BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Dalam teknik sipil terdapat beberapa bahan materi yang dipelajari. Salah

satunya adalah pengetahuan tentang aspal, dimana ilmu aspal digunakan dalam melaksanakan proyek pembuatan jalan raya. Dalam teknik sipil, aspal hanya digunakan untuk pembuatan jalan. Berbeda dengan beton, beton hampir digunakan dalam semua aspek ilmu teknik sipil. Artinya, semua struktur dalam teknik sipil akan menggunakan beton, minimal dalam pekerjaan pondasi. Struktur aspal sangat dipengaruhi oleh komposisi dan kualitas bahan-bahan pencampur aspal seperti yang tercantum dalam perencanaan. Hal tersebut bergantung juga pada suhu, serta kekuatan menumbuk/ menekan aspal untuk bercampur dengan agregat lainnya. 1.2 TUJUAN Setelah melakukan percobaan ini, praktikan dapat:
1. Merencanakan suatu campuran dengan menggunakan metode perencanaan

campuran yang yang memenuhi standart
2. Menguji suatu campuran uji menjelaskan prosedur-prosedur untuk

penyesuaian dan koreksi proporsi campuran aspal
3. Menggunakan peralatan pengujian dengan terampil

1

BAB II DASAR TEORI

2.1

SEJARAH Dari sejarah dapat diketahui bahwa aspal, atau asphalt (USA) atau bitumen

(Inggris) telah digunakan untuk beberapa keperluan, contoh: 1. Babilonia 2. Kerajaan Roma 3. Mesir berikut: 300 B.C 1802 1838 1870 1876 1902 1926 : Egypte, aspal untuk bahan pengawet jenazah raja : France, aspal untuk bahan lantai, jenazah : Philadelphia, rock asphalt mulai digunakan : New York dan New Jersey, aspal untuk pengerasan jalan : Washington, aspal untuk perkerasan jalan : USA, mulai digunakan aspa minyak : produksi aspal minyak mulai meningkat, karena penggunaannya juga meningkat 2.2 BAHAN PENYUSUN Aspal merupakan senyawa hydrogen (H) dan carbon (C) yang terdiri dari parafins, naphtene, dan aromatics. Bahan-bahan tersebut membentuk kelompok yang disebut: a. Asphaltenese Kelompok ini membentuk butiran halus berdasarkan aromatic/benzene structure serta mempunyai berat molekul tinggi. b. Oils : aspal digunakan sebagai perekat pada pembuatan tembok : aspal digunakan sebagai bahan pada pekerjaan lantai : aspal digunakan untuk bahan pengawet jenazah para raja

Data perkembangan penggunaan aspal di beberapa kota atau negara adalah sebagai

2

Kelompok ini berbentuk cairan yang melarutkan asphaltenese, tersusun dari paraffins (waxy), cyclo paraffins (wax-free), dan aromatics serta mempunyai berat molekul rendah. c. Resins Kelompok ini berbentuk cairan menyelubungi asphatenese dan mempunyai berat molekul sedang. Selanjutnya gabungan oils dan resins sering juga disebut maltenese. 2.3 2.3.1 1. JENIS ASPAL Aspal Alam Aspal jenis ini banyak terdapat di alam, contohnya: Lake Aspal, terdapat di Trinidad Bermuda. Aspal dari Trinidad ini jika diurai akan didapatkan bahan-bahan dengan komposisi kurang lebih sbb:  40 % bitumen  30 % bahan eteris  25 % bahan mineral  5 % bahan organik 2. Batu aspal (rock asphalt) di Pulau Buton (Sulawesi Tenggara), Aspal ini yang juga dikenal dengan Butas (Buton Asphalt) atau Asbuton (aspal Batu Buton), terdapat di dalam karang, sehingga aspalnya bercampur dengan batu kapur (CaCO3). Asbuton pada umumnya tersusun dari :  30 % bahan bitumen  65 % bahan mineral  5 % bahan lain Proses terjadinya: Di daerah yang mengandung minyak bumi (beserta aspal) terjadi gerakan kulit bumi. Gerakan kulit bumi menyebabkan terjadinya penurunan dan retak-retak pada kulit bumi. Adanya tekanan di dalam kulit bumi, menyebabkan minyak bumi keluar. Jika tekanan cukup kuat, minyak bumi dapat keluar bersama aspal yang keluar melalui retak-retak pada kulit bumi, sehingga aspalnya tertinggal di dalam batuan yang dilewatinya.

3

Untuk kondisi di Pulau Buton ini dalam perjalananya, minyak bumi ini keluar melalui batuan yang porous, sehingga minyak bumi bersama aspal akan menguap ke lapisan batu yang porous dan terjadilah rock asphalt. Mengingat proses terjadinya batu aspal ini, maka kadar bitumen yang ada dalam batu aspal tidak merata, dan ini terbukti bahwa pada suatu daerah kadar bitumennya sangat sedikit sedang pada daerah yang lain kadar bitumen yang didapat sangat tinggi. Klasifikasi Batu aspal di pulau Buton ini di dalam eksplotiasinya dikelompokkan menurut kadar bitumennya, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penggunaanya dalam pekerjaan jalan. Pengelompokkan tersebut sbb : Kelompok Asbuton 10 (B 10) Asbuton 13 (B 13) Asbuton 16 (B 16) Asbuton 20 (B 20) Asbuton 25 (B 25) Asbuton 30 (B 30) 9-11 11.5-14.5 15-17 17.5-22.5 23-27 27.5-32.5 Kadar Bitumen (%)

Pada asbuton ini jumlah bahan serta bitumen dapat mencapai lebih dari 80 %yang berupa pasir dan kapur. Mineral yang terkandung dalam kapur dan pasir tersebut antara lain : Mineral Kalsium karbonat Magnesium Karbonat Kalsium Sulfat Kalsium Sulfida Air Kablen/kristal Silikat Oksida Aluminium Oksida dan Feri Oksida Sisa Kandungan (%) 81,62-85,27 1,98-2,25 1,25-1,70 0,17-0,33 1,3-2,15 6,95-8,25 2,15-2,84 0,83-1,12

4

Bahan susun asbuton terdiri dari: 1. Asphaltenese 2. Maltenense : 68,42% : 31,58%, meliputi : nitrogen bases 17 %, acidaffins I 5,48%, acidafins II 4%, parafins 4,88% Sifatnya : 1. Mudah menyerap air, unuk pekerjaan jalan kadar air yang dianjurkan maksimum 10%. 2. Pengaruh panas Seperti halnya pada aspal, batu ini jika dipanasi akan berubah sifatnya, yaitu dari keadaan keras menjadi plastis. Sampai pada suhu 30o C, batu aspal masih bersifat rapuh dan mudah dipecah., sehingga jika diinginkan batu aspal yang lebih kecil pemecahan bongkah batu aspal harus dilakukan pada suhu rendah.Sedangkan pada suhu 60o-100oC, batu aspal sudah akan bersifat agal plastis dan sukar pecah. Bila suhu mencapai 100o-150oC, batu aspal akan hancur. 3. Sebagai bahan jalan Bahan Pelunak Untuk mengeluarkan bitumen dari dalam butiran asbuton, perlu ditambahkan bahn pelunak/pengencer. Bahan pelunak ini dapat berupa : 1. flux oil (dianggap mengandung bitumen 35%) 2. bunker oil/minyak bakar (dianggap mengandung bitumen 45%) 3. campuran solar dan aspal semen (1:1) 4. aspal cair, Slow Curing (SC 70) Jumlah berat bahan pelunak yang dibutuhkan sebanyak 3-5% berat asbuton kering.

Usaha Pemanfaatan

5

c. d.3 crude oil. Di dalam proses penyanngaii iiienghasilkan aspal. Sisa material yang ada adalah merupakan bahan aspal. ditunjukkan dalam label beriKut: Tabel 3. 2. uap ynng timbul didinginkan sehiiigga tcrjadilah bahan minyak. Jenis Asphaltic base cruel oil Pamffinjc base crude oil Mixed base crude oil Keterangan dapat menghasilkan aspal dapat menghasilkan parafin Dapat menghasilkan aspal dan parafin (karena kadar yang dikandununva sama ) Jenis Pengolahan untuk mendapatkann aspal. vacum and steam refining process Proses mi menggunakan pnnsip ponguapan dan distilasi. Minyak tanah kasar dipaiiasi terus menerus selungga tcrjadi penguapan. Dcngan niembedakan atas berat jenisnya. Beberapa contoh isaha pemanfaatan asbuton: a. jenis pengolahan ini yang sering dipakai adalah : 1.Pemanfaatan asbuton selama ini telah diusahakan semaksimal mungkin.3. dan dcngan proses tertentu ( vacuni lower bahan aspal dialiri uap suhu 2700F) akan menghasilkan aspal asli yang berupa cairan 6 . b. Usaha tersebut antara lain berupa perbaikan atas karakteristik bitumen dan atau bahan pengisinya. aspal murni iiiau petroleum asphalt. ticlak sauna crude oil dapat scpcrli Hal ini tergantung joins crude oil-nya.2 Asbuton mikro Buton Epuro(BE) Butonic Mastic Aspal (BMA) Refined Asbuton (Retona) Aspal Minyak Aspal yang diperoleh dan minvak bumi soring juga disebut aspal ininyak ( asmin ).

yaitu dibedakan menurut kerjasama tabel 3.100 AC 200 . pada pclaksanaan proses tertentu ( vacuni tower ) diberikan tambahan propana ( C-.4 Jenis AC 40-50 AC 60-70 AC 85. Kadar parafin dalani aspal tidak melebihi 2 %. Solvent diaspalthing process. Bahan yang konsistennya berubah dengan berubahnya suhu disebut bahan thermoplastic. dan aspal termasuk ke dalam kelompok ini. Aspal hams memiliki sifat yang sejenis. Dan sisa material vane ada. sehingga terjadilah aspal semen. Tidak menganrlung air dan tidak berbusa jika dipanaskan sampai 175° C.300 Dan lain-lain keterangan AC menunjukkan Asphallic Ccmcni dan angka yang ada di belakangi ivneimsi yaitu masuknya jarum penetrasi (dalani tes penctrasi) dengan beban100 g pada suhu 250 Celeius sclama 5 Persyaratan utama aspal semen adalah : 1. maka di dalam penggunaannya 7 . 2.dan selanjutnya akan memibki kekerasan tertentu yang nantinya disebut aspal semen ( asphallic cement). Proses ini sering disebut propone diaspalthing process. Penggunaan Karena keadaan yang solid tersebut. 2. Jenis Aspal Semen Ada beberapa jenis.HS ). contoh : pada pembuatan beton aspal campuran panas ( hot mixDengan pemanasan maka tingkat kekerasan ( koiisistensi ) aspal akan berubah. 4. aspal perlu dipanaskan terlebih dahulu. 3. AC berasal dari basil minyak bumi.

Sifat ini dimanfaaikan untuk mcngubah aspa: ash yang solid menjadi aspal cair ( cutback asphalt). Jenis aspal tersebut dapat diwujudkan Secara dengan eara memberikan prose? "imbali terhadap aspal semen. kemudian ditambah dengan bahan kimia dan terbentuklah epoxy asphalt.g L'ntuk meningkatkan kekurangpekaan aspal Japal diusahakan dengan menambah jumlah udara yang dihembuskan. Ditambah bahan kimia Setelali aspal dipanasi seperti pada butir 1. dan dalani keadaan ini aspal juga dihernbusi udara dengan suhu tinggi. 3. Contoli a AC + gasoline ---------► rapid curing liquid asphalt (RC) b AC + karosene-----------► medium curing liquidasphalt (MC) jenis aspal baru dengan sifat dan ujud 8 . untuk memenulii kebutuhan pelaksanaan konstruksi tertentukadang-kadang masih mengalami kesulitan. Dipanasi Proses lanibah ini dilakukan denuan cara aspa! asli di: anaskan dengan temperatur tinggi. skematis adalah sebagai berikut : aspal semen (asli) yang berbeda Proses tambah yang dapat dibenkan ada beberapa macam : 1. Penggunaannya sebagai pelapis atap 2.i diusahakan adanva ienis aspal baruyang dapat mengatasi kesulitan serta dapat memenuhi kebutuhan. Proses ini disebut proses hemousan udara panas fair hhiw mg process ) dan menghasilkan aspal yang disebut air blown aspal Sifat aspal Kepekaan aspal terhadap temperatur agak berkurar. Makn untuk it. Ditambah pengenoer Aspai ash akan !arut dalam m nyak yang berasai dari minyak tanah kasar. Hal ini terjadi karena rangkaian Carbon ( C ) menjadi scmakin panjang akibat lepasnya unsur Hidrogen ( H ) yang selanjutnya terubah menjadi air ( HrO ) karena adanya O2.Proses Tambah Dengan adanva aspal semen.

c.5 indek 0 1 2 3 4 5 Kekentalan (delik ) 15-30 45-90 100-200 250-500 500-1200 1500-3000 Dengan demikian akan didapat aspal cair : RCO MCO SCO RC1 MCI SCI RC2 MC2 SC2 RC3 MC3 SO RC4 MC4 SC4 RC5 MC5 SC5 2. AC + diesel oil---------> slim vi/ring liquid asphalt (SC) Jenis Aspal cair uibedakan menurut kekentalannya Cara mengukur kekentlan ada 2 cara. Cara lama Kekentalan aspal dinyatakan dengan Say hull l-'urol Viscosity.6 ludtk Kekentalan ( cst) 9 . yaitu : 1. BIRO PEXERBIT KMTS FT UGM Tabel. Jems aspal dibedakan dengan cara memberikan indeks sesuai dengan kekentaJannya Tabel 5. Cara baru KekentaJan aspal dinyatakan dengan kekentalan kinemaiik ( k'nematic viscosity) yang diukur dengan viscosimeter pada suhu 140° Farenheit dengan satuan cennstoke. diukur pada suhu 140° Farenheit dengan saiuan detik yaitu menvatakan waktu yang diperlukan untuk mengisi botol 60 ml dengan pipa diameter 1/8 inch Jems aspal dibedakan dengan memberikan indeks dari 0-5.

yaitu : 10 . Jenis : Dengan duberikannya bahan tambah maka pada butiran bitumen akan bermuatan listrik.3 SC70 SC250 RC800 MC800 SC800 RC3000 MC3000 SC3000 Aspal Emulsi Proses Terjadinya: Pada dasarnya aspal dan air tidak mau bercampur.jika keduanya bahan itu akan dicampur maka bahan yang satu (aspal) didispersikan dalam bahan-bahan kedua (cairan/air).3.1000 3000-6000 Dengan demikian akan didapat aspal cair sbb : RC30 RC70 RC250 MC30 MC70 MC250 SC30 2.30 70 250 800 3000 30 -60 70-140 250 .500 800 . dalam bentuk butiran –butiran halus agar bahan yang telah dicampur itu dapat bertahan lama yaitu butiran aspal tidak berkumpul dan menggumpal maka perlu ditambah bahan lain yaitu surface actif agent (bahan pengemulsi). Adanya bahan tersebut. dapat ditunjukan sebagai berikut : I : butiran bitumen III II I II : bahan tambah III : air Bahan tambah itu berada dibagian II yaitu memisahkan bitumen dengan air.sehingga untuk bahan tambah ada dua jenis.

dolomites. laterik gravels). 2. bersifat stabil (SS/CSS type) Penggunaan : Daya lekat antar aspal emulsi dan permukaan batu/jalan. Aspal emulsi cationic 11 .dan proses coating dapat berjalan setelah proses penguapan air berjalan. 1. Aspal emulsi enionik Reaksi kimia pada dua permukaan akan berjalan apbila batunya bermuatan positif (contoh batu :limestone. Yang member muatan listrik negative. Yang bermuatan positif disebut emulsi positif atau cationic.1.7 jenis RS CRS AL KL Rapid Sifat breaking batu) (bentuk bersifat disperse cepat hilang bila menyentuh MS CMS A2 A2 labil (RS/CRS type) Medium breaking. disebut emulsi negative atau anionic.sangat tergantung pada proses penguapan air dan reaksi kimia antara kedua permukaan yang bersentuhan tersebut.contoh bahan tambah natrium oleat. maka jenis aspal emulsi dapat dibedakan : • • aspal emulsi anionic aspal emulsi cationic table 3. Dan bahan tambah tersebut. contoh bahan tambah yaitu memberikan amine. 2. bersifat semi stbil (MS/CMS type) SS CSS A3 K3 A4 K4 Slow breaking.

e. membrikan bahan tambah yang lebih baik /kuat d.Mengingat adanya aliran listrik positif pada bitumen. Secara teoritis aspal emulsi cationic sangat cocok dengan batu yang bermuatan negative.kenytaan menunjukan bahwa ikatan kedua permukaan itu tidak tergantung adanya selaput air. namun kenyataannya aspal emulsi cationic sangat cocok untuk kedua jenis batu tersebut yang bermuatan positif maupun yang bermuatan negative ). 2. Aspal emulsi cationic diproduksi cairan agak asam yaitu HCL atau acetic acid. sehingga ada bagian netral yaitu CO3.k yang acid base secara relative menambah daya afinitas. maka tingkat labilitas emulsi (rate of break) dapat dinaikan dengan cara : a. dan mampu mengusir sulaput air yang mengelilingi batu.yang membantu dalam membentuk ikatan kuat. menurunkan kadar bahan tambah c. Adanya energi yang tinggi (Vander Walls Force) pada aspal emulsi cationic. CA + 2HCl bagian netral 3. Hal ini dapat dijelaskan sbb : 1. Mengingat asifat aspal cationic tersebut. menambah kadar bitumen pada aspal emulsi b. dituangkan pada batu yang mempunyai permukaan kasar 12 . CO3 + H2 +CaCl3 Clay mineral yang diagregat + bagian cairan dalam a. maka daya ikat dengan batu yang bermuatan negative sangat besar walawpun masih ada selaput air.

cocok untuk agregat yang open grading. tidak ada polusi c.4 Aspal Karet Aspal karet ini diperoleh dengan cara menambahkan karet pada aspal minyak. cocok untuk pekerjaan yang relative lebih kecil dengan unskilled labour e. karet padat maupun karet cair. a. stif bitumen (bitumen keras) dapat diperoleh dalam bentuk cair.aspal yang dapat digunakan berupa aspal semen. b. dan lain-lain.3. dan lain-lain. 2.e. dituangkan pada batu yang bersih f. d. dituangkan pada batu yangbermuatan negative g. sedangkan karetnya bias berupa karet butiran. KELEBIHAN. Kelebihan dan kekurangan aspal emulsi : 1. aspal cair atau aspal emulsi. a. KEKURANGAN. c. 2. tidak ada bahaya kebakaran b. Proses pencampurannya : 13 . fungsi aspal baru bekerja dengan baik setelah air yang ada menguap. menurunkan pH aspal emulsi Sebaliknya bila ingin memmperlambat proses ikatan (rate of break) dapat dapat dilakukan dengan menambah CaCl2.

kohesi bitumen meningkat d. ketahanan terhdap deformasi permanen meningkat e. 160°c Sifat asret langsung yaitu antara aspal cair dan karet cair pada suhu masterbatch. aspal cair dan karet padat diairkan pada suhu Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat asret dari beberapa unsur pengamatan lebih baik disbanding aspal semula. tingkat keplastisan meningkat (rentang antara titik lembek traas breaking point) c. ketahanan terhadap kelelehan pada suhu rendah meningkat f.denngan menambahkan additive karakteristik aspal sebagai bahan ikat akan lebih baik.4 BAHAN TAMBAH (ADDITIVE) Semakin meningkatnya beban perkerasan. 2. elastisitas meningkat b. kerentanan bitumen terhadap panas menurun g. latex dan polyolefin 14 . serat selulosa b.untuk itu salah satu usahanya untuk meningkatkan kualitas aspal daengan menambahkan additive. Bahan additive yang ada dewasa ini antara lain : a. proses oksidasi terhadap bitumen lebih lambat. 160°c b. antara lain : a. dituntut bahan lapis keras yang lebih baik dalam arti lebih mampu meneruskan dan menyebarkan beban lapis yang di bawahnya.a.

active poly propylene. styreme butadiene styrene d. DASAR a) Penetrasi → dari uji penetrasi yaitu jarum penetrasi dengan beban 100 gr. 2) Kinematis →dengan satuan Centi Stokes (cst) 3) Satuan cgs →1 gr/ch-sec. labu dengan volume 60 ml. enthylene vinyl acetate e. b) Kekentalan → dari uji kekentalan 1) Sabolit Furol (SF) Aspal suhu 60º mengalir melalui pipa Ø⅛” untuk mengisi.5 KLASIFIKASI ASPAL 1. 2. disebut poise (P). Penetrasi → AC 40 – 50 AC 60 – 70 AC 85 – 100 AC 120 – 150 AC 200 – 300 Angka menunjukkkan masuknya jarum penetrasi. S 1 unit → 1 pa-s (1N-s/m2) disebut 10 P Kehilangan berat aspal dalam % berat Rolling Thin Film Oven – Karakteristik aspal setelah RTFO test untuk menetukan grading aspal semula dalam AR (age residue) – viscosity graded series. KLASIFIKASI ASPAL a. 2.1mm) 4) Thin Film Oven Test - 15 . (100gr/5detik/0. Waktu pengisian menunjukkan kekentalan SF (detik).1 mm.c. selama 5 detik pada suhu 25ºC masuk kedalam aspal diukur dalam satuan 0. atau 1 dyne-sec/cm3.

Aspal Cair → Rapid Curing (RC) Medium Curing (MC) Slow Curing (SC) Age Reidue – angka menunjukkan kekntalan setelah uji RTFO pada suhu 60º C (140º F) dalam satuan poises. 100 ± 20 pen. 50 ± 10 pen. 300 ± 45 pen.BS 3690 pen. 35 ± 7 pen.5 AC 5 AC 10 AC 20 AC 40 Asphalt Cement – angka menunjukkan kekntalan pada 60º c (140º F) dalam satuan 100-an poises. 16 . (toleransi ± 25%) 30 70 250 800 3000 0 1 2 3 4 5 Angka menunjukkan kekentalan dalam satuan cst pada suhu 60º C. 200 ± 30 pen. Kekentalan → AC 2. 70 ± 10 pen. AR 1000 AR 2000 AR 4000 AR 8000 AR 16000 c. 450 ± 65 b. 40 ± 10 pen. 15 ± 5 pen. 25 ± 5 pen.

5 jam) 6. Kelarutan dalam CCL4 7. Titik nyala (COC) 3. P.6 PEMERIKSAAN ASPAL 1. Aspal Emulsi Aspal Emulsi Anionic (-) Aspal Emulsi Kationik (+) Aspal Non Ionic (Netral) Anionic RS – 1 RS – 2 MS – 1 MS – 2 MS – 2h HF MS – 1 HF MS – 2 HF MS – 2h HF MS – 2s SS – 1 SS 1h Kationic CRS – 1 CRS – 2 CMS – 2 CMS – 2h CMS – 2s CSS – 1 CSS – 1h BM MC – 1 MCK – 1 MC – 2 MC – 1 MC – 2 MS – 2K ML – 1 ML – 1K MCK – 2 MSK – 1 MSK – 2 MSK – 2h MLK -1 MLK – 1h Keterangan C = cationic/cepat R = rapid M = medium/mengendap S = slow/sedang S = setting h = harder base asphalt HF = hot float (diukur dengan float test. P. P. Kekentalan (Kinematik dan Saybolt furol) 11. P. P. Daktilitas 8. dimungkinkan penggunaan film aspal tebal) s = solvent (more solvent than the others) K = kationok/kental 2. Distilasi aspal cair 17 . Kehilangan berat/LOH (163ºC. P. P. P. 25ºC. Penetrasi bitumen (100gr. 5 detik. P. o.d. Berat Jenis 10.1 mm) 2. Titik lembek 5. P. P. Titik baker 4. “Frass Breaking Point” 9.

Sifat ini sangat diperlukan agar lapis perkerasan yang dibuat akan tahan terhadap: 18 . P. Rolling Thin Film Oven (RTFO) 14. dan slurry seals. sehingga proses volatilisation dan evaporation masih dapat berlangsungmasih dapat berlangsung Oleh karena itu untuk kedua aspal ini umumnya digunakan pada kondisi lalulintas ringan atau juga untuk pekerjaan surface dressing. b. Hal ini akan memudahkan pelaksanaan penggelaran bahan tersebut dan juga memudahkan dalam memadatkan untuk memperoleh lapis yang padat kompak. Dari sudut workabiltity ini usaha yang dapat dilakukan adalah: 1. Bending Beam Rheometer (BBR) 18. 2. Pemanasan/heating ditambah pengencer ditambah bahan pengemulsi Untuk menggunakan aspal cair dan aspal pengemulsi perlu memperhatikan waktu dan cuaca yang tepat. P. Dan lain-lain 2. tack coat. 1. Aspal yang digunakan harus memiliki kuat tarik dan adesi yang cukup.12. Pressure Aging Vessel (PAV) 15. P. Kuat tarik/tensile strength dan adhesi/adhesion. campuran cukup permeable. Kekakuan/kekerasan/stiffness Sifat mudah dikerjakan/workability Aspal yang dipilih haruslah mempunyai workability yang cukup dalam pelaksanaan program pengaspalan. 3. lapis penggelaran yang tidak terlalu tebal. Dynamic Shear Rheometer (DSR) 16. Rotational Viscometer (VR) 17. Kelekatan aspal 13. Direct Tension Tester (DDT) 19.7 Persyaratan Aspal Sebagai Bahan Jalan Beberapa persyaratan aspal sebagai bahan jalan adalah sebagai berikut: a.

8.8 Sifat Kimia dan Fisik Aspal 2. Aromatic mineral oils mempunyai daya pelarut asphaltenese yang lebih besar disbanding dengan paraffinic minerals oil. misalnya konsistensi tidak banyak berubah akibat cuaca. retak/cracking (ditambah oleh kuat tarik). pengulitan/freeting stripping (ditahan oleh adesi).12 aromatic based bitumen Asphaltenese aromatic mineral oils resins 2. Lama Pembebanan Jika dikaitkan dengan lalu lintas maka pembebanan yang lama akan terjadi pada lalu lintas dengan kecepatan rendah atau paraffinic based bitumen asphaltenese paraffinic mineral oils resins 19 .1 Kekentalan/viscosity Kekentalan aspal akan dipengaruhi oleh: 1. goyah/ravelling (ditahan oleh kuat tarik adesi). sehingga aspal yang berasal dari aromatic based bitumen cenderung bersifat lebh peka terhadap perubahan suhu (higher temperatue suscepability) bila dibandingkan dengan paraffinic based bitumen. misalnya koefisien gesek/skid resistance. sehingga kondisi permukaan jalan. Temperatur. Hal ini disebabkan oleh energi termal/thermal energy meningkat dan melarutkan asphaltenese-nya ke dalam oils. d. Tabel 3. 3. 2. Dengan naiknya temperatur maka kekentalan aspal akan menurun. dapat memenuhi kebutuhan lalulintas serta tahan lama/durable. 2. Tahan terhadap cuaca Sifat ini diperlukan agar aspal tetap memiliki tahanan terhadap perubahan cuaca.1.

ternyata kekentalan aspal akan naik. Titik embek/softening point (ring and ball test) c. sedang dan besar. 3. Kekentalan bitumen umunya diukur dengan : a. yaitu aspal yang diberi tambahan amine.8. Untuk mengetahui kuat tarik aspal dapat dilakukan percobaan titik pecah Fraass (fraass breaking test) 2. Kuat tarik aspal ini akan lebih nampak nyata pada suhu rendah. adesi pasif dan adesi aktif. Perkembangan daya adesi dari adesi biasa. Perubahan kekentalan ini sebanding dengan waktu dan terjadi pada komposisi kimia yang tetap (thixotropy). Waktu (effect of time) Hal ini berkaitan dengan sifat tahan lama aspal sebagi bahan jalan.sebaliknya. dengan semakin lama pembebanannya maka aspal yang semula bersifat elastic akan bersifat lebih viscous.2 Kuat Tarik (tensile strength) Kuat tarik aspal juga dipengaruhi oleh temperature dan lama pembebanan. Uji kekntalan 2. Tambahan bahan (amine) yang semakin bertambah banyak akan berakibat : 1. Perkembangan gaya luar yang timbul dari tidak ada. Apabila asapl dibiarkan dalam keadaan yang tidak/jarang sekali mendapat beban. 20 . kecil. Menurut Shell. 2.3 Adesi (adhesion) Adanya daya adesi ini dapat dijelaskan dengan mengacu pada aspal emulsi kationik.8. Penetrasi (penetration test) b. Thixotropy ini dapat dihilangkan dengan cara memberikan tegangan/beban atau pemanasan pada aspal tersebut.

Kadar bahan tambah Adesi biasa 1 Keterangan : 1. 3. 2. Campuran akan segera mengalami tipe 5. akan segera mengalami tipe 2. Campuran dingin dan kering (cold mixes) akan mengalami adesi tipe 1. Sehingga 24 jam pertama penggelaran bahan.8. 4. selanjutnya ke tipe 3 dan ke tipe 4. Ada daya adesi. Daya adesi besar. 2. Contoh : 1. tetapi daya ini akan hilang bila ada gaya luar walaupun gaya luar itu cukup lemah. adesi yang ada sangat peka terhadap air (misalnya hujan) 2. Campuran hot mix . Daya adesi sangat besar sehingga aspal mampu mengusir air yang ada di agregat.Sedangkan besarnya daya adesi juga dipengaruhi oleh jenis bahan tambahnya.4 Pengaruh Cuaca Karena aspal merupakan senyawa hydrogen dan karbon yang mungkin dalam kondisi unsaturated. dan aspal mampu menahan air walaupun disertai adanya gaya luar yang kuat 5. Daya adesi lemah sehingga air mampu mengusir film aspal tanpa perlu bantuan gaya dari luar. Daya adesi sedang. 3. tetapi dengan berjalannya waktu maka adesi akan membaik ke tipe 2 atau ke tipe 3. perubahan sifat yang sangat Adesi pasif 2 3 4 Adesi aktif 5 21 . dan aspal mampu menahan air walaupun disertai adanya gaya luar yang cukup besar. bila padatnya ditambahkan bahan tambah yang jenis dan kadarnya tepat.

perlu diperhatikan yaitu reaktivitas terhadap O2.9 Percobaan Pembuatan Campuran Aspal dengan Cara Marshall Setelah didapatkan perbandingan komposisi masing-masing jenis batuan (kasar-sedang-halus). maka selanjutnya adalah merencanakan untuk menentukan berapa kadar aspal (jumlah pemakaian bahan pengikat aspal) yang cukup untuk mengikat komposisi batuan tersebut. Oksidasi pada suhu tinggi aspal suhu + udara suhu tinggi tinggi Proses dehidrogenesis 2. lama kelamaan terjadi selaput tipis yang keras. ini adalah salah. Karena terlalu banyak aspal akan mengakibatkan kekuatannya malah berkurang dan banyak lagi akibat lainnya. Ada anggapan bahwa aspal jalan lebih kuat. hal ini mengingat. tidak boleh kurang atau terlalu banyak. terjadi asphaltenese + H2O lebih banyak 2. Selaput keras ini efektif untuk menghalangi proses oksidasi lebih lanjut. pada oksidasi ini selalu timbul lapisan yang getas (brittle) yang terdapat komponen baru yang larut dalam air. Hal ini dikarenakan jumlah pemakaian aspal haruslah pas. 1. Oksidasi pada suhu rendah Aspal didiamkan pada suhu ruangan yang tidak kena sinar matahari. sehingga membuka kesempatan oksidasi bagi lapisan yang ada di bawahnya. bahwa aspal untuk perkerasan akan selalu berhubungan dengan udara/oksigen. Selaput tipis ini bila terkena tekanan mekanis dapat pecah. Untuk itulah Bruce Marshal mengembangkan satu metoda untuk menentukan 22 . Pada kondisi di luar (terkena sinar matahari) prose terbentuknya selaput tipis lebih cepat. sebaliknya aspal yang kurang dapat mengakibatkan batuannya akan mudah lepas-lepas dan terbongkar kembali.

jumlah pemakaian aspal yang tepat hingga dapat menghasilkan campuran yang baik sesuai persyaratan teknis perkerasan jalan yang ditentukan. Adapun inti dari prosedur perencananan campuran cara Marshal. metode perencanaan yang dikembangkan oleh Bruce Marshal inilah yang akhirnya terkenal dengan istilah cara MARSHAL. dan penumbukan dilakukan terhadap kedua permukaan (atas dan bawah). urutannya adalah 1. sedangkan lengkap prosedur pelaksanaannya adalah sesuai dengan prosedur yang telah dibakukan pada “Marshal mix design” AASHTO T-245 atau pada ASTM T-1559. 2. dan dijadikan standart internasional untuk pembuatan perkerasan jalan campuran panas (hotmix). penentuan kadar aspal yang terbaik bagi perencanaan campuran tersebut 23 . pemeriksaan briket campuran yang meliputi :  kepdatan campuran  berat isi campuran  besaran pori dalam campuran  besaran pori yang terisi aspal  kekuatan atau stabilitas campuran  pengukuran besaran kelelahan (flow) campuran. Tahapan pembuatan contoh aspal campuran panas secara lengkap adalah sebagaimana digambarkan pada “skema percobaan Marshal”. pembuatan briket contoh campuran (tiga contoh untuk satu variasi kadar aspal) dengan cara dicetak dan dipadatkan dengan alat penumbuk khusus dengan jumlah tumbukan sesuai dengan peruntukan perkerasan jalan yang akan dibuat tersebut. 4. (sebaiknya 7 variasi kadar aspal). 3. pembuatan campuran panas dari satu perbandingan komposisi batuan yang sama dengan penggunaan kadar aspal yang bervariasi.

b. : : Pengujian Aspal Titik Lembek Aspal dan Ter REFERENSI AASHTO T – 53 – 74 ASTM D – 36 – 70 24 . a.BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN DAN HASIL PENGAMATAN Subjek Topik I.

g. Pemanas (hot plate). tinggi 12 cm (tahan terhadap pemanasan mendadak). Kemudian masukkan satu set peralatan tersebut kedalam bejana gelas yang telah berisi air suling dengan suhu (5 ± 1)°C sehingga tinggi permukaan air antara 101. Termometer sesuai dengan tabel 1.2.5 cm. Pengujian Bahan. Panaskan contoh perlahan-lahan sambil diaduk terus menerus hingga cair merata. Peralatan 25 .6 mm sampai 108 mm. Bola baja. Tuangkan contoh ke dalam 2 buah cincin. b.45 sampai 3. d. Setelah dingin ratakan permukaan contoh dalam cincin dengan pisau atau spatula yang telah dipanaskan. Edisi 1983 II. 2. d. Pengukur waktu (stop watch). f. Suhu pemanasan untuk TER tidak boleh meebihi 56°C diatas titik lembek. b. PROSEUR PELAKSANAAN Pasang dan aturlah kedua benda uji di atas dudukannya dan letakkan pengarah bola di atasnya. Alat pengarah bola. Bejana gelas diameter 8. a.53 mm dengan berat 3. diameter 9. Cincin kuningan. Panaskan 2 buah cincin sampai mencapai suhu tuang contoh dan letakkan kedua cincin tersebut di atas pelat kuningan yang telah diberi lapisan campuran tak dan sabun.c. PEDC. Pemanasan dan pengadukan dilakukan perlahan-lahan agar gelembung-gelembung udara tidak masuk. Benda Uji a. III. h. c. e. Bandung. c. untuk aspal tidak lebih dari 111°C diatas titik lembek. PERALATAN DAN BAHAN a. Dudukan menda uji. 1.55 gram. diamkan pada suhu sekurngkurangnya selama 30 menit.

Letakkan termometer yang sesuai untuk pengujian ini diantara dua benda uji (±12. Apabila dari suatu pekerjaan duplo.4°F Es dan tiap 40°C ASTM High Softening Point 16°C 16°C Seluruh Seluruh 30° s/d 85° s/d 200°C 0.2°C Es dan tiap 20°C 180°F 0.5°F 1°F 0. Terendah Daerah Pengukuran Sakala Terkecil Sakala Terbesar Kesalahan karena pembacaan skala (maksimum) Standarisasi ASTM Softening Point 15°C 15°F Seluruh Seluruh 2° s/d 30° s/d 80°C 0. Catatan : Tabel 1. a.3°C Setiap 20°C 392 °F 1°F 10°F 0. perbedaan suhu untuk perbedaan dua benda uji melebihi 1°C maka pekerjaan diulangi. Letakkan bola baja yang bersuhu 5°C di atas dan di tengah-tengah permukaanmasing-masing benda uji dengan memakai penjepit. PELAPORAN Laporkan suhu pada saat masing-masing bola baja menyentuh plat dasar. b. b.2 Spesifikasi Termometer Nama Termometer ASTM No. Kesimpulan dari hasil pengujian yang anda peroleh. maka pekerjaan diulangi.4 mm.7 mm) dari tiap-tiap cincin. 1. Apabila kecepatan pemanasan melebihi ketentuan di atas. 2.5°F Setiap 70°F 26 . Panaskan bejana dengan kenaikan suhu 5°C per-menit. Atur jarak antara permukaan pelat dasar dengan dasar benda uji sehingga menjadi 25.2°C 1°C 0.5°C 5°C 0. Kecepatan pemanasan ini tidak boleh diambl dari kecepatan pemanasan rata-rata dari awal sampai akhir pekerjaan ini.5°C. IV. Untuk 3 menit pertama perbedaan kecepatan pemanasan tidak boleh melebihi 0. c.

5 s/d 5. Suhu yang diamati (°C) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 I 0 104 166 233 297 364 431 498 565 II 0 104 166 233 297 364 431 498 565 I Waktu (detik) Titik lembek (°C) II 48.25 48.0 s/d 7.5 mm 9.0 s/d 7.5 s/d 5. HASIL PENGAMATAN No.0 s/d 14 mm 30°C 86°F 75 s/d 90 mm 200°C 392°F 333 s/d 354 mm Cincin gelas V.5 mm 9.Panjang seluruhnya Diameter batang Diameter bagian ujumg Pnjang bagian cairan Jarak ujung bawah tempat cairan kegaris Derajat pada jarak Ruang penampung cairan 397 mm 6.0 mm 4.0 mm 4.5 gambar saat pengujian titik lembek 27 .0 s/d 14 mm 0°C 32°F 75 s/d 90 mm 80°C 175°F 333 s/d 354 mm Cincin gelas 397 mm 6.

Dan apabila dirata-rata maka titik lembek yang dicapai adalah 48.25°C dan suhu 48. ANALISIS DATA Yang dimaksud titik lembek adalah suhu pada saat bola baja dengan berat tertentu mendesak turun suatu lapisan aspal atau ter yang tertahan dalam cincin berukuran tertentu sehingga aspal atau ter tersebut menyentuh plat dasar. didapatkan nilai titik-titik lembek untuk dua benda uji yaitu suhu 48. Berarti. 28 .5°C dimana selisih untuk perbedaan dua benda uji kurang dari 1°C.38°C. Angka tersebut sudah memenuhi standar menurut Petunjuk Lapis Aspal Beton (LASTON) Untuk jalan Raya 1987. Penentuan titik lembek dilakukan antara lain untuk mengetahui sampai suhu berapa aspal dapat dihamparkan dan bertahan dari pengaruh suhu tanpa menjadi leleh. Dari hasil pengujian.VI. persyaratan titik lembek untuk aspal keras yaitu pada penetrasi 60 adalah sekitar 48°C-58°C dan pada penetrasi 80 adalah sekitar 46°C-54°C. aspal tersebut dapat dihamparkan dan bertahan dari pengaruh suhu tanpa menjadi leleh sampai suhu 48°C.

II.49 – 68 ASTM D . Pemegang jarum seberat (47. masing-masing dipergunakan untuk pngukuran penetrasi dengan beban 100 gram dan 200 gram. yang dapat dilepas dengan mudah dari alat untuk peneraan.05) gram. Alat penetrasi yang dapat menggerakkan jarum naik-turun tanpa gesekan dan dapat mengukur penetrasi ampai 0.05) gram dan (100 ± 0. Jarum penetrasi terbuat dari stainless mutu 440°C atau HRC 54 sampai 60.5 ± 0.5 – 71 Peralatan a. b.05) gram. c. f. : : Pengujian Aspal Penetrasi Bahan-Bahan Bitumen REFERENSI AASHTO T .1. Cawan contoh terbuat dari logam atau gelas berbentuk silinder dengan dasar rata dengan ukuran sebagai berikut : Penetrasi Diameter (mm) Dalam (mm) PERALATAN DAN BAHAN 29 . Termometer b. e.Subjek Topik I. a. 1. Ujung jarum harus berbentuk kerucut terpancung. Pemberat (50 ± 0. d.

Periksalah pemegang jarum pada plat penetrometer agar jarum dapat dipasang dengan baik dan bersihkan jarum penetrasi dengan pelarut / 30 .5 jam untuk benda uji kecil dan 1.Dibawah 200 200 s/d 300 55 75 35 45 g. 2.5 sampai 2 jam untuk nebda uji besar. c. terdiri dari bejana dengan isi tidak kurang dari 10 liter dan apat menahan suhu tertentu dengan ketekitian kurang lebih 0. i. Diamkan dalam bak tersebut selama 1 sampai 1. III. Tinggi contoh dalam cawan tersebut tidak kurang dari angka penetrasi ditambah 10 mm.1°C. b.5 sampai 2 jam untuk benda uji besar. Pengukur waktu (stop watch) dengan skala pembagian terkecil 0. tuangkan contoh ke dalam cawan dan diamkan hingga dingin. Suhu pemanasan untuk TER tidak bleh melebihi 60°C diatas titik lembek. Pemanasan dan pengadukan dilakukan perlahan-lahan agar gelembung-gelembung udara tidak masuk. Waktu pemanasan tidak melebihi 30 menit.5 jam untuk benda uji kecil dan 1. b. PROSEDUR PELAKSANAAN a. h. Panaskan contoh perlahan-lahan samvil diadul terus-menerus hingga cair merata.1 detik atau kurang dari kesalahan tertinggi 0. dengan isi tidak kurang dari 350ml dan tingga yang cukup untuk merendam benda uji tanpa bergerak. Bejana dilengkapi dengan plat dasar berlubang-lubang. Setelah contoh cair merata. terketak 50 mm diats dasar bejana dan tidak kurang dari 100 mm di bawah permukaan air daam bejana. Nampan air tidak merendam benda uji. Letakkan benda uji dalam nampan dan masukan kedalam bak perendam yang telah berada pada suhu yang ditentukan.1 detik per-60 detik. Tutuplah benda uji agar bebas dari debu dan diamkan dalam suhu ruang selama 1 sampai 1. untuk aspal tidak lebih dari 90°C diatas titik lembek. Benda Uji a. Bak perendam (water bath).

g. c. Termometer untuk bak perendam harus dtera secara teratur.49 50 .minyak kemudian kerigkan jarum tersebut dengan lap / kain bersih dan pasanglah jarum pasa pemegang jarum.149 150 . Kemudian aturlah arloji (jarum penunjuk penetrasi) penetrometer pada angka 0(nol). Hasil-hasil pembacaan tidak boleh melampaui toleransi di bawah ini : Hasil Penetrasi 0 . h. Kesimpulan dari hasil uji yang anda peroleh. e. b. IV.249 200 Toleransi 2 4 6 8 b. maka pemeriksaan harus diulangi. Pasanglah pembert 50 gram di aas jarum untuk memperoleh beban sebear 100 ± 0.1 gram. PELAPORAN a. Laporkan angka penetrasi rata-rata sekurang-kurangnya 3 pembacaan dalam bilangan bulat. f. d. dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan berjarak satu ama lai dan dari tepi dinding cawan tidak kurang dari 10 mm. 31 .1) detik. Pindahkan nampan air yang berisi benda uji dari bak perendam ke bawah alat penetrasi. Catatan : a. bersihkan dan siapkan alat penetrasi untuk pembacaan berikutya. Lepaskan jarum dari pemegang jarum pada alat penetrometer. Putarlah arloji penetrometer dan bacalah angka penetrasi yang berimpit / ditunjukan dengan jarum penunjuk. i. c. Lepaskan pemegang jarum dan secara bersamaan jalankan stop watch elama jangka waktu (5 ± 0. Apabila perbedaan antara masingg-masing pembacaan melebihi toleransi. Turunkan jarum perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh permukaan benda uj. Lakukan pembacaan penetrasi di atas tidak kurang dari 5 kali pada benda uji yang sama.

Untuk aspal keras atau lembek penentuan konsistensi dilakukan penetrometer. 14. 9. Rata-rata Pembacaan Penetrasi Benda Uji (mm) I 96 100. HASIL PENGAMATAN NO. 7. Konsistensi aspal merupakan derajat kekentalan aspal yang sangat dipengaruhi oleh suhu.5 91.5 96 90 91 86.1) detik. 15. 5.d. 12.63 VI. sedangkan bitumen dengan penetrasi antara 350 – 500 harus dilakukan dengan alat lain. Bitumen dan toleransi kurang dari 150 dapat diuji dengan alat-alat dan cara pemeriksaan ini.5 94 88 96 94 93 90 91 92 89 91. 4. 2. 32 .8 II 92. 3. e. 11. hasil terseebut tidak berlaku / diabaikan. 10.5 90.97 92.5 89 95 91 96 95 89 94 100 94 94 94 93.5 91. 8. 1. 13. Apabila pembacaan stop wath lebih dari (5 ± 0. 6. ANALISIS DATA Penentuan penetrasi adalh suatu cara untuk mengetahui konsistensi aspal. V.

01 gram.70 – 72 c. ASTM D . 33 . Air suling sebanyak 1000 cm³. Tuangkan contoh tersebut ke dalam piknometer yang telah kering hingga terisi ¾ bagian dan diamkan pada suhu ruang dingin. Pengujian Bahan. Subjek Topik I. rata-rata penetrasi aspal dari dua benda uji adalah sebesar 92. Edisi 1983 II. Nampan. PERALATAN DAN BAHAN 1. Piknometer. Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan. Benda Uji a.1) °C. Semakin tinggi angka penetrasi semakin lembek aspal tersebut. 2. nilai tersebut dimasukkan dalam kelompok aspal jenis AC penetrasi 80-100 sehingga aspal ini dapat digunakan sebagai perkerasan jalan raya.Konsistensi dinyatakan dengan angka penetrasi.8. f. Panaskan contoh bitumen keras atau ter sebanyak ± 50 gram sampai menjadi cair dan aduklah untuk mencegah pemanasan setempat. Bandung. PEDC. b. Peralatan a. Jadi. c. : : Pengujian Aspal Berat Jemis Bitumen Keras Dan Ter REFERENSI a. d. Duhu pemanasan tidak boleh melebihi 56°C di atas titik lembek dan dalam waktu 30 menit. yaitu masuknya jerum penetrasi dengan beban terentu ke dalam benda uji aspal pada suhu 25°C selama 5 detik. b. Timbangan dengan ketelitian 0. e. Termometer. Bak perendam yang dilengkapi dengan pengatur suhu dengan ketelitian (25 ± 0. AASHTO T – 228 – 68 b.

Keringkan piknometer dengan penutupnya. Isilah piknometer yang berisi benda uji degan air suling dan tutuplah tanpa ditekan. waktu pandinginan tidak kurang dari 40 menit dan timbanglah iknometer yang berisi benda uji dan penutupnya dengan ketelitian 1 mg (C). g. kemudian tuangkan contoh uji bitumen ke dalam piknometer sehingga terisi ¾ bagian.. PROSEDUR PELAKSANAAN a. Timbanglah piknometer berisi air suling dan penutup dengan ketelitian 1 mg (B). Bersihkan. air suling dan penutupnya dengan ketelitian 1 mg (D). kemudian masukkan nampan dan picknometer ke dalam bak perendam. d. IV. Isilah nampan dengan air suling sehingga diperkirakan bagian atas piknometer ke dalam namapan sehingga terendam sekurang-kurangnya 100 mm dan maskkan nampan ke dalam bak perendam serta atur suhu bak perendam pada 25°C. Biarkan piknometer sampai dingin. diamkan agar gelembun-gelembung udara keluar. i. c. Angkatlah nampan dari bak perendam.III. Diamkan dalam bak perendam sekurang-kurangnya 30 menit. f. kemudian angkatlah piknometer dan keringkan dengan lap / kain. b. keringkan dan timbanglah piknometer dengan benda uuji. kemudian rendamlah dalam bak perendam sekurang-kurangnya 30 menit. Isilah picknometer dengan air suling. Ankat. Letakkan picknometer ke dalam nampan dan tekanlah penutup hingga rapat. e. keringkan dan timbanglah piknometer dan penutupnya dengan ketelitian 1 mg (A). PERHITUNGAN Hitingkah berat jenis dengan rumus : (C − A) ( B − A) − ( D − C ) Berat jenis ASPAL = 34 . Msukan piknometer ke dalam nampan dan tekanlah penutup biar rapat. kemdian tutuplah picknometer tanpa ditekan. h.

Berat jenis dapat dipengaruhi perubahan suhu dan pemuaian yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan volume.1 26.3 78.9 67.9 78. b.9 76. ANALISIS DATA Berat jenis aspal tanpa campuran biasanya berkisar antara 1.037 gambar saat pengujian berat jenis aspal VII.036 1. HASIL PENGAMATAN Pemeriksaan Berat piknometer + penutup Berat piknometer + air + penutup Berat piknometer + bitumen + penutup Berat piknometer + bitumen + air + penutup Berat jenis aspal = (C-A) / { (B-A)-(D-C) } Berat jenis rata-rata A B C D Benda Uji I II 29. Nilai berat jenis aspal dibutuhkan untuk membuat bermacam- 35 . Kesimpulan dari hasil uji yang anda peroleh.035 pada suhu 25°C.4 61. VI. PELAPORAN a.025-1.038 1. Makin keras aspal umumnya berat jenisnya semakin tinggi.5 80. minimal dari dua benda uji dengan 3 desimal. Laporkan nilai berat jenis rata-rata.dimana : A = Berat piknometer + penutup B = Berat piknometer + air + penutup C = Berat piknometer + bitumen + penutup D = Berat piknometer + bitumen + air + penutup V.1 1.

038 dan berat jenis pada benda uji II adalah 1. hal ini mungkin dikarenakan adanya pengaruh perubahan suhu dan pemuaian yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan volume. Seperti yang telah dikatakan di atas. Dari praktikum yang telah kami lakukan.036. berat jenis rata-rata yang didapat adalah 1. Nilai rata-rata yang dicapai selisih sedikit dengan nilai kisarannya. Berat jenis pada benda uji I adalah 1.037. 36 .macam variasi campuran aspal atau untuk membuat bermacam-macam variasi campuran aspal atau untuk jenis-jenis pengujian aspal lainnya.

MAKSUD : Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan getaran terhadap kelelehan plastis dari campuran aspal. f. e. Kepala penekan berbentuk lengkung (breaking head) 37 . Landasan pemadat terdiri dari balok kayu (jati atau yang sejenis) berukuran kira – kira 20 x 20 x 45 cm (8” x 8” x 18”) yang dilapis dengan plat baja berukuran 30 x 30 x 2. b. c.5 cm (3”) lengkap dengan plat alas dan leher samburg. Alat pengeluar benda uji Untuk benda uji yang sudah dipadatkan dari dalam cetakan benda uji dipakai sebuah alat ejaktor. dengan berat 1.Subjek : Pengujian Aspal Topik : Pengujian Campuran Aspal Dengan Alat Marshall I. II.536 kg (10 pound). Ketahanan (stabilitas) ialah kemampuan suatu campuran aspal untuk menerima beban samapi terjadi kelelehan plastis yang dinyatakan dalam kilogram atau pound.5 cm (12” x 12” x 1”) dan diikatkan pada lantai beton dengan empat bagian siku.7 cm (18”). Silinder cetakan benda uji Mesin tekan lengkap dengan : 1. dan tinggi jatuh bebas 45. Penumbuk yang mempunyai permukaan tumbuk rata berbentuk silinder.01’. d. 3 buah cetakan benda uji yang berdiameter 10 cm (4”) dan tinggi 3. PERALATAN : a. Kelelhan plastis ialah keadaan perubahan bentuk suatu campuran aspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0.

h.25 mm (0. 2. Panci –panci untuk memanaskan agregat. Cincin penguji yang berkapasitas 2500 kg (5000 pound) dengan ketelitian 12.0025 cm (0. 4 (4. 38 . i. Pisah – pisahkan agregat dengan cara penyaringan kering ke dalam fraksi – fraksi yang dikehendaki atau seprti berikut ini 1 sampai ¾” ¾” sampai 3/8” ¾” sampai no.76mm) sampai no. 4 (4. III.38mm) Lewat no.38mm) 2.2. penentuan suhu pencampuran. aspal dan campuran aspal Pengukur suhu dari logam berkapasitas 2000C dan 1000C dengan ketelitian 0.1 gram dan timbangan berkapasitas 5 kg dengan ketelitian 1 gram 4. Perlengkapan lain : 1. 5.5 kg (25 pound) dilengkapi arloji tekan dengan ketelitian 0.0001”) 3.76 mm) No. yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (200± 3)0C Bak perendam dilengkapi dengan pengatur suhu minimum 20 0C. 8 (2. Arloji kelelehan dengan ketelitian 0. Kompor Sarung asbes dan karet Sendok pengaduk dan perlengkapan lain BENDA UJI 1. Oven. 6.5 atau 1 % dari kapasitas Timbangan yang dilengkapi penggantung benda uji berkapasitas 2 kg dengan ketelitian 0. 3. Persiapan benda uji Keringkanlah agregat sampai beratnya tetap pada suhu (105±5)0C. 8 (2. g.01”) dengan perlengkapannya.

dalam pemegang cetakan. untuk aspal dingin pemanasan sampai 140C di atas suhu pencampuran. Lakukan pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak75. Lepaskan lehernya. 50 atau 35 sesuai kebutuhan dengan tinggi jatuh 45 cm (18”).05”) Panaskan panic pencampur beserta agregat kira-kira 280C di atas suhu pencampur untuk aspal panas dan aduk sampai merata.3 dan 148.125 cm (2. dan ratakanlah permukaan campuran dengan mempergunakan sendok semen menjadi bentuk yang sedikit cembung. sampai agregat terlapis merata. Sementara itu dipanaskan aspal sampai suhu pencampuran. Tuangkan aspal sebanyak yang dibutuhkan ke dalam agregat yangsudah dipanaskan tersebut. Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk dengan seksama dan panaskan sampai suhu antara 93.5” ±0. Kemudian aduklah dengan cepat pada suhu sesuai 3. 4. persiapan campuran.90C. Waktu akan dipadatkan suhu campuran harus dalam batas-batas suhu pemadatan seperti yang disebut pada 3.Suhu pencampuran dan pemadatan harus ditentukan sehingga bahan pengikat yang dipakai menghasilkan viscositas Daftar No. 3.b.25 cm ±0.kemudian masukkanlah seluruh campuran ke dalam cetakan dan tusuk-tusuk campuran keras-keras dengan spatula yang dipanaskan atau aduklah dengan sendok semen 15 kali keliling pinggirannya dan 10 kali dibagian dalamnya. selama pemadatan tahanlah agar sumbu palu pemadat selalu tegak lurus pada alas cetakan. Letakkan cetakan di atas landasan pemadat. 1. lepaskan keeping alas dan pasanglah alat pengeluar benda uji 39 . Terhadap permukaan benda uji yang sudah dibalik ini timbullah dengan jumlah tumbukan yang sama. Pemadatan bevda uji. Letakkan selembar kertas saring atau kertas penghisap yang sudah digunting menurut ukuran cetakan ke dalam dasar cetakan. Untuk tiap benda uji diperlukan agregat sebanyak ±1200 gram sehingga menghasilkan tinggi benda uji kira-kira 6. Lepaskan keeping alas dan lehernya balikkan alat cetak berisi benda uji dan pasanglah kembali perlengkapannya.b. Sesudah pemadatan.

b. Bersihkan benda uji dari kotoran-kotoran yang menempel. Pasang segmen atas di atas benda uji. e. Timbang dalam air untuk mendapatkan isi g. Tekan selubung tangkai arloji kelelahan tersebut pada segmen atas dari kepala penekan selama pembebanan berlangsung. sebelum melakukan pengujian bersihkan batang penuntun dan permukaan dalam dari kepala penekan yang atas dapat meluncur bebas. Rendamlah benda uji aspal panas atau benda uji tar dalam bak perendam selama 30 sampai 40 menit atau dipanaskan didalam oven selama 2 jam dengan suhu tetap (60±1)0C. IV. biarkan selama kira-kira 24 jam pada suhu ruang. Dengan hati-hati keluarkan dan letakkan benda uji di atas permukaan rata yang halus. Berikan pembebanan pada benda uji dengan kecepatan tetap sebesar 50 mm per menit sampai pembebanan maksimum 40 . Pasang arloji kelelahan pada kedudukannya di atas salah satu batang penuntun dan atur kedudukan jarum penunjuk pada angka nol. Timbang benda uji. untuk benda uji aspal panas dan (38±1)0C untuk benda uji tar. bila dikehendaki kepala penekan direndam bersama-sama benda uji pada suhu antara 21 sampai 380C. Untuk benda uji aspal dingin masukkan benda uji ke dalam oven selama minimum 2 jam dengan suhu tetap (25±1)0C. Berilah tanda pengenal pada masing-masing benda uji. d. i. c. Rendam dalam air kira-kira 24 jam pada suhu ruang f. keluarkan benda uji dari bak perendam atau dari over atau dari pemangas udara dan letakkan ke dalam segmen bawah kepada penekan. h. Sebelum pembebanan diberikan. Atur kedudukan jarum arloji tekan pada angka nol. sementara selubung tangkai arloji dipegang teguh tehadap segmen atas kepala penekan. dan letakkan keseluruhannya dalam mesin penguji.1 mm.pada permukaan ujung ini. Timbang benda uji dalam kondisi kering permukaan jenuh. kepala penekan beserta benda ujinya dinaikkan hingga menyentuh alas cincin penguji. PROSEDUR PELAKSANAAN : a. Ukur tinggi benda uji dengan ketelitian 0.

Lepaskan selubung tangkai arloji kelelahan pada saat pembebanan mencapai maksimum dan catat nilai kelelahan yang ditunjukkan oleh jarum arloji kelelahan. Persen rongga terhadap campuran dilaporkan dalam bilangan decimal satu angka dibelakang koma. atau pembebanan menurun seperti yang ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan catat pembebanan maksimum yang dicapai. Suhu pencampuran. Nilai kelelahan. Waktu yang diperlukan dan saat diangkatnya benda uji dari rendaman air sampai tercapainya beban maksimum tidak boleh melebihi 30 detik. d. PELAPORAN : Kadar aspal dilaporkan dalam bilangan decimal satu angka dibelakang koma.tercapai. Beban maksimum dalam pound. b. bila perlu dikoreksi. CATATAN : Untuk benda uji yang tebalnya tidak sebesar 2.5 inci koreksilah bebannya dengan mempergunakan factor perkalian yang bersangkitan dari Daftar No. VI. e. dalam peseratusan inci. V. c. Persen rongga terisi aspal dilaporkan dalam bilangan bulat. Untuk tiap benda uji yang diperiksa. Berat isi dilaporkan dalam ton/m3 dua angka di belakang koma. laporan harus meliputi keterangan berikut : a. Bila diperlukan pendinginan yang lebih cepat dapat dipergunakan kipas angina meja. Campuran-campuran yang daya kohesinya kurang sehingga pada waktu dikeluarkan dari cetakan segera sesudah pemadatan tidak dapat menghasilkan bentuk silinder yang diperlukan. f. 41 . 2 Umumnya benda uji harus diinginkan seperti yang ditentukan di atas. Persen rongga terhadap batuan dilaporkan dalam bilangan bulat. bias didinginkan bersama-sama cetakannya Tinggi benda uji percobaan. Stabilitas dilaporkan dalam bilangan bulat. Suhu pemadatan. Suhu percobaan.

00 1118.5 62.2 62.80 1136. dengan data-data sebagai berikut ini : Kadar Aspal (A) Berat Agregat Berat Jenis Aspal Berat Kering Benda Uji (C) Berat SSD Benda Uji (D) Berat Benda Uji dalam Air (E) Tinggi Benda uji = 4% = 1100 gram = 1.30 661.5 63.03 = 1127.90 1131.8 Berat SSD (gram) 1140.30 gram = 1140. VII.60 602.40 1131.5 4.60 1135.5 4.80 658.00 1127.9 58.5 4.10 1150.70gram = 62.60 1147.9 61.40 1145.30 1130.50 654.3 mm Persentase Aspal terhadap Campuran = kadar aspal × berat agregat  Berat Aspal 42 .80 647.9 61.10 Berat Dalam Air (gram) 640.8 64.10 1129.2 61.00 Tinggi Benda Uji (mm) 62.60 1045.70 1151.80 1152.20 659.60 1139.di udara.5 4.4 62.50 1144.70 645. No. Benda Uji I II III I II III I II III I II III I II III HASIL PENGAMATAN Kadar Aspal (%) 4 4 4 4.20 1156.80 1138.00 1139.5 4.1 61.20 gram = 640.5 63.80 1141.00 1058.55 1145. sampai terjadi cukup kohesi untuk menghasilkan bentuk silinder yang semestinya.00 657.5 5 5 5 6 6 6 Berat Kering (gram) 1127.20 1135.5 63.20 633.90 638.00 1139.80 Pembacaan Dial Stabilitas 450 250 330 280 285 270 399 380 290 375 273 330 220 385 315 Flow 626 521 726 689 448 780 735 468 791 790 795 972 719 801 511 Contoh perhitungan diambil dari nomer benda uji 1.3 62.20 648.60 614.2 61.10 1154.70 1144.70 1140.40 649.40 1154.20 652.

8 gram ) 1 gram / cm 3 = 562.7 cm3 (F) Berat Isi Benda Uji Berat Isi = = berat ker ing benda uji volum benda uji e 1265 .7 cm 3 = 2.7619 + 2.7 gram 562 .03 = 2.3842 gram/cm3 43 .249 gram/cm3 (G) Berat Jenis Maksimum (Teoritis) ( H ) 100 BJ = % agregat BJ agregat + % aspal BJ aspal = 100 95 .8 % (B) Volume Benda Uji = = ( berat SSD benda uji − berat benda uji dalam air ) B air J  Volume (1297 .2381 4.5 gram − 734 .= 4 % × 1100gram = 44 gram Berat Agregat + Aspal = 1100 gram + 44gram = 1144 gram berat aspal ×100 % berat aspal + agregat 60 gram ×100 % 1260 gram Kadar Aspal dalam Campuran = = = 3.552 1.

2381 × 2.7619 × 2.398    16 .05% (L)  ( L)    (0)  Persentase Rongga terisi Aspal = 100 % ×  = 100 % ×  10 .552    Stabilitas 44 .95 % = 16.249 2.kadar aspal ×berat isi benda uji B aspal J = 4.07  = 64.552 = 83.95 = 5.399 % (I) % agregat ×berat isi benda uji BJ agregat = 95 .7% (M)  (G )    (J )  Persentase Rongga terhadap Campuran = 100% − 100% ×  = 100% − 100% ×  = 11.85% (N) Pembacaan Arloji Stabilitas = 450 (O) = (O) × kalibrasi alat  2.651% (K) Persentase Rongga terhadap Agregat = 100 – (J) = 100% – 83.249 1.399 – 83.2493   2.95 % (J) Jumlah Kandungan Rongga = 100 – (I) – (J) = 100 – 10.03 = 10.

01 = 626× 0.01 = 6.00 = 1.9 62.0.01 kg/div = 1208.00 + 71 .03) = 1.834 kg = 5m m Kelelehan (T ) 45 .04 x 1.3 63.00 + (0.00 kg × 1.3 mm (s) Angka korelasi benda uji didapatkan dengan menggunakan interpolasi linier sebagai berikut : Tebal Benda Uji 61.03 = 1204.4 − 68 .39 kg (S) Kelelehan = pembacaan dial flow × 0.97 kg (P) Tebal Benda Uji = 62.4516 × 0.83) 71 .= 1197 × 1.3 Angka Korelasi 1.26 mm (T) Stabilitas ( R ) 1555 .03 Stabilitas = (P) × angka korelasi benda uji = 1197.4 − 70 × ( 0.86 .5 Maka didapatkan : x = 1.

4 0 1139.4 1 84.10 718.1 0 Rata-rata 1140.31 4.93 15.4 4 85.3 2 h 2.00 4.9 6 85.70 81.4 0 1145.7 0 645.3 1 2.56 745.5 1 0 4.98 84.3 2 2.70 8.5 2 0 4.30 l 17.7 0 0 633.93 270.5 1 0 4.2 0 1135.85 250.4 7 2.00 7.4 9 49.33 2.85 c 1127.5 1 59.00 8.31 1135.4 7 i 8.5 5 1145.80 4.30 1070.4 6 16.80 770.26 6.26 5.5 2 0 4.00 330.9 0 0 505.66 9.4 6 9.8 0 2.33 9.10 1061.8 0 g 2.2 0 482.9 5 k 6.85 3.6 0 2.6 0 d 1140.3 4 1010.35 4.2 491.7 0 18.20 6.3 3 2.39 5.27 5.3 5 46 . a 4.2 0 659.3 9 664.6 0 485.21 7.81 450.0 0 Rata-rata 1138.10 9.2 4 15.6 647.95 744.8 6.3 0 1130.5 9 15.3 9 2.8 501.31 4.00 2.33 285.0 0 1139.3 4 2.27 399.46 949.5 0 m 57.1 0 6.3 0 81.8 0 e 640.22 918.4 6 2.6 9 1029.24 6.1 6 n o p 1197.05 280.00 6.5 3 0 4.4 6 9.4 0 1154.00 6.8 0 479.4 7 2.TABEL PEMERIKSAAN MARSHALL No.05 9.0 b 3.48 7.66 380.8 0 f 486.3 3 2.89 4.68 1 0 4.66 18.5 0 0 497.4 0 1131.2 0 648.39 7.9 2 50.00 877.0 2 0 4.9 0 4.3 5 87.31 1118.2 638.2 3 2.0 0 1127.85 3.75 j 84.4 6 2.4 6 2.6 5 12.00 9.80 758.89 6.3 1 59.86 5.8 9 r 6.1 0 0 658.6 5 9.0 3 0 8.32 9.08 711.1 6 63.3 2 62.0 0 665.65 8.8 0 q 1204.2 3 2.7 4 62.31 4.9 6 77.51 750.00 5.3 1 2.8 5 61.4 0 1156.

7 0 493.00 3.2 3 24.9 47 .11 6.00 7.2 9 2.0 0 654.00 341.0 1 0 6.78 385.1 9 88.35 660.5 3 0 4.0 0 Rata-rata 1058.80 7.76 4.2 6 83.9 7.2 456.62 315.4 1 12.4 6 9.1 0 1154.19 8.5 4 77.22 290.3 0 589.6 1 5.00 7.4 9 67.91 6.7 0 15.90 4.9 2 73.0 0 0 649.71 585.01 5.38 997.0 0 657.66 5.9 0 1150.0 3 58.5 8 12.72 8.00 3 5.0 2 0 6.10 5.47 771.50 5.4 4 9.71 5.6 0 495.8 602.3 0 661.4 7 674.76 0 1136.6 0 10.0 3 0 5.20 1024.54 83.65 7.6 2 12.1 0 72.93 985.7 4 16.1 6 2.3 9 16.09 131.77 1131.6 4 3.4 4 2.6 1 17.38 11.1 0 837.3 9 Rata-rata 11.2 8 2.6 0 Rata-rata 1139.70 1005.8 0 492.3 0 84.9 6 6.08 843.40 7.3 9 82.7 0 78.6 1 83.66 1045.0 4 11.4 4 2.04 7.78 3.26 21.7 7 82.7 8 71.96 10.9 0 56.26 870.00 4.7 8 6.7 8 375.5 0 1144.7 4 45.02 220.2 8 2.8 1 5.4 1 2.76 4.7 6 56.8 2 63.10 272.3 1 2.1 5 2.3 0 2.1 0 0 652.95 9.22 16.8 0 1141.7 0 1151.2 9 2.4 8 72.9 0 506.2 4 7.62 17.7 614.47 874.09 27.5 8 837.3 2 2.3 0 2.66 5.4 0 2.4 0 2.4 1 2.67 341.26 330.6 0 0 495.31 1129.85 877.76 1019.50 724.8 0 0 499.6 0 1147.5 0 1096.4 0 2.6 0 1152.4 525.00 4.00 4.67 15.4.9 8 7.8 1 3.00 2 5.47 804.2 5 2.3 0 1144.00 6.5 Gagal 13 0 1092.02 4.3 0 2.52 7.

01) 48 .Keterangan: A = % aspal terhadap batuan B = %aspal terhadap campuran C = berat (gram) D = berat dalam keadaan jenuh (gram) E = berat dalam air (gram) F = isi (ml) = d – e G = berat isi benda uji (gram/ml) H = berat jenis maksimum (gram/ml) K = jumlah kandungan rongga (%) L = prosen rongga terhadap agregat (VMA) M = prosen rongga terisi aspal N = prosen rongga terhadap campuran (VIM) O Q R = pembacaan arloji = stabilitas (kg) = kelelehan (*0.

GRAFIK MARSHALL HUBUNGAN PROSENTASE RONGGA TERHADAP CAMPURAN (VIM) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 3.7949x2 + 6.5 6 6.7283x .71x2 + 7.5 5 ASPAL(%) 5.5 y = -0.5 HUBUNGAN PROSENTASE ASPAL TERHADAP RONGGA DALAM AGREGAT (VMA) 25 RONGGA DALAM AGREGAT (%) 22 19 16 13 10 3.5374x .9882 5 ASPAL (%) 5.5 4 4.5 6 6.5.5 4 4.5 RONGGA TERISI ASPAL y = -0.5483 49 .3.

5 4 4.HUBUNGAN PROSENTASE ASPAL TERHADAP STABILITAS 1250 STABILITAS 1125 1000 875 750 625 500 3.5 HUBUNGAN PROSENTASE ASPAL TERHADAP KELELEHAN 10 9 8 7 6 5 4 3.5 4 4.5 KELELEHAN (mm) 50 .5 6 6.5 6 6.5 5 ASPAL (%) 5.5 5 ASPAL (%) 5.

3 2.0 4.0 4.0 6.5 2.5 GRAFIK PITA Berat Jenis VMA VIM Stabilitas Kelelehan 3.5 4.2 2.5 6 6 .5 4 4 .5 5 A P L(% SA ) 5 .5 4.0 5.4 2.0 6.0 4 6.5 5 ASPAL (%) 5.0 6.6 BERAT JENIS 2.0 51 .9 6.0 4.5 6 6.H B N A P OE T S AP L U U GN R S NAE S A T R A A B R TJ N C M U A E H D P E A E IS A P R N 2.0 4.1 2 3.

89 6. BAB IV PENUTUP 52 . Sedangkan untuk flow. standar yang dipakai adalah 2 – 5. ANALISIS DATA Dari pemeriksaan Marshall yang telah dilakukan didapatkan rata-rata dari tiap benda uji dengan variasi aspal yang berbeda-beda sebagai berikut: No. % aspal 4 4. yaitu dimulai pada kadar aspal yang terkandung sebesar 5.77 % rongga terhadap agregat 16.32 18. dan hasil praktikum yang ada telah memenuhi standar untuk semua nilai variasi aspal yang di uji cobakan.52 6.24 6. yaitu sebesar 3 – 8 % dari volume beton aspal padat. 4.01 ) 6.13 17. standar yang dipakai untuk stabilitas adalah 500 – 2200.74 7.1 mm (untuk nilai minimum) dan 8 -18 mm (untuk nilai maksimum).5 5 6 Berat isi 2. 1.46 16.25 Berat jenis Stabilitas maksimum 2.47 Untuk jalan kelas II. Dan hasil praktikum yang ada juga telah memenuhi standar.04 Flow (*0.35 843.41 ( kg) 949. Sedangkan nilai VIM didapat setelah melakukan praktikum.46 2. Nilai VMA yang ada tidak ada yang memenuhi standar.80 868.13 % rongga terhadap campuran 7.30 2.71 4. 2.47 2.28 2.52 8.VIII.9%. 3. yaitu sekitar angka 6 dan 8 mm.33 2.44 2.03 870.

38°C penetrasi aspal dari dua benda uji adalah sebesar 92.1 KESIMPULAN Dari data yang telah didapat dari praktikum. Apabila kurang jelas dalam pembelajaran sebaiknya tanyakan ke dosen pembimbing DAFTAR PUSTAKA 53 .8 berat jenis aspal sebesar 1. maka dapat disimpulkan bahwa aspal yang diuji dapat diterapkan ke lapangan dengan hasil sebagai berikut: 4. untuk flow adalah angka 6 dan 8 mm.037 stabilitasnya adalah anatar 500 – 2200.4. Sebaiknya mahasiswa mempelajari terlebih dahulu prosedur yang telah diberikan oleh pembimbing sebelumnya. Mahasiswa diharapkan serius dalam melakukan praktikum di laboratorium. SARAN Setelah menggunakan laboratorium harap dibersihkan baik alat maupun tempat seperti saat pertama praktek.2 nilai titik lembek yang dicapai adalah 48.

Jogja:KMTS FT UGM LAMPIRAN 54 .Bahan dan Struktur Jalan.

55 .

56 .

57 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful