P. 1
MATERI MANAJEMEN PENJAS

MATERI MANAJEMEN PENJAS

|Views: 14|Likes:
Published by RolandPnjsorkes

More info:

Published by: RolandPnjsorkes on Oct 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Masa remaja awal adalah suatu stadium dalam siklus perkembangan anak. Rentang usia remaja awal berkisar antara 12 sampai 15 tahun ( Mappiare, 1982).Pada masa ini adalah periode ambang pintu masa remaja, atau sebagai periode pubertas. Di Indonesia masa remaja awal biasanya mereka yang tengah menempuh pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Individu adalah makhluk sosial yang dalam kesehariaanya tidak lepas dari komunikasi dan hubungan dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial individu dituntut untuk mampu mengatasi semua permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial serta mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Hal ini terkait dengan ketrampilan sosial yang dimiliki individu. Setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungannya (Mu'tadin, 2002). Ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting ketika anak mulai menginjak masa remaja awal. Hal ini disebabkan karena masa itu individu mulai memasuki dunia pergaulan yang lebih luas. Remaja awal usia 12 - 15 tahun memiliki tugas perkembangan yang berkaitan dengan ketrampilan sosial. Pada masa ini individu mulai menginjak masa transisi dengan kehidupansosial yang baru, persaingan dalam bidang akademik lebih dipentingkan sehingga individu kurang dalam sosialisasi dan bermain dengan kelompok atau teman sebayanya. Masa ini individu mengalami krisis psikososial yang terjadi adalah rasa mampu dan usaha untuk melawan rasa tidak mampu (Monks, dkk, 1999). Ketidakseimbangan ini menyebabkan individu kurang mendapat kesempatan dalam mengembangkan aspek sosial dan emosi. Perkembangan yang kurang optimal ini akan menyebabkan individu kesulitan dalam melatih ketrampilan sosialnya (Retno, 2005). Menurut Boyum dan Park bahwa hubungan sosial yang problematik pada masa remaja awal akan mempengaruhi perilaku perilaku bermasalah seperti putus sekolah, kriminalitas, kenakalan remaja dan perilaku-perilaku psikopatologis pada masa - masa selanjutnya (Retno, 2005). Hurlock (1978) menyebutkan bahwa kelompok sosial mempengaruhi perkembangan sosial remaja dengan mendorong mereka untuk menyesuaikan diri terhadap harapan sosial, membantu mencapai kemandirian dan mempengaruhi konsep dirinya. Ketrampilan sosial menurut Cavvell (Cartkledge dan Milburn, 1995) adalah bagian dari kompetensi sosial selain penyesuaian sosial (social adjusment) dan social performance. Sedangkan menurut Kelly (1982) ketrampilan sosial adalah ketrampilan yang diperoleh individu melalui proses belajar yang digunakan dalam hubungan orang lain maupun dengan lingkungan secara baik dan tepat. Salah satu langkah yang dilakukan untuk meningkatkan hubungan sosial yang positif dengan lingkungan adalah dengan memiliki ketrampilan sosial. Dengan ketrampilan sosial yang dimiliki secara matang diharapkan remaja dapat mengatasi segala masalah yang muncul dalam lingkungan sosialnya. Remaja awal akan lebih banyak memperhatikan statusnya dengan teman

sebaya. Interaksi yang terjadi lebih kompleks, selektif dan subyektif sehingga anak dituntut untuk meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal (Durkin, 1995). Kegagalan pada masa remaja dalam menguasai ketrampilan sosial akan menyebabkan remaja sulit dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, terutama ketika remaja tersebut masih bersekolah akan menghambat proses interaksi dengan lingkungan sekolahnya serta akan menghambat potensi - potensi yang dimilikinya. Remaja tersebut akan mengalami kesulitan bergaul, sehingga kurang mampu dalam berkomunikasi dan merasa kesulitan untuk memulai berbicara terutama dengan orang yang belum dikenal, merasa canggung dan tidak terlibat dalam pembicaraan menyenangkan dan kurang mampu dalam memecahkan persoalan dalam pergaulan. Dalam hubungan yang bersifat formal, remaja yang kurang dalam ketrampilan sosialnya kurang mampu atau kurang berani dalam mengemukakan pendapat, pujian, dan keluhan pada forum umum. Individu yang mempunyai ketrampilan sosial rendah akan menunjukkan tingkat perilaku negatif yang tinggi. Individu yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik dianggap kurang mempunyai ketrampilan yang kuat dalam interaksi sosialnya ( Munandar, 1985). Ketrampilan sosial membawa remaja untuk lebih berani berbicara mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus menemukan penyelesaian, sehingga mereka tidak mencari pelarian ke hal - hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Remaja akan memiliki tanggung jawab yang cukup tinggi dalam melakukan sesuatu, mengetahui situasi dengan siapa dan kondisi bagaimana mereka berbicara maupun menolak serta menyatakan ketidak senangannya terhadap pengaruh - pengaruh negatif dari lingkungan secara langsung maupun tidak langsung. Remaja dapat menyesuaikan dengan standar harapan masyarakat dalam norma - norma yang berlaku dilingkungannya. Keluarga sebagai sumber sosialisasi yang paling utama, membantu remaja dalam membentuk ketrampilan sosial pada dirinya. Di dalam keluarga terjadi sebuah hubungan sosialisasi timbal balik, membangun hubungan, memecahkan suatu masalah dan berargumen dengan anggota keluarga lainnya. Hubungan yang terjadi ini akan dijadikan sebagai contoh atau cetakan yang akan digunakan remaja dalam berhubungan dengan dunia barunya. Hubungan yang baik antara orangtua dan remaja akan membantu remaja dalam berinteraksi dan meningkatkan identitas serta ketrampilannya di lingkungan ( Hurlock, 1973). Hubungan anak dan orangtua merupakan hubungan yang lama dan berkesinambungan, diharapkan dapat menciptakan hubungan yang positif sehingga anak akan mempersepsikan hubungan tersebut secara positif pula. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui peran orangtua adalah melalui penilaian atau persepsi anak terhadap kebiasaan - kebiasaan dan sikap orangtua dalam mengasuh dirinya yaitu sebagai individu yang mengasuh secara langsung. Apabila seseorang telah memutuskan menjadi orang tua, seseorang terikat untuk dapat menjadi guru dan seorang pengasuh. Orang tua mempunyai tanggung jawab secara utuh mengenai pendidikan anaknya (Suwaid, 2003). Orang tua secara tidak disadari telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola pikir dan cara pandang individu dalam memandang suatu hal. Tindakan, perkataan dan rasa nyaman dari pengalaman dengan orang tua dapat menjadi bekal bagi ketrampilan sosial remaja ketika memisahkan diri dari orangtua menuju teman sebayanya. Keluarga sebagai suatu lembaga akan menjadi model yang akan ditiru oleh anak-anak mereka. Seorang ayah sebagai pemegang kendali dalam kehidupan sebuah keluarga,

keberadaannya akan mendapat penilaian anak-anaknya terutama tentang persepsi anak-anak terhadap ayah mereka. Dalam penelitian Andayani ( 2000 ) memberikan gambaran bahwa ayah cenderung mengambil jarak dari anak - anaknya. Ayah lebih sibuk dengan dunia di luar keluarga dan sedikit sekali beraktivitas dengan anak - anaknya. Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya dalam dunia kerja dan pencari nafkah utama dalam keluarga, maka yang banyak terjadi adalah rendahnya keterlibatan seorang ayah dalam keluarga. Peran ayah sebagai suatu bagian dari peran orang tua dalam keluarga, lebih khusus mengacu pada pola kepribadian, sikap orang tua dan sebagai model. Ayah dengan komitmen yang kuat pada keluarganya memberikan contoh perilaku tanggung jawab untuk anak - anaknya. Seorang ayah yang baik adalah meletakkan perannya sebagai seorang kepala keluarga, penegak disiplin, pembimbing moral dan sebagai pendidik dalam kehidupan atau pengganti ibu. Berdasarkan hasil penelitian di AS terhadap 15.000 remaja sebagai sampelnya menunjukkan jika peranan ayah dalam pendidikan anak berkurang maka akan menunjukkan dampak negatif yang signifikan seperti jumlah anak putri belasan tahun hamil tanpa nikah, kriminalitas yang dilakukan anak-anak dan muncul patologi psiko-sosial (Slameto, 2002). Kesimpulan dari uraian diatas adalah peran ayah dalam keluarga memiliki pengaruh yang besar terutama terhadap kehidupan sosial seorang anak dalam hal ini remja awal. Kehidupan sosial remaja awal yang sedang mengalami masa transisi sangat membutuhkan sosok ayah sebagai figur model dalam pengembangan ketrampilan sosialnya. Penerapan perilaku ayah terhadap anak-anak terjadi bila keduanya ada interaksi yang berjalan. Adanya interaksi ini menimbulkan suatu pemahaman terhadap perilaku model dalam hal ini sosok ayah. Ayah sebagai model akan berfungsi dalam pembentukan dunia sosialremaja awal.

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi remaja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial pada remaja.

C. Manfaat Penelitian
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan Ilmu Psikologi khususnya bidang perkembangan serta menjadi masukan yang dapat dipakai sebagai acuan bagi peneliti lebih lanjut yang berkaitan dengan peran ayah dalam keluarga. Secara praktis, apabila dari hasil data-data yang terkumpul menunjukkan hubungan yang positif antara persepsi remaja tentang peran ayah dalam keluarga, maka peran ayah di dalam keluarga secara umum dan peran ayah dalam pengasuhan anak-anaknya perlu ditingkatkan agar dapat mendorong kemajuan ketrampilan sosial. D. Keaslian Penelitian

Dalam penelitian Retno ( 2005 ) didapatkan bahwa pelatihan ketrampilan sosial yang dilaksanakan dengan metode permainan dan diskusi efektif meningkatkan ketrampilan sosial pada anak. Subyek penelitian tersebut adalah 10 orang anak SD kelas 5. Penelitian Putri (2006), menggunakan hubungan peran ayah sebagai variabel bebas dan penerimaan diri pada remaja sebagai variabel tergantung. Subjek penelitian tersebut adalah siswa dan siswi SLTP yang berusia antara 13 - 16 tahun. Teori-teori yang digunakan merupakan sintesa dari berbagai teori perkembangan. Slameto (2002) melakukan penelitian yang berjudul peranan ayah dalam pendidikan anak dan hubungannya dengan prestasi belajar. Subyek penelitian tersebut 90 orang ayah dan 90 orang siswa kelas IV SD. Pengumpulan data menggunakan angket dan studi dokumen daftar nilai prestasi siswa. Metode analisis data menggunakan teknik prosentase dan korelasi Kendall,s Tau B dengan menggunakan program SPSS 10,0. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan yang positif dan signifikan antara peran ayah sebagai provider ( penyedia dan pemberi fasilitas ) dengan rata - rata nilai mata pelajaran siswa ( prestasi akademik). Dari beberapa penelitian diatas menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan penelitian yang akan diteliti penulis. Perbedaanya adalah variabel yang dipengaruhi peneliti. Peneliti menggunakan ketrampilan sosial remaja sebagai variabel yang dipengaruhi, sedangkan menggunakan peran ayah sebagai variabel yang mempengaruhi. Persamaannya adalah sama sama mengungkap masalah ketrampilansosial pada remaja dan persepsi remaja terhadap peran ayah dalam keluarga. Teori - teori yang melandasi penelitian yang penulis lakukan merupakan sintesa dari berbagai macam teori perkembangan dansosial. Subyek penelitian ini adalah siswa siswi SLTP 01 Sukorejo usia 12 - 14 tahun sejumlah 80 orang. Alat ukur yang dipergunakan penulis dalam pengambilan data adalah skala atau angket.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Ketrampilan Sosial

1. Pengertian Ketrampilan Sosial
Definisi ketrampilan sosial menurut Michelson, dkk 1985 (Muttadin, 2002) adalah suatu kemampuan dalam memberikan pujian, mengeluh karena tidak setuju sesuatu, menolak permintaan orang lain, tukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran kepada orang lain, pemecahan konflik atau masalah, berhubungan dengan orang yang lebih tua dan lebih tinggi statusnya, bekerjasama dengan orang yang berlainan jenis kelamin dan kemampuan dalam berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Bukeley dan Cramet (1990) mengartikan ketrampilan sosial adalah suatu respon tingkah laku individu terhadap lingkungan masyarakatnya. Menurut Hurlock (1993) ketrampilan sosial adalah kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan diplomatis dengan seseorang baik dengan teman atau orang yang tidak dikenalnya sehingga sikap orang lain menyenangkan. Ketrampilan sosial menurut Cavvell (Cartkledge dan Milburn, 1995) adalah bagian dari kompetensi sosial selain penyesuain sosial (social adjusment ) dan social performance. Menurut Kelly (1982) ketrampilan sosial adalah ketrampilan yang diperoleh individu melalui proses belajar yang digunakan dalam hubungan orang lain maupun dengan lingkungan secara baik dan tepat. Berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para ahli menunjukkan bahwa ketrampilan sosial banyak mengacu pada pemahaman perilaku dan interaksi individu dengan orang lain khususnya teman sebaya dalam konteks sosial. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan ketrampilan sosial adalah suatu proses pembelajaran perilaku, pemikiran, pemecahan masalah, interaksi, komunikasai dalam menghadapi lingkungan sosial di sekitarnya .

2. Aspek -Aspek Ketrampilan Sosial
Goldstein ( 1981 ) mengungkap aspek - aspek ketrampilan sosial pada remaja meliputi;

a. Kemampuan dalam memecahkan masalah
Kemampuan dalam mengatasi permasalahan yang muncul dalam dirinya baik dari faktor internal maupun eksternal.

b. Kemampuan dalam berbicara dengan orang lain
Mampu berkomunikasi dan membina suatu hubungan dengan orang - orang disekitarnya.

c. Kemampuan dalam menyampaikan pertanyaan
Mampu dalam mengemukakan dan menyampaikan pertanyaan didalam forum umum.

d. Kemampuan dalam menyampaikan permintaan pertolongan
Kemampuan dalam meminta suatu pertolongan atau bantuan kepada orang lain.

e. Cara dalam memberi dan menerima pujian
Kemampuan dalam memberikan pujian / simpati kepada orang lain dan kemampuan dalam menerima pujian dari orang lain.

f. Cara berinteraksi dengan teman - teman yang berbeda status.
Kemampuan dalam melakukan interaksi dengan orang lain atau orang terdekat yang berbeda status.

g. Cara berempati
Kemampuan dalam memberikan rasa perhatian / empati kepada orang lain.

h. Cara mengeluh dan menghadapi keluhan
Kemampuan dalam mengeluh dan menghadapi keluhan ketika menghadapi suatu masalah.

i. Cara berinteraksi dengan teman - teman yang berbeda jenis kelamin
Kemampuan dalam berinteraksi / komunikasi dengan teman lawan jenis.

j. Cara berinteraksi dan bergabung dengan kelompok
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam membangun suatu kelompok.

k. Cara menuntut hak
Kemampuan dalam menuntut hak pribadi.

l. Cara menyatakan perasaan tidak pasti
Kemampuan dalam mengungkapkan perasaan tidak pasti / keraguan

m. Cara menolak
Kemampuan dalam menolak sesuatu yang tidak sesuai. Retno (2005) berpendapat aspek - aspek yang meliputi kemampuan ketrampilan sosial yaitu;

a. Perilaku Interpersonal

Perilaku yang menyangkut ketrampilan yang digunakan selama berhubungan dengan orang lain (kemampuan untuk memahami dan mengerti orang lain ).

b. Perilaku Intrapersonal
Perilaku atau sikap yang berhubungan dengan pengaturan diri terutama pengaturan diri dalam situasi sosial (kemampuan mengidentifikasi perasaan orang lain, kemampuan asertif, kepekaan terhadap keadaan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal, kemampuan mengatur dan mengendalikan emosi sehingga dapat mengendalikan perilaku negatif seperti marah, agresi serta kemampuan mengendalikan stres ). Menurut Cartledje dan Milburn (1995) aspek - aspek struktur ketrampilan sosial meliputi;

a. Beginning social skills
Dasar - dasar dalam ketrampilan sosial meliputi; mendengarkan, memulai percakapan, menikmati suatu percakapan, meminta ijin, mengucapkan terima kasih, memperkenalkan diri sendiri dan memperkenalkan orang lain.

b. Advanced social skills
Tingkat lanjutan dalam ketrampilan sosial meliputi ; meminta bantuan, ikur serta, memberi instruksi, mengikuti istruksi, meminta maaf, meyakinkan orang lain.

c. Skills for dealing with feelings
Ketrampilan yang berhubungan dengan perasaan meliputi; mengetahui perasaan diri sendiri, pernyataan perasaan, memahami perasaan orang lain, menghadapi orang yang sedang marah, pernyataan kasih sayang, menghadapi ketakutan, dan penghargaan kepada diri sendiri.

d. Skill alternative to aggression
Alternatif ketrampilan dalam menghadapi aggresi meliputi; meminta ijin, membantu orang lain, negosiasi, penggendalian diri, menjawab pertanyaan, berpihak pada kebenaran, menghindar dari gangguan orang lain, menghindari suatu perkelahian.

e. Skills for dealing with stress
Ketrampilan dalam mengatasi tekanan / stress meliputi; menyampaikan suatu keluhan, menjawab keluhan, melakukan olah raga setelah bermain game, berpihak kepada teman, menjawab kegagalan, menghadapi suatu kegagalan, menghadapi pesan yang berlawanan, menghadapi suatu tuduhan, siap menghadapi percakapan yang sulit, berhadapan dengan kelompok memaksa / penguasa.

f. Planning skills
Ketrampilan dalam perencanaan meliputi; mencari penyebab masalah, perencanaan tujuan, mengetahui kemampuan diri, mengumpulkan informasi, mendahulukan permasalahan yang penting, membuat suatu keputusan, konsentrasi pada tugas. Berdasarkan dari beberapa penjelasan ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek - aspek ketrampilan sosial dapat disusun dari beberapa pendekatan. Namun pada penelitian ini penulis akan menggunakan aspek - aspek ketrampilan sosial yang disusun berdasarkan pendekatan dari Cartledje dan Milburn (1995).

3. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Ketrampilan Sosial
Davis dan Forsythe ( 1984 ) berpendapat dalam kehidupan remaja terdapat delapan faktor yang dapat mempengaruhi ketrampilan sosial ;

a. Keluarga
Keluarga sebagai tempat paling utama bagi remaja dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh remaja dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan sosialnya. Di dalam keluarga terjadi sebuah hubungan sosialisasi timbal balik, membangun hubungan, memecahkan suatu masalah dan berargumen dengan anggota keluarga lainnya. Hubungan yang terjadi ini akan dijadikan sebagai contoh atau cetakan yang akan digunakan remaja dalam berhubungan dengan dunia barunya. Hubungan yang baik antara orangtua dan remaja akan membantu remaja dalam berinteraksi dan meningkatkan identitas serta ketrampilannya di lingkungan ( Hurlock, 1973).

b. Lingkungan
Sejak dini anak - anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik, lingkungan keluarga, lingkungan sosial. Dengan pengenalan lingkungan sejak dini anak akan mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang lebih luas.

c. Kepribadian
Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan kepribadian seseorang, Namun penampilan tidak selalu menggambarkan pribadi yang sebenarnya. Dalam hal ini peran orang tua baik ayah ataupun ibu sangat penting dalam memberikan nilai - nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tidak hanya berdasarkan pada hal - hal fisik seperti materi dan penampilan.

d. Rekreasi

Dengan adanya rekreasi dapat menumbuhkan semangat baru, karena remaja akan merasa mendapat kesegaran baik fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capai, bosan dan monoton..

e. Pergaulan dengan lawan jenis
Untuk dapat menjalankan peran menurut jenis kelaminya sebaiknya remaja tidak dibatasi pergaulannya hanya terbatas pada teman yang sesama jenis kelaminya, namun lebih luas pada teman lawan jenis. Hal ini akan memudahkan anak dalam mengidentifikasikan sex role behavior yang merupakan sangat penting dalam persiapan berkeluarga.

f. Pendidikan / sekolah
Sekolah merupakan instansi formal yang mengajarkan berbagi ketrampilan. Salah satunya adalah ketrampilan - ketrampilan sosial yang berkaitan dengan cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar yang sesuai dengan mata pelajarannya.

g. Persahabatan dan solidaritas kelompok
Pada masa remaja peran kelompok dan teman - teman sangat besar. Sering remaja lebih mementingkan urusan kelompok dibandingkan dengan urusan keluarga. Hal tersebut merupakan sesuatu yang normal selama kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang laian. Dalam hal ini orangtua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaualan yang luas bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.

h. Lapangan kerja
Setiap orang akan menghadapi dunia kerja. Ketrampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan ketika anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran disekolah mereka telah mengenal berbagai lapangan pekerjaan yang berda di dalam masyarakat. Dengan memahami lapangan pekerjaan dan ketrampilan - ketrampilan sosial yang dibutuhkan maka remaja akan dapat menyiapkan diri menuju dunia kerja. Cathryn L,dkk (1989 ) mengungkapkan ketrampilan sosial pada remaja dipengaruhi oleh ; a. Peran orang tua (ayah dan ibu) dalam keluarga. Peran ibu yang sangat besar terhadap perkembangan anaknya, dapat membentuk suatu ikatan emosional antara ibu dan anak. Ikatan emosional tersebut merupakan landasan bagi seorang anak untuk mengeksplorasi dunianya dalam membangun hubungan dengan orang lain. Hal ini juga tidak terlepas dari campur tangan ayah, keyakinan bahwa anak adalah urusan ibu sudah menjadi keyakinan yang bersifat universal. Ayah kurang mendapat tempat dalam pengasuhan anaknya,hal

ini akan menimbulkan kurang dekatnya sosok ayah pada anaknya sehingga dapat menghambat proses komunikasi dalam keluarga. Ayah sebagai salah satu orang tua diharapkan untuk terlibat dalam mendidik anaknya. Ayah adalah bagian dari sebuah keluarga yang mempunyai tanggung jawab akan masa depan anaknya. b. Komunikasi remaja dengan keluarga dan lingkungan sosialnya Adanya hubungan yang timbal balik dalam interaksi antara anggota keluarga dalam memecahkan konflik dan permasalahan yang muncul dalam keluarga. Remaja yang mempunyai keluarga yang demokrastis dalam pola komunikasinya akan memberikan manfaat dan bekal bagi pengembangan ketrampilan sosial remaja itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran keluarga terutama ayah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketrampilan sosial.

B. Persepsi Remaja awal Terhadap Peran Ayah Dalam Keluarga 1. Pengertian Persepsi
Persepsi ialah memberikan makna stimuli inderawi (sensory stimuli). Dalam hal ini sensasi adalah bagian dari persepsi. Selain itu informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensori, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori. Persepsi merupakan studi bagaimana seseorang mengintegasikan sensasi kedalam pandangan suatu objek, dan bagaimana seseorang kemudian menggunakan pandangan ini untuk mendapatkan sesuatu di dunia (Atkinson dkk, 1993). Walgito (1999) menjelaskan terjadinya persepsi yaitu: objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor,. Proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini dinamakan proses fisiologis. Kemudian terjadilah suatu proses di otak, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan reseptor itu, sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis. Dengan demikian taraf terakhir dari proses persepsi ialah individu menyadari tentang apa yang diterima melalui alat indera atau reseptor. Terjadinya respon yang dimunculkan oleh seseorang sebagai akibat adanya stimulus yang datang pada seseorang. Berdasarkan uraian di atas dapat diartikan persepsi merupakan respon seseorang terhadap stimulus-stimulus yang dapat berupa objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, yang nantinya dapat dipergunakan sebagai pandangan untuk mendapatkan sesuatu di lingkungannya.

2. Pengertian Peran Ayah Dalam Keluarga
Menurut Shanock peran ayah dapat diartikan sebagai masa menjadi orang tua

atau figur laki - laki yang mempunyai kewajiban dalam memenuhi kebutuhan anak yang selalu berubah dari waktu kewaktu sesuai perkembangannya (Andayani, 2003). Definisi Gabarino & Benn tentang peran ayah adalah suatu perilaku yang diberikan figur orang tua laki - laki yang pada dasarnya mempunyai kata - kata kunci yaitu kehangatan , sensitif, penuh penerimaan, bersifat timbal balik, ada pengertian dan respon yang tepat pada kebutuhan anak (Andayani, 2003). Pengertian peran ayah menurut McBride, dkk (2003) adalah interaksi antara orang tua laki laki dengan anak dalam beraktivitas setiap harinya. Dagun (1990) berpendapat bahwa peran ayah adalah suatu keterlibatan gaya laki - laki ayah dalam memberikan kesempatan pada kecerdasan emosional anak untuk berkembang,seorang ayah yang terlibat akan melakukan kontak - kontak fisik dengan anaknya baik dalam bentuk sentuhan, atau pun dalam permainan. Menurut Shehan (2003) peran ayah dalam suatu keluarga adalah mencurahkan perhatian dan pikirannya pada anak sehingga ada kegiatan perencanaan, pengambilan keputusan, dan mengorganisasi. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud peran ayah dalam keluarga adalah figur orang tua laki - laki yang melakukan tugas membimbing, memimpin, mengelola, mendidik, memelihara dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa.

3. Aspek - aspek peran ayah dalam keluarga
Menurut Galinsky ( Andayani, 2003 ) aspek - aspek peran ayah dalam keluarga adalah

1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa dipenting dan dicintai. 2. Merespon pada tanda - tanda isyarat non verbal anak 3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai moral 5.
Menggajarkan disiplin dalam keluarga

6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi 7. Terlibat dalam pendidikan 8.
Siap membantu dan mendukung anak

Menurut Mcdoo (Slameto, 2002) peran ayah disimpulkan sebagai pendidik ketrampilan menghadapi tantangan dimasyarakat. Ayah mempunyai peranan sebagai ;

1. 2. 3. 4. 5.

Provider ( penyedia dan pemberi fasilitas ) Protector ( pemberi perlindungan ) Decision Maker ( pembuat keputusan ) Child specialiser and educator ( pendidik ) Nurtured Mother ( pendamping ibu )

C. Hubungan Antara Persepsi Remaja Awal Terhadap Peran Ayah Dalam Keluarga Dengan Ketrampilan Sosial Remaja Sebagai makhluk sosial individu dituntut untuk mampu mengatasi semua permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Hal ini menuntut setiap individu untuk menguasai ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Ketrampilan sosial disebut juga sebagai aspek psikososial. Ketrampilan sosial adalah suatu kemampuan yang dimiliki individu meliputi kemampuan dalam memberikan pujian, mengeluh karena tidak setuju terhadap sesuatu hal, menolak permintaaan orang lain, tukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran kepada orang lain yang berlainan jenis kelamin, berhubungan dengan orang yang lebih tua dan lebih tinggi statusnya, dan kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain ( Michelson,dkk. 1985 ). Ketrampilan sosial menjadi semakin penting manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan pada masa remaja individu mulai memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dengan pengaruh dari teman - teman dan lingkungan sosialnya akan sangat menentukannya. Dengan berbekal ketrampilan sosial yang telah dimilikinya remaja akan mampu dalam berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Remaja merupakan sosok individu yang mulai memasuki dunia pergaulanya yang baru. Ditinjau dari perkembangan jiwanya remaja sedang dalam proses perkembangan mencapai kedewasaan. Pada masa remaja ini remaja banyak mengalami gejolak yang dapat menimbulkan kekalutan dan konflik. Konflik ini disebabkan oleh interakasi, pengaruh timbal balik antara pertumbuhan dan perkembangan remaja menuju kedewasaan, tanggapan serta penilaian masyarakat terhadap perkembangan remaja tersebut. Perkembangan ini dapat ditanggapi secara berbeda oleh orang tua pendidik, maupun masyarakat luas. Dalam hal ini peran keluarga dinilai lebih besar dalam perkembangan dan perilaku remaja. Menurut Simon ( 1985 ) pola tingkah laku sosial remaja dipengaruhi oleh keluarga. Peran dalam keluarga meliputi peran antara kedua orang tua ayah dan ibu dalam memberikan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan. Pandangan yang mengangap peran ibu lebih utama dan penting harus dihapuskan. Peran ibu memang sangat besar dalam perkembangan anaknya dari masa menyusui sampai ikatan emosionalnya, namun ayah sabagai orang tua juga memunyai andil yang sangat besar bantuan peran ayah sangat dibutuhkan dalam setiap perkembangan remaja. Menurut Freud dalam teori psikoanalisanya ayah digambarkan sebagai figur yang penuh dengan kekuasaan dan menakutkan. Sehinga dalam upaya menghindari hukuman dari ayah anak akan menggunakan nilai - nilai yang

dimiliki ayahnya. Anak akan berpikir nilai - nilai yang baik dan buruk serta salah dan benar dengan didasari rasa takut. Pada budaya jawa hubungan antara ayah dan anak adalah hubungan yang diwarnai kepatuhan. Dengan kepatuhan akan diajarkan nilai - nilai moralitas dan sosial ( Shehan, 2003 ). Pada abad 20 peran ayah pada anak sudah tidak begitu kaku, ayah sebagai sosok yang dapat dijadikan sebagai sahabat. Ayah melakukan pendekatan yang lebih demokratis dalam berhubungan dengan anaknya ( Gabarino & Benn, 1992 ). Gottman Dan DeClaire ( 1997 ) menekankan pentingnya ayah terlibat langsung pada anak karena gaya laki - laki ayah akan memberi kesempatan pada kecerdasan emosi anak untuk berkembang. Ketika seorang ayah memanfaatkan sisi emosionalitasnya ia akan terlibat hangat ketika berinteraksi dengan anaknya, secara tidak langsung ayah mengajarkan pada anak ketrampilan dalam bersosialisasi. Ayah yang terlibat dalam suatu hubungan akan mencurahkan perhatian dan pikirannya pada anak, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lamb ( 1976 ) ayah akan mencurahkan perhatian pada perkembangan anak sehingga ada kegiatan perencanaan, pengambilan keputusan, dan mengorganisasikan. Ayah akan mengajak anak untuk berpikir dan bertindak dalam memecahan suatu permasahan yang muncul. Dengan adanya peran ayah yang besar dalam perkembangan anak dapat memberikan modal dasar kepada anak ketika menuju masa remajanya menuju pergaulan yang lebih luas. Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan peran ayah terhadap ketrampilan sosial pada remaja. Hal ini tampak dari pentingnya pengaruh peran ayah terhadap perkembangan ketrampilan sosial remaja. D. Hipotesis Ada hubungan positif antara persepsi remaja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial pada remaja.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Variabel Penelitian
Variabel - variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel tergantung : Ketrampilan sosial pada remaja awal 2. Variabel bebas : Persepsi Remaja Awal tentang Peran ayah dalam Keluarga

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Ketrampilan sosial pada remaja
Ketrampilan sosial pada remaja adalah suatu proses pembelajaran, pemikiran, pemecahan masalah, interaksi, komunikasi, kemampuan dalam perilaku dan pikiran untuk menjadikan seseorang agar tumbuh dan berkembang menjadi bagian dari warga masyarakat yang memahami, menghayati, dan bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Variabel ini diukur menggunakan skala yang dibuat sendiri oleh penulis menggunakan indikator indikator dari Cartledje dan Milburn (1995) meliputi enam struktur tingkat ketrampilan sosial yaitu; beginning social skills, advanced social skills, skills for dealing with feelings, skill alternative to aggression, skills for dealing with stress, planning skills. Semakin tinggi skor yang diperoleh subyek, semakin tinggi ketrampilan sosialnya. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh semakin rendah ketrampilan sosialnya.

2. Peran ayah dalam keluarga
Peran ayah dalam keluarga adalah figur orang tua laki - laki yang melakukan tugas membimbing, memimpin, mengelola ,mendidik dan memelihara anak serta keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa dan melakukan kewajiban tanggung jawab dalam perkembangan anak. Ada

delapan aspek yang terkandung dalam peran ayah terhadap perkembangan anak. Aspek - aspek tersebut meliputi ketrampilan untuk membuat anak merasa dipenting dan dicintai, merespon pada tanda - tanda isyarat non verbal anak, menerima anak apa adanya tetapi juga mengharap keberhasilan, mengajarkan nilai - nilai moral, menggajarkan disiplin dalam keluarga, menyediakan hal hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih

terprediksi, terlibat dalam pendidikan, siap membantu dan mendukung anak. Variabel ini diukur menggunakan skala yang dibuat sendiri oleh penulis, semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin baik peran ayah dalan keluarga. Sebaliknya, semakin rendah skor ynag diperoleh semakin rendah peran ayah dalam keluarga.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah remaja Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dikota Sukorejo Kabupaten Kendal kelas 1 dan 2 dengan batasan usia antara 12 - 14 tahun, baik laki - laki maupun perempuan. Subyek penelitian tinggal dengan ayah, dikarenakan peneliti akan mengungkap hubungan peran ayah dalam keluarga jadi diharapkan subyek yang mengisi skala adalah remaja yang ada hubungan langsung dalam kesehariannya dengan sosok ayah.

D. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah kuesioner atau angket. Angket adalah laporan mengenai diri sendiri ( Walgito,1989 ) ,angket terdiri dari pernyataan pernyataan yang bertujuan mengungkapkan informasi dari subyek yang relevan dengan tujuan penelitian Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data berupa identitas diri dan skala. Pada lembar jawaban data yang diambil terdiri dari dua bagian

a. Data identitas dipakai untuk mengetahui data yang berkaitan dengan nama, jenis
kelamin, umur, kelas, subyek tinggal dengan ayah atau tidak.

b. Data yang berupa respon subyek penelitiaan terhadap skala yang ditujukan padanya.
Skala merupakan suatu daftar pernyataan yang mengungkap kecenderungan individu untuk berperilaku dan merespon suatu obyek sikap dan manifestasi dari perilaku individu yang dipakai mengungkap dua variable penelitian yaitu ketrampilan sosial dan peran ayah. Penyusunan masing - masing skala akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Skala Kemampuan Ketrampilan Sosial Pada Remaja
Angket ketrampilan sosial dirancang dengan menggunakan 70 aitem dalam 6 aspek . Angket yang disusun sendiri oleh penulis ini berdasarkan pada pendapat Cartledje dan Milburn (1995). Aspek tersebut digunakan untuk mengumpulkan data meliputi :

a. Beginning social skills
Dasar - dasar dalam ketrampilan sosial meliputi; mendengarkan, memulai percakapan, menikmati suatu percakapan, meminta ijin, mengucapkan terima kasih, memperkenalkan diri sendiri dan memperkenalkan orang lain.

b. Advanced social skills
Tingkat lanjutan dalam ketrampilan sosial meliputi ; meminta bantuan, ikur serta, memberi instruksi, mengikuti instruksi, meminta maaf, meyakinkan orang lain.

c. Skills for dealing with feelings
Ketrampilan yang berhubungan dengan perasaan meliputi; mengetahui perasaan diri sendiri, menyatakan perasaan, memahami perasaan orang lain, menghadapi orang yang sedang marah, menyatakan kasih sayang, menghadapi ketakutan, dan penghargaan kepada diri sendiri.

d. Skill alternative to aggression
Alternatif ketrampilan dalam menghadapi aggresi meliputi; meminta ijin, membantu orang lain, negosiasi, pengendalian diri, menjawab pertanyaan, berpihak pada kebenaran, menghindar dari gangguan orang lain, menghindari suatu perkelahian.

e. Skills for dealing with stress
Ketrampilan dalam mengatasi tekanan / stress meliputi; menyampaikan suatu keluhan, menjawab keluhan, melakukan olah raga setelah bermain game, berpihak kepada teman, menjawab kegagalan, menghadapi suatu kegagalan, menghadapi pesan yang berlawanan, menghadapi suatu tuduhan, siap menghadapi percakapan yang sulit, berhadapan dengan kelompok memaksa / penguasa.

f. Planning skills
Ketrampilan dalam perencanaan meliputi; mencari penyebab masalah, perencanaan tujuan, mengetahui kemampuan diri, mengumpulkan informasi, mendahulukan permasalahan yang penting, membuat suatu keputusan, konsentrasi pada tugas. Dalam skala ini ada dua kelompok pernyataan, yaitu pernyataan yang mencerminkan tingginya ketrampilan sosial (favourable) dan pernyataan yang mencerminkan rendahnya ketrampilan sosial(unfavourable). Ditinjau dari penyusunan aitem-aitem, angket ini berbentuk pilihan yang mengacu pada model skala Likert dan menggunakan empat kategori jawaban. Keempat kategori jawaban tersebut adalah SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Untuk pernyataan yang favorabel, jawaban SS memperoleh skor 4, S skor 3, TS skor 2, dan STS skor 1. Sedangkan untuk pernyataan yang tidak favorabel, jawaban SS memperoleh skor 1, S skor 2, TS skor 3, dan STS mendapatkan skor 4. Tabel.1 Distribusi butir ketrampilan sosial pada remaja sebelum uji coba

Aspek Favourable 1. Beginning social skills 1,2,3,5,6,9,10,11 2. Advanced social skills 13,14,16,17,20,21 3. Skills for dealing with feelings 24,25,26,27,28,32,33 4. Skills alternative to 34,35,37,38,40,42,43,44,45 Aggression 5. Skills for dealing with stress 6. Planning skills Total

Unfavourable Total 4,8,9,12 12 15,18,19,22,23 11 29,30,31 10 36,39,41,46,47 14

48,49,51,52,53, 56,57,58,59 50,54,55 60,61,62,64,65,66,68 63,67,69,70 44 21

12 11 70

2. Skala Peran Ayah dalam keluarga Angket remaja tentang peran ayah dalam keluarga dirancang dalam 50 aitem. Angket ini disusun oleh penulis berdasarkan Galinsky (Andayani, 2003 ) meliputi aspek ; 1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa dipenting dan dicintai. 2. Merespon pada tanda - tanda isyarat non verbal anak 3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai moral 5. Menggajarkan disiplin dalam keluarga 6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi 7. Terlibat dalam pendidikan 8. Siap membantu dan mendukung anak Ditinjau dari penyusunan aitem-aitem, angket ini berbentuk pilihan yang mengacu pada model skala Likert dan menggunakan empat kategori jawaban. Keempat ketegori jawaban tersebut adalah SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Untuk pernyataan yang favorabel, jawaban SS memperoleh skor 4, S skor 3, TS skor 2, dan STS skor 1.

Sedangkan untuk pernyataan yang tidak favorabel, jawaban SS memperoleh skor 1, S skor 2, TS skor 3, dan STS mendapatkan skor 4. Tabel. 2 Distribusi butir peran ayah dalam keluarga sebelun diuji cobakan Aspek 1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa dipenting dan dicintai 2. Merespon pada tanda - tanda isyarat non verbal anak 3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai moral 5. Menggajarkan displin dalam keluarga 6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi 7. Terlibat dalam pendidikan 8. Siap membantu dan mendukung anak Total Favourable Unfavourable Total 1,6,11 28,33,38 6 21,26,31 36,41,46 4,9,14,48 19,24,29 7 6 7 7 5 6 6 50

2,7,12,17 34,39,44 22,27,32,37 5,10,15 3,42,47 20,25 8,13,18 16,23,37 26 35,40,43 45,49,50 24

E. Validitas dan Reliabilitas Salah satu masalah dalam penelitian sosial, khususnya psikologi adalah cara memperoleh data yang akurat dan objektif. Hal ini sangat penting, karena kesimpulan penelitian hanya dapat dipercaya apabila didasarkan pada informasi yang dapat dipercaya (Azwar, 1997). Dengan memperhatikan kondisi ini, tampak bahwa alat pengumpul data memiliki peranan penting. Baik tidaknya suatu alat pengumpul data mengungkap kondisi yang diukur, tergantung pada validitas dan reliabilitasnya alat ukur yang akan digunakan. Validitas dan reliabilitas suatu alat ukur merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian ilmiah, sehingga sebelum alat ukur dipergunakan perlu diuji terlebih dahulu validitas dan reliabilitasnya (Azwar, 1997). 1. Uji Validitas

Validitas mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Alat tersebut dapat menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud yang dilakukannya (Azwar, 1997).

Dalam penelitian ini pengujian terhadap validitas skala menggunakan validitas logik (logical validity), yaitu validitas yang menunjukkan pada sejauhmana isi tes merupakan wakil dari ciriciri atribut yang hendak diukur sebagaimana telah ditetapkan dalam kawasan ukurannya (Azwar, 1997). Pemilihan terhadap aitem-aitem yang hendak diukur, dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung korelasi antara skor subjek pada aitem yang bersangkutan dengan total skor tes. Dasar kerja yang digunakan dalam seleksi ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurannya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur skala keseluruhan (Azwar, 1997). Pemilihan aitem dalam penelitian ini menggunakan parameter indeks beda aitem yang diperoleh dari korelasi antar skor masing-masing aitem dengan skor total aitem sehingga dapat ditentukan aitem yang layak dan yanga tidak layak dimasukkan dalam skala penelitian. 2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan terjemahan kata reliability yang berasal dari kata rely dan ability. Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 1997). Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa hasil pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek belum berubah (ajeg). Dalam hal ini relatif sama berarti dengan tahap adanya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali pengukuran, bila perbedaan itu sangat besar dari waktu ke waktu, maka hasil tersebut tidak dapat dipercaya dan dikatakan sebagai tidak reliabel (Azwar, 1997). Reliabilitas alat pengumpulan data yang ditunjukkan dengan koefisien reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan tenik Alpha

G. Metode Analisis
Metode analisis data yang digunakan untuk menguji taraf signifikansi perbedaan ketrampilan sosial dalam penelitian ini adalah dengan teknik korelasi product moment dari Pearson . Sebelum dilakukan uji hipotesis dilakukan uji asumsi . Apabila uji asumsi normalitas dan homogenitas terpenuhi maka uji hipotesis dapat dilakukan dengan uji statistik parametrik. Peehitungan uji asumsi dan uji hipotesis menggunakan bantuan komputer progaram SPSS 11.5 for windows.

BAB IV PELAKSANAAN, ANALIASIS DATA, HASIL PENELITIAN,

DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan

1. Orientasi Kancah a. SMP Negeri 1 Sukorejo Pengambilan data penelitian ini dilakukan di SMP Negeri I Sukorejo Kendal. SMP Negeri I berdiri pada tanggal 1 Agustus 1967 yang beralamatkan di Jalan Lapangan Sukorejo Kendal. Semboyan sekolah ini adalah “ Berusaha Menggapai Bintang “ dan visinya adalah “ Dadio jatining aji tumuju mring idola, kumudu ubah sasat pandangang ndaru” ( Jadikan diri kita pribadi yang terhormat agar menjadi kebanggaan setiap orang dan selalu berupaya menggapai wahyuning kehidupan yaitu mukhti, wibowo, dan mulia). Pada tahun ajaran 2007 / 2008 ini jumlah murid SMP Negeri I Sukorejo sebanyak 770 murid, yang terdiri dari tiga tingkat 284 murid kelas VII, 251 murid kelas VIII, 235 murid kelas IX dengan tenaga pengajar sebanyak 43 guru. SMP Negeri I Sukorejo mempunyai beberapa kegiatan ekstrakurikuler yaitu, Pramuka, PMR, band, olah raga, Paskibraka. Ekstrakurikuler yang ada diharapkan agar para siswa dapat meningkatkan ketrampilan yang terpendam dalam dirinya serta memanfaatkan waktu dengan hal - hal yang bermanfaat. SMP Negeri 1 Sukorejo memiliki suatu program kegiatan yang belum dimiliki oleh SMP lain yaitu TC ( Training Center ) suatu kegiatan ekstrakurikuler yang ditujukan kepada siswa yang mempunyai minat dan potensi dalam mata pelajaran.minat. Training Center adalah program penggabungan mata pelajaran matematika, biologi, fisika, astronomi, dan bahasa. Dengan program TC ini diharapkan siswa - siswa yang mempunyai potensi dalam mata pelajaran itu akan semakin terasah kemampuaannya. b. Kecamatan Sukorejo Kota sukorejo adalah salah satu kota kecamatan di Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Kota Sukorejo merupakan kota kecil paling ujung selatan dari Kabupaten Kendal yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung. Kota Sukorejo berada diwilayah dataran tinggi masuk dalam perbukitan gunung perahu. Sebagian besar penduduk kecamatan Sukorejo bermata pencaharian sebagai pedagang, , pegawai negeri, wiraswasta dan buruh. Kota Sukorejo yang belum berkembang memaksa mereka untuk bekerja diluar kota kecamatan.Tempat kerja mereka sebagian besar berada diluar wilayah kecamatan Sukorejo, meliputi Weleri, Kendal, Batang, Temanggung dengan jarak tempuh satu sampai dua jam perjalanan. Biasanya mereka melaju berangkat pagi hari dan pulang sore. Tabel 3 Data Mata Pencaharian Wali Murid SMPN 1 Sukorejo

Mata Pencaharian Pedagang Pegawai Negeri Wiraswasta Buruh Petani ABRI Purnawirawan Lain-lain Total Sumber data BP SMP Negeri 1 Sukorejo

Jumlah 172 168 151 114 55 15 3 92 770

2. Persiapan a. Perijinan Penenelitian
Pelaksanaan penelitian diambil dengan menggunakan ijin penelitian. Proses perijinan dimulai dari surat permohonan ijin penelitian yang ditujukan kepada Badan Perencanaan Daerah Yogyakarta dan Kepala Sekolah SMPN 1 Sukorejo dengan nomor surat 371/Dek/70/Akd/II/2007 oleh Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia tertanggal 4 Mei 2007 (surat ijin terlampir), kemudian Badan Perencanaan Daerah Yogyakarta mengeluarkan surat keterangan iijin penelitian tertanggal 5 Juni 2007 dengan nomor surat 070/3621 (surat ijin terlampir) yang kemudian dilanjutkan dengan permohonan ijin yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Tengah cq. Ka. Baskesbanglinmas Semarang. Baskesbanglinmas mengeluarkan surat rekomendasi yang ditujukan kepada Bupati Kendal UP. KA Kesbangdanlinmas dengan nomor 070/952/VII/2007 (surat ijin terlampir). Kesbangdanlinmas Kendal mengeluarkan surat pemberitahuan tentang pelaksanaan penelitian kepada Badan Perencanaan Daerah Kendal dengan nomor surat 070/589/VII/2007 (surat ijin terlampir). Badan Perencanaan Daerah Kendal mengeluarkan surat pemberitahuan pelaksanaan penelitian keda Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kendal dengan nomor surat 070/279R/Bpd. Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kendal mengeluarkan surat ijin penelitian dengan nomor surat 070/3259/PDK yang ditujukan kepada SMPN 1 Sukorejo. Yang kemudian digunakan peneliti untuk melakukan pre eliminer dan try out terpakai di SMPN 1 Sukorejo Kendal.

b. Persiapan Alat Ukur
Sebelum dilakukan penelitian yang sesungguhnya terlebuh dahulu dilakukan pre eleminer, dilakukan mulai tanggal 23 Juli 2007 sampai dengan 25 Juli 2007. Pre eliminer dilakukan dengan cara group discussion 5 subyek. Skala pre eliminer yang diberikan ada dua macam skala yaitu yaitu skala ketrampilan sosial yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan aspek Cartledje dan Milburn (1995) dan skala peran ayah yang dibuat sendiri juga oleh penulis berdasarkan aspek Galinsky ( Andayani, 2003 ). Dari 70 aitem skala ketrampilan sosial gugur satu aitem menjadi 69 aitem, sedangkan dari 50 aitem skala peran ayah gugur satu aitem menjadi 49 aitem. Adapun penyebaran aitem pernyataan dilakukan pre eliminer adalah sebagai berikut:

Tabel.4 Penyebaran Aitem Skala Ketrampilan Sosial Preeliminer No Aspek No. Aitem Favourabel 1, 2, 3, 5, 9, 10, 11 13, 14, 16, 17, 20, 21 24, 25, 26, 27, 28, 32, 33 34, 35, 37, 38, 40, 42, 43, 44, 45 48, 49, 51, (52) , 53, 56, 57, 58, 59 60, 61, 62, 64, 65, 66, 68 45 No. Aitem Unfavourabel 4, 6, 8, 9, 12 Jumlah Aitem 12

1. Beginning social skills

2. Advanced social skills 3. Skills for dealing with feelings 4. Skills alternative to Aggression 5. Skills for dealing with stress 6. Planning skills Total Aitem Keterangan:

15, 18, 19, 22, 23 29, 30, 31 36, 39, 41, 46, 47 50, 54, 55 63, 67, 69, 70 25

11 10 14 12 11 70

Nomor dalam kurung : nomor aitem yang kemudian dihilangkan Tabel. 5 Penyebaran Aitem Skala Peran Ayah Pre eliminer No Aspek No. Aitem No. Aitem Unfavourabel Favourabel 1 ,6, 11 28, 33, 38 Jumlah Aitem 7

1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa penting dan dicintai

2. Merespon tanda - tanda isyarat non verbal 21, 26, 31 anak

4, 9, 14, 48

6

3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai yang kuat ( moral ) 5. Menggajarkan displin dalam keluarga (konstruktif)

(36) , 41, 46 19, 24, 29

6

2 , 7, 12, 17 34, 39, 44 22, 27, 32, 5, 10, 15 37 20,25

7 7 5

6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang 3,42,47 bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi

7. Terlibat dalam pendidikan 8. Siap membantu dan mendukung anak Total aitem Keterangan:

8,13,18

35,40,43

6

16, 23, 37 30

45,49,50 20

6 50

Nomor dalam kurung : nomor aitem yang kemudian dihilangkan Selanjutnya diperlukan perubahan urutan nomor aitem - aitem pada skala, karena aitem yang gugur tidak diikut sertakan dalam skala yang akan digunakan dalam uji coba. Aitem -aitem yang sesuai diberi penomoran baru. Distribusi aitem - aitem yang akan digunakan dalam penelitian uji coba adalah sebagai berikut: Tabel.6 Penyebaran Aitem Skala Ukur Ketrampilan Sosial sebelum Uji Coba No Aspek No. Aitem No. Aitem Unfavourabel Jumlah Aitem 11 11 10 14 12

1. 2. 3. 4. 5.

Favourabel Beginning social skills 1, 25 , 34 , 43 , 49 , 57 , 61 26, 47 , 50 , 52 Advanced social skills 2 , 11 , 44 , 53 , 56 , 58 8 , 9 , 35 , 36 , 62 Skills for dealing with 3, 7 , 12 , 19 , 21 , 54 , 63 6 , 28 , 29, 45 feelings Skills alternative to 17 , 20 , 22 , 30, 31 , 36 , 10 , 13 , 18 , 55 , 69 Aggression 64 , 67 , 68 Skills for dealing with 5 , 29 , 32 , 40 , 41 , 60 , 14, 23 , 27 , 38 , 46

stress 6. Planning skills Total Aitem

65 15 , 16 , 33 , 37 , 39 , 42 , 24 , 48 , 59 , 66 51 43 26

11 69

Tabel. 7 Penyebaran Aitem Skala Ukur Peran Ayah sebelum Uji Coba No Aspek No. Aitem No. Aitem Unfavourabel Jumlah Aitem 6

Favourabel 1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa 1 , 14 , 32 27 , 45 , 48 penting dan dicintai 2. Merespon tanda - tanda isyarat non verbal 11 , 24 , 42 6 , 9 , 37 anak 3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai yang kuat ( moral ) 5. Menggajarkan displin dalam keluarga (konstruktif) 3 , 21 , 34 16 , 47

6 5

8 , 19 , 20 , 13 , 26 , 44 31 23 , 29 , 36 , 5 , 18 , 30 41 34 , 36

7 7 5

6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang 2 , 33 , 46 bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi

7. Terlibat dalam pendidikan 8. Siap membantu dan mendukung anak Total aitem

7 , 12 , 25 , 29 , 49 43 4 , 22 , 35 , 10 , 17 , 40 38 29 20

7

7 49

Uji Coba alat ukur ini dilakukan tanggal 13 Agustus 2007 di SMP N 1 Sukorejo. Skala dibagikan kepada 80 subyek uji coba. Skala yang diuji cobakan ada dua macam skala yaitu skala Ketrampilan Sosial dan skala Peran Ayah dalam Keluarga. Dari 80 skala yang sesuai dengan kriteria hanya 71 skala.

Analisis aitem dan reliabilitas alpha data menggunakan data hasil uji coba terhadap keseluruhan skala dilakukan menggunakan komputer dengan SPSS 11,5 for windows. Analisis aitem dillakukan dengan titik koefisien korelasi aitem total terkoreksi sebesar 0,25 ( Azwar, 1999). 4. Uji Validitas Dan reliabilitas Alat Ukur Berdasarkan hasil uji reliabilitas dan realibitas alat ukur skala ketrampilan sosial dan skala peran ayah, hasil analisis perhitungan adalah sebagai berikut

1. Hasil Uji Coba Skala Ketrampilan Sosial
Hasil analisis data dengan menggunakan koefisien korelasi aitem total 0,25 terdapat 46 aitem gugur dari 69 aitem yaitu aitem nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,11, 13, 14 , 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 33, 35, 36, 39, 40, 42, 43, 46, 48, 50, 51, 55, 56, 57, 58, 60, 61, 62, 63, 65, 67, 68, 69 dengan demikian skala ketrampilan sosial berjumlah 23 aitem dengan total bergerak dari rit = 0.2522 sampai dengan rit = 0,5666, kemudian aitem - aitem yang sahih dari skala ketrampilan sosial diuji reliabilitasnnya dengan menggunakan teknik reliabilitas Alpha Crobach pada SPSS 11,5 for windows dan diperoleh reliabilitas sebesar α = 0,829 Tabel. 8 Penyebaran Aitem Valid Skala Ukur Ketrampilan Sosial No Aspek No. Aitem Favourabel 34 , 49 44 , 53 No. Aitem Unfavourabel Jumlah Aitem 4 3 5 5 2 4 23

1. Beginning social skills 2. Advanced social skills

47 , 52 37 29, 45

3. Skills for dealing with feelings 12 , 21 , 54

4. Skills alternative to Aggression 17, 30 , 31 , 64 10 5. Skills for dealing with stress 6. Planning skills Total Aitem 41 15, 16 14 38 59 , 66 9

Selanjutnya diperlukan perubahan urutan nomor aitem - aitem pada skala, karena aitem yang gugur tidak diikut sertakan dalam skala yang akan digunakan dalam uji coba. Aitem -aitem yang

valid diberi penomoran baru. Distribusi aitem - aitem yang akan digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Tabel. 9 Penyebaran Aitem Valid Skala Ukur Ketrampilan Sosial yang akan digunakan Penelitian No Aspek No. Aitem Favourabel 10(34), 17(49) 14(44 ), 19(53) 2(12) , 6 (21) , 20(54 ) 5(17), 8(30) ,9( 31) , 22(64) 13(41) 3(15), 4(16) 14 No. Aitem Unfavourabel 16(47) , 18( 52) 11(37) 7(29), 15(45) 1(10) 12(38) 21(59) , 23(66) 9 Jumlah Aitem 4 3 4 5 2 4 23

1. Beginning social skills 2. Advanced social skills 3. Skills for dealing with feelings 4. Skills alternative to Aggression 5. Skills for dealing with stress 6. Planning skills Total Aitem

Nomor dalam kurung : nomor lama ( saat uji coba )

2. Hasil Uji Coba Skala Peran Ayah Dalam Keluarga
Berdasarkan analisis data diketahui bahwa dari 49 aitem yang diuji cobakan dengan menggunakan koefisien aitem total 0,25 terdapat 13 aitem gugur, yaitu 3, 12, 13, 16, 17, 18, 19, 26, 29, 39, 42, 47, 48 dengan demikian skala Persepsi Terhadap Peran Ayah dalam Keluarga berjumlah 36 aitem dengan aitem totalnya bergerak dari rit = 0,2560 sampai dengan rit = 0,6843. kemudian aitem - aitem yang sahih dari skala Persepsi Remaja awal Terhadap Peran Ayah dalam Keluarga diuji reliabilitasnya menggunakan teknik reliabilitas Alpha Cronbach pada SPSS 11,5 for windows dan diperoleh koefisien korelasi sebesar α = 0,9221 Tabel 10 Penyebaran Aitem Valid Skala Ukur Peran Ayah No Aspek No. Aitem Favourabel No. Aitem Unfavourabel Jumlah Aitem

1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa penting dan dicintai

1 , 14 , 32

27 , 45

5

2. Merespon tanda - tanda isyarat non verbal 11 , 24 anak 3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai yang kuat ( moral ) 5. Menggajarkan displin dalam keluarga (konstruktif) 21 , 34

6 , 9 , 37

5 2

8 , 20 , 31

44

4 5 5

23 , 36 , 41 5 , 30 34 , 36

6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang 2 , 33 , 46 bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi 7. Terlibat dalam pendidikan 8. Siap membantu dan mendukung anak Total aitem 7 , 25 , 43

49

4

4 , 22 , 35 , 10 , 40 38 23 13

6 36

Selanjutnya diperlukan perubahan urutan nomor aitem - aitem pada skala, karena aitem yang gugur tidak diikut sertakan dalam skala yang akan digunakan dalam uji coba. Aitem -aitem yang valid diberi penomoran baru. Distribusi aitem - aitem yang akan digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 11 Penyebaran Aitem Valid Skala Ukur Peran Ayah yang akan digunakan Penelitian No Aspek No. Aitem Favourabel 1(1 ), 11(14) , 23(32) No. Aitem Unfavourabel 19(27) , 34(45) Jumlah Aitem 5

1. Ketrampilan untuk membuat anak merasa penting dan dicintai

2. Merespon tanda - tanda isyarat non verbal anak

10(11) , 17(24)

7(6) , 10(9) , 28(37)

5 3

3. Menerima anak apa adanya, tetapi juga 14(21) , 25(34) mengharap keberhasilan 4. Mengajarkan nilai - nilai yang kuat ( moral ) 5. Menggajarkan displin dalam keluarga (konstruktif) 6. Menyediakan hal - hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi 7. Terlibat dalam pendidikan 8. Siap membantu dan mendukung anak Total aitem 7(8) , 13(20) , 22(31) 33(44)

4 5 5

16(23) , 27(36) , 6(5) , 21(30) 31(41) 2(2) , 24(33) , 35(46) 6(7) , 18(25) , 32(43) 3(4) , 15(22) , 26(35) , 29(38) 23 25(34) , 26(36)

36(49)

4

9(10) , 30(40) 13

6 36

Nomor dalam kurung : nomor lama ( saat uji coba )

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian
Penelitian skala ketrampilan sosial dan skala peran ayah dilaksanakan pada tanggal 3 September 2007. Skala ketrampilan sosial dan peran ayah ini kemudian diisi oleh 37 murid kelas IXA dan 40 murid kelas IXB SMP Negeri 1 Sukorejo. Prosedur pelaksanaan penelitian ini yaitu dengan cara menyebarkan kuisioner skala ketrampilan sosial serta skala peran ayah dengan instruksi peneliti dan dilaksanakan pada jam pelajaran yang telah diserahkan oleh guru mata pelajaran kepada peneliti untuk digunakan melakukan penelitian. Responden dalam penelitian ini sebagian besar menunjukkan sikap yang antusias serta bersemangat dalam mengisi skala. Ada beberapa subyek yang mengatakan sangat antusias sekali dalam penelitian ini karena menurut mereka penelitian ini merupakan hal baru bagi mereka dan dapat menambah pengalaman bagi responden karena baru pertama kali menjadi subyek penelitian. Dari 77 skala yang dibagikan setelah diperiksa hanya 69 skala yang memenuhi persyaratan dalam analisis data.

C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian ini adalah remaja yang berusia antara dua belas sampai lima belas tahun, baik laki - laki ataupun perempuan,dan duduk dibangku SMP Negeri 1 Sukorejo. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 77 murid, siswa laki - laki dan siswi perempuan. Secara rinci subyek dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, hal ini dapat dilihat pada table berikut: Tabel. 12 Kategorisasi Subyek Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan Total Jumlah 32 murid 37 murid 69 murid Prosentasi 46,38 % 53,62 % 100%

2. Deskripsi Data Penelitian
Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dihitung dan dicari mean empirik dan mean hipotetik dengan tujuan mengetahui gambaran ketrampilan sosial dan peran ayah pada subyek penelitian secara umum. Dengan menggunakan rumus statistik di bawah ini maka dapat diketahui mean empirik dan mean hipotetik untuk setiap variable penelitian bias dilihat pada tabel berikut: Tabel. 13 Deskripsi Data Penelitian Variabel Empirik Xmax Xmin Mean SD 92 144 23 36 57,5 90 Hipotetik Xmax Xmin Mean 50.00 63.594 77.00 106.565 5.065 14.207

SD

Ketrampilan Sosial Peran Ayah

11,5 78.00 18 181.00

Mean

= X min + X max 2

SD

= X max - Xmin 6

Kriteria kategorisasi ditetapkan oleh peneliti untuk mengetahui informasi tentang keadaan kelompok subyek pada variable yang diteliti. Cara ini dilakukan berdasarkan suatu asumsi bahwa skor subyek dalam kelompoknya merupakan estimasi terhadap skor subyek dalam populasinnya dan skor tersebut terdistribusi secara normal (Azwar, 1999). Dalam panelitian ini peneliti menggolongkan subyek dalam lima kategori diagnostik yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah dengan kriteria kategorisasi sebagai berikut: Tabel. 14 Rumus Norma Kategorisasi Kategorisasi Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Skor x > (µ + 1,8α) (µ + 0,6α) < x ≤ (µ + 1,8α) (µ - 0,6α) < x ≤ (µ + 0,6α) (µ - 1,8α) < x ≤ (µ - 0,6α) x < (µ - 1,8α)

Ket : µ : Mean Hipotetik α : Standar Deviasi Berdasarkan kategori diatas kemudian dilakukan perhitunngan dan diperoleha hasil untuk masing - masing variabel penelitian .

a. Variabel Ketrampilan Sosial
Skala ketrampilan sosial terdiri dari 23 aitem dimana setiap aitem memiliki skor minimum 1 dan maksimum 4 . Rentang skor minimum dan maksimum skala tersebut adalah 23 x I sampai dengan 23 x 4, yaitu 33 - 92. Standar deviasinya adalah 11,5. meannya adalah 57,5. Sedangkan rerata empirisnya sebesar ME = 63.594 dan deviasi standarnya senilai SD = 5.065 Kategorisasi untuk ketrampilan sosial secara lebih jelas disajikan pada tabel 15 berikut ini :

Tabel. 15 Kriteria Kategorisasi Skala Ketrampilan Sosial

Kategorisasi Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Samgat Rendah

Skor x > 72,7 66,6 < x ≤ 72,7 60,5 < x ≤ 66,6 54,5 < x ≤ 60,5 x < 54,5

Jumlah 4 11 38 13 3 69

Prosentase 5,797 % 15,942 % 55,073 % 18,840 % 4,348 % 100%

Berdasarkan dari hasil kategori diatas, dapat dilihat terdapat subyek dengan ketrampilan sosial sangat rendah (4,348 %), ketrampilan sosial rendah (18,840%), ketrampilan social sedang (5,797%), ketrampilan sosial tinggi (15,942 %), dan ketrampilan sosial sangat tinggi (5,797 %). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa ketrampilan sosial subyek berada pada kategori sedang, karena jumlah subyek yang berada pada rentang skor 60,5 - 66,6 lebih banyak jumlahnya.

b. Variabel Persepsi Remaja terhadap Peran Ayah
Skala Persepsi Remaja terhadap Peran Ayah dalam Keluarga terdiri dari 36 aitem dimana setiap aitem memiliki skor minimum 1 dan maksimum 4. Dengan demikian rentang skor minimum dan maksimumnya adalah 36 x I sampai dengan 36 x 4, yaitu 36 - 144. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh satuan deviasi standar senilai SD = 18 dan rerata hipotetiknya adalah ME = 90 , sedangkan rerata empirisnya sebesar MH = 106.565 dan deviasi standarnya senilai SD = 14.207 Kategorisasi untuk ketrampilan sosial secara lebih jelas disajikan pada tabel 16 berikut ini : Tabel. 16 Kriteria Kategorisasi Skala Peran Ayah Kategorisasi Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Samgat Rendah Skor x > 132 115 < x ≤ 132 98 < x ≤ 115 90 < x ≤ 98 x < 90 Jumlah 0 16 35 12 6 69 Prosentase 0% 23,188 % 50,725 % 17, 392 % 8,695 % 100%

Berdasarkan dari hasil kategori diatas, dapat dilihat terdapat subyek dengan ketrampilan sosial sangat rendah (8,695 %), ketrampilan sosial rendah (17,392%), ketrampilan social sedang (50,725%), ketrampilan sosial tinggi (23,188 %), dan ketrampilan sosial sangat tinggi (0 %). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa subyek dalam penelitian ini berada pada kategori sedang, karena jumlah subyek yang berada pada rentang skor 98 - 115 lebih banyak jumlahnya yaitu 35 subyek.

3. Uji Asumsi
Sebelum dilakukan analisis data penelitian dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson, maka terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis, yaitu uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan linerialitas merupakan syarat sebelum dilakukan pengetesan nilai korelasi dengan maksud supaya kesimpulan yang ditarik tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya. Uji asumsi dilakukan dengan menggunakan program computer Statistical Pakkage For Social Science ( SPSS ) for Windows 11,5.

a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan menggunakan teknik One Sample Kolmogorov - Smirnov. Dari uji normalitas dapat diketahui bahwa skor subyek pada kedua alat ukur memiliki sebaran normal. Variabel ketrampilan sosial pada remaja menunjukkann K-SZ = 0,831; p = 0,495 ( p> 0,05) dan variabel peran ayah dalam keluarga menunjukkan K-SZ = 0.742 ; p = 0.641 (p > 0,05 ). Hasil uji normalitas tersebut menunjukkan bahwa data ketrampilan sosial pada remaja dan peran ayah dalam keluarga tersebar dengan normal.

b. Uji Linearitas
Uji linearitas hubungan variabel persepsi remaja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial diketahui F linearity = 3.468 dan p = 0.072 ( p > 0,05 ). Hasil uji linearitas tersebut menunjukkan bahwa antara variabel persepsi remaja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial bersifat tidak linear.

4. Uji Hipotesis
Dikarenakan data tidak linear maka untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi remaja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial, maka dilakukan uji hipotesis hasil analisis data menggunakan korelasi Spearman dengan bantuan SPSS 11,5 for Windows, dapat diketahui r = 0,301 ( p = 0,006 ,p < 0,01 ) sehingga ada hubungan positif yang signifikan antara variabel persepsi persepsi remaja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan peneliti diterima. Angka korelasi yang positif menunjukkan bahwa memang terdapat hubungan yang antar dua variabel. Semakin tinggi peran ayah dalam keluarga maka ketrampilan sosial pada remaja awal akan tinggi pula., sebaliknya semakin rendah peran ayah dalam keluarga maka ketrampilan sosial pada remaja awal semakin rendah pula.

Hasil analisis juga menunjukkan koefisien determininasi (R Squared) variabel peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial pada remaja awal sebesar 0,047. dengan demikian sumbangan efektif peran ayah dalam keluarga terhadap ketrampilan sosial pada remaja awal sebesar 4,7 % sedangkan 95,3 % sumbangan lainnya dipengaruhi variabel lain.

5. Analisis Data Tambahan
Analisis data tambahan dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan social dengan data - data lain yang diduga mempengaruhi hasil penelitian ini. Analisis data tambahan yang dilakukan berdasarkan data - data yang diperoleh tersebut antara lain

a.

Perbedaan ketrampilan sosial pada remaja laki - laki dan perempuan

Peneliti ingin melihat apakah terdapat perbedaan tingkat ketrampilan sosial berdasarkann jenis kelamin murid, dimana pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik Independent Sample T-test. Hasil pengolahan menunjukkan F-test 0,323 dengan p = 0,572 ( p > 0,05 ) sehingga dapat dikatakan varians populasi ketrampilan sosial laki - laki dan perempuan adalah sama. Setelah mengetahui bahwa variabel ketrampilan sosial memiliki varians yang sama, maka analisis t-test selanjutnya menggunakan asumsi varians sama ( equal variances assumsed ). Selanjutnya diperoleh nilai t = -0,426 dengan p = 0,672 ( p > 0,05 ) yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan ketrampilan sosial antara laki - laki dan perempuan. b. Perbedaan ketrampilan sosial berdasarkan usia remaja Peneliti ingin melihat apakah terdapat perbedaan tingkat ketrampilan sosial berdasarkann jenis umur murid, dimana pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik One Way Anova. Hasi penggolahan menunjukkan levene test F =0,144 dengan p = 0,866 ( p > 0,05) sehingga dapat dikatakan varians populasi ketrampilan sosial berdasarkan umur siswa adalah sama. Setelah mengetahui bahwa variabel ketrampilan sosial memiliki varians yang sama, maka analisis selanjutnya menggunkan Anova. Selanjutnya diperoleh F = 1,102 dengan p = 0,338 ( p > 0,05 ) yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan ketrampilan sosial berdasarkan umur murid.

D. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis tentang adanya hubungan positif antara persepsi remja awal terhadap peran ayah dalam keluarga dengan ketrampilan sosial. Setelah melalui beberapa proses pengolahan data diperoleh hasil yang mendukung hipotesis tersebut. Hal ini semakin tinggi peran ayah dalam keluarga maka semakin tinggi ketrampilan sosial pada remaja awal. Sebaliknya semakin rendah peran ayah dalam keluarga maka tingkat ketrampilan sosial rendah pula. Hubungan antara variabel ketrampilan sosial dengann variabel - variabel lain seperti jenis kelamin dan umur dapat dilihat melalui data analisis tambahan dalam penelitian ini. Dari hasil wawancara singkat peneliti dengan beberapa subyek, peneliti menemukan bahwa faktor yang banyak berperan dalam ketrampilan sosial adalah facktor internal dalam diri

seseorang karena ketrampilan sosial merupakan evaluasi subjektif individu terhadap lingkungan sosialnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitiann bahwa peran ayah hanya memberikan sumbangsi efektif terhadap ketrampilan sosial sebesar 4,7 %. Peran ayah hanya memberikan pengaruh kecil, ketrampilan sosial pada remaja banyak dipengaruhi dari faktor lingkungan sosial internalnya. Remaja banyak merasakan pengaruh terbesar dari teman - teman sebaya dalam kehidupan sehari - hari, mulai berbicara, berpakaian, sampai tingkah laku. Mereka tidak hanya mengikuti apa yang diajarkan dan diarahkan oleh orang tua ( ayah dan Ibu ) dirumah, tetapi juga memperhatikan dan mengikuti apa yang dilakukan oleh teman - teman sebayanya ( Utamadi, 2001 ). Hal ini juga dapat dilihat bahwa kedua variabel tidak linear, dapat disimpulkan bahwa kenaikan peran ayah dalam keluarga akan diikuti kenaikan ketrampilan sosial pada remaja namun pada tingkatan tertentu kenaikan peran ayah tidak diikuti ketrampilan sosial. Ketrampilan sosial membawa remaja untuk lebih berani berbicara mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus menemukan penyelesaian, sehingga mereka tidak mencari pelarian ke hal - hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Remaja akan memiliki tanggung jawab yang cukup tinggi dalam melakukan sesuatu, mengetahui situasi dengan siapa dan kondisi bagaimana mereka berbicara maupun menolak serta menyatakan ketidak senangannya terhadap pengaruh - pengaruh negatif dari lingkungan secara langsung maupun tidak langsung. Remaja dapat menyesuaikan dengan standar harapan masyarakat dalam norma - norma yang berlaku dilingkungannya. Kategorisasi ketrampilan sosial yang sedang ini menunjukkan bahwa subyek memiliki ketrampilan sosial yang sesuai dengan apa yang diminta dari norma - norma lingkungannya. Subyek dapat melakukan tindakan - tindakan yang sesuai dalam berinteraksi dan bertindak di lingkungan sosialnya. Individu yang mampu mengembangkan ketrampilan sosialnya dapat mengatasi berbagai persoalan didalam pergaulan, mereka tidak mengalami kesulitan untuk membina hubungan dengan orang lain, terlibat dalam pembicaraan yang menyenagkan, dan dapat mengakhiri pembicaraan tanpa mengecewakan atau menyakiti orang lain. Keluarga sebagai suatu lembaga akan menjadi model yang akan ditiru oleh anak-anak mereka. Seorang ayah sebagai pemegang kendali dalam kehidupan sebuah keluarga, keberadaannya akan mendapat penilaian anak-anaknya terutama tentang persepsi anak-anak terhadap ayah mereka. Idealnnya seorang ayah memiliki kemampuan dalam perkembangan anaknya meliputi empat elemen yaitu; elemen fisik, elemen sosial , elemen spritual, dan elemen intelektual. Ayah diharapkakan mampu mengatasi krisis yang muncul pada masa transisi. Sedangkan anak memiliki persepsi tentang peran ayah dalam keluarga, ayah dianggap sebagai orangtua yang mampu memahami, menyayangi, peduli apa yang dikerjakan anak, memberi dukungan dalam pengembangan potensi, mempunyai kedekatan emosional, dapat menjadi tempat berbagi, peduli dengan pendidikan baik secara ilmu dan religi ( Andayani, 2003 ). Kejelian ayah dalam memahami anak akan memberikan dampak yang positif anak akan merasa aman dan mempercayai lingkungan. Apa yang dibutuhkan reamaja awal yang sedang berkembang adalah self-esteem suatu penghargaan yang positif terhadap dirinya, perasaan positif ini merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan seorang remaja dalam mengembangkan ketrampilan sosialnnya ( Garbarino & Benn dalan Andayani, 2003 )

Dari uraian diatas dapat dipahami, walaupun peran ayah bukan menjadi pengaruh yang besar dalam ketrampilan sosial bukan berarti peran ayah tidak berhubungan dengan ketrampilan sosial remaja,, apabila peran ayah dalam keluarga keterlibatannya besar maka remaja mampu mencontoh perilaku dari peran ayah guna peningkatan ketrampilan sosial dirinnya. Selain pengujian terhadap hipotesis, peneliti juga mencoba melakukan analaisis tambahan mengenai isu gender yang dikaitkan dengan ketrampilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada ditemukan perbedaaan ketrampilamn sosial yang berarti antara laki - laki dan perempuan Selanjutnya peneliti mencoba membahas lebih lanjut tentang ketrampilan sosial berdasarkan umur, ternyata juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan ketrampilan sosial. Banyak sekali hal - hal yang bias digali dari penilaian tingkat ketrampilan sosial. Permasalahan seperti latar belakang keluarga, tingkat sosial ekonomi, komunitas lingkungan pergaulan diasumsikan juga dapat mempengaruhi ketrampilan sosial. Penelitian ini tidak membahas variabel - variabel tersebut, disarankan peneliti - peneliti selanjutnya dapat mengangkat topik tersebut atau bahkan mencari topik - topik lain untuk memperkaya referensi tentang ketrampilan sosiaL

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa peran ayah dalam keluarga memberikan hubungan positif yang signifikan dengan ketrampilan sosial pada remaja. Adanya hubungan antara kedua variabel, ditunjukkan oleh koefisien korelasi r sebesar r = 0,301 dengan p = 0,006 atau p < 0,05 . Hal ini berarti semakin tinggi persepsi remaja awal terhadap peran ayah maka akan semakin tinggi ketrampilan sosial, begitu juga sebaliknya semakin negatif peran ayah dalam keluarga maka semakin rendah ketrampilan social pada remaja.

B. SARAN
Dalam penelitian ini tentunya masih ada beberapa kekurangan sehingga peneliti merasa perlu adanya saran - saran yang membangun yang ditujukan pada beberapa pihak supaya manfaat yang diperoleh lebih komprehensif dan aplikatif. Saran - saran tersebut ditujiukan kepada :

1. Bagi subyek
Berdasarkan data penelitian diatas terlihat bahwa subyek memiliki persepsi yang positif terhadap peran ayah dalam keluarga sehingga berhubungan posif dengan ketrampilan sosial pada pada dirinya. Keadaan ini harus terus dipertahankan dan kalau bisa dapat ditingkatkan lagi

dengan berusaha meningkatkan persepsi terhadap peran ayah dalam keluarga dengan cara persepsi tentang peran ayah dalam keluarga, ayah dianggap sebagai orangtua yang mampu merespon tanda - tanda isyarat non verbal anak ,menerima anak apa adanya, tetapi juga mengharap keberhasilan ,mengajarkan nilai - nilai yang kuat ( moral ),menggunakan disiplin dalam keluarga ( konstruktif ),menyediakan hal - hal yang rutin dan yang bersifat ritual agar hidup lebih terprediksi, terlibat dalam pendidikan, siap membantu dan mendukung anak . Ketrampilan sosial yang telah dimiliki oleh sebagian besar subyek peneliti sebaiknya tetap dilakukan baik di lingkungan keluarga , sekolah, maupun lingkungan yang luas. Ketrampilan nsosial juga dapat ditingkatkan dengan hal - hal yang sederhana seperti mengawali kontak dengan orang lain, melibatkan diri dalam percakapn, mengungkapkan rasa terima kasih, mudah bekerjasama dan berperan aktif dalam kelompok dan kegiatan lainnya. Hal ini penting dilakukan agar dapat diterima baik dilingkungan masyarakat.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti lain yang tertarik mengkaji tema peran ayah dan ketrampilan sosial diharapkan mempertimbangkan faktor - faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian misalnya : tingkat pendidikan ayah dan jenis pekerjaan ayah Penelitian dengan metode kualitatif dan menggunakan metode analisis yang mendetail sebaiknya juga dilakukan jika ingin menggunakan variabel yang sama. Selain itu, teori yang up to date dan subyek penelitian yang lebih banyak dapat membuat generalisasi yang lebih sempurna.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->