P. 1
Kisah-kisah-Inspiratif

Kisah-kisah-Inspiratif

|Views: 249|Likes:
Published by Yani Chan

More info:

Published by: Yani Chan on Oct 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

Sections

  • Pagar Sepiring Nasi
  • Wanita di mata Lelaki
  • Sebuah parade ukhuwwah
  • Sepatu Baru untuk si Pemetik Daun Singkong
  • Silaturahmi itu
  • Pantaskah berharap Jannah
  • Multilevel Kebaikan
  • Kekerdilan yang bermakna
  • DAHSYATNYA energi IBADAH
  • Entrepeneur Langit
  • Berawal Dari Mimpi
  • Amal Pembayar
  • ALLAH TIDAK TIDUR
  • Air Mata Rasulullah
  • Ajaibnya Kata-Kata
  • Kasih sayang Ibu
  • Mandikan aku, mom…
  • Perempuan Dengan Hati Seluas Samudera

Pagar Sepiring Nasi

Oleh Bahtiar HS Kuliah Ahad Shubuh, di masjid kampung saya, topiknya berat: Pola Konsumsi Muslim, menukil pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi. Tetapi, yang ingin saya sampaikan kali ini bukan materi berat itu, melainkan sebuah humor, yang jadi selingan ustadz pengisi siraman rohani pagi itu. Bukan karena lucu, melainkan justru karena sangat bermakna. Dialog ini diambilnya dari lawakan Srimulat, entah kapan. Saya sendiri rasanya belum pernah mendengarnya. Ustadz itu kemudian bercerita -- dengan tokoh yang saya reka sendiri: Asmuni bertanya pada teman-temannya, “Ada yang tahu nggak, apa yang paling aman bisa menjaga rumah kita dari gangguan orang?” Sejenak kemudian, Tarsan yang tinggi besar menjawab, dengan gaya sangat meyakinkan, “Yang paling aman adalah buat pagar yang sangat tinggi, biar orang lain tidak bisa memasuki atau melompat ke dalam halaman rumah kita.” Asmuni tertawa. “Ha ha ha! Syalahh!!” Timbul menimpali jawab. “Pelihara aja anjing herder yang paling gedhe dan galak! Ya, kan Asminu? Eh, Asmuni?” Asmuni tertawa lagi. “Ha ha ha! Sudah ngawur, salah pula!!” Bisa ditebak, akhirnya tidak ada yang bisa memberi jawaban yang menurut Asmuni benar. Semua menyerah. “Apa dong jawabnya?” tanya mereka. “Ha ha! Nyerah?” tanya Asmuni meledek sambil mesam-mesem. “Jawabnya gampang! Yang paling aman menjaga rumah kita adalah … sepiring nasi!” “Sepiring nasi?” ulang Timbul linglung. “Ah, ojo guyon?” “Ini betul, Pak Timbul!” “Gimana mungkin sepiring nasi bisa menjadi penjaga paling aman rumah kita?” “Lho, coba saja. Berilah tetangga kita sepiring nasi, merata, dan yang sering-sering aja,“ kata Asmuni serius. “Bahkan rumah kita tak dikasih pagar sekalipun tidak akan ada yang nyolong. Ya, nggak?” Semua melongo, kemudian mengangguk-angguk. Yang kemudian akan saya ceritakan ini bukan lawakan, melainkan kenyataan yang saya alami dan lihat dengan mata kepala sendiri. Sebuah pengalaman nyata. Pertengahan Januari 2005 yang lalu, selepas tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, saya berkesempatan mengunjungi Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad, pemilik perusahaan HPA Sdn. Bhn. di Negara Bagian Perlis, Malaysia. Kebetulan istri saya sedang belajar ilmu pengobatan herba di Kolej Perubatan Jawi (KPJ) di bawah pembinaan beliau selama satu setengah bulan. Ada dua hal yang sangat berkesan di hati saya ketika itu. Pertama, ketika pertama kali datang di areal KPJ, saya disambut Tuan Haji Ismail dan dipeluknya bagai saudara dekat yang datang dari perjalanan jauh -dan memang sangat jauh mengingat Perlis terletak di perbatasan Malaysia dengan Thailand Selatan. Dan yang kedua, dipersilakannya saya bersama istri dan anak saya yang masih menyusu untuk menginap di rumah beliau, di bilangan Jejawi, sekitar 10 km dari Kangar, ibukota Perlis. “Anggap rumah sendiri, Pak Bahtiar,” kata tuan rumah yang ramah ini. Rumah itu berbentuk sebagaimana rumah di Jawa. Terbuat dari pasangan batu bata dan semen, dengan atap dari seng atau genteng. Langit-langitnya ditutup asbes dan lantainya dipasangi keramik apa adanya. Di sebelahnya ada rumah panggung dari kayu, bentuk khas rumah penduduk di sana yang kiranya tetap dipertahankan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (Jawa: gedheg) yang berlubang-lubang sehingga ketika tidur bisa mengintip bintang di langit. Di sebelahnya lagi sebuah surau sederhana, tempat keluarga Tuan Haji dan masyarakat sekitarnya salat berjamaah.

1

Meskipun ada pagar berbatasan dengan jalan, tetapi jalan masuk ke lingkungan rumah ini tidak berpintu. Juga antara rumah satu dengan tetangga lainnya yang berdekatan tidak ada pagar pembatas. Kami ditempatkan beliau di rumah batu-bata; di sebuah kamar, yang biasa dipakai putra-putri beliau jika sedang di rumah -pada saat itu, semua anaknya (kecuali yang baru lahir) sedang berada di pondok pesantren Tahfidhul qur’an. Di lingkungan ini berkumpul satu komunitas masyarakat -semacam dusun di Indonesia - yang terdiri atas beberapa puluh rumah. Dusun ini dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas dan terbuka dengan latar belakang bukit yang menjulang di kejauhan. Sungguh pemandangan pedesaan yang modern tetapi asri. Mengapa saya bilang modern, karena fasilitas jalan yang tersedia sangat lebar, mulus, tertib, lengkap dengan rambu-rambu yang bagus dan terawat. Juga terdapat banyak pabrik beraneka rupa yang memproduksi berbagai jenis barang komoditi. Singkat kata, Jejawi bukan serupa pedesaan di Jawa, melainkan sungguh-sungguh sebuah kota yang ramai. Ada satu hal yang paling berkesan tinggal di rumah Tuan Haji Ismail ini. Rumah beliau yang kami tempati tersebut tidak pernah dikunci! Ya, tidak pernah dikunci! Di malam hari sekalipun. Bahkan mobil beliau -dua atau tiga, saya tak tahu pasti jumlahnya- hanya diparkir di samping rumah, tanpa pagar, dengan kunci yang hanya diletakkan di teras. Setiap orang dengan sangat mudah menemukannya jika mau. Jika kami masuk rumah, tinggal mencopot sepatu di luar pintu, membuka pintu sebagaimana adanya dan menutupnya sedemikian rupa. Itu saja. Di dalam rumah pun demikian juga. Kami dengan mudahnya bisa masuk ke ruang tamu beliau, perpustakaan, ruang makan, dapur. Selama lima hari tinggal di rumah itu – kebetulan beliau juga sedang ke Aceh, membantu korban tsunami – tak ada pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabnya kecuali mengapa rumah ini tidak pernah dikunci. Apakah pemilik rumah ini tak takut kehilangan benda berharga di dalamnya ? Apakah Tuan Haji tidak pernah kemalingan ? Jawabnya ternyata tidak jauh dari lawakan di atas. Ya, sepiring nasi. Maksud saya, Tuan Haji terkenal sebagai orang yang dermawan, suka memberi pada tetangganya, pada orang lain yang membutuhkan. Ia sangat memperhatikan zakat dan infaqnya. Ia pun sangat sederhana. Bahwa baju yang dimilikinya hanya cukup dipakai bergantian selama seminggu alias tujuh hari barangkali sudah cukup menggambarkan betapa ia hidup bersahaja dan tidak bermewahan. Padahal beliau adalah pemilik perusahaan HPA yang produknya sudah merambah tidak hanya Malaysia, tetapi juga seluruh pelosok Indonesia, Thailand, bahkan Timur Tengah. Ia seorang muslim yang konglomerat kalau boleh saya bilang. Bagaimana jika harta di rumah Tuan Haji dibawa maling? Seseorang pernah bertanya demikian. “Itu saya anggap Allah sedang membersihkan harta saya yang mungkin kotor,” jawab herbalis itu. Namun, apakah Tuan Haji pernah kemalingan? “Pernah juga,“ jawabnya kalem. “Tetapi sekalinya pencuri itu mengambil barang-barang di rumah saya, tak berapa lama kemudian ianya kembali ke rumah dan mengembalikan barang-barang yang diambilnya semula.” Yah, kalau begitu sih, tak usah dikunci juga tak apa-apa. Pencuri saja akan mengembalikan hasil curiannya dari rumah Tuan Haji. Jadi, apatah gunanya dikunci-kunci pula? Sudah lima hari saya di Malaysia dan menginap di rumah itu. Saya sudah waktunya pulang ke Indonesia. Istri dan beberapa teman peserta KPJ serta karyawan Tuan Haji Ismail mengajak saya berkeliling Perlis. Ke Gua Kelam, Wang Kelian di perbatasan Malaysia dengan Thailand, Masjid Kangar, dan sebagainya. Karena saya akan pergi seharian dan kebetulan saya membawa tas berisi laptop milik perusahaan tempat saya bekerja, maka secara refleks saya memasang kunci kamar dari dalam. Toh tinggal pencet. Dalam batin saya, takutnya kalau laptop mahal itu hilang dicuri orang. Ketika pintu saya tutup dari luar dan kemudian … klik! … terkunci, barulah saya menyadari bahwa saya betul-betul tidak tahu di mana anak kuncinya berada. Akhirnya saya lalui kunjungan ke beberapa tempat tersebut dengan hati yang tak jenak. Gara-gara suudzon pada rumah Tuan Haji yang tak berkunci, justru saya terlibat kesulitan karena telah mengunci kamar tanpa tahu di mana anak kuncinya berada. Mana tuan rumah juga 2

sedang tidak di tempat. Maka setelah kunjungan selesai, kami berkeliling mencari tukang kunci di Kangar. Untung masih ada satu toko yang buka -itupun setelah orangnya ditelpon ke rumah. Jadilah kami membongkar kunci kamar Tuan Haji hanya karena kelalaian kecil; hingga karenanya saya harus membayar RM 70 pada tukang kunci necis itu –bawaannya mobil keren. Uang itu setara dengan Rp 175.000,- hanya untuk kerjaan ketrampilan tangan Mac Giver mengkutak-katik lubang kunci dengan sejengkal kawat. Mungkin untuk bisa seperti Tuan Haji Ismail yang tanpa beban membiarkan pintu rumahnya tak berkunci, saya harus membuang jauh-jauh prasangka jelek (su'udzon) pada orang lain, di samping tentu berbagi “sepiring nasi”. Wallahu a’lam.

Sandal Pak Ustadz
Ketika masih di bangku kelas 6 sekolah dasar, saya dan beberapa teman belajar mengaji di rumah seorang ustadz di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Seperti kebanyakan pengajian anak-anak di kampung pada saat itu, seorang ustadz sudah dianggap sebagai Ayah sendiri, isterinya pun sudah seperti ibu bagi anak-anak yang belajar, bahkan rumah ustadz yang dipakai untuk tempat belajar mengaji dianggap rumah sendiri sehingga sudah lazim setiap sebelum mulai pengajian ada anak-anak yang bergantian tugas membersihkan rumah. Pernah suatu hari, saya tak mengerjakan kewajiban saya membersihkan lantai dan lebih memilih bermain di halaman depan seraya membiarkan anak lain yang membersihkan. Saat pengajian dimulai, pak Ustadz memanggil saya. Sebagai hukumannya, saya diminta berdiri di sudut ruangan. Saya kesal, marah, dan merasa harus berbuat sesuatu untuk membalasnya. Akhirnya, sepulang mengaji, saya sengaja menyembunyikan sandal jepit pak Ustadz. Saya tahu, sandal itu yang selalu dipakainya saat mengantarkan anak-anak pulang sampai ke pintu gerbang. Sandal itu juga yang sering dipakainya pagi hari untuk jalan-jalan sekitar kampung. Hingga kini saya tak pernah lagi tahu apakah pak Ustadz merasa kelimpungan malam itu, atau paginya, mencari-cari sandal jepitnya. Karena ketika keesokan sorenya saya kembali untuk mengaji, sepasang sandal jepit baru milik ustadz di samping pintu rumah. Hingga hari ini, saya tak pernah bisa menghilangkan ingatan saya akan peristiwa hampir 20 tahun silam. Seperti halnya saya tak pernah bisa lupa akan wajah teduh dan sabar pak Ustadz mendidik puluhan anak yang sebagian besar justeru bertipikal seperti saya, susah diatur dan nakal. Namun yang terus menerus membuat saya lelah adalah betapa saya senantiasa dihantui rasa bersalah karena menyembunyikan sandal jepit pak Ustadz. Sungguh, sampai hari ini saya masih mampu dengan jelas mengingat warna dan bentuk sandal jepitnya dan dimana saya menyembunyikannya. Itu cuma soal sandal jepit. Bagaimana dengan dosa dan kesalahan saya yang lain? Lelah, sungguh saya teramat lelah karena mata ini bagaikan sebuah rekaman yang terus menerus diputar ulang untuk mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah saya lakukan. Kalau lah soal sandal jepit pak Ustadz saja sudah sedemikian membuat saya lelah karena terus menerus merasa dihantui perasaan bersalah dan juga ketakutan seandainya pak Ustadz tidak pernah ridha terhadap anak yang menyembunyikannya, bagaimana dengan ratusan, bahkan ribuan orang lain yang juga pernah bersinggungan dengan saya, pernah merasa sakit hati oleh lidah saya, pernah terhina oleh tatapan saya, pernah terpukul oleh sikap saya ? Tuhan, bantu hamba-Mu agar senantiasa kuat dan menjadikan semua rekaman peristiwa masa lalu itu sebagai pelajaran berharga. Agar diri yang lemah ini tak terus menerus berbuat salah, padahal mengingat yang sudah berlalu pun sungguh teramat melelahkan. Semoga saja pak Ustadz ridha dan memaafkan saya, meski mungkin ia tak pernah tahu persis anak yang menyembunyikan sandal jepitnya.

Wanita di mata Lelaki
Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata 3

. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda.. Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top". Apalagi barang bagus itu gratis. membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. An-Nuur : 30-31 ). karena itu sungguh nyaman. cantik. duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan ? So.. Berharap anda melakukan lebih seksi. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? Sungguh saya miris dengan iman saya. pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya lelaki bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang. kalau dipandang bikin sejuk di mata. balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang!" Astaghfirullahal 'Adhim. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki ? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan ! Mau tidak mau. orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. ke mana lagi mata ini harus memandang …? Kalau saya berbicara nafsu. dan lebih lagi. Kalau boleh saya ibaratkan. Saya yakin. mempersona dan tentunya sejuk di hati dan menyejukkan mata. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang. rata-rata setiap harinya. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor. Bukan paras yang membikin mata panas. Jadi tak salah juga bukan ? kalau saya paling malas diajak ke mall. membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "forno" dan hatipun menjadi keras. banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian. ow jelas sekali saya suka. saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya. noleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka". Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu. janganlah berbangga hati dulu. tentram. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang. saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. baik dengan kata-kata yang nyeleneh. Simpel saja. Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Kecuali bagi mereka yang memang berniat untuk menarik lelaki agar memakai aset berharga yang mereka punya. Astaghfirullohal 'Adhim.. saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Bukan pada hari ini saja. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. mendongak ke atas langit atau menunduk ke bawah tanah. Saya ingin protes. sengaja ataupun tidak. wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata." (QS. lebih. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona. kemana …. karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki. daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya.. tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See". Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini. Mungkin ada yang menikmati. Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya". tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Allah Taala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman.. 4 . yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. kafe. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalaik ramai. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi. anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada lelaki. tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya? tapi saya sungguh takut dengan Dzat yang memberi mata ini. berjilbablah .saya terbelalak. anggun.

jabatan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan lembaga. Tak pernah menjadi masalah baginya bertanya. Laki-laki itu. Lembaran rupiah pun dengan ringan melayang.tanpa harus kehilangan wibawa. ia melambaikan tangan memanggilku ketika aku lewat. Sebagaimana tak masalah pula ketika para staf meminta dibelikan rujak atau makanan.”Ada yang bawa kue/oleh-oleh. rumah itu telah pernah menjadi tempat singgah begitu banyak jiwa. bahkan bangku tamu pun dapat dijadikan tempat rapat. ia terus berkembang. Dan karenanya aku tahu. terlintas tanya: Masihkah nanti ia akan melambaikan tangan menyuruhku masuk ke ruangannya dan berbincang panjang lebar tentang pekerjaan hingga permasalahan pribadi? Masihkah ia akan dengan santai makan kue bersama kami? Masihkah ia bercanda ceplas-ceplos bersama para anak buahnya? Dan tulisan ini menjadi perantara pesan itu: tetaplah Engkau seperti yang dulu. bahwa ia adalah seorang yang ringan tangan. Bahkan saling ledek dengan staf pun sesuatu yang biasa. ia sudah menjadi seseorang yang cukup dekat denganku. Karena semua adalah tim kerja. ia terus menjadi salah satu bagian hidupku di dunia kantor. Gerak geriknya gesit. ia dilantik menjadi kepala di biro tempatku bekerja. Postur tubuhnya ideal. aku becerita tentang kondisi terakhirku setelah sebulan menikah. Namun dalam benak. atau sekedar istirahat. ringan hati dan dermawan terhadap sesama. Baginya tak ada bos dan bawahan. kulihat sering berkunjung dan keluar dari ruangannya menggenggam amplop. ya?“ dan kemudian mencomotnya. Kedekatan dan keakraban itu bahkan hingga taraf konsultasi kehidupan pribadi. Tak satu pun pedagang dan peminta sumbangan yang melewatkan mejanya.Tetaplah Engkau Seperti Yang Dulu. Dan karenanya aku tahu bagaimana rumahnya menjadi tempat berlabuh bagi banyak orang. Beberapa saat sebelumnya. hanya setingkat lebih rendah dari orang nomor satu di instansi kami. Laki-laki itu. Adalah kebetulan aku sedikit mengenal keluarganya. Maka dirinya menjadi dekat dengan siapa saja -dari pejabat hingga office boy. Dalam enam tahun itu. internet. pasti akan ada sesuatu yang mereka terima. Laki-laki itu. termasuk dengan staf-staf lain tentunya. Berbincang dan bercanda adalah salah satu kebiasaannya. karirnya terus menanjak. termasuk diriku. Namun toh. Pertama kali aku mengunjungi tempat tinggalnya. “Nduk! Piye kabarmu sak wise kawin?” Laki-laki itu dengan to the point menyampaikan pertanyaan itu begitu aku duduk di depan mejanya. Adalah biasa baginya makan rujak dari bungkus yang sama dengan anak buahnya. Tak ada istilah ruangannya adalah tempat istimewa yang tak boleh dijamah siapa pun. Ruang kerjanya terbuka untuk siapa saja. Aku masih ingin engkau memanggilku dan bertanya: “Piye kabarmu. Syukur dan selamat tak lupa terlantun dari bibir ini. Itulah saat terakhir aku berbincang cukup banyak dengannya. saat ia menjadi pejabat level paling bawah di kantorku. aku sempat terpana: rumah itu terlalu sederhana untuk seorang ia. (mungkin) karena banyak berpikir keras. 5 . Panjang lebar. Kemarin. Bahkan pernah ada saat-saat ia membuatku menangis dengan menanyakan hal-hal yang terkait dengan kehidupan pribadi. Pak ! Oleh Azimah Rahayu Laki-laki itu. Seorang gadis kecil berjilbab. Laki-laki itu. Hingga semua fasilitas di sana dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh anak buah: komputer. Sejak pertama kali aku mengenalnya sekitar 6 tahun yang lalu. Usianya belum lagi 40 tahun meski rambutnya nyaris telah memutih semua. Tak ada kesan kebirokratisan sehingga anak buah dan rekan kerja menjadi sungkan. Laki-laki itu. Aku masih ingin makan rujak bersamamu dari bungkus yang sama. sedang banyak orang lainnya masih tetap sama seperti sebelumnya. Laki-laki itu. Karena jika mereka menghampirinya. Dalam 6 tahun itu. Dan dari lisannya kemudian mengalir nasehat-nasehat panjang tentang pernak-pernik pernikahan yang kudengar baik-baik meski sekali-kali kami timpali dengan canda. dipercaya oleh banyak pihak dan kemudian menjadi seseorang yang terpercaya. Berbincang dari hati ke hati dengannya bukan sekali dua kali saja kulakukan. meski aku bukan lagi anak buahnya. Pak! Aku masih ingin melihatmu menerima gadis kecil itu. Tak pernah mereka pergi dengan tangan kosong. Dan sejak itu. telepon.

untuk menuju stasiun. Zufar agar tidak ketinggalan kereta menuju Jakarta.. Zufar pun menjelaskan penyebab anaknya pulang terlambat.' jawab Ubay riang. Betapa kagetnya saya ketika teman saya memberitahukan bahwa Ust.. Sebuah parade ukhuwwah Sebuah kisah nyata seperti yang di utarakan oleh Drs. Itulah kenangan terakhir dan satu-satunya pertemuanku dengan Ust. Diantara sekumpulan anak-anak tersebut terdapatlah seorang anak bernama Ubaidurrahman (Ubay) yang saat itu ingin sekali membeli rujak namun uangnya ketinggalan di kelas. berkumpul sekelompok anak-anak sekolah yang sedang istirahat mengerumuni abang penjual rujak. atau memang panitianya yang tidak memperhatikan.. saya tidak habis fikir mengapa Ust. Zufar sedang berdiri menunggu angkutan umum yang saya yakin beliau tidak hafal rutenya. 'Masya Allah.00. menandakan waktunya untuk pulang. Keinginan Ubay itu ditangkap oleh temannya Hamad tanpa terlewat sedikitpun. Tidak terkecuali dengan Hamad. maka dari itu jika salah satu tidak ada maka yang lainnya pun sirna. Bel sekolah telah berbunyi. besok saja ya. walaupun harus dengan berlari setelah sebelumnya masih sempat menyalamiku sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku. Saya sempat mengenalnya ketika beliau mengisi sebuah seminar di Bandung dimana saya terlibat sebagai panitia.. disebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Bangka Jakarta Selatan. saat itu fikiranku hanya mengantar Ust. yang biasa memerlukan waktu 1 jam jika ditempuh dengan kendaraan. Dalam keadaan tidak ada uang sepersen pun. Begitulah. Zufar. dan itupun untuk ongkos pulang. uangnya tadi sudah dipakai. Beliau ialah sosok yang ramah.Ust. Zufar yang kemudian memberitahukan kepada Pak Umar selaku kepala sekolah madrasah. Umar Ali Yahya dan Syarifuddin. Hamad aku lupa. Zufar tidak memberi tahu panitia kalau keadaannya seperti ini. yang artinya hanya 10 menit lagi kereta akan segera pergi. rupanya siang itu anak-anak sedang membeli rujak. coba telepon teman-temannya barangkali memang sedang ada acara di sekolahnya. Zufar Bawazier.*** 'Hamad kok belum pulang ya Bu? Aku mulai khawatir. Saat itu Hamad pun sebetulnya ingin membeli rujak juga.Engkau seperti yang dulu! Kami membutuhkan pemimpinmu. pikirku. beliau kami sediakan tiket pulang dengan Kereta Api untuk jadwal kepergian jam 13. pak. Umar Ali Yahya].. namun uangnya tinggal seribu rupiah saja. nama lengkapnya ialah Ust.' pinta Ust.' Hamad menatap Ubay sejenak dan kemudian mengangguk dengan senyum khasnya.50. 'Kriiing. Aku susuri jalanan kota Bandung dengan kecepatan tinggi.' telepon di rumah Pak Umar berdering. ya. Saya segera mengambil motor untuk mengantarnya menuju stasiun.Nduk?” Aku masih ingin mendengar cerita tentang jagoan kecilmu yang makin pintar. Saat itu. Dan memang akhirnya Ust. Zufar bisa mendapatkan keretanya.. ia pun pulang meskipun tidak seperti hari-hari sebelumnya. Zufar merupakan ayah dari Hamad. 'Pake uangku saja dulu Ubay. Kali ini dia terlihat berjalan kaki.. aku tak peduli. Lc. dosen LIPIA dan juga pengurus sebuah Partai Islam di Indonesia. Aku masih ingin. bahkan sempat melanggar beberapa rambu lalu lintas. Zufar pada istrinya. Telepon itu ternyata dari Ust. Tingkat ukhuwah terendah ialah bersih hati dan berbaik sangka pada saudaranya sedangkan tingkat ukhuwah tertinggi ialah mendahulukan saudaranya daripada dirinya [Drs. bahkan untuk ongkos pulang sekalipun. Alkisah. Ukhuwah dan keimanan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. bahwa anaknya saat itu pulang malam sekali.. nanti aku ganti uangnya di kelas ya. 'Terima kasih. Ketika sampai di kelas ternyata Ubay tidak membayar hutangnya karena ternyata uangnya sudah terpakai untuk yang lain. artinya mengharap balasan hanya dari Allah SWT. Memberi tanpa mengharapkan kata terima kasih dan tidak mengharap balasan. Hamad meminjamkan uangnya yang hanya tinggal seribu itu pada Ubay untuk membeli rujak dengan harapan nanti akan dibayar di kelas. berjalan kaki dari sekolahnya di Bangka-JakSel sampai rumahnya di Jatibening-Bekasi.' seru Hamad pada Ubay yang terlihat sangat ingin sekali membeli rujak. Ukhuwah intinya 'MEMBERI'. Hamad masih tersenyum dan menjalani sisa harinya dengan kegembiraan. Lebih parah lagi waktu telah menunjukan pukul 12. 6 . Lalu Ust.

ia segera pulang. Bersama belasan anak sebayanya yang lain. Ayah Kiki.. melainkan pemberian dari teman-temannya atau kakak kelasnya yang sudah lulus. hanya seorang pembuat miniatur menara dari bambu. Penghasilannya tak tentu. Pak Umar memanggil Hamad dan Ubay ke Kantor.' Pak Umar terkenal akan kebijaksanaannya. ia malu setiap hari harus ditegur guru dan kepala sekolahnya lantaran ia tak bersepatu. namun posturnya yang tinggi membuat orang mengira ia siswa kelas 3 SMP. orangtuanya tak perlu repot mengeluarkan uang bayaran sekolah karena Kiki sudah bisa membayar sendiri uang sekolahnya. sejak siang hingga senja tak kurang 150 ikat berhasil dikumpulkannya.-.” ujar Kiki yang teramat sayang terhadap Rini. Kiki pun tahu diri untuk menuntut dibelikan sepatu. Untuk satu ikat kecil daun singkong yang dipetiknya. karena celana mainnya yang lebih panjang itu menyembul dari celana hijau seragamnya. Januar Rizky. Menjelang ujian bulan April 2006 nanti. adiknya yang baru kelas 3 SD. Bahkan untuk membeli buku pelajaran pun. Kiki dijemput bosnya dengan sepeda motor dan diajak ke ladang singkong. Rini sang adik pun sekolah tanpa sepatu. semua dilakukannya demi satu cita-cita. orangtuanya bukan orang yang mampu. 'Lihatlah. Kiki mendapat upah Rp 20. Kiki berpacu dengan waktu memetik pucuk daun singkong yang oleh bosnya nanti dijual ke pasar. Menjelang maghrib. Sudah satu pekan ini Kiki tak mau bersekolah. Selama ini. Tak ingin ia mengadukan perihal tersebut kepada Ayahnya. jumlah yang teramat kecil untuk simbah-peluhnya. maklum bukan barang baru. Sepatu Baru untuk si Pemetik Daun Singkong Usianya baru 12 tahun. Namun waktu yang singkat itu telah cukup baginya untuk meniup kuncup dalam diri ini sehingga mekar menjadi bunga. Waktu yang cukup singkat untuk sebuah pembinaan yang bertajuk Ta'lim Rutin Kader Activis. Pasalnya. Wajarlah bila seragam Kiki terlihat lebih jelek dari siswa lainnya. hanya seorang ibu rumah tangga yang menderita stroke. Kulit hitam dan merah di rambutnya adalah bukti kerasnya hidup yang dijalani bocah dari keluarga tak mampu ini. ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sehingga biaya sekolah lebih murah. Alhasil. tergantung pesanan. Lucu ? Tentu tidak. Jika Anda biasa makan lalap daun singkong di rumah makan Padang. Kiki sadar. atau biasa dipanggil Kiki.. Usahanya untuk tetap berseragam malah mendapat teguran dari seorang guru. Kiki semakin resah.' Begitulah kisah mereka berdua. sehingga ia tak mau merepotkan. parade ukhuwah mereka begitu mempesona setiap orang yang melihatnya. Namun dasar Kiki adalah pekerja keras yang tak kenal lelah. 7 . 'Maafkan aku ya Hamad. “1. ini pakai saja sepatuku. buat masak. Setiap hari. Untungnya. yang memang sebelumnya sudah lusuh. butuh biaya besar untuk mengobati penyakitnya. tak kenal lelah mengumpulkan ikat demi ikat daun singkong yang berhasil dikumpulkannya setiap pulang sekolah. Tidak ditemukan wajah kesal atau kecut dari Hamad. beliau digelari 'Pembina Sejati' oleh teman saya di Bandung yang pernah merasakan sentuhannya pula. Kiki pun mengeluhkan hal ini kepada Ayahnya. Bukan cuma soal sepatu. Sisanya saya simpan buat bayar sekolah dan uang jajan Rini. Namun apa daya. Ubay menangkap semua itu tanpa terlewat sedikitpun. suatu pancaran ketenangan jiwa dari seorang anak yang masih bersih hatinya.” ujarnya malu-malu. Namun. aku punya dua sepatu kok di rumah. Kiki hanya bersandal jepit ke sekolahnya. sepatu temanmu rusak karena kamu menyia-nyiakan kebaikannya. Setiap hari sepulang sekolah. Kiki pun tersenyum puas menghitung uang hasil jerih payahnya. Pesanan pun baru bisa dipenuhi sang Ayah jika ada modal untuk membeli bahan baku. Tak hanya Kiki. Kepala sekolah sudah mengancam tak mengizinkan Kiki mengikuti ujian jika Kiki tetap bersandal ke dalam kelas. setiap bulannya. karena celana seragam pemberian dari temannya lebih besar dari ukuran tubuhnya. teguran dari gurunya ia simpan dalam hati. “Insya Allah”. Sementara ibunya. Pernah satu hari Kiki harus mendobeli celana seragamnya dengan celana mainnya. boleh jadi itu adalah hasil petikan tangan Kiki. ini menyedihkan buat Kiki.500 buat ibu. Saya beruntung pernah menjadi binaanya selama setahun. Sepatu tua Hamad terlihat rusak. baju seragam Kiki pun bukan hasil beli di toko. Lalu Pak Umar berkata pada Ubay. Tak heran. Kiki tak mau meminta.Esok harinya. sang Ayah pun hanya bisa pasrah dan mengucap janji. “Saya ingin membahagiakan ibu. duduk di bangku kelas 6 Madrasah Ibtida’iyah –setingkat SD-.

Rupanya.” jawab perempuan itu ragu. Esok.. Kiki harus pulang selepas Isya. bukan karena ia tak punya kerabat di Jakarta. bisnis si bos bukan hanya menjual daun singkong. Kadang-kadang. Hingga tak jarang. Mendung menggantung di setiap ujung langit. Kini. bahkan untuk dirinya sendiri. bahkan kemudian menantang sang suami bermain catur. Meski jarang. Suasana yang membuat nyaris semua orang enggan meninggalkan rumah. Ini bukan yang pertama kali. ia amat jarang bertandang ke kaum kerabatnya. dengan kecepatan rata-rata. Dulu sebelum ia menjalani semua ini. Air kembali tumpah saat mereka tiba di sebuah komplek perumahan yang cukup elit. ia masih mampu bersaing dengan teman-temannya dan meraih peringkat dua atau tiga di kelas. Melainkan senyum atas prestasi tertinggi yang diraihnya di sekolah. Istrinya. Sang istri tak terkejut. 45 menit lamanya naik motor dengan kecepatan rata-rata. 8 . Oleh Azimah Rahayu Hujan di bulan Januari benar-benar telah menjadi hujan sehari-hari. menghias segala lintas cakrawala. Seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu. tetapi juga menjual pepaya di pasar. Beberapa pekan sebelumnya mereka pernah mengunjungi seorang kerabat di Pasar Rebo yang jauhnya lebih dari dua puluh kilo meter dari rumah mereka. Di masa lajangnya. setelah sebelumnya mereka menyusuri jalanan Jakarta nyaris 1. “Kapan terakhir kali kau berkunjung ke rumah bude-mu (sepupu ibunya) di Tebet?” pernah suaminya bertanya. mereka telah sekalian beristirahat sejenak sambil mengeringkan badan serta shalat dzuhur dan makan siang... cengkerama itu diselingi diskusi seru tentang pekerjaan dan kondisi Indonesia kontemporer. yakni Rp 5.perhari. Kali ini. Namun laki-laki itu tak merasa perlu untuk membatalkan perjalanan selanjutnya. “Kalau begitu. Bila tak ada lagi ladang singkong yang harus dipetik pucuknya. “Hmm.Pucuk daun singkong yang setiap hari dipetiknya semakin lama semakin habis. bude-mu mendapat jatah giliran silaturahmi pertama. Kiki pun beralih profesi sebagai pemanjat pohon pepaya. Sejak matahari belum lagi sepenggalah. Seperti siang itu. hanya menyisakan batang-batang singkong tak berdaun. Kiki dan seorang temannya lah yang diandalkan sebagai pemanjat. Kiki harus membayar mahal untuk kegiatannya sehari-hari itu. mungkin dua atau tiga tahun lalu. Selesai shalat ‘asar. setelah sebelumnya bercengkerama selama hampir dua jam bersama sebuah keluarga salah satu kerabatnya.. peringkatnya jauh menurun. baik memetik pucuk daun singkong maupun pepaya.5 jam lamanya. Di rumah keluarga pertama. sang tuan rumah sedang jalan-jalan ke mall. Tenang dan mantap dia mengendarai motornya. tetapi hasil memetik buah pepaya ini lebih besar. rintik hujan kembali menghalangi pandangan mata. Genangan air meriak di sepanjang jalan.000. sebuah siang dengan mendung gelap. Kiki dan teman-temannya pun diboyong pindah ke ladang lainnya yang lebih jauh. tapi prestasi di sekolahnya pun menurun. mereka telah meninggalkan rumah. “Kita tunggu saja. sebuah ahad dengan langit yang pekat. Ini adalah perjalanan berikutnya. Ini adalah perjalanan ke tujuan selanjutnya. Betapa adil Allah yang mempertemukan dirinya dengan laki-laki ini. Angin basah berkesiur. kemudian menderas dan kadang mengguyur. namun aktifitasnya yang sangat padat telah membuatnya nyaris tak punya waktu untuk bersilaturahmi. menebarkan hawa dingin menggigilkan. Lagi-lagi. bukan karena ia berhasil mengumpulkan seribu ikat daun singkong perhari. Sepanjang waktu ia menumpahkan bebannya. oke?” saran sang suami. Maka kini tiba saatnya mereka menuju tempat berikutnya. Bukan. mereka kembali memacu kendaraan ke tujuan ketiga. Perempuan di boncengan motor itu termenung. Senyum ceria si pemetik pucuk daun itulah yang dinanti di hari depan. Anak sekecil itu terlalu lelah membanting tulang untuk tiga ribu rupiah perhari. Beberapa saat merintik. tak sampai tiga puluh menit mereka telah sampai di tujuan. semoga Kiki mau bersekolah lagi. bercengkerama dan bercanda gembira. meski sesekali digebernya juga. Namun laki-laki itu tetap tak jeri. Sepasang anak kembar berceloteh riang menyambut mereka. Sesosok perempuan yang menggelendot di punggungnya tak sekalipun membuatnya mengeluh pegal dan sejenisnya. Sayang. Ladang yang biasa menjadi tempatnya mencucurkan peluh itu. paling sebentar lagi pulang!” demikian simpul si laki-laki. Bukan hanya warna kulitnya yang makin legam tersengat matahari. Hujan di bulan Januari sungguh memang berarti hujan sehari-hari. Seperti hari itu. Ada sedikit rezeki untuk membeli sepatu baru buat Kiki.*** Silaturahmi itu.

suara hening terganggu oleh ulah dua orang bocah kecil berumur sekitar 3 dan 5 tahun yang berlarian kesana kemari. laki-laki itu membelokkan motornya ke jalan yang berlawanan arah dengan jalan menuju rumah. mereka masih sangat lelah.Sayang sekali. dan beberapa orang mulai menegur bapak dari kedua anak tersebut.” seringainya lucu. Malam telah cukup jauh beranjak saat mereka tiba kembali di istana mungil mereka. plus terpaan angin dan hujan dari depan? Tapi laki-laki itu hanya tersenyum. apalagi suasana pulang kerja. mereka kembali menyusuri jalanan. “Kita mampir sebentar ke kost-an temenku. Suasana kembali hening. dia menjelaskan kepada istrinya. Perempuan itu kembali mengatupkan kelopak matanya. Beberapa penumpang mulai terganggu oleh ulah kedua bocah nakal itu. Si kakak sengaja berlari dan menabrak kaki beberapa penumpang yang berdiri menggantung karena penuhnya gerbong itu. seperti apa lelah suaminya yang menyetir di depan dengan beban dirinya di punggung. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. setelah menitip pesan ke tetangga. mengusap keningnya dan berkata. Bila si-empunya koran tidak bereaksi. perempuan itu mengangguk mantap. Apabila sekali diusilin masih diam saja. Sang ayah memanggil kembali kedua anaknya. Di benaknya terbayang sambutan hangat kaum kerabat dan sahabat-sahabat suaminya saat ia dan suaminya mengunjungi mereka. yuk. silaturahmi itu memanjangkan umur dan melapangkan rizki. Tak lama kemudian. bahkan semakin nakal. Pekan depannya. ”Tante. Sesosok balita laki-laki menghambur ke pelukan istri pria itu dan berceloteh riang.” Dia membuka mata saat sang suami menyentuh lengannya. Dek?” Dalam deraan penat dan dengan mata tertutup. Bahkan ada yang korannya sedang dibaca. Tiba-tiba. kedua anak itu makin berani. Beberapa penumpang mulai menegur sang ayah lagi dengan nada mulai kesal. keduanya mulai bertingkah seperti semula. Air bagai dicurahkan dari langit ketika keluarga yang dikunjungi tiba di rumah. koran itu mulai dirobek-robek dan diinjak-injak. dan kedua anak itu duduk diam. Bapak kedua anak itu memanggil dan menenangkannya. Mereka berdua mulai mengganggu penumpang lain. “Besok malam. "Pak. Masih dengan kostum lengkap. tadi aku ke Ramayana!” Hingga setelah shalat magrib dan hujan tak lagi mengguyur. “Aku meluruskan badan sebentar. tolong dong anaknya dijaga!" pinta salah seorang penumpang. laki-laki itu kembali mengajak sang istri untuk mengunjungi keluarga itu. kadang merebut pena ataupun buku penumpang yang lain. langsung saja ditarik dan dibawa lari. Meski merasa aneh. ya Dek?” tanya suaminya retoris. suasana cukup sepi. Mereka benar-benar merasa terganggu. sang istri langsung merebahkan diri di pembaringan. “Kita sudah seminggu lebih nggak main ke rumah Mbak Nik. ‘Kemarin kan kita belum ketemu mereka?” demikian alasannya. Si anak mulai membuat ulah yang semakin membuat para penumpang di gerbong bawah tanah itu mulai marah. Di benaknya kini terlintas sabda rasul agar setiap anak menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat orang tuanya. Dia bertanya-tanya jika ia yang hanya membonceng di belakang saja secapek itu. menempuh jarak nyaris 40 km. Beberapa penumpang mulai memarahi sang ayah dan membentak. Yang kecil mulai menarik-narik koran yang sedang dibaca oleh seorang penumpang. Sudah lama dia tak berkabar dan belum juga memenuhi janjinya berkunjung ke rumah kita. Belajar empati… Sore itu disebuah subway di kota New York. rumah yang mereka kunjungi tak berpenghuni. sang istri hanya mengangguk saja. insya' Allah.”Pekan depan kita ke rumah Bulik Nur di Tambun.” jawabnya pendek. 9 . Ini adalah pelajaran untuk sebuah ketulusan. makanya dia disayang oleh saudara-saudaranya. Punggungku pegal sekali dan pantatku panas. Di telinganya terngiang kembali komentar beberapa kerabat lain.”Suamimu itu dari dulu terkenal kenceng silaturahminya. Padatnya pekerjaan telah melewatkan jadwal mingguan mereka berkunjung ke salah satu kerabat yang rumahnya hanya terpisah jarak dua gang dari rumah mereka itu. Namun belum jauh mereka meninggalkan rumah yang dikunjungi. ya. Pulang. demikian batinnya.Kereta api bawah tanah itu cukup padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Mereka kembali pulang dalam gerimis. Di benaknya kini terlintas kata bijak para ulama. dan keduanya mulai diam lagi.” tanpa ditanya.

kedua anak saya ini baru saja di tinggal oleh ibu mereka yang sangat mereka cintai."Pak. Sang ayah bangkit dari duduknya. orang yang diganggu malah kelihatan tambah menampakkan kasih sayangnya. Saking besar keinginannya untuk menemukan ayah tersebut. Kenapa? Karena sebuah informasi. Ari kangen. "Mungkin karena kejadian yang menimpa ibu mereka berdua itu begitu mendadak. Refleks aku mengambil foto di dompetku. Sampai dia melukiskan dalam bentuk surat yang ditulis tidak hanya sekali. Sekali lagi saya mohon maaf". Ibu kedua anak saya ini meninggal karena penyakit LEUKEMIA yang dideritanya". Tetapi. karena kita tidak mengetahui sebuah INFORMASI KECIL tsb. Tadi pagi. mungkin kita pernah berprasangka buruk pada teman kita.. Suasana didalam subway itu berubah 180 derajat. seolah ada pisau yang menyayat di hati. dan sambil mengelus kepala kedua anaknya meneruskan ceritanya. tidakkah ayah merindukan ari. menenangkannya. Melainkan lebih pada kerinduannya pada sang ayah. Seluruh orang didalam gerbong kereta api bawah tanah itu seketika terdiam. "Bapak-bapak dan ibu-ibu semua. tapi bapak koq diam saja".. Begitu pentingnya sebuah INFORMASI. mengganggu seluruh penumpang yang ditemuinya. Kenyataan ini semakin membuat hatiku pedih. Sampai suatu ketika Ari menuliskan surat kepada ayahnya. Bapak itu diam sejenak. Ari ingin minta mainan mobil-mobilan dan bisa sekolah seperti teman-teman. pada seorang lelaki yang telah menitipkan benih kepada ibunya sehingga menyebabkan dia ada. "Dari tadi anaknya mengganggu semua orang disini.. Tidak biasanya mereka berdua bertingkah nakal seperti saat ini. berjalan sendirian di jalan. Ari meninggalkan ibunya seorang diri dan pergi untuk mencari ayahnya. Kubayangkan Ari. betapa pedihnya untaian kalimat yang dituliskan oleh Ari yang merupakan cerminan kerinduannya pada kehadiran sang ayah. ketika temanku memberi pelatihan menulis kepada anak-anak jalanan tersebut. Banyak hal yang kudapat dari tulisan ini. Ya. Ada yang memberinya coklat..karena kita tidak mengetahui INFORMASI YANG SEBENARNYA!! That's is the POINT !!! Surat untuk ayah Oleh : Anisa Kuffa Pedih. menorehkan luka yang teramat dalam sehingga menimbulkan genangan kecil air yang kemudian mengalir perlahan di kedua pipiku. bisa mendidik anak tidak sich!" kata seorang penumpang dengan geram.merindukan kehadiran ayahnya yang belum pernah dijumpai sejak dia lahir sampai berumur 6 tahun. di manakah kau berada saat ini. mohon maaf atas kelakuan kedua anak saya ini. KECIL. tanpa orang tua. Hanya karena kerinduannya untuk menemukan sang ayah. Sebuah foto bertiga. Aku merasakannya ketika untuk kedua kalinya aku membaca tulisan salah seorang teman. Mereka dengan tiba-tiba berubah total." Duhai. Perhatikan kondisi subway itu !!! Penumpangnya masih sama !!! Kedua anak itu masih nakal-nakal !!! tetapi terjadi perubahan yang sangat mencolok. melainkan berulang kali. dan hal tersebut akan membuat 'ATMOSPHERE' yang buruk dengan teman kita. Sebuah foto yang tidak tergantikan kedudukannya sejak Oktober 2003 yang lalu. Sedemikian banyak sehingga sulit diungkap satu demi satu. dari memandang dengan perasaan kesal karena kenakalannya. Sambil 10 ... Bukan hanya pelajaran tentang kehidupan anak jalanan di Jakarta. tentang kerinduannya pada seorang sosok bernama ayah. ingin bertemu ayah. Ayah. menghampiri kedua anaknya yang masih mungil. seorang anak berumur 6 tahun. Seringkali kita salah paham dengan teman/sahabat kita. aku. "…Ayah.. berubah menjadi perasaan iba dan sayang. bahkan ada yang menemaninya bermain. Semuanya bertema sama. Kali ini tulisan bercerita tentang kisah nyata seorang anak jalanan yang sering mengamen di lampu merah kawasan Pasar Minggu. Kedua anak itu masih tetap nakal. bisa merubah semua 'ATMOSPHERE' lingkungan kita. Ari mau jalan-jalan dengan ayah ke mall dan makan di restoran kentucky. ibu dan bapak. membuat kedua anak saya ini belum bisa menerima kenyataan dan agak sedikit shock karenanya. si anak jalanan -sebut saja namanya Ari. tanpa teman. Dalam tulisan tersebut.dan dengan sangat sopan berdiri dan berkata kepada para penumpang yang ada di gerbong itu.

namun mereka masih selalu mengkhawatirkan aku seperti halnya ketika aku kecil. “Engkau harus mengistirahatkan badanmu. “Aku tidak suka kembali. Walaupun sudah 28 tahun umurku. Tiba-tiba Hisyam mendengar suara dalam kemah. benteng musuh telah terkurung. “Aku bersumpah dengan nama Allah.” Maka Said pun masuk dan tidur.” Ia mengulurkan tangan kanannya. Aku memiliki seorang ayah dan ibu yang selalu ada untukku. Hisyam tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Sebuah kegiatan yang setiap hari kulakukan. Walaupun terpisah oleh jarak. tentu aku sudah bergegas untuk pulang untuk menemui mereka.” Mendengar kata-kata itu. Hisyam dan Said sama-sama berjaga. Said malah menangis. Namun apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Ari-ari yang ada di jalanan? Untuk meringankan kerinduannya pada sang ayah? Sa'id bin Haris tak ingin kembali Belum pernah Hisyam bin Yahya menemukan seseorang seperti Said bin Harits. Ia segera mendekap pemuda itu sambil mendekapnya. Aku kemudian berpikir. Pada waktu itu. 11 . tapi aku mempunyai orangtua dan keluarga yang selalu mendukungku. Pemuda itu kuat beribadah: puasa tiap hari. ia membaca Alquran. dan malamnya bangun salat malam. ketika rombongan itu sangat khawatir dari serangan musuh. tidak ada alamat. Karena pada hakekatnya semua manusia mempunya hati. Aku mengobati kerinduanku dengan dua hal. namun mereka masih selalu dan selalu bisa nyambung ketika berbincang denganku. Rasa syukur mengaliri rongga dada manakala aku selesai membaca tulisan tersebut. Ibuku akan menemani aku di kamar sampai aku tertidur. maka Hisyam pun menasihatinya. aku berdoa kepada Allah supaya mengampuni dan menyayangi mereka serta membuat mereka berbahagia dunia akhirat. Ketika Hisyam melihat ke dalam kemah. lalu bagaimana Ari bisa menemukan ayahnya dan mengobati kerinduannya? Wajar saja jika kemudian seorang teman saya tersebut berempati dengan penderitaan Ari. Malam itu memang giliran mereka. Sebab itu hak badanmu. Masuklah engkau ke dalam kemah untuk istirahat. Tidak ada nama. Sedang Hisyam duduk di luar kemah. Sedang aku hanya menantikan maut dan berlomba menghadapi keluarnya ruh. ia berkata lagi. Dan kerinduanku pada kedua orang tuaku menyeruak hadir tanpa kusadari ketika aku membaca kisah perjalanan seorang Ari. “Ada apakah? Kenapa kau berkata begitu?” tanya Hisyam. Jika saja Jakarta-Kudus merupakan jarak yang bisa ditempuh dalam hitungan menit. Ia menjawab. Said berkata. dan barulah beliau akan beranjak keluar dari kamarku setelah terlebih dahulu membenarkan letak selimutku dan mematikan lampu kamarku. Padahal selain Said. aku meraih Hp di meja belajarku dan mulai mengirimkan sms ke bapakku. ia membaca dzikir. untuk menanyakan kabar mereka dan menceritakan kabarku disini. ketika aku pulang ke rumah. dan bila sedang berdiam diri di kemah. Bagi diri dan umatnya. Ia tahu benar pemuda di hadapannya ini tak pernah berhenti melakukan hal-hal kebaikan. Tepat tengah malam. Dan ia melompat bangun dari tidurnya. Maka dengan hati yang pilu. Jika sedang berjalan-jalan. Walaupun rambut putih sudah mulai menemani rambut hitam yang mereka punya. gambaran wajahnya saja dia tidak punya. aku memang setiap hari sms ke orang tuaku. bagaimana halnya dengan seorang Ari? Adakah menulis surat yang ditujukan kepada orang yang (seolah-olah) dianggapnya ayah tersebut sudah cukup melegakannya? Tak dapat kubayangkan kepedihan yang melanda hati Ari. ada kelegaan yang hadir walau tidak sepenuhnya karena aku tidak bisa melihat mereka secara langsung dan memeluk mereka.” Sungguh. tidak ada foto. Hisyam bin Yahya merasa sangat pilu. Ketika semalaman dilihatnya Said bin Harits beribadah. Setelah melakukan dua hal tersebut. Kedua.memandangi foto tersebut aku merasakan betapa beruntungnya aku dibanding dengan Ari. Bahkan seringkali. tiada orang lagi. Said adalah satu dari sekian banyak orang yang ikut berjihad ke negeri Rum—pada tahun 88 H. “Ini hanya beberapa nafas yang dapat dihitung dan umur yang akan habis serta hari akan segera berlalu. Jangankan bertemu dengan ayahnya. Pertama.

“Apakah engkau berjanji tidak akan membuka rahasia itu selama hidupku?” “Baiklah. "Engkau di Jannatul Ma’wa". Dalam keadaan itu tiba-tiba ada dua orang menghampiriku. diliputi dengan kursi emas. “Bahagialah engkau.“Aku tidak akan memberitahukannya padamu. ‘Kini kamu harus kembali ke dunia dan tinggal tiga hari’. “Alhamdulillaahilladzi sadaqana wa’dahu. meningkatkan kemampuan dan kekuatan dirinya.” kemudian dia mengingal dunia.” jawab Said.” Said berwudhu dan berminyak harum. Gedung itu tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata. Kedua orang yang membawaku berkata. Saat itu. Lalu gadis-gadis itu datang kepadaku memberi sambutan dan mereka mendudukkan aku di tengah. seolah telah tiba hari kiamat. ucapkanlah selamat datang kepadanya. aku tidak suka itu. seakan-akan terbuat dari perak yang berkilatan. marilah pergi untuk kami perlihatkan kepadamu nikmat yang tersedia untukmu. berbuka malam ini.” Lalu ia berkata. Ia berjuang untuk Allah. Dan ketika mereka melihat aku. Ia meletakkan dirinya dalam serangan musuh. Tidak ada istilah rugi untuknya. “Tutuplah hal ini selama hidupku. tetapi ditolak dengan halus sambil berkata. Tiap-tiap kursi ada gadis yang tidak dapat disifatkan oleh manusia kecantikannya. Dan akupun mengendarainya. Pemuda itu tak hentinya menerapkan apa yang ia kerjakan malam dan siang hari. Allah telah mengampuni dosamu dan memuji usahamu. ia berkata. seperti inilah kita harus berlomba-lomba.” Lalu. Hingga tepat matahari terbenam. Pada hari kedua. di samping gadis yang cantik sambil berkata. Mendengar cerita itu. Setiap malam. Ia lalu mengambil senjatanya dan menuju ke medan perang sambil berpuasa. Pada waktu malam. keduanya membawaku keluar dari tempat itu. dan di tengah-tengah mereka ada yang tinggi dan tercantik. ia khusyuk bermunajat kepada Allah terus mendekatkan diri. Nah. Jatuhlah ia sebagai syahid. sedang orang-orang mengangkatnya. Said menghentikan ceritanya sejenak. Tiada orang yang sebagus kedua orang itu. Lalu aku bertanya "siapa dia?" Ternyata ia adalah istriku yang kekal. Mereka menyediakan kuda yang tidak serupa dengan kuda-kuda yang ada di dunia. Siang. Sekiranya aku bersamamu. dan mengatasinya. ‘Aku tidak suka kembali. Hisyam mendengarkan dengan saksama. ia bertempur lebih hebat. Said pun melanjutkan. “Hai sekalian orang.” Said menarik nafas. ‘Itu istrimu. Walaupun harus berdarah-darah. lalu aku masuk dan melihat segala sesuatu yang tidak dapat disifatkan dan terdetik dalam hati.” Said malah bertanya. “Aku bermimpi.” ujar Hisyam. Said malah balik bertanya. Sepanjang hari itu ia bertempur terus-menerus. “Itu kekasih Allah telah tiba. sehingga sampai di gedung yang tinggi dan besar.” Orang-orang pun semakin tahu bahwa Said telah mengorbankan waktu dan hidupnya untuk dakwah.” Sampai di situ. Sejurus kemudian. Allah menerima amal baik dan doamu. Hisyam tak hentinya mengagumi pemuda itu. Mereka menyalamiku dan mereka berkata kepadaku: “Terimalah kabar baik. Allah telah memperlihatkan pahala amal baikmu. Said mengginggit bibirnya sambil tersenyum. "Dimanakah aku ketika itu?" Dan ia menjawab.’ Kemudian mereka meninggalkannku. Lalu aku ulurkan tanganku kepadanya. Said tetap melaksanakan salat dan bangun pagi untuk kembali maju ke medan perang. sebab larinya bagaikan kilat atau angin yang kencang. Semua orang telah keluar menunggu panggilan Allah. belum pernah mereka melihat perjuangan sedemikian. “Lalu aku berjalan hingga sampailah di ruangan tidur terbuat dari emas bertaburan permata. Hingga aku berkata. Seorang dari mereka berkata. Hisyam tetap memperhatikannya. Ketika aku sampai di muka pintu. ‘Itu keluargamu dan ini tempatmu. Karena itu. Orang-orang banyak menceritakan kehebatan perjuangannya.’ Aku bertanya kepadanya. Hisyam bersumpah dengan nama Allah supaya Said memberitahukan hal itu padaanya. 12 . Hisyam tidak dapat menahan air mata. “Apakah ada orang lain yang melihat kejadian ini?” “Tidak. tiba-tiba pintu terbuka sebelum diketuk. mereka bernyanyi-nyanyi dengan berbagai nyanyian. tibalah sebuah panah mengenai lehernya. Dan bidadari-bidadari serta pelayan-pelayan sebanyak bintang di langit. Untuk sebuah perjuangan. “Beruntung kau Said.” Said mengakhiri ceritanya. Hisyam berkata kepada orang-orang. ia bertempur menghadapi musuh.

yaitu: Nabi-nabi. Terkisah pula pada detik-detik Nabi menjelang wafat. Seluruh Madinah terguncang. menyayangi. Allah akan menganugerahkan: 1. Mendapatkan syafaat (pembelaan)-nya yang agung. ummatiii?" "Umatku.S. bukannya tidak mungkin seseorang bisa masuk surga tanpa dihisab bila pembelaan Rasulullah saw diterima oleh sang Khalik. ummatii. dan ketiga. kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam.Rindu Rosul Dan tidaklah kami mengutus engkau Muhammad." (Q. ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka. Beberapa hari angkasa Madinah tidak mendengar suara Bilal. mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah. merindui kekasih Allah. umatku?" Betapa cintanya beliau pada umatnya. Kelezatan iman Lezatnya iman mungkin bisa digambarkan dari kisah sebagai berikut. Al-Anbiya: 107) Tulisan di bawah ini hanyalah sebuah petikan kecil dari buku berjudul “Rindu Rasul" yang ditulis oleh bpk Jalaludin Rahmat (semoga beliau mendapat berkah atas tulisannya. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apapun selain keduanya." (Shahih al-Bukhari) Adapun bagi para pencinta Rasulullah saw. Yaitu bantuan Nabi  dengan izin Allah untuk meringankan dan bahkan menghapuskan hukuman bagi para pendosa. Ikrar iman dalam ucapan syahadat membuat rasa rindu semakin terasa lezat. Bilal mulai dengan Allahu Akbar. Rasulullah  bersabda: “Ada 3 hal yang bila semuanya ada pada diri seseorang. kedua. Mungkin kita masih ingat akan kejadian-kejadian masa lalu ketika tabloid Monitor menulis tentang orang di dunia yang paling dikagumi sementara Nabi Muhammad saw ditulis di urutan ke-sebelas. Terkisah segera setelah Rasulullah  wafat. Balasan cinta Rasulullah saw Tidak ada pencinta Nabi saw yang bertepuk sebelah tangan. Begitu ia ingin menyebutkan kalimat syahadat kedua. yaitu: akan ada pembenaran atas apa yang diajarkan oleh yang kita cintai. suaranya tersekat dalam tenggorokan. Prinsipnya sama seperti bila kita mencintai sesuatu.S: An-Nisa 69) 2. lalu kalimah syahadat yang pertama. 3. Bilal tidak mau lagi menyampaikan azan. Bilal mengumandangkan azan Subuh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya"(Q. perasaan dan tindakan juga sangat dipengaruhi oleh siapa yang kita cintai. Atas desakan Fatimah. putri Nabi saw. ia mencintai orang semata-mata karena Allah. "Ummatii. ia akan merasakan manisnya iman: pertama. 4. Digabungkan bersamanya Secara ruhaniyah di dunia dan secara hakiki di akhirat. tentu akan mendapat pula kecintaan dari Allah swt. pikiran. sahabat Ali  mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. Kecintaan Allah swt Karena Nabi  adalah mahluk yang paling dicintai Allah Ta’ala. umatku. para shiddiqin. betapa Rasulullah  merindukan pertemuan dengan umat yang mencintainya. Akankah kita membalas cintanya dengan menyebut nama beliau disisi Allah Ta’ala menjelang ajal kita ? 5. Siapapun yang mencintai Nabi. "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya. diikuti oleh tangisan Fatimah dan seluruh penduduk Madinah al-Munawarrah. perilaku. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Bukankah semestinya kita menempatkannya di urutan pertama di hati kita? 13 . Sebagian sari dari buku itu cukup membuat hati saya terenyuh. Ia berhenti pada "Muhammad" dan setelah itu tangisannya meledak. amin). Dalam riwayat yang telah diceritakan sebelumnya.

Bila kita kaji lagi apa yang bisa kita peroleh jika kita menempatkan Nabi saw pada urutan pertama di hati. Suhu yang sedikit panas memaksaku membuka kemeja dan membiarkan kulitku bersentuhan dengan sejuknya lantai. anda menghalangi jalan saya! Apa anda tidak lihat saya sedang membawa makanan ini untuk keluarga saya di rumah . insya Allah kita mendapat tempat spesial di mata Allah swt." Rupanya ia begitu marah karena aku 14 . Semoga petikan ayat Al-Qur’an surat Al-Anbiya 107 di awal tulisan ini bisa membuka hati kita semua.. kekasih Allah Ta'ala. "Addduuhhh!" Lagi-lagi semut kecil itu menggigitku. (Ucapkanlah sesering mungkin bila kita mendengar nama beliau disebut) Ya Allah yang Maha Besar. amin.. Kubiarkan TV menyala untuk tetap menjaga agar aku tidak terlelap." gerutuku kesal. Sebuah tantangan. mungkin kita sering mengucapkan dan mendengar arti shalawat yang diperuntukkan bagi baginda Nabi saw dan keluarganya..”Heeeh. "Kurang ajar! Apa ia tidak mengerti kepalaku begitu penat dan tubuhku ini seperti mau hancur? Apa dia juga tidak tahu kalau aku sedang beristirahat?" pikirku seraya kembali merebahkan tubuhku. maka kita akan mendapatkan "iman yang begitu indah mempesona".. perjuangan berat. huh . Apa hati kita terusik? apa kita merasa kalau Salman Rushdie sudah meludah aqidah kita? Atau kita merasa bahwa hal itu biasa saja? Atau mungkin kita merasa biar saja karena kita jauh dari tempat kejadian dan saat ini Nabi pun sudah tidak ada? Astaghfirullahal 'Adhim. Allahumma sholli wa baarik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali wa shohbihi wasallam. Ingin rasanya kulayangkan tapak tangan ini untuk membuatnya mati tak berkutik 'mejret' di lantai. Sebuah berita gembira bila kita akhirnya bisa juga bersanding dengan nama Muhammad . Belajar dari kegigihan semut Oleh Taufik Pukul 22. Ternyata seekor semut hitam. Kali ini punggungku yang digigitnya dan gigitannyapun lebih sakit. "Aaauww . Kuturunkan kembali tanganku yang sudah berancang-ancang dengan jurus 'tepokan maut'. teramat berat. berani sekali makhluk kecil ini. amin ya rabbal ‘alamiin. ia justru sudah mengacung-acungkan kepalan tangannya seperti menantangku bertinju. tempat yang indah tanpa dihisab.Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Masuk golongan mana kita? golongan yang menyalahkan media tersebut? atau golongan yang justru menyalahkan diri sendiri telah melupakan Nabi saw selama ini? Atau ketika Salman Rushdie mencemooh Nabi saw sebagai sumber permainan dengan berlindung atas nama dunia seni kesastraan. Sebagai sebuah renungan. kuurungkan niatku untuk menghajarnya karena kulihat mulutnya yang komat-kamit seolah mengatakan sesuatu kepadaku. Nah! kalau kita termasuk orang yang beriman pada Rasulullah saw padahal kita sendiri tidak pernah berjumpa beliau. betapa pentingnya kita mencintai dan bersuka cita atas Nabi saw. lebih dari apapun di alam semesta ini.. Walaupun Nabi saw sudah tiada..30 WIB. "Hey makhluk besar. Kurebahkan tubuh di lantai depan televisi. Namun sebelum tanganku melayang. bukankah kita telah menjadi saudara Nabiyallah  ?? Keluarga Rasulullah  juga ?? Saya pribadi berfikir bukannya tak mungkin kalau ucapan shalawat itu juga mengandung makna ucapan shalawat bagi kita-kita yang beriman padanya. Segera kutepis sesuatu yang menggigit lenganku hingga tampak titik hitam terjatuh ke lantai. Awalnya aku tidak mengerti apa yang diucapkannya. belum sampai seluruh tubuh ini jatuh menempel lantai. Seharian menyelesaikan pekerjaan kantor yang tak habis-habisnya. insya Allah kita termasuk insan yang dinanti dan dijemput sendiri oleh baginda Nabi saw kelak di akhirat. insya Allah keluarga kita akan dimohonkan syafaat oleh baginda Nabi saw. Tapi. lelahnya. mungkin justru karena itulah kita perlu bersyukur akan keberadaan kita sekarang dengan beriman kepadanya dan menjalankan sunnah-sunnah yang telah beliau contohkan. tapi lama kelamaan aku seperti memahami apa yang diucapkannya. tanamkan aqidah iman sedalam-dalamnya pada diriku untuk senantiasa mencintai-Mu dan Nabi Muhammad saw. brengsek!" gumamku tiba-tiba.

lima semut-semut yang tubuhnya lebih kecil dari semut yang membawa makanan itu berlarian keluar rumah menyambut dengan sukaria makanan yang dibawa semut pertama itu. tentang bagaimana perlunya ikhlas. Dan.. sesekali ia berhenti meletakkan barang bawaannya sekedar mengumpulkan tenaganya sembari membasuh peluhnya yang mulai membasahi tubuh hitamnya. tentang kesabaran. Allah . Satu. adalah baik maksudnya. lebih baik aku memberinya jalan atau bahkan mempermudahnya agar ia dapat memperoleh dengan keringatnya sendiri rizki tersebut.. itu terlihat dari perutnya yang agak buncit. para orang tua. juga ibu yang selalu memberikan pengertian dan mengajarkan anak-anak mereka dalam mensyukuri nikmat Tuhannya. Teringat semua di mataku ribuan wajah semut-semut yang pernah aku hajar 'mejret' hingga mati berkalang lantai ketika mereka mencuri makananku. Kuciumi jalan-jalan yang pernah dilalui semut-semut itu hingga menetes beberapa titik air mataku. Dengan senyumnya yang manis ia mendekati si pembawa roti. Tapi 15 . Astaghfirullah .. Susah payah ia membawa sisa-sisa roti bekas sarapanku pagi tadi yang belum sempat kubersihkan dari meja makan.. subhanallah .. Kadang oleng ke kanan kadang ke kiri. Dan. mereka hanya mengambil sisa-sisa makanan...menghambat perjalanannya. Semut istri tawadhu' dan qonaah menerima apa adanya dengan penuh senyum setiap rizki yang dibawa oleh sang suami. anak-anak semut itu. lebih-lebih sewaktu punggungku menindihnya sehingga ia harus terpaksa menggigitku. walaupun memang di mata kita.. aku tersungkur.. padahal yang mereka ambil juga merupakan hak mereka atas rizki yang aku terima. ketika hendak merebahkan tubuh di lantai di bagian manapun rumahku aku selalu memperhatikan apakah aku menghambat dan menghalangi langkah atau jalan makhluk lainnya untuk mendapatkan rizki. karena itu jauh lebih baik bagi mereka. mereka begitu pandai berterima kasih dan menghargai pemberian ayah mereka meski sedikit. Ya. tentang bagaimana mencintai keluarga dan dicintai mereka. tentang harga diri yang harus dipertahankan ketika terusik. Semut suami yang sabar. eh . Padahal. Kelima semut-semut yang lebih kecil adalah anak anaknya sementara satu semut lagi adalah istri si pembawa roti. namun yang mereka dapatkan bukan makanan melainkan justru seonggok jenazah. satu lagi semut yang besarnya sama dengan pembawa roti keluar dari lubang. Ingin tahu aku di pojok mana ia tinggal dari bagian rumahku ini.. Sungguh suami yang dibanggakan. keluarga semut itu telah mengajarkan kepadaku tentang perjuangan hidup. Kuikuti terus kemana ia pergi. empat dan . Hari-hari selanjutnya. semakin terbayang tangisantangisan anak–anak dan istri semut-semut itu yang tengah menanti ayah dan suami mereka. Tapi kupikir..... tiga . Di depan sebuah lubang kecil yang menganga.. Akhirnya kupersilahkan ia melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya aku meminta maaf kepadanya. Berhentilah ia di sebuah sudut di samping lemari es sebelah dapur. memeluknya dan membasuh keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh semut pembawa makanan itu. "Mungkin ia sedang mengandung anak ke enamnya" pikirku. tawadhu' dan qonaah dalam hidup.. ia letakkan bawaannya itu dan kulihat seolah ia sedang memanggil–manggil semut-semut di dalam lubang itu. si pembawa roti itu adalah kepala keluarga dari semut-semut yang berada di dalam lubang tersebut. Ingin rasanya aku hantarkan sepotong makanan setiap tiga kali sehari ke lubang-lubang tempat tinggal semut-semut itu. ikhlas berjuang... tapi aku yakin ia pasti menolaknya.. lemas seperti tiada daya dan brukkk . tiba-tiba tubuhku menggigil. Hmmm .. Mereka ajari aku caranya mensyukuri nikmat Tuhan. sungguh istri yang membanggakan dan sungguh anak-anak yang membuat ayah ibunya bangga. menurutku. Air mataku makin deras mengalir membasahi pipi. dua. Menumbuhkan empati anak Oleh Kurnia Wahyudi Ada sebuah fenomena yang sering terjadi. gigih mencari nafkah dan penuh kasih sayang. yaitu orang tua yang begitu mengekang kebebasan anak. Ingin kutawarkan bantuan untuk membantunya membawakan makanan itu ke rumahnya. menciumnya. sabar.

. ungkapan kondisi kedua adalah bentuk contoh "semi judgement dan empati". Mungkin kira-kira begini. tidak mau mendengar kata-kata orang tua! Huh!" Kondisi yang lebih ekstrem yang lain adalah berkata atau membentak dan terkadang dibarengi dengan kekerasan tangan (memukulnya). lain kali lebih hati-hati ya! Tolong dengarkan apa kata ayah/ibu . Sang anak akan mengingatkan si adik untuk jangan berlari-larian. tapi tetap dapat meninggalkan kesan kejadian berulang pada anak. Contoh sederhana." sambil memberikan perhatian terhadap lukanya. Anak memiliki kemampuan photo-memory yang sangat tinggi.. Ungkapan kondisi pertama adalah bentuk contoh "judgement" (penghukuman)... Kemungkinan besar sang anak menangis bukan akibat dari jatuhnya. bila kita berharap sang anak bersikap empati apabila melihat adiknya terjatuh. padahal sebelumnya sudah berbusa mulut Anda menasehatinya agar jangan berlari-larian. terhadap situasi serupa yang dihadapinya dengan orang lain. jikalau perlu mengobatinya. adik jatuh ya! Sakit? Mana yang sakit? Sini ayah/ibu obati. ya!" dengan suara yang cenderung datar tanpa intonasi tinggi. Adik mau janji?" 16 . menabrak benda keras. atau melarangnya. "Makanya. dan ternyata adiknya melakukan tindakan yang persis dilakukannya. kan! Anak bandel. melainkan karena bentakan atau pukulan orang tua. yakni berlari-larian. Sedangkan. Andaikan akhirnya anak Anda yang sedang berlari-lari tersebut jatuh. ya! Sakit? Makanya apa Mama/Papa bilang. Sekarang coba Anda bayangkan (dari hasil perlakuan kondisi pertama dan kedua di atas) bila sang anak memiliki seorang adik. dan lain sebagainya. bukan langsung melakukan "judgement" terhadap dirinya. Misalnya dengan perkataan sebagai berikut. biasanya kita sebagai orang tua akan langsung menasehatinya. seperti jatuh. Pertama. Maksudnya adalah anak kemungkinan besar akan melakukan perlakuan yang sama yang dilakukan oleh orang tua kepada dirinya.. "Aduh . maka kita diharapkan untuk bertindak serupa terhadap dirinya.apakah anak-anak dapat menangkap pesan atau maksud baik tersebut? Bisa jadi mereka masih teramat kecil untuk dapat mengerti. Kalau pun tidak memarahinya. mereka melakukannya dengan cara lain yakni mengingatkannya dengan nada tinggi. "Tuh kan apa Ibu/Ayah bilang! Jangan lari-lari. berusaha untuk tampil empati tapi tetap memarahi atau membentaknya. Jadi begini akibatnya! Makanya lain kali dengar kata-kata Mama. Contohnya adalah dengan mengatakan. hingga anak pun menangis karenanya. "Aduh adik jatuh. yang dapat membahayakan keselamatan sang anak. apa yang akan Anda lakukan? Menurut pengalaman saya pribadi ada dua perlakuan yang umum dilakukan oleh para orang tua.. kita sering mendapati anak berlari ke sana ke mari hingga kurang memerdulikan keselamatan mereka sendiri. Jadi.jadi jatuh. Melihat kondisi anak seperti itu (suka berlari-lari). Artinya. maka seyogyanya dilatih sejak dini. anak langsung diberi hukuman akan tindakan pelanggaran yang dilakukannya (karena tidak mendengar perkataan orang tuanya). bahkan memarahinya. Kita sebagai orang tua akan merasa "ngeri" kalaukalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Kisah di atas akan lain ceritanya bila sang ayah atau ibu bersikap empati terlebih dahulu ketika mendapati anaknya terjatuh. Kira-kira berdasarkan pengalaman sebelumnya. Kedua. respon refleks umumnya orang tua adalah langsung memarahi anak akibat tidak mau mendengar perkataan mereka. perlakuan apa yang akan dilakukan sang kakak terhadap adiknya? Seorang anak adalah perekam yang sangat kuat. Bila kita mengharapkan seorang anak yang memiliki sifat dan sikap empati yang tinggi. Nggak mau dengar sih perkataan Mama/Papa. Kondisi ini agak lebih baik. dengan cara persis seperti yang dilakukan orang tua terhadap dirinya. Baru kemudian setelah selesai mengobati kita dapat menasehatinya.

” dengan mengatakan bahwa yang dimaksud ilmu wajib di sini adalah ilmu muamalah hamba terhadap Tuhannya. Saya berpikir. dia tetap saja menulis walaupun dengan arang. at-Tabshirah 3 jilid. tasawuf. Sedetik pun waktu tidak pernah mereka sia-siakan. yang sangat banyak itu. kewajiban yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Dari sejarah. yang tentu saja masih berakal sehat. filsafat. Siang dan malam beliau tidak henti-hentinya berpikir. Tak heran jika seorang Roger Garaudy sangat mengagumi ilmu yang dimiliki para ulama Islam. al-Mukhtar min al-Asy’ar 10 jilid. Imam Ibnu al-Jauzy pernah berkata. “Mencari ilmu itu wajib atas setiap orang muslim. Jika aku diasingkan. ia tetap berusaha menulis. Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Hasan al-Banna karena ilmu yang mereka miliki. mengajar dan membaca. saya memperoleh banyak pelajaran. dua puluh ribu orang di antaranya masuk Islam. dan lain sebagainya. penuh onak dan duri. kematianku adalah syahadah. yang tidak dimiliki ilmuwanilmuwan Barat. Shaidul Khathir. Muamalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam: Keyakinan. Imam Ibnu al-Jauzy pernah kedatangan tamu yang membicarakan hal-hal yang tak berguna. Ada seorang ulama yang menunggu kedatangan gurunya dalam sebuah majelis.” Sekalipun pena-penanya disingkirkan oleh pemerintah tirani. para ulama akhirnya membuat pengurutan ilmu-ilmu apa saja yang “wajib” dikuasai oleh kaum muslimin. hadits. mereka akan menyesal dan berusaha dikemudian hari hal itu tidak terulang lagi. 17 . bahwa jalan di dunia ini tidak selamanya mulus dan indah. Imam Hasan al-Banna pernah mengatakan. Bahkan mereka ahli pada semua bidang itu. Cabang-cabang ilmu pengetahuan mulai dari fikih. Imam Ibnu al-Jauzy. “Apakah yang akan diperbuat musuhmusuh terhadapku? Jika aku dipenjara. ketekunan mereka dalam beribadah. mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk jiwa. al-Amstaal. mereka kuasai dengan baik. Durratul Ikliil 4 jilid. Imam Ibnu Qudamah dalam bukunya berjudul Mukhtashar Minhajul Qashidin mengomentari hadits yang berbunyi. dapat menguasai semuanya. dan sebagainya. Dari sanalah saya mengetahui mengapa seseorang dapat sukses.Manusia yang Tidak Pernah Mati Oleh Chandra Kurniawan Salah satu kesenangan saya adalah membaca buku-buku sejarah. Namun kenyataan tidaklah terjadi demikian. Ru’us al-Qawariir 2 jilid. pengasinganku adalah tamasya. menulis. berceramah kepada para napi. tarikh. Karena ilmu di dunia ini sangatlah banyak dan tak mungkin umur manusia yang pendek. raga. Setiap hari. Bagaimana mereka menguasai banyak ilmu pengetahuan dalam usia mereka yang tergolong pendek? Inilah pertanyaan yang mesti di jawab di sini. Saya semakin menyadari akan satu hal. tafsir.” Di antara karya-karyanya. Jika diberi umur yang panjang. melainkan sebuah pernyataan yang keluar dari mulut seorang insan yang “bergelut” dengan waktunya dan sadar akan pentingnya waktu. niscaya mereka akan terus menuntut ilmu sebanyakbanyaknya. Imam Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama yang waktunya tidak pernah luput dari berbuat kebaikan. penjaraku adalah khalwah. semua itu terjadi karena mereka sangat menghargai waktu. pasti akan menyadari hal ini. Pernyataan ini bukan pernyataan yang main-main. Siapapun orangnya. Beliau pernah berkata. Ya. yang dengannya membuat saya berhati-hati dalam melangkah. perbuatan dan apa yang harus ditinggalkan. Kekagumannya itu membuatnya masuk Islam. Hingga dipenjara sekalipun. al-Manfaat fi Madzahib al-Arba’ah 2 jilid. ini sungguh luar biasa. Ada kalanya berlubang. hingga ilmu kedokteran. Dan jika aku dibunuh. Dia meladeni mereka sembari menyerut pensil untuk menulis buku. “Dari tanganku lahir dua ribu jilid buku dan di tanganku juga telah bertaubat seratus ribu orang. ushul fikih. Kalaupun ada waktu yang terbuang percuma. Fadhail al-Arab. bergelombang. lantas kemudian ia isi waktu luang itu dengan shalat sunah. Saya mengagumi ulama-ulama besar seperti Imam al-Ghazali. keluhuran akhlak mereka dan penghargaan mereka terhadap waktu. Kitab al-Luqat (ilmu kedokteran) 2 jilid. dan mengapa yang lain tidak. sastra Arab. dan pikiran mereka.

“Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. mudah-mudahan dapat masuk surga. Sedangkan bagi seorang penulis. Mungkin satu atau dua jam waktu luang yang terbuang dalam sehari tidak akan kita rasakan dampak negatifnya. Seorang budak yang melarikan diri dan tidak lagi taat kepada tuannya. Adapun kezhaliman. lalu berteriak lantang. memang Allah akan melaksanakan sangkaan hambanya. "Jika memang Allah ada. niscaya akan sangat menghargai waktu. Pada akhirnya semua itu membuahkan penyesalan yang berkepanjangan. dikemudian hari. Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Pada tahun 50-an masehi. Waktu-waktu itu begitu cepat berlalu dan tak dapat kembali lagi. Sedangkan orang keji ialah yang berburuk sangka terhadap Tuhannya dan buruk pula amalnya. penuh dengan kesombongan 18 . Kita bertekad kuat untuk mengisi hari-hari dengan amal yang berkualitas guna memperoleh pahala dan ganjaran yang abadi. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana. Sedetikpun ia tak mau. ia akan menulis buku yang bisa dibaca oleh setiap orang setelahnya dan senantiasa beramal dengan pelbagai kebaikan. Yang demikian dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. betapa kita telah melalui banyak momen dengan hal yang tidak berguna. Seorang ulama shalih bernama Taubah bin ash-Shimmah biasa mengintrospeksi dirinya sendiri. “Aduhai celaka aku! Apakah aku harus bertemu Allah dengan membawa sebelas ribu limaratus dosa?” Setelah itu dia langsung pingsan dan seketika itu pula dia meninggal dunia. mengemukakan. Namun tidak dapat diragukan bahwa baik sangka hanya terjadi jika ada kebaikan. akan sangat terasa. “Dia sedang meniti ke surga Firdaus. banyak orang yang dapat mengikuti jejak amalnya. ad-Daa’ wadDawaa. bahwa Dia akan membalas kebaikannya dan tidak akan mengingkari janji-Nya serta akan menerima taubatnya. Bagi seorang yang kaya harta. Dia tidak bisa memadukan tindakan yang tidak baik dengan baik sangka. Namun jika dikumpulkan dalam setahun atau bahkan dalam seumur hidup. Mereka mengacu pada hadits qudsi yang berbunyi. Waktu kita yang berlalu dengan sia-sia. Imam Hasan al-Bashri pernah berkata. namun pada hakikatnya mereka selalu hidup. Orang yang berbuat kebaikan adalah orang yang berbaik sangka kepada Allah.). Karena itu hendaklah dia menyangka terhadap-Ku menurut kehendaknya. berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya. selagi sudah berumur enam puluh tahun. kedurhakaan dan hal-hal haram yang dilakukan orang yang buruk dan intens dalam melakukan dosa-dosa besar. fakultas pertanian di Mesir." Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut.” Bagi mereka yang menyadari sangat dekatnya kematian. agar kelak. Tiba-tiba saja dia tersentak dan berkata. maka ia akan berusaha untuk mewakafkan kekayaannya dan mendarmabaktikan dirinya untuk dakwah dan jihad fi sabilillah.” (Lihat Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin) Sebagian orang terlalu banyak berharap dengan amal yang sedikit. hendaklah menjadi cambuk. maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!. di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya. yaitu sebanyak sebelas ribu hari lebih lima ratus hari. Orang yang buruk tentu merasa tidak respek.. Pada saat itu orang-orang mendengar suara. “Sesungguhnya orang mukmin adalah orang yang berbaik sangka terhadap Tuhannya dan yang baik amalnya. betapa banyak waktu yang telah kita buang percuma. ia mati seperti keledai Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams. Imam Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya. Suatu hari dia menghitung-hitung. Betapa banyaknya manusia yang mati.” Mengomentari hadits ini. sang mahasiswa ini berkacak pinggang. tentu tidak berbaik sangka kepadanya. tidak melakukan hal yang serupa. Akhirnya. Dari karya-karyanya. Dia menghitung-hitung hari-hari yang pernah dilewatinya. tergantung dari keburukannya. Itulah manusia yang tidak pernah mati. menghalanginya untuk berbaik sangka terhadap Allah. Maka orang yang paling berbaik sangka terhadap Allah ialah yang paling taat.Saya kemudian merenung tentang diri saya sendiri dan kebanyakan orang pada umumnya. Kita hanya membawa amal yang sedikit kehadapan-Nya.

Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Kadang lupa. Ketika adzan berkumandang. Dr. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi. h. segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan. Tatkala sedang dalam kondisi demikian. lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya. Tanpa doa. pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan. itu pun tanpa memahami arti dan maknanya.berkata. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid. Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Di nukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn"." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya. kadang malas. apa pantas mengaku ahli ibadah ? Padahal Rasulullah  dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. yah hitung-hitung ikut meramaikan. kemudian mengelapnya dengan tissue. Sudah 19 . dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!. berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan. dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. bukankah jika memang Allah ada. dan segala macam puji untuk Allah. itu pun tidak rutin. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata. paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial. semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Kalau pun ada. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya. Syukur-syukur kalau ada receh. itu pun sambil terkantuk-kantuk. "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!. Seri ke-9. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.73-74) Pantaskah berharap Jannah Sholat dhuha cuma dua rakaat. volume bulan Shafar 1423 H. Sumber: Majalah "al-Majallah". Dengan sholat model begini. sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?. maka seketika ia akan mati ?!!!. Ternyata." Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing." Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda. tibatiba dia terjatuh dan tersungkur di situ. Yang begini ngaku beriman ? Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. "Bagaimana pendapat kalian. tidak mengenal Rabb. kadang sibuk. apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Baca Qur'an sesempatnya.dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya. Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat. Mengenai hal ini. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari. tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab. begitu juga infak. Satu lagi. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang. Sementara si mahasiswa yang lancang tadi. Karenanya. terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan. Bersedekah jarang.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah. "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu. Sesekali mereka terhenti.

kaki mulia tempat bersimpuh. Dadaku terasa sesak. amal yang paling mudah pun masih pelit. tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari.. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya.. Setiap hari ribut dengan tetangga. mungkin tidak pernah. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini. bahkan kepada musuhnya sekali pun. Aku melayangkan pandangan ke seberang jalan. ridha Allah diraih. Cinta yang berhias peluh. juga darah. bapak dan Shafiya sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. kehausan barangkali. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu.. belai kasih dan perhatiannya. mobil berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. bersamaan dengan itu air mata mulai menetes.. Terhadap orang tua kurang ajar.. Nampak olehku sosok ibu pengemis dan anaknya yang sedang mesra bersenda gurau.... Ayo. dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Kalau bukan sebelah kanan. bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak ? Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. ibu itu pun mencicipi es teh itu sedikit dan ternyata walaupun es teh itu hanya bersisa sangat sedikit. Si anak rupanya haus dan alhamdulillah saat itu sang ibu ada rezeki untuk membelikan sekantung plastik es teh bagi si anak. cepetan. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan. Tepat di traffic light menuju ke arah Margorejo. sering membantah. Kami baru saja pulang dari menikmati semangkuk Soto Lamongan Cak Har *slruup* yang terkenal itu.begitu banyak yang telah terlewatkan tanpa mensyukurinya Oleh Bunda Shafiya Saat itu kami. mungkin hanya satu tegukan lagi sisanya. kepada kakak tidak hormat.Allohummaghfir Nikmat. "Nak. Subhanallah! Betapa orang seperti mereka sangat menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menjaganya dengan sangat hati-hati. apa pantas berharap surga Allah ? Dari ridha orang tua lah. ya tetangga sebelah kiri. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh. Aisyah. Orang-orang seperti kita ini. senyum indahnya. Dengan penuh rasa kasih sayang kantung plastik es teh itu dibuka dari ikatannya dan diminumkan ke si anak dengan menggunakan sedotan.lah jarang beramal. juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah. kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. sang ibu itu tetap menyimpan sisa itu dengan hati-hati dengan mengikat kembali kantung plastik es teh itu. Teringat akan percakapanku dengan Shafiya di depot soto itu. apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah ? Rasulullah  adalah manusia yang paling dirindui. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu ? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri ? Dengan adik tidak akur. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh. air mata. aku. apalah lagi mendoakan mereka. dan istri-istri beliau yang lain. tutur lembutnya. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana." Betapa bodohnya aku yang malah 20 . Astaghfirullaah . Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Tampak si anak sangat menikmatinya. Bapak sudah menunggu di mobil. sering membuat kesal hati mereka. senyum. ice tea-nya nggak usah dihabiskan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.. Astaghfirullaah . Setelah si anak puas. udah deh.

dan saya ingin tersenyum saat harus menghadap-Nya. Ayub alaihi salam dijauhi sahabat dan kerabatnya. Tak tanggung-tanggung. Bagi orang lain. Allah dengan berbaik hati mengabulkan permohonan saya itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu. karena penyakitnya itu. "Saya ingin terlihat tetap bersyukur. Ya Allah. semakin parah penyakitnya semakin ia tersenyum. Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. peristiwa ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. sedikit sekali saya mampu menyentuhkan dahi bersujud pada Allah untuk menyampaikan rasa terima kasih saya. Namun. Semakin tinggi ketakwaan seorang hamba. Memang takkan sebanding jika sekarang saya mengajukan sebuah nama untuk menyandingkannya dengan Nabi Allah itu. Ketika saya berdoa agar mendapat pendamping hidup yang sholeh. mengajarnya pandai berbicara. Namun ia tetap terlihat ceria dan bersemangat menjalani hidupnya.. Ketika saya berdoa agar dikarunai anak yang menyejukkan pandangan orang tuanya. Dan mulianya Ayub. Astagfirullah..mengajarkan anakku untuk berbuat suatu hal yang mubazir yang mencerminkan rasa tidak bersyukur padaNya. Kemarin saat bertelepon dengannya.. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluknya. semakin cinta Ayub kepada Allah. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia semulia Ayub. saya bertanya satu hal yang paling tidak ingin saya tanyakan kepadanya karena khawatir menyinggung perasaannya.Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bungaan yang harum baunya. di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. (Tuhan) yang Maha Pemurah. yang telah mengajarkan Al-Quran.. Mereka tak tahan berdekatan lantaran aroma tak sedap dan takut tertular. Salah satunya adalah Nabi Ayub. Namun teramat banyak saya harus belajar tentang arti kesabaran dan cinta kepada Allah dari sahabat yang satu ini. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Tapi saya memaknainya lain. Padahal Allah selalu baik kepada saya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. janganlah golongkan saya menjadi orang-orang yang merugi karena kufur terhadap nikmatMu. Allah dengan cepat mengabulkan permintaan saya. Dan tumbuhtumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNya. alias Titi yang lima belas tahun menderita radang sendi sehingga ia kini hanya bisa tergolek tak berdaya di kamar tidurnya. tak inginkah mbak Titi sembuh?" 21 . "Mbak.. Allah dan para malaikat pun kan tersenyum oleh kesabaran lelaki mengagumkan itu.dari banyak nikmat yang ada. Dan Allah meninggikan langit dan Dia melektakkan neraca keadilan. Alhamdulillah. Ibu pengemis itu telah mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai nikmatNya. Naudzubillah min Dzalik. Syukur Alhamdulillah.Allah memberi saya petunjuk untuk selalu mensyukuri nikmatNya dalam ketaatan kepadaNya. Lelaki yang diamanahkan Allah untuk mengemban misi ketuhanannya itu dicintai Allah dengan penyakit yang sangat parah. Dia menciptakan manusia. begitu banyak yang saya lewatkan tanpa mensyukurinya. semakin unik cara Dia mencintainya. tak pula ia merasa bahwa Tuhan yang dicintainya itu tak adil terhadapnya. Nikmat. Hesti. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan ? (Surat Ar Rahman: 1-13) Nabi Ayub pun Tersenyum Oleh Bayu Gawtama Allah mencintai hamba-hamba-Nya dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Dalam studi dan karir insya Allah saya selalu lancar. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Semakin berat sakit yang dirasa. Ia tak pernah membenci Allah dengan takdirnya." ujar gadis itu..

Saya yakin Allah sedang mencintai saya dengan takdirnya." Menurutnya." Titi pun menjawab penasaran saya yang seolah bertanya. sahabat tersebut kemudian menawarkan bantuan sejumlah uang untuk membayar uang kuliah saya yang tertunggak. "Karena saya telah berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain" Menurut cerita sahabat saya. saya tidak yakin akan tetap sedekat ini dengan Allah. demi kesembuhan ibunya.Saya tak pernah menyangka jawabannya. saya katakan kondisi saya baik-baik saja. karena Allah senang dengan orang-orang yang suka membantu saudaranya. ada seorang sahabat yang datang menanyakan kabar saya dan juga studi saya. Namun tak sepeser pun uang yang ia dan anggota keluarga lainnya miliki saat itu. Radang sendi yang dideritanya membuat seluruh persendiannya sakit tak berdaya. Beberapa tahun lalu saya pernah berada dalam kesulitan keuangan. Saya nyaris putus asa dan berpikir akan mengakhiri kuliah saya dan berhenti di tingkat dua saja. Allah akan memberikan kemudahan bagi orang yang memudahkan orang lain. Saya tak pernah yakin akan tetap khusuk beribadah. Kuliah saya terancam berantakan karena saya tak mampu mengumpulkan uang kuliah dari sisa-sisa gaji saya yang memang kecil. Ada yang membuat saya heran dengan jawabannya. akan menangis di setiap sujud panjang saya jika saya bisa berdiri dan sehat. "Seseorang . Sungguh saya iri kepada Titi. "kenapa. sahabat lamanya itu pernah pula mendapati kesulitan dalam hidupnya. saya tak ingin sembuh karena saya takut Allah tak lagi mencintai saya. Ia membutuhkan bantuan orang lain untuk seluruh aktivitasnya. saya akan perjelas. "Jadi. Disaat kebingungan dan putus asa melanda itulah. sebaiknya saya tetap seperti ini sambil Allah memberikan kehendaknya. mbak tidak ingin sembuh?" tambah saya yang semakin termangu oleh kata-kata ajaibnya. Tanpa basa-basi. "Kalau saya sembuh. Mendengar pengakuan saya.?" teman saya makin bingung. ada seorang sahabat lamanya yang dengan cuma-cuma membiayai seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan sang ibu." Duh. Di akhir semester empat. "Kenapa kamu mau membantu saya?" Jawabnya. hidup dalam kesenangan yang membuat saya lupa akan kematian. Boleh jadi saya akan menjauh dari-Nya. kepada orang itu ia bertanya. Ia hampir tak tahu kemana lagi meminta bantuan hingga ia bertemu dengan seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Ia pernah mendapati ibunya yang sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Kedua. Setelah berterus terang. "Biarlah saya tetap seperti ini. "Anda sebelumnya tidak mengenal saya. Tapi Titi tetap tersenyum. Titi rasanya tak ada alasan Allah tak mencintaimu.. Subhanalloh. ia amat bersyukur Allah menimpakan penyakit ini kepadanya. karena saya yakin Nabi Ayub akan pun tersenyum melihat Titi. saya berjanji kepada seseorang untuk terus berbuat baik membantu orang lain. ia nekat menghubungi satu persatu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa membantu biaya pengobatan. bahkan untuk ke kamar kecil sekali pun. Hidup dengan bantuan orang lain. Terheran sahabat itu bertanya. saya langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir terlebih dulu bagaimana nanti menggantinya. pikir saya. "Tidak. meski sudah sangat lama ia menjalani hari-harinya di kamar tidur. "apa sih yang membuat kamu senang membantu orang lain?" Saya berikan dia dua jawaban. "Saya hanya berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain" Kemudian ia memperjelas. Baiklah. Jujur.. Karena kami biasa berterus terang tentang segala hal." tuturnya. Biarlah tinggal mimpi. pertama. Multilevel Kebaikan Oleh : Bayu Gautama Ada teman yang pernah bertanya. kenapa Anda mau membantu saya?" 22 . Hingga akhirnya. orang tak dikenal itu pun memberikan apa yang dibutuhkan sahabat lama itu. saya sempat bertanya kepadanya perihal bantuan yang diberikan kepada saya. Tapi kuliah saya yang terancam gagal.

saya tersadar betapa minimnya pengetahuan agama saya. Aku bertanya. saya melihat secara kerta yang ditempel berisi daftar surat-surat dalam Juz Amma. saya mendapati bahwa belajar agama Islam itu mengasyikkan karena meliputi semua aspek kehidupan. Seorang mualaf. belajar membaca Al-Quran dengan benar itu sangat menyenangkan. belum lagi mengkaji kandungan-kandungannya. Perubahan itu tidak datang begitu saja. saya sudah kagum dengan semangatnya belajar membaca Al-Quran dan menggali ilmu agama Islam dengan banyak bertanya dan membaca buku. situasinya pun jadi berbalik. saya banyak merenungkan seberapa banyak waktu yang telah saya siasiakan hanya untuk melakukan aktivitas yang sifatnya duniawi dan mengesampingkan aktivitas yang bisa menjadi bekal saya di akherat nanti. Hanya saja yang pasti akan saya lakukan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain. "Berjanjilah untuk melakukan banyak hal untuk membantu kesulitan orang lain."Duh betapa meruginya saya. yang sejak lahir saya anut hingga saat ini ketika usia saya sudah melewati kepala tiga. "Ini apa Li. Saya mulai banyak membeli buku-buku keagamaan. sebut saja namanya Lia. Itu lebih baik nilainya daripada mengganti apa yang telah saya berikan" Begitulah seterusnya hingga saya tak pernah tahu siapa yang pertama kali menyulam jaringan amal kebaikan ini. sudah banyak memahami tentang Islam. saya berfikir menjalankan ibadah yang wajib saja sudah cukup dan belajar agama. Beberapa surat mulai dari Al-Fatihah. bisa menjadi tambahan amaliyah saya di dunia. Meski Muslim sejak lahir. 23 . itu daftar surat yang sudah aku hapal. "Berjanjilah untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap orang lain yang membutuhkan". dan sesekali beramal dengan sedikit harta yang saya punya. Mereka yang Telah Memberi Inspirasi Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa' Belakangan ini. mulai betah mendengarkan ceramah agama di televisi atau radio. Ketika mengenalnya. dari ceramahceramah para ustadz dan ustadzah di pengajian yang saya ikuti. tidak terlalu penting." kataku waktu itu. dan rasa keingintahuan saya tentang Islam seolah tak pernah habis. sampai saat itu malah belum paham benar apa sebenarnya rukun Islam dan rukun iman-meski saya hapal urutannya-apa keutamaan sholat tahajud. Di pintu lemari pakaiannya. saya akan berkata. ketika tahu bahwa Lia yang baru dua tahun menjadi mualaf. adalah satu inspirasi besar bagi perubahan itu. saya lebih tertarik membaca novel atau buku lainnya yang tidak bernafaskan agama. bahkan isi Al-Quran." Suatu saat. Saya lebih getol mengejar belajar ilmu umum yang saya minati. terlihat ditandai dengan contrengan kecil. Tapi entah kenapa. saya berkesempatan berkunjung ke tempat kos Lia. Tetapi pemikiran saya itu berubah total setelah hampir dua tahun ini saya mulai mengikuti pengajian-pengajian. kerap menjadi alasan saya. yang sekarang menjadi sahabat karib saya. Perubahan itu terjadi karena saya menjumpai beberapa orang yang telah memberi inspirasi dan motivasi bagi saya untuk belajar dan menggali pengetahuan lebih banyak tentang agama saya.Anda sudah bisa menduga jawabnya bukan? Tapi ada pertanyaan kedua dari sahabat lama sahabat saya itu. sampai hal-hal kecil yang jika saya tahu ilmunya. "Bagaimana saya mengganti kebaikan Anda ini?" Orang tak dikenal itu menjawab. Tidak ada waktu dan lelah bekerja sepanjang hari. belajar ilmu agama. koq dikasih tanda?" "Oh. Saya sempat malu hati. Sementara saya. "Yang penting kenal huruf dan bisa baca sedikit-sedikit. selama itu pula saya tidak pernah merasa tergerak untuk memperdalam ilmu agama. bagaimana berwudhu yang benar. meski selama ini saya selalu melaksanakan kewajiban sholat lima waktu dan ibadah wajib lainnya. Dan sekarang. termasuk didalamnya belajar atau membaca Al-Quran." katanya sambil tersenyum. Sungguh. saya tak pernah tahu. Salah satunya. Dari hasil perenungan itu. Ketika itu saya hanya membatin. Ternyata. yang Muslim sejak kecil. Untuk mengaji pun malas sekali. Ternyata.

saya mulai mencontoh kebiasaan Lia. Aku tersenyum mendengar syair lagu yang diganti dengan kata aku sayang Alloh dan sayang Rasulullah. mulai membaca Al-Quran dengan rutin. dua-dua aku sayang ayah. Semoga Allah swt selalu memberikan keteguhan iman dan kekuatan bagi kita untuk tetap istiqomah di jalanNya. sejumlah aksi unjuk rasa berakhir anarkis. ketika hendak menikah beberapa puluh tahu silam. di bis yang aku tumpangi. Sampai aku tahu bahwa ia selalu menyempatkan diri membaca Al-Quran setiap hari meski cuma beberapa menit saja.. saya merasa seperti seorang mualaf. Meski patut disayangkan... termasuk menjalankan sholat dan puasa sunnah. Makin banyak saya mengenal Islam. aku banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang memacu semangatku untuk mendalami Islam. Dua anak bersama ibunya itu duduk persis di bangku sebelahku. Ah. Setelah Lia.. Lagi-lagi saya malu hati." kataku dalam hati.. Sejak itu. Abi Satu dua tiga sayang semuanya. Kadang. Belakangan. sudah hapal 18 surat. suatu kali dalam perjalanan menuju kantor. akibat pembuatan dan publikasi kartun Nabi Muhammad Saw. supaya tertanama rasa sayang dan cinta pada Alloh Swt dan Rasulullah sejak mereka kecil. Dari gerak-geriknya aku tahu ia sedang berusaha menghapal salah satu suratnya. sayang Umi... yang aku pikir masih usia TK. Mencintai Rasulullah Oleh Rubina Qurratu'ain Satu.. Sayapun tersentuh melihat si Bapak tua tadi. bahkan melakukan boikot atas kartun-kartun yang menghinakan Nabi Muhammad Saw. Selanjutnya. Sementara saya. Namun saya bersyukur. Malu rasanya. satu-satu aku sayang ibu... aku sayang Alloh Dua. tiba-tiba saja aku jadi teringat peristiwa yang belakangan membuat heboh seluruh dunia. Mencatat apa yang ia dapat di pengajian dalam buku khusus.. Salah satunya adalah tetanggaku sendiri. diam-diam aku memperhatikan aktivitas Lia sehari-hari. Lagu itu dinyanyikan dengan riang oleh dua anak. Lia. Ah. Aku melihat bapak tua yang sedang membaca Juz Amma. dua. Sejak itu. Dia juga mualaf.. Benarlah apa kata pepatah... tidak kenal maka tidak sayang.. selama ini ternyata aku sudah jauh tertinggal.. mulai belajar menjalankan ibadah sholat dan puasa sunnah. aku juga ingin mengajarkan lagu ini nanti pada ponakan-ponakanku di rumah." gumamku dalam hati. "Kreatif juga orang yang mengubah syair lagu itu. Mendengar lagu itu. Aku hitung surat-surat yang sudah ditandai. tiga. "Saya belum terlambat untuk mulai belajar. Lagi-lagi aku malu hati. Pengetahuannya tentang Islam dan sejarah Islam. Saya tidak ada apa-apanya dibanding Kak Lili. kadang rasa malas amat menggoda. jumlahnya 18 surat. bahkan sampai menelan korban jiwa. memprotes. Semangat belajarku terpompa kembali. Berat memang. Maksudnya mungkin untuk menanamkan rasa cinta pada Alloh dan Rasulullah sejak dini. saya benar-benar merasakan kebahagiaan karena terlahir sebagai Muslim.. selama puluhan menjadi Muslim cuma hapal kurang dari lima surat dan tidak pernah punya keinginan untuk berusaha menghapal surat-surat Al-Quran yang lain. makin bertambah cinta saya pada Islam. Pelan-pelan aku mulai menambah hapalan surat-surat Al-Quran. 24 . aku biasa memanggilnya Kak Lili.. karena banyak sekali hal yang belum saya ketahui dan harus saya pelajari. di bis Patas AC yang aku tumpangi. Umat Islam seolah dibangunkan dari tidurnya. ia selalu bersemangat mengikuti pengajian di mana-mana.. Meski ketiga anakanaknya sudah besar-besar dan usianya tidak lagi muda. Keduanya nampak menikmati perjalanan sambil terus mengulang-ulang lagu yang dulu biasa saya nyanyikan dengan syair. Lia yang baru mengenal Islam... sempat membuatku terperangah. Mereka berunjuk rasa. satu.Hapal ? tanyaku dalam hati. karena Allah swt memberikan lingkungan dan teman-teman yang senantiasa menjadi penyemangat saya dalam belajar. sayang Rasulullah Tiga.

malas berpuasa sunnah seperti yang diamalkannya. sudahkah kita berusaha mengamalkan dan mencontoh sikap-sikapnya yang sangat terpuji.. Salam dan sholawat selalu aku panjatkan untuknya. Berabad jarak darimu ya Rasul Serasa engkau di sini Cinta ikhlasmu pada manusia Bagai cahaya suarga Dapatkah hamba membalas cintamu Secara bersahaja. sebagai sosok manusia istimewa. semulia manusia pilihamu Muhammad Saw. kadang aku malas banyak membaca AlQuran dan sholat malam seperti yang dianjurkannya. Gerimis kecil membasahi kaca jendela dan aku merasakan udara semakin dingin.. pemaaf. Dan Alloh memperkuatnya dalam firman-firmannya.. Ya. Namun semuanya itu... jujur. ketika aku melihat gambar-gambar kartun itu. Dan barang siapa yang berpaling dari ketaatan itu.. Betapa tidak. Aku kembali teringat sebuah buku yang pernah aku baca tentang keagungan Rasulullah. Tapi. Namun hatiku bersenandung kecil.. bahkan pengusaha yang sungguh berakhlak mulia. bagi orangorang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhirnya. untuk lebih mencintai Rasulullah dan menghayati ajaranajarannya? Selama ini. sehingga cinta kita pada Rasulullah bukan sekedar cinta buta. Rindu kami padamu ya Rasul Rindu tiada terperi. Bahkan hatiku terasa teriris dan meneteskan air mata. Dalam buku itu disebutkan bahwa kecintaan pada Rasulullah adalah cerminan kecintaan pada Alloh. digambarkan seperti seorang teroris yang kejam dengan lilitan bom yang siap meledak di kepalanya. tapi aku masih belum mampu memahami makna cinta itu. serta mengingat Allah sebanyak-banyaknya. malas diajak bersilatuhrahmi....Ujung-ujungnya. Alloh. Bis patas AC yang aku tumpangi terus melaju di jalan tol yang licin. Sungguh sebuah penghinaan yang menyakitkan. ampunilah hambamu yang lemah dan hina ini." (al-Ahzab: 21) Ah. karena gambar-gambar kartun itu sungguh melukai hati umat Islam. ternyata kecintaanku pada Rasulullah selama ini cuma di permukaannya saja. suami.. Kemarahan mereka memang bisa dipahami.. Dan apa yang dilarangnya bagimu.. mereka yang membenci Islam. pemimpin umat. maka tinggalkanlah. amanah. pantaskah aku mengatakan mencintai Rasulullah kalau dalam keseharianku. maka terimalah dia. apakah peristiwa ini meninggalkan bekas di hati kita. semakin memojokkan Islam dan umat Islam sebagai umat yang menyenangi kekerasan. aku sengaja mengulur-ulur waktu sholat. belum lagi sifatnya yang welas asih bahkan terhadap musuhnya. Sekarang. sesungguhnya ia telah menaati Allah. Aku belum bisa mengamalkan dan mencontoh perilakunya yang sangat mulia dalam kehidupan keseharianku. Tetapi. 25 . aku jadi malu sendiri.. "Apa yang diberikan Rasul kepadamu. "(al-Hasyr: 7) "Barang siapa yang menaati Rasul itu. aksi-aksi protes itu memang sudah mereda. Aku merenung. ungkapan cinta penyair Taufik Ismail terhadap Rasulullah Muhammad Saw. Beri hamba hidayah dan kemudahan untuk menjadi umatmu yang berakhlak mulia. sabar. Nabi Muhammad Saw yang dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan lembut hati. kita mengenal sosok Rasulullah dari kisah-kisah seputar dirinya. tapi cinta yang melahirkan ketaatan pada Allah Swt dan sikap mulia dalam kehidupan kita sehari-hari? Mengingat ini. kakek. bahwa kecintaanku padanya selama ini belum banyak yang aku wujudkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selama ini aku merasa sudah sangat mencintai Rasulullah." (an-Nisaa: 80) "Sesungguhnya pada Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu. adil dan gemar bersedekah meski dalam keadaan sulit sekalipun dan masih banyak hal-hal yang kelihatannya sepele tapi sebenarnya merefleksikan sejauh mana aku mengenal dan mencintai Rasulullah. sederhana. ayah. aku sering melanggar nasehat-nasehatnya ? Kadang karena pekerjaan yang menumpuk. maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. tibatiba menyentak kesadaranku.

seperti biasa aku mengawali kegiatan dengan bebenah rumah. kumasukkan ke dalam tape recorder yang sudah butut. karunia-Mu Begitu banyak yang.la in syakartum la aziidannakum.*** Akupun mencoba merenung. cuci pakaian dan setumpuk pekerjaan rutin lainnya. Dan janji Allah selalu benar adanya. tangan yang mampu memegang dan melakukan segala aktivitas adalah nikmat. Cuci piring. mata yang mampu melihat secara sempurna ini adalah nikmat. hidayah Islam yang mengalir dalam diri kita ini adalah nikmat yang teramat mahal harganya. dan hidung yang mampu menghirup udara segar. rumah yang indah.. pada-Mu Supaya aku dapat slalu Mensyukuri nikmat-Mu Sayup-sayup kudengar alunan sebuah lagu. kaki yang mampu melangkah adalah nikmat. Di pagi yang cerah. aku ya Allah Mengenali. menyapu lantai.. Segalanya Allah anugerahkan kepada diri ini dengan cuma-cuma. Namun mengapakah aku tak pandai bersyukur? Padahal Allah SWT berjanji : ". Seringkali pula kita tidak menyadari bahwa. sehingga kita dapat memenuhi segala keinginan yang ada dengan segala fasilitas yang mudah didapat tanpa harus bersusah payah bekerja. karena memang tak terhingga jumlahnya. Tak serupiahpun Allah menetapkan tarifnya. dan. wala in kafartum inna 'adzaabi lasyadiid (Sesungguhnya jika kamu bersyukur. Masya Allah. kesehatan kita adalah nikmat. dan teramat banyak hingga aku tak mampu menghitung satu persatu. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. kasih sayang orang tua yang mampu mengalahkan segalanya demi membimbing dan membesarkan kita adalah nikmat. Kau beri Begitu sedikit yang. oksigen yang melimpah ruah dan bebas kita hirup adalah nikmat.Mengapa Kita Tak Pandai Bersyukur? Pagi hari. tak secuilpun Allah mengharap imbalannya. Untuk menemaniku bekerja. tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Semakin lama kucoba mengurainya. Demikian banyak. apakah gerangan yang membuat diri ini tak pandai bersyukur? Dalam pandangan masyarakat umum yang kufahami selama ini. inipun merupakan nikmat yang begitu besar. Hatikupun bergetar. sungguh ada sebuah nikmat yang begitu indah terasa. Sesungguhnya manusia itu. semakin banyak nikmat yang kurasa. Sejurus kemudian hati ini berbicara.. Serta-merta. mata yang mampu melihat dengan sempurna. mengalun merdu dari bibir-bibir mungil anak-anak yang kira-kira masih berusia balita. astaghfirullahal 'adziim. sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. ketika sinar mentari menghangati tubuh.. lidahkupun menjadi kelu. dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku). kulit yang mampu merasakan sentuhan angin yang lembut. kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita tak terhingga banyaknya. ketika kupandangi tubuh ini satu demi satu masih tetap utuh seperti sedia kala. Lalu. tangan yang mampu memegang dan mengerjakan berbagai aktivitas. teman yang selalu setuju dan menyokong pendapat kita. menyadari betapa pelitnya diri ini mengucap syukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan oleh-Nya. klik: Ajarilah. tak pernah salah dan tak pernah lupa. "astaghfirullahal 'adziim" seraya menghapus air mata. Astaghfirullahal 'adziim. mencoba mengurai satu-persatu nikmat yang telah terkecap. segala sesuatu dianggap sebuah nikmat adalah ketika kita memperoleh sesuatu yang menyenangkan. air mata menetes membasahi pipi. kusadari Ajarilah. maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih)". dan entah berapa banyak kenikmatan yang lain yang tidak kita sadari. Harta yang banyak. Persis seperti yang Allah kabarkan dalam firman-Nya: "Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. aku ya Allah Berterima kasih. tak sanggup lebih banyak berucap. Padahal. bibir ini berucap. kuambil sekeping kaset nasyid anak-anak. Ibrahim:31)". pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Sungguh. 26 . kaki yang bisa melangkah.

darimanakah gerangan mereka memperoleh kesenangan. "Robbi awzi'nii an asykuroo ni'matakallatii an'amta 'alayya wa'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii 'ibaadikashshoolihiin". astaghfirullahal'adziim. tapi beberapa kali.Seorang anak penyapu gerbong berusia tak lebih dari sembilan tahun sempat membuat dua mahasiswi berteriak hingga mengalihkan perhatian hampir seluruh penumpang di gerbong tersebut. Saya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan meminta pria itu menghentikan aksi kekerasannya. Aamiin. dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi. dan kepada dua orang ibu bapakku. "Dia ini kurang ajar pak. (QS. dalam diri kita terjangkit penyakit "wahn (terlalu cinta dunia. Membuat berbagai analisa. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. marilah senantiasa mengamalkan do'a Nabi Sulaiman as.. berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. hanya kesenangan dan kesenangan yang ingin kita raih." Ia membenarkan aksinya. Tak perlu iri dan dengki terhadap nikmat orang lain. seandainya baik hal itu tidak terdapat kecuali pada orang mu'min. Sementara pria berbadan 27 . dan bahkan ada yang sampai berani menghujat dan menghakimi Allah sebagai penguasa yang tidak adil. bukannya kita ikut bersyukur atas kebahagiaannya. Berikutnya. ditambah tendangan keras ke bagian tubuh anak yang tubuhnya hanya sebesar paha si penendang. Al Maariij: 19-21). Tidak hanya sekali. kurang ajar!" tangannya terus melayang hinggap di kepala anak tersebut. Menjauhkan diri kita dari rasa syukur kepada Allah. memperoleh ilham dari Allah SWT. Tak jarang pula. sehingga kita menjadi makhluk yang pandai bersyukur pada-Nya. mensyukuri apa saja yang ada pada diri kita. Tidak cukup di situ.*** Karenanya. dan bila diberi nikmat ia bersyukur" (HR. Merasa diri menjadi orang yang paling sengsara di dunia. Disisi lain. dalam kehidupan kita.semoga Allah berkenan mengampuni kita dan membimbing kita menjadi hamba-hamba yang pandai bersyukur. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Apapun yang Allah berikan kepada kita. haruslah kita yakini bahwa itulah pilihan terbaik yang Allah kehendaki. Mahasiswi itu merasa kaget karena anak itu manarik-narik bagian bawah celana jeans-nya untuk meminta uang. "Keluar kamu.. tak sedikitpun ingin merasakan sebuah penderitaan. (QS. An Naml : 19). Sebaliknya. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. "Dan apa tindakan bapak itu sebanding dengan kesalahannya? Tak perlu berlebihan seperti itu lah. maka tidak menutup kemungkinan bila pada akhirnya diri ini tumbuh menjadi makhluk yang tak pernah mampu bersyukur. Astaghfirullah wa na'udzubillahi min dzaalik. sehingga perilaku tersebut. Muslim). kita justru mencibirkan bibir dan menuduh yang tidak-tidak. Ketika empati mati eramuslim . Allah jua yang berkenan menciptakan kita sebagai makhluk yang senang berkeluh kesah. Terakhir. Bila sifat ini tidak kita kelola dengan baik. Na'udzubillaahi min dzaalik. Sehingga ketika Allah berkenan memberikan sebuah cobaan. Berprasangka buruk dan menyebarkan bermacam berita. Ketika kita melihat orang lain bahagia. dan takut mati)". dari gerbong sebelah sudah kurang ajar. seringkali kita merasa iri dengan kesenangan/kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain. Serta merta seorang pria dewasa berbadan kekar yang tak jauh dari dua mahasiswi itu melayangkan punggung tangannya tepat di bagian belakang kepala anak itu. "Tapi dia juga kan manusia. hingga kita mampu menjadi seorang mu'min seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW: "Amat mengherankan terhadap urusan mu'min. Bila ditimpa musibah ia bersabar. amat baiklah sekiranya kita mampu melatih diri. Agar kita senantiasa terbimbing." Episode berakhir dengan turunnya anak tersebut di stasiun selanjutnya. diri kita tak sanggup menanggung. apa pantas diperlakukan seperti itu?" tanya saya. Ya Robb kami. dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.

adik. sebatang kayu yang hanyut terbawa arus menghempas dan menjepitnya. seorang pria setengah baya babak belur dihajar massa hingga koma. Menawarkan pilihan yang dilematis. ia tak kehilangan satu apa pun dari dalam tasnya.sangat tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan anak itu.. jelas saya tidak setuju. Bagaimana dengan mereka yang telah terlanjur memukul ? Orang bersalah memang harus dihukum.*** Kekerdilan yang bermakna Ketakutan memberi arti lain pada suasana jiwa. saya harus berdebat dengan pria berbadan tegap itu dengan mengatakan bahwa tindakan kasarnya -menempeleng dan menendang." Saya katakan.. Aceh Besar. kita sering berharap orang lain memberikan tempat duduknya untuk isteri kita yang tengah mengandung atau menggendong si kecil.. atau bahkan diri Anda sendiri ? Contoh sederhana. "Saya bukan copet. bagaimana jika copet itu adik. cara anak itu meminta uang kepada penumpang (mungkin) memang salah. karena ternyata. Saya setuju mereka diberi hukuman atas kesalahannya. Tiga tahun lalu di Stasiun Kalibata. Seperti kejadian di kereta itu. Saya juga tak mengerti kenapa nyaris semua orang di gerbong itu terdiam menyaksikan ketidakadilan berlaku di depan mata mereka? Sebagian besar orang yang ada di depan gerbong itu para karyawan. tapi mengapa mereka hanya menutup mata? Bahkan seorang bapak di samping saya sempat berkata.tegap itu berdiri dekat pintu gerbong sambil berbincang dengan beberapa penumpang lainnya. Dilema inilah yang dialami Abdullah. atau lempar dari kereta yang melaju cepat. juga ayunan kakinya berpuluh-puluh kali kepada pria tersebut. menyusul yang lainnya. Di sisa-sisa nafasnya yang tersengal satu persatu.. nuraninya sebagai seorang ayah tersentak di tengah kepanikan dan derasnya gelombang yang mengamuk. Padahal di belakang kerumunan tersebut." Satu pertanyaan saja. Adilkah ? Mungkin empati sudah mati. Anaknya yang masih kecil berusaha dinaikkan ke atas kap mobil. sebagian orang mudah saja berkata "Bakar saja. ketika sang ayah berusaha menariknya ke atas mobil. lagi-lagi mencoba membenarkan tindakannya. Melihat kedaan anaknya. wajahnya hancur. mahasiswa. keponakan. Memilih dalam cengkraman rasa seperti ini bukanlah sesuatu yang mudah. begitu pula dengan orang-orang itu. ia tengah bersama orang-orang yang dicintainya.. genggamannya pada 28 . Secara serempak. kemudian berpura-pura tidur. Tapi nyaris setiap hari kita tak pernah tergerak untuk berdiri dan merelakan tempat duduk kita untuk mereka yang lebih berhak. satu tangannya patah. Jakarta. wiraswasta dan kontraktor yang tinggal di Perumahan Ajun. istri dan lima anaknya. "Anak itu juga seharusnya jangan kurang ajar. Kiki meronta menahan sakit di antara pintu mobil dan kayu. Kondisinya mengenaskan. mahasiswi yang tadi refleks berteriak itu meminta orang-orang yang sudah terlanjur beringas itu menghentikan aksinya. Kepada mereka yang terdiam dan tak berusaha melarang pria tegap itu melakukan aksi kekerasan.. tapi terlalu sering seseorang mendapatkan hukuman yang tak setimpal. Tapi itu hanya tindakan kecil yang tak pantas dibalas dengan tempelengan dan tendangan keras berkali-kali ke tubuhnya. Namun malang bagi Kiki. Bagaimana jika Anda yang berada pada posisi si bersalah? Relakah jika orang lain memperlakukan Anda secara tidak adil? Ya." Pria tersebut dijadikan tersangka pencopetan ketika seorang mahasiswi secara refleks berteriak "copet" saat tasnya tersenggol pria yang sudah nyaris mati tersebut. saya menangkap rintihannya. akankah Anda diam jika anak itu adalah anak. dibarengi emosi yang tinggi puluhan pria langsung menggerebek dan mendaratkan kepalan tangan. Kasus copet-copet yang dibakar misalnya. tapi memberikan hukuman lebih dari tingkat kesalahannya. Namun apa daya. biar jadi pelajaran bagi copet yang lain. Tak satu kata pun bisa keluar dari mulut saya menyaksikan peristiwa itu. Ketika gelombang Tsunami menghantam. orang-orang berpendidikan. kakak atau saudara Anda? Kalimat itu juga kah yang akan keluar dari mulut Anda? Atau bahkan bila copet itu Anda sendiri? Anda pasti meminta orang-orang menghukum Anda sewajarnya bukan? Anda bisa begitu mudah bertindak berlebihan menghukum atau memberikan balasan atas kesalahan orang lain.

bagi kayunya satu. pikirannya menerawang kembali pada wajah polos anaknya. Sementara kakaknya masih terpegang oleh Abdullah." Namun begitulah Allah yang punya sifat Rahman atas hamba-Nya. "Saya habis Pak. dengan harapan bisa mencari istri.Kiki tiba-tiba terlepas. karena tidak ada harapan. semua sudut jalan dan gang tidak terlewatkan. air matanya tek henti jatuh. kayu yang sebenarnya menjadi harapannya ia berikan pada mereka. ia berharap bisa menemukan jasad mereka. Dengan itu semangat hidup saya kembali lagi. Pusaran air menyeret. Kakinya letih. Abdullah menarik dan meletakkan orang-orang yang dicintainya ini di atas rakit seadanya. lagi-lagi terpikir. Secara tidak sengaja selang air lima meter terjulur mengambang dari sebuah rumah. "Mengapa saya bisa menyelamatkan orang lain. Di benak Abdullah hanya terlintas kecemasan. anak dan tetangganya. Ketika itu. Namun setelah dilihat dari atas ternyata yang memegangnya tadi bukan hanya dua orang. Melihat mayat yang kebanyakan anak-anak. Ia hanya bisa pasrah. tiba-tiba seorang ibu menjerit di dekatnya. pagar ini pun jebol. "Tapi. karena beban yang menekan terlalu banyak. Berpegangan di kayu. "Saya mencoba melongokkan kepala. kaku tanpa nyawa. Jenazah-jenazah ini dibawanya ke mesjid. Ya Allah. "Ayah. maafkan saya. Ia sedikit merasa lega." pikiran ini mengganggunya." kesadaran ini menguatkan Abdullah. Dengan sisa tenaga yang ada. Ketika ia membuka pintunya. istri dan anaknya berpelukan. agar amal mereka diterima dan dosadosanya terampuni. Ia terus mencari. dijadikan pelampung. Dengan selang air ini Abdullah menolong ketiga orang itu." Abdullah terus berjalan. mayat-mayat makin banyak menumpuk. apakah istri dan semua anaknya tidak mampu bertahan." ujar Abdullah terbata-bata. Jika pun anaknya sudah tewas. Di kanan kiri sudah tidak ada lagi kayu. yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumahnya. Sejurus kemudian. Jika anak dan istrinya sudah tewas. kami akan tenggelam. Semuanya hilang bersama derasnya air bercampur lumpur." sambil berenang ibu ini berusaha menangkap kaki Abdullah. Di tengah kegalauan. tapi tak bisa menyelamatkan keluarga. memaksanya bercerai-berai dengan semua anaknya. Ia kembali ke jalan-jalan. Hingga setelah beberapa jauh. pikirannya kembali menerawang. Mereka berlima. untuk apa lagi ia hidup. ia pindah ke sebuah kusen besar dan kuat yang terombang-ambing. Dengan tenaga yang ada Abdullah berusaha menepi dan meraih tembok. Karena tidak tega. Meski air masih sebatas badan. Ia berupaya keras menarik Kiki." Perasaan ingin mati pun menyeruak kembali. Di luar dugaannya. "Saya marah pada diri saya. Mobil sedan yang ditumpangi keluarga dan tetangganya ternyata sudah tidak ada. Wajah kecil anaknya yang menangis minta jangan dilepas. menenggelamkan mereka satu-per satu. Tidak lama di pagar. ia terus mencari dua anaknya yang hilang. "Saya serasa mau bunuh diri. Abdullah turun dari tembok. ia bergerak berusaha mencari mobil. semuanya hilang. Begitu tersadar. ia bisa memanjat tembok itu. "Nak. Kayu yang menahan tubuh Abdullah ikut roboh dan terhempas bersamaan dengan tubuhnya. matanya mesti menyaksikan pemandangan memilukan. Hingga akhirnya ia berhasil meraih sepotong kayu sepanjang empat meter. seorang bapak bersama tiga anak gadisnya. Barang kali orang lain sudah menemukan anaknya. Kiki yang terjepit meronta untuk diselamatkan. wajah istri dan anaknya yang sudah kaku memaksanya kembali ke mesjid. Setelah berputar-putar selama satu jam. keluarga saya lima orang meninggal di dalam mobil. ia ingin menyatukannya dengan jasad istrinya. yang teringat hanya istri dan anak saya. Kiki terdengar menjerit. sama Tuhan. Sesampai di mesjid. kenapa saya dilepas?" Perihnya terasa dalam di lubuk hati sang ayah. namun tiba-tiba air bah yang lebih kuat menghantamnya. Yang ditemuinya justru seseorang yang juga sedang mencari keluarganya." katanya menangis pada Abdullah. Sambil berjalan. yang dibuatnya dari drum. Perempuan yang lain juga meraih kakinya. tolong Nak. Terbayang wajah istrinya yang begitu panik ketakutan. Setelah air berangsur surut. ia terhantam air yang tiba-tiba menderas lagi. Abdullah menemukan mobilnya yang terlempar sampai beranda mesjid. seletih hatinya yang menangis tanpa suara. "Kalau saya bunuh diri siapa yang akan mendo'akan mereka. bahkan mayat istri dan anaknya yang ia 29 . dikumpulkannya kayu kecil yang berserakan di kiri-kanannya. sekali lagi Allah memperlihatkan kuasa-Nya. mencari di antara tumpukan jasad. Paling tidak kalau pun mereka semuanya sudah meninggal. Sedih dan marah menjadi satu. perasaan Abdullah terus berkecamuk. Badannya terseret hingga ke pagar mesjid. Sambil ikut mengevakuasi mayat-mayat ke mesjid. siapa lagi yang akan mendo'akan mereka. Mendengar ini.

Majalah Tarbawi. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Terlintas dalam pikiran saya. saya sering menyebutnya "Pulang ke pinggir sorga. di mana saja. Hari itu juga ia putuskan untuk kembali ke rumah. mereka mengucapkan Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya dari Allah kita datang. Berharap mukjizat. Karena kampung saya jauh dari kota. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost. keluarga yang lain. tentang masa lalu. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. maka saya harus kost. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang. Kalimat itu adalah. Di dalam rumah tak urung hatinya meratap. keluar masuk kamar sambil berpura-pura cerita kepada istri saya. membuka hati Abdullah tentang kekerdilan seorang manusia." Saya terdiam. Penawar bagi kegalauan jiwa yang kehilangan belahannya. "Saya tak tahan. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya.tinggalkan tidak ia temukan. Dilihatnya halaman yang berubah menjadi bubur lumpur bercampur onggokan sampah. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini." Sambil terus berharap. tak perlu ada yang disombongkan. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah. Hingga akhirnya ia ingat. lantai atas rumahnya tidak terkena banjir. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu. Segala kesuksesan sebagai pengusaha ternyata menjadi tidak bernilai apa-apa. 30 . Sia-sialah manusia jika bersombong diri. 6/Dzulhijjah 1425 H/ 20 Januari 2005 M Kalimat Romantis Oleh Sus Woyo Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Semuanya sepi. "(yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah. mengakui kekerdilan di hadapan Allah yang maha Segalanya. ditemani mayatmayat yang terus bertambah hingga beberapa hari. "Saya betul-betul sadar sekarang. Kapan saja. "Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia. Kita tak ada artinya sama sekali." Manusia hanya mampu mengulang perkataan saat musibah menimpa. "Wajah mereka terbayang terus. Yang ada hanya kabar terakhir. maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. hanya tampak baju anak-anaknya yang masih tergantung rapi di sisi pintu. istri dan anaknya beserta mayatmayat yang lain sudah di bawa ke Lambaro. kakinya tertahan. Gagang pintu serasa ringan dan kosong saat dibuka. semuanya menjawab. Kata-kata itu sesungguhnya adalah obat. kembalikanlah semuanya kepada Yang Memilikinya. Selepas tamat sekolah dasar. apalagi gempa datang terus. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan. Begitu juga saat melongok lewat jendela. orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. anak." kenangnya. Ketika segalanya telah ditakdirkan maka tak ada yang bisa mengelak. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri. hanya itu bisa dilakukan sebagai penawar hati. Malam pertama di rumah bisunya diisi dengan sholat tahajud dan dzikir. Ketakutan yang menderanya saat dihempas gelombang. yaitu saat datang hari Sabtu." ujarnya. Ia naik ke atas. saya seperti orang gila." lirih Abdullah. Mengembalikan semuanya kepada Allah. Maka. berharap anaknya bisa ditemukan esok atau lusa. Abdullah bersama penduduk tidur di mesjid. Edisi 100 Th. Namun begitu dicari dan ditanyakan. "Saya hanya bisa menangis menelan ludah membasahi kerongkongan. saat yang paling menyenangkan. mata saya tak bisa dipejamkan. Ketika naik. "Tidak ada. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Di halaman itulah terlukis beribu kisah tentang anak dan istri tercintanya." Sebab akan bertemu dengan orang tua. Kesadaran amat tinggi berdiam hatinya. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Al Baqarah : 156). lari minta digendong. anak-anaknya seolah-olah berhamburan. jangan sampai lagi kita bersombong diri. Semuanya akan dikuburkan di kuburan massal. kepada-Nyalah kita kembali)" (QS. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

yang dibawa malaikat penyabut nyawa. Awalnya saya menganggap dia tak percaya dan curiga saya tak memberitahu penghasilan saya yang lain. Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya. Sejak itu. "Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama. Aku bangga kepadamu… “Zakat penghasilan bulan ini sudah dikeluarkan. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia. Sambil melihat langitlangit kamar. yaitu pulang ke pangkuanNya.. saya yang tak pernah menutup-nutupi jumlah penghasilan sempat dibuat jengkel gara-gara isteri kerap menanyakan adakah penghasilan lain selain yang didapat setiap akhir bulan. mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Beruntunglah saya karena ada yang rajin mengingatkan. Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya. Artinya. atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?' Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi. Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. padahal penghasilan saya memang cuma segitu-gitunya. tentang apa yang telah saya perbuat di "rantau" ini. "Duh. Biasa. Lama sekali. tentunya. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. walaupun demikian. Memang itulah adanya. hari-hari saya diliputi kegembiraan. Ia teramat perhatian untuk mengeluarkan zakat yang duasetengah persen dari setiap penghasilan yang kami terima. padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang. isteri yang senantiasa mengingatkan urusan zakat penghasilan.. barulah diri ini tersenyum sekaligus malu. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri. Apalagi merasa gembira. bang. saat mendengar kalimat dari majikan saya itu. pasti saya akan pulang. baik itu penghasilan bulanan maupun penghasilan dari hasil lainnya. Dan teman saya itu berkomentar. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Namun. walau dengan nuansa yang berbeda. "Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?" Ya. 31 . Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan.. setelah merantau. tiba-tiba saya berpikir keras. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi.Nah. apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Setelah ia jelaskan maksudnya. saya bergumam sendiri." Saya senyum-senyum saja mendengar itu. hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri. Sejak menikah. mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta? Saya tertunduk lama. saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah. pasti juga akan dipanggil pulang.datang menyapa saya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah. Pasti belum dikeluarkan sama Abang kan?” Sebuah pesan pendek masuk ke telepon selular saya pagi ini. Cepat atau lambat. Bahkan terkadang. Duhai Istriku. ya. di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi. Namun. gembiranya mau pulang kampung. kampung akhirat. beberapa tahun yang lalu. Bekal saya belum seberapa.

“Mungkinkah Allah menjawab doa tukang sampah itu untuk kami? Hanya Allah yang tahu”. beliau bersabda. separuhnya lagi terserah Abang besok deh mau diberikan kemana. tukang sampah langganan yang setiap 2 x sepekan mengangkut sampah di lingkungan tempat kami tinggal usai mengangkut sampah dari depan rumah. Belum beranjak tukang sampah itu dari rumah. saya yang tak mendengar langsung dari mulutnya pun merasakan getaran yang mengharukan. ditanggalkan giginya.” tak lupa ia meninggalkan doa untuk keluarga kami.” timbang isteri saya. Menurut sebuah riwayat. Isteri saya pun memanggilnya dan menawarkan dua buah sepeda bekas anak-anak saya yang mereka sudah enggan memakainya karena sudah ada yang baru. sebagian rezeki yang Allah titipkan sudah diberikan kepada yang berhak. Rupanya Jum’at hari ini tidak hanya berkah bagi bapak tukang sampah itu. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka.“Diberikan ke siapa zakat kita dik. lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan. Beliau di hina. isteri saya pun teringat bahwa kami belum mengeluarkan zakat penghasilan bulan ini. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil. “Baru separuhnya ke tukang sampah langganan.” Tak hanya isteri. “Alhamdulillah.” Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya. tapi saya sudah bisa menebak apa yang ada di kepalanya. beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. tapi juga bagi kami. lututnya berdarah karena lemparan batu.” tanya saya sekembalinya dari mengantar anak saya ke sekolah. makan anak dan isteri dua jumat ke depan terjamin nih bu. lalu bagaimana dengan hari-hari sebelumnya ? Dan bagaimana dengan pekan-pekan yang akan dating ? “Jum’at yang berkah buat saya. Diam-diam isteri saya mengamini doa bapak tukang sampah. Betapa kecilnya uang yang kami berikan bisa membuat ia merasa ada jaminan makan selama dua jumat ke depan. Tentu saja ia tak menampik tawaran isteri saya dan diangkutlah dua sepeda kecil itu. mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. tubuhnya dilumuri kotoran. Ketika saya menceritakan perihal ini kepada isteri. Maha Suci Allah.” jelasnya. agar Sang Pemberi rezeki pun memberkahi setiap pemasukan dan pengeluaran kami. tak cukup kalimat syukur yang keluar dari mulutnya. “Dijual harganya nggak seberapa. Lega lah sudah. rumahnya dilempari kotoran ternak. Saat beliau berdakwah di Thaif. Aih… CINTA NABI Setiap pohon yang tidak berbuah. dan semua cabangnya mengarah ke atas. dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Saya yakin ia tengah menghitung lagi dua setengah persen yang harus dikeluarkan. ** Sore harinya saya pergi ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk mengambil sedikit dari tabungan kami guna keperluan belanja. dan di siksa dengan keji. tumbuh tinggi dan lurus. terima kasih. sehingga tubuh beliau berlumuran darah. meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang. Maka ia pun memberikan sebagian dari yang seharusnya kami keluarkan kepada tukang sampah itu. Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati. seperti pohon pinus dan pohon cemara. semoga hari ini keberkahan juga tercurahkan atas ibu sekeluarga. ketika melihat saldo tabungan saya bertambah hampir enam kali dari yang pagi tadi dikeluarkan isteri saya. puji syukur saya yang tiada bandingannya. Cerita pun mengalir. untuk bersikap baik hati kepada mereka. “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat. mengangkat kepalanya ke atas. 32 . Semoga lebih ada nilainya. Haru dan nyaris tak sanggup membendung bulir air yang siap tumpah dari pelupuk mata ketika isteri saya mendengar ungkapannya saat menerima uang buat sebagian orang itu tak seberapa nilainya. dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman.

” Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau. Abu Dzar Ra. haus. “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar. Ibnu Hibban. pun menengadahkan pandangannya. kami siap untuk menjalankan perintah tuan. keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepadaNya. anNisâ [4]: 41).. Semoga Allah mengampuni kalian. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Abu Sufyan bin Harits.” Ibnu Mas’ud berkata. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi. sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. “Bagaimanakah menurut kalian. Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya. putra saudara yang mulia. “Jika Muhammad menangkapku. sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw. Begitu bacaan tiba pada ayat ini. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis. Yusuf [12]: 91). “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf. dan berdiri di dekat kepalanya. sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. (QS.” Sambil berkata demikian. sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). bahwa beliau mendirikan shalat malam. bahwa Rasulullah Saw. lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw. “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. maka Ali bin Abi Thalib Ra. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. beliau bersabda. lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata. Jika Engkau menyiksa 33 . Yusuf [12]: 91). Rasulullah Saw. mengalirlah airmatanya dengan deras. Rasulullah Saw. demi Allah.” Ali berkata. “Walaupun mereka menolak ajaran Islam. apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata. bertanya kepadanya. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya. Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga. Jibril memberi salam seraya berkata. meriwayatkan dari Nabi Saw.Demi Allah.” Nabi Saw.. sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). “Aku akan keluar ke padang sahara. Dengan penuh kasih sayang berkata.” Ketika Makkah berhasil ditaklukkan. “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau. “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab. dan tidak berpakaian. sangat mencintai umat manusia.” Mendengar tawaran malaikat. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan. …. Kata malaikat itu. bersabda. Thabari. dan Syafi’i). “Cukup. Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. Hingga ketika menyadari hal itu. “Wahai Rasulullah. Baihaqi. kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan.” (HR. Setibanya di hadapan Nabi. Jika tuan mau. “Bacakan al-Quran kepadaku. “Engkau adalah saudara yang mulia. (QS. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu. niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil. sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?” “Aku ingin mendengarnya dari orang lain. “Hai Abu Sufyan. sepupu beliau. saya berharap dengan kehendak Allah. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Wahai Rasulullah. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah Saw. hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab. yaitu. (QS. kami siap melaksanakannya. …Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Yusuf [12]: 92).Dalam perjalanan pulang. (QS. sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman.” Ali bertanya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya.” jawab beliau.

Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah. pada saat saya sedang merenda hari-hari di negeri orang. saya ini sering sekali mengalami kesukaran-kesukaran dalam menghadapi sesuatu hal atau masalah. Perempuan muda asal Blitar. at-Taubah [9]: 129). Sehingga saya punya obsesi untuk melanjutkan sekolah setelah 34 . ketika himpitan masalah bertubi-tubi datang kepada saya. yang tidak punya perahu sendiri. Karena terus terang saja. Dan apa yang sedang menimpa saya menjadi jalan untuk mengugurkan dosa-dosa saya. walaupun banyak masalah tapi istiqamah-lah dalam menjalankan syariat-Nya. Allahumma salimna ummati. Sebab dengan 'curhat'. Dan pesan beliau adalah. Ada juga yang memberi saran. al-Maidah [5]: 118). sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri? Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita. walau bagaimanapun Indoneia masih menjajikan untuk para pencari rezeki. seolah kita bukan lagi umatnya. sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka. amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Bisa baca buku. nun jauh di kampung. Saya asal Blitar. Sejak itu. Yang diucapkannya pertama kali adalah." Pesan guru ngaji saya itu sering saya praktekan. Saya selalu menduduki ranking atas. Dan ada seorang yang sedang punya nasib sama dengan saya. doa. Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi. janganlah kau diamkan sendiri. browsing internet di rumah dan juga diberi keleluasaan beribadah. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. petuah. Keadaan diri Nabi Muhammad Saw. digambarkan Allah Swt. saya bisa melakanakan kegiatan apa saja. Kalau pekerjaan saya sudah selesai. Saya mencoba menuliskan permasalahan saya. beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Ada juga yang mendoakan. Jawa Timur. memberi nasehat panjang lebar kepada saya dengan cara menuliskan perjalanan hidupnya. Curahkanlah perasaan hatimu dengan orang yang paling dekat denganmu. berat terasa olehnya penderitaanmu. saudaramu atau siapa saja. Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba. (QS. Di sini. kawanmu. yaitu seorang pekerja di Hongkong. bahkan berkorban nyawa untuknya. berkorban untuk kita. dengan guru ngajimu pun tidak apa-apa. dan meneteskan airmatanya untuk kita. Ada yang mendoakan semoga saya tabah. tahukah kamu dengan perjalanan hidup saya? Saya akan mencoba menceritakan padamu. Ada juga yang mengingatkan agar saya banyak-banyak mengingat Allah. apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina. Ketika SD. sebagai manusia biasa. beliau berpesan. Mas. Bapak saya seorang buruh nelayan. sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. berdatangan di mailbox saya. walaupun majikan saya sendiri tidak beragama. sebagaimana Nabi mencintai kita. Curhat Suatu saat. ketika saya bersilaturahmi dengan guru ngaji saya. saran. maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. saya pun tak ragu-ragu untuk mencurahkan perasaan saya kepada sahabat-sahabat saya. dalam firman-Nya. Majikan saya sangat baik. Mungkin orang tuamu. Jika semua itu meragukanmu atau kau kurang berani mengatakan sejujurnya. Dan tentu saja itu akan melegakan kamu. dan saya kirimkan ke sebuah redaksi situs Islam. "Jika kamu sedang punya masalah.mereka. Maka beberapa waktu lalu. Tapi. Jawa Timur itu menulis: Saya memang sangat menikmati pekerjaan di Hongkong ini. Dan beberapa hari kemudian redaksi situs tersebut memuatnya. banyak nasehat. untuk lebih mencintainya. tidak jarang akan menemukan jalan keluar. Ya Allah selamatkan umatku. (QS. Beliau juga sering berdoa. “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. guru-guru saya memuji bahwa saya adalah anak pandai di sekolah. agar saya pulang saja ke Indonesia. membelanya.

Saya baru merasa bahwa sekolah butuh biaya banyak. Tahun pertama saya bisa membantu menyekolahkan adik saya sambil mondok di Jember. Setelah merantau ke Singapura. Jadi. Rumah orang tua saya ikut terkena musibah itu. Ternyata pada saat kami mengalami masalah berat. Dia butuh uang banyak. Menunduk dalam arti banyak-banyak memandang ke bawah. Dan benarlah kata guru ngaji saya. Jangankan berhubungan dengan kawan. Tapi rupanya obsesi saya tidak seimbang dengan kemampuan orang tua saya. Mikael Ljungberg. Memasuki kelas dua. sebagai hamba Allah. Sambil bekerja di sebuah peternakan saya masuk SMP. mungkin saya tidak akan beribadah sebagaimana ibadah yang dia lakukan) eramuslim . Akhirnya tak terasa terlontar rintihan dari dalam diri saya. Tapi apa hendak dikata. Sekarang hanya tinggal rumah kosong dan seonggok sampah yang dibawa banjir. Tiba-tiba di saat kekalutan belum pulih. Kal ini saya mencoba merantau ke Hongkong. masih diberi kesempatan untuk hidup pun adalah nikmat terbesar yang Dia berikan pada kami. Mungkin saya tidak akan menemui 'mutiara kehidupan' ini. Sayang. Umur saya waktu itu empat belas tahun. orang tua saya mengabarkan bahwa. Saya diam sejenak membaca kisah sahabat saya ini. yaitu selama dua tahun. di sana saya menemui majikan yang sangat tidak baik. Namun kesenangan saya tidak berumur lama. Dan saya juga bisa membelikan perahu sendiri untuk ayah. Ahirnya saya memutuskan untuk merantau lagi. Akhirnya usaha tersebut menjadi kocar-kacir. Walaupun begitu. Dan saya menemui majikan yang lain dengan yang di Singapura.tamat SD. tankte jag" (Saya fikir. Namun hanya bertahan setahun. Saya mencoba mengulas perjalanan hidup saya sendiri. DAHSYATNYA energi IBADAH oleh Sus Woyo "Om min dotter skulle ha dott. Tiba-tiba sebuah kejadian menimpa saya lagi. Alhamdulillah agak ada sedikit peningkatan dalam kehidupan keluarga saya. saya mencoba merantau ke Singapura. Cobaan dari Allah tidak hanya sampai di situ. saya kuatkan sampai habis kontrak. saya tidak tahan melihat keadaan orang tua. Karena saya tidak mempunyai uang sebanyak yang ia minta. masyarakat Swedia dikejutkan dengan berita kematian atlit kebanggaan mereka. Mikael Ljungberg. peraih mendali emas di Olimpiade dunia di Sydney tahun 2000 yang lalu telah 35 . ada kawan atau sahabat kita yang sedang mengalami yang lebih berat dari kami. Sebab nikmat Allah tidak harus seonggok rupiah. Kesedihan saya terus bertambah. seandainya saya tidak mencurahkan isi hati saya kepada orang lain. Namun saya akan meneruskan bekerja di Hongkong. jika anak saya harus meninggal. Awalnya saya menolong seorang teman yang sama-sama kerja di Hongkong. memang tidak ada alasan apapun bagi kita untuk tidak bersyukur padaNya.Rabu malam tanggal 18 Nopember lalu. Ternyata saya tidak sendiri dalam menghadapi kesulitan hidup ini. Bagaimanapun juga saya harus melanjutkan usaha ini. Keluar dari sekolah. sekarang saya sudah memasuki kontrak yang ke empat. skulle jag nog inte be som han gjorde. Namun baru dua kali angsuran. Blitar dilanda banjir besar. Dan mencoba membandingkannya dengan dia. Alhamdulillah proses ke sana agak mudah. karena kekurangan biaya. Mungkin saya akan selalu dalam kedaan beku pikiran dan larut dalam gelombang kesedihan. Terpaksa sayalah yang harus mengangsur utang kawan saya tersebut. Padahal waktu itu saya sedang membantu orang tua saya dalam usaha pertanian. Kisah sahabat saya mengajari agar saya lebih banyak untuk menunduk. bahwa 'curhat' bisa menjembatani kami untuk mendobrak berbagai macam permasalahan. ahirnya saya relakan dokumen paspor saya untuk meminjam uang di bank. pegulat berusia 34 tahun. dia dipulangkan dari Hongkong. Mas. sebenarnya saya tidak ingin merantau ke luar negeri lagi. saya keluar. Kapok rasanya kerja di luar negeri. menerima surat dari Indonesia pun saya tidak boleh.

Selain Fredrik dan istrinya. prianya tampan-tampan dan wanitanya cantik-cantik. Berbagai peristiwa sedih memang mendera sang jagoan olimpiade ini termasuk kematian ibunya dan perceraian dengan istrinya. Energi sangat diperlukan. orang-orang barat yang tubuhnya segar bugar. malam itu laki-laki Yaman tadi bersama tiga orang Yaman lainya menunaikan sholat berjamaah. Ibadah kepada Allah. mereka pernah berkunjung ke Yaman. Sungguh disayangkan. gadis asal Perancis. Jadi jangan heran. Bahwa onak dan duri kerap ditemukan dalam jalan kehidupan yang panjang ini. juga menjadi muslim pada tahun yang sama. adalah sumber energi kehidupan yang utama dan pertama. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Allahu Akbar. padahal anak gadis tercintanya yang berumur 1 tahun baru saja meninggal dunia sebulan yang lalu. memerlukan energi. demikian hal yang pernah diungkap di salah satu edisi Majalah Tarbawi. perlahan berhenti hingga akhirnya stop sama sekali. hanya melahirkan sosok-sosok yang rentan dan labil. sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah. "Sesunggunya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. yang selalu mempunyai energi kehidupan sehingga tidak berkeluh kesah apalagi menyerah terhadap berbagai kesusahan dan kesedihan. Mikael Ljungberg. surah AlMa'aarij:19-23). Bila energi terus menipis dan kemudian habis. tidak tampak raut kesedihan sama sekali. yang bila kita tidak mempunyai persediaan energi yang prima untuk berenang ke tepian. ternyata kebanyakan mereka tidak ubahnya sosok-sosok lemah tanpa daya yang begitu mudah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Energi yang paling hakiki bagi seorang manusia adalah motivasi hidupnya. Ibadah inilah yang menjadi sumber energi bagi kehidupan. Istrinya. manurut harian pagi terkemuka Goteborgs Posten. Bila motivasi hilang. Bahkan bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar bagi golongan usia 15-44 tahun. lenyaplah energi dan berhentilah kehidupan itu sendiri. Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat. juga ditawari bermalam di tempat tinggal orang tadi. Begitulah episode akhir dari jagon olimpiade yang telah kehilangan energi kehidupan. Sebagaimana yang ditulis Anawati beberapa waktu yang lalu di eramuslim tentang Energi Ambang. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Bahwa badai. pemuda asli Swedia kelahiran tahun 1974. maka hilanglah pegangan hidup. diantara jumlah penduduk Swedia yang hanya 9 juta orang itu. Motivasi hidup seorang manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. pujian dan sanjungan. yang kemudian menjadi muslim di tahun 1996. pria yang pernah menaklukkan seluruh pegulat-pegulat terbaik di dunia. semua yang hidup. Apalagi Allah telah menjanjikan bahwa sholat yang benar akan mampu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkan termasuk bunuh diri. Menyaksikan laki36 . bisa saja gelombang tadi menyeret dan menenggelamkan kita ke dasar lautan. mampu membentuk pribadi-pribadi tangguh. Karena itulah kehidupan yang ditopang semata-mata oleh teori humanisme belaka. yang tidak mampu menahan badai kehidupan. Setelah semuanya selesai. Lelaki Yaman tadi begitu ramah dan positif. Sebelum mereka menjadi muslim. segala sesuatu yang bergerak.mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di rumah sakit Molndal (di luar kota Gothenburg) tempat dia menjalani terapi depresi. Bahwa kehidupan di dunia tidaklah selalu diwarnai dengan bunga. pria yang pernah dijuluki manusia terkuat di dunia (karena telah berkali-kali meraih berbagai mendali pada olah raga gulat pada berbagai kejuaraan tingkat dunia). Namun lelaki Yaman ini tetap memuliakan para tamunya (termasuk Fredrik dan istrinya) sebagaimana yang diperintahkan dalam Islam. seperti laiknya masyarakat barat. usia muda dimana seseorang seharusnya mempunyai energi yang prima untuk berkarya. ke lembah neraka jahanam karena kita mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Tidak begitu jelas hal apa yang mendorongnya melakukan bunuh diri. ternyata tidak mampu menaklukkan dirinya sendiri. ada juga tiga orang Yaman lainnya. yang mereka itu tetap mengerjakan sholatnya" (Qur'an. benda yang tadinya bergerak. yang ketika itu tidak mempunyai tempat bermalam. Di sinilah sholat. Suatu ketika mereka tidak menemukan hotel untuk bermalam hingga akhirnya datang seorang Yaman menawari mereka bermalam di tempat tinggalnya. terlebih-lebih pada saat-saat krisis. ombak dan gelombang bisa saja datang secara tiba-tiba. setiap enam jam ada satu orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Saya jadi teringat kisah Fredrik Dahlberg. Misalnya di Swedia.

Aku masih teringat sewaktu di sekolah dasar di era 80-an. memberikan kesan yang begitu kuat dan mendalam bagi Fredrik dan istrinya. Ehm ." "Selalu bersikap positif dan beribadah pada Allah. senang hatiku melihatnya. seringkali aku membawa sebuah kartu nama ayahku yang tertulis sebagai President Director di salah satu perusahaan. tubuh menjadi kaku maka di sinilah terminal kehidupan dunia kita berakhir ( menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi ).. Aku ingin menjadikan kantorku sebagai tempat perlindungan 37 . Kekayaan selalu menjadi tujuan utamanya. energi menjadi lenyap. och be till Gud. sungguh sekali-kali tidak! Yang kuingin adalah aku punya sekumpulan pegawai laiknya kumpulan umat di bawah wilayah perusahaanku." Sikap pria tadi yang begitu tegar dalam menghadapi musibah dan senantiasa berprasangka positif kepada Allah. Menjadi pengusaha yang kaya menjadi impian banyak orang. karena melalui ibadahlah kita mendapatkan energi kehidupan. Pria Yaman ini juga bukanlah orang seperkasa Mikael Ljungberg yang mampu mengalahkan pegulat-pegulat kelas dunia. Peristiwa ini adalah satu dari beberapa peristiwa lainnya. Namun Pria Yaman ini memiliki energi kehidupan yang tidak pernah habis. Sering kubawa kartu nama itu. maka orang tersebut akan menjadi kaya raya. sekali lagi. Sejak kecil impian untuk menjadi seorang pengusaha selalu terngiang. dan sering pula kutunjukan pada kedua orang tuaku..Thomas Draxe Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku. Bila ibadah terhenti. Pada saat kutanya bagaimana caranya membangun bisnisnya.. Ya. Mungkin inilah rahasia mengapa ibadah kepada Allah harus terus dilakukan dimana dan kapan saja serta dalam keadaan bagaimana pun juga. kaya telah menjadi sesembahan baru di zaman ini. dan ribuan kesedihan jika kehilangan .... aku begitu bangga dengan kartu nama tersebut. sebuah energi yang tidak dimiliki oleh Mikael Ljungberg. Lebih lanjut Fredrik menulis mengomentari pria Yaman tadi "Att vara positif. Yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana adalah seseorang yang mempunyai manfaat atau nilai tambah bagi orang banyak. Entrepeneur Langit Apakah Anda Sungguh Ingin Menjadi Pengusaha dan Kaya Raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan. beliau mengatakan. yang membuat Fredrik dan istrinya sangat kagum terhadap muslim hingga akhirnya mereka tertarik mempelajari Islam dan kemudian menjadi muslim. Itu masa kecilku . ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya.. selalu berhubungan. Kartu itu kerap menghiasi dompet mungilku. pengusaha dan kaya raya. atau siapa pun yang ingin aku pamerkan. sesekali kupamerkan kepada rekan-rekanku di sekolah.laki Yaman tadi begitu khusyuk dalam sholatnya (padahal anaknya baru saja meninggal dunia). Pria Yaman tadi adalah orang yang sangat sederhana. Mimpiku. Sungguh mengagetkan pendapat Robert T. Fredrik menulis dalam buku memoarnya. Ya. Mudah untuk meraup uang. bukan orang ternama seperti Mikael Ljungberg... kepuasan materil tercukupi. tidak ada teriakan kata lapar lagi dari para pegawai maupun anak-anak mereka. Aku teringat sebuah dialog dengan rekan seorang pengusaha yang sungguh menarik sekaligus memperkuat penjelasan di atas. sebuah dua sisi mata uang. "Yang terpenting dalam targetku adalah aku berbuat bisnis seperti ini bukan karena ingin memupuk kekayaan.. "Om min dotter skulle ha dott. Aku berharap dengan di bawah kepemimpinanku. pengusaha. Atau kadangkala aku buat sendiri sebuah kartu nama dari guntingan kertas karton yang kuberi logo dan warna sesuka hatiku. Dia mengatakan bahwa alasan kenapa banyak orang tidak bisa kaya adalah karena mereka tidak cukup atau kurang memberi kepada sesamanya. "Mmm . dan tak lupa menuliskan jabatan president director di bawah namaku dengan spidolku. mungkin saya tidak akan beribadah sebagaimana ibadah yang dia (laki-laki Yaman itu) lakukan". skulle jag nog inte be som han gjorde. jika anak saya harus meninggal. Dulu. tankte jag" artinya "Saya fikir. menjadi pengusaha tentulah selalu dikelilingi oleh berbagai kekayaan dan kesenangan. Kiyosaki dalam menanggapi definisi "bagaimana mencapai level kaya". Aku pikir itu adalah prinsip yang sungguh Islami. dan aku berharap mudah-mudahan dewasa kelak bisa menjadi pengusaha sungguhan." pikirku. dikelilingi kemewahan dan kenyamanan.

Tidak pernah terpikir olehku berapa besar biaya yang akan dikeluarkan untuk merealisasikan hal ini. Dia mencontohkan dalam kisahnya yang telah mensedekahkan separuh harta miliknya sebanyak 40.000 dinar. dan juga kepada anak-anak mereka. Cobalah Anda bayangkan keadaan pikiran seorang anak kampung dari sebuah dusun yang seumur hidupnya belum pernah melihat sebuah kota besar dengan berbagai kesenangan. karena rasa belas kasih dan rasa cintanya.000 dinar pada Rasulullah saw. kemewahan dan kemegahan. sudah siapkah kita menjadi enterpreuner langit seperti itu ? Berawal Dari Mimpi Kenyataan hari ini adalah impian hari kemarin (Imam Asy Syahid Hasan Al Banna) 38 . dan semakin sayang kepada mereka. ujar Galvin. Semuanya itu berlangsung dalam jangka waktu yang berdekatan. salah seorang sahabat nabi juga telah mempraktekkan tentang bagaimana menggunakan kekayaanya. Sebagian besar harta milik Abdurrahman tersebut adalah yang dia peroleh murni dari hasil berbisnis. Mereka melakukan semua itu. Tetapi dia memandang kekayaannya hanyalah sebagai fasilitas untuk beramal saleh.500 unta untuk kepentingan fi sabilillah. dengan senang hati saya akan mengorbankan semuanya demi kejayaan Islam. Bagaimana tidak? Karena sesungguhnya saya kini sedang menunggu di alam Barzakh (alam antara kematian dan kebangkitan). Dan selalu kulibatkan kehadiran Allah dalam setiap langkah kami. dia selalu memberikan upah kepada pegawainya lebih besar dari apa yang ia terima. baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Maka anda akan tahu bagaimana ketidaksabaran saya untuk mencapai hari akhir itu.000 dinar. rumah yang harus dirawat. melainkan mereka menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meraih janji Tuhannya dengan mendapatkan ganjaran yang luar biasa yaitu surga-Nya. agar hati kami selalu hidup dan umatku merasa bahagia.! Kami yakin pasti Allah akan selalu menolong kami." Akhirnya.sekumpulan umat kecilku itu." (At Taubah:111) Said Nursi. "Allahu akbar. Abdurrahman bin Auf. yang membuat ayahnya selalu termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi agar tercipta kehidupan yang lebih baik bagi mereka karena ayahnya melihat sosok ibunya dalam diri semua pekerja itu. Sewaktu dia mengamati deretan pekerja wanita dan dia termenung. Aku berusaha keras sekuat tenagaku untuk menahkodai kapal bisnis ini untuk sampai di pantai kebahagiaan kelak secara bersama-sama. Dia seorang pengusaha yang sukses. Saya ingin sekali dan sudah tidak sabar untuk melihat akhirat. tidak lain karena mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai hasil akhir yang ingin dicapai. Lain lagi Bob Galvin. Lalu dia menanggung 500 kuda untuk kepentingan fi sabillillah.. mereka semua akan tersenyum lebar dan berharap hal itu menjadi kenyataan setelah membaca ini. dan orang-orang yang masih memerlukan mereka yang berada dibawah tanggungan mereka." katanya. "Begitulah bisnis kami semuanya dimulai dengan rasa hormat yang mendalam. Saya sudah ikhlas dan siap melakukan perjalanan ke dunia lain untuk bergabung bersama di tiang gantungan. mengomentari ayat tersebut dan berkata. pendiri Motorola. kemudian dia mensedekahkan lagi hartanya sebanyak 40. Bahkan salah satu sosok kaum beriman. dan aku berkeyakinan hal itu akan menjadi persembahan kami dalam meraih keberkahan dan akan menjadi bekal di akhirat kelak ." Tak terasa mataku berkaca kaca dan keharuanku mengalir bersama dengan uraiannya. "Seandainya saya memiliki seribu nyawa. Aku bina perusahaan tersebut dengan landasan cinta dan kasih sayang laiknya seorang ayah." gumamku. ulama dari Turki. "Mereka semua mirip dengan ibuku. Sesungguhnya Allah membeli dari orang orang mukmin. dan kembali bersedekah sebanyak 40. Umar bin Abdul Azis. kereta yang akan membawa saya ke akhirat. dan demikian itulah kemenangan yang agung.." Hal itulah. dan aku yakin bila hal ini kusampaikan kepada para pegawaiku. mereka semua punya anak yang harus dicukupkan. bercerita tentang ayahnya. aku sayang mereka. maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. dan setelah itu kembali menanggung 1. Kuingin suasana perjuangan selalu hadir.

memberitahu kita arah mana yang harus ditempuh. Kelima. kita bukan hanya penonton yang duduk di belakang dan mengharapkan segala sesuatu berubah membaik. Pemimpi praktis pantang menyerah! Wright bersaudara memimpikan sebuah mesin yang bisa terbang di udara. impian menempatkan segala yang kita lakukan ke dalam perspektif. setiap talenta yang kita kembangkan. menjadi bagian kekuatan kita untuk tumbuh ke arah impian itu. Dan walaupun dia menemui lebih dari sepuluh ribu kegagalan. Impian kita. dan ia juga memberi kita kekuasaan di saat ini. Ia bisa berperan sebagai kompas. Bukti bahwa impiannya tidak sia-sia bisa ditemukan pada setiap pesawat radio dan televisi di seluruh dunia. impian membantu kita menentukan prioritas. Thomas Edison melamunkan sebuah lampu yang bisa dihidupkan dengan listrik. Maxwell sebuah impian bisa melakukan banyak hal kepada kita: Pertama. Marconi memimpikan satu sistem untuk mengendalikan kekuatan ether yang tidak kelihatan. Charles Dickens dulunya bermimpi untuk menjadi seorang penulis dan akhirnya dia menjadi novelis yang bukunya paling banyak dibaca orang di Inggris pada zaman Victoria . impian menambah nilai pada pekerjaan kita. ketika dilanjutkan. Semakin besar impian. “Semua rahasia hidup yang berhasil adalah menemukan apa yang ditentukan nasib pada kita. memulai dari tempat ia berdiri untuk mengubah impiannya menjadi tindakan. setiap sumber yang kita dapatkan. Impian membuat kita memprioritaskan segala sesuatu yang kita lakukan. 39 . Setiap aktivitas menjadi bagian penting di dalam gambar yang lebih besar itu. ketika kita mempunyai impian. engkau akan kehilangan kesempatan-kesempatan yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan. impian meningkatkan kekuatan kita.” Orang-orang lainnya berani bermimpi dan mereka sukses. Sekarang setiap orang bisa melihat bukti di seluruh dunia bahwa impian mereka menjadi kenyataan. mungkin sekali merupakan peramal masa depan kita. Impian memberi kita harapan untuk masa depan. Mungkin Anda tertarik untuk mengetahui bahwa “teman-teman” Marconi menyuruh agar dia di kurung dan di periksa di sebuah rumah sakit jiwa ketika ia mengumumkan bahwa dia telah menemukan prinsip yang bisa digunakan untuk mengirim berita melalui udara tanpa bantuan kabel atau sarana fisik komunikasi langsung lainnya. saya berpikir tentang visioner dan pioner mobil Henry Ford. Dia mampu mengukur segala sesuatu yang dikerjakannya apakah membantu atau menghambat impian itu. Keempat.meskipun dia dilahirkan di keluarga miskin. Setiap kesempatan yang kita temui. semakin besar pula kekuatannya. memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang membawanya lebih dekat pada impian itu dan memberi sedikit perhatian pada halhal sebaliknya. Ketika aku mencari nama orang yang bisa mengenali dan menghidupkan impiannya. impian meramal masa depan kita. Beethoven menyadarkan dunia akan kemampuan hebatnya dalam musik ketika dia membuat sejumlah simfoni. dan kemudian melakukannya. Bahkan tugas-tugas yang tidak menyenangkan menambah nilai saat kita mengetahui hal itu memberi kontribusi pada pemenuhan impian. kita mulai memandang diri kita dalam cahaya baru. Menurut Jhon C. Seseorang yang memiliki impian mengetahui apa yang akan atau harus dikorbankannya agar bisa maju. Dia menyatakan. Kita harus aktif ikut serta dalam membentuk tujuan dan arti hidup kita. Kedua. Jika engkau bergerak ke sembarang arah selain menuju impianmu. karena mempunyai kekuatan yang lebih besar dan mampu merentangkan dan berkembang untuk mencapainya. Maka engkau akan temukan bahwa apa yang telah mereka ciptakan berawal dari mimpi. Angin perubahan tidak begitu saja meniup ke sini dan ke sana. Tanpa impian. Ketiga. dia tetap memegang teguh impiannya sampai dia menjadikannya sebuah kenyataan fisik. dan ini terjadi setelah dia kehilangan pendengarannya.Sahabatku… Jika engkau mau membaca sejarah biografi tokoh-tokoh ternama. impian menunjukkan arah kepada kita. Hingga kita mengenali arah yang benar itu. kita tidak akan pernah mengetahui apakah langkah kita benar-benar merupakan kemajuan. Akan tetapi dengan impian. kita mungkin harus berjuang keras untuk melihat kekuatan yang ada dalam diri kita karena kita tidak bisa melihat situasi di luar keadaan kita saat ini. Langkah kita mungkin membawa kita ke belakang dan bukan ke depan.

ketika pimpinan kantor meminta seluruh tim rapat mendadak. Berbagai bencana yang terjadi di negeri ini. ada yang bolak-balik masuk ruang kantor. atau kepercayaan. rapat dimulai. Senyumnya yang khas menyapa lembut. Setiap lima menit kembali balik ke dalam kantor berharap orang yang tadi memesan siomaynya sudah ada di tempat. Tapi ia sebegitu pentingnya untuk bolak-balik ke dalam kantor berharap saya akan membayarnya. Ternyata yang ditunggu masih di atas. sambil terus menggenggam empat lembar ribuan dan sesekali melirik ke bawah meja tempat piring bekas makan. Itu terus tergambar dalam benak saya. Mungkin ia pulang.. Cuma empat ribu memang. Terbayang sedihnya sang isteri lantaran suaminya tak membawa uang belanja untuk esok. perut ini terasa berdendang minta diisi. Melirik sedikit ke bawah meja. Keadaan pikiran harus penuh keyakinan bukan hanya berharap atau mengangankan. Tidak ada seorang pun siap untuk sesuatu sampai dia yakin akan memperolehnya. resah hatinya tak membawa mainan yang dipesan anak tercintanya. satu porsi pun terpesan. empat ribu itulah keuntungan hasil jualannya setelah disisihkan untuk setoran. Sudah semalam ini. Makanan ringan itulah yang menjadi pilihan. “Mau makan apa besok. dan terus berlangsung. tapi saya tak bisa berkata apa-apa sambil terus menggenggam empat lembar ribuan di tangan. Berat Langkah Si Tukang Siomay Oleh Bayu Gawtama Kepulangan ke rumah harus tertunda. Ada yang resah di bawah. Keadaan pikiran yang terbuka sangat penting untuk keyakinan. Terhenti nafas ini tak mendapatkan orang yang dicari. Waktu terus bertambah. Adalah sepuluh menit menjelang rapat dimulai. hingga seorang teman yang baru saja dari lantai dasar berbisik. Rapat dilanjutkan usai sholat Maghrib. Sebuah 40 . Namun bukan pentingnya rapat ini yang ingin saya ceritakan. Saya tahu yang dinantinya. seseorang masuk ke dalam kantor. Sesaat menjelang rapat. berdosa lah hamba… Tak lebih dari setengah jam. juga gejolak yang tengah bergemuruh di Palestina meski disikapi secara cepat. Terbayang saya betapa berat langkah si tukang siomay mendorong gerobaknya. Tak menunggu rapat selesai. Belajar Menjadi "Bapak" Oleh Sus Woyo Saya sedang mengalami 'episode' kehidupan yang cukup menarik. Berat langkah si tukang siomay. acung tangan langsung bergegas ke bawah. Mungkin semua karena empat ribu yang belum saya bayarkan. Bagaimana jika besok ia tak bisa berdagang karena uang setorannya kurang malam itu? Tuhan. duh… ternyata betapa pentingnya empat lembar ribuan itu baginya. Berpikir ia tentang uang belanja yang dinanti sang isteri. Pikiran yang tertutup tidak mengilhamkan keyakinan keberanian.Sahabatku… Ada perbedaan antara mengangankan suatu benda dan siap menerimanya. "Sudah bayar siomay belum?" astaghfirullah. Sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang memseriusi programnya dalam penanganan bencana. Panggilan pun datang. saat saya memesan sepiring siomay kepada tukang siomay langganan di depan kantor. bukan pula isi dan serunya rapat yang memakan waktu cukup lama hingga larut. menjadi keharusan tersendiri untuk merespon secara cepat setiap bencana yang terjadi. Dan boleh jadi.” nyaris bibir ini tak mampu berucap apa pun. Ianya hanya menemukan piring kosong di bawah meja saya. “Maafkan saya mas. Paling tidak menarik bagi diri saya sendiri. pak?” Terlintas tangisan si anak yang mendapati bapaknya tak membawa serta mobil mainan plastik yang dipesannya.. si tukang siomay. Dan saya percaya belum tentu menarik bagi orang lain. piring kosongnya sudah tak ada. terlupa oleh riuh rendah suasana rapat yang bersemangat.

41 . Saya bergegas untuk ikut menontonnya. Katanya. ustadz maupun kyai. Sehingga kami para santri.kisah yang runtut. Sebab di pesantren-pesantren tradisional lainnya. Yang tak pernah mau disebut guru." Saya terus mengikuti sinetron yang ditayangkan setiap malam Jum'at itu. juga masih berkisah tentang seorang bapak." katanya. Anak gadis itu mendongak. Fatimah sebagai bibimu. Masih dalam bulan Syawal. saya selalu ingat acara rutin tahunan yang selalu diselenggarakan oleh pesantren tempat dulu saya 'numpang tidur' beberapa lama. Ternyata ia menangis karena tidak ada yang membelikan baju baru untuk berlebaran. bahwa setiap jejak langkah manusia. mengarahkan dan juga memberi fasilitas ke jalan lurus berdasarkan syariat-Nya. Beberapa hari setelah lebaran. Penulis yang pernah melahirkan novel berseri 'Ballada Si Roy' yang populer di tahun 90-an. Seandainya yang menemukan anak gadis itu adalah saya. tiba-tiba seorang kawan memanggilmanggil saya. Ini memang tak lazim. dengan alur cerita yang tidak meloncaat-loncat. Sebuah acara syukuran atas berhasilnya para santri menempuh pelajaran dalam waktu satu tahun. bapaknya anak yatim. anakku?" Tanya Nabi. Dan ia tak pernah membedakan antara anak pungut dengan anak yang dilahirkannya sendiri. Dalam artikel itu ada dialog yang sangat menyentuh antara seorang anak gadis dengan Rasulullah  . tokoh dalam cerita itu. Masih ada kemiripan dengan cerita tadi. Saya ingin sekali menceritakannya kepada orang lain. guru mereka pasti di panggil Kyai. Mendidik. atau bahkan Romo Kyai. Yaitu tentang komentar H . Dan alhamdulillah diahiri juga dengan 'ending' yang tak kalah menariknya. Awalnya. Setelah membaca dialog itu saya jadi berpikir. Sosok agamawan yang maih muda. Acara tahunan itu berlabel 'tasyakur lil ikhtitam'. Ternyata. Dalam tayangan sinetron yang diproduksi tahun 2001 itu. kecuali berangkat dari sebuah keyakinan. Saya. Saya harus menjalankan amanah ini baikbaik. "Apakah gerangan yang membuatmu menangis. "Ayahku mati syahid dalam peperangan bersama Rasulullah. Biasanya kami berkumpul bersama. tapi dalam nuansa yang berbeda. kecuali saat ini. Bapak Abil Abbas. Ditulis oleh Bayu Gawtama. Budiman. beberapa hari menjelang lebaran 1426 H. Dan saya menangkap dengan gamblang. Artikel itu mengisahkan tentang salah satu cara Rasulullah berlebaran. bahwa H. sorang penulis yang tulisannya sering saya baca di sebuah situs Islam. manis atau getir. tepatnya pada tanggal 17. tetangga dan lain sebagainya. baik yang mengandung tangis atau tawa. sanggupkah saya dengan serta-merta dan spontanitas bertindak seperti Rasulullah ? Yang menawarkan diri untuk menjadi bapaknya? Berhari-hari saya berpikir tentang itu semua. sebuah sebutan yang sudah tidak asing lagi dalam komunitas Islam tradisional di pulau Jawa. Walaupun hikmah itu hanya sebesar biji sawi. ada sinetron bagus produksi Indonesia yang ditayangkan TV Brunei. Kata H. biasanya menyempatkan diri untuk datang dalam acara tersebut. Tak lebih dari itu. Tak ada maksud apapun. Baik yang masih menempuh pelajaran di pesanten itu. Ali menjadi pamanmu serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?" Ujar Rasulullah . maupun yang sudah jadi alumni. Ia telah bertanggung jawab betul-betul kepada anak pungutnya itu. "Ini adalah anugrah yang di kirim Allah kepada saya. Rasulullah mendekap anak gadis itu. terhadap anak pungutnya yang bernama Ana. ketika saya mau berangkat tidur. sebab saya sedang merantau di luar negri. handai taulan. Beliau hanya mau disebut Bapak. Dan ia baru tahu bahwa yang mendekapnya ternyata adalah Rasulullah  . Budiman. Bertemu kembali dengan guru. selalu menyimpan hikmah. cerita sinetron itu diambil dari novel 'PadaMu Aku Bersimpuh' karya Gola Gong. Atau lebih tepatnya ingin berbagi cerita dengan siapa saja seperti saudara-saudara saya. ada juga sesuatu yang membuat saya sempat tidak bisa melupakannya. ustaz sekaligus kyai saya. mengirim artikel pendek kepada saya. seorang sahabat di Jakarta. tak pernah satu kalipun memanggil beliau dengan sebutan Kyai. Aisyah menjadi ibumu. Budiman telah membuktikan kata-katanya. "Maukah kamu jika Rasulullah menjadi bapakmu. sahabat.

Maka kamipun menganggap beliau sebagai bapak kami. Dan ternyata sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang bernasib seperti itu di sekeliling kita. katanya. Apalagi jika kita mau meluangkan waktu untuk berlama-lama di stasiun. Hubungan itupun ahirnya sangat mesra dan erat. Ahirnya suatu hari istri saya memberi tawaran. namun Allah bertindak lain. Baturraden.9 skala Richter baru saja terjadi di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya di Jawa Tengah.Pada awalnya saya juga heran. alhamdulillah saya bisa mendapatkan kabar dari tetangga bahwa warga kampung itu semua selamat.# Belajar dari Jogja Oleh Ummu Nabilah “Alhamdulillah Nduk. Tapi berkali-kali saya telepon. Namun pada masa berikutnya saya menemukan jawaban. saya menjadi ingat Sang Bapak. Maka kita akan banyak bertemu dengan anak-anak yang bernasib kurang beruntung. Lagi pula bayi itu memang tidak dikehendaki lahir oleh orang tuanya. Ibu tidak apa-apa. Istri saya sangat iba karena si ibu bayi itu nampak sangat kerepotan dalam mengurusnya. atau malah memang tidak dikehendaki lahir oleh ibu bapaknya. Bapak dalam arti sangat luas. tapi bagi anak siapa saja yang karena sesuatu hal tidak bisa dipelihara langsung oleh kedua orang tuanya. sehingga terjadi hamil lagi. Dan ini tercermin pada sikap pak Abil Abbas kepada kami para santrinya. Mas Bayu Gawtama. terminal atau tempattempat kumuh di kota kita masing-masing. Beliau menganggap kami sebagai anak. Dan lahirlah bayi itu. Belakangan saya mengetahui bahwa di seluruh kecamatan tempat Ibu tinggal -yang letaknya di wilayah utara 42 . Yang amat sangat membutuhkan uluran tangan serius dari sosok seorang 'bapak'. yang dikisahkan dalam novel Gola Gong. dan keseriusan Haji Budiman.**** # Terima kasih kepada Mbak Azimah Rahayu. dengan mantap saya menyetujui usul istri saya. Sedang hubungan antara guru dan murid atau santri. pada suatu saat bisa saja terputus ketika kita sudah tidak belajar lagi di tempat yang bersangkutan. hubungan antara bapak dan anak itu. arahan dan fasilitas bagi anak yang lahir secara 'genetical' dari rahim istri saya saja. karena kakak bayi itu belum genap satu tahun dan suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Apalagi tayangan di televisi memberitakan bahwa Kabupaten Klaten adalah salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah dan banyak korban jiwa berjatuhan. di pesantren Al-Hikmah.saya bisa menghubungi Ibu. Saya sempat mengkhawatirkan keselamatan Ibu yang tinggal sebatang kara di rumah itu. begitu jawab Ibu ketika saya menanyakan kabar beliau. Dan suatu malam.*** * * * *** Di ahir bulan Syawal. istri saya di kampung memberi kabar kepada saya. setelah menyaksikan tayangan "Pada-Mu Aku Bersimpuh" di TV Brunei itu. Purwokerto. Di antara perasaan cemas. Baturraden. Bahwa. setelah menunggu kira-kira 9 jam. Yang tentunya menunggu sentuhan mesra seorang 'bapak'. "Bagaimana jika anak itu kita ambil dan kita jadikan anak kami untuk menemani Damar?" Katanya kepada saya lewat SMS-nya. Purwokerto. Cuma genting-genting rumah kita saja ada beberapa yang berjatuhan”. Rupanya Ibu tak berani masuk rumah karena khawatir akan terjadi gempa susulan. saya bertekad untuk belajar menjadi seorang 'bapak'. bahkan sampai akhirat. tak juga ada yang mengangkat. Tapi berbekal referensi dari Rasulullah yang diceritakan dalam tulisan Bayu Gawtama. Yang tidak hanya memberi pendidikan. Sebuah kenangan yang telah menjadi 'prasasti' di kalbu saya. kepada guru kami itu. Bahwa ia baru saja menyaksikan seorang bayi laki-laki yang baru lahir dari sepasang keluarga muda. program KB yang ia ikuti tidak berhasil. Pagi itu saya langsung menelepon ke kampung halaman ketika dikagetkan dengan kabar bahwa gempa dengan kekuatan 5. serta pengalaman hidup dengan 'bapak' saya di pesantren Al-Hikmah. Kata ibu si bayi. Mas Gola Gong dan Sang 'Bapak' di pesantren Al-Hikmah. Akhirnya selepas Ashar. Saya tertegun sejenak membaca pesan singkat istri saya itu. Maka mulai hari itu. sepanjang masa.

Tersenyum lebih banyak. Sebuah tindakan paling realistis yang saya temukan saat itu. Dengannya pula. Namun yang pasti. Sekaya apapun. Ketika kabut kesedihan meruyak. bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketakwaan. Melihat berbagai peristiwa di muka bumi yang menyayat-nyayat hati.” Aku mengagumi seorang mukmin. Sesudahnya. kutemukan jalan menuju taubat dan kutemukan kafarat pembayar dosa dan duka. Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan. Allah mengingatkan manusia untuk senantiasa bersiapsiap menanti ajalnya. Allah mengingatkan manusia agar tak bersikap ujub dan takabur. kucoba mengikuti sunnah Sang Nabi. Kehendak-Nya bisa membuat manusia tertawa riang atau menangis pilu. Ya. Apalagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan? Apalagi yang dapat dikerjakan untuk melepas kekecewaan? Ketika kesalahan tak sengaja dilakukan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini? Allah berfirman. Dan ketenangan pun sedikit demi sedikit tercipta. Tapi aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya. kita harus bersikap positip terhadap segala kejadian itu. dan sekuat apapun.Kabupaten Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali. Silaturahmi.** Dengan keyakinan. seolah-olah saya kembali diingatkan oleh Sang Maha Kuasa akan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya. Saat diri berhadapan dengan permasalahan yang memepatkan rasa. Memaafkan lebih banyak. kucoba ikuti sunnah nabi dengan disertai doa: Semoga Allah mengampunkan segala dosa. "Ikutilah kesalahan dengan amal baik. saudara-saudara. jalan keluar mulai tampak ujungnya. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Saya mengunjungi semua kerabat. Ketika semua pintu solusi terlihat buntu. ia memuji Allah dan bersabar…” (HR Imam Ahmad). Dan Allah menurunkan kemantapan hati dalam memilih langkah penyelesaian. Rasulullah SAW bersabda. Allah mengingatkan manusia untuk senantiasa menyiapkan bekal yang harus dibawa menghadap-Nya. kucoba lebihkan amal-amal dari yang biasa. para guru. "Barangsiapa bertakwa kepada-Nya. Tertatih. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha. niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dengannya. tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian. Ketika penyesalan menenggelamkan diri dalam airmata kesedihan. Menambah ibadah harian lebih banyak. Berinfaq lebih banyak. ku coba jalankan titahNya. Saat kesedihan menyelimuti dan rasa bersalah menyesaki. tetangga sekitar dan lain-lain yang selama ini saya terlupakan oleh kesibukan. menelusup ke dalam sanubari. Sungguh. sesehat apapun." Seperti Ibnul Jauzi bilang. Meredakan gelisah jiwa. Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri. ketika Allah menghendaki segala sesuatu tinggal berkata. bila ditimba musibah. Ketika kepedihan merujit-rujit hati. Dengan semua itu akan memberikan energi positif bagi kondisi fisik dan psikologis. silaturahmi lah yang saya lakukan. niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu. hingga kutemukan ayat itu. Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas. sepintar apapun." Rasulullah bersabda. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Menolong orang lebih banyak. hingga ketenangan pun tercipta dan pikiran jernih pun terasa.relatif tidak terjadi kerusakan parah dan tidak terdapat korban jiwa. Bila memperoleh kebaikan ia memuji Allah dan bersyukur. Membersihkan noda-noda dalam dada. hingga tak terlihat jalan keluarnya. Wallaahu 'a'lam bishshowaab. Maka kusadari. Amal Pembayar Ketika permasalahan hidup membelit dan kebingungan serta kegalauan mendera rasa hati. kawan dan handai taulan. Dan kepala serasa hendak meledak: tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan. Dan ketika jalan ketakwaan itu kutempuh. Pada gilirannya. Semua peristiwa ada hikmahnya. Dengannya. Maha suci Allah". orang-orang saleh. “kun fayakuun” maka terjadilah apa yang dikehendaki Sang Pemilik Jagad Raya. "aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kehendak-Nya tak bisa ditunda. kita tak akan kuasa menandingiNya. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. 43 .

. Dia tampak sibuk. "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan. saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Hmm. hujan telah reda. Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Ah. mie goreng yang mengepul telah terhidang. Saya selalu berpendapat.. Hujan. Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. 44 . walaupun nggak lebar. Sang Bapak tersenyum. Dalam perjalanan pulang. namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung. mempunyai tenda sederhana. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. bahwa saat ada ujian yang menimpa. Benar saja.. Degh... yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. hari yang menjemukan saat itu. Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah. Begitulah. Lumayan. dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Segera saya berteduh. setelah beberapa saat berjalan. ora sare dik. daripada kehujanan.. dan berkata. Saya selalu berpikiran. Selalu saja. Pertanyaan yang bodoh. Terlebih. Filsafat hidup yang saya punya.. penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan.. Saya malah senang kalau hujan begini.. Keadaan yang semula canggung mulai hilang.ALLAH TIDAK TIDUR Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka. "Gusti Allah ora sare". "Wah. Namun saya keliru.. pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih. Gusti Allah Ora Sare. Namun. Basa-basi saya bertanya. Telah lewat pukul 11 malam. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Segera saja. Makna nya terlampau dalam." Bapak itu melanjutkan. bahwa rezeki itu selalu berupa materi. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan begini. dan mulai menyiapkan tungku apinya. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya.. hujan mulai deras. hati saya tergetar. maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.. "tolong bikin mie goreng pak.saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya. "Iya dik. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. bahwa hujan adalah bencana.. Bapak itu benar. "Rezeki saya ada dimana-mana. Rintik hujan mulai turun.. membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan. rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. agaknya saya keliru. Tentu. Dduh. hanya kata itu yang teringat. memang bisa menjadi bencana. jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya. warna langit tampak memerah. menjumpai bapak penjual yang sendirian ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala. membuat saya harus pulang selarut ini. Dia menyilahkan saya duduk. Gusti Allah Ora Sare. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya. Allah memang selalu punya banyak rahasia..." begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. adalah petaka bagi banyak hal. jadi sepi nih dagangan saya. di makan disini saja. dan sayapun telah selesai makan. "Ya Allah. pikir saya. Allah Memang Maha Kuasa.". "Wah hujannya tambah deras nih. Untunglah. begitu katanya. Dan saya juga berpendapat. Yah. saya berkata.. "Gusti Allah. atau mendorong mobil yang mogok. tapi lumayan lah tanahnya. dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. "Disini saja dik. Lengkap sudah. Pekerjaan yang menumpuk. badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan. (Allah itu tidak pernah istirahat). "Kalau hujan begini.

Dalam setiap doa saya. ayahku sedang demam. "Siapakah yang sanggup. betapa sakit sakaratul maut ini. sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya. wa maa malakat aimanukum -peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu. melihat kekasih Allah direnggut ajal. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir. seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Seperti tahun sebelumnya. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu. hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Jibril. Air Mata Rasulullah  Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. karena sakit yang tidak tertahankan lagi. berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. saatnya Izrail melakukan tugas. harus ada hal besar yang saya lampaui. kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. "Badan Rasulullah mulai dingin. 45 . jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. dahsyat nian maut ini. "Jijikkah kau melihatku. saya berharap. walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa. aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja. umatku" Dan. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. "Ketahuilah. dan terus belajar. urat-urat lehernya menegang. NB: Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Saya tetap belajar. "Ummatii. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik." kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. "Pintu-pintu langit telah terbuka." kata Jibril. "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku. Saya sering berharap. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya." kata Jibril. dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Detik-detik semakin dekat.Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana." Perlahan Rasulullah mengaduh. dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah." kata Rasulullah. sahabat saling berpelukan. timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Kini. para malaikat telah menanti ruhmu. ummatiii?"-"Umatku. bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh. mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. saat saya bertambah usia. lalu. dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. Dulu. ummatii. tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. umatku. Dan hal-hal itu. kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar." tutur Fatimah lembut. Dialah malaikatul maut. Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan." kata Jibril. Seolaholah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. jangan pada umatku. "Ya Allah. matanya masih penuh kecemasan. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega. dengan sesuatu yang istimewa. kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. Fatimah terpejam. wahai Rasul Allah. Namun. saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Malaikat maut datang menghampiri." Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan. "Uushiikum bis shalati. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maafkanlah. "Jibril.

mana ada orang gantung diri di pohon cabe yang lemah. kamu sabar aja mungkin Allah belum memberi pekerjaan baru karena belum ada yang mampu menggantikan tugasmu di kampung ini. Subhanallah sungguh terpuji Sifatmu teman. ia mendapat beasiswa dari walikota sebagai mahasiswa berprestasi bukan beasiswa mahasiswa tak mampu. selalu bekerja dan beraktifitas. Saya memang iri dengan rahmad karena ia sejak pertama kuliah tidak pernah meminta uang untuk membiayai kuliahnya bahkan untuk uang belanjapun ia tidak meminta ke ortunya. setelah menjalani tes dan interview ia menunggu jawaban. Rahmad dipercaya menjadi Kepala Sekolah anak TPA Al-Quran di kampung kami. bahkan sering saya melihat setiap ia mendapat uang hasil membayarkan rekening listrik dan air warga ia infaqkan ke Masjid setengahnya.. Saya sedih melihat Rahmad karena susah sekali mendapatkan pekerjaan. saya mencoba membantu mencarikan pekerjaan di Bontang lewat Ayah saya tapi di daerah Bontang lapangan pekerjaan untuknya tidak ada.Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. siapa yang mengajar anak-anak ngaji.. Dimana ya pohon cabe yang tinggi. Bontang merupakan kota industri minyak bumu dan Pupuk sedangkan ia lulusan Sarjana Perikanan. jadi warga dikampung ini tidak perlu lagi antri membayar rekening listrik dan air karena sudah ada Rahmad yang membayarkannya. semenjak ia lulus ia sudah banyak melamar di kantor dan perusahaan tapi belum ada yang menerimanya. hampir setiap malam ia tidur di kostku karena letaknya tidak jauh dari rumahnya hanya berjarak 50 M dari rumahnya. ada sekitar 50 rumah yang mendaftar ke Rahmad untuk di bayarkan rekening listrik dan airnya. Aktifitas cowok berusia 24 tahun ini banyak sekali. Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat. mengapa susah sekali mencari pekerjaan. hehehe ia tertawa untuk menghilangkan kesedihannya. ia termasuk kategori orang yang tak bisa diam. sedangkan untuk belanja sehariharinya ia dapatkan dari bekerja membayarkan rekening listrik dan air warga di kampung ini. Rahmad dulu sering tidur di kostku. dari setiap rumah Rahmad mendapat imbalan 2000 rupiah. seminggu kemudian ada surat tiba. siang hari ia berkumpul di organisasi rohis kampusnya dulu. Amin. aku ingin gantung diri saja. aku turut tertawa mendengat leluconnya. tapi kini semenjak aku pindah dan mengontrak rumah sederhana bersama istriku Rahmad tidak pernah lagi menginap. katanya entar mengganggu pengantin baru saja. yang ada orang gantung diri di pohon duren atau kelapa. Mad. 46 . ia malu. ia sangat supel dan rahun dalam membantu tetangga di kampung kami. Dengan uang 100 Ribu dan ditambah gaji mengajar ngaji anak-anak dikampung ini sebesar 25 Ribu perbulannya ia mencukupi kebutuhan sehari-harinya. AKU INGIN SEPERTIMU SOBAT Di tempat ku tinggal aku mempunyai sahabat yang bernama Rahmad. Setiap pagi ia membantu orang tuanya ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehariharinya dan kebutuhan warung milik ibunya yang terletak di depan rumahnya. tapi Rahmad masih saja aktif dalam kegiatan Rohis kampusnya. dengan hati-hati Rahmad membuka surat itu dan membaca isinya yang kurang lebih isinya “Maaf untuk sementara anda belum dapat kami terima untuk menduduki pekerjaan yang kami butuhkan” tampak rasa kecewa di wajahnya. ia juga yang mengurus Masjid di kampung ini.. Dengan uang itulah ia membayar uang kuliahnya. Minggu lalu ia memasukkan lamaran di sebuah Perusahaan asing sebut saja namanya Total Bangun Persada. Sore hari ia berada di Masjid untuk mengajar ngaji. nggak kaya kamu enak bisa kerja di kantoran” ucapnya padaku. meskipun ia telah menyelesaikan kuliahnya 2 bulan yang lalu. Ia menghela nafas panjang “Aku stressss….

penggugah dan penyemangat belajar sehingga pada akhirnya bisa menikmati kuliah di kampus negeri. Untuk itulah. tergantung dari cara kita mensikapinya. bisa menyenangkan dan menyakitkan.. kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran. Sobat. saya merasa dilecehkan. Kata-kata memang ajaib. saya memang tidak terlalu pintar dalam pelajaran kimia. Kata-kata. semua ini adalah RahasiaNya. perjuangan itu dimulai. kita harus mesti berhati-hati dengan kata-kata yang kita keluarkan. Saya lempar tas ransel dan langsung merebahkan tubuh ke tempat tidur. Kalau memang sudah mentok. Tapi ketika bisa merenungi dan mengubahnya menjadi energi positif. setelah itu aku tetap bisa mengajar ngaji anak-anak. biasanya saya berlatih dengan bahan soal tahun-tahun sebelumnya. Ajaibnya Kata-Kata Oleh Yon's Revolta Saat saya masih duduk di bangku SMU. baik secara lisan maupun tulisan. tapi maknanya begitu dalam bagi saya. Dia bisa melemahkan dan juga bisa menguatkan. Dan. kendala-kendala itu harus bisa teratasi. Kata-kata itu diucapkannya setelah saya gagal mengerjakan soal kimia di depan kelas. kamu adalah salah satunya Dari kata-kata itu. Bisa menjadi penyemangat untuk berkarya dan berkarya lagi.. kemudian bisa menginspirasi saya terjun serius ke dunia kepenulisan dan perbukuan. saya bangkit dan berjuang. Dunia ini hanya digerakkan oleh gagasan beberapa orang saja dan aku berharap.ya. Setiap hari berkutat dengan soal-soal UMPTN yang rumit itu. Rahmad tersenyum kecil. ternyata bisa menjadi spirit. tentu saja hanya menyakitkan dan membuat kesal. Hanya menerawang di langit-langit kamar.. Saya percaya bahwa ketika berbuat maksimal. Saya sendiri pernah mendapat kata-kata yang cukup bagus dari seorang teman kuliah. benar juga. begitu mulia dan kerasnya pendirian sobatku ini. Berawal dari kata-kata yang menyakitkan itu. alhamdulillah. Andai saja saya mensikapi kata-kata guru kimia saya itu dengan negatif. Bahkan sampai bertahun-tahun lamanya kata-kata itu tidak bisa lepas dari ingatan. Aku tak menyahut.. dia pernah menulis di buku harian saya. tentu kita akan 47 . saya malu pada teman-teman waktu itu. berjuang terus untuk bisa menjawab soal. Hanya ada dua pilihan.. Saya menyadari. kata-kata yang baik atau yang buruk. Aku hanya bisa berdoa semoga ia diberikan pekerjaan yang terbaik oleh ALLAH.. Ilmu Komunikasi. tetap saja membuat sakit hati. Saya tarik nafas panjang-panjang. bekerja kan hanya sampai jam 4 atau setengah lima. Begitulah saya melewati hari-hari melelahkan itu. Kadang sering putus asa juga ketika tidak bisa menyelesaikan soal-soal di hadapan saya. melirik kunci jawaban menjadi alternatif terakhir. Dan... Kata-kata guru saya seolah menjadi cambuk penyemangat dalam belajar. hasil yang akan diperolah pasti akan sebanding dengan usaha tadi. berhati-hati dengan kata-kata itu perlu karena dia begitu ajaib. pasti ada hikma dibalik semua ini. Aku masih terdiam dan berfikir “Banyaknya tabungan yang kupunya tidak sebanding dengan tabungan akhirat yang kau miliki” aku ingin seperti mu teman…. Untuk itulah. Tentu saja. pada akhirnya saya bisa mewujudkan salah satu impian saya. Kadang kita kerap masih ingat dengan kata-kata teman atau siapapun yang begitu menyakitkan kita. bagaimanapun juga.. Kalau dihadapkan pada pilihan sadar. Setelah pulang sekolah. kemudian dalam hati saya bertekad “Saya harus bisa buktikan nanti lulus UMPTN dan masuk perguruan tinggi negeri”. berawal dari kata-kata. bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan mengambil jurusan yang lumayan favorit. Tapi. Kata-kata itu memang singkat dan sederhana. tapi ketika mendengar guru berkata begitu. bunyinya begini.waktumu akan tersita banyak.. Ingin istirahat tapi mata tak mau terpejam. guru kimia saya pernah berkata “Kamu nggak bakalan keterima UMPTN”..

Rani sadar betul. Dia adalah kakak angkatan saya. satu jurusan. dan tak satupun orang meraih sukses tanpa peluh. Dan ia senang melakukannya. kalau suatu hari Anda melihat seorang gadis belia tengah membersihkan mushola di kawasan Depok. dan melibatkan diri di sebuah komunitas muslim fakultas. memberikan pencerahan bahkan bisa menjadikannya semakin dekat dengan Tuhan. tidak sebelum dia benarbenar menginspirasi saya. namun juga di bidang yang berbeda. Karena mushola tersebut adalah mushola milik sekolah tempat ia belajar. Rani. Alhasil. 48 .. Tidak banyak aktivitas bersama yang pernah kami kerjakan. Ia merasa harus tetap berjuang.. ia dibebaskan dari kewajiban membayar uang sekolah. membersihkan mushola adalah pekerjaan mulia. Semoga saja begitu. Ya. Dengan pekerjaan itulah Rani mendapatkan imbalan yang membuatnya sering bersyukur. Ya Allah. juga baju seragam yang sering bersimbah peluh itu. Anda hanya perlu mendekat dan tanyakan kepadanya perihal yang dikerjakannya. Jangan pernah tanya berapa uang saku Rani untuk jajan di sekolah. maka untuk tetap bersekolah. Setelah membersihkan mushola. Baginya. Pastilah sulit baginya melupakan terminalterminal perjalanan hidupnya. Pulang ke rumah pun demikian. ia kembali ke rumah tetap dengan berjalan kaki. Awalnya Rani tak tahu. Jawa Barat. Rani memang tak pernah malu untuk mengerjakan hal itu. Mushola dan sepanjang jalan menuju sekolahnya. Mungkin Rani tak pernah tahu. Jadilah Rani sang pembersih mushola. Tak pernah ada orang sukses tanpa mengarungi derasnya ombak kehidupan. tidak jarang pakaian seragamnya basah oleh peluh setibanya di sekolah. Sampai suatu hari saya dikejutkan dengan berita bahwa beliau mengalami sakit yang berefek terhadap penglihatannya. mendapatkan pahala. Kelak. Selain.. bahwa jalan yang tengah ditempuhnya kini adalah jalan yang pernah dilalui orang-orang sukses terdahulu. Ia harus berangkat lebih awal agar tak terlambat berjalan kaki ke sekolahnya. Karena untuk ongkos pulang pergi ke sekolah yang berjarak 5 km dari rumahnya pun Rani tak punya. Di hari yang sama ketika saya mendengar berita seorang adik angkatan meninggal dunia. pertanyaannya sekarang. satu fakultas. Rani tak pernah bersedih. Rani tak pernah mencicipinya. Sekedar bahwa kami sama-sama kuliah di satu universitas. ia harus melakukan sesuatu.? Bersihkan Mushola Berhadiah Gratis Sekolah Jangan kaget atau heran. orangtuanya tergolong tak mampu." ujar Rani tanpa malu-malu. akan senantiasa menjadi kenangan terindah yang tak mungkin terhapus.*** Belajar dari Mujahidah Senja Oleh Miftahul Jannah Jika gelap datang tiba-tiba Ketika kita telah begitu terbiasa dengan cahaya terangbenderang Sebijak apakah kita menyikapinya? Saya sebenarnya tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Berbeda dengan temantemannya yang masih mendapat sokongan dari orangtuanya baik uang sekolah maupun uang saku untuk jajan.menggunakan kata-kata itu untuk memberikan semangat orang. sudahkah kita melakukannya. apalagi menyesali nasibnya. saya patut bersyukur dengan kecelakaan kecil yang saya alami sore harinya karena emosi saya benar-benar teraduk-aduk dengan berita-berita duka yang saya dengar sepanjang pagi hingga siang hari itu. ya. juga teman seangkatan saya yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang kaki dan tangannya. sampai akhirnya pihak sekolah menawarkan satu pekerjaan dengan imbalan gratis biaya sekolah. Insya Allah. Rani juga mendapatkan apa yang selama ini menjadi rintangan terbesar dirinya untuk mengenyam pendidikan. "Saya membersihkan mushola agar bisa gratis sekolah. jika Rani menuai kesuksesannya.. gadis kecil yang mampu menyingkirkan rasa malunya dari temanteman sekolahnya lantaran menjadi pembersih mushola sekolah. 16 tahun.

Dia mengujinya. tidak ada yang sia-sia dari semua ini.Sayangnya. “Optimis”. Memori saya jadi lebih kuat. pasti sudah banyak yang menanyakan. pendengaran saya jadi lebih tajam. Ketika saya masuk ke sekretariat ternyata ada beliau di sana. Mbak?” tanya saya. Beberapa waktu sebelumnya pernah terjadi hal yang sama. duduk di sudut sekretariat. “Saya memang kehilangan satu. azan Ashar berkumandang. Saya mengajaknya berangkat shalat. Jawaban itu adalah kunci utama bagi reaksi-reaksinya yang menyusul kemudian atas apa yang ia alami. Pertanyaan klise. kakak angkatan saya itu. “Di rumah kalau pakai jilbab dipakaikan siapa. Wajar kan?” Itulah jawabannya ketika saya tanya reaksi pertamanya begitu mengetahui bahwa ia telah benarbenar tidak bisa melihat. Yah. tapi saya dapat lebih banyak. Setelah rekan saya selesai membacakan Embun. bahkan beberapa kali beliau menolak untuk saya tuntun. Perjuangan beliau berjalan dari posisi duduknya menuju musholla. maka ALLAH memilihnya. melipat kembali alat shalatnya setelah selesai shalat. sebisa mungkin beliau usahakan untuk mengerjakannya sendiri. atau buletin) telah menjadi aktivitas barunya pasca tidak lagi bisa melihat. memakai peralatan shalat. “Waktu itu saya baru bangun. memperbaiki jilbabnya. membuat saya benar-benar ingin mengambil hikmah darinya. “Jika ALLAH mencintai seorang hamba. ia menolak. kata itulah yang saat ini ia patrikan dalam dirinya. Allah ambil penglihatan saya karena Allah ingin menutup satu pintu zina untuk saya. ingin tahu siapa orang yang dikelilingi. Misalnya ketika saya hendak membantunya memperbaiki jilbab sehabis wudhu. Namun betapa stabilnya keadaannya dalam pandangan saya. Begitupun ketika saya berusaha menuntunnya berjalan. Tak ada keluhan. Kepada seorang rekan beliau minta dibacakan edisi terbaru buletin mingguan SKI kami yang terbit hari itu. Canda-canda ringan tak lepas dari bibir beliau. Tepat ketika saya selesai membacakan tulisan kedua. meski harus menyeret tapak kakinya untuk meraba undakan.” “Tapi kemudian saya saya sadar. ada seseorang yang sedang dikelilingi di sana. berjalan kembali ke sekretarian SKI. terlalu banyak alasan-alasan tak bermutu untuk diungkapkan jika ditanya mengapa. teringat janji yang belum saya tepati. Bisa jadi ia sudah bosan dengan pertanyaan itu-itu saja. awalnya ia menolak.” Subhanallah. Subhanallah. saya minta izin membacakan dua buah tulisan untuknya. sejak pagi sampai siang saya menangis. keinginan yang sejak lama saya urungkan karena khawatir pertanyaan saya akan menyakiti hatinya. sungguh menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Posisi yang aman baginya. memakai sendal. ia tandai saya dengan suara tawa saya. mengambil wudhu. “Nggak usah dipegangin. Saya bersyukur sore itu mengurungkan niat untuk kembali ke kos dan memilih mendekam sementara di sekretariat SKI. majalah. Siapakah yang siap mengalami kebutaan setelah hidup lebih dari dua puluh tahun dengan penglihatan normal? “Saya juga manusia. Tulisan yang saya baca bukan hanya sekedar didengar. Tapi kini karena mata saya benar-benar tidak bisa melihat lagi. ternyata lampu kamar memang dimatikan. Saya tanya ibu kenapa gelap semua. dan jika ia rela. Namun lagi-lagi saya belum bisa menepati janji. bukan apanya dari ujian yang dialaminya yang menjadi pemikiran tapi bagaimana ia menyikapi ujian itu yang memesona saya. memosisikan diri untuk shalat. “Saya tak pernah melewatkan Embun”. maka ALLAH mengutamakannya di sisi-Nya. itulah dia. “Pakai sendiri dong” jawabnya tetap dengan senyum. Jika ia bersabar. Hingga suatu hari saya melihat keramaian di taman fakultas.” (Al-Hadits) 49 . Ketika itu saya berjanji untuk membacakannya sesuatu. itupun tidak membuat saya menyegerakan diri silaturrahim ke kediamannya untuk menjenguk atau sekedar menghiburnya. bahkan tersandung sapu berkalikali. hingga dua hari lalu saya berkesempatan melewati sore yang berbalur hujan dengannya. beliau senantiasa melontarkan sekedar komentar bahkan menganalisis jika pernyataan tulisan yang saya bacakan menarik begi beliau untuk dianalisis. sendiri bisa kok” Ia lepaskan tangannya dari tangan saya dan berjalan sendirian. dan saya tak berani memastikan ia mau bercerita. Selepas Ashar saya tak kuasa menepis keinginan untuk bertanya padanya. karena dibacakan sesuatu (buku. Saya mendekat. meski kemudian ia izinkan saya membantunya karena baginya jilbabnya terasa tetap belum rapi. ternyata beliau.” Sungguh benar. katanya pada saya. hati saya jadi lebih peka.

Ketabahan seorang Ibu Oleh Miftahul Jannah Satu hal yang paling bisa membuat saya menangis hari ini –masa di mana saya sudah beranjak dewasa dan harus berpisah dengan keluarga– adalah saat saya teringat ibu. semuanya harus dipelajari. Ibu mampu menjadi teman cerita yang begitu setia. ibu bahkan harus mempertaruhkan nyawanya. Makan melalui mulut. jika saya memperoleh sesuatu yang menyenangkan. semoga senantiasa dalam perlindungan ALLAH. dan segenap nasihatnya selalu mampu menjadi penentu setiap keputusan saya. anak-anaknya. Ketika kita berhasil. Ibu bisa menjadi solusi dari persolan rumit akibat keegoan dunia remaja kita. tendangan kaki. Aktif dan selalu ingin bermain.” Sungguh. selalu ibu yang terbayang lebih dahulu. Ingat akan wajah lembutnya. dan suplemen tubuh lainnya dengan ibu. Apakah yang akan saya lakukan disukai ibu atau apakah ini akan membuat ibu senang selalu menjadi pertimbangan bagi saya.” Laki-laki itu bertanya lagi. Saat anak hanya mampu berkomunikasi dengan tangisan. ibu adalah orang yang paling sedih. Sulit makan di awal-awal kehamilan. laik dan sesuai norma. “Ibumu. Apa yang saat dewasa kita anggap benar. Wallahua’lam. berbicara. Ia dampingi tahapan-tahapan penting dalam pertumbuhan kita dengan senyum dan harapan indah akan masa depan cerah kita. ocehan-ocehan yang mungkin hanya ibu yang memahaminya. berjalan. diriwayatkan seorang laki-laki datang kepada Nabi saw seraya bertanya tentang orang yang paling laik ditemani. pupus dan harus terkikis habis di panti jompo lantaran anak-anak sibuk dan tidak sempat mengurusnya. Sehingga setiap saya ingin berbuat sesuatu. Berjuang sekuat tenaga untuk mengembangkan karir dan mengukir kesuksesan. Seorang ibu tidak akan pernah menuntut balas semua pemberiannya kepada anakanaknya. Ibu pun butuh cinta dari kita. Bagaimana tidak? Ruh seorang anak dititipkan Allah melalui rahim ibu. ibu adalah orang yang paling bahagia. Ibu tanamkan aqidah dan akhlaq. “Lalu siapa lagi?” “Ibumu. cairan. dan genggaman jari. Seolah ada reminder ajaib dari ibu. Bahkan setiap apa yang dikonsumsi ibu saat hamil bisa dipastikan adalah untuk janin di rahimnya. Sembilan bulan sepuluh hari ia berbagi makanan. Saya meyakini perasaan ini tidak hanya saya yang merasakannya. Begitu lambatnya pertumbuhan kita namun begitu sabarnya ibu mengurus kita.. “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab.” jawab Nabi. Pada masa itu banyak penderitaan yang dialami ibu. ada ibu yang beranjak tua dan mulai lemah. sulit bergerak. para anak. Sementara itu. belum lagi maturational crisis (krisis pada masa hamil ) yang harus dialami. “Kemudian ayahmu. Saat melahirkan sang bayi. Yakinilah itu ! Saat kita beranjak remaja. membenci sesuatu yang paling disukai saat tidak hamil. maka saya akan berkata “Ini saya persembahkan untuk ibu”. bukankan kebanyakan merupakan apa yang ibu tanamkan ketika kecil? Ketika kita sakit. Laikkah jika kemudian ibu kita tempatkan di panti wreda ? Menghabiskan sisa-sisa kehidupannya dan menanti mautnya dalam kesendirian ? Membiarkan mimpi-mimpi untuk melihat anaknya berhasil.. “Ibumu. melompat. apakah kemudian anak-anak juga tidak menyadari peranan ibu tersebut ? Setelah dewasa anak-anak mulai sibuk dengan dirinya sendiri. Rasulullah menjawab. Hanya saja. Wahai kita. kelembutan tuturnya. Kemudian dimulailah masa-masa radikal dalam kehidupan anak. Bukankah ibu yang mempunyai peran terbesar dalam tahapan itu? Kita tumbuh menjadi anak-anak yang lincah dan cenderung nakal. Ketika kita nakal. Ibu dengan sabarnya menemani kita kendati harus letih mengejar kita. menyaksikan dan membersamainya. “Kemudian siapa lagi?” tanya lelaki itu.” jawab Nabi. dan memanjat bersama kita. Setelah begitu panjang dan beratnya perjuangan ibu mengurus kita saat kecil dulu ? Padahal. Di lain kesempatan. gerakan tangan. masa yang penuh dengan kelabilan dan gejolak itu menjadi aman dengan ibu di sisi kita. senyum manisnya. Tidak sedikit ibu yang meninggal saat melahirkan. 50 . Untuk para nenek di panti Wreda Pakem. ibu adalah orang yang paling panik. Setiap anak tentu tidak akan memungkiri betapa peran ibu mempunyai porsi terbesar dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

bidadari kecilku 51 . Biarpun diri kita telah dianggap mandiri. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Setelah kita bekerja atau berkeluarga. namun justru ibu kita yang lebih banyak berdoa dan lebih khawatir. *** Setiap kita tak akan bisa menghitung. Berbuatlah yang terbaik bagi mereka. Sambil menyusui anaknya lewat botol susu. berkurangkah kasih sayang mereka? Tidak sama sekali. di atas kap mesin bis yang kutumpangi. Tak ada kata istirahat buat Ibu. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. misalnya. dan janganlah kamu membentak mereka. namun malam hari. dan kecemasan lain. Melihat pemandangan itu. dihadapkan pada dua pilihan antara hidup atau mati. Namun di ujung sana. Walaupun secara kasat tampaknya lebih banyak dicurahkan kepada sang cucu. Sembilan bulan kita berada dalam rahim ibu. Karena beliau begitu merindukan doa-doa kita. saat Ibu atau Bapak membutuhkan istirahat. maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan "ah". Toh. tangisan kita malah santer membuat mereka terjaga dan sulit terlelap kembali. Saat tidurnyapun kita ini masih begitu menyusahkan. Lalu apakah kesusahan yang kita timpakan kepada ibu selesai sampai di situ? Tentu tidak. dibawa. ayat 23 : "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. sejenak pikiran ini menerawang jauh. tetap saja tak bisa mengurangi rasa gerah. tetap saja itu termasuk salah satu wujud kasih sayangnya kepada kita. Setelah kita lahir. begitu dahsyatnya kasih sayang orang tua kepada anaknya. sesekali ia mengajak sang anak bergurau dan bercanda. doakanlah mereka. Meski aku berdiri dekat ventilasi udara. kesusahan yang kita timpakan kepada duanya semakin bertambah pula. berlumur darah untuk melahirkan anak kesayangan yang telah lama dinanti-nantikan.Aamiin. Semoga saja kita tergolong sebagi anak-anak yang shaleh. kasih sayang Ibu tetap tak berujung. aku berada dalam bis ekonomi jurusan Bekasi-Bogor yang sesak oleh penumpang. Jangankan tengkurap. Kita minum air susunya kapanpun kita mau. dirawatnya janin kita yang tak berdaya itu dimanapun ia berada. Panas sekali. Ditengah kerewelan kita. Maafkan ibu." Andaikan orang tua kita telah dipanggil Allah SWT. Simak Firman Allah SWT dalam Al Qur'an surat Al 'Isra. Saat sekolah. Setelah kita berkeluarga. Seperti saat kita sakit misalnya. tidur telentang saja dirasakan ibu begitu berat. takut tidak lulus-lah. bercampur cuaca panas dan kepulan asap rokok disana-sini. bersikap santunlah kepada ibu dan bapak. Walaupun mungkin anak seusianya belum mampu merespon senda-gurau itu. Maka. tak jarang kita yang menjalani ujian. perjuangan Ibupun semakin berat. Subhanallah. Waktu istirahat Ibupun sering kita "rampas. seorang ibu menarik perhatianku." Siang hari kita enak tidur. Takut tidak bisa-lah. Sepertinya ia tidak memedulikan panas ruangan di sekitarnya. Bau keringat menusuk hidung. tetap saja Ibu mengkhawatirkan keadaan kita. jika keduanya masih ada.Kasih sayang Ibu Oleh Miftahul Khair Siang itu. segala macam kebutuhan dan keinginan kita dengan sabar dilayaninya. Terutama kasih sayang seorang ibu.Ketika detik-detik kelahiran kian dekat. yang kita sendiri kurang peduli. Bersimbah peluh. berapa banyak kesusahan yang telah kita timpakan kepada orang tua dari mulai kita berada dalam kandungan sampai saat ini. Justru semakin bertambah usia kita semakin bertambah pula kesulitan yang ditanggungkan Ibu. Dengan tenang digendongnya sang anak yang masih balita.

Aku dengan balas mencubit. wah. Setibanya dikamar mandi Dila kuguyur berulang-ulang. Tanpa berkata-kata lagi. Seperti katanya barusan ditelepon. karena keikhlasanmu mengurus anak-anak dan suami tentunya. Itu artinya telah sepuluh tahun usia pernikahan kami. Aku masih belum bereaksi." jawabku singkat. Tak hanya itu. Tapi aku bahagia sekali. Inilah yang ingin aku ceritakan. Dila memang telah trampil membantuku mengurus adiknya. Tak sanggup aku menahan gejolak perasaan dalam dada yang sepertinya hendak meledak. "Maafkan aku mas. dengan alasan mau minum susu. Aku menghela nafas panjang sambil kuperhatikan si sulung yang kini telah beranjak sembilan tahun. menyapu halamanpun ia lakukan." pintaku. Dentang waktu didinding telah beranjak menuju tengah malam. Entah ia mengerti atau tidak. Kakiku digigitnya. Kurangkul erat tubuhnya. "Anak-anak sudah tidur?" Pertanyaan itu yang terlontar setelah ia bersihbersih dan menghirup air hangat yang aku suguhkan. Ditatapnya dalam wajahku. Dila terus meronta.Malam belum seberapa tua. bisikku pelan ditelinganya." begitu jawabnya. menggulingkan badan dilantai dan memaki dengan kata-kata kotor. "Boleh. aku keluar rumah lagi. Tapi belum lagi lima menit setelah habis susu segelas. Kakak mau lihat Nisa dulu. ia berhambur keluar karena didengarnya teman-temannya sedang main. Kalau "angot" nya datang. kalau ia sedang benar-benar ingin melakukannya. "Kamu capek sekali kelihatannya. pakaiannya basah kena ompol. tapi setelah minum susu. Setengah duabelas lewat lima ketika terdengar dua ketukan di pintu. Helmi. Kutinggal ia sebentar karena Helmi merengek minta susu. sulungku yang semalam tidur paling akhir menjadi anak yang lebih dulu bangun pagi. sebelumnya diucapkannya salam dan maafnya untukku. Aku tahu betapa ia penasaran ingin tahu apa yang hendak aku katakan. Dila bereaksi menamparku keras. Saking tak tertahannya kesalku. Dila. Cepat kubukakan pintu setelah sebelumnya menjawab salam. Ibu capek nih baca buku terus. kugosok badanya dengan keras. kamunya nggak tidur-tidur. memakai celana. sekarang kamu mandi". Wajar saja kalau akhirnya Dila meniru perbuatanku itu. Kali ini menghampiri Dila. Kebiasaan itulah yang berlaku dikeluarga kami sebelum tidur. Laiknya sebuah pertarungan besar kami saling memukul dan meninggikan suara. Segera saja kusuruhnya mandi." ujarnya lembut. Bahkan ia membangunkan kami untuk sholat subuh bersama. Mandipun urung dikerjakan. Dibantunya sang adik. Kuberikan penjelasan pada Dila bahwa aku salah dan hal itu tak boleh ia lakukan. aku membanting pintu dan itu dilihatnya. Pagi ini udara begitu cerah. kuseret tangannya sekuat tenaga." bisikku dalam hati. kuberi sabun dan kuguyur lagi hingga ia tampak gelagapan. Aku masih mentolelir. "Kamu tidur donk Dila. kehangatan terasa merasuki tubuhku ketika tanpa berkata-kata diciumnya kedua pipiku." aku setengah berteriak memanggilnya karena ia sudah berada diantara kerumunan anak yang sedang main lompat tali. ia minta diantarkan pipis dan gosok gigi. aku berjanji untuk tidak melakukan hal itu kembali. "Sebentar lagi Bu. Dila baik-baik saja?" Aku menggangguk. "Waktumu sudah habis. Selang beberapa 52 ." hiburnya kemudian. Selamat tidur. Itu ciri khas suamiku. Tapi itu dengan catatan. "Aku memang capek. Beberapa buku telah habis kubacakan hingga aku merasa semakin lelah. Aku balas menampar Dila hingga meninggalkan bekas merah di pipi kanannya. wah. Ia tertidur kemudian. Tak lama. Setelah membuatkan susu untuknya. Tapi Dila menolak. "Sudah. bahwa ia pulang terlambat karena ada urusan penting yang tak bisa ditunda besok. mandi dulu. bahkan aku pingin seperti ini seterusnya. mendadak emosiku membludak. Suamiku terkasih sudah dimuka pintu. wah. Dila kerap marah berlebihan tanpa sebab yang jelas. tapi ia tak mau memaksaku untuk bercerita. Hari itu Dila bangun agak siang karena kebetulan hari Minggu. "Maafin kakak ya Bu. "Nanti dulu!" aku tersentak. Memang aku pernah melakukan suatu kesalahan saat aku kesal menghadapi ulahnya. Padahal ia tak biasanya begitu. Dan. Tapi tak lama berselang "Kak Dila. oh Subhanallah. Mandi pagipun tanpa dikomandoi lagi. Aku benar-benar kalap. sampai membanting benda-benda didekatnya. lalu kedua tangannya yang lembut membelai pipiku. Penuh rasa sesal saat itu. mata anak sulungku belum juga bisa dipejamkan. Dan aku akan minta pada Allah untuk memberimu pahala yang banyak. kakak segera mandi ya karena baju kakak basah kena ompol" Dila menyetujui perjanjian itu. "Akan selalu ada do'a untukmu." Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatapku dengan sedikit bingung.

Selalu ceria. Tak sadar air mata menyelinap keluar membasahi pipi. Aku malu menjadi ibunya yang kerap memukul. Tapi apa yang dilakukan Dila pada saya. Tak berapa lama kemudian suara Dila melemah. Tapi. Bahkan mungkin ada yang lebih keras lagi dari itu. Iapun asyik kembali main dengan teman-temannya. Awas ya kalau seperti ini lagi. Ketika Aqra' bin Habis At Tamimi mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tapi tak pernah mencium salah seorang diantara mereka. Kuhampiri Dila yang tampak pulas memeluk guling kesayangannya. ditaruh di atas kepalanya. Dila hanya menangis meski tidak lagi meraung. Mengenakan pakaian khas Jawa sederhana dengan kepala dililit kerudung.oh Dila maafkan Ibu. yang cuma dua malam. cara itulah yang aku lakukan untuk mengatasinya. kalau disuruh mandi jangan menolak. Peristiwa itu tidak hanya satu dua kali terjadi. aku bersujud di tengah malam. entah ia mengerti atau tidak. Tiap kali itu terjadi.. "Aku mau tidur dekat Dila ya?" pintaku. Ia menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Sesekali. maafkan Ibu nak. adalah suara seorang penjaja kue. Dila tak pernah menceritakan perlakuanku terhadapnya kepada siapapun. Beri hamba kesempatan memperbaiki kesalahan dan ingatkan hamba untuk tidak mengulanginya lagi. Aku kadang membencinya. Kulepas pelukanku perlahan. cara suamiku memperlakukan Dila sangat berbeda. "Sudahlah. Hujan pun bukan penghalang baginya. "Ya Allah. menjadi favorit kami. pada Dila. kukurung Dila dikamar mandi dalam keadaan masih tidak berpakaian. Semoga kita semakin menyayangi anak-anak dan memperlakukan mereka dengan baik. Aku membukakan pintu dengan mengomel. tidak memperlakukan dia laiknya aku memperlakukan Helmi adiknya. Disisi Dila bidadari kecilku. ketika berkunjung ke tempat saya beberapa tahun lalu. gemar menghibur teman-temannya dengan membacakan mereka buku yang tersedia dirumah." ajaknya lembut. Perempuan itu dikenal masyarakat sebagai penjual jajan keliling. Aku berusaha menenangkan gemuruh dibatinku. Siswi kelas tiga SD itu begitu baik hati. Bukhari dan Tirmizi) Penjaja Kuepun Berumroh. Ayo kita tidur. Setelah rapih berpakaian. menghampiri rumah demi rumah 53 . agar tidak jatuh. dari tadi kamu menolak mandi terus. Rasululloh SAW bersabda "barangsiapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi" (HR. Khas sekali suaranya. Sebagaimana diingatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW agar manusia menyayangi anak-anaknya. Tidak hanya pada saya ibunya tapi juga pada ayahnya. aku beristighfar berulang kali. Padahal Dila itu anak kandungku. Dila anak yang cerdas. salah satu jajanan yang ditawarkan. Dila seolah melupakan kejadian itu. dua kali itu pula dia mendengarnya: "Jajaaannnn…… Jajaaaannnnnn……" Entah berapa tahun sudah suara pedagang ini 'berkumandang'. Astaghfirullah. "Makanya. Subhanalloh… Satu kenangan spesial yang tidak pernah dilupakan oleh salah seorang rekan saya asal Trenggalek. khawatir kalau ia marah. malam semakin larut. kamu banyak memberi pelajaran buat Ibu. Paham!". berkeliling setiap hari di perkampungan kami. menyisir rambut dan makan. hanya terdengar isak tangisnya. Dua hari selama tamu saya ada di rumah. Akupun tak pernah menceritakan kepada suami. Pisang goreng misalnya. anak yang keluar dari rahimku sendiri. Belaian lembut tangan suamiku menyadarkan aku. Engkau didik hambamu ini untuk menjadi ibu yang baik. tiada sore terlewatkan tanpa kehadiran suara pedagang ini. Satu keranjang kecil." Sebuah renungan untuk para ibu (termasuk saya didalamnya). Ibu akan kunci kamu lebih lama lagi. Subhanalloh. secara bergantian tangan kanan dan kirinya menahan keranjangnya.menit kemudian. berkata-kata dengan suara keras dan. piawai sekali.. Bahkan teman-temannya merasa kehilangan ketika Dila menginap di rumah neneknya diluar kota. Lagi-lagi kearifan suamiku membuatku semakin merasa bersalah. Dila. Menyusuri lorong-lorong perkampungan kecil. Aku bermohon ampunan kepada-Mu atas apa yang telah kulakukan pada keluargaku. Berulang kali ia memaki dan mengatakan akan mengadukan kepada ayah. Barangkali memang dasarnya aku yang tidak sabar menghadapi anak rewel. melalui Dila. Seolah ia pendam sendiri dan tak ingin diketahui orang lain. Ibu sampe capek.

Terkadang kualitas sebuah produk menjadi prioritas kedua seorang customer. kita tidak pernah menyangka. Berbeda dengan Mbak Tin. orang-orang kebanyakan. ia sudah kembali ke rumahnya. Sebenarnya.pelanggan yang biasa membutuhkan snack sore.. Singkong gorengnya masih!" tawarnya. Setiap sore. Buahnya. atas inisiatifnya sendiri. jangankan saya. kue-kue hangat ini ibarat free delivery. Dia pun menoleh. anak-anak duduk di lantai. Tapi karena orang-orang semua memanggilnya Mbak Tin. Sejak tinggal di gubug tersebut. Mbak Tin tinggal bersama seorang anak laki-lakinya. "Mbak Tin penjual kue". Sang pedagang sepertinya sudah memiliki jadwal paten siapa gilirannya dan jam berapa mendapatkannya. Sebaliknya. sayangnya. pangsit mie. kalaupun pemerintah kota mengetahuinya di pinggir jalan. mencari tahu dari mana arah suara tadi. kepada orang yang usia sebenarnya tidak terpaut jauh dengan Ibuku. Bahwa bukankah ucapan salam dan senyuman juga ibadah yang membawa berkah? Itulah rumus yang diaplikasikan oleh Mak Tin. tidak jarang di rumahnya sendiri. bersaing dengan pedagang-pedagang keliling lainnya. bahwa perubahan moral kerohanian yang dihasilkan dari sumbangsih perempuan penjual jajan ini bisa saja lebih besar ketimbang itu semua. gubug ini jadi salah satu prioritas penggusuran karena 'mengganggu' pemandangan. Kadang di surau. Ada yang menjajakan bakso. "Pak Haji!" katanya. Adalah di luar pengetahuan saya tentang kapan dia ditinggal pergi oleh sang suami. Alhamdulillah dagangannya selalu laris. Mbak Tin tinggal di gubug reyot di pojokan kampung kami. Sebelum adzan maghrib tiba. pelayanan yang baik dan ramah menduduki posisi satu tingkat di atasnya. Mbak Tin beruntung dalam masalah ini. anak-anak TK saja memanggilnya dengan sebutan 'Mbak'. "Maaf Mas. Pak Haji Ahmad baru tersentuh.!" teriakku sore itu sekitar jam empat tiga puluh. Hingga suatu hari. menemani minuman teh mereka. soto ayam. Kelebihan lain yang dimiliki ibu satu anak ini adalah keterampilan mengajari Al-Qur'an. sepuluh juta rupiah. Karena jasa Mbak Tin mereka pandai membaca Al-Qur'an. tsa… begitulah seterusnya. mendengarkan: Alif. Mbak?" tanyaku. "Masih ada pisang gorengnya. Dengan fasilitas bentangan tikar yang sudah kusam. Dibandingkan dengan kami. seorang pedagang barang-barang bangunan di sudut jalan yang dikenal sebagai satu-satunya orang pemelihara masjid di lingkungan kami. Sadar bahwa selama ini beliau merasa kurang perhatian terhadap kebutuhan Guru Mengaji ini. orang-orang di perkampungan kami tidak ada yang tergerak untuk memberikan uluran tangannya guna memperbaiki 'madarasah' nya. Aroma aneka jajanan yang ditawarkan. membuat orang tidak pernah melewatkan. ta. Saya yakin. sekalipun kini ada yang duduk di IAIN. Dia telusuri hari-harinya. pedagang-pedagang keliling ini rata-rata berasal dari luar perkampungan kami. lepas maghrib. Itu semua diajarkan dalam Islam. Sementara banyak anak didiknya yang tinggal di rumah-rumah yang laik. Lepas sholat ashar. Makanya orang-orang di kampung mempercayakan anak-anak mereka untuk diajar membaca Al-Qur'an oleh Mbak Tin. Mbak Tin mengajari anak-anak membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Mbak Tin terkenal ramah. seorang ibu sederhana penjual jajan yang tidak pernah melupakan salam dan hamdalah dalam keseharian bisnis kecilnya. rujak. sudah habis. Mbak Tin berkunjung ke rumah Pak Ahmad. "Mbak Tin. guru 'madarasah' kecil ini tetap istiqomah di gubug yang sudah hampir ambruk. Proses belajar mengajar di 'forum' yang jauh dari sentuhan konsep para ahli pendidikan maupun sarana teknologi canggih ini berlangsung terus-menerus. begitu kami memanggilnya.. "Iya deh!" jawabku. Selama itu pula. bakpao. Mbak Tin telah memanfaatkan 'madarasah' ala kadarnya guna melestarikan 'Kalam Ilahi' dalam benak calon-calon generasi mendatang. dan pedagang lain yang menarik gerobak. Orang-orang senang sekali kepadanya. secara tidak langsung telah menikmati dan mengamalkan sebagian 'ajarannya'. Anak-anak kampung yang kini sudah besar dan 'bertebaran' di bumi Allah. saya minta bantuan Bapak untuk menggunakan uang ini buat memperbaiki rumah saya yang sudah reyot!" Mendengar permohonannya. hanya mereka berdua yang kelihatan. 54 . "Ini saya serahkan uang tabungan saya bertahun-tahun. bukan karena keramahan dan kesupelannya saja yang mendorong orangorang di kampung kami untuk membeli dagangannya. nasi goreng. Selama bertahun-tahun. tanpa diundang. ba.

Kemudian dibangunnya rumah baru. tanggal dua puluh enam April. seperti masa-masa perjuangan di Afghanistan. Subhanallah. Cita-cita mendapatkan suami atau anak-anak yang pejuang dan menjadi syuhada. Rumah Allah. yang kekal abadi. mana mungkin seorang penjual jajan pasar mampu membiayai perjalanan ke Masjidil Haram. ideologi yang menghantarkannya pada puncak kemanusiaan. tidak bakal tertutupi biayanya. Setiap kali melepaskan suami atau anak laki-laki mereka. Bertahun-tahun sudah dia baktikan hidupnya untuk sebuah kepentingan yang jarang dilirik orang sebagai suatu prestasi. Cinta mereka kepada suami dan anak-anak tidaklah dibatasi pada sentuhan fisik semata. "Mbak Tin tidak usah memikirkan berapa sisa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bangunan ini. 55 . Allah SWT telah melengkapi kebahagianya. Tidak ada orang yang akan pernah menyangka bahwa Mbak Tin bakal berkunjung ke Mekah. Mbak Tin sadar. Apalagi kebutuhan terhadap kondisi rumahnya juga membutuhkan penanganan segera. Bahkan paling baik kondisinya dibandingkan rumah-rumah di sebelahnya. bahwa uang yang diserahkan Pak Ahmad. Saya ikhlas!" Kata Pak Ahmad suatu hari ketika Mbak Tin menanyakan jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki rumahnya. pahlawan yang gugur di jalan Allah adalah cita-cita yang nyata bagi mereka. Apalagi sebuah karir ! Hari ini. Hari ini. Hari itu juga. Namun di tengah segala kesulitan yang dialaminya. Betapa bersyukurnya Mbak Tin mendengar berita ini. Tempat ibadah yang didambakan semua umat Islam. Artinya setiap tahun rata-rata terjadi delapan kali peperangan atau ekspedisi atau setiap satu setengah bulan sekali. Begitu jiwa-jiwa para perempuan Palestina begitu teguh melepaskan suami dan anak-anak mereka berjuang merebut kemerdekaan negerinya. rupanya Allah SWT memberikan kemudahan. Guru Mengaji di kampung kami. Seumur hidup pun kalau dia mau menabung. tahun dua ribu lima. Allah swt."Baiklah!" jawab Pak Ahmad. dipaparkan bahwa dalam kurang lebih 10 tahun masa kehidupan Nabi di Madinah. Puluhan orang. berkemas-kemas menuju bandara. Mengingat betapa Allah Mahabijaksana. memberangkatkan kaum papa seperti dia. Dalam satu buku sirah yang memenangkan satu lomba penulisan Sirah Nabi Muhammad saw yang diadakan Rabithah 'Alam Islamiy. seperti pada generasi kakek-nenek kita yang melalui masa-masa perang kemerdekaan. Tidak haya sampai di situ kebahagiaan yang dialami Mbak Tin. Kelebihan dana yang dikeluarkan untuk mendirikan bangunan baru tersebut seluruhnya dipikul oleh Pak Haji. Mereka telah membingkai cintanya dalam fikrah yang tinggi. terharu mengingat besarnya jasa perempuan penjaja pisang goreng itu selama ini. Rumah Mbak Tin yang semula terjelek di perkampungan itu. Sebagian besar mereka meneteskan air mata. kini nampak cantik sekali. Bayangkan bagaimana kekuatan jiwa para shahabiyyah dalam menghadapi suasana seperti itu. Mereka telah melambungkan cintanya ke kehidupan yang lain. Mungkin ia berpikir. telah melebihkan mereka dengan momentum waktu yang membuat jiwa mereka teguh. seperti suasana di Palestina hingga saat ini. Pak Ahmad memulai kalkulasi bahanbahan bangunan yang dibutuhkan. Seorang dermawan yag ingin agar ustadzah ini berkesempatan melihat Baitullah dari dekat. memadati rumahnya. Permintaan Mbak Tin yang semula hanya memperbaiki bagian rumah yang rusak. Setidaknya begitulah kesiapan yang mereka miliki dalam dimensi kehidupan dunia. Mbak Tin. ternyata ada pula seseorang yang memperhatikan dari 'jauh'. jauh dari cukup untuk merampungkannya. Melaksanakan ibadah umroh. termasuk bekas anak-anak didiknya. Selamat menempuh perjalanan ke Baitullah Mbak Tin ! Perempuan-perempuan Teguh Oleh Adi Junjunan Mustafa Kebanyakan kita tidak hidup di suasana perang. Selama bertahun-tahun mengajar anak-anak mengaji. para istri dan para ibu itu siap untuk menerima kepergian orang yang dicintainya untuk selamanya. oleh Pak Haji bangunan dirobohkan secara keseluruhan. dan seperti suasana di masa Rasulullah saw dan para sahabatnya hidup. di jaman sekarang ini. tidak kurang terjadi 83 kali peperangan dan ekspedisi pasukan.

si Ujang yang dipanggil Enin. Dia malah menjawab lantang. Perempuan itu pun dihardik lagi oleh tentara Belanda. jika perempuan-perempuan teguh seperti para shahabiyyah. kakek saya? Saat itu ia tak ada di tengah keluarga. seorang istri pejuang pernah ditanya wartawan.Fikrah yang diserap dari taujih Rabbani. pertanda tengah terjadi pertarungan seru antara para pejuang melawan penjajah Belanda tidak jauh dari desa. Medan perjuangan saat ini ada di dunia birokrasi. si Otong tertinggal!" Bapak saya. Tadi kamu bilang tidak ada orang laki-laki. Enin tiba-tiba berteriak. Bagaimana Ibu akan hidup dan menghidupi anak-anak kelak?" Si Ibu hanya tersenyum. jika suami Ibu meninggal. di tengah jalan tertembak peluru Belanda yang meninggal. "Yang kalian temukan itu bukan lelaki. Enin telah berusaha mempersiapkan segalanya. "Apakah Ibu tidak takut. Tapi dari sorot matanya terpancar keyakinan yang dalam. Dalam kondisi berat ditinggal suaminya yang lebih banyak bergerilya. yaitu desingan peluru yang meluluhlantahkan moralitas. Buya Hamka pernah berkisah. Serempak bersama anak-anaknya. ternyata ada!" Perempuan itu tidak menunjukkan wajah gentar sedikitpun. termasuk Bapak saya. Tantangan yang dihadapi saat ini. hingga beberapa utusan pejuang datang ke desa dan memerintahkan para perempuan dan anak-anak untuk meninggalkan desa. Salah satu perkampungan di Tanah Minang diserbu Belanda. alhamdulilLah. Medan perjuangan saat ini memang bukan di tengah desingan peluru. Atau bahkan medan perjuangan itu ada dalam diri sendiri. Gambaran khidmat-nya pada suami digambarkan Bapak saya dalam kalimat. seperti generasi Enin hadir di masa ini. Mereka tak akan rela suaminya hanya menjadi pecundang peradaban materialisme. Meskipun Bapak menceritakan dengan sedih... Peluru dusta dan peluru penghianatan kepada kebenaran dan kepada orang banyak. karena tengah bergerilya di hutan-hutan. *** 56 . pengajaran dan pengarahan dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana Pada medan perjuangan bangsa Afghan saat mengusir agresor Rusia. Peluru yang membuat orang rakus dan lupa kepada mereka yang papa.. Saya tidak bisa membayangkan betapa teguhnya perempuan-perempuan segenerasi Enin. ia tak pernah terlihat mengeluh kepada Engki. yang tak lain adik bungsunya. Paman saya Harits alias si Otong. bisa temukan dan diselamatkan. Saat itu terlihat bagaimana Enin [panggilan saya untuk nenek yang tak pernah saya jumpai. Mereka akan dukung perjuangan suaminya. bukanlah medan perang gerilya di hutan-hutan. Ketika telah beberapa kilometer meninggalkan desa." Saya membayangkan. Bapak melihat langsung kejadian ini. Melawan segala nafsu jahat yang setiap saat terus dihasut syaitan. bahwa seorang bapak di kampung yang menemaninya saat hendak keluar desa lagi. Seorang tentara Belanda menghardiknya dan menanyakan apakah di rumah ada orang laki-laki. Mereka akan besarkan anak-anaknya untuk menghadapi tantangan zaman. Semua persiapan mesti dilakukan serba cepat. seperti perempuan penumbuk padi di Tanah Minang. "Engki itu tak pernah makan ikan. Mereka pandai memaknai medan juang kontemporer. Ia menjawab.. bagaimana kondisi desanya di Kuningan sana saat dikabari akan ada serangan dari Belanda [entah berapa kali Bapak menceritakan kisah ini]. karena wafat saat Bapak masih remaja] begitu tenang dan teguh mengurus anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk pergi mengungsi. meskipun kehidupan yang dihadapi menjadi berat. Bukan pengecut yang bersembunyi di rumah!" Bapak saya bercerita. Di mana Engki. Mereka harus cerdas. Ada desingandesingan lain yang tak kalah dashyatnya. "Kamu sudah berdusta ya. ada di dunia bisnis dan ada di tengah-tengah masyarakat. "AstagfirulLaah.. seperti isteri para pejuang di Palestina atau Afghanistan. sekaligus sabar dan memiliki jiwa kasih sayang yang besar. sebab para lelaki adalah mereka yang berjuang di hutan-hutan. Bapak saya adalah anak terbesar. sehingga jiwanya disiapkan untuk berjuang. Pasukan mendapatkan seorang perempuan sedang menumbuk padi di depan sebuah rumah gadang. Usianya baru sekitar 13-14 tahunan. "Suami saya hanyalah seorang pemakan rizki dan bukan Pemberi Rizki!" Dalam buku "Ghirah". segera diperintahkan Enin untuk kembali ke desa. Ujang. Enin berjalan dan berlari meninggalkan desa. Dengan tegas si perempuan menjawab. Suara letusan dan desing peluru mulai terdengar.. Pada medan juang yang berbeda ini tetap dibutuhkan perempuan-perempuan teguh. Ia mesti membantu Enin dengan sekuat tenaga. mengambil si Otong. Tak ada waktu santai. kecuali duri-durinya sudah Enin pisahkan."Tidak ada!" Toh pasukan memeriksa rumah itu dan ternyata didapati ada seorang lelaki bersembunyi di dalam rumah. maka mereka akan menjadi penyejuk dan penyemangat para suami yang tengah berjuang. Tapi kekuatan pasukan pejuang tak mampu menahan serbuan.

Mbak” “Ini ulang tahun yang ke berapa ?” “Tujuh tahun. Ibu bertubuh kecil itu datang ke posko Masjid Mardliyyah -tempat saya berkativitas sebagai relawan. ada banyak keperihan yang tersingkap.“Putera yang ulang tahun namanya siapa. suami dan anak saya yang kedua masih tidur. Suami dan anak saya yang kedua ketimpa reruntuhan. ia ingin hari ulang tahunnya lebih berarti dengan kue ulang tahun.. Ia mulai menangis lagi. Dia lagi ulang tahun. Sekarang ibu makan dulu saja. Makanya saya kesini. ayahnya telah tiada.. Sisanya habis untuk ongkos nyari-nyari anak saya. Cerita bu Tuminem ibarat sinetron bagi saya. Mbak. Waktu kejadian bagaimana. Sudah enam hari saya tidak bertemu dengan anak saya. tetap saja ia janjikan pada anaknya. ada banyak duka yang terkuak. namun ada pula kekaguman yang tersibak. Bu. Ibunda Perkasa dari Tanah Duka Oleh Miftahul Jannah Di antara puing-puing luka dan penderitaan para korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Saya nggak tahan. Bu?” tanya saya “Sena.” kalimatnya terputus dan ia mulai menangis lagi. Innalillaahi.” bu Tuminem mulai menangis lagi. Namanya ibu Tuminem. seorang anak tetaplah seorang anak. bahwa seorang ibu memanglah sosok yang amat mulia. Masya Allah. lalu kembali menghapus air matanya dan melafalkan istighfar. Saya menyusul mendekati dan menghibur bayinya yang juga mulai menangis. merengek-rengek terus minta dibelikan kue ulang tahun. dan ibunya telah menjadi papa. Bu?” Pertanyaan itu seolah telah terekam dan selalu menjadi pertanyaan pertama bagi kami tim psikologis untuk bisa mendapatkan aliran cerita dari para korban demi mereka bisa mengungkapkan apapun yang mereka rasakan. Kasihan dia. tak kan kuasa seorang ibu memupus harapan anaknya.. bersabarlah. Ibu?” tanya saya lagi. “Keluarga yang lain bagaimana. tangannya patah. Sedang ibu tetaplah ibu. Ibu?” “Waktu gempa saya udah keluar rumah.Dipersembahkan secara khusus untuk para istri yang mesti terpisah jauh dari suami mereka yang tengah merantau untuk satu misi mulia. “Putera yang kedua bagaimana.” “Di sana ada yang jagain?” “Ada budenya. “Saya harus ketemu anak saya. Bu?” “Ada. “Saya ngurusin jenazah suami saya sampai dimakamkan dulu baru mencari anak saya” tambahnya.dengan menggendong bayinya. Saya bertemu dengannya dihari ke-enam gempa yang menimpa Yogya dan Jawa Tengah... Wajahnya sendu dan tampak amat letih. Anak saya yang pertama udah main ke luar. Mbak. walau tak tahu dengan apa dia mendapatkan kue ulang tahun itu. Ibu Tuminem menghapus air matanya dan sekali lagi melafalkan istighfar. “Bagaimana. menangis sambil tak putus mengucap istighfar. kalau ibu nggak makan 57 . kenapa Mbak?” bu Tuminem bertanya balik. Kekaguman yang semakin menguatkan keyakinan pada diri saya. sambil nyari anak sulung saya ke Sarjito. belanja ke warung. Mbak. sungguh Allah berkuasa atas segala sesuatu. Tak peduli kakaknya entah di mana. Rekan saya sesama relawan mendekati beliau. Saya cuma berharap dia diantar ke Magelang” tambahnya. tapi nggak ketemu-ketemu” ujarnya tersendat-sendat karena dibarengi tangisan. Dirawat di Panti Rapih.. sudah enam hari tidak bertemu ibunya. saya nggak punya apa-apa lagi. “Suami saya meninggal. mengusap punggungnya dan membiarkan hingga tangisnya reda. Saya sudah tiga hari mencarinya ke semua rumah sakit. Ia terduduk di tangga masjid. Ibu mertua saya cuci piring. Saya tidak tahu harus mencari kemana lagi. itupun udah terlanjur saya belanjakan sayur. Waktu gempa itu saya cuma ngantongin uang dua puluh lima ribu. “Nggak apa-apa. “Saya mencari anak saya. kehilangan suami dan terpisah dari darah daging sendiri. Tapi anak saya yang pertama nggak tahu entah kemana” ujarnya tetap berurai air mata. Semoga Allah mencatat kondisi ini sebagai kondisi perjuangan. Saya menjanjikan kue ulang tahun pada anak saya.

kasihan anak-anak. Apalagi yang bungsu masih menyusu. Kalau ibu sakit kan lebih repot” dengan sedikit memaksa kami meminta bu Tuminem untuk makan, sudah sehari lebih beliau tak makan. Sedang bungsunya kami berikan susu, karena sudah berhari-hari pula dotnya hanya berisi air teh dingin. Saya dan dua rekan relawan memutuskan untuk mewarnai ulang tahun Sena dengan sebuah kue ulang tahun. Selepas membeli kue ulang tahun kami mengantar bu Tuminem ke Panti Rapih dengan motor. Subhanallah, sesampainya di rumah sakit kami tak bisa menemukan Sena, karena lokasi tempat ia dirawat pagi harinya telah bersih dari korban gempa yang dirawat. Bu Tuminem mulai panik lagi. “Kok nggak ada ya, Mbak? Tadi pagi masih di sana pakai tenda” tunjuknya pada taman di barat rumah sakit. “Mungkin udah dipindah, Bu. Kita tanya saja” saya mencoba menenangkannya. Pasien-pasien di RS Sarjito tempat saya beraktivitas sudah sejak dua hari yang lalu dipindah ke areal parkir rumah sakit, pasti di rumah sakit ini demikian juga, batin saya. Lantas kami menemui petugas keamanan. Oleh beliau kami ditunjukkan beberapa tempat yang mungkin menjadi lokasi baru perawatan putera bu Tuminem. Ternyata di tempattempat itu tidak ada pasien dengan nama Sena Ramadhani, nama putera bu Tuminem. Entah bagaimana kemudian terbersit pikiran bahwa putera bu Tuminem telah dibawa pulang keluarga ke Magelang. Selepas dhuhur bu Tuminem memang berencana melanjutkan pencarian putera sulungnya ke Magelang, ke tempat orang tuanya. Pikiran itu diperkuat dengan pernyataan tetangga bu Tuminem yang kebetulan berpapasan di rumah sakit dan baru datang dari Magelang. Bahkan kata beliau putera sulungnya juga ada di sana. Bu Tuminem langsung berhamdalah, bahkan hampir menyungkurkan dirinya ke lantai untuk bersujud. Namun saya dan rekan-rekan merasa tetap memerlukan data bahwa putera kedua beliau memang telah dibawa pulang. Ternyata benar, di data pasien pulang ada nama yang dikenali bu Tuminem, yaitu ibu Dariyem. Pantas saja kami tidak menemukan nama Sena, karena nama yang dicantumkan di data adalah nama budenya. “Rasanya ibu seperti disiram air dingin, Nak” kata bu Tuminem pada puteri bungsu di gendongannya. “Alhamdulillah, ya Bu” kami turut berbahagia dengan kebahagiaannya. Kami hanya bisa mengantarnya hingga ke terminal menuju Magelang seraya berharap ia bisa berkumpul lagi dengan anak-anaknya di sana. Subhanallah, pasti ada banyak bu Tuminem lain selepas gempa tektonik lalu. Saya berdo’a semoga beliau mampu menjalani hidupnya ke depan dengan teguh sebagaimana keteguhannya mencari putera sulungnya, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang padanya sebagaimana kasih sayang-Nya mengumpulkan kembali si ibu dengan anakanaknya.

Mandikan aku, mom…
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggaltinggal?'' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' 58

Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibubapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini. Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku !'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga. Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah; tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu. Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

59

Janda Tua di Gubuk Tak Berjendela
Jika di antara Anda ada yang sulit menangis, tak bisa menitikkan air mata, dan sudah terlalu lama kelopak mata Anda kering tak terbasahi air mata sendiri, datanglah ke Kampung Pugur, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Carilah rumah Ibu Laeni, janda berusia 64 tahun yang tinggal di sebuah gubuk berdinding bilik seluas 5x7 meter. Bangunan beralas tanah tak berpenerangan itu memiliki jendela, namun tak ada penutup jendela sehingga angin maupun cipratan air hujan leluasa masuk ke dalamnya. Di dalam gubuk tersebut, tinggallah Ibu Laeni, seorang janda tua yang ditemani dua anak gadisnya, Neneng dan Jumriah. Neneng, sang kakak berusia 26 tahun, belum menikah dan tak bekerja. Neneng menderita gizi buruk sejak kecil, sedangkan Jumriah sang adik menjanda justru setelah memiliki 2 (dua) putra. Jadi, terdapat 2 janda dan seorang pesakitan di rumah tersebut, ditambah 2 anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Sehari-hari, Ibu Laeni, Neneng, dan Jumriah beserta 2 anaknya hanya berharap belas kasihan para tetangganya untuk bisa mendapatkan makan. Bila malam tiba, kadang mereka harus menjalani sepanjang malam tak berpenerangan, beruntung bila ada tetangga yang datang membawa setitik lilin yang hanya mampu bertahan tak lebih dari satu jam. Selebihnya, seisi gubuk pun kembali gulita. Neneng yang menderita gizi buruk sering sakit-sakitan. Untuk wanita seusianya, seharusnya berperawakan besar dan tinggi, namun ia lebih mirip remaja baru tumbuh yang terhambat pertumbuhannya. Kemiskinan yang dialami keluarganya, membuat Neneng semakin menderita. Ternyata, tak hanya balita yang menderita gizi buruk, bahkan wanita dewasa seperti Neneng pun mengalaminya. Sang adik, Jumriah tak kalah menderita. Entah apa kesalahan yang dibuatnya sehingga sang suami tega meninggalkan ia bersama dua buah hatinya. Padahal, dua anak hasil pernikahannya itu sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian dan perlindungan seorang Ayah. Sang suami yang diharapkan menjadi tulang punggung menghilang tanpa jejak. Jumriah pun tak pernah sanggup menjawab pertanyaan dua anaknya, "Mana bapak, bu...?" Laeni tak pernah berharap hidup semenderita saat ini, ia pun tak pernah meminta diberikan umur panjang jika harus terus menjadi beban orang lain. Tapi ia masih punya iman untuk tak mengakhiri hidupnya dengan jalannya sendiri, selain itu wanita tua itu tak pernah tega meninggalkan dua anak dan dua cucunya yang tak kalah menderitanya. Baginya, anak-anak dan cucunya adalah harta berharga yang masih dimilikinya. Gubuk berdinding yang sebagian atapnya rusak itu, di musim hujan air leluasa masuk, disaat terik matahari bebas menerobos. Tak ada barang berharga di dalamnya, hanya kompor dekil yang sering tak terpakai lantaran tak ada bahan makanan yang dimasak. Mereka menyebutnya rumah, tapi siapapun yang pernah melihatnya, menyebut gubuk pun masih jauh dari pantas. Tetapi di dalamnya, ada dua janda, satu pesakitan, dan dua anak kecil yang terus menerus menunggu belas kasihan.

Gratis Banget…
Pada suatu sore, seorang anak menghampiri Ibunya di dapur, yang sedang menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai ditulisinya. Setelah ibunya mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak: - Untuk memotong rumput minggu ini - Untuk membersihkan kamar minggu ini - Untuk pergi ke toko menggantikan mama - Untuk menjaga adik waktu mama belanja - Untuk membuang sampah setiap hari 60 Rp. 7.500,00 Rp. 5.000,00 Rp. 10.000,00 Rp. 15.000,00 Rp. 5.000,00

Ia pandai mengirit uang belanja dan seringkali ia menggunakan keterampilannya menjahit untuk membuat gorden. Perempuan Dengan Hati Seluas Samudera Oleh Hayati Rahmah Perempuan itu sama sekali tidak berbeda dari perempuan lain. karena dialah yang selalu menggunting rambut suaminya. Jika di awal-awal pernikahan ia sering menangis karena jauh dari keluarganya. membalikkan kertasnya. pada tahun-tahun berikutnya ia sudah terampil merawat rumah. Perjalanan waktu mengajarkannya untuk bisa menjalankan peran sosial dengan sangat baik. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya. GRATIS. dan menulis: Untuk sembilan bulan ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama. Anakku. Meski sempat mengecap bangku SMA. aku sayang sekali pada Mama'.00 Rp.. Meski ia cuma seorang istri dan ibu rumah tangga.. Seorang laki-laki baik melamarnya ketika usianya 22 tahun. seringkali ia harus bekerja keras dan terkadang mendapat perlakuan tidak enak dari saudara-saudaranya. Buah hati yang selalu membuatnya bersemangat melakukan semua kegiatan rumah tangga dengan penuh rasa cinta.Untuk rapor yang bagus . ia menatap wajah ibunya dan berkata: 'Ma. dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu. mengasuh anak. Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya. --oo0oo-Apakah menurutmu ini cerita yang indah ? jika ya biarkan semua orang membaca juga cerita ini dan mereka dapat lebih menghargai orang-orang yang telah berjasa pada mereka. Semua kebutuhan suami selalu ia penuhi. dan lain sebagainya. 61 . dan mendoakan kamu. Untuk semua malam ketika mama menemani kamu. baju. dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini. tapi perempuan ini bisa menjalankan perannya dengan sempurna. 80. Ia pun setuju ketika harus pindah dan meninggalkan kota kelahirannya mengikuti suami yang bekerja di kota lain. Untuk semua saat susah. Ia hanya seorang anak bungsu dari keluarga yang sederhana. 25..500. Suaminya tak pernah pergi ke tukang cukur. Perempuan itu melahirkan lima orang anak dari rahimnya. GRATIS.000. Pendidikannya pun tidak terlalu tinggi. Sejak kecil. 12. GRATIS. Dan kemudian ia mengambil bolpen dan menulis dengan huruf besar-besar: "LUNAS". tapi ia tidak sampai menamatkannya. makanan. Untuk mainan.00 Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap. Kemudian ia mengambil bolpen. seprei dari hasil jahitannya. GRATIS. mengobati kamu. karena ia pintar membuat kue. harga cinta sejati mama adalah GRATIS. berbelanja ke pasar.000. GRATIS.00 Rp. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang. Selalu ada makanan cemilan di rumah. dan juga menyeka hidungmu. Ia seorang istri yang serba bisa. sarung bantal. Semua anakanaknya pun pernah merasakan pakaian yang dijahit oleh tangannya.Untuk membersihkan dan menyapu halaman Jumlah utang Rp.

ia akan menguras dapurnya. ubi. Kadang ia mengaji di samping orang yang sakit dan menangis. dan lain-lain. baik terhadap keluarga. ia bisa begitu lama duduk di atas sajadahnya sambil menangis. Jika ada kesempatan. bahan baju. ia bergegas menyiapkan makanan untuk suaminya. sapu. Tak lupa juga ia sempatkan membuat rendang (ia paling jago membuat makanan yang satu ini). menyeterika. Ia mulai menjahit kain itu menjadi mukena. Ketika usianya 30 tahun. saya begitu mencintainya. ia akan bergegas mengunjunginya. Semua dikerjakan sendiri karena kondisi hidup yang pas-pasan. dan salak. Semua uangnya disisihkan untuk bersedekah atau menambah uang jajan bagi anaknya. atau sahabatnya. Semuanya ia jahit dengan tangan dibantu mesin jahit tuanya. Bahkan jika tidak ada sesuatu yang bisa diberi. Setelah semua selesai. atau cuma sebungkus kerupuk. Sepulang dari haji. Sudah beberapa tahun ini. Ia rajin sekali bersedekah. tetangga. Tangannya tak pernah kosong dan selalu memberi. Ia hampir tak pernah meninggalkan shalat dhuha dan tahajud setiap harinya. Mulutnya pun tak pernah berhenti berdzikir. saat ketiga anak laki-lakinya masih kecil. Setiap kali ada saudara berkunjung. Kerupuk. kondisi ekonomi keluarganya semakin membaik. gelas. ia akan mendatangi rumah kerabat. mudah-mudahan menjadi pahala…” Uang belanja yang berlebih selalu ia simpan rapi. atau perhiasan baru. jeruk nipis. atau wortel. Perempuan itu semakin matang menapaki kehidupan. jeruk. ia akan menyuruh anaknya untuk mengantar semangkuk makanan ke rumah tetangganya. pisang. Ada-ada saja yang ia beri.Mulai dari bangun pagi. “Biarlah mereka memakai mukena buatanku. yang selalu ia pegang ketika berdzikir dalam perjalanan. sahabat bersilaturahmi. Perempuan itu punya kebiasaan baru. selalu saja ada yang dibawanya ketika mengunjungi orang lain. seprei. Perempuan itu adalah ibu saya. tetangga datang. mencuci. bahkan mengunjungi orang yang sama berkali-kali. suaminya mengajaknya untuk bertemu lebih dekat dengan sang Khaliq. Sungguh. Semuanya ia bagikan kepada keluarga di kampung. Ia akan berbelanja segala macam sayuran seperti buncis. kelapa atau apa saja yang saat itu ada di rumah. Selalu saja ada yang disedekahkan perempuan itu. Menjelang bulan Ramadhan. seseorang dengan hati seluas samudera. cabe. ia seringkali memberikannya untuk orang lain tanpa sempat ia sisakan untuk keluarganya. baik keluarganya maupun keluarga suaminya. tetangga. mereka tak pernah pulang dengan tangan kosong. mangkok. ia selalu mempertahankan ibadahnya. dan saudara untuk membagikan mukena hasil jahitannya. Di sisi lain. Semua ia kumpulkan dengan baik. perempuan itu jarang sekali membeli baju baru. buah-buahan seperti apel. Perempuan itu selalu membuat saya menangis bila mengingat kebaikannya. ia akan membeli barang-barang dalam jumlah banyak. menuju Baitullah Makkah. mempersiapkan sarapan. baskom. Perempuan ini juga begitu rajin mengunjungi orang sakit. dan membereskan rumah. ia menjadi perempuan yang paling sibuk. kue. Mulai dari sarung. Jika tiba saat pulang kampung. Terkadang jika hatinya sedang tidak enak. Seringkali ia rela menunggu suaminya pulang kantor karena hanya ingin mendapat pahala berjamaah. Bahkan tak jarang beberapa lembar uang ia selipkan untuk kerabatnya. Semakin tahun. ia akan memborong sarung. setiap kali berkunjung. Setiap kali mendengar ada orang yang sakit. Dalam tasnya selalu ada tasbih. Ia begitu rajin bersilaturahim. pakaian muslimah membalut tubuhnya. Satu yang khas dari dirinya. Tapi barang-barang itu tidak pernah bertahan lama di rumah. Ia selalu salat berjamaah bersama suaminya. Ia begitu sederhana dan apa adanya. Percayalah. kelapa. pisang. selalu saja ada yang dibawanya. *** Mereka yang Telah Memberi Inspirasi 62 . Setiap kali ia membuat kue atau memasak sesuatu. membeli bahan kain berpuluh-puluh meter. Selesai salat berjamaah. Bahkan jika ada orang yang memberinya sesuatu. Entah itu gulai ikan.

Sejak itu. Tidak ada waktu dan lelah bekerja sepanjang hari. Tapi entah kenapa."Duh betapa meruginya saya. saya berkesempatan berkunjung ke tempat kos Lia. jumlahnya 18 surat. yang sekarang menjadi sahabat karib saya... Saya mulai banyak membeli buku-buku keagamaan. Meski Muslim sejak lahir.. Lagi-lagi aku malu hati. Ternyata. termasuk didalamnya belajar atau membaca Al-Quran. Perubahan itu terjadi karena saya menjumpai beberapa orang yang telah memberi inspirasi dan motivasi bagi saya untuk belajar dan menggali pengetahuan lebih banyak tentang agama saya. belum lagi mengkaji kandungan-kandungannya. meski selama ini saya selalu melaksanakan kewajiban sholat lima waktu dan ibadah wajib lainnya. Dari hasil perenungan itu. bagaimana berwudhu yang benar. saya sudah kagum dengan semangatnya belajar membaca Al-Quran dan menggali ilmu agama Islam dengan banyak bertanya dan membaca buku. Perubahan itu tidak datang begitu saja. Sampai aku tahu bahwa ia selalu menyempatkan diri membaca Al-Quran setiap hari meski cuma beberapa menit saja. Di pintu lemari pakaiannya. belajar membaca Al-Quran dengan benar itu sangat menyenangkan." kataku waktu itu.. selama itu pula saya tidak pernah merasa tergerak untuk memperdalam ilmu agama. terlihat ditandai dengan contrengan kecil. "Yang penting kenal huruf dan bisa baca sedikit-sedikit. Malu rasanya. Aku bertanya. Ternyata. kerap menjadi alasan saya. yang Muslim sejak kecil. dari ceramahceramah para ustadz dan ustadzah di pengajian yang saya ikuti. sudah hapal 18 surat. Tetapi pemikiran saya itu berubah total setelah hampir dua tahun ini saya mulai mengikuti pengajian-pengajian. sampai hal-hal kecil yang jika saya tahu ilmunya.Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa' Belakangan ini. Salah satunya. sudah banyak memahami tentang Islam.. saya lebih tertarik membaca novel atau buku lainnya yang tidak bernafaskan agama. Ketika itu saya hanya membatin. situasinya pun jadi berbalik. Hapal? tanyaku dalam hati. yang sejak lahir saya anut hingga saat ini ketika usia saya sudah melewati kepala tiga. ketika tahu bahwa Lia yang baru dua tahun menjadi mualaf. bahkan isi Al-Quran. Untuk mengaji pun malas sekali. belajar ilmu agama. Ketika mengenalnya. Seorang mualaf. dan sesekali beramal dengan sedikit harta yang saya punya.. saya melihat secara kerta yang ditempel berisi daftar surat-surat dalam Juz Amma. Dan sekarang. 63 . adalah satu inspirasi besar bagi perubahan itu. selama puluhan menjadi Muslim cuma hapal kurang dari lima surat dan tidak pernah punya keinginan untuk berusaha menghapal surat-surat Al-Quran yang lain. mulai betah mendengarkan ceramah agama di televisi atau radio. saya banyak merenungkan seberapa banyak waktu yang telah saya sia-siakan hanya untuk melakukan aktivitas yang sifatnya duniawi dan mengesampingkan aktivitas yang bisa menjadi bekal saya di akherat nanti. Sementara saya. Saya lebih getol mengejar belajar ilmu umum yang saya minati. dan rasa keingintahuan saya tentang Islam seolah tak pernah habis. bisa menjadi tambahan amaliyah saya di dunia. saya berfikir menjalankan ibadah yang wajib saja sudah cukup dan belajar agama. diam-diam aku memperhatikan aktivitas Lia sehari-hari. sampai saat itu malah belum paham benar apa sebenarnya rukun Islam dan rukun iman-meski saya hapal urutannya-apa keutamaan sholat tahajud. Aku hitung surat-surat yang sudah ditandai. Saya sempat malu hati.. sebut saja namanya Lia. "Ini apa Li." katanya sambil tersenyum. saya tersadar betapa minimnya pengetahuan agama saya. koq dikasih tanda?" "Oh." Suatu saat. Lia yang baru mengenal Islam. itu daftar surat yang sudah aku hapal. tidak terlalu penting.. Sementara saya. saya mendapati bahwa belajar agama Islam itu mengasyikkan karena meliputi semua aspek kehidupan. Beberapa surat mulai dari Al-Fatihah.

kondisi rakyat Indonesia sebenarnya juga dalam keadaan yang sangat sulit. sehingga masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. mereka tidak kehilangan semangat untuk memberikan sedikit harta yang mereka punya. saya mulai mencontoh kebiasaan Lia. Namun saya bersyukur. Kadang. saya merasa seperti seorang mualaf. Muslim Indonesia tidak melupakan saudara-saudara mereka yang menderita di negeri lain. buat apa membantu orang yang sedang kesusahan di negeri yang beribu-ribu mil jauhnya dari Indonesia. Alasan seperti ini memang tidak salah. selama ini ternyata aku sudah jauh tertinggal.. Subhanallah. Pengetahuannya tentang Islam dan sejarah Islam. Mereka menganggap aksi sosial ini tidak realistis. diisolasi dan dihentikannya bantuan internasional oleh Eropa dan AS. Semangat belajarku terpompa kembali. "Saya belum terlambat untuk mulai belajar. tidak kenal maka tidak sayang. Makin banyak saya mengenal Islam. Ah. sempat membuatku terperangah. makin bertambah cinta saya pada Islam. Lagi-lagi saya malu hati. Apalagi saudara-saudara Muslim kita di Palestina menderita karena perlakuan tidak adil negara-negara kuat. aku biasa memanggilnya Kak Lili. karena Allah swt memberikan lingkungan dan teman-teman yang senantiasa menjadi penyemangat saya dalam belajar. sementara di negeri sendiri banyak orang yang kelaparan. Lia. Dari gerak-geriknya aku tahu ia sedang berusaha menghapal salah satu suratnya. negara-negara yang selama ini mengaku menjunjung tinggi demokrasi dan hak asasi manusia.termasuk menjalankan sholat dan puasa sunnah. Saya tidak ada apa-apanya dibanding Kak Lili. Bukankah Islam mengajarkan kita untuk tetap bersedekah di waktu lapang maupun di 64 . (Sebuah catatan kecil untuk orang-orang yang telah memberi inspirasi) Bersedekah di Kala Lapang dan Sempit Oleh Rubina Qurratu 'ain Zalfa Hati saya bergetar melihat ribuan manusia memenuhi jalan utama di ibukota. saat ini. Sejak itu. tapi tidak sepenuhnya benar. Salah satunya adalah tetanggaku sendiri. cuma kata-kata itu yang terucap dalam hati saya melihat perhatian yang besar Muslim di Indonesia terhadap penderitaan saudara-saudara mereka yang didzolimi di Palestina. Belakangan. Tak heran kalau banyak juga orang yang mencibir aksi penggalangan dana untuk rakyat Palestina itu. Mencatat apa yang ia dapat di pengajian dalam buku khusus. saya benar-benar merasakan kebahagiaan karena terlahir sebagai Muslim. kadang rasa malas amat menggoda. Selanjutnya. Semoga Allah swt selalu memberikan keteguhan iman dan kekuatan bagi kita untuk tetap istiqomah di jalanNya. ia selalu bersemangat mengikuti pengajian di mana-mana. mulai membaca Al-Quran dengan rutin. Pelan-pelan aku mulai menambah hapalan surat-surat Al-Quran. melihat aksi damai kemarin hati saya tergugah bahwa dalam kondisi yang sulit seperti sekarang ini. Sayapun tersentuh melihat si Bapak tua tadi. Meski ketiga anakanaknya sudah besar-besar dan usianya tidak lagi muda. Apa yang membuat hati saya tersentuh adalah. Aku melihat bapak tua yang sedang membaca Juz Amma. Berat memang. aku banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang memacu semangatku untuk mendalami Islam. Puluhan ribu umat Islam di Jakarta dan sekitarnya melakukan aksi damai dan penggalangan dana untuk warga Palestina yang terancam kelaparan.... di bis yang aku tumpangi." gumamku dalam hati. Benarlah apa kata pepatah. Dia juga mualaf.. Krisis ekonomi masih melilit kehidupan sebagian rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. suatu kali dalam perjalanan menuju kantor. karena banyak sekali hal yang belum saya ketahui dan harus saya pelajari. ketika hendak menikah beberapa puluh tahu silam. Setelah Lia. Sungguh. mulai belajar menjalankan ibadah sholat dan puasa sunnah..

kita sangat sulit memberikan sedikit apa yang kita punya dalam kondisi lapang. Aku menghela nafas panjang sambil kuperhatikan si sulung yang kini telah beranjak sembilan tahun. bersedekahlah dengan doa. Meski cuma sedikit. Rubina Qurratu 'ain Zalfa' rubina_zalfa@yahoo. Ia tertidur kemudian. yang penting sudah nyumbang. yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. "Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sebutir kurma. kumpul dengan teman makan di restoran. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. apalagi dalam kondisi sempit dengan berbagai pertimbangan. Padahal uang yang dikeluarkan untuk sedekah itu tidak seberapa jumlahnya dibandingkan uang yang kita keluarkan untuk hura-hura. Ditatapnya dalam wajahku. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. beli parfum dengan harga ratusan ribu rupiah." pintaku. "Maafin kakak ya Bu. Ibu capek nih baca buku terus. Tak lama. Bidadari Kecilku Gesang Utari Malam belum seberapa tua.waktu sempit? Seperti firman Allah swt. Beberapa buku telah habis kubacakan hingga aku merasa semakin lelah. manusia masih bisa memberikan sesuatu di jalan Allah. serakah dan cinta yang berlebihan terhadap harta. ia minta diantarkan pipis dan gosok gigi." ujarnya lembut. Sedangkan bersedekah di waktu sulit dianjurkan agar sifat manusia yang lebih suka diberi dari pada memberi bisa berubah menjadi suka memberi daripada diberi. dalam Surat Ali-Imran: 133-136. meski hanya dengan sebutir kurma. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Pernahkan kita merenungkan hal ini? Betapa beratnya kita mengeluarkan uang banyak untuk bersedekah dan betapa ringannya kita menghambur-hamburkan uang hanya untuk hal-hal yang sifatnya komsumtif dan duniawi. "Kamu tidur donk Dila. dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal . Itu artinya telah sepuluh tahun usia pernikahan kami. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Semoga kita menjadi umat yang senantiasa selalu ingat bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sulit. Padahal anjuran dan perintah Allah swt berinfaq pada waktu lapang tujuannya untuk menghilangkan perasaan sombong. yang terpenting adalah pemberian itu diberikan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho ilahi. beli baju mewah di mall ekslusif. dan pada saat itu kita hanya memberikan uang ala kadarnya. Pernahkah kita mengalami pada suatu saat dimintai sumbangan untuk keperluan umat. oh Subhanallah. bahwa dalam kondisi sesulit apapun. sedang mereka kekal di dalamnya. kamunya nggak tidur-tidur. Kebiasaan itulah yang berlaku dikeluarga kami sebelum tidur.. lalu kedua tangannya yang lembut membelai pipiku. Dan. sebelumnya diucapkannya salam dan maafnya untukku. Rasulullah saw pun mengingatkan kita untuk jangan segan bersedekah." Anjuran mulai dari Allah swt ini bermakna. baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Sesungguhnya Allah swt senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beramal shalih dengan keikhalasan dan hanya berharap ridho darinya. 65 . beli sepatu bermerk dari luar negeri. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya). Jikapun kita sudah tidak memiliki apapun untuk diberikan.com Maafkan Ibu." (HR Muttafaq alaih). Selamat tidur. Namun terkadang. "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi. mata anak sulungku belum juga bisa dipejamkan.. kehangatan terasa merasuki tubuhku ketika tanpa berkata-kata diciumnya kedua pipiku.

Tapi belum lagi lima menit setelah habis susu segelas. "Anak-anak sudah tidur?" Pertanyaan itu yang terlontar setelah ia bersih-bersih dan menghirup air hangat yang aku suguhkan. mandi dulu. ia berhambur keluar karena didengarnya teman-temannya sedang main. Dila kerap marah berlebihan tanpa sebab yang jelas. Saking tak tertahannya kesalku. Kalau "angot" nya datang. Suamiku terkasih sudah dimuka pintu. Entah ia mengerti atau tidak. aku berjanji untuk tidak melakukan hal itu kembali. kalau ia sedang benar-benar ingin melakukannya. Padahal ia tak biasanya begitu. Inilah yang ingin aku ceritakan. Ia menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Setelah membuatkan susu untuknya." aku setengah berteriak memanggilnya karena ia sudah berada diantara kerumunan anak yang sedang main lompat tali. Dila terus meronta. Setibanya dikamar mandi Dila kuguyur berulang-ulang. "Waktumu sudah habis. tapi ia tak mau memaksaku untuk bercerita. Kutinggal ia sebentar karena Helmi merengek minta susu. Berulang kali ia memaki dan mengatakan akan mengadukan kepada ayah. Aku membukakan pintu dengan mengomel. kugosok badanya dengan keras. Tapi tak lama berselang "Kak Dila. "Boleh. aku keluar rumah lagi. Cepat kubukakan pintu setelah sebelumnya menjawab salam. Kuberikan penjelasan pada Dila bahwa aku salah dan hal itu tak boleh ia lakukan." bisikku dalam hati. pakaiannya basah kena ompol. hanya terdengar isak tangisnya. bisikku pelan ditelinganya." hiburnya kemudian. Setengah duabelas lewat lima ketika terdengar dua ketukan di pintu. "Aku memang capek. Dila baik-baik saja?" Aku menggangguk. Dibantunya sang adik. wah. Aku masih belum bereaksi. Segera saja kusuruhnya mandi. dari tadi kamu menolak mandi terus. karena keikhlasanmu mengurus anak-anak dan suami tentunya. Itu ciri khas suamiku. Tapi aku bahagia sekali." jawabku singkat. Layaknya sebuah pertarungan besar kami saling memukul dan meninggikan suara. "Maafkan aku mas. Dila. aku membanting pintu dan itu dilihatnya. "Akan selalu ada do'a untukmu." Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatapku dengan sedikit bingung. wah. Ibu sampe capek. bahwa ia pulang terlambat karena ada urusan penting yang tak bisa ditunda besok. Tapi Dila menolak. sulungku yang semalam tidur paling akhir menjadi anak yang lebih dulu bangun pagi. Selang beberapa menit kemudian. bahkan aku pingin seperti ini seterusnya. memakai celana. sampai membanting benda-benda didekatnya. Kakiku digigitnya. Tak sanggup aku menahan gejolak perasaan dalam dada yang sepertinya hendak meledak. "Sudah. Memang aku pernah melakukan suatu kesalahan saat aku kesal menghadapi ulahnya. Tak hanya itu. Helmi. "Makanya. mendadak emosiku membludak. menyapu halamanpun ia lakukan. dengan alasan mau minum susu. "Nanti dulu!" aku tersentak. kuberi sabun dan kuguyur lagi hingga ia tampak gelagapan. Aku dengan balas mencubit. kalau disuruh mandi jangan menolak. "Sebentar lagi Bu. Aku benar-benar kalap. Awas ya kalau seperti ini lagi. Mandi pagipun tanpa dikomandoi lagi. Dila bereaksi menamparku keras. Kakak mau lihat Nisa dulu. Tapi itu dengan catatan. kukurung Dila dikamar mandi dalam keadaan masih tidak berpakaian. sekarang kamu mandi".Dentang waktu didinding telah beranjak menuju tengah malam. Bahkan ia membangunkan kami untuk sholat subuh bersama. Penuh rasa sesal saat itu. Aku tahu betapa ia penasaran ingin tahu apa yang hendak aku katakan. Dan aku akan minta pada Allah untuk memberimu pahala yang banyak. wah. tapi setelah minum susu. Dila memang telah trampil membantuku mengurus adiknya. Hari itu Dila bangun agak siang karena kebetulan hari Minggu." begitu jawabnya. Aku masih mentolelir. Wajar saja kalau akhirnya Dila meniru perbuatanku itu. Tak berapa lama kemudian suara Dila melemah. kakak segera mandi ya karena baju kakak basah kena ompol" Dila menyetujui perjanjian itu. menggulingkan badan dilantai dan memaki dengan katakata kotor. Kali ini menghampiri Dila. Tanpa berkata-kata lagi. Seperti katanya barusan ditelepon. "Kamu capek sekali kelihatannya. Ibu akan 66 . Kurangkul erat tubuhnya. Aku balas menampar Dila hingga meninggalkan bekas merah di pipi kanannya. Pagi ini udara begitu cerah. Mandipun urung dikerjakan. kuseret tangannya sekuat tenaga.

Paham!". liburan yang ke dua kali aku mulai kerasan di sana. Kalau rambutku sudah panjang. Ibu….Setiap liburan SD aku sering menghabiskannya di kampung kalijati. Soalnya asyik banget kalau ke desa itu.. Ketika Aqra' bin Habis At Tamimi mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tapi tak pernah mencium salah seorang diantara mereka. Tiap kali itu terjadi. Ujang sayang Ibu Kafemuslimah. Tapi apa yang dilakukan Dila pada saya. khawatir kalau ia marah. Tapi. Aku bermohon ampunan kepada-Mu atas apa yang telah kulakukan pada keluargaku." ajaknya lembut. Disisi Dila bidadari kecilku. Belaian lembut tangan suamiku menyadarkan aku. Dila tak pernah menceritakan perlakuanku terhadapnya kepada siapapun. Bukhari dan Tirmizi). aku beristighfar berulang kali. Akupun tak pernah menceritakan kepada suami. Tidak hanya pada saya ibunya tapi juga pada ayahnya. Aku sering main ke sana karena dulu ku punya cita-cita jadi tentara. "Sudahlah.kunci kamu lebih lama lagi.com . aku sering menangis karena jarang jauh dari orang tua." Sebuah renungan untuk para ibu (termasuk saya didalamnya). Penduduknya ramah. Selalu ceria. Setiap ke sana aku selalu memandangi lambang divisi siliwangi. Ke lima anaknya laki-laki semua dan ke lima-limanya menjadi tentara. 67 . seakan ada getaran semangat mengalir di dadaku. tidak memperlakukan dia layaknya aku memperlakukan Helmi adiknya. maafkan Ibu nak. yang cuma dua malam. Nggak kayak di jakarta yang loe loe gue gue.. Tapi sayang ku tak berhasil mencapai citacita itu. Beri hamba kesempatan memperbaiki kesalahan dan ingatkan hamba untuk tidak mengulanginya lagi. Ayo kita tidur. bahasanya halus. Rasululloh SAW bersabda "barangsiapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi" (HR. aku bersujud di tengah malam. anak yang keluar dari rahimku sendiri. "Ya Allah. cara suamiku memperlakukan Dila sangat berbeda. Semoga kita semakin menyayangi anak-anak dan memperlakukan mereka dengan baik. Siswi kelas tiga SD itu begitu baik hati. Sebagaimana diingatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW agar manusia menyayangi anak-anaknya. gemar menghibur teman-temannya dengan membacakan mereka buku yang tersedia dirumah. menyisir rambut dan makan. Mungkin ada rencana Allah yang lain untukku. Peristiwa itu tidak hanya satu dua kali terjadi. Subhanallah. entah ia mengerti atau tidak. Aku berusaha menenangkan gemuruh dibatinku. Bahkan teman-temannya merasa kehilangan ketika Dila menginap di rumah neneknya diluar kota. malam semakin larut. cara itulah yang aku lakukan untuk mengatasinya. Tak sadar air mata menyelinap keluar membasahi pipi. melalui Dila. Kuhampiri Dila yang tampak pulas memeluk guling kesayangannya. Engkau didik hambamu ini untuk menjadi ibu yang baik. berkata-kata dengan suara keras dan. kamu banyak memberi pelajaran buat Ibu. Dila. Astaghfirullah. Aku kadang membencinya. Namun. Aku malu menjadi ibunya yang kerap memukul. jawa barat. Seolah ia pendam sendiri dan tak ingin diketahui orang lain. Di sana aku berkenalan dengan sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan lima anak. Bahkan mungkin ada yang lebih keras lagi dari itu. Dila seolah melupakan kejadian itu. Dila hanya menangis meski tidak lagi meraung. Tak apa. Barangkali memang dasarnya aku yang tidak sabar menghadapi anak rewel. Iapun asyik kembali main dengan teman-temannya. pada Dila. Kulepas pelukanku perlahan. Sering ku elus-elus lambang itu. Liburan pertama kali di sana. Aku kalau liburan menginap di rumah bibiku. Setelah rapih berpakaian. Dila anak yang cerdas. sering anak sulung ibu itu tanpa segan mencukur rambutku. Lagi-lagi kearifan suamiku membuatku semakin merasa bersalah.oh Dila maafkan Ibu. "Aku mau tidur dekat Dila ya?" pintaku. dan masih kelihatan gotong royongnya. Kalijati itu sebuah desa yang dekat dengan subang. Padahal Dila itu anak kandungku.

Suatu ketika ada latihan terjun payung. Teman-temannya saat menemani ujang menjenguk ibunya menceritakan pada hal itu padanya. Kalau kamu sudah besar dan menjadi orang. Gimana sih kok kulihat ke lima anaknya rukun sekali dan sayang pada ibunya itu. Ibu itu selalu menampik semua lamaran karena takut lelaki itu hanya cinta pada dirinya bukan pada anaknya. Dari menjual kebun itu. "Ibu…ibuku sayang…kalau ujang nanti sudah besar. ujang pun mengikuti latihan itu. Ibu nggak perlu jualan lagi. Alhamdulillah ia lulus dan mengikuti pendidikan di sekolah itu. Mereka selalu membantu ibunya membuat makanan kecil dan jika pulang sekolah mereka ikut menemani ibunya berjualan. "Tapi ujang akan bantu ibu kalau sudah bekerja !" "Iya jang…iya !" jawab ibunya sambil tersenyum. Ibu di rumah saja yah… biar ujang yang urus ibu dan adik-adik. Si ujang mendengarkan perkataan ibunya sambil menangis terisak-isak. ujang lulus sma. Dari pesawat yang terbang tinggi. ibu itu menjual kebun yang ia punya kepada bibiku. satu persatu peserta melakukan terjun payung. Begini ceritanya … Saat ke lima anak itu masih kecil. Baru tinggal beberapa meter dari tanah. Ada pula yang meneror ibu itu tiap malam dengan mengetuk pintu. Ke lima anaknya pun sangat sayang pada ibunya. aku sering bertanya mengenai perihal tetangga itu. "Aduh ibu…ujang tiap malam selalu mengigau. Dari hasil usahanya berjualan ia pergunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Kami sering mendengar ia sering berteriak dapur ibuku…dapur ibuku…" cerita salah seorang teman ujang pada ibu ujang. Ujang juga akan jaga ibu dari lelaki hidung belang" Ibu itu tersenyum mendengar perkataan anaknya.Besok bisa terlambat sekolah kalau tak tidur sekarang. ujang hanya cedera ringan saja dan hanya di rawat beberapa hari saja di sana. Lalu bibiku menceritakan perihal tetangganya. Sambil membelai rambut anaknya dengan sayang. Dari gajinya.citanya membantu ibunya menyekolahkan adik-adiknya dan memperbaiki dapur ibunya. Lalu ia mengikuti ujian masuk sekolah tentara. ayah mereka telah di panggil Allah SWT. "Sudah sana tidur. " Aih…aih ujang…ujang. Ibu sudah senang kalau melihat kamu sudah bisa mandiri…". SMU Taruna. ia gunakan sebagai modal berdagang makanan kecil. tiba-tiba di matanya ia seperti melihat ibunya sedang memasak di dapur yang atapnya masih rusak dan sering bocor kala hujan. Sebagai peserta didik di sekolah itu.. Jangan pikirkan ibu. Tiba giliran si ujang. ujang menarik tali itu. Seperti halnya janda muda lainnya. ujang akan bekerja. Ujang terjatuh ke tanah. "Selama ibu masih kuat. Untuk biaya hidup keluarganya.Dari berkenalan dengan tetangga bibiku. Segera teman-temannya membawa ujang ke rumah sakit militer. Air mata menetes tanpa sadar dan ujang terlupa untuk menarik tali pembuka parasut. Si anak sulung sering berkata pada ibunya kala beristirahat di malam hari. Ku naon mikirkeun kitu.. Ibu itu meminta bantuan bibiku dan pamanku untuk melindunginya dari teror lelaki hidung belang. banyak lelaki iseng yang mengajukan lamaran padanya. ibu ujang berkata sambil linangan air matanya membasahi pipinya. Alhamdulillah berkat lindungan Allah dan doa ibu. Si ibu itu akhirnya menjadi janda dalam usia muda. Ke empat adiknya pun mengikuti jejak kakaknya menjadi tentara. ibu akan bekerja jang. ibu hanya berharap kamu bisa membantu adik-adikmu.". 68 . Loncat… Ketika sedang melayang di udara. ibu itu berkata."bagja ujang dunia akhirat…semoga ujang jadi anak sholeh…" Ujang akhirnya lulus sekolah tentara dan menjalankan dinasnya di divisi Siliwangi bandung." Singkat cerita. ia bisa melaksanakan cita. buat biayai sekolah kalian.

Pelukannya tak ia lepas-lepas sampai si ujang merasa puas menyampaikan rasa sayang dan rindunya pada sang ibu. Saling mengerubungi ibunya yang sudah mulai tua. ia ciumi. anakku suatu ketika bisa seperti mereka. Para tetangga hanya bisa melihat sambil berlinang air mata. ia peluk ibunya erat-erat.12.2004 Rinduku pada ibu dan adikku di sana… Kunaon mikirkeun kitu : kenapa memikirkan hal itu Bagja ujang dunia akhirat : sejahtera ujang dunia akhirat 69 . Ujang sering membuat malu ibunya di depan tetangga yang berkunjung. ujang ingin selalu melihat ibu tersenyum". ke lima anaknya selalu menjenguk ibunya. Mungkin di hati mereka juga berharap. "Ujang sayang ibu…ujang sayang ibu…ujang sayang ibu…Janganlah ibu menangis. Nürnberg. Ketika datang.Setiap lebaran. Selalu rukun sebagai saudara… Ujang selalu sayang ibu. Berisak-isaklah ibu bersama lima anaknya. yang selalu sayang pada ibunya. 23. Ke empat adiknya pun lalu larut dalam suasana itu. sambil terus berkata di telinga ibunya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->