PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEDAGANG KAKI LIMA DI INDONESIA

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu kewarganegaraan Dosen Pengampu : Wijiyanto S.Pd

Disusun oleh : Nurul Candra Listyani PPKN / K6409042

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2010

sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan agar dapat berbuat lebih baik lagi dimasa yang akan datang. namun dengan semangat dan dibantu semua pihak akhirnya penyusunan makalah ini terselesaikan.Pd selaku Dosen mata kuliah kewarganegaraan yang telah membantu mengarahkan dan memberi batasan penyusunan materi makalah. 16 Mei 2010 Penyusun .KATA PENGANTAR Assalamu`alaikum Wr. Dengan Mengucap Syukur Alhamdulillah Berkat Rahmat Allah SWT. Dalam penyusunan makalah ini. serta terima kasih pula rekan-rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Angkatan 2009 Universitas Sebelas Maret Surakarta yang turut memberikan informasinya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kewarganegaraan dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Pedagang Kaki Lima di Indonesia”. Surakarta. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan dapat memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya. Dimana di dalamnya penulis mencoba menyampaikan pandangan penulis meskipun disadari masih jauh dari kesempurnaan.Wb. Penyusun sangat menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Wijiyanto S. tidak sedikit hambatan yang penyusun hadapi.

............. Rumusan Masalah............................................................................... Manfaat Penulisan..................................................................5 b.........................................................4 BAB II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN................................................................... kajian Teori.........................4 d.................................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................................................................................................................12 b.......................... Kesimpulan................................................12 DAFTAR PUSTAKA......................................................13 .......................................... Pembahasan........................................................................................................................................................................................ a.............................................................................I KATA PENGANTAR ...................................................................................................1 b.............................................................................................................................III BAB I PENDAHULUAN........... a.......................................................................................4 c..................................................II DAFTAR ISI..................................................................................................... Tujuan Penulisan..................................................6 BAB III PENUTUP.....12 a.................... LatarBelakang masaah................................ Saran..................................................................................................................................................................................................................

Diantaranya adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Ketentuan ini diatur dalam peraturan perundang-undangan yang tertinggi yaitu UUD 45. 3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional. Para PKL digusur oleh aparat pemerintah seolah-olah mereka tidak memiliki hak asasi manusia dalam bidang ekonomi sosial dan budaya (EKOSOB). Saya melihat PKL ini merupakan fenomena kegiatan perkonomian rakyat kecil. 2) Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Pasal 31 UUD 45 : 1) Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. bidang perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan. Akhir-akhir ini fenomena penggusuran terhadap para PKL marak terjadi. yang mana mereka berdagang hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seharihari. 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari . yang diatur dengan undang-undang. LATAR BELAKANG MASALAH Di kota-kota besar keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan suatu fenomena kegiatan perekonomian rakyat kecil.BAB I PENDAHULUAN A. Pedagang Kaki Lima ini timbul dari adanya suatu kondisi pembangunan perekonomian dan pendidikan yang tidak merata diseluruh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia ) ini. PKL ini juga timbul dari akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi. Pemerintah dalam hal ini sebenarnya memiliki tanggung jawab didalam melaksanakan pembangunan bidang pendidikan.

perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan belum pernah terealisasi secara sempurna. Ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai tanggung jawab pemerintah dalam bidang pendidikan. kemandirian. 3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan hak serta sanksi semuanya diatur oleh hukum. Dengan adanya pengaturan mengenai tanggung jawab pemerintah dalam UUD 45. 2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. 4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. berwawasan lingkungan. Pasal 33 UUD 45 : 1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. 2) Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. efisiensi berkeadilan. Pasal 34 UUD 45 : 1) Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara. Segala hal yang berkaitan dengan kewenangan. hal ini menunjukkan bahwa Negara kita adalah Negara hukum. serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. tanggung jawab. 3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. 5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. berkelanjutan. Kemiskinan ini diakibatkan oleh tidak adanya pemerataan kemajuan . Akan tetapi ternyata ketentuan-ketentuan diatas hanya berkutat pada kertas saja. kewajiban. Hal ini dapat dibuktikan dengan besarnya jumlah rakyat miskin di Indonesia .

Perda ini hanya mengatur tentang pelarangan untuk berdagang bagi PKL di daerah-daerah yang sudak ditentukan. itu berarti terdapat sekitar 54 juta jiwa penduduk Indonesia termasuk kategori miskin (sumber Badan Pusat Statistik). RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daearah) atau bantuan dari Negara-negara maju didalam menuntaskan masalah kemiskinan. Dana-dana tersebut banyak yang tidak jelas penggunaannya. Jadi sangat wajar sekali fenomena Pedagang Kaki Lima ini merupakan imbas dari semakin banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia . mereka tidak memiliki kemampuan pendidikan yang memadai. Mereka berdagang hanya karena tidak ada pilihan lain. jika setiap keluarga terdiri dari 3 orang. Mengapa rakyat miskin ini sangat besar jumlahnya ?. yaitu modalnya tidak besar. banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang penggunaannya hanya untuk memperkaya para pihak birokrat saja. Pengaturan mengenai Pedagang Kaki Lima ini hanya terdapat dalam peraturan daerah (perda). Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok seharihari dan untuk membiayai keluarganya ia harus berdagang di kaki lima . mungkin jumlahnya akan semakin besar.perekonomian. tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Mengapa pilihannya adalah pedagang kaki lima ? Karena pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan mereka. Permasalahan ini timbul diakibatkan oleh adanya watak atau mental para birokrat kita yang korup. dan mudah untuk di kerjakan. Sudah banyak sekali dana baik itu dari RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). peningkatan kualitas pendidikan dan penyediaan lapangan pekerjaan oleh pemerintah. bagaimana dengan orang-orang miskin yang tidak terdata. Namun mengenai hak-hak PKL ini tidak diatur didalam perda tersebut. karena disetiap kota pasti ada pedagang kaki limanya.Jumlah ini masih yang terdata. Padahal fenomena pedagang kaki lima sudah merupakan permasalahan yang pelik dan juga sudah merupakan permasalahan nasional. Padahal pemerintah telah diberi tangung jawab oleh UUD 45. dan tidak memiliki tingkat pendapatan ekonomi yang baik dan tidak adanyanya lapangan pekerjaan yang tersedia buat mereka. Data terakhir dari jumlah rakyat miskin di Indonesia adalah 18 juta keluarga. . Di NKRI ini belum ada undang-undang yang khusus mengatur Pedagang Kaki lima .

2. Diharapkan pula makalah ini menjadi acuan belajar dala mempelajari penerapan beberapa pasal bermasalah mengenai Pedagang kaki Lima yang mencederai penegakan hukum. khususnya bagi Pedagng kaki Lima. Apa saja hak-hak PKL ketika dilakukan pembongkaran ? 3. Apa saja Pasal-pasal mengenai PKL yang bermasalah ? C. Untuk mengetahui hak-hak PKL ketika dilakukan pembongkaran .B. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui perlindungan hukum bagi pedagang kaki lima. Untuk mengetahui Pasal-pasal mengenai PKL yang bermasalah .Paling tidak Mahasiswa dapat memecahkan masalah kecil yang berhubungan dengan Pedagang Kaki Lima. D. 3. . Bagaimana perlindungan hukum bagi kaki lima ? 2.MANFAAT PENULISAN Mahasiswa dapat lebih kritis terhadap masalah dan peraturan perundang-undangan ataupun PERDA mengenai Pedagang Kaki Lima yang mana sekarang menjadi topik hangat dan dilemma luar biasa bagi negara Indonesia. PERUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah yang penulis gunakan selama penyusunan makalah ini adalah sebagi berikut: 1.

” Pasal 11 UU nomor 39/199 mengenai Hak Asasi Manusia : “ setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. ada yang bergerak dari tempat satu ke tempat yang lain (menggunakan pikulan. minuman dan barang-barang konsumsi lainnya secara eceran. berhak atas pekerjaan yang layak.KAJIAN TEORI Pengertian pedagang kaki lima dapat dijelaskan melalui ciri-ciri yang dikemukakan oleh Kartini Kartono dkk. kereta dorong) menjajakan bahan makanan. Walaupun tidak ada pengaturan khusus tentang hak-hak Pedagang Kaki Lima. (1980:3-7) sebagai berikut : Merupakan pedagang yang kadang-kadang konsumen juga sekaligus produsen. Ketentuan perlindungan hukum bagi para Pedagang Kaki Lima ini adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Umumnya bermodal kecil terkadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatkan sekedar komisi sebagai imbalan atau jerih payahnya. kecakapan dan kemampuan.” Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia : 1) “ Setiap warga Negara. dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk : .BAB II PEMBAHASAN A.” Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil : “ Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindunga. Ada yang menetap pada lokasi tertentu. sesuai dengan bakat. Pedagang kaki lima di perkotaan tidak saja merupakan pelembagaan perilaku ekonomi semata tetapi juga merupakan pelembagaan sosial. namun kita dapat menggunakan beberapa produk hukum yang dapat dijadikan landasan perlindungan bagi Pedagang Kaki Lima. 2) Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang di sukainya dan ……….

lokasi pertanian rakyat. B. lokasi pertambangan rakyat. menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar. berhak atas pekerjaan yang layak.” Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia : 1) “ Setiap warga Negara. dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima . lokasi pertanian rakyat. b. sesuai dengan bakat. lokasi sentra industri.” Pasal 11 UU nomor 39/199 mengenai Hak Asasi Manusia : “ setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. b.a. namun kita dapat menggunakan beberapa produk hukum yang dapat dijadikan landasan perlindungan bagi Pedagang Kaki Lima. memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan. Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang di sukainya dan ………. lokasi pertambangan rakyat. ruang pertokoan. lokasi sentra industri. PEMBAHASAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEDAGANG KAKI LIMA Walaupun tidak ada pengaturan khusus tentang hak-hak Pedagang Kaki Lima. Dengan adanya beberapa ketentuan diatas. menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar. serta lokasi lainnya. dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk : a.” Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil : “ Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindungan. dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima . memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan. harus lebih mengutamakan penegakan keadilan . serta lokasi lainnya. Ketentuan perlindungan hukum bagi para Pedagang Kaki Lima ini adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. kecakapan dan kemampuan. ruang pertokoan. pemerintah dalam menyikapi fenomena adanya pedagang kaki lima .

  aspek ekonomi. Walaupun didalam Perda K3 (Kebersihan.  konsumen   lokal   dengan   pendapatan   menengah   ke   bawah. Perubahan dalam kaitan­ kaitan   vertikal   masih   minim.   Selain itu. jadi bukan kajian tentang PKL dilakukan bersamaan dengan penataannya. kurang memperhatikan kebersihan dan berlokasi di tempat yang padat lalu  lintas. Kedua. Mereka juga bertempat tinggal di pemukiman kumuh. Keindahan.Permasalahan   Pedagang   Kaki   Lima   (PKL)   memerlukan perubahan lebih mendalam dan lebih mendasar. jalur hijau. dan badan jalan. jalan. jenis komoditi yang diperdagangkan cenderung komoditi yang tidak  tahan lama seperti makanan dan minuman. namun tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.   Keberadaan   PKL   ke   depan   bisa   menjadi  penggerak   sektor   riil   kalangan   bawah. Ketiga. PKL merupakan kegiatan ekonomi skala kecil  dengan modal relatif minim.bagi rakyat kecil. sebagian besar  pelaku   berpendidikan   rendah   dan   migran   (pendatang)   dengan   jumlah   anggota   rumah  tangga yang besar. kegiatan usaha dikelola satu orang atau usaha keluarga  dengan pola manajemen yang relatif tradisional. aspek  Lingkungan.  Pertama.   Hal   ini   dikarenakan   pedagang   kali   lima   (PKL)   mempunyai  karakteristik. dan Ketertiban) terdapat pelarangan Pedagang Kaki Lima untuk berjualan di trotoar. .  Setiap kebijakan harus memperhatikan sistem keseluruhan bukan hanya bagian  hirarki   yang   rendah. Perda   PKL   hendaknya   dapat   dijadikan   perangkat   hukum   untuk   memberikan  perlindungan   bagi   pelaku   ekonomi   bawah. Jumlah PKL dari tahun ke tahun disinyalir terus mengalami peningkatan akibat  tingginya   angka   urbanisasi   dan   terbatasnya   jumlah   penyerapan   tenaga   kerja   di   sektor  formal. Aksesnya terbuka sehingga mudah dimasuki usaha baru. terpadu dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. namun pemerintah harus mampu menjamin perlindungan dan memenuhi hak-hak ekonomi pedagang kaki lima dan harus  terencana dengan konsep yang mendalam. jaringan usaha terbatas. serta tempat-tempat yang bukan peruntukkannya.   seperti   peraturan   pemerintah   daerah   dan   hubungan  kelembagaan yang mempengaruhi perusahaan­perusahaan kecil. kajian-kajian tentang PKL sangatlah dibutuhkan sebagai bagian pendukung aspek manusiawi dan regulasi.   teknologi   sederhana/tanpa  teknologi. aspek Sosial­budaya.

dan harta benda yang dibawah kekuasaannya . pemajuan.” • Pasal 28 H ayat (4) UUD 45. Kalau kita menafsirkan kata penertiban itu adalah suatu proses membuat sesuatu menjadi rapih dan tertib. Pemerintah dalam melakukan penertiban sering kali tidak memperhatikan. keluarga.HAK-HAK PKL KETIKA DILAKUKAN PEMBONGKARAN Fenomena dalam pembongkaran para PKL ini sangat tidak manusiawi. Padahal hak milik ini telah dijamin oleh UUD 45 dan Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 mengenai Hak Asasi Manusia. berbunyi “ perlindungan. tanpa menimbulkan kekacauan atau masalah baru. • Pasal 37 ayat (2) berbunyi “ apabila ada sesuatu benda berdasarkan ketentuan .” Pasal 37 ayat (1) berbunyi “ pencabutan hak milik atas sesuatu benda demi kepentingan umum.” • Pasal 28 I ayat (4) UUD 45. penegakan. kehormatan. serta selalu saja merusak hak milik para pedagang kaki lima atas barang-barang dagangannya. hanya dapat diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan serta pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. berbunyi “ setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang. martabat. Diantaranya berbunyi sebagai berikut : • Pasal 28 G ayat (1) UUD 45. Sangat disayangkan ternyata didalam melakukan penertiban sering kali terjadi hal-hal yang ternyata tidak mencerminkan kata-kata tertib itu sendiri.” Sedangkan didalam Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 mengenai HAM. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab Negara terutama pemerintah. serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. berbunyi sebagai berikut : • • Pasal 36 ayat (2) berbunyi “ tidak seorang pun boleh dirampas hak miliknya dengan sewenang-wenang. berbunyi “ setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. Pemerintah selalu menggunakan kata penertiban dalam melakukan pembongkaran.

Para . dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. ternyata bukanlah suatu pusat perekonomian.hukum demi kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik itu untuk selama-lamanya maupun untuk sementara waktu. Apapun alasannya PKL ini tidak dapat disalahkan secara mutlak. mereka harus berjualan di tempat seperti apa. Ketika pemerintah melakukan pengrusakan terhadap hak milik para PKL ini.” Sedangkan ketentuan yang diatur didalam Hukum Perdatanya adalah Pasal 1365 berbunyi : “ Tiap perbuatan melanggar hukum. dan pemerintah juga harus mengganti kerugian atas barang dagangan PKL yang dirusak. maka ia sudah melakukan perbuatan melanggar hukum. Harus diakui juga memang benar bahwa PKL melakukan suatu perbuatan pelanggaran terhadap ketentuan yang ada didalam perda. maka hal itu dilakuakan dengan mengganti kerugian. yang membawa kerugian pada orang lain. yakni ketentuan yang terdapat dalam hukum pidana dan juga ketentuan yang terdapat didalam hukum perdata. membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain.” Pemerintah didalam melakukan penertiban harusnya memperhatikan dan menjunjung tinggi hak milik para PKL atas barang dagangannya. Akan tetapi pemerintah juga telah melakukan suatu perbuatan kejahatan ketika ia melakukan pengrusakan atas hak milik barang dagangan PKL. Sekarang ini penguasaan pusat kegiatan perekonomian justru di berikan pada pasar-pasar hipermart atau pasar modern dengan gedung yang tinggi serta ruangan yang ber AC.” Bagaimana kita mau menegakkan suatu hukum dan keadilan. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. Adapun ketentuan yang diatur didalam hukum pidana adalah : Pasal 406 ayat (1) KUHPidana berbunyi : “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan. • Pasal 40 berbunyi “ setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. Pemerintah belum pernah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa ketika para PKL ini di gusur. mengganti kerugian tersebut. merusakkan. ketika cara (metode) yang dipergunakan justru melawan hukum. Jangan-jangan tempat yang dijadikan relokasi para PKL tersebut.

00 (satu juta rupiah ) dan atau sanksi administrative berupa penahanan sementara KTP atau kartu identitas penduduk lainnya. badan jalan/jalan.000.000. yang mana tempat tersebut dapat memberi peluang untuk mendapatkan keuntungan didalam berdagang.000. Harusnya kata-kata ini lebih diperinci lagi hingga tempat-tempat seperti apa saja yang tidak memperbolehkan PKL untuk berjualan.11 tahun 2005 berbunyi : “ bahwa setiap orang atau badan hukum yang melakukan perbuatan berupa : bb) berusaha atau berdagang di trotoar . taman. PASAL-PASAL MENGENAI PKL YANG BERMASALAH DI DALAM PERDA K3 Didalam perda K3 ini terdapat pasal mengenai PKL yang rancu bila kita mencoba untuk menafsirkannya.pedagang kecil hanya mendapatkan tempat pada pinggiran-pinggiran dari kegiatan perekonomian tersebut. taman. Untuk itu pemerintah kota harus menjelaskan secara terperinci tempat-tempat seperti apa saja yang dilarang atau pun yang diperbolehkan didalam berdagang.000. Karena bila tidak DIPERINCI. jj) mendirikan kios dan/atau berjualan di trotoar.1.1.00 (satu juta rupiah ) dan/atau sanksi administrative berupa penahanan untuk sementara waktu KTP atau kartu tanda identitas penduduk lainnya. maka akan dapat memberi peluang untuk mematikan hak-hak Ekonomi PKL pada suatu tempat. Kata-kata ini dapat menimbulkan peluang adanya kesewenang-wenangan pemkot didalam menentukan tempat yang tidak memperbolehkan para PKL untuk berjualan. Adapun pasal tersebut adalah : Pasal 49 ayat (1) Perda nomor. jalur hijau. maka pemerintah sama saja dengan menghilangkan hak-hak rakyat dalam mengakses pendapatan dari perputaran kegiatan . melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan kelengkapan taman atau jalur hijau dikenakan pembebanan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp. Apabila hanya tempat2 yang dilarang saja yang disebutkan. jalur hijau dan tempattempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa izin dari walikota dikenakan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp. Didalam pasal ini terdapat kata-kata yang berbunyi “tempat-tempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa mendapat izin dari walikota”.

. Karena didalam penegakan hukum tidak pernah ada biaya paksa penegakan hukum. Masingmasing instansi tersebut sudah memiliki anggaran didalam menjalankan tugas.ekonomi di suatu tempat yang strategis. Dan juga hal ini akan memberikan peluang akan adanya praktek korupsi didalam penegakan hukum itu sendiri. Akan tetapi adanya pasal ini juga harus di pertanyakan karena tidak jelas apa fungsi dan kegunaannya serta instansi apa yang berwenang mengelola biaya ini. Secara hukum para PKL ini sudah dijamin hak nya dalam mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. dan Polisi Pamong Praja. seperti Kepolisian. Adanya biaya paksa penegakan hukum ini memiliki dasar hukum didalam pasal 143 UU Nomor 32 mengenai Pemerintahan Daerah. fungsi dan kewenangannnya. Biaya mengenai penegakan hukum itu sudah merupakan bagian dari anggaran instansiinstansi penegak hukum. TNI. Jadi adanya biaya paksa penegakan hukum ini sangat tidak rasional dan tidak jelas apa tujuannya. Mengenai sanksi adanya biaya paksa penegakan hukum ini juga hal yang aneh.

yakni ketentuan yang terdapat dalam hukum pidana dan juga ketentuan yang terdapat didalam hukum perdata.”.BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Harus diakui bahwa PKL ini timbul dari adanya ketimpangan sosial dan pembangunan perekonomian serta pendidikan yang tidak merata di Negara ini. SARAN Masalah yang timbul dalam hal penggusuran PKL ini merupakan masalah kita bersama yang harus sesegera mungkin kita tindak lanjuti. Ketika pemerintah melakukan pengrusakan terhadap hak milik para PKL ini. B. . Untuk mengakhiri tulisan ini. saya (penulis) sarankan untuk membuat kebijakan yang proposional dan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku yang dalam penerapan pasal penegakan hukum tersebut tidak mencederai . saya coba mengutip perkataan Bernard Haring “Moralitas dan kemerdekaan kita hanya akan tetap menjadi impian belaka jika tidak melahirkan dampak pada kehidupan sosial-ekonomi dan politik. Terlebih kepada pihak-pihak berwenang. Pemerintah didalam melakukan penertiban harusnya memperhatikan dan menjunjung tinggi hak milik para PKL atas barang dagangannya. maka ia sudah melakukan perbuatan melanggar hukum.

S.1990.DAFTAR PUSTAKA 1. 3. Hidup Berbangsa dan Bernegara. Zed Books Drs. Jakarta:Erlangga. Kansil:C. 4.S. Pancasila. C.H.ST. Ravaioli.wikipedia. 2.H. 1986. Economist and the Environment.org/wiki/Pedagang_Kaki_Lima . 5. 1995. Jakarta: Sinar Garfika. Bahan Penataran> Mutiara Sakti Utama http://id. Tim Penataran.S. Carla & Paul Ekins. 1996.T.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful