PROSES MASUKNYA NEGARA MENJADI ANGGOTA PBB PENDAHULUAN Partisipasi Negara di dalam kegiatan-kegiatan organisasi internasional adalah

ikutsertanya Negara itu sebagai anggota dalam perdebatan dan pembicaraan, tetapi tidak selalu ikut memberikan suaranya dalam pemungutan suara. Suatu Negara anggota PBB misalnya, dapat pula tidak diperkenankan untuk bersuara didalam persidangan majelis umum PBB karena telah menunggak pembayaran kontribusinya bagi badan tersebut selama dua tahun atau lebih.1 Sebaliknya partisipasi Negara bukan anggota PBB juga dimungkinkan jika Negara itu menjadi salah satu pihak yang berselisih dan perselisihan itu dibicarakan oleh dewan keamana. Namun partisipasi itu hanya terbatas pada kesempatan mengemukakan dan menjelaskan persoalannya, tanpa ikut sertadalam pemungutan suara. PEMBAHASAN Masalah keanggotaan dalam suatu organisasi internasional merupakan hal yang sangat penting dan bahkan dianggap sebagai masalah konstitusional yang pokok. Hal ini tercermin dalam konferensi mengenai Organisasi Internasional (UNCIO) di San Francisco pada tahun 1945 ketika diadakan perundingan mengenai siapa yang menjadi anggota utama (original membership) dan perumusan pasalpasal Piagam mengenai keanggotaan PBB. Dalam rangka itu pula kemudian ditetapkan ketentuanketentuan dan persyaratan masuknya negara-negara baru, pembekuan dan pengusiran (explusion) keanggotaan suatu Negara yang semuanya itu tidak saja memerlukan rekomendasi Dewan Keamanan, tetapi juga harus diputuskan oleh Majelis Umum dengan dua pertiga suara. Karena itu hakikatnya yang paling penting adalah adanya rekomendasi positif dari segenap anggota tetap Dewan Keamanan. Itulah sebabnya dikatakan bahwa masuknya negara-negara baru itu bukan semata-mata telah memenuhi ketentuan yang termuat dalam pasal-pasal Piagam (pasal 4 jo. Pasal 18), tetapi sangat bersifat politis,khususnya yang menyangkut rekomendasi Dewan Keamanan.

Persyaratan Keanggotaan PPB membedakan antara anggota asli (original member) dan anggota yang akan dating (admitted member). Pasal 3 piagam PBB menentukan nagara mana yang dapat ditetapkan sebagai Negara anggota asli (original member). Pasal 3 tersebut berbunyi : The original Members of the United Nations shall be the states which, having participated in the United Nations Conference on International Organization at San Francisco, or having previously signed the

1

Charter of the United Nations and Statute of the International Court of Justice.

.Declaration by United Nations of 1 January 1942. the admission of new Members to the United Nations. Mampu dan ingin melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam piagam Syarat ini sebetulnya menimbulkan masalah bagi Negara-negara netral seperti swiss (pada tahun 2002 telah menjadi anggota PBB) . Negara yang berpartisipasi dalam konferensi PBB di San Fransisco. the election of the non-permanent members of the Security Council. Pasal 18(2) menentukan: Decisions of the General Assembly on important questions shall be made by a two-thirds majority of the members present and voting. Persyaratan untuk menerima kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam piagam harus dinyatakan dalam pernyataan resmi secara tertulis yang ditujukan kepada sekertaris jendral (sekjen PBB) pada waktu Negara bersangkutan mengajukan permohonan untuk menjadi anggota PBB (pasal 134 Rules of procedure of the general assembli dan pasal 58 rules of procedure of the security council) c. yakni bahwa PBB hanya akan menerima keanggotaan untuk Negara yang cinta damai. Telah menandatangani deklarasi PBBtanggal 1 januari 1942. Negara Cinta Damai Syarat ini ditetapkan berdasarkan pemikiran pada saatpiagam dibuat. Persyaratan keanggotaan baru PBB harus memenuhi syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 4(1) dan Pasal 4(2) dan Pasal 18(2) Piagam PBB. karena kenetralannya kalau mereka menjadi anggota PBB akan sangat sulit untuk melaksanakan keputusan-keputusan dewan keamanan mengenai sanksisanksi ekonomi dan militer. These questions shall include: recommendations with respect to the maintenance of international peace and security. tanggal 25 April 1945 b. Hal ini disebabkan pengalaman perang dunia 1 dan 2. Karena untuk mempertahankan kenetralannya maka Negara netral tadi mempunyai alas an kuat untuk tidak bergabung dengan PBB. the election of the members of the Economic and Social Council. the election of members of the Trusteeship Council in accordance with paragraph 1 (c) of Article 86. are able and willing to carry out these obligations. yang menjadi anggota asli adalah yang memenuhisyarat : a. Pasal 4(1) menentukan: Membership in the United Nations is open to all other peace-loving states which accept the obligations contained in the present Charter and. in the judgment of the Organization. Berdasarkan pasal ini. Menerima kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam piagam. Pasal 4(2) menentukan: The admission of any such state to membership in the United Nations will be effected by a decision of the General Assembly upon the recommendation of the Security Council. sign the present Charter and ratify it in accordance with Article 110. a. bagi Negara netral. b.

Tujuan terpentingnya adalah dimana Indonesia ingin mendapatkan pengakuan keberadaannya di mata dunia. Permohonan untuk menjadi anggota PBB diputuskan oleh majlis umum atas rekomendasi dewan keamanan. . rekomendasi dewan keamanan merupakan suatu keputusan (decision) yang berdasarkan pasal 27 ayat 3 piagam PBB. Keputusan suatu Negara menjadi anggota PBB ditetapkan oleh dewan keamanan. indonesia juga pernah menyatakan atas pengeluaran dirinya sebagai ke anggotaan karena adanya konfrontasi dengan Malaysia . mampu dan ingin melaksanakan kewajiban yang ditentukandalam piagam akan diterima dan ditolak menjadi anggota. Indonesia jelas tidak menerima dan tidak menyetujui pencalonan itu. depok 2002. Dalam praktiknya.2 e. dan bidang perekonomian juga sosial . Setelah menjadi anggota PBB . 2 Iqbal darmawan. Masuknya Indonesia dalam PBB Indonesia masuk menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1950 degan tujuan dikarenakan PBB merupakan lembaga yang mefasilitasi dalam bidang hukum internasional . “masalah hukum keanggotaan RRC di WTO. keamanan internasional . Setelah menerima rekomendasi positif dari dewan keamanan tentang calon anggota. Jadi kebijaksanaan dewan keamanan dan majlis umum PBB yang menentukanapakah suatu calon anggota baru yang telah memenuhu syarat : negara cinta damai. Pernyataan presiden Soekarno ini disertai ancaman akan keluar dari keanggotaan PBB seandainya PBB menerima malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan keamanan PBB. ‘skripsi fakultas hukum Universitas Indonesia. Majlis umum PBB belum akan memutuskan untuk penerimaan anggota baru sebelum menerima rekomendasi dewan keamanan. menerima kewajiban yang ditetapkan dalam piagam. Dalam pidatonya pada tanggal 31 Desember 1946. keputusan untuk diterima sebagai anggota baru ditetapkan oleh majlis umum. majlis umum akan mengambil keputusan berdasarkan pasal 18 ayat 2 Piagam PBB. secara mengejutkan negara Malaysia dicalonkan sebagai anggota tidak tetap Dewan keamanan PBB. Dalam kovenen liga bangsa-bangsa. keputusan untuk menjadi anggota baru akan diputuskanoleh majlis Umum dengan dua per tiga 2/3 anggota yang hadir dan memberikan suaranya. sedangkan dalam PBB keputusan untuk menjadi anggota diputuskanoleh majlis umum atas rekomendasi dewan keamanan. Kebijaksanaan ini tidak ada pembatasannya dalam piagam. Bung karno menyatakan ketidak setujuannya atas pencalonan Malaysia.d.

Seminggu setelah keluar ancaman Indonesia. Pada kenyataanya.adalah 1. Memperingatkan PBB bahwa Indonesia bersungguh-sungguh akan melaksanakan Niatnya.Pada hari yang sama. kepala perutusan tetap Republik Indonesia untuk PBB menyampaikan isi pidato presiden Republik Indonesia kepada sekretaris jenderal PBB U Thant. . Agar anggota-anggota PBB lebih memilih tetap tinggalnya Indonesia dalam PBB daripada mendukung masuknya malaysia kedalam Dewan keamanan PBB 3. Peristiwa keluarnya Indonesia dari PBB merupakan puncak keterkucilan Indonesia dari pergaulan internasional yang didominasi Amerika Serikat. Keputusan untuk kembali ini dikarenakan Indonesia sadar bahwa ada banyak manfaat yang diperoleh Indonesia selama menjadi anggota PBB pada tahun 1950-1964. Pada tanggal 3 Juni 1966 akhirnya disepakati bahwa Indonesia harus kembali menjadi anggota PBB dan badan-badan internasional lainnya dalam rangka menjawab kepentingan nasional yang semakin mendesak. malaysia terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan keamanan PBB. Agar para anggota PBB tidak mendukung masuknya malaysia kedalam PBB 2. Soekarnomenyatakan Indonesia keluar dari Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) sejak tanggal 7 januari 1965. Indonesia secara resmi akhirnya kembali menjadi anggota PBB sejak tanggal 28 Desember 1966. Indonesia tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Dalam menyikapi kenyataan ini. pada rapat umum Anti pangkalan Militer Asing di kalarta. tapi keluarnya Indonesia dari PBB juga sekali lagi menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak mau dipandang sebelah mata atau dilecehkan eksistensinya sebagai negara yang berdaulat. Berikut isi pidato tersebut . Presiden republik Indonesia Ir. Indonesia kembali menjadi anggota PBB dikarenakan adanya desakan dari komisi bidang pertahanan keamanan dan luar negeri DPR GR terhadap pemerintah Indonesia.

peraturan yang harus dipatuhi sekretariat PBB. dan para pejabat organisasi internasional tak berdaya di bawah tekanan RRC (China). Filipina. Keanggotaan Kosovo dalam PBB . China menyatakan bahwa Taiwan adalah satu bagian dari provinsinya. menunjukkan fakta bahwa Taiwan tidak bermaksud untuk bersaing dengan pemerintah China. Kembalinya Indonesia menjadi anggota PBB dilanjutkan dengan tindakan pemulihan hubungan dengan sejumlah negara seperti India. yang isi suratnya berisis klarifikasi atas fakta-fakta pengajuan aplikasi Taiwan. Oleh karena alasan-alasan ini. Presiden Chen Shuibian mengirim surat permohonan yang kedua kalinya ke kantor Sekretaris Jenderal Ban Kimoon. Keanggotaan Taiwan dalam PBB Taiwan belum terdaftar sebagai anggota PBB sampai saat ini . dikarenakan Bersamaan dengan berkembangnya ekonomi dan kekuatan militer China. bukan memakai nama Republik Of China (ROC) yang selama ini menjadi nama resmi dari negara Taiwan untuk masuk ke organisasi PBB lainnya.Kembalinya Indonesia mendapat sambutan baik dari sejumlah negara Asia bahkan dari pihak PBB sendiri hal ini ditunjukkan dengan ditunjuknya Adam Malik sebagai Ketua Majelis Umum PBB untuk masa sidang tahun 1974. Australia. Dengan pertimbangan atas kondisi-kondisi yang telah disebutkan di atas. dan sejumlah negara lainnya yang sempat remggang akibat politik konfrontasi Orde Lama. oleh sebab itu Taiwan tidak diizinkan menjadi anggota organisasi internasional atas nama negara. yang mana mengajukan permohonan kepada PBB untuk mengizinkan Taiwan masuk menjadi anggota PBB atas nama Taiwan. sesuai dengan peraturan prosedur PBB aplikasi tersebut harus diserahkan kepada Dewan Keamanan. Thailand. pemerintah negara di dunia.

Pengantar Hukum Organisasi Internasional. 1990 Prof. Hukum Organisasi Internasional. 2004 Sumaryo Suryokusumo. . Jakarta. Jakarta. UI Press.Daftar Pustaka Sri Setianingsih Suryadi. Bandung. Alumni 2004. Dr. Studi Kasus Hukum Organisasi Internasional (Edisi II). Sumaryo Suryokusumo. UI-Press.

f f° f€°fnn f°n  n    f¾ff°½f¾f° f°–¯ °©f f°––ff¾f fff°–¯ ¯ °¾ff  f  - –fff°– ½f¾½f¾ ff¯°€  °¾9  f°f°¾¾n f°––f½  @ f¯ °f° ff°–f° ff¾9 f°––f©f°f  9 ¾fff° f°––ff° f9 f¾¯ ¯ °¾ff¾ f–f¯f°f  °f° ff¯9f¾f%% f°9f¾f%% f°9f¾f%%9f–f¯9  9f¾f%%¯ ° °f° . ¯ ¾½° D° -f°¾¾½ °f ½ fn °–¾f ¾ nfnn ½  –f°¾n°f° ° ½ ¾ °.

f f° ° © –¯ °€ –f°f°  f f  f° °–nf ¾  –f°¾  9f¾f%%¯ ° °f° @ f ¯¾¾°€f°¾n¾f ¯ ¯ ¾½° D° -f°¾  €€ n  f n¾°€  ° f¾¾ ¯ ½°  n¯¯ ° f°€  n.

°n  9f¾f%%¯ ° °f°  n¾°¾€  ° f¾¾ ¯ °¯½f° ¾°¾¾f ¯f  f   ¾¯f©€ ¯ ¯ ¾½ ¾ °f° °– @ ¾  ¾°¾¾f°n   n¯¯ ° f°¾ ¾½ n ¯f° °f°n €° °f°f½ fn f° ¾ n    n°€  °° ½ ¯f° °¯ ¯ ¾€  n.

°n    n°€ ¯ ¯ ¾€ n°¯nf°  nf.

°n    n°€¯ ¯ ¾€ @¾ ¾½.

°n°fnn f°n ½ff–f½%n%€ n   f ¯¾¾°€° . ¯ ¾ D° -f°¾  f  - –ff.

f¯½ f°°–°¯ f¾f°ff° f© f°  f© f°f°–  °f° ff¯½f–f¯ ff°¾ °f¯ °¯ f°¯f¾ff f–- –ff ° –ff° f¾ ½ ¾¾¾%½f ff°  f¯ °©f f°––f9 %  f–- –ff° f f °f ° ff°°fff¯  f¯ °©f f°––f 9 ff°¾f°–f¾°¯ f¾f°ff° ½¾f°  ½¾f° f° f¯f°f°¯ °– °f¾f°¾ ¾f°¾ °¯ f°¯  f °f°¯ ¯½ ff°f° ° ff°°f¯ff- –ff° ff  ¯ ¯½°fff¾f°f° f –f °– °–f°9  .°ff¯f ff°  f½f°  f¾ff°½ ¯f°½f f¾ff½f–f¯  f f° ff9 f°fff° ¯ ° ¯f f°––ff°°- –fff°–n°f f¯f f° ¾ f f°½ °–ff¯f°½ f°– °f f°   . ° ¯f f© f°  f© f°f°–  °f° ff¯½f–f¯  9 ¾fff°°¯ ° ¯f f© f°  f© f°f°–  °f° ff¯½f–f¯f¾ °fff° ff¯½ °fff° ¾¯¾ nff ¾f°– ©f° ½f f¾  f¾© ° f%¾ © °9 %½f f f- –ff ¾f°–f°¯ °–f©f°½ ¯°f°°¯ °©f f°––f9 %½f¾f ¾€ ½n  € – ° ff¾¾ ¯  f°½f¾f ¾€½n  € ¾ nn°n% n  .

 80..7. /.0802-07 :3 .8.35708/03 $40.50.3!      f f¯ff° #¯f¾ff¯ f°––ff°.39/.349.30.309/.380-.3! 3/4308.f¾°f° ° ¾f ff¯9  ° ° ¾f¯f¾¯ °©f f°––f9 ½f ff°––f ½ ¯  –f°©f° f °ff°9  ¯ ½ff° ¯ f–ff°–¯ €f¾f¾ ff¯  f°–¯° °f¾°f  f¯f°f°° °f¾°f  f°  f°–½  °¯f°©–f¾¾f @©f° ½ °°–°ff ff ¯f°f° ° ¾f°–°¯ ° f½ff° ½ °–ff° f ff°°f ¯ff °f    f¯ °©f f°––f9  ° ° ¾f©–f½ °f¯ °fff°ff¾½ °– ff° °f¾ f–f  f°––ff°f °ff f°f4317439.9/..9.20309::503.349.2030:9.3!80.943.3/.3..3.25/.3..349..9/.5.8..30..2.43...f©¾¯¯9  ¯ff°¯ ¯¾f°°½ ° ¯ff° f°––f f¾ ¯¯ ° ¯f ¯ ° f¾ f° f¯f°f° f  ©f¾f°ff° f° f¯f°f° f°¯f©¾¯¯9 f°–¯ ° °f°f½ff¾fnf°f°––f ff°– f¯ ¯ °¾ff  ° –ffn°f f¯f ¯ ° ¯f f© f°f°–  f½f° ff¯½f–f¯ ¯f¯½ f°°–° ¯ f¾f°ff° f© f°f°–  °f° ff¯½f–f¯ff°  ¯f f° f¯ °©f f°––f   ©f¾f°ff°° ff f½ ¯ ff¾f°°f ff¯½f–f¯ ff¯½f°f  ¯ ° f¾ f°  f¯f°f°¯ ½ff°¾f ½¾f°% n¾°%f°–  f¾ff°½f¾fff½f–f¯9   ½¾f°¾f- –ff¯ °©f f°––f9   f½f°  f° f¯f°f°   ½¾f°°¯ °©f f°––f fff° ½¾f° ¯f©¾D¯¯ °–f° f½ –f$ f°––ff°–f  f°¯ ¯ f°¾ff°f    f¯ ° ¯f ¯ ° f¾½¾€ f f° f¯f°f° °f°–nf°f°––f ¯f©¾¯¯ff° ¯ °–f¯  ½¾f°  f¾ff°½f¾fff9f–f¯9    .43.8/03.7.0.2...39: .203072.!203072.3.909..330...7343/8079.203.  9 ¯°f°°¯ °©f f°––f9  ½¾f° ¯f©¾¯¯ff¾ ¯ ° f¾ f° f¯f°f°  ff¯ ° °–f f°–¾f f°–¾f  ½¾f°°  ¯f¾ f–ff°––f f  f½f°  ¯f©¾¯¯ ¾ f°–f° ff¯9  ½¾f°°¯ °©f f°––f ½¾f° ¯f©¾¯¯ ff¾ ¯ ° f¾ f° f¯f°f° .809::.3..30:.33./.8503.89/.8..2.9.3.8. !073.909.3.9.50.7/...734203.43.70.9. 2./.3. /..

 J@ #¾½¾€ff¾¯D° ¾f¾° ° ¾f  ½   .

 9075 80-.. /.9..3:. . /. 3/4308.734203.2 ! /.93.20.0/.-078:3: 8:3:.05.0.8.38 5/.3 5:3.9.. ! 80.5#05:-3/4308..79..5. .. 80.9 :2:2 39 5. 05. 0:. 2. /.308890383.30..3 907 83 / .7.73.39 07:985/.. 0:.843.3.9..3.7 /.3 !  ..73. 0907:.3-07/. $07.5 0:.8:3./..  !708/03 705:- 3/4308. 2.9  ° ° ¾f  ¯ f ¯ °©f  f°––f 9  f °ff° f f°f ¾ff° f ¯¾  f°– ½ ff°f°  f¯f°f° f°f ° –  9   f f½ ½ ¯ °f ° ° ¾f  9f f f°––f  °  f°f ¾ ½ff ff° ° ¾ff¾ ¯ f¯ °©f f°––f9  f° f f° f f°° °f¾°ff°°f ff¯ f°–f ¯ °©ff   ½ °°–f° °f¾°f f°– ¾ ¯f° ¯ ° ¾f   ½¾f° °  ¯ f ° f °ff° ° ° ¾f ¾f f ff f f f°f ¯f°€ff f°– ½   ° ° ¾f ¾ f¯f ¯ °©f  f°––f 9  ½f f f°    ° ° ¾f ¾ nff  ¾¯ f°f  ¯ f ¯ °©f  f°––f 9  ¾ ©f f°––f   ¾ ¯    .7 !07807.7 .!&%..3.3...5 0.7.5 03../.7803/07..349.2!   ./.3909. 909...!. -.7  !0789.7.3!  025073.8:3.9.  2.203/::32./.3 05.320.38.  !.:. .3 3  5.2. 7. 20250740 . /.7 ! 207:5.8 .5. ! 0- 202 909.3 0.5 93... 9/.3/.945708/03#05:-3/4308. 203:3:. 03.7.8.. 3/4308.3 80-0.349.3  $023: 8090. 3/4308.   . .203/::32..38.2.3 3/4308..94 90780-:9 ...3 /.8../.349.3!-..  3/4308. -. 9/.3.3.8 207.2.9.3.7 507.3 3/4308.80709.38.9.. /:3.80-./.30.9  9./.0/.8.2.3 39073. 3/4308. 7  $40.3/4308.3 //423.:.9.507:9:8.2 203.2.9. 9/.2.3 3/4308. 0:.3-.: /5.3.3...75.:/0.:39:!203.7 ! :.7 .75.25.!9/.349.

f¾ f–f f.f© ¾D¯¯9 °¯f¾f¾ f°– f°    ¯ f°f ° ° ¾f ¯ °©f  f°––f 9  f°©f° °–f° ° ff° ½ ¯f°  °–f° °–f° ¾ ©¯f ° –ff ¾ ½  ° f  ½°f  @ff°  ¾ff  f° ¾ ©¯f ° –ff f°°ff°–¾ ¯½f ¯––f°–f f½°€°f¾ f¯f   f°––ff°@ff° ff¯9  @ff° ¯   f€f ¾ f–f f°––f 9  ¾f¯½f ¾ff °  f °ff° ¾f¯ff° °–f°  ¯ f°–°f °¯ f°  ff° ¯  . ¯ f°f° ° ¾f¯ ° f½f¾f¯ f° f f¾ ©¯f° –ff¾f ff° f½f9 ¾ °  f° °©f° °–f° °©°f f¯.

°f  ½ ¯ °f ° –ff  °f  f° ½ff ½ ©f f –f°¾f¾ ° °f¾°f f  ff  ff  f°f° .

 %.

°f%  .

°f ¯ °fff° ff @ff° f ff ¾f f–f° f ½°¾°f    ¾ f   @ff°  f °f° ¯ °©f  f°––f –f°¾f¾ ° °f¾°fff¾°f¯f° –ff    f °f ff¾f° ff¾f° °  ¯ °°©f° €ff ff @ff°  f ¯f¾  ° ¾f°– °–f°½ ¯ °f.

°f f°–¯f°f¯ °–f©f°½ ¯°f° ½f f9 °¯ °–°f°@ff° ¯f¾ ¯ °©f  f°––f 9  ff¾ °f¯f @ff°  f° ¯ ¯ff °f¯f  ½  € .

°f %.

% f°– ¾ f¯f ° ¯ °©f  °f¯f  ¾¯ f ° –ff @ff° ° ¯f¾   –f°¾f¾ 9  f°°f   °–f° ½ ¯ f°–f°ff¾° ¾ ° ¾f°– f ¾ f° ff¾ 9 ¾ °.

 ° f°¯ °–¯¾f ½ ¯°f° f°–  f f°f   f°   f¾  ° f f° ¯°  f°– ¾ ¾f°f ¾¾ f€f¾ ff¾ €ff €ff ½ °–f©f° f½f¾ @ff°  ½ ff° f°– f¾ ½f ¾  ff 9  ¾ ¾f °–f°½ ff°½¾ 9 f½f¾ ¾ f¾ ¾ ff° ½f f f° f¯f°f°   f°––ff°¾ ff¯9    .

     f€f9¾ff  f°°–¾f  9 °–f°f¯–f°¾f¾° °f¾°f fff D9 ¾¾  ¯f¾¯ ¯–f°¾f¾° °f¾°f fff D 9 ¾¾  9€  ¯f¾¯  f¾¾¯–f°¾f¾° °f¾°f% ¾%  f° °– ¯°   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful