P. 1
Cuaca Dan Iklim

Cuaca Dan Iklim

|Views: 576|Likes:
Published by 02091951

More info:

Published by: 02091951 on Oct 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2012

pdf

text

original

Mengendarai Kuantum Menuju Komputer Fotonik

Mukhlis Akhadi (BATAN)

Suatu ketika Hamlet berkata pada Horotio : masih lebih banyak lagi sesuatu di sorga dan di bumi
dari pada apa yang dimimpikan dalam filsafatmu, Horotio. Kalimat tersebut barangkali tepat pula
bila ditujukan kepada para fisikawan di akhir abad ke-19. Memasuki permulaan abad ke-19,
perkembangan dalam penelitian fisika klasik dapat dikatakan tidak mengalami kemajuan yang
berarti. Pada saat itu, hampir semua bidang studi yang berhubungan dengan fisika, seperti
mekanika, gelombang, bunyi, optik, listrik, magnet dan sebagainya telah dikuasai semuanya.
Menjelang akhir abad ke-19, sebagian besar fisikawan merasa puas dengan pengetahuan yang
mereka kuasai. Mereka mengira bahwa setiap hal penting dalam fisika sudah diketahui, dan
merasa tidak akan ada lagi penemuan-penemuan besar untuk menjelaskan fenomena alam.
Persoalan-persoalan yang masih ada dalam fisika diyakini akan dapat dipecahkan menggunakan
kerangka teori yang suatu ketika dapat ditemukan.

Teori Kuantum

Pada tahun 1900, fisikawan berkebangsaan Jernam Max Planck (1858-1947), memutuskan
untuk mempelajari radiasi benda hitam. Beliau berusaha untuk mendapatkan persamaan
matematika yang menyangkut bentuk dan posisi kurva pada grafik distribusi spektrum. Planck
menganggap bahwa permukaan benda hitam memancarkan radiasi secara terus-menerus,
sesuai dengan hukum-hukum fisika yang diakui pada saat itu. Hukum-hukum itu diturunkan dari
hukum dasar mekanika yang dikembangkan oleh Sir Isaac Newton. Namun dengan asumsi
tersebut ternyata Planck gagal untuk mendapatkan persamaan matematika yang dicarinya.
Kegagalan ini telah mendorong Planck untuk berpendapat bahwa hukum mekanika yang
berkenaan dengan kerja suatu atom sedikit banyak berbeda dengan hukum Newton.

Max Planck mulai dengan asumsi baru, bahwa permukaan benda hitam tidak menyerap atau
memancarkan energi secara kontinyu, melainkan berjalan sedikit demi sedikit dan bertahap-
tahap. Menurut Planck, benda hitam menyerap energi dalam berkas-berkas kecil dan
memancarkan energi yang diserapnya dalam berkas-berkan kecil pula. Berkas-berkas kecil itu
selanjutnya disebut kuantum. Teori kuantum ini bisa diibaratkan dengan naik atau turun
menggunakan tangga. Hanya pada posisi-posisi tertentu, yaitu pada posisi anak tangga kita
dapat menginjakkan kaki, dan tidak mungkin menginjakkan kaki di antara anak-anak tangga itu.
Dengan hipotesa yang revolusioner ini, Planck berhasil menemukan suatu persamaan
matematika untuk radiasi benda hitam yang benar-benar sesuai dengan data percobaan yang
diperolehnya. Persamaan tersebut selanjutnya disebut Hukum Radiasi Benda Hitam Planck yang
menyatakan bahwa intensitas cahaya yang dipancarkan dari suatu benda hitam berbeda-beda
sesuai dengan panjang gelombang cahaya. Planck mendapatkan suatu persamaan : E = hn,
yang menyatakan bahwa energi suatu kuantum (E) adalah setara dengan nilai tetapan tertentu
yang dikenal sebagai tetapan Planck (h), dikalikan dengan frekwensi (n) kuantum radiasi.
Hipotesa Planck yang bertentangan dengan teori klasik tentang gelombang elektromagnetik ini
merupakan titik awal dari lahirnya teori kuantum yang menandai terjadinya revolusi dalam bidang
fisika. Terobosan Planck merupakan tindakan yang sangat berani karena bertentangan dengan
hukum fisika yang telah mapan dan sangat dihormati. Dengan teori ini ilmu fisika mampu
menyuguhkan pengertian yang mendalam tentang alam benda dan materi. Planck menerbitkan
karyanya pada majalah yang sangat terkenal. Namun untuk beberapa saat, karya Planck ini tidak
mendapatkan perhatian dari masyarakat ilmiah saat itu. Pada mulanya, Planck sendiri dan
fisikawan lainnya menganggap bahwa hipotesa tersebut tidak lain dari fiksi matematika yang
cocok. Namun setelah berjalan beberapa tahun, anggapan tersebut berubah hingga hipotesa
Planck tentang kuantum dapat digunakan untuk menerangkan berbagai fenomena fisika.

Pengakuan terhadap Teori Kuantum

Teori kuantum sangat penting dalam ilmu pengetahuan karena pada prinsipnya teori ini dapat
digunakan untuk meramalkan sifat-sifat kimia dan fisika suatu zat. Pengakuan terhadap hasil
karya Planck datang perlahan-lahan karena pendekatan yang ditempuhnya merupakan cara
berfikir yang sama sekali baru. Albert Einstein misalnya, menggunakan konsep kuantum ini untuk
menjelaskan efek foto listrik yang diamatinya. Efek foto listrik merupakan fenomena fisika berupa
pancaran elektron dari permukaan benda apabila cahaya dengan energi tertentu menimpa
permukaan benda itu. Semua logam dapat menunjukkan fenomena ini. Penjelasan Einstein
mengenai efek foto listrik itu terbilang sangat radikal, sehingga untuk beberapa waktu tidak
diterima secara umum. Namun ketika Einstein menerbitkan hasil karyanya pada tahun 1905,
penjelasannya memperoleh perhatian luas di kalangan fisikawan. Dengan demikian, penerapan
teori kuantum untuk menjelaskan efek foto listrik telah mendorong ke arah perhatian yang luar
biasa terhadap teori kuantum dari Planck yang sebelumnya diabaikan.

Pada tahun 1913, Niels Bohr, fisikawan berkebangsaan Swedia, mengikuti jejak Einstein
menerapkan teori kuantum untuk menerangkan hasil studinya mengenai spektrum atom
hidrogen. Bohr mengemukakan teori baru mengenai struktur dan sifat-sifat atom. Teori atom Bohr
ini pada prinsipnya menggabungkan teori kuantum Planck dan teori atom dari Ernest Rutherford
yang dikemukakan pada tahun 1911. Bohr mengemukakan bahwa apabila elektron dalam orbit
atom menyerap suatu kuantum energi, elektron akan meloncat keluar menuju orbit yang lebih
tinggi. Sebaliknya, jika elektron itu memancarkan suatu kuantum energi, elektron akan jatuh ke
orbit yang lebih dekat dengan inti atom.

Dengan teori kuantum, Bohr juga menemukan rumus matematika yang dapat dipergunakan
untuk menghitung panjang gelombang dari semua garis yang muncul dalam spektrum atom
hidrogen. Nilai hasil perhitungan ternyata sangat cocok dengan yang diperoleh dari percobaan
langsung. Namun untuk unsur yang lebih rumit dari hidrogen, teori Bohr ini ternyata tidak cocok
dalam meramalkan panjang gelombang garis spektrum. Meskipun demikian, teori ini diakui
sebagai langkah maju dalam menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang terjadi dalam
tingkatan atomik. Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk
menjelaskan berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan teori klasik.
Pada tahun 1918 Planck memperoleh hadiah Nobel bidang fisika berkat teori kuantumnya itu.
Dengan memanfaatkan teori kuantum untuk menjelaskan efek foto listrik, Einstein memenangkan
hadiah Nobel bidang fisika pada tahun 1921. Selanjutnya Bohr yang mengikuti jejak Einstein
menggunakan teori kuantum untuk teori atomnya juga dianugerahi hadiah Nobel Bidang fisika
tahun 1922.

Tiga hadiah Nobel fisika dalam waktu yang hampir berurutan di awal abad ke-20 itu menandai
pengakuan secara luas terhadap lahirnya teori mekanika kuantum. Teori ini mempunyai arti
penting dan fundamental dalam fisika. Di antara perkembangan beberapa bidang ilmu
pengetahuan di abad ke-20, perkembangan mekanika kuantum memiliki arti yang paling penting,
jauh lebih penting dibandingkan teori relativitas dari Einstein. Oleh sebab itu, Planck dianggap
sebagai Bapak Mekanika Kuantum yang telah mengalihkan perhatian penelitian dari fisika makro
yang mempelajari objek-objek tampak ke fisika mikro yang mempelajari objek-objek sub-atomik.
Dengan adanya perombakan dalam penelitian fisika yang dimulai sejak memasuki abad ke-20 ini,
maka perhatian orang mulai tertuju ke arah penelitian atom, dan melalui penjelasan teori
kuantum inilah manusia mampu mengenali atom dengan baik.

Sebagai konsekwensi atas beralihnya bidang kajian dalam fisika ini, maka muncullah beberapa
disipilin ilmu spesialis seperti fisika nuklir dan fisika zat padat. Fisika nuklir yang

perkembangannya cukup kontraversial kini menawarkan berbagai macam aplikasi praktis yang
sangat bermanfaat dalam kehidupan. Energi nuklir misalnya, saat ini telah mensuplai sekitar 17
% kebutuan energi listrik dunia. Sedang perkembangan dalam fisika zat pada telah
mengantarkan ke arah revolusi dalam bidang mikro elektronika, dan kini sedang menuju ke arah
nano elektronika.

Cairan Kuantum

Setelah berumur hampir seabad, teori kuantum masih tetap mendapatkan perhatian yang sangat
besar di kalangan fisikawan. Hal ini terbukti dengan dimenagkannya hadiah Nobel bidang fisikat
untuk tahun 1998 ini oleh tiga kampium fisika kuantum akhir abad 20. Komite Nobel Karolinska
Institute di Stockholm, Swedia, pada tanggal 13 Oktober 1998 mengumunkan Prof. Robert B.
Laughlin (universitas Stanford, California), Prof. Daniel C. Tsui (Universitas Princeton) dan Prof.
Horst L. Stoemer (fisikawan berkebangsaan Jerman yang bekerja di Universitas Columbia, New
York dan sebagai peneliti di Bell Labs, New Yersey) sebagai nobelis fisika tahun 1998.

Pada tahun 1982, Horst L. Stoemer dan Daniel C. Tsui melakukan eksperimen dasar
menggunakan medan magnet sangat kuat pada temperatur rendah berupa superkonduktor yang
didinginkan helium cair. Para nobelis fisika itu berjasa dalam penemuan mekanisme aksi elektron
dalam medan magnet kuat sehingga membentuk partikel-partikel elementer baru yang
bermuatan mirip elektron. Pada tahun yang bersamaan, Robert B. Laughlin juga
menginformasikan fenomena serupa. Melalui analisa fisika teori, mereka berhasil menunjukkan
bahwa elektron-elektron dalam medan magnet sangat kuat dapat berkondensasi membentuk
semacam cairan sehingga melahirkan apa yang disebut sebagai cairan kuantum.

Hasil yang diperoleh ketiga fisikawan tadi sangat penting artinya bagi para peneliti dalam
memahami struktur suatu materi, termasuk pembuatan aneka perangkat superkonduktor.
Temuan itu juga merupakan terobosan dalam pengembangan teori dan eksperimen fisika
kuantum serta pengembangan konsep-konsep baru dalam beberapa cabang fisika moderen.
Para nobelis fisika sama-sama mempunyai latar belakang riset dalam pengembangan fisika
kuantum yang mempunyai peran penting bagi kemajuan riset pengembangan perangkat fotonik.
Temuan para nobelis fisika tahun 1998 ini telah memungkinkan efek kuantum menjadi mudah
diamati. Fenomena Efek Hall (Hall effect) dalam fisika yang pertama kali dilaporkan oleh Edwin
H. Hall pada tahun 1879 dan sangat menakjubkan itu, kini seakan-akan dapat diamati oleh para
fisikawan di manapun.

Komputer Fotonik

Kiprah mekanika kuantum di masa-masa mendatang barang kali masih akan tetap
diperhitungkan. Misteri lain yang mungkin lebih besar barangkali masih tersimpan dalam teori
kuantum itu. Paling tidak para ilmuwan berharap, dengan mengendarai kuantum mereka akan
sampai pada tujuan mewujudkan impian berupa hadirnya perangkat fotonik serta gagasan
pembuatan komputer fotonik (komputer kuantum) yang akan mencerahkan kehidupan manusia di
awal milenium ketiga ini. Arun N. Netravali, ilmuwan berdarah India yang menjabat Vice
President Research Lucent Technology dan Direktur Bell Labs di AS, telah melakukan terobosan
dalam proses pembuatan prosesor fotonik, sehingga beliau pada tahun 1998 menerima
penghargaan tertinggi dari perusahaan elektronik NEC, Jepang. Basis dari perangkat fotonik ini
bukan lagi pada teknologi silikon seperti yang saat ini banyak diaplikasikan, melainkan mulai
bergerak menuju teknologi foton yang memanfaatkan cahaya.

Para ilmuwan sebetulnya sudah sejak lama berusaha mencari alternatif lain dalam
mengembangkan komputer elektronik. Mereka umumnya melirik jalam untuk beralih dari
komputer elektronik ke komputer fotonik. Banyak kelebihan yang dimiliki komputer fotonik ini jika
kelak benar-benar bisa diwujudkan, yaitu :

•Pada komputer elektronik sinyal dibawa oleh berkas elektron, sedang pada komputer
fotonik sinyal itu dibawa oleh foton (gelombang elektromagnetik) dalam bentuk cahaya
tampak.

•Gerak atau cepat rambat foton cahaya paling tidak mencapai tiga kali lebih cepat
dibandingkan cepat rambat elektron. Oleh sebab itu, komputer fotonik akan bekerja jauh
lebih cepat dibandingkan komputer elektronik yang saat ini beredar.
•Semua cahaya tidak dapat saling mengganggu (berinterferensi) kecuali jika cahaya-
cahaya itu berasal dari satu sumber. Di samping itu, cahaya dapat merambat di dalam
serat optis yang lebih ringan dibandingkan logam (tembaga) yang saat ini dipakai
sebagai media aliran elektron pada komputer elektronik.
•Pada komputer elektronik data disimpan dalam medium dua dimensi seperti pita
magnetik dan yang lainnya, sedang pada komputer fotonik data dapat disimpan secara
tiga dimensi dalam medium yang ketebalannya berorde mikro meter. Jadi satu
penyimpan fotonik bisa memiliki kapasitas yang setara dengan ribuan penyimpan
elektronik.

Kini para ilmuwan telah berhasil menghadirkan sumber cahaya dalam bentuk laser
semikonduktor dan LED (Light Emitting Diode) yang dapat dipakai sebagai sumber pembawa
sinyal pada komputer fotonik. Teknologi serat optis pun sudah berkembang sedemikian rupa
sehingga siap mendukung tampilnya perangkat fotonik. Riset menuju terwujudnya komputer
fotonik berkembang sangat pesat dan telah mencapai tingkat yang sangat mengagumkan. Tidak
mustahil jika komputer fotonik ini akan segera hadir di hadapan kita dan ikut meramaikan unjuk
kecanggihan teknologi moderen di awal milenium tiga ini.

Sumber : Elektro Indonesia no. 31/VI (Mei 2000)

Iklim, Cuaca dan Perubahannya

Posted on Oktober 15, 2006 by bumiindonesia| 3 Komentar

http://bumiindonesia.wordpress.com/2006/10/15/iklim-cuaca-dan-perubahannya/

Cuaca adalah suatu gejala alam yang terjadi dan berubah dalam waktu singkat, yang kita
rasakan dari menit ke menit, jam ke jam. Contoh: perubahan harian dalam temperatur,
kelembaban, angin, dll. Sedangkan Iklim adalah rata-rata peristiwa cuaca di suatu daerah
tertentu, termasuk perubahan ekstrem musiman dan variasinya dalam waktu yang relatif
lama, baik secara lokal, regional atau meliputi seluruh bumi kita.

Iklim dipengaruhi perubahan-perubahan yang cukup lama dari aspek-aspek seperti orbit
bumi, perubahan samudra, atau keluaran energi dari matahari. Perubahan iklim
merupakan sesuatu yang alami dan terjadi secara pelan. Contoh: musim (dingin, panas,
semi, gugur, hujan dan kemarau) dan gejala alam khusus (seperti tornado dan banjir).

Sebagai negara yang secara geografis berada di sekitar ekuator, Iklim di Indonesia adalah
tropis yang terdiri dari musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan
Oktober sampai Februari, sedangakan musim kemarau terjadi pada bulan Maret-September.

Perubahan Cuaca dan Iklim

KONDISI cuaca dan iklim di muka bumi saat ini terlihat makin bervariasi dan
menyimpang. Khusus untuk kawasan Indonesia, telah tampak sejak tahun 1991.

Contohnya, sebelumnya ada prediksi bakal hadirnya kegiatan gejala alam El Nino dari
beberapa praktisi termasuk pula Badan Meteorologi dan Geofisika di awal tahun hingga
kuartal pertama tahun 2001. Kenyataannya kondisi hadirnya El Nino ini sirna karena hingga
awal Juni 2001 hujan masih mengguyur di berbagai kawasan Indonesia.

Beberapa kalangan yang menyebutkan munculnya kegiatan gejala alam El Nino pada tahun
2001 ataupun tahun 2002 umumnya mengacu pada kejadian beberapa dasawarsa
sebelumnya. Sejak tahun 1961, 1972, 1982, dan 1991 telah muncul kondisi kemarau yang
umumnya merupakan dampak kegiatan gejala alam El Nino. Bahkan dari kalangan
internasional telah muncul prediksi pada awal tahun 2001 yaitu akan muncul kegiatan gejala
alam El Nino tahun 2001 yang akan berdampak besar berupa kekeringan dan kebakaran di
kawasan Papua Niugini di timur wilayah Indonesia.

Munculnya cuaca dan iklim di Bumi merupakan ekspresi pemerataan energi yang diterima
Bumi secara tidak merata. Wilayah tropis di sekitar ekuator sepanjang tahun menerima
energi radiasi sang surya yang berarti surplus energi, sementara di lain pihak wilayah
subtropis dan kutub hanya menerima sedikit energi dan berlangsung relatif singkat dan
bergantian akibat garis edar revolusi Bumi mengitari Matahari.

Sebagai reaksi adanya beda dalam penerimaan energi ini dalam satu sistem muka bumi,
terjadi usaha pemerataan melalui proses fisika dan kimiawi sedemikian sehingga terjadi
peredaran udara di atmosfera dan peredaran laut. Dua sistem pemerataan energi ini dalam
bentuk gerak (angin, gelombang dan arus), energi termal (panas) dan energi laten (uap air)
berupa awan, hujan, salju, guntur dan sebagainya, yang kesemuanya berlangsung alamiah.

Proses fisika dan kimiawi tersebut sangat tergantung pada besarnya energi dari sang surya
selain ulah manusia yang kian bertambah. Pertambahan manusia dan mobilitasnya ikut
memberi kontribusi dalam proses pemerataan energi yang menambah variasi alam yang
tidak tetap dan sama dari waktu ke waktu dan masa ke masa.

Matahari memancarkan energi radiasi yang merupakan hasil reaksi fusi dan fisi gas hidrogen
dan helium yang bila dilihat dari Bumi tampak seperti titik-titik ledakan energi. Berdasarkan
pengembangan lanjutan dan memperhatikan kondisi cuaca dan iklim, ternyata ada kaitan
antara makin tingginya jumlah bintik-bintik Matahari dengan peningkatan pancaran energi
Matahari. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan sejak tahun 1960-1962 yang memuncak
dengan jumlah bintik di atas 175 buah dalam sebulan. Siklus kegiatan Matahari umumnya
memuncak pada akhir setiap dasawarsa dan minimum di pertengahan dasa warsa. Untuk
kurun waktu tahun 2000-2001 terekam kurang dari 175 buah bintik Matahari yang berarti
kondisi puncaknya tidak sama dengan tiga dasawarsa periode 1961-1961, 1980-1981, dan
1990-1992.

Dari gambaran tersebut dapat diartikan sementara bahwa kondisi pemberi gerak di alam
raya khususnya di muka Bumi untuk periode tahun 2000-2001 yang kini sedang berjalan
relatif lebih rendah dari kondisi sebelumnya. Dengan demikian besarnya energi radiasi sang
surya tidak sama dengan energi yang dipancarkan khususnya dalam dua dasa warsa terakhir.
Energi radiasi tersebut umumnya digunakan dalam peredaran udara dan kelautan yang ada
di muka Bumi yang umumnya mempunyai tenggang waktu.

Perhitungan munculnya El Nino

Yang cukup mencolok dan perlu menjadi perhatian kita adalah perkembangan kondisi dalam
dua dasa warsa terakhir. Dari hasil peningkatan kegiatan Matahari yang muncul dan
memuncak pada masing-masing dasawarsa itu menunjukkan adanya peningkatan yang lebih
intensif dibandingkan kejadian periode sebelumnya.

Dampak peningkatan tersebut menghasilkan kegiatan El Nino yang kuat untuk pertama kali
pada periode 1982 dengan dampak kekeringan dan kebakaran yang meluas di Kalimantan.
Selanjutnya tahun 1987 muncul lagi kegiatan El Nino. Tetapi, secara keseluruhan cuaca dan
iklim untuk periode 1982-1990 cukup baik sehingga usaha swasembada pangan nasional saat
itu berhasil dan Pemerintah Indonesia mendapat penghargaan dari Organisasi Pangan dan
Pertanian PBB.

Namun, kondisi dasa warsa berikutnya dengan peningkatan kegiatan Matahari yang lebih
intensif dengan puncak ganda untuk bintik Matahari dan jumlah ledakannya memberi
indikasi peningkatan radiasi yang intensif dan berdampak kegiatan El Nino yang cukup
panjang 1991-1994 dan muncul gejala alam El Nino kuat dengan kurun waktu yang singkat
tahun 1991/1998 yang dinyatakan sebagai bencana yang dahsyat di Indonesia dan seluruh
dunia.

Patut pula dicatat bahwa deposit batu bara di lahan gambut membara untuk yang pertama
kali di tahun 1991 yang kemudian berulang hingga awal tahun 1998. Selain itu swasembada
pangan nasional yang diupayakan Pemerintah Indonesia hancur oleh kondisi alam yaitu
cuaca dan iklim yang tidak menentu hingga tahun 2000 atau mungkin sampai saat ini.
Kajian dalam bahasan ini merupakan kajian terbatas yang tentunya perlu dikembangkan
lebih lanjut untuk menuju kajian yang komprehensif atau dapat dipercaya.

Berdasarkan pengalaman tersebut dan menilik kondisi cuaca dan iklim yang akan
berlangsung hingga tahun 2010, untuk sementara dapat dilihat belum adanya peningkatan
jumlah bintik Matahari atau ledakan. Hal ini berarti untuk kurun watu sembilan tahun
mendatang peluang munculnya kondisi cuaca yang ekstrem seperti yang berlangsung dalam
kurun waktu dua dasa warsa terakhir menjadi tanda tanya atau bahkan bisa dikatakan kecil
peluang terjadi peningkatan kondisi cuaca dan iklim yang bervariasai atau berubah untuk
kurun waktu musiman hingga tahunan.

Pendapat ini didukung pula oleh kondisi perairan global, dalam hal ini perairan Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik. Semula di Samudera Hindia dingin dan Samudera Pasifik
akan hangat hingga awal bulan Juni, ternyata hal itu tidak berkembang, malah berkebalikan.
Samudera Pasifik mendingin sedang Samudera Hindia menaik. Bukti kenaikan suhu muka
laut ini terlihat dari peningkatan curah hujan di beberapa kawasan di Indonesia pada bulan
Mei hingga awal Juni 2001. Karena hingga pertengahan tahun 2001 berubah, maka kondisi
gejala alam El Nino peluang untuk muncul kecil pada tahun 2001 atau 2002 mendatang.
Dengan indikasi alam ini akan dapat membantu tentang kekhawatiran beberapa kalangan
khususnya kalangan pertanian, perkebunan dan kehutanan khususnya dari ancaman
kekeringan yang mungkin muncul di tahun 2001.

Adanya perkembangan curah hujan yang berlangsung akhir-akhir ini yang seharusnya
memasuki musim kemarau merupakan peristiwa alam akibat kenaikan suhu muka laut S.
Hindia dan munculnya indikasi gejala alam La nina intensitas ringan kembali giat. Sehingga

prakiraan BMG. dalam musim kemarau tahun 2001 yang menyatakan normal merupakan
kondisi cuaca dan iklim di wilayah Indonesia.

http://pustakacuaca.blogspot.com/2010/12/oleh-soerjadi-wh.html

Kamis, 16 Desember 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->