P. 1
MEMBACA GAMBAR TEKNIK

MEMBACA GAMBAR TEKNIK

5.0

|Views: 21,161|Likes:
Published by hi-dayat258

More info:

Published by: hi-dayat258 on Oct 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

MODUL M9.

2A

MEMBACA GAMBAR TEKNIK

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR MESIN

BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2005

M9.2A Membaca Gambar Teknik

1

MODUL M9.2A

MEMBACA GAMBAR TEKNIK
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR MESIN

PENYUSUN DJOKO WINARNO

BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2005

M9.2A Membaca Gambar Teknik

2

Kata Pengantar
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga tersusunnya buku Modul MEMBACA GAMBAR TEKNIK ini. Buku Modul ini disusun berdasarkan Kurikulum SMK 2004 yang menerapkan prinsip – prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Membaca Gambar Teknik merupakan suatu kompetensi, suatu kemampuan atau kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik/diklat SMK dengan bidang keahlian Teknik Mesin khususnya pada program keahlian Teknik Gambar Mesin. Dengan mempelajari dan melaksanakan latihan – latihan membaca gambar yang disajikan secara baik dalam pembuatan gambar maupun membaca gambarnya diharapkan buku modul ini dapat memperlancar proses belajar mengajar, dapat memberikan wawasan pada peserta Diklat di SMK khususnya dan para pembaca umumnya sebagai salah satu upaya untuk menyiapkan peserta diklat yang mampu bekerja, baik secara mandiri maupun mengisi lowongan pekerjaan sebagai tenaga kerja tingkat menengah. Selain itu keberadaan buku modul ini diharapkan dapat mengembangkan sikap profesional dalam pekerjaan serta menunjang pengembangan diri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam menyusun buku modul ini masih banyak kekurangan dan untuk itu penyusun mengharapkan kritikan yang sifatnya membangun demi perbaikan selanjutnya. Agustus 2005 Penyusun

M9.2A Membaca Gambar Teknik

3

Daftar Isi
Halaman Sampul ........................................................................... Halaman Francis ........................................................................... Kata Pengantar ............................................................................. Daftar Isi ...................................................................................... Peta Kedudukan Modul .................................................................. Peristilahan / Glossarium ............................................................... BAB. I PENDAHULUAN ................................................................. A. Deskripsi .................................................................... B. Prasyarat .................................................................... C. Petunjuk Penggunaan Modul ........................................ D. Tujuan Akhir ............................................................... E. Kompetensi ................................................................ F. Cek Kemampuan ......................................................... BAB. II PEMBELAJARAN ................................................................ A. Rencana Belajar Siswa ................................................ B. Kegiatan Belajar ......................................................... 1. KEGIATAN BELAJAR 1 : MEMBACA GAMBAR TEKNIK a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran ........................... b. Materi Pembelajaran ......................................... 2. KEGIATAN BELAJAR 2 : GAMBAR POTONGAN .......... a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran ........................... b. Materi Pembelajaran ......................................... 3. KEGIATAN BELAJAR 3 : UKURAN PADA GAMBAR KERJA ................................................................... a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran ........................... b. Materi Pembelajaran ......................................... 4. KEGIATAN BELAJAR 4 : TOLERANSI DAN SUAIAN .... a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran ........................... 1 2 3 4 6 7 8 8 8 9 10 11 15 16 16 17 17 17 17 92 92 92 108 108 108 130 130 130 186 188 189 190 191 198 198 198 199

M9.2A Membaca Gambar Teknik

4

C. D. E. F. G.

Materi Pembelajaran ......................................... Rangkuman ................................................................ Tugas ........................................................................ Tes Formatif ............................................................... Kunci Jawaban ............................................................ Lembar Kerja ..............................................................

b.

201 202

BAB. III EVALUASI ........................................................................ A. Evaluasi 1 ................................................................... 1. Tes Formatif ........................................................... B. Kunci Jawaban ............................................................ BAB. IV PENUTUP ......................................................................... DAFTAR PUSTAKA .........................................................................

M9.2A Membaca Gambar Teknik

5

Peta Kedudukan Modul
M18. 1A M7. 6A

M2.5C11A

M9. 10B

M7. 7A

M9. 1A

M9. 7B

M9. 3A

M7. 5A

M9. 9B

M9. 5A

M9. 2A

Keterangan :
M2.5C11A M18.1A M9.1A Mengukur dengan menggunakan alat ukur Menggunakan perkakas tangan Menggambar dan membaca sketsa

M9.2A Membaca Gambar Teknik

6

M9.2A M9.3A M7.5A M7.6A M7.7A M9.5A M9.7B M9.9B M9.10B

Membaca gambar teknik dasar Mempersiapkan gambar teknik (dasar) Bekerja dengan mesin umum Melakukan pekerjaan dengan mesin bubut Melakukan pekerjaan dengan mesin frais Menggambar detail secara rinci Menggambar bagian secara rinci Menggambar 2D dengan sistem CAD Menggambar 3D dengan sistem CAD

Peristilahan / Glossarium
Istilah
ISO

Keterangan
Kependekan dari International Standartization for Organization yang berkedudukan di Swiss yang mengatur dan mengawasi standart, ukuran, managemen dan kualitas produk seluruh anggotanya di seluruh dunia. Kependekan dari Japan International Standart, yaitu standart Jepang yang digunakan dinegaranya dan kelompoknya. Standart yang dipunyai Belanda dan berkedudukan di negara Belanda untuk menstandarisasi ukuran – ukuran dari Belanda NEDERLAND STANDARTZATION. Kependekan dari Dhate International Normalization yang berkedudukan di Jerman, untuk menstandarkan ukuran produk – produk Jerman dan anggotanya. Kependekan dari Standart International Indonesia, berkedudukan di Indonesia dan digunakan untuk didalam negeri sendiri mengenai ukuran, managemen, dan ketentuan – ketentuan lainnya. Untuk menampilkan gambar – gambar 3 dimensi pada sebuah bidang 2 dimensi. Dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan menggambar. Gambar proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya. Garis – garis yang memproyeksikan benda terhadap bidang proyeksi disebut Proyektor. Selisih penyimpangan ukuran membesar yang bisa digunakan dan selisih ukuran mengecil yang dapat

JIS

NEN

DIN

SII

Piktorial

Ortogonal Toleransi

M9.2A Membaca Gambar Teknik

7

diterima oleh semua pekerja dan perusahaan industri. Batasan penyimpangan yang diizinkan dari suatu bentuk Toleransi Bentuk benda kerja terhadap bentuk benda kerja yang ideal. Batasan penyimpangan posisi yang diizinkan dari suatu benda kerja terhadap posisi suatu pasangan dari dua Toleransi Posisi atau beberapa benda kerja yang berpasangan sempurna.

BAB. I PENDAHULUAN
A. Deskripsi Judul modul ini adalah “Membaca Gambar Teknik” berisi empat bagian utama, yaitu Pendahuluan, Pembelajaran, Evaluasi dan Penutup. Modul ini digunakan setelah peserta didik mempelajari modul M9.1A dan digunakan sebagai prasyarat untuk melanjutkan ke modul seri M9.5A. Hasil belajar yang akan dicapai oleh peserta didik setelah mempelajari modul ini adalah memahami prinsip – prinsip dasar mengerti membaca gambar dan mampu secara mendasar mengenai gambar teknik untuk benda – benda sederhana, mampu belajar sendiri dari kekurangan yang diperoleh setelah melakukan pembelajaran. Pemahaman mengenai prinsip – prinsip membaca gambar dan mengamati suatu gambar, mengevaluasi terhadap gambar – gambar kerja akan berguna bagi peserta didik sebagai pembentukan watak dalam bekerja dibidang keahlian gambar teknik mesin dan akan menjadi kebiasaan positif setelah bekerja di industri sehingga menjadi salah satu penunjang budaya mutu dan kerja profesional. Hal ini akan menunjang pula pada peningkatan kemampuan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) peserta dalam menguasai kompetensi lainnya dalam bidang keahlian gambar mesin. B. Prasyarat Persyaratan untuk mempelajari dan menggunakan modul ini adalah :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

8

1.

Peserta didik telah menyelesaikan dan telah dinyatakan berhasil menguasai kompetensi yang dipersyaratkan dalam modul seri M9.2A. 2. Peserta didik telah mengikuti dan dinyatakan lulus test penguasaan kemampuan awal yang dipersyaratkan untuk mempelajari dan menggunakan modul ini. Test tersebut dilakukan oleh pihak berwenang untuk melakukan uji kompetensi.

C. 1.

Petunjuk Penggunaan Modul Penjelasan Bagi Siswa Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan modul ini, peserta didik perlu memmperhatikan beberapa hal yaitu : a. Langkah – langkah belajar yang ditempuh 1) Menyiapkan semua bukti penguasaan kemampuan awal yang diperlukan sebagai persyaratan untuk mempelajari modul. 2) Melaksanakan test kemampuan awal yang dipersyaratkan untuk mempelajari modul ini. 3) Mempelajari modul secara seksama. b. Perlengkapan yang diperlukan 1) Buku modul M9.2A. 2) Pakaian untuk melaksanakan praktek gambar. 3) Mesin gambar dan perlengkapannya 4) Lembar kerja 5) Buku – buku referensi. 6) Dan perlengkapan yang dibutuhkan. c. Hasil pelatihan yang diperoleh 1) Daftar nilai hasil pelatihan. 2) Portofolio. 3) Hasil pekerjaan gambar. 4) Bukti berapa hasil yang diperoleh.

2. Peran Guru a. Membantu siswa dalam merencanakan tahap belajar. b. Membimbing siswa melalui tugas – tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar. c. Membantu siswa dalam menghadapi konsep dan praktek gambar dan menjawab pertanyaan.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

9

d. e. f. g. h. i.

Membantu siswa dalam mencantumkan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan. Menentukan seorang pendamping/ahli di tempat kerja untuk membantu siswa. Melakukan atau melaksanakan penilaian. Menjelaskan kepada siswa mengenai bagian yang diperlukan untuk dibenahi dan rencana belajar selanjutnya. Mencatat pencapaian dan kemampuan siswa dalam belajar.

D.

Tujuan Akhir Tujuan akhir yang ingin dicapai setelah mempelajari modul M9.2A ini : 1. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. Kinerja yang diharapkan Peserta didik mampu memperhatikan aspek keselamatan kerja. Peserta didik mampu menentukan persyaratan kerja. Peserta didik mampu mempersiapkan pekerjaan. Peserta didik mampu membaca gambar. Peserta didik mampu mengidentifikasikan gambar. Peserta didik mampu menjelaskan gambar. Peserta didik mampu mengerjakan tugas gambar. Peserta didik mampu memastikan besarnya ukuran. Peserta didik mampu membaca perintah – perintah dalam gambar. Peserta didik mampu merencanakan langkah – langkah penggambaran. Peserta didik mampu melaksanakan perintah dalam gambar. Peserta didik mampu mengidentifikasikan material yang dipakai. Peserta didik mampu mengidentifikasikan simbol pengajaran. Peserta didik mampu mengidentifikasikan simbol toleransi dan toleransi geometris dan nilainya. Peserta didik mampu mengidentifikasikan simbol kebesaran dan nilainya.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

10

M9.2A Membaca Gambar Teknik

11

E.

Kompetensi Bidang Keahlian Program Keahlian Kompetensi Kode Durasi Pembelajaran
LEVEL KOMPETENSI KUNCI

: : : : :

Teknik Mesin Teknik Gambar Mesin Membaca Gambar Teknik M9.2A 240 jam @ 45 menit
A 2 B 1 C 2 D 1 E 1 F 1 G 1

1. 2.

• • • • • • • • • • •

3.

KONDISI KERJA

4.

5.

Kegunaan Kompetensi Industri yang melakukan kegiatan permesinan Sumber Informasi Kode Standart Buku – buku pedoman Referensi bahan dari produsen Pelaksanaan K3 Penanganan pemeliharaan alat gambar Bekerja dengan prosedur yang aman Kelengkapan Alat – alat menggambar teknik Gambar teknik Contoh benda kerja Kegiatan Membaca gambar teknik Memilih gambar teknik yang benar

M9.2A Membaca Gambar Teknik

12

KRITERIA UNJUK KERJA 1 2 1. Membaca gambar • Komponen, teknik rakitan atau objek dikenali sesuai dengan permintaan. SUB KOMPETENSI • Ukuran – ukuran diidentifikasi sesuai dengan bidang pekerjaan. • Instruksi diidentifikasi dan diikuti sesuai dengan permintaan.

LINKUP BELAJAR • 3 Membaca gambar pandangan.

MATERI UTAMA PEMBELAJARAN SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN 4 5 6 • Mengerti cara membaca gambar pandangan. Mengidentifika si jumlah benda kerja yang terdapat dalam gambar. • Mengerti cara membaca gambar pandangan. • Mengidentifika si bentuk benda sesuai gambar. • Mengidentifika sikan satuan ukuran yang digunakan pada persiapan gambar. • Mengidentifika sikan ukuran – ukuran dari bentuk utama benda kerja yang tercantum pada gambar. •

Mengidentifikasi jumlah benda kerja yang terdapat dalam gambar. Membaca gambar pandangan.

Persyaratan material diidentifikasi sesuai dengan permintaan. Simbol – simbol yang digunakan pada gambar dapat dikenali pada gambar

Mengidentifikasi bentuk benda sesuai gambar. • Identifikasi satuan ukuran yang digunakan pada satuan persiapan gambar. • Identifikasi ukuran – ukuran dari bentuk utama benda kerja yang tercantum pada gambar.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

13

1

2 • •

3 Identifikasi pengerjaan.

4 tanda •

5 Mengidentifika sikan tanda pengerjaan. Mengidentifika sikan langkah pengerjaan benda sesuai gambar. Mengidentifika sikan bahan benda kerja sesuai gambar.

6

Identifikasi langkah pengerjaan benda sesuai gambar. Identifikasi bahan benda kerja sesuai gambar. Identifikasi dan pengertian simbol – simbol yang digunakan pada gambar

2. Memilih gambar teknik yang benar

Gambar diperiksadan disahkan kebenarannya dengan persyaratan atau peralatan kerja. Status diperiksa disahkan. gambar dan

Prosedur memeriksa dan mengesahkan gambar.

Mengidentifika sikan pengertian simbol – simbol yang digunakan pada gambar • Mengerti cara membaca gambar pandangan.

Memahami prosedur memeriksa dan mengesahkan gambar.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

14

1

2 • •

3 Identifikasi gambar.

4 status • •

5 Mengidentifika si status gambar. Mengidentifika sikan sumber informasi yang berhubungan dengan status gambar. Memahami prosedur perubahan gambar. Memahami prosedur pengesahan status gambar.

6

Identifikasi sumber informasi yang berhubungan dengan status gambar. Prosedur perubahan gambar. Prosedur pengesahan gambar. status

• •

M9.2A Membaca Gambar Teknik

15

M9.2A Membaca Gambar Teknik

16

F.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Cek Kemampuan
Indikator Kinerja Dan Kriteria Keberhasilan Memahami fungsi gambar teknik dasar. Mengetahui macam – macam kertas gambar dan ukurannya. Mengetahui macam – macam garis dan fungsinya. Mengetahui macam – macam huruf dan angka standar 150. Mengetahui macam – macam alat gambar dan fungsinya. Memahami proyeksi Pictorial. Memahami proyeksi Orthogonal. Mengetahui ketentuan proyeksi Isometrik, Dimetrik, miring. Mengetahui ketentuan proyeksi Eropa (Kwadran I). Mengetahui ketentuan proyeksi Amerika (Kwadran III). Dapat mengidentifikasikan jumlah benda kerja yang terdapat dalam pandangan. Mengerti cara membaca gambar pandangan. Mengidentifikasikan benda kerja sesuai dengan gambar. Dapat mengidentifikasikan ukuran – ukuran dari bentuk utama dari kerja yang tercantum pada gambar. Dapat mengidentifikasikan simbol tanda pengerjaan. Dapat mengidentifikasikan langkah pengerjaan benda sesuai dengan gambar. Dapat mengidentifikasikan badan benda kerja sesuai gambar. Dapat mengidentifikasikan pengertian simbol – simbol yang digunakan pada gambar. Dapat mengidentifikasikan simbol harga kasaran. Dapat mengidentifikasikan simbol – simbol toleransi bentuk dan posisi. Cek Kemampuan Ya Tidak

M9.2A Membaca Gambar Teknik

17

BAB. II PEMBELAJARAN
A. Rencana Belajar Siswa Rencana pelaksanaan belajar adalah sebagai berikut Kompetensi : Membaca Gambar Teknik
No.

Kegiatan Belajar Memahami fungsi gambar teknik. Memahami alat – alat gambar teknik dan fungsinya. Memahami macam – macam kertas dan ukurannya. Memahami macam – macam kertas dan fungsinya. Memahami macam – macam huruf dan angka standar 150. Memahami macam – macam proyeksi Piktorial. Memahami ketentuan proyeksi Isometrik, Dimetrik dan miring. Memahami proyeksi Orthogonal. Memahami ketentuan membaca gambar pandangan. Memahami identifikasi bentuk benda sesuai gambar. Memahami identifikasi satuan ukuran. Memahami identifikasi tanda pengerjaan. Memahami identifikasi langkah pengerjaan benda sesuai gambar. Memahami identifikasi simbol – simbol yang digunakan pada gambar.

Tanggal

Waktu

Tempat

Perubahan

Paraf

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

18

B.

Kegiatan Belajar 1. a. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) b. 1) KEGIATAN BELAJAR I : MEMBACA GAMBAR TEKNIK Tujuan kegiatan pembelajaran, peserta diklat dapat : Memahami fungsi gambar teknik. Memahami alat – alat teknik dan fungsinya. Memahami macam – macam kertas gambar dan fungsinya. Memahami macam – macam garis dan fungsinya. Memahami macam – macam huruf dan angka standart ISO. Memahami macam – macam proyeksi Piktorial. Memahami ketentuan proyeksi Isometrik, Dimetrik dan miring. Memahami proyeksi Orthogonal. Memahami ketentuan membaca gambar pandangan. Memahami identifikasi bentuk benda sesuai gambar kerja. Memahami identifikasi satuan ukuran. Memahami identifikasi tanda pengerjaan. Memahami identifikasi langkah pengerjaan benda sesuai gambar kerja. Memahami identifikasi simbol – simbol yang digunakan pada gambar teknik. Materi pembelajaran MEMAHAMI FUNGSI GAMBAR TEKNIK

Dalam bidang keteknikan peranan gambar teknik sangatlah penting. Gambar teknik berfungsi sebagai alat informasi dari orang ke orang lain. Gambar teknik adalah sebagai alat komunikasi, disebut juga gambar teknik adalah bahasanya orang – orang teknik. 2) PERSIAPAN MENGGAMBAR Untuk mencapai tujuan menggambar yang baik, yaitu memenuhi standar, kita perlu mempersiapkan alat – alat

M9.2A Membaca Gambar Teknik

19

gambar yang baik pula dan ditunjang dengan keterampilan menggunakakan alat - alat gambar. Tentu saja hanya bermodal peralatan yang lengkap, peserta diklat belum dapat terampil menggambar, kalau tanpa latihan. Dengan peralatan sederhanapun, jika penggunaan alat – alat gambar dilaksanakan dengan baik, konsekuen dan disiplin, akan membantu didalam keberhasilan menggambar. Sekali lagi ketekunan, kerajinan, kekonsekuenan dan kedisiplinan dalam menggunakan alat, merupakan langkah awal untuk keberhasilan dalam menggambar teknik. Alat – alat yang biasa dipakai dalam menggambar teknik mesin antara lain : a) Kertas gambar dengan standarnya (ukurannya). b) Pensil, pena atau rapido. c) Jangka dan kelengkapannya. d) Macam – macam mistar (mistar segitiga, mistar T). e) Mal busur (kurva). f) Mal huruf dan angka. g) Meja gambar dan kelengkapannya. h) Penghapus dan pelindung penghapus. a) Cara menentukan ukuran kertas gambar

Kertas gambar mempunyai ukuran panjang dan lebar. Sebagai ukuran pokok dari kertas gambar, diambil ukuran A0 yang mempunyai luas 1m2 atau 1.000.000 mm2. perbandingan lebar dan panjangnya sama dengan perbandingan dari sisi bujursangkar dengan diagonalnya (lihat gambar 2.1!). Jika bujursangkar mempunyai lebar (sisi) x dan diagonalnya , selanjutnya x dipakai sebagai lebar kertas gambar dan y sebagai panjang kertas gambar (lihat gambar 2.2!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

20

Gambar 2.1

Gambar 2.2

Karena ukuran kertas gambar A0 mempunyai luas x.y= 1.000.000 mm2, x.y= 1.000.000 mm2. dengan , maka :

Jadi ukuran pokok kertas gambar yang sudah distandarkan adalah ukuran A0 dengan panjang 1189 mm dan lebarnya 841 mm (dibulatkan). Adapun untuk mendapatkan ukuran kertas gambar lainnyatinggal membagi dua, yaitu untuk ukuran : (1) A1 didapat dari A0 dibagi dua. (2) A2 didapat dari A1 dibagi dua. (3) A3 didapat dari A2 dibagi dua. (4) A4 didapat dari A3 dibagi dua. Dan seterusnya (lihat gambar 2.3!). ukuran A1 ukuran A2

M9.2A Membaca Gambar Teknik

21

ukuran A3
Gambar 2.3

ukuran A4 ukuran A4

Ukuran standar kertas gambar (ISO 216) Sesuai dengan sistem ISO (International Standardization for Organization) dan NNI (Nederland Normalisatie Instituet), ukuran kertas gambar ditentukan sebagai berikut (lihat tabel 2.1!). Selanjutnya kertas gambar diberi garis tepi sesuai dengan ukurannya. C pada tabel adalah ukuran tepi bawah, tepi atas dan tepi kanan, sedangkan tepi kiri untuk setiap ukuran kertas gambar ditetapkan 20mm (hal ini dimaksudkan untuk membundel; jika kertas gambar dibundel tidak mengganggu gambarnya).
Tabel 2.1 Ukuran kertas gambar

Ukuran A0 A1 A2 A3 A4 A5 b)

Ukuran Lebar Panjang 841 mm 1189 mm 594 mm 841 mm 420 mm 594 mm 297 mm 420 mm 210 mm 297 mm 148 mm 210 mm

Sisi Kiri 20 20 20 20 20 20 mm mm mm mm mm mm

C 10 mm 10 mm 10 mm 10 mm 5 mm 5 mm

Jenis – jenis pensil dan penggunaannya

Pensil yang digunakan untuk menggambar ada tiga macam, yaitu pensil biasa, pensil yang dapat diisi kembali dan pensil mekanik. Ketiga jenis pensil ini mempunyai tingkat kekerasan tertentu, mulai dari yang lunak sampai yang keras. Tingkat kekerasan pensil dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut
Tabel 2.2 Tingkat kekerasan pensil

Lunak

Sedang

Keras

Keterangan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

22

2B 3B 4B 5B 6B 7B • •

B HB F H 2H 3H

4H 5H 6H 7H 8H 9H

• H = Hard • B = Black HB = Half Black

• F = Firm

Angka didepan huruf H menunjukkan tingkat kekerasannya (semakin besar angkanya, semakin keras). Angka didepan huruf B menunjukkan tingkat kelunakannya (semakin lunak, angkanya semakin besar).

(1) Meruncingkan pensil Pensil biasa perlu diruncingkan. Salah satu faktor baik atau buruknya suatu garis tergantung pada cara meruncingkan pensil. Oleh karena itu, meruncingkan pensil harus baik. Meruncingkan pensil jangan digosok – gosokkan ke dinding, meja atau lantai, sehingga dinding atau meja menjadi kotor. Untuk keperluan meruncingkan pensil dengan baik, kita harus menyediakan ampelas halus (no. 220 atau no. 400) yang disimpan atau diletakkan pada pelat seng (lihat gambar 2.4!)

Gambar 2.4

(2) Menggunakan pensil

M9.2A Membaca Gambar Teknik

23

Untuk mendapatkan garis yang baik (rata dan tajam) maka pensil harus ditarik dan diputar sambil ditekan pelan – pelan dan kedudukan pensil 600 terhadap garis yang akan dibuat (liaht gambar 2.5 berikut!)

Gambar 2.5

c)

Macam – macam penggaris Penggaris yang digunakan waktu menggambar antara lain : (1) Penggaris atau mistar segitiga (sepasang). (2) Mistar T (Teken Hak). (3) Mistar skala. Perhatikan gambar 2.6!

Gambar 2.6

M9.2A Membaca Gambar Teknik

24

Keterangan : 1. Mistar siku -450. 2. Mistar siku -600/300. 3. Mistar T (Teken Hak). 4. Mistar skala. 5. Meja gambar. Mistar skala yaitu mistar untuk mengukur dengan ukuran skala, misalnya skala 1 : 2, 1 : 3 dan seterusnya.

Gambar 2.7

(1)

Cara (sepasang segitiga)

menggunakan

mistar

Untuk membuat garis tegak lurus atau garis sejajar, baik tegak maupun mendatar, dapat kita gunakan sepasang mistar segitiga (lihat gambar 2.7!). Caranya sebagai berikut : (a) Letakkan mistar 450 mendatar dengan posisi 1! (b) Letakkan mistar 300 atau 600 rapat pada sisi bawah dan peganglah (tekan)! (c) Bila kita membuat garis – garis sejajar sumbu x, geserkan mistar 450 ke atas atau ke bawah (lihat anak panah) sesuai dengan kebutuhan! (d) Putarkan mistar 450 menjadi posisi 2 untuk membuat garis yang sejajar sumbu y atau garis – garis yang tegak lurus sumbu x!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

25

(e)

Dengan menggeser mistar 450 pada posisi 1 dan memutar mistar 450 ke posisi 2, kita dapat membuat garis – garis mendatar maupun garis – garis tegak. Pemeliharaan mistar segitiga

(2)

Pemeliharaan alat gambar sering diabaikan oleh siswa antara lain : (a) Kebersihan; misalnya mistar yang dipakai tidak dibersihkan, sehingga kertas gambar menjadi kotor. Oleh karena itu, mistar gambar sebelum dipakai harus dibersihkan terlebih dahulu (dilap, bila perlu dicuci). (b) Mistar segitiga atau mistar gambar yang lain, tanpa disadari digunakan untuk memukul, digunakan untuk memotong kertas, hingga mistar menjadi cacat dan bila dipakai untuk menggambar maka hasil garisnya tidak lurus lagi. Oleh karena itu, jangan sekali – kali memotong dengan menggunakan mistar gambar, pakailah mistar pemotong yang khusus! (c) Mistar segitig terbuat dari plastik atau mika, sehingga pada ujungnya sering terjadi perubahan bentuk (membengkok); mungkin karena jatuh, perubahan temperatur atau tekanan – tekanan yang menyebabkan perubahan bentuk. Biasanya perubahan ini tidak terlihat, tetapi bila mistar itu kita pakai maka akan terjadi ketidaksejajaran dalam menarik garis yang satu dengan yang lainnya (lihat gambar dibawah ini!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

26

Gambar 2.8

Pada posisi 1, bagian segitiga berada diatas segitiga lainnya dengan alas berimpit penuh. Pada posisi 2, alas segitiga tidak berimpit penuh (lihat tanda x pada gambar!). Karena ada lengkungan yang tidak terlihat pada ujung segitiga maka garis yang dihasilkan m tidak sama dengan n. Oleh karena itu, sebelum dipakai, segitiga harus diperiksa dahulu ketegaklurusannya, yaitu dengan meletakkan segitiga pada garis lurus (diatas segitiga lainnya), seperti pada gambar 2.9.

Gambar 2.9

(d)

Tempatkan segitiga pada posisi 1 dan buat garis (m)!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

27

(e)

Kemudian balikkan segitiga pada posisi 2 dan buatlah garis (n)! (f) Jika garis m dan n tidak sejajar (berimpit) maka mistar tersebut harus diluruskan, yaitu dengan cara menggosokkan segitiga yang lengkung tersebut pada ampelas yang disimpan diatas meja rata atau meja kaca, sambil berulang – ulang memriksa atau mencoba kembali sampai garis yang dihasilkan sejajar (berimpit)!

d)

Macam – macam mal atas : (1) (2) (3) (4) (5) (1)

Gambar 2.10

Mal yang dipakai untuk menggambar teknik terdiri Mal huruf. Mal busur (kurva). Mal lingkaran. Mal elips. Mal khusus (tanda – tanda pengerjaan dan semacamnya). Huruf dan mal huruf Mal huruf yaitu alat yang digunakan untuk membuat huruf dengan perantaraan pen atau rapido. Mal huruf mempunyai ukuran 0,25; 0,35; 0,5; 1,4 dan 2 mm (lihat gambar 2.11a berikut!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

28

Gambar 2.11a

(2)

Huruf dan angka Huruf dan angka yang dipakai pada gambar teknik, yang dianjurkan oleh ISO 3098/1-1974, harus mudah dibaca dan ditulis, bentuk huruf miring atau tegak. Contoh atau gambaran dari huruf dan angka yang dipakai pada gambar teknik adalah sebagai berikut.

(a)

Penulisan huruf dan angka tegak

Type A( /14).h; yaitu • tinggi huruf = h • tebal huruf = (1/14).h
1

Gambar 2.11b

M9.2A Membaca Gambar Teknik

29

(b) miring

Penulisan huruf dan angka

Gambar 2.11c

Type • • •

A(1/14).h, yaitu : tinggi huruf = h tebal huruf = (1/14).h miring huruf = 750

(c)

Ukuran huruf standar Perbandingan tinggi dan lebar huruf diambil dari perbandingan ukuran kertas yang distandarkan, yaitu Contoh 2.1 Jika huruf mempunyai tinggi h = 14 mm, berapa lebar hurufnya (x = lebar huruf)?

Jawab:

M9.2A Membaca Gambar Teknik

30

Dengan h = 14 mm, maka :

jadi lebar hurufnya adalah 9,899 mm atau dibulatkan 10 mm. Ketentuan – ketentuan ukuran huruf yang dianjurakan dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Ukuran huruf dan angka standar Perbandingan Sifat Type A Type B

tinggi huruf tinggi huruf kecil jarak antar huruf jarak antar garis jarak antar kata tebal huruf

h ( /14).h (2/14).h (20/14).h (6/14).h (1/14).h
10

h ( /10).h (2/10).h (14/10).h (6/10).h (1/10).h
7

Keterangan tabel : i. Tinggi huruf kecil; tinggi huruf kecil disini adalah tinggi huruf kecil diantara huruf yang dipakai, tinggi huruf kecil ini tanpa tangkai dan kaki (huruf b, k, l = bertangkai dan j, g = berkaki). ii. Tinggi huruf kecil untuk type A = (10/14).h dan untuk type B = (7/10).h, seperti tampak pada contoh berikut.

Contoh 2.2 Berapakah tinggi huruf kecil untuk huruf type A dan B untuk tinggi huruf besar 14 mm?

Jawab : • Tinggi huruf kecil untuk type A 10 adalah ( /14).h. Dengan h = 14 mm, maka : (10/14).14 = 10 mm.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

31

Tinggi huruf kecil untuk type B adalah (7/10).h. Dengan h = 14 mm, maka : (7/10).14 = 9,8 mm dibulatkan 10 mm. iii. Jarak antar huruf; jarak antar huruf disini adalah jarak antara huruf yang satu dan lainnya dalam satu kata, yaitu untuk type A (2/14).h dan untuk type B (2/10).h. iv. Jarak antar garis; jarak antar garis disini adalah jarak antara batas bawah huruf besar dan batas atas huruf besar dibawah (lihat contoh 2.3!). • Contoh 2.3 Untuk type A, jarak antar garisnya (20/14).h. Untuk type A, jarak antar garisnya (14/10).h.

Gambar 2.11d

v.

Jarak antar kata; bila dalam suatu kalimat ada dua kata yang disambung (misalnya baja nikel) maka jarak antara kata baja dan nikel tersebut dianjurkan : • Untuk penggunaan type huruf A, jaraknya 6 /14.h. • Untuk penggunaan type huruf B, jaraknya 6 /10.h. Contoh 2.4 Jika menggunakan huruf standar type A dengan tinggi 14 mm maka jarak antar katanya adalah (6/14).14 = 16 mm, sedangkan bila menggunakan type B dengan tinggi huruf 14 mm maka jarak antar katanya adalah (6/10).14 = 8,4 mm.

vi.

Tebal huruf; tebal huruf yaitu tebal pena yang digunakan untuk membuat huruf. Ukuran pena tersebut harus disesuaikan dengan tinggi huruf dan type huruf yang kita gunakan. Tebal huruf yang dianjurkan adalah :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

32

Untuk type huruf A, tebal hurufnya adalah /14.h. • Untuk type huruf B, tebal hurufnya adalah 1 /10.h. •
1

Contoh 2.5 Jika kita menggunakan tinggi huruf h = 7 mm, maka : • Untuk huruf type A, tebal hurufnya adalah 1 ( /14) x 7 = 0,5 mm. • Untuk huruf type B, tebal hurufnya adalah 1 ( /10) x 7 = 0,7 mm. • vii. Macam – macam huruf ; macam – macam huruf lainnya yaitu dapat dilihat pada gambar berikut! Diantaranya : • Jenis ISOCT SHX tegak (gambar 2.10e). • Jenis ISOCT SHX miring (gambar 2.10f). • Technic bolt (gambar 2.10g). • TT ISOTEUR/italic (gambar 2.10h).

Gambar 2.11e

M9.2A Membaca Gambar Teknik

33

Gambar 2.11f

Gambar 2.11g

M9.2A Membaca Gambar Teknik

34

Gambar 2.11h

(3)

Mal busur (mal kurva)

Gambar 2.12

Untuk membuat lengkungan – lengkungan yang teratur, misalnya lengkungan parabola, hiperbola, epicicloida, hipocicloida dan semacamnya

M9.2A Membaca Gambar Teknik

35

dapat kita gunakan mal busur. Misalnya lengkungan parabola yang memotong titik 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya pada gambar diatas. Untuk garis yang memotong titik 1, 2 dan 3, mal ditempatkan pada posisi 1, sedangkan untuk titik – titik 4, 5, dan 6, mal digeser pada posisi 2 sehingga didapatkan lengkungannya. (4) Mal elips Mal elips digunakan untuk membuat elips, misalnya gambar – gambar silinder, cincin poros dan bentuk – bentuk elips lainnya.

Gambar 2.13

Gambar dibawah ini merupakan gambar yang dibuat dengan potongan mal elips.

Gambar 2.14

(5)

Sablon atau mal dengan bentuk lain Sablon atau mal dengan bentuk lain yang khusus ini mempunyai bermacam – macam bentuk, misalnya untuk simbol – simbol pengerjaan, tanda pengerjaan, anak panah atau simbol – simbol konstruksi pipa. Ada juga mal untuk simbol kelistrikan dan lain – lain. Salah satu contoh mal dengan bentuk

M9.2A Membaca Gambar Teknik

36

lain adalah mal untuk tanda pengerjaan (lihat gambar 2.15!).

Gambar 2.15

(6)

Penghapus dan pelindung penghapus Penghapus yang kita pakai, untuk menghapus garis pensil yang tidak berguna, berupa penghapus putih halus (supaya tidak meninggalkan warna). Bagian gambar yang dekat terhadap garis yang dihapus, perlu dilindungi (supaya tidak terhapus) dengan pelindung penghapus.

(7)

Pena gambar Bila kita akan membuat gambar asli, yaitu gambar yang ditinta, maka kita menggunakan pena. Pena ini ada dua macam, yaitu pena dengan mata atau daun dapat diatur (trek - pen) dan pena dengan ketebalan tetap (tergantung pada ukuran yang diinginkan) dengan ukuran yang bermacam – macam, yang kita kenal dengan rapido (lihat gambar 2.16!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

37

Gambar 2.16

Keterangan : 1. 2. 3. (dalam). 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Rapido. Mahkota atau kepala (luar). Mahkota atau kepala
Tutup. Kunci pembuka pena. Tabung tinta. Rumah pena. Pena. Tangkai.

(a) Bagian – bagian pena dan kegunaannya Untuk memahami bagian – bagian pena dan keguanaannya, perhatikan gambar 2.17! No. 1 Mur pengatur; untuk mengatur ketebalan garis yang diinginkan (lihat ukuran d dibawah!). No. 2 Mata pena (daun pena) yang dapat bergerak sesuai dengan putaran mur 1. No. 3 Tangkai. No. 4 Lubang pengunci. No. 5 Baut pengikat pena.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

38

No. 6 Daun pena (mata pena) yang dapat diputar. No. 7 Bagian – bagian pena yang perlu mendapat perawatan (dibersihkan atau diratakan).

(b) Penggunaan trekpen

Gambar 2.17

Waktu kita membuat gambar dengan trek – pen, perlu kita perhatikan hal – hal berikut : i. Tinta yang kita isikan diantar dua mata pena dengan tinggi x pada gambar 2.17 diatas, jangan terlalu banyak (x = ± 3-5 mm).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

39

Bagian luar daun pena harus dalam keadaan bersih (bebas tinta). Lihat No. 8 pada gambar! iii. Penggaris yang kita pakai harus kita ganjal bagian bawahnya (antara kertas nomor 10 dengan mistar nomor 9 pada gambar diatas, dipasang pita gambar atau diletakkan mistar lain). Dapat pula dengan cara membalik penggaris dengan kedudukan bagian miringnya berada dibawah (lihat gambar 2. 18! ).

ii.

Gambar 2.18

iv.

Pada saat menarik garis, harus tegak dan ditarik 600 ke arah garis yang dibuat (lihat gambar 2.18 diatas!). Jika mata pena bagian luarnya basah dengan tinta, maka tinta basah tersebut akan menempel atau membasahi mistar dan terhisap oleh kertas. Hal itu akan mengakibatkan terjadi pelebaran tinta diantara kertas dan pena (lihat gambar dibawah pada posisi 1, dan bila pena ditarik ke posisi 2 akan terdapat suatu garis). Setelah selesai menggaris, kemudian penggaris digeser dari posisi A ke posisi B, akan terbentuk hasil garisan yang tidak memuaskan (gagal). Oleh karena itu, hal – hal yang perlu diperhatikan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

40

diatas harus dipahami dan dilaksanakan, dicoba dan dilatih berkali – kali sehingga mempunyai pengalaman sendiri.

Gambar 2.19

(8)

Jangka Jangka adalah alat untuk membuat lingkaran atau busur lingkaran, baik dengan ujung potlot atau dengan tinta. (a) Macam – macam jangka

Jangka terdiri atas : jangka besar yang dapat membuat lingkaran antara 100 sampai dengan 200 mm. ii. jangka sedang yang dapat membuat lingkaran antara 50 sampai dengan 100 mm. iii. jangka kecil (biasanya mempunyai pegas, disebut jangka pegas) yang dapat membuat lingkaran antara 5 sampai 50 mm. iv. jangka Orleon digunakan untuk membuat lingkaran yang tidak dapat dibuat oleh jangka kecil. Jangka Orleon ini dapat membuat lingkaran dengan diameter 1mm sampai 5 mm. i. (b) jangka) Kotak jangka (penyimpan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

41

Jangka disimpan didalam kotak jangka sesuai dengan tempat dan bentuk dari jangka tersebut. (lihat gambar dibawah ini!).

Gambar 2.20a

Jangka dan kelengkapannya

M9.2A Membaca Gambar Teknik

42

(c)

Gambar 2.20b

Bagian – bagian jangka

M9.2A Membaca Gambar Teknik

43

Gambar 2.21

Keterangan : 1. Kaki yang bisa 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. atau rapido

Kepala. ditolak Hantaran lurus. 10. Mur pengencang. Kaki. 11. Rumah potlot. Klem jarum. 12. Mur penjepit. Jarum. 13. Trek pen. Bagian engsel. 14. Tangkai pen Sekrup.

9.

Sendi atau engsel. 15. Pen atau rapido Pemeliharaan pen (trek pen)

(d)

Pen atau trek pen setelah dipakai harus segera dibersihkan. Dengan memutar daun atau

M9.2A Membaca Gambar Teknik

44

mata pena maka kita dapat membersihkan bagian dalam dari trek pen tersebut dengan mudah.

Gambar 2.22

Jika mata pena bagian yang satu dengan bagian lainnya tidak rata, maka mata pena tersebut dapat diratakan dengan cara mengasahnya menggunakan ampelas halus atau dengan batu asah (lihat gambar diatas!). Untuk membersihkan pen (rapido), dapat ditempuh langkah berikut. i. Lepaskan pena dari tangkai atau rumahnya dengan menggunakan kunci pena yang tersedia! ii. Semprotkan air bersih (air keran) kearah pena (lihat gambar)! iii. Ketuk – ketukkan dengan perlahan untuk mengeluarkan tinta didalam pen tersebut dan semprot kembali dengan air keran sampai bersih!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

45

Gambar 2.23

(e)

Papan gambar Ukuran papan gambar disesuaikan dengan ukuran kertas gambar. Misalnya untuk ukuran kertas A0 ukuran papan gambarnya 1200 x 900 mm dan untuk ukuran kertas A1 ukuran papannya 600 x 450 mm. Papan gambar dapat dibuat dari kayu lapis (ply wood) dengan alas kertas atau plastik lunak, atau dapat pula dibuat dari kayu keras lainnya. Papan gambar diletakkan diatas meja atau ditempatkan diatas standar yang dibuat khusus (lihat gambar 2.24!).

Gambar 2.24

3)

ETIKET ATAU KEPALA GAMBAR Setiap gambar kerja yang dibuat, selalu ada etiketnya. Etiket dibuat di sisi kanan bawah kertas gambar. Pada etiket (kepala gambar) ini, kita dapat mencantumkan : • nama yang membuat gambar • nama gambar • nama instansi, departemen atau sekolah

M9.2A Membaca Gambar Teknik

46

• • • • • • • •

nomor gambar tanggal menggambar gambar

atau

selesainya

tanggal diperiksanya gambar dan nama yang memeriksa ukuran kertas gambar yang dipakai skala gambar proyeksi yang dipakai pada gambar tersebut satuan ukuran yang digunakan berbagai data yang diperlukan untuk kelengkapan gambar.

Beberapa contoh etiket dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.25

Gambar 2.26

4)

GAMBAR PROYEKSI PIKTORIAL Untuk menampilkan gambar – gambar tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi, dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan menggambar. Beberapa macam cara proyeksi itu antara lain : (a) proyeksi piktorial dimetris. (b) proyeksi piktorial isometris. (c) proyeksi piktorial miring. (d) perspektif.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

47

Untuk membedakan masing – masing proyeksi tersebut, dapat kita lihat pada gambar 2.27.

Gambar 2.27

(a) Proyeksi isometris (1) Ciri proyeksi isometris Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi isometris atau untuk menyajikan gambar tiga dimensi pada bidang dengan proyeksi isometris, perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan syarat – syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut. Adapun ciri – ciri gambar dengan proyeksi isometris adalah sebagai berikut : i. Ciri pada sumbu • Sumbu x dan 0 sumbu y mempunyai sudut 30 terhadap garis mendatar. • Sudut antara sumbu satu dan sumbu lainnya 1200. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar 2.27 Ciri pada ukuran

ii.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

48

Panjang gambar pada masing – masing sumbu sama dengan panjang benda yang digambarnya (lihat gambar 2.27!).

Gambar 2.28

(2)

Penyajian proyeksi isometris Penyajian gambar dengan proyeksi isometris dapat dilakukan dengan kedudukan normal, terbalik atau horizontal.

i. normal

Proyeksi isometris dengan kedudukan Kedudukan normal mempunyai sumbu dengan sudut – sudut seperti tampak pada gambar 2.29.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

49

Gambar 2.29

ii. terbalik

Proyeksi isometris dengan kedudukan Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu : • Memutar gambar dengan sudut 0 180 ke kanan dari kedudukan normal, sesuai dengan kedudukan sumbunya (lihat gambar 2.30 berikut!).

Gambar 2.30

Mengubah kedudukan benda yang digambar dengan tujuan untuk memperlihatkan bagian bawah benda tersebut (lihat gambar 2.31 dan 2.32 berikut!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

50

Gambar 2.31

Gambar 2.32

iii.

horizontal

Proyeksi isometris dengan kedudukan

Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggambar kedudukan proyeksi isometris terbalik, yaitu dengan memutar sumbu utama 1800 dari sumbu normal, maka untuk kedudukan horizontal nya 2700 ke kanan dari kedudukan sumbu normalnya (lihat gambar 2.33!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

51

Gambar 2.33

Mengubah kedudukan benda, yaitu untuk memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak terlihat) sebagaimana terlihat pada gambar 2.34.

Gambar 2.34

(3)

Proyeksi dimetris mempunyai ketentuan

Proyeksi dimetris sebagai berikut. i. dan

Sumbu utamanya mempunya sudut (lihat gambar 2.35!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

52

ii.

Perbandingan skala ukuran pada sumbu x 1 : 1, pada sumbu y = 1 : 2 dan pada sumbu z = 1 : 1.

Gambar 2.35

Gambar kubus yang digambar dengan proyeksi dimetris di bawah ini, mempunyai sisi 40 mm.

Gambar 2.36

Keterangan : • sumbu x digambar 40 mm. • sumbu y digambar setengahnya, • sumbu z digambar 40 mm. (4)

Ukuran pada Ukuran pada yaitu 20 mm. Ukuran pada

Proyeksi miring (sejajar) Pada proyeksi miring, sumbu x berimpit dengan garis horizontal atau mendatar dan sumbu

M9.2A Membaca Gambar Teknik

53

y mempunyai sudut 450 dengan garis menfatar. Skala ukuran untuk proyeksi miring ini sama dengan skala pada proyeksi dimetris, yaitu skala pada sumbu x = 1 : 1, pada sumbu y = 1 : 2 dan skala pada sumbu z = 1 : 1 (lihat gambar dibawah ini!).

Gambar 2.37

(5)

Gambar perspektif

Dalam gambar teknik mesin, gambar perspektif jarang dipakai. Gambar perspektif dibagi menjadi tiga macam, yaitu : i. perspektif dengan satu titik hilang. ii. perspektif dengan satu titik hilang. iii. perspektif dengan satu titik hilang.

Gambar 2.38

M9.2A Membaca Gambar Teknik

54

Gambar 2.39

Gambar 2.40

5)

PROYEKSI ORTOGONAL Proyeksi ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya. Garis – garis yang memproyeksikan benda terhadap bidang proyeksi disebut proyektor (lihat gambar di bawah!). selain tegak lurus terhadap bidang proyeksi, garis – garis proyektornya juga sejajar satu sama lain. (a) titik Proyeksi ortogonal dari sebuah

M9.2A Membaca Gambar Teknik

55

(b) garis

Proyeksi ortogonal dari sebuah

Gambar 2.41

Gambar 2.42

(c) bidang

Proyeksi ortogonal dari sebuah

Gambar 2.43

(d) benda

Proyeksi ortogonal dari sebuah

M9.2A Membaca Gambar Teknik

56

Gambar 4.44

(e)

Macam – macam pandangan

Untuk memberikan informasi lengkap suatu benda tiga dimensi dengan gambar proyeksi ortogonal, biasanya memerlukan lebih dari satu bidang proyeksi. i. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di depan benda disebut pandangan depan. ii. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di atas benda disebut pandangan atas. iii. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di sebelah kanan benda disebut pandangan samping kanan. Demikian seterusnya.

Gambar 2.45

(f)

Bidang – bidang proyeksi

M9.2A Membaca Gambar Teknik

57

Gambar 2.46

Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh bidang – bidang depan, bidang vertikal dan bidang horizontal. Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan sebutan kuadran. Ruang diatas bidang H, didepan bidang D dan disamping kanan bidang V disebut kuadran I. Ruang yang berada diatas bidang H, didepan bidang D dan disebelah kiri bidang V disebut kuadran II. Ruang disebelah kiri bidang V, dibawah bidang H dan didepan bidang D disebut kuadran III. Ruang yang berada dibawah bidang H, didepan bidang D dan disebelah kanan bidang V disebut kuadran IV. 6) EROPA) Bila suatu benda diletakkan diatas bidang horizontal, didepan bidang D (depan) dan disebelah kanan bidang V (vertikal), maka benda tersebut berada di kuadran I. Jika benda yang di kuadran I kita proyeksikan terhadap bidang – bidang H, V dan D, maka akan didapat gambar atau proyeksi, dan proyeksi ini disebut proyeksi pada kuadran I yang dikenal juga dengan nama proyeksi Eropa. Gambar 2.47 memperlihatkan titik yang terletak di kuadran I (lihat gambar 2.47) PROYEKSI DI KUADRAN I (PROYEKSI

M9.2A Membaca Gambar Teknik

58

Gambar 2.47

Keterangan : A = AD = AV = AH =

titik di kuadran I. proyeksi titik A di bidang D (depan). proyeksi titik A di bidang V (vertikal). proyeksi titik A di bidang H (horizontal).

Bila ketiga bidang yang saling tegak lurus tersebut dibuka, maka sumbu x dan y sebagai sumbu putarnya dan sumbu z merupakan sumbu yang dibuka atau dipisah, seperti gambar berikut

Gambar 2.28a

Selanjutnya batas – batas bidang dihilangkan maka menjadi bentuk dibawah ini.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

59

Gambar 2.48b

Gambar 2.48c

Bila penempatan benda di kuadran I tidak teratur, maka untuk menempatkan sumbu dapat disederhanakan sesuai dengan ruang yang tersedia. Penyederhanaan dapat dilakukan seperti gambar berikut.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

60

Gambar 2.49a

Gambar 2.49b

(a)

Penampilan gambar Untuk penampilan gambar berikutnya, garis sumbu dan garis bantu tidak diperlukan lagi (dihilangkan). Jadi, yang tampak hanya pandangan saja. Perlu ditegaskan kembali bahwa untuk proyeksi di kuadran I (proyeksi Eropa), penempatan pandangan samping kanan berada disebelah kiri pandangan depannya, sedangkan pandangan atas berada dibawah pandangan depannya.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

61

Gambar 2.49c

(b) terletak di kuadran I

Proyeksi sebuah kubus yang

Gambar 2.50

M9.2A Membaca Gambar Teknik

62

7)

PROYEKSI DI KUADRAN III (PROYEKSI AMERIKA) Bidang – bidang H, V dan D untuk proyeksi di kuadran III (proyeksi Amerika) yang telah dibuka adalah sebagai berikut.

Gambar 2.51

Gambar 2.52

• • •

Pada bidang H ditempatkan pandangan atas. Pada bidang D ditempatkan pandangan depan. Pada bidang V ditempatkan pandangan samping kanan.

Contoh 2.6

M9.2A Membaca Gambar Teknik

63

Gambar 2.53a

Gambar 2.53b

8) (a)

SIMBOL PROYEKSI DAN ANAK PANAH Simbol proyeksi Untuk membedakan gambar atau proyeksi di kuadran I dan gambar atau proyeksi di kuadran III, perlu diberi lambang proyeksi. Dalam standar ISO, telah ditetapkan bahwa cara kedua proyeksi boleh dipergunakan. Tetapi untuk keseragaman ISO, gambar sebaiknya digambar menurut proyeksi sudut pertama (kuadran I atau kita kenal sebagai proyeksi Eropa). Dalam satu buah gambar, tidak diperkenankan terdapat gambar dengan menggunakan kedua proyeksi

M9.2A Membaca Gambar Teknik

64

secara bersamaan. Simbol proyeksi ditempatkan di sisi kanan bawah kertas gambar. Simbol atau lambang proyeksi tersebut adalah sebuah kerucut perpancung (lihat gambar 2.54a dan 2.54b!).

Gambar 2.54a

(b)

Gambar 2.54b

Anak panah

Anak panah digunakan untuk menunjukkan batas ukuran dan posisi atau arah pemotongan, sedangkan angka ukuran ditempatkan diatas garis ukur (lihat gambar 2.55a dan 2.55b!).

Gambar 2.55a

Gambar 2.55b

9)

PENENTUAN PANDANGAN Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping dari pandangan depannya, terlebih dahulu kita harus mentapkan sistem proyeksi apa yang kita pakai; apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika)?

M9.2A Membaca Gambar Teknik

65

Setelah kita menetapkan sistem proyeksi yang kita pakai, barulah kita dapat menetapkan pandangan dari objek yang kita gambar tersebut. (a) Menempatkan pandangan depan, atas dan samping kanan menurut proyeksi kuadran I (Eropa)

(b)

Menentukan pandangan depan, atas dan samping kanan menurut proyeksi kuadran III (Amerika)

Gambar 2.56

M9.2A Membaca Gambar Teknik

66

Gambar 2.57

(c)

Penetapan jumlah pandangan Jumlah pandangan dalam satu objek atau gambar tidak semuanya harus digambar. Misalnya, untuk benda – benda bubutan sederhana, dengan satu pandangan saja yang dilengkapi dengan simbol (lingkaran) sudah cukup untuk memberikan informasi yang jelas. Lihat gambar 2.58 berikut!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

67

Gambar 2.58

Gambar 2.59

(d)

Jenis – jenis pandangan utama Gambar kerja yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah gambar dalam bentuk pandangan – pandangan. Sebagai bahan pandangan utamanya ialah pandangan depan, pandangan samping dan pandangan atas. Dalam gambar kerja, tidak selamanya ketiga pandangan harus ditampilkan, ini tergantung pada rumit atau sederhananya bentuk benda. Hal terpenting, gambar pandangan – pandangan ini harus memberikan informasi yang jelas.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

68

Perhatikan gambar 2.60 dan 2.61 di bawah ini!

Gambar 2.60

Gambar 2.61

Kedua gambar diatas, walaupun hanya terdiri atas satu pandangan saja, dapat membedakan bentuk bendanya, yaitu dengan adanya simbol atau lambang untuk bentuk lingkaran dan untuk bentuk bujur sangkar dan bentuk – bentuk gambar piktorial nya adlah sebagai berikut.

Gambar 2.62

Gambar 2.63

M9.2A Membaca Gambar Teknik

69

(e)

Pemilihan pandangan utama Untuk memberikan informasi bentuk gambar, seharusnya kita pilih pandangan yang dapat mewakili bentuk benda (perhatikan gambar 2.64 dibawah ini!).

Gambar 2.64

Pandangan atau gambar diatas belum dapat memberikan informasi yang jelas. Oleh karena itu, dalam memilih pandangan yang disajikan harus dapat mewakili bentuk benda (lihat gambar 2.65, gambar – gambar 2.64 diatas!).

Gambar 2.65

Dari gambar piktorial (gambar 2.65) diatas, yang dapat memberikan informasi bentuk secara tepat dalam bentuk gambar pandangan adalah pandangan depan dengan pandangan sampingnya (lihat gambar 2.66!).

Gambar 2.66

M9.2A Membaca Gambar Teknik

70

Sebaliknya, dua pandangan depan dan samping belum tentu dapat memberikan informasi yang maksimum (lihat gambar 2.67 berikut!).

Gambar 2.67

Dengan dua pandangan diatas, belum cukup memberikan informasi bentuk secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, perlu satu pandangalagi untuk kejelasan gambar tersebut, yaitu pandangan atas.

Gambar 2.68

Setelah dilengkapi dengan pandangan atasnya, barulah kita mendapatkan informasi bentuk yang lengkap dari gambar 2.67 dan 2.68, yaitu seperti gambar 2.69.

Gambar 2.69

M9.2A Membaca Gambar Teknik

71

10) (a)

MENGGAMBAR PANDANGAN – PANDANGAN Menggambar pandangan bentuk proyeksi dimetris ke proyeksi Amerika dari

Gambar 2.70

(b)

Perubahan gambar dari proyeksi isometris ke gambar proyeksi Amerika

M9.2A Membaca Gambar Teknik

72

Gambar 2.71

(c)

Perubahan gambar dari proyeksi miring ke gambar proyeksi Eropa

Gambar 2.72

M9.2A Membaca Gambar Teknik

73

(d)

Perubahan gambar dari proyeksi dimetris ke proyeksi Eropa

Gambar 2.73

(e)

Perubahan gambar dari proyeksi isometris ke gambar proyeksi Eropa

Gambar 2.74

M9.2A Membaca Gambar Teknik

74

Gambar 2.75

11)

LATIHAN

Gambar 2.76

M9.2A Membaca Gambar Teknik

75

(a)

Salinlah pada kertas gambar A4!

huruf

standar

berikut

Gambar 2.77

M9.2A Membaca Gambar Teknik

76

(b) mistar i.

Latihan menggunakan jangka dan Buatlah segi beraturan yang terdiri atas : segi empat, segi lima, segi enam dan segi tujuh beraturan seperti terlihat pada gambar 2.78 berikut! Caranya dapat dilihat pada gambar 2.79, 2.80, 2.81 dan 2.82.
Gambar 2.78

Buatlah konstruksi spiral Archimedes pada kertas gambar A4! Caranya dapat dilihat pada gambar 2.83 berikut. iii. Buatlah elips dengan dua lingkaran sepusat! Caranya dapat dilihat pada gambar 2.84. ii. i. beraturan Cara membuat gambar segi empat

M9.2A Membaca Gambar Teknik

77

ii. beraturan

Gambar 2.79

Cara

menggambar

segi

lima

M9.2A Membaca Gambar Teknik

78

Gambar 2.80 Menggambar segi enam beraturan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

79

Gambar 2.81

M9.2A Membaca Gambar Teknik

80

iii. beraturan

Cara

menggambar

segi

tujuh

M9.2A Membaca Gambar Teknik

81

Gambar 2.82

M9.2A Membaca Gambar Teknik

82

Gambar 2.83

M9.2A Membaca Gambar Teknik

83

iv.

archimedes

Cara

menggambar

spiral

M9.2A Membaca Gambar Teknik

84

Gambar 2.84

v. sepusat

Elips

dengan

dua

lingkaran

M9.2A Membaca Gambar Teknik

85

Untuk membuat elips dengan pertolongan dua buah lingkaran sepusat, dapat dilakukan langkah – langkah berikut : • Tentukan panjang sumbu minor dan sumbu mayor, yaitu garis d dan garis D pada gambar (a)! • Buat lingkaran dengan diameter d dan D pada titik pusat yang sama! • Buat sumbu tegak dan sumbu mendatarnya sehingga terlihat seperti gambar (b)! • Bagi lingkaran tersebut menjadi 12 bagian dan buat pula garis batas pembaginya sebagaimana terlihat pada gambar (c)! Semakin banyak pembagian kelilingnya semakin teliti lengkungan elipsnya. • Buat garis – garis mendatar pada titik – titik 1, 2, 3,... 8 sebagaimana terlihat pada gambar (d)! • Buat garis – garis mendatar pada titik – titik yang berada pada lingkaran dalam hingga berpotongan dengan garis – garis tegak pada titik – titik B, C, E, F, H, I, K dan L, seperti tampak pada gambar (c)! • Hubungkan dengan mal busur, titik – titik A, B, C,... sampai dengan A kembali, secara berturut – turut, sehingga terbentuk elips yang diinginkan seperti tampak pada gambar (f)!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

86

MELUKIS ELIPS

M9.2A Membaca Gambar Teknik

87

Gambar 2.85

vi. busur lingkaran

Elips

dengan

dua

pendekatan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

88

Untuk membuat gambar elips dengan menggunkan dua busur lingkaran, dapat dilakukan dengan langkah – langkah berikut : • Buat garis sumbu tegak dan mendatar, lihat gambar (a)! • Tentukan sumbu pendek (minor) dan sumbu panjang (mayor); yaitu panjang OA dan OB, lihat gambar (b)! • Buat lingkaran dengan jari – jari OA yang berpusat di titik O hingga memotong sumbu tegak di C! • Buat busur lingkaran dengan titik pusat di titik C dengan ukuran jari – jari BC! • Tarik garis AB dan memotong busur lingkaran di titik D! • Bagilah garis AD menjadi dua bagian, yaitu AG = DG! • Buat garis tegak lurus melalui titik G hingga memotong garis sumbu tegak di titik I, dan memotong sumbu mendatar di titik H! • Buat busur lingkaran yang berjari – jari AH dan bertitik pusat di titik H (R1 = AH), lihat gambar (c)! • Buat busur lingkaran dengan jari – jari R2 = IB dan bertitik pusat di titik I, lihat gambar (d)! • Lakukan hal yang sama untuk lengkungan elips sebelah kiri dan sebelah bawah, lihat gambar (e)! • Jika garis – garis bantu dihapus maka akan terlihat gambar elips seperti terlihat pada gambar (f)!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

89

ELIPS

M9.2A Membaca Gambar Teknik

90

vii.

Gambar 2.86

Salinlah

gambar

berikut

pada

kertas gambar A4!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

91

viii.

Gambar 2.87

Salinlah

gambar

berikut

pada

kertas gambar A4!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

92

Gambar 2.88

M9.2A Membaca Gambar Teknik

93

ix. kertas gambar A4!

Salinlah

gambar

berikut

pada

M9.2A Membaca Gambar Teknik

94

x.

Buatlah tiga pandangan utama dari gambar 2.90 menurut proyeksi Amerika! Masing – masing pada kertas gambar A4!

Gambar 2.89

M9.2A Membaca Gambar Teknik

95

xi.

Buatlah tiga pandangan utama dari gambar 2.91 menurut proyeksi Eropa! Masing – masing pada kertas gambar A4!

Gambar 2.90

M9.2A Membaca Gambar Teknik

96

xii.

Buatlah gambar pandangan menurut proyeksi Amerika atau Eropa dari gambar isometrs (gambar 2.92) berikut! Masing – masing dibuat pada kertas gambar A4!

Gambar 2.91

M9.2A Membaca Gambar Teknik

97

xiii.

Gambar 2.92

Membaca gambar

a.

Jodohka n kedua proyeksi diatas pada tabel berikut! Bidang 5 6

No Proyeksi 1 2

1

2

3

4

7

8

9

10

M9.2A Membaca Gambar Teknik

98

b.

Isilah tabel berikut dengan menjodohkan kedua macam proyeksi diatas! Bidang 5 6

cara

Proyeksi Eropa Amerika

1

2

3

4

7

8

9

10

M9.2A Membaca Gambar Teknik

99

c.

Jodohkanlah tabel berikut dengan cara menyesuaikan proyeksi dari gambar berikut! Pasangan proyeksi 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Proyeksi Eropa Isometri s

1

2

3

4

5

M9.2A Membaca Gambar Teknik

100

d.

Isilah lingkaran – lingkaran dengan huruf yang sesuai dengan proyeksi dimetris berikut!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

101

e.

Isilah lingkaran – lingkaran yang terdapat pada proyeksi miring dengan huruf yang sesuai dengan proyeksi Eropa berikut!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

102

2.

KEGIATAN BELAJAR II : GAMBAR POTONGAN

M9.2A Membaca Gambar Teknik

103

a. 1) 2)

Tujuan kegiatan pembelajaran, peserta diklat dapat : Membuat gambar potongan dengan sistem Eropa. Membuat gambar potongan dengan sistem Amerika. 3) 4) 5) setempat. 6) 7) Membuat gambar potongan meloncat. Membuat gambar potongan putar. Materi pembelajaran A. GAMBAR POTONGAN Untuk memberikan informasi lengkap dari gambar yang berongga atau berlubang, perlu menampilkan gambar dengan teknik menggambar yang tepat. Kadang – kadang gambar tampak lebih rumit karena adanya garis – garis gambar yang tidak kelihatan. Oleh karena itu, garis – garis gores yang akan menimbulkan salah pengertian (salah informasi) perlu dihindari, yaitu dengan menunjukkan gambar potongan atau irisan. 1) irisan Gambar potongan atau gambar irisan ini fungsinya untuk menjelaskan bagian – bagian gambar benda yang tidak kelihatan. Misalnya dari benda yang dibor (baik yang dibor tembus maupun yang dibor tidak tembus), lubang – lubang pada flens atau pipa – pipa, rongga – rongga pada rumah katup dan rongga – rongga pada blok mesin. Bentuk rongga tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan gambar potongan agar dapat memberikan ukuran atau informasi yang jelas dan tegas, sehingga terhindar dari kesalahpahaman membaca gambar. 2) Gambar potongan atau gambar irisan Fungsi gambar potongan atau gambar PENUNJUKAN Membuat gambar potongan penuh. Membuat gambar potongan separuh. Membuat gambar potongan sebagian atau

b.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

104

Gambar potongan atau gambar irisan dapat dijelaskan menggunakan pemisalan benda yang dipotong dengan gergaji (lihat gambar 2.93 berikut!).

Gambar 2.92a

Gambar 2.92b

Gambar 2.92c

Keterangan : • Gambar 2.92a memperlihatkan gambar lengkap dengan garis gores sebagai batas – batas garis yang tidak kelihatan. Dengan adanya garis – garis tersebut, gambar kelihatan agak rumit. • Gambar 2.92b memperlihatkan gambar yang kurang jelas. Dalam hal ini, kita tidak bisa memastikan apakah lubang tersebut merupakan lubang tembus atau tidak tembus, mempunyai lubang yang bertingkat atau rata, sehingga setiap orang akan menafsirkan bentuk lubang yang berbeda, yang menyebabkan informasi kurang jelas. • Gambar 2.92c; karena gambar 2.92a dan gambar 2.92b menimbulkan keraguan dalam pembacaannya, maka gambar dapat dijelaskan menggunakan pemisalan bahwa benda tersebut dipotong dengan gergaji, sehingga bentuk rongga di dalamnya dapat terlihat dengan jelas dan tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menentukan bentuk bagian dalamnya.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

105

Dengan gambar potongan atau gambar irisan, seperti pada gambar 2.92c diatas, diperoleh ketegasan atau kejelasan tentang bentuk rongga sebelah dalam, sehingga informasi yang diberikan oleh gambar dapat efisien. Gambar potongan atau gambar irisan harus diarsir sesuai dengan batas garis pemotongannya. 3) Tanda pemotongan Untuk menjelaskan gambar yang dipotong, perlu adanya tanda pemotongan yang sudah ditetapkan sesuai dengan aturan – aturan menggambar teknik. Tanda pemotongan ini terdiri atas : • Tanda pemotongan dengan garis sumbu dan kedua ujungnya ditebalkan (lihat gambar 2.93a, 2.93b dan 2.93c!). • Tanda pemotongan dangan garis tipis bergelombang bebas (lihat gambar 2.94!). • Tanda pemotongan dengan garis tipis berzigzag (lihat gambar 2.95!).

Gambar 2.93a

Gambar 2.93b

Gambar 2.93c

Gambar 2.94

Gambar 2.95

4)

Pandangan pada gambar potongan Untuk membuat gambar potongan atau gambar irisan, kita perlu memperlihatkan anak – anak panah pada

M9.2A Membaca Gambar Teknik

106

kedua ujung garis potongnya. Arah anak panah ini menunjukkan arah pandangan dari benda yang dipotong dengan batas garis pemotongnya (lihat gambar 2.96a, 2.96b, 2.96c dan gambar 2.96d!). 5) Menempatkan gambar potongan gambar penampang atau

Untuk menempatkan gambar penampang atau gambar potongan, kita perlu memperhatikan penempatan gambar potongan tersebut sesuai dengan proyeksi yang akan kita gunakan, apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika)? Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar 2.96a, 2.96b, 2.96c dan 2.96d!

Gambar 2.96a

M9.2A Membaca Gambar Teknik

107

Gambar 2.96b

Gambar 2.96c

M9.2A Membaca Gambar Teknik

108

Gambar 2.96d

Jika proyeksi yang diguanakan adalah proyeksi Amerika, maka gambar penampang potongnya diletakkan atau berada dibelakan g arah anak panahnya (lihat gambar 2.96a dan 2.96c diatas!). Jika proyeksi yang digunakan proyeksi Eropa maka penempatan gambar potongannya berada di depan arah anak panahnya (lihat gambar 2.96b dan 2.96d diatas!). Selain ditempatkan sesuai dengan proyeksi yang digunakan, penampang potongan dapat juga diputar di tempat (penampang putar) seperti tampak pada gambar 2.97a, atau dengan dipotong dan diputar kemudian dipindahkan ke tempat lain segaris dengan sumbunya seperti tampak pada gambar 2.97b.

Gambar 2.97a

Gambar 2.97b

6)

Benda – benda yang tidak boleh dipotong

M9.2A Membaca Gambar Teknik

109

Benda – benda yang tidak boleh dipotong yaitu benda – benda pejal, misal : poros pejal, jari – jari pejal dan semacamnya (lihat gambar 2.98a!). Benda – benda tipis, misalnya : pelat – pelat penguat pada dudukan poros dan pelat penguat pada flens (lihat gambar 2.98b!) juga tidak boleh dipotong. Bagian – bagian yang tidak boleh dipotong tersebut yaitu bagian – bagian yang tidak diarsir.

Gambar 2.98a

B. GAMBAR POTONGAN • • • • •

Gambar 2.98b

JENIS

JENIS

Jenis – jenis gambar potongan atau gambar irisan terdiri atas : Gambar potongan penuh. Gambar potongan separuh. Gambar potongan sebagian atau setempat. Gambar potongan putar. Gambar potongan bercabang atau meloncat. 1) Gambar potongan penuh Perhatikan gambar potongan penuh pada gambar 2.99 berikut!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

110

Gambar 2.99

2) Gambar potongan separuh Perhatikan gambar potongan separuh pada gambar 2.100 berikut!

Gambar 2.100

3) Gambar potongan sebagian Gambar potongan sebagian disebut juga potongan lokal atau potongan setempat (lihat gambar 2.101!).

Gambar 2.101

4) Gambar potongan putar

M9.2A Membaca Gambar Teknik

111

Gambar potongan putar dapt diputar setempat seperti tampak pada gambar 2.101 atau dapat juga penempatan potongannya pada gambar 2.102.

Gambar 2.102

5) Gambar potongan bercabang atau meloncat Perhatikan contoh gambar 2.103 berikut!

C.

Gambar 2.103

GARIS ARSIRAN

Untuk membedakan gambar proyeksi yang dipotong dengan gambar pandangan, maka gambar potongan atau gambar irisan perlu diarsir. Arsir yaitu garis – garis miring tipis yang dibatasi oleh garis – garis batas pemotongan. Lihat gambar 2.104 dibawah!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

112

Gambar 2.104

D. ARSIRAN

MACAM – MACAM Hal – hal yang yang perlu diperhatikan pada gambar yang diarsir antara lain : 1. sudut dan ketebalan garis arsiran. 2. bidang atau pengarsiran pada bidang yang luas. 3. pengarsir an bidang yang berdampingan. 4. pengarsir an benda – benda tipis. 5. peletaka n angka ukuran pada gambar yang diarsir. 6. macam – macam garis arsiran yang disesuaikan dengan bendanya. 1. Sudut dan ketebalan garis arsiran Sudut arsiran yang dibuat adalah 450 terhadap garis sumbu utamanya, atau 450 terhadap garis batas gambar, sedangkan ketebalan arsiran digunakan garis tipis dengan perbandingan ketebalan sebagai berikut (lihat tabel 2.4!).
Tabel 2.4 Ketebalan mcam – macam garis

Macam garis
Garis gambar / tepi Garis gores Garis tipis (arsir) 1,0 0,7 0,5

Ketebalan garis (dalam mm)
0,7 0,5 0,35 0,5 0,35 0,25

M9.2A Membaca Gambar Teknik

113

Dari tabel diatas, kita dapat menentukan ketebalan garis arsiran yang disesuaikan dengan garis gambarnya. Jika garis tepi atau garis gambar mempunyai ketebalan 0,5 mm maka garis – garis arsirnya dibuat setebal 0,25 mm. Sudut dan ketebalan garis arsiran dapat dilihat pada gambar 2.105 berikut!

Gambar 2.105

M9.2A Membaca Gambar Teknik

114

2.

Pengarsiran bidang yang luas Untuk pemotongan benda yang luas, arsiran pada bidang potongnya dilaksanakan pada garis tepi garis – garis batasnya (lihat gambar 2.106!).

Gambar 2.106

3.

Pengarsiran bidang yang berdampingan Untuk pemotongan meloncat atau pemotongan bercabang, ada bidang – bidang potong yang berdampingan, maka batas – batas bidang yang berdampingan tersebut harus dibatasi oleh garis – garis bertitik (sumbu) dan pengarsirannya harus turun atau naik dari ujung arsiran yang lainnya (lihat gambar 2.107!).

Gambar 2.107

M9.2A Membaca Gambar Teknik

115

4.

Pengarsiran benda – benda tipis Untuk gambar potongan benda – benda tipis atau profil – profil tipis maka pengarsirannya dibuat dengan cara dilabur (lihat gambar 2.108!).

Gambar 2.108

5.

Angka ukuran dan arsiran Jika angka ukuran terletak pada arsiran (karena tidak dapat dihindari), maka angka ukurannya jangan diarsir (lihat gambar 2.109).

Gambar 2.109

6.

Macam – macam arsiran Perhatikan gambar 2.110!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

116

Gambar 2.110

Keterangan : a = Besi tuang b = Aluminium dan paduannya c = Baja dan baja istimewa d = Baja tuang yang dapat ditempa e = Baja cair f = Logam putih g = Paduan tembaga tuang h = seng atau air raksa

M9.2A Membaca Gambar Teknik

117

E. MENGGAMBAR POTONGAN 1.

LATIHAN Buatlah gambar potongan separuh dari gambar 2.111 di bawah, dengan skala 1 : 1! Buat pula gambar pandangan atasnya menurut proyeksi kuadran I (Eropa)! Lengkapi dengan etiket nya dengan nama gambar DUDUKAN KATUP! Ukuran kertas gambar A4 (tegak).

Gambar 2.111

2.

Buatlah gambar potongan penuh dari benda (gambar 2.12) di bawah, dengan ketentuan sebagai berikut! • Proyeksi di kuadran III (Amerika). • Kertas gambar A4 (tegak). • Gambar terdiri atas pandangan atas dan potongan penuh. • Lengkapi dengan etiket nya! • Nama gambar POTONGAN PENUH

M9.2A Membaca Gambar Teknik

118

Gambar 2.112

3.

Buat gambar potongan A – A, penampang penuh dengan pandangan samping kanan menurut proyeksi di kuadran III dari gambar 2.113 di bawah! Nama gambar PENAMPANG – PENAMPANG. Dengan ketentuan : • Skala 1 : 1 • Kertas gambar A4 (tegak) lengkap dengan etiket nya

M9.2A Membaca Gambar Teknik

119

Gambar 2.113

4.

Buat gambar dengan tiga pandangan utama dari gambar 2.114 (dudukan poros)! Jelaskan pada gamabr pandangan depan dengan penampang setempat (lokal) untuk memperlihatkan lubang baut! Gambar dibuat pada kertas gambar A4.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

120

Gambar 2.114
DUDUKAN POROS

No.
1 2 3 4

Nama Bagian
Dudukan poros Rusuk Alas Rusuk

Bahan
St St St St 37 37 37 37

Jumlah
1 1 1 1

Keterangan
Bubutan Pelat Pelat Pelat

3. KERJA a.

KEGIATAN BELAJAR III : UKURAN PADA GAMBAR Tujuan kegiatan pembelajaran, peserta diklat dapat :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

121

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10)

Mencantumkan ukuran pada gambar kerja. Menggambar pandangan dengan proyeksi di kuadran I dan mencantumkan ukuran pada gambar kerja. Menggambar pandangan dengan proyeksi di kuadran III dan mencantumkan ukuran pada gambar kerja. Menggunakan garis bantu sebagai garis ukur. Menggunakan ukuran dengan dimensi fungsional. Menggunakan ukuran dengan dimensi non fungsional. Menggunakan ukuran dengan dimensi tambahan. Menggunakan ukuran ketirusan. Menggunakan simbol ukuran pada gambar kerja. Menggambar pandangan, baik dengan proyeksi di kuadran I maupun dengan proyeksi kuadran III yang dilengkapi dengan ukurannya. Materi pembelajaran

b. A.

KETENTUAN KETENTUAN DASAR PENCANTUMAN UKURAN

Agar tidak menimbulkan keraguan didalam membaca gambar, maka pada gambar kerja harus dicantumkan ukuran dengan aturan – aturan menggambar yang telah ditetapkan. Ketentuan – ketentuan tersebut meliputi ketentuan : • Menarik garis ukur dan garis bantu. • Menggambar anak panah. • Menetapkan jarak antara garis ukur. • Menetapkan angka ukuran. 1. Menarik garis ukur dan garis bantu Garis ukuran dan garis bantu dibuat dengan garis tipis menggunakan perbandingan ketebalan antara garis gambar dan garis ukur atau garis bantu sebagai berikut (lihat tabel 2.5!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

122

Tabel 2.5 Perbandingan garis ukur dengan garis bantu

Macam garis
Garis gambar / tepi Garis ukur / bantu 1 0,5

Ukuran (mm)
0,7 0,35 0,5 0,25

Contoh 2.7 Perhatikan gambar 2.115 berikut!

Gambar 2.115

2.

Menetapkan jarak antara garis ukur Jika garis ukuran terdiri atas garis – garis ukur yang sejajar, maka jarak antara garis ukur yang satu dan garis ukur lainnya harus sama. Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa garis ukur jangan sampai berpotongan dengan garis bantu, kecuali terpaksa. Garis gambar tidak boleh digunakan sebagai garis ukur. Garis sumbu boleh digunakan sebagai garis bantu, tetapi tidak boleh digunakan langsung sebagai garis ukur. Untuk menempatkan garis ukur yang sejajar, ukuran terkecil ditempatkan pada bagian dalam dan ukuran besar ditempatkan di bagian luar. Hal ini untuk menghindari perpotongan antara garis ukur dan garis bantu. Jika terdapat

M9.2A Membaca Gambar Teknik

123

perpotongn garis bantu dengan garis ukur, garis bantunya diperpanjang 1 mm dari ujung anak panahnya.

Gambar 2.116

Keterangan : 1. Garis ukur yang sejajar. 2. Garis bantu yang berpotongan (tidak dapat dihindarkan). 3. Garis sumbu yang digunakan secara tidak langsung ebagai garis bantu. 4. Garis ukur yang terkecil (ditempatkan di dalam). 5. Garis ukur tambahan (pelengkap). 6. Perpanjangan garis bantu dilebihkan ± 1 mm dari garis ukurnya atau dari ujung anak panahnya. 7. Penempatan garis ukur yang sempit. 8. Garis bantu yang paralel (jika diperlukan). Garis ukur pada umumnya tegak lurus terhadap garis bantunya, tetapi pada keadaan tertentu garis bantu dibuat

M9.2A Membaca Gambar Teknik

124

miring sejajar atau paralel, sebagai contoh dapat dilihat pada gambar 2.16. 3. Penulisan angka ukuran Penulisan angka ukuran ditempatkan di tengah – tengah bagian atas garis ukurnya, atau di tengah – tengah sebelah kiri garis ukurnya. Untuk kertas gambar berukuran kecil, maka penulisan angka ukuran pada garis ukur harus tegak, kertas gambarnya dapat diputar ke kanan, sehingga penulisan dan pembacaannya tidak terbalik. Angka ukuran harus dapat dibaca dari bawah atau dari sisi kanan garis ukurnya (lihat gambar berikut).

Gambar 2.117

Jika kertas gambar diputar ke kiri, akan menghasilkan angka ukuran yang terbalik. Ukuran (c) pada gambar diatas adalah penulisan angka ukuran yang terbalik. B. PENCANTUMAN UKURAN Benda – benda yang diukur mempunyai bentuk yang bermacam – macam, fungsi, kualitas atau pengerjaan yang khusus. Oleh karena itu, pencantuman ukuran diklasifikasikan menjadi : • Pengukuran dengan dimensi fungsional. • Pengukuran dengan dimensi non – fungsional. • Pengukuran dengan dimensi tambahan. • Pengukuran dengan kemiringan atau ketirusan. KLASIFIKASI

M9.2A Membaca Gambar Teknik

125

• •

Pengukuran dengan bagian yang dikerjakan khusus. Pengukuran dengan kesimetrian.

1. Pengukuran dengan dimensi fungsional, fungsional dan ukuran tambahan

non

Jika suatu benda terdiri atas bagian – bagian (bagian yang dirakit), maka ukuran bagian yang satu dengan lainnya mempunyai fungsi yang sama, sehingga satu sama lain mempunyai ukuran yang berpasangan dan pencantuman ukuran sebagai fungsi yang berpasangan. Jika benda kerja yang digambar berdiri sendiri, tetapi dalam sistem pengerjaannya bertahap, maka digambar sesuai dengan ukurannya sebagai fungsi pengerjaan. Ukuran – ukuran yang tidak berfungsi disebut ukuran nonfungsional. Untuk melengkapi ukuran, dalam hal ini supaya tidak menimbulkan keraguan dalam membaca gambar terutama dalam jumlah ukuran total, maka ukuran pada gambar dilengkapi dengan ukuran tambahan. Ukuran tambahan ini harus ditempatkan diantara dua kurung atau di dalam kurung (lihat gambar 2.118 berikut!).

Gambar 2.118

Keterangan :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

126

F NF H

= Dimensi fungsional = Dimensi non fungsional = Dimensi tambahan

2. Pengukuran ketirusan Untuk mencantumkan ukuran benda yang mempunyai bentuk miring, ukuran kemiringannya dicantumkan dengan harga tangen sudutnya.

Gambar 2.119

Contoh 2.8 Jika H = 20 mm, h = 16 mm dan L = 40 mm maka kemiringannya adalah :

ditulis 1 : x = 1 : 10 (lihat gambar 2.120 berikut!).

Gambar 2.120

M9.2A Membaca Gambar Teknik

127

Sedangkan untuk benda – benda yang mempunyai bentuk tirus (kerucut), ukuran ketirusannya dicantumkan berdasarkan harga 2.tg½ = 1 : y (lihat gambar 2.121!).

Gambar 2.121

Ketirusannya adalah :

Contoh 2.9 Jika D = 34 mm, d = 30 mm dan L = 40 mm, maka ketirusannya adalah :

3. Penunjukan khusus

ukuran

pada

bagian

yang

dikerjakan

Untuk memberikan keterangan gambar pada benda – benda yang dikerjakan khusus, misalnya dikartel pada bagian tertentu atau dihaluskan dengan ampelas halus, maka pada bagian yang dikerjakan khusus tadi gambar bagian luarnya diberi garis tebal bertitik (lihat gambar 2.122!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

128

Gambar 2.122

4. Pemberian ukuran pada bagian – bagian yang simetris Untuk memberikan ukuran – ukuran pada gambar – gambar simetris, jarak antara tepi dan sumbu simetrisnya tidak dicantumkan (lihat gambar 2.123!).

Gambar 2.123

C. SIMBOL - SIMBOL UKURAN

PENCANTUMAN Benda – benda dengan bentuk tertentu, ukurannya dicantumkan mbolnya; misal benda – benda yang berbentuk silinder, bujursangkar, bola dan pinggulan (chamfer). Lihat gambar 2.124 berikut!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

129

Keterangan : SØ = diameter bola dengan ukuran 32mm. SR16 = jari – jari bola dengan ukuran 16 mm. C3 = chamfer atau pinggulan dengan ukuran 3 x 450. Ø23 = simbol ukuran silinder, dengan ukuran 23 mm. 34 = simbol ukuran bujursangkar, dengan ukuran sisinya 34 mm. 120 = simbol ukuran tidak menurut skala yang sebenarnya. M12 = simbol ukuran ulir dengan jenis ulir simetris dan berdiameter luar 12 mm. 2 = silang atau cross dengan garis tipis; simbol bidang rata. 1 = strip titik (tebal); simbol yang dikerjakan khusus. 1. Penunjukan ukuran jari Untuk menunjukkan ukuran jari – jari, dapat digambarkan dengan garis ukur dimulai dari titik pusat, sampai busur lingkarannya. Sebagai simbol dari jari – jari tersebut, di depan angka ukurnya diberi tanda huruf “R” (lihat gambar 2.125a berikut!).

Gambar 2.124

M9.2A Membaca Gambar Teknik

130

Gambar 2.125 Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran

Gambar 2.125 Penempatan anak panah di dalam dan ukuran di luar lingkaran

Gambar 2.125c Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran

Gambar 2.125d

M9.2A Membaca Gambar Teknik

131

Penunjukkan jari – jari dengan garis ukur yang diperpendek

2.

Menentukan titik pusat jari – jari fillet Gambar yang mempunyai fillet terdiri atas dua garis yang berpotongan dengan sudut 900, dua garis berpotongan dengan sudut lancip (< 900), dan dua garis berpotongan dengan sudut tumpul (>900). Perhatikan gambar 2.126 di bawah!

Gambar 2.126a Jari – jari pada dua garis dengan sudut 900

Gambar 2.126b Jari – jari pada dua garis dengan sudut < 900 (lancip)

Gambar 2.126c Jari – jari pada dua garis dengan sudut > 900 (tumpul)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

132

Selain lengkungan (jari – jari) yang didapat dari dua garis yang berpotongan seperti gambar 2.126 di atas, juga terdapat lengkungan (jari - jari) yang diperoleh dari garis yang memotong lingkaran (lihat gambar 2.127 berikut!).

Gambar 2.127a

Gambar 2.127b

Gambar 2.127c Titik pusat jari – jari yang menyinggung dua lingkaran

M9.2A Membaca Gambar Teknik

133

Gambar 2.127c Titik pusat jari – jari yang menyinggung lingkaran dan garis

3.

Pengukuran sudut, tali busur dan busur lingkaran

Gambar 2.128

D. KETEBALAN

PENGUKURAN

M9.2A Membaca Gambar Teknik

134

Pengukuran benda – benda tipis, seperti pengukuran pada pelat, ukuran tebalnya dapat dilengkapi dengan simbol “t” sebagai singkatan dari “thicknees” yang secara kebetulan artinya tebal (juga berhuruf awal “t”). Penunjukkan ukurannya, lihat gambar 2.129 berikut!

Gambar 2.128

E. PENULISAN UKURAN

JENIS

JENIS

Penulisan ukuran pada gambar kerja, menurut jenisnya terdiri atas : • Ukuran berantai. • Ukuran paralel (sejajar). • Ukuran kombinasi. • Ukuran berimpit. • Ukuran koordinat. • Ukuran yang berjarak sama. • Ukuran terhadap bidang referensi. 1. Ukuran berantai Pencantuman ukuran secara berantai ini ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya ialah mempercepat pembuatan gambar kerja. Kekurangannya ialah dapt menimbulkan toleransi yang semakin besar, sehinga pekerjaan tidak teliti. Oleh jarena itu, pencantuman ukuran secara berantai ini pada umumnya dilakukan pada pekerjaan – pekrjaan yang tidak memerlukan ketelitian tinggi. Lihat gambar 2.130!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

135

Gambar 2.130

2. Ukuran paralel (sejajar) Lihat gambar 2.131!

3. Ukuran kombinasi

Gambar 2.131

Perhatikan gambar 2.132!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

136

Gambar 2.132

4. Ukuran berimpit Ukuran berimpit yaitu pengukuran dengan garis – garis ukur yang ditumpangkan (berimpit) satu sam lain. Ukuran berimpit ini dapat dibuat jika tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam membaca gambarnya (lihat gambar 2.133!).

Gambar 2.133

Pada pengukuran berimpit ini, titik pangkal sebagai batas ukuran atau patokan ukuran (bidang referensi)-nya harus dibuat lingkaran dan angka ukurnya harus diletakkan di dekat anak panahsesuai dengan penunjukan ukurannya. 5. Pengukuran terhadap bidang referensi Bidang referensi adalah bidang batas ukuran yang digunakan sebagai patokan pengukuran.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

137

Contoh 2.10 Pengukuran benda kerja bubutan terhadap bidang datar atau bidang rata (lihat gambar 2.134!).

Gambar 2.134

6. Pengukuran koordinat Jika pengukuran berimpit dilakukan dalam dua arah, yaitu penunjukan ke arah sumbu x dan penunjukan ukuran ke

M9.2A Membaca Gambar Teknik

138

arah sumbu y dengan bidang referensi nya di O, maka akan didapat pengukuran “koordinat” (lihat gambar 2.135!).

Gambar 2.135

7. Pengukuran yang berjarak sama Untuk memberikan ukuran pada bagian yang berjarak sama, penunjukan ukurannya dapat dilaksanakan sebagai berikut (lihat gambar 2.136!).

Gambar 2.136

Untuk menghindarkan kesalahan atau keraguan di dalam membaca gambarnya, dapat dituliskan salah satu ukurannya (lihat gambar 2.137!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

139

Gambar 2.137

8. Pengukuran alur pasak Jika kita memberikan ukuran diameter pada penampang atau potongan yang beralur pasak, misalnya pada kopling, roda gigi atau alur pasak pada puli, maka penunjukan ukuran diameternya seperti tampak pada gambar 2.138 berikut

Gambar 2.138

9. Pengukuran pada lubang Untuk memberikan ukuran pada lubang yang berjarak sama, dapat dilakukan seperti tampak pada gambar 2.139 berikut.

10. Pengukuran pada profil

Gambar 2.139

M9.2A Membaca Gambar Teknik

140

Untuk memberikan ukuran pada profil – profil yang telah distandar, dapat dilakukan seperti tampak pada gambar 2.140 berikut.

Gambar 2.140

11. Cara membuat pengukurannya

gambar

mur

dan

baut

serta

Gambar 2.141

M9.2A Membaca Gambar Teknik

141

Gambar 2.142

F. MENCANTUMKAN UKURAN

LATIHAN 1. Salinlah gambar berikut pada kertas gambar A4 dengan skala 1 : 1, lengkap dengan etiket dan ukurannya! Nama gambar MUR BAUT (lihat gambar 2.143!). 2. Salinlah gambar 2.144 pada kertas gambar A4 dengan skala 1 : 1, lengkap dengan etiket dan ukurannya! Nama gambar BAUT PENGIKAT.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

142

Gambar 2.143

M9.2A Membaca Gambar Teknik

143

3. Salin pandangan atas dan penampang A-A dari gambar 2.145, dengan ketentuan sebagai berikut! • Skala 1 : 1 • Kertas gambar A4, lengkap dengan etiketnya. • Cantumkan ukuran sesuai dengan gambarnya!

Gambar 2.144

Gambar 2.145

M9.2A Membaca Gambar Teknik

144

4. a.

KEGIATAN BELAJAR IV : TOLERANSI DAN SUAIAN Tujuan kegiatan pembelajaran, peserta diklat dapat : 1) kerja. 2) kerja. 3) kerja. 4) 5) 6) susunan. Menggambar diagram toleransi dalam sistem suaian lubang. 8) Menggambar diagram toleransi pada sistem suaian poros. 9) Menggambar pandangan dan potongan dengan sistem proyeksi di kuadran I lengkap dengan ukuran dan toleransinya. 10) Menggambar pandangan dan potongan dengan sistem proyeksi di kuadran III lengkap dengan ukuran dan toleransinya. b. A. TOLERANSI 1. Definisi toleransi Tidaklah mudah untuk mencapai ukuran yang tepat, sesuai dengan yang tercantum dalam gambar. Banyak faktor yang mempengaruhinya, misal : • Faktor alat (alat potong). • Faktor mesin (presisi tidaknya mesin yang digunakan). • Faktor alat ukur. • Faktor temperatur dan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi ketepatan ukuran dari benda kerja tersebut. Materi pembelajaran PENGERTIAN 7) Menentukan besarnya nilai toleransi. Menghitung nilai toleransi. Mencantumkan nilai toleransi pada gambar Mencantumkan tanda pengerjaan pada gambar Mencantumkan toleransi ukuran pada gambar Mencantumkan toleransi geometris pada gambar

M9.2A Membaca Gambar Teknik

145

Untuk mencapai ukuran yang tepat, merupakan hal yang sulit. Selalu terjadi penyimpangan dari ukuran – ukuran dasarnya. Misalnya : lebih besar, lebih kecil atau mungkin sama dengan ukuran dasarnya. Ukuran dasar yaitu ukuran yang tercantum dalam gambar kerja. Selama penyimpangan tersebut dalam kategori memenuhi syarat, maka produk yang menyimpang dari ukuran dasarnya tersebut dapat diterima. Sebaliknya, jika penyimpangan ukuran diluar kategori memenuhi syarat maka produk tersebut tidak dapat diterima, karena ukurannya terlalu besar atau terlalu kecil dari ukuran yang diminta. Sebagai batasan kategori memenuhi syarat, kita harus memberikan dua batasan ukuran yang diperbolehkan yaitu : 1. Batasan ukuran maksimum yang diperbolehkan. 2. Batasan ukuran minimum yang diperbolehkan atau diizinkan. Perbedaan dua batasan ukuran yang diperbolehkan atau diizinkan disebut toleransi. Contoh : Para sisiwa yang sedang praktek kerja bangku atau mesin, ditugaskan untuk membuat benda kerja sesuai dengan petunjuk – petunjuk yang diberikan oleh bapak guru, dengan bentuk dan ukuran yang tersedia dalam job (gambar kerja)-nya. Setelah para siswa selesai melaksanakan praktek, benda kerja dikumpulkan dan diperiksa. Sekarang timbul pertanyaan : 1. Apakah benda kerja satu dengan benda kerja lainnya mempunyai bentuk dan ukuran yang sama? Tentu tidak sama, ada yang terlalu kecil ada pula yang tepat. 2. Bagaimana benda kerja yang mempunyai ukuran – ukuran terlalu besar dan terlalu kecil tersebut dapat diterima? Untuk diterima atau tidaknya, guru telah memberikan toleransi yang telah dicantumkan dalam gambar kerjanya, misalnya ukuran yang tercantum dalam gambar kerjanya adalah Ø 40 ± 0,5, artinya ukuran yang maksimum yang diperbolehkan atau yang dapat diterima adalah 40 + 0,5 = 40,5 mm, sedangkan ukuran minimum yang diperbolehkan adalah 40 – 0,5 = 39,5 mm. Jadi, ukuran – ukuran antara 39,5 sampai dengan 40,5 merupakan ukuran – ukuran yang dapat diterima.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

146

Ukuran – ukuran di luar ketentuan tersebut, belum diterima. Misalnya ukuran yang masih besar, masih dikerjakan lagi sampai batas ukuran yang diinginkan; ukuran – ukuran yang kurang dari 39,5 mm, dianggap atau pekerjaannya harus diganti.

dapat dapat tetapi gagal

Berapa toleransi yang diberikan oleh guru tersebut?

Toleransi dapat dihitung sebagai berikut : Ukuran maksimum yang diizinkan = 40,5 mm Ukuran minimum yang diizinkan = 39,5 mm Toleransinya = 1,0 mm 2. Pencantuman toleransi pada gambar kerja

Job atau gambar kerja yang dibuat harus mencantumkan toleransinya. Hal ini untuk memudahkan operator dalam menentukan batasan ukuran minimum dan ukuran maksimum yang diizinkan. Jika produk yang dibuat merupakan suku cadang yang harus dirakit satu sama lain menjadi suatu mesin yang berfungsi, maka pencantuman toleransinya harus memenuhi fungsi dari suku cadang tersebut. Poros yang dipasang pada bantalannya (dalam keadaan fungsi longgar), akan memiliki toleransi yang berbeda dengan blok silinder yang dipasang pada blok mesin dengan jalan di press (kaku).
Pada umumnya, toleransi yang harus diberikan atau dicantumkan pada gambar kerja ada dua macam : 1. Toleransi untuk poros, yang meliputi benda – benda padat bulat, segiempat dan bentuk – bentuk prisma lainnya. 2. Toleransi ntuk lubang, yang meliputi lubang bulat (bor), lubang pada bantalan, alur pasak, rongga – rongga pada blok mesin, celah antara dua bidang (alur pasak) dan semacamnya. B. PADA TOLERANSI ISTILAH – ISTILAH

M9.2A Membaca Gambar Teknik

147

Sebagaiman tadi dijelaskan, toleransi merupakan perbedaan dua ukuran yang diperbolehkan, yaitu perbedaan antara ukuran maksimum dan ukuran minimum yang diperbolehkan. Toleransi meliputi toleransi poros dan toleransi lubang. Untuk jelasnya, dapat kita lihat pada gambar 2.146 berikut.

Gambar 2.146

Keterangan : 1. Ukuran nominal (uk.nom.) Ukuran nominal yaitu ukuran benda yang dibulatkan sampai dengan ukuran mm dan merupakan ukuran patokan yang dijadikan batas – batas ukuran yang diizinkan. 2. Ukuran minimum (uk.min.) Ukuran minimum adalah ukuran terkecil yang dizinkan, baik untuk porosmaupun untuk lubang. 3. Ukuran maksimum (uk.maks.) Ukuran maksimum adalah ukuran terbesar yang diizinkan, baik untuk poros maupun untuk lubang. 4. Penyimpangan membesar Penyimpangan membesar yaitu perbedaan ukuran antara ukuran nominal dan ukuran maksimumnya yang diizinkan (baik untuk poros maupun untuk lubang). 5. Penyimpangan mengecil Penyimpangan mengecil yaitu perbedaan ukuran antara ukuran nominal dan ukuran minimumnya yang diizinkan (baik untuk poros maupun untuk lubang). 6. Toleransi umum Untuk gambar – gambar dengan ukuran tanpa persyaratan ketelitian khusus atau ukuran tanpa keterangan dan kita dapat memberikan catatan secara umum, nilai – nuilai

M9.2A Membaca Gambar Teknik

148

penyimpangan yang diizinkan disebut toleransi umum. Sesuai dengan ISO 2786, ukuran – ukuran tanpa keterangan terikat oleh toleransi umum.

C. KHUSUS DAN TOLERANSI UMUM 1. Toleransi khusus

TOLERANSI

Untuk gambar – gambar yang memerlukan ketelitian khusus, dalam pencantuman ukurannya harus diberi toleransi khusus sesuai dengan standar ISO/R286. Toleransi ini disebut juga Toleransi Standar Internasional (IT). a. Simbol kualitas toleransi standar Dalam sistem toleransi standar internasional (IT), kualitas toleransi dibagi menjadi 18 macam kualitas, yaitu : IT 01; IT 00; IT 1; IT 2; IT 3;........; IT 16. Kualitas toleransi tersebut meliputi toleransi untuk pekerjaan yang sangat teliti, misalnya pekerjaan - pekerjaan pada instrumen, alat ukur, optik dan semacamnya; pada pekerjaan seperti ini dipakai kualitas IT 01 sampai dengan IT 4. untuk IT 5 sampai dengan IT 11 adalah kualitas internasional untuk pekerjaan – pekerjaan permesinan yang sangat teliti dan biasanya serta untuk pekerjaan – pekerjaan mampu tukar ; dipasang satu sama lain (dirakit). Sedangkan IT 12 sampai dengan IT 16 diperuntukan bagi pekerjaan – pekerjaan yang kasar seperti pekerjaan pengecoran, pemotongan dengan gas dan pekerjaan kasar sejenisnya. b. Simbol toleransi lubang dan poros Sebagaimana telah dijelaskan pada pasal yang terdahulu, toleransi ada dua macam : toleransi untuk lubang dan toleransi untuk poros. Untuk membedakan, kedua macam toleransi tersebut diberi simbol masing – masing dengan huruf besar untuk lubang dan huruf kecil untuk poros.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

149

Angka nominal yang diikuti huruf besar beserta angka kualitasnya menunjukkan besarnya lubang dengan toleransinya, sedangkan angka nominal yang diikuti huruf kecil beserta angka kualitasnya menunjukkan besarnya poros dengan toleransinya.

Contoh • Ø 40 H7, artinya suatu lubang (H – nya huruf besar) dengan daerah toleransi H dan kualitas nya 7 • Ø 40 h7, artinya suatu poros (h – nya huruf kecil), dengan daerah toleransi h dan kualitasnya 7 Huruf – huruf yang dipakai untuk simbol lubang yaitu huruf A, B, C,.... sampai Z, kecuali huruf I, L, O, Q dan W; sedangkan huruf a, b, c,.... sampai z dipakai untuk simbol toleransi poros, kecuali huruf i, l, o, q dan w. c. Nilai toleransi khusus Untuk keseragaman dalam menentukan besarnya toleransi, maka dibuat suatu standar secara internasional (IT). Besarnya nilai IT tersebut ditetapkan dengan ISO 286. Besarnya nilai toleransi disesuaikan dengan besar kecilnya ukuran, baik lubang maupun poros, seperti terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.6 Nilai Toleransi Besarnya toleransi Sifat penggunaan toleransi KW.IT (micron) • Untuk alat ukur IT 01 0,3 + 0,008 . D • Optik IT 00 0,5 + 0,012 . D • Instrumen IT 1 0,8 + 0,020 . D (untuk pekerjaan – pekerjaan IT 2 antara IT 1 samapai dengan IT sangat teliti) 5 IT 3 (lihat tabel 2.6!) IT 4 • Untuk pekerjaan IT 5 7.i harga i dapat dihitung dengan rumus : pemesinan IT 6 10.i • Pekerjaan sangat teliti, IT 7 16.i teliti dan biasa IT 8 25.i IT 9 40.i IT 10 64.i i dalam mikron IT 11 100.i

M9.2A Membaca Gambar Teknik

150

D dalam mm • Untuk pekerjaan – pekerjaan kasar, misalnya pemotongan, pengecoran dan semacamnya IT IT IT IT IT 12 13 14 15 16 160.i 250.i 400.i 640.i 1000.i

Contoh 2.11 Suatu poros mempunyai diameter 27 mm. Jika poros tersebut dikerjakan pada mesin bubut dengan kualitas IT 9, berapakah toleransinya?

Jawab : Untuk ukuran Ø 27 mm dengan kualitas IT 9, maka toleransinya = 40.i(lihat tabel 2.6).

Jadi toleransinya 40 . 1,377 = 55,08 micron atau dibulatkan = 55 micron. Contoh 2.12 Suatu ukuran dari pekerjaan poros dikerjakan dengan kualitas IT 10. Berapakah toleransinya jika diameter minimalnya 24 mm?

Penyelesaian : Diketahui : • Ukuran nominal 24 mm atau D = 24 mm • Kualitas toleransi 10 Ditanya : Besarnya toleransi? Jawab : Untuk IT 10, toleransinya = 64.i (lihat tabel 2.6!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

151

Toleransinya adalah 64.i = 64 . 1,322 = 84,608 Jadi, toleransinya = 84,6 micron = 0,084 mm Contoh 2.13 Suatu pekerjaan instrumen dikerjakan dengan kualitas IT 1. Berapakah toleransinya jika D = 10 mm?

Jawab : Untuk IT = 0,8 + 0,020 . D (lihat tabel 2.6!) = 0,8 + 0,020 . 10 = 0,8 + 0,200 = 1 micron jadi, toleransinya = 1 micron = 0,001 mm.
Tabel 2.7 Nilai Toleransi IT2, IT3 dan IT4 Kualitas Toleransi IT2 IT3 1,2 2 1,5 2,5 1,5 2,5 2 3 2,5 4 2,5 4 3 5 4 6 5 8 7 10 8 12 9 13 10 15

3 s/d 6 3 6 - 10 10 - 18 18 - 30 30 - 50 50 - 80 80 - 120 120 - 180 180 - 250 250 - 315 315 - 400 400 - 500

IT4 3 4 4 5 6 7 8 10 12 14 16 18 20

Contoh 2.14 Suatu poros dengan diameter nominal 30 mm dikerjakan dengan kualitas IT3. Tentukan toleransinya!

Jawab :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

152

Lihat tabel 2.7! Untuk diameter Ø 30 pada IT3, besarnya toleransi adalah 4 micron atau 0,004 mm.

2. Toleransi umum Jika ukuran tanpa keterangan maka ukuran tersebut terikat oleh toleransi umum. Besarnya toleransi umum ini merupakan tanggung jawab perencana dan dapat kita pilih salah satu macam variasi dari tabel 2.8 berikut. Toleransi khususnya dapat kita lihat pada tabel 2.9; 2.10 dan 2.11.
Tabel 2.8 Variasi Penyimpangan Umum (dalam mm) Ukuran nominal dalam satuan Jenis Pekerjaan mm Teliti Sedang Kasar 0,5 sampai dengan 3 ±0,05 ±0,1 3 sampai dengan 6 ±0,05 ±0,1 ±0,2 6 sampai dengan 30 ±0,1 ±0,2 ±0,5 30 sampai dengan 120 ±0,15 ±0,3 ±0,8 120 sampai dengan 315 ±0,2 ±0,5 ±1,2 315 sampai dengan 1000 ±0,3 ±0,8 ±2 1000 sampai dengan 2000 ±0,5 ±1,2 ±3

M9.2A Membaca Gambar Teknik

153

Tabel 2.9 Penyimpangan Lubang (dalam mm)
Ukuran Diameter dalam mm 6-10 10-18 18-30 30-40 40-50 50-65 65-80 80-100 100-120 120-140 140-160 160-180 180-200 200-225 225-250 B B10
+230 +150 +220 +150 +244 +160 +270 +170 +280 +180 +310 +190 +320 +200 +360 +220 +380 +200 +420 +260 +440 +280 +470 +310 +525 +340 +565 +380 +605 +420

C C9
+116 +80 +138 +95 +162 +110 +182 +120 +192 +130 +214 +140 +224 +150 +257 +170 +267 +180 +300 +200 +310 +210 +330 +230 +335 +240 +375 +260 +395 +280

D C10
+138 +80 +165 +95 +194 +101 +220 +120 +230 +130 +260 +140 +270 +150 +310 +170 +320 +180 +360 +200 +370 +210 +390 +230 +425 +240 +445 +260 +465 +280

E D10
+98 +40 +120 +50 +149 +65 +180 +80 * +220 +100 * +260 +120 * +305 +145 * * +355 +170 * *

F E9
+61 +25 +75 +32 +92 +40 +112 +50 * +134 +60 * +159 +72 * +185 +85 * * +215 +100 * *

G F8
+35 +13 +43 +16 +53 +20 +64 +25 * +76 +30 * +90 +36 * +106 +43 * * +122 +50 * *

H G7
+20 +5 +24 +6 +28 +7 +34 +9 * +40 +10 * +47 +12 * +54 +14 * * +61 +15 * *

D8
+62 +40 +77 +50 +98 +65 +119 +80 * +146 +100 * +174 +120 * +208 +145 * * +242 +170 * *

D9
+76 +40 +93 +50 +117 +65 +142 +60 * +174 +100 * +207 +120 * +245 +145 * * +285 +170 * *

E7
+40 +25 +50 +32 +61 +40 +75 +50 * +90 +60 * +107 +72 * +125 +85 * * +146 +100 * *

E8
+47 +24 +59 +32 +73 +40 +89 +50 * +106 +60 * +126 +72 * +146 +85 * * +172 +100 * *

F6
+22 +13 +27 +16 +33 +20 +41 +25 * +49 +30 * +58 +36 * +68 +43 * * +79 +50 * *

F7
+28 +13 +34 +16 +41 +20 +50 +25 * +60 +30 * +71 +36 * +83 +43 * * +96 +50 * *

G6
+14 +5 +17 +16 +20 +7 +25 +9 * +29 +10 * +34 +12 * +39 +14 * * +44 +15 * *

H6
+9 0 +11 0 +13 0 +16 0 * +19 0 * +22 0 * +25 0 * * +29 0 * *

H7
+15 0 +18 0 +21 0 +25 0 * +30 0 * +35 0 * +40 0 * * +46 0 * *

H8
+22 0 +27 0 +33 0 +39 0 * +46 0 * +54 0 * +63 0 * * +72 0 * *

H9
+36 0 +43 0 +52 0 +62 0 * +74 0 * +87 0 * +100 0 * * +105 0 * *

H10
+58 0 +70 0 +84 0 +100 0 * +120 0 * +140 0 * +160 0 * * +185 0 * *

M9.2A Membaca Gambar Teknik

154

Ukuran Diameter dalam mm 6-10 10-18 18-30 30-40 40-50 50-65 65-80 80-100 100-120 120-140 140-160 160-180 180-200 200-225 225-250

JS5
±3 ±4 ±4,5 ±5,5 * ±6,5 * ±7,5 * ±9 * * ±10 * *

JS JS6
±4,5 ±5,5 ±6,5 ±8 * ±9,5 * ±11 * ±12,5 * * ±14,5 * *

JS7
±7,5 ±9 ±10,5 ±12,5 * ±15 * ±17,5 * ±20 * * ±23 * *

K5
+1 -5 +2 -6 +1 -8 +2 -9 * +3 -10 * +2 -13 * +3 -15 * * +2 -18 * *

K K6
+2 -7 +2 -9 +2 -11 +3 -13 * +4 -15 * +4 -18 * +4 -21 * * +5 -24 * *

K7
+5 -10 +6 -12 +6 -15 +7 -18 * +9 -21 * +10 -25 * +12 -28 * * +13 -33 * *

M5
-4 -10 -4 -12 -5 -14 -5 -16 * -6 -19 * -8 -23 * -9 -27 * * -11 -31 * *

M M6
-3 -12 -4 -15 -4 -17 -4 -20 * -5 -24 * -6 -28 * -8 -33 * * -8 -37 * *

N M7
0 -15 0 -18 0 -21 0 -25 * 0 -30 * 0 -35 * 0 -40 * * 0 -46 * *

P N7
-4 -19 -5 -23 -7 -28 -8 -33 * -9 -39 * -10 -45 * -12 -52 * * -14 -60 * *

N6
-7 -16 -9 -20 -11 -24 +12 -28 * +14 -33 * +16 -38 * -20 -45 * * +22 -51 * *

P6
-12 -21 -15 -26 -18 -31 -21 -37 * -26 -45 * -30 -52 * -36 -61 * * -41 -72 * *

P7
-9 -24 -11 -29 -14 -35 -17 -42 * -21 -51 * -24 -59 * -28 -67 * * -33 -79 * *

R R7
-13 -28 -16 -34 -20 -41 -25 -50 * -30 -60 -32 -62 -38 -73 -41 -76 -48 -88 -50 -90 -53 -93 -60 -106 -63 -109 -67 --113

S S7
-17 -32 -21 -39 -27 -48 -34 -59 * -42 -72 -48 -78 -58 -93 -66 -101 -77 -117 -85 -125 -93 -133 -105 -151 -113 -159 -123 -169

T T7
-39 -64 -45 -70 -55 -85 -64 -94 -78 -113 -91 -126 -107 -147 -119 -159 -131 -173 * * *

U U7
-32 -37 -26 -44 -33 -54 -51 -76 -61 -68 -76 -106 -91 -121 -111 -146 -131 -166 * * * * * *

X X7
-28 -43 -33 -51 -46 -67 -

M9.2A Membaca Gambar Teknik

155

Tabel 2.10
Ukuaran Diameter dalam mm 6-10 10-18 18-30 30-40 40-50 50-65 65-80 80-100 100-120 120-140 140-160 160-180 180-200 200-225 225-250 b b9
-150 -186 -150 -193 -160 -212 -170 -232 -180 -242 -190 -261 -200 -274 -220 -307 -240 -327 -260 -360 -280 -390 -310 -410 -340 -455 -380 -495 -420 -535

c c9
-80 -116 -95 -138 -110 -162 -120 -182 -130 -192 -140 -214 -150 -224 -170 -257 -180 -267 -200 -300 -210 -310 -230 -310 -240 -335 -260 -375 -280 -395

d d8
-40 -62 -50 -77 -65 -98 -80 -119 * -100 -146 * -120 -174 * -145 -208 * * -170 -242 * * * * * * -170 -285 * * * -145 -245 * * -100 -146 * * * -120 -207 * -85 -125 * *

e d9
-40 -76 -50 -93 -65 -117 -80 -142 * -100 -174 * -72 -107 * -85 -148 * * -100 -17 * * -100 -215 * * * -60 -90 * -72 -126 * -85 -185 * * -50 -79 * *

f e9
-25 -61 -32 -75 -40 -92 -50 -112 * * -60 -134 * -72 -159 * -43 -68 * * -50 -96 * * * -36 -58 * -43 -83 * * -50 -122 * * -30 -49 * -36 -71 * -43 -106 * * -15 -29 * *

g f8
-13 -35 -16 -43 -20 -53 -25 -64 * * -30 -76 * -36 -90 * -14 -26 * * -15 -35 * * * -12 -22 * -14 -32 * * -15 -44 * * -10 -18 * -12 -27 * -14 -39 * * 0 -14 * *

h g6
-5 -14 -6 -17 -7 -20 -9 -25 * * -10 -29 * -12 -34 * 0 -12 * * 0 -20 * * * 0 -10 * 0 -18 * * 0 -29 * * 0 -8 * 0 -15 * 0 -25 * * 0 -46 * *

e7
-25 -40 -32 -50 -40 -60 -50 -70 *

e8
-25 -47 -32 -59 -40 -71 -50 -89

f6
-13 -22 -16 -27 -20 -33 -25 -41 *

f7
-13 -28 -16 -34 -20 -41 -25 -50

g4
-5 -9 -6 -11 -7 -13 -9 -16 *

g5
-5 -11 -6 -14 -7 -16 -9 -20

h4
0 -4 0 -5 0 -6 0 -7 *

h5
0 -6 0 -8 0 -9 0 -11 * 0 -13 *

h6
0 -9 0 -11 0 -13 0 -16 * 0 -19 * 0 -22 *

h7
0 -15 0 -18 0 -21 0 -25 * 0 -30 * 0 -35 * 0 -40 * *

h8
0 -22 0 -27 0 -33 0 -39 * 0 -46 * 0 -54 * 0 -63 * * 0 -72 * *

h9
0 -36 0 -43 0 -52 0 -62

-60 -106

-30 -60

-10 -23

0 -74

0 -87

0 -100

0 155

M9.2A Membaca Gambar Teknik

156

Ukuran Diameter dalam mm 6-10 10-18 18-30 30-40 40-50 50-65 65-80 80-100 100-120 120-140 140-160 160-180 180-200 200-225 225-250

j j4
±2 ±2,5 ±3 ±3,5 * ±4 * ±5 * ±6 * * ±7 * *

k j6
±4,5 ±5,5 ±6,5 ±8 * ±9,5 * ±11 * ±12,5 * * ±14,5 * *

m k6
+10 +1 +12 +1 +15 +2 +18 +2 * +21 +2 * +25 +3 * +28 +3 * * +33 +4 * *

n m6
+15 +6 +18 +7 +21 +8 +25 +9 * +30 +11 * +35 +13 * +40 +15 * * +46 +17 * *

p p6
+24 +15 +29 +18 +35 +22 +42 +26 * +51 +32 * +59 +37 * +68 +43 * * +79 +50 * *

r r6
+28 +19 +34 +23 +41 +28 +50 +34 * +60 +41 +62 +43 +73 +51 +73 +54 +88 +3 +90 +65 +93 +68 +106 +77 +109 +80 +113 +84

s s6
+32 +23 +39 +28 +48 +35 +59 +43 * +72 +53 +78 +59 +93 +71 +101 +75 +117 +92 +125 +100 +133 +108 +151 +122 +159 +130 +169 +140

t t6
* * * +64 +48 +70 +54 +85 +66 +94 +75 +113 +191 +126 +104 +147 +122 +159 +134 +171 +146 * * *

u u6
+37 +28 +44 +33 +54 +41 +76 +60 +86 +70 +106 +87 +121 +102 +146 +124 +166 +144 * * * * * *

x x6
+43 +34 +51 +40 +67 +54 * * * * * * * * * * * *

j5
±3 ±4 ±4,5 ±5,5 * ±6,5 * ±7,5 * ±9 * * ±10 * *

j7
±7,5 ±9 ±10,5 ±12,5 * ±12 * ±17,5 * ±20 * * ±23 * *

k4
+5 +1 +6 +1 +8 +2 +9 +2 * +12 +2 * +13 +3 * +5 +3 * * +18 +4 * *

k5
+7 +1 +9 +1 +11 +2 +13 +2 * +15 +2 * +18 +3 * +21 +3 * * +24 +4 * *

m4
+10 +6 +12 +7 +18 +8 +16 +9 * +19 +11 * +23 +13 * +27 +15 * * +31 +17 * *

m5
+12 +6 +15 +7 +17 +8 +20 +9 * +24 +11 * +28 +13 * +33 +15 * * +37 +17 * *

n6
+19 +10 +23 +12 +28 +15 +33 +17 * +39 +20 * +45 +23 * +52 +27 * * +60 +61 * *

M9.2A Membaca Gambar Teknik

157

Ukuran Nominal (mm)

01
0,3 0,4 0,4 0,5 0,6 0,6 0,8 1 1,2 2 2,5 3 4

00
0,5 0,6 0,6 0,8 1 1 1,2 1,5 2 3 4 5 6

1
0,8 1 1 1,2 1,5 1,5 2 2,5 3,5 4,5 6 7 8

2
1,2 1,5 1,5 2 2,5 2,5 3 4 5 7 8 9 10

3
2 2,5 2,5 3 4

4
3 4 4 5 6 7

Tabel 2.11 Nilai Toleransi Standar (metrik) Kualitas toleransi 5 6 7 8 9 10
4 5 6 8 9 11 13 15 18 20 23 25 27 6 8 9 11 13 16 19 22 25,4 29 32 36 40 10 12 15 18 21 25 30 35 40 46 52 57 63 14 18 22 27 33 39 46 54 63 72 81 89 97 25 30 36 43 52 62 74 87 100 115 130 140 155 40 48 58 70 84 100 120 140 160 185 210 230 250

11
60 75 90 100 130 160 190 220 250 290 320 360 400

12
100 120 150 180 210 250 300 350 400 460 520 570 630

13
140 180 220 270 330 390 460 540 630 720 810 890 970

14
250 300 360 430 520 620 740 870 1000 1150 1300 1400 1550

15
400 480 580 700 840 1000 1200 1400 1600 1850 2100 2300 2500

16
600 750 900 1100 1300 1600 1900 2200 2500 2900 3200 3600 4000

3 s/d 6 6 s/d 10 10 s/d 18 18 s/d 30 30 s/d 50 50 s/d 80 80 s/d 120 120 sd/ 180 180 s/d 250 250 s/d 315 315 s/d 400 400 s/d 500

5 6 8 10 12 13 15

8 10 12 14 16 18 20

M9.2A Membaca Gambar Teknik

158

D. TOLERANSI

DIAGRAM

DAERAH

Daerah kedudukan toleransi lubang dan poros dapat dilihat seperti pada gambar 2.147 dan gambar 2.148 berikut.

Gambar 2.147

Gambar 2.148

Keterangan gambar : 1. Jika daerah toleransi lubang berada pada daerah A, B, C, D, E dan G, maka daerah toleransi berada diatas ukuran nominalnya dan toleransinya adalah positif (+) (lihat gambar 2.147!). Contoh 2.15 Ø 40 D 9, artinya : • Ø 40 = ukuran nominal lubang 40 mm • D9 = daerah toleransi lubang pada kualitas 9.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

159

Lihat tabel 2.10! Untuk Ø 40 D 9, besar penyimpangan adalah : Daerah toleransinya seperti tampak pada gambar 2.149 berikut.

Gambar 2.149

2. Jika daerah toleransi lubang berada pada daerah toleransi H, maka ukuran minimum lubang adalah sama dengan ukuran nominalnya dan toleransinya bertanda (0) dan (+). Contoh 2.16 Ø 40 H 9, artinya : • Ø 40 = ukuran nominal lubang 40 mm • H9 = daerah toleransi lubang H pada kualitas 9. Lihat tabel 2.10! Untuk 40 H 9, penyimpangannya adalah : . Daerah toleransinya dapat kita lihat pada gambar 2.150 berikut.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

160

3. Jika daerah toleransi berada pada daerah toleransi JS maka daerah toleransinya simetris (penyimpangan atas sama dengan penyimpangan bawahnya) dan toleransinya bertanda (±). Contoh 2.17 Ø 40 JS 7, artinya : • Ø 40 = diameter lubang 40 mm • JS 7 = daerah toleransi lubang JS dengan kualitas 7. Lihat tabel 2.10! Untuk Ø 40 JS 7, penyimpangannya adalah : 40± 0,0125 Daerah toleransinya seperti tampak pada gambar 2.151

Gambar 2.150

Gambar 2.151

4. Jika daerah toleransi lubang berada pada daerah toleransi K, maka penyimpangan atasnya bertanda (+) dan penyimpangan bawahnya bertanda (-). Misalnya Ø 6 K 5 mempunyai penyimpangan atas 0 dan penyimpangan bawahnya -5 micron; sedangkan untuk 40 K 5, penyimpangan atas bertanda (+) yaitu +2 micron dan penyimpangan bawahnya bertanda (-) yaitu -9 micron. Lihat tabel 2.9! Kedudukan daerah toleransi lubang K adalh berada diantara (+) dan (-).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

161

5. Jika daerah toleransi lubang berada pada daerah toleransi M, N, P, R, S, T, U, V, X, Y dan Z, maka daerah toleransinya berada dibawah ukuran nominalnya. Oleh karena itu, penyimpangannya bertanda negatif (-). Contoh 2.18 Ø 40 N 7, artinya : • Ø 40 = ukuran nominal lubang 40 mm • JS 7 = daerah toleransi lubang N dengan kualitas 7. Lihat tabel 2.10! Untuk Ø 40 N 7, penyimpangannya adalah : Daerah toleransinya dapat dilihat pada gambar 2.152 berikut.

Gambar 2.152

6. Jika daerah toleransi poros berada pada daerah toleransi a, b, c, d, e, f dan g, maka daerah toleransinya berada dibawah ukuran nominalnya dan penyimpangannya bertanda negatif (-). 7. Jika daerah toleransi poros berada pada daerah toleransi h, maka ukuran maksimumnya sama dengan ukuran nominalnya, sehingga penyimpangan atas bertanda (0) dan penyimpangan bawah bertanda (-). 8. Jika daerah toleransi poros berada pada daerah toleransi js, maka daerah toleransinya adalah simetris, sehingga tanda penyimpangannya bertanda (±). 9. Jika toleransi poros berada pada daerah toleransi k, m, n, p, r, s, u, v, x dan z, maka daerah toleransinya berada diatas ukuran nominalnya, sehingga penyimpangan bertanda (+). Contoh 2.19 Diketahui ukuran – ukuran poros sebagai berikut. Ø 40 d 8; Ø h 7; Ø 40 js 7 dan Ø 40 p 6.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

162

Lihat tabel 2.10! Untuk ukuran – ukuran tersebut diatas, penyimpangannya adalah :

Daerah toleransi dari keempat ukuran diatas dapat dilihat pada gambar 2.153 berikut.

Gambar 2.153

E.

MENGHITUNG UKURAN MAKSIMUM, MINIMUM DAN TOLERANSI Ukuran maksimum sama dengan ukuran nominal ditambah dengan penyimpangan atas (baik untuk poros maupun untuk lubang). Ukuran minimum sama dengan ukuran nominal ditambah dengan penyimpangan bawah (baik untuk poros maupun untuk lubang). Toleransi adalah perbedaan ukuran maksimum dengan ukuran minimum. Contoh 2.20 Ukuran maksimum Ukuran minimum 40 + 0,142 40 + 0,080 = 40,142 mm = 40,080 mm

M9.2A Membaca Gambar Teknik

163

Toleransinya adalah Contoh 2.21 Ukuran maksimum Ukuran minimum Toleransinya adalah Contoh 2.22 40 + 0,062 40 + 0

= 0,062 mm

= 40,062mm = 40 mm = 0,062 mm

Ukuran maksimum Ukuran minimum Toleransinya adalah Contoh 2.23

40 + (0,0125) 40 + (-0,0125)

= 40,0125 mm = 39,9875 mm = 0,0250 mm

Ukuran maksimum Ukuran minimum Toleransinya adalah F.

40 + (-0,080) 40 + (-0,119)

= 39,920 mm = 39,881 mm = 0,039 mm PENULISAN

TOLERANSI PADA GAMBAR KERJA Komponen yang diberi ukuran dengan toleransi adalah komponen yang mempunyai fungsi dan kualitas tertentu, lihat gambar 2.154 berikut (penulisan dangan sistem ISO)!

Gambar 2.154

M9.2A Membaca Gambar Teknik

164

Komponen yang diberi ukuran Ø 40 h 7 adalah : ukuran nominal poros 40 mm, berada pada daerah toleransi h dengan kualitas 7. Lihat tabel 2.11! Untuk Ø 40 h 7 = .

Komponen yang diberi ukuran 24 G 6 artinya : ukuran nominal lubang 24 mm, berada pada daerah toleransi G, dengan kualitas 6. lihat tabel 2.9! Untuk Ø 24 G 6 = .

Komponen yang tidak diberi toleransi, ukurannya terikat oleh toleransi umum, yaitu 100 mm pad ukuran panjang poros diatas. Bila poros tersebut dikerjakan dengan teliti maka toleransi umumnya adalah 100±0,15 (lihat tabel 2.8!). Untuk selanjutnya, penulisan toleransi dapat dilakukan seperti gambar 2.155 berikut.

Gambar 2.155

1. Penulisan toleransi dengan simbol ISO Hal yang perlu diperhatikan untuk mencantumkan atau menuliskan toleransi pada gambar kerja dengan simbol ISO, antara lain : • ukuran dasar (nominal). • lambang (poros atau lubang) dan daerah toleransi. • kualitas toleransi. Lihat gambar berikut!

Gambar 2.156

Penulisan toleransi dapat pula diikuti dengan besar penyimpangannya, lihat gambar gambar 2.157!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

165

Gambar 2.157

Toleransi ditulis pada ukuran penyimpangannya, lihat gambar 2.158!

nominal

dan

Gambar 2.158

Penulisan toleransi simetris, lihat gambar 2.159!

Gambar 2.155

Penulisan toleransi dengan mencantumkan ukuran maksimum dan ukuran minimum, dapat dilihat pada gambar 2.160 berikut.

Gambar 2.155

2. Satuan dan urutan penyimpangan Satuan penyimpangan harus sama dengan satuan ukuran nominal (dasar)-nya. Jika satuan nominal dalam mm maka penyimpangannya harus dalam mm. Penyimpangan atas dan penyimpangan bawah harus mempunyai desimal yang sama, kecuali salah satu penyimpangan mempunyai nilai 0 (nol). Penyimpangan atas mempunyai nilai lebih besar daripada penyimpangan bawahnya dan diurutkan dari nilai penyimpangan atas kemudian (di bawahnya) penyimpangan bawah.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

166

G. TOLERANSI PADA GAMBAR SUSUNAN

PENULISAN Untuk menuliskan toleransi pada gambar susunan dapat dilaksanakan sebagai berikut (lihat gambar 2.156!).

Gambar 2.156

Hal yang perlu diperhatikan untuk menuliskan toleransi pada gambar susunan, antara lain lambang toleransi lubang ditempatkan di depan atau di atas lambang toleransi poros. Penulisan dengan lambang dan nilai penyimpangan pada gambar susunan, lihat gambar 2.157!

Gambar 2.157

Penulisan toleransi dengan ukuran dasar dan penyimpangannya pada ambar susunan, lihat gambar 2.158 berikut!

Gambar 2.158

M9.2A Membaca Gambar Teknik

167

H.

TINGKAT SUAIAN Dalam suatu industri msein, banyak sekali suku cadang atau onderdil dibuat dan dirakit sehingga menjadi suatu mesin yang berfungsi. Suku cadang – suku cadang yang dirakit tersebut mungkin dipasang atau distel dengan fungsi dapat bergerak, misalnya poros dengan bantalannya; mungkin juga dipasangkan dengan jalan dipres, misalnya blok silinder dengan blok mesin, jari – jari roda dengan nafnya dan sejenisnya. Untuk pembuatan suku cadang yang dapat bergerak (poros dengan bantalannya), ukuran poros harus dibuat sedikit lebih kecil daripada ukuran lubangnya, sehingga jika dipasang maka poros dan bantalan dalam keadaan longgar. Jika pembuatan ukuran poros sedikit lebih besar daripada lubangnya (diameter luar lebih daripada diameter dalam), maka pemasangannya dapat dilakukan dengan jalan dipres atau dipaksa dan suaian ini disebut suaian paksa. 1. Macam – macam suaian Dilihat dari perbedaan ukuran diameter luar dan diameter dalam (ukuran poros dan lubang) maka ada tiga macam suaian sebagai berikut : a. Jika ukuran poros lebih kecil daripada ukuran lubang maka suaiannya disebut suaian longgar. b. Jika ukuran poros dibuat lebih besar daripada ukuran lubang maka suaiannya disebut suaian sesak (paksa). c. Jika ukuran poros dan lubang hampir sama antar longgar dan sesak (tak tentu) maka suaiannya disebut suaian pas. Untuk ketiga macam suaian tersebut, dapat kita lihat pada diagram toleransi (daerah toleransinya), seperti tampak gambar 2.159 berikut.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

168

2. Sistem basis • • a.

Gambar 2.159

Dalam sistem ISO, sistem basis terbagi menjadi : Sistem basis lubang. Sistem basis poros. Sistem basis lubang Pada sistem basis lubang, daerah toleransi lubang berada pada daerah toleransi “H”. Jika poros dan lubang saling berpapasan, maka sebagai dasar untuk menetapkan suaian (longgar, pas dan paksa) digunakan ukuran lubangnya, sedangkan poros menyesuaikan terhadap lubangnya. Pada sistem basis lubang, terdapat tiga macam suaian sebagai berikut. 1) Suaian longgar

M9.2A Membaca Gambar Teknik

169

Jika pasangan toleransi lubang “H” dengan toleransi poros a, b, c, d, e, f dan g maka akan suaian longgar. 2) Suaian pas Jika pasangan toleransi lubang “H” dengan toleransi poros h, js, k, m dan n, maka akan suaian pas. 3) Suaian paksa Jika pasangan toleransi lubang “H” dengan toleransi poros p, r, ..., dan z, maka akan suaian paksa. Contoh 2.24 • H8/e8 (suaian longgar) • H6/k8 (suaian pas) • H7/t6 (suaian paksa) b.

daerah didapat daerah didapat daerah didapat

Ukuran Ø 60 H7/g6 ; 45 Ukuran Ø 65 H7/h7 ; 20 Ukuran Ø 30 H7/p6 ; 80

Sistem basis poros Pada sistem basis poros, daerah toleransi poros berada pada daerah toleransi “h”, ukuran poros digunakan sebagai ukuran dasar untuk menentukan suaian dan ukuran lubangnya menyesuaikan terhadap ukuran porosnya. Pada sistem basis poros, terdapat tiga macam suaian sebagai berikut. 1) Suaian longgar Jika pasangan toleransi poros “h” berpasangan dengan daerah toleransi lubang A, B, C, D, E, F dan G, maka suaian yang didapat adalah suaian longgar. 2) Suaian pas Jika pasangan toleransi lubang “h” berpasangan dengan daerah toleransi lubang H, JS, K, M dan N, maka suaian yang didapat adalah suaian pas. 3) Suaian paksa Jika pasangan toleransi lubang “h” berpasangan dengan daerah toleransi P, R, ..., dan Z, maka akan didapat suaian paksa. Contoh 2.24

M9.2A Membaca Gambar Teknik

170

• • •

Ukuran Ø 60 G7/h6 ; 45 E8/ h8 (suaian longgar) Ukuran Ø 65 H7/h7 ; 20 K6/h6 (suaian pas) Ukuran Ø 30 P6/h7 ; 80 T7/ h6 (suaian paksa)

Pada produksi massal dengan jumlah produk yang banyak, memungkinkan pembuatan poros yang digunakan sebagai dasar untuk suaian dengan basis poros. Hal itu memerlukan ketelitian, waktu pengerjaan lebih lama dan memerlukan perkakas yang presisi, sehingga ongkos produksi lebih mahal. Dengan pertimbangan tersebut, maka sistem basis poros jarang digunakan untuk produksi massal (pada suatu industri). Suaian sisitem basis lubang dan basis poros untuk tujuan umum yang ditentukan oleh JIS B0401, dapat dilihat pada tabel 2.12 dan tabel 2.13 berikut.

Tabel 2.12 Sistem Basis Lubang (JIS B0401)
Luban g dasar H5
b Suaian longgar c d e f g 4 Lambang dan kualitas untuk poros Suaian pas Suaian paksa h js k m n p r s t 4 4 4 4 u x

M9.2A Membaca Gambar Teknik

171

H6 H7 H8 H9 H10 9 (6) 7 8 9 8 9 9

6 6 7 7 8

5 6 6 (7)

5 6 6 7 7 8

5 6 6 7

5 6 6 (7)

5 6 6 (7)

6 6 (7)

6 6 (7)

6 (7)

6 (7)

6 (7)

6 (7)

6 (7)

9 9

9 9

9

Tabel 2.13 Sistem Basis Poros
Poros dasar
h4 h5 h6 h7 h8 h9 10 9 10 8 9 8 9 10 (7) 7 8 9 8 9 6 7 7 8 8 B Suaian longgar C D E F Lambang dan kualitas untuk Suaian pas G H Js K M 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 (7) 7 (7) (7) (7) 8 8 9 8 9 lubang N 6 6 7 (7) P Suaian paksa R S T U X

6 7 (7)

7 (7)

7 (7)

7

7 7

3. Perhitungan suaian Jika ukuran lubang dibuat lebih besar daripada ukuran poros atau sebaliknya ukuran poros dibuat lebih besar daripada lubangnya, maka akan terjadi suaian longgar dan suaian sesak (paksa). a. Kelonggaran Kelonggaran ialah selisih ukuran lubang porosnya. Kelonggaran dibagi tiga macam, yaitu : 1. kelonggaran maksimum; dengan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

172

2. 3.

kelonggaran minimum; kelonggaran pertengahan. Lihat gambar 2.160a!

Gambar 2.160a

C = D – d (mm) Keterangan : C = Kelonggaran (mm) D = Diameter lubang (mm) d = Diameter poros (mm)

Keterangan gambar 2.160b Dmaks = Diameter lubang maksimum (mm) Dmin = Diameter lubang minimum (mm) Dr = Diameter rata – rata lubang (mm) dmaks = Diameter poros maksimum (mm) dmin= Diameter poros minimum (mm) dr = Diameter rata – rata poros (mm)

Gambar 2.160b

kelonggaran maksimum : lihat gambar 2.160b! Cmaks = Dmaks – dmin (mm) ............. (1) Kelonggaran minimum : Cmin = Dmin – dmaks (mm) ............. (2)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

173

Contoh 2.25 Suatu pasangan poros dan pasak mempunyai ukuran Ø 40 H7/f7. Tentukan yang berikut ini! a) Ukuran maksim um lubang b) Ukuran minimu m lubang c) Ukuran maksim um poros d) Ukuran minimu m poros e) Kelong garan maksim um f) Kelong garan minimu m g) Kelong garan perteng ahan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

174

(rata ratanya )

Penyelesaian : Lihat tabel 2.9 dan 2.10!
Untuk ukuran : Untuk ukuran : a) b) c) d) e) Ukuran maksimum lubang Dmaks = 40 + 0,025 = 40,025 mm Ukuran minimum lubang Dmin = 40 + 0 = 40 mm Ukuran maksimum poros dmaks = 40 + (-0,025) = 39,975 mm Ukuran minimum poros dmin = 40 + (-0,05) = 39,950 mm Kelonggaran maksimum (lihat persamaan (1)) Cmaks = Dmaks – dmin = 40,025 – 39,950 = 0,075 mm Kelonggaran minimum (lihat persamaan (2)) Cmin = Dmin - dmaks = 40 – 39,975 = 0,025 mm Kelonggaran rata – rata (lihat persamaan (3)) Cr = ½ (Cmaks + Cmin) = (0,075 + 0,025) . ½ = 0,100 . ½ = 0,050 mm Kesesakan

f)

g)

b.

(interference)

Kesesakan adalah selisih ukuran poros dengan lubangnya. Kesesakan dibagi menjadi tig macam, yaitu : 1) kesesakan maksimum; 2) kesesakan minimum; 3) kesesakan pertengahan (rata - rata).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

175

Lihat gambar 2.161!

Gambar 2.161a

F = d – D (mm) Keterangan : F = Kesesakan (mm) d = Diameter poros (mm) D = Diameter lubang (mm)

Gambar 2.161b

Keterangan : Dmaks = Diameter lubang maksimum (mm) Dmin = Diameter lubang minimum (mm) Dr = Diameter rata – rata lubang (mm) dmaks = Diameter poros maksimum (mm) dmin= Diameter poros minimum (mm) dr = Diameter rata – rata poros (mm) Fmaks = Kesesakan maksimum (mm) Fmin = Kesesakan minimum (mm) Fr = Kesesakan rata – rata (mm)

Kesesakan maksimum :(lihat gambar 2.161b)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

176

Fmaks = dmaks - Dmin (mm) ................ Kesesakan minimum : Fmin = dmin - Dmaks (mm) ................. Kesesakan rata – rata : Fr = dr

(4) (5)

Contoh 2.26 Suatu metal dipasangkan pada bloknya dengan ukuran Ø 80 H7/p6 (lihat gambar 2.162!). Tentukan yang berikut ini! a) Diamet er lubang blok maksim um (Dmaks) b) Diamet er lubang blok minimu m (Dmin) c) Diamet er lubang rata – rata (Dr) d) Diamet er luar metal maksim um (dmaks)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

177

e)

f)

g)

h)

i)

Diamet er luar metal minimu m (dmin) Diamet er rata - rata metal (dr) Kesesa kan maksim um (Fmaks) Kesesa kan minimu m (Fmin) Kesesa kan rata – rata (Fr)

Gambar 2.162

Penyelesaian :
Untuk ukuran Untuk ukuran a) Ukuran lubang blok maksimum

M9.2A Membaca Gambar Teknik

178

Dmaks = 80 + 0,030 = 80,030 mm Ukuran lubang blok minimum Dmin = 80 + 0 = 80 mm c) Diameter lubang blok rata – rata b) Diameter metal maksimum dmaks = 80 + 0,030 = 80,030 mm e) Diameter metal minimum dmin = 80 + 0,032 = 80,032 mm d) f) g) Diameter rata – rata

Kesesakan maksimum Fmaks = dmaks - Dmin = 80,051 – 80 = 0,051 mm h) Kesesakan minimum Fmin = dmin - Dmaks = 80,032 – 80,030 = 0,002 mm i) Kesesakan rata – rata

Contoh 2.27 Suatu poros dan lubang mempunyai ukuran sebagai berikut. 1) Ø 40H5/g4 2) Ø 40H7/js7 3) Ø 40H6/p6 Tentukan yang berikut ini! a) Suaiannya b) Penyimpan gannya (atas dan bawah) c) Ukuran maksimum d) Ukuran minimum e) Toleransin ya f) Kelonggara n maksimum g) Kelonggara n minimum

M9.2A Membaca Gambar Teknik

179

h) i) j) k) l)

Kelonggara n rata – ratanya Kesesakan maksimum Kesesakan minimum Kesesakan rata – rata Diagram daerah toleransiny a

Penyelesaian : a) Lihat tabel 2.12! Untuk pasangan dengan basis lubang : 1) H5/g4 : suaiannya adalah suaian longgar 2) H7/js7 : suaiannya adalah suaian pas 3) H6/p6 : suaiannya adalah suaian paksa b) Penyimpangan atas dan bawah (lihat tabel 2.9 dan tabel 2.10!) 1) Untuk ukuran Ø 40H5/g4 :
• • Lubang Poros : :

2) • • 3) •

Untuk ukuran Ø 40H7/js7 : Lubang : Poros : Untuk ukuran Ø 40H6/p6 : Lubang : :

• Poros c) , d) dan e) 1)

Ø 40H5/g4 Lubang : • Ukuran maksimum = 40 + 0,011= 40,011 mm

M9.2A Membaca Gambar Teknik

180

Ukuran minimum = 40,0 mm Toleransinya adalah

= 40 = 0.011 mm

Poros : • Ukuran maksimum= 40 + (-0,009) = 39,991 mm • Ukuran minimum = 40 + (-0,016) =39,984 mm Toleransinya adalah = 0.007 mm 2) Ø 40H7/js7 Lubang : • Ukuran maksimum = 40 + 0,025= 40,025 mm • Ukuran minimum = 40 + 0 = 40 mm Toleransinya adalah = 0,025 mm

Poros : • Ukuran maksimum= 40 + 0,0125 = 40,0125 mm • Ukuran minimum = 40 + (-0,0125)=39,9875 mm Toleransinya adalah = 0,025 mm 3) Ø 40H6/p6 Lubang : • Ukuran maksimum = 40 + 0,016= 40,016 mm • Ukuran minimum = 40 + 0 = 40 mm Toleransinya adalah = 0.016 mm

Poros : • Ukuran maksimum= 40 + 0,042 = 40,042 mm • Ukuran minimum = 40 + 0,026 = 40,026mm Toleransinya adalah = 0.016 mm f) Kelonggaran

maksimum Untuk ukuran Ø 40H5/g4, Cmaks = Dmaks - dmin = 40,011 – 39,984 = 0,027 mm g) Kelonggaran minimum :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

181

Cmin = Dmin - dmaks = 40 – 39,991 = 0,009 mm Kelonggaran rata – rata : Cr = ½ (Cmaks + Cmin) = ½ (0,027 + 0,009) = ½ (0,036) = 0,018 mm i) Kesesakan untuk ukuran Ø 40H6/p6 Kesesakan maksimum Fmaks = dmaks - Dmin = 40,042 – 40 = 0,042 mm j) Kesesakan minimum : Fmin = dmin - Dmaks = 40,026 – 40,016 = 0,010 mm k) Kesesakan rata – rata : Fr = ½ (Fmaks + Fmin) = ½ (0,042 + 0,010) = ½ (0,052) = 0,026 mm Catatan : Untuk ukuran Ø 40H7/js7, mempunyai suaian longgar, sesak dan pas (tak tentu). Kelonggarannya : Cmaks = Dmaks - dmin = 40,025 – 39,9875 = 0,0375 mm Kesesakannya : Fmaks = dmaks - Dmin = 40,0125 – 40 = 0,0125 mm h)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

182

l) dilihat sebagai berikut :

Diagramnya
Diagram Daerah Toleransi

dapat

I.

GEOMETRIS

TOLERANSI

Gambar kerja harus dapat memberikan informasi yang jelas, agar benda atau produk dibuat tidak menyimpang dari gambar yang direncanakannya. Gambar kerja yang dibuat merupakan ide teknik yang ditampilkan dalam bentuk gambar pandangan, gambar proyeksi atau dalam bentuk gambar potongan, baik potongan sebagian, potongan penuh maupun gambar potongan – potongan lainnya yang sesuai dengan aturan – aturan menggambar. Untuk membuat produk sesuai dengan gambar, tidaklah mudah. Apalagi pada suatu industri, produk dibuat dengan jumlah yang banyak, dikerjakan dengan mesin – mesin yang berbeda pada situasi dan kondisi yang berbeda pula. Walaupun mesin, perkakas potong, alat ukur dan personilnya berbeda, tetapi produk yang dibuat harus dapat memenuhi syarat - syarat bentuk atau

M9.2A Membaca Gambar Teknik

183

posisi yang ditetapkan. Dalam hal ini, bentuk boleh menyimpang dari bentuk idealnya dengan batas – batas penyimpangan yang diperbolehkan, atau dengan kata lain memenuhi toleransi geometris nya. Toleransi geomatris ini meliputi kelurusan, kedataran, kebulatan, keselindrisan, profil garis, profil permukaan, kesejajaran, ketegaklurusan, ketirusan, posisi konsentrisitas, koaksilitas atau kesamaan sumbu, kesimetrisan, putar tunggal dan putar total. 1. Toleransi kelurusan Bila kita membuat benda – benda berbentuk silinder, misalnya poros yang dikerjakan dengan mesin bubut, maka letak kepala lepas dari mesin bubut dan gerakan eretan yang mengantarkan pahat akan mempengaruhi hasil bubutan, apalagi pemasangan pahat dibawah sumbu porosnya. Hal ini karena keterbatasan ketebalan ganjal pahat bubut dan tekanan baut pengikat tidak merata, sehingga sumbu produk terletak siluar sumbu idealnya (lihat gambar 2.163!). Oleh karena itu, bentuk kelurusan sumbu perlu diberi toleransi kelurusan. Simbol toleransi kelurusan adalah strip mendatar yang diletakkan pada kotak toleransi diikuti besarnya toleransi (lihat gambar 2.164 berikut!).

Gambar 2.163

M9.2A Membaca Gambar Teknik

184

Sumbu bagian yang silinder, kelurusannya boleh menyimpang dalam batas daerah silinder sebesar t (t = besarnya toleransi, yaitu Ø 0,04 mm), lihat gambar 2.164!

Gambar 2.164

2.

Toleransi kebulatan Keliling lingkaran harus terletak diantara dua lingkaran yang sebidang dan mempunyai titik pusat sama dengan perbedaan jari – jari sebesar t (t = toleransi), lihat gambar 2.165!

Gambar 2.165

3.

Toleransi keselindrisan Toleransi kesilindrisan ditujukan untuk permukaan silinder yang harus terletak diantara dua silinder yang sepusat dengan perbedaan jari – jari t (t = toleransi), lihat gambar 2.166!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

185

4.

Gambar 2.166

Toleransi bentuk permukaan

Toleransi bentuk permukaan yaitu permukaan yang diharapkan boleh menyimpang antara dua permukaan yang sejajar mengikuti bentuk dengan jarak Ø t (t = toleransi), lihat gambar 2.167!

Gambar 2.167

5.

Toleransi kerataan Toleransi kerataan yaitu permukaan bidang harus terletak di antara dua bidang yang sejajar yang terletak t (t = toleransi), lihat gambar 2.168!

Gambar 2.168

M9.2A Membaca Gambar Teknik

186

6.

Toleransi profil garis Toleransi ketepatan profil garis yaitu toleransi yang diberikan pada suatu garis proyeksi yang harus terletak di antara dua garis proyeksi yang menyinggung lingkaran – lingkaran yang berdiameter Ø t (t = toleransi), lihat gambar 2.169!

Gambar 2.169

7.

Toleransi kesejajaran Kesejajaran garis sumbu atau permukaan terhadap garis atau bidang dasar diberi simbol garis miring sejajar (//), lihat gambar 2.170 dibawah!

Gambar 2.170

M9.2A Membaca Gambar Teknik

187

Sebuah poros engkol terdiri atas dua sumbu yang sejajar, yaitu sumbu bawah dan sumbu atas. Sumbu bawah digunakan sebagai sumbu dasar, sedangkan sumbu atas diberi toleransi (garis sumbu atas sebenarnya garis dalam silinder yang berdiameter 0,1 mm dan sejajar dengan sumbu bawah).

8.

Ketegaklurusan Ketegaklurusan garis atau permukaan terhadap bidang dasar diberi simbol (r), lihat gambar 2.171! Suatu batang atau poros yang tegak lurus terhadap bloknya, yaitu sumbu silinder yang sebenarnya, harus terletak diantara dua bidang datar yang sejajar dengan jarak t = 0,05 dan tegak lurus terhadap bidang dasar (A).

Gambar 2.171

9.

Toleransi kemiringan Garis sumbu atau bidang miring ditoleransi terhadap suatu garis atau bidang dasar diberi simbol ( s ) pada kotak toleransi dan diikuti dengan besarnya toleransi serta bidang dasarnya. Contoh, lihat gambar 2.172 dan 2.173!

Gambar 2.172

M9.2A Membaca Gambar Teknik

188

Keterangan : Sumbu dari lubang harus terletak di antar dua garis sejajar berjarak t = 0,08 mm dan membuat sudut 450 dengan sumbu dasar (vertikal A).

Gambar 2.173

Keterangan : Bidang miring harus terletak di antara dua bidang sejajar yang berjarak 0,08 mm dan membuat sudut 600 dengan bidang dasar A. 10. Toleransi posisi Kedudukan sumbu, sisi atau bidang yang berpasangan satu sama lian terhadap bidang patokan disebut toleransi posisi, diberi simbol ( l ). Misalnya, dari satu macam pekerjaan pengeboran dapat kita berikan toleransi sebagai berikut (lihat gambar 2.174a, b, c!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

189

Gambar 2.174a

Jika suatu sumbu lubang dari gambar diatas harus terletak dalam silinder berdiameter t = 0,08 mm dengan sumbu yang tepat dan benar maka penulisan toleransinya dapat dilakukan seperti gambar 2.174b berikut.

Gambar 2.174b

Jika sumbu lubang dari gambar 2.174 diatas harus terletak pada paralelpipendum dengan lebar 0,05 mm pada arah sumbu x dan 0,08 pada arah sumbu yang tepat maka penulisannya dapat dilakukan seperti gambar 2.174c.

Gambar 2.174c

M9.2A Membaca Gambar Teknik

190

11.

Toleransi koaksilitas (kesamaan sumbu)

konsentrisitas

dan

Jika ada dua buah lingkaran lainnya dan mempunyai sumbu sama (berimpit) dan sumbu lingkaran satu dijadikan sumbu patokan lingkaran lainnya maka toleransinya diberi simbol ( l ). Contoh, lihat gambar 2.175a! o

Gambar 2.175a

Gambar 2.175b

Keterangan : • Gambar 2.175a menunjukkan bahwa pusat dari lingkaran yang ditunjukkan oleh kotak toleransi pada lingkaran luar, harus terletak pada lingkaran yang berdiameter t = 0,02 mm dan titik pusatnya berimpit dengan titik pusat lingkaran dasar A pada lingkaran dalam. • Gambar 2.175b menunjukkan bahwa sumbu dari silinder yang ditunjukkan oleh kotak toleransi pada silinder tengah, harus terletak di dalam silinder yang berdiameter 0,04 mm yang mempunyai sumbu berimpit dengan sumbu dasar A dan B. 12. Kesimetrisan

M9.2A Membaca Gambar Teknik

191

Kesimetrisan yaitu kesamaan bentuk atau kesamaan ukuran dan diberi simbol ( ), lihat gambar 2.176 berikut!

Gambar 2.176

Sumbu dari lubang harus terletak di kolom dua bidang sejajar dengan jarak 0,06 mm dan simetris terhadap sumbu alur A dan B sebagai sumbu dasarnya. 13. Toleransi putar tunggal Lambang dari toleransi putar tunggal adalah ujung garis yang beranak panah ( ) yaitu toleransi pada tiap putaran terhadap sumbu dasar dan berlaku untuk tiap letak pengukuran (lihat gambar 2.177 berikut!).

Gambar 2.177

Keterangan : Pada tiap putaran terhadap sumbu dasar A – B, toleransi putar untuk tiap penampang tidak boleh melebihi t = 0,04 mm. 14. Toleransi putar total Lambang dari toleransi putar total atau putar ganda adalah dua garis yang beranak panah sejajar ( ) yaitu toleransi untuk beberapa kali putaran terhadap sumbu

M9.2A Membaca Gambar Teknik

192

dasarnya, baik ke arah aksial 2.178!).

maupun radial (lihat gambar

Keterangan : Pada beberapa kali putaran terhadap sumbu dasar A – B maka toleransi putar total pada setiap titik pada permukaan yang telah ditentukan tidak boleh melebihi t = 0,01 mm. Disamping itu, titik permukaan tidak boleh bergeser ke arah aksial antara dua bidang yang sejajar yang berjarak t = 0,01 mm. 15. kerja Untuk menempatkan toleransi bentuk pada gambar kerja sebagaimana telah diperlihatkan pada contoh – contoh gambar diatas, perlu dijelaskan kembali mengenai kotak toleransi dan elemen yang ditoleransikan. a. dan bidang patokan Kotak toleransi adalah bujur sangkar atau segi panjang yang dibuat untuk menempatkan toleransi bentuk (sifat toleransi), besarnya toleransi dan patokan dasar. Garis yang dipakai untuk membuat kotak toleransi ini adalah garis tipis sama dengan garis bantu atau garis ukur (lihat gambar dibawah!). Kotak toleransi Kotak toleransi pada gambar

Gambar 2.178

M9.2A Membaca Gambar Teknik

193

Gambar 2.179

Keterangan : a sifat toleransi bentuk b besar toleransi c huruf bidang patokan d garis petunjuk mengarah pada elemen yang ditoleransi e elemen yang ditoleransi f bidang patokan g segitiga dasar h bidang atau garis atau elemen yang digunakan, sebagai dasar patokan b. Hubungan toleransi dengan elemen yang ditoleransi antara

Ada dua macam hubungan antara toleransi bentuk dengan elemen yang ditoleransi, yaitu hubungan dengan sumbunya dan hubungan dengan dindingnya. 1) Hubungan dengan sumbunya (lihat gambar 2.180!)

Gambar 2.180

2)

Hubungan dengan dindingnya (lihat gambar 2.181!)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

194

Gambar 2.181

3) ukuran tunggal dan berpasangan

Tingkat Untuk simbol toleransi bentuk ukuran tunggal dan posisi ukuran berpasangan, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.14 Simbol Toleransi Kelurusan Kerataan / kedataran Kebulatan / lingkaran Keselindrisan Profil garis Bentuk permukaan Kesejajaran Ketegaklurusan Kemiringan Posisi Kedudukan posisi berpasangan (tempat) Posisi ukuran berpasangan (arah) Bentuk ukuran tunggal

Konsentrisitas – Koaksilitas

M9.2A Membaca Gambar Teknik

195

( kesamaan sumbu) Kesimetrisan Putar / arah tunggal Putar / arah ganda Posisi berpasangan (bergerak)

J. KEKASARAN PERMUKAAN

TINGKAT Suatu produk mempunyai tingkat kekasaran yang bermacam – macam. Tingkat kekasaran ini tergantung pada kualitas pengerjaan. Misalnya produk yang dipotong dengan gas akan berbeda hasilnya dengan produk yang dipotong dengan gergaji, begitu juga produk yang dibuat dengan cara dituang akan berbeda permukaannya dengan produk yang dibuat atau dikerjakan dengan mesin. Pada gambar teknik mesin, kekasaran pada gambar kerja diberi lambang atau simbol sesuai dengan tingkat kekasarannya dan dijelaskan menurut ISO R468 dan ISO 1302, masing – masing untuk menyatakan kekasaran permukaan dan menerapkannya pada gambar kerja. Kekasaran permukaan menurut ISO R 468 – 1966 adalah sebagai berikut. • Penyimpangan rata – rata aritmetik dan garis rata – rata profil (Ra). • Ketidakrataan ketinggian sepuluh titik (Rz) • Ketidakrataan maksimum (Rmaks). 1. Hubungan antara Ra, Rz dan Rmaks Tingkat kekasaran ini digunakan sesuai denga perkembangan alat ukur, permesinan dan tuntutan dari persyaratan rencana produk yang akan dibuat. Harga kekasaran sangat erat hubungannya dengan kualitas pengerjaan atau kualitas toleransi. Sebagai pengendalian mutu produk, harus diambil sampel untuk diperiksa dan panjang sampel pun harus disesuaikan pula dengan tingkat kekasaran maupun tingkat toleransinya. Hubungan antara tingkat kekasaran (Ra, Rz dan Rmaks), kelas kekasaran (N), kualitas toleransi (IT) dan panjang sampel dapat dilihat pada tabel 2.15.
Tabel 2.15

M9.2A Membaca Gambar Teknik

196

Hubungan antara Ra, Rz, Rmaks, N, IT dan Panjang Sampel Kualitas Panjang Ra Rz Rmaks N toleransi sampel (micron) (micron (micron) (IT) (mm) 0,025 0,1 0,1 N1 IT 00 IT 01 0,8 0,05 0,2 0,2 N2 IT 1 – IT 2 0,10 0,4 0,4 N3 IT 3 IT 4 0,25 IT 5 0,20 0,8 0,8 N4 0,40 1,6 1,6 N5 IT 6 – IT 7 IT 8 0,80 3,2 3,2 N6 0,8 IT 9 – IT 10 1,6 6,3 6,3 N7 IT 11 3,2 12,5 12,5 N8 6,3 12,5 25 50 100 25 50 100 200 400 25 50 100 200 400 N9 N10 N11 N12 IT 12 – IT 13 IT 14 IT 15 IT 16 2,5 8

Keterangan : Ra = Penyimpangan rata – rata aritmetik garis rata – rata profil (dalam satuan mikron). Rz = Ketidakrataan ketinggian sepuluh titik (dalam satuan mikron). Rmaks = Ketidakrataan maksimum (dalam satuan mikron). N = Kelas kekasaran (kualitas pekerjaan). IT = Kualitas toleransi internasional. Panjang Sampel = Panjang sampel yang digunakan untuk proses pengukuran dalam pemeriksaan produk (dalam satuan mm). 2. Hubungan antara proses produksi dengan kualitas pekerjaan Kualitas pekerjaan yang dapat dicapai oleh pekerjaan pemesinan atau bukan pemesinan, dapat dilihat pada tabel 2.16 berikut.
Tabel 2.16 Proses Pengerjaan dan Kualitas Kekasaran
N1 0,025 Flame cutting Sawing Abrasive cutting Shearing, fine blanking N2 0,05 N3 0,1 N4 0,2 N5 0,4 N6 0,8 N7 1,6 N8 3,2 N9 6,3 N10 12,5 N11 25 50 N12 100

M9.2A Membaca Gambar Teknik

197

Sand blasting Ball blasting Turning Superfine turning Planning, shaping Drilling, boring Counter sinking Reaming Face milling Peripheral milling Broaching Scraping Face grinding Peripheral grinding Plain grinding Honing Superfinish Plain lapping Round lapping Polishing Spark erosion Keterangan

Halus

Normal

Kasar

3.

Simbol kekasaran permukaan Simbol kekasaran permukaan dalam gambar kerja (mesin) terbagi menjadi empat macam. a. Simbol dasar kekasaran permukaan, yaitu suatu bentuk garis yang menyudut (600) yang menyerupai akar (lihat gambar 2.182a!). simbol ini belum mempunyai arti apa – apa jika tidak diikuti tanda – tanda yang lainnya. b. Simbol kekasaran permukaan yang dikerjakan dengan tangan, yaitu suatu permukaan benda kerja (produk) yang dikerjakan dengan tangan. Maka pada gambar kerjanya diberi simbol pengerjaan, misalnya dikikir, diampelas dan semacamnya (lihat gambar 2.182b!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

198

Gambar 2.182

c.

Simbol permukaan yang dimesin, yaitu pekerjaan – pekerjaan pemesinan mengebor, membubut, scraf atau frais, tanda pengerjaannya dapat diletakkan pada garis proyeksi permukaan yang dikerjakannya dan diikuti dengan tingkat kekasaran atau kelas kekasaran permukaannya (lihat gambar 2.183!). Simbol pengerjaan yang dimesin.

Gambar 2.183

M9.2A Membaca Gambar Teknik

199

d.

Simbol permukaan yang dicor, yaitu simbol permukaan yang tidak dikerjakan lagi (misalnya, hasil dari pengecoran) maka simbol permukaanya sama dengan simbol dasar dengan lingkaran (lihat gambar 2.184!).

Gambar 2.184

4.

Penempatan informasi pada tanda pengerjaan Informasi yang dapat dicantumkan pada tanda pengerjaan meliputi hal – hal sebagai berikut. a. Angka kualitas kekasaran permukaan (Ra) atau kualitas pengerjaan (N). b. Proses produksi atau proses pemesinan, misalnya dibor, dibubut, difrais dan semacamnya. c. Panjang sampel, jika tidak dicantumkan maka panjang sampel yang digunakan sebagai pengukuran untuk penentuan kualitas dapat dilihat pada tabel 2.15. d. Arah pengerjaan, maksudnya arah sayatan dari pisau atau pahat terhadap permukaan benda kerja. Untuk arah pengerjaan ini terbagi menjadi : 1) searah dengan bidang proyeksi, diberi simbol =. 2) tegak lurus terhadap bidang proyeksi, diberi simbol r. 3) dalam dua arah yang berpotongan, diberi simbol x. 4) dalam segala arah, diberi simbol m. 5) arah relatif bulat terhadap titik pusat, diberi simbol c. 6) arah relatif radian, diberi simbol r.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

200

Untuk arah pengerjaan ini, dapat dilihat pada gambar 2.185.

Gambar 2.185

e. f.

Simbol kelonggaran pemesinan. Nilai kekasaran lain (dalam kurung).

Posisi penempatan informasi tanda pengerjaan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.186 berikut.

Gambar 2.186

5. kerja

Menempatkan tanda pengerjaan pada gambar Untuk penulisan tanda pengerjaan sesuai dengan aturan menggambar menurut ISO/R129, yaitu penunjukkan lambang

M9.2A Membaca Gambar Teknik

201

pada gambar dan arah tulisan dalam lambang, dapat dilihat pada contoh berikut. a. Penulisan dengan angka kekasaran Ra

Gambar 2.187

b.

Penulisan dengan kelas kualitas pengerjaan (N) Angka kekasaran Ra dapat pula diganti dengan kelas kualitas pengerjaan (N), dengan melihat tabel, sehinggan penunjukkan kekasaran permukaannya dapat ditulis seperti gambar 2.188 berikut.

Gambar 2.188

c.

Tanda pengerjaan utama Jika suatu produk terdiri atas satu macam pekerjaan, misalnya dituang saja, maka tanda pengerjaannya cukup diletakkan pada bagian atas dari gambar atau setelah nomor bagian, kemudian diikuti tanda pengerjaannya (lihat gambar 2.189 berikut!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

202

Gambar 2.189

d.

Tanda pengerjaan utama dan tanda pengerjaan khusus Jika suatu produk dikerjakan dengan beberapa mesin dan beberapa macam persyaratan yang harus dipenuhi maka pada gambar kerjanya harus dicantumkan tanda pengerjaan khusus dan utamanya (lihat gambar 2.190 berikut!).

M9.2A Membaca Gambar Teknik

203

Gambar 2.189

C.

Rangkuman

M9.2A Membaca Gambar Teknik

204

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Dalam proses pembuatan suatu produk atau mesin yang sedang berlangsung akan kita temukan gambar – gambar, dimana awal dari pembuatan produk tersebut akan dimulai dari tahap penentuan jenis produk yang selanjutnya dengan suatu perencanaan yang matang. Kemudian pembuatan produk perakitan sampai dengan penggantian suku cadangnya. Gambar sebagai bahasa teknik. Gambar memegang peranan penting sebagai alat komunikasi untuk mewujudkan suatu produk pemesinan atau benda teknik yang lain dengan rangkaian pemakaiangambar dari pemesanan sampai perakitan, maka dikatakan juga sebagai bahasa teknik atau bahasanya orang teknik. Gambar sebagai bahan informasi teknik. Karena seorang pemesan sebuah produk ke juru gambar dan juru gambar ke operator mesin serta perakitan menggunakan gambar. Dengan demikian gambar berfungsi sebagai bahan informasi teknik. Gambar sebagai pemikir dan pengembangan. Dalam perencanaan konsep yang melintas dalam pemikiran diwujudkan dalam gambar, kemudian akan dianalisa dan disintesa dengan gambar, kemudian gambarnya diteliti dan dievaluasi. Pengertian dan fungsi standarisasi perlu dipahami oleh orang – orang terkait dalam bidang gambar teknik mesin dan fungsi standar gambar, baik siswa atau peserta diklat, merupakan suatu keseragaman atau kesamaan pemahaman dan pengertian yang berfungsi untuk menghindari salah pengertian dan komunikasi teknik. Macam – macam garis dan kegunaannya dalam menggambar teknik digunakan beberapa jenis garis yang masing – masing mempunyai arti dan penggunaannya sendiri – sendiri, dengan demikian penggunaan garis harus dibedakan menurut maksud dan tujuannya. Konstruksi Geometris, gambar teknik mesin harus digambar dengan cermat dan teliti untuk itu diperlukan keterampilan dalam menggunakan peralatan gambar, sebagai dasar menggambar bentuk geometris. Pemahaman proyeksi – proyeksi dari a. Proyeksi Orthogonal. b. Proyeksi Pictorial. c. Proyeksi Dimetrik. d. Proyeksi Isometrik.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

205

e. f. Amerika). g.

Proyeksi di Kwadran I (Proyeksi Eropa). Proyeksi di Kwadran III (Proyeksi

Proyeksi Perspektif. Pemotongan untuk hal yang penting didalam gambar kerja yang tidak kelihatan langsung, dapat kita lukis dengan garis putus-putus, garis tipis dan garis strip titik tipis dan lain-lain. Akan tetapi mungkin tidak jelas dan membingungkan pada pembaca atau siswa maka diberikan penunjukkan pemotongan. 10. Dalam menggambar sesuatu bentuk part tertentu,maka untuk mendapatkan gambar-gambar yang baik jelas dan dimengerti semua ukuran yang perlu harus dicantumkan dengan lengkap pada gambar akhir dan part tersebut dalam gambar, ukuran - ukuran tersebut ditempatkan pada tempat yang cocok, benar serta mudah dilihat. Dalam gambar kerja ukuran dari satu bagian tidak boleh ditunjukkan lebih dari satu. 11. Supaya dapat kita capai ukuran yang diinginkan, maka kita tunjukkan untuk suatu ukuran (= ukuran nominal) dengan dua batasan penyimpangan. Perbedaan antara kedua batasan ini (= penyimpangan membesar dan penyimpangan mengecil) dari ukuran nominal disebut Toleransi. 12. Toleransi bentuk dan posisi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai dengan fungsinya dan untuk keperluan produksi masal dimana tiap – tiap benda bisa ditukar – tukar pada pemasangan, maka disamping toleransi ukuran pada gambar dilengkapi pula dengan toleransi bentuk dan posisi. 9.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

206

D.

Tugas 1. 1. Tugas 1 Buatlah gambar segi lima didalam lingkaran yang berdiameter 60 mm pada kertas ukuran A4 dengan skala gambar 1 : 1 lengkap dengan etiketnya! 2. Buatlah elips dengan methoda 4 titik pusat lingkaran bila diketahui panjang sumbu mayor 100 mm dan panjang sumbu minor 70 mm. Skala gambar 1 : 1, lengkap dengan etiket gambarnya! 3. Buatlahtiga pandangan utama dari gambar 2.91 menurut proyeksi Eropa masing – masing pada kertas gambar ukuran A4! 2. 1. Tugas 2 Buatlah gambar potongan putar poros beserta lubang pasak seperti pada gambar 2.102 pada kertas ukuran A4, skala 1 : 1! 2. Buatlah gambar potongan bercabang atau meloncat seperti gambar 2.103. Skala gamabr 1 : 1 lengkap dengan etiket gambarnya! 3. Tugas 3 1. Buatlah gambar simbol – simbol ukuran benda bentuk tertentu, silinder, bujursangkar, bola dan pinggulan seperti pada gambar 2.124 pada kertas ukuran A4! 2. Buatlah gambar penunjukkan ukuran berantai dari sebuah poros bertingkat bila diameter poros paling kecil 20 mm, panjangnya 50 mm dan poros diameter besar 40 mm, panjang 20 mm! 3. Buatlah gambar penunjukkan yang berjarak sama dari sebatang pelat yang panjangnya 90 mm, diameter lubang 5 mm dengan jarak antara lubang 15 mm dan jarak dari ujung ke sumbu lubang 15 mm!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

207

4.

Tugas 4 1. Buatlah gambar poros bertingkat dengan ketentuan diameter poros terkecil Ø 10 f7 panjang 70 mm dan ukuran diameter terbesar Ø 32 h6 panjang poros 100 mm! 2. Buatlah gambar pasangan poros dan lubang suatu blok mesin dengan ketentuan diameter poros Ø 20 h6 dan diameter lubang Ø 20 H7 dengan sistem basis lubang! 3. Buatlah gambar pasangan gears dan shaft dengan sistem basis poros dengan ketentuan diameter lubang Ø 30 H9 dan diameter poros Ø 30 h6 dengan ketentuan slidingfit!

E.

Tes Formatif 1. 2. 3. Bila suatu benda kerja (produk) dikerjakan dengan jumlah banyak, apakah akan mempunyai bentuk dan ukuran yang sama? Faktor apa saja yang mempengaruhi ketepatan ukuran? Apa yang disebut dengan a. Ukuran Nominal? b. Ukuran Maksimum? c. Ukuran Minimum? Apa definisi Toleransi? Berikan contohnya! Toleransi menurut Standart International dibagi berapa macam kualitas? Tuliskan macam – macam kualitas toleransi tersebut! Kualitas toleransi menurut IT, yang dapat dicapai untuk mesin atau pekerjaan permesinan terletak dikualitas mana? Bila kita memotong besi setebal 20mm dengan menggunakan gas, maka kualitas toleransinya terletak pada daerah toleransi berapa? Perhatikan tabel berikut :
IT5 7i IT6 10i IT7 16i IT8 25i IT9 40i IT10 64i IT11 100i

4. 5. 6. 7. 8.

a. Dalam satuan apakah i tersebut?

M9.2A Membaca Gambar Teknik

208

F.

b. Jika ukuran dari produk 64mm dikerjakan dengan kualitas toleransi 9, hitunglah besar toleransinya? 9. Untuk membedakan daerah toleransi poros dan daerah toleransi lubang, digunakan lambang apa yang dipakai untuk kedua macam toleransi tersebut? 10. Jelaskan arti ukuran – ukuran berikut : a. Ø 14 k 5 b. Ø 65 D g c. Ø 125 h g Kunci Jawaban 1. Ya. Benda kerja (produk) tersebut akan mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. 2. Faktor alat potong, faktor mesin, faktor alat ukur dan faktor temperatur maupun material. 3. Yang dimaksud dengan : a. Ukuran nominal adalah ukuran benda kerja yang dibulatkan, merupakan ukuran patokan yang dijadikan batasan. b. Ukuran maksimum adalah ukuran terbesar yang diizinkan baik untuk poros maupun untuk lubang. c. Ukuran minimum adalah ukuran terkecil yang diizinkan baik untuk poros maupun untuk lubang. 4. Toleransi adalah batasan penyimpangan ukuran membesar yang bisa diterima dan batasan penyimpangan ukuran mengecil yang bisa digunakan. 5. Ada 18 macam kualitas, yaitu : IT.01, IT.00, IT1, IT2, IT3, IT4, IT5, IT6, IT7, IT8, IT9, IT10, IT11, IT12, IT13, IT14, IT15 dan IT16. 6. Pada kualitas IT4 dan IT12. 7. Pada daerah toleransi IT12 sampai IT16. 8. a. Dalam satuam micron. b. Besar toleransinya adalah : 0,041mm 9. Bila untuk diameter lubang hurufnya besar/kapital, sedangkan untuk diameter poros hurufnya kecil. 10. a. Ø14 = diameter nominal poros 14mm. k = toleransi poros. 5 = kualitas toleransi. b. Ø65 = diameter nominal lubang 65mm. D = daerah toleransi lubang. g = kualitas toleransi. c. Ø125 = diameter nominal poros 125mm. h = daerah toleransi poros. g = kualitas toleransi.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

209

G.

LEMBAR KERJA Lembar kerja 2.1 Penerapan toleransi pada gambar kerja Ubahlah gambar CAKRA BERTINGKAT dari proyeksi Amerika menjadi proyeksi Eropa!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

210

Ketentuan : • Lengkapi nilai toleransinya! • Gambar dibuat pada kertas gambar A4, dengan skala 1 : 2. • Lay out, lihat gambar berikut

M9.2A Membaca Gambar Teknik

211

Proyeksi : Eropa

CAKRA BERTINGKAT

Skala : 1 : 2 Ukuran : A4 No. LK :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

212

Lembar kerja 2.2 Penerapan toleransi pada gambar kerja Ubahlah gamabar KOPLING KERUCUT berikut dari gambar proyeksi Eropa menjadi proyeksi Amerika dan lengkapi toleransinya dengan nilai tolernsi (penyimpangannya)! Lay out, lihat pada halaman berikutnya!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

213

Proyeksi : Amerika

KOPLING KERUCUT

Skala : 1 : 1 Ukuran : A4 No. LK :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

214

Lembar kerja 2.3 Ubahlah gambar proyeksi Amerika menjadi gambar proyeksi Eropa dari gambar TOOL POST dibawah ini, lay out seperti pada halaman berikutnya dan cantumkan toleransinya!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

215

Proyeksi : Eropa

TOOL POST

Skala : 1 : 1 Ukuran : A4 No. LK :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

216

Lembar kerja 2.4 Ubahlah gambar proyeksi Amerika menjadi gambar proyeksi Eropa dari gambar DUDUKAN TEGAK di bawah ini dan lengkapi dengan toleransinya!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

217

BAB. III EVALUASI
A. 1. Tes tertulis. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Jelaskan gambar teknik sebagai bahasa teknik! Tuliskan alat – alat gambar yang kamu ketahui! Tuliskan ukuran kertas gambar A5, A4, A3, A2, A1 dan A0! Jelaskan macam – macam garis dan ukurannya! Jelaskan ketentuan penulisan huruf teknik? Jelaskan ketentuan dari proyeksi Piktorial! Jelaskan pengertian dari proyeksi Isometrik, Dimetrik dan miring! Jelaskan ketentuan proyeksi Orthogonal! Jelaskan ketentuan proyeksi Amerika dan Eropa! Jelaskan gambar baut M10 dan penunjukkan yang lengkap! Tuliskan penunjukkan ukuran yang ada pada gambar teknik! Jelaskan pengertian tanda pengerjaan dibawah ini! Evaluasi 1 Tes Formatif

13.

Jelaskan langkah pengerjaan benda kerja dibawah ini!

14.

Jelaskan pengertian dari simbol gambar dibawah ini!

M9.2A Membaca Gambar Teknik

218

B.

Kunci Jawaban 1. Gambar teknik memegang peranan penting sebagai alat komunikasi untuk suatu produk atau mesin dan sebagai alat komunikasi orang teknik atau merupakan bahasa orang – orang teknik. 2. Alat gambar yang biasa dipakai dalam gambar teknik : • Kertas gambar yang standar • Pensil, pena atau rapido • Jangka dan kelengkapannya • Macam – macam mistar • Mal busur (kurva) • Mal huruf dan angka • Meja gambar dan kelengkapannya • Penghapus dan pelindung penghapus 3. Ukuran kertas gambar : • A5 = 148 * 210 mm • A4 = 210 * 297 mm • A3 = 297 * 420 mm • A2 = 420 * 594 mm • A1 = 594 * 841 mm • A0 = 841 * 1189 mm 4. a. Garis tebal digunakan untuk benda yang langsung terlihat garis tepi b. Garis tipis digunakan untuk garis penunjuk ukuran, garis arsir, garis pembatas garis luar benda yang berdekatan dan garis penampang yang berdekatan c. Garis tipis bebas digunakan untuk garis batas pemotongan sebagian d. Garis sedang digunakan untuk garis benda yang terhalang atau tidak langsung terlihat e. Garis tipis setiap titik digunakan untuk garis sumbu garis bagian yang terletak didepan penampang irisan f. Garis setiap titik tebal ujung – ujungnya digunakan untuk garis pemotong penampang g. Garis tebal setiap titik digunakan untuk garis penunjukkan permukaan yang akan mendapat tambahan pekerjaan 5. Huruf teknik ada dua ketentuan : a. Huruf tegak, semua huruf ditulis tegaklurus (900) b. Huruf miring, semua huruf ditulis dengan kemiringan (150)

M9.2A Membaca Gambar Teknik

219

6. Proyeksi Piktorial adalah proyeksi tiga dimensi yang menggambarkan satu buah benda jadi dan dapat dipandang dari arah depan, atas dan samping dalam bentuk yang sederhana dan teratur 7. Proyeksi Isometrik : a. Ciri – ciri pada sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 300 terhadap garis mendatar b. Sudut antara sumbu satu dan sumbu lainnya 1200 c. Skala garis 1 : 1 Proyeksi Dimetrik : a. Sumbu utama mempunyai sudut x = 70 dan sumbu y = 400 b. Skala garis sumbu x 1 : 1 dan sumbu y 1 : 2 Proyeksi Miring : a. Sumbu x berimpit dengan garis horizontal atau 00 sumbu y = 0 45 b. Skala garis sumbu x 1 : 1 dan sumbu y 1 : 2 8. Proyeksi Orthogonal adalah gambar proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegaklurus terhadap proyektornya, garis – garis proyektornya juga sejajar satu sama lain 9. Ketentuan proyeksi Amerika (di kuadran III) • Bidang Horizontal (H) ditempatkan pandangan atas • Bidang depan (D) ditempatkan pandangan depan • Bidang Vertikal (V) ditempatkan pandangan paling kanan 10. Gambar baut segienam M10 :

11. Penunjukkan ukuran berantai • Penunjukkan ukuran sejajar • Penunjukkan ukuran gabungan • Penunjukkan ukuran berstep • Penunjukkan ukuran sistem koordinat • Penunjukkan ukuran luar dan dalam 12. Tanda pengerjaan : a = harga kekasaran c = Ukuran yang dilebihkan b = Cara / proses pengerjaan d = Arah alur / serat bekas pengerjaan 13. Langkah pengerjaan :

M9.2A Membaca Gambar Teknik

220

F = Penunjukkan ukuran fungsi NF = Penunjukkan ukuran non fungsi H = Penunjukkan ukuran pembantu 14. Konsentisitas boleh menyimpang diameternya 0,03 dari bidang patokan huruf A

BAB. IV PENUTUP
Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta diklat atau siswa telah mencapai syarat kelulusan minimal dan dapat melanjutkan ke modul selanjutnya. Sebaiknya apabila peserta diklat atau siswadinyatakan tidak lulus maka siswa harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan mengambil atau mempelajari modul berikutnya. Jika peserta diklat atau siswa telah lulus berarti siswa telah kompeten, maka siswa berhak untuk memperoleh sertifikat kompetensi dari pengajar atau dari lembaga sertifikasi profesi.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

221

DAFTAR PUSTAKA
Anwari. 1997. Menggambar Teknik Mesin. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Baharudin Yacob. 1979. Menggambar Teknik Departemen Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia.

Mesin.

Jakarta.

Departemen Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia. 1979. Lembar Kerja Bangku dan Mesin. Jakarta. Ditjen Dikdasmen. Eka Jogaswara. 1995. Menggambar Teknik Mesin Tingkat I dan II. Bandung. Armico. Gustav Neimann. 1950. Machine Elements. Berlin. Springer – Verlag. Hadi Suwito. 1992. Menggambar Teknik Pekerjaan Logam. Bandung. PPGT. Harsono Wiryosumarto, Toshie Okumura.1996. Teknologi Pengelasan Logam. Jakarta. PT. Pradnya Paramita. La Haji, Ila Brujin. 1991. Ilmu Menggambar Mesin. Jakarta. PT. Pradnya Paramita. Nazwir. 1997. Menggambar Teknik Mesin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta.

Politeknik Mekanik Swiss ITB. 1982. Menggambar Teknik. Bandung. Institut Teknologi Bandung. Sri Martono FX. 1974. Institut Teknologi Bandung.

Toleransi

dan Suaian ISO.

Bandung.

Sularso, Kiyokatsu Suga. 1979. Elemen Mesin. Jakarta. PT. Pradnya Paramita.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

222

Takhesi Sato, GN Sugiarto. 1986. Menggambar Mesin. Jakarta. PT. Pradnya Paramita. Taufik Rahim. 1980. Teknik Pengukuran. Jakarta. Departemen Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia. Warren J. Luzadder, Hendarsin H. 1999. Menggambar Teknik Untuk Design Pengembangan Produk Dan Kontrol Numerik. Jakarta. Erlangga.

M9.2A Membaca Gambar Teknik

223

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->