed presence in England's ports. The United States and other Western countries also have a problem with illegal immigrants. It is almost as though we in the First World have been trying to keep the "other" world at bay. But as the September Apocalypse showed, if we try to ignore the plight of that other world, it will come to us in devastating ways. So we in the First World must develop a "one world" mentality in the coming years. Americans have often assumed that they were protected by the great oceans surrounding the United States. As a result, they have not always been very well-informed about other

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
54 parts of the globe. But the September Apocalypse and the events that followed have shown that this isolation has come to an end, and revealed America's terrifying vulnerability. This is deeply frightening, and it will have a profound effect upon the American psyche. But this tragedy could be turned to good, if we in the First World cultivate a new sympathy with other peoples who have experienced a similar helplessness: in Rwanda, in Lebanon, or in Srebrenica. We cannot leave the fight against terrorism solely to our politicians or to our armies. In Europe and America, ordinary citizens must find out more about the rest of the world. We must make ourselves understand, at a deep level, that it is not only Muslims who resent America and the West; that many people in non-Muslim countries, while not condoning these atrocities, may be dry-eyed about the collapse of those giant towers, which represented a power, wealth, and security to which they could never hope to aspire. We must find out about foreign ideologies and other religions like Islam. And we must also acquire a full knowledge of our own governments' foreign policies, using our democratic rights to oppose them, should we deem this to be necessary. We have been warned that the war against terror may take years, and so will the development of this "one world" mentality, which could do as much, if not more, than our fighter planes to create a safer and more just world. Karen Armstrong is the author of The Battle for God: A History of Fundamentalism and Islam: A Brief History.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
55

CATATAN

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Kedua
56

Tentang Jurnal Air Kehidupan
Air Kehidupan adalah jurnal berisikan kumpulan tulisan, karya seni, artikel, dialog dan studi pribadi serta dari para penulis lainnya yang menggagas, mendukung, dan menyuarakan nilai-nilai hidup dan kemanusiaan yang selaras, harmonis dan termotivasi oleh kebenaran, keindahan dan kebaikan; cinta kasih. Pertama kali dipublikasikan dalam format newsletter dan didistribusikan secara terbatas melalui mailing list, kini jurnal Air Kehidupan ditempatkan pada situs internet sehingga lebih terjangkau secara luas.

airkehidupan.theronworks.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->