Visum et repertum adalah istilah yang dikenal dalam Ilmu Kedokteran Forensik, biasanya dikenal dengan nama “Visum”

. Visum berasal dari bahasa Latin, bentuk tunggalnya adalah “visa”. Dipandang dari arti etimologi atau tata bahasa, kata “visum” atau “visa” berarti tanda melihat atau melihat yang artinya penandatanganan dari barang bukti tentang segala sesuatu hal yang ditemukan, disetujui, dan disahkan, sedangkan “Repertum” berarti melapor yang artinya apa yang telah didapat dari pemeriksaan dokter terhadap korban. Secara etimologi visum et repertum adalah apa yang dilihat dan diketemukan. Menurut Staatsblad Tahun 1937 Nomor 350 “Visum et repertum adalah laporan tertulis untuk kepentingan peradilan (pro yustisia) atas permintaan yang berwenang, yang dibuat oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya. Abdul Mun’im Idris memberikan pengertian visum et repertum adalah suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta memuat pula kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna kepentingan peradilan. Dari pengertian visum et repertum tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa visum et repertum adalah keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan ditemukan dalam melakukan pemeriksaan barang bukti guna kepentingan peradilan. Jadi dalam hal ini visum et repertum merupakan kesaksian tertulis dalam proses peradilan. Menurut pendapat Tjan Han Tjong, visum et repertum merupakan suatu hal yang penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya corpus delicti (tanda bukti). Seperti diketahui dalam suatu perkara pidana yang menyangkut perusakan tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia, maka tubuh si korban merupakan corpus delicti. 2.1.2 Jenis Visum et repertum Sebagai suatu hasil pemeriksaan dokter terhadap barang bukti yang diperuntukkan untuk kepentingan peradilan, visum et repertum digolongkan menurut obyek yang diperiksa sebagai berikut : 1. Visum et repertum untuk orang hidup. Jenis ini dibedakan lagi dalam : 1. 1. Visum et repertum biasa. Visum et repertum ini diberikan kepada pihak peminta (penyidik) untuk korban yang tidak memerlukan perawatan lebih lanjut.

2. atau meninggal dunia. 2. merupakan pendahuluan yang berisikan : 1.1. Apabila sembuh dibuatkan visum et repertum lanjutan.2. 5. Identitas peminta visum et repertum. 2. artinya bahwa isi visum et repertum hanya untuk kepentingan peradilan. pisau. misalnya visum terhadap barang bukti yang ditemukan yang ada hubungannya dengan tindak pidana. 3. Saat penerimaan surat permintaan visum et repertum. dalam hal korban mati maka penyidik mengajukan permintaan tertulis kepada pihak Kedokteran Forensik untuk dilakukan bedah mayat (outopsi). Visum et repertum penggalian jenazah. bercak mani. Bagian Pendahuluan. 3. contohnya darah. 4. . Visum et repertum psikiatri yaitu visum pada terdakwa yang pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan menunjukkan gejala-gejala penyakit jiwa. 4. Visum et repertum sementara. 2. Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan pemeriksaan di TKP. Pada sudut kiri atas dituliskan “PRO YUSTISIA”. Visum et repertum Tempat Kejadian Perkara (TKP). Visum et repertum sementara diberikan apabila korban memerlukan perawatan lebih lanjut karena belum dapat membuat diagnosis dan derajat lukanya. 1. 2. Visum et repertum lanjutan. Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan penggalian jenazah. 3. maka ditetapkan ketentuan mengenai susunan visum et repertum sebagai berikut : 1. selongsong peluru. Visum et repertum untuk orang mati (jenazah).3 Bentuk Umum Visum et repertum Agar didapat keseragaman mengenai bentuk pokok visum et repertum. Identitas dokter pembuat visum et repertum. Di tengah atas dituliskan Jenis visum et repertum serta nomor visum et repertum tersebut. 3. Dalam hal ini korban tidak memerlukan perawatan lebih lanjut karena sudah sembuh. Identitas surat permintaan visum et repertum. Identitas korban/barang bukti yang dimintakan visum et repertum. Pada pembuatan visum et repertum ini. Visum et repertum barang bukti. pindah dirawat dokter lain.

merupakan kesimpulan dokter atas analisa yang dilakukan terhadap hasil pemeriksaan barang bukti.6. 11. 4. Di sebelah kanan bawah diberikan Nama dan Tanda Tangan serta Cap dinas dokter pemeriksa. Tugas pokok seorang dokter dalam membantu pengusutan tindak pidana terhadap kesehatan dan nyawa manusia ialah pembuatan visum et repertum sehingga bekerjanya harus obyektif dengan mengumpulkan kenyataan-kenyataan dan menghubungkannya satu sama lain secara logis untuk kemudian mengambil kesimpulan maka oleh karenanya pada waktu memberi laporan pemberitaan dari . Bagian Pemberitaan. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam Pemberitaan. Visum et repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia.1.4 Peranan dan kedudukan Visum et repertum 9. 5. ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia. 12. Bagian Penutup. 7. hidup maupun mati. 8. berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan. Penegak hukum mengartikan visum et repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh/jiwa manusia. 2. 10. 6. merupakan pernyataan dari dokter bahwa visum et repertum ini dibuat atas dasar sumpah dan janji pada waktu menerima jabatan. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di bagian Kesimpulan. Bagian Kesimpulan. Keterangan kejadian sebagaimana tercantum di dalam surat permintaan visum et repertum. yang karenanya dapat dianggap sebagai benda bukti. merupakan hasil pemeriksaan dokter terhadap apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti.

maka si tubuh korban merupakan Corpus Delicti. pemeriksa bertugas menegakkan diagnosis dan melakukan pengobatan. karena bantuan profesi dokter akan sangat menentukan adanya kebenaran 14. Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis. Seperti diketahui dalam suatu perkara pidana yang menyangkut perusakan tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia. Pengobatan secara psikiatris untuk penanggulangan trauma pasca perkosaan juga sangat diperlukan untuk mengurangi penderitaan korban. Dengan demikian visum et repertum merupakan kesaksian tertulis. maka oleh karenanya Corpus Delicti yang demikian tidak mungkin disediakan atau diajukan pada sidang pengadilan dan secara mutlak harus diganti oleh Visum et repertum. Dan tentunya kedudukan seorang dokter di dalam penanganan korban kejahatan dengan menerbitkan visum et repertum seharusnya disadari dan dijamin netralitasnya. . Pengobatan terhadap luka dan keracunan harus dilakukan seperti biasanya. Sehubungan dengan peran visum et repertum yang semakin penting dalam pengungkapan suatu kasus perkosaan misalnya. pangaduan atau laporan kepada pihak kepolisian baru akan dilakukan setelah tindak pidana perkosaan berlangsung lama sehingga tidak lagi ditemukan tanda-tanda kekerasan pada diri korban. 13. maka dokter punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk melapor ke polisi. Selain daripada itu visum et repertum mungkin dipakai pula sebagai dokumen dengan mana dapat ditanyakan pada dokter lain tentang barang bukti yang telah diperiksa apabila bersangkutan (jaksa. Maka visum et repertum merupakan suatu hal yang penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya Corpus Delicti (tanda Bukti). hakim) tidak menyetujui hasil pemeriksaan tersebut. Adanya kemungkinan terjadinya kehamilan atau penyakit akibat hubungan seksual (PHS) harus diantisipasi dan dicegah dengan pemberian obat-obatan. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk dibuatkan visum et repertum nya.visum et repertum itu harus yang sesungguh-sesungguhnya dan seobyektifobyektifnya tentang apa yang dilihat dan ditemukannya pada waktu pemeriksaan. Maka visum et repertum sebagai pengganti peristiwa yang terjadi dan harus dapat mengganti sepenuhnya barang bukti yang telah diperiksa dengan memuat semua kenyataan sehingga akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat. Sebagai dokter klinis.

16. yaitu RIB maupun Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak ada satu pasal pun yang memuat perkataan visum et repertum. dan menyusun laporan visum et repertum.1 Peran Visum et repertum dalam Penyidikan Tindak Pidana di Indonesia Baik di dalam Kitab Hukum Acara Pidana yang lama. keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan . untuk membantu peradilan. Maka sebagai dokter forensik mempunyai tugas untuk memeriksa dan mengumpulkan berbagai. 3. Keterangan terdakwa. Surat. Selain itu. Dokter. bukti yang berkaitan dengan pemenuhan unsur-unsur delik seperti yang dinyatakan oleh undang-undang. 4. kejaksaan. Menurut KUHAP pasal 184 ayat 1. yaitu dalam bentuk: Keterangan ahli. Petunjuk. Pendapat orang ahli. Disebutkan pada KUHAP pasal 186 bahwa “keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan”. Keterangan saksi. yaitu: 1. dan kehakiman dalam mengungkap suatu perkara pidana.15. Hanya di dalam Staatsblad tahun 1937 No 350 pasal 1 dan pasal 2 yang menyatakan bahwa visum et repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana. Ahli Kedokteran Kehakiman. sehingga visum et repertum akan menjadi alat bukti yang sah karena berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan. 3. 5. Keterangan ahli. sehingga akan membantu para petugas kepolisian. yang dimaksudkan dengan alat bukti yang sah. 2. Di dalam KUHAP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan kewajiban dokter. Maka dari itu keterangan ahli berupa visum et repertum tersebut akan menjadi sangat penting dalam pembuktian. Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan persoalan di sidang pengadilan maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru seperti yang tercantum dalam KUHAP yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan (pasal 180 KUHAP). dan Surat Keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya (KUHAP: pasal 187 butir c).

Sebagai suatu keterangan tertulis yang berisi hasil pemeriksaan seorang dokter ahli terhadap barang bukti yang ada dalam suatu perkara pidana. Visum et repertum dibuat dan dibutuhkan di dalam kerangka upaya penegakan hukum dan keadilan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam KUHAP pasal 184 ayat (1) jo pasal 187 huruf c. dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah. di samping itu Bagian Pemberitaan ini adalah dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti yang telah dilihat dan ditemukan oleh dokter. namun apa yang diuraikan di dalam Bagian Pemberitaan sebuah visum et repertum adalah merupakan bukti materiil dari sebuah akibat tindak pidana. Di dalam suatu perkara yang mengharuskan penyidik melakukan penahanan tersangka pelaku tindak pidana.pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah diwaktu ia menerima jabatan atau pekerjaan. Bukti penahanan tersangka. 1. Sebagai alat bukti yang sah. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. Dengan demikian dapat dipakai sabagai bahan pertimbangan bagi hakim yang sedang menyidangkan perkara tersebut. yaitu pihak penyidik sebagai instansi pertama . Visum et repertum yang dibuat oleh dokter dapat dipakai oleh penyidik sebagai pengganti barang bukti untuk melengkapi surat perintah penahanan tersangka. maka penyidik harus mempunyai bukti-bukti yang cukup untuk melakukan tindakan tersebut. dengan perkataan lain yang berlaku sebagai konsumen atau pemakai Visum et repertum adalah perangkat penegak hukum. Apabila ditinjau dari Staatsblad Tahun 1937 Nomor 350 yang memberikan definisi Visum et repertum.” Dari keterangan di atas. Di samping itu pada Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP mengenai alat bukti surat serta Pasal 187 huruf c yang menyatakan bahwa : “Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c. Salah satu bukti adalah akibat tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka terhadap korban. maka Visum et repertum mempunyai peran sebagai berikut : 1. Meskipun bagian kesimpulan Visum et repertum tidak mengikat hakim. adalah : c. 1. maka sebagai alat bukti Visum et repertum termasuk alat bukti surat karena keterangan yang dibuat oleh dokter dituangkan dalam bentuk tertulis. maka Visum et repertum dapat diartikan sebagai keterangan ahli maupun sebagai surat. Sebagai bahan pertimbangan hakim.

khususnya yang menyangkut tubuh. keadaan isi lambung serta perubahan post-mortal lainnya.yang memerlukan Visum et repertum guna memperjelas suatu perkara pidana yang telah terjadi. Apabila sebab kematian dapat ditentukan sedangkan identitas tidak dapat diketahui. patologi anatomi. hal ini akan menyulitkan bagi pihak penyidik. Dan bila ditambah dengan informasi yang diperoleh dari para saksi di tempat kejadian perkara (TKP). dan sebagainya). suhu tubuh. Dengan demikian penyidikan akan dipersempit dan lebih terarah. tidak jarang penyidikan akan menemukan jalan buntu. walaupun hasil dari penentuan tersebut tidak tertutup kemungkinan berbeda dengan identitas menurut pihak penyidik. maka perkiraan saat kematian lebih mendekati sebenarnya. Di dalam KUHAP. yaitu dengan mempelajari alibi dari para tersangka tersebut. pihak penyidik akan dapat membuat suatu daftar tersangka. yang akan berguna di dalam penyidikan. Memperkiarakan saat kematian Dari pemeriksaan mayat yang cermat tentang lebam mayat. Menentukan identitas Dalam hal ini dokter dengan metode identifikasi harus dapat menentukan secara pasti identitas korban. Barang bukti yang diperiksa adalah mayat yang diduga atau diketahui merupakan akibat dari suatu tindak pidana. yaitu memperjelas suatu perkara pidana. dengan demikian tidak terbatas hanya dalam penentuan sebab kematian saja. Hal tersebut berpijak pada kenyataan bahwa kebanyakan dari korban telah mengenal siapa pelakunya (ada korelasi antara korban dengan pelaku). kaku mayat. racun yang dipakai. dengan atau tanpa disertai pemeriksaan tambahan (pemeriksaan laboratorium: toksikologi. dikaitkan dengan kelainan atau perubahan . maka dokter dapat memperkirakan saat kematian. Menentukan sebab kematian Prinsip dalam menentukan sebab kematian adalah bahwa sebab kematian hanya dapat ditentukan melalui pembedahan mayat (otopsi). 1. Dalam hal ini keterangan atau kejelasan yang harus diberikan oleh dokter kepada pihak penyidik adalah: 1. Bagi pihak penyidik sebab kematian sangat berguna di dalam menentukan antara lain senjata yang dipergunakan oleh pelaku. 1. yang diminta dalam visum et repertum adalah keterangan ahli. Visum et repertum harus mencakup keterangan-keterangan yang diberikan oleh dokter kepada pihak penyidik agar penyidik dapat melakukan tugasnya. Hal ini tergantung dari kasus atau obyek yang diperiksa oleh dokter yang bersangkutan. 1. Dengan dapat ditentukannya identitas secara ilmiah. kesehatan dan nyawa manusia. Adapun manfaat dari perkiraan saat kematian tersebut adalah untuk membantu pihak penyidik dalam mempersempit daftar tersangka dari daftar semula yang dibuat atas dasar penentuan identitas korban.

misalnya karena pembunuhan. Dengan menyatakan bahwa pada korban didapatkan luka tembak masuk pada belakang kepala atau punggung. Bila cara kematian korban adalah wajar. maka di dalam kasus-kasus khusus diperlukan kejelasan lain. 1. Pada kasus pembunuhan anak . 1. Demikian pula halnya bila kasus yang dihadapi adalah kasus bunuh diri atau kasus kecelakaan. Dengan menuliskan bahwa pada korban didapatkan tanda-tanda mati lemas. maka pihak penyidik akan dapat mempersempit lagi daftar tersangka pelaku kejahatan yang dihasilkan dari perkiraan saat kematian. maka pihak penyidik akan dapat mencari dengan tepat benda tajam yang bagaimana yang dapat dijadikan sebagai barang bukti. dokter harus dapat menjelaskan hal tersebut secara tersirat di dalam kesimpulan Visum et repertum yang dibuatnya. 1. maka pihak penyidik dapat pula menentukan langkah yang harus dilakukan. Walaupun dokter tidak boleh memastikan cara kematian secara jelas di dalam Visum et repertum (oleh karena tidak melihat proses kejadian melainkan memberikan suatu penilaian tentang hasil akhir dari suatu proses). Menentukan atau memperkirakan cara kematian Penentuan atau perkiraan cara kematian akan membantu penyidik dalam menentukan langkah yang harus dilakukan. Dengan menyatakan bahwa sebab kematian adalah karena penyakit jantung serta tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan. adanya jejas jerat pada leher serta tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan pada mayat yang tergantung. luka tembak masuk atau luka tembak keluar. Pada kasus penembakan Apakah benar luka pada korban adalah luka tembak. yaitu: 1. yaitu karena penyakit. ini mengarahkan penyidik kepada kematian yang wajar non kriminal. maka pihak penyidik akan dapat dengan segera menghentikan penyidikan. diameter anak peluru dan kaliber serta jenis senjata api yang dipergunakan. hal ini mengarahkan penyidik pada kasus pembunuhan. Bila kematiannya ternyata tidak wajar.yang ditemukan pada diri korban. berapa kali korban ditembak dan apakah luka tembak tersebut yang menyebabkan kematian serta luka tembak mana yang menyebabkan kematian bila terdapat lebih dari satu luka tembak masuk. Bila korban tewas akibat tusukan benda tajam. Bila korban tewas akibat penembakan. posisi korban dan posisi penembak. Pada kasus penusukan Jenis senjata dan perkiraan lebar maksimal senjata tajam yang masuk pada tubuh korban. sebenarnya dokter mengarahkan penyidik pada kasus bunuh diri. Selain keterangan atau kejelasan yang perlu disampaikan oleh dokter melalui Visum et repertum tersebut di atas. jarak penembakan.

selain identitas korban perlu diberikan kejelasan perihal jenis luka dan jenis kekerasan serta kualifikasi luka. serta perkiraan jangka waktu antara terjadinya kecelakaan dan kematian. Bilamana persetubuhan dapat dibuktikan. perlu kejelasan perihal kapan terjadinya persetubuhan tersebut. Pada kasus pengeroyokan Jenis kekerasan dan jenis luka. dimana kualifikasi luka dapat menentukan berat ringannya hukuman bagi pelaku. yang dikaitkan dengan penentuan faktor apa saja yang menyebabkan kematian. 1. maturitas serta viabilitas. Ada tidaknya tanda-tanda kekerasan. yang pada taraf penyidikan dapat dikaitkan dengan pasal dalam KUHAP yang dapat dikenakan pada diri tersangka. luka mana dan akibat senjata yang bagaimana yang menyebabkan kematian pada korban (prinsip: hanya terdapat satu penyebab kematian). ada tidaknya tanda-tanda perawatan. maka kejelasan lain yang diperlukan adalah: Ada tidaknya tanda-tanda persetubuhan. Pada kasus kecelakaan lalu lintas Penyebab terjadinya kecelakaan dilihat dari faktor korban (korban yang mabuk atau dalam pengaruh obat). maka Visum et repertum yang dibuat haruslah dapat memberikan kejelasan di dalam hal: Apakah pelaku kejahatan atau pelanggaran mempunyai penyakit jiwa Apakah kejahatan atau pelanggaran tersebut merupakan produk dari penyakit jiwa tersebut Penjelasan bagaimana psikodinamiknya sampai kejahatan atau pelanggaran itu dapat terjadi. 2.2 Hambatan Visum et repertum . 3. 1. Barang bukti yang diperiksa adalah korban hidup pada kasus perlukaan (penganiayaan). Di dalam kasus psikiatrik. dan sebagainya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui alibi dari tersangka pelaku kejahatan. 1. Di dalam kasus kejahatan seksual. yang berkaitan pula dengan alasan penahanan. kecelakaan itu sendiri atau keterlambatan pertolongan yang diberikan karena adanya hambatan dalam transportasi korban. dan Menentukan pantas tidaknya korban untuk dikawin. Perkiraan umur. 1.Apakah dilahirkan hidup atau lahir mati.

Keadaan seperti ini dapat mempengaruhi hasil dari visum. Keadaan mayat sudah membusuk. Mengadakan kerjasama lintas sektoral mengeenai perbaikan sarana dan prasarana yang mungkin dibutuhkan dalam pemeriksaan visum et repertum. 2. 2002). Hambatan dalam penerapan adalah. (Edward Sinaga. 2007). 2010). Biasanya organ tubuh yang memberikan hasil positif untuk pemeriksaan toksikologi sudah mengalami pembusukan maka dapat mengakibatkan hasil menjadi negatif. 2010). 8. 7. Diantaranya dengan memperbaiki koordinasi antara penyidik dan dokter sehingga SPVR datang tepat waktu dan visum dapat dilakukan dengan cepat. 2010). 6. 2002). pembuatan Visum et repertum terkadang kurang lengkap dan pembuatan Visum et repertum tidak dilakukan sesegera mungkin. Untuk korban kecelakaan yang hidup. Dari pihak penyidik seperti keterlambatan permintaan visum. Dari pihak keluarga karena tidak mengijinkan dilakukannya autopsi (Husnul Muasyaroh. Dapat pula menambah pengetahuan dan keterampilan dalam membuat visum dengan cara membuat SOP (standar operasional). (Widy Hargus. 5. 2010). banyak korban yang menolak untuk dilakukan visum et repertum oleh karena belum mengetahui manfaat dan kegunaaannya (Budi Sampurna. Kurangnya koordinasi antara penyidik dengan dokter yang mengakibatkan prosedur permintaan visum menjadi memakan waktu yang lama (Edward Sinaga. 2002). Adanya hambatan-hambatan seperti yang disebutkan diatas yang terjadi dalam pelaksanaan visum et repertum memerlukan solusi. Dari pihak dokter karena butuh tempat untuk melaksanakan pemeriksaan lanjutan (Husnul Muasyaroh.1. Hambatan dalam pembuatan antara lain adalah jauhnya rumah sakit dan terbatasnya tenaga kedokteran kehakiman yang membuat visum et repertum (Widy Hargus. Motivasi kepada korban hidup ataupun korban meninggal tentang tujuan dan pentingnya otopsi. . 3. (Husnul Muasyaroh. 4.

32030-.3503/5.2.9.9/03..3/./.2.703.3.39.3  .3203. 5.8.-078079.3.3.3.9..9.-.9.3 2.2.5..9/.3 .30907.5.9.7:8/.35077...703.82.8:8:8:8/507:.8..35.3/902-.9/.7/.-...3.8:8-:3:/7.39:503//.9.902-..5.3/.3 .3/.3202-07.8//.:..3/.3 80-.8:5./.47-..3 5.33.7 .3 ./4907203.3-.3/./.2.8.3.:5:3/49079/.5.8 2.3.-.3 203.7..902.47-.7..5.920250780259.:.38:.3/..3.:00.3/.7.503.3.9.3..807. 007.5.50:7:/.7.8:    !.3.9:574808 /4907.3/..-.340/490720.9.950302-.. 5.-40202.390.3548850302-./.502-:3:..9.3503/05....9./902:.9.8:8502-:3:.3 ..3.9/.3.3 203:8.0.3 ..3/..3 9039. 03.3202-.0.3.3503/..:.3 02.3/.02...9:.3/902:.02..380. .-02.::..8:850302-.:.9::.8.93.:5:3:3 ..79078. 9..8 .7 28.-0./. 9..3 2.3. 503/.3-.305.47-.-.8.5.../.347-.3..7.9..9.2..//.5.902-.9..7:8/. 203039:.. 9073..5././..2.3..3/-:.3...33.20.32.5.3/.9.503//.90-/.02../.9././.7.5 . 9./..8:8-:3:/7 03.8:8...0.9 2.3548847-.3.3-.9.95:. 03.90780-:9..9//.. .902-.302.3.3905.38.7343723./.3'8:209705079:2..2203039:.02.92030.3.302./.3.703..5..3    !.2.007....47-./902:..8.2..2.3.3.35.:...907/.3  $0.5.9..9.7/03.3.:0./.20907.3 2030-.9..9:-:47-.3-:9    03039:.5.9.9-03/.5.9.90780-:980.3.9:   !.3507:/8.-.8..9..3.9.7.320.3.25.75077.8:.38007.3.35:.8.203039.7.3/..5.7/.9/./..038803./.3/507:3.39:3  80-03.8:8502-:3:.95.-07.902.3..9203.5.3-03/.3./.47-.9.503.7.95748080./.19.3/.8:8 ..9.803.99:8:.47-.3 /.39:38079.300.:5077.9.9:503.3 038803.3-. 503/.3//.902-.3503/5. 0:.3907...8.9.38079.3..3-.2.7:8/.5.3203.78:..73.:2025077. 90787..:..8:8503:8:.3 !03039:.3.503/.9.3//./.2 2. 50302-. 0078079.78..02.7:.02.2'8:209 705079:2 40.902-.:'8:209 705079:290780-:9/../747-.50.3.3.89../..3 3203.902-.72.30-.7.3.. :.20825:.9.902-.8:80.390.9.8:5.3./. 80-.9.33./..9.7.-03.9/./.703./.3:.

/3.2-.7..50.3038:.007.9.9907..2.8:.3./.3.3574/:/.9803..7:4-./79078.3/03.-.3.302.3 57385.::2.1503/.3.3 47-.9.3'8:209705079:2 .98.8:80.5..3.3.3507.9..8:8507:./..3 2030-.9.3-.947. :.3 -07.:39.8.2.9.2.8:.3/..88079.38079.3038007.-.3//.9:79.3  /.507809:-:.8:80.:.3/-07./..5.00./.2.3/5078.3..0..3    /.3.3 9:803/7./03.9/.847-.3 2.0. 5.5.3.7.3:39:20309. /..3...97 2.9/.3/507:.-:.907.3.1.9.7:8. 9.9.3.94747-.3-.5.5.72.2-.7...47-.9..9..8 !030-.35.33.:0907.2.9203039:.9.9:5030-.9.503.9..3. 9.300.9.3  . .3-:9.3/.3.3/.31.390780-:9207:5..:.3./    .:50.380-..39:/./.3/.9.-02.50.3808:.25.1.2.3503.3/.:0.703.47-.9.3/:5.9.8.3/.9:..:50.-907.5.7.'8:209705079:2.2-..9 8079. /2.47-.3507.3/.584/3.2.35.-9.5077.3.5.9/03.9.302.8:85030744.3  ./.3/.-/.9.300.3/.8.3    !..3.32025:3..:/..3    /.32030-.79078.    ..3507:/-07.9..39.0..7503.8.35079443.7.9/./.3.5.3.3/:55.3 80.8.3.0.3.3.2&!././.9..3 038007.3 0.2 97.9. 2.3. .847-..5.23../.8.8.3/.390780-:9 .3.89/.302..71.:50.35..3..3 503..507809:-:.8. 90780-:9 !030.3.3 -07.9.973..3/.3.3 /.3/...8. 5.9.3.9.3-.3.9/.9/-:9.3 /03.3907.35..8    !.8..7.907/.9 ..:.-.2 503.39.3/507:.0.: 0.9.8.5.9.3 507:00..8.3.35.3:39:/./3.9.0.9/.385479../.32.3.3 03039:.. 507809:-:.9...038:. 9.9.3  !077./3..: .3/..0./.3/-:.9.8:858.7.9 202-07.3/.. /.507./.3..0.3:2:7 /..3../.:./.3503039:.3/0399.50.35:.

7.3..75.3.250.854891:39:502078.3..3/.9.3/. 502-:..8:209705079:2   .357.3.05.39.9$ ! 89.8.447/3.2502-:8:.33.3202-:../.3..3.3.8.39:-:.2.3 948448:/.30.8.:39:/..7 .95:.9/.8.2. 503//.3.-:9:9025.3.9/.3:9.9.3907-.3/.3905.7./4907.3202507-.843.:.5..39.202-:8: 0.-.3/:5. /.8.2-.32./ 30.8.3'8:209705079:2907..3808007.3.7:8      0. 202-:.2-..:9458 :83: :.3/.3 2033..2502078./.:.8:2/.8:2/03.74507.0:..47-.25:73...49458 03..9.3 :83::.9.9:39:20.2-.3.39::.3/.5. 49.98:/.3/80-:9.9/.9.3/03..703.      .9...50309.507-.7.5..880947.5./.7..703.250307.3'8:209705079:29/.0/4907.25...8:2  :83::..9.3/4907.32:33/-:9:.8:209705079:220207:.33.3.9203.203.3 03.9.9.8.9.47-.8203..3.3.2-.-0:220309.31.9.8:2203.30../03.7.33..2-.5.74      &39:47-.3/.0.3/.2033./.7:..3203.74       .8. 903.:.2502-:..3507239.9.. 203003.3.3502078.3.8.7.9./.75.8.//.8..8:209705079:2 /.3 .9039.:.8:209705079:240.8.503//03.307.3 .384:8 .7/$3.91  /.39..83.-.$!'#/.3/4907803.38050793/.2:33  / .3 .3907..39.203.8/..3..9.2-.3.32.7.7:8      ..7/$3.3 .2202-:.9:/.3./.9.3.  .:.9202503.3/:5 -.3.9/.3 ..5/.30907.:5:347-.74      .3202-07.3/.9  .805.47././..503/8050790907.././.2.8:2 .30:3.3.357480/:7 507239.3805079.3502-:.7:2.7.9.32034.:2.9:.703./202.38.3/.447/3.3503933.75.3:7.9..3.:3. :/ $.    /.      :7.39.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful