P. 1
HUKUM ADAT LENGKAP

HUKUM ADAT LENGKAP

|Views: 1,210|Likes:
Published by Ida Bagus Wiratama

More info:

Published by: Ida Bagus Wiratama on Oct 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

Sections

Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
bagi Provinsi Papua (selanjutnya disebut otonomi khusus Papua) sarat
dengan pengaturan mengenai hak-hak masyarakat hukum adat. Pada
bagian Penjelasan Umum ditegaskan, bahwa : ”... pengakuan terhadap
eksistensi hak ulayat, adat, masyarakat hukum adat dan hukum adat.”

b. Kebudayaan

Undang-Undang Otonomi Khusus Papua menegaskan keberadaan
masyarakat hukum adat, dan hak-haknya atas sumber daya alam tidak
terlepas dari dasar-dasar hukum yang mendasari. Undang-undang ini
mengatur keberadaan masyarakat hukum adat dan hak-hak atas sumber
daya alam, sebagai berikut :
1).

Pengakuan keterwakilan
masyarakat hukum adat dalam proses perencanaan, pelaksanaan
dan pengawasan pembangunan. Pengakuan ini dinyatakan dengan
menjadikan wakil-wakil masyarakat hukum adat sebagai salah satu
unsur dalam Majelis Rakyat Papua (MRP). Selain itu juga wakil
dari kelompok agama dan perempuan. Jumlah wakil adat di MRP
seluruhnya 1/3 dari jumlah MRP atau 14 orang. Urgensi
keterwakilan masyarakat hukum adat di dalam MPR adalah :

a).

Melalui MRP masyarakat
hukum adat dapat melindungi hak-haknya dari tindakan

68

pelanggaran dan pengabaian oleh pemerintah dan pemerintah
daerah.
b).

MRP dapat menyalurkan
aspirasi masyarakat hukum adat dan memfasilitasi penyelesaian
masalah yang terjadi pada masyarakat hukum adat.

2).

Perlindungan terhadap
hak-hak masyarakat hukum adat, yaitu hak atas tanah dan hak atas
kekayaan intelektual, sebagaimana diatur pada pasal 43 dan pasal
44.
Hak atas tanah meliputi hak bersama atau hak ulayat dan hak
perorangan (penjelasan pasal 43 ayat (2)). Namun pengakuan
terhadap hak ulayat disertai dengan catatan-catatan, yaitu :

a).

Subjek hak ulayat adalah masyarakat

hukum adat bukan penguasa adat
b).

Penguasa adat hanya bertindak

sebagai pelaksana dalam mengelola hak ulayat.

3).

Pengakuan terhadap peradilan
adat (pasal 51) Undang-Undang Otonomi Khusus Papua
meletakkan peradilan adat sebagai peradilan perdamaian yang tidak
boleh menjatuhkan hukuman pidana, penjara atau kurungan.
Pengakuan peradilan adat diharapkan dapat mengurangi korban
peradilan negara dalam menyelesaikan sengketa perdata atau
perkara pidana yang melibatkan warga masyarakat hukum adat

4).

Dalam pasal 64 ayat (1)
menegaskan. bahwa Undang-Undang juga mewajibkan pemerintah
Provinsi Papua untuk menghormati hak-hak masyarakat hukum
adat dalam melakukan pengelolaan lingkungan hidup. Program
inventarisasi, pengukuran dan pemetaan tanah-tanah ulayat di
Provinsi Papua akan dilakukan oleh pemerintah Kabupaten/ Kota
dengan menggunakan dana dari APBD Provinsi dan Kabupaten/
Kota.

Dalam pasal 6 Undang-Undang Otonomi Khusus, mengatur mengenai
bidang sosial :

69

1).Pemerintah provinsi memberikan perhatian dan penanganan
khusus bagi pengembangan suku-suku yang terisolasi, terpencil dan
terabaikan di Provinsi Papua.
2).Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih
lanjut dengan Perdasus.

Berkaitan dengan ekonomi, Pemerintah Kabupaten Jayapura
mengeluarkan Peraturan daerah Kabupaten Jayapura Nomor 3 Tahun
2000 tentang Pelestarian kawasan Hutan Sagu. Peraturan Daerah ini
dikeluarkan sebagai upaya untuk melindungi kawasan hutan sagu
sebagai cadangan bahanmakanan lokal, yang cendeung semakin
berkurang dari tahun ke tahun. Bab IV tentang Pemanfaatan dan
Pengelolaan pada pasal 8 (2) menegaskan bahwa ”kegiatan
pengembangan kawasan hutan dilakukan bersama masyarakat setempat”.
Kemudian pada bab VII tentang Larangan pada pasal 14 (2) menegaskan
bahwa larangan penjualan dan atau pelepasan tanah pada kawasan hutan
sagu, baik hak miliki perrorangan maupun milik bersama atau hak
ulayat. Apabila Peraturandaerah (Perda) ini dapat berjalan efektif, maka
Masyarakat hukum adat di Papua tidak akan pernah menghadapi
kekurangan cadangan bahan makanan sepanjang tahun.
Selanjutnya berkaitan dengan pengaturan wilayah masyarakat
hukum adat, saat ini dibuat Rancangan Perda Khusus Hak-hak
Masyarakat hukum adat. Rancangan ini disiapkan sebagai respon
terhadap peraturan yang telah ada karena dinilai :
1).Belum terdapat ketentuan-ketentuan yang dapat menyelesaikan
persoalan-persoalan kongkrit untuk membedakan antara hak ulayat
dengan hak perorangan, apakah hak ulayat meliputi tanah, hutan
dan perairan
2).Rancangan Perdasus tanah layat dilihat masih harus mengacu pada
peraturan-peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi namun
wilayah pelestariannya dibayangkan tidak hanya di luar kawasan
hutan, tetapi juga di dalam kawasan hutan.

70

3).Pengakuan hak masyarakat hukum adat dalam pengelolaan SDA
setiap sektor sebaiknya dilandasi oleh Perdasus yang mengakui
hak-hak masyarakat hukum adat
4).Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) sudah membuat
pokok-pokok pikiran sebagai bahan untuk menyusun Perdasus
mengenai suku-suku terasing, Perdasus ini akan menjadi Peraturan
Pelaksanaan dari pasal 66 Undang-undang Otonomi Khusus.

Kemudian Pemerintah Daerah Provinsi juga telah menyiapkan
Rancangan Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua tentang

Penanganan Khusus terhadap Suku-Suku Terasing, Terpencil dan
Terabaikan
di Provinsi Papua. Rancangan yang telah disiapkan sejak
tahun 2002 ini sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah betapa
pentingnya pembangunan sosial yang khas di Provinsi Papau.
Terutamam bagi suku-suku terisolir, terpencil dan terabaikan.
Pada Bab II diatur hak-hak masyarakat suku terabaikan, yaitu hak
menikmati semua bentuk pelayanan pembangunan yang meliputi
pendidikan, kesehatan, perbaikan gizi, sanitasi, perbaikan
perkampungan, sandang, pangan dan informasi pembangunan; dan hak
atas pembinaan secara berkesinambungan dalam segala aspek
kehidupan.

Kemudian pada bab III diatur penanganan dan pembinaan suku
terbaikan, dimana pasal 3 dan psal 4 mengatur kewajiban Pemerintah
Daerah untuk melakukan studi sosial guna memperoleh data populasi
dan pesebaran suku-suku terabaikan, menyusun prorgam dan model
penanganan, pemberian bantuan, tidak memberikan tekanan yang
memaksa yang menyebabkan suku-suku terabaikan kehilangan harga
diri, dan pelibatan kelompok masyarakat dalam pembangunan.
Selanjutnya pada bab IV diatur pemberdayaan kelompok suku
terabaikan, dimana pada pasal 5 dan pasal 6 mengatur tanggung jawab
Pemerintah Daerah dalam penyiapan program pemberdayaan, kebijakan
khusus, menyediakan forum peran serta masyarakat, pola pendampingan,
dan kemitraan dalam pemberdayaan.

71

Selanjutnya sebagai bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Papua
terhadap Komunitas Adat Terpencil, sebagai bagian dari suku-suku
terisolir, terpencil dan terabaikan sebagaimana diatur di dalam
Rancangan Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua tentang

Penanganan Khusus terhadap Suku-Suku Terasing, Terpencil dan
Terabaikan
di Provinsi Papua tahun 2002, telah sejak tahun 2003 telah
disiapkan rancangan Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua tentang
Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil.
Pada bab III pasal 5 pada rancangan peraturan tersebut mengatur
peranan pemerintah, dalam hal kebijakan teknis, pemberian kewenangan
kepada Dinas Kesejahteraan Sosial sebagai unit teknis yang melakukan
kegiatan pemberdayaan, koordinasi fungsional antara pemerintah
provinsi dan kabupaten, studi sosial bersama perguruan tinggi dan
standar pelayanan sesuai dengan kebijakan Menteri Sosial.
Khusus berkaitan dengan pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil
(KAT), Badan Perncana dan Pengendali Pembangunan Daerah (BP3D)
memfasilitasi pertemuan 4 instansi yang menangani pemukiman KAT,
yaitu :
1).Dinas Kesejahteraan Sosial, Badan Pembangunan Masyarakat Desa
(BPMD), Dinas Kependudukan dan Transmigrasi, serta Dinas
Pekerjaan Umum. Kesepakatan itu adalah pembagian kerja antara
Dinas Kesejahteraan Sosial dengan BPMD dalam hal penanganan
masyarakat terisolir atau KAT.
2).Pembagian kerja :
a).

Dinas Kesejahteraan
Sosial bertugas mengumpulkan masyarakat menjadi komunitas
yang relatif menetap termasuk di dalamnya menyediakan
perumahan
b).

Setelah itu, BPMD
tersebut masuk untuk memfasilitasi pembentukkan pemerintah
kampung
c).

Pemerintah Provinsi
Papua sudah mulai menganggarkan dana untuk masyarakat
terasing yang dikelola oleh BPMD.

72

2.Hukum Tidak Tertulis
a.

Kewilayahan

Wilayah kekuasaan adat untuk masyarakat Biak berjejeran dari
petak laut atau dalam bahasa setempat ”swan fior” sampai ke hutan
belantara atau ”kannggu”. Dalam suatu wilayah (bar) terdapat sejumlah
kampung.

b.

Kebudayaan

Dalam mengatur tatanan kehidupan, masyarakat hukum adat di
Kabupaten Biak mempunyai pranata-pranata adat yang berfungsi
mengendalikan pola relasi adat di antara masyarakat dan dengan alam.
Masyarakat hukum adat mempunyai institusi adat yang merupakan
institusi tertinggi, dengan kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar. Ia
mengatur aktifitas dan pergaulan hidup antar warga Masyarakat hukum
adat, maupun antara warga masyarakat hukum adat dengan pihak luar.
Masyarakat hukum adat ini memiliki kepala institusi adat (kepala suku)
dengan struktur yang sudah jelas.
Sistem kepemimpinan adat Biak diperoleh karena diwariskan dan
juga pengakuan terhadap jasa dan keberanian seseorang atau menurut
Mansoban (kepemimpinan campuran). Seorang ayah memiliki gelar
korano dapat mewariskan gelar itu kepada anak yang ditakini bisa
meneruskan kepemimpinannya. Warga Masyarakat hukum adat yang
mengabdi dengan sungguh-sungguh dan berjasa bagi ksejahteraan
masyarakat hukum adat, dipilih secara demokratis menjadi pimpinan
dalam wilayah adatnya. Kekuasaan dalam adat Biak bisa dijalankan oleh

Mambri, Mananwir, Manpakpok, Benana, Manswabye dan
Mansasonanem.

Mambri, adalah pengakuan atas kepahlawanan seorang tokoh karena
keberanian, kejujuran, kemampuannya dalam melakukan perkara-
perkara berr. Misal, menjelajah daerah yang paling jauh, atau
kehebatannya dalam perang. Mananwir, adalah pemimpin marga atau
keret yang diwariskan atau bergantian kepada keluarga yang lebih
dahulu menempati atau memiliki wilayah adat tertentu. Manpakpok,
adalah seseorang yang jago berkelahi, tukang pukul. Benana, adalah

73

orang yang memiliki banyak harta benda (kaya). Manswabye, adalah
seseorang yang pandapi berbicara atau berdiplomasi. Mansasonanem,
adalah seorang pemanah yang handal. Dari sistem kepemimpinan
tersebut, saat ini yang menonjol adalah sistem kepemimpinan Mananwir
sebagai pemerintahan adat.
Institusi adat di Kabupaten Biak saat ini dikenal dengan nama
”Dewan Adat Byak (DAB)”, yang lahir atas aspirasi dan dorongan
masyarakat hukum adat Byak. Proses lahirnya DAB dimuali dari
kesadaran beberapa tokoh adat (mananwir) bahwa Masyarakat hukum
adat Biak pada kondisi terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu
pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya dan politik. Dengan
demikian lahirnya DAB sebagai media untuk memperjuangkan atau
mengkonsultasikan Masyarakat hukum adat untuk bangkit dari
keterpurukan.

3. Implementasi dan Kendala Pengakuan

b.

Impleme

ntasi

Meskipun telah ada perundang-undangan yang melindungi
eksistensi masyarakat hukum adat, lembaga adat dan adat istiadat di Biak
(Papua), pada implementasi belum optimal. Hal ini yang mendorong,
salah satunya kelahiran Dewan Adat Byak (DAB) untuk
memperjuangkan hak-hak mereka dan bangkit dari keterpurukan dalam
semua apsek kehidupan.

c.

Kendala

Implementasi pengakuan hukum terhadap Masyarakat hukum adat
belum efektif. Masih ada kendala yang berasal dari masyarakat sendiri,
masyarakat luar maupun pemritnah, yaitu :

1).Peran dan eksistensi lembaga belum banyak dipahami oleh orang
luar dan bahkan bagi masyarakat hukum adat.
2).Domain kebijakan sampai saat ini masih dikendalikan oleh
pemerintah daerah, termasuk dalam pengelolaan dan pemanfaatan
sumber daya alam.

74

5.Harapan

Dalam kerangka penguatan dan pemberdayaan Masyarakat hukum adat,
maka peranan dan aktivitas Lembaga Adat perlu ditingkatkan, yaitu :

a.

Lembaga Adat tidak hanya mengatur masalah adat – budaya
saja, tetapi juga mengatur masalah sosial, ekonomi dan hak-hak dasar
masyarakat hukum adat dalam pembangunan.
b.

Lembaga Adat memiliki peranan untuk mengontrol lebijakan
pemerintah daerah, terutama berkenaan dengan pengelolalan sumber
daya alam, lam diperkuat, diberdayakan dan difasilitasi untuk
meningkatkan apresiasi bersama terhadap nilai-nilai adat, komitmen dan
berpihak kepada masyarakat secara profesional dalam menjalankan
tugas-tugasnya.

75

BAB IV

DIMENSI YURIDIS DAN EMPIRIS MASYARAKAT HUKUM ADAT

A.DIMENSI YURIDIS MASYARAKAT HUKUM ADAT

Negara Republik Indonesia dengan jelas dan tegas mengakui eksistensi
masyarakat hukum adat di Indonesia. Di dalam UUD 1945 Perubahan Kedua,
Pasal 18 B ayat (2) menyatakan : “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-
kesatuan masyarakat hukum adapt beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang
masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip-prinsip
Negara kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undag-undang
”.
Kemudian di dalam Pasal 28 I ayat (3) Perubahan Kedua menyatakan :”identitas
budaya dan hak masyarakat tradisonal dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban
“.

Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia menyatakan :” dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan
dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi
oleh hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan
perkembangan zaman
”. Kemudian ayat (2) menyatakan :” identitas budaya
masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum adat,
termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dngan perkembangan zaman”.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria atau yang lebih dikenal dengan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)
pada padal 3 menyatakan : “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan pada pasl 1
dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat
hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa
sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan
atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan lain yang lebih tinggi”.
Kemudian pada Peratruan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 tahun 1999 tentang
Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Adat, pada Bab I pasal 1
dijelaskan bahwa masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat

76

oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hokum
karena kesamaan tempat tinggal ataupun dasar keturunan. Dan tanah ulayat adalah
bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum
adat tertentu.

Selanjutnya di dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 pasal 43
tentang Provinsi Papua menegaskan pemberian perlindungan hak-hak masyarkaat
hukum adat, termasuk hak atas tanah yang dimiliki masyarakat hukum adat secara
bersama-sama maupun hak perorangan pada warga masyarakat hukum adat
bersangkutan.

Berdasarkan Undang-Undang tersebut di atas, bahwa masyarakat hukum
adat menjadi bagian dari warga bangsa Indonesia yang kebutuhan, hak-hak atas
tanah dan hak-hak lainnya, identitas budaya dan hak-hak tradisionalnya harus
diperhatikan dan dilindungi oleh Negara dan Pemerintah. Hal ini menunjukkan,
bahwa Negara dan Pemerintah memiliki komitmen yang besar, bahwa masyarakat
hukum adat tidak boleh tertinggal dan tidak dapat berpartisipasi dalam proses
pembangunan. Sebagaiaman dikemukakan oleh Mulyana (2006), pemerintah
Pusat mewakili Negara harus :
1.Mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat.
2.Menghormati identitas budaya dan hak masyarakat hukum adat.
3.Memberikan kesempatan kepada masyarakat hukum adat untuk
mengaktualisasikan hak ulayat sepanjang masih ada dan sesuai dengan
kepentingan nasional.
4.Melakukan pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat hukum
adat dalam pengelolaan kehutanan, agar hutan ulayat dapat lestari dan
menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat hukum adat.
5.Menetapkan kriteria masyarakat hukum adat.
6.Menetapkan pedoman kompensasi untuk masyarakat hukum adat yang
kehilangan akses terhadap hutan akibat penerapan kawasan hutan tertentu,
termasuk hilangnya akses untuk membuka hutan ulayat.
Perundang-undangan yang secara khusus menjelaskan pembinaan
kesejahteraan sosial terhadap Komunitas Adat Terpencil, adalah Keputusan
Presiden RI Nomor 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial
Komunitas Adat Terpencil. Keputusan Presiden RI tersebut intinya memberikan
kewenangan kepada Departemen Sosial RI untuk menyelenggarakan program

77

pembinaan kesejahteraan sosial bagi Komunitas Adat Terpencil. Berdasarkan
Keputusan Presien RI tersebut Departemen Sosial RI mengembangkan program
pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang secara teknis dilaksanakan
oleh instansi sosial di daerah melalui dana dekonsentrasi (sebagai catatan :
sebenarnya program pemberdayaan KAT sduah dimulai sejak awal tahun 70-an
yang pada waktu itu menggunakan istilah Masyarakat Suku-Suku Terasing)
.
Meskipun program pemberdayaan KAT tersebut sudah lebih tiga dasa warga
diselenggarakan oleh pemerintah Pusat melalui dukungan dana APBN, sebagian
besar Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten menunjukkan dukungan yang
optimal. Bahkan sebagian Daerah (instansi sosial di Daerah) belum memiliki
struktur organisasi, program dan anggaran yang secara khusus berhubungan
dengan pemberdayaan KAT.
Kurangnya kosistensi antara komitmen Pusat dengan Daerah (Provinsi dan
Kabupaten) dapat dicermati dari belum tersedianya Peraturan Daerah Provinsi
maupun Kabupaten yang mengatur pemberdayaan dan perlindungan masyarakat
hukum adat (termasuk KAT). Baru sebagian kecil Pemerintah Provinsi dan
Kabupten yang sudah menerbitkan Peraturan Daerah atau Keputusun Gubernur
dan Bupati. Dari Peraturan Daerah yang ada, pada umumnya memusatkan
perhatian atau pengatur persoalan yang berkaitan dengan kewilayahan (hak tanah
ulayat) dan sistem organisasi sosial (lembaga adat dan struktur organisasi
pengelola lembaga adat). Sedangkan persoalan yang berkaitan dengan
perlindungan hak-hak untuk akses terhadap pelayanan sosial dasar belum diatur di
dalam Peraturan Daerah tersebut.
Oleh karena belum ada payung hukum di tingkat Daerah, maka
penghormatan, penghargaan, atas perlindungan eksistensi dan hak-hak masyarakat
hukum adat serta program-program pemberdayaan bagi mereka belum dapat
dilaksanakan. Hal ini menggambarkan, bahwa para admainistrator pembangunan
di Daerah cenderung mengalami bias pemikiran, bahwa pembangunan sosial
(khususnya pemberdayaan masyarakat hukum adat), tidak memberikan umpan
balik dan keuntungan secara ekonomis; dan oleh karena itu belum perlu
ditempatkan sebagai program prioritas.
Padahal, masyarakat hukum adat adalah warga bangsa sebagaimana warga
bangsa pada umumnya. Oleh karena itu mereka harus diposisikan sebagai potensi
dan sumber daya pembangunan. Maka dari itu, sudah selayaknya Pemerintah

78

Daerah Provinsi dan Kabupaten melaksanakan fungsi dalam kerangka
menghormati, menghargai dan melindungi masyarakat hukum adat. Menurut
Mulyana (2006), ada sejumlah fungsi dan tugas yang harus dilaksanakan oleh
Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten, yaitu :
1.Melindungi masyarakat termasuk masyarakat hukum adat.
2.Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
3.Melestarikan nilai sosial budaya.
4.Menetapkan kriteria kesatuan masyarakat hukum adat dan kriteria teknis
hak ulayat.
5.Menerbitkan Perda yang mengatur perlindungan terhadap masyarakat
hukum adat, hak ulayat, mekanisme dan prosedur penetapan hak ulayat, serta
pembinan masyarakat hukum adat.
6.Menyelenggarakan pembinaan terhadap masyarakat hukum adat,
khususnya menyangkut pembinaan fungsi sosial hak ulayat dan pelestarian
adat budaya daerah, serta pengembangan nilai-nilai luhur yang terkandung di
dalam budaya lokal.

Pemikiran Mulyana (2006) tersebut apabila dapat diimplemetntasikan oleh
Pemerintah Daerah tentu akan mengangkat harkat dan martabat masyarakat
hukum adat sejajar dengan warga masyarakat pada umumnya. Namun kenyataan
yang terjadi, bahwa sampai saat ini Pemerintah Daerah masih cukup sulit untuk
merealisasikan butir-butir tersebut. Padahal pihak pemeritnah pusat melalui
Departemen Dalam Negeri telah mendorong Pemerintah Derah untuk memberikan
kritik dan saran perbaikan apabila Peraturan dan Perundang-undangan (Undang-
undang Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Presiden) tidak sesuai dengan
kondisi riil di lapangan.

B.DIMENSI EMPIRIS MASYARAKAT HUKUM ADAT

Secara empiris hamper setiap daerah (provinsi dan kabupaten) di Indonesia,
dapat ditemukan masyarakat hukum adat. Mereka dicirikan dengan sekelompok
orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu
persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun dasar keturunan.
Secara empiris mereka mendiami daerah yang secara geografis terpencil dan sulit
dijangkau, tidak terjangkau oleh pelayanan sosial dasar, dan sumber
penghidupannya sangat bergantung pada alam.

79

Mereka hidup dalam berbagai keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan
sosial dasar, seperti sandang, pangan, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan.
Mereka mengkonsumsi makanan jauh dari strandar gizi yang diajurkan, memakai
pakaian yang tidak pantas, menempati rumah yang tidak layak huni, kesehatan
yang memburuk dan tidak bisa berpartisipasi dalam pendidikan. Oleh karena
keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan sosial dasar tersebut, maka mereka
mengalami hambatan untuk dapat menjaga kelangsungan hidupnya atau angka
kematian pada mereka relative cukup tinggi (lihat Manurung, 2006).

Dalam kondisi yang senantiasa diliputi keterbatasan tersebut, masyarakat
hukum adat dihadapkan dengan berbagai permasalahan, seperti semakin
berkurangnya ruang gerak mereka disebabkan menyempitnya tanah ulayat yang
pindah ke tangan inverstor. Di Provinsi Riau maupun di Provinsi Sumatera Utara,
masyarakat hukum adat banyak kehilangan tanah ulayatnya karena diolah oleh
PTP untuk perkebunan karet dan kelapa sawit. Kemudian sebagian hutan tempat
tinggal masyarakat hukum adat berubah fungsi menjadi hutan lindung, dimana
dengan penetapan sebagai hutan lindung berarti siapapun dilarang untuk
memasuki hutan tersebut. Masyarakat hukum adat rentan menjadi korban
eksploitasi dan atau perdagangan manusia untuk kepentingan pengusaha hutan.
Pengusaha hutan memanfaatkan kebodohan mereka untuk kepentingannya seperti
dalam penebangan liar (illegal loging).

Kondisi tersebut ditambah lagi dengan semakin kuatnya pengaruh dari luar
yang merusak nilai-nilai dan kearifan lokal yang selama ini dipelihara secara turun
temurun. Lemahnya peraturan pemerintah yang mengatur eksistensi dan hak-hak
masyarakat hukum adat, menyebabkan aturan-aturan adat tidak dihormati dan
dihargai oleh orang-orang dari luar.

Meskipun masyarakat hukum adat dihadapkan dengan berbagai
keterbatasan dan permasalahn, tetapi mereka sangat kurang disentuh oleh
program-program pemerintah. Alasannya karena mereka mendiami lokasi yang
secara geografis terpencil dan sangat sulit dijangkau, seperti di pedalaman, rawa-
rawa, pegugungan dan perbatasan antar Negara, dan di perairan. Selain itu,
sebagian masyarakat hokum adat masih memiliki pola hidup berpinah-pindah dari
satu tempat ke tempat lain yang jaraknya cukup jauh (nomaden). Oleh karena
tidak terjangkau program pemerintah, maka sebagian dari mereka yang mendiami

80

kawasan perbatasan antar Negara, seperti masyarakat hokum adat di Kalimantan
Timur, Kalimantan Barat, NTT, Papua dan Kepri; menjadi pelintas batas antar
Negara yang tuannya semata-mata untuk kelangsungan hidup. Terjadinya pelintas
batas antar Negara ini tentu akan menimbulkan persoalan hubungan antar Negara.

Dari sisi kemanusiaan, kondisi yang dihadapi oleh masyarakat hukum adat
yang tersebar di 30 Provinsi di Indonesia, benar-benar sangat memprihatinkan.
Mereka sangat membutuhkan dukungan, perlindungan dan pemberdayaan dari
pemeritnah untuk dapat meningkatkan harkat dan martabatnya. Sebagai warga
bangsa, mereka merindukan hak-haknya atas hidup, kesejahteraan dan hak ulayat
atas tanah (lihat LAM Jambi, 2005).

Berdasarkan kondisi faktual masyarakat hukum adat, maka kebijakan dan
program kesejahteraan sosial bagi mereka merupakan suatu keharusan, sebagai
wujud tanggung jawab Negara dan Pemerintah. Mereka adalah warga Negara
(sebagaimana warga Negara Indonesia pada umumnya) yang memiliki hak untuk
hidup sejahtera dan berpartisipasi dalam pembangunan.

81

BAB V

PENUTUP

Negara dan Pemerintah mengakui dan menghargai eksistensi masyarakat hukum
adat di Indonesia. Pengakuan dan penghargaan dari Negara dan Pemerintah tersebut
dapat dicermati dari produk yuridis yang menjadi payung hukum program
perlindungan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat, baik oleh instansi
Pemerintah sektoral maupun oleh organisasi sosial/LSM dan dunia usaha. Dari pihak
masyarakat, perhatian terhadap masyarakat hukum adat terlihat dari berbagai upaya
yang dilakukan oleh organisasi sosial/LSM dalam memperjuangkan hak-hak dasar
masyarakat hukum adat, antara lain hak atas tanah ulayat, pendidikan, kesehatan dan
kesejahteraan.

Pengakuan dan penghargaan terhadap masyarakat hukum adat tersebut
menunjukkan adanya kesadaran, bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang
menjalani kehidupan yang khas, sarat dengan nilai-nilai, norma dan adat istiadat yang
positif, tetapi dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Meskipun demikian, pada
era transformasi sosial budaya yang cepat dewasa ini, mereka masih mampu
mempertahankan keserasian hubungan dengan sesama manusia, alam dan
penciptanya. Semua itu adalah bentuk kebudayaan menjadi modal sosial (social
capital
) dalam pembangunan nasional apabila dapat diberdayakan secara optimal.
Sehubungan dengan itu, maka diperlukan kebijakan dan instrumen yang mampu
melindungi dan memberdayakan masyarakat hukum adat tanpa mencabut mereka dari
akar sosial budaya aslinya. Sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa
secara yuridis Negara dan Pemerintah telah menerbitkan peraturan perundang-
undangan yang secara langsung berkaitan dengan perlindungan dan pemberdayan
masyarakat hukum adat. Namun demikian, kehendak Negara dan Pemerintah tersebut
belum diikuti oleh Pemerintah Provisni maupun Kabupaten. Sebagian besar
Pemerintah Provinsi maupun Kabupten hingga saat ini belum memiliki Peraturan
Daerah (Perda) atau Peraturan Gubernur/Bupati yang berkenaan dengan perlindungan
dan pemberdayaan masyarakat hukum adat. Implikasi dari belum tersedianya
peraturan perundang-undangan daerah tersebut, maka di lapangan masih seringkali
terjadi permasalahan antara Pemerintah dengan masyarakat hukum adat yang
berlarut-larut.

82

Semua pihak tentu tidak menghendaki terjadinya konflik sosial yang bercorak
kekerasan, disebabkan adanya perlakuan tidak adil dari pihak luar atas hak-hak atas
tanah ulayat yang sudah dikuasai masyarakat hukum adat secara turun temurun. Maka
dari itu, apabila terjadi pengalihan hak atas tanah ulayat kepada dunia usaha,
seharusnya tetap memberikan kentungan kepada masyarakat hukum adat tersebut.
Terkait dengan itu, sebagai bagian dari upaya perlindungan hak asasi manusia,
Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten perlu menerbitkan peraturan perundang-
undangan tentang perlindungan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat. Peraturan
perundang-undagan dimaksud tentu berpihak kepada kepentingan, harkat dan
martabat masyarakat hukum adat sebagai warga Negara. Potensi yang belum banyak
dipahami oleh orang luar, bahwa masyarakat hukum adat memiliki sistem kebudayaan
yang khas, yang merupakan keragaman potensi dan sumber daya dalam
pembangunan nasional.

83

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Rizal (dkk), 2005, Tanah Ulayat dan Keberadaan Masyarakat Adat,
Pekanbaru : LPNU Press.

Bahar, Syafroedin, 2006, “Upaya Perlindungan terhadap Eksistensi Hak-hak
Tradisional Masyarakat Adat dalam Perspektif Hakj Asasi
Manusia”, dalam Suwarto (dkk), mengangkat Keberadan Hak-
hak Tradisonal : Masyarakat Adat Rumpun Melayu Se-
Sumatera. Pekanbaru : Unri Press.

Dahrendorf, Ral., 1986, Konflik dan Konflik Dalam Masyarakat Industri: Sebuah
analisa kritik
. Jakarta: CV.Rajawali
Dharmayua, Made. Suathawa, 2001, Desa Adat : Kesatuan Masyarakat Hukum Adat
di Propinsi Bali,
Bali : Upada Sastra.

Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, 2003,Atlas Nasional
Persebaran Komunitas Adat Terpencil
. Jakarta: Ditjen
Pemberdayaan Sosial Depsos RI.
Hamid, Abu, 2006, Kebudayaan Bugis, Makassar : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Provinsi Sulawesi Selatan.
LAM Jambi, 2005, “Fakta dan Pengalaman Lembaga Adat Propinsi Jambi dalam
Memperjuangkan Hak Tanah Ulayat Masyarkat Adat Jambi”,
dalam Rizal Akbar (dkk), Tanah Ulayat dan Keberadaan
Masyarakat Adat, Pekanbaru : LPNU Press.

Little, Daniel, 1991Varieties Social Explanation: An Introducion to the Philosophy
of Social Science
. San Francisco: Westview Press

Manurung, Butet, 2006. Sokola Rimba : Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba,
Yogyakarta : INSIST Press.
Mulyana, Agung, 2006, “Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat dalam Rangka
Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, makalah
disampaikan pada Musyawarah lembaga adapt Rumpun
Melayu se-Sumatera tanggal 14-17 April 200, di Riau.

84

M. Yunus Melalatoa, 1995Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia. Jilid A-Z.
Jakarta: Terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Parsons, Talcott, 1951The Social System: The Major Exposition of the Author &
Conceptual Schema or the Analysis of Dynamics of the Social
System
. Canada: Collier Macmillan, Ltd.

Parsudi Suparlan (Penyunting), 1993,

Pembangunan yang Terpadu dan
Berkesinambungan: Keterpaduan Pemanfaatan Sumber-
Sumber dan Potensi Masyarakat Untuk Peningkatan Dan
Pengembangan Pembangunan Masyarakat Pedesaan Yang
Berkesinambungan.
Jakarta: Terbitan Balitbangsos Depsos RI

Radcliffe-Brown, 1980, Struktur dan Fungsi Dalam Masyarakat Primitif. Malaysia
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka Kementerian
Pelajaran.

Rostow, W.W. 1962The Process of Economic Growth. New York: W.W. Norton
and Company Inc.

Simarmata ,Rikarda, 2006,Pengakuan Hukum Terhadap Masyarakat Adat Di
Indonesia. Regional Initiative on Indigenous Peoples Rights
and Development (RIPP) UNDP Redional Center in Bangkok.

Suwardi (dkk), 2006, Pemetaan Adat Masyarakat Melayu Riau Kabupten/Kota se-
Provinsi Riau
, Pekanbaru : Unri Press.

Suwarto (dkk), 2006, Mengangkat Keberadaan Hak-hak Tradisional Masyarakat
Adat Rumpun Melayu Se-Sumatera
, Pekanbaru : Unri Press.

Widjaja , A.W. (Ed.) 1986Manusia Indonesia: Individu, Keluarga dan
Masyarakat
. Jakarta: Penerbit Akademika Pressindo C.V

Wallerstein, Immanuel, 1997Lintas Batas Ilmu Sosial. Yogyakarta: Terbitan LKis

85

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->