P. 1
Air Kehidupan Buku 3

Air Kehidupan Buku 3

|Views: 691|Likes:
Published by api-3734449
Jurnal Air Kehidupan sepanjang tahun 2003 dan awal 2004 masih banyak berbicara
\
seputar agama sebagaimana tahun sebelumnya, namun kali ini ulasan-ulasannya
\
disampaikan dalam scope fokus yang lebih teknis kepada sistem agama, dogma dan
\
doktrin kepercayaan yang telah terkristalisasi dalam agama-agama seperti Islam maupun
\
Kristen.
Jurnal Air Kehidupan sepanjang tahun 2003 dan awal 2004 masih banyak berbicara
\
seputar agama sebagaimana tahun sebelumnya, namun kali ini ulasan-ulasannya
\
disampaikan dalam scope fokus yang lebih teknis kepada sistem agama, dogma dan
\
doktrin kepercayaan yang telah terkristalisasi dalam agama-agama seperti Islam maupun
\
Kristen.

More info:

Published by: api-3734449 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Air Kehidupan

Buku Ketiga

Air Kehidupan Buku Ketiga - 2 Air Kehidupan - Buku Ketiga © 2004 Daniel V. Kaunang Rilis perdana format elektronik, April 2004 Buku ini dapat diperbanyak atau disebarluaskan dalam keadaan dan format yang seutuhnya tanpa harus mendapat terlebih dahulu persetujuan tertulis dari penulis. Partisipasi dan kontribusi Anda pada Air Kehidupan akan sangat berarti bagi seluruh pembaca. Kontribusi dapat berupa artikel, studi (filsafat, ilmiah, teologi), prosa, puisi, maupun buku-buku (baik hardcopy maupun versi elektronik), dan lainnya. Anda dapat menghubungi penulis melalui e-mail: danielvk@theronworks.com

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 3

Kata Pengantar
Jurnal Air Kehidupan sepanjang tahun 2003 dan awal 2004 masih banyak berbicara seputar agama sebagaimana tahun sebelumnya, namun kali ini ulasan-ulasannya disampaikan dalam scope fokus yang lebih teknis kepada sistem agama, dogma dan doktrin kepercayaan yang telah terkristalisasi dalam agama-agama seperti Islam maupun Kristen. Beberapa diantaranya cukup menyentuh dogma dasar kepercayaan sehingga pada tingkat pemahaman agama tertentu dapat menimbulkan riak-riak emosional atau persepsi yang negatif. Namun di sisi lain, ulasan-ulasan dalam buku ini juga mengalirkan semangat emansipasi dari pengekangan dan pembatasan ide-ide terhadap kebebasan spiritual manusia, sekaligus membawa semangat pembaruan yang dinamis terhadap kekakuan dogma dan doktrin-doktrin berbagai agama. Agama yang aturan-aturan dan doktrinnya terkristalisasi telah terbukti sulit memberikan kontribusi bagi dunia dan kemanusiaan yang selalu mengalami perubahan pada setiap jamannya. Oleh karena itulah lembaga agama sejatinya adalah lembaga agama yang dinamis, yang memiliki kerendahan hati untuk mengakui dan memperbaiki kekeliruan pemahaman teologisnya di masa lalu, yang mendukung dialog antar-agama, dan terbuka kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Semoga apa yang terangkum dalam Jurnal Air Kehidupan kali ini dapat sedikitnya memberikan manfaat intelektual maupun spiritual bagi kita semua. Salam kasih, Daniel V. Kaunang April 2004

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 4

Daftar Isi
Kata Pengantar................................................................................................................ 3 Apakah Yesus Diutus untuk Menebus Dosa Umat Manusia?.........................................5 Yang Dunia Butuhkan................................................................................................... 12 Neraka........................................................................................................................... 14 A child of God...............................................................................................................16 Deklarasi Etika Global.................................................................................................. 17 Pemahaman Agama.......................................................................................................21 Mengapa Kita Perlu Berdoa ?....................................................................................... 23 Sekte & Cult.................................................................................................................. 24 Berbeda Tanpa Konflik................................................................................................. 27 Poem of Conformity .....................................................................................................33 Mengapa Dialog Agama Sensitif.................................................................................. 34 Memaknai Secara Positif "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku"............35 Mengkaji Lembaga Agama........................................................................................... 36 Mengapa Hati Nurani Banyak Orang Tidak Berfungsi dengan Baik?.......................... 39 Merenungkan Kemerdekaan..........................................................................................43 Benarkah Poligami Sunah..?......................................................................................... 45 Bila Diri Sempit Hati.................................................................................................... 50 Injil Kerajaan Allah....................................................................................................... 54 Membongkar Teks Ambigu.......................................................................................... 60 Mengapa Babi Haram....................................................................................................64 Agama Islam dan Kristen Berasal dari Keturunan yang Sama......................................66 Tentang Jurnal Air Kehidupan...................................................................................... 68 Catatan...........................................................................................................................69

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 5

Apakah Yesus Diutus untuk Menebus Dosa Umat Manusia?
Oleh: Daniel Karya Penebusan adalah salah satu dogma yang fundamental dalam Kekristenan. Premis ini dikaitkan dengan konsep dosa asal (kutukan Tuhan terhadap Adam dan Hawa), dan Yesus telah datang untuk dikorbankan darahnya dan disalib untuk menebus dosa umat manusia. Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan secara Katholik sayapun telah diajarkan untuk menerima doktrin tersebut for granted. Namun saya tidak pernah dapat merekonsiliasi doktrin kepercayaan tersebut dengan batin dan iman saya. Saya bertanya-tanya, apakah Allah mau setega itu menjadikan AnakNya sendiri sebagai "tumbal" untuk menebus dosa umat manusia ?... Tuhan nggak gitu deh!... Cukup lama batin/nurani saya berbenturan dengan dogma tersebut, sehingga pada akhirnya saya merasa perlu mencari jawaban atau setidaknya titik temu atas pergumulan ini. Apakah Yesus diutus untuk menebus dosa umat manusia ? Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, saya memulai dengan mempelajari alkitab dari perjanjian lama sampai wahyu, menelusuri tafsir-tafsir yang men-validasi doktrin penebusan. Namun menelusuri kesemuanya itu berujung kepada ilustrasi yang paradoksikal, betapa Tuhan yang adalah Baik dan adalah Kasih, sekaligus juga merupakan Allah yang pemarah, pendendam, pencemburu, suka perang, dan (dengan dalih mengasihi umat manusia) tega menjadikan AnakNya sendiri sebagai "tumbal". Saya berada di dalam situasi pemikiran yang dilematis. Di sisi eksternal, dalam kondisi tersebut saya diajak untuk "... tidak usah pusing, percaya dan ikuti saja apa yang sudah digariskan Gereja..". Di sisi batin atau internal, saya juga merasa perlu "...[men] dengarkan kata hati nurani: cari, maka kau akan temukan...". Akhirnya saya ambil pilihan terakhir, mendengarkan kata nurani. Dalam pencarian saya berpikir, bukankah jalan yang terbaik adalah mencari jawaban langsung dari sumbernya? Dalam hal ini, mendengar dan mengetahui DARI pernyataan-pernyataan Yesus sendiri, Anak-Nya? Ini merupakan suatu pemikiran yang saya temukan cukup mengejutkan, karena ternyata masih jarang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai "pengikut Kristus". Saya punya landasan yang jelas, mengapa kita perlu mendengar dari Yesus sendiri. Tertulis demikian,

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 6 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." [Matius 17:5] Dia yang dimaksud tidak lain adalah Yesus dari Nazaret. Dengarkan apa yang Yesus ajarkan. Disini saya menemukan titik terang. Apakah Yesus sendiri yang mengajarkan dari awal bahwa dirinya datang untuk menebus umat manusia yang jatuh dalam dosa sejak Adam dan Hawa? Mari kita bahas bersama-sama. Interpretasi Ganda Saya menemukan ada ayat pernyataan Yesus yang dapat dianggap mensahkan premis penebusan, yaitu pada Matius 20:28. Kita perhatikan apa yang Yesus sampaikan waktu itu, "...untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (warna merah pada ayat kutipan menunjukkan pernyataan Yesus) Gereja dan teologian umumnya mengkaitkan pernyataan ini dengan konsepsi dosa asal dan kisah pengurbanan Abraham sehingga didapat eksegesi, penjelasan atas peristiwa penyaliban Yesus sebagai bagian dari rencana Allah. Saya mencoba merunut kepada konteks kejadian pada saat itu. Perhatikan bhw konteksnya adl masa-masa terakhir ketika Yesus bergumul dan dihadapkan pada kenyataan yang akan terjadi di masa depan, yaitu dirinya akan dihukum mati disalib. Yesus memberi petunjuk ttg apa yang akan terjadi pada dirinya. Dan hal ini divalidasi kemudian pada Lukas 23:18, Tetapi mereka berteriak bersama-sama: "Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!" Disini dapat diartikan konteksnya bhw Yesus pd waktu itu menyebutkan: ia harus memberikan nyawanya yang akan dijadikan tebusan bagi banyak orang, untuk kebebasan Barabas. Yesus menerangkan dalam sebuah metafor bahwa seorang gembala sejati rela memberikan nyawanya demi domba-dombanya. Ini juga lebih menunjukkan ajaran "cinta kasih tanpa pamrih", serta membuktikan bahwa kejahatan dapat dikalahkan dengan kebaikan. Pernyataan Yesus lainnya yang dianggap menunjuk kepada penebusan adalah perjamuan terakhir, Matius 26:26-28 atau Markus 14:22-24. Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecahmecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 7 Sekilas "tubuh" maupun "darah" dipahami sebagai simbol Kristus yang dijadikan kurban tebusan bagi dosa umat manusia. Tapi interpretasi lebih dalam menunjukkan bahwa (roti) "tubuh" merupakan simbol "kebenaran" dan (anggur/air) "darah" adalah simbol "pengampunan". Keduanya merupakan pokok ajaran yang selalu ditekankan oleh Yesus, dan akan kita bahas di bawah. Pelajari juga makna metafor ini dalam Yoh 6:50, "Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." dan Yoh 4:14, "...barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya..." Masih ada dua ayat lainnya dalam injil kanonik yang dapat diinterpretasi mendukung penebusan, tapi tidak saya masukkan pada kesempatan ini, karena juga memiliki "interpretasi ganda", bukan pernyataan yang secara eksplisit menunjuk ke soal penebusan maupun dosa asal. Namun jika ada yang mau mengangkatnya kemudian saya terbuka untuk membahasnya. Ketika Yesus memberitahukan masa depan yang akan terjadi pada dirinya, muridmuridnya sangat terguncang. Dalam Matius 16:21-23, dijelaskan: Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Ini semakin jelas menunjukkan bahwa Yesus selama hidupnya tidak pernah mengajarkan dirinya adalah penebus dosa umat manusia. Injil Kerajaan Allah Jadi apa sebenarnya tujuan Yesus diutus ke dunia ? Yesus telah menyebutkannya sendiri dengan jelas dalam Lukas 4:43: “...‘Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.’” Yesus diutus ke dunia untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Dan jika ditelaah akan tampak bahwa Kerajaan Allah ini merupakan tema yang sangat dominan dalam ajaranairkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 8 ajarannya. Lalu, apa Injil Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus? Bukankah Injil berarti Kabar baik? Kalau begitu apa yang menjadi kabar baiknya? Berikut ini beberapa pokok Injil Kerajaan Allah, Kabar Baik yang diajarkan Yesus selama hidupnya: 1. Bahwa Tuhan adalah Bapa dan kita semua adalah anak-anakNya. "Bapa kami..." [Matius 6:9] 2. Keselamatan/hidup kekal dicapai melalui hukum cinta kasih: Kasihi Tuhan Bapamu dan kasihi sesamamu manusia. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." [Matius 22:37-40] 3. Masuk kerajaan Allah dengan lahir kembali dari Roh, yaitu melakukan kehendak Bapa di sorga. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali..." [Yohanes 3:3-7] "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga..." [Matius 7:21] "...Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 9 mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." [Perumpamaan dua anak laki-laki: Matius 21:28-32] 4. Jadilah engkau sempurna, seperti Bapa di surga sempurna. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." [Matius 5:48] 5. Bapa Maha Pengampun. [Perumpamaan anak yang hilang: Lukas 15:11-32] 6. Yesus mengajarkan bagaimana dosa kita dapat diampuni Tuhan: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.” [Matius 6:14] 7. Berbagi kabar baik: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” [Matius 10:8] Pengampunan dan belas kasih Dari yang sudah saya pelajari sebelumnya, konsep penebusan merupakan tema dominan yang dapat ditemukan dalam Alkitab (Perjanjian Lama dan Surat-surat Paulus), namun konsep penebusan yang dikaitkan dengan dosa asal Adam dan Hawa itu tidak pernah diajarkan oleh Yesus dan tidak ditemukan dalam keempat injil. Setelah mempelajari apa yang Yesus ajarkan selama HIDUPNYA, saya TIDAK MENEMUKAN SATU AJARANPUN dari Yesus yang menyatakan bhw dirinya datang untuk menebus dosa umat manusia. Doktrin Penebusan dalam sejarahnya saya temukan lebih merupakan konsepsi Rasul Paulus yang diadopsi dari ajaran kurban Yahudi dan dijadikan dogma oleh Gereja. Berikut ini beberapa pernyataannya: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,...” [1 Korintus 15:3] “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” [Roma 3:23-25]

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 10 “kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.” [Galatia 1:3-4] “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita...” [Galatia 3:13] “...dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” [Efesus 5:2] “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. “ [1 Korintus 5:7] “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” [1 Timotius 2:5-6] “...yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban.” [Ibrani 7:27] “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” [Ibrani 9:22] Masih ada cukup banyak ayat -ayat lainnya yang menunjukkan pemahaman teologis Paulus akan darah, kurban, dan tebusan ini. Lihat juga Roma 5:6-21, Ibrani 9:12-15, 9:2428, 10:1-20, dll. Sehingga ini menjelaskan kembali bahwa konsep penebusan lebih merupakan dogma yang diajarkan secara konsisten oleh Rasul Paulus, yang cukup kontras dengan apa yang telah diajarkan secara konsisten oleh Yesus selama hidupnya. Sedangkan soal korban yang identik dengan konsep penebusan, Yesus sendiri telah mengatakan, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan..." [Matius 9:13] Perhatikan bahwa maksud persembahan disini adalah sacrifice/kurban, yang mana paralel dengan Hosea 6:6, "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 11 Umat manusia tidak pernah harus ditebus melalui korban persembahan siapapun, karena pengampunan dosa sudah tersedia dari Tuhan, notabene disebut sebagai Pertobatan dan Pengampunan. Seperti yang selalu diajarkan Yesus dalam doa: "...dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami..." "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." [Matius 6:14-15] Kesimpulan Setelah saya mengetahui secara lebih jelas ajaran-ajaran dari Yesus, saya dapat menarik beberapa benang merah: 1. Yesus mengajarkan bahwa umat manusia lemah, bukan terkutuk dosa asal (berdosa sejak lahir). "...roh memang penurut, tetapi daging lemah." [Matius 26:41] 2. Yesus menyatakan sendiri bahwa Dirinya diutus untuk mewartakan kebenaran, Injil Kerajaan Allah, bukan untuk disalib dan dikurbankan untuk menebus dosa umat manusia. 3. Yesus mengajarkan pengampunan bukan penebusan, dan belas kasih bukan persembahan/kurban. Saya mengerti jika apa yang saya temukan dan telah saya kemukakan diatas mungkin belum dapat diterima oleh sebagian orang. Berbagai bentuk penolakan telah saya alami, dari 'nasihat' halus sampai debat kusir di internet yang hanya berusaha menyudutkan pribadi saya dengan cerca dan cacian bahkan fitnah daripada berusaha meneliti substansi telaah yang telah saya buat. Tapi semua itu saya maklumi sebagai bagian dari proses, seperti berbagai bentuk penolakan yang dialami Copernicus karena mengemukakan teori heliosentris, yang bertentangan dengan teori geosentris yang saat itu menjadi kepercayaan Gereja dan umat pada umumnya. Saya tidak tertutup pada apapun, dan saya berterima kasih jika ada yang sudi memberikan tanggapan, koreksi dan masukan yang membangun untuk kajian ini. Sumber: – Alkitab LAI – Holy Bible New King James Version ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 12

Yang Dunia Butuhkan
Oleh: Daniel Coba perhatikan sekitar kita.. wabah penyakit, bencana alam (gempa, longsor), dampak perubahan cuaca, kemiskinan, kelaparan, dll. Mau sampai kapan kita terus mengurung kerangka berpikir kita pada hal-hal insignifikan seperti meributkan simbol-simbol keagamaan, mempertentangkan doktrin-doktrin usang, mengagung-agungkan kitab suci kuno sebagai yang paling benar, meributkan presiden harus muslim atau kristen, meributkan berbagai ritual jaman purba yang telah banyak mengakibatkan korban nyawa manusia dan segala macam hal lainnya yang sering diributkan oleh orang-orang yang ngakunya ingin "menegakkan akidah agamanya" masing-masing... tapi tak memperdulikan sekitarnya!??? Apalah artinya beragama? Sekedar untuk gagah-gagahan? "Hey, saya ini (muslim/kristen/buddha,dll) lho!" atau merasa bangga bisa menjalankan ritual-ritualnya? Rajin ke rumah ibadah? Atau bisa menjelek-jelekkan agama lain dalam setiap kotbah atau mimbar untuk kepuasan pribadi atau dalih mengkoreksi ajaran agama lain yang salah? Memang mudah sekali mencari-cari kesalahan dalam agama lain, tapi sudahkah kita mencari kesalahan-kesalahan dalam agama kita sendiri??? Beranikah kita menerima dan terbuka terhadap kebenaran jika ditemukan bahwa ternyata agama kita juga ada salahnya??? Mana yang lebih penting? "Presiden yang muslim atau kristen", atau "Presiden yang PEDULI terhadap bangsa secara keseluruhan" ?? Mana yang lebih indah? "orang-orang yang menonjolkan agamanya sendiri, menganggap kelompoknya paling benar", atau "orang-orang yang menonjolkan toleransi, menganggap umat manusia adalah keluarga" ?? Mana yang lebih baik? "orang-orang 'beragama' yang berjuang untuk menjatuhkan/memerangi agama-agama lain yang dianggap kafir", atau "orang-orang yang berjuang untuk mempersatukan kesamaan-kesamaan dan mengharmoniskan perbedaanperbedaan dalam agama-agama" ?? Point saya, stop. Hentikan. Tak usah kita bicara soal agama, apalagi soal Tuhan kalau kita hanya melulu melihat dunia dengan sebelah mata, masih merasa diri/agama/Tuhannya paling benar, membenci manusia/kelompok lain yang dianggap sebagai musuh, dll. Dunia tidak butuh orang-orang religius fanatik yang tujuan utamanya membela institusi dan menjunjung tinggi kelompok agamanya sendiri.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 13 Dunia tidak butuh "katak-katak dalam tempurung" yang memelihara ketakutan terhadap perubahan. Dunia tidak butuh orang-orang picik yang selalu mengobarkan semangat memerangi orang lain yang tidak seagamanya. Tapi yang dunia butuhkan untuk saat ini dan masa depan adalah manusia-manusia yang mampu membuahkan solusi-solusi global bagi alam dan kemanusiaan secara keseluruhan untuk mewujudkan perdamaian dan cinta kasih yang sesungguhnya. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 14

Neraka
Oleh: Daniel Tanggal: 2/04/04 Doktrin agama yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan neraka untuk menghukum atau menyiksa jiwa-jiwa manusia ataupun malaikat yang berdosa menurut saya pribadi merupakan doktrin yang absurd. Analogi saya begini, seorang ayah tidak akan tega melihat anaknya menderita, tersiksa, apalagi melakukan penyiksaan, betapapun dia telah melakukan kesalahan. Jika seorang ayah di dunia saja tidak mau menyiksa anaknya sendiri, apalagi Bapa yang ada di surga yang MAHA pengasih lagi penyayang?? Jaman dulu banyak orang (dan orang tua) beralasan bahwa kalau anak bersalah harus dipukul, dimarahi, dsb, karena itu menunjukkan tanda kasih sayang. Pembenaran terhadap Neraka memiliki landasan pola pikir yang serupa, jika manusia berdosa, maka harus dihukum. Tapi saya tidak dapat menerima alasan/pembenaran seperti itu. Menurut saya adalah sangat keliru jika cinta kasih dicampuradukkan dengan berbagai perbuatan jahat/kejam berupa kekerasan fisik, ledakan emosi amarah, dan lain-lain. "...sebab Allah adalah kasih." [1Yoh. 4:8] dan "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia..." [Roma 13:10] "Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?" [Yakobus 3:11] Jadi, apakah TUHAN, yang "adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia" [Mazmur 103:8] juga sekaligus tega berbuat jahat dengan menyiksa anak-anakNya yang tidak menurut kehendakNya dengan mencemplungkan ke neraka selama-lamanya? Bahkan absurditas tersebut tampaknya juga sudah dirasakan oleh Paus Yohanes Paulus II, sehingga beliau di tahun 90an merasa perlu "mengkoreksi pemahaman" jemaat soal neraka. Sri Paus menjelaskan bahwa berbagai penggambaran tentang neraka dalam Kitab Suci perlu diinterpretasi secara lebih tepat. Neraka bukan sekedar sebuah tempat, tapi neraka menunjukkan KEADAAN manusia yang dengan kesadaran penuh memisahkan diri dari Tuhan. Neraka bukan bentuk hukuman abadi oleh Tuhan, melainkan kondisi yang dihasilkan dari sikap-sikap dan tindakan yang diperbuat orang dalam hidupnya.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 15 Neraka bukan ciptaan Tuhan, melainkan ciptaan manusia sendiri... (L'Osservatore Romano 4 Agustus 1999) Kepercayaan neraka memang telah memiliki peran penting dalam "menjinakkan" peradaban manusia barbar di masa lalu.. Tujuan doktrin tersebut mengutamakan manusia agar TAKUT akan Tuhan. Tapi di masa sekarang sudah tampak tidak relevan dengan sifat Kasih Ilahi yang semakin terungkap dalam segala sendi kehidupan manusia yang mendambakan cinta kasih dan perdamaian. Orang yang mengasihi Tuhan, tidak perlu takut akan Tuhan. Seorang anak mengasihi ayah kandungnya bukan karena takut kepadanya, tapi karena semata-mata sang anak mengasihi ayahnya, sebagaimana sang ayah telah begitu mengasihi anak-anaknya. Begitu pula Tuhan, yang telah mengasihi anak-anakNya. Sudah waktunya kita menyadari kasih karunia dari Tuhan dan mengalirkannya kepada sesama manusia, saudara-saudari kita, tanpa pamrih. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 16

A child of God
i am a child of God He is my Father His fragment dwells within me nurturing me as i grow showing me the way of everlasting truth, beauty, and goodness i am a child of God you are my brother and sister as i see Him within me i see Him within you so to love Him is to love you as our Father loves each one of us i am a child of God i have come to realise that each of us is unique and independent yet we are not separate in the fatherhood of God and the brotherhood of man (Daniel V. Kaunang)

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 17

Deklarasi Etika Global
Oleh: Daniel Tanggal: 12/23/03 "Akan ada damai di bumi ketika ada damai di antara agama-agama dunia." "Tidak ada perdamaian dunia tanpa adanya perdamaian di antara agama-agama; tidak ada damai diantara agama-agama tanpa adanya dialog antar agama." Dari buku "Global Responsibility" oleh Hans Kung, teologian Deklarasi berikut ini dipersiapkan melalui perundingan selama dua tahun oleh sekitar 200 sarjana yang mewakili banyak agama di dunia. Kemudian pada tgl 4 September 1993 ditunjukkan pada Parlemen Agama-Agama Dunia yang diselenggarakan di Chicago, IL. Deklarasi tersebut, ditambah dengan Prinsip Etika Global, ditandatangani oleh 143 pemuka dan tokoh agama seluruh dunia, termasuk Baha'i World Faith, Brahmanisme, Brahma Kumaris, Buddhisme, Kristen, Hindu, Indigenous, Interfaith, Islam, Jainisme, Judaisme, Native American, Neo-Pagan, Sikhisme, Taoisme, Theosophist, Unitarian Universalist dan Zoroastrian. Lalu Konsili untuk Parlemen Agama-agama Dunia mengajukan kepada dunia sebagai pernyataan awal mengenai aturan hidup yang dapat disetujui oleh seluruh agama-agama dunia. Menuju Etika Global (Deklarasi Pertama) Dunia sedang berada dalam penderitaan. Penderitaan yang begitu dalam dan genting sehingga kami terdorong untuk menyebutkan berbagai manifestasinya agar kedalaman rasa sakit ini dapat diperjelas. Damai mengelak dari kita... planet ini sedang dihancurkan... sesama hidup dalam ketakutan... perempuan dan laki-laki saling terasingkan... anak-anak mati! Ini sungguh menyedihkan! Kami mengutuk perusakan terhadap ekosistem-ekosistem bumi. Kami mengutuk kemiskinan yang mencekik potensi kehidupan; kelaparan yang melemahkan tubuh manusia, jenjang perbedaan ekonomi yang mengancam kejatuhan banyak keluarga. Kami mengutuk kekacauan sosial bangsa-bangsa; ketidakpedulian terhadap keadilan yang mendorong warga ke pinggiran; anarkisme yang marak di masyarakat; dan kematian

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 18 anak-anak dari kekerasan. Secara khusus kami mengutuk agresi dan kebencian dalam nama agama. Namun penderitaan ini tidak perlu terjadi. Hal ini tidak perlu terjadi karena landasan untuk suatu etika sudah ada. Etika ini menawarkan kemungkinan akan terciptanya individu dan tatanan global yang lebih baik, dan membawa jauh individu-individu dari keputus-asaan, dan menjauhkan masyarakat dari kekacauan. Kami adalah perempuan dan laki-laki yang telah memeluk ajaran dan praktik-praktik agama-agama dunia. Kami menegaskan bahwa ada norma yang mutlak dan tidak dapat disanggah bagi seluruh area kehidupan, untuk para keluarga dan masyarakat, untuk ras-ras, bangsa-bangsa, dan agama-agama. Sejak lama telah ada garis pedoman bagi perilaku manusia yang ditemukan dalam ajaran-ajaran agama di dunia dan yang merupakan syarat untuk tatanan dunia yang baik. Kami menyatakan: Kami saling bergantung. Masing-masing bergantung pada kesejahteraan keseluruhan, dan dengan demikian kami memiliki rasa hormat terhadap masyarakat, terhadap penduduk, binatang, dan tumbuhan, dan untuk pemeliharaan Bumi, udara, air dan tanah. Kami memegang tanggung-jawab individual untuk semua yang kami lakukan. Seluruh keputusan kami, tindakan, dan kegagalan bertindak memiliki akibat-akibatnya. Kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita menghendaki orang lain memperlakukan kita. Kami membuat komitmen untuk menghargai hidup dan martabat, individualitas dan perbedaan, agar supaya setiap orang diperlakukan secara manusiawi tanpa pengecualian. Kita harus memiliki kesabaran dan sikap menerima. Kita harus mampu memaafkan, belajar dari masa lalu tapi tak pernah membolehkan diri kita diperbudak oleh ingatan-ingatan kebencian. Membuka hati kita kepada sesama, kita harus membenamkan perbedaan-perbedaan sempit diantara kita untuk ke arah masyarakat dunia, mempraktekkan budaya solidaritas dan kebersamaan. Kami menganggap umat manusia sebuah keluarga. Kita harus berusaha menjadi baik dan murah hati. Kita tidak boleh hidup hanya untuk diri kita sendiri saja, tapi juga perlu melayani sesama, jangan pernah lupakan anak-anak, para lanjut usia, para fakir miskin, para penderita, para cacat, para pengungsi dan yang kesepian. Tidak seorangpun yang harus dianggap atau diperlakukan sebagai warga kelas-dua, atau dieksploitasi dalam cara apapun. Harus ada kesetaraan dalam persekutuan antara laki-laki dan perempuan. Kita

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 19 jangan melakukan pelanggaran seksual. Kita harus menaruh kebelakang kita segala bentuk penguasaan atau penyalah-gunaan. Kami berkomitmen pada kebudayaan non-kekerasan, kehormatan, keadilan, dan kedamaian. Kita tidak akan menindas, melukai, menyiksa, atau membunuh sesama manusia lain, meninggalkan kekerasan sebagai alat untuk menyelesaikan perselisihan. Kita harus berupaya bagi tatanan ekonomi dan sosial yang adil, yang mana setiap orang memiliki kesempatan sama untuk mencapai potensi penuh sebagai mahluk hidup. Kita harus berbicara dan bertindak yang sesungguhnya dan dengan kasih sayang, berurusan secara adil dengan semua orang, dan menghindari prasangka dan kebencian. Kita tidak boleh mencuri. Kita harus melangkah melewati dominasi ketamakan akan kekuasaan, gengsi, uang, konsumsi untuk menciptakan dunia yang damai dan adil. Dunia tidak dapat diubah menjadi lebih baik kecuali kesadaran para individu diubah terlebih dahulu. Kami berjanji untuk meningkatkan kesadaran kami dengan mendisiplinkan pikiran, dengan meditasi, dengan doa, atau dengan pikiran positif. Tanpa resiko dan kesiapan untuk berkorban tidak akan ada perubahan yang fundamental dalam situasi kita. Oleh karena itu kami berkomitmen untuk etika global ini, untuk saling memahami, dan untuk jalan hidup yang secara sosial bermanfaat, cinta damai, dan ramah terhadap alam. Kami mengundang semua orang, siapapun, beragama maupun tidak untuk melakukan hal yang sama. Referensi Joel Beversluis, Ed, "A SourceBook for Earth's Community of Religions", CoNexus Press, Grand Rapids, MI & Global Eductional Associates, New York, NY, (1995), P. 131 - 138. Petikan-petikan dari “Prinsip-prinsip Etika Global” Beberapa petikan yang merujuk perihal toleransi beragama.

Mukadimah/Preamble “... Dari waktu ke waktu kita melihat para pemimpin dan jemaat agama-agama mendorong agresi, fanatisme, kebencian dan xenophobia (ketidaksukaan pada yang serba asing) – bahkan mengilhamkan dan melegitimasi kekerasan dan konflik-konflik berdarah. Agama seringkali disalahgunakan demi mencapai tujuan-tujuan kekuasaanpolitik, termasuk perang.”

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 20

Tuntutan mendasar: setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi “...Tentu saja, agama-agama dapat dipercaya hanya ketika mereka melenyapkan berbagai konflik yang muncul dari agama-agama itu sendiri, membongkar kecongkakan kelompok, kecurigaan, prasangka, dan bahkan sikap dan kesan bermusuhan. Dengan demikian menunjukkan hormat pada tradisi, tempat-tempat suci, perayaan dan ritual orang-orang yang berbeda keyakinan...” Direktif mutlak: Komitmen pada budaya non-kekerasan dan menghargai hidup “... Setiap masyarakat, setiap bangsa, setiap agama harus menunjukkan toleransi dan rasa hormat –apresiasi tinggi yang sungguh-sungguh– terhadap setiap yang lain. Minoritas perlu dilindungi dan didukung, apakah itu ras, etnis atau keagamaan...” Direktif mutlak: Komitmen terhadap budaya toleransi dan kejujuran “...di seluruh dunia, kami tak habis-habisnya menemukan kebohongan dan ketidakjujuran, penipuan, kemunafikan, faham sempit dan penghasutan... Para wakil agama-agama yang menolak dan tidak menghargai agama-agama lain dan yang mengajarkan/mengkotbahkan fanatisme dan intoleransi daripada hormat dan pengertian... Tidak satupun perempuan atau laki-laki, institusi, negara atau lembaga agama atau komunitas religius yang berhak berbicara kebohongan kepada orang lain.... Terutama wakil agama ketika mereka menggerakkan prasangka, kebencian dan permusuhan terhadap orang-orang yang berlainan kepercayaan, atau bahkan menghasut atau melegitimasi perang agama, mereka pantas mendapatkan penghukuman dan kehilangan para pengikutnya.” Direktif mutlak: Komitmen terhadap budaya kesetaraan hak dan kemitraan antara lakilaki dan perempuan. “... Kami memiliki tugas untuk melawan dominasi jenis kelamin satu terhadap lainnya yang diajarkan –bahkan dalam nama agama...”

Referensi Joel Beversluis, Ed, "A SourceBook for Earth's Community of Religions", CoNexus Press, Grand Rapids, MI & Global Educational Associates, New York, NY, (1995), P. 131 - 138. Hans Küng, "Explanatory remarks concerning a 'Declaration of the Religions for a Global Ethic.' " Termasuk di dalam esei adalah deklarasi. Lihat : http://astro.ocis.temple.edu/~dialogue/Antho/kung.htm ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 21

Pemahaman Agama
Oleh: Nugroho Tanggal: 12/11/03 Saya amati sebetulnya pemahaman agama itu ada beberapa tingkatan. Ada yang masih level dasar, di level agama LOKAL, yang menganggap right or wrong is my religion. Semua orang lain kafir dan masuk neraka. Mereka tidak memperhitungkan bangsa lain, atau penduduk planet lain, kalau ada. Berputar-putar dalam perdebatan ritual-ritual dan tradisi-akidah yang sudah berabad-abad membeku dalam tulisan para ulama, ribuan tahun yang lalu. Mengucapkan salam selalu harus pakai kata-kata "syaloom". Saking konyolnya, sehingga perdebatan tatacara puasa jika dimuat di harian Pos Kota pun akan sangat menggelikan. Pertanyaannya di Pos Kota bunyinya akan seperti ini "Kalau puasa, boleh sikat gigi atau tidak?" Ada yang di level agama GLOBAL, yang menganggap humanity dan mother Earth adalah yang terpenting. bagi yang di level ini, menyanyikan "imagine there is no religion" and "we are the children (of the world)" Mereka sibuk membuat dialog antar agama, mungkin ingin menyusun sebuah agama baru, lintas-agama. Atau ingin mereformasi agamanya meniru agama orang lain. Debat salah benar ajaran menjadi amat kritis, ketika proses tukar-menukar paham dilakukan. Ada yang sampai di level UNIVERSAL, yang memandang ke alam semesta dan menganggap bahwa dirinya adalah bagian integral dari kosmos yang utuh. Mereka memandang ke langit, dan menganggap diri mereka sebagai bagian dari keluarga dan peradaban jutaan bintang-bintang yang bertaburan di sana. Agama mereka melampaui batas ruang dan waktu. Mereka memandang keilahian dan Tuhan adalah tujuan hidup mereka, seperti para sufi yang paham bahwa cintakasih adalah nilai tertinggi semesta, dan dari mulut mereka bahkan mengaku "anal haq..." Kalau Anda merasa masih berada di level lokal, maka cukup ikutilah milis-milis agama Anda yang restricted, moderated, dan penuh slogan-slogan. Hasil yang Anda dapat adalah tambahan pengetahuan tatacara ritual plus "iman" agar Anda lebih fanatik menjalankan ritual-ritual itu semua. Tapi awas, terlalu over indoktrinasi di level satu akan membuat Anda menjadi seperti Amrozi. Kalau Anda ikut milis Islam kristen Anda pasti akan marah-marah terus dan berniat membunuh musuh diskusi Anda.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 22 Jika Anda berani diskusi di milis Islam kristen, proletar, apakabar, atau di milis hindu, dan pendapat Anda bisa diterima orang lain, maka Anda mungkin masuk level kedua, agama global. Anda akan belajar banyak hal yang Anda tidak tahu, penjelasan yang lebih masuk akal tentang berbagai ritual, dsb. Anda sadar bahwa umat manusia ini agamanya bermacam-macam. Iman Anda pada Tuhan yang disembah bersama akan makin diperkuat (asal tidak kalah debat melawan penganut atheis lalu murtad jadi atheis... he he he). Memang problem utama di level ini adalah jika orang atheis ikutan, bisa kacau diskusinya... Problem lain jika over fanatik di level ini akan menjadi amat sekuler dan humanis, tidak percaya ajaran kitab suci manapun, dan hanya percaya pada logika manusia, mungkin juga jadi atheis. Namun Tuhan itu faktanya adalah pencipta alam semesta, bukan sekedar tanah Palestina atau Bumi ini saja. Semestinya kita sampai pada level ketiga, level universal, karena di situlah Tuhan itu ada. Di diskusi level ini, tidak ada lagi yang mudah tersinggung. Semua merasakan kesamaan dalam roh, dan persaudaraan semesta. Serangan kelompok atheis juga dihadapi dengan santai saja, dan dibalas dengan argumen yang lebih kuat. Problemnya, terlalu over di level ini membuat kita tidak membumi, dan jadi manusia suci atau sufi yang aneh. Seperti sekolah, semua manusia tidak bisa loncat langsung masuk kelas tiga. Semua, Anda dan saya, terlebih dahulu harus paham level satu, kemudian dua. Kalau sudah paham di level itu, dan masih ada pertanyaan yang tidak terjawab, maka dengan sendirinya kita ingin naik kelas. Jawaban pertanyaan kita ada di kelas yang lebih tinggi. Kita ikuti dulu semua ritual dan akidah di level satu. Kemudian jika ulama kita tidak bisa menjelaskan asal usul suatu tradisi, maka kita coba dengar pendapat agama lain di level dua. Kalau kita sudah tukar pendapat dengan agama lain dan masih juga tidak terjawab, maka berarti jawabannya ada di level tiga. Kalau itu juga masih tidak terjawab juga, berarti kita mesti tunggu karir berikutnya di alam yang lebih tinggi, setelah meninggal. Setelah perjalanan panjang, kita akhirnya akan bertemu Tuhan. Terjawabkah semua pertanyaan? Mungkin ya, mungkin juga tidak, karena buktinya sekarang ini evolusi alam semesta juga belum selesai. Lagipula, kalau kita bisa menjawab semua pertanyaan, berarti kita sama dengan Tuhan, dong? Itu tidak mungkin. Tuhan lebih dari pemahaman seluruh makhluk dan alam semesta digabung jadi satu. Disainer punya alternatif tidak terbatas. Dia yang menciptakan sistem semesta ini pasti jauh lebih dari ciptaannya sendiri. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 23

Mengapa Kita Perlu Berdoa ?
Oleh: Daniel Tanggal: 11/21/03 Doa adalah jalan terbaik dalam berhubungan dengan Tuhan. Namun doa yang baik bukanlah untuk memohon agar jalan bagi kita dibukakan, melainkan untuk mencari jalan yang Tuhan kehendaki. Doa merupakan aktifitas yang sangat baik dalam membangun kepercayaan berkomunikasi dengan Pencipta dan membantu dalam segala aspek hidup keseharian kita. Berdoa menggali saluran yang lebih dalam agar kehadiran Tuhan berdiam di dalam diri kita. Setiap doa-doa kita telah dijawab. Akan tetapi jika jawaban pada doa-doa kita ditunda, itu dapat dikarenakan alam semesta punya jawaban lebih baik di sepanjang jalan kehidupan Anda. Tuhan menjawab seluruh doa-doa kita dengan membuka tingkaptingkap rahasia kebenaran secara bertahap. Dengan demikian doa merupakan pendorong pertumbuhan spiritual Anda yang paling manjur. Ada beberapa kondisi/prasyarat yang perlu diperhatikan agar doa menjadi efektif: 1. Anda harus tegar menghadapi berbagai realitas problema hidup secara tulus dan teguh hati. Anda harus memiliki stamina / kegigihan. 2. Anda sudah benar-benar menguras tenaga dalam batasan kapasitas manusiawi. Anda harus telah bekerja sekuat tenaga. 3. Anda harus melepaskan segala keinginan dari pikiran dan segala idaman dari jiwa bagi transformasi pertumbuhan spiritual. Anda telah mengalami perluasan arti dan peningkatan nilai-nilai hidup. 4. Anda harus memilih kehendak Ilahi dengan sepenuh hati. 5. Anda tidak hanya mengenal kehendak Bapa dan memilih untuk melaksanakannya, tapi Anda juga telah menjalankan konsekrasi total serta dedikasi yang dinamis dalam melakukan kehendak Bapa secara sungguh-sungguh. 6. Doa Anda ditujukan secara khusus untuk mencapai kebijakan ilahi (divine wisdom) yang dapat digunakan untuk memecahkan berbagai problematika hidup manusia, mencapai kesempurnaan ilahi. Bahan bacaan : The Urantia Book, Paper 91 – The Evolution of Prayer, 9. Conditions of Effective Prayer, p.1002 ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 24

Sekte & Cult
Oleh: Daniel Tanggal: 11/09/03 Sekte maupun cult merupakan hasil dari dorongan sifat manusia yang alami untuk berkelompok dan bersosialisasi berdasarkan suatu pemahaman yang diakui secara kolektif. Namun dalam perkembangannya, terbentuk sekte-sekte yang menerapkan hirarki otoriter, bahkan mengandung ajaran-ajaran yang dinilai cukup destruktif terhadap pola pikir dan mentalitas anggotanya. Tulisan ini mencoba menjabarkan secara ringkas apa yang dimaksud dengan sekte dan cult, ciri-ciri kelompok yang bersifat merusak fisik, mental maupun psikologis, serta beberapa tips yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan atau menilai suatu kelompok. Sekte adalah suatu golongan yang memiliki paham, cara hidup dan doktrin yang dapat dibedakan dari yang lain. Pada dasarnya hampir semua agama intelektual merupakan sekte (atau cult), atau setidaknya berangkat dari sekte baru atau denominasi pecahan dari yang sudah ada. Cult, atau kultus, adalah kelompok yang memiliki suatu bentuk pemujaan, penghormatan (seringkali yang berlebihan) terhadap tokoh (tunggal maupun jamak), badan organisasi atau hirarki tertentu, atau hal lainnya. Cult dapat dikategorikan kedalam berbagai aspek antara lain kelompok religius agama, kelompok terapi, partai politik, kelompok bisnis komersil, gerakan zaman baru, dan kelompok penyalahguna ritual. Walaupun kelompok otomotif mania atau kelompok pemuja film tertentu bisa disebut cult, sisi negatif pemahaman istilah cult digunakan terhadap sekte keagamaan/bisnis/politik yang dinilai eksklusif, sektarian, berahasia (occult), dan destruktif. Ciri-ciri utama cult yang destruktif antara lain: 1. Pengendalian Pikiran (Mind Control). Memanipulasi dengan menggunakan teknik bujukan/rayuan, atau teknik-teknik pengubah perilaku lainnya yang dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan korban. Faktor "Rasa Takut" sering digunakan untuk mengendalikan dan mempertahankan kesetiaan pengikut, dengan ragam ancaman halus seperti, kalau murtad tidak akan selamat, kalau keluar dari kelompok, akibatnya akan jauh lebih parah daripada sebelum masuk, dan sejenis lainnya. 2. Kepemimpinan Karismatik dan atau Otoritarian. Mengklaim diri pemimpin kelompok sebagai tuhan/dewa, atau klaim memiliki pengetahuan khusus dan memiliki kekuasaan

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 25 dan hak-hak istimewa serta menuntut kesetiaan dan kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan. Tipu Muslihat. Merekrut dan menggalang dana dengan tujuan rahasia dan tanpa mengungkapkan penggunaan teknik pengendalian pikiran. Eksklusifitas. Suka merahasiakan, mengelakkan atau mengaburkan hal-hal tertentu yang berkaitan dengan aktifitas dan kepercayaan yang dianut. Pengasingan. Memberi jarak atau memisahkan diri dari keluarga, rekan atau masyarakat, terjadi perubahan nilai-nilai dan karakter, serta menjadikan cult yang diikuti sebagai "keluarga" baru. Eksploitasi. Dapat berbentuk finansial, fisikal, atau psikologis. Tekanan untuk memberi uang (donasi, iuran, dll), menghabiskan waktu atau uang untuk berbagai pelatihan, atau memberi secara berlebihan untuk proyek tertentu, atau melakukan aktifitas seksual yang tidak pantas, bahkan penyiksaan anak. Pandangan Totalitarian terhadap dunia (pengkotak-kotakan, sindrom Kita-mereka). Mengakibatkan pola pikir "diluar kelompok kami adalah kafir", ketergantungan pada kelompok, mengutamakan tujuan-tujuan kelompok diatas individu, dan menyetujui sikap-perilaku tidak etis sambil mengklaim benar.

3. 4. 5. 6.

7.

Jika seseorang ingin memutuskan untuk bergabung ke dalam suatu kelompok keagamaan tertentu, setidaknya terlebih dahulu harus meninjau dengan seksama apa saja yang diajarkan. Berikut ini beberapa hal relevan yang dapat dipertimbangkan/dipertanyakan ketika menilai/mengevaluasi suatu denominasi atau sekte (sumber dari Sects - Knowledge Protects! An informational brochure from the- Austrian Ministry for Environment, Youth and Family). 1. Apakah dunia sedang menuju kepada suatu jenis malapetaka (mis. kiamat, akhir jaman), dan hanya kelompok tersebut yang tahu bagaimana mencapai selamat? 2. Apakah kelompok tersebut memiliki resep manjur untuk menanggulangi segala masalah? Apakah ajaran-ajaran kelompok tersebut dijabarkan sebagai suatu bentuk sains? 3. Apakah pandangan yang diberikan terhadap dunia terasa simpel dan sederhana, dan apakah hal tsb menjelaskan tiap problema? 4. Apakah ada ketergantungan yang kuat pada figur/sosok karismatik pemimpin (master / guru / bapa / ibu) atau pada hirarki otoritas? 5. Apakah pemikiran dibatasi dalam koridor "hitam putih"? 6. Apakah ada kajian sains atau pemikiran rasional yang ditolak? 7. Apakah kurang/tidak diperbolehkan bersikap kritis dalam komunitasnya? 8. Apakah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tampak dihindari, dielakkan dengan beragam alasan atau apakah jawabannya tampak diulur, ditunda? 9. Apakah ada buku-buku dan laporan berita surat kabar yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok yang bersangkutan? Apakah kritik dan penolakan dari pihak luar dianggap bukti bahwa kelompok itu benar?

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 26 10.Apakah ada ke-kurang-terbukaan atau kurangnya transparansi sehubungan dengan permintaan finansial yang dikenakan pada anggotanya? 11.Apakah jadwal pertemuan dibatasi/terisolasi, atau terbatas hanya boleh menggunakan buku atau film tertentu saja, atau melarang berhubungan dengan teman atau kerabat? 12.Apakah anggota dituntut/dipaksa untuk mengungkapkan detil kehidupan pribadi mereka? 13.Apakah calon anggota menerima isyarat akan adanya suatu "ajaran rahasia" ? Dengan pengertian, "ajaran rahasia" tersebut tidak boleh diungkapkan pada dunia diluar kelompok. 14.Apakah sering terjadi konflik didalam lingkungan kelompok, seperti konflik antara eks-anggota dengan anggota yang sekarang? Apakah ada konflik legal dengan pemerintah? 15.Apakah salah satu tujuan tertingginya adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih banyak bagi kelompok itu sendiri? 16.Apakah ada keharusan/tekanan untuk merekrut calon anggota baru yang lain? Umumnya pada suatu kelompok tidak akan memiliki seluruh kriteria diatas. Namun perlu dipertimbangkan agar berhati-hati apabila sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas dijawab dengan "Ya". ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 27

Berbeda Tanpa Konflik
Oleh : Khamami Zada Tanggal: 11/06/03 Konflik global antarumat manusia yang terjadi dalam satu abad ini telah menyadarkan kita, betapa umat manusia telah hidup dalam permusuhan dan pertikaian. Selalu saja, ada konflik antarumat manusia di seluruh penjuru dunia. Agama adalah salah satu instrumen konflik global yang terjadi di muka bumi. Perang Irak-Iran, Perang Arab-Israel, Perang Teluk, Perang Afghanistan, dan terakhir Peristiwa 11 September dan Tragedi Bali adalah bukti keterkaitan agama dengan konflik politik dunia global. Kondisi demikian ini, semakin memperkuat solidaritas agama lintas teritorial (kawasan) negara. Umat manusia benar-benar diikat oleh keyakinan agama untuk membela saudarasaudara di negara lain, bukan lagi solidaritas kemanusiaan kaum tertindas. Sehingga isunya bukan lagi isu politik (teritorial, ekonomi, atau budaya), melainkan sudah menjadi isu agama. Inilah yang selama ini terjadi di negara-negara Muslim ketika terjadi benturan dengan sesama Muslim, dan bahkan dengan dunia non-Muslim sejak berabad-abad yang lalu. Konflik politik berubah menjadi konflik agama oleh karena agama digunakan sebagai basis dukungan politik. Fenomena ini menunjukkan betapa tata dunia yang damai belum menjadi kesadaran hidup global antarumat beragama. Impian dunia yang damai seakan sirna oleh ego politik, ekonomi, dan agama umat manusia. Di sinilah, agama kehilangan makna otentiknya sebagai petunjuk jalan menuju kedamaian. Sebab, agama sekedar memperkuat makna teologis yang ekslusif dan intoleran. Parahnya lagi, yang terjadi adalah radikalisasi umat beragama, bukan kulturalisasi yang inklusif dan toleran. Radikalisme Agama Agama dalam sejarahnya selalu menjadi pijakan teologis umat manusia. Meskipun Karx dan Nietzche berpandangan sinis terhadap agama, akan tetapi agama tidak pernah kehabisan pengikut. Agama tidak pernah hilang ditelan modernisasi. Ini berbeda dengan tradisi (adat) yang bisa musnah dimakan oleh arus deras laju modernisasi. Namun demikian, agama sekarang ini mulai terdesak peranannya oleh rasionalitas manusia modern, yang serba canggih. Karena itulah, tantangan agama di masa modern adalah semakin berkurangnya peran agama di dalam komunitas masyarakat modern. Pada gilirannya, fenomena ini menjadikan pengikut agama mendefinisikan eksistensi agamanya untuk mensikapi modernitas yang serba-rasional dan sekuler. Itu sebabnya, di dalam komunitas agama ada
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 28 yang frustasi dengan penyingkiran agama oleh proses modernisasi yang rasional dan sekuler. Munculnya fundamentalisme dan radikalisasi agama adalah bagian dari dialektika yang negatif antara agama dengan modernisasi. Hal ini tampak sekali dari pengalaman umat Islam di beberapa kawasan dunia yang banyak melahirkan radikalisasi akibat serangan bertubi-tubi Barat lewat demokrasi, HAM, dan isu gender ke negaranegara Muslim. Tak pelak lagi, banyak bermunculan sikap penolakan terhadap konsep modern Barat secara radikal akibat tidak tersedianya doktrin agama (Islam) yang eksplisit tentang itu. Alih-alih konsep modern Barat justru mengkritik dan menyerang doktrin agama yang berasal dari Tuhan. Inilah yang menjadikan umat beragama mengalami proses radikalisasi terhadap agamanya dengan karakternya yang keras, agresif, dan militan. Secara psikologis, sikap radikal umat beragama seringkali merupakan ungkapan yang tidak disadari dari chaos dan ketegangan dalam tubuh agama itu sendiri. Kecemasan akibat tuntutan sekular yang sering tak terhindarkan, ketidakpastian dogmatik akibat keragaman interpretasi, serta krisis identitas akibat persaingan sosio-kultural global yang tajam, dan sebagainya mudah memantul secara terselubung dalam bentuk-bentuk fanatisme dan kekerasan religius terhadap pemeluk agama lain. Yang dianggap musuh itu bisa jadi sebenarnya hanyalah simbol-simbol dari kekacauan tanpa bentuk dalam diri mereka sendiri. Dengan demikian, radikalisasi adalah sikap ketidakberdayaan melawan pengaruh luar yang begitu dahsyat tanpa bisa melakukan apresiasi konstruktif. Maka dari itu, radikalisasi umat seringkali diekspresikan melalui sikap penolakan, pengkafiran, dan kekerasan. Hal ini tentu saja menunjukkan betapa problem internal umat untuk berinteraksi dengan kenyataan sosial tidak mampu diselesaikan dengan baik. Pengalaman Umat Islam Indonesia Indonesia adalah negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan dalam percaturan politik di kawasan Asia Tenggara (Meski Islam di Asia Tenggara sering disebut sebagai Islam periferal (Islam pinggiran), dalam kenyataannya perhatian Barat terhadap dunia Islam tidak saja terfokus kepada wilayah Timur Tengah. Islam di Asia Tenggara kini menjadi perhatian Barat setelah perkembangan Islam yang luar biasa di Malaysia, Indonesia, dan Filiphina. Karena itu, Islam di Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja dalam percaturan politik global dewasa ini.) memiliki peran yang sangat strategis. Karena itu, Islam di Indonesia dewasa ini memiliki daya tarik yang luar biasa bagi beberapa pengamat sejak lengsernya Orde Baru, dan bahkan sejak Tragedi 11 September Kelabu, yang telah menajamkan konflik Islam-Barat. Kecenderungan ini sebenarnya lebih disebabkan oleh gejala bangkitnya gerakan Islam di Indonesia yang semakin bercorak radikal. Secara internal, sikap gerakan Islam yang memperjuangkan syariat Islam menjadi hukum negara dan secara eksternal, bersikap antiairkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 29 Barat (Amerika Serikat) melalui aksi protes, unjuk rasa, atau demontrasi, telah menjadikan asumsi kelompok di luarnya menyebut sebagai gerakan radikal. Semenjak kejatuhan Orde Baru, kelompok Islam radikal menemukan momentumnya untuk melakukan akselerasi politik secara kultural (ormas Islam) dan struktural (partai Islam). Peminggiran yang dilakukan rezim penguasa Orde Baru tampaknya menjadi spirit untuk melakukan gerakan di saat yang tepat. Munculnya, FPI, Laskar Jihad Ahluusunah Waljama'ah, Majelis Mujahidin, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, HAMMAS, dan lain sebagainya, yang dirancang sebagai gerakan kultural dan maraknya pendirian partai-partai Islam, seperti PUI (Partai Umat Islam), PKU (Partai Kebangkitan Umat), Partai Masyumi Baru, PPP, PSII (Partai Syarikat Islam), PSII 1905 (Partai Syarikat Islam 1905), Masyumi (Partai Politik Islam Masyumi), PBB, PK, PNU (Partai Nahdlatul Ummat) dan PP (Partai Persatuan) sebagai gerakan struktural telah menjadi imaginasi bangkitnya Islam secara lebih tegas. Dua strategi gerakan ini menjadi penting ketika rezim yang berkuasa memberikan angin kebebasan setelah lama gerakan Islam dipinggirkan secara politik oleh rezim Orde Baru. Hasilnya, adalah partai-partai Islam (PPP dan PBB) memperjuangkan Piagam Jakarta melalui jalur konstitusional demokrasi (parlemen), sedangkan ormas-ormas Islam radikal memperjuangkan syariat Islam melalui jalur kultural; dakwah Islam dan aksi unjuk rasa, baik ke parlemen maupun ke istana negara. Kolaborasi ini tampaknya menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan secara bertahap di dalam sistem sosial dan kenegaraan bangsa Indonesia. Pada gilirannya, atribut, slogan, dan nama-nama Islam begitu ramai diteriakan sebagai bagian dari pentas kekuatan dan pentas perjuangan. Pergerakan Islam radikal memang sedang merambah ke wilayah-wilayah yang berpenduduk mayoritas Muslim di seluruh dunia. Indonesia dan Malaysia, yang secara statistik berpenduduk mayoritas Muslim telah mengalami gejala globalisasi Islam radikal. (Secara lebih tegas Bassam Tibi menggunakan istilah fundamentalisme Islam, yang telah menjadi fenomena global dalam politik dunia. Lihat Bassam Tibi, Ancaman Fundamentalisme Rajutan Islam Politik dan Kekacauan Dunia Baru, (Yogyakarta: Tiara Wacana,2000), hlm. 3.) Realitas ini dapat dilihat dari perkembangan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abu Bakar Janjalani di Filiphina, Laskar Jihad dan Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Ikhwanul Muslimin, dan lain sebagainya di Indonesia, dan Kelompok Mujahidin Malaysia (KMM) sebuah organisasi di bawah payung PAS di Malaysia. Mereka dianggap telah mengembangkan operasi selama beberapa tahun terakhir, menghimpun dana, melatih milisi, materi dan pengalaman untuk melawan Barat (Amerika Serikat), di samping memperjuangkan Islam secara radikal. Karena itu, oleh media Barat, mereka sering disebut kelompok Islam fundamentalis. Agama Tanpa Konflik

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 30 Berpijak pada realitas radikalisasi umat yang begitu kuat, maka sudah saatnya kita berkewajiban mengembalikan pesan otentik agama sebagai wahyu yang kultural. Hal ini dilakukan agar agama dapat diimplementasikan di dalam dunia yang selalu berubah. Sebab, seringkali agama dimanipulasi untuk mengukuhkan eksistensinya dengan masa lalu tanpa merespons secara kreatif dengan dunia modern. Padahal, agama yang tidak mengikuti makna konstekstualnya akan kehilangan eksistensi dirinya yang akomodatif terhadap perubahan. Bukanlah, agenda agama-agama sejak awal diwahyukan adalah berdialog dengan problem sosial umat manusia? Karena itulah, mendialogkan agama dengan problem-problem sosial adalah suatu keniscayaan, karena agama tidak lahir dari ruang hampa. Ketika agama tidak disampaikan melalui budaya, ia akan memicu munculnya ideologisasi "semu" terhadap agama, yakni sikap keberagamaan yang berlebihan dan radikal. Hal ini terjadi karena masyarakat tidak diajari untuk memahami, tetapi meyakini agama. Agama hanya menjadi lambang eksistensi. Ia lahir bukan dari sebuah refleksi kesadaran yang sesungguhnya, malainkan lebih merupakan upaya penguatan status quo agama itu sendiri. Dengan demikian, penghayatan umat terhadap agamanya adalah kunci pokok terjadinya proses radikalisasi. Di sinilah urgensinya meng"kultural"kan agama dalam kehidupan sosial umat manusia agar dapat memahami dan menyadari agamanya sebagai jalan kultural menuju perdamaian. Jika agama hanya dijadikan instrumen politik, maka agama akan dimanipulasi untuk kepentingan politik yang sifatnya sesaat. Akankah, agama yang diturunkan oleh Tuhan sebagai jalan hidup manusia menjadi jalan kematian manusia? Tentu saja tidak. Manusia ingin hidup bahagia, sejahtera dan damai. Maka, jalan yang ditempuh dalam beragama bukan lagi jalan kekerasan yang merusak, tetapi jalan kedamaian yang membahagiakan. Inilah sesungguhnya pesan otentik kepada umat manusia. Karena itu, setiap perbedaan agama bukan menjadi masalah bagi kita sebagai umat beragama, melainkan justru memperkaya pluralitas umat manusia. Di tengah-tengah semakin kerasnya kehidupan umat manusia dengan tontonan konflik dan perang yang melibatkan faktor agama, maka para pemuka agama memiliki peranan penting untuk mengambil bagian dalam usaha perdamaian dunia. Mereka bisa tampil sebagai suatu kekuatan untuk memformulasikan etika global yang diharapkan dapat menunjang kelangsungan perdamaian dunia. Meminjam komentar Hans Kung, cendekiawan asal Jerman, tidak akan ada suatu tatanan dunia (global system) yang sukses jika tidak dilengkapi dengan etika dunia (global ethic). Komitmen inilah yang pernah dilakukan para pemuka agama, ketika pada tahun 1993 untuk pertama kalinya dalam sejarah agama-agama, 6500 anggota Majelis Parlemen Agama-agama Dunia bertemu di Chicago, Amerika Serikat, untuk menciptakan Declaration Toward a Global Ethic, deklarasi menuju tercapainya suatu etika global. (Alwi Shihab, Islam Inklusif, (Bandung: Mizan, 1999)). Deklarasi ini sama halnya dengan Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia yang dicanangkan pada tahun 1776 di Amerika Serikat yang merupakan langkah awal menuju kehidupan
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 31 moral bangsa. Deklarasi etika global ini pun menandai awal dari usaha panjang untuk mengorientasikan penduduk dunia menuju sikap saling pengertian, saling menghargai, dan kerjasama. Deklarasi ini berupaya untuk memadukan serta memberi tekanan kepada persamaan-persamaan yang terdapat dalam ajaran moral agama-agama dunia masa kini. Oleh karena itu, diperlukan komitmen perdamaian untuk masa depan peradaban umat manusia. Kampanye rekonsiliasi dan penghentian kekerasan menjadi bagian penting bagi perdamaian dunia. Maka menjadi penting, jika etika global yang mencerminkan sikap kerjasama, persahabatan dan perdamaian dapat diwujudkan di kawasan yang sedang menghadapi konflik dan perang. Dengan spirit ini, baik dari pemuka agama maupun elite politik internasional, konflik dapat segera diakhiri. Demi perdamaian sejati, seluruh komponen masyarakat global ikut terlibat di dalamnya secara aktif. Maka untuk sekarang ini sudah saatnya membangun perdamaian dunia dengan spirit agama. Komitmen ini diharapkan dapat memberikan kontribusinya bagi proses sosialisasi dan penyadaran hidup damai sekaligus untuk mempersempit ruang konflik agama di dunia global. Kini, sudah saatnya hidup damai abadi; tidak ada lagi konflik dan perang yang terjadi di muka bumi ini. Sejarah hidup umat manusia harus menjadi sejarah yang damai tanpa konflik. Dalam konteks ini, upaya yang paling memungkinkan bagi kita adalah mendefinisikan kembali hidup toleran dan damai. Paradigma hidup toleran dimulai dari sikap keberagamaan yang hanief, seperti yang menjadi ajaran Islam, bahwa hidup adalah untuk kedamaian, bukan untuk kekerasan. Di dalam Islam, hubungan antara warga dalam suatu komunitas diatur dengan prinsip kerjasama, toleransi, dan ajakan damai. Masyarakat Madinah adalah bukti konkret betapa komunitas Islam hidup damai antar etnik (suku, kabilah) dan agama. Seperti pernah dikisahkan dalam suatu hadits, "Ketika datang rombongan Nasrani Najran berjumlah lima belas orang yang dipimpin oleh Abu al-Harits, Rasulullah berdialog dengan mereka dan mempersilahkan mereka untuk melakukan ibadah di Masjid Nabawi, sedangkan Rasulullah beserta sahabat shalat di bagian lain". Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "dan sesungguhnya sebaik-baik agama di sisi Allah adalah semangat pencarian kebenaran yang lapang (al-hanifiyah al-samhah)". Pernyataan Nabi SAW ini memberikan dasar bagi terwujudnya masyarakat, bangsa dan agama yang toleran. Sehingga, Islam dalam sejarahnya adalah agama toleran, inklusif, dan damai. Islam sesungguhnya tidak mengajarkan kekerasan dan kerusakan di muka bumi. Karena Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semua alam). Islam tidak sekedar menjadi rahmat bagi pengikutnya, tetapi lebih dari itu menjadi rahmat bagi pengikut agama lain, umat lain, dan bahkan semua mahluk yang diciptakan Tuhan. Inilah yang

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 32 ditunjukkan oleh Muhammad SAW kepada semua umat sejak di Mekah sampai di Madinah. Karena itulah, seorang orientalis asal Perancis, Louis Gardet sampai menyebut model masyarakat Islam klasik sebagai "masyarakat inklusif" (mujtama' munfatih). Yakni, masyarakat yang tidak bersikap keras dan radikal terhadap komunitas lain (outsider community). Dengan demikian, cita-cita ideal komunitas Islam benar-benar terwujud dan menjadi referensi historis untuk melanjutkannya di masa sekarang. Nabi-nabi sebelum Muhammad pun, seperti Musa (Yahudi) dan Isa (Kristen) selalu mengajak cinta kasih kepada umatnya. Sehingga secara teologis, semua agama mengajarkan kedamaian dan persaudaraan. Kesatuan transendental agama di dunia ini adalah persaudaraan, perdamaian dan cinta kasih. Sebab, agama tidak mengajarkan kekerasan dan kekacauan yang bertentangan dengan cita-cita kemanusiaan universal. Dalam konteks inilah, kita sekarang ini sangat mendambakan bangsa yang toleran di Indonesia demi masa depan kemanusiaan universal. Maka, dengan semangat agama yang toleran, bangsa kita akan menjadi bangsa yang toleran. Cita-cita ini adalah gambaran asli dari keberagamaan yang otentik di dalam komunitas masyarakat dan bangsa yang plural. Ini dilakukan demi terciptanya komunitas plural yang toleran dan inklusif. Sekat-sekat primordial-keagamaan tidak boleh lagi menghalangi pergaulan antar agama, karena inilah tantangannya di dalam masyarakat plural. Dengan pijakan agama yang jelas tentang hidup toleran, Indonesia sebagai bangsa yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia diharapkan dapat mewujudkan hidup secara damai dan toleran. Keyakinan keagamaan yang tidak radikal akan mengantarkan pada kenyataan positif untuk hidup bersanding dengan agama lain secara wajar. Hidup bersama tanpa penghalang keyakinan, agama, dan identitas kelompok (etnis) akan menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang terbuka. Kesemuanya ini adalah cita-cita kita semuanya sebagai umat manusia, tanpa melihat identitas etnik dan agamanya. Paradigma hidup toleran adalah tujuan kita sebagai bangsa yang menjunjung harkat keberbedaan dan sedang menghadapi tantangan pluralitas yang terkoyak. Jakarta, 29 Agustus 2003 Khamami Zada. (Koordinator Kajian dan Penelitian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (PP Lakpesdam NU) dan penulis buku "Islam Radikal: Pergulatan Ormas-Ormas Islam Garis Keras di Indonesia" (TERAJU:2002) Sumber: Gpdi Maranatha ***
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 33

Poem of Conformity
Too many people hiding behind a brick wall In the shadows of darkness Afraid of the light… Afraid of themselves Forever conforming to the standards set By other people living Behind the same wall Why are people too afraid to act out What is deep inside them? There are few of us that are Strong enough to break through that wall Never afraid to be the people that we really are (author unknown)

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 34

Mengapa Dialog Agama Sensitif
Oleh: Daniel Tanggal: 10/22/03 Saya pikir perlu kita pahami bersama bahwa dalam berbagai dialog antar agama, pembahasan plus-minus masing-masing agama dibutuhkan untuk dapat membangun sikap-sikap, paradigma keterbukaan dan pembaharuan. Pembahasan mengenai agama selalu menjadi sensitif karena selama ini belum banyak berkembang sikap-sikap tersebut dalam kehidupan keberagamaan kita, sebaliknya sikap-sikap yang ditumbuhkan adalah preservasi, kristalisasi kredo, dogma, kepercayaan, tradisi kolektif yang sayangnya justru menekan berkembangnya kemampuan melihat kebenaran dengan mata hati (secara tulus) serta kemampuan koreksi-diri, malah mengembangkan "sistem keamanan terpadu" dengan beragam sikap-sikap defensif, apologetik, bahkan fanatik sehingga sedikitnya menjelaskan mengapa persoalan agama menjadi begitu sensitif. Agama selama ini banyak dipandang sebagai komoditas yang dibakukan menjadi "paket hemat-paket hemat" yang seringkali dijejali kepada umat awam, no questions asked. Ini Islam/Kristen, take it or leave it. Masuk Islam/Kristen, or go to hell. Terjadi kompetisi dan persaingan merebut pangsa pasar. Klaim-klaim bahwa agamanya paling benar pun menjadi marak. Terjadi perang/perseteruan antar agama. Agama juga telah begitu terdogmatisasi, terinstitusi, dan menjadi tradisi, sehingga sering mengalami kegagalan dalam menyesuaikan terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dunia. Contoh-contohnya sering dapat disaksikan dalam realitas hidup. Kita perlu terus membuka wacana yang mengkaji hakikat agama, yaitu hubungan pribadi manusia dengan Tuhan dan dengan sesama manusia. Ajaran utama agama semestinya ditujukan untuk mempererat/merealisir hubungan antara manusia dengan Tuhan DAN manusia dengan sesama, BUKAN untuk meng-kristen/islamkan dunia, mengembalikan kejayaan Islam, atau motif-motif primordial kolektif keagamaan lainnya. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 35

Memaknai Secara Positif "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku"
Oleh: Daniel Tanggal: 10/22/03 Saya merasa kita perlu mengkaji lebih dalam paham "untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." Saya pernah sedikit menyinggung kalau basis keluarnya ayat tersebut adalah dari akhir konflik Muhammad dengan Quraisy. Sayangnya memang kalimat ini paling sering digunakan untuk pemisah-misahan/pengkotak-kotakan manusia kedalam kelompok-kelompok agama. Kita akan coba mencari makna spiritual yang positif dari pemahaman umum yang saat ini cenderung negatif. Awalnya ketika dibaca melalui kacamata iman keagamaan institusi, ayat tersebut tidak berbeda artinya dengan pemahaman umum, ya untukmu agamamu, untukku agamaku. Tapi jika kita lebih dalam mengupas makna agama yang sesungguhnya, kita menemukan bahwa hakikat agama adalah sebagai reaksi dan pengalaman individu terhadap karya Tuhan dalam dirinya, dan sifatnya adalah sangat pribadi, unik, yang belum tentu sama. Dari pandangan diatas saya menempatkan agama sebagai hubungan PRIBADI manusia yang nyata dengan Tuhan dan dengan sesama. Dengan menempatkan agama sebagai hubungan Tuhan-manusia-sesama, maka "untukmulah agamamu, untukkulah agamaku" dapat dimaknai secara positif yang menandaskan bahwa agama adalah hak asasi tiap individu yang pilihannya tidak boleh dipaksakan oleh siapapun atau lembaga manapun. Kebersamaan yang ideal harus dilandaskan bukan dari keseragaman ritual, syahadat, iconicon & label-label agama, melainkan dari persamaan dan persatuan tujuan, cita-cita, harapan ideal tertinggi. Tidakkah semua agama institusi mengharapkan perdamaian ?? Someday religionists will get together and actually effect co-operation on the basis of unity of ideals and purposes rather than attempting to do so on the basis of psychological opinions and theological beliefs. Goals rather than creeds should unify religionists. Since true religion is a matter of personal spiritual experience, it is inevitable that each individual religionist must have his own and personal interpretation of the realization of that spiritual experience. Let the term "faith" stand for the individual's relation to God rather than for the creedal formulation of what some group of mortals have been able to agree upon as a common religious attitude. "Have you faith? Then have it to yourself." [P.1091 - §6] ***
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 36

Mengkaji Lembaga Agama
Mencoba menelaah agama yang dilembagakan, serta usulan untuk menghindarkan lembaga agama menjadi sistem perbudakan mental Oleh: Daniel Tanggal: 10/22/03 "Jika saya cukup bodoh untuk memberimu suatu sistem dan jika kamu cukup bodoh untuk mengikutinya, kamu hanya akan melulu mengcopy, menirukan, menyesuaikan diri, menerima, dan ketika kamu lakukan itu kamu sudah menyediakan di dalam dirimu suatu bentuk otoritas dari yang lain dan karena itu terjadi konflik antara kamu dan otoritas itu. Kamu merasakan harus melakukan hal ini dan hal itu sebab kamu telah diberitahu untuk melakukannya namun juga kamu tidak mampu untuk melakukan itu. Kamu mempunyai kehendak hatimu sendiri, kecenderungan dan tekanan yang bertentangan dengan sistem yang kamu pikir harus diikuti dan oleh sebab itu terjadi suatu pertentangan. Maka kamu akan mengarungi kehidupan ganda antara ideologi sistem dan keberadaan sebenarnya dari keseharianmu. Dalam usaha mencocokkan dengan ideologi, kamu menindas diri sendiri-- sedangkan apa yang sebenarnya benar bukanlah ideologi tetapi jati dirimu. Jika kamu mencoba untuk mempelajari dirimu menurut kepada yang lain kamu tetap akan selalu menjadi manusia bekas." - J. Krishnamurti Ini hanya sekedar wacana yang pernah melintas dalam fragmen pikiran saya.. mungkin bisa menjadi awal untuk diskusi bersama. Saya melihatnya, "agama" yang dilembagakan, merupakan suatu sistem. Sistem yang awalnya didesain dan dikonstruksi atas rasa takut manusia akan kematian, atau fenomenafenomena kehidupan lainnya yang masih sangat sulit dipahami. Sistem ini, diciptakan untuk memberikan perasaan damai dan ketenangan hati, semacam jaminan akan kelangsungan hidup di akhirat. Sistem ini dirancang untuk memberikan kerangka berperilaku kepada manusia melalui ikatan-ikatan dogma, kredo/syahadat, berbagai macam tata cara hidup, beragam jenis doa dan sujud, mantra, tradisi, tahayul, dll. Sistem ini juga dibuat supaya manusia tidak perlu berpikir susah-susah diluar yang telah digariskan oleh sistem. Sistem ini butuh manusia-manusia sebagai pendukung keberadaannya. Maka dianjurkanlah, diwajibkanlah kepada manusia yang terikat dalam sistem untuk menyebarkan informasi tentang sistem dan membawa masuk manusia lain kedalam sistem. Sedangkan untuk menjaga loyalitas, dibuatlah indoktrinasi ketakutan-ketakutan

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 37 dalam pikiran manusia semacam "Takutlah akan Tuhan!" dan klaim-klaim (baca: ancaman) yang intinya "diluar sistem tidak ada keselamatan". Tapi, walaupun bagi kebanyakan manusia ignorance is bliss, manusia merupakan mahluk intelektual kreatif yang memiliki pilihan bebas dan potensi spiritual. Karena itu dari jaman ke jaman selalu saja ada manusia-manusia yang mencoba merombak sistem agama, mendobrak absurditas dogma-dogma agama, dan tidak sedikit yang keluar dari sistem untuk menciptakan sistem alternatif. Ketika eksistensi sebuah sistem agama dianggap terancam, dibentuklah berbagai "biro pertahanan" untuk mengeradikasi sistem-sistem tandingan yang ada dan manusia-manusia yang dicap "berbahaya" yang berada di dalam maupun di luar sistem. Sampai disini, peran dan tujuan sistem mulai berkembang, tidak lagi bagi kepentingan manusia, namun utamanya adalah bagi kepentingan sistem itu sendiri. Sistem mulai mengontrol pola pikir manusia dengan kepercayaan-kepercayaan yang difaktualisasikan, ditanamkan ke dalam pikiran manusia. Sistem mulai menanamkan instruksi-instruksi, antara lain adalah bahwa sistem tidak mungkin salah, manusialah yang salah. Buku yang disucikan oleh sistem adalah pegangan kebenaran mutlak. Kemudian sistem juga menentukan kategorisasi benar-salah, baik-jahat, suci-sesat, surga-neraka, dsb. Sistem, disadari atau tidak mulai mengambil peran sebagai tuhan atas manusia dan lainnya. Sampai disini, definisi agama telah berubah, agama lebih menjadi suatu sistem yang dibangun untuk menjaga manusia dibawah kendali agama dengan premis semu supaya manusia dapat menuju akhirat secara mulus. "Agama", ironisnya, telah menjadi suatu sistem perbudakan mental.. Agama, sistem perbudakan mental.. memang agak provokatif. Saya menemukan paralel dari metafor dalam film The Matrix yang ditilik dari perspektif memetik tentang sistem lembaga agama, namun tidak ada kaitannya dengan agama (true religion) sebagai pengalaman, hubungan individu manusia dengan Tuhan itu sendiri. Hal-hal berikut bisa dijadikan pertimbangan:

• •

Mengapa orang-orang "religius fundamentalis" begitu represif terhadap orang lain yang "tidak seiman" dan cenderung emosional ketika dihadapkan pada "paradigma baru, pandangan alternatif", dan "perubahan"? Mengapa dialog yang diupayakan antar-sistem selama puluhan tahun selalu berujung pada jalan buntu? Mengapa di satu sisi agama mendukung perdamaian, namun di sisi lain agama melakukan kekerasan ? Pelajari perang dalam sejarah Islam hingga jihad yang dikaitkan dengan terorisme, kekejaman Gereja Roma Katholik di abad pertengahan ketika menjadi state-religion, konflik Islam-Hindu di India, Islam-Kristen di

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 38 Indonesia, dll. Agama adalah konsep yang dalam sejarahnya paling banyak mengakibatkan tingginya angka kematian manusia. Mengapa agama yang ada sifatnya cenderung lebih preservatif tradisi, mitologi dan dogma, namun sulit memberikan solusi-solusi kemanusiaan yang efektif untuk dapat diaplikasikan di jaman modern ?

Banyak yang berpendapat berbagai masalah yang timbul dalam agama merupakan masalah "individunya", bukan agamanya. Saya berpendapat lain. Meskipun manusia adalah aktuator masalah, Masalah yang sebenarnya justru ada pada sistem yang pertama kali diciptakan manusia sendiri. Sistem ini yang telah menyebarkan (istilah meme-nya) mind virus kepada para aktuator (imam, pendeta, dll), ideologi yang dianggap paling benar, kitab suci yang diberhalakan, nabi-nabi yang ditinggikan derajatnya, dsb. Sistem agama telah membentuk frame of thinking manusia yang mana ego menjadi begitu mengakar scr kolektif membentuk egotisme agama. Ketika manusia dipaksa untuk menjadi seragam dengan agama, manusia masuk kedalam perbudakan agama, dan manusia kehilangan keunikan identitas jati-dirinya (potensi spiritual), dari situlah saya pikir masalahnya bermunculan. Jika kita sepakat bahwa masalahnya ada pada sistem, maka mau tak mau perlu dicari flaw dalam sistem, dan perlu ada perubahan untuk memperbaiki sistem agama. Saya sama sekali tidak menyarankan meruntuhkan sistem agama yang ada, karena akibatnya sangat catastrophic. Tapi disini kita juga dihadapkan kepada masalah lagi. Machiavelli mengungkapkan betapa sulitnya melakukan perubahan pada suatu sistem. Sistem, ketika semakin mengakar dan menjadi way of life bagi manusianya, termaterialisasi kedalam realitas pandangan hidup manusia yang dimutlakkan. Manusia menjadi dependan terhadap sistem. Bahkan tidak sedikit yang mencari nafkah dengan memanfaatkan sistem tsb (i.e. komersialisasi/bisnis agama). Maka tidak heran jika banyak timbul kelompokkelompok bela agama, kelompok-kelompok konservatif yang tujuannya untuk konservasi agama. Ketika manusia diperbudak agama, manusia akan mati-matian mempertahankan agama. Tapi, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat..." [Yesus, Markus 2:27] Sehingga prioritasnya adalah mengembalikan dahulu hakikat sistem pada tempatnya semula. Agama diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Jika manusia telah berani mengambil kontrol atas hak asasi intelektualnya, kemudian berkuasa atas agamanya, maka dinamika perubahan dalam sistem agama menuju pencerahan spiritualitas dan perdamaian umat manusia dapat terwujud. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 39

Mengapa Hati Nurani Banyak Orang Tidak Berfungsi dengan Baik?
Oleh: Irmansyah Effendi Tanggal: 10/07/03 Bagaimana anda dapat mendengarkan hati nurani anda? Bagaimana anda dapat mengikuti hati nurani anda? Bagaimana anda dapat membiarkan hati nurani anda sebagai nahkoda dari diri dan hidup anda? Sebelum mempelajari bagaimana kita dapat mendengar, mengikuti, dan membiarkan hati nurani kita menjadi nahkoda dari diri dan hidup kita, kita harus mundur selangkah terlebih dahulu. Marilah kita lihat terlebih dahulu penyebab mengapa hati nurani banyak orang tidak berfungsi dengan baik, walaupun sebenarnya hati nurani adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita. Penyebab-penyebabnya adalah: Tidak ada Pelajaran Teknis Mengenai Hati Nurani Secara umum dapat kita katakan bahwa dengan belajar seseorang biasanya menjadi pandai. Pada umumnya manusia membutuhkan pelajaran dan pelatihan untuk dapat menjadi pandai dalam sebuah hal. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai bakat khusus yang dapat menjadi cukup pandai dalam hal-hal tertentu tanpa sebelumnya belajar ataupun memperoleh pelatihan dalam bidang tersebut. Kita memang telah banyak mempelajari berbagai hal sehubungan dengan hati nurani. Tetapi, apabila kita teliti, hal-hal yang kita pelajari mengenai hati nurani hanya berhubungan dengan cerita-cerita mengenai hati nurani tersebut. Kita telah mendengar dan mempelajari mengenai betapa pentingnya hati nurani, betapa pentingnya mendengar dan mengikuti hati nurani kita, tetapi sebelum kita dapat mendengar dan mengikuti hati nurani kita, hati nurani kita harus sudah aktif dan kuat terlebih dahulu. Sayangnya, tidak ada yang mengajarkan bagaimana cara mengaktifkan dan menguatkan hati nurani ini. Dengan dibukanya rahasia terbesar ini, mudah-mudahan pengetahuan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan anda dan sesama. Dengan latihan yang sungguh-sungguh sudah pasti hati nurani anda akan menjadi aktif dan kuat. Sepanjang anda selalu mempergunakan hati nurani anda setiap saat, semua yang anda lakukan akan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan dan anda akan semakin dekat lagi dengan-Nya. Ingatlah bahwa melakukan satu hal yang baik di mata Tuhan adalah jauh lebih penting dari pada melakukan sejuta hal yang baik menurut otak anda. Apabila selama ini anda
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 40 tidak tahu, atau tidak pasti apakah apa yang anda lakukan adalah sesuatu yang baik di mata Tuhan atau tidak, dengan aktif dan kuatnya hati nurani anda, anda akan tahu. Anda akan selalu melakukan hal-hal yang terbaik dalam hidup anda, sepanjang anda mempergunakan hati nurani anda. Hati Belum Terbuka Bukankah hati nurani adalah sesuatu yang sangat alami dan penting dalam diri kita? Bukankah hati nurani adalah sebuah karunia yang sangat berharga dari Tuhan Yang Maha Esa? Lalu, mengapa karunia yang sangat berharga ini tidak berfungsi dengan baik pada diri kita sebagaimana seharusnya? Ingatlah bahwa hati nurani adalah inti dari hati kita, seharusnya, hati nurani memang berfungsi secara alami dalam dari setiap manusia. Tetapi, karena merupakan inti terdalam dari hati, hati nurani sangat terpengaruh oleh keadaan hati. Hati pada banyak manusia ditutup oleh otak manusia oleh kotoran-kotoran yang ditimbulkan oleh emosi negatif. Oleh lingkungannya, manusia sedari kecil cenderung diarahkan untuk menahan hatinya dan membiarkan otaknya untuk menguasai dirinya. Setiap kali hal ini dilakukan, otak akan menjadi semakin kuat dan menekan, menutup hati. Manusia juga cenderung dihinggapi oleh emosi-emosi negatif. Setiap kali emosi negatif menghinggapi manusia, sebenarnya muncul kotoran-kotoran yang mengotori hatinya. Kotoran yang muncul karena emosi negatif ini tidak langsung hilang setelah emosi negatifnya lenyap. Manusia sendiri jarang membersihkan hatinya. Jadi, semakin lama semakin banyak kotoran yang menumpuk. Lama kelamaan, kotoran ini menutupi hati hingga hanya terbuka kecil sekali. Dengan demikian tentu saja hati nurani juga tidak dapat menjadi aktif karena terkurung di dalam hati yang tertutup ini. Sebelum hati nurani dapat diaktifkan, terlebih dahulu hati harus dibuka. Ingatlah, apabila kita berbicara mengenai emosi negatif disini, kita tidak berbicara mengenai penilaian di mata manusia. Jadi, walaupun seseorang sudah dapat mengendalikan emosi dan sifat negatifnya sedemikian baiknya hingga dia tidak menunjukan sedikitpun emosi atau pun sifat negatifnya di wajah maupun gerak tubuh lainnya, dia masih dikatakan mempunyai emosi atau sifat negatif. Dia hanya telah dapat mengendalikannya, sehingga tidak terlihat oleh manusia. Seseorang dapat dikatakan bebas dari emosi dan sifat negatifnya hanya setelah cahaya dan kasih Tuhan selalu memancar serta berkelimpahan di hatinya sehingga hatinya memang tidak sedikit pun terpengaruh oleh emosi maupun sifat negatif tersebut. Ingatlah, bukan apa yang terlihat yang penting, tetapi apa yang ada di hatilah yang paling terutama.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 41 Hati Nurani Belum Aktif Hati Nurani yang telah terkurung sekian lama di dalam hati yang tertutup, perlahan-lahan menjadi pasif. Jadi, sekiranya hati sudah di buka pun, anda belum dapat mempergunakan hati nurani anda secara langsung. Anda harus mengaktifkan hati nurani anda terlebih dahulu. Setelah hati nurani menjadi aktif, anda masih harus melatih hati nurani anda agar dapat melawan tekanan dan batasan yang selama ini telah dibuat otak. Otak Terlalu Dominan Ingatlah bahwa otak kita adalah bagian dari tubuh fisik kita. Otak kita terhubung langsung dengan tubuh fisik kita dan kita, selama ini sudah sangat terbiasa untuk hanya mengenal dan berinteraksi dengan diri kita dari tubuh fisik. Kita juga terbiasa untuk mempergunakan otak kita sampai mengalahkan hati kita. Dengan demikian otak telah menjadi sangat dominan. Oleh sebab itu dibutuhkan pengertian dan kesungguhan untuk dapat mengurangi dominasi otak dan memberikan kesempatan kepada hati nurani untuk dapat menjadi nahkoda bagi diri dan hidup kita. Mementingkan Diri Sendiri Hati nurani pada kebanyakan manusia memang pasif dan terkurung di dalam hati yang mempunyai banyak kotoran. Tetapi, sebenarnya hati nurani masih tetap berusaha untuk bekerja. Hati nurani pada setiap manusia pasti pernah bekerja, setidak-tidaknya untuk beberapa kali dalam hidupnya, khususnya apabila seseorang sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat penting di mana godaan yang menjauhkan dirinya dari Tuhan yang sangat kuat. Saat seseorang menghadapi sesuatu yang sangat jelek yang dapat menjauhkannya dari Tuhan hati nurani akan memberontak sekuatnya dari semua hambatan dan memberi peringatan kepada kita. Hati nurani tidak mau membiarkan kita terjerumus dan menjauh dari Tuhan. Tetapi, bagi manusia yang mementingkan diri sendiri, otak akan menutup hati nurani dengan mudah. Lihatlah betapa mudahnya otak membenarkan diri sendiri dengan memanipulasi info yang ada. Lihatlah betapa dengan mudahnya otak memilah-milah informasi dengan hanya mengambil informasi-informasi yang diinginkan untuk membela kepentingan dirinya sendiri. Karena terlalu mementingkan diri sendiri, banyak manusia tidak menghiraukan hati nuraninya. Oleh otaknya, hati nuraninya ditekan hingga semakin sulit untuk berperan. Setiap kali otak berhasil mengalahkan hati nurani, hati nurani menjadi semakin lemah. Lama kelamaan, hati nurani menjadi sangat tidak aktif gara-gara seseorang hanya mementingkan dirinya sendiri. (Padmajaya®)

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 42 Irmansyah Effendi adalah pendiri Yayasan Padmajaya yang bergerak di bidang penyembuhan spiritual. Beliau juga aktif menulis berbagai buku seperti Reiki, Kundalini, Reiki Tummo, Kundalini 2, Rei Ki 2, Shing Chi, Kesadaran Jiwa, 5 Gerakan Awet Muda Tibet, dan Hati Nurani. Sumber: Kolom Padmajaya ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 43

Merenungkan Kemerdekaan
Oleh: Daniel Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang lalu, masing-masing punya pandangan dan harapan akan maknanya. Terutama belakangan ini dimana integritas dan nasionalitas bangsa sangat dibutuhkan, banyak yang mengkaitkan kemerdekaan dengan ajakan positif untuk bersatu, menjalin persatuan bangsa. Terlepas dari itu, secara pribadi, setiap kali menjelang perayaan kemerdekaan selalu terbesit dalam benak saya, apakah kita sungguh sudah merdeka ? Maksud saya, Apakah kita sudah merdeka dari lingkaran kemiskinan? Merdeka dari jurang kebodohan? Merdeka dari tirani opini mayoritas? Merdeka dari penjajahan terselubung? Apakah kita sudah merdeka secara fisik? Merdeka dari segala bentuk kejahatan? Merdeka dari wabah sakit penyakit? Merdeka dari segala bentuk perbudakan anak? Merdeka dari penyalahgunaan narkotika? Apakah kita sudah merdeka secara mental? Merdeka dari perbudakan nafsu? Merdeka dari keinginan-keinginan yang egois? Merdeka dari kuk dan ikatan tradisi? Merdeka dari penurunan derajat wanita? Merdeka dari tabu, tahayul dan kepercayaan yang didasarkan atas ketakutan-ketakutan warisan masa lalu? Apakah kita sudah merdeka secara spiritual, rohani? Merdeka dari dogmatisme lembaga agama? Merdeka dari pengkotak-kotakan agama? Merdeka dari kontradiksi-kontradiksi teologis? Merdeka dari paradigma benar-salah dan “agama saya paling benar, lainnya calon penghuni neraka”? Singkatnya, dari semua itu, apakah kita yang hidup disini, secara jasmani, mental dan rohani, sungguh-sungguh sudah merdeka ? Jawabannya akan sangat sulit diterima, bahkan bagi saya pribadi. Tanpa bermaksud pesimis, namun.. bisa dikatakan, “kita ada disini karena kita tidak merdeka”. Malah, kita cenderung memilih untuk tidak merdeka. Kita condong terikat oleh, atau mengikatkan diri kepada berbagai hal (nafsu, kekuasaan, ketidakpedulian, kepentingan-kepentingan egois, keinginan-keinginan materialistik, dll), bahkan ketika kita sebenarnya tidak mau terikat dalam ketidakmerdekaan tersebut, tampaknya kita tidak kuasa bahkan menikmati keadaan terjerat di dalam segala bentuk kungkungan itu.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 44 Menghadapi, menyadari kenyataan tersebut merupakan langkah awal menuju arti merdeka yang sejati. Semoga dapat menjadi renungan bersama. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 45

Benarkah Poligami Sunah..?
Oleh: Faqihuddin Abdul Kodir Tanggal: 6/19/03 UNGKAPAN "poligami itu sunah" sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129). DALIL "poligami adalah sunah" biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang. Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir-lebih memilih memperketat. Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar'i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287). Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi "hak penuh" laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, "poligami membawa berkah", atau "poligami itu indah", dan yang lebih populer adalah "poligami itu sunah". Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga? Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 46 adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah". Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi'i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami' al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi. Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teksteks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA. Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma'âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami. Nabi dan larangan poligami Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 47 Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri. Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami itu sunah" sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah. Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026). Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya. Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat. Poligami tak butuh dukungan teks Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda. Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 48 dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki. Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami selfdepreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini). Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai. Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah). Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 49 Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimaan disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami. Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: "Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain." (Jâmi'a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan "poligami itu sunah". [] ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 50

Bila Diri Sempit Hati
Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar Tanggal: 5/26/03 Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, yang jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit. Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang, walaupun ada anjing, ada ular, ada kalajengking, dan ada aneka binatang buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah makin nampak kecil dibandingkan dengan luasnya lapangan. Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pastilah akan lebih bermasalah lagi. Entah mengapa kita sering terjebak dalam pikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak nyaman, yang membuat pikiran kita menjadi keruh, penuh rencana-rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian, bahkan lagi dendam kesumat. Capek rasanya. Menjelang tidur, otak berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan kedendaman yang ada di lubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan kepada yang dibencinya. Hari-harinya adalah hari uring-uringan makan tak enak, tidur tak nyenyak dikarenakan seluruh konsentrasi dan energinya difokuskan untuk memuaskan rasa bencinya ini. Ah, sahabat. Sungguh alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati. Dia akan mudah sekali tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak termaafkan, kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya. Seringkali kita dengar orang-orang yang dililit derita akibat rasa bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rasul, para nabi, para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah mencontohkan mendendam, membenci atau busuk hati. Yang dicontohkan mereka justru pribadi-pribadi yang berdiri kokoh bagai tembok, tegar, sama sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam, dan perilaku-perilaku rendah lainnya. Sungguh, pribadinya bagai pohon yang akarnya menghunjam ke dalam tanah,
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 51 begitu kokoh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun, tetap mantap tak bergeming. Tapi orang-orang yang lemah, hanya dengan perkara-perkara remeh sekalipun, sudah panik, amarah membara, dan dendam kesumat. Walaupun non muslim, kita bisa mengambil pelajaran dari Abraham Lincoln (mantan Presiden Amerika). Dia bila memilih pejabat tidak pernah memusingkan kalau pejabat yang dipilihnya itu suka atau tidak pada dirinya, yang dia pikirkan adalah apakah pejabat itu bisa melaksanakan tugas dengan baik atau tidak. Beberapa orang kawan dan lawan politiknya tentu saja memanfaatkan moment ini untuk menghina, mencela, dan bahkan menjatuhkannya, tapi ia terus tidak bergeming bahkan berkata dengan arifnya, "Kita ini adalah anak-anak dari keadaan, walau kita berbuat kebaikan bagaimanapun juga, tetap saja akan ada orang yang mencela dan menghina. Karena pencelaan, penghinaan bukan selamanya karena kita ini tercela atau terhina. Pastilah dalam kehidupan ini ada saja manusia yang suka menghina dan mencela". Jadi, ia tidak pusing dengan hinaan dan celaan orang lain. Nabi Muhammad, SAW, manusia yang sempurna, tetap saja pernah dihina, dicela, dan dilecehkan. Bagaimana mungkin model kita ini, tidak ada yang menghina ? Padahal kita ini hina betulan. Ingatlah bahwa hidup kita di dunia ini hanya satu kali, sebentar dan belum tentu panjang umur, amat rugi jikalau kita tidak bisa menjaga suasana hati ini. Camkanlah bahwa kekayaan yang paling mahal dalam mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini. Walaupun rumah kita sempit, tapi kalau hati kita 'plooong' lapang akan terasa luas. Walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, sehat, akan terasa enak. Walaupun badan kita lemes, tapi kalau hati kita tegar, akan terasa mantap. Walaupun mobil kita merek murahan, motor kita modelnya sederhana, tapi kalau hati kita indah, akan tetap terhormat. Walaupun kulit kita kehitam-hitaman, tapi kalau batinnya jelita, akan tetap mulia. Sebaliknya, apa artinya rumah yang lapang kalau hatinya sempit?! Apa artinya Fried Chicken, Burger, Hoka-hoka Bento, dan segala makanan enak lainnya, kalau hati sedang membara ?! Apa artinya raungan ber-AC kalau hati mendidih ?! Apa artinya mobil BMW, kalau hatinya bangsat ?! Lalu, bagaimana cara kita mengatasi perasaan-perasaan seperti ini ? Yang pertama harus kita kondisikan dalam hati ini adalah kita harus sangat siap untuk terkecewakan, karena hidup ini tidak akan selamanya sesuai dengan keinginan kita. Artinya, kita harus siap oleh situasi dan kondisi apapun, tidak boleh kita hanya siap dengan situasi yang enak saja. Kita harus sangat
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 52 siap dengan situasi dan kondisi sesulit, sepahit dan setidak enak apapun. Seperti pepatah mengatakan, 'sedia payung sebelum hujan'. Artinya, hujan atau tidak hujan kita siap. Hal kedua yang harus kita lakukan kalau toh ada orang yang mengecewakan kita, adalah dengan jangan terlalu ambil pusing, sebab kita akan jadi rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja. Yang membagikan rizki adalah ALLAH, yang mengangkat derajat adalah ALLAH, yang menghinakan juga ALLAH. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang, sampai 'doer' itu bibir menghina kita, sungguh tidak akan kurang permberian ALLAH kepada kita. Mati-matian ia menghina, yakinlah kita tidak akan hina dengan penghinaan orang. Kita itu hina karena kelakuan hina kita sendiri. Nabi SAW, dihina, tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal sengsara. Salman Rushdie ngumpet tidak bisa kemana-mana, Permadi, Arswendo Atmowiloto masuk penjara. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Dikisahkan ketika Nabi Isa as dihina, ia tetap senyum, tenang, dan mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabatnya, "Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?" Nabi Isa as, menjawab : "Karena setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia." Sungguh, seseorang itu akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya. Ketika Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampungnya, "Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar!", Ahnaf bin Qais malah menjawab, "Sudah ? Masih ada yang lain yang akan disampaikan ? Sebentar lagi saya masuk ke kampung Saya, kalau nanti di dengar oleh orang-orang sekampung, mungkin nanti mereka akan dan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampaikan, sampaikanlah sekarang !". Dikisahkan pula di zaman sahabat, ada seseorang yang marah-marah kepada seorang sahabat nabi, "Silahkan kalau kamu ngomong lima patah kata, saya akan jawab dengan 10 patah kata. Kamu ngomong satu kalimat, saya akan ngomong sepuluh kalimat". Lalu dijawab dengan mantap oleh sahabat ini, "Kalau engkau ngomong sepuluh kata, saya tidak akan ngomong satu patah kata pun". Oleh karena itu, jangan ambil pusing, janga dipikirin. Dale Carnegie, dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang seekor beruang kutup yang ganas sekali,
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 53 selalu main pukul, ada pohon kecil dicerabut, tumbang dan dihancurkan. Di tengah amukannya, tiba-tiba ada ada seekor binatang kecil yang lewat di depannya. Anehnya, tidak ia hantam, sehingga mungkin terlintas dalam benak si beruang ini, "Ah, apa perlunya menghantam yang kecil-kecil, yang tidak sebanding, yang tidak merugikan kepentingan kita". Percayalah, makin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang sepele, akan makin sengsara hidup ini. Padahal, mau apa hidup pakai sengsara, karena justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal, karena kalau tidak ada yang menghina, menganiaya, atau menyakiti, kapan kita bisa memaafkan ? Nah sahabat. Justru karena ada lawan, ada yang menghina, ada yang menyakiti kita bisa memaafkan. Kalau dia masih muda, anggap saja mungkin dia belum tahu bagaimana bersikap kepada yang tua, daripada sebel kepadanya. Kalau dia masih kanak-kanak, pahami bahwa tata nilai kita dengan dia berbeda, mana mungkin kita tersinggung oleh anak kecil. Kalau ada orang tua yang memarahi kita, jangan tersinggung, mungkin dia khilaf, karena terlalu tuanyua. Yang pasti makin kita pemaaf, makin kita berhati lapang, makin bisa memahami orang lain, maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini, subhanallah. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 54

Injil Kerajaan Allah
Artikel ini mengungkapkan tentang Injil Kerajaan Allah yang sesungguhnya, darimana asalnya dan apa isinya. Oleh: Daniel Tanggal: 4/26/03 Apa itu injil ? Cobalah menanyakannya kepada beberapa orang, Anda mungkin akan mendapatkan beberapa jawaban yang berbeda. Ada yang akan mengatakan bahwa arti kata injil adalah “kabar baik”, dan memang demikian, tapi itu baru sebuah definisi. Anda ingin mengetahui, “Darimana injil tersebut berasal dan apa isinya?” Sebagian akan mengatakan bahwa injil adalah kisah tentang Yesus sebagaimana ditulis oleh para penulis Perjanjian Baru, Matius, Markus, Lukas dan Yohanes yang sering pula disebut sebagai “Keempat Injil”. Sebagian lainnya akan mengatakan kabar baiknya adalah bahwa Tuhan mengirimkan anak-Nya ke bumi untuk dikurbankan, untuk mati, dan bangkit dari kematian untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Sebagian juga mengatakan kematian Yesus di kayu salib merupakan tebusan yang dibayar oleh Allah untuk menyelamatkan manusia dari Iblis. Dan sebagainya. Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus dan murid-muridnya bepergian dari kota ke kota, mengajarkan injil kerajaan Allah kepada orang banyak. “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumahrumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” [Matius 9:35] “Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia…” [Lukas 8:1] (Lihat juga Matius 4:23, Markus 1:14, Lukas 4:43.) Dari ayat-ayat tersebut kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa injil merupakan sesuatu yang Yesus sampaikan dan ajarkan. Jadi, pertanyaan “darimanakah injil berasal” telah terjawab. Asalnya dari Yesus. Lalu kata injil berarti “kabar baik” dan “berita suka cita”, tetapi apakah yang sebenarnya disampaikan oleh Yesus kepada orang-orang banyak? Apa yang menjadi pesannya? Apakah pula sebagian dari pokok ajaran, injil yang asli, ajaran Yesus saat ini telah hilang dari pandangan kita, digantikan oleh pesan lain, ajaran tentang Yesus?

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 55 Pada berbagai perjalanan kotbahnya, Yesus memberitahu orang-orang informasi yang amat penting (kabar baik!), dan kabar itu adalah pesan yang positif, terfokus pada beberapa maksud yang spesifik. Injil yang Yesus ajarkan adalah informasi yang mampu memuaskan harapan, kebutuhan dan hasrat spiritual kita yang terdalam: untuk lebih mengenal Bapa kita di surga dan hubungan kita dengan umat manusia, untuk menjadi dari Roh dan menunjukkan buah-buah dari Roh, serta untuk mendapatkan hidup kekal dengan Tuhan. Kita dapat menemukan dari ajaran-ajarannya bahwa injil Yesus, atau apa yang juga bisa kita sebut sebagai “agamanya Yesus”, adalah demikian: Tuhan adalah Bapa spiritual yang pengasih dan kita semua adalah anak-anakNya dalam keluarga Allah. Jika kita mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, kita akan mendapatkan kehidupan kekal di surga. Dan ajaran-ajaran Yesus yang asli tersebut itu berasal dari sumber yang aktual, dari Tuhan sendiri, sebagaimana diwujudkan oleh anakNya. Itulah ajaran spiritual yang dibawakan Yesus, informasi yang diberikan kepada orang banyak, injil yang sesungguhnya. Injil inilah yang perlu Anda ketahui. Yesus mengajarkan kita tentang melakukan kehendak Bapa dan memasuki kerajaan surga. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” [Matius 7:21] Melakukan kehendak Bapa adalah kunci memasuki kerajaan surga. Dan apa yang menjadi kehendak Bapa? Sederhana sekali, yaitu mengasihi Tuhan, serta mengasihi dan melayani saudara-saudari kita di dunia, saudara-saudari kita dalam keluarga Allah. Yesus mengajarkan bagaimana kita dapat memiliki hidup kekal. “Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ‘Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?’ Jawab orang itu: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.’ [Lukas 10:25-28]

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 56 Lakukan ini dan Anda akan mendapatkan hidup kekal! Kasihi Tuhan, dan kasihi sesamamu manusia. Sangat jelas dan sederhana, bukan?! Yesus tahu mengasihi seluruh orang mungkin tidak mudah bagi kita, namun ia mengharapkan usaha kita. Yesus memberitahu kita mengapa dia datang ke dunia. “Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.’” [Lukas 4:43] Banyak yang memiliki pandangan berbeda akan tujuan inkarnasi Yesus di dunia. Disini, Yesus sendiri memberitahukan bahwa dia datang ke bumi untuk memberitakan injil, kabar baik akan kerajaan Allah. Yesus mengajarkan pandangan pribadi yang baru tentang kerajaan Allah. “Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: ‘Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam dirimu*.’” [Lukas 17:20-21] *) dalam versi King James, tertulis “the kingdom of God is within you”. Bayangkan! Kerajaan Allah ada di dalam dirimu. Ini adalah ajaran Yesus yang sangat menarik namun banyak disalahpahami. Ada beberapa aspek kerajaan Allah. Yang pertama kerajaan Allah diartikan sebagai spiritual, - kerajaan ini tidak berada di alam materi. Yang lain diartikan secara harafiah sebagai kerajaan, -Bapa dan malaikatmalaikatNya ada di surga pada suatu tempat. Dan kemudian kerajaan di dalam. Ketika Yesus mengatakan bahwa kerajaan Allah ada di dalam dirimu, Yesus sedang membicarakan tentang kerajaan yang di dalam, yang sesungguhnya merupakan bagian/fragmen dari Bapa sendiri, berbagi dalam kehidupan Anda, ikut bersama masamasa suka dan duka, dan jika Anda menginginkan, fragmen ini akan menuntun dan mengarahkan Anda seperti kompas kembali kepada-Nya. Ini bukan pengejawantahan spiritualitas yang berhembus melalui diri Anda, sebagaimana mungkin dibayangkan seperti mahluk roh, dan yang mungkin terjadi dalam situasi tertentu, namun lebih merupakan fokalisasi atau limitasi Bapa, dalam diri Anda. Jika kita terpisah dari Tuhan, Yesus mengatakan apa yang Bapa butuhkan agar kita dapat kembali kepadaNya, untuk bergabung kembali di keluargaNya, keluarga spiritual kita. “Perumpamaan tentang anak yang hilang.” [Lukas 15:11-32] Banyak orang tidak memikirkan perumpamaan yang Yesus ajarkan. Perumpamaanperumpamaan tersebut sering dikutip namun jarang sekali dijelaskan. Perumpamaan
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 57 adalah cerita sederhana dengan sebuah pesan yang jelas. Anda tidak perlu menjadi teolog ataupun ilmuwan untuk memahaminya. Dalam perumpamaan ini, Yesus mengatakan bahwa Bapa spiritual kita akan menerima kita kembali segera setelah kita secara tulus ingin kembali kepadaNya. Walaupun sang anak yang penuh penyesalan berada masih jauh, ketika bapanya melihat dirinya di jalan menuju rumahnya, dia lari dan menyambutnya dengan penuh kasih dan suka cita. Inilah bagaimana Bapa kita di surga menanggapi kita, anak-anakNya, selalu dengan sikap belas kasih dan pengampunan. Tidak peduli seberapa jauh Anda merasa telah terpisah dari Bapa, jika Anda ingin kembali ke rumah, pintunya tetap terbuka. Yesus memberitahu kita bagaimana dosa-dosa kita dapat diampuni. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.” [Matius 6:14] Mengampuni orang lain seringkali merupakan hal yang sulit kita lakukan. Namun dalam realita, pengampunan dari Bapa selalu tersedia untuk kita. Dengan mengampuni orang lain, kita membuka jalan / membuka pintu kedalam pengampunan itu. Dalam sebuah percakapan dengan seorang bernama Nikodemus, Yesus mengajarkan kita tentang “lahir kembali”. “Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air* dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” [Yohanes 3:5] *) air; kelahiran fisik/daging. Lihat penjelasannya di ayat 6. Tuhan adalah roh/spirit. Ketika kita mengasihi Tuhan dan ingin melakukan kehendakNya, kita dilahirkan kembali, dilahirkan dari Roh. Sangat sederhana. Yesus memberitahu kita untuk menjadi sempurna. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” [Matius 6:14] Tidak ada gading yang tidak retak, demikian kata pepatah. Kesempurnaan bukan menjadi kondisi kita, tapi tujuan kita. Allah Bapa mengetahui bahwa kita telah diciptakan dengan “sifat dasar manusia”. Adalah bagian dari usaha kita untuk menjadi lebih sempurna, lebih menyerupai Tuhan. Tidak ada waktu yang paling tepat untuk memulainya selain saat ini juga. Seperti Lao Tse mengatakan, “Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.” Yesus memberitahu kita tentang keluarga Tuhan.
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 58 Yesus berkata, “Bapa kami…” (Matius 6:9, Lukas 11:2) Ketika Yesus menggunakan istilah Bapa, dia berbicara tentang Bapanya dan Bapa kita. Diatas segalanya Tuhan adalah Bapa yang pengasih dan kita adalah anak-anakNya. Jika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Tuhan, sepantasnya kita ingin bersikap seperti Dia. Yesus memberitahu kita bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. “…karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.” [Matius 6:8] Tuhan mengetahui apa yang benar-benar menjadi kebutuhan kita. KerajaanNya adalah rohani dan kebutuhan riil kita pada dasarnya bersifat rohani. Ketika kita berdoa, kita sebaiknya tidak berlebih-lebihan mendoakan hal-hal materiil, tetapi kita perlu berdoa untuk pengetahuan/wawasan spiritual, mendoakan orang lain, dan berdoa minta pertolongan untuk mengenal dan melakukan kehendak Bapa. Ketika Yesus berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu...” [Matius 7:7, Lukas 11:9], dia berbicara tentang pemberian rohani, kebenaran rohani, dan pintu-pintu rohani. Yesus mengajarkan kita tentang toleransi, salah satu buah dari Roh, dan lebih dari sekedar toleran, kasih untuk orang dan kelompok-kelompok lain yang mungkin berbeda dari kita. “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” [Matius 5:46-47, Lukas 6:32-33] Yesus berbicara tentang berbagi kabar baik, ajaran-ajarannya. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” [Matius 10:8] Kabar baik bukanlah sesuatu yang disembunyikan dibawah batu. Kabar baik akan menjadi lebih baik jika dibagi dengan setiap orang dalam keluarga Tuhan. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 59 Banyak ajaran agama-agama yang kompleks, akan tetapi ajaran Yesus yang sesungguhnya amat sederhana: Kasihi Tuhan Bapamu, dan kasihi sesamamu manusia. Jika Anda melakukan ini maka berarti Anda akan melakukan kehendak Bapa, dan Anda akan memiliki hidup kekal penuh cinta kasih dan pelayanan bersama Tuhan. Injil Yesus yang asli juga akan dapat diterima oleh seluruh anak-anak Tuhan di bumi yang mengasihi Dia, baik Kristen, Muslim, Yahudi, Buddhis, Hindu, dan yang lain-lain. Pada akhirnya perkenankan saya untuk menutup tulisan ini dengan kata-kata penghiburan dari Yesus bagi kita semua. “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberi kamu Kerajaan itu.” [Lukas 12:32] Disusun oleh Norm Du Val © 1994 rev.11-1996 Seluruh ayat dikutip dari Alkitab versi King James. Alih bahasa dan revisi oleh Daniel V. Kaunang. Ayat-ayat dikutip dari Alkitab versi LAI, 1993. ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 60

Membongkar Teks Ambigu
Oleh: Sumanto Al Qurtuby Tanggal: 3/05/03 Tantangan teologis terbesar dalam kehidupan beragama saat ini ialah bagaimana seorang beragama bisa mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Atau istilah teologi kontemporernya, bagaimana bisa berteologi dalam konteks agama-agama. Ada satu pertanyaan mendasar: kenapa pertemuan antaragama (tepatnya pihak elitenya) telah sering dilakukan, lembaga-lembaga interfaith juga menjamur di berbagai kota, tetapi masih sering terjadi benturan antarumat beragama? Adakah yang salah dalam “manajemen” dialog antaragama? Para “idealis” akan menjawab benturan itu bukan disebabkan ajaran atau teks keagamaan tapi umat beragama, manusianya bukan ajarannya. Karena “semua agama mengajarkan perdamaian bukan peperangan, rahmat bukan kekerasan, cinta kasih bukan kebencian, kesejukan bukan terorisme” dan rumusan serba ideal yang sejenis. Ini jawaban khas para apolog agama. Teks keagamaan memang tak ada yang mengajarkan secara langsung kekerasan dan terorisme. Akan tetapi, teks keagamaan itu bisa memberi inspirasi bagi munculnya tindakan kekerasan. Kenapa? Sebab watak dasar teks itu adalah “ambigu”. Satu sisi, teks mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan universal yang serba ideal dan humanistik, tapi saat yang sama juga menuturkan dan melegalkan tindakan-tindakan yang eksklusifprimordialistik demi mempertahankan apa yang disebut “keyakinan”. Susahnya mengikis gerakan fundamentalisme agama di antaranya juga disebabkan kelompok ini memiliki justifikasi teologis melalui “Kitab Suci”. Sebelum teks-teks itu (yang selama ini dianggap “Kitab Suci”) didekonstruksi, transformasi teologis yang lebih egaliter dan manusiawi takkan pernah terwujud dalam kehidupan umat beragama. Teks-Teks Yang Ambigu Salah satu contoh teks agama yang bisa menjadi inspirator bagi “petualang agama” melakukan tindakan kekerasan ialah: “Siapa yang mengutuk kamu (Israel), maka terkutuklah dia dan siapa yang memberkatimu maka berkatilah dia” (Kejadian27:29). Ayat inilah yang dipakai, antara lain, oleh Jarry Falwell, tokoh Gereja Konservatif Amerika, berkampanye pada Jemaat Kristen guna menggalang solidaritas Yahudi dan mengecam Palestina. Padahal, menurut pakar Bibel dari Graduate Theological Union, Norman Gottwald, dalam The Hebrew of Bible, konsep tentang “kekudusan” (maksudnya, Israel sebagai bangsa yang kudus/suci) dan “bangsa yang diberkati” seperti tertuang dalam Alkitab yang mengacu kepada komunitas Yahudi kuno adalah ibarat nyanyian orang yang sedang ketakutan saat melewati kuburan tua. Artinya, dulu para elite Yahudi menggunakan konsep itu karena tak berdaya menghadapi tekanan-tekanan politik yang
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 61 dilakukan Mesir sebagai negara adikuasa saat itu. Konsep itu dipakai dalam rangka menggalang simpati publik guna melawan hegemoni bangsa Mesir. Semacam eskapisme, “pelarian teologis” dengan menggunakan legitimasi ketuhanan. Gottwald menyebut teksteks Bibel adalah “akal-akalan” elit Yahudi sejak Daud guna meningkatkan supremasi rezim. Karena itu, ia menyebut Bibel sebagai “a trap of Jews”—perangkap Yahudi. Selain ayat yang mengandung semangat jihad di atas, juga terdapat beberapa teks lain dalam Alkitab yang juga bernuansa eksklusif-primordial seperti tertuang dalam Injil Yohanes 14/6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang pada Bapa kalau tak melalui Aku.” Juga ayat, “Dan keselamatan tak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tak ada manusia yang kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4/12). Inilah yang memunculkan ungkapan yang sangat populer di kalangan Kristen, “No Other Name!” yang menjadi simbol tentang tak adanya keselamatan di luar Yesus Kristus. Ayat ini juga yang memberi inspirasi teolog Hendrick Kraemer untuk menulis buku The Christian Message in a Non-Christian World —buku yang disebut-sebut menjadi basis penginjilan selama bertahun-tahun. Atas dasar mempertahankan kesucian ayat-ayat inilah, umat Kristiani marak membentuk Laskar Jesus untuk melawan orang Islam atau siapa saja yang dipandang mengganggu keagungan doktrin Kristiani. Dalam Islam juga terdapat seabrek ayat yang dalam perspektif “fundamentalis” sering dibaca secara literal dan dipakai untuk melakukan sejumlah tindakan konfrontasi dan terorisme terhadap non-Muslim, bahkan umat Islam sendiri yang kebetulan berbeda pandangan (ideologi) dengan dalil (yang sebetulnya dalih) “menegakkan Islam yang otentik.” Puritanisme dan otentisitas sebagai sebuah ideologi yang begitu marak di sejumlah negara Islam (termasuk Indonesia) terinspirasi dari teks-teks yang primordialistik ini. Beberapa ayat patut disebut di sini, antara lain, “Barang siapa yang memeluk selain agama Islam, maka tidak akan diterima agama itu, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi” (Q.s. 3/85). Kemudian ayat, “Sesungguhnya orangorang kafir dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik akan berada di neraka Jahanam dan kekal didalamnya, mereka adalah seburuk-buruk makhluk” (Q.s. 98/7). Juga ayat Alquran yang begitu populer, “Orang-orang Yahudi dan Kristen takkan pernah rela sebelum kalian mengikuti agama mereka”. Ayat inilah yang memberi inspirasi kepada sebagian umat Islam untuk menjaga jarak dan antipati terhadap --istilah mereka-- kaum “salibis” dan “zionis”. Ayat-ayat ini juga yang dipakai sebagai dasar teologis rezim fundamentalis Islam di negara-negara berbasis Muslim untuk melakukan tindakan kekerasan seperti ethnic cleansing dan konfrontasi terhadap orang-orang Kristen dan Yahudi dan non-Muslim lain. Ini belum termasuk sejumlah teks skriptural lain yang mengajarkan (meski belum tentu menganjurkan) tindakan diskriminatif, dominasi kelompok dan perilaku subordinatif terhadap golongan “lain”. Maraknya praktik diskriminasi terhadap kaum perempuan dan sekte-sekte minoritas, antara lain, juga diilhami ayat-ayat ini.
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 62 Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan “perangkap bangsa Arab”, dan Alquran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi “perangkap” bangsa Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain. Khalil Abdul Karim dalam buku Quraisy min al-Qabilah ila ad-Daulah al-Markaziyyahtelah menunjukkan dengan baik bagaimana bangsa Quraisy telah menegakkan hegemoni sejak Quraisy bin Kilab, sebagai pendiri klan, sampai puncaknya ketika Nabi Muhammad mendirikan negara Madinah. Hegemoni suku Quraisy atas Islam ini mirip seperti hegemoni Israel dalam tradisi Judaisme. Karena itu, tak salah jika Ulil Abshar sering “menganjurkan” agar umat mampu memilah-milah teks-teks Alquran: mana yang merupakan nilai universal Islam dan mana yang hanya merupakan pengaruh kebudayaan Arab. Dekonstruksi untuk Transformasi Teks-teks agama dalam tradisi Islam, Kristen dan Yahudi di atas harus didekonstruksi dengan menggunakan pendekatan sosio-historis. Pendekatan “sosio-historis” ini menuntut setiap umat untuk menanggalkan sejumlah asumsi yang selama ini mempengaruhi kognisi kolektif umat. Premis dasar yang dimaksud adalah keyakinan bahwa “Kitab Suci”-nya (Alkitab atau Alquran) sebagai “firman Tuhan” yang bersifat supra-historis, firman yang “mengatasi” sejarah. Jika keyakinan ini belum bisa dilepaskan, maka upaya membongkar dimensi historisitas Alkitab dan Alquran menjadi sia-sia. Dengan pendekatan kesejarahan ini pula kita akan tahu bahwa teks yang kini disucikan oleh umat itu sebetulnya bersifat profan tidak sakral, temporal bukan permanen. Ada proses historis yang begitu panjang dan rumit sehingga teks ini pada akhirnya menjadi semacam “scientia sacra” yang disucikan dan dimitoskan. Dekonstruksi ini juga dilakukan dalam rangka membangun sebuah komunitas keberagamaan yang transformatif. Sebab gagasan mengenai “transformasi agama-agama” baru mungkin bisa dilakukan jika masing-masing umat bersedia untuk “melepaskan diri” dari kungkungan Teks (T besar) yang selama ini menghegemoni nalar kritis umat. Tanpa disadari Teks selama ini menyelinap dalam “alam bawah sadar” kita, mempengaruhi dan mengendalikan setiap langkah gerak umat beragama: harus begini, jangan begitu. Tanpa disadari hidup kita selama ini bagaikan robot yang gerak-geriknya dikendalikan oleh sebuah remote control. Dan remote control itu kini bernama Teks yang menjadi dasar/ruh sebuah agama. Selama langkah gerak kita positif dan “manusiawi” saya rasa tidak menjadi persoalan. Masalahnya adalah jika langkah dan gerak kita negatif dan “tak manusiawi”. Teks yang kita anggap suci selama ini selain mengandung “prinsip-gerak” positif (misalnya, teks tentang kebebasan/liberasi, persamaan hak, ajaran kasih, solidaritas sosial, emansipasi, persaudaraan universal, dll) juga berisi “prinsip gerak” negatif (misalnya, teks tentang perbudakan, keunggulan doktrin, dominasi gender, jihad, dll). “Prinsip-gerak” negatif dari Teks ini yang kemudian membentuk manusia-manusia kerdil yang mengeksploitasi pihak lain atas nama agama dan Tuhan.
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 63 Dekonstruksi untuk melucuti watak hegemonik sebuah Teks bahwa Teks tertentu lebih unggul ketimbang teks lain (yang melahirkan pandangan bahwa agama tertentu lebih unggul ketimbang lainnya. Tidak ada satupun umat beragama yang bisa mengklaim bahwa halaman “Kitab Suci”-nya telah mampu menangkap pesan-pesan Tuhan. Tuhan jelas lebih agung ketimbang sebuah teks. Dia melampaui teks apa pun. Klaim atas suprahistorisitas firman Tuhan justru akan mereduksi kebesaran Tuhan itu sendiri. Maka, dengan dekonstruksi, segala klaim otoritas baik agama maupun teks menjadi sirna, lumer, lalu melebur menjadi satu, sederajat (“sikap paralelisme”), tak ada dominasi teks atau agama tertentu atas teks dan agama lain. Inilah usaha-usaha mutakhir yang sedang dijalankan para pendukung dialog antaragama seperti yang dipaparkan Leonard Swidler dalam After the Absolute: The Dialogical Future of Religious Reflection. Mereka berusaha melepaskan diri dari berbagai kompleksitas hubungan antarumat beragama seperti penerapan “standar ganda”, klaim kebenaran atau janji penyelamatan yang dianggap sebagai tanda ketidakkritisan dari cara berpikir agama atau (religion’s way of knowing). Arthur J D’Adamo menyebut religion’s way of knowing ini sebagai akar dari konflik antarumat beragama yang berawal dari sebuah standar tentang agamanya sendiri dan “Kitab Suci”-nya yang merupakan sumber kebenaran yang diyakini sebagai (1) bersifat konsisten dan berisi kebenaran-keberanan yang tanpa kesalahan sama sekali; (2) bersifat lengkap dan final, dan karena itu tak diperlukan kebenaran agama lain; (3) kebenaran agamanya sendiri dianggap merupakan satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan maupun pembebasan; dan (4) seluruh kebenaran itu orisinal dari Tuhan, tak ada konstruksi manusia. Jalan pikiran demikian jelas picik, menyesatkan dan tak kondusif untuk membangun persaudaraan kemanusiaan universal. Para aktivis dialog agama harus mulai mendiskusikan wilayah “muharramat” ini dengan tanpa sungkan dan canggung. Kita perlu pandangan-pandangan yang bersifat terbuka terhadap sistem keyakinan agama lain dan menutup rapat-rapat segala bentuk egoisme kita. Dengan melepas klaim-klaim kebenaran dan janji penyelamatan yang berlebihan, dengan menanggalkan “identitas primordial” yang juga berlebihan, mengoreksi diri tentang standar ganda yang sering kita pakai terhadap orang lain, dan selanjutnya memperluas pandangan inklusif teologi kita, agama-agama akan mempunyai peranan penting di masa depan dalam memberikan landasan spiritual bagi peradaban masyarakat kita. Seperti yang dengan indah dilukiskan Bhagavan Das, “Kita semua para penganut agama akan bertemu dalam the road of life yang sama. Yang datang dari jauh, yang datang dari dekat, semua kelaparan dan kehausan, semua membutuhkan roti dan air kehidupan yang hanya bisa didapat melalui kesatuan dengan The Supreme Spirit”.[] Sumanto Al Qurtuby, alumnus Pascasarjana Sosiologi Agama UKSW Salatiga ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 64

Mengapa Babi Haram
Oleh: Daniel Tabu yang satu ini cukup menarik dan memiliki tempat yang khusus dalam tradisi religius terutama Islam dan Yahudi. Akan tetapi berbeda dengan tabu Sapi yang dianut umat Hindu karena dianggap binatang suci, tidak ada alasan yang cukup menjelaskan mengapa babi ditabukan. Ulasan yang sangat singkat ini ingin mencoba menelusuri sedikit lebih jauh, mengapa babi diharamkan. Seperti diketahui, Islam mengharamkan memakan babi maupun lemaknya, bahkan lebih jauh lagi dalam sebuah hadis disebutkan, memegang atau menyebut namanya pun termasuk haram. Mengapa begitu? Tidak ada dalil Islam yang menjawab MENGAPA. Ini soalan yang sangat sering dipertanyakan pelajar muslim maupun awam. Jawaban yang paling dapat diterima adalah bahwa pada dasarnya babi itu binatang yang menjijikkan, mengandung bahaya penyakit (cacing pita). Namun apologia seperti itu mudah sekali ditampik, karena binatang lain juga berpotensi sama menjadi sarang kuman dan penyakit, seperti sapi, ayam, burung, dsb. Kemudian dengan kemajuan teknologi daging yang mengandung kuman dapat "dibersihkan", sehingga menjadi aman untuk dikonsumsi. Di satu sisi babi dianggap binatang yang jorok, potensi mengidap kuman dan penyakit, di sisi lain babi (seperti halnya sapi) adalah ternak pangan yang dikonsumsi hampir di seluruh dunia. Apakah pengharaman tersebut semata-mata disebabkan karena babi mengandung cacing pita? Sedangkan orang-orang jaman dahulu hampir tidak mungkin mengetahui keberadaan cacing pita di dalam babi. Jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, akan kita dapatkan ayat yang mendukung pengharaman babi dari kitab Ulangan (Torah/Yahudi, Perjanjian Lama/Bible). Tertulis demikian, "juga babi hutan karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu." Sejenak kita dapat indikasikan bahwa budaya mengharamkan babi (maupun binatang lain) dalam Islam diadopsi dari tradisi agama Yahudi. Kembali pada pokok bahasan kita, pengharaman dalam Yahudi itu belum memberi penjelasan yang memuaskan, mengapa karena babi berkuku belah tapi tidak memamah biak; diharamkan? Untuk itu kita harus memahami sejarah berkembangnya Yahudi itu sendiri. Setidaknya dapat diketahui bahwa sejak jaman baheula dulu terbentuk pemahaman akan pentingnya menjaga kesucian, kekudusan, kebersihan dimata Tuhan Yang Maha Kudus. Tempattempat yang dikaitkan dengan penyembahan Tuhan-pun adalah suci. Juga menyebut nama Tuhan (YHWH) sangat ditabukan. Demikian pula tabut perjanjian hanya boleh didekati dalam jarak tertentu. Kemudian banyak larangan/pengharaman lainnya yang terkait
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 65 dengan ketidaksucian seperti:, bekerja pada hari Sabat, menyentuh orang mati, menstruasi, memakan makanan yang tidak sesuai, dsb. Pelarangan menyentuh, memakan binatang terkait pada pemahaman bahwa binatang yang boleh dimakan hanyalah binatang yang dianggap wajar, misalnya bahwa binatang yang berkuku belah dan memamah biak adalah binatang ciptaan dikuduskan Tuhan, sehingga boleh dimakan. Deviasi dari itu (misalnya berkuku belah saja, atau memamah biak saja) sudah dianggap tidak kudus, jadi tidak boleh disentuh apalagi dimakan. Sampai disini mungkin sebagian kita bisa tarik kesimpulan penjelasan yang cukup memuaskan. Tetapi lagi kita masih dapat telusuri lebih jauh kepada kedekatan antara budaya bangsa Ibrani dengan budaya bangsa Mesir. Diketahui bahwa pada suatu masa dalam kebudayaan Mesir banyak jenis binatang yang dipercaya sebagai titisan Tuhan, reinkarnasi tuhan, demi-god, atau memiliki hubungan khusus dalam mitologi dewa-dewa. Kucing, anjing, ular, singa, kalajengking, kumbang, dan termasuk babi hanyalah beberapa diantara jenis binatang yang dianggap suci. Dalam hal ini babi terkait dengan dewa Set. Dikisahkan bahwa pada suatu waktu Set mengambil wujud seekor babi dan membutakan Horus, dewa matahari. Pada saatnya kemudian Horus kembali pulih penglihatannya. Mitologi ini menjelaskan terjadinya gerhana matahari dan bulan (Matahari dan bulan merupakan perlambangan dari "mata Horus"). Diketahui pula bahwa setiap tahun babi dikurbankan kepada bulan. Ini dapat menjelaskan mengapa babi pada waktu itu tidak dilarang diternakkan, tapi dilarang untuk dimakan. Kemungkinan pada waktu itu babi juga dianggap sebagai makanan bagi para dewa, sehingga manusia dilarang untuk memakannya. Didapat penjelasan lain dari sebuah papyrus yang isinya diidentifikasi merupakan semacam preskripsi bahwa organ babi juga dipergunakan untuk pengobatan beberapa penyakit. Disini kita justru melihat paham yang saling terkait, namun bertolak belakang antara Ibrani dengan Mesir, dimana dalam kepercayaan Ibrani babi tidak boleh dimakan karena dianggap sebagai tidak kudus, sebaliknya dalam kepercayaan Mesir, babi tidak boleh dimakan karena dianggap "makanan dewa" atau kudus. Sampai disini saya rasa perlu ada penelitian lebih jauh yang dapat menjelaskan keterkaitan yang bertolak belakang satu sama lain tersebut. Juga mungkin perlu dilakukan penelitian lebih komprehensif terhadap kemungkinan organ babi sebagai obat penyakit tertentu. Apapun, setidaknya kita kini dapat memahami latar belakang tradisi tabu tersebut sedikit lebih banyak. Silakan jika ada tambahan maupun koreksi yang dapat memperbaiki atau melengkapi tulisan ini. (dari berbagai sumber) ***
airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 66

Agama Islam dan Kristen Berasal dari Keturunan yang Sama
Oleh: Daniel Tanggal: 2/27/03 Banjarmasin, BAHANA Salam Assalamu’alaikum dalam bahasa Arab yang sering diucapkan umat Muslim, ternyata paralel dengan Syalom Aleikhem (bahasa Ibrani) yang sering diucapkan umat Kristen. Hal ini dapat dimengerti karena kedua agama tersebut sebenarnya berasal dari trah (keturunan) yang sama, yaitu Nabi Ibrahim. Drs. Chumaidi Syarif Romas, MA menyampaikan hal ini dalam “Dialog Antaragama” yang diselenggarakan oleh BEM IAIN Antasari dan GMKI di Auditorium IAIN Antasari. Dalam acara yang bertajuk “Dialog Islam Kristen: Dari Soal Teologi hingga Isu-isu Politik Kontemporer” ini, tampil pula Bambang Noorsena, ketua Institute for Syriac Christian Studies (ISCS). Menurut Chumaidi, sesungguhnya tidak ada masalah teologis antara Islam-Kristen yang tidak dapat didialogkan. Karena itu, Pembantu Dekan III Fak. Ushuludin (Ilmu Agama) IAIN “Sunan Kalijaga” Jogja ini menyarankan perlunya dialog antar teks asli Kitab Suci. Bambang pun mengamini hal itu. Dengan mengutip ayat-ayat Injil dalam bahasa asli Yesus (Aram) dan melantunkannya dengan cara tilawat yang lazim dilakukan gereja Arab, Bambang mendapat sambutan meriah dari peserta diskusi. Di hadapan sekitar 400 orang, Bambang menekankan bahwa Islam itu tidak identik dengan Arab dan Kristen pun tidak sama dengan Barat. “Pemetaan ini terlalu menyederhanakan,” tegas Bambang, “akibatnya kita terjebak dalam pengkutuban.” Ia mencontohkan ketika pemerintah Inggris melindungi Salman Rushdi dari fatwa mati Imam Khomeini karena menghina nabi Muhammad, di Indonesia langsung berkembang sentimen anti Kristen. Ada kesan seolaholah pembelaan Inggris atas penulis buku The Satanic Verses itu karena alasan agama. Padahal alasan sesungguhnya adalah paham individualis dan liberalis. “Semua serba boleh. Jangankan masjid yang berdiri megah di London, menyembah setan gundul pun nggak dilarang di sana,” ungkap Bambang dengan nada bercanda, “sebaliknya film The Last Temptation yang dilarang di negara Arab, tetapi beredar bebas di ‘negara Kristen.’” Dengan kata lain, Salman dilindungi karena hak individunya sedang terancam, tegas penulis buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam ini. Di awal acara, sempat muncul kekhawatiran bahwa dialog ini akan berubah menjadi ajang saling menyerang teologi. Paling tidak hal ini tersirat dari sambutan Pembantu Rektor I. Ia memaparkan bahwa dialog teologis berpotensi menjadi pencampuradukan akidah. Akhirnya meskipun berlangsung cukup seru, tetapi toh diskusi berlangsung dalam suasana bersahabat. Misalnya ketika pertanyaan menyentuh wilayah yang peka, seperti

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 67 makna gelar putera Allah bagi Yesus, Bambang dapat menguraikan dengan cara santai tetapi tetap bermakna. Antusiasme peserta tampak dari banyaknya peserta yang ingin bertanya. Sayangnya karena acara itu dilaksanakan pada hari yang pendek, yaitu Jumat, maka banyak peserta yang tidak mendapat kesempatan. “Saya berharap dialog ini tidak berhenti setelah kita keluar dari kampus ini,” harap peserta. Sementara itu menurut Chumaidi, dialog semacam ini justru lebih efektif daripada dialog formal yang diadakan oleh pemerintah. “Dengan memahami akar bersama ini, kita dapat mencegah segala bentuk politisi agama,” kata Chumaidi. Sumber: Majalah Bahana no. 09/TH.XIII/VOL.143 – Maret 2003 ***

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 68

Tentang Jurnal Air Kehidupan
Air Kehidupan adalah jurnal berisikan kumpulan tulisan, karya seni, artikel, dialog dan studi pribadi serta dari para penulis lainnya yang menggagas, mendukung, dan menyuarakan nilai-nilai hidup dan kemanusiaan yang selaras, harmonis dan termotivasi oleh kebenaran, keindahan dan kebaikan; cinta kasih. Pertama kali dipublikasikan dalam format newsletter dan didistribusikan secara terbatas melalui mailing list, kini jurnal Air Kehidupan ditempatkan pada situs internet http://airkehidupan.theronworks.com sehingga dapat lebih terjangkau secara luas.

airkehidupan.theronworks.com

Air Kehidupan Buku Ketiga - 69

Catatan

airkehidupan.theronworks.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->