P. 1
Alih Fungsi Lahan Sawah

Alih Fungsi Lahan Sawah

|Views: 34|Likes:
Published by yowaa

More info:

Published by: yowaa on Oct 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2013

pdf

text

original

ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

Lahan sawah dapat dianggap sebagai barang publik, karena selain memberikan manfaat yang bersifat individual bagi pemiliknya, juga memberikan manfaat yang bersifat sosial. Lahan sawah memiliki fungsi yang sangat luas yang terkait dengan manfaat langsung, manfaat tidak langsung, dan manfaat bawaan. Manfaat langsung berhubungan dengan perihal penyediaan pangan, penyediaan kesempatan kerja, penyediaan sumber pendapatan bagi masyarakat dan daerah, sarana penumbuhan rasa kebersamaan (gotong royong), sarana pelestarian kebudayaan tradisional, sarana pencegahan urbanisasi, serta sarana pariwisata. Manfaat tidak langsung terkait dengan fungsinya sebagai salah satu wahana pelestari lingkungan. Manfaat bawaan terkait dengan fungsinya sebagai sarana pendidikan, dan sarana untuk mempertahankan keragaman hayati (Rahmanto, dkk, 2002).

1

yang mengganggu tercapainya swasembada pangan dan timbulnya kerawanan pangan serta mengakibatkan bergesernya lapangan kerja dari sektor pertanian ke nonpertanian. sehingga mengakibatkan terbentuknya lahan-lahan guntai yang secara umum rentan terhadap proses alih fungsi lahan. budaya. Investasi pemerintah dalam pengadaan prasarana dan sarana pengairan menjadi tidak optimal pemanfaatannya. Pelaku pembelian tanah biasanya bukan penduduk setempat.I. sosial. Kegagalan investor dalam melaksanakan pembangunan perumahan maupun industri. sebagai dampak krisis ekonomi. maka dalam waktu yang tidak lama lahan di sekitarnya juga beralih fungsi secara progresif. sehingga meningkatkan luas tanah tidur yang pada gilirannya juga menimbulkan konflik sosial seperti penjarahan tanah.  Dampak Negatif Alih fungsi lahan sawah ke penggunaan nonpertanian dapat berdampak terhadap turunnya produksi pertanian. 2 . serta akan berdampak pada dimensi yang lebih luas dimana berkaitan dengan aspek-aspek perubahan orientasi ekonomi. dan politik masyarakat. atau karena kesalahan perhitungan mengakibatkan tidak termanfaatkannya tanah yang telah diperoleh. Alih fungsi lahan pertanian sulit dihindari akibat kecenderungan tersebut. tidak menunjukkan dampak positif. Beberapa kasus menunjukkan jika di suatu lokasi terjadi alih fungsi lahan. Berkurangnya ekosistem sawah terutama di jalur pantai utara Pulau Jawa sedangkan pencetakan sawah baru yang sangat besar biayanya di luar Pulau Jawa seperti di Kalimantan Tengah. ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH MENJADI PERUMAHAN Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian cenderung terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan struktur perekonomian. Berkurangnya luas sawah yang mengakibatkan turunnya produksi padi. Apabila tenaga kerja tidak terserap seluruhnya akan meningkatkan angka pengangguran.

II. lahan sawah yang berada disekitar pusat pembangunan dibandingkan dengan nilai sewa tanah untuk pemukiman dan industri. Dampak Positif Ketersediaan lapangan kerja baru bagi sejumlah petani terutama buruh tani yang terkena oleh alih fungsi tersebut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. b) Lemahnya fungsi kontrol dan pemberlakuan peraturan oleh lembaga terkait. Namun tahap kedua tersebut secara umum tidak akan terjadi tanpa melalui tahap pertama karena sebagian besar lahan pertanian dimiliki oleh petani. terutama ditujukan untuk pembangunan kawasan perumahan. c) Semakin menonjolnya tujuan jangka pendek yaitu memperbesar pendapatan asli daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan kelestarian (sustainability) sumberdaya alam di era otonomi. Menurut Irawan dan Friyatno (2005) proses alih fungsi lahan pertanian pada tingkat mikro dapat dilakukan oleh petani sendiri atau dilakukan pihak lain. Perkebunan kelapa sawit dalam 10 tahun terakhir mengalami booming dengan beberapa alasan terutama kebutuhan investasi untuk meningkatkan pendapatan 3 . Dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap masalah pengadaan pangan pada dasarnya terjadi pada tahap kedua. pemanfaatan lahan tersebut untuk kegiatan non pertanian. Alih fungsi lahan yang dilakukan oleh pihak lain secara umum memiliki dampak yang lebih besar terhadap penurunan kapasitas produksi pangan karena proses alih fungsi lahan tersebut biasanya mencakup hamparan lahan yang cukup luas. Alih fungsi lahan yang dilakukan oleh pihak lain tersebut biasanya berlangsung melalui pelepasan hak pemilikan lahan petani kepada pihak lain yang kemudian diikuti dengan.  Penyebab a) Rendahnya nilai sewa tanah (land rent). ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH MENJADI LAHAN KELAPA SAWIT Sebagian besar alih fungsi lahan yang terjadi beralih menjadi tanaman kelapa sawit.

maka semakin sulit bagi petani untuk berproduksi secara optimal. menurunnya kualitas lingkungan hidup terutama yang menyangkut sumbangan fungsi lahan sawah kepada konservasi tanah dan air untuk menjamin kehidupan masyarakat di masa depan. penggilingan padi.000 Ha/tahun. Faktor pendukung di luar itu adalah tekanan terhadap pengurangan bahan bakar fosil secara global. buruh tani.  Dampak Negatif Alih fungsi lahan pertanian sebagai akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan perubahan pola tanam petani pangan. khususnya padi. Pola tanam padi yang tidak serentak akibat dampak perluasan areal tanaman keras. Selama 19 tahun terakhir. Kawasan yang dahulunya adalah merupakan areal persawahan berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Sampai saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 7 juta hektar lahan yang telah ditanami kelapa sawit. sekitar 18 juta hektar hutan telah dibuka atas nama ekspansi perkebunan kelapa sawit. Permasalahan yang mendasar dalam ketahanan pangan adalah konversi lahan pertanian pangan. terutama kelapa sawit membawa resiko bagi petani yang masih bertahan di tanaman padi. Alih fungsi lahan juga mengakibatkan kerugian ekologis bagi sawah di sekitarnya. Pertanian tanaman padi merupakan komoditas yang paling banyak menyediakan lapangan kerja dalam sektor pertanian.masyarakat. perubahan sosial yang merugikan. Dampak dari kehilangan lahan pertanian produktif adalah kehilangan hasil pertanian secara permanen. Di luar itu. Dengan paradigma pertumbuhan ekonomi. antara lain hilangnya hamparan efektif untuk menampung kelebihan air limpasan yang bisa membantu mengurangi banjir. Ekspansi perkebunan kelapa sawit pada saat ini telah meluas hampir ke semua kepulauan besar di Indonesia. Kerugian itu masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja dan pendapatan bagi petani penggarap. 4 . pemerintah melihat bahwa perkebunan kelapa sawit mampu menyerap tenaga kerja dan menghasilkan devisa negara dari pajak. Dampak permasalahan yang lebih luas tersebut termasuk pengaruhnya terhadap kestabilan politik yang diakibatkan oleh kerawanan pangan. Semakin sempitnya lahan pertanian pangan yang tersedia. ekspansi perkebunan kelapa sawit mencapai rata-rata 315. dan sektorsektor lainnya.

karet dan kopi. Bila keadaan dilematis ini tidak segera 5 . Fakta memperlihatkan bahwa kepemilikan maupun perluasan perkebunan kelapa sawit justru dilakukan oleh sektor swasta asing maupun swasta pribumi.  Penyebab Diperkirakan minyak kelapa sawit akan menjadi komoditas yang paling banyak diproduksi. jasa. Peralihan sistem usaha tani tersebut menyebabkan penggunaan modal dalam sistem pertanian semakin intensif. juga terjadi peralihan sistem pertanian dari tradisional menjadi semi intensif. Dengan demikian perubahan penggunaan lahan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi regional tidak mungkin dapat dihindarkan. Oleh karena itu. setiap tahun terjadi alih fungsi lahan pertanian tersebut menjadi kelapa sawit. Konflik penggunaan dan pemanfaatan lahan bersifat dilematis mengingat peluang perluasan areal pertanian sudah sangat terbatas. Dampak Positif Saat sekarang ini tanaman kelapa sawit merupakan tanaman andalan yang memberikan pendapatan masyarakat yang lebih baik dan terjamin dibandingkan dengan tanaman pertanian lain seperti padi. ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH MENJADI KAWASAN INDUSTRI Berkembangnya sektor industri. Perkembangan menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi menjadi aktor utama dalam pemilikan perkebunan kelapa sawit. III. pada umumnya telah memberikan tekanan pada sektor pertanian. dikonsumsi dan paling banyak diperdagangkan di dunia. dan properti pada era pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun terakhir. Selain alih fungsi lahan. sementara tuntutan terhadap kebutuhan lahan untuk perkembangan sektor industri. dan properti semakin meningkat. jasa. khususnya di kalangan petani. karena dalam perkebunan kelapa sawit aktivitas kegiatan lebih tinggi dibandingkan dengan padi. terutama tanah sawah. Perusahaanperusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut tidak hanya melakukan perluasan tetapi juga melakukan privatisasi perkebunan-perkebunan kelapa sawit milik negara.

dan perumahan) pada lahan tersebut. pemerintah melalui kebijakan pemanfaatan lahan tidur atau terlantar telah berupaya mendorong para pemilik maupun petani penggarap agar dengan kesepakatan bersama mengusahakan tanahnya dengan komoditi tanaman pangan.  Dampak Negatif a) Berkurangnya luas sawah yang mengakibatkan turunnya produksi padi. para pengembang atau developer yang sudah terlanjur menguasai lahan pertanian (sawah) akan tetap berusaha melaksanakan kegiatan nonpertanian (jasa. Walaupun penerapan kebijakan pengendalian alih fungsi lahan masih dipandang cukup efektif dalam membatasi penggunaan lahan sawah bagi kegiatan nonpertanian (seperti mekanisme perijinan lokasi dan penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah). Upaya ini hanya bersifat sementara. namun ternyata masih banyak prilaku “spekulan tanah” yang tidak terjangkau oleh penerapan kebijakan tersebut. Dengan adanya perbaikan kemampuan investasi. industri. Memasuki masa pemulihan ekonomi saat ini. yang apabila tenaga kerja lokal yang ada tidak terserap seluruhnya justru akan meningkatkan angka pengangguran. Hal ini lebih jauh telah menimbulkan persoalan baru sejalan dengan penerapan otonomi daerah. mengingat selama tiga dekade terakhir belum ada sesuatu terobosan teknologi dan kelembagaan yang mampu mengkompensasi penurunan produksi pertanian akibat berkurangnya tanah-tanah pertanian (khususnya sawah beririgasi teknis) yang dirubah kepenggunaan lain. 6 . Permasalahan ini semakin kompleks di lapangan karena arah kebijakan nasional dalam hal pengendalian alih fungsi lahan pertanian sering bertabrakan dengan kebijakan pemerintah daerah yang lebih memprioritaskan kepentingan lokal dan kebijakan daerah. yang mengganggu tercapainya swasembada pangan. b) Berkurangnya luas sawah yang mengakibatkan bergesernya lapangan kerja dari sektor pertanian ke nonpertanian. Dampak sosial ini akan berkembang dengan meningkatnya kecemburuan sosial masyarakat setempat terhadap pendatang yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan konflik sosial.diatasi dengan pengembangan kebijakan pertanahan maka kelangsungan sistem pertanian sulit dipertahankan.

c) Investasi pemerintah dalam pengadaan prasarana dan sarana pengairan menjadi tidak optimal pemanfaatannya. pemacuan Penanaman Modal Asing atau Penanaman Modal Dalam Negeri dan pemacuan pembangunan nonmigas (industri dan properti) telah menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang sangat nyata.  Dampak Positif Pembangunan Nasional pada periode 1990-1998 yang ditandai dengan deregulasi ekonomi. Di satu sisi pemerintah daerah harus memacu pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan sektor industri.  Penyebab Terjadinya perubahan penggunaan lahan dapat disebabkan karena adanya perubahan rencana tata ruang wilayah. Pemerintah harus mendukung pelaksanaan kebijakan pembangunan permukiman skala besar dan 7 . baik kepada investor lokal maupun luar negeri dalam penyediaan tanahnya. Sejalan dengan kebijaksanaan pembangunan yang menekankan kepada aspek pertumbuhan melalui kemudahan fasilitas investasi. atau karena kesalahan perhitungan mengakibatkan tidak termanfaatkannya tanah yang telah diperoleh. sehingga meningkatkan luas tanah tidur yang pada gilirannya juga menimbulkan konflik sosial seperti penjarahan tanah. d) Kegagalan investor dalam melaksanakan pembangunan perumahan maupun industri. sebagai dampak krisis ekonomi. karena kurangnya pengertian masyarakat maupun aparat pemerintah mengenai tata ruang wilayah. adanya kebijaksanaan arah pembangunan dan karena mekanisme pasar. Konflik kepentingan yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam kaitannya dengan perubahan fungsi tanah pertanian cukup dilematis. maka perubahan penggunaan tanah dari pertanian ke nonpertanian terjadi secara meluas. namun disisi lain juga harus mempertahankan keberadaan dan kelangsungan sektor pertanian (pangan). atau rencana tata ruang wilayah yang sulit diwujudkan. jasa dan properti. Pada masa lampau yang terjadi adalah lebih banyak karena dua hal yang terakhir.

Namun di pihak lain secara bersamaan harus ikut mencegah terjadinya alih fungsi tanah melalui pertimbangan aspek pertanahan maupun penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah.kota baru. dan kebijakan deregulasi dalam penanaman modal dan perizinan. 8 .

9.3 2.2 503.3.3.8 /.1:38 9. #:..3.3.3 .907. /.3 0-.3.3.2:3/5.3 /070:..-078.3 5073. -./3.. %.7:  /..380. 20...850 5079.3 24/.: 50792-.0..2.:5:3 50307.3  .7.5..2.7:8:9203.49.3.    .3 #03..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->