P. 1
Psikologi Islam

Psikologi Islam

4.67

|Views: 5,970|Likes:
Published by api-3742974

More info:

Published by: api-3742974 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

SENI KEPIMPINAN

Seni kepemimpinan telah banyak diajarkan orang dari masa ke masa, mulai dari rangkaian Mitologi Yunani yang amat terkenal, Tao dan Sun Tzu dari Cina, Nasihat Bagi Penguasanya Al Ghazali, Sang Penguasanya Niccolo Machiavelli, Hasta Brata — Raja Kapa-Kapa —Wulangreh—Wedhatama dari Jawa, sampai ratusan mungkin ribuan buku-buku teks kepemimpinan abad 20 seperti The Art of The Leader-nya William A. Cohen, dan The Charismatic Leader-nya Jay A. Conger dan sebagainya. Dengan apa kekuasaan dapat dipertahankan? Al Ghazali mengawali nasihatnya dengan mengemukakan 2 hal, yaitu jangan pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan dan selalu konsisten serta tak pernah meralat. Yang terakhir ini, juga merupakan benang merah yang kuat dalam seni kepemimpinan raja-raja Jawa. Agar berwibawa, maka seorang raja harus memiliki, Sabda Pandhita Ratu, tan kena wolak-walik, artinya, raja harus memegang teguh satu kata dan perbuatan. Ucapannya bagaikan ucapan seorang pendeta sakti nan manjur yang segera menjadi kenyataan. Ludahnya ludah api yang sekali dilontarkan langsung mewujudkan keinginannya. Ucapannya konsisten dan tidak mencla-mencle. Tidak pagi tempe, sore mentah kembali menjadi kedelai. Ini juga sekaligus mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh berkata atau bertindak ngawur, karena dampaknya sangat luas bagi rakyat banyak yang tak berdosa.

MEMELIHARA BIBIT CINTA
Setiap Manusia memiliki potensi; fisik, intelektual, emosionil dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya . Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu. Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya. Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal “memiliki” wanita yang dicintainya itu maka ia memilih “menghancurkan” sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih. Ia bukan saja tidak bermaksud “menguasai” tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya,. Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita. Nah cinta itu ada di dalam hati. Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu. Orang suka berkata; dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ? Isi hati manusia sungguh sangat sangat banyak dan beragam, diantaranaya adalah cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun keterangan yang obyektip tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektip, oleh karena itu keterangan yang paling obyektip tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Tuhan, dan keterangan itu ada di dalam kitab suci Al Qur’an. posted by : Mubarok institute

HATI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Imam Gazali dalam Ihya Ulumuddin membuat bab khusus yang membahas Keajaiban Hati (`Ajaib al Qalb). Menurut Al Gazali kemuliaan martabat manusia disebabkan karena kesiapannya mencapai makrifat kepada Allah, dan hal itu dimungkinkan karena adanya hati. Dengan hati, manusia mengetahui Allah dan mendekati Nya, sementara anggauta badan yang lain berfungsi sebagai pelayannya. Hubungan hati dengan anggauta badan dimisalkan Al Gazali seperti raja dengan rakyatnya, atau seorang tukang dengan alatnya pertukangannya. Hubungan hati dengan angauta badan dipandang sebagai ilmu lahir, sementara akses hati ke alam langit (`alam al malakut) masuk kategori ilmu batin dimana didalamnya sarat dengan rahasia dan keajaiban. Sahal at Tusturi menserupakan hati sebagai `arasy sementara dada merupakan kursiy, satu perumpamaan yang menggambarkan bahwa di dalam diri manusia seakan terdapat satu kerajaan tersendiri dimana hati bertindak sebagai raja. Al Gazali mengatakan bahwa hati mempunyai dua unit tentara (junudun mujannadah), yaitu unit yang dapat dilihat dengan mata kepala dan yang satu hanya dapat dilihat dengan mata hati. Yang pertama adalah anggauta badan, sedang yang kedua adalah daya-daya; daya penglihatan, daya pendengaran, daya hayal, daya ingat, daya fikir dan daya hafal, yang bekerja dengan sistem yang sangat sophisticated dan hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Dari kombinasi tentara lahir dan batin itu dapat lahir kehendak (iradah), marah (ghodob), keinginan (syahwat), pengetahuan (ilmu), dan persepsi (idrak). Hati juga diibaratkan sebagai pesawat pemancar (dzauq) yang dapat menangkap sinjal-sinyal yang melintas. Kapasitas pesawat hati tiap orang berbeda-beda tergantung desain dan baterainya. Hati yang telah lama dilatih melalui proses riyadhah memiliki desain dengan kapasitas besar yang mampu menangkap sinjal yang jauh termasuk sinjal isyarat tentang masa yang akan datang. Hati seorang sufi bisa menangkap sinjal tentang prospek sesuatu (seperti penglihatan Nabi Khidir) sehingga kata-katanya boleh jadi melawan arus atau tidak difahami oleh orang lain. dengan hatinya ia juga bisa berkomunikasi dengan orang lain yang berada di tempat lain atau di zaman yang lain, laiknya telpon genggam saja. Ketajaman hati juga diibaratkan sebagai cermin (cermin hati). Orang yang bersih dari dosa, hatinya bagaikan cermin yang bening, yang begitu mudah untuk berkaca diri. Orang yang suka mengerjakan dosa-dosa kecil, hatinya buram bagaikan cermin yang terkena debu, jika digunakan kurang jelas hasilnya. Orang yang suka melakukan dosa besar, hatinya gelap bagaikan cermin yang tersiram cat hitam, dimana hanya sebagian kecil saja bagiannya yang dapat digunakan. Sedangkan orang yang suka mencampuradukkan perbuatan baik dengan perbuatan dosa, hatainya kacau bagaikan cermin yang retak-retak, yang jika digunakan akan menghasilkan gambaran yang tidak benar. Hati yang sudah tumpul karena baterainya lemah seyogyanya diisi dengan stroom baru, yakni dengan melalui mujahadah dan riyadlah. Ilmu sebagai produk intelektuil (akal) kebenarannya bersifat nisbi, antara `ilmal yaqin dan `ainul yaqin, sedangkan ilmu sebagai produk hati atau qalb sebagai dzauq merupakan kebenaran hakiki (haqqul yaqin). Sebagai penutup mari kita mencoba bercermin kepada hati kita masing-masing agar kita juga tahu seberapa besar kapasitasnya. Kata Al Gazali orang yang tidak mengenal hati sendiri, pasti ia lebih tidak tahu lagi tentang hal lain. Wallohu a`lam. posted by : Mubarok institute

MEMBANGUN MASYARAKAT 1
Konsep Masyarakat Indonesia adalah negeri dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Tetapi apakah realita itu identik dengan telah terbangunnya masyarakat Islam di negeri ini, adalah sesuatu yang harus direnungkan. Dewasa ini bangsa dengan lebih duaratus juta kaum muslimin ini sedang diterpa berbagai predikat negatip, yang menjadikan agama Islam yang dianut seakan tidak relevan dengan kualitas masyarakatnya. Harus diakui bahwa secara konstitusional, bangsa ini menganut satu ideologi yang bernama Panca Sila, satu rumusan berdasarkan sejarah kebangsaan dimana para ulama dan pemimpin Islam terlibat dalam proses penyusunannya. UUD 45 bahkan sebelumnya adalah Piagam Jakarta yang kental dengan semangat ke Islaman. Akan tetapi harus juga diakui adanya realita bahwa banyak pemimpin muslim (bukan pemimpin Islam) dan juga anggauta masyarakat Islam yang tidak menjadikan ajaran Islam sebagai rujukan ketika harus memutuskan berbagai permasalahan. Ada yang lebih mengikuti budaya lokal (dan kepentingan lokal) dan ada yang mengikuti konsep sekuler dari Barat. Ketika dunia mengalami krisis, banyak orang mencari pemikiran alternatip sebagai upaya mencari solusi. Diantara pemikiran yang kini ditengok adalah konsep Islam tentang berbagai hal. Bank syari’ah yang pernah begitu lama dihambat kelahirannya misalnya, kini justeru menjadi trend di kalangan perbangkan nasional, disusul oleh Asuransi syari’ah, akuntansi syari’ah, reksadana syari’ah, menejemen syari’ah dan sebagainya. Secara lahir, masyarakat nampaknya terbangun secara alamiah, tetapi bagi pemimpin, masyarakat itu harus dibangun, dan apa saja yang dibangun harus ada konsepnya. Bangunan tanpa konsep atau salah konsep akan berakibat rusaknya tatanan, seperti rusaknya tatanan masyarakat Indonesia dewasa ini. Sejalan dengan semangat reformasi, sudah tiba saatnya kita menggali konsep yang inspirasinya bersumber dari wahyu, dalam hal ini yang akan kita kaji adalah konsep masyarakat menurut al Qur’an. 2. Pengertian Masyarakat Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab musyarakah. Dalam bahasa Arab sendiri masyarakat disebut dengan sebutan mujtama`, yang menurut Ibn Manzur dalam Lisan al `Arab mengandung arti (1) pokok dari segala sesuatu, yakni tempat tumbuhnya keturunan, (2) kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda . Sedangkan musyarakah mengandung arti berserikat, bersekutu dan saling bekerjasama. Jadi dari kata musyarakah dan mujtama` sudah dapat ditarik pengertian bahwa masyarakat adalah kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda tetapi menyatu dalam ikatan kerjasama, dan mematuhi peraturan yang disepakati bersama. Dari pengertian itu maka dapat kita bayangkan bagaimana anatomi dari masyarakat yang berbeda-beda. Dapat dijumpai misalnya ada; masyarakat desa, masyarakat kota, masyarakat Indonesia, masyarakat dunia, masyarakat Jawa, masyarakat Islam, masyarakat pendidikan, masyarakat politik dan sebagainya. Semua jenis masyarakat tersebut pastilah terdiri dari unsur-unsur yang berbeda-beda tetapi mereka menyatu dalam satu tatanan sebagai wujud dari kehendak bersama. Karena adanya dua atau beberapa kutub; yakni berasal dari unsur yang berbeda-beda tetapi bermaksud menyatu dalam satu tatanan, maka dari kutub pertama ke kutub ke dua ada proses yang membutuhkan waktu yang panjang. Masyarakat Indonesia misalnya, sudahkah mereka menyatu dalam kesatuan ? ternyata setengah abad merdeka belum cukup waktu untuk menyatukan sebuah masyarakat Indonesia meski sudah diwadahi dengan istilah Bhineka Tunggal Ika. Abad pertama kemerdekaan Indonesia nampaknya masyarakat Indonesia sebagai satu kesatuan masih merupakan nation in making, masih dalam proses menjadi. Hambatan dari proses itu adalah adanya rujukan dan kepentingan yang berbeda-beda. Demikian juga masyarakat Islam Indonesia, masyarakat OKI dan sebagainya.

posted by : Mubarok institute

MEMBANGUN MASYARAKAT 2
Teologi Masyarakat Dalam konteks ajaran Islam, indifidu tak bisa dipisahkan dari masyarakat. Menusia itu sendiri diciptakan Tuhan terdiri dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal (dan saling memberi manfaat), lita`arafu (Q/49:13). Disamping adanya perlindungan terhadap individu, juga ada perlindungan terhadap masyarakat. Meski individu memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu dibatasi oleh kebebasan orang lain, sehingga Islam menghendaki adanya keseimbangan yang proporsional antara hak individu dan hak masyarakat, antara kewajiban individu dan kewajiban masyarakat, juga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Dari Maqasid as Syari`ah (filsafat Hukum Islam) yang menyebut al kulliyyat al khamsah misalnya, mengambarkan konsep masyarakat dimana setiap individu harus dijamin hak-haknya dimana Pemerintah atau ulil amri sebagai wakil masyarakat yang tertinggi berkewajiban melindungi jiwa (khifdz an nafs) , hak kepemilikan harta (khifdz al mal), hak akal (khifsz al `aql atau hak intelektual), hak beragama (khifdz ad din atau hak berkeyakinan) dan hak memelihara kesucian keturunan (khifdz an nasl). Menurut al Qur’an, meski masyarakat itu merupakan kerjasama horizontal antar manusia, tetapi ia merupakan bagian dari hubungan vertikal dengan Tuhan. Oleh karena itu di dalam ber musyarakah (bermasyarakat) juga ada dimensi teologis, misalnya; salat menjadi tidak relevan jika melupakan komitmen sosial. Neraka wail disediakan bagi orang yang salat tetapi acuh terhadap komitmen sosial, dan orang seperti itu oleh al Qur’an dipandang sebagai orang yang mendustakan agama , araitalladzi yukazzibu biddin (Q/107). Demikian juga dalam hal tertib sosial, ketaatan kepada otoritas pemerintah disejajarkan dengan ketaatan kepada kepada Tuhan dan Rasul, athi`ullah wa athi`ur rasul wa uli al amri minkum (Q/4:59) . Dari hadis Nabi juga dapat diketahui bahwa rahmat Allah itu harus dipancing dengan komitmen sosial; irhamu man fi al ardhi yarhamukum man fi as sama’. Kontrak sosial dalam pernikahan juga bersifat vertikal dan horizontal, istahlaltum furujahunna bi kalimatillah wa akhaztumuhunna bi amanatillah.artinya; kalian dihalalkan menyetubuhi istrimu dengan nama Alloh, dan kalian mengambil tanggung jawab atas isteri dengan amanat dari Alloh. Manusia tidak dibiarkan begitu saja oleh Tuhan, tetapi Menurut al Qur’an, Allah selalu hadir dalam kehidupan masyarakat (mengawasi); inna rabbaka labi al mirshad (Q/89:14) posted by : Mubarok institute

HIDUP DI ALAM KEMATIAN
Terjemahan bahasa Inggris akhirat adalah life after death, hidup sesudah mati. Sekilas judul bab diatas cukup membingungkan, karena hidup dan mati itu adalah dua hal yang tidak mungkin menyatu.Kalimat hidup di alam kematian memaksa kita mengkaji kembali makna mati dan makna hidup. Ada tiga pertanyaan abadi yang selalu muncul dalam sejarah kemanusiaan, yaitu (1) manusia datang dari mana, (2) setelah mati kemana, dan (3) untuk apa manusia hidup di dunia.. Al Qur’an menjawab bahwa kita itu milik Allah dan akan kembali kepada Allah, inna lillahi wa inna ilaihi raji`un. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah apanya yang kembali, dan bagaimana nanti di sisi Nya. Orang Mesir Kuno meyakini bahwa Fir’aun itu tidak mati, tetapi pindah ke alam akhirat. Oleh karena itu jasadnya diawetkan, dan ketika di tempatkan di

dalam pyramide kepadanya disertakan alat rumah tangga, kendaraan, perhiasan dengan anggapan bahwa benda-benda itu dibutuhkan di alam sana. Perspektif al Qur’an mengajarkan bahwa akhiratlah kehidupan yang sebenarnya (wa inna al akhirata lahiya al hayawan). Implikasi dari pandangan itu ialah bahwa hidup di dunia justeru bukan yang sebenarnya, sehingga di sebut dunia yang fana. Hal ini juga membawa implikasi pada pemahaman tentang sesuatu yang kongkrit dan tidak kongkrit. Ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa sesuatu yang dapat dibuktikan sebagai ada adalah kongkrit, sementara yang tidak bisa dibuktikan itu tidak kongkrit. Perspektip tasauf sebaliknya, menganggap yang spiritual itulah yang kongkrit, sedang yang materi itu tidak kongkrit. Kematian, meski pasti terjadi, tetapi apa itu mati tidak pernah disepakati. Kecerdasan spiritual perspektip tasauf justeru memberi peluang untuk memperoleh experient spiritual berkelana ke alam kematian yang konkrit. Percayakah anda ? posted by : Mubarok institute

PENGERTIAN MUSLIM, MU'MIN DAN MUTTAQIN
Seorang muslim artinya orang yang telah berpasrah diri, dalam hal ini berpasrah kepada Tuhan, tetapi dalam rangking manusia berkualitas, seorang yang baru pada tingkat muslim berada pada tingkatan terendah. Karakteristik seorang muslim adalah seorang yang telah meyakini supremasi kebenaran, berusaha untuk mengikuti jalan kebenaran itu, tetapi dalam praktek ia belum tangguh karena ia masih suka melupakan hal-hal yang kecil. Sedangkan seorang yang sudah mencapai kualitas mukmin adalah seorang muslim yang sudah istiqamah atau konsisten dalam berpegang kepada nilai-nilai kebenaran, sampai kepada hal-hal yang kecil. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa iman itu mempunyai tujuhpuluh cabang, artinya indikator seorang mu'min itu ada tujuhpuluh variabel. Di antara tujuhpuluh indikator itu antara lain; (1) seorang mukmin hanya berbicara yang baik, (2) jika mendapati sesuatu yang mengganggu orang lewat ketika ia melewati suatu jalan maka ia tidak akan meneruskan perjalanannya sebelum menyingkirkan sesuatu yang mengganggu itu, (3) merasa sependeritaan dengan mukmin yang lain, dan sebagainya. Sedangkan Muttaqin adalah orang mukmin yang telah menjiwai nilai-nilai kebenaran dan allergi terhadap kebatilan. Seorang muttaqin adalah orang yang setiap perbuatannya sudah merupakan perwujudan dari komitmen iman dan moralnya yang tinggi. Menurut Fazlur Rahman, takwa adalah aksi moral yang integral. posted by : Mubarok institute

KEMUKJIZATAN AL QUR’AN
Al Qur’an sebagai mukjizat dapat dilihat dari bahasa dan isinya. Mukjizat artinya sesuatu yang mengalahkan argumen orang yang tidak percaya. Bahasa al Qur’an sangat tinggi mutunya , mengalahkan semua puisi, sastra dan sya`ir. Semakin digali kedalaman bahasa al Qur’an semakin ditemukan rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Al Qur’an sediri menantang kepada siapapun yang dapat melahirkan karya satu surat atau bahkan satu ayat saja, fa’tu bi suratin minhu dan hingga kini tak seorang manusiapun yang bisa. Sebagai mukjizat, al Qur’an juga tetap terpelihara otentisitasnya, dan hal itu merupakan janji Tuhan, inna nahnu nazzalnahu wa inna lahu lahafidzun. Kemukjizatan isi al Qur’an juga telah dan akan selalu terbukti. Jika suatu masa ada orang yang mengemukakan kekeliruan isi al

Qur’an (misalnya tentang nama, tempat, waktu, atau konsistensi) maka pada periode berikutnya akan ditemukan tafsiran baru yang menjawab kesalah fahaman itu. posted by : Mubarok institute

PENGERTIAN SEHAT WAL AFIAT
Berbicara tentang penyembuhan, pasti berhubungan dengan konsep sehat. Dalam bahasa agama (Islam) disamping kata sehat (shihhat) juga digunakan kata `afiat, yang dalam bahasa Indonesia kemudian disambung menjadi sehat wal-afiat. Jika kata shihhat (sehat) berhubungan dengan fungsi, maka kata ‘afiat berhubungan dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang bisa digunakan untuk melihat/membaca tanpa memerlukan alat bantu (fungsional), sedangkan mata yang afiat sesuai dengan maksud penciptaannya adalah mata yang mudah digunakan untuk melihat sesuatu yang halal tetapi tidak mau digunakan untuk melihat sesuatu yang diharamkan (nilai). Telinga yang sehat adalah yang fungsi pendengarannya berjalan, sedang telinga yang afiat adalah yang selalu terbuka terhadap kata-kata kebenaran tetapi tuli terhadap bisikan yang menyesatkan. Demikianlah makna sehat dan afiat bagi hidung, tangan, kaki hingga kepada organ yang paling vital. suami yang perkasa di rumah dan loyo di luar rumah adalah suami yang sehat wal afiat, tetapi jika di luar rumah juga perkasa, maka ia hanya sehat tapi tidak afiat. Jika bidang kesehatan merupakan urusan dunia kedokteran, maka bidang keafiatan merupakan urusan dunia nilai, dunia spiritual. posted by : Mubarok institute

HATI TAK BERJENDELA
Suatu hari sekitar jam dua siang, tiba-tiba datang seorang wanita muda sekitar usia 30 tahun, datang ke rumah penulis. Dari penampilannya diduga bahwa wanita itu adalah seorang mahasiswa. Setelah berbasa basi sebentar akhirnya dia mengaku bukan mahasiswa tetapi seorang ibu rumah tangga. Setelah ditanyakan apa maksud kedatangannya, dengan terbata-bata dan berlinangan air mata ia mengatakan bahwa hampir saja ia bunuh diri menenggak obat serangga. Baygon. Mendengar pengakuannya yang mengejutkan itu akhirnya penulis membiarkan kepadanya untuk membuka seluruh isi hatinya, dan penulis menjadi pendengar yang baik. 1. Mengapa Datang Kepada Penulis? Menurut ceriteranya, pagi itu wanita tersebut sedang kusut fikiran dan saking kalutnya ia bermaksud bunuh diri dengan cara meminum baygon. Pada saat itu aliran listrik di lingkungan tempat tinggalnya sedang mati, dan ketika baygon sudah dituang ke gelas, ketika sedang dipegang untuk diminum, tiba-tiba listrik menyala dan radio langsung berbunyi. Seperti diatur sutradara, suara di radio ternyata berisi siaran pengajian dari radio Assyafi'iyyah dan pak kyai dalam pidato itu menyebut dosanya orang bunuh diri. Katanya selanjutnya, wanita itu tersentak kaget dan langsung timbul kengerian serta takut melihat gelas yang sudah dituangi baygon. Secara reflek wanita itu kemudian lari keluar rumah tanpa ingat mengunci pintu dan langsung naik metro mini yang kebetulan sedang berhenti, juga tanpa mengetahui entah mau ke mana. Ternyata metro mini itu jurusan Pulo Gadung- Taman Mini, dan ketika lewat Jatiwaringin, wanita itu melihat papan nama Pesantren Assyafi'iyyah, nama yang mengingatkan suara radio yang telah "menyelamatkannya" dari maut. Wanita itu

kemudian minta turun dan langsung menuju kantor pesantren. Di halaman kantor, wanita itu berpapasan dengan seorang guru dan dengan tidak sabar langsung mengatakan bahwa ia perlu bertemu dengan orang yang bisa memberinya nasehat agar ia tidak bunuh diri. Mendengar penuturan yang mengejutkan itu, pak guru yang kebetulan juga seorang dosen dan seniman bermaksud memperdaya penulis dengan mengatakan bahwa di sini ada orang yang biasa menangani kasus-kasus semacam itu, dan ia menyebut nama penulis, dan langsung memberi alamat rumah penulis yang tidak terlalu jauh dari Pesantren. Ketika itu penulis kebetulan menjabat sebagai dekan Fakultas Dakwah dan juga sekretaris Pesantren. Dengan olokolok teman dosen itulah akhirnya tanpa sengaja penulis kemudian menjadi konselor yang harus memberikan layanan konseling agama. 2. Mengapa Wanita Itu Mau Bunuh Diri? Dari penuturan wanita itu dapat disimpulkan bahwa problem kejiwaan klien merupakan problem perkawinan, problem hubungan interpersonal suami dan isteri. Mereka telah menempuh bahtera rumah tangga selama delapan tahun, belum dikaruniai keturunan. Ekonomi rumah tangga mereka relatip tercukupi, terbukti bahwa mereka telah memiliki rumah yang layak huni, suaminya bekerja di perusahaan swasta dengan gaji yang mencukupi. Isterinya, meskipun pernah mengecap pendidikan tinggi sampai sarjana muda tetapi tidak bekerja. Praktis setiap hari kerja, isterinya hanya tingal sendirian, sementara suami pulang kerja sekitar jam enam-tujuh sore. Barangkali pasangan suami isteri itu sudah sangat merindukan keturunan, tetapi diantara mereka tak pernah secara serius membicarakan problem itu. Sang isteri adalah tipe wanita yang sangat setia dan percaya kepada suami. Menurut ceriteranya selama delapan tahun hidup sebagai suami isteri tidak pernah cekcok. Sang isteri meski harus selalu sendirian di rumah setiap hari pada jam-jam kerja suaminya, tetapi kepercayaan dan kesetiaannya kepada suami membuatnya tetap tenang. Rasa percaya diri dan ke-tenangan isteri antara lain diperkuat oleh sejarah masa lalu, ialah bahwa sang suami adalah mahasiswa yang dahulu kost di rumah orang tuanya, dan ketika kiriman biaya kuliah terputus dari kampungnya di luar Jawa, orang tua wanita itu kemudian menolong membiayai kuliahnya sampai selesai, dan selanjutnya diambil mantu. Tanpa ada tanda-tanda mencurigakan, tiba-tiba suaminya menjadi acuh, dan sering tidak menyentuh kopi dan makanan yang disediakan oleh isteri yang setia itu. Ia berusaha mencari tahu problem apa yang sedang mengganggu suaminya, samar-samar terdengar berita bahwa suaminya pacaran dengan wanita teman sekerja di kantor. Tetapi setiap ditanyakan, suaminya diam membisu, semakin ditanya semakin membisu. Sang isteri sebagai orang yang selalu berfikir positip tentang suaminya, masih belum percaya bahwa suaminya ada main dengan wanita lain, tapi didiamkan oleh suami selama seminggu merupakan beban yang sangat berat, apa lagi di rumahnya yang cukup besar itu memang tidak ada orang lain yang bisa diajak bicara. Ketika kebisuan suami mencapai hari yang ke lima belas, kekalutan fikiran itu tak tertanggungkan. Ia tidak tahu harus apa, karena selama ini hatinya tertumpah seluruhnya untuk suaminya. Di diamkan suami adalah kiamat baginya. Kekalutan fikiran dan perasaannya membuatnya lupa siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Dunia terasa gelap, dan kaki tak bisa lagi menginjak bumi. Pada hari ke lima belas itulah, ketika jiwanya tak mampu lagi menanggung derita didiamkan, ia mengambil keputusan untuk menyudahi problemnya dengan meminum baygon. Untunglah suara radio yang tiba-tiba terdengar setelah listrik di rumah menyala mengembalikan kesadarannya, dan menyelamatkannya dari mati sia-sia.

3. Bagaimana Terapi Yang Tepat Untuknya?

Dari penuturan yang disampaikan wanita itu sambil terisak-isak menangis tetapi lancar, nampak jelas bahwa penyebab kekalutan fikiran itu lebih banyak disebabkan oleh kapasitas jiwanya yang sempit untuk menampung derita. Ia termasuk tipe wanita yang lugu, halus perasaannya dan tak pernah berfikir negatip pada suaminya. Baginya suami adalah segalanya yang tak mungkin melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya. Jika samar-samar mendengar issu minor tentang suaminya, ia lebih dahulu menepis dengan berkata dalam hati bahwa issu itu pasti tak benar. Baginya kepulangan suami, teguran sapa suami sudah merupakan bukti bahwa issu dari luar itu tidak benar. Ia lebih percaya kepada suami dibanding kepada orang lain. Ia hanya mendengar kata-kata suami dan menutup rapat kedua telinganya dari kata-kata orang lain. Hal itulah yang menyebabkan bahtera rumah tangga berjalan aman selama delapan tahun meski belum dikaruniai seorang anak. Oleh karena itu ketika suaminya mulai cuek kepadanya, ia merasa tertekan karena ia tidak memiliki jendela lain untuk berkomunikasi. Pusat perhatiannya dalam menghadapi kecuekan suaminya hanya satu, yaitu menunggu kapan kekakuan itu mencair. Ketika kecuekan suaminya meningkat menjadi membisu, perasaan tertekan itu menjadi semakin dalam, seperti balon yang selalu ditiup, menunggu meledak. Pada hari ke lima belas dari membisunya suami itulah "balon" jiwanya meledak, mencari penyelesaian dengan cara bunuh diri. Ia tidak menemukan jalan lain selain bunuh diri, karena jiwanya tidak mempunyai jendela, tidak mempunyai ventilasi, karena salurannya hanya satu yaitu kepada suami tercinta. Jika saluran satu-satunya itu rapat, maka hanya ada satu jalan keluar, yaitu meledak. Untunglah suara radio yang tiba-tiba berbunyi "menyelamatkannya". Melihat tipologi kejiwaan wanita itu maka saya selaku konselor menanyakan kembali; sudah berapa lama suami mendiamkannya. Dengan sangat antusias ia menyebut angka lima belas, seakan angka lima belas itu adalah jumlah yang sangat besar. Mengapa angka lima belas itu dipandang sebagai jumlah yang sangat besar adalah karena wanita itu tidak memiliki bandingan angka lain. Saya sebagai konselor agama berusaha untuk mengubah pandangan wanita itu tentang ukuran besar dan kecil. Saya mengatakan bahwa lima belas hari itu waktu yang sangat pendek, sebab ada orang lain yang didiamkan suaminya sampai tiga bulan, dan setelah dilewati dengan sabar akhirnya keadaan pulih kembali seperti sedia kala. Saya menasehati wanita itu agar sabar menanggung perasaan itu sampai tiga bulan, Insya Allah nanti jalan ke luar akan datang dengan sendirinya. Rupanya, angka tiga bulan itu kemudian menjadi jendela yang meniupkan harapan baginya, sehingga setelah pertemuan hari itu, ia sering melaporkan perkembangan hubungannya dengan suaminya kepada saya melalui surat. Ia selalu menghitung hari-hari yang dilewatinya, dan dengan cemas menunggu habisnya waktu tiga bulan itu. Saya tahu bahwa tidak ada jaminan setelah tiga bulan itu kebisuan suaminya akan mencair, tetapi kurun waktu itu sekurangkurangnya memberikan peluang kepada wanita itu untuk melihat dunia lain, bahwa dalam hidup itu banyak kemungkinan, ada pertemuan, ada perpisahan, ada pertemuan kembali, ada juga pertemuan dengan yang baru dan sebagainya, dan bahwa kesemuanya itu mengandung hikmah asal bisa memetiknya. Ia harus bisa melihat bahwa hidup itu bukan hitam putih, tetapi berwarnawarni. Konseling itu juga saya berikan secara tertulis, dengan menulis surat disertai kata-kata mutiara, ayat Qur'an dan hadis yang relevan dengan keharusan sabar menanggung derita, dan bahwa orang yang sabar senantiasa disertai rahmat Tuhan. Kehausannya kepada bimbingan sampaisampai - katanya lewat surat - ia membaca nasehat tertulis saya sampai lima kali, dan bahkan

surat konseling saya itu selalu dibawa di dalam tas, untuk selalu dibaca ulang jika fikirannnya sedang kusut. Rumah tangga pasangan itu akhirnya tidak dapat diselamatkan, tetapi wanita itu dapat menerima kenyataan. Setelah ia berpindah kota, korespondensi dengan saya tetap berlangsung, ia selalu melaporkan perkembangan perasaannya dalam menghadapi problema hidupnya, dan saya pun sering membalasnya dengan konsisten memberikan layanan konseling agama. Ketika ia mengambil keputusan untuk tinggal di Eropa dengan maksud mencari dunia baru dan melupakan kegetiran hidup rumah tangganya, saya memberikan saran agar ia jangan lupa salat lima waktu dan usahakan menggunakan jilbab (busana muslimah) sebagai identitas diri, ternyata dari Eropa ia berkirim surat bahwa ia melaksanakan saran saya. Perjalanan hidup yang berliku-liku akhirnya mengantarnya untuk menikah lagi dengan laki-laki muslim Eropa, dan selama ini, sekurang-kurangnya kartu lebaran masih selalu dikirimkan kepada saya, sesekali disertai dengan sejumlah lembaran dollar. Al hamdulillah. posted by : Mubarok institute

SALAH SANGKA PADA TUHAN
Kita semua tahu bahwa Allah SWT itu ada, tetapi hanya sedikit diantara kita yang mengenal Nya. Dampaknya sangat berbeda antara hanya tahu dan mengenal. Tahu ada di fikiran, sedangkan mengenal sudah menjamah wilayah perasaan. Dalam berkomunikasi, Orang yang hanya tahu, mudah salah faham, sedang diantara sesame orang yang sudah saling mengenal, selalu terjalin saling memahami. Demikian juga dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan. Berikut ini kasus yang menimpa seorang mahasiswa, klient saya, dan kasus ini saya tulis di buku saya; Konseling Agama Teori dan Kasus, juga saya muat kembali di buku Psikologi Keluarga, cet ke 3. dengan judul Salah Sangka kepada Tuhan; sbb; Seorang isteri dirut BUMN menemui penulis, mengadukan perilaku anak lelakinya yang tidak difahaminya. Kata ibu tersebut, anak lelakinya yang sekarang duduk pada semester 6 pada sebuah akademi bank sejak empat bulan lalu menunjukkan perilaku yang aneh, yaitu selalu mengurung diri dalam kamar. Pulang dari kuliah, langsung masuk kamar, tidak mau makan bersama dengan keluarga, tidak juga duduk-duduk bersama dengan kerluarga. Makan dan minum ia ambil sendiri ketika tidak ada orang dan ia makan di kamarnya. Setiap ditanya ada masalah apa, ia selalu menjawab nggak apa-apa, saking tidak fahamnya, ayahnya sering memarahinya, dan semakin dimarahi membuatnya menjadi semakin diam dan semakin mengurung diri. Jika ada teman-teman kuliahnya datang, ia juga tidak bersedia menemuinya dengan alasan kurang sehat. Pokoknya, kata ibunya, saya benar-benar tidak faham, tidak mengerti, dan akhirnya saya cemas. Pernah dibawa ke psikiater, tetapi ia tetap diam, tidak mau menjawab, dan ia pun merasa enggan dibawa ke psikiater. Kata ibunya, anaknya rajin salat, dan bahkan selama mengurung diri sering dipergokinya malam hari sedang salat malam. Anatomi masalah dan terapinya Dari ceritera ibunya, maka saya menduga bahwa anaknya merasa tertekan karena melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak diketahui keluarganya. Ia merasa berdosa besar, tetapi ia tidak mungkin menceriterakannya kepada keluarganya. Semakin hari ia menjadi semakin tertekan, karena dikejar-kejar oleh perasaan berdosa. Jiwanya menjadi gelap karena terkurung oleh perasaan berdosa. Kepada ibu itu saya minta agar anaknya diajak main ke rumah saya untuk ngobrol-ngobrol: Ketika datang ke rumah, saya minta ibunya pulang dulu saja, sekitar tiga jam lagi biar supir

menjemput, dan pemuda itu saya ajak jalan-jalan. Dalam obrolan perjalanan, saya katakan bahwa saya sudah tahu permasalahan anda, (padahal saya belum tahu), dan saya katakan bahwa sebenarnya Tuhan telah mengampuni dosa anda, karena anda (dalam percakapan saya pakai kata kamu) telah dipenjara selama empat bulan oleh hati nuranimu sendiri.dan tahukah anda, nurani itu mempunyai hot line dengan Tuhan. Tuhan mendengar tangisanmu ketika kamu salat malam. Saya katakan bahwa jangan kau kira Tuhan itu galak, Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhan tersenyum lho melihat kamu menyesali perbuatanmu. Sudahlah, yang penting sekarang kau harus memulai lembaran baru, waspada di hari yang akan datang, jangan sekali-kali kau ulangi perbuatanmu. Ternyata ia cukup dua kali saja bertemu saya, dan pertemuan keduapun hanya untuk nonton film, tidak berbicara lagi tentang masa lalu, tetapi berbicara tentang masa depan. Ibunya menelpon penulis, menyatakan keheranannya atas kesembuhan anaknya, dan menanyakan problem apa sebenarnya yang selama ini dipendam oleh anaknya, maka saya jawab, tidak penting yang sudah lalu, yang penting masa depan, saya jawab demikian karena sebenarnya sampai akhirpun saya tidak tahu, tetapi pemuda itu merasa bahwa saya telah mengetahui rahasianya, padahal yang sebenarnya saya benar-benar tidak tahu karena memang tidak menanyakannya. Jadi kasus ini adalah kasus keagamaan, yaitu bahwa seseorang merasa tidak akan diampuni Tuhan atas dosa yang telah diperbuatnya, karena ia tidak tahu bahwa Tuhan Maha Pengampun. Perasaan berdosa itu membuatnya tertekan dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Untungnya ia termasuk pemuda yang taat beragama, meskipun pengetahuan agamanya masih rendah. Dari konseling dengan saya, pengetahuannya tentang uhan sudah mulai bergeser pada mengenal. Kerajinannya menjalankan salat malam membuatnya mudah mengenal Tuhan yang Maha Pengampun. posted by : Mubarok institute

DOA NABI NUH A.S.
Negeri kita sedang dalam keadaan krisis multidimensi, dari moneter, ekonomi, politik dan sekarang sosial. Dalam keadaan seperti ini mestinya rakyat dan pemimpin bersatu padu berjuang untuk bisa keluar dari krisis itu; mengencangkan ikat pinggang, mengedepankan persamaan dan membelakangkan perbedaan. Sayang, yang dilakukan justeru sebaliknya, perselisihan difasilitasi, aji mumpung disosialisasi, keputusan besar yang bisa menentukan arah sejarah bangsa ditundatunda. Lebih parah lagi masyarakat disuguhi adegan nasional pesta joged dangdut dan pameran aurat primitip setiap malam, seakan bangsa ini sedang bersuka ria menyambut kemenangan. Subhanallaaaaaah. Dalam keadaan begini terbayang doa Nabi Nuh ‘alaihi as salam. Beliau sangat lelah menghadapi bangsanya yang tidak tahu diri (seperti kita), dan akhirnya, berdasarkan pengalaman yang panjang , beliau mengambil kesimpulan bahwa karena tidak ada lagi unsur yang dapat dibanggakan dari bangsanya, maka lebih baik bangsanya itu dimusnahkan saja dari panggung sejarah (cepet mati), Nabi Nuh berdoa kepada Tuhan untuk itu, dan….. subhanallaaah,…. doa Nabi Nuh dikabulkan Tuhan, bangsa itu ditenggelamkan Tuhan lewat banjir besar, dan hanya disisakan sedikit orang yang tahu diri. Sanggupkah kita membayangkan banjir revolusi sosial yang akan menenggelamkan Negara Kesatuan kita? Berikut ini terjemahan doa Nabi Nuh seperti yang tersebut dalam al Qur’an: Nuh berkata; “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka (bangsaku) telah mendurhakaiku, dan telah

mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya selain kerugian belaka. dan melakukan tipudaya yang amat besar (Q/71:21-22), dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) Janganlah Engkau tambahkan lagi bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Q/71:24) Nuh berkata; “Ya Tuhanku, jangan Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir (bangsaku) tinggal diatas bumi (Q/71:26) Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir (Q/71:27). Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman, lakilaki dan perempuan. Janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Q/71:28) posted by : Mubarok institute

BAGAIMANA MENINGKATKAN KUALITAS RUHANI KITA? 1
Manusia adalah makhluk memiliki kecerdasan intelektiual, emosional dan spiritual, atau apa yang sekarang disebut IESQ. Oleh karena itu dalam meningkatkan kualitas ruhani, maka langkah-langkahnyapun harus mengikuti tahapan tiga kecerdasan tersebut. Pertama; Dalam mensikapi permasalahan berfikirlah logis, masuk akal. Kegunaan berfikir itu untuk (a) menjawab pertanyaan, (b) untuk mengatasi problem, (c) mengambil keputusan dan (d) menciptakan hal yang baru atau kreatifitas. Orang berfikir itu ada yang berfikir nalar atau realistis, ada yang tidak realistis, ada yang evaluatip, dan ada yang berfikir kreatip.. Ada tahapan dalam berfikir, yaitu berfikir, berzikir, kemudian tafakkur dan kemudian tadabbur. Banyak orang berfikir tetapi tidak tafakkur, banyak orang berzikir, juga belum tafakkur. Puncak dari tafakkur adalah tadabbur . Kata Nabi, jika aku diam itu karena mikir, jika aku berbicara , itu karena zikir dan jika aku melihat, itu karena mengambil pelajaran (an yakuna shumty fikran, wa nuthqy dzikran , wa bashary `ibratan) Kedua Tajamkan perasaan dalam memahami realita, dengan pertanyaan-pertanyaan; 1. siapa sesungguhnya anda?, 2. sesungguhnya anda pejuang atau parasit?, 3. lebih banyak mana yang anda berikan dengan yang anda ambil?, 4. benarkah anda terhormat ?, 5. siapa sebenarnya yang paling berperan?. 6. Dan seterusnya. Ketajaman perasaan akan terbangun jika kita bersentuhan langsung dengan problem mendasar manusia; menyaksikan dan terjun membantu orang kelaparan, orang kesakitan, orang kesulitan. Sekedar membaca Laporan orang tentang problem orang lain biasanya hanya masuk memori (kognitip), tetapi tidak menyentuh hati (afektip) sehingga kurang mendorong pada perilaku (psikomotorik). posted by : Mubarok institute

KEMATIAN

Daya tarik pembicaraan tentang mati sebenarnya bukan pada kematian itu sendiri, tetapi pada konsep mati itu apa. Di kalangan binatang saya kira tidak pernah ada diskusi dan seminar hidup itu apa dan mati itu apa. Bagi mereka hidup tak ubahnya mengikuti arus air, mereka sepenuhnya tunduk kepada alam, tidak ada rekayasa pemeliharaan lingkungan alam dan tidak ada pula usaha perusakan alam oleh mereka. Sedangkan di kalangan manusia, pembicaraan tentang mati senafas dengan pembicaraan tentang konsep hidup. Bagaimana makna mati tergantung pada apa yang menjadi pandangan hidupnya. Pembicaraan tentang makna mati sebenarnya berpangkal dari tiga pertanyaan abadi yang berlangsung sepanjang sejarah manusia, yaitu Dari mana, mau kemana dan untuk apa hidup manusia di muka bumi ini, min aina, ila aina wa limadza ? Pertanyaan pertama dan kedua hanya ada dua jawaban, yaitu orang beragama menjawab bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, sedang orang atheis menjawab bahwa manusia itu berasal dari proses alamiah dan akan hilang secara alamiah. Meski demikian rincian dari jawaban itu, terutama untuk pertanyaan ke tiga, sangat beragam dan rumit, serumit dan se ragam manusia itu sendiri. Konsep Islam tentang hidup dan mati saya kira cukup jelas, bahwa inna lillahi wa inna ilahi raji’un, sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada Nya, dan bahwa manusia berada di muka bumi ini bukan untuk iseng-iseng (Q/23:115) tetapi dimuati dengan amanah (Q/33:72) sebagai khalifah. Menurut Al Qur’an dan juga kenyataan, setiap jiwa pasti akan mati, kullu nafsin zaiqatul maut. , dan sesudah mati justeru ada kehidupan akhirat, yang menurut al Qur’an justeru merupakan kehidupan yang sebenanrnya (wa innal akhirota lahiyal hayawan)Akan tetapi agama Islam itu apa, bisa difahami dengan tingkat-tingkat pemahaman;, (1) sebagai konsep yang sempurna, tetapi masih di langit (2) sebagai konsep yang didemontrasikan di muka bumi, (3) sebagai konsep yang sudah membumi, (4) sebagai interprestasi, dan (5) sebagai tradisi. Lima tingkat ini bisa berdiri sebagai suatu struktur bangunan, tetapi bisa juga tidak. Tingkatan-tingkatan pemahaman ini membawa konsekwnsi pada keragaman dan juga kerumitan tentang konsep hidup dan mati yang diberi label “menurut Islam”. Dalam struktur ini tasauf berada pada tingkatan ke empat, setingkat dengan fiqh. Meskipun demikian, atau untungnya, tingkat otentisitas al Qur’an sebagai sumber utama dan konsep dasar ajaran Islam (dan diperkuat oleh tadwin assunnah) sangat membantu dalam mengembalikan seluruh tingkat pemahaman kepada sumber utama itu. Jika ulama fiqh berusaha memahami agama ini dengan semangat ijtihad (sistem berfikir), maka para sufi melakukan hal yang sama dengan semangat taqarrub, yakni dengan latihan-latihan spirituil yang lebih dekat dengan sistem perasaan. Ijtihad melahirkan produk-produk berupa hukum-hukum dan fatwa-fatwa, sementara bertasauf melahirkan pengalaman spiritual. Hasilhasil ijtihad bisa diuji dengan logika,, sementara pengalaman spirituil , meskipun secara filosofis bisa difahami, tetapi pembuktiannya hanya mungkin dilakukan melalui suluk. Oleh karena itu jika berbicara tentang tasauf maka paradigma yang digunakan juga harus paradigma tasauf. Istilah-istilah dalam tasauf juga hanya bisa difahami dengan cara berfikir dan cara merasa para sufi. posted by : Mubarok institute

TANDA-TANDA KIAMAT

Kita mengenal istilah Kiamat Kubra (Kiamat Besar) dan Kiamat Sughra (Kiamat Kecil). Kematian seseorang adalah kiamat bagi dirinya, selanjutnya ia menunggu di alam barzah bersama orang lain yang sudah mati hingga seluruh makhluk dunia itu mati. Ketika itulah, yakni ketika seluruh makhluk Tuhan mati dan hanya tinggal Dia, Allah al Hayyu al Qayyum, satusatunya yang hidup, maka itulah hari Kiamat bagi alam semesta. Kapan datangnya hari Kiamat merupakan rahasia Tuhan, dan tak seorangpun yang mengetahui keÂpastiannya, tetapi hadis Nabi menyebut tanda –tanda akhir zaman yang mendekati hari Kiamat, meski ukuran dekat yang disebut Nabi sangat berbeda dengan persepsi manusia tentang dekat. Rasul menyebutkan bahwa diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah: Ilmu dicabut dari masyarakat, kebodohan didemontrasikan, perzinaan dilakukan secara terbuka dan minuman yang memabukkan menjadi mode. Hadis lain menyebut tanda-tanda yang lain, yaitu jumlah lelaki semakin berkurang dan jumlah wanita semakin banyak. Hadis lain menyeÂbutkan bahwa di zaman akhir, fitnah merajalela, perubahan sosial terjadi dalam tempo yang sangat cepat, ada orang pagi hari masih muslim sorenya sudah kafir, sorenya masih muslim, pagi besoknya sudah kafir. Ketika itu banyak orang dengan mudah menjual keyakinan agama (prinsip-prinsip moral)Ânya, ditukar hanya dengan sedikit harta. Dari segi bahasa, qiyamah artinya tegak lurus atau bangkit. Kiamat dalam arti bangkit, kemudian disebut hari kebangkitan, merujuk kepada keterangan bahwa pada hari kiamat, seluruh manusia yang telah mati dibangkitkan kembali oleh Tuhan untuk memperÂtanggungjawabkan perÂbuatannya selama di dunia, mempertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang maha Adil. Kiamat dalam arti tegak lurus, menurut seorang mufassir, merujuk kepada keterangan bahwa pada hari kiamat nanti seluruh planet di tata surya dalam posisi tegak lurus sehingga sistem tata surya berhenti, alam semesta gelap gulita. Berbicara tentang kiamat, beberapa pengamat meramal bahwa negara Kesatuan Republik Indonesia sudah mendekati hari kiamatnya. Pernyataan moral tokoh-tokoh agama agak sedikit sopan, yakni menyebut bangsa Indonesia sudah berada di ambang kehancuran. Tanda-tanda mendekatnya hari kiamat Indonesia juga sudah nampak, antara lain, perubahan yang sangat cepat, pameran keÂbodohan dilakukan oleh masyarakat luas, termasuk kaum intelektuilnya, perzinaan dan kemaksiatan merajalela, sistem pemerintahan sudah kurang berfungsi dan sebagainya. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Kata Nabi, pada zaman yang penuh fitnah itu, bersegeralah melakukan amal saleh, Ba diru bi al a‘mal as salihat. Kalimat saleh dalam bahasa Arab mengandung arti konstruktif (maslahat), perdamaian (sulh), rekonsiliasi (islah), baik kualitasnya (solahiyyah), dan patut (yasluhu). Ketika ibu pertiwi menangis, sayup-sayup terdengar panggilan kepada seluruh patriot bangsa untuk segera menyeÂlamatkan bangsa ini dari kehancuran total. Dari pesantren tradisionil di dusun kecil jauh dari pusat kekuasaÂan juga terdengar seruan SOS, Ilahi sallimil ummah, minal afati wanniqmah wa min hammin wamin ghummah bi ahlil badri ya Allah. Ya Tuhanku, selamatÂkanlah bangsa ini, dari bencana dan penyakit, dari kecemasan dan kesedihan, berilah kami kemenangan seperti yang pernah Engkau berikan kepada ahlul Badar. Bangsa ini hanya mungkin diselamatkan jika kita memulai berfikir dan berbuat kontruktif, melakukan perdamaian secara vertikal, horizontal dan internal, melakukan rekonsiliasi terhadap problem masa lalu, memelihara kualitas diri dan memelihara nilai-nilai kepatutan dalam pergaulan sosial, regional, nasional dan international. Menurut teori Ibnu Khaldun, siklus kiamatnya suatu bangsa itu minimal dalam putaran seratus tahun. Usia Republik Indonesia itu baru 56 tahun, artinya Indonesia belum waktunya kiamat.

Oleh karena itu upaya menyeÂlamatkan bangsa ini masih menyajiÂkan sejuta harapan, asal kita benar-benar memiliki kehendak bersama untuk selamat. Sunnatullah mengajarkan bahwa tiada gelap yang selamanya, habis gelap pasti terbit terang, Di balik kesulitan ternyata tersedia segudang kemudahan, fa inna ma‘a al ‘usri yusra, inna ma‘a al ‘usri yura. Sadaqallah al “adzim. V posted by : Mubarok institute

KEPEMIMPINAN MASA KINI
Membahas masalah kepemimpinan dari masa ke masa, ibarat membuka kalender kehidupan, sambung menyambung tiada henti. Sebab usia kepemimpinan itu sendiri seiring dan sejalan dengan peradaban manusia.Apa yang telah diuraikan di bagian depan, hanyalah sekelumit dari timbunan yang bak gunung dalam gudang sejarah nan luas, tak bertepi dan tak beratap. Buat kita yang penting adalah sejauh mana bisa memetik hikmah dan pelajaran darinya. Penulis yang cukup menggemparkan dunia menjelang akhir abad ke-20, Sammuel P. Huntington, dalam akhir tulisan di buku The Third Wave: Democratization in The Late Twentieth Century 1) menyatakan, bahwa gelombang demokrasi telah terus menerus tanpa henti menghantam pantai kediktatoran. Dan untuk mewujudkan demokrasi, para elit politik di masa depan harus percaya bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling sedikit keburukannya. Oleh karena itu mereka harus memiliki ketrampilan untuk mewujudkannya, terutama dalam menghadapi golongan konservatif yang pasti akan terus mencoba bertahan. Demokrasi itu sendiri mempunyai dua dimensi kemasyarakatan dan dimensi kekuasaan/pemerintahan. 2) Pada tingkat kemasyarakatan prinsipnya adalah masyarakat demokrasi itu memiliki kebebasan, dan hanya dibatasi oleh konstitusi, hukum dan etika. Sebaliknya pada tingkat pemerintahan, pada dasarnya terbatas, sehingga pemerintahan dalam demokrasi disebut “Governing” dan bukan “rulling”. Governing adalah satu proses pengelolaan kekuasaan di mana keputusan-keputusan diambil berdasarkan konsensus. Tidak ada pemerintahan atau pengambilan keputusan secara sepihak, tetapi dirundingkan melalui proses tawar-menawar yang demokratis dan transparan. Perubahan dalam sistem ketatanegaraan tersebut membawa dampak besar dalam aturan main dan gaya kepemimpinan atau pemerintahan. Namun demikian berbagai literatur klasik maupun modern menunjukkan bahwa syarat, etika dan moral kepemimpinannya tidaklah berubah. Syarat, etika dan moral itu merupakan benang merah kepemimpinan dari suatu negara yang bermoral yang mengutamakan keadilan, ketenteraman, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya —suatu kebutuhan universal. Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dan juga telah mengalami masa transisi dengan berbagai kerajaan Islam sebelum Proklamasi Kemerdekaan, termasuk Keraton Kasunanan Surakarta, secara teoritis masalah kepemimpinan yang Islami bukanlah hal yang baru lagi. Sedangkan pemerintahan dan kepemimpinan yang Islami sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw, dalam kehidupannya di Madinah, adalah justru banyak dicita-citakan. Sayang sekali, sejarah juga menunjukkan tidak banyak pemimpin maupun pemerintahan Islam yang berhasil melaksanakan ajaran Rasulullah Saw, tersebut. Baru dalam hal keikhlasan dan proses menjadi pemimpin saja, sesungguhnya telah banyak pemimpin-pemimpin Islam yang gagal di tengah jalan. Betapa banyak tokoh kita yang secara ambisius dan terang-terangan

meminta jabatan, bahkan jika perlu merebutnya dengan segala cara. Padahal Rasulullah Saw. tidak menyukai hal tersebut. Pernah, sahabat Abu Dzar Ra, berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa paduka tidak mengangkatku sebagai pejabat?” Mendengar itu Rasulullah menepuk punggungnya seraya bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, padahal sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, yang pada hari kiamat nanti akan memunculkan cela dan penyesalan, kecuali bagi orang yang dapat melaksanakan hak amanat itu dan kewajibannya sebagai pejabat, sebagaimana seharusnya.” (HR. Muslim dan Abu Daud) Petunjuk Rasulullah tadi bukan hanya dikemukakan kepada Abu Dzar saja, tetapi juga kepada Abdurrahman bin Samurah, “Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu”. Bahkan kepada Abu Musa dan dua orang keponakannya, Rasulullah kembali menegaskan, “Demi Allah, aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya.” (HR. Muslim) Kini, Republik kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Imam Al Ghazali dalam risalahnya “Nasihat Bagi Penguasa” mengulas sebab-sebab seorang penguasa yang kehilangan kekuasaanya dengan menyatakan antara lain bahwa penguasa tersebut tertipu oleh kekuasaan, kekuatan dan kesenangannya akan pendapat dan pengetahuannya. Ia melupakan musyawarah, dan menyerahkan kekuasaan kepada para petugas yang tak berpengalaman, melupakan petugas senior dan berpengalaman. Ia telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang tepat, tidak banyak berpikir tentang peluang itu, dan tiada pula melaksanakan pada saat yang diperlukan. Ia kurang tanggap pada tempat yang harus siap segera, dan kurang cepat menggunakan kesempatan dan kesibukan untuk memenuhi segala keperluan. Para utusan dan pembantu yang tidak jujur serta berkhianat dalam menyampaikan risalah, hanya karena kepentingan perut mereka, menurut Al Ghazali, juga sangat menimbulkan keburukan. Betapa banyak kerajaan menjadi hancur karena ulah mereka. Islam mengajarkan sabda Rasulullah, “Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperuntukkan baginya menteri yang jujur, yang bila ia lupa, maka ia (menteri) akan mengingatkannya, dan bila ia ingat maka menteri pun akan membantunya. Dan apabila Allah berkehendak selain itu, maka Allah akan menyediakan baginya menteri yang jahat, yang bila ia (pemimpin) lupa, maka sang menteri tidak mengingatkannya, dan bila ingat maka sang menteri tidak membantunya”. (HR. Abu Daud) Kalaulah kerajaan di masa lalu kita analogkan dengan Republik dan Raja kita analogkan dengan para pemimpin bangsa, maka tergolong pemimpin yang manakah kita sekarang ini? Melihat keamanan yang semakin tidak terjamin, keadilan yang semakin jauh dan kian memudarnya kepastian masa depan, rasanya sudah seharusnya jika kita semua sekarang ini mau secara jujur bercermin diri, memohon ampun kehadirat Ilahi dan kembali bersama-sama berjuang mewujudkan Negara Idaman, Negara Utama yang Bermoral. Insya Allah. posted by : Mubarok institute

KIAT: KETIKA MASUK KAMAR TIDUR
Di antara sifat basyariah manusia adalah haus jika tubuh sudah membutuhkan air, lapar jika tubuh sudah membutuhkan makanan dan lelah serta ngantuk jika tubuh sudah membutuhkan istirahat. Lingkaran hidup harian manusia sebagai basyar adalah bangun tidur, makan, minum, bergerak, istirahat dan kembali tidur. Tidur bagi manusia merupakan subsistem dari sistem hidupnya, psikis maupun psikologis. Pada umumnya manusia, tidur bagaikan mati dimana fungsi-fungsi jiwanya tidak bekerja, tetapi pada sebagian orang tidur merupakan saat dimana aktifitas spirituil justeru meningkat, sehingga ketika bangun tidur bukan hanya tubuhnya yang segar tetapi juga jiwanya. Orang-orang saleh sering menerima ilham (ruya al haqq) justeru ketika sedang tidur. Diantara adab tidur menurut ajaran Islam adalah sebagai berikut: 1. Tidur cepat. Menurut Aisyah r.a, Rasulullah selalu berangkat tidur di awal malam. (muttafaq `alaih) 2. Tidur dalam keadaan berwudlu`. Rasulullah bersabda: Apabila engkau mau tidur, berwudlu`lah seperti engkau berwudlu` untuk salat. (muttafaq `alaih) 3. Berbaring diatas lambung kanan dengan berbantal tangan kanan seperti yang dicontohkan Rasulullah, kemudian boleh beralih di atas lambung kiri dan berbantalkan tangan kiri. 4. Tidak mengambil posisi tidur yang mengganggu kesehatan, misalnya terlalu lama tidur tengkurap. 5. Sebelum tidur membaca ayat Kursiy dan akhir surat al Baqarah, surat al Ikhlas, al Falaq dan an Nas, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. 6. Berdoa ketika berbaring dengan doa Rasulullah: Bismika Allahumma ahya wa amutu Artinya: Dengan nama Mu ya Allah aku hidup dan aku mati. 7. Apabila mendapat mimpi buruk di malam hari, atau terkejut, atau merasa takut, disunatkan membaca doa: A`udzu bi kalimatillahi at tammati min ghadlabihi wa `iqabihi wa syarri `ibadihi min hamazatis syaitani an yahdurun Artinya: Aku berlindung dengan kalimat Allah (Al Qur`an) yang sempurna dari murka Nya, dan dari siksa Nya, dari kejahatan hamba-hamba Nya dan dari segala gangguan syaitan yang mendatangiku. (HR. Abu Daud) 8. Memeriksa tempat tidur menjelang tidur. Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang diantaramu hendak menempati tempat tidurnya, hendaklah ia mengambil kainnya, memeriksa alas tidurnya, dan bacalah basmalah karena ia tidak mengetahui apa yang ditinggalkan di tempat tidurnya setelah ia pergi. 9. Mengevaluasi diri apa yang telah dilakukan selama ini, baik perbuatan maupun perkataan untuk kemudian segera bertobat, mohon ampun atas segala kesalahannya pada saat itu juga. posted by : Mubarok institute

KELUARGA SEBAGAI PILAR MASYARAKAT

Diantara pilar kebahagiaan keluarga adalah jika mereka tinggal di dalam lingkungan sosial yang sehat. Ada tiga lingkaran yang saling mempengaruhi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Secara teori keluarga yang baik akan menjadi pilar lahirnya masyarakat yang baik, karena keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Dalam kenyataan, banyak keluarga –karena belum menjadi keluarga sakinah- rentan sekali terhadap pergaulan sosial sehingga bukannya keluarga mewarnai masyarakat tetapi semua keburukan sosial justeru masuk kedalam rumah. Sekolah yang baik mestinya akan membantu terwujudnya keluarga yang baik dan masyarakat yang baik, tetapi sistem pendidikan sekolah masih lebih dominan untuk transfer kognitip, lemah unsur tranfer afektip sehingga sekolah yang baik baru produktip untuk anak didik yang baik juga. Murid-murid dari keluarga yang tidak sakinah tidak banyak berubah meski disekolahkan di sekolah unggulan. Dalam kondisi seperti itu diperlukan paradigma baru dalam membangun masyarakat Indonesia dewasa ini. posted by : Mubarok institute

SUNNATULLAH SOSIAL DAN SEJARAH
Jika alam memiliki keseragaman, manusia disamping memiliki keseragaman ia juga memiliki keunikan. Sebagai makhluk yang unik, setiap manusia adalah dirinya, berbeda dengan yang lain. Secara fisik manusia memiliki kesamaan antara yang satu dengan yang lain, dalam al Qur’an disebut basyar. Secara psikologis setiap manusia adalah dirinya, unik, berbeda dengan yang lain meski masih bisa diklassifikasi.Sebagai makhluk psikologis, al Qur’an menyebut manusia dengan nama insan. Jiwa individual manusia adalah miniature dari alam semesta, oleh karena itu jika alam benda lebih mudah dilihat keharmoniannya, alam jiwa manusia lebih mudah ditemukan kerumitannya. Terhadap hukum alam, manusia sepenuhnya tunduk tanpa sanggup mengubahnya. Suka atau tidak suka manusia mengikuti dan menyesuaikan dirinya dengan segala sesuatu yang ada pada hukum benda dan hukum alam semesta. Sedangkan terhadap hokum kejiwaan, hokum social dan hokum sejarah, manusia memiliki persepsi dan respond yang berbeda-beda sesuai dengan keunikan karakteristik psikologis yang dimilikinya. Manusia memiliki kehendak yang disadari dalam mensikapi hokum alam, hokum social dan hokum sejarah. Kaidah Sunnah Sosial dan Sunnah Sejarah Pengetahuan tentang sunah social dan sunah sejarah akan berguna sebagai kunci dalam (a) memahami hokum kejiwaan manusia (sunnah tabiat) secara mendalam, (b) dalam memprediksi perilaku social dan (c) dalam mengambil langkah strategis sebagai tonggak sejarah. Menurut al Qur’an, sekurang-kurangnya ada tiga kaidah yang berlangsung dalam sunnah social, yaitu : 1. Sunnatullah itu bersifat mapan dan tak bisa diganti (hokum baku) 2. Berlaku umum tanpa pengecualian

3. Berlangsung adil tanpa ada yang dirugikan 1. Hukum Baku Sejak dahulu pola hubungan sebab akibat atas perilaku masyarakat bersifat baku.. Sejak zaman Nabi-nabi terdahulu berlaku hokum social; barang siapa mengedepankan kesombongan dan rekayasa jahat, maka akibat buruk dari perbuatan itu pada akhirnya akan menimpa diri mereka sendiri dengan segala kepentingan-kepentingannya. Al Qur’an menasehatkan agar manusia memperhatikan pola sebab akibat itu, karena hokum social dan hokum sejarah yang demikian itu akan tetap berlaku, tidak bisa diganti dan tidak bisa disimpangkan; wa lan tajida li sunnatillahi tabdila. Wa lan tajida lisunnatillahi tahwila (Q/35:42-43) 2. Berlaku Umum Tanpa Pengecualian Menurut al Qur’an, hokum social itu berlaku berdasar prinsip-prinsip sebagai berikut : • Siapapun tanpa kecuali yang berbuat buruk pasti akan menerima balasan dari perbuatan buruknya; man ya`mal su’an yujza bihi (Q/4:132) • Bahwa perolehan dari perbuatan yang didasari oleh ilmu pengetahuan, berbeda dengan perolehan dari perbuatan orang bodoh; qul hal yastawi allazina ya`lamun wa allazina la ya`lamun? (Q/azzumar:9) • Bahwa fikiran dan perbuatan konstruktip akan menimbulkan efek social yang berbeda dengan fikiran dan perbuatan destruktip; ‘am naj`al allazina amanu wa`amilu assholihati kal mufsidina fil ardl (Q/Shad:28) • Bahwa kepalsuan tidak akan mendatangkan kemaslahatan (Q/5:18). 3. Hukum Sosial itu Adil Betapapun seringnya terjadi ketimpangan social, tetapi pada dasarnya hokum social, yakni sunnatullah dalam kehidupan social, berlangsung atas dasar prinsip keadilan; yakni barang siapa menanam ia akan memetik, barang siapa menabur angin ia akan menuai badai. Hanya saja prinsip ini baru dapat dilihat dalam rentang sejarah yang panjang. Dalam fragmen pendek sejarah, sering dijumpai orang jujur terkalahkan sementara yang curang dan jahat justeru menang. Baru setelah sejarah itu digelar dalam dua generasi – adakalanya masih satu generasi – yang jujur menikmati kejujurannya dan yang curang harus memikul resiko kecurangannya. Menurut al Qur’an, tidak ada pihak yang dizalimi, apalagi oleh Tuhan, sebaliknya manusia akan menanggung akibat dari kezaliman yang pernah dilakukan atas diri mereka sendiri. Wama dzolamahumulloh walakin kanu anfusahum yadzlimun (Q/an Nahl:33) posted by : Mubarok institute

FILOSOFI SUNNAH SOSIAL
Tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak bermakna. Jika Tuhan menciptakan hokum-hukum (sunnatullah) yang berlaku pada benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, baik manusia sebagai individu maupun hokum Tuhan pada manusia sebagai makhluk social dan pelaku sejarah, pastilah dibalik itu bukanlah tanpa maksud; robbana ma kholaqta hadza bathila(Q/2:…) Adanya sunnatullah itu dapat difahami filosofinya sebagai berikut: 1. Dengan adanya hokum alam, manusia yang mengetahuinya bisa mengoptimalkan pemanfaatan alam bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia. Tuhan menciptakan alam dengan segala

fasilitasnya memang diperuntukkan bagi kehidupan manusia; wa sakhkhara lakum ma fis samawati wama fil ardli jami`an (Q/45:13) 2. Dengan hokum social dan hokum sejarah yang adil, manusia bisa membimbing kehidupannya dengan peradaban yang tinggi, bermartabat dan berkeadilan, apa yang sekarang disebut dengan nama masyarakat madani, diilhami dari konsep al Madinah al Munawwarah; artinya, kota dimana penduduknya berperadaban tinggi, disinari oleh kebenaran ilahiyyah. 3. Dengan hokum social dan hokum sejarah yang adil, manusia bisa diarahkan hidupnya pada prinsip tanggung sebagaimana amanat manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Sebagai khalifah Allah, manusia dibekali akal sebagai problem solving capacity, hati sebagai alat untuk memahami realita, syahwat sebagai penggerak tingkah laku, hawa nafsu sebagai elemen penguji dan nurani sebagai alat control diri yang kesemuanya didesain Tuhan untuk memikul amanah dalam kehidupan yang berkeadilan dan bermartabat. 4. Adanya sunnatullah dalam kehidupan social dan sejarah memungkinkan manusia menyelaraskan kehidupannya secara harmonis antara dimensi horizontal dengan dimensi vertical. Secara horizontal manusia bisa memaksimalkan makna kehadirannya di pentas kehidupan, secara vertical bisa menggapai kecerdasan spiritual yang membuatnya berbahagia lahir dan batin. Realita Kehidupan Meski secara konsepsional manusia bisa menjadi makhluk yang bermartabat, realita kehidupan menunjukkan bahwa manusia harus berjuang keras untuk menjadikan dirinya bermartabat. Manusia memiliki tabiat kerjasama dan tabiat bersaing sekaligus. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia biasa kerjasama untuk memperoleh hasil yang lebih optimal bagi kesejahteraan hidup bersama. Namun demikian, tabiat bersaing sering menggoda manusia untuk bersaing secara tidak sehat. Manusia memiliki naluri untuk menjadi yang terbaik, menjadi orang nomor satu, padahal kursi nomor satu ya hanya satu. Banyaknya peminat yang menuju ke kursi nomor satu menjadikan jalan menuju kesana sempit dan manusia berdesakan. Dalam suasana psikologis berdesakan itulah manusia sering tergoda untuk menginjak orang lain agar dirinya bisa naik keatas. Medan persaingan menuju ke atas itu biasa disebut dunia politik. Ada orang yang menomorsatukan target politik, sehingga segala cara meski tak bermartabat dilakukan demi mencapai target “martabat” politik itu. Hal ini biasanya berlangsung di forum2 kongres, musda atau pilkada. Ada juga yang memandang politik sebagai ilmu dimana dengan ilmu politik ia bisa menyusun desain politik yang benar, tepat dan logic. Di sisi lain ada yang memandang politik sebagai game dan seni sehingga dalam perkelahian politik sekalipun ia tetap mematuhi koridor game dan seni sehingga dunia politik menjadi sesuatu yang indah ditonton dan indah dirasakan. Ada pemain politik yang mampu mengendalikan jalannya politik, tetapi ada politisi yang justeru dipermainkan oleh politik yang dijalankannya. Ada orang yang duduk di singgasana politik tetapi tidak memiliki kekuasaan, sebaliknya ada orang yang berada diluar system politik tetapi ia justeru menjadi pengendali kekuasaan politik. Persaingan tidak akan melahirkan permusuhan hanya jika manusia bersaing dalam bidang kebajikan. Orang yang taat kepada Tuhan tidak pernah merasa tersaingi oleh orang lain yang lebih taat. Orang yang suka menolong orang lain secara ikhlas tidak pernah merasa tersaingi oleh orang lain yang melakukaanya secara lebih banyak dan lebih baik. Tetapi jika bersaing dalam hal yang bersifat rendah (harta dan jabatan atau gengsi), di dalam masjid sekalipun mereka

bermusuhan, berebut menjadi imam, khatib atau pengurus. posted by : Mubarok institute

SOLIDARITAS POLITIK: PORNOMORALITA YANG KONTRAPRODUKTIF
Pornografi dihujat, padahal ia hanya berupa gambar atau tulisan. Kenapa? Karena pornogÂrafi mencerminkan perilaku tak bermoral, merendakan martabat sendiri dengan membuka aurat. Aurat adalah sesuatu yang tidak semestinya dibuka, karena menimbulkan rasa malu, baik bagi pemiliknya maupun bagi yang melihat. Aurat yang terbuka juga dapat merangsang orang melakukan tindakan asusila. Penghujat pornografi boleh jadi seorang moralis, yang secara sungguh menentang dan berusaha memberantasnya. Ada juga orang yang mengeluarkan suara lantang terhadap pornografi, tetapi secara diam-diam justeru melakukan pornoaksi. Di tempat terbuka ia menentang pornografi dan menutup aurratnya, tetapi di tempat tersembunyi ia membuka auratnya dan bukan hanya melukis porno, tetapi menjalankan praktek porno, atau pornoaksi. Bagi orang yang bermoral, perbuatan menonton aurat orang lain, apalagi mempertontonkan aurat sendiri di muka orang lain, merupakan hal yang sangat memalukan, menjijikkan dan memuakkan. Tapi bagi orang yang tak bermoral, hal itu merupakan hal yang sederhana, bahkan aurat bisa diekploitir untuk kepentingan bisnis. Sesungguhnyalah bahwa perbuatan porno bukan hanya yang berhubungan dengan aurat sex. Semua perbuatan memalukan tetapi dilakukan secara terÂbuka hakikatnya adalah perbuatan porno, yakni porÂnomoralita. Seorang koruptor yang membela diri perbuatannya dengan tanpa beban psikologis pada hakikatnya adalah kepornoan juga, pornomoral. Demikian juga politisi yang nuraninya berkata salah, tetapi di depan publik masih bisa berargumen dengan sangat logis menurut bahasa hukum atau bahasa politik, yang dengan itu sebenarnya ia sudah tidak bernurani, maka ia telah melakukan perbuatan porno, porno moral. Dewasa ini praktek pornomoral itu banyak sekali dipertontonkan oleh para politisi. Aurat moralnya dipertontonkan secara terbuka kepada publik dalam debat publik, dalam konferensi pers dan dalam pidato resmi di parlemen. Banyak kalimat-kalimat indah dan logis, tetapi sebenarnya bertentangan dengan nuÂraninya sendiri. Kalimatnya benar, tetapi maksudnya yang buruk, kalimat al haqq yuridu biha al bathil, kata kitab kuning. Solidaritas politik memang sangat riskan terhadap moral porno. Politik adalah satu pandangan yang berhubungan dengan cita-cita kekuasaan. Partai politik memang didirikan untuk menggapai kekuasaan politik. Para politisi adalah orang yang secara psikologis memiliki “ambisi” untuk mencapai tingkatan kekuasaan tertentu dalam kehidupan politik. Tegasnya, setiap politisi berharap suatu ketika akan dapat menduduki kursi kekuasaan. Secara fitri manusia memang memiliki interest, baik interest politik maupun interst ekonomi, apa yang di dalam ilmu tasauf disebut hubbul jah war riyasat. Sepanjang hanya interst, hal itu merupakan fitrah manusia dan tidak mengapa. Hal itu akan menjadi masalah moral ketika cara menggapainya mengabaikan nilai-nilai moral. Syahwat politik itu sangat dahsyat kekuatannya.

Banyak orang sanggup melakukan apa saja termasuk perselingkuhan politik asal tujuan politiknya tercapai. Sumpah palsu, perÂsekongkolan jahat, suap, tipuan dan tekanan meÂrupakan sederetan tawaran transaksi politik. Politisi yang bermoral akan menghindari perbuatan tak bermoral, tetapi bagi politisi tak bermoral, jika diperlukan, why not ? namanya juga politik, katanya. Berpolitik bukan hanya membela yang benar, tetapi jika perlu maju tak gentar membela yang bayar. Ia akan bela mati-matian dengan segala cara, temannya yang sealiran politik meski ia tahu bahwa temannya itu salah. Ia juga siap menghancurkan lawan politiknya dengan segala cara meski ia tahu bahwa lawannyalah yang benar. Sebenarnyalah bahwa dorongan untuk berperan serta dalam kepemimpinan politik merupakan perÂwujudan dari tanggung jawab seorang khalifah Allah. Manusia yang memiliki kemampuan berkewajiban membangun dan memimpin masyarakat bangsanya menuju kepada cita-cita politik yang sehat dan berÂmoral. Politisi bisa jatuh bangun, tetapi kepentingan politik tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia. Oleh karena itu seorang politisi yang bijak akan memilih orientasi politik jangka panjang dengan membangun konsistensi hingga terbangun pada dirinya citra politik yang tinggi nilainya. Partai politik yang dewasa tak akan segan-segan memecat dan mengajukan ke pengadilan, kader-kadernya yang terÂbaik sekalipun jika didapati melanggar moral politik. Meski sedih, ia akan dengan tegas dan tegar mengÂhukum kadernya yang salah. Solidaritas politk yang menutup mata dari nilai moral sebaliknya justru akan merugikan partai itu dalam jangka panjang, karena masyarakat luas pemilihnya justeru akan menjauhinya, meski dalam waktu pendek berhasil memenangkan pembelaan terhadap kadernya yang salah. Solidaritas politik yang porno pada gilirannya akan membuat rakyat muak terhadap partai politik, dan ini dapat memanggil kembali kekuatan repressif untuk tampil kembali ke panggung kekuasaan, hanya karena mereka bisa menyembunyikan aurat moralnya. Wallohu a‘lam. posted by : Mubarok institute

CEPAT MATI
Kata Nabi, sebaik-baik orang adalah yang umurnya panjang dan baik prestasinya. Kata Nabi pula, seburuk-buruk orang adalah yang umurnya panjang dan buruk perilakunya. Hidup, mati, kaya, miskin, pangkat tinggi dan pangkat rendah adalah peluang dimana setiap orang diuji siapa diantara mereka yang paling besar kontribusinya pada kebaikan. Yang kaya belum tentu lebih besar maknanya bagi kehidupan manusia dibanding yang miskin, yang bodoh belum tentu lebih sedikit amalnya dibanding yang pinter. Makna kehadiran manusia dalam pentas kehidupan adalah pada manfaat keberadaanya bagi orang lain. Jika keberadaan manusia hanya membuat kesulitan bagi orang lain karena padanya tidak ada satupun unsur yang dapat dibanggakan, maka cepat mati adalah yang terbaik, terbaik untuk yang bersangkutan maupun bagi orang lain. posted by : Mubarok institute

BANYAK DIAM
Jika seseorang tidak memiliki kecerdasan akal, tidak memiliki sopan santun yang baik, tidak punya sahabat sejati dan hatinya tidak kokoh, maka yang terbaik baginya adalah diam, tidak banyak mengomentari realita. Tanpa empat hal pertama, jika ia berbicara pasti hanya akan disalah pahami oleh orang lain, bisa karena memang disalah fahami atau salah ucap. Semestinya seorang mu’min itu hanya berbicara jika yang dikatakan itu baik. Menurut hadis

Nabi, Tuhan menyuruh kita, jika kita diam, itu karena mikir, jika kita berbicara, itu karena zikir, dan jika kita melihat, itu karena mengambil pelajaran. posted by : Mubarok institute

HATI YANG PEKA
Dalam al Qur’an hati disebut dengan nama qalb, dan menjadi kalbu dalam bahasa Indonesia. Qalb adalah alat untuk memahami realita. Sesuatu yang secara rationil tidak bisa diterima oleh akal, terkadang bisa difahami oleh hati. Hati dapat disebut sebagai pusat kendali tingkah laku manusia, maka jika seseorang hatinya rusak maka rusak pula perbuatanya, jika hatinya lurus, maka lurus pula perbuatannya. Tetapi secara bahasa, qalb artinya bolak balik, oleh karena itu karakter hati adalah bolak-balik tidak konsisten. Hati yang peka adalah hati yang sudah kokoh dan mantap (tsabit an nafs), tidak mudah terombang-ambing oleh realita yang selalu berubah. Sungguh beruntung orang yang memiliki hati yang peka, meski kurang cerdas, wajahnya garang, dan mungkin sedikit sahabatnya. posted by : Mubarok institute

SAHABAT SEJATI
Manusia adalah makhluk sosial dimana ia akan menjadi apa dan siapa tergantung dengan apa dan siapa ia bergaul. Secara fitri manusia membutuhkan orang lain; sebagai teman, sebagai partner, sebagai pesaing dan bahkan sebagai lawan. Sahabat sejati adalah orang yang selalu berfikir dan berkehendak baik terhadap sahabatnya. Ia akan memberi dukungan jika ia merasa bahwa dukungannya itu akan membawa kebaikan sahabatnya. Sebaliknya jika sahabatnya keliru jalan, ia akan berkata tidak! meski pahit diucapkan dan pahit di dengar. Sahabat yang materialistis biasanya rajin apel dalam keadaan suka, tetapi ia segera menjauh jika sahabatnya dalam kesulitan, ia sahabat hanya dalam suka, tidak dalam duka. Sahabat yang sekerabat biasanya angin-anginan, terkadang mesra, tetapi suatu ketika bisa menjadi musuh, bahkan musuh yang sukar didamaikan. Sahabat sekerabat adalah sahabat sehidup, tetapi belum tentu semati. Hanya sahabat sejati yang biasanya jarang hadir dalam keadaan suka, tetapi justru hadir membela ketika dalam duka. Sahabat sejati adalah sahabat yang terikat oleh nilai-nilai kebajikan, ikhlas dan ibadah. Ketika kita sudah matipun sahabat sejati tetap menjaga nama baik kita, mendoaakan kita. Dialah sahabat sehidup semati, sahabat di dunia dan sahabat di akhirat. posted by : Mubarok institute

SOPAN SANTUN YANG TERJAGA
Manusia adalah makhluk yang memiliki kepekaan sosial, yang perilakunya disesuaikan dengan apa yang dipandang sebagai harapan orang lain. Perilaku seseorang di depan orang sakit pasti berbeda dengan ketika di depan orang sehat. Demikian juga ketika berada di depan orang tua, berbeda perilakunya dengan ketika berada di tengah teman sebaya.

Manusia mengenal apa yang dipandangnya sebagai kepantasan, sebagai kepatutan. Itulah yang disebut sebagai sopan santun, sebagai etiket. Sopan santun (adab) adalah akhlak yang bersifat lahir. Ada orang yang sangat sopan padahal hatinya jahat, disamping ada orang yang wajahnya garang tetapi hatinya lembut. Penipu biasanya membungkus aksinya dengan sopan santun. Meski begitu, secara umum, sopan santun merupakan cermin dari kehalusan budi pekerti . Orang bodoh yang sopan lebih disukai dibanding orang pandai yang tidak punya sopan santun. Sungguh beruntung orang yang masih bisa memelihara sopan santunya dalam pergaulan. posted by : Mubarok institute

AKAL YANG ORISINAL
Memang orang boleh berbangga jika masih memiliki akal yang orisinil. Akal adalah problem solving capasity yang berfungsi untuk berfikir. Dengan fikirannya itulah manusia bisa mengatasi masalah, bisa menjawab pertanyaan, bisa nengambil keputusan dan bisa melakukan berbagai kreatifitas. Akal itulah yang membuat manusia berbeda dengan hewan. Secara filosofis, manusia adalah hewan yang berfikir, hayawanun natiqun, jika hilang akalnya maka yang ada tinggal hewannya. Akal adalah subsistem dari jiwa yang fungsinya berfikir, merasa dan berkehendak. Akal bisa menemukan kebenaran tetapi tidak menentukannya, karena jika ada seribu orang maka ada seribu kebenaran. Kebenaran menurut akal maling berbeda dengan kebenaran menurut akal polisi. Kebenaran menurut akal terdakwa berbeda dengan menurut akal jaksa dan hakim. Akal yang orisinil adalah akal yang berfikir dan keputusannya konsisten mengikuti logika kebenaran, tidak terkontaminasi oleh kepentingan. Akal yang prima menurut mufassir Fahruddin ar Razi dalam tafsir al Kabir disebut al ‘aql as salim, dan itulah nurani. posted by : Mubarok institute

ENAM KEBANGGAAN
Manusia adalah makhluk yang berkesadaran, oleh karena itu lazimnya setiap orang menyadari betul apa yang dimilikinya, apa yang bisa diberdayakan untuk kehidupan, apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dibuang. Secara fitri manusia adalah makhluk yang memiliki tabiat berkompetisi di samping tabiat koperatif. Orang yang akhlaknya rendah, ia akan melakukan segala cara dalam berkompetisi, meski cara yang haram sekalipun, karena ia hanya bisa berbangga dengan apa yang dianggap sebagai kesuksesan. Bagi orang yang berakhlak tinggi, ukuran kesuksesan bukan pada kemenangan itu sendiri, tetapi sebangun dengan bagaimana cara memperolehnya. a Baginya, kalah terhormat lebih membanggakan dibanding kemenangan dengan curang. Kesuksesan dalam kompetisi di satu sisi diwujudkan dalam bentuk jabatan, harta, dukungan, prestasi, akreditasi, di sisi lain juga diwujudkan dalam ukuran konsistensi, morality, kejujuran, kesederhanaan dan keadilan. Berkompetisi secara fair akan melahirkan budaya koperatif, sementara berkompetisi secara curang akan melahirkan budaya kanibalistik. Empat tahun era reformasi telah mengantarkan kita pada perasaan dehumanisasi, perasaan kemanusiaan yang compang-camping sehingga kita kehilangan kebanggaan atas apa yang kita miliki. Jabatan publik seperti Menteri, Gubernur, Hakim atau anggauta Parlemen, ternyata tidak

sebangun dengan citra putra-putra terbaik bangsa. Apa yang dapat dibanggakan dari jabatan publik yang berlumuran dengan suap, kolusi, mafia hukum dan segala coreng-moreng. Gelar akademik yang tinggi, apalagi yang sekedar gelar kehormatan (Hon.) yang dibeli, juga tidak sebangun dengan kearifan, kecerdasan dan integritas. Apa yang dapat dibanggakan dari orang yang menyandang gelar akademik tinggi tetapi sering melakukan kebodohan secara telanjang. Keberhasilan dalam bisnis ternyata juga tidak sebangun dengan kesejahteraan masyarakat. Apa yang dapat dibanggakan dari konglomerat yang sukses membobol keuangan negara puluhan trilyun rupiah, yang pelunasannya dipikulkan kepada rakyat miskin? Bahkan gelar sosial keagamaan ternyata juga tidak sebangun dengan kesalehan dan keteladanan. Apa yang dapat dibanggakan dari seorang yang menyandang gelar agamawan tetapi perilakunya hanya menjadi tontonan, bukan tuntunan? Lalu apa yang masih bisa kita banggakan? Bertanya Kepada Rumput Yang Bergoyang Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia melalui berbagai saluran. Pertama dan tertinggi adalah wahyu, dalam hal ini bagi orang Islam adalah Al Qur’an dan kemudian dijelaskan oleh hadis Nabi. Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang percaya (Q/2:97), petunjuk bagi orang yang patuh dan takwa, hudan lil muttaqin (Q/2;2). Bagi orang yang tidak percaya, al Qur’an tak berfungsi apa-apa (Q/2;6). Petunjuk Tuhan juga disampaikan melalui sunnatullah (hukum alam) pada alam semesta dan pada sejarah manusia, karena sunnatullah itu konsisten bagaikan hukum besi yang tak bisa ditawar dan diganti. (Q/35:43). Oleh karena itu orang yang pandai menangkap fenomena alam dan sejarah, yang mau belajar kepada alam dan sejarah manusia, ia bisa menjadi cerdas, bukan saja bisa menerangkan makna kejadian, tetapi juga mampu memprediksinya. Dalam perspektif inilah maka sepanjang sejarah kemanusiaan selalu saja muncul orang bijak dengan kata-kata mutiaranya, muncul hukama dengan kata-kata hikmahnya. Hikmah itu sendiri kata Nabi bagaikan mutiara yang tercecer, yang bisa ditemukan entah oleh siapa saja (al hikmatu dlallat al mu’min anna wajadaha), oleh karena itu kapanpun orang menemukannya, hendaknya cepat pungut, meski mutiara itu berada di lumpur. (khuz al hikmat walau min ayyi wi‘a’in kharajat), dan barang siapa beruntung dapat memungut hikmah, maka kata al Qur’an, sungguh ia bagaikan menemukan “durian runtuh” yang tak ternilai harganya (waman yu’ta al hikmata faqad utiya khairan katsiran (Q/2:269). Ali bin Abi Thalib pernah berkata; Perhatikan apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berbicara (undzur ma qala wala tandzur man qala). Kebanggaan versi Hikmah Adalah seorang hukama abad pertengahan bernama Ahnaf bin Qais, ia ditanya oleh orang-orang yang gelisah melihat perilaku masyarakatnya yang sedang sakit, yang tidak lagi mementingkan nilai-nilai kemuliaan. Wahai tuan guru, apa yang tertinggal pada kita yang masih dapat kita banggakan? ma khoiru ma yu‘tho al ‘abdu? hukama itu menjawab; akal yang orisinil (‘aqlun ghoriziyyun). Orang-orang berkata, wah, sekarang sudah tidak ada orang yang akalnya masih orisinil,. kalau akal orisinil nggak punya lalu tinggal apa (fa in lam yakun? tanya orangorang. Adabun shalihun, sopan santun yang terjaga, kata hukama. Wah, sekarang orang juga sudah tidak lagi menjaga sopan santun tuan guru! selain dua hal itu masih adakah yang dapat kita banggakan? shohibun muwafiqun; sahabat sejati, kata hukama. Orang-orangpun berkata; waduh... sahabat sejati juga susah didapat, karena orang tidak lagi membela yang benar tetapi membela yang bayar. Masih adakah selain yang tiga itu wahai tuan guru? qalbun murabithun; hati yang peka, kata hukama. Waduhh, lagi-lagi yang itu juga jarang didapat, kata orang-orang. Sekarang kebanyakan orang hatinya gelap, tidak peka, nuraninya

mati, masih adakah yang dapat kita banggakan wahai tuan guru? ada, thul as shumti, banyak diam, kata hukama. Yah, yah, yah, diam itu emas, kata orang. Tapi tuan guru, sekarang ini zaman reformasi, semuanya berbicara meski asal bicara, dan tidak ada orang yang mau diam merenung. Kalau lima hal itu juga tidak punya, masih adakah yang dapat kita banggakan wahai tuan guru? Ada, dan ini adalah yang terakhir, yaitu mautun hadirun; cepet mati. Subhanallaaah, desah orangorang. posted by : Mubarok institute

HARTA DAN KELUARGA YANG BENAR-BENAR MEMBANGGAKAN
Menurut al Mawardi dalam Kitab Adab ad Dunya wa ad Din, harta dan kekuasaan akan benarbenar menjadi kebanggaan jika ia duduk dalam sistem yang bersendikan enam subsistem, yaitu; (1) dinun muttaba‘un, agama yang diikuti aturannya (2) sulthanun qahirun, kekuasaan yang efektif, (3) ‘adlun syamilun, keadilan yang merata (4) amnun ‘am, keamanan umum yang terjamin, (5) khishbun da’imun, kesuburan yang konstan, dan (6) amalun fasihun, cita-cita yang tinggi. Agama yang diikuti aturannya Dengan mengikuti aturan agama maka kekayaan akan sebangun dengan kemaslahatan dan kesejahteraan umum. Orang kaya membayar zakat, sedekah dan infaqnya, masyarakat miskin merasakan manfaat dari kehadiran orang kaya. Orang-orang miskin yang terbantu menghormati, menyayangi, mendoakan, membela dan melindungi orang kaya, dan orang kaya yang patuh beragama ini hidup tenang aman dan bahagia. Demikian juga penguasa yang mematuhi ajaran agama, ia tidak merasa sebagai penguasa, tetapi merasa sebagai pelayan masyarakat, sayyid al qaumi khadimuhum. Kekuasaan yang efektif Menjadi orang kaya di lingkungan masyarakat dimana sistem kekuasaan tidak berjalan efektif, akan sulit untuk mengembangkan kejujuran, karena ia harus selalu siap menghadapi ketidak menentuan. Kekuasaan yang efektif bisa melindungi si lemah dari kezaliman, bisa memaksa orang kaya untuk membayar kewajibannya. Demikian juga menduduki kursi kekuasaan dari sistem kekuasaan yang tidak effektif hanya akan menempakan penguasa menjadi boneka kepentingan. Keadilan dan keamanan Keadilan umum yang merata akan membuat masyarakat merasa aman, percaya diri dan bercitacita. Dalam suasana keadilan yang merata orang kaya merasa tidak sia-sia berbuat baik dengan hartanya, penguasa merasa berani untuk bertindak fair karena didukung oleh rasa keadilan masyarakat. Kesuburan dan cita-cita Kesuburan yang konstan akan menghidupkan perekonomian masyarakat yang berpola, dan dalam suasanan adil, aman dan subur akan terbangun cita-cita yang tingi. posted by : Mubarok institute

KEBANGGAAN YANG MENGECOH

Secara sosial, ada dua hal yang secara umum membuat seseorang berbangga hati, yaitu; (1) jika berhasil memiliki kekayaan harta, (2) jika berhasil menduduki kursi kekuasaan. Jalan pikiran dari dua kebanggaan itu ialah, Pertama; dengan uang semuanya bisa dibeli; jabatan, titel, hukum, kehormatan bahkan orangpun bisa dibeli. Semua kesenangan hidup seakan dapat dibeli dengan uang. Kedua; dengan kekuasaan, semua keinginan bisa dicapai, semua hambatan bisa disingkirkan. Dengan menggenggam dua hal itu; harta dan kekuasaan, dunia seakan sebagai sorga. Benarkah ? Sesungguhnyalah bahwa manusia sering tertipu oleh obsessi sendiri. Secara fitri, kenikmatan materi selalu meningkat standardnya, yang dengan demikian manusia sebenarnya tidak pernah bisa benar-benar menikmati kekayaan. Nikmatnya makanan lezat hanya dirasakan pada kali yang pertama dan kedua. Ketika makanan lezat yang sama dihidangkan berturut-turut selama dua tiga hari, maka lidah tidak lagi merasakan kenikmatannya, sebalinya berubah menjadi bosan dan muak. Demikian juga dengan uang. Ketika pertama kali orang memiliki uang sejuta rupiah, maka kebanggaan menyelimuti hatinya, tetapi ketika satu milyard sudah berada di tangan, maka ia tidak lagi dapat merasakan kebanggaan atas uang satu juta. Begitulah hati manusia terhadap materi; uang, pakaian, rumah, kendaraan, makanan dan seterusnya. Demikian pula dengan kursi kekuasaan. Ketika pertama kali seseorang berhasil menduduki jabatan dalam struktur kekuasaan, maka ia berbangga hati dengan jabatannya itu. Tetapi ketika ia berhasil naik ke jenjang kekuasaan yang lebih tinggi, maka ia memandang kecil makna jabatan dibawahnya. Ketika sudah berada dalam kursi kekuasaan yang tertinggi, maka pada gilirannya ia mengidap perasaan takut jatuh dari ketinggian. Oleh karena itu yang dilakukan kemudian adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan agar tidak jatuh. Dari atas kursi yang tertinggi ia merasa terancam oleh orang-orang yang dahulu menjadi sahabatnya, ketulusan berubah menjadi kecurigaan, keindahan pengabdian berubah menjadi rekayasa palsu. Harta dan kekuasaan seringkali mengubah perilaku manusia dari lembut menjadi kasar, dari persahabatn menjadi permusuhan, dari ketenangan menjadi kegelisahan, dari keadilan menjadi kezaliman. posted by : Mubarok institute

MATINYA NURANI
Nurani berasal dari bahasa Arab nur, artinya cahaya, kemudian menjadi nuraniyyun yang artinya bersifat cahaya. Dalam bahasa Indonesia, nurani digunakan untuk menyebut lubuk hati yang terdalam, disebut juga kata hati atau hati nurani. Jika seorang pencuri membunuh petugas ronda atau hansip yang memergokinya, disebut penjahat, maka pencuri yang memperkosa wanita didepan anaknya dan suaminya yang tak berdaya setelah dilukainya seperti yang baru-baru ini terjadi di Manggarai, pencuri tersebut bukan hanya penjahat, tetapi lebih dari itu disebut telah tidak lagi memiliki nurani. Orang yang berbohong, kemudian tersipu-sipu ketika terbongkar kebohongannya, maka dia adalah pembohong biasa. Tetapi seorang tokoh yang berbohong dan kebohongannya sudah terbongkar di depan publik secara luas, kemudian ia masih bisa tampil dengan percaya diri, maka ia bukan saja pembohong, tetapi pembohong yang sudah tak bernurani. Nurani merupakan subsistem kejiwaan manusia. Menurut Al Qur’an, manusia dianugerahi akal untuk berfikir dan memecahkan masalah, dianugerahi hati untuk memahami realitas

(Q/22:46), dianugerahi syahwat untuk menggerakkan tingkahlaku (Q/3:14), dan dianugerahi nurani untuk meluruskan yang bengkok, membersihkan yang kotor dan untuk introspeksi terhadap apa yang ada dalam jiwanya (Q/75:14-15). Jika hati manusia masih bisa diajak kompromi, membantah, mengingkari, mencabut pernyataan dan mencari-cari alasan pembenar, hal itu memang sesuai dengan tabiat hati tersebut. Dalam Al Qur’an, hati disebut dengan nama qalb yang mempunyai arti bolak-balik. Ungkapan bahasa Arab berbunyi; summiyat al qalbu qalban litaqallubihi artinya hati dinamakan qalbu adalah karena tabiatnya yang bolak balik. Jadi hati (qalb) memang memiliki tabiat tidak konsisten, suka berdalih dan mencari-cari alasan pembenar. Nurani bagaikan kotak hitam (black box) di dalam hati, sebagai sub sistem yang bekerja secara konsisten terhadap kebenaran dan kejujuran. Hati boleh mencari-cari dalih pembenar, akal boleh membuat rumusan yang logis membenarkan dirinya, tetapi nurani tetap konsisten membisikkan bahwa yang salah tetap salah, dan yang benar tetap benar. Dalam Al Qur’an, nurani disebut dengan nama bashirah, (Q/75;14-15) yang mengandung arti pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Bagi orang yang nuraninya sehat, pandangan mata hatinya lebih tajam menembus dimensi ruang dan waktu, berbeda dengan mata kepala yang sangat terbatas jangkauan pandangannya. Bagi orang yang mata hatinya buta, maka ketajaman penglihatan mata kepala tidak banyak membantu menemukan kebenaran (Q/22:46). Menurut seorang ulama klasik, Ibn al Qayyim al Jauzi, bashirah atau nurani adalah cahaya yang ditempatkan oleh Allah di dalam hati setiap manusia; nurun yaqdzifuhullah fi al qalbi. Oleh karena itu nurani bisa menjadi hotline manusia dengan Tuhannya. Cahaya ini pula yang menyebabkan manusia rindu kepada Tuhan, yang menyebabkan manusia bisa menangis ketika berdoa, yang menyebabkan manusia tak terkecoh oleh godaan rendah harta duniawi dan sebaliknya bisa melihat dengan jelas tingginya nilai keutamaan kebajikan yang bersifat ukhrawi. Jiwa manusia merupakan kesatuan sistem, oleh karena itu berfungsinya nurani juga bisa disebut sebagai sehatnya hati (qalbun salim) atau seperti yang dikatakan oleh Imam Fakhr ar Razi dalam tafsir al Kabir, sebagai akal yang prima (al ‘aql as salim). Mengapa hati nurani bisa mati ? Al Qur’an mengingatkan bahwa Allah telah menyediakan hukuman neraka Jahannam bagi manusia dan jin, yakni mereka yang mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (kebenaran), mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (kebenaran) dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang lalai (Q/7;179). Imam Gazali memisalkan hati nurani dengan kaca cermin. Bagi orang yang bersih dari dosa, maka nuraninya bagaikan cermin yang bening, sekecil apapun noda di wajah, segera akan nampak di cerminnya. Adapun orang yang suka melakukan dosa kecil, maka nuraninya bagaikan cermin yang terkena debu. Ia bisa menggambarkan wajah, tetapi noda-noda kecil tidak nampak. Sedangkan orang yang biasa melakukan dosa besar, maka nuraninya gelap, seperti cermin yang tersiram cat hitam. Hanya sebagian kecil dari cerminnya yang bisa digunakan untuk bercermin, oleh karena itu pelaku dosa besar tidak pernah merasa dirinya bersalah, karena cermin hatinya tidak bisa menampakkan apa-apa. Selanjutnya Al Ghazali memisalkan nurani orang yang mencampuraduk perbuatan baik dan perbuatan dosa dengan cermin yang retak. Cermin yang retak tidak bisa menggambarkan wajah secara benar, hidung bisa nampak dua, mata menjadi empat, mulut menjadi menceng dan sebagainya, sehingga orang yang seperti itu selalu kacau dalam memandang kebenaran dan kesalahan, tidak bisa obyektif dan biasanya memiliki kepribadian yang pecah (split personality).

Bagaimana caranya menghidupkan nurani? secara umum jawabannya adalah menjauhi perbuatan dosa, baik dosa kepada Tuhan maupun dosa kepada manusia, karena perbuatan dosa merupakan daki yang mengotori cermin hati. Secara lebih spesifik, sebagai terapi, berdoa di tempat suci , —di Multazam misalnya— juga dapat menjadi shock therapy terhadap hati nurani. Mengapa di Ka‘bah banyak orang bisa menangis tersedu-sedu, karena disana ia tidak bisa tidak kecuali harus jujur kepada Tuhan. Di sana terbayang semua kesalahan yang pernah dilakukan tanpa sedikitpun bisa mencari-cari alasan pembenar. Jika psikologi schok therapy ini berhasil dipertahankan lama, maka selanjutnya nuraninya akan hidup, dan itulah yang disebut haji mabrur. Berakrab-akrab dengan problem kemanusiaan juga bisa menajamkan nurani. Orang yang selalu bergelut langsung membantu kesulitan orang kecil, rakyat kebanyakan, maka nuraninya sedikit demi sedikit akan bercahaya. Hatinya menjadi lembut, rasa syukurnya meningkat. Ia akan memiliki kepekaan yang kuat terhadap hal-hal yang berdampak buruk kepada kehidupan riil manusia. Apa hubungannya dengan menghidupkan nurani? Sudah barang tentu ada hubungannya, karena orang kecil relatif jujur, maka menyayangi orang kecil bermakna menggosok-gosok kejujuran, dan hal itu mendatangkan rahmat Tuhan. Sayangilah yang di bumi, niscaya kalian akan disayang Tuhan, irhamu man fi al ardhi yarhamukum man fi as sama. Demikian firman Allah dalam hadis qudsiy. Adapun orang yang menunjukkan kepedulian kepada orang kecil tetapi dimaksud untuk publikasi politik, maka hal itu termasuk bentuk kebohongan, bohong kepada manusia dan bohong kepada Tuhan, apalagi jika menjadikan kesulitan orang kecil sebagai proyek mencari keuntungan sendiri. Dalam keadaan seperti itu seberapapun banyaknya kontribusi yang diberikan, tidak akan membuat nuraninya bercahaya. Wallohu a‘lam bis sawab. posted by : Mubarok institute

SALAWAT ANTI ANARKI GLOBAL
Pada era delapan puluhan, mula-mula dikumandangkan oleh ulama besar Jakarta K.H. Abdullah Syafi‘i melalui suara Radio Dakwah Assyafi’iyyah, kemudian berkumandang hampir pada setiap masjid Jakarta, pembacaan salawat yang dikenal dengan salawat zalimin. Teks doa salawat itu berbunyi: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa asyghiliz dzalimin biz-dzalimin, wa akhrijna min bainihim salimin, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma‘in. Arti doa salawat itu ialah bermohon kepada Tuhan agar orang-orang zalim disibukkan oleh urusan sesama orang zalim, dan kita bermohon kepada Tuhan agar bisa keluar secara selamat dari jebakan-jebakan orang zalim. Doa salawat itu dipopulerkan oleh K.H. Abdulah Syafi‘i dalam suasana ketidak mampuan menghadapi manufer orang-orang yang berusaha memasukkan aliran kebatinan ke dalam GBHN, menyetarakan dengan agama. Nampaknya doa salawat itu lebih tepat dikumandangkan sekarang, ketika anarki bukan hanya berlangsung dari jalanan hingga Senayan, tetapi dunia Barat dibawah pimpinan Amerika Serikat juga melakukan anarki global. Dengan isu terorisme, dunia digiring untuk menghukum siapa saja yang menjadi penghalang negeri adi daya itu, padahal hingga hari ini tidak ada bukti siapa pelaku terorisnya. Bukan rahasia lagi bahwa Amerika membutuhkan jaminan pasokan minyak

dunia, karena tanpa minyak, Amerika akan berubah menjadi hutan beton. Setelah runtuhnya Uni Sovyet, Amerika menjadi satu-satunya polisi dunia, oleh karena itu Amerika leluasa melakukan hegemoni dunia. Dengan rekayasa media, opini publik dunia dibentuk oleh AS sesuai dengan kepentingan nasionalnya, yakni menguasai minyak dunia. Kini giliran Indonesia diluluh lantakkan sendisendi kedaulatannya, dan dalam kondisi compang-camping krisis nampaknya Pemerintah sudah tidak punya harga diri untuk bangkit membela kehormatan bangsanya. Banyak petinggi negara secara sadar menservice Amerika dengan pernyataan, data dan akses. Sungguh sangat berbeda dengan Bung Karno yang meski ketika itu negara RI masih sangat miskin, tetapi berani berdiri tegak bahkan berani keluar dari PBB. Sudah dapat dibayangkan bagaimana dampak pernyataan bahwa —Jama’ah Islamiyah— yang entah ada atau tidak dan entah di mana adanya dinyatakan sebagai teroris oleh PBB, dan tragisnya Pemerintah RI tidak berani untuk abstain sekalipun. Jamaah Islamiyyah adalah nama kumpulan orang Islam yang ada di setiap kampung di dunia Islam, tetapi kelak, setiap yang ada nama jamaahnya atau Islamiyyahnya akan begitu mudah dihubung-hubungkan dengan terorisme international. Umat Islam di dunia telah disandera oleh rekayasa fiktif. Sungguh sangat keji anarki yang dilakukan oleh Amerika, tetapi sudah sepantasnya bahwa bangsa yang tidak punya harga diri seperti kita sekarang sebagaimana dikatakan al Qur’an akan dipermainkan (wa zulzilu (Q/2:214) Tetapi sesunggguhnya, gerakan anti Islam bukan hal baru. Sejak zaman Nabi sudah ada kekuatan “global” yang berusaha membungkam kebenaran. Manuver nasional dan global sekarang sebenarnya adalah wujud dari manuver kezaliman. Yang menembak dan yang ditembak keduanya memang zalim. Zalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, tidak proporsional. Oleh karena itu yang dibutuhkan oleh bangsa dan umat dewasa ini adalah tetap tenang, jangan ikut menari oleh pukulan gendang Amerika. Apalah artinya upacara menangisi korban bom Bali yang kebanyakan orang Australia, tetapi ribuan korban saudara sendiri di Kalimantan, Ambon, Maluku dan Poso tidak menyentuh hati kita. Kita tidak boleh lupa akan sejarah, siapa di belakang PRRI-Permesta hampir 40 tahun yang lalu. Memang dewasa ini kondisi bangsa dan umat sangat tidak berdaya menghadapi propaganda yang direkayasa sedemikian canggih oleh persekongkolan global, tetapi yakinlah bahwa kebenaran tidak pernah mati, dan kebohongan akan terbongkar. Mereka memang pandai merekayasa makar, tetapi seperti dijanjikan Tuhan, yakinlah bahwa Allah lebih pandai membuat makar, wa makaru wa makarallah, wa Allohu khoir al makirin (Q/3:54). Sejarah juga sudah membuktikan bagaimana kekuatan super power runtuh. Siapa yang menduga bahwa Uni Sovyet akhirnya runtuh setelah dipermalukan oleh negeri miskin dan gerilyawan kecil Mujahidin Afganistan. Untuk itu, mari kita kumandangkan secara nasional salawat: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa asyghiliz dzalimin biz-dzalimin, wa akhrijna min bainihim salimin, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma‘in. posted by : Mubarok institute

MAKNA KEHADIRAN MANUSIA
Agama mengajarkan bahwa tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang tidak fungsionil, semuanya ada makna keberadaannya sehingga diciptakan. Perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain dimaksud agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat (lita`arafu), dan

perbedaan kondisi serta perbedaan peluang dimaksud untuk menguji manusia, siapa yang paling baik perbuatannya (liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala, liyabluwakum fi ma atakum), dan manusia yang paling terhormat di depan Tuhan adalah manusia yang paling bertakwa (atqakum). Hidup saling menindas pastilah tidak indah. Demikian juga persaingan secara tidak fair juga tidak menimbulkan keindahan. Keindahan dalam hidup adalah manakala manusia berpegang teguh kepada nilai luhur dalam hidupnya. Manusia boleh bekerjasama, boleh bersaing, dan sesekali boleh berperang membela hak-haknya. Jika dalam hidupnya yang dinamis, masyarakat manusia tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai akhlak, maka peperangan sekalipun akan melahirkan pelajaran dan hikmah yang tak ternilai harganya. Akhlak bukanlah perilaku, tetapi keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah dan spontan tanpa berfikir untung rugi. Orang yang berakhlak mulia pastilah mulia pula perbuatannya, tetapi tidak semua perbuatan baik dikerjakan oleh orang yang berakhlak baik. Penipu terkadang melakukan perbuatan baik, ramah dan menolong orang sebagai bagian dari rencana penipuannya. Agama mengajarkan kepada manusia untuk bergaul secara indah dengan yang lain, vertikal dan horizontal. Kepada Tuhan, manusia diajarkan untuk tahu diri sebagai makhluk ciptaan Nya, oleh karena itu akhlak manusia kepada Tuhan antara lain berterima kasih (syukur), berpasrah diri (tawakkal) dan siap melaksanakan tugas (ibadah). Kepada sesama manusia diajarkan untuk saling mengapresiasi, yang muda hormat kepada yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Kepada alam, manusia dianjurkan untuk mengelola dan memanfaatkan secara wajar, tidak mengekpoitir dan merusaknya. Kepada diri sendiri manusia diajarkan untuk sabar dan jujur. posted by : Mubarok institute

KEADILAN SEBAGAI KAIDAH HUKUM ALAM
Keadilan adalah kata jadian dari kata adil yang terambil dari bahasa Arab ‘adala - ‘adl. Dalam bahasa Arab kata ‘adl mengandung arti “sama”, terutama dalam hal yang bersifat immateriil. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata adil diartikan sebagai (a) tidak berat sebelah/tidak memihak, (b) berpihak kepada kebenaran, dan (c) sepatutnya/tidak sewenangwenang. Jadi dibalik kata adil terkandung arti memperlakukan secara sama, tidak berpihak kecuali atas dasar prinsip kebenaran dan kepatutan, atau seperti yang disebut dalam ungkapan bahasa Arab, wadl‘u assyai’ fi mahallihi, artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kata adil mengisyaratkan adanya dua pihak atau lebih yang harus diperlakukan secara “sama”. Dalam al Qur’an. Keadilan disebut dengan kata al ‘adl, al qisth dan al mizan. Kata al qisth mengandung arti “bagian” yang wajar dan patut, sehingga pengertian sama tidak harus persis sama, tetapi bisa beda bentuk asal substansinya sama. Sedangkan kata al mizan mengandung arti seimbang atau timbangan, merujuk pengertian bahwa keadilan itu mendatangkan harmoni (tidak jomplang) karena segala sesuatu diperlakukan atau ditempatkan sesuai dengan semestinya. Alam tata surya misalnya, diciptakan Tuhan dengan mengetrapkan prinsip keseimbangan, wassama a rafa‘aha wa wadla‘a al mizan (Q/55:7). Dengan keseimbangan itu maka alam berjalan harmoni, siang, malam, kemarau, musim hujan, musim panas, musim dingin, gerhana, yang dengan itu manusia bisa menikmati keteraturan keseimbangan itu dengan menghitung jam, bulan, tahun, cuaca, arah angin dan sebagainya. Dengan keseimbangan (mizan) alam ini , manusia kemudian menyadari tentang ozon, efek rumah kaca dan sebagainya.

Demikian juga keseimbangan yang ada pada tata bumi, struktur tanah, resapan air, habitat makhluk hidup, kesemuanya diletakkan dalam sistem keadilan, yakni sistem yang menempatkan seluruh makhluk dalam satu siklus dimana kesemuanya diperlakukan secara “sama”, proporsional dan sepantasnya. Semua makhluk hidup sampai yang sekecil-kecilnya disediakan rizkinya oleh sistem tersebut. Sistem keadilan dan harmoni itu membuat semua makhluk memiliki makna atas kehadirannya. Kotoran manusia yang oleh manusia dipandang najis, menjijikkan dan membahayakan kesehatannya, ternyata ia sangat bermakna bagi ikan gurame di kolam, yang dengan menu najis itu ikan gurame menjadi gemuk. Kehadiran ikan gurame yang gemuk selanjutnya menjadi sangat bermakna bagi manusia, karena dibutuhkan gizinya. Allah menciptakan dan mengelola alam ini dengan keadilan sebagai sunnatullah, maka Allahpun mengetrapkan prinsip keadilan ini pada kehidupan manusia. Hukum sunnatullah itu bersifat pasti dan tidak bisa diganti, oleh karena itu siapapun yang berlaku adil maka dialah yang berhak menerima buahnya berupa kehidupan yang harmoni, sebaliknya siapapun yang menyimpang dari prinsip keadilan (zalim) ia akan memetik buahnya berupa ketidak harmonisan. Sunnatullah berlaku pada alam, pada tubuh manusia, pada kehidupan indifidu manusia, pada kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu ada perintah untuk berlaku adil meski kepada diri sendiri, berlaku adil kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya dan ada juga keharusan menegakkan keadilan sosial. posted by : Mubarok institute

KIAT 3: KETIKA MAKAN
Setelah pulang dari masjid, mempersiapkan diri untuk bekerja, terlebih dahulu menyantap hidangan pagi untuk sarapan, mungkin sendiri-sendiri, mungkin bersama keluarga dalam satu meja makan. Agama Islam mengajarkan adab makan sebagai berikut: 1. Hendaknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, jika tangannya kotor. 2. Niat makan (minum) untuk memperkuat tubuh menjalankan tugas beribadah kepada Allah. 3. Memulai dengan berdoa ketika mencicipi makanan, dengan doa sebagai berikut: Allahumma ba rik lana fi hi wa at `imna khairan minhu Artinya: Ya Allah berkatilah kami pada makanan ini dan berikan kami makanan yang lebih baik dari ini. Setelah selesai makan hendaknya membaca doa: Allahumma ba rik lana fi hi wa zidna minhu Artinya: Ya Allah berkatilah kami pada makanan ini dan tambahilah kami dari padanya. (H.R.Silsilah sahihah) 4. Bacalah Bismillah ketika mulai makan, dan jika lupa membaca pada awalnya, maka bacalah: Bismillahi awwalahu wa akhirahu Artinya: Dengan nama Allah awal dan akhirnya. 5. Hendaknya makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang dekat dengannnya. 6. Duduk dalam keadaan merendah. Jika makannya lesehan maka hendaknya melipat dua lutut dan duduk diatas dua kaki, atau duduk di atas kaki kiri dengan menegakkan kaki kanan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Jangan makan sambil bertelekan.

7. Memakan makanan yang tersedia dan tidak menghina makanan. Jika sesuai dengan selera silakan makan, jika tidak sesuai, tinggalkan. 8. Hendaknya makan tidak terlalu kenyang tetapi juga tidak terlalu sedikit. Rasulullah bersabda: Cukuplah bagi anak Adam makan beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya untuk beribadah. 9. Tidak memaksakan diri menyantap makanan (minuman) yang masih terlalu panas, tunggulah hingga mendingin. Tidak pantas pula meniup makanan (minuman) apalagi sampai bernafas dalam gelas atau mangkok. Hadis Ibn Abbas menceriterakan bahwa Rasulullah melarang bernafas dalam bejana atau menghembusnya. (HR. Turmuzi) 10. Tidak terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam mulut, mengecilkan suap ke mulut dan mengunyah hingga lembut. Jangan sisakan makanan sedikitpun dari piring anda, dan bahkan dari tangan anda, karena kita tidak tahu bagian makanan mana yang paling diberkati Allah. 11. Jika sedang makan bersama, jangan melakukan sesuatu yang membuat orang lain merasa jijik, misalnya mengambil lauk dari mangkok bersama langsung dengan tangannya, atau terlalu mendekatkan mulut ke makanan yang sedang disantap bersama. Demikian juga hendaknya tidak membicarakan hal-hal yang menjijikkan atau hal yang dapat menghilangkan selera makan orang lain. 12. Hendaknya mengambil makanan ke dalam piring secukupnya saja, agar tidak tersisa karena kekenyangan, seperti yang biasa terjadi dalam persta-pesta, karena makanan yang tersisa itu kemudian menjadi mubazir. Menurut Al Qur’an perbuatan mubazir itu merupakan perilaku tercela. 13. Hendaknya jangan memaksa orang lain memakan makanan banyak, seperti yang terkadang terjadi ketika tuan rumah menjamu tamu. 14. Bersyukur dan memuji Allah setelah mencicipi makanan, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, yakni dengan membaca doa: Al hamdu lillahil lazi at `amani ha dzat ta `am, wa razaqani hi min ghairi haulin minni wala quwwah Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku makanan ini serta memberikan padaku rizki tanpa daya kekuatan dariku. (HR. Muslim) 15. Jika makanan itu merupakan jamuan, berdoalah untuk tuan rumah yang menjamunya, sebagai berikut: Aftara `indakum as sa imun wa akala ta `a makum al abra ru wa sallat `alaikum al mala ikatu Artinya: Telah berbuka di sisimu orang yang berpuasa, telah dicicipi makananmu oleh orangorang yang berbuat kebaikan dan telah didoakan kepadamu oleh para malaikat. (H.R. Muslim) atau doa di bawah ini: Allahumma at `im man at `amani wa asqi man saqa ni Artinya: Ya Allah berilah makanan kepada orang yang telah memberi makanan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang telah memberi minuman kepadaku. (H.R. Muslim) posted by : Mubarok institute

RUHANI-2: BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN KUALITAS RUHANI?
Manusia adalah makhluk yang memiliki kecerdasan intelektiual, emosional dan spiritual, atau apa yang sekarang disebut IESQ. Oleh karena itu dalam meningkatkan kualitas ruhani, maka langkah-langkahnyapun harus mengikuti tahapan tiga kecerdasan tersebut. Pertama; Dalam mensikapi permasalahan berfikirlah logis, masuk akal. Kegunaan berfikir itu untuk (a) menjawab pertanyaan, (b) untuk mengatasi problem, (c) mengambil keputusan dan (d) menciptakan hal yang baru atau kreatifitas. Orang berfikir itu ada yang berfikir nalar atau realistis, ada yang tidak realistis, ada yang evaluatip, dan ada yang berfikir kreatip.. Ada tahapan dalam berfikir, yaitu berfikir, berzikir, kemudian tafakkur dan kemudian tadabbur. Banyak orang berfikir tetapi tidak tafakkur, banyak orang berzikir, juga belum tafakkur. Puncak dari tafakkur adalah tadabbur . Kata Nabi, jika aku diam itu karena mikir, jika aku berbicara , itu karena zikir dan jika aku melihat, itu karena mengambil pelajaran (an yakuna shumty fikran, wa nuthqy dzikran , wa bashary `ibratan) Kedua Tajamkan perasaan dalam memahami realita, dengan pertanyaan-pertanyaan; 1. siapa sesungguhnya anda?, 2. sesungguhnya anda pejuang atau parasit?, 3. lebih banyak mana yang anda berikan dengan yang anda ambil?, 4. benarkah anda terhormat ?, 5. siapa sebenarnya yang paling berperan?. 6. Dan seterusnya. Ketajaman perasaan akan terbangun jika kita bersentuhan langsung dengan problem mendasar manusia; menyaksikan dan terjun membantu orang kelaparan, orang kesakitan, orang kesulitan. Sekedar membaca Laporan orang tentang problem orang lain biasanya hanya masuk memori (kognitip), tetapi tidak menyentuh hati (afektip) sehingga kurang mendorong pada perilaku (psikomotorik). Ketiga Jangan lupa sabar (sabar=kecerdasan emosional). Sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Jadi orang yang bisa sabar adalah orang yang selalu ingat kepada tujuan, karena kesabaran itu diperlukan adalah justeru demi untuk mencapai tujuan. Orang yang tidak sabar biasanya , karena lupa tujuan akhir, ia mudah terpedaya untuk melayani gangguan-gangguan yang tidak prinsipil, sehingga apa yang menjadi tujuan terlupakan dan segalanya menjadi berantakan. Sabarpun mengenal batas waktu, oleh karena itu jika suatu ketika mengalami kegagalan, sudah diulang gagal, diulang lagi gagal lagi, maka orang yang sabar harus berfikir mencari alternatip, karena boleh jadi sumber masalahnya justeru pada keputusan awal yang kurang tepat. Manusia dengan kualitas penyabar adalah sosok manusia yang ulet, tak kenal menyerah, tak kenal putus asa, dan tak kurang akal. Ia bukan hanya mampu mengatasi kesulitan yang datang dari luar, kesulitan tehnis misalnya, tetapi juga mampu mengatasi kesulitan yang datang dari diri sendiri, kebosanan, kemalasan atau syahwat misalnya. Al Qur’an menghargai manusia unggul yang penyabar, yakni yang sabar dan memiliki kecerdasan intelektuil, Emosionil dan Spirituil (IQ, EQ dan SQ ) , setara dengan seratus orang kafir (yang sombong, emosionil dan tak mempunyai nilai keruhanian) (Q/al Anfal, 65). Dalam keadaan normal. Al Qur’an menghargai peribadi penyabar setara dengan dua

orang biasa (Q/8: 66). Kesabaran dibutuhkan ketika (a) menghadapi musibah (b) menghadapi godaan hidup nikmat (c) dalam peperangan (d) ketika marah (e) ketika menghadapi bencana yang mencekam, (f) ketika mendengar gossip dan fitnah (h) ketika ada peluang hidup mewah, dan (I) ketika hanya menerima sedikit. Keempat Nyalakan cahaya nurani (SQ). Api itu menyala jika ada bahan bakarnya dan jika tidak tertutup. Fitrah manusia memiliki potensi iman yang memancar dalam jiwanya, tetapi seringkali tidak bisa menyala karena tertutup oleh daki. Daki yang menghalangi cahaya pada dasarnya adalah materi. Orang yang hatinya mata duitan pasti nuraninya tak bercahaya, karena cahaya itu inmateri, maka yang materialis tidak mungkin mendekat kepada yang inmateri. Mengisi bahan bakar cahaya nurani dapat dilakukan dengan ilmu (belajar, membaca dan mendengar), dengan praktek lapangan (safar, menghadapi kesulitan, berjuang membela kebenaran). Untuk membuka tabir materi caranya dengan : (One) Memutus ketergantungan kepada hal-hal yang bersifat duniawi, dimulai dengan membayar zakat (bertarip 2,5-5-10%), infaq (menurut kebutuhan) dan sedekah (boleh 50-100%) dan puasa. Orang yang sanggup memutus ketergantungannya kepada materi pasti kaya. Kaya hati itu lebih tinggi nilainya dibanding kaya materi. (Two) menjauhi maksiat, karena maksiat itu mematikan cahaya (gelap). Semua pelaku maksiat pasti hatinya gelap, dan sifat maksiat itu menular (gelap dan menutupi cahaya). (Three) berwisata spiritual (salat, haji, dan safar). Wisata spiritual akan mengubah dunia yang sempit menjadi luas, yang berat menjadi ringan, yang pahit menjadi manis. Manfaat wisata ada lima : (a) menghilangkan stress (tafarruju hammin), (b) rizki kehidupan (iktisabu ma`isyatin), (c) memperoleh ilmu, (d) adab atau etika dan (e) pengalaman bergaul dengan orang besar (suhbatu majidin) posted by : Mubarok institute

RUHANI-1:RUHANI ITU APA ?
Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi jasmani dan ruhani, jiwa dan raga. Meski tubuh manusia juga memiliki kerumitan, tetapi ilmu yang berbicara tentang kesehatan tubuh sudah sangat maju, jumlah dokter sudah sangat banyak, industri obat juga sudah berkembang pesat. Sedang ilmu yang berbicara tentang dimensi ruhani manusia, masih jauh tertinggal, konsep keruhanian juga masih belum final perumusannya, ahli kesehatan ruhaninya bukan saja kurang tetapi juga tidak ada standarisasi, sehingga siapa sebenarnya expert bidang kerohanian; psikolog, psikiater, kyai, dukun atau paranormal , semuanya masih diserahkan kepada pasar. Ketika kita dipaksa harus menjawab pertanyaan; hakikat manusia sesungguhnya jasmaninya atau ruhaninya ? maka hampir pasti kita menjawab yang kedua. Sehari-haripun orang awam berkata, manusia itu yang penting kan hatinya, yang penting jiwanya. Ruhani itu apa ? Kata ruhani berasal dari kata ruh. Dalam bahasa Arab kalimat ruh mempunyai banyak arti. Disamping kata ruh ada kata (rih) yang berarti angin dan rauh - yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab, kalimat (ruhaniyyun- ruhaniy) digunakan untuk menyebut semua jenis

makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin, Dalam Al-Qur’an, ruh juga digunakan bukan hanya satu arti. Term-term yang digunakan Al-Qur’an dalam menyebut ruh, bermacam-macam. Pertama ruh disebut sebagai sesuatu : ويسئلونك عن Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙˆØ Ù‚Ù„ Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙˆØ Ù…Ù† امر ربّى وما أوتيتم من العلم الاّ قليلا artinya : Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, jawablah bahwa ruh itu urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberitahu tentang ruh itu kecuali hanya sedikit (Q/17:85) Melihat dari latar belakang turunnya ayat tersebut , yaitu pertanyaan orang tentang ruh yang belum bisa dijawab secara memuaskan oleh manusia ketika itu adalah ruh manusia yang menjadikan seseorang masih tetap hidup .Jawaban singkat Al-Qur’an atas pertanyaan itu menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan. Kebanyakan penyebutan ruh dalam Al-Qur’an seperti dalam surat al Anbiyā/21:91), dan surat as Sajdah/32:9) juga Q/66:12, Q/15:29, Q/38:72) adalah menunjuk pada ruh dimaksud diatas. Selanjutnya Al-Qur’an juga banyak menggunakan kalimat ruh untuk menyebut hal lain, seperti : 1. malaikat Jibril, atau jenis malaikat lain, Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙˆØ Ø§Ù„Ø£Ù…ÙŠÙ† arruh al amin seperti yang tersebut dalam surat Q/26:193, Q/2:87, Q/16:102, Q/70:4, Q/7838, Q/97:4), 2. rahmat Allah kepada kaum mu’minin (وأيّدهم Ø¨Ø±ÙˆØ Ù…Ù†Ù‡) seperti yang tersebut dalam surat al Mujādilah/58:22) 3. kitab suci Al-Qur’an (وكذلك أوØينا اليك روØا من أم رنا) seperti dalam surat as SyÅ«ra/42:52). Penyebutan ruh untuk Al-Qur’an menurut para mufassir dinisbatkan kepada ruh kebenaran yakni bahwa al Qur’an merupakan penyebab adanya kehidupan akhirat seperti yang disifatkan dalam surat al ‘AnkabÅ«t/29:64 bahwa akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya (وانّ الدّار الآخرة لهى الØيوان). Sedangkan ruh dalam hubungannya dengan Nabi Isa, seperti yang tersebut dalam surat an NisÄチ/4: 171 (انّما Ø§Ù„Ù…Ø³ÙŠØ Ø¹ÙŠØ³Ù‰ ابن مريم رسول الله وكلمته القاها الى مريم ÙˆØ±ÙˆØ Ù…Ù†Ù‡) sebagian mufassir menyebut bahwa kalimat ÙˆØ±ÙˆØ Ù…Ù†Ù‡ bukan dalam arti ditiupkan ruh dari Allah tetapi Isa itu sendiri adalah wujud rahmat dan cinta Nya. Aspek-Aspek Ruhani Manusia Berbeda dengan aspek-aspek jasmani manusia yang dapat dilihat dan dikonfirmasi dengan alat, aspek-aspek ruhani manusia hanya bisa diakses melalui fikiran dan perasaan. Instrumen keruhanian manusia seperti yang disebut dalam al Qur’an adalah `aql, qalb, nafs, syahwat, hawa, dan bashirah, yang kesemuanya berada dalam sistem nafsani. 1. `Aql (akal) lebih merupakan aspek intelektual manusia yang kerjanya berfikir dan problem solving capasity, mampu menemukan kebenaran tetapi bukan menentukannya. Istilah akal yang sehat (al `aql as salim) sering digunakan untuk menyebut kesehatan seluruh aspek ruhani. 2. Qalb (hati) merupakan pusat kendali sistem ruhani, alat untuk memahami realita dan pemutus tindakan, berkesadaran.Hati hanya memutus apa yang disadari, sedang apa yang sudah dilupakan tidak lagi berada dalam hati, tetapi di dalam file alam bawah sadar di dalam nafs, yang terkadang muncul dalam mimpi. Tabiat hati itu inkonsisten, berubah-ubah. Istilah hati yang sehat (qalbun

salim) juga digunakan untuk menyebut kesehatan seluruh sistem nafsani. 3. Bashirah (hati nurani) merupakan titik Tuhan (God Spot), atau menurut ilmu tasauf sebagai cahaya ketuhanan yang ada dalam hati (nurun yaqdzifuhullah fi al qalb). Berbeda dengan hati yang bertabiat inkonsisten, nurani kejujuranya sangat konsisten dan tidak mau diajak kompromi. Jika anda merasa iba, empati, menangis di Ka`bah, itu semua bersumber dari kejujuran nurani. 4. Syahwat, merupakan penggerak tingkah laku (motiv). Menurut al Qur’an manusia dihiasi dengan syahwat kepada lain jenis (seksual) anak-anak (kebanggan), perhiasan atau benda berharga (kebanggaan ), kendaraan yang bagus (kebanggan dan manfaat), ternak dan kebun (manfaat dan kebanggan). Syahwat sifatnya netral, dan halal sepanjang prosedurnya benar. 5. Hawa (dalam bahasa Indonesia menjadi hawa nafsu), adalah syahwat kepada kepada sesuatu yang rendah, yang haram, yang merusak, yang berdosa. Menyalurkan syahwat seksual degan menikah bernilai ibadah, berpahala, menyalurkannya melalui zina adalah wujud hawa nafsu, berdosa. Ingin kaya dengan kerja keras adalah ibadah , jika dengan korupsi adalah wujud dari hawa. Tabiat hawa adalah ingin mereguk kenikmatan sesegera mungkin dan tak peduli kepada akibat. Jika hati dan akal senang merenung ulang, mempertimbang untung rugi, maka hawa nafsu mengedepankan aji mumpung, sikat duluan mikir belakangan. Begitu kuatnya pengaruh hawa sehinga menurut al Qur’an ada orang yang mempertuhankan hawa (ittakhaza ilahahu hawahu), maksudnya dalam hidupnya ia tunduk patuh kepada tuntutan hawa nafsu, membelakangkan akal sehat dan hati nurani. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI MIMPI-4: MIMPI & GUS DUR
Gus Dur sering tertidur ketika seminar, bahkan ketika sidang MPR. dalam kapasitasnya sebagai Presiden RI, tetapi tidurnya tidak sama dengan tidur kita. Sejarah orang besar juga akrab dengan tidur yang produktip. Imam Syafei menurut suatu riwayat ia baru bisa merumuskan berbagai pemikiran fiqhnya secara sistematis, setelah terlebih dahulu tidur. Tidur bagi orang besar (besar kapasitas spiritualnya) merupakaan saat menata memori hingga informasi yang ada di dalamnya tersusun rapi sesuai dengan struktur kebenaran logis atau fralsafi. Para ulama biasanya sebelum tidur terlebih dahulu berwudlu, salat tahajud dan menyambung pemancar spiritualnya ke nur ilahiyah. Tidurnya orang yang duduk mendengarkan khutbah Jum`ah malah menurut fiqh tidak membatalkan wudlunya. Tidurnya orang puasa jga berpahala. Konon sewaktu Gus Dur menjadi Presiden, banyak sekali pembisik yang datang. Semua bisikan didengar, tetapi kemudian ia tidur dan setelah tidur lahirlah keputusan presiden yang mengejutkan semua pembisiknya. Kebanyakan Presiden yang dijatuhkan akhirnya benar-benar jatuh. Bung Karno tidak berani keluar rumah setelah tidak jadi Presiden. Pak Harto juga tidak lagi leluasa berkomunikasi dengan dunia luar setelah lengser. Habibi butuh waktu beberapa tahun ngungsi ke Jerman sebelum meluncurkan buku memorinya yang menghebohkan. Megawati bahkan hingga kini tidak berani hadir di istana pada hari upacara proklamasi kemerdekaan RI, juga belum siap ketemu SBY yang pernah menjadi bawahannya. Hanya Gus Dur, meski sudah strook dua kali, tetapi tetap saja percaya diri ketemu dengan siapa saja. Ia temui Pak harto, Megawati, Amin rais dan SBY, Akbar Tanjung tanpa beban, tanpa repot-repot. Di rumahnya bilangan Ciganjur, para bekas presiden dan presiden, juga bekas musuh-musuhnya, pada dating menghadiri akad nikah puterinya. Ke Israel, ia juga tak problem kesana. Pada diri Gus Dur itu terkumpul beberapa pemancar yang bisa dihubungkan dengan satelit spiritual; intelektual, sufistik dan mistik. Dari orang seperti Gus Dur susah dibedakan mana yang

gagasan, obsessi dan mimpi karena ketiganya sering muncul bareng dan dan urutannya sering tidak konsistren.Gus Dur dikenal sangat konsisten dalam ketidak konsistenannya. Sekarang orang baru menyadari sesungguhnya Gus Dur tidak melakukan kesalahan yang mengharuskannya dilengserkan. Juga banyak gagasannya yang aneh-aneh, tapi sepuluh-duapuluh tahun kemudian baru terasa relevan. Pada tahun 1983an,di depan diskusi CSIS , dikala NU belum dihitung, ia mengatakan bahwa nanti akan terjadi semua presiden akan mencari wakilnya dari NU. Semua orang tertawa karena menganggapnya lawakan, tetapi pada tahun 2004, lawakannya menjadi kenyataan. SBY, Megawati, Wiranto,dan Agum Gumelar, semuanya capres, mereka memang memilih orang NU menjadi cawapresnya, yaitu Yusuf Kalla, Hasyim Muzadi, Solahuddin Wahid, dan Hamzah Haz. Pemimpin itu ada yang datang tepat waktu, ada yang kedaluwarsa, dan ada yang datang terlalu cepat. Gus Dur termasuk pemimpin yang terlalu cepat datang mendahulkui zamannya, oleh karena itu banyak gagasannya tidak bisa difahami orang sekarang. Dalam perspektip pewayangan, Gus Dur itu memiliki karakteristik kepribadian Semar (guru), Petruk (pelawak) dan Togog (tokoh ngawur) sekaligus. Hal yang begituserius disampaikan sebagai lawakan, terkadang dibalik ngomong ngawurnya, ada juga benarnya. Maknanya Gus dur tak pernah salah, yang salah adalah yang mendengarkan tanpa menseleksi mana kata katanya sebagai Guru bangsa (Semar), mana yang sekedar lawakan (Petruk) dan mana yang sekedar ngawur-ngawuran (Togog). Bingung kan ? Wallohu a`lam. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI MIMPI-3 MIMPI PERSPEKTIP PSIKOLOGI DAN LOGIKA
Mimpi dan Logika Dari al Qur’an dapat diketahui bahwa ta`bir mimpi itu mengandung muatan-muatan logika, misalnya mimpinya Fir’aun tentang sapi kurus sapi gemuk,. Ta`bir mimpi sapi gemuk adalah panen, dan sapi kurus adalah paceklik. Tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, ta`birnya adalah tujuh kali hasil panen harus dihemat-hemat karena akan ada tujuh kali musim paceklik. Demikian juga mimpinya Nabi Yusuf tentang bintang dan matahari. mimpi-mimpi yang kita alami, baik yang merupakan jawaban dari salat istikharah maupun mimpi yang datang sendiri dapat dianalisis dengan jalan fikiran yang logis, misalnya ada hubungan antara api dan bahaya, hubungan air jernih atau keruh dengan kemulusan atau kisruh, hubungan antara burung dengan calon isteri, hubungan antara digigit ular dengan datangnya pelamar, hubungan antara bayi dan sukses, hubungan antara jenazah dan rizki dan sebagainyadan sebagainya. Hanya saja jarak antara isyarat mimpi dengan kenyataan itu sangat jauh, terkadang melewati masa yang panjang. Mimpi Zulaikha menikah dengan menteri Mesir yang tampan misalnya, baru terbukti setelah bertahun-tahun, setelah Zulaikha kawin dulu dengan menteri Mesir yang sudah tua. Juga mimpi Yusup ketika masih kanak-kanak baru terbukti setelah Yusuf Dewasa menjadi menteri di Mesir. Dalam proses yang panjang antara mimpi dan kenyataan itulah muncul para ahli ta`bir mimpi, sebagian dari ahl ilmu hikmah (sufistik) sebagian psikolog (ilmiah), sebagian dukun (mistis), masing-masing menggunakan saluran satelit yang berbeda; malakuty, intelektual dan syaithany. Mimpi perspektip Psikologi Karena mimpi juga ada alur pikir logikanya, maka sangat mungkin Psikologi bisa digunakan sebagai pisau analisanya, terutama menggunakan jendela alam bawah sadar. Memori manusia sangatlah besar kapasitasnya, dengan file yang sangat banyak. Ada file yang mudah dipanggil,

ada yang susah dipanggil dan ada yang sudah tidak bisa dipanggil. Yang terakhir ini berada dalam gudang alam bawah sadar. Karena jaringan psikis itu sangat lembut dan peka, maka seperti dalam jaringan telpon terkadang terjadi salah pencet atau salah sambung, nah ketika itulah apa yang sudah berada di alam bawah sadar bisa muncul di alam mimpi, dan bahkan terkadang nyambung ke saraf fisik sehingga terjadilah ngompol (bagi anak-anak) dan mimpi basah (bagi remaja) atau ngamuk secara fisik (bagi orang yang teralu lama memendam dendam). Demikian juga bagi orang yang obsessinya sangat kuat, apa yang baru dirancang sudah bisa muncul sempurna di alam mimpinya. posted by : Mubarok institute

S I LAT U R R A H M I
Setiapkali lebaran, terminal bus, stasiun kereta dan bahkan pelabuhan dan bandara dipenuhi oleh calon penumpang. Jalan raya pantura macet total menjelang hari lebaran. Mau kemana mereka, dan apa sebenarnya yang mereka cari ? Yah mereka mau mudik, mau pulang kampung. Apa yang mendorong mereka mau bersusah payah mudik lebaran ? Ada dua hal; pertama tradisi lebaran yang sudah ratusan tahun. Tradisi mempunyai kekuatan luar biasa dalam menggerakkan aktifitas sosial. Tradisi juga menjadi benteng dari nilai-nilai budaya. Kedua;Tradisi mudik menjadi lebih kuat karena di dalamnya ada nuansa agama, yaitu silaturrahmi. Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu dorongan untuk bertemu keluarga dan teman-teman lama di kampung halaman berasal dari fitrah sosialnya. Bagi santri, mudik menjadi bernuansa religius karena silaturrahmi memang perintah agama. Secara harfiah, silaturrahmi artinya menyambung persaudaraan atau menyambung tali kasih sayang. Agama melarang jotekan atau marahan. Suami isteri yang sedang marahan oleh agama ditolerir hanya selama tiga hari. Lebih dari tiga hari mereka diancam dengan dosa. Sebenarnya silaturrahmi tidak dibatasi oleh Idul Fitri. Setiap saat kita dianjurkan untuk menebar salam, menebar silaturrahmi. Dengan silaturrahmi, fitnah bisa diredam, salah faham bisa terkoreksi, permusuhan bisa menurun. Menurut hadis Nabi, siaturrahmi mengandung dua kebaikan, yaitu menambah umur dan menambah rizki. Yang dimaksud dengan nambah umur bukan tahunnya, tetapi maknanya. Ada orang yang umurnya pendek tapi maknanya panjang, sebaliknya ada orang yang umurnya panjang tetapi justeru tak bermakna. Silaturrahmi akan menambah makna umur kita karena di dalamnya ada unsur perkenalan, publikasi, belajar, apresiasi disamping rizki. Yang kedua silaturahmi bisa menambah rizki. Rizki dari silaturrahmi bisa bisa berupa uang, makanan, persaudaraan, jaringan, pekerjaan, jodoh, besanan, pengalaman, ilmu dan sebagainya. Rizki itu sendiri artinya semua hal yang berfaedah (kullu ma yustafadu). Uang yang kita terima menjadi rizki jika ia membawa faedah. Kenaikan pangkat menjadi rizki jika membawa faedah. Isteri atau suami adalah rizki jika membawa faedah. Jika kesemuanya itu tidak membawa faedah meski jumlahnya banyak, maka itu bukan rizki, tetapi bencana. Betapa banyak orang ketika penghasilannya pas-pasan hidupnya berbahagia dengan anak isterinya, tetapi ketika naik pangkat dan penghasilannya besar justeru kelakuannya menjadi berubah dan akhirnya keluarganya menjadi berantakan. Nah naik pangkat dan uang banyak itu ternyata belum tentu menjadi rizki keluarga, sebaliknya malah menjadi bencana baginya. Lalu bagaimana caranya bersilaturahmi ? ada empat cara . Pertama dengan kirim salam. Kedua bisa dengan kirim surat, surat biasa atau kartu lebaran. Ketiga berkunjung, bertatap muka. Ke empat, meski tidak mudik tetapi jika bingkisannya nyampai, weselnya nyampai, itu juga silaturrahmi. Nah yang paling sempurna adalah gabungan dari empat cara itu; jauh-jauh sudah

kirim salam, kemudian disusul surat atau telpon bahwa akan mudik, tolong di jemput di stasiun, ketiga benar-benar mudik sekaligus membawa tentengan. Selamat bersilaturrahmi, minal `a’idin wal fa’izin, kullu `amin wa antum bi khoir, taqabbalallahu minna wa minkum. posted by : Mubarok institute

M I N A L `A I D I N
Insya Allah kita merayakan hari Idul Fitri. Orang akan saling bersalaman dan mengucapkan minal `a’idin wal fa’izin. Apa artinya ?Di depan kelas pak guru bertanya kepada muridmuridnya; apa artinya minal `a’idin wal fai’izin ? serempak murid-murid menjawab; Mohon maaf lahir batin. Demikianlah memang anggapan masyarakat umum atas kalimat itu, padahal salah. Kalimat minal `a’idin adalah kependekan dari do’a Allohumma ‘ij`alna minal `a’idin waj`alna minal fa’izin, artinya; Ya Allah setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke fitrah kami) dan sukses. Apakah fitrah itu ? kata hadis Nabi, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah adalah keadaan semula jadi, atau potensi dasar insan. Seperti apa potensi itu ? Pada dasarnya jiwa manusia itu sempurna, memiliki kemampuan membedakan yang buruk dari yang baik, memiliki kecenderungan kepada agama yang benar, memiliki kecenderungan lupa, mesra juga bergolak. Fitrah dasar manusia itu dapat dilihat ada bayi yang baru lahir, simpatik, menarik, lugu dan jujur. Semua aspek dari bayi itu menarik hati, tangisnya, geraknya bahkan pipisnya. Tidak ada seorangpun yang marah jika dipipisi bayi. Akan tetapi bersamaan dengan perjalanan waktu, yakni ketika sang bayi tumbuh dan berinteraksi dengan lingkungan, beraktualisasi diri, maka mulailah terjadi distorsi dari fitrahnya. Ketika anakanak, ia mulai bandel dan rewel, ketika remaja ia bisa berbohong dan tawuran, ketika dewasa ia bisa merekayasa segala sesuatu secara curang demi untuk kepentingan diri, dan ketika ia berada pada puncak karir, ia bisa berubah menjadi jahat dan menyebalkan. Nah, ibadah puasa dengan segala kelengkapannya dapat secara perlahan-lahan mengembalikan penyimpangan itu mendekat kepada fitrahnya yang jujur dan simpatik. Dalam berpuasa diajarkan untuk rendah hati kepada sesama, di dalam berpuasa diajarkan untuk kembali tekun beribadah, didalam berpuasa diajarkan untuk banyak memberi kepada orang lain, diajarkan untuk tidak berkata-kata kecuali yang benar, diajarkan untuk tidak melihat kecuali sesuatu yang halal, diajarkan untuk tidak mendengar kecuali sesuatu yang halal di dengar. Bohong, bergunjing, gossip, fitnah, adu domba, bertengkar, maksiat dan semua yang tercela secara keras tidak boleh dikerjakan selagi dalam bulan puasa. Jika itu semua diperhatikan maka seorang yang sudah sangat menyebalkan bisa berubah menjadi simpatik kembali. Mungkinkah ? Belajarlah kepada ulat bulu yang sangat menjijikkan. Ketika ia bertekad untuk berpuasa dengan masuk ke dalam kepompong, dan di dalam kepompong selama tigapuluh enam hari hanya berzikir, maka ketika keluar dari kepompong, ia sudah berubah total dari ulat bulu yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang sangat menarik, berwarna warni terbang kian kemari. Semua kupu-kupu menarik, kecuali kupu-kupu malam. posted by : Mubarok institute

LA I LA T U L Q A D A R
Diantara keutamaan Ramadlan adalah adanya suatu malam yang disebut lailatul qadar. Secara harfiah, lailat al qadar artinya adalah malam penentuan, artinya pada malam itu ada satu keputusan sangat penting yang sangat menguntungkan bagi orang yang memperolehnya. Menurut al Qur’an, lailatul qadar berbobot setara dengan seribu bulan, bahkan lebih (khoirun min alfi syahr). Digambarkan bahwa pada malam itu aktifitas alam malakut sungguh luar biasa sibuknya, karena pada malam itu malaikat hilir mudik turun naik, naik ke langit membawa doa dan harapan manusia dan turun ke bumi menyampaikan keputusan Tuhan menyangkut berbagai perkara (min kulli amr). Digambarkan bahwa suasana super istimewa itu berlangsung pada malam itu sejak Isya hingga fajar terbit (salamun hiya hatta matla` al fajr). Kapan malam itu terjadi ? Segala sesuatu yang bermakna tinggi pasti tidak sederhana. Ia tidak berada di tempat terbuka, tetapi tersembunyi di tempat yang pelik, oleh karena itu hanya orang yang tabah dan kuat serta sungguh-sunggguh sajalah yang berpeluang memperolehnya. Menurut sebuah hadis Nabi, lailatul qadar memang berada dalam salah satu dari 30 malam Ramadlan. Ketika didesak oleh para sahabat, Nabi menyebut waktu yakni pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan (`asyr al ‘awakhir). Ketika didesak lagi Nabi menyebut waktu , yakni sekitar malam 27, 29 atau bahkan malam Id al Fitri. Apa maknanya ? artinya jika orang ingin meraih keutamaan, ia tidak boleh asal-asalan, atau mengambil jalan pintas, tetapi harus serius dari awal pekerjaan hingga akhir. Orang tidak bisa berspekulasi; kita tidak usah puasa dan tarawih pada awal bulan Ramadlan, tetapi cukuplah kita sungguh-sungguh pada malam-malam ganjil di akhir bulan, khususnya malam 27,29 dan malam Id. Bukankah lailatul qadar setara dengan seribu bulan ? apalah artinya tidak puasa duapuluh hari pertama, kan tertutup oleh pahala lailatul qadar ?. Ibadah mengandung arti tunduk, patuh, hormat dan tahu diri, bukan akal-akalan, karena kita berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Ibadah itu bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi lebih pada pekerjaan hati dan hati nurani. Khusyuknya salat misalnya tidak terjadi setiap kita menginginkan, tetapi ia merupakan buah dari ibadah yang sudah lama dikerjakan. Mengerjakan salat bisa dilakukan dadakan, tetapi mendirikan salat (iqam as salat) hanya bisa dilakukan setelah lama mengerjakannya secara konsisten. Dari konsistensi itulah terbangun suasana batin, dan dari suasana batin itulah lahir kekhusyu’an. Dari hadis Nabi dapat difahami, bahwa nikmatnya salat khusyu’ setara dengan nikmatnya bermesraan dengan wanita yang kita cintai, indah, lembut tapi bergelora, terkadang menangis. Demikian juga ibadah puasa; sekedar tidak makan minum adalah mudah,, tetapi berpuasa dari semua hal yang tidak pantas membutuhkan pengalaman dan konsistensi. Lailat al qadar adalah anugerah Tuhan, dan hanya orang yang layak yang dapat memperolehnya. Mereka adalah orang yang sejak awal berpuasa dengan semangat kepatuhan, kecintaan dan tahu diri. Ia bukan hanya berpuasa dari makanan, tetapi semua anggauta badanya ikut puasa dari semua yang tidak sepantasnya dikerjakan.. Kesungguhan dan konsistensi berpuasa dan didukung oleh ibadah lainnya selama duapuluh hari pertama, insya Allah bisa membawa suasana batin pelakunya pada kebersihan jiwa yang siap menerima anugerah lailat al qadar. Itulah maka lailat al qadar diisyaratkan turun pada akhir bulan Ramadlan. Wallohu a`lam bissawab. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI MIMPI-2 (MIMPI PERSPEKTIP TASAUF

Tasauf adalah olah rasa dimana seorang mutasawwif melakukan latihan spiritul (riadlat), pengembaraan (assayr wa as suluk) dan upaya-upaya spiritual agar benar-benar bisa merasa dekat dengan Tuhan. Karena Tuhan itu inmateri maka manusia hanya bisa mendekat kepada Nya jika ia tidak lagi terkungkung oleh kehidupan materi atau duniawi. Orang yang mata duitan atau gila jabatan dijamin tidak akan bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika seseorang sudah bisa meninggalkan alam materi dan dekat dengan Tuhan maka ia bisa memasuki kehidupan alam rohani. Jika ia sudah berada di alam rohani maka ia bisa berkomunikasi dengan semua makhluk rohaniah, dengan malaikat, dengan jin, dengan syaitan dan dengan arwah manusia yang sudah meninggal maupun yang belum dilahirkan, juga dengan arwah sesama orang hidup yang sama-sama sudah terbebas dari kungkungan kehidupan materi. Dalam perspektip tasauf, seseorang yang rindu berjumpa Rasul dapat menemuinya dalam alam ruhani, bisa mimpi bisa juga bukan. Demikian juga ia bisa berjumpa dengan orang tuanya atau gurunya yang sudah lama meninggal dunia.Dalam tidurnya ia bisa berkelana berjumpa dengan ulama-ulama generasi ratusan tahun yang lalu. Dalam alam mimpi itu pula ia bisa memperoleh informasi tentang apa yang akan terjadi di alam materi, misalnya jatuhnya sebuah rezim, bencana alam dan sebagainya. Dalam perspektip tasauf, alam ruhani itulah yang konkrit, sementara alam materi itu fana atau maya. Jaringan komunikasi spiritual itu sangat luas menembus sekat-sekat fisik, oleh karena itu sesama orang yang sudah sampai ke maqam sufi, mereka bisa melakukan teleconference melalui jaringan spiritual. Secara lebih sederhana orang yang melakukan salat istikharah bisa memperoleh jawaban melalui mimpi. Mimpi Perspektip Kebatinan Faham Kebatinan pada umumnya merupakan sempalan dari tasauf, yaitu sinkretisme antara pedukunan jawa, Hinduisme, Budisme dengan Islam. Sesama penganut kebatinan yang sudah sampai maqamnya juga bisa saling berkomunikasi melalui alam rohaniah, baik mimpi maupun semedi, tetapi jaringan komunikasi yang digunakan memakai jaringan rohaniah syaitan. Penganut aliran Sapta Dharma mengaku bisa mempertemukan seseorang dengan ayah atau kakeknya yang sudah meninggal, melalui semedi tertentu. Pada setiap manusia ada semacam pemancar spiritual yang dapat menangkap sinyal-sinyal rohaniah, menurut al Gazali disebut dzauq. Kekuatan dzauq bergantung apakah baterainya kuat atau tidak. Dauq yang sehat, ia dapat menangkap signal-signal spiritual malakuti. Ada tiga channel spiritual; malakuti, yang melalui malaikat, jinni yang melalui jin dan syaithani yang melalui syaitan. Orang yang kualitas spiritualnya tanggung-tanggung sering digoda melalui channel jinni, terkadang syaitoni. Orang yang kuat dzauqnya tapi karakternya buruk semacam dukun yang suka ngerjain pasin, ia terbiasa menerima signal spiritual syaitoni. Syaitan dalam memberi informasi dari alam rohaniah, pada tingkat pertama kebenarannya mencapai 99%. Semakin yakin ia akan kebenaran channel syaitoni maka tingkat kebenaran itu dikurangi sedikit-sedikit, hingga jika sang dukun atau penganut kebatinan sudah yakin 100% kepada channel itu, maka kebenaran informasi itu hamper semuanya menyesatkan. Mimpi-mimpi yang dialami semakin jelas isyaratnya, tetapi sesungguhnya itu merupakan tipuan. posted by : Mubarok institute

NAIK KE LANGIT MENDEKAT KEPADA TUHAN
Bahasa sehari-hari mengenal istilah; Tuhan yang di atas, atau Tuhan yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata. Dalam al Qur’an langit disebut dengan nama sama’ atau samawat. Dalam bahasa Arab, sama’ mengandung dua arti, pertama; ma `ala ka, apa yang di atasmu. aaDari pengertian ini maka plafon di rumah kita di sebut langit-langit. Ke dua; langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia. Jika di sebut sorga berada di langit artinya akal manusia tidak akan mampu melacak keberadaannya.

Sorga dapat dilacak dengan keyakinan atau iman, bukan dengan ratio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit , dan ungkapan semisal lainnya. Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau `alam malakut satu “tempat” yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya. Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Tuhan, akal manusia tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Allah memberi infrastruktur kepada manusia untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah menempatkan sifat ketuhanan pada setiap manusia, apa yang dalam tasauf disebut nasut. Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb) manusia, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al Qur’an disebut bashirah (Q/75:14-15). Jika sifat Tuhan al Bashir mengandung arti Tuhan mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah nya manusia atau hati nurani manusia juga dapat menembus dindingdinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Di alam malakut manusia bisa berjumpa dengan arwah manusia yang telah lama meninggal, dan jika beruntung bisa berjumpa dengan Nabi. Dengan sifat Nasut itulah manusia pada suatu ketika rindu kepada Tuhan. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Tuhan, maka pandangannya selalu ke “atas” mencari Dia Yang Maha Tinggi di “alam atas”. Kerinduan kepada Tuhan itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma’innah, yakni jiwa yang tenang, atau ketika Tuhan berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49) Di sisi lain, Tuhan memiliki sifat kemanusiaan (Lahut) yang selalu merindukan kehadiran manusia ke haribaan rahmat Nya. Tuhan sangat antausias menyongsong hambanya. Jika manusia mendekati Tuhan dengan jalan kaki, maka Tuhan akan menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi “mu’allaf” tetapi sudah mencapai pencerahan sufistik, karena ia disongsong oleh Tuhan. Di satu pihak, manusia memang memiliki bakat kerinduan kepada Tuhan dan untuk itu ia berusaha naik ke “atas” (taraqqi), di pihak lain, Tuhan yang merindukan kehadiran manusia berlari turun dari “atas” (tanazul) menyongsong setiap hambanya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang bisa ditempuh manusia mendekat kepada Nya. Pertama: Thariqat as Syar`iy, jalan syari’at. Siapa saja yang berusaha keras konsisten mengikuti syari’at Islam, salatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang

dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikti petunjuk Tuhan dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Tuhan tentang halal-haram, mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk menjadi orang dekat Nya. Kedua: Thariqat ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi. Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Tuhan yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secar ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur `alam). Ketiga: Thariqat mujahidat as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur kepada Tuhan. Ia wajibkan dirinya mengerjakan yang sunnat, ia haramkan untuk dirinya apa yang sesungguhnya halal, semata-mata karena tahu diri. Ia lebih suka tidur di lantai, meski memiliki kasur, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, ia pergi haji dengan jalan kaki meski ada pesawat terbang, pokoknya semua yang sulit menjadi pilihannya. Baginya menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Tuhan itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan kepada tuhan itu memalukan. Wallohu a`lam. posted by : Mubarok institute

KIAT HIDUP BERKAH
Kualitas hidup seseorang dapat dilihat pada perilakunya sehari-hari, dari bangun tidur pagi hari hingga kembali ke peraduan pada malam hari. Setiap orang berbeda-beda tingkat pendiÂdikan, tingkat sosial dan tingkat keimanannya, tetapi periÂlakunya sehari-hari akan mengumpulÂkan mereka dalam satu kelompok yang identik. Meski akhlak seseorang tersembunyi di dalam jiwanya, tetapi adab dan tatakarama yang diikuti dan nampak dari luar akan menyuburkan akhlak yang tersembunyi itu. KemukÂminan seseorang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari yang secara konsisten dilakukannya, dan menurut hadis Rasulullah indikator imannya dapat dilihat pada 77 variabel (disebut 77 cabang iman). Adab adalah akhlak yang bersifat lahir. Untuk menyuburkan nilai keimanan, agama Islam mengaÂjarkan adab yang sangat dianjurkan untuk diikuti. Adab Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan, baik dalam berhubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, maupun dengan diri sendiri, dari sejak bangun tidur, beribadat, bekerja dan hingga kembali ke tempat tidur. Kiat 1 Bangun Tidur Setiap mukmin dianjurkan untuk bangun tidur pada pagi hari sebelum subuh, karena sebagaiÂmana dikatakan oleh Rasulullah, bahwa saat pagi hari menjeÂlang subuh itu merupakan saat-saat penuh berkah. Rasulullah bersabda: Ummatku diberkati Allah (ketika mereka bangun) di pagi hari (burika liummati fi bukuriha). Berkah artinya terkumpulnya kebaikan ilahiah pada seseorang atau sesuatu atau suatu waktu seperti terÂkumpulnya air di dalam kolam (tajamÂmu` al al khair al Ilahy ka tajammu` al ma fi al

birkati). Dalam kehidupan sehari-hari, berkah artinya terÂdayagunakannya nikmat Tuhan secara optimal. Orang yang bangun pagi akan memperoleh udara bersih, kesegaran badan, dan peluang bekerja yang lebih banyak. Ketika bangun tidur dianjurkan untuk memÂbaca doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, sebagai berikut: Al hamdu lillahillazi ahya na ba`da ma ama tana wa ilaihin nusyur Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada Nyalah kami kembali. Rasulullah juga mengajarkan doa yang seyogÂyanya dibaca setiap pagi, sebagai berikut: Allahumma bika asbahna wabika amsaina wa bika nahya wa bika namutu wa ilaihin nusyur Artinya: Ya Allah, dengan nama Mu aku memasuki pagi hari dan dengan nama Mu pula aku memasuki sore hari. Dengan nama Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama Mu pula aku mati, dan kepada Mu lah tempatku kembali. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI MIMPI-1(BERWISATA DALAM MIMPI)
Bahwa setiap manusia pernah mengalami mimpi tidak seorangpun yang membantah, tetapi mimpi itu apa tidak pernah ada definisi yang secara empirik bisa dibuktikan kebenarannya. Analisis tentang mimpi bisa ilmiah, mistis, bisa juga sufistik. Pembicaraan tentang mimpi bukan saja dilakukan oleh dukun, peramal, orang tua, psikolog dan failasuf, tetapi Al Qur’an sebagai wahyupun membicarakannya. Mimpi Menurut al Qur’an Al Qur’an menyebut mimpi dalam dua term, yaitu ru’ya dan adghats ahlam). Term ru’ya disebut sebanyak duabelas kali, berhubungan dengan mimpi yang dialami oleh Nabi dan oleh orang biasa. Dalam surat Yusuf/12:4 (juga ayat 5 dan 100) misalnya dikisahkan bahwa Yusuf ketika masih kanak-akan bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan tunduk kepadanya (انّى رأيت اØد عثر كوكبا والثّمس والقمر رأيتهم لى ساØÂدين) . Ayat 43 surat yang sama mengisahkan bahwa Fir’aun bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus (انّى أرى سبع بقرات سمان يأكلهنّ سبع عØÂاف ) . Demikian juga Nabi Muhammad dalam surat al Fath/48:27 dikisahkan bermimpi memasuki Masjid Haram dengan aman (لقد صدق الله رسوله الرّؤيا بالØقّ), dan pada surat al Isra/17:60 dikisahkan Nabi bermimpi tentang perang Badar (وما ØÂعلنا الرّؤيا الّتى أريناك الاّ Ùチتنة للنّاس). Nabi Ibrahim juga menerima perintah menyembelih Isma’il melalui mimpi (انّى أرى في المنام انّى أذبØÙƒ).130 Dua orang pegawai Fir’aun yang dipenjara bersama Yusuf juga dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 36 bermimpi, yang satu kembali bekerja melayani raja, dan yang satu bermimpi membawa roti di atas kepala, tapi rotinya dimakan burung (قال اØدهما انّى أرانى أعصر خمرا) . Sedangkan term ahlam disebut Al-Qur’an sebanyak lima kali , dua kali term al hulum (dari halama yahlumu) dalam arti mimpi “pertama” (والّذين لم يبلغوا الØلم), 131 satu kali ahlam (dari haluma yahlumu hilm) disebut dalam arti fikiranfikiran (أم تأمرهم Ø£Øلامهم بهذا)132 dan dua kali disebut adghas ahlam, dalam arti mimpi-mimpi kalut, yakni pada surat Yusuf/12:44 dan Q/21:5. Pada surat al Anbiya/21:5, disebutkan bahwa kaum musyrikin menilai ayat-ayat Qur’an itu tak lebih dari produk mimpi kalut () . Bawahan Fir’aun yang tidak sanggup menta`birkan mimpi

Fir’aun, yaitu mimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, seperti yang dikisahkan surat Yusuf/12:44 juga memandang mimpi Fir’aun sebagai mimpi kalut Dari ayat-ayat tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa manusia dengan kapasitas dan kualitas nafs tertentu, baginya tidur lebih bersifat fisik, karena nafsnya masih bisa menerima stimulus dari luar dirinya dalam bentuk ilham atau wahyu seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika menerima perintah untuk menyembelih puteranya sebagai kurban, atau oleh Nabi Muhammad ketika diberi tahu lebih dahulu oleh Tuhan bahwa kaum muslimin akan berhasil menziarahi Makkah secara aman. Jadi, impian bisa merupakan isyarat dari apa yang telah, sedang atau akan terjadi, disebut رؤيا الØقّ (ru’ya al haqq) seperti yang dikisahkan surat al Fath/48:27 tersebut di atas. Yusuf seperti yang dikisahkan surat Yusuf/12: 4 ketika masih kanak-kanak bermimpi melihat sebelas bintang, bulan dan matahari tunduk kepadanya , suatu impian yang mengisyaratkan tentang perjalanan hidup dan nasib baiknya di belakang hari , satu hal yang dapat membuat saudara-saudaranya iri hati sehingga Nabi Ya’qub, ayah Yusuf seperti yang dikisahkan dalam lanjutan dari ayat itu (ayat 5) melarangnya untuk menceriterakan mimpinya itu kepada orang lain .Di belakang hari, menurut sebagian mufassir 40 tahun kemudian,133 impian itu, seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf ayat 100 menjadi kenyatan (وقال يأ بت هذا تأويل رؤياي من قبل قد ØÂعلها ربّي Øقّا). Mimpi yang benar tidak mesti dialami oleh orang mukmin. Fir`aun pun seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 43 pernah bermimpi melihat tujuh ekor sapi germuk dimakan tujuh ekor sapi kurus yang kemudian dita’wil oleh Yusuf seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 47-49 sebagai isyarat akan datangnya musim paceklik dan cara-cara mengantisipasinya, sebagaimana juga dua teman Yusuf di penjara bermimpi masing-masing memperoleh keberuntungan dan nasib buruk.134 Adapun orang yang jiwanya sedang gelisah, mimpi yang dialami dalam tidurnya lebih merupakan adghats ahlam , yakni mimpi kalut. Tentang mimpi, banyak sekali hadis Nabi yang membicarakannya. Menurut kebanyakan hadis, mimpi dibagi menjadi dua yaitu ru’ya dan al hulm. Yang pertama berasal dari Allah dan yang kedua berasal dari syaitan. Salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abi Qatadah misalnya berbunyi : الرّؤيا من الله والØلم من الثّيطان فاذا Øلم اØدكم Øلما يكرهه فلينفث عن يساره ثلاثا وليتعوّذ بالله من ثرّها فانّها لن تئرّه رواه مسلم artinya : Ru’ya itu datangnya dari Allah dan al hulm itu datangnya dari syaitan. Maka bila salah seorang diantaramu mengalami mimpi kalut yang tidak disukainya, maka hendaknya meludah ke kiri tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka sesungguhnya mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya (HR Muslim) Dalam hadis Abu Hurairah yang dihimpun oleh Muslim disebutkan pula tiga jenis ru’ya, yaitu (1) mimpi baik yang merupakan khabar gembira dari Allah رؤيا الصّالØØ©,) ) (2) mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaitan (رؤيا تخزين من الثّيطان) dan mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya (رؤيا ممّا ÙŠØدّث المرء Ù†Ùチسه).135 Dalam hadis itu juga disebut bahwa mimpi seorang mukmin merupakan 1/46 bagian dari kenabian (رؤيا المؤمن ØÂزء من ستّة وأربعين ØÂزأ من النّبوّة).136

Jadi, dari keterangan Al-Qur’an dan hadis tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa manusia dengan kondisi tertentu, meski matanya tertidur, tetapi qalb tidak ikut tertidur. Salah satu bait pujian kepada Nabi Muhammad antara lain menyebutkan bahwa meski mata Rasul telah mengantuk tetapi hatinya tidak tertidur (وقلبه لم ينم والعين قد نعست) posted by : Mubarok institute

MASJID DAN GEREJA: PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
Masjid (masjidun) mempunyai dua arti, arti umum dan arti khusus. Masjid dalam arti umum adalah semua tempat yang digunakan untuk sujud dinamakan masjid, oleh karena itu kata Nabi, Tuhan menjadikan bumi ini sebagai masjid. Sedangkan masjid dalam pengertian khusus adalah tempat atau bangunan yang dibangun khusus untuk menjalankan ibadah, terutama salat berjamaah. Pengertian ini juga mengerucut menjadi, masjid yang digunakan untuk salat Jum’at disebut Masjid Jami‘. Karena salat Jum‘at diikuti oleh orang banyak maka masjid Jami‘ biasanya besar. Sedangkan masjid yang hanya digunakan untuk salat lima waktu, bisa di perkampungan, bisa juga di kantor atau di tempat umum, dan biasanya tidak terlalu besar atau bahkan kecil sekali sesuai dengan keperluan, disebut Musholla, artinya tempat salat. Di beberapa daerah, musholla terkadang diberi nama langgar atau surau. Ada tiga masjid besar dalam sejarah Islam, yaitu Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid al Aqsha di Yerussalem. Adapun nama Gereja bisa digunakan untuk menyebut (1) jemaat atau sidang jemaat, (2) Persekutuan orang percaya, (3) Tubuh dari Kristus, (4) Realitet dunia dan sekaligus realitet rohani, dan (8) tempat atau gedung dimana ada pemberitaan tentang Yesus Kristus. Istilah gereja berasal dari kata Portugis “igreye” yang melalui kata Yunani “ecclesia” ’ artinya keluar. Maksudnya jemaat yang dipanggil ke luar dari dunia untuk menjadi “milik” Tuhan. Bible sendiri tidak mengenal istilah gereja, tetapi para teolog membuat rumusan dari ungkapan2 surat-surat Paulus. Dokumen tertua yang menyebut istilah “ecclesia” adalah naskah pengakuan (kredo) “Symbolum Apostolikum” yang diduga berasal dari sekitar abad kedua Masehi. Dalam naskah itu kata “gereja” diletakkan sesudah pengakuan terhadap roh kudus. Naskah Latin menyebut “et in spiritusancto, sanctam ecclesiam”. Sedangkan naskah Yunani menyebutkan lebih panjang, yaitu; “credo in spiritum sanctum, sanctum ecclesiam catholicam, sanctorum comunianem”. Naskah tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus” menurut versi Protestan, sedang terjemahan versi Katolik berbunyi; “gereja Katolik yang kudus, persekutuan orang kudus. Ada tiga hal yang menunjukkan ciri pengertian gereja dalam naskah itu, yaitu katolik (umum), kudus dan persekutuan orang kudus. Tiga pengertian ini di belakang hari memaksa para teolog Kristen untuk membuat apologi, karena ternyata gereja seperti yang dapat dilihat orang tidak mengandung criteria-kriteria tersebut. Pada umumnya apologi itu dilakukan dengan jalan memisahkan pengertian antara gereja seperti yang dilihat orang dengan pengertian yang bersifat abstrak; misalnya ungkapan bahwa gereja berada di dunia tetapi tidak berasal daripadanya. Atau ungkapan yang menyatakan bahwa gereja memiliki dua tabiat Yesus; tabiat Ilahi dan tabiat manusiawi.

Gereja Katolik memberikan penekanan yang lebih misterius dibanding teolog Kristen. Konsili Vatikan II (1963) misalnya membuat satu fasal yang berjudul: Gereja sebagai Misteri. Maknanya gereja adalah rahasia Tuhan yang manusia tidak akan mengetahui yang sesungguhnya. Dalam bagian lain dari dokumen konsili tersebut disebutkan bahwa Gereja adalah ummat yang dipersatukan dalam kesatuan Bapa, Putera dan roh Kudus. Gereja juga disebut sebagai tubuh mistik Kristus, artinya orang Katolik meyakini dirinya sebagai benar-benar menjadi bagian dari tubuh mistik Kristus. Masyarakat umum pada umumnya memahami gereja sebagai kumpoulan orang-orang Kristen dalam berbagai aliran, seperti Katolik, Protestan, Anglikan, Adven dan sebagainya., dan gedung yang dipakai sebagai tempat peribadatan. Pemerintah Indonesia memandang gereja sebagai persekutuan sosiologis dengan memberikan akte pengesahan. Menurut Abineno, kesalahan anggapan tentang gereja tidak bisa dihindarkan dan akan berlangsung terus hingga kedatangan kembali Yesus Kristus nanti. Disamping ungkapan tersebut, masih ada ungjkapan lain seperti; “ibu kita”, “mempelai Allah”, Yerussalem dari atas”, “gereja diam”, “gereja berjuang””, gereja mengembara” dan sebagainya. Problem kesulitan mendirikan gedung gereja di Indonesia antara lain disebabkan karena konsep gereja tidak dapat dicerna orang Islam. Orang Islam memandang gereja sama dengan masjid sebagai tempat ibadah yang besar-kecilnya ditentukan oleh besar kcilnya jamaah di sekitar, sementara orang Kristen memandang gereja sebagai persekutuan sesuai dengan alirannya sehingga meski seorang Kristen berdomisili di Jakarta barat, tapi ia justeru menjadi anggauta dari gereja di Jakarta timur. Bagi orang Kristen, adalah sesuatu yang wajar jika jemaah gereja berdatangan dari jauh, karena itu memang gerejanya, tapi bagi orang Islam di sebuah pemukiman misalnya; di situ hanya ada sepuluh keluarga Kristen, tetapi gerejanya dibangun besar dan jemaahnya datang dari tempat jauh. Di mata orang Islam di pemukiman itu, kehadiran orang jauh merupakan agressi untuk mensyiarkan agamanya (kristenisasi) ke tengah-tengah muslim. SKB dua menteri (Menag dan Mendagri) tentang itu dimaksud untuk menghindarkan kesalahpahaman masyarakat. posted by : Mubarok institute

PAUS, SYI`AH DAN NU
Paus, Syi`ah dan NU sesungguhnya berada di tempat yang terpisah oleh sekat agama dan sekat aliran, tetapi ternyata ketiganya mempunyai kesamaan dalam struktur teologis organisasi. Paus adalah pemegang otoritas keagamaan tertinggi Gereja katolik, di dalam faham Syi`ah juga dikenal ada ayatollah al `udhzma (yang terkenal adalah Ayatullah Khumaini) yang memiliki otoritas keagamaan tertinggi di Iran, dan dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) juga ada Rais `Am Syuriah yang juga mempunyai otoritas tertinggi dalam organisasi keulamaan itu. Ayatullah Khumaini, meski ia tidak menduduki jabatan politik formil, tetapi ia bisa memecat presiden Iran, dan keputusannya dipatuhi oleh system yang bernama wilayat al faqih (otoritas ulama). Rois `Am Syuriah NU juga bisa memecat ketua umum Tanfidziyyah (eksekutip) NU, dan proses pengambilan keputusan oleh Syuriyah NU melewati metode salat istikharah (mohon petunjuk Tuhan) yang tidak bisa dikonfirmasi oleh organisasi, tetapi dipatuhi oleh system karena Syuriah dipandang sebagai pemegang otoritas teologis, melebihi otoritas muktamar. Gereja dan ke Paus an Secara garis besar, gereja terbagi menjadi empat kelompok, yaitu (1) Gereja katolik Roma yang berpusat di Vatikan, dibawah pimpinan Paus (2) Gereja Yunani (Timur) yang berpusat di

Konstantinopel, (3) Gereja2 Kristen yang tergabung dalam Dewan Gereja-gereja se Dunia, disebut juga Gereja Protestan atau gereja reformasi yang dulu lahir di German sebagai wujud protes terhadap kepausan dan (4) Gereja Anglikan yang diketuai oleh Raja Ingris. Di luar itu masih ada gereja-gereja yang tidak tunduk kepada tiga induk itu, biasanya dianggap “liar”, disebut bidat. Gereja Protestan lahir karena menentang kekuasaan Paus yang “tak terbatas”, sementara Gereja Anglikan lahir karena Paus tidak mengizinkan Raja Inggris menikahi seorang gadis, sehingga sang Raja memisahkan diri dari Gereja Katolik. Struktur Organisasi Gereja Katolik Penganut Katolik terbagi menjadi dua lapis; kaum awam dan pimpinan. Lapisan pimpinan (disebut klerus atau hierarchi) tersusun dalam jenjang kepangkatan yang sangat rapi dari pusat hingga terbawah. Di luar hierarchi masih ada lapisan lain yaitu kaum rohaniawan. Gereja katolik mengajarkan bahwa pimpinan tertinggi gereja adalah Yesus sendiri, tetapi agar membumi, Yesus memberi badan pengurus, kuasa mengajar dan imamat. Organisasi Gereja katolik sesungguhnya episkopal atau dari atas ke bawah, tetapi untuk mudah memahaminya dapat dilihat dari bawah. Unit terkecil masyarakat Katolik adalah jemaat (disebut paroki) dipimpin pastur paroki, diatasnya ada dekanat, dipimpin pastur dekan, beberapa dekanat membentuk wilayah keuskupan, dipimpin seorang uskup (setingkat kabupaten), selanjutnya diatasnya ada keuskupan agung, dipimpin oleh uskup agung, selanjutnya di tingkat Negara ada majlis keuskupan tingkat nasional, di Indonesia bernama MAWI, dan seluruh wilayah keuskupan di dunia berada dibawah pimpinan Paus yang berkedudukan di Vatikan, Roma. Paus sendiri mempunyai semacam cabinet, disebut curia Romana, dan staf ahli yang diberi pangkat Cardinal. Laiknya organisasi, setiap dua-tiga tahun diselenggarakan pertemuan para uskup, disebut synode. Forum tertinggi adalah konsili atau Kongres gereja katolik. Jadi inti organisasi gereja katolik adalah Paus dan Uskup. Pangkat Paus Dasar teologis atau dogma dari kepausan adalah tafsir Injil Yahya 21,15-17 dimana Yesus mengatakan kepada Petrus (muridnya, atau rasul menurut istilah gereja) agar ia memelihara dan mengembalakan segala dombanya. Ayat ini lalu ditafsir sebagai SK pengangkatan Petrus sebagai kepala dari para rasul (atau semacam khalifah plus menurut sejarah Islam). Karena Petrus mengangkat Uskup Roma maka selanjutnya Uskup Roma dipandang sebagai pewaris sah tahta Petrus. sah pula mengangkat uskup di kota lain. Dalam Lumen Gentium, akidah itu dirumuskan dengan kalimat sbb: “Karena itu konsili suci mengajarkan bahwa karena penetapan ilahi, para uskup telah menggantikan para rasul sebagai gembala-gembala gereja, dan barang siapa mendengarkan, berarti mereka mendengarkan Kristus, dan barang siapa menolak, berarti mereka menolak Dia yang mengutusnya”. Secara resmi Paus memiliki otoritas mengajar dan otoritas menafsirkan kitab suci , disebut magisterium. Akidah Katolik tentang Paus bersifat baku, yakni mengimani Paus sebagai pemilik kuasa khusus : 1. Sebagai imam agung, Paus mempunyai kuasa mengajar yang tak dapat sesat 2. Sebagai pengganti Petrus dan mewakili Kristus, berkuasa mengatur dan menghakimi semua hal kegerejaan. 3. Menjadi penghubung semua orang katolik. Jika seorang Paus meninggal dunia, maka para cardinal berhak memilih satu diantara mereka untuk menjadi Paus, dengan metode yang juga tidak bisa dikonfirmasi seperti salat istikharahnya Rais `am Syuriah NU.

Otoritas tertinggi ini sudah barang tentu hanya diakui oleh penganut Katolik. Gereja Anglikan dan Protestan tidak mengakui otoritas tersebut. Skisma (perpecahan administratip) dan heresy (perbedaan akidah) sepanjang sejarah gereja sering terjadi hingga melibatkan perang antar Negara. Sebagaimana terjadi dalam sejarah khilafah Islam dimana ada seorang yang sama sekali tidak layak menjadi khalifah, tetapi secara defacto ia menduduki kursi itu(Yazid pada masa daulah Umayyah misalnya),, demikian juga terkadang ada Paus yang anggun (seperti Paus Innocent III dan Paus Paulus II ) dan ada juga Paus yang cabul dan rendah tabiatnya (seperti Alexander VI Borgia 1492-1503). Maka tak salah ketika majalah Gatra pada cover yang mengulas kontroversi pidato Paus terakhir dengan tulisan : Paus juga manusia. posted by : Mubarok institute

IMAM POLITIK
Dalam teori dan pemikiran politik Islam, ada tiga gelar simbolik yang disematkan kepada beberapa orang yang melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam pucuk elite kekuasaan. Yaitu, al-imâm, al-khalîfah, dan amîr al-mukminin. Ketiga gelar simbolik ini telah pernah memainkan peran penting pada roda kepemimpinan dalam sejarah perkembangan Islam. Berikut ini beberapa penjelasan singkat tentang hakikat makna setiap gelar simbolik tersebut. Al-Imâm. Dalam bahasa Arab, kata imam dalam berbagai bentuknya mempunya beberapa arti, seperti: tujuan atau maksud (al-amm), jalan dan agama (al-immah), Ibu dan Bendara (al-umma), Pemimpin yang diangkat oleh kaumnya (imam). Imam juga berarti seorang pemimpin atau orang yang berada di muka. Menurut Thaba’thaba’i, imam adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang memegang pimpinan masyarakat dalam suatu gerakan sosial, atau suatu ideologi politik, atau suatu aliran pemikiran keilmuan atau keagamaan. Murtadha Muthahhari berpendapat, bahwa imam adalah pribadi yang memiliki beberapa pengikut, terlepas dari kenyataannya apakah dia saleh atau tidak. Dalam Al-Quran disebutkan, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam yang memberi petunjuk dengan seizin Kami.” (Al-Anbiyâ’: 73). Jadi secara harifiah, imam adalah seorang pemimpin. Imam juga berarti sesuatu yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan, atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkataan. Selain itu, imam digunakan juga untuk menyebut Al-Quran, Nabi Muhammad, khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata imâm memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi uswah hasanan, dan kepemimpinan. Dalam Al-Quran, imam digunakan untuk menyebut pemimpin masyarakat (Q/Al-Isra’:71), kitab suci (Q/Hud: 17), pemimpin orang baik (Q/Al-Ambiya: 72-73), pemimpin orang kafir (Q/Al-Qashash dan Q/Al-Tawbah: 12) Dari ayat-ayat Al-Quran di atas, bisa dipetik dua pengertian dari makna imâm; sebagian besar digunakan dalam Al-Quran membuktikan adanya indikasi yang bermakna “kebaikan”. Pada sisi lain—bahwa kata imâm juga menunjukkan makna jahat. Karena itu, imâm berarti seorang pemimpin yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan imâm tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. Kedua, kata imâm dalam ayat-ayat Al-Quran itu bisa mengandung makna penyifatan kepada nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan Musa—sebagaimana juga

menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa. Al-Khalîfah. Gelar ini sangat berkaitan dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih dan memutuskan seorang yang akan menjadi pengganti kepemimpinan Nabi. Dan, Abu Bakar terpilih untuk menggantikan Rasulullah dalam memimpin dan memelihara kemaslahatan umat Islam pada masa-masa berikutnya. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, yang berarti penerus atau pengganti nabi untuk mengurus masalah umat Islam. Abu Bakar menegaskan, “Aku bukan khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.” Jadi, Abu Bakar diangkat oleh para sahabat sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah. Khalifah sebagai konsep politik merupakan antitesis dari sistem kekaisaran yang absolut otoriter. Amîr Al-Mu’minîn. Gelar ini diberikan kepada khalifah kedua: Umar ibn Khathtab—setelah menggantikan Khalifah Abu Bakar yang wafat. Dalam bukunya, AlMuqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab pemberian nama ini. Ia menulis, “Itu adalah bagian dari ciri khas kekhalifahaan dan itu diciptakan sejak masa para khalifah. Mereka telah menamakan para pemimpin delegasi dengan nama amir; yaitu wazan (bentuk kata) fa’il dari imarah. Para sahabat pun memanggil Sa’ad ibn Abi Waqqash dengan Amîr AlMu’minîn karena ia memimpin tentara Islam dalam Perang Qadisiyyah. Pada waktu itu, sebagian sahabat memanggil Umar ibn Khathtab dengan sebutan yang sama juga: Amîr AlMu’minîn sebagai pengganti gelar yang susah disebut, yaitu: Khalifatu khalifati Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Penggunaan nama Imam, khalifah dan Amir mempunyai filosofi tersendiri. Imam mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin harus bias di depan seperti imam salat, khalifah (artinya yang dibelakang) mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin juga harus bias berada di belakang memberikan dorongan kepada rakyatnya. Sdagkan amir punya dua makna, sebagai isim fail artinya yang menyuruh, sebagai isim maf`ul artinya yang disuruh, maknanya seorang pemimpin suatu saat harus berani menyuruh, dan di kala yang lain justeru disuruh oleh rasa tangung jawabnya. Secara umum, ketiga gelar di atas menunjukkan perlu atau adanya kepemimpinan dalam Islam. Bagi suatu kaum atau umat, keberadaan seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang tak mungkin dimungkiri. Menurut Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkâm Al-Sulthâniyyah wa AlWilâyât Al-Dîniyyah, dalam lembaga negara dan pemerintahan, seorang kepala atau pemimpin wajib hukumnya menurut ijma’. Alasannya, karena lembaga kepala dan pemerintah dijadikan sebagai pengganti fungsi kenabian dan menjaga agama serta mengurus urusan dunia. Al-Mawardi menyebut tujuh syarat yang harus dipenuhi calon kepala negara (seorang pemimpin). Syarat-syarat itu, antara lain: (1) keseimbangan atau keadilan (al-‘adâlah); (2)punya ilmu pengetahuan untuk berijtihad; (3)punya pancaindera lengkap dan sehat; (4)anggota tubuhnya tidak kurang untuk menghalangi gerak dan cepat bangun; (5) punya visi pemikiran yang baik untuk mendapatkan kebijakan yang baik; (6)punya keberanian dan sifat menjaga rakyat; dan (7) punya nasab dari suku Quraisy. Persyaratan suku Quraisy dapat dibandingkan dengan UUD 45 yang menyebut Presiden haruslah orang Indonesia asli. Adapun Imam Al-Ghazali mengingatkan kepada para pemimpin, khususnya para penguasa, bahwa kekuasaan yang didudukinya memiliki batas dan kadar tertentu, dan bisa juga kekuasaan itu mengandung keburukan. Karena itu, dalam menjalankan kekuasaannya, seorang pemimpin

harus menjalankan sepuluh prinsip keadilan—sebagai syarat pertama bagi seorang pemimpin, seperti disebutkan Al-Mawardi. Antara lain; seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi; menerima pesan ulama; berlaku baik kepada bawahan; memiliki rasa rendah hati dan penyantun; tidak mementingkan diri sendiri; memiliki loyalitas tinggi; hidup sederhana; lemah lembut; cinta rakyat; serta tulus dan ikhlas. Yang jelas, Nabi Muhammad dengan tegas mengingatkan para pemimpin. Nabi bersabda, “Hamba yang diberikan kekuasaan oleh Allah untuk memimpin umat, tetapi mengkhianati, dan tidak memberikan nasihat atau mengasihi mereka, Allah mengharamkan surga kepadanya.† Dalam hadis lain Rasulullah berkata, “Siapa jadi pemimpin umat Islam, tetapi tidak memperhatikan mereka sebagaimana terhadap keluarganya sendiri, berarti ia telah memperoleh tempat yang mapan di api neraka.” Wa Allahu a’lam bi al-shawab posted by : Mubarok institute

ETIKA (AKHLAK) PEMIMPIN
Akhlak menurut Al-Ghazali adalah keadaan batin yang menjadi sumber lahirnya suatu perbuatan di mana perbuatan itu lahir secara spontan, mudah, tanpa menghitung untung rugi. Orang yang berakhlak baik, ketika menjumpai orang lain yang perlu ditolong maka ia secara spontan menolongnya tanpa sempat memikirkan resiko. Demikian juga orang yang berakhlak buruk secara spontan melakukan kejahatan begitu peluang terbuka. Akhlak seseorang, di samping bermodal pembawaan sejak lahir, juga dibentuk oleh lingkungan dan perjalanan hidupnya. Nilai-nilai akhlak Islam yang universal bersumber dari wahyu, disebut al-khair, sementara nilai akhlak regional bersumber dari budaya setempat, di sebut al-ma‘ruf, atau sesuatu yang secara umum diketahui masyarakat sebagai kebaikan dan kepatutan. Sedangkan akhlak yang bersifat lahir disebut adab, tatakrama, sopan santun atau etika Orang yang berakhlak baik secara spontan melakukan kebaikan, Demikian juga orang yang berakhlak buruk secara spontan melakukan kejahatan begitu peluang terbuka.. Akhlak universal berlaku untuk seluruh manusia sepanjang zaman. Tetapi, sesuai dengan keragaman manusia, juga dikenal ada akhlak yang spesifik, misalnya akhlak anak kepada orang tua dan sebaliknya, akhlak murid kepada guru dan sebaliknya, akhlak pemimpin kepada yang dipimpin dan sebagainya. Seseorang dapat menjadi pemimpin (imam) dari orang banyak manakala ia memiliki (a) kelebihan dibanding yang lain, yang oleh karena itu ia bisa memberi (b) memiliki keberanian dalam memutuskan sesuatu, dan (c) memiliki kejelian dalam memandang masalah sehingga ia bisa bertindak arif bijaksana. Secara sosial seorang pemimpin (imam) adalah penguasa, karena ia memiliki otoritas dalam memutuskan sesuatu yang mengikat orang banyak yang dipimpinnya. Akan tetapi menurut etika keagamaan, seorang pemimpin pada hakekatnya adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpinnya (sayyid al-qaumi khodimuhum). Pemimpin yang akhlaknya rendah pada umumnya lebih menekankan dirinya sebagai penguasa, sementara pemimpin yang berakhlak baik lebih menekankan dirinya sebagai pelayan masyarakatnya. Dampak dari keputusan seorang pemimpin akan sangat besar implikasinya pada rakyat yang dipimpin. Jika keputusannya tepat maka kebaikan akan merata kepada rakyatnya, tetapi jika keliru maka rakyat banyak akan menanggung derita karenanya. Oleh karena itu pemimpin yang baik disebut oleh Nabi dengan sebutan pemimpin yang adil (imamun ‘adilun) sementara pemimpin yang buruk digambarkan al-Qur’an, dan juga hadis, sebagai pemimpin yang zalim. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan sebaliknya zalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Hadis Riwayat Bukhari menempatkan seorang Pemimpin yang adil dalam urutan pertama dari

tujuh kelompok manusia utama. Hadis Riwayat Muslim menyebutkan bahwa pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya dan iapun mencintai rakyatnya. Sementara pemimpin yang terburuk menurut Nabi, adalah pemimpin yang dibenci rakyatnya dan iapun membenci rakyatnya, mereka saling melaknat satu sama lain. Hadis lain menyebutkan bahwa dua dari lima golongan yang dimurkai Tuhan adalah (1) penguasa (amir) yang hidupnya ditopang oleh rakyat (sekarang-pajak), tetapi ia tidak memberi manfaat kepada rakyatnya, dan bahkan tidak bisa melindungi keamanan rakyatnya. (2) Pemimpin kelompok (za‘im) yang dipatuhi pengikutnya tetapi ia melakukan diskriminasi terhadap kelompok kuat atas yang lemah, serta berbicara sekehendak hatinya (tidak mendengarkan aspirasi pengikutnya). Hadis Riwayat Dailami bahkan menyebut pemimpin yang sewenang-wenang (imam jair) sebagai membahayakan agama. Kisah Al-Qur’an yang menyebut Nabi (Raja) Sulaiman yang memperhatikan suara semut mengandung pelajaran bahwa betapa pun seseorang menjadi pemimpin besar dari negeri besar, tetapi ia tidak boleh melupakan kepada rakyat kecil yang dimisalkan semut itu. (Q/27:16). Meneladani kepemimpinan Rasulullah, akhlak utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah keteladanan yang baik (uswah hasanah), terutama dalam kehidupan pribadinya, seperti; hidup bersih, sederhana dan mengutamakan orang lain. Tentang betapa tingginya nilai keadilan pemimpin, Hadis Riwayat Tabrani menyebutkan bahwa waktu satu hari efektif dari seorang pemimpin yang adil setara dengan ibadah tujuhpuluh tahun. posted by : Mubarok institute

DIMENSI AJARAN ISLAM
Pendahuluan Islam sebagai agama bisa dilihat dari berbagai dimensi; sebagai keyakinan, sebagai ajaran dan sebagai aturan. Apa yang diyakini oleh seorang muslim, boleh jadi sesuai dengan ajaran dan aturan Islam, boleh jadi tidak, karena proses seseorang mencapai suatu keyakinan berbeda-beda, dan kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga berbeda-beda. Diantara penganut satu agama bisa terjadi pertentangan hebat yang disebabkan oleh adanya perbedaan keyakinan. Sebagai ajaran, agama Islam merupakan ajaran kebenaran yang sempurna, yang datang dari Tuhan Yang Maha Benar. Akan tetapi manusia yang pada dasarnya tidak sempurna tidak akan sanggup menangkap kebenaran yang sempurna secara sempurna. Kebenaran bisa didekati dengan akal (masuk akal), bisa juga dengan perasaan (rasa kebenaran). Kerinduan manusia terhadap kebenaran ilahiyah bagaikan api yang selalu menuju keatas. Seberapa tinggi api menggapai ketingian dan seberapa lama api itu bertahan menyala bergantung pada bahan bakar yang tersedia pada setiap orang. Ada orang yang tak pernah berhenti mencari kebenaran, ada juga yang tak tahan lama, ada orang yang kemampuannya menggapai kebenaran sangat dalam (atau tinggi), tetapi ada yang hanya bisa mencapai permukaan saja. Agama Islam sebagai aturan atau sebagai hukum dimaksud untuk mengatur tata kehidupan manusia. Sebagai aturan, agama berisi berisi perintah dan larangan, ada perintah keras (wajib) dan larangan keras (haram) , ada juga perintah anjuran (sunnat) dan larangan anjuran (makruh). Sumber hukum dalam Islam adalah al Qur’an, tetapi al Qur’an hanya mengatur secara umum, karena al Qur’an diperuntukkan bagi semua manusia sepanjang zaman dan dis eluruh pelosok dunia. Detail hukum kemudian dirumuskan dengan ijtihad. Karena sifatnya yang regional dan “menzaman” maka fatwa hukum bisa bisa berbeda-beda , ada yang menganggap bahwa hasil ijtihadnya itu sebagai hukum Tuhan, dan ada yang menganggap bahwa dalam hal detail tidak ada hukum Tuhan.

Memahami Ajaran Islam Dengan Pembidangan Pembidangan yang sangat populer dari ajaran Islam adalah Aqidah, Syari`ah dan Akhlak, masing-masing sebagai subsistem dari sistem ajaran Islam. Artinya aqidah tanpa syari’ah dan akhlak adalah omong kosong, demikian juga syari`ah harus berdiri diatas pondasi aqidah, dan keduanya haruslah dijalin dengan akhlak. Syari’ah tanpa akhlak adalah kemunafikan, akidah tanpa akhlak adalah kesesatan. Aqidah Secara harfiah, `aqidah artinya adalah sesuatu yang mengikat, atau terikat, tersimpul (bandingkan istilah `aqad nikah). Sedangkan sebagai istilah, `aqidah Islam adalah sistem kepercayaan dalam Islam. Mengapa disebut `aqidah, karena kepercayaan itu mengikat penganutnya dalam bersikap dan bertingkah laku. Orang yang kuat akidahnya (keyakinannya) terhadap keadilan Tuhan, maka keyakinan itu mengikatnya dalam bersikap terhadap suatu nilai (misalnya berkorban dalam perjuangan) dan selanjutnya mengikat perilakunya (misalnya tidak mau kompromi terhadap kezaliman). Sebaliknya orang yang tidak kuat keyakinannya kepada keadilan Tuhan (ikatannya longgar) ia mudah menyerah dalam berjuang dan bisa dinegosiasi untuk toleran terhadap penyimpangan, mudah terpancing untuk membalas dendam dengan cara yang menyimpang dari aturan.. Sistem kepercayaan ini akhirnya berkembang menjadi ilmu, disebut ilmu Tauhid atau ilmu ushuluddin. Ilmu Tauhid berbicara tentang Rukun Iman yang enam (iman kepada Tuhan, malaikat, Rasul, Kitab Suci, Hari akhir dan takdir). Kajian filosofis dari ilmu Tauhid disebut Ilmu Kalam, disebut juga Theologi (ilmu yang berbicara tentang ketuhanan). Secara garis besar, theologi Islam dapat dibagi menjadi dua type, yaitu Jabbariah dan Qadariah. Jabbariah lebih menekankan pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mutlak sehingga menempatkan manusia pada posisi seperti wayang yang segalanya tergantung kepada dalang. Manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk menentukan perbuatannya, oleh karena itu seseorang masuk sorga atau neraka itu bukan karena prestasinya, tetapi sepenuhnya kehendak Tuhan. Faham Qadariyah lebih menekankan sifat keadilan Tuhan , oleh karena itu manusia ditempatkan dalam posisi yang memiliki kekuasaan untuk menentukan perbuatannya, dan dengan keadilan Nya, Tuhan akan memberi pahala kepada yang berbuat baik dan menghukum yang berdosa. Secara sosial, penganut theologi Islam dapat dibagi menjadi dua, yaitu Sunny dan Syi`ah. Golongan Sunny memandang semua manusia sama di depan Tuhan, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Nya, oleh karena itu setiap muslim dari manapun memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin sepanjang memenuhi syarat. Golongan Sunnyi memandang empat sahabat besar (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) dalam posisi yang setara dan sah kekhalifahannya. Sedangkan golongan Sunny mengklaim adanya hak-hak istimewa keturunan Nabi-dalam hal ini anak-anak Ali bin Abi Thalib melalui ibu Fatimah (puteri Nabi) sebagai pewaris syah kepemimpinan ummat Islam. Abu Bakar, Umar dan Usman dinilai merampas hak-hak politik Ali bin Abi Thalib. Anak cucu Ali bin Abu Thalib kemudian disebut sebagai golongan Alawiyyin atau secara sosiologis di Indonesia disebut habaib. Syi`ah itu sendiri artinya golongan, dan sepanjang sejarah Islam, kelompok ini selalu menjadi korban politik karena mereka sangat potensil mengobarkan semangat oposisi terhadap penguasa Sunny. Baru di Iran theologi Syi`ah mewujud dalam bentuk Pemerintahan Republik Islam Iran, yang dibangun dengan konsep wilayat al faqih (otoritas ulama) dimana para mullah (kelompok Alawiyyin yang terdidik) memiliki hak-hak istimewa politik (disebut imamat) dengan puncaknya Ayatullah al `Uzma (pertama Imam Khumaini kemudian digantikan Khameini).

Syari`ah Secara harfiah, syari`ah artinya jalan, sedangkan sebagai istilah keislaman, syari`ah adalah dimensi hukum atau peraturan dari ajaran Islam. Mengapa disebut syari`ah adalah karena aturan itu dimaksud memberikan jalan atau mengatur lalu lintas perjalanan hidup manusia. Lalu lintas perjalanan hidup manusia itu ada yang bersifat vertikal dan ada yang bersifat horizontal, maka syari’ah juga mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan menusia dengan sesama manusia. Aturan hubungan manusia dengan Tuhan berujud kewajiban manusia menjalankan ritual ibadah (Rukun Islam yang lima). Aturan dalam ritual ibadah berisi ketentuan tentang syarat, rukun, sah, batal, sunnat (dalam haji ada wajib), makruh. Prinsip ibadah itu tunduk merendah kepada Tuhan, tidak banyak mempertanyakan kenapa begini dan begitu, pokoknya siap mengerjakan perintah dan tidak berani melanggar sedikitpun. Sedangkan lalu lintas pergaulan manusia secara horizontal disebut mu`amalah. Prinsip bermu`amalah adalah saling memberi manfaat, mengajak kepada kebaikan universal (alkhair) , memperhatikan norma-norma kepatutan (al ma`ruf) dan mencegah kejahatan tersembunyi (al munkar). Karena manusia sangat heterogin, maka aturan bermu`amalah sifatnya dinamis, dan merespond perubahan, dengan prinsip-prinsip (1) pada dasarnya agama itu tidak picik, mudah dan tidak mempersulit (`adam al haraj). (2) memperkecil beban, tidak untuk memberatkan (at taqlil fi at taklif), dan (3) pengetrapan aturan hukum secara bertahap (at tadrij fi at tasyri`). Karena adanya prinsip-prinsip inilah maka peranan manusia –dalam hal ini ulama- dalam merumuskan aturan-aturan syari`at sangat besar dalam bentuk ijtihad, yakni dengan akal dan hatinya merumuskan ketentuan-ketentuan hukum berdasarkan al Qur’an dan hadis . Al Qur’an menjelaskan sangat detail tentang waris, tetapi selebihnya hanya dasar-dasarnya saja yang disebut. Tentang politik misalnya, al Qur’an tidak menentukan bentuk negara, apakah republik atau kerajaan. Contoh pemerintahan Nabi dan khulafa Rasyidin juga sangat terbuka untuk disebut kerajaan atau republik. Dari sudut keilmuan, syari`ah kemudian melahirkan ilmu yang disebut fiqh, ahlinya disebut faqih-fuqaha. Karena fiqh itu produk ijtihad maka tidak bisa dihindar adanya perbedaan pendapat, maka lahirnya pemikian mazhab; yang terkenal Syafi`i, Maliki, Hanafi dan Hambali. Ulama yang tinggal di kota metropolitan pada umumnya memiliki pandangan yang dinamis dan rationil, sedangkan ulama yang tinggal di kota agraris (Madinah misalnya) pada umumnya puritan dan tradisional. Kajian fiqh berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, maka disamping ada fiqh ibadah, fiqh munakahat, fiqh al mawarits juga ada fiqh politik (fiqh as siyasah), sekarang sedang dikembangkan fiqh sosial, fiqh jender, fiqh Indonesia, fiqh gaul dan sebagainya. Akhlak Akhlak merupakan dimensi nilai dari syariat Islam. Kualitas keberagamaan justeru ditentukan oleh nilai akhlak. Jika syariat berbicara tentang syarat rukun, sah atau tidak sah, maka akhlak menekankan pada kualitas dari perbuatan, misalnya beramal dilihat dari keikhlasannya, shalat dilihat dari kekhusyu`annya, berjuang dilihat dari kesabaran nya, haji dari kemabrurannya, ilmu dilihat dari konsistensinya dengan perbuatan, harta dilihat dari aspek dari mana dan untuk apa, jabatan, dilihat dari ukuran apa yang telah diberikan bukan apa yang diterima. Karena akhlak juga merupakan subsistem dari sistem ajaran Islam, maka pembidangan akhlak juga vertikal dan horizontal. Ada akhlak manusia kepada Tuhan, kepada sesama manusia, kepada diri sendiri dan kepada alam hewan dan tumbuhan. Definisi akhlak adalah ; keadaan batin yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir secara spontan tanpa berfikir untung rugi. Kajian mendalam tentang akhlak dilakukan oleh ilmu yang disebut ilmu tasauf.

Memahami Ajaran Islam Dalam Struktur ISLAM-IMAN-IHSAN Dalam hadis yang terkenal dikisahkan adanya dialog malaikat Jibril (yang menyamar menjadi tamu) dengan Nabi Muhammad tentang Islam, Iman dan Ihsan. Nabi menerangkan bahwa Islam adalah syahadat , salat dst (rukun Islam), Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat dst (rukun iman) sedangkan ihsan adalah kualitas hubungan manusia dengan Tuhan (merasa melihat atau sekurang-kurangnya merasa dilihat oleh Tuhan ketika sedang beribadah, an ta`budallaha ka annaka tarahu wa in lam takun tarahu fa innahu yaraka). Konsep ihsanlah nanti yang menjadi pijakan ilmu tasauf, yaitu rasa dekat dan komunikatip dengan Tuhan. Sebagai sistem, teori struktur Islam-Iman –Ihsan dapat dimisalkan sebagai buah kelapa dimana Islam adalah kulit, Iman adalah daging kelapa, sedangkan ihsan adalah minyaknya, ketiganya saling berhubungan. Kulit kelapa yang besar biasanya dagingnya besar dan minyaknya banyak. Daging kelapa bertahan lama jika ia tetap terbungkus kulitnya, jika dipisahkan maka ia cepat membusuk. Iman akan mudah luntur jika tidak dilindungi oleh amaliah ibadah. Tetapi ada juga kelapa yang kulitnya besar ternyata tidak ada dagingnya, dan apalagi minyaknya (gabug). Demikian juga ada orang yang demontrasi Islamnya sangat menonjol, tetapi kualitas imannya lemah, apalagi moralitasnya. Wallohu a`lamu bissawab. posted by : Mubarok institute

GHIBAH DAN RIYA
Oleh Prof. DR. Achmad Mubarok MA* Didalam Bulan suci Ramadhan sebaiknya ghibah dan riya dihindarkan sebab selain merusak ibadah puasa juga merusak jiwa. Sebagaimana penyakit fisik mengenal komplikasi, penyakit hati juga mengenalnya. Demikian juga penyebab penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit hati juga ada penyebab dominannya. Dari itu maka dalam ilmu kesehatan dikenal slogan yang berbunyi : mencegah datangnya penyakit itu lebih baik dari pada mengobati, wiqayatussihhati khoirun minal `ilaj. Sumber dari penyakit hati adalah hubbud dunya wa karahiyat al maut, cinta dunia dan takut mati. Dunia disimbolkan dengan harta dan kekuasaan/pangkat (al mal wa al jah wa al riyasat). Demikian juga ghibah dan riya juga bersumber dari hal tersebut. Ghibah atau menggunjing adalah menceriterakan atau menyebutkan tentang seseorang tidak didepan orangnya atau secara gaib, satu hal yang jika didengar oleh orang yang bersangkutan pasti ia tidak menyukainya, meskipun yang dikatakan itu benar. Agama Islam mengajarkan agar kita hanya berbicara hal yang baik dan perlu, jika tidak ada hal baik yang perlu dikatakan maka sebaiknya diam(falyaqul khoiran au liyashmut). Nabi mengajarkan agar jika kita berbicara maka pembicaraan itu merupakan perwujudan dari zikir, jika diam maka diamnya merupakan perwujudan dari berfikir dan jika melihat, maka penglihatannya itu merupakan perwujudan dari mengambil pelajaran (shumti fikran, wa nuthqy zikran, wa nazory `ibratan). Dalam perspektip ini maka pekerjaan menggunjing merupakan pekerjaan yang kontra produktip, yang menurut Al Gazali disebabkan oleh beberapa hal : 1. Menggunjing karena sedang menghilangkan rasa sebal kepada yang digunjing. 2. Karena sedang mendukung teman yang kebetulan lawan dari yang digunjing. 3. Merasa sedang dimusuhi oleh orang yang digunjing.

4. Ingin membersihkan diri dari anggapan orang tentang sesuatu yang tidak baik. 5. Ingin dianggap lebih tinggi dari orang lain. 6. Semata-mata karena dengki 7. Sekedar bergurau 8. Menganggap rendah orang yang digunjing 9. Karena kagum kepada yang digunjing 10. Karena kasihan kepada yang digunjing 11. Bisa juga karena marah, yang marahnya itu karena membela kebenaran. Pekerjaan menggunjing bukan hanya contra produktip dan menyakiti orang lajn, tetapi juga berdosa. Meski demikian ada gunjingan yang dibolehkan, yaitu : 1. Ketika melaporkan perbuatan kriminal kepada petugas berwenang. 2. Ketika meminta pertolongan untuk mencegah kemungkaran 3. Ketika menegur kelakuan orang lain (dakwah) atau ketika menjadi saksi demi menyelamatkan orang yang tak bersalah. 4. Ketika meminta fatwa tentang perbuatan yang perlu keterangan rinci. 5. Ketika menanyakan identitas seseorang (gelarnya, pangkatnya dsb.) 6. Ketika mengingatkan kepada orang lain agar hati-hati terhadap perilaku jahat yang jelas-jelas ia ketahuinya. Riya Sedangkan riya adalah melakukan sesuatu sekedar ingin dilihat atau dinilai oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah.. Jadi kebalikan dari riya adalah ikhlas. Dalam perspektip nilai amal, kualitas amal sangat ditentukan oleh keikhlasan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang Islam itu sia-sia, kecuali yang mukmin, yang mukminpun sia-sia kecuali yang pandai atau alim, tapi yang alimpun sia-sia kecuali yang beramal, dan yang beramalpun sia-sia kecuali yang ikhlas. (al Muslimun kulluhum halka illa al Mu'minun, wa al Mu'minun kulluhum halka illa al `limun, wa al `alimun kulluhum halka illa al `amilun, wa al `amilun kulluhum halka illa al mukhlisun). Sebagaimana penyakit fisik dapat mengakibatkan konplikasi, penyakit hati juga demikian. Dari cinta harta menjadi mencari gengsi, kemudian dengki, takabbur, riya, ghibah dan seterusnya. Bagaimana mengobati penyakit ghibah dan riya ? Penyakit ghibah dan riya sebenarnya merupakan eskalasi dari penyakit lain, oleh karena itu sebenarnya resep untuk mengobati penyakit itu harus dengan menggunakan terapi umum penyakit hati. Ada sebuah hadis tentang bagaimana mengobati penyakit hati, yang isinya sudah didakwahkan dalam bentuk lagu sejak zaman para wali hingga Cak Nun, yaitu yang berjudul Tamba ati.. Kata Cak Nun tamba ati (obat hati) itu ada lima perkara : 1. Kerjakan salat malam. 2. Zikir panjang diwaktu malam 3. Membaca Qur'an dengan merenungkan maknanya 4. Biasakan puasa (perut lapar) 5. Bergaul dengan orang saleh. Sedangkan pengobatan secara khusus ghibah, menurut para ulama ada tiga hal, yaitu : 1. Banyak membaca yang memperluas ufuk wawasan 2. Aktip interospeksi, muhasabah, sibuk mengurusi keburukan diri sendiri. 3. Memadukan ilmu dan amal. Sebagai illustrasi tentang kecenderungan manusia, ada hadis yang menceriterakan kisah Nabi

Isa. Suatu hari Nabi Isa berjalan diringi oleh murid-muridnya melewati sebuah bangkai binatang yang sangat besar. Ketika sampai di tujuan, mereka ditanya oleh orang tentang apa yang telah dilihat di perjalanan. Seorang muridnya mengatakan bahwa ia melihat bangkai besar yang sangat menjijikkan. Yang lain mengatakan melihat bangkai yang baunya sangat busuk, yang lain menyebutkan menyeramkan, dan ketika Nabi Isa yang ditanya, beliau mengatakan bahwa beliau melihat bangkai yang giginya sangat putih. Dari hikayat itu nampak bahwa persepsi manusia terhadap sesuatu bergantung kepada pusat perhatiaannya. Bagi yang pusat perhatianya pada keburukan, maka bau busuk, menjijikkan dan menyeramkan langsung terserap sebagai informasi yang disebarluaskan kepada orang lain, tapi bagi Nabi Isa, bau busuk tidak menarik perhatiannya, karena yang ada pada hati Nabi Isa hanya ada ruang memori kebaikan, sehingga keburukan tidak terekam. Wallohu a`lamu bissawab posted by : Mubarok institute

KIAT DI MASJID SELAMA BULAN SUCI RAMADHAN
Pada bulan suci ramadhan adakalanya kita setelah sahur hendak sholat berjamaah dirumah atau dimasjid, untuk itu diperlukan kiat-kiat untuk bisa menjalankan sholat berjamaahnya dengan baik maupun untuk menambah amal pahala dibulan suci ramadhan. Setelah bangun tidur, sahur sebaiknya membersihkan diri, ditekankan untuk menjalankan salat subuh secara berjamaah, baik di rumah sekeluarga atau di masjid bersama masyarakat banyak (terutama pria). Jika anda pergi ke masjid, maka adabnya adalah sebagai berikut: 1. Mengenakan pakaian yang bersih dan pantas, seperti yang dimaksud al Qur`an: Artinya: Wahai bani Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap kali kamu memasuki masjid. (Q/7:31) 2. Tidak mengotori masjid, misalnya meludah dengan sembarangan. Menurut hadis Rasulullah: meludah di masjid adalah dosa, penebusnya ialah dengan menghilangkannya. 3. Menghindarkan diri dari bau tak sedap yang menggaggu orang lain, seperti bau jengkol, bau bawang, atau bau badan karena belum mandi dan sebagainya. Rasulullah bersabda: Barang siapa makan bawang putih, maka sekali-kali jangan mendekati masjid kami. (muttafaq `alaih) 4. Tidak membicarakan urusan bisnis, apalagi transaksi di dalam masjid, Rasulullah bersabda: Seandainya kalian itu penduduk di sini (bukan tamu) sungguh akan kucambuki kalian, karena kalian berteriak-teriak di masjid Rasulullah. (H.R. Bukhari) 5. Mengerjakan salat tahiyatal masjid, dua rakaat. Rasulullah bersabda: Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum salat dua rakaat. 6. Tidak meninggalkan masjid jika azan sudah dikumandangkan. Seperti yang dikatakan oleh hadis riwayat Abu Hurairah. 7. Memperpanjang jarak perjalanan ke masjid agar jumlah langkahnya lebih banyak, misalnya dengan mengambil rute yang berbeda-beda. Rasulullah bersabda: Barang siapa bersuci di rumahnya, lalu pergi ke salah satu masjid untuk menunaikan kewajiban salat fardlu, maka semua langkahnya yang satu menggugurkan dosanya dan yang lain mengangkat derajatnya. (H.R. Muslim) 8. Sepanjang perjalanan menuju ke masjid hendaknya membaca doa, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah :

Allahummaj `al fi qalbi nu ran, wafi lisa ni nu ran, waj `al fi sam 1I nu ran, waj `al fi basari nu ran, waj `al min khalfi nu ran, wa min ama mi nu ran, waj `al min fauqi nu ran, wamin tahti nu ran, Allahumma a`tini nu ran. Artinya: Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku dan di lidahku, jadikanlah pula cahaya di pendengaranku dan penglihatanku, ya Allah, jadikanlah cahaya dari belakangku dan dari hadapanku, jadikanlah pula cahaya dari atasku dan dari bawahku, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya Mu. (muttafaq `alaih) 9. Memulai dengan kaki kanan ketika memasuki masjid, sambil membaca doa: Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillah. Allahumma iftah li abwa ba rahmatika Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, ya Allah bukakanlah kepadaku semua pintu rahmat Mu. (H.R. Muslim) 10. Saat ke luar dari masjid, mendahulukan kaki kiri, dan membaca doa: Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillahi Allahumma inni as`aluka min fadhlik Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, Ya Allah sesungguhnya aku mohon anugerah Mu. (H.R. Muslim) posted by : Mubarok institute

DENGKI MERUSAK IBADAH PUASA
Diantara penyakit yang merusak pahala puasa adalah dengki, dalam bahasa Arab disebut hasad. Dengki adalah perasaan tidak senang atas keberuntungan orang lain disertai usaha menghilangkan dan memindahkan keberuntungan itu kepada diri sendiri (an tatamanna zawala ni`mat al mahsud ilaika). Adapun menginginginkan hal yang serupa dengan yang diperoleh orang lain tidak termasuk dengki, karena al Qur’an bahkan menyuruh kita berlomba meraih kebajikan (fastabiq al khoirat).Mengapa orang mendengki ? Dasar dari sifat dengki adalah adanya keinginan orang untuk menjadi orang nomor satu, menjadi orang yang terhebat, terkaya, terhormat dan ter-ter yang lain, yang berkonotasi rendah. Dalam bahasa agama, dunia dengan segala urusannya adalah sesuatu yang rendah. Dalam bahasa Arab, dun ya artinya dekat atau rendah atau hina. Jadi orang hanya mendengki manakala yang diperebutkan itu sesuatu yang rendah, hina dan berdimensi jangka pendek, ibarat orang yang memasuki lorong sempit yang hanya muat satu orang. Ruang sempit itulah yang menyebabkan para peminat harus berdesakan dan saling menyikut. Selanjutnya jika ada satu orang yang telah berhasil memasuki lorong dan berhasil menduduki kursi duniawi yang diperebutkan, kursi presiden misalnya, maka orang yang belum berhasil memandang orang yang telah berhasil sebagai hambatan yang harus disingkirkan, sementara orang yang telah berhasil menduduki kursi itu memandang orang lain yang berminat sebagai ancaman yang juga harus dihambat. Adapun jika memperebutkan sesuatu yang besar, mulia dan berdimensi panjang hingga akhirat, maka diantara para peminat justeru terdapat hubungan. Orang yang merindukan derajat takwa misalnya, ia akan senang jika ada orang lain yang bermaksud sama. Demikian juga orang yang ikhlas berdekah, maka ia sangat senang jika ada orang lain yang juga gemar bersedekah. Jika diantara orang yang ingin menjadi orang dekat presiden terdapat saling iri, saling menjegal dan sebagainya, hal itu adalah karena sempitnya ruang untuk menjadi orang dekat presiden, Tetapi jika ingin menjadi orang yang dekat dengan Tuhan, maka seberapapun banyaknya orang yang menginginkan, disana tersedia ruangannya, karena Tuhan Maha Luas rahmat Nya. Dengki itu sangat berbahaya, bukan hanya bagi diri pemiliknya tetapi juga bagi masyarakat luas. Dengki itu kata hadis nabi ibarat setitik api yang dapat membakar kayu bakar seberapapun banyaknya. Ia juga bagaikan pisau cukur yang bisa mencukur bersih amal seseorang. Kata Nabi,

hanya dua hal orang boleh iri; yakni jika ada orang yang dikaruniai ilmu banyak, ia dapat mengajarkan kepada orang lain dan juga yang bersangkutan mengamalkannya. Kedua, jika ada orang yang dianugerahi banyak harta, tetapi ia membelanjakannya di jalan yang benar hingga habis, Wallohu a`lamu bissawab. posted by : Mubarok institute

BUDAYA KOSMOPOLIT ISLAM DI PESANTREN
Pada saat memuncaknya peradaban Islam yang berpusat di Bagdad, maka budaya Islam merupakan pola budaya umum seluruh belahan bumi Timur, tetapi sekaligus merupakan budaya global, karena ketika itu benua Amerika sebagai belahan bumi barat belum ditemukan.Sebagai bandingan, ketika Bagdad sudah mengenal kolam renang (permandian umum) orang Perancis belum mengenal budaya mandi. Buktinya, istana Perancis yang memiliki seribu kamar hanya memiliki satu kamar mandi. Ketika duta besar Bagdad memberikan souvenir berupa jam air, Raja Perancis menanyakan, sihir apa yang dapat menggerakkan benda itu. Ketika dunia Islam sedang pesat-pesatnya ilmu pengetahuan, Barat masih berada dalam abad gelap (blue age). Karakteristik peradaban Islam yang mengglobal itu memudahkan peneguhan agama Islam di Asia Tengara. Peranan saudagar anak benua India berlanjut terus tetapi mereka tidak lagi beragama Hindu dan Budha melainkan Islam (dari Gujarat). Pola budaya Perso Arab sebagai buah masuk Islamnya imperium Persia, kemudian menggeser pola budaya Sanskerta. Perkembangan selanjutnya, pola budaya Perso-Arab digantikan oleh pola budaya yang bercorak Arab dengan dominasi bahasa Arab. Bukti yang tak terbantahkan tergambar pada banyaknya kata-kata Arab dalam bahasa Melayu dan Indonesia. Kerajaan Hindu-Budha (MajapahitSriwijaya) yang sudah memasuki masa senja kemudian digantikan oleh munculnya kerajaankerajaan Islam (Aceh, Demak, Mataram, Ternate dll.). Akulturasi budaya Islam dengan budaya sebelumnya nampak pada berkembangnya pesantren (pondok pesantren) Budaya Yunani mengenal pondokheyon, yakni asrama atau penginapan bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan. Kata pondokheyon ini kemudian pindah ke Arab menjadi funduq (sekarang artinya hotel). Pada masa kejayaan Islam, asrama bagi orangorang yang menuntut ilmu, terutama ilmu hikmah (tasauf) disebut zawiyah(padepokan sufi), ribath(di Afrika) dan khaniqah (masa al Gazali),. Di Jawa, agama Hindu dn Budha mempunyai lembaga pendidikan yang disebut padepokan, dimana didalamnya ada unsur shastri-(guru) dan cantrik (murid). Nah ketika zaman kerajaan Islam, konsep lembaga pendidikan yang dikembangkan mengadopsi konsep pondokheyon, konsep zawiyah dan konsep padepokan Hindu Budha, menjadi bernama PONDOK PESANTREN. Pondok berasal dari konsep pondokheyon, pesantren berasal dari pe-cantrikan- juga dengan unsur kiyahi (dari konsep shastri) dan santri (dari konsep cantrik). Jadi konsep pesantren sesungguhnya merupakan hasil dari dialog peradaban. Karena pondok pesantren sangat memelihara tradisi, maka betapapun pesantren dianggap ketinggalan zaman, jejaknya akan selalu nampak, meski juga timbul tenggelam. posted by : Mubarok institute

AKAR KLASIK BHINNEKA TUNGGAL IKA
Kawasan Asia Tengara sudah lama menarik perhatian saudagar dari anak benua India dan Timur Tengah karena adanya komoditi yang eksotik, yaitu rempah-rempah dan wewangian. Dari kawasan Anak Benua India, datang saudagar yang beragama Hindu dan Budha ke negeri kita yang ketika itu masih bernama Nusantara, yakni kawasan dengan banyak nusa (pulau).. Karena

kekosongan kekuatan politik di Nusantara, para saudagar India bukan saja berpengaruh dalam dunia perdagangan, tetapi juga dalam bidang budaya dan bahkan mempengaruhi politik. Pengaruh politik mereka tercermin pada berkembangnya budaya bercorak India dan peran utama bahasa Sanskerta. Jejak ke India-an kawasan ini secara antropologis dapat dilihat dalam nama Indonesia yang artinya “Kepulauan India”, sejalan dengan daratan tenggara Asia yang disebut Indocina, yakni “Cina-India”.

Sedangkan pengaruh saudagar India dalam bidang agama nampak pada jejak agama India yang tersimbolkan dalam candi Borobudur yang lebih melebar ke segala penjuru, sesuai dengan jiwa agama Budha yang meluas dan egaliter, dan candi Roro Jongrang (Prambanan) yang vertikal dan menjulang, sesuai dengan sifat agama Hindu yang mendalam dan bertingkat. Budhisme yang “didirikan” Sidarta Gautama merupakan “faham sufistik” yang ajarannya tersimpulkan dalam empat kebenaran dan delapan jalan. Sementara agama Hindhu sebenarnya merupakan tradisi ribuan tahun yang berkembang seperti bola salju sehingga nggak jelas mana yang asli dan mana yang perkembangan. Hingga kini tidak pernah disebut siapa pendiri pertama agama Hindhu. Yang nampak jelas pada agama Hindu adalah adanya kasta-kasta, sekurangkurangnya ada empat Kasta, Jika agama Hindu mempunyai konsep ketuhanan Trimurti : Brahma (Pencipta) Wisnu (Pemelihara) dan Syiwa (Perusak), agama Budha justeru seperti tidak memiliki Tuhan, karena adanya ajaran yang tidak begitu jelas jaraknya antara Tuhan dan makhluk. Adapun pengaruh dua agama India pada politik dan budaya , tercermin pada Budhisme yang menjadi falsafah kerajaan luar Jawa (Sriwijaya) yang bersemangat bahari, dan Hiduisme yang menjadi falsafah kerajaam Majapahit yang bertumpu pada kesuburan tanah pertanian Jawa. Perkembangan selanjutnya, ketika ternyata kerajaan Majapahit berdiri di latar belakang dua kejayaan agama sekaligus; yakni kejayaan Budhisme (Borobudur) dan kejayaan Hinduisme (Roro Jongrang) , maka failasuf Majapahit (Empu Tantular) mengembangkan konsep rekonsiliasi dalam semangat kemajemukan; beraneka ragam tetapi hakikatnya satu, Bhineka Tunggal Ika atau Tan Hana Dharma Mangroa posted by : Mubarok institute

TIKUNGAN SEJARAH
Sejarah bukan sekedar catatan peristiwa, tetapi juga bagaimana membuat peristiwa agar ia menjadi tonggak perubahan yang akhirnya akan banyak melahirkan peristiwa penting. Banyak partai atau organisasi dideklarasikan berdirinya, tetapi hanya sedikit yang tetap berdiri dan lebih sedikit lagi yang berhasil menorehkian catatan dalam lembaran sejarah. Hal ini berkaitan dengan kejelian, ketepatan, kerja keras dan nasib. Oleh karena itu dalam perjalanan sejarah, ada pelaku sejarah, ada yang terbawa oleh gerbong sejarah ada yang hanya dompleng dalam gerbong sejarah. Ada partai yang baru berdiri langsung bisa mengusung issue perubahan, termasuk berhasil mengusung capresnya, yaitu SBY tetapi pertanyaan berikutnya, dapatkah ia mengawal gagasannya hingga terwujud ? sejarahlah yang akan menjawab. Rekaman 60 tahun Pertama Sejarah RI Kita menyadari bahwa kita bangsa Indonesia telah mengalami masa penjajahan colonial dalam waktu yang sangat panjang (300 tahun). Belanda yang merupakan negeri sangat kecil di Eropah secara sadar ingin menjajah Indonesia untuk selamanya, oleh karena itu kebijakan pemerintah penjajah adalah menjadikan bangsa ini tetap bodoh dan tak boleh bersatu.. Kesadaran untuk merdeka yang dirintis generasi 1912, diperteguh generasi 1928 menjelma menjadi revolusi

merebut kemerdekaan yang pucaknya adalah proklamasi 45. Luka penjajahan dan revolusi ternyata tidak cepat sembuh, hingga hari ini masih ada diantara kita yang tanpa disadari berperilaku seperti penjajah, dan dalam bersaing sesame warga bangsa , tanpa disadari melakukan bumi hangus seperti ketika revolusi melawan penjajah Belanda. Hanya dlam persaingan pilkada, orang main hancur-hancuran seperti melawan penjajah Belanda dulu.

Belajar kepada kesalahan masa lalu 61 tahun kemerdekaan RI telah memberikan pelajaran kepada bangsa bahwa problem bangsa ini berakar dari kesalahan pemimpin karena mereka tidak konsisten atau lupa kepada cita-cita kemerdekaan. Peluang-peluang emas sering diabaikan, sementara yang dikedepankan justeru kepentingan jangka pendek. Falsafah berbangsa yang terumuskan dalam Panca Sila dan UUD 45 yang semestinya dikembangkan secara kreatip tetapi konsisten, secara telanjang atau terselubung dikebiri, hanya untuk kepentingan sempit, yakni mempertahankan kekuasaan. Contohnya; 1. Bung Karno misalnya, beliau seorang pemimpin besar, proklamator kemerdekaan, tapi dalam perjalanan sejarah tergoda melakukan penyimpangan demokrasi; mengubah periodesasi kepemimpinan nasional menjadi Presiden Seumur Hidup. Bung Karno juga merasa belum cukup menyandang jabatan sebagai kepala Negara, sehingga mengubahnya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Meski Bung Karno berhasil mengggelorakan nasionalisme, tetapi penyimpangan konstitusi yang dilakukan menyebabkan bangsa ini terjerumus dalam krisis G.30 S PKI pada tahun 1965 2. Pak Harto yang hadir tepat waktu dan secara cerdas menghela bangsa ini keluar dari krisis, pada akhirnya mengulangi kesalahan pendahulunya, meski dengan format yang berbeda. Pemilu selalu digelar, tetapi demi mempertahankan kekuasaan, pemilu selalu direkayasa untuk memperkokoh kekuasaan, bukan untuk mendinamisir bangsa. Dengan Pemilu yang direkayasa, Pak Harto bisa menduduki kursi kepresidenan sebanyak tujuh kali masa jabatan. Sistem ekonomi UUD 45 yang berpihak kepada rakyat diubah menjadi konglomerasi yang lebih berpihak kepada pengusaha. Ideologi Pancasila diubah menjadi P4 dan disosialisasi secara nasional dengan system resmi yang justeru menyebarluaskan pandangan hidup munafik, karena nilai-nilai luhur yang ditatarkan sangat berbeda dengan realitas yang berjalan.Bhinneka Tunggal Ika diubah menjadi penyeragaman nasional. Penyimpangan ini mengantar pak Harto mengalami nasib yang sama dengan pendahulunya. Tikungan Sejarah Korban yang terparah dari kelalaian pemimpin adalah rakyat dan bangsa. Masyarakat kehilangan tokoh panutan, Terlalu lamanya pengaruh Pak Harto menyebabkan sulitnya dijumpai kandidat pemimpin yang negarawan, karena semua kader pemimpin berbakat besar yang bisa menyaingi pak Harto telah dibungkam. Pada masa kebuntuan itu terjadilah reformasi. Secara akal sehat, mestinya reformasi ekonomi dulu baru reformasi politik, karena tidak ada contohnya dalam sejarah, reformasi politik dan ekonomi yang dilakukan bersama yang herhasil.Uni Sovyet hancur karena Glassnot dan Perestoika, Yugoslavia menyusul kemudian. RRT pun hanya melakukan reformasi ekonomi. Tetapi karena syahwat politik sudah ke ubun-ubun, maka kumatlah semangat revolusi ketika sedang melakukan reformasi. Akibatnya reformasi berjalan tanpa panduan pemimpin besar (karena memang sedang tidak ada pemimpin besar), amandemen konstitusi berjalan “anarkis” dan eforia reformasi menjadikan anarki berlangsung dari jalanan hingga Senayan. Bagaikan dalam tikungan sejarah, hanya dalam kurun satu periode lima tahunan telah berganti empat Presiden; Habibi, Gus Dur, Megawati dan SBY.

Mestinya, tikungan sejarah tidak terlalu lama, sekarang periode SBY harus sudah berada pada rel sejarah baru era ke tiga; Sukarno, Suharto dan SBY. Kita tunggu sejarahnya. posted by : Mubarok institute

KIAT MENJAMU TAMU
Sebagai makhluk sosial kita biasa saling mengunjungi, baik karena hubungan famili, hubungan persahabatan ataupn berkunjung karena semata-mata suatu urusan. Diantara tradisi masyarakat dalam kunjung mengunjungi adalah memberikan jamuan atau menjamu tamu. Agama Islam memÂberikan tuntunan bagaimana adabnya menjamu tamu, sebagai berikut : 1.Tuan rumah (yang menjamu) hendaknya meÂnunjukkan wajah kegembiraan. Jika ketika itu tuan rumah sedang mempunyai masalah yang merisaukan hendaknya kerisauan itu tidak diÂnampakkan kepada tamu. Jika kekesalan itu tertuju kepada orang yang datang bertamu, hendaknya usahakan tetap bisa bersikap ramah, karena berlaku tidak ramah kepada tamu, misalnya menampilkan wajah cemberut atau secara seÂngaja tidak berbicara atau berbicara sangat singkat, berlawanan dengan muru`ah (prestise) tuan rumah yang justru harus dijaga. 2.Diantara tatakrama yang simpatik dalam menjamu tamu ialah menyambut tamu dengan wajah ceria di awal kehadirannya, dan meÂngajak ngobÂrol di saat makan. Imam Al Auza`i mengatakan bahwa memuliakan tamu itu adalah (sekurang-kurangnya) menunjukkan wajah ceria dan baik tutur kata. Tradisi masyaÂrakat beradab sejak dahulu dalam menjamu tamu selalu ada unsur obrolan, luwes, simÂpatik dan ramah tamah. 3.Di antara adab menerima tamu adalah memÂperÂsilahkan tamu seperti di rumah sendiri, sehingga tidak layak tuan rumah menyuruh tamu melayani dirinya, menyuruh itu dan melarang ini, apalagi memaksanya untuk bekerja 4.Segera menyuguhkan minuman agar tamu segera merasakan sikap ramah dari tuan rumah. 5.Tidak terburu-buru mengangkat hidangan dari meja tamu sebelum tamu benar-benar meÂnyelesaikan makanannya dan membersihkan tangannya. 6.Tidak memaksa tamu memakan hidangan yang mungkin tidak disukainya, baik karena selera, atau karena terlalu banyak. 7.Jika anda sebagai tamu, hendaknya jangan berlama-lama, kecuali jika tuan rumah meÂminta anda dengan sungguh-sungguh untuk tinggal lebih lama. Selanjutnya jangan lupa berpamitan kepada tuan rumah jika akan meÂninggalkan rumah. 8.Jika tamu berpamitan hendaknya tuan rumah mengantar sampai ke luar rumah. 9.Seorang tamu hendaknya jangan terlalu banyak bertanya kepada tuan rumah kecuali yang penting-penting saja, misalnya bertanya arah kiblat, kamar mandi dan sebagainya. posted by : Mubarok institute

KEKUATAN MORAL

Manusia adalah makhluk yang memiliki tabiat bersaing disamping tabiat kerjasama (koperatip). Orang mau bekerjasama karena adanya tujuan yang sama, dan mereka menyadari bahwa tak mungkin mencapai tujuan itu sendirian. Di sisi lain orang bersaing karena adanya keinginan memiliki kelebihan dibanding yang lain. Persaingan adakalanya sehat dan fair, terkadang penuh dengan intrik dan tipu daya. Tak jarang persaingan berujung pada adu kekuatan. Banyak hal diandalkan dalam adu kekuatan, ada yang mengandalkan otot, ada yang mengandalkan uang, ada yang mengandalkan senjata, dan ada juga yang lebih suka mengandalkan moral. Apakah kekuatan moral dapat diandalkan ? Berikut ini kisah nyata dan bukan dongeng, terjadi di negeri kita, pada zaman dimana moral bangsa sedang ambur adul. Syahdan I, seorang anggauta DPRD kabupaten Agam Sumatera Barat bernama Yandril. Ia sendirian mewakili partai kecil, tetapi ia terpilih menjadi ketua komisi A. Pakai money politik barangkali ? Sama sekali tidak, karena ia bukan saja tidak memiliki uang untuk itu, tetapi moralitasnyalah yang tidak mau memakai cara-cara kotor seperti itu. Pada saat penyusunan anggaran tahun 2000, muncul rencana anggaran untuk pembelian kendaraan bagi pimpinan DPRD dan ketua-ketua komisi, termasuk untuk sdr. Yandril, karena ia adalah ketua komisi A. Sudah barang tentu calon penerima kendaraan itu berbunga-bunga membahas rencana anggaran itu. Tetapi Si Yandril, seorang diri, punya pendapat lain. Ia usul agar anggaran untuk kendaraan itu dialihkan saja untuk pembelian mobil pemadam kebakaran, hitung-hitung sebagai hadiah DPRD kepada rakyat. Mengapa ia usul begitu ? karena ia tahu bahwa pemda tak memiliki kendaraan pemadam kebakaran satu bijipun. Moralitas dirinya sebagai wakil rakyat tidak sanggup untuk menerima mobil dinas, sementara pemadam kebakaran , satupun tidak punya. Sudah dapat diduga, ketika di voting, 45 orang wakil rakyat setuju beli mobil, dan hanya dua orang yang setuju beli pemadam kebakaran. Artinya kekuatan moral sdr. Yandril hanya sanggup menaklukkan satu orang anggauta. Untungnya, zaman reformasi segala sesuatu diberitakan secara terbuka oleh koran, terutama koran daerah. Usulan sdr. Yandril yang “aneh” justeru menjadi wacana publik. Banyak orang memuji moralitas wakil partai kecil itu. Tapi yah apa boleh buat, dalam demokrasi suara mayoritaslah yang menang. Berbagai argumen dikemukakan tentang pentingnya kendaraan dinas itu bagi tugas-tugas wakil rakyat, sementara pikiran moralis dua anggauta tertelan bumi. Syahdan II. Beberapa hari setelah penetapan DPRD itu, terjadilah kebakaran yang menghanguskan tujuh rumah masyarakat di daerah Negeri Pasir IV. Kebakaran itu nyaris tanpa ada pertolongan karena tidak punya mobil pemadam kebakaran. Rupanya peristiwa kebakaran itu menjadi picu kepedulian rakyat yang diwakili oleh 47 orang anggauta DPRD. Koran mengutip pernyataan masyarakat yang sangat menyesalkan ketidak pedulian 45 anggauta Dewan terhadap usulan konstruktip sdr. Yandril. Hampir-hampir saja rakyat demo di DPRD untuk memprotes keputusan demokratis suara mayoritas. Syahdan III. Mendengar suara moral yang sangat kuat yang tercermin pada suara masyarakat yang diwakili itu, DPRD mengagendakan kembali rencana pembelian mobil itu. Atas kompromi dengan Bupati, DPRD Agam akhirnya menyetujui pembelian mobil pemadam kebakaran, dan membatalkan pembelian mobil dinas. Sungguh sangat dahsyat kekuatan moral itu. Allohu Akbar. posted by : Mubarok institute

PESANTREN: DULU DAN SEKARANG

Sebelum sistem pendidikan sekolah masuk ke Nusantara, bangsa Indonesia telah mengenal sistem pendidikan yang disebut Pesantren. Pesantren pada mulanya bersifat elit, santrinya terdiri dari anak-anak orang kaya, dan keluarga kerajaan. Calon raja dari kerajaan Jawa Islam pada umumnya terlebih dahulu disekolahkan di Pesantren. Sistem pendidikan Pesantren zaman dahulu berpusat kepada figur seorang ulama; biasanya disebut Kyai. Sosok seorang kyai pengasuh pesantren pada masa awal mencerminkan ketinggian ilmu agama, luasnya pengalaman, darah biru, kaya dan “sakti”. Oleh karena itulah maka kedudukan kyai sebagai sentral sistem menjadi sangat efektif. Santri ada yang bermotif mencari ilmu (thabul `ilmi), ada yang lebih didorong untuk mencari “ngelmu” olah kanuragan dan ada juga yang lebih bermotif “ngalap berkah” atau tabarrukan. Karena elit, maka santri merupakan simbol sosial, dihormati dan diperebutkan calon mertua. Pusat perhatian sistem pendidikan pesantren kuno lebih pada mendidik santri agar menjadi “insan kamil”dan sama sekali belum menghubungkan dengan konsep pasar tenaga kerja. Sosok kyai pengasuh pesantren juga sekaligus sebagai “kurikulum” dari pesantrennya. Artinya seluruh program akademik sebuah pesantren yang pada umumnya berupa pengkajian kitab klassik, ditentukan oleh klassifikasi keilmuan dari kyainya. Jika kyainya ahli ilmu fiqh, maka kitab-kitab yang dikaji kebanyakan kitab fiqh, jika kyainya ahli ilmu tasauf maka kitab-kitab yang dikaji juga kitabkitab tasauf, begitu seterusnya. Prinsip ini sebenarnya sangat modern, seperti yang berlaku di universitas-universitas terkenal di Barat, yakni bahwa pembukaan suatu program studi tergantung ada tidaknya guru besar dari cabang keilmuan tersebut. Lokasi Pesantren pada mulanya berada di dekat pusat kekuasaan. Seandainya tidak terjadi sejarah kolonialisme yang berkepanjangan di Indonesia, maka Pesantren itulah yang menjelma menjadi Universitas, seperti universitas-universitas di Barat yang pada mulanya merupakan “pesantren” gereja. Penjajahan Barat yang terlalu lama, mengubah peta dimana pesantren justru berada di kampung-kampung, jauh dari pusat kekuasaan (penjajah), karena para kyai secara konsisten melakukan konfrontasi budaya dengan penjajah kafir. Ketika Indonesia merdeka, masyarakat pesantren belum sepenuhnya terbebas dari semangat konfontasi dengan budaya Barat. Penyelenggaraan hidup berbangsa oleh pemerintahan RI yang belum bisa mengganti sistem Belanda yang telah mapan (termasuk sistem pendidikan), memperpanjang masa konfrontasi budaya tersebut, sehingga pesantren tidak berusaha masuk ke dalam sistem pendidikan nasional, tidak tercantum dalam GBHN dan tidak nampak dalam APBN. Sistem madrasah, apalagi madrasah diniyyah juga hanya diakui setengah hati oleh sistem nasional, yang implikasinya nampak pada perbedaan anggaran negara yang sangat “jomplang”. Tersisihnya pesantren dan madrasah dari sistem pendidikan nasional nampaknya bersumber dari dua pihak sekaligus. Pertama ; sebagian “kaum muslimin” secara budaya masih memandang sekolah umum sebagai sekolah kafir warisan penjajah dan tidak mendatangkan pahala. Kedua; ada oknum dalam elit pemerintahan kita yang secara sadar berusaha menghambat kemajuan masyarakat pesantren dan madrasah. Pesantren Zaman Orba Bersamaan dengan dinamika politik dimana Golkar membutuhkan dukungan masyarakat Pesantren, mulailah terjadi interaksi sosial dimana Pemerintah sedikit menaruh perhatian kepada dunia pesantren, dan dari kalangan pesantren sendiri muncul kaum intelektual santri yang secara sadar berusaha meningkatkan kualitas pesantren sekaligus berusaha memperoleh hak pembiayaan dari anggaran belanja negara. Bermula datang gagasan untuk mengajarkan ketrampilan di pesantren, misalnya peternakan ayam, kemudian datang lagi SKB tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri, yang menyetarakan Madrasah dengan SLP/SLA. Dinamika ini juga nampak pada sikap IAIN terhadap pesantren. Sekitar tahun 60-70, pesantren memiliki kontribusi yang cukup besar dalam memasok calon mahasiswa IAIN.

Tetapi, sesuai dengan dinamika politik dan dinamika sistem pendidikan nasional, IAIN menolak alumni pesantren Gontor misalnya, hanya karena ijazah Gontor tidak diakui Pemerintah, padahal untuk menjadi mahasiswa IAIN, kualitas allumnus Pesantren Gontor diakui lebih baik dibanding lulusan Madrasah Aliyah versi SKB 3 Mentri. Pesantren Sekarang Sekarang tipologi pesantren dapat dibagi menjadi empat kelompok. Pertama pesantren yang tetap konsisten seperti pesantren zaman dulu, disebut salafi. Kedua Pesantren yang memadukan sistem lama dengan sistem pendidikan sekolah, disebut pesantren “modern”. Ketiga Pesantren yang sebenarnya hanya sekolah biasa tetapi siswanya diasramakan 24 jam. Keempat pesantren yang tidak mengajarkan ilmu agama, karena semangat keagamaan sudah dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan kehidupan sehari-hari di asrama. Bagaimanapun bentuknya, meski pesantren masih ditengok sebagai nostalgia, kelemahan kebanyakan pesantren dewasa ini justeru terletak pada lemahnya figur kyai, baik kelemahan keilmuan, “keanggunan kepribadian” maupun distorsi lingkungan. Era reformasi dimana kegagalan sistem pendidikan nasional terungkap secara transparan mengusik kembali keunggulan pesantren sebagai sistem pendidikan. Sejalan dengan meningkatnya jumlah SDM santri, yakni allumnus pesantren yang dewasa ini telah bergelar master , Doktor, dan Profesor, semangat mencari format baru sistem pendidikan pesantren sebagai pendidikan alternatif cukup tinggi. Optimisme terhadap pesantren justru sangat menonjol pada kelompok intelektual yang bukan alumnus pesantren. Terlepas dari subyektifitas pendapat, pada hemat kami, menengok sistem pesantren sebagai alternatif dari kegagalan sistem pendidikan nasional sebenarnya sangat wajar, dan relevan. Insya Allah. posted by : Mubarok institute

MODEL SOLIDARITAS YANG IDEAL
Hampir tidak ada orang Islam yang belum pernah mendengar nama Ansor dan Muhajirin. Kedua nama tersebut terabadikan dalam al Qur’an dan tersebut dalam teks-teks doa. Muhajirin artinya orang-orang yang hijrah. Yang dimaksud orang-orang Muhajirin dalam al Qur’an adalah penganut Islam generasi awal yang demi memelihara imannya dan menghindar dari gangguan musuh meninggalkan kampung halamannya di Makkah berhijrah ke Madinah. Sedangkan Ansor yang artinya penolong digunakan untuk menyebut penduduk Madinah generasi Islam pertama yang bersedia menerima hijrahnya Nabi dan pengikutnya (Muhajirin Makkah). Kedua kelompok itu akhirnya menjadi pilar masyarakat Madinah yang mengantar sejarah Islam sampai menjadi kekuatan adidaya pada masanya. Baik Muhajirin maupun Ansor, keduanya memiliki tokoh-tokoh besar yang kemudian berperan dalam sejarah. Sebenarnya tabiat penduduk Makkah berbeda dengan penduduk Madinah. Orang Makkah yang pada umumnya pedagang bertabiat keras, lugas dan agak kasar. Sedangkan orang Madinah yang agraris pada umumnya lembut dan ramah. Kaum Muhajirin datang dalam jumlah besar ke Madinah sebagai pengungsi tanpa sempat membawa harta, satu hal yang potensil menimbulkan masalah sosial. Tetapi format persaudaraan antara pendatang (Muhajirin) dan pribumi (Ansor) dibentuk sedemikian rupa oleh Rasulullah sehingga menyatu dalam satu komunitas muslim. Dalam sebuah dokumen tertulis (Sahifah) seperti yang disebut Ibn Hisyam dan Sirah Nabawiyyah, Nabi menetapkan batasan hubungan berikut hak dan kewajiban yang secara tradisionil telah melekat antara Muhajirin Quraisy dan Ansor Madinah di satu pihak dengan orang-orang Yahudi di pihak lain. Dokumen itu mengatur tata pergaulan semua pen-duduk menyangkut pidana, perdata dan politik. Yang sangat menarik ialah bagaimana hubungan

Muhajirin dan Ansor diatur dalam format persaudaraan (mu’a khah) laiknya saudara seketurunan. Abu bakar Siddik misalnya dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zuhair. Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan ‘Itban bin Malik, Abu ‘Ubaidah Abdulla al Jarrah dipersaudarakan dengan Asmah ‘Amir bin Abdullah, begitu seterusnya sehingga tak seorang Muhajirinpun yang tidak memiliki saudara di Madinah. Persaudaraan yang diikat dengan nama Allah ini telah mewujudkan hubungan solidaritas yang sangat tinggi, misalnya orang Ansor membagi hartanya menjadi dua, separoh untuk dirinya dan separoh lain untuk saudara barunya dari Muhajirin. Hubungan persaudaraan seiman itu menjelma bagaikan persaudaraan seketurunan (ikhwah) bukan hanya sekedar merasa bersaudara (ikhwan). Psikologi hubungan persaudaraan seketurunan itu jika sedang mood terjalin perasaan kangen, mesra, tulus yang lebih bernuansa afektip, alami sedikit atau bahkan hamper tidak ada nuansa kognitip. Barangkali model hubungan ukhuwwah Ansor-Muhajirin ini merupa-kan model ideal yang tak pernah terulang dalam masyarakat sesudahnya hingga sekarang, meski Al Qur’an menganjurkan untuk diteruskan. Itulah mengapa al Qur’an menggunakan kata ikhwah yang artinya saudara seketurunan dan bukan kata ikhwan, dalam ayat innamal mu’minuna ikhwah, yang artinya; bahwasanya antara orang-orang mu’min itu ada hubungan persaudaraan’ dengan harapan bahwa meskipun mereka bukan saudara seketurunan tetapi hendaknya hubungan seiman itu menyerupai hubungan seketrununan. Al Qur’an memuji kaum Ansor, yang meski dalam keadaan sulit tetapi tetap solider, terhadap kesulitan orang lain. Wayu’ tsiruna ‘ala anfusihim walau kana bihim khashashash. (QS/59:9) (Wallohu a‘lam). posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI AGAMA
Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa serta berkehendak dimana perilakunya mencerminkan apa yang difikir, yang dirasa dan yang dikehendakinya. Manusia juga makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus, disamping ia dapat menghayati perasaan keagamaan dirinya, ia juga dapat meneliti keberagamaan orang lain. Tetapi apa makna agama secara psikologis pasti berbeda-beda, karena agama menimbulkan makna yang berbeda-beda pada setiap orang. Bagi sebagian orang, agama adalah ritual ibadah, seperti salat dan puasa, bagi yang lain agama adalah pengabdian kepada sesama manusia bahkan sesama makhluk, bagi yang lain lagi agama adalah akhlak atau perilaku baik, bagi yang lain lagi agama adalah pengorbanan untuk suatu keyakinan, berlatih mati sebelum mati, atau mencari mati (istisyhad) demi keyakinan. Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang pelik dan rumit, yaitu bagaimana menerangkan agama dengan pendekatan ilmu pengetahuan, karena wilayah ilmu berbeda dengan wilayah agama. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena tu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya Allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Agama berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, agama membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, agama diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika. Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama memandang ilmu sebagai sesat,

sebaliknya ilmu memandang perilaku keagamaan sebagai kedunguan. Belakangan fenomena menunjukkan bahwa kepongahan ilmu tumbang di depan keagungan spiritualitas, sehinga bukan saja tidak bertengkar tetapi antara keduanya terjadi perkawinan, seperti yang disebut oleh seorang tokoh psikologi tranpersonal, Ken Wilber; Pernikahan antara Tubuh dan Roh, The Marriage of Sence and Soul.(Ken Wilber, The Marriage of Sence and Soul, Boston, Shambala,2000). Bagi orang beragama, agama menyentuh bagian yang terdalam dari dirinya, dan psikologi membantu dalam penghayatan agamanya dan membantu memahami penghayatan orang lain atas agama yang dianutnya. Secara lahir agama menampakkan diri dalam bermacam-macam realitas; dari sekedar moralitas atau ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, dari ekpressi spiritual yang sangat individu hingga tindakan kekerasan massal, dari ritus-ritus ibadah dan kata-kata hikmah yang menyejukkan hati hingga agitasi dan teriakan jargon-jargon agama (misalnya takbir) yang membakar massa. Inilah kesulitan memahami agama secara ilmah, oleh karena itu hampir tidak ada definisi agama yang mencakup semua realitas agama. Sebagian besar definisi agama tidak komprehensip dan hanya memuaskan pembuatnya. Sangat menarik bahwa Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa, kemulian seorang mukmin itu diukur dari agamanya, kehormatannya diukur dari akalnya dan martabatnya diukur dari akhlaknya (karamul mu’mini dinuhu, wa muru’atuhu `aqluhu wa hasabuhu khuluquhu)(HR. Ibn Hibban). Ketika nabi ditanya tentang amal yang paling utama, hingga lima kali nabi tetap menjawab husn al khuluq, yakni akhlak yang baik, dan nabi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang baik adalah sekuat mungkin jangan marah, ( an la taghdlaba in istatha`ta). ( at Tarhib jilid III, h. 405-406). Jadi pengertian agama itu sangat kompleks. Psikologi agama mencoba menguak bagaimana agama mempengaruhi perilaku manusia, tetapi keberagamaan seseorang juga memiliki keragaman corak yang diwarnai oleh berbagai cara berfikir dan cara merasanya. Seberapa besar Psikologi mampu menguak keberagamaan seseorang sangat bergantung kepada paradigma psikologi itu sendiri. Bagi Freud (mazhab Psikoanalisa) keberagamaan merupakan bentuk ganguan kejiwaan, bagi mazhab Behaviorisme, perilaku keberagamaan tak lebih sekedar perilaku karena manusia tidak memiliki jiwa. Mazhab Kognitip sudah mulai menghargai kemanusiaan, dan mazhab Humanisme sudah memandang manusia sebagai makhluk yang mengerti akan makna hidup yang dengan itu menjadi dekat dengan pandangan agama. Dibutuhkan paradigma baru atau mazhab baru Psikologi untuk bisa memahami keberagamaan manusia. Psikologi Barat yang diassumsikan mempelajari perilaku berdasar hukum-hukum dan pengalaman kejiwaan universal ternyata memiliki bias culture, oleh karena itu teori psikologi Barat lebih tepat untuk menguak keberagamaan orang yang hidup dalam kultur Barat. Psikologi Barat begitu sulit menganalisis fenomena Revolusi Iran yang dipimpin Khumaini karena keberagamaan yang khas Syi’ah tidak tercover oleh Psikologi Barat, sebagaimana juga sekarang tidak bisa membedah apa makna senyum Amrozi ketika di vonis hukuman mati. Keberagamaan seseorang harus diteliti dengan the Indigenous Psychology, yakni psikologi yang berbasis kultur masyarakat yang diteliti. Untuk meneliti keberagamaan orang Islam juga hanya mungkin jika menggunakan paradigma The Islamic Indigenous Psychology. Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam jauh ke zaman purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, kajian tentang jiwa tidak seperti psikologi yang menekankan pada perilaku, tetapi jiwa dibahas dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu yang muncul bukan Ilmu Jiwa (`ilm an nafs), tetapi ilmu Akhlak dan Tasauf. Meneliti keberagamaan seorang muslim dengan pendekatan psikosufistik akan lebih mendekati

realitas keberagamaan kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat. Term-term Qalb, `aql, bashirah (nurani), syahwat dan hawa (hawa nafsu)yang ada dalam al Qur’an akan lebih memudahkan menangkap realitas keberagamaan seorang muslim. Kesulitan memahami realitas agama itu direspond The Encyclopedia of Philosophy yang mendaftar komponen-komponen agama. Menurut Encyclopedia itu, agama mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) sebagai berikut : 1. Kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan) 2. Pembedaan antara yang sakral dan yang profan. 3. Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral 4. Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan 5. Perasaan yang khas agama (takjub, misteri, harap, cemas, merasa berdosa, memuja) yang cenderung muncul di tempat sakral atau diwaktu menjalankan ritual, dan kesemuanya itu dihubungkan dengan gagasan Ketuhanan. 6. Sembahyang atau doa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan 7. Konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan 8. Kelompok sosial seagama, seiman atau seaspirasi. Urgensi pendekatan Indigenous Psychology bukan saja karena agama itu sangat beragam, bahkan satu agamapun, Islam misalnya memiliki keragaman keberagamaan yang sangat kompleks. Orang beragama ada yang sangat rational, ada yang tradisional, ada yang “fundamentalis” dan ada yang irational. Keberagamaan orang beragama juga ada yang konsisten antara keberagamaan individual dengan keberagamaan sosialnya, tetapi ada yang secara individu ia sangat saleh, ahli ibadah, tetapi secara sosial ia tidak saleh. Sebaliknya ada orang yang kebeagamaanya mewujud dalam perilaku sosial yang sangat saleh, sementara secara individu ia tidak menjalankan ritual ibadah secara memadai. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI AGAMA
Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa serta berkehendak dimana perilakunya mencerminkan apa yang difikir, yang dirasa dan yang dikehendakinya. Manusia juga makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus, disamping ia dapat menghayati perasaan keagamaan dirinya, ia juga dapat meneliti keberagamaan orang lain. Tetapi apa makna agama secara psikologis pasti berbeda-beda, karena agama menimbulkan makna yang berbeda-beda pada setiap orang. Bagi sebagian orang, agama adalah ritual ibadah, seperti salat dan puasa, bagi yang lain agama adalah pengabdian kepada sesama manusia bahkan sesama makhluk, bagi yang lain lagi agama adalah akhlak atau perilaku baik, bagi yang lain lagi agama adalah pengorbanan untuk suatu keyakinan, berlatih mati sebelum mati, atau mencari mati (istisyhad) demi keyakinan. Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang pelik dan rumit, yaitu bagaimana menerangkan agama dengan pendekatan ilmu pengetahuan, karena wilayah ilmu berbeda dengan wilayah agama. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena tu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya Allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Agama berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, agama membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, agama diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika.

Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama memandang ilmu sebagai sesat, sebaliknya ilmu memandang perilaku keagamaan sebagai kedunguan. Belakangan fenomena menunjukkan bahwa kepongahan ilmu tumbang di depan keagungan spiritualitas, sehinga bukan saja tidak bertengkar tetapi antara keduanya terjadi perkawinan, seperti yang disebut oleh seorang tokoh psikologi tranpersonal, Ken Wilber; Pernikahan antara Tubuh dan Roh, The Marriage of Sence and Soul.(Ken Wilber, The Marriage of Sence and Soul, Boston, Shambala,2000). Bagi orang beragama, agama menyentuh bagian yang terdalam dari dirinya, dan psikologi membantu dalam penghayatan agamanya dan membantu memahami penghayatan orang lain atas agama yang dianutnya. Secara lahir agama menampakkan diri dalam bermacam-macam realitas; dari sekedar moralitas atau ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, dari ekpressi spiritual yang sangat individu hingga tindakan kekerasan massal, dari ritus-ritus ibadah dan kata-kata hikmah yang menyejukkan hati hingga agitasi dan teriakan jargon-jargon agama (misalnya takbir) yang membakar massa. Inilah kesulitan memahami agama secara ilmah, oleh karena itu hampir tidak ada definisi agama yang mencakup semua realitas agama. Sebagian besar definisi agama tidak komprehensip dan hanya memuaskan pembuatnya. Sangat menarik bahwa Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa, kemulian seorang mukmin itu diukur dari agamanya, kehormatannya diukur dari akalnya dan martabatnya diukur dari akhlaknya (karamul mu’mini dinuhu, wa muru’atuhu `aqluhu wa hasabuhu khuluquhu)(HR. Ibn Hibban). Ketika nabi ditanya tentang amal yang paling utama, hingga lima kali nabi tetap menjawab husn al khuluq, yakni akhlak yang baik, dan nabi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang baik adalah sekuat mungkin jangan marah, ( an la taghdlaba in istatha`ta). ( at Tarhib jilid III, h. 405-406). Jadi pengertian agama itu sangat kompleks. Psikologi agama mencoba menguak bagaimana agama mempengaruhi perilaku manusia, tetapi keberagamaan seseorang juga memiliki keragaman corak yang diwarnai oleh berbagai cara berfikir dan cara merasanya. Seberapa besar Psikologi mampu menguak keberagamaan seseorang sangat bergantung kepada paradigma psikologi itu sendiri. Bagi Freud (mazhab Psikoanalisa) keberagamaan merupakan bentuk ganguan kejiwaan, bagi mazhab Behaviorisme, perilaku keberagamaan tak lebih sekedar perilaku karena manusia tidak memiliki jiwa. Mazhab Kognitip sudah mulai menghargai kemanusiaan, dan mazhab Humanisme sudah memandang manusia sebagai makhluk yang mengerti akan makna hidup yang dengan itu menjadi dekat dengan pandangan agama. Dibutuhkan paradigma baru atau mazhab baru Psikologi untuk bisa memahami keberagamaan manusia. Psikologi Barat yang diassumsikan mempelajari perilaku berdasar hukum-hukum dan pengalaman kejiwaan universal ternyata memiliki bias culture, oleh karena itu teori psikologi Barat lebih tepat untuk menguak keberagamaan orang yang hidup dalam kultur Barat. Psikologi Barat begitu sulit menganalisis fenomena Revolusi Iran yang dipimpin Khumaini karena keberagamaan yang khas Syi’ah tidak tercover oleh Psikologi Barat, sebagaimana juga sekarang tidak bisa membedah apa makna senyum Amrozi ketika di vonis hukuman mati. Keberagamaan seseorang harus diteliti dengan the Indigenous Psychology, yakni psikologi yang berbasis kultur masyarakat yang diteliti. Untuk meneliti keberagamaan orang Islam juga hanya mungkin jika menggunakan paradigma The Islamic Indigenous Psychology. Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam jauh ke zaman purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, kajian tentang jiwa tidak seperti psikologi yang

menekankan pada perilaku, tetapi jiwa dibahas dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu yang muncul bukan Ilmu Jiwa (`ilm an nafs), tetapi ilmu Akhlak dan Tasauf. Meneliti keberagamaan seorang muslim dengan pendekatan psikosufistik akan lebih mendekati realitas keberagamaan kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat. Term-term Qalb, `aql, bashirah (nurani), syahwat dan hawa (hawa nafsu)yang ada dalam al Qur’an akan lebih memudahkan menangkap realitas keberagamaan seorang muslim. Kesulitan memahami realitas agama itu direspond The Encyclopedia of Philosophy yang mendaftar komponen-komponen agama. Menurut Encyclopedia itu, agama mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) sebagai berikut : 1. Kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan) 2. Pembedaan antara yang sakral dan yang profan. 3. Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral 4. Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan 5. Perasaan yang khas agama (takjub, misteri, harap, cemas, merasa berdosa, memuja) yang cenderung muncul di tempat sakral atau diwaktu menjalankan ritual, dan kesemuanya itu dihubungkan dengan gagasan Ketuhanan. 6. Sembahyang atau doa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan 7. Konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan 8. Kelompok sosial seagama, seiman atau seaspirasi. Urgensi pendekatan Indigenous Psychology bukan saja karena agama itu sangat beragam, bahkan satu agamapun, Islam misalnya memiliki keragaman keberagamaan yang sangat kompleks. Orang beragama ada yang sangat rational, ada yang tradisional, ada yang “fundamentalis” dan ada yang irational. Keberagamaan orang beragama juga ada yang konsisten antara keberagamaan individual dengan keberagamaan sosialnya, tetapi ada yang secara individu ia sangat saleh, ahli ibadah, tetapi secara sosial ia tidak saleh. Sebaliknya ada orang yang kebeagamaanya mewujud dalam perilaku sosial yang sangat saleh, sementara secara individu ia tidak menjalankan ritual ibadah secara memadai. posted by : Mubarok institute

PSIKOPOLITIK ZIKIR
Dari segi bahasa, zikir mempunyai dua arti; menyebut dan mengingat. Ada orang yang mulutnya menyebut nama Tuhan tetapi hatinya justeru tidak mengingat Nya,malah mengingat syaitan dan maksiat, sebaliknya ada orang yang selalu ingat Tuhan meski tak terdengan sebutan nama Tuhan dari mulutnya. Pada tradisi tarekat tasauf dikenal ada zikir jahr dan ada zikir sirr. Zikir Jahr adalah menyebut nama Tuhan atau kalimah thayyibah (takbir, tahmid, tasbih dan salawat Nabi) dengan mengeraskan suara. Biasanya zikir jahr dilakukan bersama=sama, di masjid atau di tempat khusus (zawiyah) dipimpin seorang mursyid. Sekarang acara zikir jahr marak dilakukan oleh masyarakat, dipimpin antara lain oleh Arifin Ilham, Ustad haryono dan lain-lainnya. Ada lagi yang disebut istighotsah, artinya mohon pertolongan, isinya membaca doa mohon sesuatu secara ramai-ramai (demontrasi doa) di tempat terbuka. Jika pada acara tahlilan, zikir lebih merupakan tradisi, pada kelompok tarekat, zikir merupakan suluk atau metode mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi pengamal tarekat, membaca zikir dalam majlis zikir merupakan hiburan dan kenikmatan spirituil, baik ketika sedang membaca maupun sepulang dari berzikir. Pembacaan zikir yang dilakukan secara reguler yang disiplin dan tertib (disebut wirid) akan mengembangkan “rasa” tertentu yang dapat disebut sebagai religiusitas. Ekpressi ahli zikir itu pada

umumnya tenang dalam menghadapi berbagai persoalan, wajahnya berseri-seri meski kepada musuh sekalipun dan fleksibel dalam mencari problem solving. Zikirnya penganut tarekat pada umumnya lebih afektip disbanding kognitip, oleh karena itu mereka pada umumnya enggan menerangkan bagaimana anatomi kenikmatan zikir, bahkan ketika zikir dikatakan sebagai bid`ah atau sesat. Mereka cukup mengatakan cobalah ikut, nanti anda akan dapat merasakan sendiri. Adapun zikir sirr adlah zikir yang tidak diucapkan dengan mulut tetapi lebih di dalam hati. Bagi yang sudah mencapai tingkat ini, setiap kali melihat fenomena alam yang terbayang adalah sang pencipta(Tuhan) bukan bendanya, seperti orang yang melihat lukisan indah, ia tidak terpaku pada lukisannya tetapi terkagum-kagum kepada sang pelukis, dan yang dibayangkan adalah jiwa besar kesenimanan sang pelukis. Jika pengamal zikir jahr mudah dikenali orang karena agenda kegiatannya, juga penampilannya, orang yang sudah mencapai zikir sirr pada umumnya tidak mudah dikenali, karena memang tidak pernah menunjukkan jati dirinya. Secara lahir ia seperti orang biasa lainnya, tetapi dibalik kebiasaan penampilan sesungguhnya ada kekuatan religiusitas yang sangat dalam atau tinggi. Di tengah keramaian hiruk pikuk manusia, ia selalu berduaan dengan Sang Pencipta, di tengah kesepian alam dia justeru merasa ramai karena bercanda dengan Tuhannya, ia selalu tersenyum dalam kesendirian, selalu ramai dalam kesepian. Zikir Perspektip Politik Sesungguhnya logika zikir jahr sama dengan logika politik, yaitu berlindung kepada pihak yang kuat, karena takut hambatan. Sebagai contoh, jika pada musim kampanye dimana di jalan raya dipenuhi oleh massa kontestan PDIP sementara anda akan melewati jalan itu dengan mobil anda, maka anda harus berzikir dengan terus menerus berteriak; Hidup PDIP, Hidup Megawati, ditambah lagi mobil anda ditempeli gambar bu Mega dan lambing banteng, insya Alloh anda dapat melewati kerumunan massa itu dengan selamat. Dalam perjalanan selanjutnya anda ketemu massa kampanye PKB, maka anda harus ganti teks zikirnya, Hidup Gus Dur, Hidup Muhaimin, hidup PKB, dan tambahilah baca selawat Badar, Insya Alloh anda juga dapat lewat dengan aman. Selanjutnya anda ketemu massa kampanye Partai Demokrat, ganti zikirnya ; hidup Demokrat, hidup SBY,….lancar daah perjalanan anda. Sekali-kali jangan salah sebut dan jangan salah nempel gambar, bisa runyam. Nah, dalam perjalanan hidup dari kecil hingga mati, dipelosok manapun kita berada, penguasa yang sesungguhnya adalah Alloh swt. Jika anda selalu menyebut Penguasa Yang sebenarnya (Alloh swt) insya Allah anda dalam perlindungan Nya. Bagi penganut zikir, jika ia harus pergi padahal ia harus melewati tempat yang penuh dengan bahaya –binatang buas misalnya- maka ia tetap pergi dengan berlindung membawa nama besar sang Penguasa, dengan percaya diri ia berjalan sambil membaca zikir Bismillahi la yadlurru ma`a ismihi syaiun fi al ardli wala fi as sama`i wahuwassami`u al `alim. Artinya ; Dengan nama Alloh dimana dengan menyebut nama Nya, maka tidak ada sesuatupun di muka bumi maupun di langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar lagi maha mengetahui. Binatang buas yang dijumpai akan menyingkir dengan sendirinya karena ia dilengkapi dengan rekomendasi sang Pencipta. Takbir Anarkis Kalimat takbir Allohu Akbar (Alloh Maha Besar) adalah kalimat sacral, biasanya diucapkna ketika secara psikologi orang sangat senang karena merasa ditolong Tuhan, atau dalam keadaan takut dimana tidak ada yang dapat dimintai tolong kecuali Tuhan. Orang yang teraniaya begitu lama, tiba-tiba dimenangkan oleh pengadilan, maka ia langsung takbir dan bahkan sujud.

Begitupun orang yang berada didepan regu tembak seperti Amrozi nanti, dia tidak lagi bisa berkata apa-apa selain takbir. Banyak orang ketika demontrasi untuk urusan yang tidak jelas, pilkada, atau protes BBM atau protes APP, ketika berhadapan dengan polisi sedikit-sedikit takbir. Nah takbir seperti itu sebenarnya takbir anarkis, karena menempatkan takbir pada hal yang hanya bernilai syahwat politik. Wallohu a`lam bissawab. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI POLIGAMI
Poligami sesungguhnya merupakan fitrah hidup, artinya dibenci dan dimusuhi seperti apapun praktek poligami selalu ada. Pada masayarakat Barat yang melarang poligami secara hokum, maka prakteknya banyak suami punya wanita selingkuhan. Jika ada kelompok wanita yang memiliki seterotip kepada laki-laki dengan mengatakan dasar laki-laki nggak boleh lihat jidat licin, maka perlu diketahui bahwa semua isteri muda adalah perempuan juga. Artinya pada sebagian perempuan, poligami merupakan jalan keluar, apaboleh buat menjadi isteri kedua daripada tidak.Dalam hidup tidak semua yang kita terima itu yang kita inginkan. Inginnya menjadi isteri satu-satunya, eh malah jadi isteri ketiga. Agama Islam menempatkan poligami sebagai pintu darurat, bukan pintu yang selalu terbuka, maknanya ada memang lelaki tertentu yang memiliki potensi lebih, yang tidak cukup dengan satu isteri, atau ada kasus, yang mengantar poligami menjadi solusi, misalnya isterinya mandul. Islam menyalurkan fitrah manusia dengan aturan dan etika. Etika bagi laki-laki yang apa boleh buat menjalani poligami, ia harus berlaku adil terhadap isteri-isterinya meski adil itu sangat berat. Ada orang yang berpoligami secara jujur dan terbuka, ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang berpoligami sekedar menuruti syahwat seksual tanpa tanggungjawab. Berikut ini kasus rumah tangga yang menjurus pada poligami, tetapi akhirnya si lekaki mengurungkan niatnya karena sadar akan tanggungjawab. Waktu itu saya sebagai konselor keluarga, dan dia datang kepada saya sebagai klient. Kasus ini saya rekam dan saya muat di buku saya Konseling Agama Teori dan Kasus. Silahkan dibaca: Seorang pegawai perusahaan swasta bermaksud poligami. Ia seorang sarjana ekonomi yang baru akrab dengan agama setelah bergaul dengan rekan sekerja yang kebanyakan taat beragama dan agak "fundamentalis". Lingkungan pergaulannya adalah masyarakat professional, tetapi mereka mempunyai corak keberagamaan yang cukup kental, dengan menonjolkan simbol-simbol tertentu, seperti salat awal waktu, memelihara jenggot dan juga poligami. Di lingkungan grup pengajiannya, poligami dipandang sebagai sunah Nabi yang dianjurkan, sehingga dia dengan semangat mengikuti sunnah Nabi juga bermaksud nikah lagi. Isterinya berasal dari lingkungan masyarakat pesantren, yang juga taat beragama, tetapi simbol-simbol keberagamaannya berbeda dengan lingkungan pengajian suaminya. Isterinya lebih respek kepada kyai di pesantrennya dibanding guru ngaji suaminya yang Insinyur. Dalam hal rencana nikah lagi, terjadi peselisihan hebat antara suami isteri itu, dan menariknya masing-masing berdalil dengan agama. Suami menganggap rencana nikah lagi itu sebagai perwujudan dari mengikuti sunnah Rasul, sementara isteri memandangnya sebagai akal bulus, yakni menjadikan agama sebagai kedok untuk mencari kepuasan syahwat. Karena keduanya memang orang yang patuh kepada agama, maka pertentangan pendapat suami isteri itu disepakati untuk mencari pembenarannya. Suami memanggil guru ngajinya untuk menasehati isterinya agar patuh kepada suami, sementara isterinya mengajak suaminya silaturrahmi kepada gurunya di pesantren, sekaligus untuk meminta nasehatnya tentang rencana nikah lagi itu. Sang

isteri pergi dengan semangat karena yakin pasti pak kyai, gurunya di pesantren itu pasti ada di pihaknya, dan sang suami juga semangat, karena yakin bahwa pak kyai itu lebih mengerti tentang keharusan mengikuti sunnah Rasul, apa lagi pak kyai juga berpoligami. Anatomi masalah Sebenarnya, sang isteri tidak bersedia dimadu, lebih didorong oleh perasaanya sebagai wanita. Ia tidak begitu antipati terhadap poligami, karena ia sendiri adalah puteri dari isteri muda seorang kyai, dan ia merasa OK-OK saja berhubungan dengan saudara-saudara tiri dan bahkan ibu tirinya. Akan tetapi dalam hal rencana nikah lagi suaminya, disamping secara naluriah ia tidak bisa menerima, ia juga tidak percaya terhadap otoritas guru ngaji suaminya yang selalu menekankan kewajiban seorang isteri harus patuh kepada suami. Di mata sang isteri guru suaminya itu bukan orang 'alim, sebagaimana juga suaminya, meskipun mereka itu sarjana dan professional, tetapi bukan dalam bidang agama. Sementara itu, sang suami yang baru kenal agama setelah berada di lingkungan kerja baru itu merasa bahwa poligami itu mengandung nilai keutamaan agama. Ia bermaksud nikah lagi dengan semangat ibadah, dan sudah barang tentu ada juga motif kepada pengalaman baru hubungan seksual, tetapi ia sama sekali tidak mau terima jika dituduh isterinya bahwa rencana nikah lagi itu hanya akal bulus saja untuk mencari kepuasan seksual. Ia bahkan tidak pacaran dengan calon isteri keduanya itu, karena calon isterinya itu adalah orang yang dikenalkan oleh guru ngajinya. Oleh karena itu ia tanpa ragu sedikitpun untuk memenuhi permintaan isterinya silaturrahmi kepada pak kyai di pesantren. Pasangan suami isteri itu kemudian mendatangi penulis, dan meminta penulis untuk mengantar mendampingi mereka ke desa di mana kyai itu memimpin pesantrennya. Solusi yang ditawarkan. Ketika tiba menghadap pak kyai, setelah basa-basi seperlunya, mereka mengemukakan masalahnya. Suami mengetengahkan maksudnya dan mohon nasehatnya, dan isteri mengemukakan keberatan dan mohon bantuan agar menasehati suaminya. Pak kyai yang 'alim ini nampaknya sangat bijak dalam menasehati mereka berdua. Pak kyai bilang, poligami itukan ajaran Islam, ada dalam al Qur'an lagi. Ayahmu kan juga isterinya dua, kata pak kyai kepada tamu wanitanya, nah, seorang muslim jika memang mampu, agama sudah barang tentu membolehkan, asal jujur. Maka nasehatku kepada anda, coba kau tanyakan kepada hati nuranimu, istafti qalbak. Nanti jika nuranimu, bukan syahwatmu sudah menjawab, ya itu artinya nasehat agama. Mendengar nasehat pak kyai itu, sang suami berseri-seri wajahnya, sementara isterinya diam agak masam muka. Tetapi menjelang tamunya pamitan, pak kyai berkata: Memang ada tiga orang yang bisa berpoligami. Mendengar kata-kata pak kyai itu, baik sang suami maupun sang isteri nampak sangat antausias ingin mendengar lanjutannya. Pertama, penguasa, penguasa politik atau penguasa harta, atau penguasa apa saja, karena kekuasaannya, maka ia bisa mengelola dan mengatur isteri-isterinya. Kedua, Orang berilmu, termasuk Ulama, karena ilmu yang dalam maka ia mampu mengatasi problem yang timbul dari kehidupan berpoligami. Yang ketiga, Orang mbelosondo atau orang ngawur, dan dengan ngawurnya ia bisa saja mempunyai isteri dua, tiga atau empat sekalian. Sekarang tanyakan kepada hati nuranimu, sampeyan termasuk yang mana. Nasehat pak kyai yang cespleng itu nampaknya benar-benar mengena. Sepanjang pulang ke rumah dan bahkan sampai berhari-hari di rumah, laki-laki itu merenung bekerja keras bertanya kepada hati nuraninya, apakah ia termasuk orang pertama, kedua atau ketiga. Pada akhirnya ia tidak berani meneruskan rencananya, karena secara sadar nuraninya mengatakan bahwa ia tidak

termasuk nomor satu dan bukan pula nomor dua. Untuk menjadi nomor tiga, ahhh...... no way katanya. posted by : Mubarok institute

PANDANGAN ISLAM TENTANG SIKAP FANATIK
Sejarah Islam kaya dengan pengalaman pahit yang disebabkan oleh perilaku fanatik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam. Pada zaman klassik, aliran Khawarij dapat disebut sebagai awal mulanya lahir kelompok fanatik. Logika berfikir faham Khawarij yang menyesatkan itu antara lain bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar hukumnya kafir, dan orang kafir halal dibunuh. Dengan logika fanatik demikian maka banyak terjadi korban pembunuhan dengan atas nama agama. Pada zaman modern sekarang, kelompok-kelompok fanatik juga banyak dijumpai, terutama di kalangan kaum muda. Ciri mereka antara lain mereka merasa benar sendiri sehingga merasa tidak sah makmum salat kepada orang lain diluar kelompoknya, tidak mau mendengarkan nasehat dan bahkan tidak bisa mengormati kepada orang lain yang di luar kelompoknya meskipun ayah ibunya, gurunya dan sebagainya. Ada contoh menarik dimana sekelompok mahasiswa sebuah perguruan tinggi meninggalkan dosen yang sedang mengajar di kelas menuju ke masjid kampus untuk salat Ashar begitu azan terdengar. Kebetulan dosen yang mengajar seorang Nasrani, dan dosen tersebut melaporkan perilaku mahasiswa tersebut ke Dekan . Ketika mereka ditegur oleh Dekan bahwa tindakan mereka tidak etis mereka menjawab bahwa panggilan Allah (untuk salat) tidak bisa dikalahkan oleh panggilan manusia (dosen). Saya oleh dekan diminta menjadi pengajar agama Islam dengan pesan khusus bagaimana meredam sikap fanatic mahasiswa. Al hamdulillah, satu semester, dengan dialog dan contohcontoh empiric ada juga hasilnya, yakni ada sedikit perubahan. Di antara butir-butir ajaran Islam menyangkut sikap fanatik adalah sebagai berikut : 1. Alqur'an mengisyaratkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk membanggakan apa yang ada pada mereka. artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kamu kepadaKU. (52) Kemudian mereka (pengikutpengikut Rasul) menjadikan agama mereka terpecah-pecah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing) (53) Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan nya sampai suatu waktu (54). (Surat Al Mu'minun, 52-54) 2. Alqur'an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya, dan diingatkan agar tidak mengikuti pandangan yang mengabdi kepada hawa nafsu. Afala ta`qilun? artinya: Apakah kamu tidak berakal? Afala tatafakkarun? Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak merenungkan ...? 3. Bahwa beragama artinya juga hidup dengan menggunakan akal karena agama itu sendiri didesain untuk manusia yang berakal. Oleh karena itu orang yang tidak berakal tidak terkena kewajiban agama. Addinu huwa al`aqlu la dina liman la `aqla lahu artinya: Agama adalah akal, maka tidak ada agama bagi orang yang tidak menggunakan akal.

4. Bahwa bersikukuh dengan pandangan yang diyakini seraya menutup diri dari pandangan lain (yang justeru mungkin lebih benar) adalah perbuatan sesat, yang dalam al Qur'an disebut sebagai mengikuti hawa nafsu, yakni kecenderungan memenuhi dorongan keinginan untuk kesenangan jangka pendek, bukan untuk mencari kebenaran (yang pada mulanya mungkin terasa pahit). artinya: Katakanlah; Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammmad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (al Maidah, 77) Pada akhirnya orang yang secara membabi buta membela sesuatu tanpa melihat duduk soal dan benar salahnya masalah yang dibela akan terjerumus pada perbuatan konyol dan sia-sia, meskipun boleh jadi apa yang dilakukanya itu didorong oleh rasa cintanya yang mendalam terhadap sesuatu yang dibela itu. Imam Gazali dalam Ihya Ulumuddin membagi cinta kepada empat kualitas: (a). Cinta diri. Pencinta ini melihat segala sesuatu hanya dengan satu ukuran atau satu kaca mata, yaitu dari kepuasan diri sendiri. (b). Cinta kepada orang lain sepanjang orang lain memberi keuntungan kepadanya. Cinta kelas ini seperti cintanya pedagang kepada pembeli, cinta transaksional. (c). Cinta kepada orang baik, meskipun yang dicintainya itu tidak memberikan apapun kepadanya., seperti cinta kepada Nabi, ulama dan pemimpin (d). Cinta kepada kebaikan sich, terlepas dari siapa pemilik kebaikan itu. Dalam perspektip ini, maka sikap fanatik mudah timbul pada orang dengan kategori pertama. Dari cinta diri (narcisme) dapat berkembang menjadi cinta kelompok in group dan selanjutnya bisa menjelma menjadi fanatik etnik. Sebaliknya cinta dalam kategori ke tiga dan ke empat akan mengantarkan orang pada cinta kepada manusia dan cinta kepada Tuhan. Nabi mengingatkan bahwa barang siapa yang mati karena membela sesuatu secara fanatik buta (mata `ala `asabiyyah) maka ia masuk neraka. Termasuk ke dalam kelompok ini barangkali adalah orang yang berani mati hanya untuk partai dan bentrokan kampanye pemilihan umum, atau pilkada padahal mereka sendiri tidak tahu apa hakikat yang dibela. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI FANATIK
Belakangan ini gejala maraknya fanatisme buta sedang melanda dunia, terutama tumbuh subur di kalangan orang muda. Bentuk-bentuk fanatisme buta ini sudah mengarah kepada perilaku yang membahayakan sehingga perlu dikaji secara seksama, menyangkut karakteristiknya, sebab-sebab timbulnya dan bagaimana upaya meredam dan menghindari bahayanya. 1.Pengertian Fanatik Fanatik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatip, pandangan mana tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. (A Favourable or unfavourable belief or judjment, made without adequate evidence and not easily alterable by the presentation of contrary evidence) 23. Fanatisme biasanya tidak rationil, oleh karena itu argumen rationilpun susah digunakan untuk

meluruskannya. Fanatisme dapat disebut sebagai orientasi dan sentimen yang mempengaruhi seseorang dalam; (a) berbuat sesuatu, menempuh sesuatu atau memberi sesuatu, (b) dalam berfikir dan memutuskan, (c) dalam mempersepsi dan memahami sesuatu, dan (d) dalam merasa. Secara psikologis, seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat selain yang mereka yakini. Tanda-tanda yang jelas dari sifat fanatik adalah ketidak mampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Secara garis besar fanatisme mengambil bentuk; (a) fanatik warna kulit, (b) fanatik etnik/kesukuan, dan (c) fanatik klas sosial. Fanatik Agama sebenarnya bukan bersumber dari agama itu sendiri, tetapi biasanya merupakan kepanjangan dari fanatik etnik atau klas sosial. Pada hakikatnya, fanatisme merupakan usaha perlawanan kepada kelompok dominan dari kelompok-kelompok minoritas yang pada umumnya tertindas. Minoritas bisa dalam arti jumlah manusia (kuantitas), bisa juga dalam arti minoritas peran (Kualitas). Di negara besar semacam Amerika misalnya juga masih terdapat kelompok fanatik seperti: 1). Fanatisme kulit hitam (negro) 2). Fanatisme anti Yahudi 3). Fanatisme pemuda kelahiran Amerika melawan imigran 4). Fanatisme kelompok agama melawan kelompok agama lain. 2.Analisis Terhadap Fanatisme Fanatisme dapat dijumpai di setiap lapisan masyarakat, di negri maju, maupun di negeri terbelakang, pada kelompok intelektual maupun pada kelompak awam, pada masyarakat beragama maupun pada masyarakat atheis. Pertanyaan yang muncul ialah apakah fanatisme itu merupakan sifat bawaan manusia atau karena direkayasa? 1. Sebagian ahli ilmu jiwa 24) mengatakan bahwa sikap fanatik itu merupakan sifat natural (fitrah) manusia, dengan alasan bahwa pada lapisan masyarakat manusia di manapun dapat dijumpai individu atau kelompok yang memilki sikap fanatik. Dikatakan bahwa fanatisme itu merupakan konsekwensi logis dari kemajemukan sosial atau heteroginitas dunia, karena sikap fanatik tak mungkin timbul tanpa didahului perjumpaan dua kelompok sosial. Dalam kemajemukan itu manusia menemukan kenyataan ada orang yang segolongan dan ada yang berada di luar golongannya. Kemajemukan itu kemudian melahirkan pengelompokan "in group" dan "out group". Fanatisme dalam persepsi ini dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap orang-orang yang sefaham, dan tidak menyukai kepada orang yang berbeda faham. Ketidak sukaan itu tidak berdasar argumen logis, tetapi sekedar tidak suka kepada apa yang tidak disukai (dislike of the unlike). Sikap fanatik itu menyerupai bias dimana seseorang tidak dapat lagi melihat masalah secara jernih dan logis, disebabkan karena adanya kerusakan dalam sistem persepsi (distorsion of cognition). Jika ditelusuri akar permasalahannya, fanatik - dalam arti cinta buta kepada yang disukai dan antipati kepada yang tidak disukai - dapat dihubungkan dengan perasaan cinta diri yang berlebihan (narcisisme), yakni bermula dari kagum diri, kemudian membanggakan kelebihan

yang ada pada dirinya atau kelompoknya, dan selanjutnya pada tingkatan tertentu dapat berkembang menjadi rasa tidak suka , kemudian menjadi benci kepada orang lain, atau orang yang berbeda dengan mereka. Sifat ini merupakan perwujudan dari egoisme yang sempit. 2. Pendapat kedua mengatakan bahwa fanatisme bukan fitrah manusia, tetapi merupakan hal yang dapat direkayasa. Alasan dari pendapat ini ialah bahwa anak-anak, dimanapun dapat bergaul akrab dengan sesama anak-anak, tanpa membedakan warna kulit ataupun agama. Anakanak dari berbagai jenis bangsa dapat bergaul akrab secara alami sebelum ditanamkan suatu pandangan oleh orang tuanya atau masyarakatnya. Seandainya fanatik itu merupakan bawaan manusia, pasti secara serempak dapat dijumpai gejala fanatik di sembarang tempat dan disembarang waktu. Nyatanya fanatisme itu muncul secara berserakan dan berbeda-beda sebabnya. 25) 3. Teori lain menyebutkan bahwa fanatisme berakar dari tabiat agressi seperti yang dimaksud oleh Sigmund Freud ketika ia menyebut instink Eros (ingin tetap hidup) dan instink Tanatos (siap mati). 26) 4. Ada teori lain yang lebih masuk akal yaitu bahwa fanatisme itu berakar pada pengalaman hidup secara aktual. Pengalaman kegagalan dan frustrasi terutama pada masa kanak-kanak dapat menumbuhkan tingkat emosi yang menyerupai dendam dan agressi kepada kesuksesan, dan kesuksesan itu kemudian dipersonifikasi menjadi orang lain yang sukses. Seseorang yang selalu gagal terkadang merasa tidak disukai oleh orang lain yang sukses. Perasaan itu kemudian berkembang menjadi merasa terancam oleh orang sukses yang akan menghancurkan dirinya. Munculnya kelompok ultra ekstrim dalam suatu masyarakat biasanya berawal dari terpinggirkannya peran sekelompok orang dalam sistem sosial (ekonomi dan politik) masyarakat dimana orang-orang itu tinggal. Di Indonesia, ketika kelompok Islam dipinggirkan secara politik pada zaman Orde Baru terutama pada masa kelompok elit Kristen Katolik (Beni Murdani, Sudomo, Radius Prawiro, Andrianus Moy, Sumarlin, Hutahuruk, Jendral Pangabean) 27) secara efektif mengontrol pembangunan Indonesia, maka banyak kelompok Islam merasa terancam, dan mereka menjadi fanatik. Ketika menjelang akhir Orde Baru di mana kelompok Kristen Katolik mulai tersingkir sehingga kabinet dan parlemen disebut ijo royo-royo (banyak orang Islamnya), giliran orang Kristen yang merasa terancam, dan kemudian menjadi ekstrim, agressip dan destruktif seperti yang terjadi di Kupang dan Ambon , Poso, juga Kalteng (juga secara tersembunyi di Jakarta). Jalan fikiran orang fanatik itu bermula dari perasaan bahwa orang lain tidak menyukai dirinya, dan bahkan mengancam eksistensi dirinya. Perasaan ini berkembang sedemikian rupa sehinga ia menjadi frustrasi. Frustrasi menumbuhkan rasa takut dan tidak percaya kepada orang lain. Selanjutnya perasaan itu berkembang menjadi rasa benci kepada orang lain. Sebagai orang yang merasa terancam maka secara psikologis ia terdorong untuk membela diri dari ancaman, dan dengan prinsip lebih baik menyerang lebih dahulu daripada diserang, maka orang itu menjadi agressif. 28) Teori ini dapat digunakan untuk menganalisa perilaku agressip (1) orang Palestina yang merasa terancam oleh orang Yahudi Israel, agressip kepada warga dan tentara Israel, dan (2) perilaku orang Yahudi yang merasa terkepung oleh negara-negara Arab agressip kepada orang Palestina. Teori ini juga dapat digunakan untuk menganalisa (3) perilaku ektrim kelompok sempalan Islam di Indonesia pada masa orde baru (yang merasa ditekan oleh sistem politik yang didominasi oleh oknum-oknum anti Islam), agressip kepada Pemerintah. Dari empat teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengurai perilaku fanatik seseorang/sekelompok orang, tidak cukup dengan menggunakan satu teori, karena fanatik bisa

disebabkan oleh banyak faktor, bukan oleh satu faktor saja. Munculnya perilaku fanatik pada seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat atau di suatu masa. boleh jadi (a) merupakan akibat lagis dari sistem budaya lokal, tetapi boleh jadi (b) merupakan perwujudan dari motif pemenuhan diri kebutuhan kejiwaan individu/sosial yang terlalu lama tidak terpenuhi. 3.Cara Mengobati Perilaku Fanatik Karena perilaku fanatik mempunyai akar yang berbeda-beda, maka cara penyembuhannya juga berbeda-beda. (1).Pengobatan yang sifatnya sekedar mengurangi atau mereduksi sikap fanatik harus menyentuh masalah yang menjadi sebab munculnya perilaku fanatik. (2).Jika perilaku fanatik itu disebabkan oleh banyak faktor maka dalam waktu yang sama berbagai cara harus dilakukan secara serempak (simultan) . Perilaku fanatik yang disebabkan oleh masalah ketimpangan ekonomi, pengobatannya harus menyentuh masalah ekonomi, dan perilaku fanatik yang disebabkan oleh perasaan tertekan, terpojok dan terancam, maka pengobatannya juga dengan menghilangkan sebab-sebab timbulnya perasaan itu. Pada akhirnya, pelaksanaan hukum dan kebijaksanaan ekonomi yang memenuhi tuntutan rasa keadilan masyarakat secara alamiah akan melunturkan sikap fanatik pada mereka yang selama ini merasa teraniaya dan terancam. 4.Klien dan Konselor Perilaku Fanatik Pada umumnya orang yang memiliki pandangan fanatik merasa tidak membutuhkan nasehat dari orang lain selain sesama (in group) mereka. Oleh karena itu konselorlah yang harus aktif berusaha mendekati klien. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor terhadap klien fanatik antara lain : 1).Mengajak berfikir rationil. Pada umumnya orang fanatik tidak rationil dalam memandang masalah yang diyakininya benar. Jika ia dapat kembali berfikir rationil dalam bidang yang diyakini itu maka secara otomatis sikap fanatiknya akan mencair. 2). Menunjukkan contoh-contoh yang pernah terjadi akibat dari perilaku fanatik. Pada umumnya perilaku fanatik berakhir dengan kekacauan, kegagalan atau bahkan penjara. Orang yang telah sadar dari kekeliruannya berpandangan fanatik biasanya kemudian mentertawakan diri sendiri atas kepicikannya di masa lalu. Sedangkan konselor perilaku fanatik disamping harus memiliki wawasan konseling, secara khusus ia harus memiliki pengalaman yang luas sehingga ia tidak menggurui tetapi menggelitik cara berfikir klien yang tidak rationil itu. posted by : Mubarok institute

AYAT KURSIY, KHASIAT DAN KANDUNGAN MAKNANYA.
Minggu lalu, sdr Asep Maulana dari Karawang bertanya tentang khasiat ayat kursiy. Karena keterbatasan ruang, jawaban minggu lalu saya berikan sangat singkat, dan saya janjikan pada hari ini akan saya bahas lebih luas. Khasiat Ayat Kursi Keistimewaan al Qur’an antara lain adalah bahwa membacanya dinilai sebagai ibadah meski tidak faham artinya, berbeda dengan doa yang harus difahami artinya.. Anjuran untuk bertadarus banyak sekali dijumpai dalam ajaran Islam. Al Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai hudan (petunjuk), syifa (obat), rahmah (wujud kasih sayang), zikr (peringatan), tibyanan (penjelasan). Disamping itu hadis Nabi banyak menyebut keutamaan dan khasiat membaca surat

atau ayat tertentu. Oleh karena itu tidak aneh jika muncul persepsi orang Islam yang menempatkan ayat al Qur’an bagaikan mantra. Hadis tentang khasiat ayat Kursi misalnya menyebutkan, : Jika ayat Kursi dibaca di rumah, maka syaitan terhalang tiga hari dan tukang sihir terhalang 40 hari tidak bisa masuk ke dalamnya. Hadis lain menyebut bahwa barang siapa membaca ayat Kursi setiap habis salat fardu maka ia layak masuk sorga, dan hanya orang jujur dan ahli ibadah yang bisa melakukannya, barang siapa yang membacanya setiap akan tidur maka Allah memberikan rasa aman kepada dirinya dan kepada tetangga di sekelilingnya. Nabi sendiri pada waktu perang Badar selalu membaca ayat ini, terutama pada bagian ya Hayyu ya Qoyyum. Kandungan Makna Ayat Kursiy Terjemahan ayat Kursiy adalah sebagai berikut : Allah, tiada Tuhan selain Dia, yang Hidup dan terus menerus mengurus (makhluk Nya), tidak mengenal ngantuk, apalagi tidur, bagi Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi, tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin Nya, Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan apa-apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apaapa dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki Nya, Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak repot mengurusi keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dari ayat itu sekurangnya ada empat hal bisa didalami maknanya. (1) bahwa Allah itu hayyun dan qayyum, yakni hidup dan aktip mengurusi alam semesta (2) Allah memiliki dan menguasai langit dan bumi dengan segala isinya, (3) Allah mengetahui se detail-detailnya tentang apa dan siapa, dan (4) Manusia tidak dapat menggapai ilmu Allah kecuali sekedar yang dikehendaki oleh Nya. Diantara yang penting untuk difahami dari kandungan ayat Kursiy adalah batasan ilmu manusia dan kehendak Allah. Tentang Ilmu Manusia Manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak. Pengetahuan yang dimiliki manusia datang dari berbagai jalan, instink, indera, fikiran (logika) dan intuisi (ilham). Tingkat pengetahuan manusia sangat beragam, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Tingkatan pengetahuan manusia yang tertinggi juga ada yang bersifat rational dan falsafi, dan ada yang bersifat intuitip, “gaib” atau suprarational. Meski demikian sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang terbatas, yang tidak sempurna, ilmu manusia juga terbatas, karena manusia tidak bisa menghindar dari distorsi-distorsi; instink, indera, pemikiran, maupun distorsi intuisi. Disamping problem distorsi, ilmu manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Apa yang telah lalu banyak yang luput dari pengamatan manusia, apa yang akan terjadi di masa depan, meski manusia bisa memprediksi dengan menggunakan hukum sunnatullah, atau dengan ramalan “gaib” tetapi ruang lingkupnya sangat terbatas. Apa yang akan terjadi di muka lebih banyak merupakan area kegelapan bagi ilmu manusia. Semakin banyak hal yang diketahui manusia, maka semakin tahu ia bahwa hal yang belum diketahui justeru lebih banyak lagi. Adapun ilmu Tuhan tak terbatasi oleh ruang dan waktu, oleh karena itu tidak ada satupun fenomena yang luput dari akses Tuhan, yang dulu, yang sedang terjadi ataupun yang akan datang, semuanya berada dalam ilmu Tuhan. Al Qur’an mengibaratkan, selembar daun yang jatuhpun (yang dulu jatuh, yang sedang jatuh, dan yang akan jatuh nanti) kesemuanya berada dalam akses Tuhan. Dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Tuhan mengetahui yang nampak dan yang tidak nampak (`alim al ghoibi wa as syahadah) dan senantiasa mengetahuinya (`allam al ghuyub). Tuhan menurunkan ilmu Nya kepada manusia melalui dua jalan, pertama melalui taqdir atau qadar dalam sunnatullah yang bisa dipelajari hukumnya oleh akal, kedua melalui ilham dan wahyu. Kehendak Allah

Kalimat al hayyu al qayyum mengandung arti bahwa Allah itu hidup dan selalu aktip mengurusi makhluknya, artinya Tuhan mempunyai kehendak dan tidak ada satupun persoalan yang terlewat atau terlupakan. Semua ciptaan Tuhan, baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat makna didesain dengan tujuan dan maksud. Al Qur’an mengajarkan doa, Robbana ma kholaqta haza batila, ya Tuhan, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia tanpa makna. Hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan manusia, kesemuanya dimaksud positip, yakni menguji manusia keputusan apa yang akan diambil ketika mengalaminya, langkah positip atau negatip (liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala). Secara teologis, krisis multi dimensi yang sedang kita alami juga tak lepas dari kehendak Allah mewujudkan taqdir sunnatullah Nya, dan menguji bangsa ini respond apa yang akan diambil. Dari Ilmu Kalam, lahir dua pandangan mensikapi kehendak Allah, yaitu faham Jabbariah (predestination) dan Qadariyah (free will). Yang pertama memandang bahwa kehendak Allah akan berjalan secara mutlak sehingga manusia tidak memiliki kekuasaan atas kehendaknya, manusia bagaikan wayang yang didalangi Tuhan. Faham kedua (qadariyah) memandang bahwa manusia memiliki kekuasaan untuk menentukan perbuatannya, meski harus mengikuti taqdir sunnatullah Nya. Yang pertama menekankan doa Kepada Tuhan, karena amal tidak menentukan, yang menentukan adalah keputusan Tuhan, orang masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Tuhan.. Yang kedua menekankan bekerja, karena keputusan Tuhan akan didasarkan pada sifat adil Nya, Tuhan tidak mungkin menyia-nyiakan orang yang beramal.. Dua faham ini melahirkan faham kompromi, yakni faham sunny, yang menekankan bahwa manusia wajib berikhtiar, tetapi taqdir sepenuhnya milik Allah. Wallohu a`1amu bis sawab. posted by : Mubarok institute

TERAPI AMANAH
Dalam Bahasa Arab, kalimat amanah dapat diartikan sebagai titipan, kewajiban, ketenangan, kepercayaan, kejujuran, dan kesetiaan. Dalam al Qur’an amanah disebut dalam beberapa konteks, pertama: sebagai tanggung jawab pengelolaan (Q/33:72), sebagai hutang atau janji yang harus ditunaikan (Q/2:283), sebagai tanggung jawab keadilan pemegang kekuasaan (Q/4:58), sebagai kesetiaan kepada tugas yang diemban (Q/8:27), sebagai karakter pribadi yang penuh kejujuran dan tanggungjawab (Q/23:8). Dalam hadis pernikahan, amanah disebut dalam kontek komitmen suci dalam kontrak perjanjian. Kata dasar amanah mempunyai pertalian dengan kata iman dan aman. Dari pengertian bahasa dan dari pemahaman tematik al Qur’an dan hadis, amanah dapat difahami sebagai sikap mental yang didalamnya terkandung unsur kepatuhan kepada hukum, tanggung jawab kepada tugas, kesetiaan kepada komitmen, keteguhan dalam memegang janji, kesucian dalam tekad dan kejujuran kepada diri sendiri. Sikap mental amanah harus berdiri diatas pondasi keimanan, dan dengan itu akan tumbuh rasa aman, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi orang lain. Budaya amanah adalah perilaku yang bersendikan kepatuhan kepada moralitas agama, kepada moralitas hukum, tanggung jawab vertikal dan horizontal dan kejujuran kepada diri sendiri, serta kesadaran atas implikasi dari suatu keputusan. Kebudayaan adalah nilai-nilai, norma dan konsep yang dimiliki masyarakat, yang dijadikan sebagai acuan mereka dalam berkehidupan sehari-hari, menyangkut ekonomi, politik, sosial dan budaya dari suatu masyarakat. Kebudayaan ada yang dianut oleh entitas sosial yang sempit tetapi ada juga kebudayaan yang dianut oleh suatu bangsa dan ada yang dianut oleh masyarakat international. Sifat amanah harus ada dalam memori setiap warga, sehingga tak pernah terlintas fikiran buruk, fikiran menyimpang dari semestinya.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, etnik, bahasa dan budaya yang kemudian menyatukan diri dalam ikatan kebangsaan dengan tetap menghormati kebudayaan masingmasing, disebut Binneka Tunggal Ika. Dalam perjalanan sejarahnya, komitmen Binneka Tunggal Ika tidak selalu dihormati. Pada masa Orde Baru misalnya kecenderungan Pemerintah untuk menyeragamkan kebudayaan bangsa telah meruntuhkan fungsi keragaman budaya sebagai kekuatan persatuan. Akibatnya ketika orde baru tumbang, keragaman budaya yang semula menjadi pemersatu berubah menjadi ancaman disintegrasi. Ketika bangsa mengalami krisis kepemimpinan nasional, ketika infrastruktur kebudayaan yang konvensional tidak lagi efektif digunakan, ketika semua teori tidak lagi relefan untuk menganalisis persoalan, ketika kebuntuan melanda hampir seluruh saluran pemecahan masalah, diperlukan satu langkah terobosan yang menyentuh simpul-simpul yang tepat. Masyarakat Indonesia, betapapun adalah masyarakat yang religious. Telah teruji berkali-kali, setiap kali bangsa berada di tubir kehancuran, kesadaran beragama menyeruak ke atas dengan berbagai simbolnya. Zaman keterbukaan memberi peluang kepada seluruh lapisan masyarakat mengemukakan ekpressi pemikirannya. Situasi ini memberi peluang sifat religiousitas masyarakat untuk bertemu dalam titik kesamaan dengan tetap menghargai perbedaan. Karakteristik amanah adalah satu diantara sedikit hal yang bisa mempersatukan kiblat bangsa, karena amanah bersifat universal. Oleh karena itu membangun kembali keluarga besar bangsa Indonesia dengan membudayakan amanah merupakan gagasan yang sangat relevan. Proses pembudayaan suatu nilai lazimnya membutuhkan waktu yang panjang dan proses yang alami, tetapi dalam keadaan dimana masyarakat dalam keadaan bingung dan membutuhkan alternatif, pembudayaan suatu nilai dapat dilakukan dengan metode Gerakan. posted by : Mubarok institute

MAKNA BERLINDUNG DARI SYAITAN
Pada kolom Tanya Pak Ustad, Ibu Sahlan Wardoyo (dari Merak Banten) bertanya tentang makna ta‘awudz, yakni berlindung kepada Allah dari godaan syaitan. Pertanyaan itu timbul karena ibu tersebut merasa kurang mampu melihat ciri-ciri godaan syaitan, karena dari orang yang dihormatipun muncul perbuatan yang dianggapnya kurang difahami, yakni seorang “guru” yang mestinya menjadi contoh kok juga seperti orang “kesetanan”. Berikut ini tulisan tentang syaitan. Syaitan, status, tugas dan aktifitasnya Dalam al Qur’an sudah ditegaskan bahwa syaitan itu adalah makhluk terkutuk (ar rajim), musuh utama manusia (‘aduwwun mubin) dan teman yang buruk (sa’a qarina). (Q/3:36, Q/4:38 dan Q/12: 5) Ia sudah diberi konsesi oleh Tuhan dengan berumur panjang, dan diberi peluang untuk menyesatkan manusia. Hanya saja kekuatan syaitan tidak akan mempan kepada orang yang beriman secara benar (ikhlas) kepada Allah (Q/15: 39-40). Dalam al Qur’an disebutkan berbagai aktifitas syaitan dalam menjerumuskan manusia, seperti: [a] menggelincirkan (Q/2:36), [b] menakut-nakuti dengan kemiskinan dan menyuruh kejahatan (Q/2:268), [c] menakut-nakuti dengan kekuatan group syaitan (Q/3:175), [d] menyesatkan (Q/4:60), [e] memberikan janji-janji kosong (Q/4:120), [f] membangkitkan permusuhan (Q/5:91), [g] merubah persepsi/menipu (Q/6:43), [h] membuat lalai (Q/6:68), [i] memberikan bisikan halus beracun/waswas (Q:7:20), [j] menggoda (Q/7:200), [k] melempar fitnah (Q/22:53), [l] mengajak ke jalan yang mencelakakan (Q/31:21), [m] menjerumuskan (Q/47:25), [n] menyusahkan (Q/58:10), [o] mengilhami (Q/6: 121).

Dalam al Qur’an juga disebutkan bahwa kemubaziran, minuman keras dan keras hati merupakan media yang sangat efektif bagi syaitan dalam menjerat manusia.(Q/17:27, 5:90, dan 6:43) Pintu-Pintu Masuk syaitan ke dalam hati manusia Menurut Imam Gazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, hati manusia dilengkapi dengan dua satgas, yaitu: satuan yang dapat dilihat dengan mata, dan (2) satuan yang kasat mata. Yang pertama terdiri dari fisik dengan semua organ fisik dan psikologis, dengan ujung tombak syahwat dan marah (ghodlob), dan ini menjadi kendaraan bagi syaitan, sedang yang kedua berupa ilmu, hikmah dan tafakkur, dan ini merupakan satgas yang mempunyai link dengan hidayah Allah. Menurut Al Gazali, sekurang-kurangnya ada sembilan pintu yang dapat dilewati syaitan untuk mempengaruhi hati manusia, yaitu: 1. Marah dan syahwat. 2. Kemewahan 3. Tamak dan dengki (al hirsh dan al hasad). 4. Perut kekenyangan, meski dengan makanan halal. 5. Sifat terburu-buru dan ketidaktabahan dalam urusan. 6. Uang/harta 7. Sifat kikir dan takut miskin. 8. Fanatisme buta, terhadap golongan atau pendapat, serta kebencian kepada musuh. 9. Buruk sangka. Menurut sebuah hadis, syaitan itu merasuk ke dalam diri manusia bersama dengan aliran darah manusia. Oleh karena itu pola konsumsi manusia sangat erat hubungannya dengan intensitas kehadiran syaitan pada orang itu.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Umamah, Nabi juga menceriterakan konsensi yang diberikan Tuhan kepada syaitan sbb. Ketika Iblis diusir dari sorga, syaitan meminta konsensi-konsensi kepada Tuhan, dengan berkata : Ya Tuhan, Engkau telah membuang kami ke bumi dengan status terkutuk, maka kami mohon agar engkau memberikan fasilitas untuk kami. Dalam hadis itu disebutkan bahwa Tuhan memberikan hal-hal sebagai berikut: 1. Kamar mandi/tempat mandi sebagai rumah tinggal syaitan. 2. Pasar dan persimpangan jalan sebagai majlis (tempat duduk-duduk) nya. 3. Semua makanan manusia yang tidak dibacakan basmalah sebagai makanannya, 4. Semua minuman keras sebagai minumannya, 5. Musik hedonis sebagai terompetnya 6. Puisi sebagai qur’annya, 7. Tatto sebagai tulisannya, 8. Dusta sebagai hadisnya, dan 9. Perempuan gelisah sebagai kailnya. Sangat menarik untuk direnungkan tentang pasar dan persimpangan jalan sebagai majlisnya syaitan. Pasar artinya tempat transaksi. Syaitan sangat aktif mengakses hati manusia, menghembuskan cara berfikir agar dalam transaksi memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, meski harus berbuat curang. Di semua sektor transaksi ekonomi, mikro dan makro, cara berfikir syaitan itu sangat menggoda. Sedangkan persimpangan jalan, bisa difahami sebagai persimpangan jalan lalu lintas, bisa juga persimpangan jalan suksesi kepemimpinan. Di setiapkali terjadi pergantian kepemimpinan politik, lokal, nasional maupun international, cara berfikir syaitan selalu menggoda, yakni konspirasi jahat, sabotase dan manuver-manuver lain yang negatif. Dalam persimpangan zaman dari zaman orde baru ke zaman reformasi, syaitan betah sekali dudukduduk di Senayan

Hadis lain menyebutkan bahwa manusia dapat dibagi menjadi tiga golongan kualitas; [1] Manusia Binatang, yakni mereka yang berhati tetapi hatinya tak berfungsi sebagai alat memahami, punya telinga, tetapi tak berfungsi untuk membedakan mana nasehat dan mana larangan, punya mata, tetapi tak berfungsi untuk membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Mereka tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi. [2] Manusia syaitan; yaitu mereka fisiknya manusia tetapi hatinya iblis. Mereka tidak berperikemanusiaan dan tidak pula berperikebinatangan. Mereka merupakan perpaduan antara kecerdikan manusia dan kebuasan binatang. [3] Manusia pilihan; yang selalu dalam naungan rahmat Tuhan. Hadis lain menceriterakan bahwa suatu hari syaitan mendatangi Nabi Isa, menggodanya. Nabi Isa bertanya, wahai Iblis, apakah engkau tidak mengenalku sehingga engkau menggodaku? Iblis menjawab: Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau seorang Rasul yang ma‘sum, yang tak mempan godaan syaitan, tapi yah…. siapa tahu? namanya juga usaha! Nabi Isa kemudian bertanya. Wahai Iblis, di matamu, manusia itu apa? Iblis menjawab. Bagi saya, manusia itu ada tiga kelas; Pertama, orang yang selalu bikin susah, karena setiap kali di goda, sudah hampir berhasil, tiba-tiba ingat kepada Allah, jadi buyarlah usaha saya. Kedua, orang yang bagi saya seperti bola di tangan anak-anak, mudah dipermainkan. Ketiga; orang ma‘sum seperti anda. Wallohu a1lamu bissawab. posted by : Mubarok institute

IMAM DARI SISI AQIDAH
Konsep imâmah dalam Islam dapat dipelajari dari tiga perspektif yang berbeda. Yaitu, masingmasing: (1) dari perspektif pemerintahan Islam, (2) dari perspektif pengetahuan dan ketentuanketentuan Islam, serta (3) dari perspektif kepemimpinan dan bimbingan pembaharuan kehidupan keruhaniaan. Berikut penjelasannya. Pertama, imâmah dari perspektif pemerintahan Islam. Ketika dikaitkan dengan masalah kenegaraan, konsep imâmah memunculkan perbedaan pendapat di dalam kalangan umat Islam: Sunni dan Syiah. Berbeda dari Sunni, kalangan Syiah, khususnya yang Imamiyah, menyebutkan bahwa imâmah adalah masalah utama dan bagian dari rukun iman. Masalah imâmah bukan termasuk kepentingan umum, tapi menjadi tiang agama dan dasar Islam yang telah digariskan oleh Allah melalui ayat-ayatnya dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Bagi kalangan Syiah, seperti disebutkan Murtadha Muthahhari, imâmah bisa berarti pimpinan umum suatu masyarakat. Salah satu tugas yang lowong pada masa setelah Rasulullah wafat adalah kepemimpinan masyarakat. Lalu, siapa yang berhak menggantikan Nabi? Di sinilah masalah khilafah muncul. Yang pasti, baik Sunni maupun Syiah sepakat bahwa umat Islam membutuhkan seorang pemimpin. Bagi kalangan Sunni, kepemimpinan pasca Rasulullah adalah para sahabat Nabi yang telah ditunjuk dan dipilih. Mereka disebut dengan al-khulafâ alrâsyidûn. Sedangkan bagi kalangan Syiah, Nabi Muhammad telah memilih penggantinya, yaitu Imam Ali ibn Abi Thalib dan selanjutnya diteruskan oleh ketururunannya—yang disebut ahl al-bayt. Kedua, imâmah dari perspektif pengetahuan dan ketentuan-ketentuan Islam. Kalangan Syiah tidak hanya membatasi imâmah pada kepemimpinan politis. Mereka mengatakan, bahwa imâmah juga berkaitan dengan pengertian kepemimpinan agama. Menurut kalangan Syiah, sebelum wafat, Nabi Muhammad telah mendidik Imam Ali, penggantinya, sebagai seorang

berilmu yang luar biasa dan mengajarkan kepadanya segala sesuatu tentang Islam. Imam Ali adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling menonjol. Imam Ali suci sebagaimana Nabi juga suci. Dengan alasan ini, maka yang paling pantas menggantikan Nabi setelah wafat adalah Imam Ali. Ali menerima ilmu secara langsung dari Nabi, dan para imam berikut juga memperoleh ilmu melalui Imam Ali. Karena itu, kalangan Syiah percaya adanya dua belas imam. Yaitu, Ali ibn Abi Thalib, Hasan ibn Ali, Husain ibn Ali, Ali ibn Husain, Muhammad ibn Ali, Ja’far ibn Muhammad, Musa ibn Ja’far, Ali ibn Musa, Muhammad ibn Ali, Ali ibn Muhammad, Hasan ibn Ali, dan Mahdi. Ketiga, imâmah dari perspektif kepemimpinan dan bimbingan pembaharuan kehidupan keruhaniaan. Selain itu, imâmah bisa berkaitan dengan pengertian wilayah. Inilah pengertian paling tinggi atas masalah imâmah. Wilayah menjadi fokus utama para sufi Syiah, sama seperti persoalan mengenai manusia sempurna dan wali zaman. Kalangan sufi Syiah percaya bahwa wali dan imam adalah pemimpin zaman. Dan wali itu selalu ada, dan karena itu mereka percaya akan selalu ada seorang manusia sempurna di dunia. Sedangkan bagi kaum Sunni, mereka menganggap imâmah sebagai persoalan keduniaan yang ditangani langsung oleh umat Islam. Pencalonan seorang imam dilakukan oleh kelompok ahl alimâmah (mereka yang memenuhi syarat dan berhak menjadi imam) —seperti dijelaskan oleh Al-Mawardi. Seorang imam diangkat melalui musyawarah yang dilakukan oleh ahl al-ikhtiyâr atau ahl al kalli na al `aqdi (orang yang berwenang memilih imam bagi umat). Dari sinilah kemudian muncul beragam sistem pemerintahan dalam Islam. Selanjutnya masyarakat Sunni diberbagai negeri Islam bisa menerima sistem pemerintahan: republik, kerajaan atau kerajaan konstitusional, sementara masyarakat Syiah di Iran mencoba membangun sistem pemerintahan Islam dengan konsep Waliyat al faqih, dimana Ayatullah `al Uzma (pemimpin tertinggi keagamaan) memilih otoritas politik. posted by : Mubarok institute

FUNGSI MASJID
Masjid berasal dari kata sajada yang artinya tempat sujud. Secara teknis sujud (sujudun) adalah meletakkan kening ke tanah. Secara maknawi, jika kepada Tuhan sujud mengandung arti menyembah, jika kepada selain Tuhan, sujud mengandung arti hormat kepada sesuatu yang dipandang besar atau agung. Sedangkan sajadah dari kata sajjadatun mengandung arti tempat yang banyak dipergunakan untuk sujud, kemudian mengerucut artinya menjadi selembar kain atau karpet yang dibuat khusus untuk salat orang per orang. Oleh karena itu karpet masjid yang sangat lebar, meski fungsinya sama tetapi tidak disebut sajadah. Adapun masjid (masjidun) mempunyai dua arti, arti umum dan arti khusus. Masjid dalam arti umum adalah semua tempat yang digunakan untuk sujud dinamakan masjid, oleh karena itu kata Nabi, Tuhan menjadikan bumi ini sebagai masjid. Sedangkan masjid dalam pengertian khusus adalah tempat atau bangunan yang dibangun khusus untuk menjalankan ibadah, terutama salat berjamaah. Pengertian ini juga mengerucut menjadi, masjid yang digunakan untuk salat Jum’at disebut Masjid Jami‘. Karena salat Jum‘at diikuti oleh orang banyak maka masjid Jami‘ biasanya besar. Sedangkan masjid yang hanya digunakan untuk salat lima waktu, bisa di perkampungan, bisa juga di kantor atau di tempat umum, dan biasanya tidak terlalu besar atau bahkan kecil sesuai dengan keperluan, disebut Musholla, artinya tempat salat. Di beberapa

daerah, musholla terkadang diberi nama langgar atau surau. Jika menengok sejarah Nabi, ada tujuh langkah strategis yang dilakukan oleh Rasul dalam membangun masyarakat Madani di Madinah. (1) mendirikan Masjid, (2) mengikat persaudaraan antar komunitas muslim, (3) Mengikat perjanjian dengan masyarakat non Muslim, (4) Membangun sistem politik (syura), (5) meletakkan sistem dasar ekonomi, (6) membangun keteladanan pada elit masyarakat, dan (7) menjadikan ajaran Islam sebagai sistem nilai dalam masyarakat. Ketika Nabi memilih membangun masjid sebagai langkah pertama membangun masyarakat madani, konsep masjid bukan hanya sebagai tempat salat, atau tempat berkumpulnya kelompok masyarakat (kabilah) tertentu, tetapi masjid sebagai majlis untuk memotifisir atau mengendalikan seluruh masyarakat (Pusat Pengendalian Masyarakat). Secara konsepsional masjid juga disebut sebagai Rumah Allah (Baitullah) atau bahkan rumah masyarakat (bait al jami‘). Secara konsepsional dapat dilihat dalam sejarah bahwa masjid pada zaman Rasul memiliki banyak fungsi : 1. Sebagai tempat menjalankan ibadah salat 2. Sebagai tempat musyawarah (seperti gedung parlemen) 3. Sebagai tempat pengaduan masyarakat dalam menuntut keadilan (seperti kantor pengadilan) 4. Secara tak langsung sebagai tempat pertemuan bisnis Yang lebih strategis lagi, pada zaman Rasul, masjid adalah pusat pengembangan masyarakat dimana setiap hari masyarakat berjumpa dan mendengar arahan-arahan dari Rasul tentang berbagai hal; prinsip-prinsip keberagamaan, tentang sistem masyarakat baru, juga ayat-ayat Qur’an yang baru turun. Di dalam masjid pula terjadi interaksi antar pemikiran dan antar karakter manusia. Azan yang dikumandangkan lima kali sehari sangat efektif mempertemukan masyarakat dalam membangun kebersamaan. Bersamaan dengan perkembangan zaman, terjadi ekses-ekses dimana bisnis dan urusan duniawi lebih dominan dalam pikiran dibanding ibadah meski di dalam masjid, dan hal ini memberikan inspirasi kepada Umar bin Chattab untuk membangun fasilitas di dekat masjid, dimana masjid lebih diutamakan untuk hal-hal yang jelas makna ukhrawinya, sementara untuk berbicara tentang hal-hal yang lebih berdimensi duniawi, Umar membuat ruang khusus di samping masjid. Itulah asal usulnya sehinga pada masa sejarah Islam klassik (hingga sekarang), pasar dan sekolahan selalu berada di dekat masjid. posted by : Mubarok institute

PROBLEM KEHIDUPAN KELUARGA & KONSELING PERKAWINAN
Problem di seputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga biasanya berada di sekitar: a. Kesulitan memilih jodoh/kesulitan mengambil keputusan siapa calon suami/isteri. b. Ekonomi keluarga yang kurang tercukupi. c. Perbedaan watak, temperamen dan perbedaan kepribadian yang terlalu tajam antara suami/isteri. d. Ketidak puasan dalam hubungan seksual. e. Kejenuhan rutinitas. f. Hubungan antar keluarga besar yang kurang baik. g. Ada orang ketiga, atau yang sekarang populer dengan istilah WIL (wanita idaman lain) dan PIL (Pria Idaman Lain). h. Masalah Harta dan warisan i. Menurunnya perhatian dari kedua belah pihak suami isteri.

j. Dominasi dan interfensi orang tua/ mertua k. Kesalah pahaman antara kedua belah pihak l. Poligami m. Perceraian. 2. Konseling Perkawinan Dari berbagai problem kerumahtanggaan seperti tersebut diatas, maka konseling perkawinan menjadi relevan, yakni membantu agar client dapat menjalani kehidupan berumah tangga secara benar, bahagia dan mampu mengatasi problem-problem yang timbul dalam kehidupan perkawinan. Oleh karena itu maka konseling perkawinan pada prinsipnya berisi dorongan untuk menghayati atau menghayati kembali prinsip-prinsip dasar, hikmah, tujuan dan tuntunan hidup berumah tangga menurut ajaran Islam. Konseling diberikan agar suami/istri menyadari kembali posisi masing-masing dalam keluarga dan mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang terbaik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Jika memperhatikan kasus perkasus maka konseling perkawinan diberikan dengan tujuan: a. Membantu pasangan perkawinan itu mencegah terjadinya/meletus problema yang mengganggu kehidupan perkawinan mereka. b. Pada pasangan yang sedang dilanda kemelut rumah tangga, Konseling diberikan dengan maksud agar mereka bisa mengatasi sendiri problema yang sedang dihadapi. c. Pada pasangan yang berada dalam tahap rehabilitasi, konseling diberikan agar mereka dapat memelihara kondisi yang sudah baik menjadi lebih baik. posted by : Mubarok institute

THE INDIGENOUS PSYCHOLOGY
Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events.”9 Tingkahlaku dan senyuman adalah ekpressi jiwa. Untuk memahami makna senyum dan aksi orang seperti Amrozi yang tersenyum ketika dijatuhi hukuman mati misalnya dibutuhkan Psikologi. Selama ini Psikologi difahami sebagai Western Psychology yang mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia sebagai sesuatu yang universal, tetapi yang sesungguhnya Psychology Barat hanya benar untuk menganalisis manusia Barat, karena sesuai dengan kultur sekuler yang melatarbelakangi lahirnya ilmu tersebut. Di belahan dunia lain, perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem nilai yang berbeda dengan sistem nilai masyarakat Barat. Apa yang diklaim sebagai human universals, haruslah diuji sahih dengan multiple indigenous psychology. Indigenous psychology dapat didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi, yang tidak trasported dari wilayah lain, dan memang didesain khusus untuk masyarakat itu. Dengan kata lain indigenous psychology adalah pemahaman yang berdasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat. Memahami senyum Amrozi misalnya tidaklah cukup hanya dengan membandingkan senyuman orang Barat. Ia harus dicari akarnya pada cultur Jawa Timur, cultur santri, cultur pekerja wiraswasta dan cultur pejuang bersenjata (mujahid, muqatil), karena dia bukan hanya sekedar orang Lamongan, tetapi ia dan teman-temannya (Imam Samudera cs) pernah terlibat dalam perang (fisik dan mental) melawan penjajah Uni Sovyet di Afganistan, sebagai pejuang anti penjajah komunis kafir (mujahid) dan petempur di lapangan (muqatil), dan uniknya, dilatih oleh instruktur CIA (Amerika).

Islamic Indigenous Psychology Jiwa bukan hanya dibahas oleh Psikologi dan filsafat, tetapi juga oleh agama. Al Qur’an (dan hadis) lebih dari 300 kali berbicara tentang jiwa (nafs), tetapi perbedaan sejarah keilmuan Islam menyebabkan ilmu semacam psychologi tidak lahir dari peradaban Islam. Di Barat pertumbuhan ilmu pengetahuan terpisah sama sekali-bahkan bermusuhan- dengan Gereja, oleh karena itu psychology (dan ilmu lainya) sama sekali tidak dibimbing oleh agama (Gereja), dan oleh karena itu Psychology tidak menyentuh iman, dosa dan keyakinan kepada akhirat, mengenal sehat dan tidak sehat tetapi tidak mengenal baik bnuruk. Psikologi Agama pun sebagai ilmu Barat tidak berbicara tentang kebenaran agama tetapi tentang bagaimana pengalaman beragama mempengaruhi tingkah laku penganutnya. Dalam sejarah keilmuan Islam, al Qur’an sangat mendorong penganutnya untuk menggunakan akalnya. Perjalanan ilmu pengetahuan bukan saja diilhami oleh kitab suci, tetapi juga dikawal oleh para ulama. Kajian tentang jiwa tidak dibahas sebagai tingkah laku, tetapi dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu ilmu yang lahir bukan psikologi, tetapi ilmu akhlak dan tasauf. Ilmu akhlak berbicara bagaimana memperbaiki perilaku manusia, sedangkan tasauf berbicara tentang bagaimana manusia bisa merasa dekat (mendekatkan jiwa) dengan Tuhan. Islamic Psychology adalah satu kajian yang bernuansa psikosufistik, bersumber dari al Qur’an sebagai sumber utama, dengan assumsi bahwa al Qur’an adalah brosur tentang jiwa yang dikeluarkan oleh Sang Pencipta. Disamping al Qur’an juga dari hadis dan tradisi keilmuan Islam, ditambah penelitian empirik. Psikologi Barat digunakan sebagai alat bantu untuk memahami ayat al Qur‘an dan konsep-konsep psikologi, karena ternyata jejak-jejak pemikiran Ibn Sina tentang pengobatan jiwa, Ibn Sirin tentang tafsir mimpi, Imam Gazali, al Muhasibi tentang kajian pribadi ternyata sudah diserap dalam Psikologi Barat. Jika Psikologi modern dibatasi hanya untuk menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events, Psikologi Islam menambahkan tugasnya; juga untuk bagaimana membentuk tingkah laku yang baik serta mendorong manusia agar merasa dekat dengan Tuhan. Teori Sepeda Motor Harus diakui bahwa Psychology sebagai ilmu pengetahuan sudah sangat maju, kaya dengan methodology dan kaya dengan hasil penelitian empiric, sementara Psikologi Islam masih sangat miskin dengan penelitian empiric. Ibarat sepeda motor, Barat langsung menaiki sepeda motor itu ke berbagai medan jalanan tanpa melihat brosur dari pabriknya. Dari pengalaman lapangan yang banyak itu Barat sudah memiliki banyak pengetahuan tentang karakteristik sepeda motor itu. Tetapi karena tidak membaca brosur dari pabrik, maka Psikologi barat sering mengalami trial and error. Lihat saja bagaimana perkembangan lahirnya teori Psikoanalisa, behaviourisme, Kognitip hingga Humanisme.. Sekarang Barat baru saja meraba-raba wilayah kecerdasan spiritual yang sesungguhnya lebih merupakan wilayah agama. Pada saatnya nanti pasti akan ketemu, bahasan kecerdasan spiritual Psikologi dan kecerdasan ruhaniyah tasauf (agama). Sedangkan Psikologi Islam, ketika melihat sepeda motor, yang pertama kali dilakukan adalah membaca brosurnya dari pabrik. Al Qur’an adalah brosur tentang manusia (dan jiwanya) yang disusun oleh sang Pencipta. Sekarang Psikologi Islam baru menguasai karakteristik sepeda motor itu dari bahan-bahan yang ada di brosur, belum banyak pengalaman empiric di lapangan. Pada saatnya nanti, ketika Psikologi Islam juga sudah kaya dengan pengalaman empiric,

Psikologi Islam akan bisa menjadi mazhab ke lima setelah Psikologi Humanisme The concept of Islamic Psychology Sebutan insan dalam al Qur’an bermakna manusia sebagai makhluk psikologis, insan berasal dari kata nasiya yansa yang artinya lupa, dari ‘uns yang artinya harmoni dan mesra, dan dari kata nasa yanusu yang artinya bergejolak. Jadi psikologi manusia berada diantara wilayah kesadaran hingga lupa, dari wilayah mesra hingga benci, dan dari wilayah bergejolak hingga tenang. Menurut al Qur’an desain kejiwaan manusia diciptakan Tuhan dengan sangat sempurna, berisi kapasitas-kapasitas kejiwaan; berfikir, merasa dan berkehendak. Jiwa merupakan sistem (disebut sistem nafsani), terdiri dari subsistem ‘Aql, Qalb, Bashirah, Syahwat dan Hawa. 1. ‘Aql (akal) merupakan problem solving capacity, yang kerjanya berfikir dan bisa membedakan yang buruk dari yang baik. Akal bisa menemukan kebenaran tetapi tidak bisa menentukannya, oleh karena itu kebenaran ‘aqly sifatnya relatif. 2. Qalb (hati), merupakan perdana menteri dari sistem nafsani. Dialah yang memimpin kerja jiwa manusia. Ia bisa memahami realita, apa yang aqal mengalami kesulitan. Sesuatu yang tidak rationil masih bisa difahami oleh qalb. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan penyakit; seperti iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian, kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb, ia sering tidak konsisten. 3. Bashirah (hati nurani), adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak konsisten, bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. Bashirah disebut juga sebagai nuraniy, dari kata nur, dalam bahasa Indonesia menjadi hati nurani. Menurut tasauf, bashirah adalah cahaya ketuhanan yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Introspeksi, tangis kesadaran, relegiusitas, god spot, bersumber dari sini. 4. Syahwat adalah motif kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki syahwat terhadap lawan jenis (seksual), bangga terhadap anak-anak, menyukai benda (dan segala sesuatu yang) berharga, kendaraan bagus (gengsi dan kenyamanan), ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu yang manusiawi dan netral. Menunaikan syahwat secara benar dan halal bernilai ibadah. Memanjakan syahwat berpotensi pada dosa dan kejahatan. 5. Hawa (hawa nafsu) adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan tercela. Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan tidak bertanggung jawab, korupsi, sewenangwenang dan sebagainya bersumber dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera menikmati apa yang diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moralitas. Orang yang mematuhi tuntutan hawa, tindakannya cenderung destruktif. Dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, atau menurut teori Freud disebut id. Materi psikologi Islam tersebar di literatur klassik abad pertengahan, dibutuhkan kerja keras mengolah bahan yang baru bernuansa psikologi menjadi psikologi Islam. Jika sekarang masih ada orang yang menganggap Psikologi Islam itu tidak ada, itu karena orang itu belum tahu, persis seperti ketika bank Islam (bank tanpa bunga) diperkenalkan di Indonesia, masyarakat perbankan memustahilkan adanya bank tanpa bunga. Seekarang semua bank konvensional membuka bank Islam ( di Indonesia disebut bank syari`ah), yang pertama buka bernama bank

mu`amalah, terutama setelah terbukti system bank syari’ah paling kuat ketahanannya menghadapi krisis moneter. posted by : Mubarok institute

PEREKAT TALI PERKAWINAN
Untuk memperoleh sakinah atau ketentraman dalam hidup pernikahan, dua orang pasangan suami isteri itu harus bisa menyatu dalam satu ikatan. Menurut al Qur’an surat ar Rum diatas, tali temali perekat pernikahan itu adalah mawaddah dan rahmah, cinta dan kasih sayang. Yang ideal adalah jika antara suami dan isteri diikat oleh perasaan mawaddah dan rahmah sekaligus. Dalam bahasa Arab, mawaddah mengandung arti kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jadi cinta mawaddah adalah perasaan yang mendalam, luas, dan bersih dari pikiran serta kehendak buruk. Sedangkan rahmah mengandung pengertian dorongan psikologis untuk melindungi orang yang tak berdaya.Rumah tangga yang direkat oleh mawaddah dan rahmah adalah pasangan dimana masing-masing secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam untuk memiliki, tapi juga memiliki perasaan iba dan sayang dimana masing-masing terpanggil untuk berkorban dan melindungi pasangannya dari segala hal yang tidak disukainya. Mawaddah dan rahmah itu sangat ideal.Artinya sungguh betapa bahagianya jika pasangan rumah tangga itu diikat oleh mawaddah dan rahmah sekaligus. Sesuatu yang ideal biasanya jarang terjadi. Bagimana jika tidak? Seandainya mawaddahnya putus, perasaan cintanya tidak lagi bergelora, asal masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu masih terpelihara dengan baik. Betapa banyak suami isteri yang sebenarnya kurang dilandasi oleh cinta membara, tetapi karena masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu tetap berjalan baik dan melahirkan generasi yang terpuji. Rahmah yang terpelihara pada akhirnya memang benar-benar mendatangkan rahmat Tuhan berupa mawaddah. Di samping mawaddah dan rahmah, Nabi menggaris bawahi dengan pernyataan bahwa pernikahan adalah amanah. Kata Nabi wa akhaztumuhunna bi amanatillah, artinya: Kalian mengambil pasanganmu sebagai isteri (atau suami) adalah berdasar amanah Allah. Dalam Al Qur’an, amanah diterangkan oleh para ahli tafsir sekurang-kurangnya mengandung tiga arti, yaitu: (1) titipan, (2) tanggung jawab, dan (3) kepatuhan kepada hukum Allah. Amanah mengandung arti tanggungjawab dengan berlaku adil dan rationil seraya menyadari implikasi dan konsekwensi dari apa yang dilakukannya. Isteri adalah amanah Allah kepada suami, suami adalah amanah Allah kepada isteri. Keduanya harus komit kepada hak dan kewajibannya serta menyadari implikasi dan konsekwensi dari apa yang mereka lakukan. Kasus-kasus buruk dalam keluarga pada umumnya bersumber dari tidak dihiraukannya amanah ini. Cinta adalah salah satu sifat Tuhan yang maha Agung, oleh karena itu juga di dalamnya, di dalam cinta ada keagungan, keagungan cinta. Manusia diperintahkan untuk meniru akhlak Tuhan. Dalam hal cinta, orang yang memiliki perasaan cinta dan bisa mencintai adalah manusia yang mulia. Namun cinta itu bertingkat-tingkat. Menurut Imam al Ghazali, ada empat tingkatan kualitas cinta: 1. Ada orang yang hanya mencintai diri sendiri, cinta diri. Segala ukuran kebaikan hanya diukur dengan kepentingan dirinya. Ini adalah cinta yang paling rendah kualitasnya.

2. Ada orang yang mencintai orang lain sepanjang orang itu membawa keuntungan bagi dirinya. Jika keuntungan dari cinta itu sudah tidak ada maka cintanyapun putus. Cinta tingkat ini adalah cinta pedagang, cinta transaksional. 3. Ada orang yang mencintai orang baik, meski ia tidak diuntungkan sedikitpun dari orang yang dicintainya itu. Cinta tingkat ini sudah termasuk cinta yang agung. 4. Ada orang yang mencintai kebaikan murni terlepas dari siapapun yang memiliki kebaikan itu. Cinta tingkat ini adalah yang tertinggi, dan merekalah yang dapat mencintai Tuhan, karena Tuhan itu adalah kebaikan an sich. posted by : Mubarok institute

IMAM SAAT BERIBADAH
Manusia adalah makhluk sosial dan budaya. Salah satu wujud kebudayaan dan kesosialannya, mereka mengenal lembaga kepemimpinan. Di mana pun dan pada zaman kapan pun masyarakat manusia mengenal kepemimpinan. Dalam bahasa Arab, pemimpin disebut imam, amir, ra’is, za’im dan qa’id. Dalam Iingkungan Islam, Imam dipergunakan untuk menyebut pemimpin ibadah dan pemimpin dalam pengertian umum, Amir (umara/amirul mukminin) dipergunakan untuk menyebut panglima, qa’id digunakan untuk menyebut komandan, sedangkan rais digunakan untuk menyebut kepala negara atau Presiden dan za‘im untuk menyebut pemimpin kemasyarakatan (non formal). Agama Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk menjalankan ibadah salat berjamaah. Salat jama’ah dipimpin oleh seorang imam, dan selebihnya menjadi makmum di belakangnya. Dalam salat jamaah, laiknya kepemimpinan dalam masyarakat, juga dikenal kriteria-kriteria (a) siapa yang layak menjadi imam salat, (b) apa etika seorang imam, (c) apa kewajiban makmum, dan (d) hak-hak makmum. Secara fiqhiyyah, siapa saja dengan syarat-syarat tertentu bisa menjadi imam salat, tetapi pada hakekatnya, karena salat merupakan amal ibadah dimana manusia menghadap, melapor dan berdialog dengan Tuhan Yang Maha Agung, maka hanya orang-orang tertentu yang layak menjadi imam salat jamaah. Imam Ghazali dalam Ihya ‘Ulum ad Din, kitab fiqh yang sufistik, menyebut enam kriteria persyaratan etis seorang imam. (1) Mempunyai kredibilitas moral dan senioritas keilmuan agama; Bermakmum kepada orang yang dikenal rendah kredibilitasnya akan membuat makmum tidak dapat tuma’ninah (2) Tidak boleh rangkap jabatan, sebagai muazzin dan imam sekaligus, (3) Sang imam sendiri harus terbiasa disiplin salat awal waktu setiap harinya, (4) Imam harus ikhlas menjalankan amanah Allah, (5) Sebelum bertakbir harus meyakinkan dirinya bahwa barisan makmum di belakangnya telah berbaris rapih, dan (6) bertakbir dengan suara lantang serta membaca Al Qur’an dengan fasih. Shalat berjamaah melambangkan sistem kepemimpinan dalam masyarakat, oleh karena itu, karena seorang imam akan menjadi panutan yang diikuti secara patuh oleh makmum di belakangnya, maka seorang imam harus mengerti aspirasi makmum di belakangnya. Seorang imam salat berjamaah tidak boleh beruku’ atau sujud berlama-lama, karena belum tentu semua makmum di belakangnya sanggup melakukannya. Ia juga tidak boleh membaca ayat Al Qur’an terlalu panjang sekiranya ia tahu bahwa jamaah di belakangnya sedang berpacu dengan berbagai urusan pekerjaan. Imam juga harus memberi peluang makmum menggenapi kekurangannya, yakni diam sejenak sebelum membaca ayat Al Qur’an, memberi kesempatan makmum yang belum sempurna membaca Fatihah. Laiknya sistem kepemimpinan, makmum harus patuh total mengikuti gerak imam yang sudah dipilih secara syah, tidak boleh pula

mendahului gerakan imam, tetapi jika imam melakukan kekeliruan, makmum diberi hak untuk mengingatkan, yakni dengan mengucapkan kalimat Subhanallah. Sebagai imbangan dari keharusan makmum mematuhi imam, seorang imam secara sportif langsung harus mengundurkan diri jika di tengah-tengah salat ia terkena hadas, buang angin misalnya, karena buang angin membatalkan wudu, dan batalnya wudu membuat salatnya tidak sah. “Jabatan” Imam salat sangat tinggi kedudukannya dalam agama, melebihi jabatan muazzin. Tetapi profesi imam bukan bersifat duniawi, oleh karena itu banyak orang justeru merasa tidak layak menjadi imam salat jamaah. Para sahabat dulu juga tidak berebutan untuk menjadi imam, sebaliknya justru saling dorong-mendorong yang lain. Seorang imam salat yang ideal adalah imam yang bisa meneladani perilaku Rasulullah dan sahabat model Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Imam salat adalah teladan bagi makmum, karena semua gerakan imam akan diikuti oleh makmum di belakangnya. Karena itu Imam Ghazali membuat bab tentang imam dengan judul (al-bab fi al imamah wa al qudwah) Bab tentang keimaman dan keteladanan di dalam buku karya utamanya Ihya’. posted by : Mubarok institute

PERANAN PEMIMPIN DALAM MENANGGULANGI KRISIS BANGSA
Al-Qur’an mengabadikan dalam banyak ayat-ayatnya sejumlah nama tokoh/pemimpin masyarakat dari ummat-ummat terdahulu bukan saja pemimpin-pemimpin pahlawan perjuangan kebenaran dan keadilan seperti para nabi dan rasul, tetapi juga diabadikan nama tokoh-tokoh pemimpin kezaliman (ketidak benaran dan ketidak-adilan) seperti Fir‘aun, Haman, Qorun, Namruz dan lain sebagainya. Kita semua ummat zaman akhir ini diajak berfikir dan mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu itu, di antaranya bahwa betapa perilaku yang berubah dalam diri para pemimpin (dari komitmen idealisme ke penyelewengan) berujung pada merajalelanya kezaliman dan penindasan (ketidak-benaran dan ketidak-adilan), dan akhirnya menyeret mereka bersama-sama dengan ummatnya ke dalam suatu perubahan total dimana rakyat ditelan oleh krisis, yang disadari atau tidak mereka para pemimpin telah menjadi faktor penyebabnya. Al-Qur’an kemudian menjelaskan bahwa hal yang demikian — yakni kehidupan jaya yang mereka nikmati berubah menjadi derita — terjadi disebabkan karena terjadinya perubahan yang mereka lakukan atas sikap hidupnya dan perilakunya yang berujung pada kezaliman dan penindasan (Dzalika bi anna Allah lam yaku mughayyiran ni‘matan ’an‘amaha ‘ala qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim, al-Anfal ayat 53). Dengan merujuk petunjuk al-Qur’an tersebut di atas, dapat kita lihat betapa faktor peran pemuka masyarakat menjadi penting dalam suatu perubahan yang terjadi atas sesuatu masyarakat dari suatu kondisi positif beralih ke kondisi negatif. Oleh karena itu, upaya penanggulangan krisis moral yang disadari menjadi pangkal krisis-krisis lainnya yang sedang melanda bangsa dan negara kita dewasa ini, haruslah bertitik tolak dari reformasi moral kepemimpinan. Upaya ini harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan moralitas pemimpin-pemimpin masyarakat/pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat (ulama dan umara). Mereka diharapkan mampu mengembangkan dalam kehidupan pribadinya masing-masing, pola hidup BERSIH, SEDERHANA, dan MENGABDI. Yang lebih penting lagi bagi ulama dan umara adalah upaya menjadikan dirinya (kehidupan pribadinya) suatu keteladanan dan pencerminan yang meyakinkan bahwa penerapan pola kehidupan yang Bersih, Sederhana dan Mengabdi yang merupakan wujud nyata dari moralitas luhur (Akhlak Mulia) itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian, maka masyarakat akan percaya kepada pemuka atau pemimpinnya. Pola hidup BSM (Bersih, Sederhana dan Mengabdi) itu yang perlu dimasyarakatkan dengan kepeloporan para ulama dan umara hingga menjadi moral ekonomi, moral politik dan moral hukum, dan terus diupayakan pengembangannya di sektor-sektor kehidupan lainnya sehingga pada saatnya menjadi Akhlak Bangsa dan Moral Nasional sebagai landasan Pembangunan Nasional. Umara (Para Pemuka Pemerintahan dan Pemuka-Pemuka lainnya) perlu berupaya menciptakan suatu iklim yang kondusif bagi pemasyarakatan dan penyebarluasan pesan-pesan moral (yang terutama ditangani para ulama). Juga dipandang perlu, ulama dan umara secara bersama-sama menyatakan perang terhadap kejahatan dalam suatu kampanye antikejahatan, yang membina terus-menerus upaya menegakkan kedaulatan moral menjadi bagian dari kedaulatan rakyat. Insya Allah taufiq dan ma‘unah-Nya akan senantiasa menyertai bangsa Indonesia. posted by : Mubarok institute ADAB BERDOA Pergaulan manusia mengenal apa yang disebut sopan santun, etika atau adab. Orang yang bergaul secara beradab biasanya lancar dalam bertransaksi, sebaliknya orang yang tidak beradab sering mengalami kesulitan yang tidak perlu terjadi. “Pergaulan” manusia dengan Tuhannya, terlebih ketika sedang mengajukan permohonan atau berdoa, tentulah ada adabnya, ada etikanya. Tanpa adab, boleh jadi doa manusia tak di dengar. Menurut Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum ad Din, ada sepuluh adab yang harus diperhatikan ketika seseorang berdoa kepada Allah. Pertama, pilih waktu yang tepat untuk mengajukan doa. Waktu-waktu yang tepat untuk berdoa antara lain: (1) hari wukuf di Arafah, (2) dalam bulan Ramadlan, (3) pada hari Jum’at, (4) waktu sahur, yakni tengah malam menjelang fajar. Kedua, pilih saat yang baik. Sangat baik orang berdoa ketika: (1) sedang berada di medan perang jihad, (2) ketika sedang turun hujan, (3) ketika pas mendengar iqamat salat fardu, (4) ketika usai salat, (5) ketika sedang menjalankan ibadah puasa, (6) ketika hati dalam keadaan bening, ikhlas, (7) ketika sedang sujud salat. Ketiga, usahakan berdoa sambil menghadap kiblat dan menengadahkan tangan ke atas. Keempat, merendahkan suaranya, antara terdengar dan tidak (oleh telinga). Kelima, jangan memaksakan diri menggunakan kalimat-kalimat puitis. Keenam, Hendaknya berdoa sambil menunduk, merendah, cemas tetapi berharap dikabulkan. Ketujuh, yakinlah bahwa Tuhan mendengar dan akan mengabulkan doa kita. Kedelapan, usahakan mengulang doa, sekurang-kurangnya tiga kali. Kesembilan, memulai doa dengan pujian kepada Allah, jangan langsung meminta sesuatu. Kesepuluh, di samping etika lahir, hendaknya memelihara adab batin, antara lain (1) serius bertaubat, (2) tidak melakukan kejahatan, dan (3) penuh perhatian kepada Allah. posted by : Mubarok institute

PERSAINGAN DI JALAN RAYA
Jika anda ingin mengetahui tabiat manusia, lihatlah perilaku pengendara di jalanan, semuanya berebut untuk mendahului yang lain, sangat sedikit yang secara sengaja mengalah untuk memberi kesempatan kepada orang lain. Lampu merahpun sering diabaikan pengendara jika nampak tidak ada polisi di sana. Apa akibat dari perilaku egois itu ?. Akibatnya adalah kemacetan total yang menyengsarakan orang banyak. Memang di dalam sistem kehidupan, untuk kesejahteraan hidup bersama diperlukan adanya pengorbanan dari pihak-pihak tertentu. Untuk

pesta perkawinanpun ternyata harus ada ayam atau kambing yang dikorbankan, ada juru masak yang sejak kemarin tidak tidur, ada panitia yang bekerja keras dan seterusnya. Negara kita berdiri juga antara lain berkat pengorbanan para pahlawan bangsa. Jika tidak ada satu pihakpun yang bersedia mengorbankan dirinya maka sistem kehidupan menjadi macet, kenyamanan akan berubah menjadi kesumpekan. Dalam agama, kesediaan berkorban demi mengutamakan orang lain disebut itsar. Mengutamakan orang lain meski diri sendiri dalam keadaan sulit merupakan puncak kebajikan. Keutamaan ini, seperti yang disebut al Qur’an, dicontohkan oleh penduduk kota Yatsrib (sahabat-sahabat Ansor) terhadap pengungsi ( Muhajirin) dari Makkah, yakni meski orang Madinah hidup dalam kesulitan (walau kana bihim khashashah), tetapi mereka mengutamakan membantu pengungsi yang datang dari Makkah (Muhajirin). Dengan semangat itsar itulah akhirnya dua kelompok masyarakat, yakni Ansor dan Muhajirin, dibawah bimbingan Rasul berhasil berperan sebagai pilar utama membangun masyarakat Madani , dan kota Yatsrib diubah namanya menjadi Madinah al Munawwarah (kota masyarakat berbudaya tinggi yang tercerahkan). Kesediaan berkorban demi kesejahteraan bersama memang merupakan karakteristik masyarakat berbudaya tinggi. Krisis multi dimensi yang terjadi di negeri kita antara lain disebabkan karena kuatnya egoisme dan lemahnya itsar. Penguasa politik all out mempertahankan posisinya sambil menekan habis peluang aspirasi politik lawan, pengusaha besar mengekploitasi habis semua peluang ekonomi sambil mendesak ke pinggir peluang ekonomi kecil, birokrat memusatkan perhatiannya pada interst pribadi sambil menutup mata atas bencana yang menimpa bangsa, semuanya persis seperti perilaku pengendara lalu lintas di jalanan. Puncak dari egoisme itulah yang menyebabkan kehidupan sekarang bagaikan kemacetan lalu lintas, macet politik, macet ekonomi dan macet budaya. Semua mengeluh tentang narkoba, tetapi semua tak berdaya untuk melakukan sesuatu, semua mengeluh tentang siaran televisi yang sangat vulgar pornografi, tetapi seperti tak ada jalan untuk menghentikannya, semua mengeluh tentang harga diri bangsa yang diinjak-injak asing, tetapi semuanya hanya berhenti pada mengeluh, bahkan semua mengeluh tentang kepemimpinan nasional, tetapi semua tejebak dalam kemacetan politik. Untuk menghindari kemacetan, harus banyak dibuka jalan alternatif, rambu-rambu lalu lintas harus ditempatkan di tempat yang strategis dan harus dijamin efektifitasnya oleh perangkat hukum. Begitu pula dalam kehidupan secara umum. Jendela katarsis harus terbuka, sistem harus berjalan fair, dan pemihakan kepada si lemah harus melekat dalam sistem.Untuk mengarah ke sana pasti ada pihak-pihak tertentu yang harus siap berkorban. Jika semuanya tak mau berkorban, jangan berharap krisis bangsa ini akan berakhir. Wallohu a`lam. posted by : Mubarok institute

SHALAT SEBAGAI ZIKIR
Surat Thaha/20:14 secara tegas menyatakan tujuan shalat yaitu agar manusia selalu ingat kepada Allah SWT, waqim as shalata li zikri, dirikanlah shalat untuk mengingatKu. Dengan demikian maka salat secara fungsional memang dimaksud agar manusia selalu ingat kepada Allah SWT. Mengapa shalat diwajibkan lima kali sehari, nampaknya relevan dengan tabiat manusia yang suka pelupa dan mudah tergoda merespon stimulus buruk yang datang silih berganti. Seluruh bacaan shalat yang diajarkan oleh Nabi juga berisi zikir kepada Allah SWT, baik bentuk pujian maupun doa. Kalimat zikir mengandung arti mengingat dan menyebut. Bagi orang awam, sekurang-kurangnya

ada lima event setiap harinya menyebut nama Allah SWT. Bagi orang alim dan arif, shalat lima waktu berfungsi sebagai rangkaian waktu yang memelihara keakraban hubungannya dengan Allah Robb al ‘Izzati. Bagi yang termasuk kategori ‘arifin, pusat perhatian dalam hidupnya adalah shalat dan menunggu datangnya waktu shalat berikutnya, sehingga tak sedikitpun ada jeda dari mengingat Allah SWT. posted by : Mubarok institute

KENAPA KITA MESTI BERDOA?
Sejak alam barzah manusia sudah disain oleh Sang Pencipta sebagai makhluk yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa (Q/7:172). Oleh karena itu naluri manusia cenderung mencari perlindungan kepada Yang Maha Kuat, terutama ketika sedang merasa terancam. Bukan hanya orang beragama orang atheis pun ketika melepas prajuritnya ke medan perang, mereka mengucapkan "Semoga kalian menang perang.". Kalimat semoga adalah ungkapan religius, ungkapan doa, yakni mengharapkan campur tangan kekuatan gaib yang diyakini lebih besar dibanding kekuatan manusia. Dalam perspektif way of life seorang muslim, kehadiran manusia dimuka bumi diberi status sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Allah yang diberi amanat untuk menegakkan keberana dalam kehidupan manusia untuk mencvapai ridha Allah sebagai tujuan hidupnya. Untuk mencapai itu manusia diberi alat hidup, yaitu dirinya, fisik maupun psikis dan harta atau alam yang memang disediakan Tuhan sebagai fasilitas. Dengan potensi itu manusia menjadi makhluk yang paling besar peluangnya menjadi yang terhebat dimuka bumi. Akan tetapi disis lain, manusia juga diberi status oleh Allah SWT sebagai abdun, sebagai hamba yang memiliki serba keterbatasan dan Allah tidak menciptakan manusia kecuali agar mengakui dirinya sebagai abdun, yang harus mengabdi atau beribadah, menyembah kepada Sang Pencipta (Q/51:56). Inilah status kembar manusia dihadapan Allah SWT. Di satu sisi manusia adalah besar, karena memiliki tanggungjawab dan wewenang yang besar dan menjadi wakil Allah SWT Yang Maha Besar. disisi lainnya manusia adalah kecil, karena seorang hamba yang lemah, terbatas dan hidupnya sangat bergantung kepada berbagai faktor. Manusia akan menjadi kuat apabila ia menempel kepada kekuatan Allah SWT Yang Maha Kuat. Ia selalu berkata bahwa tiada daya dan kekuatan yang effektif tanpa seizin Allah Yang Maha Agung. "La haula wala quwwata illa billah al'aliyy al'Azim. Sebaliknya manusia akan diperdaya dan dipermainkan oleh perbuatannya sendiri yang menipu, jika ia jauh dari ridha dan Rahmat Allah SWT. Allah akan mengangkat martabat manusia yang rendah hati dan akan menjatuhkan kedalam kehinaan terhadap manusia yang menyombongkan diri. Disinilah medan seni antara usaha dan doa. Disatu sisi, al-quran banyak sekali memerintahkan manusia agar bekerja dan berusaha tetapi disisi lain al-Quran juga memerintahkan agar orang bertawakal (berpasrah diri kepada Allah SWT) atas hasil dari pekerjaan dan usahanya. Disamping menyuruh bekerja, alQuran juga menyuruhnya untuk berdoa kepada Allah SWT, disertai jaminan bahwa Allah akan mengabulkan doa manusia (Q/40:60) karena Allah SWT memang mendengarkan doa-doa hambanya(Q/14:39) Sabda Nabi, doa adalah sumsumnya ibadah, "ad du'a much chul 'ibadah." Dalam realitas kehidupan sebagaimana yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini bisa terjadi, banyak tentara tidak menjamin ketahanan nasional, banyak polisi tidak menjamin keamanan, banyak sumberdaya alam tidak menjamin kemakmuran, banyak orang pandai tidak menjamin

keberhasilan. Dalam perspektif Islam bahwa dikatakan penentu keberhasilan pembangunan bangsa bukan ditentukan oleh unsur-unsur tersebut diatas namun oleh doa seorang hamba yang dekat kepada Allah SWT. Ada sebuah hadist, bahwa dimuka bumi ini ada beberapa orang yang penampilan "kumuh", tidak memiliki status sosial tetapi jika ia sudah menengadahkan tangannya kepada Allah SWT maka doanya itulah yang signifikan menyelesaikan masalah bangsa bukan oleh elit-elit bangsa (in aqsama 'alallah la abarruhu). Siapa orang itu? Dia adalah orang taqwa, kekasih Allah SWT tetapi ia tersembunyi identitas sebenarnya. Jika dia berada didekat kita, tak seorangpun mengenalnya, tetapi jika dia tidak ada maka ia selalu dicari-cari. fenomena kita mengenal doa politik, ada istighotsah kubra dan doa-doa masal lainnya, yang tujuannya mencari solusi spirittual atas problem bangsa yang rumit. Mengapa doa-doa tersebut sepertinya tidak didengar? Inilah yang harus menjadi renungan kita bersama-sama, janganjangan doa yang kita panjatkan tidak ikhlas atau melanggar koridor sunatullah atau tidak memenuhi adabnya? Wallahu a'lam. posted by : Mubarok institute

KONSELING PERKAWINAN ISLAMI
Oleh : Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA Disampaikan dalam Diklat Calon Penghulu, diselengggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Jakarta (Departemen Agama, Jum`at 14 Juli 2006 Pendahuluan Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa, tetapi terkadang terganggu pikiran dan perasaannya sehingga salah piker dan salah merasa. Ketika seseorang mengidap hal demikian, yakni salah berfikir dan salah merasa, maka ia bisa sedih, bosan, malas, kesepian. Gangguan seperti ini menurut ilmu psikologi disebut gangguan kejiwaan ringan (neurosis atau mental disorder). Jika kesedihan, kebosanan, malas dan kesepian menjadi berkepanjangan hingga ngomong ngawur, perilakunya juga ngawur, nggak bisa dinalar, maka itu namanya gangguan kejiwaan berat (psikosis). Meski demikian ia masih sadar bahwa ia sedang mengalami gangguan jiwa. Jika ia ngomong ngawur dan bertindak ngawur tetapi tidak menyadari, maka orang itu sudah masuk kategori sakit jiwa atau gila.. Orang yang mengidap neurosis banyak yang bisa mengobati diri sendiri atau melalui bantuan konselor, tetapi orang yang sudah mengidap psikosis harus mengikuti terapi mental, sedang orang yang sakit jiwa harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Kehidupan perkawinan Perkawinan dapat disebut menyatukan dua keunikan. Perbedaan watak, karakter, selera dan pengetahuan dari dua orang (suami dan isteri) disatukan dalam rumah tangga, hidup bersama dalam waktu yang lama. Ada pasangan yang cepat menyatu, ada yang lama baru bisa menyatu, ada yang kadang menyatu kadang-kadang bertikai, ada yang selalu bertikai tetapi mereka tak sanggup berpisah. Hanya di tempat tidur mereka menyatu hingga anaknya banyak, tetapi di luar itu mereka selalu bertikai. Kehidupan berumah tangga ada yang berjalan mulus, lancar, sukses dan bahagia, ada yang setelah lama mulus tiba-tiba dilanda badai, ada yang selalu menghadapi ombak dan badai tetapi selalu bisa menyelamatkan diri. Komunikasi antara suami isteri bersifat khas, tidak mesti logis. Hal-hal yang logis justeru sering disalah fahami, karena komunikasi suami isteri tidak semata-mata menggunakan nalar, tetapi

juga sarat dengan muatan perasaan. Hal-hal yang menurut nalar sesungguhnya kecil, bisa saja menjadi sumber prahara rumah tangga jika disikapi dengan sepenuh rasa. Ada suami isteri yang selalu bisa menyelesaikan perselisihan tanpa bantuan orang lain, tetapi banyak suami isteri yang justeru memerlukan bantuan orang lain untuk meluruskan pikiran dan perasaannya. Dalam istilah psikologi, orang yang bisa membantu orang lain mengatasi masalah kejiwaan (al irsyad an nafsy) mereka disebut konselor, dalam bahasa Arab disebut muhtasib. Pengertian konseling Konseling adalah usaha membantu orang yang sedang mengalami ganguan kejiwaan agar mereka bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Yeng membantu disebut konselor, yang dibantu disebut klien. Seorang konselor bukan subyek, karena konselor hanya membantu, subyeknya adalah klien itu sendiri dan obyeknya adalah masalah yang dihadapi. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor antara lain membantu klien untuk ; 1. memahami diri sendiri 2. mengukur kemampuannya 3. mengetahui kesiapan dan kecenderungannya’ 4. memperjelas orientasi, motivasi dan aspirasinya, 5. mengetahui kesulitan dan problem lingkungan dimana ia hidup, serta peluang yang terbuka baginya 6. membantu menggunakan pengetahuan tersebut (1 s/d 5) untuk menetapkan tujuan yang paling kongkrit bagi dirinya 7. mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan kemampuannya, dan memanfaatkan se optimal mungkin potensi yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka. Jika klien nya orang awam, konseling dibutuhkan untuk : 1. membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (life style) yang sesuai dengan aspirasinya 2. menjaga agar mereka tidak terjatuh pada keadaan merasa tidak wajar dan tidak bahagia 3. membantu menentukan pilihan-pilihan 4. membantu meringankan perasaan, frustrasi dn sebangsanya. Sistematika Terapi Psikologis Dalam Konseling Islami Seorang klien yang semula mengidap rasa keterasingan, asing dari diri sendiri, asing dari problem yang dihadapi, asing dari lingkungan hidupnya sehingga ia tidak tahu masalahnya dn tidak berani mengambil tindakan bahkan tidak lagi tahu apa yang diinginkan, dapat dibantu memecahkan persoalannya dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. diajak memahami realita apa sebenarnya yang sedang dihadapi, mislnya ditinggal mati orang yang dicintai, dicerai suami, kehilangan jabatan, kehilangan harta, kehilangan kekasih, sakit yang berklepanjangan, dikhiananti bawahan, dizalimi oleh orang yang selama ini dibantu dan sebagainya; bahwa realita itu adalah benar-benar realita dan harus diterima, suka atau tidak suka karena itu memang realita. 2. Diajak kembali mengenali siapa dirinya, apa posisinya, dan apa kemampuan-kemampuan yang dimiliki. Misalnya diingatkan bahwa ia adalah seorang ayah dari anak-anak yang membutuhkan kehadirannya. Atau bahwa kepandaiannya banyak dibutuhkan orang lain, atau bahwa dia adalah hamba Allah yang tidak bisa menghindar dari kehendak Nya, dan apa yang dialami adalah bagian dari kehendak Nya yang kita belum tahu apa maksud dan hikmahnya. 3. Mengajak klien memahami keadaan yang sedang berlangsung di sekitarnya, bahwa keadaan

memang selalu berubah; misalnya perubahan nilai, perubahan struktur, perubahan zaman, dan bahwa perubahan adalah sunnatullah yang tidak bisa ditolak, tetapi yang penting bagaimana kita mensikapi dan mengantisipasi perubahan itu. 4. Diajak untuk meyakini bahwa Tuhan itu Maha Adil, maha Pengasih, maha Mengetahui, maha Pengampun, dan semua manusia diberi peluang oleh Tuhan. Juga diajak meyakini bahwa dengki, iri hati dan putus asa adalah tercela dan tidak berguna. Bahwa berbuat dan salah itu lebih baik daripada tidak berbuat karena takur salah. Wilayah Konseling Perkawinan Problem diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga biasanya berada di sekitar; 1. Kesulitan memilih jodoh, suami atau isteri 2. ekonomi yang kurang mencukupi 3. perbedaan watak, temperamen dan karakter yang terlalu tajam antara suami dan isteri 4. ketidak puasan dalam hubungan seksual 5. kejenuhan rutinitas 6. hubungan antar keluarga besan yang kurang baik 7. ada orang ketiga, WIL atau PIL 8. masalah harta warisan 9. dominasi orang tua/mertua 10. kesalah pahaman antara suami isteri 11. poligami 12. perceraian Penghulu yang ideal Penghulu bukan hanya petugas pencatat nikah, tetapi jabatan kepenghuluan memiliki wilayah horizontal dan vertical. Oleh karena itu idealnya seorang penghulu bukan saja menguasai bidangbidang tersebut diatas (1 s/d 12) tetapi juga menguasai psikologi keluarga, yang dengan itu penghulu bukan hanya bisa memberi nasehat perkawinan, tetapi juga bisa menjadi konselor perkawinan . Seorang muballigh dituntut untuk mampu berbicara agar orang-orang enak mendengarnya, sedang seorang konselor dituntut untuk sangggup menjadi pendengar yang baik dari keluhan-keluhan klien. Seorang klien terkadang tidak membutuhkan nasehat, tetapi hanya butuh tempat curah perhatian (curhat), karena begitu curhat beban menjadi ringan. Jika sudah merasa ringan kok dinasehati, maka nasehat itu sendiri menjadi beban. Wallohu a`lamu bissawab. posted by : Mubarok institute

UKHUWAH PLURALIS
Sungguh bahwa allah SWT menempatkan manusia keseluruhan sebagai Bani Adam dalam kedudukan yang mulia, "Walaqad karramna Bani Adam." (Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan identitas yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat yang satu dengan yang lainnya (Q/49:13). Tiap-tiap umat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Tuhan mau, seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan umat. Allah SWT menciptakan perbedaan itu untuk memberikan peluang berkompetisi secara sehat dalam menggapai kebajikan, "fastabiqul khairat."(Q/5:48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh rasul SAW, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara satu dengan yang lainnya, "Wakunu 'ibadallahi ikhwana."(Hadist Bukhari).

Dalam bahasa arab, ada kalimat "ukhuwah."(Persaudaraan), ada kalimat "ikhwah"(saudara seketurunan) dan "ikhwan" (saudara bukan seketurunan). Dalam quran kata "akhu"(saudara) digunakan untuk menyebut saudara kandung atau seketurunan(Q/4:23), saudara sebangsa(Q/7:65) saudara semasyarakat walau berselisih faham(Q/38:23) dan saudara seiman(Q49:10). Quran bukan hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) tetapi bahkan menyebut binatang dan burung sebagai umat seperti manusia (Q/6:38). Sebagai saudara semakhluk (ukhuwah makhluqiyah) Istilah "ukhuwah islamiyah." bukan bermakna persaudaraan antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Oleh karena itu cakupannya "ukhuwah Islamiyyah"bukan hanya menyangkut sesama orang Islam namun juga menyangkut dengan non Muslim bahkan makhluk yang lainnya. Misalnya, seorang pemiliki kuda, tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk ajaran ukhuwwah Islamiyyah. bagaimana seorang muslim bergaul dengan kuda miliknya. Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Quran dan Hadist sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwah yaitu: 1. Khuwah 'ubudiyyah: Persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah SWT. 2. Ukhuwah Insaniyyah atau basyariyyah: Persaudaraan karena sama-sama manusia secara keseluruhan. 3. Ukhuwah wathaniyyah wa an nasab: Persaudaraan karena keterikatan keturuanan dan kebangsaan. 4. Ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama. Bagaimana ukhuwah berlangsaung, tak lepas dari faktor penunjang. Faktor penunjang signifikan membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan, baik persamaan rasa maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwahnya. Ukhuwa biasanya melahirkan aksi solidaritas. Contohnya diantara kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan perasaan, yakni sama-sama merasa menderita. Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan kesadaran untuk saling membantu. Petunjuk al-Quran Tentang Ukhuwah 1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam melakukan kebajikan, meski mereka berbeda agama, ideologi, status: "fastaqul khairat."(Q/5:48). Jangan berfikir menjadi manusia dalam kesaragaman, memaksa orang lain untuk berpendirian seperti kita. Misalnya, Allah SWT menciptakan kita perbedaan sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang memberikan kontribusi terbesar dalam kebajikan 2. Memelihara amanah (tanggung jawab) sebagai khalifah Allah dimuka bumi, dimana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38:26). Serta memelihara keseimbangan lingkungan alam (Q/112:4). 3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain "lakum dinukum wliyadin." (Q/112:4). Tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran akan terbuka nanti dihadapan Allah SWT(Q/42:15). 4. Meski berbeda ideologi dan pandangan tetapi harus berusaha mencari titik temu, "kalimatin sawa" tidak bermusuhan seraya mengakui eksistensi masing-masing(Q/3:64). 5. Tidak mengapa bekerjasa dengan pihak yang berbeda pendirian dalam hal kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan, dan tidak saling menimbulkan

kerugian.(Q/60:8) Dalam hal kebutuhan pokok (mengatasi kelaparana, bencana alam, wabah penyakit). Solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama, etnis dan identitas lainnya (Q/2:272). 6. Tidak memandang rendah kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci mereka (Q/49:11) 7. Jika ada persilihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk kepada petunjuk al-Quran dan Sunah Nabi SAW. (Q/4:59) al-Quran menyebut bahwa pada hakekatnya seorang mukin itu bersaudara seperti saudara sekandung, "innamal mu'minuna ikhwah." (Q/49/10). Hadist nabi bahwa memisalkan hubungan antara mukmin itu bagaikan hubungan anggota badan dalam satu tubuh dimana jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain juga merasa sakit. Nabi juga mengingatkan bahwa hendaknya diantara sesama manusia tidak mengembangkan fikiran negatif (buruk sangka), tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak saling mendengki, tidak saling membenci, tidak saling membelakangi tetapi kembangkanlah persaudaraan (HR Abu Hurairah). Meskipun demikian persaudaraan dan solidaritasnya harus berpijak pada kebenaran, bukan mentang-mentang saudara lalu buta terhadap masalah. al-Quran mengingatkan kepada orang mukmin agar tidak tergoda untyuk melakukan perbuatan melampaui batas ketika orang lain melakukan hal yang sama kepada mereka. Sesama mukmin diperintahkan bekerjasama dalam hal kebajikan dan taqwa serta dilarang bekerjasama dalam membela perbuatan dosa dan permusuhan. "Ta'awanu 'alal birri wat taqwa wala ta'awanu 'alal istmi wal 'udwan." (Q5:2) Wallohu a'lamu bissawab. posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI SHALAT
Kualitas shalat seseorang diukur dari tingkat kekhusyu'annya. Shalat dapat disebut sebagai zikir manalakala orang yang shalatnya itu menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan dalam shalatnya. Karena zikir itu sendiri adalah kesadaran. Lawan dari zikir adalah lalai, oleh karena itu Quran juga mengingatkan orang yang berzikir(shalat) agar jangan lalai, "wala takun min alghafilin" (Q/7:205). Shalatnya orang yang lalai pasti tidak efektif karena tidak komunikatif. Hadist riwayat abu Hurairah menyebutkan betapa banyak orang yang shalat tetapi tidak memperoleh apa-apa selain capek dan lelah. "Kam min qa imin hazzuhu min shalatihi at ta'abu wa an nasobu." shalat sebagai zikir bukan kata-kata, ruku' dan sujud tetapi dialog, muhawarah dan munajat seorang Hamba dengan Tuhannya. Kuncinya dari muhawarah dan munajat adalah kehadiran hati, "hudur al qalb" dalam shalatnya. Jadi khusyu' adalah hadirnya hati dalam setiap aktifitas shalat. Makna shalat terletak pada seberapa besar kehadiran hati didalamnya. Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menyebutkan enam makna batin yang dapat menyempurnakan makna shalat yaitu (1)Kehadiran hati, (2) Kefahaman, (3)Ta'zim, mengagungkan Allah SWT (4) Segan, haibah (5)Berharap, roja (6)Malu. Disamping enam hal yang bersifat maknawi bagi orang awam masih dibutuhkan situasi fisik yang kondusif untuk shalat, agarperhatiannya tidak terpecahsehingga hatinya hadir. Bagi yang sudah kuat konsentrasinya maka lingkungan fisik tidak lagi menjadi stimulus yang mengganggu, apa yang bagi orang awam, sesuatu yang didengar, yang dilihat, justru menarik perhatiannya,

lupa kepada Allah SWT yang sedang diajak berbicara. Demikian juga bagi orang banyak problem yang tidak halal, ruang gelap, ruang kosong, menutup mata dan menutup telinga tidak akan membantu mengkonsentrasikan hatinya kepada Allah SWT, karena dua hal yang bertentangan. posted by : Mubarok institute

PROBLEM DUNIA PENDIDIKAN KITA
Sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua hal: Pertama, oleh faktor hereditas, faktor keturunan. Manusia Indonesia dewasa ini adalah terunan langsung manusia Indonesia generasi 45 dan cucu gerenasi 1928, cicitnya generasi 1912. Menurut Ibn Khaldun, jatuhnya bangun bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama, generasi pendobrak. Kedua, generasi pembangun. Ketiga, generasi penikmat. Jika pada bangsa ini sudah banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati pembangunan, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu mengalami kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad, yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini bahwa baru setengah abad lebih, ketika generasi pendobrak masih satu dua yang hidup, ketika generasi pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah muncul sangat banyak generasi penimat dan mereka bukan hanya kurang terpelajar tetapi justru kebanyakkan kelompok terpelajar. Salah didikkah mereka? Kedua, Dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membangun jiwa bangsa Indonesia. Lalu apa yang salah pada pendidikan generasi ini? Sekurangnya ada sembilan poin kekeliruan pendidikan nasional kita selama ini, meliputi: (a) Pengelolaan pendidikan dimasa lampau terlalu berlebihan pada aspek kognitif, mengabaikan dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkan generasi split personality, kepribadian yang pecah. (b) Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya memandang Jakarta (Ibukota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar didaerah masing-masing. (c) Gagal melahirkan lulusan SDM yang siap berkompetisi didunia global. (d) Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang berdispilin. (e) pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan Hak-Hak Azasi Manusia. Sebagai contoh, pada masa orde baru, guru negeri disekolah lingkungan diknas mencapai 1 guru untuk 14 siswa, namun di madrasah (depag) 1 guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan SMA Negeri mencapai Rp.400. ribu/siswa/tahun sementara madrasah Aliyah hanya 4.000/siswa/tahun. (f)Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh. (g)Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomi daerah. (h) Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.

(i) Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan melalui PPKN terlalu kering sehingga kontraproduktif. Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional ini sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit, yakni: 1. generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki imanjinasi idealistik. 2. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global. 3. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif. 4. Masyarakat luas mudah bertindak anarkis. 5. Sumber daya alam (terutama Hutan) yang rusak parah. 6. Cendikiawan yang hipokrit. 7. Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair. 8. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan. 9. Merajalelanya tokoh pemimpin yang bermoral rendah. 10. pemimpin daerah yang kebingungan . Bupati daerah minus tetap berharap kucuran dari pusat, bupati plus menghambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak strategis. posted by : Mubarok institute

AGAMA DAN GANGGUAN KEJIWAAN
Oleh : Prof.Dr. Achmad Mubarok, MA Disampaikan dalam Seminar Umum yang dikerjasamakan oleh Kajian Kang Jalal dengan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, di Jakarta, 7 Juli 2006 Pendahuluan Sesungguhnya sudah menjadi tabiat kehidupan bahwa ada orang sehat dan ada orang sakit, ada orang normal dan ada yang abnormal, ada yang memiliki tingkat kesehatan mental sangat tinggi, ada yang lemah mental. Ada yang jiwanya sehat, ada yang terganggu kejiwaannya dan bahkan ada yang sakit jiwa. Masalahnya menjadi heboh ketika ada orang yang terpelajar dan dikenal sebagai orang yang mengerti agama serta menjalankan ibadah agamanya secara taat tetapi melakukan sesuatu yang menurut suatu ukuran disebabkan karena mengidap gangguan kejiwaan. Publik menjadi sangat tergoda untuk mengetahui, adakah hubungan antara corak keberagamaan seseorang dengan perilaku menyimpang? Makalah ini bukan membahas kasus yang terjadi di Bandung beberapa waktu yang lalu karena penulis tidak mengenal mereka, meski ide penyelenggaraan seminar ini dari kasus tersebut. Konsep Sehat wal Afiat Term sehat wal afiat biasanya digunakan untuk menyebut tingkat kesehatan yang prima, terkadang hanya untuk menyebut kesehatan fisik, terkadang dimaksud untuk menyebut kesehatan lahir batin. Tetapi jika kita melacak asal-usul istilah itu, maka sesungguhnya ada perbedaan yang nyata antara sehat dan afiat. Sehat (al shihhah) merujuk kepada fungsi, sedang afiat (al `afiyah) merujuk kepada maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang berfungsi untuk melihat tanpa membutuhkan alat Bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang mudah untuk melihat obyek yang halal, tetapi susah untuk melihat obyek yang diharamkan –ngintip misalnya- karena maksud diciptakannya mata adalah untuk membantu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Begitulah

seterusnya pada telinga, kaki, tangan dan seluruh anggauta badan. Dengan demikian maka suami yang perkasa di rumah saja, maka ia adalah suami yang sehat wal afiat, tetapi jika di luar rumah juga perkasa, maka ia adalah suami yang sehat tetapi tidak ,afiat. Oleh karena itu sesudah salat witir kita diajarkan untuk berdoa, Allohumma inna nas aluka al `afiyah, wa nas aluka tamam al `afiyah, wanas aluka as syukra `ala al fiyah.. Jadi sehat wal `afiyat sesungguhnya juga mencakup kesehatan mental. Agama Sebagai Konsep Sesungguhnya agama –dalam hal ini Islam- adalah konsep hidup yang disusun oleh Tuhan untuk manusia. Sebagai konsep yang disusun oleh Tuhan yang Maha Sempurna, konsep Islam pastilah sempurna, dan ia terpelihara di lauh mahfudz (langit) yang duplikatnya bisa digali dari wahyu al Qur’an. Jika orang mengatakan Islam adalah sempurna dan benar secara mutlak, (al islamu ya`lu wa la yu`la `alaih) maka yang dimaksud adalah dalam pengertian ini. Ketika konsep itu diturunkan ke muka bumi dan dicontohkan oleh Muhammad s.a.w sebagai utusan Tuhan, maka pada tingkat ini Islam juga sempurna dan benar secara mutlak. Tetapi apa yang diperspesi oleh para sahabat (masyarakat Islam pertama) tidak lagi bersifat sempurna dan tidak lagi mengandung kemutlakan, karena pemahaman manusia yang kodratnya tidak sempurna tidak pernah sempurna. Pemahaman para sahabat Nabi, bahkan sahabat besar seperti Abu baker, Umar, Usman dan Ali apa lagi sahabat-sahabat lain, dipengaruhi oleh karakter, kapasitas intelektual dan frekwensi komunikasi mereka dengan Rasul.Dari itu maka kita sudah dapat membedakan karakteristik sosok Abu baker yang ektrim lembut dan sosok Umar bin Khattab yang ektrim keras. Kita pun dapat melihat adanya perbedaan pendapat bahkan konflik antar sahabat. Tetapi kedekatan psikologi mereka dengan Rasul, tarikan cinta masih lebih kuat disbanding tarikan interest. Oleh karena itu Nabi menggambarkan perbedaan para sahabat dengan ragam bintang di langit, sahabat2wku semua itu ibarat bintang gemintang di langit, dengan siapapun kalian mengikuti, kalian akan memperoleh petunjuk (ashaby ka an nujum, biayyi iqtadaitum ihtadaitum). Pada saat generasi sahabat sudah habis, para ulama menjadi dominant. Konsep Islam dikembangkan melalui ijtihad, dengan sumber teks al Qur’an dan tradisi Nabi. Pada tingkat ini sudah barang tentu konsep Islam sudah tidak lagi “sempurna” karena ijtihad memang tidak melahirkan kesempurnaan. Lahirnya mazhab-mazhab menunjukkan ketidak sempurnaan konsep tetapi sekaligus menunjukkan fleksibelitas ajaran Islam, karena kata Nabi, ijtihad yang benar memperoleh pahala dua, ijtihad yang salah memperoleh pahala satu. Berikutnya, konsep Islam bercampur dengan budaya masyarakat kaum muslimin, ada yang lebih kental sebagai budaya Islam, ada juga yang sudah bisa disebut sebagai budaya muslimin. Corak Keberagamaan Manusia memiliki karakteristik psikologis yang berbeda-beda, yang berdampak pula pada perbedaan karakteristik keberagamaannya. Dalam perspektip Psikologi Islam, system nafsani manusia bekerja dengan sinergi subsitem `aql, qalb, bashirah, syahwat dan hawa. `Aql (akal) merupakan problem solving capacity yang kerjanya berfikir, Qalb (hati) merupakan alat untuk memahami realita, Bashirah (nurani) merupakan cahaya ketuhanan yang ada dalam hati (nurun yaqdzifuhulloh fi al qalbi), syahwat merupakan penggerak tingkah laku (motiv) dan hawa (hawa nafsu)merupakan penguji system. Orang yang lebih menggunakan akalnya biasa logic, terkadang kering, orang yang lebih menggunakan hatinya biasanya perasa, orang yang lebih mengunakan nuraninya biasanya pilihannya selalu tepat, orang yang lebih memanjakan syahwatnya mudah tergoda oleh kemewahan, dan orang yang lebih mengikuti hawa nafsunya cenderung sesat dan

destruktip. Nah beregamaan seseorang juga diwarnai oleh karakteristik kejiwaannya, apakah lebih logic, lebih perasa, lebih mengikuti cahaya, lebih mengabdi syahwat atau lebih mengikuti hawa nafsu. Keberagamaan Yang Logik. Produk logika agama adalah pada ilmu yang bernama fiqh. Ilmu fiqh selalu menggunakan ilmu manthiq (logika) dalam merumuskan hokum-hukumnya, sah tidak sah, halal, haram dan seterusnya. Ketika orang yang berfiqih juga kuat dorongan syahwatnya maka ia bias menjadi munafiq, karena dalil agama bias dibelokkan menjadi halal atau haram bergantung kepada interestnya. Keberagamaan yang penuh perasaan Setiap kali ummat dilanda krisis materialisme (hubbul mal wal jah) maka fenomena tasauf selalu muncul.Tasauf merupakan olah rasa dimana merasa dekat dengan Tuhan lebih diutamakan daripada kebenaran logic. Nah ketika seorang mutasawwif sudah sama sekali tidak memperhatikan logika (fiqh atau syari’at) maka ketika itulah ia berpeluang menjadi zindiq, menjadi kafir, karena ia tertipu oleh perasaannya. Ia merasa sudah mikraj ke langit, padahal ia berada di dalam ruang simulasi jin atau syaitan. Keberagamaan Yang Syahwati Manusia dilengkapi Tuhan dengan dorongan syahwat atas lain jenis (seksual)anak-anak (kebanggaan naluriah), benda berharga (manfaat dan gengsi), kendaraan bagus (manfaat dan gengsi) ternak dan lading (manfaat dan gengsi). Orang sering tak sadar, dalam ekpressi keagamaan sesunguhnya mereka didorong oleh motiv syahwati. Ia merasa sangat bersemangat dalam membela syi`ar agama, tanpa disadari (dalam alam bawah sadar) mereka sesungguhnya sedang melakukan pemenuhan syahwat. Bahkan ketika mereka berteriak-teriak membela agama dari ancaman luar, sesungguhnya mereka sedang mengamankan kepentingan syahwat sendiri. Keberagamaan hawiyyi (mengikuti hawa nafsu) Ali bin Abi Talib r.a. ketika dalam medan perang jihad sudah hampir berhasil membunuh musuh. Tiba-tiba si kafir yang sudah terpojok meludahi wajah Ali dengan ludah yang banyak. Spontan Ali terusik perasaannya dan marah. Begitu sadar sedang dalam kemarahan, maka Ali mengalihkan jihadnya dari membunuh musuh ke menekan hawa nafsunya agar tidak membunuh ketika hati sedang marah, dan musuhnya justeru disuruh pergi dari mukanya. Mengapa Ali berbuat demikian ? karena jika Ali membunuh musuh dalam keadaan marah karena diludahi, maka ia tidak lagi sedang berjihad di jalan Allah, tetapi di jalan syaitan, karena marah (ghadlab) memang media syaitan dalam menyesatkan manusia. Nah bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Amrozi cs., apakah mereka sedang berjihad atau sedang melakukan perilaku menyimpang. Memerangi hawa nafsu itulah jihad al akbar (perjuangan besar) sedangkan perang fisik adalah jihad al asghar (perjuangan kecil). Keberagamaan yang nuraniyy Nuraniyyun artinya bersifat cahaya. Nurani atau hati nurani dalam al Qur’an disebut bashirah yang artinya pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Nurani bercahaya manakala hati bersih dari kotoran batin. Cahaya nurani dapat menembus sekat-sekat ruang dan waktu , sehingga ia seperti bisa meramalkan masa depan. Dalam bahasa tasauf, orang yang nuraninya hidup dapat melihat dengan penglihatan Tuhan dan dapat mendengar dengan

pendengaran Tuhan. Cahaya nurani redup oleh dosa kecil, dan tertutup oleh keserakahan dan maksiat. Orang yang keberagamaanya bersifat nuraniyy pada umumnya ia akrab dengan penderitaan manusia, dan bahkan makhluk. Cahaya nurani merupakan perwujudan dari rahmat Allah dimana ia memperolehnya karena ia menyayangi makhluk Alloh. Hal ini selalu diingatkan oleh Nabi, sayangi yang di bumi, niscaya Tuhan yang di langit menyayangimu, irhamu man fi al ardhi yarhamukum man fi as sama. Orang yang sadis kepada hewan apalagi kepada manusia pasti nuraninya mati. Jika orang nuraninya mati maka ia seperti orang yang berjalan di tengah kegelapan, dan karena kegelapan ia tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kegelapan dalam bahasa Arab disebut dzulm-dzulumat, orangnya disebut dzalim.. Praktek terorisme misalnya dapat dilihat akar sejarahnya pada tokoh Syi`ah ekstrim Hasan bin Sabah dari sekte Hassyasyin (1057) yang diberi gelar The Old Man of The Mountain in Alamut (dekat laut Kaspia) yang mengorganisir pemuda untuk melakukan pembunuhan terhadap lawan-lawan politiknya secara tiba-tiba dengan terlebih dahulu menggunakan hasyis/narkoba. Beragama secara sehat Kita tidak boleh mengklaim diri sebagai yang terbenar, karena kebenaran hanya milik Alloh, tetapi kita dianjurkan untuk selalu mendekati kebenaran sambil tetap mengakui bahwa hanya Allah yang paling tahu terhadap kebenaran (wallohu a`lamu bi as shawab). Ukuran kebenaran beragama secara keilmuan adalah apabila kita berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnnah Rasul, dan dalam mencari kebenaran tetap mengikuti system pemahaman (ijtihad) yang telah dibangun oleh para pendahulu kita. Beragama yang sehat adalah beragama yang mengikuti panduan secara komprehensip, vertical dan horizontal, bahkan internal. Perilaku menyimpang dari orang beragama bisa karena gangguan kejiwaan atau karena sesat piker dan salah merasa. Oleh karena itu orang beragama dalam hidupnya harus bisa berfikir sehat (logic), senang bertafakkur dan jangan lupa tadabbur. Olah rasa(tasauf) harus berdiri diatas landasan syari`ah, beragama juga harus berilmu; Mengutip Murtadla Muthahhari dalam buku Allah fi Hayat al Insan, hubungan agama dan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut : Ilmu mempercepat anda sampai ke tujuan Agama menentukan arah yang dituju Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkunganya Agama menyesuaikan manusia dengan jati dirinya Ilmu hiasan lahir, sedangkan agama hiasan batin Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan Agama memberi harapan dan dorongan bagi jiwa Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “bagaimana” Agama menjawab, yang dimulai dengan “mengapa” Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya Sedang agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya yang tulus. Wallohu a`lam posted by : Mubarok institute

PSIKOLOGI AMANAH
Ada dua term yang berdekatan yaitu Siddiq dan Amanah. Shiddiq berarti benar dan jujur sedangkan amanah berarti bertanggungjawab. Dalam bahasa Indonesia, amanah sering diterjemahkan jujur. Jujur lebih merupakan "sifat dalam" yang bernuansa lurus. Amanah lebih merupakan aplikasi tanggungjawab dalam kehidupan. Terkadang jujur berkonotasi negatif. "Jujur amat lu." Satu kejujuran yang bernuansa lurus naif, dan memang orang yang naif (o'on), biasanya jujur dalam segala hal sampai yang rahasiapun dibuka apa adanya. Sedangkan amanah lebih mengedepankan tanggungjawab dan sadar akan resiko, oleh karena itu orang yang amanah akan

menseleksi apa-apa yang bisa dikatakan sejujurnya dan apa-apa yang tidak perlu dikatakan. Dalam bahasa sehari-hari, karakteristik orang yang jujur sering digambarkan sebagai orang yang tidak suka bohong, bisa dipercaya dan gaya hidupnya lurus. Kebalikkan dari sifat jujur adalah suka dusta dan berkhianat, oleh karena itu gaya hidupnya penuh tipudaya. Sifat amanah dan contoh orang jujur disebut dalam Quran adalah Nabi Muhammad dan Nabi Musa. Pada masa mudanya Muhammad diberi gelar oleh masyarakatnya dengan sebutan al-Amin. Muhammad alAmin artinya orang yang amanah. yang dapat dipercaya. Predikat ini diberikan oleh masyarakat karena belum pernah menjumpai Muhammad berdusta. Apapun yang dikatakan oleh Muhammad, masyarakat pasti percaya. Karena selama hidupnya muhammad tak pernah dijumpai berdusta. Sementara Nabi Musa disebut juga sebagai sosok yang kuat dan jujur (al qawiyyu al amin Q/al Qasas:26) Dalam bahasa Arab maupun istilah syara' amanah mengandung banyak arti tetapi secara umum seorang yang berakhlak amanah atau jujur adalah orang yang bisa memelihara hak-hak Allah dan hak-hak manusia pada dirinya, yang dengan itu ia tidak pernah menyia-nyiakan tugas yang diembannya baik tugas ibadah maupun muamalah. Amanah juga berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak dan patut. Dari pengertian ini maka secara lebih rinci, karakter orang yang jujur atau amanah adalah sebagai berikut: (a) Bisa memikul tanggungjawab dari apa yang menjadi kewajibannay. (b) Menempatkan orang dalam tugas sesuai dengan kapabilitasnya bukan karena pertimbangan keuntungan yang tersebunyi atau nepotisme. (c) Jika diberi titipan ia bisa menjaga apa yang dititipkan dalam keadaan utuh. (d) Jika menjalankan tugas ia tidak mengambil keuntungan pribadi dari tugas itu (korupsi) (e) Tidak menyembunyikan apa-apa yang mestinya dibayarkan baik menyangkut hubungan dengan Tuhan (zakat) dengan negara (pajak) maupun dengan keluarga (nafkah). (f) Mampu menyimpan apa yang harus dirahasiakan, baik rahasia tugas maupun rahasia kehormatan. (g) Jika berjanji ia menunaikan janjinya. Kejujuran merupakan nurani yang ada didalam hati, bukan pengetahuan yang ada difikiran. Oleh karena itu pengetahuan agama, pengetahuan tentang nilai kejujuran tidak cukup untuk membuat orang menjadi jujur. Kejujuran tidak berlangsung begitu saja tetapi membutuhkan dukungan infrastruktur yang kondusif untuk itu. Tak jarang orang baik benar-benar jujur kemudian hilang kejujurannya ketika ia memikul tanggungjawab tugas yang menggoda tanpa sistem pengawasan yang memadai. Manajemen Kejujuran Meskipun fitrah manusia pada dasarnya baik, jujur, lugu, berketuhanan dan memiliki rasa keadilan tetapi ia juga memiliki syahwat dan nafsu yang cenderung menuntut pemuasan mendesak. Sudah menjadi sunnah kehiduapn bahwa daya tarik keburukan itu lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan. Untuk menggapai kebaikan orang harus berfikir dengan skala jauh, sementara keburukan justru menggoda dengan argumen praktis dan langsung dengan slogan "yang penting sekarang." Banyak orang mendalami ilmu kebaikan dalam kurun waktu yang panjang hingga menguasai teori dan hukum-hukumnya tetapi tiba-tiba ia terjerumus kepada keburukan yang baru saja dikenalnya. Secara individu, manusia harus memenej hidupnya secara amanah, membiasakan diri tingkah lakunya yang termonitor oleh keluarga yang dengan itu suasana menjadi kondusif untuk jujur. Secara nasional, kejujuran juga dapat disosialisasikan dan direkayasa melalui sistem politik, ekonomi, sosial budaya. posted by : Mubarok institute

PENGEMBANGAN HEALING DAN KONSELING BERBASIS PSIKOLOGI ISLAM
Pengembangan Healing dan Konseling Berbasis Psikologi Islam oleh : Prof. Dr. Achmad mubarok, MA disampaikan di Universitas Al Azhar Indonesia Kamis 22 Juni 2006 Sebagai makhluk hidup manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil-labil, sehat dan sakit, normal-abnormal dan berakhir dengan kematian. Berbeda dengan hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus, oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan melakukan hal-hal yang diperlukan diri sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut kesehatannya, kenyamanannya , kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang dilakukan oleh manusia tak jarang justeru membuat manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidunya. Persenjataan dan budaya hedonis materialis justeru membuat manusia semakin kehilangan martabatnya. Konsep Sehat wal `Afiat Sehari-hari kita mengunakan istilah sehat wal afiat untuk menyebut kondisi kesehatan yang prima. Tetapi jika kita merujuk kepada asal istilah itu yakni “as shihhah wa al `afiyah” disitu ada dua dimensi pengertian. Kata Sehat merujuk pada fungsi, sedangkan kata afiat merujuk kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang melihatnya, misalnya ngintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata adalah sebagai penunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah. Tangan yang sehat adalah tangan yang mudah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang halal, sedangkan tangan yang afiat adalah tangan yang tidak bisa digunakan untuk mengerjakan melakukan sesuatu yang diharamkan, karena maksud diciptakan tangan oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan. Suami yang perkasa di rumah saja adalah suami yang sehat wal afiat, tetapi yang perkasa juga di luar rumah adalah suami yang sehat tetapi tidak afiat. Konsep Kesehatan Kita bukan hanya mengenal kesehatan tubuh, tetapi juga ada kesehatan mental dan bahkan kesehatan masyarakat. Jika kita menengok bangsa kita sekarang, nampaknya bangsa ini memang sedang tidak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal menjadi tidak berfungsi. banyak tentara tidak menjamin ketahanan nasional, banyak polisi tidak menjamin rasa aman, banyak sumberdaya alam tidak menjamin kemakmuran, banyak orang pinter tidak menjamin kemudahan, banyak kyai tidak juga menjamin ketakwaan. Jika kita sakit gigi, maka kita pergi dokter gigi, jika sakit perut ita pergi ke dokter penyakit dalam. Nah problemnya ada orang yang yang secara fisik ia sehat tetapi ia mengalami gangguan

sehingga fisiknyapun kurang berfungsi. Secara medik ia sehat, tetapi ia merasa tidak sehat sehingga ia tidak bisa mikir, tidak bisa konsentrasi, tidak bisa tidur bahkan di kamar tidur jga tidak berfungsi. Ada orang penyandang cacad tetapi fikiranya jernih, gagasannya cemerlang dan ia ceria menjalani hidupnya, sementara ada orang yang secara fisik sehat dan memiliki semua kebutuhan fasilitas, tetapi justeru fikiranya kacau, tindakannya juga kacau, dan ia tidak bisa menikmati hidup ini. Konsep manusia Sering kita mendengar ungkapan; orang itu yang penting hatinya, yang penting jiwanya. Nah dalam perspektip ini hakikat manusia adalah jiwanya. Orang gila secara fisik adalah manusia, tetapi ia sudah tidak diperhitungkan karena jiwanya sakit (tidak berfungsi). Di maki2 orang gila, orang tidak tersinggung, karena jika tersinggung apalagi membalas maka itu menujukkan serumpun. Orang gila tidak menyadari sakitnya, tetapi orang yang mengalami ganggguan kejiwaan, ia menyadari jiwanya sedang terganggu. Orang gila tak bisa berfikir mengenai dirinya, sedangkan orang yang terganggu kejiwaannya jsuetru selalu berfikir dan bertanya, mengapa aku begini. Nah dari ini maka kita mengenal ada Rumah Sakit mum, Rumah Sakit Jiwa dan Lembaga bimbingan mental atau healing/konseling. Problem Masyarakat modern Zaman modern dalam era globalisasi berlangsung sangat cepat dan praktis dan serentak seperti banjir bandang. Padahal kesiapan mental orang menghadapi era global tidak sama. Ketidak seimbangan itu kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan, dan banyak orang terkungkung dalam kerangkeng manusia modern sebagai the hollow man, manusia yang sudah kehilangan makna, resah setiap kali harus mengambil keputusan bahkan tidak tahu apa yang diinginkan. Mereka terasing di tengah keramaian, kehilangan keberdayaan di tengah kompetisi. Ketimpangan itu menyebabkan mereka sibuk bekerja menyesuaikan diri dengan trend zaman, tetapi sesungguhnya mereka sedang melayani kemauan orang lain (sosial) .Mereka sibuk melayani kemauan orang lain sampai lupa kemauan sendiri. Akibatnya dalam pergaulan mereka selalu memakai topeng sosial, ketika tertawa, ketika tersenyum dan bahkan ketika berbuat kebaikan. Saking seringnya memakai topeng sosial sampai ia lupa wajah sendiri. Ciri2 gangguan kejiwaan manusia modern adalah dimulai dengan mengidap kecemasan, disusul merasa kesepian, kemudian mengidap kebosanan dan ujungnya adalah perilaku menyimpang, yah anarki dalam semua bidang, di rumah, di jalanan, di tempat kerja, di universitas bahkan di parlemen. Di Indonesia ada lima lapisan strata sosial; (1) sedikit kelompok ultra modern di kota-kota besar, (2) kelompok modern, (3) masyarakat urban, (4) masyarakat tradisionil, (5) suku terasing dan bahkan masih ada yang berada di zaman koteka. Kelompok pertama dan kedua relatip siap menghadapi setiap perubahan, nah kelompok ke 3 dan ke empatlah yang paling banyak menjadi korban. Jika laju kerusakan sosial ini tak terbendung, maka kemajuan pembangunan ekonomi Indonesia menjadi tak bermakna. Healing dan Konseling; Pendekatan Psikologi Islam Di kalangan masyarakat terpelajar sudah dikenal adanya layanan konseling, karena pasarnya ada. Orang terpelajar secara sadar mencari solusi problemnya dengan mencari konselor, sementara

orang awam tidak tahu persis apa problemnya, dan tak tahu juga harus kemana. Namun demikian bukan berarti masyarakat awam tidak mengenal terapi yang bernuansa psikologi. Di kalangan masyarakat santri, orang yang mengalami problem kejiwaan biasanya pergi kepada kyai, dan kyai memberikan layanan yang bernuansa psikologis, tetapi bukan berbasis psikologi, yakni berbasis akhlak dan tasauf. Sebagaimana diketahui dalam sejarah keilmuan Islam tidak muncul ilmu semacam psikologi yang berbicara tentang tingkah laku. Jiwa dalam sejarah keilmua Islam dibahas dalam ilmu akhlak dan ilmu tasauf. Apa yang dilakukan oleh para kyai barangkali memang tidak “ilmiah”, tetapi tak terbantah justeru banyak yang bernilai tepat guna, karena sesuai dengan kejiwaan klien yang santri. Hingga hari ini masih banyak orang mencari “pendekaan alternatip” setelah gagal menjalani terapi modern melalui konselor psikologi. Karakteristik Psikologi Islam Jika psikologi merupakan hasil pemikiran dan laboratorium yang menghasilkan hukum-hukum kejiwaan manusia, Psikologi Islam merumuskan hukum2 kejiwaan pertama melalui teks wahyu, yakni apa kata al Qur’an (dan hadis) tentang jiwa . Selanjutnya ulama “Psikologi Islam” ini berijtihad dengan penghayatan atas jiwa sendiri dan orang lain (menjadikan diri sendiri menjadi obyek penghayatan), sementara teori2 psikologi modern dijadikan alat bantu dalam memahami sumber wahyu. Jika tugas psikologi itu hanya mengungkap makna tingkah laku, meramalkan dan mengendalikan tingkah laku, maka tugas Psikologi Islam menambahnya dengan berusaha membentuk tingkah laku yang baik (akhlak) hingga jiwa seseorang dapat merasa dekat dengan Tuhan (tasauf). Jika psikologi Barat hanya berdimensi horizontal, psikologi Islam melengkapinya dengan dimensi vertikal. Konseling Islami Ciri healing dan konseling Islam adalah pada menggunakan getar iman (daya rohaniah) dalam mengatasi problem kejiwaan. Oleh karena itu maka terapi sabar, tawakkal, ikhlas, itsar, sadaqah, ridla, cinta, ibadah, suluk, zikir, jihad dan lain-lainnya pasti digunakan sesuai dengan problemnya. Problem Pemahaman Yang menjadi problem dari term tersebut diatas ialah bahwa psikolog muslim masih memahaminya sebagai term akhlak dan tasauf, bukan sebagai term psikologi. Tawakkal menurut term tasauf lebih menekankan kepasrahannya, sementara menurut psikologi justeru lebih menekankan kesiapan komprehensip menghadapi tugas. Sabar menurut nuansa tasauf lebih menekankan pada menerima dengan pasif, sementara menurut psikologi sabar justeru merupakan dinamika kerja di medan sulit. Demikian juga term-term lain, menjadi sangat berbeda ketika dilihat dari sudut yang berbeda. Disinilah tantangan ilmu Psikologi Islam. Diperlukan dialog dan interaksi antara konsep perilaku horizontal dengan konsep orientasi vertikal. Insya Allah 20-30 tahun mendatang, interaksi dua kutub ini akan menghasilkan psikologi mazhab kelima yang sudah bisa diterima oleh semua kalangan ilmiah. Insya Allah, Wallohu a`lamu bissawab. posted by : Mubarok institute

GENERASI PENIKMAT

Kejayaan suatu bangsa dibangun oleh generasi demi generasi, diperuntukkan bagi generasi mendatang. Kita mengenal adanya generasi 1912, generasi 1928, angkatan 45, angkatan 66 dan seterusnya. Masing-masing bekerja demi generasi mendatang. Menurut bapak sosiologi Ibn Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama generasi pendobrak. Kedua generasi pembangun dan yang ketiga generasi penikmat. Jika pada bangsa itu sudah banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati hasil pembangunan tanpa berfikir harus membangun, maka itu satu tanda bangsa itu akan mengalami kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibn Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad. Yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini ialah bahwa baru setengah abad lebih, ketika generasi pendobrak masih ada satu dua yang hidup, ketika generasi pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun sudah muncul sangat banyak generasi penikmat dan mereka bukan hanya kelompok kurang terpelajar tapi justru muncul dari kelompok yang terpelajar. Subhanallah. posted by : Mubarok institute

DAKWAH ISLAM DAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH
oleh Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA disampaikan dalam program Kajian Islam Rumah Sakit Haji Jakarta, Kamis, 27 Juni 2006 Pendahuluan Dakwah Islam tidak mungkin dipisahkan dengan kepemimpinan Rasulullah, karena Rasul lah pembawa Risalah Islam yang pertama. Dari topik ini bisa dibahas tentang Islam sebagai agama dakwah, dan bagaimana model kepemimpinan Rasul hingga Islam menjadi agama dunia seperti sekarang. Islam = agama dakwah Statemen ini untuk membedakan dengan agama lain, agama Yahudi misalnya. Agama Yahudi bukan agama dakwah karena agama itu hanya diperuntukkan bagi etnik Yahudi. Oleh karena itu agama Yahudi tidak disebarluaskan ke semua orang, tidak didakwahkan. Agama Kristen pada mulanya juga bukan agama dakwah, karena Yesus hadir hanya untuk mengkoreksi agama yahudi. Tetapi Paulus yang sebelumnya musuh Yesus melalui keuskupan Roma mengaku menerima wahyu dari Yesus untuk mengubah agama ini keluar habitatnya masyarakat yahudi. Sementara komunitas Kristen yang menganut faham aslinya yakni yang di Yerussalem terkalahkan menjadi minioritas. Berbicara Islam sebagai agama dakwah harus mengikuti alur pikir sebagai berikut: 1. Islam adalah konsep hidup yang didesain Tuhan untuk manusia hingga hari kiamat. 2. Konsep itu tersembunyi dibalik firman Tuhan di lauh mahfudz (alam langit) 3. Agar konsep itu fungsional, maka konsep itu diturunkan ke bumi sebagai firman Allah, yakni apa yang ada di dalam al Qur’an 4. Agar manusia faham terhadap konsep itu maka firman Tuhan diturunkan dengan bahasa yang dipergunakan oleh manusia (qur’anan `arobiyya) 5. Untuk menghindari mis interpretasi, maka Tuhan mengirimkan utusan Nya berwujud manusia, yakni Muhammad s.a.w., sebagai penerima wahyu sekaligus sebagai contoh teladan bagi manusia. Muhammad adalah Qur’an hidup yang bisa dilihat dan bisa dicontoh. 6. Karena konsep hidup ini diperuntukkan bagi manusia sepanjang zaman, maka konsep Islam bersifat universal dan diaklektis fleksibel, bisa diterapkan di semua tempat dan di sepanjang

zaman sesuai dengan perkembangan zaman (sholihun fi kulli zaman wa makan) 7. Karena manusia memiliki karakteristik psikologis yang berbeda-beda, maka dakwah Islam harus disampaikan secara persuasip, mengikuti cara berfikir manusia yang dihadapi seperti yang dipesankan Nabi, Khatib annas `ala qadri `uqulihim. 8. Karena pekerjaan dakwah (menyampaiakan pesan, mengajak, mendorong , mempengaruhi, menanam dan membangun) itu bukan pekerjaan sederhana, maka diperlukan orang-orang yang mau mengkhususkan diri bekerja untuk itu, dengan terlebih dahulu mendalami masalah yang akan didakwahkan, da`i profesional (falaula nafara min kulli firqatin minhum thoifatun liyatafaqqahu fiddin ....dst) 9. Karena sifat masyarakat yang dinamis dengan problem yang selalu berkembang, maka dibutuhkan institusi khusus yang mendidik SDM bidang dakwah, misalnya Fakultas Dakwah. 10. Keberhasilan dakwah ditopang oleh ; konsep dakwah, da’`i (pelaksana), metode dan media. 11. Karena agama Islam bersifat rahmatan lil`alamin, maka konsep dakwah sesunggguhnya (seharusnya) adalah visi masa depan. Kepemimpinan Rasulullah Nabi Muhammad hidup dalam setting zaman tertentu dan corak masyarakat tertentu. Pada masa kehadiran Muhammad sebagai Rasul, adalah suatu masa dimana selama enam abad bumi kosong dari kehadiran seorang Nabi. Sejarah ketika itu diisi oleh dua imperium, Rumawi (Barat) yang resminya beragama Kristen tetapi pada hakikatnya berbudaya paganisme dan Persia (Timur) yang menyembah api (Majusi) kedua-duanya merendahkan martabat manusia . Masyarakat Arab dimana Nabi Muhammad lahir juga masyarakat yang berbudaya rendah (jahiliyyah) yakni, menyembah benda yang tak mampu apa-apa dan merendahkan martabat manusia khususnya wanita dalam bentuk perbudakan dan membunuh bayi wanita dan fanatisme kesukuan yang sangat sempit. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Rasulullah Sebagai utusan Tuhan sudah barang tentu beliau dibekali apa yang dibutuhkan untuk tugas kerasulan.Karena seorang Nabi dan Rasul juga harus memimpin ummat manusia, maka beliau juga memiliki kapasitas sebagai pemimpin. Ada prinsip kepemimpinan seperti yang bisa ditangkap dari kata-kata mutiara; (a) Berilah kepada siapa yang ingin kau beri, niscaya engkau akan menjadi pemimpin dari mereka (b) Mintalah kepada siapa yang ingin kau mintai, niscaya engkau akan menjadi tawanan dari mereka (c) Merasa cukuplah dari apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau akan bisa menjadi mitra sejajar dengan mereka Jadi seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibanding orang kebanyakan, dan kelebihan itulah yang diberikan kepada orang lain. Apa yang bisa diberikan? bisa kesejahteraan, rasa aman, petunjuk, pengetahuan dan yang terpenting keteladanan. Nah Nabi memiliki kesemuanya, tetapi yang terpenting adalah keteladanan. Sebelum menjadi nabi, Muhammad sudah populer dengan sebutan al amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Kepercayaan adalah modal utama kepemimpinan. Muhammad lebih mempengaruhi hati masyarakat dibanding mempengaruhi fikiran mereka. Oleh karena itu dalam memimpin pengiikutnya beliau menggunakan tahapantahapan psikologis, seperti yang tercermin dalam periode Makkah dan periode Madinah. 1. Dalam periode Makkah, Muhammad lebih menanamkan semangat internalisasi nilai, dan pengendalian diri yang sangat kuat dalam menghadapi kesulitan seraya tetap menjanjikan masa

depan yang sukses. 2. Pada periode Madinah, Muhammad sudah menata secara teknis tata kehidupan bermasyarakat lengkap dengan struktur kepemimpinan dan forum penampung peran serta masyarakat. Ada pusat Pemerintahan, ada forum syuro, ada konseling, ada kunjungan lapangan, ada reward dan ada juga punishment. Sistem Leadership Rasulullah Bagaimana sistem kepemimpinan Rasulullah berlangsung dapat ditangkap dari tradisi salat Jamaah. 1. Ada media komunikasi antara pemimpin dengan rakyatnya yang dilakukan secara reguler dan bersistem, yaitu salat jamaah lima waktu sehari pada setiap lingkungan, forum satu mingguan pada salat Jumat untuk lingkungan yang lebih besar, dan dua kali forum tahunan pada Idul Fitri dan Idul Adha untuk lingkungan nasional dan international. 2. Ada komando untuk memobilisasi rakyat, berupa azan dan iqamat 3. Imam direkrut dengan mengikuti persyaratan (a) yang paling fasih bacaannnya, yakni yang paling pintar mengkomunikasikan gagasan, (8) yang paling dalam ilmunya (persyaratan pendidikan), dan (c) yang paling tua umurnya (senioritas) 4. Siapapun yang terpilih menjadi imam, makmum harus patuh sampai kepada detail-detail gerak dan bacaan (tertib hubungan rakyat dan pemimpin) 5. Jika Imam keliru, makmum boleh mengkoreksi dengan membaca subhanalloh 6. Jika imam batal (buang angin misalnya) ia harus langsung mengundurkan diri, tidak menunggu di demo dulu. 7. Seusai salat (masa jabatan) salam-salaman antara imam dan makmum, happy ending 8. Imam tidak boleh terlalu panjang bacaannya karena tidak semua makmum tahan lama (melihat aspirasi masyarakat), jika dalam keadaan darurat (kebakaran misalnya) imam harus mempercepat salat 9. Jangan memaksa menjadikan orang jahat atau pendosa atau orang yang tidak fasih menjadi imam salat karena makmum pasti tidak khusyuk. posted by : Mubarok institute

MAKNA HIDUP DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA
Manusia adalah makhluk psikologis yang menganut suatu makna. Dalam psikologi komunikasi ada ungkapan world don't mean, people mean, kata-kata itu tak memiliki makna, manusialah yang memberikakan makna. Manusia adalah makhluk yang mampu memberikan makna terhadap obyek. Obyek yang sama mungkin makna berbeda-beda oleh orang yang berbeda. senyum biasanya dimaknai sebagai keramahan tetapi bagi orang yang sedang sakit hati kepada seseorang, maka senyuman orang itu bisa dimaknai sebagai penghinaan atau mengeledek. senyuman ibu tiri sering dimaknai buruk oleh anak tirinya, berbeda dengan persepsi dengan anak kandungnya. Senyuman yang sama berdampak menyakitkan bagi seseorang dan mungkin berdampak menyakitkan bagi orang lain. Apa makna sesuatu bergantung kepada persepsi tentang fungsi dari sesuatu itu, mata dipandang bermakna jika berfungsi melihat, telinga dipandang bermakna untuk mendengar, mobil dipandang bermakna jika berfungsi sebagai kendaraan. Suami dipandang bermakna oleh istrinya jika berfungsi sebagai suami, presiden dipandang bermakna oleh rakyatnya jika berfungsi sebagai pemimpin. Begitulah seterusnya segala sesuatu, tingkat bermaknanya bergantung kepada tingkat fungsinya. posted by : Mubarok institute

HATI YANG MATI: PENYEBAB DOA TAK DIDENGAR
Doa kepada Allah SWT yang didengar bukanlah bunyi kata-katanya tetapi kesadaran hati orang yang berdoa. Sabda Nabi, Bordoalah kepada Allah SWT tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu Allah SWT tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main Ibrahim Bin Adham berkatahati kalian telah mati dalam sepuluh perkara, bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan : 1. Kalian mengakui kekuasaan Allah SWT tetapi kalian tdk memenuhi hak-hakNya. 2. Setiap hari kalian membaca al-quran tetapi kalian tdk mengamalkan. 3. Kalian mengakui cinta pada rosul tapi meninggalkan Sunahnya. 4. Setiap hari kalian membaca ta'awudz tapi betrteman dengan syaitan dalam kehidupan sehari-hari. 5. Kalian ingin masuk surga tapi perbuatan mengikuti hal yang maksiat. 6. kalian takut masuk neraka tapi malah menginginkannya. 7. Kalian mengakui maut hal yang pasti tapi tidak pernah mempersiapkan diri. 8. Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain tapi lupa kesalahan diri sendiri. 9. setiap saat kalian menikmati karunia Allah SWT tapi lupa bersyukur. 10. kalian sering menguburkan jenazah tapi tidak pernah mengambil pelajaran setiap peristiwa. posted by : Mubarok institute

RAGAM CINTA DALAM QURAN
Siapa orang yang tidak pernah jatuh cinta? Indah berbunga-bunga atau berdebar-debar. berbagai ragam cinta ternyata dalam bahasa Arab memiliki 60 jenis istilah cinta, seperti isyqun (asyik), hilm, gharam (asmara), wajd, syauq, lahf dan sebagainya quran menyebutnya seperti: pertama. Cinta mawaddah (Q/30:31) adalah jenis cinta menggebu-gebu, membara dan nggemesi. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. kedua. Cinta Rahmah (Q/30:31) adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. ketiga. Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain kurang diperhatikan. Cinta mail dalam quran disebut dalam konteks orang poligami yaitu ketika sedang jatuh cinta kepada yang lebih muda (an tamilu kulla al mail) cenderung mengabaikan kepada istri tua. keempat. Cinta Syaghaf adalah cinta yang salangat mendalam, alami, orisinal dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri hampir tak menyadari apa yang dilakukan. quran menggunakan term syaghaf mengisahkan cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf AS. kelima. Cinta Ra'fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran. Misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkan untuk shalat subuh,

membelanya mesti salah. Quran menyebutkan term ini agar janganlah cinta ra'fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah SWT, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2) keenam. Cinta Shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak. Quran menyebut term ini ketika mengisahkan nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha namun nNabi Yusuf tergelincir dalam perbuatan bodoh (wa illa tashrif'anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min aljahilin (Q/12:33) ketujuh. Cinta Syauq (rindu) term ini bukan dari Quran tapi hadist yang menafsirkan Quran. Dalam surat al-ankabut ayat 5 dikatakan barangsiapa rindu berjumpa Allah SWT waktunya pasti akan tiba. kalimat kerinduan ini diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadist ahmad: wa as'aluka ladzzata an andzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika. "Aku mohon dapat merasakan nikmatnya mamandang wajah-Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa denganMu" posted by : Mubarok institute

PENGERTIAN SAKINAH
Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al-Quran surat 30:21 litaskunu ilaihi yang artinya bahwa allah SWT menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain. Dalam bahasa arab, kata sakinah didalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. pengertian ini pula dipakai dalam ayat-ayat Quran dan Hadist dalam konteks kehidupan manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak mendadak tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. Keluarga sakinah merupakan subsistem dari sistem sosial menurut Quran bukan bangunan diatas lahan kosong. (diambil dari buku Prof. Achmad Mubarok yang berjudul "Psikologi Keluarga: Dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Bangsa hal:148) posted by : Mubarok institute

KUNCI HIDUP BERMAKNA
Membuat hidup menjadi bermakna sangat erat hubungannya dengan pandangan hidup yang dianut. Jika seseorang memiliki pandangan hidup yang benar, maka peluang untuk membuat makna dalam hidupnya sengat terbuka. Sebaliknya pandangan hidup yang keliru akan membuat keliru juga dalam mengambil keputusan yang akan berakhir bukan saja hidupnya menjadi kurang atau tidak bermakna, tetapi ada kemungkinan justru merusak, merusak diri sendiri dan merusak orang lain. Pandangan hidup dipandu oleh konsep budaya dan keyakinan agama. Budaya yang tinggi akan melahirkan makna penting dan besar, budaya yang rendah akan melahirkan makna yang rendah pula. Keyakinan agama yang lurus akan melahirkan kehidupan yang benar-benar bermakna, sementara akidah agama yang keliru atau sesat akan menyesatkan penganutnya pula dan berujung pada kehadiran yang tak bermakna bahkan merusak. (dikutip dari buku Prof. DR. Achmad Mubarok MA yg berjudul "Psikologi Keluarga: Dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Bangsa hal. 156) posted by : Mubarok institute

PENDIDIKAN SPIRITUAL (TARBIYYAT AR RUH)
Pendidikan adalah salahsatu proses yang bertujuan membentuk pola perilaku. Misalnya pendidikan kemiliteran, pendidikan kewiraswastaan, pendidikan agama dan sebagainya. Proses itu biasanya membutuhkan peran pendidik (murabbi), tetapi juga bisa mendidik diri sendiri setelah berjumpa dengan pengalaman mendidik. Oleh karena itu pendidikan spiritual lebih menekankan pada pemberian kesempatan agar seseorang mengalami sendiri atau pengalaman spiritual. Jika bercermin pada perilaku nabi SAW. Maka nampaknya pendidikan spiritual yang dialami oleh nabi Muhamad sebelum menjadi nabi adalah gua Hira. Nabi beruzlah menyendiri didalam gua Hira, bertafakkur, mengasah nurani, menajamkan hati dan mengelola emosi serta mengendalikan nafsu. Dalam perspektif Islam, pendidikan spiritual adalah proses tranformasi sistem nilai Qurani ke dalam potensi kejiwaan seseorang melalui perjuangan dan pelatihan jiwa (mujahadah) agar setiap kali merespon stimulus dalam kehidupan, jiwanya tunduk kepada nilai-nilai tersebut dengan tenang, senang dan yakin. Wujud mujahadah itu adalah zikir, salat malam (qiyam al lail) puasa sunah, zuhud yang disembunyikan(zuhd al qalbiy). Secara sufistik, pendidikan spiritual dilakukan melalui proses perjalanan (asyr wa as suluk) menembus stasiun-stasiun taubat, zuhud, faqr, wara' terus hingga mencapai maqam ma'rifat yang dengan pencapaian itu ia bisa melihat dengan pandangan Allah SWT. Mendengar dengan pendengaran Allah SWT. Orang yang mencapai kecerdasan spiritual disebut dengan 'arif atau min al 'arifin secara sosiologis sering disebut sebagai arif bijaksana. Sedangkan Ma'rifat tidak menetap, melainkan sesaat-sesaat (sa'atan sa'atan) seperti hadist riwayat Hanzalah, tetapi pengaruhnya menghunjam dalam kejiwaan seseorang, mempengaruhi persepsi dan mewarnai perilaku. (Wallahu a'lam) posted by : Mubarok institute

PERSEPSI TERHADAP BENCANA
Belajar kepada Jepang bencana yang diterima langsung merubah mental bangsa. Ketika luluh lantak oleh bom atom, bangsa brutal dan fasis langsung mengubah mentalnya menjadi bangsa pembelajar. Dibawah wajah nunduk menyerah tanpa syarat Jepang menterjemahkan ilmu Barat ke dalam bahasa jepang dan diajarkan kepada Bangsanya. Tanpa diketahui oleh Amerika hanya dalam dua windu lebih semua pengetahuan Barat sudah diketahui oleh bangsa Jepang. Dan kini Jepang mengungguli Amerika dalam teknologi. Kita Berulang-ulang kena bencana tapi tak kunjung berubah. Dalam suasana krisis justru banyak orang memilih kesempatan dalam kesempitan. Menurut teori spiritual bangsa-bangsa akan terkena tiga jenis musibah, yaitu: 1. Musibah yang datang dari luar ulah manusia (ba'sa) 2. Musibah karena ulah manusia (dlorro') 3. Musibah karena dipermainkan (zulzilu) Kita sekarang terkena ketiga-tiganya, yakni terkena bencana alam terus menerus, kedua dililit problem salah urus. Ketiga, dipermainkan negara donor dan dipermainkan penghianat bangsa. Tinggal satu fase bagi kita, belok kiri tenggelam, belok kanan bangkit. Kebangkitan kita hanya

mungkin jika bangsa ini melakukan taubat nasional yakni menata kehidupan dengan prinsip keadilan dan bermartabat posted by : Mubarok institute

PERUBAHAN CARA PANDANG MASYARAKAT INDONESIA TENTANG KELUARGA: PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM
Secara fitri manusia membutuhkan adanya kehidupan keluarga yang terdiri dari suami isteri dimana dari sana lahir anak cucu sebagai generasi penerus. Dari masyarakat yang paling primitip hingga masyarakat ultra modern, lembaga keluarga tetap dipandang sebagai kebutuhan fitri . Yang berubah (berkurang atau bertambah) adalah fungsinya sejalan dengan perubahan budaya masyarakat. Kebudayaan adalah konsep, gagasan, ide, norma dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat dalam waktu yang lama dan kemudian mewujud dalam bentuk karya budaya. Perubahan konsep tentang sesuatu akan mengubah cara pandang seseorang/masyarakat tentang berbagai hal yang terkait, selanjutnya mengubah perilaku, dan berakhir dengan perubahan struktur dari masyarakat itu. Selanjutnya antara individu, keluarga dan masyarakat akan saling berinteraksi membentuk sebuah bangunan yang baru dari masyarakat itu, baru secara substansial atau baru dalam bentuk lahirnya saja. A. Konsep Keluarga Islami Semua agama dan hampir semua budaya menganut nilai kesucian dalam keluarga, kecuali pada sekelompok kecil masyarakat ultra modern. Yang berbeda adalah konsep kesucian/kesakralan yang dianut; kesucian mistis, kesucian tradisi, kesucian etos dan kesucian religious. Dalam pandangan Islam, adanya laki-perempuan dimana yang satu tertarik kepada yang lain adalah sudah menjadi sunnatullah, tak bisa diubah atau diganti. Nilai kesucian keluarga dalam Islam adalah bahwa penghalalan hubungan antar laki-perempuan dan kemudian menjadi suami isteri tidak saja harus menempuh jalur horizontal, tetapi juga jalur vertikal, yakni dengan nama Allah Yang Maha Suci, dan selanjutnya hubungan seksual antara suami dan isteri itu kemudian bermakna ibadah. Secara tekstual hal itu dingkapkan oleh hadis Rasul yang berbunyi; akhadztumuhunna bi amanati Allah wa istahlaltum furujahunna bi ismi Allah. Laki-laki mengambil wanita sebagai isterinya dengan kontrak amanat dari Allah, dan dihalalkan farjinya untuk disetubuhi dengan atas nama Allah. Kesucian keluarga dalam Islam berpangkal dari konsep kesucian pergaulan dan kesucian nasab, kemudian mengembang dalam sistem; seperti adanya (a) konsep aurat, (b) konsep muhrim, (c) konsep kesetiaan, (d) konsep birr al walidain, yang juga diatur dalam sistem hukum. A.1.Konsep aurat Secara fitri manusia mengenal aurat, yakni sesuatu yang dirasa tidak layak (memalukan) dilihat oleh orang lain. Konsep aurat merupakan perwujudan dari konsep kesucian pergaulan. Aurat fisik lelaki adalah batas antara pusat dan lutut, aurat fisik wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Aurat keluarga meliputi (1) hal-hal yang merupakan kekurangan dari masing-masing suami atau isteri (2) kehidupan seksual, (termasuk kamar tidur). Aurat batin mencakup fikiran buruk, niat buruk dan persangkaan yang buruk.. Aurat fisik ditutup dengan pakaian, aurat seksual ditutup dengan dinding/pintu dan mulut. Kamar tidur suami isteripun sebenarnya merupakan semi aurat, oleh karena itu tingkat privilege nya sangat tinggi. Jangan setiap orang boleh keluar masuk kamar tidur suami isteri, kalau bisa (meski boleh, la junaha) bahkan jangan menyerahkan kepada pembantu untuk membereskan kamar tidur. Uruslah oleh isteri atau suami atau bersama-sama, karena hal itu merupakan tempat yang sangat privilege.

Menurut al Qur’an, anakpun tidak dibolehkan bebas keluar masuk kamar tidur orang tua, sekurang-kurangnya pada tiga waktu, yaitu sebelum subuh, saat-saat ganti pakaian lepas lohor dan sebelum Isya, itulah tiga waktu `aurat tsalatsu `auratin lakum , kata al Qur’an (Q/24:58). Menurut hadis Nabi, tempat tidur suami tidak boleh dipinjamkan untuk tidur orang lain, an la yuthi’na furusyakum man takrahun (H.R. Ibn. Majah dan Turmuzi). Nabi juga sangat keras mengingatkan bahayanya aurat saudara ipar (al hamw al maut). A.2. Konsep muhrim Dari akad nikah maka muncul daftar baru orang yang tidak boleh dinikahi (muhrim), yaitu mertua/mantu, disamping yang berhubungan darah (bapak/ibu ke atas, anak ke bawah, saudara dan keponakan ke samping. Konsep muhrim merupakan perwujudan dari konsep kesucian pergaulan dan konsep kesucian nasab. Menurut etika Islam, seorang wanita tidak boleh bepergian tanpa didampingi muhrim. Menurut hadis Nabi, wanita yang bepergian sendirian dalam keadaan gelisah adalah umpan syaitan. Muhrim adalah orang yang memiliki kelonggaran untuk bergaul yang oleh karena itu leluasa untuk melindungi, fisikal atau psychological, dari gangguan fisik atau gangguan psikologis. A.3. Konsep Kesetiaan Kesetiaan keluarga dalam Islam berhubungan dengan hak dan kewajiban (syari’at/horizontal), norma sosial (ma`ruf), akidah dan akhlak (vertikal-horizontal) dan cinta (internal). Secara syar’iy suami mempunyai kewajiban yang melahirkan hak, demikian pula isteri mempunyai kewajiban yang melahirkan hak. Secara umum, suami wajib memberi nafkah dan perlindungan, kemudian memiliki hak memimpin rumah tangga. Isteri wajib berbakti, yang dengan itu memiliki hak nafkah dan perlindungan. Tidak terpenuhinya kewajiban secara alami akan mengurangi pula haknya. Suami harus memperlakukan isteri secara ma`ruf, wa’asyiruhunna bi al ma`ruf (Q/4:19), yakni memperhatikan nilai-nilai kepatutan sosial, tetapi keduanya harus luwes, fleksibel dan harmoni , masing-masing bagaikan pakaian dan pemakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna (Q/2:187). Kesetiaan isteri kepada suami mengandung nuansa teologis, sehingga kesetiaannya kepada suami bagaikan karcis ke surga (dakhalat min ayyi abwab al jannah sya’at (hadis), sementara martabat laki-laki justeru diukur dengan kebaikannya kepada isteri (ma akrama an nisa a illa karim, wama ahanahuna illa mahin(hadis). Cinta juga menjadi pondasi kesetiaan, tetapi ada beberapa typologi cinta; cinta diri, cinta transaksional, cinta sosial dan cinta kebajikan. Al Qur’an menyebut beberapa typologi cinta, seperti mawaddah, rahmah, mail, syaghaf, ra`fah, shobwah, kulfah dan dari hadis, syauq. A.4. Konsep birr al walidain Dalam Islam, berbakti kepada orang tua bukan saja berdasar logika, tetapi mengandung nuansa teologis. Dalam al Qur’an, birr al walidain selalu disebut berdampingan dengan kewajiban menyembah Allah, la ta`buduna illa Allah wa bi al walidain ihsana (Q/2:83), terima kasih kepada orang tua juga disejajarkan dengan syukur kepada Tuhan, an isykur li wa liwa lidaik (Q/31:14). Kata Nabi, ridla Allah berada dalam ridla orang tua, dan murka Allah juga berada dalam murka orang tua, ridlallah fi ridla al walidain, wa sukhthullah fi sukhth al walidain. Secara umum, semua budaya bangsa Indonesia memiliki ukuran-ukuran tersebut diatas dengan berbagai variasinya (distorsi atau ekses), hanya saja hanya dalam ajaran Islam norma-norma itu tersusun rapih dalam sebuah ajaran yang sistemik. B. Pengaruh Golbalisasi/Reformasi dalam Membentuk Cara Pandang Masyarakat

Globalisasi ditandai dengan tiga hal : (1) penggunaan teknologi tinggi dalam berbagai hal, (2) berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai wujud dari kemajuan intelektual manusia, (3) perilaku manusia dikendalikan oleh informasi. Dengan teknologi, terutama teknologi informasi dan ilmu pengetahuan, dunia berubah menjadi kampung kecil dimana penduduk dunia berkumpul hampir tanpa jarak, padahal tiap bangsa bukan hanya berbeda-beda kebudayaanya, tetapi juga berbeda kapasitasnya dalam menyerap informasi.. Dalam kasus Indonesia, dampak globalisasi menjadi lebih menarik, karena lapisan sosial masyarakat Indonesia sangat heterogen. Jika bangsa Mesir hanya terdiri dari tiga lapisan sosial; masyarakat elit (afandy) masyarakat urban (balady) dan dan orang desa (sha`idy), masyarakat Indonesia terbagi menjadi lima lapisan, dari (1) masyarakat ultra modern, (2) masyarakat modern, (3) masyarakat urban (4) masyarakat tradisionil dan (5) masyarakat terbelakang, yang bahkan masih hidup di zaman batu. Masyarakat dengan karakteristik yang sangat heterogen ini dipaksa mengkonsumsi satu jenis informasi global melalui media komunikasi. Hasilnya dapat dibayangkan bagaimana dampak psikologis terhadap masyarakat majemuk ini dalam mempersepsi dan merespond informasi tersebut. B.1. Faktor mispersepsi Dalam mempersepsi stimulus, manusia dipengaruhi oleh dua faktor besar : situasional dan faktor personal. Faktor situasional yang mempengaruhi persepsi antara lain ; (a) uslub atau redaksi informasi, (b) jarak; fisik, psikis dan sosial (c) gerakan atau manufer stimulan (d) akting atau rekayasa dan (e) penampilan stimulan. Sedangkan faktor personal yang mempengaruhi persepsi adalah (a) pengalaman, (b) konsep diri. Bagi masyarakat ultra modern dan masyarakat modern, mereka mampu mempersepsi stimulus informasi global secara proporsional , oleh karena itu merekapun bisa merespond secara proporsional. Bagi masyarakat urban, ketika melihat informasi global, mereka seperti orang kampung yang menonton film fiksi ilmiah di gedung bioskop. Mereka terkesima oleh kekaguman, ingin meniru, tetapi mereka sama sekali belum siap, bahkan mereka tidak tahu bahwa film itu hanya fiksi belaka. Sedangkan dua kelompok terakhir, informasi global itu masih merupakan sesuatu yang sangat asing, sehingga dipersepsi sebagai sesuatu yang gaib. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia (yang urban dan pra urban), pengaruh informasi global melalui media komunikasi tidak berlaku fair. Iklan produc gaya hidup modern, banyak pengaruh afektip dan psikomotoriknya, sedikit pengaruh kognitipnya, sementara siaran ilmiah dan pesan moral melalui media hanya banyak pengaruh kognitipnya, sedikit afektipnya dan lebih sedikit pengaruh psikomotoriknya. Benda-benda dan limbah modernisasi banyak dibeli tanpa mengetahui substansi/anatominya, sementara etos kerja modern hanya menjadi pengetahuan. Manusia modern dalam era global idealnya adalah manusia yang berfikir logis dan mampu menggunakan berbagai teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dengan kecerdasan dan bantuan teknologi, manusia modern mestinya lebih bijak dan arif, tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang kualitas kemanusiaannya lebih rendah dibanding kemajuan berfikir dan teknologi yang dicapainya. Akibat dari ketidak seimbangan itu kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan. Celakanya lagi, penggunaan alat transportasi dan alat komunikasi modern menyebabkan manusia hidup dalam pengaruh global dan dikendalikan oleh arus informasi global, padahal kesiapan mental manusia secara indifidu bahkan secara etnis tidaklah sama. Akibat dari demokratisasi, masyarakatpun disuguhi pilihan yang terlalu banyak, dan mereka semakin bingung karena setiap pilihan mengandung hal-hal yang paradoksal. Akibat dari ketidak seimbangan itu dapat dijumpai dalam realita kehidupan dimana banyak

manusia yang sudah hidup dalam lingkup peradaban modern dengan mengunakan berbagai teknologi-bahkan tehnologi tinggi sebagai fasilitas hidupnya, tetapi dalam menempuh kehidupan , terjadi distorsi-distorsi nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual , mental dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera atau hutan peradaban modern. Kesenjangan itu menyebabkan masyarakat mengidap problem dislokasi, disorientasi dan disharmoni dengan lingkungan hidupnya. Mobilnya sudah memakai Mercy, tetapi mentalnya masih becak, alat komunikasinya sudah menggunakan telpon genggam, tetapi komunikasinnya masih memakai bahasa isyarat tangan, menu makan yang dipilih pizza dan ayam Kentucky, tetapi wawasaan gizinya masih kelas oncom. Kekayaan, jabatan dan senjata yang dimilikinnya melambangkan kemajuan, tetapi jiwanya kosong dan rapuh. Semua simbol manusia modern dipakai, tetapi substansinya. yakni berfikir logis dan penguasaan teknologi maju masih jauh panggang dari api. B.2. Dampak pada lembaga Keluarga Serbuan informasi global sangat efektip mempengaruhi masyarakat, terutama dalam dua hal, yaitu (1) keinginan terbebas dari semua belenggu yang menghambat, dan (2) ingin meraih kebebasan dalam semua bidang. Dampaknya pada lembaga keluarga nampak pada hal-hal sebagai berikut: 1. Tradisi orang tua menjodohkan anaknya atas dasar pertimbangan sosial ekonomi (dan agama) telah berhasil dihilangkan. Sebagai gantinya anak-anak diberi kebebasaan untuk menentukan sendiri jodohnya atas dasar pertimbangan dan keinginan anak itu sendiri. 2. Kaum wanita berhasil mendobrak kungkungan trradisionil sebagai ibu rumah tangga sematamata, dan sebagai gantinya wanita boleh mengembangkan karir profesionil sama dengan lakilaki, sehingga wanitapun memiliki kebebasan yang dilindungi hukum untuk keluar rumah, sama dengan suaminya. 3. Tradisi kesetiaan kepada keluarga dalam hal hubungan seks berhasil diganti dengan kebebasan seks sepanjang tidak mengganggu orang lain, sehingga fungsi hubungan seks sebagai ungkapan cinta kasih, berganti fungsi menjadi tuntutan memperoleh puncak kenikmatan. 4. Tradisi hubungan sakral anak dengan orang tua diganti dengan pola pendidikan menanamkan kemandirian kepada anak, dan di negara maju kepada anak diatas usia 18 tahun diberikan perlindungan secara hukum untuk terbebas dari kekuasaan tradisionil keluarga. Hal ini memberikan ruang kepada orang muda untuk masuk kedalam lingkungan nilai serba bolehan (permissiveness). 5. Aturan-aturan seni tradisionil yang memiliki simbol-simbol keluhuran nilai digantikan oleh seni modern yang justeru “sulit difahami”.(seperti musik rock, rapp, ajojing). 6. Norma-norma agama sudah diganti dengan norma-norma “rationil dan effisien” sehingga agama sudah kehilangan fungsinya sebagai pedoman hidup dan sumber ketenangan. Fenomena mutakhir di Indonesia, mengambarkan betapa telah terjadi perubahan sosial yang meruntuhkan benteng tradisionil keluarga, antara lain: 1. Besarnya jumlah wanita yang mencari pekerjaan jauh di luar rumah tinggalnya, menjadi PRT di kota besar atau bahkan di luar negeri, meningalkan bukan saja orang tua, tetapi juga suami dan anak-anak. 2. Banyaknya mahasiswi yang hidup dalam komunitas kos-kosan dengan segala kebebasannya. Dua kali penelitian kehidupan mahasiswi kos-kosan di Yogyakarta, menggambarkan betapa nilai kesucian secara significant telah berubah . B.3. Pergeseran Makna Keluarga

Teori lama menyebutkan adanya tiga lingkaran pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat, dimana keluarga ditempatkan sebagai lembaga yang sangat efektip membangun karakter manusia. Secara teori keluarga yang baik (keluarga sakinah) yang fungsional sebagai bait ar rahmah,dan bait at tarbiyyah memang sangat efektip dalam membentuk karakter anggauta keluarganya. Akan tetapi dewasa ini jumlah keluarga yang memenuhi syarat untuk berfungsinya bait ar rahmah dan bait at tarbiyah juga bait al `ilmi justeru sangat sedikit. Rumah yang sempit dengan banyak penghuni, banyaknya anak dengan sedikit penghasilan, lingkungan kumuh dengan tanpa fasilitas membuat ungkapan my house is my castel atau baiti jannaty tidak relefan. Lembaga sekolahpun kurang efektip menjalankan fungsinya disebabkan karena ketidak seimbangan antara yang seharusnya dengan kenyataannya. Jadilah masyarakat menjadi faktor paling berpengaruh dalam membentuk karakter . Masyarakat kemudian bagaikan bola liar yang bisa dipermainkan sekehendak profokator. Anarki mudah terjadi hanya dengan sedikit picu. Memang, seperti yang disebutkan oleh DR. Zakiah Daradjat, perilaku manusia 83 % dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11 % oleh apa yang didengar dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus. Pergeseran makna keluarga terutama dalam hal-hal sebagai berikut : a. Kesucian dan kesetiaan. Sebenarnya keterikatan naluriah manusia terhadap keluarga tidak pernah hilang. Hanya saja peluang untuk aktualisasi diri membangun keluarga terdesak oleh hiruk pikuk kehidupan modern (dan era reformasi) yang perubahannya sangat cepat. Norma tabu yang dulu terpelihara dan efektip membangun suasana sakral, kini justeru disuguhkan secara terbuka melalui tontonan sinetron, telenovela dan tabloid. Mobilitas hidup memberi peluang untuk tidur di hotel ketika seminar, meeting atau sekedar dinner, meski rumahnya dekat, satu hal yang membuat rumah berubah fungsi sama dengan penginapan. Inilah yang menyebabkan banyak orang memiliki rumah yang besar dengan lampu terang benderang tetapi justru lebih betah berada di ruang yang sempit dan remang-remang. b. Hak dan Kewajiban Secara universal, masyarakat mengenal pembagian hak dan kewajiban bagi suami dan isteri. Meski ada konsep patriarchat dan matriarchat tetapi masyarakat mana saja, masyarakat tradisionil maupun masyarakat modern, pola pembagian hak dan kewajiban antara suami dan isteri relatip sama, yaitu suami memimpin rumah tangga, memberi nafkah, dan mengurus urusan umum yang berhubungan dengan pihak lain, sementara isteri mengurus urusan dalam rumah tangga, makanan, pakaian dan anak-anak. Pada masyarakat tradisionil, pola pembagian itu sangat tegas, tetapi pada masyarakat urban dan modern, pola pembagian itu bergeser sesuai dengan peningkatan atau pengurangan peran nyata (kontribusi) dari suami atau isteri terutama dalam nafkah keluarga. Dalam al Qur’an jelas sekali hubungan antara kepemimpinan suami dalam rumah tangga dengan kontribusi nafkah (Q/4:34). Suami berhak menjadi pemimpin rumah tangga karena ia yang harus memikul nafkah keluarga. Dalam kehidupan modern, dengan kompetisi yang fair tak jarang seorang isteri justeru lebih sukses dibanding suami dalam kehidupan sosial ekonominya. Fenomena inilah yang secara alami menggeser pola tradisionil pembagian hak dan kewajiban suami isteri, satu hal yang dalam prosesnya sering memakan korban, yakni ketidak harmonisan bahkan konflik dari keluarga itu sendiri. Problem kenakalan remaja, problem PIL dan WIL seringkali berangkat dari keadaan keluarga dengan pola pembagian yang kabur dari hak dan kewajiban sami isteri. C. Hidup Dalam Era Global dengan Keluarga Tetap Fungsional Secara konsepsional, lembaga keluarga yang tetap fungsional dalam segala zaman, menurut

ajaran Islam adalah apa yang disebut keluarga sakinah. Keluarga sakinah sebenarnya istilah yang khas Indonesia yang menggambarkan suatu keluarga yang bahagia dalam perspektip ajaran Islam. Keluarga sakinah adalah satu ungkapan untuk menyebut sebuah keluarga yang fungsional dalam mengantar orang pada cita-cita dan tujuan membangun keluarga. C.1. Pengertian sakinah Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Pengertian ini pula yang dipakai dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadis dalam kontek kehidupan manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal, dan yang ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak terjadi mendadak, tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. Keluarga sakinah merupakan subsistem dari sistem sosial menurut al Qur’an, bukan bangunan yang berdiri di atas lahan kosong. Ada 21 item sub tema al Qur’an merupakan landasan dari terbangunnya keluarga sakinah. Uraian tentang konsep keluarga sakinah menurut al Qur’an pastilah kurang memadai jika hanya ditulis dalam makalah singkat seperti ini. Oleh karena itu, saya ingin membatasi pada simpul-simpul yang bisa mengantar atau menjadi prasyarat tegaknya keluarga sakinah. Diantara simpul-simpul tersebut adalah : 1. Dalam keluarga itu ada mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah. 2. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. 3. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut, tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. 4. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat ; (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi. 5. Menurut hadis Nabi juga, empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga, yakni (a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat , dan (d) dekat rizkinya. 6. Menurut hadis Nabi juga, ciri-ciri cinta sejati ada tiga; (a) lebih suka bersama dengan orang yang dicintai dibanding dengan yang lain, (b) lebih suka berbicara dengan orang yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (c) lebih suka mengikuti kemauan orang yang dicintai dibanding kemauan sendiri/orang lain. C.2. Penyakit yang menghambat sakinah dalam keluarga 1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, majic dan sebangsanya. 2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh

manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga. Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya. Dalam hal ini KKN adalah kontraproduktip bagi pembangunan keluarga. 3. Kemewahan 4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL) 5. Kebodohan 6. Akhlak yang rendah 7. Jauh dari agama Wa Allahu a`lamu bi as sawab Jakarta, 15 Oktober 2002 Achmad Mubarok, Jiwa Dalam Al Qur’an, Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern, Paramadina, Jakarta, 2000, h. 4-5. .. Tema keluarga disebut al Qur’an dalam rangkaian sub tema pokok sistem sosial (nizam ijtima`iy ) menurut al Qur’an. Dalam hal sistem sosial, al Qur’an berbicara (1)tentang:manusia lelaki dengan segala tanggung jawabnya.(2)Tentang keharusan menjaga kehormatan (3)Tentang wanita (kesetaraan jender) (4)Tentang pernikahan atau perkawinan. (5)Tentang talak (6)Tentang nusyuz (purik atau perselisihan suami isteri) (7)Tentang zina, (8)Tentang keharusan melindungi kehormatan wanita muhsanat (isteri orang)(9)Tentang hidup melajang (10)Tentan hak anak-anak (11)Tentang menyusui anak (12) Tentang anak angkat (13) tentang nama nasab(14) tentang hak-hak anak yatim (15) tentang wasiat(16) tentang perlindungan harta anak-anak yang belum mampu mengurus diri (17) tentang kerabat (18)tentang perlakuan kepada budak wanita yang berasal dari pihak kalah perang (19) perlindungan kepada hak-hak anak gadis (20) tentang hak-hak waris (faraid) (21) Tuntunan hidup dalam intern keluarga (al usrah) dan hal-hal lain yang berhubungan dengan urusan bermasyarakat dan bernegara. Disampaikan dalam Seminar Nasional “ Solusi terhadap Patologi dalam Konteks Keindonesiaan: Perspektif Psikologi Islam”, diselenggarakan oleh The International Institute of Islamic Thought-IIIT Indonesia - bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (IMAMUPSI) Jakarta, 22 Oktober 2002 posted by : Mubarok institute

TASAWUF BAGI KAUM MUDA
wawancara reporter majalah sufinews.com dengan Prof. DR. Ahmad Mubarok, MA Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN, UIA & Wakil Ketua Zawiyah Haqqani Sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Negara, kekuasaan kerapkali digunakan untuk mengondisikan agar rakyat tetap berada dalam kebodohan yang berujung pada langgengnya kekuasaan, bertahannya status quo dan dominasi tak akan tergugat. Pada saat yang sama, ketika kekuasaan telah mendominasi kehidupan suatu bangsa, muncul gerakan perlawanan baik dilakukan dengan diam-diam atau secara terbuka.

Kaum muda, terutama di Indonesia, memiliki catatan yang membanggakan dalam merobohkan kemapanan kekuasaan yang menghisap darah segar anak-anak kandung ibu pertiwi. Sebut saja peristiwa Sumpah Pemuda 1928, misalnya, ia merupakan hasil gemilang kaum muda dalam membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air, yang berlanjut pada proses lahirnya proklamasi 17 Agustus 1945. Begitu pula dengan gerakan tasawuf (biasanya sering diidentikan dengan gerakan tarekat), ia senantiasa hadir membawa bendera perubahan dan pencerahan ketika kekuasaan, baik lokal maupun mondial, telah dijadikan alat pembodohan masal yang anti kemanusiaan dan anti ketuhanan. Sebut saja, misalnya, sikap non kooperatif yang ditunjukkan kelompok tarekat rifa'iyyah sebagai wujud penentangan penjajahan Belanda, yang berujung dibuangnya KH Ahmad Rifa'i (selaku pimpinan tarekat) ke Ambon, Mei 1859, oleh pemerintah kolonialis. Hal yang sama juga berlaku pada Perisitwa "Pemberontakan petani Banten 1888 ", yang merupakan gerakan "massa petani" Banten yang dilandasi kesadaran tarekat dalam menghadapi kekuasaan kolonialisme Belanda yang menindas. Dan kini, ketika kegagalan melanda manusia moderen yang tidak dapat diatasi oleh keunggulan IPTEK dan kebesaran ideologi semacam sosialisme - komunisme atau kapitalisme - liberalisme, tasawuf (atau malah gerakan tarekat) yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali. Mereka menaruh harapan akan ditemukannya pemecahan dari problema yang muncul akibat kemajuan dunia global. Berikut wawancara Cahaya Sufi bersama Prof. DR. Achmad Mubarok, MA seputar Tasawuf dan Kaum Muda disertai analisa kritis atas munculnya fenomena Amrozi, AA Gym - Arifin Ilham dan Ulil Abshar Abdalah dengan JIL nya. Apa komentar anda tentang maraknya fenomena tasawuf di Indonesia, khususnya Jakarta, akhir belakangan ini ? Tasawuf selalu relevan di setiap zaman. Terlebih dalam dunia moderen yang yang sarat tipu daya, cinta dunia, menggunting pita dalam lipatan, musang berbulu domba, tasawuf menjadi sangat relevan. Tapi…. Tapi, apa ? Anda harus melihat fenomena tersebut secara proporsional dan jangan diputus dari sejarah masuk dan sepak terjang gerakan tasawuf atau gerakan tarekat di Indonesia. Jelasnya ? Islam yang masuk ke Indonesia ada dalam dua format; format pertama, fiqh dan format kedua tasawuf. Tasawuf masuk ke Indonesia dalam suasana kita melawan penjajah. Sehingga sejarah tarekat di Indonesia mencatat bahwa gerakan ini juga melakukan perlawanan kepada penjajah seperti pemberontakan Garut dan Banten. Meski demikian, harus dicatat, bahwa fungsi tarekat ketika itu cuma dijadikan benteng pertahanan saja. Gerakan tarekat hanya memberikan ketahanan untuk bertahan hidup dari penderitaan akibat penjajahan, tidak sampai berhasil membangun sebuah bangsa. Nah ini fenomena tarekat di Indonesia. Berbeda dengan gerakan tarekat di Afrika, disamping efektif untuk melawan penjajah, gerakan tarekat disana mampu melahirkan Negara Libia. Libia moderen itu dilahirkan oleh kelompok tarekat loch !? Sesudah itu ? 10-20 tahun pasca 17 Agustus 1945, tarekat banyak dianut oleh orang-orang awam dan pedesaan. Tarekat waktu itu masih dijadikan untuk lari dari kenyataan dunia. Karenanya, meski NU

(Nahdhatul Ulama) memiliki lembaga tarekat, sumbangsihnya kepada pembentukan Negara yang lebih moderen sangat minim dirasakan. Waktu itu, masih banyak orang yang berpikiran bahwa urusan Negara itu urusan orang-orang kafir. Ulama-ulama kita saat itu banyak yang terjebak pada perdebatan fiqhiyyah seperti bagaimana hukumnya memakai celana panjang, dasi dan sebagainya. Belakangan ini, ditengah kehidupan kaum muda muslim Indonesia muncul tiga kutub anak muda yang nampaknya tidak bertemu dalam masing-masing aksi ketiganya. Pertama, kutub Amrozi dkk dengan JI nya. Kedua, Kutub pemikiran yang diwakili Ulil Abshar dengan JIL nya. Ketiga kutub ruhani, yang diwakili AA Gym dan Arifin Ilham,. Fenomena apa ini ? Kategorisasi yang anda berikan itu cuma perbedaan cara berpikir saja. Amrozi c.s dengan JI nya itu fundamentalisme aksi. Ulil dan JIL nya itu fundamentalisme pemikiran sedangkan AA. Gym dan Arifin Ilham fundamentalisme ruhani. Meski demikian kesemua mereka itu masih "mentah" dalam kutubnya masing-masing. Jelasnya ? Saya cuma ingin katakan bahwa dalam diri Amrozi ada dua kutub, yaitu kelemahlembutan dan kekerasan. Ia seperti lebah yang sepertinya tidak berbahaya, tetapi jika diganggu ia dengan sangat cepat bisa menyengat musuh. Ia sudah terlanjur terlibat dalam konflik global, tetapi secara akademik ia yang hanya droup out madrasah aliyah tak pernah bersentuhan dengan filsafat, oleh karena itu ia tidak bisa berfikir secara mendasar. Ia selalu memusatkan diri pada panggilan jiwanya, tetapi kurang memahami peta perjuangan. Ia siap mati demi keyakinan agamanya, tetapi ia miskin pengetahuan tentang taktik dan strategi perjuangan global. Ia siap menyerang kepentingan Amerika dimanapun berada, tetapi ia tidak bisa membedakan antara Amerika dan Australia. Ia siap membuat kalut Amerika, tetapi tidak bisa melihat bahwa dampak negatif dari aksinya justru lebih banyak menimpa negerinya sendiri (Indonesia) dan lebih banyak menimbulkan kesulitan bagi kaum muslimin yang dibelanya. Nah, Kondisi obyektif Amrozi ini hampir serupa dimiliki oleh teman-teman Amrozi. Bagaimana dengan Ulil dan JIL nya ? Menurut saya mereka tidak sabar melihat perjalanan NU (Nahdlatul Ulama). Mereka sudah kebelet lari, tapi NU (menurut anak-anak mudanya) tak beranjak setapak pun. Mereka "kesel" dan jumping. Mereka loncat kalau tidak ke Marxisme ya ke Liberalisme. Dalam dunia intelektual mereka membentuk JIL dan dalam format politik praktis mereka membangun FORKOT. Saya pernah mendamaikan Ulil dengan Kiyai Athian (Ketua Forum Ulama Umat Islam Bandung; red) yang pernah menghalalkan darah Ulil. Apa kata Kiyai Athian ?, Ulil Abshar harus dihukum mati karena menghina Tuhan. Apa jawab Ulil? Saya tidak menghina Tuhan, saya mu'min, saya mencintai Islam, memeluk Islam lahir dan batin, tapi saya menghina pandangan kiyai yang memandang kiyai sendiri sebagai pandangan Tuhan. Itu yang saya hina. Pernyataan Ulil sangat substansial sekali. Saya banyak kenal temen-temen JIL. Bersama Musdah (Siti Musdah Mulia; red) saya terlibat dalam penggodogkan Counter Legal Drafting Kompilasi Hukum Islam. Ketika banyak orang mengkritik kedekatan saya dengan teman JIL, saya cuma menjawab; ana fiihim bal lastu minhum (ya, saya ada bersama mereka tapi saya bukan bagian dari mereka; red) Tapi yang ingin saya sampaikan disini bahwa apa yang diucapkan Ulil dan JIL nya bukan hal yang baru, dulu Cak Nur (Nur Kholis Madjid; red) pernah melontarkan pikiran-pikiran kontroversialnya lebih tajam dan substansiil. Bahkan sebenarnya yang disampaikan Ulil itu

masih mentah, lebih matang yang pernah dilontarkan Cak Nur di era 70-an. Lihat aja, ujungujungnya Cak Nur sekarang lebih arif dan bisa diterima banyak orang dan sangat sufistik. Satu saat mereka (Ulil c.s; red) bakal menemukan format jiwanya sendiri. Dengan kutub AA Gym dan Arifin Ilham bagaimana ? Segala sesuatu ada sejarahnya. Tasawuf sebenarnya muncul sebagai solusi krisis. Pertamakali tasawuf muncul di dunia islam, ketika dunia Islam dilanda oleh materialisme, pada generasi tabi'in diperiode Umayyah. Ketika materialisme melanda sahabat dan tabi'in, maka munculah Hasan al Basri yang menawarkan paradigma lain, lahir berikutnya al Gazali dan lain sebagainya. Jadi setiap kali ada krisis, akan muncul sufisme. Di Indonesia juga begitu, ketika krisis melanda Indonesia 1997, maka fenomena tasawuf menjadi luar biasa, buku tasawuf dan majalah semacam Cahaya Sufi ini laku keras yang dibarengi dengan kemunculan Arifin Ilham, AA Gym dan Ary Ginanjar. Semua itu berangkat dari kebutuhan psikologis secara massal. Saya cuma ingin menegaskan bahwa anak-anak muda yang meminati tasawuf sekarang ini masih baru dalam kerangka defensif saja. Mereka galau menjalani realitas kehidupan, kemudian mereka menemukan tasawuf dan merasa cocok dengan tasawuf karena tasawuf dirasa memberi solusi yang mereka cari selama ini. Jangankan anak-anak muda kita, psikolog-psikolog Barat sekarang ini banyak yang masuk ke wilayah kecerdasan spiritual, yang sebenarnya merupakan wilayah tasawuf. Tapi karena pengaruh budaya sekuler, kecerdasan spiritual yang mereka miliki hanya melayang-layang saja dan tidak akan pernah menukik menyelesaikan masalah. Apa ada yang salah cara beragama anak muda sekarang ? Yang salah itu keadaan. Mereka lahir kedunia bukan atas kemauan sendiri, situasi yang dijumpai sekarang juga bukan situasi yang mereka inginkan. Mereka menghadapi realita seperti ini maka begitulah respon mereka. Bagaimana solusinya untuk yang akan datang ? Bangsa ini butuh pemimpin besar. Orang besar adalah orang yang mampu berfikir, merasa, dan cita rasanya itu melampaui sekat-sekat ruang dimana ia berada, waktu dimana ia hidup. Itu orang besar. Karenanya si orang besar harus berfikir 50 tahun kedepan atau 100 tahun kedepan. Kalau dia berbuat dia menyadari bahwa yang diperbuat itu juga akan ditonton dan direspon oleh 200.000.000 orang. Kalau pemimpin besar ini punya ghiroh (semangat) tasawuf itu yang akan secara alami merontokkan penyakit nasional seperti korupsi, maksiat dan lain sebagainya. Korupsi di Indonesia sudah menjadi konsep, budaya. Semua orang korupsi dan tidak merasa bersalah; ah yang lain juga begitu !. Nah ini harus diatasi dengan contoh pemimpin yang diikuti dengan peraturan, tetapi untuk masyarakat kita keteledanan yang tinggi itu lebih efektif ketimbang demokratisasi. Demokratisasi ?, lihat saja pilkada, tidak melahirkan banyak manfaat apa-apa, karena orang masih bisa dibayar, tetapi kalau keteladanan pemimpin itu efektif. Dan keteladanan itu yang dicari anak-anak muda sekarang. Nah, kiranya untuk konteks kekinian, hanya pemimpin yang bertasawuf saja yang dapat memberikan keteladanan pada generasi mendatang. Sehingga pendekatan sufistik di era sekarang ini tidak lagi pada mencari jalan keselmatan, lebih dari itu sebuah pendekatan sufistik yang dapat membangun masa depan. posted by : Mubarok institute

PENDEKATAN PSIKOLOGI DIPERLULAN UNTUK PAHAMI PELAKU TERORISME
Pendekatan psikologi diperlukan untuk memahami kegiatan teror supaya pencegahan terorisme tidak terjebak pada munculnya praktek teror yang baru serta tidak membuang biaya. Demikian disampaikan Prof Dr Achmad Mubarok saat dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang psikologi Islam pada Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulloh Jakarta, Sabtu (11/6). Dalam pidato bertema "Pencegahan Terorisme dengan Pendekatan Islamic Indigeneous Psikologi" itu, Mubarok mengingatkan kekeliruan pendekatan dalam menangani kelompok ini bukan saja akan menimbulkan kegagalan dalam memerangi atau mencegah terorisme, tetapi juga bahkan mendorong lahitnya "teroris" gaya baru. Menurut Mubarok, sebelum mencegah teror maka prilaku "teroris" itu sendiri harus dipahami melalui ilmu psikologi. "Selama ini psikologi dipahami sebagai psikologi Barat yang mengasumsikan prilaku dan tingkah laku manusia sebagai sesuatu yang universal. Tetapi ini sesungguhnya hanya benar untuk mengalisis manusia Barat karena sesuai dengan kultur sekulernya sedangkan di belahan dunia lain prilaku manusia dipengaruhi oleh sistem nilai yang berbeda," ujar Mubarok yang juga pengurus Partai Demokrat itu. Untuk itu, menurut Mubarok, dibutuhkan indigeneous psikologi yang dapat didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memang didisain khusus untuk masyarakat itu. Dia mencontohkan senyum terdakwa pelaku bom Bali yang divonis mati oleh Pengadilan di Indonesia, Amrozi, yang membuat gemas sebagian publik dunia. "Senyum Amrozi tidaklah cukup hanya dengan membandingkan dengan senyuman orang Barat. Dia harus dicari akarnya pada kultur Jawa Timur, kultur santri, kultur pekerja wiraswasta dan kultur pejuang bersenjata," kata Mubarok yang telah membuat 18 buku itu. Dua kekuatan teroris Menurut Mubarok, praktek peperangan antara teroris dan anti teror di dunia saat ini secara garis besar adalah perang antara dua pihak teroris. Pertama disebut teroris kuat yakni negara besar yang dengan dalih melindungi kepentingan nasionalnya merasa berhak menghancurkan lawan dimana pun berada. Sedangkan teroris kedua adalah teroris terpojok yakni mereka yang lemah dan kalah dalam perseteruan resmi namun tidak mau menyerah dan merasa berhak untuk membela diri dan melakukan gerilya sesuai kemampuan mereka. Dia menambahkan teroris terpojok umumnya terkait pula dengan fanatisme terhadap hal tertentu yang akar penyebabnya berbeda-beda diantaranya ketimpangan ekonomi serta rasa keadilan. "Oleh karena itu jika dalam satu negara , keadilan dapat ditegakkan dan dinikmati oleh semua aspiran, maka aspirasi garis keras akan mencair dengan sendirinya, sebaliknya jika ditekan

dengan kekerasan maka pandangan itu makin keras dan makin tidak mengenal kompromi," ujar Achmad Mubarok. Dia juga menyatakan, isu perang melawan terorisme dalam era global harus disikapi dengan hatihati karena opini publik tentang terorisme internasional tidak terlepas dari upaya negara kuat untuk mempertahankan hegemoni politik dan ekonomi dunia. "Terorisme sesungguhnya yang bersumber dari ketidakadilan justru tidak pernah dibicarakan akar masalahnya. Perang yang dikumandangkan oleh Amerika seperti yang terjadi di Afghanistan dan Irak akhirnya justru merupakan bentuk terorisme yang lebih dasyat, yaitu terorisme yang dijalankan oleh negara," kata Mubarok. Terorisme di Indonesia Bagi bangsa Indonesia, Mubarok menyatakan perkara terorisme yang dihadapi berbeda anatominya dengan problem terorisme yang dihadapi negara maju. "Kita harus bisa membedakan antara teroris kriminal dengan teroris ideologi, antara teroris profesional dengan pelaku teror dari korban ketidakadilan yaitu aspiran perjuangan yang dipojokkan oleh sistem global yang tidak adil," katanya dihadapan sekitar 500 undangan. Menurut Mubarok, biaya memahami prilaku orang-orang yang dianggap berbahaya itu lebih murah dibandingkan biaya menumpas mereka dengan keras apalagi jika berbasis teori psikologi yang tidak tepat. "Psikologi yang tepat untuk memahami fenomena terorisme di Indonesia adalah Islamic indigeneous psikologi yang Insya Allah akan menjadi mazhab ke lima dalam sejarah ilmu psikologi." demikian Mubarok. posted by : Mubarok institute

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->