1

Pendahuluan


Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses
pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan
eksperimen dan pengukuran kuantitatif. Tujuan utama dari ilmu fisika adalah
memperoleh sejumlah hukum dasar yang mengatur fenomena alam dan
menggunakannya untuk memperoleh teori yang dapat memperkirakan hasil dari
eksperimen. Hukum dasar yang dipergunakan untuk membangun teori dijabarkan
dalam bahasa matematika, sebuah alat untuk menjembatani antara teori dan
eksperimen.

Pada sebuah eksperimen akan dilakukan pengamatan, pengukuran, pencatatan data
dalam bentuk yang teratur, diikuti dengan analisa data dan diakhiri dengan mengambil
kesimpulan. Tujuan utama dari kerja laboratorium adalah memberikan dasar dalam
ilmu eksperimen sehingga pada akhirnya mahasiswa dapat melakukan penelitian
yang dapat dilakukan sendiri. Tujuan dasar dari kerja laboratorium fisika adalah
membekali siswa agar :

1. Memperoleh pemahaman tentang konsep dan teori dasar ilmu fisika.
2. Terbiasa dengan berbagai jenis peralatan dan belajar bagaimana melakukan
pengukuran yang dapat dipercaya (reliable).
3. Belajar bagaimana melakukan pengukuran yang benar berikut memahami
kesalahan pengukurannya.
4. Belajar bagaimana menganalisis data.
5. Belajar bagaimana membuat grafik dan menganalisa hubungan antara
besaran-besaran fisika.
6. Balajar bagaimana membuat laporan kerja lab yang lengkap, benar dan tepat
7. Belajar bagaimana mengatasi masalah yang timbul di dalam laboratorium
2

Analisa Kesalahan
Bila kita melakukan pembuktian hukum-hukum fisika atau mencari besaran fisis
diperlukan pengukuran. Pembacaan skala pada voltmeter, stopwatch atau batang
penggaris sebagai contoh, dapat diterapkan langsung pada serangkaian analisa
terhadap besaran atau hukum yang sedang dipelajari. Ketidakpastian (uncertainty)
dalam pembacaan, akan menghasilkan ketidakpastian pada hasil akhir. Sebuah
pengukuran yang tanpa disertai ketidakpastian akan mengakibatkan penerapan yang
terbatas. Untuk itu, penting sekali dalam perkuliahan dasar teknik laboratorium untuk
memasukan pembahasan tentang ketidakpastian dalam setiap pengukuran.
Ketidakpastian kadang disebut sebagai kesalahan/ralat (error) eksperimental.


Jenis-jenis Kesalahan Eksperimen

Dalam pengumpulan data, terdapat dua jenis kesalahan eksperimen yaitu kesalahan
sistimatik (systematic error) dan kesalahan acak (random error) yang akan memberi
andil dalam kesalahan pada pengukuran suatu besaran.

Kesalahan sistimatik ditimbulkan oleh sebab yang teridentifikasi dan pada prinsipnya
dapat dihilangkan. Kesalahan sistimatik ada empat jenis, yaitu :

a. Instrumental – contoh: peralatan yang tidak terkalibrasi dengan benar, seperti
termometer yang menunjukan suhu 102°C saat dicelupkan ke dalam air
mendidih atau mununjukan suhu 2°C saat dicelupkan dalam air es pada
tekanan atmosfir.
b. Pengamatan – contoh: paralaks dalam pembacaan skala
c. Lingkungan – contoh: tenaga listrik yang turun sehingga menyebabkan
pengukuran arus menjadi terlalu rendah
d. Teori – disebabkan oleh penyederhanaan dari suatu model atau pendekatan
pada persamaan, contoh: jika gaya gesek bekerja saat eksperimen namun
gaya tersebut tidak dimasukan dalam teori, yang mengakibatkan antara
eksperimen dan teori akan tidak sama.

Kesalahan acak merupakan perubahan negatif-positif yang mengakibatkan setengah
dari pengukuran akan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sumber kesalahan acak tidak
selalu dapat diidentifikasi. Sumber kesalahan acak yang mengkin adalah

a. Pengamatan – contoh : kesalahan dalam penilaian seorang pengamat saat
pembacaan skala alat ukur pada bagian-bagian terkecil
b. Lingkungan – contoh : perubahan yang tidak dapat diperkirakan pada
rangkaian tegangan, temperatur atau getaran mekanis dari sebuah peralatan

Kesalahan acak berbeda dengan kesalahan sistimatik dan kesalahan ini dapat
dikuantisasi dengan analisa statistik, sehingga efek kesalahan acak pada besaran dan
hukum fisika pada suatu eksperimen dapat ditentukan. Perbedaan antara kesalahan
acak dan kesalahan sistimatik dapat digambarkan dengan contoh berikut. Misalkan
pengukuran suatu besaran fisis dilakukan sebangak lima kali dalam kondisi yang
sama. Jika hanya terdapat kesalahan acak, maka nilai pengukuran kelimanya akan
tersebar disekitar “nilai benar”, sebagian akan terlalu tinggi atau terlalu rendah seperti
terihat dalam Gbr. 1a. Jika selain kesalahan acak juga terdapat kesalahan sistimatik
maka kelima nilai pengukuran akan tersebar bukan disekitar “nilai benar” namun pada
beberapa nilai yang bergeser seperti pada Gbr. 1b


3













Gbr 1. Data pengukuran (a) dengan kesalahan acak (b) dengan kesalahan acak dan sistimatik.
Setiap tanda menunjukan nilai pengukuran.


Analisa Statistik dari Kesalahan Acak

Jika besaran fisis, seperti pengukuran panjang dengan batang penggaris atau
pengukuran waktu dengan stopwatch dilakukan berulang kali maka sebaran
pembacaan disebabkan karena kesalahan acak. Untuk suatu kumpulan data, nilai
rata-rata atau ˲ didefinisikan sebagai
˲ =
1
n
_ ˲
ì
n
ì=1
(1)
Dengan x
i
adalah harga pengukuran ke-i dan n adalah banyaknya pengukuran.

Semua harga pengukuran akan tersebar disekitar nilai rata-rata seperti ditunjukkan
dalam Gbr. 2. (dalam beberapa kasus, ˲ mendekati “nilai benar” jika n banyak sekali
dan tidak ada kesalahan sistimatik). Sebaran yang kecil dari nilai pengukuran disekitar
nilai rata-rata menunjukan tingkat presisi yang tinggi.







Gbr.2. Setiap tanda garis menunjukan hasil pengukuran. Nilai terukur tersebar disekitar nilai
rata-rata ˲ .

Nilai terbaik dari suatu pengukuran telah ditentukan dengan menghitung rata-rata (˲ ).
Kita juga harus memperkirakan ketidakpastian atau kesalahan nilai tersebut. Standar
deviasi didefinisikan sebagai
s = _
1
n-1
_ (˲
ì
- ˲ )
2 n
ì=1
(2)
Jika standar deviasi kecil, maka sebaran nilai terukur di sekitar nilai rata-rata akan
kecil sehingga presisi dalam pengukuran menjadi tinggi. Catat bahwa deviasi standar
selalu positif dan memiliki satuan yang sama dengan nilai terukur.

Kesalahan atau ketidakpastian nilai rata-rata (˲ ) adalah standar deviasi dari harga
rata-rata (s
m
) yang didefinisikan sebagai :
s
m
=
s
Vn
(3)
nilai benar
b)
nilai benar
a)
˲
4

Dimana s adalah standar deviasi dan n adalah banyaknya pengukuran. Sehingga
dapat dituliskan
s
m
= _
_ (x
i
-x )
2 n
i=1
n(n-1)
(4)
Hasil akhir pengukuran dituliskan sebagai
˲ _ s
m
(5)
Persamaan (5) memiliki makna bahwa kemungkinan nilai terukur akan berkisar dalam
jangkauan, ˲ - s
m
hingga ˲ +s
m
.

Bila kesalahan sistimatik dalam suatu pengukuran dapat diperkirakan dan
ditambahkan ke dalam hasil akhir pengukuran, maka hasil akhir akan menjadi
˲ = ˲ _(ŷs
m
+ ˯) (6)
Dengan u adalah nilai kesalahan sistematik. Bila dilakukan pengukuran tunggal,
dimana s
m
= 0, maka nilai ˲ = ˲ _ ˯ dengan harga u sebesar setengah nilai skala
terkecil dari alat ukur.


Perkiraan Kesalahan Acak

Kita dapat memperkirakan kesalahan (error estimate) pengukuran dengan cara
penilaian dan pengalaman. Sebagai contoh, bila sudah diketahui bahwa kesalahan
dalam sebuah alat ukur adalah sama dengan skala terkecil dari alat ukur tersebut,
namun jenis peralatan sangat bervariasi dalam reabilitas skala terkecil sehingga harus
memperhatikan sejumlah penilaian. Jika kita mengukur posisi suatu tanda adalah 92,4
cm dengan menggunakan penggaris dengan skala terjecil dalam millimeter, maka kita
dapat menuliskan hasil pengukuran menjadi 92,4 ± 0,1 cm.









Gbr. 3 Kesalahan d2 lebih besar dari pada d1 karena titik pusat tanda tidak sama

Gbr. 3. menunjukkan suatu cara penilaian yang harus diperhatikan saat
memperkirakan kesalahan sebuah pengukuran. Jarak d
1
adalah jarak pisah dari dua
garis vertikal sedangkan d
2
adalah jarak antara titik pusat dua buah tanda. Walaupun
kita mengukur d
1
dan d
2
dengan mistar yang sama (memiliki skala terkecil alat ukur
yang sama), kesalahan d
2
akan lebih besar dari pada d
1
.





Perambatan Kesalahan

Perambatan kesalahan merupakan metode sederhana untuk menentukan kesalahan
sebuah nilai, dimana nilai tersebut dihitung dengan menggunakan dua atau lebih nilai
terukur dan dengan menyertakan perkiraan kesalahan yang diketahui.

d
1
d
1
5

Penjumlahan dan Pengurangan dalam Pengukuran

Misalkan x, y, dan z adalah tiga nilai terukur dengan perkiraan kesalahan sebesar δx,
δy, dan δz. Hasil dari tiga pengukuran dapat dituliskan dalam bentuk
˲ _ o˲, ˳ _ o˳, ˴ _o˴ (7)
dimana setiap perkiraan kesalahan bisa berupa skala terkecil dari alat ukur. Jika w
merupakan nilai yang akan dihitung dari pengukuran di atas, maka akan didefinisikan
menjadi
˱ = ˲ +˳ - ˴ (8)
Bila perkiraan kesalahan dari x, y, dan z diketahui, maka kesalahan w dapat peroleh
dengan menghitung turunan dari Pers (8)
ˤ˱ = ˤ˲ + ˤ˳ - ˤ˴ (9)
Perhitungan dengan analisa statistik menunjukan bahwa δw merupakan akar kuadrat
dari penjumlahan kuadrat dari perkiraan kesalahan :
o˱ = ¸(o˲)
2
+(o˳)
2
+ (o˴)
2
(10)

Perkalian dan Pembagian dalam Pengukuran

Luas dari persegi panjang dengan lebar w dan tinggi h adalah ˓ = ˱ · ˨. Bila kita
mengukur lebar dan tinggi persegi panjang berikut harga perkiraan kesalahannya,
maka kita akan mengetahui nilai w ± δw dan h ± δh sehingga kita dapat menghitung A
± δA. Untuk menentukan δA, pertama-tama kita dapat menggunakan kalkulus turunan
untuk memperoleh turunan luas dari dA
ˤ˓ =
dA
dw
ˤ˱ +
dA
dh
ˤ˨
= ˨ˤ˱ + ˱ˤ˨ (11)
Seperti dalam penjumlahan dan pembagian, analisa statistik menunjukan pendekatan
yang lebih baik dari fraksi kesalahan dari luas δA/A adalah
6A
A
=
_
Ә
6w
w
ә
2

6h
h
ә
2
(12)

Penyimpangan

Persentase penyimpangan adalah salah satu metode untuk membandingkan nilai
eksperimen dengan nilai yang diterima atau nilai literatur. Definisi dari persentase
penyimpangan adalah
peisentase penyimpangan = ¡
nIIaI IItcratur - nIIaI ckspcrImcn
nIIaI IItcratur
¡ × ŵŴŴ% (13)
Sebagai contoh, pengukuran besar konstanta gravitasi g adalah 9,20 ± 0,20 ms
-2
dan
nilai yang sudah diterima adalah 9,80 ms
-2
, maka persentase kesalahan adalah 6,1%.
Kenyataan bahwa nilai yang sudah diterima sangat mendekati nilai eksperimen
menunjukan bahwa sesuatu yang salah pada peralatan pengukuran, kemungkinan
kesalahan sistimatik tidak dihilangkan.




6

Angka Penting
Dalam memperkirakan hasil suatu pengukuran, kita dapat menuliskan perkiraan
terbaik dengan angka penting serta ketidakpastianya sehingga jumlah angka desimal
sesuai dengan perkiraan terbaik. Untuk penulisan perkiraan terbaik, mengikuti aturan
angka penting sedangkan penulisan ketidakpastian mengikuti aturan jumlah desimal.

Cara menentukkan angka penting adalah

1. Angka bukan nol yang terletak di posisi paling kiri adalah digit paling berarti
2. Jika tidak ada tanda koma desimal, angka bukan nol yang terletak di posisi
paling kanan adalah digit paling kurang berarti
3. Jika ada tanda koma desimal, angka yang terletak di posisi paling kanan
termasuk angka nol adalah digit paling kurang berarti
4. Jumlah angka berarti adalah jumlah seluruh digit yang terletak diantara dijit
paling berarti dan digit paling kurang berarti ditambah dua

Contoh : 1234123.400123,41000,10,10 0,0001010 100,0 semua nilai tersebut
mempunyai empat angka penting

Angka penting adalah semua angka yang diperoleh langsung dari proses pengukuran
dan memasukan angka nol untuk tujuan letak titik desimal. Definisi ini dapat
digambarkan dengan sejumlah contoh:

Angka Jumlah angka penting

2 1
2,0 2
2,00 3
0,136 3
2,483 4
2,483 × 10
3
4
310 2 atau 3
3,10 × 10
2
3
3,1 × 10
2
2

Pengukuran dan kesalahan eksperimental harus memiliki dijit penting terakhir pada
tempat yang sama (relativ terhadap titik desimal).
Sebagai contoh : 54,1 ± 0,1121 ± 4 8,764 ± 0,002 (7,63 ± 0,10) × 10
3
.

Pembulatan Angka Penting

Pembulatan angka ½ dapat dilakukan dengan menggunakan aturan

1. Jika dijit paling kanan pada deretan angka setelah koma desimal lebih besar dari
angka 5, angka paling kurang berarti dinaikan nilainya
2. Jika dijit paling kanan pada deretan angka setelah koma desimal kurang dari
angka 5, angka peling kurang berarti tidak perlu dinaikan nilainya
3. Jika dijit paling kanan pada deretan angka setelah koma desimal sama dengan
angka 5, angka paling kurang berarti dinaikan nilainya, hanya jika dia bilangan
ganjil.

Contoh : 1,286 dibulatkan menjadi 1,29
1,284 dibulatkan menjadi 1,28
1,285 dibulatkan menjadi 1,28
1,275 dibulatkan menjadi 1,28
7

Angka Penting pada Perhitungan

Sesungguhnya, angka yang tepat dari penulisan angka penting harus diperoleh
melalui analisa kesalahan. Namun analisa kesalahan membutuhkan waktu dan
biasanya dalam kegiatan laboratorium hal ini ditunda terlebih dahulu. Dalam beberapa
kasus, harus diperoleh angka penting yang cukup sehingga pembulatan tidak
membahayakan. Sebagai contoh ;
0,91 × 1,23 = 1,1 SALAH
Dalam contoh diatas, angka 0,91 dan 1,23 diketahui menunjukan sekitar 1%, dimana
hasilnya 1,1 didefinisikan sekitar 10%. Dalam kasus ini, akurasi hasil berkurang
hampir sepersepuluh karena kesalahan pembulatan. Sekarang, faktor sepuluh dalam
akurasi menjadi penting dan tidak boleh dibuang dalam analisa yang ceroboh.
0,91 × 1,23 = 1,1193 SALAH
Dijit tambahan yang tidak penting merupakan beban, dan selanjutnya hal ini
mengakibatkan akibat yang salah dari hasil
0,91 × 1,23 = 1,12 BENAR
0,91 × 1,23 = 1,119 kurang baik, tapi bisa diterima
Dalam perkalian atau pembagian kadang dapat diterima untuk memakai jumlah yang
sama dari angka penting dari hasil sebagai faktor terakhir. Contoh
2,6 × 31,7 =82,42 = 82
5,3 ÷ 748 = 0,007085 = 0,0071


Contoh Menghitung Volume Silinder

Menghitung volume silinder dilakukan dengan
cara mengukur tinggi silinder sebanyak satu kali
dengan menggunakan penggaris dengan skala
terkecil 1 mm dan mengukur diameter
menggunakan jangka sorong dengan skala
terkecil sebesar 0,05 mm sebanyak lima kali.

Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel
berikut








Perhitungan hasil pengukuran dan perambatan kesalahan berdasarkan teori
analisa kesalahan diperoleh

1. Pengukuran tinggi silinder dilakukan 1 kali, maka deviasi dari harga rata-
rata ketinggian s
mh
= 0, sehingga hasil pengukuran ketinggian adalah
˨ = ˨

_ (ŷs
mh
+˯) = ŷŶ,Ŵ _ (ŷ · Ŵ + Ŵ,Ź) = (ŷŶ,Ŵ _ Ŵ,Ź) ˭˭, dengan
besar nilai u adalah ½ dari skala terkecil penggaris (1 mm)

n h(cm) D(mm)
1 32,0 23,90
2 - 23,95
3 - 23,95
4 - 23,90
5 - 23,85
h
D
8

2. Pengukuran diameter silinder dilakukan 5 kali sehingga diperoleh nilai
rata-rata diameter silinder sebesar
˖

=
ŵ
n
˖
ì
n
ì=1
=
(Ŷŷ,9Ŵ + Ŷŷ,9Ź + Ŷŷ,9Ź + Ŷŷ,9Ŵ + Ŷŷ,8Ź)
Ź
= Ŷŷ,9ŵ ˭˭

Sedangkan deviasi dari harga rata-rata diamater s

adalah
s

= _
ŵ
n(n - ŵ)

ì

)
2
n
ì=1
= Ŵ,ŴŸ ˭˭
Maka harga pengukuran diameter silinder adalah

˖ = ˖

_ (ŷs

+ ˯) = Ŷŷ,9ŵ _ (ŷ · Ŵ,ŴŸ + Ŵ,ŴŶŹ) = (Ŷŷ,9ŵ _Ŵ,ŵŸ) ˭˭

3. Perhitungan volume silinder adalah
ˢ =
ŵ
Ÿ

2
˨ =
ŵ
Ÿ
(ŷ,ŵŸ)(Ŷŷ,9ŵ)
2
(ŷŶ,Ŵ) = ŵŸŷźŴ,8 ˭˭
3

Dengan perhitungan perambatan kesalahan sebagai berikut
berdasarkan
ˤˢ =
_
_


]
2
ˤ˖
2
+ _


]
2
ˤ˨
2

Dengan
ˤˢ = _


] ˤ˖ +_


] ˤ˨ = _
ŵ
Ŷ
n˖˨] ˤ˖ + _
ŵ
Ÿ

2
] ˤ˨
maka
ˤˢ
ˢ
=
Ŷ
˖
ˤ˖ +
ŵ
˨
ˤ˨

Karena nilai perkiran kesalahan lebih kecil dari pada nilai pengukuran
(oˢ ɳ ˢ; o˖ ɳ ˤ; o˨ ɳ ˨), maka perkiraan kesalahan oˢ adalah
oˢ = ˢ
_
_
Ŷ
˖
o˖]
2
+ _
ŵ
˨
o˨]
2
= ŵŸŷźŴ,8
_
_
Ŷ
Ŷŷ,9ŵ
Ŵ,ŵŸ]
2
+ _
ŵ
ŷŶ,Ŵ
Ŵ,Ź]
2
= 88ŵ,9 ˭˭
3


Sehingga volume silinder adalah (14400 ± 900) mm
3
atau (144 ± 9) × 10
2

mm
3
.



Analisa Grafik
Salah satu cara terbaik untuk memperoleh hubungan antara variabel terukur adalah
dengan cara memplot data menjadi grafik dan menganalisa grafik tersebut. Prosedur
di bawah ini harus diikuti saat memplot data

1. Gunakan pinsil atau pena yang tajam. Ujung pinsil atau pena yang melebar
akan mengakibatkan ketidakakuratan.
2. Gambarkan grafik pada satu halaman penuh dari laporan. Grafik yang
diciutkan akan mengurangi keakurasian analisa grafik.
3. Beri judul grafik
4. Variabel terikat harus diplot sepanjang sumbu vertikal (y) dan variabel bebas
sepanjang sumbu horizontal (x).
9

5. Berilah nama masing-masing sumbu beserta satuannya
6. Pilih skala untuk setiap sumbu dan mulai setiap sumbu pada titik nol, bila
mungkin
7. Gunakan error bar untuk menunjukkan kesalahan pengukuran



8. Gambarkan kurva melalui titik-titik data. Jika kesalahanya acak, maka 1/3
dari titik-titik tersebut akan tidak berada pada sekitar jangkauan kesalahan
dari kurva terbaik.

Sebagai contoh, perhatikan percobaan tentang kecepatan benda (variabel terikat)
sebagai fungsi dari waktu (sebagai vaiabel bebas) dengan data di bawah ini

Kecepatan (m/s) Waktu (s)
0,45 ± 0,06 1
0,81 ± 0,06 2
0,91 ± 0,06 3
1,01 ± 0,06 4
1,36 ± 0,06 5
1,56 ± 0,06 6
1,65 ± 0,06 7
1,85 ± 0,06 8
2,17 ± 0,06 9

Gbr 3 menunjukkan grafik berdasarkan data di atas Grafik berdasarkan data tersebut
menunjukan kecepatan v merupakan fungsi linier dari waktu t. Persamaan umum
untuk garis lurus adalah
˳ = ˭˲ +b (14)
Dimana m adalah kemiringan garis dan b adalah perpotongan terhadap sumbu
vertikal yang merupakan nilai y saat x = 0. Bila v = y, dan x = t, a = m, dan v
0
= b
maka :
˰ = oˮ + ˰
0
(15)

Kecepatan vs Waktu



















Gbr. 3. Grafik kecepatan terhadap waktu
jangkauan
kesalahan
titik data

10


Ini merupakan bentuk dari persamaan untuk garis tanpa putus yang melewati data,
dimana v
0
adalah nilai kecepatan saat t = 0 dan a adalah kemiringan garis yang
merupakan percepatan benda. Berdasarkan grafik v
0
= 0,32 m/s. Untuk menghitung
kemiringan, pilih dua titik pada garis yang cukup terpisah.
o = ˫˥˭˩r˩n˧on =

At
=
2,35-0,40 (
m
s
)
10,0-0,5 (s)
=
1,95 (
m
s
)
9,5 (s)
= Ŵ,ŶŴ ˭¡s
2
(16)
Persamaan garis adalah
V = 0,20 t + 0,32 (m/s) (17)
Seberapa tepat nilai kemiringan (0,20 m/s
2
) dan titik perpotongan dengan sumbu
vertikal (0,32 m/s) serta berapa ketidakpastian kemiringan dan perpotongan tersebut?
Pada grafik kecepatan vs waktu, garis tanpa putus menunjukkan garis lurus dimana
kemiringanya telah dihitung.

Dua garis putus-putus menunjukkan kemungkinan kemiringan garis terbesar dan
terkecil dari yang sesuai dengan data. Susuai dalam arti setiap garis memotong
sekitar 2/3 dari error bar. Kesalahan atau ketidakpastian dari kemiringan didefinisikan
sebagai
˫˥soˬo˨on poˤo ˫˥˭˩r˩n˧on =
kcmì¡ìngun muksìmum-kcmì¡ìngun mìnìmum
2
(18)
Bila δa adalah kesalahan dari a
oo =
kcmì¡ìngun muksìmum-kcmì¡ìngun mìnìmum
2

=
0,23-0,19
2
Ә
m
s
2
ә = Ŵ,ŴŶ ˭¡s
2
(19)
Nilai eksperimen dan kesalahan untuk a adalah o _ oo = Ŵ,ŶŴ _ Ŵ,ŴŶ ˭¡s
2


Kesalahan pada perpotogan dengan sumbu vertikal diperoleh berdasarkan
perpotongan dengan sumbu vertikal dari kemiringan garis maksimum dan minimum :
˫˥soˬo˨on p˥rpoˮon˧on =
kcsuIuhun potong kcmì¡ìngun muksìmum-mìnìmum
2
(20)
Bila δv
0
merupakan kesalahan v
0


0
=
(0,45-0,17)
2
(˭¡s) = Ŵ,ŷŶ ˭¡s (21)
Nilai eksperimen dan kesalahan untuk v
0
adalah ˰
0
_ o˰
0
= Ŵ,ŶŴ _ Ŵ,ŴŶ ˭¡s
2


Untuk contoh kedua, perhatikan percobaan dari jarak tempuh sebuah benda sebagai
fungsi dari waktu, dengan data

Jarak (m) Waktu (s)
0,20 ± 0,05 1
0,43 ± 0,05 2
0,81 ± 0,05 3
1,57 ± 0,10 4
2,43 ± 0,10 5
3,81 ± 0,10 6
4,80 ± 0,20 7
6,39 ± 0,20 8

Gbr. 4. menunjukan grafik berdasarkan data di atas Pada kasus ini, membuat garis
lurus dengan cara melewati titik-titik data tidak benar karena d bukan merupakan
fungsi linier terhadap waktu t. Berdasarkan grafik menujukkan d sebanding terhadap
t
n
, dimana n >1 sehingga dapat dikatakan d merupakan fungsi kuadrat terhadap waktu
dengan n = 2.
11

Jarak vs Waktu


















Gbr. 4. Grafik jarak terhadap waktu


Anggap kita mengetahui hubungan teoritik antara d dan t sebagai
ˤ =
1
2

2
(22)
Dimana a adalah percepatan benda. Jika data sesuai dengan hubungan persamaan
(22) maka grafik d vs t
2
akan menghasilkan garis lurus.

Jarak terhadap kuadrat waktu digambarkan pada Gbr. 5. Berdasarkan grafik
menunjukan fungsi linier dari t
2
sehingga data sesuai dengan hubungan teoritik di
atas. Persamaan garis lurus di atas adalah
ˤ = ˭ˮ
2
+ ˤ
0
(23)

Jarak vs (Waktu)
2




















Gbr.5. Grafik jarak terhadap kuadrat waktu



12

Least Square (Kuadrat Terkecil)
Sejumlah N data (x
i
, y
i
) akan dicari persamaan garis lurus untuk serangkaian data
tersebut. Prosesnya kadang disebut sebagai regresi linier. Jika sebaran pengukuran
berdasarkan sebaran Gauss, dapat diperlihatkan bahwa garis lurus yang dibuat akan
meminimalisasi jumlah jarak vertikal d
i
kuadrat untuk setiap titik (x
i
, y
i
) terhadap garis
lurus y = mx + b seperti terlihat pada Gbr. 6.

Maka dapat dicari nilai m dan b dengan cara meminimalisasi fungsi s sebagai
s = _ ˤ
ì
2
= _ |˳
ì
- (˭˲
ì
+ b)]
2 n
ì=1
n
ì=1
(24)
Bila suku sebelah kanan dikuadratkan maka
s = _(˳
ì
)
2
- Ŷ˭_˲
ì
˳
ì
- Ŷb _˳
ì
+ ˭
2

ì
2
+ Ŷb˭_˲
ì
+nb
2
(25)
Dengan Σ adalah penjumlahan semua indeks i. Jika
ds
dm
= Ŵ ˤon
ds
db
= Ŵ (26)
Untuk memperoleh m dan b bedasarkan nilai minimum s. Hasilnya merupakan dua
persamaan
ds
ds
= -Ŷb _˲
ì
˳
ì
+ Ŷ˭_˲
ì
2
+ Ŷb _˲
ì
= Ŵ q.
ds
b
= Ŷ _(˳
ì
) - Ŷ˭_˲
ì
+ Ŷnb
2
= Ŵ (27)


















Gbr. 6. Garis lurus akan meminimalisasi jumlah jarak vertikal kuadrat di.

Dimana bila kita cari m dan b akan diperoleh
˭ =
n_x
i
¡
i
-(_x
i
)(_¡
i
)
n_x
i
2
-(_x
i
)
2
.
b =
_x
i
2

i
-(_x
i
)(_x
i
¡
i
)
n_x
i
2
-(_x
i
)
2
(28)
dengan kesalahan
ob = o˳_
_x
i
2
n _x
i
2
-|_x
i
]
2
.
o˭ = o˳
_
n
n_x
i
2
-|_x
i
]
2
(29)


13

Sedangkan
o˳ = _Ә
1
n-2
ә __˳
ì
2
-
_x
i
2
(_¡
i
)
2
-2_x
i
(_x
i
¡
i
) _¡
i
+n(_x
i
¡
i
)
2
n_x
i
2
-|_x
i
]
2
_ (30)

Kekuatan hubungan antara x dan y dapat dihitung dari koefisien kolerasi :
r(˲
ì
, ˳
ì
) =
6
xj
6
x
6
j
=
_(x
i
-x )(¡
i
-¡)
¸_(x
i
-x )
2
_(¡
i
-¡)
2
(31)
Atau dapat ditulis sebagai
r(˲
ì
, ˳
ì
) =
n_x
i
¡
i
-_x
i

i
_(n_x
i
2
-(_x
i
)
2
)(n_¡
i
2
-(_¡
i
)
2
)
(32)

Ketidakpastian kadang disebut sebagai kesalahan/ralat (error) eksperimental. Pengamatan – contoh : kesalahan dalam penilaian seorang pengamat saat pembacaan skala alat ukur pada bagian-bagian terkecil b. Ketidakpastian (uncertainty) dalam pembacaan. Teori – disebabkan oleh penyederhanaan dari suatu model atau pendekatan pada persamaan. Lingkungan – contoh : perubahan yang tidak dapat diperkirakan pada rangkaian tegangan. Sumber kesalahan acak tidak selalu dapat diidentifikasi. yang mengakibatkan antara eksperimen dan teori akan tidak sama. b. Jika hanya terdapat kesalahan acak. Kesalahan acak merupakan perubahan negatif-positif yang mengakibatkan setengah dari pengukuran akan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Instrumental – contoh: peralatan yang tidak terkalibrasi dengan benar. sehingga efek kesalahan acak pada besaran dan hukum fisika pada suatu eksperimen dapat ditentukan. maka nilai pengukuran kelimanya akan tersebar disekitar “nilai benar”. sebagian akan terlalu tinggi atau terlalu rendah seperti terihat dalam Gbr. 1a. Pembacaan skala pada voltmeter. Sebuah pengukuran yang tanpa disertai ketidakpastian akan mengakibatkan penerapan yang terbatas. seperti termometer yang menunjukan suhu 102°C saat dicelupkan ke dalam air mendidih atau mununjukan suhu 2°C saat dicelupkan dalam air es pada tekanan atmosfir. Untuk itu. stopwatch atau batang penggaris sebagai contoh. yaitu : a. Kesalahan sistimatik ada empat jenis. Sumber kesalahan acak yang mengkin adalah a. Kesalahan sistimatik ditimbulkan oleh sebab yang teridentifikasi dan pada prinsipnya dapat dihilangkan. akan menghasilkan ketidakpastian pada hasil akhir.Analisa Kesalahan Bila kita melakukan pembuktian hukum-hukum fisika atau mencari besaran fisis diperlukan pengukuran. terdapat dua jenis kesalahan eksperimen yaitu kesalahan sistimatik (systematic error) dan kesalahan acak (random error) yang akan memberi andil dalam kesalahan pada pengukuran suatu besaran. contoh: jika gaya gesek bekerja saat eksperimen namun gaya tersebut tidak dimasukan dalam teori. Jika selain kesalahan acak juga terdapat kesalahan sistimatik maka kelima nilai pengukuran akan tersebar bukan disekitar “nilai benar” namun pada beberapa nilai yang bergeser seperti pada Gbr. dapat diterapkan langsung pada serangkaian analisa terhadap besaran atau hukum yang sedang dipelajari. temperatur atau getaran mekanis dari sebuah peralatan Kesalahan acak berbeda dengan kesalahan sistimatik dan kesalahan ini dapat dikuantisasi dengan analisa statistik. Lingkungan – contoh: tenaga listrik yang turun sehingga menyebabkan pengukuran arus menjadi terlalu rendah d. Perbedaan antara kesalahan acak dan kesalahan sistimatik dapat digambarkan dengan contoh berikut. Pengamatan – contoh: paralaks dalam pembacaan skala c. Misalkan pengukuran suatu besaran fisis dilakukan sebangak lima kali dalam kondisi yang sama. Jenis-jenis Kesalahan Eksperimen Dalam pengumpulan data. penting sekali dalam perkuliahan dasar teknik laboratorium untuk memasukan pembahasan tentang ketidakpastian dalam setiap pengukuran. 1b 2 .

Nilai terukur tersebar disekitar nilai rata-rata .a) nilai benar b) nilai benar Gbr 1. {$ (2) J (3) 3 . maka sebaran nilai terukur di sekitar nilai rata-rata akan kecil sehingga presisi dalam pengukuran menjadi tinggi. Standar deviasi didefinisikan sebagai J # # (#{ Jika standar deviasi kecil. Setiap tanda garis menunjukan hasil pengukuran. Gbr. Semua harga pengukuran akan tersebar disekitar nilai rata-rata seperti ditunjukkan dalam Gbr. Kita juga harus memperkirakan ketidakpastian atau kesalahan nilai tersebut. Catat bahwa deviasi standar selalu positif dan memiliki satuan yang sama dengan nilai terukur. seperti pengukuran panjang dengan batang penggaris atau pengukuran waktu dengan stopwatch dilakukan berulang kali maka sebaran pembacaan disebabkan karena kesalahan acak. Nilai terbaik dari suatu pengukuran telah ditentukan dengan menghitung rata-rata ( ). mendekati “nilai benar” jika n banyak sekali dan tidak ada kesalahan sistimatik). nilai rata-rata atau didefinisikan sebagai # (# (1) Dengan xi adalah harga pengukuran ke-i dan n adalah banyaknya pengukuran. Setiap tanda menunjukan nilai pengukuran.2. 2. Kesalahan atau ketidakpastian nilai rata-rata ( ) adalah standar deviasi dari harga rata-rata (sm) yang didefinisikan sebagai : . (dalam beberapa kasus. Sebaran yang kecil dari nilai pengukuran disekitar nilai rata-rata menunjukan tingkat presisi yang tinggi. Untuk suatu kumpulan data. Analisa Statistik dari Kesalahan Acak Jika besaran fisis. Data pengukuran (a) dengan kesalahan acak (b) dengan kesalahan acak dan sistimatik.

Perkiraan Kesalahan Acak Kita dapat memperkirakan kesalahan (error estimate) pengukuran dengan cara penilaian dan pengalaman. Jarak d1 adalah jarak pisah dari dua garis vertikal sedangkan d2 adalah jarak antara titik pusat dua buah tanda. bila sudah diketahui bahwa kesalahan dalam sebuah alat ukur adalah sama dengan skala terkecil dari alat ukur tersebut. 4 . 3. Sebagai contoh. Bila dilakukan pengukuran tunggal. 3 Kesalahan d2 lebih besar dari pada d1 karena titik pusat tanda tidak sama Gbr. /{ J . maka kita dapat menuliskan hasil pengukuran menjadi 92.1 cm.4 cm dengan menggunakan penggaris dengan skala terjecil dalam millimeter. menunjukkan suatu cara penilaian yang harus diperhatikan saat memperkirakan kesalahan sebuah pengukuran. namun jenis peralatan sangat bervariasi dalam reabilitas skala terkecil sehingga harus memperhatikan sejumlah penilaian.{ J & /J { { #{ { (4) Bila kesalahan sistimatik dalam suatu pengukuran dapat diperkirakan dan ditambahkan ke dalam hasil akhir pengukuran. d1 d1 Gbr. J hingga . / dengan harga u sebesar setengah nilai skala dimana sm = 0. Walaupun kita mengukur d1 dan d2 dengan mistar yang sama (memiliki skala terkecil alat ukur yang sama). kesalahan d2 akan lebih besar dari pada d1. maka nilai terkecil dari alat ukur.4 ± 0. dimana nilai tersebut dihitung dengan menggunakan dua atau lebih nilai terukur dan dengan menyertakan perkiraan kesalahan yang diketahui. .J . Sehingga dapat dituliskan Hasil akhir pengukuran dituliskan sebagai (5) Persamaan (5) memiliki makna bahwa kemungkinan nilai terukur akan berkisar dalam jangkauan. Perambatan Kesalahan Perambatan kesalahan merupakan metode sederhana untuk menentukan kesalahan sebuah nilai. maka hasil akhir akan menjadi (6) Dengan u adalah nilai kesalahan sistematik. Jika kita mengukur posisi suatu tanda adalah 92.Dimana s adalah standar deviasi dan n adalah banyaknya pengukuran.

Jika w merupakan nilai yang akan dihitung dari pengukuran di atas.20 ± 0. y.80 ms .Penjumlahan dan Pengurangan dalam Pengukuran Misalkan x.{ {$ . (8) . kemungkinan kesalahan sistimatik tidak dihilangkan. maka kesalahan w dapat peroleh dengan menghitung turunan dari Pers (8) Perhitungan dengan analisa statistik menunjukan bahwa δw merupakan akar kuadrat dari penjumlahan kuadrat dari perkiraan kesalahan : { {$ .20 ms dan -2 nilai yang sudah diterima adalah 9. δy. Hasil dari tiga pengukuran dapat dituliskan dalam bentuk / / / (7) dimana setiap perkiraan kesalahan bisa berupa skala terkecil dari alat ukur. maka akan didefinisikan menjadi . maka kita akan mengetahui nilai w ± δw dan h ± δh sehingga kita dapat menghitung A ± δA. pertama-tama kita dapat menggunakan kalkulus turunan untuk memperoleh turunan luas dari dA - (11) Seperti dalam penjumlahan dan pembagian. dan z adalah tiga nilai terukur dengan perkiraan kesalahan sebesar δx.{ {$ (10) (9) Perkalian dan Pembagian dalam Pengukuran Luas dari persegi panjang dengan lebar w dan tinggi h adalah Ñ .1%. Kenyataan bahwa nilai yang sudah diterima sangat mendekati nilai eksperimen menunjukan bahwa sesuatu yang salah pada peralatan pengukuran. Bila kita mengukur lebar dan tinggi persegi panjang berikut harga perkiraan kesalahannya. pengukuran besar konstanta gravitasi g adalah 9. analisa statistik menunjukan pendekatan yang lebih baik dari fraksi kesalahan dari luas δA/A adalah $ - $ (12) Penyimpangan Persentase penyimpangan adalah salah satu metode untuk membandingkan nilai eksperimen dengan nilai yang diterima atau nilai literatur. Bila perkiraan kesalahan dari x. }0 (13) -2 5 . dan z diketahui. maka persentase kesalahan adalah 6. dan δz. Untuk menentukan δA. y. Definisi dari persentase penyimpangan adalah ’‡”•‡–ƒ•‡ ’‡›‹’ƒ‰ƒ } C C CH?F HIF C C CH?F HIF C C ?EG ?FC ? Sebagai contoh.

136 2.285 dibulatkan menjadi 1. angka paling kurang berarti dinaikan nilainya 2. Jumlah angka berarti adalah jumlah seluruh digit yang terletak diantara dijit paling berarti dan digit paling kurang berarti ditambah dua Contoh : 1234123. Definisi ini dapat digambarkan dengan sejumlah contoh: Angka 2 2.483 3 2. mengikuti aturan angka penting sedangkan penulisan ketidakpastian mengikuti aturan jumlah desimal.764 ± 0. hanya jika dia bilangan ganjil.29 1.0 semua nilai tersebut mempunyai empat angka penting Angka penting adalah semua angka yang diperoleh langsung dari proses pengukuran dan memasukan angka nol untuk tujuan letak titik desimal. angka bukan nol yang terletak di posisi paling kanan adalah digit paling kurang berarti 3.28 1.41000. Cara menentukkan angka penting adalah 1. Jika dijit paling kanan pada deretan angka setelah koma desimal lebih besar dari angka 5.10) × 10 . Jika dijit paling kanan pada deretan angka setelah koma desimal kurang dari angka 5.10 × 10 2 3.483 × 10 310 2 3. Pembulatan Angka Penting Pembulatan angka ½ dapat dilakukan dengan menggunakan aturan 1. Untuk penulisan perkiraan terbaik.Angka Penting Dalam memperkirakan hasil suatu pengukuran.28 6 . Jika ada tanda koma desimal. angka paling kurang berarti dinaikan nilainya.1 ± 0. Contoh : 1.0 2. Jika tidak ada tanda koma desimal.400123.1121 ± 4 8.00 0. angka peling kurang berarti tidak perlu dinaikan nilainya 3.284 dibulatkan menjadi 1. Jika dijit paling kanan pada deretan angka setelah koma desimal sama dengan angka 5.286 dibulatkan menjadi 1.63 ± 0. 3 Sebagai contoh : 54.1 × 10 Jumlah angka penting 1 2 3 3 4 4 2 atau 3 3 2 Pengukuran dan kesalahan eksperimental harus memiliki dijit penting terakhir pada tempat yang sama (relativ terhadap titik desimal).0001010 100.275 dibulatkan menjadi 1.10.28 1.10 0.002 (7. kita dapat menuliskan perkiraan terbaik dengan angka penting serta ketidakpastianya sehingga jumlah angka desimal sesuai dengan perkiraan terbaik. angka yang terletak di posisi paling kanan termasuk angka nol adalah digit paling kurang berarti 4. Angka bukan nol yang terletak di posisi paling kiri adalah digit paling berarti 2.

sehingga hasil pengukuran ketinggian adalah /{ J .Angka Penting pada Perhitungan Sesungguhnya. 0. Namun analisa kesalahan membutuhkan waktu dan biasanya dalam kegiatan laboratorium hal ini ditunda terlebih dahulu. Sekarang.23 = 1.12 0.23 = 1.1193 SALAH Dijit tambahan yang tidak penting merupakan beban. Contoh 2.85 D Perhitungan hasil pengukuran dan perambatan kesalahan berdasarkan teori analisa kesalahan diperoleh 1. akurasi hasil berkurang hampir sepersepuluh karena kesalahan pembulatan. faktor sepuluh dalam akurasi menjadi penting dan tidak boleh dibuang dalam analisa yang ceroboh. angka 0.91 × 1. Dalam kasus ini. tapi bisa diterima Dalam perkalian atau pembagian kadang dapat diterima untuk memakai jumlah yang sama dari angka penting dari hasil sebagai faktor terakhir.{ { { { /{ Ñ / . Sebagai contoh .0 - D(mm) 23. maka deviasi dari harga ratarata ketinggian smh = 0.95 23.007085 = 0.05 mm sebanyak lima kali.23 diketahui menunjukan sekitar 1%. harus diperoleh angka penting yang cukup sehingga pembulatan tidak membahayakan.91 × 1. dengan besar nilai u adalah ½ dari skala terkecil penggaris (1 mm) 7 .119 BENAR kurang baik.95 23. Dalam beberapa kasus.1 SALAH Dalam contoh diatas.7 =82.91 dan 1.0071 Contoh Menghitung Volume Silinder Menghitung volume silinder dilakukan dengan cara mengukur tinggi silinder sebanyak satu kali dengan menggunakan penggaris dengan skala terkecil 1 mm dan mengukur diameter menggunakan jangka sorong dengan skala terkecil sebesar 0.1 didefinisikan sekitar 10%. Pengukuran tinggi silinder dilakukan 1 kali.6 × 31.91 × 1.42 = 82 5.91 × 1. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut n 1 2 3 4 5 h h(cm) 32.90 23.90 23.3 ÷ 748 = 0. dimana hasilnya 1. dan selanjutnya hal ini mengakibatkan akibat yang salah dari hasil 0. 0.23 = 1.23 = 1. angka yang tepat dari penulisan angka penting harus diperoleh melalui analisa kesalahan.

Variabel terikat harus diplot sepanjang sumbu vertikal (y) dan variabel bebas sepanjang sumbu horizontal (x). { (# (# adalah { . Prosedur di bawah ini harus diikuti saat memplot data 1. 3 %% % F $ % % % F - $ F $ 2 Analisa Grafik Salah satu cara terbaik untuk memperoleh hubungan antara variabel terukur adalah dengan cara memplot data menjadi grafik dan menganalisa grafik tersebut. Perhitungan volume silinder adalah Dengan perhitungan berdasarkan { % /{ Ñ {{ perambatan F $ % {$ { $ kesalahan F $ $ { { { sebagai % % / % { berikut Dengan maka F - F - Karena nilai perkiran kesalahan lebih kecil dari pada nilai pengukuran { {. Grafik yang diciutkan akan mengurangi keakurasian analisa grafik. maka perkiraan kesalahan adalah F $ - F - $ F Sehingga volume silinder adalah (14400 ± 900) mm atau (144 ± 9) × 10 3 mm . Beri judul grafik 4. Pengukuran diameter silinder dilakukan 5 kali sehingga diperoleh nilai rata-rata diameter silinder sebesar { % % % % % {  % J Sedangkan deviasi dari harga rata-rata diamater J J J{J . Ujung pinsil atau pena yang melebar akan mengakibatkan ketidakakuratan. Gambarkan grafik pada satu halaman penuh dari laporan. 2. 3.{ $ 3.  {$ - Maka harga pengukuran diameter silinder adalah /{ J . Gunakan pinsil atau pena yang tajam. 8 .2.

bila mungkin 7.17 ± 0.5." Kecepatan vs Waktu Gbr.06 1. Sebagai contoh.06 0. perhatikan percobaan tentang kecepatan benda (variabel terikat) sebagai fungsi dari waktu (sebagai vaiabel bebas) dengan data di bawah ini Kecepatan (m/s) 0. Pilih skala untuk setiap sumbu dan mulai setiap sumbu pada titik nol.06 0.65 ± 0.06 1.56 ± 0.06 1. Grafik kecepatan terhadap waktu 9 .91 ± 0.06 Waktu (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Gbr 3 menunjukkan grafik berdasarkan data di atas Grafik berdasarkan data tersebut menunjukan kecepatan v merupakan fungsi linier dari waktu t.85 ± 0. Jika kesalahanya acak.06 1. Bila v = y. dan x = t. maka 1/3 dari titik-titik tersebut akan tidak berada pada sekitar jangkauan kesalahan dari kurva terbaik. Gunakan error bar untuk menunjukkan kesalahan pengukuran titik data jangkauan kesalahan 8.06 1. Persamaan umum untuk garis lurus adalah -I (14) Dimana m adalah kemiringan garis dan b adalah perpotongan terhadap sumbu vertikal yang merupakan nilai y saat x = 0. dan v0 = b maka : (15) I . Gambarkan kurva melalui titik-titik data.45 ± 0. a = m.06 2.01 ± 0. 3.36 ± 0. Berilah nama masing-masing sumbu beserta satuannya 6.81 ± 0.

57 ± 0. pilih dua titik pada garis yang cukup terpisah.20 / " / ÈJ $ (21) Waktu (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 Gbr.Ini merupakan bentuk dari persamaan untuk garis tanpa putus yang melewati data.05 0.80 ± 0. perhatikan percobaan dari jarak tempuh sebuah benda sebagai fungsi dari waktu.05 0. Dua garis putus-putus menunjukkan kemungkinan kemiringan garis terbesar dan terkecil dari yang sesuai dengan data. Susuai dalam arti setiap garis memotong sekitar 2/3 dari error bar.10 4. menunjukan grafik berdasarkan data di atas Pada kasus ini. garis tanpa putus menunjukkan garis lurus dimana kemiringanya telah dihitung.20 m/s ) dan titik perpotongan dengan sumbu vertikal (0. Berdasarkan grafik v0 = 0. Berdasarkan grafik menujukkan d sebanding terhadap n t .20 6. dimana n >1 sehingga dapat dikatakan d merupakan fungsi kuadrat terhadap waktu dengan n = 2.10 2.43 ± 0.10 3.32 m/s. Kesalahan atau ketidakpastian dari kemiringan didefinisikan sebagai (18) JI I IJ JI I J J IJ Nilai eksperimen dan kesalahan untuk a adalah I / I JI I IJ J JJJ JJ IJ " {" &' " # { $ " $% " # $ $ $ Bila δa adalah kesalahan dari a I ÈJ $ Kesalahan pada perpotogan dengan sumbu vertikal diperoleh berdasarkan perpotongan dengan sumbu vertikal dari kemiringan garis maksimum dan minimum : $ / ÈJ $ (19) (20) Bila δv0 merupakan kesalahan v0 Nilai eksperimen dan kesalahan untuk v0 adalah { ÈJ{ ÈJ " Untuk contoh kedua.81 ± 0.43 ± 0.20 ± 0.39 ± 0.20 t + 0.32 m/s) serta berapa ketidakpastian kemiringan dan perpotongan tersebut? Pada grafik kecepatan vs waktu. membuat garis lurus dengan cara melewati titik-titik data tidak benar karena d bukan merupakan fungsi linier terhadap waktu t. 4. dengan data Jarak (m) 0.05 1. Untuk menghitung kemiringan.81 ± 0. 10 . dimana v0 adalah nilai kecepatan saat t = 0 dan a adalah kemiringan garis yang merupakan percepatan benda.32 (m/s) 2 (17) Seberapa tepat nilai kemiringan (0. Persamaan garis adalah I J J IJ $ %' " &" { { #" " " ' { { # '{ { ' { { ÈJ $ (16) V = 0.

Berdasarkan grafik 2 menunjukan fungsi linier dari t sehingga data sesuai dengan hubungan teoritik di atas. 4. Persamaan garis lurus di atas adalah $ - " (23) Jarak vs (Waktu)2 Gbr. Jarak terhadap kuadrat waktu digambarkan pada Gbr. Grafik jarak terhadap waktu Anggap kita mengetahui hubungan teoritik antara d dan t sebagai # I $ (22) $ Dimana a adalah percepatan benda. Jika data sesuai dengan hubungan persamaan 2 (22) maka grafik d vs t akan menghasilkan garis lurus. Grafik jarak terhadap kuadrat waktu 11 .5. 5.Jarak vs Waktu Gbr.

JI $ (27) Gbr. Garis lurus akan meminimalisasi jumlah jarak vertikal kuadrat di. { { { (28) . 6. Jika IJ J { {$ . Hasilnya merupakan dua persamaan $ . Jika sebaran pengukuran berdasarkan sebaran Gauss. { {.I{{$ $ (24) .JI $ (25) (26) Untuk memperoleh m dan b bedasarkan nilai minimum s. yi) terhadap garis lurus y = mx + b seperti terlihat pada Gbr. Dimana bila kita cari m dan b akan diperoleh dengan kesalahan I { { { I { {{ { {{ { { . 6.I q.I . (29) { { 12 .{ - $ . Prosesnya kadang disebut sebagai regresi linier. I (#{ . y ) akan dicari persamaan garis lurus untuk serangkaian data i i tersebut. Maka dapat dicari nilai m dan b dengan cara meminimalisasi fungsi s sebagai (# $ Bila suku sebelah kanan dikuadratkan maka Dengan Σ adalah penjumlahan semua indeks i. dapat diperlihatkan bahwa garis lurus yang dibuat akan meminimalisasi jumlah jarak vertikal di kuadrat untuk setiap titik (xi. J . I . .Least Square (Kuadrat Terkecil) Sejumlah N data (x .

Sedangkan # $ @ $ . { { { {{ { { $ { { { { { { D (30) Kekuatan hubungan antara x dan y dapat dihitung dari koefisien kolerasi : Atau dapat ditulis sebagai J{ J{ { { { { { { { { (31) { (32) 13 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful