P. 1
Pengertian Klasifikasi Perkembangan Usia

Pengertian Klasifikasi Perkembangan Usia

|Views: 234|Likes:
Published by RolandPnjsorkes

More info:

Published by: RolandPnjsorkes on Oct 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2015

pdf

text

original

PENGERTIAN KLASIFIKASI PERKEMBANGN USIA Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup panjang.

Untuk tujuan pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya menggambarkan perkembangan dalam pengertian periode atau fase perkembangan. Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan akhir anak anak, masa remaja, masa awal dewasa Perkembangan Masa Pralahir Perkembangan Masa Pralahir Periode pra kelahiran (pre natal period) dimulai pada saat pembuahan (konsepsi) dan berakhir pada saat kelahiran (kira-kira 38 minggu). Selama perkembangan pra kelahiran, manusia mengalami perkembangan yang sangat cepat dalam kehidupannya. Bayangkan bagaimana anda lahir. Dari ratusan sel telur dan jutaan sperma, satu sel telur dan satu sperma bergabung untuk menghasilkan kita semua. Kalau gabungan sperma dan sel telur datang sehari atau bahkan sejam lebih awal atau terlambat, kita mungkin telah menjadi orang yang berbeda bahkan mungkin anda memiliki jenis kelamin yang berbeda. Pembuahan terjadi ketika satu sel sperma tunggal dari laki-laki bergabung dengan satu ovum (sel telur) di dalam saluran indung telur ke dalam kandungan perempuan dalam proses yang di sebut “pembuahan” (fertilization). A. Perkembangan Prakelahiran Proses dinamis dimana satu sel zigot manusia menjadi 100 trilyun sel manusia dewasa mungkin adalah fenomena alam yang paling luar biasa. Saat ini para peneliti tahu bahwa banyak fungsi rutin yang dilakukan tubuh manusia dewasa terbentuk saat masih berada dalam kandungan seringkali lama sebelum kelahiran. Masa perkembangan janin sebelum lahir semakin dikenal sebagai masa persiapan di mana manusia yang sedang tumbuh berkembang memperoleh berbagai struktur, dan mempraktekkan berbagai keahlian, yang dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup setelah lahir. Waktu kelahiran yang tepat cukup sulit untuk diprediksi. Masa pra-kelahiran disebut “pembukaan”, yaitu saat dimana posisi bayi turun menuju leher rahim. Dalam periode ini, kandung kemih tertekan sehingga frekuensi buang air kecil anda semakin meningkat. Masa pra-kelahiran ini berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Kontraksi yang anda alami selama fase pra-kelahiran

dapat menimbulkan dugaan bahwa waktu untuk melahirkan sudah dekat. Hitunglah jarak waktu antara awal satu kontraksi dengan awal kontraksi berikutnya. Kalau frekuensi atau panjangnya tidak teratur, ada kemungkinan anda sedang dalam periode “kelahiran palsu”; jika kontraksi makin sering dan berlangsung lebih dari satu jam, mungkin anda sudah mendekati proses kelahiran. Pada tahap awal melahirkan, kontraksi berlangsung antara 30 sampai 60 detik. Pada saat cukup bulan untuk melahirkan, anda dapat mengalami hal-hal berikut: a. Awal pembukaan leher rahim agar bayi bisa melewatinya dengan mudah. Ketika leher rahim mulai melonggar, akan keluar sebuah gumpalan lendir berdarah yang telah menyumbat leher rahim sepanjang masa hamil. Pecahnya membran ketuban yang biasanya terjadi pada waktu kontraksi berlangsung. b. Pecahnya membran menyebabkan air ketuban menyembur keluar tanpa rasa sakit sedikitpun. Membran ini tidak akan pecah sebelum anda betul-betul akan melahirkan, tetapi bila hal tersebut terjadi, segeralah panggil dokter anda. 1. Rangkaian perkembangan prakelahiran Saat ini ilmuwan membagi perkembangan pra kelahiran (tahap perkembangan embrio) dibagi tiga periode utama : a) tahap germinal (dari pembuahan sampai dua minggu), b) tahap embrio (dua sampai delapan minggu), dan c) tahap fetal (dua sampai sembilan bulan). Rangkaian perkembangan pada umumnya di bagi kedalam 3 periode utama: Germinal, Ebrionis, dan Fetal. a. Periode Germinal Periode awal atau germinal (germinal period) ialah perkembangan pra kelahiran yang berlangsung pada 2 minggu pertama setelah pembuahan. Ini meliputi penciptaan zigot, dilanjutkan dengan pemecahan sel, dan melekatnya zigot ke dinding kandungan. Sekitar seminggu setelah pembuahan, zigot terdiri dari 100 hingga 150 sel. Pemisahan sel telah di mulai ketika lapisan dalam dua lapisan luar organisme terbentuk. Blastocyst ialah lapisan dalam sel yang berkembang selama

periode germinal. Sel-sel ini kemudian berkembang menjadi embrio. Trophoblast ialah lapisan luar sel yang berkembang selama periode germinal. Sel-sel ini kemudian menyediakan gizi dan dukungan bagi embrio. Implantation yakni melekatkan izgot ke dinding kandungan , berlangsung kira-kira 10 hari setelah pembuahan . b. Periode Embrionis Periode Embrionis adalah periode perkembangan prakelahiran yang terjadi dari 2 hingga 8 minggu setelah pembuahan. Selama periode embrionis, angka pemisahan sel meningkat, sistem dukungan bagi sel terbentuk, dan organ – organ mulai tampak. Ketika zigot mendekati dinding peranakan, sel-selnya membentuk dua lapisan. Maka sel sekarang disebut “embrio” . endoderm embrio adalah lapisan dalam sel, yang akan berkembng menjadi system pencernaan dan pernafasan. Lapisan luar sel pecah menjadi dua bagian. Ectoderm ialah lapisan paling luar yang akan menjadi system syaraf. Penerima sensor (telinga, hidung, mata misalnya) dan bagian kulit (rambut dan kuku). Mesoderm ialah lapisan tengah yang akan menjadi system peredaran, tulang, otot, system pembuangan kotoran badan, dan sistem reproduksi. Setiap bagian tubuh pada akhirnya bekembang dari ke tiga lapisan ini. Endoderm umumnya menghasilkan bagian dalam tubuh, mesoderm utamanya menghasilkan bagian – bagian yang mengelilingi wilayah dalam tubuh, dan ectoderm utamanya menghasilkan bagian – bagian permukaan. Ketika ketiga lapisan embrio terbentuk, sistem dukungan kehidupan bagi embrio matang dan berkembang dengan cepat. Sistem dukungan kehidupan ini meliputi ari – ari, tali pusar, dan amnion. Ari – ari (placenta) ialah salah satu sistem dukngan kehidupan yang terdiri dari sekelompok jaringan atau lapisan yang terbentuk disk atau piring yang didalamnya pembuluh darah dari ibu dan anak mengait tetapi tidak menyatu. Tali pusar (umbilicalcord) ialah salah satu sistem dukungan kehidupan yang mengandung dua pembuluh nadi dan satu pembuluh vena yang menghubungkan bayi dengan ari – ari. Molekul – molekul yang sangat kecil udara, air, makanan dari darah ibu dan kotoran dioksida serta kotoran pencernaan dari darah embrio berpindah dari ibu kepada bayi dan dari bayi kepada ibu. Molekul – molekul yang besar tidak dapat berpindah melalui dinding ari – ari ini meliputi sel darah merah dan zat – zat berbahaya seperti kebanyakan bakteri, kotoran itu, dan hormon. Mekanisme yang mengatur perpindahan zat – zat melalui hambatan ari – ari itu kompleks dan masih belum seharusnya dipahami (rosenblith,1992). Amnion adalah suatu keranjang atau amplop yang berisi cairan bening yang di dalamnya embrio yang sedang berkembang mengapung, amnion adalah dulungan

kehidupan yang penting lainnya. Seperti ari – ari dan tali pusar, amnion berkembang dari telur yang di buahi, bukan dari tubuh ibu sendiri. Pada kira – kira usia 16 minggu, ginjal janin mulai memproduksi air kencing. Air kencing janin Ini merupakan sumber utama cairan amniotis hingga trisemester ketiga ketika beberapa cairan di keluarkan dari paru – paru oleh janin yang sedang bertumbuh. Walaupun isi cairan amniotis meningkat sepuluh kali lipat dari usia ke 12 hingga ke 40 minggu keahiran, cairan amniotis ini juga dipindahkan dengan berbagai cara. Sebagian ditelan oleh janin, dan sebagian lagi diserap melalui melalui tali pusar dan selaput yang menutupi ari – ari. Cairan aminotis penting dalam menyediakan suatu lingkungan yang suhu dan kelembabannya terkendali, serta untuk melindungi bayi dari guncangan. Pada minggu ketiga, saluran syaraf yang pada akhirnya menjadi susunan tulang belakang terbentuk. Pada usia kira-kira 21 hari, mata mulai kelihatan, dan pada usia 24 hari sel untuk jantung mulai berpisah. Selama minggu keempat, penampakan pertama sistem saluran kencing alat kemaluan (orogenital) kelihatan, dan kuncup lengan serta kaki muncul. Empat kamar/bilik jantung terbentuk, dan pembuluh darah naik ke pemukaan. Dari minggu ke lima sampai minggu ke delapan lengan dan kaki selanjutnya berpisah pada saat ini wajah mulai berbentuk tetapi belum begitu dapat dikenal. Bidang usus berkembang dan struktur wajah mulia tersusun bersama. Pada usia 8 minggu, organisme yang sedang berkembang itu beratnya kira-kira sepertigapuluh ons dan panjangnya baru 1 inci. Organogenesis ialah proses pembentukan organ yang berlangsung selama dua bulan pertama perkembangan prakelahiran. Ketika organ – organ sedang terbentuk, organ – organ itu sangat rapuh terhadap perubahan – perubahan lingkungan. c. Periode Fetal Periode fetal (fetal period) ialah periode perkembangan prakelahiran yang mulai dua bulan setelah pembuahan dan pada umumnya berlangsung selama 7 bulan. Pertumbuha dan perkembangan melanjutkan rangkaian dramatisnya selama periode ini.3 bulan setelah pembuahan panjang janin kira-kira 3 inci dan beratnya kira-kira 1 ons. Janin semakin aktif, menggerakkan kaki dan tangannya, membuka dan menutup mulutnya dan menggerakkan kepalanya. Wajah, dahi, kelopak mata, hidung, dan dagu dapat dibedakan, demikian pula lengan bagian atas, lengan bagian bawah, tangan, dan tungkai dan lengan bagin bawah, serta alat kemaluan dapat di identifikasi sebagai laki – laki atau perempuan. Pada akhir bulan keempat, janin telah berubah hingga 5,5 inci panjangnya dan beratnya sekitar 4 ons. Pada saat ini, suatu percepatan pertumbuhan terjadi pada tubuh bagian bawah. Refleks

prakelahiran semakin kuat, gerakan – gerakan lengan dan kaki dapat dirasakan untuk pertama kali oleh ibunya. Pada akhir bulan kelima, panjang janin kira-kira 10 hingga 12 inci dan beratnya setengah hingga 1 pon. Struktur kulit sudah terbentuk, kuku jari kaki dan kuku jari tangan misalnya. Janin semakin aktif, yang memperlihatkan keinginan akan suatu posisi tertentu di dalam kandungan. Pada akhir bulan keenam, panjang janin kirakira 14 inci dan beratnya naik setengah hingga satu pon lagi. Mata dan kelopak mata benar-benar terbentuk dan suatu lapisan rambut halus menutup kepala. Reflek menggenggam mucul, dan pernafasan yang belum berurutan terjadi. Pada akhir bulan ketuju panjang janin 14 sampi 17 inci dan naik beberapa pon lagi hingga beratnya sekarang 2,5 hingga 3 pon. Selama bulan kedelapan dan kesembilan, janin bertumbuh lebih panjang dan naik lebih berat, kira-kira 4 pon. Ketika lahir rata – rata bayi amerika beratnya 7 hingga 7,5 pon dan tingginya sekitar 20 inci. Pada dua bulan terakhir lapisan atau jaringan lemak berkembang dan fungsi berbagai sistem organ, jantung dan ginjal. Misalnya berjalan. Ketika telah menggambarkan sejumlah perkembangan dalam periode germinal, embrionis, dan fetal. Suatu tinjauan menyeluruh tentang beberapa perkembangan utama yang kita telah diskusikan dan beberapa perubahan yang lebih spesifik dalam perkembangan prakelahiran. B. Bahaya Perkembangan Prakelahiran Kebanyakan ibu yang sedang hamil memiliki rasa khawatir yang di sebabkan keyakinan bahwa segala seuatu yang mereka lakukan dan rasakan memiliki pengaruh yang langsung terhadap anak mereka yang belum lahir, sementara ibu – ibu yang liannya bersikap biasa yang menganggap bahwa pengalaman mereka hanya akan berpengaruh kecil terhadap bayi mereka. Walaupun si janin hidup di dalam lingkungan yang terlindungi dan nyaman janin tidak benar – benar aman dari dunia luas yang mengelilingi ibunya. Lingkungan dapat mempengaruhi anak dengan berbagai cara. yang sering kita lihat ribuan bayi yang lahir cacat atau terbelakang secara mental setiap tahun merupakan hasil dari peristiwa yang terjadi didalam ibu, 1 atau 2 bulan sebelum pembuahan. a. Penyakit dan kondisi ibu Penyakit atau infeksi yang terjadi pada ibu hamil dapat mengakibatkan kelainan.Penyakit dan infeksi menyebabkan kerusakan seama proses kelahiran itu

sendiri rubella (campak jerman) ialah suatu penyakit ibu yang dapat merusak perkembangan pra kelahiran. Ini dapat menjadikan bayi lahir cacat yang mengakibatkan keterelakangan mental, kebutaan, ketulian dan kelainan jantung. Kerusakan terbesar terjadi ketika ibu teekena rubella pada minggu ketiga dan keempat kehamilan. Sifilis (penyakit yang tertular melalui hubungan kelamin) lebih berbahaya dalam perkembangan pra kelahiran 4 bulan atau lebih setelah pemuahan. Selain mempengaruhi organogenesis seperti yang terjadi pada campak rubella. Sifillis merusak organ setelah organ terbentuk. Kerusakan meliputi luka mata, yang menyeabkan kebutaan dan luka kulit. Ketika sifillis muncul pada saat kelahiran, masalah – masalah lain yang melibatkan sistem saraf pusat dan sistem pencernaan dapat terjadi. Infeksi lain ialah herpes alat kemaluan (genital herpes) . Bayi yang baru lahir terkena virus ini ketika mereka keluar melalui saluran kelahiran dari seorang ibu yang terkena herpes alat keamluan. b. Usia Ibu Bila usia ibu dianggap sebagai factor yang mungkin oyang membahayakan bagi janin dan bayi, dua periode waktu yang amat penting untuk diperhatikan adalah: masa remaja dan pada usia 30 keatas. Sekitar satu dari setiap lima kelahiran terjadi pada remaja. Bayi yang dilahirkan oleh remaja sering premature. Angka kematian bayi yang dilahirkan oleh ibu remaja dua lebih banyak dibanding dengan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang berusia 20 tahun, walaupun gambaran semacam ini kemungkinan mencerminkan ketidak matangan system reproduksi ibu hal itu juga dapat disebabkan gizi yang buruk, kurangnya perawatan prakelahiran dan rendahnya status social ekonomi. Perempuan juga mengalami lebih banyak kesulitan untuk hamil setelah berusia 30 tahun (toth 1991). Dalam suatu investigasi para klien klinik kelahiran Prancis semuanya mempunyai suami yang mandul (Schwartz dan mayaox 1982). Untuk meningkatkan kesempatan mereka memiliki anak mereka diberi inseminasi buatan sekali sebulan selama setahun. Masing – masing perempuan memiliki 12 kesempatan untuk hamil. 75% perempuan berusia 20an tahun hamil, 62% berusia 31-35 hamil dan hanya 54% perempuan berusia diatas 35 tahun hamil. Ketika perempuan tetap aktif berolahraga secara teratur dan berhati – hati dengan gizi mereka, system reproduksi mereka tetap dapat lebih sehat pada usia tua dari

pada yang mungkin dipikirkan dimasa lalu. Sebenarnya yang akan kita lihat nanti gizi ibu mempengaruhi perkembangan prakelahiran. c. Obat-Obatan Beberapa perempuan hamil memakan obat – obatan, merokok dan minum alcohol tanpa berpikir tentang kemungkinan dampaknya kepada janin. Kadang-kadang sejumlah bayi cacat karena obat yang dikondumsi ibunya merusak janin yang sedang berkembang. Meminum – minuman keras oleh perempuan hamil juga dapat merusak anak (Coles, Platzmal dan Smith 1991, Jansen dan Nanson 1993). Sindrom alcohol janin (Fetal alcohol sindrom, FAS) ialah sekelompok keabnormalan yang tampak pada anak dari ibu yang minum banyak alcohol selama kehamilan. Keabnormalan itu meliputi kecacatan wajah, tungkai dan lengan, wajah dan jantung yang rusak. Kebanyakan anak – anak intelejensinya dibawah rata – rata dan beberapa terbelakang secara mental. Walaupun tidak ada kecacatan seurius seperti kecacatan yang disebabkan oleh sindrom alcohol janin ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang tidak banyak minum, dalm suatu investigasi bayi yang ibunya minum alcohol dalam jumlah sedang selama kehamilan kurang dapat memberi perhatian dan kurang awas yang dampaknya masih ada sanpai pada usia 4 tahun. Dari pembahasan tentang perkembangan masa prenatal tadi, dapat disimpulkan bahwa manusia mengalami perkembangan sejak sebelum dilahirkan (masih dalam kandungan) atau biasa disebut dengan periode prenatal. Rangkaian perkembangan pada umumnya di bagi kedalam 3 periode utama: Periode Germinal; ialah perkembangan pra kelahiran yang berlangsung pada 2 minggu pertama setelah pembuahan. Ebrionis; perkembangan prakelahiran yang terjadi dari 2 hingga 8 minggu setelah pembuahan.dan Fetal; perkembangan prakelahiran yang mulai dua bulan setelah pembuahan dan pada umumnya berlangsung selama 7 bulan. Calon ibu harus memperhatikan masalah kesehatannya, diantaranya ialah asupan gizi yang terkandung pada makanan yang ia makan. Ia harus mempelajari bagaimana caranya merawat bayi, harus bisa melahirkan bayi itu dengan cara normal dan harus melahirkan bayi yang sehat pula. Wanita itu harus belajar dan mengetahui apa yang terjadi atas diri wanita itu dan apa yang kemungkinannya bisa terjadi kelak.Perawatan sebelum kelahiran bayi ini telah banyak sekali mengurangi angka kematian bayi maupun kaum ibu yang melahirkan.

Periode masa bayi neonatal penyesuaian diri dengan lingkungan di luar rahim ibu2 Minggu pertama Pembagian Masa Bayi Neonatal Periode Partunate Mulai saat kelahiran s/d 15 & 30 menit sesudah kelahiran. Periode ini bermula dari keluarnya janin dari rahim ibu dan berakhir setelah tali pusar dipotong dan diikat. Sampai saat ini dilakukan, bayi masih merupakan pascamatur, yaitu lingkungan di luar tubuh ibu. Periode Neonate Dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai sekitar minggu ke-2 dari kehidupan pascamatur. Selama periode ini bayi harus melakukan penyesuaian pada lingkungan baru di luar tubuh ibu.

Ciri-ciri Bayi Neonatal Masa Bayi neonatal merupakan periode tersingkat dari semua periode perkembangan penyesuaian du luar rahimSejak lahir – mg II penyesuaian akan berakhir setelah pusar lepasKriteria medis penyesuaian berakhir pada saatKriteria fisiologis bayi gemuk kembali setelah kehilangan berat badan setelah dilahirkan penyesuaian berakhir setelahKriteria Psikologis bayi lebih lama penyesuaianmenunjukkan tanda perkembangan perilaku, kecuali yang sulit lahir atau prematur 2. Masa bayi neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian yang radikal Kelahiran terjadi peralihan dari lingkungan gangguan pada pola perkembangan  perlu penyesuaian diridalam ke lingkungan luar 3. Masa bayi neonatal merupakan masa BB↓, kurang sehat.terhantinya perkembangan dan pertumbuhan yang pesat. Terjadi sedikit kemunduran

4. Masa bayi neonatal merupakan pendahuluan dari perkembangan selanjutnya. Perkembangan bayi neonatal dapat memberi petunjuk tentang apa yang diharapkan terjadi selanjutnya. 5. Masa bayi neonatal merupakan periode berbahaya karena kesulitan

penyesuaianyang berbahaya. Secara fisik diri dengan cepat pada lingkungan yang sangat baru & berbeda tingginya tingkat kematian bayi. saat terbentuk sikap dari orang yang berarti (bgmn penyesuaianbayiSecara psikologis & orang tua) Penyesuaian pokok yang dilakukan bayi pada kehidupan pascanatalneonatal Penyesuaian yang harus dilakukan secara cepat yang mencakup Perubahan suhu Pneumonia Flu Di dalam rahim suhu tetap 100F, di RS atau dirumah 60-70F 2. Bernafas Tali pusar diputus bayi harus diberi oksigenmulai bernafas sendiri. Kesulitan bernafas 3. Menghisap dan menelan Bayi harus menghisap dan menelan sendiri makanan tidak melalui tali pusar BB turun sering tidak cukup mendapat makanan  tercekik lagi 4. Pembuangan alat pembuangan mulai berfungsi (sebelumnya melalui tali pusar)Segera setelah lahir Kondisi Penting yang mempengaruhi bayi pada pascanatal Lingkungan Pranatal Perawatan mempengarhui perkembangan janin,ibu yang kurang baik selama hamil mempengaruhi penyesuaian dirikomplikasi pada persalinan bayi lahir prematur, meninggal waktu lahir atau hari-hari pertama lahirIbu kurang gizi janin hiperaktifTekanan yang kuat pada ibu 2. Sikap orang tua Sikap orang tua yang menyenangkan akan mendorong penyesuaian yang baik pada bayi interaksi orangtua dan bayi tidak ditandai ketegangan emosional atau kegelisahan. air susu lebih banyak.Sikap ibu yang tenang mempengaruhi sikap ibu tidak langsung Sikap ayah cara ayah menghadapi/merawatSecara langsung bayi. dipengaruhi sikap dariSikap orang tua periode pranatal 3. Perawatan Pascanatal Perhatian yang diterima bayi, jenis & banyaknya rangsangan serta derajat kepercayaan orang tua terhadap tugasnya. 4. Pengalaman yang berhubungan dengan persalinan

5. 6. Lama Periode Kehamilan

Jenis

Persalinan

Ciri-Ciri Masa Awal Kanak-Kanak Filed Under (Psikologi Anak) by Fitri on 19-11-2008 Ciri-Ciri Masa Awal Kanak-Kanak Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap tahap perkembangan, begitu juga pada saat masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciriciri tertentu, menurut Hurlock (1980:108) ciri itu tercermin dalam sebutan yang biasa diberikan oleh para orang tua, pendidik, da ahli psikologi: a) Sebutan Yang Digunakan Orang Tua. Ada beberapa sebutan untuk menggambarkan masa kanakkanan, sebutan tersbeut berkisar tentang perilaku dan aktivitas yang dilakukan anak-anak, pada sebagian besar orang tua menganggap awal masa pada kanakkanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal ialah karena anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Selain itu pada sebagian orang tua juga menganggap usia awal kanak-kanak sebagai usia mainan karena anak mudah menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan mainannya. b) Sebutan Yang digunakan Para Pendidik. Sedangkan para pendidik menyebut usia awal kanak-kanak sebagai usia prasekolah, usia pra sekolah adalah usia yang belum memasuki usia sekolah atau masih berada di taman kanak-kanak, kelompok bermain, atau penitipan anak-anak. c) Sebutan Yang Digunakan Ahli Psikologi. Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun awal masa kanak-kanak. Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa di mana anak-anak mempelajari dasar-dasar prilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar diseputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi yang melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan anak ingin mngetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya, ini termasuk manusia dan benda mati. Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini adalah meniru pembicaraan dan perilaku orang

lain, oleh karena itu periode ini juga disebut usia meniru. Namun kecenderungan ini nampak kuat tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan masa-masa lain dalam kehidupannya, dengan alasan ini para ahli psikologi juga menamakan periode ini sebagai usia kreatif. Menurut Yusuf (2002) pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik; a) Masa Vital. Pada masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan anak memasukkan apa saja yang dijumpai ke dalam mulutnya itu, tidaklah karena mulut sumber kenikmatan utama, tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi (penelitian) dan belajar. b) Masa Estetik. Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Kata estetik di sini dalam arti bahwa pada masa ini, perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca inderanya. Kegiatan eksploitasi dan belajar anak terutama menggunakan panca inderanya, pada masa ini, indera masih peka, karena itu Montessori menciptakan bermacam-macam alat permainan untuk melatih panca inderanya.

KARAKTERISTIK PSIKOMOTOR Kognitif

PERKEMBANGAN

KOGNITIF,

AFEKTIF

DAN

Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif ke dalam empat periode, yaitu: 1. 0-2 tahun disebut sebagai periode kepandaian sensori-motorik (sesorimotorik) Periode ini terbagi atas 6 tahapan, antara lain: Tahap 1. (lahir-1 bulan) penggunaan refleks-refleks

Anak membangun (mengkonstruk) skema-skema (skema adalah struktur tindakan bayi) lewat aktivitas anak sendiri. Skema pertama dipengaruhi oleh refleks bawaan. Adapun contoh refleks bawaan yang sangat jelas pada bayi yaitu refleks untuk menghisap, bayi otomatis akan menghisap kapan pun bibir mereka disentuh. Anisiasi, bayi mencari puting susu ibu sendiri ketika baru lahir. Meskipun demikian gerak refleks tersebut memiliki kepasifan tertentu sehingga perlu distimulasi. Namun sekali skema terbentuk maka kita juga memiliki kebutuhan untuk membuatnya aktif. Contoh bayi akan terus menerus melakukan gerakan refleks menghisap walaupun tidak ada yang memicu gerak refleks tersebut. Tidak hanya gerak refleks menghisap putting susu, tetapi juga menghisap bantal, pakaian, selimut, jari tangan, dsb. Bayi mengasimilasi (memasukkan sesuatu) semua jenis objek menjadi skema menghisap. Bayi belajar untuk mengorganisasikan gerakan-gerakan tubuh agar proses perawatan menjadi lebih lembut, cepat, dan efisien. Contohnya, bayi belajar menyesuaikan gerakan kepala dan bibir untuk menemukan putting susu. Ciri ini disebut dengan permulaan akomodasi (membuat perubahan dalam struktur kita). Ciri lain adalah bayi tidak memiliki konsepsi objek apapun di luar dirinya. Misalnya, jika seseorang/objek meninggalkan wilayah pandangnya, maka bayi tidak berusaha mencari, bayi akan mengamati yang lain yang ada dalam wilayah pandangnya. Bagi bayi, yang diluar pandangnya berarti di luar pikirannya. Tahap 2. (1-4 bulan) reaksi-reaksi sirkuler primer Ciri tahap ini sama dengan tahap pertama yaitu bayi tidak memiliki konsepsi objek apapun diluar dirinya. Namun pada tahap ini pula bayi menghadapi suatu pengalaman baru dan berusaha untuk mengulanginya. Misalnya, tangan bayi yang secara tidak sengaja menyentuh mulutnya, ketika tangan itu jatuh, bayi berusaha untuk menangkap tangannya agar dapat melakukan kegiatan yang sama sebelumnya. Walaupun kadang anak merasa kesulitan, tangan memukul wajah, tangan berputar agar menyentuh mulut, bayi mengejar tangannya namun tidak dapat karena seluruh tubuhnya bergerak termasuk kaki dan tangan kearah yang sama. Bayi pada tahap ini belajar untuk mengorganisasikan dua gerakan tubuh yang sebelumnya terpisah. Misalnya bayi mengkoordinasikan pengamatan dan gerakan tangan, anak perempuan yang berulang-ulang meletakkan tangan pada wajah dan menatapnya. Bayi berusaha mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang terpisah hanya setelah mengalami banyak kegagalan. Tahapan ini melibatkan koordinasi bagian-bagian tubuh bayi sendiri. Tahap 3. (4-10 bulan) reaksi-reaksi sirkuler sekunder

Tahap ini terjadi ketika bayi menemukan dan menghasilkan kembali peristiwa menarik di luar dirinya. Contoh, bayi yang berusaha untuk menggapai mainan gantung yang ada diatasnya. Bayi akan berusaha untuk menggerakkan mainan tersebut sampai bergoyang secara berulang-ulang. Jika telah berhasil maka bayi akan terus mengulanginya kegiatan tersebut dan sering tertawa kecil jika mainan tersebut bergoyang. Pada masa ini bayi tengah menikmati kekuatannya sendiri yaitu kemampuan untuk membuat suatu peristiwa terjadi berulang-ulang, membuat pemandangan yang menarik bertahan selamanya. Anak menunjukkan satu tindakan tunggal untuk mencapai sebuah hasil. Tahapan ini ditandai dengan ketertarikan anak akan dunia eksternal. Bayi mencapai pengertian yang lebih baik tentang permanensi hal-hal eksternal. Misalnya, jika benda dijatuhkan kebawah, bayi berusaha untuk melihat ketempat dimana benda tersebut jatuh. Walaupun bayi pada tahap ini dapat menemukan objek-objek yang tersembunyi sebagian namun ia tidak bisa menemukan objek yang disembunyikan seluruhnya oleh orang lain. Tahap 4. (10-12 bulan) koordinasi skema-skema sekunder Pada tahap ini anak belajar untuk mengkordinasikan dua skema terpisah demi mendapatkan hasil. Pencapaian baru ini terlihat ketika bayi berhadapan dengan rintangan-rintangan. Misalnya, bayi yang ingin memeluk mainan, namun ada penghalang diantara mainan tersebut sehingga tidak dapat dipeluk. Bayi akan berusaha untuk mendapatkan mainan dengan berbagai cara. Pada akhirnya bayi dapat memeluk mainan ketika bayi mengibaskan rintangan tersebut. mengibaskan rintangan adalah satu skema, memeluk mainan adalah bentuk skema kedua. Tahapan ini juga ditandai dengan pengertian sejati permanensi objek. Pada tahapan ini bayi dapat menemukan objek-objek yang tersembunyi seluruhnya, namun belum bisa mengikuti pengacakan (pergerakan dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian lain). Misalnya, ketika objek disembunyikan di tempat A, anak dapat menemukan objek tersebut, namun jika objek tersebut disembunyikan di tempat B, anak tetap mencarinya di tempat A. Tahap 5. (12-18 bulan) reaksi-reaksi sirkuler tersier Pada tahap ini anak bereksperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda-beda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. Contohnya, seorang anak tertarik dengan meja baru yang dibeli ayahnya. Anak tersebut memukul meja dengan telapak tangannya beberapa kali, kadang keras, kadang lembut. Ini terus dilakukan karena anak mendengarkan perbedaan bunyi yang dihasilkan oleh tindakannya itu. Anak-anak sesungguhnya belajar dari diri mereka sendiri, tanpa perlu diajari orang dewasa. Anak mengembangkan skema semata-mata karena keingintahuan

instrinsik tentang dunia. Anak menjadi ilmuwan kecil, membuat variasi tindakan dan mengamati hasil-hasilnya. Semua penemuan itu terjadi lewat tindakantindakan fisik. Tahap ini pula menunjukkan anak bisa mengikuti serangkaian pemindahan, namun selama mereka melihat kita melakukannya. Misalnya, anak dapat menemukan bola yang disembunyikan di tempat A dan B selama anak melihat proses pemindahan tersebut. Tahap 6. (18 bulan-2 tahun) permulaan berpikir Pada tahap ini anak mulai memikirkan situasi secara lebih internal, sebelum bertindak.Jika pada tahap 5 anak mencoba memecahkan masalah dengan cobacoba (trial and error) maka pada tahap ini anak dapat memikirkan sejenak cara untuk menyelesaikan masalah. Contoh, anak yang ingin mengeluarkan bola pada kotak mainan. Pada awalnya anak mencoba untuk membuka dengan berbagai cara, karena tidak berhasil, maka anak diam sejenak untuk mengamati kotak tersebut. Anak melihat ada sedikit celah pada kotak, kemudian tangannya masuk melalui celah tersebut dan ia memperoleh bola yang diinginkan. Kemajuan pada tahap ini dilihat juga sebagai upaya untuk berimitasi terhadap model-model yang sudah ada dan imitasi yang tertunda yaitu model yang tidak hadir lagi. Misalnya, ketika ani melihat seorang anak laki-laki yang berteriak dengan keras sambil membuang kotak mainannya, kemudian mendorong kotak tersebut dan menendangkan kaki ketanah, tingkah laku ini sangat mengagetkan ani, karena belum pernah dilihat sebelumnya. Keesokan harinya ani juga melakukan hal yang sama terhadap kotak mainannya dengan keterbatasan kosa kata untuk merepresentasikan tindakan anak tersebut. Kemudian ani menggunakan beberapa bentuk representasi motorik dengan gerakan-gerakan otot ringkas seperti apa yang dilihatnya. Tahapan ini ditunjukkan pula pada kemampuan anak dapat mengikuti serangkaian pemindahan yang tidak tampak. Misalnya, seorang anak dapat menemukan bola yang menggelinding dibawah kursi dengan cara memutari kursi tersebut, dan mengambilnya. Secara keseluruhan awal periode ini, anak tidak memiliki pengertian tentang objekobjek yang independen dari pandangannya maka pada akhir periode ini anak sudah mampu memandang objek terpisah-pisah dan permanen. Anak sudah mampu mengembangkan pengertian yang jelas tentang dirinya sebagai makluk yang independen. Anak telah mengembangkan tindakan-tindakan yang efisien dan terorganisasikan dengan baik untuk menghadapi lingkungannya. 2. 2-7 tahun disebut sebagai periode pikiran operasional (praoperasional konkret)

Ciri periode ini yaitu:
  

Pikiran anak berkembang cepat ke sebuah tatanan baru, yaitu simbol-simbol. Pikiran anak pada dasarnya tidak sistematis dan tidak logis. Anak-anak mulai menggunakan simbol-simbol ketika menggunakan sebuah objek atau tindakan untuk merepresentasikan sesuatu yang tidak hadir. Simbol-simbol pertama bersifat motorik, bukan linguistik. Misalnya, ketika anak berusaha membuka kotak mainan, anak menggerak-gerakkan otot mulutnya untuk merepresentasikan sebuah tindakan yang belum dapat dilakukan. Bahasa mulai berkembang pada tahapan ini. Anak menggunakan kata-kata untuk merekonstruksi peristiwa yang tidak hadir lagi, sesuatu yang dari masa lalunya. Kata-kata tidak digunakan untuk sebagai objek yang benar, melainkan sebagai pra-konsepsi. Misalnya, seorang anak menceritakan kepada ayahnya, “mama pergi, burung terbang, ade pergi”. Penalaran anak transduktif (berpindah dari hal-hal khusus ke hal khusus lainnya) terlihat dari ketidakmampuan anak untuk mengkategorikan secara umum. Misalnya, aku belum minum susu, berarti ini belum siang, dan belum waktunya untuk tidur siang. Padahal siang hari tidak hanya ditandai dengan minum susu, namun banyak peristiwa lain. Anak-anak gagal untuk mengkonversi. anak hanya memusatkan pada satu dimensi. Misalnya, anak diminta untuk memilih gelas yang paling banyak berisi air pada dua tabung yang berbeda namun memiliki jumlah volume yang sama. Anak cenderung untuk memilih gelas yang lebih tinggi atau yang lebih lebar. Pada dasarnya anak sanggup mengambil satu langkah maju menuju pengkonversian namun tidak bisa mencapainya. Anak sebenarnya telah memahami adanya dua dimensi perceptual (regulasi intuitif), namun belum bisa memikirkan keberadaan keduanya secara serempak sehingga baginya perubahan pada satu dimensi membatalkan perubahan pada dimensi lainnya. Misalnya, ketika anak ditanya volume yang lebih banyak dari dua gelas yang berbeda namun berisi sama. Pada awalnya anak menjawab gelas yang tinggi kemudian ia mengganti jawabannya dengan gelas yang lebih rendah, dan kemudian anak bingung sendiri untuk menentukan mana yang lebih banyak. Anak belum mampu mengklasifikasi. Misalnya ada 10 kancing dari kayu. 8 kancing berwarna coklat dan 2 kancing berwarna putih. Ketika anak ditanya “lebih banyak mana, kancing berwarna coklat atau seluruh kancing kayu yang ada?” Anak menjawab kancing coklat, tanpa menyadari bahwa kancing coklat dan kancing putih adalah bagian dalam kancing kayu.

 

Anak berpikir egosentrisme, menganggap segala sesuatu berasal dari satu titik pandang saja. Anak tidak mampu membedakan perspektifnya sendiri dari perspektif orang lain. Anak belum memahami arti kemenangan. Anak menganggap kalau aku menang, kamu menang juga. Anak beranggapan bahwa benda tidak hidup, adalah benda hidup juga (keberjiwaan dunia = world animistic). Misalnya, ketika anak ditanya “apakah matahari hidup?” anak akan menjawab ya karena ia memberikan cahaya. Dia hidup karena memberikan cahaya, dan tidak hidup ketika tidak mampu memberikan cahaya”. Anak beranggapan bahwa mimpi itu nyata dan dapat dilihat oleh orang lain. Mimpi itu dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari luar (dari malam atau langit, lewat jendela dari cahaya-cahaya di luar). Anak memiliki kepatuhan yang membuta pada aturan-aturan yang dipaksakan orang dewasa (heteronomy moral).

3. 7-11 tahun disebut sebagai periode operasi-operasi berpikir konkret (operasional konkret) Ciri periode ini, yaitu:

 

Anak sudah memahami pengkonversian zat cair. Anak mengkonversi menggunakan tiga argument yaitu argument identitas, kompensatif, dan inversi. Misalnya, ketika anak mampu menjawab dengan benar cairan yang lebih banyak. Anak menjawab “kita tidak menambahkan atau mengurangi apapun, jadi mestinya jumlah cairan ini tetap sama” ini disebut sebagai argument identitas. Jika jawaban anak “gelas ini memang lebih tinggi dan yang lain lebih lebar, meskipun begitu jumlah cairannya tetap sama” ini disebut sebagai argument kompensatif. Jika jawaban anak “isinya masih sama karena kita bisa menuang kembali cairan itu ke tempat yang semula” ini disebut dengan argument inversi. Rangkaian argument ini merupakan rangkaian tindakan mental yang dapat dibalikkan. Anak memahami bukan hanya perubahan yang terlihat oleh mata, namun juga perubahan kompensatoris. Anak menyadari perbedaan perspektif masing-masing orang. Anak sudah mampu bekerja sama. Anak berusaha mengikuti peraturanperaturan permainan dan berusaha menang mengikuti peraturan tersebut. Berangsur-angsur anak meninggalkan label hidup pada objek-objek yang bergerak, dan melabelkannya pada tumbuhan dan hewan. Anak menyadari kalau mimpi bukan hanya tidak nyata, namun juga tidak terlihat dari luar, berasal dari dalam.

Anak mampu memahami dua aspek suatu persoalan secara serempak membentuk landasan bagi pemikiran sosial sekaligus pemikiran ilmiah. Anak mampu berpikir sistematis berdasarkan tindakan mentalnya (mengacu pada objek-objek yang bisa diindera dan aktivitas riil). Dalam interaksi sosial anak memahami bukan hanya apa yang mereka katakana tetapi juga kebutuhan pendengarnya.

4. 11 tahun sampai dewasa disebut sebagai periode operasi berpikir formal (operasional formal) Pada tahapan ini remaja mulai menata pikiran hanya di dalam pikiran mereka sendiri. Kemampuan untuk menalar terkait dengan kemungkinan-kemungkinan hipotesis. Bekerja dengan sistematis untuk mencoba semua kemungkinan. Beberapa orang ada yang mencoba beragam kombinasi/percobaan namun kemudian mencoba untuk menulis dahulu kemungkinan-kemunginan yang ada sebelum bertindak lebih jauh. Esensi dari penalaran ini adalah pemikiran sistematis tentang hipotesis-hipotesis. Pikiran mencapai derajat kesetimbangan tertinggi. Mulai memikirkan masalah-masalah yang lebih jauh jangkauannya. Kekuatan baru kognitif bisa mengarah pada idealisme, memegang prinsip-prinsip dan ideal-ideal yang abstrak. Egosentrisme pada tahap ini muncul kembali ketika melekatkan kekuatan tak terbatas pada pikiran mereka sendiri. Mimpi tentang masa depan tanpa mengetesnya pada pikiran yang realistis. Namun kemudian belajar batasanbatasan dan resistensi bagi pikiran-pikiran mereka sendiri. Mereka belajar bahwa konstruksi teoritis dan mimpi (visi utopian = tujuan tertentu yang sulit untuk diwujudkan) akan bernilai jika terkait dengan bagaimana keduanya beroperasi dalam realitas. Afektif Afektif menurut kamus besar bahasa indoensia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta; mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi; mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan (tentang tata bahasa atau makna). Pentahapan psikososial manusia menurut Erikson; 1. Tahap oral (0-1 tahun) Pada tahap ini zona utamanya adalah mulut dan aktivitas inderawi. Tahapan ini secara umum disebut sebagai tahap kepercayaan versus ketidakpercayaan mendasar. Bayi berusaha untuk menemukan sejumlah konsistensi, prediksi dan realibilitas dalam tindakan pengasuhan. Jika orang tua cukup konsisten dan dapat

diandalkan maka bayi mulai mengembangkan kepercayaan mendasar kepada orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dipercaya sehingga tidak akan pernah hadir jika dibutuhkan maka yang berkembang adalah rasa tidak percaya. Bayi yang bisa menyeimbangkan rasa percaya dan tidak percaya ini dengan berhasil maka akan muncul harapan. Harapan sebagai sebuah ekspektasi yang sekalipun terdapat rasa frustasi, marah atau kecewa, hal-hal yang baik tetap akan terjadi dimasa depan. Harapan akan memampukan anak bergerak maju ke dunia luar, menyambut tantangan baru. 2. Tahap anal (1-3 tahun) Pada tahap ini anak memperoleh kontrol atas otot-otot perutnya sehingga dapat menahan atau menghilangkan dorongan untuk buang hajat sesuai kehendak mereka. Bentuk dasar tahapan ini adalah menahan atau melepaskan. Tahapan umum pada tahapan ini adalah otonomu versus rasa malu dan ragu-ragu. Anak berusaha melatih kemampuan memilih, melatih kehendak mereka (otonomi). Penekanan yang kuat terhadap kata “tidak”, anak menolak semua kontrol eksternal atas dirinya. Bagi orang tua anak tidak boleh mengatakan tidak, karena mereka hidup dalam masyarakat dan harus menghargai keinginan orang lain. Otonomi muncul dari dalam sebagai sebuah pendewasaan biologis yang mengembangkan kemampuan anak untuk melakukan segala hal dengan caranya sendiri. Sedangkan rasa malu dan ragu-ragu muncul dari kesadaran akan ekspektasi dan tekanan sosial, kesadaran bahwa dirinya tidak begitu berkuasa sehingga orang tua dapat mengontrol dan bertindak lebih baik dari dia. Bagi anak yang mampu menyeimbangkan rasio otonomi dan rasa malu dan ragu-ragu maka akan muncul kehendak yang kokoh. Kehendak sebagai kebulatan tekad yang tidak bisa dipatahkan untuk melatih pilihan bebas dan pengendalian diri. Kemampuan pengendalian diri yang percaya bahwa pernting bagi anak untuk belajar mengontrol impuls mereka sendiri dan menentukan apa yang tidak pantas dilakukan. Jadi anak yang harus berinisiatif demikian bukan kekuatan eksternal. 3. Tahap falik (3-6 tahun) Pada tahap ini anak memfokuskan ketertarikannya pada alat kelaminnya dan menjadi sangat ingin tahu organ kelaminnya. Anak juga sudah mulai membayangkan dirinya dalam peran orang dewasa, bahkan berani bersaing dengan salah satu orang tuanya untuk memperoleh kasih sayang. Bentuk utama tahap ini adalah intrusi yaitu keberanian, keingintahuan dan persaingan dalam diri anak. Tahapan umum dalam tahap ini yaitu inisiatif versus rasa bersalah. Inisiatif yang berarti sama dengan intrusi, berarti pergerakan kedepan. Lewat inisiatif anak

membuat rencana, menetapkan tujuan, dan mempunyai semangat untuk mencapainya, yang pada akhirnya membentuk ambisi tertentu. Namun dalam perjalannya anak mendapati bahwa ambisi tersebut melanggar aturan sosial yang ada dalam masyarakat sehingga rasa bersalah itu muncul pengendalian diri yang baru dimana anak berusaha untuk mencari cara menghubungkan ambisi dengan tujuan sosial. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memperlunak otoritas dan memperbolehkan anak berpartisipasi untuk menghadapi kehidupan. Lewat cara inilah maka penyimbangan terhadap inisiatif dan rasa bersalah dapat membentuk “tujuan” yaitu keberanian untuk memimpikan dan mengejar tujuan yang bernilai. 4. Tahap latensi (6-11 tahun) Pada tahap ini anak belajar untuk menguasai kemampuan kognitif dan sosial yang penting. Tahap umum dalam tahapan ini adalah industry versus inferioritas. Anak melupakan harapan dan keingian masa lalu, yang seringkali merupakan harapan dan keinginan keluarganya, dan sangat ingin mempelajari kemampuan budaya masyarakat (industri). Anak belajar untuk bekerja sama dan bermain bersama teman sebayanya. Keinginan ini kemudian dibatasi dengan perasaan berlebihlebihan karena ketidaktepatan dan inferioritas. Inferior yang terlalu mendalam akan berakar dan menyebabkan anak tidak memperoleh talentanya. Misalnya, olok-olok dan rasa sakit hati pada masa sekolah akan membentuk anak untuk tidak berhasil memperoleh dirinya dengan penuh. Guru dapat menyelesaikan konflik ini dengan membentuk rasa percaya terhadap diri fan dihargai komunitas. Keberhasilan menyeimbangkan industry dan inferioritas menghasilkan kompetensi, yaitu sebuah latihan intelegensia dan kemampuan secara bebas dalam menyelesaikan tugas, tanpa diganggu perasaan inferioritas yang berlebihan. 5. Tahap genital (11 tahun – dewasa) Pada tahap ini remaja membangun pembahaman baru mengenai dirinya, perasaan tentang dirinya dan apa tempatnya di tatanan sosial yang lebih besar. Tahap utama dalam pentahapan ini adalah identitas versus kebingungan peran. Remaja mencari identitas dirinya, merasa bahwa implus-implus tidak dapat menyatu dengan dirinya, dan pertumbuhan fisik yang sangat cepat telah menciptakan rasa kebingungan identitas. Untuk alasan inilah maka banyak remaja yang menghabiskan banyak waktunya didepan kaca dan memperhatikan penampilannya. Upaya ini dilakukan untuk menghilangkan ketakutannya tidak terlihat baik atau tidak memenuhi harapan orang lain. Ketidakpastian remaja akan dirinya, diidentifikasi dengan masuknya remaja dalam geng tertentu yang dianggap dapat menjelaskan dirinya yang sebenarnya. Remaja membentu identitasnya dengan

pengidentifikasian, yang secara tidak sadar dilihat dari identifikasi diri yang tampak pada kita sehingga menjadikan diri kita seperti mereka. Oleh kerena itu untuk dapat menemukan diri sendiri seharusnya remaja melakukan penarikan diri (moratorium psikososial). Pencarian diri tersebut kemudian membawa remaja pada komitmen permanen sehingga keberhasilan pada tahap ini membentuk kesetiaan yaitu sebuah kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang sudah dinanti sejak dulu. Psikomotor Psikomotor secara harfiah berarti sesuatu yang berkenaan dengan gerak fisik yang berkaitan dengan proses mental (kamus besar bahasa Indonesia). Adapun tahapan perkembangan motorik adalah sebagai berikut; 1. Tahap gerakan refleks (0- 1 tahun) Bentuk gerakan pada tahapan ini tidak direncanakan, merupakan dasar dari perkembangan motorik. Melalui gerak refleks bayi memperoleh informasi tentang lingkungannya, seperti reaksi terhadap sentuhan, cahaya, suara. Gerakan ini berkaitan dengan meningkatnya pengalaman anak untuk mengenal dunia pada bulan-bulan pertama mengenal kehidupan setelah kelahiran. Oleh karena itu kegiatan bermain sangat penting untuk menolong anak belajar teng dirinya dan dunia luar. Tahapan gerak refleks terbagi atas dua bentuk yaitu; 1. Refleks sederhana (0-4 bulan) Gerak ini dikelompokkan sebagai kumpulan informasi, mencari makanan, dan respon melindungi. Mengumpulkan informasi membutuhkan rangsangan untuk berkembang. Kemampuan mencari makanan dan respon melindungi merupakan bentuk alami yang dimiliki manusia. contoh geak refleks sederhana seperti, bertumbuh dan menghisap. 2. Refleks tubuh (4 bulan – 1 tahun) Refleks ini berkaitan dengan saraf motorik untuk keseimbangan, gerakan berpindah (lokomotor) dan manipulative (menjalankan) yang kemudian akan terkontrol. Refleks langkah dasar dan merangkak terkait dengan gerakan dasar untuk berjalan.

Perkembangan motorik pada tahap refleks terdiri pula dalam dua tingkatan yang saling bertindihan, yaitu tingkat encoding (mengumpulkan) informasi dan decoding (memproses) informasi. Pembagian ini pada dasarnya sama dengan gerak refleks sederhana dan refleks tubuh. 2. Tahap gerakan permulaan (lahir-2 tahun) Gerak permulaan ini merupakan bentuk gerak sukarela yang pertama. Dimulai dari lahir sampai usia 2 tahun. Gerakan permulaan membutuhkan kematangan dan berkembang berurutan. Urutan ini terbentuk alami. Rata-rata kemampuan ini didapat dari anak ke anak, meskipun secara biologis, dan lingkungan sangat berperan. Gerakan ini ada sebagai kemampuan untuk bertahan hidup dan merupakan gerakan yang mempersiapkan anak untuk memasuki tahap gerakan dasar. Beberapa gerakan keseimbangan seperti mengontrol kepala, leher, dan otot badan. Gerakan manipulative seperti menggapai, menggenggam, dan melepaskan; dan gerakan lokomotor seperti, merayap, merangkak, dan berjalan. Gerakan ini terbagi atas dua tahapan, yaitu; 1. Tahap refleks tertahan (lahir-1 tahun) Tahap ini dimulai dari lahir. Peningkatan gerakan bayi ini dipengaruhi oleh perkembangan cortex. Pada tahap ini gerakan sederhana dan gerakan tubuh digantikan dengan gerakan sukarela, namun berbeda dan terpadu karena saraf motorik bayi masih dalam taraf gerakan permulaan. Jika bayi ingin menggapai benda, mereka akan melakukan gerakan menyeluruh yang dilakukan tangan, lengan, bahu, dan ketika menggenggam. Proses bergeraknya tangan dengan penglihatan terhadap objek, meskipun sukarela, namun terkontrol. 2. Tahap prekontrol (1 – 2 tahun) Usia 1 tahun, anak mulai lebih baik mengontrol gerakannya. Proses ini menggabungkan antara sensori dan sistem motorik dan memadukan persepsi dan informasi motorik kedalam kegiatan yang lebih bermakna. Pada tahap ini, anak belajar untuk dapat menyokong equilibriumnya, untuk memanipulasi objek, dan untuk melakukan gerakan lokomotor melalui lingkungan untuk mengontrol perkembangannya. 3. Tahap gerakan dasar (2-7 tahun) Gerakan ini muncul ketika anak aktif bereksplorasi dan bereksperimen dengan potensi gerak yang dimilikinya. Tahap ini merupakan tahap menemukan

bagaimana menunjukkan berbagai gerak keseimbangan, lokomotor dan manipulative, maupun penggabungan ketiga gerakan tersebut. anak mengembangkan gerakan dasar ini untuk belajar bagaimana merespon kontrol motorik dan kompetensi gerakan dari berbagai rangsangan. Gerakan dasar ini juga digunakan sebagai dasar pengamatan tingkah laku anak. Beberapa kegiatan lokomotor seperti melempar dan menangkap, dan kegiatan keseimbangan seperti berjalan lurus dan keseimbangan berdiri dengan satu kaki merupakan gerakan yang dapat dikembangkan semasa kanak-kanak. Tahap ini terbagi atas 3 tingkat, yaitu; 1. Tingkat permulaan (2-3 tahun) Tingkatan ini menunjukkan orientasi tujuan pertama anak pada kemampuan permulaan. Gerakan ini dicirikan dengan kesalahan dan kegagalan bagian gerakan secara berurutan, kelihatan membatasi atau berlebihan menggunakan anggota tubuh, tidak mampu mengikuti ritmk dan koordinasi. Gerakan keseimbangan, lokomotor, dan manipulative benar-benar pada tingkat permulaan. 2. Tingkat elementary (4-5 tahun) Tingkatan ini menunjukkan kontrol yang lebih baik dan gerakan permulaan koordinasi ritmik yang lebih baik pula. Gerak spasial dan temporal lebih meningkat, namun secara umum masih kelihatan membatasi atau berlebihan, meskipun koordinasi lebih baik. Intelegensi dan fungsi fisik anak semakin meningkat melalui proses kematangan. 3. Tingkat mature (6-7 tahun) Tingkatan ini dicirikan oleh efisiensi secara mekanik, koordinasi dan penampilan yang terkontrol. Keahlian manipulative semakin berkembang dalam mengkoordinasi secara visual dan motorik, seperti menangkap, menendang, bermain voli, dsb). 4. Tahap gerakan keahlian (7-14 tahun) Tahapan ini merupakan tahap gerakan yang semakin bervariasi dan kompleks, seperti gerakan sehari-hari, rekreaasi dan olahraga baru. Periode ini merupakan tahap dimana keahlian keseimbangan dasar, gerak lokomotor dan manipulative meningkat, berkombinasi, dan terelaborasi dalam berbagai situasi. Misalnya gerakan dasar melompat dan meloncat, dikombinasikan kedalam kegiatan menari atau lompat-jongkok-berjalan dalam mngikuti jejak. Tahapan ini terbagi atas 3 tahap, yaitu;

1. Tahap transisi (7-10 tahun) Tahap ini indivdu mulai mengkombinasi dan mengunakan kemampuan dasarnya dalam kegiatan olahraga. Misalnya, berjalan mengikuti garis lurus, lompat tali, bermain bola, dll. Keahlian pada tahap ini lebih kompleks dan spesifik. 2. Tahap aplikasi (11-13 tahun) Pada tahap ini anak memiliki keterbatasn dalam kemampuan kognitif, afektif dan pengalaman, dikombinasikan dengan keaktifan anak secara alami mempengaruhi semua aktivitasnya. Peningkatan kognitif dan pengalaman anak dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk belajar dan peran anak dalam berbagai jenis aktifitas, indivudu dan lingkungan. Keahlian kompleks dibentuk dan digunakan dalam pertandingan, kegiatan memimpin dan memilih olahraga. 3. Tahap lifelong utilisasi (14 tahun sampai dewasa) Tahapan ini merupakan puncak proses perkembangan motorik dan dicirikan dengan gerakan yang sering dilakukan sehari-hari. Minat, kompetensi, dan pilihan mempengaruhi, selain faktor uang dan waktu, peralatan dan fasilitas, fisik dan mental, bakat, kesempatan, kondisi fisik dan motivasi pribadi. Daftar pustaka William Crain. Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Pustaka pelajar; 2007, Yogyakarta Martini Jamaris. Perkembangan dan pengembangan anak usia taman kanak-kanak. Grasindo; 2006, Grasindo Carol E catron & jan allen. Early childhood curriculum. Prantice hall: 1999, USA Tim prima pena. Kamus besar bahasa Indonesia. Gitamedia press: Jakarta S.C Utami Munandar. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah. Grasindo; 1992, Jakarta Gallahue, David. L, Understanding Motor Development. USA. W.CB. McGraw. Hill. Co Inc. 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->