Interferensi Gelombang Cahaya

Click to edit Master subtitle style

Oleh : Aditya Sigit P Ajeng Nurcahyani Gihon Andre A S Intanasa Nurdenti
4/22/12

INTERFERENSI

4/22/12

Merupakan interaksi dua atau lebih gelombang cahaya yang menghasilkan suatu radiasi yang menyimpang dari jumlah masing-masing komponen radiasi gelombangnya.
Click to edit Master subtitle style

Agar hasil interferensinya mempunyai pola yang teratur, kedua gelombang cahaya harus koheren, yaitu memiliki frekuensi dan amplitudo yang sama serta selisih fase tetap.

4/22/12

4/22/12 .Syarat Terjadinya Interferensi  Gelombang bersifat koheren Gelombang- gelombang tersebut memiliki panjang gelombang yang sama.

Menghasilkan gelombang yang saling menguatkan 4/22/12 .Jenis-Jenis Interferensi INTERFEREN SI KONSTRUKTI F Terjadi jika kedua gelombang mempunyai fasa yang sama.

Menghasilkan gelombang yang saling melemahkan.INTERFERENS I DESTRUKTIF Terjadi jika kedua gelombang mempunyai beda fasa sebesar π. 4/22/12 .

INTERFERENSI CELAH GANDA YOUNG 4/22/12 .

4/22/12 8 .

Extra distance = d sinθ (still in phase) 4/22/12 9 .

(180o out of phase) 4/22/12 10 .

merupakan hasil interferensi maksimum (saling memperkuat atau konstruktif)  Garis gelap.Pola hasil interferensi ini dapat ditangkap pada layar. yaitu :  Garis terang. merupakan hasil interferensi minimum (saling memperlemah atau destruktif) .

Syarat Interferensi Maksimum Interferensi maksimum terjadi jika kedua gel memiliki fase yang sama (sefase). yaitu jika selisih lintasannya sama dgn nol atau bilangan bulat kali panjang gelombang λ. .

Karena jarak celah ke layar l jauh lebih besar dari jarak kedua celah d (l >> d). m=1 disebut terang ke-1. Untuk m=0 disebut terang pusat. sehingga sin θ = tan θ = p/l. dgn demikian pd = mλ l Dengan p adalah jarak terang ke-m ke pusat terang.Bilangan m disebut orde terang. 4/22/12 . maka sudut θ sangat kecil. dst.

Syarat Interferensi Minimum Interferensi minimum terjadi jika beda fase kedua gel 180o. . yaitu jika selisih lintasannya sama dgn bilangan ganjil kali setengah λ.

Bilangan m disebut orde gelap. dst. Mengingat sin θ = tan θ = p/l. maka pd = ( m − 1 )λ 2 l Dengan p adalah jarak terang ke-m ke pusat terang. Untuk m=1 disebut gelap ke-1. 4/22/12 . Tidak ada gelap ke nol.

maka ∆pd =λ l 4/22/12 . Jika jarak itu disebut Δp.Jarak antara dua garis terang yg berurutan sama dgn jarak dua garis gelap berurutan.

jarak antara 2 celah d = 0. Jarak garis gelap kedua ke pusat pola interfernsi pada layar adalah p = 3 mm.Contoh : Pada suatu percobaan YOUNG. c.25 mm sedangkan jarak celah ke layar l = 1 m. Tentukan : a. b. Panjang gelombang cahaya yg digunakan Jarak garis terang ketiga dari pusat Jarak garis terang ketiga dari pusat jika percobaan Young dicelupkan dalam air yg indeks biasnya 4/3. .

4/22/12 18 .

4/22/12 .

Double-Slit Interference Fringes 4/22/12 20 .

(a) Will there be an infinite number of points on the viewing screen where consecutive and destructive interference occur.Conceptual example 35-1 Interference line patterns. or is the spacing between neighboring points of constructive interference not uniform? 4/22/12 21 . or only a finite number of points? (b) Are neighboring points of constructive interference uniformly spaced.

Light of wavelength λ = 500 nm falls on the slits from a distant source. Approximately how far apart will the bright interference fringes be on the screen? 4/22/12 22 .Example 35-2 Line spacing for double-slit interference.20 m from the viewing screen. A screen containing two slits 0.100 mm apart is 1.

2nd order 1st order 4/22/12 23 .

Conceptual Example 35-3 Changing the wavelength. if the incident light (500 nm) is replaced by light of wavelength 700 nm? (b) What happens instead if the slits are moved farther apart? 4/22/12 24 . (a) What happens to the interference pattern shown in the figure.

White light passes through two slits 0.0 mm and the red 3. The violet light falls about 2.5 mm from the center of the central white fringe.5 m away.50 mm apart and an interference pattern is observed on a screen 2. The first order fringe resembles a rainbow with violet and red light a either end.Example 35-4 Wavelengths from double-slit interference. 4/22/12 Estimate the wavelengths of the violet 25 .

from a single source to the left of the two slits. an interference pattern would not 4/22/12 be observed. slits. These are called  This happens because the waves come  An interference pattern is observed  If two tiny light bulbs replaced the two 26 .35-4 Coherence  The two slits in Young’s experiment are coherent sources. only when the sources are coherent. because the waves leaving them bear the same phase relationship to each other at all times.

35-5 Intensity in the DoubleSlit Interference Pattern π d sin θ Iθ = I0 cos2 λ ( ) 4/22/12 27 .

4/22/12 28 .

4/22/12 29 .

4/22/12 30 .

separated by a distance d. emitting waves of intensity I0 at a wavelength λ. The antennas radiate in phase with each other. Two radio antennas are located close to each other as shown. (b) For d = λ. determine I and find in which directions I is a maximum 4/22/12 31 . (a) Calculate the net intensity as a function of θ for points very far from the antenna.Example 35-5 Radar antenna intensity.

Karena intensitas berhubungan dengan energi sedangkan energi sebanding dengan kuadrat medan listrik E maka intensitas dapat dituliskan sebagai: 4/22/12 .DISTRIBUSI INTENSITAS DARI POLA INTERFERENSI CELAH GANDA Pola terang yang tertangkap pada layar memiliki tingkat kecerahan (intensitas) yang berbeda-beda. Intensitas berhubungan dengan energi yang dibawa gelombang.

Intensitas ini sebanding juga dengan poynting vector S dimana jika medan listrik netto yang jatuh pada titik H adalah : maka besar poynting vector dapat dituliskan sebagai berikut: 4/22/12 .

4/22/12 .

Intensitas pada gelombang non-koheren dengan demikian adalah: Intensitas total pada gelombang koheren adalah: 4/22/12 .

Jika konstruktif maka intensitas total pada titik H adalah: 4/22/12 .

4/22/12 .

Jika kita asumsikan bahwa medan listrik yang ditransmisikan dari sumber S1 dan S2 jatuh pada titik H adalah identik dengan persamaan masing-masing sebagai berikut: 4/22/12 .

Beda fase kedua gelombang tersebut didefinisikan sebagai Interferensi konstruktif dihasilkan jika beda fase ∆φ memenuhi syarat dimana ∆φ = 2πn. maka ∆φ sebanding dengan ∆L dan dengan demikian: 4/22/12 .

4/22/12 .Persamaan dibawah merupakan persamaan untuk menentukan intensitas cahaya hasil interferensi pada berbagai posisi yang direpresentasikan dengan sudut θ.

PENJUMLAHAN FASOR GELOMBANG 4/22/12 .

4/22/12 .

Anggap dua gelombang tersebut memiliki fungsi sebagai berikut: Hasil interferensi keduanya adalah: 4/22/12 .

Kita akan menggunakan metode fasor untuk menentukan hasil interferensi tersebut: 4/22/12 .

Fungsi gelombang hasil interferensi dapat dituliskan menjadi: Dua persamaan gelombang yang memiliki amplitude dan frekuensi sama dinyatakan dengan persamaan berikut: 4/22/12 .

Kita peroleh solusi gelombang hasil interferensi sebagai berikut: Diagram fasor dapat diterapkan untuk penjumlahan hingga n fungsi gelombang. 4/22/12 .

INTERFERENSI AKIBAT PEMANTULAN 4/22/12 .

Cahaya yang ditransmisikan ini ketika mengenai kaca yang satunya lagi akan dipantulkan sedangkan sebagian lagi ditransmisikan. Sebagian cahaya dipantulkan dan sebagian lagi ditransmisikan. 4/22/12 . Cahaya yang dipantulkan ini tentu saja koheren dan mengacu pada konsep interferensi celah ganda cahaya-cahaya hasil pemantulan dari dua permukaan kaca tersebut dapat mengalami interferensi.Ketika seberkas cahaya masuk ke medium kaca.

4/22/12

Dapat diprediksi bahwa kedua gelombang cahaya hasil pemantulan tersebut tentu memiliki beda lintasan tertentu yaitu

ΔL = L2 – L1
dimana L1 menunjukkan lintasan gelombang cahaya (1) dan L2 menunjukkan lintasan gelombang cahaya (2).
4/22/12

Untuk jarak pisah kaca yang sangat kecil, dan juga karena cahaya yang datang hampir vertikal, beda lintasan L1 dan L2 mendekati 2t. Pengamat akan melihat pola terang-gelap sebagai fungsi ΔL. Apabila pengamat bergeser ke sebelah kiri (menuju ke pangkal titik temu kedua kaca) maka ΔL semakin lama semakin kecil dan ketika mencapai titik pangkal beda 4/22/12

interferensi yang terjadi adalah interferensi destruktif (pola gelap). Jadi pola gelap muncul jika beda lintasan ΔL = 0.pada saat pengamat menyaksikan interferensi pada titik pangkal tersebut. (berkebalikan dengan interferensi celah ganda) syarat terjadinya pola gelap dapat dinyatakan sebagai berikut: ΔL = 2t 4/22/12 .

.. ±3.. ±1. 4/22/12 .Sedangkan untuk pola terang atau interferensi konstruktif syarat keadaan yang harus dipenuhi adalah: ΔL = 2t = (n+1/2) λ  n = 0. ±2.

INTERFERENSI PADA LAPISAN TIPIS 4/22/12 .

Selain itu. terjadi juga pada tumpahan minyak.Fenomena terlihatnya warna-warna tertentu pada busa sabun yang digunakan untuk mencuci merupakan salah satu contoh dari fenomena interferensi pada lapisan tipis yang sering terjadi di kehidupan. 4/22/12 . Keduanya termasuk dalam jenis interferensi akibat pemantulan.

seperti selaput air sabun.Contoh: Gelembung air sabun berwarna-warni disebabkan terjadinya  interferensi yaitu perpaduan dua gelombang cahaya yang jatuh pada selaput tipis. 4/22/12 .

Setiap bagian pada busa sabun dapat memiliki ketebalan lapisan yang berbeda-beda. Interferensi terbentuk dari4/22/12 cahaya- . Pola warna yang terbentuk bergantung pada ketebalan lapisanlapisan tersebut.Busa sabun merupakan lapisan yang sangat tipis yang terbentuk dari medium transparan.

Mekanisme Diasumsikan pada segmen tersebut ketebalan dan indeks bias 4/22/12 adalah .

Beda lintasan antara cahaya pantul (1) dan (2) dinyatakan oleh: Interferensi pada lapisan tipis disebabkan oleh beda fase gelombang cahaya karena perbedaan lintasan. Kondisi agar terjadi interferensi konstruktif dapat ditentukan dengan persamaan berikut: 4/22/12 .

maka beda lintasan cahaya diberikan oleh: dan pada kenyataannya untuk lapisan busa sabun yang sangat tipis lintasan p1p4 sangat kecil dibanding lintasan p1p2p3 sehingga dalam kondisi tersebut pendekatan p1p4 ≈ 0 menjadi 4/22/12 valid. .Jika cahaya yang jatuh pada busa sabun hampir vertikal.

Karena melalui dua medium yang berbeda maka panjang gelombang cahaya di udara dan di busa sabun tentu saja berbeda. Berdasarkan persamaan Snellius kita dapat membuktikan bahwa: Dimana λ = panjang gelombang cahaya di udara ns = indeks bias busa sabun 4/22/12 λn =panjang gelombang cahaya di .

Persamaan tersebut menyatakan beda fase yang harus dipenuhi agar terjadi pola interferensi konstruktif pada lapisan tipis busa sabun 4/22/12 .

INTERFEROMETER 4/22/12 .

beda lintasan. cepat rambat gelombang dan indeks refraksi dari suatu bahan dalam tingkat ketilitian yang sangat akurat 4/22/12 .Suatu alat yang digunakan untuk menghasilkan interferensi dari suatu gelombang cahaya yang bertujuan untuk mengukur besaran-besaran. Besaran : panjang gelombang.

Interferometer yang digunakan dalam bidang optik disebut dengan “interferometer optik” Macam-macam interferometer : Interferometer Rayleigh Interferometer Fizeau Interferometer Twyman – Green Interferometer Mach–Zehnder Interferometer Jamin Interferometer Michelson 4/22/12 .

Interferometer Michelson 4/22/12 .

Panjang gelombang cahaya dapat ditentukan dengan persamaan 4/22/12 .Pola interferensi pada layar dapat dilihat melalui teleskop Interferometer Mihelson dapat digunakan untuk menentukan panjang suatu berkas cahaya yang belum diketahui dengan cara menggeser-geser cermin D untuk mendeteksi pola maksimum yang dapat diamati.

Interferometer Fabry–Perot 4/22/12 .

Cahaya dari sumber dirambatkan melalui cermin A dan cermin B yang kedua-duanya merupakan jenis cermin reflektortransmitter. Interferometer Fabry–Perot memiliki akurasi yang jauh lebih tinggi dibanding interferometer Michelson. cara kerja interferometer Fabry–Perot sama dengan cara kerja interferometer Michelson.Secara prinsip. seperti tampak pada gambar berikut : 4/22/12 .

Pola interferensi pada interferometer Fabry-Perot lebih jelas dibanding pola interferometer Michelson 4/22/12 .

Terima Kasih  4/22/12 .

 .

aS`aSS` SZYVYaZSSZaZ`aWZYS_SZ Z`W^XW^WZ_VS^_aS`aYW[TSZYUSS S SZYTW^`aaSZaZ`aWZYaa^TW_S^SZ TW_S^SZ W_S^SZ\SZSZYYW[TSZYTWVSZ`S_SZ UW\S`^STS`YW[TSZYVSZZVW_^WX^S_ VS^_aS`aTSSZVSS`ZYS`W``SZ SZY_SZYS`Sa^S` .

Z`W^XW^[W`W^ SZYVYaZSSZVSSTVSZY[\` V_WTa`VWZYSZZ`W^XW^[W`W^[\` SUSSUSZ`W^XW^[W`W^ Z`W^XW^[W`W^S WY Z`W^XW^[W`W^  WSa Z`W^XW^[W`W^c SZÊ ^WWZ Z`W^XW^[W`W^ SUÊWZVW^ Z`W^XW^[W`W^ SZ Z`W^XW^[W`W^ UW_[Z Z`W^XW^[W`W^ ST^  W^[` .

Z`W^XW^[W`W^ UW_[Z .

[SZ`W^XW^WZ_\SVSS S^VS\S`VS`WSa`WW_[\ Z`W^XW^[W`W^ W_[ZVS\S`VYaZSSZaZ`aWZWZ`aSZ \SZSZY_aS`aTW^S_USS S SZYTWaVW`SaVWZYSZ US^SWZYYW_W^YW_W^UW^ZaZ`aWZVW`W_\[S S_a SZYVS\S`VSS` SZSZYYW[TSZYUSS SVS\S`V`WZ`aSZVWZYSZ \W^_SSSZ VWZYSZù \SZSZYYW[TSZYUSS S  \W^YW_W^SZUW^Z aSS_a SZYVS_SZ STS`\W^YW_W^SZUW^Z .

Z`W^XW^[W`W^ ST^ Ê W^[` .

WUS^S\^Z_\US^SW^SZ`W^XW^[W`W^ ST^ Ê W^[`_SS VWZYSZ US^SW^S Z`W^XW^[W`W^ UW_[Z SS S VS^ _aTW^V^STS`SZWSaUW^Z VSZUW^Z SZYWVaSVaSZ SW^a\SSZ WZ_UW^Z^WXW`[^`^SZ_``W^ Z`W^XW^[W`W^ ST^ Ê W^[`WSa^S_ SZYSaWT`ZYYVTSZVZYZ`W^XW^[W`W^ UW_[Z_W\W^``S\S\SVS YSTS^TW^a`  .

[SZ`W^XW^WZ_\SVSZ`W^XW^[W`W^ ST^  W^[`WTWS_VTSZVZY\[S Z`W^XW^[W`W^ UW_[Z .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful