Teori Pendidikan

Kehidupan pada hakikatnya sebagai proses pendidikan yang sebenarnya (the true educational process). Education is not preparation for life; education is life
itself. Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey berpesan kepada kita.

Proses pendidikan telah membentuk manusia secara individual. Proses pendidikan pulalah yang telah membentuk manusia sebagai komunitas, atau bahkan sebagai bangsa dan negara. Kita dapat belajar dari sejarah kehidupan suatu bangsa, katakanlah bangsa Jepang, yang melatarbelakangi manusia yang bagaimana yang telah dihasilkan. Ternyata, kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh melimpahnya kekayaan alamnya, tetapi oleh kegigihan bangsa itu dalam perjuangan hidupnya. Manusia memang unik. Manusia yang berhasil karena tempaan kesulitan hidupnya. Tempaan hidup dapat berupa pengalaman, bahkan berupa cobaan hidup yang menderanya. Mereka yang tahan terhadap tempaan hidup ini akhirnya akan membentuk diri manusia yang sesungguhnya. Ada beberapa contoh bahwa kehidupan sebagai proses pendidikan. Bacalah biografi beberapa orang penting. Misalnya ”who’s who”, biografi para presiden, biografi para tokoh, biografi pada penemu, dan sebagainya. Tuliskan kembali apa yang telah Anda baca. Silahkan membuka lampiran 1: power point tentang refleksi dan tindakan. Pendidikan merupakan proses transformasi budaya. Pendidikan merupakan proses pewarisan budaya, dan sekaligus pengembangan budaya. Education
enables people and societies to be what they can be. Pendidikan membuat manusia dan masyarakat menjadi apa yang mereka inginkan. Demikian Bill Richardson berpesan kepada kita.

Untuk mewariskan budaya tersebut, proses pendidikan dilakukan melalui tiga upaya yang saling kait mengait, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation), (2) proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan (3) keteladanan (role model). Secara lebih lengkap, bacalah tulisan Fuad Hassan, mantan Mendikbud, dalam buku referensi Pendidikan Manusia Indonesia (Widiastono, 2004: 52). Immanuel Kant menyebutkan bahwa manusia merupakan animal educancum dan animal educandus, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Oleh karena itu, maka sama sekali tidak benar jika ada pernyataan yang menyatakan bahwa “anak itu tidak dapat dididik”. Tidak! Proses dan metode yang digunakanlah yang kemungkan tidak tepat digunakan. Justru anak manusia akan menjadi manusia jika melalui proses pendidikan, melalui ketiga upaya tersebut. Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan dia akan mewariskan kebudayaannya tersebut kepada keturunannya. Proses pendidikan tidak lain merupakan proses transformasi budaya, yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda. Pengertian pendidikan jauh lebih luas dari pengertian pengajaran. Proses pendidikan bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan dan

Teori ini menyarankan kepada pemerintah dan masyarakat agar menyediakan lingkungan belajar yang kondusif untuk peserta didik. Jika teori nativisme berpendapat bahwa proses pendidikan amat tergantung kepada bakat dan kemampuan anak. yang kemudian dikenal dengan teori konvergensi. Jika potensi ini diibaratkan dengan bibit unggul. Dalam teori empirisme. Teori Pendidikan: Konvergensi Kedua teori tersebut kemudian digabungkan menjadi satu kesatuan. Teori Pendidikan: Empirisme Teori empirisme berlawanan dengan teori nativisme. . maupun informal.keterampilan kepada peserta didik (transfer of knowledge and skills) tetapi juga pengalihan nilai-nilai sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms). Baca buku referensi. maka teori empirisme berpendapat bahwa lingkungan anak akan sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak. nonformal. Penyadiaan fasilitas belajar yang lengkap untuk memberikan sebanyak mungkin pengalaman belajar peserta didik. Makna dasar tidak lain adalah bakat dan kemampuan. Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang hal ini. Penggagas teori ini antara lain adalah William Stern. Sementara teori nativisme menafikan pengaruh lingkungan pendidikan. baik pendidikan formal. karena bakat dan pembawaan peserta didik dinilai mempunyai pengaruh lebih dominan terhadap proses pendidikan. tetapi bakat dan kemampuan itu akan dipengaruhi oleh ruang (space) dan waktu (time). Dalam hal ini. miliu pendidikan dipercaya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan proses pendidikan. dan memperoleh rawatan secara intensif. Dalam hal ini. Tokoh yang mendukung teori empirisme antara lain adalah John Locke dan David Hume. Teori ini berpendapat bahwa selain manusia itu memang telah dibekali potensi dasar berupa bakat dan kemampuan. Teori ini berpendapat bahwa keberhasilan peserta didik akan ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhi sang anak. dan cari materi yang terkait dengan perbedaan pendidikan dan pengajaran. baik dari lingkungan maupun proses pembelajaran dan pengajaran di lembaga pendidikan. David Hume amat dikenal dengan teori tabula rasa. William Stern percaya bahwa sejak lahir manusia telah memiliki potensi. maka bibit unggul itu akan akan tumbuh secara optimal jika bibir itu mendapatkan tempat persemaian yang subur. cobalah buat tabel yang membedakan antara keduanya. Teori “dasar” dan “ajar” menurut Ki Hajar Dewantara pada hakikatnya sama dengan teori konvergensi. Proses pendidikan menurut teori ini Lingkungan Pendidikan Lingkungan pendidikan dikenal juga sebagai miliu pendidikan. sejak ia lahir sampai ke liang lahat. Sementara ajar pada hakikatnya adalah proses mempengaruhi peserta didik.

dan menghormati hak azasi manusia. (2) kondisi sosial ekonomi masyarakat. dan sebagainya. sementara yang lain tidak? Apakah karena faktor (1) umur negara itu. Lingkungan pendidikan antara lain berupa: (1) keadaan alam.Bagaimana pun juga teori konvergensi sangat mengakui pengaruh antara keduanya. sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari Kejujuran dan integritas Bertanggung jawab Hormat pada aturan & hukum masyarakat Hormat pada hak orang/warga lain Cinta pada pekerjaan Berusaha keras untuk menabung & investasi Mau bekerja keras Tepat waktu . misalnya dalam pengembangan sosial ekonomi masyarakat agar warga masyarakatnya lebih hemat. masyarakat negara yang maju memiliki nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. daerah pedalaman. yakni bakat dan pembawaan serta pengaruh lingkungan pendidikan. Ternyata. mata pencaharian penduduk dalam bidang pertanian. pegunungan. Etika. menanamkan semangat kerja keras. misalnya pinggir pantai. Nilai-nilai Sosial Budaya Di dunia ini terdapat negara yang maju. Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah faktor apa yang menyebabkan negara itu telah berkembang menjadi negara yang maju. Proses pendidikan seharusnya dapat menjadi agen pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Lingkungan pendidikan pada hakikatnya dapat menjadi sumber pembelajaran. memiliki jiwa demokratis. di samping negara yang miskin. misanya keadaan sosial ekonomi yang rendah. gemar menabung. Nilai-nilai sosial budaya masyarakat itu adalah sebagai berikut. jasa. cinta damai dan menjunjung nilai-nilai kebersamaan. (2) sumber daya alamnya. dan masih banyak lagi yang lainnya. perkebunan. atau (3) faktor rasnya. industri. Teori pembelajaran konstruktivisme mengajarkan kepada kita bahwa peserta didik harus dapat membangun pemahaman sendiri tentang konsep yang diambil dari sumber-sumber pembelajaran yang berasal dari lingkungan sekitar siswa. semangat antikorupsi. perdagangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful