PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEDAGANG KAKI LIMA DI INDONESIA

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu kewarganegaraan Dosen Pengampu : Wijiyanto S.Pd

Disusun oleh : Nurul Candra Listyani PPKN / K6409042

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2010

Dimana di dalamnya penulis mencoba menyampaikan pandangan penulis meskipun disadari masih jauh dari kesempurnaan.KATA PENGANTAR Assalamu`alaikum Wr. tidak sedikit hambatan yang penyusun hadapi. Dalam penyusunan makalah ini. Dengan Mengucap Syukur Alhamdulillah Berkat Rahmat Allah SWT. serta terima kasih pula rekan-rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Angkatan 2009 Universitas Sebelas Maret Surakarta yang turut memberikan informasinya. Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Wijiyanto S. sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan agar dapat berbuat lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Surakarta.Wb. Penyusun sangat menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan dapat memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kewarganegaraan dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Pedagang Kaki Lima di Indonesia”. 16 Mei 2010 Penyusun . namun dengan semangat dan dibantu semua pihak akhirnya penyusunan makalah ini terselesaikan.Pd selaku Dosen mata kuliah kewarganegaraan yang telah membantu mengarahkan dan memberi batasan penyusunan materi makalah.

................................................ a............................................................................................................................................................1 b.........4 d...................................................................................................................4 c...........................4 BAB II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN................................12 a.........................................5 b.........................6 BAB III PENUTUP...............................................................................................................................................................12 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................................................................................................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..........................................................................................................................................................................................III BAB I PENDAHULUAN................12 b..........................................................II DAFTAR ISI.... Tujuan Penulisan.......... Pembahasan................................................. LatarBelakang masaah.............................................................................................................................................................................. Saran........................................................................13 ............... Manfaat Penulisan.............................................................................................. a................................................ Rumusan Masalah...........................................................I KATA PENGANTAR ............... Kesimpulan... kajian Teori........................................................................

Ketentuan ini diatur dalam peraturan perundang-undangan yang tertinggi yaitu UUD 45.BAB I PENDAHULUAN A.” Pasal 31 UUD 45 : 1) Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. LATAR BELAKANG MASALAH Di kota-kota besar keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan suatu fenomena kegiatan perekonomian rakyat kecil. Para PKL digusur oleh aparat pemerintah seolah-olah mereka tidak memiliki hak asasi manusia dalam bidang ekonomi sosial dan budaya (EKOSOB). 2) Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. yang diatur dengan undang-undang. 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari . Diantaranya adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. yang mana mereka berdagang hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seharihari. Saya melihat PKL ini merupakan fenomena kegiatan perkonomian rakyat kecil. 3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. bidang perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan. Pemerintah dalam hal ini sebenarnya memiliki tanggung jawab didalam melaksanakan pembangunan bidang pendidikan. Akhir-akhir ini fenomena penggusuran terhadap para PKL marak terjadi. Pedagang Kaki Lima ini timbul dari adanya suatu kondisi pembangunan perekonomian dan pendidikan yang tidak merata diseluruh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia ) ini. PKL ini juga timbul dari akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi.

Kemiskinan ini diakibatkan oleh tidak adanya pemerataan kemajuan . tanggung jawab. Dengan adanya pengaturan mengenai tanggung jawab pemerintah dalam UUD 45. Akan tetapi ternyata ketentuan-ketentuan diatas hanya berkutat pada kertas saja. Segala hal yang berkaitan dengan kewenangan. Ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai tanggung jawab pemerintah dalam bidang pendidikan. 4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. 2) Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. kemandirian. Pasal 33 UUD 45 : 1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Pasal 34 UUD 45 : 1) Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara. berwawasan lingkungan. efisiensi berkeadilan. berkelanjutan. 2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan belum pernah terealisasi secara sempurna. Hal ini dapat dibuktikan dengan besarnya jumlah rakyat miskin di Indonesia . 5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. hal ini menunjukkan bahwa Negara kita adalah Negara hukum.anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. 3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. kewajiban. dan hak serta sanksi semuanya diatur oleh hukum. 3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Perda ini hanya mengatur tentang pelarangan untuk berdagang bagi PKL di daerah-daerah yang sudak ditentukan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok seharihari dan untuk membiayai keluarganya ia harus berdagang di kaki lima . dan mudah untuk di kerjakan.perekonomian.Jumlah ini masih yang terdata. Permasalahan ini timbul diakibatkan oleh adanya watak atau mental para birokrat kita yang korup. mereka tidak memiliki kemampuan pendidikan yang memadai. Mereka berdagang hanya karena tidak ada pilihan lain. jika setiap keluarga terdiri dari 3 orang. karena disetiap kota pasti ada pedagang kaki limanya. . bagaimana dengan orang-orang miskin yang tidak terdata. Sudah banyak sekali dana baik itu dari RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). dan tidak memiliki tingkat pendapatan ekonomi yang baik dan tidak adanyanya lapangan pekerjaan yang tersedia buat mereka. Pengaturan mengenai Pedagang Kaki Lima ini hanya terdapat dalam peraturan daerah (perda). RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daearah) atau bantuan dari Negara-negara maju didalam menuntaskan masalah kemiskinan. itu berarti terdapat sekitar 54 juta jiwa penduduk Indonesia termasuk kategori miskin (sumber Badan Pusat Statistik). mungkin jumlahnya akan semakin besar. Jadi sangat wajar sekali fenomena Pedagang Kaki Lima ini merupakan imbas dari semakin banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia . Padahal pemerintah telah diberi tangung jawab oleh UUD 45. yaitu modalnya tidak besar. Dana-dana tersebut banyak yang tidak jelas penggunaannya. Namun mengenai hak-hak PKL ini tidak diatur didalam perda tersebut. tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Mengapa rakyat miskin ini sangat besar jumlahnya ?. Data terakhir dari jumlah rakyat miskin di Indonesia adalah 18 juta keluarga. banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang penggunaannya hanya untuk memperkaya para pihak birokrat saja. Padahal fenomena pedagang kaki lima sudah merupakan permasalahan yang pelik dan juga sudah merupakan permasalahan nasional. peningkatan kualitas pendidikan dan penyediaan lapangan pekerjaan oleh pemerintah. Mengapa pilihannya adalah pedagang kaki lima ? Karena pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan mereka. Di NKRI ini belum ada undang-undang yang khusus mengatur Pedagang Kaki lima .

Paling tidak Mahasiswa dapat memecahkan masalah kecil yang berhubungan dengan Pedagang Kaki Lima. . 3. 2. Untuk mengetahui perlindungan hukum bagi pedagang kaki lima. Bagaimana perlindungan hukum bagi kaki lima ? 2. Apa saja hak-hak PKL ketika dilakukan pembongkaran ? 3. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1.B. Untuk mengetahui hak-hak PKL ketika dilakukan pembongkaran . khususnya bagi Pedagng kaki Lima. PERUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah yang penulis gunakan selama penyusunan makalah ini adalah sebagi berikut: 1. D. Diharapkan pula makalah ini menjadi acuan belajar dala mempelajari penerapan beberapa pasal bermasalah mengenai Pedagang kaki Lima yang mencederai penegakan hukum. Apa saja Pasal-pasal mengenai PKL yang bermasalah ? C.MANFAAT PENULISAN Mahasiswa dapat lebih kritis terhadap masalah dan peraturan perundang-undangan ataupun PERDA mengenai Pedagang Kaki Lima yang mana sekarang menjadi topik hangat dan dilemma luar biasa bagi negara Indonesia. Untuk mengetahui Pasal-pasal mengenai PKL yang bermasalah .

” Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil : “ Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindunga. (1980:3-7) sebagai berikut : Merupakan pedagang yang kadang-kadang konsumen juga sekaligus produsen.” Pasal 11 UU nomor 39/199 mengenai Hak Asasi Manusia : “ setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. berhak atas pekerjaan yang layak.” Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia : 1) “ Setiap warga Negara. Ada yang menetap pada lokasi tertentu.KAJIAN TEORI Pengertian pedagang kaki lima dapat dijelaskan melalui ciri-ciri yang dikemukakan oleh Kartini Kartono dkk. namun kita dapat menggunakan beberapa produk hukum yang dapat dijadikan landasan perlindungan bagi Pedagang Kaki Lima. minuman dan barang-barang konsumsi lainnya secara eceran. 2) Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang di sukainya dan ………. dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk : . ada yang bergerak dari tempat satu ke tempat yang lain (menggunakan pikulan. Pedagang kaki lima di perkotaan tidak saja merupakan pelembagaan perilaku ekonomi semata tetapi juga merupakan pelembagaan sosial. Umumnya bermodal kecil terkadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatkan sekedar komisi sebagai imbalan atau jerih payahnya.BAB II PEMBAHASAN A. Walaupun tidak ada pengaturan khusus tentang hak-hak Pedagang Kaki Lima. kecakapan dan kemampuan. kereta dorong) menjajakan bahan makanan. Ketentuan perlindungan hukum bagi para Pedagang Kaki Lima ini adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. sesuai dengan bakat.

dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima . lokasi pertanian rakyat. lokasi pertanian rakyat. lokasi sentra industri. pemerintah dalam menyikapi fenomena adanya pedagang kaki lima . lokasi sentra industri.” Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia : 1) “ Setiap warga Negara. berhak atas pekerjaan yang layak.a. serta lokasi lainnya. lokasi pertambangan rakyat. memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan. serta lokasi lainnya. harus lebih mengutamakan penegakan keadilan . B.” Pasal 11 UU nomor 39/199 mengenai Hak Asasi Manusia : “ setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima . ruang pertokoan.” Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil : “ Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindungan. memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan. b. Ketentuan perlindungan hukum bagi para Pedagang Kaki Lima ini adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. PEMBAHASAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEDAGANG KAKI LIMA Walaupun tidak ada pengaturan khusus tentang hak-hak Pedagang Kaki Lima. Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang di sukainya dan ………. lokasi pertambangan rakyat. dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk : a. ruang pertokoan. Dengan adanya beberapa ketentuan diatas. menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar. kecakapan dan kemampuan. menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar. sesuai dengan bakat. b. namun kita dapat menggunakan beberapa produk hukum yang dapat dijadikan landasan perlindungan bagi Pedagang Kaki Lima.

  Hal   ini   dikarenakan   pedagang   kali   lima   (PKL)   mempunyai  karakteristik.Permasalahan   Pedagang   Kaki   Lima   (PKL)   memerlukan perubahan lebih mendalam dan lebih mendasar.  Setiap kebijakan harus memperhatikan sistem keseluruhan bukan hanya bagian  hirarki   yang   rendah. Keindahan.   seperti   peraturan   pemerintah   daerah   dan   hubungan  kelembagaan yang mempengaruhi perusahaan­perusahaan kecil. jadi bukan kajian tentang PKL dilakukan bersamaan dengan penataannya. kegiatan usaha dikelola satu orang atau usaha keluarga  dengan pola manajemen yang relatif tradisional.  Pertama. jalan. dan Ketertiban) terdapat pelarangan Pedagang Kaki Lima untuk berjualan di trotoar. kajian-kajian tentang PKL sangatlah dibutuhkan sebagai bagian pendukung aspek manusiawi dan regulasi. Perubahan dalam kaitan­ kaitan   vertikal   masih   minim. Jumlah PKL dari tahun ke tahun disinyalir terus mengalami peningkatan akibat  tingginya   angka   urbanisasi   dan   terbatasnya   jumlah   penyerapan   tenaga   kerja   di   sektor  formal.  aspek ekonomi. Mereka juga bertempat tinggal di pemukiman kumuh. namun tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. . PKL merupakan kegiatan ekonomi skala kecil  dengan modal relatif minim.   Keberadaan   PKL   ke   depan   bisa   menjadi  penggerak   sektor   riil   kalangan   bawah. Aksesnya terbuka sehingga mudah dimasuki usaha baru.   Selain itu. jalur hijau. terpadu dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Walaupun didalam Perda K3 (Kebersihan.  konsumen   lokal   dengan   pendapatan   menengah   ke   bawah. jaringan usaha terbatas.   teknologi   sederhana/tanpa  teknologi. aspek Sosial­budaya. Kedua. serta tempat-tempat yang bukan peruntukkannya. aspek  Lingkungan. namun pemerintah harus mampu menjamin perlindungan dan memenuhi hak-hak ekonomi pedagang kaki lima dan harus  terencana dengan konsep yang mendalam. sebagian besar  pelaku   berpendidikan   rendah   dan   migran   (pendatang)   dengan   jumlah   anggota   rumah  tangga yang besar. Ketiga. jenis komoditi yang diperdagangkan cenderung komoditi yang tidak  tahan lama seperti makanan dan minuman.bagi rakyat kecil. Perda   PKL   hendaknya   dapat   dijadikan   perangkat   hukum   untuk   memberikan  perlindungan   bagi   pelaku   ekonomi   bawah. dan badan jalan. kurang memperhatikan kebersihan dan berlokasi di tempat yang padat lalu  lintas.

pemajuan. tanpa menimbulkan kekacauan atau masalah baru. Pemerintah selalu menggunakan kata penertiban dalam melakukan pembongkaran. serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Kalau kita menafsirkan kata penertiban itu adalah suatu proses membuat sesuatu menjadi rapih dan tertib. hanya dapat diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan serta pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. berbunyi “ setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang.” Pasal 37 ayat (1) berbunyi “ pencabutan hak milik atas sesuatu benda demi kepentingan umum.” • Pasal 28 H ayat (4) UUD 45. martabat. berbunyi sebagai berikut : • • Pasal 36 ayat (2) berbunyi “ tidak seorang pun boleh dirampas hak miliknya dengan sewenang-wenang. Padahal hak milik ini telah dijamin oleh UUD 45 dan Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 mengenai Hak Asasi Manusia. Diantaranya berbunyi sebagai berikut : • Pasal 28 G ayat (1) UUD 45. • Pasal 37 ayat (2) berbunyi “ apabila ada sesuatu benda berdasarkan ketentuan . dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab Negara terutama pemerintah. Pemerintah dalam melakukan penertiban sering kali tidak memperhatikan. berbunyi “ setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya .” Sedangkan didalam Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 mengenai HAM.HAK-HAK PKL KETIKA DILAKUKAN PEMBONGKARAN Fenomena dalam pembongkaran para PKL ini sangat tidak manusiawi. penegakan. keluarga.” • Pasal 28 I ayat (4) UUD 45. berbunyi “ perlindungan. Sangat disayangkan ternyata didalam melakukan penertiban sering kali terjadi hal-hal yang ternyata tidak mencerminkan kata-kata tertib itu sendiri. serta selalu saja merusak hak milik para pedagang kaki lima atas barang-barang dagangannya. kehormatan.

Akan tetapi pemerintah juga telah melakukan suatu perbuatan kejahatan ketika ia melakukan pengrusakan atas hak milik barang dagangan PKL. Jangan-jangan tempat yang dijadikan relokasi para PKL tersebut. maka ia sudah melakukan perbuatan melanggar hukum. membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. mereka harus berjualan di tempat seperti apa. Apapun alasannya PKL ini tidak dapat disalahkan secara mutlak. Adapun ketentuan yang diatur didalam hukum pidana adalah : Pasal 406 ayat (1) KUHPidana berbunyi : “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan. Harus diakui juga memang benar bahwa PKL melakukan suatu perbuatan pelanggaran terhadap ketentuan yang ada didalam perda. merusakkan.hukum demi kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik itu untuk selama-lamanya maupun untuk sementara waktu.” Pemerintah didalam melakukan penertiban harusnya memperhatikan dan menjunjung tinggi hak milik para PKL atas barang dagangannya. Pemerintah belum pernah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa ketika para PKL ini di gusur. ternyata bukanlah suatu pusat perekonomian. Para . Ketika pemerintah melakukan pengrusakan terhadap hak milik para PKL ini.” Bagaimana kita mau menegakkan suatu hukum dan keadilan. dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. yakni ketentuan yang terdapat dalam hukum pidana dan juga ketentuan yang terdapat didalam hukum perdata. ketika cara (metode) yang dipergunakan justru melawan hukum. maka hal itu dilakuakan dengan mengganti kerugian. • Pasal 40 berbunyi “ setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. Sekarang ini penguasaan pusat kegiatan perekonomian justru di berikan pada pasar-pasar hipermart atau pasar modern dengan gedung yang tinggi serta ruangan yang ber AC.” Sedangkan ketentuan yang diatur didalam Hukum Perdatanya adalah Pasal 1365 berbunyi : “ Tiap perbuatan melanggar hukum. dan pemerintah juga harus mengganti kerugian atas barang dagangan PKL yang dirusak. mengganti kerugian tersebut. yang membawa kerugian pada orang lain.

000. taman. taman.11 tahun 2005 berbunyi : “ bahwa setiap orang atau badan hukum yang melakukan perbuatan berupa : bb) berusaha atau berdagang di trotoar . melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan kelengkapan taman atau jalur hijau dikenakan pembebanan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp.1. maka pemerintah sama saja dengan menghilangkan hak-hak rakyat dalam mengakses pendapatan dari perputaran kegiatan .000.1. Adapun pasal tersebut adalah : Pasal 49 ayat (1) Perda nomor.000. Untuk itu pemerintah kota harus menjelaskan secara terperinci tempat-tempat seperti apa saja yang dilarang atau pun yang diperbolehkan didalam berdagang. Karena bila tidak DIPERINCI. Harusnya kata-kata ini lebih diperinci lagi hingga tempat-tempat seperti apa saja yang tidak memperbolehkan PKL untuk berjualan. jalur hijau dan tempattempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa izin dari walikota dikenakan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp. Apabila hanya tempat2 yang dilarang saja yang disebutkan.00 (satu juta rupiah ) dan atau sanksi administrative berupa penahanan sementara KTP atau kartu identitas penduduk lainnya. Didalam pasal ini terdapat kata-kata yang berbunyi “tempat-tempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa mendapat izin dari walikota”. PASAL-PASAL MENGENAI PKL YANG BERMASALAH DI DALAM PERDA K3 Didalam perda K3 ini terdapat pasal mengenai PKL yang rancu bila kita mencoba untuk menafsirkannya.00 (satu juta rupiah ) dan/atau sanksi administrative berupa penahanan untuk sementara waktu KTP atau kartu tanda identitas penduduk lainnya. jj) mendirikan kios dan/atau berjualan di trotoar.pedagang kecil hanya mendapatkan tempat pada pinggiran-pinggiran dari kegiatan perekonomian tersebut. maka akan dapat memberi peluang untuk mematikan hak-hak Ekonomi PKL pada suatu tempat.000. Kata-kata ini dapat menimbulkan peluang adanya kesewenang-wenangan pemkot didalam menentukan tempat yang tidak memperbolehkan para PKL untuk berjualan. jalur hijau. yang mana tempat tersebut dapat memberi peluang untuk mendapatkan keuntungan didalam berdagang. badan jalan/jalan.

Masingmasing instansi tersebut sudah memiliki anggaran didalam menjalankan tugas. Mengenai sanksi adanya biaya paksa penegakan hukum ini juga hal yang aneh. Dan juga hal ini akan memberikan peluang akan adanya praktek korupsi didalam penegakan hukum itu sendiri. Secara hukum para PKL ini sudah dijamin hak nya dalam mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Akan tetapi adanya pasal ini juga harus di pertanyakan karena tidak jelas apa fungsi dan kegunaannya serta instansi apa yang berwenang mengelola biaya ini. dan Polisi Pamong Praja. TNI. Karena didalam penegakan hukum tidak pernah ada biaya paksa penegakan hukum. Jadi adanya biaya paksa penegakan hukum ini sangat tidak rasional dan tidak jelas apa tujuannya. seperti Kepolisian. fungsi dan kewenangannnya. . Biaya mengenai penegakan hukum itu sudah merupakan bagian dari anggaran instansiinstansi penegak hukum.ekonomi di suatu tempat yang strategis. Adanya biaya paksa penegakan hukum ini memiliki dasar hukum didalam pasal 143 UU Nomor 32 mengenai Pemerintahan Daerah.

maka ia sudah melakukan perbuatan melanggar hukum. Ketika pemerintah melakukan pengrusakan terhadap hak milik para PKL ini. B. .”. saya (penulis) sarankan untuk membuat kebijakan yang proposional dan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku yang dalam penerapan pasal penegakan hukum tersebut tidak mencederai . yakni ketentuan yang terdapat dalam hukum pidana dan juga ketentuan yang terdapat didalam hukum perdata. Pemerintah didalam melakukan penertiban harusnya memperhatikan dan menjunjung tinggi hak milik para PKL atas barang dagangannya. Untuk mengakhiri tulisan ini.BAB III PENUTUP A. Terlebih kepada pihak-pihak berwenang. SARAN Masalah yang timbul dalam hal penggusuran PKL ini merupakan masalah kita bersama yang harus sesegera mungkin kita tindak lanjuti. saya coba mengutip perkataan Bernard Haring “Moralitas dan kemerdekaan kita hanya akan tetap menjadi impian belaka jika tidak melahirkan dampak pada kehidupan sosial-ekonomi dan politik. KESIMPULAN Harus diakui bahwa PKL ini timbul dari adanya ketimpangan sosial dan pembangunan perekonomian serta pendidikan yang tidak merata di Negara ini.

2. 3. Pancasila. Jakarta:Erlangga.S. C. Tim Penataran. 1986. Jakarta: Sinar Garfika.1990.T. Carla & Paul Ekins. 1995.org/wiki/Pedagang_Kaki_Lima .ST. 1996.S. 4. Kansil:C.DAFTAR PUSTAKA 1. Hidup Berbangsa dan Bernegara. Bahan Penataran> Mutiara Sakti Utama http://id.S. Ravaioli.wikipedia.H. Zed Books Drs. 5.H. Economist and the Environment.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful