P. 1
makalah Filsafat Pendidikan Islam

makalah Filsafat Pendidikan Islam

|Views: 530|Likes:
Published by sfm86

More info:

Published by: sfm86 on Oct 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2014

pdf

text

original

FILSAFAT PENDIDIKAN Islam

A. Pendahuluan Filsafat islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang

keberadaannya menimbulkan pro dan kontra. Sebagian yang berfikiran maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islami. Bagi mereka yang bersifat tradisional, yakni berpegang kepada ajaran Al-Quran dan hadis secara tekstual, cenderung kurng mau menerima filsafat, bahkan ada yang menolaknya. Dari kedua kelompok ini kelompok kedua masih kuat pengaruhnya dikalangan masyarakat.para mahasiswa dari jurusan tertentu telah banyak melakukan kajian filsafat pada akhir abad 20-an, juga ada pada kalangan masyarakat yang juga mengkaji tentang filsafat islam. Kalaupun pada kalangan pesantren diajarkan mengenahi ilmu logika akan tetapi namun hal ini masih tidak diterapkan sepenuhnya, ini dikarenakan ada satu keyakinan bahwa filsafat dapat melemahkan iman. Kemungkinan persepektif ini terjadi karena memang ilmu filsafat munculnya dari kalangan bangsa yunani. Akan tetapi walaupun bangsa yunani telah mempunyai tradisi ber-Filsafat semenjak 500 tahun sebelum masehi, juga ada yang mengatakan bahwa tidaklah berarti orang yunani konolah yang sudah berfilsafat terlebih dahulu. Disebutkan bahwa cendikiawan muslim dari india yang bernama Maulana Abul Kalam Azad telah menulis artikel the meaning of philoshophy, sebagai introduction atas buku yang di-editor-I oleh Sarvepalli Radhakrishnan, filsuf dan negarawan india, berjudul history of philoshopy:eastern and westren (jilid 1-2). Azad antara lain menerangkan, kita mengetahui bahwa mesir dan irak

1

telah mengembangkan tingkat peradaban yang tinggi jauh sebelum yunani kitapun telah mengetahui pula bahwa filsafat yunani yang mula-mula amat dipengaruhi oleh hikmah purba mesir.1 Kurang diterimanya filsafat dikalangan masyarakat islam pada umumnya dimungkinkan karena penggaruh pemikiran salah satu pemikir yang dianggapnya sebagai pembunuh pemikiran Al-Quran. Dewasa ini banyak sudah dari para kalangan cendekiawan dan para ahli pikir melakukan kajian tentang filsafat, baik tentang agama islam, pendidikan islam ataupun bidang ilmu lainnya, walaupun dalam bahasanya masih banyak kekaburan makna yang nantinya membuat para pembaca kurang dapat memahimi dari kajian filasafat sesungguhnya. Kajian-kajian filsafat yang dilakukan telah mampu merubah sedikit sudut pandang para pemerhati pendidikan, khususnya pendidikan agama islam. Sehingga pencapaian dari tujuan akhir pendidikan agama islam yang menjadi pokok target tingkat keberhasilan dari mutu pendidikan dapat telah dan dikembangkan, sehingga pendidikan agama islam tak lagi kabur dalam pencarian makna dan hakikat pendidikan agama islam. Walupun terkadang para pemikir filasafat pendidikan islam terkadang cenderung masih mengkaitkaitkan para filosof sejati yang berbeda-beda, yang memang mereka para pakar filsafat seperti ibn shina, Al-Ghozali sangat mempengaruhi jalannya pemikiran ummat Islam. Memang bukan suatu kebetulan apabila ada pemikiran dan wawasan ummat Islam dalam mempredeksikan kedepan dan mengambil kesimpulan
1

Endang Saifudin Ansori, M.A. Ilmu Filsafat Agama, Surabaya, Pt Bina Ilmu , 1979

2

suatu permasalahan sering meleset. Hal ini memang dikarenakan logika dan tata cara berfikir yang benar merupakan kajian filsafat tidak pernah dikenalkan di sekolah menengah atas maupun di perguruan tinggi, apalagi di pesantrenpesantren sejak dini.2 B. SUMBER FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Dalam dunia Islam filsafat telah berkembang pesat saat orang-orang Islam telah mampu berkomunikasi dengan dunia sekitarnya., berhubungan dengan peradaban, kebudayaan dan sosial terhadap bangsa-bangsa yang telah didudukinya, dan menerima pengaruh daripadanya. Perkembangan filsafat tersebut dipercepat oleh kaum muslimin dengan usaha dan menterjemah berbagai macam ilmu pengetahuan, terutama filsafat Yunani kedalam bahasa Arab. Namun demikian, bukan berarti pemikiran-pemikiran filosofis belum dikenal oleh ummat Islam pada masa itu. Istilah filsafat dan filosofis sebelum masuk kedalam dunia Islam, ummat Islam telah mengenal dengan istilah Alhikmah, dan usaha untuk mencari Al- hikmah, yang memiliki dasar sama dengan filsafat. Al- hakim sama dengan orang yang mengambil hikmah yang dissebut dengan filosof. Mustafa Abd Rizq dalam bukunya menjelaskan bahwa orang arab Islam menggunakan istilah “Al- hikmah dan Al- hakim “ dan “filsafat dan filosof “ secara bergantian, untuk menyatakan pengertian filsafat dan filosof. Bahkan Aristoteles yang dianggap sebagai bapak filsafat yunani, disebut jug dengan Al- hakim.3 Dra. Zuhairini juga mengutip pernyataan Omar Muhammad Al
2 3

Drs M. Yatimin A, M.A, Studi Islam Kontemporer, Jakarta, Amzah, 2006 Dra. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, Cet. Ke3

3

Toumy Al- Syaibani dalam bahwa pengertian bebas tentang kata filsafat pada bahasa asalnya adalah cinta akan hikmah. Makna yang terakhir ini masih digunakan oleh orang-orang Islam sampai saat ini. Islam yang datang dengan membawa Al-Quran sebagai sumebr dan dasar dari segalanya. Al-Quran juga disebut sebagai Al-Hakim (QS,36;1-2) dan ini menunjukkan bahwa Al-Quran merupakan sumber dan Al- hikamh atau filsafat dalam Islam, tidak terkecuali pendidikan Islam, yang mana Al-Quran mengandung banyak pendidikan. Dalam Al-Quran juga menjelaskan bahwa yang dapat mencari Al-hikmah hanya bagi orang-orang yang memiliki wawasan tinggi dan orang-orang yang berakal. Firman Allah
                                  

“Allah memberikan alhikmah hanya kepada mereka yang menghendaki, dan berusaha mencarianya, dan barang siapa telah mendapat Al-hikmah mak telah mendapat kebaikan dan kebijaksanaan yang banyak, dan hanya orangorang yang berakal sajalah yang mampu mencari hikmah tersebut”.4 Maka jelaslah bahwa usaha mencari Al-hikmah, menurut ajaran Islam hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mampu menggunakan alam pikirannya. Sedangkan usaha mencari alhikmah, kebajikan dan kebijaksanaan adalah merupakan pengertian dasar filsafat. Jadi Al- hikmah dalam usaha untuk mencarnya, tidak lain kecuali filsafat dan berfilsafat dalam Islam.
4

Qs. 2:269

4

Agar falsafah itu menajdi benar dan sempurna, memperoleh tujuan, dan fungsi yang sesuai dengan harapan, maka falsafah itu harus diambil dari sumber yang benar. Suber itu harus diperhatikan untuk menciptakan berbagai faktor, dengan syarat sumber dan faktor itu hasrus dikaitkan dengan sumber Islam. Sumber itu harus sesuai dengan jiwa yang bersih dari cacat dan tercela. Juga terkandung prinsip dan undang-undang hubungan antara manusia dengan tuhannya dan segala apa yang ada di alam jagad raya. Al-Quranul karim menurut falsafah apapun yang kita anut baik dari falsafah barat atau arab, merupakan unsur pentung dan utama. Didalamnya terdapat sumber Syari’at Islam pertam dan terpenting, dan sumber-sumber yang mungkin menjadi dasar falsafah pendidikan Islam. Dr. Muhammad Fadhil El-Jamaly menyatakan bahwa Al-Quran nul karil telah mencakup dan meliputi segala pengetahuan yang ada. Mengatur hubungan manusia dengan lainnya, dengan alam semesta, bahkan dengan tuhannya. Jika pendidikan berusaha mememlihara individu dan dan pertumbuhannya pada ummat manusia saja maka Al-Quran berusaha mendidikmakhluk seluruhnya termasuk manusia. Sifat menyeluruh Al-Quran tersebut meliputi benda hidup dan mati, dzohir dan batin, awal dan akhir. Secara ringkas Dr. Muhammad Fadhil El-Jamaly menyatakan bahwa usaha manusia untuk mencapai titik tertinggi spiritual, moral, sosial, dan intelektual merupaka inti dari pendidikan Islam.

5

Maka dengan menjadikan Islam dan budaya sebagai sumber dan titik tolak asasi bagi falsafah pendidikan dan pengajaran kita pada segala tingkat dan jenisnya, tidak menafikan adanya sumber yang lain untuk dimintai pertolongan dan menjadikan rujukan ketika membina Falsafah Pendidikan Islam. Sumber-sumber dibawah ini jika ditinjau dari segi roh ke Islaman ma tidaklah keluar dari sumber Islam dan kebudayaan Islam dalam pengertian yang luas dan menyeluruh. Diantara sumber-sumber tambahan selain diatas yang menjadi dasar, prinsip, dan kepercayaan kandungan falsafah pendidikan agama Islam sebagai berikut; a). Ciri-ciri pertumbuhan pengajaran dari segi jasmani, intelektual, temprament, emosi, spiritual, keperluan-keperluan, dan penggerakpenggeraknya yang bermacam-macam. b). Nilai-nilai dan tradisi sosial yang baik yang memberikan kepada masyarakat corak ke Islaman yang tidak menghalangi kemajuan dan perkembangan zaman, dan keperluan-keperluan sosial ekonomi dan politik bagi masyarakat. c). Hasil-hasil penyelidikan dan kajian-kajian pendidikan dan psikologi yang berkaitan dengan sifat-sifat, proses pendidikan, tujuan

pendidikan, dan fungsi-fungsinya yang sangat penting. Termasuk pengalaman-pengalaman bangsa yang telahmaju dalam dunia

pendidikan terutama bangsa dan negara yang serupa dengan kebudayaan, dan potensi-potensi bangsa kita. dan

6

d). Prinsip-prinsip yang menjadi dasar falsafah politik, ekonomi

dan

sosial yang dilaksanakan oleh negara, dan piagam- piagam perhimpunan internasional yang tentunya mereka pasti memiliki tujuan-tujuan yang telah disepakati bersama.5 Pernyataan diatas adalah merupakan sumber terpenting setelah AlQuran yang patut kita jadikan rujukan ketika kita memnetukan falsafah pendidikan untuk Negara yang mengambil dasar-dasar dari agama Islam, dadri sejarah Islam Arab, sejarah manusia yang luas yang tidak menetang dengan semangat falsafah dan tujuan pendidikan itu sendiri. C. RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Filsafat secara umum dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradapan masyrakat, di dalamnya atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu, sering dinyatakan bahwa pendidikan telah ada sepanjang peradapan ummat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Sebenarnya filsafat merupakan suatu induk dari segala ilmu yang terdiri dari gabungan ilmu husus. Dalam perkembangna berikutnya ilmu-ilmu husus itu satu demisatu memisahkan diri dari induknya yaitu filsafat. Dalam sejarah ilmu yang mula-mula melepaskan diri dari filsafat adalah ilmu matematika dan ilmu fisika. Ini terjadi pada zaman renaissance (abad ke17 M) kemudian
5

Prof. Dr. Omar Muhammad Al- Taumy Al- Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Alih Bahasa Dr. Hasan Langgulung Jakarta, Bulanbintang, 1979

7

diikuti oleh ilmu-ilmu lainnya. Ahli filsafat menyebutkan ruang lingkup filsafat yang berbeda-beda.6 Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa filsafat pendidikan Islam sebagai suatu sistem, ia akan selalu berkaitan dan berjalan dengan sistem induknya, yaitu filsafat Islam. Karena sesungguhnya Islam telah memandang pendidikan dengan corak hitam putihnya manusia dalam perjalan hidupnya. Dan karena Islam telah menetapkan bahwa pendidikan merupakan hal yang wajib bagi para wanita dan perempuan, sehingga filsafat berlaku sebagai sarana dalam pencapaian akan tujuan hidup manusia sesungguhnya. Kedudukan ini dengan secara tidak langsung telah menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Sebagaimana ungakapan jhon dewey bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan kehidupan, fungsi sosial, sarana pertumbuhan yang membentuk disiplin hidup.7 Sedangkan pendidikan Islam dalam kaitannya dengan bidang ilmu, pendidikan Islam memililki dua konsep penting yaitu normatf dan diskriptip. Dimensi normatif mengacu pada konsep ideal pendidikan menurut Islam, sebagai agama samawi yang memuat ajaran-ajaran mutlak maka aspek yang dijangkau meliputi semua segi kehidupan manusia, baik sebagai pribadi atau kolektif. Sedangkan dimensi deskriptif mengacu pada realitas pendidikan yang wujud praktisnya dari ajaran diatas. Sebagai manifestasi, maka nilainya menjadi sangat tergantung pada kadar kemampuan pelakunya.8
6 7 8

Drs M. Yatimin A, M.A, Studi Islam Kontemporer, Jakarta, Amzah, 2006 Jhon Dewey, Democrary And Education, New York, The Free Prees 1966, 1-54 Dr, jamali sahrodi, membedah nalar pendidikan agama Islam. Yogyakarta, pustaka rihlah grup, 2005.

8

Adapun masalah-masalah dalam lingkup Filsafat pendidikan Islam memiliki tiga golongan, yaitu: 1. Metafisika : yaitu satu pembahasan yang membahas tentang

segala sesuatu sekalian alam, hakikat kenyataanya, segala sesuatu yang ada.9 2. 3. Epistemologi: filsafat yang membahas tentang ilmu pengetahuan Etika : filsafat tentang tingah laku yang bai dan yang buruk manusia Dibawah ini kami coba untuk sedikit menjelaskan perihal ruang lingkup filsafat pendidikan islam 1. Metafisika Metafisika merupakan suatu cabang filasafat mengenai kenyataan (realitas) yang berusahsa mencari hakikat sesuatu. Karena usahanya mencari hakikat sesuatu. Maka timbullah ilmu-ilmu keagamaam dan ketuhanan dan yang berhubungan dengan masalajh “apa”. Pembahasan metefisika dalam Islam dibicarakan daldam ilmu tauhid dan ilmu kalam. Dengan menggunakan dasar akidah islamiyah dalamusaha mencapai hakikat kebenaran untuk menunjang keteguhan iman menuju ketakwaan. Percaya merupaka satu gambaran yang pasti dalam diri manusia. Dan percaya terhadap sesuatu yang masih dalam taraf pengetahuan, untuk mengetahui sesuatu, yang masih belum dapat menentukan sikap yang pasti dalam melakukan amal dan perbuatan. Maka taraf ini madih dikatakan
9

Prof.Dr. sutardjo A. wiramihardja, Psi. Pengantar Filsafat.sistimatika filsafat, sejarah filsafat, logika dan filsafat ilmu.Bandung, Refika Aditama. 2006

9

sebagai taraf netral. Yaqin merupakan kelanjutan dari sikap percaya disertai kesadaran hati nurani seseorang yang memberikan dorongan unyuk berbuat atau beramal sesuai dengan apa yang diyakini. Secara umum metafisika adalah mempersoalkan hakikat kenyataan, dengan menyebut atau mempermasalhkan “ada” segala sesuatu yang ada, materi filsafat, atau dengan kata lain tidak ada satu permaslahan yang tidak dibahas oleh filsafat. Maka segala hal yang dibicarakan ini disebut metafisika. Masalah ini dianggap sebagai masalah inti filsafat secara umum.10 Adapun dasar-dasar pembahasan metafisika; a. Allah adalah pencipta makhluk hidup dan alam semesta

beserta segala isinya. Lebih lanjut jika hendak mengetahui dan memahami tetang apa dan siapa Allah, untuk itu hendaknya dicari keterangan dan petunjuk dari Al-Quran dan Sunnah Rasul karena hanya dari dua sumber inilah otentikasi informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Cara ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pandangan atau penyimpangan pemahaman yang menimbulkan salah pengertian. b. Manusia adalah makhluk Allah yang dibebani tugaas-tugas

kewajiban dalam menjalani hidup dan lkehidupannya untuk mempoeroleh kehidupan yang bermakna dan bermanfaat. Bahan dan alat untuk kehidupannya telah disiapkan dengan lengkap baikyang berupa materi ataupun immateri. Manusia diberi
10

Ibid.

10

kebebasan untuk melaksanakan tugas-tugas itu hingga ia dapat diminta pertanggungan jawab. Untuk mengetahui hal ini maka kita akan meninjau atau melakukan beberapa telaah dari Al-Quran dan Sunnah Rasul c. Alam sebagai bahan dan alat yagn dikaruniakan Allah untuk

kesejahteraan dan kebahagian hidup ummat mannusia baik di dunia atau di akhirat kelak. Alam ini bersifat pasif manusialah yang mengelolanya sesuai dengan kepentingan-kepentingan positif kehendaknya yang diberi tuhannya. Ketiga dasar pembahasan metafisika ini dalam pendidikan Islam harus dipadukan dan dijadikan dasar penyusunan dan penyelenggaraan pendidikan Islam. 2. Epistemologi Epistemologi mempersolakan kebenaran pengetahuan. Pernyataan tentang kebenaran diperlukan susunan yang tepat. Kebenaran pengetahuan disebut memenuhi sayrat-syarat Epistemologi, karena juga tepat

susunannya atau juga kita sebut logis. Meskipun antara logis dan logika adalah dua hal yang berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kaitan yang sangat kuat. Ialah bahwa logika menjadi prasyarat yang mendasari epistemologi.11 Secara rinci dalam membicarakan epistemilogi terdapat perbincangan mengenai dasar, batas, dan objek pengetahuan, sehingga akan terjadi klasifikasi tersendiri antara filafat ilmu dengan epistemologi (ini menurut
11

Ibid. hal 32

11

sebagaian pendapat) akan tetapi secara umaum dan mendasar epistemlogi dan filsafat ilmu terdapat perbedaan. Secara umum epistemologi memersoalkan kebenaran pengetahuan, sedangkan filsafat ilmu khusus mempersoalkan tetntang ilmu dan keilmuan pengetahuan. Maka hal yang dibicarakan ilmu adalah pengetahuan-pengatahuan yang gejalanya dapat diamati berulang-ulang oleh orang dan waktu yang berbeda-beda. Al-Quran telah mengajak dan mengajarkan kepada seluruh ummat untuk berfikir, menggunakan akal sehat sesuai dengan fungsinya guna mencapai pengetahuan yang benar. Selain itu Allah telah menugaskan Rasulllah untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada ummat manusia. Sedang manusianya berkewajiban mencari ilmu tersebut sebagaimana yang telah dibanyak hadist. Oleh karena itu, setiao kali orang muslim menggunakan akalnya (berijtihad) dalam penyelidikan dan pembahasan segala sesuatu yang akan menghasilkan peningkatan dan kemajuan taraf hidup dan kehidupannya yang di nilai sebagai seuatu ibadah kepada Allah, serta dalam menyelesaikan satu permaslahan tertentu dari permasalahan Islam. Dengan kebebasan berfikir, berperasaan dan bertindak yang telah diberikan Allah kepada manusia mereka harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya dihadapan Allah. Karena Allah juga telah memebekali manusia dengan sarana dan prasana untuk menjalani hdiup dan kehidupannya, baik yang berupa fisik atau non fisik, yakni seperti kesadaran, akal fikiran, dan perasaan ssebagai alat untuk menaggulangi

12

segala kebutuhan hidupnya yang bersifat materi dan spritual atau kerohanian. Akrena manusia telah diberikan kemampuan dan kesanggupan untuk menilai sesuatu sesuai kadar kemampuan untuk mengambil keputusan, bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan yang diberikan Allah, serta didorong oleh hasil penggunaan akal fikiran, perasaan dan kesadarannya. 3. Etika Etika ialah filsafat yang mempersoalkan prilaku baik dan buruknya manusia terhadap tuhan atau orang lain.12 Yang sebenarnya etika merupakan bagian dari kalsifikasi lain. Etika merupakan pembagian dari filsafat, sebagaimana pandangan atau hasil pemikiran Plato (427-348) yaitu Dialektika, Fisika dan Etika. Sedangkan etika yang dikehendaki dalam pendidikan agama Islam adalah etika yang berasaskan akidah Islam demi kebaikan masyarakat beragama dan masyarakat bengsa pada umumnya. Karena dasar adalah akidah, amak etika atau akhlak harus diyakini kebenarannya fan harus pula diamalkan.13 Agama Islam adalah merupakan petunjuk bagi umat Islam dalam menjalani hidup dan kehidupannya, maka manusia harus dapat dan mampu memadukan aspek spiritual dan material untuk mencapai kehidupan yang tertinggi dan sempurna. Sebagaimana konsepsinya, agama juga memiliki fungsi sebagai alat dan media tersendiri bagi para pemeluknya hingga ia mati,
12 13

Ibid. 38 Drs. H. hamdani ihsan, drs. H a fuad ihsan, filsafat pendidikan Islam, bandung, pustaka setia 2007. cet.III

13

dalam usaha mencapai kerukunan dan keserasian baik antara ia dengan manusia lainnya atau dengan sang kholiqnya. Ada banyak keterangan yang menyatakan bahwa manusia hauslah menjalankan hidup dan kehidupannya sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh penciptanya, yaitu ibadah yang harus di laksanakan dengan segala kesadaran dan karena itu merupakan maksud yang sebenarnya dari kehidupan ini. Agama tidak akan lumpuh hanya karena disebabkan oleh perkembangan zaman dan teknologi, bahkan akan memberikan sumbangan tersendiri dengan mental para pemeluknya. Agama yang akan membentuk dan dan membina watak dan perangai dengan cara memepengaruhi dan mengendalikan dorongan-dorongan bathin.

14

D. KESIMPULAN Dari segala ilmu pengetahuan yang bersifat islami, sumbernya adalah AlQuran dan hadis sebagai ajuan dalam merumuskan konsep pendidikan Islam. Selain itu nilai tradisi sosial, budaya, ekonomi, politik dan perkembangan dunia pendidikan dari bangsa-bangsa yang maju, penetapan dan pengakuan internasional adalah sebagai sugesti kuat dalam mencari inspirasi-inspirasi pemikiran falsafah pendidikan, dengan menjadikannya sumber utama dalam penetapan satu perangkat pendidikan yang nantinya mengantarkan dunia pendidikan Islam semakin perkembang, menjaga pertumbuhan moral yang kian tak sedap di pandang, karena pengeruh dari barat, pemikiran-pemikiran barat yang tak relevan dunia kita, akan juga dapat mengurangi nilai pekembangan dan laju duni pendidikan Islam. Sedang ruang lingkup pendidikan Islam itu sendiri tak lebih dari pemikiran yang mendalam, teliti, kritis, analistis, radikal yang sesuai dengan kurikulum dan pengajaran di negara kita, dan dapat mengantarkan para generasi mencapai hakikat hidup sesungguhnya, mencapai kesempurnaan tinggi, tanpa terdorong hawa nafsu, dalam beramal dan berbuat.

15

Daftar oustaka 1. Saifudin, Endang Ansori, M.A. Ilmu Filsafat Agama, Surabaya, Pt Bina Ilmu, 1979 2. . Yatimin A, Drs. M, M.A, Studi Islam Kontemporer, Jakarta, Amzah, 2006 3. Zuhairini, Dra.dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, Cet. Ke3 4. Muhammad, Omar, Al- Taumy Al- Syaibany, Prof. Dr., Falsafah Pendidikan Islam, Alih Bahasa Dr. Hasan Langgulung Jakarta, Bulanbintang, 1979 5. Jamali. Sahrodi, Dr. membedah nalar pendidikan agama Islam. Yogyakarta, Pustaka Rihlah Grup, 2005. 6. Wiramihardja, Sutardjo A, Psi Prof.Dr.. Pengantar Filsafat.sistimatika Filsafat, Sejarah Filsafat, Logika Dan Filsafat Ilmu.Bandung, Refika Aditama. 2006 7. Drs. H. Hamdani Ihsan, Drs. H A Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Setia 2007. cet-III

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->