WE D N E S D A Y , J UN E 27, 2007

Keluarga Sakinah Dalam Masalah
Keluarga Sakinah Dalam Masalah
Oleh: Mochamad Bugi
Kita saat ini ada di tengah arus deras pergeseran nilai sosial dalam
masyarakat kita. Pergeseran nilai sosial tampak pada kecenderungan
makin permisifnya keluarga-keluarga di masyarakat kita. Keluarga tidak
lagi dilihat sebagai ikatan spiritual yang menjadi medium ibadah
kepada Sang Pencipta. Kawin-cerai hanya dilihat sebatas proses formal
sebagai kontrak sosial antara dua insan yang berbeda jenis. Perkawinan
kehilangan makna sakral dimana Allah menjadi saksi atas ijab-kabul
yang terjadi.
Ini bertolak belakang dengan adagium yang menyatakan keluarga
adalah garda terdepan dalam membangun masa depan bangsa
peradaban dunia. Dari rahim keluarga lahir berbagai gagasan perubahan
dalam menata tatanan masyarakat yang lebih baik. Tidak ada satu
bangsa pun yang maju dalam kondisi sosial keluarga yang kering
spiritual, atau bahkan sama sekali sudah tidak lagi mengindahkan
makna religiusitas dalam hidupnya. Karena itu, Al-Qur’an memuat
ajaran tentang keluarga begitu komprehensif, mulai dari urusan
komunikasi antar individu dalam keluarga hingga relasi sosial antar
keluarga dalam masyarakat.
Banyak memang problema yang biasa dihadapi keluarga. Tidak sedikit
keluarga yang menyerah atas “derita” yang sebetulnya diciptakannya
sendiri. Di antaranya memilih perceraian sebagai penyelesaian.
Kasus-kasus faktual tentang itu ada semua di masyarakat kita. Dan,
masih banyak lagi kegelisahan yang melilit keluarga-keluarga di
masyarakat kita. Namun, umumnya kegelisahan itu diakibatkan oleh
menurunnya kemampuan mereka menemukan alternatif ketika
menghadapi masalah yang tidak dikehendaki. Karena itu, menjadi
penting bagi kita untuk mencari kunci yang bisa mengokohkan bangun
keluarga kita dari hempasan arus zaman yang serba menggelisahkan.
Dan, kata kunci itu adalah sakinah.
Makna Sakinah
Istilah “sakinah” digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan
kenyamanan keluarga. Istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan
“sakanun” yang berarti tempat tinggal. Jadi, mudah dipahami memang
jika istilah itu digunakan Al-Qur’an untuk menyebut tempat
berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan
tenang, sehingga menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih
(mawaddah wa rahmah) di antara sesama anggotanya.
About Me
Abu Azka
View my
complete profile
My Site URL
Panduan Membelanjakan Harta
Pasang radiobox ini!
Keluarkan radiobox (pop up)
Streaming Radio Suara Al-Iman
900AM
Klik kotak di atas untuk
mendengarkan Radio Suara
Al-Iman 900 AM Surabaya secara
online.
Berbagi Laporkan Penyalahgunaan Blog Berikut» Buat Blog Masuk
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m...
1 of 6 7/8/2011 9:03 AM
Di Al-Qur’an ada ayat yang memuat kata “sakinah”. Pertama, surah
Al-Baqarah ayat 248.
َ لاَ ق َ و ْ مُ ھ
َ
ل ْ مُ ھ´ ي
ِ
بَ ن ´ ن
ِ
إ
َ
ةَ ي
َ
آ ِ هِ ك
ْ
لُ م ْ ن
َ
أ ُ م
ُ
كَ يِ ت
ْ
أَ ي ُ توُ با
´
تلا ِ هيِف
ٌ
ةَ ني ِ كَ س ْ نِ م ْ م
ُ
ك ب َ ر
ٌ
ة´ يِقَ ب َ و ا´ مِ م َ كَ رَ ت ُ ل
َ
آ ىَ سوُ م ُ ل
َ
آ َ و َ نوُ راَ ھ
ُ ه
ُ
ل ِ م ْ حَ ت
ُ
ةَ كِ ئ
َ
`َ م
ْ
لا ´ ن
ِ
إ يِف َ كِل
َ
ذ
ً
ةَ ي
َ َ
` ْ م
ُ
ك
َ
ل ْ ن
ِ
إ ْ م
ُ
ت
ْ
ن
ُ
ك يِ ن ِ م ْ ؤُ م
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia
akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya
terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga
Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat.”
Tabut adalah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa
ketenangan bagi mereka. ayat di atas menyebut, di dalam peti tersebut
terdapat ketenangan –yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut sakinah.
Jadi, menurut ayat itu sakinah adalah tempat yang tenang, nyaman,
aman, kondusif bagi penyimpanan sesuatu, termasuk tempat tinggal
yang tenang bagi manusia.
Kedua, al-sakinah disebut dalam surah Al-Fath ayat 4.
َ وُ ھ يِ ذ
´
لا َ ل َ ز
ْ
ن
َ
أ
َ
ةَ ني ِ ك´ سلا يِف ِ بو
ُ
ل
ُ
ق َ نيِ ن ِ م ْ ؤُ م
ْ
لا اوُ دا َ د
ْ
زَ يِل ا
ً
ناَ مي
ِ
إ َ عَ م ْ م
ِ
ھِناَ مي
ِ
إ ِ
´
ِ ~ َ و ُ دو
ُ
ن ُ ج ِ تا َ واَ م´ سلا ِ ض ْ ر
َ ْ
`ا َ و َ ناَ ك َ و
ُ
´
~ اً ميِل َ ع ح
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan
mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan
bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Di ayat itu, kata sakinah diterjemahkan sebagai ketenangan yang
sengaja Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin. Ketenangan
ini merupakan suasana psikologis yang melekat pada setiap individu
yang mampu melakukannya. Ketenangan adalah suasana batin yang
hanya bisa diciptakan sendiri. Tidak ada jaminan seseorang dapat
menciptakan suasana tenang bagi orang lain.
Jadi, kata “sakinah” yang digunakan untuk menyifati kata “keluarga”
merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak
dalam membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan
kenyamanan dunia sekaligus memberikan jaminan keselamatan akhirat.
Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi setiap
anggota keluarga. Keluarga menjadi tempat kembali ke mana pun
anggotanya pergi. Mereka merasa nyaman di dalamnya, dan penuh
percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam
masyarakat.
Dengan cara pandang itu, kita bisa pastikan bahwa akar kasus-kasus
yang banyak melilit kehidupan keluarga di masyarakat kita adalah
karena rumah sudah tidak lagi nyaman untuk dijadikan tempat kembali.
Suami tidak lagi menemukan suasana nyaman di dalam rumah, demikian
pula istri. Bahkan, anak-anak sekarang lebih mudah menemukan
suasana nyaman di luar rumah. Maka, sakinah menjadi hajat kita
semua. Sebab, sakinah adalah konsep keluarga yang dapat memberikan
kenyamanan psikologis –meski kadang secara fisik tampak jauh di
bawah standar nyaman.
Membangun Kenyamanan Keluarga
Click to join Muslim_LW
Create a no obligation e-gold account
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m...
2 of 6 7/8/2011 9:03 AM
Kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara
bersama-sama. Tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Melalui proses
panjang, setiap anggota keluarga saling menemukan kekurangan dan
kelebihan masing-masing. Penemuan itulah yang harus menjadi ruang
untuk saling mencari keseimbangan. Makanya, keluarga sekolah yang
tiada batas waktu. Di sama terjadi proses pembelajaran secara terus
menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi kedua belah
pihak, baik suami-istri, maupun anak-orangtua.
Proses belajar itu akan mengungkap berbagai misteri keluarga.
Lebih-lebih ketika kita akan belajar tentang baik-buruk kehidupan
keluarga dan rumah tangga. Tidak banyak buku yang memberi solusi
jitu atas problema keluarga. Sebab, ilmu membina keluarga lebih
banyak diperoleh dari pengalaman. Maka tak heran jika keluarga sering
diilustrasikan sebagai perahu yang berlayar melawan badai samudra.
Kita dapat belajar dari pengalaman siapa pun. Pengalaman pribadi
untuk tidak mengulangi kegagalan, atau juga pengalaman orang lain
selama tidak merugikan pelaku pengalaman itu.
Masalah demi masalah yang dilalui dalam perjalanan sejak pertama kali
menikah adalah pelajaran berharga. Kita dapat belajar dari pengalaman
orang tentang memilih pasangan ideal, menelusuri kewajiban-kewajiban
yang mengikat suami-istri, atau tentang penyelesaian masalah yang
biasa dihadapi keluarga. Semuanya sulit kita dapat dari buku. Hanya
kita temukan pada buku kehidupan. Bagaimana kita dapat memahami
istri yang gemar buka rahasia, atau menghadapi suami yang
berkemampuan seksual tidak biasa. Dan masih banyak lagi masalah
keluarga yang seringkali sulit ditemukan jalan penyelesaiannya. Jadi,
memang tepat jika rumah tangga itu diibaratkan perahu, sebab tak
henti-hentinya menghadapi badai di tengah samudra luas kehidupan.
Rumah tangga juga dua sisi dari keping uang yang sama: bisa menjadi
tambang derita yang menyengsarakan, sekaligus menjadi taman surga
yang mencerahkan. Kedua sisi itu rapat berhimpitan satu sama lain. Sisi
yang satu datang pada waktu tertentu, sedang sisi lainnya datang
menyusul kemudian. Yang satu membawa petaka, yang lainnya
mengajak tertawa. Tentu saja, siapa pun berharap rumah tangga yang
dijalani adalah rumah tangga yang memancarkan pantulan cinta kasih
dari setiap sudutnya. Rumah tangga yang benar-benar menghadirkan
atmosfir surga: keindahan, kedamaian, dan keagungan. Ini adalah
rumah tangga dengan seorang nakhoda yang pandai menyiasati
perubahan.
Rumah menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas
cinta kasih yang diperankan oleh setiap penghuninya. Rumah juga
menjadi tempat sentral kembalinya setiap anggota keluarga setelah
melalui pengembaraan panjang di tempat mengadu nasibnya masing-
masing. Hanya ada satu tempat kembali, baik bagi anak, ibu, maupun
bapak, yaitu rumah yang mereka rasakan sebagai surga. Bayangkan,
setiap hari jatuh cinta. Anak selalu merindukan orang tua, demikian
pula sebaliknya. Betapa indahnya taman rumah tangga itu. Sebab, yang
ada hanya cinta dan kebaikan. Kebaikan inilah yang sejatinya menjadi
pakaian sehari-hari keluarga. Dengan pakaian ini pula rumah tangga
akan melaju menempuh badai sebesar apapun. Betapa indahnya
kehidupan ketika ia hanya berwajah kebaikan. Betapa bahagianya
keluarga ketika ia hanya berwajah kebahagiaan.
Surabaya, Indonesia
7 Shaban 1432
July 8, 2011
Help
Download Mobile Azan
Day Friday
Fajr 4:28
Sunrise 5:42
Dhuhr 11:35
Asr 2:56
Maghrib 5:26
Isha 6:36
Free Azan Software
Search

Links :
Asuransi Syariah Takaful Indonesia
(Pertama Murni Syariah)
Asuransi Syariah Takaful - Wikipedia
Bahasa Arab Online
Bank Muamalat Indonesia (Pertama
Murni Syariah)
Boycott Yahudi or Israel
Cek Tagihan PLN
Cek Tagihan Telkom
Download Gratis
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
Islamic Development Bank (IDB)
Indonesia
Kajian Islam Ilmiah
Kerajaan Arab Saudi
Langsing dan Sehat dalam 45 menit
Media Iklan Gratis
Syariah Online
RA dan MI/ TK dan SD Islam
Blog Archive
▼ 2007 (16)
► December (1)
► November (1)
► September (1)
► July (2)
▼ June (11)
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m...
3 of 6 7/8/2011 9:03 AM
Tetapi, kehidupan rumah tangga acapkali menghadirkan hal yang
sebaliknya. Bukan kebaikan yang datang berkunjung, melainkan
malapetaka yang kerap merundung. Suami menjadi bahan gunjingan
istri, demikian pula sebaliknya. Anak tidak lagi merindukan orang tua,
dan orang tua pun tidak lagi peduli akan masa depan anaknya. Bila
sudah demikian halnya, bukan surga lagi yang datang, melainkan neraka
yang siap untuk membakar. Benar, orang tua tidak punya hak
membesarkan jiwa anak-anaknya, dan mereka hanya boleh
membesarkan raganya. Tapi raga adalah cermin keharmonisan
komunikasi yang akan berpengaruh pada masa depan jiwa dan
kepribadian mereka.
Lunturnya Semangat Sakinah
Membangun sakinah dalam keluarga, memang tidak mudah. Ia
merupakan bentangan proses yang sering menemui badai. Untuk
menemukan formulanya pun bukan hal yang sederhana. Kasus-kasus
keluarga yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran penting
dan menjadi motif bagi kita untuk berusaha keras mewujudkan
indahnya keluarga sakinah di rumah kita.
Ketika seseorang tersedu mengeluhkan sepenggal kalimat, “Suami saya
akhir-akhir ini jarang pulang”, tidak sulit kita cerna maksud utama
kalimatnya. Sebab, kita menemukan banyak kasus yang hampir sama,
atau bahkan persis sama, dengan kasus yang menimpa wanita
pengungkap penggalan kalimat tadi.
Penggalan kalimat di atas bukan satu-satunya masalah yang banyak
dikeluhkan istri. Masih banyak. Tapi kalau ditelusuri akar masalahnya
sama: “tidak tahan menghadapi godaan”. Godaan itu bisa datang
kepada suami, bisa juga menggedor jagat batin istri. Karena godaan itu
pula, siapa pun bisa membuat seribu satu alasan. Ada yang
mengatakannya sudah tidak harmonis, tidak bisa saling memahami,
ingin mendapat keturunan, atau tidak pernah cinta.
Payahnya, semakin hari godaan akibat pergeseran nilai sosial semakin
menggelombang dan menghantam. Sementara, ketahanan keluarga
semakin rapuh karena ketidakpastian pegangan. Maka, kita dapati
kasus-kasus di mana seorang ibu kehilangan kepercayaan anak dan
suaminya. Seorang bapak yang tidak lagi berwibawa di hadapan anak
dan istrinya. Anak yang lebih erat dengan ikatan komunitas sebayanya.
Bapak berebut otoritas dalam keluarga dengan istrinya, serta istri yang
tidak berhenti memperjuangkan hak kesetaraan di hadapan suami.
Semua punya argumentasi untuk membenarkan posisinya. Semua tidak
merasa ada yang salah dengan semua kenyataan yang semakin
memprihatinkan itu.
Tapi benarkah perubahan zaman menjadi sebab utama terjadinya
pergeseran nilai dalam rumah tangga? Lalu, mengapa keluarga kita
tidak lagi sanggup bertahan dengan norma-norma dan jati diri keluarga
kita yang asli? Bukankah orang tua-orang tua kita telah membuktikan
bahwa norma-norma yang mereka anut telah berhasil mengantarkan
mereka membentuk keluarga normal dan berbudaya, bahkan berhasil
membentuk diri kita yang seperti sekarang ini? Lantas, kenapa kita
harus larut dengan segala riuh-gelisah perubahan zaman yang kadang
membingungkan?
Mendidik Anak Cara Nabi
Ibrahim
Keluarga Sakinah Dalam
Masalah
4 Kunci Rumah Tangga
Harmonis
Agar Pernikahan Membawa
Berkah
Hukum Menikahi Orang Musyrik
dan Ahlul Kitab
Menikah, Kenapa Takut?
13 Hal Yang Disukai Pria Dari
Wanita
Kualitas Keluarga Sakinah
Membentuk Keluarga Sakinah
wa Rahmah
KELUARGA SAKINAH
Syarat untuk menjadi keluarga
sakinah
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m...
4 of 6 7/8/2011 9:03 AM
Transformasi budaya memang tidak mudah, bahkan tidak mungkin, kita
hindari. Arusnya deras masuk ke rumah kita lewat media informasi dan
komunikasi. Kini, setiap sajian budaya yang kita konsumsi dari waktu ke
waktu, diam-diam telah menjadi standar nilai masyarakat kita. Ukuran
baik-buruk tidak lagi bersumber pada moralitas universal yang
berlandaskan agama, tapi lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai
artifisial yang dibentuk untuk tujuan pragmatis dan bahkan hedonis.
Tanpa kita sadari, nilai-nilai itu kini telah membentuk perilaku sosial
dan menjadi anutan keluarga dan masyarakat kita. Banyak problema
keluarga yang muncul di sekitar kita umumnya menggambarkan
kegelisahan yang diwarnai oleh semakin lunturnya nilai-nilai agama dan
budaya masyarakat. Masyarakat kini seolah telah berubah menjadi
“masyarakat baru” dengan wujud yang semakin kabur.
Gaya hidup remaja yang berujung pada fenomena MBA (married by
accident) telah jadi model terbaru yang digemari banyak pasangan.
Pernikahan yang dianjurkan Nabi menjadi jalan terakhir setelah
menemukan jalan buntu. Sementara perceraian yang dibenci Nabi justru
menjadi pilihan yang banyak ditempuh untuk menemukan solusi singkat.
Kenyataan ini merupakan bagian kecil dari proses modernisasi kehidupan
yang berlangsung tanpa kendali etika. Akibatnya, struktur fungsi yang
sejatinya diperankan oleh masing-masing anggota keluarga tampak
semakin kabur.
Seorang anak kehilangan pegangan. Ibu-bapaknya terlalu sibuk untuk
sekadar menyapa anak-anaknya. Anak pun dewasa dengan harus
menemukan jalan hidupnya sendiri. Mencari sendiri ke mana harus
memperoleh pengetahuan, dan harus mendiskusikan sendiri siapa calon
pendampingnya. Semuanya berjalan sendiri-sendiri. Padahal, jika
sendi-sendi keluarga itu telah kehilangan daya perekatnya dan masing-
masing telah menemukan jalan hidupnya yang berbeda-beda, maka
bangunan “baiti jannati”, rumahku adalah surgaku, akan semakin
menjauh dari kenyataan. Itu menjadi mimpi yang semakin sulit
terwujud. Bahkan, menjadi mimpi yang tidak pernah terpikirkan. Yang
ada hanyalah “neraka” yang tidak henti-hentinya membakar suasana
rumah tangga.
Satu lagi yang sering menjadi akar bencana keluarga, yaitu anak. Dunia
anak adalah dunia yang lebih banyak diwarnai oleh proses pencarian
untuk menemukan apa-apa yang menurut perasaan dan pikirannya ideal.
Dunia ideal sendiri, baginya, adalah dunia yang ada di depan matanya,
yang karenanya ia akan melakukan pengejaran atas dasar kehendak
pribadi. Akan tetapi, di sisi lain, perkembangan psikologis yang sedang
dilaluinya juga masih belum mampu memberikan alternatif secara
matang terutama berkaitan dengan standar nilai yang dikehendakinya.
Karena itu, selama proses yang dilaluinya, hampir selalu ditemukan
berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan lingkungan tempat di mana
anak itu berkembang. Di sinilah proses bimbingan itu diperlukan,
terutama dalam ikut menemukan apa yang sesungguhnya mereka
butuhkan.
Guru di sekolah ataupun orang tua di rumah, secara tidak sadar,
seringkali menjadi sosok yang begitu dominan dalam menentukan masa
depan anak. Padahal, guru ataupun orang tua bukanlah segala-galanya
bagi perkembangan dan masa depan anak. Proses pendidikan, dengan
demikian, pada dasarnya merupakan proses bimbingan yang
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m...
5 of 6 7/8/2011 9:03 AM
Posted by Abu Azka at 1:49 AM
Newer Post Older Post
memerdekakan sekaligus mencerahkan. Proses seperti itu berlangsung
alamiah dalam kehidupan yang bebas dari ikatan-ikatan yang justru
tidak mendidik. Dalam kerangka seperti inilah, maka keluarga bisa
berperan sebagai lembaga yang membimbing dan mencerahkan, atau
juga sebaliknya. Jika tidak tepat memainkan peran yang sesungguhnya,
bisa saja berfungsi sebagai penjara yang hanya mampu menanamkan
disiplin semu. Anak-anak bisa menjadi manusia yang paling shalih di
rumah, tetapi menjadi binatang liar ketika keluar dari dinding-dinding
rumah dan terbebas dari pengawasan orang tua.
Dalam situasi seperti inilah, anak mulai mencari kesempatan untuk
memenuhi kebuntuan komunikasi yang dirasakannya semakin kering dan
terbatas. Sebab berkomunikasi untuk saling menyambungkan rasa antar
anggota keluarga merupakan kebutuhan dasar yang menuntut untuk
selalu dipenuhi. Konsekuensinya, ketidaktersediaan aspek ini dalam
keluarga dapat berakibat pada munculnya ketidakseimbangan psikologi
yang pada gilirannya dapat saja mengakibatkan terjadinya
penyimpangan-penyimpangan sosial seperti apa yang terjadi di
masyarakat sekitar kita. Inilah di antara kerusakan akibat lunturnya
atmosfir sakinah dalam keluarga.
1 comments:
Post a Comment
Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)
ade said...
Terima kasih anda telah menuliskan artikel arti sakinah dalam
keluarga. It's completely useful at least from my side.
Semoga ilmu anda ini diberikan imbalan yang sebesar2nya oleh
Allah. :) salam- Anggrek
December 18, 2009 12:41 AM
Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m...
6 of 6 7/8/2011 9:03 AM

com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m. Ketenangan adalah suasana batin yang hanya bisa diciptakan sendiri. al-sakinah disebut dalam surah Al-Fath ayat 4. surah Al-Baqarah ayat 248. Di Al-Qur’an ada ayat yang memuat kata “sakinah”.” Tabut adalah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka. Sebab. Suami tidak lagi menemukan suasana nyaman di dalam rumah. Keluarga menjadi tempat kembali ke mana pun anggotanya pergi. menurut ayat itu sakinah adalah tempat yang tenang. sakinah adalah konsep keluarga yang dapat memberikan kenyamanan psikologis –meski kadang secara fisik tampak jauh di bawah standar nyaman. Bahkan. di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.blogspot. dan penuh percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam masyarakat. Maka. Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. sakinah menjadi hajat kita semua. kondusif bagi penyimpanan sesuatu. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi setiap anggota keluarga. Ketenangan ini merupakan suasana psikologis yang melekat pada setiap individu yang mampu melakukannya. Dengan cara pandang itu. Jadi. tabut itu dibawa oleh Malaikat. kita bisa pastikan bahwa akar kasus-kasus yang banyak melilit kehidupan keluarga di masyarakat kita adalah karena rumah sudah tidak lagi nyaman untuk dijadikan tempat kembali. Tidak ada jaminan seseorang dapat menciptakan suasana tenang bagi orang lain.. ُ ُ َ َ‫و َ ل َ ُم َ ِ ُم إِن آَ َ َ ُ ْ ِ ِ أَنْ َ ْ ِ َ ُم ا ُوت ِ ِ َ ِ َ ٌ ِنْ رَ ُم و َ ِ ٌ ِ َ رَ ك آَل ُو َ وآَل ھ رُون‬ َ ُ َ َ ْ ْ ْ َ َ ُ َ ُ ْ ُ ْ‫َ ْ ِ ُ ُ ا ْ َ َ ِ َ ُ إِن ِ ذ ِك َ َ َ ً َ ُم إِن‬ ْ ْ ِ ِ ‫م ُؤ‬ َ ْ Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja. di dalam peti tersebut terdapat ketenangan –yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut sakinah. Mereka merasa nyaman di dalamnya. َ‫َ وات وا ْ َرْ ض و َ ن‬ َ ِ َ ِ َ ‫ُ َِ ً ح‬ ْ ُ ْ ِ ‫ُ ُوب ا ْ ُؤ ِ ِ نَ ِ َزدَ ادُوا إِ َ ً َ َ إِ َ ِ ِ م و ِ ِ ُ ُود ا‬ َ ْ ِ ََ ِ ‫ھُو ا ذِي أَ ْ زل ا‬ َ َ َ Click to join Muslim_LW Create a no obligation e-gold account Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Jadi. Pertama.Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga. Membangun Kenyamanan Keluarga 2 of 6 7/8/2011 9:03 AM . nyaman. ialah kembalinya tabut kepadamu. termasuk tempat tinggal yang tenang bagi manusia. Kedua. kata “sakinah” yang digunakan untuk menyifati kata “keluarga” merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak dalam membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan kenyamanan dunia sekaligus memberikan jaminan keselamatan akhirat. kata sakinah diterjemahkan sebagai ketenangan yang sengaja Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin. demikian pula istri. anak-anak sekarang lebih mudah menemukan suasana nyaman di luar rumah. Di ayat itu.. ayat di atas menyebut. aman.

Sisi yang satu datang pada waktu tertentu. setiap hari jatuh cinta. Masalah demi masalah yang dilalui dalam perjalanan sejak pertama kali menikah adalah pelajaran berharga. Rumah juga menjadi tempat sentral kembalinya setiap anggota keluarga setelah melalui pengembaraan panjang di tempat mengadu nasibnya masingmasing. Hanya kita temukan pada buku kehidupan. setiap anggota keluarga saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. sedang sisi lainnya datang menyusul kemudian.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m. Tentu saja. sebab tak henti-hentinya menghadapi badai di tengah samudra luas kehidupan. Sebab.blogspot. Ini adalah rumah tangga dengan seorang nakhoda yang pandai menyiasati perubahan. Bagaimana kita dapat memahami istri yang gemar buka rahasia. yang ada hanya cinta dan kebaikan.. siapa pun berharap rumah tangga yang dijalani adalah rumah tangga yang memancarkan pantulan cinta kasih dari setiap sudutnya. Makanya. maupun anak-orangtua. Betapa bahagianya keluarga ketika ia hanya berwajah kebahagiaan. Kedua sisi itu rapat berhimpitan satu sama lain. Indonesia Kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara bersama-sama. Di sama terjadi proses pembelajaran secara terus menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi kedua belah pihak. 2011 Help Download Mobile Azan Day Friday Fajr 4:28 Sunrise 5:42 Dhuhr 11:35 Asr 2:56 Maghrib 5:26 Isha 6:36 Free Azan Software Search Links : Asuransi Syariah Takaful Indonesia (Pertama Murni Syariah) Asuransi Syariah Takaful . baik suami-istri. Betapa indahnya kehidupan ketika ia hanya berwajah kebaikan. Bayangkan. Tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Melalui proses panjang. ilmu membina keluarga lebih banyak diperoleh dari pengalaman. ibu. yaitu rumah yang mereka rasakan sebagai surga. 7 Shaban 1432 July 8. menelusuri kewajiban-kewajiban yang mengikat suami-istri. Yang satu membawa petaka. baik bagi anak. maupun bapak. Rumah tangga yang benar-benar menghadirkan atmosfir surga: keindahan. atau tentang penyelesaian masalah yang biasa dihadapi keluarga. dan keagungan. Maka tak heran jika keluarga sering diilustrasikan sebagai perahu yang berlayar melawan badai samudra.. sekaligus menjadi taman surga yang mencerahkan. Jadi. atau menghadapi suami yang berkemampuan seksual tidak biasa. atau juga pengalaman orang lain selama tidak merugikan pelaku pengalaman itu. memang tepat jika rumah tangga itu diibaratkan perahu. Kita dapat belajar dari pengalaman orang tentang memilih pasangan ideal. demikian pula sebaliknya. Kebaikan inilah yang sejatinya menjadi pakaian sehari-hari keluarga. Sebab. kedamaian.Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga. Kita dapat belajar dari pengalaman siapa pun. Pengalaman pribadi untuk tidak mengulangi kegagalan. Anak selalu merindukan orang tua. keluarga sekolah yang tiada batas waktu. Tidak banyak buku yang memberi solusi jitu atas problema keluarga. Surabaya. Hanya ada satu tempat kembali. Lebih-lebih ketika kita akan belajar tentang baik-buruk kehidupan keluarga dan rumah tangga. Dan masih banyak lagi masalah keluarga yang seringkali sulit ditemukan jalan penyelesaiannya. Penemuan itulah yang harus menjadi ruang untuk saling mencari keseimbangan.Wikipedia Bahasa Arab Online Bank Muamalat Indonesia (Pertama Murni Syariah) Boycott Yahudi or Israel Cek Tagihan PLN Cek Tagihan Telkom Download Gratis Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Islamic Development Bank (IDB) Indonesia Kajian Islam Ilmiah Kerajaan Arab Saudi Langsing dan Sehat dalam 45 menit Media Iklan Gratis Syariah Online RA dan MI/ TK dan SD Islam Blog Archive ▼ 2007 (16) ► December (1) ► November (1) ► September (1) ► July (2) ▼ June (11) 3 of 6 7/8/2011 9:03 AM . Rumah tangga juga dua sisi dari keping uang yang sama: bisa menjadi tambang derita yang menyengsarakan. yang lainnya mengajak tertawa. Betapa indahnya taman rumah tangga itu. Semuanya sulit kita dapat dari buku. Rumah menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas cinta kasih yang diperankan oleh setiap penghuninya. Dengan pakaian ini pula rumah tangga akan melaju menempuh badai sebesar apapun. Proses belajar itu akan mengungkap berbagai misteri keluarga.

dan mereka hanya boleh membesarkan raganya. ketahanan keluarga semakin rapuh karena ketidakpastian pegangan. Semua tidak merasa ada yang salah dengan semua kenyataan yang semakin memprihatinkan itu. Karena godaan itu pula. Benar. Kasus-kasus keluarga yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran penting dan menjadi motif bagi kita untuk berusaha keras mewujudkan indahnya keluarga sakinah di rumah kita. melainkan neraka yang siap untuk membakar. Suami menjadi bahan gunjingan istri. Bila sudah demikian halnya. Ia merupakan bentangan proses yang sering menemui badai. kehidupan rumah tangga acapkali menghadirkan hal yang sebaliknya. Bukan kebaikan yang datang berkunjung. kita dapati kasus-kasus di mana seorang ibu kehilangan kepercayaan anak dan suaminya. Tapi kalau ditelusuri akar masalahnya sama: “tidak tahan menghadapi godaan”. kita menemukan banyak kasus yang hampir sama. melainkan malapetaka yang kerap merundung. kenapa kita harus larut dengan segala riuh-gelisah perubahan zaman yang kadang membingungkan? Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim Keluarga Sakinah Dalam Masalah 4 Kunci Rumah Tangga Harmonis Agar Pernikahan Membawa Berkah Hukum Menikahi Orang Musyrik dan Ahlul Kitab Menikah. Godaan itu bisa datang kepada suami. Maka. atau tidak pernah cinta. Payahnya. Tapi benarkah perubahan zaman menjadi sebab utama terjadinya pergeseran nilai dalam rumah tangga? Lalu. dengan kasus yang menimpa wanita pengungkap penggalan kalimat tadi. bukan surga lagi yang datang.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m. siapa pun bisa membuat seribu satu alasan.blogspot. Anak tidak lagi merindukan orang tua. Masih banyak. bisa juga menggedor jagat batin istri. mengapa keluarga kita tidak lagi sanggup bertahan dengan norma-norma dan jati diri keluarga kita yang asli? Bukankah orang tua-orang tua kita telah membuktikan bahwa norma-norma yang mereka anut telah berhasil mengantarkan mereka membentuk keluarga normal dan berbudaya. orang tua tidak punya hak membesarkan jiwa anak-anaknya. demikian pula sebaliknya. Tapi raga adalah cermin keharmonisan komunikasi yang akan berpengaruh pada masa depan jiwa dan kepribadian mereka. Ketika seseorang tersedu mengeluhkan sepenggal kalimat. Seorang bapak yang tidak lagi berwibawa di hadapan anak dan istrinya.Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga. tidak bisa saling memahami. Bapak berebut otoritas dalam keluarga dengan istrinya. serta istri yang tidak berhenti memperjuangkan hak kesetaraan di hadapan suami. “Suami saya akhir-akhir ini jarang pulang”. Untuk menemukan formulanya pun bukan hal yang sederhana. semakin hari godaan akibat pergeseran nilai sosial semakin menggelombang dan menghantam.. Kenapa Takut? 13 Hal Yang Disukai Pria Dari Wanita Kualitas Keluarga Sakinah Membentuk Keluarga Sakinah wa Rahmah KELUARGA SAKINAH Syarat untuk menjadi keluarga sakinah 4 of 6 7/8/2011 9:03 AM . tidak sulit kita cerna maksud utama kalimatnya. memang tidak mudah. Semua punya argumentasi untuk membenarkan posisinya. Sebab.. bahkan berhasil membentuk diri kita yang seperti sekarang ini? Lantas. Anak yang lebih erat dengan ikatan komunitas sebayanya. atau bahkan persis sama. Lunturnya Semangat Sakinah Membangun sakinah dalam keluarga. Sementara. dan orang tua pun tidak lagi peduli akan masa depan anaknya. ingin mendapat keturunan. Penggalan kalimat di atas bukan satu-satunya masalah yang banyak dikeluhkan istri. Tetapi. Ada yang mengatakannya sudah tidak harmonis.

. setiap sajian budaya yang kita konsumsi dari waktu ke waktu. Anak pun dewasa dengan harus menemukan jalan hidupnya sendiri. Kenyataan ini merupakan bagian kecil dari proses modernisasi kehidupan yang berlangsung tanpa kendali etika. yaitu anak. dan harus mendiskusikan sendiri siapa calon pendampingnya. diam-diam telah menjadi standar nilai masyarakat kita. Satu lagi yang sering menjadi akar bencana keluarga. struktur fungsi yang sejatinya diperankan oleh masing-masing anggota keluarga tampak semakin kabur. Ibu-bapaknya terlalu sibuk untuk sekadar menyapa anak-anaknya. Akan tetapi. Padahal. adalah dunia yang ada di depan matanya. seringkali menjadi sosok yang begitu dominan dalam menentukan masa depan anak. Guru di sekolah ataupun orang tua di rumah. menjadi mimpi yang tidak pernah terpikirkan.. Semuanya berjalan sendiri-sendiri. Bahkan. Proses pendidikan. Tanpa kita sadari. Padahal. Transformasi budaya memang tidak mudah. Karena itu. yang karenanya ia akan melakukan pengejaran atas dasar kehendak pribadi. Banyak problema keluarga yang muncul di sekitar kita umumnya menggambarkan kegelisahan yang diwarnai oleh semakin lunturnya nilai-nilai agama dan budaya masyarakat. Itu menjadi mimpi yang semakin sulit terwujud. pada dasarnya merupakan proses bimbingan yang 5 of 6 7/8/2011 9:03 AM . kita hindari. maka bangunan “baiti jannati”. jika sendi-sendi keluarga itu telah kehilangan daya perekatnya dan masingmasing telah menemukan jalan hidupnya yang berbeda-beda. secara tidak sadar. Di sinilah proses bimbingan itu diperlukan.blogspot.Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga. Akibatnya. perkembangan psikologis yang sedang dilaluinya juga masih belum mampu memberikan alternatif secara matang terutama berkaitan dengan standar nilai yang dikehendakinya. Gaya hidup remaja yang berujung pada fenomena MBA (married by accident) telah jadi model terbaru yang digemari banyak pasangan. Sementara perceraian yang dibenci Nabi justru menjadi pilihan yang banyak ditempuh untuk menemukan solusi singkat. hampir selalu ditemukan berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan lingkungan tempat di mana anak itu berkembang. tapi lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai artifisial yang dibentuk untuk tujuan pragmatis dan bahkan hedonis. Kini. Seorang anak kehilangan pegangan. Masyarakat kini seolah telah berubah menjadi “masyarakat baru” dengan wujud yang semakin kabur. selama proses yang dilaluinya. guru ataupun orang tua bukanlah segala-galanya bagi perkembangan dan masa depan anak.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m. nilai-nilai itu kini telah membentuk perilaku sosial dan menjadi anutan keluarga dan masyarakat kita. rumahku adalah surgaku. Yang ada hanyalah “neraka” yang tidak henti-hentinya membakar suasana rumah tangga. Pernikahan yang dianjurkan Nabi menjadi jalan terakhir setelah menemukan jalan buntu. dengan demikian. bahkan tidak mungkin. baginya. Ukuran baik-buruk tidak lagi bersumber pada moralitas universal yang berlandaskan agama. di sisi lain. akan semakin menjauh dari kenyataan. Mencari sendiri ke mana harus memperoleh pengetahuan. terutama dalam ikut menemukan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Dunia ideal sendiri. Dunia anak adalah dunia yang lebih banyak diwarnai oleh proses pencarian untuk menemukan apa-apa yang menurut perasaan dan pikirannya ideal. Arusnya deras masuk ke rumah kita lewat media informasi dan komunikasi.

ketidaktersediaan aspek ini dalam keluarga dapat berakibat pada munculnya ketidakseimbangan psikologi yang pada gilirannya dapat saja mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial seperti apa yang terjadi di masyarakat sekitar kita. Posted by Abu Azka at 1:49 AM 1 comments: ade said. Terima kasih anda telah menuliskan artikel arti sakinah dalam keluarga. maka keluarga bisa berperan sebagai lembaga yang membimbing dan mencerahkan. It's completely useful at least from my side.blogspot. Inilah di antara kerusakan akibat lunturnya atmosfir sakinah dalam keluarga. Sebab berkomunikasi untuk saling menyambungkan rasa antar anggota keluarga merupakan kebutuhan dasar yang menuntut untuk selalu dipenuhi. Dalam situasi seperti inilah. tetapi menjadi binatang liar ketika keluar dari dinding-dinding rumah dan terbebas dari pengawasan orang tua. :) salam. 2009 12:41 AM Post a Comment Newer Post Subscribe to: Post Comments (Atom) Home Older Post 6 of 6 7/8/2011 9:03 AM ..Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah: Keluarga Sakinah Dalam Masalah http://muslimkeluarga. Anak-anak bisa menjadi manusia yang paling shalih di rumah. memerdekakan sekaligus mencerahkan. Semoga ilmu anda ini diberikan imbalan yang sebesar2nya oleh Allah.com/2007/06/keluarga-sakinah-dalam-m.. anak mulai mencari kesempatan untuk memenuhi kebuntuan komunikasi yang dirasakannya semakin kering dan terbatas... bisa saja berfungsi sebagai penjara yang hanya mampu menanamkan disiplin semu. Konsekuensinya. Proses seperti itu berlangsung alamiah dalam kehidupan yang bebas dari ikatan-ikatan yang justru tidak mendidik. Jika tidak tepat memainkan peran yang sesungguhnya.Anggrek December 18. atau juga sebaliknya. Dalam kerangka seperti inilah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful