P. 1
bnpt

bnpt

|Views: 310|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Oct 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

http://litkayasalitbang.wordpress.com/Pelanggaran aparatur negara (BNPT) terhadap Arrahmah.

com Ar Rahmah Media Kamis, 29 September 2011 20:53:56 Hits: 3832

Gembar-gembor tentang media yang diopinikan sebagai salah satu pilar utama di dalam penegakan demokrasi di Indonesia, rupanya akan menjadi isapan jempol belaka. Hal tersebut dikarenakan adanya perlakuan diskriminasi terhadap media Islam. Mengapa? Baru-baru ini BNPT mengajukan usulan kepada Menkominfo untuk menutup situs Ar rahmah media (www.arrahmah.com). Seperti telah kita ketahui bahwa Ar rahmah sesuai dengan mottonya “filter your mind, get the truth” telah berhasil membuktikan diri. Pemberitaan Arrahmah selalu berimbang sesuai dengan amanat UU Pers yang berlaku di wilayah hukum RI. Anehnya pemberitaan yang berimbang ini justru akan diberangus oleh pemerintah melalui kaki tangannya di BNPT yang selalu konsisten melakukan pemberantasan ‘terorisme’ yang makin tak terkendali. Ada apakah di balik Arrahmah.com? Banyak kalangan mengatakan bahwa Arrahmah.com bukanlah situs yang patut diawasi, karena dari sisi permodalan dan pembaca masih sangat jauh dengan media-media sekuler yang lebih mendapatkan keleluasaan dalam menerbitkan pemberitaan. Tetapi dengan ijin Allah karena kejujuran dalam mengungkap fakta di balik peristiwa, Ar rahmah terbukti mampu membuka wawasan berpikir sebagian masyarakat Indonesia sehingga mereka menjadi cerdas dan kritis dalam menyikapi keadaan di negeri ini yang semakin amburadul. Namun kegerahan timbul, karena dengan adanya Ar rahmah, pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan kritik masyarakat terutama umat Islam tidak dapat tenang dalam melancarkan kejahatan dan kebohongannya. Jika saja penyelenggara negeri ini, mampu dan mau bersama-sama memperbaiki keadaan negeri ini secara bergotong royong, sudah seharusnya perilaku kanibalisme pers di zaman orde baru tidak di suburkan kembali. Sesuai dengan tujuannya, pers harus mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan bangsa ini dari belenggu kebohongan dan kebodohan. BNPT sebagai garda terdepan dalam pemberantasan teror di Indonesia terlalu gegabah dengan fantasinya. Pasalnya, operasi penanggulangan teror di Indonesia sarat dengan kepentingan politik dan tidak akan selesai hanya dengan menutup Ar rahmah. Pemberantasan terorisme akan berhasil jika penanganannya diserahkan kepada pihak-pihak yang dapat dipercaya kredibilitasnya oleh semua pihak, bukan kepada orang-orang yang mempunyai kepentingan terselubung yang berlindung di balik perangkat Undang-Undang dan kepentingan. Dalam sebuah wawancara Apa Kabar Indonesia Malam yang di pandu oleh penyiar Grace Natalie di TV One pada Rabu (28/9/2011), dengan bangganya Direktur BNPT Petrus Golose, mengklaim telah berhasil melakukan penegakan hukum terhadap 689 kasus teroris di Indonesia. Namun sayangnya, BNPT tak mampu menunjukkan prestasinya dalam melakukan penegakan hukum terhadap pembantaian warga Ambon dan Poso hingga meledaknya kerusuhan 10 September 2011 di Ambon. Mengapa diskriminasi ini terjadi? Bukankah jumlah korban dalam peristiwa tersebut lebih banyak dari pada jumlah korban terorisme sejak tahun 2002-sekarang? Mengapa ketika Ar rahmah tampil membela hak-hak umat Islam yang juga warga Negara Indonesia selalu mendapatkan ancaman dan teror pembredelan yang justru dilakukan oleh aparatur Negara dan jajarannya? Inilah bukti bahwa Negara telah melakukan teror terhadap rakyatnya, terutama media Islam yang konsisten berjalan diatas bukti-bukti akurat. Bagi media Islam, pemberitaan bukan sekedar berita namun mempunyai nilai iman dan ibadah, dan hal ini tidak bertentangan dengan Konstitusi Negara ataupun Undang-undang. Sikap diskriminatif inilah yang menimbulkan protes berkepanjangan, karena sebagai bagian dari warga Negara merasa tidak diakomodir hak-hak beragamanya sesuai dengan pasal-pasal yang termaktub dalam konstitusi.

Seharusnya BNPT lebih konsisten bekerjasama dengan POLRI kearah penegakan hukum terhadap kasus kriminal mulai Ambon, Poso, Narkoba, Teroris dan lain-lain, daripada melakukan intervensi kepada media melalui Menkominfo. Jika ini terjadi, tamatlah riwayat kejujuran di negeri ini karena pemerintah telah menghalalkan pelanggaran ini terus terjadi melalui kaki tangannya untuk melanggar hukum dan undang-undang. Ar rahmah akan terus melakukan perlawanan terhadap ketidak adilan di negeri ini. Ar Rahmah kecil-kecil cabe rawit, pedas isinya, tegas sikapnya… oleh: Ummu Muhammad Al Battar

Discussion Board

Topic View

Topic: FAKTA YANG TAK TERELAKKAN SALAFI WAHABI PECAH Displaying the only post.


Nur Kiriman dari Salapi tobat anggota dari kenapa takut bid'ah Assalamualaykum .. He he he, dulu ana sempat menulis, kalau salafy wahaby di indonesia itu pecah belah gak karuan, itu karena kejumudan mereka dalam berpikir, sebut saja nama ustadz salafi yang bernama Yazid bin Abdul Qadir jawaz yang juga pengelola web almanhaj.or.id, Aris Munandar dan muridnya Abu rumaysa Abduh tsuaikal yang artikelnya sering di muat di web muslim.or.id, Jafar Umar Thalib yang punya web ghuroba.org pun tidak lepas dari fatwa sesat oleh sesama salafi, ajib gak? Hehehe.. Yang bilang mereka-mereka sesat ya sesama ustadz salafi juga, yaitu Umar sewed dkk, yang punya web salafy.or.id. Fatwa tentang Jafar umar thalib menurut penilaian salafy.or.id bisa di cek di : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=664 siapa Yazid Jawaz? Menurut penilaian sesama salapi.. Bisa dicek : di http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=659 banyak lagi nama-nama ustadz beken salafi yang masuk "daftar hitam" sesama salafy.. Kepada teman-teman salafy, khususon saudara Indra Puri, ternyata Ustadz anda pun masuk dalam kategori ustadz yang sesat, menurut penilaian sesama salafi.. Ini dokumen rahasia dari web salafy.or.id tentang ustadz-ustadz sesat, simak saja, apakah Ustadz "akhik akhik" salafi termasuk dalam list dibawah ini? Hehehehe. Monggo di simak.. Menanggapi permintaan akhi Ilham dari Malaysia, berikut nama da'i yang tidak kami rekomendasikan karena terlibat permasalahan, diantaranya terlibat dgn Ihya ut Turath, Al Haramain, Al Sofwah/Al Sofwa dkk atau hizbiyyun lainnya. ================================================================================ \ ============================================== Daftar 'dai' yang ditinggalkan = AWAS JANGAN SALAH PILIH GURU AGAMA / USTADZ !!! ================================================================================ \ ============================================== Berikut nama-nama da'i yang berkedok "Salafy" padahal terlibat permasalahan dgn Ihya ut Turath, Al

Haramain, Al Sofwah. 1. Abdul Fattah - Batam (At Turots link) 2. Abdullah Hadrami - Masjid As Salam, Malang (Jilbab-online.net link, Rekan Agus Bashori dari Al Sofwah - Al Haramain link) 3. Abdul Hakim bin Amir Abdat Yayasan Ubudiyah Riau (Al Haramain , Al Sofwah, At Turots crosslink) 4. Abdur Rahman At-Tamimi Surabaya (Al Irsyad - At Turots, Al Sofwa crosslink) 5. Abu Aziz - Jakarta (Jilbabonline.net link - crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots) 6. Abdul Aziz Malang (rekan Agus Bashari dari Al Sofwa - Al Haramain link) 7. Abu Abdil Muhsin Firanda, Sorong - LN - (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots - link) 8. Abdullah Taslim, Lc (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots - link) 9. Abu Bakar M.Altway Lc (Al Sofwa - Al Haramain link) 10. Abu Haidar - Bandung (Al Sofwa - At Turots link) 11. Abu Ihsan Al-Maidani Medan (Al Sofwa, At Turots link) 13. Abu Izzi - Semarang (Jilbabonline.net link - crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots) 14. Abu Nida' - redaksi majalah Fatawa, Ma'had Jamilurahman, Ma'had Bin Baz, Bantul, Jogjakarta (gembong At-Turats link Jum'iyyah Ihya ut Turots Kuwait link) 15. Abu Qatadah - Jakarta (Al Sofwa - Al Haramain link) 16. Abu Sa'ad - Jogjakarta (At Turots link) 17. Abu Thohir Lc - Padang (Abdul Hakim Abdat link) 18. Abu Umar Basyr - Solo (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link) 19. Adhi Faishal, Lc - Yayasan An Najiyah Madiun (Abdullah Taslim Lc link, At Turots) 20. Afifi Abdul Wadud Jogjakarta (At Turots link) 21. Agus Hasan Bashari. MAg, FSI Qalbun Salim dan Pesma AlAnshar wal Muhajirin, Malang (Al Sofwa - Al Haramain link)

22. Ahmad Farhan Hamim Lc (Al Sofwa - Al Haramain link) 23. Ahmad Rofi'i - Karawang (Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas link) 24. Ahmad Ridwan - Batam (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link) 25. Ahmad Sabiq, Lc (LIPIA, Jilbab-online.net link) 26. Ahmas Faiz Asifudin, Pimpinan Majalah As Sunnah (gembong At Turots) 27. Ainul Haris, Lc MAg - Nidaul Fitrah (Al Irsyad - At Turots, Al Sofwa crosslink) 28. Ali Saman Lc - Ma'had ALi Al Irsyad, Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink) 29. Alwy, Lc - Yayasan An Najiyah Madiun (Abdullah Taslim Lc link, At Turots) 30. Aman Abdurahman, Lc Jakarta (Teroris Bom Cimanggis, Al Sofwa - Al Haramain link) 31. Amri Mansyur - Padang (link Abdul Hakim Abdat) 32. Amrozi - Malang (Jilbabonline.net link, (Rekan Agus Bashori dari Al Sofwa - Al Haramain link) 33. Anas Burhanuddin bin Musta'in Ahmad, Lc - LN - (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots - link) 34. Arif Syarifuddin, Lc - Ma'had Bin Baz Jogjakarta (At Turots link) 35. Aris Munandar Ss - Ma'had Taruna Al Qur'an (Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link, At Turots cross-link) 36. Arman Amri, Lc. - Jakarta (Jilbab-online.net link - crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots) 37. Aslam Muhsin, Lc. - Jakarta (Al Sofwa - Al Haramain link) 38. Aspri Rahmat Lc. - LN (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link) 39. Aunur Rofiq Ghufron, Lc Gresik (Al Irsyad - At Turots, Al Sofwa crosslink) 40. Cholid Aboud Bawazeer (Al Irsyad - At Turots, Al Sofwa crosslink) 41. Fakhruddin - Jogjakarta (At Turots link) 42. Fariq Gazim Anuz (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link) 43. Firdaus Sanusi - Jakarta (Abdul Hakim Abdat, Yazid

Jawwas link) 44. Hanif Yahya, Lc. (Al Sofwa Al Haramain link) 45. Haris Budiyatna (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link) 46. Husnul Yaqin Lc (Al Sofwa Al Haramain link) 46. Ir. Muhammad Qosim Saguni (Wahdah Islamiyyah, Makassar Al Haramain Al Sofwa link) 47. Isnen Azhar Lc - Jakarta (Al Sofwa - Al Haramain link) 48. Jazuli, Lc - Jakarta (Jilbabonline.net link - crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots) 49. Kholid Syamhudi - Ma'had Imam Bukhari, Solo (At Turots link) 50. Khusnul Yaqin, Lc. (Al Sofwa - Al Haramain link) 51. M. Sahri Malang (rekan Agus Bashari dari Al Sofwa - Al Haramain link) 52. M. Syukur Malang (rekan Agus Bashari dari Al Sofwa - Al Haramain link) 53. Ma'ruf Nur Salam, Lc. (Jilbabonline.net, Al Irsyad link) 54. Marwan - Jogjakarta (At Turots link) 55. Masrukhin (Rekan Agus Bashori dari Al Sofwa - Al Haramain link, Jilbab-online.net link) 56. Mubarak bin Mahfudz Ba Mu'allim, Lc - Surabaya (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink) 57. Muhammad Arifin Al Badri, Lc, MA - LN (Rekan Abdullah Taslim Lc, pemrakrasa syubhat "Bahtera Dakwah Salafiyyah di Indonesia) 58. Muhammad Elvi bin Syamsi Lc, - LN (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link) 59. Muhammad Shio Batam Medan, Sumatra (At Turots link) 60. Muhammad Subhan, Lc - (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots - link) 61. Muhammad Wujud Magelang, Jateng (At Turots link) 62. Muhammad Qoshim, Lc Ma'had ALi Al Irsyad, Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink) 63. Muhammad Nur Ikhsan Lc. LN (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link) 64. Mustofa 'Aini Lc (Al Sofwa Al Haramain link) 65. Nasiruddin, Lc (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al

Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots link) 66. Nur Ahmad, ST, MT - Dosen & Kajur D3 TE UGM (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots link) 67. Nurul Mukhlisin Asyrafuddin, Lc. (Nidhaul Fithrah, rekan Kholid Syamhudi, At Turots link) 68. Qisman Abdul Mujib (Jilbabonline.net link) 69. Rahmat Abdul Qodir Jakarta (Jilbab-online.net link crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots) 70. Ramlan, Lc (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah, At Turots link) 71. Ridwan LC - Batam, Sumatra (At Turots link) 72. Ridwan Abdul Aziz Surabaya (Nidhaul Fithrah, Jilbab-online.net link) 73. Ridwan Hamidi, Lc - Ma'had Taruna Al Qur'an (Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link, At Turots cross-link) 74. Salim Ghonim, Lc, Surabaya (Jilbab-online.net, Al Irsyad link) 75. Sholih - Jogjakarta (At Turots link) 76. Tjahyo Suprajogo, FSI Qalbun Salim Malang (Al Sofwa, AlHaramain, At Turats cross link) 78. Ulin Nuha - Ma'had Taruna Al Qur'an (Taruna Al Qur'an/LData/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link, At Turots - link) 79. Ummu Fathimah - isteri Abu Ihsan Medan (At Turots link) 80. Umar Budiargo - Ma'had Taruna Al Qur'an (Taruna Al Qur'an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link) 81. Yahya Asy'ari - Jambi (At Turots link) 82. Yazid Abdul Qadir Jawwas Jakarta (Al Haramain , Al Sofwa, DDII eks. Masyumi crosslink) 83. Yusuf Usman Baisa Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink) 84. Zainal Abidin Syamsudin, Lc. Jakarta (Al Sofwa - Al Haramain link) 85. Zainal Arifin, Lc. - Karawang (Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas link) Simak http://www.salafy.or.id/ download/readme.txt, berisikan rangkaian keterkaitan da'i diatas dgn At

Turots, Al Haramain, Al Sofwa. Berikut nama-nama da'i yang mengikuti hawa nafsu : 1. Ja'far Umar Thalib Jogjakarta (Pengikut hawa nafsu berpemikiran sufi sekaligus khawarij, Arifin Ilham link dll) (Hadir di acara Majelis Dzikir Adz Dzikra Muhammad Arifin Ilham dalam acara milad RI th 2003 dan tgl 15/08/2004 dalam rangka HUT BNI, wakil dari Islam dalam acara Satu Hati yang disponsori Kompas dan lembaga Dialog Antar Iman (Interfidei), penulis di majalah Gatra, da'i gaul baik dgn hizbiyyun, politikus, wartawan, pengacara dan hadir di milad-milad lainnya) Simak daftar file ustadz_terpercaya.txt untuk yang dapat dipercaya keistiqomahannya untuk menjadi sandaran belajar, berteman dst. Demikian informasi ini, harap dikoreksi apabila ada kekurangan atau kesalahan ke webmaster@... . Pengelola Salafy Online (Edisi 3/10/2005) komentar : itu bukti dakwah "anti bid'ah" yang di koar-koarkan mereka telah di poranda-porandakan barisanya Oleh Allah.. Allahumma farriq jam'ahum wa aqlil 'adadahum.. Biar bubar barisan mereka... Tambahan : sesama salafi saja saling sesat menyesatkan, apalagi kepada yang selain salafi? Hmmmm.. demikian catatan dari teman fb Kiriman dari Salapi tobat anggota dari kenapa takut bid'ah silakan dijadikan salah satu informasi saja  Kiai Kampung VS oknum lulusan timur tengah (topik mengeraskan Dzikir) Inilah kisah kiai kampung. Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku santri liberal, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf. Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Santri liberal ini langsung menyerang sang kiai: “Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Qur’an dan hadits,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan semangat. Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas. Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kiai santai. Kemudian tamu itu menjawab: Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,” jawab santri liberal ini. Kiai pun memberi penjelasan: “Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits. Kami menggunakan kitabkitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu?”. Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

Kemudian kiai balik bertanya: “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?” Santri liberal ini menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal alQur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,” jawab santri liberal. Kiai menimpali: “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai. “Ya kiai,” jawab santri liberal. Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut: “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,” tanya kiai. Sang santri liberal menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,” jelas santri liberal. Kemudian kiai bertanya balik: “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”. Jawab santri: “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat. Kiai kembali menjawab: “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari alQur’an dan hadits,”.” Oh begitu masuk akal juga ya kiai!!,” jawab santri liberal ini. Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar. (Mukhlas Syarkun) Sumber : Majalah Risalah NU no.3 semoga semua bisa mengerti (Nahdlatul Ulama) NU sehingga mengenal Islam lebih dalam, tidak ada Bid'ah dalam NU karena semua bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis. over a year ago

 Andy Hahaha.... mudah2an ini d baca juga ma orang2 yang sering ngaku2 Alim n suka mandang sebelah mata para Ulamah Kampung.:p about 12 months ago

 Reka subhanallah.. bener bngt.. about 12 months ago

 Khoiril I like about 12 months ago

 Suud Di forum diskusi yang berjudul "Maulid Nabi" koq belum ada yang menanggapi postingan terakhirrr .... !!!!????!!! about 11 months ago

 Anshory Subhanallah.... semoga orang2 yang sering merasa dirinya alim, yang padahal dirinya hafal satu dua hadis segera mendapatkan Hidayah dari Allah, kadang saya miris mendengar omongan temen2 saya yang sok tahu banyak tentang islam, setelah ditelusuri baca al-quran aja ga bisa, dan parahnya lagi belajarnya dari buku2 terjemahan (instan) about 11 months ago

 Andy Kayak Mie dong "instan". hehehe... about 11 months ago

 Saheti setuju sama pak anshory..hehe..di sini teman-teman saya juga banyak yang seperti itu.. about 11 months ago

 Sutik Baguslah mengikuti ajaran Imam Syafi’iy saya juga, tapi bukan berarti madzhab lainnaya tidak benar. Semoga Nahdiyil benar-benar apa yang disampaikan imam Syafi'i dijalankan dengan benar tidak dipilih-pilih yang cocok aja ya.....? Imam syafi'i juga mengingatkan agar jangan bertaklid satu guru saja..... agar ilmunya lebih luas. about 6 months ago

 Cowox tpi ko gk dijelasin ya???? knpa dzikir mesti gtu???? about 5 months ago

 Sadewo Sepakat, bermazhab merupakan kemudahan yang ada di depan kita. Mau ambil silahkan, tidak juga tak masalah. Mazhab merupakan metodologi atas pengistimbathan dalil baik yang berasal dari Qur'an atauoun Sunnah. Acap kali akan kiyta temui seolah ada pertentangan antara 2 dalil, manakah yang kita ambil. Nah, Imam2 Mazhab telah merumuskan cara penyelesaiannya. about 5 months ago

 Sutik ISLAM pedomannya hanya dari Firman Allah SWT. Al-Qur'an dan Al-Hadist. semua imam Hambali,Malik,Hanafi,Safii, landasannya Firman Allah diatas.Al-Qur'an dan AlHadist bagikan dua sayap pada burung, jadi harus beriringan keduannya diutamakan.tidak bisa hanya satu sisi bisa-bisa jatuh kalau hanya satu sayap yang jalan.namun banyak kelompok di kalangan kita menganggap al-Hadist hanya sekedar sabda Rasulullah,(sunnah) padahal Nabi Muhammad SAW.setiap riwayatnya menunggu wahyu dari Allah SWT, menganggap imam yang lain ga bener,hanya salah satu imam yang maenjadi kiblatnya itupun masih dipilihpilih.Mari kita kedepankan ukhuwah islam jangan pentingkan golongan dan kelompoknya saja,berbeda boleh tapi sikap toleran demi ukhuwah sangat diutamakan,tidak elok jika salah satu masjid umat muslim dikasih nama masjid Muhammadiyah atau masjid NU. yang seolah-olah masjid tersebut khusus untuk sholat jamaah tertentu.walaupun tidak utu hanya kesannya saja menjadi pengunjung kurang leluasa dalam beribadah.mohon maaf sebelumnya.Nuwun, about 4 months ago

 Sadewo Sepakat, lagian juga ga boleh ashobiah atau fanatik golonhgan. about 4 months ago

 Sutik Banyak yang sibuk dengan perbedaan faham,sementara yang tidak pernah ibadah dan bahkan selalu bermaksiat tidak pernah dibicarakan. akhirnya banyak yang baru mau berlatih ibadahpun jadi mental takut salah entar di omong.kita kurang bersatu karena hal tadi.sedangkan musuh islam sangat gencar dalam mengobok-obok umat islam,baik dari budaya,hiburan,teknologi dll. itu semua tidak terpikirkan sama sekali karena pada sibuk berdebad perbedaan faham.mari bersatu dan hadapi musuh-musuh kita,awasi generasi muda yang mudah sekali mengikuti trend baru berlabel islam padahal bertentangan dengan islam (perusak moral) seperti NII,Jihad dengan kekerasan,aliran baru menyimpang dari Al-Quran dan Hadist shoheh. perbedaan Utama NU dengan Organisasi Islam lain apa y??? Displaying all 4 posts.


Aziyzul mohon jawaban dari saudara-saudara sekalian... over a year ago


Amrie nu organisasi yang mencerminkan islam tradisional yaitu islam yang berpegah teguh pada ulama2 salaf, berdiri ps tahun 1926 masehi entah lupa tglnya nu merupakan organisasi islam moderat atau tawasut dan mengajarkan islam moderat atau tengah2 tidah ekstrim dan tidak liberal prisipnya nu mengajarkan tawasuth tasamuh dan tawazun adapun tawazun yaitu artinya moderat atau tengah2tidak ekstri kanan kiri,seprti halnya nu menganut tauhid abu hasan al-as,ari dan abu mansur al maturidi prinsip tawasut nu dicerminkan dalam kehidupan warga nu dalam segi apapun, baik bernegara bersosialisasi atau hubungan denngan kelompok lain ,

tasamuh nu bersifat tasamuh artiya nu itu bersifat seimbang tidak terlalu keras atau liberal bisa menepatkan sesuatu di tempatnya bersifat seimbang dan berada di tengah. tasamu yaitu toleransi nu bersifat toleransi terhadap kelompok apapun karena nu menggunakan prinsip rohmatalllil alamin islam untuk semesta yaitu untuk seluruh alam tampa memendang perbedaan dalam hal muamalah sesama mahluk alloh,tidak memusuhi kelompok lainya dan bersikap terbuka dan toleran tarhadap kelompak di luar nu adapun perbedaan dengak kelompok lain adakalanya kelompok lain bersikap radikal dan ada yang modernis , radikal dll, contoh perbedaan pandangan antara u dengan kelompok lain adalah dalam hal negara nu menghendaki pancasila sebagai dasar negara sedang kelompok lain ingin mengubah negara menjadi negara islam,adapun dasar nu tetap berpegng teguh pada pancasila ialah kerena dalam pancasila mengandung nilai2 islam pada setiap silanya dabn nu jaga berpegang teguh pada dalil quran yang intinya taat pada alloh dan rosulnya dan ulil amri dan nu dalam menafsirka ayat tidak secara tekstual tetapi dengan cara tafsir yang benar dan ikut pada ulama yang tak diragukan keilmuanya,sementara organisasi lain menafsirka qur an hanya secara tekstual tanpa meliha semuanya sehingga tndaka mereka kadang2 malah mempersempit makna alqur an,sehingga kita lihat dari tindakan2 mereka yang mwngatasnamakan islam tapi sering tidak sesuai dengan nilai nilai islam itu sendari contao mereka berjihad dengan cara bom sanasini itu merupakan penafsiran orang2 yang tak bisa menafsirkan qur an dengan tepat, adapun nu merupakan orgsanisasi yang tidak hanya mengurusi agama saja tapi juga hampir aspek kehidupan mulai dari ekonomi pendidikan kesejahteraan umat dll,dan bersifat arif terhadap perbedaan , berbeda denag organisasi garis keras yang hanya pada masalah politik yang mengatesnamakan agama untuk memperolah tujuanmisal mmi dan hti dll mereka hanya berorientasi pada masalah politik bagaimana menjadikan indonesia menjadi negara islam, maaf kalo ada yang salah ,

over a year ago


Halid klo NU terlalu membanggkan organisasix (bahkan lebih bangga nyebut NU dari pada ISLAM) islam itu SYARIAT ISLAM bukan demokrasi!!! about 5 months ago


Sadewo NU, organisasi yang awalnya tuk memehamkan masyarakat tentang pentingnya syariat Islam kini kian tak jelas tujuannya (maaf kalo ada yang tersinggung. NU kini hanya menjadi "partner" pemerintah. Pemerintah bilang A, NU ikut2 ajah. Biklang B, ikut juga. NU hanya dibutuhkan kala mau pemilu. Setelah pemilu selesai, ya sudah. Ironisnya, banyak yang sudah ketipu tapi mau ditipu lagi. NU pun kini ikut2an mengkampanyekan PLURALISME & DEMOKRASI. Bahkan orng2 NU kadang terlalu ashobiah terhadap golongannya. DASAR HUKUM TAWASHUL (ORANG SALIH/WALISONGO) dst Displaying all 2 posts.


Siti hukum Berdo'a dengan Tawassul Cetak E-mail Ditulis oleh Dewan Asatidz Pengertian Tawassul Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu

dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. • Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. • Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya da. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata. • Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa. Banyak sekali cara untuk berdo'a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do'a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah s.w.t. Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan. Tawassul dengan amal sholeh kita Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca alQur’an, kemudian mereka bertawassul terhadap amalannya tadi. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal 160) Tawassul dengan orang sholeh Adapun yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana hukumnya tawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai amrtabat dan derajat tinggi dei depan Allah. sebagaimana ketika seseorang mengatakan : ya Allah aku bertawassul kepada-Mu melalui nabiMu Muhammmad atau Abu bakar atau Umar dll. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), pada intinya adalah tawassul pada amal perbuatannnya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Dalil-Dalil Tentang Tawassul Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut: A. Dalil dari alqur’an. 1. Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35 : ‫ياأيها الذين آمنوااتقواال وابتغوا إليه الوسيلة‬ "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." Suat Al-Isra', 57: ً ُ ْ َ َ َ َ ّ َ ‫ُ َ ِ َ ّ ِ َ َ ْ ُ َ َ ْ َ ُ َ إَ َ ّ ِ ُ ْ َ ِ َ َ َ ّ ُ ْ َ ْ َ ُ َ َ ْ ُ َ َ ْ َ َ ُ َ َ َ ُ َ َ َ َ ُ ِ ّ َ َ ب‬ ‫أولـئك الذين يدعون يبتغون ِلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذا َ ربك كان محذورا‬ 17. 57. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka [857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [857] Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan 'Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah. Lafadl Alwasilah dalam ayat ini adalah umum, yang berarti mencakup tawassul terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan yang baik. 2. Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW. QS 12:97 mengkisahkan saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang memohon ampunan kepada Allah SWT melalui perantara ayahandanya yang juga Nabi dan Rasul, yakni N. Ya'qub AS. Dan beliau sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata tidak menolak permintaan ini, bahkan menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk putera-puteranya (QS 12:98). ُ ِ ّ ُ ُ َ ْ َ ُ ُ ِّ َ َّ ْ ُ َ ُ ِ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ِِ َ ُّ ِّ َ َ ُُ َ َ ْ ِ ْ َ ْ َ َ َ َ ْ ُ َ ‫قالوا يا أبانا استغفر لنا ذنوبنا إنا كنا خاطئين. قال سوف أستغفر لكم ربي إنه هو الغفور الرحيم‬ 97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". 98. N. Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Di sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan "ayyuhum aqrabu", yakni memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika berwasilah. 3. Ummat Nabi Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWT dengan meminta bantuan Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT untuk mereka. Bahkan secara eksplisit menyebutkan kedudukan N. Musa AS (sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT) sebagai wasilah terkabulnya doa mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan istilah ‫بما ع ِد عندك‬Dengan (perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah ada pada sisimu (kenabian). َ َ ِ َ ‫ِ َ َه‬ Demikian pula hal yang dialami oleh Nabi Adam AS, sebagaimana QS 2:37

ُ ِ ّ ُ ّ ّ َ ُ ُ ّ ِ ِ ْ َ َ َ َ َ ٍ َ َِ ِ ّ ّ ِ ُ َ ّ َ َ َ ‫فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه إنه هو التواب الرحيم‬ "Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."Kalimat yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman. 4. Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan janji taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus datang ke hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di hadapan Rasulullah SAW yang juga mendoakannya. ‫وما أرسلنا من رسول إل ليطاع بإذن ال ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جآؤوك فاستغفروا ال واستغف َ لهم الرسول لوجدوا ال توابا رحيما‬ ً ِ ّ ً ّ َ ّ ْ ُ َ َ َ ُ ُ ّ ُ ُ َ ‫َ َ َ ْ َ ْ َ ِ ّ ُ ٍ ِ ّ ِ ُ َ َ ِ ِ ْ ِ ّ َ َ ْ َ ّ ُ ْ ِ ّ َ ُ ْ َ ُ َ ُ ْ َ ُ َ َ ْ َ ْ َ ُ ْ ّ َ ْ َ ْ َر‬ "Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." B. Dalil dari hadis. a. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW sebelum lahir Sebagaimana nabi Adam AS pernah melakukan tawassul kepada nabi Muhammad SAW. Imam Hakim Annisabur meriwayatkan dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda : ‫قال رسول ال صلى ال عليه وسلم : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا ربى ! إنى أسألك بحق محمد لما غفرتنى فقال ال : يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال : يا ربى لنك لما خلقتنى بيدك ونفخت في من روحك رفعت رأسى‬ ّ ‫فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لإله إل ال محمد رسول ال فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إل أحب الخلق إليك فقال ال : صدقت يا آدم إنه لحب الخلق إلي، ادعنى بحقه فقد غفرت لك، ولول محمد ما خلقتك )أخرجه الحاكم فى‬ 615 :‫)المستدرك وصححه ج : 2 ص‬ "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kau ampuni diriku". Lalu Allah berfirman:"Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum aku jadikan?" Adam menjawab:"Ya Tuhanku ketika Engkau ciptakan diriku dengan tanganMu dan Engkau hembuskan ke dalamku sebagian dari ruhMu, maka aku angkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis "Laailaaha illallaah muhamadun rasulullah" maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mencantumkan sesuatu kepada namaMu kecuali nama mahluk yang paling Engkau cintai". Allah menjawab:"Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu" Imam Hakim berkata bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanadnya. Demikian juga Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail Annubuwwah, Imam Qostholany dalam kitabnya Almawahib 2/392 , Imam Zarqoni dalam kitabnya Syarkhu Almawahib Laduniyyah 1/62, Imam Subuki dalam kitabnya Shifa’ Assaqom dan Imam Suyuti dalam kitabnya Khosois Annubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih. Dan dalam riwayat lain, Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan redaksi : 615:‫)فلول محمد ما خلقت آدم ول الجنة ول النار )أخرجه الحاكم فى المستدرك ج: 2 وص‬ Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih segi sanad, demikian juga Syekh Islam Albulqini dalam fatawanya mengatakan bahwa ini adalah shohih, dan Syekh Ibnu Jauzi memaparkan dalam permulaan kitabnya Alwafa’ , dan dinukil oleh Ibnu Kastir dalam kitabnya Bidayah Wannihayah 1/180. Walaupun dalam menghukumi hadis ini tidak ada kesamaan dalam pandangan ulama’, hal ini disebabkan perbedaan mereka dalam jarkh wattta’dil (penilaian kuat dan tidak) terhadap seorang rowi, akan tetapi dapat diambil kesimpulan bahwa tawassul terhadap Nabi Muhammad SAW adalah boleh. b. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam masa hidupnya. Diriwatyatkan oleh Imam Hakim : ‫عن عثمان بن حنيف قال سمعت رسول ال صلى ال عليه وسلم وجاءه رجل ضرير‬ ‫فشكا إليه ذهاب بصره، فقال : يا رسول ال ! ليس لى قائد وقد شق علي فقال رسول ال عليه وسلم : :ائت الميضاة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قل : اللهم إنى أسألك وأتوجه إليك لنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى‬ ‫)ربك فيجلى لى عن بصرى، اللهم شفعه في وشفعنى فى نفسى، قال عثمان : فوال ما تفرقنا ول طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر. )أخرجه الحاكم فى المستدرك‬ ّ Dari Utsman bin Hunaif: "Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang yang menuntunku dan aku merasa berat" Rasulullah berkata"Ambillah air wudlu, lalu beliau berwudlu dan sholat dua rakaat, dan berkata:"bacalah doa (artinya)" Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat". Utsman berkata:"Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar". (Hadist riwayat Hakim di Mustadrak) Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanad walaupun Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadis ini adalah shohih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan shohih ghorib. Dan Imam Mundziri dalam kitabnya Targhib Wat-Tarhib 1/438, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shohihnya.

last Monday


Siti c. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW setelah meninggal. Diriwayatkan oleh Imam Addarimi : ‫عن أبى الجوزاء أ وس بن عبد ال قال : قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت : انظروا قبر النبي فاجعلوا منه كوا إلى السماء حتى ل يكون بينه وبين السماء سقف قال : ففعلوا فمطروا مطرا حتى نبت العشب‬ 43 : ‫)وسمنت البل حتى تفتقط من السحم فسمي عام الفتق ) أخرجه المام الدارمى ج : 1 ص‬ Dari Aus bin Abdullah: "Sautu hari kota Madina mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madina ke Aisyah (janda Rasulullah s.a.w.) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: "Lihatlah kubur Nabi Muhammad s.a.w. lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung", maka merekapun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk" (Riwayat Imam Darimi) Diriwayatkan oleh Imam Bukhori : :‫عن أنس بن مالك إن عمر بن خطاب كان إذا قطحوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا ننتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا قال : فيسقون )أخرجه المام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص‬ 137 ) Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:"Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlau hujan kepada, lalu turunlah hujan. d. Nabi Muhammad SAW melakukan tawassul . ‫عن أبى سعيد الحذري قال : رسول ال صلى ال عليه وسلم : من خرج من بيته إلى الصلة، فقال : اللهم إنى أسألك بحق السائلين عليك وبحق ممشاى هذا فإنى لم أخرج شرا ول بطرا ول رياءا ول سمعة، خرجت إتقاء شخطك‬ ‫.)وابتغاء مرضاتك فأسألك أن تعيذنى من النار، وأن تغفر لى ذنوبى، إنه ل يغفر الذنوب إل أنت، أقبل ال بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك )أخرجه بن ماجه وأحمد وبن حزيمة وأبو نعيم وبن سنى‬ Dari Abi Said al-Khudri: Rasulullah s.a.w. bersabda:"Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk melaksanakan sholat, lalu ia berdoa: (artinya) Ya Allah sesungguhnya aku memintamu melalui orang-orang yang memintamu dan melalui langkahku ini, bahwa aku tidak keluar untuk kejelekan, untuk kekerasan, untuk riya dan sombong, aku keluar karena takut murkaMu dan karena mencari ridlaMu, maka aku memintaMu agar Kau selamatkan dari neraka, agar Kau ampuni dosaku sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali diriMu", maka Allah akan menerimanya dan seribu malaikat memintakan ampunan untuknya". (Riwayat Ibnu Majad dll.). Imam Mundziri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dengan sanad yang ma'qool, akan tetap Alhafidz Abu Hasan mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan.( Targhib Wattarhib 2/ 119). Alhafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Abu Na’im dan Ibnu Sunni.(Nataaij Alafkar 1/272). Imam Al I’roqi dalam mentakhrij hadis ini dikitab Ikhya’ Ulumiddin mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan, (1/323). Imam Bushoiri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan hadis ini shohih, (Mishbah Alzujajah 1/98). Pandangan Para Ulama’ Tentang Tawassul Untuk mengetahui sejauh mana pembahasan tawassul telah dikaji para ulama, ada baiknya kita tengok pendapat para ulama terdahulu. Kadang sebagian orang masih kurang puas, jika hanya menghadirkan dalil-dalil tanpa disertai oleh pendapat ulama’, walaupun sebetulnya dengan dalil saja tanpa harus menyartakan pendapat ulama’ sudah bisa dijadikan landasan bagi orang meyakininya. Namun untuk lebih memperkuat pendapat tersebut, maka tidak ada salahnya jika disini dipaparkan pandangan ulama’ mengenai hal tersebut. Pandangan Ulama Madzhab Pada suatu hari ketika kholifah Abbasiah Al-Mansur datang ke Madinah dan bertemu dengan Imam Malik, maka beliau bertanya:"Kalau aku berziarah ke kubur nabi, apakah menghadap kubur atau qiblat? Imam Malik menjawab:"Bagaimana engkau palingkan wajahmu dari (Rasulullah) padahal ia perantaramu dan perantara bapakmu Adam kepada Allah, sebaiknya menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaat maka Allah akan memberimu syafaat". (Al-Syifa' karangan Qadli 'Iyad alMaliki jus: 2 hal: 32). Demikian juga ketika Imam Ahmad Bin Hambal bertawassul kepada Imam Syafi’i dalam doanya, maka anaknya yang bernama Abdullah heran seraya bertanya kepada bapaknya, maka Imam Ahmad menjawab :"Syafii ibarat matahagi bagi manusia dan ibarat sehat bagi badan kita" (166:‫)شواهد الحق ليوسف بن إسماعيل النبهانى ص‬ Demikian juga perkataan imam syafi’i dalam salah satu syairnya:

‫آل النبى ذريعتى # وهم إليه وسيلتى‬ ‫أرجو بهم أعطى غدا # بيدى اليمن صحيفتى‬ (180:‫)العواصق المحرقة لحمد بن حجر المكى ص‬ "Keluarga nabi adalah familiku, Mereka perantaraku kepadanya (Muhammad), aku berharap melalui mereka, agar aku menerima buku perhitunganku di hari kiamat nanti dengan tangan kananku" Pandangan Imam Taqyuddin Assubuky Beliau memperbolehkan dan mengatakan bahwa tawassul dan isti’anah adalah sesuatu yang baik dan dipraktekkan oleh para nabi dan rosul, salafussholeh, para ulama,’ serta kalangan umum umat islam dan tidak ada yang mengingkari perbuatan tersebut sampai datang seorang ulama’ yang mengatakan bahwa tawassul adalah sesuatu yang bid’ah. (Syifa’ Assaqom hal 160) Pandangan Ibnu Taimiyah Syekh Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya memperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW tanpa membedakan apakah Beliau masih hidup atau sudah meninggal. Beliau berkata : “Dengan demikian, diperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam doa, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi : ‫.)أن النبي علم شخصا أن يقول : اللهم إنى أسألك وأتوسل إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى ربك فيجلى حاجتى ليقضيها فشفعه في )أخرجه الترميذى وصححه‬ ّ Rasulullah s.a.w. mengajari seseorang berdoa: (artinya)"Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu dan bertwassul kepadamu melalui nabiMu Muhammad yang penuh kasih, wahai Muhammad sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Allah agar dimudahkan kebutuhanku maka berilah aku sya'faat". Tawassul seperti ini adalah bagus (fatawa Ibnu Taimiyah jilid 3 halaman 276) Pandangan Imam Syaukani Beliau mengatakan bahwa tawassul kepada nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain ( orang sholeh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para shohabat. Pandangan Muhammad Bin Abdul Wahab. Beliau melihat bahwa tawassul adalah sesuatu yang makruh menurut jumhur ulama’ dan tidak sampai menuju pada tingkatan haram ataupun bidah bahkan musyrik. Dalam surat yang dikirimkan oleh Syekh Abdul Wahab kepada warga qushim bahwa beliau menghukumi kafir terhadap orang yang bertawassul kepada orang-orang sholeh., dan menghukumi kafir terhadap AlBushoiri atas perkataannya YA AKROMAL KHOLQI dan membakar dalailul khoirot. Maka beliau membantah : “ Maha suci Engkau, ini adalah kebohongan besar. Dan ini diperkuat dengan surat beliau yang dikirimkan kepada warga majma’ah ( surat pertama dan kelima belas dari kumpulan surat-surat syekh Abdul Wahab hal 12 dan 64, atau kumpulan fatwa syekh Abdul Wahab yang diterbitkan oleh Universitas Muhammad Bin Suud Riyad bagian ketiga hal 68) Dalil-dalil yang melarang tawassul Dalil yang dijadikan landasan oleh pendapat yang melarang tawassul adalah sebagai berikut: 1. Surat Zumar, 2: ٌ ّ َ ٌ ِ َ َ ُ ْ َ ِ ْ َ َ ّ ّ ِ َ ُ َِ ْ َ ِ ِ ْ ُ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ُ ُ ْ َ ّ ّ ِ َ ْ ُ ّ ‫أل ل الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إل ليقربونا إلى ال زلفى إن ال يحكم بينهم في ما هم فيه يختلفون إن ال ل يهدي من هو كاذب كفار‬ َ َ ِ َِ َ ُ ّ َ ُ ِ ّ ِ ْ ُ ُ ُ ْ َ َ َ ِْ َ ِ ِ ُ ِ ُ َ ّ َ ِ ّ َ ُ ِ َ ْ ُ ّ ّ َ َ ِ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Orang yang bertwassul kepada orang sholih maupun kepada para kekasih Allah, dianggap sama dengan sikap orang kafir ketika menyembah berhala yang dianggapnya sebuah perantara kepada Allah. Namun kalau dicermati, terdapat perbedaan antara tawassul dan ritual orang kafir seperti disebutkan dalam ayat tersebut: tawassul semata dalam berdoa dan tidak ada unsur menyembah kepada yang dijadikan tawassul , sedangkan orang kafir telah menyembah perantara; tawassul juga dengan sesuatu yang dicintai Allah sedangkan orang kafir bertwassul dengan berhala yang sangat dibenci Allah. 2. Surah al-Baqarah, 186: َ ُ ُ ْ َ ْ ُ ّ َ َ ِ ْ ُ ِ ْ ُ ْ َ ِ ْ ُ ِ َ ْ َ ْ َ ِ َ َ َ ِ ِ ّ َ َ ْ َ ُ ِ ُ ٌ ِ َ ّ ِ َ ّ َ ِ َ ِ َ َ َ َ َ َِ ‫وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون‬ 2. 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Allah Maha dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaNya. Jika Allah maha dekat, mengapa perlu tawassul dan mengapa memerlukan sekat antara kita dan Allah. Namun dalil-dalil di atas menujukkan bahwa meskipun Allah maha dekat, berdoa melalui tawassul dan perantara adalah salah satu cara untuk berdoa. Banyak jalan untuk menuju Allah dan banyak cara untuk berdoa, salah satunya adalah melalui tawassul. 3. Surat Jin, ayat 18: ً َ َ ّ َ ‫ََ ّ ْ َ َ ِ َ ّ َ َ َ ْ ُ م‬ ‫وأن المساجد ل فل تدعوا َع ال أحدا‬ ِ ِ 72. 18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Kita dilarang ketika menyembah dan berdoa kepada Allah sambil menyekutukan dan mendampingkan siapapun selain Allah. Seperti ayat pertama, ayat ini dalam konteks menyembah Allah dan meminta sesuatu kepada selain Allah. Sedangkan tawassul adalah meminta kepada Allah, hanya saja melalui perantara.

Kesimpulan Tawassul dengan perbuatan dan amal sholeh kita yang baik diperbolehkan menurut kesepakatan ulama’. Demikian juga tawassul kepada Rasulullah s.a.w. juga diperboleh sesuai dalil-dalil di atas. Tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad SAW mempunyai kedudukan yang mulia disisi Allah SWT, maka tidak ada salahnya jika kita bertawassul terhadap kekasih Allah SWT yang paling dicintai, dan begitu juga dengan orang-orang yang sholeh. Selama ini para ulama yang memperbolehkan tawassul dan melakukannya tidak ada yang berkeyakinan sedikitpun bahwa mereka (yang dijadikan sebagai perantara) adalah yang yang mengabulkan permintaan ataupun yang memberi madlorot. Mereka berkeyakinan bahwa hanya Allah lah yang berhak memberi dan menolak doa hambaNya. Lagi pula berdasarkan hadis-hadis yang telah dipaparkan diatas menunjukakn bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu yang baru dikalangan umat islam dan sudah dilakukan para ulama terdahulu. Jadi jikalau ada umat islam yang melakukan tawassul sebaiknya kita hormati mereka karena mereka tentu mempunyai dalil dan landasan yang cukup kuat dari Quran dan hadist. Tawassul adalah masalah khilafiyah di antara para ulama Islam, ada yang memperbolehkan dan ada yang melarangnya, ada yang menganggapnya sunnah dan ada juga yang menganggapnya makruh. Kita umat Islam harus saling menghormati dalam masalah khilafiyah dan jangan sampai saling bermusuhan. Dalam menyikapi masalah tawassul kita juga jangan mudah terjebak oleh isu bid'ah yang telah mencabik-cabik persatuan dan ukhuwah kita. Kita jangan dengan mudah menuduh umat Islam yang bertawassul telah melakukan bid'ah dan sesat, apalagi sampai menganggap mereka menyekutukan Allah, karena mereka mempunyai landasan dan dalil yang kuat. Tidak hanya dalam masalah tawassul, sebelum kita mengangkat isu bid'ah pada permasalahan yang sifatnya khilafiyah, sebaiknya kita membaca dan meneliti secara baik dan komprehensif masalah tersebut sehingga kita tidak mudah terjebak oleh hembusan teologi permusuhan yang sekarang sedang gencar mengancam umat Islam secara umum. Memang masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang muslim awam dalam melakukan tawassul, seperti menganggap yang dijadikan tawassul mempunyai kekuatan, atau bahkan meminta-minta kepada orang yang dijadikan perantara tawassul, bertawassul dengan orang yang bukan sholeh tapi tokoh-tokoh masyarakat yang telah meninggal dunia dan belum tentu beragama Islam, atau bertawassul dengan kuburan orang-orang terdahulu, meminta-minta ke makam wali-wali Allah, bukan bertawassul kepada para para ulama dan kekasih Allah. Itu semua tantangan dakwah kita semua untuk kita luruskan sesuai dengan konsep tawassul yang dijelaskan dalil-dalil di atas. Wallahu a'lam bissowab Penyusun: Ustadz Agus Zainal Arifin, Hiroshima Ustadz Muhammad Niam, Islamabad Ustadz Ulin Niam Masruri, Islamabad CELANA CINGKRANG Displaying all 19 posts.


Den Seorang mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya mempertanyakan, apakah bila kita memakai celana harus di atas mata kaki atau harus ditinggikan di bawah lutut? Pertanyaan ini disampikannya terkait anjuran sekelompok umat Muslim di Indonesia bagi kaum laki-laki untuk memakai celana yang tinggi, hampir di bawah lutut. Kelompok ini sudah berkembang di kampus-kampus. Sepanjang yang kami ketahui, praktik memakai celana di atas mata kaki, ini merujuk pada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah. Bahwa Rasulullah SAW bersabda, ِ ّ ْ ِ َ ‫َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َْ ْ ِ ِ َ ْ َ ر‬ ‫ما أسفل من الكعبين من الزا ِ ففي النار‬ Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka Dari hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa sunnah memakai pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Sebagian ulama bahkan mengharamkan mengenakan pakaian sampai di bawah mata kaki jika dimaksudkan lil khulayah atau karena faktor kesombongan. Hal ini juga didasarkan pada hadits lain riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda, َ َ َ ُ ُ َ ْ َ ّ َ ْ َ َِ ُ ُ ُ ْ َ َ ‫ل ينظر ال إلى من جر ثوبه خيلء‬ Allah tidak melihat orang yang merendahkan pakaiannya dengan penuh kesombongan. Tentunya ini sesuai dengan konteks saat itu, bahwa merendahkan pakaian atau memakai pakaian di bawah lutut di daerah Arab waktu itu adalah identik dengan ria dan kesombongan. Nah, secara fiqhiyah, atau menurut para ulama fikih, hadits ini difahami bahwa kain celana atau sarung di atas mata kaki dimaksudkan supaya terbebas dari kotoran atau najis. Artinya masalikul illat atau ihwal disunnahkan mengangkat celana adalah untuk menghindari najis yang mungkin ada di tanah atau jalanan yang kita lewati. Berdasarkan ketentuan fikih ini, menurut kami, kita dipersilakan memakai pakaian sebatas mata kaki, tidak harus di atasnya, selama kita bisa memastikan akan bisa menjaga celana kita dari kotoran dan najis, misalnya dengan memakai sepatu atau sandal atau mengangkat atau menekuk celana kita pada saat jalanan hujan atau basah. Perlu direnungkan bahwa berpakaian adalah bagian dari budaya. Dalam Islam kita mengenal istilah tahzin atau etika dalam berpenampilan yang selaras sesuai dengan adat lingkungan setempat. Kita dipersilakan mengikuti tren pakaian masa kini asal tetap mengikuti ketentuan yang wajib yakni untuk laki-laki harus menutupi bagian tubuh dari mulai pusar hingga lutut. dari sumber: KH Arwanie Faishal

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

over a year ago


ki oke pak Kyai...SETUJU !!! over a year ago


Yunus like this, yang penting kalo shalat jangan kepanjangan pa lagi di injak tu celana, maklumlah anak muda sekarang kayak gitu... katanya " masih untung shalat daripada gak shalat" harus jawab apa ya.. hufffttttt over a year ago


Wahyu mengutip pernyataan diatas "Pertanyaan ini disampikannya terkait anjuran sekelompok umat Muslim di Indonesia bagi kaum laki-laki untuk memakai celana yang tinggi, hampir di bawah lutut. Kelompok ini sudah berkembang di kampus-kampus." afwan jika memang sudah berkembang dikampus2 dan insyaAllah dimasyarakat luas, apakah itu salah? tidak kan?!!! Alhamdulillah ana sekali mahasiswa2 muda saat ini telah menyadari akan sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam...tidakkah kita semua senang dengan hal tersebut, argument diatas justru akan memberikan kelemahan semangat bagi mhswa yg sudah mulai cinta akan sunnah... menanggapi argument "masih untung shalat dari pada gak shalat" harus jawab apa ya.. hufffttttt" kenapa harus bingung menjawabnya akhi...jawab saja... "sholat bukanlah kebutuhan Allah terhadap manusia, justru manusia yg butuh sholat, jawaban diatas seakan2 Allah yg butuh hamba-Nya ntuk sholat. Allah ga rugi jika semua makhluknya ga sholat, ga akan sedikit pun berkurang kekuasaan Allah...Sholat adalah kewajiban setiap muslim, bahkan kebutuhan seorang hamba terhadap sang Khaliq."

about 8 months ago


Den @abu Gosok : percuma pernyataanmu ditanggapi. ndak akan ada ujung pangkalnya. kamu orang salafy ngapain masuk kesini.......? mau bikin onar............???? DASAR..... about 8 months ago


Wahyu Alhamdulillah....terimakasih.... mudah-mudahan, kita bisa menjalin ukhuwwah sesama muslim dalam bingkai diskusi yg mengedepankan persaudaraan... bukankah istilah salafy justru di populerkan oleh orang-orang NU... about 8 months ago


M ABDUL semut ireng@ mv shbat bukn maksud ane megintervensi shbat tp tdk sepntasx qt bnkt yg kurng elok kdgrnx sm org muslim smdiri (bhkn m org kfir za gag bole lo slm mereka tdk meghumuskn pedg permusuhn pd qt).. buatq perbedaan tu is ok gak mslh tp yg jd masalh ketika suatu kelompok saling mxlahkan kel lain yg gak sefhn dg ideologix,,, "SELAMAT HARI LAHIR NAHDLATUL 'ULAMA (NU) YANG KE 85 SEMOGA KITA TETAP BISA BERPEGANG TEGUH PADA PANJI2 ISLAM AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH,amiiiinn"... about 8 months ago


Wahyu @ fatah baladewa : syukron akhi... bukankah ada pepatah yg mengatakan ...."ucapan dan perbuatan mencerminkan kepribadian seseorang"..... Jika baik keduanya maka baiklah kepribadiannya... about 8 months ago


Den @fatah : bagaimana dengan orang muslim yang mengkafirkan muslim lain seenaknya seperti temen2 abu gosok ini.....????? @abu gosok : "ucapan dan perbuatan mencerminkan kepribadian seseorang"..... Jika baik keduanya maka baiklah kepribadiannya... -----------------------------------------------------------------------------------------------sayang sekali ucapan anda keliru jaman sekarang..... karena jaman sekarang banyak yang munafik.... ucapan dan perbuatan di depan orang banyak dimanis maniskan padahal hatinya busuk.........

about 8 months ago


Wahyu maaf...siapa yg antum maksud temen2 saya? hmm....begitu ya...

about 8 months ago


M ABDUL istghfirullah... nuwun sewu smua ya,,, gne shbat2 hendkx qt bijaksana dlm mngni n mmcahkan permslh bukn dri lndasan emosional tp dg hati yg dingin, untuk mas semut, sy sbnrx org nu fanatik juga tp (insyaallah) sy sllu mgupayakn mgedepnkn kbijksaan n ktngn hati dlm mghdapi n / mgtasi mslh2 trkait prbedaan faham... trkait dg prxtaan mas semut diatas: bagaimana dengan orang muslim yang mengkafirkan muslim lain seenaknya seperti temen2 abu gosok ini.....????? prtanyaan itu mmbuat sy geli mas ,mnurut sy qt tidak prlu mnjwbx dg anarkisme tp qt cukup mmusyawarohkan brsma tntg mgpa anda mgkfirkan saya dan apa dasar hukumnya, qt adu argumen disana (bukn adu jotos lo ya, he....) nmun jika mereka ttp mangket, dlm "mxdarkan" mereka mk tuntslah kewajiban qt untuk mgigtkan saudara qt. qt gak usah pke kekerasan dlm mghdpi spti itu lagian (sprti yg sy igat ketika masih bljr dipesantren) kenjeng nabi sendiri pernah bersabda; "mang kafarol muslimuna fahuwa kaafiruuun (barangsiapa yang mengkafirkan org muslim maka dia (sebenarxlah) yg kafir". gitu aja kok repot,,,, about 8 months ago


M ABDUL untuk mas abu sy mengharap antum n shbat2 antun tdk/ bukn sprti apa yg dimaksud mas semut diatas,,, terima kasih

about 8 months ago


Wahyu afwan akhi fatah...ana ga pernah mengkafirkan orang lain? dan temen2 ana ga ada yg mengkafirkan sesama muslim, siapa yg antum semut maksud temen ana? selama ana kajian ana ga pernah mendengar mengkafirkan sesama muslim... afwan...kenapa akhi semut benci sekali dengan salafy?akhi semut sebenernya faham ga yg dimaksud salafy itu apa? about 8 months ago


M ABDUL mas abu: ya.. alhamdulullah klo gtu,,, mgnai tnng mas abu bukn brarti antu ikut terhanyut dalam emosix ssmua dg kodrat manusia bahwa qt mmg tmpatx slah dan lupa about 8 months ago


M ABDUL maaf disini bukan niat syabukan mnggurui atau sok mengenengahi permasalahan ini kembali kpd pokok permasalahan semula diatas saya hanya mengharapkan bagi yg setuju dg itu is ok monggo diikuti asal dg dalil yg valid bgi yg gag stuju ya monggo jgn diikuti asal ada dalil yg valid jg n diantara k 2 blah pihak tdk bijak jk ada yg slih slah mxlahkan lrna k 2ax sudah menggunakan dalil2 yg kuat klo mau ya diikuti kalo gag mau ya jgn diikuti jgn spt H. MAHRUS ALI yg mgrag buku MANTAN KIAI NU MENGGUGAT SHOLAWAT & ZIKIR SYIRIK yg tidak bisa mmprtanggugjwbkan smua argumenx yg dg tdk mau diajak diskusi di iain sunsn ampel n parahx keran ulahxlah yg mnjengkelkan org nu n mmperkeruh suasana antra org nu dg ...

about 8 months ago


Tantra 1. “Barang siapa yang benci terhadap sunnahku berarti dia bukan dari golonganku” (SHAHIH, HR Bukhari dan Muslim) 2. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“ Kain (Pakaian, Sarung, Celana) apa saja yang berada di bawah kedua mata kaki, maka tempatnya adalah neraka” (SHAHIH, HR Bukhari) 3. Dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Tiga macam orang yang Allah tidak akan mengajak bicara mereka di hari kiamat nanti, tidak

juga memandang dan mensucikan mereka, bahkan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka adalah orang yang memanjangkan celanannya hingga menutupi kedua mata kakinya, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian /jasanya dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu” (SHAHIH, HR Muslim) 4. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Pakaian seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada dibawah mata kaki tempatnya di neraka.” (SHAHIH, HR Abu Daud, Malik) 5. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda " Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal." (SHAHIH, HR Abu Dawud namun didiamkan oleh Syaikh Albani) 6. Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir Ibnu Sulaiman : "Hindarilah Isbal olehmu dalam berpakaian, karena sesungguhnya memanjangkan pakaian melewati mata kaki itu tergolong tanda kesombongan." (SHAHIH, HR Abu Daud dan At Tirmidzi) 7. Hadist Utsman : “ Bahwasanya pakaian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai pertengahan betisnya “ (SHAHIH, HR At Tirmidzi , Al Albani) 8. Dari Ibnu Umar Bin Khatab, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Tatkala seorang lelaki pakaiannya Isbal, tiba-tiba ia dibenamkan, maka diapun timbul tenggelam kedalam tanah dengan suara bergemuruh sampai hari kiamat.” (SHAHIH, HR Bukhari) 9. Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu melakukan Isbal, sebab Allah tidak menyukai orang2 yang melakukan Isbal” (SHAHIH, HR Ibnu Majah, Al Albani) 10. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat dari jauh seorang lelaki yang Isbal, lalu beliau cepat2 mengejarnya, sambil berlari kecil beliau bersabda “ Angkatlah pakaianmu dan takutlah kamu kepada Allah!”. Lelaki tersebut menjawab: ”Aku adalah orang yang berpenyakit kaki bengkok seperti X, lututku berbenturan”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Angkatlah pakaianmu karena sesungguhnya setiap ciptaan Allah itu indah”. Maka sejak saat itu tidak telihat pada lelaki itu kecuali pakaiannya sampai setengah betisnya. (SHAHIH, HR Ahmad, Bukhari dan Muslim) 11. Dari Ibnu Umar Bin Khotob : “ Aku pernah melewati Rasulullah dan pakaianku kebetulan kedodoran, maka beliau bersabda : ” Angkatlah pakaianmu!” lalu akupun mengangkatnya, kemudian beliau besabda lagi: ”Tambah lagi!” maka akupun mengangkatnya lagi. Semenjak itu akupun selalu menjaganya. Ketika orang2 bertanya kepadaku : ”Sampai dimana?” ,aku jawab “Sampai setengah kedua betis” (SHAHIH, HR Muslim) 12. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka laksanakanlah semampu kalian, dan apa yang aku larang maka jauhilah” (SHAHIH, HR Bukhari dan Muslim) 13. Allah SWT berfirman :”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS Al Qur’an. Surat Al Hasyr : 7)

about 8 months ago


Sutik Alhamndulillah pak Tantra Harliyanto lengkap sekali Dalilnya.... semoga semua umat muslim mengikuti sunnah Rasulullah SAW. nabi kita,nabi Allah yang selalu kita bersolawat.maka mari kita bersama-sama lapang dada siapa saja dari manapun golongannya yang bersharing ilmu islam di sini asal bersumber dari Qur'an dan Hadist yang shoheh, mari kita terima dengan ikhlas. biarpun guru/kyai tidak setuju tapi kita umat islam sudah jelas patokannya/kiblatnya adalah Qur'an dan hadist shoheh jangan gontok-gontokan dan jangan petak-petaklan. itu saja nuwun about 6 months ago


Slamet hidup sunah rosul.sebagai umat muslim seharusnya kita komitmen dengan sunah.jangan mengikuti napsu. about 4 months ago


Slamet sabar smua jangan pda debat kusir,5aaf klu anx kecil ikut ikuttan.biarlah ata d hina yang peting sabar aja mz.abu sejarah yasin fadilah Displaying all 26 posts.


Irmawan assalamualaikum... dulur2 seagami sedoyo.... saya mau bertanya,,mungkin lewat forum ini ada yang dapat menjawabnya... bagaimana sejarah dari YASIN FADILAH??? dan bagaimana hukumnya??? wassalamualaikum... over a year ago


Syaifulloh RAHASIA YASIN FADHILAH Oleh Muhammad ESA Tidak semua orang tahu apa yang dimaksud Yasin Fadhilah. Namun dikalangan masyarakat pedesaan, terutama di kalangan warga pesantren sangat akrab dengan Yasin Fadhilah. Aku ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMPN di Prajekan Kab. Bondowoso sudah dikenalkan terhadap Yasin Fadhilah oleh kakek yang berlatar budaya pesantren. Kakek hanya menyuruh membaca minimal setiap malam Jumat harus membaca Yasin Fadhilah tanpa memberi tahu apa manfaatnya. Setelah sekian puluh tahun berlalu, aku ditakdirkan mukim di kota kembang Bandung. Ketika mengantar istriku ke Bursa Buku Palasari, mataku terbelalak melihat cover buku warna hijau dengan judul “Menyingkap Rahasia Yasin Fadhilah dan Keampuhannya”. Aku segera membelinya. Buku tersebut ditulis oleh KH. Muhammad Zain Muallif. Setelah selesai membaca buku tersebut, aku bersyukur kepada kakek yang telah menunjukkan Yasin Fadhilah. Semoga segala amal ibadah kakek diterima disisi-Nya. Menurut KH. Muhammad Zain Muallif, ternyata Yasin Fadhilah itu tidak ada dalam Kitab Suci Al-Quran. Yasin Fadhilah itu adalah Surat Yasin yang sudah diberi lima macam tambahan sbb: 1. Di antara ayat Surat Yasin ada yang diulang sampai tiga kali atau lebih. Mengulang-ulang satu ayat ada contoh dari Rasulullah Saww sebagaimana disampaikan oleh Abu Dzarrin ra beliau berkata: “Nabi Saww pernah bangun malam dengan membaca sebuah ayat dan mengulang-ulang ayat itu, sehingga sampai pada pagi hari. Ayat tersebut adalah: In tu’adzdzibhum fa innahum ‘ibaaduka (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu)”. (HR.Imam Nasa’I dan Ibnu Majah). 2. Di antara beberapa ayat yang satu dan yang lain diselingi dzikir dan do’a. Isinya selalu disesuaikan atau berkaitan dengan isi kandungan ayat tersebut. Berdzikir dan berdo’a yang demikian, sangat sesuai dengan sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman ra beliau berkata:

“Pada malam hari saya pernah shalat bersama Nabi Saww, lalu beliau membuka Surat Al-Baqarah, Surat Ali Imraan, dan Surat An-Nisaa’ kemudian membacanya dengan tartil. Apabila beliau melewati ayat yang didalamnya terdapat tentang mensucikan Allah, maka beliau membaca “Sumhaanallaah.” Apabila beliau melewati (ayat) tentang permohonan, maka beliau memohon (berdo’a) dan apabila beliau melewati (ayat) tentang permohonan perlindungan, maka beliau memohon perlindungan kepada Allah.” (HR. Imam Muslim). 3. Setiap dzikir dan do’a yang mengiringi ayat itu, selalu dibuka dengan shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Saww, keluarganya, dan para sahabatnya. Kemudian dzikir dan do’a tersebut selalu ditutup dengan sebuah dzikir yang sangat popular yang menyatakan: “Bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Dari Fudhalah bin Ubaid ra berkata, bahwa Nabi Saww sungguh telah mengajar umatnya bagaimana cara mereka berdo’a. Kemudian beliau bersabda: “Apabila salah satu di antara kamu berdo’a, maka mulailah dengan memuji Allah Ta’ala dan memuji-Nya pula dengan berulang-ulang. Kemudian bacalah shalawat kepada Nabi Saww. Kemudian berdo’alah dengan sesuka hati !” (HR. Abu Dawud, Tirmdzi, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi). 4. Dzikir dan do’a yang mengiringi ayat, selalu diulang sampai tiga kali. Demikian pada umumnya. Dzikir dan do’a yang selalu diulang sampai tiga kali merupakan Adab berdo’a yang sering dilakukan oleh Rasulullah Saww. Hal yang demikian diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud ra berkata: “Rasulullah Saww apabila berdo’a, beliau berdo’a tiga kali dan apabila memohon kemada Allah, maka beliau memohon tiga kali juga”. (HR. Imam Muslim). 5. Setelah Surat Yasin itu tamat, kemudian ditutup dengan do’a khusus. Rasulullah Saww menegaskan tentang hal tersebut berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Imran ra sebagai berikut: “Barangsiapa yang selesai membaca Al-Quran, maka memohonlah kepada Allah dengan Al-Quran itu. Maka sesunggugnya akan dating beberapa kaum, membaca AlQuran, kemudian mereka meminta minta kepada manusia dengan Al-Quran itu.” (HR. Imam Tirmidzi). Berdasarkan analisa KH. Muhammad Zain Muallif, maka kelima tambahan yang ada pada Yasin Fadhilah merupakan bagian dari “Adab Membaca Al-Quran” dan “Adab Berdo’a” yang sesuai dengan apa yang telah digariskan Islam. Selain itu, kelima tambahan tersebut merupakan hal yang mustahab (dipandang baik dalam Islam). “Adab Membaca Al-Quran” dan “Adab Berdo’a” bisa juga diaplikasikan pada surat-surat Al-Quran yang lainnya. Dengan bantuan KH. Muhammad Zain Muallif, tersingkaplah rahasia Yasin fadhilah. Sehingga umat islam yang ingin mendawamkan Yasin Fadhilah tidak perlu ragu dan takut bid’ah. Sebab adab membaca Al-Quran dan adab berdo’a telah diamalkan oleh Rasulullah Saww, para sahabat, dan ulama Salaf.

Tags: tafsir Prev: Amanat Ketua Yayasan Babussalam Bandung kepada Wisudawan Santri tahun 2008 Next: AKIKAH: Kurban atas Anak yang Baru Lahir

about 10 months ago


Suud menurut Wahabbi, bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat. dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. yang melakukannya adalah melakukan BID'AH.==>>> SESAT

about 10 months ago


Syaifulloh Makanya kita mesti mengadakan suatu pilihan. Kalau memilih pendapat wahabi silakan tp anda mesti menghormati pendapat lainnya. Demikian juga kalau anda memilih yg membolehkan yasin fadhilah maka anda mesti menghormati orang yg gak setuju. Karena kita sendiri nantinya yg akan menanggung.Gitu aja repot. Tar kalau saling menyesatkan malah kelahi setelah itu bisa perang dan mati konyol hehhehehehe about 10 months ago


vicky ya, setelah saya ikuti pendapat2 antara yang setuju mengamalkan yasin fadilah dan yang tidak setuju , semuanya dengan dukungan ''dalil'', maka saya memutuskan untuk mengikuti yang mendukung mengamalkan yasin fadillah, tanpa mengesampingkan membaca Al Quran, wass about 9 months ago


Rudi yo.. seng seneng yasinan oleh manfaate lan berkahe yen seng ora seneng yasinan ora oleh nyesatke koncoe.. gampang tooo... about 9 months ago


Nur Yasiin Fadhillah pertama kali yang menyusun Syaikh Muhammad Al-Makhruki terus diijazahkan kepada syaikh Yasin Al-Padangi terus disebarluaskan oleh Syaikh Kholil (Bangkalan Madura) terus diijazahkan keseluruh santri-santrinya about 9 months ago


Syaifulloh Trus gmn kalo kita pingin minta ijazah yasin fadilah?Kira2 bedanya apa ya membaca yasin fadlilah dengan ijazah dan belum ijazah? trims

about 9 months ago


Lely Sebenarnya islam tu fleksibel, hnya manusianya sendiri yang membuat nya jadi ribet,, pegetahuan kta itu masih sempit, kadang sering diantara kita mengatakan ini itu bid'ah, tapi mereka sendiri ga tau bid'ah iu apa, dan bid'ah itu dibagi menjadi berapa....masyarakat sekrang ini sedang dilanda kebingungan karena banyak diantara kita yang asal mnyebutkan ini ga boleh ini ga boleh, tnpa ilmu yang kuat, begitu pula dengan 4mazhab, perbedaan 4 mazhab bukanlah menjadi masalah, karena sesungguhnya perbedaan itu berkah, namun sekali lagi untuk memutuskan sesuatu itu butuh ilmu, dan beribadahpun juga butuh ilmu, walaupun saya bukan ahli agama, tapi saya mencoba berbagi apa yang saya tau,, bahwa sesungguhnya islam itu membawa nilai kebaikan pada penganutnya, buan membawa kearah kejeleka atau kesesatan, sesungguhnya yag membuat sesat sendiri itu manusia dan setan,, maaf apabia ada kata yang salah about 8 months ago


M ABDUL buat sy sih perbedaan tu is ok gak masalah tp yg jd mslah ketika kelompok 1 dg kelompok lain salig menyalahkan!!!! about 8 months ago


Rudi yaaaa it oke... about 8 months ago


Lely tapi perbedaan yang sesuai dengan syariat,, bukan asal perbedaan, kalau perbedaan yang berlandaskan syariat itu yg nmnya berkah, tapi klo yg melanggr dari syariah islam itu yg nnmnya musibah about 8 months ago


Syaifulloh

Perbedaan itu boleh, sunnah, mubah dll.Dengan syarat tidak ada rukun yang berbeda. Karena rukun itu adalah patokan dan harga mati dalam agama.Selain rukun kita boleh berbeda.Tapi kalau sampai rukun berbeda maknanya kita harus ucapkan selamat tinggal or wasssalam. about 8 months ago


Ain lebih baik membaca yasin daripada membicarakan kejelekan org lain about 6 months ago


M ABDUL ain@ sepakat sahabatt,,,

about 6 months ago


Akang Seafdhol-afdol Yasin.... yaitu Yasin.... about 6 months ago


Abdul sukron maturnuwun atas penjelasanya about 6 months ago


Muhammad

mkasih atas semua penjelasannya semoga manfaat bagi saya amiin

about 6 months ago


Romli Supaya Qt mendapatkan semuanya (pahala, syafaat dan terhindar dari keragu-raguan dalam masalah dalil) alangkah terbaiknya jika Qt membaca seluruh AlQur'an tanpa penghususan surat tertentu dilanjutkan dengan mentadaburinya serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. wallahu a'lam about 5 months ago


Xira Ass. wr. wb. Ikhwanul Muslimin wal Mukminin. Ketahuilah bahwa pendapat orang pasti berbeda-beda, tetapi Wayu Allah (Al Qur'an) dan Petunjuk Rosul (As Sunnah) hanya satu. Maka apabila ada perbedaan pendapat jangan repot dan ngotot, tapi kembalikan kepada petunjuk Al Qur'an dan As Sunnah. Ketehuilah segala bertuk ibadah ritrual kepada Allah harus berdasar kepada petunjuk dan contoh Rosululloh. Siapapun ulamanya tidak berhak membuat syari'at atau tatacara ibadah ritual kepada Allah. Ibadah ritual kepada Allah disebut ibadah bid'ah yang sesat, apabila tidak dicontohkan oleh Rosululloh. Para ulama yang banyak membuat ibadah ritual tidak berdasarkan yang dicontohkan Rosulullah SAW, mereka telah melecehkan atau menghina Rosulullah.Mereka menganggap ajaran Rosulullah tidak lengkap dan tidak sempurna. Yasin Fadhilah adalah salah satu contoh perbuatan bid'ah yang sesat karena Rosulullah, para shahabat dan ulama salaf tidak pernah melakukannya. Allhahu a'lamu dishowwab. about 3 months ago


Xira Ass.Wr.Wb. Menurut pengamatan saya mayoritas umat Islam Indonesia hanya terjebak kepada ibadah ritual, sehingga terlalu banyak macam-macam ibadah ritual hanya berdasarkan pendapat ulama tidak mengikuti Sunnah Rosulullah. Akibatnya ibadah bid'ah sangat banyak macamnya di negeri berpenduduk muslim terbanyak ini. Salah satunya adalah Yasin Fadhilah. Ketahuilah seluruh ayat dan surat dalam Al Qur'an berfadhilah apabila kita baca, kita fahami dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bacalah Q.S. Al Baqarah:184, dengan terang Allah menjelaskan bahwa Al Qur;an diturunkan sebagai petunjuk, dan penjelasan dari petunjuk tersebut serta sebagai pembeda antara hak dan bathil. Wallahu a'lam bishawwab. about 3 months ago


Xira Ralat komentar saya. Q.S. Al Baqarah : 185 about 3 months ago


Bin Bazz

Strategi Koalisi Yahudi dan Nasrani Menghancurkan Islam Berdasarkan data-data dari sumber primer yang sudah terbuka di media, bahwa menunjukkan arah yang sangat jelas aliansi Yahud i- Nasrani membangun peradaban baru yang komprehensif dan menyeluruh dengan menghapus peradaban Islam. Inilah langkah-langkah strategis yang sekarang sedang berlangsung. Koalisi Yahudi – Nasrani mengerahkan segala daya untuk mewujudkan peradaban yang mereka cita-citakan itu dengan terus menghancurkan dan memerangi peradaban Islam. Pertama, dari segi ideologi (agama) koalisi Yahudi – Nasrani yang menggunakan baju Amerika ini bertujuuan mengubah wajah agama Islam dan keyakinan dasarnya (aqidahnya), mengubahnya dan menjauhkan kaum Muslimin darinya.Caranya dengan menampilkan kepada kaum Muslimin model Islam ala Amerika yang moderat dan sekuler. Islam materialisme. Menghadirkan Islam ‘Islam’ sekadar formalitas, adat dan ritual tertentu saja, yang jauh dari hakikat ruh Islam yang sebenarnya. Bersama dengan aliansi Yahudi – Nasrani terus berusaha mengubah keyakinan dasar kaum Muslmin. Aliansi Yahudi – Nasrani ingin menghapus permasalahan-persamalahan yang sangat prinsip (utama) yang berkaitan dengan intisari agama : al wala’ al bara’, entitas politik, kepribadian muslim, kehidupan Islami di segagala bidang, dan seterusnya. Alat utamanya adalah para ulama pro-pemerintah dan sebagian orang yang rusak, dan justru menjadi simbol kebangkitan Islam, membentuk kelompok-kelompok kecil lyang terdiri dari ulama kolonial atau ‘Da’i Pentagon’. Mereka membuat program ambisius melalui kerjasama dengan pemerintah di Dunia Islam untuk mencetak generasi ulama dan juru dakwah yang hanya memiliki sampah pemikiran dan menjadi ‘kloning’ ideologi Amerika (Yahudi-Nasrani). Program ini dijalankan melalui apa yang mereka sebut dengan : “Workshop Pembangunan Syariah untuk Khatib, Imam, Penceramah dan Guru”. Program ini juga dilakukan melalui pembangunan yayasan-yayasan keislaman – dengan berbagai nama – yang mengarahkan kepada degradasi jatidiri Muslim dan penyimpangan agama atas nama dialog, paham moderat, diskursus, dan perumusan ulang wacana agama, dengan posisinya sebagai yayasan sosial sipil nonpemerintah. Langkah yang dilakukan aliansi Yahudi – Nasrani dalam memperjuangkan ambisi mereka untuk mengubah agama Islam tak hanya sampai di situ. Bahkan, pertengahan 2004, mereka mengumpulkan para ilmuwan, pakar, dan beberapa orang yang telah murtad untuk meringkas Al-Qur’an. Mereka menerbitkan Al-Qur’an versi baru yang telah diringkas, dihapus semua ayat tentang jihad, al wala’ wa al bara’, dan ayat-ayat yang mengajak untuk benci kepada orang-orang kafir, memisahkan diri dari orang kafir, serta melawan mereka. Aliansi Yahudi – Nasrani yang mendompleng Amerika itu, berdalih ayat-ayat ini menjadi dasar terorisme dalam agama Islam. Al-Qur’an versi baru hasil ringkasan ini mereka namakan ‘Furqanul Haq’ (Pembeda yang Benar). Seakan-akan Al-Qur’an yang menjadi pegangan kaum Muslim, yang diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah Shallahu alai wa sallam itu, sebagai ‘Furqanul Bathil’ (Pembeda yang Bathil). Mereka melakukankebohongan dengan cara yang luar biasa. Tujuannya ingin menghancurkan Islam dari akar ajarannya. Dengan dilucuti kaum Muslimin dari aqidah dan dasar ajarannya yang bersumber dari Al-Qur’an, maka kaum Muslimin sudah tidak memiliiki ruh lagi, menghadapi proyek peradaban yang dibangun aliansi Yahudi – Nasrani itu.Kaum Muslimin akan menjadi lumpuh total. Kedua, aliansi Yahudi – Nasrani berusaha dengan segala daya dan upaya mensekulerkan dan memecah belah pemikiran Dunia Islam dan Arab, dan merekonstruksinya kembali sesuai dengan pemikiran Amerika. Usaha ini diwujudkan dengan mencetak generasi yang sudah tercuci otaknya dan tidak lagi mempunyai perhatian dan pemikiran terhadap Islam, dan mereka tidak lagi terikat degnan sejarah dan kebudayaan mereka yang bersumber dari Al-Qur’an. Mereka ini dipimpin oleh sekelompok orang yang tidak lagi berafiliasi ke dalam agama Islam, selain hanya sebatas penampilan saja. Mereka adalah para pengikut Zionis – Salibis dalam hal pemikiran, kebudayaan dan keyakinan, meskipun mereka masih berstatus beragama Islam. Tujuan dan program ini mempunyai banyak rincian yang sangat detil , dan dengan tema ‘perang pemikiran’, dan methode ini dikerahkan oleh aliansi Yahudi – Nasrani yang menggunakan baju Amerika, dan bertujuan memisahkan kaum Muslimin dari agama mereka. Ketiga, di bidang politik, proyek ini bertujuan memecah entitas politik yang berdiri di Dunia Islam dan Arab. Aliansi memformat ulang dengan memainkan peta politik, membut tatanan baru di Dunia Islam dan Arab, dan mengerat-ngerat negeri-negeri Muslim menjadi keratan-keratan yang terpecah-pecah kecil , seperti yang terjadi di Sudan. Antara Sudan Utara dan Selatan. Aliansi Yahudi – Nasrani untuk memenangkan proyek ini dengan menggunakan para tokoh lokal, yang merupakan boneka mereka. Para boneka itu dengan dukungan Amerika, bertindak untuk menghancurkan kekuatan negeri-negeri Muslim dengan perang dan konflik. Alasan mereka yang selalu mereka hembuskan ketidak-adilan, kemiskinan, dan masalah agama dan etnis. Inilah diantara strategi yang dikembangkan oleh aliansi Yahudi – Nasrani untuk memporak-porandakan Dunia Islam dan Arab. Ada dengan menggunakan kekuatan militer mereka menghancurkan kekuatan militer negeri-negeri Muslim, membunuh para tokohnya, dan mengadu domba kelompok-kelompok di dalam sebuah negeri, yang kemudian melahirkan konflik yang berlarut-larut, yang ujungnya perdamaian dengan langkah menuju ke arah pemisahan melalui sebuah referendum. Semuannya ini diotaki oleh aliansi Yahudi – Nasrani yang sekarang sedang ingin membangun peradaban materialisme di negeri-ngeri muslim. Wallahu-alam.

Eramuslim, editorial, Selasa, 11/01/2011 09:42 WIB (nahimunkar.com) Artikel terkait: Kegelisahan Yahudi, Nasrani, dan Orang Munafik Terhadap Masa Depan Islam Proyek Menghancurkan Islam dan Umat Islam Indonesia Di Maroko Banyak Orang Eropa Masuk Islam atau Justru Banyak Warga Maroko yang Murtad ke Nasrani? I’tibar dari Gempa Padang yang Menghancurkan 7 Hotel Berbintang Waduh, Yahudi Telah Punya Perwakilan di Indonesia! about 2 months ago


Muhammad assalamualaikum kawan2 /saudara2 semua,salam perkenalan dr alfaker alhaker moh rusfandi

about 2 months ago


Bin Bazz waalaikum salam.....salam kenal juga saudaraku se agama... about 2 months ago


Sigit Bima gafarali rabbi wa ja’alni minal mukramin apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”. yasiin : 27 asholatu wasalamu bi adadhima fi ilmillahi alaika wa ala alika ya rasulullah, “ilahiya robbi anta maqsudi wa ridhoka matlubi a"tini mahabataka wa ma"rifatakai” QUNUT DAN LANDASAN SYARIAH YANG KUAT DASAR HUKUMNYA Displaying all 2 posts.


Annisa

Dan dari riwayat Imam Ahmad dan Ad-Daruquthuny sepeti itu juga dari bentuk yang berbeda dengan tambahan: Sedangkan pada shalat shubuh, maka beliau tetap melakukan qunut hingga beliau meninggal dunia. Juga ada hadits lainnya lewat Abu Hurairah ra. Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bila bangun dari ruku’-nya pada shalat shubuh di rakaat kedua, beliau mengangkat kedua tanggannya dan berdoa: Allahummahdini fii man hadait…dan seterusnya.” (HR Al-Hakim dan dishahihkan) Juga ada hadits lainnya: Dari Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mengajari kami doa untuk dibaca dalam qunut pada shalat shubuh. (HR Al-Baihaqi) Dengan adanya beberapa hadits ini, maka para ulama salaf seperti Asy-Syafi’i, Al-Qasim, Zaid bin Ali dan lainnya mengatakan bahwa melakukan doa qunut pada shalat shubuh adalah sunnah. A. Hukum Membaca Qunut Subuh Di dalam madzab syafii sudah disepakati bahwa membaca doa qunut dalam shalat subuh pada I’tidal rekaat kedua adalah sunnah ab’ad. Sunnah Ab’ad artinya diberi pahala bagi yang mengerjakannya dan bagi yang lupa mengerjakannya disunnahkan menambalnya dengan sujud syahwi. Tersebut dalam Al majmu’ syarah muhazzab jilid III/504 sebagai berikut : “Dalam madzab syafei disunnatkan qunut pada waktu shalat subuh baik ketika turun bencana atau tidak. Dengan hukum inilah berpegang mayoritas ulama salaf dan orang-orang yang sesudah mereka. Dan diantara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar as-shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin affan, Ali bin abi thalib, Ibnu abbas, Barra’ bin Azib – semoga Allah meridhoi mereka semua. Ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang shahih. Banyak pula orang tabi’in dan yang sesudah mereka berpendapat demikian. Inilah madzabnya Ibnu Abi Laila, Hasan bin Shalih, Malik dan Daud.” Dalam kitab al-umm jilid I/205 disebutkan bahwa Imam syafei berkata : “Tidak ada qunut pada shalat lima waktu selain shalat subuh. Kecuali jika terjadi bencana, maka boleh qunut pada semua shalat jika imam menyukai”. Imam Jalaluddin al-Mahalli berkata dalam kitab Al-Mahalli jilid I/157 : “Disunnahkan qunut pada I’tidal rekaat kedua dari shalat subuh dan dia adalah “Allahummahdinii fiman hadait….hingga akhirnya”. Demikian keputusan hokum tentang qunut subuh dalam madzab syafii. B. Dalil-Dalil Kesunattan qunut subuh Berikut ini dikemukakan dalil dalil tentang kesunnatan qunut subuh yang diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Hadits dari Anas ra. “Bahwa Nabi saw. pernah qunut selama satu bulan sambil mendoakan kecelakaan atas mereka kemudian Nabi meninggalkannya.Adapun pada shalat subuh, maka Nabi melakukan qunut hingga beliau meninggal dunia” Hadits ini diriwayatkan oleh sekelompok huffadz dan mereka juga ikut meriwayatkannya dan mereka juga ikut menshahihkannya. Diantara ulama yang mengakui keshahihan hadis ini adalah Hafidz Abu Abdillah Muhammad ali al-balkhi dan Al-Hakim Abu Abdillah pada beberapa tempat di kitabnya serta imam Baihaqi. Hadits ini juga turut di riwayatkan oleh Darulquthni dari beberapa jalan dengan sanad-sanad yang shahih. Dikatakan oleh Umar bin Ali Al Bahiliy, dikatakan oleh Khalid bin Yazid, dikatakan Jakfar Arraziy, dari Arrabi’ berkata : Anas ra ditanya tentang Qunut Nabi saw bahwa apakah betul beliau saw berqunut sebulan, maka berkata Anas ra : beliau saw selalu terus berqunut hingga wafat, lalu mereka mengatakan maka Qunut Nabi saw pada shalat subuh selalu berkesinambungan hingga beliau saw wafat, dan mereka yg meriwayatkan bahwa Qunut Nabi saw hanya sebulan kemudian berhenti maka yg dimaksud adalah Qunut setiap shalat untuk mendoakan kehancuran atas musuh musuh, lalu (setelah sebulan) beliau saw berhenti, namun Qunut di shalat subuh terus berjalan hingga beliau saw wafat. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 2 hal 211 Bab Raf’ul yadayn filqunut, Sunan Imam Baihaqi ALkubra Juz 3 hal 41, Fathul Baari Imam Ibn Rajab Kitabusshalat Juz 7 hal 178 dan hal 201, Syarh Nawawi Ala shahih Muslim Bab Dzikr Nida Juz 3 hal 324, dan banyak lagi). 2. Hadits dari Awam Bin Hamzah dimana beliau berkata : “Aku bertanya kepada Utsman –semoga Allah meridhoinya- tentang qunut pada Subuh. Beliau berkata : Qunut itu sesudah ruku. Aku bertanya :” Fatwa siapa?”, Beliau menjawab : “Fatwa Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum”. Hadits ini riwayat imam Baihaqi dan beliau berkata : “Isnadnya Hasan”. Dan Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini dari Umar Ra. Dari beberapa jalan. 3. Hadits dari Abdullah bin Ma’qil at-Tabi’i “Ali Ra. Qunut pada shalat subuh”. Diriwayatkan oleh Baihaqi dan beliau berkata : “Hadits tentang Ali Ra. Ini shahih lagi masyhur. 4. Hadits dari Barra’ Ra. : “Bahwa Rasulullah Saw. melakukan qunut pada shalat subuh dan maghrib”. (HR. Muslim). 5. Hadits dari Barra’ Ra. : “Bahwa Rasulullah Saw. melakukan qunut pada shalat subuh”. (HR. Muslim). Hadits no. 4 diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dengan tanpa penyebutan shalat maghrib. Imam Nawawi dalam Majmu’ II/505 mengatakan : “Tidaklah mengapa meninggalkan qunut pada shalat maghrib karena qunut bukanlah sesuatu yang wajib atau karena ijma ulama menunjukan bahwa qunut pada shalat maghrib sudah mansukh hukumnya”.

6. Hadits dari Abi rofi’ “Umar melakukan qunut pada shalat subuh sesudah ruku’ dan mengangkat kedua tangannya serta membaca doa dengn bersuara”. (HR Baihaqi dan ia mengatakan hadis ini shahih). 7. Hadits dari ibnu sirin, beliau berkata : “Aku berkata kepada anas : Apakah Rasulullah SAW. melakukan qunut pada waktu subuh? Anas menjawab : Ya, begitu selesai ruku”. (HR. Bukhary Muslim). 8. Hadits dari Abu hurairah ra. Beliau berkata : “Rasulullah Saw. jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku pada rekaat kedua shalat subuh beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa : “Allahummah dini fii man hadait ….dan seterusnya”. (HR. Hakim dan dia menshahihkannya). 9. Hadits dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Beliau berkata : “Aku diajari oleh rasulullah Saw. beberapa kalimat yang aku ucapkan pada witir yakni : Allahummah dini fii man hadait ….dan seterusnya” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan selain mereka dengan isnad yang shahih) 10. Hadits dari Ibnu Ali bin Thalib ra. Imam Baihaqi meriwayatkan dari Muhammad bin Hanafiah dan beliau adalah Ibnu Ali bin Thalib ra. Beliau berkata : “Sesungguhnya doa ini adalah yang dipakai oleh bapakku pada waktu qunut diwaktu shalat subuh” (Al-baihaqi II/209). 11. Hadist doa qunut subuh dari Ibnu Abbas ra. : Tentang doa qunut subuh ini, Imam baihaqi juga meriwayatkan dari beberapa jalan yakni ibnu abbas dan selainnya: “Bahwasanya Nabi Saw. mengajarkan doa ini (Allahummah dini fii man hadait ….dan seterusnya) kepada para shahabat agar mereka berdoa dengannya pada waktu qunut di shalat subuh” (Al-baihaqi II/209). Demikianlah Beberapa Dalil yang dipakai para ulama-ulama shlusunnah dari madzab syafiiyah berkaitan dengan fatwa mereka tentang qunut subuh. Dari sini dapat dilihat keshahihan hadis-hadisnya karena dishahihkan oleh Imam-imam hadits ahlusunnah yang terpercaya. Hati-hati dengan orang-orang khalaf akhir zaman yang lemah hafalan hadisnya tetapi mengaku ahli hadis dan banyak mengacaukan hadis-hadis seperti mendoifkan hadis shahih dan sebaliknya. C. Tempat Qunut Subuh dan nazilah adalah Sesudah ruku rekaat terakhir. Tersebut dalam Al-majmu Jilid III/506 bahwa : “Tempat qunut itu adalah sesudah mengangkat kepala dari ruku. Ini adalah ucapan Abu Bakar as-shidiq, Umar bin Khattab dan Utsman serta Ali ra.hum. Mengenai Dalil-dalil qunut sesudah ruku : 1. Hadits dari Abu Hurairah : “Bahwa Nabi Qunut sesungguhnya sesudah ruku” (HR. Bukhary muslim). 2. Hadits dari ibnu sirin, beliau berkata : “Aku berkata kepada anas : Apakah Rasulullah SAW. melakukan qunut pada waktu subuh? Anas menjawab : Ya, begitu selesai ruku”. (HR. Bukhary Muslim). 3. Hadis dari Anas Ra. “Bahwa Nabi Saw. melakukan qunut selama satu bulan sesudah ruku pada subuh sambil mendoakan kecelakaan keatas bani ‘ushayyah” (HR. Bukhary Muslim). 4. Hadits Dari Awam Bin hamzah dan Rofi yang sudah disebutkan pada dalil 4 dan 5 tentang kesunnatan qunut subuh. 5. Riwayat Dari Ashim al-ahwal dari Anas Ra. : “Bahwa Anas Ra. Berfatwa tentang qunut sesudah ruku”. 6. Hadits dari Abu hurairah ra. Beliau berkata : “Rasulullah Saw. jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku pada rekaat kedua shalat subuh beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa : “Allahummah dini fii man hadait ….dan seterusnya”. (HR. Hakim dan dia menshahihkannya). 7. Hadits Riwayat dari Salim dari Ibnu umar ra. “Bahwasanya ibnu umar mendengar rasulullah SAW apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku pada rekaat terakhir shalat subuh, beliau berkata : “Ya Allah laknatlah sifulan dan si fulan”, sesudah beliau menucapkan sami’allahu liman hamidah. Maka Allah menurunkan Ayat: “Tidak ada bagimu sesuatu pun urusan mereka itu atau dari pemberian taubat terhadap mereka karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang dzalim “ (HR Bukhary). Terlihat jelas Bahwa pada qunut nazilah maupun qunut subuh, dilakukan setalah ruku. Adapun ada riwayat yang menyatakan sebelum ruku, Imam Baihaqi mengatkan dalam kita Al-majmu : “Dan orang-orang yang meriwayatkan qunut sesudah ruku lebih banyak dan lebih kuat menghafal hadis, maka dialah yang lebih utama dan inilah jalanya para khalifah yang memperoleh petunjuk – radhiyallahu ‘anhum- pada sebagian besar riwayat mereka, wallahu a’lam”. D. Jawaban untuk orang-orang yang membantah sunnahnya qunut subuh 1. Ada yang mendatangkan Hadits bahwa Ummu salamah berkata : “Bahwa Nabi Saw. melarang qunut pada waktu subuh “ (Hadis ini Dhoif). Jawaban : Hadist ini dhaif karena periwayatan dari Muhammad bin ya’la dari Anbasah bin Abdurahman dari Abdullah bin Nafi’ dari bapaknya dari ummu salamah.

Berkata darulqutni :”Ketiga-tiga orang itu adalah lemah dan tidak benar jika Nafi’ mendengar hadis itu dari ummu salamah”. Tersebut dalam mizanul I’tidal “Muhammad bin Ya’la’ diperkatakan oleh Imam Bukhary bahwa ia banyak menhilangkan hadis. Abu hatim mengatakan ianya matruk” (Mizanul I’tidal IV/70). Anbasah bin Abdurrahman menurut Imam Baihaqi hadisnya matruk. Sedangkan Abdullah adalah orang banyak meriwayatkan hadis mungkar. (Mizanul I’tidal II/422). 2. Ada yang mengajukan Hadis bahwa Ibnu Abbas ra. Berkata : “Qunut pada shalat subuh adalah Bid’ah” Jawaban : Hadis ini dhaif sekali (daoif jiddan) karena imam Baihaqi meriwayatkannya dari Abu Laila al-kufi dan beliau sendiri mengatakan bahwa hadis ini tidak shahih karena Abu Laila itu adalah matruk (Orang yang ditinggalkan haditsnya). Terlebih lagi pada hadits yang lain Ibnu abbas sendiri mengatakan : “Bahwasanya Ibnu abbas melakukan qunut subuh”. 3. Ada juga yang mengetangahkan riwayat Ibnu mas’ud yang mengatakan : “Rasulullah tidak pernah qunut didalam shalat apapun”. Jawaban : Riwayat ini menurut Imam Nawawi dalam Al majmu sangatlah dhoif karena perawinya terdapat Muhammad bin Jabir as-suhaili yang ucapannya selalu ditinggalkan oleh ahli hadis. Tersebut dalam mizanul I’tidal karangan az-zahaby bahwa Muhammad bin jabir as-suahaimi adalah orang yang dhoif menurut perkataan Ibnu Mu’in dan Imam Nasa’i. Imam Bukhary mengatakan: “ia tidak kuat”. Imam Ibnu Hatim mengatakan : “Ia dalam waktu akhirnya menjadi pelupa dan kitabnya telah hilang”. (Mizanul I’tidal III/492). Dan juga kita dapat menjawab dengan jawaban terdahulu bahwa orang yang mengatakan “ada” lebih didahulukan daripada yang mengatakan “tidak ada” berdasarkan kaidah “Al-mutsbit muqaddam alan naafi”. 4. Ada orang yg berpendapat bahawa Nabi saw melakukan qunut satu bulan shj berdasarkan hadith Anas ra, maksudnya: “Bahawasanya Nabi saw melakukan qunut selama satu bulan sesudah rukuk sambil mendoakan kecelakaan ke atas beberapa puak Arab kemudian baginda meninggalkannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Jawaban : Hadith daripada Anas tersebut kita akui sebagi hadith yg sahih kerana terdapat dlm kitab Bukhari dan Muslim. Akan tetapi yg menjadi permasalahan sekarang adalah kata:(thumma tarakahu= Kemudian Nabi meninggalkannya). Apakah yg ditinggalkan oleh Nabi itu? Untuk menjawab permasalahan ini lah kita perhatikan baik2 penjelasan Imam Nawawi dlm Al-Majmu’jil.3,hlm.505 maksudnya: “Adapun jawapan terhadap hadith Anas dan Abi Hurairah r.a dlm ucapannya dengan (thumma tarakahu) maka maksudnya adalah meninggalkan doa kecelakaan ke atas orang2 kafir itu dan meninggalkan laknat terhadap mereka shj. Bukan meninggalkan seluruh qunut atau meninggalkan qunut pada selain subuh. Pentafsiran spt ini mesti dilakukan kerana hadith Anas di dlm ucapannya ’sentiasa Nabi qunut di dlm solat subuh sehingga beliau meninggal dunia’ adalah sahih lagi jelas maka wajiblah menggabungkan di antara kedua-duanya.” Imam Baihaqi meriwayatkan dan Abdur Rahman bin Madiyyil, bahawasanya beliau berkata, maksudnya: “Hanyalah yg ditinggalkan oleh Nabi itu adalah melaknat.” Tambahan lagi pentafsiran spt ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah ra yg berbunyi, maksudnya: “Kemudian Nabi menghentikan doa kecelakaan ke atas mereka.” Dengan demikian dapatlah dibuat kesimpulan bahawa qunut Nabi yg satu bulan itu adalah qunut nazilah dan qunut inilah yg ditinggalkan, bukan qunut pada waktu solat subuh. 5. Ada juga orang-orang yg tidak menyukai qunut mengemukakan dalil hadith Saad bin Thariq yg juga bernama Abu Malik Al-Asja’i, maksudnya: “Dari Abu Malik Al-Asja’i, beliau berkata: Aku pernah bertanya kpd bapaku, wahai bapa! sesungguhnya engkau pernah solat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Usman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kufah selama kurang lebih dari lima tahun. Adakah mereka melakukan qunut?. Dijawab oleh bapanya:”Wahai anakku, itu adalah bid’ah.” Diriwayatkan oleh Tirmizi. Jawaban : Kalau benar Saad bin Thariq berkata begini maka sungguh menghairankan kerana hadith2 tentang Nabi dan para Khulafa Rasyidun yg melakukan qunut banyak sangat sama ada di dlm kitab Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi. Oleh itu ucapan Saad bin Thariq tersebut tidaklah diakui dan terpakai di dalam mazhab Syafie dan juga mazhab Maliki. Hal ini disebabkan oleh kerana beribu-ribu orang telah melihat Nabi melakukan qunut, begitu pula sahabat baginda. Manakala hanya Thariq seorang shj yg mengatakan qunut itu sebagai amalan bid’ah. Maka dalam masalah ini berlakulah kaedah usul fiqh iaitu: “Almuthbitu muqaddimun a’la annafi” Maksudnya: Orang yg menetapkan lebih didahulukan atas orang yg menafikan. Tambahan lagi orang yg mengatakan ADA jauh lebih banyak drpd orang yg mengatakan TIDAK ADA. Seperti inilah jawapan Imam Nawawi didlm Al-Majmu’ jil.3,hlm.505, maksudnya: “Dan jawapan kita terhadap hadith Saad bin Thariq adalah bahawa riwayat orang2 yg menetapkan qunut terdapat pada mereka itu tambahan ilmu dan juga mereka lebih banyak. Oleh itu wajiblah mendahulukan mereka” Pensyarah hadith Turmizi yakni Ibnul ‘Arabi juga memberikan komen yang sama terhadap hadith Saad bin Thariq itu. Beliau mengatakan:”Telah sah dan tetap bahawa Nabi Muhammad saw melakukan qunut dlm solat subuh, telah tetap pula bahawa Nabi ada qunut sebelum rukuk atau sesudah rukuk, telah tetap pula bahawa Nabi ada melakukan qunut nazilah dan para khalifah di Madinah pun melakukan qunut serta Sayyidina Umar mengatakan bahawa qunut itu sunat, telah pula diamalkan di Masjid Madinah. Oleh itu janganlah kamu tengok dan jgn pula ambil perhatian terhadap ucapan yg lain daripada itu.”

Bahkan ulamak ahli fiqh dari Jakarta yakni Kiyai Haji Muhammad Syafie Hazami di dalam kitabnya Taudhihul Adillah ketika memberi komen terhadap hadith Saad bin Thariq itu berkata: “Sudah terang qunut itu bukan bid’ah menurut segala riwayat yg ada maka yg bid’ah itu adalah meragukan kesunatannya sehingga masih bertanya-tanya pula. Sudah gaharu cendana pula, sudahh tahu bertanya pula” Dgn demikian dapatlah kita fahami ketegasan Imam Uqaili yg mengatakan bahawa Abu Malik itu jangan diikuti hadithnya dlm masalah qunut.(Mizanul I’tidal jil.2,hlm.122). 6. Kelompok anti madzab katakan : Dalam hadis-hadis yang disebutkan diatas, qunut bermakna tumaninah/khusu’? Jawab : Dalam hadis2 yang ada dlm artikel salafytobat smuanya berarti seperti dalam topik yang dibicarakan “qunut” = berdoa pada waktu berdiri (setelah ruku)… qunut dalam hadis-hadis tersebut bukan berati tumaninah atau ruku.!!! Mengenai hadis “qunut” yang bermakna tumaninah/khusu/dsb

Diriwayatkan dari Jabir Ra. katanya Rasulullah saw. bersabda : afdlalu shshalah thuululqunuut artinya : “shalah yg paling baik ialah yang paling panjang qunutnya “ Dalam menjelaskan ayat alqur’an : “Dan berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dalam keadaan “qanitiin” (al-baqarah 238) (HR Ibnu abi syaibah, muslim, tirmidzi, Ibnu Majah seperti dalam kitan Duurul mantsur). Mujtahid Rah. maksud qanitiin disini termasuklah ruku, khusyu, rekaat yang panjang/lama berdiri, mata tunduk kebawah, takut kepada Allah swt. Makna qanitiin juga berarti diam atau senyap. Sebelum turun ayat ini , masih dibolehkan berbicara dalam shalat, melihat keatas, kebawah, kesana-kemari, dsb…(lihat hadist bukhary muslim). Setelah turun ayat ini, perkara-perkara tersebut tidak dibolehkan. (Duurul mantsur) E. Pendapat Imam Madzab tentang qunut 1. Madzab Hanafi : Disunatkan qunut pada shalat witir dan tempatnya sebelum ruku. Adapun qunut pada shalat subuh tidak disunatkan. Sedangkan qunut Nazilah disunatkan tetapi ada shalat jahriyah saja. 2. Madzab Maliki : Disunnatkan qunut pada shalat subuh dan tempatnya yang lebih utama adalah sebelum ruku, tetapi boleh juga dilakukan setelah ruku. Adapun qunut selain subuh yakni qunut witir dan Nazilah, maka keduanya dimakruhkan. 3. Madzab Syafii Disunnatkan qunut pada waktu subuh dan tempatnya sesudah ruku. Begitu juga disunnatkan qunut nazilah dan qunut witir pada pertengahan bulan ramadhan. 4. Madzab Hambali Disunnatkan qunut pada shalat witir dan tempatnya sesudah ruku. Adapun qunut subuh tidak disunnahkan. Sedangkan qunut nazilah disunatkan dan dilakukan diwaktu subuh saja. Semoga kita dijadikan oleh Allah asbab hidayah bagi kita dan ummat seluruh alam. about 11 months ago


Herman Sebenarnya apa to arti qunut itu sendiri? mohon penjelasannya makasih PENJELASAN LENGKAP DARI NAHDALATUL ULAMA (NU), PARA ULAMA SALAFUS SALIH, WALISONGO, 4 MAHZAB TENTANG BID’AHNYA TAHLILAN Displaying posts 1 - 30 out of 38.

• • •

1 2 Next


Abu

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Adapun setelah orangtua meninggal, maka cara berbaktinya adalah dengan mendoakan dan memohonkan ampunan bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati temanteman mereka dan memelihara hubungan kekerabatan yang ada tidak akan punya hubungan kekerabatan dengan mereka tanpa keduanya. Itulah lima perkara yang merupakan bakti kepada kedua orang tua setelah mereka meninggal dunia. Bersedekah atas nama keduanya hukumnya boleh. Tapi tidak harus, misalnya dengan mengatakan kepada sang anak, “Bersedekahlah.” Namun yang lebih tepat, “Jika engkau bersedekah, maka itu boleh.” Jika tidak bersedekah, maka mendoakan mereka adalah lebih utama, berdasarkan sabda Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-, “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga; Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim dalam al-Washiyah (1631)). Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- menyebutkan bahwa doa itu berstatus memperbaharui amal. Ini merupakan dalil bahwa mendoakan kedua orang tua setelah meninggal adalah lebih utama daripada bersedekah atas nama mereka, dan lebih utama daripada mengumrahkan mereka, membacakan al-Qur’an untuk mereka dan shalat untuk mereka, karena tidak mungkin Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- menggantikan yang utama dengan yang tidak utama, bahkan tentunya beliau pasti menjelaskan yang lebih utama dan menerangkan bolehnya yang tidak utama. Dalam hadits tadi beliau menjelaskan yang lebih utama. Adapun tentang bolehnya yang tidak utama, disebutkan dalam hadits Sa’d bin Ubaidillah, yaitu saat ia meminta izin kepada Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- untuk bersedekah atas nama ibunya, lalu beliau mengizinkan. (HR. Al-Bukhari dalam al-Washaya (2760)).

Juga seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal tiba-tiba, dan aku lihat, seandainya ia sempat bicara, tentu ia akan bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Boleh.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Jana’iz (1388); Muslim dalam alWashiyah (1004)).

Yang jelas, saya sarankan kepada anda untuk banyak-banyak mendoakan mereka sebagai pengganti pelaksanaan umrah, sedekah dan sebagainya, karena hal itulah yang ditunjukkan oleh Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-. Kendati demikian, kami tidak mengingkari bolehnya bersedekah, umrah, shalat atau membaca al-Qur’an atas nama mereka atau salah satunya. Adapun bila mereka memang belum pernah melaksanakan umrah atau haji, ada yang mengatakan bahwa melaksanakan kewajiban atas nama keduanya adalah lebih utama daripada mendoakan. Walllahu a’lam. Kitab ad-Da’wah, Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/148-149. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana. Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran. Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah saw memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits: “Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514). Sebagian ulama menyatakan mengirimkan pahala tidak selamanya harus dalam bentuk materi, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah berpendapat bacaan al- Qur’an dapat sampai sebagaimana puasa, nadzar, haji, dll; sedang Imam Syafi’i dan Imam Nawawi menyatakan bacaan al-Qur’an untuk si mayit tidak sampai karena tidak ada dalil yang memerintahkan hal tersebut, tidak dicontohkan Rasulullah saw dan para shahabat. Berbeda dengan ibadah yang wajib atau sunnah mu’akad seperti shalat, zakat, qurban, sholat jamaah, i’tikaf 10 akhir ramadhan, yang mana ada celaan bagi mereka yang meninggalkannya dalam keadaan mampu. Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama. Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain. Sehingga banyak yang akhirnya memaksakan diri karena takut akan sanksi sosial tersebut. Mulai dari berhutang, menjual tanah, ternak atau barang berharga yang dimiliki, meskipun di antara keluarga terdapat anak yatim atau orang lemah. Padahal di dalam al-Qur’an telah jelas terdapat arahan untuk memberikan perlindungan harta anak yatim; tidak memakan harta anak yatim secara dzalim, tetapi menjaga sampai ia dewasa (QS an-Nisa’: 2, 5, 10, QS al- An’am: 152, QS al-Isra’: 34) serta tidak membelanjakannya secara boros (QS an- Nisa’: 6) Dibalik selamatan kematian tersebut sesungguhnya juga terkandung tipuan yang memperdayakan. Seorang yang tidak beribadah/menunaikan kewajiban agama selama hidupnya, dengan besarnya prosesi selamatan setelah kematiannya akan menganggap sudah cukup amalnya, bahkan untuk menebus kesalahan-kesalahannya. Juga seorang anak yang tidak taat beribadahpun akan menganggap dengan menyelenggarakan selamatan, telah menunaikan kewajibannya berbakti/mendoakan orang tuanya. Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata: “…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279) Namun ketika Islam datang ke tanah Jawa ini, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masuk Islam tapi kehilangan selamatan-selamatan, beratnya seperti masyarakat Romawi disuruh masuk Nasrani tapi kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember. Dalam buku yang ditulis H Machrus Ali, mengutip naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan tersebut:“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”. Sunan Kalijogo menjawab: “Biarlah nanati generasi setelah kita ketika islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”. Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan). Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan

gamelan dimasuki rasa keislaman. Sunan Ampel berpandangan lain: “Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?” Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (hal 41, 64) Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926 mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan. Namun Nahdliyin generasi berikutnya menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar (bahkan melebihi) rukun Islam/Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sekalipun seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama, namun tidak melakukan tahlilan, akan dianggap tercela sekali, bukan termasuk golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Di zaman akhir yang ini dimana keadaan pengikut sunnah seperti orang ‘aneh’ asing di negeri sendiri, begitu banyaknya orang Islam yang meninggalkan kewajiban agama tanpa rasa malu, seperti meninggalkan Sholat Jum’at, puasa Romadhon,dll. Sebaliknya masyarakat begitu antusias melaksanakan tahlilan ini, hanya segelintir orang yang berani meninggalkannya. Bahkan non-muslim pun akan merasa kikuk bila tak melaksanakannya. Padahal para ulama terdahulu senantiasa mengingat dalil-dalil yang menganggap buruk walimah (selamatan) dalam suasana musibah tersebut. Dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)”. (Musnad Ahmad bin Hambal (Beirut: Dar al-Fikr, 1994) juz II, hal 204 & Sunan Ibnu Majah (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 514) bersambung

about 11 months ago


Abu Dari Thalhah: “Sahabat Jarir mendatangi sahabat Umar, Umar berkata: Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat? Jarir menjawab: Tidak, Umar berkata: Apakah di antara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya? Jarir menjawab: Ya, Umar berkata: Hal itu sama dengan meratap”. (al-Mashnaf ibn Aby Syaibah (Riyad: Maktabah al-Rasyad, 1409), juz II hal 487) Dari Sa’ied bin Jabir dan dari Khaban al-Bukhtary, kemudian dikeluarkan pula oleh Abd al-Razaq: “Merupakan perbuatan orang-orang jahiliyyah niyahah , hidangan dari keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit”. (al-Mashnaf Abd al-Razaq al-Shan’any (Beirut: al-Maktab al- Islamy, 1403) juz III, hal 550. dikeluarkan pula oleh Ibn Abi Syaibah dengan lafazh berbeda melalui sanad Fudhalah bin Hashien, Abd al-Kariem, Sa’ied bin Jabbier) Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: “Telah berbicara kepadaku Yan’aqid bin Isa dari Tsabit dari Qais, beliau berkata: saya melihat Umar bin Abdul Aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan, kemudian berkata: kalian akan mendapat bencana dan akan merugi”. Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: “Telah berbicara kepada kami, Waki’ bin Jarrah dari Sufyan dari Hilal bin Khabab al Bukhtary, beliau berkata: Makanan yang dihidangkan keluarga mayat adalah merupakan bagian dari perbuatan Jahiliyah dan meratap merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah”.

Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Arsyad al-Banjary dan Syekh Nuruddin ar- Raniry yang merupakan peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia pun masih berpegang kuat dalam menganggap buruknya selamatan kematian itu. “Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara’ adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempatpuluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut alwahsyah), bahkan haram hukum hukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim”. (an-Nawawy al-Bantani, Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi’ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281). Pernyataan senada juga diungkapkan Muhammad Arsyad al-Banjary dalam Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry dalam Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50) Dari majalah al-Mawa’idz yang diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an, menyitir pernyataan Imam alKhara’ithy yang dilansir oleh kitab al-Aqrimany disebutkan: “al-Khara’ithy mendapat keterangan dari Hilal bin Hibban r.a, beliau berkata: ‘Penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari perbuatan orang-orang jahiliyah’. kebiasaan tersebut oleh masyarakat sekarang sudah dianggap sunnah, dan meninggalkannya berarti bid’ah, maka telah terbalik suatu urusan dan telah berubah suatu kebiasaan’. (al-Aqrimany dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286).

Dan para ulama berkata: “Tidak pantas orang Islam mengikuti kebiasaan orang Kafir, oleh karena itu setiap orang seharusnya melarang keluarganya dari menghadiri acara semacam itu”. (al-Aqrimany hal 315 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285) Al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati dalam kitabnya I’anah at- Thalibien menghukumi makruh berkumpul bersama di tempat keluarga mayat, walaupun hanya sebatas untuk berbelasungkawa, tanpa dilanjutkan dengan proses perjamuan tahlilan.

Beliau justru menganjurkan untuk segera meninggalkan keluarga tersebut, setelah selesai menyampaikan ta’ziyah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah atThalibien (Beirut: Dar al-Fikr, 1414) juz II, hal 146) Ibn Taimiyah ketika menjawab pertanyaan tentang hukum dari al-Ma’tam: “Tidak diterima keterangan mengenai perbuatan tersebut apakah itu hadits shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak pula dari sahabat-sahabatnya, dan tidak ada seorangpun dari imam-imam muslimin serta dari imam madzhab yang empat (Imam Hanafy, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Ahmad) juga dari imam-imam yang lainnya, demikian pula tidak terdapat keterangan dari ahli kitab yang dapat dipakai pegangan, tidak pula dari Nabi, sahabat, tabi'iin, baik shahih maupun dlaif, serta tidak terdapat baik dalam kitab-kitab shahih, sunan-sunan ataupun musnad-musnad, serta tidak diketahui pula satupun dalam hadits-hadits dari zaman nabi dan sahabat. ” Menurut pendapat Mufty Makkah al-Musyarafah, Ahmad bin Zainy Dahlan yang dilansir dalam kitab I’anah at-Thalibien: “Tidak diragukan lagi bahwa mencegah masyarakat dari perbuatan bid’ah munkarah tersebut adalah mengandung arti menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah, sekaligus berarti menbuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan”. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien juz II, hal 166) Memang seolah-olah terdapat banyak unsur kebaikan dalam tahlilan itu, namun bila dikembalikan ke dalam hukum agama dimana Hadits ke-5 Arba’in anNawawiyah disebutkan: “Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengadaadakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718) Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah instrumen untuk menjaga kemurnian Islam ini meskipun sampai akhir zaman Allah tidak mengutus Rasul lagi. Dibalik larangan bid’ah terkandung hikmah yang sangat besar, membentengi perubahan- perubahan dalam agama akibat arus pemikiran dan adat istiadat dari luar Islam. Bila pada umat-umat terdahulu telah menyeleweng agamanya, Allah mengutus Rasul baru, maka pada umat Muhammad ini Allah tidak akan mengutus Rasul lagi sampai kiamat, namun membangkitkan orang yang memperbarui agamanya seiring penyelewengan yang terjadi. Ibadah yang disunnahkan dibandingkan dengan yang diada-adakan hakikatnya sangat berbeda, bagaikan uang/ijazah asli dengan uang/ijazah palsu, meskipun keduanya tampak sejenis. Yang membedakan 72 golongan ahli neraka dengan 1 golongan ahli surga adalah sunnah dan bid’ah. Umat ini tidak berpecahbelah sehebat perpecahan yang diakibatkan oleh bid’ah. Perpecahan umat akibat perjudian, pencurian, pornografi, dan kemaksiatan lain akan menjadi jelas siapa yang berada di pihak Islam dan sebaliknya. Sedang perpecahan akibat bid’ah senantiasa lebih rumit, kedua belah pihak yang bertikai kelihatannya sama-sama alim. Ibn Abbas r.a berkata: “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”.(al- Aqriman y hal 315 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286) Sehingga disimpulkan oleh Majalah al-Mawa’idz bahwa mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayit berarti telah melanggar tiga hal: 1. Membebani keluarga mayit, walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan, namun apabila sudah menjadi kebiasaan, maka keluarga mayit akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan. 2. Merepotkan keluarga mayit, sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, ditambah pula bebannya. 3. Bertolak belakang dengan hadits. Menurut hadits, justeru kita (tetangga) yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayit yang sedang berduka cita, bukan sebaliknya. (al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, hal 200) Kemudian, berdasarkan keterangan Sayid Bakr di dalam kitab ‘Ianah, ternyata para ulama dari empat madzhab telah menyepakati bahwa kebiasaan keluarga mayit mengadakan perjamuan yang biasa disebut dengan istilah nyusur tanah, tiluna, tujuhna, dst merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disukai agama (hal 285). Melalui kutipan-kutipan tersebut, diketahuilah bahwa sebenarnya yang menghukumi bid’ah munkarah itu ternyata ulama-ulama Ahl as-Sunnah wa al- Jamaah, bukan hanya (majalah) Attobib, al-moemin, al-Mawa’idz. tidak tau siapa yang menghukumi sunat, apakah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah atau bukan (hal 286). Dan dapat dipahami dari dalil-dalil terdahulu, bahwa hukum dari menghidangkan makanan oleh keluarga mayit adalah bid’ah yang dimakruhkan dengan makruh tahrim (makruh yang identik dengan haram). demikian dikarenakan hukum dari niyahah adalah haram, dan apa yang dihubungkan dengan haram, maka hukumnya adalah haram”. (al-Aqrimany hal 315 dalam al- Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286) Kita tidaklah akan lepas dari kesalahan, termasuk kesalahan akibat ketidaktahuan, ketidaksengajaan, maupun ketidakmampuan. Namun jangan sampai kesalahan yang kita lakukan menjadi sebuah kebanggaan. Baik yang menghukumi haram maupun makruh, sebagaimana halnya rokok, tahlilan, dll selayaknya diusahakan untuk ditinggalkan, bukan dibela-bela dan dilestarikan. BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA EMPAT MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN: AL-SYARBINY Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna’ li alSyarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210) AL-QALYUBY Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (anNawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari perbuatan bid’ah munkarah yang tidak disukai mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby, Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar Ihya;’) juz I, hal 353) AN-NAWAWY Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577) AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah yang dimakruhkan, seperti hukum mendatangi undangan tersebut, berdasarkan keterangan yang shahih

dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146) AL-AQRIMANY Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya, berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih sayang kepada mayit, hukumnya bid’ah yang buruk dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam, serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((alAqrimany hal 314 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285) RAUDLAH AL-THALIBIEN Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan tersebut hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy, 1405) juz II, hal 145) II. IBN QUDAMAH AL-MUQADDASY Adapun penghidangan makanan untuk orang-orang yang dilakukan oleh keluarga mayit, hukumnya makruh. karena dengan demikian berarti telah menambahkan musibah kepada keluarga mayit, serta menambah beban, sekaligus berarti telah menyerupai apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. dan diriwayatkan bahwa Jarir mengunjungi Umar, kemudian Umar berkata: “Apakah kalian suka berkumpul bersama keluarga mayat yang kemudian menghidangkan makanan?” Jawab Jarir: “Ya”. Berkata Umar: “Hal tersebut termasuk meratapi mayat”. Namun apabila hal tersebut dibutuhkan, maka diperbolehkan, seperti karena diantara pelayat terdapat orang-orang yang jauh tempatnya kemudian ikut menginap, sementara tidak memungkinkan mendapat makanan kecuali dari hidangan yang diberikan dari keluarga mayit. (Ibn Qudamah al-Muqaddasy, al-Mughny (Beirut: Dar al-Fikr, 1405) juz II, hal 214) ABU ABDULLAH IBN MUFLAH AL-MUQADDASY Sesungguhnya disunahkan mengirimkan makanan apabila tujuannya untuk (menyantuni) keluarga mayit, tetapi apabila makanan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sedang berkumpul di sana, maka hukumnya makruh, karena berarti telah membantu terhadap perbuatan makruh; demikian pula makruh hukumnya apabila makanan tersebut dihidangkan oleh keluarga mayit) kecuali apabila ada hajat, tambah sang guru [Ibn Qudamah] dan ulama lainnya).(A bu Abdullah ibn Muflah al-Muqaddasy, al-Furu’ wa Tashhih al-Furu’ (Beirut: Dar al-Kutab, 1418) juz II, hal 230-231)

ABU ISHAQ BIN MAFLAH AL-HANBALY Menghidangkan makanan setelah proses penguburan merupakan bagian dari niyahah, menurut sebagian pendapat haram, kecuali apabila ada hajat, (tambahan dari al-Mughny). Sanad hadits tentang masalah tersebut tsiqat (terpercaya). (Abu Ishaq bin Maflah al-Hanbaly, alMabda’ fi Syarh al-Miqna’ (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400) juz II, hal 283) MANSHUR BIN IDRIS AL-BAHUTY Dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk menghidangkan makanan kepada para tamu, berdasarkan keterangan riwayat Imam Ahmad dari Shahabat Jarir. (Manshur bin Idris al-Bahuty, al-Raudl al-Marbi’ (Riyadl: Maktabah al-Riyadl al-Hadietsah, 1390) juz I, hal 355) KASYF AL-QANA’ Menurut pendapat Imam Ahmad yang disitir oleh al-Marwadzi, perbuatan keluarga mayit yang menghidangkan makanan merupakan kebiasaan orang jahiliyah, dan beliau sangat mengingkarinya…dan dimakruhkan keluarga mayit menghidangkan makanan (bagi orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya kecuali apabila ada hajat, seperti karena di antara para tamu tersebut terdapat orang-orang yang tempat tinggalnya jauh, mereka menginap di tempat keluarga mayit, serta secara adat tidak memungkinkan kecuali orang tersebut diberi makan), demikian pula dimakruhkan mencicipi makanan tersebut. Apabila biaya hidangan makanan tersebut berasal dari peninggalan mayit, sedang di antara ahli warisnya terdapat orang (lemah) yang berada di bawah pengampuan, atau terdapat ahli waris yang tidak memberi izin, maka haram hukumnya melakukan penghidangan tersebut. (Kasyf al-Qina’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1402) juz II, hal 149) IBN TAIMIYAH Adapun penghidangan makanan yang dilakukan keluarga mayit (dengan tujuan) mengundang manusia ke acara tersebut, maka sesungguhnya perbuatan tersebut bid’ah, berdasarkan perkataan Jarir bin Abdillah: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Taimiyah, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh (Maktabah Ibn Taimiyah) juz 24, hal 316) III. MADZHAB HANAFI: HASYIYAH IBN ABIDIEN Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah, hukumnya buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. Dan dalam kitab al-Bazaziyah dinyatakan bahwa makanan yang dihidangkan pada hari pertama, ketiga, serta seminggu setelah kematian makruh hukumnya. (Muhammad Amin, Hasyiyah Radd al- Muhtar ‘ala al-Dar al-Muhtar (Beirut: Dar al-Fikr, 1386) juz II, hal 240) AL-THAHTHAWY Hidangan dari keluarga mayit hukumnya makruh, dikatakan dalam kitab al- Bazaziyah bahwa hidangan makanan yang disajikan PADA HARI PERTAMA, KETIGA, SERTA SEMINGGU SETELAH KEMATIAN MAKRUH HUKUMNYa. (Ahmad bin Ismain al-Thahthawy, Hasyiyah ‘ala Muraqy al-Falah (Mesir: Maktabah al-Baby al-Halaby, 1318), juz I hal 409). IBN ABDUL WAHID SIEWASY Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah. hukumnya bid’ah yang buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Abdul Wahid Siewasy, Syarh Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 142) IV.MADZHAB MALIKI: AL-DASUQY Adapun berkumpul di dalam rumah keluarga mayit yang menghidangkan makanan hukumnya bid’ah yang dimakruhkan. (Muhammad al-Dasuqy, Hasyiyah al- Dasuqy ‘ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 419) ABU ABDULLAH AL-MAGHRABY Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut dimakruhkan oleh mayoritas ulama, bahkan mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bagian dari bid’ah, karena tidak didapatkannya keterangan naqly mengenai perbuatan tersebut, dan momen tersebut tidak pantas untuk dijadikan walimah (pesta)… adapun apabila keluarga mayit menyembelih binatang di rumahnya kemudian dibagikan kepada orang- orang fakir sebagai shadaqah untuk mayit diperbolehkan selama hal tersebut tidak menjadikannya riya, ingin terkenal, bangga, serta dengan syarat tidak boleh mengumpulkan masyarakat. (Abu Abdullah al-Maghraby, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil (Beirut: Dar al-Fikr, 1398) juz II, hal 228) sumber : http://www.facebook.com/pages/Denpasar-Indonesia/Satu-Hari-Satu-Ayat-Quran about 11 months ago


Bram's

@ surya: penjelasan di atas semua benar, kecuali dlm bid'ah (perspektif saya) tapi perlu di ketahui sejarah tahlilan itu, yaitu utk menghilangkan sesaji, dan mantra2 animisme. dulu kalau ke kuburan dan acara setelah kematian dgn sesaji dan mantra2 animisme, meminta doa kpd mayat dll, di daerah tertentu yg masyarakatnya belum mengenal tahlilan, sesaji dan mantra2 tertentu masih dilakukan, meski mereka telah muslim, contohnya di sebagian daerah pesisir selatan jawa. bid'ah: standarisasi bid'ah itu beda2 1. ada yg berpendapat hanya urusan ibadah yg telah di tentukan caranya seperti sholat, puasa, zakat, haji serta ibadah yg lainya yg di tentukan/di wajibkan cara2nya 2. ada yg lebih luas lagi, yaitu yg tidak sesuai/ sama dengan RASULULLAH Lha kalau mengikuti yg kedua, gimana patokanya. sangat tidak mungkin, karena kita beda zaman, bahasa, budaya, peradaban dll dengan. contoh: jaman RASULULLAH belum ada YAYASAN panti asuhan, apa itu bisa dikatakan bid'ah ? cerita tambahan: konon dulu di jawa masyarakatnya terbiasa ngadat (sejenis ganja), lalu oleh sunan kalijaga mereka di anjurkan merokok, tentu sunan kalijaga tahu kalo merokok itu makruh, tapi lebih baik dari ngadat/ngganja yg hukumnya haram. begitu juga dgn 7, 40, 100, lebih baik tetap di adakan tapi di selewengkan dgn ajaran2 islam, daripada mereka melakukan sesaji. dulu di deket kampung saya, waktu ak masih kecil, ada kampung yg memperingati 7 hari dst dengan judi, tapi sekarang hal itu sudah punah di ganti dgn yasinan, tapii acara 7 hari dst masih di budayakan, bedanya di ganti dgn yasinan. hal itu mempengaruhi pemikiran masyarakat, beberapa dari mereka sedikit2 mau belajar al-quran, krn malu kalo tidak bisa baca di tempat umum. dan anak2 mereka tentunya di suruh ngaji, supaya kelak tidak malu2in di masyarakat

about 11 months ago


Abu Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah menjawab, “ Yang mengikutiku dan para shahabatku.” (HR Imam Tirmidzi) yg mengikuti mereka jalan2 doang atau mengikuti mereka dalam beribadah... about 11 months ago


Bram's semua muslim pasti yakin dan mengaku mengikuti RASULULLAH tapi mereka punya penafsiran yg berbeda2, penafsiran di pengaruhi guru, keikhlasan, peradaban, budaya, tingkat keilmuwan dll. saya sendiri yakin, andaikan RASULULLAH di turunkan di jawa, beliau tidak akan memakai jubah. jadi saya gak pernah pakai jubah, ataupun naik onta about 11 months ago


Abu bukan dengan pemahaman shahabat kan? about 11 months ago


Bram's RASULULLAH sendiri menyebarkan islam sesuai dgn BUDAYA arab waktu itu, saya orang NUSANTARA juga punya BUDAYA sendiri. about 11 months ago


Abu bid'ah itu ttg agama mas bukan urusan duniawi...jadi jgn dicampurkan Agama dgn Budaya ddong... about 11 months ago


Bram's kira2 klo saya beribadah, yaitu berdoa : doa saya begini" Ya Allah, hamba mohon kepadamu, agar bisa beli apartement tahun depan". itu doa saya pake bahasa indonesia, gak pernah di contojkan RASULULLAH bahasa maupun kata2nya, apakah itu bid'ah?

about 11 months ago


Abu itukan doa bukan budaya...kalo doa sih terserah masing2 yg punya kebutuhan... about 11 months ago


Bram's llha makanya jangan gampang menganggap sesuatu itu bid'ah, bukankah doa juga ibadah yg sifatnya vertikal about 11 months ago


Abu "Semua bid'ah itu sesat, meskipun manusia memandang baik." (Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma) about 11 months ago


Bram's saya setuju bid'ah itu sesat, tapi orang memahami bid'ah itu beda2 dari kemarin anda ngomongin bid'ah, coba anda definisikan, bid'ah itu apa? about 11 months ago


Abu bid'ah tuh sesuatu yg baru...yg dilarang oleh rasulullah... about 11 months ago


Abu bid'ah juga lawannya sunnah... about 11 months ago


Bram's YG BARU, tentu ada patokanya, dan beda-beda penafsiranya

about 11 months ago


Abu kalo penafsiran agama Islam ini menurut selera masing2 bukan dengan pemahaman shahabat bisa rusak dong agama ini.. about 11 months ago


Bram's benar... semua org muslim yakin/mengaku mengikuti RASULULLAH dan juga para sahabatnya (utk aliran tertentu ada yg tdk mengikuti, contoh syiah yg hanya mengakui ali) tapi mengikuti dengan penafsiran yg tentunya berbeda-beda about 11 months ago


abu hatim Klo Udah Ada contoh yang Jelas apa masih perlu di tafsir lagi....!? nah loh mas bram kok bawa2 syiah !? anda seorang syiah?! about 11 months ago


Abu penafsirannya menurut selera masing2, seperti quraish shihab, ulama mana yg tidak mewajibkan jilbab kecuali quraish shihab.. about 11 months ago


Bram's @ tholib & suryai: lha keyakinan saya sudah mencontohnya lha kalau saya syiah kenapa emangnya ??? ada yg salah ??? ak pernah dengar masalah quraishihab tentang jilbab, dia tidak mengatakan tidak mewajibkan jilbab, cuma mengurai pandangan2 yg tidak mewajibkan jilbab, tapi juga mengurai pandangan2 yg mewajibkan jilbab

about 11 months ago


Abu Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thabraniy) about 11 months ago


Sehari bayangkan seorang guru NU mengabdi seminggu penuh mengajar di madrasah hanya mendapat honor 50 ribu sebulan sunggujh besar pengabdian mereka sungguh ikhlas pengabdian mereka tanpa gembar gembor ...! tanpa terliput media massa..! bahkan tanpa mengemis ngemios minta Transferan dari bank dengan dalih2 perjuangan agama inilah dedikasi dan pengabdian para GURU NU tidak gembar gemboor di facebook .. tidak debat seperti yang di contohkan mbah marijan seorang pemimpin yang berdedikasi orang2 yang seperti ini tidak pernah merubah budaya yang ada tetapi menjadikan budaya itu pemupukan nilai nili religius sehingga nilai politik yang terbungkus slogan slogan dari dalil qur'an dan hadist yang di tafsirkan menurut kepentingan untuk membenarkan apa yang mau diucapkan sesuai kepentingannya akan tergerus oleh Nurani yang hakiki about 11 months ago


Misbachul mang itu kwajiban ummaat islam ????? about 11 months ago


Alfa JUDULNYA MENJEBAK. ARGUMEN YANG DIBANGUN TIDAK MENGAKAR SEHINGGA HASILNYA TIDAK MENYENTUH about 11 months ago

Sehari tembung jare oleh olehe MBek menowo begitu di ajak debat di IAIN ( yaa angap saja IAIN Ingkar Agama Ingkar Negara karena nawaitunya hanya Lilahi Ta'ala ( maksudnya netral bebas dari intervensi/doktrinasi faham manapun) yaitu sebagai lembaga institusi pendidikan agama yang netral dalam membahas segala permasalahan agama ) ealah malah mungkir dengan sejuta aalasan begitu di luar koar koar dengan sejuta dalil ya ini repotnya diajak dialog RASA katanya ogaah karena itu Bid'ah . diajak perenungan ilahiyah katanya takhayul , di ajak perang katanya sesama muslim harus damai hehehehe di aja diajak DEbat katanya yahudi di ajak berunding katanya karena berlaionan keyakinan enaknya di ajak apa kalo gitu...? about 11 months ago


Maz 'SETUJU...!' Atas pendapatnya Alfa Ifana dan Sehari Bercinta (Btw, nama aslinya siapa yah...?) Aq malah jadi pengin bertanya sama mas Ichsan Surya. Dia itu orang mana, Arab atau Indonesia? Alirannya apa, Ahlussunah atau Wal Jamaah? Pake jubah atau pake baju (Batik) dan celana? Naik mobil pribadi/bis/sepeda motor atau naik onta? Berdagang atau kerja (karyawan)?. about 10 months ago


Sehari Hukum itu tidak di buat untuk menghukum tetapi adalah untuk membentuk suatu batasan makro dari perolaku tiap tiap individu agar tidak merugikan kepentingan individu yang lain ..! ( karena sesungguhnya yang maha menghukum dan maha penyiksa hanya kedaulatan milik Allah) demikian pun dalil pad Al qur'an dan Hadist di bidang fiqh (syari'ah/hukum) adalah membina Umat manusia dalam menyempurnakan Akhlaq perilaku pembinaan dengan mengadopsi tatanan tatanan budaya yang baik dan membina tatanan budaya yang kurang baik sehingga terlihat sebuah budaya baru yang lebih baik ( sholat saja bukan ciptaan nabi mukhammad tetapi perilaku yang ada sejak nabi ibrahim yang tetapp di lestarikan tetapibudaya2 yang menghilangkan rasa kemanusiaan itu sendirilah yang di rubah tatanannya oleh nabi SAW,termasuk Haji dan ka'bahnya sendiri adalah warisan leluhur sebelum nabi SAW )mkarena itu walisongo dan ulama' salaf indonesia begitu tahu tatanan masyarakat indonesia yang sudah berperilaku islami tinggal menata hal2 yang kurang bagus menurut hukum syari'ah tetapi mereka bukannya melarang tetapi mensinkronkan dengan tatanan budaya yang ada contohnya acara tahli dulunya biaya selamatan orang mati menghabiskan biaya puluhan juta bahkan milyaran l tetapi begitu adanya islam cukup dengan nasi sepiring saja atau bahkan bisa dibawakan oleh2 untuk yang di rumah sangat muraah ini dan bahkan baca'an baca'nnya pun adalah baca'an amalan spiritualitas kualitas tinggi tetntang makna hidup dan makna kematian ..! jika ajaran ajaran yang sudah di bina oleh para ulama' leluhur kita ini di anggap bid'ah maka kita sudah menghianatai cara cara luhur yang sudah di ontohkan oleh teladan kita yaitu nabi mukhammad SAW yang ternyata juga menghormati ajaran ajaran leluhurnya ( lihat saja silsilah para NABI maka anda akan megerti bahwa mereka masih saling bertautan hingga IBRAHIM yang di sebut bapak ketauhidan dan masih banyak nabi2 lain sebelum nabi mukhammad yang tidak tercantum pada kisah kisah alquran apakah merak juga bukan utusan ALLAH ) bisa di bayangkan jika tidak ada NASH bahwa nabi mukhammad adalah nabi terakhir maka berapa juta bahkan berapa Milyar lagi yang mengaku menjadi NABI ALLAH kadang kadang karena ketakukan mengaku nabi mereka menggunakan dalil dalil dari AL'Qur'an dan hadist tanpa pemahaman yang sempurna ( atau bahkan mereka sebenarnya mengerti tetapi pura pura tidak mengerti) sekan akan yang mngerti Dalil tersebut hanya mereka dan allah mmberikan wahyu yang benar adalah menurut penafsiran mereka sendiri , semoga allah senantiasa menjaga umatnya yang tersesat untuk dapat di jadikan petunjuk kebenaran bagi yang mengetahuinya karena sesungguhnya engkaulah yang maha mengetahui segala rahasia kebenaran milikmu ...! Amiiin...! about 10 months ago


Heri subhanallah.... benar menurut kita, salah menurut orang laen. gunakanlah akal sehat kita...

about 10 months ago


M Ichsan Surya berkata: Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama. Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain. Sehingga banyak yang akhirnya memaksakan diri karena takut akan sanksi sosial tersebut. Mulai dari berhutang, menjual tanah, ternak atau barang berharga yang dimiliki, meskipun di antara keluarga terdapat anak yatim atau orang lemah. Padahal di dalam al-Qur’an telah jelas terdapat arahan untuk memberikan perlindungan harta anak yatim; tidak memakan harta anak yatim secara dzalim, tetapi menjaga sampai ia dewasa (QS an-Nisa’: 2, 5, 10, QS al- An’am: 152, QS al-Isra’: 34) serta tidak membelanjakannya secara boros (QS an- Nisa’: 6) ------------------------------------------------------------------------------------------Dimasyarakat yg mana..??? Jangan menggeneralisir sesuatu tanpa data bukti yg akurat krn itu bisa jadi fitnah. Jadi harus spesifik masyarakat mana..?? Kapan..?? Siapa yg menyaksikan..?? Ichsan Surya berkata: Dibalik selamatan kematian tersebut sesungguhnya juga terkandung tipuan yang memperdayakan. Seorang yang tidak beribadah/menunaikan kewajiban agama selama hidupnya, dengan besarnya prosesi selamatan setelah kematiannya akan menganggap sudah cukup amalnya, bahkan untuk menebus kesalahan-kesalahannya. Juga seorang anak yang tidak taat beribadahpun akan menganggap dengan menyelenggarakan selamatan, telah menunaikan kewajibannya berbakti/mendoakan orang tuanya. ----------------------------------------------------------------------------------------------Kalau TAHLILAN yg kamu anggap sebagai SELAMATAN KEMATIAN maka kamu telah salah kaprah. Ichsan Surya berkata: Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata: “…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279) Ini dalil khusus untuk kasus seperti yg disebutkan di atas oleh Imam Syafii. Dan perlu diingat: Imam Syafii mengatakan "Aku membenci" dan itu adalah perkataan bijak dari seorang Ulama yg tdk mendapatkan dalil qat'i yg mengharamkannya. Jadi beliau tdk mengatakan "Bid'ah, sesat, ataupun haram". Tolong kalau kenal agama saja di sekolah umum & setelah dewasa, tdk usah masuk ceramah di sini.  M Kebohongan besar yg dilakukan oleh ICHSAN SURYA dgn mengatas namakan Imam Syafii & Imam Nawawi serta para Ulama: Sampainya Hadiah Bacaan al-Qur’an Untuk Mayyit (Orang Mati) Dalil-dalil Hadiah Pahala Bacaan 1. Hadits tentang wasiat ibnu umar tersebut dalam syarah aqidah Thahawiyah Hal :458 : “ Dari ibnu umar Ra. : “Bahwasanya Beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awa-awal surat albaqarah dan akhirnya. Dan dari sebagian muhajirin dinukil juga adanya pembacaan surat albaqarah” Hadits ini menjadi pegangan Imam Ahmad, padahal imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala dari orang hidup kepada orang yang sudah mati, namun setelah mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat ibnu umar tersebut, beliau mencabut pengingkarannya itu. (Mukhtasar Tadzkirah Qurtubi halaman: 25). Oleh karena itulah, maka ada riwayat dari imam Ahmad bin Hnbal bahwa beliau berkata: “ Sampai kepada mayyit (pahala) tiap-tiap kebajikan karena ada nash-nash yang datang padanya dan juga karena kaum muslimin (zaman tabi’in dan tabiuttabi’in) pada berkumpul disetiap negeri, mereka membaca al-Qur’an dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal, maka jadilah ia ijma . (Yasaluunaka fid din wal hayat oleh syaikh DR Ahmad syarbasy Jilid III/423). 2. Hadits dalam sunan Baihaqi danan isnad Hasan “ Bahwasanya Ibnu umar menyukai agar dibaca ke atas pekuburan sesudah pemakaman awal surat al-Baqarah dan akhirnya” Hadits ini agak semakna dengan hadits pertama, hanya yang pertama itu adalah wasiat seadangkan ini adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut. 3. Hadits Riwayat Darulqutni “Barangsiapa masuk kepekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang

telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”. 4. Hadits marfu’ Riwayat Hafidz as-Salafi “ Barangsiapa melewati pekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.(Mukhtasar Al-qurtubi hal. 26). 5. Hadits Riwayat Thabrani dan Baihaqi “Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika mati salah seorang dari kamu, maka janganlah menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah Fatihatul kitab disamping kepalanya”. 6. Hadits riwayat Abu dawud, Nasa’I, Ahmad dan ibnu Hibban: “Dari ma’qil bin yasar dari Nabi SAW., Beliau bersabda: “Bacakanlah surat yaasin untuk orang yang telah mati di antara kamu”. about 10 months ago

 M Fatwa Ulama Tentang Sampainya Hadiah Pahala Bacaan kepada Mayyit 1. Berkata Muhammad bin ahmad al-marwazi : “Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar si pembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan…(allahumma wassil ma qara’nahu ila….)” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15) 2. Berkata Syaikh aIi bin Muhammad Bin abil lz : “Adapun Membaca Al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah aqidah Thahawiyah hal. 457). 3. Berkata Ibnu Taymiyah : “Sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan seumpamanya”. (yas alunaka fi al-din wal hayat jilid I/442). Di atas adalah kitab Ibnu Taimiyah berjudul Majmuk Fatawa jilid 24 pada muka surat 324. Ibnu Taimiyah ditanya mengenai seseorang yang bertahlil, bertasbih,bertahmid,bertakbir dan menyampaikan pahala tersebut kepada si mayat muslim lantas Ibnu Taimiyah menjawab bahwa amalan tersebut sampai kepada si mayat dan juga tasbih, takbir dan lain-lain zikir sekiranya disampaikan pahalanya kepada si mayat maka ia sampai dan bagus serta baik. Manakala Wahhabi menolak dan menkafirkan amalan ini. Di atas pula adalah kitab Ibnu Taimiyah berjudul Majmuk Fatawa juz 24 pada muka surat 324.Ibnu Taimiyah di tanya mengenai seorang yang bertahlil 70000 kali dan menghadiahkan kepada si mayat muslim lantas Ibnu Taimiah mengatakan amalan itu adalah amat memberi manafaat dan amat baik serta mulia. 4. Berkata Ibnu Qayyim al-Jauziyah: “Sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sukarela dan tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya (yasaaluunaka fiddin wal hayat jilid I/442) Berkata Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya al-Ruh : “Al Khallal dalam kitabnya al-Jami’ sewaktu membahas bacaan al-Qur’an disamping kubur” berkata : Menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad ad-dauri, menceritakan kepada kami yahya bin mu’in, menceritakan kepada kami Mubassyar alhalabi, menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ala’ bin al-lajlaj dari bapaku : “ Jika aku telah mati, maka letakanlah aku di liang lahad dan ucapkanlah bismillah dan baca permulaan surat al-Baqarah di samping kepalaku karena seungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar berkata demikian. Ibnu Qayyim dalam kitab ini pada halaman yang sama : “Mengabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad bin al-warraq, menceritakan kepadaku Ali-Musa alHaddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata : “Pernah aku bersama Ahmad bin Hanbal, dan Muhammad bin Qudamah al-juhairi menghadiri jenazah, maka tatkala mayyit dimakamkan, seorang lelaki kurus duduk di samping kubur (sambil membaca al-Qur’an). Melihat ini berkatalah imam Ahmad kepadanya: “Hai sesungguhnya membaca al-Qur’an disamping kubur adalah bid’ah!”. Maka tatkala kami keluar dari kubur berkatalah imam Muhammad bin Qudamah kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-Halabi?. Imam Ahmad menjawab : “Beliau adalah orang yang tsiqah (terpercaya), apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya?. Muhammad bin qodamah berkata : Ya, ia mengabarkan kepadaku Mubasyar dari Abdurahman bin A’la bin al-Laj-laj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan di samping kepalanya permulaan surat al-Baqarah dan akhirnya dan dia berkata, “Aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat yang demikian itu”. Mendengar riwayat tersebut Imam ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan (Kitab al-Ruh, ibnul qayyim al jauziyah). 5. Berkata Syaikh Hasanain Muhammad makhluf, Mantan Mufti negeri mesir : “Tokoh-tokoh madzab hanafi berpendapat bahwa tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah atau membaca al-Qur’an atau selain demikian daripada macam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahalanya itu akan sampai kepadanya.

6. Imam Sya’bi, “Orang-orang anshar jika ada di antara mereka yang meninggal, maka mereka berbondong-bondong ke kuburnya sambil membaca al-Qur’an di sampingnaya”. (ucapan Imam Sya’bi ini juga dikutip oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitab al-Ruh hal. 13). 7. Berkata Syaikh Ali Ma’sum, “Dalam madzab maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayyit. Menurut dasar madzab, hukumnya makruh. Namun ulama-ulama mutakhirin berpendapat boleh dan dialah yang diamalkan. Dengan demikian, maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayyit dan ibnu farhun menukil bahwa pendapat inilah yang kuat”. (Hujjatu ahlisunnah wal Jamaah halaman 13).

8. Berkata Allamah Muhammad al-Arabi, “Sesungguhnya membaca al-qur’an untuk orang-orang yang sudah meninggak hukumnya boleh (Malaysia : Harus) dan sampainya pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha islam Ahlusunnah wal-jamaah walaupun dengan adanya imbalan berdasarkan pendapat yang tahqiq .” (kitab Majmu’ Tsalatsi Rasail). 9. Berkata Imam Qurtubi, “telah ijma’ ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang yang sudah mati, maka seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan al-qur’an, doa dan istighfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadits : “Kullu ma’rufin shadaqah / (setiapkebaikan adalah sedekah)”. (Tadzkirah al-Qurtubi halaman 26). Dan masih banyak Imam-imam dan ulama ahlusunnah yang menyatakan sampainya pahala bacaan alqur’an yang dihadiahkan untuk mayyit (muslim). about 10 months ago

 M Dalam Madzab Syafi’i Untuk menjelaskan hal ini marilah kita lihat penuturan imam Nawawi dalam al-adzkar halaman 140 : “Dalam hal sampainya bacaan al-Qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafi’i dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafi’i berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan ayat ini untuk si fulan…….” Tersebut dalam al-majmu jilid 15/522 : “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj, “Dalam Madzab syafi’i menurut qawl yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang Mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan terbut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa dengan sesuatu yang dimiliki oleh si pendoa adalah lebih utama”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzab syafei terdapat dua qaul dalam hal pahala bacaan : 1. Qawl yang masyhur yakni pahala bacaan tidak sampai 2. Qawl yang mukhtar yakni pahala bacaan sampai. Dalam menanggapai qaul masyhur tersebut pengarang kitab Fathul wahhab yakni Syaikh Zakaria Al-anshari mengatakan dalam kitabnya Jilid II/19 : “Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzab syafii itu dibawa atas pengertian : “Jika alqur’an itu tidak dibaca dihadapan mayyit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan untuknya”. Dan mengenai syarat-syarat sampainya pahala bacaan itu Syaikh Sulaiman al-jamal mengatakan dalam kitabnya Hasiyatul Jamal Jilid IV/67 : “Berkata syaikh Muhammad Ramli : Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu : 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya, 2. Berdoa untuk mayyit sesudah bacaan Al-qur’an yakni memohonkan agar pahalanya disampaikan kepadanya, 3. Meniatkan samapainya pahala bacaan itu kepadanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh ahmad bin qasim al-ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 : “Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasilah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya”. Namun Demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin jika ; 1. Pembacaan yang dilakukan di hadapan mayyit diiringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepadanya. 2. Pembacaan yang dilakukan bukan dihadapan mayyit agar disamping meniatkan untuk simayyit juga disertai dengan doa penyampaian pahala sesudah selesai membaca. Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti dalam kitab tuhfah dan syarah Minhaj (lihat kitab I’anatut Tahlibin Jilid III/24). about 10 months ago

 M

Dalil-dalil orang yang membantah adanya hadiah pahala dan jawabannya 1. Hadis riwayat muslim : “Jika manusia, maka putuslah amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya” Jawab : Tersebut dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain. 2. Firman Allah surat an-najm ayat 39 : “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”. Jawab : Banyak sekali jawaban para ulama terhadap digunakannya ayat tersebut sebagai dalil untuk menolak adanya hadiah pahala. Diantara jawaban-jawaban itu adalah : a. Dalam syarah thahawiyah hal. 1455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut : 1. Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa isteri melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri). 2. Ayat al-Qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat al-qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah SWT hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”). Demikianlah dua jawaban yang dipilih pengarang kitab syarah thahawiyah. b. Berkata pengarang tafsir Khazin : “Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (umat Nabi Muhammad SAW), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain”. Jadi ayat itu menerangkan hokum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi : “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”. c. Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu Abbas Ra. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut : “ ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya’ (tafsir khazin juz IV/223). Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah surat at-thur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut : “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”. Jadi menurut Ibnu abbas, surat an-najm ayat 39 itu sudah terhapus hukumnya, berarti sudah tidak bias dimajukan sebagai dalil. d. Tersebut dalam Nailul Authar juz IV ayat 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan. Demikianlah penafsiran dari surat An-jam ayat 39. Banyaknya penafsiran ini adalah demi untuk tidak terjebak kepada pengamalan denganzhahir ayat sematamata karena kalau itu dilakukan, maka akan banyak sekali dalil-dalil baik dari al-qur’an maupun hadits-hadits shahih yang ditentang oleh ayat tersebut sehingga menjadi gugur dan tidak bias dipakai sebagai dalil. 3. Dalil mereka dengan Surat al-baqarah ayat 286 : “Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Baginya apa yang dia usahakan (daripada kebaikan) dan akan menimpanya apa yang dia usahakan (daripada kejahatan)”. Jawab : Kata-kata “laha maa kasabat” menurut ilmu balaghah tidak mengandung unsur hasr (pembatasan). Oleh karena itu artinya cukup dengan : “Seseorang mendapatkan apa yang ia usahakan”. Kalaulah artinya demikian ini, maka kandungannya tidaklah menafikan bahwa dia akan mendapatkan dari usaha orang lain. Hal ini sama dengan ucapan : “Seseorang akan memperoleh harta dari usahanya”. Ucapan ini tentu tidak menafikan bahwa seseorang akan memperoleh harta dari pusaka orang tuanya, pemberian orang kepadanya atau hadiah dari sanak familinya dan para sahabatnya. Lain halnya kalau susunan ayat tersebut mengandung hasr (pembatasan) seperti umpamanya : “laisa laha illa maa kasabat” “Tidak ada baginya kecuali apa yang dia usahakan atau seseorang hanya mendapat apa yang ia usahakan”. 4. Dalil mereka dengan surat yasin ayat 54 : “ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”. Jawab : Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah :

“Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan” Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain (Lihat syarah thahawiyah hal. 456). (ringkasan dari Buku argumentasi Ulama Syafi’iyah terhadap tuduhan bid’ah,Al ustadz haji Mujiburahman, halaman 142-159, mutiara ilmu) Jawaban di atas mungkin tidak lengkap, tapi semoga dapat sedikit memuaskan rasa GATAL saudara ICHSAN SURYA DKK. WASSALAM about 10 months ago

 Amir trima kasih saudara tlah kompirm .... Pertanyaan saya golongan yg dimaksud 73 golongan , seperti apakah golongan tersebut about 10 months ago

 Alfa jadi yang dismpaikan ichsan surya itu menyesatkan ya naudubillah min dzalik about 10 months ago

 M Sangat menyesatkan. Dan sebuah kebodohan krn berbicara ttg Imam Syafii kpd para pengikut Madzhab Syafii seolah-olah dia lebih tahu. Argumen yg hanya mempermalukan dirinya sendiri krn memperlihatkan kedangkalan (atau kelicikan??) ilmunya. Kebiasaan org2 Wahabi, mengambil isi kitab para Ulama yg sesuai dgn seleranya & menafikan yg lain lalu menyebarkannya. Naudzu billahi min dzalik about 10 months ago

 Naim intinya masalah bid'ah perlu pengkajian yang dilandasi dengan pemikiran yang luas, sekarang gini bagaimana bila dari golongn keluarga mungkin kurang dalam pengertian agama apakah dia salah mengumpulkan masyarakat untuk mendo'akan keluarganya? lantas bagaimana dengan konteks do'a anak yang sholeh, sedangkan mengumpulkan masyarakat untuk mendo'akan mayit dari keluarganya bukan merupakan upaya untuk menjadikan salah satu do'a anak yang sholeh? lalu kapan lagi kita mengadakan sedekahan kepada tetangga kalau tidak dengan cara tersebut? apakah kita harus merusak tatanan budaya yang ada? kemudian salahkah kita mengupayakan hal tersebut dengan acara tahlilan? jangan melemahkan Perintah Jilbab Displaying the only post.


Annisa COPAST PUNYA TEMAN heran punya famili kok ga takut hukum Allah, salah satunya dia buat status "saya apresiasi pakaian mini terbuka daripada berjilbab tapi ketat" buat status seharusnya "saya mengapresiasi cewek berjilbab ukuran besar seperti orang gemuk (tidak kelihatan seksinya), daripada jilbab pakaian ketat dan menonjol

seksinya, itupun lebih baik daripada tidak berjilbab sama sekali". karena jilbab perintah Allah dalam Al-Qur'an. Allah murka sec rahasia mungkin nanti dia sadar entah istrinya atau anaknya wallahualam. sama saja dia bilang "saya apresiasi/hormat kpd orang yang tetap maksiat miras judi narkoba homo/lesbi murtad kafir daripada muslim yang ingin belajar sedikit demi sedikit beribadah kpd Islam menuju Ridho Allah kpd hidup yang lebih baik sesuai perintah Allah" ya sekali lagi hati-hati saja laknat Allah tunggu saja semoga cepat sadar/tobat sebelum Rahasia ILAHI tiba entah pada diri atau keluarganya. nisfu sya'ban (catatan teman) Displaying all 5 posts.


Siti Hari atau malam pertengahan bulan Syakban (15 Syakban). Nisfu artinya setengah atau seperdua dan Syakban adalah bulan kedelapan dalam perhitungan tahun Hijriyah. Kata Syakban berasal dari kata syi’ab (jalan di atas gunung). Dikatakan Syakban karena pada bulan itu ditemui berbagai jalan untuk mencapai kebaikan. Malam Nisfu Syakban dimuliakan karena pada malam itu, dua malaikat yakni Raqib dan Atid, yang mencatat amal perbuatan manusia sehari-hari, menyerahkan catatan-catatan amal tersebut kepada Allah SWT. Pada malam itu pula catatan-catatan itu ditukar dengan yang baru. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Bulan Syakban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Ia adalah bulan yang diangkatkan Tuhan amalamal. Saya ingin diangkatkan amal saya ketika sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i dari Usamah, sahabat Nabi SAW). Di samping itu, pada malam Nisfu Syakban turun beberapa kebaikan dari Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang berbuat baik pada malam tersebut. Kebaikankebaikan itu berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), pembebasan dari azab dan sebagainya. Dengan demikian, malam Nisfu Syakban antara lain dinamakan juga malam syafaat, malam maghfirah, dan malam pembebasan. Sehubungan dengan malam Nisfu Syakban yang dinamakan juga malam syafaat, Al-Ghazali mengatakan, “Pada malam ke-13 Syakban, Allah SWT memberikan kepada hamba-hamba-Nya sepertiga syafaat, pada malam ke-14 diberikan-Nya pula dua pertiga syafaat, dan pada malam ke-15 diberikan-Nya syafaat itu penuh. Hanya yang tidak memperoleh syafaat itu ialah orang-orang yang sengaja hendak lari dari pada-Nya sambil berbuat keburukan seperti unta yang lari.” Malam itu juga disebut malam maghfirah karena pada malam itu Allah SWT menurunkan ampunan-Nya kepada segenap penduduk bumi. Di dalam hadis Rasulullah SAW dijelaskan, “Tatkala datang malam Nisfu Syakban, Allah memberikan ampunan-Nya kepada penghuni bumi, kecuali bagi orang yang syirik dan berpaling padaNya.” (HR Ahmad) Selain itu malam Nisfu Syakban disebut malam pembebasan karena pada malam itu Allah SWT membebaskan manusia dari siksa neraka. Sabda Nabi SAW di dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Ishak dari Anas bin Malik, “Wahai Humaira (Asiyah RA) apa yang engkau perbuat pada malam ini? Malam ini adalah malam Nisfu Syakban, di mana Allah memberikan kebebasan dari neraka laksana banyaknya bulu kambing Bani Kalb, kecuali (yang tidak dibebaskan) enam, yaitu; orang yang tidak berhenti minum khamr, orang yang mencerca kedua orangtuanya, orang yang membangun tempat zina, orang yang suka menaikkan harga (secara aniaya), petugas cukai (yang tidak jujur), dan tukang fitnah.” Dalam riwayat lain disebutkan tukang pembuat patung tidak ada bid'ah / larangan karena hasanah untuk semua doa semua ibadah shalat puasa membaca Al-Qur'an dll yang tujuannya untuk bersyukur kepada Allah SWT

over a year ago


Ali “Tatkala datang malam Nisfu Syakban, Allah memberikan ampunan-Nya kepada penghuni bumi, kecuali bagi orang yang syirik dan berpaling pada-Nya.” (HR Ahmad) Assalamualiakum,..mau nanya, hadist di atas shohih ? tdk?? terimakasih.. over a year ago


Siti

silakan bertanya dengan bergabung di forum FB : kenapa takut bid'ah semoga dibantu over a year ago


Ali cara gabungnya gimana??? tlg kasih link-nya..:) over a year ago


Hari Dari 'Aisyah Ummul Mukminin RA, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW berpuasa, sehingga kami mengira seolah-olah beliau tidak pernah berbuka. Dan (apabila) beliau tidak berpuasa, kami mengira seolah-olah beliau tidak pernah berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh melainkan di bulan Ramadlan, dan tidak pernah saya lihat beliau memperbanyak puasa pada bulan lain seperti bulan Sya'ban". [HSR. Muslim] Keterangan : Puasa dalam bulan Sya'ban ini tidak ada ketentuan jumlah hari dan tanggaltanggalnya, hanya yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah kurang dari satu bulan. Tegasnya tidak satu bulan penuh. H. MAHRUS ALI yg populer dengan bukunya "Mantan kiai NU menggugat tahlilan, istighosahan, dan ziarah para wali"?????? Displaying the only post.


Siti Saudara-saudaraku sekalian,, masih ingatkah kalian dengan nama H. MAHRUS ALI yg populer dengan bukunya "Mantan kiai NU menggugat tahlilan, istighosahan, dan ziarah para wali"?????? buku yg diciptakannya itu cuma sebagai pemuas nafsunya belaka agar dia menjadi terkenal di seantero nusantara dan dunia dan dapet fulus banyak dari buku pemecah belah ummat tersebut! benar-benar penghasut. SEKARANG ADA FOTO-FOTO UNIK PLUS NYELENEH SI MAHRUS TUKANG PEMBOHONG YANG MENGAKU-NGAKU KYAI NU TERSEBUT (Dilihat dari wajahnya aja gak menampakkan kalau dia orang NU kok!!) coba deh liat di album berikut ini : http://www.facebook.com/album.php?aid=28676&id=140014749377806 (ITU ADLH FOTO ASLI H. MAHRUS ALI BERSAMA KOMPLOTANNYA... TANPA REKAYASA... SHALATNYA PAKE SENDAL, GAK MAU DI ATAS KERAMIK!!) Sekedar pengingat saja, pernah dia diundang debat terbuka di Surabaya oleh PCNU Jawa Timur untuk mempertanggung-jawabkan karangannya yang menghina NU dan tidak ilmiah itu, tapi dianya tidak hadir dengan bermacam-macam alasan. (Lihat debat NU vs Wahabi

Dengan ketidakhadirannya itu, takut ketahuan belangnya kali ya permainan politik Wahhabi ini?. Awas dan hati2 dengan fitnah dan kebohongan "The Phantom of Opera" ini !!!. Sekarang dia sedang dilanda ketakutan karena merasa bersalah. Dia juga suka nongkrong di warung kopi di depan balai desa di dekat rumahnya di desa Tambak Sumur RT 01 / RW 01 Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Itupun beraninya kalau keadaannya sedang sepi. Hidupnya pun semakin susah

saja bahkan sudah terasing dari masyarakatnya. Dia itu ibarat cacing tanah kepanasan yang menjadi cemoohan masyarakat sampai ke anak-anak kecil. Itulah adzab Allah swt yang selalu menimpa dia dikarenakan atas perbuatannya sendiri. Mudah2an ini menjadi pelajaran bagi kita !!.

Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan Keutamaan tawassul sebagai ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, telah banyak dipahami oleh kaum muslimin, akan tetapi mayoritas mereka justru kurang memahami perbedaan antara tawassul yang benar dan tawassul yang menyimpang dari Islam. Sehingga banyak di antara mereka yang terjerumus melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari aqidah tauhid, dengan mengatasnamakan perbuatan-perbuatan tersebut sebagai tawassul yang dibenarkan. Kenyataan pahit ini semakin diperparah keburukannya dengan keberadaan para tokoh penyokong bid’ah dan syirik, yang mempropagandakan perbuatan-perbuatan sesat tersebut dengan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkannya. Bahkan, mereka mengklaim bahwa tawassul syirik dengan memohon/ berdoa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mereka anggap shaleh adalah bukti pengagungan dan kecintaan yang benar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shaleh tersebut. Dan lebih daripada itu, mereka menuduh orang-orang yang menyerukan untuk kembali kepada tawassul yang benar sebagai orang-orang yang tidak mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shaleh, serta merendahkan kedudukan mereka. Inilah sebabnya, mengapa pembahasan tentang tawassul sangat penting untuk dikaji, mengingat keterkaitannya yang sangat erat dengan tauhid yang merupakan landasan utama agama Islam dan ketidakpahaman mayoritas kaum muslimin tentang hakikat ibadah yang agung ini. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengungkapkan hal ini dalam kata pengantar buku beliau “Kaifa Nafhamu At-Tawassul (Bagaimana Kita Memahami Tawassul)”, beliau berkata, “Sesungguhnya pembahasan (tentang) tawassul sangat penting (untuk disampaikan), (karena) mayoritas kaum muslimin tidak memahami masalah ini dengan benar, disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap hakikat tawassul yang diterangkan dalam al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas dan gamblang. Dalam buku ini, aku jelaskan tentang tawassul yang disyariatkan dan tawassul yang dilarang (dalam Islam) dengan meyertakan argumentasinya dari al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, agar seorang muslim (yang membaca buku ini) memiliki ilmu dan pengetahuan yang kokoh dalam apa yang diucapkan dan diserukannya, sehingga tawassul (yang dikerjakan)nya sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan doa (yang diucapkan)nya dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala (insya Allah). Dan juga agar seorang muslim tidak terjerumus dalam perbuatan syirik yang bisa merusak amal kebaikannya karena kebodohannya, sebagaimana keadaan sebagian dari kaum muslimin saat ini, semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada mereka.” (Kitab Kaifa Nafhamu At-Tawassul, hal. 3). Definisi tawassul dan hakikatnya Secara bahasa, tawassul berarti menjadikan sarana untuk mencapai sesuatu dan mendekatkan diri kepadanya (lihat kitab An-Nihayah fi Ghariibil Hadiitsi wal Atsar, 5/402 dan Lisaanul ‘Arab, 11/724). Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Arti tawassul adalah mengambil wasiilah (sarana) yang menyampaikan kepada tujuan. Asal (makna)nya adalah keinginan (usaha) untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.” (Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin, 79/1). Maka arti “ber-tawassul kepada Allah” adalah melakukan suatu amalan (shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya (lihat kitab Lisaanul ‘Arab, 11/724). Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, َ ُ ِْ ُ ْ ُ َّ َ ِ ِ ِ ‫ّ َ ْ َ ُ َِ ْ ِ ْ َ ِ َ َ َ َ ِ ُ ِ س‬ ‫يا أيها الذين آمنوا اتقوا ال وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في َبيله لعلكم تفلحون‬ َ ُ ّ َُ َ َ ِ ّ َ َّ َ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/ sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maaidah: 35). Beliau berkata, “Wasiilah adalah sesuatu yang dijadikan (sebagai sarana) untuk mencapai tujuan.” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 2/73). Inilah hakikat makna tawassul, oleh karena itu Imam Qotadah al-Bashri (beliau adalah Qatadah bin Di’aamah as-Saduusi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 409]) menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya, “Artinya: dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, 2/73). Imam ar-Raagib al-Ashfahani ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata, “Hakikat tawassul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah memperhatikan (menjaga) jalan (agama)Nya dengan memahami (mempelajari agama-Nya) dan (mengamalkan) ibadah (kepada-Nya) serta selalu mengutamakan (hukum-hukum) syariat-Nya yang mulia.” (Kitab Mufraadaatu Ghariibil Quran, hal. 524).

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa makna tawassul inilah yang dikenal dan digunakan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman mereka (lihat kitab Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassul wal Wasiilah, hal. 4). Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.

1.

hari says: 8 March 2011 at 7:33 pm alhamdulillah pembahasan ini sangat penting dan perlu dibaca u dipahami oleh kaum muslimin,. sukron jazakallah khairan

2.

Arif says: 15 March 2011 at 7:51 am Assalamu’alaikum, Saya masih agak bingung apa perbedaan antara Tawassul dengan washilah? Wassalam.

3.

Yulian Purnama says: 16 March 2011 at 5:59 am #Arif Wa’alaikumussalam. Tawassul itu perbuatannya, washllah itu benda yang dijadikan media tawassul.

4.

Santo says: 21 March 2011 at 11:08 am Assalamualaikum. Bagaimana halnya tawasul di dalam tahlilan, mengingat didalamnya berisi mendoakan dan minta do’a kepada Alloh SWT? Terima Kasih Wassalamualaikum

5.

Yulian Purnama says: 22 April 2011 at 1:37 pm

#Santo Wa’alaikumussalam. Silakan simak dahulu: http://ustadzaris.com/ritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan (2) Kategori Aqidah | 08-03-2011 | 11 Komentar

Pembagian tawassul Secara garis besar, tawassul terbagi menjadi dua, yaitu tawassul yang disyariatkan (tawassul yang benar) dan tawassul yang dilarang (tawassul yang salah) [lihat rincian pembagian ini dalam Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin (79/1-5) dan kitab Kaifa Nafhamut Tawassul (hal. 4 -14), tulisan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

1. Tawassul yang disyariatkan adalah tawassul yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Quran (dalam ayat tersebut di atas) dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta diamalkan oleh para shahabatradhiallahu ‘anhum (lihat kitab Kaifa Nafhamut Tawassul, hal. 4). Yaitu ber-tawasssul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sarana yang dibenarkan (dalam agama Islam) dan menyampaikan kepada tujuan yang diinginkan (mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) [Kutubu wa Rasa-il syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin (79/1)]. Tawassul ini ada beberapa macam: A- Tawassul dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahaindah, inilah yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, ‫ول السماء الحسنى فادعوه بها‬ َ ِ ُ ُ ْ َ َْ ُ ْ ُ َ ْ ِ “Dan Allah mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang Mahaindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma-ul husna itu.” (QS. al-A’raaf: 180). Artinya: berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Mahaindah sebagai wasilah (sarana) agar doa tersebut dikabulkan-Nya (lihat kitab At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, hal. 32).

Tawassul ini disebutkan dalam banyak hadits yang shahih, di antaranya dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang ditimpa kesedihan dan kegundahan, “Aku memohon kepada-Mu (ya Allah) dengan semua nama (yang Mahaindah) yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan (bagi diri-Mu) pada ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan al-Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya (dalam) dadaku, penerang kesedihanku dan penghilang kegundahanku.” [HR. Ahmad (1/391), Ibnu Hibban (no. 972) dan al-Hakim (no. 1877), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnul Qayyim dalam Syifa-ul ‘Aliil (hal. 274) dan Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 199)]. B- Tawassul dengan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sebagaimana doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dalam al-Quran, ‫وأدخلني برحمتك في عبادك الصالحين‬ ِ ِ ّ َ ِ َ ِ ِ َ ِ َ ْ َ ِ ِ ْ ِ ْ ََ “Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS. an-Naml: 19). Juga dalam doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap (hal yang) gaib dan kemahakuasaan-Mu untuk menciptakan (semua makhluk), tetapkanlah hidupku selama Engkau mengetahui kehidupan itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika selama Engkau mengetahui kematian itu baik bagiku.” [HR. an-Nasa-i (no. 1305 dan 1306), Ahmad (4/264) dan Ibnu Hibban (no. 1971), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani]. C- Tawassul dengan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana doa hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam al-Quran, ِ َ ْ َ َ َ ّ َ َ َ َ ِ َ ّ َ َّ ْ ّ َ َ َ َ ُُ َ َ ْ ِ ْ َ َ ّ َ ّ َ َ ْ ُ ّ َ ِ ُِ ْ َ ِ َ ِ ِ َ ُ ً ِ َ ُ َ ْ ِ َ َ ِّ َ َّ ‫ربنا إننا سمعنا مناديا ينادي لليمان أن آمنوا بربكم فآمنا ربنا فاغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيئاتنا وتوفنا مع البرار‬ “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka kamipun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali ‘Imran: 193). D- Tawassul dengan kalimat tauhid, sebagaimana doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam al-Quran, َ ِ ِ ْ ُ ْ ِ ْ ُ َ َِ َ َ ّ َ ْ َ ِ ُ َ ْ ّ َ َ ُ َ َ ْ َ َ ْ َ َ ِ ِ ّ َ ِ ُ ْ ُ ِّ َ َ َ ْ ُ َ ْ َ ّ ِ َ َِ ْ َ ِ َ ُّ ‫وذا النون إذ ذهب مغاضبا فظن أن لن نقدر عليه فنادى في الظلمات أن ل إله إل أنت سبحانك إني كنت من الظالمين. فاستجبنا له ونجيناه من الغم وكذلك ننجي المؤمنين‬ ِ َ َ َ ِ ْ ََ َ ِ ْ َ ْ َ ْ َ ّ َ َ ً ِ َ ُ َ َ َ ْ ِ ِ ّ َ َ “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru (berdoa kepada Allah) di kegelapan, ‘Laa ilaaha illa anta (Tidak ada sembahan yang benar selain Engkau), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiyaa’: 87-88). Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin pengabulan doa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang berdoa kepada-Nya dengan doa ini (HR. atTirmidzi, no. 3505 dan Ahmad, 1/170, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani). E- Tawassul dengan amal shaleh, sebagaimana doa hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shaleh dalam al-Quran, َ ِ ِ ّ َ َ َ ْ ُ ْ َ َ ُ ّ َ ْ َ ّ َ َ ْ َ َ ِ َّ َ ّ َ ‫ربنا آمنا بما أنزلت واتبعنا الرسول فاكتبنا مع الشاهدين‬ “Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa (kitab-Mu) yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti (petunjuk) rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang tauhid dan kebenaran agama-Mu).” (QS. Ali ‘Imran: 53). Demikian pula yang disebutkan dalam hadits yang shahih, kisah tentang tiga orang shaleh dari umat sebelum kita, ketika mereka melakukan perjalanan dan bermalam dalam sebuah gua, kemudian sebuah batu besar jatuh dari atas gunung dan menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka tidak bisa keluar, lalu mereka berdoa kepada Allah dan ber-tawassul dengan amal shaleh

yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas kepada Allah, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menyingkirkan batu tersebut dan merekapun keluar dari gua tersebut [Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 2152) dan Muslim (no. 2743)]. F- Tawassul dengan menyebutkan keadaan dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam doa Nabi Musa ‘alaihissalam dalam al-Quran, ٌ ِ َ ٍ ْ َ ْ ِ ّ َِ َ ْ َ َ ِ ّ ِ ّ َ ‫رب إني لما أنزلت إلي من خير فقير‬ “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. al-Qashash: 24). Juga doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam, ‫رب إني وهن العظم مني واشتعل الرأس شيبا ولم أكن بدعائك رب شقيا. وإني خفت الموالي من ورائي وكانت امرأتي عاقرا فهب لي من لدنك وليا‬ ّ َِ َ ْ ُ َ ْ ِ ِ ْ َ َ ً ِ َ ِ ََ ْ ِ َ َ َ ِ َ َ ْ ِ َ ِ َ َ ْ ُ ْ ِ ّ َِ ّ ِ َ ّ َ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ْ ََ ً ْ َ ُ ْ ّ َ َ َ ْ َ ِّ ُ ْ َ ْ َ َ َ ِّ ّ َ “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabb-ku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari Engkau seorang putera.” (QS. Maryam: 4-5). G- Tawassul dengan doa orang shaleh yang masih hidup dan diharapkan terkabulnya doanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat radhiallahu ‘anhum di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti perbuatan seorang Arab dusun yang meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar berdoa kepada Allah Ta’ala memohon diturunkan hujan, ketika beliau sedang berkhutbah hari Jumat, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta hujan, lalu hujanpun turun sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar [Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 968) dan Muslim (no. 897)]. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para shahabat radhiallahu ‘anhum tidak meminta kebutuhan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan datang ke kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka mengetahui perbuatan ini dilarang keras dalam Islam. Akan tetapi, yang mereka lakukan adalah meminta kepada orang shaleh yang masih di antara mereka untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti perbuatan shahabat yang mulia Umar bin khattab radhiallahu ‘anhu di zaman kekhalifahan beliau radhiallahu ‘anhu, jika manusia mengalami musim kemarau, maka beliau berdoa kepada Allah Ta’ala dan ber-tawassul dengan doa paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu. Umar radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya dulu kami selalu ber-tawassul kepada-Mu dengan (doa) Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan (sekarang) kami bertawassul kepada-Mu dengan (doa) paman Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam (‘Abbas radhiallahu ‘anhu), maka turunkanlah hujan kepada kami.” Lalu hujanpun turun kepada mereka (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 964 dan 3507). Demikian pula perbuatan shahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu di masa pemerintahan beliau radhiallahu ‘anhu. Ketika terjadi musim kemarau, Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu bersama penduduk Damaskus bersama-sama melaksanakan shalat istisqa’ (meminta hujan kepada Allah Ta’ala). Ketika Mu’awiyah telah naik mimbar, beliau berkata, “Dimanakah Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi?” Maka orang-orangpun memanggilnya, lalu diapun datang melewati barisan manusia, kemudian Mu’awiyah menyuruhnya untuk naik mimbar dan beliau sendiri duduk di dekat kakinya dan beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) orang yang terbaik dan paling utama di antara kami, ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi,” wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu (untuk berdoa) kepada Allah!” Maka, Yazidpun mengangkat kedua tangannya, demikian pula manusia mengangkat tangan mereka. Tak lama kemudian muncullah awan (mendung) di sebelah barat seperti perisai dan anginpun meniupnya, lalu hujan turun kepada kami sampai-sampai orang hampir tidak bisa kembali ke rumah-rumah mereka (karena derasnya hujan) [Atsar riwayat Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Dimasq (65/112) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab At-Tawassulu Anwaa'uhu wa Ahkaamuhu (hal. 45)].

1.

Ahmad says: 8 March 2011 at 4:51 pm Al hamdulillah, akhinal kirom, syukron atas penjelasannya tentang “Tawassul” itu, ana sangat sepaham, moga selalu diberi kekuatan untuk terus mendakwahkannya.

2.

Nurkhayadin says: 9 March 2011 at 8:19 am informasinya sangat beharga bagi kita Amiin

3.

ngasiful says: 10 March 2011 at 8:59 am Subhanallah….!!!!! ijin copy ya ,,,,,buat referensi diri. sukron…….

4.

Arif says: 15 March 2011 at 9:43 am Assalamu’alaikum, Tentang point-G di atas. Saya pernam membaca di Tafsir Ibnu Katsir bahwa kita boleh bertwassul dengan doa sesama muslim tapi kita tidak boleh menganggap bahwa doa orang tersebut lebih makbul dari doa kita, karena sesungguhnya Allah-lah yang menentukan terkabul atau tidaknya sebuah doa. misalnya kita datang ke kiayi atau habib untuk meminta di doakan dengan harapan doa kiyai atau habib tersebut mendoa untuk kita dan doanya lebih makbul dibandingkan doa kita sendiri.Tolong penjelasannya. Terima kasih. Wassalam.

5.

haikal says: 25 March 2011 at 4:46 pm Doa sesudah adzan: “ Ya Allah Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna ini dan solat yang aku dirikan ini. Berikanlah kepada junjungan kami Nabi Besar Muhammad SAW. Perantaraan dan keutamaan dan tempatkanlah dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya ” apakah ini termasuk tawasul? karena setiap kali saya berpendapat bertawasul kepada yang telah meninggal itu tidak boleh, bahkan kepada nabi sekalipun (dengan mengirim fatihah), maka lawan bicara saya merujuk pada doa setelah adzan ini. trims

6.

hasan herman abdurahman says: 26 March 2011 at 3:48 pm MasyaAlloh….masih banyak saudara2 kita yg butuh info yg haq sprt ini..walaupun kebanyakan dari mrk menolak krn awam dan jahil.. InsyaAlloh seandainya sarana da’wahnya dilengkapi dg perangkat yg sesuai dg zamannya akan berhasil mengubah mindset sdr2 kita..amiiiiin….!

7.

Yulian Purnama says: 20 April 2011 at 9:30 pm #haikal Katakan kepada teman anda agar tidak setengah-setangah dalam memahami dalil. Karena wasilah dalam hadits tersebut sudah dijelaskan oleh Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam dalam hadits lain: ُ َ ْ َّ َ َ ِ َ ْ َ ِ َ ََ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ ُ ْ ََ ّ ِ َ ِ ْ ِ ٍ ْ َ ِ ّ ِ ِ َ ْ َ َ ِ ّ َ ْ ِ ٌ َِ ْ َ َ ّ َِ َ َ ِ َ ْ َ ِ ّ ‫إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثم صلوا على فإنه من صلى على صلة صلى ال عليه بها عشرا ثم سلوا ال لى الوسيلة فإنها منزلة فى الجنة ل تنبغى إل لعبد من عباد ال وأرجو أن أكون أنا هو فمن سأل لى الوسيلة حلت له‬ ِ َ َُ ّ ُ ً ْ َ َ ِ ِ ْ ََ ّ َّ ً َ َ ّ ََ َّ ْ َ ُ ّ َِ ّ ََ َّ ّ ُ ُ ُ َ َ َ ْ ِ ُ ُ َ َ ّ َ ُ ْ ُ ُ ْ ِ َ َ ِ ُ ُ َ َّ ‫الشفاعة‬ “Jika kalian mendengar muadzin beradzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya 10x. Kemudian mohonkanlah kepada Allah al wasilah untukku, al wasilah adalah sebuah tempat di surga yang hanya dimiliki oleh satu orang manusia. Dan aku berharap itu adalah aku. Dan barang siapa yang memintakan al wasilah untukku, ia akan mendapat syafa’atku” (HR. Muslim) Jadi hadits ini sama sekali bukan dalil tawassul kepada kuburan atau orang mati.

8.

Yulian Purnama says: 25 April 2011 at 8:23 pm #Arif Wa’alaikumussalam. Silakan simak: http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3376-minta-didoakan-orang-lain.html

9.

Arif says:

28 April 2011 at 12:41 pm #Yulian Terima kasih atas referensi artikelnya. Terjawab sudah pertanyaan yang saya ajukan. Salamun.

10. ivan says:
13 May 2011 at 1:40 pm assalamu’alaikum.. bagaimana dengan penjelasan ayat ini.. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35). mohon pencerahannya..terima kasih 2. Tawassul yang dilarang (dalam Islam) adalah tawassul yang tidak ada asalnya dalam agama Islam dan tidak ditunjukkan dalam dalil al-Quran maupun hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu ber-tawasssul kepada Allah Ta’ala dengan sarana yang tidak ditetapkan dalam syariat Islam. Tawassul ini juga ada beberapa macam: A- Tawassul dengan orang yang sudah mati dan berdoa kepadanya selain Allah Ta’ala. Ini termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menjadikan pelakunya keluar dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, َ ِ ِ ّ َ ِ ً ِ َ ّ َِ َ ْ َ َ ْ َِ َ ّ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ َ ّ ِ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ ‫ول تدع من دون ال ما ل ينفعك ول يضرك فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين‬ ِ “Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (QS. Yuunus: 106). Termasuk dalam hal ini adalah ber-tawassul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ini termasuk perbuatan syirik. Oleh karena itu, para shahabat radhiallahu ‘anhum tidak pernah melakukannya, padahal mereka sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. B- Tawassul dengan jaah (kedudukan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang-orang yang shaleh di sisi Allah. Ini termasuk tawassul yang bid’ah dan tidak pernah dilakukan oleh para shahabat radhiallahu ‘anhum, padahal mereka sangat mencintai dan memahami tingginya kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini dikarenakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bisa bermanfaat bagi siapapun kecuali bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, meskipun bagi orang-orang terdekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin [79/5]), sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Fathimah putri (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mintalah dari hartaku (yang aku miliki) sesukamu, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi (memberi manfaat) bagimu sedikitpun di hadapan Allah.” (Kitab Kaifa Nafhamut Tawassul, hal. 13). Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “Tawassul ini adalah bid’ah dan bukan kesyirikan, karena memohon kepada Allah. Akan tetapi terkadang bisa membawa kepada kesyirikan, yaitu jika orang yang bertawassul itu berkeyakinan bahwa Allah butuh kepada perantara (untuk mengetahui permintaan makhluk-Nya) sebaimana seorang pemimpin atau presiden (butuh kepada perantara), (maka ini termasuk syirik/ kafir) karena telah menyerupakan (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pencipta dengan makhluk-Nya, padahal Allah berfirman, ُ ِ َ ْ ُ ِ ّ َ ُ َ ٌ ْ َ ِ ِْ ِ َ َ ْ َ ‫ليس كمثله شيء وهو السميع البصير‬ “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syuura: 11) (Kitab Kaifa Nafhamut Tawassul, hal. 13). Sebagian orang yang membolehkan tawassul ini berdalil dengan sebuah hadits palsu, “Ber-tawassul-lah kalian (dalam riwayat lain: Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah) dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sngat agung.” Hadits ini adalah hadits yang palsu dan merupakan kedustaan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorangpun dari para ulama ahli hadits dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (lihat kitab Al-Fatawal Kubra, 2/433 dan At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, hal. 128). C- Tawassul dengan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hak para wali Allah.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “Tawassul ini tidak diperbolehkan (dalam Islam), karena tidak ada satu nukilanpun dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan (kebolehannya). Imam Abu Hanifah dan dua orang murid utama beliau (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani) membenci (mengharamkan) seseorang yang mengucapkan dalam doanya, ‘(Ya Allah), aku memohon kepada-Mu dengan hak si Fulan, atau dengan hak para Nabi dan Rasul-Mu ‘alaihissalam, atau dengan hak Baitullah al-Haram (Ka’bah)’, atau yang semisal itu, karena tidak ada seorangpun yang mempunyai hak atas Allah (lihat kitab Syarhul Ihya’) (Kitab Kaifa Nafhamut Tawassul, hal. 13). -bersambung insya AllahPenulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A. Artikel www.muslim.or.id


35 35 35 35 35 35 35 35 35

3 3 3 3 3 3 3 3 3

• • • • • •


Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 2 komentar

1.

Sukamto Nuri says: 12 March 2011 at 2:31 am Assalamu’alaikum wr.wb. Terima kasih atas pencerahannya, semoga terhindar dari kesyirikan.

2.

idubs says: 18 March 2011 at 10:38 am Semoga kalian diampuni dan beroleh hidayah

Pengaruh positif memahami dan mengamalkan tawassul dengan benar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan faidah yang agung ini di sela-sela penjelasan beliau tentang kaidah-kaidah dalam memahami tawassul yang benar dan sesuai dengan syariat Islam, beliau berkata, “Sesungguhnya, kaidah-kaidah ini berkaitan erat dengan penetapan tauhid (mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah) dan peniadaan unsur kesyirikan serta sikap ghuluw (melampaui batas dalam agama). (Sehingga jika) semakin diperinci keterangannya dan semakin jelas penyampaiannya, maka sungguh yang demikian itu adalah nuurun ‘ala nuur (cahaya di atas cahaya), dan Allah Dialah tempat meminta pertolongan.” (Kitab Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah” (hal. 244). Dari keterangan beliau ini dapat disimpulkan bahwa tujuan pembahasan mengenai tawassul yang benar adalah [lihat keterangan Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali dalam muqaddimah kitab Qaa'idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah (hal. 20-21)]:

• • •

Penetapan/ penegakan tauhid yang untuk tujuan mulia inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul-Nya ‘alahimussalam dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Peniadaan/ pembatalan unsur-unsur kesyirikan yang ini merupakan inti kandungan agama yang dibawa oleh para Rasul ‘alaihimussalam, yaitu membasmi kesyirikan dan membersihkan permukaan bumi, hati serta jiwa manusia dari kotoran dan noda syirik. Pembatalan unsur-unsur sikap ghuluw (melampaui batas dalam agama) dalam semua sendi-sendi agama Islam. Allah Ta’ala berfirman, ّ َ ْ ّ ِ ّ ََ ُ ُ َ َ َ ْ ُ ِ ِ ِ ُْ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ َ َ ‫يا أهل الكتاب ل تغلوا في دينكم ول تقولوا على ال إل الحق‬ ِ

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. an-Nisaa’: 171). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.’” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 3261). Penutup Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya untuk memurnikan akidah dan tauhid mereka, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan, yang besar maupun kecil. Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna, agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua bencana yang merusak agama dan keyakinan kita, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. ‫وصلى ال وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد ل رب العالمين‬ Kota Kendari, 7 Shafar 1432 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A. 15 March 2011 at 1:57 pm Bagaimana betawasul dengan air zam-zam? Bagaimana hadistnya shahih?

1.

Abduh Tuasikal says: 17 March 2011 at 7:05 am @ Okey Silakan baca di sini: http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2740-khasiat-air-zam-zam.html

2.

elfan says: 27 March 2011 at 9:23 am Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa) (QS. 12:97) — inilah contoh permohonan tawassul yang benar—(Ya’cub) berkata: ‘ Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (QS. 12:98) —inilah contoh jawaban penerima tawassul—–

Hadits, Atsar dan Kisah Dha’if dan Palsu Seputar Tawassul (1): Hadits-Hadits Lemah dan Palsu Kategori Aqidah, Hadits | 08-08-2008 | 17 Komentar

Hadits Pertama “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku, sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat besar.” Atau: “Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dengan kedudukanku, sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat besar.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits ini dusta dan tidak terdapat dalam kitab-kitab kaum muslimin yang dijadikan pegangan oleh ahlul hadits, dan tidak satu pun ulama menyebutkan hadits tersebut, padahal kedudukan beliau di sisi Allah ta’ala lebih besar dari kemuliaan seluruh nabi dan rasul.” (Qo’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hal 168. Dan lihat Iqtidlo’ Shiratil Mustaqim (2/783)). Al’ Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata, “Hadits ini batil, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh sebagian orang yang bodoh terhadap As Sunnah.” (At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu hal 127). Hadits Kedua “Apabila kamu terbelit suatu urusan, maka hendaknya (engkau meminta bantuan dengan berdo’a) kepada ahli kubur” Atau “Minta tolonglah dengan (perantaraan) ahli kubur.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits ini adalah dusta dan diada-adakan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasar kesepakatan ahli hadits. Hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari para ulama dan tidak ditemukan sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang terpercaya.” (Majmu’ Fatawaa (11/293)). Ketika Imam Ibnul Qoyyim menyebutkan beberapa faktor penyebab para penyembah kubur terjerumus ke dalam kesyirikan, beliau berkata, “Dan di antaranya adalah hadits-hadits dusta dan bertentangan (dengan ajaran Islam), yang dipalsukan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh para penyembah berhala dan pengagung kubur yang bertentangan dengan agama dan ajaran Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti hadits: “Apabila kamu terbelit suatu urusan, maka hendaknya (engkau meminta bantuan) kepada ahli kubur.” Dan hadits, “áæ ÃÍÓä ÃÍÏßã Ùäå ÈÍÌÑ äÝÚå”

“Seandainya kalian berharap dan optimis walaupun terhadap sebuah batu, maka pasti batu itu akan mampu mendatangkan manfaat kepada kalian.” (Ighatsatul Lahfaan (1/243)). Hadits Ketiga Dari Anas bin Malik, Ketika Fatimah bintu Asad bin Hasyim ibunda Ali radhiallahu ‘anhu wafat, maka dia mengajak Usamah bin Zaid, Abu Musa Al Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali liang kubur. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dan berbaring di dalamnya, kemudian beliau berkata: “Allah adalah Zat yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak mati, ampunilah bibiku Fatimah binti Asad. Ajarkanlah padanya hujjahnya dan luaskanlah tempat tinggalnya yang baru dengan hak nabi-Mu dan hak para nabi sebelumku, karena sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Penyayang.” Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata, “Hadits ini tidak mengandung targhib (anjuran untuk melakukan suatu amalan yang ditetapkan syariat) dan tidak pula menjelaskan keutamaan amalan yang telah ditetapkan dalam syariat. Sesungguhnya hadits ini hanya memberitahukan permasalahan seputar boleh atau tidak boleh, dan seandainya hadits ini shahih, maka isinya menetapkan suatu hukum syar’i. Sedangkan kalian (para penyanggah -pent) menjadikannya sebagai salah satu dalil bolehnya tawassul yang diperselisihkan ini. Maka apabila kalian telah menerima kedha’ifan hadits ini, maka kalian tidak boleh berdalil dengannya. Aku tidak bisa membayangkan ada seorang berakal yang akan mendukung kalian untuk memasukkan hadits ini ke dalam bab targhib dan tarhib, karena hal ini adalah sikap tidak mau tunduk kepada kebenaran, mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikemukakan oleh seluruh orang yang berakal sehat.” (Lihat At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu hal. 110 dan Silsilah Ahadits Addha’ifah wal Maudlu’at (1/32) hadits nomor 23. Beliau telah menjelaskan kelemahan hadits ini dan menjelaskan alasannya dengan rici, maka merujuklah ke buku tersebut). Hadits Keempat Dari Abu Sa’id Al Khudry secara marfu’: Barang siapa keluar dari rumahnya untuk shalat, kemudian mengucapkan: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan hak orang-orang yang berdo’a kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan hak perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidaklah keluar dengan sombong dan angkuh, tidak pula dengan riya’ dan sum’ah. Aku keluar agar terbebas dari murka-Mu dan untuk mencari ridlo-Mu, maka aku meminta kepada-Mu untuk membebaskanku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” Maka Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya dan 70000 malaikat akan memohonkan ampun baginya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (778), Ahmad (3/21) dan hadits ini telah didha’ifkan Al Allamah Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adhdho’ifah (1/34) dan dalam At Tawassul hal. 99). Syaikh Fuad Abdul Baqi berkata dalam Az Zawaaid, “Sanad hadits ini berisi rentetan para perawi yang lemah, yaitu Athiyyah adalah Al Aufi, Fadlil ibn Mirzaq dan Al Fadl ibnul Muwaffiq. Mereka semua adalah rawi yang dha’if.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun perkataan, ‘Aku meminta kepada-Mu dengan hak orang-orang yang meminta kepada-Mu’, diriwayatkan oleh Ibnu Majah akan tetapi sanad hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah. Sekiranya hadits ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka makna hadits ini adalah sesungguhnya hak orang-orang yang berdo’a kepada Allah adalah Allah kabulkan do’a mereka. Sedangkan hak orang yang beribadah kepada Allah adalah Allah memberikan pahala padanya. Hak ini Dia tetapkan atas diriNya sebagaimana firman-Nya, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah: 186) Maka ini adalah permintaan kepada Allah dengan hak yang telah Dia wajibkan atas diri-Nya, sehingga persis do’a berikut ini: “Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau.” (QS. Ali Imran: 194) Dan seperti do’a ketiga orang yang berlindung ke goa, ketika mereka meminta kepada Allah dengan perantara amalan shalih mereka yang Allah telah berjanji untuk memberi pahala atas amalan tersebut.” (Majmu’ Fatawaa (1/369)). Al ‘Allamah Al Albani berkata, “Kesimpulannya, sesungguhnya hadits ini dha’if dari dua jalur periwatannya dan salah satunya lebih berat kedha’ifannya daripada yang lain. Hadits ini telah didha’ifkan oleh Al Bushiriy, Al Mundziri dan para pakar hadits. Barangsiapa yang menghasankan hadits ini, maka sesungguhnya dia salah sangka atau bertasaahul (terlalu gampang dalam menilai hadits).” (Silsilah Ahadits Adhdha’ifah (1/38) nomor 24). Hadits Kelima Dari Umar ibn Al Khattab secara marfu’: Ketika Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku. Maka Allah berfirman, “Wahai Adam, bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?” Adam berkata, “Wahai Tuhanku, ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh ke dalam diriku, aku mengangkat kepalaku, maka aku melihat tiang-tiang ‘arsy tertuliskan “Laa ilaaha illallah Muhammadun rasulullah”, maka aku tahu bahwa Engkau tidak menghubungkan sesuatu kepada nama-Mu, kecuali makhluk yang paling Engkau cintai”, kemudian Allah berfirman, “Aku telah mengampunimu, dan sekiranya bukan karena Muhammad tidaklah aku menciptakanmu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim (2/615) (2/3, 32/2) dan Al Hakim berkata: “Shahihul Isnad akan tetapi Adz Dzahabi menyalahkan beliau dengan perkataannya: Aku berkata, bahkan hadits ini maudhu’, Abdurrahman sangat lemah, dan Abdullah ibn Muslim Al Fahri tidak diketahui jati dirinya.”)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Periwayatan Al Hakim terhadap hadits ini termasuk yang diingkari oleh para ulama, karena sesungguhnya diri beliau sendiri telah berkata dalam kitab Al Madkhal ilaa Ma’rifatish Shahih Minas Saqim, “Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya beberapa hadits palsu yang dapat diketahui secara jelas oleh pakar hadits yang menelitinya bahwa dialah yang membuat hadits-hadits tersebut.” Aku (Ibnu Taimiyah) katakan, “Dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam adalah perawi dha’if (lemah) dan banyak melakukan kesalahan sebagaimana kesepakatan mereka (ahli hadits).” (Qo’idah Jalilah fit Tawassul hal 69). Al Allamah Al Albani berkata, “Kesimpulannya sesungguhnya hadits ini Laa Ashla Lahu (tidak berasal) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak salah menghukuminya dengan batil sebagaimana penilaian dua orang Al Hafizh, Adz Dzahabi dan Al Asqalani sebagaimana telah dinukil dari keduanya.” (Silsilah Ahadits Addha’ifah 1/40). Hadits Keenam Dari Umayyah ibn Abdillah ibn Khalid ibn Usaid, ia berkata: “Rasulullah pernah meminta kemenangan dengan (bantuan) orang-orang melarat dari kaum Muhajirin.” (Diriwayatkan Ath Thabrani dalam Al Kabir 1/269 dan disebutkan oleh At Tabrizi dalam Misykatul Mashabih 5247 dan Al Qurthubi dalam Tafsir-nya 2/26; Dalam Al Isti’ab 1/38, Ibnu Abdil Barr berkata, “Menurutku tidaklah benar kalau Umayyah ibn Abdillah adalah seorang sahabat Nabi, sehingga hadits di atas adalah hadits yang mursal.” Al Hafizh dalam Al Ishobah 1/133 berkata, “Umayyah bukanlah sahabat Nabi dan tidak memiliki riwayat yang kuat.” Al Albani dalam At Tawassul hal. 111 mengatakan, “Pokok permasalahan dalam hadits tersebut adalah status Umayyah. Tidak terbukti bahwa beliau adalah salah seorang sahabat, sehingga status hadits tersebut adalah hadits mursal dha’if.”) Al Allamah Al Albani berkata, “Hadits ini dha’if sehingga tidak dapat digunakan sebagai hujjah.” Kemudian beliau berkata, “Seandainya hadits ini shahih, maka hadits ini semakna dengan hadits Umar, yaitu Umar meminta hujan dengan perantaraan doa Al Abbas, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits orang buta (seorang lelaki buta yang meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendoakannya kepada Allah agar penglihatannya dikembalikan), yaitu bertawassul dengan doa orang shalih (yang masih hidup-pent).” (At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu hal 112). Al Munawi berkata dalam Faidlul Qadir (5/219), “(Rasulullah) pernah meminta kemenangan maksudnya meminta kemenangan dalam peperangan sebagaimana firman Allah ta’ala: “Jika kalian (orang-orang musyrikin) meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan kepadamu.” (QS. Al Anfaal: 19) Az Zamakhsyari mengatakan yang dimaksud dengan “meminta bantuan”, yakni meminta kemenangan dengan orang-orang melarat dari kaum Muhajirin, yaitu dengan doa kaum fakir yang tidak memiliki harta dari kalangan Muhajirin. Hadits Ketujuh Dari Abdullah ibn Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Hidupku baik bagi kalian, kalian bisa menyampaikan hadits dan akan ada hadits yang disampaikan dari kalian. Dan kematianku adalah kebaikan bagi kalian, amal-amal kalian akan dihadapkan kepadaku, jika aku melihat kebaikan aku memuji Allah karenanya dan jika aku melihat keburukan, aku akan memohon ampun kepada Allah bagi kalian.” (Diriwayatkan oleh An Nasa’i 1/189, Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 3/81/2, Abu Nu’aim dalam Akhbaru Ashbahan 2/205 dan Ibnu Asakir 9/189/2 dan Al Albani telah melemahkan hadits ini dalam Silsilah Ahadits Adhdha’ifah wal Maudhu’at 2/404). Al Allamah Al Albani berkata, sesudah menyebutkan beberapa perkataan ulama tentang hadits ini, “Kesimpulannya, bahwa hadits ini dha’if dengan seluruh jalur periwayatannya, dan yang paling baik dari semua jalur tersebut adalah hadits mursal dari Bakr bin Abdil Muththallib Al Muzani, dan hadits mursal termasuk kategori hadits dha’if menurut para muhaddits. Adapun hadits dari Ibnu Mas’ud maka hadits itu khotho’ (salah), dan yang terburuk dari beberapa jalan jalur periwayatan hadits ini adalah hadits Anas dengan dua jalur periwatannya.” (Silsilah Ahadits Adhdha’ifah wal Maudlu’at 2/404-406). -bersambung insya Allah*** Oleh: Abu Humaid Abdullah ibnu Humaid Al Fallasi Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Umair Muhammad Al Makasari (Alumni Ma’had Ilmi) Murajaah: Ust. Aris Munandar Artikel www.muslim.or.id


94 94 94

94 94 94 94 94 94

• • • • • • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 17 komentar

1.

dadang says: 13 August 2008 at 9:59 am semoga semakin banyak artikel2 yang berisi tentang ajaran islam yang benar yang bersumber dari Al-quran dan hadits sehingga umat muslim yang ada di indonesia ini terhindar dari kebodohan dan tidak terjerumus ke jalan yang sesat seperti yang dialami para pengikut ahmadiah. Allahu akbar!

2.

zhidan says: 18 September 2008 at 12:02 pm Jazakallahu khairan katsiran, semoga kita terhindar dari perbuatan syirik melakukan permohonan kepada selain Allah, SUBHANALLAH AMMAA YUSYRIKUUN

3.

Machfudz says: 10 January 2009 at 10:57 pm

hadist dhaif tidak bisa di jadikan hujjah, apa lagi hadist palsu. wahai ikhwan semuanya, bukannya ana ingin menjelek2 kan manhaj ikhwan2, tapi untuk kita ketahui bersama bahwa hadist dhaif dan hadist palsu ini banyak dipakai oleh jama`ah tabligh di dalam kitap fadhilah amalnya, boleh ikhwan lihat itu semua. afwan ya ikhwan. jazakumullah.

4.

abu ishaq says: 12 January 2009 at 8:39 pm

Bismillah ana sekali dengan komentarnya Akhi Machfudz…Barokalloh fiikum

5.

abu ishaq says: 12 January 2009 at 8:40 pm ana setuju sekali dengan komentarnya Akhi Machfudz…Barokalloh fiikum

6.

wahyu ena says: 26 February 2009 at 12:33 pm Saya jadi tahu mana hadis yang shahih dan bukan. Semoga kita selalu mendapat petunjuk untuk selalu mencoba menapaki jalan yang lurus dan penuh duri.

7.

Usep Suhendar says: 13 March 2009 at 12:13 am Mudah-mudahan Alloh SWT menjauhkan kita dari perbuatan Syirik

8.

sandi albani says: 22 April 2009 at 2:08 pm Alhamdulillah,,akhirnya syubhat2 yang tersebar di internet ttg tawassul ini bisa dibantah. Jazakumullahu Khair.

9.

Abdul Mannan says: 3 May 2009 at 10:08 pm Ana minta semua ikhwan dan ikhwat yang berdiri di atas sunnah untuk membantah pemahaman yang sesat dengan pemahaman Al qur-an dan sunnah

10. Abdul Wahid says:
3 September 2009 at 3:49 pm afwan akhi… Kalau boleh usul, ada baiknya bila artikel di atas dimunculkan teks Arabnya,terutama teks haditsnya. Syukran, Jazakallah.

11. sutarno rasmana poetra says:
9 January 2010 at 6:53 am alhamdulillan bertambah lagi ilmu ane

12. abu umair albaganiy says:
13 May 2010 at 8:25 am

BISMILLAH. BERHATI-HATILAH DALAM MENYAMPAIKAN HADITS DHOIF WA MAUDHU’ DALAM RANGKA MENYESATKAN UMAT. SUNGGUH BERSIAPSIAPLAH KALIAN DALAM MENCARI TEMPAT DUDUKNYA DINERAKA KARENA KEDUSTAAN MENYAMPAIKAN HADITS DHAIF WA MAUDU’TERSEBUT. OLEH KARENA ITU SAMPAIKAN HADITS ITU WALAU SEDIKIT TAPI SHAHIH, KARENA ITU AKAN MEMBAWA KEBAIKAN UMAT. HIDUPKAN SUNNAH WALAU BERAT ENGKAU MENJALANINYA. ANA IZIN COPAS YA. JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRO

13. budiono says:
14 August 2010 at 2:45 pm Assalamu’alaykum, Saya mohon idzin (terlambat) untuk menyebarluaskan da’wah ini Syukran, Jazakallah .

14. Sri Sayekti Hadi says:
23 October 2010 at 5:56 pm Mendoakan orang yang sudah meninggal itu juga ibadah. jangan hanya karena malas tidak mau mendoakan orang yang sudah mati dan orang yang masih hidup, lalu menyebut dirinya sesuai qur’an hadist. Banyak-banyaklah ibadah bukan banyak menyerang dan mejelekkan orang. Maaf, ganjarannya neraka lho….

15. Yulian Purnama says:
23 October 2010 at 8:28 pm #Sri Sayekti Hadi Semoga Allah merahmati anda. - Sebaiknya jangan berburuk sangka bahwa orang yang tidak sering ke kuburan itu tidak mendoakan orang yang sudah meninggal. Karena mendoakan orang yang sudah meninggal dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, tidak harus ke kuburan. Allah Ta’ala Maha Mendengar Doa. - Terima kasih nasehatnya, sungguh merupakan nasehat berharga. Mudah2an Allah menjaga kita dari akhlak buruk tersebut. - Mohon dibaca kembali artikel di atas, karena artikel ini bukan membahas tentang mendoakan orang yang meninggal, tetapi tentang berdoa kepada kuburan, meminta kepada kuburan, ngalap berkah dan menjadikan kuburan atau orang yang mati sebagai wasilah kepada Allah. Mohon dibaca dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih.

16. Abu Aslam says:
29 December 2010 at 6:24 am #Sri Sayekti Hadi Tidak ada yang melarang mendoakan orang yang sudah meninggal, Tidak ada yang melarang menziarahi kuburan, tetapi dalam rangka mengingat mati dan mendoakan orang yang sudah meninggal. BUKAN DALAM RANGKA BERDO’A KEPADA ALLAH SWT DENGAN PERANTARAAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL. APA BEDANYA DENGAN ORANG KAFIR QURAIS, MEREKA MENGATAKAN KAMI TIDAK MENYEMBAH LATA, UZZA KECUALI KAMI HANYA MENJADIKAN PERANTARAAN DALAM MEMOHON KEPADA ALLAH AWT. TIDAK ADA YANG MENJELEKAN ATAU MENYERANG ORANG, YANG DILAKUKAN ADALAH MEMBANTAH HUJJAH SESAT MEREKA YANG MENYESATKAN UMMAT, BISA DIBAYANGKAN BAGAIMANA KALAU TIDAK ADA YANG MEMBANTAH HUJAAH SESAT MEREKA, MAKA AGAMA INI AKAN HANCUR, BERCAMPUR DENGAN KESESATAN. MAKANYA PARA ULAMA MENJADIKAN SALAH SATU JIHAD DENGAN MELAWAN HUJJAH MEREKA. ORANG YANG DIAM DAN MENGETAHUI HAL INI SAMA SAJA DENGAN SETAN BISU. Atsar Pertama ‫عن ملك الدار- و كان خازن عمر- قال: أصاب الناس قحط في زمن عمر, فجاء رجل إلى قبر النبي صلى ال عليه و سلم فقال: با رسول ال استسق لمتك فإنهم قد هلكوا, فأتى الرجل في المنام, فقيل له : ائت عمر ….الثر‬ Dari Malik Ad Dar -beliau adalah bendahara Umar- dia berkata, “Pada zaman pemerintahan Umar manusia ditimpa kemarau, maka seorang lelaki mendatangi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah untuk menurunkan hujan pada umatmu, karena sesungguhnya mereka telah binasa”, kemudian orang tersebut bermimpi dan dikatakan kepadanya: “Pergilah ke Umar……” (Disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 2/397. Al Allamah Al Albani berkata dalam At Tawassul hal. 131, Atsar ini dha’if dikarenakan Malik Ad Daar itu majhul). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (Qo’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hal. 19-20), “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi sebelum beliau tidak pernah mensyariatkan untuk berdoa kepada malaikat, para nabi, dan orang shalih serta meminta syafaat dengan perantaraan mereka, baik setelah kematian mereka dan juga tatkala mereka gaib (yakni mereka tidak berada di hadapan kita walaupun masih hidup -pent). Maka seseorang tidak boleh mengatakan, “Wahai malaikat Allah syafa’atilah aku di sisi Allah, mintalah kepada Allah agar

menolong kami dan memberi rezeki kepada kami atau menunjuki kami.” Dan demikian pula tidak boleh dia mengatakan kepada para nabi dan orang shalih yang telah mati, “Wahai nabi Allah, wahai wali Allah, berdoalah kepada Allah untukku, mintalah kepada Allah agar memaafkanku.” Juga seseorang tidak boleh mengucapkan, “Aku adukan kepadamu dosa-dosaku atau kekurangan rezekiku atau penguasaan musuh atasku atau aku adukan kepadamu si Fulan yang telah menzhalimiku.” Tidak boleh pula dia mengatakan, “Aku adalah tamumu, aku adalah tetanggamu, atau engkau melindungi setiap orang yang meminta perlindungan padamu.” Seseorang tidak boleh menulis (hajatnya -pent) pada lembaran kertas kemudian menggantungkannya di sisi kuburan, tidak boleh bagi seseorang menulis di selembar kertas bahwa dia meminta perlindungan kepada si Fulan, kemudian membawa tulisan tersebut ke orang yang melakukannya dan begitu pula amalan-amalan semisal itu yang dilakukan ahli bid’ah dari kalangan ahlil kitab dan kaum muslimin, seperti yang dilakukan orang Nasrani di dalam gereja mereka dan seperti yang dilakukan ahlu bid’ah di sisi kuburan para nabi dan orang salih. Inilah perkara-perkara yang diketahui secara pasti merupakan bagian dari agama Islam, dan dengan penukilan yang mutawatir dan ijma’ kaum muslimin bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan hal ini kepada umatnya, dan demikian pula para nabi sebelum beliau tidak pernah mensyariatkan sedikit pun dari hal tersebut. Tidak seorang pun dari sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik melakukan hal itu, dan tidak seorang pun dari para imam kaum muslimin yang menganjurkan hal tersebut, baik keempat imam mazhab dan (para imam) selain mereka. Tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan bahwa dianjurkan bagi seseorang dalam manasik hajinya untuk meminta kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kuburan beliau agar mensyafa’atinya atau mendoakan umatnya atau mengadu kepada beliau tentang musibah dunia dan agama yang menimpa umatnya. Para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditimpa berbagai macam musibah setelah beliau wafat, terkadang dengan kemarau yang panjang, terkadang dengan kekurangan rezeki, ketakutan dan kuatnya musuh dan terkadang dengan dosa dan kemaksiatan. Tidak seorang pun dari mereka mendatangi kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga kuburan Al Khalil dan para nabi kemudian berkata, “Kami mengadu kepadamu (atas) kemarau pada saat ini, atau kuatnya musuh.” agar beliau menolong mereka atau mengampuni mereka. Bahkan hal ini dan yang serupa dengannya merupakan perkara bid’ah yang diada-adakan yang tidak pernah dianjurkan oleh para imam kaum muslimin. Dan hal tersebut bukanlah suatu kewajiban dan bukan pula suatu perkara yang dianjurkan menurut ijma’ kaum muslimin. Atsar Kedua ‫عن أبي الجوزاء أوس بن عبد ال, قال: فحط أهل المدينة قحطا شديدا, فشكو إلى عائشة, فقالت: انظروا إلى قبر النبي صلى ال عليه و سلم فاجعلوا منه كوا إلى السماء, حتى ل يكون بينه و بين السماء سقف. قالوا : فافعلوا, فمطرنا مطرا حتى نبت‬ ‫العشب, و سمنت البل, حتى تفتقت من الشحم, فسمى عام الفتق‬ Dari Abul Jauza’ Aus bin Abdillah, dia berkata, “Penduduk Madinah pernah mengalami kemarau yang sangat dahsyat, kemudian mereka mengadu kepada Aisyah, maka dia berkata: “Pergilah ke kubur nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian buatlah lubang yang menghadap ke langit sehingga antara kubur dan langit tidak terhalang oleh atap.” Mereka berkata, “Mari kita melakukannya.” Maka hujan lebat mengguyur kami, sehingga rumput tumbuh lebat dan unta-unta menjadi gemuk dan menghasilkan lemak. Maka saat itu disebut Tahun Limpahan.” (Dikeluarkan oleh Ad Darimi (1/56) nomor 92. Al Allamah Al Albani berkata dalam At Tawassul hal 139: “Dan (atsar) ini sanad(nya) dha’if tidak dapat digunakan sebagai hujjah dikarenakan tiga alasan…” kemudian beliau menyebutkan alasan tersebut, maka merujuklah kesana). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (Lihat Ar Radd alal Bakri hal 68-74), “Dan riwayat dari Aisyah radhiallahu anha tentang membuka lubang kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke arah langit agar hujan turun tidak shahih dan tidak sah sanadnya. Di antara yang menjelaskan kedustaan atsar ini adalah bahwa selama Aisyah hidup rumah tersebut tidak memiliki lubang, bahkan keadaannya tetap seperti pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yakni sebagiannya diberi atap dan sebagian yang lain terbuka, sehingga sinar matahari masuk ke dalam rumah, sebagaimana riwayat yang ada dalam Shahihain dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang melakukan shalat Ashar dan sinar matahari masuk ke kamar beliau, sehingga tidak nampak bayangan (Dikeluarkan oleh Bukhari nomor 521 dan Muslim nomor 611). Kamar tersebut tidak berubah hingga Walid bin Abdil Malik menambahkan kamar-kamar itu di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak saat itu kamar Nabi masuk ke dalam masjid. Kemudian di sekitar kamar Aisyah -yang di dalamnya terletak kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam- dibangun tembok yang tinggi, dan sesudah itu dibuatlah lubang sebagai jalan bagi orang yang turun apabila ingin membersihkan.” Adapun adanya lubang saat Aisyah hidup, maka itu adalah kedustaan yang nyata. Seandainya benar, maka hal itu akan menjadi hujjah dan dalil bahwa orang-orang tersebut tidaklah berdoa kepada Allah dengan perantaraan makhluk, tidak bertawassul dengan mayat di dalam doa mereka, serta mereka tidak pula memohon kepada Allah dengan (perantaraan) orang yang sudah mati. Mereka hanyalah membukanya agar rahmat diturunkan kepadanya, dan di sana tidak terdapat doa memohon kepada Allah dengan perantaraannya (kubur atau mayat yang ada di kubur tersebut, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -pent). Bandingkan betapa beda 2 hal tersebut? Sesungguhnya makhluk hanya bisa memberikan manfaat kepada orang lain melalui doa dan amal shalihnya, oleh karenanya Allah senang jika seseorang bertawasul kepada-Nya dengan iman, amal shalih, shalawat dan salam kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam, serta mencintai, menaati dan setia kepada beliau. Maka inilah perkara-perkara yang dicintai Allah agar kita bertawasul kepada-Nya dengan perkara-perkara tersebut. Atsar Ketiga ‫عن علي بن ميمون, قال: سمعت الشفعي يقول: إني لتبرك بأبي حنيفة, و أجيء إلى قبره في كل يوم-يعني زائرا- فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين, و جئت إلى قبره, وسألت ال تعالى الحاجة عنده, فما تبعده عني حتى تقضى‬ Dari Ali bin Maimun, dia berkata, Aku mendengar Asy Syafi’i (Imam Syafi’i -pent) berkata, “Sungguh aku akan bertabarruk dengan Abu Hanifah, dan aku mendatangi kuburnya di setiap hari -yakni beliau berziarah ke kuburnya-. Maka jika aku memiliki hajat, aku melakukan shalat dua raka’at dan aku mendatangi kuburannya kemudian aku memohon kepada Allah ta’ala agar mengabulkan hajatku di samping kuburannya, dan tak lama berselang hajatku pun terkabul.” Hikayat ini diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/123) dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrahim, dia berkata: “Ali bin Maimun memberitakan kepada kami, dia berkata, ‘Aku mendengar Asy Syafi’i mengatakan hal itu.’” (yakni riwayat di atas -pent). Al ‘Allamah Al Albani berkata dalam Silsilah Ahadits Adhdha’ifah wa Al Maudhu’at 1/31: “Riwayat ini dha’if bahkan (riwayat yang) bathil.”

Ibnul Qoyyim berkata dalam Ighatsatul Lahfan 1/246, “Hikayat yang dinukil dari Imam Syafi’i -bahwa beliau berdoa di samping kuburan Abu Hanifah- merupakan suatu kedustaan yang nyata.” Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata dalam Silsilah Ahadits Adhdha’ifah wa Al Maudhu’at (1/31) hadits nomor 22, “Riwayat ini dha’if (lemah), bahkan bathil. Karena sesungguhnya Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidak dikenal, dan tidak pernah disebut dalam kitab-kitab yang membahas tentang perawi hadits sedikit pun. Jika yang dimaksud Umar bin Ishaq adalah Amru bin Ishaq bin Ibrahim bin Hamid As Sakan Abu Muhammad At Tunisi, maka Al Khatib telah menyebutkan biografinya dan menyebutkan bahwasanya dia adalah penduduk Bukhara yang mendatangi Baghdad tahun 341 Hijriah dalam rangka hendak berhaji, dan beliau (Al Khatib) tidak menyebutkan jarh (celaan) dan ta’dil (rekomendasi) atas orang ini dalam kitabnya, maka orang ini statusnya majhul hal. Mustahil jika yang dimaksudkan adalah orang ini, karena Syaikhnya yakni Ali bin Maimun wafat pada tahun 247 Hijriah -berdasarkan pendapat yang paling jauh-, sehingga kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun, maka mustahil dia menjumpai Syaikhnya tersebut. Kesimpulannya, riwayat ini dha’if dan tidak ada bukti yang menunjukkan keshahihannya.” Penutup Setelah engkau mengetahui sejumlah hadits, atsar dan kisah yang dha’if, palsu dan dusta tentang tawassul bid’ah yang dilakukan oleh ahlul bid’ah dan orang sesat. Maka waspadalah wahai kaum muslimin dan jangan terperdaya oleh kebohongan-kebohongan semacam ini! Bertawakallah kepada Zat Yang Maha Hidup dan tidak mati, sesungguhnya Dia berfirman, ُ ‫ومن يتوكل على ال فهو حسْب‬ ‫َ َ َ َ َ ّ ْ ََ ّ َ ُ َ َ ُه‬ ِ “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3) Janganlah engkau menyeru dan berlindung melainkan kepada Allah semata. Janganlah engkau meminta bantuan dan pertolongan melainkan kepada Allah semata. Janganlah engkau beribadah (berdoa) kepada sesuatu pun di samping beribadah (berdoa) kepada Allah. Saudaraku, jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat atau mudharat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat dan mudharat kepadamu, melainkan yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Mohonlah kepada Allah untuk memberikan taufik kepadamu dan menjaga hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang bertawassul kepada-Nya dengan tawassul yang syar’i bukan dengan tawassul yang bid’ah. Dan mohonlah kepada Allah ta’ala untuk mengampuni dosa-dosamu dan menyelamatkanmu dari azab api neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali. Hanya Allah-lah Pemberi Taufik dan Penunjuk kepada jalan yang lurus. Dikumpulkan dan disusun: Abu Humaid Abdullah ibn Humaid Al Falasi Semoga Allah memaafkan dan mengampuninya, orang tuanya dan seluruh kaum muslimin dan muslimat. Maraji’:

1. 2. 3.
***

At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu karya Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah-dengan diringkas. At Tawassul Hukmuhu wa Aqsamuhu-dikumpulkan dan disusun oleh Abu Anas Ali ibn Husain Abu Luz-dengan diringkas. Muqaddimah diambil dari tulisan yang disebarluaskan di situs internet.

Oleh: Abu Humaid Abdullah ibnu Humaid Al Fallasi Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Umair Muhammad Al Makasari (Alumni Ma’had Ilmi) Murajaah: Ust. Aris Munandar Artikel www.muslim.or.id


44 44

44 44 44 44 44 44 44

• • • • • • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 20 komentar

1.

abdulah says: 14 August 2008 at 8:51 am Mohon diberikan penjelasan tetang tawassul yang syar’i, agar tahu mana yang syar’i dan tidak, atau di bahas dalam artikel berikutnya!!??. Bolehkah bertawassul dengan asmaul husna ??-seperti hal inimohon follow up (tindak lanjut)-nya

2.

zhidan says: 18 September 2008 at 12:05 pm ALLAHUMMA INNII AS ALUKA BI ANNI ASYHADU ANNAKA ANTA ALLAH LAA ILAAHA ILLA ANTA ALLADZII AHADUSHSHAMAD LAM YALID WA LAM YULAD WA LAM YAKUN LAHU KUFUWAN AHAD

3.

Yusuf says: 23 September 2008 at 1:24 pm Assalamu’alaikum wr. wb. Akhi bagaimana dengan hadist dibawah?

Wahai Allah, Demi orang orang yg berdoa kepada Mu, demi orang orang yg bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sum?ah, ??? hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Na?iem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang orang yg berdoa kepada Allah, lalu kepada orang orang yg bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu). Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yg sudah hafal 100.000 (seratus ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Masih banyak hadits lain yg menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelummu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.”

4.

Yusuf says: 23 September 2008 at 1:45 pm lalu bagaimana dengan ayat di bawah : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Ma`idah: 35) Yusuf Qardhawi berkata, “Wasilah dalam ayat di atas adalah jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan hal yang dicintai dan diridhai Allah. Baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun niat.” Dia tidak menyebut soal ‘Nabi’ dan ‘Orang-Orang Shalih’ sebagai yang juga dicintai dan diridhai Allah. Suatu pandangan yang tidak lengkap.

5.

Yusuf says: 24 September 2008 at 1:51 pm Akhi mohon dibalas ya commentnya

6.

ryper says: 24 September 2008 at 3:00 pm untuk saudara yusuf… yang namanya tawasul ada dua… tawasul yang diperboolehkan, dan tawasul yang tidak diperbolehkan,,, adapun tawasul yang diperbolehkan adalah seperti tawasul dengan amal sholeh yang telah dilakukan atau dengan nama-nama Allah yang husna, seperti allahumma, atau yaa robbi… nah, dalam tawasul ini diperbolehkan, bahkan dianjurkan… karena jika melihat hadist2 nabi yang berkaitan dengan masalah doa atau berdzikir, pasti di awal-awalnya disebutkan asma Allah ta’ala adapun tawasul yang tidak diperbolehkan adalah tawasulnya orang indonesia kepada kuburan, atau hal-hal yang telah ditulis pada artikel diatas… tawasul ini sama halnya dengan syafaat, yakni kita memohon kepada Allah dengan melalui perantara… untuk perlu kita ketahui, yang namanya tawasul atau syafaat harus terpenuhi beberapa hal pertama: orang yang diminta syafaat adalah orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita, bukannya meminta kepada orang yang telah mati atau goib (tidak ada dihadapan kita) kedua: orang yang diminta syafaat adalah orang yang mampu untuk melakukan hal tersebut..

semoga dapat dipahami wallahu a’lam

7.

Abu Husam says: 24 September 2008 at 3:51 pm Ya akhi, Barakallahu fiik. Tolong, kalau bisa antum tampilkan teks berbahasa Arabnya dan nomor hadits di referensi yang antum tuliskan tersebut. Sehingga ana bisa merujuk kepada kitab tersebut, karena ana perlu mengetahui tentang teks asli dan mengetahui terjemahan yang tepat. Syukron.

8.

Aswad says: 24 September 2008 at 11:46 pm Ikhwah fillah, rahimakumullah… Semoga Allah merahmati antum semua. Semoga merahmati Abu Humaid Abdullah ibnu Humaid Al Fallasi yang telah menulis risalah tentang hal ini. Antum dapat menikmati ilmu yang berfaedah dari tulisan beliau yang sudah diterjemahkan di website muslim.or.id ini: http://muslim.or.id/aqidah/hadits-atsar-dan-kisah-dhaif-dan-palsu-seputar-tawassul-1-hadits-hadits-lemah-dan-palsu.html http://muslim.or.id/aqidah/hadits-atsar-dan-kisah-dhaif-dan-palsu-seputar-tawassul-2-atsar-atsar-lemah-dan-palsu.html ana kutipkan sebagian terjemahannya: Dari Anas bin Malik, Ketika Fatimah bintu Asad bin Hasyim ibunda Ali radhiallahu ‘anhu wafat, maka dia mengajak Usamah bin Zaid, Abu Musa Al Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali liang kubur. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dan berbaring di dalamnya, kemudian beliau berkata: “Allah adalah Zat yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak mati, ampunilah bibiku Fatimah binti Asad. Ajarkanlah padanya hujjahnya dan luaskanlah tempat tinggalnya yang baru dengan hak nabi-Mu dan hak para nabi sebelumku, karena sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Penyayang.”

Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata, “Hadits ini tidak mengandung targhib (anjuran untuk melakukan suatu amalan yang ditetapkan syariat) dan tidak pula menjelaskan keutamaan amalan yang telah ditetapkan dalam syariat. Sesungguhnya hadits ini hanya memberitahukan permasalahan seputar boleh atau tidak boleh, dan seandainya hadits ini shahih, maka isinya menetapkan suatu hukum syar’i. Sedangkan kalian (para penyanggah -pent) menjadikannya sebagai salah satu dalil bolehnya tawassul yang diperselisihkan ini. Maka apabila kalian telah menerima kedha’ifan hadits ini, maka kalian tidak boleh berdalil dengannya. Aku tidak bisa membayangkan ada seorang berakal yang akan mendukung kalian untuk memasukkan hadits ini ke dalam bab targhib dan tarhib, karena hal ini adalah sikap tidak mau tunduk kepada kebenaran, mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikemukakan oleh seluruh orang yang berakal sehat.” (Lihat At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu hal. 110 dan Silsilah Ahadits Addha’ifah wal Maudlu’at (1/32) hadits nomor 23. Beliau telah menjelaskan kelemahan hadits ini dan menjelaskan alasannya dengan rici, maka merujuklah ke buku tersebut). —— Dari Abu Sa’id Al Khudry secara marfu’: Barang siapa keluar dari rumahnya untuk shalat, kemudian mengucapkan: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan hak orang-orang yang berdo’a kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan hak perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidaklah keluar dengan sombong dan angkuh, tidak pula dengan riya’ dan sum’ah. Aku keluar agar terbebas dari murka-Mu dan untuk mencari ridlo-Mu, maka aku meminta kepada-Mu untuk membebaskanku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” Maka Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya dan 70000 malaikat akan memohonkan ampun baginya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (778), Ahmad (3/21) dan hadits ini telah didha’ifkan Al Allamah Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adhdho’ifah (1/34) dan dalam At Tawassul hal. 99). Syaikh Fuad Abdul Baqi berkata dalam Az Zawaaid, “Sanad hadits ini berisi rentetan para perawi yang lemah, yaitu Athiyyah adalah Al Aufi, Fadlil ibn Mirzaq dan Al Fadl ibnul Muwaffiq. Mereka semua adalah rawi yang dha’if.”

9.

Yusuf says: 25 September 2008 at 10:06 am ooo,

tapi ana pernah denger Rasulullah SAW bersabda ; “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194) sesuai hadist di atas, bukankah Rasulullah SAW bertawasul kepada tanah air dan air liur muslimin?? dan ini hadist riwayah Imam Bukhori dalam kitab sahih bukhori(kitab hadist paling utama) wallahualam wassalamu’alaikum wr. wb.

10. aswad says:
26 September 2008 at 12:29 pm Akhi Yusuf, semoga Allah menjaga antum Ana sudah cek di shahih Bukhari haidts no.5431, namun yg saya dapatkan adalah hadits Aisyah ttg amal yg utama: ‫يا أيها الناس خذوا من العمال ما تطيقون فإن ال ل يمل حتى تملوا وإن أحب العمال إلى ال ما دام وإن قل‬ Artinya:“Wahai manusia, kerjakanlah amal yang kalian sanggup mengerjakannya, sesungguhnya Allah tidak akan bosan menerima amalan walaupun kalian bosan beramal. Sesunggunya amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang konsisten meskipun sedikit” Kemudian Shahih Muslim hadits no. 2194, namun yg saya dapatkan hadits Anas ttg umroh dan haji: ‫سمعت رسول ال صلى ال عليه وسلم أهل بهما جميعا لبيك عمرة وحجا لبيك عمرة وحجا‬ Artiya: “Anas radhiyallahu’anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berhaji dan berumrah bersama orang-orang sambil berkata: “Aku memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji dan berumrah” Mohon di cross check, mungkin antum salah menyebutkan nomor hadits, atau mungkin saya yang salah mencari, atau malah mungkin bukan hadits Bukhari-Muslim. Tambahan, ikhwah fiddin, antum dapat mencari hadits berserta syarahnya di situs: http://hadith.al-islam.com/

11. Yusuf says:
9 October 2008 at 7:21 pm untuk semua umat Rasulullah SAW. Minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. dishow dong comment saya, terus beri tanggapan. saya yang ingin banyak mencari ‘ilmu.

12. Yusuf says:
10 October 2008 at 7:23 pm afwan, yang sebelumnya, hadist dan terjemahannya gak show?

13. Yusuf says:
10 October 2008 at 7:25 pm

yg ga penting di show, yang penting malah ga show

14. rofi says:
10 January 2009 at 1:55 am assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh ustadz…ana mau tanya, bagaimana menjawab syubhat tentang tawasul berikut ini? 1. Dengan Hak Nabi Muhammad Utsman bin Hanif datang kepada Rasulullah saw agar beliau mendoakan kepada Allah swt. Kemudian beliau menyuruhnya berwudhu’ dan melakukan shalat dua rakaat dan berdoa sebagai berikut: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan/melalui nabi-Mu nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, denganmu aku menghadap kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku. Ya Allah, jadikan dia (Muhammad) pemberi syafaat bagiku.” Hadis tersebut terdapat di dalam: 1) Sunan Ibnu Majah 1: 441, hadis ke 1385. 2) Musnad Ahmad 4: 138. 3) Mustadrak Ash-Shahihayn, Al-Hakim An-Naisaburi, jilid 1, halaman 313. 4) Jami’ Ash-Shaghir AsSuyuthi, halaman 59, mengutip dari At-Tirmidzi dan Al-Hakim. 5) Al-Tajul Jami’ 1: 286. 2. Dengan Benda Mati Rasulullah mendoakan orang yang sakit : “Dengan Nama Allah, dengan debu/tanah bumi kami, dengan air liur/ludah sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194) terima kasih, wassalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

15. Subkhi Ramadhan says:
6 February 2009 at 12:10 pm Assamualaikum Wr..Wb.. Ana mau tanya, mungkin agak melenceng dari topik yang di bicarakan. Diartikel yang anda tulis, kita tidak boleh melakukan sholat di atas kuburan. Saya mau tanya bila kita melakukan yasinan diatas kuburan itu termasuk bid’ah atau tidak? Saya masih bingung, karena yang artikel yang anda tulis tentang larangan beribadah di atas kuburan tidak spesifik..Mohon penjelasannya…Asslamualaikum Wr. Wb…

16. Abu fathon says:
14 February 2009 at 1:19 pm Memang masyarakat kita mah memang mendarah daging udah jd budaya kali atau tabìat gitu. Bahkan sbagian membabibuta dlm minta bantuan, sampai2 sama kburan. Maka jgn heran kadang pmakaman lbih rame dr masjid, lebih megah dr surau. Sy sangat brtrimakasih artikel inì jg pndebat (yusuf), smoga smua d brikan lindungan oleh ALLAH.

17. zen-azza says:
4 July 2009 at 2:37 pm Assamu’alaikum Alhamdulillah dgn artikel ini ana jadi tau ksalahan2 ttng bertawassul,oh ya sebarkan jg dong hadits2 palsu ttng tasawuf ana prnah baca ada riwayat dr abu huroiroh ra’Bunyinya:aku diberi oleh nabi ilmu(maksudnya ilmu tasawuf)apabila kusebarkan maka dipenggalah leherku.ni bagaimana akhi benar ga?trimakasih wassalam

18. masromi says:
3 September 2010 at 3:05 am

Assalaamu’alaikum, mungkin komentar saya ini agak telat, tapi saya memang baru saja membaca/memperhatikan artikel ini, saya juga pernah membaca dalam sebuah buku yang berjudul Sahih Bukhari Muslim yang disusun Al Bayan terbitan Jabal hadist yang berbunyi seperti berikut : Rasulullah mendoakan orang yang sakit : “Dengan Nama Allah, dengan debu/tanah bumi kami, dengan air liur/ludah sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” mohon penjelasannya apakah hadist tersebut memah sahih mengingat diriwayatkan oleh dua ahli hadits (Bukhari & Muslim) kalau memang sahih bagaimanakah penjelasan hadist tersebut? saya juga membaca sebuah hadist dalam buku yang sama tentang Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam pernah melakukan sholat jenazah didekat kuburan, padahal setau saya sholat dikuburan itu dilarang, bagaimanakah penjelasannya, terimakasih wassalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

19. Yulian Purnama says:
18 September 2010 at 11:46 am #masromi Wa’alaikumussalam. Hadits tersebut lengkapnya adalah sebagai berikut: ِ َ ْ ِ ِ َ ‫ِ ِ ْ َ ِ ِ َ َ َ َض َ ُ ْ َ ُ ْ ُ ُ َ ْ َ َ ّ ِ َ ّ َ َ ُ ِ ْ َ ْ ِ ُ ّ َ َ َ َ َ َ َ ِ ْ ِ ِ ُ ْ َ ُ َ ْض‬ ‫أن النبي صلى ال عليه وسلم كان إذا اشتكى النسان الشيء منه، أو كانت قرحة أو جرح، قال النبي صلى ال عليه وسلم بإصبعه هكذا )وو َع سفيان بن عيينة الراوي: سبابته بالرض ثم رفعها( وقال: باسم ال، تربة أر ِنا، بريقة‬ ُ ّ ِّ َ َ ٌ ْ َ ْ َ ٌ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ِ َ ْ ّ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ ِ َ َ ُ ّ ِّ ّ َ ‫.بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربنا‬ َ ّ َ ِ ْ ِِ َ ُ ْ ِ َ ِ ِ َ ْ ُ َ ِ ْ َ “Bahwa Nabi[Shallallahu 'alaihi wasallam], jika ada seseorang mengeluh kesakitan, keluar nanah atau terluka, maka Nabi[Shallallahu 'alaihi wasallam] memposisikan jarinya demikian (Sufyan bin Uyainah, perawi hadits, meletakkan jari telunjuknya di tanah kemudian mengangkatnya) seraya bersabda, ‘Dengan menyebut nama Allah, tanah bumi kita, dengan ludah sebagian dari kita, dengannya penyakit kita sembuh dengan seizin Rabb kita’.” Syaikh Ibnu Jibrin menjelaskan bahwa ini adalah contoh pengobatan tradisional dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menyembuhkan luka atau nanah, ketika tidak tersedia obat-obatan. Yaitu menggunakan ludah yang disentuhkan dengan debu lalu diusap ke luka. Ludah Nabi tentu mengandung berkah. Ditambah lagi dengan bertabarruk menggunakan nama Allah. Boleh saja bagi kita mencontoh pengobatan tradisional ini, namun tentu ludah kita tidak mengandung berkah. Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bertabarruk dengan ludah kyai, syaikh, atau habib untuk penyembuhan atau bahkan untuk minta lancar rezeki, jodoh, naik jabatan, dll Hadits ini juga terlalu jauh jika dijadikan dalil bolehnya bertabarruk dengan kuburan atau tanah kuburan. Shalat di kuburan itu terlarang, kecuali shalat jenazah. Ingat, shalat jenazah itu bukan untuk meminta sesuatu dari mayyit tapi untuk mendoakan si mayyit. Dan dalam shalat jenazah itu tidak ada sujud. Wallahu’alam.

20. ibnu abi irfan says:
22 July 2011 at 12:18 am kalo boleh ana menambahkan, mungkin hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil bertawasul kepada benda mati adalah karena kedudukan Nabi yang sudah dekat dengan Alloh, bahkan doa beliau bisa dijadikan tawasul. sedangkan debu dan air liur adalah makhluq Alloh yang tidak mempunyai kedudukan apapun, bahkan hajar aswad saja tidak akan dicium oleh Umar andai saja tidak dicontohkan oleh Nabi. jika ada yang salah mohon pemikiran ana ini diluruskan. Atsar berikut ini sering dijadikan alasan untuk ber-ziarah makam wali serta mengusap dan mencium kuburan wali. ‫عن أبي الدرداء رضي ال تعالى عنه، قال: إن بلل رأى في منامه النبي صلى ال تعالى عليه و سلم و هو يقول: ما هذه الجفوة يا بلل؟ أما آن لك أن تزورني يا بلل؟ فانتبه حزينا وجل خائفا، فركب راحلته و قصد المدينة فأتى قبر النبي صلى ال‬ ‫،تعالى عليه و سلم، فجعل يبكي عنده و يمرغ وجهه عليه، فأقبل الحسن و الحسين رضي ال تعالى عنهما، فجعل يضمهما و يقبلهما، فقال له: يا بلل، نشتهي أن نسمع أذانك الذي كنت تؤذن به لرسول ال صلى ال تعالى عليه و سلم في المسجد، ففعل‬ “Dari Abu Darda’ radhiallahu’anhu, ia berkata: ‘Bilal bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, engkau tidak sopan. Apakah belum datang saatnya engkau mengunjungiku?”. Maka ia bangun dengan rasa sedih dan cemas dalam dirinya. Bilal pun lalu menunggangi kendaraannya menuju Madinah, ia mendatangi kubur Nabi Shallallahu’alahi Wasallam. Ia menangis lalu meletakkan wajahnya di atas pusara Rasulullah. Kemudian ia bertemu Hasan dan Husain Radhiallahu Ta’ala ‘Anhuma. Lalu Bilal memeluk dan mencium keduanya. Keduanya berkata kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, kami berdua mendesakmu untuk memperdengarkan adzan yang pernah kau perdengarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di masjid, Bilal-pun melakukannya..‘” Kisah ini dibawakan oleh:

1. 2. 3.

Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (137/7), dengan sanad Ibnu Hajar Al Asqalani Ibnul Atsir dalam Usud Al Ghabbah (131/1), tanpa sanad Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal mengisyaratkan kisah ini, namun tidak menyebut perihal menangis dan mencium kubur.

‫يقال: إنه لم يؤذن لحد بعد النبي صلى ال عليه وسلم، إل مرة واحدة، في قدمة قدمها المدينة لزيارة قبر النبي صلى ال عليه وسلم، وطلب إليه الصحابة ذلك فأذن، ولم يتم الذان‬ “Ada yang mengatakan bahwa Bilal tidak pernah adzan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kecuali hanya sekali. Yaitu ketika ia datang ke Madinah untuk berziarah ke kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Para sahabat memintanya ber-adzan, ia pun mengiyakan. Namun ia beradzan tidak sampai selesai” (Tahdzibul Kamal, 289/4)

4. 5.

Adz Dzahabi dalam Tarikh Islami (273/4), dengan sanad Ali Bin Ahmad As Samhudi, dalam Al Wafa’ bi Akhbar Al Musthafa (44/1), tanpa sanad

Perhatikanlah, semua kitab yang membawakan kisah ini adalah kutubut taarikh (kitab-kitab sejarah), bukan kitab hadits. Jalan Periwayatan Adz Dzahabi dalam Tarikh Islami membawakan kisah ini dengan sanad sebagai berikut: ‫قال أبو أحمد الحاكم: نا ابن الفيض، نا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد بن سليمان بن بلد بن أبي الدرداء: حدثني أبي، عن أبيه سليمان، عن أم الدرداء، عن أبي الدرداء‬ “Dari Abu Ahmad Al Hakim: Ibnu Fayd mengabarkan kepada kami: Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilad bin Abi Darda mengabarkan kepada kami: Ayahku (Muhammad) mengabarkan kepadaku: Dari Sulaiman: Dari Ummu Darda’: Dari Abu Darda’ ” Sebagaimana juga sanad yang dibawakan oleh Ibnu Asakir, dan tidak terdapat sanad yang lain. Komentar Para Ulama Pertama: Adz Dzahabi dalam Tarikh Islami mengatakan: ‫إبراهيم بن محمد بن سليمان الشامي مجهول، لم يرو عنه غير محمد بن الفيض الغساني‬ ّ ِ “Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman Asy Syami itu majhul, orang yang mengambil riwayat darinya hanya Muhammad bin Fayd Al Ghassani” Adz Dzahabi juga men-dhaif-kan kisah ini dalam Siyar A’lamin Nubala (357-358/1)[1] Kedua: Ibnu Abdil Hadi berkata: ‫هذا الثر المذكور عن بلل ليس بصحيح‬ “Atsar yang dikatakan dari Bilal ini tidak shahih” (Ash Sharimul Munkiy, 314)[2] Nampaknya kisah ini dikatakan shahih oleh As Subki, maka Ibnu Abdil Hadi dalam Ash Sharimul Munkiy pun menyanggahnya: ‫جميع الحاديث التي ذكرها المعترض في هذا الباب وزعم أنها بضعة عشر حديثا ليس فيها حديث صحيح، بل كلها ضعيفة واهية‬ ً “Seluruh hadits yang dibawakan As Subki dalam masalah ini, yang diklaim berjumlah belasan hadits, bukan hadits-hadits shahih. Bahkan semuanya hadits yang sangat lemah” (Ash Sharimul Munkiy, 14) [3] Ketiga: Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: ‫هي قصة بينة الوضع‬ “Kisah ini adalah kedustaan yang nyata” (Lisanul Mizan, 107-108/1)[4] Keempat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ‫ليس في الحاديث التي رويت بلفظ زيارة قبره -صلى ال عليه وسلم- حديث صحيح عند أهل المعرفة، ولم يخرج أرباب الصحيح شيئا من ذلك، ول أرباب السنن المعتمدة، كسنن أبي داود والنسائي والترمذي ونحوهم، ول أهل المساند التي من هذا‬ ً ‫الجنس؛ كمسند أحمد وغيره، ول في موطأ مالك، ول مسند الشافعي ونحو ذلك شيء من ذلك، ول احتج إمام من أئمة المسلمين -كأبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد وغيرهم- بحديث فيه ذكر زيارة قبره‬

“Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik kitab Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi” (Majmu’ Fatawa, 216/27)[5] Kelima: Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (289/4) mengisyaratkan lemahnya riwayat ini karena beliau menggunakan lafadz ‫يقال‬ Keenam: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: : ‫فهذه الرواية باطلة موضوعة ولوائح الوضع عليها ظاهرة من وجوه عديدة أهمها قوله : ) فأتى قبر النبي صلى ال عليه و سلم فجهل يبكي عنده ( فإنه يصور لنا أن قبره صلى ال عليه و سلم كان ظاهرا كسائر القبور التي في المقابر يمكن لكل أحد‬ ‫أن يأتيه وهذا باطل بداهة عند كل من يعرف تاريخ دفن النبي صلى ال عليه و سلم في حجرة عائشة رضي ال عنها وبيتها الذي ل يجوز لحد أن يدخله إل بإذن منها كذلك كان المر في عهد عمر رضي ال عنه‬ “Riwayat ini batil, palsu, kedustaan yang nyata. Terlihat jelas dari beberapa sisi, yang paling jelas adalah perkataan ‘Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis di sisinya’, perkataan ini seolah-olah menggambarkan kepada kita bahwa kubur Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam nampak jelas seperti kuburan orang lain yang dapat didatangi siapa saja. Ini sebuah kebatilan yang nyata bagi orang yang mengetahui sejarah. Bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dimakamkan di kamar Aisyah Radhi’allahu’anha di dalam rumahnya, yang tidak diperbolehkan masuk kecuali atas izin Aisyah. Hal ini masih berlaku hingga masa pemerintahan Umar Radhiallahu’anhu‘ (Ad Difa’ An Al Hadits An Nabawi Wa As Sirah, 95) Tambahan Kisah ini sama sekali tidak menyebutkan tentang tabarruk atau beribadah di kuburan. Namun anehnya sering dibawakan oleh para Quburiyyun sebagai alasan untuk ziarah makam wali plus bertabarruk dan bertawassul di sana. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Yulian Purnama Artikel www.muslim.or.id [1] Dinukil dari Ahadits Laa Tashih, Sulaiman bin Shalih Al Khurasyi, hal.6 [2] Ahadits Laa Tashih, hal.6 [3] Ahadits Laa Tashih, hal.6 [4] Ahadits Laa Tashih, hal.6 [5] Ahadits Laa Tashih, hal.6


30 30 30 30 30 30 30 30 30

• • • • • • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 14 komentar

1.

fahrul says: 11 May 2010 at 4:44 pm Assalamu ‘alaikum Sesungguhnya kaum quburiyun sangat menentang keras dakwah salafiyah atau ahlus sunnah wal jamaah,apabila telah datang kebenaran kepada mereka sebagian dari mereka ada yang menerima kemudian bertaubat dan ada pula yang mendustakannya. Semoga Allah tak menjadikan kita bagian dari kaum quburiyun. Ya Allah Jauhkanlah hamba dan kaum muslimin dari dosa syirik yang tampak maupun tersembunyi serta yang diketahui maupun yang tak diketahui. Aamiin.

2.

Hisbah says: 12 May 2010 at 7:01 am Lanjutkan dakwah bil Hikmah !

3.

Ansori Bin Mai says: 12 May 2010 at 9:01 am Klo tawasuul dan kririm pahala itu nyampek berarti ke baanyakan penghuni surga nanti adalah orang2 kaya saja, karena keluarga yang hidup bisa bayar orang setiap jum’at untuk kirim pahala dn setelah nyampek pahalanya dia di bebaskan & di ringankan siksa kuburnya.

4.

abu muhammad naufal zaki says: 12 May 2010 at 10:52 pm Dakwah… dakwah… memang menapaki dakwah para Nabi dan Rosul bukanlah seperti melalui jalan yg mulus dan lurus yg di kiri kanannya berupa pemandangan yang indah dan menyejukkan mata. . . jika ini yg kita harapkan maka tidak lama para Ustadz dna Ulama Salaf akan berhenti berdakwah… namun mereka semua mengerti bhw dakwah ini penuh dg onak dan duri dg kiri kanan berupa hinaan dan cercaan serta fitnah, namun semua itu tidak membuat mereka sedih krn Alloh adalah penolong mereka. Kesedihan mereka hanyalah menyaksikan saudara sesama muslim yg tertipu oleh syaithon jin dan manusia yg mengajak kepada syirik, bid’ah khurofat dan takhayul. Namun hal ini menjadi lahan dakwah yang subur dan membangkitkan semangat untuk mengakkan dakwah tauhid yg mulia ini. . . Semoga Alloh selalu melindungi dan memberikan kekuatan kepada para pengemban dakwah yang mulia ini. . Alloh adalah sebai-baik penolong dan pelindung

5.

abu umair albaganiy says: 13 May 2010 at 8:56 am ana izin copas ya.jazakumullah khairan

6.

kacong says: 13 May 2010 at 11:50 pm emang berdakwah kpd quburiyun susah diterima.kita hanya bisa berdoa semoga mereka cepat kembali jalan yg benar,amen

7.

Vidya f. says: 16 May 2010 at 11:01 am Alhmdulillah bini’matihi tatimmussholihat.. Sm0ga trus snantiasa d bahas ttg sufiyah yg identik dg tawassul pd Rasulullah,minta tlg pd ahli kubur,ttg wali,,mimpi2 dusta brtmu Rasulullah hingga mencipta sh0lawat bid’ah n syirik,,mimpi2 yg d jadikn hujjah,,memakai hadits2 palsu,,brkyakinan smw makhluk tdk wujud,Allah sj yg wujud..Wal’iyadzubillah.. Betapa urgentx tauhid. Hanya Allah yg memberi ptunjuk kpd siapa yg Dia kehendaki.. Allahumma ihdinas shirotol mustaqiim.. Jazaakumullahu khayran..

8.

hotel di jogja says: 17 May 2010 at 9:53 am alhamdulillah nambah ilmu

9.

khfidl khafidi says: 19 May 2010 at 12:29 am assalamu’alaikum. pak, afwan, sy ijin nge share di fb ya. syukron. assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

Atsar berikut ini sering dibawakan oleh orang-orang yang gemar mencium serta mengusap-ngusap kubur untuk mengharap berkah darinya (tabarruk) : ‫عن داود بن أبي صالح ، قال : أقبل مروان يوما فوجد رجل واضعا وجهه على القبر ، فأخذ برقبته وقال : أتدري ما تصنع ؟ قال : نعم ، فأقبل عليه فإذا هو أبو أيوب النصاري رضي ال عنه ، فقال : جئت رسول ال صلى ال عليه وسلم ولم آت‬ ‫الحجر سمعت رسول ال صلى ال عليه وسلم ، يقول : ل تبكوا على الدين إذا وليه أهله ، ولكن ابكوا عليه إذا وليه غير أهله‬ “Daud bin Abi Shalih berkata: “Suatu ketika Marwan[1] datang. Dia melihat seorang lelaki sedang meletakkan wajahnya di atas kubur Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lalu Marwan menarik lehernya dan mengatakan: “Apakah anda menyadari apa yang anda lakukan?”. Lelaki itu berkata: “Ya”, lalu menengok ke arah Marwan, ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari[2] Radhiallahu’anhu. Ia berkata: “Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan datang untuk sebongkah batu. Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jangan menangis untuk agama, jika agama masih dipegang oleh ahlinya. Namun tangisilah agama jika ia dipegang bukan oleh ahlinya” Atsar ini diriwayatkan oleh:

1. 2. 3.

Al Hakim dalam Mustadrak-nya, hadits no.8571, hal 515 jilid 4 Imam Ahmad dalam Musnad-nya, hadits no. 23633, hal 422 jilid 5 Ath Thabrani, dalam Mu’jam Al Kabir, hadits no. 3999, hal 189 jilid 4. Juga di Mu’jam Al Ausath, hadits no. 289 dan no. 11422.

Jalur Periwayatan Hadits ini diriwayatkan dari 2 jalan, yaitu dari jalan Daud bin Abi Shalih dan jalan Muthallib bin Abdillah bin Hanthab. Jalan pertama sebagaimana yang dibawakan Al Hakim dan Imam Ahmad. Al Hakim membawakan hadits ini dengan sanad sebagai berikut: ‫حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ، ثنا العباس بن محمد بن حاتم الدوري ، ثنا أبو عامر عبد الملك بن عمر العقدي ، ثنا كثير بن زيد ، عن داود بن أبي صالح‬ ”Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub berkata kepadaku: Al ‘Abbas bin Muhammad bin Hatim Ad Dauri menyampaikan kepadaku: Abu ‘Amir ‘Abdul Malik bin Umar Al’Aqdiy menyampaikan kepadaku: Katsir bin Zaid menyampaikan kepadaku: Dari Daud bin Abi Shalih”

Imam Ahmad membawakan hadits ini dengan sanad sebagai berikut: ‫حدثنا عبد ال حدثني أبي ثنا عبد الملك بن عمرو ثنا كثير بن زيد عن داود بن أبي صالح‬ “Abdullah berkata kepadaku: Ayahku (Abu Abdillah) berkata kepadaku: Abdul Malik bin ‘Amr menyampaikan kepadaku: Katsir bin Zaid menyampaikan kepadaku: Dari Daud bin Abi Shalih” Jalan kedua dibawakan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath dan Mu’jam Al Kabir, beliau membawakan hadits ini dengan sanad sebagai berikut; ‫حدثنا أحمد بن رشدين قال : نا سفيان بن بشير الكوفي قال : نا حاتم بن إسماعيل ، عن كثير بن زيد ، عن المطلب بن عبد ال بن حنطب ، عن أبي أيوب النصاري‬ “Ahmad bin Rusydain menuturkan kepadaku, ia berkata: Sufyan bin Basyir Al Kufi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hatim bin Isma’il mengabarkan kepadaku: Dari Katsir bin Zaid: Dari Muthallib bin Abdillah bin Hanthab: Dari Abu Ayyub Al Anshari” Di tempat lain di Mu’jam Al Ausath, Ath Thabrani membawakan dengan sanad sedikit berbeda: ….‫حدثنا هارون بن سليمان أبو ذر ، ثنا سفيان بن بشر الكوفي ، نا حاتم بن إسماعيل‬ “Harun bin Sulaiman Abu Dzar menuturkan kepadaku, ia berkata: Sufyan bin Bisyr Al Kufi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hatim bin Isma’il mengabarkan kepadaku, dst….” Komentar Ulama Para ulama ahli hadits berbeda pendapat mengenai status hadits ini. Ulama yang menerima hadits ini diantaranya: Pertama: Abu Abdillah Al Hakim dalam Mustadrak-nya mengatakan: ‫هذا حديث صحيح السناد و لم يخرجاه‬ “Sanad hadits ini shahih, dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim” Kedua: Adz Dzahabi dalam Talkhis-nya terhadap Al Mustadrak, beliau mengatakan hadits ini shahih. Namun pernyataan ini agak aneh karena Adz Dzahabi mengatakan tentang Daud bin Abi Shalih: ‫حجازي ل يعرف‬ “Ia orang Hijaz namun tidak dikenal (majhul)” (Lisanul Mizan, 2617) Ketiga: As Subki, dalam Syifa As Saqqam (152) mengatakan bahwa hadits ini shahih dan beliau berdalil dengan hadits ini bolehnya mengusap-usap kuburan. Namun klaim shahih tersebut sangat patut dipertanyakan, sebab para ahli hadits mengkritik hadits ini karena terdapat kecacatan pada perawi-perawinya:

Daud bin Abi Shalih Adz Dzahabi sendiri mengatakan ia majhul. Ibnu Hajar Al Asqalani pun menyetujui hal ini, beliau berkata: ‫فأنى له الصحة؟‬ “Apa saya pernah tahu hadits shahih darinya?” (Tahdzib At Tahdzib, 188/3)

Katsir bin Zaid Ia adalah perawi yang memiliki kecacatan. Ibnu Hajar berkata: ‫صدوق يخطئ‬ “Orang jujur namun sering salah” Al Haitsami berkata:

‫وثقه أحمد وغيره وضعفه النسائي‬ “Ia dianggap tsiqah oleh Imam Ahmad, namun dianggap lemah oleh An Nasa’i” (Majma’ Az Zawaid, 441/5)

• • •

Hatim bin Isma’il, Sufyan bin Basyir / Bisyr, Ahmad bin Rusydain, Sedangkan pada riwayat yang terdapat pada Mu’jam Al Kabir dan Al Ausath, terdapat kecacatan pada perawi Hatim bin Isma’il. Sebenarnya ia adalah perawi yang dipakai oleh Bukhari-Muslim. Namun komentar Ibnu Hajar tentangnya: ‫صحيح الكتاب ، صدوق يهم‬ “Shahihul kitab, jujur namun sering ragu”. (Tahdzib At Tahdzib) Oleh karenanya Al Albani berkata: “Ada kemungkinan keraguan tersebut ada pada penyebutan Muthallib bin Abdillah padahal sebenarnya Shalih bin Abi Shalih. Namun juga, jalur periwayatan sebelum sampai ke Hatim tidaklah shahih. Sehingga keraguan juga dimungkinkan dari selain Hatim. Pasalnya Sufyan bin Basyir / Bisyr tidak dikenal (majhul). Barangkali juga kebohongan ada pada Ahmad bin Rusydain, guru dari Ath Thabrani. Karena status dari Ahmad bin Rusydain adalah muttahamun bil kadzab (tertuduh sering berdusta)”. (Silsilah Adh Dha’ifah, 552/1)

Ringkasnya, dengan adanya kecacatan ini, wallahu’alam, lebih tepat menghukumi hadits ini sebagai hadits dha’if. Terlebih lebih terdapat ijma’ ulama yang dinukil dari ulama besar mazhab Asy Syafi’i, yaitu Al Imam An Nawawi rahimahullah bahwa mengusap-ngusap kubur hukumnya terlarang. Al Haitami menyanggah As Subki yang berdalil dengan hadits ini dengan berkata: ‫الحديث المذكور ضعيف. فما قاله النووي- أي حكايته الجماع على النهي عن مس القبر- صحيح ل مطعن فيه‬ “Hadits tersebut dhaif. Dan ijma yang dinukil oleh An Nawawi itu shahih tidak ada seorang ulama pun yang mengkritik” (Hasyiatul I-dhah, 219) Sedangkan ijma yang shahih tidak mungkin bertentangan dengan dalil shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ‫ل يمكن أن يقع إجماع على خلف نص أبدا‬ “Tidak akan pernah ada ijma ulama yang bertentangan dengan dalil” (Majmu’ Fatawa, 201/19)[3] Dengan kata lain, orang yang mengusap-ngusap kuburan dengan dasar anggapan shahih terhadap hadits ini, orang tersebut mengingkari klaim ijma’ dari ulama besar mazhab Asy Syafi’i, yaitu Imam Abu Yahya Muhyiddin An Nawawi. Tambahan Terlepas dari dhaif-nya hadits ini, terdapat pula beberapa kejanggalan, diantaranya: Pertama: Dalam hadits tersebut dikatakan Abu Ayyub Al Anshari meletakan wajahnya di atas makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Padahal makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam itu rata dengan tanah. Sebagaimana hadits shahih: ‫عن سفيان التمار أنه رأى قبر النبي صلى ال عليه وسلم مسنما‬ ً ّ َ ُ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ ِ ّ َ ْ َ ََ ُ َّ ِ ّ ّ َ َ ْ ُ ْ َ ُ “Dari Sufyan At Tammar, ia mengatakan bahwa ia pernah melihat kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam rata dengan tanah” (HR. Al Bukhari, no.1390) Jika demikian, konsekuensinya, Abu Ayyub Al Anshari dalam posisi sujud. Dan ini perkara yang mustahil, tidak pernah tergambar di benak bahwa ada seorang sahabat Nabi sujud kepada kuburan! Kedua: Hadits ini seolah-olah menggambarkan bahwa makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terbuka dan dapat didatangi semua orang. Padahal makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tertutup dan orang-orang dilarang masuk kecuali diberi izin. Sebagaimana hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha: ً ‫عائشة » أن النبي ) قال في مرض موته« لعن ال اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مسجدا. قالت: ولول ذلك لبرزوا قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجدا‬ ً “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika sakit menjelang wafatnya: ‘Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai tempat ibadah’. Aisyah berkata: ‘Andai bukan karena sabda beliau ini, tentu akan aku nampakkan (dibuka untuk umum) kuburan beliau, namun beliau khawatir kuburnya dijadikan tempat ibadah‘” (HR. Bukhari)

Ketiga: Dalam hadits dikatakan bahwa Abu Ayyub Al Anshari meletakkan wajahnya di atas kubur Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu mengungkapkan kesedihannya terhadap orang-orang yang berbicara agama tanpa ilmu. Dari sisi mana perbuatan ini dijadikan dalil untuk bolehnya mengusap-ngusap kuburan untuk mengambil berkahnya (tabarruk) ?? Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: ‫و قد شاع عند المتأخرين الستدلل بهذا الحديث على جواز التمسح بالقبر لوضع أبي أيوب وجهه على القبر ، و هذا مع أنه ليس صريحا في الدللة على أن تمسحه كان للتبرك – كما يفعل الجهال – فالسند إليه بذلك ضعيف كما علمت فل حجة فيه‬ “Orang-orang zaman ini banyak yang menyebarkan kabar bahwa mengusap-ngusap kubur itu dibolehkan dengan dalil hadits ini. Yaitu dalam hadits ini Abu Ayyub meletakkan wajahnya di atas kuburan. Selain hadits ini sanadnya lemah, sebagaimana telah dijelaskan kepada anda, hadist ini juga tidak menunjukkan Abu Ayyub menyentuh kubur Nabi tersebut untuk mengambil berkah (tabarruk), seperti yang dilakukan orang-orang yang tidak paham. Sehingga hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah” (Silsilah Adh Dha’ifah, 552/1) Keempat: Hadits ini juga sering dijadikan tameng oleh orang-orang syi’ah untuk membela kebiasaan mereka ber-tabarruk kepada imam-imam mereka (Ahadits Yahtaju Biha Asy- Syi’ah, 373 ). Ini salah satu bukti bahwa perbuatan mengusap-usap kubur dan ber-tabarruk dengannya adalah kebiasaan orang Syi’ah. Pantaskah kita mengikutinya? Demikian penjelasan ringkas yang kami nukilkan dari penjelasan para ulama. Semoga Allah memberi taufik. Diringkas dari:

• •

Ahadits Yahtaju Biha Asy- Syi’ah, Syaikh Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasy-qiyyah, halaman 373 Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, halaman 552

Penulis: Yulian Purnama Artikel www.muslim.or.id [1] Marwan bin Al Hakam bin Abil ‘Ash Al Qurasyi (2 – 65H), khalifah ke-4 Bani Umayyah, termasuk Kibarut Tabi’in. [2] Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kulaib Al Anshari (wafat tahun 52 H) -radhiallahu’anhu-, sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. [3] Dinukil dari Ma’alim Ushulil Fiqhi ‘Inda Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, halaman 173, Muhammad bin Husain Al Jizani


24 24 24 24 24 24 24 24 24

• •

• • • • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 9 komentar

1.

Muslim Pati says: 17 May 2010 at 8:08 am ijin copas jazakallah khoer

2.

hotel di jogja says: 17 May 2010 at 9:52 am alhamdulillah nambah ilmu

3.

Fahrul says: 17 May 2010 at 10:08 am Wahai para penyembah kuburan atau kaum quburiyun bertaubatlah sebelum Allah memanggilmu karena sesungguhnya hal yang engkau lakukan merupakan dosa yang tak diampuni Allah,cepatlah engkau bertaubat.

4.

tommi says: 19 May 2010 at 8:16 pm Ini artikel yg lg saya cari. Saya makin mantap merekomendasikan web ini pada kawan saya yg hobi tabarruk pada makam dan tawassul melalui perantaraan guru spiritualnya yg sudah wafat. Naudzubillah… Para quburiyun itu tidak akan terima jika kita bilang tabarruk pada makam itu bid’ah, mereka akan langsung berdalil dengan hadits diatas, namun jika mereka disodori kritik sanad dan matan terhadap hadits diatas lalu pernyataan para ulama, mereka akan diam seribu bahasa dan pada akhirnya keluarlah lg kata2 mutiara mereka —> “ah…wahabi kerjaannya memang hobi membid’ahkan saudara2nya sendiri…” Hehehehe…. Kalau beribadah murni hanya ditujukan semata kepada Allah Ta’ala disebut wahabi, maka saksikanlah bahwa saya wahabi!

5.

Hindar Safri Lubis says: 20 May 2010 at 7:25 pm

semoga dalil ini menjadikan pelajaran bagi penyembah kuburan. Tuk menggalang dakwak via internet apa sebaiknya tidak hanya kolong komentar saja tapi jg ada kolong yg bisa disave jg diteruskan ……. syukron wassalam

6.

abdullah umar says: 15 August 2010 at 1:37 pm berantas habis bid’ah & khurafat…!! Allahu Akbar…

Sebagian orang yang ber-tabarruk dengan kuburan orang shalih, atau ber-tabarruk dengan orang shalih itu sendiri, atau bahkan ber-tabarruk dengan tanah, air, debu, serta benda-benda yang dianggap mengandung berkah, sering beralasan dengan kisah Fathimah Radhiallahu’anha. Kisahnya adalah sebagai berikut: ‫:عن علي بن أبي طالب – رضي ال تعالى عنه – قال: لما رمس رسول ال – صلى ال عليه وسلم – جاءت فاطمة – رضي ال تعالى عنها – فوقفت على قبره وأخذت قبضة من تراب القبر فوضعته على عينيها وبكت وأنشأت تقول‬ ‫ماذا على من شم تربة أحمد * أن ل يشم مدى الزمان غواليا‬ ‫صبت علي مصائب لو أنها * صبت على اليام عدن لياليا‬ “Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu, beliau berkata: ‘Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dimakamkan, Fathimah Radhiallahu’anha datang. Beliau berdiri di depan makam Nabi lalu mengambil segenggam tanah dari makam Nabi, kemudian menaruh tanah tersebut di wajahnya sambil menangis dan bersyair: Bagi yang mencium wangi tanah makam Ahmad Tidak akan ia temukan sepanjang zaman wangi yang demikian Sungguh pedih musibah yang kurasa Begitu pedihnya seakan dapat membalik siang menjadi malam‘” Kisah ini dibawakan oleh:

1. 2. 3. 4. 5.
Catatan

As Samhudi, dalam Wafa-u Al Wafa Bi Akhbari Daari Al Musthafa (218/4). Dalam kitab ini As Samhudi mengatakan ia menukil kisah ini dari At Tuhfah[1] milik Ibnu ‘Asakir dengan sanadnya. Muhammad bin Yusuf Ash Shalihi Asy Syammi, dalam Sabilu Al Huda Wal Irsyad Fii Siirati Khairi Al ‘Ibad, 337/12, tanpa sanad. Namun beliau mengatakan bahwa kisah ini diriwayatkan dari Thahir bin Yahya Al Husaini. Abul Faraj Ibnul Jauzi, dalam Al Wafa-u Bit Ta’rifi Fadhaili Al Musthafa, tanpa sanad Abul Baqa’ Ibnu Dhiya’, dalam Taarikhu Makkah Al Musyrifah Wal Masjidil Haram, hal. 163, tanpa sanad Dan beberapa kitab sirah lain

Bila hanya diketahui sebuah riwayat ada di kitab ini dan kitab itu, dibawakan oleh imam A dan imam B, belumlah cukup untuk melegalisasi riwayat tersebut untuk diterima dan di amalkan. Perlu diperiksa ke-shahih-an dari riwayat tersebut. Terlebih lagi kisah ini hanya diriwayatkan dari kitab-kitab sirah, bukan kitab hadits. Lebih jelasnya, silakan simak artikel “Hadits Shahih Sumber Hukum Syari’at, Bukan Hadits Dhaif” Jalur Periwayatan As Samhudi dalam Al Wafa’ menukil kisah ini dari At Tuhfah milik Ibnu Asakir dengan sanad berikut: ‫عن طاهر بن يحيى الحسيني قال: حدثني أبي عن جدي عن جعفر بن محمد عن أبيه عن علي رضي ال عنه‬ “Dari Thahir bin Yahya Al Husaini, ia berkata: Ayahku (yaitu Yahya bin Al Hasan) pernah mengatakan kepadaku: Dari kakekku (yaitu Al Hasan bin Ja’far) : Dari Ja’far bin Muhammad: Dari ayahnya (yaitu Muhammad bin Ali) : Dari Ali bin Abi Thalib” Kualitas sanad

Sanad kisah ini gelap. Karena banyak perawi yang tidak dikenal (majhul) dalam sanad kisah ini, yaitu:

• • •

Thahir bin Yahya Al Husaini Yahya bin Al Hasan Al Hasan bin Ja’far bin Muhammad

Andai perawi-perawi tersebut diterima pun masih terdapat sisi kelemahan lain, yaitu keterputusan sanad (inqitha’) antara Muhammad bin Ali dengan sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu. Karena Muhammad di sini adalah Muhammad bin Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dengan kata lain, Muhammad adalah cicit dari sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu. Sedangkan Muhammad tidak pernah bertemu dengan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu, sebagaimana dikatakan oleh Al Mizzi dalam Tahzibul Kamal (26/137) dan At Tirmidzi dalam Sunan-nya (1602/161/6): ٍ ِ َ ِ َ َ ْ ّ َِ ْ ِ ْ ُ ْ َ ِ ْ َ ُ ْ ِ ْ ّ َِ ُ ْ ُ ّ َ ُ ٍ َ ْ َ ََُ ‫وأبو جعفر محمد بن على بن الحسين لم يدرك على بن أبى طالب‬ “Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain tidak pernah bertemu Ali bin Abi Thalib” Ringkasnya, kisah ini dhaif. Sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Adz Dzahabi: … :‫ومما ينسب إلى فاطمة، ول يصح‬ ّ ِ َ َ َ َ َ ِ َ َِ ُ َ ْ ُ ّ ِ َ “Salah salah satu kisah yang diklaim dari Fathimah, namun tidak shahih adalah … (lalu menyebutkan riwayat di atas)” (Siyar A’laamin Nubala, 113/3) Al Mulla Ali Al Qaari dalam Mirqatul Mafaatih (243/17) juga mengisyaratkan lemahnya kisah ini. Lebih lagi telah diketahui bahwa riwayat ini tidak terdapat satu pun di kitab-kitab hadits. Riwayat ini tidak pernah dibawakan oleh para ulama pemilik kitab Shahih, seperti Bukhari-Muslim, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti Sunan An Nasa-i, Sunan At Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, atau semacamnya, tidak juga kitab Mu’jam, seperti Mu’jam Ath Thabrani, tidak juga kitab Musnad yang menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad, Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya, tidak juga kitab Muwatha Malik. Riwayat ini kebanyakan dibawakan dalam kitab-kitab sirah. Sikap Keluarga Fathimah Terhadap Makam Lalu bagaimana sebenarnya sikap Fathimah Radhiallahu’anha terhadap makam Nabi? Cukuplah kita melihat sikap orang-orang terdekat beliau bersikap terhadap makam. Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib (Cucu Fathimah) -Radhi’allahu’anhum‫رأى رجل يأتي فرجة كانت عند قبر النبي صلى ال عليه وآله وسلم فيدخل فيها فيدعو، فنهاه وقال: » أل أحدثكم حديثا سمعته من أبي عن جدي – يعني علي بن أبي طالب رضي ال عنه عن رسول ال صلى ال عليه وآله وسلم قال: ل تتخذوا قبري‬ َ َّ َ ِ ِ َ ِ ْ ََ ُ َّ ً َ َّ َ ِ ِ َ ِ ْ ََ ُ َّ ‫.»عيدا ول تجعلوا بيوتكم قبورا وسلموا على فإن تسليمكم يبلغني أينما كنتم‬ ً ً “Ali bin Al Husain melihat seorang lelaki yang mendatangi celah di sisi makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian ia masuk ke dalamnya lalu berdoa. Beliau lalu berkata: ‘Wahai engkau, maukah aku sampaikan sebuah hadits yang aku dengar dari ayahku dari kakekku (yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu) dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Jangan jadikan kuburan sebagai Ied[2], dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan, bershalawatlah kalian kepadaku, karena shalawat kalian sampai kepadaku dimanapun kalian bershalawat’ ‘” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (375/2), Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya (6694). As Sakhawi dalam Al Qaulud Baadi’ (228) berkata: ‘Hadits ini hasan’. Ibnu ‘Adiy dalam Ash Sharimul Munkiy (206) mengatakan: ‘Sanadnya jayyid’ Ali bin Abi Thalib (Suami Fathimah) -Radhi’allahu’anhuma969 ‫.)عن أبي الهياج السدي أن عليا رضي ال عنه قال له: » أل أبعثك على ما بعثني عليه رسول ال صلى ال عليه وآله وسلم ؟ أمرني أن ل أدع قبرا مشرفا )أي مرتفعا( إل سويته )بالرض( ول تمثال إل طمسته « )مسلم‬ ُ ً ّ ً ً ً ََ َ َّ َ ِ ِ َ ِ ْ ََ ُ َّ ً “Dari Abu Hayyaj Al Asadiy, Ali Radhiallahu’anhu pernah berkata kepada Abu Hayyaj: ‘Maukah engkau aku utus untuk mengerjakan sesuatu yang dulu aku pun pernah di utus oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk mengerjakannya? Rasulullah pernah mengutusku untuk tidak membiarkan makam ditinggikan, melainkan harus dibuat rata dengan tanah. Lalu tidak membiarkan ada gambar (makhluk bernyawa), melainkan harus dihilangkan’” (HR. Muslim, no.969) Dalam menjelaskan hadits ini An Nawawi berkata: ُ ََ َ ْ َ َ ّ ِ ِ ّ ‫أن السنة أن القبر ل يرفع على الرض رفعا كثيرا ، ول يسنم ، بل يرفع نحو شبر ويسطح ، وهذا مذهب الشافعي ومن وافقه‬ َ َْ ََ َ ّ َ َُ ْ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َّ ُ َ َ ً َِ ً ْ َ ْ َْ ََ َ ْ ُ َ ْ َ ْ ّ َ ّ ّ ّ َ

“Yang sesuai sunnah, makam itu tidak terlalu tinggi dan tidak buat melengkung. Namun tingginya hanya sekitar sejengkal dan dibuat rata. Ini mazhab Asy Syafi’i dan murid-muridnya” (Syarhu Shahih Muslim, 389/3) Inilah sikap Ali bin Abi Thalib terhadap kuburan. Berbeda dengan para penyembah kubur serta orang-orang yang ber-tabarruk dengan kuburan, mereka meninggikan makam-makam. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (Ayah Fathimah -Radhi’allahu’anha-) ً ‫عن عائشة » أن النبي قال في مرض موته« لعن ال اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مسجدا. قالت: ولول ذلك لبرزوا قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجدا‬ ً “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika sakit menjelang wafatnya: ‘Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai tempat ibadah’. Aisyah berkata: ‘Andai bukan karena sabda beliau ini, tentu akan aku nampakkan (dibuka untuk umum) kuburan beliau, namun beliau khawatir kuburnya dijadikan tempat ibadah‘” (HR. Bukhari no. 1330) Ibnu Hajar Al Asqalani berkata tentang hadits ini: ‫وكأنه صلى ال عليه وآله وسلم علم أنه مرتحل من ذلك المرض، فخاف أن يعظم قبره كما فعل من مضى، فلعن اليهود والنصارى إشارة إلى ذم من يفعل فعلهم‬ َ َّ َ ِ ِ َ ِ ْ ََ ُ َّ “Seakan-akan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengetahui beliau akan wafat karena sakit yang sedang dialaminya, lalu beliau khawatir makam beliau diagungkan sebagaimana perbuatan orabg-orang terdahulu. Dilaknatnya kaum Yahudi dan Nasrani adalah isyarat bahwa orang yang melalukan perbuatan tersebut dicela” (Fathul Baari, 688/8) Demikian uraian singkat. Semoga Allah senantiasa melimpkahkan rahmah dan hidayah-Nya kepada kita semua. [ Sebagian besar tulisan ini disadur dari tulisan Al Akh Dimasqiyyah di Forum Ahlul Hadits (http://www.ahlalhdeeth.cc/vb/showthread.php?t=155930). Semoga Allah senantiasa menjaganya. ] Penyadur: Yulian Purnama Artikel www.muslim.or.id [1] Ada yang mengatakan bahwa judul yang benar adalah Al Ithaaf [2] Dalam Lisaanul Arab dijelaskan: ٌ ‫والعيد كل يوم فيه َم‬ ‫ج ْع‬ ّ ُِ “Ied adalah setiap hari yang terdapat berkumpulnya manusia” ‫قال الزهري: والعيد عند العرب الوقت الذي يعود فيه الفرح والحزن‬ ََ ُ َُ ُِ َ “Al Azhari berkata: Ied menurut budaya arab adalah setiap waktu yang secara rutin kesenangan dirayakan atau kesedihan diratapi”


21 21 21 21 21 21 21

21 21

• • • • • • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 10 komentar

1.

Fahrul says: 1 June 2010 at 6:45 pm ASSALAMU ‘ALAIKUM USTADZ,ANA MAU TANYA SETELAH RASULULLAH MENINGGAL DAN DIKUBURKAN DI MANAKAH UMMUL MUKMININ AISYAH TINGGAL,KARENA MENGINGAT TAK BOLEH SHALAT DI TEMPAT YANG ADA KUMBURANNYA? MOHON PENJELASAN USTADZ,JAZAKALLAH.

2.

hamba yg dho'if says: 2 June 2010 at 10:35 am Assalamu’alaikum, Yg terang semakin terang, yg gelap semakin gelap. Alhamdulillah, hujjah ilmiah ini adalah bantahan bagi quburiyun. Akh Yulian, Afwan akh, agar lebih lengkap mohon dibahas jg mengenai hadits yg jg sering dijadikan dalil oleh kaum quburiyun yaitu hadits yg mengenai bekas air wudhu dan keringat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yg direbutkan oleh para sahabatnya. Sebab mereka berdalih hadits ini adalah dalil kebolehan kita mencari berkah dari bekas2 ludah atau keringat org2 yg mereka anggap wali. Klo antum punya link web yg membahas hadits itu mungkin bisa langsung disebutkan disini. Terima kasih.

3.

abu umair al-bagani says: 5 June 2010 at 12:01 am Bismillah. akhi, anan izin copas filenya.jazakumullah khairan

4.

yudo adianto says: 6 June 2010 at 6:38 am syukron kasyron tas informasinya

5.

a priyatno says: 7 June 2010 at 9:13 am Alhamdulillah setiap hari ada saja ilmu yang bermanfaat yang kita dapat, karena selama ini kita mendapatkan ilmu yang menyesatkan.

6.

benny prabowo says: 8 June 2010 at 1:48 pm Alhamdulillah…ilmu yg bermanfaat di sampaikan

7.

subiyanto says: 9 June 2010 at 2:49 pm Teruskan artikel2 yg shahih, supaya yg mendukungnya biar jelas

8.

Yulian Purnama says: 29 June 2010 at 10:44 pm

#Fahrul Wa’alaikumussalam, ‘Aisyah Radhilallahu’anha tetap tinggal di sana, ketika Umar wafat, beliau baru pindah. Beliau tidak shalat menghadap kubur Nabi dan tempatnya terpisah sedemikian rupa dengan ruangan tempat Nabi dimakamkan. Wallahu’alam. Ibnul Munkadir rahimahullah adalah seorang tabi’in yang mulia. Ia dikenal sebagai ulama, Al Hafidz, ahli ibadah, ahli zuhud, dan orang yang besar baktinya kepada orang tua. Beliau berguru pada banyak sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan meriwayatkan banyak hadits. Semoga Allah merahmati beliau. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa Ibnul Munkadir biasa meminta pertolongan kepada makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika ditimpa sesuatu yang membahayakan. Kisah ini dijadikan alasan oleh sebagian untuk melegalkan ritual tabarruk, tawassul dan meminta pertolongan kepada makam-makam orang shalih. Berikut kisahnya,

‫قال مصعب بن عبد ال: حدثني إسماعيل بن يعقوب التيمي، قال:كان ابن المنكدر يجلس مع أصحابه، فكان يصيبه صمات، فكان يقوم كما هو حتى يضع خده على قبر النبي -صلى ال عليه وسلم- ثم يرجع. فعوتب في ذلك، فقال: إنه يصيبني خطر، َإذا‬ َ ِ‫َ َ ُ ْ َ ُ ُ َ ْ ِ ِ َ ّ َ ِ ِ ْ َ ِ ْ ُ ُ َ ْ ُ ْ َ ّ ْ ِ ّ َ َ َ َ ْ ُ ُ ْ َ ِ ِ َ ِْ ُ َ َ َ ْ َ ِ َ َ َ ُ ِ ْ ُ ُ َ ٌ َ َ َ َ ُ ْ ُ َ َ ُ َ َ ّ َ َ َ َ ّ ُ ََ َ ْ ِ ّ ِ ّ َّ ُ ََ ْ ِ َ َّ َ ُ ّ َ ْ ِ ُ َ ُ ِ َ ِ َِ َ َ َ َ ِّ ُ ُ ِ ْ ُ ِ َ َ ٌ ف‬ ‫وجدت ذلك، استعنت بقبر النبي -صلى ال علي ِ وسلم‬َ َّ َ ‫َ َ ْ ُ َِ َ ْ َ َ ْ ُ ِ َ ْ ِ ّ ِ ّ َّ ُ ََ ْه‬ Mu’shab bin Abdillah berkata: Isma’il bin Ya’qub At Taimi menceritakan kepadaku, ia berkata, “Suatu ketika Ibnul Munkadir sedang duduk-duduk bersama murid-muridnya. Tiba-tiba lidahnya kaku tak dapat berbicara. Beliau pun berdiri lalu meletakkan dagunya di atas makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu kembali. Murid-muridnya menyalahkan perbuatan beliau tersebut. Beliau pun berkata,’Yang menimpaku tadi adalah suatu bahaya. Ketika aku menemui bahaya aku biasa ber-isti’anah (memohon pertolongan) kepada makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘” Kisah ini dibawakan oleh: Pertama: Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala (9/437) Kedua: Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islami (2/456) terbitan web alwarraq.com, dengan sanad yang sama, namun terdapat sedikit perbedaan redaksi: ‫فاذا وجدت ذلك استغثت بقبر النبي صلى ال عليه وسلم‬ “Ketika aku menemui bahaya aku biasa ber-istighatsah kepada makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” Ketiga: As Samhudi, dalam Wafa-u Al Wafa Bi Akhbari Daari Al Musthafa (4/218), dengan sanad yang sama, namun terdapat sedikit perbedaan redaksi: ‫فاذا وجدت ذلك استشفيت بقبر النبي صلى ال عليه وسلم‬

“Ketika aku menemui bahaya yang demikian aku biasa ber-istisyfa (meminta kesembuhan) kepada makam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” Status Perawi Pertama: Mu’shab bin Abdillah Nama lengkapnya Abu Abdillah Mu’shab bin Abdillah bin Mu’shab bin Tsabit Al Zubairi Al Madini. Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Tsiqah” (Tahdzib At Tahdzib, 10/147). Adz Dzahabi berkata: “Ash Shaduuq” (Siyar A’laamin Nubala, 21/32). Al Baihaqi men-tsiqah-kannya (Siyar A’laamin Nubala, 21/32). Abu Hatim dan Ibnu Ma’in menulis hadits darinya (Al Jarh Wat Ta’dil, 8/309). Kedua: Isma’il bin Ya’qub At Taimi Abu Hatim Ar Razi berkata: “Dha’ful Hadits” (Al Jarh Wat Ta’dil, 2/204). Ibnu Hajar berkata: “Lahu hikaayatun munkarah” (Lisaanul Mizan, 1/185). Adz Dzahabi berkata: “Fiihi Layyin” (2/456). Semua ini adalah lafadz-lafadz pelemahan. Memang Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Hibban men-tsiqah-kannya” (Lisaanul Mizan, 1/185). Namun Ibnu Hibban di kalangan peneliti hadits telah dikenal akan sikapnya yang terlalu bermudah-mudah menetapkan status tsiqah (baca: mutasaahil). Para peneliti hadits seperti Adz Dzahabi, Ibnu Qattan, Abu Hatim dan yang lainnya menerapkan kaidah: ‘Jika hanya Ibnu Hibban seorang diri yang memberi status tsiqah pada seorang rawi, maka disimpulkan status rawi tersebut adalah majhul ain‘. Lihat penjelasan lengkap tentang masalah ini pada Buhuts Fil Musthalah (1/288) karya Dr. Mahir Yasin Al Fahl. Kualitas Riwayat Dari keterangan di atas, maka jelaslah bahwa riwayat tersebut dha’if karena dhaif-nya Isma’il bin Ya’qub At Taimi. Hal ini diperkuat dari keterangan dari Adz Dzahabi, karena setelah membawakan riwayat tersebut dalam Tarikh Al Islami (2/456) beliau berkata, “Isma’il: fiihi layyin” (Isma’il bin Ya’qub terdapat kelemahan). Andaikan kisah ini shahih pun -dan nyatanya tidak- perbuatan Ibnul Munkadir, seorang tabi’in, bukanlah dalil, bukan alasan yang dapat melegalisasikan isti’anah (meminta pertolongan) kepada kuburan. Semoga Allah memberi taufik. Penulis: Yulian Purnama Artikel www.muslim.or.id


15 15 15 15 15 15 15 15 15

• • • •

• • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 8 komentar

1.

abdur rosid says: 9 June 2010 at 8:27 am jangan terburu-buru mengatakan tawasul dan tabaruk adalah meminta pertolongan pada makam ya..kita satu agama dan satu akidah

2.

Yulian Purnama says: 9 June 2010 at 8:36 am #abdur rosid Anda benar. Tawassul dengan makam, tabarruk pada makam, dan minta pertolongan pada makam adalah 3 hal berbeda. Namun semuanya terlarang dan merupakan kesyirikan.

3.

aiem says: 9 June 2010 at 1:34 pm ana mo numpang nanya,,knapa orang2 suni di indonesia senang mendatangi makam2 orang sholeh daripada mendatangi makam orangtuanya..???

4.

Kuswanto says: 9 June 2010 at 2:42 pm Assalamu ‘alaikum Ustadz,saya pernah membaca sebuah artikel di sebuah tabloid islam bahwa ada sebuah penelitian di Jepang yaitu apabila kita mengucapkan kata2 yang baik atau buruk yang diarahkan ke air maka molekul-molekul atau atom-atom di dalan air itu akan membentuk sebuah pola. Sehingga dapat disimpulkan kalau isi air itu dibacakan doa-doa yang baik maka molekul-molekulnya akan membentuk pola kebaikan maupun sebaliknya akan membentuk pola yang buruk. Pertanyaan saya yaitu karena berdasarkan penelitian ini ada sebagian kaum muslimin yang membacakan doa/dzikir/mantera yang diyakini baik ke arah air maka orang minum air tersebut akan merasa baik atau sehat,apakah hal ini dibolehkan dan apakah kita minum air zam-zam untuk kesembuhan termasuk bertawasul serta apakah ada doa/dzikir khusus untuk meminum air zam-zam? Mohon penjelasannnya. Jazakallah.

5.

arie says: 10 June 2010 at 8:49 am setau ana cuma ziarah kubur yg dibolehkan. itupun dengan tujuan mendoakan orang yg telah wafat/dikubur. bukan meminta pertolongan pada kuburan/makam.dimana logika sehatnya, benda mati (kuburan/makam) bisa memberi manfaat/pertolongan pada mahluk hidup??? Apakah sudah lupa dengan Nabiyullah Ibrahim AS yg menghancurkan benda2 mati (patung???) yg didatangi untuk dimintai pertolongan????

6.

Abduh Tuasikal says: 10 June 2010 at 9:55 am

@ Kuswanto Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh. Untuk air zam-zam, memang ia adalah air yg penuh keberkahan. Hal ini berdasarkan dalil. Sehingga boleh ngalap berkah dengannya. Do’a yg dibaca ketika itu apa saja karena air zam-zam sesuai niatan orang yang meminumnya. Silakan baca artikel berikut ini >> http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2740-khasiat-air-zam-zam.html. Untuk masalah membacakan do’a ke air sebagaimana dicontohkan di atas, maka ini harus butuh dalil, tidak semata dengan berdasarkan penelitian di Jepang (barangkali ini juga penelitian orang kafir yg tidak paham Islam). Alasannya, karena keberkahan (kebaikan yang banyak) itu datangnya dari Allah, sehingga kita mau menyatakan suatu itu berkah, maka tentu saja dari penjelasan Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya berdasarkan pada penelitian. Semoga Allah beri kepahaman.

7.

salih says: 22 September 2011 at 2:37 pm ngomong-ngomong tentang ziarah-ziarah dan quburiyyun-quburiyyun antum pernah pada ziarah belum sih? ziarah tuh sunnah lho…… iya kan?

8.

Yulian Purnama says: 22 September 2011 at 10:17 pm #salih Bedakan tabarruk dengan ziarah kubur, silakan baca tulisan kami: http://kangaswad.wordpress.com/2011/05/18/keutamaan-ziarah-kubur/

12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan Kategori Ramadhan | 22-07-2010 | 90 Komentar

Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam. Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal: ‫السناد من الدين، ولول السناد؛ لقال من شاء ما شاء‬ “Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12) Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya. Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena tidak pernah diajarkan oleh beliau. Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami sampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan. Hadits 1 ‫صوموا تصحوا‬ “Berpuasalah, kalian akan sehat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).

Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51). Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Hadits 2 ٌ َ َ ُ ُ َُ َ َ ٌ َ َ ْ ُ ُ ُ َ ُ َ ٌ ْ ِ ْ َ ُ ُ ْ ُ َ ٌ َ َ ِ ِ ِ ّ ُ ْ َ ‫نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف‬ “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437). Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696). Terdapat juga riwayat yang lain: ‫الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه‬ “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653). Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah. Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalasmalasan. Hadits 3 ‫يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل ال صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و‬ ‫هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول ال ليس كلنا يجد ما‬ ‫، يفطر الصائم ، قال : يعطي ال هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه ال من الحوض شربة ليظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار‬ “Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115) Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar. Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah: ‫من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه‬ “Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)

Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja. Lebih jelas lagi pada hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah bersabda: ‫إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين، ومردة الجن، وغلقت أبواب النار، فلم يفتح منها باب، وفتحت أبواب الجنة، فلم يغلق منها باب، وينادي مناد: يا باغي الخير أقبل، ويا باغي الشر أقصر، ول عتقاء من النار، وذلك ك ّ ليلة‬ ٍ َْ َ ‫ِ َ َ َ َ ّ ُ َ َْ ٍ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ ُ ّ َ ِ ّ َ ِ ُ َ َ َ َ ُ ِ ّ َ ُّ َ ْ َ ْ َ ُ ّ ِ ََ ْ ُ ْ َ ْ ِ ْ َ َ ٌ َ ُ ّ َ ْ َ ْ َ ُ َّ ِ ََ ْ ُ َْ ْ ِ ْ َ َ ٌ َُ َ ِ ُ َ ٍ َ َ ِ َ َ ْ ِ َ ْ ِ ْ َ َ َ ِ َ ّ ّ َ ْ ِ ْ َ ّ ُ َ َ ُ ِ َ ّ ِ َ َ َ ُل‬ ِ “Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam” (HR. Tirmidzi 682, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi) Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar berdasarkan hadits yang lemah ini. Walaupun keyakinan ini tidak benar, sesungguhnya Allah ta’ala melipatgandakan pahala amalan kebaikan berlipat ganda banyaknya, terutama ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hadits 4 ‫كان رسول ال صلى ال عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم‬ “Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710) Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar. Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz: ‫اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين‬ “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.” Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan ‘wabika aamantu’ sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang benar.” Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terdapat dalam hadits: ‫كان رسول ال صلى ال عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الجر إن شاء ال‬ “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa: ‫ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الجر إن شاء ال‬ /Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/ (‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud. Hadits 5 ‫من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله‬ “Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al’Ilal Al Kabir (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di Al Mughni (4/367), Ad Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di Sunan-nya (4/228).

Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al Muhalla (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (7/173), juga oleh Al Albani di Dhaif At Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al Jami’ (5462) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di Al Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al Haitsami di Majma’ Az Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa. Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191) Hadits 6 ‫ل تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء ال تعالى ولكن قولوا شهر رمضان‬ “Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya (4/201), Adz Dzaahabi dalam Mizanul I’tidal (4/247), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), Ibnu Katsir di Tafsir-nya (1/310). Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu. Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam An Nukat ‘alal Maudhuat (41) bahwa “Hadits ini dhaif, bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), An Nawawi dalam Al Adzkar (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (4/135) dan Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (6768). Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’ tanpa ‘Syahru (bulan)’. Hadits 7 ‫أن شهر رمضان متعلق بين السماء والرض ل يرفع إل بزكاة الفطر‬ “Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.” Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43). Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri. Hadits 8 ‫رجب شهر ال ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي‬ “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186). Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334), dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400). Bahkan hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20). Hadits 9 ‫من فطر صائما على طعام وشراب من حلل صلت عليه الملئكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر‬ “Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.” Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152) Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654) Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:

‫من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه ل ينقص من أجر الصائم شيئا‬ “Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”) Hadits 10 ‫رجعنا من الجهاد الصغر إلى الجهاد الكبر . قالوا : وما الجهاد الكبر ؟ قال : جهاد القلب‬ “Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.” Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna. Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar. Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi. Hadits 11 ‫قال وائلة : لقيت رسول ال صلى ال عليه وسلم يوم عيد فقلت : تقبل ال منا ومنك ، قال : نعم تقبل ال منا ومنك‬ “Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246) Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam Dzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666). Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat: ‫كان أصحاب رسول ال صلى ال عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل ال منا ومنك‬ Artinya: “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”

Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Hadits 12 ‫خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة‬ “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131) Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708). Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadits: ‫من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس ل حاجة أن يدع طعامه وشرابه‬

“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057) Demikian, semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang sahih. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita di bulan mulia ini. Semoga amal-ibadah di bulan suci ini kita berbuah pahala di sisi Rabbuna Jalla Sya’nuhu. ‫وصلى ال على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم‬ *** Disusun oleh: Yulian Purnama Muraja’ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar Artikel www.muslim.or.id

• •

63 63 63 63 63 63 63 63 63

• • • • • • •
Get Shareaholic for Firefox Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 90 komentar

1.

Ngabidin says: 11 August 2011 at 9:54 pm Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mohon ijin untuk copy dan share artikel kajian ilmu yang ada di web: muslim.or.id ini,

Syukran, Yassarallah/sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna, Jazaakallahu khayran.

2.

awwam says: 22 August 2011 at 3:56 pm Budi says: 14 October 2009 at 6:07 pm Namun, pendapat yang paling kuat, adalah tidak boleh menggunakan hadits dhaif dalam segala hal termasuk keutamaan amal. ====== Ust. Aswad Yth Tertarik dengan respon Ustadz atas tulisan Akh Al-Fakir Illalloh Boleh tau tulisan Ustadz tersebut rujukannya dari mana?…karena Imam Bukhari sendiri menggunakan Hadits Dha’if dalam kitab Adabul Mufrad…Beda halnya dengan Kitab Jami’us Shahih yang memang menurut penelitian beliau Shahih semuanya. Ibnu Hajar Al-Haitsami rahmatullah ‘alaihi katakan: “Para ulama telah bersepakat mengenai bolehnya mengamalkan hadis dhaif dalam hal keutamaan-keutamaan amal, karena andaikan hadis tersebut ternyata benar keberadaannya (sahih), maka dengan mengamalkannya berarti hak-hak hadis tersebut telah terpenuhi. Kalaupun tidak demikian – terbukti dhaif — maka hal tersebut tidak akan menimbulkan pengaruh buruk apapun seperti menghalalkan atau mengharamkan sesuatu atau hilangnya hak orang lain” Kemudian tulisan Ustadz dibawah ini: Menyampaikan hadits dhaif atau palsu tidak berbeda dengan berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan perbuatan ini dosanya besar === Apakah Hadits Dhaif = Hadits Palsu, mohon penjelasannya? Terimakasih Wassalam Kaya’nya pertanyaan ini belum ada yang menjawab

3.

Yulian Purnama says: 22 August 2011 at 4:43 pm #awwam Silakan baca komentar2 kami sebelumnya, sudah kami jawab. Jika masih ingin membaca lebih mendalam, silakan simak: http://muslim.or.id/hadits/meninjau-penggunaan-hadits-dhoif-dalam-fadhilah-amal.html http://muslim.or.id/hadits/hadits-dhoif-menjadi-sandaran-hukum.html

4.

ngadiyo says: 30 September 2011 at 7:31 pm assalamualaikumw3…ijin nglink gan…terima kasih Jazakumulloh khoiron…

Fundamentalisme dan gerakan radikal Islam Kontemporer (Kasus Jama’ah Islamiyah) A. Persoalan dan latar belakang sosial Diskursus gerakan Islam radikal, fundamentalisme Islam, dan terrorisme Islam dalam ruang public internasional menjadi sangat mengemuka pasca munculnya tragedy kemanusiaan 11

September 2001. Tepatnya, pasca terjadinya peristiwa ledakan WTC, gedung pentagon, dan gedugn capitol di Amerika Serikat. Ketiga entitas tersebut dipahami oleh bayak kalangan –terlebih kalangan Barat- sebagai aksi jaringan kelompok internasional Islam radikal fundamentalisme. Menurut David Zaidan dalam artikelnya, The Islamic fundamentalist view of life as a perennial battle, tragedy tersebut diyakini pelaku utamanya adalah Oesama bin Laden dan jaringan teroris yang dibetuknya (Alqaeda). Gerakan Islam dimaksudkan segala aktifitas rakyat yang bersifat bersama (jama’ah) dan terorganisasi, yang berupa mengembalikan Islam agar kembali memimpin masyarakat dan mengarahkan kehidupan mereka dalam segala aspeknya. Berdirinya negara Islam barangkali merupakan tujuan paling penting bagi para tokoh pergerakan kebangkitan Islam, namun, ini tidaklah berarti bahwa semua tokoh kebangkitan berpandangan sama mengenai apa itu negara Islam dan bagaimana menjalankannya. Namun, Kelompok Islam radikal, dalam konteks Indonesia, meyakini adanya relasi integral antara Islam dengan negara, dengan argumen bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk politik. Dalam konteks Indonesia, ditengah berjalannya proses penyidikan yang dipimpin Indonesia, serangan yang terjadi di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 kian menampakkan diri sebagi hasil karya Jama’ah Islamiyah (JI). Mekipun demikian, banyak kalangan yang meragukan keberadaan JI di Indonesia termasuk Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah atau Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia KH A. Aziz Masyhuri. Ia belum pernah mendengar tentang JI di Indonesia, dan sepengetahuannya hanya ada di Pakistan yang kemunculannya karena tekanan umat lain (Yahudi), sedangkan di Indonesia tekanan semacam itu tidak dijumpai Namun apa itu Jama’ah Islamiyah, bagaimana cara organisasi ini beroperasi serta apa sasaran atau targetnya? Inilah fokus permasalahan yang akan dikaji. Guna menjawab sebagian pertanyaan tersebut, penulis mengacu pada hasil temuan Intl Crisis Group (ICG) yang telah menyelidiki berbagai peristiwa ledakan bom di Indonesia yang dikaitkan dengan JI. Banyak kasus yang bisa dijadikan rujukan: Sejak 1999 hingga kini, JI pernah dikaitkan dengan lusinan serangan maut yang mereka lancarkan di Indonesia dan Filipina. B. Pendekatan ( konsep teori dan metodologi ) Salah satu konsep untuk memahami fenomena fundamentalisme Jama’ah Islamiyah adalah dengan memposisikannya sebagai bagian dari gerakan sosial ( social movement ). Fokus konsep ini bertitik tolak dari dari paradigma gerakan sosial lama ( old social movement paradigm ) yang tidak menyertakan agama sebagai satu-satunya faktor pendorong konflik, melainkan juga kelas ( class ) sebagai faktor utama munculnya gerakan sosial. Cara pemahaman seperti inilah yang kemudian disebut dengan class interpretation. Untuk melihat gerakan fundamentalisme JI, juga dapat dilihat dari teori perlawanan (oppositionalism) atau teori perjuangan (fight) yang melihat fundamentalisme dari lima cirri perlawanan. Pertama, fight back; perlawanan dilakukan terhadap kelompok yang mengancam keberadaan atau identitas yang menjadi taruhan hidupnya. Kedua, figh for; berjuang untuk menegakkan citacita yang mencakup persoalan hidup secara umum, seperti keluarga dan istitusi lainnya. Ketiga, fight with; berjuang dengan kerangka nilai atau identitas tertentu yang diambil dari warisan masa lalu maupun konstruksi baru. Keempat, faight against; berjuang melawan musuh-musuh tertentu yang muncul dalam bentuk komunitas atau tata sosial keagamaan yang dipandang menyimpang. Kelima, fight under; berjuang atas nama tuhan atau ide-ide yang lain. C. Antara jama’ati Islami dan Jama’ah Islamiyah ( JI ) Ada problem terminologi yang perlu ditegaskan terlebih dahulu, yaitu antara Jama’ati Islam dan Jama’ah Islamiyah. Adapun Jama’ati Islami didirikan oleh Abul A’la Al-Maududi pada tahun 1940 sekaligus ia dipilih sebagai ketuanya hingga tahun 1972. Pada tahun 1947 , waktu dua negara anak benua India itu didirikan-Pakistan dan India-Jama’at juga terbagi dua Jama’at-I Islam India dan Jama’at-I Islam Pakistan, ia memusatkan perhatiannya untuk mendirikan suatu negara Islam dan masyarakat Islam yang sebenarnya dinegeri itu. Profesinya dimulai dari jurnalis, editor surat kabar Taj, pimred surat kabar Muslim (1921-1923), kemudian Aljam’iyat (1925-1928) dua surat kabar yang diterbitkan oleh jam’iyat-I ulama-I Hind, organisasi ulama-ulama muslim. Sedangkan Jama’ah Islamiyah (JI) adalah organisasi yang dibentuk oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada 1994 atau 1995, tidak untuk dirancukan dengan istilah umum Jama’ah Islamiyah yang artinya hanya "komunitas Islami". Organisasi tersebut secara resmi dimasukkan dalam daftar organisasi teroris di PBB pada 23 Oktober 2002. Menurut Mustofa Alsayyid, disinilah nampak sisi pandang yang berbeda tentang definisi terorisme yang dipahami oleh barat (AS) dan orang Islam. Orang arab (Islam), sudah mempelajari bahwa terorisme itu tidak bisa dikalahkan dengan bersandar pada kekuatan militer. Konversi, pemaksaan dari bangsa lain adalah asing bagi Islam. Bahkan perkembangan dukungan masa depan terhadap perlawanan terorisme itu sendiri akan menjadi sulit. Abdullah Sungkar ikut mendirikan Pondok Ngruki (Pesantren al-Mukmin) di pinggiran Solo, Jawa tengah dan Pesantren Luqmanul Hakiem di Johor, Malaysia. Lahir 1937 pada keluarga ternama pedagang batik keturunan Yaman di Solo. Ditahan sesaat tahun 1977 karena mendorong golput, kemudian ditangkap bersamaa Abu Bakar Ba'asyir pada 1978 atas tuduhan subversi karena diduga terlibat Komando Jihad/Darul Islam. Lari ke Malaysia 1985, mendirikan JI disana, wafat di Indonesia November 1999. Serangan tanggal 12 Oktober 2002 di Bali yang menewaskan hampir 200 orang merupakan rangkaian peristiwa peledakan bom di Indonesia dan Filipina yang paling dahsyat yang diduga dilakukan Jama’ah Islamiyah (JI). JI, sebuah organisasi yang didirikan di Malaysia oleh warga Indonesia yang terkait al-Qaeda. JI memiliki jaringan pendukung diseluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina Selatan. JI juga diduga telah mengadakan kontak dengan organisasi Muslim di Thailand dan Burma. Pun negara kaya minyak Brunei boleh jadi sudah diliriknya sebagai sumber dukungan atau tempat pelarian. Laporan ini merupakan lanjutan dari laporan ICG bulan Agustus 2002, yang mengkaji asal-usul sejarah dan intelektual dari orangorang yang terkait JI. Melihat luasnya jaringan JI seperti itu, maka pertemuan antara kecenderungan terorisme internasional dan domestik, menurut Bruce Hoffman merupakan alasan yang mendorong pertumbuhan teroris sangat variatif dan komplek. Disamping faktor secara umum adalah; termotifasi oleh bentuk perintah agama, meningkatnya kemampuan dan wewenang teroris itu sendiri ikut mendorong pada bentuk professional. Terorisme karena motivasi agama lebih besar volumenya daripada motivasi etnis, nasionalisme, sparatisme ataupun idiologi. Implikasi motivasi seperti ini sebagaimana ditunjukkan oleh gerakan kaum syi’ah. Laporan ICG tersebut diatas, juga memusatkan pada gerakan Darul Islam di Indonesia pada tahun 1950an serta peran sentral dari sebuah pesantren di Solo, Jawa Tengah, bernama Pondok Ngruki, berikut kedua pendirinya, yakni almarhum Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Bagaimana tepatnya struktur dan organisasi JI di Indonesia masih jadi hal yang belum jelas. Pada bulan-bulan berikutnya, banyak hal yang diterbitkan mengenai JI, sebagian besar berdasarkan sumber-sumber intelijen regional. Pada Oktober 2002, Wakil Singapura di PBB, Kishore Mahbubani, secara resmi mengajukan permintaan kepada komite yang didirikan sesuai Resolusi Dewan Keamanan nomor 1267, untuk menempatkan Jama’ah Islamiyah pada daftar organisasi teroris yang terkait al-Qaeda. Menurut pemerintah Singapura, JI: Merupakan organisasi teroris regional yang bekerja secara rahasia, dibentuk oleh mendiang ulama warga Indonesia Abdullah Sungkar. Setelah kematiannya, kedudukan amir JI dipegang oleh seorang warga Indonesia, yaitu Abu Bakar Ba’asyir. JI bertujuan mendirikan negara Islam diseantero Asia Tenggara, dengan menggunakan cara-cara teroris dan revolusi. Organisasi JI terdiri dari empat distrik atau wilayah (mantiqi) yang masing-masing terdiri dari beberapa ranting (wakalah). JI Singapura merupakan jaringan tingkat wakalah dibawah mantiqi JI Malaysia yang pernah diketuai Hambali (alias Riduan Isamuddin) hingga paruh kedua tahun 2001. Kepemimpinan mantiqi Malaysia kemudian dialihkan setelah Hambali dicari oleh pihak berwajib Malaysia sehubungan dengan tindak kekerasan yang dilakukan Kumpulan Militant Malaysia (KMM). Selanjutnya kepemimpinan mantiqi Malaysia diambil alih oleh seorang ustaz bernama Mukhlas. D. Relasi JI dengan DI, DII, MMI dan GAM Sejak tahun 1970an, Abdullah Sungkar sudah mengisyaratkan perlunya organisasi baru yang dapat bekerja lebih efektif guna mencapai sebuah negara Islam, dan organisasi tersebut ia namakan Jamaah Islamiyah. Unsur-unsur kuncinya adalah perekrutan, pendidikan, ketaatan, dan jihad. Namun terjadi perselisihan dan debat didalam gerakan Darul Islam (DI) mengenai siapa yang layak memimpin organisasi tersebut dan tempatnya didalam gerakan secara lebih umum. JI yang dibentuk di Malaysia mengikuti perselisihan didalam kepemimpinan Darul Islam ketika Sungkar berpisah dengan seorang pemimpin DI yang berkedudukan di Indonesia bernama Ajengan Masduki. Tampaknya, organisasi JI yang baru, memiliki struktur jauh lebih rapat ketimbang yang lain dimana ia pernah terlibat di masa lalu. Organisasi JI tersebut merupakan jelmaan sebuah hibrida ideologi. Ada pengaruh kuat dari kelompok Islam radikal di Mesir, dalam arti struktur organisasi, kerahasiaan, dan misi jihadnya. Gerakan Darul Islam pada yang didirikan tahun 1950an masih tetap menjadi ilham yang kuat, akan tetapi ada warna anti-Kristen yang menonjol pada ajaran-ajaran JI yang bukan ciri Darul Islam. Menurut orang-orang yang dekat dengan Abdullah Sungkar, hal itu akibat hubungan masa lalunya dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), yang oleh seorang ilmuwan disebut “memiliki obsesi hampir paranoid, yang melihat upaya-upaya misionaris Kristen sebagai ancaman terhadap Islam, serta orientasi yang kian kuat kepada Timur Tengah, terutama Arab

Saudi”. Seorang murid Sungkar menuturkan bahwa ia kerap membandingkan perjuangan kaum Muslimin di Indonesia dengan perjuangan Rasul di Mekkah. Seperti Rasul, yang harus menganut strategi perjuangan diam-diam, maka setiap upaya untuk berjuang secara terbuka menegakan sebuah negara Islam bakal ditumpas oleh musuh-musuh Islam. Ajaran Sungkar disebarkan tidak saja melalui JI tetapi juga pada pesantren yang turut didirikannya di Malaysia bernama Pondok Pesantren Luqmanul Hakiem di Johor. Amrozi, pelaku pada kasus bom Bali, pernah menjadi siswa pada sekolah ini. Dalam berita acara pemeriksaannya, Abu Bakar Ba’asyir berkata bahwa pihak berwajib di Malaysia menuduh persantren tersebut memiliki orientasi Wahabi. Ketika Abdullah Sungkar wafat pada November 1999, tak lama setelah ia kembali ke Indonesia, Ba’asyir menggantikannya sebagai ketua JI. Akan tetapi banyak anak buah Sungkar yang direkrut di Indonesia, terutama kaum pemuda yang lebih militan, sangat tidak puas dengan peralihan kepemimpinan ke tangan Ba’asyir. Kelompok yang lebih muda tersebut diantaranya termasuk Riduan Isamuddin alias Hambali; Abdul Aziz alias Imam Samudra, yang ditangkap di Jawa Barat pada 21 November 2002; Ali Gufron alias Muchlas (kakak Amrozi, seorang pelaku kunci dalam kasus bom Bali, yang tertangkap pada 3 December); dan Abdullah Anshori, alias Abu Fatih. Mereka menganggap Ba’asyir terlalu lemah, terlalu bersikap akomodatif, serta terlalu mudah dipengaruhi orang lain. Menurut Magnus Rastorp, disininah terlihat betapa pentingnya peran dari pemimpin rohani dalam organisasi teroris Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh peran Syekh Umar Abdurrahman Mesir dalam fatwanya untuk membantai Anwar Sadat dan memusuhi orang barat yang berada di Mesir. Perpecahan tersebut kian memburuk ketika Ba’asyir bersama Irfan Awwas Suryahardy dan Mursalin Dahlan, keduanya aktivis Muslim dan mantan tahanan politik, mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada Agustus 2000. Menurut kaum radikal, konsep MMI telah menyimpang dari ajaran-ajaran Abdullah Sungkar. Misalnya, mereka menganggap hal itu merupakan pengkhianatan terhadap ijtihad politik atau analisa politik Sungkar agar JI tetap bekerja di bawah tanah hingga muncul saat yang tepat untuk menegakkan negara Islam. Tapi, Abu Bakar Ba’asyir berdalih bahwa keterbukaan yang terjadi pasca Soeharto membuka peluang-peluang baru; jika peluang tersebut tidak diraih, maka hal itu bukan saja langkah yang salah, bahkan sebuah dosa. Kaum radikal membantah bahwa sistim politik mungkin saja lebih terbuka saat ini, namun masih dikuasai kaum kafir. Mereka gundah karena MMI menyambut baik wakil-wakil dari partai politik Muslim yang berupaya mendirikan syariah Islam, karena menurut ajaran Sungkar, setiap akomodasi yang diberikan terhadap sistim politik yang non Islam dapat mencemari umat yang taat, dan hal itu dilarang. Bagi para pengikut Sungkar, adalah hal yang haram ketika Fuad Amsyari, sekretaris MMI mengusulkan perjuangan menegakan syariat Islam sebaiknya melalui jalur parlemen seperti DPR serta pemilihan calon dari partai Islam ketimbang menjadi golput pada pemilihan umum. Kemarahan kaum radikal bertambah ketika Ba’asyir menggugat pemerintah Singapura pada awal tahun ini, karena hal itu berarti seolah-olah mengakui legitimasi dari sebuah sistim hukum yang non Islam. Falsafah yang dianut kaum radikal tersebut dapat di peroleh dari situs internet yang disampaikan Imam Samudra kepada para wartawan. Situs ini mencerminkan gagasan-gagasan dibalik perjuangan JI. Pasca pengakuan Omar Al-Faruq yang kemudian dimuat Time edisi September 2002, terjadi pertemuan antara MMI dengan JI. MMI menyampaikan pandangan Abu Bakar Ba’asir yang melihat aksi perjuangan bersenjata seperti peledakan bom sebaiknya ditunda. Pasalnya, itu akan memberikan dampak negatif bagi gerakan Islam. Kaitan-kaitan serta afiliasi JI di seluruh Sumatera boleh jadi lebih rumit daripada di daerah lain di Indonesia. Di Aceh terjadi persilangan kepentingan dengan oknum-oknum dan organisasi yang sudah lama dihubungkan dengan intelijen Indonesia. Cukup memandang peta untuk melihat bagaimana Sumatera menjadi persimpangan jalan bagi orang-orang yang berlalu lalang dari dan menuju semenanjung Malaysia. Posisi strategis Aceh seperti itu menurut Samantha dijadikan barometer bagi Indonesia masa sekarang maupun dekade berikutnya. Reformasi Indonesia dapat meminta kembali posisinya sebagai pemimpin bagian Asia tenggara. Karenanya, Indonesia harus bisa menyediakan suatu contoh bahwa demokrasi dan Islam tidak berselisih. Pulau Batam dilepas pantai Singapura merupakan tempat berlindung yang aman bagi kegiatan penyelundup. Disana juga banyak orang Aceh menjual ganja dengan imbalan berbagai barang, termasuk senjata. Lampung, teleh jadi basis gerakan Darul Islam yang kuat sejak 1970an. Gerakan ini sempat dipimpin Abdul Qadir Baraja, seorang guru Pondok Ngruki dan rekan dekat Abu Bakar Ba’asyir, yang ikut hadir pada kongres pendirian Majelis Mujahidin Indonesia. Way Jepara di Lampung juga merupakan lokasi dari apa yang disebut sekolah satelit Pondok Ngruki, yang pada tahun 1989 menjadi titik pusat sebuah benturan berdarah antara warga pesantren dengan TNI. Aceh merupakan sumber pasokan senjata dan bahan peledak karena konflik separatis yang terjadi disana. Juga terdapat jalur yang kerap digunakan dari Aceh melalui Batam menuju Singapura dan melalui Medan dan Riau menuju Malaysia, bagi pertukaran orang maupun uang. Lebih penting lagi, anehnya Aceh merupakan tempat persilangan kepentingan JI dan pihak militer Indonesia karena keduanya menentang GAM. Secara historis, kaitan JI dengan Aceh ini dapat dilihat dari anggapa JI terhadap aksi pemberontakan Darul Islam yang terjadi di daerah itu (1953-1962) dan melalui pemimpinnya Teungku Daud Beureueh dan rekan-rekannya. Tak seperti pemimpin gerakan Darul Islam di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, Beureueh diizinkan menjalani kembali kehidupan sipil setelah penyerahannya dan hingga wafatnya pada tahun 1987 masih tetap merupakan tokoh yang dihormati di Aceh. Semua orang Aceh sama memandang Beureueh sebagai pahlawan. Akan tetapi jika GAM melihatnya sebagai perintis gerakan kemerdekaan Aceh, maka pemimpin JI menganggapnya sebagai pembela negara Islam. Anggota gerakan Darul Islam menganggap pemimpin gerakan di Jawa Barat, Sekarmadji Kartosuwirjo, sebagai imam pertama dari Negara Islam Indonesia (NII). Menjelang kematiannya pada 1962, Kartosuwirjo dilaporkan menunjuk Daud Beureueh sebagai imam kedua NII. Belakangan, Daud Beureueh disebut-sebut menunjuk Abu Hasbi Geudong, seorang Aceh yang bertempur disampingnya sebagai penggantinya. Putera Abi Hasbi Geudong, Teungku Fauzi Hasbi, seorang pembelot dari GAM yang dianggap pengkhianat oleh pimpinan GAM saat ini, membagi waktunya antara Medan, Jakarta, dan Kuala Lumpur dan secara reguler bertemu dengan pimpinan Jama’ah Islamiyah di Malaysia. Menurut penuturannya, ia menganggap Hambali bagaikan puteranya sendiri. Yang lebih aneh lagi bagi seseorang yang memiliki kaitan dengan pimpinan JI, ia pun pernah dekat dengan Kopassus sejak ia pertama kali menyerahkan diri di tahun 1977 kepada perwira Kopassus saat itu, Letnan Satu Syafrie Sjamsuddin – kini Mayor Jenderal Syafrie Syamsuddin, Kapuspen Mabes TNI. E. Strategi dan Aksi Bom Malam Natal: realitas fundamentalisme Menurut salah seorang yang dekat dengan orang-orang yang mengambil bagian dalam kamp pelatihan di Pandeglang, yang dikelola pelaku bom Bali Imam Samudra di Banten pada 2001, perekrutan untuk mujahid Poso dan Ambon berlangsung sebagai berikut; Seorang anggota kelompok Samudra memulai pembicaraan dengan siswa-siswa dari madrasah aliyah negeri. Madrasah tersebut lokasinya bisa didalam pesantren atau bisa juga terpisah. Siswa-siswa diundang hadir pada pertemuan dimana si pembahas memperlihatkan CD video tentang perang di Ambon dan Poso yang dibuat KOMPAK, organisasi yang berafiliasi dengan para mujahidin. Biasanya video tersebut berhasil memancing kemarahan besar pada orang yang melihatnya karena kebrutalan dan tindakan tidak berperikemanusiaan yang diperlihatkan pihak Kristen. Para penonton kemudian diundang kembali untuk mengikuti kelompok pengajian yang disebut halaqah. Disebut demikian sebab pengajian melibatkan sejumlah kecil peserta yang duduk dalam lingkaran (halaqah). Disana mereka mempelajari kaidah pokok pada ajaran Sungkar – iman, hijrah, dan jihad – dengan pandangan kepada ajaran Wahabi yang kental. Siswa-siswa yang mengikuti pelatihan diajarkan pengertian-pengertian rumusan, misalnya bahwa yang paling perlu ditakuti umat Muslim adalah pemerintahan yang diperbudak para kafir. Berulang kali ditekankan bahwa keadaan dunia saat ini bagaikan zaman jahilyah yang melanda Mekkah sebelum Islam diterima luas dan ketika umat Muslim dianiaya. Para mentor menekankan perlunya membersihkan iman dari syirik. Menurut Hoffman, pola terorisme masa depan memiliki kecenderungan menggunakan system senjata pemusnah masal (WMD: weapon of mass destruction) dan senjata nuklir (SNM: strategic nuclear material ). Kebanyakan terorisme juga menggunakan perencanaan serangan yang hati-hati, dengan penuh pertimbangan, dan tindakan teroris secara rinci dirancang untuk mengkomunikasikan suatu pesan. Meskipun JI belum pada tingkatan sebagaimana gambaran tersebut, aksi bom malam natal dengan tingkat profesionalisme yang lebih kecil dibandingka aksi bom Bali, namun peristiwa bom malam Natal pada Desember 2000 itu penting untuk dikaji sebagai contoh tentang luasnya aksi jangkauan jaringan JI. Polisi juga menyimpulkan dan bahwa motivasinya adalah untuk menimbulkan teror diantara umat Kristen. Namun demikian, dalam penyelidikan yang dilakukan jurnalis dari majalah mingguan Tempo, diisyaratkan bahwa motivasinya adalah membalas umat Kristen atas pembunuhan terhadap umat Muslim. Keduanya ada benarnya, akan tetapi pada saat itu tidak terbersit di benak orang, kaitan antara peledakan bom malam Natal dengan Jama’ah Islamiyah atau jaringan disekitar Pondok Ngruki. F. Penutup Fenomena fundamentalisme dan radikalisme setidaknya dapat dilihat dalam kasus gerakan Jama’ah Islamiyah (JI) Indonesia. Terlepas apakah JI memiliki keterkaitan dengan Alqaedah pimpinan Usama bin Laden atau tidak, yang jelas jaringan JI bergerak tidak di Indonesia saja, tetapi juga memiliki afiliasi dikawasan Malaysia, Singapura dan Filipina Selatan, bahkan mungkin sampai ke Thailand, Burma dan Brunei.

JI diyakini didirikan oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada sekitar tahun 1994/ 1995 untuk tujuan mendirikan sebuah negara Islam. JI merupakan jelmaan sebuah hibrida ideology, diilhami oleh berbagai gerakan lainnya semisal kelompok Islam radikal mesir, gerakan Darul Islam (DI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dimana gerakan-gerakan ini memandang upaya misionaris Kristen sebagai ancaman terhadap Islam. Ajaran Sungkar tidak saja disebarkan melalui JI, tetapi juga pada pesantrennya yang bernama Luqmanul Hakim di Johor Malaysia. Abdullah Sungkar ikut mendirikan Pondok Ngruki (pesantren Almukmin) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Setelah Sungkar wafat, maka Ba’asyir menggantikan posisinya sebagai ketua JI. Reaksi kaum muda JI yang militan semisal Hambali dan Imam Samudra, Ali Ghufron, Abu Fatih dll menilai Ba’asyir terlalu lemah, terlalu akomodatip dan mudah dipengaruhi orang lain, tidak setuju dengan aksi bersenjata serta peledakkan bom. Akibatnya mereka sering tidak memperdulikan Ba’syir dan pada puncak perselisihannya, ketika Ba’syir mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang mereka nilai sebagai pengkhianatan ijtihad politik dimana JI seharusnya bekerja dan beroperasi “dibawah tanah” hingga muncul saat yang tepat untuk menegakkan negara Islam. JI tampaknya beroperasi dengan menggunakan system sel dengan struktur organisasi yang khusus dan longgar. Para pemikir utamanya adalah pengikut setia almarhum Abdullah Sungkar. Sebagian besar dari mereka warganegara Indonesia yang menetap di Malaysia, serta para veteran perang Afganistan dan alumni latihan militer di Afganistan pasca Soviet jatuh. Lapis keduanya adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang sama. Mereka ditugaskan jadi koordinator di lapangan, dan bertanggungjawab atas pengiriman uang dan bahan peledak, serta merekrut orang-orang setempat untuk dibawahinya selaku pemimpin tim dari para operator lapangan. Lapis paling bawah, yaitu orang-orang yang mengendarai mobil, mengintai sasaran, menempatkan bom. Merekalah yang paling sering menghadapi bahaya penangkapan, cidera fisik, atau kematian. Umumnya mereka dipilih beberapa saat sebelum serangan dilakukan. Kebanyakan orang-orang ini adalah pemuda dari pesantren atau madrasah. Sekolah-sekolah yang menyediakan orang tersebut seringkali dipimpin oleh guru agama yang terkait gerakan Darul Islam tahun 1950an, atau dengan Pondok Ngruki. Hingga sebelum peristiwa serangan Bali, motivasi dibalik peledakan bom tampaknya merupakan pembalasan atas pembantaian terhadap umat Muslim oleh orang Kristen di Indonesia – di Maluku, Maluku Utara, dan Poso (Sulawesi Tengah) dimana pernah meletus konflik massal di tahun 1999 dan 2000. Dengan sejumlah kecil pengecualian, seperti serangan terhadap rumah kediaman Duta Besar Filipina di Jakarta pada Agustus 2000, sebagian besar sasaran adalah gereja dan pendeta. Seringkali proses perekrutan didahului diskusi soal Maluku dan Poso. Diskusi itu biasanya disertai tayangan video tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di daerah-daerah itu. Konflik-konflik tersebut tidak saja memberi arti yang kongkret terhadap konsep jihad, yang merupakan unsur kunci dalam ideologi JI, namun juga merupakan tempat yang mudah dicapai bagi orang-orang yang direkrut untuk menimba pengalaman praktis dalam berperang. Perang terhadap terorisme yang dipimpin AS kini tampaknya menggantikan Maluku dan Poso sebagai obyek kemarahan JI. Apalagi setelah konflik disana mulai mereda. Orang-orang Barat di Bali dijadikan sasaran baru serangan JI. Peristiwa ini bisa jadi petunjuk adanya pergeseran serangan dari orang Kristen kepada orang Barat. Daftar Pusaka Abdul Aziz (ed), Gerakan Islam Kontemporer di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996) Achmad jainuri dkk, Terrorisme dan Fundamentalisme Agama, sebuah tafsir sosial, ( Malang:Bayu Media, 2003) Ali Rahnema, Pioner of Islamic Reval,Terj. Ilyas Hasan, Para perintis zaman baru Islam, (Bandung: Mizan, 1995) Bruce Hoffman, The confluence of international and domestic trends in terorism, http://. WWW. Cionet. Org/ wps/hob01. David Zeidan, The Islamic fundamentalist view of life as a perennial battle, Middle East Review of International Affairs, vol. 5, (December, 2001) H.A. Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, (Bandung: Mizan, 1996) Hasil Interogasi Terhadap Tersangka M. Rozi al. Amrozi al. Chairul Anom sampai dengan jam Tanggal 6 Nopember 2002,” hal.2 http://www.intl-crisisgroup.org/projects/asia/Indonesia/reports/A400969_11122002.pdf ICG Indonesia Briefing, Al-Qaeda in Southeast Asia: The Case of the “Ngruki Network” in ndonesia, 8 Agustus 2002. ICG, Bagaimana jaringan terorisme Jama’ah Islamiyah beroperasi:http://www.intl-crisis-group.org/projects/asia/Indonesia/reports/A400969_11122002.pdf Kementerian Luar Negeri Singapura,“MFA Press Statement on the Request for Addition of Jama’ah Islamiah to List of Terorists Maintained by the UN”, 23 Oktober 2002. Magnus Ranstorp, terrorism in the name of religion, http://www.Cionet. Org/wps/ram01/ Martin van Bruinessen, “Geneaologies of Islamic Radicalism in Post-Suharto Indonesia”, ISIM dan Utrecht University, 2002, hal.3. Lihat www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal. Muhamad Nursalim, Faksi Abdullah Sungkar Dalam Gerakan NII Era Orde Baru, sebuah tesis S2 Universitas Muhammadiyah Solo, 2001. Muhammad Thahhan, Tahaddiyaat Siyasah Tuwajih Al-Harakah Al-Islamiyah, terj.Rekonstruksi pemikiran Islam menuju gerakan Islam Modern , Solo: Era Intermeda, 1997. Mustafa Alsayyid, Mixed message: the arab and muslim response to terrorism, CSIS, The Washington Quarterly, spring 2002. New Picture Emerges of Militant Network in Southeast Asia – Jama’ah Islamiyah Aided al-Qaeda But Has Own Agenda: Islamic State,” Asian Wall Street Journal, 9 Agustus 2002 Samantha F Ravich, Eyeing Indonesia though the lens of Aceh, CSIS, The Washington Quarterly, spring 2002. -------------The Modern Terrorist Mindset: Tactics, targets and technologies. http://www. Cionet.org/wps/hob03. Wawancara ICG, Jakarta, 25, 27, 28 November 2002.Wawancara ICG, Solo, 26 November 2002,Wawancara ICG, Surabaya, 7 dan 9 November 2002. Yusuf Qardhawy, Aulawiyat alharakah alIslamiyah filmarhalah alqadimah, ter. Najiyullah: Prioritas Gerakan Islam antisipasi masa depan gerakan Islam, Jakarta: Al-Islahy Press, 1993 Jan Pakulski, social movement and class: The decline of the Marxist paradigm dalam Louis Maheu (ed), social movement social classes: the paradigm of collective action, London: Sage, 1995 . Efendi, Prasetyo, Radikalisme Agama, Jakarta: PPIM- IAIN, 1999. Surat kabar/ majalah 15 Menit Bersama Imam Samudra”,Kompas, 5 December 2002. Aziz Masyhuri Yakin Tidak Ada JI di Indonesia, TEMPO Interaktif, 4 Nov 2002 Cerita dari Mosaik Bomb Natal, Tempo, 25 Februari 2001 Confessions of an al-Qaeda Terorist”, Time, 23 September 2002. Dian Intannia, “Ba’asyir Restui Bom Natal”, detik.com, 29 Oktober 2002. Kita Diserang, Majalah Sabili,Edisi Tahun 2002 Putuskan Hubungan dengan Australia. Jawa Pos, Selasa. 05 Nov 2002 Tak Jelas, Relasi Agama-Negara dalam Islam,KOMPAS, Senin, 4 November 2002 Tony Lopez “What is JI?” Manila Times, 1 November 2002. Lampiran A DAFTAR SEBAGIAN KASUS BOM DI INDONESIA YANG DITUDUHKAN KEPADA JAMA’AH ISLAMIYAH (Daftar ini tidak termasuk peristiwa bom di Maluku atau Poso ) I. Mesjid Istiqlal, Jakarta 19 April 1999 II. Rumah kediaman Duta Besar Filipina, Jakarta, 1 Agustus 2000 (Ledakan ini menewaskan dua orang. Fathur Rahman al-Gozi, Abdul Jabar termasuk yang diduga bertanggung jawab.) III. Bom Malam Natal, 24 December 2000

1. Jakarta a. Bom Katedral Jakarta, Lapangan Banteng. meledak antara pukul 8:55 dan 9:10 malam hari. Bom diletakkan kurang lebih dua meter disebelah kanan pintu masuk gereja, tampaknya dibawah mobil. Menimbulkan asap biru-putih dan tidak meningggalkan banyak bekas. Tim forensik polisi menemukan bom lain seberat 8 kg yang tidak meledak yang diletakkan dilantai dekat pintu depan gereja. Bom dilengkapi jam weker sebagai alat pengatur waktu. b. Gereja Kanisius, Jl.Menteng Raya, dua ledakan antara pukul 8:45 dan 8:50 malam hari yang melukai lima orang. Ledakan pertama menimbulkan asap hitam pekat, yang kedua meledak dengan api merah.Ledakan terjadi usai misa pertama. c. Gereja Santo Yosef, Jl Matraman Raya No.129. Bom meledak pukul 8:55 malam. Timbul asap putih yang berubah menjadi asap hitam yang sangat pekat. Bahan peledak mengandung serpihan logam yang melukai sejumlah besar orang. Empat orang tewas, delapanbelas luka-luka, berikut kerusakan fisik yang cukup besar: empatbelas mobil, satu warung makan, satu gerobak pedagang tahu, dan satu halte bis. Bom meledak dibawah pohon dekat pintu belakang sekitar 20 meter dari susteran arsudirini. Jenis bom tidak pernah terungkap. d. Gereja Kristen Protestan Oikumene, Jl. Komodor, Halim Perdanakusuma. Bom meledak pukul 9:10 malam ketika berlangsung misa, melukai seorang anak perempuan berusia empat tahun. Tidak jelas dimana bom diletakkan namun asap dari ledakan masuk gereja dari bawah pintu utama dan dari jendela yang pecah terkena peluru senapan angin (tidak jelas kapan terjadi). Bom meninggalkan lubang dengan kedalaman 5 sentimeter dan lebar 45 sentimeter. Satu mobil hancur, tiga lagi rusak. e. Gereja Koinonia, Jatinegara. Bom meledak antara pukul 7:15 dan 7:45 petang. Saat itu gereja dijaga dua petugas polisi dari Polres, satu bernama Sersan Cipto. Tempat sepi kecuali ada beberapa penjual, sebuah mobil yang diparkir dan dua penjaja rokok dimuka gereja. Bom diletakkan di sebuah Mikrolet dengan nomor pelat B2955W, yang tidak berpenumpang. Pengemudi tewas, dan seorang wanita bernama Sumiati Tampubolon terluka. Jenis bom tidak pernah terungkap, namun meninggalkan asap kelabu pekat dan lubang dengan lebar 70 sentimeter. f. Gereja Anglican, Jl. Arif Rahman Hakim, Menteng 2. Bekasi Gereja Protestan, Jl Gunung Gede Raya. Bom meledak sekitar pukul 9.05 malam. Dua bom lainnya dapat dijinakkan oleh regu Gegana polisi Bekasi. Ketiganya ditanam dibawah tanah pada halaman yang berfungsi sebagai tempat parkir. Bom yang mengandung peluru angin ditempatkan didalam kotak dan dibungkus kantong plastik hitam, kemudian diletakkan didalam lubang dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter dan lebar 50 sentimeter. Lubang kemudian ditutup batu dan sampah. Sebuah pager digunakan sebagai alat pengatur waktu. Peluru angin tersebut melukai tiga orang dijalanan. 3. Bandung Bom meledak di sebuah ruko di Jl. Terusan Jakarta, Cicadas, Antapani sekitar pukul 3:00 sore dan menewaskan tiga pelaku bom. 4. Sukabumi a. Gereja Sidang Kristus, Jl. Alun-Alun Utara. Bom meledak sekitar pukul 9:10 malam. b. Gereja Huria Kristen Batak Protestan di Jl. Otista 5. Ciamis Jl Pantai Pengandaran dimuka Hotel Surya Kencana, Dusun Banuasin RT 09/04 Kec. Pangandaran, Kab. Ciamis. Meledak sebelum waktunya sekitar pukul 6:20 petang. 6. Pekanbaru a. Gereja HKBP di Jl. Hang Tuah b. Gereja di Jl. Sidomulyo c. Gereja ketiga, di Jl. Ahmad Dahlan, Gg Horas, Kel. Kedungsari, Sukajadi, dijadikan sasaran untuk 28 December 2002, bukan Natal. 7. Batam a. Gereja Protestan, Simalungun (GKPS) Sei Panas b. Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bethany, My Mart Carnival Mall c. Gereja Pantekosta Indonesia, di Jl. Pelita d. Gereja Santo Beato, Damian, Bengkong 8. Medan a. Gereja Protestan Indonesia, Jl. Sriwijaya b. GKPS Stadion Teladan c. Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII) Hasanudin d. GKII Sisingmanagaraja e. Gereja HKBP Sudirman f Gereja Santo Paulus, Jl HM Joni g. Gereja Katedral, Jl. Pemuda h. Gereja Kristus Raja, Jl. MT Haryono i. Kediaman Pastor James Hood, Jl. Merapi j. Kediaman Pastor Oloan Pasaribu, Jl. Sriwijaya k. Rumah pendeta Katolik, Jl. Hayam Wuruk 9. Pematang siantar a. Kediaman pastor Elisman Sibayak, Jl. Kasuari b. Gereja HKBP Damai, Jl. Asahan c. Kediaman seorang pastor di Gereja Kalam Kudus, Jl. Supomo d. Gedung tidak dikenal di Jl. Merdeka 10. Mojokerto a. Gereja Santo Yoseph, Jl. Pemuda. Bom meledak pukul 8:30. b. Gereja Kristen Allah Baik, Jl. Cokroaminoto. Ledakan terjadi sekitar pukul 8:30 malam. c. Gereja Kristen Ebinezer Church, Jl. Kartini, Gg I 4. Gereja Bethany, Jl Pemuda 11. Mataram a. Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Imanuel, Jl Bung Karno. Bom meledak sekitar pukul 10:05. Bom diletakkan dimuka rumah pastor, dibelakang gereja pada sisi timur dekat tanah kosong. Bom kedua dijinakkan polisi. Bom pertama menghasilkan bau mesiu dan asap hitam selama kurang lebih 30 menit. Meninggalkan lubang selebar limabelas sentimeter. 2. Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Betlehem, Jl. Pemuda. Tidak seorangpun berada ditempat ketika bom meledak. Bom pertama meledak dekat pojok depan gereja; yang kedua dekat tanah kosong dibagian timur kompleks gereja. 3. Pemakaman Kristen, Kapiten, Ampenan. Bom meledak sekitar pukul 10:05 malam. IV. Peledakan Gereja HKBP dan Gereja Santa Ana, Jakarta, 22 Juli 2001 V. Bom Mal Atrium, Jakarta, 1 Agustus 2001. VII. Gereja Petra, Jakarta Utara, 9 November 2001 VIII. Ledakan Granat dekat Gudang Kedutaan AS, Jakarta, 23 September 2002. VIII. Sari Club dan Paddy’s Café, Bali, 12 Oktober 2002 menewaskan hampir 200 orang.

Lampiran B INDEKS NAMA DAN ORGANISASI /PERAN Ayman al-Zawaheri, dokter asal Mesir yang dituduh terlibat komplotan membunuh Anwar Sadat, kini diyakini menjadi wakil Osama bin Laden pada al-Qaeda. Ia dilaporkan mengunjungi Aceh di 2000, didampingi Omar al-Faruq. Abdul Aziz alias Imam Samudra. pelaku utama kasus Bom Bali, ditangkap 21 November 2002. Lahir di Serang, Banten, lulus dengan predikat salah satu lulusan terbaik tahun 1990 dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I di Serang. Pada 1988, ia menjadi ketua HOSMA (Himpunan Osis Madrasah Aliyah). Terkenal dalam himpunan tersebut sebagai aktivis agama dan mengalami radikalisasi berkat salah satu guru pada madrasahnya, bekas pimpinan Darul Islam Kyai Saleh As'ad. Abdul Aziz berangkat ke Malaysia di 1990. Orang tuanya, Ahmad Sihabudin dan Embay Badriyah, merupakan pengikut PERSIS. Abdul Qadir Baraja. Lahir 10 Agustus 1944 di Taliwong, Sumbawa, bekas ketua Darul Islam-Lampung di 1970an, bekas pengajar di Pondok Ngruki. Ditangkap dua kali, sekali pada Januari 1979 sehubungan Teror Warman, menjalani masa penjara tiga tahun, kemudian ditangkap dan divonis tigabelas tahun sehubungan ledakan bom di Jawa Timur dan Borobudur pada awal 1985. Mendirikan Khilafatul Muslimin, organisasi yang bertujuan memulihkan kembali kalifah Islam pada 1997. Ikut mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia Agustus 2000 tetapi tidak aktif pada MMI. Abdul Rauf alias Sam bin Jahruddin. pelaku bom Bali, anggota sel JI bersama Imam Samudra. Lahir di Cipodoh, Tangerang, Jawa Barat pada tahun 1981; ia bertemu Abdul Aziz alias Imam Samudra tahun 2001 di Bandung melalui seorang kawan bersama. Ketika itu Rauf mengikuti kursus jurnalis, akan tetapi pernah hadir di Pondok Ngruki dari 1992 hingga 1997. Diduga ikut merakit bom Bali. Abdullah Sungkar, ikut mendirikan Pondok Ngruki (Pesantren al-Mukmin) di pinggiran Solo, Jawa tengah dan Pesantren Luqmanul Hakiem di Johor, Malaysia. Lahir 1937 pada keluarga ternama pedagang batik keturunan Yaman di Solo. Ditahan sesaat tahun 1977 karena mendorong golput, kemudian ditangkap bersamaa Abu Bakar Ba'asyir pada 1978 atas tuduhan subversi karena diduga terlibat Komando Jihad/Darul Islam. Lari ke Malaysia 1985, mendirikan Jama’ah Islamiyah sekitar 1995, wafat di Indonesia November 1999. Abdurrahman, alias yang digunakan Abdul Aziz alias Imam Samudra pada kasus bom Batam December 2001. Abu Bakar Ba’asyir. Ikut mendirikan Pondok Ngruki bersama Abdullah Sungkar, aktif dalam organisasi al-Irsyad, lahir 1938 di Jombang, Jawa Timur, lari ke Malaysia 1985, kembali ke Indonesia setelah Soeharto mundur. Ikut mendirikan Robitatul Mujahidin (RM) di Malaysia akhir 1999, dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Agustus 2000. Konon menggantikan kepemimpinan Abdullah Sungkar di Jama’ah Islamiyah ketika ia wafat tahun 1999, tetapi dianggap kurang radikal oleh anggota JI. Sejak pertengahan Oktober 2002 ditahan di Jakarta atas dugaan terlibat kegiatan teroris. Abu Dzar, nama perang Haris Fadillah, komandan pasukan Laskar Mujahidin di Maluku hingga tewas nya pada 26 Oktober 2000 di Siri-Sori Islam, Saparua. Ayah mertua dari Omar alFaruq, yang ayah Mira Agustina. Ia berdarah campuran Makassar-Melayu, lahir di Labo Singkep, Riau. Abu Fatih, nama perang Abdullah Anshori alias Ibnu Thoyib, diduga salah satu pemimpin teras JI. Lari ke Malaysia Juni 1986, mengikuti Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Diduga ikut merekrut sukarelawan untuk Afghanistan. Berasal dari Pacitan, Jawa Timur, saudara kandung Abdul Rochim, guru di Ngruki. Agus Dwikarna, lahir di Makassar 11 Agustus 1964, ketua Laskar Jundullah, ditahan di Filipina Maret 2002 dan divonis karena tuduhan pemilikan bahan peledak secara tidak sah, diduga terlibat kasus bom di Manila dan Jakarta berdasarkan informasi yang diperoleh dari Fathur Rahman al-Gozi, warga Indonesia, yang juga ditahan di Filipina. Dwikarna pernah aktif di partai politik PAN, bekas anggota HMI-MPO, sayap garis keras dari HMI. Menjabat Sekretaris jenderal Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) setelah pendiriannya di Agustus 2000. Juga ketua KOMPAK cabang Makassar. KOMPAK diduga organisasi amal yang menghasilkan video tentang kejahatan yang dilakukan terhadap umat Muslim di Poso dan Ambon yang digunakan untuk keperluan merekrut anggota JI. KOMPAK-Makassar juga diduga menyalurkan senjata ke Poso. Agus Hidayat. Salah seorang tersangka bom Bali yang bekerja dengan Imam Samudra. Seperti Yudi, dia alumni madrasah di Banten. Ditangkap 25 November 2002 sehubungan perampokan toko emas di Serang, Banten. Akim Hakimuddin alias Suheb alias Asep Akim, berusia kurang lebih 30 tahun, adalah salah satu pelaku bom malam Natal di Bandung yang tewas ketika bom meledak sebelum waktunya. berasal dari Cikalang, Tasikmalaya, ia menetap di Afghanistan antara 1987 dan 1991, dari sana ia bertolak ke Malaysia, dimana ia bertemu Hambali. Akim juga menjalani dua masa bakti di Ambon selaku anggota pasukan Laskar Mujahidin antara akhir 1999 dan 2001. Ia mungkin kembali ke Jawa Barat sekitar akhir 1990an, dan bergabung dengan kelompok militan bernama Barigade Taliban yang dipimpin Kyai Zenzen Zaenal (Jainal) Muttaqin Atiq. Kyai Zenzen tampil sebagai salah satu pejabat Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) selaku anggota Ahlul Halli Wal Aqdi. Ali Gufron alias Muklas/Muchlas alias Huda bin Abdul Haq. Berasal dari Lamongan, Jawa Timur, kakak Amrozi, lulusan Pondok Ngruki tahun 1982, veteran Afghanistan, penduduk Malaysia dimana ia mengajar di pesantren Luqman al-Hakiem di Johor. Konon mengambil alih tanggung jawab operasi JI di Singapura dan Malaysia dari Hambali ketika pengejaran pihak internasional terhadap Hambali memuncak. Ali Imron, 35, adik dari Amrozi, lulusan madrasah aliyah di Karangasem, Lamongan, Jawa Timur di 1986, bergabung dengan kakak-kakaknya di Malaysia tahun 1990, menetap disana selama delapan tahun (dengan jeda selama satu tahun untuk belajar di Pakistan tahun 1995), menghadiri pesantren Luqmanul Hakiem di Johor. Sekembalinya ke Indonesia, menjadi guru pada Pondok al-Islam di Lamongan. Dia diduga yang mengemudikan minibus L 300 yang digunakan pada serangan Bali dari Lamongan ke Bali. Amrozi, 39. Ditangkap 5 November 2002 atas keterlibatan dalam komplotan Bali. Lahir 1963 di Tenggulun, Lamongan, tdak selesai sekolah madrasah, bertolak ke Malaysia pada 1985 selama enam bulan untuk bekerja, kemudian balik ke Jawa Timur. Dia kembali lagi ke Malaysia tahun 1992 dan belajar dengan Muchlas pada pesantren Luqman al-Hakiem di Johor. Pulang ke Indonesia 1997. Pada 2000 Abdul Aziz alias Imam Samudra menghubungi Amrozi untk minta bantuannya mencari bahan merakit bom untuk digunakan di Ambon. Membuka bengkel mobil tahun 2001, ahli reparasi mobil, ponsel, dan peralatan lain. Aris Mundandar Tangan kanan Abu Bakar Ba'asyir di Pondok Ngruki. Lahir di Sambi, Boyolali, Jawa, lulusan Pondok Ngruki tahun 1989 (bersama Fathur Rahman al-Gozi). Fasih berbahasa Arab dan Inggeris. Aktif di Majelis Mujahidin Indonesia serta direktur Dewan Dakwah Islamiyah di Jawa Tengah. Salah seorang pendiri KOMPAK, dan produser video CD tentang konflik di Poso dan Maluku yang digunakan untuk keperluan rekrut anggota JI. Dia juga aktif di LSM Darul Birri cabang Jakarta. Darul Birri merupakan LSM yang berpusat di Abu Dhabi. Ia juga aktif pada Mer C (Medical Emergency Rescue Center), organisasi kemanusiaan Muslim yang mengirim bantuan ke Afghanistan setelah dimulainya aksi peledakan bom oleh AS akhir 2001. Arkam, asli dari Sumbawa yang tinggal dengan Amrozi di Lamongan, Jawa Timur. Basuki alias Iqbal bin Ngatmo. Ditangkap sehubungan dengan usaha meledakkan gereja di pinggiran Pekanbaru, Riau, pada December 2001, atas instruksi Abdul Aziz alias Imam Samudra. Ia sedianya bermaksud bertolak ke Ambon untuk berjihad ketika Amrozi membujuknya agar berjihad ditempat lain. Kamp Chaldun. Kamp pelatihan di Afghanistan dimana pimpinan JI konon berlatih. Dedi Setiono alias Abbas alias Usman. Salah satu pelaku bom Mal Atrium yang divonis. Dedi merupakan veteran Maluku. Asli dari Bogor, ia pernah menetap beberapa tahun di Malaysia dan mencari nafkah dengan menjual air mineral di Jakarta. Dedi pernah bersama Hambali di Afghanistan tahun 1987 dan bertemu kembali dengannya di Jakarta Selatan pada Oktober 2000 untuk erencanakan bom malam Natal. Setelah "keberhasilannya" sebagai komandan lapangan di Jakarta terhadap operasi tang terakhir tersebut, Abbas bekerja bersama Imam Samudra untuk melakukan koordinasi bagi bom Mal Atrium pada awal 2001. Faiz bin Abubakar Bafana. Anggota JI asal Malaysia yang saat ini tengah ditahan di Singapura. Dilaporkan ia menghabiskan masa kecilnya di Tanah Abang, Jakarta. Menurut berita acara pemeriksaan terhadapnya, Abu Bakar Ba'asyir hadir pada beberapa pertemuan yang direncanakan. bagi operasi JI. Bafana kabarnya bekerja erat dengan Hambali dan membantunya membeli bahan peledak bagi kasus bom December 2000. al-Faruq, Omar alias Moh. Assegaf. Diduga berkebangsaan Kuwait (kendati pemerintah Kuwait menyangkal ia warganegara Kuwait) dan terkait al-Qaeda, yang pengakuannya tentang kegiatannya di Indonesia menjadi cerita sampul Time Magazine, 23 September 2002.. Fathur Rahman al-Ghozi. Lahir di Madiun, Jawa Timur, ia ditangkap di Manila pada Januari 2002 dan divonis atas tuduhan memiliki bahan peledak secara tidak sah. Ia lulus dari Pondok Ngruki di 1989, belajar di Pakistan, pernah menetap di malaysia dan beristerikan wanita Malaysia. Ayahnya, Zainuri, pernah mendekam di penjara karena dugaan kaitan dengan Komando

Jihad. Fauzi Hasbi alias Abu Jihad. Putera Hasbi Geudong, ayah dari Lamkaruna Putra. Menyebut dirinya pemimpin Republik Islam Aceh (RIA) dan Front Mujahidin. Lahir 1948 di kecamatan Samudera Geudong, Aceh Utara. Ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya (usia 7 hingga 14 tahun) di gunung bersama pasukan gerilya Darul Islam. Ia bergabung dengan GAM di 1976 bersama ayah dan kakaknya, ditangkap 1979, dibebaskan dibawah bimbingan perwira Kopassus Syafrie Sjamsuddin. Melalui ayahnya, ia mengenal Abdullah Sungkar dan menjadi dekat dengan anggota JI di Malaysia. Fernandez, Joe. warga Malaysia, wakil rakyat negara bagian dari Lunas yang dibunuh pada 14 November 2000 di Bukit Mertajam, Malaysia, tampaknya oleh KKM yang terkait dengan JI. Fikiruddin Muqti alias Abu Jibril alias Mohammad Iqbal bin Abdurrahman. Lahir di desa Tirpas-Selong, Lombok Timur. Menjadi muballigh terkenal di mesjid Sudirman di Yogyakarta pada awal 1980an. Lari ke Malaysia 1985, disusul isterinya. Ditangkap pihak berwajib Malaysia pada Juni 2001 dan dituduh berusaha mendirikan negara Islam di seantero Asia tenggara. Sering berkunjung ke Indonesia, tampil dalam video CD untuk merekrut sukarelawan bagi pertempuran di Maluku. Menjadi anggota badan pelaksana Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada Agustus 2000. Fuad Amsyari. Sekretaris Abu Bakar Ba'asyir pada Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). GAM, Gerakan Aceh Merdeka. Dimulai oleh Hasan di Tiro tahun 1976. Kendati singkatan GAM lazimnya merupakan sebutan bagi organisasi politik maupun militer, anggota GAM sendiri memakai GAM untuk menyebut gerakan politiknya, dan AGAM untuk angkatan bersenjatanya. Hasan di Tiro menggunakan ASNLF, Acheh Sumatra National Liberation Front untuk menyebut gerakan politiknya. "Aceh" dianggap ejaan pro pemerintah; ejaan "Acheh" lebih disukai gerakan pro kemerdekaan tersebut. Haji Mansur. Ayah mertua dari Abdul Jabar, anggota JI yang buron, pensiunan perwira AD, mantan kepala desa Sanio, kecamatan Woja, di Dompu, Sumbawa Tengah. Hambali alias Riduan Isamuddin. Lahir dengan nama Encep Nurjaman di Kampung Pabuaran, kecamatan Karang Tengah, Cianjur, Jawa Barat pada 4 April 1964. Kedua dari 11 anak Ending Isomudin (almarhum) dan isterinya, Eni Maryani. Sekolah di madrasah Manarul Huda, lulusan SMU Islam Al-Ianah di Cianjur, 1984. Sekitar akhir 1985, ia bertolak ke Malaysia, untuk mencari pekerjaan sebagai pedagang. Menjadi anak buah Abdullah Sungkar, tinggal beberapa tahun di Afghanistan. Dilaporkan mengarahkan bom malam Natal 2000, menjadi ketua JI untuk Singapura dan Malaysia, konon digantikan Ali Gufron alias Muchlas pada akhir 2002. Hasbi Geudong. rekan dekat pemimpin Darul Islam Aceh Daud Beureueh, bergabung dengan GAM di 1976 bersama kedua puteranya, Muchtar Hasbi dan Fauzi Hasbi. Ditangkap pertengahan 1980an, ketika dibebaskan pindah ke Singapura, kemudian kabarnya setelah diancam anak buah Hasan di Tiro, menuju Malaysia dimana ia bertetanggaan dengan Abdullah Sungkar. Dekat dengan pimpinan DI di Jawa Barat, ia dianggap sementara orang imam ketiga DI setelah Kartosuwirjo dan Daud Beureueh. Wafat di Jakarta Maret 1993. Hendropriyono (LetJen.). Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Pada 1989 selaku Danrem 043 di Lampung, Komando garuda Hitam, ia memimpin serangan terhadap sebuah madrasah di Way Jepara, Talangsari, Lampung yang terkait Pondok Ngruki melalui Abdullah Sungkar. Pada 1999 selaku Menteri Transmigrasi menawarkan islah kepada keluarga-keluarga di lampung yang terkena serangan tersebut, dan akibatnya, beberapa dari mereka direlokasikan di tambak udang di Sumbawa. Hispran (Haji Ismail Pranoto). Aslinya dari Brebes, mantan komandan senior Darul Islam di Jawa Timur, diperalat oleh Ali Moertopo untuk mengaktifkan kembali Darul Islam dalam bentuk Komando Jihad pada pertengahan 1970an. Dikabarkan membawa masuk Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar kedalam DI di 1976. Hispran ditangkap Januari 1977, diadili 1978, dan divonis penjara seumur hidup atas tuduhan subversi. Wafat di LP Cipinang, Jakarta. Iqbal alias Didin. Ditangkap sehubungan bom malam Natal di Jawa Barat December 2000. Lahir bernama Didin Rosman di 1958, alumni pesantren yang berafiliasi dengan Darul Islam. Aslinya dari Pasar Ucing, Garut, Jawa Barat, Iqbal belajar di Pesantren Rancadadap di Curug, Garut, kemudian pindah ke pesantren lain, Awi Hideung. Pada akhir 1970an menjadi pedagang gula aren dan barang lain yang dijualnya di pasar Kiaracondong di bandung. Iqbal dikabarkan menekuni ilmu agamanya dengan berbagai kyai, termasuk Kyai Saeful Malik, yang juga dikenal sebagai Acengan Cilik, seorang mantan pimpinan Darul Islam. Iqbal merupakan kontak utama bagi Jabir dan Hambali di Bandung saat bom malam Natal 2000 tengah direncanakan. Divonis tahun 2001 menjalani masa penjara duapuluh tahun. Iqbal alias Armasan alias Lacong. Diduga merupakan pelaku bom bunuh diri di Bali, lahir di Sukamana, Malimping, Banten di 1980. Anggota sel yang termasuk Imam Samudra dan Yudi. Jabir. Alias Enjang Bastaman, tokoh JI dan kawan Hambali yang tewas di Bandung dalam operasi bom malam Natal 2000. Berusia sekitar 40 tahun, ia berasal dari Banjarsari, Ciamis, lulus dari Pondok Ngruki sekitar 1990 dan melanjutkan pendidikannya pada Perguruan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) di Tanjung Priok. Pernah tinggal di Malaysia dan berlatih di Afghanistan, juga mengunjungi Thailand. Tahun 1996 ia kembali ke Ciamis untuk menikah, memboyong isterinya ke Malaysia tahun itu juga. Ia kembali ke Indonesia menjelang kelahiran anaknya yang pertama di 1998 dan selanjutnya menetap di daerah Bandung. Di 2000 ia dikabarkan pindah ke Tasikmalaya namun memelihara hubungan tetap dengan orang-orang JI di Malaysia. Jama’ah Islamiyah. Organisation yang dibentuk oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada 1994 atau 1995, tidak untuk dirancukan dengan istilah umum Jama’ah Islamiyah yang artinya hanya "komunitas Islami". Organisasi tersebut secara resmi dimasukkan dalam daftar organisasi teroris di PBB pada 23 Oktober 2002. Kartosuwirjo, Sekarmadji Maridjan. Pemimpin Darul Islam di Jawa Barat, 1948-62. Lahir di Cepu, Jawa Barat di 1905, tewas ketika ditangkap di 1962. Memberi ilham bagi banyak orang di Indonesia yang mendukun pendirian negara Islam, termasuk anggota JI. KMM, Kumpulan Mujahidin Malaysia (Oleh pihak berwajib Malaysia sering menyebutkannya "Kumpulan Militant Malaysia"). Kelompok yang terkait JI yang anggotanya dihubungkan tidak saja dengan serangkaian perampokan terhadap bank dan peledakan bom, namun juga dengan serangkaian pertemuan di Malaysia dimana salah satu pembajak 11 September ikut hadir. Komando Jihad, nama yang digunakan pemerintah Soeharto bagi gerakan Darul Islam yang diaktifkan kembali pada pertengahan 1970an yang dimanipulasi oleh Ali Moertopo, perwira senior AD yang bertanggung jawab terhadap operasi rahasia, untuk mendiskreditkan kelompok Muslim yang menentang Soeharto sebelum pemilihan 1977. KPPSI, Komite Persiapan Pengerakan Syariat Islam. KPPSI dibentuk di Makassar, Sulawesi Selatan pada Mei 2000. Pendirinya kabarnya melihatnya sebagai cara melanjutkan perjuangan Darul Islam melalui konstitusi. Ketuanya Abdul Aziz Qahhar Muzakkar; Agus Dwikarna merupakan anggota yang menonjol. Dikemudian hari organisasi menanggalkan kata "Persiapan" sehingga menjadi KPSI. Laskar Mujahidin. Kelompok induk angkatan bersenjata yang terkait pertempuran JI di Maluku dan Poso. Jumlah pasukannya di Maluku tidak pernah melebihi 500 orang. Komandan pertamanya adalah Abu Dzar, ayah mertua Omar al-Faruq, yang tewas Oktober 2000. Berbeda dengan Laskar Jihad, dengan mana tidak ada kerjasama. Laskar Jundullah. Nama yang diberikan bagi sayap militer KPPSI. Dipimpin oleh oleh Agus Dwikarna yang mengirim anggotanya ke Poso dan Maluku. Istilah "Laskar Jundulla" atau Tentara Allah pun digunakan sejumlah satuan ad hoc yang bertempur di Maluku dan Poso sebelum pembentukan resmi Laskar Jundullah pada September 2000. MMI, Majelis Mujahidin Indonesia. Organisasi yang didirikan Agustus 2000 oleh Abu Bakar Ba'asyir dan Irfan Awwas Suryahardy untuk membentuk front politik bagi seluruh kelompok di Indonesia yang berupaya mendirikan syariyah Islam. MMI termasuk sejumlah besar anggota JI, namun juga banyak lainnya memiliki pekerjaan yang sah, .. Ngruki. Kota diluar Solo, Jawa Tengah, yang namanya digunakan oleh pesantren yang didirikan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Resminya bernama Pesantren al-Mukmin, lebih dikenal dengan sebutan Pondok Ngruki. Sejumlah besar anggota JI pernah hadir atau mengajar disana, atau ada kaitan dengan salah satu pendiri. Pesantren Luqman al-Hakiem. Pesantren di Johor, Malaysia, yang didirikan Abdullah Sungkar dan yang pernah dihadiri oleh banyak anggota JI. RM, Rabitatul Mujahidin. Didirikan oleh Abu Bakar Ba'asyir di Kuala Lumpur pada akhir 1999 .Dihadiri wakil-wakil dari organisasi separatis dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan Birma, bersama beberapa anggota kunci JI. Perkumpulan tersebut sendiri tidak terlalu aktif. Tamsil Linrung. Bekas bendahara Partai Amanat Nasional (PAN), ditangkap bersama Agus Dwikarna di Filipina pada Maret 2002, dibebaskan tidak lama kemudian. Ikut mendirikan Laskar Jundullah, juga mengambil bagian dalam pertemuan pendirian Rabitatul Mujahidin nya Abu Bakar Ba’asyir pada akhir 1999. Umar. Rekan Hambali yang mengadakan kontak dengan beberapa tokoh kunci yang terlibat kasus bom malam Natal di Jawa Barat. Penduduk Malaysia. Mungkin salah satu Umar yang dicari sehubungan kasus bom Bali. Yazid Sufaat. Anggota senior JI yang ditahan di Malaysia, diduga bertanggung jawab atas bom malam Natal 2000 di Medan. Yudi alias Andri. Salah satu tersangka kasus bom Bali, bagian dari sel Imam Samudra di Banten.Lahir di desa Sukamanah, Malimping, Banten tahun 1980. Setelah menghadiri SDN, Yudi belajar di Pondok Ngruki dari 1992-1995. Diduga membantu Abdul Rauf menyiapkan bom Bali

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->