P. 1
KEBEBASAN

KEBEBASAN

|Views: 44|Likes:
Published by aku_andi3353

More info:

Published by: aku_andi3353 on Oct 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2013

pdf

text

original

KEBEBASAN,TANGGUNG JAWAB MORAL

A.KEBEBASAN 1.Pengertian Kebebasan secara umum dimasukan dalam konsep dari filosofi politik dan mengenali kondisi dimana individu memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keinginannya. Orang yang hidup dalam kebebasan adalah mereka yang dapat bertindak tanpa terhalangi oleh hambatan-hambatan yang dibuat orang lain untuk menghalanginya. Namun, kebebasan yang seperti ini hanya dapat terwakili secara moral dan bersifat logis jika kebebasan itu sendiri sebagai prinsip tidak terlalu ditonjolkan. Karena itu kebebasan bertindak bagi seorang liberal berakhir di kala ia membatasi kebebasan orang lain dengan cara kekerasan dan paksaan. Jadi, diperlukan suatu definisi yang tepat tentang kebebasan yang mutlak bagi setiap individu itu. Di sini pertanyaan tentang batas-batas kebebasan berkaitan dengan pertanyaan tentang hak atas milik. Kebebasan merupakan elemen penting dalam kehidupan manusia. Oleh kita, terkadang kebebasan dimaknai sebagai perilaku seenaknya. Lahirlah semangat kebebasan nilai dan individualisme dalam diri kita. Padahal, kebebasan melahirkan tanggungjawab yang mengandaikan adanya hak dan kewajiban manusia itu sendiri. Selama ini Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi grand issue dan ideologi global yang dituntut, mengapa kita bersama tidak mempertanyakan kewajiban manusia. Pertanyaan itu diajukan, karena persoalan kewajiban manusia adalah problem filosofis yang harus dijawab dan disadari. manusia berkewajiban memakmurkan bumi dengan cara memanfaatkan seluruh sumber daya alam bersama yang lainnya dalam prinsip kedamaian dan keadilan. Selain itu, manusia harus secara aktif mengaktualkan diri dalam rangka mengukuhkan eksistensi dirinya dan orang lain dengan cara bersilaturrahmi. Silaturrahmi inilah yang akan melahirkan kehidupan damai sebagaimana diajarkan Islam. Pada segi lain, manusia dengan bebas mempunyai dan menetapkan suatu tujuan. Yang menjadi soal adalah bagaimana manusia menghayati eksistensinya dalam kebebasan dan bagaimana mengatasi paradoks yang dihayati manusia, agar ia mampu mencapai kebebasan eksistensi sebagai pribadi. Karena bagaimanapun kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk berkehendak dan berusaha (ikhtiar), namun di sisi lain, kita memiliki keterbatasan yang karenanya kita harus bertawakal.

Menurut Islam, manusia diberikan kebebasan menentukan pilihan hidup untuk kembali kepada eksistensi yang alamiah (pra-manusiawi), atau mengembangkan diri hingga mencapai eksistensi dirinya yang lebih manusiawi. Pilihan pertama berarti memperturutkan hawa nafsunya, sementara pilihan kedua berarti mengikuti hati nurani. Bagi agamawan, agama diturunkan untuk membimbing manusia agar sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk primordial yang sakral. Manusia dalam mengembangkan potensi nalar, nurani dan keimanannya menjadikan dirinya menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Karena itu, apabila sebagai manusia kita hanya memperturutkan nafsu ekonomi semata, lantas apa bedanya manusia dengan binatang. 2.Pembagian kebebasan fisik. Yakni, ”bebas” diartikan dengan tidak adanya paksaan atau rintangan dari luar.

kebebasan yuridis ini berkaitan dengan hukum dan harus dijamin oleh hukum.

kebebasan psikologis yakni kemampuan yang dimiliki manusia untuk mengembangkan serta mengarahkan hidupnya. Kebebasan ini menyangkut kehendak, bahkan merupakan ciri khasnya.

kebebasan moral Yang sebetulnya masih terkait erat dengan kebebasan psikologis, namun tidak boleh disamakan dengannya. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis, sehingga tanpa kebebasan psikologis tidak mungkin terdapat kebebasan moral. Namun, kebebasan psikologis tidak berarti otomatis menjamin adanya kebebasan moral. Kebebasan moral mengharuskan adanya unsur kesukarelaan (voluntary) atau tidak

kebebasan eksistensial. Kebebasan eksistensial adalah kebebasan menyeluruh yang menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Kebebasan ini mencakup seluruh eksistensi manusia dan merupakan bentuk kebebasan tertinggi. Orang yang bebas secara eksistensial seolah-olah “memiliki dirinya sendiri”

B.TANGGUNG JAWAB

Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang di namakan hak.Tanggung jawab merupakan perbuatan yang sangat penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,karena tanpa tanggung jawab,maka semuanya akan menjadi kacau

Tanggung jawab merupakan tanda kematangan diri. Mungkin ada diantara kita yang sudah sangat dewasa, tapi dari sisi perilaku, pikiran dan keimanannya ternyata masih sangat muda. Sebaliknya, mungkin ada yang usianya masih relatif muda, tapi sisi spiritual, pola pikir, dan tanggung jawab sudah menunjukkan kematangan. “Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”. (Al-Hadits, Shahih Bukhari – Muslim) “Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini”. (Abraham Lincoln)

Albert Einstein (1879-1955) mengatakan, "The price of greatness is responsibility" (harga sebuah kebesaran ada di tanggung jawab). Mempunyai rasa tanggung jawab adalah mutiara kehidupan. Dengan rasa tanggung jawab yang besar, kita ambil hikmah dan pelajaran pahit, serta tetap berani berjalan ke depan dengan optimis aktif!

C. Kebebasan dengan Tanggung Jawab Moral Pada zaman rezim represi Orde Baru orang dan media masa khususnya hanya dibebani berbagai macam kewajiban dan tanggung jawab, tetapi tanpa diberi hak dan kebebasan menyiarkan apa yang dianggp penting dan menarik bagi masyarakat. Dengan dalih menjaga keamanan negara tetapi belenggu kebebasan sebenarnaya lebih diarahkan untuk menyelematkan rezim yang berkuasa, karena pada dasarnya pemerintah juga tidak terlalu peduli dengan negara. Terbukti banyak aset negara yang mereka jarah dan mereka jual. Negara tidak ada, yang ada hanya kepentingan oknum penguasa.

Melihat kenyataan itu maka pada masa reformasi seluruh belenggu kebebasan dijebol, orang mengira pendobrakan kebebasan itu hanya akan memberi kebebasan politik, tetapi akhirnya mengarah juga pada kebebasan perekspresi secara umum tidak hanya bidang politik, tetapi bidang seni, budaya dan dagang. Hal itu kemudian dikukuhkan dalam bentuk rumusan undang undang pers yang sangat bebas, bahkan pemerintah sendiri tidak berhak menegur, mengarahkan dan sebagainya, sebab pendirian media cetak tidak lagi perlu izin. Maka jadilah negara ini seperti hutan rimba, berbagai majalah porno diterbitkan, dijual di sepanjang jalan dibaca segala usia. Media tersebut juga menjadi ajang transaksi wanita dan menjadi sarana prostitusi. Belum lagi dengan sajian bahasa yang sangat vulgar dan tidak beradab. Mereka seperti anak jalanan yang tidak mengenal pendidikan budi pekerti, tidak memiliki tatakrama dan moralitas. Pemerintah tidak hanya tak berkuasa tetapi tidak peduli terhadap kenyataan ini. Media masa merasa bahwa kebebasan ini merupakan hak dasar mereka, sehingga tidak merasa bahwa perilakunya itu merusak keutuhan bangsa dan keamanan negara serta meruntuhkan moral masyarakat. Apalagi mereka mempunyai mitos palsu bahwa media massa merupakan pilar demokrasi, sehingga mereka semakin tidak tahu diri. Itu pun masih diperkuat dengan filsafat bahwa tanggung jawab itu ada ketika ada kebebasan. Tetapi dalam kenyataannya kebebasan telah diperoleh, tetapi mereka lari dari tanggung jawab moral. Dengan sajian yang jorok dan porno itu sebenarnya mereka mengarahkan bangsa ini menjadi bangsa bangsa yang malas berpikir, tidak kreatif dan berselera rendah. Sementara tugas pers sebagai pendidik dan pencerdasan bangsa diabaikan. Dalam keadaan begini mereka masih meminta jaminan pada pemerintah bahwa tidak ada lagi pembredelan terhadap media massa. Bagaimanapun media harus mamahami bahwa dirinya bukan hanya memiliki kebebasan untuk menghancurkan bangsa sendiri. Tetapi sebagai lembaga yang hidup dalam sebuah masyarakat dan negara mesti tunduk pada norma-norma dan aturan yang ada dalam komunitas tersebut. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat Islam, tetapi kalau melihat kenyataan medianya, baik koran, televisi, radio dan filmnya seolah tidak ada kesan bahwa negeri ini berpenduduk Islam, dan berbangsa berdasarkan Pancasila. Karena sama sekali tidak mengenal norma, tidak memiliki

etika. Hanya ada segumpal kebebasan yang mereka gunakan untuk kepentingan sendiri. Kebebasan tanapa tanggung jawab dan tanpa moral akhirnya menjadi racun bagi masyarakat. Bagaimanapun pemerintah harus tetap berdaulat dalam persoalan ini. Kebebasan hanya ada jika dalam koridor norma dan undang-undang. Bila keluar dari pelanggeran itu media mesti diperingatkan, kalau perlu dicabut hak terbitnya. Kebebasan tidak ada artinya bila tidak untuk kemaslahatan umat. Dan demi kemaslahatan umat dan negara tidak haram membredel media massa yang merusak masyarakat dan negara. Ini baru sebuah masyarakat beradab. Pemberian kebebasan pada manusia tidak beradap sama dengan memberika senjata pada perampok, akan digunakan untuk tindakan kriminal. Dalam hal ini media massa telah melakukan kriminal kebudayaan, yang hasilnya merusak moralitas bangsa dan merongrong kewibawaan negara. Norma dan aturan harus ditegakkan oleh masyarakat dan negara, demi kepentingan bersama. Jangan sampai membiarkan norma dilanggar segelintir orang hanya untuk kepentingan bisnis. Negara dan bangsa ini milik masyaraklat secara keseluruhan, bukan hanya milik media. Media hanya alat tidak boleh menjadi tujuan, apalagi bertujuan merusak. Perlu kita menempatkan kembali kebebasan secara proporsional. Hanya orang yang memiliki kesadaran moral yang bisa menerima kebebasan dan layak diberi kebebasan. Bagi orang yang tidak bermoral tidak mungkin diberi kebebasan, mereka ini harus diarahkan dikontrol terus agar berjalan pada norma yang benar. Kalau tidak masyarakat akan menjadi korban kebebasan mereka. Apalagi ada klaim dan mitos sebagai salah satu pilar demokrasi, yang kemudian tidak bisa ditegur, tidak bisa diingatkan. Wah, ini mitos yang paling menyesatkan. Bahwa kebebasan itu ada sejauh ada tanggung jawab moral, bila kebebasan tanpa dilandasi tanggung jawab moral malah akan merusak tatanan. Ini yang tidak boleh terjadi. Kebebasan adalah kebebasan untuk melaksanakan norma dan aturan yang ada di masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->